Anda di halaman 1dari 27

Bab 1

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan berkembangnya teknologi komputerasi saat ini, yang memasuki segala sendi kehidupan manusia baik itu digunakan dalam dunia pendidikan, bisnis, organisasi bahkan pribadi. Seperti diketahui saat ini umumnya masyarakat menggunakan komputer sebagai alat bantu dalam menyelesaikan setiap permasalahan agar lebih cepat diselesaikan, demikian juga dengan teknologi jaringan komputer dimana digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk berkomunikasi dan bertukar informasi. Kemudahan dalam memiliki akses internet saat ini ditawarkan berbagai perusahaan / lembaga penyedia layanan akses internet atau lebih dikenal sebagai ISP (Internet Service Provider). Berbagai sistem layanan yang diberikan ISP (Internet Sevice Provider) saat ini banyak lebih dititikberatkan pada sistem pembayaran pelanggan baik prabayar maupun pasca bayar serta adanya sistem pembatasan quota/ besar data yang dapat digunakan oleh pelanggan ISP (Internet Service Provider) itu sendiri. Warung Internet atau biasa disingkat warnet adalah salah satu bentuk usaha yang dikelola oleh kelompok atau individu yang memberikan pelayanan dalam bentuk jasa internet oleh penggunanya. Biasanya pengguna dikenakan biaya per jam atau lebih, sesuai lama penggunaannya. Saat ini warnet (Warung Internet) sudah mulai sepi dikunjungi oleh para pengakses internet. Hal itu disebabkan karena saat ini banyak kemudahan dan penggunaan sistem yang berjalan pada Internet Service Provider sehingga para pengguna yang biasa melakukan akses internet di warnet mulai beralih ke penyedia akses internet dengan sistem qouta maupun time based yang diterapkan pada Internet Service provider pada saat ini. Dari uraian latar belakang tersebut, maka muncullah sebuah keinginan untuk menerapkan dan meneliti bagaimana perancangan dan penerapan menerapkan sistem yang sudah ada yaitu dengan menggunakan sistem member dengan pembatasan akses berdasarkan time based access atau quota based access untuk para pengguna internet di warnet dan monitoring quota maupun time based access dari tiap member.

1.2 Rumusan Masalah Melihat latar belakang permasalahan, maka yang menjadi topik permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana cara merancang dan membuat sebuah sistem member berdasarkan quota

based maupun time based yang selama ini belum ada pada warnet fiandriNet Salatiga.
2. Bagaimana penerapan fitur gateway hotspot mikrotik dapat menjadi alternatif

di

warnet fiandriNet Salatiga yang selama ini menggunakan sistem Billing warnet biasa tanpa menggunakan sistem user access time based dan quota based. 3. Bagaimana menggunakan piranti jaringan dipergunakan secara maksimal untuk dapat memenuhi kebutuhan suatu instansi / lembaga yang menggunakan akses internet sebagai media informasi. 1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan skripsi ini bertujuan :
1. Menerapkan sistem member akses internet berdasarkan quota based atau time based. 2. Merancang dan membuat sistem member dengan berdasarkan quota atau time based

serta monitoring member pada warnet fiandriNet.


3. Membuat sebuah web berbasis PHP untuk mengetahui berapa besar quota maupun

time yang telah dipakai member. Penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
1. Dengan diterapkannya sistem member berdasarkan akses internet time based maupun

quota based dalam sistem jaringan warnet fiandriNet Salatiga ini diharapkan dapat mengetahui fungsi-fungsi apa saja yang disediakan dan belum disediakan oleh sistem yang ada saat ini .
2. Mengetahui kelebihan dari penggunaan sistem member berdasarkan quota based

maupun time based access pada warnet fiandriNet.


3. Mengetahui bagaimana proses perancangan dan pembuatan sistem member

berdasarkan quota maupun time based access pada warnet fiandriNet.

1.4 Batasan Masalah Untuk tidak memperluas area pembahasan, perlu adanya batasan-batasan untuk menyederhanakan permasalahan, yaitu:
1.

Jaringan dibangun dengan menggunakan Mikrotik RouterOSTM level 4, karena

pada level ini cukup mampu menangani 200 member aktif secara bersamaan dan menangani member pada warnet fiandriNet Salatiga.
2.

Bagaimana sistem jaringan yang akan dibuat hanya merupakan penerapan Dalam penerapan Ethernet Hotspot ini, pokok bahasan mengacu pada sistem
-

dalam sistem jaringan warnet fiandriNet Salatiga. 3. jaringan yang meliputi: Sistem jaringan local warnet fiandriNet Salatiga.
-

Sistem autentikasi RADIUS yang digunakan

untuk autentikasi client hanya menggunakan fitur User Manager yang disediakan Mikrotik RouterOSTM dalam penerapannya berdasarkan time based atau quota based.
-

Kekurangan

dan

kelebihan

setelah

diterapkannya sistem autentikasi RADIUS dalam warnet fiandriNet Salatiga


4.

Titik berat penelitian adalah penggunaan sistem akses berdasarkan quota

based atau time based untuk client warnet menggunakan Mikrotik RouterOSTM beserta dashboard untuk menunjukkan seberapa besar quota maupun time yang telah dipakai oleh seorang member. 5.
6. 7.

Tidak membahas tentang sistem jaringan luar / internet yang digunakan. Tidak membahas sistem enkripsi password dalam RADIUS. Data/ sistem jaringan yang digunakan merupakan data asli yang didapat dari

hasil penelitian di warnet fiandriNet Salatiga.

1.5 Sistematika Penulisan

Untuk dapat memudahkan memahami isi dari laporan skripsi ini, maka disusun sistematika penulisan yang berisi tentang gambaran dari masing-masing bab yang ada pada laporan skripsi. Laporan skripsi ini terdiri dari lima bab yaitu sebagai berikut: Bab 1 : Pendahuluan Berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, dan sistematika penulisan. Bab 2 : Tinjauan Pustaka

Berisi tentang penelitian yang dilakukan sebelumnya digunakan sebagai landasan teori serta memuat pengertian dan konsep dasar tentang Firewall, Mikrotik Router OSTM, Billing, RADIUS (Remote Autehentication Dial In User Service), API (Application Programming Interface). Bab 3 : Metode dan Perancangan menggunakan metode perancangan PPDIOO Berisi tentang gambaran umum mengenai sistem , spesifikasi sistem yang dibangun dan pemodelannya dengan (Prepare, Plan, Design, Implementation, Operation, Optimize). Selain itu juga memuat tentang analisa kebutuhan perangkat keras dan lunak yang dibutuhkan dalam membangun sebuah sistem. Bab 4 : Hasil dan Pembahasan Berisi tentang perancangan dan pembahasan dari bab 3. Hasil yang dibahas adalah hasil pembuatan dan penerapan sistem member berdasarkan qouta based maupun time based. Bab 5 : Kesimpulan dan Saran Pengembangan Berisi tentang kesimpulan dan saran-saran dari penulis untuk pengembangan dimasa mendatang.

Bab 2
Tinjauan Pustaka
2.1 Penelitian Terdahulu Pada penelitian yaitu pada jurnal Perancangan Aplikasi Sistem Billing untuk Warnet Prabayar didapatkan bahwa dengan menggunakan sistem pembayaran yang dilakukan sebelum member mengakses internet, member dapat memilih besarnya tagihan atau quota yang ada sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu besarnya pembayaran dicatat oleh database server sehingga saat client mengakses quota akan berkurang dan saat qouta habis maka akan menghentikan akses internet secara otomatis. Pelanggan dapat melanjutkan akses internet dilain waktu selama quota yang digunakan belum habis. (Dwi Agus Diartono, 2007). Pada artikel yaitu Proses Analisis Pada Pengembangan Sistem Aplikasi IBCS (Integrated Billiing and Customer Service) (Studi Kasus : PT Indosat Mega Media) menyebutkan bahwa sistem aplikasi IBCS ini adalah sebuah sistem aplikasi yang berbasis web yang berfungsi sebagai billing dan secara otomatis mencatat kapan dan besar data yang telah digunakan user saat menggunakan akses internet. (Irmawati, 2002). Saat ini warnet FIandriNet Salatiga menggunakan aplikasi Billing Express versi 4.3. Perbedaan dalam hal perancangan sistem billing yang akan dibuat oleh penulis dengan perancangan sistem billing menggunakan fitur yang disediakan oleh Mikrotik Router OSTM dan lebih dititik beratkan pada penerapan sistem member berdasarkan quota based maupun time based serta sistem billing ini dapat berjalan pada sistem operasi apapun karena dijalankan pada sistem login client menggunakan web browser.

2.2 Landasan Teori 2.2.1 Local Area Network LAN (Local Area Network) adalah dua buah komputer atau lebih yang dihubungkan satu dengan yang lainnya menggunakan perantara media antara lain kabel jaringan, komunikasi wireless, dan lainnya.(Rahmat Rafiudin, 2003) LAN tidak hanya menghubungkan antar komputer saja dalam satu jaringan, tetapi dapat juga terhubung dengan sekumpulan piranti komunikasi jaringan yang lain seperti komputer client/server, hub, bridge, printer dan piranti yang lain yang dapat digunakan melalui jaringan komputer. LAN memungkinkan seorang pengguna teknologi komputer melakukan share atas item-item dan resource-resource yang ada pada pengguna teknologi komputer yang lain seperti: share file, printer, website internal, service yang terdapat dalam jaringan. LAN didesain untuk memenuhi kebutuhan jaringan dalam sebuah grup misalnya perkantoran, sekolah dan bahkan dirumah. LAN didesain untuk kebutuhan dan kondisi sebagai berikut:

Berjalan dan diterapkan pada skala geografis terbatas. Memberikan akses kepada user dengan kecepatan bandwith yang tinggi. Memberikan akses full time untuk service-service yang berada dalam jaringan lokal.

Konektifitas antar device jaringan yang berdekatan. Menggunakan sistem kontrol jaringan secara privat dalam satu kendali administrasi lokal.

Manajemen kontrol umumnya dikendalikan oleh seorang operator jaringan/ network administrator.

2.2.2 Manajemen User Account User atau pengguna adalah orang yang berhak mengakses suatu layanan pada jaringan. Hak akses dari seorang user ada berbagai macam tingkatannya. Ada akses yang tidak terbatas, terbatas dan bahkan sampai tidak diberi akses sedikitpun.

Ada beberapa tipe dalam manajemen user account yaitu:


1. Unlimited Account adalah sebuah account user yang tidak terbatas yang

dimiliki seorang user. Dengan account yang dimiliki user tersebut dapat melakukan perubahan konfigurasi pada komputer yang digunakan. Biasanya dalam istilah sehari-hari disebut sebagai administrator.
2. Limited Account adalah sebuah account user yang terbatas dan secara

umum dimiliki anggota dalam suatu jaringan. User dengan account ini memiliki layanan dalam jaringan akan tetapi tidak memiliki hak untuk melakukan konfigurasi ataupun perubahan dalam hal setting maupun perubahan data user yang lain.
3. Restricted Account adalah account user yang tidak diperbolehkan atau yang

tidak memiliki hak akses sama sekali sehingga bisa disebut bahwa user tidak memiliki account untuk akses. 2.2.3 Firewall Firewall merupakan suatu cara/sistem/mekanisme yang diterapkan baik terhadap hardware, software maupun sistem itu sendiri dengan tujuan untuk melindungi, baik dengan menyaring, membatasi, atau bahkan menolak suatu atau semua hubungan atau kegiatan semua segmen pada jaringan pribadi dengan jaringan luar yang bukan merupakan ruang lingkupnya.(Janner Simarmata, 2006) Segmen tersebut dapat merupakan sebuah workstation, server, router, atau local area network (LAN). Firewall adalah suatu cara untuk membatasi informasi yang masuk dan keluar dari jaringan local. Pada umumnya host firewall terhubung ke internet dan LAN lokal, dan akses LAN ke internet hanya dapat melalui firewall. Dengan demikian firewall dapat mengendalikan apa yang diterima dan dikirim dari internet dan LAN lokal.

Firewall secara umum diperuntukkan guna melayani: 1. Mesin/ komputer Setiap individu yang terhubung langsung kejaringan luar atau internet dan menginginkan semua yang terdapat pada komputernya terlindungi.

2. Jaringan Firewall berguna pada jaringan computer dengan berbagai jenis topologi, baik milik perusahaan, organisasi, atau yang lain.

Firewall memiliki beberapa karakteristik:


1. Seluruh hubungan dari dalam keluar harus melewati firewall. Hal ini dapat

dilakukan dengan membatasi semua akses jaringan lokal kecuali melewati firewall terlebih dahulu. 2. Hanya sebuah kegiatan yang terdaftar/ dikenal yang dapat melakukan hubungan.
3. Firewall sendiri harus kebal terhadap serangan yang terjadi apabila ada

upaya merusak firewall yang tgelah ditentukan. Firewall memiliki beberapa teknik:
1. Service control (kendali terhadap layanan): Firewall ini digunakan dengan

cara mengecek alamat IP address dan nomor port yang digunakan, baik pada protokol TCP dan UDP.
2. Direction Control (kendali terhadap arah): Firewall akan berjalan

berdasarkan arah dari berbagai permintaan (request) terhadap layanan yang akan dikenali dan diijinkan melewati firewall.
3. User Control (kendali terhadap pengguna): Firewall akan berjalan saat

dimana user diijinkan/ tidak menjalankan suatu service. Biasanya digunakan untuk membatasi akses user dari jaringan lokal untuk mengakses keluar demikian pula sebaliknya.
4. Behavior Control (kendali terhadap perlakuan): Firewall berdasarkan

seberapa banyak layanan itu telah digunakan. Misalnya: sistem pengecekan dan menyaring email yang berbentuk spam. Dalam membangun sebuah jaringan diperlukan langkah-langkah yang tepat untuk membangun firewall. Langkah-langkah tersebut antara lain :

1. Mengidentifikasi bentuk jaringan yang dimiliki, dengan mengetahui bentuk

jaringan yang dimiliki, khususnya topologi yang akan digunakan dan protokol jaringannya akan memudahkan mendesain sebuah firewall.
2. Menentukan kebijakan merupakan hal yang harus dilakukan pada saat

sebuah firewall akan diterapkan yang meliputi: Menentukan apa saja yang perlu dilayani. Menentukan individu atau kelompok mana yang akan dikenai kebijakan tersebut. Menentukan layanan yang dibutuhkan oleh setiap individu atau kelompok yang menggunakan jaringan.

Berdasarkan penentuan layanan tersebut akan ditentukan bagaimana konfigurasi terbaik yang akan membuat firewall tersebut aman.

Menerapkan semua kebijakan tersebut.

3. Menyiapkan software maupun hardware yang akan mendukung seperti ip

chains, iptables dan sebagainya.


4. Melakukan tes konfigurasi diamana pengujian terhadap firewall yang telah

dibuat untuk mengetahui bagaimana hasil yang diperoleh setelah dibuatnya firewall tersebut. Ada empat jenis firewall antara lain:
1. Packet Filtering: Firewall jenis ini menyaring paket data berdasarkan

alamat dan opsi-opsi yang sudah ditentukan untuk paket tersebut dan bekerja dalam level IP paket data dan membuat keputusan mengenai tindakan selanjutnya (diteruskan atau tidak diteruskan) berdasarkan kondisi dari paket tersebut.
2. Circuit Gateways: Firewall jenis ini bekerja pada layer transport pada

jaringan, dimana koneksi diautorisasi berdasarkan alamat. Seperti halnya Packet Filtering, Circuit Gateways biasanya tidak dapat memonitor trafik

data yang mengalir antara satu jaringan dengan jaringan yang lain, tetapi ia mencegah koneksi langsung antar jaringan.
3. Application Gateways: Firewall tipe ini juga disebut sebagai firewall

berbasis proxy. Beroperasi pada level aplikasi dan dapat mempelajari informasi pada level data aplikasi seperti perintah FTP atau URL yang diakses lewat HTTP.
4. Hybrid Firewall: Firewall jenis ini menggunakan elemen-elemen dari satu

atau lebih tipe firewall. Sistem hybrid ini seringkali digunakan untuk menambahkan layanan baru secara cepat pada sistem firewall yang sudah tersedia. Sebuah firewall berfungsi mencegat dan mengontrol trafik antar jaringan dengan tingkat kepercayaan (level of trust) yang berbeda-beda. Dalam definisi Chesswick dan Bellovin, ia menyediakan sebuah jejak yang dapat ditelusuri. Firewall merupakan tempat yang cocok untuk mendukung autentikasi pengguna yang kuat sebaik komunikasi privat antara dua firewall. Firewall juga merupakan tempat yang tepat untuk memfokuskan keputusan tentang keamanan dan untuk menjalankan aturan keamanan. Firewall dapat mencatat aktifitas internetwork dan membatasi wilayah cakupan dari sebuah organisasi (Chapman & Zuichi, 1995).

2.2.2 Sistem Billing Sistem billing merupakan sistem billing yang membantu para usahawan untuk mengatur dan mencatat segala transaksi yang terjadi. Sebagai contoh seorang pemilik warnet akan menggunakan sistem billing untuk mengetahui aktifitas seluruh pengguna warnetnya berdasarkan waktu tertentu dan mengetahui berapa besar pemasukan melalui usaha warnet tersebut. Ada juga sistem billing yang menerapkan fasilitas member maupun voucher sebagai alat manajemen client secara spesifik. Pada dasarnya sistem billing merupakan sistem pencatat dan pemonitor transaksi berbentuk software. Dan dalam jaringan komputer warnet sendiri berfungsi sebagai pemonitor dari setiap aktifitas atau sebagai media autentikasi yang dilakukan user/ client saat menggunakan internet.

Adapun kelebihan yang dimiliki sistem billing ini adalah :


o

Memudahkan internet.

pemilik

warnet

untuk memantau segala jenis aktifitas user/client saat menggunakan koneksi


o

Pemakaiannya lebih praktis dan lebih menghemat dari segi pengeluaran, karena dengan menggunakan sistem billing ini setiap warnet hanya perlu memperkerjakan satu orang operator untuk mengontrol segala aktivitas transaksi yang terjadi.

Mudah dalam menggunakannya karena sudah dilengkapi fitur-fitur standard yang dibutuhkan misalnya: manajemen akun user/ client.

2.2.2 RADIUS RADIUS (Remote Authentication Dial In User Service) adalah sebuah protokol dalam jaringan yang memberikan layanan terpusat meliputi Authentication, Authorization, and Accounting (AAA) untuk memanajemen sebuah komputer untuk melakukan koneksi dan memakai jaringan. RADIUS menggunakan 2 tipe yaitu client dan server, serta berjalan pada layer application menggunakan protocol UDP dalam berkomunikasi. Setiap RADIUS client selalu berkomunikasi dengan RADIUS server. Sedangkan RADIUS server memiliki 3 fungsi yaitu :
o Untuk mengautentikasi user atau device sebelum mengakses sebuah

jaringan.
o Untuk mengautorisasikan para pengguna atau perangkat untuk layanan

jaringan tertentu (grouping).


o Untuk mendata akun berapa banyak/ lama dia menggunakan hak aksesnya.

Berdasarkan RFC 2865 RADIUS pada awalnya menggunakan port 1645, karena bertabrakan dengan datametric service maka secara resmi port yang digunakan ialah 1812 untuk RADIUS.
a. Client/ Server Model

Sebuah Network Access Server (NAS) beroperasi pada client dalam RADIUS. Sebuah client bertanggungjawab untuk memberikan informasi yang jelas untuk kemudian diberikan kepada server RADIUS untuk kemudian dikembalikan untuk diberikan akses oleh server RADIUS kepada client. RADIUS server bertanggung jawab untuk menerima koneksi meliputi permintaan client RADIUS , otentikasi pengguna, dan kemudian informasi konfigurasi penting bagi client untuk menyampaikan informasi kepada pengguna akses.
b. Keamanan Jaringan

Komunikasi antara client dan server RADIUS adalah disahkan melalui penggunaan shared secret, yang tidak pernah dikirim melalui jaringan. Selain itu, setiap password pengguna yang dikirim terenkripsi antara client dan server RADIUS, untuk menghilangkan kemungkinan bahwa seseorang mengintip di satu jaringan tidak aman dapat melihat password user/ client. Ketika client dikonfigurasi dengan menggunakan RADIUS, setiap pengguna/ client memberikan informasi autentikasi dari client yang disesuaikan dengan login prompt, di mana pengguna diharapkan untuk memasukkan username dan password.

c. Autentikasi

Server RADIUS dapat mendukung berbagai metode untuk mengautentikasi pengguna. Ketika disediakan dengan nama pengguna dan asli password yang diberikan oleh user, dapat mendukung PPP (Point-to-Point Protocol) (Password Authentication Protocol) atau CHAP (Chalenge Authentication Protocol ), UNIX login, dan mekanisme autentikasi lainnya. 2.2.3 Mikrotik RouterOSTM Mikrotik RouterOSTM adalah sistem operasi yang dirancang khusus untuk network router. Dengan sistem operasi ini, kita dapat membuat router dari komputer rumahan (PC). Mikrotik RouterOSTM inipun dapat melakukan hampir semua fungsi networking dan beberapa fungsi server. Keunggulan Mikrotik RouterOSTM ini antara lain: o Membuat PC yang murah menjadi sebuah router yang handal. PAP Handshake

o Pembaharuan versi secara berkala. o Memiliki banyak fitur.


o Memiliki user interface yang mudah dan konsisten.

o Ada banyak cara untuk mengakses dan mengontrol. o Instalasi cepat dan mudah.
o Memungkinkan upgrade hardware. o Alternatif interface yang dapat digunakan cukup banyak.

a. User Manager pada Mikrotik RouterOSTM

User Manager adalah sebuah package yang berada dalam sebuah sistem operasi mikrotik. User manager berada dalam sebuah server RADIUS dalam sistem operasi mikrotik. User manager ini berfungsi sebagai sarana monitoring dan menyimpan data client maupun hak akses apa saja yang dapat dilakukan dalam melakukan koneksi jaringan.
b. API PHP Class Mikrotik

Aplication Programming Interface pada RouterOS digunakan untuk bagaimana mengkomunikasikan data yang ada pada Mikrotik RouterOSTM untuk dapat dihubungkan dengan MySql untuk menyimpan data maupun digunakan untuk mengakses mikrotik itu sendiri. Cara menggunakan API adalah dengan cara mengimpor package/ class import yang ada.

Bab 3 Metode Dan Perancangan Sistem

3.1 Metode Perancangan Sistem Pada bagian ini menjelaskan tentang bagaimana metode penelitian dalam perancangan sistem. Metode yang dipakai ialah metode PPDIOO. 3.1.1 Pembahasan Metode PPDIOO Metode penelitian yang digunakan pada rancang bangun sistem warnet prabayar berdasarkan quota based dan time based access ini yaitu metode PPDIOO. PPDIOO merupakan metodologi yang dikembangkan oleh Cisco System (Cisco, 2007). Bagan pengembangan dari metode PPDIO dapat dilihat pada gambar 3.1

Gambar 3.1 Metode PPDIOO

Berikut ini merupakan tahapan dalam metode PPDIOO yang menjadi dasar penelitian :

1. Prepare Dalam tahap prepare ini diawali dengan mencari kebutuhan keseluruhan sistem yang akan dibuat yang akan diaplikasikan dalam sistem jaringan. 2. Plan Tahap plan ini yaitu menganalisa hal-hal yang diperlukan dalam pembuatan dan pengembangan untuk mencapai tujuan dibuatnya sebuah sistem jaringan. 3. Design Pada tahap design ini merupakan proses mengubah kebutuhan yang ada dalam tahap plan menjadi rancangan sistem yang diimplementasikan secara nyata. Proses ini akan berfokus pada dua komponen, yaitu: arsitektur jaringan dan spesifikasi hardware atau interface. 4. Implementation Pada tahapan ini merupakan implementasi sistem jaringan yang telah dirancang pada tahap design. 5. Operation Pada tahap operation ini merupakan tahap operasi jika sebuah sistem jaringan yang telah dibuat sesuai dengan tahap design. Deteksi kesalahan, koreksi, dan pemantauan kinerja yang terjadi dalam pelaksanaan sistem jaringan sehari-hari. 6. Optimize Selama melakukan tahapan Operation, apabila ditemukan kesalahan dan error, maka dilakukan perbaikan agar sistem ini bebas dari error, dengan terus melakukam pengujian dan pemeliharaan secara baik. Saat sebuah sistem jaringan yang ada dirasa kurang baik dapat dilakukan dengan melakukan perancangan ulang sebuah sistem jaringan.

3.1.1.1 Fase Prepare dan Plan Pada fase ini, analisis kebutuhan merupakan proses identifikasi dan meneliti permasalahan-permasalahan yang ada, sehingga sistem yang akan dibangun nanti sesuai dengan kriteria kebutuhan yang telah ditetapkan. Rancang bangun sistem warnet prabayar berdasarkan quota based dan time based pada warnet FiandriNet digunakan untuk memenuhi kebutuhan sebagai berikut:

Sistem warnet prabayar ini dapat digunakan sebagai alat untuk mengatur user yang akan mengakses internet berdasar pada quota atau time based access.
1.

Pada sistem ini dapat melakukan pencatatan transaksi atau sebagai log saat user melakukan akses internet di warnet dan memberi informasi user akan status mereka.
2.

Pada sistem warnet prabayar ini user lebih fleksibel dalam mengatur kebutuhan akan akses internetnya sesuai dengan keinginan user itu sendiri.
3.

Berdasarkan kriteria kebutuhan sistem tersebut adalah sebuah layanan yang digunakan untuk memasukkan data user yang memilih komunikasi internetnya berdasarkan quota based atau time based. Sistem warnet prabayar ini diharapkan mampu menghasilkan sebuah implementasi saat koneksi dilakukan user yang memilih berdasarkan quota based atau time based pada saat user mengakses internetnya, serta user dapat mengetahui status besar quota maupun time yang tersisa selama dia melakukan koneksi internet di warnet. Pada tahap prepare dan plan ini, membutuhkan beberapa perangkat keras dan perangkat lunak komputer maupun jaringan untuk membangun sistem warnet prabayar. Kebutuhan perangkat keras tersebut antara lain:
1. PC (Personal Computer). PC ini digunakan pada client warnet FiandriNet

sebanyak 7 unit dengan spesifikasi sebagai berikut: Processor Dual Core 2.0 Ghz RAM 1 GB Hardisk 320 GB VGA On Board 256 MB Monitor 16, Keyboard, Mouse
2. Laptop yang akan digunakan untuk server backup data user dengan

spesifikasi sebagai berikut: Processor Dual Core 2.0 Ghz RAM 1 GB Hardisk 320 GB VGA Card 256 MB
3. PC yang akan digunakan pada server Mikrotik dengan spesfikasi sebagai

berikut : Processor Pentium IV 1.7 Ghz RAM 256 MB

Hardisk 30 GB VGA Card 64 MB Perangkat lunak Operating System yang digunakan pada tiap PC pada penelitian saat ini adalah sebagai berikut :

PC untuk client Database backup user Windows PC Mikrotik

: Windows XP SP3. : Windows XP SP3, XAMPP : Mikrotik OSTM Level 4

3.1.1.2

Fase Design Berdasarkan kebutuhan dan perencanaan dalam pembentukan sebuah sistem diperlukan sebuah desain awal. Desain awal tersebut antara lain adalah use case dan activity diagram untuk mengetahui jalannya sebuah sistem dan sebuah topologi jaringan yang akan diterapkan nantinya. Berikut sebuah use case dan activity diagram yang terdapat dalam sistem warnet prabayar berdasarkan quota based atau time based.

admin / pemilik warnet

Login
(from Use Cases)

User Manager

Mikrotik

Data User

Manajemen User Manajemen Operator

Hak Akses Operator

Edit, Tambah, Hapus User

Backup Data User

Gambar 3.2 Use Case Admin/Pemilik warnet

Start

Login Mikrotik

Cek Level

level = admin level = ! admin

Mengkonfigurasi Mikrotik

Menangani Troubleshooting

Grouping Hak akses Mikrotik

End

Membackup Konfigurasi

Logout Mikrotik

Gambar 3.3 Activity Diagram/Pemilik Warnet Kelola Mikrotik

Start

Login User Manager

Hak Akses

akses = admin

akses = ! admin

End

Konfigurasi User Manager

Grouping hak akses untuk Operator

Manajemen untuk User / Pengguna (Edit, tambah, hapus)

Backup data User / Pengguna

Logout User Manager

Gambar 3.4 Activity Diagram Admin/Pemilik Warnet Kelola User Manager

Berdasarkan use case Gambar 3.2 dan activity diagram pada Gambar 3.3, 3.4 dapat dijelaskan bahwa seorang admin/pemilik warnet memiliki akses penuh dalam mengatur warnetnya dari sisi jaringan antara lain pengaturan dasar mikrotik, penanganan troubleshooting, melakukan pembagian hak akses kedalam mikrotik dan membackup pengaturan dari mikrotik. Pengaturan disisi pengaturan user pengakses internet berdasar quota based maupun time based antara lain pengaturan dalam user manager berupa hak akses yang diberikan operator untuk masuk dalam sistem user manager, pemberian besar quota maupun time based user akses serta membackup data-data yang ada pada user manager dalam database backup.

Operator

Login

Mikrotik
(from Use-Case Model)

Manajemen Mikrotik

Pengawasan Mikrotik

User Manager
(from Use-Case Model)

Manajemen User
(from Use-Case Model)

Laporan Harian

Backup Data User


(from Use-Case Model)

Lihat Data User

Gambar 3.5 Use Case Operator Warnet


Start Login Mikrotik Hak Akses

Akses = operator

Mengecek Kondisi Mikrotik

Akses = ! operator

Kondisi Kondisi = ! trouble Kondisi = trouble

Logout Mikrotik

End

Mencatat trouble

Laporkan Admin / Pemilik

Gambar 3.6 Activity Diagram Operator Pengawasan Mikrotik

Start

Login User Manager akses = operator

Hak Akses

Melihat Data User (read akses)

akses = ! operator

Cek data data = ok data = ! ok

Backup Database User Manager

Logout User Manager

End

Mencatat data bermasalah

Laporkan Admin / Pemilik

Gambar 3.7 Activity Diagram Operator Kelola User Manager

Pada Gambar 3.5 use case operator warnet dapat dilihat dua activity diagram yang terbentuk pada Gambar 3.6 dan 3.7 yang menggambarkan seorang operator warnet pada sisi pengaturan user menjalankan fungsinya sebagai pengawas account pada user manager dan membackup data user pada database backup. Disisi pengaturan jaringan seorang operator hanya diijinkan mengecek kondisi dari jaringan terutama router bila terjadi kesalahan atau masalah untuk kemudian melaporkan apabila ada masalah pada jaringan warnet kepada admin/pemilik warnet.

Gambar 3.8 Use Case User Warnet

S ta r t

L o g in

T e r d a fta r ? ti d a k ya ya

M e n d a fta r ?

ya

tid a k

p e r p a n j a n qg u o t a / t i m e a c c e s s h a b is ? ya P il ih q o u ta / tim e ti d a k b as e d a ks e s M enggunakan In te r n e t

Tam bah q o u t a / t i tmi d ea k

Is i D a ta B a y a r q u o ta E nd U s er / ti m e C e k q u o ta / tim e

ya B a y a r q u o ta / tim e

ti d a k

Log O ut

M e n g e c e k q o u ta / tim e y a n g s u d a h d ip a k a i

Gambar 3.9 Flowchart User Pengguna Warnet

A c tivity D ia g r a m U s e r P e n g g u n a W a r n e t

Berdasarkan Gambar 3.8 use case user warnet maka dapat digambarkan flowchart pada Gambar 3.9 dan dapat diketahui bahwa seorang calon user harus mendaftar terlebih dahulu untuk dapat menggunakan internet pada warnet berdasarkan quota maupun time based akses.

Berikut adalah topologi jaringan yang akan diterapkan dalam sistem warnet prabayar berdasarkan quota based dan time based akses:

Gambar 3.4 Topologi Jaringan

Berdasarkan topologi jaringan pada Gambar 3.4 maka diperlukan sebuah pengalamatan jaringan pada tiap perangkat yang terhubung dalam jaringan yang tedapat pada Tabel 3.1:
Tabel 3.1 Pengalamatan Piranti Jaringan

Perangkat
Modem (jaringan luar) Modem (jaringan dalam) Router(jaringan luar) Router(jaringan dalam) PC backup database, webserver PC client 1 PC client 2 PC client 3 PC client 4 PC client 5 PC client 6 PC client 7

IP address
IP public dynamic 192.168.2.1/24 192.168.2.2/24 192.168.1.41/24 192.168.1.50/24 192.168.1.31/24 192.168.1.32/24 192.168.1.33/24 192.168.1.34/24 192.168.1.35/24 192.168.1.36/24 192.168.1.37/24

Dalam rancang bangun sistem warnet prabayar berdasarkan qouta based dan time based akses pada penelitian ini juga menggunakan sebuah database backup

dimana database ini dipergunakan untuk seorang user mengetahui seberapa besar/lama yang telah digunakan selama menggunakan internet. Dalam penelitian ini hanya digunakan satu database backup untuk user. Berikut field yang ada dalam database backup:
Tabel 3.2 Field Database Backup

Field username uptime_used download_used upload_used

Type varcha r time intege r intege r

Database backup tersebut akan digunakan untuk para pengguna/user mengetahui seberapa besar quota atau time yang telah digunakan selama mengakses komputer.
3.1.1.3

Fase Operate Pada tahap operate inilah sebuah sistem jaringan secara keseluruhan diterapkan berdasarkan tahap design yang telah dibuat. Dalam tahap ini juga dilakukan pengecekan apabila timbul suatu permasalahan dalam sistem selama dijalankan secara nyata. Dalam menjalankan tahap operate ini akan dilakukan dalam tiga sisi yaitu: admin/pemilik warnet, operator, user pengakses internet. Dari sisi admin/pemilik warnet akan difungsikan beberapa hal menyangkut pengaturan router mikrotik baik segi pengaturan dasar dan pengaturan tingkat lanjut, penggunaan fitur user manager untuk memanajemen koneksi user menggunakan time based atau quota based, dan menambah,mengubah, serta membackup data pada user manager dalam database tersendiri yang akan digunakan user pengguna akses internet untuk melihat status yang mereka miliki. Dari sisi operator warnet akan difungsikan beberapa hal menyangkut manajemen router mikrotik tetapi hanya dibatasi pada mengecek kondisi jaringan dan tidak diberikan hak untuk mengubah pengaturan dalam router mikrotik serta membackup data pada user manager kedalam database tersendiri/backup database.

Dari sisi user yang mengakses internet akan diberikan hak akses sesuai quota atau time based yang dipilih dan dapat melihat status mereka sesuai dengan seberapa besar atau lamanya akses internet yang mereka gunakan berupa aplikasi berbasis web.
3.1.1.4 Fase Optimize

Pada tahap optimize ini adalah tahap terakhir dalam metode PPDIOO. Fungsi dari tahap ini sebenarnya adalah melakukan optimalisasi dalam sistem jaringan apabila terjadi permasalahan dalam sistem jaringan yang menyebabkan kinerjanya tidak optimal. Dalam penelitian ini, tahap optimize tidak akan dibahas lebih lanjut karena selama penelitian dilakukan belum ditemukan permasalahan yang menganggu kinerja sistem, serta yang menjadi tujuan utama dalam penelitian saat ini adalah rancang bangun awal dari sebuah sistem warnet prabayar berdasarkan quota based maupun time based pada warnet FiandriNet. Metode pengambilan data pada penelitian ini adalah kualitatif karena lebih tertuju pada proses pelacakan dan pengaturan secara sistematik transkrip wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap bahanbahan tersebut agar dapat dipresentasikan temuannya kepada orang lain (Bogdan dan Biklen, 1982).

Daftar pustaka

http://www.cisco.com/iam/unified/ipt3/index.htm PPDIOO Cisco Systems, Inc. (diakses tanggal 26 Juni 2011) Teknologi jaringan intranet , Khoe Yao Yung 2001 Andi Yogyakarta Panduan Membangun Jaringan Komputer Untuk Pemula, Rahmat Rafiudin 2003, Elex media komputindo jakarta. Seri Buku: Pintar Menjadi Administrator Jaringan Komputer, Anonymous 2005, Wahana Komputer Semarang. Jaringan Wi-Fi, Teori dan Implementasi, Tri Kuntoro Priyambodo, Dodi Heriadi 2005, Andi Yogyakarta. Pengamanan Sistem Komputer, Janner Simarmata, 2006 Andi Yogyakarta.