Anda di halaman 1dari 44

BAB I PENDAHULUAN Lingkungan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan ternak dan tanaman.

Oleh karena itu, kita harus mengontrol dan mengendalikan lingkungan itu sendiri untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan produktivitas ternak atau tanaman. Iklim yang dapat dikendalikan hanya iklim mikro sedang iklim makro tidak bisa dikendalikan. Lingkungan ternak sangat penting dipelajari karena sangat

perbengaruh terhadap produksi dan produktivitas ternak sesuai dengan rumus P=G+E+GE. Produksi dipengaruhi oleh genetik, environment, dan interaksi antara keduanya. Environment atau lingkungan dibagi menjadi 2 yaitu makro dan mikro, tetapi disini hanya dipelajari lingkungan mikro. Lingkungan mikro adalah kondisi disekeliling ternak yang berpengaruh secar langsung atau tidak langsung terhadap tubuh ternak. Faktor lingkungan yang mempengaruhi produktivitas ternak adalah suhu, kelembaban, intensitas cahaya, suhu tanah, dan kecepatan udara. Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan atau menurunkan produktivitas ternak atau tanaman yang dipelihara. Oleh karena itu, kita harus bisa mengendalikan iklim mikro tersebut dengan cara mengetahui alat ukur meteorologi dan alat ukur iklim mikro, sehingga dapat mengetahui keadaan lingkungan mikro agar kita dapat mengaturnya sesuai dengan kondisi yang nyaman untuk ternak. Praktikum Ilmu Lingkungan Ternak bertujuan untuk mengetahui alatalat untuk mengukur iklim mikro, serta mempelajari iklim mikro yang merupakan hal terpenting dalam penentuan kerja status fisiologi dari ternak terutama pada produktivitasnya sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam pengelolaan ternak.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Faktor Lingkungan Terhadap Produktivitas Ternak Produktivitas ternak dicerminkan oleh penampilannya

(performance), sedangkan penampilan ternak merupakan manifestasi pengaruh genetik dan lingkungan ternak secara bersama. Penampilan ternak dalam setiap waktu adalah perpaduan dari sifat genetik dan lingkungan yang diterimanya. Ternak dengan sifat genetik baik tidak akan mengekspresikan potensi genetiknya tanpa didukung oleh lingkungan yang menunjang. Bahkan telah diketahui bahwa dalam membentuk penampilan, lingkungan berpengaruh lebih besar dari pada sifat genetik ternak (Amrin, 2011). Pengaruh lingkungan yang tidak baik pada ternak akan

mengakibatkan perubahan status fisiologis, yang disebut stres atau cekaman. Stres banyak sekali penyebabnya, salah satunya adalah lingkungan, yang timbul dari beberapa faktor yaitu teknik peternakan, iklim atau cuaca, kandang makanan, antimetabolit, tingkah laku ternak, serta berbagai interaksi seperti: antara makanan dengan lingkungan, antara cuaca dengan lingkungan, dan antara genetik dengan lingkungan (Sihombing et. al., 2000). Iklim tropis yang panas serta lembab, merupakan masalah lingkungan yang dapat bersifat nutrisional, manajerial, dan klimatologis. Interaksi antara ketiga faktor tersebut akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan reproduksi ternak. Faktor klimatologis merupakan unsur yang paling menonjol diantara ketiga faktor tersebut karena keadaan iklim tropis yang panas dan kelembaban relatif tinggi akhirnya berpengaruh terhadap tata laksana pemeliharaan dan manajemen pemberian pakan (Murtidjo, 1990). Sistem perkandangan, adalah salah satu upaya manusia untuk melindungi ternaknya dari pengaruh iklim yang negatif serta menciptakan kondisi iklim mikro yang optimal bagi ternaknya.Mekanisme fisiologis 2

mengharuskan alokasi energi untuk kinerja produksi maupun reproduksi dipakai untuk mempertahankan keseimbangan panas tubuh. Dengan demikian, akan berdampak buruk yaitu penurunan produktivitas ternak. Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan

mengendalikan panas yang diterima dan peningkatan panas yang terbuang oleh ternak, yaitu pemberian naungan atau atap dan pemilihan bahan atap yang lebih efektif dalam menciptakan kondisi iklim mikro kandang yang kondusif bagi ternak untuk berproduksi (Anonim, 2012)

Iklim Mikro Dalam pengertian meteorologi atau ilmu mengenai cuaca, iklim mikro didefinisikan sebagai kondisi atmosfir diatas suatu lokasi tertentu di permukaan bumi, seringkali berhubungan dengan mahluk hidup seperti tanaman dan serangga. Iklim mikro umumnya berlangsung dalam waktu singkat (Anonim, 2008). Ada empat unsur iklim mikro yang dapat mempengaruhi produktivitas ternak secara langsung, yaitu suhu, kelembaban udara, radiasi dan kecepatan angin, sedangkan dua unsur lainnya yaitu evaporasi dan curah hujan mempengaruhi produktivitas ternak secara tidak langsung. Interaksi keempat unsur iklim mikro tersebut dapat menghasilkan suatu indeks dengan pengaruh yang berbeda terhadap ternak (Yani dan Purwanto, 2006). Suhu lingkungan juga berpengaruh terhadap aktifitas organ-organ, kegiatan merumput, pertumbuhan, dan reproduksi pada ternak. Suhu lingkungan yang tinggi ternyata menurunkan nafsu makan serta mengurangi konsumsi rumput dan sebaliknya kebutuhan akan air minum bertambah. Bila hal ini berlangsung terus, akan menghambat

pertumbuhan dan menurunkan reproduksi ternak (Murtidjo, 1990) Setiap daerah mempunyai iklim yang tidak seragam, masingmasing dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bersifat variable dan bersifat tetap yaitu luas daerah, distribusi lahan dan air, tinggi tempat, tanah dan 3

topografi. Sedang yang bersifat variable yaitu aliran angin, curah hujan dan vegetasi. Di samping itu interaksi faktor-faktor tersebut di atas menyebabkan adanya mikro iklim yang spesifik pada daerah tertentu (Williamson dan Payne, 1993).

Temperatur udara Suhu udara adalah ukuran energi kinetik rata-rata dari pergerakan molekul-molekul. Suhu suatu benda ialah keadaan yang menentukan kemampuan benda tersebut, untuk memindahkan (transfer) panas ke benda-benda lain atau menerima panas dari benda-benda lain tersebut. Dalam sistem dua benda, benda yang kehilangan panas dikatakan benda yang bersuhu lebih tinggi (Anonim, 2012). Untuk menjaga dan mempertahankan suhu tubuh terhadap suhu lingkungan yang sangat bervariasi, hewan ternak harus mempunyai balance thermal atau keseimbangan panas antara panas yang diproduksi oleh tubuh atau panas yang didapat dari lingkungannya dengan panas yang hilang kelingkungannya (Williamson dan Payne, 1993). Suhu dikatakan sebagai derajat panas atau dingin yang di ukur berdasarkan skala tertentu dengan menggunakan termometer. Faktorfaktor yang mempengaruhi suhu di permukaan bumi adalah: jumlah radiasi yang di terima per tahun per hari per musim, pengaruh daratan atau lautan, pengaruh ketinggian tempat, pengaruh angin secara tidak langsung, pengaruh panas laten yaitu panas yang di simpan dalam atmosfer, penutup tanah yaitu tanah yang di tutup vegetasi, tipe tanah yaitu tanah-tanah gelap indeks suhunya lebih tinggi, pengaruh sudut datang sinar matahari, sinar yang tegak lurus akan membuat suhu yang lebih panas dari pada yang datangnya miring. Pengaruh suhu terhadap makhluk hidup adalah sangat besar sehingga pertumbuhannya benarbenar seakan tergantung padanya, terutama dalam kegiatan-kegiatannya (Kartasapoetra, 1993).

Kelembaban Kelembaban didefinisikan sebagai perbandingan fraksi molekul uap air di dalam udara basah terhadap fraksi molekul uap air jenuh pada suhu dan tekanan yang sama, atau perbandingan antara tekanan persial uap air yang ada di dalam udara dengan tekanan jenuh uap air yang ada pada temperatur yang sama. Kelembaban relatif dapat dikatakan sebagai kemampuan udara untuk menerima kandungan uap air, jadi semakin besar RH semakin kecil kemampuan udara tersebut untuk menyerap uap air (Anonim, 2012). Menurut Kartasapoetra (1993), yang di maksud dengan

kelembaban adalah banyaknya kadar uap air yang ada di udara. Kelembaban udara sangat berhubungnan erat dengan suhu udara dalam mempengaruhi suhu tubuh seekor ternak. Suhu tubuh akan mengalami perubahan apabila kelembaban udara yang di sebabkan oleh karena adanya perubahan suhu udara. Besarnya kelembaban suatu daerah merupakan faktor yang dapat menstimulasi curah hujan. Basarnya kelembaban di suatu tempat pada suatu musim erat hubungannya dengan perkembangan-perkembangan dari organisme terutama jamur dari penyakit tumbuhan (Kartasapoetra, 1993). Selain itu kelembaban dipengaruhi oleh adanya pohon-pohon pelindung, terutama apabila pohon-pohonnya rapat. Adanya ramalan cuaca mengakibatkan kita dapat dengan segera melakukan

penyemprotan dengan fungisida. Di daerah tropis yang kelembbannya besar mengakibatkan masalah bagi tanaman terutama untuk hasil-hasil sayuran, hasil ini akan cepat membusuk yang di sebabkan oleh RH tadi (Kartasapoetra, 1993).

Tekanan udara Menurut Anonim (2012), daerah yang banyak menerima panas matahari, udaranya akan mengembang dan naik. Oleh karena itu, daerah 5

tersebut bertekanan udara rendah. Ditempat lain terdapat tekanan udara tinggi sehingga terjadilah gerakan udara dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan udara rendah.

Kecepatan Angin Angin merupakan gerakan atau perpindahan dari suatu masa udara dari suatu tempat ke tempat lain secara horizontal. Masa udara yaitu udara dalam ukuran yang sangat besar yang sangat mempunyai sifat fisik (tenperatur dan kelembaban) yang seragam dalam arah yang horizontal. Sifat masa udara di tentukan oleh : daerah atau tempat di mana masa udara terjadi, jalan yang di lalui oleh masa udara, umur dari masa udara (Kartasapoetra, 1993). Gerakan dari angin biasanya berasal dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah. Angin juga mempunyai arah dan kecepatan. Arah angin biasanya dinyatakan dengan dari mana arah angin itu datang. Kecepatan angin sering menimbulkan berbagai kerusakan (Kartasapoetra, 1993).

Arah angin Besarnya angin ditunjukkan dengan satuan derajat, 1o untuk angin arah dari utara, 90o untuk angin arah dari timur, 180o untuk angin arah dari selatan, 270o untuk angin arah dari barat (Anonim, 2012).

Status Faali Ternak yang sehat memiliki parameter sebagai pedoman untuk mengetahui organ-organ tubuh bekerja secara normal. Pengukuran terhadap parameter fisiologi yang biasa dilakukan di lapangan tanpa alatalat laboratorium menurut Kasip (1995), adalah pengukuran respirasi, detak jantung dan temperatur rektal. Kasip (1995), menyatakan bahwa parameter fisiologis tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain aktivitas kerja, lama kerja 6

dan kondisi lingkungan termasuk temperatur lingkungan, kelembaban udara, radiasi sinar matahari, dan kondisi kandang. beberapa unsur iklim yang berpengaruh terhadap kondisi fisiologis ternak yaitu suhu, dan kelembaban udara. Penyimpangan dari pedoman tersebut merupakan petunjuk bahwa satu atau beberapa organ dari ternak tersebut bekerja tidak normal.

Respirasi Sistem respirasi adalah struktur-struktur yang terlibat dalam pertukaran gas antara darah dengan lingkungan atau system eksternal. Oleh karena itu, system respirasi biasa disebut dengan system pulmoner. Respirasi menyangkut dua proses, yaitu pernafasan luar (eksternal respiration) dan pernafasan dalam (internal respiration). Eksternal respiration yaitu pertukaran udara yang terjadi di dalam paru-paru, antara udara yang terkandung dalam kapiler-kapiler darah pulmonalis.

Sedangakan internal respiration adalah pertukaran udara yang terjadi pada jaringan-jaringan (Frandson, 1992). Frandson (1992), menyatakan bahwa respirasi mempunyai dua

fungsi utama yaitu untuk menyediakan oksigen bagi darah dan mengambil karbondioksida dari dalam darah. Sedang fungsi-fungsi yang bersifat sekunder, meliputi membantu dalam regulasi keasaman cairan

ekstraseluler dalam tubuh, membantu pengendalian suhu, eliminasi air dan fonasi (pembentukan suara). Hormon thyroid dapat meningkatkan laju metabolisme sehingga akan meningkatakn respirasi. Jika kebutuhan udara meningkat, maka frekuensi respirasi juga akan meningkat. Untuk respirasi yang tinggi dapat menjadi sarana prasarana peningkatan panas tubuh untuk periode yang pendek (Frandson, 1992) Ditambahkan pula oleh Frandson (1992), bahwa respirasi

dipengaruhi oleh temperatur, lingkungan, ukuran tubuh dan keadaan bunting. Apabila temperatur udara tinggi, maka ternak akan berkurang 7

respirasinya. Sedangkan lingkungan berpengaruh jika ternak berada di daerah perbukitan, maka pertukaran oksigen akan rendah yang berpengaruh pada pengukuran/pengurangan respirasi ternak.

Pulsus Pulsus atau gelembung pulsus merupakanm suatu gelembung akibat naiknya tekanan sistol dari jantung yang kemudian menjalar sepanjang arteri dan kapiler. Pulsus dapat diketahui dengan meraba pada organ yang keras, misalnya tulang. Pulsus terjadi karena adanya kegiatan jantung dalam memompa darah ke seluruh jaringan. Jantung menerima darah ke dalam bilik-bilik dan kemudian memompanya dari ventrikel menuju ke jaringan dan selanjutnya kembali lagi (Frandson, 1992). Kasip (1995), menyatakan bahwa keadaan denyut nadi

berperanan pula pada pengaturan temperatur tubuh agar tetap dalam kisaran normal. Apabila temperatur lingkungan meningkat, maka jumlah denyut nadi juga akan meningkat pula untuk memompa darah ke permukaan tubuh dimana akan terjadi pembebasan panas untuk menjaga supaya temperatur tubuh tetap normal.

Temperatur rektal Temperatur inti yang ada di dalam tubuh bagian dalam dari suatu tubuh ternak disebut sebagai temperatur tubuh. Ada beberapa faktor atau kondisi yang dapat menjaga variasi temperatur normal pada tubuh anatara lain: umur (age), jenis kalamin (sex), iklim atau cuaca, waktu dalam hari, suhu lingkungan (environmemt terperatur), (exercise), makan (eat), aktivitas atau kegiatan

pencernaan dan minum air (drink water)

(Swenson, 1993). Proses pembentukan panas di dalam tubuh ternak berlangsung terus-menerus dan untuk menjaga temperatur tubuh agar tetap dalam kisaran normal maka pembuangan panas ke lingkungan juga berlangsung terus-menerus. Proses pembuangan panas ke lingkungan tergantung dari 8

temperatur lingkungan. Bila temperatur lingkungan rendah, maka tubuh akan memproduksi panas dan panas yang dilepaskan ke lingkungan terbatas (Kasip, 1995). Faktor-faktor yang mempengaruhi temperatur rektal antara lain adalah bangsa ternak, aktivitas dan kondisi kesehatan ternak serta kondisi iklim lingkungan (Frandson, 1996). Menurut Swenson (1993), kisaran normal temperatur rektal dari kelinci adalah 38,6 sampai 40,1oC, sedangkan ayam adalah 40,6 sampai 43,0oC.

BAB III MATERI DAN METODE

Materi Acara I Iklim Mikro. Materi yang digunakan dalam praktikum adalah wheater station, termometer ruangan dan hygrometer. Status Faali. Materi yang digunakan dalam praktikum adalah stetoskop, counter dan termometer batang. Serta probandus yang digunakan adalah ayam jantan hitam, ayam jantan putih, ayam betina hitam, ayam betina putih, kelinci jantan hitam, kelinci jantan putih, kelinci betina hitam dan kelinci betina putih.

Acara II Iklim Mikro Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum adalah wheater station, termometer ruangan dan hygrometer. Bahan. Tidak ada bahan yang digunakan dalam praktikum iklim mikro. Status Faali Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum adalah stetoskop, counter dan termometer batang. Bahan. Bahan yang digunakan adalah ayam jantan hitam, ayam jantan putih, ayam betina hitam, ayam betina putih, kelinci jantan hitam, kelinci jantan putih, kelinci betina hitam dan kelinci betina putih.

Metode Acara I Iklim Mikro Pengamatan iklim mikro dilakukan dengan cara mengamati secara langsung termometer hygrometer untuk di dalam ruangan dan weather 10

station untuk di luar ruangan selama 10 menit sekali. Data yang yang di ambil meliputi suhu ruangan dan kelembaban udara untuk di dalam ruangan serta suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, kecepatan angin, dan arah angin untuk di luar ruangan.

Status Faali Semua probandus diukur status faalinya di dalam ruangan yang meliputi temperatur rektal, respirasi dan pulsus, masing-masing tiga kali pengulangan. Kemudian semua probandus dijemur di bawah sinar matahari dan diukur status faalinya lagi. Temperatur rektal diukur dengan cara memasukkan teermometer batang ke dalam kloaka ayam atau termometer rektal ke dalam rektum kelinci, respirasi diukur dengan cara melihat kembang kempisnya perut, dan menempelkan stetoskop di dada ternak. pulsus diukur dengan cara

Acara II Iklim Mikro Pengamatan iklim mikro dilakukan dengan cara mengamati secara langsung termometer hygrometer untuk di dalam ruangan dan weather station untuk di luar ruangan selama 10 menit sekali. Data yang yang di ambil meliputi suhu ruangan dan kelembaban udara untuk di dalam ruangan serta suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, kecepatan angin, dan arah angin untuk di luar ruangan. Semua data tersebut diamati didataran tinggi maupun di dataran rendah.

Status Faali Semua probandus diukur status faalinya yang meliputi temperatur rektal, respirasi dan pulsus, masing-masing tiga kali pengulangan di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Temperatur rektal diukur dengan cara memasukkan termometer batang ke dalam kloaka ayam atau 11

termometer rektal ke dalam rektum kelinci, respirasi diukur dengan cara melihat kembang kempisnya perut, dan menempelkan stetoskop di dada ternak. pulsus diukur dengan cara

12

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Acara I Iklim Mikro Iklim mikro yang diamati pada saat praktikum dilakukan di dalam dan di luar ruangan Laboratorium Fisiologi dan Reproduksi Ternak. Pengamatan yang dilakukan meliputi suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, kecepatan angin dan arah angin.

Suhu Berdasarkan hasil pengukuran terhadap suhu udara didapatkan data hasil seperti yang disajikan dalam Tabel 1 serta grafik dari hasil tersebut disajikan pada grafik 1. Tabel 1. Hasil pengamatan suhu udara Titik waktu Di dalam ruangan Di luar ruangan pengamatan (C) (C) 11.28 30 66,78 11.38 30 66,78 11.48 30 66,78 11.58 30 66,78 12.08 30 66,78 12.18 30 66,78 12.28 30 66,78 12.38 30 66,78 12.48 30 66,78 12.58 30 66,78

13

Suhu Udara
80 70 60 50 40 30 20 10 0 dalam ruangan % luar ruangan %

Grafik 1. Grafik perubahan suhu Praktikum yang dilakukan adalah mengamati perbedaan suhu antara suhu di dalam dan di luar ruangan yang dilakukan pada pukul 11.28 sampai pukul 12.58 dengan selang waktu 10 menit. Selama pengamatan suhu di dalam ruangan tetap sebesar 30oC sedangkan suhu diluar ruangan dari awal sampai akhir tetap 66,78 oC. Menurut Yani (2006), suhu harian di Indonesia umumnya tinggi, yaitu berkisar antara 24 sampai 340C. Berdasarkan literatur tersebut suhu udara di dalam ruangan masih berada pada kisaran normal, sedangkan suhu luar ruangan mencapai 66,78oC dikarenakan alat pengukur mengalami kerusakan. Suhu udara diluar ruangan lebih tinggi daripada di luar ruangan karena di dalam ruangan tidak terkena langsung oleh sinar matahari sehingga suhu lebih rendah. Menurut Prawirowardoyo (1996), suhu di luar ruangan lebih tinggi daripada di dalam ruangan, hal ini dikarenakan sinar matahari langsung sampai ke bumi tanpa penghalang, sedangkan jika di dalam ruangan rambatan radiasi panas matahari akan terhalang oleh ruangan sehingga suhu udara di dalam ruangan lebih rendah daripada di luar ruangan. Suhu udara cenderung lebih rendah pada musim hujan bila dibandingkan dengan musim kemarau.Sementara pada musim kemarau 14

suhu udara bisa menjadi panas, dapat mencapai 35C. Kondisi ini dapat mengganggu metabolisme pada sapi.Selain itu suhu yang tinggi dapat membuat rerumputan atau hijauan menjadi kering. Pengaruh musim berhubungan dengan suhu udara. Suhu udara panas atau dingin berpengaruh pada kehidupan dan pertumbuhan ternak (Yulianto dan Cahyo, 2008).

Kelembaban udara Berdasarkan hasil pengukuran terhadap kelembaban udara

didapatkan data hasil seperti yang disajikan dalam Tabel 2 serta grafik dari hasil tersebut disajikan pada grafik 2. Tabel 2. Hasil pengamatan suhu udara Titik waktu Di dalam ruangan Di luar ruangan pengamatan (%) (%) 11.28 57,5 12 11.38 57,5 13 11.48 57,5 13 11.58 58 14 12.08 58 20 12.18 58 20 12.28 59,5 20 12.38 60 21 12.48 60,5 23 12.58 60,5 26

Kelembaban
70 60 50 40 30 20 10 0

dalm ruangan % luar ruangan %

Grafik 2. Grafik kelembaban udara 15

Hasil dari praktikum menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara kelembaban udara di dalam dan di luar ruangan. Di dalam ruangan memiliki kelembaban relatif yang lebih tinggi daripada di luar ruangan. Kelembaban didalam ruangan memiliki rata-rata sebesar 58,7%

sedangkan di luar ruang memiliki rata-rata sebesar 18,2%. Menurut Tjasjono (1999), perbedaan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor antara lain distribusi darat dan air, radiasi matahari dan masa udara. Kelembaban udara juga berpengaruh pada usaha ternak

sapi.Kelembaban yang tinggi dapat menurunkan jumlah panas yang hilang akibat evaporasi (penguapan). Pengupan merupakan salah satu cara untuk mengrangi panas tubuh sehingga tubuh menjadi sejuk. Pada kondisi kelembaban tinggi, laju penguapan menjadi tertahan sehingga panas tubuh sapi menjadi tertahan (Yulianto dan Cahyo, 2008)

Tekanan Udara Berdasarkan hasil pengukuran terhadap tekanan udara didapatkan data hasil seperti yang disajikan dalam Tabel 3 serta grafik dari hasil tersebut disajikan pada grafik 3. Tabel 3. Hasil pengamatan tekanan udara Titik waktu Di luar ruangan pengamatan (milibar) 11.28 29,47 11.38 29,48 11.48 29,47 11.58 29,44 12.08 29,40 12.18 29,41 12.28 29,40 12.38 29,41 12.48 29,44 12.58 29,43

16

Di luar ruangan (milibar)


29.5 29.45 29.4 29.35 Di luar ruangan (milibar)

Grafik 3. Grafik tekanan udara Praktikum pengamatan tekanan udara hanya dilakukan diluar ruangan dengan selang waktu setiap 10 menit. Pengamatan tekanan udara dimulai pada pukul 11.28 dimana diperoleh hasil sebesar 29,47 milibar dan pengamatan berakhir pada pukul 12.58 dengan hasil tekanan udara sebesar 29,43 milibar. Menurut Batubara (1997), tekanan udara didefinisikan sebagai berat suatu kolom udara. Sebenarnya pengaruh langsung perubahan tekanan udara terhadap kehidupan makhluk adalah kecil sekali.

Kecepatan angin Berdasarkan hasil pengukuran terhadap kecepatan angin

didapatkan data hasil seperti yang disajikan dalam Tabel 4 serta grafik dari hasil tersebut disajikan pada grafik 4.

17

Tabel 4. Hasil pengamatan kecepatan angin Titik waktu kecepatan pengamatan (knot) 11.28 0 11.38 0 11.48 0 11.58 2 12.08 2 12.18 4 12.28 0 12.38 0 12.48 0 12.58 0

kecepatan (knot)
5 4 3 2 1 0

kecepatan (knot)

Grafik 4. Grafik kecepatan angin Pengamatan pada kecepatan angin hanya dilakukan di luar ruangan dengan pengamatan setiap sepuluh menit. Pengamatan pertama dilakukan pada pukul 11.28 berakhir pada pukul 12.58 dengan hasil semua 0knot kecuali pada pukul 11.58 dan 12.08 sebesar 2 knot, dan pukul 12.18 dengan hasil sebesar 4 knot. Kecepatan angin sebesar 1 knot setara dengan 0,5 m/s (Kartasapoetra, 1993). Pengaruh angin pada

ternak menurut Williamson dan Payne (1993) diterangkan bahwa pengeluaran panas melalui konveksi akan naik bila angin sejuk berhembus pada saat yang sama pengeluaran panas melalui penguapan juga bertambah. Jadi semakin tinggi kecepatan angin akan semakin membuat ternak merasa nyaman. Hal ini sesuai dengan White (2008), Kecepatan angin 0,8 m/s menyebabkan tingkat kenyamanan kandang lebih tinggi dari pada kecepatan angin 0,4m/s. Tjasjono (1999) 18

mengungkapkan bahwa angin merupakan udara yang bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah yang disebabkan oleh adanya tekanan horizontal.

Arah Angin Berdasarkan hasil pengukuran terhadap arah angin didapatkan data hasil seperti yang disajikan dalam Tabel 5 serta grafik dari hasil tersebut disajikan pada grafik 5. Tabel 5. Hasil pengamatan arah angin Titik waktu Di luar ruangan pengamatan () 11.28 230 11.38 240 11.48 240 11.58 270 12.08 330 12.18 350 12.28 330 12.38 280 12.48 250 12.58 250
400 350 300 250 200 150 100 50 0

Di luar ruangan ()

Di luar ruangan ()
Grafik 5. Grafik arah angin Praktikum pengamatan arah angin hanya dilakukan di luar ruangan dan awal pengamatan dilakukan pada pukul 11.28 dimana didapatkan arah angin 2300 dan berakhir pada pukul 12.58 dengan arah angin 2500. 19

Menurut Anonim (2012), besarnya angin ditunjukkan dengan satuan derajat, 1 derajat untuk angin arah dari utara, 900 untuk angin arah dari timur, 1800 untuk angin arah dari selatan, 2700 untuk angin arah dari barat. Letak kandang hendaknya tidak tertutup atau tidak terhalangi bangunan, sehingga sinar matahari dapat menembus pelataran

kandang.Letak kandang sapi ini bisa dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau kandang.Kandang juga sebaiknya dibuat menghadap kearah timur agar sapi mendapatkan sinar matahari yang sehat. Selain itu arah angin perlu diperhatikan agar bagian muka sapi tidak mendapat kontak langsung dengan angin yang bertiup (Gayo, 1994).

Status Faali Praktikum status faali ini bertujuan untuk membandingkan

pengaruh variable yang satu dengan laninnya. Variabel yang dgunakan adalah suhu dan klelembaban di dalam dan diluar ruangan, warna bulu, jenis kelamin dan diuji hubungannya dengan status faali yang meliputi respirasi, pulsus dan temperatur rektal.

Respirasi Respirasi adalah semua proses kimia maupun fisika dimana organisme melakukan pertukaran udara dengan lingkungannya. Respirasi menyangkut dua proses, yaitu respirasi eksteral dan respirasi internal. Terjadinya pergerakan karbon dioksida ke dalam udara alveolar ini disebut respirasi eksternal. Respirasi internal dapat terjadi apabila oksigen berdifusi ke dalam darah. Respirasi eksternal tergantung pada pergerakan udara kedalam paru-paru (Frandson, 1992). Berikut hasil pengukuran respirasi ayam dan kelinci yang ditunjukkan pada Tabel 6.

20

Jenis ternak Ayam Ayam Ayam Ayam Kelinci Kelinci Kelinci Kelinci

Tabel 6. Rata-rata respirasi ayam dan kelinci. Warna Jenis Ruangan bulu kelamin Dalam ruangan Luar ruangan Hitam Jantan 33,96 34,33 Putih Jantan 39,22 27,12 Hitam Betina 43,6 41,33 Putih Betina 38,6 27,6 Hitam Jantan 81,77 151,75 Putih Jantan 83,55 147,13 Hitam Betina 74,78 150,67 Putih Betina 80,66 153,1

Hasil praktikum pengukuran respirasi kelinci dan ayam diperoleh data bahwa respirasi kelinci dan ayam memiliki hasil yang berbeda - beda. Perbedaan frekuensi respirasi pada ternak yang berada didalam dan diluar ruangan ini berkaitan dengan panas yang diterima tubuh. Kelinci dan ayam yang berada di dalam ruangan terlindung, sehingga sinar matahari secara tidak langsung mengenai tubuh ternak tersebut. Kelinci dan ayam yang berada diluar ruangan tidak mendapatkan perlindungan dari sinar matahari langsung, sehingga frekuensi respirasi lebih cepat (Anonim, 2012). Menurut Smith (1990), Respirasi dipengaruhi beberapa faktor yaitu, respon fisiologis akibat berubahnya temperatur lingkungan, suhu tubuh, ukuran tubuh, dan keadaan bunting. . Kisaran normal respirasi pada ayam adalah 23 kali/menit, sedangkan pada kelinci 35-56 kali/menit (Frandson 1992). Berdasarkan literatur tersebut dapat diketahui bahwa respirasi kelinci dan ayam berada diatas kisaran normal. Menurut Smith (1990), Respirasi dipengaruhi beberapa faktor yaitu, respon fisiologis akibat berubahnya temperatur lingkungan, suhu tubuh, ukuran tubuh, dan keadaan bunting.

Pulsus Pulsus merupakan suatu gelembung yang terbentuk akibat naiknya tekanan systole dari jantung yang kemudian menjalar sepanjang arteri dan kapiler. Pulsus dapat diketahui dengan meraba pada organ yang keras, misalnya tulang. Pulsus terjadi karena adanya kegiatan jantung dalam 21

memompa darah ke seluruh jaringan. Jantung menerima dara ke dalam bilik-bilik dan kemudian memompanya dari ventrikel menuju jaringan dan selanjutnya kembali lagi ke jantung (Frandson, 1992). Hasil pengukuran pulsus kelinci dan ayam ditunjukkan pada tabel 7. Jenis ternak Ayam Ayam Ayam Ayam Kelinci Kelinci Kelinci Kelinci Tabel 7. Rata-rata pulsus ayam dan kelinci jantan. Warna Jenis Ruangan bulu kelamin Dalam ruangan Luar ruangan Hitam Jantan 308,4 128,7 Putih Jantan 309,4 137,33 Hitam Betina 296,6 127,7 Putih Betina 311,3 131,33 Hitam Jantan 143,22 75,8 Putih Jantan 131,33 72,33 Hitam Betina 120,33 79,1 Putih Betina 124,11 74,66

Hasil pengukuran pulsus pada kelinci dan ayam didapatkan hasil bahwa di dalam ruangan memiliki hasil lebih tinggi daripada di luar ruangan. Perbedaan frekuensi pulsus pada ternak yang berada didalam dan diluar ruangan ini disebabkan oleh panas dari matahari yang mengenai tubuh, dimana kelinci dan ayam yang berada di luar ruangan langsung terkena matahari tanpa adanya peneduh. Kelinci dan ayam yang berada di dalam ruangan terlindung, sehingga sinar matahari secara tidak langsung mengenai tubuh ternak tersebut. Kelinci dan ayam yang berada diluar ruangan tidak mendapatkan perlindungan dari sinar matahari langsung, sehingga frekuensi respirasi lebih cepat (Anonim, 2012). Menurut Inounu et al ( 1999) frekuensi respirasi dan frekuensi pulsus sesunggunya terdapat korelatif pofitif, yang artinya bahwa setiap kali peningkatan frekuensi respirasi maka frekuensi pulsus meningkat. Hal ini dapat dilihat pada saat frekuensi respirasi meningkat, maka dapat dipastikan aktivitas otot pada organ respirasi membutuhkan lebih banyak suplai oksigen yang harus dipenuhi melalui peningkatan volume aliran darah, dengan jalan peningkatan denyut jantung. Berdasarkan data yang ada kisaran pulsus kelinci di luar ruangan jauh di bawah normal. Kisaran pulsus ayam di luar ruangan juga dibawah 22

kisaran pulsus normal. Menurut Dukes (1995), bahwa kisaran normal pulsus pada kelinci adalah 120 sampai 140 kali/menit sedangkan Kisaran normal pulsus ayam adalah 150 sampai 304 kali/menit. Perbedaan ini disebabkan karena adanya pengaruh suhu lingkungan, bangsa atau spesies maupun besar kecilnya ukuran tubuh (Swenson, 1997).

Temperatur Rektal Temperatur tubuh adalah salah satu indikator fisiologi kondisi kesehatan ternak. Angka temperatur ini didapatkan dari pengukuran sistem temperatur rektal, karena dianggap pada temperatur rektal perubahan suhunya belangsung terus menerus secara perlahan-lahan. Ternak mempunyai daya tahan tubuh yang berbeda-beda terhadap perubahan suhu lingkungan yang disebut toleransi panas. Terdapatnya variasi temperatur ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti perubahan temperatur tubuh, pulsus dan fertilitas (Frandson, 1992). Berdasarkan hasil pengukuran temperatur rektal didapat data rata-rata ayam dan kelinci yang ditunjukkan pada tabel 8. Jenis ternak Ayam Ayam Ayam Ayam Kelinci Kelinci Kelinci Kelinci Tabel 8. Rata-rata temperatur rektal ayam dan kelinci. Warna Jenis Ruangan bulu kelamin Dalam ruangan Luar ruangan Hitam Jantan 40,92 41,55 Putih Jantan 39,22 41 Hitam Betina 41 41,9 Putih Betina 38,67 41,47 Hitam Jantan 36,99 37,43 Putih Jantan 36,91 36,3 Hitam Betina 36,56 37,94 Putih Betina 36,42 38,57

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa temperatur rektal pada ayam masih berada pada kisaran normal. Temperatur rektal kelinci berdasarkan tabel diatas berada sedikit dibawah kisaran normal. Menurut Swenson (1997), kisaran normal temperatur rektal kelinci adalh 30,6 sampai 40,1C, sedangkan menurut Dukes (1995), kisaran normal temperatur rektal ayam adalah 40,3 sampai 43,6C. Faktor-faktor yang 23

mempengaruhi temperatur tubuh antara lain bangsa ternak, aktivitas, kondisi kesehatan ternak, dan kondisi lingkungan ternak (Frandson 1992). Menurut Frandson (1992), Temperatur yang di atas atau di bawah kisaran suhu tubuh normal menunjukkan adanya kelainan pada ternak atau ternak dalam kondisi sedang dalam usaha beradaptasi dengan lingkungan sekitar (suhu, lingkungan, kelembaban udara) (Frandson, 1992). Cara yang paling mudah untuk mengetahui temperatur dalam tubuh hewan adalah dengan mengukur temperatur rektal. Seperti yang disebutkan Frandson, (1992) Indeks temperatur dalam tubuh hewan lebih mudah didapat dengan cara memasukkan termometer rektal ke dalam rektum, meskipun temperatur rektal tidak selalu menggambarkan rata-rata terperatur dalam tubuh. Karena terperatur dalam tubuh mempunyai equilibrium lebih lambat (Frandson, 1992). Cara mengetahui temperatur tubuh selalu digunakan terperatur rektal karena paling dapat dipercaya untuk menggambarkan rata-rata temperatur tubuh (Frandson, 1992). Ternak yang mempunyai warna bulu yang berbeda memiliki temperatur rektal yang berbeda pula. Kelinci jantan yang berwarna hitam mempunyai temperatur rektal yang lebih tinggi daripada kelinci jantan yang berwarna putih. Menurut Anonim (2012), warna hitam lebih banyak menyerap panas dari pada warna putih. Penyerapan akan disalurkan dalam proses metabolisme tubuh yang akan berhubungan dengan proses fisiologis tubuh ternak tersebut.

24

Acara II Iklim Mikro Iklim mikro merupakan kondisi iklim pada suatu ruang yang sangat terbatas, tetapi komponen iklim ini penting artinya bagi kehidupan tumbuhan, hewan, dan manusia, karena kondisi udara dalam skala mikro ini yang akan berkontak langsung dengan (dan mempengaruhi secara langsung) makhuk-makhuk hidup tersebut. Iklim mikro yang diamati pada saat praktikum dilakukan di dataran tinggi daerah Turen, kaliurang dan di dataran rendah di daerah pantai Depok. Pengamatan yang dilakukan meliputi suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara kecepatan angin dan arah angin.

Suhu udara Berdasarkan hasil pengukuran terhadap pengukuran suhu udara didapatkan data hasil seperti yang disajikan dalam Tabel 9 serta grafik dari hasil tersebut disajikan pada grafik 6. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tabel 9. Hasil pengukuran suhu udara waktu D.rendah waktu ruangan 14.10 38 08.50 14.15 36 08.55 14.20 35 09.00 14.25 34 09.05 14.30 34 09.10 14.35 33 09.15 14.40 33 09.20 14.45 33 09.25 14.50 34 09.30 14.55 34 09.35 D. tinggi ruangan 28 28 27 28 27 27 28 29 28 28

25

D.rendah ruangan
39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29.5 29 28.5 28 D.rendah ruangan 27.5 27 26.5 26

D. tinggi ruangan

D. tinggi ruangan

Grafik 6. Grafik suhu udara Praktikum yang dilakukan adalah mengamati perbedaan suhu antara suhu di dataran rendah dan dataran tinggi. Pengamatan suhu udara di dataran tinggi dimulai pukul 08.50 sampai 09.35 WIB, sedangkan pengamatan suhu udara di dataran rendah dimulai pukul 14.10 sampai 14.55 WIB. Dari data yang didapat rata-rata temperatur udara di dataran tinggi memiliki suhu lebih rendah daripada rata-rata temperatur udara di dataran rendah. Menurut Suarjaya dan Nuriyasa cit Rasyaf (2011), kenaikan tempat dari permukaan laut selalu diikuti dengan penurunan suhu rata-rata harian. Tempat yang semakin tinggi diatas permukaan permukaan laut suhu udaranya semakin rendah, sehingga ternak akan mengkonsumsi ransum lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan energinya. Menurut Kartasapoetra (1993), suhu udara akan terasa dingin jika ketinggian tempat bertambah. Kita sudah mengetahui bahwa setiap kenaikan bertambah 100 meter, suhu udara berkurang rata-rata 0,6C. Penurunan suhu semacam ini disebut gradient terperatur vertical atau lapse rate. Besar lapse rate pada udara kering adalah 1. Perbedaaan suhu akan berpengaruh juga terhadap kondisi fisiologis dari suatu ternak. Menurut Tjasjono (1999), perubahan suhu lingkungan akan menyebabkan perubahan fisiologi hewan seperti terjadinya perubahan frekuensi respirasi, pulsus, dan temperatur rektal 26

08.50 09.00 09.10 09.20 09.30

serta

konsumsi air, sedangkan

konsumsi pakan akan menurun.

Perubahan ini adalah usaha ternak untuk mempertahankan balance thermal tubuh.

Kelembaban udara Kelembaban udara mempunyai aspek terhadap mekanisme termoregulasi terutama terhadap suhu tubuh, apabila kelembaban udara tersebut bertaut dengan suhu udara. Suhu tubuh akan berubah apabila kelembaban udara disetai dengan perubahah suhu udara (Siregar, 1997). Berdasarkan hasil pengukuran terhadap suhu udara didapatkan data hasil seperti yang disajikan dalam Tabel 10 serta grafik dari hasil tersebut disajikan pada grafik 7. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tabel 10. Hasil pengukuran kelembaban udara Waktu D. tinggi D. tinggi Waktu D.rendah dlm R. luar R. dlm R. 08.50 62 5 14.10 33 08.55 61 5 14.15 38 09.00 60 6 14.20 42 09.05 59 6 14.25 44 09.10 59 6 14.30 45 09.15 58 6 14.35 46 09.20 56 7 14.40 48 09.25 58 7 14.45 47 09.30 56 7 14.50 46 09.35 57 7 14.55 49 D.rendah luar R. 17 17 17 17 17 17 17 17 18 18

Dataran tinggi (%)


64 62 60 58 56 54 52 Dataran tinggi (%) 60 50 40 30 20 10 0

Dataran rendah (%)

Dataran rendah (%)

27

Grafik 7. Grafik kelembaban udara Berdasarkan hasil yang diperoleh pada saat praktikum, rata-rata kelembaban udara di dalam ruangan lebih tinggi daripada kelembaban udara di luar ruangan baik itu di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Berdasarkan data di atas juga diketahui bahwa rata-rata kelembaban di dataran tinggi lebih besar daripada rata-rata kelembaban di dataran rendah. Menurut Rusman (2011), ketinggian tempat tidak berpengaruh terhadap tinggi rendahnya kelembaban udara, karena kelembaban lebih dipengaruhi oleh tekanan uap air udara. Menurut Tjasjono (1999), kelembaban udara berubah sesuai tempat dan waktu, menjelang tengah hari kelembaban menurun dan pada sore hari sampai menjelang pagi hari kelembaban udara bertambah besar. Hasil praktikum di dataran tinggi maupun dataran rendah menunjukkan bahwa kelembaban masih dalam kondisi nyaman ternak. Anonim (2012), kelembaban udara dalam kandang sebaiknya tidak lebih dari 60% (Anonim, 2012). Berdasarkan literatur tersebut hasil praktikum di dataran tinggi maupun dataran rendah menunjukkan bahwa kelembaban masih dalam kondisi nyaman ternak. Menurut Tjasjono (1999), perbedaan kelembaban udara dapat dsebabkan oleh beberapa faktor antara lain distribusi darat dan air, radiasi matahari dan massa udara. Kelembaban udara berubah sesuai tempat dan waktu. Menjelang tengah hari kelembaban berangsur menurun, pada sore hari sampai menjelang pagi kelembaban udara bertambah besar. Kelembaban udara yang tinggi dapat menyebabkan stres pada ternak sehingga suhu tubu, respirasi dan denyut jantung meningkat.

Tekanan udara Berdasarkan hasil pengukuran terhadap tekanan udara didapatkan data hasil seperti yang disajikan dalam Tabel 11 serta grafik dari hasil tersebut disajikan pada grafik 8.

28

No

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Tabel 11. Hasil pengukuran tekanan udara Titik waktu Dataran Titik waktu pengamatan tinggi pengamatan (milibar) 08.50 28,94 14.10 08.55 28,97 14.15 09.00 28,98 14.20 09.05 29,02 14.25 09.10 29,05 14.30 09.15 29,04 14.35 09.20 29,02 14.40 09.25 29,03 14.45 09.30 29,06 14.50 09.35 29,06 14.55

Dataran rendah (milibar) 29,83 29,83 29,82 29,84 29,86 29,84 29,85 29,85 29,87 29,87

Dataran tinggi (milibar)


29.1 29.05 29 28.95 28.9 28.85 08.50 09.00 09.10 09.20 09.30 Dataran tinggi (milibar) 29.88 29.87 29.86 29.85 29.84 29.83 29.82 29.81 29.8 29.79

Dataran rendah (milibar)

Dataran rendah (milibar)

14.10

14.20

14.30

14.40

Grafik 8. Grafik tekanan udara Pengukuran tekanan udara dilakukan pada dua tempat, yaitu pada dataran tinggi dan pada dataran rendah. Pengukuran yang dilakukan di dataran tinggi dimulai pukul 08.50 sampai 09.35 WIB, sedangkan

pengukuran di dataran rendah dimulai pukul 14.10 hingga 14.55 WIB. Bedasarkan hasil praktikum didapatkan tekanan udara di dataran rendah adalah 29.007 milibar, sedangkan tekanan udara di dataran tinggi adalah 29,846 milibar. Angin berhembus dikarenakan beberapa bagian bumi mendapat lebih banyak panas matahri dibandingkan tempat lain. Permukaan tanah 29

14.50

yang panas membuat suhu udara di atasnya naik. Akibatnya udara mengembang menjadi lebih ringan, karena lebih ringan dibanding udara sekitarnya, udara akan naik. Begitu udara panas tadi naik, tempatnya segera digantikan oleh udara disekitarnya, terutama udara dari atas yang lebih dingin dan berat, sehingga tekanan udara di dataran tinggi lebih rendah daripada di dataran rendah (Anonim, 2012).

Kecepatan angin Berdasarkan hasil pengukuran terhadap kecepatan angin

didapatkan hasil yang dapat ditunjukkan pada tabel 12 dan grafik pada grafik 9. No Tabel 12. Hasil pengukuran kecepatan angin Titik waktu Dataran Titik waktu pengamatan tinggi (knot) pengamatan 08.50 08.55 09.00 09.05 09.10 09.15 09.20 09.25 09.30 09.35 0 1 0 0 0 0 4 0 0 0 14.10 14.15 14.20 14.25 14.30 14.35 14.40 14.45 14.50 14.55 Dataran rendah (knot) 4 1 2 4 6 2 7 6 1 1

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Dataran tinggi (knot)


5 4 3 2 1 0 Dataran tinggi (knot) 8 7 6 5 4 3 2 1 0

Dataran rendah (knot)

Dataran rendah (knot)

30

Grafik 9. Grafik kecepatan angin Berdasarkan hasil yang diperoleh pada saat praktikum kecapatan angin di dataran rendah terutama di daerah pantai lebih tinggi daripada kecepatan angin di dataran tinggi. Hal ini disebabkan karena di dataran rendah tidak terlalu banyak rintangan bagi angin untuk mengalir. Kecepatan angin sebesar 1 knot setara dengan 0,5 m/s (Kartasapoetra, 1993). Tjasjono (1999), menyatakan bahwa angin merupakan udara yang bergerak dari daerah bertekanan tinggi kedaerah bertekanan rendah yang disebabkan oleh adanya tekanan horizontal, sehingga kecepatan angin di dataran tinggi lebih kecil daripada di dataran rendah. Pengaruh angin pada ternak adalah terhadap panas dari tubuh ternak, diterangkan bahwa pengeluaran melalui konveksi akan naik bila angin sejuk berhembus pada saat yang sama pengeluaran panas melalui penguapan juga bertambah (Williamson dan Payne, 1993). Menurut Siregar (1997), Kecepatan pergerakan angin lebih berperan terhadap penguapan air tubuh di dalam pengaturan suhu tubuh. Suhu udara yang tinggi dengan kelembaban udara yang tinggi akan dapat meningkatkan derajat penguapan air tubuh bila disertai dengan pergerakan angin yang lebih cepat. Sebaliknya dalam keadaan suhu udara dan kelembaban yang tinggi tanpa disertai dengan pengarahan angin yang lebih cepat akan berakibat pada derajat penguapan air tubuh yang tidak berjalan sempurna lagi.

Arah angin Besarnya angin ditunjukkan dengan satuan derajat, 1 derajat untuk angin arah dari utara, 90 derajat untuk angin arah dari timur, 180 derajat untuk angin arah dari selatan, 270 derajat untuk angin arah dari barat (Kartasapoetra, 1993). Berdasarkan hasil pengukuran terhadap suhu udara didapatkan data hasil seperti yang disajikan dalam Tabel 13 serta grafik dari hasil tersebut disajikan pada grafik 10.

31

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Tabel 13. Hasil pengukuran arah angin Titik waktu Dataran Titik waktu pengamatan tinggi () pengamatan 08.50 160 14.10 08.55 180 14.15 09.00 150 14.20 09.05 150 14.25 09.10 150 14.30 09.15 150 14.35 09.20 170 14.40 09.25 180 14.45 09.30 190 14.50 09.35 190 14.55

Dataran rendah () 100 630 630 630 630 120 100 120 120 140

Dataran tinggi ()
200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 08.50 09.00 09.10 09.20 09.30 700 600 500 400 Dataran tinggi () 300 200 100 0

Dataran rendah ()

Dataran rendah ()

14.10

14.20

14.30

14.40

Grafik 10. Grafik arah angin Pengukuran arah angin dilakukan pada dua tempat yaitu pada dataran tinggi dan pada dataran rendah. Pengukuran hanya dilakukan pada luar ruangan saja. Pengukuran di dataran tinggi dilakukan pada pukul 08.50 sampai 09.35 WIB, sedangkan di dataran rendah dilakukan pada pukul 14.10 sampai 14.55 WIB. Berdasarkan data yang didapat bahwa arah angin yang didapat menunjukkan derajat yang berbeda-beda. Besarnya angin ditunjukkan dengan satuan derajat. 1 untuk angin arah utara, 90 untuk angin arah dari timur, 180 untuk angin arah dari selatan dan 270 untuk angin dari arah barat (Kartasapoetra, 1993).

32

14.50

Status Faali Pengukuran status faali yang dilakukan di dataran tinggi dan dataran rendah terdiri dari pengukuran temperatur rektal, respirasi, dan pulsus pada ayam, kelinci dan kambing yang tinggal didataran tinggi dan dataran rendah.

Respirasi Pengukuran temperatur rektal dilakukan di dataran tinggi dan di dataran rendah. Hasil pengukuran ditunjukkan pada tabel 14. Tabel 14. Rata-rata respirasi beberapa ternak yang diamati Jenis ternak Jantan Betina Dataran Dataran Dataran Dataran tinggi rendah tinggi rendah Kelinci 112,3 38,4 121 118,2 Ayam 36,6 22,3 33,9 21,9 Kambing 38,6 39,6 28 40,6 Berdasarkan data yang ada diketahui bahwa respirasi pada kelinci dan ayam memiliki rata-rata lebih tinggi jika berada pada dataran tinggi, sedangkan pada kambing memiliki rata-rata respirasi lebih tinggi pada dataran lebih rendah. Kisaran normal respirasi pada ayam adalah 17 sampai 78 kali per menit (Frandson, 1992). Kisaran normal untuk respirasi pada kelinci adalah 37 kali/menit. Respirasi kambing berkisar antara 26 samapi 54 kali per menit (Swenson, 1997). Berdasrkan literatur tersebut diketahui respirasi ayam yang diamati masih dalam kisaran normal sedang pada ternak kelinci dan kambing tidak sesuai kisaran normal. Anonim (2012), menyatakan bahwa ketinggian tempat

berhubungan dengan banyaknya jumlah cahaya yang diterima bumi. Hal ini mempengaruhi suhu, kelembaban dan pengaruh iklim lain. Iklim di sekitar ternak akan mempengaruhi kinerja fisiologi ternak. Respirasi dipengaruhi oleh terperatur, lingkungan, ukuran tubuh dan keadaan bunting. Apabila temperatur udara tinggi, maka ternak akan berkurang respirasinya. Sedangkan lingkungan berpengaruh jika ternak berada di

33

daerah perbukitan, maka pertukaran oksigen akan rendah yang berpengaruh pada pengukuran atau pengurangan respirasi ternak.

Pulsus Berikut hasil pengukuran pulsus ayam, kambing dan kelinci jantan maupun betina yang ditunjukkan pada tabel 15. Tabel 15. Rata-rata pulsus beberapa ternak yang diamati Jenis ternak Jantan Betina Dataran Dataran Dataran Dataran tinggi rendah tinggi rendah Kelinci 240,3 233,9 248 262,8 Ayam 288,6 269,3 269,6 320,6 Kambing 75 67,9 63,8 64,3 Berdasarkan data tabel 15 dapat diketahui bahwa respirasi ayam, kambing, dan kelinci jantan memiliki rata-rata lebih tinggi pada dataran rendah, sedangkan pada jenis kelamin betina rata-rata pulsus lebih tinggi jika berada pada dataran rendah. Kisaran normal pulsus ayam antara 150 sampai 304 kali/menit (Dukes, 1995). Kisaran normal pulsus kelinci antara 123 sampai 304 kali/menit. Sedangkan pada kambing antara 150 sampai 304 kali/menit (Swenson, 1997). Berdasarkan literatur tersebut pulsus pada ayam dan kelinci masih dalam kisaran normal, kecuali pada ayam betina pada dataran rendah yang memiliki pulsus sedikit diatas kisaran normal. Berdasarkan perbandingan dengan literatur pulsus kambing jauh dari kisaran normal. Menurut Anonim (2012) faktor yang mempengaruhi pulsus antara lain iklim yang meliputi suhu, kelembaban, penerimaan sinar matahari oleh bumi dan tekanan udara. Iklim lingkungan sekitar juga mempengaruhi kinerja fisiologi suatu ternak.

Temperatur rektal Indeks temperatur dalam tubuh hewan lebih mudah didapat dengan cara memasukkan termometer rektal ke dalam rektum, meskipun temperatur rektal tidak selalu menggambarkan rata-rata terperatur dalam tubuh. Karena terperatur dalam tubuh mempunyai equilibrium lebih lambat 34

(Frandson, 1992). Berikut hasil pengukuran pulsus ayam, kambing dan kelinci jantan maupun betina yang ditunjukkan pada tabel 16. Tabel 16. Rata-rata temperatur rektal ternak Jenis ternak Jantan Betina Dataran Dataran Dataran Dataran tinggi rendah tinggi rendah Kelinci 36,9 37,8 37,2 38,7 Ayam 40,2 39,2 40,3 40,4 Kambing 38,6 38,6 37,8 38,5 Kisaran normal temperatur rektal pada ayam adalah 40,3 sampai 43,6 0C (Dukes, 1995). Kisaran normal temperatur rektal pada kelinci adalah 30,6 sampai 40,10C. Sedangkan kisaran temperatur rektal kambing 38,5 sampai 39,90C (Swenson, 1997). Hasil praktikum menunjukan bahwa temperatur ternak yang diukur berada dalam kisaran normal. Temperatur tubuh ternak yang normal besarnya sangat bervariasi menurut umur, jenis kelamin, waktu dalam sehari (Swenson, 1997). Faktor-faktor yang mempengaruhi temperatur tubuh antara lain bangsa ternak, aktivitas, kondisi kesehatan ternak, dan kondisi lingkungan ternak (Frandson 1992). Menurut Frandson (1992), Temperatur yang di atas atau di bawah kisaran suhu tubuh normal menunjukkan adanya kelainan pada ternak atau ternak dalam kondisi sedang dalam usaha beradaptasi dengan lingkungan sekitar (suhu, lingkungan, kelembaban udara) (Frandson, 1992).

35

Analisis data Acara I Berdasarkan data terhadap status faali ayam yang meliputi temperatur rektal, respirasi dan pulsus terhadap perlakuan perbedaan jenis kelamin, warna bulu (hitam dan putih), perlakukan ruang (di dalam dan di luar ruang) diperoleh hasil analisis data yang ditunjukkan dalam tabel 117 dan tabel 18. Tabel 17. Hasil uji perlakuan terhadap status faali ayam parameter status faali perlakuan temperatur rektal respirasi Pulsus jantan/hitam/dlm 40,9200 0,0854 33.9667 2.0550 308,40 6,286 jantan/hitam/luar 41,5567 0,0981 34,3267 6,7583 128,78 4.140 jantan/putih/dlm 39,2200 0,2553 39,2233 0,3868 309,78 5,541 jantan/putih/luar 41,0000 0,0000 17,3367 1.1547 137,67 6,122 betina/hitam/dlm 41,0000 0,0000 43,7333 1,6289 296,73 12,548 betina/hitam/luar 41,9433 0,0981 41,0000 1,4556 127,77 3,672 betina/putih/dlm 38,8667 0,5131 38,6333 2,0558 310,97 4,162 betina/putih/luar 41,5000 0,1700 27.5567 2.4532 132,00 6,506 Tabel 18. Hasil uji perlakuan terhadap status faali ayam Values Status faali JK*WB JK*R WB*R JK WB R NS S NS S S 0.005 0.000S Temp. rektal 0.106 0.000 0.000 0.384 NS 0.120NS 0.000S Respirasi 0.000S 0.000S 0.000S 0.167 NS 0.731NS 0.821NS Pulsus 0.135NS 0.018S 0.000S 0.463 Keterangan: * = interaksi perlakuan
S NS

JK*WB*R 0.146NS 0.009S 0.127NS

= signifikan = non signifikan

Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa warna bulu dan ruangan berpengaruh secara signifikan terhadap temperatur rektal, respirasi, dan pulsus. Jenis kelamin hanya berpengaruh segnifikan terhadap respirasi. Sedangkan interaksi jenis kelamin dan warna bulu tidak berpengaruh terhadap status faali ayam. Interaksi antara jenis kelamin dan ruangan hanya berpengaruh terhadap temperatur rektal secara signifikan. Interaksi antara warna bulu dan ruangan berpengaruh 36

terhadap temperatur rektal dan respirasi. Interaksi antara jenis kelamin, warna bulu, dan ruangan hanya berpengaruh terhadap respirasi secara signifikan. Berdasarkan data terhadap status faali ayam yang meliputi temperatur rektal, respirasi dan pulsus terhadap perlakuan perbedaan jenis kelamin, warna bulu (hitam dan putih), perlakukan ruang (di dalam dan di luar ruang) diperoleh hasil analisis data yang ditunjukkan dalam tabel 19 dan tabel 20. Tabel 19. Hasil uji perlakuan terhadap status faali kelinci parameter status faali Perlakuan temperatur rektal respirasi Pulsus jantan/hitam/dlm 36.9900 0.2778 81.77 5.5927 143.22 8.8802 jantan/hitam/luar 37.4300 0.2000 151.76 1.2750 75.8667 3.6692 jantan/putih/dlm 36.9100 0.6879 83.5567 5.4165 131.33 7.2678 jantan/putih/luar 36.3333 0.0577 147.1333 2.4826 72.2333 6.8603 betina/hitam/dlm 36.5667 0.5396 74.7800 4.24809 120.33 26.2297 betina/hitam/luar 37.9433 0.7467 150.67 4.0414 79.1000 2.9866 betina/putih/dlm 36.4233 0.8040 80.6633 3.0550 124.11 6.6790 betina/putih/luar 37.9033 0.3055 153.3333 2.8148 74.6667 5.6323 Tabel 20. Hasil uji perlakuan terhadap status faali kelinci Values Status faali JK*WB JK*R WB*R JK WB R NS S NS NS S 0.261 0.003 0.300NS Temp. rektal 0.188 0.130 0.006 NS 0.031S 0.148NS Respirasi 0.461NS 0.380NS 0.000 S 0.091 NS 0.063NS 0.998NS Pulsus 0.192NS 0.381NS 0.000 S 0,419 Keterangan: * = interaksi perlakuan
S NS

JK*WB*R 0.208NS 0.621NS 0.372NS

= signifikan = non signifikan

Berdasarkan data tersebut dapat dilihat adanya pengaruh yang signifikan pada ruangan terhadap temperatur rektal, respirasi, dan pulsus. Sedangkan jenis kelamin dan warna bulu tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap status faali kelinci. Interaksi antara jenis kelamin dan warna bulu, interaksi antara warna bulu dan ruangan, serta interaksi antara jenis kelamin, warna bulu, dan ruangan tidak memberikan 37

pengaruh terhadap temperatur rektal, respirasi, dan pulsus. Interaksi jenis kelamin dan ruangan memberikan pengaruh signifikan terhadap

temperatur rektal dan respirasi.

Acara II Analisis data terhadap status faali kelinci yang meliputi temperatur rektal, respirasi dan pulsus dengan perlakuan perbedaan perbedaan ketinggian tempat, yaitu di dataran tinggi dan di dataran rendah. Hasil uji perlakuan terhadap status faali ayam ditampilkan pada tabel 21 dan pada tabel 22. Tabel 21. Hasil uji perlakuan terhadap status faali ayam parameter status faali perlakuan temperatur rektal respirasi Pulsus jantan/d.rendah 39.2233 0.3868 22.2200 1.0179 269.33 3.5245 jantan/d.tinggi 40.4000 0.3464 36.8667 0.5131 289.63 1.1547 betina/d.rendah 40.4433 0.1963 21.9967 1.1547 320.67 8.8216 betina/d.tinggi 40.4000 0.1732 33.3000 0.8888 271.30 21.6654 Tabel 22. Hasil uji perlakuan terhadap status faali ayam Values Status faali JK T JK*T S S Temp. rektal 0.007 0.010 0.007S Respirasi 0.008S 0.000S 0.014S S NS Pulsus 0.042 0.066 0.001S Keterangan: * = interaksi perlakuan
S NS

= signifikan = non signifikan

Berdasarkan data tersebut dapat dilihat adanya pengaruh yang signifikan pada ketinggian tempat terhadap repirasi dan temperatur rektal. Jenis kelamin juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap temperatur rektal, respirasi dan pulsus ternak. Analisis data terhadap status faali kelinci yang meliputi temperatur rektal, respirasi dan pulsus dengan perlakuan perbedaan perbedaan ketinggian tempat, yaitu di dataran tinggi dan di dataran rendah. Hasil uji 38

perlakuan terhadap status faali ayam ditampilkan pada tabel 23 dan pada tabel 24. Tabel 23. Hasil uji perlakuan terhadap status faali kelinci Perlakuan Parameter status faali temperatur rektal Respirasi Pulsus jantan/d.rendah 37.8100 0.1228 38.6700 0.0000 233.78 2.5251 jantan/d.tinggi 36.9333 0.1527 112.97 3.1501 240.30 4.0000 betina/d.rendah 38.0000 0.0000 118.200 11.4642 262.87 17.5514 betina/d.tinggi 38.6667 0.5774 121.33 2.2188 248.00 5.2716 Tabel 24. Hasil uji perlakuan terhadap status faali kelinci Values Status faali JK T JK*T S NS Temp. rektal 0.000 0.113 0.000 S Respirasi 0.000 S 0.000 S 0.000 S Pulsus 0.010S 0.467NS 0.086NS Keterangan: * = interaksi perlakuan
S NS

= signifikan = non signifikan

Berdasarkan data tersebut dapat diketahui adanya pengaruh yang signifikan jenis kelamin terhadap temperatur rektal, respirasi, dan pulsus. Ketinggian tempat juga memberikan pengaruh signifikan terhadap respirasi. Sedangkan interaksi antara jenis kelamin dan ketinggian tempat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap frekuensi respirasi dan terperatur rektal. Analisis data terhadap status faali kelinci yang meliputi temperatur rektal, respirasi dan pulsus dengan perlakuan perbedaan perbedaan ketinggian tempat, yaitu di dataran tinggi dan di dataran rendah. Hasil uji perlakuan terhadap status faali ayam ditampilkan pada tabel 25 dan pada tabel 26.

39

Tabel 25. Hasil uji perlakuan terhadap status faali kambing Perlakuan parameter status faali temperatur rektal Respirasi Pulsus jantan/d.rendah 38.7100 0.2306 39.6667 0.3350 60.7400 18.462 jantan/d.tinggi 38.6000 0.1000 31.9667 0.5773 68.5567 10.555 betina/d.rendah 38.5733 0.2227 40.6633 0.6650 64.6633 1.7669 betina/d.tinggi 37.8000 0.0000 28.0667 0.5033 63.8667 1.5011 Tabel 26. Hasil uji perlakuan terhadap status faali kambing Values Status faali JK T JK*T S S Temp. rektal 0.001 0.002 0.009S Respirasi 0.002 S 0.000 S 0.000 S Pulsus 0.952NS 0.585NS 0.505NS Keterangan: * = interaksi perlakuan
S NS

= signifikan = non signifikan data tersebut dapat diketahui bahwa adanya

Berdasarkan

pengaruh yang signifikan pada jenis kelamin, ketinggian tempat terhadap temperatur rektal dan respirasi. Interaksi jenis kelamin dan ketinggian

tempat juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap respirasi dan temperatur rektal.

40

BAB V KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur iklim mikro yang penting bagi lingkungan ternak antara lain adalah curah hujan, suhu udara, kecepatan angin, kelembaban udara, dan intensitas penyinaran. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur iklim mikro yaitu weather station dan hygrometer. Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan pengukuran terhadap status faali, dapat diketahui bahwa pengukuran di dalam ruangan dan setelah dijemur serta pengukuran di dataran rendah maupun dataran tinggi memberikan hasil yang berbeda. Faktor yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatan ternak diantaranya adalah lingkungan yang meliputi temperatur, kelembaban, dan ketinggian tempat.

41

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Society of Indonesian Environmental journalist. Available at http://www.siej.or.id/?w=glossary&abj=i. Acces by 19 mei 2012 Anonim. 2012. Analisis Klimatologi. Available http://mysimplebiz.info/tutorial. Accessed by 8 Mei 2012 Anonim. 2012. Dasar-dasar lmu Klimatologi. Available http://f4iz4l.blogspot//tutorial. Accessed by 8 Mei 2012 at at

Anonim. 2012. Kelembaban udara. Available at http://www.pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/files.../13039-1325714992571.doc. Accessed by 28 April 2012 Anonim. 2012. Ketinggian tempat. Available at http://www.oocities.org/h_artono/bantul/geografi.htm. Accessed by 28 April 2012 Anonim. 2012. Radiasi sinar matahari. Available at http://id.wikipedia.org/wiki/Radiasi_Matahari. Accessed by 8 Mei 2012 Anonim. 2012. Suhu udara. Available at http://www.cuacajateng.com/suhuudara.htm Accessed by 28 April 2012 Batubara. 2010. Peramalan Kecepatan Angin Bulanan di Medan Berdasarkan Tekanan Udara dengan Fungsi Transfer. Universitas Sumatra Utara. Dukes, H. 1995. The Physiology of Domestic Animal. Comstock Company : Ithaca New York. Frandson. R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi ke-4. Gadjah Mada. Yogyakarta. Frandson, R.D. 1996. Anatomi Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Inounu, I., M. Martawidjaja., B. Tiesnamurti., dan E. Handiwirawan. 1999.Studi Fisiologis Domba Lokal dan Persilangannya dengan Domba Mouton Charollais dan ST. Chroix Pada Umur Muda. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner, Oktober Tahun 1999. ISBN 979-8308-29-8. 42

Kartasapoetra. 1993. Pengantar Iklim. Edisi Kelima. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta Kasip, L.M. 1995. Kemampuan Kerja, Dinamika Fisiologis Dan Metabolit Darah Sapi Bali Betina Dalam Mengolah Lahan Pertanian Berdasarkan Lebar Mata Bajak. Tesis S2. Program Pasca Sarjana UGM. Yogyakarta. Murtidjo, Bambang Agus. 1990. Beternak Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta Prawirowardoyo. S. 1996. Meteorologi. Penerbit ITB. Bandung Reksohadiprodjo, S. 1995. Pengantar Ilmu Peternakan Tropik. BPFE. Yogyakarta. Sihombing, Taguan. 2000. Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta Siregar.Sori Basya.1997. Aspek Iklim Tropis Terhadap Kemampuan Berproduksi Susu Kambing Perah. Balai Penelitian Ternak. Bogor. Smith, S. M. 1990. Peternakan Umum. CV. Yasaguna, Jakarta. Swenson. M. O. 1997. Dukes Physiology of Domestic Animal. Second Edition. The English Language Book Society and Loghman Gropup Limited. English. Swenson, M. J. dan Reece, W. O. 1993. Dukes Physiology of Domestic Animals. 11th edition. Comstok Publishing Associates a division of Cornell University Press. Ithaca. Tjasjono. Bagong. 1999. Klimatologi Umum. Institut Teknologi Bandung. Bandung Williamson, G dan W.J.A Payne, 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

43

LAMPIRAN

44