Anda di halaman 1dari 34

MALARIA

Ecy Haqy Zhanah H.P.


Amalia Dwi Aryanti
Yudhi Tri Gunawan
Maratush Sholihah
Nur Inayah Ratnasari

11-051
11-060
11-078
11-110
11-162

Definisi
Penyakit malaria adalah penyakit yang
disebabkan oleh parasit malaria (plasmodium)
bentuk aseksual yang masuk ke dalam tubuh
manusia yang ditularkan oleh nyamuk malaria
(Anopheles spp) betina. (WHO)
Penyakit malaria termasuk salah satu penyakit
menular yang dapat menyerang semua orang,
bahkan mengakibatkan kematian terutama yang
disebabkan oleh parasit Plasmodium falciparum
(Depkes, 2003)

Jenis-jenis Malaria
Malaria Tropika
(Plasmodium
Falcifarum)

Malaria Ovale
(Plasmodium
Ovale)

Malaria Kwartana
(Plasmoduim
Malariae)

Malaria Tersiana
(Plasmodium Vivax)

Malaria Tropika
(Plasmodium Falcifarum)
Bentuk yang paling berat, ditandai dengan
panas yang ireguler, anemia,
splenomegali, parasitemia yang banyak
dan sering terjadi komplikasi.
Masa inkubasi 9-14 hari
Menyerang semua bentuk eritrosit.
Disebabkan oleh Plasmodium falciparum

Malaria Kwartana
(Plasmoduim Malariae)
Plasmodium Malariae mempunyai
tropozoit yang serupa dengan
Plasmoduim vivax, lebih kecil dan
sitoplasmanya lebih kompak/ lebih biru.

Malaria Ovale
(Plasmodium Ovale)
Malaria ovale merupakan bentuk yang
paling ringan dari semua malaria
Disebabkan oleh Plasmodium ovale.
Masa inkubasi 11-16 hari, walau pun
periode laten sampai 4 tahun.
Serangan paroksismal 3-4 hari dan jarang
terjadi lebih dari 10 kali walau pun tanpa
terapi dan terjadi pada malam hari.

Malaria Tersiana
(Plasmodium Vivax)
Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax)
biasanya menginfeksi eritrosit muda yang
diameternya lebih besar dari eritrosit normal.
Bentuknya mirip dengan plasmodium
Falcifarum, namun seiring dengan maturasi,
tropozoit vivax berubah menjadi amoeboid.
Gametosit berbentuk oval hampir memenuhi
seluruh eritrosit, kromatinin eksentris,
pigmen kuning

Patofisiologi

Tahap
exoerthrocitic

adalah tahap dimana terjadinya


infeksi pada sistem hati (liver)
manusia yang disebabkan oleh
parasit plasmodium

Tahap
erithrocitic

adalah tahap terjadinya infeksi


pada sel darah merah (eritrosit)

Setelah masuk melalui darah


dan sampai di sistem hati
manusia, parasit berkembang
biak dengan cepat, kemudian
keluar dan menginfeksi sel
darah merah, menimbulkan
demam pada penderita
malaria.

parasit p. falciparum dapat


membuat sel darah merah
menempel pada pembuluh darah
kecil dengan cara melepaskan
protein adhesif, sehingga sel
darah merah yang terinfeksi tidak
dapat masuk kedalam sistem
limpa untuk dihancurkan.

Patofisiologi
Parasit p.vivax atau p.ovale mampu
menghasilkan hipnosoites yang tetap
aktif selama beberapa bulan bahkan
tahun, sehingga penderita sering
mengalami malaria yang baru
kambuh selama beberapa bulan
bahkan tahun setelah terinfeksi
pertama kali, dan sangat sulit dibasmi
secara tuntas dari dalam tubuh.

Dengan kemampuan tersebut


p. falciparum sering menjadi
penyakit malaria akut, yang
mengakibatkan kondisi koma
dan kematian pada penderita
penyakit malaria

Transmisi
Penyakit malaria dapat ditularkan melalui dua
cara, yaitu cara alamiah dan bukan alamiah.
1. Penularan secara alamiah (natural infection),
melalui gigitan nyamuk Anopheles.
2. Penularan bukan alamiah, dapat dibagi
menurut cara penularannya, antara lain :
a. Malaria bawaan atau kongenital
b. Penularan secara mekanik
c. Penularan secara oral

Penyebaran
Penyebaran keempat plasmodium malaria
berbeda menurut geografi dan iklim.
Plasmodium Palciparum banyak ditemukan
didaerah tropik beriklim panas dan basah.
Plasmodium vivax banyak ditemukan didaerah
beriklim dingin, sub tropik sampai daerah tropik.
Plasmodium ovale lebih banyak ditemukan di
Afrika yang beriklim tropik dan pasifik barat.

Letak geografis tempat memengaruhi iklim yang akan


memengaruhi populasi nyamuk. Berdasarkan jarak dari
khatulistiwa, untuk penyakit malaria dibagi menjadi empat
daerah yaitu (Depkes, 2003b) :

Daerah khatulistiwa
(Equatorial zone)

suhu udara sepanjang tahun 25 oC


atau lebih dengan kelembaban nisbi
udara 70% atau lebih.

Daerah tropis
(Tropical zone),

suhu udara 25 oC atau lebih selama


bulan-bulan terpanas, kelembaban 50%
atau kurang selama satu atau beberapa
bulan.

Daerah sub tropis


(Sub-tropical zone)

suhu udara 20-25 oC selama berbulanbulan terpanas, kelembaban 50% atau


lebih.

Daerah dingin
(Temperate zone),

suhu udara 16-20 oC selama berbulanbulan terpanas dan kelembaban 70%


atau lebih.

Sumber: penyakitmalaria.com

Ditjen PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan


stratifikasi endemisitas malaria suatu wilayah di Indonesia
menjadi 4 strata yaitu :
a.Endemis Tinggi bila API >5 per 1.000 penduduk.
b.Endemis Sedang bila API berkisar antara 1 - 5 per
1.000 penduduk.
c.Endemis Rendah bila API 0 - 1 per 1.000 penduduki.
d.Non Endemis adalah daerah yang tidak terdapat
penularan malaria (Daerah pembebasan malaria) atau API
= 0.

Peta Endemisitas Malaria di Indonesia


Tahun 2011

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013

Peta Endemisitas Malaria di Indonesia


Tahun 2012

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013

ANNUAL PARASITE INSIDENCE (API)


Malaria
Menurut Provinsi Tahun 2008-2012
NO

PROVINSI

API
2008

2009

2010

2011

2012

Aceh

0.25

0.48

0.54

0.44

0,44

Sumatera Utara

0.28

0.25

0.61

0.46

0.84

Sumatera Barat

0.57

0.41

0.11

0.16

0.25

Riau

0.23

0.47

0.24

0.37

0.20

Jambi

2.12

1.89

1.64

1.60

1.29

Sumatera Selatan

0.54

0.45

0.45

0.19

0.20

Bengkulu

4.70

4.36

4.26

3.02

5.32

Lampung

0.33

0.78

0.32

0.46

0.18

NO

PROVINSI

API
2008

2009

2010

2011

2012

Kepulauan Bangka
Belitung

8.09

7.87

5.06

2.28

2.66

10

Kepulauan Riau

1.34

1.12

0.86

1.38

2.47

11

DKI Jakarta

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

12

Jawa Barat

0.58

0.36

0.43

0.47

0.01

13

Jawa Tengah

0.07

0.08

0.10

0.01

0.03

14

DI Yogyakarta

0.00

0.30

0.01

0.00

0.06

15

Jawa Timur

0.71

0.47

0.10

0.01

0.02

16

Banten

0.03

0.14

0.03

0.03

0.02

17

Bali

0.17

0.02

0.03

0.00

0.00

18

NTB

4.88

1.93

1.81

0.52

0.82

19

NTT

20.35

15.62

12.14

14.75

19.41

20

KALBAR

0.65

0.54

0.45

1.91

0.85

NO

PROVINSI

21

API
2008

2009

2010

2011

2012

Kalimantan Tengah

2.53

1.38

3.48

3.08

3.48

22

Kalimantan Selatan

1.04

1.06

0.79

2.29

2.06

23

Kalimantan Timur

2.04

0.93

0.47

1.12

1.15

24

Sulawesi Utara

3.37

4.57

1.63

2.52

2.35

25

Sulawesi Tengah

2.56

1.35

2.08

3.08

2.49

26

Sulawesi Selatan

0.31

0.47

0.35

0.38

0.19

27

Sulawesi Tenggara

0.28

0.22

0.46

1.36

0.79

28

Gorontalo

4.13

0.54

1.71

1.90

1.64

29

Sulawesi Barat

0.57

0.85

0.55

1.91

1.23

30

Maluku

8.94

7.37

5.43

3.97

7.42

31

Maluku Utara

8.91

8.91

6.45

2.37

5.08

32

Papua Barat

46.10

27.66

17.86

33.25

52.27

33

Papua

18.35

9.94

18.03

23.34

60.65

2.47

1.85

1.96

1.75

1.69

Indonesia

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013

ANGKA KESAKITAN MALARIA (ANNUAL PARACITE


INCIDENCE /API)
PER 1.000 PENDUDUK BERISIKO TAHUN 2000-2012

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013

Sebaran Kejadian Luar Biasa (KLB)


Malaria
Tahun 2006 - 2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Depkes RI, 2009

Angka Kematian (CFR) Malaria


Tahun 2004-2009

Sumber: Ditjen Bina Pelayanan Medik Depkes RI, 2009

Determinan Penyakit Malaria


Host

Fisik
Kimia
Biologi
Lingkungan
Budaya
Sosial dan
Ekonomi

Environment

Host Intermediate
Host Definitive

Agent
Plasmodium vivax
Plasmodium malariae
Plasmodium ovale
Plasmodium falciparum

Diagram Tipe
Temperatur
P.vivax,
P.malariae,
P.falciparum

PENCEGAHAN PRIMORDIAL
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
nomor 293/MENKES/SK/IV/2009 tentang ELIMINASI
MALARIA DI INDONESIA

PENCEGAHAN PRIMER
Edukasi kepada setiap
pelancong atau petugas
yang akan bekerja di daerah
endemis.
HEALTH
Melakukan kegiatan sistem
PROMOTION
kewaspadaan dini, dengan
memberikan penyuluhan
pada masyarakat tentang
cara pencegahan malaria

SPESIFIC
PROTECTION

Menggunakan pakaian lengkap, tidur


menggunakan kelambu, memakai obat
penolak nyamuk, menghindari untuk
mengunjungi lokasi yang rawan malaria,
mengurangi aktivitas di luar rumah mulai
senja sampai subuh di saat nyamuk
anopheles umumnya mengigit.
Kemoprofilaksis (mencegah terjadinya
infeksi malaria terhadap pendatang yang
berkunjung ke daerah malaria dengan
cara memberikan obat).
Pengendalian secara mekanis, biologis,
dan kimiawi terhadap vektor penyebab
malaria.

PENCEGAHAN SEKUNDER

EARLY
DIAGNOSIS

Pencarian penderita malaria secara


aktif melalui skrining.
Melakukan diagnosa dini melalui
pemeriksaan gejala klinis,
pemeriksaan laboratorium, dan
pemeriksaan penunjang.

PROMPT
TREATMENT

Pengobatan untuk mereka yang


terinfeksi malaria secara tepat dan
adekuat.

PENCEGAHAN TERTIER

Pemulihan kondisi penderita


malaria,memberikan
dukungan moril kepada
penderita dan keluarga di
REHABILITATION
dalam pemulihan dari
penyakit malaria,
melaksanakan rujukan pada
penderita yang memerlukan
pelayanan tingkat lanjut.

DISABILITY
LIMITATION

Pemberian obat malaria yang efektif


sedini mungkin.
Penanganan kegagalan organ
seperti tindakan dialisis terhadap
gangguan fungsi ginjal,
pemasangan ventilator pada gagal
napas.
Tindakan suportif berupa pemberian
cairan serta pemantauan tanda vital
untuk mencegah memburuknya
fungsi organ vital.