Anda di halaman 1dari 12

PSIKOTROPIKA

Oleh:
LELY FEBRIYANTI
201820471011058
Kasus
 Penyalahgunaan obat-obatan berbahaya di kalangan usia produktif,
antara umur 15-40 tahun, tercatat terus mengalami peningkatan.
 Bahkan, pada 2017 peningkatan kasus peredaran obat-obatan
berbahaya yang ditangani Satresnarkoba Polrestabes Semarang naik
hampir dua kali lipat dibanding dengan tahun sebelumnya.
Sementara untuk obat yang mengandung psikotropika, menurut dia,
baik pengedar maupun penggunaan, atau orang yang kedapatan
memiliki dan menguasainya dapat dijerat hukum.Yakni dijerat
menggunakan UU No. 5/1997 tentang Psikotropika.
Sanksi hukum
 (1)memproduksi atau mengedarkan psikotropika yang berupa obat yang tidak terdaftar pada departemen yang bertanggung jawab

di bidang kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1); dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas)

tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

 (2)Barangsiapa menyalurkan psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal 12 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling

lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

 (3)Barangsiapa menerima penyaluran psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal 12 ayat (2) dipidanadengan pidana penjara

paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

 (4)Barangsiapa menyerahkan psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal 14 ayat (1), Pasal 14 ayat (2), Pasal 14 ayat (3), dan

Pasal 14 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000,00

(enam puluh juta rupiah).(5)Barangsiapa menerima penyerahan psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal 14 ayat (3),

Pasal 14ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000,00

(enam puluh juta rupiah).Apabila yang menerima penyerahan itu pengguna, maka dipidana dengan pidana penjara paling lama

3 (tiga) bulan.
Dari kasus di atas, penyalah
gunaan narkoba yaitu golongan
psikotropika.Yang digunakan
adalah (xanax) alprazolam
PSIKOTROPIKA Psikotropika yang mempunyai
Psikotropika adalah zat atau potensi mengakibatkan sindroma
obat, baik alamiah maupun ketergantungan digolongkan
sintetis bukan narkotika, yang menjadi :
berkhasiat psikoaktif melalui a.psikotropika golongan I;
pengaruh selektif pada
b.psikotropika golongan II;
susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas c.psikotropika golongan III;
pada aktivitas mental dan d.psikotropika golongan IV.
perilaku.
Alprazolam
 Psikotropika golongan IV
 Alprazolam merupakan
psikotropika dari kelas
benzodiazepam.
Action Indikasi
 Potensi aksi pada GABA  i: Manajemen kecemasan,
(asam gamma- kecemasan yang terkait
aminobutyric), suatu dengan depresi, gangguan
neurotransmitter panik dengan atau tanpa
penghambat, menghasilkan agorafobia.
peningkatan inhibisi  Penggunaan tanpa label:
neuron dan depresi SSP, Pengobatan sindrom iritasi
terutama dalam sistem usus, depresi, PMS,
limbik dan pembentukan agorafobia dengan fobia
retikuler. sosial.
Kontraindikasi Dosis
 Hipersensitif terhadap  Gangguan kecemasan
benzodiazepin lain; ADULTS: PO 0.25 to 0.5 mg tid;
max 4 mg/day in divided doses.
psikosis; glaukoma sudut
 Pasien Lansia / Lemah
sempit akut.
ADULTS: PO 0.25 mg bid to tid;
may increase dose gradually.
 Gangguan kepanikan
Initial dose: PO 0.5 mg tid; if
needed, increase by max 1 mg/day
q 3 to 4 day. May require > 4
mg/day.
Interaksi
 Alkohol dan depresan SSP  Digoxin: Konsentrasi serum
lainnya: Menghasilkan efek digoxin dapat meningkat.
depresan SSP aditif.  Omeprazole: Dapat
 Cimetidine, kontrasepsi meningkatkan kadar
oral, disulfiram: Dapat alprazolam serum dan
meningkatkan efek meningkatkan efek
alprazolam, menghasilkan alprazolam.
sedasi berlebihan dan  Theophilin: Dapat memusuhi
gangguan fungsi efek sedatif dari alprazolam
psikomotorik.
Efek Lain
CV: Hipotensi.
CNS: Mengantuk; kebingungan; ataxia; pusing; kelelahan; apati;
gangguan memori; disorientasi; amnesia anterograde; kegelisahan;
sakit kepala; bicara tidak jelas; aphonia; pingsan; koma; euforia; sifat
lekas marah; mimpi yang nyata; keterbelakangan psikomotor; reaksi
paradoks (misalnya, kemarahan, permusuhan, mania, insomnia,
kejang otot).  bahkan obat ini juga dapat memicu keinginan untuk
bunuh diri, sehingga penggunaan obat ini harus dalam pengawasan dokter
secara ketat.
Terimakasih