Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN

PRINSIP KONDISI PATOLOGI PADA KESPRO


Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan
Patologi Ibu dan Anak yang diampu oleh Dr. Ni Komang Yuni Rahyani., M.Keb

Oleh :

NI KETUT YUNI ARISTADEWI (P07124218001)


NI PUTU HARISTA DIANDARI (P07124218006)
MADE VIRA YUDIA RARTRI (P07124218009)

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR
JURUSAN KEBIDANAN PRODI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN
2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan dengan judul “Prinsip
Kondisi Patologi Pada Kespro” ini penulis susun secara maksimal dalam rangka
memenuhi tugas Asuhan Kebidanan Patolog Ibu dan Anak, Poltekkes Kemenkes
Denpasar jurusan Kebidanan tahun 2021
Dengan selesainya laporan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada
Dr. Ni Komang Yuni Rahyani., M.Keb sekalu dosen yang mengampu mata kuliah
Askeb Patologi Ibu dan Anak serta selaku PJMK mata kuliah.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih memiliki banyak kekurangan baik
dari segi susunan maupun tata bahasanya. Oleh karena itu penulis memohon maaf
atas kesalahan dan kekurangan tersebut. Dengan tangan terbuka kami menerima
segala saran dan kritik yang membangun dari pembaca dengan harapan agar
penulis mampu menyusun laporan dengan lebih baik lagi. Akhir kata penulis
berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat dan inspirasi bagi
pembaca.

April 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................i

DAFTAR ISI....................................................................................................................ii

BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................................1

A. Latar Belakang............................................................................................................1

B. Tujuan ........................................................................................................................1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................................2

A. Infeksi Menular Seksual...........................................................................................2


B. HIV/AIDS................................................................................................................2
C. Syphilis.....................................................................................................................5
D. Kanker Servikss.....................................................................................................10
E. Sindrom Ovarium Polikistik (SPOK).....................................................................13
F. Endometriosis.........................................................................................................14
G. Infertilitas...............................................................................................................16
BAB III PENUTUP.......................................................................................................18
A. Kesimpulan.............................................................................................................18
B. Saran.......................................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................19

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit pada sistem reproduksi wanita tidak boleh dianggap sepele.
Gangguan pada organ reproduksi wanita ini bisa disebabkan banyak hal. Jika
tidak diobati, beberapa penyakit pada sistem reproduksi wanita ini bahkan
dapat meningkatkan risiko wanita untuk mengalami masalah kesuburan .
Kesehatan reproduksi mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, yang
mencakup keseluruhan siklus hidup manusia mulai sejak konsepsi hingga
lanjut usia. Laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama terhadap akses
dan pelayanan kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, untuk dapat memenuhi
hak reproduksi setiap individu, maka pelayanan kesehatan reproduksi harus
dilaksanakan secara berkesinambungan dan terpadu, disesuaikan dengan usia
individu dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender.
Dalam laporan ini seperti halnya macam penyakit yang menjadi kondisi
patologi yaitu penyakit kanker serviks, IMS, Endrometriosis, Sindroma
Polikistik (SPOK), dan Infertilitas. Penyakit IMS yang menyerang pasangan
usia subur yang berhubungan seks dengan orang yang terinfeksi IMS. Penyakit
ini juga dapat menyerang ibu hamil jika ibu hamil berhubungan seks dengan
pasangannya yang terjangkit infeksi seksual. IMS dapat didiagnosa dengan
berdasarkan fasilitas dan sarana yang ada. Begitu pula dengan penyakit kanker
serviks yang menyerang serviks yang terdapat neoplasia ganas pada leher
rahim yang disebabkan oleh human papilloma virus (HPV).
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami prinsip asuhan kebidanan patologi
pada kesehatan reproduksi.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Infeksi Menular Seksual (IMS)


Infeksi Menular Seksual adalah infeksi yang sebagian besar
ditularkan melalui hubungan seksual, baik hubungan seks vaginal (melalui
vagina), anal (anus/dubur) atau oral (melalui mulut) atau bisa juga penyakit
yang didapatkan ketika seseorang berhubungan seks dengan orang yang
sedang mengalami infeksi seksual (Pkbi, 2017)
IMS dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :

1. IMS yang ditularkan melalui hubungan seksual, biasanya bibit/virus


penyakit terdapat di cairan sperma, cairan vagina dan darah.

2. IMS yang disebabkan/ditularkan tidak melalui hubungan seksual,


melainkan disebabkan gaya hidup yang tidak sehat. Misal berganti-gantian
menggunakan handuk atau pakaian dalam dengan oang lain, jarang
menganti pakaian dalam, masturbasi menggunakan alat atau cara yang bisa
menyebabkan luka atau lecet di alat reproduksi, cara cebok yang salah dan
mengunakan air yang tidak bersih.

B. HIV/AIDS

HIV merupakan singkatan dari ’human immunodeficiency virus’. HIV


merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh
manusia (terutama CD4 positive T-sel dan macrophages– komponen-
komponen utama sistem kekebalan sel), dan menghancurkan atau
mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya
penurunan sistem kekebalan yang terus- menerus, yang akan
mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh.

Sistem kekebalan dianggap defisien ketika sistem tersebut tidak


dapat lagi menjalankan fungsinya memerangi infeksi dan penyakit-

2
penyakit. Orang yang kekebalan tubuhnya defisien (Immunodeficient)
menjadi lebih rentan terhadap berbagai ragam infeksi, yang sebagian besar
jarang menjangkiti orang yang tidak mengalami defisiensi kekebalan.
Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan defisiensi kekebalan yang parah

dikenal sebagai “infeksi oportunistik” karena infeksi-infeksi tersebut


memanfaatkan sistem kekebalan tubuh yang melemah.

1. Gejala – Gejala HIV

Sebagian besar orang yang terinfeksi HIV tidak menyadarinya karena


tidak ada gejala yang tampak segera setelah terjadi infeksi awal. Beberapa
orang mengalami gangguan kelenjar yang menimbulkan efek seperti
deman (disertai panas tinggi, gatal- gatal, nyeri sendi, dan pembengkakan
pada limpa), yang dapat terjadi pada saat seroconversion. Seroconversion
adalah pembentukan antibodi akibat HIV yang biasanya terjadi antara
enam minggu dan tiga bulan setelah terjadinya infeksi.

Kendatipun infeksi HIV tidak disertai gejala awal, seseorang yang


terinfeksi HIV sangat mudah menularkan virus tersebut kepada orang lain.
Satu-satunya cara untuk menentukan apakah HIV ada di dalam tubuh
seseorang adalah melalui tes HIV. Infeksi HIV menyebabkan penurunan
dan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Hal ini menyebabkan tubuh
rentan terhadap infeksi penyakit dan dapat menyebabkan berkembangnya
AIDS

2. Cara Penularan virus HIV AIDS

a. Melalui darah. Misalnya ; Transfusi darah, terkena darah HIV+ pada


kulit yang terluka, jarum suntik, dsb.

b. Melalui cairan semen, air mani (sperma atau peju Pria). Misalnya ;
seorang Pria berhubungan badan dengan pasangannya tanpa
menggunakan kondom atau pengaman lainnya, oral sex, dsb

3
c. Melalui cairan vagina pada Wanita. Misalnya ; Wanita yang
berhubungan badan tanpa pengaman, pinjam-meminjam alat bantu
seks, oral seks, dsb.

d. Melalui Air Susu Ibu (ASI). Misalnya ; Bayi meminum ASI dari wanita
hiv+, Pria meminum susu ASI pasangannya, dsb.

3. Perjalanan Infeksi HIV/AIDS :

Pada saat seseorang terkena infeksi virus AIDS maka diperlukan waktu 5-
10 tahun untuk sampai ke tahap yang disebut sebagai AIDS. Setelah virus
masuk kedalam tubuh manusia, maka selama 2-4 bulan keberadaan virus
tersebut belum bisa terdeteksi dengan pemeriksaan darah meskipun
virusnya sendiri sudah ada dalam tubuh manusia. Tahap ini disebut
sebagai periode jendela (windows periode). Sebelum masuk pada tahap
AIDS, orang tersebut dinamai HIV positif karena dalam darahnya terdapat
HIV. Pada tahap HIV+ ini maka keadaan fisik ybs tidak mempunyai
kelainan khas ataupun keluhan apapun, dan bahkan bisa tetap bekerja
seperti biasa. Dari segi penularan, maka dalam kondisi ini ybs sudah aktif
menularkan virusnya ke orang lain jika dia mengadakan hubungan seks
atau menjadi donor darah.

Sejak masuknya virus dalam tubuh manusia maka virus ini akan
menggerogoti sel darah putih (yang berperan dalam sistim kekebalan
tubuh) dan setelah 5-10 tahun maka kekebalan tubuh akan hancur dan
penderita masuk dalam tahap AIDS dimana terjadi berbagai infeksi seperti
misalnya infeksi jamur, virus-virus lain, kanker dsb. Penderita akan
meninggal dalam waktu 1-2 tahun kemudian karena infeksi tersebut.

Ada beberapa hasil penelitian antara lain di negara industri, seorang


dewasa yang terinfeksi HIV akan menjadi AIDS dalam kurun waktu 12
tahun, sedangkan di negara berkembang kurun waktunya lebih pendek
yaitu 7 tahun. Setelah menjadi AIDS, survival rate di negara industri telah
bisa diperpanjang menjadi 3 tahun, sedangkan di negara berkembang
masih kurang dari 1 tahun. Survival rate ini berhubungan erat dengan

4
penggunaan obat antiretroviral, pengobatan terhadap infeksi oportunistik
dan kwalitas pelayanan yang lebih baik.

C. SYPHILIS

Sifilis merupakan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri
Treponema pallidum. Sifilis bersifat kronik dan sistemik karena memiliki masa
laten, dapat menyerang hampir semua alat tubuh, menyerupai banyak penyakit,
dan ditularkan dari ibu ke janin (Djuanda, 2015). Masa laten pada sifilis tidak
menunjukkan gejala klinis, namun pada pemeriksaan serologis menunjukkan
hasil positif (Sanchez, 2008). Sifilis memiliki dampak besar bagi kesehatan
seksual, kesehatan reproduksi, dan kehidupan sosial. Populasi berisiko tertular
sifilis meningkat dengan adanya perkembangan dibidang sosial, demografik,
serta meningkatnya migrasi penduduk (Kemenkes RI, 2011). Perilaku seksual
berisiko adalah keterlibatan individu dalam melakukan aktivitas seks yang
memiliki risiko terpapar dengan darah, cairan sperma, dan cairan vagina yang
tercemar bakteri penyebab sifilis. Jumlah pasangan seksual yang banyak
merupakan salah satu perilaku seksual berisiko. Hal ini terjadi karena jumlah
pasangan seksual yang banyak sebanding dengan banyaknya jumlah hubungan
seksual yang dilakukan (Rahardjo, 2015). Kurangnya pengetahuan individu
tentang penggunaan kondom juga dapat meningkatkan risiko infeksi. Kondom
tidak memberikan perlindungan 100%, namun bila digunakan dengan tepat
dapat mengurangi risiko infeksi. Selain itu, kemiskinan dan masalah sosial
memaksa perempuan, kadang juga laki-laki, berprofesi sebagai penjaja seks.
Mereka menukarkan seks dengan uang atau barang agar dapat bertahan hidup
(Kemenkes RI, 2011).

1. Penularan dan perjalanan penyakit

Treponema palidum masuk melalui selaput lendir yang utuh, atau kulit yang
mengalami abrasi, menuju kelenjar limfe, kemudian masuk ke dalam
pembuluh darah, dan diedarkan ke seluruh tubuh. Setelah beredar beberapa
jam, infeksi menjadi sistemik walaupun tanda-tanda klinis dan serolois belum
jelas. Kisaran satu minggu setelah terinfeksi Treponema palidum, ditempat
masuk timbul lesi primer berupa ulkus. Ulkus akan muncul selama satu

5
hingga lima minggu, kemudian menghilang. Uji serologis masih akan negatif
ketika ulkus pertama kali muncul dan baru akan reaktif setelah satu sampai
empat minggu berikutnya. Enam minggu kemudian, timbul erupsi seluruh
tubuh pada sebagian kasus sifilis sekunder. Ruam ini akan hilang kisaran dua
sampai enam minggu, karena terjadi penyembuhan spontan. Perjalanan
penyakit menuju ke tingkat laten, dimana tidak ditemukan tanda-tanda klinis,
kecuali hasil pemeriksaan serologis yang reaktif. Masa laten dapat
berlangsung bertahuntahun atau seumur hidup

2. Stadium Sifilis

Sifilis dalam perjalanannya dibagi menjadi tiga stadium yaitu sifilis


stadium primer, sekunder dan tersier yang terpisah oleh fase laten dimana
waktu bervariasi, tanpa tanda klinis infeksi. Interval antara stadium primer
dan sekunder berkisar dari beberapa minggu sampai beberapa bulan.
Interval antara stadium sekunder dan tersier biasanya lebih dari satu tahun

a. Sifilis Primer

Lesi awal sifilis berupa papul yang muncul di daerah genitalia kisaran
tiga minggu setelah kontak seksual. Papul membesar dengan ukuran
0,5 – 1,5 cm kemudian mengalami ulserasi, membentuk ulkus. Ulkus
sifilis yang khas berupa bulat, diameter 1-2 cm , tidak nyeri, dasar
ulkus bersih tidak ada eksudat, teraba indurasi, soliter tetapi dapat juga
multipel. Hampir sebagian besar disertai pembesaran kelenjar getah
bening inguinal medial unilateral atau bilateral. Chancre sífilis primer
sering terjadi pada genitalia, perineal, atau anus dikarenakan
penularan paling sering melalui hubungan seksual, tetapi bagian tubuh
yang lain dapat juga terkena.5,6 Ulkus jarang terlihat pada genitalia
eksterna wanita, karena lesi sering pada vagina atau serviks. Dengan
menggunakan spekulum, akan terlihat lesi di serviks berupa erosi atau
ulserasi yang dalam. Tanpa pengobatan lesi primer akan sembuh
spontan dalam waktu 3 sampai 6 pekan. Diagnosis banding sifilis
primer yaitu ulkus mole yang disebabkan Haemophilus ducreyi,

6
limfogranuloma venereum, trauma pada penis, fixed drug eruption,
herpes genitalis

b. Sifilis Sekunder

Manifestasi akan timbul pada beberapa minggu atau bulan, muncul


gejala sistemik berupa demam yang tidak terlalu tinggi, malaise, sakit
kepala, adenopati, dan lesi kulit atau mukosa. Lesi sekunder yang
terjadi merupakan manifestasi penyebaran Treponema pallidum secara
hematogen dan limfogen Manifestasi akan timbul pada beberapa
minggu atau bulan, muncul gejala sistemik berupa demam yang tidak
terlalu tinggi, malaise, sakit kepala, adenopati, dan lesi kulit atau
mukosa. Lesi sekunder yang terjadi merupakan manifestasi
penyebaran Treponema pallidum secara hematogen dan limfogen. 13
Manifestasi klinis sifilis sekunder dapat berupa berbagai ruam pada
kulit, selaput lendir, dan organ tubuh. Lesi kulit biasanya simetris,
dapat berupa makula, papula, folikulitis, papuloskuamosa, dan pustul,
jarang disertai keluhan gatal. Lesi dapat ditemukan di trunkus dan
ekstermitas, termasuk telapak tangan dan kaki. Papul biasanya merah
atau coklat kemerahan, diskret, diameter 0,5 – 2 cm, umumnya
berskuama tetapi kadang licin. Lesi vesikobulosa dapat ditemukan
pada sifilis kongenita. Ruam kulit pada sifilis sekunder sukar
dibedakan dengan pitiriasis rosea, psoriasis, terutama jika berskuama,
eritema multiforme dan erupsi obat. Diagnosis sifilis sekunder cukup
sulit. Pada umumnya diagnosis ditegakkan berdasarkan kelainan khas
lesi kulit sifilis sekunder ditunjang pemeriksaan serologis

c. Sifilis Laten

Sifilis laten yaitu apabila pasien dengan riwayat sifilis dan


pemeriksaan serologis reaktif yang belum mendapat terapi sifilis dan
tanpa gejala atau tanda klinis.6 Sifilis laten terbagi menjadi dini dan
lanjut, dengan batasan waktu kisaran satu tahun. Dalam perjalanan
penyakit sifilis akan melalui tingkat laten, selama bertahun-tahun atau

7
seumur hidup. Tetapi bukan bearti penyakit akan berhenti pada tingkat
ini, sebab dapat berjalan menjadi sifilis tersier

d. Sifilis Stadium Tersier

Sifilis tersier terdiri dari tiga grup sindrom yang utama yaitu
neurosifilis, sifilis kardiovaskular, dan sifilis benigna lanjut. Pada
perjalanan penyakit neurosifilis dapat asimptomatik dan sangat jarang
terjadi dalam bentuk murni. Pada semua jenis neurosifilis, terjadi
perubahan berupa endarteritis obliterans pada ujung pembuluh darah
disertai degenerasi parenkimatosa yang mungkin sudah atau belum
menunjukkan gejala saat pemeriksaan. Sifilis kardiovaskular
disebabkan terutama karena nekrosis aorta yang berlanjut ke katup.
Tanda-tanda sifilis kardiovaskuler adalah insufisiensi aorta atau
aneurisma, berbentuk kantong pada aorta torakal. Bila komplikasi ini
telah lanjut, akan sangat mudah dikenal.5 Sifilis benigna lanjut atau
gumma merupakan proses inflamasi proliferasi granulomatosa yang
dapat menyebabkan destruksi pada jaringan yang terkena. Disebut
benigna sebab jarang menyebabkan kematian kecuali bila menyerang
jaringan otak. Gumma mungkin terjadi akibat reaksi hipersensitivitas
infeksi Treponema palidum. Lesi sebagian besar terjadi di kulit dan
tulang. Lesi pada kulit biasanya soliter atau multipel, membentuk
lingkaran atau setengah lingkaran, destruktif dan bersifat kronis,
penyembuhan di bagian sentral dan meluas ke perifer. Lesi pada
tulang biasanya berupa periostitis disertai pembentukan tulang atau
osteitis gummatosa disertai kerusakan tulang. Gejala khas ialah
pembengkakan dan sakit. Lokasi terutama pada tulang kepala, tibia,
dan klavikula. Pemeriksaan serologis biasanya reaktif dengan titer
tinggi.

3. Diagnosa

Secara garis besar uji diagnostik sifilis terbagi menjadi tiga kategori
berdasar biologi molekuler. Untuk menegakkan diagnosis sifilis, diagnosis
klinis harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan

8
mikroskop lapangan gelap (dark field) merupakan metode paling spesifik
dan sensitif untuk memastikan diagnosis sifilis primer adalah menemukan
treponema dengan gambaran karakteristik yang terlihat pada pemeriksaan
mikroskop lapangan gelap dari cairan yang diambil pada permukaan
chancre. Ruam sifilis primer dibersihkan dengan larutan NaCl fisiologis.
Serum diperoleh dari bagian dasar atau dalam lesi dengan cara menekan
lesi sehingga serum akan keluar. Kemudian diperiksa dengan mikroskop
lapangan gelap menggunakan minyak emersi. Treponema pallidum
berbentuk ramping, gerakan aktif. 6,8 Uji serologis sifilis pada sifilis
meliputi Uji serologis non treponema seperti pemeriksaan Rapid Plasma
Reagen (RPR), pemeriksaan Venereal Disease Research Laboratory
(VDRL), dan pemeriksaan Automated Reagin Test (ART), ketiganya
merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi ”reagin” terhadap antibodi
dimana antigennya disebut cardiolipin. Antibodi cardiolipin dapat
dideteksi pada serum pasien dengan sifilis aktif dan dibeberapa kondisi
lain. Namun, pada beberapa individu yang memiliki riwayat sifilis dengan
kesuksesan terapi mempertahankan kadar antibodi cardiopilin rendah
untuk waktu yang lama, dengan demikian individu tersebut tergolong
”serofast”.16 Uji serologis non treponema berfungsi untuk
mengidentifikasi sifilis kasus baru, untuk memantau progresifitas dari
sifilis, dan memantau respon dari terapi antibiotik. Uji serologis treponema
meliputi Enzym Immunioassay (EIA), Chemiluminescence Immunoassay
(CIA), Flurescent Treponema Antibody ”Absorbed” Assay (FTA-ABS),
Treponema Palidum Particle Agglutination Assay (TP-PA) dan
Treponema Palidum Hemaglinination Assay (MHA-TPA). Uji serologis
treponema adalah pemeriksaan terhadap antigen antibodi yang spesifik
terhadap treponema. Digunakan untuk identifikasi sifilis dan monitoring
terhadap terapi antibiotik.16,17 Uji serologik Anti-T.Palidum IgM antibodi
spesifik seperti EIA atau IgM, 19SIgM-FTA-abs test, IgM-immunoblot
untuk T. Palidum. Sensivitas dari uji tersebut rendah pada sifilis aktif. IgM
tidak efektif dalam mengetahui stadium dari sifilis maupun montitoring
terapi. Uji serologis tersebut digunakan pada penilaian sifilis pada bayi

9
baru lahir dan CSF. Many rapid Point of Care (POC) digunakan untuk
mendeteksi antigen treponemal pada individu dengan riwayat sifilis 20
tahun sebelumnya. Namun uji serologis ini tidak untuk mendeteksi
antibodi cardiopilin (pada pasien dengan sifilis aktif)

D. Kanker Serviks

Sampai saat ini, kanker mulut rahim masih merupakan masalah kesehatan
perempuan di Indonesia sehubungan dengan angka kejadian dan angka
kematiannya yang tinggi. Keterlambatan diagnosis pada stadium lanjut,
keadaan umum yang lemah, status sosial ekonomi yang rendah, keterbatasan
sumber daya, keterbatasan sarana dan prasarana, jenis histopatologi, dan
derajat pendidikan ikut serta dalam menentukan prognosis penderita. Kanker
mulut rahim adalah kanker terbanyak kelima pada wanita di seluruh dunia.
Penyakit ini banyak terdapat pada wanita Amerika Latin, Afrika, dan negara-
negara berkembang lainnya di Asia, termasuk Indonesia. Pada wanita-wanita
Suriname keturanan Jawa, terdapat insidensi yang lebih tinggi dibandingkan
dengan keturunan etnis lainnya. Kanker mulut rahim di negara-negara maju
menempati urutan keempat setelah kanker payudara, kolorektum, dan
endometrium. Sedangkan di negara-negara sedang berkembang menempati
urutan pertama. Di negara Amerika Serikat, kanker mulut rahim memiliki Age
Specific Incidence Rate (ASR) yang khas, kurang lebih 20 kasus per 100.000
penduduk wanita per tahun.

1. Faktor Resiko

Karsinoma serviks diperkirakan sebagai penyakit yang ditularkan secara


seksual. Beberapa bukti menunjukkan adanya hubungan antara riwayat
hubungan seksual dan risiko penyakit ini. Sesuai dengan etiologi infeksinya,
wanita dengan partner seksual yang banyak dan wanita yang memulai
hubungan seksual pada usia muda akan meningkatkan risiko terkena kanker
serviks. Karena sel kolumnar serviks lebih peka terhadap metaplasia selama
usia dewasa maka wanita yang berhubungan seksual sebelum usia 18 tahun
akan berisiko terkena kanker serviks lima kali lipat. Keduanya, baik usia saat

10
pertama berhubungan maupun jumlah partner seksual, adalah faktor risiko kuat
untuk terjadinya kanker serviks.

2. Riwayat Ginekologi

Riwayat Ginekologis Walaupun usia menarke atau menopause tidak


mempengaruhi risiko kanker serviks, hamil di usia muda dan jumlah kehamilan
atau manajemen persalinan yang tidak tepat dapat pula meningkatkan risiko.

3. Human Papilloma Virus (HPV)

Terdapat sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa Human Papilloma Virus


(HPV) sebagai penyebab neoplasia servikal. Karsinogenesis pada kanker
serviks sudah dimulai sejak seseorang terinfeksi HPV yang merupakan faktor
inisiator dari kanker serviks yang menyebabkan terjadinya gangguan sel
serviks. Ada bukti lain yaitu onkogenitas virus papiloma hewan; hubungan
infeksi HPV serviks dengan kondiloma dan atipik koilositotik yang
menunjukkan displasia ringan atau sedang; serta deteksi antigen HPV dan
DNA dengan lesi servikal. HPV tipe 6 dan 11 berhubungan erat dengan
diplasia ringan yang sering regresi. HPV tipe 16 dan 18 dihubungkan dengan
diplasia berat yang jarang regresi dan seringkali progresif menjadi karsinoma
insitu. Infeksi Human Papilloma Virus persisten dapat berkembang menjadi
neoplasia intraepitel serviks (NIS). Seorang wanita dengan seksual aktif dapat
terinfeksi oleh HPV risiko-tinggi dan 80% akan menjadi transien dan tidak
akan berkembang menjadi NIS. HPV akan hilang dalam waktu 6-8 bulan.
Dalam hal ini, respons antibodi terhadap HPV risiko-tinggi yang berperan. Dua
puluh persen sisanya berkembang menjadi NID dan sebagian besar, yaitu 80%,
virus menghilang, kemudian lesi juga menghilang. Oleh karena itu, yang
berperan adalah cytotoxic T-cell. Sebanyak 20% dari yang terinfeksi virus
tidak menghilang dan terjadi infeksi yang persisten. NIS akan bertahan atau
NIS 1 akan berkembang menjadi NIS 3, dan pada akhirnya sebagiannya lagi
menjadi kanker invasif. HPV risiko rendah tidak berkembang menjadi NIS 3
atau kanker invasif, tetapi menjadi NIS 1 dan beberapa menjadi NIS 2. Infeksi
HPV risiko-rendah sendirian tidak pernah ditemukan pada NIS 3 atau
karsinoma invasif. Berdasarkan hasil program skrining berbasis populasi di

11
Belanda, interval antara NIS 1 dan kanker invasif diperkirakan 12,7 tahun dan
kalau dihitung dari infeksi HPV risiko-tinggi sampai terjadinya kanker adalah
15 tahun. Waktu yang panjang ini, di samping terkait dengan infeksi HPV
risiko-tinggi persisten dan faktor imunologi (respons HPV-specific T-cell,
presentasi antigen), juga diperlukan untuk terjadinya perubahan genom dari sel
yang terinfeksi. Dalam hal, ini faktor onkogen E6 dan E7 dari HPV berperan
dalam ketidakstabilan genetik sehingga terjadi perubahan fenotipe ganas.
Oncoprotein E6 dan E7 yang berasal dari HPV merupakan penyebab terjadinya
degenerasi keganasan. Oncoprotein E6 akan mengikat p53 sehingga TSG p53
akan kehilangan fungsinya. Sementara itu, oncoprotein E7 akan mengikat TSG
Rb. Ikatan ini menyebabkan terlepasnya E2F yang merupakan faktor
transkripsi sehingga siklus sel berjalan tanpa kontrol.

4. Pencegahan

Pencegahan memiliki arti yang sama dengan deteksi dini atau pencegahan
sekunder, yaitu pemeriksaan atau tes yang dilakukan pada orang yang belum
menunjukkan adanya gejala penyakit untuk menemukan penyakit yang belum
terlihat atau masih berada pada stadium praklinik. Program
pemeriksaan/skrining yang dianjurkan untuk kanker serviks (WHO): skrining
pada setiap wanita minimal satu kali pada usia 35-40 tahun. Jika fasilitas
tersedia, lakukan tiap 10 tahun pada wanita usia 35-55 tahun. Jika fasilitas
tersedia lebih, lakukan tiap 5 tahun pada wanita usia 35-55 tahun. Ideal atau
optimal, lakukan tiap 3 tahun pada wanita usia 25-60 tahun.

a. Tes PAP Smear

Secara umum, kasus kanker mulut rahim dan kematian akibat kanker
mulut rahim bisa dideteksi dengan mengetahui adanya perubahan pada
daerah mulut rahim dengan cara pemeriksaan sitologi menggunakan tes
Pap. American College of Obstetrician and Gynecologists (ACOG),
American Cancer Society (ACS), dan US Preventive Task Force
(USPSTF) mengeluarkan panduan bahwa setiap wanita seharusnya
melakukan tes Pap untuk skrining kanker mulut rahim saat 3 tahun
pertama dimulainya aktivitas seksual atau saat usia 21 tahun. Karena tes

12
ini mempunyai risiko false negatif sebesar 5-6%, Tes Pap yang kedua
seharusnya dilakukan satu tahun pemeriksaan yang pertama. Pada akhir
tahun 1987, American Cancer Society mengubah kebijakan mengenai
interval pemeriksaaan Tes Pap tiap tiga tahun setelah dua kali hasil
negatif. Saat ini, sesuai dengan American College of Obstetry and
Gynecology dan National Cancer Institute, dianjurkan pemeriksaan Tes
Pap dan panggul setiap tahun terhadap semua wanita yang aktif secara
seksual atau yang telah berusia 18 tahun. Setelah wanita tersebut
mendapatkan tiga atau lebih Tes Pap normal, tes dapat dilakukan dengan
frekuensi yang lebih jarang sesuai dengan yang dianjurkan dokter.
Diperkirakan sebanyak 40% kanker serviks invasif dapat dicegah dengan
skrining pap interval 3 tahun.

b. IVA

IVA merupakan tes visual dengan menggunakan larutan asam cuka (asam
asetat 2 %) dan larutan iosium lugol pada serviks dan melihat perubahan
warna yang terjadi setelah dilakukan olesan. Tujuannya adalah untuk
melihat adanya sel yang mengalami displasia sebagai salah satu metode
skrining kanker mulut rahim. IVA tidak direkomendasikan pada wanita
pascamenopause, karena daerah zona transisional seringkali terletak
kanalis servikalis dan tidak tampak dengan pemeriksaan inspekulo. IVA
positif bila ditemukan adanya area berwarna putih dan permukaannya
meninggi dengan batas yang jelas di sekitar zona transformasi.

E. Sindroma Ovarium Polikistik (SOPK)

Sindroma ovarium polikistik (SOPK) atau polycystic ovarium syndrome


(PCOS) merupakan kondisi kelainan hormonal (endocrinopathy) yang umum
terjadi pada wanita usia reproduksi. Diagnosisnya didasarkan pada setidaknya
ada dua kriteria sebagai berikut: hiperandrogenisme yang ditentukan oleh
adanya kelebihan testosteron bebas atau hirsutisme, adanya disfungsi ovarium
yang ditandai dengan adanya oligomenore atau amenore dan anovulasi kronis,
terlihatnya morfologi spesifik polikistik ovarium dari pemeriksaan USG.
Diagnosis juga membutuhkan eksklusi faktorfaktor lain yang terkait dengan

13
kelebihan hormon androgen. Berdampak pada 510% wanita usia muda dan
seringkali berakibat kesulitan untuk berhasil hamil (Norman RJ, dkk.
2004;180:132 – 37).

SOPK berdampak negatif pada kemampuan untuk hamil karena wanita yang
mengalaminya tidak berovulasi atau melepaskan sel telur setiap bulan
disebabkan oleh produksi hormon estrogen oleh ovarium. Karena ovulasi tidak
terjadi secara teratur, siklus haid menjadi tidak teratur dan peningkatan kadar
hormon seperti testosteron dapat berdampak terhadap kualitas oosit,
menghambat ovulasi, mengarah pada resistensi insulin dan peningkatan risiko
kelainan seperti diabetes gestasional.

Pada wanita yang mencoba untuk hamil, langkah pertama penanganan SOPK
adalah perubahan gaya hidup, termasuk diet sehat dan berolahraga. Pengaturan
makanan yang menunjukkan keberhasilan adalah dengan mengurangi
karbohidrat yaitu pengurangan kadar glikemik. Olah raga yang dianjurkan pada
pasien SOPK sedikitnya 30 menit kegiatan yang bersifat sedang minimal tiga
kali seminggu. Wanita yang masih mengalami ovulasi tidak teratur setelah
perubahan gaya hidup mungkin membutuhkan penanganan fertilitas dengan
obat-obatan utuk membantu terjadinya ovulasi. (Imanuel, Batara; 2018)

F. ENDOMETRIOSIS

Endometriosis adalah adanya kelenjar endometrium dan stroma pada


ekstrauterin dan dapat diduga berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
laboratorium dan pencitraan. Seperti jaringan endometrium yang dari tempat
asalnya, jaringan ini berespon terhadap fluktuasi hormon dari siklus
menstruasi. Laparotomi atau laparoskopi dapat menegakkan diagnosis dengan
endometriosis, tetapi karena lesi mungkin kecil, atipikal atau disebabkan oleh
patologi penyakit lain selain endometriosis, biopsi jaringan dapat membuktikan
diagnostic. (Salwa, dkk; 2019)

Endometriosis biasanya terjadi pada wanita usia reproduksi dan lebih jarang
pada wanita pascamenopause. Endometriosis lebih sering terjadi pada wanita
yang belum pernah memiliki anak. Banyak wanita dengan endometriosis tidak

14
menunjukkan gejala, dan diagnosis ditemukan hanya saat dilakukan
pembedahan untuk indikasi lain.

Terdapat tiga teori utama yang menunjang mekanisme terjadinya


endometriosis:

1. Implantasi langsung sel endometrium, biasanya dengan cara menstruasi


retrograde (teori Sampson): Mekanisme ini sering dengan terjadinya
endometriosis pelvis dan kecenderungannya pada ovarium dan
peritoneum pelvis, serta pada beberapa tempat seperti bekas luka insisi
atau bekas luka episiotomi. (Banyak wanita mengalami beberapa tingkat
menstruasi retrograde tanpa terjadinya endometriosis.)

2. Penyebaran sel endometrium melalui pembuluh darah dan limfatik (teori


Halban): Endometriosis yang jauh dapat dijelaskan dengan mekanisme
ini (misalnya, Endometriosis di lokasi seperti kelenjar getah bening,
rongga pleura, dan ginjal).

3. Metaplasia coelomic dari sel-sel multipotensial di rongga peritoneum


(teori Meyer): Dalam kondisi tertentu, sel-sel ini dapat berkembang
menjadi jaringan endometrium yang fungsional. Kejadian ini bahkan
dapat terjadi sebagai respons terhadap iritasi yang disebabkan oleh
menstruasi retrograde. Pembentukkan awal dari endometriosis pada
beberapa remaja yang belum menstruasi mendukung pada teori ini.

Secara patologi endometriosis paling sering ditemukan pada ovarium dan


biasanya bilateral. Struktur pelvis yang lain yang sering terdapat endometriosis
yaitu daerah cavum Douglas (terutama ligamen uterosakral dan septum
rektovaginal), ligamentum rotundum, tuba falopi, dan kolon sigmoid.

Gejala klasik endometriosis meliputi dismenorea progresif dan dispareunia.


Pada beberapa pasien dengan gejala kronis, biasanya mengalami
ketidaknyamanan pada panggul yang tidak ada henti-hentinya dengan
dismenore dan dyspareunia.

Untuk menegakkan diagnosis endometriosis harus dicurigai pada pasien


dengan gejala yang muncul sebelumnya. Banyak wanita bergejala memiliki

15
temuan normal pada pemeriksaan fisik panggul. Diagnosis endometriosis dapat
dicurigai dengan visualisasi secara langsung pada saat tindakan laparoskopi
atau laparotomi dan dikonfirmasi oleh biopsi jaringan. (Salwa, dkk; 2019)

G. Infertilitas

Infertilitas atau ketidaksuburan adalah keadaan dimana seseorang tidak dapat


hamil secara alami atau tidak dapat menjalani kehamilannya secara utuh.
Defenisi standar infertilitas adalah kondisi yang menunjukkan tidak
terdapatnya pembuahan dalam waktu 1 tahun setelah melakukan hubungan
seksual tanpa perlindungan kontrasepsi. (Noveriyanti, Wardani and Purwanti,
2016)

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian infertilitas adalah umur,stres,


merokok, masalah kesehatan yang menyebabkan perubahan hormon, masalah
ovulasi. Beberapa tanda-tanda bahwa wanita tidak berovulasi biasanya
mencakup tidak teratur atau tidak adanya menstruasi yang disebabkan oleh
beberapa hal seperti Polycystic Ovarium Syndrome(PCOS) yaitu masalah
ketidaksinambungan hormon yang dapat mengganggu ovulasi normal, dan
adanya hambatan pada saluran tuba karena penyakit radang panggul,
endometriosis, atau operasi pengangkatan kehamilan ektopik. (Saftarina and
Putri, 2016).

Penyebab lain dari infertilitas adalah obesitas. Dalam 10 tahun terakhir ini,
angka prevalensi atau kejadian obesitas diseluruh dunia menunjukkan
peningkatan yang signifikan. Saat ini, 1,6 miliar orang dewasa diseluruh dunia
mengalami berat badan lebih (obesitas), dan sekurang- kurangnya 400 juta
diantaranya mengalami obesitas. (Rakhmawati and Fithra Dieny, 2013)

Terjadinya infertilitas bukan berarti kehamilan tidak dapat terjadi sama sekali.
Pada infertilitas, kehamilan masih dapat diupayakan dengan beberapa jenis
bantuan, tidak sama halnya dengan sterilitas atau kemandulan.3 Saat ini
berbagai teknologi untuk membantu terjadinya kehamilan pada pasangan
infertil telah diakui keberhasilannya. Teknologi tersebut sering disebut sebagai
Assisted Reproductive Technology (ART) atau dalam bahasa Indonesia berarti

16
Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB). Salah satu jenis TRB yang memiliki
angka keberhasilan cukup tinggi yaitu In Vitro Fertilization (IVF) atau yang
lebih dikenal sebagai bayi tabung. (Dewi dkk; 2020)

17
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Patologi kesehatan reproduksi meliputi penyakit-penyakit yang dapat menganggu
kesehatan reproduksi seperti contohnya IMS/PMS, kanker serviks,
Endrometriosis, Sindroma Polikistik (SPOK), dan Infertilitas. Namun penyakit-
penyakit tersebut dapat dihindari dengan menjaga kesehatan reproduksi contohnya
yang paling sederhana adalah menjaga self hygine. Penyakit adalah suatu kondisi
dimana terdapat keadaan tubuh yang abnormal yang menyebabkan hilangnya
kondisi yang sehat, yang dalam kasus ini terutama pada organ reproduksi.

B. Saran
Wanita usia reproduksi yang mengalami gejala-gejla seperti yang sudah dijelaskan
di makalah ini sebaiknya segera memeriksakan diri untuk kepentingan penegakan
diagnosis secara dini. Penanganan secara dini sangat baik untuk mencegah
komplikasi lanjut yang dapat mengarah kepada keganasan dan kodisi yang lebih
parah.

18
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, dkk. 2019. “Hubungan Obesitas Dan Siklus Menstruasi Dengan Kejadian
Infertilitas Pada Pasangan Usia Subur Di Klinik Dr.Hj. Putri Sri Lasmini
Spog (K) Periode Januari-Juli Tahun 2017”. Jurnal Kesehatan Mercusuar.
Vol 2(1) hal 1-8.

Dewi, dkk. 2020. “Hubungan Antara Faktor-Faktor Penyebab Infertilitas


Terhadap Tingkat Keberhasilan Ivf-Icsi Di Rsia Puri Bunda Denpasar Pada
Tahun 2017”. Jurnal Medika Udayana. Vol. 9 NO.5

Handayani, S. 2010. Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta:


Pustaka Rihama.

Hartanto, H. 2002. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar


Harapan.

Hartanto, H. 2010. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar


Harapan.

Imanuel, Batara. 2018. “Sindromaovarium Polikistik Dan Infertilitas”. Jurnal


Ilmiah Widya. Vol nomor 3

Manuaba. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan


Bidan. Edisi kedua. Jakarta: EGC

Nuranna L. 2016, Penanggulangan Kanker Serviks Yang Sahih dan Andal Dengan
Model Proaktif-VO (Proaktif, Koordinatif Dengan Skrining IVA dan
Terapi Krio). [Disertasi]. Program Pasca Sarjana FKUI. Jakarta,.

Pkbi 2017. Infeksi Menular Seksual .https://pkbi-diy.info/infeksi-menular-


seksual-ims/ (Diakses tanggal 22 April 2021)

Proverawati, A. 2010. Panduan Memilih Kontrasepsi. Yogyakarta: Nuha Medika.

Sulistyawati. 2011. Asuhan Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika

Wiknjosastro. 2007. Ilmu Kebidanan . Jakarta : Yayasan Bina Usada.

Widyastuti. 2017. Epidemiologi Suatu Pengantar. Edisi 2. Jakarta: EGC.

19
Salwa, dkk. 2019. “Diagnosis Dan Tatalaksana Terbaru Endometriosis”. JIMKI.
Volume 7 No.2

20