Anda di halaman 1dari 26

Tutorial Minggu 3

OSTEOSARKOMA
Pada sel normal beberapa gen menghasilkan
protein yang disebut penekan tumor (tumor
suppressor) yang diperlukan untuk
mempertahankan pembelahan sel tetap
terkontrol. Gen penekan tumor yang berfungsi
normal akan mengontrol siklus perkembang
biakan sel dan pembelahan sel. Jika tidak
berfungsi dengan baik maka
perkembangbiakan sel tidak dapat terkendali
dan menimbulkan kanker.
Gen P53
P53 adalah salah satu contoh TSP yang
berfungsi untuk mencegah perbanyakan sel
yang sudah rusak. P53 memiliki berat molekul
53KD, berlokasi di kromosom ke 17 (17p13.1)
dan tersusun atas 393 asam amino. Apabila
terjadi kerusakan DNA, p53 akan mengatur
proses-proses penting seperti penghentian
siklus sel, perbaikan DNA, apoptosis.
Klasifikasi
Osteosarkoma berdasarkan lokasi dan hubungan
dengan korteks
tulang
1. Osteosarkoma intrameduler/intraosseus
2. Intrakortikal
3. Jukstakortikal
4. Ekstraskeletal/ekstraosseus
5. Stadium sekuensial pertumbuhan tumor pada
osteosarkoma tipe periosteal.
Asal tumor dari lapisan dalam periosteum (garis
terputus). Perkembangan
tumor akan merusak periosteum sehingga
menyebabkan reaksi periosteal
segitiga Codman.
6. Stadium sekuensial pertumbuhan tumor pada
osteosarkoma tipe
paroosteal. Asal tumor dari lapisan permukaan
periosteum (garis tak
terputus) . Tumor dapan langsung meluas ke jaringan
lunak sekitar tanpa
merusak periosteum (tidak seagresif periosteal)
Klasifikasi
Gambar 6. Foto polos
osteosarkoma konvensional11
a. Femur proyeksi AP : lesi
campuran litik dan sklerotik
dengan massa jaringan lunak
berisi matriks tulang imatur

b. Tibia proyeksi AP : tipe


osteoblastik tampak lesi
sklerotik berbatas tidak
tegas dengan reaksi periosteal
samar

c. Tibia proyeksi AP : lesi litik


(panah hitam) dengan segitiga
Codman
(kepala panah putih)
membatasi perluasan ke distal
tumor ekstraskeletal.
Ukuran tumor3
Stadium T1 : Jika ukuran lesi kurang dari 8
cm.
Stadium T2 : Jika ukuran lesi lebih dari 8 cm
Stadium T3 : Jika terdapat lesi yang
melompat.
Tingkat histopatologi (G)
G1 Diferensiasi baik
G2 Diferensiasi baik tingkat menengah
G3 Diferensiasi buruk
G4 Tidak berdiferensiasi
Luas tumor primer (T)
T1 Dimensi terbesar 8 cm
T2 Dimensi terbesar 8 cm
T3 Tumor diskontinu pada tulang primer
Keterlibatan linfonodi regional (N)
N0 Tak ada keterlibatan limfonodi regional
N1 Ada keterlibatan limfonodi regional
Metastasi jauh (M)
M0 Tak ada metastasis
M1a Ada metastasis di paru
M1b Ada metastasis jauh di tempat lain termasuk limfonodi
1. Riwayat Penyakit
Keluhan utama: Bengkak pada tulang dan

Nyeri (Terutama malam hari).

Biasanya sering diketahui penderita

(Famili) setelah adanya trauma ringan.

Pembesaran makin cepat apalagi kalau

dimanipulasi (diurut).
2. Pemeriksaan
Umum : KU jelek pada Std akhir

Lokal

Pembengkakan dengan batas tidak tegas, venectasi (+),


kulit mengkilat (Shinny) dan bisa ada ulcus

Perabaan lunak, panas dan sering ada bising pembuluh darah

Bisa disertai pembesaran kel lymfe regional.

Bahagian distal : atrofi & ggn neurovaskuler


Metastase
Metastase : Lebih banyak hematogen

Metastase dapat ke :

Hepar

Paru (Coin Lesion): Diduga saat D/ ditegakkan

sudah ada mikrometastase ke Paru

Tulang lain : pelvis, vertebra , cranium dll


3. Radiologi
Giant Cell Tumor
Histoplatologis
Gambar 1. Gambaran
makroskopis dari giant
cell tumor pada distal radius.
Tumornya didomonasi oleh
foam cells, yang menyebabkan
warna kuning terang
Mikroskopis

Gambaran tumor giant cell


dengan aktivitas mitosis
dan bentuk sel
atypia yang jarang
Radiologi
Giant cell tumor stadium II
Tatalaksana
Bone cement Bone graft
Tatalaksana
Protesi
KONDROSARKOMA
Radiologi Kondrosarkoma
Gambar 4. Kondrosarkoma di tibia AP/lateral:
menunjukkan lesi dominan litik didiafisis yang
meluas. Area mineralisasi matrik kondroit
terlihat di superior (panah besar) dan fokus deep
scalloping (panah kecil), remodeling
kortek dan reaksi periosteal (kepala panah)
posisi lateral
Diagnosis Banding
Enkondroma
Rontgen MRI
Osteoid Osteoma
Radiologi