0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
961 tayangan20 halaman

Kumpulan Puisi

Kumpulan puisi ini menggambarkan berbagai tema seperti cinta, kehilangan, dan hubungan dengan tanah air. Setiap puisi menyampaikan emosi mendalam yang berkaitan dengan pengalaman hidup, perjuangan, dan harapan. Melalui berbagai simbol dan imaji, penulis mengajak pembaca untuk merenungkan makna kehidupan dan keberadaan mereka di dunia.

Diunggah oleh

Alif Rohman Ananto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
961 tayangan20 halaman

Kumpulan Puisi

Kumpulan puisi ini menggambarkan berbagai tema seperti cinta, kehilangan, dan hubungan dengan tanah air. Setiap puisi menyampaikan emosi mendalam yang berkaitan dengan pengalaman hidup, perjuangan, dan harapan. Melalui berbagai simbol dan imaji, penulis mengajak pembaca untuk merenungkan makna kehidupan dan keberadaan mereka di dunia.

Diunggah oleh

Alif Rohman Ananto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MARI, MARI BELAJAR LAGI

: Suminto A. Sayuti

Sudah terlampau lama mata kita yang terbuka


Selalu gagal membaca
dan rabun pada isyarat-isyarat Cinta
Kita membaca gelombang hanya ketika pasang
Kita membaca laut hanya tatkala hati susut
Kita membaca angin hanya ketika suasana dingin
Kita membaca badai hanya ketika hati sangsai

Lembaran-lembaran hikayat
yang ditulis tangan-tangan agung
hanya kita buka
ketika hati linglung dan bingung
Senandung ayat-ayat bergema
dan menggeliat
hanya ketika kita merasa hampir tamat
kita selalu gagal menyelam di telaga hikmat
kerna kita hampir selalu lupa sangkan-paran alamat

Mari kembali kita belajar membaca


Membaca diri, membaca untingan kata hati
Mari kita maknai surat-surat Cinta
Yang dikirim lewat berbagai cuaca
Tanpa perangko, kecuali jiwa selalu berjaga
Mari bangkit berdiri sambil berkaca
Di keluasan Cakrawala
Merajut hari, melangkahi pematang senja
Merambah malam, menyongsong fajar pagi!
DIALOG BUKIT KEMBOJA
D. Zawawi Imron

Inilah ziarah di tengah nisan-nisan tengadah


di bukit serba kemboja. Matahari dan langit lelah

Seorang nenek, pandangannya tua memuat jarum cemburu


menanyakan, mengapa aku berdoa di kubur itu

“Aku anak almarhum,” jawabku dengan suara gelas jatuh


pipi keriput itu menyimpan bekas sayatan waktu

“Lewat berpuluh kemarau


telah kubersihkan kubur di depanmu
karena kuanggap kubur anakku.”

Hening merangkak lambat bagai langkah siput


Tanpa sebuah sebab senyumnya lalu merekah
Seperti puisi mekar pada lembar bunga basah

“Anakku mati di medan laga, dahulu


saat Bung Tomo mengibas bendera dengan takbir
Berita itu kekal jadi sejarah: Surabaya pijar merah
Ketika itu sebuah lagu jadi agung dalam derap
Bahkan pada bercak darah yang hampir lenyap.”

Jadi di lembah membias rasa syukur


Pada hijau ladang sayur, karena laut bebas debur

“Aku telah lelah mencari kuburnya dari sana ke mana


Tak kutemu. Tak ada yang tahu
Sedangkan aku ingin ziarah, menyampaikan terimakasih
atas gugurnya: Mati yang direnungkan melati
Kubur ini memadailah, untuk mewakilinya.”

“Tapi ayahku sepi pahlawan


Tutur orang terdekat, saat ia wafat
Jasadnya hanya satu tingkat di atas ngengat
Tapi ia tetap ayahku. Tapi ia bukan anakmu”

“Apa salahnya kalau sesekali


kubur ayahmu kujadikan alamat rindu
Dengan ziarah, oleh harum kemboja yang berat gemuruh
dendamku kepada musuh jadi luruh”
Sore berangkat ke dalam remang
Ke kelepak kelelawar

“Hormatku padamu, nenek! Karena engkau


menyimpan rahasia wangi tanahku, tolong
beri aku apa saja, kata atau senjata!”

“Aku orang tak bisa memberi, padamu bisaku cuma minta:


Jika engkau bambu, jadilah saja bambu runcing
Jangan sembilu, atau yang membungkuk depan sembilu!”

Kelam mendesak kami berpisah. Di hati tidak


Angin pun tiba dari tenggara. Daun-daun dan bunga ilalang
memperdengarkan gamelan doa
Memacu roh agar aku tak jijik menyeka nanah
pada luka anak-anak desa di bawah
Untuk sebuah hormat
Sebuah cinta yang senapas dengan bendera
Tidak sekedar untuk sebuah palu
GUGUR
: Rendra

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya.
Tiada kuasa lagi menegak.
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
ke dada musuh yang merebut kotanya.

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya.
Ia sudah tua
luka-luka di badannya.

Bagai harimau tua


susah payah maut menjeratnya.
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya.

Sesudah pertempuran yang gemilang itu


lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya.
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya.

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya.
Belum lagi selusin tindak
maut pun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata:
“Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah:
tanah Ambarawa yang kucinta.
Kita bukanlah anak jadah
kerna punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mataairnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah jiwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang.”
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa.

Orang tua itu kembali berkata:


“Lihatlah, hari telah fajar!
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan
buat selama-lamanya!
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menancapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun akan berkata:
--Alangkah gemburnya tanah di sini!”

Hari pun lengkap malam


ketika ia menutup matanya.
TANAH AIR MATA
: Sutardji Calzoum Bachri

tanah airmata tanah tumpah dukaku


mata air airmata kami
airmata tanah air kami

di sinilah kami berdiri


menyanyikan airmata kami

di balik gembur subur tanahmu


kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedunggedungmu
kami coba sembunyikan derita kami

kami coba simpan nestapa


kami coba kuburkan dukalara
tapi perih tak bisa sembunyi
ia merebak ke mana-mana

bumi memang tak sebatas pandang


dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir
ke mana pun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke mana pun terbang
kalian kan hinggap di airmata kami
ke mana pun berlayar
kalian arungi airmata kami
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman airmata kami
MANUSIA PERTAMA DI ANGKASA LUAR
: Subagio Sastrowardoyo

Beritakan kepada dunia


Bahwa aku telah sampai pada tepi
Darimana aku tak mungkin kembali.
Aku kini melayang di tengah ruang
Di mana tak terpisah malam dan siang.
Hanya lautan yang hampa dilingkung cemerlang bintang.
Bumi telah tenggelam dan langit makin jauh mengawang.
Jagat begitu tenang. Tidak lapar
Hanya rindu kepada istri, kepada anak, kepada ibuku di rumah.
Makin jauh, makin kasih hati kepada mereka yang berpisah.
Apa yang kukenang? Masa kanak waktu tidur dekat ibu
Dengan membawa dongeng dalam mimpi tentang bota
Dan raksasa, peri dan bidadari. Aku teringat
Kepada buku cerita yang terlipat dalam lemari.
Aku teringat kepada bunga mawar dari Elisa
Yang terselip dalam surat yang membisikkan cintanya kepadaku
Yang mesra. Dia kini tentu berada di jendela
Dengan Alex dan Leo—itu anak-anak berandal yang kucinta—
Memandangi langit dengan sia. Hendak menangkap
Sekelumit dari pesawatku, seleret dari
Perlawatanku di langit tak berberita.
Masihkah langit mendung di bumi seperti waktu
Kutinggalkan kemarin dulu?
Apa yang kucita-cita? Tak ada lagi cita-cita
Sebab semua telah terbang bersama kereta
ruang ke jagat tak berhuni. Tetapi
ada barangkali. Berilah aku satu kata puisi
daripada seribu rumus ilmu yang penuh janji
yang menyebabkan aku terlontar kini jauh dari bumi
yang kukasih. Angkasa ini bisu. Angkasa ini sepi
Tetapi aku telah sampai pada tepi
Darimana aku tak mungkin lagi kembali.
Ciumku kepada istriku, kepada anak dan ibuku
Dan salam kepada mereka yang kepadaku mengenang.
Jagat begitu dalam, jagat begitu diam.
Aku makin jauh, makin jauh
Dari bumi yang kukasih. Hati makin sepi
Makin gemuruh.
Bunda,
Jangan membiarkan aku sendiri.
Membaca Tanda-Tanda
Taufiq Ismail

Ada sesuatu yang rasanya


mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita
Ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas
tapi kini kita mulai merindukannya
Kita saksikan udara abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau
yang semakin surut jadinya

Burung-burung kecil
tak lagi berkicau pagi hari
Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan

Kita saksikan zat asam didesak asam arang


dan karbon dioksid itu menggilas paru-paru
Kita saksikan gunung memompa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir membawa air
Air mata

Kita telah saksikan seribu tanda-tanda


Bisakah kita membaca tanda-tanda?
Allah, kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani abu dan batu
Allah, ampuni dosa-dosa kami
Beri kami kearifan membaca
Seribu tanda-tanda
Karena ada sesuatu yang rasanya
mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari
Karena ada sesuatu yang mulanya
tak begitu jelas
tapi kini kami
mulai merindukannya.
DALAM DOAKU
: Sapardi Djoko Damono

dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman


tak memejamkan mata, yang meluas bening siap
menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam


doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau
senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan
pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah
dari mana

dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja


yang mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis, yang
hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga
jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap
di dahan mangga itu

magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun


sangat pelahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan
kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu,
dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di
rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang
dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang
entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi
rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi
kehidupanku
aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai
mendoakan keselamatanmu
FAJAR PUN TELAH MENYINGSING
: Djawastin Hasugian:

Ciumlah bumi kekasih


ciumlah pantai, dengar indah syair di pasir putihnya
Hiruplah udara, rasa nikmat suling angin di rumput hijaunya
Ialah bumi tempat kita menggenangkan air mata
Ialah bumi tempat kita menangiskan segala tangis
Tempat aliran segala duka dan sengsara.

Sinar matahari kan tiba


Bersama pagi cerah yang gembira
Datanglah ia harapan lama
Datanglah ia idaman lama
Lihat, langit telah memerah
Dan kita bukakan fajarnya.

Nelayan-nelayan pada berdendang turun ke lautan


Bapak-bapak tani setia pada turun ke ladang
Ternak-ternak merumput di luas hijau rumputan
Buruh-buruh angkat barang sibuk di pelabuhan
Ibu-ibu berdendang sayang, tidurlah anak tidurlah intan
Tidurlah sayang tidurlah biji mata, pagi cerah kan tiba

(Kehidupan yang sibuk


Kehidupan yang hidup)

Pagi cerah, pagi yang indah hidup menggelora


Semua kita bekerja, bekerja! Untuk kedamaian kelurga-keluarga

Tetaplah cium bumi kekasih


Tetaplah hirup cinta hidup di udaranya
Pagi cerah, pagi yang manis kan tiba
Pagi yang untuknya segala tangis
Pagi yang untuknya kita tahankan kegelapan panjang.

Akan datang juga pasti ia tiba


Pagi di mana hidup benar-benar sibuk
Pagi di mana hidup benar-benar hidup.
MELODIA
: Umbu Landu Paranggi

Cintailah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan


karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan
baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi suara-suara dunia luar sana
sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja

Karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati pengembara


dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti kehadirannya
membukakan diri, bergumul dan menyeri hari-hari tergesa berlalu
meniup deras usia, mengitari jarak dalam gempuran waktu

Takkan jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi
dalam kerja berlumur suka-duka, hikmah pengertian melipur damai
begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal, penanggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam manja bujukan

Rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis, bahagia sederhana


di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan dan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan kedua tangan
JENDELA IBU
: Joko Pinurbo

Waktu itu saya sedang mencari taksi untuk pulang.


Entah dari arah mana munculnya, seorang sopir taksi
tahu-tahu sudah memegang tangan saya,
meminta saya segera masuk ke dalam taksinya.

Saya duduk di jok belakang membelakangi kenangan.


Harum rindu membuat saya ingin lekas tiba di rumah,
minum kopi bersama senja di depan jendela.

Ia sopir yang periang. Saat taksi dihajar kemacetan,


ia bernyanyi-nyanyi sambil menggoyang-goyangkan
kepalanya yang gundul. Tambah parah macetnya
tambah lantang nyanyinya, tambah goyang kepalanya.

Sopir taksi tentu tak tahu, saya tak punya jendela


yang layak dipersembahkan kepada senja. Jendela saya
seperti hati saya: dingin, muram, ringkih, takut
melihat senja tersungkur dan terkubur di cakrawala.

Lama-lama saya mengantuk, kemudian tertidur.


Taksi memasuki jalanan mulus dan lengang, melintasi
deretan bangunan tua dengan jendela-jendela
yang tertawa. Di tepi jalan berjajar pohon cemara.
Di ranting-ranting cemara bertengger burung gereja.

Laju taksi tiba-tiba melambat. Taksi berhenti


di depan kedai kopi. “Mari ngopi dulu, Penumpang,”
ujar sopir taksi. “Baiklah, Sopir,” saya menyahut,
“aku berserah diri menuruti panggilan kopi.”
Di kedai kopi telah berkumpul beberapa sopir taksi
beserta penumpang masing-masing. Mereka dilayani
seorang perempuan tua yang keramahannya membuat
orang ingin datang lagi ke kedainya. “Urip iki mung
mampir ngopi,” ucapnya seraya menghidangkan
secangkir kopi di hadapan saya, lalu menepuk-nepuk
pundak saya. Wajahnya yang damai dan matanya
yang hangat segera mengingatkan saya pada ibu.

Saya terbangun setelah sopir taksi menepuk-nepuk


pundak saya. Ah, taksi sudah sampai di depan rumah.
Setelah saya membayar ongkos dan mengucapkan
terima kasih, Sopir tersenyum dan berkata, “Selamat
bertemu senja di depan jendela, Penumpang.”

Saya berterima kasih kepada ibu yang diam-diam


telah mengirimkan sebuah jendela kecil untuk saya.
Paket jendela saya temukan di beranda. Saya tidak
pangling dengan jendela itu. Jendela tercinta
yang kacanya bisa memancarkan beragam warna.

Ibu suka duduk di depan jendela itu malam-malam.


Cahaya langit memantul biru pada kaca jendela.
Ketika malam makin mekar dan sunyi kian semerbak,
ibu melantunkan tembang Asmaradana dan mata ibu
sesekali terpejam. Ibu menyanyikan tembang itu
berulang-ulang sampai anak-anaknya tertidur lelap.

Saya pasang jendela kiriman ibu di dinding kamar.


Cahaya hitam pekat membalut kaca jendela. Perlahan
muncullah cahaya remang diiringi suara burung
dan gemercik air sungai. Jendela saya buka, lalu saya
duduk tenang ditemani secangkir kopi. Saya dan kopi
terperangah ketika cahaya berubah terang. Tampaklah
di seberang sana sungai kecil yang mengalir jernih
di bawah langit senja. Di tepi sungai ada batu besar.
Saya lihat sopir taksi saya sedang duduk bersila di atas
batu besar itu, mengidungkan tembang Asmaradana
kesukaan ibu. Kepalanya yang gundul berkilauan.
KEPADA KAWAN
: Chairil Anwar

Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat,


mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,

belum bertunas kecewa dan gentar belum ada,


tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
layar merah terkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini:
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!

Jadi, isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,


Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan, hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!

Jadi, mari kita putuskan sekali lagi:


Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!

Anda mungkin juga menyukai