Anda di halaman 1dari 32

1

LAPORAN LAPANGAN KEBUMIAN


KARANGSAMBUNG
Oleh :
Samsu Alam
15.11.108.701602.000858

Program Studi
Teknik Pertambangan

Tujuan Penelitian
1. Mendeskripiskan berbagai macam
batuan.
2. Mendeskripsikan morfologi, struktur
geologi, dan petrogenesa.
3. Mendeskripsikan beberapa bahan
galian dan pemanfaatannya.
4. Memberikan informasi mengenai
kondisi geologi

Batasan Masalah
Penelitian lapangan hanya dilakukan pada
kawasan Kompleks Melange Luk Ulo.

Lokasi Kesampaian Daerah


Berikut adalah kesampaian daerah penelitian:
Tenggarong - Balikpapan
Perjalanan menuju Balikpapan menggunakan kendaraan roda
empat. Keberangkatan dimulai jam 12.45 WIT melalui rute
Tenggarong, Loa Kulu, Loa Janan, Samboja, kemudian tiba di
Balikpapan (Bandara Sepinggan) jam 03.07 WIT.
Bandara Sepinggan Balikpapan - Bandara Adisutjipto Yogyakarta
Perjalanan ke Yogyakarta menggunakan pesawat terbang dari jam
06.12 WIT tiba di Yogyakarta pada jam 07.56 WIB
Yogyakarta - Kebumen
Menuju ke arah Kebumen menggunakan bus dari jam 09:10 11:19 WIB.
Kebumen - Kampus LIPI Karangsambung
Perjalanan dari Kebumen menuju kampus LIPI di Karasambung
menggunakan kendaraan roda empat dengan rute Pejagoan,
Karanganyar, Karangayam, dan Alian. Tiba di Karangsambung
Kampus LIPI pada jam 12.00 WIB.
4

Waktu Penelitian
Penelitian lapangan dilakukan dari tanggal

22 - 24 November

2016 seperti yang terlihat pada Tabel 1.

No

Kuliah Orientasi Lapangan dan


Lapangan Orientasi dan Petrologi

Kuliah Morfologi dan Geologi Struktur

21

22

23

24

Petrologi

November 2016

Kegiatan

Lapangan Morfolologi dan Geologi


Struktur
Kuliah Genesa Bahan Galian dan
Eksplorasi
Lapangan Genesa Bahan Galian dan
Eksplorasi
Kuliah Umum Geologi Karangsambung

I.6. Metode Penelitian


Metodologi penelitian meliputi studi
pustaka, pengamatan langsung di
lapangan, analisis data, pengolahan
data, penyajian data, dan pembuatan
laporan (Gambar 1).

HASIL PENELITIAN

Geomorfologi
Perbukitan
Denudasional

Perbukitan
Struktural

Fluvial
8

A.

Perbukitan Struktural
Gunung Gliwang dengan ketinggian 452 meter terletak di
bagian tengah Utara Selatan merupakan perbukitan
struktural. Hal itu dicirikan karena memiliki morfologi bukit
pinus terjal, pola kontur rapat, dan relief kasar.

B.

Perbukitan Denudasional
Perbukitan tersebut terbentuk disebabkan oleh adanya tenaga
eksogen yang mengakibatkan perbukitan tersebut terus
mengalami proses pelapukan, pengikisan (erosi) air dan angin
secara terus - menerus. Pengikisan dalam kurun waktu lama
menyebabkan perbukitan tersebut menjadi landai.

AIR

Faktor

ANGIN

Gaya Endogen

Awalnya merupakan perbukitan antiklin, akibat proses


denudasional, berupa pelapukan gaya endogen berupa air dan
udara, menyebabkan perbukitan tersebut berangsur-angsur
berubah menjadi perbukitan landai.
10

Menjadi lapuk, terkikis


secara terus-menerus, dan
tertransportasi sehingga
menjadi landai

11

C. Dataran Fluvial
Satuan morfologi ini dicirikan dengan kontur yang
sangat renggang, hasil dari erosi lereng gunung
yang tertransportasi oleh sungai dan mengalami
deposisi. Terdapat material pasir hingga kerakal
pada point bars sungai sebagai bukti bahwa
material-material pada kawasan Melange Luk Ulo
terdeposisi ke dataran dan mengendap.

12

Hasil Erosi

Media Transport

Mengalami
Deposisi

13

Aktivitas fluvial :
1. Erosi
2. Transportasi
3. Deposisi

Sungai Luk Ulo

14

Struktur Geologi
A. Kekar
Struktur yang muncul pada bidang batuan yang
terjadi akibat efek gaya tektonik berupa rekahanrekahan baik searah maupun saling memotong .
Struktur tersebut dapat di lihat saat di lapanagan
pada beberapa singkapan batuan seperti, pada

15

Kekar di Kali Muncar pada batugamping merah,


terisi oleh mineral kuarsa.
kuarsa

Kekar pada batuan perselingan


Rijang dan batugamping merah
di Wagir Sambeng

Kekar pada basalt di Sungai Mandala

16

Kekar pada sekis mika di Kali Brengkok

Kekar Pada Serpentin di Pucangan

Kekar pada marmer di Desa Totogan

17

B. Sesar
Pada kawasan ini telah mengalami patahan atau
pensesaran pada batu sekismika. Hal itu terlihat
dengan adanya salah satu indikasi berupa struktur
minor yakni adanya cermin sesar pada batuan
tersebut.

18

19

PETROLOGI

20

Batuan Beku
A. Intrusif

Warna : abu-abu
Jenis batuan : beku basa
Struktur : diabasik (columnar Joint )
Tekstur :
- Derajat kristalisasi :hipokristalin
- Ukuran kristal : fanerik kasar
- Bentuk Kristal : subhedral
Komposisi Mineral : plagioklas, dan piroksin
Nama Batuan : diabas

21

B. Ekstrusif
Warna : Hitam keabu-abuan
Jenis batuan : beku basa
Struktur : masif (lava bantal )
Tekstur :
- Derajat kristalisasi :hipokristalin
- Ukuran kristal : afanitik
- Bentuk Kristal : Komposisi Mineral : piroksin
Nama Batuan : basalt

22

Batuan Sedimen
A. Endapan Laut Dalam
- Warna : merah kecoklatan
- Jenis batuan : batuan sedimen non klastik
- Struktur : berselingan
- Tekstur
Ukuran butir :Bentuk butir :Kemas :- Komposisi
Fragmen :
Matriks :
Semen : silka
- Nama batuan : rijang

23

B. Endapan Laut Dangkal


- Warna : merah
- Jenis batuan : batuan sedimen non klastik
- Struktur :
- Tekstur
Ukuran butir : sangat halus
Bentuk butir : Kemas : - Komposisi
Fragmen : kuarsa
Matriks : Semen : karbonat
- Nama batuan : batugamping merah

24

C. Endapan Darat
- Warna : hitam keabu-abuan
- Jenis batuan : batuan sedimen klastik
- Struktur : berlapis
- Tekstur
Ukuran butir : butiran lempung (1/256 mm)
Bentuk butir : Kemas : - Komposisi
Fragmen : kalsit
Matriks : Semen : - Nama batuan : batulempung

25

Batuan Metamorf

Warna
: abu - abu
Jenis batuan
: Metamorfosa Regional
Struktur
: Foliasi
Tekstur
: Lepidoblastik
Komposisi Mineral : mika, plagioklas, kuarsa, dan
barnet.
Nama batuan
: sekis mika

26

Warna
: Hitam Kehijauan
Jenis batuan
: Metamorfosa Regional
Struktur
: Foliasi
Tekstur
: Nematoblastik
Komposisi Mineral : peridotit, dan olivin
Nama batuan

: Serpentinit

27

Warna
: putih keabu-abuan
Jenis batuan
: Metamorfosa Regional
Struktur
: Non Foliasi
Tekstur
:Komposisi Mineral : kalsit, dan mineral pengotor
oksida besi
Nama batuan
: marmer

Bahan Galian dan Pemanfaatanya


A. Marmer
. Masyarakat biasanya melakukan penambangan pada batuan
tersebut untuk kebutuhan pada rumah tangga dan juga
menjadi sumber perekonomian dalam menghasilkan uang
untuk keluarga.
. Metode penambangan yang sering dilakukan adalah metode
quary. Batuan ini memilki warna yang menarik serta daya
tahan atau kekerasan yang cukup kuat.
. Batu marmer ini biasanya diproduksi menjadi keramik,
pondasi rumah, dan ornamen rumah. Batu marmer tersebut
digolongkan dalam bahan galian industri atau bahan galian
golongan C.
28

B. Diabas
Batuan ini telah banyak di gunakan sebagai bahan
bangunan (pondasi rumah dan pondasi jalan), dan batu
cobek.
Metode pengambilan bahan galian yakni metode quary
dengan menggunakan alat bantu seperti linggis, palu, dan
betel (pemahat batu) yang berfungsi mencongkel dan
melubangi batuan.
Pengangkutan batuan menggunakan dump truck.

29

C. Kerikil dan Pasir


Bahan galian ini merupakan sumber mata pencaharian
masyarakat, misalnya penambangan pasir dan batu
kerikil.
Cara penambangannya masih menggunakan alat
konvensional seperti mesin pompa kemudian diayak agar
ukurannya sama antara pasir dan batu kerikilnya.
Pengangkutan galian menggunakan Dump Truck.
Bahan galian ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan
bangunan seperti pengecoran dan lain-lainnya.

30

Kesimpulan
Teori Hukum Superposisi pada penelitian yang dilakukan
di kawasan Kompleks Melange Luk Ulo Daerah
Karangsambung Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa
Tengah tidak berlaku pada stratigrafi Kompleks Melange
Luk Ulo. Batuan yang berbeda jenis (beku, sedimen, dan
metamorf), umur, dan petrogenesa tersingkap dengan
campur aduk.
Tersingkapnya batuan melange di Daerah
Karangsambung disebabkan oleh adanya tektonik
kompresional yang menyebabkan daerah tersebut
dipotong oleh sejumlah sesar-sesar naik disamping
adanya pengangkatan dan proses erosi yang intensif. 31

Sekian
&
Terima Kasih

SALAM TAMBANG

32