Anda di halaman 1dari 38

SEMINAR

MAHASISWA KEBIDANAN
POLITEKKES KEMENKES
MALUKU

R . S B H AYA N G K A R A , R A B U 2 3 M E I 2 0 1 8
ASUHAN KEBIDANAN
PADA IBU MEL AHIRK AN
DENGAN RETENSIO
P L A S E N TA
D I R S B H AYA N G K A R A A M B O N
PENGERTIAN
Istilah retensio plasenta dipergunakan jika plasenta belum lahir ½ jam sesudah anak lahir.
(Sastrawinata, 2008:174)

Pengertian tersebut juga dikuatkan oleh Winkjosastro (2006:656) yang menyebutkan


retensio plasenta adalah apabila plasenta belum lahir setangah jam setelah janin lahir.

Retensio plasenta adalah belum lepasnya plasenta dengan melebihi waktu setengah jam.
Keadaan ini dapat diikuti perdarahan yang banyak, artinya hanya sebagian plasenta yang telah lepas
sehingga memerlukan tindakan plasenta manual dengan segera. Bila retensio plasenta tidak diikuti
perdarahan maka perlu diperhatikan ada kemungkinan terjadi plasenta adhesive, plasenta akreta,
plasenta inkreta, plasenta perkreta. (Manuaba (2006:176).

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa retensio plasenta ialah plasenta
yang belum lahir dalam setengah jam setelah janin lahir, keadaan ini dapat diikuti perdarahan yang
banyak, artinya hanya sebagian plasenta yang telah lepas sehingga memerlukan tindakan plasenta
manual dengan segera.
JENIS-JENIS RETENSIO PLASENTA
A. Plasenta Adhesive : Implantasi yang kuat dari jonjot
korion plasenta sehingga menyebabkan kegagalan
mekanisme separasi fisiologis
B. Plasenta Akreta : Implantasi jonjot korion plasenta
hingga memasuki sebagian lapisan miometrium.
C. Plasenta Inkreta : Implantasi jonjot korion plasenta
yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan
serosa dinding uterus.
D. Plasenta Prekreta : Implantasi jonjot korion plasenta
yang menembus lapisan serosa dinding uterus hingga ke
peritonium
E. Plasenta Inkarserata : Tertahannya plasenta di dalam
kavum uteri disebabkan oleh konstriksi ostium uteri.
(Sarwono, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,
2002:178).
ETIOLOGI RETNSIO PLASENTA
Penyebab Retentio Plasenta menurut Sastrawinata (2006:174) adalah:

• Fungsional:
1. His kurang kuat (penyebab terpenting)
2. Plasenta sukar terlepas karena tempatnya (insersi di sudut tuba); bentuknya (plasenta
membranasea, plasenta anularis); dan ukurannya (plasenta yang sangat kecil). Plasenta yang sukar
lepas karena penyebab di atas disebut plasenta adhesive.
• Patologi – anatomi:
1. Plasenta akreta
2. Plasenta inkreta
3. Plasenta perkreta
Sebab-sebabnya plasenta belum lahir bisa oleh karena:
1. Plasenta belum lepas dari dinding uterus
2. Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan.
Menurut Manuaba (2006:301) kejadian retensio plasenta berkaitan dengan:

1. Grandemultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesive, plasenta akreta,
plasenta inkreta, dan plasenta perkreta
2. Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan

• Retensio plasenta tanpa perdarahan dapat diperkirakan:


1. Darah penderita terlalu banyak hilang
2. Keseimbangan baru berbentuk bekuan darah, sehingga perdarahan tidak terjadi
3. Kemungkinan implantasi plasenta terlalu dalam

• Plasenta manual dengan segera dilakukan :


1. Terdapat riwayat perdarahan postpartum berulang
2. Terjadi perdarahan postpartum berulang
3. Pada pertolongan persalinan dengan narkosa
4. Plasenta belum lahir setelah menunggu selama setengah jam
ANATOMI
• Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15 sampai 20 cm dan tebal lebih
kurang 2.5 cm. Beratnya rata-rata 500 gram. Tali-pusat berhubungan dengan plasenta biasanya di
tengah (insertio sentralis).
• Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan lebih kurang 16 minggu dengan ruang amnion
telah mengisi seluruh kavum uteri. Bila diteliti benar, maka plasenta sebenarnya berasal dari sebagian
besar dari bagian janin, yaitu vili koriales yang berasal dari korion, dan sebagian kecil dari bagian ibu
yang berasal dari desidua basalis.
• Darah ibu yang berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yang berada di desidua basalis.
Pada sistole darah disemprotkan dengan tekanan 70-80 mmHg seperti air mancur ke dalam ruang
interviller sampai mencapai chorionic plate, pangkal dari kotiledon-kotiledon janin. Darah tersebut
membasahi semua vili koriales dan kembali perlahan-lahan dengan tekanan 8 mmHg ke vena-vena di
desidua.
• Plasenta berfungsi: sebagai alat yang memberi makanan pada janin, mengeluarkan sisa metabolisme
janin, memberi zat asam dan mengeluarkan CO2, membentuk hormon, serta penyalur berbagai
antibodi ke janin.
GEJALA KLINIS

• Anamnesis, meliputi pertanyaan tentang periode prenatal, meminta informasi mengenai episode
perdarahan postpartum sebelumnya, paritas, serta riwayat multipel fetus dan polihidramnion.
Serta riwayat pospartum sekarang dimana plasenta tidak lepas secara spontan atau timbul
perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan.

• Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta tidak ditemukan di dalam kanalis servikalis tetapi secara
parsial atau lengkap menempel di dalam uterus.
TANDA DAN GEJALA

A. Plasenta Akreta Parsial / Separasi B. Plasenta Inkarserata

• Konsistensi uterus kenyal • Konsistensi uterus keras • Konsistensi uterus cukup


• TFU setinggi pusat\ • TFU setinggi pusat
• TFU 2 jari bawah pusat
• Bentuk uterus discoid
• Bentuk uterus discoid • Bentuk uterus globular • Perdarahan sedikit / tidak ada
• Perdarahan sedang – banyak • Perdarahan sedang • Tali pusat tidak terjulur
• Tali pusat terjulur sebagian • Tali pusat terjulur • Ostium uteri terbuka
• Separasi plasenta melekat
• Ostium uteri terbuka • Ostium uteri terbuka
seluruhnya
• Separasi plasenta lepas sebagian • Separasi plasenta sudah lepas • Syok jarang sekali, kecuali
• Syok sering • Syok jarang akibat inversio oleh tarikan
kuat pada tali pusat
• Plasenta Akreta
PEMERIKSAAN PENUNJANG

• Hitung darah lengkap: untuk menentukan tingkat hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Hct),
melihat adanya trombositopenia, serta jumlah leukosit. Pada keadaan yang disertai dengan
infeksi, leukosit biasanya meningkat.

• Menentukan adanya gangguan koagulasi dengan hitung Protrombin Time(PT) dan Activated Partial
Tromboplastin Time (APTT) atau yang sederhana dengan Clotting Time (CT) atau Bleeding
Time (BT). Ini penting untuk menyingkirkan perdarahan yang disebabkan oleh faktor lain.
PENANGANAN
Penanganan retensio plasenta atau sebagian plasenta adalah:
• Resusitasi. Pemberian oksigen 100%. Pemasangan IV-line dengan kateter yang berdiameter besar serta pemberian
cairan kristaloid (sodium klorida isotonik atau larutan ringer laktat yang hangat, apabila memungkinkan). Monitor
jantung, nadi, tekanan darah dan saturasi oksigen. Transfusi darah apabila diperlukan yang dikonfirmasi dengan hasil
pemeriksaan darah.
• Drips oksitosin (oxytocin drips) 20 IU dalam 500 ml larutan Ringer laktat atau NaCl 0.9% (normal saline) sampai uterus
berkontraksi.
• Plasenta coba dilahirkan dengan Brandt Andrews, jika berhasil lanjutkan dengan drips oksitosin untuk mempertahankan
uterus.
• Jika plasenta tidak lepas dicoba dengan tindakan manual plasenta. Indikasi manual plasenta adalah: Perdarahan pada kala
tiga persalinan kurang lebih 400 cc, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah persalinan buatan yang sulit
seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir, tali pusat putus.
• Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan
kuretage sisa plasenta. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Kuretase harus dilakukan di
rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus.
• Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan
atau per oral.
• Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan infeksi sekunder.
(Sulisetiya.blogspot.com/2010/03).
KOMPLIKASI
• Plasenta harus dikeluarkan karena dapat menimbulkan bahaya:
• Perdarahan
Terjadi terlebih lagi bila retensio plasenta yang terdapat sedikit perlepasan hingga kontraksi memompa darah
tetapi bagian yang melekat membuat luka tidak menutup.
• Infeksi
Karena sebagai benda mati yang tertinggal di dalam rahim meningkatkan pertumbuhan bakteri dibantu dengan
port d’entre dari tempat perlekatan plasenta.
• Dapat terjadi plasenta inkarserata dimana plasenta melekat terus sedangkan kontraksi pada ostium baik hingga
yang terjadi.
• Terjadi polip plasenta sebagai massa proliferative yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis
• Dengan masuknya mutagen, perlukaan yang semula fisiologik dapat berubah menjadi patologik (displastik-
diskariotik) dan akhirnya menjadi karsinoma invasif. Sekali menjadi mikro invasive atau invasive, proses
keganasan akan berjalan terus.
Sel ini tampak abnormal tetapi tidak ganas. Para ilmuwan yakin bahwa beberapa perubahan abnormal pada sel-
sel ini merupakan langkah awal dari serangkaian perubahan yang berjalan lambat, yang beberapa tahun kemudian
bisa menyebabkan kanker. Karena itu beberapa perubahan abnormal merupakan keadaan prekanker, yang bisa
berubah menjadi kanker.
• Syok haemoragik (Manuaba, IGB. 1998 : 300)
TERAPI
• Bila tidak terjadi perdarahan : perbaiki keadaan umum penderita bila perlu misal: infus atau transfusi,
pemberian antibiotika, pemberian antipiretika, pemberian ATS. Kemudian dibantu dengan
mengosongkan kandung kemih. Lanjutkan memeriksa apakah telah terjadi pemisahan plasenta
dengan cara Klein, Kustner atau Strassman.
Bila terjadi perdarahan: lepaskan plasenta secara manual, jika plasenta dengan pengeluaran manual
tidak lengkap dapat disusul dengan upaya kuretase.
Bila plasenta tidak dapat dilepaskan dari rahim, misal plasenta increta/percreta, lakukan
hysterectomia.
• Cara untuk melahirkan plasenta:
1) Dicoba mengeluarkan plasenta dengan cara normal : Tangan kanan penolong meregangkan tali
pusat sedang tangan yang lain mendorong ringan.
2) Pengeluaran plasenta secara manual (dengan narkose)
Melahirkan plasenta dengan cara memasukkan tangan penolong kedalam cavum uteri,
melepaskan plasenta dari insertio dan mengeluarkanya.
3) Bila ostium uteri sudah demikian sempitnya, sehingga dengan narkose yang dalam pun tangan
tak dapat masuk, maka dapat dilakukan hysterectomia untuk melahirkan plasentanya.
MANUAL PLASENTA
• Manual Plasenta merupakan tindakan operasi kebidanan untuk melahirkan retensio plasenta. Teknik operasi manual plasenta tidaklah
sukar, tetapi harus diperkirakan bagaimana persiapkan agar tindakan tersebut dapat menyelamatkan jiwa penderita.
• Kejadian retensio plasenta berkaitan dengan :
• Grandemultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesive dan plasenta akreta serta Plasenta inkreta dan plasenta
perkreta.
• Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan.
• Retensio plasenta tanpa perdarahan dapat diperkirakan:
– Darah penderita terlalu banyak hilang.
– Keseimbangan baru berbentuk bekuan darah, sehingga perdarahan tidak terjadi.
– Kemungkinan implantasi plasenta terlalu dalam.
• Manual Plasenta dengan segera dilakukan:
– Terdapat riwayat perdarahan postpartum berulang.
– Terjadi perdarahan postpartum melebihi 400 cc
– Pada pertolongan persalinan dengan narkosa.
– Plasenta belum lahir setelah menunggu selama setengah jam.
• Manual Plasenta dalam keadaan darurat dengan indikasi perdarahan di atas 400 cc dan terjadi retensio plasenta (setelah menunggu ½
jam). Seandainya masih terdapat kesempatan penderita retensio plasenta kdapat dikirim ke puskesmas atau rumah sakit sehingga
mendapat pertolongan yang adekuat.
• Dalam melakukan rujukan penderita dilakukan persiapan dengan memasang infuse dan memberikan cairan dan dalam persalinan diikuti
oleh tenaga yang dapat memberikan pertolongan darurat.
TINDAKAN MANUAL PLASENTA
MANAJEMEN
ASUHAN
KEBIDANAN IBU
BERSALIN
D E N G A N R E T E N S I O P L A S E N TA
D I R S B H AYA N G K A R A A M B O N
LANGKAH I: IDENTIFIKASI DATA DASAR

• IDENTITAS PASIEN • KELUHAN UTAMA:


Pengeluaran darah pervagina dan placenta
belum lahir dua jam setelah bayi lahir
Nama ibu : Ny. W Nama suami : Tn. S • RIWAYAT KELUHAN UTAMA:
Umur : 35 Tahun Umur :37Tahun Suami mengatakan ibu telah bersalin pada
Agama : Islam Agama : Islam jam 04.55 WIT ditolong oleh dukun dan
Pendidikan : S1 Pendidikan : SMA selama dua jam ari-ari belum keluar dan
Pekerjaan : PNS Pekerja : Wiraswasta keluar darah yang banyak dari jalan lahir
Alamat : Stain Alamat : Stain sehingga pada jam 07.40 wit ibu di bawah
ke Rumah Sakit Bhayangkara.
• RIWAYAT MENSTRUASI • RIWAYAT KEHAMILAN SEKARANG:
Menarche : 13 Tahun G3P2AO
Siklus Haid : 28-30 Hari HPHT: 17 juni 2017 TP : 24 maret 2018
Lamanya : 5-7 Hari ANC : 4 kali
Dismenorhea : Tidak Ada TM I : 1 kali pada usia kehamilan 12 Minggu
TM II : 1 kali pada usia kehamilan 24 Minggu
TM III: 2 kali pada usia kehamilan 28 minggu dan
32 Minggu
• RIWAYAT KEHAMILAN, PERSALINAN DAN NIFAS YANG LALU
Keadaan bayi
Masa
Tempatbersa
Tahun Penolong Cara Bersalin Laktasi Keadaan sekarang
Gestasi lin Jenis kelamin BB/PB lahir

2004 9 Bulan RS Bidan Spontan Laki-laki 3.100gr/ 47 cm Ya sehat

2007 9 Bulan RS Bidan Spontan Perempuan 2.800gr/ 41 cm Ya sehat


• RIWAYAT IMUNISASI
Imunisasi TT : 4 Kali
TT 1 dan TT 2 : Pada kehamilan pertama
TT 3 : Pada Kehamilan Kedua
• POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI:
TT 4 : Pada Hamil ini UK 12
Minggu 1. Nutrisi
Makan : 2 x sehari dengan porsi sedang
• RIWAYAT KELUARGA BERENCANA Minum : 7-8 gelas air putih sehari
Ibu merupakan aseptor KB IUD sejak tahun 2010-2016 Setelah partus: ibu sudah makan dan minum
dan tidak mengalami keluhan apapun 2. Eliminasi
• RIWAYAT KESEHATAN YANG LALU: BAB : 1 kali sehari dengan konsistensi lunak
Ibu tidak pernah menderita penyakit menular seperti BAK : 4-5 kali sehari, berbau khas
TBC, Hepatitis, penyakit menular seksual, tidak Setelah partus: BAK (+), BAB (-)
pernah menderita penyakit menurun seperti DM,
3. Istirahat
Asma, Hipertensi serta tidak mempunyai keturunan
kembar Tidur siang : 1 jam perhari
• RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA: Tidur malam : 4-5 jam perhari
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada keturunan Setelah partus: ibu belum istirahat
kembar, tidak ada yang menderita penyakit menurun
seperti DM, Asma, Hipertensi, dan tidak ada yang
menderita penyakit menular seperti TBC, Hepatitis,
penyakit menular seksual
DATA OBJEKTIF
• PEMERIKSAAN UMUM:
Keadaan umum : Lemah
Kesadaran : composmentis

• TANDA-TANDA VITAL:
TD : 90/80 mmHg
Nadi : 84 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 36,5oC
• ANTROPOMETRI:
TB : 157 cm
BB Sebelum hamil : 55 kg
BB Selama hamil : 59kg
LILA : 23,5 cm
PEMERIKSAAN FISIK
• Kepala • Mulut
Inspeksi : rambut hitam, bersih dan tidak Inspeksi : Mucosa bibir kering, tidak ada
ada ketombe,. stomatitis gigi terdapat karies pada molar kanan,
Palpasi : tidak ada benjolan atau massa. lidah bersih.

• Wajah • Telinga

Inspeksi : ada cloasma gravidarum, wajah Inspeksi : bersih, tidak ada serumen
pucat,ibu menahan sakit. • Leher
Palpasi : tidak ada oedem Inspeksi : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe
• Mata dan tidak ada ada pembesaran kelenjar tiroid. Tidak
terdapat bendungan vena jugularis.
Inspeksi :Simetris, tidak ada secret,
sclera berwarna putih Conjungtiva pucat Palpasi : Tidak teraba pembesaran kelenjar limfe
dan kelenjar tiroid. Tidak terdapat bendungan vena
• Hidung jugularis.
Inspeksi :Penafasan spontan, tidak ada secret,
tidak ada polip.
• Dada
Inspeksi : Bentuk simetris, bentuk mammae simetris,
hiperpigmentasi pada areola mammae, putting susu • Ekstermitas Bawah
menonjol keluar, kolostrum sudah keluar. Inspeksi : ujung-ujung jari pucat.
Palpasi : tidak teraba benjolan abnormal. Palpasi : tidak ada oedem dan varises.
Abdomen • Genetalia
Inspeksi : Tidak ada luka bekas operasi, Inspeksi : tali pusat terlihat diluar vagina, keluar
hiperpigmentasi pada perut, Linea Nigra, dan Striae Albicam perdarahan ± 250-300 cc
Palpasi : TFU setinggi pusat, kontraksi uterus tidak ada Palpasi :Vulva tidak ada odem/varises.
dan lembek.
• Anus
• EkstremitasAtas
Inspeksi : Tidak ada hemorrhoid.
Inspeksi : ujung-ujung jari pucat, tidak a
Palpasi : Tidak ada hemorrhoid.
da varises.
Palpasi : tidak ada oedem.

PEMERIKSAAN PENUNJANG :
DATA BAYI

• BB lahir: 3.200 gram Tanggal: 27-Februari-2018 Jam : 09.00 WIT


• PB lahir: 42 cm
• Refleks morrow : (+) Hb : 9.6 gram %
• Refleks Grossping : (+)
• Refleks Sucking : (+) Golongan darah : O
LANGKAH II : INTERPRETASI DATA DASAR
• DIAGNOSA : P3A0 inpartu KALA III dengan Retensio Plasenta
• DATA DASAR:
• Ds :
1. Ibu mengatakan bahwa ini adalah persalinan ketiganya.
2. Keluarga mengatakan Ibu telah melahirkan bayi jam 04.55 WIT tetapi ari-ari belum
lahir.
• Do:
1. Keadaan umum lemah 7. Tali pusat terlihat diluar vagina.
2. Tanda-tanda vital: 8. Kontraksi uterus lemah
3. TD : 90/80 mmHg 9. Perdarahan ± 250 – 300 cc
10. TFU setinggi pusat
4. Nadi : 84 x/menit 11. Hb9,6 gr %
5. Pernapasan: 20 x/menit
6. Suhu : 36,5oC
L ANGK AH III : IDENTIFIK ASI MASAL AH POTENSIAL

• Syok Hipovolemik

LANGKAH IV : KEBUTUHAN TINDAKAN


SEGERA/KOLABIRASI

1. Pasang Infuse RL 1 botol dengan cara diguyur

2. Kolaborasi dengan dokter SpoG untuk pemberian :

Drips Oxytosin 10 unit dalam 500 ml larutan RL dengan jumlah tetesan 40 tpm

dilanjutkan dengan 28 tpm

1. Manual Plasenta
LANGKAH V : INTERVENSI
• Diagnosa : P3A0 inpartu KALA III dengan Retensio Plasenta :
• Masalah Actual : Anemia Sedang
• Masalah Potensial : Potensial terjadi syok hipovolemik
• Tujuan :
1. Plasenta lahir lengkap
2. Anemia Sedang teratasi
3. Syok hipovolemik tidak terjadi
• Kriteria :
1. Plasenta dan selaput ketuban lahir lengkap
2. Perdarahan berhenti
3. Keadaan ibu baik
4. TTV dalam batas normal
• Jelaskan pada pasien tindakan yang akan dilakukan • Observasi kontraksi uterus, TFU dan pendarahan
Rasional: kecemasan pasin akan berkurang bila Rasional: dengan memantau kontraksi uterus, TFU dan
sebelum melakukan sebuah tindakan yang pendarahan dapat menggambarkan keadaan involusio dan
dilakukan oleh bidan dapat menentukan tindakan selanjutnya
• Pasang infuse RL 1 botol dengan cara diguyur • Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian therapy oral
Rasional : Menstabilkan keadaan umum ibu Anjurkan ibu istirahat yang cukup dan ciptakan suasana tenang
• Kosongkan kandung kemih Rasional: Memberi kesempatan pada otak dan otot ibu untuk
Rasional: Memperlancar dan tidak terjadi relaksasi setelah proses persalinan sehingga pemulihan tenaga
penekanan pada saat melakukan manual plasenta ibu berlangsung baik

• Lakukan manual plasenta • Beri intake yang adekuat

Rasional: Agar tidak terjadi pendarahn terus Rasional: mengembalikan cairan tubuh yang hilang dan
menerus dan melahirkan plasenta menambah sumber tenaga bagi ibu

• Kolaborasi dengan dokter Spog Untuk drips • Observasi TTV tiap 15 menit pada 1 jam pertama dan 30
oksitosin 10 unit dalam 500 ml larutan RL menit pada jam kedua

Rasional: Meningkatkan kontraktilitas dari uterus Rasional: Merupakan indikator untuk mengetahui terjadinya
syok secara dini
LANGKAH VI: IMPLEMENTASI
• Menjelaskan pada ibu tentang tindakan yang akan dilakukan

Hasil : Ibu mengerti dengan keadaannya

• Memasang Infuse RL dengan cara diguyur

Hasil: infuse RL terpasang

• Mengosongkan kandung kemih

Hasil: kandung kemih dalam keadaan kosong

• Melakukan Manual Plasenta

Hasil: Plasenta belum lahir karena keadaan ibu yang belum stabil
• Penatalaksaan Pemberian oksitosin 10 Unit IV dalam 500 ml larutan RL dengan jumlah tetesan

40tpm dilanjutkan RL 28 tpm

• Melakukan Manual Plasenta kedua

Hasil: Plasenta lahir lengkap pada tanggal 27-Februari-2018 jam: 13.00 WIT

• Mengobservasi, kontaksi uterus, TFU, dan perdarahan

Hasil: Kontraksi: Baik, TFU: 1 jari Dibawah Pusat, perdarahan 150cc

• Memberikan terapi sesuai anjuran dokter berupa:


• Asamefemanat 3x1
• Damovit 1x1
• Cefotaxime 1gr/12 jam IV
• Metrodinazole 0,5 gram/8 jam

• Hasil: Ibu Telah meminum obat

• Mengobservasi TTV tiap 15 menit pada 1 jam pertama dan 30 menit pada jam kedua

Hasil:
Waktu Tekanan darah Nadi Respirasi
Jam ke Suhu TFU Kontraksi Kandung kemih
(WIT) (mmHg) (X/menit) (x/menit)

13.10 100/60 80 16 37oC 1 jari dibawah pusat Baik Kosong

13.25 100/60 83 18 1 jari dibawah pusat Baik Kosong


I
13.40 100/60 81 18 1 jari dibawah pusat Baik Kosong

13.55 100/70 79 20 1 jari dibawah pusat Baik Kosong

14.25 100/80 84 18 37oC 1 jari dibawah pusat Baik Kosong


II
14.55 100/90 80 18 1 jari dibawah pusat Baik Kosong

• Melakukan Transfusi darah ( tanggal : 27-Februari-2018 Jam: 16.00 WIT)

Hasil: 1 kolf Darah terpasang


LANGKAH VII : EVALUASI
Tanggal : 27-Februari-2018 Jam: 15.00 WIT

• Keadaan umum klien Baik


• Kontraksi uterus baik teraba bundar dan keras
• Plasenta dan selaput ketuban lahir lengkap pada jam: 13.00 WIT
• TFU 1 jari di bawah pusat
• Pendarahaan berkurang
• TTV dalam batas normal:
• TD : 100/90 mmHg
• Nadi : 80 x/menit
• Pernapasan : 18 x/menit
• Suhu : 37oC
CATATAN PERKEMBANGAN I
Tanggal : 27-Februari-2018 Jam: 20.00 WIT

SUBJEKTIF ( S )

Ibu mengatakan masih merasa lelah, nyeri pada perut dan sedikit mules

OBJEKTIF ( O )

Keadaan umum : baik


Kesadaran : compos mentis
TTV :
• Tekanan darah : 110/80 mmHg
• Nadi : 80 kali / menit
• Respirasi : 22 kali / menit
• Suhu : 37,5 oC
TFU : 1 jari di bawah Pusat
Kontraksi : baik
ASSESMENT ( A )

Post Manual Plasenta hari Pertama

PLANNING ( P )

 Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.

Kontraksi baik dan pengeluaran pervaginam kurang lebih 50cc.

 Memeriksa TTV dan keadaan kandung kemih ibu.


 Tekanandarah : 110/80 mmHg
 Nadi : 80 kali / menit
 Respirasi : 22 kali / menit
 Suhu : 37,5 oC

 Mendokumentasikan asuhan yang telah diberikan.

asuhan yang telah diberikan telah di dokumentasikan


CATATAN PERKEMBANGAN II

Tanggal : 28-Februari-2018 Jam: 12.00 WIT

SUBJEKTIF ( S )

Ibu merasa Sehat dan sudah bisa istirahat dengan baik

OBJEKTIF ( O )

Keadaan umum : baik

Kesadaran : compos mentis

TTV :

 Tekanandarah : 110/80 mmHg


 Nadi : 80 kali / menit
 Respirasi : 22 kali / menit
 Suhu : 37,5 oC
ASSESMENT ( A )

Post Manual Plasenta hari Kedua

PLANNING ( P )

 Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.

Kontraksi baik dan pengeluaran pervaginam kurang lebih 50cc.

 Memeriksa TTV
 Tekanandarah : 110/80 mmHg
 Nadi : 80 kali / menit
 Respirasi : 22 kali / menit
 Suhu : 37,5 oC

 Melakukan Kontrol ulang Hb

Hb: 10,8 gr% (Tanggal : 28 Februari 2018, Jam : 10.00 WIT)


• Melakukan USG

• Tidak ada plasenta maupun selaput ketuban yang tertinggal

• Memberikan HE tentang:

 Personal hygiene

 Istirahat yang cukup

 Gizi seimbang

 KB Post Partum

• Ibu Mengerti

• Mendokumentasikan asuhan yang telah diberikan.

• asuhan yang telah diberikan telah di dokumentasikan.


Plasenta membranasea, dengan bentuk tipis sekali dan
lebar
Plasenta anularis, plasenta berbentuk cincin

persalinan dengan narkosa atau persalinan yang


dilakukan dengan menggunakan anastesi yang terlalu
dalam