Anda di halaman 1dari 77

AUDIT

(PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN)


MATERI 5 DAN 6

Alamsyah M. Tahir
Materi (5dan6)
1. Penerimaan Perikatan
2. Perencanaan Audit
3. Materialitas, Risiko dan Strategi Audit
Pendahuluan
TAHAP-TAHAP AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN
1. PENERIMAAN PERIKATAN AUDIT
2. PERENCANAAN AUDIT
3. PELAKSANAAN PEKERJAAN AUDIT
4. PELAPORAN AUDIT
1. PENERIMAAN PERIKATAN AUDIT
Adalah kesepakatan dua pihak untuk
mengadakan suatu ikatan perjanjian. Dalam
perikatan tersebut klien menyediakan
pekerjaan audit atas laporan keuangan
kepada auditor dan auditor menerima
pekerjaan/penugasan tersebut.
Apakah suatu Perikatan Diterima atau Ditolak maka
auditor harus menempuh proses berikut:
1. Mengevaluasi integritas manajemen.
2. Mengidentifikasi keadaan khusus dan resiko luar
biasa.
3. Menentukan kompetensi untuk melaksanakan
audit.
4. Menilai independensi.
5. Menentukan kemampuan untuk menggunakan
kemahiran profesionalnya dengan kecermatan dan
kesaksamaan (menolak atau menerima perikatan).
6. Membuat surat perikatan audit.
1. Mengevaluasi Integritas Manajemen
Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam
mengevaluasi integritas manajemen:
a. Melakukan komunikasi dengan auditor
pendahulu.
b. Meminta keterangan kepada pihak ketiga.
c. Melakukan riview terhadap pengalaman
auditor dimasa lalu.
2. Mengidentifikasi kondisi khusus dan Resiko Luar Biasa
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan
auditor untuk menerima atau menolak
perikatan:
a. Mengidentifikasi pemakai laporan audit.
b. Mendapatkan informasi tentang stabilitas
keuangan dan legalitas calon klien dimasa
yang akan datang.
c. Mengevaluasi kemungkinan dapat atau
tidaknya laporan keuangan calon klien di
audit.
3. Menentukan kompetensi untuk melaksanakan
Audit
a. Mengidentifikasi
b. Pertimbangan kebutuhan konsultasi dan
penggunaan spesialis.

4. Evaluasi terhadap Independensi Auditor


- Independensi
- Integritas dan objektivitas
5. Penentuan Kemampuan Auditor dalam menggunakan
kemahiran profesionalnya
- Penentuan waktu perikatan
- Pertimbangan jadwal pekerjaan lapangan
- Pemanfaatan personil klien.

Kondisi yang dapat menyebabkan KAP menarik diri dari suatu


perikatan audit:
a. Kehawatiran mengenai integritas manajemen atau penahanan
bukti yang tampak selama pelaksanaan audit.
b. Klien menolak untuk membenarkan salah saji material dalam
laporan keuangan.
c. Klein tidak mengambil langkah-langkah yang tepat untuk
memperbaiki kecurangan atau tindakan melawan hukum yang
ditemui selama pelaksanaan audit.
6. Membuat Surat Perikatan
Surat perikatan dibuat oleh auditor untuk
kepentingan kliennya yang berfungsi:
a. Mendokomentasikan dan menegaskan
penerimaan auditor atas penunjukan kliennya.
b. Tujuan dan ruang lingkup audit.
c. Tanggung jawab auditor dan klien.
d. Kesepakatan reproduksi lLaporan Keuangan.
e. Bentuk dan laporan hasil audit.
2. PERENCANAAN AUDIT
Tujuan tahapan perencanaan audit sebagai berikut:
1. Memahami bisnis dan industri klien.
2. Melaksanakan prosedur analitik.
3. Mempertimbangkan tingkat materialitas awal.
4. Mempertimbangkan resiko bawaan.
5. Mempertimbangkan berbagai faktor yang
berpengaruh terhadap saldo awal, jika perikatan
dengan klien merupakan tahap pertama.
6. Mengembangkan strategi audit awal terhadap
asersi signifikan.
7. Memahami pengendalian interen klien.
2.1 Memahami Bisnis dan Industri Klien
Penghimpunan pemahaman bisnis dan industri
klien dilakukan dengan tujuan untuk mendukung
perencanaan audit yang dilakukan auditor.
Pemahaman kejadian, transaksi, dan praktik yang
berpengaruh signifikan atas laporan keuangan
harus dihimpun oleh auditor. Pemahaman
tersebut akan digunakan untuk merencanakan
lingkup audit, memperkirakan masalah-masalah
yang mungkin timbul, dan menentukan atau
memodifikasi prosedur audit yang yang
direncanakan.
Pemahaman auditor tentang bisnis klien dan industri
klien dapat diperoleh melalui:
a. Penelaahan kertas kerja tahun lalu.
b. Penelaahan data industri dan data bisnis.
c. Peninjauan terhadap operasi klien.
d. Pengajuan pertanyaan pada dewan komisaris
maupun komite audit.
e. Pengajuan pertanyaan pada manajemen.
f. Penentuan keberadaan hubungan ekonomis
dengan perusahaan lain dalam satu kelompok
usaha.
2.2 MELAKUKAN PROSEDUR ANALITIS
Prosedur analitis adalah pengevaluasian
informasi keuangan yang dibuat dengan
mempelajari hubungan-hubungan yang masuk
akal antara data keuangan dan data non
keuangan. Prosedur analitis dapat dilakukan
dengan metode perbandingan sederhana
sampai model statistik dan matematis yang
rumit dan komplek.
Dalam tahap perencanaan, prosedur analitis
berguna untuk membantu auditor merencanakan
sifat, penentuan waktu, dan luas prosedur audit.
Dalam tahap pekerjaan lapangan, prosedur analitis
merupakan prosedur audit yang optional. Prosedur
analitis dilakukan sebagai salah satu pengujian
substantif untuk menghimpun bahan bukti tentang
asersi tertentu yang terkait dengan saldo rekening
ataupun kelompok transaksi. Dalam tahap
pengambilan kesimpulan hasil audit, prosedur
analitis berguna sebagai alat untuk penelaahan
akhir tentang rasionalitas laporan keuangan
auditan.
Ada enam langkah yang harus dilakukan auditor
dalam melakukan prosedur analitis, yaitu:
1. Mengidentifikasi perhitungan dan perbandingan
yang akan dibuat.
2. Mengembangkan ekspektasi.
3. Melakukan perhitungan dan perbandingan.
4. Menganalisis data.
5. Menyelidiki perbedaan atau penyimpangan
yang tidak diharapkan yang signifikan.
6. Menentukan pengaruh perbedaan atau
penyimpangan atas perencanaan audit.
2.3 MELAKUKAN PENILAIAN AWAL TERHADAP
MATERIALITAS
Dalam perencanaan audit, auditor
menentukan materialitas pada dua tingkat:
a. Materialitas tingkat laporan keuangan.
b. Materialitas tingkat saldo akun (akun
adalah istilah dalam Standar
Profesional Akuntan Publik yang berarti
sama dengan rekening/perkiraan).
Materialitas Tingkat Laporan Keuangan
Auditor menentukan materialitas pada tingkat
laporan keuangan karena pendapat auditor
tentang kewajaran adalah mengenai laporan
keuangan secara keseluruhan dan tidak
sepotong-potong. Laporan keuangan
mengandung salah saji yang material bila berisi
kekeliruan dan ketidakberesan yang secara
individu maupun kolektif sangat besar
pengaruhnya terhadap kewajaran laporan
keuangan.
Materialitas Tingkat Saldo Akun
Materialitas pada tingkat saldo akun sering disebut
juga dengan tolerable misstatement. Tolerable
misstatement adalah salah saji maksimum yang
boleh ada dalam saldo akun sehingga tidak dianggap
sebagai salah saji material. Ada hubungan erat antara
tolerable misstatement dengan materialitas pada
tingkat laporan keuangan. Akun-akun yang secara
individual tidak materialitas, bila diakumulasikan
dapat menjadi material secara kumulatif pada tingkat
laporan keuangan.
2.4 MENILAI RISIKO AUDIT
Risiko audit terdiri atas tiga komponen, yaitu:
a. Risiko bawaan (inheren risk).
b. Risiko pengendalian (control risk).
c. Risiko deteksi (detection risk).
Risiko Bawaan
Risiko bawaan adalah kerentanan atau mudah
tidaknya suatu akun mengalami salah saji
material dengan asumsi tidak ada kebijakan
dan prosedur struktur pengendalian intern yang
terkait. Auditor tidak dapat mempengaruhi atau
mengubah risiko bawaan. Risiko bawaan
bervariasi untuk setiap asersi.
Risiko Pengendalian
Risiko pengendalian adalah risiko bahwa suatu
salah saji material yang dapat terjadi dalam
suatu asersi tidak dapat dideteksi ataupun
dicegah secara tepat pada waktunya oleh
berbagai kebijakan dan prosedur struktur
pengendalian intern satuan usaha. Risiko
pengendalian merupakan fungsi dari efektivitas
struktur pengendalian intern. Semakin efektif
struktur pengendalian intern, semakin kecil
risiko pengendalian.
Risiko Deteksi
Risiko deteksi merupakan risiko bahwa auditor
tidak dapat mendeteksi salah saji material yang
terdapat dalam suatu asersi. Risiko deteksi
merupakan fungsi efektivitas prosedur audit dan
penerapannya oleh auditor. Risiko deteksi
dapat ditekan atau diturunkan auditor dengan
cara melakukan perencanaan yang memadai
dan supervisi atau pengawasan yang tepat,
serta penerapan standar pengendalian mutu.
2.5 MENGEMBANGKAN STRATEGI AUDIT
PENDAHULUAN UNTUK ASERSI YANG
SIGNIFIKAN
Tujuan auditor dalam perencanaan dan
pelaksanaan audit adalah untuk menurunkan
risiko audit pada tingkat serendah mungkin
untuk mendukung pendapat auditor mengenai
kewajaran laporan keuangan. Ada dua alternatif
strategi audit, yaitu:
Primarily substantive approach
Pada strategi ini, auditor lebih mengutamakan
pengujian substantif dari pada pengujian
pengendalian . Auditor relatif lebih sedikit
melakukan prosedur untuk memperoleh
pemahaman mengenai struktur pengendalian
intern klien. Strategi ini lebih banyak dipakai
dalam audit yang pertama kali dari pada audit
atas klien lama.
Lower assessed level of control risk approach
Pada strategi ini, auditor lebih mengutamakan
pengujian pengendalian dari pada pengujian
substantif. Hal ini bukan berarti auditor sama sekali
tidak melakukan pengujian substantif, Auditor tetap
melakukan pengujian substantif meskipun tidak
seekstensif seperti pada primarily substantive
approach. Auditor lebih banyak melakukan prosedur
untuk memperoleh pemahaman mengenai struktur
pengendalian intern klien.
Strategi ini lebih banyak dipakai dalam audit atas
klien lama dari pada audit yang pertama kali atas
klien baru.
2.6 MENGHIMPUN PEMAHAMAN STRUKTUR
PENGENDALIAN INTERN KLIEN
Pemahaman struktur pengendalian intern,
digunakan auditor untuk:
a. Mengidentifikasi tipe salah saji potensial.
b. Mempertimbangkan faktor yang
mempengaruhi risiko salah saji material.
c. Merancang pengujian substantif.
Struktur pengendalian intern terdiri atas tiga unsur,
yaitu:
a. Lingkungan pengendalian.
b. Sistem akuntansi.
c. Prosedur pengendalian.

Struktur pengendalian intern yang efektif dirancang


dengan tujuan pokok sebagai berikut:
a. Menjaga kekayaan dan catatan organisasi.
b. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi.
c. Mendorong efisiensi.
d. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.
Di samping keenam tahap perencanaan
tersebut, ada beberapa hal yang dapat
dilakukan auditor pada tahap perencanaan,
yaitu:
1. Menyusun program audit.
2. Menyusun jadwal kerja.
3. Menentukan staf pelaksana audit.
MENYUSUN PROGRAM AUDIT
Program audit merupakan daftar prosedur audit
yang akan dilaksanakan oleh pekerja lapangan
atau penghimpun bukti. Program audit meliputi
sifat, luas, dan saat pekerjaan yang harus
dilakukan. Program audit membantu auditor
dalam memberikan perintah kepada asisten
mengenai pekerjaan yang harus dilaksanakan.
Program audit harus menggariskan secara rinci
prosedur audit yang diperlukan untuk mencapai
tujuan audit.
Dengan demikian program audit berfungsi
sebagai:
1. Petunjuk mengenai apa yang harus
dilakukan, dan instruksi bagaimana harus
diselesaikan.
2. Alat untuk melakukan koordinasi,
pengawasan, dan pengendalian audit.
3. Alat penilai kualitas kerja yang dilaksanakan.
MENYUSUN JADWAL KERJA
Jadwal kerja merupakan perencanaan
mengenai kapan program audit dilaksanakan
pada klien yang bersangkutan. Waktu
pelaksanaan pekerjaan lapangan biasanya
dikalsifikasikan dalam dua kategori, yaitu:
1. Kerja interim.
2. Kerja akhir tahun.
MENENTUKAN STAF UNTUK MELAKSANAKAN
PEMERIKSAAN
Penentuan staf ini merupakan akhir perencanaan audit.
Dalam menentukan personal pemeriksaan, auditor harus
menetapkan komposisi, misalnya, sebagai berikut:
1. Seorang partner yang bertanggung jawab secara
keseluruhan atas pemeriksaan.
2. Satu atau lebih manajer yang bertanggung jawab pada
koordinasi dan supervisi pelaksanaan program audit.
3. Satu atau lebih auditor senior yang bertanggung jawab
pada bagian program audit, dan pengawasan kerja
asisten.
4. Akuntan Yunior atau asisten yang bertanggung jawab
untuk melaksanakan prosedur audit.
PENGAWASAN / SUPERVISI AUDIT
Perencanaan sebenarnya juga merupakan
titik untuk melaksanakan pengawasan.
Pengawasan yang baik adalah pengawasan
yang dimulai sejak tahap perencanaan.
Masalah supervisi ini di dalam Standar
Auditing diatur dalam seksi 310. Menurut SA
310 tersebut supervisi/pengawasan audit
meliputi:
1. Memerintahkan asisten untuk mencapai tujuan
prosedur audit yang dilaksanakan.
2. Menjaga informasi mengenai masalah penting
yang diperoleh dari pelaksanaan prosedur
audit.
3. Meneliti/me-review hasil kerja yang dilakukan.
4. Menangani perbedaan pendapat antar
anggota staf pemeriksa.
3. MATERIALITAS, RISIKO DAN STRATEGI
AUDIT PENDAHULUAN
MATERIALITAS
Adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau
salah saji informasi akuntansi yang dilihat dari
keadaan yang melingkupinya, dapat
mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh
terhadap pertimbangan orang yang meletakkan
kepercayaan terhadap informasi tersebut
karena adanya penghilangan atau salah saji
tersebut.
Auditor harus mempertimbangkan risiko audit
dengan materialitas dalam:
1) Merencanakan audit dan merancang
prosedur audit, guna memperoleh bukti
kompeten yang cukup.
2) Mengevaluasi apakah laporan keuangan
secara keseluruhan disajikan secara wajar
dalam semua yang material, sesuai dengan
Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia,
sebagai dasar memadai untuk mengevaluasi
laporan keuangan.
Mengapa Konsep Meterialitas Penting
Dalam Audit atas Laporan Keuangan?
- Auditor tidak dapat memberikan jaminan
bahwa laporan keuangan auditor adalah
akurat.
- Auditor tidak memeriksa setiap transaksi
yang terjadi dalam tahun buku yang diaudit,
apakah semua transaksi tersebut telah
dicatat, diringkas, digolongkan dan
dikompilasi secara sistimatis dalam laporan
keuangan.
Dalam Audit Laporan Keuangan auditor memberikan
keyakinan (assurance) berikut:
1) Bahwa jumlah-jumlah yang disajikan dalam laporan
keuangan telah dicatat, diringkas, digolongkan dan
kompilasi.
2) Bahwa auditor telah mengumpulkan bukti audit
kompeten yang cukup sebagai dasar memadai untuk
memberikan pendapat atas laporan keuangan.
3) Auditor dapat memberikan keyakinan dalam bentuk
pendapat bahwa laporan keuangan secara
keseluruhan disajikan secara wajar dan tidak terdapat
salah saji material karena kekeliruan atau
kecurangan.
PERTIMBANGAN AWAL TENTANG MATERIALITAS
Pertimbangan awal penentuan tingkat
materialitas dalam perencanaan audit
(materialitas perencanaan) berbeda dengan
penentuan materialitas pada saat pengambilan
kesimpulan audit dan dalam mengevaluasi
temuan audit karena:
1) Keadaan yang melengkapi/kondisi sekeliling
yang mempengaruhi perusahaan berubah.
2) Tambahan informasi tentang klien yang
diperoleh selama pelaksanaan audit.
Pertimbangan materialitas mencakup
pertimbangan kuantitatif dan kualitatif.
pertimbangan Kuanlitatif berkaitan dengan
hubungan salah saji dengan jumlah kunci
tertentu dalam laporan keuangan.
pertimbangan Kualitatif berkaitan dengan
penyebab salah saji.
suatu salah saji secara kuantitatif tidak
material dapat secara kualitatif material
karena penyebab yang menimbulkan salah
saji tersebut.
Contoh Pertimbangan Kuantitatif dan Kualitatif
1) Hubungan salah saji dengan jumlah kunci
tertentu dalam laporan keuangan:
a. Laba bersih sebelum pajak dalam
laporan laba rugi.
b. Total aset dalam neraca.
c. Total aset lancar dalam neraca.
d. Total Ekuitas lancar pemegang saham
dalam neraca.
2) Faktor Kualitatif
a. Kemungkinan terjadi pembayaran yang
melanggar hukum.
b. Kemungkinan terjadinya kecurangan.
c. Adanya gangguan dalam trend laba.
d. Sikap manajemen terhadap integritas laporan
keuangan.
e. Adanya persyaratan harus mempertahankan
rasio keuangan dalam jumlah tertentu bagi
perusahaan yang memperoleh kredit bank.
Contoh auditor menentukan kombinasi salah saji
berjumlah 8% dari laba bersih sebelum pajak
dipandang material untuk laporan laba rugi, jika
salah saji berada dibawah 3% auditor
memandang sebagai salah saji tidak material.
Salah saji berada antara 3% dan 8%
memerlukan pertimbangan auditor untuk
memutuskan materialitasnya.
Jika EBT dipakai sebagai jumlah kunci berjumlah
Rp.100 juta maka batas materialitas (materiality
borders) untuk laporan laba rugi berada dalam
kisaran Rp.3.000.000 sampai Rp.8.000.000.
Materialitas Tingkat Laporan Keuangan
Materialitas laporan keuangan (financial
statement materiality) adalah salah saji agregat
minimum dalam suatu laporan keuangan yang
cukup penting untuk mencegah laporan
disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berterima umum.
Salah saji dapat disebabkan:
a. Salah penerapan prinsip akuntansi yang
berterima umum.
b. Penyimpangan dari kenyataan sesungguhnya.
c. Penyembunyian informasi yang mestinya
perlu diungkapkan.
Ada beberapa tingkat materialitas yang
berkaitan dengan laporan keuangan yaitu:
a. Laporan rugi laba yaitu materialitas yang
berhubungan dengan total pendapatan laba
operasional, laba sebelum pajak, dan laba
bersih.
b. Neraca yaitu materialitas yang didasarkan
atas total aktiva, total aktiva lancar, modal
kerja, serta ekuitas pemegang saham.
Auditor, untuk kepentingan perencanaan, harus
menggunakan “jumlah terkecil tingkat salah saji
yang dianggap material untuk setiap laporan
keuangan”, karena:
a. Laporan keuangan saling berkaitan. Jadi
salah satu laporan keuangan mengandung
salah saji materialitas, maka akan
mempengaruhi laporan keuangan yang
lainnya.
b. Prosedur auditing dipakai untuk lebih dari satu
laporan keuangan dan saling berkaitan.
Pertimbangan materialitas meliputi pertimbangan
kuantitatif dan kualitatif. Ukuran materialitas
kuantitatif misalnya 2,5% dari laba bersih
sesudah pajak, 1% dari total aktiva. Sedangkan
ukuran materialitas yang kualitatif berkaitan
dengan penyebab terjadinya salah saji misalnya
karena pelanggaran hukum. Pertimbangan
kuantitatif yang menyatakan tidak material,
secara kuantitatif dapat material karena mungkin
berkaitan dengan ketidakberesan dan
pelanggaran hukum tersebut.
Contoh berikut ini menunjukkan batas materialitas
yang ditentukan oleh auditor:
1. Untuk total aktiva dalam neraca Rp.41 juta s.d.
Rp.100 juta.
2. Untuk aktiva lancar dalam neraca Rp.25 juta s.d.
Rp.60 juta.
3. Untuk total ekuitas pemegang
saham dalam neraca Rp.15 juta s.d.
Rp.45 juta.
Gambaran mengenai beberapa pedoman yang
digunakan dalam praktik:
a. 5% hingga 10% dari laba bersih sebelum pajak
(10% untuk laba yang lebih kecil, 5% untuk laba
yang lebih besar).
b. ½% hingga 1% dari total aktiva
c. 1% dari ekuitas
d. ½% hingga 1% pendapatan kotor
e. Suatu persentase variabel berdasarkan mana
yang lebih besar antara total aktiva atau total
pendapatan.
Materialitas Pada Tingkat Saldo Akun
Materialitas pada tingkat saldo akun sering disebut
juga dengan tolerable mistatement. Materialitas
pada tingkat saldo akun adalah salah saji
maksimum yang boleh ada dalam saldo akun
sehingga belum atau tidak dipertimbangkan
sebagai salah saji material. Ada hubungan erat
antara tolerable misstatement dengan materialitas
pada tingkat laporan keuangan. Akun-akun yang
secara individual tidak material, bila
diakumulasikan dapat menjadi material secara
kumulatif pada tingkat laporan keuangan.
Alokasi Materialitas Laporan Keuangan ke Akun
Bila pertimbangan awal auditor tentang materialitas
laporan keuangan dikuantifikasikan, penaksiran awal
tentang materialitas untuk setiap akun dapat
diperoleh dengan mengalokasikan materialitas
laporan keuangan ke akun secara individual.
Pengalokasian ini dapat dilakukan baik untuk akun
neraca maupun akun laba rugi. Namun, karena
hampir semua salah saji laporan laba rugi juga
mempengaruhi neraca dan karena akun neraca lebih
sedikit, banyak auditor yang melakukan alokasi atas
dasar akun neraca.
Untuk menggambarkan alokasi materialitas
tersebut, misalnya PT X memiliki komposisi aktiva
sebagai berikut:
Kas Rp. 500.000
Piutang Usaha 1.500.000
Sediaan 3.000.000
Aktiva Tetap 5.000.000
Jumlah Aktiva Rp. 10.000.000
Auditor memperkirakan salah saji akun kas dan
aktiva tetap kemungkinannya kecil terjadi dan
salah saji dalam akun piutang usaha dan
sediaan kemungkinan lebih banyak terjadi.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya dengan
klien, auditor memperkirakan akun dengan
sedikit salah saji akan sangat murah biayanya
untuk mengaudit dibandingkan dengan akun
lain.
Misalnya jika prakiraan awal materialitas laporan
keuangan adalah 1% dari total aktiva, atau Rp.100.000,
auditor tersebut dapat mempertimbangkan dua alternatif
dalam mengalokasikan materialitas laporan keuangan ke
akun individual sebagai berikut:
Alokasi Materialitas
Akun Alternatif A % Alternatif B %
Kas Rp. 5.000 5 Rp. 2.000 2
Piutang Usaha 15.000 15 18.000 18
Sediaan 30.000 30 50.000 50
Aktiva Tetap 50.000 50 30.000 30
Total Rp. 100.000 100 Rp. 100.000 100
Alokasi taksiran awal materialitas dapat direvisi
setelah dilaksanakannya pekerjaan lapangan.
Sebagai contoh, jika ditemukan hanya
Rp.8.000 salah saji dalam verifikasi akun
piutang usaha, jumlah Rp.10.000 yang tidak
terpakai dalam alternatif B dapat dialokasikan
ke akun sediaan.
Penggunaan Materialitas dalam Mengevaluasi Bukti Audit
Jika pada tahap perencanaan audit, auditor menaksir
bahwa salah saji Rp.9.000.000 dipandang material untuk
total aktiva.
Misalnya, auditor mengumpulkan salah saji yang terdapat
dalam akun-akun yang termasuk dalam kelompok aktiva
berikut ini:
Salah saji dalam akun Sediaan Rp. 3.000.000
Salah saji dalam akun-akun aktiva lain Rp. 8.000.000
Jumlah salah saji Rp. 11.000.000

Bagaimana kesimpulan auditor tentang materialitas?


Ada dua kemungkinan yang ditempuh oleh auditor:
1. Dengan berbagai alasan tertentu, auditor dapat
menaikkan batas materialitas yang ditentukan
dari jumlah Rp.9.000.000 pada tahap
perencanaan auditnya menjadi Rp.11.000.000
untuk mengevaluasi bukti audit. Hal ini
kemungkinan disebabkan jumlah aktiva yang
dipakai sebagai dasar penentuan materialitas
pada tahap perencanaan berbeda dengan
jumlah aktiva yang terdapat dalam laporan
keuangan akhir.
2.Auditor berkesimpulan bahwa laporan keuangan
sebagai keseluruhan tidak disajikan secara wajar
karena salah saji Rp.11.000.000 melebihi jumlah
materialitas Rp.9.000.000. oleh karena itu,
berdasarkan pertimbangan materialitas ini, auditor
dapat meyakinkan kliennya untuk melakukan koreksi
atas jumlah salah saji yang terdapat dalam akun-
akun yang bersangkutan atau jika klien menolak
untuk melakukan koreksi, auditor mengubah
pendapatannya dari pendapat wajar tanpa
pengecualian menjadi pendapat wajar dengan
pengecualian atau pendapat tidak wajar.
HUBUNGAN ANTARA MATERIALITAS DENGAN
BUKTI AUDIT
Materialitas merupakan satu di antara berbagai
faktor yang mempengaruhi pertimbangan auditor
tentang kecukupan (kuantitas) bukti audit. Dalam
membuat generalisasi hubungan antara
materialitas dengan bukti audit, perbedaan istilah
materialitas dan saldo akun material harus tetap
diperhatikan. Semakin rendah tingkat materialitas,
semakin besar jumlah bukti yang diperlukan
(hubungan terbalik).
Contoh, diperlukan lebih banyak bukti untuk
memperoleh keyakinan memadai bahwa saldo
sediaan yang tercatat tidak disajikan salah lebih
dari Rp.100.000 dibandingkan dengan diyakini
bahwa saldo tersebut tidak salah saji lebih dari
Rp.200.000. Semakin besar atau semakin
signifikan suatu saldo akun, semakin banyak
jumlah bukti yang diperlukan (hubungan
langsung). Sebagai contoh, lebih banyak bukti
diperlukan untuk sediaan yang berjumlah 30% dari
total aktiva dibandingkan bila sediaan tersebut
hanya berjumlah 10% dari total aktiva.
RISIKO AUDIT
Komponen risiko audit, pada umumnya terdiri
atas tiga, yaitu:
a. Risiko bawaan (inherent risk).
b. Risiko pengendalian (control risk).
c. Risiko deteksi (detection risk).
Risiko Bawaan
Risiko bawaan adalah kerentanan suatu asersi
terhadap salah saji material dengan asumsi
tidak ada kebijakan dan prosedur struktur
pengendalian intern yang terkait. Risiko
bawaan selalu ada dan tidak pernah mencapai
angka nol.
Risiko bawaan bervariasi untuk setiap asersi.
Sebagai contoh, asersi keberadaan dan
keterjadian kas mempunyai risiko bawaan yang
lebih tinggi dari pada aktiva tetap. Hal ini
disebabkan uang tunai merupakan suatu aset
yang sangat rawan terhadap manipulasi, dan
semua orang berminat terhadap uang.
Sedangkan aktiva tetap terlihat jelas
keberadaannya.
Risiko Pengendalian
Risiko pengendalian adalah risiko bahwa suatu
salah saji material yang dapat terjadi dalam suatu
asersi, tidak dapat dideteksi ataupun dicegah
secara tepat pada waktunya oleh berbagai
kebijakan dan prosedur pengendalian intern
perusahaan. Risiko pengendalian tidak pernah
mencapai angka nol karena pengendalian intern
tidak akan dapat menghasilkan keyakinan penuh
bahwa semua salah saji material akan dapat
dideteksi ataupun dicegah.
Risiko Deteksi
Risiko deteksi merupakan risiko bahwa auditor
tidak dapat mendeteksi salah saji material yang
terdapat dalam suatu asersi. Risiko deteksi
tergantung atas penetapan auditor terhadap
risiko audit, risiko bawaan dan risiko
pengendalian. Semakin besar risiko audit,
semakin besar pula risiko deteksi. Sebaliknya
semakin besar risiko bawaan ataupun risiko
pengendalian, semakin kecil risiko deteksi.
Risiko deteksi dapat ditekan atau diturunkan
auditor dengan cara melakukan perencanaan
yang memadai, dan supervisi atau pengawasan
yang tepat, penerapan prosedur audit yang
efektif, serta penerapan standar pengendalian
mutu. Jadi, semakin efektif prosedur audit yang
diterapkan auditor, semakin kecil risiko deteksi
aktualnya.
Ada perbedaan yang mendasar antara risiko
bawaan dan risiko pengendalian dengan risiko
deteksi. Kedua risiko terdahulu ada terlepas
dari dilakukan atau tidaknya audit atas laporan
keuangan, sedangkan risiko deteksi
berhubungan dengan prosedur audit dan dapat
diubah oleh keputusan auditor sendiri.
HUBUNGAN ANTAR KOMPONEN RISIKO AUDIT
Hubungan antar komponen risiko audit dapat dirumuskan
dalam suatu model sebagai berikut:
AR = IR x CR x DR
Dimana:
AR : risiko audit (audit risk).
IR : risiko bawaan (inherent risk).
CR : risiko pengendalian (control risk).
DR : risiko deteksi (detection risk).
Risiko deteksi merupakan risiko yang dapat dikendalikan
oleh auditor. Oleh karena itu, sudut pandang model
tersebut dialihkan ke risiko deteksi menjadi:
DR = AR : (IR x CR)
Hubungan Risiko Audit dengan Bukti Audit
Risiko mempengaruhi judgement yang dilakukan
auditor mengenai kecukupan bukti audit. Risiko
audit mempunyai hubungan terbalik dengan bukti
audit. Semakin tinggi risiko audit dan risiko deteksi,
semakin sedikit bukti audit yang diperlukan. Risiko
bawaan dan risiko pengendalian mempunyai
hubungan searah dengan kecukupan bukti audit.
Semakin tinggi risiko bawaan maupun risiko
pengendalian, semakin banyak bukti audit yang
harus dihimpun auditor.
Hubungan Timbal Balik antara Materialitas, Risiko
Audit, dan Bukti Audit

Bukti Audit

Tingkat Risiko
Materialitas Audit

Hubungan Timbal Balik antara materialitas, Risiko Audit,


dan Bukti Audit
Berbagai kemungkinan hubungan antara
materialitas, bukti audit, dan risiko audit
digambarkan sebagai berikut:
1. Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan
dan tingkat materialitas dikurangi, auditor harus
menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan.
2. Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas
konstan dan mengurangi jumlah bukti audit yang
dikumpulkan, risiko audit menjadi meningkat.
3. Jika auditor menginginkan untuk mengurangi
risiko audit, auditor dapat menempuh salah satu
dari tiga cara berikut ini:
a. Menambah tingkat materialitas, sementara
itu mempertahankan jumlah bukti audit yang
dikumpulkan.
b. Menambah jumlah bukti audit yang
dikumpulkan, sementara itu tingkat
materialitas tetap dipertahankan.
c. Menambah sedikit jumlah bukti audit yang
dikumpulkan dan tingkat materialitas secara
bersama-sama.
STRATEGI AUDIT AWAL
Tujuan akhir auditor dalam perencanaan dan
pelaksanaan proses audit adalah mengurangi
risiko audit ke tingkat yang cukup rendah untuk
mendukung pendapatnya, apakah dalam
semua hal yang material, laporan keuangan
disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip
akuntansi berterima umum.
Auditor dapat memilih strategi audit awal dalam
perencanaan audit atas asersi individual atau
sekelompok asersi. Strategi audit awal dibagi
menjadi dua macam: pendekatan terutama
substantif (primarily substantive apparoach),
dan pendekatan tingkat risiko pengendalian
taksiran rendah (lower assessed level of control
risk approach).