Jenis-Jenis Bencana Alam Berdasar UU No 24 2007
Pengetahuan kebencanaan sudah seharusnya dipelajarai oleh setiap orang dimanapun, dengan harapan
mampu mencegah dan menanggulangi. Terlebih bencana alam yang paling sering merenggut nyawa serentak
peduduk di suatu daerah. Pengertian bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam dan membahayakan jiwa dan merusak pemukiman dan
lingkungan. Jenis-jenis bencana menurut Undang-Undang No.24 Tahun 2007, antara lain:
Tanah Longsor. Longsoran merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun
pencampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat dari tergangguanya kestabilan tanah atau batuan
penyusunan lereng tersebut. Gejala tanah longsor : Muncul retakan – retakan di lereng yang sejajar dengan
arah tebing kemudian muncul mata air baru secara tiba – tiba dan tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.
Gempa Bumi. Adalah peristiwa berguncangnya bumi yang dapat disebabkan oleh tumbukan anatar lempeng
tektonik, akibat gunung berapi atau runtuhan batuan. Gempa menjadi bencana yang dampaknya paling buruk
dibelahan negara manapun. Sangat cepat merusak perumahan yang berdampak pada korban jiwa, di
Indonesia adalah gempa Jogja pada 2005 silam.
Tsunami. Terjadinya gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif dari
dasar laut (gempa tektonik, erupsi vulkanik atau longsoran). Jenis bencana alam paling menakutkan
sepanjang sejarah di setiap negara. Di Indonesia paling buruk adalah tsunami Aceh pada tahun 26 Desember
2004.
Banjir. Bencana banjir biasnya terjadi curah hujan yang tinggi diatas normal, sehingga sistem pengaliran air
yang terdiri dari sungai dan anak sungai alamiah serta sistem saluran drainase dan kanal penampung banjir
buatan yang ada tidak mampu menampungakumulasi air hujan tersebut meluap.
Letusan Gunung Api. Gunung api merupakan lubang kepundan/rekahan pada kerak bumi tempat keluarnya
magma, gas atau cairan lainnya ke permukaan. Bencana gunung meletus disebabkan oleh aktifnya gunung
berapi sehingga menghasilkan erupsi.
Angin topan. Adalah pusaran angin kencang dengan kecepatan angin 120 km/jam atau lebih yang sering
terjadi di wilayah tropis diantara garis balik utara dan selatan, kecuali di daerah-daerah yang sangat
berdekatan dengan khatulistiwa. Angin topan disebabkan oleh perbedaan tekanan dalam suatu sistem cuaca.
Angin paling kencang yang terjadi di daerah tropis ini umumnya berpusar dengan radius ratusan kilometer di
sekitar daerah sistem tekanan rendah yang ekstrem dengan kecepatan sekitar 20 Km/jam. Di Indonesia
dikenal dengan sebutan angin badai.
Kekeringan. Hubungan antara ketersediaan yang jauh dibawah kebutuhan air baik untuk kebutuhan hidup,
pertanian kegiatan ekonomi dan lingkungan. Kekeringan alamiah terjadi akibat curah hujan dibawah normal,
kekurangan pasokan komoditi ekonomi ; kekeringan antropogenik terjadi akibat ketidak-taatan pada aturan
tertentu (pola tanam, konservasi, kawasan tangkapan air). Kekringan termasuk jenis bencana alam karena
terjadi karena disebabkan alam dan menimbulkan bahaya bagi kehidupan.(timdokumentasidanpubikasi)
Definisi Bencana menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007
Definisi Bencana Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan
definisi bencana sebagai berikut:
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor
manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
benda, dan dampak psikologis.
Definisi tersebut menyebutkan bahwa bencana disebabkan oleh faktor alam, non alam, dan manusia. Oleh
karena itu, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tersebut juga mendefinisikan mengenai bencana alam,
bencana nonalam, dan bencana sosial.
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan
oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan
tanah longsor.
Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang
antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan
oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.
Kejadian Bencana adalah peristiwa bencana yang terjadi dan dicatat berdasarkan tanggal kejadian, lokasi,
jenis bencana, korban dan/ataupun kerusakan. Jika terjadi bencana pada tanggal yang sama dan melanda
lebih dari satu wilayah, maka dihitung sebagai satu kejadian.
Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi yang disebabkan oleh
tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif, akitivitas gunung api atau runtuhan batuan.
Letusan gunung api merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah "erupsi". Bahaya
letusan gunung api dapat berupa awan panas, lontaran material (pijar), hujan abu lebat, lava, gas racun,
tsunami dan banjir lahar.
Tsunami berasal dari bahasa Jepang yang berarti gelombang ombak lautan ("tsu" berarti lautan, "nami"
berarti gelombang ombak). Tsunami adalah serangkaian gelombang ombak laut raksasa yang timbul karena
adanya pergeseran di dasar laut akibat gempa bumi.
Tanah longsor merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran
keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng.
Banjir adalah peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air yang
meningkat.
Banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba dengan debit air yang besar yang disebabkan
terbendungnya aliran sungai pada alur sungai.
Kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh di bawah kebutuhan air untuk kebutuhan hidup, pertanian,
kegiatan ekonomi dan lingkungan. Adapun yang dimaksud kekeringan di bidang pertanian adalah kekeringan
yang terjadi di lahan pertanian yang ada tanaman (padi, jagung, kedelai dan lain-lain) yang sedang
dibudidayakan .
Kebakaran adalah situasi dimana bangunan pada suatu tempat seperti rumah/pemukiman, pabrik, pasar,
gedung dan lain-lain dilanda api yang menimbulkan korban dan/atau kerugian.
Kebakaran hutan dan lahan adalah suatu keadaan di mana hutan dan lahan dilanda api, sehingga
mengakibatkan kerusakan hutan dan lahan yang menimbulkan kerugian ekonomis dan atau nilai lingkungan.
Kebakaran hutan dan lahan seringkali menyebabkan bencana asap yang dapat mengganggu aktivitas dan
kesehatan masyarakat sekitar.
Angin puting beliung adalah angin kencang yang datang secara tiba-tiba, mempunyai pusat, bergerak
melingkar menyerupai spiral dengan kecepatan 40-50 km/jam hingga menyentuh permukaan bumi dan akan
hilang dalam waktu singkat (3-5 menit).
Gelombang pasang atau badai adalah gelombang tinggi yang ditimbulkan karena efek terjadinya siklon
tropis di sekitar wilayah Indonesia dan berpotensi kuat menimbulkan bencana alam. Indonesia bukan daerah
lintasan siklon tropis tetapi keberadaan siklon tropis akan memberikan pengaruh kuat terjadinya angin
kencang, gelombang tinggi disertai hujan deras.
Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak.
Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipicu oleh terganggunya
keseimbangan alam daerah pantai tersebut. Walaupun abrasi bisa disebabkan oleh gejala alami, namun
manusia sering disebut sebagai penyebab utama abrasi.
Kecelakaan transportasi adalah kecelakaan moda transportasi yang terjadi di darat, laut dan udara.
Kecelakaan industri adalah kecelakaan yang disebabkan oleh dua faktor, yaitu perilaku kerja yang
berbahaya (unsafe human act) dan kondisi yang berbahaya (unsafe conditions). Adapun jenis kecelakaan
yang terjadi sangat bergantung pada macam industrinya, misalnya bahan dan peralatan kerja yang
dipergunakan, proses kerja, kondisi tempat kerja, bahkan pekerja yang terlibat di dalamnya.
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang
bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Status Kejadian Luar Biasa
diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004.
Konflik Sosial atau kerusuhan sosial atau huru hara adalah suatu gerakan massal yang bersifat merusak
tatanan dan tata tertib sosial yang ada, yang dipicu oleh kecemburuan sosial, budaya dan ekonomi yang
biasanya dikemas sebagai pertentangan antar suku, agama, ras (SARA).
Aksi Teror adalah aksi yang dilakukan oleh setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau
ancaman kekerasan sehingga menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau
menimbulkan korban yang bersifat masal, dengan cara merampas kemerdekaan sehingga mengakibatkan
hilangnya nyawa dan harta benda, mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital
yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik internasional.
Sabotase adalah tindakan yang dilakukan untuk melemahkan musuh melalui subversi, penghambatan,
pengacauan dan/ atau penghancuran. Dalam perang, istilah ini digunakan untuk mendiskripsikan aktivitas
individu atau grup yang tidak berhubungan dengan militer, tetapi dengan spionase. Sabotase dapat dilakukan
terhadap beberapa sruktur penting, seperti infrastruktur, struktur ekonomi, dan lain-lain.
Urutan Siklus Manajemen Bencana yang Benar adalah Tahap Pra, Saat,
dan Pasca Bencana
Urutan siklus manajemen bencana yang benar adalah suatu ha yang perlu
diketahui setiap orang. Pasalnya, hal ini sangat penting dilakukan untuk
mengurangi kerugian, menjamin bantuan sesegera mungkin, serta mencapai
pemulihan yang efektif.
Bencana adalah sesuatu yang meyebabkan kesusahan, kerugian, atau
penderitaan. Kerugian yang dialami masyarakat ini termasuk dari segi materi,
ekonomi, atau lingkungan. Di mana melampaui batas kemampuan masyarakat
yang bersangkutan untuk mengatasi dengan menggunakan sumber daya
mereka sendiri.
Urutan siklus manajemen bencana yang benar adalah tahap pra bencana, saat
bencana, dan pasca bencana. Hal ini berkaitan dengan manajemen bencana,
yaitu suatu proses dinamis, berlanjut, dan terpadu untuk meningkatkan kualitas
langkah-langkah yang berhubungan dengan observasi dan analisis bencana
serta pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, peringatan dini, penanganan
darurat, rehabilitas, dan rekonstruksi bencana.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, urutan siklus manajemen bencana
yang benar adalah pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana. Urutan
siklus manajemen bencana yang benar adalah dimulai dari tahap pra bencana.
Tahap Pra Bencana
Urutan siklus manajemen bencana yang benar adalah yang pertama tahap pra
bencana, yang terdiri dari pencegahan, mitigasi, kesiapsagaan, dan peringatan
dini.
1. Pencegahan (Prevention)
Upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana jika mungkin adalah
dengan meniadakan bahaya. Contoh kegiatan pencegahan di antaranya
melarang pembakaran hutan dalam perladangan, melarang penambangan batu
di daerah curam, melarang membuang sampah sembarangan, dan lain
sebagainya.
2. Mitigasi Bencana (Mitigation)
Mitigasi merupakan serangkaian upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko
bencana baik melalui pembangunan fisik, maupun penyadaran dan peningkatan
kemampuan menghadapi ancaman bencana. Kegiatan mitigasi ini bisa
dilakukan melalui pelaksanaan penataan ruangan; pengaturan pembangunan,
pembangunan infrastruktur, tata bangunan; dan penyelenggaraan pendidikan,
penyuluhan, pelatihan baik secara konvensional maupun modern.
3. Kesiapsiagaan (Preparedness)
Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
mengantisipasi bancana melalui pengorganisasian dan langkah yang tepat guna
dan berdaya guna. Urutan siklus manajemen bencana yang benar adalah
pertama-tama pada tahap pra bencana, dan kesiapsiagaan termasuk ke
dalamnya.
4. Peringatan Dini (Early Warning)
Peringatan dini merupakan serangkaian kegiatan pemberian peringatan
sesegera mungkin pada masyarakat mengenai kemungkinan terjadinya
bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang atau upaya untuk
memberikan tanda peringatan bahwa bencana kemungkinan akan segera
terjadi. Pemberian peringatan dini ini harus menjangkau masyarakat
(accesible), segera (immediate), tegas tidak membingungkan (coherent),
bersifat resmi (official).
Tahap Saat Terjadi Bencana
Selanjutnya, urutan siklus manajemen bencana yang benar adalah tahap saat
terjadi bencana. Tahap ini mencakup tanggap darurat dan bantuan darurat.
1. Tanggap Darurat (response)
Tanggap darurat merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan
segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang
ditimbulkan. Ini meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta
benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsian
dan pemulihan sarana prasarana.
Berikut beberapa kegiatan yang dilakukan pada tahap tanggap darurat,
diantaranya yaitu:
a. Pengkajian yang tepat terhadap lokasi, kerusakan dan sumber daya
b. Penentuan status keadaan darurat bencana
c. Penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana
d. Pemenuhan kebutuhan dasar
e. Perlindungan terhadap kelompok rentan
f. Pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital
2. Bantuan Darurat (relief)
Bantuan darurat merupakan upaya untuk memberikan bantuan berkaitan
dengan pemenuhan kebutuhan dasar berupa sandang, pangan, tempat tinggal
sementara, kesehatan, sanitasi dan juga air bersih.
Tahap Pasca Bencana
Terakhir, urutan siklus manajemen bencana yang benar adalah tahapt pasca
bencana. Urutan siklus manajemen bencana yang benar adalah pada tahap
pasca bencana mencakup pemulihan, rehabilitasi, dan juga rekonstruksi.
1. Pemulihan (Recovery)
Pemulihan merupakan rangkaian kegiatan untuk mengembalikan kondisi
masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan
memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana dan sarana, dengan
melakukan upaya rehabilitasi.
2. Rehabilitasi (rehabilitation)
Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik
atau masyarakat hingga tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana
dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua
aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana.
3. Rekonstruksi (reconstruction)
Rekonstruksi adalah perumusan kebijakan dan usaha serta langkah-langkah
nyata yang terencana dengan baik, konsisten dan berkelanjutan untuk
membangun kembali secara permanen semua prasarana, sarana dan sistem
kelembagaan baik tingkat pemerintahan maupun masyarakat. Sasaran
utamanya yaitu tumbuh berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan
budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran dan partisipasi
masyarakat sipil dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat di wilayah
pasca bencana. Lingkup pelaksanaan rekonstruksi terdiri atas program
rekonstruksi fisik dan program rekonstruksi non fisik.