Rencana Kerja Struktur Rusun Barak 2022
Rencana Kerja Struktur Rusun Barak 2022
2022
ii
DAFTAR ISI
iii
PASAL 08 PEKERJAAN FONDASI TIANG BOR ..................................................................................... 62
PASAL 09 PEKERJAAN FONDASI SUMURAN ...................................................................................... 71
PASAL 10 PEKERJAAN FONDASI TELAPAK ......................................................................................... 81
1. Umum .................................................................................................................................... 81
2. Persyaratan Bahan................................................................................................................. 81
PASAL 11 PEKERJAAN LOADING TEST ............................................................................................... 82
1. Axial Loading Test ..................................................................................................................... 83
2. Tes Beban PDA (PDA Test) ..................................................................................................... 88
iv
BAB I
PERSYARATAN TEKNIS PEKERJAAN STRUKTUR
PASAL 01
PEKERJAAN PERSIAPAN
PASAL 02
PENGGALIAN TANAH & PENIMBUNAN
1. Lingkup Pekerjaan
Semua sampah-sampah, bekas-bekas bongkaran dan urugan harus dibuang keluar
lokasi dan tidak mengganggu lingkungan. Penggalian harus dilaksanakan sampai
mencapai kedalaman sebagaimana ditentukan dalam gambar-gambar. Dalam
pelaksanaan galian harus sesuai rencana dan terlebih dahulu mendapat persetujuan dari
Direksi Lapangan/ Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas.
1
2. Pelaksanaan Penggalian
2.1. Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor dapat memulai penggalian setelah
mendapat persetujuan dari Direksi Lapangan/Konsultan Supervisi / Manajemen
Konstruksi (MK).
2.5. Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor wajib membuat jalan penghubung, untuk
naik/turun bagi kegunaan inspeksi.
2
2.7.2. Apabila diperlukan penggalian tegak harus dibuatkan konstruksi turap yang
cukup kuat untuk menahan tekanan tanah di belakang galian. Konstruksi-
konstruksi turap tersebut harus direncanakan dan dihitung oleh Penyedia
Jasa Konstruksi / Kontraktor dan disetujui oleh Konsultan Supervisi /
Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas. Selama pelaksanaan tanah di
belakang galian tidak boleh longsor. Semua biaya turap dan perkuatannya
sudah termasuk beban biaya bangunan dalam kontrak.
2.8. Pekerjaan Penggalian pondasi, Pile Cap dan sloof (Tie Beam) dapat dilaksanakan
secara konvensional, terkecuali untuk pekerjaan Cut and Fill yang memiliki bobot
volume yang besar, harus mengunakan alat berat untuk efisiensi pelaksanaan
pekerjaan dan semua peralatan yang dibutuhkan harus disediakan oleh
Pelaksanaan Konstruksi, baik yang menyangkut peralatan untuk pekerjaan
persiapan maupun peralatan untuk pekerjaan penggaliannya sendiri dan alat bantu
yang diperlukan.
2.9. Semua galian harus dilaksanakan sampai diperoleh panjang galian, kedalaman,
kemiringan dan lengkungan yang sesuai dengan yang tertera di dalam gambar.
2.10. Bilamana kedalaman penggalian terlampaui kedalaman yang
dibutuhkan sebagaimana yang tertera di dalam gambar, Pelaksanaan Konstruksi
harus menimbun kembali dengan pasir urug.
2.11. Bilamana kondisi dari tanah pada kedalaman yang ditentukan di dalam
gambar ternyata meragukan, Pelaksanaan Konstruksi harus secepatnya
melaporkan hasil tersebut kepada Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi
(MK) secara tertulis, agar dapat diambil langkah-langkah yang dianggap perlu,
semua biaya yang diakibatkan oleh keadaan tersebut akan dibayarkan oleh
Pemilik bangunan melalui penerbitan "Perintah Perubahan Pekerjaan".
2.12. Permukaan tanah yang sudah selesai digali dan telah mencapai kedalaman
rencana harus dipadatkan kembali untuk mendapatkan permukaan yang
padat, rata. Pemadatan tanah digunakan alat pemadat tanah yang sebelumnya
disetujui Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK).
2.13. Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor harus melaporkan hasil pekerjaan galian
tanah yang telah selesai dan menurut pendapatnya sudah dapat digunakan
3
untuk pemasangan pondasi kepada Direksi Konsultan Supervisi / Manajemen
Konstruksi (MK) untuk dimintakan Persetujuan.
2.14. Semua kelebihan tanah galian harus dikeluarkan dari lapangan ke lokasi
yang disetujui oleh pemberi tugas, Pelaksanaan Konstruksi bertanggung jawab
untuk mendapatkan tempat pembuangan dan membayar ongkos-ongkos yang
diperlukan.
2.15. Air yang tergenang di lapangan atau dalam saluran dan galian selama
Pelaksanaan pekerjaan dari mata air, hujan atau kebocoran pipa-pipa harus
dipompa keluar.
Hambatan yang Dijumpai Waktu Penggalian:
3. Penimbunan
3.1. Seluruh bagian site yang direncanakan untuk perletakan bangunan harus ditimbun
sampai mencapai ketinggian yang ditentukan, tanah timbunan harus cukup baik,
bebas dari sisa-sisa (rumput, akar-akar dan lain-lainnya) dan dapat mencapai CBR
minimal 4 % rendam air. Dalam hal ini harus mengikuti petunjuk-petunjuk
pengawas teknik.
3.4.1 Semua daerah yang akan diurug harus dibersihkan dari semua semak-
semak, akar-akar pohon, sampah-puing-puing bangunan dan lain-lain
sampah, sebelum pengurugan tanah dimulai.
3.4.2 Tanah urug untuk mengurug, meratakan dan membuat tanah, tebing-tebing
harus bersih dari sisa-sisa tanaman, sampah dan lain-lain.
3.4.3 Material yang digunakan untuk timbunan dan subgrade harus memenuhi
standar spesifikasi AASHTO-M 57-64 dan harus diperiksa terlebih dahulu di
laboratorium tanah yang disetujui oleh Konsultan Supervisi / Manajemen
Konstruksi (MK)/Pengawas.
3.4.4 Material yang dipakai untuk timbunan harus memenuhi satu dari
persyaratan-persyaratan berikut:
Material yang diklafikasikan dalam kelompok Material yang A-1, A-2-4, A-2-
5, atau A-3 seperti dalam AASHTO M 145 dan harus dipadatkan sampai
95% dari berat jenis kering maksimum (= maximum dry density) menurut
AASHTO T. 99. Material-material yang diklasifikasikan dalam kelompok A-
2-6, A-2-7, A-4, A-5, A-6, A-7' boleh digunakan dengan perhatian khusus
diberikan pada waktu pemadatan tanah untuk mencapai 95% dari berat
jenis kering (maximum dry density) menurut AASHTO T.99.
5
3.4.5 Material yang dipakai untuk subgrade harus memenuhi salah satu dari
persyaratan-persyaratan berikut :
Material yang diklasifikasikan dalam grup A-1, A,2-4, A,2-5, A-3 seperti
dalam AASHTO M 145 dan bila digunakan harus dipadatkan sampai 100 %
dari berat jenis maksimum (= maximum dry density) menurut AASHTO T.99.
Material-material dalam grup A-2-6, A-2-7, A-4, A-6 atau A-7 boleh juga
dipakai asal dipadatkan sampai minimum 95% berat jenis kering maksimum
(= maximum dry density) dan 95% optimum moisture content (AASHTO
T.99).
3.4.6 Bila tanah galian ternyata tidak baik atau kurang dari jumlah yang
dibutuhkan maka Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor harus
mendatangkan tanah urug yang baik dan cukup jumlahnya serta
mendapatkan persetujuan dari Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi
(MK)/Pengawas.
3.4.7 Mesin gilas tidak boleh digunakan di tempat-tempat yang oleh Konsultan
Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas dianggap berbahaya
atau dengan jarak yang kurang dari 45 cm terhadap saluran, batas-batas
atau pekerjaan-pekerjaan lain yang mungkin menjadi rusak. Untuk hal
tersebut mesin gilas bisa diganti dengan stamper.
6
3.4.9 Pengurugan tanah untuk dasar pondasi plat jalur/setempat, dimana dasar
pondasi harus diurug maka syarat-syarat pengurugan seperti di atas harus
dipenuhi dengan kepadatan 95 % dalam lapisan-lapisan setiap 20 cm.
PASAL 03
LANTAI KERJA
1. Umum
Pasal ini menguraikan semua pekerjaan lantai kerja, seperti dibawah pekerjaan pondasi,
sloof dan sejenisnya sebagaimana yang tercantum dalam gambar perencanaan.
2. Persyaratan Bahan
Lantai kerja harus dibuat dari campuran semen, pasir, kerikil bila tidak disebutkan secara
khusus didalam gambar harus dibuat dengan perbandingan semen : pasir : kerikil = 1 :
3 : 5 atau fc’ = 15 MPa.
PASAL 04
PEKERJAAN BETON STRUKTUR
1. Lingkup Pekerjaan
1.1. Semua pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan-bahan, peralatan, tenaga kerja,
pengangkutan yang dibutuhkan serta pelaksanaan pekerjaan beton struktur yang
meliputi semua elemen struktur gedung mulai dari pondasi telapak, poer dan sloof
7
sampai ke atap gedung, sesuai yang ditunjukkan dalam gambar rencana dan
memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam peraturan dari bagian kerja ini,
ditambah dengan bagian-bagian khusus meliputi:
1.3. Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor harus bertanggung jawab atas instalasi
semua alat-alat yang terpasang, selubung-selubung dan sebagainya yang
tertanam di dalam beton. Syarat-syarat umum pada pekerjaan ini berlaku penuh
SNI 2847:2019, Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung.
1.4. Ukuran-ukuran (dimensi) dari bagian-bagian beton bertulang yang tidak termasuk
pada gambar-gambar rencana pelaksanaan arsitektur adalah ukuran-ukuran dalam
garis besar. Ukuran-ukuran yang tepat, begitu pula besi penulangannya ditetapkan
dalam gambar-gambar struktur konstruksi beton bertulang. Jika terdapat selisih
dalam ukuran antara kedua macam gambar itu, maka ukuran yang berlaku harus
dikonsultasikan terlebih dahulu dengan Perencana atau Konsultan Supervisi /
Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas, guna mendapatkan ukuran yang
sesungguhnya yang disetujui oleh Perencana.
1.5. Apabila di dalam pelaksanaan pekerjaan terjadi penyimpangan dari syarat-syarat
yang telah ditentukan dalam RKS ini, maka segala akibat yang ditimbulkan oleh
penyimpangan tersebut menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa Konstruksi /
Kontraktor sepenuhnya.
1.6. Perencanaan, bahan, pelaksanaan, peralatan dan pengujian untuk pekerjaan
struktur beton bagian atas (upper structure) bila ditentukan lain harus mengikuti
syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang diberikan dalam SNI 2847:2019 Tata
Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung.
8
1.7. Ketentuan selimut/pelindung beton untuk tulangan adalah sebagai berikut:
Kondisi Tebal Selimut Beton (mm)
Beton yang dicor langsung diatas
tanah dan selalu berhubungan 75 mm
dengan tanah
Beton yang berhubungan dengan ≥ D19=50 mm
tanah dan cuaca ≤D16=40 mm
Balok, balok girder & kolom yang
≥ D19=50 mm
berhubungan dengan tanah atau
≤D16=40 mm
cuaca
Balok, balok girder, & kolom yang
tidak berhubungan dengan tanah 40 mm
atau cuaca
Pelat & dinding yang berhubungan ≥ D19=50 mm
dengan tanah atau cuaca ≤D16=40 mm
Pelat & dinding yang tidak
berhubungan dengan tanah atau 20 mm
cuaca
2. Persyaratan Bahan
2.1. Semen Portland
Semen yang digunakan harus baru, tidak ada bagian-bagian yang membatu dan
dalam zak yang tertutup seperti yang disyaratkan dalam SNI 15-2049-2004 atau
type I menurut ASTM memenuhi S.400 menurut Standar Semen Portland yang
digariskan oleh Asosisasi Semen Indonesia. Merk yang dipilih tidak ditukar-tukar
dalam pelaksanaan kecuali atas pertimbangan persetujuan tertulis dari Direksi
Lapangan/Konsultan Supervisi/Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas Lapangan,
yang hanya dapat dilakukan dalam keadaan:
9
c. Batas-batas pembetonan dari penggunaan merk semen berlainan jenis harus
diketahui.
2.2. Agregat
a. Air yang dipakai untuk semua beton, spesi/mortar dan spesi injeksi harus bebas
dari lumpur, minyak, asam dan bahan organik basah, garam dan kotoran-
kotoran lainnya dalam jumlah yang dapat merusak.
b. Apabila terdapat keragu-raguan mengenai air yang dipakai, dianjurkan untuk
mengirim contoh air itu ke Lembaga Pemeriksaan bahan-bahan yang disetujui
Direksi Lapangan/Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi
(MK)/Pengawas Lapangan / Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi
(MK)/Pengawas atas biaya Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor, untuk
diselidiki sampai seberapa jauh ait itu mengandung zat-zat yang dapat merusak
beton / tulangan.
2.4. Acuan (Bekisting) dan Perancah (Scafolding)
Acuan (bekisting) yang digunakan adalah dari plywood tebal 12 mm dengan rangka
kayu pengaku secukupnya, harus dipergunakan untuk pencetakan semua kolom
(kecuali kolom praktis), semua listplank dan semua tangga-tangga gedung.
Perancah (scafolding) dapat dipergunakan dari pipa-pipa besi yang direncanakan
rangkaiannya sedemikian rupa sebagai perancah yang memenuhi syarat, atau
10
dapat pula dari kayu dolken/bambu bulat dengan diameter minimum 8 cm, jarak
minimal antar tiang perancang adalah 50 cm.
Jika tidak ditentukan lain dalam gambar-gambar struktur, jenis dan mutu besi beton
yang dipakai dalam pekerjaan struktur beton ini adalah sebagai berikut:
1) Mutu Baja Kecuali ditentukan lain pada gambar kerja, kekuatan dan
penggunaan baja adalah sebagai berikut:
a. Baja ulir BJTS 420B (fy= 420 Mpa)
b. Baja polos BJTP 280 (fy= 280 Mpa)
Khusus untuk jenis-jenis baja tulangan yang berdiameter 19 mm ke atas,
didatangkan dalam keadaan lurus (tidak boleh ditekuk) dari pabriknya.
2) Tulangan harus bebas dari kotoran, lemak dan karat serta bahan-bahan lain
yang mengurangi daya lekat.
< 10 mm 7% 0.4 mm
10 < d < 16 mm 5% 0.4 mm
16 - 28 mm 5% 0.5 %
-
29 - 32 mm 4%
7) Batang-batang baja lunak yang bulat harus mempunyai keluluhan bawah tekan
11
minimum = 2800 kg/cm2 dan batang-batang baja ulir harus mempunyai
keluluhan bawah tekan minimum 4200 kg/cm2 seperti yang disyaratkan dalam
gambar-gambar struktur.
9) Untuk mendapatkan jaminan atas kualitas atau mutu baja tulangan, maka pada
saat pemesanan baja tulangan Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor harus
menyerahkan sertifikat resmi dari laboratorium khusus ditujukan untuk
keperluan proyek ini.
10) Setiap jumlah pengiriman 20 ton baja tulangan harus diadakan pengujian
periodik minimal 4 contoh yang terdiri dari 3 benda uji untuk uji tarik, dan 1
benda uji untuk uji lengkung untuk setiap diameter batang baja tulangan.
Pengambilan contoh baja tulangan, akan ditentukan oleh Konsultan Supervisi /
Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas.
11) Semua pengujian tersebut diatas meliputi uji tarik dan lengkung, harus
dilakukan di laboratorium yang direkomendasi oleh Direksi Lapangan/Konsultan
Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas dan minimal sesuai dengan
SII-0136-84 salah satu standar yang dapat dipakai adalah ASTM A-615.
Semua biaya pengetesan tersebut ditanggung oleh Penyedia Jasa Konstruksi /
Kontraktor.
Untuk tipe Kategori Desain Seisimik (KDS) tipe C, D, dan E syarat minimum mutu
meton yang digunakan adalah fc’ 25 MPa untuk beton struktural dengan uji
berbentuk silinder dengan ukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm dan memenuhi
syarat dalam SNI 2847:2019 Indonesia dan K-175 untuk beton non struktural. Untuk
memungkinkan pencapaian kualitas beton ini, Penyedia Jasa Konstruksi /
Kontraktor diwajibkan menggunakan beton ready mix.
3. Pelaksanaan
3.1. Pemasangan Bekisting (Acuan)
a. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan, peralatan, pengangkutan
dan pelaksanaan untuk menyelesaikan semua pekerjaan beton sesuai dengan
gambar-gambar konstruksi, dengan memperhatikan ketentuan tambahan dari
arsitek dalam uraian dan syarat-syarat pelaksanaannya.
b. Persayaratan Bahan
Bahan acuan yang dipergunakan dapat dalam bentuk : beton, baja, pasangan bata
yang diplester atau kayu. Pemakaian bambu tidak diperbolehkan. Lain-lain jenis
bahan yang akan dipergunakan harus mendapat persetujuan tertulis dari
Direksi/MK terlebih dahulu. Acuan yang terbuat dari kayu harus menggunakan kayu
jenis meranti atau setaraf.
Ukuran kayu yang digunakan tergantung dari perencanaan acuan dengan
tebal multiplek minimum 12 mm.
c. Persyaratan Pelaksanaan
8) Cetakan beton harus dibersihkan dari segala kotoran- kotoran yang melekat
seperti potongan-potongan kayu, potongan-potongan kawat, paku, tahi
gergaji, tanah dan sebagainya.
10) Cetakan harus diperkaku atau diikat dengan baik untuk mempertahankan
posisi dan bentuknya.
14
12) Perencanaan cetakan harus menyertakan pertimbangan faktor-faktor
berikut :
14) Kayu acuan harus bersih dan dibasahi terlebih dulu sebelum pengecoran.
Harus diadakan tindakan untuk menghindarkan terkumpulnya air
pembasahan tersebut pada sisi bawah.
15) Cetakan harus mantap, cukup rapat dan dipasang sedemikian rupa untuk
mencegah kebocoran mortar atau hilangnya air semen selama pengecoran,
tetap lurus (tidak berubah bentuk) dan tidak bergoyang.
17) Pada bagian terendah (dari setiap phase pengecoran) dari bekisting kolom
atau dinding harus ada bagian yang mudah dibuka untuk inspeksi dan
pembersihan.
d. Alternatif Acuan/Bekisting:
15
Pemborong dapat mengusulkan alternatif jenis acuan yang akan dipakai,
dengan melampirkan brosur/gambar acuan tersebut beserta perhitungannya
untuk mendapat persetujuan tertulis dari Direksi/MK. Dengan catatan bahwa
alternatif acuan tersebut tidak merupakan kerja tambah dan tidak
menyebabkan kelambatan dalam pekerjaan. Sangat diharapkan agar
Pemborong dapat mengajukan usulan acuan yang dapat mempersingkat
waktu pelaksanaan tanpa mengurangi/membahayakan mutu beton dan sesuai
dengan peraturan-peraturan yang berlaku.
3.2. Penulangan
a. Sebelum memulai pelaksanaan pekerjan penulangan terlebih dahulu harus
dilakukan tes mutu besi di Laboratorium Konstruksi Beton dengan biaya dari
Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor. Tes mutu besi selanjutnya dilakukan
secara periodik mengikuti ketentuan yang berlaku dalam SNI 2052:2020.
b. Baja tulangan beton sebelum dipasang, harus bersih dari serpih-serpih, karat,
minyak, gemuk dan pelapisan yang akan merusak atau mengurangi daya
rekatnya. Bilamana ada kemacetan dalam pengecoran beton, tulangan akan
diperiksa kembali dan bila perlu akan dibersihkan. Baja tulangan beton harus
dibentuk dengan teliti sesuai dengan bentuk dan ukuran-ukuran yang tertera
pada gambar-gambar konstruksi yang diberikan kepada Penyedia Jasa
Konstruksi / Kontraktor. Baja tulangan beton tidak boleh diluruskan atau
dibengkokkan kembali dengan cara yang dapat merusak bahannya.
c. Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor harus melaksanakan supaya besi
terpasang adalah sesuai dengan apa yang tertera pada gambar, baik letak
kedudukannya maupun ukuran-ukurannya.
d. Dalam hal dimana berdasarkan pengalaman Penyedia Jasa Konstruksi /
Kontraktor atau pendapatnya terdapat kekeliruan atau kekurangan dan perlu
penyempurnaan penulangan yang ada maka:
➢ Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor dapat menambah ekstra baja tulangan
dengan tidak mengurangi penulangan yang tertera dalam gambar,
secepatnya dapat diinformasikan kepada Direksi Lapangan/ Konsultan
Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas.
➢ Jika hal tersebut di atas akan dimintakan Penyedia Jasa Konstruksi /
Kontraktor sebagai kerja lebih maka penambahan tersebut hanya dapat
dilakukan setelah ada persetujuan tertulis dari Direksi Lapangan/Konsultan
Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas.
16
e. Jika diusulkan perubahan dari jalannya penulangan maka perubahan tersebut
hanya dapat dijalankan dengan persetujuan tertulis dari Direksi Lapangan/
Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas.
f. Jika Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor tidak berhasil mendapatkan
diameter baja tulangan yang sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar
maka dapat dilakukan penukaran diameter baja tulangan yang terdekat, dengan
catatan:
➢ Harus ada persetujuan tertulis dari Direksi Lapangan/ Konsultan Supervisi /
Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas.
➢ Jumlah baja tulangan persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut
tidak boleh kurang dari yang tertera dalam gambar (jumlah luas penampang).
➢ Penggatian tidak boleh mengakibatkan keruwetan penulangan ditempat
tersebut atau di daerah overlapping yang dapat menyulitkan pembetonan
atau penyampaian penggetar.
➢ Mutu baja tulangan tetap sama.
3.3. Pengecoran
a. Sebagaimana disebutkan dalam point 2.7. pasal ini bahwa kualitas beton yang
harus dicapai dalam pekerjaan struktur beton ini adalah fc’ 25 MPa. Evaluasi
penentuan karakteristik ini digunakan ketentuan-ketentuan SNI 2847:2019.
b. Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor harus memberikan jaminan atas
kemampuannya membuat kualitas beton ini dengan memperlihatkan data-data
pelaksanaan di lain tempat dengan mengadakan trial mix.
c. Selama pelaksanaan harus dibuat benda-benda uji menurut ketentuan-
ketentuan dalam SNI 2847:2019, mengingat bahwa 33,2/C faktor yang sesuai
disini adalah sekitar 0,52-0,55 maka pemasukan adukan kedalam cetakan
benda uji dilakukan menurut SNI 2847:2019.
d. Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor harus membuat laporan tertulis atas
data-data kualitas beton yang dibuat dengan disahkan oleh Direksi Lapangan/
Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas, laporan tersebut
harus dilengkapi dengan harga karakteristiknya.
e. Jumlah semen minimum 3 340 kg/m3 beton, khusus pada atap, pondasi, luifel
jumlah minimum tersebut dinaikan menjadi 365 kg/m3 beton (atau adukan
standar minimum 1:1,25:2,5 dan 1:2:3).
f. Pengujian silinder percobaan harus dilakukan di laboratorium yang disetujui
oleh Direksi Lapangan/Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi
17
(MK)/Pengawas atas biaya Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor. Pengujian
kubus selanjutnya secara periodik mengikuti ketentuan-ketentuan dalam SNI
2847 : 2019.
g. Jika perlu digunakan juga pembuatan kubus percobaan umur 7 (tujuh) hari
dengan ketentuan hasilnya tidak boleh kurang dari 65% kekuatan yang diminta
pada 28 hari. Jika hasil tekan benda uji tidak memberikan angka kekuatan yang
diminta, maka harus dilakukan pengujian beton ditempat dengan cara-cara
seperti ditetapkan dalam SNI 2847:2019.
h. Perawatan kubus percobaan tersebut adalah dalam pasir basah yang tidak
tergenang air, selama 7 (tujuh) hari dan selanjutnya dalam udara terbuka.
i. Pengadukan beton dalam angker tidak boleh kurang dari 75 detik terhitung
setelah seluruh komponen adukan masuk ke dalam mixer.
j. Penyampaian beton (adukan) dari mixer ke tempat pengecoran harus dilakukan
dengan cara yang tidak mengakibatkan terjadinya degradasi komponen-
komponen beton.
k. Harus menggunakan vibrator untuk pemadatan beton yang memenuhi
ketentuan dalam SNI 2847:2019.
l. Penempatan siar-siar pelaksanaan sepanjang tidak ditentukan lain dalam
gambar struktur, harus mengikuti ketentuan dalam SNI 2847:2019 dan sebelum
pengecoran beton dilaksanakan Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor harus
membuat gambar pelaksanaan (shop drawing) siar-siar tersebut yang telah
disetujui oleh Direksi Lapangan/Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi
(MK)/Pengawas.
m. Siar-siar tersebut harus dibasahi terlebih dahulu dengan air semen yang diberi
campuran bahan pengikat (calbond atau sejenis) atas persetujuan Direksi
Lapangan/Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas.
n. Selama pelaksanaan pengecoran beton berlangsung, harus diperhatikan letak
penulangan agar tidak berubah tempatnya. Jika kelalaian akan hal ini terjadi
sehingga menyebabkan perubahan kekuatan konstruksi maka segala resiko
yang timbul akibatnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa
Konstruksi / Kontraktor.
o. Pengecoran tidak diperkenankan selama hujan turun, air semen atau spesi
tidak boleh dihamparkan pada siar-siar pelaksanaan. Air semen atau spesi yang
hanyut dan terhampar harus dibuang dan diganti sebelum pekerjaan
dilanjutkan. Pengecoran yang sudah dimulai pada suatu bagian tidak boleh
terputus sebelum selesai.
18
p. Beton tidak boleh dicor sebelum semua pekerjaan cetakan, baja tulangan
beton, pemasangan instalasi-instalasi yang harus ditanam, penyokongan dan
pengikatan serta penyiapan permukaan-permukaan yang berhubungan dengan
pengecoran harus mendapat perseujuan dari Direksi Lapangan/Konsultan
Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas.
q. Sebelum pengecoran beton, semua permukaan pada tempat pengecoran harus
bersih dari zat-zat asing yang akan mempengaruhi/emngurangi kekuatan hasil
pengecoran. Beton tidak diperkenankan berhubungan dengan air yang
mengalir sebelum beton tersebut cukup keras.
r. Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor harus memasang lantai kerja (blinding
course) yang merata di atas permukaan tanah, yang terdiri dari lapisan beton
setebal 5 cm dan mempunyai sifat menyerap (absorptive), hal ini diperlukan
untuk mempermudah pemasangan tulangan dan pengecoran beton di atas
dasar permukaan tanah.
s. Perhatian khusus perlu dicurahkan terhadap ketepatan tebal penutup beton,
untuk itu tulangan harus dipasang dengan penahan jarak yang terbuat dari
beton dengan mutu paling sedikit sama dengan mutu beton yang akan dicor.
Bila tidak ditentukan lain, maka penahan-penahan jarak dapat berbentuk blok-
blok persegi atau gelang-gelang yang harus dipasang sebanyak minimum 8
buah setiap meter cetakan atau lantai kerja. Penahan-penahan jarak tersebut
adalah bagian pekerjaan itu.
t. Direksi Lapangan/Konsultan Supervisi/ Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas
akan memeriksa hasil pekerjaan pembetonan terhadap kemungkinan adanya
cacat-cacat. Apabila terdapat cacat pada pkerjaan pembetonan maka Penyedia
Jasa Konstruksi/Kontraktor harus memperbaikinya kembali atas biaya
Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor.
u. Bentuk atau cara-cara perbaikan cacat pada pekerjaan pembetonan tersebut
adalah menjadi wewenang Direksi Lapangan/Konsultan Supervisi / Manajemen
Konstruksi (MK)/Pengawas dan Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor wajib
melaksanakannya.
e. Pemborong harus secara rutin membuat benda uji silinder beton dengan
memenuhi ketentuan sebagai berikut:
3) Untuk pengecoran truk mixer ke-6 s/d ke-10 = 1 set benda uji.
4) Untuk pengecoran tiap kelipatan 10 truk mixer selanjutnya = 1 set benda uji.
Dimana 1 set benda uji terdiri dari 4 benda uji = 4 kali test:
Untuk pengecekan umur adukan, maka setiap truck mixer harus disertai dengan
data yang menunjukkan jam saat air dituangkan ke campuran beton di batching
plant, jam truck mixer sampai di site, serta jam selesainya adukan tersebut
dituangkan. Data penting tersebut harus ditandatangani oleh Supplier readymix,
MK dan Kontraktor. Tes – tes tersebut harus dilakukan di Laboratorium Independen
yang telah disetujui secara tertulis oleh Direksi/MK. Tes – tes yang dilakukan di
laboratorium supplier ready mix tidak bisa dianggap sebagai tes di laboratorium
independen.
f. Untuk benda uji berbentuk silinder, cetakan harus berbentuk silinder dengan ukuran
diameter 15 cm dan tinggi 30 cm dan memenuhi syarat dalam SNI 2847:2019
Indonesia.
g. Pengambilan adukan beton, pencetakan benda uji silinder dan curingnya harus
dibawah pengawasan Direksi/MK. Prosedurnya harus memenuhi syarat - syarat
dalam SNI 2847:2019 Indonesia.
h. Pengujian.
Jika beton tidak memenuhi syarat-syarat pengujian slump, maka kelompok adukan
yang tidak memenuhi syarat itu tidak boleh dipakai, dan Pemborong harus
menyingkirkannya dari tempat pekerjaan. Jika pengujian tekanan gagal maka
20
perbaikan-perbaikan atau langkah-langkah yang diambil harus dilakukan dengan
mengikuti prosedur-prosedur SNI 2847:2019 Indonesia atas biaya Pemborong.
Semua biaya untuk pembuatan dan percobaan benda uji silinder menjadi tanggung
jawab Pemborong.
i. Benda uji selinder harus ditandai dengan suatu kode yang menunjukkan tanggal
pengecoran, bagian struktur yang bersangkutan dan lain-lain data yang perlu
dicatat.
j. Semua benda uji silinder harus dites di independent disetujui secara tertulis oleh
Direksi/MK.
k. Laporan asli (bukan photo copy) hasil Percobaan harus diserahkan kepada
Direksi/MK dan Perencana Struktur segera sesudah selesai percobaan, dengan
mencantumkan besarnya kekuatan karakteristik, deviasi standar, campuran
adukan dan berat benda uji selinder tersebut. Percobaan/test beton dilakukan
untuk umur-umur beton 3, 7 dan 14 hari dan juga untuk umur beton 28 hari.
l. Laporan test beton agar direkap secara sistematik dalam bentuk tabelaris dengan
Excel sehingga memudahkan melakukan evaluasi.
m. Apabila dalam pelaksanaan nanti ternyata bahwa mutu beton yang dibuat seperti
yang ditunjukkan oleh benda uji silindernya gagal memenuhi syarat spesifikasi,
maka Direksi/MK berhak meminta Pemborong supaya mengadakan percobaan-
percobaan non destruktif atau bila perlu untuk mengadakan percobaan loading
(Loading Test) atas biaya Pemborong.
Apabila gagal, maka bagian pekerjaan tersebut harus dibongkar dan dibangun baru
sesuai dengan petunjuk Direksi/MK.
1) Beton harus diuji dengan ketentuan ayat ini poin (2) hingga poin (5). Teknisi
pengujian lapangan yang memenuhi kualifikasi harus melakukan pengujian
beton segar di lokasi konstruksi, menyiapkan contoh-contoh uji silinder yang
diperlukan dan mencatat suhu beton segar pada saat menyiapkan contoh uji
untuk pengujian kuat tekan. Teknisi laboratorium yang mempunyai
21
kualifikasi harus melakukan semua pengujian-pengujian laboratorium yang
disyaratkan.
a) Contoh untuk uji kuat tekan harus diambil menurut SNI 2458:2008. Metode
pengujian dan pengambilan contoh untuk campuran beton segar.
b) Benda uji silinder yang digunakan untuk uji kuat tekan harus dibentuk dan
dirawat di laboratorium menurut SNI 4810:2013. Metode pembuatan dan
perawatan benda uji di lapangan dan diuji menurut SNI 1974:2011, Metode
pengujian kuat tekan beton.
c) Kuat tekan suatu mutu beton dapat dikategorikan memenuhi syarat jika dua
hal berikut dipenuhi:
• Setiap nilai rata-rata dari tiga uji kuat tekan yang berurutan
mempunyai nilai yang sama atau lebih besar dari f’c.
• Tidak ada nilai uji kuat tekan yang dihitung sebagai nilai rata-rata
dari dua hasil uji contoh silinder mempunyai nilai di bawah f’c
melebihi dari 3,5 Mpa.
d) Jika salah satu dari persyaratan pada point (2) di atas tidak terpenuhi, maka
harus diambil langkah-langkah untuk meningkatkan hasil uji kuat tekan rata-
rata pada pengecoran beton berikutnya. Persyaratan pada point (5) ayat ini
harus diperhatikan jika ketentuan point (2.b) di atas tidak terpenuhi.
a) Jika diminta oleh pengawas lapangan, maka hasil uji kuat tekan benda uji
silinder yang dirawat di lapangan harus disiapkan.
c) Benda-benda uji silinder yang dirawat di lapangan harus dicor pada waktu
yang bersamaan dan diambil dan contoh adukan beton yang sama dengan
yang digunakan untuk uji di laboratorium.
a) Jika suatu uji kuat tekan (ayat ini poin (4.d)) benda uji silinder yang dirawat
di laboratorium menghasilkan nilai di bawah f’c sebesar minimal 3,5 MPa
[lihat ayat ini poin (3.e)] atau bila uji kuat tekan benda uji yang dirawat di
lapangan menunjukkan kurangnya perlindungan dan perawatan pada benda
uji (lihat ayat ini poin (4.d)), maka harus dilakukan analisis untuk menjamin
bahwa kekuatan struktur dalam memikul beban masih dalam batas yang
aman.
b) Jika kepastian nilai kuat tekan beton yang rendah te!ah diketahui dan hasil
perhitungan menunjukkan bahwa tahanan struktur dalarn memikul beban
berkurang secara signifikan, maka harus dilakukan uji contoh beton uji yang
diambil dan daerah yang dipermasalahkan sesuai SNI 2492:2002, Metode
pengambilan benda uji beton inti dan SNI 03-3403-1994, Metode pengujian
kuat tekan beton inti. Pada uji contoh beton inti tersebut harus diambil paling
sedikit tiga benda uji untuk setiap uji kuat tekan yang mempunyal nilai 3,5
Mpa dibawah nilai persyaratan f'c.
c) Bila beton pada struktur berada dalam kondisi kering selama masa layan,
maka benda uji beton inti harus dibuat kering udara (pada temperatur 15°C
hingga 25°C, kelembaban relatif kurang dan 60%) selama 7 hari sebelum
pengujian, dan harus diuji dalam kondisi kering. Bila beton pada struktur
berada pada keadaan sangat basah selama masa layan, maka beton inti
harus direndam dalam air kurang-kurangnya 40 jam dan harus diuji dalam
kondisi basah.
d) Beton pada daerah yang diwakili oleh uji beton harus dianggap cukup secara
struktur jika kuat tekan rata-rata dari tiga beton inti adalah minimal sama
dengan 85% f’c dan tidak ada satupun beton inti yang kuat tekannya kurang
dari 75%. Tambahan pengujian beton inti yang diambil dari lokasi yang
memperlihatkan hasil kekuatan beton inti yang tidak beraturan
diperbolehkan.
e) Bila kriteria yang disebutkan pada pasal-pasal diatas tidak dipenuhi dan bila
tahanan struktur masih meragukan, maka pengawas lapangan dapat
meminta untuk dilakukan pengujian lapangan tahanan struktur beton untuk
23
bagian-bagian struktur yang bermasalah tersebut, atau melakukan langkah-
langkah lainnya yang dianggap tepat.
24
2) Cetakan-cetakan bagian konstruksi dibawah ini boleh dilepas dalam waktu
sebagai berikut :
• Balok & Pelat : setelah mutu beton mencapai minimal 0,88 fc' tapi
tidak boleh lebih cepat dari 14 hari
4) Permukaan beton harus terlihat baik pada saat acuan dibuka, tidak
bergelombang, berlubang atau retak-retak dan tidak menunjukkan gejala
keropos/tidak sempurna.
5) Acuan harus dibongkar secara cermat dan hati-hati, tidak dengan cara yang
dapat menimbulkan kerusakan pada beton dan material-material lain
disekitarnya, dan pemindahan acuan harus dilakukan sedemikian rupa
sehingga tidak menimbulkan kerusakan akibat benturan pada saat
pemindahan. Perbaikan yang rusak akibat kelalaian Pemborong menjadi
tanggungan Pemborong.
• Konstruksi beton yang tidak tegak lurus atau rata seperti yang telah
direncanakan.
4.2. Adukan beton harus dibuat sesuai dengan perbandingan campuran yang sesuai
dengan yang telah diuji di laboratorium, serta secara konsisten harus dikontrol
bersama-sama oleh Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor dan Pemasok / Supplier
26
beton ready mixed. Kekuatan beton minimum yang dapat diterima adalah
berdasarkan hasil pengujian yang diadakan di laboratorium.
4.3. Batas temperatur beton ready mix sebelum dicor disyaratkan tidak melampaui 32°C.
4.4. Penambahan bahan aditive dalam proses pembuatan beton ready mix harus sesuai
dengan petunjuk pabrik pembuat aditive tersebut. Bila diperlukan dua atau lebih
jenis bahan aditive maka pelaksanaannya harus dikerjakan secara terpisah.
4.5. Jumlah pemakaian air untuk campuran harus sudah diperhitungkan benar sesuai
dengan slump yang dibutuhkan dan dimasukan langsung ditempat pembuatan beton
sehingga tidak dibolehkan melakukan penambahan air di lapangan.
4.6. Pelaksanaan pengadukan dapat dimulai dalam jangka waktu 30 menit setelah
semen dan agregat dituangkan dalam alat pengaduk.
4.7. Proses pengeluaran beton ready mix di lapangan proyek dari alat pengaduk di
kendaraan pengangkut harus sudah dilaksanakan dalam jangka waktu 1,5 jam atau
sebelum alat pengaduk mencapai 300 putaran. Dalam cuaca panas, batas waktu
tersebut di atas harus diperpendek sesuai petunjuk Direksi Lapangan/Konsultan
Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas. Perpanjangan waktu dapat
diijinkan sampai dengan 4 jam bila dipergunakan retarder yang harus disetujui oleh
Direksi Lapangan/Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas.
4.9. Apabila temperatur atau keadaan lainnya yang menyebabkan perubahan slump
beton maka Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor harus segera meminta petunjuk
atau keputusan Direksi Lapangan/ Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi
(MK)/Pengawas dalam menentukan apakah adukan beton tersebut masih
memenuhi kondisi normal yang disyaratkan. Tidak dibenarkan untuk menambah air
kedalam adukan beton dalam kondisi tersebut.
27
harus sesuai petunjuk dari pabrik pembuat serta adanya jaminan bahwa bahan
aditive tersebut tidak akan mempengaruhi kekuatan maupun ketahanan beton.
5.3. Nilai Slump beton yang diperlukan adalah minimum untuk menjamin pengecoran
dan pemadatan beton yang sesuai untuk dilaksanakan.
5.4. Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor bertanggung jawab atas pekerjaan beton
tersebut terhadap sifat kedap airnya. Apabila terjadi kebocoran atau rembesan air
maka semua biaya perbaikannya untuk mengembalikan sifat kedap air tersebut
adalah menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor.
5.5. Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor harus memberikan jaminan untuk jangka
waktu 10 (sepuluh) tahun terhadap sifat kedap air hasil pekerjaannya terhitung sejak
selesainya masa pelaksanaan pekerjaan.
5.6. Apabila terjadi kebocoran atau kerusakan-kerusakan lain selama jangka waktu
tersebut dalam (5), Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor atas biaya sendiri harus
segera memperbaiki bagian yang mengalami kerusakan tersebut sampai
permukaan akhir termasuk juga memperbaiki peralatan-peralatan seperti peralatan
listrik, pengatur udara (A.C) dan instalasi lainnya yang mengalami kerusakan akibat
pengaruh tersebut diatas.
28
kebutuhan perangkat pipa seperti dalam gambar denah arsitektur dan detailnya
akan ditetapkan kemudian oleh Direksi Lapangan/Konsultan Supervisi /
Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas Lapangan/Konsultan Supervisi /
Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas. Khusus untuk roof drain perlu
diadakan penyesuaian bentuk pelat atap sesuai gambar.
6.3 Pelaksanaan
a. Dalam pelaksanaan pekerjaan ini Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor harus
berkonsultasi dan meminta persetujuan dari Direksi Lapangan/Konsultan
Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK)/ Pengawas mengenai ukuran, lokasi,
bahan dan bentuknya sebelum pelaksanaan pengecoran.
b. Apabila ada pekerjaan pelubangan yang tertinggal, rusak atau tidak sesuai
dengan yang ditetapkan, Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor berkewajiban
untuk memperbaikinya dan cara perbaikannya harus mendapat persetujuan
dari Direksi Lapangan/Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi
(MK)/Pengawas sebelum dilaksanakan. Biaya atas itu ditanggung oleh
Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor.
c. Khusus untuk memungkinkan pemasangan pipa-pipa di bawah pelat lantai
dasar, maka pengecoran pelat lantai dasar dilakukan pada akhir pelaksanaan
kerja, setelah semua pipa-pipa yang perlu sudah dipasang oleh Penyedia Jasa
Konstruksi / Kontraktor, untuk itu Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor harus
menyediakan stek-stek sesuai kebutuhan untuk pembesian lantai dasar, balok-
balok dan kolom-kolom praktis.
7.2 Pelaksanaan
a. Untuk pengait penggantung plafond digunakan besi beton diameter 8 mm jarak
2 m di kedua arah.
b. Untuk kait perpipaan (ducting) digunakan besi beton diameter 12 mm pada jarak
2 m sepanjang dan di kedua sisi perpipaan.
29
c. Penempatan kait dan stek ini harus dikonsultasikan dahulu dengan Direksi
Lapangan/Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas
sebelum dilaksanakan.
8.2 Pelaksanaan
a. Cara-cara pemasangan lapisan ini disesuaikan dengan rekomendasi dari
produsen dan perlu mendapatkan persetujuan tertulis dari Direksi Lapangan/
MK/Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas.
b. Pemasangan dilakukan pada tahap paling akhir dari pekerjaan paket ini, yaitu
setelah pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan atap diselesaikan seperti roof
drain, penangkal petir dan lain-lain.
c. Pemasangan lapisan kedap air ini hanya boleh dilakukan setelah memperoleh
persetujuan tertulis dari Direksi Lapangan/Konsultan Supervisi / Manajemen
Konstruksi (MK)/Pengawas.
d. Jenis Material dan cara pemasangan dapat dilihat pada spesifikasi teknis
pekerjaan arsitektur Bab IV RKS ini.
PASAL 05
PEKERJAAN WATER STOP
1. Bahan
Bila tidak ditentukan lain, maka pekerjaan pengecoran beton yang tidak menerus dan
harus kedap air dipakai bahan water stop dari polyvinyl chloride yang tahan terhadap
bahan kimia, alkali, minyak dan acids. Bahan water stop tersebut dengan ukuran 200 x
5 x 14 mm, dipakai produksi ex Sika tipe 0-20L, Maspion tipe WSF200 atau setara.
2. Persyaratan Pelaksanaan
30
2.1. Pemasangan water stop harus mengikuti petunjuk dari pabriknya.
2.2. Water stop dipasang disetiap pemberhentian pekerjaan pengecoran beton kedap
air sesuai dengan gambar usulan dari Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor yang
sudah disetujui oleh Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas.
Khusus untuk pengecoran, bak air, dan sebagainya dimana tempat tersebut tidak
boleh bocor, maka di tempat tersebut dipasang water stop.
PASAL 06
PEKERJAAN RANGKA ATAP BAJA RINGAN
1. Lingkup Pekerjaan
1.1. Pekerjaan Struktur Atap Baja Ringan ialah bagian-bagian yang dalam gambar rencana
dinyatakan sebagai Konstruksi struktur baja ringan.
1.2. Untuk pelaksanaan pekerjaan tersebut Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor harus
membuat shop drawing dari pekerjaan baja ringan. Gambar kerja meliputi detail-detail
pemasangan, pemotongan, penyambungan, pengaku, ukuran-ukurn dan lain-lain yang
secara teknis diperlukan, terutama untuk fabrikasi dan pemasangan.
1.3. Sub Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor yang dipakai jika ada harus diketahui
dan disetujui oleh Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK).
1.4. Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan konstruksi
baja ringan sesuai ketentuan-ketentuan berikut:
- Mengajukan persetujuan material dan aplikator kepada konsultan MK.
- Mengajukan analisa struktur atap.
- Mengajukan gambar shop drawing.
1.5. Pekerjaan rangka atap baja ringan adalah pekerjaan pembuatan dan pemasangan
struktur atap berupa rangka batang yang telah dilapisi lapisan anti karat. Rangka batang
berbentuk segitiga, trapesium dan persegi panjang yang terdiri dari:
• Rangka utama atas (top chord)
• Rangka utama bawah (bottom chord)
• Rangka pengisi (web). Seluruh rangka tersebut disambung menggunakan baut
menakik sendiri (self drilling screw) dengan jumlah yang cukup.
• Rangka reng (batten) langsung dipasang diatas struktur rangka atap utama dengan
jarak sesuai dengan ukuran jarak genteng.
1.6. Pekerjaan rangka atap baja ringan meliputi:
• Pengukuran bentang bangunan sebelum dilakukan fabrikasi
31
• Pekerjaan pambuatan kuda-kuda dikerjakan di Workshop permanen (Fabrikasi),
• Pengiriman kuda-kuda dan bahan lain yang terkait ke lokasi proyek
• Penyediaan tenaga kerja beserta alat/bahan lain yang diperlukan untuk pelaksanaan
pekerjaan
• Pekerjaan pemasangan seluruh rangka atap kuda-kuda meliputi struktur rangka kuda-
kuda (truss), balok tembok (top plate/murplat), reng, sekur overhang, ikatan angin dan
bracing (ikatan pengaku)
• Pemasangan jurai dalam (valley gutter)
2. Persyaratan Bahan/Material
Baja ringan yang digunakan dengan spesifikasi sebagai berikut :
- Base material High Tensile Steel = G 550 (minimum yield strength = 5500 kg/cm2.
- Coating Zincalume A/Z 150 gr/m2.
- Material Thickness minimal 1,00 mm TCT (ukuran profil desuai dengan kekuatan
berdasarkan desain dan analisa struktur).
- Ketebalan reng (roof batten) minimal 0,48 mm TCT.
- Baut/fastener yang dipakai harus memenuhi standar desain.
- Menggunakan software yang sudah mendapat sertifikasi resmi dari Asosiasi terkait
dan ditandatangani oleh Konstruktor yang bersertifikat.
- Garansi struktur dan garansi material.
32
• Modulus geser 80.000 Mpa
Galvanized (Z220)
• Pelapisan Galvanized
• Jenis Hot-dip zinc
• Kelas Z22
• Ketebalan pelapisan 220 gr/m2
• Komposisi 95% zinc, 5% bahan campuran
Galvalume (AZ150)
• Pelapisan Zinc-Aluminium
• Jenis Hot-dip-allumunium-zinc
• Kelas AZ150
• Ketebalan pelapisan 150 gr/m2
• Komposisi 55% aluminium, 43,5% zinc dan 1,5% silicon.
2.3. Kuda-kuda
Konektor
33
Gambar 2 Konektor
Konektor antara kuda-kuda baja ringan dengan murplat (top plate) berfungsi untuk
menahan gaya lateral tiga arah, standar teknis sebagai berikut:
• Galvabond Z275
• Yield Strength 250 MPa
• Design Tensile Strength 150 MPa
34
Gambar 3 Brace System pada kuda-kuda
35
• Gaya aksial 8,60 KN
• Gaya Torsi 6,90 KN
3. Fabrikasi
3.1. Umum
- Aplikator yang digunakan harus dari tenaga-tenaga ahli pada bidangnya dan
melaksanakan pekerjaan dengan baik sesuai dengan petunjuk-petunjuk Konsultan
Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK)/Pengawas dan ketelitian utama diperlukan
untuk menjamin bahwa seluruh bagian dapat cocok satu dengan lainnya pada waktu
pemasangan.
- Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK) mempunyai kebebasan
sepenuhnya untuk setiap waktu melakukan pemeriksaan pekerjaan.
- Tidak satu pekerjaanpun dibongkar atau disiapkan untuk dikirim sebelum diperiksa
dan disetujui.
- Setiap pekerjaan yang cacat atau tidak sesuai dengan gambar rencana atau
spesifikasi ini akan ditolak dan harus segera diperbaiki.
- Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor pabrikasi harus menyediakan atas biaya
sendiri semua pekerjaan, alat-alat perancah dan sebagainya yang diperlukan dalam
hubungan pemeriksaan pekerjaan.
- Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor pabrikasi harus memperkenalkan
Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor untuk sewaktu-waktu memeriksa
pekerjaan dan untuk mendapatkan keterangan mengenai cara-cara dan lain-lain yang
berhubungan dengan waktu pemasangan di tempat pekerjaan.
- Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor Montase tidak mempunyai wewenang
untuk memberikan instruksi-instruksi mengenai cara penyelenggaraan pabrikasi.
3.3. Meluruskan
Sebelum pekerjaan lain dilakukan pada pelat, maka semua pelat harus diperiksa
kerataannya, semua batang-batang diperiksa kelurusannya, harus bebas dari puntiran,
bila perlu harus diperbaiki sehingga bila pelat-pelat disusun akan terlihat rapat
seluruhnya.
3.4. Pemotongan
Baja ringan harus dipotong dengan alat listrik (cutting wheel) agar permukaan yang
diperoleh dari hasil pemotongan harus diselesaikan siku terhadap bidang yang dipotong,
tepat dan rata menurut ukuran yang diperlukan.
4. Persyaratan Pelaksanaan
4.1. Pra-Konstruksi
37
g. Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor wajib menyertakan hasil uji lab dari bahan
baja ringan dari badan akreditasi nasional (instansi yang berwenang sesuai dengan
kompetensinya).
4.2. Konstruksi
a. Pembuatan dan pemasangan kuda-kuda dan bahan lain terkait, harus dilaksanakan
sesuai gambar dan desain yang telah dihitung dengan aplikasi khusus perhitungan
baja ringan sesuai dengan standar perhitungan mengacu pada standar peraturan yang
berkompeten.
b. Semua detail dan konektor harus dipasang sesuai dengan gambar kerja.
c. Perakitan kuda-kuda harus dilakukan di workshop permanen dengan menggunakan
mesin rakit (Jig) dan pemasangan sekrup dilakukan dengan mesin screw driver yang
dilengkapi dengan kontrol torsi.
d. Pihak Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor harus menyiapkan semua struktur
balok penopang dengan kondisi rata air (waterpas level) untuk dudukan kuda-kuda
sesuai dengan desain sistem rangka atap.
e. Pihak Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor harus menjamin kekuatan dan
ketahanan semua struktur yang dipakai untuk tumpuan kuda-kuda. Berkenaan dengan
hal itu, pihak konsultan ataupun tenaga ahli berhak meminta informasi mengenai
reaksi-reaksi perletakan kuda-kuda.
f. Pihak Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor bersedia menyediakan minimal 8
(delapan) buah genteng yang akan dipakai sebagai penutup atap, agar pihak penyedia
konstruksi baja ringan dapat memasang reng dengan jarak yang setepat mungkin, dan
penyediaan genteng tersebut sudah harus ada pada saat kuda-kuda tiba di lokasi
proyek.
g. Jaminan Struktural
• Jaminan yang dimaksud di sini adalah jika terjadi deformasi yang melebihi
ketentuan maupun keruntuhan yang terjadi pada struktur rangka atap Baja Ringan,
meliputi kuda-kuda, pengaku-pengaku dan reng.
• Kekuatan struktur Baja Ringan dijamin dengan kondisi sesuai dengan Peraturan
Pembebanan Indonesia dan mengacu pada persyaratan-persyaratan seperti yang
tercantum pada “Cold formed code for structural steel”(Australian Standard/New
Zealand Standard 4600:1996) dengan desain kekuatan strukural berdasarkan
”Dead and live loads Combination (Australian Standard 1170.1 Part 1) & “Wind
load”(Australian Standard 1170.2 Part 2) dan menggunakan sekrup berdasarkan
38
ketentuan “Screws-self drilling-for the building and construction
industries”(Australian Standard 3566).
PASAL 07
PEKERJAAN PONDASI TIANG PANCANG
1. Umum
1.1. Lingkup pekerjaan.
Lingkup pekerjaan ini meliputi seluruh pekerjaan pondasi dalam seperti yang tercantum
dalam gambar, termasuk penyediaan tenaga kerja, pengadaan tiang pancang sesuai
gambar, surveying, metoda kerja, gambar kerja dan report lengkap untuk semua tiang
pancang yang sudah dipancang, peralatan dan alat bantu untuk menyelesaikan
pekerjan ini dengan baik dan pembersihan lokasi dari sisa-sisa Tiang Pancang dan alat–
alat bantu.
Contoh Material
Tiang Pancang
1.3. Pemancangan
Pemancangan dilakukan setelah setting out titik tisng pancang mendapat persetujuan
Pengawas atau sesuai denga gambar rencana. Pemancangan dilakukan dengan baik,
sampai dengan kedalaman yang disyaratkan. Bila terjadi kegagalan dalam
pemancangan, maka Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor harus mengganti atau
39
bergeser pada titik sebelahnya dengan jarak yang disetujui oleh Konsultan perencana
dan Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK) / Pengawas.
Jack-in pile system merupakan suatu cara pemancangan tiang yang pelaksanaannya
dengan menekan tiang pancang ke dalam tanah dengan menggunakan dongkrak
hydraulic yang diberi beban counter weight sebesar 220% dari daya dukung pondasi,
agar alat pancang tidak terangkat dan membantu memancang tiang hingga tercapai
daya dukung desainnya.
Kapasitas alat pancang ini terdapat beberapa macam yaitu HSPD (Hydrolic Static Pile
Driver) 120, HSPD 150, HSPD 240, HSPD 320, dan HSPD 420 (tekanan maksimum
420 ton) yang kemudian ditentukan berdasarkan hasil perhitungan berdasarkan hasil
penyelidikan tanah masing-masing proyek.
1. Kedua komponen tiang beton pracetak yang akan disambung mempunyai bentuk
dan ukuran penampang yang sama
40
2. Ujung-ujung komponen yang akan disambung telah disiapkan pada waktu
pelaksanaan pembuatan tiang pancang, sesuai dengan spesifikasi yang berlaku
3. Kedua komponen tiang yang akan disambung mempunyai mutu beton dan baja
tulangan yang sama
4. Kedua komponen tiang yang akan disambung harus dalam keadaan lurus dan tidak
bengkok.
Struktur sambungan tiang pancang beton pracetak tipe monolit harus kuat memikul
beban dan gaya-gaya, baik dalam arah vertikal maupun lateral akibat:
2. Persyaratan Bahan
2.1. Beton
• Mutu beton yang digunakan untuk tiang pancang beton harus mempunyai kekuatan
minimum fc’ = 37,5 MPa (σ’bk = 450 kgf/cm²), sesuai SNI 2847 : 2019; dalam proyek
ini menggunakan fc’= 37,5 MPa (σ’bk = 450 kgf/cm²)
• Tiang pancang beton prestressed harus dibuat di pabrik (prefabricated) dengan
sistem Pretension (Pretensioned Type) oleh Pabrik Tiang Pancang yang
berpengalaman.
• Kecuali bila ditentukan lain, kualitas beton yang digunakan adalah beton Ready Mix
dengan nilai fc' sesuai dengan yang tercantum dalam gambar. Digunakan “Non Fly
Ash”
• Produsen Tiang Pancang harus memberikan jaminan atas kemampuannya
membuat kualitas beton yang disyaratkan dengan memperhatikan data-data
pengalaman pelaksanaan di lain tempat dan mengadakan Trial Mix di laboratorium.
• Design Mix harus disampaikan kepada MK untuk mendapat persetujuan tertulis.
Walaupun Design Mix sudah disetujui oleh MK, namun hal ini tidak melepaskan
tanggung jawab Produsen Tiang Pancang terhadap produk yang dihasilkan.
• Design Mix dan Hasil Tes Silinder Trial Mix juga ditembuskan kepada Perencana
Struktur sebagai informasi dan bila perlu memberikan catatan/ tanggapan/
rekomendasinya.
41
• Setiap diadakan pengecoran sebanyak 5 m3, harus dilakukan slump test dengan
ketentuan slump (120 ± 20 ) mm.
• Selama pelaksanaan harus selalu dibuat benda-benda uji berupa silinder beton,
menurut ketentuan-ketentuan yang disebut dalam SNI 2847:2019.
• Semua hasil tes beton yang dilakukan untuk produk tiang pancang tersebut, harus
dapat ditunjukkan kepada MK dan ditembuskan kepada Perencana Struktur.
2.2. Besi Beton
• Kecuali bila ditentukan lain dalam gambar, mutu besi beton adalah sbb :
a. Untuk diameter 10 dan di atas 10 mm: BJTS 42B (fy=420 MPa) ulir
2.3. Epoksi
Untuk menjamin kuat ikat antara beton dan epoksi serta baja dan epoksi, maka epoksi
yang digunakan harus memenuhi ketentuan yang berlaku yaitu :
a. Bahan perekat yang digunakan harus mempunyai daya rekat yang sangat baik dan
dapat merekatkan dengan sempurna struktur beton
42
b. Bahan perekat harus dapat berpenetrasi sampai kedalaman retak yang paling
kecil yang terjadi pada struktur dengan sempurna dan untuk itu harus mempunyai
suatu kekentalan tertentu seperti disyaratkan pada spesifikasi ini
c. Mempunyai sifat fleksibilitas yang dapat menahan vibrasi yang mungkin terjadi di
dalam retakan
d. Tidak boleh menyusut pada waktu mongering
e. Tahan terhadap air hujan, CO2, asam, dan bahan kimia lainnya
f. Persyaratan bahan sesuai dengan AASHTO M 235M sebagai berikut:
• Viskositas minimum 2,0 Pa.s
• Waktu pengikatan awal minimum 30 menit
• Kuat leleh tekan (pada umur 7 hari) minimum 70 MPa
• Modulus elastisitas tekan minimum 1400 MPa
• Tegangan tarik (pada umur 7 hari) minimum 50 MPa
g. Sebelum digunakan harus dilakukan pengujian mutu epoksi sesuai dengan
persyaratan yang berlaku.
b. Strand yang digunakan harus mengacu pada ASTM A416M “Standard Specification
for Strand”.
a. Ketentuan Pengujian
Produsen tiang pancang harus dapat menunjukkan jadwal dan hasil pengujian rutin
beton, besi beton, dan strand. Sewaktu-waktu pengujian tersebut dapat disaksikan
langsung oleh MK.
Sampel diambil dan diuji dengan jumlah minimum 3 (tiga) batang tes tarik dan 3 (tiga)
batang tes lengkung tiap diameter dan panjangnya ± 100 cm untuk setiap penggunaan
sampai 30 ton.
Setiap saat MK dapat meminta hasil tes material besi beton secara acak.
43
Sesuai SNI 2847:2019, 2 kriteria hasil tes besi beton yang memenuhi syarat adalah
sbb :
• Kuat leleh aktual berdasarkan pengujian tidak melampaui kuat leleh yang
ditentukan/ disyaratkan sebesar lebih dari 120 MPa (uji ulang tidak boleh
memberikan hasil yang melampaui harga ini sebesar lebih dari 20 MPa).
• Rasio kuat tarik aktual terhadap kuat leleh aktual tidak kurang dari 1.25
Besi beton yang digunakan pada produksi tiang pancang harus dilengkapi dengan Mill
Certificate, dan dapat ditunjukkan kepada MK.
Besi beton yang tidak memenuhi syarat-syarat karena kualitasnya tidak sesuai dengan
spesifikasi tidak diperbolehkan digunakan untuk produksi tiang pancang.
c. Pengujian Beton
1) Pengambilan adukan beton, pencetakan benda uji silinder dan proses curing
harus memenuhi syarat-syarat dalam SNI 2847:2019.
2) Kuat tekan suatu mutu beton dapat dikategorikan memenuhi syarat jika dua
hal berikut dipenuhi :
• Setiap nilai rata-rata dari tiga uji kuat tekan yang berurutan mempunyai
nilai yang sama atau lebih besar dari f’c.
• Tidak ada nilai uji kuat tekan yang dihitung sebagai nilai rata-rata dari
dua hasil uji contoh silinder mempunyai nilai di bawah f’c melebihi dari
3,5 Mpa.
4) Laporan asli (bukan photo copy) hasil percobaan harus diserahkan kepada MK
dan Perencana Struktur segera sesudah selesai percobaan, dengan
mencantumkan besarnya kekuatan karakteristik, deviasi standar, campuran
adukan dan berat benda uji silinder tersebut. Tes beton dilakukan untuk umur-
umur beton 7 dan 14 hari dan juga untuk umur beton 28 hari. Laporan tes beton
agar direkap secara sistematik dalam bentuk tabelaris dengan Excel sehingga
44
memudahkan melakukan evaluasi.
Produsen tiang pancang harus secara rutin membuat benda uji silinder beton
dengan memenuhi ketentuan sebagai berikut:
Tes-tes yang dilakukan di laboratorium supplier ready mix tidak bisa dianggap
sebagai tes di laboratorium independen.
5) Benda uji harus diberi tanda sesuai dengan segmen tiang pancang yang
diproduksi, beserta tanggal pengecorannya. Sehingga dapat memudahkan
proses pengecekan.
7) Bila ternyata material tiang pancang tidak memenuhi syarat dalam Spesifikasi
Teknis maupun Gambar (dokumen kontrak), maka produsen tiang pancang
bertanggung jawab untuk :
45
d. Pengujian Strand
Strand harus diuji terhadap kekuatan putus, kekuatan yield, dan elongation.
Metode pengujian harus sesuai dengan ASTM A370 “Standard Test Methods and
Definitions for Mechanical Testing of Steel Products”.
Kuat leleh diukur saat 1% extension pada strand yang dibebani. Minimum kuat leleh
harus senilai 90% untuk strand relaksasi rendah dan 85% strand relaksasi normal dari
nilai kuat putus minimum. Perpanjangan pada strand diukur dengan extensometer
yang telah dikalibrasi.
Kuat tarik putus dan pengukuran kuat leleh strand harus memenuhi kriteria berikut:
Strand dengan relaksasi rendah tidak diizinkan kehilangan 2,5% relaksasi saat
pembebanan 70% dari kuat tarik putus. Atau tidak kehilangan 3,5% relaskasi saat
pembebanan 80% dari kuat tarik putus.
Satu benda uji tes pada masing-masing tes diambil setiap 20 ton strand dengan
Panjang ± 50 cm berdasarkan ASTM A370 “Standard Test Methods and Definitions
for Mechanical Testing of Steel Products”.
2.6. Las
• Bahan las yang digunakan harus sesuai dengan bahan dasar elemen struktur baja
yang akan disambung (seperti BJ 32, BJ 51 atau BJ 52) untuk memastikan bahwa
sambungan dapat dipertanggungjawabkan dan merupakan kawat las berselaput
hidrogen rendah.
• Bahan las (kawat las) harus disimpan dalam keadaan kering di dalam tempat yang
tertutup. Jika kaleng atau tempat telah dibuka, maka kawat las harus segera
digunakan.
• Pada penyambungan tiang pancang dibutuhkan kawat las yang sesuai agar dapat
berfungsi sebagaimana mestinya. Elektroda E 60XX digunakan untuk mengelas baja
karbon yang mengandung unsur karbon hingga 0,3% (yang termasuk baja ini adalah
46
baja-baja struktur seperti baja-baja profil, baja batangan dan baja pelat). Elektroda E
70XX aplikasinya lebih luas dari seri E 60XX.
3. Pelaksanaan
3.2. Persyaratan Teknis
a. Jalan masuk dipersiapkan dengan lebar ±4m
b. Lokasi pemancangan bebas dari puing atau sampah yang dapat mengganggu
pekerjaan pemancangan
c. Lokasi diupayakan padat dan rata untuk mempermudah mobilisasi alat dan tiang
pancang.
d. Pada tiap titik pancang dibuat galian selebar pile group dan kedalaman sampai
permukaan tanah asli.
e. Sesuai dengan data hasil penyelidikan tanah pada daerah lapisan tanah ini keras
belum dijumpai sehingga sisitem pemancangan merupakan gabungan kekuatan
antara Friction sepanjang Pile dan Point Bearing diujung pile.
f. Daya dukung tiang tunggal disesuaikan dengan hasil perhitungan ulang daya
dukung pondasi dan hasil penyelidikan tanah sesuai dengan lokasi pekerjaan.
g. Jenis tiang pancang menggunakan precast persegi 250x250 mm dengan
kedalaman disesuaikan dengan hasil perhitungan ulang daya dukung pondasi.
h. Mutu beton F’c 37,5.
i. Umur material disyaratkan minimal 18 hari.
j. Penyambungan precast pile menggunakan las listrik full.
k. Bila pada kedalaman kurang dari 15 m sudah mencapai final set ( 2,5x40 ) = 100
ton, pemancangan dihentikan.
l. Bila sampai dengan 15 m panjang tiang pancang belum mencapai final set,
pemancangan diteruskan sampaikan dengan Final set.
m. Oil dan Tekanan Pile
Tabel 2 Oil and Piling Pressure
Piling pressure
OIL
(tf)
PRESSURE
(Mpa) Chief piling Chief Secondary
cylinder cylinder together
47
9.0 23.4 46.7
3.3. Toleransi
Toleransi kemiringan pancang 1: 200.
Posisi titik pancang tidak boleh bergeser / menyimpang lebih dari 7.5 cm, bila ternyata
toleransi tersebut tidak dipenuhi, Penyedia Jasa Konstruksi / Kontraktor wajib
melakukan pekerjaan perbaikan / penambahan.
Segala biaya tambahan yang terjadi akibat dari penyimpangan pemancangan seperti
pembesaran pile cap, perubahan dimensi tie beam beserta tulangannya dan
penambahan tiang pancang baru ditanggung sepenuhnya oleh Penyedia Jasa
Konstruksi / Kontraktor.
48
3.4. Loading Test
Setelah pelaksanan pemancangan tiang pancang maka akan diadakan percobaan
beban vertikal pada tiang pancang yang hasil kalendering ( final set ) paling jelek/besar.
Percobaan beban vertikal dilakukan sampai mencapai 200% beban rencana (2x35 ton)
atau apabila terjadi kerusakan /failure terlebih dahulu. Penurunan maksimum adalah
25 mm sebagai penurunan kotor (grosssettlement) dikurangi perpendekan elastis dari
tiang.
• Konstruksi sambungan tiang terdiri dari bagian kepala (atas) dan bagian bawah,
seperti tampak pada Gambar 1.
• Pada bagian kepala dan bagian bawah tiang pancang diberi selubung baja yang
dibuat secara terfabrikasi.
• Ukuran selubung baja didasarkan pada dimensi tiang pancang seperti pada tabel 1
untuk penampang bundar dan seperti pada tabel 2 untuk penampang persegi.
• Selubung baja harus tahan terhadap pukulan selama proses pemancangan.
• Selubung tiang bawah dan atas harus dibuat sedemikian rupa sehingga terdapat
alur untuk pengelasan.
49
• Alur pengelasan harus cukup lebar sehingga lebar dan tebal las mampu
menghasilkan kapasitas sambungan yang sekurang-kurangnya sama dengan
kapasitas tiang.
• Dimensi selubung baja tiang pancang bawah dan atas harus sama.
50
Gambar 6 Konstruksi Sambungan Tiang Pancang Bundar dan Persegi dengan Las
Tiang pancang atas harus terletak dalam satu garis lurus dan sentris dengan tiang
pancang yang disambungnya;
Setelah selubung baja terpasang dengan baik kemudian tiang bagian kepala dan
bagian bawah disatukan menggunakan las;
Permukaan baja yang akan dilas harus dibersihkan dari korosi dan lapisan cat dengan
sikat kawat baja dan sikat bulu;
51
Untuk lapisan pertama digunakan kawat las berselaput hidrogen rendah (low hidrogen)
dengan Ø 3,25 mm, sedangkan untuk lapisan kedua dan selanjutnya digunakan kawat
las berselaput hidrogen rendah Ø 4 mm;
Pada setiap tahapan lapisan las, permukaan las harus dibersihkan dari terak dengan
cara digerinda, dibersihkan dengan sikat kawat baja, dan dibersihkan dengan sikat
bulu;
Pengelasan dengan posisi horizontal merupakan posisi yang sulit sehingga kawat las
harus digerakan agak ke atas untuk menahan lelehnya cairan las ke bawah.
Persiapan awal adalah penentuan titik pancang berdasarkan gambar teknis yang
diberikan. Penandaan titik pancang bisa dengan menggunakan cat atau dengan
memasang patok dari kayu atau besi.
53
Gambar 8 Ilustasi Proses pengangkatan tiang pancang
Alat pancang jack-in pile ini memiliki dua posisi jepitan tiang pancang untuk melakukan
tekanan pada saat penetrasi tiang pancang ke dalam tanah. Posisi tersebut ada di
ujung alat dan di tengah alat (disebut grip ujung dan grip tengah). Pada pelaksanaan
proyek ini pada awal pemancangan memakai grip ujung. Namun karena hasil tekanan
yang terbaca pada pressure gauge yang telah dikonversikan ke dalam daya dukung
tiang hasilnya tidak memenuhi daya dukung desain, maka proses pemancangan tiang
selanjutnya dengan menggunakan grip tengah.
Gambar 10 ilustrasi Posisi grip jack-in pile (kanan-kiri: grip ujung dan tengah)
Perbedaan dasar dari grip ujung dan grip tengah antara lain posisi pemancangan dan
ruang gerak yang diperlukan oleh alat pancang. dengan menggunakan grip ujung,
maka alat jack-in pile ini akan memerlukan ruang gerak yang lebih sedikit, cocok untuk
54
pemancangan titik-titik pancang yang sangat berderkatan dengan bangunan yang
sudah ada (eksisting) kapasitas alat. dengan grip ujung kapasitas yang dicapai hanya
70% dari kapasitas alat total.
Operator tersebut berada di bawah untuk memastikan tiang pancang ditekan secara
tegak lurus. Cara ini cukup efektif untuk menjaga tiang tetap tegak selama
pemancangan. Namun, karena mereka tidak menggunakan radio untuk berkomunikasi
dengan operator yang menjalankan mesin yang berada di atas, maka mereka harus
berteriak cukup keras agar bisa didengar (suara mesin diesel dari alat jack-in pile ini
cukup berisik juga kalau ada di bawah seperti itu).
Perangkat kecil yang sering terlupa pada saat akan memulai pemancangan adalah
plat baja sebagai alas alat pancang, bila tanah di titik pemancangan kondisinya
lembek. Ketiadaan plat ini bisa berakibat pada mundurnya dan makin lamanya durasi
pancang karena operator pancang tidak ingin alat pancangnya amblas apabila
dipaksakan memancang tanpa alas.
55
Gambar 12 ilustrasi Plat sebagai alas alat pancang
56
pengelasan harus dilas keliling di tiap sisi tiang pancang. setelah selesai pengelasan
sisa karbon harus dibersihkan dengan cermat. Untuk mempercepat proses
pengelasan, terutama untuk tiang pancang dengan dimensi besar seperti spun pile
diameter diatas 600 menggunakan 2 alat las dan 2 tenaga las. Beberapa parameter
pemeriksaan hasil pengelasan secara visual meliputi:
• hasil pengelasan tersebut harus ditutup dengan lapisan pelindung agar hasil
pengelasan tidak mengalami korosi.
• Untuk memudahkan proses pengelasan tiang, maka tiang pancang yang sedang
dipancang disisakan +/- 40 cm dari permukaan tanah. Sebagai catatan,
57
penyelesaian pengelasan pada tiang pancang berukuran 250 x 250 ini sekitar +/-
15 menit dan tiang sudah siap kembali dipancang.
Parameter yang digunakan sebagai acuan bahwa pemancangan tiang bisa dihentikan:
• bacaan tekanan pada pressure gauge sudah mencapai tekanan dimana apabila
nilai tersebut dikonversikan ke daya dukung tiang, maka daya dukung desain tiang
telah terpenuhi
• alat jack-in pile terangkat dan bila dilakukan penetrasi lagi sudah tidak mampu lagi.
• Seletah proses pemancangan dihentikan, selanjutnya dilakukan pencatatan
(record) yang berisi tinggi tiang tertanam dan bacaan tekanan dari pressure gauge
alat pancang.
3.10.2. Tiang pancang yang disediakan oleh Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor,
termasuk tiang uji tidak diijinkan untuk menggantikan tiang pancang yang telah
diterima sebelumnya oleh Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK), yang
ternyata kemudian hilang atau rusak sebelum penyelesaian kontrak selama
penumpukkan atau penanganan atau pemancangan dan akan yang diperintahkan
oleh Konsultan Supervisi / Manajemen Konstruksi (MK) untuk disingkirkan dari tempat
pekerjaan atau dibuang dengan cara lain.
3.10.3. Bilamana Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor mengecor tiang pancang beton
pracetak lebih panjang dari yang diperlukan, sebagaimana seluruh panjang baja
tulangan untuk memudahkan pemancangan, maka tidak ada pengukuran untuk bagian
beton yang harus dibongkar supaya agar batang tulangan itu dapat dimasukkan
kedalam struktur yang mengikatnya.
3.10.4. Perhitungan pembayaran pemancangan didasarkan atas dasar panjang tiang yang
tertanam sampai dengan permukaan tanah dasar (cut off level). Bila pile cap berada
di bawah permukaan tanah dasar atau di atas permukaan tanah dasar, maka
perhitungan pembayaran atas dasar tiang terpancang sampai dengan permukaan
tanah dasar (cut off level).
h. Semua tiang yang ditolak wajib diganti oleh Produsen Tiang Pancang tanpa
tambahan biaya apapun.
3.11.2. Tes Bending pada Sambungan Tiang Pancang
a. Setiap 1 dari 100 tiang harus dites terhadap kekuatan bending untuk
membuktikan tiang sesuai dengan kapasitas material yang direncanakan.
b. Pengetesan tiang dipilih acak oleh MK pada tiang yang sudah ada di lapangan
dan disaksikan oleh Produsen Tiang Pancang.
d. Beban uji saat tes bending tidak boleh kurang dari nilai terbesar antara:
• 1,15D +1,5L
• 1,3D
60
dimana: l=Panjang Tiang
h=Lebar Tiang
f. Jika lendutan yang terjadi melewati batas tersebut maka tiang dinyatakan gagal
g. Jika pengetesan tiang gagal maka MK berhak menolak semua tiang dengan
sistem sambungan yang sama dalam pengiriman yang sama (per 100 tiang
yang diuji).
Catatan :
61
PASAL 08
PEKERJAAN FONDASI TIANG BOR
1. Umum
a. Pekerjaan ini harus dilaksanakan oleh Pemborong Spesialis Tiang Bor dan yang
mempunyai peralatan yang memadai dan staff pengawas yang berpengalaman
untuk pekerjaan serupa sehingga dapat dihasilkan mutu pekerjaan seperti yang
disyaratkan dengan daya dukung yang sesuai dengan yang tercantum dalam
spesifikasi dan gambar-gambar rencana yang dibuat oleh Perencana Struktur.
Kedalaman tiang bor dihitung dari muka tanah asli saat dilakukan Penyelidikan
Tanah seperti terlihat dari data lapangan yang diperoleh pada saat dilakukan
pekerjaan pengeboran.
Panjang aktual yang dijadikan sebagai lingkup penawaran adalah sesuai gambar
Struktur.
Contoh tanah tersebut harus disimpan dalam rak yang teratur sesuai dengan urutan,
terbungkus dalam plastik dan siap untuk diperlihatkan setiap saat dibutuhkan.
f. Apabila dilakukan tes aksial maka bored pile tetap dapat dilakukan dengan catatan
jarak bored pile minimal 50 m dan pembacaan angka-angka pada dial gauge tidak
terganggu.
g. Daya dukung izin fondasi dalam diperoleh dari daya dukung ultimit dibagi dengan
faktor keamanan yang besarnya minimum 2,5.
2. Pengenalan Lapangan
a. Pemborong harus mengenal lapangan sebaik-baiknya sebelum memulai pekerjaannya
yang antara lain :
1. Elevasi eksisting dihubungkan dengan elevasi dalam gambar rencana.
2. Keadaan/ kondisi lapisan-lapisan tanah.
3. Kedalaman muka air tanah.
4. Bangunan-bangunan/ fasilitas-fasilitas/ utilitas-utilitas existing yang ada dan atau
berdekatan dengan site.
5. Peralatan dan fasilitas-fasilitas yang diperlukan guna kelancaran pekerjaan.
6. Hal-hal lain yang mungkin berpengaruh terhadap pelaksanaan pekerjaan.
c. Pemborong juga harus bertanggung jawab terhadap ijin-ijin yang diperlukan guna
keperluan transportasi tersebut di atas.
3. Pengukuran Lapangan
a. Pemborong sebelum memulai pekerjaan, harus menempatkan Surveyor yang teliti
serta berpengalaman untuk melakukan pengukuran layout dengan menggunakan
theodolit.
63
b. Pemborong wajib untuk melaporkan secara tertulis kepada Perencana Struktur
apabila ditemukan perbedaan elevasi-elevasi/ ukuran-ukuran lapangan dengan yang
tercantum dalam gambar rencana.
4. Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan Pondasi Tiang Bor ini antara lain :
a. Pengadaan semua tenaga kerja, material, peralatan dan semua perlengkapan yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan ini.
b. Pekerjaan Axial Loading Test serta pengadaan peralatan dan bebannya.
c. Pekerjaan PDA Test.
d. Pengeboran lubang Tiang bor termasuk penggunaan casing, apabila diperlukan.
e. Penyediaan dan pemasangan tulangan Tiang bor.
f. Pembuangan tanah/ lumpur hasil pengeboran keluar site dan pembersihannya.
g. Penyediaan dan pengecoran Tiang bor.
5. Referensi
Untuk semua pekerjaan, bahan-bahannya harus dilaksanakan sesuai Spesifikasi Teknis
dan Uraian yang tertera pada gambar kerja. Semua pekerjaan beton bertulang harus
dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi PEKERJAAN BETON BERTULANG dan SNI
2847:2019, kecuali bila ada perubahan-perubahan khusus yang akan disebutkan
kemudian.
Sebelum pekerjaan ini dimulai Pemborong sudah harus menyiapkan formulir isian
Piling Record yang bentuk dan isinya sudah disetujui oleh MK. Isi piling record antara
lain tertulis dalam butir 6.c di bawah ini.
64
Pekerjaan pengeboran dapat dilakukan dengan mempergunakan Mesin Bor jenis Flight
Auger dan alat-alat bantu pemboran a.l. Bucket Auger, Core Barrels, Clean out Bucket.
Alat-alat ini harus dapat dipergunakan untuk melakukan pengeboran menembus air,
lapisan keras, batu besar, serpihan-serpihan cadas, tanah liat yang keras, kerikil dan
pasir.
Untuk menahan kelongsoran pada dinding lubang bor dipergunakan Bentonite atau
Polymer.
c. Pengeboran harus dilakukan sampai mencapai lapisan tanah yang disyaratkan, dimana
ciri-cirinya ditentukan berdasarkan Hasil Penyelidikan Tanah. Pada waktu pengeboran
dilakukan harus dilakukan pencatatan mengenai elevasi dan jenis lapisan lapisan tanah
yang dijumpai. Selanjutnya harus diambil contoh tanah dari setiap elevasi tersebut dan
disimpan sedemikian rupa sehingga sifat asli dari tanah tersebut tidak berubah.
Contoh tanah tersebut harus dapat ditunjukkan setiap saat jika diperlukan oleh Perencana
Struktur/ MK.
Untuk mencapai hasil pekerjaan yang maksimal Pemborong dan MK diwajibkan untuk
menempatkan seorang Ahli geoteknik/ Teknik Pondasi yang minimal mempunyai
SKA Geoteknik kualifikasi Madya/SIPTB Geoteknik Gol.B dan G1 yang benar-benar
sekali lagi benar-benar sudah berpengalaman dengan pekerjaan tiang bor. Pengeboran
baru dihentikan setelah mendapat persetujuan tertulis dari MK. Walaupun telah disetujui
oleh MK, tetapi tanggung jawab atas mutu pekerjaan yang dihasilkan sepenuhnya menjadi
tanggung jawab Pemborong.
d. Tahapan kedua adalah pekerjaan pembersihan dasar lubang bor dari longsoran dan
lumpur yang terjadi pada dasar lubang bor. Pekerjaan ini mutlak harus dilakukan oleh
Pemborong karena longsoran dan lumpur tersebut dapat mempengaruhi daya dukung
serta perilaku dari tiang bor.
Tinggi maksimum endapan pada dasar lubang bor adalah 20 cm yang merupakan tinggi
endapan sebelum pengecoran, bukan setelah kondisi tiang bor tercor beton.
Cara pelaksanaan pekerjaan pembersihan ini sangat tergantung dari metoda dan alat
yang dipergunakan (dengan Casing dan atau Bentonite/polymer).
Pekerjaan pembersihan ini baru dapat dihentikan setelah mendapat persetujuan tertulis
dari MK. Lama pembersihan dan kedalaman dari lubang bor setelah pembersihan
dilakukan ini harus dicatat.
65
Setelah dilakukan pembersihan dasar lubang bor dilakukan tes vertikalitas dan integritas
lubang bor dengan alat KODEN Drilling Monitor tipe DM604 dengan ketentuan 1 (satu)
tes untuk setiap 10 (sepuluh) lubang bor. Sebelum dilanjutkan ke tahap-tahap
selanjutnya yaitu pemasangan tulangan dari tiang bor.
f. Setelah tulangan tiang bor terpasang dilakukan kembali pengukuran kedalaman lubang
bor yang dilakukan oleh Pemborong dan disaksikan oleh MK.
Apabila ternyata terjadi pengurangan kedalaman lubang bor dibandingkan dengan
kedalaman pada saat pembersihan selesai dilakukan, maka tulangan terpasang tersebut
harus dikeluarkan kembali dan harus dilakukan pekerjaan pembersihan kembali. Tidak
diperkenankan melanjutkan ketahap pekerjaan selanjutnya sebelum tahapan ini disetujui
secara tertulis oleh MK.
Setelah pekerjaan pemasangan tulangan selesai dilakukan, maka adukan beton yang
akan digunakan sudah harus siap di tempat pekerjaan, sehingga pengecoran langsung
dilakukan setelah pekerjaan pemasangan tulangan disetujui oleh MK.
Pengecoran dilakukan sampai minimal 1 m di atas COL (cut off level) untuk
memastikan mutu beton pada COL sudah memenuhi persyaratan (tidak ada beton yang
bercampur tanah atau lumpur).
Apabila pengecoran ini tidak selesai karena sesuatu alasan maka tiang bor ini
dianggap tidak memenuhi syarat lagi dan Pemborong harus mengganti tiang tersebut
dengan tiang bor baru yang letaknya akan ditentukan oleh Konsultan Perencana. Semua
risiko akibat hal ini adalah tanggungan Pemborong.
Untuk mencegah hal tersebut maka Pemborong sudah harus dapat memperkirakan
jumlah/ volume adukan beton yang akan digunakan pada lubang bor yang sudah
disiapkan.
Harus diadakan pencatatan volume yang diperkirakan akan digunakan dengan volume
adukan yang terpakai sesungguhnya. Waktu dan lama pengecoran harus dicatat.
66
h. Ada hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan tiang bor ini, yaitu
apabila tahapan pertama sudah dimulai maka pekerjaan ini harus diselesaikan sampai
tahap yang terakhir dan tidak boleh ada penundaan waktu di antara tahap-tahap
pekerjaan.
Kecuali pada kasus pekerjaan pondasi tiang bor dengan metode “Blind Bored”
(Pekerjaan pondasi tiang bor yang dilakukan sebelum proses penggalian basement)
tidak boleh ada penundaan waktu di antara tahap-tahap pekerjaan dimulai saat
pengeboran pada elevasi COL tiang bor.
7. Baja Tulangan
a. Syarat-syarat umum untuk baja tulangan, lihat bab PEKERJAAN BETON
BERTULANG pada spesifikasi ini dan untuk panjang baja tulangan lihat gambar
rencana Perencana Struktur dengan memperhatikan stek-stek yang disyaratkan.
b. Tulangan yang dipergunakan untuk pekerjaan ini adalah sesuai dengan gambar
pelaksanaan.
c. Keranjang tulangan harus diletakkan pada pusat lubang bor serta harus dipasang
dengan kuat sehingga tidak terjadi pergeseran/ perpindahan tempat selama masa
pengecoran.
8. Pekerjaan Beton
a. Syarat-syarat umum Pekerjaan Beton mengacu pada bab PEKERJAAN BETON
BERTULANG pada spesifikasi ini.
c. Mutu beton yang disyaratkan sesuai yang tercantum pada gambar rencana, dengan
slump (18±1 cm).
d. Pengecoran beton tidak boleh dilakukan sebelum hasil pekerjaan pengeboran dan
tahapannya disetujui oleh MK.
Bagian bawah dari pipa tremie harus ditutup dengan plat yang di "tape". Sebelum
pengecoran dimulai, lemparkan sebuah kerikil kecil kedalam lubang pipa, bila
terdengar suara benturan dengan plat penutup, maka itu berarti bahwa plat penutup
tersebut masih berada ditempatnya dan tidak bocor.
67
f. Posisi dari pipa Tremie harus diatur sedemikian rupa sehingga dasar dari pipa
tersebut paling tidak 1,5 m dibawah permukaan beton pada setiap tahap
pengecoran.
g. Volume aktual dari beton yang dipergunakan harus dicatat dan dicek dengan
perhitungan volume diatas kertas untuk meyakini bahwa tidak terjadi "necking" atau
"caving" didalam lubang bor.
h. Beton Tiang Bor tidak boleh diganggu selama minimum 21 (dua puluh satu) hari
terhitung sejak selesai pengecoran.
Khusus untuk tiang bor tunggal, toleransi ini harus diperhatikan benar, karena
penyimpangan sedikit saja dari toleransi ini berakibat fatal dan Pemborong harus
mengganti tiang bor yang gagal tersebut dengan tiang bor baru yang letaknya akan
ditentukan oleh Konsultan Perencana Struktur.
b. Semua biaya tambahan yang timbul karena perubahan pada jumlah tiang bor, disain
dari kepala tiang, balok pondasi baik dari segi material, waktu maupun biaya
perencanaan ulang yang diakibatkan oleh kesalahan/ kegagalan dari Pemborong
dalam melaksanakan pembuatan tiang bor, seluruhnya menjadi beban Pemborong.
Selanjutnya gambar yang telah disetujui oleh MK tersebut harus diperbanyak dan
diletakkan di keet MK sehingga mempermudah monitoring oleh MK.
b. Pembuatan tiang bor baru yang terletak di sebelah tiang bor yang baru selesai dicor
harus mempunyai tenggang waktu minimum 24 jam dan harus memperoleh
68
persetujuan dari MK.
Jarak minimal antara satu lubang bor dengan lubang bor lainnya untuk pengecoran
kurang dari 24 jam sebesar 6D, D=diameter bored pile dengan syarat apabila jarak
tersebut berpengaruh buruk terhadap bored pile yang sudah tercor, maka jarak
tersebut harus diperbesar.
b. Segera setelah pekerjaan selesai Pemborong harus membuat "As Built Drawing" dari
letak tiang bor dan dibandingkan dengan letak tiang bor rencana. “As Built Drawing”
dibuat dengan bantuan ACAD.
Untuk kasus pekerjaan pondasi tiang bor dengan metode “Blind Bored” harus dilakukan
pengurugan kembali lubang bor dari permukaan beton sampai dengan elevasi tanah
ekisting menggunakan tanah urug. Pekerjaan pengurugan kembali lubang bor tersebut
menjadi tanggungjawab pemborong. Pengurugan kembali lubang bor dilakukan
minimum 24 jam setelah proses pengecoran tiang bor.
69
15. Penolakan Tiang Bor
Tiang Bor yang tidak dilaksanakan dengan benar serta tidak memenuhi spesifikasi ini
akan ditolak oleh MK.
Pemborong wajib membuat tiang pengganti tanpa biaya tambahan, meskipun bila
diperlukan tiang dengan ukuran yang berbeda sebagai akibat dari kesalahan tersebut di
atas.
III. Pembesian
▪ Jumlah dan diameter tulangan utama
▪ Diameter dan jarak sengkang
▪ Diameter rangkaian / Cage Tulangan
▪ Panjang Tulangan
V. Pengecoran
▪ Jam datang Ready Mix
▪ Jam selesai pengecoran
▪ Pengambilan sample untuk Test Kubus / Silinder
▪ Volume Beton sesuai Design
▪ Volume Beton yang dituang / di cor
▪ Elevasi atas pengecoran Tiang Bor saat casing dicabut
▪ Elevasi atas final pengecoran Tiang Bor
▪ Elevasi atas penulangan (sebelum dan sesudah pengecoran)
Semua kolom isian pada Piling Record harus diisi, apabila tidak ada catatan apapun
mohon diberikan tanda strip (-).
Piling Record disiapkan oleh Pemborong dan setelah diperiksa dengan teliti baru boleh
ditandatangani oleh MK.
Piling Record tersebut setelah ditandatangani oleh Pemborong dan MK akan menjadi
data yang sah yang akan digunakan untuk berbagai keperluan antara lain sebagai data
untuk evaluasi Tiang Bor yang mengalami masalah/ diragukan mutunya.
Rekap Piling Record dibuat oleh Pemborong dan dikirimkan seminggu sekali setelah
ditandatangani oleh Pemborong dan MK.
PASAL 09
PEKERJAAN FONDASI SUMURAN
1. Umum
a. Pekerjaan ini harus dilaksanakan oleh Penyedia Jasa Spesialis Fondasi Sumuran
dan yang mempunyai peralatan yang memadai dan staff pengawas yang
berpengalaman untuk pekerjaan serupa sehingga dapat dihasilkan mutu pekerjaan
seperti yang disyaratkan dengan daya dukung yang sesuai dengan yang tercantum
dalam spesifikasi dan gambar-gambar rencana yang dibuat oleh Perencana
Struktur.
Juga Penyedia Jasa harus memberikan Surat Pernyataan yang menjamin bahwa
71
personil yang bersangkutan akan selalu berada di tempat pekerjaan selama masa
pekerjaan ini berlangsung.
c. Penyedia Jasa harus melampirkan Metode Pelaksanaan serta daftar alat-alat yang
akan digunakan dalam proyek ini dengan memperhatikan kondisi lapisan tanah yang
ada, lokasi permukaan air tanah, sifat dan jumlah tanah yang dihadapi, sifat
peralatan yang akan dipergunakan serta fasilitas yang dibutuhkan pada tahap
preliminary maupun pada tahapan selanjutnya.
Penyedia Jasa sebelum mulai pekerjaan harus menyerahkan 2 (dua) copy kepada MK
:
• Equipment schedule, termasuk jumlah alat/ mesin bor/mesin galian yang akan
digunakan.
• Rencana pembuatan fondasi sumuran per hari per alat.
• Manpower schedule.
• Material schedule.
Kedalaman fondasi sumuran dihitung dari muka tanah asli saat dilakukan
Penyelidikan Tanah seperti terlihat dari data lapangan yang diperoleh pada saat
dilakukan pekerjaan pengeboran.
Panjang aktual yang dijadikan sebagai lingkup penawaran adalah sesuai gambar
Struktur.
Contoh tanah tersebut harus disimpan dalam rak yang teratur sesuai dengan urutan,
terbungkus dalam plastik dan siap untuk diperlihatkan setiap saat dibutuhkan.
2. Pengenalan Lapangan
a. Penyedia Jasa harus mengenal lapangan sebaik-baiknya sebelum memulai
pekerjaannya yang antara lain :
1. Elevasi eksisting dihubungkan dengan elevasi dalam gambar rencana.
2. Keadaan/ kondisi lapisan-lapisan tanah.
3. Kedalaman muka air tanah.
4. Bangunan-bangunan/ fasilitas-fasilitas/ utilitas-utilitas existing yang ada dan atau
berdekatan dengan site.
5. Peralatan dan fasilitas-fasilitas yang diperlukan guna kelancaran pekerjaan.
6. Hal-hal lain yang mungkin berpengaruh terhadap pelaksanaan pekerjaan.
c. Penyedia Jasa juga harus bertanggung jawab terhadap ijin-ijin yang diperlukan guna
keperluan transportasi tersebut di atas.
d. Penyedia Jasa wajib untuk mencocokkan kondisi lapangan dengan gambar rencana
dan wajib untuk melaporkan secara tertulis kepada Perencana Struktur untuk
ditentukan/ diambil keputusan.
3. Pengukuran Lapangan
a. Penyedia Jasa sebelum memulai pekerjaan, harus menempatkan Surveyor yang
teliti serta berpengalaman untuk melakukan pengukuran layout dengan
menggunakan theodolit.
b. Penyedia Jasa wajib untuk melaporkan secara tertulis kepada Perencana Struktur
apabila ditemukan perbedaan elevasi-elevasi/ ukuran-ukuran lapangan dengan yang
tercantum dalam gambar rencana.
c. Penyedia Jasa wajib untuk mengukur/ menentukan fasilitas/ utilitas yang ada
dilapangan serta melaporkannya secara tertulis kepada MK.
4. Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan fondasi sumuran ini antara lain :
73
a. Pengadaan semua tenaga kerja, material, peralatan dan semua perlengkapan yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan ini.
b. Pengeboran lubang fondasi sumuran termasuk penggunaan casing, apabila
diperlukan.
c. Penyediaan dan pemasangan tulangan fondasi sumuran.
d. Pembuangan tanah/ lumpur hasil pengeboran keluar site dan pembersihannya.
e. Penyediaan dan pengecoran fondasi sumuran.
5. Referensi
Untuk semua pekerjaan, bahan-bahannya harus dilaksanakan sesuai dengan Spesifikasi
Teknis dan Uraian yang tertera pada gambar kerja. Semua pekerjaan beton bertulang
harus dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi PEKERJAAN BETON BERTULANG dan
SNI 2847:2019, kecuali bila ada perubahan-perubahan khusus yang akan disebutkan
kemudian.
Sebelum pekerjaan ini dimulai Penyedia Jasa sudah harus menyiapkan formulir isian
Piling Record yang bentuk dan isinya sudah disetujui oleh MK. Isi piling record antara
lain tertulis dalam butir 6.c di bawah ini.
Alat-alat ini harus dapat dipergunakan untuk melakukan pengeboran menembus air,
lapisan keras, batu besar, serpihan-serpihan cadas, tanah liat yang keras, kerikil dan
pasir.
Untuk menahan kelongsoran pada dinding lubang bor dipergunakan Bentonite atau
Polymer.
74
tersebut dan disimpan sedemikian rupa sehingga sifat asli dari tanah tersebut tidak
berubah.
Contoh tanah tersebut harus dapat ditunjukkan setiap saat jika diperlukan oleh Perencana
Struktur/ MK.
Untuk mencapai hasil pekerjaan yang maksimal Penyedia Jasa dan MK diwajibkan untuk
menempatkan seorang Ahli geoteknik/ Teknik Pondasi yang minimal mempunyai
SKA Geoteknik kualifikasi Madya/SIPTB Geoteknik Gol.B dan G1 yang benar-benar
sekali lagi benar-benar sudah berpengalaman dengan pekerjaan fondasi sumuran.
Pengeboran baru dihentikan setelah mendapat persetujuan tertulis dari MK. Walaupun
telah disetujui oleh MK, tetapi tanggung jawab atas mutu pekerjaan yang dihasilkan
sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa.
d. Tahapan kedua adalah pekerjaan pembersihan dasar lubang bor dari longsoran dan
lumpur yang terjadi pada dasar lubang bor. Pekerjaan ini mutlak harus dilakukan oleh
Penyedia Jasa karena longsoran dan lumpur tersebut dapat mempengaruhi daya dukung
serta perilaku dari fondasi sumuran.
Tinggi maksimum endapan pada dasar lubang bor adalah 20 cm yang merupakan tinggi
endapan sebelum pengecoran, bukan setelah kondisi fondasi sumuran tercor beton.
Cara pelaksanaan pekerjaan pembersihan ini sangat tergantung dari metoda dan alat
yang dipergunakan (dengan Casing dan atau Bentonite/polymer).
Pekerjaan pembersihan ini baru dapat dihentikan setelah mendapat persetujuan tertulis
dari MK. Lama pembersihan dan kedalaman dari lubang bor setelah pembersihan
dilakukan ini harus dicatat.
Setelah dilakukan pembersihan dasar lubang bor dilakukan tes vertikalitas dan integritas
lubang sumuran dengan alat KODEN Drilling Monitor tipe DM604 dengan ketentuan 1
(satu) tes untuk setiap 10 (sepuluh) lubang bor. Sebelum dilanjutkan ke tahap-tahap
selanjutnya yaitu pemasangan tulangan dari tiang bor.
75
sumuran yang dilakukan oleh Penyedia Jasa dan disaksikan oleh MK.
Setelah pekerjaan pemasangan tulangan selesai dilakukan, maka adukan beton cyclop
yang akan digunakan sudah harus siap di tempat pekerjaan, sehingga pengecoran
langsung dilakukan setelah pekerjaan pemasangan tulangan disetujui oleh MK.
Pengecoran dilakukan sampai minimal 1 m di atas COL (cut off level) untuk
memastikan mutu beton pada COL sudah memenuhi persyaratan (tidak ada beton yang
bercampur tanah atau lumpur).
Apabila pengecoran ini tidak selesai karena sesuatu alasan maka fondasi sumuran
ini dianggap tidak memenuhi syarat lagi dan Penyedia Jasa harus mengganti tiang
tersebut dengan tiang bor baru yang letaknya akan ditentukan oleh Konsultan
Perencana. Semua risiko akibat hal ini adalah tanggungan Penyedia Jasa.
Untuk mencegah hal tersebut maka Penyedia Jasa sudah harus dapat memperkirakan
jumlah/ volume adukan beton yang akan digunakan pada lubang sumuran yang sudah
disiapkan.
Harus diadakan pencatatan volume yang diperkirakan akan digunakan dengan volume
adukan yang terpakai sesungguhnya. Waktu dan lama pengecoran harus dicatat.
h. Ada hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan sumuran ini, yaitu
apabila tahapan pertama sudah dimulai maka pekerjaan ini harus diselesaikan sampai
tahap yang terakhir dan tidak boleh ada penundaan waktu di antara tahap-tahap
pekerjaan.
7. Baja Tulangan
a. Syarat-syarat umum untuk baja tulangan, lihat bab PEKERJAAN BETON
BERTULANG pada spesifikasi ini dan untuk panjang baja tulangan lihat gambar
rencana Perencana Struktur dengan memperhatikan stek-stek yang disyaratkan.
76
b. Tulangan yang dipergunakan untuk pekerjaan ini adalah sesuai dengan gambar
pelaksanaan.
c. Keranjang tulangan harus diletakkan pada pusat lubang bor serta harus dipasang
dengan kuat sehingga tidak terjadi pergeseran/ perpindahan tempat selama masa
pengecoran.
8. Pekerjaan Beton
a. Syarat-syarat umum Pekerjaan Beton mengacu pada bab PEKERJAAN BETON
BERTULANG pada spesifikasi ini.
c. Mutu beton yang disyaratkan sesuai yang tercantum pada gambar rencana, dengan
slump (18±1 cm).
d. Pengecoran beton tidak boleh dilakukan sebelum hasil pekerjaan pengeboran dan
tahapannya disetujui oleh MK.
f. Posisi dari pipa Tremie harus diatur sedemikian rupa sehingga dasar dari pipa
tersebut paling tidak 1,5 m dibawah permukaan beton pada setiap tahap
pengecoran.
Pengecoran beton harus terus menerus tanpa berhenti.
g. Volume aktual dari beton yang dipergunakan harus dicatat dan dicek dengan
perhitungan volume diatas kertas untuk meyakini bahwa tidak terjadi "necking" atau
"caving" didalam lubang sumuran.
h. Beton Fondasi Sumuran tidak boleh diganggu selama minimum 21 (dua puluh satu)
hari terhitung sejak selesai pengecoran.
77
1. Deviasi maksimum diukur setiap arah horisontal terhadap garis grid patokan : 10
cm.
2. Deviasi level dari rencana sisi atas tiang, max. 5 cm.
3. Toleransi sumbu elevasi vertikal = 1:200.
Khusus untuk Sumuran tunggal, toleransi ini harus diperhatikan benar, karena
penyimpangan sedikit saja dari toleransi ini berakibat fatal dan Penyedia Jasa harus
mengganti sumuran yang gagal tersebut dengan sumuran baru yang letaknya akan
ditentukan oleh Konsultan Perencana Struktur.
b. Semua biaya tambahan yang timbul karena perubahan pada jumlah fondasi sumuran,
desain dari kepala tiang, balok pondasi baik dari segi material, waktu maupun biaya
perencanaan ulang yang diakibatkan oleh kesalahan/ kegagalan dari Penyedia Jasa
dalam melaksanakan pembuatan fondasi sumuran, seluruhnya menjadi beban
Penyedia Jasa.
Selanjutnya gambar yang telah disetujui oleh MK tersebut harus diperbanyak dan
diletakkan di keet MK sehingga mempermudah monitoring oleh MK.
b. Pembuatan fondasi sumuran baru yang terletak di sebelah fondasi sumuran yang
baru selesai dicor harus mempunyai tenggang waktu minimum 24 jam dan harus
memperoleh persetujuan dari MK.
Jarak minimal antara satu lubang sumuran dengan lubang sumuran lainnya untuk
pengecoran kurang dari 24 jam sebesar 6D, D=diameter sumuran dengan syarat
apabila jarak tersebut berpengaruh buruk terhadap fondasi sumuran yang sudah
tercor, maka jarak tersebut harus diperbesar.
78
beton yang keras, maka pembobokan harus tetap dilanjutkan sampai mencapai
permukaan beton yang benar-benar keras sesuai dengan mutu yang disyaratkan.
Semua penyelesaian dari Perencana Struktur akibat kondisi tersebut menjadi
tanggungjawab Penyedia Jasa fondasi sumuran.
b. Segera setelah pekerjaan selesai Penyedia Jasa harus membuat "As Built Drawing"
dari letak tiang sumuran dan dibandingkan dengan letak tiang sumuran rencana. “As
Built Drawing” dibuat dengan bantuan ACAD.
Penyedia Jasa wajib membuat tiang pengganti tanpa biaya tambahan, meskipun bila
diperlukan tiang dengan ukuran yang berbeda sebagai akibat dari kesalahan tersebut di
atas.
Piling record harus berisi antara lain, tapi tidak terbatas pada :
III. Pembesian
▪ Jumlah dan diameter tulangan utama
▪ Diameter dan jarak sengkang
▪ Diameter rangkaian / Cage Tulangan
▪ Panjang Tulangan
V. Pengecoran
▪ Jam datang Ready Mix
▪ Jam selesai pengecoran
▪ Pengambilan sample untuk Test Kubus / Silinder
▪ Volume Beton sesuai Design
▪ Volume Beton yang dituang / di cor
▪ Elevasi atas pengecoran fondasi sumuran saat casing dicabut
▪ Elevasi atas final pengecoran fondasi sumuran
▪ Elevasi atas penulangan (sebelum dan sesudah pengecoran)
Semua kolom isian pada Piling Record harus diisi, apabila tidak ada catatan apapun
mohon diberikan tanda strip (-).
80
Piling Record disiapkan oleh Penyedia Jasa dan setelah diperiksa dengan teliti baru
boleh ditandatangani oleh MK.
Piling Record tersebut setelah ditandatangani oleh Penyedia Jasa dan MK akan menjadi
data yang sah yang akan digunakan untuk berbagai keperluan antara lain sebagai data
untuk evaluasi fondasi sumuran yang mengalami masalah/ diragukan mutunya.
Rekap Piling Record dibuat oleh Penyedia Jasa dan dikirimkan seminggu sekali setelah
ditandatangani oleh Penyedia Jasa dan MK.
PASAL 10
PEKERJAAN FONDASI TELAPAK
1. Umum
1.1. Lingkup pekerjaan.
Lingkup pekerjaan ini meliputi seluruh pekerjaan pondasi telapak seperti yang tercantum
dalam gambar, termasuk penyediaan tenaga kerja, surveying, metoda kerja, gambar
kerja dan report lengkap fondasi telapak yang sudah terpasang, peralatan dan alat
bantu untuk menyelesaikan pekerjan ini dengan baik dan pembersihan lokasi dari sisa-
sisa fondasi telapak dan alat–alat bantu.
2. Persyaratan Bahan
2.1. Beton
• Mutu beton yang digunakan untuk tiang pancang beton harus mempunyai kekuatan
minimum fc’ = 25 MPa, sesuai SNI 2847 : 2019.
81
• Setiap pembuatan fondasi telapak harus didasarkan kepada rencana campuran
dengan menggunakan komponen bahan yang memenuhi ketentuan yang berlaku
dan selama pelaksanaan pengecoran beton harus diikuti dengan pengendalian
mutu.
2.2. Baja
• Baja tulangan untuk fondasi telapak harus mempunyai tegangan leleh minimum
420 Mpa (BJTS 420B), bebas dari korosi dan kotoran yang menempel pada baja;
Selanjutnya gambar yang telah disetujui oleh MK tersebut harus diperbanyak dan
diletakkan di keet MK sehingga mempermudah monitoring oleh MK.
Pemborong wajib membuat perbaikan tanpa biaya tambahan, meskipun bila diperlukan
dengan dimensi yang berbeda sebagai akibat dari kesalahan tersebut di atas.
Untuk menjamin tercapainya mutu baja yang disyaratkan, sebelum digunakan baja
harus diuji mutunya sesuai dengan SNI 2052 : 2017 Baja Tulangan Beton.
PASAL 11
PEKERJAAN LOADING TEST
82
1. Axial Loading Test
Alat pengujian loading test ini disyaratkan menggunakan mesin/alat pancang yang
telah ditambahkan manometer.
1. Prosedur pembebanan
Jumlah tiang untuk loading test untuk tiang pancang dan bored pile untuk masing-
masing ukuran adalah 1 (satu) tes setiap @ 100 tiang pancang dan 1 (satu) setiap
@75 bored pile dengan jumlah minimal 2 (dua) buah. Sedangkan untuk lateral load
test untuk masing-masing ukuran adalah 1 (satu) buah.
83
Cycle III = 0 - 50% - 100% - 125% - 150% - 125% - 100% - 50% - 0% dari
beban rencana.
I. 0 0 -
+ 25 25 1 jam 0-10-20-30-40-50-60
+ 25 50 A 0-10-20-30-40-50-60-(70-80-90-100-
110-120)
- 25 25 20 menit 0-10-20
II - 25 0 2 jam 0-10-20-30-40-50-60
+ 50 50 20 menit 0-10-20
+ 25 75 1 jam 0-10-20-30-40-50-60
+ 25 100 A 0-10-20-30-40-50-60-(70-80-90-100-
110-120)
- 25 75 20 menit 0-10-20
- 25 50 20 menit 0-10-20
+ 50 50 20 menit 0-10-20
+ 50 100 20 menit 0-10-20
84
+ 25 125 1 jam 0-10-20-30-40-50-60
+ 25 150 A 0-10-20-30-40-50-60-(70-80-90-100-
110-120)
- 50 50 20 menit 0-10-20
IV - 50 0 1 jam 0-10-20-30-40-50-60
+ 50 50 20 menit 0-10-20
+ 25 200 B 0-10-20-30-40-50-60-(70-80-90-100-
110-120) dan kemudian tiap jam
- 50 50 60 menit 010-20-30-40-50--60
- 50 0 C 0-10-20-30-40-50-60-(70-80-90-100-
110-120) dan kemudian tiap jam
NOTE :
A = Penahan beban minimum 1 jam dan sampai penurunan < 0.25 mm per jam atau
maksimum 2 jam.
B =
Penahan beban selama 12 jam dan sampai penurunan < 0,25 mm per jam atau
C =
maksimum 24 jam
Penahan beban selama 2 jam jika penurunan < 0.25 mm per jam atau maksimum
12 jam.
• Pada beban 0 pada cycle 4 pembebanan penurunan dilakukan dengan interval waktu
10 menit untuk 1 jam pertama selanjutnya dengan interval waktu 1 jam.
• Pada saat penurunan maksimum pada cycle 4 haruslah disaksikan oleh Konsultan
Perencanaan . Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor wajib memberitahu kapan
terjadinya beban maksimum pada Konsultan Perencana.
85
• Beban failure pada pondasi tiang dapat ditentukan berdasarkan kriteria - kriteria
sebagai berikut :
• Maximum total settlement pada beban maksimum percobaan sebesar 1 inch (New
York Code).
• Batas penurunan plastis sebesar 0,25 inch (AASHO)
• Perbandingan antara pertambahan penurunan dengan pertambahan beban tidak
melebihi 0,03 inch/ton (OHIO)
Kegagalan tes beban pada proving test yang diakibatkan kesalahan dari kualitas kerja
Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor bertanggung jawab akan biaya penggantian tiang
baru. Pile cap beserta loading testnya , setelah dilakukan redesain oleh Perencana. Penyedia
Pelaksana Konstruksi / Kontraktor bertanggung jawab akan biaya penggantian tiang baru ,
pile cap beserta loading testnya walaupun tidak harus pada pengganti tersebut ( keterangan
: apabila loading test/proving test pada tiang yang ternyata terbukti gagal, maka Penyedia
Pelaksana Konstruksi / Kontraktor wajib melakukan loading test kembali. Semua biaya untuk
loading test tersebut menjadi beban Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor). Dan
bilamana terjadi loading test yang hasilnya meragukan kekuatan tiang/keamanan struktur
bangunan yang mungkin diakibatkan oleh pelaksanaan pekerjaan, maka pihak KMK berhak
menginstruksikan diadakannya test tiang atau test lain yang diusulkan Penyedia Pelaksana
Konstruksi / Kontraktor dan disetujui oleh MK dan biaya semua test ini ditanggung oleh
Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor.
86
Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor harus mengajukan proposal pelaksanaan
test beban yang dilengkapi dengan uraian alat-alat yang digunakan beserta sertifikat
kaliberasinya. Test beban belum dapat dilaksanakan sebelum proposal ini disetujui oleh
KMK.
Laporan percobaan pembebanan harus dibuat rangkap 6 (enam) dan harus diserahkan
kepada Konsultan Pengawas selambat-lambatnya 1 (satu) minggu setelah
pembebanan selesai. Laporan percobaan pembebanan harus mencakup hal-hal
sebagai berikut :
87
2. Tes Beban PDA (PDA Test)
b. Jika suatu tes PDA gagal, maka tambahan 2 tes beban lagi harus dilakukan dan
tidak boleh gagal, semuanya atas beban biaya Penyedia Pelaksana Konstruksi /
Kontraktor. Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor harus menyediakan
tambahan tiang dalam kelompok tiang yang gagal, tanpa tambahan pembayaran.
c. Selama tes beban, tidak boleh ada pemancangan tiang yang dikerjakan. Tiang yang
akan dites, harus dipilih oleh Pengawas/Perencana secara random berdasarkan
data pemancangan.
e. Sekalipun tes beban dilakukan hanya atas tiang-tiang tertentu, Penyedia Pelaksana
Konstruksi / Kontraktor harus bertanggung jawab dan menjamin bahwa semua tiang
memenuhi syarat dalam batas toleransinya. Penerimaan beberapa tiang tidak
melepas tanggung jawab Penyedia Pelaksana Konstruksi / Kontraktor atas semua
pekerjaan fondasi dan atas akibat penurunan pada struktur atas bangunan.
88
2.2.2. Peralatan untuk test terdiri dari:
a. Alat untuk mengerjakan gaya impact (impact force) berupa hammer pancang
konvensional atau alat yang sejenis. Peralatan diletakkan sedemikian rupa
sehingga impact dapat dikerjakan pada as di kepala tiang dan konsentris dengan
tiang.
b. Strain transducer dan accelerometer, yang mampu secara independen
mengukur strain (regangan) dan acceleration (percepatan) versus waktu pada
setiap lokasi tertentu sepanjang as tiang selama terjadinya impact. Minimum dua
dari setiap peralatan ini harus secara mantap ditambatkan pada sisi tiang yang
berlawanan, sehingga tidak slip. Natural frequency-nya harus melebihi 7500 Hz.
Transducer harus diletakkan pada posisi aksial yang sama, dan harus
ditambatkan sedikitnya pada satu dan satu setengah lebar/diameter tiang dari
kepala tiang. Transducer harus dikalibrasi sampai ketelitian 2 % sepanjang
range pengukurannya.
c. Alat untuk mencatat, mereduksi, dan menampilkan data, yang memungkinkan
penentuan force (gaya) dan velocity (kecepatan) versus waktu. Dan dapat pula
menentukan percepatan (acceleration) dan perpindahan (displacement) kepala
tiang dan energi yang ditransfer ke tiang. Peralatan harus mempunyai
kemampuan membuat kalibrasi internal yang memeriksa regangan (strain),
percepatan (acceleration), dan skala waktu. Tidak boleh ada kesalahan yang
melebihi 2 % dari signal maksimum yang diharapkan.
2.2.3. Prosedur :
Prosedur berikut ini harus diikuti :
a. Tambatkan transducer pada tiang, lakukan pemeriksaan kalibrasi internal, dan
ambil pengukuran dinamis atas impact selama interval yang dimonitor bersama
dengan observasi rutin atas penetration resistance.
b. Tandai tiang dengan jelas pada interval yang memadai. Tambatkan transducer
secara mantap pada tiang. Set up peralatan untuk mencatat, mereduksi, dan
menampilkan data.
c. Lakukan pengukuran. Catat jumlah tumbukan per menit yang diberikan oleh
hammer, dan tinggi jatuh. Catat dan tampilkan satu seri pengukuran gaya (force)
dan kecepatan (velocity).
89
d. Untuk konfirmasi kualitas data, secara periodik bandingkan gaya dengan
perkalian antara kecepatan (velocity) dan impedansi tiang, untuk kesepakatan
proporsional dan untuk konsistensi.
e. Analisa pengukuran terdiri dari:
• Gaya (force) dan kecepatan (velocity) dari pembacaan peralatan.
• Catatan gaya impact (impact force) dan gaya (force) maksimum dan
minimum.
• Maksimum percepatan (acceleration).
• Perpindahan (displacement) dari data pemancangan tiang, dan kurva
rebound set, dan dari transducer.
• Energi maksimum yang ditransfer.
Data yang dicatat dapat dianalisa dengan komputer. Hasil analisa berupa:
• Evaluasi resistensi tanah statis dan distribusinya pada tiang pada saat tes.
• Penilaian integritas (keutuhan) tiang.
• Performance sistem pemancangan.
• Tegangan pemancangan dinamis maksimum.
2.2.4. Laporan:
Laporan harus mencakup hal sebagai berikut:
a. Umum: identifikasi proyek, lokasi proyek, lokasi site pengujian, pemilik, Penyedia
Pelaksana Konstruksi / Kontraktor tiang, boring log terdekat, koordinat dan
datum horisontal.
b. Peralatan pemasangan tiang: tipe hammer, berat ram, tinggi jatuh aktual dan
rate-nya, energi hammer, bantalan tiang, driving cap.
c. Data tes tiang
d. Data pemancangan.
e. Data peralatan, termasuk gambar peralatan.
f. Rekaman tes dinamis.
g. Hasil analisa dan evaluasi.
h. Catatan atas kejadian khusus.
90