Anda di halaman 1dari 69

PENGANTAR ANTIBIOTIKA

Pengantar Antibiotika
Aktivitas dan Spektrum
Mekanisme Kerja
Mekanisme Kerja
Mhambat sintesis ddg sel mhambat sintesis enzim 
mgganggu sintesis peptidoglikan (rantai glikan ttd untaian
linear 2 gula amino yg terikat silang dgn ikatan peptide)

Biosistesis peptidoglikan dicapai mll Rx Transpeptidasi yg


dikatalisis oleh Enzim Transpeptidase

Enz.Transpeptidase diasilasi oleh AB β laktam 


terbentuknya enzim penisiloil disertai putusnya ikatan
-CO-N- pada cincin β laktam

Phambatan Transpeptidase  pbentukan ikatan silang yg


penting utk integritas ddg sel tdk tjd mudah
terdegradasi & lisis yg cepat.
Mekanisme Kerja
Sel mikroba perlu mensintesis protein utk kehidupannya.
Penghambatan sintesis protein tjd dgn berbagai cara.

AB  berikatan pd ribosom subunit 30S


(Aminoglikosid,tetrasiklin) dan 50S (kloramfenikol,
makrolida

Ikatan tsb mhambat masuknya tRNA aminoasil ke sisi


akseptor pd kompleks mRNA kode pada mRNA salah
dibaca oleh tRNA saat sintesis protein terbentuk
protein abnormal
Mekanisme Kerja
Mhambat sintesis asam nukleat sel mikroba  berikatan
dgn DNA girase  mhambat replikasi DNA

Mhambat DNA girase ( enzim yg bertanggung jawab


pada terbuka dan tertutupnya ikatan heliks)

Pengikatan AB pada enzim & DNA  menghambat langka


penggabungan kembali  menyebabkan kematian sel
Mekanisme Kerja
Mhambat metabolisme sel mikroba  menghambat
enzim-enzim esensial dlm metabolisme folat.

Koenzim asam folat  diperlukan utk sintesis purin


pirimidin dan senyawa lain  diperlukan utk
pertumbuhan selular dan replikasi.

AB bekerja mhambat sintesis asam folat  asam folat


tidak ada maka sel tdk dpt tumbuh dan membelah
Terapi Empirik
Terapi Empirik
Rasionalitas Penggunaan Antibiotik
Interaksi dan Efek Samping
Kombinasi Antimikroba
 Harus selektif  indikasi tepat
• Indikasi
– Pngobatan inf cmpuran
– Pngobatan awal pd inf berat yg etiologi blm jls
– Mdptk efek sinergis
– Mplambat timbulnya resistensi
• Contoh
– As. Klavulanat – amoksisilin
– Sulbaktam – ampisilin
– Sulfonamid – trimetoprim
– Sulfadoksin - pirimetamin
Resistensi Antibiotik
Kemampuan bakteri untuk menetralisir
dan melemahkan daya kerja antibiotik.

1)Merusak antibiotik dengan enzim yang diproduksi.


2)Mengubah reseptor titik tangkap antibiotik.
3)Mengubah fisiko-kimiawi target sasaran antibiotik pd sel
bakteri.
4)Antibiotik tidak dapat menembus dinding sel, akibat perubahan
sifat dinding sel bakteri.
5)Antibiotik masuk ke dalam sel bakteri, namun segera
dikeluarkan dari dalam sel melalui mekanisme transport aktif ke
luar sel.
Kuinolon
Golongan Kuinolon
Generation Drug Names Spectrum
nalidixic acid Gram- but not
1st cinoxacin Pseudomonas species

norfloxacin Gram- (including


ciprofloxacin Pseudomonas species),
2nd some Gram+ (S. aureus)
enoxacin
and some atypicals
ofloxacin
levofloxacin Same as 2nd generation
sparfloxacin with extended Gram+ and
3rd atypical coverage
moxifloxacin
gemifloxacin

*trovafloxacin Same as 3rd generation


4th with broad anaerobic
coverage

*withdrawn from the market in 1999


AKTIVITAS DAN MEKANISME KERJA
INDIKASI

• Infeksi saluran kemih :


– Prostatitis, Uretritis, Servisitis dan Pielonfritis.
• Infeksi saluran cerna :
– Demam Tifoid dan Paratifoid
• Infeksi saluran nafas bawah :
– Bronkitis, Pneumonia, Sinusitis
• Penyakit yang ditularkan melalui hubungan kelamin :
– Gonore
• Infeksi jaringan lunak dan tulang :
– Osteomielitis.
EFEK SAMPING

 Golongan antibiotika Kuinolon umumnya dapat


ditoleransi dengan baik.
 Efek samping pada saluran cerna dan SSP
 Pada saluran cerna  mual dan hilang nafsu makan,
 Pada SSP  sakit kepala, vertigo, dan insomnia.
 Efek samping yang lebih berat dari Kuinolon seperti
psikotik, halusinasi, depresi dan kejang jarang terjadi
terutama Penderita berusia lanjut, khususnya
dengan arteriosklerosis atau epilepsi,
Kotrimoksasol
• Efek Samping
– Rx kulit
– Sal cerna  mual, muntah, diare
– SSP  skt kpla, depresi, halusinasi
– Hematologik : anemia, ggn koagulasi,
granulositopenia, agranulositosis, purpura
Henoch-Schonlein, sulfhemoglobinemia

• Kontraindikasi : stomatitis, glositis


Aminoglikosida
• Aminoglikosida  sekelompok antibiotik bersifat
bakterisid  berasal dari spesies Streptomyces
dan mempunyai sifat kimiawi, antimikroba,
farmakologi dan efek toksik yang sama
 Aktivitas terutama pd basil gram-negatif yg aerobik
 Aktivitas thd bakteri gram-positif sangat terbatas.
 Aktivitas aminoglikosid dipengaruhi berbagai
faktor
 perubahan pH,
 keadaan aerobik-anaerobik
I
Indikasi
• Streptomisin :
Tuberkulosis, pneumonia, bruselosis.
• Neomisin :
Infeksi mata, telinga, kulit, diare krn E.coli.
• Kanamisin:
Enteritis dan sirosis hati
• Gentamsin dan tobramisin;
Infeksi abdomen, jar. Halus, tulang, sendi,
sal.kemih, pneumonia dan meningitis
EFEK SAMPING
Alergi
• Potensinya untuk menimbulkan alergi rendah.
• Kadang-kadang dapat terjasi reaksi kulit memerah,
eosinofilia, demam, kelainan darah, dermatitis,
angioudem, stomatitis dan syok anafilaksis.

Reaksi iritasi
• Reaksi iritasi berupa rasa nyeri di tempat penyuntikan.
• Suntikan diikuti radang dan peningkatan suhu 0,5-1,5
derajat C.
Misal: pada penyuntikan sreptomisin i.m.
Efek Ototoksik

▪ Ototoksisitas aminoglikosida disebabkan oleh oleh


berbagai faktor antara lain :
○ besarnya dosis
○ usia tua
○ riwayat penggunaan suatu obat ototoksik
○ pemberian bersama asam
○ kadar puncak dan kadar lembah yang meningkat,
○ terapi berkepanjangan
○ demam.
• Efek ototoksik terjadi pada saraf otak ke 8 (nervus
auditorius) yang mengenai komponen vestibular dan
akustik.

• Setiap aminoglikosida berpotensi menyebabkan dua efek


toksik dalam derajat yang berbeda.

• Streptomisin dan gentamisin lebih mempengaruhi


vestibular.

• Neomisin, kanamisin, amikasin dan dihidrostreptomisin


lebih mempengaruhi akustik.

• Tobramisin mempengaruhi akustik dan vestibular.


Gangguan vestibular
• Gejala:- sakit kepala
- pusing
- mual
- muntah
- gangguan keseimbangan

• Pemulihan : 12-18 bulan ada yang menetap, dapat


meluas ke ujung serabut saraf kohlea.

• Dosis toksik:
– 2 g sehari selama 60-120 hari kejadian toksik
sampai 75%
– 1 g sehari selama 60-120 hari kejadian toksik
sampai 25 %
Gangguan akustik
 Gangguan tidak selalu di kedua telinga sekaligus ttp
bertahap. Dapat berkembang jadi tuli saraf.
 Kerusakan berupa degenarasi sel rambut organ corti.
 Gangguan akustik terjadi pada anak-anak.
 Gejala awal : tinnitus

 Frekuensi kejadian:
Streptomisin 4-15%
Gentamisin, amikasin, tobramisin 25 %
Kanamisin 30%

 Neomisin paling sering menimbulkan tuli saraf.


 Neomisin topikal 5% juga dapat menimbulkan tuli saraf.
Efek nefrotoksik
• Gejala:- Kemampuan ginjal menurun
- Protein uria ringan
- Filtrasi glomerulus menurun
- Nekrosis tubuli berat ditandai dengan
kenaikan
kreatinin, hipokalemia, hipokalsemia.
- Gangguan terjadi reversibel
• Nefrotoksik terkuat : Neomisin
Terlemah : Streptomisin

Efek neurotoksik lain: Streptomisin i.p menyebabkan


gangguan pernafasan.
Kloramfenikol
Penggunaan Klinik
• Banyak perbedaan pendapat mengenai
indikasi penggunaan kloramfenikol, tetapi
obat ini digunakan untuk mengobati demam
tifoid, salmonelosis lain dan infeksi H.
influenzae. Infeksi lain sebaiknya tidak diobati
dengan kloramfenikol bila masih ada
antimikroba lain yang lebih aman dan efektif
DEMAM TIFOID

• Kloramfenikol, masih dianggap sbg pilihan utk


mengobati penyakit Tifoid
• Hanya dlm beberapa jam setelah pemberian
kloramfenikol, salmonela menghilang dr sirkulasi
dan dlm beberapa hr kultur tinja menjadi negatif.
Perbaikan klinis biasanya tampak dlm 2 hr dan
demam turun dlm 3-5 hari.
• MENINGITIS PURULENTA
• Kloramfenikol efektif untuk mengobati meningitis
purulenta yang disebabkan oleh H. infuenzae.
• Untuk terapi awal pada anak  kloramfenikol bersama
suntikan penisilin G sampai didapat hasil pemeriksaan
kultur dan uji kepekaan, setelah itu dilanjutkan dengan
pemberian obat tunggal yang sesuai dengan hasil kultur

• RIKETSIOSIS
• Tetrasiklin  obat terplih. Bila oleh karena suatu hal
tetrasiklin tidak dapat diberikan, maka dapat digunakan
kloramfenikol dengan dosis awal
Efek Samping

 REAKSI HEMATOLOGIK.

 Reaksi toksik dengan manifestasi depresi


sumsum tulang.
 Kelainan darah yang terlihat ialah anemia,
retikulositopenia, peningkatan serum iron dan
iron binding capacity
REAKSI ALERGI
• Menimbulkn kemerahn kulit, angioudem,
urtikaria & syok anafilaksis

REAKSI SALURAN CERNA


• Mual, muntah, glositis, diare dan
enterokolitis.

SINDROM GRAY.
• Pd neonatus, terutama bayi prematur yg
mendpt dosis tinggi.
Ampisilin, amoksisilin, penisilin G,
probenesid
• Mrpk antibiotik betalaktam
• Mhambat sintesis dinding sel mikroba
• Mempunyai aktivitas terhadap bakteri Gram-
positif juga Gram-negatif.
• Obat-obat ini sering diberikan bersama
inhibitor beta-laktamase (asam klavulanat,
sulbaktam, tazobaktam) untuk mencegah
hidrolisis oleh beta-laktamase yang semakin
banyak
• Indikasi

Infeksi pada mulut.


Amoksisilin atau ampisilin sama efektifnya dengan
fenoksimetilpenisilin tetapi absorpsinya lebih baik,
namun obat ini dapat menyebabkan berkembangnya
organisme yang resisten.
• Efek samping
Klindamisin
• Indikasi

Infeksi mulut. Klindamisin tidak boleh


digunakan secara rutin untuk terapi
infeksi mulut karena mungkin tidak lebih
efektif daripada penisilin

Klindamisin  mengatasi abses


dentoalveolar, abses periodontal,
periodontitis yang tidak dapat diatasi
oleh penisilin atau metronidazol.
• Interaksi:
• Eritromisin: kemungkinan memiliki efek
antagonis.
• Kontraindikasi:
• Hipersensitivitas.
• Efek Samping:
• Efek toksik serius kebanyakan adalah diare dan
enterokolitis pseudomembranosa
Sefalosporin
• Bds aktivitas AM dibagi mjd 4 generasi
• Mhambat sintesis ddg sel mikroba
• Aktif thd kuman Gram (+) & (-)
• Dari segi farmakokinetik  2 golongan  oral
& parenteral
• Kbykan dieksresi mell. urine
• Indikasi
• E. S. :
– Rx alergi
– Depresi sutul (jrg)
– Nefrotoksik (sefaloridin)
– Diare (sefoperazon)
Tetrasiklin
Obat–Obat Golongan Tetrasiklin
Obat Gol. Tetrasiklin di bagi atas
3 kelompok
Indikasi
 Riketsiosis.
 Infeksi klamidia.
 Uretritis nonspesifik.
 Infeksi mycoplasma pneumoniae
 Akne vulgaris.
 Infeksi lain: actinomycosis, frambusia,
leptospirosis.
 Penggunaan topikal.
 Profilaksis pnyakit paru obstruktif menahun
Efek samping
Hipersensitivitas
• Berupa erupsi, urtikaria, demam dan reaksi
anafilaksis.
• Reaksi ini bisa terjadi reaksi silang antara gol
tetrasiklin lainnya.

Iritasi lambung
Sering terjadi pada pemberian oral terutama
doksisiklin dan oksitetrasiklin.
• Ini bisa diatasi dengan pemberian bersama-sama
makanan tetapi jangan dengan pruduk susu dan
antasida yg mengandung Al, Mg dan Ca.
• Diare
Sering timbul karena iritasi lambung.
Terapi lama dapat menyebabkan kelainan darah
seperti leukositosis, trombositopenia.

•Fototoksik
dapat timbul pada pemberian dimetiklortetrasiklin.

•Hepatotoksis
dapat muncul karena pemberian gol tetrasiklin dosis
tinggi (lebih dari 2 gram sehari) atau pada pemberian
parenteral.
Kontraindikasi
• Tidak boleh digunakan pd ptengahan kdua
kehamilan, masa mnyusui & anak2 9s/d 8 thn)
• Tetrasiklin terikat pada jaringan tulang yang sedang
tumbuh dan membentuk kompleks.
• Pertumbuhan tulang pada fetus dan anak-anak
sementara akan terhambat.
• Pada gigi susu maupun gigi tetap dapat menimbulkan
perubahan warna permanen dan kecenderungan
menjadi caries
Eritromisin
• Mhambat sintesis protein kuman
• Umunya bsft bakteriostatik
• Dserap baik o/ usus kecil bgn atas
• Ekskresi me urine
• T1/2 : 1,5 jam
• Merupakan tx pilihan  infeksi Klamidia
Metronidazole
• Indikasi
• Uretritis dan vaginitis karena Trichomonas
vaginalis
• Amoebiasis intestinal dan hepar,
• Pencegahan infeksi anaerob pasca operasi
• Giardiasis karena Giardia lambliasis.
Infeksi mulut
Sering digunakan sebagai obat alternatif untuk
terapi infeksi rongga mulut untuk pasien yang
alergi terhadap antibiotik golongan penicillin
(misalnya amoksisilin) atau infeksi yang
disebabkan oleh bakteri anaerob penghasil
enzim beta-laktamase
• Merupakan obat pilihan pertama pada terapi acute
necrotizing ulcerative gingivitis (Vincent’s
infection) dan perikoronitis.
• Untuk penggunaan ini, metronidazol diberikan
dalam dosis 200 mg, 3 kali sehari selama 3 hari.
• Terapi dapat dilakukan lebih lama pada kasus
perikoronitis.
• Tinidazol digunakan untuk terapi acute ulcerative
gingivitis.
Dental Bacterial Infection
2 golongan obat : Lini Pertama dan Lini Kedua
Lini Pertama Lini Kedua
Amoksisilin Klindamisin

Fenoksimetilpenisilin Kombinasi as. Klavulanat -


Amoksisilin

Metronidazol Clarithromycin
Sediaan Obat Dosis Dosis anak

Amoxicillin capsule, 1 capsule 6-11 bln 125mg 3x1


500 mg three times 1-4 thn 250mg 3x1
daily 5-11 thn 500mg 3x1

Fenoksimetilpenisilin 2 tablets four 6-11 bln 6.25mg 4x1


Tablets, 250 mg times daily 1-4 thn 125mg 4x1
5-11 thn 250mg 4x1
12-17 thn 500mg 4x1

Metronidazole Tablets, 1 tablet three 1-2 thn 50mg 3x1


200 mg times daily 3-6 thn 100mg 2x1
7-9 thn 100mg 3x1
10-17 thn 200mg 3x1
Sediaan Obat Dosis

Klindamisin Capsules, 150 mg 1 capsule four times daily,


swallowed with water

Amoksisilin - as. Klavulanat 1 tablet three times daily


Tablets, 250/125mg

Clarithromycin Tablets, 250 mg 1 tablet two times daily


TERIMA KASIH