Po 1-5 Amgpm
Po 1-5 Amgpm
NOMOR 1
TENTANG
SISTEM, MEKANISME KELEMBAGAAN DAN KEANGGOTAAN ORGANISASI AMGPM
Pasal 1
KETENTUAN UMUM
1. Yang dimaksudkan dengan Peraturan Organisasi (PO) AMGPM adalah peraturan-peraturan yang mengatur
tentang sistim dan mekanisme kerja Organisasi yang mengikat seluruh anggota dan kelembagaan
Organisasi; yaitu hal-hal yang belum diatur di dalam AD/ART serta keputusan lain di dalam Kongres.
2. Fungsi dan tujuan Peraturan Organisasi adalah demi terwujudnya keseragaman persepsi terhadap
konstitusi Organisasi demi dan tercapainya pemerataan langgam dan tindak kerja seluruh aparat pelaksana
Organisasi pada semua jenjang kepemimpinan sesuai dengan ketentuan konstitusi
3. Selanjutnya Peraturan Organisasi ini disebut PO.1 yang mengatur tentang Sistem, Mekanisme
Kelembagaan, dan Keanggotaan Organisasi AMGPM
Pasal 2
PENERIMAAN ANGGOTA
1. Anggota Biasa :
1.1. Anggota Biasa diterima oleh Pengurus Ranting setempat melalui Masa Alih Status Anggota Tunas
Remaja, kecuali anggota biasa yang telah ada sebelum peraturan ini dibuat.
1.2. Pelaksanaan Masa Alih Status Anggota Baru di dalam satu daerah pelayanan Ranting, diatur sebagai
berikut :
a. Pengurus Ranting memberitahukan kepada Majelis Jemaat Cq. Sub Seksi PAK dan Katekisasi
tentang Masa Alih Status anggota Tunas Remaja ke AMGPM atau atas permintaan sekurang-
kurangnya 10 orang calon anggota biasa yang disalurkan melalui Sub Seksi Pelayanan PAK dan
Katekisasi.
b. Calon anggota biasa yang tidak terlibat sebagai anggota Tunas Remaja dapat diterima sebagai
peserta masa alih status melalui koodinasi dengan Majelis Jemaat Cq. Bakopel Sektor.
c. Bagi Jemaat yang di dalamnya terdapat lebih dari satu Ranting, maka pelaksanaan masa alih status
anggota dapat dilakukan dalam koodinasi bersama.
d. Apabila ada Ranting yang tidak memungkinkan dilaksanakannya masa alih status, maka Pengurus
Cabang dan atau Daerah bersama Majelis Jemaat setempat dapat mengambil peran dalam proses
masa alih status tersebut.
1.3. Anggota Biasa yang diterima ialah mereka yang telah mengikuti masa alih status yang kriteria serta
tata-cara pelaksanaanya diatur oleh Pengurus Besar berdasarkan Kurikulum Pendidikan Kader
Angkatan Muda GPM.
1.4. Anggota biasa yang diterima, diwajibkan menanda-tangani formulir kesediaan menjadi anggota
dengan menerima tujuan dan bersedia melaksanakan amanat pelayanan Organisasi.
1.5. Anggota Biasa berhak memperoleh Kartu Anggota AMGPM yang dikeluarkan oleh Pengurus Besar.
1.6. Anggota Biasa yang berdomisili di dalam wilayah pelayanan satu Ranting diwajibkan menjadi anggota
di Ranting tersebut.
1.7. Anggota biasa hanya dapat berpindah dan dapat diterima menjadi Anggota Ranting lain, jika yang
bersangkutan berpindah tempat domisili.
3. Anggota Kehormatan :
3.1. Yang dapat diangkat dan ditetapkan sebagai Anggota Kehormatan Angkatan Muda GPM adalah:
a. Tokoh-tokoh Nasional/Daerah, tokoh-tokoh Gereja.
b. Mereka yang mempunyai andil yang besar dalam perjuangan untuk menegakkan missi dan
eksistensi Organisasi, baik pada masa PPMM, PPKM maupun pada masa Angkatan Muda GPM.
3.2.Pengusulan calon Anggota Kehormatan dilakukan melalui pengurus Daerah yang diajukan secara tertulis
kepada pengurus Besar.
3.3. Pengurus Besar mempelajari dan membahas usulan Daerah tersebut di dalam Rapat Pleno Pengurus
Besar dan kemudian melaporkannya dalam lembaga legislatif untuk meminta penetapan.
3.4.Calon Anggota kehormatan yang akan ditetapkan, diberikan kesempatan untuk menghadiri agenda
penetapan dalam lembaga legislatif atas undangan Pengurus Besar.
3.5. Anggota Kehormatan tidak dapat dibebaskan dan atau gugur status keanggotaannya.
4. Anggota Penyantun :
4.1. Yang dapat dipilih dan ditetapkan sebagai Anggota Penyantun adalah mereka yang pernah menjadi
Anggota Biasa, Anggota Luar Biasa atau yang tidak termasuk kedua kategori di atas.
4.2. Anggota Penyantun dalam memberikan bantuannya bersifat tidak mengikat Organisasi.
5. Daftar keanggotaan:
5.1. Daftar Keanggotaan wajib dimiliki oleh semua jenjang Organisasi yang sekurang-kurangnya
menjelaskan tentang nama Anggota, Tempat tanggal lahir, Jenis kelamin, status keanggotaan,
pendidikan terakhir, pekerjaan, potensi dan tahun masuk/diterima sebagai anggota, AMGPM.
5.2. Daftar Keanggotaan anggota diisi oleh pengurus ranting, selanjutnya diserahkan kepada Pengurus
Cabang untuk dibuat rekapitulasi dan diteruskan kepada Pengurus Daerah untuk dibuat tabulasi data
di tingkat Daerah dan wajib diserahkan kepada Pengurus Besar untuk selanjutnya dibuat tabulasi data
AMGPM.
5.3. Setiap anggota AMGPM berhak memiliki Kartu Tanda Anggota AMGPM.
5.4. Format Kartu Tanda Anggota AMGPM diatur sebagai berikut:
a. Dasar KTA berwarna putih.
b. Berukuran 8 x 6 cm.
c. Pada bagian belakang tertulis 1) No.KTA, 2) Nama, 3) Tempat/Tanggal Lahir, 4) Daerah, 5)
Alamat, 6) Nama dan tanda tangan Ketua Umum dan Sekretaris Umum PB AM GPM.
d. Pada bagian depan KTA tertulis : 1) Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku – Kartu Tanda
Anggota, 2) Logo Kamu adalah Garam dan Terang Dunia, 3) Tanda Tangan / cap jempol.
e. Terhadap sistem penomoran diatur sebagai berikut :
001 : Nomor KTA
1 : Kode Organisasi
01 : Kode Daerah
001 : Nomor Register Anggota sesuai Buku Induk
11 : Bulan dimana KTA dibuat
2006 : tahun dimana KTA dibuat dan dikeluarkan.
Tanda tangan/
Cap jempol Pdt.Elifas.T.Maspaitella,M.Si Pdt. M.Takaria,M.Si
Ketua Umum Sekretaris Umum
Pasal 3
KONGRES
1. Kongres berlangsung sekali dalam 5(lima) tahun, terhitung sejak berakhirnya Kongres sebelumnya.
2. Kongres yang berlangsung sebelum Masa 5(lima) tahun disebut Kongres Istimewa.
3. Kongres Istimewa dapat berlangsung berdasarkan Keputusan Kongres.
4. Kongres Istimewa dapat berlangsung atas permintaan Pengurus Daerah dengan syarat sekurang-
kurangnya 2/3 dari jumlah Daerah AMGPM menyetujui.
5. Kongres Istimewa yang berlangsung atas permintaan Pengurus Daerah apabila:
a. Pengurus Besar telah menyimpang dari Keputusan Kongres, Keputusan MPP dan Keputusan Pengurus
Besar.
b. Dalam melaksanakan amanat pelayanan Organisasi, Pengurus Besar telah menyimpang dari Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga AMGPM.
6. Dalam keadaan tertentu Pengurus Besar dapat meminta diselenggarakannya Kongres Istimewa.
7. Kongres Istimewa yang dilaksanakan oleh Pengurus Besar dalam keadaan tertentu (Pasal 3:6) setidak-
tidaknya mendapat persetujuan 2/3 jumlah Daerah.
8. Tata Tertib Kongres Istimewa disusun oleh PB dan ditetapkan di dalam Kongres Istimewa.
Pasal 4
PENGURUS BESAR
1. Pengurus Besar dalam menjalankan tugasnya lebih menitik-beratkan pada fungsinya sebagai perencana,
pengarah dan pengkoordinasi Organisasi.
2. Menentukan kebijakan-kebijakan strategis Organisasi.
3. Pengurus Besar bertugas melaksanakan Kongres dengan tahapan sebagai berikut:
3.1. Membentuk dan melantik Panitia Pelaksana di Daerah.
3.2. Menyampaikan rencana waktu pelaksanaan Kongres selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum Kongres,
dan batas waktu penyampaian daftar peserta dari daerah selambat-lambatnya 2 (dua) bulan sebelum
Kongres berlangsung.
3.3. Memanggil pengurus Daerah untuk menghadiri Kongres selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum
Kongres berlangsung
3.4. Mempersiapkan rancangan-rancangan yang diperlukan untuk pelaksanaan Kongres.
3.5. Membuka dan menutup persidangan Kongres.
3.6. Kedudukan Pengurus Besar dalam memimpin sidang-sidang pleno dalam Kongres sebagai Pimpinan Sidang
Sementara.
3.7. Pengurus Besar memimpin, penetapan / pengesahan Peserta, Pembacaan Tata Tertib, Pengesahan Jadwal
Acara dan pemilihan Majelis Ketua.
3.8. Sebelum penutupan Sidang-sidang Pleno, Majelis Ketua mengembalikan tugas-tugas memimpin sidang
kepada Ketua dan Sekretaris Pengurus Besar terpilih untuk menutup Sidang-sidang pleno.
4. Anggota AMGPM yang akan mengikuti Kongres tetapi bukan Utusan Daerah, dapat ditetapkan oleh
Pengurus Besar sebagai Peninjau dengan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Pengurus Besar.
Pengurus Besar juga dapat mengundang pihak-pihak tertentu untuk menghadiri Kongres sebagai
Undangan/Konsultan.
5. Pengurus Besar dapat membentuk dan membubarkan Badan Pembantu yang berupa Komisi, Panitia Kerja
dan lain-lain bagi kelancaran pekerjaannya.
6. Pengurus Besar dapat mengangkat dan membebaskan anggota dan staf yang ditempatkan di dalam Badan-
badan Pembantu tersebut.
7. Pengurus Besar Demisioner tetap bertanggung jawab sampai dilakukannya serah terima jabatan yang
dilaksanakan bersamaan dengan pengukuhan Pengurus Besar terpilih.
8. Secara material penyerahan Inventarisasi organisasi dilakukan selambat-lambatnya satu minggu setelah
pengukuhan dengan prosedur penyerahannya di atur secara formal oleh pengurus demisioner, dan dapat
di pertanggung-jawabkan sesuai komitmen Kongres.
9. Naskah serah terima jabatan ditulis di atas kertas bermeterai, ditanda-tangani oleh Pengurus Besar
Demisioner, Pengurus Besar Terpilih dan Majelis Pekerja Harian Sinode GPM Sebagai Saksi.
10. Pengurus Besar dikukuhkan oleh Majelis Pekerja Harian Sinode GPM dan atau Pejabat lain yang ditunjuk
oleh MPH Sinode GPM.
11. Pengukuhan Pengurus Besar dilaksanakan dalam ibadah penutupan kongres dan dilanjutkan dengan
resepsi penutupan.
12. Masa Kerja Pengurus Besar dimulai berlaku sejak tanggal pelantikan.
Pasal 5
KOORDINATOR WILAYAH
1. Koordinator Wilayah adalah struktur Pengurus Besar yang berkedudukan di wilayah Kabupaten dan atau
wilayah tertentu berdasarkan keadaan geografis.
2. Koordinator Wilayah di jabat oleh anggota AMGPM yang pernah menjadi Pengurus AMGPM minimal
Pengurus Daerah dan wilayah pelayanannya berada pada Ibu Kota Kabupaten dan atau wilayah lain yang
ditentukan berdasarkan keadaan geografis.
3. Seorang Koordinator Wilayah mewadahi semua daerah yang berada pada wilayah kabupaten, atau
wilayah lain yang telah di tentukan.
4. Tugas Koordinator Wilayah adalah melaksakan tugas-tugas Pengurus Besar di wilayah yang menjadi
tanggung-jawabnya, antara lain :
4.1. Melakukan koordinasi intern organisasi dan sinkronisasi program-program Pengurus Besar di Daerah-
daerah.
4.2. Mengakomodir seluruh kepentingan daerah dalam wilayah kerjanya untuk disinkronkan agar
pelaksanaannya terarah dan berkesinambungan.
4.3. Memberikan laporan terhadap perkembangan organisasi di Daerah-daerah dalam wilayah
pelayanannya.
4.4. Menghadiri setiap agenda legislatif di tingkat daerah dalam wilayah pelayanannya dan atau
berdasarkan mandat yang diberikan.
4.5. Membangun koordinasi dan komunikasi dengan perangkat pemerintah daerah dan atau pemerintah
kecamatan dalam wilayah pelayanannya demi pengembangan pelayanan AMGPM.
4.6. Menghadiri rapat pleno Pengurus Besar berdasarkan panggilan yang disampaikan.
5. Koordinator Wilayah Pelayanan AMGPM terbagi atas 7 wilayah yaitu :
5.1. Korwil 1 meliputi Ternate, Bacan, Obi dan Sula
5.2. Korwil 2 meliputi Buru Utara dan Buru Selatan
5.3. Korwil 3 Meliputi Masohi, Seram Utara, Lease, Banda, Seram Timur dan Telutih
5.4. Korwil 4 Meliputi Kairatu, Piru dan Taniwel
5.5. Korwil 5 Meliputi Kei Kecil, Kei Besar dan Aru
5.6. Korwil 6 Meliputi Tanimbar Utara dan Tanimbar Selatan
5.7. Korwil 7 Meliputi PP Babar, Lemola, Kisar dan Damer
Pasal 6
KONFERENSI DAERAH
1. Konferensi Daerah berlangsung satu kali dalam 5 (lima) tahun, terhitung sejak berakhirnya Konferensi
Daerah sebelumnya.
2. Konferensi Daerah yang berlangsung sebelum masa lima tahun disebut Konferensi Daerah Istimewa dan
harus mendapat persetujuan Pengurus Besar.
3. Konferensi Daerah Istimewa dapat berlangsung atas panggilan Pengurus Daerah atau atas permintaan
sekurang-kurangnya 2/3 jumlah Cabang dan atau Ranting di dalam Daerah tersebut.
4. Konferensi Daerah Istimewa yang berlangsung atas permintaan Pengurus Cabang/Ranting, apabila :
a. Pengurus Daerah dalam melaksanakan amanat pelayanan Organisasi telah menyimpang dari Angaran
Dasar/Anggaran Rumah Tangga.
b. Pengurus Daserah telah menyimpang dari Keputusan Kongres, Keputusan MPP, Keputusan Pengurus
Besar dan Keputusan Konperda, Keputusan MPPD dan Keputusan Pengurus Daerah.
5. Pengurus Besar bertanggung jawab dan memiliki kewenangan penuh untuk membuka dan menutup
Konperensi Daerah (Konperda), Musyawarah Pimpinan Paripurna Daerah (MPPD).
Pasal 7
PENGURUS DAERAH
1. Pengurus Daerah bertugas mempersiapkan Konferensi Daerah dengan tahapan sebagai berikut :
1.1. Membentuk dan melantik Panitia pelaksana di Daerah / Cabang.
1.2. Menyampaikan rencana waktu pelaksanaan Konferensi Daerah selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan
sebelum Konferensi Daerah, dan batas waktu penyampaian daftar peserta Cabang selambat-lambatnya
2 (dua) bulan sebelum Konferensi Daerah dilaksanakan.
1.3. Memanggil Cabang untuk menghadiri Konferensi Daerah selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum
Konferensi Daerah dilaksanakan.
1.4. Mempersiapkan rancangan-rancangan yang dibutuhkan untuk pelaksanaan Konferensi Daerah.
1.5. Membuka dan menutup persidangan Konferensi Daerah.
1.6. Pengurus Daerah dalam memimpin sidang-sidang kedudukannya adalah sebagai Pimpinan Sidang
Sementara.
1.7. Pengurus Daerah memimpin penetapan/penggesahan Peserta, Pembacaan Tata Tertib, Pengesahan
Jadwal Acara dan pemilihan Majelis Ketua
1.8. Sebelum penutupan sidang-sidang dalam Konferensi Daerah, Majelis Ketua mengembalikan tugas
pemimpin sidang beserta suluruh hasil keputusan Konferda kepada Ketua dan Sekretaris Pengurus
Daerah demisioner untuk menutup sidang-sidang pleno.
2. Anggota Angkatan Muda GPM yang menghadiri Konferensi Daerah tetapi bukan Utusan Cabang dapat
ditetapkan oleh Pengurus Daerah sebagai Undangan dengan persyaratan yang ditetapkan oleh Pengurus
Daerah.
3. Pengurus Daerah juga dapat mengundang pihak-pihak tertentu untuk menghadiri Kon ferda sebagai
Undangan/Konsultan.
4. Pengurus Daerah dapat membentuk dan membubarkan Badan Pembantu yang berupa Komisi, Panitia
Kerja dan lain-lain bagi kelancaran pekerjaannya.
5. Pengurus Daerah dapat mengangkat dan membebaskan anggota staf yang ditempatkan di dalam Badan-
badan Pembantu tersebut.
6. Pengurus Daerah Demisioner tetap bertanggung-jawab sampai dilaksanakannya serah terima jabatan.
7. Serah terima jabatan Pengurus Daerah dilaksanakan selengkap-lengkapnya termasuk inventaris
Organisasi.
8. Naskah serah terima jabatan ditulis dan atau diketik di atas kertas bermeterai dan ditandatangani oleh
Pengurus Daerah Demisioner, Pengurus Daerah terpilih dan Pengurus Besar dan atau Majelis Pekerja Klasis
sebagai Saksi.
9. Pengurus Daerah dilantik oleh Pengurus Besar dan atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Pengurus Besar.
10. Pelantikan Pengurus Daerah dilaksanakan dalam ibadah penutupan acara persidangan Konferensi Daerah.
11. Masa kerja Pengurus Daerah terhitung mulai sejak tanggal ditetapkannya Surat Keputusan Pelantikan.
12. Pengurus Daerah yang direkrut masuk dalam struktur Pengurus Besar AMGPM, tetap melaksanakan
tugasnya sampai dilaksanakan konferda, dan yang bersangkutan tetap mempunyai hak penuh selaku
peserta biasa konferda.
Pasal 8
KONFERENSI CABANG
1. Konferensi Cabang berlangsung satu kali dalam 3 (tiga) tahun terhitung sejak berakhirnya Konferensi
Cabang sebelumnya.
2. Konferensi Cabang yang berlangsung sebelum masa 3 (tiga) tahun disebut Konferensi Cabang Istimewa
dan harus mendapat persetujuan Pengurus Daerah.
3. Konferensi Cabang Istimewa dapat berlangsung atas panggilan Pengurus Cabang atau atas permintaan
sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah Ranting yang berada di dalam wilayah pelayanan Cabang.
4. Konfetrensi Cabang Istimewa yang berlangsung atas permintaan Pengurus Ranting apabila :
a. Pengurus Cabang dalam melaksanakan amanat pelayanan Organisasi, telah menyimpang dari
Anggaran Dasar dam Anggaran rumah Tangga.
b. Pengurus Cabang telah menyimpang dari keputusan-keputusan Kongres, Keputusan MPP, Keputusan
Pengurus Besar, Keputusan Konferensi Daerah, Keputusan MPPD, Keputusan Pengurus Daerah,
Keputusan Konferensi Cabang Keputusan MPPC dan Keputusan Pengurus Cabang.
5. Pengurus Daerah bertanggung jawab dan memiliki kewenangan penuh untuk membuka dan menutup
Konperensi Cabang (Konpercab), dan Musyawarah Pimpinan Paripurna Cabang (MPPC).
Pasal 9
PENGURUS CABANG
1. Pengurus Cabang bertugas mempersiapkan Konferensi Cabang dengan tahapan sebagai berikut:
1.1. Membentuk dan melantik Panitia Pelaksana di Cabang/Ranting.
1.2. Menyampaikan rencana waktu pelaksanaan Konperensi Cabang selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan
sebelum Konferensi Cabang dilaksanakan, dan batas waktu penyampaian daftar peserta Ranting
selambat-lambatnya 2 (dua) bulan sebelum Konferensi Cabang dilaksanakan.
1.3. Memanggil Ranting untuk menghadiri Konperensi Cabang selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum
Konferensi Cabang dilaksanakan.
1.4. Mempersiapkan rancangan-rancangan yang diperlukan untuk pelaksanaan Konferensi Cabang.
1.5. Membuka dan menutup persidangan Konferensi Cabang.
1.6. Pengurus Cabang dalam memimpin sidang-sidang kedudukannya adalah sebagai Pimpinan Sidang
Sementara.
1.7. Pengurus Cabang memimpin penetapan/penggesahan Peserta, Pembacaan Tata Tertib, Pengesahan
Jadwal Acara dan pemilihan Majelis Ketua.
1.8. Sebelum penutupan sidang-sidang dalam Konferensi Cabang, Majelis Ketua mengembalikan tugas
memimpin sidang beserta suluruh hasil keputusan Konfercab kepada Pengurus Cabang demisioner
untuk menutup sidang-sidang pleno.
2. Anggota AMGPM yang menghadiri Konferensi Cabang tetapi bukan Utusan Ranting dapat ditetapkan oleh
Pengurus Cabang sebagai Undangan dengan persyaratan yang ditetapkan oleh Pengurus Cabang.
3. Pengurus Cabang juga dapat mengundang pihak-pihak lain untuk menghadiri Konfercab sebagai
Undangan/Konsultan.
4. Pengurus Cabang dapat membentuk dan membubarkan Badan Pembantu yang berupa Komisi, Panitia
Kerja dan lain-lain bagi kelancaran pekerjaannya.
5. Pengurus Cabang mengangkat dan membebaskan anggota staf yang ditempatkan dalam Badan-badan
Pembantu tersebut.
6. Pengurus Cabang demisioner tetap bertanggung jawab sampai dilaksanakannya serah-terima jabatan.
7. Serah Terima Jabatan Pengurus Cabang dilaksanakan selengkap-lengkapnya termasuk inventarisasi
Organisasi.
8. Naskah Serah Terima Jabatan ditulis di atas kertas bermeterai dan ditanda-tangani oleh Pengurus Cabang
Demisioner, Pengurus Cabang Terpilih dan Pengurus Daerah atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Pengurus
Daerah sebagai Saksi.
9. Pengurus Cabang dilantik oleh Pengurus Daerah dan atau Pejabat lain yang dtunjuk oleh Pengurus Daerah.
10. Pelantikan Pengurus Cabang dilaksanakan dalam ibadah penutupan Persidangan Konferensi Cabang.
11. Masa kerja Pengurus Cabang terhitung sejak tanggal dikeluarkannya Surat Keputusan Pelantikan.
12. Pengurus Cabang yang direkrut masuk dalam struktur Pengurus Besar, Pengurus Daerah AMGPM, tetap
melaksanakan tugasnya sampai dilaksanakan Konfercab, dan yang bersangkutan tetap mempunyai hak
penuh selaku peserta biasa Konfercab.
Pasal 10
RAPAT RANTING
1. Rapat Ranting berlangsung 1 (satu) kali dalam 2 (dua) tahun terhitung sejak berakhirnya Rapat Ranting.
2. Rapat Ranting berlangsung sebelum masa 2 (dua) tahun disebut Rapat Ranting Istimewa dan harus
mendapat persetujuan Pengurus Cabang.
3. Rapat Ranting Istimewa dapat berlangsung atas panggilan Pengurus Ranting atau atas permintaan
sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang terdaftar dalam daerah pelayanan ranting.
4. Rapat Ranting Istimewa yang berlangsung atas permintaan anggota apabila :
a. Pengurus Ranting dalam menjalankan amanat pelayanan organisasi telah menyimpang dari tujuan,
pengakuan dan azas organisasi.
b. Pengurus Ranting telah menyimpang dari Keputusan Kongres, MPP, Pengurus Besar, Konferda, MPPD,
Keputusan Pengrus Daerah, Konfercab, MPPC, Keputusan Pengurus Cabang, Rapat Ranting, Rapat
Kerja Ranting, Keputusan Pengurus Ranting.
Pasal 11
PENGURUS RANTING
1. Pengurus Ranting bertugas mempersiapkan Rapat Ranting dengan tahapan sbb :
1.1. Membentuk dan melantik panitia pelaksana Rapat Ranting.
1.2. Menyampaikan rencana waktu pelaksanaan Rapat ranting kepada panitia pelaksana selambat-
lambatnya 2 (dua) bulan sebelum Rapat Ranting dan mengumumkan daftar peserta Rapat Ranting
selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum Rapat Ranting berlangsung.
1.3. Menetapkan jumlah anggota yang akan menghadiri Rapat Ranting.
1.4. Memanggil anggota untuk menghadiri Rapat Ranting selambat-lambatnya 2 (dua) minggu sebelum
Rapat Ranting.
1.5. Mempersiapkan rancangan-rancangan yang diperlukan untuk pelaksanaan Rapat Ranting.
1.6. Membuka dan menutup sidang-sidang Rapat Ranting.
1.7. Pengurus Ranting dalam memimpin sidang-sidang kedudukannya adalah sebagai Pimpinan Sidang
Sementara.
1.8. Pengurus Ranting memimpin penetapan/penggesahan Peserta, Pembacaan Tata Tertib, Pengesahan
Jadwal Acara dan pemilihan Majelis Ketua.
1.9. Sebelum penutupan sidang-sidang dalam Rapat Ranting, Majelis Ketua mengembalikan tugas
memimpin sidang beserta suluruh hasil keputusan Rapat Ranting kepada Ketua dan Sekretaris
Pengurus Ranting demisioner untuk menutup sidang-sidang.
2. Anggota yang menghadiri Rapat Ranting tetapi bukan anggota yang ditetapkan Pengurus Ranting, dapat
ditetapkan sebagai Peninjau dengan persyaratan yang ditetapkan oleh Pengurus Ranting.
3. Pengurus Ranting dapat mengundang pihak-pihak tertentu untuk menghadiri Rapat Ranting sebagai
Undangan/Konsultan.
4. Pengurus Ranting dapat membentuk dan membubarkan badan pembantu yang berupa komisi, panitia
kerja, dan lain-lain bagi kelancaran pekerjaannya.
5. Pengurus Ranting dapat mengangkat dan membebaskan anggota dan staf yang ditempatkan dalam
badan-badan pembantu tersebut.
6. Pengurus Ranting Demisioner tetap bertanggung jawab sampai dilakukan serah terima jabatan.
7. Serah Terima Jabatan Pengurus Ranting dilaksanakan selengkapnya termasuk inventaris organisasi.
8. Naskah serah terima jabatan ditulis di atas kertas bermeterai dan ditandatangani oleh Pengurus Ranting
Demisioner, Pengurus Ranting terpilih dan Pengurus Cabang dan atau Pengurus Daerah.
9. Pengurus Ranting dilantik oleh Pengurus Cabang, dan atau Pengurus Daerah atau pejabat lain yang ditujuk
oleh Pengurus Cabang atau Pengurus Daerah.
10. Pelantikan Pengurus Ranting dilaksanakan bersamaan dengan penutupan acara persidangan Rapat
Ranting.
11. Masa kerja Pengurus Ranting terhitung mulai tanggal dikeluarkannya Surat Keputusan pelantikan.
12. Pengurus Ranting yang direkrut masuk dalam struktur Pengurus Besar, Pengurus Daerah, Pengurus
Cabang AMGPM, tetap melaksanakan tugasnya sampai dilaksanakan Rapat Ranting, dan yang
bersangkutan tetap mempunyai hak penuh selaku peserta biasa Rapat Ranting.
Pasal 12
Pasal 14
PEJABAT PENANGGUNG-JAWAB SEMENTARA
1. Perangkat Kepengurusan di atas dapat menunjuk pejabat penanggung jawab sementara (care taker)
bagi perangkat kepengurusan dibawahnya apabila :
1.1. Kalender Konstitusi telah berakhir sedangkan Konferda atau Konfercab atau Rapat Ranting belum
dilaksanakan.
1.2. Pengurus Organisasi menyimpang dari Anggaran Dasar dan Anggaran rumah Tangga.
1.3. Pengurus Organisasi menyimpang dari Keputusan-Keputusan Lembaga Legislatif dan Eksekutif pada
jenjangnya.
2. Pejabat penanggung jawab sementara bertugas :
2.1.Bertanggungjawab atas perangkat kepengurusan yang dipimpinnya.
2.2.Mengkoordinasikan dan menyiapkan segala sesuatu bagi pelaksanaan Konferensi Daerah, atau
Konferensi Cabang atau Rapat Ranting.
2.3. Melaksanakan Konferensi Daerah, atau Konferensi Cabang atau Rapat Ranting.
3. Masa tugas Pejabat penanggung-jawab sementara berakhir setelah Pengurus Terpilih dilantik.
4. Masa tugas Pejabat Penanggung jawab Sementara adalah selama 3 bulan; dan dapat diperpanjang lagi
untuk waktu tidak lebih dari satu bulan.
Pasal 15
HAL MEWAKILI ORGANISASI
1. Pengurus Besar mewakili Organisasi dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Organisasi/
Lembaga/Instansi lain di tingkat Propinsi/Nasional dan Internasional yang mengundang AMGPM.
2. Pengurus Daerah mewakili Organisasi dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Organisasi/
Lembaga/Instansi lain yang setara dengan Daerah Kabupaten/Kota atau Kecamatan yang mengundang
AMGPM dibawah koordinasi unsur Pengurus Besar di Daerah (KORWIL).
3. Bila dalam suatu Daerah Kabupaten/Kota atau yang setara dengannya terdapat lebih dari satu Daerah
AMGPM, maka semua Daerah tersebut mempunyai status yang sama untuk mewakili Organisasi, dibawah
koordinasi unsur Pengurus Besar diwilayah Daerah tersebut.
4. Pengurus Cabang mewakili Organisasi dalam kegiatan-kegiatan yang dialaksanakan oleh Orgaisasi/
Lembaga/Instansi lain yang setara dengan Kecamatan yang mengundang AMGPM.
5. Bila dalam satu wilayah Kecamatan terdapat lebih dari satu Cabang AMGPM, maka semua Cabang
mempunyai status yang sama untuk mewakili Organisasi dibawah koordinasi Pengurus Daerah.
6. Pengurus Ranting mewakili Organisasi dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Organisasi/
Lembaga/Instansi Lain yang setara dengan Desa atau Kelurahan yang mengundang AMGPM.
7. Bila dalam satu wilayah negeri atau kelurahan terdapat lebih dari satu Ranting AMGPM maka semua
Ranting mempunyai status yang sama untuk mewakili Organisasi dibawah koordinasi Pengurus Cabang dan
atau Pengurus Daerah.
8. Setiap kegiatan yang dilakukan AMGPM pada semua jenjang organisasi berhak dibuka dan ditutup oleh
jenjang pengurus di atasnya.
Pasal 16
HAL MENYATAKAN SIKAP DAN PERNYATAAN
1. Pengurus Daerah, Cabang dan Ranting, hanya diperkenankan untuk mengeluarkan / menyatakan sikap dan
pernyataan meluputi ruang lingkup wilayah pelayanannya.
2. Sikap dan penyataan tersebut tidak boleh bertentangan dengan AD/ART, PO, Keputusan Lembaga
Legislatif dan Eksekutif serta seluruh kebijakan organisasi.
3. Sikap dan pernyataan tersebut sebelum disampaikan, harus dikonsultasikan dengan Pengurus Besar
melalui perangkat kepengurusan berjenjang.
4. Pernyataan sikap harus dapat dipertanggung-jawabkan kepada Lembaga Eksekutif sebagai Lembaga
konsultatif.
Pasal 17
DISIPLIN ORGANISASI
1. Disiplin Organisasi adalah upaya pelayanan dan penggembalaan yang bertujuan mengarahkan setiap
anggota dan Pengurus Organisasi kepada ketaatan hidup pribadi yang sesuai dengan pengakuan dan hidup
berorganisasi sesuai konstitusi.
2. Setiap anggota dan pengurus organisasi yang sikap dan perbuatannya bertentangan dengan Firman Allah,
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Peraturan Organisasi dan keputusan lembaga legislatif,
dikenakan hukuman disiplin.
3. Pendekatan pelayanan penggembalaan kepada anggota dan pengurus organisasi untuk mengembalikan
yang bersangkutan kepada sikap sepatutnya. Diusahakan dengan tahapan sebagai berikut :
3.1. Penguruas Organisasi pada tingkatnya mengumpulkan segala data mengenai perbuatan seseorang
yang dikenakan sanksi disiplin untuk menentukan bentuk dan cara pelayanan sesudah mendengar yang
bersangkutan.
3.2. Bila usaha pelayanan tersebut tidak berhasil, maka Pengurus pada tingkatnya dapat mengambil
tindakan penggembalaan sementara sesudah mendengar keterangan dari yang bersangkutan.
3.3. Keputusan Pengurus mengenai tindakan penggembalaan sementara tersebut beserta semua berkas
persoalannya diteruskan kepada perangkat Kepengurusan di atasnya untuk dipelajari dan
dipertimbangkan.
3.4.Hasil pertimbangan perangkat Kepengurusan di atasnya kemudian dikembalikan kepada perangkat
kepengurusan yang mengirimnya untuk dilaksanakan.
4. Berdasarkan persoalan yang dihadapi, tindakan pelayanan dan penggembalaan yang diambil berupa :
4.1. Teguran baik secara lisan maupun tertulis.
4.2. Skorsing untuk jangka waktu tertentu dilakukan oleh Pengurus jenjang yang bersangkutan.
4.3. Membebaskan yang bersangkutan untuk sementara waktu atau seterusnya dari tugas dan tanggung
jawab sebagai Pengurus Organisasi.
4.4. Dibebaskan hak yang bersangkutan sebagai anggota AMGPM.
5. Setiap tindakan penggembalaan yang dilakukan harus disertai dengan batas waktu yaitu antara 3 (tiga)
bulan sampai 3 (tiga) tahun. Bila selesai tenggang waktu tersebut yang bersangkutan tidak
memperlihatkan adanya perubahan dalam sikap dan perbuatannya, maka tindakan penggembalaan dapat
diperpanjang lagi seterusnya, kecuali Kongres menetapkan lain.
6. Pengurus Besar berwewenang membebaskan hak seseorang sebagai anggota AMGPM.
7. Seseorang yang dibebaskan haknya sebagai anggota AMGPM dapat membela diri di Kongres baik secara
langsung maupun tertulis.
Pasal 18
MEKANISME PROTOKOLER
1. Mekanisme protokoler dipergunakan di dalam upacara-upacara resmi Organisasi.
2. Tata-Urutan upacara resmi Organisasi diatur sebagai berikut :
2.1. Upacara yang bersifat umum intern Organisasi:
a. Ibadah
b. Acara Nasional, yang terdiri dari :
- Menyanyikan lagu : “Indonesia Raya”
- Mengheningkan-cipta/in-memoriam (dipimpin pengurus yang bersangkutan)
c. Acara Organisasi yang terdiri dari :
- Menyanyikan Lagu Wajib AMGPM
- Membacakan Mukadimah Anggaran Dasar AMGPM.
Pada bagian acara nasional maupun organisasi semua peserta berdiri.
d. Laporan Ketua Panitia
e. Pidato Ketua AMGPM (PB/PD/PC/PR)
f. Sambutan-sambutan.
g. Menyanyikan Lagu : “Bagimu Negeri”
h. Penutup.
2.2. Upacara resmi yang bersifat khusus Organisasi :
a. Ibadah.
b. Acara nasional yang terdiri dari :
- Menyanyikan lagu : “ Indonesia Raya “
- Mengheningkan-cipta/inmemoriam. (dipimpin pengurus yang bersangkutan)
c. Acara Organisasi yang terdiri dari :
- Menyanyikan Lagu Wajib AMGPM.
- Membacakan Mukadimah Anggaran Dasar AMGPM.
Pada bagian acara nasional maupun organisasi semua peserta berdiri.
d. Acara khusus Organisasi.
e. Pidato Ketua AMGPM (PB/PD/PC/PR)
f. Sambutan-sambutan.
g. Menyanyikan Lagu : “Bagimu Negeri”
h. Penutup.
2.3. Acara Penutupan Organisasi
a. Menyanyikan lagu wajib AMGPM
b. Sambutan Ketua Umum PB/Ketua Daerah/Ketua Cabang/Ketua Ranting Terpilih (khusus untuk
Kongres/Konperda/Konpercab/Rapat Ranting). Untuk MPP/MPPD/ MPPC/Rapat Kerja Ranting
oleh Ketua masing-masing jenjang.
c. Pidato Penutupan oleh Pengurus Besar (Konperda/MPPD), Pengurus Daerah (Konpercab/MPPC),
Pengurus Cabang (Rapat Ranting/Rapat Kerja Ranting) atau berdasarkan mandat yang diberikan
oleh Pengurus masing-masing jenjang.
d. Sambutan-sambutan.
e. Ibadah.
2.4. Acara / Upacara Demisioner pengurus organisasi diatur sebagai berikut:
a. Menyanyikan Lagu Wajib AMGPM.
b. Pembacaan Akta Demisioner oleh Pengurus jenjang yang lebih tinggi.
c. Pelepasan atribut organsiasi.
d. Menyanyikan lagu (dipilih oleh pengurus yg akan demisioner)
e. Penutup.
2.5. Acara Serah terima jabatan dilaksanakan satu paket dengan pelantikan pengurus dan susunannya
sebagai berikut:
a. Setelah pelaksanaan pengukuhan diikuti dengan pembacaan naskah serah terima.
b. Penanda-tanganan naskah serah terima.
c. Serah terima dilaksanakan secara simbolis berupa: Penyerahan Cap Organisasi dari ketua lama
dan atau pengurus yang mewakili kepada ketua yang baru.
d. cara pelantikan.
2.6. Upacara Pemakaman
a. Menanyikan lagu Wajib AM GPM
b. Pembacaan Riwayat Hidup
c. Pidato Ketua Umum/Ketua Daerah/Ketua Cabang/Ketua Ranting atau Pengurus lainnya
berdasarkan mandat.
d. Penyerahan kepada keluarga.
3. Kecuali Pasal 18 Ayat 2.3, 2.4, 2.5 dan 2.6, seluruh acara upacara resmi organisasi diawali dengan acara
prosesi.
4. Setiap Upacara resmi organisasi wajib menggunakan Pakaian dan Emblem Organisasi.
5. Khusus dalam Ibadah Pembukaan Kongres, MPP, Konferda, MPPD, Konfercab, MPPC, Rapat Ranting dan
Rapat Kerja Ranting, dilakukan akta pembukaan persidangan oleh Ketua (Umum) pada masing-masing
jenjang kepengurusan yang ditandai dengan penyalaan lilin dan menabur garam.
6. Tata Ruang Upacara Organisasi diatur sebagai berikut:
a. Bendera Merah Putih sebelah kanan
b. Fandel Organisasi ditempatkan sebelah kiri
c. Gambar Presiden, Wakil Presiden di sisi kiri dan kanan bagian depan, serta gambar Garuda bagian
tengah keatas.
d. Tempat duduk pejabat pemerintahan pada posisi di depan.
e. Tempat duduk pejabat gereja di sebelah kiri.
f. Tempat duduk pengurus organisasi di sesuaikan.
Pasal 19
PENGEMBANGAN DAN PEMBUBARAN ORGANISASI
1. Demi mencapai daya-guna dan hasil-guna pelayanan di antara anggota AMGPM, maka
Daerah/Cabang/Ranting yang wilayah pelayanan luas dan padat anggotanya perlu dimekarkan menjadi
lebih dari satu Daerah/Cabang/Ranting baru.
2. Kriteria dan tata-cara pemekaran Daerah/Cabang/Ranting diatur sebagai berikut :
2.1 Pengurus yang bersangkutan (pada jenjangnya) melakukan studi kelayakan (fisibility study) tentang
kemungkinan dilakukannya pemekaran.
2.2 Rencana pemekaran dibuat dalam satu kertas kerja rencana pemekaran (proposal) yang minimal
memuat hal-hal:
a. Peta wilayah pemekaran.
b. Jumlah minimal calon anggota.
c. Rencana pembagian harta kekayaan.
d. Hal-hal lain sesuai dengan kebutuhan.
2.3.Kertas kerja (proposal) tentang pemekaran tersebut, diajukan oleh Pengurus ke Lembaga Legislatif
(MPPD, MPPC, Rapar Kerja Ranting) untuk ditetapkan menjadi program kerja organisasi.
2.4. Setelah rencana pemekaran tersebut ditetapkan menjadi program kerja organisasi, selanjutnya
pengurus berkewajiban langkah-langkah sebagai berikut :
a. Memberikan laporan kepada pengurus jenjang di atasnya tentang rencana pemekaran tersebut.
b. Bersama-sama dengan perangkat pengurus di atasnya melakukan pembinaan secara rutin dan
simultan kepada calon Daerah/Cabang/Ranting yang akan di mekarkan. Pembinaan yang dilakukan
meliputi pembinaan keanggotaan, penyiapan kepengurusan, penyiapan kelengkapan-kelengkapan
organsiasi dan pembinaan-pembinaan keorganisasian lainya sesuai kebutuhan. Lamanya masa
pembinaan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sejak ditetapkannya rencana pemekaran.
c. Setelah masa 3 (tiga) bulan pembinan berjalan, pengurus bersama-sama dengan Pengurus pada
jenjang di atasnya mengtur langkah-langkah persiapan dan pelaksanaan penetapan (peresmian)
sebagai Daerah/Cabang/Ranting divinitif.
2.5. Penetapan (peresmian) calon Daerah / Cabang / Ranting menjadi Daerah / Cabang / Ranting divinitif
dilakukan oleh perangkat pengurus di atasnya melalui Surat Keputusan Pemekaran Pengurus yang
bersangkutan. Tembusan Surat Keputusan Pemekaran tersebut disampaikan kepada Pengurus jenjang
di atasnya secara berjenjang sampai ke tingkat Pengurus Besar.
2.6. Penetapan (peresmian) calon Daerah/Cabang/Ranting yang menjadi Daerah/Cabang/Ranting divinitif
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 18 Ayat 2 Butir 2.2.
Peraturan Organisasi ini.
2.7. Dengan ditetapkannya (diresmikannya) menjadi Daerah/Cabang/Ranting yang difinitif, maka
Daerah/Cabang/Ranting tersebut wajib melaksanakan Konferensi Daerah/Konferensi Cabang/Rapat
Ranting untuk memilih kepengurusan organisasi dan agenda-agenda lainya sebagaimana diatur dalam
Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga dan Peraturan Organisasi AMGPM.
3. Apabila 2 (dua) atau lebih dari Daerah/Cabang/Ranting yang berdekatan, dapat disatukan demi efisiensi
dan efektivitas pelayanan.
4. Kriteria dan tata-cara penyatuan Daerah/Cabang/Ranting akan diatur lebih lanjut menurut ketentuan yang
ditetapkan oleh MPP.
5. Jemaat-jemaat yang statusnya Kategorial dan atau khusus, dapat membentuk Cabang dan Ranting, sesuai
kondisi. Struktur Kepengurusan Organisasi disesuaikan dengan struktur AMGPM. Cabang dan atau
Ranting Kategorial dan atau khusus secara struktur/fungsional berada dalam tanggung jawab Pengurus
Daerah setempat.
6. Dalam keadaan tertentu Pemekaran Daerah/Cabang/Ranting dapat dilakukan berkaitan dengan
terjadinya pemekaran wilayah pelayanan gereja (GPM).
7. AMGPM di tingkat Daerah, Cabang dan Ranting dapat dibubarkan apabila :
a. Tidak lagi memenuhi persyaratan tentang pembentukan Daerah, Cabang dan Ranting
b. Timbulnya situasi-situasi khusus
c. Mendapat pertimbangan Pimpinan Gereja pada tingkat Klasis dan atau Jemaat serta Pimpinan
Organisasi setingkat di atasnya
Pasal 20
ATRIBUT
1. Atribut AMGPM terdiri dari :
1.1. Pakaian :
a. Jaket berbentuk Kebaya dansa berlengan Jas, dengan warna bagian luar ungu
b. Pakaian dalam berbentuk kemeja berwarna putih berbahan dasar katun
c. Celana panjang / rok berwarna hitam.
1.2. Bendera : Warna dasar putih, bagian tengahnya terdapat logo AMGPM, bagian tepi di berikan bis
berwarna kuning.
1.3. Emblem : berbentuk lingkaran dengan diameter 3 cm dan gambar logo diletakkan pada bagian dada
sebelah kiri
2. Tata-cara Penggunaan Atribut diatur sebagai berikut :
2.1. Pakaian :
a. Jaket/Jas, digunakan/dipakai oleh Pengurus Organisasi pada waktu menghadiri semua acara
resmi organisasi berupa resepsi, dan pada waktu mewakili organisasi dalam acara resmi.
b. Dalam setiap acara resmi organisasi, yang laki-laki diwajibkan menggunakan dasi.
c. Kemeja putih dapat dipakai oleh Pengurus Organisasi dalam menghadiri dan atau mewakili
organisasi jika belum memiliki Jaket/Jas
2.2. Bendera :
Bendera digunakan di dalam setiap acara resmi organisasi (kecuali pelantikan Pengurus di dalam
ibadah minggu bersama jemaat) dan tempatnya disesuaikan.
2.3. Emblem : digunakan (dikenakan) pada Jaket/Jas Organisasi, dapat digunakan juga pada kemeja putih
(pakaian dalam jas) bagi yang belum memiliki jas
Pasal 21
TATA CARA PERUBAHAN AD/ART
1. Setiap Daerah, Cabang dan Ranting berhak menyampaikan draft usulan perubahan AD/ART dan PO
AMGPM.
2. Usulan perubahan di tingkat Ranting selanjutnya dimasukan kepada Pengurus Cabang. Selanjutnya usulan
perubahan Cabang dimasukan ke Pengurus Daerah untuk selanjutnya dibawakan di dalam Kongres dan
atau MPP.
3. Setiap Daerah yang mengajukan usulan perubahan dan atau penambahan AD/ART dan PO AMGPM
selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum Kongres dan atau MPP sudah harus dimasukan ke PB.
4. PB AMGPM selanjutnya menyusun draft usulan perubahan AD/ART untuk dibahas dan mendapat
persetujuan Kongres.
Pasal 22
KETENTUAN PENUTUP
1. Peraturan Organisasi ini hanya bisa dirubah dan disahkan oleh Musyawarah Pimpinan Paripurna.
2. Peraturan Organisasi ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
------------------------------------------------
Ditetapkan di : Marbali - Dobo
Pada Tanggal : 25 Oktober 2011
------------------------------------------------
MUSYAWARAH PIMPINAN PARIPURNA XXV AMGPM
PENGURUS BESAR
SELAKU PIMPINAN SIDANG
PENJELASAN UMUM
Bahwa AD/ART AMGPM sebagai ketentuan hukum di tingkat keputusan Organisasi tertinggi, mendasari
seluruh cara kerja anggota maupun alat-alat kelengkapan Organisasi pada semua jenjang kepemimpinan
Organisasi. Walaupun demikian, sebagai akibat dari kedudukan AD/ART sebagai produk hukum yang hanya
mengatur hal-hal bersifat pokok saja, maka dalam praktek Organisasi sangat sering terjadi munculnya berbagai
masalah yang tidak semua pemecahannya dapat diselesaikan dengan hanya menunjuk dan atau berdasarkan
pada AD/ART yang ada.
Pada dasarnya kemungkinan terjadi masalah-masalah tersebut sudah diantisipasi oleh AD/ART; yang telah
membuka peluang bagi penyusunan suatu peraturan yang terperinci sifatnya ( baca: Peraturan Organisasi).
Bagian akhir ART (Bab IX pasal 35 ayat 2) misalnya secara tegas memberi kemungkinan bagi tingkat keputusan
yang lebih rendah. Disamping begian pasal AD/ART juga menghendaki adanya suatu Peraturan Organisasi (PO)
yang mengatur hal-hal yang belum jelas tercantum di dalam AD/ART Angkatan Muda GPM.
Sesuai dengan kedudukannya, maka fungsi dan tujuan Peraturan Organisasi (PO) ini adalah mewujudkan
keseragaman pemahaman (penapsiran) terhadap konstitusi Organisasi (AD/ART) serta mewujudkan
pemerataan/keseragaman langgam dan tindak kerja aparat dan kader Organisasi pada semua jenjang
kepemimpinan Angkatan Muda GPM ( AD Bab IX Pasal 14 jo.ART Bab V Pasal 21-30).
Pemahaman yang benar atas konstitusi dan ketentuan-ketentuan lain yang terkait akan sangat membantu
aparat dan para kader Organisasi dalam rangka pelaksanaan program-program Organisasi, sebagai sarana
pencapaian tujuan Organisas (AD Bab V Pasal 6,7.8 jo. Bab XI Pasal 16).
Pasal 4
Ayat (1). Cukup Jelas
Ayat (2). Cukup Jelas
Ayat (3).
Butir 3.1. Cukup Jelas.
Butir 3.2. Cukup Jelas.
Butir 3.3. Cukup Jelas.
Butir 3.4. Cukup Jelas.
Butir 3.5. Cukup Jelas.
Butir 3.6. Cukup Jelas.
Butir 3.7. Cukup Jelas
Butir 3.8. Cukup Jelas
Ayat (4).
Utusan Daerah harus mendapat mandat dari Daerah yang bersangkutan, sedangkan peninjau dari
Daerah dikoordinasikan dengan Pengurus Daerah yang bersangkutan.
Ayat (5).
Tugas Badan Pembantu adalah tugas perbantuan/asistensi bagi Pengurus Besar. Dapat Bersifat
Parmanen atau bersifat sementara sesuai dengan kebutuhan.
Ayat (6). Cukup Jelas
Ayat (7).
“Demisioner” artinya masa dimana Pengurus Besar mengembalikan mandat kepada Kongres, tetapi
Pengurus Besar masih tetap bertanggung-jawab atas jalannya Kongres dan masih tetap melaksanakan
tugas sehati-hari sambil menunggu dikukuhkannya Pengurus Besar yang baru. Pengurus Besar
dinyatakan demisioner pada saat laporan pertanggung-jawabannya diterima dan di sahkan oleh
Kongres. Pengurus Besar didemisionerkan oleh Majelis Ketua dalam kedudukannya selaku Pimpinan
Kongres. Mekanisme dan tata cara pelaksanaan acara demisioner sebagaimana di atur dalam Pasal 17
Peraturan Organisasi ini.
Ayat (8).
Inventarisasi organisasi adalah seluruh kekayaan organisasi baik bergerak maupun yang tidak bergerak.
Ayat (9). Cukup Jelas
Ayat (10). Cukup Jelas
Ayat (11). Cukup Jelas
Ayat (12). Cukup Jelas
Pasal 5.
Ayat (1). Cukup Jelas
Ayat (2). Cukup Jelas
Ayat (3). Cukup Jelas
Ayat (4). Cukup Jelas
Pasal 6.
Ayat (1). Cukup Jelas
Ayat (2).
a. Konferda berlangsung sebelum masa lima tahun (cf. ART Bab IV Pasal 12 Ayat 10).
b. Konferda berlangsung hanya melaksanakan salah satu atau sebagian dari tugas-tugas Konferda (cf.
ART Pasal 12 Ayat 11). Misalnya Konperda di laksanakan hanya untuk tugas memilih Pengurus
Daerah (Ketua dan atau Sekretaris Daerah) atau hanya untuk tugas-tugas yang lain. “Harus
mendapat persetujuan Pengurus Besar” dalam arti bahwa pelaksanaan Konferensi Daerah Istimewa
sepatutnya harus mendapat pertimbangan yang matang dari Pengurus Besar. Pengurus Besar dalam
kedudukannya selaku penanggung-jawab dan pengarah organisasi harus melakukan langkah-langkah
inventarisasi atas pokok-pokok masalah yang melatarbelakangi dilaksanakannya Konfrensi Daerah
Istimewa dimaksud. Pengujian atas layak tidaknya Konferda Istimewa harus didasarkan pada
pertimbangan-pertimbangan yang rasional, objektif dan konstitusional.
Ayat (3).
“Atas panggilan Pengurus Daerah” harus mendapat persetujuan Pengurus Besar (lihat penjelasan Ayat 2
Pasal ini “bagian persetujuan PB”).
Ayat (4).
Huruf a. Cukup Jelas.
Huruf b. Cukup Jelas.
Pasal 7.
Ayat (1).
Butir 1.1. Cukup Jelas
Butir 1.2. Cukup Jelas
Butir 1.3. Cukup Jelas
Butir 1.4. Cukup Jelas
Butir 1.5. Cukup Jelas
Butir 1.6. Cukup Jelas
Ayat (2).
Utusan Cabang harus mendapat mandat dari Pengurus Cabang yang bersangkutan, sedangkan peninjau
dari Cabang dikoordinasikan dengan Pengurus Cabang yang bersangkutan.
Ayat (3). Cukup Jelas
Ayat (4).
Tugas Badan Pembantu adalah tugas perbantuan/asistensi bagi Pengurus Daerah. Dapat Bersifat
Parmanen atau bersifat sementara sesuai dengan kebutuhan.
Ayat (5).
Ayat (6).
“Demisioner” artinya masa dimana Pengurus Daerah mengembalikan mandat kepada Konferda, tetapi
Pengurus Daerah masih tetap bertanggung-jawab atas jalannya Konferda dan masih tetap melaksanakan
tugas sehati-hari sambil menunggu pelantikan Pengurus Daerah yang baru. Pengurus Daerah dinyatakan
demisioner pada saat laporan pertanggung-jawabannya diterima dan di sahkan oleh Konferda. Pengurus
Daerah didemisionerkan oleh Pengurus Besar. Mekanisme dan tata cara pelaksanaan acara demisioner
sebagaimana di atur dalam Pasal 17 Peraturan Organisasi ini.
Ayat (7). Cukup Jelas
Ayat (8). Cukup Jelas
Ayat (9). Cukup Jelas
Ayat (10). Cukup Jelas
Ayat (11). Cukup Jelas
Ayat (12). Cukup Jelas
Pasal 8.
Ayat (1). Cukup Jelas.
Ayat (2).
Disebut “Konfercab Istimewa” apabila :
a. Konfercab berlangsung sebelum masa tiga tahun (cf. ART Bab IV Pasal 13 Ayat 10).
b. Konfercab berlangsung hanya melaksanakan salah satu atau sebagian dari tugas-tugas Konpercab (cf.
ART Pasal 13 ayat 11). Misalnya Konpercab di laksanakan hanya untuk tugas memilih Pengurus
Cabang atau hanya untuk tugas-tugas yang lain. “Harus mendapat persetujuan Pengurus Daerah”
dalam arti bahwa pelaksanaan Konferensi Cabang Istimewa sepatunya harus mendapat
pertimbangan yang matang dari Pengurus Daerah. Pengurus Daerah dalam kedudukannya selaku
penanggung-jawab dan pengarah organisasi di tingkat Daerah harus melakukan langkah-langkah
inventarisasi atas pokok-pokok masalah yang melatarbelakangi dilaksanakannya Konfrensi Cabang
Istimewa dimaksud. Pengujian atas layak tidaknya Konfercab Istimewa harus didasarkan pada
pertimbangan-pertimbangan yang rasional, objektif dan konstitusional.
Ayat (3).
“Atas panggilan Pengurus Cabang” harus mendapat persetujuan Pengurus Daerah. (lihat penjelasan Ayat
2 Pasal ini “bagian persetujuan PD”).
Ayat (4).
Huruf a. Cukup Jelas.
Huruf b. Cukup Jelas.
Pasal 9.
Ayat (1). Cukup Jelas
Ayat (2). Cukup Jelas.
Ayat (3). Cukup Jelas.
Ayat (4).
Tugas Badan Pembantu adalah tugas perbantuan/asistensi bagi Pengurus Daerah. Dapat Bersifat
Parmanen atau bersifat sementara sesuai dengan kebutuhan.
Ayat (5). Cukup Jelas
Ayat (6).
“Demisioner” artinya masa dimana Pengurus Cabang mengembalikan mandat kepada Konperensi
Cabang, tetapi Pengurus Cabang masih tetap bertanggung-jawab atas jalannya Konperensi Cabang dan
masih tetap melaksanakan tugas sehati-hari sambil menunggu pelantikan Pengurus Cabang yang baru.
Pengurus Cabang dinyatakan demisioner pada saat laporan pertanggung-jawabannya diterima dan di
sahkan oleh Konperensi Cabang. Pengurus Cabang didemisionerkan oleh Pengurus Daerah.
Mekanisme dan tata cara pelaksanaan acara demisioner sebagaimana di atur dalam Pasal 17 Peraturan
Organisasi ini.
Ayat (7). Cukup Jelas.
Ayat (8). Cukup Jelas.
Ayat (9). Cukup Jelas.
Ayat (10). Cukup Jelas
Ayat (11). Cukup Jelas
Ayat (12). Cukup Jelas
Pasal 10.
Ayat (1). Cukup Jelas.
Ayat (2).
a. Rapat Ranting berlangsung sebelum masa dua tahun (ART Bab III Pasal 15 Ayat 2).
b. Rapat Ranting berlangsung hanya melaksanakan salah satu atau sebagian dari tugas-tugas Rapat
Ranting (cf. ART Pasal 16). Misalnya Konpercab di laksanakan hanya untuk tugas memilih Pengurus
Ranting atau hanya untuk tugas-tugas yang lain. “Harus mendapat persetujuan Pengurus Cabang”
dalam arti bahwa pelaksanaan Rapat Ranting Istimewa sepatunya harus mendapat pertimbangan
yang matang dari Pengurus Cabang Pengurus Cabang dalam kedudukannya selaku penanggung-jawab
dan pengarah organisasi di tingkat Cabang harus melakukan langkah-langkah inventarisasi atas pokok-
pokok masalah yang melatarbelakangi dilaksanakannya Rapat Ranting Istimewa dimaksud. Pengujian
atas layak tidaknya Rapat Ranting Istimewa harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang
rasional, objektif dan konstitusional.
Ayat (3).
“Atas panggilan Pengurus Ranting” harus mendapat persetujuan Pengurus Cabang. (lihat penjelasan
Ayat 2 Pasal ini “bagian persetujuan PB”).
Ayat (4).
Huruf a. Cukup Jelas.
Huruf b. Cukup Jelas.
Pasal 11.
Ayat (1). Cukup Jelas
Ayat (2).
Peninjau : adalah khusus bagi anggota yang berada pada Masa Alih Status.
Ayat (3). Cukup Jelas
Ayat (4). Cukup Jelas
Ayat (5).
“Demisioner” artinya masa dimana Pengurus Ranting mengembalikan mandat kepada Rapat Ranting,
tetapi Pengurus Ranting masih tetap bertanggung-jawab atas jalannya Rapat Ranting dan masih tetap
melaksanakan tugas sehati-hari sambil menunggu pelantikan Pengurus Ranting yang baru. Pengurus
Ranitng dinyatakan demisioner pada saat laporan pertanggung-jawabannya diterima dan di sahkan oleh
Rapat Ranting. Pengurus Ranting didemisionerkan oleh Pengurus Cabang.
Mekanisme dan tata cara pelaksanaan acara demisioner sebagaimana di atur dalam Pasal 17 Peraturan
Organisasi ini.
Ayat (6). Lihat Penjelasan Pasal 7 Ayat 7 Peraturan ini.
Ayat (7). Cukup Jelas
Ayat (8). Cukup Jelas
Ayat (9). Cukup Jelas
Ayat (10). Cukup Jelas
Pasal 12.
Ayat (1).
Butir 1.1. Cukup Jelas
Butir 1.2. Cukup Jelas
Butir 1.3. Cukup Jelas
Butir 1.4.
Huruf a. Cukup Jelas.
Huruf b. Disiplin gereja diberikan ada pemberitahuan resmi dari pimpinan gereja kepada Pengurus
Ayat (4).
Yang dimaksud dengan “Penanggung-jawab Organisasi” adalah Ketua Umum/Sekretaris Umum pada
tingkat Pengurus Besar, Ketua/Sekretaris Daerah pada tingkat Pengurus Daerah, Ketu/Sekretaris pada
tingkat Pengurus Cabang, Ketua/Sekretaris Ranting pada tingkat Pengurus Ranting. Sedangkan “Lembaga
Legislatif” yang dimaksud adalah Kongres Istimewa untuk tingkat Pengurus Besar, Konperensi Daerah
Istimewa untuk tingkat Daerah, Konperensi Cabang Istimewa untuk tingkat Cabang dan Rapat Ranting
Istimewa untuk tingkat Ranting.
Mekanisme dan tata cara pelaksanaan Kongres Istimewa/Konperensi Daerah Istimewa/ Konperensi
Cabang Istimewa/ Rapat Ranting Istimewa untuk maksud ini dapat mengunakan mekanisme dan tata
cara pelaksanaan Kongres/Konperda/Konpercab/Rapat Ranting pada umumnya, dengan ketentuan
hanya melakasanakan agenda tunggal yaitu pemilihan penanggung-jawab organisasi (Ketua dan atau
Sekretaris) atau dapat pula menyertakan agenda-agenda lainya yang sesuai dengan kebutuhan.
Ayat 5
Istilah “Pelantikan” hanya dikenal pada tingkat Pengurus Daerah, Pengurus Cabang dan Pengurus
Ranting. Pelantikan pada dasarnya berhubungan langsung dengan kewenangan “mengesahkan” yang
melekat pada perangkat kepengurusan yang berada di atas.
Pada tingkat Pengurus Besar, tidak dikenal istilah pelantikan tetapi istilah “Pengukuhan”. Sebab
Pengurus Besar adalah aparat tertinggi dalam organisasi. Dengan pengukuhan berarti Pengurus Besar
meminta aparat/badan lain di luar jenjang dan struktur organisasi AMGPM; yang dalam hal ini Badan
Pekerja Harian Sinode GPM selaku Pimpinan Gereja Protestan Maluku. Kehadiran Badan Pekerja Harian
Sinode GPM pada acara pengukuhan bukan untuk mengesahkan anggota calon penganti Pengurus Besar
tetapi untuk “meresmikan dan memberi penguatan”.
Ayat (6).
“Sesuatu hal“ dalam Ayat ini dapat berupa :
a. Berpindah tempat domisili.
b. Meninggal dunia.
c. Mengundurkan diri atas permintaan sendiri.
d. Atau karena sebab-sebab lain yang sangat prinsip objektif, rasional dan konstitusional.
Sedangkan yang dimaksud dengan “belum memungkinkan” dalam bagian ini menunjukan pada fakta-
fakta objektif yang ada di Daerah/Cabang/Ranting yang bersengkutan. Dan oleh karena itu, sebelum
perangkat kepengurusan yang ada di atas memberikan persetujuannya ia wajib melakukan penelitian
atas fakta-fakta dimaksud.
Pasal 13
Ayat (1).
Ketentuan ini tidak berlaku untuk jabatan di luar organisasi Angkatan Muda GPM
Ayat (2). Cukup Jelas.
Ayat (3).
Ketentuan ini hanya dimaksudkan untuk ketua umum dan sekretaris umum PB AMGPM sebagai
pemimpin eksekutif tertinggi organisasi dalam rangka menjaga netralitas organisasi termasuk untuk
menjalankan fungsi kordinatif dan kontrol terhadap pengurus jenjang di bawahnya
Ayat (4). Cukup Jelas
Pasal 14.
Ayat (1).
Jika kepengurusan yang bersangkutan sekurang-kurangnya dalam satu tahun belum dapat melaksanakan
Konperda, Konpercab dan Rapat Ranting. Care Taker yang di tinjuk harus di ambil dari lingkup jenjang
organisasidi atasnya dan atau pelayan yang ditunjuk.
Butir 1.1. Cukup Jelas.
Butir 1.2. Cukup Jelas
Butir 1.3. Cukup Jelas
Ayat (2).
Butir 2.1. Cukup Jelas
Butir 2.2. Cukup Jelas
Butir 2.3. Cukup Jelas
Ayat (3). Cukup Jelas.
Ayat (4). Cukup Jelas.
Pasal 15.
Ayat (1). Cukup Jelas
Ayat (2). Cukup Jelas
Ayat (3). Cukup Jelas
Ayat (4). Cukup Jelas
Ayat (5). Cukup Jelas
Ayat (6). Cukup Jelas
Ayat (7). Cukup Jelas
Pasal 16
Ayat (1). Cukup Jelas
Ayat (2).
Sikap dan Pernyataan adala sikap dan pernyataan organisasi dan bukan sikap dan pernyataan orang-
perorangan.
Ayat (3). Cukup Jelas
Pasal 17
Ayat (1).
Yang dimaksud dengan ”pengakuan” disini adalah pengakuan sebagainama yang diatur dalam AD Bab III
Pasal 4 Ayat 1, 2 dan 3.
Ayat (2). Cukup Jelas
Ayat (3).
Butir 3.1. Cukup Jelas
Butir 3.2. Cukup Jelas
Butir 3.3. Cukup Jelas
Butir 3.4. Cukup Jelas
Ayat (4).
Butir 4.1. Cukup Jelas
Butir 4.2. Cukup Jelas
Butir 4.3. Cukup Jelas
Butir 4.4. Cukup Jelas
Ayat (5). Cukup Jelas
Ayat (6). Cukup Jelas
Ayat (7). Cukup Jelas
Pasal 18
Ayat (1). Cukup Jelas
Ayat (2).
Butir 2.1.
Yang dimaksud dengan “bersifat umum interen organisasi” adalah upacara yang dilaksanakan oleh
AMGPM berkaitan dengan acara-acara yang bersifat umum tetapi dilaksanakan secara intern organisasi.
Misalnya resepsi peringatan Hari-hari Besar Nasional/Internasional, Hari Besar Gerejawi atau kegiatan-
kegiatan kemasyarakatan lainnya.
Huruf a. Cukup Jelas.
Huruf b. Cukup Jelas.
Huruf c. Cukup Jelas.
Huruf d. Para Pejabat/pihak yang memberikan sambutan, antara lain:
penanggung-jawab organisasi pada jenjangnya.
Penanggung-jawab organisasi pada jenjang di atasnya.
Pejabat gereja.
Pejabat Pemerintah.
Atau pejabat lain yang di undang sesuai kebutuhan.
Huruf e. Cukup Jelas.
Butir 2.2.
Yang dimaksud dengan “bersifat khusus organisasi” adalah upacara yang dilaksanakan oleh AMGPM
berkaitan dengan acara khusus organisasi. Misalnya acara HUT Angkatan Muda GPM, acara
Pelantikan/pengukuhan pengurus, acara Kongres/Kongres Istimewa, Konperda/Konperda Istimewa,
Konpercab/Konpercab Istimewa, Rapat Ranting/Rapat Ranting Istimewa atau MPP/MPPD/MPPC/Rapat
Ranting.
Huruf a. Cukup Jelas.
Huruf b. Cukup Jelas.
Huruf c. Cukup Jelas.
Huruf d. point ini hanya digunakan untuk pelantikan/pengukuhan pengurus jika pelantikannya
berlangsung terpisah dari acara ibadah. Jika pelantikannya berlangsung dalam ibadah minggu
dan atau akhir acara lembaga legislatif maka yang dipergunakan hanya point “c” dan “d” dan
penyematan atribut organisasi pada penanggung-jawab organisasi, diikuti seluruh pengurus
yang dilantik.
Huruf e. Pidato desampaikan oleh penanggung-jawab organisasi pada jenjangnya.
Huruf f. Pejabat/pihak yang menyampaikan sambutan antara lain:
Penanggung-jawab organisasi pada jenjang yang ada di atasnya.
Pejabat Gereja.
Pejabat Pemerintah.
Atau Pejabat lain yang di undang sesuai kebutuhan.
Huruf g. Cukup Jelas.
Butir 2.3.
Huruf a. Cukup Jelas.
Huruf b. Cukup Jelas.
Huruf c. Cukup Jelas.
Huruf d Cukup Jelas
Huruf e Cukup Jelas
Butir 2.4.
Peserta prosesi adalah perangkat kepengurusan yang melaksanakan acara dimaksud bersama-sama
dengan perangkat kepengurusan di atasnya.
Pasal 19.
Ayat (1).
Pada tingkat Daerah sekurang-kurangnya terdapat 3 Cabang/Ranting, pada tingkat Cabang sekurang-
kurangnya terdapat 3 Ranting dan pada tingkat Ranting sekurang-kurangnya terdapat 25 Anggota
Ayat (2).
butir 2.1. Cukup Jelas
butir 2.2. Cukup Jelas.
huruf a. Cukup Jelas.
huruf b. Cukup Jelas.
huruf c. Cukup Jelas
huruf d. Cukup Jelas
butir 2.3. Cukup Jelas.
butir 2.4. Cukup Jelas.
huruf a. Cukup Jelas.
huruf b. Cukup Jelas.
huruf c. Cukup Jelas
butir 2.5. Cukup Jelas.
butir 2.6. Cukup Jelas
butir 2.7. Cukup Jelas
Ayat (3). Cukup Jelas
Ayat (4). Cukup Jelas
Ayat 7 point a : Yang disebut dengan tidak memenuhi lagi persyaratan pembentukan antara lain : tidak lagi
memiliki pengurus, anggota, wilayah dan pengakuan Daerah/ Cabang/Ranting tetangga.
point b : Yang dimaksud dengan situasi khusus antara lain : bencana alam, masalah sosial budaya dan
politik lintas agama
Pasal 20
Ayat (1) Cukup Jelas
1.1. Dipakai khusus untuk acara resmi AMGPM/acara resmi lainnya.
1.2. Dipakai pada setiap acara organisasi dan ditempatkan pada sisi kanan (dilihat dari depan).
1.3. Cukup Jelas
Ayat (2). Cukup Jelas.
2.1. Cukup Jelas
2.2. Cukup Jelas
2.3. Cukup Jelas
Pasal 21.
----------------------------------------------------
Ditetapkan di : Marbali - Dobo
Pada Tanggal : 25 Oktober 2011
------------------------------------------------
1. PENDAHULUAN
Penataan administrasi demi ketertiban, keseragaman dan kelancarann tugas-tugas organisasi adalah
sangat penting. Untuk maksud itu, Pengurus Besar telah melakukan penyelarasan dan perampungan
peraturan organisasi sistem administrasi AMGPM yang disingkat PO. 2
Penyusunan sistem administrasi tersebut tentu saja tidak dapat dipisahkan dari pada pedoman
administsasi Gereja Protestan Maluku, karena AMGPM sesuai Mukadimah Anggaran Dasar Alinea I dan
Bab VII Pasal 10 Ayat 1, merupakan bagian Integral dari GPM.
Sesuai kebutuhan dan tuntutan organisasi yang sangat mendesak, maka peraturan sistem organisasi
tentang sistem administrasi AMGPM perlu dibukukan untuk menjadi pedoman untuk menunjang
ketertiban, keseragaman dan kelancaran administrasi organisasi AMGPM.
b. Dengan menyatukan sekretariat organisasi dengan perkantoran Gereja di setiap jenjang, maka
akan memudahkan koordinasi dalam pelaksanaan tugas Kesaksian, Persekutuan dan Pelayanan.
c. Khusus bagi jemaat-jemaat yang memiliki lebih dari satu Ranting AMGPM, maka sekretariatnya
dapat ditempatkan di rumah salah seorang Pengurus Ranting atau gedung sekretariat tersendiri,
tetapi harus jelas tempatnya, terutama ruangan dan alamatnya.
d. Penentuan sekretariat bagi cabang yang meliputi beberapa jemaat, ditempatkan dengan
memperhitungkan wilayah pelayanan (kediaman pimpinan organisasi, posisi strategis/mudah
dijangkau, baileo AMGPM yang telah dibangun dll)
Beberapa kegiatan pokok yang menyangkut pelayanan Tata Usaha, antara lain:
1. Surat Menyurat (Korespondensi)
Surat dari instansi resmi (misalnya Sinode,majelis jemaat,yayasan dll)menggunakan Kop surat. Kop
surat memuat data : nama lembaga, alamat lengkap, nomor telpon, nomor kotak pos, alamat
telegram/kawat).
Catatan :
a. Kata jalan ditulis lengkap : Jalan bukan jln.
b. Kata telepon ditulis lengkap : Telepon bukan telp atau tlp atau tel.
c. Istilah PO BOX tidak dipergunakan tetapi dipakai : Kotak pos.
b. Tanggal Surat
Penulisan tanggal surat dinas tidak boleh didahului nama desa/kota karena nama desa/kota sudah
tercantum di dalam kop surat.
Nama bulan dan tahun ditulis lengkap tidak boleh disingkat.
Pada akhir penulisan tanggal surat tidak perlu dibubuhi tanda baca.
Tempat menulis tanggal surat adalah disebelah kanan bawah kop surat (dibawah garis pemisah
kop surat dan sejajar ke kanan dari tulisan nomor surat).
c. Nomor Surat
Setiap surat dinas yang keluar selalu diberi nama nomor kode.
Penulisan kata nomor mesti diikuti tanda titik berganda (:).
Jika kata nomor ditulis singkat (No) maka penulisannya diikuti tanda titik, baru kemudian titik
berganda.
Penulisan angka kode surat garis miring(/),garis datar(-) harus tidak didahului atau diikuti jarak
(ketukan mesin).
Angka tahun ditulis lengkap,dan tidak diikuti tanda baca apapun.
Contoh : Nomor: 041/I/PB/2002 atau No.: 041/I/PB/2002 dan bukan Nomor : 041/I/PB/02
Bagi Daerah/Cabang/Ranting yang baru dibentuk/dilebur dll, penomoran Daerah/Cabang/Ranting
diatur dengan keputusan lembaga tertinggi di atasnya berdasarkan penerbitan Surat Keputusan
lembaga yang lebih tinggi itu.
Nomor surat Mandat/Rekomendasi/SK yang substansinya berbeda dengan surat keluar
penomoran dimulai dengan nomor baru dan dilanjutkan sesuai dengan jenis surat-surat tersebut.
Penomoran surat tidak dibagi per bidang
Akhir tahun penomoran surat ditutup; dan tahun baru penomoran surat dimulai dengan nomor
baru.
d. Hal/Pokok Surat
Kata HAL ditulis sejajar ke bawah dibawah kata nomor dan lampiran.
Sering dipakai kata HAL atau PERIHAL atau POKOK.
Yang paling tepat dan praktis adalah HAL.
Penulisan kata HAL diikuti titik ganda (sejajar dibawah tanda titik ganda pada tulisan nomor dan
lampiran.
Pencantuman isi pada HAL surat harus singkat dan padat dan mengandung sari atau pesan surat,
ditulis dengan huruf besar dan digaris bawahi.
Contoh : HAL : PEMBENTUKAN PANITIA HUT
e. Lampiran
Kata lampiran ditulis sejajar ke bawah di bawah kata nomor surat dan ditulis lengkap: Lampiran
atau juga Lamp.
Diikuti titik ganda dan tidak boleh diakhiri dengan tanda baca apapun.
Contoh: LAMPIRAN : satu berkas.
Jika tidak ada lampiran, maka kata lampiran tetap ditulis tetapi tidak diisi.
Contoh : LAMPIRAN : ……
f. Alamat Surat
Alamat surat ditulis disebelah kiri surat pada posisi antara HAL dan SALAM PEMBUKA.
Ada juga penulisan alamat surat pada posisi sebelah kanan surat namun penulisannya pada posisi
sebelah kiri surat lebih baik, sebab alamat yang panjang bisa ditulis lengkap tanpa harus dipenggal.
Pada alamat surat tidak perlu ditulis : KEPADA YANG TERHORMAT atau KEPADA YTH.
Cukup ditulis KEPADA/YANG TERHORMAT/YTH saja.
Kata sapaan BAPAK/IBU/SAUDARA tidak perlu ditulis didepan gelar akademis, keturunan atau
jabatan keagamaan, misalnya Ir, Dr, dr, Prof,dll atau Pdt, Mgr. yang mengikuti nama orang.
Contoh Bentuk yang salah :
o Kepada Yth Bapak Drs. Abunawas, atau
o Kepada Yth. Ibu dr.Mamamia.
Bentuk yang benar :
o Yth.: Drs,Abunawas, atau
o Kepada : dr. Mamamia
o Yth.: Bapak Johan
g. Salam Pembuka
SALAM PEMBUKA ditempatkan disebelah kiri surat, sejajar di bawah tulisan ALAMAT SURAT
(dengan memberi jarak dibawah diantaranya).
Contoh Salam pembuka yang benar : Dengan hormat atau Salam sejahtera
Bentuk yang salah : - Dengan segala hormat
h. Isi Surat
1. Isi surat terdiri dari alinea pembuka, inti surat dan alinea penutup.
Contoh : Alinea pembuka yang salah : bersama surat ini saya beritahukan.
Alinea Pembuka yang benar : - Bersama surat ini kami beritahukan atau Melalui surat ini kami
informasikan
Dari alinea pembuka orang yang membaca surat tersebut langsung mengetahui surat balasan
atau surat permohonan, dll.
Catatan : kata KAMI hanya digunakan jika penulisan surat mewakili suatu instansi/lembaga
atau kepanitiaan. Jika surat mewakili pribadi, hendaknya dipergunakan kata ganti SAYA.
2. Isi/Inti.
Isi/materi surat hendaknya disampaikan dengan tepat, cermat dan dengan bahasa yang
mudah dimengerti oleh penerima surat, kecermatan meggunakan bahasa Indonesia
dipentingkan disini.
Sikap respek(hormat) terhadap penerima surat hendaknya juga terungkap melaui bagian ini.
i. Alinea Penutup
Alinea ini berfungsi mengakhiri pembicaraan dalam surat yang isinya dapat mengundang harapan
atau ucapan terima kasih penulis/pengirim surat.
Catatan ; untuk orang yang dihormati atau lembaga yang lebih tinggi perkataan saudara/anda
sebaiknya tidak digunakan.
j. Penutup
Bagian ini menunjukan rasa hormat penulis surat kepada pembaca/penerima surat.
Salam penutup ini diletakkan diantara alina penutup dan tanda tangan pengirim, sejajar dengan
tanggal surat.
Contoh : salam kami, hormat kami atau teriring salam dan doa.
Bentuk yang baku digunakan dikalangan AMGPM adalah tanda tangan,dibawahnya ditulis nama
jelas kemudian di bawah nama(setelah digaris bawahi)dicantumkan jabatan.
l. Lain-lain
Sering dalam surat yang kita terima ada beberapa hal yang tidak lasim digunakan seperti:
Tembusan surat.
Ada instansi yang menggunakan bagian ini dengan istilah tindisan atau cc (carbon copy)
Istilah yang benar atau yang dibakukan adalah TEMBUSAN.
Tembusan hanya dicantumkan jika ada instansi atau orang tertentu yang perlu mengetahui
Isi/maksud surat tersebut.
Penulisan kata tembusan diletakkan di bagian bawah kiri surat, sejajar dengan sisi pinggir kiri isi
surat diberi garis bawah dan diberi titik ganda.
Dibagian bawahnya baru dicantukan nama(lembaga/pribadi)penerima tembusan secara berturut
ke bawah dengan memberikan nomor urut menurut tingkatan jabatan.
Contoh bentuk yang salah :
TEMBUSAN :
Kepada YTH : Ketua Sinode GPM(sebagai laporan)
Kepada YTH : Ketua Klasis GPM Ternate(untuk diketahui)
Arsip/pertinggal.
Contoh yang baku :
TEMBUSAN :
Ketua Sinode GPM.
Ketua Klasis GPM Ternate.
Catatan : tidak perlu ditulis KEPADA YTH, SEBAGAI LAPORAN, UNTUK DIKETAHUI atau ketangan
lain yang terdapat diantara dua kurung.
Kata : ARSIP/PERTINGGAL pada tembusan tidak perlu digunakan karena sebuah surat dinas sudah
pasti mempunyai arsip.
j. Inisial
Inisial (huruf awal nama) pengonsep dan pengetik surat (dinas) dicantumkan disebelah kiri bawah
surat atau dibawah tembusan.
ADM adalah singkatan nama Abraham Daniel Maelissa (Pengonsep surat) dan HL adalah singkatan
nama Herman Lekahena (pengetik).
Pencatuman inisial ini bermanfaat jika suatu waktu diperlukan pelacakan atau penelusuran surat.
1.2. SURAT KEPUTUSAN.
Surat keputusan organisasi terdiri dari keputusan lembaga legislatif (misalnya : Kongres, MPP, Konferda,
MPPC,dll); dan keputusan lembaga legislatif biasanya bekaitan dengan hasil keputusan lembaga legislatif
yang bersangkutan. Keputusan lembaga eksekutif biasanya berkaitan dengan penjabaran keputusan
legislatif maupun lembaga eksekutif (penerma mandat). Baik keputusan legislatif maupun lembaga
eksekutif mempunyai kekuatan mengikat hanya kedalam tetapi mempunyai kekuatan (dasar hukum)
untuk bergerak Keluar. Adapun bagian-bagian dari sebuah surat keputusan terdiri dari :
b. Nomor Surat
Penulisan nomor Keputusan sebagai berikut :
Untuk Keputusan Lembaga Legislatif, biasanya ditulis langsung pada bagian tengah sejajar dengan
penulisan KEPALA SURAT.
Misalnya : Nomor : 04/KPTS/KD.2-V/2008
Untuk keputusan lembaga eksekutif ditulis pada bagian tengah persis dibawah garis penutup
Kepala Surat.
c. Maksud/Hal Surat
Bagian ini ditandai dengan kata “tentang” yang ditulis pada bagian tengah dibawah nomor surat.
Dibawah kata “Tentang” ditulis HAL surat, yang ditulis dengan memperhatikan tata keindahan surat,
dan ditulis dengan hurup besar dan digaris bawahi.
Misalnya :
Tentang
PENGANGKATAN PANITIA HUT ANGKATAN MUDA GPM DAERAH KOTA AMBON
d. Pendahuluan
Pendahuluan surat keputusan berisi nama lembaga legislatif atau eksekutif, diikuti tanda baca “titik
ganda” (:), bagian ini ditulis disebelah kiri sejajar dengan garis pinggir surat.
e. Isi Surat
Isi surat keputusan terdiri dari :
1. MENIMBANG : bagian ini berisi alasan-alasan mengapa surat keputusa itu dibuat.
2. MENGINGAT : bagian ini berisi dasar hukum yang mendukung alsan-alasan di atas (bagian
tentang menimbang) yang biasanya berisi bab dan pasal dari AD/ART.
3. MEMPERHATIKAN : bagian ini berisi permohonan (berdasarkan surat), saran dan pendapat
(situasi terakhir) peserta.
4. Isi Keputusan :
MEMUTUSKAN : kata ini biasa ditulis dengan hurup besar dan digaris bawahi, ditulis pada
bagian tengah lembaran surat, diakhiri dengan tanda baca “titik ganda”.
Butir-butir keputusan biasanya diurut dengan menggunakan kata-kata: pertama. Kedua, dst
(ditulis sejajar dengan garis pinggir dan diikuti dengan tanda baca titik ganda. Umumnya
bagian ini diakhiri dengan butir yang mengatur tentang sejak kapan dan sampai kapan
keputusan tersebut berlaku.
f. Penutup
Bagian ini biasanya berisi kata-kata “DITETAPKAN DI “ dan “PADA TANGGAL” yang ditulis antara
bagian tengah dan bagian tepi kanan surat.
g. Tanda tangan
Bagian ini biasanya diawali dengan penulisan nama lengkap eksekutif atau legislatif yang
bersangkutan pada bagian tengah lembaran surat. Dibawahnya ditulis nama mereka yang
berkompetensi untuk menandatangani surat tersebut. Surat keputusan harus ditandatangani oleh 2
orang : Ketua atau yang ditunjuk mewakili dan sekretaris atau yang ditunjuk mewakili. Jabatan
ditulis dibawah nama, dibawah garis. Tembusan hanya disampaikan kepada yang berkepentingan
untuk mengetahuinya saja
2. Rekomendasi yang dikeluarkan lembaga Eksekutif (PB/PD/PC/PR) yang berisi pernyataan dari
lembaga tersebut terhadap aktifitas lembaga.
Misalnya : Rekomendasi PB kepada Panitia Pelaksana MPP XXII untuk mencari dana dikalangan
anggota AMGPM didalam daerah pelayanan tertentu.
Bentuknya :
a. Dibawah Kop Surat ditulis kata : REKOMENDASI dan dibawahnya ditulis nomor urut
rekomendasi.
b. Isi :
Alasan-alasan pemberian rekomendasi (biasanya dengan mencantumkan nomor surat
permohonan).
Pernyataan dukungan terhadap aktifitas yang akan dilaksanakan (sebagai yang tercantum pada
alasan) dilaksanakan
Batasan ruang gerak dan batasan waktu berlakunya rekomendasi tersebut
Himbauan kepada pihak-pihak tertentu (yang berada di wilayah pemberlakuan rekomendasi
tersebut) untuk turut membantu kegiatan tersebut baik secara moral maupun material.
Penegasan tentang tanggungjawab penerima rekomendasi untuk melaporkan hasil
pelaksanaan rekomendasi tersebut kepada pemberi rekomendasi, setelah rekomedasi selesai
dilaksanakan.
c. Penutup.
Tempat dan waktu dikeluarkannya reomendasi
Nama lembaga eksekutif
Nama dan tanda tangan
Nomor agenda harus dipakai secara terus menerus, sampai pada akhir tahun barulah kita mulai dengan
nomor agenda yang baru.
Demi keseragaman maka diberikan beberapa petunjuk praktis format sebuah surat keluar secara
berjenjang :
Contoh Kepala dan Akhir Surat pada tiap jenjang :
1. PENGURUS BESAR:
ANGKATAN MUDA GEREJA PROTESTAN MALUKU PENGURUS
BESAR
LANTAI II BEILEO OIKUMENE,
JALAN RAYA PATTIMURA, TELEPON (0911) 316096
A M B O N
PENGURUS BESAR
PENGURUS DAERAH
Drs.P.Kastanya Rano.W.Lailossa
Ketua Daerah Sekretaris Daerah
3. PENGURUS CABANG:
ANGKATAN MUDA GEREJA PROTESTAN MALUKU
DAERAH PULAU AMBON
PENGURUS CABANG NEHEMIA
JALAN DR. KAYADOE, TELEPON (0911) 341496
BENTENG- A M B O N
PENGURUS CABANG
Setiap Surat Keluar sebuah organisasi memiliki kode tertentu, yang diatur secara seragam dan berjenjang.
Untuk penyeragaman kode-kode Surat Keluar, maka diatur sebagai berikut:
a. Untuk jenjang Kepengurusan/Kepemimpinan digunakan kode:
1. Surat Keluar dari Pengurus Besar menggunakan kode jenjang : PB
2. Surat Keluar dari Pengurus Daerah menggunakan kode jenjang : PD
(Nomor Urut Daerah-daerah diatur oleh Pengurus Besar).
3. Surat Keluar Pengurus Cabang menggunakan Kode jenjang : PC
(Nomor Urut Cabang diatur oleh Pengurus Daerah).
4. Surat Keluar Pengurus Ranting menggunakan kode jenjang : PR
(Nomor Urut Ranting diatur oleh Pengurus Cabang).
Catatan: Khusus bagi Daerah yang tidak belum memiliki Cabang atau Pengurus Cabang tidak aktif (dan
belum melakukan pembagian Nomor Urut Ranting), maka Pengurus Daerah dapat melakukan
pembagian.Bila kemudian Cabang sudah ada atau berfungsi kembali, maka tinggal
menyesuaikan diri dengan yang sudah diatur oleh Pengurus Daerah.
Kode Surat Keluar (biasa) Pengurus AMGPM pada sebuah jenjang terdiri dari: Nomor Urut Surat, kode
Bidang ( I/II/III/IV/VI/VIII), kode Jenjang (PB/PD/PC/PR) dan tahun pelayanan (berjalan).
Contoh kode Surat Keluar Lembaga Eksekutif, menurut jenjang:
Surat Keputusan ada 2 (dua) macam, yaitu yang dikeluarkan oleh lembaga Eksekutif (PB/PD/PC/PR) dan
yang dikeluarkan oleh lembaga Legislatif (Kongres atau MPP/Konperda atau MPPD/ Konpercab atau
MPPC/ Rapat Ranting atau Rapat Kerja Ranting).
Sebuah surat keputusan baik yang dikeluarkan oleh Lembaga Eksekutif maupun Lembaga Legislatif selalu
terdiri dari: Nomor Urut Surat (Keputusan), Kode Keputusan, Kode Jenjang dan Nomor Urut dalam
jenjang (secara berjenjang), kode ORG.( Organisasi ) atau P dan kode tahun.
MPPC : 02/KPTS/PD.14-MPPC.10-VI/09
02 = Nomor urut Keputusan MPPC
KPTS = Kode dari Keputusan
PD.14 = Kode Daerah numor urut 14.
MPPC.10 = Kode MPPC Cabang Ebenhaezer.
VI = Kode MPPC yang ke –6
09 = Kependekan tahun pelayanan 2009
Surat Keputusan Pengangkatan atau Pembubaran salah satu badan yang sifatnya temporer, misalnya
Panitia; modelnya sama dengan model surat Keputusan pengangkatan atau pembubaran Pengurus, hanya
mengalami perubahan pada bagian “ ORG. “ diganti dengan “ P “, yaitu kode untuk Panitia atau Tim yang
sifatnya temporer.
Konperda : 05/R/KD.7-XII/03
05 = Nomor urut rekomendasi
R = Kode untuk rekomendasi
KD.7 = Konperda dari Daerah dalam nomor urut 7.
XII = Konperda ke-12
03 = Kependekan dari tahun 2003
MPPD : 07/R/MPPD.5-IX/03
07 = Nomor urut rekomendasi
R = Kode untuk rekomendasi
MPPD.5 = MPPD Daerah dalam nomor urut 5
IX = MPPD ke-9
03 = Kependekan dari tahun 2003
Pengurus Daerah : 07/R/PD.5/03
07 = Nomor urut rekomendasi
R = Kode untuk rekomendasi
PD.5 = Kode daerah nomor urut 5
03 = Kependekan dari tahun 2003
Konpercab : 02/R/PD.14-KC.3-II/09
02 = Nomor urut rekomendasi
R = Kode untuk rekomendasi
PD.14 = Kode daerah dengan nomor urut 14.
KC.3-II= Kode Konpercab yang ke-2 di dalam cabang yang ada pada nomor urut ke-3 di
Daerah.
09 = Kependekan dari tahun 2009
MPPC : 02/R/PD.14-MPPC.10-II/09
Untuk jenis surat lain seperti Surat Keterangan dan Mandat (kedua surat ini hanya berlaku pada lembaga
Eksekutif), perbedaan kodenya dengan Surat Rekomendasi hanyalah pada penggunaan kode “ K “ pada
Surat Keterangan dan “ M “ pada Mandat, pada posisi “ R “ di dalam Rekomendasi. Contoh: Nomor :
02/K/PD.5-PC.3-PR.2/03
Selanjutnya ada beberapa hal yang mesti diperhatikan, yaitu :
1. Bagi Daerah/Cabang/Ranting yang baru dibentuk atau dilebur dll, penomoran Daerah/Cabang/Ranting
diatur dengan keputusan lembaga tertinggi di atasnya berdasarkan penerbitan Surat Keputusan
lembaga yang lebih tinggi itu.
2. Nomor surat Mandat/Rekomendasi/SK yang substansinya berbeda dengan surat keluar penomoran
dimulai dengan nomor baru dan dilanjutkan sesuai dengan jenis surat-surat tersebut.
3. Penomoran surat tidak dibagi per bidang
4. Akhir tahun penomoran surat ditutup; dan tahun baru penomoran surat dimulai dengan nomor baru.
5. Pemusnahan surat paling lama 25 tahun disesuaikan dengan kepentingan surat (biasa, penting,
berharga)
Catatan :
1. Lingkaran yang dipakai, adalah lingkaran luar dari logo yang sekarang berlaku.
2. Untuk jenjang Cabang dan Ranting, cukup ditulis: “PENGURUS CABANG ELOHIM’ atau “ PENGURUS
RANTING PETRA”, dan tidak perlu mencantumkan nama jenjang di atasnya.
2.5.FANDEL ORGANISASI
Fandel Organisasi yang berlaku sekarang adalah Fandel dengan Logo sesuai Keputusan MPP XVI.
Komponen yang terkait dengan Fandel terdiri dari :
a. Bentuk Fandel : Empat persegi panjang.
b. Ukuran Fandel : - Panjang : 150 Cm
- Lebar : 100 Cm
c. Warna dasar Fandel : Putih
d. Gambar logo ditempatkan pada bagian tengah kain, dengan garis tengah logo berukuran 40 Cm.
e. Disepanjang tepi kain putih, digunakan ambu-ambu warna kuning emas.
2.8. PERSONALIA
Kebutuhan tenaga Pengelola Administrasi adalah sangat penting, tetapi karena keterbatasan dana, maka
untuk sementara apabila ada perangkat kepengurusan yang bisa membiayai tenaga honorer adalah
sangat baik.
2.9 PENUTUP
Hal-hal lain yang belum diatur di dalam peraturan organisasi tentang sistem administrasi AMGPM ini,
akan dilengkapi dan diatur kemudian oleh Pengurus Besar demi kelancaran Administrasi Orgnisasi.
Semoga dengan penyempurnaan ini ada ketertiban, keseragaman dan kelancaran Administrasi
Organisasi Angkatan Muda GPM.
------------------------------------------------
Ditetapkan di : Marbali - Dobo
Pada Tanggal : 25 Oktober 2011
------------------------------------------------
I. PENGANTAR
Beberapa pokok-pokok pikiran yang melatarbelakangi mengapa pedoman administrasi keuangan bagi
Angkatan Muda gereja protestan Maluku mutlak diperlukan :
1. Laporan keuangan merupakan sarana informasi dalam rangka pengambilan keputusan baik bagi pihak
intern (pengurus) maupun ekstern (anggota).
2. Anggaran Pendapatan dan Belanja (APB) adalah Rencana Keuangan yang mencakup perkiraan jumlah
tertinggi belanja yang diperlukan untuk suatu periode tertentu (satu tahun), dan perkiraan jumlah
pendapatan yang diperlukan untuk membiayai belanja tersebut.
3. Bahwa APB yang disusun oleh setiap organisasi yang didalamnya terdapat sistim pertanggungan jawab
secara berjenjang, dan melibatkan penilaian, pemeriksaan/pengawasan dari berbagai pihak baik intern
maupun ekstern, maka APB tersebut harus disusun berdasarkan Standar atau Pedoman yang disepakati
bersama.
4. Sebagai konsekunsi logis dari adanya standar atau pedoman tersebut, maka seluruh tahapan kegiatan
atau siklus anggaran yang berlangsung dalam organisasi tersebut perlu didesain sesuai dengan luas
lingkup organisasi tersebut, sehingga proses anggaran dapat berjalan secara efektif dan efisien.
5. Untuk menjawab point (1) dan (2) di atas, sangat diperlukan adanya sistim administrasi pembukuan dan
pengawasan yang baik (sesuai dengan kebutuhan organisasi).
II. PEDOMAN UMUM PENYUSUNAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA ANGKATAN MUDA GEREJA
PROTESTAN MALUKU
Dalam rangka membangun kesamaan presepsi di dalam pengelolaan Keuangan/Anggaran Pendapatan
dan Belanja (APB) Angkatan Muda GPM pada semua jenjang secara efektif dan efisien, maka dipandang
perlu untuk menyusun suatu Pedoman Umum yang mempedomani proses penyusunan APB pada semua
jenjang organisasi sebagai berikut :
1. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPB) hendaknya diarahkan pada program-
program yang benar-benar merupakan penekanan sesuai keputusan lembaga legislatif pada semua
jenjang, yang pada esensinya merupakan implementasi dari Kebijaksanaan Umum Pelayanan (KUP)
tahunan yang dicanangkan.
2. Dalam penyusunan RAPB harus berdasarkan pada prinsip anggaran :
-Berimbang dan Dinamis;
Berimbang artinya, terdapat keseimbangan antara pendapatan dan belanja.
Dinamis artinya, tingkat keseimbangan anggaran setiap tahun berubah sesuai dengan kebutuhan
organisasi.
-Efisiensi artinya, di dalam pelaksanaan anggaran hendaknya dihindari sejauh mungkin pemborosan
dan pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu.
3. Penyusunan RAPB harus berdasarkan azas Cash Basic atau Kas Stelsel. Maksudnya bahwa semua
penerimaan dan pengeluaraan yang dilakukan dalam satu tahun anggaran, adalah merupakan
pendapatan dan belanja dari tahun anggaran tersebut.
4. Penyusunan RAPB juga harus berdasarkan Azas Bruto yaitu, bahwa semua penerimaan harus
dibukukan sesuai jumlah bruto, sehingga dapat diketahui seluruh jumlah penerimaan untuk satu
jangka waktu tertentu.
5. RAPB disusun untuk jangka satu tahun anggaran dan berdasarkan Tahun Taqwim yaitu; dari tanggal 1
Januari s/d 31 Desember.
6. RAPB untuk satu tahun anggaran pada setiap jenjang organisasi disusun selambat-lambatnya satu
bulan sebelum dimulainya tahun anggaran tersebut.
7. Dalam pelaksanaan anggaran belanja, semua bidang pada setiap jenjang organisasi dilarang
melakukan tindakan yang akan mempunyai akibat bagi belanja organisasi apabila tidak sesuai
dengan tujuan pengeluaran organisasi. Pengeluaran atas belanja beban anggaran harus
berdasarkan tanda bukti untuk memperoleh hak pembayaran yang sama.
8. Dalam pelaksanaan anggaran pendapatan, setiap penerimaan yang terjadi baik yang berasal dari
dalam maupun dari luar organisasi, dilarang dipergunakan langsung untuk pengeluaran, melainkan
harus disetor sepenuhnya ke Bendahara.
9. Apabila satu bulan setelah berakhirnya tahun anggaran tersebut atau sampai dengan bulan pertama
tahun anggaran baru (bulan Januari) APB belum ditetapkan maka pengurus pada setiap jenjang
melaksanakan anggaran tahun sebelumnya.
10. Apabila pertanggung-jawaban anggaran dilakukan/terjadi sebelum berakhirnya tahun anggaran (31
Desember), maka sisa waktu/bulan antara terjadinya laporan pertanggung-jawaban sampai dengan
tanggal 31 Desember harus menjadi bagian dari laporan pertanggung-jawaban keuangan
bendahara/pengurus pada lembaga legislatif berikutnya.
11. Setiap terjadi perubahan anggaran harus terlebih dulu mendapat persetujuan dari pleno pengurus
pada setiap jenjang organisasi. Besarnya jumlah perubahan anggaran yang harus melalui pleno
pengurus tersebut tergantung pada pertimbangan pengurus pada setiap jenjang.
12. Penetapan perhitungan anggaran dilaksanakan selambat-lambatnya dua bulan sebelum tahun
anggaran tersebut berakhir. Dengan catatan tidak boleh melebihi tanggal 31 Desember tahun
anggaran yang bersangkutan. Setiap penyampaian perhitungan anggaran untuk disahkan, harus
dilampiri dengan hasil Pemeriksaan Tim verifikasi (Berita Acara Pemeriksaan Kas dan Register
Penutupan Kas) dari Tim Verifikasi yang dibentuk pada setiap jenjang.
13. Setiap dokumen penerimaan dan pengeluaran yang timbul sebagai akibat pelaksanaan anggaran
pada setiap jenjang organisasi, harus disimpan selama lima tahun.
III. SIKLUS ANGGARAN PENDAPATAN & BELANJA ANGKATAN MUDA GEREJA PROTESTAN MALUKU.
Kegiatan anggaran yang dimulai dari perencanaan dan diakhiri dengan perhitungan atau pertanggungan
jawab anggaran, disebut daur atau siklus anggaran (budget cycle).
Secara singkat siklus anggaran pada Angkatan Muda GPM dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. TAHAP PERENCANAAN ATAU PERSIAPAN ANGGARAN.
Pembuatan rencana program oleh masing-masing bidang pada setiap jenjang organisasi.
a. Penyusunan rencana keuangan (komplikasi rencana program/kegiatan ke dalam angka-angka
RAPB), serta menyusun rencana keputusan disertai penjelasannya oleh Bendahara Umum,
Bendahara I dan Bendahara II.
b. Pembahasan RAPB dalam rapat pleno pengurus pada setiap jenjang organisasi
c. Pengajuan RAPB oleh Bendahara Umum pada lembaga legislatif di setiap jenjang organisasi.
d. Pembahasan RAPB oleh lembaga legislatif pada setiap jenjang organisasi, diakhiri dengan
pemberian persetujuan.
e. Penetapan/pengesahan RAPB menjadi APB dengan surat keputusan lembaga legislatif pada
setiap jenjang organisasi.
Sebelum dilaksanakan, maka RAPB yang ditetapkan/disahkan menjadi APB harus disampaikan
kepada :
-Setiap Bidang, sebagai dasar pengajuan Daftar Permintaan Pembayaran.
-Bendahara, sebagai dasar pengujian Daftar Permintaan Pembayaran.
-Tim Verifikasi, sebagai bahan pemeriksaan.
BUKTI PEMBUKUAN
TGL/
URAIAN PENERIMAAN PENGELUARAN
BLN
NOMOR KODE MA
1 2 3 4 5 6
Jumlah Rp Rp
Saldo Rp Rp
Jumlah Semua Rp Rp
PENJELASAN :
-Halaman pertama Buku Kas Umum harus dicatat jumlahnya halaman dan ditanda-tangani oleh
Bendahara Umum.
Contoh :
Buku Kas Umum ini terdiri dari seratus halaman ( halaman 1 s/d halaman 100 )
Bendahara Umum
…………………………
- Kolom 1 : untuk mencatat tanggal terjadinya transaksi penerimaan atau pengeluaran sesuai bukti
penerimaan atau pengeluaran kas secara kronologis (urutan tanggal), bukan tanggal dicatatnya transaksi
tersebut dalam buku kas harian. Pada baris pertama dicatat saldo tahun atau bulan lalu.
- Kolom 2 : untuk mencatat penjelasan singkat dari setiap transaksi yang terjadi. Pada baris pertama
dicatat saldo bulan lalu, dan jumlah dicatat pada kolom 3
- Kolom 3 : untuk mencatat kode mata anggaran penerimaan dan pengeluaran yang terdapat dalam
daftar permintaan atau bukti penerimaan dan pengeluaran kas.
- Kolom 4 : untuk mencatat jumlah penerimaan kas sesuai bukti penerimaan kas yang telah
diotorisasi./ditandatangani.
- Kolom 5 : untuk mencatat jumlah pengeluaran kas sesuai bukti pengeluar-an kas yang telah
diotorisasi/ditandatangani.
Catatan : Setiap terjadi kesalahan pencatatan, baik pada angka penerimaan atau pengeluaran
dilarang dihapus atau ditip-ex, tetapi diberi garis datar pada angka yang salah tersebut kemudian
diparaf dan ditulis angka baru (yang benar) dibawahnya.
2. PROSEDUR PENERIMAAN KAS.
URAIAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS.
1. Ketua atau Sekretaris bidang menerima uang dari hasil kegiatan/program bidang dan lain-lain,
kemudian menyerahkan kepada Bendahara I.
2. Bendahara I setelah menerima, menghitung kemudian membuat bukti penerimaan kas sebanyak 2
(dua) lembar. Setelah ditanda-tangani oleh kedua belah pihak (Bendahara I dan yang
menyerahkan), kemudian meneruskan ke Ketua Umum.
3. Ketua Umum. Menerima/meneliti dan menandatangani bukti penerimaan kas dan mengembalikan
ke Bedahara I
4. Bendahara I menerima kembali bukti penerimaan kas dari ketua, melakukan pembayaran,
kemudian menyerahkan lembar pertama bukti penerimaan kas kepada yang menyerahkan
sedangkan lembar kedua bukti penerimaan diteruskan kepada Bendahara II untuk dicatat dalam
Buku Kas Umum.
5. Bendahara II setelah menerima, meneliti keabsahan lembar kedua bukti penerimaan kas, mencatat
dalam buku kas umum selanjutnya dokumen/kuitansi tersebut disimpan dalam arsip.
BAGAN ARUS PROSEDUR PENERIMAAN KAS.
KET/SEK
N0 URAIAN KEGIATAN KETUA BEND I BEND II
BIDANG
1 2 3 4 5 6
Perbaikan dengan cara (1) bisa dilakukan apabila kesalahan tersebut diketahui pada bulan yang
bersangkutan. Apabila kesalahan tersebut diketahui pada bulan berikutnya, maka cara (2) dan (3) yang
ditempuh, karena pengeluaran-pengeluaran tersebut telah dipertanggung-jawabkan.
Pembukuannya:
- Selisih kurang (saldo kas lebih kecil dari saldo buku) dibukukan sebagai pengeluaran.
- Selisih lebih (saldo kas lebih besar dari saldo buku) dibukukan sebagai penerimaan.
Suatu hal yang perlu direnungkan dan disadari bahwa:
“ Apapun baiknya suatu sistim yang didesain untuk menjadi pedoman dalam pelaksanaan dan
pengendalian anggaran suatu organisasi, pada akhirnya sangat bergantung pada manusia sebagai
pelaksana sistim tersebut ”
Lampiran 1: Batang Tubuh Anggaran
I. PENDAPATAN
Kod ANGARAN TAHUN LALU
ANGGARA
e Dianggarkan Realisasi
URAIAN N TAHUN Penjelasan
Ang
INI
g
II. BELANJA
Kod ANGARAN TAHUN LALU
ANGGARA
e Dianggarkan Realisasi
URAIAN N TAHUN Penjelasan
Ang
INI
g
I. PENDAPATAN
I.1. SISA LEBIH PERHITUNGAN ANGG. THN. LALU. Rp. ……………….,-
I.2. PENDAPATAN TETAP. Rp. ……………….,-
I.3. PENDAPATAN BIDANG-BIDANG. Rp. ……………….,-
I.4. PENDAPATAN LAIN-LAIN Rp. ……………….,-
I.5. URUSAN KAS DAN PERHITUNGAN Rp. ……………….,-
JUMLAH PENDAPATAN Rp. ……………….,-
II. BELANJA.
II.1. SISA KURANG PERHIT. ANGG. THN. LALU. Rp. ……………….,-
II.2. BELANJA TETAP. Rp. ……………….,-
II.3. BELANJA BARANG. Rp. ……………….,-
II.4. BELANJA PEMELIHARAAN. Rp. ……………….,-
II.5. BELANJA PERJALANAN DINAS. Rp. ……………….,-
II.6. BELANJA RAPAT-RAPAT. Rp. ……………….,-
II.7. BELANJA BIDANG-BIDANG. Rp. ……………….,-
II.8. BELANJA LAIN-LAIN. Rp. ……………….,-
II.9. URUSAN KAS DAN PERHITUNGAN Rp. ……………….,-
JUMLAH BELANJA Rp. ……………….,-
……………………… ………………………..
Ketua Bendahara
Lampiran 3 :
LAPORAN PERTANGGUNG-JAWABAN KEUANGAN
P.B/P.D/P.C/P.R
TAHUN ANGGARAN ……..
I. PENGANTAR
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Keterangan Selisih:
………………………………………………………………………………
2.2. Keterangan Saldo
Uang Tunai = Rp. ……………,-
Saldo Bank = Rp. ……………,-
Jumlah = RP. ……………,-
2.3. Perbandingan antara Anggaran tahun …….. dan realisasi sampai dengan Tgl ………… Bln. …………… Thn.
…………….. adalah sebagai berikut :
1. PENDAPATAN.
PENDAPATAN
PENGELUARAN
Belanja tetap/Rutin Rp. ……………,-
Belanja Barang Rp. ……………,-
Belanja Pemeliharaan Rp. ……………,-
Belanja Perjalanan Dinas/Rapat Rp. ……………,-
Belanja Program Rp. ……….. ,-
Belanja Lain-lain Rp. ,-
Selisih Kurang Rp. …………….. ,- +
Jumlah Pengeluaran (b) Rp. ……………..,-
Tempat. ….Tgl……..Bln………Thn……..
P.B/P.D/P.C/P.R.
……………………….. ……………………………….
Ketua Bendahara
Lampiran 5 :
Keterangan Selisih :
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………
Tempat. Tgl. Bln. Thn.
Bendahara I
……………………….
Lampiran 6 :
DAFTAR PERMINTAAN PEMBAYARAN
BIDANG : I/II/III/IV/V
MATA JUMLAH
NOMOR URAIAN
ANGGARAN (Rp)
JUMLAH
Tempat, Tgl, Bln, Thn.
Mengetahui,
Bendahara Umum Ketua/Sekretaris Bidang
………………….. ………………………….
Lampiran 7 :
CONTOH KWITANSI
…………………………………………..
ANGKATAN MUDA GEREJA PROTESTAN MALUKU
PENGURUS BESAR/DAERAH/CABANG/RANTING
……………………. ……………………..
Mengetahui :
Ketua PB/PD/PC/P.R/ atau yang ditunjuk sebagai pejabat ketua
…………………………………………..
------------------------------------------------
Ditetapkan di : Marbali - Dobo
Pada Tanggal : 25 Oktober 2011
--------------------------------------------
2. KETUA (UMUM) :
2.1. Sebagai salah satu pucuk pimpinan dalam kepengurusan organisasi, berfungsi mengarahkan,
mengawasi keserasian kerja pengurus, mengejewantahkan garis-garis besar program sesuai
dengan keputusan; Kongres, Konferda, Konfercab, Rapat Ranting dan Rapat-Rapat Pengurus.
2.2. Mempersiapkan konsep dalam menentukan prioritas program yang berhubungan dengan
penampakan kehadiran AMGPM dalam lingkup Pemuda Gereja, Masyarakat, Bangsa dan Negara,
secara Daerah, Nasional dan Internasional.
2.3. Bersama-sama Sekretaris (Umum) dan Bendahara (Umum) mengusahakan penggalian,
pengolahan dan pemanfaatan keuangan sesuai prioritas program.
2.4. Memimpin setiap Rapat Pengurus.
3. KETUA I
3.1. Bersama-sama Sekretaris I mempersiapkan konsep dalam rangka penyusunan dan pengarahan
kebijaksanaan bagi prioritas program yang berhubungan dengan masalah di Bidang Kerumah
Tanggaan (Organisasi) sesuai KUP.
3.2. Bersama Ketua Bidang lainnya melaksanakan fungsi kontrol terhadap pelaksanaan tugas
Sekretaris bidangnya.
3.3. Menggantikan tugas Ketua (Umum) dan Ketua Bidang lainnya seandainya yang bersangkutan
berhalangan dan atau berdasarkan Mandat yang diterimanya.
3.4. Bersama Ketua (Umum) memimpin Rapat-Rapat Pengurus.
4. KETUA II
4.1. Bersama-sama Sekretaris II mempersiapkan konsep dalam rangka penyusunan dan pengarahan
kebijaksanaan bagi prioritas program yang berhubungan dengan masalah di Bidang Pelpem, Ilmu
dan Teknologi.
4.2. Bersama Sekretaris II mengatur pelayanan Diakonal, Pastoral, Olah Raga dan Kesehatan.
4.3. Bersama Ketua Bidang lainnya melaksanakan fungsi kontrol terhadap pelaksanaan tugas
Sekretaris bidangnya.
4.4. Menggantikan tugas Ketua (Umum) dan Ketua Bidang lainnya apabila yang bersangkutan
berhalangan dan atau berdasarkan Mandat yang diterimanya.
IV.5 Bersama Ketua (Umum) memimpin Rapat-Rapat Pengurus.
5. KETUA III
5.1. Bersama-sama Sekretaris III mempersiapkan konsep dalam rangka penyusunan dan pengarahan
kebijaksanaan bagi prioritas program yang berhubungan dengan masalah di Bidang Keesaan dan
Pembangunan Jemaat.
5.2. Bersama Sekretaria III mengatur kegiatan Peribadahan, Kononia.
5.3. Bersama Ketua Bidang lainnya melaksanakan fungsi kontrol terhadap pelaksanaan tugas
Sekretaris bidangnya.
5.4. Menggantikan tugas Ketua (Umum) dan Ketua Bidang lainnya apabila yang bersangkutan
berhalangan dan atau berdasarkan Mandat yang diterimanya.
55. Bersama Ketua (Umum) memimpin Rapat-Rapat Pengurus.
6. KETUA IV
6.1. Bersama-sama Sekretaris IV mempersiapkan konsep dalam rangka penyusunan dan pengarahan
kebijaksanaan bagi prioritas program yang berhubungan dengan masalah di Bidang Pekabaran
Injil dan Komunikasi.
6.2. Bersama Sekretaria IV mengatur kegiatan Kesenian dan Humas.
6.3. Bersama Ketua Bidang lainnya melaksanakan fungsi kontrol terhadap pelaksanaan tugas
Sekretaris bidangnya.
6.4. Menggantikan tugas Ketua (Umum) dan Ketua Bidang lainnya apabila yang bersangkutan
berhalangan dan atau berdasarkan Mandat yang diterimanya.
6.5. Bersama Ketua (Umum) memimpin Rapat-Rapat Pengurus.
7. KETUA V
7.1. Bersama-sama Sekretaris V mempersiapkan konsep dalam rangka penyusunan dan pengarahan
kebijaksanaan bagi prioritas program yang berhubungan dengan masalah di Bidang Finansial dan
Ekonomi.
7.2. Bersama Sekretaria V mengatur kegiatan Usaha dan Pencarian Dana.
7.3. Bersama Ketua Bidang lainnya melaksanakan fungsi kontrol terhadap pelaksanaan tugas
Sekretaris bidangnya.
7.4. Menggantikan tugas Ketua (Umum) dan Ketua Bidang lainnya apabila yang bersangkutan
berhalangan dan atau berdasarkan Mandat yang diterimanya.
7.5 Bersama Ketua (Umum) memimpin Rapat-Rapat Pengurus.
8. SEKRETARIS (UMUM)
8.1. Sebagai salah satu pucuk pimpinan dalam kepengurusan organisasi, berfungsi mengarahkan,
mengawasi keserasian kerja pengurus, mengejewantahkan garis-garis besar program sesuai
dengan keputusan; Kongres, Konferda, Konfercab, Rapat Ranting dan Rapat-Rapat Pengurus.
8.2. Bertugas mengkoordinasikan program, menganalisa dan mengevaluasinya secara menyeluruh
pelaksanaannya.
8.3. Bersama Ketua (Umum) mempersiapkan konsep dalam rangka penyelesaian masalah-masalah
yang dihadapi organisasi.
8.4. Mengkoordinasikan serta mengarahkan kegiatan para Sekretaris Bidang.
8.5. Bersama-sama Ketua (Umum) dan Bendahara (Umum) mengusahakan penggalian, pengolahan
dan pemanfaatan keuangan sesuai prioritas program.
8.6. Menghadiri dan atau memimpin Rapat-Rapat Pengurus apabila Ketua-Ketua berhalangan.
8.7. Mempersiapkan agenda Rapat Pengurus, Notulens Rapat, menyampaikannya kepada semua
fungsionaris Pengurus.
8.8. Menjalankan tugas pengolahan sekretariat dan rumah tangga sekretariat/kantor organisasi.
8.9. Menyampaikan informasi yang berhubungan dengan konsep kebijaksanaan organisasi kepada
semua pihak secara berkala dan berkesinambungan.
9. SEKRETARIS I
9.1. Bersama Sekretaris (Umum) mengawasi, mengkoordinasi dan mengevaluasi pelaksanaan tugas
penataan struktur dan fungsi organisasi termasuk kepengurusan pada setiap jenjang.
9.2. Bersama-sama Ketua I mempersiapkan konsep dalam rangka penyusunan dan pengarahan
kebijaksanaan bagi prioritas program yang berhubungan dengan masalah di Bidang Kerumah
Tanggaan (Organisasi) sesuai KUP.
9.3. Menandatangani surat-surat keluar dibidangnya atau atas nama Sekretaris (Umum) apabila
berhalangan.
9.4. Menggantikan tugas Sekretaris (Umum) apabila yang bersangkutan berhalangan dan atau sesuai
Mandat yang diterimanya.
9.5. Mempersiapkan segi-segi teknis dan material pelaksanaan tugas penataan organisasi (kerumah
tanggaan).
9.6. Membuat dan menyampaikan laporan/evaluasi pelaksanaan program bidangnya dalam setiap
Rapat Pengurus.
9.7. Hadir dalam setiap Rapat Pengurus.
10. SEKRETARIS II
10.1. Bersama-sama Ketua II mempersiapkan konsep dalam rangka penyusunan dan pengarahan
kebijaksanaan bagi prioritas program yang berhubungan dengan masalah di Bidang Pelpem, Ilmu
dan Teknologi.
10.2. Menggantikan tugas Sekretaris (Umum) dan Sekretaris Bidang lainnya apabila yang bersangkutan
berhalangan dan atau berdasarkan Mandat yang diterimanya.
10.3. Menandatangani surat-surat keluar dibidangnya atau atas nama Sekretaris (Umum) apabila
berhalangan dan atau berdasarkan Mandat yang diterimanya.
10.4. Mempersiapkan segi-segi teknis dan material tugas pembinaan dan pengembangan program
dibidangnya.
10.5. Membuat dan menyampaikan laporan/evaluasi pelaksanaan program bidangnya dalam setiap
Rapat Pengurus.
10.6. Hadir dalam setiap Rapat Pengurus.
12. SEKRETARIS IV
12.1. Bersama-sama Ketua IV mempersiapkan konsep dalam rangka penyusunan dan pengarahan
kebijaksanaan bagi prioritas program yang berhubungan dengan masalah di Bidang Pekabaran
Injil dan Komunikasi.
12.2. Menggantikan tugas Sekretaris (Umum) dan Sekretaris Bidang lainnya apabila yang bersangkutan
berhalangan dan atau berdasarkan Mandat yang diterimanya.
12.3. Menandatangani surat-surat keluar dibidangnya atau atas nama Sekretaris (Umum) apabila
berhalangan dan atau berdasarkan Mandat yang diterimanya.
12.4. Mempersiapkan segi-segi teknis dan material tugas pembinaan dan pengembangan program
dibidangnya.
12.5. Membuat dan menyampaikan laporan/evaluasi pelaksanaan program bidangnya dalam setiap
Rapat Pengurus.
12.6. Hadir dalam setiap Rapat Pengurus.
13. SEKRETARIS V
13.1. Bersama-sama Ketua V mempersiapkan konsep dalam rangka penyusunan dan pengarahan
kebijaksanaan bagi prioritas program yang berhubungan dengan masalah di Bidang Finansial dan
Ekonomi.
13.2. Menggantikan tugas Sekretaris (Umum) dan Sekretaris Bidang lainnya apabila yang bersangkutan
berhalangan dan atau berdasarkan Mandat yang diterimanya.
13.3. Menandatangani surat-surat keluar dibidangnya atau atas nama Sekretaris (Umum) apabila
berhalangan dan atau berdasarkan Mandat yang diterimanya.
13.4. Mempersiapkan segi-segi teknis dan material tugas pembinaan dan pengembangan program
dibidangnya.
13.5. Membuat dan menyampaikan laporan/evaluasi pelaksanaan program bidangnya dalam setiap
Rapat Pengurus.
13.6. Hadir dalam setiap Rapat Pengurus.
14. BENDAHARA (UMUM)
14.1. Bersama-sama Ketua (Umum) dan Bendahara (Umum) mengusahakan penggalian, pengolahan
dan pemanfaatan keuangan sesuai prioritas program.
14.2. Menyampaikan laporan keuangan dalam Rapat Pengurus tiap 4 (empat) bulan sekali.
14.3. Mengatur penyimpanan dan pengolahan harta milik organisasi.
14.4. Bersama Bendahara I dan Benhadara II menyusun RAPB dan pertanggung jawabannya dihadapan
Lembaga Legislatif.
14.5. Hadir dalam setiap Rapat Pengurus.
15. BENDAHARA I
15.1. Menggantikan tugas Bendahara (Umum) apabila yang bersangkutan berhalangan dan atau
berdasarkan Mandat yang diterimanya.
15.2. Bersama Bendahara (Umum) dan Bendahara II menyusun RAPB dan pertanggung jawabannya
dihadapan Lembaga Legislatif.
15.3. Mengatur penyimpanan dan pengeluaran keuangan dan harta milik organisasi atas order Ketua
(Umum) dan Ketua-Ketua Bidang lainnya sesuai dengan Mandat yang diterimanya.
15.4. Hadir dalam setiap Rapat Pengurus.
16. BENDAHARA II
16.1. Menggantikan tugas Bendahara (Umum) DAN Bendahara I apabila yang bersangkutan
berhalangan dan atau berdasarkan Mandat yang diterimanya.
16.2. Bersama Bendahara (Umum) dan Benhadara I menyusun RAPB dan pertanggung jawabannya
dihadapan Lembaga Legislatif.
16.3. Mengisi Buku Kas (Doorskript) dan menyampaikan tindisannya kepada perangkat kepengurusan
gereja setempat (sesuai jenjang).
16.4. Mengatur Kearsipan/dokumen keuangan dan harta milik organisasi.
16.5. Hadir dalam setiap Rapat Pengurus.
------------------------------------------------
Ditetapkan di : Marbali - Dobo
Pada Tanggal : 25 Oktober 2011
------------------------------------------------
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Yang dimaksud dengan:
a. GPM adalah Gereja Protestan Maluku yang merupakan persekutuan orang-orang percaya kepada Tuhan
Yesus Kristus, tubuh Kristus, buah karya Roh Kudus, yang melaksanakan misinya dalam pengharapan akan
kedatangan Kerajaan Allah di bumi (Tata Gereja GPM, Bab I, Pasal 1 tentang Hekakat)
b. AMGPM adalah organisasi pemuda gereja yang fungsional, wadah tunggal pembinaan pemuda GPM dan
merupakan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang tetap berakar pada Gereja,dan terbuka kepada
dunia (AD, Bab VII Pasal 10)
c. Pengurus Besar adalah merupakan pemegang kekuasaan eksekutif tertinggi organisasi berdasarkan
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga maupun Peraturan Organisasi (ART, Bab V, Pasal 17)
d. Pengurus Daerah adalah pelaksana eksekutif organisasi di Daerah (ART, Bab V, Pasal 19)
e. Pengurus Cabang adalah pelaksana eksekutif organisasi di tingkat Cabang (ART, Bab V, Pasal 21)
f. Pengurus Ranting adalah pelaksana eksekutif di tingkat Ranting
g. Jenjang Pendidikan Kader adalah jenjang pendidikan yang diikuti oleh setiap anggota AMGPM meliputi
Jenjang Pendidikan Dasar, Jenjang Pendidikan Menengah dan Jenjang Pendidikan Lanjutan
h. Jenjang Dasar adalah tingkat Dasar dalam sistem Pendidikan Kader AMGPM dan wajib diikuti setiap anggota
AMGPM
i. Jenjang Menengah adalah tingkat Menengah dalam sistem Pendidikan Kader AMGPM dan wajib diikuti
setiap anggota AMGPM yang telah mengikuti Jenjang Pendidikan Dasar
j. Jenjang Lanjutan adalah tingkat Lanjutan dalam sistem Pendidikan Kader AMGPM dan wajib diikuti setiap
anggota AMGPM yang telah mengikuti Jenjang Pendidikan Menengah
k. Kurikulum Pendidikan Kader adalah sistem penyelenggaraan pendidikan kader AMGPM yang ditetapkan
dalam Kongres
l. Pedoman Implementasi Pendidikan Kader adalah pedoman teknis pelaksanaan pendidikan kader yang
ditetapkan dalam MPP
m. Alih Status adalah proses pengalihan status Remaja yang tamat PFG ke Katekhisasi dan ke AMGPM (Juknis
Alih Status AMGPM)
n. Pendidikan Formal Gereja (PFG) adalah jenjang pendidikan formal yang diselenggarakan oleh GPM meliputi
Sekolah Minggu – Tunas Pekabaran Injil (SM-TPI), untuk anak usia 04-16 tahun, dan Katekhisasi, untuk
warga GPM berusia 17 tahun ke atas
o. Sistem Pembinaan Umat GPM adalah sistem pembinaan umat yang diselenggarakan melalui wadah dan
organisasi pelayanan GPM
BAB II
DASAR
Pasal 2
Sistem Pendidikan Kader AMGPM didasarkan pada:
a. AD AMGPM Bab II, Pasal 5 tentang Tujuan
b. AD AMGPM Bab VI, Pasal 9 tentang Amanat Pelayanan
c. ART AMGPM Bab I, Pasal 1 tentang Amanat Pelayanan
d. ART AMGPM Bab I, Pasal 3 tentang Hak Anggota AMGPM
e. ART AMGPM Bab I, Pasal 4 tentang Kewajiban Anggota AMGPM
BAB III
TUJUAN DAN KAPASITAS KADER
Pasal 3
TUJUAN
Tujuan pendidikan kader AMGPM ialah membina pemuda gereja agar memiliki ketahanan iman, Iptek, sosio
ekonomi, sosio budaya dan sosio politik, untuk mewujudkan tanggung jawabnya dalam kehidupan bergereja,
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pasal 4
KAPASITAS KADER
Kapasitas kader mencakup:
1. KAPASITAS KEORGANISASIAN, yang meliputi kemampuan:
a. Mengenal dan Memahami Organisasi AMGPM
b. Mampu Mengelola Organisasi
c. Mampu bekerjasama dalam Organisasi/Persekutuan
BAB IV
TAHAPAN PENDIDIKAN KADER
Pasal 5
Tahapan dalam Sistem Pendidikan Kader AMGPM meliputi:
a. Alih Status
b. Pendidikan Tingkat Dasar
c. Pendidikan Tingkat Menengah
d. Pendidikan Tingkat Lanjutan
BAB V
JENJANG PENDIDIKAN KADER
Pasal 6
Jenjang dalam Sistem Pendidikan Kader AMGPM meliputi:
a. Jenjang Pendidikan Tingkat Dasar
b. Jenjang Pendidikan Tingkat Menengah
c. Jenjang Pendidikan Tingkat Lanjutan
Pasal 7
JENJANG DASAR
a. Jenjang Pendidikan Dasar diselenggarakan di tingkat Cabang
b. Setiap anggota AMGPM yang akan mengikuti pendidikan kader janjang dasar harus melalui proses Alih
Status
c. Pengurus Ranting mengutus anggota AMGPM untuk mengikuti pendidikan kader Jenjang Dasar
d. Pengurus Cabang sebagai penyelenggara pendidikan kader tingkat Dasar berkewenangan untuk:
1. Menetapkan jumlah peserta sesuai kebutuhan dan kondisi Cabang dan Ranting
2. Menetapkan tenaga pelatih/fasilitator tingkat Dasar
3. Menerbitkan Sertifikat/Tanda Kelulusan
4. Memberikan laporan evaluasi pelaksanaan secara berjenjang kepada Pengurus Daerah dan Pengurus
Besar
e. Waktu pelaksanaan kegiatan disesuaikan kalender pendidikan kader dan kalender gerejawi
f. Pelatih tingkat Dasar adalah:
1. Mereka yang telah mengikuti Pelatihan Pelatih (Training of Trainers), baik yang diselenggarakan oleh
Pengurus Besar maupun Pengurus Daerah
2. Alumni Pendidikan Kader Jenjang Lanjutan
3. Pelatih dari luar AMGPM sesuai dengan kompetensi yang diperlukan
Pasal 8
JENJANG MENENGAH
a. Jenjang Pendidikan Menengah diselenggarakan di tingkat Daerah
b. Setiap anggota AMGPM yang akan mengikuti pendidikan kader janjang menengah adalah meraka yang
telah mengikuti pendidikan kader jenjang dasar
c. Pengurus Cabang mengutus alumni Pendidikan Dasar untuk mengikuti pendidikan Jenjang Menengah
d. Pengurus Daerah sebagai penyelenggara pendidikan kader tingkat Menengah berkewenangan untuk:
1. Menetapkan jumlah peserta sesuai kebutuhan dan kondisi Daerah
2. Menetapkan tenaga pelatih/fasilitator tingkat Menengah
3. Menerbitkan Sertifikat/Tanda Kelulusan
4. Memberikan laporan evaluasi pelaksanaan kepada Pengurus Besar
e. Waktu pelaksanaan kegiatan disesuaikan kalender pendidikan kader dan kalender gerejawi
f. Pelatih tingkat Menengah adalah:
1. Mereka yang telah mengikuti Pelatihan Pelatih (Training of Trainers), yang diselenggarakan oleh
Pengurus Besar.
2. Alumni Pendidikan Kader Jenjang Lanjutan
3. Pelatih dari luar AMGPM sesuai dengan kompetensi yang diperlukan
Pasal 9
JENJANG LANJUTAN
a. Jenjang Pendidikan Lanjutan diselenggarakan oleh Pengurus Besar
b. Setiap anggota AMGPM yang akan mengikuti pendidikan kader janjang Lanjutan adalah mereka yang telah
mengikuti pendidikan kader jenjang Menengah
c. Pengurus Daerah mengutus alumni Pendidikan Menengah untuk mengikuti pendidikan Jenjang Lanjutan
d. Pengurus Besar sebagai penyelenggara pendidikan kader tingkat Lanjutan berkewenangan untuk:
1. Menetapkan jumlah peserta sesuai kebutuhan dan kondisi organisasi
2. Menetapkan tenaga pelatih/fasilitator tingkat Lanjutan
3. Menerbitkan Sertifikat/Tanda Kelulusan
4. Memberikan laporan evaluasi pelaksanaan seluruh aktifitas pendidikan kader di MPP
e. Waktu pelaksanaan kegiatan disesuaikan kalender pendidikan kader dan kalender gerejawi
f. Pelatih tingkat Lanjutan adalah:
1. Mereka yang telah mengikuti Pelatihan Pelatih (Training of Trainers), yang diselenggarakan oleh
Pengurus Besar
2. Pelatih dari luar AMGPM sesuai dengan kompetensi yang diperlukan
BAB VI
MATERI KURIKULUM
Pasal 10
JENJANG PENDIDIKAN DASAR
a. Organisasi AMGPM
b. Dasar-dasar Kepemimpinan Kristen
c. Keterampilan Berorganisasi
Pasal 11
JENJANG PENDIDIKAN MENENGAH
a. Manajemen Organisasi AMGPM
b. Iman Kristen dalam Konteks (Ekonomi, Sosial, Politik, Budaya)
c. Etika Kepemimpinan Kristen
d. Analisis Sosial
e. Pengenalan Gereja dan Eklesiologi (GPM)
f. Teologi kontekstual
Pasal 12
JENJANG PENDIDIKAN LANJUTAN
a. Dialog Antarumat Beragama
b. Manajemen Kepemimpinan Kristen (dalam konteks Politik, Hukum dan HAM)
c. Manajemen Perencanaan Sosial
d. Kewirausahaan (Enterpreneuship)
e. IPTEKS
BAB VII
SISTEM EVALUASI
Pasal 13
a. Pengurus Cabang, Pengurus Daerah dan Pengurus Besar bertanggungjawab melakukan evaluasi terhadap
proses pendidikan kader yang berlangsung pada tiap jenjang
b. Instrumen evaluasi pembelajaran ditetapkan dalam tiap materi pembelajaran
c. Tiap peserta pendidikan kader ditetapkan kelulusannya dengan predikat Amat Baik dan Baik
BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 14
Peraturan Organisasi ini berlaku sejak ditetapkan
------------------------------------------------
Ditetapkan di : Marbali - Dobo
Pada Tanggal : 25 Oktober 2011
------------------------------------------------
TATA TERTIB
KONGRES
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
1. Kongres Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku adalah pemegang kedaulatan tertinggi AMGPM, dan
dilaksanakan sesuai Anggaran Dasar AMGPM Bab IX Pasal 14 ayat (2) huruf (a) dan Anggaran Rumah
Tangga AMGPM Bab IV pasal 9.
2. Di dalam melaksanakan seluruh aktivitasnya, Kongres tetap berada di bawah terang Pengakuan tentang
Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat seperti yang disaksikan oleh Firman Allah di dalam Alkitab
dan berazaskan Pancasila, Tata Gereja, Gereja Protestan Maluku, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga AMGPM.
3. Kedaulatan sepenuhnya berada di tangan peserta dan dilaksanakan oleh Kongres.
4. Penyelenggaraan Kongres sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pengurus Besar AMGPM.
BAB II
TUGAS DAN WEWENANG
Pasal 2
Kewenangan atau tugas Kongres adalah (ART Bab IV Pasal 9 ayat 10) :
a. Mengubah atau menetapkan AD dan ART AMGPM
b. Menetapkan keputusan dan kebijakan organisasi lainnya
c. Menilai dan melakukan rehabilitasi seseorang yang terkena sanksi atau disiplin organisasi.
d. Menilai laporan pertanggungjawaban Pengurus Besar
e. Mendengar laporan Pengurus Daerah
f. Menetapkan Garis-garis Besar Program lima tahunan dan Program Kerja serta APB tahun pertama
periodisasi kepengurusan baru
g. Memilih Pengurus Besar
BAB III
PESERTA
Pasal 3
1. Kongres dihadiri oleh peserta biasa yang terdiri dari:
a. Pengurus Besar
b. Utusan daerah sebanyak 7 (tujuh) orang yang tediri dari 5 (lima) orang Pengurus Daerah dan 2 (dua)
orang anggota biasa yang ditunjuk oleh Pengurus Daerah
c. 1 (satu) orang Unsur MPH Sinode GPM
d. Ketua-ketua Klasis se-GPM
2. Selain peserta biasa sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 (satu) diatas, Kongres juga dihadiri oleh Peserta
Luar Biasa yang terdiri dari :
a. Peninjau dari daerah yang jumlahnya ditentukan oleh Pengurus Besar
b. Undangan lain yang ditetapkan Pengurus Besar
BAB IV
HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA
Pasal 4
1. Hak Peserta:
a. Peserta Biasa mempunyai Hak Suara dan Hak Bicara (ART Bab II Pasal 2 ayat 1, job ART Bab IV pasal 9
ayat 5), kecuali Pimpinan Gereja yang usianya di atas 45 tahun, hanya mempunyai hak bicara (ART Bab
II Pasal 2 ayat 1d pada memori penjelasan).
b. Undangan dan Peninjau hanya mempunyai Hak Bicara.
2. Kewajiban Peserta:
Peserta Biasa maupun Peserta Luar Biasa, wajib mentaati ketentuan yang diatur di dalam Tata Tertib ini
dan hal-hal lain yang diatur oleh Panitia Pelaksana.
3. Peserta Biasa dan Peserta Luar Biasa berkewajiban menghadiri Sidang-sidang Pleno dan Sidang-sidang
Komisi.
BAB V
ALAT-ALAT KELENGKAPAN PERSIDANGAN
Pasal 5
Kongres mempunyai Alat-Alat Kelengkapan Persidangan yang disusun menurut pengelompokan kegiatan
sebagai berikut :
1. Pimpinan Kongres
2. Majelis Ketua.
3. Sidang-sidang Pleno/ Paripurna.
4. Sidang-sidang Komisi.
Pasal 6
1. Pimpinan Kongres adalah Pengurus Besar AMGPM (ART Bab IV pasal 9 ayat 6)
2. Sidang-sidang dalam Kongres dipimpin oleh Pengurus Besar sampai terpilihnya Majelis Ketua.
Pasal 7
1. Majelis Ketua bertugas memimpin Sidang-sidang di dalam Kongres.
2. Majelis Ketua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini terdiri dari unsur Pengurus Besar 2 (dua)
orang yang ditentukan oleh Pengurus Besar dan peserta biasa 3 (tiga orang) yang dipilih oleh Kongres
dan ditetapkan dengan keputusan Kongres. (ART Bab IV pasal 9 ayat 8)
3. Sekretaris Persidangan adalah Sekretaris Pengurus Besar AMGPM.
4. Sekretaris Persidangan diwajibkan untuk membaca dan atau melaporkan seluruh hasil keputusan
Konferda, sebelum sidang-sidang pleno dalam Kogres ditutup.
5. Wewenang Majelis Ketua di dalam Kongres adalah:
a. Memanggil Peserta untuk menghadiri sidang-sidang, membuka dan menskors Sidang-sidang Pleno.
b. Memimpin Sidang-sidang Pleno selama Kongres berlangsung.
c. Menjaga kelancaran dan ketertiban dalam Sidang-sidang selama Kongres berlangsung.
d. Berusaha mempertemukan pendapat-pendapat yang berbeda, menyimpulkan pembicaraan dan
mendudukan persoalan yang sebenarnya serta mengembalikan jalannya Sidang pada pokok
pembicaraan.
e. Majelis Ketua memimpin sidang dalam Kongres sampai pada penetapan hasil kerja formatur, dan
sesudah itu menyerahkan palu sidang kepada Ketua dan Sekretaris Daerah terpilih untuk menutup
sidang-sidang pleno dalam Kongres.
Pasal 8
1. Kongres membentuk Komisi-komis kerja sesuai dengan kebutuhan.
2. Komisi-komisi kerja di dalam Kongres, dapat membentuk Sub Komisi menurut kebutuhan.
3. Komisi-komisi kerja Kongres bertugas memusyawarahkan dan mengambil keputusan mengenai hal-hal
yang menjadi agenda Komisi dalam ruang lingkup tugasnya.
4. Jumlah anggota Komisi sedapat mungkin disusun dan ditetapkan secara berimbang oleh Majelis Ketua.
5. Majelis Ketua diwajibkan untuk menghadiri Sidang-sidang Komisi sebagai Peserta Biasa.
6. Pimpinan Komisi di dalam Kongres terdiri dari: seorang Ketua, seorang wakil ketua dan seorang Sekretaris
yang ditunjuk oleh Majelis Ketua
BAB VI
TATA CARA PEMILIHAN PENGURUS DAERAH
Pasal 9
1. Pemilihan bakal calon ketua dan sekretaris dilakukan secara terpisah
2. Setiap peserta biasa mengajukan 1 (satu) bakal calon ketua atau 1 (satu) bakal calon sekretris pada kertas
yang telah di sediakan oleh majelis ketua
3. Proses perhitungan suara dilaksanakan secara terpisah dan dicatat pada papan perhitungan suara
4. Bakal Calon Ketua Umum dan Sekretaris Umum yang memiliki suara terbanyak ditetapkan sebagai calon
untuk selanjutnya diuji dan dipilih dalam Kongres.
5. Untuk melengkapi keseluruhan struktur Pengurus Besar maka dibentuk tim Formatur yang ditunjuk secara
bijaksana oleh Majelis Ketua dengan persetujuan peserta Kongres
6. Seluruh fungsionaris yang akan ditunjuk /dipilih oleh formatur untuk melengkapi struktur Pengurus Besar
adalah mereka yang mengikuti Kongres (Peserta biasa maupun Luar Biasa)
7. Selanjutnya Kriteria, Prosedur Pencalonan dan Pemilihan Pengurus Besar AMGPM diatur tersendiri dalam
komisi kerja Kongres sesuai ketentuan dalam AD/ART dan PO AMGPM
BAB. VII
TATA CARA BERBICARA
Pasal 10
1. Setiap Peserta Kongres mempunyai Hak berbicara selama 3 (tiga) menit dengan pokok pembicaraan yang
jelas (kecuali untuk ceramah dan Penelaan Alkitab diatur oleh moderator).
2. Sebelum babak pembicaraan dimulai, diadakan pendaftaran oleh Majelis Ketua.
3. Pembicaraan di dalam setiap Sidang Pleno hanya dibuka 2 (dua) babak.
4. Hanya Pembicara pada babak pertama yang berhak berbicara pada babak kedua dengan pokok
pembicaraan yang sama.
5. Setiap pembicara yang hendak berbicara diwajibkan untuk berdiri.
Pasal 11
1. Peserta dapat mengajukan interupsi untuk meminta atau memberi penjelasan tentang duduk persoalan
yang sebenarnya dari masalah yang sementara dibicarakan.
2. Interupsi hanya dapat dilakukan setelah diizinkan oleh Majelis Ketua.
3. Majelis Ketua berhak menghentikan interupsi apabila persoalannya sudah jelas atau sudah menyinggung
pribadi orang lain.
BAB VIII
QORUM DAN TATA CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pasal 12
1. Sidang-sidang Pleno dinyatakan quorum, apabila dihadiri oleh lebih dari seperdua jumlah Peserta Kongres
(ART Bab III pasal 8 ayat 1)
2. Pengambilan Keputusan dalam Kongres dianggap sah apabila disetujui oleh lebih dari ½ (satu perdua)
peserta biasa yang hadir (ART Bab IX, ayat 4)
Pasal 13
1. Pengambilan keputusan pada dasarnya diusahakan sejauh mungkin atas dasar musyawarah untuk mufakat
dan apabila dalam pengambilan keputusan tidak tercapai mufakat, maka keputusan diambil berdasarkan
pemungutan suara terbanyak.
2. Pengambilan keputusan menyangkut orang dilakukan secara tertutup, sedangkan pengambilan keputusan
menyangkut kebijakan dapat dilakukan secara terbuka.
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 14
1. Tata Tertib ini merupakan Tata Tertib baku yang dipergunakan untuk pelaksanan Kongres AMGPM
2. Tata Tertib ini dapat dirobah dan disempurnakan hanya oleh Lembaga Legislatif (Musyawarah Pimpinan
Paripurna)
3. Segala sesuatu mengenai hal-hal teknis dalam Kongres yang belum diatur di dalam Tata Tertib ini akan
ditetapkan kemudian oleh Kongres sepanjang tidak bertentangan dengan AD/ART, PO dan Tata Tertib
Kongres AMGPM ini.
Pasal 15
1. Dengan dikeluarkan Tata Tertib ini maka semua keputusan yang terkait dengan Tata Tertib Kongres yang
selama ini dipergunakan dinyatakan tidak berlaku.
2. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
PENGURUS BESAR
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
1. Kongres Istimewa Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku adalah pemegang kekuasaan tertinggi
setingkat dengan Konferda sesuai ART Bab IV Pasal 9 ayat 9, yuncto Pasal 4 Peraturan Organisasi AMGPM
Nomor 1; yang selanjutnya dalam tata tertib ini disebut Kongres Istimewa.
2. Di dalam melaksanakan seluruh aktivitasnya, Kongres Istimewa tetap berada di bawah terang Pengakuan
tentang Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat seperti yang disaksikan oleh Firman Allah di dalam
Alkitab dan berazaskan Pancasila, Tata Gereja, Gereja Protestan Maluku, Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga AMGPM serta Peraturan Organisasi AMGPM.
3. Kedaulatan sepenuhnya berada di tangan perutusan dan dilaksanakan oleh Kongres Istimewa
4. Penyelenggaraan Kongres Istimewa sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pengurus Besar secara kolektif
BAB II
TUGAS DAN WEWENANG
Pasal 2
Kewenangan atau tugas Kongres Istimewa adalah :
1. Mendengar Laporan Pengurus Besar mengenai kondisi khusus organisasi yang dihadapi
2. Mendengar usul saran MPH Sinode GPM terhadap kondisi khusus organisasi yang dihadapi
3. Memilih dan menetapkan Ketua Umum dan/atau Sekretaris Umum sesuai kondisi khusus yang dihadapi
4. Menetapkan Keputusan-keputusan lainnya
BAB III
PESERTA
Pasal 3
Peserta Kongres Istimewa , terdiri dari:
1. Kongres Istimewa dihadiri oleh peserta biasa yang terdiri dari:
e. Pengurus Besar
f. Utusan daerah sebanyak 7 (tujuh) orang yang tediri dari 5 (lima) orang Pengurus Daerah dan 2 (dua)
orang anggota biasa yang ditunjuk oleh Pengurus Daerah
g. 1 (satu) orang Unsur MPH Sinode GPM
h. Ketua-ketua Klasis se-GPM
2. Selain peserta biasa sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 (satu) diatas, Kongres juga dihadiri oleh Peserta
Luar Biasa yang terdiri dari :
c. Peninjau dari daerah yang jumlahnya ditentukan oleh Pengurus Besar
d. Undangan lain yang ditetapkan Pengurus Besar
BAB IV
HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA
Pasal 4
1. Hak Peserta:
a. Peserta Biasa mempunyai Hak Suara dan Hak Bicara
b. Pengurus Besar mempunyai hak bicara baik diminta maupun tidak diminta.
c. Peserta luar biasa mempunyai Hak Bicara.
2. Kewajiban Peserta:
a. Peserta Biasa maupun Peserta Luar Biasa, wajib mentaati ketentuan yang diatur di dalam Tata Tertib
ini dan hal-hal lain yang diatur oleh Panitia Pelaksana.
b. Peserta Biasa dan Peserta Luar Biasa berkewajiban menghadiri Sidang-sidang paripurna.
BAB V
ALAT-ALAT KELENGKAPAN PERSIDANGAN
Pasal 5
Kongres Istimewa mempunyai Alat-Alat Kelengkapan Persidangan yang disusun menurut pengelompokan
kegiatan sebagai berikut :
1. Pimpinan Kongres Istimewa
2. Majelis Ketua.
3. Sidang-sidang Pleno/ Paripurna.
Pasal 6
Pimpinan Kongres Istimewa adalah Pelaksana Tugas Pengurus Besar AMGPM yang ditunjuk sesuai hasil Pleno
Pengurus Besar
Pasal 7
1. Majelis Ketua terdiri dari 5 orang, yaitu 1 Orang Pelaksana Tugas Pengurus Besar dan 1 Orang Pengurus
Besar lainnya yang ditetapkan oleh Pengurus Besar dan 3 orang Peserta Biasa yang ditetapkan dengan
keputusan Kongres Istimewa .
2. Majelis Ketua bertugas memimpin siding-sidang di dalam Kongres Istimewa
3. Wewenang Majelis Ketua di dalam Kongres Istimewa adalah:
a. Memanggil peserta untuk menghadiri sidang-sidang, membuka dan menskors Sidang-sidang Pleno.
b. Memimpin Sidang-sidang Pleno selama Kongres Istimewa berlangsung.
c. Menjaga kelancaran dan ketertiban dalam Sidang-sidang selama Kongres Istimewa berlangsung.
d. Berusaha mempertemukan pendapat-pendapat yang berbeda, menyimpulkan pembicaraan dan
mendudukan persoalan yang sebenarnya serta mengembalikan jalannya Sidang pada pokok
pembicaraan.
BAB VI
TATA CARA BERBICARA
Pasal 8
1. Setiap Peserta mempunyai hak berbicara selama 3 menit dengan pokok pembicaraan yang jelas
2. Sebelum babak pembicaraan dimulai, Majelis Ketua berkewajiban melakukan inventarisasi jumlah
pembicara.
3. Pembicaraan di dalam setiap sidang pleno hanya dibuka 2 (dua) babak, kecuali terhadap hal-hal yang
bersifat prinsip dapat dibuka babak khusus dan harus mendapat persetujuan sidang; dan hanya
pembicara pada babak pertama yang berhak berbicara pada babak kedua dengan pokok pembicaraan
yang sama.
Pasal 9
1. Peserta dapat mengajukan interupsi untuk meminta atau memberi penjelasan tentang duduk persoalan
yang sebenarnya dari masalah yang sementara dibicarakan.
2. Interupsi hanya dapat dilakukan setelah diizinkan oleh Majelis Ketua.
3. Majelis Ketua berhak menghentikan interupsi apabila persoalannya sudah jelas atau sudah menyinggung
pribadi orang lain.
BAB VII
QORUM DAN TATA CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pasal 10
1. Sidang-sidang dinyatakan sah, apabila dihadiri oleh lebih dari seperdua jumlah peserta biasa
2. Pengambilan Keputusan dalam Kongres Istimewa dianggap sah apabila disetujui oleh lebih dari ½ (seper
dua) peserta biasa yang hadir
Pasal 11
1. Pengambilan keputusan pada dasarnya diusahakan atas dasar musyawarah untuk mufakat
2. Apabila musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, maka keputusan diambil berdasarkan pemungutan
suara terbanyak.
BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 12
1. Hal-hal yang belum diatur dalam tata tertib ini akan diputuskan oleh Kongres Istimewa
2. Keputusan ini mulai berlaku sejak ditetapkan.
PENGURUS BESAR
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
1. Musyawarah Pimpinan Paripurna Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku dilaksanakan berdasarkan
ketentuan Anggaran Dasar Bab IX, Pasal 14, Ayat 2, dan Anggaran Rumah Tanggal Bab IV Pasal 10.
2. Dengan dasar sebagaimana tersebut pada ayat 1 di atas, maka disusunlah Tata Tertib Musyawarah
Pimpinan Paripurna Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku.
BAB II
PESERTA, HAK DAN KEWAJIBAN
Pasal 2
1. Peserta Musyawarah Pimpinan Paripurna Angkatan Muda GPM terdiri dari Peserta Biasa dan Peserta Luar
Biasa.
2. Peserta Biasa terdiri dari :
a. Pengurus Besar Angkatan Muda GPM
b. Unsur MPH Sinode GPM
c. Ketua-ketua Klasis Gereja Protestan Maluku
d. Ketua dan Sekretaris Pengurus Daerah ditambah seorang Anggota
3. Peserta Luar Biasa terdiri dari :
a. Dua orang Peninjau dari setiap daerah
b. Badan Pembina Angkatan Muda GPM
c. Tim Verifikasi PB AMGPM
d. Undangan lain yang dianggap perlu oleh Pengurus Besar
Pasal 3
1. Peserta Biasa mempunyai Hak Bicara dan Hak Suara
2. Peserta Luar Biasa mempunyai Hak Bicara
Pasal 4
Kewajiban peserta Musyawarah Pimpinan Paripurna Angkatan Muda GPM adalah :
1. Mentaati semua ketentuan yang ditetapkan oleh Musyawarah Pimpinan Paripurna
2. Jika ingin meninggalkan ruang sidang karena suatu kepentingan, harus terlebih dulu mendapat ijin dari
Pimpinan Sidang.
BAB III
TUGAS DAN WEWENANG MUSYAWARAH PIMPINAN PARIPURNA
Pasal 5
1. Mengevaluasi Pelaksanaan Program Pelayanan
2. Mengevaluasi Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Pengurus Besar
3. Mengevaluasi pelaksanaan berbagai kebijakan yang diputuskan MPP
4. Menetapkan Program Pelayanan tahun berikutnya
5. Menetapkan Anggaran pendapatan dan Belanja Tahun Pelayanan berikutnya
6. Menetapkan berbagai kebijakan organisasi lainnya sesuai kepentingan pelayanan AM GPM
BAB IV
PIMPINAN, TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB
Pasal 6
1. Musyawarah Pimpinan Paripurna Angkatan Muda GPM dipimpinan oleh Pengurus Besar.
2. Tugas Pimpinan Sidang adalah memimpin Sidang-sidang Paripurna.
Pasal 7
Pimpinan Sidang Musyawarah Pimpinan Paripurna bertanggung jawab atas :
1. Kelancaran, ketertiban dan keamanan penyelenggaraan Musyawarah Pimpinan Paripurna.
2. Membuka, menskors, mencabut kembali skors dan menutup Sidang-sidang Paripurna.
3. Menghentikan setiap pembicara yang sedang berbicara, bila isi pembcaraan telah menyimpang dari
permasalahan yang dibicarakan.
BAB V
SIDANG – SIDANG
Pasal 8
Sidang – sidang Musyawarah Pimpinan Paripurna terdiri dari :
1. Sidang – sidang Paripurna, dipimpin oleh Pimpinan Sidang
2. Sidang – sidang Komisi, dipimpin oleh seorang Ketua dan seorang Sekretaris yang ditunjuk oleh Pimpinan
Sidang.
3. Komisi dan pembagian anggota komisi ditentukan oleh Pimpinan Sidang
4. Setiap peserta MPP wajib menjadi salah satu anggota komisi
5. Masing-masing sidang komisi dihadiri oleh Pengurus Besar sebagai nara sumber
BAB VI
TATA CARA BERBICARA
Pasal 9
1. Setiap Pembicaraan dalam Sidang Paripurna dibuka dua babak, dan setiap peserta dapat menggunakan
hak bicaranya.
2. Pembicara pada babak kedua adalah mereka yang menggunakan hak bicara pada babak pertama.
3. Pokok pembicaraan pada babak kedua tidak boleh menyimpang dari pokok pembicaraan pada babak
pertama.
4. Peserta yang mau berbicara harus terlebih dulu mendaftarkan diri melalui pimpinan sidang.
5. Peserta yang menggunakan hak bicara harus disampaikan dengan singkat dan jelas pada maksud dan
tujuan pembicaraan.
6. Waktu pembicaraan untuk setiap peserta paling lama 3 (tiga) menit.
7. Kesempatan interupsi diberikan untuk hal-hal tertentu saja, yaitu :
a. Point of Clarification (penjernihan persoalan)
b. Point of Order (usul atau saran)
c. Point of Self Perfilate (menyinggung perasaan orang lain)
d. Point of Information (memberikan informasi)
BAB VII
QUORUM DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pasal 10
1. Musyawarah Pimpinan Paripurna dinyatakan sah dan dapat dimulai, apabila dihadiri oleh Peserta Biasa
berjumlah setengah ditambah satu.
2. Setiap pengambilan keputusan dilakukan secara musyawarah untuk mufakat dan sedapat mungkin
menghindari dilakukan voting.
3. Jika mufakat tidak tencapai, maka keputusan diambil dengan suara terbanyak, yaitu seperdua ditambah
satu dari peserta biasa yang hadir.
BAB VIII
LAIN – LAIN
Pasal 11
1. Hal-hal yang belum diatur dalam Tata Tertib ini, akan diatur kemudian oleh Pimpinan Sidang sepanjang
dirasa perlu atau penting dengan persetujuan Musyawarah.
2. Tata Tertib ini merupakan Tata Tertib baku bagi pelaksanaan MPP Angkatan Muda GPM.
3. Tata Tertib ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
PENGURUS BESAR
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
1. Konferensi Daerah Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku adalah pemegang kedaulatan tertinggi di
tingkat Daerah, dan dilaksanakan sesuai Anggaran Dasar AMGPM Bab IX Pasal 14 ayat 2c dan Anggaran
Rumah Tangga AMGPM Bab IV pasal 11.
2. Di dalam melaksanakan seluruh aktivitasnya, Konferensi Daerah tetap berada di bawah terang Pengakuan
tentang Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat seperti yang disaksikan oleh Firman Allah di dalam
Alkitab dan berazaskan Pancasila, Tata Gereja, Gereja Protestan Maluku, Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga AMGPM.
3. Kedaulatan sepenuhnya berada di tangan peserta dan dilaksanakan oleh Konferensi Daerah.
4. Penyelenggaraan Konferensi Daerah sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pengurus Daerah AMGPM.
BAB II
TUGAS DAN WEWENANG
Pasal 2
Kewenangan atau tugas Konferensi Daerah adalah (ART Bab IV Pasal 11 ayat 11) :
a. Menilai Laporan Pertanggung-jawaban Pengurus Daerah.
b. Mendengar Laporan Pengurus Cabang.
c. Menetapkan Garis-garis Besar Program Lima Tahunan dan Program Kerja serta APB tahun pertama
periodesasi kepengurusan baru.
d. Memilih Pengurus Daerah.
e. Menetapkan Keputusan dan kebijakan organisasi lainnya.
BAB III
PESERTA
Pasal 3
1. Konferensi Daerah dihadiri oleh peserta biasa yang terdiri dari:
a. Pengurus Daerah.
b. Utusan Cabang sebanyak 5 (lima) orang yang terdiri dari 3 (tiga) orang Pengurus Cabang dan 2 (dua)
orang Anggota Biasa yang ditunjuk oleh Pengurus Cabang.
c. Ketua Klasis atau unsur Majelis Pekerja Klasis .
d. Satu Ketua Majelis Jemaat dari satu Cabang .
2. Selain peserta biasa sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 (satu) diatas, Konferensi Daerah juga dihadiri
oleh Peserta Luar Biasa yang terdiri dari :
a. Pengurus Besar
b. Peninjau dari Cabang yang jumlahnya ditentukan oleh Pengurus Daerah
c. Undangan lain yang ditetapkan Pengurus Daerah.
BAB IV
HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA
Pasal 4
1. Hak Peserta:
a. Peserta Biasa mempunyai Hak Suara dan Hak Bicara (ART Bab II Pasal 3 ayat 1, job ART Bab IV pasal 11
ayat 6), kecuali Pimpinan Gereja yang usianya di atas 45 tahun, hanya mempunyai hak bicara (ART Bab
II Pasal 2 ayat 1d pada memori penjelasan).
b. Pengurus Besar dalam Kapasitas sebagai Pimpinan Organisasi mempunyai hak bicara baik diminta
maupun tidak.
c. Undangan dan Peninjau hanya mempunyai Hak Bicara.
2. Kewajiban Peserta:
Peserta Biasa maupun Peserta Luar Biasa, wajib mentaati ketentuan yang diatur di dalam Tata Tertib ini
dan hal-hal lain yang diatur oleh Panitia Pelaksana.
3. Peserta Biasa dan Peserta Luar Biasa berkewajiban menghadiri Sidang-sidang Pleno dan Sidang-sidang
Komisi.
BAB V
ALAT-ALAT KELENGKAPAN PERSIDANGAN
Pasal 5
Konferensi Daerah mempunyai Alat-Alat Kelengkapan Persidangan yang disusun menurut pengelompokan
kegiatan sebagai berikut :
1. Pimpinan Konferensi Daerah.
2. Majelis Ketua.
3. Sidang-sidang Pleno/ Paripurna.
4. Sidang-sidang Komisi.
Pasal 6
1. Pimpinan Konferensi Daerah adalah Pengurus Daerah AMGPM (ART Bab IV pasal 11 ayat 7)
2. Sidang-sidang dalam Konferensi Daerah dipimpin oleh Pengurus Daerah sampai terpilihnya Majelis Ketua.
Pasal 7
1. Majelis Ketua bertugas memimpin Sidang-sidang di dalam Konferensi Daerah.
2. Majelis Ketua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini terdiri dari unsur Pengurus Daerah 2 (dua)
orang yang di tentukan oleh pengurus daerah dan peserta biasa 3 (tiga orang) yang dipilih oleh konferda
dan ditetapkan dengan keputusan Konferda. (ART Bab IV pasal 11 ayat 9)
3. Sekretaris Persidangan adalah Sekretaris Pengurus Daerah AMGPM.
4. Sekretaris Persidangan diwajibkan untuk membaca dan atau melaporkan seluruh hasil keputusan
Konferda, sebelum sidang-sidang pleno dalam Konferensi Daerah ditutup.
5. Wewenang Majelis Ketua di dalam Konferensi Daerah adalah:
a. Memanggil Peserta untuk menghadiri sidang-sidang, membuka dan menskors Sidang-sidang Pleno.
b. Memimpin Sidang-sidang Pleno selama Konferensi Daerah berlangsung.
c. Menjaga kelancaran dan ketertiban dalam Sidang-sidang selama Konferensi Daerah berlangsung.
d. Berusaha mempertemukan pendapat-pendapat yang berbeda, menyimpulkan pembicaraan dan
mendudukan persoalan yang sebenarnya serta mengembalikan jalannya Sidang pada pokok
pembicaraan.
e. Majelis Ketua memimpin sidang dalam Konferensi Daerah sampai pada penetapan hasil kerja formatur,
dan sesudah itu menyerahkan palu sidang kepada Ketua dan Sekretaris Daerah terpilih untuk menutup
sidang-sidang pleno dalam Konferensi Daerah.
Pasal 8
1. Konferda membentuk Komisi-komis kerja sesuai dengan kebutuhan.
2. Komisi-komisi kerja di dalam Konferda, dapat membentuk Sub Komisi menurut kebutuhan.
3. Komisi-komisi kerja Konferensi Daerah bertugas memusyawarahkan dan mengambil keputusan mengenai
hal-hal yang menjadi agenda Komisi dalam ruang lingkup tugasnya.
4. Jumlah anggota Komisi sedapat mungkin disusun dan ditetapkan secara berimbang oleh Majelis Ketua.
5. Majelis Ketua diwajibkan untuk menghadiri Sidang-sidang Komisi sebagai Peserta Biasa.
6. Pimpinan Komisi di dalam Konferensi Daerah terdiri dari: seorang Ketua, seorang wakil ketua dan seorang
Sekretaris yang di tunjuk oleh Majelis Ketua
BAB VI
TATA CARA PEMILIHAN PENGURUS DAERAH
Pasal 9
1. Pemilihan bakal calon ketua dan sekretaris dilakukan secara terpisah
2. Setiap peserta biasa mengajukan 1 (satu) bakal calon ketua atau 1 (satu) bakal calon sekretris pada kertas
yang telah di sediakan oleh majelis ketua
3. Proses perhitungan suara dilaksanakan secara terpisah dan di catat pada papan perhitungan suara
4. Bakal Calon Ketua Daerah dan Sekretaris Daerah yang memiliki suara terbanyak ditetapkan sebagai calon
untuk selanjutnya diuji dan dipilih dalam Konferensi Daerah.
5. Untuk melengkapi keseluruhan struktur Pengurus Daerah maka dibentuk tim Formatur yang ditunjuk
secara bijaksana oleh Majelis Ketua dengan persetujuan peserta Konferensi Daerah
6. Seluruh fungsionaris yang akan ditunjuk / dipilih oleh formatur untuk melengkapi struktur Pengurus
Daerah adalah mereka yang mengikuti Konferensi Daerah (Peserta biasa maupun Luar Biasa)
7. Selanjutnya Kriteria, Prosedur Pencalonan dan Pemilihan Pengurus Daerah AMGPM diatur tersendiri
dalam komisi kerja Konferensi Daerah sesuai ketentuan dalam AD/ART dan PO AMGPM
BAB. VII
TATA CARA BERBICARA
Pasal 10
1. Setiap Peserta Konferensi Daerah mempunyai Hak berbicara selama 3 (tiga) menit dengan pokok
pembicaraan yang jelas (kecuali untuk ceramah dan Penelaan Alkitab diatur oleh moderator).
2. Sebelum babak pembicaraan dimulai, diadakan pendaftaran oleh Majelis Ketua.
3. Pembicaraan di dalam setiap Sidang Pleno hanya dibuka 2 (dua) babak.
4. Hanya Pembicara pada babak pertama yang berhak berbicara pada babak kedua dengan pokok
pembicaraan yang sama.
5. Setiap pembicara yang hendak berbicara diwajibkan untuk berdiri.
Pasal 11
1. Peserta dapat mengajukan interupsi untuk meminta atau memberi penjelasan tentang duduk persoalan
yang sebenarnya dari masalah yang sementara dibicarakan.
2. Interupsi hanya dapat dilakukan setelah diizinkan oleh Majelis Ketua.
3. Majelis Ketua berhak menghentikan interupsi apabila persoalannya sudah jelas atau sudah menyinggung
pribadi orang lain.
BAB VIII
QORUM DAN TATA CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pasal 12
1. Sidang-sidang Pleno dinyatakan quorum, apabila dihadiri oleh lebih dari seperdua jumlah Peserta
Konferensi Daerah (ART Bab III pasal 8 ayat 1)
2. Pengambilan Keputusan dalam Konferensi Daerah dianggap sah apabila disetujui oleh lebih dari ½ (satu
perdua) peserta biasa yang hadir
Pasal 13
1. Pengambilan keputusan pada dasarnya diusahakan sejauh mungkin atas dasar musyawarah untuk
mufakat dan apabila dalam pengambilan keputusan tidak tercapai mufakat, maka keputusan diambil
berdasarkan pemungutan suara terbanyak.
2. Pengambilan keputusan menyangkut orang dilakukan secara tertutup, sedangkan pengambilan keputusan
menyangkut kebijakan dapat dilakukan secara terbuka.
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 14
1. Tata Tertib ini merupakan Tata Tertib baku yang dipergunakan untuk pelaksanan Kenferensi Daerah
AMGPM
2. Tata Tertib ini dapat dirobah dan disempurnakan hanya oleh Lembaga Legislatif (Musyawarah Pimpinan
Paripurna)
3. Segala sesuatu mengenai hal-hal teknis dalam Konferda yang belum ditur di dalam Tata Tertib ini akan di
tetapkan kemudian oleh Konferda sepanjang tidak bertentangan dengan AD/ART, PO dan Tata Tertib
Konferensi Daerah AMGPM ini.
Pasal 15
1. Dengan dikeluarkan Tata Tertib ini maka semua keputusan yang terkait dengan Tata Tertib Konferensi
Daerah yang selama ini dipergunakan dinyatakan tidak berlaku.
2. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
PENGURUS BESAR
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
1. Konferensi Daerah Istimewa Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku adalah pemegang kekuasaan
tertinggi setingkat dengan Konferda sesuai ART Bab VI Pasal 9 ayat 7, yuncto Pasal 6 ayat 2 dan 3
Peraturan Organisasi AMGPM; yang selanjutnya dalam tata tertib ini disebut Konferda Istimewa.
2. Di dalam melaksanakan seluruh aktivitasnya, Konferensi Daerah Istimewa tetap berada di bawah terang
Pengakuan tentang Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat seperti yang disaksikan oleh Firman
Allah di dalam Alkitab dan berazaskan Pancasila, Tata Gereja, Gereja Protestan Maluku, Anggaran Dasar
dan Anggaran Rumah Tangga AMGPM serta Peraturan Organisasi AMGPM.
3. Kedaulatan sepenuhnya berada di tangan perutusan dan dilaksanakan oleh Konferensi Daerah Istimewa.
4. Penyelenggaraan Konferensi Daerah Istimewa sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pengurus Daerah
dan atau berdasarkan pada ketentuan Pasal 14 Peraturan Organisasi AMGPM.
BAB II
TUGAS DAN WEWENANG
Pasal 2
Kewenangan atau tugas Konferensi Daerah Istimewa adalah :
1. Mendengar Laporan Pengurus Daerah dan atau pejabat sementara /Care Taker mengenai kondisi Daerah
2. Memilih dan menetapkan Ketua dan atau Sekretaris Daerah
3. Menetapkan Keputusan-keputusan lainnya.
BAB III
PESERTA
Pasal 3
Peserta Konferensi Daerah Istimewa, terdiri dari:
1. Peserta Biasa :
a. Pengurus Daerah
b. Utusan Cabang dan atau Ranting sebanyak 5 orang yang terdiri dari 3 orang Pengurus Cabang dan atau
Ranting dan 2 orang Anggota Biasa yang ditunjuk oleh Pengurus Cabang, harus dilengkapi dengan surat
mandate dari pengurus secara resmi.
c. Ketua Klasis atau unsur Majelis Pekerja Klasis .
d. Ketua-Ketua Majelis Jemaat.
2. Peserta Luar Biasa yang terdiri dari :
a. Pengurus Besar
b. Peninjau dari Cabang dan atau Ranting yang ditetapkan oleh Pejabat sementara/Care Taker Pengurus
Daerah
c. Undangan lainnya yang dianggap perlu oleh Penjabat sementara/care taker Pengurus Daerah.
BAB IV
HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA
Pasal 4
1. Hak Peserta:
a. Peserta Biasa mempunyai Hak Suara dan Hak Bicara
b. Pengurus Besar mempunyai hak bicara baik diminta maupun tidak diminta.
c. Peserta luar biasa mempunyai Hak Bicara.
2. Kewajiban Peserta:
a. Peserta Biasa maupun Peserta Luar Biasa, wajib mentaati ketentuan yang diatur di dalam Tata Tertib
ini dan hal-hal lain yang diatur oleh Panitia Pelaksana.
b. Peserta Biasa dan Peserta Luar Biasa berkewajiban menghadiri Sidang-sidang Pleno dan Sidang-sidang
Komisi.
BAB V
ALAT-ALAT KELENGKAPAN PERSIDANGAN
Pasal 5
Konferensi Daerah Istimewa mempunyai Alat-Alat Kelengkapan Persidangan yang disusun menurut
pengelompokan kegiatan sebagai berikut :
1. Pimpinan Konferensi Daerah Istimewa.
2. Majelis Ketua.
3. Sidang-sidang Pleno/ Paripurna.
Pasal 6
Pimpinan Konferensi Daerah Istimewa adalah Penjabat sementara/Care Taker Pengurus Daerah AMGPM
Pasal 7
1. Majelis Ketua terdiri dari 5 orang, yaitu 2 orang dari penjabat sementara/care taker Pengurus Daerah dan
peserta biasa 3 orang yang ditetapkan dengan keputusan Konferda Istimewa.
2. Majelis Ketua bertugas memimpin siding-sidang di dalam Konferda Istimewa
3. Wewenang Majelis Ketua di dalam Konferensi Daerah Istimewa adalah:
a. Memanggil peserta untuk menghadiri sidang-sidang, membuka dan menskors Sidang-sidang Pleno.
b. Memimpin Sidang-sidang Pleno selama Konferensi Daerah Istimewa berlangsung.
c. Menjaga kelancaran dan ketertiban dalam Sidang-sidang selama Konferensi Daerah Istimewa
berlangsung.
d. Berusaha mempertemukan pendapat-pendapat yang berbeda, menyimpulkan pembicaraan dan
mendudukan persoalan yang sebenarnya serta mengembalikan jalannya Sidang pada pokok
pembicaraan.
BAB VI
TATA CARA BERBICARA
Pasal 8
1. Setiap Peserta mempunyai hak berbicara selama 3 menit dengan pokok pembicaraan yang jelas
2. Sebelum babak pembicaraan dimulai, Majelis Ketua berkewajiban melakukan inventarisasi jumlah
pembicara.
3. Pembicaraan di dalam setiap sidang pleno hanya dibuka 2 (dua) babak, kecuali terhadap hal-hal yang
bersifat prinsip dapat dibuka babak khusus dan harus mendapat persetujuan sidang; dan hanya
pembicara pada babak pertama yang berhak berbicara pada babak kedua dengan pokok pembicaraan
yang sama.
Pasal 9
1. Peserta dapat mengajukan interupsi untuk meminta atau memberi penjelasan tentang duduk
persoalan yang sebenarnya dari masalah yang sementara dibicarakan.
2. Interupsi hanya dapat dilakukan setelah diizinkan oleh Majelis Ketua.
3. Majelis Ketua berhak menghentikan interupsi apabila persoalannya sudah jelas atau sudah
menyinggung pribadi orang lain.
BAB VII
QORUM DAN TATA CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pasal 10
1. Sidang-sidang dinyatakan sah, apabila dihadiri oleh lebih dari seperdua jumlah peserta biasa
2. Pengambilan Keputusan dalam Konferensi Daerah dianggap sah apabila disetujui oleh lebih dari ½ (seper
dua) peserta biasa yang hadir
Pasal 11
1. Pengambilan keputusan pada dasarnya diusahakan atas dasar musyawarah untuk mufakat
2. Apabila musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, maka keputusan diambil berdasarkan pemungutan
suara terbanyak.
BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 12
1. Hal-hal yang belum diatur dalam tata tertib ini akan diputuskan oleh Konferda Istimewa
2. Keputusan ini mulai berlaku sejak ditetapkan.
PENGURUS BESAR
BAB I
DASAR DAN SUSUNAN MUSYAWARAH PIMPINAN PARIPURNA DAERAH
Pasal 1
1 Musyawarah Pimpinan Paripurna Daerah (MPPD) Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku dilaksanakan
berdasarkan :
a.Anggaran Dasar AMGPM Bab IX Pasal 14 ayat 2d
b.Anggaran Rumah Tangga AMGPM Bab IV Pasal 12
2. Susunan Musyawarah Pimpinan Paripurna Daerah (MPPD) terdiri dari :
a. Sidang-sidang paripurna
b. Sidang-sidang komisi
3. Dengan dasar sebagaimana diatas, maka disusunlah Tata Tertib Musyawarah Pimpinan Paripurna Daerah
Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku
BAB II
PESERTA, HAK DAN KEWAJIBAN
Pasal 2
1. Musyawarah Pimpinan Paripurna Daerah (MPPD) dihadiri oleh peserta biasa yang terdiri dari :
a. Pengurus Daerah
b. Utusan Cabang sebanyak 3 (tiga) orang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan 1 (satu) orang anggota biasa
yang ditunjuk oleh Pengurus Cabang.
c. Unsur Majelis Pekerja Klasis
d. Satu Orang Ketua Majelis Jemaat dari setiap cabang
2. Selain peserta biasa sebagaimana tersebut pada ayat (1) pasal ini Musyawarah Pimpinan Paripurna
Daerah juga dihadiri oleh peserta luar biasa yang terdiri dari :
a. Unsur Pengurus Besar
b. Peninjau dari Cabang yang jumlahnya ditentukan oleh Pengurus Daerah
c. Undangan lain yang ditetapkan Pengurus Daerah
Pasal 3
Hak Peserta Musyawarah adalah :
1. Peserta biasa Musyawarah Pimpinan Paripurna Daerah Angkatan Muda GPM mempunyai hak suara dan
hak bicara (ART AMGPM Bab IV Pasal 12 ayat 6)
2. Peserta luar biasa hanya mempunyai hak bicara
3. Peserta yang hendak berbicara diharuskan mendaftarkan diri, dan ketika berbicara diwajibkan berdiri
serta berbicara dengan singkat, tegas dan jelas pada maksud dan tujuan pembicaraan
4. Setiap pembicara hanya diberikan kesempatan menggunakan hak bicaranya selama 3 menit setelah
dipersilahkan oleh pimpinan musyawarah.
5. Pemandangan umum atau tanggapan terhadap setiap masalah yang disampaikan hanya disediakan dua
babak.
6. Hanya pembicara pada babak pertama yang dapat berbicara pada babak kedua dengan pokok
pembicaraan yang sama.
7. Bila suatu masalah tidak dapat disepakati pada babak pertama dan babak kedua maka dapat dibuka babak
terakhir untuk membahas masalah tersebut, atas persetujuan peserta biasa.
8. Hak Interupsi dapat dimanfaatkan untuk hal – hal tertentu antara lain :
a. Point Of Clarification ( Menjernihkan pokok masalah yg sedang dibicarakan )
b. Point Of Order ( Usul atau saran untuk meletakkan permasalahan sesuai aturan )
c. Point Of Self Previlege ( Menyinggung perasaan orang lain )
d. Point Of Information ( Menyampaikan Informasi )
Pasal 4
Setiap peserta Musyawarah Pimpinan Paripurna Daerah mempunyai kewajiban adalah :
1. Mentaati tata tertib ini dan semua ketentuan yang ditetapkan oleh Musyawarah Pimpinan Paripurna
Daerah.
2. Mengikuti seluruh acara musyawarah dengan penuh rasa tanggungjawab
3. Menghadiri sidang-sidang 15 (lima belas) menit sebelum sidang dimulai dan mengambil bagian dalam
semua kegiatan/acara selama berlangsungnya MPPD
4. Menandatangani daftar hadir setiap kali menghadiri sidang.
5. Meminta izin secara tertulis dari pimpinan musyawarah jika ingin meninggalkan ruang sidang karena
suatu kepentingan.
6. Menghormati dan menghargai setiap pembicara yang sedang menggunakan hak bicaranya.
7. Memelihara dan menjamin ketertiban selama berlangsungnya sidang-sidang dalam MPPD
BAB III
TUGAS MUSYAWARAH PIMPINAN PARIPURNA DAERAH
Pasal 5
Musyawarah Pimpinan Paripurna Daerah mempunyai tugas :
a. Mengevaluasi program pelayanan dan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Pengurus Daerah pada
tahun berjalan, serta kebijakan lain yang ditetapkan MPPD sebelumnya.
b. Menetapkan program pelayanan dan APB tahun berikutnya serta berbagai kebijakan organisasi.
c. Menetapkan keputusanp-keputusan organisasi lainnya
BAB IV
PIMPINAN MUSYAWARAH
Pasal 6
1. Musyawarah Pimpinan Paripurna Daerah (MPPD) dipimpin oleh Pengurus Daerah
2. Sekretaris Daerah Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku berfungsi sebagai sekretaris musyawarah /
sekretaris persidangan.
3. Sidang-sidang Paripurna dipimpin oleh Pengurus Daerah AMGPM
4. Sidang – sidang Komisi dipimpin oleh seorang ketua, seorang wakil ketua dan seorang sekertais komisi
yang di tunjuk oleh pimpinan sidang.
5. Pengurus Daerah AMGPM wajib menghadiri sidang-sidang komisi sebagai nara sumber sesuai dengan
bidang tugasnya.
BAB. V
TUGAS DAN WEWENANG PIMPINAN MUSYAWARAH
Pasal 7
1. Mengundang dan memanggil peserta musyawarah untuk memulai sidang-sidang
2. Mengatur urut-urutan pembicara dan menyimpulkan isi pembicaraan dalam sidang-sidang pleno
3. Mengarahkan pembicaraan peserta sedemikian rupa sehingga tiba pada pengambilan keputusan.
4. Menegur dan bila perlu mencabut hak bicara dari seorang pembicara apabila pembicaraannya telah
menyimpang dari pokok yang dibicarakan dan atau menyinggung nama baik orang lain.
5. Membuka, menskors, mencabut kembali skors dan menutup Sidang – sidang Paripurna.
6. Pimpinan Musyawarah bertanggung jawab terhadap kelancaran, ketertiban dan keamanan
penyelenggaraan Musyawarah Pimpinan Paripurna Daerah AMGPM.
BAB VI
USUL – USUL TAMBAHAN
Pasal 8
Apabila ada suatu masalah baru di luar acara musyawarah diajukan oleh salah satu peserta MPPD maka
masalah tersebut baru dapat dibahas apabila didukung oleh sekurang-kurangnya seperdua tambah satu
peserta biasa yang hadir.
BAB VII
QORUM DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pasal 9
1. Sidang-sidang Pleno dinyatakan sah, apabila dihadiri oleh lebih dari seperdua jumlah Peserta Musyawarah
Pimpinan Paripurna Daerah (MPPD)
2. Dalam sidang pleno apabila kehadiran peserta musyawarah belum mencukupi qorum sesuai ayat 1 diatas
maka sidang diskors untuk jangka waktu tertentu oleh pimpinan musyawarah dan kemudian dilanjutkan,
apabila masih terjadi peserta yang hadir belum mencukupi quorum juga, maka sidang hanya dpt diskors
maksimal tiga kali dan sesudah itu musyawarah dapat dilanjutkan.
3. Pengambilan Keputusan dalam MPPD dianggap sah apabila disetujui oleh lebih dari ½ (satu perdua)
peserta biasa yang hadir
Pasal 10
1. Pengambilan keputusan pada dasarnya diusahakan sejauh mungkin atas dasar musyawarah untuk
mufakat dan apabila dalam pengambilan keputusan tidak tercapai mufakat, maka keputusan diambil
berdasarkan pemungutan suara terbanyak (voting).
2. Pengambilan keputusan menyangkut orang dilakukan secara tertutup, sedangkan pengambilan keputusan
menyangkut kebijakan dapat dilakukan secara terbuka.
BAB VIII
LAIN – LAIN
Pasal 11
1. Hal – hal lain yang belum diatur dalam ketentuan Tata Tertib ini, akan diatur kemudian oleh Pimpinan
Musyawarah sepanjang dirasa perlu dengan mendengar usul dan meminta persetujuan peserta
musyawarah.
2. Tata Tertib ini merupakan tata tertib baku, dan digunakan untuk pelaksanaan MPPD kecuali Musyawarah
Pimpinan Paripurna (MPP) AMGPM menentukan yang lain.
3. Dengan ditetapkannya Tata tertib ini, maka segala keputusan mengenai Tata Tertib MPPD dinyatakan
tidak berlaku lagi
4. Tata tertib ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan
PENGURUS BESAR
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
1. Konferensi Cabang Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku adalah pemegang kedaulatan tertinggi di
tingkat Cabang, dan dilaksanakan sesuai Anggaran Dasar AMGPM Bab IX Pasal 14 ayat 2e dan Anggaran
Rumah Tangga AMGPM Bab IV pasal 13.
2. Di dalam melaksanakan seluruh aktivitasnya, Konferensi Cabang tetap berada di bawah terang Pengakuan
tentang Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat seperti yang disaksikan oleh Firman Allah di dalam
Alkitab dan berazaskan Pancasila, Tata Gereja, Gereja Protestan Maluku, Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga AMGPM.
3. Kedaulatan sepenuhnya berada di tangan peserta (perutusan Ranting) dan dilaksanakan oleh Konferensi
Cabang.
4. Penyelenggaraan Konferensi Cabang sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pengurus Cabang AMGPM.
BAB II
TUGAS DAN WEWENANG
Pasal 2
Kewenangan atau tugas Konferensi Cabang adalah (ART Bab IV Pasal 13 ayat 11) :
a. Menilai Laporan Pertanggung-jawaban Pengurus Cabang.
b. Mendengar Laporan Pengurus Ranting.
c. Menetapkan Garis-garis Besar Program tiga tahunan dan program kerja serta APB tahun pertama
periodesasi kepengurusan baru.
d. Memilih Pengurus Cabang.
e. Menetapkan Keputusan dan kebijakan organisasi lainnya.
BAB III
PESERTA
Pasal 3
1. Konferensi Daerah dihadiri oleh peserta biasa yang terdiri dari:
a. Pengurus Cabang.
b. Usan Ranting sebanyak 5 (lima) orang yang terdiri dari 3 (tigas) orang Pengurus Ranting dan 2 (dua)
orang Anggota Biasa yang ditunjuk oleh Pengurus Ranting.
c. Ketua Majelis Jemaat atau unsur Majelis Jemaat
2. Selain peserta biasa sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 (satu) diatas, Konferensi Cabang juga dihadiri
oelh Peserta Luar Biasa yang terdiri dari :
a. Pengurus Daerah
b. Peninjau dari Ranting yang jumlahnya ditentukan oleh Pengurus Cabang
c. Undangan lain yang ditetapkan Pengurus Cabang.
BAB IV
HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA
Pasal 4
1. Hak Peserta:
a. Peserta Biasa mempunyai Hak Suara dan Hak Bicara (ART Bab II Pasal 3 ayat 1, jo ART Bab IV pasal 13
ayat 6), kecuali Pimpinan Gereja yang usianya di atas 45 tahun, hanya mempunyai hak bicara (ART Bab
II Pasal 2 ayat 1d pada memori penjelasan).
b. Pengurus Daerah dalam Kapasitas sebagai Pimpinan Organisasi di Daerah mempunyai hak bicara baik
diminta maupun tidak.
c. Undangan dan Peninjau hanya mempunyai Hak Bicara.
2. Kewajiban Peserta:
Peserta Biasa maupun Peserta Luar Biasa, wajib mentaati ketentuan yang diatur di dalam Tata Tertib ini
dan hal-hal lain yang diatur oleh Panitia Pelaksana.
3. Peserta Biasa dan Peserta Luar Biasa berkewajiban menghadiri Sidang-sidang Pleno dan Sidang-sidang
Komisi.
BAB V
ALAT-ALAT KELENGKAPAN PERSIDANGAN
Pasal 5
Konferensi Cabang mempunyai Alat-Alat Kelengkapan Persidangan yang disusun menurut pengelompokan
kegiatan sebagai berikut :
1. Pimpinan Konferensi Cabang
2. Majelis Ketua.
3. Sidang-sidang Pleno/ Paripurna.
4. Sidang-sidang Komisi.
Pasal 6
1. Pimpinan Konferensi Cabang adalah Pengurus Cabang AMGPM (ART Bab IV pasal 13 ayat 7)
2. Sidang-sidang dalam Konfercab dipimpin oleh Pengurus Cabang sampai terpilihnya Majelis Ketua, yang
dipilih dari dan oleh peserta biasa Konferensi Cabang (ART Bab IV pasal 13 ayat 8)
Pasal 7
1. Majelis Ketua bertugas memimpin Sidang-sidang di dalam Konferensi Cabang.
2. Majelis Ketua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari unsur Pengurus Cabang 2 (dua) orang
dan peserta biasa 3 (tiga orang) yang ditetapkan dengan Keputusan Konferensi Cabang (ART Bab IV pasal
13 ayat 9)
3. Personil Majelis Ketua ditunjuk oleh Pengurus Cabang secara bijaksana dan disahkan oleh Konfercab.
4. Sekretaris Konferensi Cabang adalah Sekretaris Pengurus Cabang AMGPM.
5. Sekretaris Konferensi Cabang diwajibkan untuk membaca dan atau melaporkan seluruh hasil keputusan
Konferensi Cabang, sebelum sidang-sidang pleno dalam Konferensi Cabang ditutup.
6. Wewenang Majelis Ketua di dalam Konferensi Cabang adalah:
a. Memanggil Peserta untuk menghadiri sidang-sidang, membuka dan menskors Sidang-sidang Pleno.
b. Memimpin Sidang-sidang Pleno selama Konferensi Cabang berlangsung.
c. Menjaga kelancaran dan ketertiban dalam Sidang-sidang selama Konferensi Cabang berlangsung.
d. Berusaha mempertemukan pendapat-pendapat yang berbeda, menyimpulkan pembicaraan dan
mendudukan persoalan yang sebenarnya serta mengembalikan jalannya Sidang pada pokok
pembicaraan.
e. Majelis Ketua memimpin sidang dalam Konferensi Cabang sampai pada penetapan hasil kerja
formatur, dan sesudah itu menyerahkan palu sidang kepada Ketua dan Sekretaris Cabang terpilih
untuk menutup sidang-sidang pleno dalam Konferensi Cabang.
Pasal 8
1. Konferensi Cabang membentuk Komisi-komis kerja sesuai dengan kebutuhan.
2. Komisi-komisi kerja di dalam Konferensi Cabang, dapat membentuk Sub Komisi menurut kebutuhan.
3. Komisi-komisi kerja Konferensi Cabang bertugas memusyawarahkan dan mengambil keputusan mengenai
hal-hal yang menjadi agenda Komisi dalam ruang lingkup tugasnya.
4. Jumlah anggota Komisi sedapat mungkin disusun dan ditetapkan secara berimbang oleh Majelis Ketua.
5. Majelis Ketua diwajibkan untuk menghadiri Sidang-sidang Komisi sebagai Peserta Biasa.
6. Pimpinan Komisi di dalam Konferensi Cabang terdiri dari : seorang Ketua, seorang wakil ketua dan seorang
Sekretaris yang di tunjuk oleh Majelis Ketua
BAB VI
TATA CARA PEMILIHAN PENGURUS CABANG AMGPM
Pasal 9
1. Setiap Peserta Biasa (yang memiliki Hak Suara) mengajukan satu bakal calon Ketua Cabang dan satu bakal
calon Sekretaris Cabang pada satu kertas suara yang telah disediakan oleh Majelis Ketua.
2. Kertas Suara sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 (satu) diatas, memuat nama satu orang bakal calon
ketua cabang dan satu orang bakal calon sekretaris cabang.
3. Proses perhitungan suara dilaksanakan secara bersama-sama dan di catat pada papan perhitungan suara
yang berbeda (satu papan untuk Bakal Calon Ketua dan satu papan untuk bakal calon sekretaris)
4. Bakal Calon Ketua Cabang dan Sekretaris Cabang yang memiliki suara terbanyak ditetapkan sebagai calon
untuk selanjutnya diuji dan dipilih dalam Konferensi Cabang.
5. Untuk melengkapi keseluruhan struktur Pengurus Cabang maka dibentuk tim Formatur yang ditunjuk
secara bijaksana oleh Majelis Ketua dengan persetujuan peserta Konferensi Cabang
6. Seluruh fungsionaris yang akan ditunjuk / dipilih oleh formatur untuk melengkapi struktur Pengurus
Cabang adalah mereka yang mengikuti Konferensi Cabang (Peserta biasa maupun Peserta Luar Biasa)
7. Selanjutnya Kriteria, Prosedur Pencalonan dan Pemilihan Pengurus Cabang AMGPM diatur tersendiri
dalam komisi kerja Konferensi Cabang sesuai ketentuan dalam AD/ART dan PO AMGPM
BAB. VII
TATA CARA BERBICARA
Pasal 10
1. Setiap Peserta Konferensi Cabang mempunyai Hak berbicara selama 3 (tiga) menit dengan pokok
pembicaraan yang jelas (kecuali untuk ceramah dan Penelaan Alkitab diatur oleh moderator).
2. Sebelum babak pembicaraan dimulai, diadakan pendaftaran oleh Majelis Ketua.
3. Pembicaraan di dalam setiap Sidang Pleno hanya dibuka 2 (dua) babak.
4. Hanya Pembicara pada babak pertama yang berhak berbicara pada babak kedua dengan pokok
pembicaraan yang sama.
5. Setiap pembicara yang hendak berbicara diwajibkan untuk berdiri.
Pasal 11
1. Peserta dapat mengajukan interupsi untuk meminta atau memberi penjelasan tentang duduk
persoalan yang sebenarnya dari masalah yang sementara dibicarakan.
2. Interupsi hanya dapat dilakukan setelah diizinkan oleh Majelis Ketua.
3. Majelis Ketua berhak menghentikan interupsi apabila persoalannya sudah jelas atau sudah
menyinggung pribadi orang lain.
BAB VII
QORUM DAN TATA CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pasal 12
1. Sidang-sidang Pleno dinyatakan sah, apabila dihadiri oleh lebih dari seperdua jumlah Peserta Kon ferensi
Cabang
2. Pengambilan Keputusan dalam Konferensi Cabang dianggap sah apabila disetujui oleh lebih dari ½ (satu
perdua) peserta biasa yang hadir
Pasal 13
1. Pengambilan keputusan pada dasarnya diusahakan sejauh mungkin atas dasar musyawarah untuk mufakat
dan apabila dalam pengambilan keputrusan tidak tercapai mufakat, maka keputusan diambil berdasarkan
pemungutan suara terbanyak.
2. Pengambilan keputusan menyangkut orang dilakukan secara tertutup, sedangkan pengambilan keputusan
menyangkut kebijakan dapat dilakukan secara terbuka.
Pasal 14
1. Tata Tertib ini merupakan Tata Tertib baku yang dipergunakan untuk pelaksanan Kenferensi Cabang
AMGPM
2. Tata Tertib ini dapat dirobah dan disempurnakan hanya oleh Lembaga Legislatif AMGPM (Musyawarah
Pimpinan Paripurna)
3. Segala sesuatu mengenai hal-hal teknis dalam Kenferensi Cabang yang belum ditur di dalam Tata Tertib ini
akan ditetapkan kemudian oleh Kenferensi Cabang sepanjang tidak bertentangan dengan AD/ART, PO dan
Tata Tertib Konferensi Cabang AMGPM ini.
Pasal 15
1. Dengan dikeluarkan Tata Tertib ini maka semua keputusan yang terkait dengan Tata Tertib Konferensi
Cabang yang selama ini dipergunakan dinyatakan tidak berlaku.
2. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
PENGURUS BESAR
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
1. Konferensi Cabang Istimewa Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku adalah pemegang kekuasaan
tertinggi setingkat dengan Konfercab sesuai ART Bab VI Pasal 11 ayat 6, yuncto Pasal 8 ayat 2 dan 4
Peraturan Organisasi AMGPM; yang selanjutnya dalam tata tertib ini disebut Konfercab Istimewa.
2. Di dalam melaksanakan seluruh aktivitasnya, Konferensi Cabang Istimewa tetap berada di bawah terang
Pengakuan tentang Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat seperti yang disaksikan oleh Firman
Allah di dalam Alkitab dan berazaskan Pancasila, Tata Gereja, Gereja Protestan Maluku, Anggaran Dasar
dan Anggaran Rumah Tangga AMGPM serta Peraturan Organisasi AMGPM.
3. Kedaulatan sepenuhnya berada di tangan perutusan dan dilaksanakan oleh Konferensi Cabang Istimewa.
4. Penyelenggaraan Konferensi Cabang Istimewa sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pengurus Cabang dan
atau berdasarkan pada ketentuan Pasal 14 Peraturan Organisasi AMGPM.
BAB II
TUGAS DAN WEWENANG
Pasal 2
Kewenangan atau tugas Konferensi Cabang Istimewa adalah :
1. Mendengar Laporan pertanggungjawaban Pengurus Cabang dan atau pejabat sementara /Care Taker
Pengurus Cabang
2. Memilih dan menetapkan Pengurus Cabang Antar Waktu
3. Menetapkan Keputusan-keputusan lainnya.
BAB III
PESERTA
Pasal 3
Peserta Konferensi Daerah Istimewa, terdiri dari:
1. Pengurus Biasa :
a. Pengurus Cabang non aktif
b. Utusan Ranting sebanyak 5 orang yang terdiri dari 3 orang Pengurus Ranting dan 2 orang anggota biasa
harus dilengkapi dengan surat mandate dari pengurus secara resmi.
c. Ketua-Ketua Majelis Jemaat.
2. Peserta Luar Biasa yang terdiri dari :
a. Pengurus Daerah
b. Peninjau dari Ranting yang ditetapkan oleh Pejabat sementara/Care Taker Pengurus Cabang
c. Undangan lainnya yang dianggap perlu oleh Penjabat sementara/care taker Pengurus Cabang.
BAB IV
HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA
Pasal 4
1. Hak Peserta:
a. Peserta Biasa mempunyai hak suara dan hak bicara
b. Pengurus Daerah mempunyai hak bicara baik diminta maupun tidak diminta.
c. Peserta luar biasa mempunyai hak bicara.
2. Kewajiban Peserta:
a. Peserta Biasa maupun Peserta Luar Biasa, wajib mentaati ketentuan yang diatur di dalam Tata Tertib
ini dan hal-hal lain yang diatur oleh Panitia Pelaksana.
b. Peserta Biasa dan Peserta Luar Biasa berkewajiban menghadiri Sidang-sidang Pleno dan Sidang-sidang
Komisi.
BAB V
ALAT-ALAT KELENGKAPAN PERSIDANGAN
Pasal 5
Konferensi Cabang Istimewa mempunyai Alat-Alat Kelengkapan Persidangan yang disusun menurut
pengelompokan kegiatan sebagai berikut :
1. Pimpinan Konferensi Cabang Istimewa.
2. Majelis Ketua.
3. Sidang-sidang Pleno/ Paripurna.
4. Sidang-sidang Komisi.
Pasal 6
Pimpinan Konferensi Cabang Istimewa adalah Penjabat sementara/Care Taker Pengurus Cabang AMGPM
Pasal 7
1. Majelis Ketua terdiri dari 5 orang, yaitu 2 orang dari penjabat sementara/care taker Pengurus Cabang dan
peserta biasa 3 orang yang ditetapkan dengan keputusan Konfercab Istimewa.
2. Majelis Ketua bertugas memimpin sidang-sidang di dalam Konfercab Istimewa
3. Wewenang Majelis Ketua di dalam Konferensi Cabang Istimewa adalah:
a. Memanggil peserta untuk menghadiri sidang-sidang, membuka dan menskors Sidang-sidang Pleno.
b. Memimpin Sidang-sidang Pleno selama Konferensi Cabang Istimewa berlangsung.
c. Menjaga kelancaran dan ketertiban dalam Sidang-sidang selama Konferensi Cabang Istimewa
berlangsung.
d. Berusaha mempertemukan pendapat-pendapat yang berbeda, menyimpulkan pembicaraan dan
mendudukan persoalan yang sebenarnya serta mengembalikan jalannya Sidang pada pokok
pembicaraan.
Pasal 8
1. Konfercab Istimewa membentuk komisi-komis kerja sesuai dengan kebutuhan.
2. Komisi-komisi kerja di dalam Konfercab Istimewa dapat membentuk sub komisi menurut kebutuhan.
3. Komisi-komisi bertugas memusyawarahkan dan mengambil keputusan mengenai hal-hal yang menjadi
agenda komisi dalam ruang lingkup tugas dan tanggungjawabnya.
4. Jumlah anggota komisi sedapat mungkin disusun dan ditetapkan secara berimbang oleh Majelis Ketua.
5. Majelis Ketua dapat turut menghadiri sidang-sidang komisi sebagai peserta biasa.
6. Pimpinan komisi terdiri dari: seorang Ketua, seorang Sekretaris yang dipilih oleh komisi secara
musyawarah-mufakat
BAB VI
TATA CARA BERBICARA
Pasal 9
1. Setiap Peserta mempunyai hak berbicara selama 3 menit dengan pokok pembicaraan yang jelas
2. Sebelum babak pembicaraan dimulai, Majelis Ketua berkewajiban melakukan inventarisasi jumlah
pembicara.
3. Pembicaraan di dalam setiap sidang pleno hanya dibuka 2 babak, kecuali terhadap hal-hal yang bersifat
prinsip dapat dibuka babak khusus dan harus mendapat persetujuan sidang; dan hanya pembicara pada
babak pertama yang berhak berbicara pada babak kedua dengan pokok pembicaraan yang sama.
Pasal 10
1. Peserta dapat mengajukan interupsi untuk meminta atau memberi penjelasan tentang duduk
persoalan yang sebenarnya dari masalah yang sementara dibicarakan.
2. Interupsi hanya dapat dilakukan setelah diizinkan oleh Majelis Ketua.
3. Majelis Ketua berhak menghentikan interupsi apabila persoalannya sudah jelas atau sudah
menyinggung pribadi orang lain.
BAB VII
QORUM DAN TATA CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pasal 11
1. Sidang-sidang dinyatakan sah, apabila dihadiri oleh lebih dari seperdua jumlah peserta biasa
2. Pengambilan Keputusan dalam Konferensi Cabang dianggap sah apabila disetujui oleh lebih dari ½ (satu
perdua) peserta biasa yang hadir
Pasal 12
1. Pengambilan keputusan pada dasarnya diusahakan atas dasar musyawarah untuk mufakat
2. Apabila musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, maka keputusan diambil berdasarkan pemungutan
suara terbanyak.
Pasal 13
Hal-hal yang belum diatur dalam tata tertib ini akan diputuskan oleh Konfercab Istimewa
Pasal 14
Keputusan ini mulai berlaku sejak ditetapkan.
PENGURUS BESAR
BAB I
DASAR DAN SUSUNAN MUSYAWARAH PIMPINAN PARIPURNA CABANG
Pasal 1
1. Musyawarah Pimpinan Paripurna Cabang (MPPC) Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku dilaksanakan
berdasarkan :
a. Anggaran Dasar AMGPM Bab IX Pasal 14 ayat 2 f
b. Anggaran Rumah Tangga AMGPM Bab IV Pasal 14
2. Susunan Musyawarah Pimpinan Paripurna Cabang (MPPC) terdiri dari :
a. Sidang-sidang paripurna
b. Sidang-sidang komisi
3. Dengan dasar sebagaimana diatas, maka disusunlah Tata Tertib Musyawarah Pimpinan Paripurna Cabang
Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku
BAB II
PESERTA, HAK DAN KEWAJIBAN
Pasal 2
1. Musyawarah Pimpinan Paripurna Cabang (MPPC) dihadiri oleh peserta biasa yang terdiri dari :
a. Pengurus Cabang
b. Utusan Ranting sebanyak 3 (tiga) orang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan 1 (satu) orang anggota biasa
yang ditunjuk oleh Pengurus Ranting.
c. Ketua Majelis Jemaat atau unsur Majelis Jemaat
2. Selain peserta biasa sebagaimana tersebut pada ayat (1) pasal ini Musyawarah Pimpinan Paripurna Cabang
juga dihadiri oleh peserta luar biasa yang terdiri dari :
a. Unsur Pengurus Daerah
b. Peninjau dari Ranting yang jumlahnya ditentukan oleh Pengurus Cabang
c. Undangan lain yang ditetapkan Pengurus Cabang
Pasal 3
Hak Peserta Musyawarah adalah :
1. Peserta biasa Musyawarah Pimpinan Paripurna Cabang Angkatan Muda GPM mempunyai hak suara dan
hak bicara (ART AMGPM Bab IV Pasal 14 ayat 6)
2. Peserta luar biasa hanya mempunyai hak bicara
3. Peserta yang hendak berbicara diharuskan mendaftarkan diri, dan ketika berbicara diwajibkan berdiri serta
berbicara dengan singkat, tegas dan jelas pada maksud dan tujuan pembicaraan
4. Setiap pembicara hanya diberikan kesempatan menggunakan hak bicaranya selama 3 menit setelah
dipersilahkan oleh pimpinan musyawarah.
5. Pemandangan umum atau tanggapan terhadap setiap masalah yang disampaikan hanya disediakan dua
babak.
6. Hanya pembicara pada babak pertama yang dapat berbicara pada babak kedua dengan pokok
pembicaraan yang sama.
7. Bila suatu masalah tidak dapat disepakati pada babak pertama dan babak kedua maka dapat dibuka babak
terakhir untuk membahas masalah tersebut, atas persetujuan peserta biasa.
8. Hak Interupsi dapat dimanfaatkan untuk hal – hal tertentu antara lain :
a. Point Of Clarification ( Menjernihkan pokok masalah yg sedang dibicarakan )
b. Point Of Order ( Usul atau saran untuk meletakkan permasalahan sesuai aturan )
c. Point Of Self Previlege ( Menyinggung perasaan orang lain )
d. Point Of Information ( Menyampaikan Informasi )
Pasal 4
Setiap peserta Musyawarah Pimpinan Paripurna Cabang mempunyai kewajiban adalah :
1. Mentaati tata tertib ini dan semua ketentuan yang ditetapkan oleh Musyawarah Pimpinan Paripurna
Cabang.
2. Mengikuti seluruh acara musyawarah dengan penuh rasa tanggungjawab
3. Menghadiri sidang-sidang 15 (lima belas) menit sebelum sidang dimulai dan mengambil bagian dalam
semua kegiatan/acara selama berlangsungnya MPPC
4. Menandatangani daftar hadir setiap kali menghadiri sidang.
5. Meminta izin secara tertulis dari pimpinan musyawarah jika ingin meninggalkan ruang sidang karena suatu
kepentingan.
6. Menghormati dan menghargai setiap pembicara yang sedang menggunakan hak bicaranya.
7. Memelihara dan menjamin ketertiban selama berlangsungnya sidang-sidang dalam MPPC
BAB III
TUGAS MUSYAWARAH PIMPINAN PARIPURNA CABANG
Pasal 5
Musyawarah Pimpinan Paripurna Cabang mempunyai tugas :
1. Mengevaluasi program pelayanan dan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Pengurus Cabang pada
tahun berjalan, serta kebijakan lain yang ditetapkan MPPC sebelumnya.
2. Menetapkan program pelayanan dan APB tahun berikutnya serta berbagai kebijakan organisasi.
3. Menetapkan keputusan-keputusan organisasi lainnya
BAB IV
PIMPINAN MUSYAWARAH
Pasal 6
1. Musyawarah Pimpinan Paripurna Cabang (MPPC) dipimpin oleh Pengurus Cabang
2. Sekretaris Cabang Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku berfungsi sebagai sekretaris musyawarah /
sekretaris persidangan.
3. Sidang-sidang Paripurna dipimpin oleh Pengurus Cabang AMGPM
4. Sidang – sidang Komisi dipimpin oleh seorang ketua, seorang wakil ketua dan seorang sekr etaris komisi
yang di tunjuk oleh pimpinan sidang.
5. Pengurus Cabang AMGPM wajib menghadiri sidang-sidang komisi sebagai nara sumber sesuai dengan
bidang tugasnya.
BAB V
TUGAS DAN WEWENANG PIMPINAN MUSYAWARAH
Pasal 7
1. Mengundang dan memanggil peserta musyawarah untuk memulai sidang-sidang
2. Mengatur urut-urutan pembicara dan menyimpulkan isi pembicaraan dalam sidang-sidang pleno
3. Mengarahkan pembicaraan peserta sedemikian rupa sehingga tiba pada pengambilan keputusan.
4. Menegur dan bila perlu mencabut hak bicara dari seorang pembicara apabila pembicaraannya telah
menyimpang dari pokok yang dibicarakan dan atau menyinggung nama baik orang lain.
5. Membuka, menskors, mencabut kembali skors dan menutup Sidang – sidang Paripurna.
6. Pimpinan Musyawarah bertanggung jawab terhadap kelancaran, ketertiban dan keamanan
penyelenggaraan Musyawarah Pimpinan Paripurna Cabang AMGPM.
BAB VI
USUL – USUL TAMBAHAN
Pasal 8
Apabila ada suatu masalah baru di luar acara musyawarah diajukan oleh salah satu peserta maka masalah
tersebut baru dapat dibahas apabila didukung oleh sekurang-kurangnya seperdua tambah satu peserta biasa
yang hadir.
BAB VII
QORUM DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pasal 9
1. Sidang-sidang Pleno dinyatakan sah, apabila dihadiri oleh lebih dari seperdua jumlah Peserta Musyawarah
Pimpinan Paripurna Cabang (MPPC)
2. Pengambilan Keputusan dalam MPPC dianggap sah apabila disetujui oleh lebih dari ½ (satu perdua)
peserta biasa yang hadir.
Pasal 10
1. Pengambilan keputusan pada dasarnya diusahakan sejauh mungkin atas dasar musyawarah untuk mufakat
dan apabila dalam pengambilan keputusan tidak tercapai mufakat, maka keputusan diambil berdasarkan
pemungutan suara terbanyak (voting).
2. Pengambilan keputusan menyangkut orang dilakukan secara tertutup, sedangkan pengambilan keputusan
menyangkut kebijakan dapat dilakukan secara terbuka.
BAB VIII
LAIN – LAIN
Pasal 11
1. Hal – hal lain yang belum diatur dalam ketentuan Tata Tertib ini, akan diatur kemudian oleh Pimpinan
Musyawarah sepanjang dirasa perlu dengan mendengar usul dan atau meminta persetujuan peserta
musyawarah.
2. Tata Tertib ini merupakan tata tertib baku, dan digunakan untuk pelaksanaan MPPC kecuali Musyawarah
Pimpinan Paripurna AMGPM menentukan yang lain.
3. Dengan ditetapkannya Tata tertib ini, maka segala keputusan mengenai Tata Tertib MPPC dinyatakan
tidak berlaku lagi
4. Tata tertib ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan
PENGURUS BESAR
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
1. Rapat Ranting Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku adalah pemegang kedaulatan tertinggi di tingkat
Ranting, dan dilaksanakan sesuai Anggaran Dasar AMGPM Bab IX Pasal 14 ayat 2g dan Anggaran Rumah
Tangga AMGPM Bab IV pasal 15.
2. Di dalam melaksanakan seluruh aktivitasnya, Rapat Ranting tetap berada di bawah terang Pengakuan
tentang Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat seperti yang disaksikan oleh Firman Allah di dalam
Alkitab dan berazaskan Pancasila, Tata Gereja, Gereja Protestan Maluku, Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga AMGPM.
3. Kedaulatan sepenuhnya berada di tangan peserta dan dilaksanakan oleh Rapat Ranting.
4. Penyelenggaraan Rapat Ranting sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pengurus Ranting AMGPM.
BAB II
TUGAS DAN WEWENANG
Pasal 2
Kewenangan atau tugas Rapat Ranting adalah (ART Bab IV Pasal 15 ayat 11) :
1. Menilai Laporan Pertanggung-jawaban Pengurus Ranting
2. Menetapkan Garis-garis Besar Program dua tahunan dan program kerja serta APB tahun pertama
periodesasi kepengurusan baru.
3. Memilih Pengurus Ranting.
4. Menetapkan Keputusan dan kebijakan organisasi lainnya.
BAB III
PESERTA
Pasal 3
1. Rapat Ranting dihadiri oleh peserta biasa yang terdiri dari:
a. Pengurus Ranting.
b. Semua Anggota Ranting yang terdaftar.
c. Ketua Majelis Jemaat atau unsur Majelis Jemaat Sektor (Ketua Bakopel)
2. Selain peserta biasa sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 (satu) diatas, Rapat Ranting juga dihadiri oleh
Peserta Luar Biasa yang terdiri dari :
a. Unsur Pengurus Cabang
b. Undangan lain yang ditetapkan Pengurus Ranting.
BAB IV
HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA
Pasal 4
1. Hak Peserta:
a. Peserta Biasa mempunyai Hak Suara dan Hak Bicara (ART Bab II Pasal 3 ayat 1, jo ART Bab IV pasal 15
ayat 6), kecuali Pimpinan Gereja yang usianya di atas 45 tahun, hanya mempunyai hak bicara (ART Bab
II Pasal 2 ayat 1d pada memori penjelasan).
b. Pengurus Cabang dalam Kapasitas sebagai Pimpinan Organisasi di tingkat Cabang mempunyai hak
bicara baik diminta maupun tidak.
c. Undangan dan Peninjau hanya mempunyai Hak Bicara.
2. Kewajiban Peserta:
Peserta Biasa maupun Peserta Luar Biasa, wajib mentaati ketentuan yang diatur di dalam Tata Tertib ini
dan hal-hal lain yang diatur oleh Panitia Pelaksana.
3. Peserta Biasa dan Peserta Luar Biasa berkewajiban menghadiri Sidang-sidang Pleno dan Sidang-sidang
Komisi.
BAB V
ALAT-ALAT KELENGKAPAN PERSIDANGAN
Pasal 5
Rapat Ranting mempunyai Alat-Alat Kelengkapan Persidangan yang disusun menurut pengelompokan kegiatan
sebagai berikut :
1. Pimpinan Rapat Ranting.
2. Majelis Ketua.
3. Sidang-sidang Pleno/ Paripurna.
4. Sidang-sidang Komisi.
Pasal 6
1. Pimpinan Rapat Ranting adalah Pengurus Ranting AMGPM (ART Bab IV pasal 15 ayat 7)
2. Sidang-sidang dalam Rapat Ranting dipimpin oleh Pengurus Ranting sampai terpilihnya Majelis Ketua,
yang dipilih dari dan oleh peserta biasa Rapat Ranting (ART Bab IV pasal 15 ayat 8)
Pasal 7
1. Majelis Ketua bertugas memimpin Sidang-sidang di dalam Rapat Ranting
2. Majelis Ketua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari unsur Pengurus Ranting 2 (dua) orang
dan peserta biasa 3 (tiga orang) yang ditetapkan dengan keputusan Rapat Ranting (ART Bab IV pasal 15
ayat 9)
3. Personil Majelis Ketua ditunjuk oleh Pengurus Ranting secara bijaksana dan disahkan oleh Rapat Ranting.
4. Sekretaris Rapat Ranting dan atau sekretaris persidangan adalah Sekretaris Pengurus Ranting AMGPM.
5. Sekretaris Persidangan diwajibkan untuk membaca dan atau melaporkan seluruh hasil keputusan Rapat
Ranting, sebelum sidang-sidang pleno dalam Rapat Ranting ditutup.
6. Wewenang Majelis Ketua di dalam Rapat Ranting adalah:
a. Memanggil Peserta untuk menghadiri sidang-sidang, membuka dan menskors Sidang-sidang Pleno.
b. Memimpin Sidang-sidang Pleno selama Rapat Ranting berlangsung.
c. Menjaga kelancaran dan ketertiban dalam Sidang-sidang selama Rapat Ranting berlangsung.
d. Berusaha mempertemukan pendapat-pendapat yang berbeda, menyimpulkan pembicaraan dan
mendudukan persoalan yang sebenarnya serta mengembalikan jalannya Sidang pada pokok
pembicaraan.
e. Majelis Ketua memimpin sidang dalam Rapat Ranting sampai pada penetapan hasil kerja formatur, dan
sesudah itu menyerahkan palu sidang kepada Ketua dan Sekretaris Ranting terpilih untuk menutup
sidang-sidang pleno dalam Rapat Ranting.
Pasal 8
1. Rapat Ranting membentuk Komisi-komis kerja sesuai dengan kebutuhan.
2. Komisi-komisi kerja di dalam Rapat Ranting, dapat membentuk Sub Komisi menurut kebutuhan.
3. Komisi-komisi kerja Rapat Ranting bertugas memusyawarahkan dan mengambil keputusan mengenai hal-
hal yang menjadi agenda Komisi dalam ruang lingkup tugasnya.
4. Jumlah anggota Komisi sedapat mungkin disusun dan ditetapkan secara berimbang oleh Majelis Ketua.
5. Majelis Ketua diwajibkan untuk menghadiri Sidang-sidang Komisi sebagai Peserta Biasa.
6. Pimpinan Komisi di dalam Rapat Ranting terdiri dari : seorang Ketua, seorang wakil ketua dan seorang
Sekretaris yang di tunjuk oleh Majelis Ketua
BAB VI
TATA CARA PEMILIHAN PENGURUS RANTING AMGPM
Pasal 9
1. Setiap Peserta Biasa (yang memiliki Hak Suara) mengajukan satu bakal calon Ketua Ranting dan satu bakal
calon Sekretaris Ranting pada satu kertas suara yang telah disediakan oleh Majelis Ketua.
2. Kertas Suara sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 (satu) diatas, memuat nama satu orang bakal calon
ketua ranting dan satu orang bakal calon sekretaris ranting.
3. Proses perhitungan suara dilaksanakan secara bersama-sama dan di catat pada papan perhitungan suara
yang berbeda (satu papan untuk Bakal Calon Ketua dan satu papan untuk bakal calon sekretaris)
4. Bakal Calon Ketua ranting dan Sekretaris ranting yang memiliki suara terbanyak ditetapkan sebagai calon
untuk selanjutnya diuji dan dipilih dalam Rapat Ranting.
5. Untuk melengkapi keseluruhan struktur Pengurus ranting maka dibentuk tim Formatur yang ditunjuk
secara bijaksana oleh Majelis Ketua dengan persetujuan peserta Rapat Ranting
6. Seluruh fungsionaris yang akan ditunjuk / dipilih oleh formatur untuk melengkapi struktur Pengurus
Ranting adalah mereka yang mengikuti Rapat Ranting (Peserta biasa maupun Peserta Luar Biasa)
7. Selanjutnya Kriteria, Prosedur Pencalonan dan Pemilihan Pengurus Cabang AMGPM diatur tersendiri
dalam komisi kerja konferda sesuai ketentuan dalam AD/ART dan PO AMGPM
BAB. VII
TATA CARA BERBICARA
Pasal 10
1. Setiap Peserta Rapat Ranting mempunyai Hak berbicara selama 3 (tiga) menit dengan pokok pembicaraan
yang jelas (kecuali untuk ceramah dan Penelaan Alkitab diatur oleh moderator).
2. Sebelum babak pembicaraan dimulai, diadakan pendaftaran oleh Majelis Ketua.
3. Pembicaraan di dalam setiap Sidang Pleno hanya dibuka 2 (dua) babak.
4. Hanya Pembicara pada babak pertama yang berhak berbicara pada babak kedua dengan pokok
pembicaraan yang sama.
5. Setiap pembicara yang hendak berbicara diwajibkan untuk berdiri.
Pasal 11
1. Peserta dapat mengajukan interupsi untuk meminta atau memberi penjelasan tentang duduk persoalan
yang sebenarnya dari masalah yang sementara dibicarakan.
2. Interupsi hanya dapat dilakukan setelah diizinkan oleh Majelis Ketua.
3. Majelis Ketua berhak menghentikan interupsi apabila persoalannya sudah jelas atau sudah menyinggung
pribadi orang lain.
BAB VII
QORUM DAN TATA CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pasal 12
1. Sidang-sidang Pleno dinyatakan sah (qorum), apabila dihadiri oleh lebih dari seperdua jumlah Peserta
Rapat Ranting.
2. Pengambilan Keputusan dalam Rapat Ranting dianggap sah apabila disetujui oleh lebih dari ½ (satu
perdua) peserta biasa yang hadir
Pasal 13
1. Pengambilan keputusan pada dasarnya diusahakan sejauh mungkin atas dasar musyawarah untuk mufakat
dan apabila dalam pengambilan keputrusan tidak tercapai mufakat, maka keputusan diambil berdasarkan
pemungutan suara terbanyak.
2. Pengambilan keputusan menyangkut orang dilakukan secara tertutup, sedangkan pengambilan keputusan
menyangkut kebijakan dapat dilakukan secara terbuka.
Pasal 14
1. Tata Tertib ini merupakan Tata Tertib baku yang dipergunakan untuk pelaksanan Rapat Ranting AMGPM
2. Tata Tertib ini dapat dirobah dan disempurnakan hanya oleh Lembaga Legislatif (Musyawarah Pimpinan
Paripurna)
3. Segala sesuatu mengenai hal-hal teknis dalam Rapat Ranting yang belum ditur di dalam Tata Tertib ini akan
di tetapkan kemudian oleh Rapat Ranting sepanjang tidak bertentangan dengan AD/ART, PO dan TATIB
Rapat Ranting AMGPM ini.
Pasal 15
1. Dengan dikeluarkan Tata Tertib ini maka semua keputusan yang terkait dengan Tata Tertib Rapat Ranting
yang selama ini dipergunakan dinyatakan tidak berlaku.
2. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
PENGURUS BESAR
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
1. Rapat Ranting Istimewa Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku adalah pemegang kekuasaan tertinggi
setingkat dengan Rapat Ranting sesuai ART Bab VI Pasal 13 ayat 6, yuncto Pasal 10 ayat 2 dan 4 Peraturan
Organisasi AMGPM; yang selanjutnya dalam tata tertib ini disebut Rapat Ranting Istimewa.
2. Di dalam melaksanakan seluruh aktivitasnya, Rapat Ranting Istimewa tetap berada di bawah terang
Pengakuan tentang Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat seperti yang disaksikan oleh Firman
Allah di dalam Alkitab dan berazaskan Pancasila, Tata Gereja, Gereja Protestan Maluku, Anggaran Dasar
dan Anggaran Rumah Tangga AMGPM serta Peraturan Organisasi AMGPM.
3. Kedaulatan sepenuhnya berada di tangan perutusan dan dilaksanakan oleh Rapat Ranting Istimewa.
4. Penyelenggaraan Rapat Ranting Istimewa sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pengurus Ranting dan
atau berdasarkan pada ketentuan Pasal 14 Peraturan Organisasi AMGPM.
BAB II
TUGAS DAN WEWENANG
Pasal 2
Kewenangan atau tugas Rapat Ranting Istimewa adalah :
1. Mendengar Laporan pertanggungjawaban Pengurus Ranting dan atau pejabat sementara /Care Taker
Pengurus Ranting
2. Memilih dan menetapkan Pengurus Ranting Antar Waktu
3. Menetapkan Keputusan-keputusan lainnya.
BAB III
PESERTA
Pasal 3
Peserta Rapat Ranting Istimewa, terdiri dari:
1. Pengurus Biasa :
a. Pengurus Ranting non aktif
b. Utusan Ranting dari anggota yang terdaftar
c. Ketua Majelis Jemaat dan Majelis Sektor
2. Peserta Luar Biasa yang terdiri dari :
a. Pengurus Cabang
b. Peninjau lainnya yang ditetapkan oleh Pejabat sementara/Care Taker Pengurus Ranting
c. Undangan lainnya yang dianggap perlu oleh Penjabat sementara/care taker Pengurus Ranting
BAB IV
HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA
Pasal 4
1. Hak Peserta:
a. Peserta Biasa mempunyai Hak Suara dan Hak Bicara
b. Pengurus Besar mempunyai hak bicara baik diminta maupun tidak diminta.
c. Peserta luar biasa mempunyai Hak Bicara.
2. Kewajiban Peserta:
a. Peserta Biasa maupun Peserta Luar Biasa, wajib mentaati ketentuan yang diatur di dalam Tata Tertib
ini dan hal-hal lain yang diatur oleh Panitia Pelaksana.
b. Peserta Biasa dan Peserta Luar Biasa berkewajiban menghadiri Sidang-sidang Pleno dan Sidang-sidang
Komisi.
BAB V
ALAT-ALAT KELENGKAPAN PERSIDANGAN
Pasal 5
Rapat Ranting Istimewa mempunyai Alat-Alat Kelengkapan Persidangan yang disusun menurut pengelompokan
kegiatan sebagai berikut :
1. Pimpinan Rapat Ranting Istimewa.
2. Majelis Ketua.
3. Sidang-sidang Pleno/ Paripurna.
4. Sidang-sidang Komisi.
Pasal 6
Pimpinan Rapat Ranting Istimewa adalah Penjabat sementara/Care Taker Pengurus Ranting AMGPM
Pasal 7
1. Majelis Ketua terdiri dari 5 orang, yaitu 2 orang dari penjabat sementara/care taker Pengurus Ranting dan
peserta biasa 3 orang yang ditetapkan dengan keputusan Rapat Ranting Istimewa.
2. Majelis Ketua bertugas memimpin sidang-sidang di dalam Rapat Ranting Istimewa
3. Wewenang Majelis Ketua di dalam Rapat Ranting Istimewa adalah:
a. Memanggil peserta untuk menghadiri sidang-sidang, membuka dan menskors Sidang-sidang Pleno.
b. Memimpin Sidang-sidang Pleno selama Rapat Ranting Istimewa berlangsung.
c. Menjaga kelancaran dan ketertiban dalam Sidang-sidang selama rapat Ranting Istimewa berlangsung.
d. Berusaha mempertemukan pendapat-pendapat yang berbeda, menyimpulkan pembicaraan dan
mendudukan persoalan yang sebenarnya serta mengembalikan jalannya sidang pada pokok
pembicaraan.
Pasal 8
1. Rapat Ranting Istimewa membentuk komisi-komis kerja sesuai dengan kebutuhan.
2. Komisi-komisi kerja di dalam Rapat Ranting Istimewa dapat membentuk sub komisi menurut kebutuhan.
3. Komisi-komisi bertugas memusyawarahkan dan mengambil keputusan mengenai hal-hal yang menjadi
agenda komisi dalam ruang lingkup tugas dan tanggungjawabnya.
4. Jumlah anggota komisi sedapat mungkin disusun dan ditetapkan secara berimbang oleh Majelis Ketua.
5. Majelis Ketua dapat turut menghadiri sidang-sidang komisi sebagai peserta biasa.
6. Pimpinan komisi terdiri dari: seorang Ketua, seorang Sekretaris yang dipilih oleh komisi secara
musyawarah-mufakat
BAB VI
TATA CARA BERBICARA
Pasal 9
1. Setiap Peserta mempunyai hak berbicara selama 3 menit dengan pokok pembicaraan yang jelas
2. Sebelum babak pembicaraan dimulai, Majelis Ketua berkewajiban melakukan inventarisasi jumlah
pembicara.
3. Pembicaraan di dalam setiap sidang pleno hanya dibuka 2 babak, kecuali terhadap hal-hal yang bersifat
prinsip dapat dibuka babak khusus dan harus mendapat persetujuan sidang; dan hanya pembicara pada
babak pertama yang berhak berbicara pada babak kedua dengan pokok pembicaraan yang sama.
Pasal 10
1. Peserta dapat mengajukan interupsi untuk meminta atau memberi penjelasan tentang duduk
persoalan yang sebenarnya dari masalah yang sementara dibicarakan.
2. Interupsi hanya dapat dilakukan setelah diizinkan oleh Majelis Ketua.
3. Majelis Ketua berhak menghentikan interupsi apabila persoalannya sudah jelas atau sudah
menyinggung pribadi orang lain.
BAB VII
QORUM DAN TATA CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pasal 11
Sidang-sidang dinyatakan sah, apabila dihadiri oleh lebih dari seperdua jumlah peserta biasa
Pasal 12
1. Pengambilan keputusan pada dasarnya diusahakan atas dasar musyawarah untuk mufakat
2. Apabila musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, maka keputusan diambil berdasarkan pemungutan
suara terbanyak.
Pasal 13
Hal-hal yang belum diatur dalam tata tertib ini akan diputuskan oleh Rapat Ranting Istimewa
Pasal 14
Keputusan ini mulai berlaku sejak ditetapkan.
PENGURUS BESAR
BAB I
DASAR DAN SUSUNAN RAPAT KERJA RANTING
Pasal 1
1. Rapat Kerja Ranting (RKR) Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku dilaksanakan berdasarkan :
a. Anggaran Dasar AMGPM Bab IX Pasal 14 ayat 2 h
b. Anggaran Rumah Tangga AMGPM Bab IV Pasal 16
2. Susunan Rapat Kerja Ranting (RKR) terdiri dari :
a. Sidang-sidang paripurna
b. Sidang-sidang komisi
3. Dengan dasar sebagaimana diatas, maka disusunlah Tata Tertib Rapat Kerja Ranting (RKR) Angkatan Muda
Gereja Protestan Maluku
BAB II
PESERTA, HAK DAN KEWAJIBAN
Pasal 2
1. Rapat Kerja Ranting (RKR) dihadiri oleh peserta biasa yang terdiri dari :
a. Pengurus Ranting
b. Sejumlah anggota biasa yang ditentukan oleh Pengurus Ranting sebagai representasi dari anggota
Ranting.
c. Ketua Majelis Jemaat atau unsur Majelis Jemaat Sektor
2. Selain peserta biasa sebagaimana tersebut pada ayat (1) pasal ini Rapat Kerja Ranting (RKR) juga dihadiri
oleh peserta luar biasa yang terdiri dari :
a. Unsur Pengurus Cabang
b. Undangan lain yang ditetapkan Pengurus Ranting
Pasal 3
Hak Peserta Musyawarah adalah :
1. Peserta biasa Rapat Kerja Ranting (RKR) Angkatan Muda GPM mempunyai hak suara dan hak bicara (ART
AMGPM Bab IV Pasal 16 ayat 6)
2. Peserta luar biasa hanya mempunyai hak bicara
3. Peserta yang hendak berbicara diharuskan mendaftarkan diri, dan ketika berbicara diwajibkan berdiri serta
berbicara dengan singkat, tegas dan jelas pada maksud dan tujuan pembicaraan
4. Setiap pembicara hanya diberikan kesempatan menggunakan hak bicaranya selama 3 menit setelah
dipersilahkan oleh pimpinan rapat ranting.
5. Pemandangan umum atau tanggapan terhadap setiap masalah yang disampaikan hanya disediakan dua
babak.
6. Hanya pembicara pada babak pertama yang dapat berbicara pada babak kedua dengan pokok
pembicaraan yang sama.
7. Bila suatu masalah tidak dapat disepakati pada babak pertama dan babak kedua maka dapat dibuka babak
terakhir untuk membahas masalah tersebut, atas persetujuan peserta biasa.
8. Hak Interupsi dapat dimanfaatkan untuk hal – hal tertentu antara lain :
a. Point Of Clarification ( Menjernihkan pokok masalah yg sedang dibicarakan )
b. Point Of Order ( Usul atau saran untuk meletakkan permasalahan sesuai aturan )
c. Point Of Self Previlege ( Menyinggung perasaan orang lain )
d. Point Of Information ( Menyampaikan Informasi )
Pasal 4
Setiap peserta Rapat Kerja Ranting (RKR) mempunyai kewajiban adalah :
a. Mentaati tata tertib ini dan semua ketentuan yang ditetapkan oleh Rapat Kerja Ranting (RKR)
b. Mengikuti seluruh acara rapat kerja dengan penuh rasa tanggungjawab
c. Menghadiri sidang-sidang 15 (lima belas) menit sebelum sidang dimulai dan mengambil bagian dalam
semua kegiatan/acara selama berlangsungnya Rapat Kerja Ranting (RKR)
d. Menandatangani daftar hadir setiap kali menghadiri sidang.
e. Meminta izin secara tertulis dari pimpinan musyawarah jika ingin meninggalkan ruang sidang karena suatu
kepentingan.
f. Menghormati dan menghargai setiap pembicara yang sedang menggunakan hak bicaranya.
g. Memelihara dan menjamin ketertiban selama berlangsungnya sidang-sidang dalam Rapat Kerja Ranting
(RKR)
BAB III
TUGAS RAPAT KERJA RANTING (RKR)
Pasal 5
Rapat Kerja Ranting (RKR) mempunyai tugas :
a. Mengevaluasi program pelayanan dan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Pengurus Ranting pada
tahun berjalan, serta kebijakan lain yang ditetapkan Rapat Kerja Ranting (RKR) sebelumnya.
b. Menetapkan program pelayanan dan APB tahun berikutnya serta berbagai kebijakan organisasi.
c. Menetapkan keputusan-keputusan organisasi lainnya
BAB IV
PIMPINAN RAPAT KERJA RANTING
Pasal 6
1. Rapat Kerja Ranting (RKR) dipimpin oleh Pengurus Ranting
2. Sekretaris Ranting Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku berfungsi sebagai sekretaris rapat / sekretaris
persidangan.
3. Sidang-sidang Paripurna dipimpin oleh Pengurus Ranting AMGPM
4. Sidang – sidang Komisi dipimpin oleh seorang ketua, seorang wakil ketua dan seorang sekr etaris komisi
yang di tunjuk oleh pimpinan rapat kerja.
5. Pengurus Ranting AMGPM wajib menghadiri sidang-sidang komisi sebagai nara sumber sesuai dengan
bidang tugasnya.
BAB. V
TUGAS DAN WEWENANG PIMPINAN RAPAT KERJA RANTING
Pasal 7
1. Mengundang dan memanggil peserta musyawarah untuk memulai sidang-sidang
2. Mengatur urut-urutan pembicara dan menyimpulkan isi pembicaraan dalam sidang-sidang pleno
3. Mengarahkan pembicaraan peserta sedemikian rupa sehingga tiba pada pengambilan keputusan.
4. Menegur dan bila perlu mencabut hak bicara dari seorang pembicara apabila pembicaraannya telah
menyimpang dari pokok yang dibicarakan dan atau menyinggung nama baik orang lain.
5. Membuka, menskors, mencabut kembali skors dan menutup Sidang – sidang Paripurna.
6. Pimpinan Musyawarah bertanggung jawab terhadap kelancaran, ketertiban dan keamanan
penyelenggaraan Rapat Kerja Ranting (RKR) AMGPM.
BAB VI
USUL – USUL TAMBAHAN
Pasal 8
Apabila ada suatu masalah baru di luar acara musyawarah diajukan oleh salah satu peserta maka masalah
tersebut baru dapat dibahas apabila didukung oleh sekurang-kurangnya seperdua tambah satu peserta biasa
yang hadir.
BAB VII
QORUM DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pasal 9
1. Sidang-sidang Pleno dinyatakan sah, apabila dihadiri oleh lebih dari seperdua jumlah Peserta Rapat Kerja
Ranting (RKR)
2. Pengambilan Keputusan dalam Rapat Kerja Ranting (RKR) dianggap sah apabila disetujui oleh lebih dari ½
(satu perdua) peserta biasa yang hadir.
Pasal 10
1. Pengambilan keputusan pada dasarnya diusahakan sejauh mungkin atas dasar musyawarah untuk mufakat
dan apabila dalam pengambilan keputusan tidak tercapai mufakat, maka keputusan diambil berdasarkan
pemungutan suara terbanyak (voting).
2. Pengambilan keputusan menyangkut orang dilakukan secara tertutup, sedangkan pengambilan keputusan
menyangkut kebijakan dapat dilakukan secara terbuka.
BAB VIII
LAIN – LAIN
Pasal 11
1. Hal – hal lain yang belum diatur dalam ketentuan Tata Tertib ini, akan diatur kemudian oleh Pimpinan
Rapat sepanjang dirasa perlu dengan mendengar usul dan atau meminta persetujuan peserta Rapat Kerja
Ranting (RKR).
2. Tata Tertib ini merupakan tata tertib baku, dan digunakan untuk pelaksanaan Rapat Kerja Ranting (RKR)
kecuali Musyawarah Pimpinan Paripurna (MPP) AMGPM menentukan yang lain.
3. Dengan ditetapkannya Tata tertib ini, maka segala keputusan mengenai Tata Tertib Rapat Kerja Ranting
(RKR) dinyatakan tidak berlaku lagi
4. Tata tertib ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan
PENGURUS BESAR