Anda di halaman 1dari 20

Tuberculosis

Definisi
Suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan
oleh basil Mycobacterium tuberculosis dengan
gejala klinik yang sangat bervariasi dan
menyerang paru-paru
Epidemiology
Jumlah terbesar kasus tuberkulosis di dunia
terjadi di asia tenggara dengan persentase 33 %
dari seluruh kasus TB di dunia. Indonesia
merupakan urutan nomor 3 di dunia dalam
jumlah penderita TB Paru setelah India dan China
(WHO, 2012).
Etiologi
Diagnosis
1. Gejala klinik
A. Gejala respiratorik:
batuk 3 minggu
batuk darah
sesak napas
nyeri dada
B. Gejala Sistemik
Demam
gejala sistemik lain: malaise, keringat malam,anoreksia,
berat badan menurun.
2. Pemeriksaan Bakteriologis
A. SPS
3. Pemeriksaan Penunjang
B. PCR
C. Serologi
ELISA
Mycodot
PAP
ICT
C. Pemeriksaan Cairan Pleura
D. Pemeriksaan Histopatologi Jaringan
E. Pemeriksaan darah
F. Uji Tuberkulin
Patofisiology
Infiltrat
Broncho-lobular infiltrate
Rounded infiltrate
Cloudy infiltrate
Lobitis
Cavitas
Sarang dini yang meluas sebagai
granuloma berkembang
menghancurkan jaringan ikat
sekitarnya dan bagian tengahnya
mengalami nekrosis, menjadi
lembek menjadi jaringan keju.
Bila jaringan keju dibatukkan
keluar akan terjadilah kavitas.
Kavitas ini mula-mula berdinding
tipis, lama-lama dindingnya
menebal karena infiltrasi jaringan
fibroblas dalam jumlah besar,
sehingga menjadi kavitas
sklerotik (kronik)
Gambaran Kavitas pada Tuberkulosis Gambaran Fibroinfiltrat pada Tuberkulosis
Klasifikasi Tuberkulosis
1. Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau
ekstra paru
2. Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara
mikroskopis): BTA positif atau BTA negatif
3. Tingkat keparahan penyakit: minimal lesion,
moderately advanced lesion, far-advanced lesion.
4. Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau
sudah pernah diobati
Menurut American Thoracic Society
dan National Tuberculosis Association
luasnya proses yang tampak pada foto
toraks dapat dibagi sebagai berikut:
Lesi minimal (Minimal lesion)
Bila proses tuberkulosis paru
mengenai sebagian kecil dari satu
atau dua paru dengan luas tidak
lebih dengan volume paru yang
terletak di atas chondrosternal
junction dari iga kedua dan prosesus
spinosus dari vertebralis torakalis IV
atau korpus vertebra torakalis V dan
tidak dijumpai kavitas
Lesi sedang (Moderately
advanced lesion)
Proses penyakit lebih luas dari
lesi minimal, tetapi jumlah
proses tidak boleh lebih dari satu
paru, atau jumlah seluruh proses
yang ada paling banyak seluasa
satu paru atau bila proses
tuberkulosis tadi mempunyai
densitas lebih padat, lebih tebal
maka proses tersebut tidak boleh
lebih dari sepertiga pada satu
paru dan proses ini dapat/tidak
dapat disertai kavitas dengan
diameter tidak lebih dari 4 cm.
Gambaran radiologik yang
dicurigai sebagai lesi TB aktif
Bayangan berawan / nodular di segmen apikal
dan posterior lobus atas paru dan segmen
superior lobus bawah
Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh
bayangan opak berawan atau nodular
Bayangan bercak milier
Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral
(jarang)
Gambaran radiologik yang
dicurigai lesi TB inaktif
Fibrotik pada segmen apikal dan atau posterior
lobus atas
Kalsifikasi atau fibrotic
Fibrotoraks/Fibrosis parenkim paru dan atau
penebalan pleura
Tuberculosis Primer
Penyebaran tuberculosis primer terdapat 2 jalur:
Cabang pohon bronkus, yaitu tuberculosis
bronkopneumonia dimana terdapat penebalan atau
konsolidasi pada satu atau lebih lobus paru, mungkin
bilateral, dan terdapat kavitas.
Melalui hematogen, termasuk tuberculosis miliar dimana
terdapat gambaran nodule kecil berukurang <3mm
dengan ukuran yang sama dan bisa terdistribusi dimana
saja pada lapang paru.Nodul ini biasanya ditemukan pada
kasus yang sudah berat.(Burril et al, 2007, Rasad, 2005).
Gambaran konsolidasi pada paru kanan
atas disertai dengan pembesaran limfonodi.
Tuberkulosis Sekunder
Tuberkulosis Parenkim
Temuan awal penyakit parenchymal adalah patchy, namun belum bisa
disebut konsolidasi, khususnya pada segmen apikal dan posterior dari
lobus atas (28). Dalam sebagian besar kasus, melibatkan lebih dari satu
paru segmen , dengan lesi bilateral pada dua-pertiga dari kasus. Kavitas
dari postprimary tuberkulosis, mempengaruhi sekitar 50% pasien.Suatu
rongga yang memiliki dinding tebal, tidak teratur, yang menjadi halus
dan tipis bila pengobatan berhasil.Kavitas biasanya dapat menjadi
konsolidasi dan dapat mengakibatkan perubahan emphysematous atau
jaringan parut.). Jika terjadi kelainan pada airway dimana terdapat
infeksi pada endobronchial akan menyebabkan gambaran opasitas
seperti tree in bud yang menandakan sebuah tuberculosis aktif.
Limfadenopati dan pneumothoraces hanya sekitar 5% dari pasien
Limfadenopati
Limfadenopathy TB didapatkan
96% pada anak-anak dan 43%
banyak pada orang dewasa.
Biasanya bersifat Unilateral yang
melibatkan hilus da paratrakeal.
Efek terapi pada Limfadenopathy
tuberkulosis lebih lama
responnya dibandingkan dengan
parenkimal. Tipe lesi pada
limfadenopathy terdapat
Limfadenopathy pada medial
gambaran kalsifikasi walaupun mediastinum
muncul setelah 6 bulan infeksi
awal. (Burril et al, 2007, Furqon,
2010)
TB Milier
Pada gambaran radiologi timbul
hiperinflasi sebagai gambaran awal.
Temuan yang lain terdapat nodul
berukuran 2-3 mm kecil yang menyebar
merata pada lobus bawah yang paling
sering. Setelah 6 bulan pengobatan,
lesi akan hilang tanpa jaringan parut,
namun dapat terjadi bentukan
konsolidasi yang difus. Penyakit primer
dengan penyebaran hematogenus
dapat menyebabkan bayangan miliar
yang terdapat pada radiografi (Furqon,
2010).