0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan30 halaman

Jurnal Pengenalan Fungsi Dan Tugas Asn (Agenda I, Ii, Dan Iii)

Teks tersebut membahas tentang latar belakang sejarah Indonesia, empat konsensus dasar negara, agenda I yang mencakup sikap perilaku bela negara dan analisis isu kontemporer, serta fungsi dan tugas ASN menurut UU ASN. Teks ini memberikan gambaran menyeluruh tentang sejarah bangsa, nilai-nilai bela negara, dan peran ASN dalam mewujudkan tujuan negara.

Diunggah oleh

Alfarabi IKL
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan30 halaman

Jurnal Pengenalan Fungsi Dan Tugas Asn (Agenda I, Ii, Dan Iii)

Teks tersebut membahas tentang latar belakang sejarah Indonesia, empat konsensus dasar negara, agenda I yang mencakup sikap perilaku bela negara dan analisis isu kontemporer, serta fungsi dan tugas ASN menurut UU ASN. Teks ini memberikan gambaran menyeluruh tentang sejarah bangsa, nilai-nilai bela negara, dan peran ASN dalam mewujudkan tujuan negara.

Diunggah oleh

Alfarabi IKL
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

JURNAL

PENGENALAN FUNGSI DAN TUGAS ASN

(AGENDA I, II, DAN III)

ANGKATAN I

Oleh:

Nama : Samlia Sibela


NO. ABSEN : 40
NIP : 199205052023212021

ORIENTASI PPPK

PEMERINTAH KABUPATEN PULAU TALIABU

TAHUN 2024
A. LATAR BELAKANG

Negara kesatuan Republik Indonesia memiliki sejarah yang unik jika dibanding dengan
Negara lain di belahan dunia ini. Pada masa perjuangan melawan penjajah tumbuh jiwa
patriotisme, rela berkorban yang luar biasa untuk menghadapi penjajah. Pada masa perjuangan
menegakkan kemerdekaan tumbuh rasa patriotisme, rela berkorban dan kebersamaan yang
sangat kuat. Pada masa mengisi kemerdekaan merupakan masa membangun karakter bangsa
melalui pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa mewujudkan perdamaian abadi,
kesejahteraan dan perlindungan masyarakat.

Wawasan kebangsaan adalah cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya,
mengutamakan kesatuan dan persatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Prof. Muladi, Gubernur Lemhannas RI).

1. Beberapa Titik Penting Dalam Sejarah Bangsa Indonesia


a. 20 Mei 1908, puluhan anak muda berkumpul di aula Stovia. Dalam pertemuan itu
mereka sepakat mendirikan organisasi Boedi Oetomo
b. Perhimpunan Indonesia (PI) merupakan organisasi pergerakan nasional pertama
yangmenggunakan istilah "Indonesia". Bahkan Perhimpunan Indonesia menjadi
pelopor kemerdekaan bangsa Indonesia di kancah internasional. Perhimpunan
Indonesia (PI) diprakarsai oleh Sutan Kasayangan dan R. N. Noto Suroto pada 25
Oktober 1908 di Leiden, Belanda
c. Pada tanggal 30 April 1926 di Jakarta diselenggarakan “Kerapatan Besar Pemuda”,
yang kemudian terkenal dengan nama “Kongres Pemuda I”. Kongres Pemuda I ini
dihadiri oleh wakil organisasi pemuda Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong
Ambon, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Studerenden Minahasaers, kemudian
Jong Bataks Bond dan Pemuda Kaum Theosofi juga ikut dalam kerapatan besar.

2. Empat Konsensus Dasar


 Bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Bendera
Negara adalah Sang Merah Putih
(Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2009 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang
Negara, serta Lagu Kebangsaan)

 Bahasa Indonesia yang dinyatakan sebagai bahasa resmi negara dalam Pasal 36
Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945
bersumber dari bahasa yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda tanggal 28
Oktober 1928 sebagai bahasa persatuan yang dikembangkan sesuai dengan
dinamika peradaban bangsa;
(Pasal 25 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2009 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan
Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan)

 Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia berbentuk Garuda Pancasila yang


kepalanya menoleh lurus ke sebelah kanan, perisai berupa jantung yang digantung
dengan rantai pada leher Garuda, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika ditulis di
atas pita yang dicengkeram oleh Garuda;
(Pasal 46 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2009 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara,
serta Lagu Kebangsaan)

 Lagu Kebangsaan adalah Indonesia Raya yang digubah oleh Wage Rudolf
Supratman
(Pasal 58 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2009 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan
Lambang Negara,serta Lagu Kebangsaan)

B. AGENDA I
1. Sikap Perilaku Bela Negara
Tiap-tiap warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara, demikian antara
lain amanah UUD 1945. Artinya setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan
bela negara tidak pandang laki-laki / perempuan, pekerjaan maupun profesinya, tua maupun muda,
ulama maupun umaro, pejabat maupun penjahat, politisi maupun polisi, sipil maupun militer. Dengan
demikian bela negara bukan monopoli salah satu kelompok profesi, pekerjaan, golongan, ras, etnik.
Sehingga pengertian bela negara sangat luas, supaya mampu mengakomodasi semua golongan,
maupun kelompok kepentingan
BELA NEGARA adalah tekad, sikap, dan perilaku serta tindakan warga negara, baik secara
perseorangan maupun kolektif dalam menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan
keselamatan bangsa dan negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa Indonesia dan Negara
dari berbagai Ancaman;
(Pasal 1 Ayat (11) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk
Pertahanan Negara)

Nilai-nilai yang terkandung dalam bela negara adalah :


 Cinta Tanah Air dengan indikataor :
a. Menjaga tanah dan pekarangan serta seluruh ruang wilayah Indonesia
b. Jiwa dan raganya sebagai bangsa Indonesia
c. Memiliki jiwa patriotisme terhadap bangsa dan negara
d. Menjaga nama baik bangsa dan negara
e. Memberikan konstribusi pada kemajuan bangsa dan Negara
 Kesadaran berbangsa dan bernegara dengan indikatornya :
a. Ikut aktif dalam organisasi kemasyarakat, profesi maupun politik.
b. Menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara sesuai dengan peraturan
perundangundangan yang berlaku.
c. Ikut serta dalam pemilihan umum.
d. Berpikir, bersikap, dan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan Negara
e. Berpartisipasi dalam menjaga kedautan bangsa dan negara
 Yakin Pancasila sebagai Ideologi Negara dengan indikatornya :
a. Memahami nilai-nilai dalam Pancasila.
b. Mengamalkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari
c. Menjadikan Pancasila sebagai pemersatu bangsa dan negara.
d. Senantiasa mengembangkan nilainilai Pancasila.
e. Yakin dan percaya bahwa pancasiala sebagai dasar negara
 Rela berkorban untuk bangsa dan negara, dengan indikator :
a. Bersedia mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya untuk kemajuan bangsa dan
b. Siap membela bangsa dan negara dari berbagai ancaman
c. Berpartisipasi aktif dalam pembangunan masyarakat, bangsa dan negara.
d. Yakin dan percaya bahwa pengorbanan untuk bangsa dan negaranya tidak sia-sia.
 Memiliki Kesiapan Fisik dan Psikis, dengan indikator :
a. Memiliki Kecerdasan emosional dan spiritual serta intelegensia.
b. Senantiasa memelihara jiwa dan raganya
c. Senantiasa bersyukur dan berdo’a atas kenikmatan yang telah diberikan Tuhan
YME.
d. Gemar berolah raga
e. Senantiasa menjaga kesehatan.

Wawasan kebangsaan dan nilai bela negara merupakan hasil dari perjuangan bangsa
Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaannya. Bela negara tidak selalu
dilakukan dengan mengangkat senjata, namun dengan kemampuan masing-masing individu.
Sebagai ASN, memiliki kewajiban untuk mengimplementasikan nilai bela negara dalam
pengabdian sehari-hari. Usaha bela negara dilaksanakan melalui pendidikan kewarganegaraan,
pelatihan dasar kemiliteran, pengabdian sebagai prajurit TNI, dan pengabdian sesuai dengan
profesi. Tujuan dari usaha bela negara adalah untuk memelihara jiwa nasionalisme warga negara
dan memenuhi hak dan kewajiban terhadap bela negara demi kepentingan nasional.
2. Analisis Isu Kontemporer

Reformasi Birokrasi pada tahun 2025 untuk mewujudkan birokrasi kelas dunia,
merupakan respon atas masalah rendahnya kapasitas dan kemampuan Pegawai Negeri Sipil
dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis yang, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014
tentang Aparatur Sipil Negara, secara signifikan telah mendorong kesadaran PNS untuk
menjalankan profesinya sebagai ASN dengan berlandaskan pada:

a) nilai dasar;

b) kode etik dan kode perilaku;

c) komitmen, integritas moral, dan tanggung jawab pada pelayanan publik;

d) kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; dan

e) profesionalitas jabatan.

Kemampuan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan lingkungan


strategis dan analisis isu-isu kontemporer pada agenda pembelajaran Bela Negara perlu didasari
oleh materi wawasan kebangsaan dan aktualisasi nilai-nilai bela negara yang
dikontektualisasikan dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari. Menyebabkan posisi Indonesia
dalam percaturan global belum memuaskan.Analisis Isu Kontemporer adalah proses memahami
dan mengevaluasi isu-isu terkini di masyarakat, politik, budaya, dan lingkungan. Isu-isu tersebut
meliputi masalah sosial, politik, lingkungan, teknologi, dan ekonomi.

Undang-undang ASN setiap PNS perlu memahami dengan baik fungsi dan tugasnya:

Melaksanakan :

Kebijakan publik yang dibuat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian sesuai dengan
peraturan perundang- undangan

Memberikan :

Pelayanan publik yang profesional dan berkualitas.

Memperat :

Persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia.

Pentingnya analisis isu kontemporer adalah untuk memahami perubahan-perubahan di


sekitar kita dan mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Dalam melakukan analisis, perlu
melihat dari berbagai perspektif dan mempertimbangkan dampak jangka panjang. Prosesnya
meliputi pengumpulan data dan informasi, analisis data, identifikasi tren dan pola, serta
pembuatan kesimpulan dan rekomendasi untuk tindakan selanjutnya. Untuk mengembangkan
keterampilan analisis isu kontemporer, perlu memperluas wawasan dengan membaca berita,
artikel, dan laporan terkait isu-isu kontemporer, serta bergabung dengan organisasi atau
kelompok diskusi yang memfokuskan pada isu-isu tersebut.

ISU-ISU STRATEGIS KONTEMPORER

 KORUPSI
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi beserta revisinya melalui Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001. Secara
substansi Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 telah mengatur berbagai modus
peran di tindak pidana korupsi sebagai tindak pidana formil, memperluas
pengertian pegawai negeri sehingga pelaku korupsi tidak hanya didefenisikan
kepada orang perorang tetapi juga pada korporasi, dan jenis penjatuhan pidana
yang dapat dilakukan hakim terhadap terdakwa tindak pidana korupsi adalah
Pidana Mati, Pidana Penjara, dan Pidana Tambahan.
 NARKOBA
Menurut Online Etymology Dictionary, perkataan narkotika berasal dari bahasa
Yunani yaitu ”Narke” yang berarti terbius sehingga tidak merasakan apa-apa.
Sebagian orang berpendapat bahwa narkotika berasal dari kata ”Narcissus” yang
berarti jenis tumbuh-tumbuhan yang mempunyai bunga yang membuat orang
tidak sadarkan diri. Narkotika dan Obat Berbahaya, serta napza (istilah yang biasa
digunakan oleh Kemenkes) yang merupakan singkatan dari Narkotika,
Psikotropika dan Zat Adiktif (Kemenkes, 2010). Kedua istilah tersebut dapat
menimbulkan kebingungan. Dunia internasional (UNODC)menyebutnya dengan
istilah narkotika yang mengandung arti obat-obatan jenis narkotika, psikotropika
dan zat adiktif lainnya. Sehingga dengan menggunakan istilah narkotika berarti
telah meliputi narkotika,psikotropika, dan bahan adiktif lainnya.
 TERORISME DAN RADIKALIS
Terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman
kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang
dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan/atau menimbulkan
kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, Iingkungan hidup,
fasilitas publik, atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, atau
gangguan keamanan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan Resolusi 60/288 tahun 2006
tentang UN Global Counter Terrorism Strategy yang berisi empat pilar strategi
global pemberantasan terorisme, yaitu :
1) pencegahan kondisi kondusif penyebaran terorisme;
2) langkah pencegahan dan memerangi terorisme;
3) peningkatan kapasitas negara-negara anggota untuk mencegah dan
memberantas terorisme serta penguatan peran sistem PBB; dan
4) penegakan hak asasi manusia bagi semua pihak dan penegakan rule of law
sebagai dasar pemberantasan terorisme. Selain itu, PBB juga telah menyusun
High-Level Panel on Threats, Challenges, and Change yang menempatkan
terorisme sebagai salah satu dari enam kejahatan yang penanggulangannya
memerlukan paradigma baru.
 MONEY LAUNDRING
“Money laundering” dalam terjemahan bahasa Indonesia adalah aktivitas
pencucian uang. Terjemahan tersebut tidak bisa dipahami secara sederhana (arti
perkata) karena akan menimbulkan perbedaan cara pandang dengan arti yang
populer, bukan berarti uang tersebut dicuci karena kotor seperti sebagaimana
layaknya mencuci pakaian kotor. Oleh karena itu, perlu dijelaskan terlebih dahulu
sejarah munculnya money laundering dalam perspektif sebagai salah satu tindak
kejahatan.
 PROXY WAR
Sejarahnya Perang proksi telah terjadi sejak zaman dahulu sampai dengan saat ini
yang dilakukan oleh negara-negara besar menggunakan aktor negara maupun
aktor non negara. Kepentingan nasional negara Negara besar dalam rangka
struggle for power dan power of influence mempengaruhi hubungan internasional.
Proxy war memiliki motif dan menggunakan pendekatan hard power dan soft
power dalam mencapai tujuannya.

TEKNIK ANALISIS ISU

Collins Cobuild English Language Dictionary (1987) :

(1). “An important subject that people are discussing or arguing about”

(2). “When you talk about the issue, you are referring to the really important part of the
thing that you are considering or discussing”.
Veverka (1994) : “..topics that deal with resource problems and their need forsolutions
that relate to the safety of the visitor at the resource site or relate toresource protection and
management issues that the public needs to be aware of”

CURRENT ISSUE

Isu saat ini (current issue) merupakan kelompok isu yang mendapatkan

perhatian dan sorotan publik secara luas dan memerlukan penanganan sesegera mungkin
dari pengambil keputusan.

EMERGING ISSUE

Isu berkembang (emerging issue) merupakan isu yang perlahan-lahan masuk dan
menyebar di ruang publik, dan publik mulai menyadari adanya isu tersebut.

ISU POTENSIAL

Kelompok isu yang belum nampak di ruang publik, namun dapat terindikasi dari
beberapa instrumen (sosial, penelitian ilmiah, analisis intelijen, dsb) yang mengidentifikasi
adanya kemungkinan merebak isu dimaksud di masa depan.

Teknik tapisan

Menetapkan rentang penilaian (1-5) pada kriteria; Aktual, Kekhalayakan, Problematik,


dan Kelayakan. Aktual artinya isu tersebut benar-benar terjadi dan sedang hangat dibicarakan
dalam masyarakat. Kekhalayakan artinya Isu tersebut menyangkut hajat hidup orang banyak.
Problematik artinya Isu tersebut memiliki dimensi masalah yang kompleks, sehingga perlu
dicarikan segera solusinya secara komperehensif, dan Kelayakan artinya Isu tersebut masuk akal,
realistis, relevan, dan dapat dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya.

Alat bantu tapisan lainnya misalnya menggunakan kriteria USG dari mulai sangat USG
atau tidak sangat USG. Urgency: seberapa mendesak suatu isu harus dibahas, dianalisis dan
ditindaklanjuti. Seriousness: Seberapa serius suatu isu harus dibahas dikaitkan dengan akibat
yang akanditimbulkan. Growth: Seberapa besar kemungkinan memburuknya isu tersebut jika
tidak ditangani segera.

Analisis SWOT

Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats


3. Kesiapsiagaan Bela Negara

Kesiapsiagaan bela negara merujuk pada kemampuan individu dan masyarakat untuk
mempertahankan kedaulatan, integritas wilayah, dan keselamatan bangsa dari ancaman apapun,
seperti bencana alam, terorisme, perang, konflik sosial, dan lain sebagainya. Tujuannya adalah
memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, meningkatkan kesadaran dan keterlibatan
masyarakat dalam keamanan dan pertahanan negara, serta memperkuat kekuatan militer dan
penegakan hukum. Pemerintah dan masyarakat perlu membangun budaya keamanan dan
pertahanan, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam hal pertahanan
negara, serta memperkuat kekuatan militer dan aparat penegak hukum.

“Kesiapsiagaan Bela Negara adalah suatu keadaan siap siaga yang dimiliki oleh
seseorang baik secara fisik, mental, maupun sosial dalam menghadapi situasi kerja yang
beragam yang dilakukan berdasarkan kebulatan sikap dan tekad secara ikhlas dan sadar
disertai kerelaan berkorban sepenuh jiwa raga yang dilandasi oleh kecintaan terhadap Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD Tahun 1945 untuk
menjaga, merawat, dan menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara”.

 Rumusan 5 Nilai Bela Negara :

1. Rasa Cinta Tanah Air;

2. Sadar Berbangsa dan Bernegara;

3. Setia kepada Pancasila Sebagai Ideologi Negara;

4. Rela Berkorban untuk Bangsa dan Negara;

5. Mempunyai Kemampuan Awal Bela Negara; dan

 Kemampuan Awal Bela Negara


1. Kesiapsiagaan Jasmasni
Adalah kegiatan atau kesanggupan seseorang untuk melaksanakan tugas atau kegiatan
fisik secara lebih baik dan efisien.
MANFAAT :
❑ Memiliki postur yang baik.
❑ Memiliki ketahanan melakukan pekerjaan berat.
❑ Memiliki ketangkasan yang tinggi.

2. KESEHATAN JASMANI
Kemampuan tubuh untuk menyesuaikan fungsi alat-alat tubuhnya dalam batas
fisiologi terhadap keadaan lingkungan &/ kerja fisik yg cukup efisien tanpa lelah
secara berlebihan.
CIRI JASMANI SEHAT :
1) Normalnya fungsi alat-alat tubuh, terutama organ vital. Misal :
✔Tekanan darah : 120/80 mmHg
✔Frekuensi nafas : 12-18 kali/menit
✔Denyut nadi : 60 - 90 kali/menit
✔Suhu tubuh antara 360- 370 C
2) Memiliki energi yang cukup untuk melakukan tugas harian (tidak mudah merasa
lelah).
3) Kondisi kulit, rambut, kuku sehat (gambaran tingkat nutrisi tubuh).
4) Memiliki pemikiran yang tajam (otak bekerja baik).
 KESIAPSIAGAAN MENTAL
Adalah kesiapsiagaan seseorang dengan memahami kondisi mental,
perkembangan mental, dan proses menyesuaikan diri terhadap berbagai tuntutan
sesuai dengan perkembangan mental/jiwa (kedewasaan) nya, baik tuntutan dari
dalam dirinya sendiri maupun dari luar.
 KESEHATAN MENTAL
Sistem kendali diri yang bagus sebagai wujud dari kinerja sistem limbic
(cenderung ke emosi) dan system cortex prefrontalis (cenderung rasional) yang
tepat.
KESEHATAN BERPIKIR :
1) Kesehatan Mental berkaitan dengan kemampuan berpikir.
2) Berpikir sehat : kemampuan menggunakan logika dan rasionalitas.
3) Kesalahan Beripikir :
✔Berpikir ‘ya’ atau ‘tidak’
✔Generalisasi berlebihan
✔Magnifikasi-minimisasi
✔Alasan emosional
✔Memberi label

3. KEARIFAN LOKAL
adalah hasil pemikiran dan perbuatan yang diperoleh manusia di tempat ia hidup
dengan lingkungan alam sekitarnya untuk memperoleh kebaikan. Kearifan Lokal
dapat berupa ucapan, cara, langkah kerja, alat, bahan dan perlengkapan yang
dibuat manusia setempat untuk menjalani hidup di berbagai bidang kehidupan
manusia.
PRINSIP
1) Dapat berupa gagasan, ide, norma, nilai, adat, benda, alat, rumah tinggal,
tatanan masyarakat, atau hal lainnya yang bersifat abstrak atau konkrit.
2) Mengandung nilai kebaikan dan manfaat yang diwujudkan dalam hubungannya
dengan lingkungan alam, lingkungan manusia dan lingkungan budaya di
sekitarnya.
3) Akan berkembang dengan adanya pengaruh kegiatan penggunaan, pelestarian,
dan pemasyarakatan secara baik dan benar sesuai aturan yang berlaku di
lingkungan manusia itu berada.
4) Dapat sirna seiring dengan hilangnya manusia atau masyarakat yang pernah
menggunakannya.
5) Memiliki asas dasar keaslian karya karena faktor pembuatan oleh manusia
setempat dengan pemaknaan bahasa setempat, kegunaan dasar di daerah setempat,
dan penggunaan yang massal di daerah setempat.
6) Dapat berupa pengembangan kearifan yang berasal dari luar namun telah
diadopsi dan diadaptasi sehingga memiliki ciri baru yang membedakannya
dengan kearifan aslinya serta menunjukkan ciri-ciri lokal.

Penutup

Sikap dan perilaku bela negara merupakan hal yang penting untuk ditanamkan dalam diri
setiap individu sebagai bentuk partisipasi aktif dalam mempertahankan kedaulatan dan
keselamatan negara. Hal ini meliputi kesadaran akan pentingnya menjaga keamanan dan
pertahanan negara, serta kesiapan untuk menghadapi berbagai ancaman yang mungkin terjadi di
masa depan. Dengan memiliki sikap dan perilaku bela negara yang baik, diharapkan masyarakat
dapat bersatu dan berperan aktif dalam memperkuat pertahanan dan keamanan negara.

C. AGENDA II
NILAI-NILAI DASAR ASN

Transformasi : struktural, kultural dan digital perlu adaptasi kebijakan & kompetensi
baru, serta adopsi teknologi dan sistem yang agile. perlu arsitektur human capital,strategi dan
rencana eksekusi yang bisa mengakselerasi birokrasi berkelas dunia 2024

Tantangan Dunia yang semakin VUCA dengan Triple Disruption:

▪ Technology (Revolusi Industri 4.0 menuju Era Society 5.0)

▪ Millennials

▪ Pandemic Covid-19

ASN Profesional :

▪ Berorientasi Pelayanan

▪ Akuntabel

▪ Kompeten

▪ Harmonis

▪ Loyal

▪ Adaptif

▪ Kolaboratif

Berorientasi pelayanan

ASN adalah pegawai negeri yang bertugas memberikan pelayanan publik kepada
masyarakat. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, ASN menggunakan modul
berorientasi pelayanan yang mengacu pada nilai-nilai dasar ASN seperti integritas,
profesionalisme, responsif, akuntabilitas, transparansi, serta kesetaraan dan keadilan. Dengan
menerapkan nilai-nilai tersebut, ASN diharapkan dapat memberikan pelayanan yang berkualitas,
memenuhi kebutuhan masyarakat, dan meningkatkan kepercayaan dan kepuasan masyarakat
terhadap pemerintah.

1. menjelaskan nilai berorientasi pelayanan secara konseptual/teoretis sebagai komitmen


memberikan pelayanan prima demi kepuasan masyarakat
2. menjelaskan panduan perilaku (kode etik) berorientasi pelayanan
3 memberikan contoh perilaku yang memahami dan memenuhi kebutuhan masyarakat;
ramah, cekatan, solutif, dan dapat diandalkan; dan melakukan perbaikan tiada henti; serta

4. menganalisis atau menilai contoh penerapan berorientasi pelayanan secara tepat

Definisi Pelayanan Publik dari berbagai sumber

service adalah produk yang tidak berwujud, berlangsung sebentar dan dirasakan atau dialami”
Artinya service merupakan produk yang tidak ada wujud atau bentuknya sehingga tidak ada
bentuk yang dapat dimiliki, dan berlangsung sesaat atau tidak tahan lama, tetapi dialami dan
dapat dirasakan oleh penerima layanan. (Christoper H. Lovelock )

“Core Public Services maybe defined as those sevices which are important for the protection and

promotion of citizen well-being, but are in are as where the market is in capable of reaching or

even approaching a socially optimal state; heatlh, education, welfare and security provide the
most obvious best know example”. (Davit Mc Kevitt )

Agus Dwiyanto (2010:21) pelayanan publik sebagai: semua jenis pelayanan untuk menyediakan
barang/jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat yang memenuhi kriteria yaitu merupakan jenis
barang atau jasa yang memiliki eksternalitas tinggi dan sangat diperlukan masyarakat serta
penyediaannya terkait dengan upaya mewujudkan tujuan bersama yang tercantum dalam
konstitusi maupun dokumen perencanaan pemerintah, baik dalam rangka memenuhi hak dan
kebutuhan dasar warga, mencapai tujuan strategis pemerintah, dan memenuhi komitmen dunia
internasional.

(Lembaga Administrasi Negara: 1998) Pelayanan publik adalah Sebagai segala bentuk kegiatan
pelayanan umum yang dilaksanakan oleh Instansi Pemerintahan diPusat dan Daerah, dan di
lingkungan BUMN/BUMD dalam bentuk barang dan/atau jasa, baik dalam pemenuhan
kebutuhan masyarakat.

Unsur penting yang harus ada:

1. ASN sebagai penyelenggara


2. publik/masyarakat sebagai penerima layanan
3. kepuasan masyarakat/pelanggan (customer satisfaction)

Masyarakat dalam UU 25/2009 adalah seluruh pihak, baik warga negara maupun penduduk
sebagai orang-perseorangan, kelompok, maupun badan hukum yang berkedudukan sebagai
penerima manfaat pelayanan publik, baik secara langsung maupun tidak langsung
Penyelenggara Pelayanan Publik menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik (UU 25/2009) adalah setiap institusi penyelenggara negara, korporasi, lembaga
independen yang dibentuk berdasarkan undang-undang untuk kegiatan pelayanan publik, dan
badan hukum lain yang dibentuk semata-mata untuk kegiatan pelayanan public

“inovasi dalam layanan publik mestinya mencerminkan hasil pemikiran baru yang konstruktif,
sehingga akan memotivasi setiap individu untuk membangun karakter dan mind-set baru sebagai
apartur penyelenggara pemerintahan, yang diwujudkan dalam bentuk profesionalisme layanan
publik yang berbeda dari sebelumnya, bukan sekedar menjalankan atau menggugurkan tugas
rutin.”

Nilai Dasar ASN (salah satunya Berorientasi Pelayanan) bertujuan agar menjadi pedoman
perilaku bagi para ASN dan menciptakan budaya kerja yang mendukung tercapainya kinerja
terbaik. Keberhasilan implementasi Nilai Dasar ASN apabila telah terinternalisasi dan
teraktualisasi dalam perilaku pegawai ASN, khususnya dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat.

Akuntable

Dalam banyak hal, kata akuntabilitas sering disamakan denganresponsibilitas atau


tanggung jawab. Namun pada dasarnya, kedua konsep tersebut memiliki arti yang berbeda.
Responsibilitas adalah kewajiban untuk bertanggung jawab yang berangkat dari moral individu,
sedangkan akuntabilitas adalah kewajiban untuk bertanggung jawab kepada seseorang/organisasi
yang memberikan amanat. Dalam konteks ASN Akuntabilitas adalah kewajiban untuk
mempertanggungjawabkan segala tindak dan tanduknya sebagai pelayan publik kepada atasan,
lembaga pembina, dan lebih luasnya kepada publik (Matsiliza dan Zonke, 2017)

UU No.25/2009 – Layanan Publik dalam Pasal 4 menyebutkan Asas Pelayanan Publik yang
meliputi:

a. kepentingan Umum,

b. kepastian hukum,

c. kesamaan hak,

d. keseimbangan hak dan kewajiban,

e. keprofesionalan,

f. partisipatif,

g. persamaan perlakuan/tidak diskriminatif


h. keterbukaan,

i. akuntabilitas,

j. fasilitas dan perlakuan khusus bagi

kelompok rentan,

k. ketepatan waktu, dan

l. kecepatan, kemudahan, dan keterjangkauan.

Aspek-Aspek Akuntabilitas

• Akuntabilitas adalah sebuah hubungan (Accountability is a relationship) Hubungan yang


dimaksud adalah hubungan dua pihak antara individu/kelompok/institusi dengan negara dan
masyarakat.

• Akuntabilitas berorientasi pada hasil (Accountability is results-oriented) Hasil yang diharapkan


dari akuntabilitas adalah perilaku aparat pemerintah yang bertanggung jawab, adil dan inovatif.

• Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan (Accountability requiers reporting) Laporan


kinerja adalah perwujudan dari akuntabilitas.

• Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan (Accountability requiers reporting) Laporan


kinerja adalah perwujudan dari akuntabilitas.

• Akuntabilitas memperbaiki kinerja (Accountability improves performance) Tujuan utama dari


akuntabilitas adalah untuk memperbaiki kinerja ASN dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat.

Tingkatan Akuntabilitas

1. Akuntabilitas Personal

2. Akuntabilitas Individu

3. Akuntabilitas Kelompok

4. Akuntabilitas Organisasi

5. Akuntabilitas Stakeholder

Modul akuntable menjelaskan tentang nilai-nilai dasar ASN yang meliputi transparansi,
akuntabilitas, integritas, profesionalisme, serta kesetaraan dan keadilan. ASN harus memiliki
integritas yang tinggi, kemampuan profesional, tanggap dalam memberikan pelayanan, serta
memberikan pelayanan yang sama dan adil kepada seluruh masyarakat. Dengan mengamalkan
nilai-nilai tersebut, diharapkan ASN dapat memperkuat akuntabilitas dan transparansi dalam
menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, serta membantu meningkatkan kepercayaan dan
kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah.

Kompeten

Kompetensi merupakan perpaduan aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang


terindikasikan dalam kemampuan dan perilaku seseorang sesuai tuntutan pekerjaan.

Kompetensi Teknis

• yang diukur dari tingkat dan spesialisasi pendidikan, pelatihan teknis fungsional dan
pengalaman bekerja secara teknis;

Kompetensi Manajerial

• yang diukur dari tingkat pendidikan, pelatihan struktural atau manajemen, dan pengalaman
kepemimpinan; dan

Kompetensi Sosial Kultural

• diukur dari pengalaman kerja berkaitan dengan masyarakat majemuk dalam hal agama, suku,
dan budaya sehingga memiliki wawasan kebangsaan.

* Kompeternsi Manajerial:

1. Integritas 4. Orientasi pada hasil 7. Mengelola Perubahan

2. Kerjasama 5. Pelayanan Publik 8. Pengambilan Keputusan

3. Komunikasi 6. Pengembangan Diri

Prinsip Pengembangan Kompetensi

ASN

❑ Upaya peningkatan kompetensi yang dilakukan organisasi maupun individu melalui proses
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sesuai dengan kebutuhan organisasi dan pegawai

❑ Setiap ASN memiliki hak dan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi

❑ Diarahkan pada pengembangan kompetensi sesuai kebutuhan jabatan

❑ Pengembangan kompetensi sebagai salah satu dasar dalam pengangkatan jabatan dan
pengembangan karir
Modul kompeten mengacu pada nilai-nilai dasar ASN yang meliputi integritas,
profesionalisme, penguasaan teknologi informasi, inovasi, adaptasi, serta kesetaraan dan
keadilan.

Integritas: ASN harus memiliki integritas yang tinggi, jujur, dan memiliki nilai moral
yang baik dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

Profesionalisme: ASN harus memiliki kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan


dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara profesional.

Penguasaan Teknologi Informasi: ASN harus menguasai teknologi informasi yang


dibutuhkan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Inovasi: ASN harus kreatif dan inovatif dalam mencari solusi untuk masalah-masalah
yang dihadapi dalam pelayanan publik.

Adaptasi: ASN harus mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan situasi yang
terjadi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Kesetaraan dan keadilan: ASN harus memberikan pelayanan yang sama dan adil kepada
seluruh masyarakat tanpa diskriminasi.

Dengan mengamalkan nilai-nilai dasar ASN tersebut, diharapkan ASN dapat


meningkatkan kompetensi dan kualitas pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat,
serta membantu meningkatkan kepercayaan dan kepuasan masyarakat terhadap kinerja
pemerintah.

Rencana Pengembangan Kompetensi ASN

Instansi Pemerintah wajib menyusun rencana pengembangan kompetensi tahunan yang


dituangkan dalam rencana kerja anggaran tahunan instansi. Perencanaan pengembangan
kompetensi untuk mewujudkan profesionalitas ASN dengan mempertimbangkan kebutuhan
individu pegawai dan kebutuhan umum organisasi dengan system perencanaan yang rasional,
holistik (terintegrasi), terarah, efektif dan efisien.

Harmonis

Harmoni adalah kerja sama antara berbagai faktor dengan sedemikian rupa hingga faktor-
faktor tersebut dapat menghasilkan suatu kesatuan yang luhur Suasana harmoni dalam
lingkungan bekerja akan membuatkan kita secara individu tenang, menciptakan kondisi yang
memungkinkan untuk saling kolaborasi dan bekerja sama, meningkatkan produktifitas bekerja
dan kualitas layanan kepada pelanggan.
Keanekaragaman Bangsa dan Budaya Indonesia

• Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau.
Nama alternatif yang biasa dipakai adalah Nusantara. Dengan populasi mencapai 270.203.917
jiwa pada tahun 2020, Indonesia menjadi Negara berpenduduk terbesar keempat di dunia.

• Indonesia juga dikenal karena kekayaan sumber daya alam, hayati, suku bangsa dan
budaya nya. Kekayaan sumber daya alam berupa mineral dan tambang, kekayaan hutan tropis
dan kekayaan dari lautan diseluruh Indonesia. Modul harmonis mengacu pada nilai-nilai dasar
ASN yang meliputi kerjasama, toleransi, kebersamaan, kepedulian, kebersihan dan kesehatan
lingkungan, serta kesetaraan dan keadilan.

Kerjasama: ASN harus bekerja sama dan berkolaborasi dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya, serta membangun hubungan kerja yang harmonis.

Toleransi: ASN harus menerima perbedaan dan memiliki sikap toleransi dalam
menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

Kebersamaan: ASN harus memiliki sikap kebersamaan dalam menjalankan tugas dan
tanggung jawabnya, serta membangun hubungan yang harmonis dengan sesama pegawai dan
masyarakat.

Kepedulian: ASN harus memiliki sikap empati dan peduli terhadap kebutuhan dan
masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

Kebersihan dan Kesehatan Lingkungan: ASN harus memperhatikan kebersihan dan


kesehatan lingkungan kerja, serta menjaga kelestarian lingkungan.

Kesetaraan dan Keadilan: ASN harus memberikan pelayanan yang sama dan adil kepada
seluruh masyarakat tanpa diskriminasi.

Dengan mengamalkan nilai-nilai dasar ASN tersebut, diharapkan ASN dapat menciptakan
lingkungan kerja yang harmonis, kolaboratif, dan produktif, serta membantu meningkatkan
kepercayaan dan kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah.

Loyal

Berdedikasi dan mengutamakan kepentingan Bangsa dan Negara, Modul loyal mengacu
pada nilai-nilai dasar ASN yang meliputi nasionalisme, kesetiaan, disiplin, tanggung jawab,
kejujuran dan kepercayaan, serta profesionalitas.

Nasionalisme: ASN harus memiliki rasa cinta dan bangga terhadap negara dan
bangsanya.
Kesetiaan: ASN harus setia dan loyal terhadap pemerintah dan lembaga negara yang
dijabat, serta menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan penuh dedikasi.

Disiplin: ASN harus disiplin dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, serta
mematuhi peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Tanggung Jawab: ASN harus bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas dan tanggung
jawabnya, serta mampu mengambil keputusan yang tepat.

Kejujuran dan Kepercayaan: ASN harus memiliki integritas dan kejujuran yang tinggi
dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, serta membangun kepercayaan dengan
masyarakat.

Profesionalitas: ASN harus menjalankan tugas dan tanggung jawabnya secara


profesional, menguasai bidangnya, dan memperbarui diri sesuai perkembangan zaman.

Dengan mengamalkan nilai-nilai dasar ASN tersebut, diharapkan ASN dapat


menunjukkan loyalitas dan dedikasi yang tinggi kepada negara serta masyarakat, serta membantu
meningkatkan kepercayaan dan kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah.

Adaptif

Adaptasi adalah suatu proses yang menempatkan manusia yang berupaya mencapai
tujuan-tujuan atau kebutuhan untuk menghadapi lingkungan dan kondisi sosial yang berubah-
ubah agar tetap bertahan (Robbins, 2003) Rumuskan pengertian adaptif menurut pemahaman dan
hasil diskusi anda dalam kelompok, sampaikan di kelas.

Adaptif sebagai Nilai dan Budaya ASN Learning Organization (Peter Senge):

Pegawainya harus terus mengasah pengetahuannya hingga ke tingkat mahir (personal


mastery);

Pegawainya harus terus berkomunikasi hingga memiliki persepsi yang sama atau
gelombang yang sama terhadap suatu visi atau cita-cita yang akan dicapai bersama (shared
vision);

Pegawainya memiliki mental model yang mencerminkan realitas yang organisasi ingin
wujudkan (mental model);

Pegawainya perlu selalu sinergis dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan untuk


mewujudkan visinya (team learning);
Pegawainya harus selalu berpikir sistemik, tidak kaca mata kuda, atau bermental silo
(systems thinking).

Modul adaptif mengacu pada nilai-nilai dasar ASN yang meliputi keberanian, kreativitas,
inovasi, fleksibilitas, pemecahan masalah, serta orientasi pada hasil.

Keberanian: ASN harus memiliki keberanian untuk menghadapi tantangan dan


mengambil risiko dalam mengambil keputusan yang tepat.

Kreativitas: ASN harus memiliki kemampuan kreativitas dalam mencari solusi yang
inovatif dan efektif dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Inovasi: ASN harus mampu mengembangkan inovasi dan terus berinovasi dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Fleksibilitas: ASN harus fleksibel dalam menghadapi perubahan dan mampu beradaptasi
dengan cepat dalam menghadapi situasi yang berbeda-beda.

Pemecahan Masalah: ASN harus mampu memecahkan masalah yang kompleks dan
mengambil keputusan yang tepat.

Orientasi pada Hasil: ASN harus memiliki orientasi pada hasil dan mampu mengukur
kinerjanya secara objektif.

Dengan mengamalkan nilai-nilai dasar ASN tersebut, diharapkan ASN dapat


mengembangkan kemampuan adaptasi terhadap perubahan dan inovasi, serta meningkatkan
kualitas kinerja dan pelayanan publik kepada masyarakat.

Kolaboratif

Dyer and Singh (1998, dalam Celik et al, 2019) mengungkapkan bahwa kolaborasi adalah

“ value generated from an alliance between two or more firms aiming to become more
competitive by developing shared routines”.

Collaboration is a process though which parties with different expertise, who see different
aspects of a problem, can constructively explore differences and find novel solutions to problems
that wouldhave been more difficult to solve without the other’sperspective (Gray, 1989).

Irawan (2017) mengungkapkan bahwa “ Collaborative governance“sebagai sebuah proses


yang melibatkan norma bersama dan interaksi saling menguntungkan antar aktor governance A
governing arrangement where one or more public agencies directly engage non-state
stakeholders in a collective decision-making process that is formal, consensus-oriented, and
deliberative and that aims to make or implement public policy or manage public programs or
assets. Ansen dan gash (2012)

“A governing arrangement where one or more public agencies directly engage non-state
stakeholders in a collective decision-making process that is formal, consensus-oriented, and
deliberative and that aims to make or implement public policy or manage public programs or
assets” (Ermaya Suradinata, 1998)

Model Collaborative Governance

Ansan dan Gash (2012) Gambar Model Collaborative Governance Menurutnya starting
condition mempengaruhi proses kolaborasi yang terjadi, dimana proses tersebut terdiri dari
membangun kepercayaan, face to face dialogue, commitment to process, pemahaman
bersama,serta pengambangan outcome antara Desain kelembagaan yang salah satunya proses
transparansi serta faktor kepemimpinan juga mempengaruhi proses kolaborasi yang diharapkan
menghasilkan outcome yang diharapkan.

ASPEK NORMATIF KOLABORASI PEMERINTAHAN

Pasal 34 ayat (4) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi


Pemerintahan diatur bahwa “Penyelenggaraan pemerintahan yang melibatkan Kewenangan lintas
Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan dilaksanakan melalui kerja sama antar-Badan dan/atau
Pejabat Pemerintahan yang terlibat, kecuali ditentukan lain dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan”

Dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan diatur


juga mengenai Bantuan Kedinasan yaitu kerja sama antara Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan
guna kelancaran pelayanan Administrasi Pemerintahan di suatu instansi pemerintahan yang
membutuhkan.

Whole of Government

• WoG adalah sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang menyatukan


upaya-upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup koordinasi
yang lebih luas guna mencapai tujuan bersama dalam bidang pembangunan kebijakan,
manajemen program dan pelayanan publik.

• WoG juga dikenal sebagai pendekatan interagency, yaitu pendekatan yang melibatkan
sejumlah kelembagaan yang terkait dengan urusan-urusan yang relevan. Siloisasi, prinsip single-
purpose organizations, dengan banyak spesialisasi serta peran dan fungsinon-overlapping
mendorong:

• Fragmentasi

• Kewenangan terpusat di sektor

• Kurangnya kerjasama dan koordinasi, yang menyebabkan

efektivitas dan efisiensi

• Devolusi Struktural, desentralisasi, penyerahan kewenangan dari pusat ke daerah yang


berlebihan

• Persepsi mengenai dunia yang semakin tidak aman dan berbahaya. Isu

 Manfaat WoG

• Efisiensi

• Sharing Informasi

• Lingkungan kerja

• Daya saing

• Akuntabilitas

• Koherensi kebijakan Diadopsi dari Colgan, A., Kennedy, L.A. and Doherty, N. (2014)

• Biaya (cost)

• Pemborosan (waste)

• Duplikasi pekerjaan

• Inkonsistensi kebijakan

• Waktu penyelesaian layanan tertentu

 Bentuk WoG

• Integrating Service Delivery (ISD)

Proses penyatuan pemberian layanan kepada publik

• Koordinasi dan Kolaborasi


Pemerintah horizontal yang berkoordinasi atau berkolaborasi dalam mencapai tujuan
bersama

• Integrating and Rebalancing Governance

Kontrol politik dan otonomi administrasi seperti di Inggris

• Culture Change

Konsep-konsep social glue (perekat), budaya organisasi

Modul kolaboratif mengacu pada nilai-nilai dasar ASN yang meliputi kerjasama,
komunikasi, keterbukaan, kepercayaan, kesederhanaan, dan kesetiakawanan.

Kerjasama: ASN harus mampu bekerjasama dan berkolaborasi dengan sesama ASN
maupun stakeholder lainnya untuk mencapai tujuan yang sama.

Komunikasi: ASN harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan efektif dalam
berinteraksi dengan sesama ASN maupun stakeholder lainnya.

Keterbukaan: ASN harus memiliki keterbukaan dalam menerima masukan, saran, dan
kritik dari sesama ASN maupun stakeholder lainnya.

Kepercayaan: ASN harus membangun kepercayaan dengan sesama ASN maupun


stakeholder lainnya melalui integritas dan kejujuran.

Kesederhanaan: ASN harus memiliki sikap sederhana dalam berinteraksi dengan sesama
ASN maupun stakeholder lainnya, serta menghindari sikap arogan atau merendahkan orang lain.

Kesetiakawanan: ASN harus memiliki kesetiakawanan dan kepedulian terhadap sesama


ASN maupun masyarakat dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Dengan mengamalkan nilai-nilai dasar ASN tersebut, diharapkan ASN dapat


meningkatkan kerjasama dan kolaborasi antar sesama ASN serta stakeholder lainnya, serta
membantu meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat.

D. AGENDA III
1. Smart ASN
a. Literasi Digital

Literasi digital banyak menekankan pada kecakapan pengguna media digital dalam melakukan
proses mediasi media digital yang dilakukan secara produktif (Kurnia & Wijayanto, 2020;
Kurnia & Astuti, 2017). Seorang pengguna yang memiliki kecakapan literasi digital yang bagus
tidak hanya mampu mengoperasikan alat, melainkan juga mampu bermedia digital dengan penuh
tanggung jawab.

● Kompetensi literasi digital tidak hanya dilihat dari kecakapan menggunakan media digital
(digital skills) saja, namun juga budaya menggunakan digital (digital culture), etis menggunakan
media digital (digital ethics), dan aman menggunakan media digital (digital safety).

b. Implementasi Literasi Digital

Kerangka kerja literasi digital untuk kurikulum terdiri dari digital skill, digital culture, digital
ethics, dan digital safety. Kerangka kurikulum literasi digital digunakan sebagai metode
pengukuran tingkat kompetensi kognitif dan afektif masyarakat dalam menguasai teknologi
digital.

c. Etika Bermedia Digital

Media digital digunakan oleh siapa saja yang berbeda latar pendidikan dan tingkat kompetensi.
Karena itu, dibutuhkan panduan etis dan kontrol diri (self-controlling) dalam menghadapi jarak
perbedaan-perbedaan tersebut dalam menggunakan media digital, yang disebut dengan Etika
Digital. Empat prinsip etika tersebut menjadi ujung tombak self-control setiap individu dalam
mengakses, berinteraksi, berpartisipasi, dan berkolaborasi di ruang digital, sehingga media
digital benar-benar bisa dimanfaatkan secara kolektif untuk hal-hal positif.

Pengetahuan Dasar Berinteraksi, Partisipasi, dan Kolaborasi di Ruang Digital yang Sesuai
dengan Kaidah Etika Digital dan Peraturan yang Berlaku

d. Partisipasi

Partisipasi merupakan proses terlibat aktif dalam berbagi data dan informasi yang bermanfaat
bagi diri sendiri dan orang lain. Proses ini berakhir pada menciptakan konten kreatif dan positif
untuk menggerakkan lingkungan sekitar.

e. Kolaborasi

Kolaborasi merupakan proses kerjasama antar pengguna untuk memecahkan masalah bersama
(Monggilo, 2020). Kompetensi ini mengajak peserta untuk berinisiatif dan mendistribusikan
informasi yang jujur, akurat, dan etis dengan bekerja sama dengan kelompok masyarakat dan
pemangku kepentingan lainnya (Kurnia, 2020).

f. Transaksi Elektronik/Transaksi Daring

● Berdasarkan UU ITE No 11 tahun 2008, transaksi elektronik adalah dengan menggunakan


komputer, jaringan komputer, dan media elektronik lainnya.
● Alat transaksi daring adalah metode pembayaran saat kita melakukan pembelanjaan daring.
Jenis pembayaran atau transaksi daring diantaranya ialah transfer bank, dompet digital/e-money,
COD (Cash on Delivery) atau pembayaran di tempat, pembayaran luring, kartu debit, kartu
kredit.

Nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Landasan Kecakapan Digital dalam
Kehidupan Berbudaya, Berbangsa, dan Bernegara

● Populasi kaum muda yang tinggi memberikan peluang bagi bangsa Indonesia untuk terus lebih
berkembang di dunia teknologi digital, tetapi yang perlu diperhatikan adalah penggunaan internet
dalam benar sesuai dengan kecakapan yang berlandaskan dengan Pancasila dan Bhinneka
Tunggal Ika.

● Tantangannya ada pada kemampuan mencerna informasi, sehingga pendidikan karakter adalah
salah satu cara dalam penanaman nilai-nilai nasionalisme dan penanaman semangat kebangsaan
dan pemahaman akan kebhinekaan

● Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan panduan kehidupan berbangsa, bernegara dan
berbudaya di Indonesia, dan Internalisasi nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam
kehidupan berbudaya, berbangsa, dan bernegara.

Modul SMART ASN adalah panduan yang dirancang untuk membantu ASN (Aparatur
Sipil Negara) dalam meningkatkan kinerja dan profesionalisme dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya. Modul ini didasarkan pada prinsip SMART (Specific, Measurable,
Achievable, Relevant, Time-bound) untuk membantu ASN dalam menetapkan tujuan yang
spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan berbatas waktu.

Modul SMART ASN meliputi empat area yaitu area kebijakan, area manajemen sumber
daya manusia (SDM), area manajemen kinerja, dan area manajemen perubahan. Setiap area
memiliki modul tersendiri yang terdiri dari panduan dan instruksi yang dapat diaplikasikan oleh
ASN sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.

Dalam area kebijakan, ASN diberikan panduan untuk memahami dan


mengimplementasikan kebijakan pemerintah serta memperkuat peran dan fungsi ASN dalam
mencapai tujuan nasional. Sedangkan dalam area manajemen SDM, ASN diberikan panduan
untuk memahami dan mengimplementasikan manajemen SDM yang baik dalam pelayanan
publik.

Di area manajemen kinerja, ASN diberikan panduan untuk memahami dan menerapkan
manajemen kinerja yang efektif dan efisien, termasuk dalam hal penilaian kinerja,
pengembangan kompetensi, dan pemberian penghargaan. Sementara di area manajemen
perubahan, ASN diberikan panduan untuk memahami dan menerapkan manajemen perubahan
dalam lingkup organisasi, termasuk dalam hal inovasi dan adaptasi terhadap perubahan
lingkungan.

Dengan mengaplikasikan panduan dan instruksi yang terdapat pada Modul SMART ASN,
diharapkan ASN dapat meningkatkan kinerja dan profesionalismenya dalam melaksanakan tugas
dan tanggung jawab sebagai pelayan publik, serta membangun sistem pemerintahan yang lebih
baik dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

2. Manajemen ASN
adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan Pegawai ASN yang Profesional, Memiliki
Nilai Dasar Etika Profesi Bebas dari Intervensi Politik Bersih dari praktik KKN.
a. Kedudukan & Peran;Hak & Kewajiban;
 Kedudukan ASN
Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 :
 Pegawai Negeri Sipil PNS merupakan warga negara Indonesia yang memenuhi
syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai ASN secara tetap oleh pejabat Pembina
kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan dan memiliki nomor induk
pegawai secara nasional
 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja warga Negara Indonesia yang
memenuhi syarat tertentu, yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja untuk
jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan sesuai
dengan kebutuhan Instansi Pemerintah dan ketentuan perundang-undangan
 Peran ASN
 Fungsi Dan Tugas
1. Pelaksana Kebijakan Publik
“Melaksanakan kebijakan yang dibuat oleh Pejabat Pembina
Kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan”
2. Pelayan Publik
“Memberikan pelayanan publik yang professional dan berkualitas”
3. Perekat dan Pemersatu bangsa
“Mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik
Indonesia”
 Hak PNS
Pasal 21 UU No 5 Tahun 2014 : Gaji, Tunjangan, Jaminan Pensiun dan
Hari Tua, Cuti, Perlindungan, Pengembangan Kompetensi
 Hak PPPK
Pasal 22 UU No 5 Tahun 2014 : Gaji, Tunjangan, Cuti, Perlindungan,
Pengembangan Kompetensi
 Pengembangan Kompetensi
Dasar Hukum
Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang ASN
PP No 11Tahun 2017 tentang Manajmen ASN

Acuan Pelaksanaan

Peraturan LAN No. 10 Tahun 2018 tentang

Pengembangan Kompetensi PNS Pasal 5

 Kewajiban ASN
setia dan taat pada Pancasila, UUD’45, NKRI, menjaga persatuan dan
kesatuan bangsa, melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat
pemerintah yang berwenang, menaati ketentuan peraturan perundang-
undangan, Menunjukkan Integritas dan Keteladanan Dalam Sikap,
Perilaku, Ucapan Dan Tindakan Kepada Setiap Orang, Baik di Dalam
Maupun di Luar Kedinasan, Menyimpan Rahasia Jabatan Dan Hanya
Dapat Mengemukakan Rahasia Jabatan Sesuai Dengan Ketentuan
Peraturan Perundang-undangan, Melaksanakan Tugas Kedinasan dengan
Penuh Pengabdian, Kejujuran, Kesadaran, dan Tanggung Jawab
 Kode Etik Dan Kode Perilaku ASN
Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggungjawab, dan berintegritas
tinggi, melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin, melayani
dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan, melaksanakan tugasnya
sesuai dengan perintah atasan atau sejauh tidak bertentangan dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan dan etika pemerintahan. tidak
menyalahgunakan informasi intern Negara, tugas, status, kekuasaan, dan
jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat bagi
diri sendiri atau untuk orang lain. Memberika informas secara benar dan
tidak menyesatkan kepada pihak lain yang memerlukan informasi terkait
kepentingan kedinasan Memberika informas secara benar dan tidak
menyesatkan kepada pihak lain yang memerlukan informasi terkait
kepentingan kedinasan, menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan
dalam melaksanakan tugasnya, melaksanakan tugasnya sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan, memegang teguh nilai dasar
ASN dan selalu menjaga reputasi dan integritas ASN, menggunakan
kekayaan dan barang milik Negara secara bertanggung jawab, efektif, dan
efisien
b. Sistem Merit
“Sistem merit adalah kebijakan dan manajemen ASN yang berdasarkan pada kualifikasi,
kompetensi dan kinerja secara adil dan wajar dengan tanpa membedakan latar belakang
politik, ras, warna kulit, agama, asal usul, jenis kelamin, status pernikahan, umur, atau
kondisi kecatatan”. (Pasal 1 UU ASN ttg Ketentuan Umum)
 Manfaat Sistem Merit Bagi Organisasi
Mendukung keberadaan Penerapan Prinsip Akuntabilitas, Dapat mengarahkan
SDM utuk dapat mempertanggung jawabkan tugas dan fungsinya, instansi
pemerintah mendapatkan pegawai yang tepat dan berintegritas untuk mencapai
visi dan misinya
 Manfaat Sistem Merit Bagi Pemerintah
Menjamin Keadilan dan ruang keterbukaan dlm perjalanan karir seorang pegawai,
Memiliki Kesempatan yang sama untuk meningkatkan kualitas diri
c. Mekanisme Pengelolaan ASN
 Penyusunan Dan Penetapan Kebutuhan
Setiap Instansi Pemerintah wajib menyusun kebutuhan jumlah dan jenis jabatan PNS
berdasarkan analisis jabatan dan analisis beban kerja.Dilakukan untuk jangka waktu 5
(lima) tahun dengan rincian per 1 (satu) tahun. (Pasal 56 dan 57 UU ASN 2014)
 Pengadaan PNS
1. Merencanakan pelaksanaan pengadaan PNS
2. Mengumumkan secara terbuka kepada masyarakat
3. Setiap WNI mempunyai kesempatan yg sama untuk melamar menjadi PNS
setelah memenuhi persyaratan
 4. Penyelenggaraan seleksi pengadaan PNS terdiri dari 3 (tiga) tahap (Pasal 58-67 UU
ASN 2014)
 Pangkat Dan Jabatan
Kompetensi
Kualifikasi
Persyaratan Yang Dibutuhkan (Pasal 68 UU ASN 2014)

PENUTUP

Dalam penutup resume ini, dapat disimpulkan bahwa ASN memainkan peran penting
dalam memberikan pelayanan publik yang baik dan berkualitas. ASN harus memahami nilai-nilai
dasar seperti orientasi pelayanan, akuntabilitas, kompetensi, harmonis, loyal, adaptif, dan
kolaboratif. Program pelatihan dan pengembangan seperti Pelatihan Dasar Calon PNS dan
Modul SMART ASN diperlukan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme ASN. ASN
harus memiliki sikap proaktif dalam menghadapi perubahan dan tantangan. Dengan memberikan
kontribusi yang positif melalui pelayanan publik yang berkualitas, ASN dapat memajukan
pembangunan nasional dan kesejahteraan masyarakat. ASN perlu terus meningkatkan
kompetensinya dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan publik yang responsif.
DAFTAR PUSTAKA

Ansen dan gash (2012) TTG KOLABORATIF


Dyer and Singh (1998, dalam Celik et al, 2019
Ermaya Suradinata, 1998)
Gray, 1989
Irawan (2017)
PP NO 11 TAHUN 2017 MAAJEMEN ASN

UUD 1945

UU NO 5 TAHUN 2014 ASN

Anda mungkin juga menyukai