Anda di halaman 1dari 18

BENIGN PROSTATIC

HYPERPLASIA (BPH)

Pembesaran prostat jinak adalah kondisi ketika kelenjar


prostat mengalami pembengkakan, namun tidak
bersifat kanker.
Epidemiologi
Puncak kejadian BPH terjadi pada umur 63-65 tahun.
Gejala penyakit jarang terjadi pada pria lebih muda dari 50
tahun, tetapi beberapa gejala gangguan pengosongan
urinari terjadi pada pria 60 tahun.
Etiologi
1. Teori Hormonal
Dengan bertambahnya usia akan terjadi perubahan keseimbangan
hormonal, yaitu antara hormon testosteron dan hormon estrogen.
Karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi testosteron
menjadi estrogen pada jaringan adiposa di perifer dengan pertolongan
enzim aromatase, dimana sifat estrogen ini akan merangsang
terjadinya hiperplasia pada stroma. Hiperplasia stomal pada jaringan
prostat periuretral adalah satu temuan mikroskopis awal pada pria
dengan BPH. Pada suatu saat, estrogen menginisiasi hiperplasia
stromal, yang juga menginduksi hiperplasia epithelial. Kemungkinan
lain ialah perubahan konsentrasi relatif testosteron dan estrogen akan
menyebabkan produksi dan potensiasi faktor pertumbuhan lain yang
dapat menyebabkan terjadinya pembesaran prostat.
2. Teori Growth Faktor
Peranan dari growth faktor ini sebagai pemacu
pertumbuhan stroma kelenjar prostat. Basic Fibroblast
Growth Faktor (b-FGF) dapat menstimulasi sel stroma dan
ditemukan dengan konsentrasi lebih besar pada pasien
dengan BPH.
3. Teori Stem Cell
Prostat pada orang dewasa dalam hal ini kelenjar periuretral pada
keadaan normal berada dalam keadaan keseimbangan steady state,
antara pertumbuhan sel dan sel yang mati. Sel baru biasanya tumbuh
dari stem cell. Keseimbangan ini disebabkan adanya kadar testosteron
tertentu dalam jaringan prostat yang dapat mempengaruhi sel stem
sehingga dapat berproliferasi. Oleh karena suatu sebab seperti faktor
usia, gangguan keseimbangan hormone dan faktor pencetus lain,
maka jumlah stem cell ini dapat bertambah sehingga terjadi proliferasi
lebih cepat. Terjadinya proliferasi abnormal stem cell sehingga
menyebabkan produksi atau proliferasi sel stroma dan sel epitel
kelenjar periuretral prostat menjadi berlebihan.
4. Teori Dihidrotestosteron (DHT)
Testosteron yang dihasilkan oleh sel leydig pada testis (90%) dan
sebagian dari kelenjar adrenal (10%) masuk dalam peredaran darah
dan 98% akan terikat oleh globulin menjadi sex hormon binding
globulin (SHBG). Sedang hanya 2% dalam keadaan testosteron bebas.
Testosteron bebas inilah yang bisa masuk ke dalam target cell yaitu
sel prostat melewati membran sel langsung masuk kedalam
sitoplasma, di dalam sel, testosteron direduksi oleh enzim 5-
reductase menjadi 5-dihidrotestosteron, yang kemudian bertemu
dengan reseptor yang ada di dalam sitoplasma sel prostat menjadi
kompleks DHT-reseptor. Kemudian DHT-reseptor ini mengalami
transformasi reseptor, menjadi nuclear receptor yang masuk kedalam
inti yang kemudian melekat pada kromatin dan menyebabkan
transkripsi m-RNA. RNA ini akan menyebabkan sintesis protein
menyebabkan terjadinya proliferasi sel kelenjar prostat
Gejala
Iritatif:Frequency = sering berkemih Obstruktif Melemahnya pancaran urin
Urgency = keinginan berkemh Intermittency = kencing terputus-
yang mendesak putus
Nocturia = terbangun di malam Hesitancy = rasa tidak
hari untuk berkemih puas setelah berkemih
Disuria = nyeri pada saat berkemih Straining = harus mengedan
Retensi urin
Inkontinensia
Tes Laboratorium

Peningkatan darah urea nitrogen (BUN) dan kreatinin serum, dan antigen prostat-
khusus ditinggikan (PSA)

Tes Diagnostik Lain

Penurunan laju aliran kemih (<10 mL / s),Peningkatan volume urin postvoid residual
(PVR)
Diagnosis
Diagnosis dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
1. Anamnesis, berupa munculnya gejala obstruktif dan iritatif yang
dialami pasien
2. Pemeriksaan fisik, dengan pemeriksaan colok dubur
Colok dubur pada hiperplasia prostat menunjukkan prostat teraba
membesar, konsistensi prostat kenyal seperti meraba ujung hidung,
permukaan rata, lobus kanan dan kiri simetris, tidak didapatkan nodul,
besar > 20 g dan menonjol ke dalam rektum. Pemeriksaan fisik apabila
sudah terjadi kelainan pada traktus urinaria bagian atas kadang-
kadang ginjal dapat teraba dan apabila sudah terjadi pielonefritis akan
disertai sakit pinggang dan nyeri ketok pada pinggang.
3. Pemeriksaan laboratorium, melalui darah (PSA, BUN, serum
kreatinin) dan urinalisis (untuk mengetahui ada tidaknya hematuria,
infeksi maupun inflamasi).
4. Pemeriksaan pencitraan (imaging), yaitu :
A. Foto polos abdomen
B. Pielografi intravena
C. Voiding Sistometrogram
D. Sistogram retrogard
E. USG transrectal pada prostat
F. USG pada ginjal
G. Biopsi prostat
5. Pemeriksaan lain
A. Uroflowmetri
Angka normal laju pancaran urin ialah 10-12 ml/detik dengan puncak laju pancaran
mendekati 20 ml/detik. Pada obstruksi ringan, laju pancaran melemah menjadi 6 8
ml/detik dengan puncaknya sekitar 11 15 ml/detik. Semakin berat derajat obstruksi
semakin lemah pancaran urin yang dihasilkan.
B. Tekanan pancaran
C. Volume residu urin (PVR)
Volume residu urin setelah miksi spontan dapat ditentukan dengan cara sangat
sederhana dengan memasang kateter uretra dan mengukur berapa volume urin yang
masih tinggal atau ditentukan dengan pemeriksaan ultrasonografi setelah miksi. Pada
orang normal sisa urin biasanya 0 mL atau kosong, sedang pada retensi urin total sisa
urin dapat melebihi kapasitas normal vesika. Besar PVR > 25-30 mL menandakan
kegagalan pengosongan kandung kemih dan beresiko munculnya infeksi saluran kemih.
Sisa urin lebih dari 100 cc biasanya dianggap sebagai batas indikasi untuk melakukan
intervensi pada penderita prostat hipertrofi
Tatalaksana
1. Watchful waiting (WW)
Watchful waiting dilakukan pada penderita dengan keluhan ringan, atau
sedang hingga berat namun tidak memiliki dampak atau berdampak
minimal pada kualitas hidup pasien. Tindakan yang dilakukan adalah
observasi saja tanpa pengobatan. Pasien yang sedang menjalani WW
secara periodik mengunjungi dokter untuk dilakukan monitoring
(Nicket, et al., 2010). Penenteraman hati pasien, pemberian
pemahaman mengenai penyakit ini, dan modifikasi gaya hidup
direkomendasikan untuk mengoptimalkan WW (Oelke, et al., 2005).
Modifikasi gaya hidup yang dapat dilakukan diantaranya buang air kecil
sebelum tidur, menghindari konsumsi kafein dan alkohol, pengosongan
kandung kemih yang lebih sering ketika tidak sedang tidur
2. Terapi obat
Terapi farmakologi BPH dapat dikategorikan menjadi 3 tipe, yaitu agen
yang bekerja merelaksasi otot polos prostate (menurunkan faktor
dinamik), agen yang mengganggu efek stimulasi testosterone pada
kelenjar prostate yang membesar (menurunkan faktor static), dan
kombinasi terapi dari keduanya.
A. -blockers,
Semua -blocker memiliki kemanjuran klinik yang mirip. Terapi
dengan -blocker brdasarkan hipotesis bahwa LUTS sebagian
disebabkan oleh kontraksi otot polos prostate dan leher kandung
kencing yang dimediasi oleh 1-adrenergik yang menghasilkan
tersumbatnya saluran kemih. Agen ini merelaksasi sfingter intrinsik
uretral dan otot polos prostate namun tidak mengecilkan ukuran
prostate.
B. 5-reductase-inhibitors (finasteride atau dutasteride),
Merupakan obat pilihan untuk pasien dengan LUTS
sedang/berat dan prostate membesar (>40 g). kedua obat
tersebut menurunkan volume prostate hingga 20-30% dan
memiliki kemanjuran klinik yang mirip. 5-reductase-
inhibitors dapat mencegah perkembangan BPH,
meningkatkan skor gejala hingga 15% dan juga dapat
menyebabkan peningkatan yang lumayan pada aliran
berkemih yaitu 1,3 1,6 mL/s
Terapi pembedahan
a. Transurethral Resection of the Prostate (TURP)
Dilakukan pada pasien baik dengan LUTS sedang atau pun berat, yang
menginginkan perawatan secara aktif, atau yang mengalami kegagalan terapi
atau tidak menginginkan terapi dengan obat. Menghilangkan bagian
adenomatosa dari prostat yang menimbulkan obstruksi dengan menggunakan
resektoskop dan elektrokauter
b. Transurethral Incision of the Prostate (TUIP)
Dilakukan terhadap penderita dengan gejala sedang sampai berat dan dengan
ukuran prostat kecil (<30 gram)
c. Open Prostatectomy
Diindikasikan untuk pasien dengan prostat terlalu besar untuk dilakukan TURP
karena takut penyembuhan tidak sempurna, perdarahan yang signifikan, atau
risiko dilusi natremia.
d. Transurethral electrovaporization (TUVP)
Merupakan alternative lain untuk TURP khususnya untuk pasien beresiko tinggi
dengan prostate kecil.
e. Laser Prostatectomy
Tekniknya antara lain Transurethral laser induced prostatectomy (TULIP) yang dilakukan
dengan bantuan USG, Visual coagulative necrosis, Visual laser ablation of the prostate
(VILAP), dan interstitial laser therapy.
f. Prostatic stents
Hanya diberikan kepada pasien yang memiliki resiko tinggi, yang ditunjukkan dengan
kekambuhan retensi urin sebagai alternatif kateterisasi, dan bagi mereka yang tidak
dapat menjalani terapi yang lainnya
g. Emerging techniques
Meliputi High-intensity focused ultrasound (HIFU), chemoablation of the prostate, water
induced thermotherapy (WIT) dan plasma energy in a saline
environment (PlasmaKinetic) yang hanya digunakan dalam percobaan klinis saja.
h. Obsolete techniques
Transurethral baloon dilatation : dilakukan dengan memasukkan kateter yang dapat
mendilatasi fosa prostatika dan leher kandung kemih. Dilatasi balon dan
transrektal/hipertermi transurethral tidak lagi direkomendasikan untuk mengatasi BPH.
Terapi Hormonal
Terapi hormon diberikan pada pria usia pertengahan dan
lanjut usia untuk mengatasi keluhan andropause. Selama
pengobatan oleh dokter, testosteron diberikan dalam
bentuk senyawa undarkanoat (4 mg/kapsul). Tujuan terapi
hormone adalah mengontrol keseimbangan hormon
testosteron sehingga dapat membantu mengatasi keluhan
gangguan Prostat.
Fitoterapi (Pygeum africanum, Serenoa Repens)
Agen ini terdiri atas berbagai macam ekstrak tanaman dan
selalu sulit dalam mengidentifikasi komponen mana yang
memiliki aktifitas biologis utama (Rosette, et al., 2004).
Meskipun fitoterapi digunakan secara luas di Eropa dalam
pengelolaan BPH, data publikasi mengenai penggunaan
agen herbal masih belum meyakinkan dan banyak
pertentangan.