Pentingnya Memahami Masa Remaja
Pentingnya Memahami Masa Remaja
Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa,masa ini harus lebih diperhatikan oleh
orang tua karena apabila tidak ditanggapi remaja dapat melakukan penyimpangan-penyimpangan moral
dan etika yang dapat merusak dirinya sendiri.dalam masa remaja sifat kesadaranya masih ENTROPY
(keadaan dimana kesadaran manusia belum tersusun rapi) walaupun isinya sudah banyak (ilmu
pengetahuan,perasaan, dan sebagainya).arti remaja sendiri adalah :
1. Individu yang brkembang dari saat pertama kali menunjukan tanda-tanda seksual sekundernya sampai
saat ia mencapai kematangan seksualnya.
2.individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
3.terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuhkepada keadaan yang relatif lebih
mandiri.
dalam perkembangan remaja pada saat ini,banyak remaja yang melakukan penyimpangan seperti sexs
bebas,narkoba, dan sebagainya hal ini tentu membuat resah para orang tua.tak jarang banyak remaja
yang melakukan tindakan-tindakan berbahaya karena telah terjerumus narkoba dan pergaulan bebas
lainya,terkadang hanya demi narkoba remaja nekat melakukan tindak kriminal demi mendapat kan
barang haram tersebut.pencegahan yang dapat dilakukan adalah :
1. ciptakan kondisi lingkungan yang stabil,sehinggga remaja dapat mengembangkan diri secara lebih
optimal khususnya, lingkungan keluarga
2. remaja dapat melewati masa transisinya dengan baik dan tidak melakukan penyimpangan yaitu
didukung dari hubungan suami-istri yang harmonis bagi orang tuanya daripada hubungan suami-istri
yang terganggu
3. kondisi rumah tangga dengan adanya orang tua dan saudara-saudara akan lebih menjamin
kesejahteraan jiwa remaja,daripada asrama atau lembaga pemasyarakatan anak.
4. pencegahan yang paling utama adalah menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga sebaik-baiknya
kalau terjadi masalah siami-istri (ada yang meninggal,atau ada perceraian lebih baik anak dipindahkan ke
sanak keluarga lain atau kalau perlu dipindahkan ke keluarga lain yang tidak ada hubungan darah
(misalnya tidak ada sanak keluarga atau harus kost)perlu dicarikan yang hubungan anggota-anggota
keluarganya yang harmonis.
5. jika tidak ada jalan lain baru sebagai jalan terakhir bisa di anjurkan ke asrama atau lembaga
pengasuhan anak lainnya seperti panti asuhan dan sebagainya akan tetapi jika dikehendaki
perkrmbangan jiwa anak yang optimal mungkin perlu diusahakan agar keadaan asrama atau lembaga itu
mirip dengan keadaan keluarga biasa.
bila hal itu dapat diikuti atau dijalankan remaja itu tidak akan melakukan penyimpangan yang merugikan
dirinya sendiri dan orang tua dikarenakan adanya kenyamanan dalam keluarga.
Konsep Remaja
Remaja
A. Pengertian Remaja
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescene (kata bendanya adolescenta yang berarti
remaja) yang berarti tumbuh menjadi dewasa (Hurlock, 2001). Pedoman umum remaja di Indonesia
menggunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah (Soetjiningsih, 2004).
Adolescence artinya berangsur-angsur menuju kematangan secara fisik, akal, kejiwaan dan sosial serta
emosional. Hal ini mengisyaratkan kepada hakikat umum, yaitu bahwa pertumbuhan tidak berpindah dari
satu fase ke fase lainya secara tiba-tiba, tetapi pertumbuhan itu berlangsung setahap demi setahap (Al-
Mighwar, 2006).
Remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa remaja, yang sering kali remaja
dihadapkan pada situasi yang membingungkan, disatu pihak dia harus bertingkah laku seperti orang dewasa
dan disisi lain dia belum bisa dikatakan dewasa. (Purwanto, 1999).
Perubahan masa pubertas pada remaja putri adalah terjadi menarche (menstruasi pertama kali). Hal ini
menunjukkan bahwa organ reproduksi mulai matang. Apabila seks pranikah terjadi pada remaja putri
dampak yang paling membahayakan yaitu kehamilan.dan efek negatif dari kehamilan adalah abortus.
B. Pengkategorian Remaja
World Health Organization menetapkan batas usia remaja dalam 2 bagian yaitu:
1) Periode remaja awal (early adolescence)
Periode ini berkisar antara umur 10 sampai 12 tahun. Periode remaja adalah masa transisi dari periode
anak-anak ke periode dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa-masa yang amat penting dalam
kehidupan seseorang khususnya dalam pembentukan kepribadian individu.
2) Periode remaja akhir
Periode ini antara umur 15 sampai 20 tahun. Periode remaja adalah periode pemantapan identitas diri.
Pengertiannya akan “siapa aku” yang dipengaruhi oleh pandangan orang-orang sekitarnya serta
pengalaman-pengalaman pribadinya akan menentukan pola perilakunya sebagai orang dewasa. Pemantapan
identitas diri ini tidak selalu berjalan lancar, tetapi sering melalui proses yang panjang dan bergejolak. Oleh
karena itu, banyak ahli menamakan periode ini sebagai masa-masa storm and stress (Latifah, 2008).
Pengkategorian remaja berdasarkan jenis kelamin (Hurlock, 2001):
1) Remaja laki-laki
Remaja laki-laki mengalami pubertas antara umur 14-17 tahun dengan tanda-tanda yaitu: mimpi basah,
timbul rambut di ketiak, dada dan dagu, tidak cepat terbawa emosi, tidak cepat mengeluh, tidak mudah
putus asa.
2) Remaja putri
Remaja putri mengalami pubertas berlangsung pada umur 12-15 tahun, dengan tanda-tanda yaitu: menars
(menstruasi pertama), timbul rambut di ketiak dan kemaluan, pembesaran payudara dan pinggul.
Masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan dengan periode sebelum dan sesudahnya, ciri-
Adanya akibat yang langsung terhadap sikap dan tingkah laku serta akibat-akibat jangka panjangnya
menjadikan periode remaja lebih penting daripada periode lainya (Al-Mighwar, 2006). Selain itu
perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental, terutama pada
awal remaja, yang semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan membentuk
Peralihan tidak berarti terputus dengan apa yang terjadi sebelumnya, melainkan peralihan dari satu tahap
perkembangan ke tahap berikutnya. Artinya yang terjadi sebelumnya akan meninggalkan bekasnya pada
apa yang terjadi sekarang dan yang akan datang (Hurlock, 2001). Pada setiap periode peralihan, nampak
ketidakjelasan status individu dan munculnya keraguan terhadap perananannya dalam masyarakat (Al-
Mighwar, 2006).
Ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat, kalau
perubahan fisik menurun maka perubahan perilaku dan sikap menurun juga (Hurlock, 2001).
Penyesuaian diri dengan standar kelompok dianggap jauh lebih penting bagi remaja daripada individualitas,
dan apabila tidak menyesuaikan kelompok maka remaja tersebut akan terusir dari kelompoknya (Al-
mighwar, 2006). Tetapi lambat laun mereka mulai mencari identitas diri dan tidak puas lagi sama dengan
Masalah pada masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh remaja laki-laki maupun
remaja perempuan (Hurlock, 2001). Dan banyak remaja yang menyadari bahwa penyelesaian yang
ditempuhnya sendiri tidak selalu sesuai dengan harapan mereka (Al-Mighwar, 2006).
1. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan perilaku anak.
Akibatnya, hanya sedikit anak laki-laki dan anak perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai
tugas-tugas tersebut selama awal masa remaja, apalagi mereka yang matangnya terlambat. Kebanyakan
harapan ditumpukkan pada hal ini adalah bahwa remaja muda akan meletakkan dasar-dasar bagi
Perkembangan masa remaja yang penting akan menggambarkan seberapa jauh perubahan yang harus
dilakukan dan masalah yang timbul dari perubahan itu sendiri. Pada dasarnya, pentingnya menguasai tugas-
tugas perkembangan dalam waktu yang relatif singkat sebagai akibat perubahan usia kematangan yang
menjadi delapan belas tahun, menyebabkan banyak tekanan yang mengganggu para remaja. (Hurlock,
2001).
Seringkali sulit bagi para remaja untuk menerima keadaan fisiknya bila sejak kanak-kanak mereka telah
mengagungkan konsep mereka tentang penampilan diri pada waktu dewasa nantinya. Diperlukan waktu
untuk memperbaiki konsep ini dan untuk mempelajari cara-cara memperbaiki penampilan diri sehingga
Menerima peran seks dewasa yang diakui masyarakat tidaklah mempunyai banyak kesulitan bagi laki-laki;
mereka telah didorong dan diarahkan sejak awal masa kanak-kanak. Tetapi halnya berbeda bagi anak
perempuan. Sebagai anak-anak, mereka diperbolehkan bahkan didorong untuk memainkan peran sederajat,
sehingga usaha untuk mempelajari peran feminin dewasa yang diakui masyarakat dan menerima peran
tersebut, seringkali merupakan tugas pokok yang memerlukan penyesuaian diri selama bertahun-tahun.
Karena adanya pertentangan dengan lawan jenis yang sering berkembang selama akhir masa kanak-kanak
dan masa puber, maka mempelajari hubungan baru dengan lawan jenis berarti harus mulai dari nol dengan
tujuan untuk mengetahui lawan jenis dan bagaimana harus bergaul dengan mereka. Sedangkan
pengembangan hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya sesama jenis juga tidak mudah.
(Hurlock, 2001).
5. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya
Bagi remaja yang sangat mendambakan kemandirian, usaha untuk mandiri secara emosional dari orang tua
dan orang-orang dewasa lain merupakan tugas perkembangan yang mudah. Namun, kemandirian emosi
tidaklah sama dengan kemandirian perilaku. Banyak remaja yang ingin mandiri, juga ingin dan
membutuhkan rasa aman yang diperoleh dari ketergantungan emosi pada orang tua atau orang-orang
dewasa lain. Hal ini menonjol pada remaja yang statusnya dalam kelompok sebaya tidak meyakinkan atau
yang kurang memiliki hubungan yang akrab dengan anggota kelompok. (Hurlock, 2001).
Kemandirian ekonomi tidak dapat dicapai sebelum remaja memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk
bekerja. Kalau remaja memilih pekerjaan yang memerlukan periode pelatihan yang lama, tidak ada jaminan
untuk memperoleh kemandirian ekonomi bilamana mereka secara resmi menjadi dewasa nantinya. Secara
ekonomi mereka masih harus tergantung selama beberapa tahun sampai pelatihan yang diperlukan untuk
yang paling penting dalam tahun-tahun remaja. Meskipun tabu sosial mengenai perilaku seksual yang
berangsur-ansur mengendur dapat mempermudah persiapan perkawinan dalam aspek seksual, tetapi aspek
perkawinan yang lain hanya sedikit yang dipersiapkan. Kurangnya persiapan ini merupakan salah satu
penyebab dari masalah yang tidak terselesaikan, yang oleh remaja dibawa ke masa remaja (Hurlock, 2001).
8. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan
ideologi
Sekolah dan pendidikan tinggi mencoba untuk membentuk nilai-nilai yang sesuai dengan nilai dewasa,
orang tua berperan banyak dalam perkembangan ini. Namun bila nilai-nilai dewasa bertentangan dengan
teman sebaya, masa remaja harus memilih yang terakhir bila mengharap dukungan teman-teman yang
menentukan kehidupan sosial mereka. Sebagian remaja ingin diterima oleh teman-temannya, tetapi hal ini
seringkali diperoleh dengan perilaku yang oleh orang dewasa dianggap tidak bertanggung jawab (Hurlock,
2001).
KONSEP REMAJA
KONSEP REMAJA
Pengertian Remaja
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak dengan masa desa yang mengalami
perkembangan semua aspek/ Fungsi untuk memasuki masa dewasa (Rumini, 2004 : 13 ).
Fase remaja adalah merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting, yang
diawali dengan matangnya orga-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi (Yusuf,
2009 : 184).
Penggolongan Remaja
Penggolongan remaja menurut Thornburg (1982) dalam buku (Dariyo, 2004 : 20) terbagi 3 tahap yaitu:
Menurut pandangan Gunasa (1991) dalam buku Dariyo, 2004 : 14) bahwa secara umum ada 2
faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja :
Dalam pandangan ini dinyatakan bahwa perubahan-perubahan fisik maupun psikis dipengaruhi
oleh faktor internal yang bersifat herediter yaitu yang diturunkan oleh orang tuanya.
Pandangan faktor exogen menyatakan bahwa perubahan dan perkembangan individu sangat
dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari luar diri individu itu sendiri. Faktor ini diantaranya berupa
lingkungan fisik maupun lingkungan sosial .
Dua aspek pokok dalam perubahan pada remaja menurut (Notoatmodjo, 2007 : 263) yaitu :
Perubahan fisik
Masa remaja diawali dengan pertumbuhan yang sangat cepat dan biasanya disebut pubertas.
Dengan adanya perubahan yang cepat itu terjadilah perubahan fisik yang dapat diamati seperti
pertambahan tinggi dan berat badan pada remaja atu biasa disebut “ Pertumbuhan “ dan kematangan
seksual sebagai hasil dari perubahan hormonal.
Perubahan
Masa remaja merupakan masa transisi antara mas akanak-akanak dan masa dewasa. Masa
transisi seringkali menghadapkan individu yang bersangkutan pada situasi yang membingungkan, disatu
pihak ia masih kanak-kanak dan dilain pihak ia harus bertingkah laku seperti orang dewasa. Situasi-
situasi yang menimbulkan konflik itu sering menyebabkan banyak tingkah laku yang aneh, canggung, dan
kalau tidak dikontrol bisa menimbulkan kenakalan.
Kematangan seksual remaja ditandai dnegan keluarnya air mani pertama pada laki-laki,
sedangkan pada remaja wanita mengalami menstruasi pertama.
Antara remaja putra dan remaja putri kematangan seksual terjadi dalam usia yang agak berbeda.
Spermache terjadi pada usia sekitar 13 tahun, sedangkan untuk menarche terjadi kira-kira pada usia 11
tahun (Dariyo, 2009 : 20).
Seorang remaja sering kali mengalami kesulitan dan tidak mampu untuk menghadapi masalah-
masalah perubahan perubahan fisiologis, psikologis maupun psikososial dengan baik. Adakalanya, bagi
remaha yang tidak memperoleh bimbingan dari orang tua, guru atau pihak yang lebih profesional, maka
akan menemui hambatan.
Depresi.
Kegemukan (obesitas).
Kebutuhan nutrisi dan gangguan pola makan.
Terpikirkah Anda untuk memiliki anak selagi usia Anda masih muda?
Mungkin saja, tetapi biasanya bagi wanita modern, pengertian �muda� di
sini tentu saja merujuk pada usia di atas dua puluhan, terutama setelah
menikah, lulus kuliah, atau sudah mapan dan memiliki pekerjaan tetap. Ya,
sekitar dua puluhan ke atas, lah.
Data Survei Kesehatan Ibu dan Anak tahun 2000 menunjukkan median
umur kehamilan pertama di Indonesia adalah 18 tahun, di mana sebanyak
46% perempuan mengalami kehamilan pertama di bawah usia 20 tahun, di
desa lebih tinggi (61%) daripada di kota. Padahal hal itu sangatlah
berbahaya. Remaja merupakan kelompok dengan signifikansi tingkat
komplikasi yang lebih tinggi selama kehamilan dan persalinan.
Di negara kita, para remaja yang hamil biasanya terlambat bahkan tidak
sama sekali mendapatkan pelayanan pre-natal (sebelum kelahiran) yang
cukup. Padahal, pelayanan pre-natal sangat dibutuhkan untuk menjaga
dan menunjang perkembangan bayi yang baik selama dalam kandungan
serta kesehatan daripada si ibu sendiri. Contoh pelayanan pre-natal yang
utama adalah peran dokter atau bidan dalam memberikan informasi serta
men-cukupkan kebutuhan gizi bagi ibu dan anaknya. Komplikasi yang
ditimbulkan karena tidak cukupnya pelayanan pre-natal antara lain
kelahiran bayi dengan berat badan rendah (di bawah 2,5 kilogram),
kelahiran prematur, dan pre-eklampsia.
Selain risiko fisik, masih ada risiko lain yakni risiko psikis dan sosial-
ekonomi. Beberapa pe-nelitian menunjukkan bahwa risiko komplikasi pada
kehamilan dan persalinan pada remaja, khususnya yang berusia 15-19
tahun, lebih dikarenakan faktor sosial-ekonomi daripada bio-logis. Di sini,
yang terganggu adalah jiwa atau batin mereka, karena pada usia tersebut
remaja putri biasanya belum siap secara mental dan finansial untuk
mengasuh dan menghidupi seorang bayi. Masa remaja memang
merupakan masa peralihan dari anak ke dewasa, yang sering ditandai
dengan ketidakstabilan emosional, berubah-ubahnya selera dan gaya
hidup, pencarian jati diri, dan masa modelling atau meniru-niru orang lain
yang dianggap lebih hebat. Keadaan psikologis mereka sendiri belum
stabil, apalagi saat mereka dihadapkan pada tanggung jawab
mengandung, melahirkan, dan mengasuh anak.
Kehamilan usia dini memuat risiko yang tidak kalah berat. Pasalnya,
emosional ibu belum stabil dan ibu mudah tegang. Sementara kecacatan
kelahiran bisa muncul akibat ketegangan saat dalam kandungan, serta
adanya rasa penolakan secara emosional ketika si ibu mengandung
bayinya. Berikut ini beberapa risiko yang ditanggung ibu dan anak pada
kehamilan di usia remaja:
� Mengalami perdarahan.
Perdarahan pada saat melahirkan antara lain disebabkan karena otot
rahim yang terlalu lemah dalam proses involusi. Selain itu juga
dapat disebabkan oleh selaput ketuban stosel atau pembekuan
darah yang tertinggal di dalam rahim. Ada juga kemungkinan
perdarahan akibat proses pembekuan darah yang lambat dan juga
dipengaruhi oleh adanya sobekan pada jalan lahir.
� Kematian ibu
Kematian ibu pada saat melahirkan banyak disebabkan karena
perdarahan dan infeksi. Selain itu angka kematian ibu karena
melakukan pengguguran kandungan yang dilakukan oleh tenaga
nonprofesional juga cukup tinggi.
� Persalinan prematur
Prematuritas terjadi karena kurang matangnya alat reproduksi
terutama rahim yang belum siap dalam suatu proses kehamilan.
Persalinan prematur berdampak buruk bagi bayi, karena organ
tubuh bayi yang belum siap sepenuhnya untuk hidup di luar rahim
ibu, dipaksa untuk berfungsi saat ia dilahirkan lebih cepat ke dunia.
� Cacat bawaan
Merupakan kelainan pertumbuhan struktur organ janin sejak saat
pertumbuhan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya
kelainan genetik dan kromosom, infeksi, virus toksoplasma dan
rubela, serta kelainan hormon. Jika pada kehamilan yang cukup usia
dan �dipersiapkan� dengan baik, cacat bawaan dapat diminimalisir
dengan melakukan pemeriksaan atau tes laboratorium (misalnya tes
TORCH) untuk mengetahui kemungkinan tersebut. Cacat bawaan
pada kehamilan dini juga bisa terjadi karena proses pengguguran
sendiri yang gagal (seperti dengan minum obat-obatan, loncat-
loncat, dan memijat perutnya sendiri) dan aborsi yang tidak
dilakukan tenaga profesional. (niq)
Hubungan sex diluar nikah membawa cukup banyak dampak negatif bagi diri pelaku maupun lingkungan
sekitar. Mulai dari kemungkinan tertular penyakit, hingga kehamilan diluar nikah.
Hal ini juga menyebabkan / berdampak pula pada tingginya tingkat aborsi. Padahal perbuatan aborsi, juga
memiliki resiko yang sangat tinggi terhadap keselamatan dari perempuan itu sendiri. Berikut ini resiko yang
terjadi jika melakukan aborsi khususnya remaja:
1. Kematian karena terlalu banyak pendarahan
2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan.
4. Sobeknya rahim (Uterine Perforation)
5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya.
6. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)
7. Kanker indung telur (Ovarian Cancer)
8. Kanker leher rahim (Cervical Cancer)
9. Kanker hati (Liver Cancer)
10. Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya
dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya.
11. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)
12. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy)
13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)
14. Infeksi alat reproduksi karena melakukan kuretase (secara medis) yang dilakukan secara tak steril. Hal
ini membuat remaja mengalami kemandulan dikemudian hari setelah menikah.
15. Pendarahan sehingga remaja dapat mengalami shock akibat pendarahan dan gangguan neurologist.
Selain itu pendarahan juga dapat mengakibatkan kematian ibu maupun anak atau keduanya.
16. Resiko terjadinya reptur uterus atau robeknya rahim lebih besar dan menipisnya dinding rahim akibat
kuretase. Kemandulan oleh karena robeknya rahim, resiko infeksi, resiko shock sampai resiko kematian ibu
dan anak yang dikandungnya.
17. Terjadinya fistula genital traumatis adalah suatu saluran atau hubungan antara genital dan saluran
kencing atau saluran pencernaan yang secara normal tidak ada.
Nah, akibatnya cukup menyeramkan khan? tidak ada yang enak khan? makanya melakukan hubungan seks
diluar nikah jangan dilakukan.
Sahabat bidancare, akhir – akhir ini begitu banyak email yang bidancare terima dari para sahabat muda dan remaja tentang
beberapa pertanyaan mengenai bagaimana cara menggugurkan kandungan, bagaimana agar kehamilan dapat dihentikan, bertanya
Contents
1 . Masalah kesehatan Reproduksi
2. Masalah psikologis pada kehamilan remaja
3. Masalah sosial ekonomi
4. Dampak kebidanan ( fungsi alat kandungan )
Sebuah keprihatinan yang menyentuh hati bidancare. Kebebasan dalam pergaulan dan kurangnya perhatian dari
orangtua kadangkala menimbulkan dampak negatif dalam cara bergaul anak –anak kita.
Jika sudah begini kita tak bisa saling menyalahkan. Tolong bantuan para ibu dan sahabat bidancare untuk menyebarluaskan
informasi mengenai dampak kehamilanpranikah pada remaja ini. Jujur saja bidancare sangat kaget bahwa adik – adik yang
masih tergolong usia remaja belia malah ada yang menanyakan dan menyebutkan beberapa jenis obat penggugur kandungan.
Duh…sedih rasanya melihat hal demikian. Apapun yang sudah terjadi yaknikehamilan diluar nikah tak boleh digugurkan dengan
cara apapun.
Mari kita bersama – sama penuh cinta memberi pendampingan bagi mereka tanpa harus menghakimi. Bila ibu – ibu dan para
orang tua sahabat bidancare mempunyaianak remaja, tolong titip pesan pesan berikut ini .
Sahabatku, menurut Prof Ida Bagus Gde Manuaba SpOG dan beberapa literatur lain ada beberapa masalah penting yang perlu
mendapat perhatian sebagai dampakkehamilan pranikah pada remaja. Saya coba rangkum di dalam tulisan berikut ini semoga
bermanfaat .
yang prima akan menjamin generasi yang sehat dan berkualitas. Di kalangan remaja telah terjadi semacam revolusi hubungan
seksual yang menjurus ke arah liberalisasi dan berakibat timbulnya berbagai penyakit menular seksual yang merugikan alat
reproduksi antara lain sifilis, gonorhoe, herpes alat kelamin, condiloma akuminata, HIV dan pada akhirnya AIDS.
Jika suatu saat ingin hamil normal maka besar kemungkinan alat reproduksi sudah tidak baik dan menimbulkan berbagai
komplikasi dalam kehamilan baik bagi ibu maupun janin yang dikandung .
rendah diri. Dampak terberat adalah ketika pasangan yang menghamili tidak mau bertanggung jawab. Perasaan bersalah membuat
Pada beberapa kasus seringkali ditemukan remaja yang hamil pra nikah menjadi frustasi. Lalu nekad berusaha melakukan
pengguguran kandungan dengan pijat ke dukun. Biasanya mereka mendapat referensi dari teman – taman sebaya agar minum
obat – obatan tertentu untuk menggugurkan kandungan padahal mereka tidak tahu bahwa obat tersebut sangat berbahaya bagi
keselamatan jiwa. Sementara dampak psikologis dari pihak orang tua adalah perasaan malu dan kecewa. Merasa gagal untuk
mendidik putri mereka terutama dalam hal moral dan agama. Kehamilan di luar nikah masih belum bisa diterima di masyarakat
Indonesia. Sehingga anakyang dilahirkan nantinya juga akan mendapat stigma sebagai anak haram hasil perzinahan. Kendati ada
juga yang kemudian dinikahkan, kemungkinan besar pernikahan tersebut banyak yang gagal karena belum ada persiapan mental
kemelut seperti ; penghasilan terbatas / belum mampu mandiri dalam membiayai keluarga baru , putus sekolah, tergantung pada
orangtua. Remaja yang hamil dan tidak menikah sering kali mendapat gunjingan dari tetangga. Masyarakat di Indonesia masih
belum bisa menerima single parent . Kontrol sosial dan moral dari masyarakat ini memang tetap diperlukan sebagai rambu –
dengan 30 tahun .Hal ini karena belum matangnya sitem reproduksi yang berpengaruh besar terhadap kesehatan ibumaupun janin
Selain melanggar agama dan hukum juga berakibat membahayakan keselamatan jiwa. Tindakan aborsi ilegal mengakibatkan
b. Terjadi berbagai komplikasi kesehatan yang buruk bagi janin dalam kandungan.
Antara lain persalinan prematur dan berat badan bayi yang rendah karena kurang gisi. Gangguan pertumbuhan organ / bayi cacat
akibat pernah mengkonsumsi obat obatan, penggunaan korset untuk menutupi kehamilan dengan menekan perut.
- Anemia ( kekurangan sel darah merah / Hemoglobine ) karena kebutuhan gisi selama hamil tidak diperhatikan .
- Akibat stres berlebihan menimbulkan hiperemesis gravidarum (mual muntah yang berlebihan ) .
- Terjadi kenaikan tekanan darah atau keracunan kehamilan yang di sebut pre eklampsia atau berlanjut menjadi eklampsia dan
- Terjadi infeksi baik saat hamil maupun masa nifas, terutama pada kehamilan dengan latar belakang sosial ekonomi rendah.
Angka kematian ini terutama disebabkan karena percobaan pengguguran secara ilegal oleh dukun dan mengakibatkan infeksi,
perdarahan .
Sahabat bidancare, semoga apa yang saya sampaikan ini dapat berguna. Sekali lagi keluarga adalah tempat pendidikan yang
paling dasar untuk membentuk kepribadian dan perilaku dari anak- anak. Semoga dasar keimanan dan moral yang baik yang
telah kita tanamkan sejak kanak – kanak dapat membuat mereka bertahan ketika menghadapi pengaruh buruk lingkungan .
Sumber ; Ilmu Kebidanan dan Penyakit kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan bidan ; Prof , dr. Ida Bagus Gde
Manuaba, SpOg, Perawatan kesehatan Ibu di PUSKESMAS ; DEPKES RI, Sinopsis Obstetri fisiologi dan patologi ; Prof Dr.
Rustam Muchtar, MPH. Dan dari berbagai makalah seminar seksualitas pada remaja.
Seksualitas dan kesehatan reproduksi remaja didefinisikan sebagai keadaan sejahtera fisik dan psikis
seorang remaja, termasuk keadaan terbebas dari kehamilan yang tak dikehendaki, aborsi yang tidak
aman, penyakit menular seksual (PMS) ter-masuk HIV/AIDS, serta semua bentuk kekerasan dan
pemaksaan seksual (FCI, 2000).
Mengapa Kesehatan Reproduksi Remaja Sangat Penting?
Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa dan relatif belum mencapai
tahap kematangan mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial
yang saling bertentangan. Banyak sekali life events yang akan terjadi yang tidak saja akan menentukan
kehidupan masa dewasa tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa ini
sebagai masa kritis.
Di negera-negara berkembang masa transisi ini berlangsung sangat cepat. Bahkan usia saat berhubungan
seks pertama ternyata selalu lebih muda daripada usia ideal menikah (Kiragu, 1995:10, dikutip dari
Iskandar, 1997).
Pengaruh informasi global (paparan media audio-visual) yang semakin mudah diakses justru memancing
anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiaasaan tidak sehat seperti merokok, minum minuman
berakohol, penyalahgunaan obat dan suntikan terlarang, perkelahian antar-remaja atau tawuran (Iskandar,
1997). Pada akhirnya, secara kumulatif kebiasaan-kebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal seksual
aktif serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berperilaku seksual yang berisiko tinggi, karena
kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan
seksualitas serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk
kontrasepsi.
Kebutuhan dan jenis risiko kesehatan reproduksi yang dihadapi remaja mempunyai ciri yang berbeda dari
anak-anak ataupun orang dewasa. Jenis risiko kesehatan reproduksi yang harus dihadapi remaja antara lain
adalah kehamilan, aborsi, penyakit menular seksual (PMS), ke-kerasan seksual, serta masalah keterbatasan
akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan. Risiko ini dipe-ngaruhi oleh berbagai faktor yang saling
berhubungan, yaitu tuntutan untuk kawin muda dan hubungan seksual, akses terhadap pendidikan dan
pekerjaan, ketidaksetaraan jender, kekerasan seksual dan pengaruh media massa maupun gaya hidup.
Khusus bagi remaja putri, mereka kekurangan informasi dasar mengenai keterampilan menegosiasikan
hubungan seksual dengan pasangannya. Mereka juga memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk
mendapatkan pendidikan formal dan pekerjaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuan
pengambilan keputusan dan pemberdayaan mereka untuk menunda perkawinan dan kehamilan serta
mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki (FCI, 2000). Bahkan pada remaja putri di pedesaan, haid
pertama biasanya akan segera diikuti dengan perkawinan yang menempatkan mereka pada risiko kehamilan
dan persalinan dini (Hanum, 1997:2-3).
Kadangkala pencetus perilaku atau kebiasaan tidak sehat pada remaja justru adalah akibat
ketidak-harmonisan hubungan ayah-ibu, sikap orangtua yang menabukan pertanyaan anak/remaja tentang
fungsi/proses reproduksi dan penyebab rangsangan seksualitas (libido), serta frekuensi tindak kekerasan
anak (child physical abuse).
Mereka cenderung merasa risih dan tidak mampu untuk memberikan informasi yang memadai mengenai
alat reproduksi dan proses reproduksi tersebut. Karenanya, mudah timbul rasa takut di kalangan orangtua
dan guru, bahwa pendidikan yang menyentuh isu perkembangan organ reproduksi dan fungsinya justru
malah mendorong remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah (Iskandar, 1997).
Kondisi lingkungan sekolah, pengaruh teman, ketidaksiapan guru untuk memberikan pendidikan kesehatan
reproduksi, dan kondisi tindak kekerasan sekitar rumah tempat tinggal juga berpengaruh (O’Keefe, 1997:
368-376).
Remaja yang tidak mempu-nyai tempat tinggal tetap dan tidak mendapatkan perlin-dungan dan kasih
sayang orang tua, memiliki lebih banyak lagi faktor-faktor yang berkontribusi, seperti: rasa kekuatiran dan
ketakutan yang terus menerus, paparan ancaman sesama remaja jalanan, pemerasan, penganiayaan serta
tindak kekerasan lainnya, pelecehan seksual dan perkosaan (Kipke et al., 1997:360-367). Para remaja ini
berisiko terpapar pengaruh lingkungan yang tidak sehat, termasuk penyalahgunaan obat, minuman
beralkohol, tindakan kriminalitas, serta prostitusi (Iskandar, 1997).
Pelayanan Kesehatan Reproduksi bagi Remaja
Pilihan dan keputusan yang diambil seorang remaja sangat tergantung kepada kualitas dan kuantitas
informasi yang mereka miliki, serta ketersediaan pelayanan dan kebijakan yang spesifik untuk mereka, baik
formal maupun informal (Pachauri, 1997).
Sebagai langkah awal pencegahan, peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi harus
ditunjang dengan materi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang tegas tentang penyebab dan
konsekuensi perilaku seksual, apa yang harus dilakukan dan dilengkapi dengan informasi mengenai saranan
pelayanan yang bersedia menolong seandainya telah terjadi kehamilan yang tidak diinginkan atau tertular
ISR/PMS. Hingga saat ini, informasi tentang kesehatan reproduksi disebarluaskan dengan pesan-pesan yang
samar dan tidak fokus, terutama bila mengarah pada perilaku seksual (Iskandar, 1997).
Di segi pelayanan kesehatan, pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana di Indonesia
hanya dirancang untuk perempuan yang telah menikah, tidak untuk remaja. Petugas kesehatan pun belum
dibekali dengan kete-rampilan untuk melayani kebutuhan kesehatan reproduksi para remaja (Iskandar,
1997).
Jumlah fasilitas kesehatan reproduksi yang menyeluruh untuk remaja sangat terbatas. Kalaupun ada,
pemanfaatannya relatif terbatas pada remaja dengan masalah kehamilan atau persalinan tidak
direncanakan. Keprihatinan akan jaminan kerahasiaan (privacy) atau kemampuan membayar, dan
kenyataan atau persepsi remaja terhadap sikap tidak senang yang ditunjukkan oleh pihak petugas
kesehatan, semakin membatasi akses pelayanan lebih jauh, meski pelayanan itu ada. Di samping itu,
terdapat pula hambatan legal yang berkaitan dengan pemberian pelayanan dan informasi kepada kelompok
remaja (Outlook, 2000).
Karena kondisinya, remaja merupakan kelompok sasaran pelayanan yang mengutamakan privacy dan
confidentiality (Senderowitz, 1997a:10). Hal ini menjadi penyulit, mengingat sistem pelayanan kesehatan
dasar di Indonesia masih belum menempatkan kedua hal ini sebagai prioritas dalam upaya perbaikan
kualitas pelayanan yang berorientasi pada klien