Modul Berorientasi Pelayanan
Modul Berorientasi Pelayanan
Angkatan : 70
Gelombang :1
Kelompok :3
No absen : 23
1
MODUL BERORIENTASI PELAYANAN
BAB II
MATERI POKOK 1
KONSEP PELAYANAN PUBLIK
2
ASN sebagai Pelayan Publik
pegawai ASN bertugas untuk:
a. melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas; dan
c. mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Nilai Berorientasi Pelayanan dalam Core Values ASN
Core Values ASN BerAKHLAK merupakan akronim dari Berorientasi Pelayanan, Akuntabel,
Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif.
Berorientasi Pelayanan dapat dijabarkan dengan beberapa kriteria, yakni:
a. ASN harus memiliki kode etik (code of ethics)
b. Untuk mendetailkan kode etik tersebut, dapat dibentuk sebuah kode perilaku (code of
conducts)
c. Pegawai ASN harus menerapkan budaya pelayanan, dan menjadikan prinsip melayani
sebagai suatu kebanggaan.
BAB III
MATERI POKOK 2
BERORIENTASI PELAYANAN
Dalam rangka mencapai visi reformasi birokrasi serta memenangkan persaingan di era digital
yang dinamis, diperlukan akselerasi dan upaya luar biasa (keluar dari rutinitas dan business as usual) agar
tercipta breakthrough atau terobosan, yaitu perubahan tradisi, pola, dan cara dalam pemberian pelayanan
publik. Terobosan itulah yang disebut dengan inovasi pelayanan publik.
3
MODUL AKUNTABEL
BAB III
KONSEP AKUNTABILITAS
1. Pengertian Akuntabilitas
Dalam konteks Akuntabilitas, perilaku tersebut adalah:
- Kemampuan melaksanaan tugas dengan jujur, bertanggung jawab, cermat, disiplin dan
berintegritas tinggi.
- Kemampuan menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab,
efektif, dan efisien
- Kemampuan menggunakan Kewenangan jabatannya dengan berintegritas tinggi.
2. Tingkatan Akuntabilitas
BAB IV
PANDUAN PERILAKU AKUNTABEL
4
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) untuk setiap
PNS.
2. Kontrak Kinerja. Semua Pegawai Negeri Sipil (PNS) tanpa terkecuali mulai 1 Januari
2014 menerapkan adanya kontrak kerja pegawai.
3. Laporan Kinerja yaitu berupa Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(LAKIP) yang berisi perencanaan dan perjanjian kinerja pada tahun tertentu,
pengukuran dan analisis capaian kinerja, serta akuntabilitas keuangan.
3.Konflik Kepentingan
a. Keuangan : Penggunaan sumber daya lembaga (termasuk dana,peralatan atau sumber daya
aparatur) untuk keuntungan pribadi.
b. Non-Keuangan : Penggunaan posisi atau wewenang untuk membantu diri sendiri dan / atau orang
lain.
BAB V
AKUNTABEL DALAM KONTEKS ORGANISASI PEMERINTAHAN
1. Transparansi dan Akses Informasi
Keterbukaan informasi - memungkinkan adanya ketersediaan (aksesibilitas) informasi bersandar
pada beberapa prinsip. Prinsip yang paling universal (berlaku hampir diseluruh negara dunia)
adalah:
a. Maximum Access Limited Exemption (MALE) Pada prinsipnya semua informasi bersifat
terbuka dan bisa diakses masyarakat.
b. Permintaan Tidak Perlu Disertai Alasan
c. Mekanisme yang Sederhana, Murah, dan Cepat Nilai dan daya guna suatu informasi sangat
ditentukan oleh konteks waktu.
d. Informasi Harus Utuh dan Benar
e. Informasi Proaktif
f. Perlindungan Pejabat yang Beritikad Baik
5
MODUL KOMPETEN
BAB II
TANTANGAN LINGKUNGAN STRATEGIS
A. Dunia VUCA
Situasi dunia saat ini dengan cirinya yang disebut dengan “Vuca World”, yaitu dunia
yang penuh gejolak (volatility) disertai penuh ketidakpastian (uncertainty). Faktor VUCA
menuntut ecosystem organisasi terintegrasi dengan berbasis pada kombinasi kemampuan
teknikal dan generik, dimana setiap ASN dapat beradaptasi dengan dinamika perubahan
lingkungandan tuntutan masa depan pekerjaan.
BAB III
A. Merit Sistem
prinsip dasar dalam pengelolaan ASN yaitu berbasis merit. Dalam hal ini seluruh aspek
pengelolaan ASN harus memenuhi kesesuaian kualifikasi, kompetensi, dan kinerja. Termasuk
dalam pelaksanaanya tidak boleh ada perlakuan diskriminatif, seperti karena hubungan
agama, kesukuan atau aspek-aspek primodial lainnya yang bersifat subyektif.
B. Karakter ASN
Sekurangnya terdapat 8 (delapan) karakateristik yang dianggap relevan bagi ASN dalam
menghadapi tuntutan pekerjaan saat ini dan kedepan. meliputi: integritas, nasionalisme,
profesionalisme, wawasan global, IT dan Bahasa asing, hospitality, networking, dan
entrepreneurship. Kedelapan karakteristik ini disebut sebagai smart ASN. Karakter lain yang
diperlukan dari ASN untuk beradapatasi dengan dinamika lingkungan strategis, yaitu:
inovatif dan kreatif, agility dan flexibility, persistence dan perseverance serta teamwork dan
cooperation. ASN yang gesit (agile) diperlukan sesuai dinamika lingkungan strategis dan
VUCA.
BAB IV
PENGEMBANGAN KOMPETENSI
A. Konsepsi Kompetensi
1) Kompetensi Teknis
2) Kompetensi Manajerial
6
3) Kompetensi Sosial Kultural.
B. Hak Pengembangan Kompetensi
Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN adanya hak pengembangan pegawai,
sekurang-kurangnya 20 (dua puluh) Jam Pelajaran bagi PNS dan maksimal 24 (dua puluh
empat) Jam Pelajaran bagi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
BAB V
PERILAKU KOMPETEN
7
MODUL HARMONIS
BAB II
KEANEKARAGAMAN BANGSA DAN BUDAYA DI INDONESIA
BAB III
MEWUJUDKAN SUASANA HARMONIS DALAM LINGKUNGAN
BEKERJA DAN MEMBERIKAN LAYANAN KEPADA
MASYARAKAT
A. Pengertian Nilai Dasar Harmonis dalam Pelayanan ASN
harmoni adalah kerja sama antara berbagai factor dengan sedemikian rupa hingga
faktor-faktor tersebut dapat menghasilkan suatu kesatuan yang luhur. Ada tiga hal yang
dapat menjadi acuan untuk membangun budaya tempat kerja nyaman dan berenergi positif:
8
B. Etika Publik ASN dalam Mewujudkan Suasana Harmonis
Etika Publik merupakan refleksi tentang standar/norma yang menentukan
baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan
kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik.
ASN ada dua belas kode etik dan kode perilaku ASN itu, yaitu:
a. Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas
tinggi
b. Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin;
c. Melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan;
d. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
e. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau Pejabat yang
Berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan dan etika pemerintahan;
f. Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan Negara
g. Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab,
efektif, dan efisien;
h. Menjaga agar tidak terjadi disharmonis kepentingan dalam melaksanakan
tugasnya;
i. Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak lain
yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan.
C. Peran ASN dalam Mewujudkan Suasana dan Budaya Harmonis
Tugas pegawai ASN adalah sebagai berikut:
a. Melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
b. Memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas
c. Mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Beberapa peran ASN dalam kehidupan berbangsa dan menciptakan budaya harmoni
dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya adalah sebagai berikut:
a. Posisi PNS sebagai aparatur Negara, dia harus bersikap netral dan adil.
b. PNS juga harus bisa mengayomi kepentingan kelompok kelompok minoritas,
dengan tidak membuat kebijakan, peraturan yang mendiskriminasi keberadaan
kelompok tersebut.
c. PNS juga harus memiliki sikap toleran atas perbedaan untuk menunjang sikap
netral dan adil karena tidak berpihak dalam memberikan layanan
d. Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban PNS juga harus memiliki suka menolong
baik kepada pengguna layanan, juga membantu kolega PNS lainnya yang
membutuhkan pertolongan.
e. PNS menjadi figur dan teladan di lingkungan masyarakatnya.
9
MODUL LOYAL
BAB II
MATERI POKOK 1
KONSEP LOYAL
BAB III
MATERI POKOK 2
PANDUAN PERILAKU LOYAL
1. Panduan Perilaku Loyal
a. Memegang Teguh ideologi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, Setia kepada NKRI serta Pemerintahan yang Sah
10
Beberapa Nilai-Nilai Dasar ASN yang dapat diwujudkan dengan Panduan Perilaku Loyal yang
pertama ini diantaranya:
11
MODUL ADAPTIF
BAB III
MEMAHAMI ADAPTIF
Adaptif adalah karakteristik alami yang dimiliki makhluk hidup untuk bertahan hidup dan
menghadapi segala perubahan lingkungan atau ancaman yang timbul.
Sebuah inovasi yang baik biasanya dihasilkan dari sebuah kreativitas. Kreativitas yang terbangun
akan mendorong pada kemampuan pegawai yang adaptif terhadap perubahan.
B. Organisasi Adaptif
Fondasi organisasi adaptif dibentuk dari tiga unsur dasar yaitu lanskap (landscape), pembelajaran
(learning), dan kepemimpinan (leadership). 9 elemen budaya adaptif menurut Management Advisory
Service UK yang perlu menjadi fondasi ketika sebuah organisasi akan mempraktekkannya, yaitu:
Adapun ciri-ciri penerapan budaya adaptif dalam lembaga pemerintahan antara lain sebagai berikut:
Salah satu praktik perilaku adaptif adalah dalam hal menyikapi lingkungan yang bercirikan ancaman
VUCA. Johansen menyarankan pemimpin organisasi melakukan hal berikut:
12
b. Buat pernyataan yang kuat dan menarik tentang tujuan dan nilai tim, dan kembangkan visi
bersama yang jelas tentang masa depan
2. Hadapi Uncertainty dengan Understanding
a. Berhenti sejenak untuk mendengarkan dan melihat sekeliling.
b. Jadikan investasi, analisis dan interpretasi bisnis, dan competitive intelligence (CI) sebagai
prioritas, sehingga Anda tidak ketinggalan
c. Tinjau dan evaluasi kinerja Anda
d. Lakukan simulasi dan eksperimen dengan situasi, sehingga melatih Anda untuk bereaksi
terhadap ancaman serupa di masa depan
3. Hadapi Complexity dengan Clarity
a. Berkomunikasi secara jelas dengan tim Anda
b. Kembangkan tim dan dorong kolaborasi
4. Hadapi Ambiguity dengan Agility
a. Dorong fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, dan ketangkasan.
b. Pekerjakan dan promosikan orang-orang yang berhasil di lingkungan VUCA.
c. Dorong karyawan Anda untuk berpikir dan bekerja di luar area fungsional mereka
d. Hindari memimpin dengan mendikte atau mengendalikan mereka.
e. Kembangkan “budaya ide”.
Organisasi adaptif yaitu organisasi yang memiliki kemampuan untuk merespon perubahan lingkungan
dan mengikuti harapan stakeholder dengan cepat dan fleksibel.
Individu atau sumber daya manusia (SDM) yang adaptif dan terampil kian dibutuhkan dunia kerja
ataupun industri yang juga semakin kompetitif. Karenanya, memiliki soft skill dan kualifikasi
mumpuni pada spesifikasi bidang tertentu, serta mampu mentransformasikan teknologi menjadi
produk nyata dengan nilai ekonomi tinggi menjadi syarat SDM unggul tersebut.
13
MODUL KOLABORATIF
BAB II
KONSEP KOLABORASI
A. Definisi Kolaborasi
Dyer and Singh mengungkapkan bahwa kolaborasi adalah “ value generated from an alliance
between two or more firms aiming to become more competitive by developing shared routines.
Pada collaborative governance pemilihan kepemimpinan harus tepat yang mampu membantu
mengarahkan kolaboratif dengan cara yang akan mempertahankan tata kelola stuktur horizontal
sambil mendorong pembangunan hubungan dan pembentukan ide. Selain itu, Kolaboratif harus
memberikan kesempatan kepada berbagai pihak untuk berkontribusi, terbuka dalam bekerja sama
dalam menghasilkan nilai tambah, serta menggerakan pemanfaatan berbagai sumber daya untuk
tujuan bersama.
Ansen dan Gash 2012 p 550) menjelaskan terkait model collaborative governance.
Menurutnya starting condition mempengaruhi proses kolaborasi yang terjadi, dimana proses
tersebut terdiri dari membangun kepercayaan, face to face dialogue, commitment to process,
pemahaman bersama, serta pengambangan outcome antara.
Pendekatan WoG di beberapa negara ini dipandang sebagai bagian dari respon terhadap
ilusi paradigma New Public Management (NPM) yang banyak menekankan aspek
efisiensi dan cenderung mendorong ego sektoral dibandingkan perspektif integrasi sektor.
BAB III
PRAKTIK DAN ASPEK NORMATIF KOLABORASI
PEMERINTAH
14
1. Trust building : membangun kepercayaan dengan stakeholder mitra kolaborasi.
2. Face tof face Dialogue: melakukan negosiasi dan baik dan bersungguh-sungguh;
3. Komitmen terhadap proses: pengakuan saling ketergantungan; sharing ownership dalam
proses; serta keterbukaan terkait keuntungan bersama;
4. Pemahaman bersama: berkaitan dengan kejelasan misi, definisi bersama terkait
permasalahan, serta mengidentifikasi nilai bersama; dan
5. Menetapkan outcome antara.
B. Kolaboratif dalam Konteks Organisasi Pemerintah
Penelitian yang dilakukan oleh Custumato (2021) menunjukkan bahwa faktor yang
mempengaruhi keberhasilan dalam kolaborasi antar lembaga pemerintah adalah kepercayaan,
pembagian kekuasaan, gaya kepemimpinan, strategi manajemen dan formalisasi pada
pencapaian kolaborasi yang efisien dan efektif antara entitaspublik.
C. Beberapa Aspek Normatif Kolaborasi Pemerintahan
Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan dapat menolak memberikan Bantuan Kedinasan
apabila:
a. mempengaruhi kinerja Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan
pemberi bantuan;
b. surat keterangan dan dokumen yang diperlukan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan bersifat rahasia; atau
c. ketentuan peraturan perundang-undangan tidak memperbolehkan pemberian bantuan.
D. Studi Kasus Kolaboratif
kepemimpinan Bupati Kulon Progo dan Banyuwangi yang dipandang dapat menjadi
contoh keberhasilan dalam tata kelola kolaboratif. Praktik tata kelola kolaborasi yang
berlangsung di Kulon Progo diinisiasi melalui inovasi program dan kolaborasi eksternal
multistakeholders sedangkan di Banyuwangi diawali dengan keberhasilan kolaborasi internal
dan inovasi program. Keluaran jangka panjang praktik tata kelola kolaboratif terwujud dalam
bentuk pengurangan jumlah penduduk miskin, peningkatan indeks pembangunan manusia
dan produk domestikbrutonya.
Ada tiga karakter utama yang dimiliki oleh Bupati Banyuwangi dan Bupati Kulonprogo
sebagai pemimpin kolaboratif yaitu: semangat entrepreneur, membangun tata Kelola
berjejaring dan bersifat transformasional. Kepemimpinan dan tata Kelola kolaboratif ini
ternyata mampu menjadi ekosistem pemerintahan untuk mengurangi angka kemiskinan di
kedua daerah yang diteliti secara signifikan.
Salah satu contoh kolaboratif yang dapat digunakan menjadi studi kasus adalah
kerjasama yang dilakukan oleh Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta
yang membentuk sebuah Sekretariat bersama Kartamantul (Sekber kartamantul).
KARTAMANTUL adalah Lembaga bersama pemerintah kota Yogyakarta, kabupaten Sleman
dan Kabupaten Bantul dalam bidang pembangunan beberapa sektor sarana dan prasana yang
meliputi persampahan, penanganan limbah air, ketersediaan airbersih, jalan, transportasi dan
drainase.
15