Anda di halaman 1dari 12

12

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN DIARE AKUT :


SEBUAH STUDI KASUS
1Fitri Nurbaiti, 2Herlina

Program Studi D-III Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan


1,2

Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta


Kampus 1 Jl RS Fatmawati No. 1 Pondok Labu Jakarta Selatan 12450
Kampus II Jl. Raya Limo Depok 16515, Indonesia
Fitrinurbaiti99@gmail.com

Abstrak
Diare, penyakit saluran pencernaan yang disebabkan oleh faktor infeksi, malabsorbsi, makanan dan psikologis,
biasanya terjadi pada anak – anak di Indonesia. Pengelolaan sampah yang kurang baik menarik lalat untuk
menempel kemudian hinggap dimakanan, saluran limbah / saluran air di rumah yang kurang bersih, dan
kurangnya informasi mengenai diare di lingkungan masyarakat menjadi beberapa penyebab diare. Metode yang
digunakan yaitu metode deskriptif melakukan pendekatan melalui studi kasus dengan mengelola 1 (satu) kasus
dengan menggunakan proses asuhan keperawatan pada bulan Februari 2020 dan tempat penelitian di RSUD
Pasar Minggu. Diagnosa keperawatan yang muncul yaitu defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan aktif, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan makan
inadekuat dan hipertermi berhubungan dengan faktor infeksi jamur. Penerapan asuhan keperawatan sesuai
dengan proses keperawatan akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan kriteria hasil yang telah ditetapkan.
Keberhasilan asuhan keperawatan membutuhkan kerjasama yang baik antara tenaga kesehatan dengan pasien dan
keluarga.
Kata kunci : diare, penyebab diare dan asuhan keperawatan.

Abstract

Diarrhea is a disease of the digestive tract caused by infection, malabsorption, food and psychological which
usually occurs in children in Indonesia. There are several causes for someone experiencing defecation in
children. Poor waste management, sewage or waterways at home less clean, and lack of information about
diarrhea in the environment. The descriptive method approach through this case studies used by managing 1
(one) case using the nursing care process. in February 2020 and the research at Pasar Minggu Regional
General Hospital. The diagnosis that arises in the case of fluid volume deficiency associated with active fluid
loss, nutritional imbalance less than the body's needs is related to inadequate food intake and hyperthermia
associated with fungal infection factors. Implementation of nursing care in the nursing process will get results
that are in accordance with predetermined outcome criteria. Good cooperation between health workers with
patients or families are needed to achieve success nursing care.

Key words : diarrhea, causes of diarrhea and nursing care

Pendahuluan
Berdasarkan data dari World Health Di Indonesia sendiri kasus penyakit diare
Organization (WHO) tahun 2013 terjadi di 11 provinsi yaitu sebanyak
penyakit Diare merupakan salah satu lebih dari 4.200 orang dengan 73 orang
pembunuh anak kedua serta setiap atau 1,74% meninggal akibat diare
tahunnya terdapat kurang lebih 1,7 miliar (Depkes RI, 2013). Berdasarkan data
kasus terkait penyakit diare dan lebih Dinas Provinsi Jawa Tengah penyakit ini
dari 500.000 balita meninggal dunia merupakan salah satu kasus yang cukup
karena penyakit dari diare. tinggi dengan data pada tahun 2010

Buletin Kesehatan Vol.4 No.1 Januari-Juli 2020 ISSN: 2614-8080


13

balita yang mengalami buang air besar Diare merupakan suatu penyakit yang
cair sebanyak 2.448, tahun 2011 angka harus ditangani dengan segera agar tidak
kejadian diare mengalami peningkatan terjadi komplikasi. Diharapkan perawat
sebanyak 2.684, pada tahun 2012 mampu memberikan peran Promotif,
mengalami peningkatan kembali Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif.
sebanyak 2.825, sedangkan pada tahun Peran Promotif yaitu perawat dapat
2013 mengalami penurunan yaitu memberikan informasi kesehatan tentang
sebanyak 2.615, tahun 2014 adanya diare dan cara mencegah terjadinya diare.
peningkatan yang pesat sebanyak 3.326 Peran Preventif dengan selalu menjaga
dan pada tahun 2015 angka kejadian kebersihan baik lingkungan, makanan,
mengalami peningkatan kembali yaitu minuman serta tangan. Peran Kuratif
sebanyak 3.531 (Dinas Kesehatan dengan melakukan pemeriksaan secara
Kabupaten Pati, 2015). menyeluruh dan melakukan kolaborasi
dengan tim kesehatan lainnya dalam
Berdasarkan hasil data Rekam Medis di pemberian terapi obat dan pemberian diet
RSUD Pasar Minggu Jakarta Selatan agar penyembuhan menjadi lebih
selama 7 bulan terakhir (Juni - Desember komprehensif. Peran Rehabilitatif pada
2019) didapatkan sebaran kasus klien saat dirumah dengan cara
yang dirawat di lantai 7 sebagai berikut: memberitahukan kepada orangtua agar
diare dan gastroenteritis 556 (41%) kasus, selalu menjaga kebersihan lingkungan
bronchopneumonia 279 (20,5%) kasus, terutama pada saat makanan dan
demam tipoid 129 (9,5%) kasus, minuman serta kebersihan tangan.
Dengue Haemoragic Fever (DHF) 113
(8,3%) kasus, infeksi bakteri 83 (6,1%) Pengertian
kasus, pneumonia 59 (4,3%) kasus, Menurut Amin (2015), diare adalah suatu
Astma 44 (3,2%) kasus, demam Dengue kondisi yang terjadi pada seseorang yang
38 (2,7%) kasus, infeksi virus 36 (2,6%) sedang menglami peningkatan dalam
kasus dan Hepatitis A 22 (1,6%). Hasil buang air besar daripada biasanya yaitu
rekam medis menunjukkan bahwa lebih 3 kali selama 24 jam dengan tinja
penyakit diare dan gastroenteritis berada yang cair. Sedangkan menurut Rinik
pada peringkat pertama. (2017), diare adalah adanya peningkatan

Buletin Kesehatan Vol.4 No.1 Januari-Juli 2020 ISSN: 2614-8080


14

dalam buang air besar selama satu hari menandakan adanya infeksi didalam
dan feses yang tidak padat. tubuh. Kemudian kuman tersebut
merusak sel – sel didalam tubuh yang
Etiologi dapat melekat pada dinding usus
Menurut Ika (2016) faktor penyebab dari sehingga mengakibatkan adanya
diare yaitu : infeksi, malabrobsi, peningkatan pengeluaran cairan sehingga
makanan dan psikologis. Faktor infeksi timbul diare.
yaitu masuknya kuman kedalam saluran
pencernaan dan berkembang diusus Manifestasi Klinik
menghasilkan racun sehingga usus Anak akan mengalami peningkatan
mengalami iritasi kemudian penyerapan dalam buang air besar cair daripada
nutrisi dan cairan menjadi terganggu. biasanya, muntah yang terjadi secara
Faktor malabrobsi yaitu nutrisi dan berulang – ulang disertai dengan adanya
cairan yang tidak dapat diserap dengan nyeri serta perasaan penuh pada perut
baik mengakibatkan usus mengalami menyebabkan anak menjadi hilang nafsu
peningkatan cairan dan elektrolit. Faktor makan dan adanya berat badan yang
makanan yaitu kuman yang ada pada menurun dikarenakan tidak adanya
makanan kemudian tertelan kedalam makanan yang masuk dan badanpun akan
tubuh sehingga menghasilkan racun yang terasa lemas. Diare dan muntah terjadi
dapat mengganggu proses penyerapan secara terus menerus mengakibatkan
makanan dan terjadilah peningkatan tubuh kekurangan cairan dan akan
peristaltik di usus. Faktor psikologis menimbulkan gejala yaitu membran
yaitu cemas yang berlebihan dapat mukosa mulut yang kering dan pada bayi
menghasilkan hormon serotonin yang biasanya akan tampak ubun – ubun yang
ada disaluran pencernaan sehingga dapat cekung disertai dengan adanya
mempengaruhi otak untuk mengubah peningkatan suhu tubuh. Taqqiyah
pergerakan usus menjadi meningkat. (2013).

Patofisiologi Penatalaksanaan Medis


Masuknya kuman kedalam tubuh Kementerian Kesehatan Republik
menyebabkan terjadinya infeksi dan Indonesia (2011), memberikan langkah
menghasilkan sitotoksin yang penanganan diare sebagai berikut :

Buletin Kesehatan Vol.4 No.1 Januari-Juli 2020 ISSN: 2614-8080


15

pemberian cairan oralit dan cairan terdengarnya peningkatan pada bising


intravena untuk mencegah tubuh dari usus, riwayat imunisasi dan pemeriksaan
dehidrasi, pemberian obat zinc selama penunjang yang dapat meliputi
diare bertujuan untuk mengurangi jumlah pemeriksaan tinja dan pemeriksaan darah
buang air besar dan mencegah diare lengkap.
kembali terjadinya dan pemberian
antibiotik sesuai dengan indikasi, namun B. Diagnosa Keperawatan
hanya diare yang disertai dengan darah Diagnosa yang muncul terkait masalah
dan diare karena infeksi yang diberikan diare pada anak yaitu : defisit volume
obat antibiotik. cairan dan elektrolit kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan
Asuhan Keperawatan output cairan yang berlebih, nutrisi
A. Pengkajian Keperawatan kurang dari kebutuhan tubuh
Pengkajian pada diare meliputi : biodata berhubungan dengan mual dan muntah,
seperti nama, usia, jenis kelamin, bahasa gangguan integritas kulit berhubungan
yang digunakan serta informasi pribadi dengan iritasi, frekuensi buang air besar
lainnya, riwayat penyakit sekarang, yang berlebihan, gangguan rasa nyaman
riwayat penyakit masa lalu, riwayat nyeri berhubungan dengan distensi
kesehatan keluarga, kebutuhan dasar abdomen dan kecemasan berhubungan
seperti eliminasi, nutrisi, tidur atau dengan perpisahan dengan orang tua,
istirahat, kebersihan dan aktivitas, serta prosedur yang menakutkan.
pemeriksaan fisik dengan cara inspeksi C. Intervensi
yaitu mata tampak cekung, ubun – ubun Masalah keperawatan defisit volume
tampak cekung, bibir tampak kering, cairan dan elektrolit kurang dari
kulit tidak elastis, abdomen tampak kebutuhan tubuh berhubungan dengan
mengalami pembesaran, terjadinya output cairan yang berlebih dengan
penurunan berat badan, pada area anus kriteria hasil : tanda – tanda dehidrasi
tampak luka atau kemerahan, klien tidak ada, mukosa bibir lembab dan
tampak lemas, perkusi yaitu adanya cairan seimbang, intervensi : observasi
perasaan penuh pada daerah perut, tanda – tanda vital klien, observasi
palpasi yaitu turgor kulit tidak elastis dan adanya tanda – tanda dehidrasi, catat dan
nyeri saat ditekan dan auskultasi yaitu ukur intake (asupan) atau output

Buletin Kesehatan Vol.4 No.1 Januari-Juli 2020 ISSN: 2614-8080


16

(pengeluaran) cairan, anjurkan keluarga dengan dokter dalam pemberian obat


untuk memberikan banyak minum, apabila adanya iritasi pada kulit .
kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian cairan dan terapi pengobatan. Masalah keperawatan gangguan rasa
nyaman nyeri berhubungan dengan
Masalah keperawatan gangguan distensi abdomen dengan kriteria hasil :
kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan nyeri yang dirasakan dapat berkurang
tubuh berhubungan dengan mual dan dan klien tidak menunjukkan ekspresi
muntah dengan kriteria hasil : asupan meringis, intervensi : kaji nyeri secara
nutrisi meningkat, menghabiskan porsi komprehensif, kaji tanda – tanda vital,
makan, mual dan muntah tidak ada, atur posisi yang nyaman pada klien, beri
intervensi : kaji pola nutrisi klien, kompres hangat pada abdomen klien dan
timbang berat badan klien, lakukan kolaborasi dengan dokter dalam
pemeriksaan fisik pada daerah abdomen, pemberian terapi analgesik.
berikan diet dalam kondisi yang masih
hangat, anjurkan klien untuk makan Masalah keperawatan kecemasan
sedikit tapi sering, kolaborasi dengan berhubungan dengan perpisahan dengan
dokter dalam pemberian terapi obat dan orang tua, prosedur yang menakutkan
kolaborasi dengan ahli gizi dalam dengan kriteria hasil : klien tidak tampak
pemberian diet makan. adanya keringat dingin, klien tidak rewel,
intervensi : kaji tingkat kecemasan klien,
Masalah keperawatan gangguan kaji faktor pencetus cemas yang
intergritas kulit berhubungan dengan dirasakan oleh klien, kaji hal yang
adanya iritasi, frekuensi buang air besar disukai oleh klien, berikan mainan yang
yang berlebihan dengan kriteria hasil : disukai oleh klien, libatkan keluarga
iritasi tidak ada, tidak ada tanda – tanda dalam setiap tindakan yang diberikan dan
terjadinya infeksi, intervensi : ganti anjurkan pada keluarga untuk selalu
popok anak yang telah basah, bersihkan mendampingi klien.
atau lakukan perawatan pada anus klien,
observasi daerah anus klien dan kaji ada D. Implementasi
tidaknya tanda – tanda infeksi, kolaborasi Implementasi keperawatan adalah asuhan
keperawatan terkait tindakan – tindakan

Buletin Kesehatan Vol.4 No.1 Januari-Juli 2020 ISSN: 2614-8080


17

keperawatan yang telah diberikan


berdasarkan rencana yang telah B. Resume
ditetapkan dengan berdasarkan tujuan Pada hari Jumat tanggal 14 Februari
untuk memenuhi kebutuhan klien secara 2020 ibu klien mengatakan anaknya
optimal serta mengatasi masalah yang demam dengan suhu 38,9 C saat
0

dialami oleh klien dengan melaksanakan dirumah, kemudian ibu klien


tindakan – tindakan keperawatan, selama memberikan anaknya obat paracetamol,
pemberian tindakan keperawatan tersebut demam klien mulai turun tidak lama
perawat dapat menilai kembali respon setelah itu klien demam kembali. Pada
yang diberikan oleh klien dari tindakan tanggal 16 Februari klien mengalami
keperawatan yang telah diberikan. (Eko, diare sebanyak 12 kali sedikit - sedikit
2017). namun sesekali banyak dengan
konsistensi cair tanpa disertai darah
E. Evaluasi ataupun lendir. Pada tanggal 17 Februari
Evaluasi keperawatan sebagai proses ibu klien langsung membawa anaknya ke
yang terakhir dalam asuhan keperawatan IGD Pasar Minggu, klien minumnya
dengan melakukan perbandingan tentang sedikit dan sulit makan. Tanda – tanda
kesehatan klien yang dilakukan secara vital klien pernafasan : 24 x/menit, suhu :
berkesinambungan atau terus - menerus 38,7 0C, nadi : 124 x/menit dan saturasi :
dengan selalu mengikut sertakan klien, 98%. Klien mendapatkan pemberian obat
keluarga klien dan tim kesehatan lainnya paracetamol 80 mg IV, pemberian cairan
demi tercapainya tujuan dan kriteria hasil infus RL 730 ml/24jam dan dilakukan
berdasarkan perencanaan yang telah cek laboratorium.
dibuat.
C. Pengkajian
Tinjauan Kasus Pencernaan yaitu klien buang air besar
Pengkajian Keperawatan lebih dari 12 kali dalam sehari dengan
A. Identitas Klien konsistensi cair dan berwarna kuning,
Identitas klien meliputi nama By L, jenis anus klien tampak tidak ada iritasi, bising
kelamin : perempuan, berusia 9 bulan usus 15 x/menit, ibu klien mengatakan
dan tempat tanggal lahir : Jakarta, 01 Mei nafsu makan anaknya berkurang dan
2019. makan hanya sebanyak 2 sendok, minum

Buletin Kesehatan Vol.4 No.1 Januari-Juli 2020 ISSN: 2614-8080


18

sebanyak 175 cc, berat badan klien diberikan secara oral atau minum,
sebelum sakit 8,5 kg dan berat badan pemberian terapi cairan infus RL
sesudah sakit 7 kg, diet yang diberikan sebnyak 730 cc/24 jam dan pemberian
yaitu makanan lunak. Pertumbuhan makan berupa diet lunak.
meliputi berat badan 7 kg, tinggi badan :
75 cm, lingkar kepala 42 cm, F. Data fokus
perkembangan gigi klien normal dan Berdasarkan dari pengkajian didapatkan
bagus. Motorik kasar bayi dapat data subjektif yaitu ibu klien mengatakan
membalikan badan dan meraih benda, anaknya buang air besar sebanyak 12 kali
motorik halus klien mampu dengan konsistensi cair, ibu klien
menggenggam benda. Hospitalisasi pada mengatakan badan anaknya lemas, ibu
anak yaitu klien hanya diam atau lebih klien mengatakan klien lebih banyak
banyak tidur, sesekali menangis namun minum ASI, ibu klien mengatakan klien
tidak rewel sedangkan pada keluarga minum air putih hanya sedikit, ibu klien
yaitu ibu klien mengatakan dirinya mengatakan anaknya hanya makan
menjadi sulit untuk melakukan aktivitas sebanyak 2 sendok, ibu klien mengatakan
karena klien hanya dirawat oleh dirinya. anaknya tidak nafsu makan, ibu klien
mengatakan anaknya tidak pernah
D. Data penunjang menghabiskan makanannya, ibu klien
Hasil Laboratorium pada tanggal 17 mengatakan anaknya demam sudah 3
Februari 2020 : hemoglobin 10,7, g/dl hari, ibu klien mengatakan demam
dengan nilai normal 10,5 – 12,9 g/dl. anaknya naik turun dan ibu klien
hematokrit 31% dengan nilai normal 35 – mengatakan kulit anaknya terasa hangat.
43% dan pseudohypha positif.
Berdasarkan pengkajian data objektif
E. Penatalaksanaan yaitu kesadaran : composmentis, klien
Penatalaksanaan medis yang diberikan tampak lemas, ubun – ubun tampak
kepada klien yaitu pemberian obat sedikit cekung, mukosa bibir klien
paracetamol 3x80 mg melalui intravena, tampak lembab, turgor kulit klien tampak
obat ranitidin 2x10 mg melalui intravena, tidak elastis, buang air besar klien
obat zink Sirup 1x5 ml diberikan secara tampak berwarna kuning dengan
oral atau minum, obat liprolac 2x1 konsistensi cair, kulit klien terasa hangat,

Buletin Kesehatan Vol.4 No.1 Januari-Juli 2020 ISSN: 2614-8080


19

tanda – tanda vital : pernafasan : 24 Diagnosa Keperawatan


x/menit, suhu : 38,7 0C, nadi : 124 Berdasarkan data ditemukan masalah
x/menit dan saturasi : 98%, Intake : kesehatan yaitu defisiensi volume cairan
asupan oral 125 cc (ASI dan air putih) + berhubungan dengan kehilangan cairan
obat (injeksi) 90 cc + cairan infus RL aktif, ketidakseimbangan nutrisi kurang
730 cc/24 jam + air metabolisme 8 cc x 7 dari kebutuhan tubuh berhubungan
kg = 56 cc/24jam, total intake per 24 jam dengan asupan makan yang kurang
= 1001 cc. Output : urine 180 cc, BAB adekuat dan hipertermi berhubungan
300 cc, IWL 210 cc (30 – 0 X 7 kg / 24 dengan faktor infeksi jamur.
jam), IWL demam = 210 + (38,7 – 36,8)
x 200 = 590 cc, total output per 24 jam = Perencanaan, pelaksanaan dan
1280 cc. Total balance cairan per 24 jam Evaluasi
yaitu 1001 – 1280 = - 279 cc/24 jam, Diagnosa keperawatan defisiensi volume
klien tampak tidak menghabiskan cairan berhubungan dengan kehilangan
makanannya, A : BB sebelum sakit 8,5 cairan aktif dengan perencanaan
kg dan BB setelah sakit 7 kg klien membina hubungan saling percaya,
mengalami penurunan sebanyak 18%, observasi keadaan klien, monitor tanda
tinggi badan : 75 cm dan Lingkar kepala : dan gejala diare, monitor tanda – tanda
42 cm. B : Hemoglobin 10,7, g/dl vital, monitor status hidrasi, monitor
dengan nilai normal 10,5 – 12,9 g/dl. intake dan output, edukasi keluarga
Hematokrit 31% dengan nilai normal tentang pencegahan penyebaran infeksi
35 – 43%. C : turgor kulit tidak elastis, yaitu mencuci tangan bersih, berikan
buang air besar cair dan nafsu makan cairan IV dengan adekuat dan kolaborasi
kurang D : diet makan lunak. bising usus dengan tim kesehatan lainya.
15 x/menit dan wajah klien tampak
merah. Hasil Laboratorium klien : Pelaksanaan yang dilakukan yaitu
hemoglobin 10,7, g/dl dengan nilai membina hubungan saling percaya, hasil :
normal 10,5 – 12,9 g/dl. hematokrit 31% keluarga kooperatif. Mengobservasi
dengan nilai normal 35 – 43% dan keadaan klien, hasil : keadaan umum
pseudohypha positif. sakit sedang, kesadaran compos mentis
dan klien tampak lemas. Memonitor
tanda – tanda vital, hasil : pernafasan : 23

Buletin Kesehatan Vol.4 No.1 Januari-Juli 2020 ISSN: 2614-8080


20

x/menit, suhu : 38,5 0C, dan nadi : 120 dengan konsistensi lunak dan berwarna
x/menit. Memonitor tanda dan gejala kuning, kesadaran : compos mentis, klien
diare, hasil : bab cair berwarna kuning tampak tidak lemas, membran mukosa
lebih dari 3x. memonitor status hidrasi, tampak lembab, turgor kulit elastis, kulit
hasil : membran mukosa lembab, turgor tampak terasa tidak kering, tanda – tanda
kulit tidak elastis, kulit kering. vital : pernafasan : 23 x/menit, suhu :
Memberikan cairan IV dengan adekuat, 36,5 0C, nadi : 123 x/menit dan balance
hasil : klien diberikan cairan infus RL cairan cairan per 24 jam yaitu 946 cc –
730 cc/24 jam. Mengedukasi keluarga 460 cc = 486 cc/24 jam. Intake : asupan
tentang pencegahan penyebaran infeksi oral 150 cc (ASI dan Air putih) + obat
yaitu mencuci tangan bersih, hasil : klien injeksi 10 cc + cairan infus RL 730 cc +
dapat cuci tangan dengan baik dan benar. air metabolisme 8 cc x 7 kg = 56
Berkolaborasi dengan tim kesehatan cc/24jam, nilai intake per 24 jam yaitu
lainya dalam pemberian obat, hasil : 946 cc. Output : urine 150 cc, BAB 100
klien diberikan ranitidin 10 mg (IV) dan cc, IWL 210 cc (30 – 0 X 7 kg / 24 jam),
liprolac 1 sachet atau 2,5 gram (oral) dan nilai output per 24 jam yaitu 460 cc,
zink sirup 5 ml (oral). Memonitor intake berdasarkan data yang ditemukan
dan output klien, hasil : Intake : asupan masalah kesehatan defisiensi volume
oral 150 cc (ASI dan air putih) + obat cairan berhubungan dengan kehilangan
injeksi 90 cc + cairan infus RL 730 cc + cairan aktif teratasi sehingga intervensi
air metabolisme 8 cc x 7 kg = 56 dihentikan.
cc/24jam. nilai intake per 24 jam yaitu
1026 cc, Output : urine 150 cc, BAB 225 Diagnosa ketidakseimbangan nutrisi
cc, IWL 210 cc (30 – 0 X 7 kg / 24 jam), kurang dari kebutuhan tubuh
IWL demam = 210 + (38,5 – 36,8) x 200 berhubungan dengan asupan makan
= 550. nilai output per 24 jam yaitu 1135 yang kurang adekuat dengan
cc. Total balance cairan per 24 jam yaitu perencanaan yaitu membina hubungan
1026 cc – 1135 cc = -109 cc/24 jam. saling percaya, monitor intake atau
asupan harian, anjurkan klien untuk
Evaluasi yang didapatkan pada hari makan sedikit tapi sering, dorong klien
ketiga klien dirawat yaitu ibu klien untuk memonitor sendiri asupan
mengatakan klien BAB sebanyak 2 kali makanan harian, monitor perilaku klien

Buletin Kesehatan Vol.4 No.1 Januari-Juli 2020 ISSN: 2614-8080


21

yang berhubungan dengan pola makan x/menit, berdasarkan data yang


dan kolaborasi dengan ahli gizi dalam ditemukan masalah kesehatan
pemberian diet makan. ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan
Pelaksanaan yang dilakukan yaitu asupan makan yang kurang adekuat
memonitor intake atau asupan harian, teratasi sehingga intervensi dihentikan.
hasil : ibu klien mengatakan anaknya
lebih sering minum ASI dan air putih Diagnosa keperawatan hipertermi
sedikit. Menganjurkan klien untuk makan berhubungan dengan faktor infeksi jamur
sedikit tapi sering, hasil : ibu klien dengan perencanaan yaitu membina
memberikan anaknya makan sedikit tapi hubungan saling percaya, pantau suhu
sering. mendorong klien untuk dan tanda – tanda vital lainnya, monitor
memonitor sendiri asupan makanan warna kulit dan akral klien, dorong
harian, hasil : klien makan bubur keluarga untuk meningkatkan minum,
sebanyak 3 sendok. Memonitor intake fasilitasi klien untuk istirahat, berikan
atau asupan harian, hasil : ibu klien pengobatan antipiretik sesuai dengan
mengatakan anaknya lebih sering minum kebutuhan dan berikan cairan IV.
ASI dan air putih sedikit dan
berkolaborasi dengan ahli gizi dalam Pelaksanaan yang dilakukan yaitu
pemberian diet makan, hasil : klien memantau suhu dan tanda – tanda vital
diberikan diet makan lunak. lainnya, hasil : pernafasan : 24 x/menit,
suhu : 38,9 0C dan nadi : 120 x/menit.
Evaluasi yang didapatkan yaitu ibu klien Memonitor warna kulit dan suhu, hasil :
mengatakan anaknya nafsu makannya akral hangat dan klien demam.
meningkat dan sudah banyak makan Mendorong keluarga untuk
biskuit dan klien menghabiskan 1 porsi meningkatkan minum, hasil : ibu klien
makan, kesadaran : compos mentis, klien mengatakan anaknya lebih sering minum
tampak tidak lemas, klien tampak asi daripada air putih. Memfasilitasi klien
mengahabiskan 1 porsi makan, klien untuk istirahat, hasil : klien tampak
tampak makan biskuit dengan lahap dan sedang tertidur. Memantau suhu dan
tanda – tanda vital : pernafasan : 23 tanda – tanda vital lainnya, hasil :
x/menit, suhu : 36,5 0C dan nadi : 123 pernafasan : 24 x/menit, suhu : 37 0C dan

Buletin Kesehatan Vol.4 No.1 Januari-Juli 2020 ISSN: 2614-8080


22

nadi : 118 x/menit. Memberikan cairan hlm 134 – 136. Diakses pada 14 Februari
2020.
IV, hasil : klien tampak terpasang cairan
infus RL dan memberikan pengobatan Fahrunnisa, dan Arulita Ika Fibriana.
2017. “Pendidikan Kesehatan dengan
antipiretik sesuai dengan kebutuhan,
Media Kalender Pintare (Pintar Atasi
hasil : klien diberikan paracetamol 80 mg Diare)” Jurnal of Health Education Vol.
2, No. 1, hlm 48 – 49. Diakses pada 14
IV.
Februari 2020.

Gultom. 2018. Hubungan konsumsi


Evaluasi yang didapatkan yaitu ibu klien
makanan jajanan dengan diare pada anak,
mengatakan anaknya sudah tidak demam jurnal kesehatan Vol. 6 No 1. Diakses
pada 14 Februari 2020.
dan badan anaknya sudah tidak terasa
panas, kesadaran compos mentis, Hartati Susi. 2018. Faktor yang
berhubungan dengan kejadian diare pada
keadaan umum baik, klien tampak
balita di wilayah puskesmas. jurnal
banyak beraktivitas dan tidak banyak kesehatan Vol. 3 No. 2, hlm 400. Diakses
pada 14 Februari 2020.
tidur seperti kemarin dan tanda – tanda
vital : : 25 x/menit, suhu : 36,3 0C dan Kapti, Rinik Eko. 2017. Perawatan Anak
Sakit di Rumah. Malang : Ubpress.
nadi : 118 x/menit, berdasarkan data
yang ditemukan masalah kesehatan Kasanah Uswatun. 2019. Hubungan
pemrosesan ASI dengan frekuensi
hipertermi berhubungan dengan faktor
kejadian diare pada bayi. Jurnal
infeksi jamur teratasi sehingga intervensi kesehatan Vol. 09 No. 3. Diakses pada 14
Februari 2020.
dihentikan.
Mendri, Ni ketut. 2017. Asuhan
Keperawatan pada Anak Sakit & Bayi
Daftar Pustaka
Resiko Tinggi. Yogyakarta : Pustaka
Baru.
Bararah, Taqiyyah. 2013. Asuhan
Keperawatan Panduan Lengkap menjadi
Muji Basailin, Agrina dan Reni Zulfitri.
Perawat Profesional. Jakarta : Prestasi
2018. “Hubungan Durasi Riwayat
Pustaka.
Pemberian ASI Kejadian Diare pada
Bayi” Jurnal Keperawatan Vol. 5, No. 2,
Damayanti, Ika Putri. 2016. Kesehatan
hlm 98 – 99. Diakses pada 14 Februari
Anak untuk para Bidan. Yogyakarta :
2020.
Deepublish.
Depkes RI. 2011. Buku Saku Petugas
Nurarif, Amin Huda. 2015. Aplikasi
Kesehatan Lintas Diare (Lima Langkah
Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Tuntaskan Diare). Jakarta : Depkes RI.
Diagnosa Medis dan Nanda Nic Noc.
Yogyakarta : Mediaction.
Evayanti Ni Ketut Elsi. 2014. Faktor
Nurul Utami & Nabila Luthfiana. 2016.
yang berhubungan dengan kejadian diare
“Faktor – Faktor yang Mempengaruhi
pada balita, jurnal kesehatan Vol. 4 No. 2,
Buletin Kesehatan Vol.4 No.1 Januari-Juli 2020 ISSN: 2614-8080
23

Kejadian Diare pada Anak” Jurnal


Kesehatan Vol. 5, No. 4, hlm 101 – 102.
Diakses pada 14 Februari 2020.

Riyadi, Sujono. 2013. Asuhan


Keperawatan pada Anak. Yogyakarta :
Graha Ilmu

Saputri Nurwinda. 2018. Faktor


lingkungan yang berhubungan dengan
kejadian diare pada balita. jurnal
kesehatan Vol. 9 No. 2, hlm 101 – 103.
Diakses pada 14 Februari 2020.

Stefen dan Azizah. 2013. Hubungan


Sanitasi dengan kejadian penyakit diare.
jurnal kesehatan lingkungan Vol. 02 No
4. Diakses pada 14 Februari 2020.

Utami Nurul dan Nabila Luthfiana. 2016.


Faktor – Faktor yang mempengaruhi
kejadian diare pada anak. jurnal
kesehatan vol. No.4, hlm 101 – 104.
Diakses pada 14 Februari 2020.

Buletin Kesehatan Vol.4 No.1 Januari-Juli 2020 ISSN: 2614-8080