Anda di halaman 1dari 30

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI

Nomor :11/M-IND/PER/3/2014
TENTANG
PROGRAM RESTRUKTURISASI MESIN DAN/ATAU
PERALATAN IKM TAHUN 2014

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL IKM


Nomor : 31/IKM/PER/3/2014
TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN PROGRAM
RESTRUKTURISASI MESIN DAN/ATAU PERALATAN
IKM TAHUN 2014
Restrukturisasi mesin dan/atau
peralatan adalah penggantian dan
atau penambahan mesin dan/atau
peralatan yang lebih maju, efisien
dan produkstif untuk menghasilkan
produk bermutu dan berdaya saing.

Program restrukturisasi Mesin dan/atau


PeralatanIKM adalah pemberian potongan
harga dari Pemerintah c.q. Kementerian
Perindustrian kepada IKM yang telah terbukti
melakukan pembelian Mesin dan/atau
Peralatan baru(bukan bekas) sesuai
ketentuan Petunjuk Teknis
Perusahaan Industri Kecil (IK) adalah
perusahaan industri dengan nilai
investasi seluruhnya sampai dengan
Rp.500.000.000,-(lima ratus juta
rupiah), tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha;

Perusahaan Industri Menengah (IM)


adalah perusahaan industri dengan nilai
investasi seluruhnya lebih besar dari Rp.
500.000.000,-(lima ratus juta rupiah)
sampai dengan paling banyak
Rp.10.000.000.000,-(sepuluh milyar
rupiah), tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha;
Program Restrukturisasi Mesin
dan/atau Peralatan IKM Tahun
Anggaran 2014 diberikan
kepada IKM TERTENTU dalam
bentuk potongan harga dengan
cara reimburse (penggantian).

Program restrukturisasi mesin dan/atau


peralatan IKM tahun 2014 hanya
dilaksanakan dengan cara Tipe
Langsung yaitu IKM yang mengajukan
permohonan harus telah membeli
mesin dan/atau peralatan dan
seluruhnya sudah terpasang di
lokasi IKM yang bersangkutan
1. INDUSTRI MAKANAN NDUSTRI PENGGARAMAN /PENGERINGAN BIOTA AIR LAINNYA;
INDUSTRI PENGOLAHAN DAN PENGAWETAN LAINNYA UNTUK BIOTA
AIR LAINNYA;
INDUSTRI PENGOLAHAN SARI BUAH DAN SAYURAN;
INDUSTRI TEMPE KEDELAI
INDUSTRI TAHU KEDELAI
INDUSTRI PRODUK ROTI DAN KUE;
INDUSTRI KAKAO;
INDUSTRI PENGOLAHAN KOPI DAN TEH;
INDUSTRI MAKANAN DARI KEDELE DAN KACANG-KACANGAN LAINNYA
BUKAN KECAP, TEMPE DAN TAHU;
INDUSTRI KERUPUK, KERIPIK, PEYEK, DAN SEJENISNYA)
2. INDUSTRI MINUMAN INDUSTRI MINUMAN RINGAN;
INDUSTRI AIR MINUM DAN AIR MINERAL

3. INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI PEMINTALAN BENANG;


INDUSTRI PETENUNAN (BUKAN PERTENUNAN KARUNG GONI DAN
KARUNG LAINNYA);
INDUSTRI KAIN TENUN IKAT;
INDUSTRI PENYEMPURNAAN BENANG;
INDUSTRI PENYEMPURNAAN KAIN;
INDUSTRI PENCETAKAN KAIN;
INDUSTRI BATIK;
INDUSTRI KAIN RAJUTAN;
INDUSTRI KAIN SULAMAN/BORDIR;
INDUSTRI BARANG JADI TEKSTIL UNTUK KEPERLUAN RUMAH
TANGGA;
INDUSTRI BARANG JADI TEKSTIL SULAMAN;
INDUSTRI BANTAL DAN SEJENISNYA;
INDUSTRI BARANG JADI RAJUTAN DAN SULAMAN;
INDUSTRI KARPET DAN PERMADANI;
INDUSTRI BARANG DARI TALI;
INDUSTRI KAIN PITA;
INDUSTRI NON WOVEN;
INDUSTRI KARUNG GONI;
INDUSTRI KAPUK
4. INDUSTRI PAKAIAN JADI INDUSTRI PAKAIAN JADI (KONVEKSI) DARI TEKSTIL;
INDUSTRI PAKAIAN JADI (KONVEKSI) DARI KULIT;
INDUSTRI PENJAHITAN DAN PEMBUATAN PAKAIAN SESUAI
PESANAN;
INDUSTRI PERLENGKAPAN PAKAIAN DARI TEKSTIL;
INDUSTRI PERLENGKAPAN PAKAIAN DARI KULIT;
INDUSTRI PAKAIAN JADI RAJUTAN;
INDUSTRI PAKAIAN JADI SULAMAN/BORDIR;
INDUSTRI PAKAIAN JADI KAOS KAKI DAN SEJENISNYA
5. INDUSTRI KULIT, BARANG DARI INDUSTRI PENGAWETAN KULIT;
KULIT DAN ALAS KAKI INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT;
INDUSTRI PENCELUPAN KULIT BULU;
INDUSTRI KULIT BUATAN/IMITASI;
INDUSTRI BARANG DARI KULIT DAN KULIT BUATAN UNTUK
KEPERLUAN PRIBADI;
INDUSTRI BARANG DARI KULIT DAN KULIT BUATAN UNTUK
KEPERLUAN TEKNIK/INDUSTRI;
INDUSTRI BARANG DARI KULIT DAN KULIT BUATAN UNTUK
KEPERLUAN LAINNYA;
INDUSTRI ALAS KAKI UNTUK KEPERLUAN SEHARI-HARI;
INDUSTRI SEPATU OLAHRAGA;
INDUSTRI SEPATU TEKNIK LAPANGAN/KEPERLUAN INDUSTRI;
INDUSTRI ALAS KAKI LAINNYA
6. INDUSTRI KAYU, BARANG DARI INDUSTRI BARANG ANYAMAN DARI ROTAN DAN BAMBU;
KAYU DAN GABUS (TIDAK INDUSTRI BARANG ANYAMAN BUKAN ROTAN DAN BAMBU;
TERMASUK FURNITUR) DAN INDUSTRI KERAJINAN UKIRAN DARI KAYU BUKAN MEBELLER
BARANG ANYAMAN DARI BAMBU,
ROTAN, DAN SEJENISNYA
7. INDUSTRI BAHAN KIMIA DAN INDUSTRI BAHAN KOSMETIK DAN KOSMETIK, TERMASUK
BARANG DARI BAHAN KIMIA PASTA GIGI;
INDUSTRI MINYAK ATSIRI
8. INDUSTRI FARMASI, PRODUK INDUSTRI SIMPLISIA (BAHAN OBAT TRADISIONAL);
OBAT KIMIA DAN OBAT INDUSTRI PRODUK OBAT TRADISIONAL
TRADISIONAL

9. INDUSTRI KARET, BARANG INDUSTRI BARANG DARI KARET UNTUK KEPERLUAN


DARI KARET DAN PLASTIK RUMAH TANGGA;
INDUSTRI BARANG DARI KARET UNTUK KEPERLUAN
INDUSTRI
10. INDUSTRI BARANG LOGAM, INDUSTRI PENEMPAAN, PENGEPRESAN, PENCETAKAN DAN
BUKAN MESIN DAN PEMBENTUKAN LOGAM; METALURGI BUBUK;
PERALATANNYA JASA INDUSTRI UNTUK BERBAGAI PENGERJAAN KHUSUS
LOGAM DAN BARANG DARI LOGAM;
INDUSTRI ALAT POTONG DAN PERKAKAS TANGAN UNTUK
PERTANIAN;
INDUSTRI ALAT POTONG DAN PERKAKAS TANGAN UNTUK
PERTUKANGAN;
INDUSTRI ALAT POTONG DAN PERKAKAS TANGAN YANG
DIPERGUNAKAN DALAM RUMAH TANGGA;
INDUSTRI LAMPU DARI LOGAM;
INDUSTRI BARANG LOGAM LAINNYA YTDL

11. INDUSTRI MESIN DAN INDUSTRI BEARING, RODA GIGI DAN ELEMEN
PERLENGKAPAN PENGGERAK MESIN;
INDUSTRI MESIN PERTANIAN DAN KEHUTANAN;
INDUSTRI MESIN DAN PERKAKAS MESIN UNTUK
PENGERJAAN LOGAM
12. INDUSTRI KENDARAAN INDUSTRI SUKU CADANG DAN AKSESORI KENDARAAN
BERMOTOR, TRAILER DAN SEMI BERMOTOR RODA EMPAT ATAU LEBIH
TRAILER
13. INDUSTRI ALAT ANGKUT INDUSTRI KAPAL DAN PERAHU;
LAINNYA INDUSTRI PERALATAN, PERLENGKAPAN DAN BAGIAN
KAPAL;
INDUSTRI SEPEDA DAN KURSI RODA TERMASUK BECAK;
INDUSTRI PERLENGKAPAN SEPEDA DAN KURSI RODA
TERMASUK BECAK;
INDUSTRI ALAT ANGKUTAN LAINNYA YTDL
14. INDUSTRI FURNITUR INDUSTRI FURNITUR DARI KAYU
INDUSTRI FURNITUR DARI ROTAN DAN ATAU BAMBU

15. INDUSTRI PENGOLAHAN INDUSTRI PERMATA;


LAINNYA INDUSTRI BARANG PERHIASAN DARI LOGAM MULIA
UNTUK KEPERLUAN PRIBADI;
INDUSTRI PERHIASAN MUTIARA
Dalam pelaksanaan kegiatan
Restrukturisasi Mesin dan / atau
Peralatan IKM, Kementerian
Perindustrian menetapkan
Konsultan Pengelola Program (KPP)
untuk membantu penanganan
pelaksanaan Program
TUGAS :
KONSULTAN PENGELOLA PROGRAM (KPP)

Menyediakan Pos Pelayanan di lokasi yang


ditetapkan DJIKM;
Menerima Surat Permohonan dari perusahaan;
Memeriksa kelengkapan administrasi serta
kesesuaiannya dengan dokumen asli;
Melakukan verifikasi harga mesin dan/atau
peralatan sesuai standar penilaian dan
verifikasi harga yang berlaku;
..
..
TUGAS
KONSULTAN PENGELOLA PROGRAM (KPP) - LANJUTAN

Memeriksa kesesuaian antara Mesin dan/atau Peralatan


dengan dokumen pembeliannya termasuk keberadaan
mesin dan/atau peralatan dalam keadaan terpasang di
lapangan dan memasang tanda/stiker pada mesin
dan/atau peralatan tersebut;
Menyiapkan Rapat Tim Teknis (RTT) sesuai keperluan dan
membuat Berita Acara Rapat Tim Teknis (BARTT)
mengenai hasil verifikasi KPP;
Melakukan pendampingan kepada pemohon dalam
penyusunan proposal kelayakan usaha;
Menyiapkan Surat Perjanjian Pemberian Bantuan (SPPB)
dalam program Restrukturisasi Mesin dan/atau Peralatan
IKM dan menyelenggarakan akad dan/atau Addendumnya
untuk ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Komitmen
Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah dan
perusahaan IKM pemohon;
.....
TUGAS
KONSULTAN PENGELOLA PROGRAM (KPP) - LANJUTAN

Menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan


untuk pengajuan pencairan dana potongan harga
oleh Kementerian Perindustrian ke Kantor
Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN);
Bersama dengan Kementerian Perindustrian
mensosialisasikan program kepada perusahaan IKM
dan instansi terkait;
Melakukan pendampingan kepada pemohon dalam
penyusunan proposal kelayakan usaha;
Menyampaikan laporan tertulis mencakup Laporan
Pendahuluan, Laporan Sementara dan Laporan
Akhir;
KRITERIA IKM YANG DAPAT MENJADI PESERTA
PROGRAM
Mempunyai legalitas dan berbadan usaha Indonesia
berupa PT / CV / Koperasi / Firma serta perusahaan
perorangan;
Mempunyai tenaga kerja maks 99 orang bagi IM,
dan maks 19 orang bagi IK ;
Memiliki izin industri (TDI/IUI) sebagai IKM yang
berdomisili di wilayah Republik Indonesia;
Telah melakukan pembelian Mesin dan/atau
Peralatan baru (bukan bekas) mulai tanggal 1
Agustus 2013 dan telah terpasang di lokasi
sesuai ijin industri yang dimiliki selambat-
lambatnya tanggal 30 September 2014.
Tidak ikut serta dalam program sejenis di lingkup
Kementerian Perindustrian;
Kriteria mesin dan/atau peralatan :
1.Terkait dengan proses produksi utama termasuk
mesin dan/atau peralatan pendukungnya;
2. Merupakan mesin dan/atau peralatan baru dan/atau
rekayasa (bukan bekas dan/atau bukan rekondisi)
buatan tahun 2011 keatas;
3.Meningkatkan efisiensi produksi dan/atau
produktivitas kerja dan/atau kualitas produk dan/atau
menambah ragam produk;
4.Jenis mesin dan/atau peralatan yang dapat diikut
sertakan dalam program restrukturisasi mesin
dan/atau peralatan IKM secara lebih rinci dapat dilihat
pada Lampiran 1 Petunjuk Teknis.
SUMBER PENDANAAN
1.Dana Sendiri
2.Dana Pinjaman :
1) Bank Pelaksana
a. Bank Pemerintah,
b. Bank Swasta,
c. BPR
2) Lembaga Keuangan Bukan Bank
(LKBB)
a. Berkedudukan hukum di Indonesia;
b. Memiliki ijin usaha dari
KementerianKeuangan
c. Masih aktif
2. Dana Pinjaman (lanjutan)
3) Koperasi Simpan Pinjam
a. Berkedudukan hukum di Indonesia;
b. Memiliki ijin usaha koperasi dari
instansi yang berwenang;
4) Vendor Mesin
a. Berkedudukan dan berbadan hukum di
Indonesia;
b. Legalitas formal sesuai dengan bidang
usahanya;
c. Tidak mempunyai afiliasi kepemilikan
dengan perusahaan IKM tertentu.
PERIODE PERMOHONAN
1 Mei 2014 sampai dengan 31 Oktober 2014,
dan dapat dipersingkat waktunya apabila
diperlukan, dengan mempertimbangkan
penyerapan anggaran DIPA.
Bila pagu yang tersedia telah terlampaui, maka
dokumen permohonan mengikuti program
restrukturisasi masih dapat diterima dan
dimasukan kedalam daftar tunggu (Form F)
Daftar tungu dapat diproses lebih lanjut bila ada
dana DIPA karena :
Adanya permohonan yang tidak dapat diproses lebih lanjut;
atau
Adanya pengurangan nilai potongan harga yang dapat
diberikan kepada IKM lainnya.
Besaran Potongan Harga

Bagi Industri Kecil (IK) sebesar 45% (empat


puluh lima persen) dari harga pembelian mesin
dan/atau peralatan buatan dalam negeri, dan
selain itu sebesar 35% (tiga puluh lima persen)
dari nilai pembelian mesin dan/atau peralatan;

Bagi Industri Menengah (IM) sebesar 35% (tiga


puluh lima persen) dari harga pembelian mesin
dan/atau peralatan buatan dalam negeri, dan
selain itu sebesar 25% (dua puluh lima persen)
dari nilai pembelian mesin dan/atau peralatan;
Besaran Potongan Harga
Sekurang kurangnya Rp. 10.000.000,-
(sepuluh juta rupiah) sampai dengan Rp.
500.000.000,- (lima ratus juta rupiah)
dalam 1 (satu) tahun anggaran per
perusahaan.

Perusahaan IKM dapat mengajukan


permintaan potongan harga mesin
dan/atau peralatan dalam program
restrukturisasi mesin dan/atau
peralatan maksimal 3 (tiga) kali;
Besaran Potongan Harga

Pembelian menggunakan valuta asing


maka digunakan kurs pajak yang
berlaku pada saat pembelian mesin

Dalam hal terdapat perbedaan nilai potongan


harga pada SPPB dengan invoice dan/atau
bukti-bukti pembayaran, maka Kementerian
Perindustrian berhak menetapkan besarnya
nilai potongan harga berdasarkan nilai
terendah yang dibulatkan dalam nominal
ribuan terendah.
MEKANISME PELAKSANAAN
Tahap Permohonan
1. Perusahaan IKM yang berminat menyampaikan Surat
Permohonan kepada Direktur IKM Wilayah I Ditjen IKM,
dengan melampirkan dokumen sesuai dengan
PERSYARATAN
2. Direktur IKM Wilayah I dibantu KPP mengadministrasikan
permohonan yang masuk, kemudian KPP memeriksa
kelengkapan dokumen permohonan dan menindaklanjuti
sesuai dengan juknis
3. KPP dengan prinsip First In First Serve (FIFS), maka :
terhadap dokumen permohonan yang telah lengkap
secara administratif, diberikan nomor urut registrasi;
terhadap dokumen permohonan yang belum
lengkap, perusahaan IKM diminta untuk segera
melengkapi selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari
kerja, terhitung mulai tanggal pemberitahuan.
Tahap Permohonan (lanjutan)

4. KPP melakukan verifikasi dan cek terhadap keabsahan


dokumen, dan memberikan tanda bahwa dokumen
telah dicek dan sesuai dengan aslinya. KPP
bertanggung jawab atas hasil verifikasi dan cek yang
dilakukannya.
5. KPP memberikan penilaian dan menetapkan kategori
skala industri pemohon (industri kecil atau industri
menengah) berdasarkan investasi dan tenaga kerja
sesuai petunjuk teknis ini.
6. Terhadap permohonan yang telah memenuhi syarat
Juknis, KPP selanjutnya melakukan evaluasi terhadap
proposal, dan cek fisik ke lapangan terkait keberadaan
mesin dan/atau peralatan dilengkapi dengan foto
mesin dan/atau peralatan yang diajukan.
7. KPP Melakukan verifikasi harga mesin dan/atau
peralatan dengan cek silang kepada berbagai pihak
sesuai standar penilaian dan verifikasi harga yang
berlaku.
Tahap Permohonan (lanjutan)

8. KPP menyampaikan hasil evaluasi


kelayakan dan cek fisik dalam Rapat Tim
Teknis sebagai bahan pengambilan
keputusan terhadap permohonan yang
diajukan IKM.
9. KPP menyusun Berita Acara Rapat Tim
Teknis tentang hasil pembahasan
10.Bila disetujui, Direktur IKM Wilayah I
menerbitkan Surat Penetapan
persetujuan permohonan yang disetujui
guna ditindak lanjuti dengan penanda
tanganan akad Surat Perjanjian
Pemberian Bantuan (SPPB).
TAHAP PENCAIRAN
1.Pengusaha IKM mengajukan Surat
Permohonan Pencairan Potongan
Harga (SP3H-Form H) berikut
kelengkapannya
Form I1, I2, I3 dan J) dalam rangka
pengajuan Surat Perintah Membayar
(SPM) kepada KPPN untuk mencairkan
potongan harga ke rekening pemohon
sesuai SPPB;
2.Atas SPM tersebut, KPPN menerbitkan
Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D)
ke rekening pemohon.
MEKANISME PROGRAM
RESTRUKTURISASI MESIN/PERALATAN IKM TAHUN 2014
LARANGAN
1. Memberikan keterangan palsu/dokumen
palsu/melakukan penipuan dengan tujuan
memperoleh dana program bantuan potongan harga
pembelian Mesin
2. Mengalihkan kepemilikan/memindahtangankan
kepada pihak lain atas Mesin dan/atau Peralatan telah
ditetapkan dalam SPPB tanpa persetujuan Direktorat
Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Kementerian
Perindustrian dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun sejak
diterimanya keringanan pembiayaan. Pengecualian
diberikan bila pengalihan kepemilikan dilakukan oleh
Bank/LKBB yang diakibatkan terjadinya wanprestasi
(default); dan
3. Mengikuti program yang sama di lingkungan
Kementerian Perindustrian dalam periode waktu
bersamaan.
PELAPORAN

1. IKM yang telah menerima dana


potongan harga wajib menyampaikan
Laporan Perkembangan Penggunaan
Mesin dan/atau Peralatan secara
berkala (sesuai Form K) setiap
1(satu) tahun sekali selama 3 (tiga)
tahun kepada Direktur IKM Wilayah I
dengan tembusan kepada Direktur
Jenderal IKM dan Inspektur Jenderal
Kementerian Perindustrian terhitung
sejak 1 (satu) tahun dari realisasi
bantuan
2. Direktorat Jenderal IKM melakukan
monitoring dan evaluasi atas laporan
dimaksud.