P. 1
Impian Bpjs-majalah Askes Spesial Juli 2012_scribd

Impian Bpjs-majalah Askes Spesial Juli 2012_scribd

|Views: 1,111|Likes:
Dipublikasikan oleh familyman80
perjuangan segenap rakyat Indonesia untuk mempunyai asuransi kesehatan secara Nasional hampir terwujud pada 1 januari 2014 melalui konsep SJSN sistem jaringan kesehatan nasional dengan PT ASKES menjadi Badan penyelanggara Jaminan Kesehatan 1 dan Jamsostek sebagai BPJS 2, perjuangan ini perlu didukung dengan keterlibatan aktif Pemerintah khususnya menteri kesehatan dalam menyiapkan sistem, perlu diwaspadi kekurangan standart pelayanan , kartel mafia obat dan belum diaturnya Sistem Rujukan dan PERANAN PENTING DOKTER KELUARGA, untuk industri obat perlu selarasa dengan SJSN yaitu pro terhadap obat obat DPHO dan DOI yang sudah terstandarisasi CPOB dengan harga obat yang terjangkau . semoga perjuangan ini didukung segenap stakeholder yang cinta dan bangga menjadi bangsa Indonesia . BENAHI SYSTEM ADALAH WAJIB
perjuangan segenap rakyat Indonesia untuk mempunyai asuransi kesehatan secara Nasional hampir terwujud pada 1 januari 2014 melalui konsep SJSN sistem jaringan kesehatan nasional dengan PT ASKES menjadi Badan penyelanggara Jaminan Kesehatan 1 dan Jamsostek sebagai BPJS 2, perjuangan ini perlu didukung dengan keterlibatan aktif Pemerintah khususnya menteri kesehatan dalam menyiapkan sistem, perlu diwaspadi kekurangan standart pelayanan , kartel mafia obat dan belum diaturnya Sistem Rujukan dan PERANAN PENTING DOKTER KELUARGA, untuk industri obat perlu selarasa dengan SJSN yaitu pro terhadap obat obat DPHO dan DOI yang sudah terstandarisasi CPOB dengan harga obat yang terjangkau . semoga perjuangan ini didukung segenap stakeholder yang cinta dan bangga menjadi bangsa Indonesia . BENAHI SYSTEM ADALAH WAJIB

More info:

Published by: familyman80 on Jul 30, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/31/2013

pdf

text

original

INFOASKES

BULETIN BULANAN PT ASKES (PERSERO) EDISI JULI 2012

Prof. G.A. Siwabessy Terwujudnya Cita-cita Sang Pendiri

KADO SPESIAL
UNTUK BANGSA

Persembahan
Untuk Kemajuan

Persembahan dari hati, untuk melayani negeri, dengan ketulusan mengemban amanat, mewujudkan mimpi. Menuju masyarat sehat dengan Sistem Jaminan Sosial Nasional untuk seluruh Rakyat Indonesia

Selamat Hari Jadi PT Askes (Persero) ke-44
www.ptaskes.com Health Insurance Specialist

Farid W Husain

Ida Bagus Indra Gotama

Eko Sutrisno

Tata Suntara

Fachmi Idris

Hambra Samal

Dengan Semangat Melayani Pelanggan Melampaui Harapan, Wujudkan Mimpi Rakyat Indonesia, Menuju Negara yang Sehat nan Sejahtera. Segenap Jajaran Komisaris PT Askes (Persero) mengucapkan

Selamat Hari Jadi PT Askes (Persero) ke-44

www.ptaskes.com Health Insurance Specialist

SURAT PEMBACA
email : infoaskes@gmail.com Fax : (021) 4212940

Buletin Bulanan PT Askes (Persero)

INFOASKES
PT ASKES (PERSERO)

SELAMAT ULANG TAHUN ASKES
Halo Askes, bulan ini akan mencapai usia 44 tahun bukan? Untuk itu melalui Buletin ini saya ucapkan selamat dan sukses untuk PT Askes (Persero). Semoga di pertambahan umur ini PT Askes (Persero) semakin memberikan pelayanan prima yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pesertanya. Semoga apa yang menjadi harapan kita mampu dikalahkan oleh PT Askes (Persero), menjelang detik-detik hadirnya BPJS Kesehatan. Dan semoga diiringi dengan pertumbuhan media ini yang secara nyata dapat memberikan kontribusi pemenuhan kebutuhan informasi akan kesehatan dan Askes pada umumnya. Sukses selalu. Andrianto Bekasi Terima kasih saudara Andrianto atas ucapan dan dukungannya. Salam sukses Selalu ReDAKSI

BULETIN DITERBITKAN OLEH:
Jln. Letjen Suprapto PO BOX 1391/JKT Jakarta Pusat Tlp. (021) 4246063, Fax. (021) 4212940 ISSN : 2086-0536

PENGARAH I Gede Subawa PENANGGUNG JAWAB Zulfarman Umbu M. Marisi PIMPINAN UMUM Lisa Nurena PIMPINAN REDAKSI Widianti Utami PENASIHAT HUKUM Feryanita Lia Lucyana Maliki SEKRETARIS Sri Wahyuningsih SEKRETARIAT Eko Yulianto Diah Ismawardani Puspita REDAKTUR Dasrial Elsa Novelia Chandra Nurcahyo Bona Evita Asyraf Mursalina Tavip Hermansyah Indrianti Wakhyuni Angga Firdauzie Vianti Mala DISTRIBUSI DAN PERCETAKAN Syahriadi Basuki

KIRIM PERTANYAAN
Salam Kesehatan & Salam Sejahtera... Halo Buletin Info Askes. Pertama saya pengen ngucapin terima kasih kepada PT Askes (Persero) yang sudah menerbitkan banyak majalah Buletin Info Askes. Ada banyak pengetahuan yang saya dapat dan itu sangat berguna sekali untuk saya. Dan ada yang ingin saya tanyakan. Bagaimana cara untuk bertanya dalam bagian "tanya dokter". Mohon bantuannya. Terimakasih atas jawabannya. Sukses selalu untuk Redaksi Buletin Info Askes dan PT Askes (Persero). Maqhrisa R, Kotabaru Terima kasih Ibu Maqhrisa atas apresiasinya. Untuk bertanya di rubrik “Tanya Dokter” silahkan menuliskannya melalui email : infoaskes@gmail.com atau fax. ke 021-4212940. Kami akan meneruskannya kepada Dokter pengasuk rubrik tersebut. Salam sukses. ReDAKSI

BIA UNTUK PERPUSTAKAAN DESA
Assalamualaikum Wr. Wb Kami mohon informasi, apakah bisa kami memperoleh Buletin Info Askes secara cuma-cuma (gratis)? Jika bisa, persyaratan dan prosedurnya seperti apa? Hal ini dikarenakan kami ingin melengkapi koleksi terutama majalah yang banyak diminati, namun kami terkendala pembiayaan. Buletin/majalah yang sudah lama (tahun 2011) pun kami terima, yang nantinya akan kami sumbangkan pula ke Perpustakaan Desa di wilayah kami untuk meningkatkan minat baca. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamualaikum Wr. Wb.

4

Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Lombok Timur NTB Terima kasih atas apresiasi akan kehadiran Buletin Info Askes. Sebagai informasi Buletin Info Askes boleh dimiliki secara gratis (tidak perlu membeli).Kami akan mengirimkan Buletin Info Askes ke sana. Namun untuk Kabupaten Lombok Timur, Buletin Info Askes juga bisa didapatka di Kantor Cabang Mataram di Jl. Bung Karno – Mataram (0370) – 638313. Jika terkendala oleh jarak, untuk saat ini Buletin Info Askes juga bisa diunduh (download) di website kami www.ptaskes.com. Sekian informasi yang bisa kami sampaikan, Salam. Pada edisi Juni 2012, terdapat kesalahan penulisan di rubrik Tanya Askes. Disebutkan bahwa klaim penggantian kacamata adalah Rp150.000,-, penggantian klaim yang benar adalah Rp200.000,-. Kami memohon maaf atas kesalahan penulisan tersebut. Terima kasih.

RALAT
INFOASKES

Redaksi menerima tulisan artikel/opini berkaitan dengan tema seputar Askes maupun tematema kesehatan lainnya yang relevan dengan pembaca yang ada di Indonesia. Panjang tulisan maksimal 7.000 karakter (termasuk spasi), dikirimkan via email ke alamat: infoaskes@gmail.com dilengkapi identitas lengkap dan foto penulis.

SALAM REDAKSI

KADO SPESIAL UNTUK BANGSA

U

lang Tahun selalu menjadi momentum yang spesial bagi siapapun. Oleh karena itu diperlukan kado spesial bagi orang-orang terdekat anda yang tengah berulang tahun. Tepat 15 Juli 2012, PT Askes (Persero) genap berusia 44 tahun. Ini merupakan titik tolak dimana, pada tahun ini rakyat Indonesia memberikan “kado spesial” bagi PT Askes (Persero) dengan amanat UU No. 24 tahun 2011 yang mendelegasikan perusahaan menjadi Badan Penyelenggra Jaminan Sosial di tahun 2014.

Untuk itu kami Redaksi Buletin Info Askes pun hadir secara spesial, dengan bentuk, rubrik, serta pelbagai informasi hadir secara khusus dan istimewa. Bagi Buletin Info Askes ulang tahun adalah momen introspeksi dan evaluasi diri. Ketika usia bertambah, sudah sewajarnyalah kebaikan, kebajikan dan kedewasaan pun bertambah. Dalam edisi kali ini kami secara khusus akan membawa Anda menelisik lebih jauh “rumah” PT Askes (Persero) yang sudah berdiri sejak tahun 1968 ini. Bagaimana kebaikan, perubahan menuju kedewasaan terus diukir hingga detik ini. Seperti pada rubrik Milestone yang banyak mengajak pembaca setia Buletin Info Askes mundur ke belakang untuk mengetahui perjalanan PT Askes (Persero) dalam rentang waktu yang tidak sebentar ini. Bagaimana perusahaan ini menembus rentang waktu tersebut dengan kearifan untuk berubah menjadi lebih baik. Tidak ketinggalan pada rubrik Fokus yang akan berbicara banyak tentang makna ulang tahun itu sendiri. Tak lupa, laporan kinerja perusahaan akan kami sajikan secara lengkap, yang merupakan wujud komitmen tranparansi kami. Kami juga menghadirkan narasumber spesial yang kami pilih dimana para narasumber tersebut tahu benar seperti apa sejarah panjang perusahaan ini, pandangan serta harapan ke depan dalam rubrik Fokus dan Resonansi. Rubrik spesial lainnya yang akan mengantar pembaca setia Buletin Info Askes lebih jauh mengetahui “komitmen” 12 Kantor Divisi Regional PT Askes (Persero). Bagaimana mereka mengejawantahkan visi dan misi mereka dalam koridor Melayani Pelanggan Melampaui harapan, dimana setiap bagian dari mereka adalah satu kesatuan “rumah” PT Askes (Persero) yang tersebar dipelosok nusantara dan memiliki satu tujuan yang sama. Kinerja PT Askes (Persero) juga kami paparkan secara terinci dalam rubrik Dulu dan Kini. Harapan kami, yang diharapkan para pembaca sekalian mengetahui, memahami, dan kedepannya akan turut ambil bagian dalam setiap program dan strategi yang dilakukan perusahaan ini demi menunjang tingkat kepuasan peserta yang dioptimalkan seperti yang dicita-citakan. Akhirnya, sebagai penutup pengantar edisi ini, segenap tim redaksi Buletin Info Askes berharap kehadiran media ini tidak menjadi sia-sia. Sebaliknya, kehadirannya menjadi jembatan informasi dan komunikasi yang efektif. Kami mengucapkan terima kasih atas berbagai dukungan dan tanggapan atas terbitnya media ini. Selamat beraktivitas dan Selamat Ulang Tahun PT Askes (Persero). Salam, Redaksi

5

EDISI KHUSUS

JULI 2012

EDISI JULI 2012

DAFTAR ISI
MILESTONE

7 32
FOKUS
Kualitas Pelayanan Harus Terukur, Tidak Boleh Pudar
Kondisi sejahtera terjadi manakala kehidupan manusia aman dan bahagia karena kebutuhan dasar seperti gizi, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, dan pendapatan dapat dipenuhi. Hal ini juga didukung dengan diperolehnya perlindungan dari risiko-risiko utama yang mengancam hidup seperi risiko kesehatan. Dengan pengelolaan jaminan kesehatan, diharapkan daya hidup warga meningkat yang berujung pada peningkatan kesejahteraan

Sebuah Cita-Cita Yang Menjadi Nyata
RESONANSI

46
Memasuki usianya yang ke-44, PT Askes (Persero) semakin dikenal sebagai perusahaan yang sangat identik dengan jasa pengelolaan jaminan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat. Lewat slogan “Melayani Pelanggan, Melampaui Harapan” PT Askes (Persero) ingin , menunjukkan tekadnya untuk senantiasa memberikan pelayanan terbaik.

SURAT PEMBACA SALAM REDAKSI CATATAN CEO TESTIMONI VOXPOP OPINI KILAS & PERISTIWA DARI DUTA ASKES SEHAT

4 5 33 68 72 76 78 90 94 96

ASKES IN STRATEGY

58
Customer Focus Strategy

6

42
BINCANG
Jaminan Kesehatan Harus Mengacu Kendali Mutu dan Biaya
INFOASKES

GAYA HIDUP ADVERTORIAL
PT. Kimia Farma (Persero) PT Indofarma Tbk PT Indofarma Global Medika

adalah Kunci
30 56 92

ASKES IN STRATEGY

82

Tahun 2011, PT Askes (Persero) telah melakukan revitalisasi kegiatan usaha dan pengembangan produk untuk meningkatkan kualitas pelayanan maupun kinerja perusahaan. Program tersebut terus berjalan sebagai program berkelanjutan dalam rangka mencapai prospek usaha yang lebih baik.

MILESTONE

C

ita-cita adalah suatu impian dan harapan seseorang akan masa depannya. Bagi sebagian orang cita-cita itu adalah tujuan hidup dan bagi sebagian yang lain citacita itu hanyalah mimpi belaka. Bagi orang yang menganggapnya sebagai tujuan hidupnya maka citacita adalah sebuah impian yang dapat membakar semangat untuk terus melangkah maju dengan langkah yang jelas dan mantap, sehingga ia menjadi sebuah akselerator pengembangan diri. Namun bagi yang menganggap cita-cita sebagai mimpi maka ia adalah sebuah impian belaka tanpa api yang dapat membakar motivasi untuk melangkah maju.

Begitu pula dengan PT Askes (Persero). Hadirnya perusahaan yang sudah 44 tahun berdiri ini, merupakan tonggak sebuah cita-cita seorang anak bangsa. Prof. G.A Siwabessy namanya, yang 44 tahun lalu menjabat sebagai Menteri Kesehatan, memiliki sebuah cita-cita sederhana dan mulia. Menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang sejahtera, melalui pelayanan kesehatan yang terbaik dan dapat dirasakan oleh setiap anak negeri melalui universal coverage. Asuransi Kesehatan Semesta, menjadi mimpi yang selama 44 tahun terus digantungkan setinggi langit, dan kini mimpi itu, cita-cita itu akan terwujud 1 Januari 2014 mendatang. Dalam milestone kali ini, Buletin Info Askes akan memaparkan sekilas perjalanan panjang 44 tahun perusahaan ini berjuang dalam mewujudkan impian mulia seorang anak bangsa. Bagaimana PT Askes (Persero) tentu telah mengalami perjalanan waktu yang tidak sebentar, dengan tidak sedikit pelajaran yang bisa diambil bagi tiap insan yang bersamasama melewatinya atau yang baru melihat dan mengetahuinya pada detik ini.

YANG MENJADI NYATA
EDISI KHUSUS JULI 2012

SEBUAH CITA-CITA

7

MILESTONE

Siwabessy
Sang Pencetus Cita-Cita
ir engal ang m air y barat n rendah, . -cita i wanya ara ita npa c ju dat gai memba enu sia ta Manu unungan m ja alur sun seseorang an sa n ju eg dari p uti kemana ita bagaika an tanpa tu a-c auh rjal gik cit be bih j men tanpa t yang pat le ancangan r anusia ng tersesa bahkan da M a ng ebuah da ng se sehingga i ta adalah s ngunan ya u ya ba -ci lm las je ni ita ng, yang i. Ya, c seora , seme sat lag hidupan se terampilan terse an ke e n bata k bangu dari batu i. ir un tersus ir potensi d s a dan p

8

INFOASKES

MILESTONE
osok Prof. GA Siwabessy menjadi pantas sebagai pencetus cita-cita Asuransi Kesehatan Semesta. Bagaimana visi ini telah ia rangkai saat ia berhasil mendapatkan beasiswa dari British Council untuk studi lanjutan di Universitas London. Termasuk study trip ke pusat radiologi dan pusat kedokteran nuklir berbagai kota di Inggris. Saat itu, Siwabessy mempelajari sistem kesejahteraan di bidang kesehatan yang dijalankan pada masa pemerintahan Atlee, yaitu jaminan dalam bidang pengobatan. Pada masa itu seluruh biaya pengobatan dibebaskan. Mulai dari pemeriksaan dokter sampai pada resep-resep tidak perlu dibayar. Namun ternyata sistem ini menjatuhkan pemerintahan Atlee. Pada tahun 1952 sistem inipun diubah, dan biaya pengobatan juga harus dibayar sebagian dari rakyat (sistem asuransi). Siwabessy, dalam buku "Upuleru", Memoar G.A. Siwabessy (1979) disebutkan pengalaman mempelajari sistem asuransi di London pada saat itu, membekas pada dirinya. Dan pada saat ia menjadi Menteri Kesehatan, dibuatnya suatu sistem kesejahteraan di bidang kesehatan yang kemudian dikenal dengan nama Askes (Asuransi Kesehatan). Dalam perkembangan sebelumnya, jaminan pemeliharaan kesehatan di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Dan setelah kemerdekaan, pada tahun 1949, setelah pengakuan kedaulatan oleh Pemerintah Belanda, upaya untuk menjamin kebutuhan pelayanan kesehatan bagi pegawai negeri sipil beserta keluarga tetap dilanjutkan. Dengan sistem restitusi, memang dapat mengatasi hambatan keuangan pegawai negeri sipil, namun ditemukan banyak permasalahan. Maka untuk mengatasi pelbagai masalah tersebut, melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.865/Menkes/60 tanggal 20 Desember 1960, diperkenalkan suatu program pemeliharaan kesehatan yang disebut Jakarta Pilot Project di Jakarta. Namun program ini pun juga masih memunculkan masalah terutama masalah beban anggaran belanja pemerintah,

S

maka dibentuk Panitia Dana Sakit. Hal ini dilakukan mengingat terdapat landasan hukum tepatnya UU No.9 Tahun 1960 yang menyebutkan dalam salah satu pasalnya yaitu Pasal 1 bahwa setiap warga negara berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan perlu diikutsertakan dalam usaha kesehatan pemerintah. Maka bertitik tolak dari pemikiran tersebut, Menteri Kesehatan yang menjabat saat itu Prof. GA Siwabessy mengajukan sebuah gagasan untuk perlu segera menyelenggarakan program asuransi kesehatan (health insurance) semesta yang saat itu mulai diterapkan dibanyak negara maju dan tengah berkembang pesat. Memang saat itu kepesertaannya baru mencakup pegawai negeri sipil beserta anggota keluarganya saja. Namun Siwabessy yakin suatu hari nanti, klimaks dari pembangunan derajat kesehatan masyarakat Indonesia akan tercapai melalui suatu sistem yang dapat menjamin kesehatan seluruh warga bangsa ini.
Didampingi Istri, mendapatkan Bintang Mahaputra II

Pegawai negeri semasa kolonial Belanda

Siwabessy, dalam buku “Upuleru”, Memoar G.A. Siwabessy (1979) disebutkan pengalaman mempelajari sistem asuransi di London pada saat itu, membekas pada dirinya. Dan pada saat ia menjadi Menteri Kesehatan, dibuatnya suatu sistem kesejahteraan di bidang kesehatan yang kemudian dikenal dengan nama Askes (Asuransi Kesehatan).

Dibentuknya BPDPK pun diharapkan menjadi cikal bakal terwujudnya impian tersebut, "Asuransi Kesehatan Rakyat Semesta". Keinginan yang sudah terbangun sekitar 44 tahun yang lalu, tentu setahap demi setahap senantiasa diwujudkan oleh perusahaan yang kini bernama PT Askes (Persero). Setelah disahkannya UU No.40 tahun 2004 berlanjut dengan UU No. 24 Tahun 2011 cita-cita tersebut tampak jelas di depan mata.

9

EDISI KHUSUS

JULI 2012

MILESTONE

Perintis Asuransi Sosial
10

BPDPK

Akhirnya pada 1968 pemerintah mengeluarkan kebijakkan yang secara jelas mengatur pemeliharaan kesehatan bagi pegawai negara dan penerima pensiun beserta keluarganya. Maka berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.1/1968 pemerintah membentuk Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK). Ketika itu pelayanan didasarkan kepada fee for services reimbursement system, yakni BPDPK mengganti biaya kesehatan berdasarkan jumlah pelayanan yang dipakai peserta.

INFOASKES

MILESTONE

Direksi BPDK periode 1976 - 1980

Pertemuan Nasional BPDPK di Jakarta 26-27 Agustus 1981

Pada awal tahun 80-an selain juga dilakukan berbagai ujicoba demi meningkatkan kualitas di aspek pelayanan, maka beberapa kebijakan untuk lebih memantapkan aspek pembiayaan juga banyak dilakukan. Disini mulai diperkenalkan kebijakan pembiayaan dengan sistem kapitasi, rujukan dengan sistem all-in, serta membatasi klaim perorangan. Dengan kebijakan pembiayaan seperti ini, maka terhitung mulai tahun 1980/1981 BPDPK berhasil melakukan penghematan dana. Dapat membayar hutang, serta peningkatan mutu serta jumlah obat yang digunakan. Selain itu aspek kepesertaan juga mengalami peningkatan yang cukup baik. Kejelasan peserta dengan meningkatnya jumlah pegawai negeri yang memiliki KTP serta penerima pensiun. Kesadaran peserta untuk , menggunakan haknya juga meningkat, karena semakin ditambah kegiatan penyuluhan peserta, menerbitkan buku-buku petunjuk bagi peserta serta kerja sama dengan berbagai media massa. Dari sinilah program-program jaminan pemeliharaan kesehatan diharapkan bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas.

Dr. IGM. Brata Ranuh

Dr. Soeparno H.T Direktur Utama 1968 - 1975

B

erbagai perubahan seperti sumber dana, kepesertaan, serta sistem yang diubah ternyata dalam implementasinya masih banyak kendala yang menghambat, terutama di sektor inansial.

Untuk mengatasi kesulitan dana ini, BPDPK menerapkan kebijakkan diantaranya, kebijakan dekonsentrasi dana, memantapkan badan pengelola program, memantapkan pola pelayanan yang dimanfaatkan, penyaluran dana ke daerah yang lebih tepat dan jelas, menyempurnakan manajemen program. Upaya-upaya tersebut dinilai cukup berhasil. Di aspek pelayanan, terhitung di tahun yang sama secara bertahap BPDPK mulai memantapkan pelbagai prinsip pokok pelayanan kesehatan dengan sistem asuransi kesehatan. Dengan eisiensi pemanfaatan pelayanan kesehatan milik pemerintah, penyelenggaraan dengan sistem rujukan, menambah jam pelayanan kesehatan di puskesmas serta pemantapan konsep pelayanan kesehatan yang menyeluruh dan terpadu. Upaya-upaya ini berbuah manis. Tanggapan peserta tidak mengecewakan.
Penggunaan nama ASKES ketika masa periode BPDPK

11

Pada awal tahun 80-an selain juga dilakukan berbagai ujicoba demi meningkatkan kualitas di aspek pelayanan, maka beberapa kebijakan untuk lebih memantapkan aspek pembiayaan juga banyak dilakukan. Disini mulai diperkenalkan kebijakan pembiayaan dengan sistem kapitasi, rujukan dengan sistem all-in, serta membatasi klaim perorangan.

EDISI KHUSUS

JULI 2012

MILESTONE

Semakin Profesional Saat Perum Husada Bakti (PHB)
Untuk meningkatkan profesionalisme dalam penyelenggaraan program-program jaminan pemeliharaan kesehatan yang selalu dikembangkan dan disempurnakan, maka Keputusan Presiden No.230/1968 diganti dengan Peraturan Pemerintah No.22 dan 23 tahun 1984 tentang Pemeliharaan Kesehatan Pegawai Negeri, Penerima Pensiunan beserta keluarga, status badan penyelenggara inipun diubah.

12

Dr. Sri Suwarsih SE, MPH memberikan kartu PHB kepada Presiden Soeharto

INFOASKES

MILESTONE

Tim Perintis Daftar Plafon Harga Obat (DPHO) yang dipakai hingga saat ini dan sangat berguna untuk efektivitas dan efisiensi biaya pelayanan kesehatan terutama untuk obat. Tim diketuai oleh Prof. Iwan Darmansjah hingga kini

ari sebuah badan di lingkungan Departemen Kesehatan menjadi BUMN yaitu Perusahaan Umum (Perum) Husada Bhakti. Sejalan dengan perubahan status tersebut, dilakukan perbaikan sistem dan program. Antara lain mulai diterapkan konsep managed care, dengan sistem ini diharapkan pelayanan kesehatan yang bermutu dengan biaya optimal diharapkan terwujud. Maka dimulailah suatu pengembangan sistem pelayanan kesehatan dengan menerapkan beberapa prinsip, termasuk menghapus klaim perseorangan. Pelayanan puskesmas mempergunakan sistem kapitasi, sedangkan di rumah sakit dengan sistem paket. Ternyata beberapa pengembangan sistem ini lumayan berhasil dalam arti mengurangi berbagai hal negatif, termasuk dapat menghemat dana yang tersedia. Selain itu PHB mulai menggalakkan konsep dokter keluarga (1988), disamping lebih memantapkan konsep wilayah, konsep rujukan, serta konsep daftar plafon harga obat (1987). Harapannya jika konsep ini terselenggara dengan baik, maka perkembangan PHB akan semakin pesat sehingga dapat dikembangkan untuk melayani masyarakat luas. Benar saja, berbagai pengembangan yang mendukung profesionalisme kerja dilakukan. Dimulai dari pengembangan berbagai kebijakan, seperti pembakuan sistem pencatatan dan pelaporan data minimal, standar pelayanan dan tarif rawat inap, standar pelayanan jantung dan hemodialisa, tarif paket rawat inap di rumah sakit serta pemantapan dan penerapan daftar dan plafon harga obat. Sistem Informasi Manajemen (SIM) juga tengah dikembangkan pada periode ini.

D

Dari segi kepesertaan juga sudah mencakup veteran, perintis kemerdekaan. Bahkan berdasarkan Peraturan Menaker No.1 tahun 1984, PHB menjadi salah satu penyelenggara jaminan pemeliharaan kesehatan untuk tenaga kerja (PKTK). Selain itu pada periode ini juga mulai dikembangkan program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat seiring dengan munculnya UU yang mengatur tentang perasuransian di Indonesia. Disinilah awal mula perusahaan ini menyelenggarakan program asuransi yang lebih profesional.

Hari jadi ke-28 PT (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia

13

Dari segi kepesertaan juga sudah mencakup veteran, perintis kemerdekaan. Bahkan berdasarkan Peraturan Menaker No.1 tahun 1984, PHB menjadi salah satu penyelenggara jaminan pemeliharaan kesehatan untuk tenaga kerja (PKTK). Selain itu pada periode ini juga mulai dikembangkan program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat seiring dengan munculnya UU yang mengatur tentang perasuransian di Indonesia.

EDISI KHUSUS

JULI 2012

MILESTONE

Pelantikan Direktur Utama PHB, Dr. IGM Brataranuh MPH dan DIrektur Keuangan Manan Prasodjo SE, tahun 1986

14

Pelayanan di Provider tingkat lanjutan di era PHB

INFOASKES

MILESTONE

Tonggak Kinerja Ekselen dengan

Perusahaan Perseroan
Sejalan dengan kehendak untuk memperluas bidang gerak PHB, tidak hanya dalam pelayanan kesehatan tetapi juga dalam bidang dana, maka direncanakan untuk mengubah status hukum PHB menjadi Persero. Rancana ini berhasil diwujudkan dengan dikeluarkannya PP No 6 tahun 1992 tanggal 18 Februari 1992.

15

EDISI KHUSUS

JULI 2012

MILESTONE
Hasilnya cukup mencengangkan, dulu PT Askes (Persero) saat memiliki status sebagai BPDPK bisa dikatakan setiap tahunnya mengalami kerugian, kini berbalik keadaannya. Perusahaan ini terus mengalami kenaikan tingkat pendapatan disertai mutu yang berstandar tinggi. Ini terbukti berdasarkan hasil audit pada tahun 2001 PT Askes (Persero) memiliki predikat “sehat sekali” serta predikat “Wajar Tanpa Pengecualian” secara rutin tiap tahun. Jumlah peserta sukarela atau Askes komersial pun kian melonjak. Hal ini juga disertai dengan pelayanan yang bermutu dan eisien karena terintegrasi dengan sistem pembiayaan. Layanan yang bermutu dan profesional inilah yang selalu menjadi landasan kerja seluruh jajaran PT Askes (Persero). Kualitas pelayanan senantiasa dijaga memlalui Program Operasional Prima serta didukung pula dengan aplikasinya Sistem Manajemen Mutu ISO versi 1999:1994 yang dimutakhirkan dengan ISO 9001:2000. Hasilnya pun terus dipantau memalui survey tingkat kepuasan peserta dan provider secara periodik tiap tahun.
Direksi PT Askes (Persero) tahun 2000-2008

D

engan perubahan status ini diharapkan terbukanya kesempatan untuk lebih memperluas pelbagai program kerjanya. Sebagai langkah pertama adalah memperluas kepesertaan hingga menjangkau karyawan BUMN melalui program Askes Komersial. Dengan memperluas kepesertaan ini maka PT Askes (Persero) secara otomoatis memperluas mitra kerja serta penambahan karyawan. Bahkan pada tahun 1993 PT Askes (Persero) membuat kontrak dengan 148 rumah sakit non pemerintah. Dengan status baru ini, manajemen diharapkan akan lebih mandiri dan pengelolaan keuangan pun akan lebih leksibel.

Memasuki awal tahun 2005 melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomer 1244/Menkes/XI/2004 PT Askes (Persero ) ditunjuk sebagai penyelenggara program Jaminan Kesehatan bagi Masyarakat miskin (PJKMM) yang mulai berlaku sejak Januari 2005. Pada tahun 2006 penyelenggaraan program ini disebut Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin dan Masyarakat Tidak Mampu yang selanjutnya disebut Askeskin dengan sasaran peserta sebanyak 60 juta jiwa.

16

Direktur Utama PT Askes (Persero) periode 2000-2007 dr. Orie Andari Sutaji dalam acara dialog bersama Menkokesra saat itu, HM Jussuf Kalla

INFOASKES

MILESTONE

Dengan Transformasi

Semakin Kokoh
Penugasan ini kembali berlanjut seiring dengan kemauan politik pemerintah dalam memberlakukan UU No 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Salah satu jaminan yang tercakup dalam SJSN adalah jaminan kesehatan, SJSN akan mempercepat pertambahan jumlah penduduk yang mempunyai asuransi kesehatan karena SJSN kepesertaannya adalah wajib dan akan diterapkan secara bertahap.
17

EDISI KHUSUS

JULI 2012

MILESTONE

P

enerapan UU SJSN ini ternyata menimbulkan perubahan yang mendasar bagi bisnis PT Askes (Persero), mengingat pengelolaan asuransi sosial harus terpisah dengan asuransi komersial. Kini seiring dengan tuntutan yang ada, PT Askes (Persero) terus berupaya sedemikian rupa untuk memenuhi harapan bangsa ini dalam rangka peningkatan derajat pembangunan kesehatan. Sejak tidak menyetor deviden lagi ke negara pada tahun 2007 berbagai , peningkatan pelayanan terhadap pelanggan (peserta dan mitra) senantiasa diupayakan. Dalam beberapa kesempatan Direktur Utama PT Askes (Persero), I Gede Subawa mengungkapkan bahwa PT Askes (Persero) sudah siap dalam implementasi SJSN. Siap dalam aturan main, karena anggaran dasarnya sudah diubah. Askes Komersial sudah dipisahkan, dan PT Askes (Persero) sudah terfokus pada Askes Sosial. Begitu pula dengan SDM telah dipersiapkan melalui peningkatan pendidikan dan pelatihanpelatihan. Program managed care yang dikelola oleh PT Askes (Persero), merupakan pendekatan strategi yang paling baik untuk memenuhi amanah kendali mutu kendali biaya dalam UU No.40 tentang SJSN. Pengembangan infrastruktur pun sudah tersebar di seluruh Indonesia. Sementara untuk pengembangan hardware dan software sudah siap. PT Askes (Persero) telah banyak berbenah dan siap menjalankan peran sebagai BPJS demi terselenggaranya Jaminan Kesehatan Nasional. Kesiapan PT Askes (Persero) dalam penyelenggaraan JKN pun telah mendapat pengakuan publik dan agar JKN nantinya dikelola oleh PT Askes (Persero). ”PT Askes adalah badan usaha milik pemerintah yang sudah menunjukkan kemampuannya. Kami pun sudah siap. Bila dimanfaatkan oleh pemerintah mengenai kesiapan ini, maka pemerintah sebenarnya sangat tertolong sekali untuk upaya kesehatan perorangan dan upaya promotif dan preventif kesehatan. Apalagi pemerintah telah menargetkan bahwa seluruh penduduk

Pengembangan infrastruktur pun sudah tersebar di seluruh Indonesia. Sementara untuk pengembangan hardware dan software sudah siap. PT Askes (Persero) telah banyak berbenah dan siap menjalankan peran sebagai BPJS demi terselenggaranya Jaminan Kesehatan Nasional.

Indonesia wajib memiliki asuransi kesehatan (Jaminan Sosial) di tahun 2014. Sehingga pemerintah melalui Departemen Kesehatan betul-betul fokus kepada upaya peningkatan kesehatan masyarakat, ujar CeO PT Askes ” (Persero), I Gede Subawa. Di era ini, PT Askes (Persero) terus gencar mengadvokasi pemerintah daerah kabupaten/ kota, dan provinsi akan pentingnya suatu jaminan kesehatan bagi masyarakat. Dan sekarang sekitar lebih dari 200 kabupaten/ kota telah menjadi peserta PJKMU.

”Apabila Pemda telah sadar akan pentingnya suatu jaminan kesehatan bagi masyarakatnya, maka implementasi SJSN nantinya akan mudah dilaksanakan. Hanya menambah jumlah peserta yang lebih luas, diikuti dengan pembentukan jaminan sosial lainnya. Kami melihat suatu kesempatan yang bagus sekali untuk membangun sistem jaminan kesehatan yang mutlak bagi seluruh rakyat, ujarnya Gede. ”

Menpan saat itu bersama Direktur Utama PT Askes (Persero) I Gede Subawa periode 2008-2013 menyerahkan secara resmi kartu barcode kepada peserta Askes

18

Kartu Askes sebelum Kartu Bercode

Pelayanan di provider tingkat lanjutan di era Perseroan

INFOASKES

MILESTONE

Menuju BPJS
PT Askes (Persero) melalui UU No. 24 Tahun 2011, diamanahkan menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan. Untuk itu pada tahun 2012, sembari terus memberikan pelayanan yang maksimal kepada peserta, PT Askes (Persero) juga harus lebih mempersiapkan diri menjadi BPJS Kesehatan dengan berbagai upaya, agar pelaksanaan BPJS nanti bisa berjalan dengan baik, sama bahkan lebih dari yang sekarang. Upaya-upaya tersebut berupa, berperan aktif untuk memberi masukan kepada pemerintah terkait segala perundangan turunan UU BPJS.
EDISI KHUSUS JULI 2012

Siap

19

MILESTONE

Melayani Pelanggan Melampaui harapan adalah komitmen Duta Askes dalam memberikan pelayanan terbaik bagi peserta

D

alam beberapa tahun terakhir, Customer Focus Strategy menjadi andalan karena dengan prinsip tersebut segala upaya dalam peningkatan kepada peserta. PT Askes melakukan negosiasi dengan seluruh rumah sakit untuk peningkatan tarif. Selain itu peningkatan pelayanan juga diperuntukan bagi peserta Askes Sosial yang menderita penyakit katastropik, seperti operasi

jantung, cuci darah, kanker, thalasemia, dan hemodialisa. Dengan tambahan premi sebesar 2 persen dari pemerintah, PT Askes (Persero) menanggung biaya pengobatan penyakit-penyakit katastropik yang relatif mahal. PT Askes (Persero) juga melakukan upayaupaya promotif dan preventif. Salah satunya program medical check up di beberapa

20

instansi pemerintah yang menjadi peserta Askes. Dengan begitu, PT Askes (Persero) dapat memberikan perhatian khusus serta pelayanan yang semestinya dilakukan. Kegiatan lainnya adalah pemberian vaksin hepatitis B kepada rumah sakit. Saat ini kegiatan ini berkembang menjadi program pengelolaan penyakit kronis pada 2010 yang selanjutnya menjadi program pengelolaan penyakit diabetes melitus (PPDM) dan hipertensi (PPHT). Sebagai wujud kesiapan PT Askes menyongsong Jaminan Kesehatan Nasional, juga dilakukan penyempurnaan master ile, banyak wujud pelayanan excellence lainnya dikerjakan PT Askes (Persero) di sepanjang tahun. Program besar yang dikerjakan lainnya adalah penggantian kartu peserta Askes yang tadinya berbahan kertas menjadi kartu berbahan plastik. Selain kartu ini akan lebih tahan lama, juga memberi efek kebanggaan bagi pemiliknya. Program lainnya adalah program kemitraan. Pada waktu lalu PT Askes (Persero) selalu memberikan hibah langsung berupa ambulans dan alat-alat kesehatan kepada rumah sakit, mulai tahun 2009 perusahaan terapkan pola baru yakni ada yang disebut hibah dan ada yang disebut dengan bantuan bersyarat. Untuk hibah langsung, PT Askes (Persero) telah menghibahkan lebih dari 200 unit ambulans dengan kualitas yang bagus karena dilengkapi alat canggih.

Menteri Kesehatan RI, Gubernur Jabar, serta Direktur Utama PT Askes (Persero) saat peresmian Askes center di RSHS, Bandung

INFOASKES

MILESTONE
PT Askes (Persero) juga menerapkan Sistem Informasi Manajemen (SIM) berbasis teknologi informasi, sehingga semuanya harus terkomputerisasi agar memudahkan jalannya proses bisnis di dalam perusahaan. Untuk menunjang SIM berbasis teknologi, PT Askes (Persero) mempergunakan suatu platform bernama ASTeRIX. Saat ini pula, dengan menggunakan jaringan VPN yang menjangkau 682 titik dengan kapasitas yang memadai di seluruh Indonesia sudah tersambung secara real time on line PT Askes (Persero) juga membuat call center Askes 500400 yang bertujuan semakin mendekatkan peserta dengan Askes. Tujuannya tentu saja untuk mempermudah kebutuhan informasi peserta misalnya seputar kartu peserta ber-barcode dan informasi mengenai dokter keluarga. Selain itu untuk memperlancar pertukaran informasi baik antara PT Askes (Persero) dengan peserta, Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) dengan peserta, ataupun PPK dengan PT Askes (Persero). Untuk itu sangat diperlukan persiapan terutama kompetensi yang dimiliki Duta Askes dalam memenuhi ekspektasi peserta, PPK, dan seluruh stake holder PT Askes (Persero). 2012, Tahun Penentuan Grand strategy Askes di tahun 2012 masih tetap “fokus kepada pelanggan” yaitu ingin memberikan layanan terbaik kepada peserta Disamping terus menjaga dan meningkatkan kinerja perusahaan, PT Askes (Persero) pun terus bersikap proaktif untuk mendukung implementasi pelaksanaan program jaminan kesehatan dengan mendorong percepatan penyusunan peraturan perundangan sebagai pelaksanaan Undang-undang Nomor 24 tahun 2011 tentang BPJS melalui upayaupaya yang bersifat advokasi atau dengan memberikan masukan dan saran kepada pihak regulator terkait. Dan diharapkan penerapan SJSN inilah yang akan menjadi klimaks dari perjalanan panjang perusahaan ini. Pembangunan kesehatan negeri secara menyeluruh, adil, dan bermutu. dan mitra kerja Askes. Motto “Melayani Pelanggan Melampaui Harapan” merupakan senjata ampuh untuk memicu setiap Duta Askes memberikan layanan terbaik dengan sikapnya yang ramah, tanggap serta informatif. Tingkat Kepuasan Peserta yang dilakukan oleh pihak ketiga (independen) diperoleh peningkatan Indeks Kepuasan Peserta yang sangat bermakna dari indeks 85.7 pada tahun 2010 menjadi 87 pada tahun 2011. .2 Angka ini berada diatas target tahun 2011 yang ditargetkan pada indeks 87 Indeks .0. atau angka ini memberikan gambaran bahwa peserta Askes merasakan sangat puas dengan layanan yang diterimanya, dan semoga peserta merasa semakin bangga dan bermanfaat memiliki kartu Askes. Seluruh awak Askes pun tidak berhenti sampai disitu, Duta Askes dituntut untuk menunjukkan kesiapan diri, semangat dan komitmen kerja keras yang semakin tinggi dalam mewujudkan sasaran utama perusahaan yaitu mempertahankan tingkat kepuasan peserta minimal 87 atau .2 meningkat menjadi 88.2 di tahun 2012, kinerja perusahaan sehat katagori AA, dengan opini eksternal auditor Wajar Tanpa Pengecualian yang ke-20.

Saat ini pula, dengan menggunakan jaringan VPN yang menjangkau 682 titik dengan kapasitas yang memadai di seluruh Indonesia sudah tersambung secara real time on line PT Askes (Persero) juga membuat call center Askes 500400 yang bertujuan semakin mendekatkan peserta dengan Askes.

21

Kartu Barcode yang memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan kartu Askes sebelumnya

EDISI KHUSUS

JULI 2012

CATATAN CEO

22

INFOASKES

CATATAN CEO

REFLEKSI 44 Tahun PT Askes (Persero)

“BUMN untuk Bangsa”
Dalam setiap momen ulang tahun, setidaknya ada dua hal yang patut kita lakukan; merenung dan memaknai setiap kejadian dan pengalaman masa silam, sekaligus menjadikannya sebagai bekal untuk menapaki dan sekaligus mencapai harapan yang lebih baik di masa depan. Pun demikian dengan PT Askes (Persero).

KADO SPESIAL
erjalanan menyejarah yang telah ditempuh oleh perusahaan selama 44 tahun ini memberikan pelajaran sekaligus bekal bagi kita untuk menghadapi era baru di masa datang. Sejenak mari kita tengok ke belakang, melihat bagaimana PT Askes (Persero) hadir, memulai kiprahnya sebagai lembaga yang turut serta membangun derajat kesehatan rakyat Indonesia, hingga akhirnya sampai di titik saat ini. "Asuransi Kesehatan Rakyat Semesta", adalah sebuah impian yang dicita-citakan oleh Prof. Gerrit A. Siwabessy. Tokoh asal Maluku yang menjabat sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia pada saat melahirkan Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK) telah mencanangkan Badan ini sebagai embrio Asuransi Kesehatan bagi Rakyat Semesta. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 9 tahun 1960, menjelaskan tentang pokok-pokok kesehatan dan pada salah satu pasalnya, yaitu Pasal 1 menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan perlu diikutsertakan dalam usaha kesehatan pemerintah.

P

Bertitik tolak dari pemikiran ini, maka Prof. Gerrit A. Siwabessy mengajukan sebuah gagasan perlunya negara ini segera menyelenggarakan program asuransi kesehatan yang di negara maju telah berkembang pesat. Memang saat itu kepesertaannya baru mencakup pegawai negeri sipil beserta anggota keluarganya saja. Namun Siwabessy yakin suatu hari nanti, klimaks dari pembangunan derajat kesehatan masyarakat Indonesia akan tercapai melalui suatu sistem yang dapat menjamin kesehatan seluruh warga bangsa ini. Dibentuknya BPDPK pun diharapkan menjadi cikal bakal terwujudnya impian tersebut, "Asuransi Kesehatan Rakyat Semesta". Keinginan yang sudah terbangun sekitar 44 tahun yang lalu, tentu setahap demi setahap senantiasa diwujudkan oleh perusahaan yang kini bernama PT Askes (Persero). Mengapa disebut kini, karena dalam perjalanannya PT Askes (Persero) yang awalnya bernama BPDPK itu mengalami begitu banyak perubahan, baik dari aspek kelembagaannya, cakupan kepesertaannya, penamaannya, jenis dan cakupan programnya. Semuanya itu dilakukan atas kemauan pengelolaan dari dalam dan juga karena tuntutan lingkungan usaha dengan tujuan utama

23

EDISI KHUSUS

JULI 2012

CATATAN CEO
tercapainya kinerja yang ekselen sehingga dapat berperan secara optimal dalam upaya pembangunan kesehatan masyarakat. Customer Focus Menuju Pencapaian WIG 2012 Grand strategy Askes di tahun 2012 masih tetap “fokus kepada pelanggan” yaitu ingin memberikan layanan terbaik kepada peserta dan mitra kerja Askes. Motto kami “Melayani Pelanggan Melampaui Harapan” merupakan senjata ampuh untuk memicu setiap Duta Askes memberikan layanan terbaik dengan sikapnya yang ramah, tanggap serta informatif. Kami patut bersukur dan menyampaikan terimakasih kepada seluruh mitra kerja terutama pemerintah dan pemberi pelayanan kesehatan, rekan-rekan media dan teristimewa kepada segenap “Duta Askes” karena dari survey “Tingkat Kepuasan Peserta” yang dilakukan oleh pihak ketiga (independen) diperoleh peningkatan Indeks Kepuasan Peserta yang sangat bermakna dari indeks 85.7 pada tahun 2010 menjadi 87.2 pada tahun 2011. Angka ini berada diatas target tahun 2011 yang kami targetkan pada indeks 87.0. Indeks atau angka ini memberikan gambaran bahwa peserta Askes merasakan sangat puas dengan layanan yang diterimanya, dan semoga peserta merasa semakin bangga dan bermanfaat memiliki kartu Askes. Rencana Kerja dan Anggaran PT Askes (Persero) di tahun 2012, telah ditetapkan. Semua program yang telah kami canangkan bertujuan untuk tetap menjaga dan meningkatkan kepuasan peserta dan mitra kerja Askes, namun disisi lain kami juga ingin mempertahankan kinerja finansial perusahaan tetap dalam kondisi “Sehat minimal dengan katagori AA” sehingga mampu mempertahankan keberlanjutan /sustainabilitas program peserta. Kita patut pun bersyukur dan bangga bahwa saudara telah mampu mewujudkan cita-cita yang ditanamkan oleh pendiri PT Askes (Persero), Prof. DR. G.A. Siwabessy yaitu terwujudnya Asuransi Kesehatan Semesta bagi seluruh rakyat Indonesia melalui Askes. Rasa syukur dan bangga ini mari kita tunjukkan dengan kesiapan diri, semangat dan komitmen kerja keras yang semakin tinggi dalam mewujudkan sasaran utama perusahaan yaitu mempertahankan tingkat kepuasan peserta minimal 87 .2 atau meningkat menjadi 88.2 di tahun 2012, kinerja perusahaan sehat katagori AA, dengan opini eksternal auditor Wajar Tanpa Pengecualian yang ke-20. Saya yakin dan percaya melalui implementasi dan perwujudan nilai-nilai luhur perusahaan yang kita sepakati yaitu Integritas yang menjadi prinsip bagi setiap Duta Askes, upaya untuk selalu mengutamakan kerja sama tim, dengan tekad untuk memberikan layanan yang tak tertandingi yang melebihi harapan pelanggan, serta selalu melakukan inovasi guna meningkatkan profesionalisme dalam bekerja, kita akan mampu membawa Askes menjadi salah satu BUMN yang patut diakui, dibanggakan dan didambakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Terwujudnya Cita Cita Sang Pendiri Undang Undang Nomor 40 Tahun 2004, tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Undang Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), PT Askes (Persero) mendapat kehormatan diberikan kepercayaan menjadi BPJS Kesehatan untuk mengelola program jaminan pelayanan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia. Disini kami segenap "Duta Askes" boleh bangga dan sekaligus merasakan kegembiraan kami, karena selain amanah dan kepercayaan yang demikian besarnya diberikan kepada kami juga diusia perusahaan yang ke 44 tahun ini kami bersyukur dapat mewujudkan dan merealisasikan "Cita Cita Sang Pendiri” . Suatu kebahagiaan yang tidak pernah kami rasakan sebelumnya. Dalam suasana sukacita ini, kami sangat menyadari bahwa tugas yang sangat mulia ini bukanlah hal yang mudah dan olehnya harus kami emban dan laksanakan dengan komitmen tinggi dan penuh tanggungjawab. Kami juga menyadari bahwa terwujudnya cita cita Sang Pendiri perusahaan ini adalah hasil dari upaya dan kerja keras manajemen beserta jajarannya dari waktu ke waktu, periode kepeminpinan ke periode kepeminpinan berikutnya serta kerjasama dan dukungan yang sangat baik dan harmonis dari segenap mitra kerja dan seluruh pemangku kepentingan perusahaan. Untuk itu dengan kerendahan hati kami atas nama segenap Duta Askes menyampaikan rasa hormat dan terimakasih kami kepada seluruh mitra kerja dan seluruh pemangku kepentingan dengan harapan kerjasama yang lebih baik dapat kita wujudkan dimasa yang akan datang dan akan tetap menjadi komitmen kami agar tugas mulia ini dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya demi kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Sambil Terbang Membangun Armada Yang Lebih Besar Ibarat sebuah pesawat terbang, dalam persiapan menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, PT Askes (Persero) harus menyiapkan armada dengan kapasitas yang lebih besar di udara saat terbang sambil melayani penumpang yang ada didalamnya. Sementara terbang sebagai BUMN, yang harus melayani peserta kami saat ini yaitu Pegawai Negeri Sipil, Penerima Pensiun PNS/TNI/POLRI, Veteran, Perintis Kemerdekaan beserta anggota keluarganya (sebanyak 16,5 juta orang sebagai penumpang VVIP) dengan sebaik-baiknya agar tercapai indeks

24

INFOASKES

CATATAN CEO
kepuasan peserta minimal 88. Sementara pada saat yang sama kami harus membangun badan pesawat yang lebih besar, mempersiapkan engine yang lebih dahsyat, melengkapi sistem komunikasi yang lebih canggih, jaringan serta awak pesawat yang lebih handal sehingga mampu menampung penumpang yang lebih banyak (seluruh rakyat Indonesia, lebih dari 240 juta orang). Transformasi PT Askes (Persero) menuju BPJS, sudah dilakukan sejak terbitnya UU No 40 Tahun 2004, melalui berbagai perubahan internal sesuai kewenangan manajemen sebagai bentuk mempersiapkan diri menuju cita-cita bangsa. Transformasi ini diawali dengan perubahan Anggaran Dasar Perseroan menjadi perseroan yang "nirlaba" yang menjalankan fungsi sosial seperti tercantum dalam pasal 26 Anggaran Dasar Perseroan. Perubahan inipun telah disetujui oleh pemegang saham dan disahkan oleh notaris. PT Askes (Persero) juga telah melakukan perubahan struktur organisasi berbasis fungsi, memperkuat organisasi pada tingkat cabang, kabupaten/kota, dan membangun Askes Center di tiap-tiap rumah sakit yang melayani peserta Askes dengan tujuan utama adalah mendekatkan pelayanan "point of services" kepada peserta dan mitra kerja. Tentu saja hal itu diikuti dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusianya, kemampunan Teknologi Sistem Informasi Manajemen dan pembentukan master ile nasional yang dapat diakses secara realtime on line. Tidak berhenti sampai disitu, transformasi juga dilakukan dari aspek operasional sehingga sesuai dengan menyesuaikan 9 (sembilan) prinsip SJSN. Prinsip-prinsip SJSN sudah menjadi bagian dari bisnis proses dalam menjalankan perusahaan. Peserta harus mendapatkan manfaat yang sama dan komprehensif (prinsip ekuitas), dan juga dapat memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di luar wilayah domisili atau tempat tinggal peserta di seluruh Indonesia (prinsip portabilitas). Manajemen PT Askes (Persero) juga menempatkan tiga titik penting yang menjadi fokus pengembangan, perbaikan, dan penajaman pada (a) Manajemen Pengelolaan, (b) Teknologi Informasi dan (c) Sumber Daya Manusia sehingga terbentuk duta Askes yang "ramah, tanggap dan informatif" untuk mewujudkan pelayanan prima yang mampu melampaui harapan pelanggannya. PT Askes (Persero) juga tiada henti melakukan inovasi untuk meningkatkan kualitas layanannya kepada pesertanya. Pengembangan program promotif dan preventif, program pengelolaan penyakitpenyakit kronis seperti Diabetes Militus, Hipertensi, Asthma, Tuberkulosa. Program ini bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas hidup peserta baik yang sedang menderita penyakit tersebut atau yang memiliki kecenderungan kearah kondisi itu. Melalui peningkatan pengetahuan peserta akan penyakit penyakit yang sedang diderita maka peserta akan dapat memahami penyakitnya dan menjaga dirinya agar tidak jatuh kepada kondisi yang lebih parah. Sedang bagi peserta yang memiliki kecenderungan kearah kondisi tersebut diberi tahu cara untuk menghindarinya. Pada intinya pola Perilaku Hidup Bersih dan Sehat menjadi acuan utama dari program ino ditambah pemahaman spesiik sesuai dengan penyakitnya sebagai salah satu strategi kunci untuk semakin menyempurnakan layanan dan sebagai bagian dari kampanye hidup sehat guna meningkatkan kualitas hidup pesertanya. Pelayanan Kesehatan Terstruktur Berjenjang dan Program Rujuk Balik Pelayanan kesehatan terstruktur berjenjang sebagaimana pernah diamanatkan Bapak Menteri Kesehatan kita Dr Adhyatma (alm) mulai dari pelayanan kesehatan primer di Puskesmas, dan pelayanan skunder maupun tersier di Rumah Sakit pada dasarnya menjadi acuan pelayanan peserta Askes dari sejak tahun 1894 sampai dengansaat ini. Peningkatan kualitas pelayanan dan Pemanfaatan Puskesmas yang tersebar secara merata di seluruh pelosok tanah air dengan sebaik baiknya akan mampu menumbuhkan pelayanan kesehatan yang efektif dan eisien di negeri ini khususnya untuk pelayanan penyakit yang tidak membutuhkan penanganan spesialistik. Hal ini sejalan dengan nawa itu pembangunan Puskesmas di masa lalu. Pola lain yang juga bisa dilaksanakan dalam implementasi Jaminan Kesehatan Nasional nanti adalah pelayanan primer yang dilakukan oleh tenaga "dokter pelayanan primer" secara penuh waktu (24 jam) juga akan mampu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Dokter Spesialis yang jumlahnya masih sangat terbatas ini akan lebih fokus melayani masyarakat yang secara medik memang membutuhkan pelayanan spesialistik. Agar kualitas pelayanan primer bisa lebih baik maka selain jumlah SDM di Puskesmas dan jajarannya yang perlu ditambah juga kompetensi SDM perlu mendapat perhatian pemerintah.

Transformasi PT Askes (Persero) menuju BPJS, sudah dilakukan sejak terbitnya UU No 40 Tahun 2004, melalui berbagai perubahan internal sesuai kewenangan manajemen sebagai bentuk mempersiapkan diri menuju citacita bangsa. Transformasi ini diawali dengan perubahan Anggaran Dasar Perseroan menjadi perseroan yang “nirlaba” yang menjalankan fungsi sosial seperti tercantum dalam pasal 26 Anggaran Dasar Perseroan.

25

EDISI KHUSUS

JULI 2012

CATATAN CEO
Selain itu bagi peserta penyandang penyakit kronis yang saat ini ditangani oleh dokter spesialis di Rumah Sakit, bila kondisinya sudah memungkinkan perlu dilakukan "rujukan balik" ke Dokter Pelayanan Primer, atau Puskesmas. Program rujuk balik peserta ini, selain memberi kemudahan kepada peserta yaitu mendekatkan layanan kepada peserta juga menjadi ajang Rujukan ilmu kedokteran dari dokter spesialis kepada Dokter Pelayanan Primer yang bertanggung jawab kepada peserta yang dilayaninya. Pola pelayanan komprehensif seperti ini mudah mudahan akan menjadi "ciri khas" pelayanan kesehatan di tanah air yang kita cintai ini dengan geograis dan kultur yang unik dan tidak dimiliki negara lain manapun didunia ini. Program Pelayanan kesehatan terstruktur berjenjang ini sama sekali tidak membatasi akses masyarakat atau peserta yang dalam kondisi "emergensi" yang membutuhkan pelayanan spesialistik di Rumah Sakit. Kelompok ini segera bisa dirujuk ke fasilitas pelayanan rujukan spesialistik tetdekat tanpa melalui Puskesmas atau Dokter Pelayanan Primer. Road Map Menuju 2014 BPJS Kesehatan yang dibentuk merupakan transformasi dari PT Askes (Persero) yang selama ini menyelenggarakan program jaminan kesehatan bagi PNS, Pensiunan, Veteran, Perintis Kemerdekaan, beserta keluarganya, pada tanggal 1 Januari 2014 ditetapkan mulai beroperasi. Sebagai persiapan pembentukan BPJS Kesehatan maka telah disusun suatu road map yang akan menjembatani peralihan PT Askes (Persero) menjadi BPJS Kesehatan di tahun 2014. Pada tahun 2012, PT Askes (Persero) akan me-review sistem dan kebijakan strategis dan operasional perusahaan, secara aktif memberikan masukan dan usulan serta proaktif menyusun draft rancangan peraturan perundangan pelaksanaan BPJS Kesehatan yang disumbangkan kepada pemerintah sebagai pelengkap jika dibutuhkan untuk mempercepat rampungnya peraturan perundangan tersebut sebelum tanggal 25 November 2012 sebagaimana diamanatkan UU No. 24 Tahun 2011. Selain itu terkait dengan pengalihan program kami senantiasa berkoordinasi dengan Kementrian Kesehatan untuk program Jamkesmas, Kementrian Pertahanan Keamanan untuk Jaminan Kesehatan bagi TNI, POLRI aktif beserta keluarganya, PT Jamsostek terkait tentang pengalihan program JPK nya, serta secara intensif melakukan sosialisasi tentang BPJs dan program jaminan kesehatan nasional. Persiapan ini kami lakukan di tahun 2012. Namun secara beriringan tidak melupakan sasaran utama perusahaan di tahun 2012. Sedangkan pada tahun 2013, PT Askes (Persero) akan membuat plan of action sistem serta kebijakan strategis dan operasional BPJS Kesehatan. Berkoordinasi dengan institusi terkait dengan pengalihan program, terus melakukan sosialisasi jaminan kesehatan, serta mempersiapkan secara cermat proses penutupan dan pembubaran PT Askes (Persero) pada 31 Desember 2013 dan pembukaan BPJS Kesehatan pada 1 Januari 2014. Dengan demikian pada tahun 2014 operasional BPJS Kesehatan dapat dilakukan, dengan terus berkoordinasi dengan institusi – institusi terkait tentang pengalihan program. Kita semua berharap bahwa waktu yang tersisa dapat kita manfaatkan secara optimal dan baik untuk merampungkan proses transformasi PT Askes (Persero) menjadi BPJS Kesehatan. Karena saat ini, rakyat Indonesia sudah benarbenar membutuhkan jaminan sosial yang diharapkan mampu memberikan kesejahteraan bagi semua pihak. Harapan ini, tentu saja masuk akal, sebab, rakyat sudah bosan mendengar dan menyaksikan di berbagai media perihal masih adanya rakyat miskin yang ditolak oleh pihak rumah sakit untuk berobat karena tiadanya biaya dari sang pasien dan belum termasuk dalam pola jaminan kesehatan yang ada saat ini. Kita pun sudah tidak ingin mendengar lagi manakala ada pensiunan yang terpaksa harus kembali menjadi pekerja kasar di hari tuanya. Ditambah dengan banyaknya masyarakat menengah yang jatuh miskin karena menderita penyakit (sadikin = karena sakit ia menjadi miskin) dan menjual harta benda yang dimilikinya sehingga muncul plesetan "jamila" alias jatuh miskin lagi, yang dialamatkan kepadanya Rasanya terlalu sedih untuk kembali dimunculkan ke permukaan. Karena itu, dengan disahkannya UU BPJS ini, dambaan dari seluruh rakyat Indonesia, yang merupakan harapan baru di tengah kehausan sebuah belaian nyata dari negara dalam bentuk jaminan sosial mendekati kenyataan. Pemerintah mempunyai tugas menyiapkan peraturan pemerintah (PP) dan peraturan presiden (Perpres) sebagai petunjuk pelaksanaan UU BPJS yang baru saja disahkan. Dan jika hal ini terlaksana, maka inilah wujud nyata dari cita-cita Prof. Gerrit A. Siwabessy, membangun BPDPK untuk embrio "Asuransi Kesehatan Rakyat Semesta" dalam bentuk "Jaminan Kesehatan Nasional" yang dikelola BPJS Kesehatan yang tidak lain adalah tranformasi dari BPDPK yang beliau gagas dan lahirkan pada masanya. Di sinilah keterkaitan sejarah yang menjadi pegangan dan acuan seluruh Duta Askes dalam mewujudkan cita-cita perusahaan. Kado spesial dari BUMN yang diberikan kepada Negara dan Rakyat Indonesia. Mari kita jaga bersama keberadaannya. DIRGAHAYU PT ASKES (PERSERO)!

26

Saya yakin dan percaya melalui implementasi dan perwujudan nilai-nilai luhur perusahaan yang kita sepakati yaitu Integritas yang menjadi prinsip bagi setiap Duta Askes, upaya untuk selalu mengutamakan kerja sama tim, dengan tekad untuk memberikan layanan yang tak tertandingi yang melebihi harapan pelanggan, serta selalu melakukan inovasi guna meningkatkan profesionalisme dalam bekerja, kita akan mampu membawa Askes menjadi salah satu BUMN yang patut diakui, dibanggakan dan didambakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

INFOASKES

PROFIL CEO
Kisah Dirut Askes

Si Anak Petani
Oleh : Iwan Supriyatna (wartawan okenews.com)

dan Mobil Sedan Putih
Tidak pernah terlintas dipikiran seorang I Gede Subawa untuk dapat menempati posisi strategis sebagai Direktur PT Asuransi Kesehatan (Askes) (Persero). Lahir di Tabanan, Bali, dari keluarga petani, I Gede mempunyai citacita untuk membela negara, dan masuk ke sekolah Akabri. Namun, keinginannya masuk sekolah Akabri mendapatkan hambatan dari orangtuanya.

27

EDISI KHUSUS

JULI 2012

CATATAN CEO

"O

rangtua saya kan petani, saya sadar betul kalau kuliah ke Fakultas Kedokteran itu pasti mahal. Jadi saya pilih masuk ke Akabari, karena Akabri dibiayai oleh negara, tapi tidak boleh sama orangtua," kata dia, kala berbincang dengan Okezone beberapa waktu lalu. Anak pertama dari enam bersaudara ini akhirnya serius menjalani kuliahnya di Fakultas Kedokteran sesuai keinginan orangtuanya. Selain karena dorongan orangtua, pengalaman masa kecilnya juga memantapkan langkahnya di dunia kesehatan. Ini terjadi karena saat masih

kecil, I Gede pernah menderita penyakit disentri akibat hobinya jajan makanan di pinggir jalan. Saat itu, orangtuanya kewalahan memeriksakan anaknya ke klinik terdekat karena disentri yang cukup hebat. Mengingat dokter yang membuka praktek di daerah Tabanan sangat minim, hanya satu dokter yang membuka praktek. I Gede masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas 2 cukup takut saat diperiksa oleh doktor. Bahkan, karena terlalu takut dia sampai melarikan diri. Bukan karena ketakutannya akan dokter yang membuat dia lari, namun lebih

kepada perlatan yang digunakan oleh si dokter. "Waktu itu saya lari karena melihat suntikan besar, enggak kebayang sakitnya seperti apa," tutur I Gede sambil tertawa. Namun, peristiwa tersebut malah membawa dampak positif. Sejak saat itu, karena takut akan dibawa ke dokter, dia enggan untuk jajan sembarangan di pinggir jalan lagi. Kisah Mobil Putih Selain kisah jajanan di pinggir jalan dan jarum suntik, I Gede mengungkapkan masih ada alasan lain yang mendorongnya menjadi seorang dokter. Bukan karena kejadian tidak menyenangkan, namun

Gede memaparkan, melayani orang sakit memang harus lebih hati-hati karena lebih sulit ketimbang melayani orang-orang yang datang ke bank, maupun ke hotel. Karena, orang sakit memiliki ketidakstabilan mental psikologis antara bisa disembuhkan atau tidak yang juga selalu terbentur dengan permasalahan biaya. Namun, semua itu terbayarkan, karena masyarakat yang tertolong banyak yang berterimakasih.

karena dia melihat mobil sedan putih yang terparkir di halaman seorang dokter, di daerah Tabanan. "Waktu itu saya tihat mobil sedan putih milik dokter kok sepertinya keren sekali, saya ingin seperti dokter itu," kata dia. Oleh karena itu, meskipun berasal dari keluarga seorang petani, yang memiliki kemampuan ekonomi pas-pasan, namun I Gede tetap masuk ke kedokteran. Hal tersebut, lantaran usaha keras kedua orangtua I Gede. Upaya ini, mampu mendorong I Gede masuk Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali. "Dengan kondisi ekonomi yang paspasan saya menjalani kuliah di Fakultas Kedokteran. Saya masuk 1971 dengan biaya seadanya, keinginan orangtua yang keras dan saya berusaha menjalaninya dengan sungguh-sungguh, karena kuliah di Fakultas Kedokteran itu tidak murah," jelas dia. Untuk tetap menjaga agar pendidikannya berjalan, dia rela pulang-pergi

menggunakan sepeda dari tempat kuliahnya di Udayana, Denpasar, ke tempat tinggalnya di Tabanan. Bukan jarak yang dekat, karena sehari dia harus menempuh perjalanan kurang lebih 60 kilometer, untuk sekedar membawa bekalnya seperti beras dan bahan pokok lainnya. "Setiap hari Jumat pasti saya pulang ke rumah untuk membawa bekal, bersama teman-teman yang bertempat tinggal di Tabanan beramai-ramai naik sepeda," kenang I Gede. Untungnya, pihak unversitas tidak terlalu membebankan dia dengan biaya kuliah yang terlalu tinggi. Bahkan pihak Universitas tetap mengizinkannya mengikuti kegiatan kuliah, ketika dia belum membayar uang semester. Usahanya tidak sia-sia, setelah menjalai lima tahun perkuliahan, dia berhasil menyabet gelar predikat mahasiswa terbaik dari 24 orang teman satu angkatannya pada 1978. "Sebenarnya saya lulus 1977 namun , karena menunggu teman-teman untuk

menjalani pelantikan yang berbarengan, sehingga saya dicatat lulus tahun 1978," tutur pria lulusan SMA Tabanan Bali tahun 1970 ini. Awal Karier Setelah lulus dari Udayana, penyuka lagulagu Broery Marantika tersebut langsung menjadi dokter, dan mengabdikan diri di puskesmas di Nusa Tenggara Timur, di salah satu kecamatan yang jauh dari pusat kota, berbatasan dengan Timor-timur, selama 2 tahun sejak 1978 hingga 1980. Lalu tahun 1980 sampai tahun 1983 I Gede dipilih oleh Bupati Atambua menjadi Direktur rumah sakit di Atambua yang memiliki sekira sembilan tempat tidur pasien. Di rumah sakit itu, hanya dia yang menjadi dokter di poliklinik yang siaga selama 24 jam, dan itu dijalaninya selama tiga tahun. Setelah itu, dia dipindahkan ke Flores Timur di Dinas Kesehatan. Di sana, I Gede menjabat sebagai kepala kantor perwakilan cabang di ende NTT dan wilayah Manggarai selama lima

28

INFOASKES

CATATAN CEO
tahun, kemudian pada 1988, I Gede dipromosikan sebagai Kepala Kantor Cabang di Bali selama dua tahun hingga 1990. Guna menunjang keperluan pekerjaannya, I Gede kembali mengambil kuliah di Universitas Gajahmada (UGM) pada 1996, dan mengambil jurusan Manajemen Rumah Sakit. Karena prestasinya tersebut, dia dipilih menjadi Kepala Kantor Cabang Jawa Tengah. Bekerja menjadi kepala kantor cabang membuat I Gede harus meninggalkan statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan 4B pada 1996. Baru pada tahun 2000 I Gede dipercaya sebagai Direktur Operasional Askes, "Saya tidak menyangka perjalanan karier ini menjadi Kepala Kantor Cabang lalu diangkat sebagai Direktur Operasional," tutur I Gede. Pindah ke salah satu perusahaan pelat merah tidak lantas membuat I Gede dapat santai. Menurutnya, Askes selalu di nomor duakan karena pelayanannya yang belum memadai, sehingga menjadi tantangan besar dirinya untuk mengubah citra Askes di mata masyarakat. "Saat itu kami di lapangan selalu dihadapkan dengan situasi tidak nyaman," tutur I Gede. Dia mengungkapkan, keraguan masyarakat untuk mengikuti Askes, juga didasar atas belum adanya kerjasama askes dengan rumah sakit swasta. Oleh karena itu, dia membuat perubahan dengan cara bekerjasama dengan rumah sakit swasta. Hingga kini, askes lebih bekerjasama dengan 250 rumah sakit swasta di seluruh Indonesia. "Saya yakin ke depan akan sangat banyak sekali membutuhkan rumah sakit swasta dengan perlakuan yang sama terhadap peserta pengguna Askes," tutur I Gede. I Gede memaparkan, melayani orang sakit memang harus lebih hati-hati karena lebih sulit ketimbang melayani orangorang yang datang ke bank, maupun ke hotel. Karena, orang sakit memiliki ketidakstabilan mental psikologis antara bisa disembuhkan atau tidak yang juga selalu terbentur dengan permasalahan biaya. Namun, semua itu terbayarkan, karena masyarakat yang tertolong banyak yang berterimakasih. Dia menambahkan, Askes merupakan perusahaan yang utamanya bukan mencari untung, mengingat tugas pokoknya adalah memberikan pelayanan yang baik kepada pesertanya. "Saya akan mengerjakan pekerjaan sebaik mungkin, sesuai amanat dari kitab suci yang saya pegang. Karier ini saya jalankan dengan cara yang terbaik," jelas dia. Hingga kini, Askes telah memproduksi lebih dari 1.600 jenis obat yang telah dinegosiasikan dengan pabrikan obat. Sehingga, para peserta Askes bisa membeli obat dengan harga murah. Selain itu, Dia juga mengaku telah mencapai cita-citanya, yakni memiliki mobil sedan berwarna putih yang dilihatnya semasa kecil di halaman rumah dokter yang tidak jauh dari rumahnya.

“Saya yakin ke depan akan sangat banyak sekali membutuhkan rumah sakit swasta dengan perlakuan yang sama terhadap peserta pengguna Askes,” tutur I Gede.

29

EDISI KHUSUS

JULI 2012

ADVERTORIAL
PT Kimia Farma (Persero)

Kimia Farma “Melihat” BPJS sebagai Peluang
Pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang akan dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dimulai awal 2014. Jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri farmasi, termasuk PT Kima Farma (Persero) Tbk.

MANAJeMeN PT Kimia Farma (Persero) Tbk saat ini tengah menyiapkan strategi dan mulai mengerjakan berbagai upaya agar menjadi perusahaan jasa tertintegrasi besar (integrated healthcare company) di Indonesia pada 2014 mendatang. Ke depan, Kimia Farma tidak hanya menyediakan kebutuhan obat-obatan, tapi juga mencakup penyediaan pelayanan kesehatan secara menyeluruh. “Adanya BPJS merupakan peluang yang menjanjikan dan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan perseroan, kata Direktur Utama ” PT Kimia Farma (Persero) Tbk. Langkah konkret upaya yang dilakukan menyambut pelaksanaan BPJS antara lain, membangun rumah sakit, meningkatkan kapasitas produksi obat, serta memperbanyak jumlah apotek Kimia Farma yang mengaplikasikan pelayanan "One Stop Healthcare Solution" Optimisme Dirut Kimia Farma tersebut memang cukup beralasan, karena, selama ini bisnis penjualan obat-pobatan Kimia Farma juga ditopang jaringan distribusi yang kuat. Jaringan distribusi ini tidak hanya menjangkau kota-kota besar saja, tapi juga banyak kota kecil yang tersebar di pelosok tanah air. Kegiatan distribusi ini dilaksanakan PT kimia Farma Trading & Distribution (KFTD), anak perusahaan yang berperan penting dalam upaya peningkatan penjualan produk-produk perseroan. Saat ini, PT KFTD memiliki jaringan 43 cabang dan tenaga salesman ratusan orang untuk melayani lebih dai 45.000 outlet terdaftar di seluruh wilayah Indonesia. Di samping pendistribusian produk-produk perusahaan, KFTD juga bertindak sebagai distributor untuk produk-produk principal dari dalam dan luar negeri. Dengan menerapkan sistem Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) dengan sistem teknologi informasi yang sudah terintegrasi di seluruh cabang, PT KFTD siap untuk mendisribusikan

dan menyukseskan program pemerintah dan menjamin ketersediaan dan kontinuitas obat-obat yang dibutuhkan progam jaminan kesehatan nasional melalui BPJS. "Kami berencana untuk merenovasi sekaligus meningakatkan kapasitas lima pabrik obat Kimia Farma untuk mendukung kesiapan dan menyukseskan SJSN yang diselenggarakan oleh BPJS kesehatan mulai Januari 2014 nanti. Saat itu, kami perkirakan kebutuhan obat akan meningkat secara signiikan, hyang diperkirakan mencapai lebih tiga kali lipat, kata Dirut PT ” Kimia Farma (Persero) Tbk Rusdi Rosman. Peningkatan kapasitas pabrik obat ini, kata Rusdi, merupakan sebagian dari grand strategis yang disiapkan menajamen Kimia Farma. Grand strategy lainnya yang juga disiapkan adalah dengan membangun 50 unit apotek baru, untuk menambah jaringan apotek Kimia Farma yang tersebar di seluruh penjuru tanah air, serta melengkapinya dengan membangun 100 klinik baru di sejumlah kota, Kimia Farma akan mengembangkan "one stop healthcare solution" (OSHcS) yang mengintegrasikan pelayanan kesehtan satu pintu antara apotek, laboratorium klinik, serta klinik yang dilengkapi dengan tenaga medis dan paramedis. “Kami bekerja sama dengan IDI. Nanti dokter-dokter yang baru lulus bisa bekerja di klinik pratama yang kami buat, ujarnya. ” Layanan OSHcS ini menawrkan konsep layanan yang lebih beorientasi kepada pasien dengan memberikan jasa kefarmasian dan solusi jasa kesehatan terkait. Prototipe layanan itu telah dibangun di Cilegon, dan juga akan diterapkan di beberapa kota besar lainnya seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Medan, Malang. Bogor, Makasar, dan Cirebon. Pada tahap awal pada tahun 2012 pola pelayanan OSHcS ini akan diterapkan di 10 apotek. Grand strategis berikutnya yang juga tak kalah pentinya adalah rencana pembangunan rumah

sakit lever center di lahan milik perseroan yang terletak di wilayah Jakarta Selatan. Untuk keperluan itu, Kimia Farma menjalin kerjasama dengan profesional yang ahli dan pengalaman di bidang pelayanan medis dan pengelolaan manajeman rumah sakit. Rumah sakit yang rencananya berlantai 8 ini akan dibangun di atas lahan seluas sekitar 5.000 meter persegi, yang pembangunnnya akan dimulai dalam semester dua tahun 2012, dan diharapkan akan rampung dan beroperasi tahun 2014. Rusdi mengatakan, selaku perusahaan obatobatan.Kimia Farma juga dituntut untuk senantiasa mencermati perkembangan dunia pengobatan, Oleh karenanya, ke depan, era pengobatan penyakit akan menggunakan bahan dari bagian tubuh manusia (era makro molekul) atau dikenal dengan terapi sel punca (stem cell). Maka, perusahaan yang didirikan oleh Pemerintah Hinda Belana pada 1817 ini, telah mengantisipasinya dengan menggandeng RSCM-Fakultas Kedokteran UI dalam penelitian dan pengembangan penggunaan sel punca untuk mengobati beberap penyakit kronis seperti jantung, hepatitis, dan beberapa penyakit lainnya. Kimia Farma yang tahun ini memasuki usia 41 tahun ini pertama kali didirikan di Indonesia yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1817 Nama perusahaan ini pada awalnya . adalah NV Chemicalien Handle Rathcamp & Co. Berdasarkan kebijakan nasionalisasi atas eks perusahaan Belanda di masa awal kemerdekaan, pada tahun 1958, Pemerintah Republik Indonesia melakukan peleburan sejumlah perusahaan farmasi menjadi PNF (Perusahaan Negara Farmasi) Bhinneka Kimia Farma. Kemudian pada tanggal 6 Agustus 1971, bentuk badan hukum PNF diubah menjadi Perseroan Terbatas, sehingga nama perusahaan berubah menjadi PT Kimia Farma (Persero).

30

INFOASKES

Dengan penuh Suka cita, kami, seluruh Duta Askes menyambut 44 tahun hari jadi PT Askes (Persero). Memantapkan Komitmen Melayani Pelanggan Melampaui Harapan, Melalui Integritas, Kerjasama, Inovasi dan Pelayanan Prima

Selamat Hari Jadi PT Askes (Persero) ke-44
www.ptaskes.com Health Insurance Specialist

FOKUS
Dirut PT Askes (Persero) I Gede Subawa:

Harus Terukur

Kualitas Pelayanan

Tidak Boleh Pudar

32

INFOASKES

FOKUS Kondisi sejahtera terjadi manakala kehidupan manusia aman dan bahagia karena kebutuhan dasar seperti gizi, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, dan pendapatan dapat dipenuhi. Hal ini juga didukung dengan diperolehnya perlindungan dari risiko-risiko utama yang mengancam hidup seperi risiko kesehatan. Dengan pengelolaan jaminan kesehatan, diharapkan daya hidup warga meningkat yang berujung pada peningkatan kesejahteraan.

erlindungan terhadap risikorisiko sosial tersebut oleh negara memang tidak bisa dilepaskan dari konsep ”negara kesejahteraan” (welfare state). Dengan bergulirnya UU BPJS, masyarakat didorong untuk ikut memberikan perhatian secara menyeluruh agar kerangka politik jaminan sosial yang sehat itu diaplikasikan secara benar. Transformasi PT Askes (Persero) menjadi BPJS kesehatan, bukan sekedar ganti baju. Layanan jaminan kesehatan melalui PT Askes, misalnya, saat ini diakui mengalami kemajuan pesat. Peserta Askes tidak lagi menjadi ”warga kelas dua” untuk memperoleh layanan kesehatan. Oleh sebab itu, PT Askes sudah mempersiapkan transformasi menuju BPJS Kesehatan secara sistemik, konsisten dan terpadu. Cakupan kepesertaannya pun akan menjangkau seluruh rakyat Indonesia (universal coverage). Demikian, penegasan Direktur Utama PT Askes, I Gede Subawa terkait persiapan transformasi ke BPJS Kesehatan. Kegiatan PT Askes terdiri dari sisi internal dan eksternal. Persiapan internal seperti terkait SDM, organisasi, dukungan teknologi informasi dan corporate culture.

P

semesta bagi seluruh rakyat Indonesia melalui PT Askes. Untuk mengenang jasanya, PT Askes, membangun patung GA Siwabessy, dan akan dipajang di halaman kantornya. "Tanggal 15 juli 2012, kita resmikan bertepatan dengan HUT ke-44 PT askes," jelasnya. Perubahan PT Askes menjadi BPJS Kesehatan merupakan challenge, bukan

sesuatu yang mengerikan. "Sejak berdiri Duta Askes sering menghadapi perubahan, untuk memberi yang baik dan lebih baik lagi," tegasnya. Dalam melaksanakan pekerjaannya PT Askes, tidak pernah sendirian karena selalu melibatkan berbagai pihak, seperti provider dan pemangku kepentingan lainnya. Semua diajak untuk menghadapi perubahan, misalnya di provider akan terjadi perubahan

“Masyarakat pun harus terukur, berapa premi yang harus dibayar, bagaimana mereka memperoleh pelayanan. Jadi, kepastian harus ada, kualitas pelayanan yang diberikan kepada peserta juga harus terukur. Ukurannya indeks kepuasan peserta harus terus meningkat,”
33
Sedangkan persiapan eksternal berupa keaktifan Askes memberi masukan kepada pemerintah tentang RPP yang dibutuhkan. Misalnya RPP Penerima Bantuan Iuran (PBI), Perpres tentang jaminan dan manfaat serta besaran iuran yang akan dibayarkan oleh peserta dan pengelolaan dana. Prof Dr GA Siwabessy sebagai pendiri PT Askes mempunyai cita-cita yang besar bagi masyarakat Indonesia. Beliau berkeinginan agar terwujudnya asuransi kesehatan

EDISI KHUSUS

JULI 2012

FOKUS

Sebagai pengelola PT Askes, juga harus transparan, hati-hati dalam mengelola dana peserta tersebut. Ada satu hal penting, fokus bukan hanya pada pengelolaan dana akan tetapi juga kualitas pelayanan yang diberikan kepada peserta juga harus bagus, indeks kepuasan peserta terus meningkat dan semakin bagus.

pola pembiayaan pelayanan kesehatan yang awalnya retail atau masing masing rumah sakit berbeda beda. Kualitas harus terjamin tapi tidak boleh boros, jadi semua harus menjalankan secara terukur. "Masyarakat pun harus terukur, berapa premi yang harus dibayar, bagaimana mereka memperoleh pelayanan. Jadi, kepastian harus ada, kualitas pelayanan yang diberikan kepada peserta juga harus terukur. Ukurannya indeks kepuasan peserta harus terus meningkat," tuturnya, serius.

kembali menjadi hak peserta." Kita tahu kan, INA CBG’s, adalah kebijakan bukan kesepakatan. Saat ini, sedang disempurnakan agar bisa diterima oleh semua pihak, baik pihak rumah sakit tidak rugi, pihak pengelola jelas bayarnya, dan peserta mendapat pelayanan kesehatan yang pasti," paparnya. Pelaku atau pemberi pelayanan kesehatan, lanjutnya, lebih bisa mengontrol sehingga biaya mencukupi dan pelayanan tetap bagus. "Perubahan itu challenge, kelompok kepesertaan Askes homogen, tetapi BPJS itu, sangat heterogen maka kami membangun pesawat yang lebih besar," tandasnya. Pihaknya pun berharap agar pemerintah daerah bisa memberikan kontribusinya walaupun PT Askes tidak mencari peserta baru. "Akan tetapi kami sosialisasikan semua wajib menjadi peserta BPJS, rakyat bisa paham dan secara sadar mendaftar. Soal besaran premi belum ada ketentuan," kata I Gede Subawa. Menjawab pertanyaan tentang menjelang akhir masa kerja Direksi PT Askes, pada akhir

Desember 2012, I Gede Subawa, mengaku sudah mempersiapkan Duta Askes, yang tahu seluk beluk ini. "Harapan kami nilai korporasi yang sudah bagus, budaya perusahaan perilaku tanggungjawab dan berupaya melakukan yang terbaik, team workv yang baik, dengan internal dan eksternal Askes. Dunia ini berubah, zaman berubah, semua tantangan yang dihadapi berubah,harus disikapi positif dan dijadikan sebuah pelajaran dan memperbaiki agar terwujud pelayanan yang prima." Menurutnya, Duta Askes dibawah pimpinan yang mempunyai kinerja yang jelas, dan tahu cara mencapai cita cita dan bisa mengkomunikasikan dengan Duta Askes dengan baik. Ini, sesuai dengan moto PT Askes selalu menciptakan kompetitor yaitu harapan peserta, moto melayani pelanggan melampaui harapan tidak boleh pudar. Dengan moto tersebut, layanan prima sebagai alat untuk mengalahkan kompetitior sehingga peserta akan puas."Saya persiapkan sampai masa jabatan saya berakhir, tidak ada waktu berhenti bagi saya sampai detik terakhir saya menjabat," pungkasnya.

34

Sebagai pengelola PT Askes, juga harus transparan, hati-hati dalam mengelola dana peserta tersebut. Ada satu hal penting, fokus bukan hanya pada pengelolaan dana akan tetapi juga kualitas pelayanan yang diberikan kepada peserta juga harus bagus, indeks kepuasan peserta terus meningkat dan semakin bagus. Selain itu, targetnya, bagaimana program ini bisa sustain atau bertahan, tidak putus ditengah jalan, setiap tahun harus bisa menghasilkan sisa hasil usaha yang akan

INFOASKES

FOKUS

Kinerja PT Askes 2011 dan Triwulan 1/2012
Kinerja dan pencapaian PT Askes (Persero) tidak hanya memberikan nilai positif terhadap pelaksanaan kualitas pelayanan kesehatan kepada peserta, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas layanan rumah sakit. Keterlibatan rumah sakit swasta sebagai Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) kesehatan memberikan pilihan yang lebih luas kepada peserta.

Positif

35

EDISI KHUSUS

JULI 2012

FOKUS

P

eningkatan layanan PT Askes (Persero) tidak hanya dilakukan di lini PPK (apotek, klinik, rumah sakit swasta/pemerintah, optik) namun juga dilakukan dengan menambahkan daftar obat-obat yang ditanggung oleh PT Askes (Persero). Hal ini telah dirumuskan pada pertemuan Nasional Pertimbangan Medik yang menentukan Daftar Plafon Harga Obat (DPHO) sehingga Item obat yang ditanggung PT Askes (Persero) menjadi 1619 item, 571 item obat generik, dan 1048 item obat branded generik. Setiap tahun, indeks kepuasan peserta selalu berada di atas level 80. Dengan mengedepankan program-program inovatif serta peningkatan pelayanan kesehatan, indeks kepuasan peserta, terus meningkat.

Oleh karena itu kinerja PT Askes (Persero) tahun 2011 berdasarkan sasaran utama perusahaan (Wildly Important Goals) diperoleh hasil sebagai berikut: a. b. c. Customer Satisfaction Index 87 (meningkat 2,24 poin dari ,13 tahun 2010 sebesar 84,89). Competency Compliance Index 86,00 (meningkat 9,94 poin dari tahun 2010 sebesar 76,06) Tingkat Kesehatan Perusahaan Sehat AA dengan Total Skor 87 (berdasarkan perhitungan Peraturan Menteri BUMN RI No. Per04/MBU/2011).

INDEKS KEPUASAN PESERTA 2006-2011

36

INFOASKES

FOKUS
Pencapaian kinerja berdasarkan Kontrak Manajemen (Annual Management Contract/AMC) mencapai bobot 103,74 dari target 100. Selain itu berdasarkan audit KAP Kanaka Puradiredja,Suhartono diperoleh hasil opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), merupakan opini WTP yang ke-20. Untuk pencapaian Kinerja keuangan, Pencapaian laba Askes di tahun 2011 memang mengalami penurunan sebesar 20, 24 % dibandingkan tahun 2010, mendasi sebesar 1.438,36 Miliar rupiah. Hal itersebut disebabkan oleh meningkatnya rasio biaya pokok terhadap pendapatan premi dan menurunnya pendapatan investasi perusahaan. “Turunnya laba akibat adanya peningkatan rasio biaya pokok tersebut terjadi karena seiring dengan strategi utama yang ditetapkan perusanaan selama tahun 2011 yaitu customer focus yang tidak lain menekankan pada optimalisasi pelayanan bagi peserta Askes, ujar ” Direktur Keuangan PT Askes (Persero), Purnawarman Basundoro. Sedangkan turunnya pendapatan investasi disebabkan oleh dampak krisis ekonomi global yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kinerja investasi Askes. Untuk lebih jelas, kita bisa perbandingannya pada tabel berikut :

Kinerja Keuangan PT Askes (Persero) 2010-2011 (*dalam miliar rupiah)
U RA I A N Pendapatan Premi Pendapatan Investasi Pendapatan/biaya Lain-lain Biaya Pokok Biaya Operasional 2010 7.905,34 975,94 15,81 6.067,59 789,23 2011 9.242,91 837,35 46,24 7.538,76 1.010,07

Laba setelah pajak

1.803,94

1.438,86

37

EDISI KHUSUS

JULI 2012

FOKUS
Kinerja Operasional 2011 seiring Customer Focus Strategy Dengan menetapkan Costumer Focus sebagai strategi utama, maka perusahaan harus berkomitmen dalam upaya meningkatkan kepuasan dan loyalitas peserta. Aspek Operasional yang merupakan garda depan dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Dimulai dari Optimalisasi dan perluasan Askes Center dari 865 pada tahun 2010 menjadi 891 Askes Center pada tahun 2011 yang tersebar di seluruh Indonesia baik di RS Pemerintah, RS TNI/POLRI, RS Khusus, RS Jiwa dan RS Swasta. “Tujuan penambahan Askes Center tentu saja adalah upaya peningkatan pelayanan di rumah sakit terutama pelayanan administrasi, pemberian informasi, kemitraan dan sebagai unit pengendali pelayanan kesehatan di rumah sakit. Walaupun pada dasarnya fungsi Askes Center telah dilaksanakan di seluruh RS yang menjadi PPK PT Askes (Persero), jelas Direktur Operasional PT Askes ” (Persero) Umbu M Marisi. Kepuasan pelanggan bukan hanya terlihat dari pelayanan yang nyaman, mudah, dan lengkap akan informasi yang bisa didapatkan di Askes Center saja. PT Askes (Persero) juga melakukan upaya peningkatan taruf pelayanan kesehatan pada pada 845 RS untuk mengurangi dan atau meniadakan beban urun biaya peserta. Selain itu, jumlah Pemberi Pelayanan Kesehatan pun di tingkatkan. Hal ini seiring dengan misi perluasan provider agar peserta dapat memperoleh pelayanan kesehatan terutama di tingkat primer. Selain ditingkat primer, peserta juga bisa memperoleh pelayanan kesehatan di RS Swasta, namun dengan tarif yang disesuaikan.

Jumlah PPK/ Jaringan Provider Askes 2008-2011

Jumlah Askes Center Yang Memenuhi Standar

38

Untuk pencapaian Kinerja keuangan, Pencapaian laba Askes di tahun 2011 memang mengalami penurunan sebesar 20, 24 % dibandingkan tahun 2010, mendasi sebesar 1.438,36 Miliar rupiah. Hal itersebut disebabkan oleh meningkatnya rasio biaya pokok terhadap pendapatan premi dan menurunnya pendapatan investasi perusahaan.

INFOASKES

FOKUS
Penambahan item obat DPHO pun dilakukan, dari 1.422 item (2010) menjadi 1.619 item, yang berdampak pada penurunan penulisan obat Non DPHO untuk pelayanan RJTL dari target maksimal 8% dapat ditekan menjadi sebesar 5,30%. Sedangkan untuk penulisan obat Non DPHO RITL dapat ditekan menjadi sebesar 6,33% dari target 8%. Penambahan item obat DPHO ini diharapkan dapat menurunkan keluhan peserta terhadap pelayanan obat

URAIAN
Item Obat Generic dan Branded Generic Item Obat Branded TOTAL DPHO

TAHUN 2007 2008 2009 2010 390 707 387 831 403 917 410 2011 571

Tabel Jumlah Peningkatan DPHO 2008-2011 Generic Branded Total
Perbandingan DPHO Dalam 5 Tahun

1.012 1.048

1.097 1.218

1.320 1.422 1.619

Selain peningkatan pelayanan di PPK atau provider, sebagai wujud implementasi prinsip managed care, PT Askes (Persero) juga turut melangsungkan program promotif dan preventif untuk meningkatkan kualitas kesehatan peserta. Pada tahun 2011 program ini terlaksana melalui screening kesehatan bagi 754.077 peserta, pap smear 18.904 peserta dan olah raga sehat bersama Askes sebanyak 3.644 kali yang dilaksanakan di tingkat Propinsi/Kabupaten/Kota diseluruh Indonesia.

Kepuasan pelanggan bukan hanya terlihat dari pelayanan yang nyaman, mudah, dan lengkap akan informasi yang bisa didapatkan di Askes Center saja. PT Askes (Persero) juga melakukan upaya peningkatan taruf pelayanan kesehatan pada pada 845 RS untuk mengurangi dan atau meniadakan beban urun biaya peserta.

39

EDISI KHUSUS

JULI 2012

FOKUS

Kinerja Triwulan I/2012: Pada tahun 2012 PT Askes (Persero) masih menetapkan Customer Focus sebagai strategi utama perusahaan, yang memfokuskan seluruh kegiatan usaha pada upaya optimalisasi pelayanan bagi peserta dengan menjaga tingkat kesehatan keuangan perusahaan. Berdasarkan strategi tersebut, PT Askes (Persero) menetapkan 3 sasaran utama sebagai Wildly Important Goals (WIG) tahun 2012, yaitu: a. Customer Satisfaction Index (CSI) sebesar 88,13 (1 poin diatas CSI tahun 2011; 87 ,13). b. Competency Compliance Index (CCI) sebesar 89,64 (3,64 poin diatas CCI tahun 2011; 86). c. Tingkat Kesehatan Perusahaan (TKP) minimal Sehat. Untuk realisasi kinerja perusahaan sampai dengan Triwulan I/2012 untuk aspek keuangan secara ringkas diuraikan sebagai berikut: a. Pendapatan 1) Pendapatan premi konsolidasi mencapai 21,43% dari RKAP atau meningkat 18,87% dari Triwulan I/2011. 2) Pendapatan investasi konsolidasi 24,25% dari RKAP atau naik 24,99% dari Triwulan I/2011, dengan Yield on Investment (YOI) konsolidasi untuk Year to Date/YTD sebesar 2,87% netto atau 3,24% bruto. Pencapaian sebesar 24,25% dari RKAP antara lain karena volatilitas pasar modal yang masih relatif tinggi sehingga berpengaruh terhadap pendapatan dari saham dan reksadana, terjadinya kenaikan harga obligasi yang mengakibatkan yield obligasi menurun serta turunnya tingkat suku bunga deposito terutama pada bank-bank BUMN. 3) Pendapatan lain-lain 7 ,04% dari RKAP atau meningkat 130,42% dari Triwulan I/2011. b. Biaya 1) Biaya pokok konsolidasi terealisasi 23,73% dari RKAP atau meningkat 39,95% dari Triwulan I/2011 dengan rasio sebesar 91,16% dari pendapatan premi. 2) Biaya operasional konsolidasi terealisasi 18,83% dari RKAP atau meningkat 29,70% dari Triwulan I/2012 dengan rasio sebesar 10,60% dari pendapatan premi (target RKAP sebesar 12,63%).

c. Laba bersih konsolidasi mencapai 16,11% dari RKAP atau turun 36,98% dari Triwulan I/2011, antara lain karena pendapatan premi yang baru mencapai 21,43% dari RKAP . d. Total asset konsolidasi per 31 Maret 2012 mencapai 81,19% dari RKAP atau meningkat 16,82% dari Triwulan I/2011, antara lain karena laba bersih konsolidasi baru mencapai 16,11% dari RKAP . Secara umum, kinerja PT Askes (Persero) Triwulan 1/2012 masih positif. Namun, sepanjang tahun berbagai strategi yang mendukung pencapaian Customer Satisfaction Index (CSI) terus dioptimalkan. Dari sisi 1) Meningkatkan akses peserta dalam memperoleh informasi hak, kewajiban, ruang lingkup dan prosedur layanan 2) Meningkatkan kecepatan dan ketepatan pelayanan administrasi kepada peserta dan akurasi master ile kepesertaan 3) Meningkatkan jumlah jaringan layanan kesehatan 4) Mengoptimalkan penerapan tarif baru untuk meminimalisasi iur biaya. 5) Mengoptimalkan credentialing dan recredentialing (seleksi provider) 6) Mengoptimalkan pengadaan dan pengelolaan barang dan jasa sesuai ketentuan yang berlak a. Strategi yang mendukung pencapaian Competency Compliance Index (CCI) 1) Meningkatkan kompetensi pegawai 2) Meningkatkan keterikatan pegawai (employees engagement) b. Strategi yang mendukung pencapaian Kinerja Keuangan Perusahaan minimal “SeHAT” 1) Meningkatkan pendapatan premi dan pendapatan Investasi 2) Mengendalikan biaya 3) Mengendalikan utilisasi pelayanan dan klaim 4) Meningkatkan tata kelola perusahaan Melalui penetapan sasaran dan strategi tersebut di atas diharapkan dapat dihasilkan kualitas layanan yang tinggi untuk memenuhi komitmen perusahaan bagi peserta yaitu “Melayani Pelanggan Melampaui Harapan” Sehingga menjadikan PT Askes (Persero) sebagai . pemberi jaminan pelayanan kesehatan sosial yang “diakui, dibanggakan dan didambakan” oleh seluruh rakyat Indonesia.

40

INFOASKES

FOKUS
yang menjelaskan tentang pokok-pokok kesehatan dan pada salah satu pasalnya, yaitu Pasal 1 menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan perlu diikutsertakan dalam usaha kesehatan pemerintah. Bertitik tolak dari pemikiran ini, maka Prof. GA Siwabessy mengajukan sebuah gagasan untuk perlu segera menyelenggarakan program asuransi kesehatan yang di negara maju telah berkembang pesat. Memang saat itu kepesertaannya baru mencakup pegawai negeri sipil, veteran dan perintis kemerdekaan beserta keluarga saja. Namun Prof. GA Siwabessy yakin suatu hari nanti, klimaks dari pembangunan derajat kesehatan masyarakat Indonesia akan tercapai melalui suatu sistem yang dapat menjamin kesehatan seluruh warga bangsa ini. Dibentuknya BPDPK pun diharapkan menjadi cikal bakal terwujudnya impian tersebut, Asuransi Kesehatan Semesta. “Beberapa kali PT Askes (Pesero) mengalami transformasi yang cukup berarti. Dan perubahan itu menuntut bukan hanya dari segi hukum dan sistem manajemen yang mempengaruhi proses bisnis, tetapi juga mental yang dimiliki setiap pegawainya. Saya ingat bagaimana kondisi pegawai Askes saat saya baru menginjakkan kaki di perusahaan ini tahun 1990. Sungguh menyedihkan, ungkap perempuan yang ” delapan tahun menjabat sebagai Direktur Utama PT Askes (Persero) (1992-2000). Perempuan yang diidentikkan dengan Margaret Thatcher karena secara signiikan banyak yang dia lakukan untuk mengubah sikap dan mental yang dimiliki oleh pegawai PT Askes (Persero). Sonja juga mulai mengikut sertakan pegawai dalam pelatihan -pelatiha untuk meningkatkan kualitas kinerja serta aspek keilmuan yang agar kompetesnsi pegawai Askes semakin komprehensif. “Kini, SDM PT Askes makin handal, jelasnya. ” Perubahan demi perubahan yang dialami PT Askes (Persero) memang harus senantiasa dilakukan menuju kinerja prima yang terus digaungkan. Bahkan pihak eksternal perusahaan banyak yang mengakui kinerja yang saat ini diberikan PT Askes (Persero) semakin baik dari waktu ke waktu. Memang setiap harinya PT Askes (Persero) menekankan untuk selalu melakukan peningkatan kinerja dan produktivitas yang berbasis pada budaya perusahaan : integrity, team work, service excellence dan inovation.

Mantan Dirut PT Askes (Persero) dr. Sonja Roesma :

Bangga
Cita-cita Pendiri Tercapai
Transformasi PT Askes menjadi BPJSmemang bukan pekerjaan mudah, seperti halnyamengganti baju tetapi merupakan pekerjaan yang kompleks menyangkut struktur, kultur dan prosedur kerja kelembagaan. Selain itu, mengandung hak jutaan peserta, dana triliunan dan harapan jutaan rakyat.
aya bangga karena akhirnya cita-cita pendiri berhasil diwujudkanya," kata mantan Dirut PT Askes Dr Sonja Roesma. meski demikian, dirinya yakin, peleburan PT Asuransi Kesehatan (Askes) menjadi Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) I tidak bakal berdampak pada pengurangan layanan hak peserta program Askes yang lama, yakni, PNS, TNI/Polri dan veteran pejuang. Artinya, hak peserta lama tidak boleh dkurangi.

41

"S

Perempuan yang pernah mendapatkan penghargaan dari DPR karena gigih memperjuangkan asuransi kesehatan semesta sebagaimana yang digagas pendirinya, Prof Gerrit A. Siwabessy, berulang-ulang menyatakan kegembiraannya. Sonja pun banyak menceritakan perjuangan untuk ikut merealisasi kesehatan semesta. Pada era terbentuknya Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK). Saat itu juga muncul UU No 9 tahun 1960

EDISI KHUSUS

JULI 2012

BINCANG
Prof Ali Ghufron Mukti Wakil Menteri Kesehatan

Jaminan Kesehatan Harus Mengacu Kendali Mutu dan Biaya
Kesehatan adalah hak asasi sekaligus investasi bagi suatu bangsa, semua warga negara berhak atas kesehatan karena merupakan kebutuhan dasar hidup yang mampu menjamin produktiitas mereka. Untuk itu diperlukan penyelenggaran sistem yang mengatur pembiayaan dan pelayanan kesehatan dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan yang layak. Dalam menyongsong penyelenggaraan jaminan kesehatan oleh BPJS, Buletin Info Askes mewawancarai Wakil Menteri Kesehatan Prof Ali Ghufron Mukti. Berikut petikannya;
Jaminan kesehatan merupakan salah satu program yang wajib dilaksanakan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Seperti apa rinciannya? SJSN merupakan tatacara penyelenggaraan program jaminan sosial berbasis asuransi oleh beberapa badan penyelenggara berdasarkan prinsip: kegotongroyongan, nirlaba, keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, portabilitas, kepesertaan bersifat wajib, dana amanat. Hasil pengelolaan dana jaminan sosial digunakan seluruhnya untuk pengembangan program dan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta. Sebagai salah satu amanat dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN, Undang-Undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) telah disahkan pada tanggal 28 Oktober 2011 melalui sidang paripurna DPR RI. Dalam UU tersebut ditetapkan 2 (dua) BPJS yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Dengan demikian hanya ada institusi yang akan menyelenggarakan Jaminan Kesehatan di Indonesia yaitu BPJS Kesehatan yang berstatuskan badan hukum publik. Mulai 1 Januari 2014, pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional siap untuk diimplementasikan dan diselenggarakan melalui BPJS. Sejauhmana persiapan implementasinya? Dalam menyongsong penyelenggaraan jaminan kesehatan oleh BPJS, saat ini sedang dilakukan persiapan implementasinya meliputi pembentukan Tim Lintas Kementerian dan Kelembagaan dan Kelompok Kerja di dalam lingkungan internal Kementerian Kesehatan, penyusunan rencana kegiatan dan koordinasi untuk memperlancar proses peralihan (transformasi) jaminan kesehatan, dari sisi program maupun kelembagaan. Selain persiapan tranformasi kelembagaan dan program, juga dipersiapkan pemenuhan kebutuhan dari sisi demand dan sisi supply. Untuk sisi demand, dipersiapkan antara lain, besaran iuran dan penyediaan dana tersebut baik dari pemerintah untuk peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) maupun kontribusi dari pekerja dan pemberi kerja pada peserta non PBI, informasi yang lengkap dan tepat. Dari sisi supply, dipersiapkan perhitungan kebutuhan dan pemenuhannya untuk: fasilitas kesehatan dan infrastruktur, obat dan alat kesehatan, dan SDM Kesehatan. Pelaksanaan jaminan kesehatan haruslah mengacu kepada kendali mutu dan kendali biaya dengan menerapkan prinsip managed care, agar terjadi pembiayaan yang eisien dengan mutu yang tetap terjamin sesuai indikasi medis. Dan salah satu kontrol pembiayaaan yang efektif eisien adalah dengan menggunakan pola pembayaran prospektif yaitu kapitasi dan INA-CBG’s. Untuk menata pelayanan kesehatan yang diberikan dalam sistem jaminan kesehatan perlu diberlakukan pelayanan terstruktur dan berjenjang melalui mekanisme rujukan dengan tujuan yang sama yaitu untuk pengendalian biaya dan keteraturan pelayanan kesehatan. Yang paling penting dari segalanya adalah penyusunan regulasi atas penyelenggaraan jaminan kesehatan sehingga memberikan kejelasan kepada semua pihak yang terkait dalam menjalankan perannya masing-masing dalam implementasi jaminan kesehatan. Upaya terakhir yang harus dilakukan adalah bagaimana menjamin penduduk yang saat ini belum memiliki jaminan kesehatan diperkirakan sekitar 89 juta jiwa atau 37% dari total penduduk. Kelompok masyarakat yang belum memiliki jaminan kesehatan meliputi sebagian pekerja formal dan sebagian besar pekerja informal. Bagaimana persiapan infrastruktur BPJS, mulai dari kesiapan rumah sakit kelas 3, tenaga dokter, distribusi dan sebarannya? Berbagai kajian sudah dilakukan. Misalnya, jika peserta BPJS sudah mencapai 100 persen. Untuk memberikan pelayanan rawat inap lanjutan secara nasional memerlukan tempat tidur sebesar 283.423 tempat tidur. Saat ini kita telah memiliki 231.973 unit sehingga masih kekurangan 7 .024. Kalau belum 100 persen, masih mencukupi. Hitungan ini berdasarkan estimasi WHO yaitu 1 tempat tidur (tt) per 1.000 penduduk. Bagaimana dengan kesiapan di tingkat provinsi? Kesiapan jumlah tempat tidur secara provinsi bervariasi, ada provinsi yang kelebihan jumlah tt nya, ada yang kekurangan, ternyata provinsi yang penduduk padat sperti Jabar, Jatim, Jateng, Lampung, Sumatera Utara,

42

INFOASKES

BINCANG
malah kekurangan tempat tidur, sedangkan Papua kelebihan jumlah Dengan demikian penambahan kebutuhan rs dan tempat tidur sangat tergantung disparitas geograis suatu daerah. Bagaimana target pemerintah agar universal coverage ini bisa dicapai? Pemerintah mempunyai target mencapai universal coverage secepatnya. Jika memungkinkan akhir tahun 2014 nanti bisa mencapai minimal 70 persen penduduk. Pada akhir tahun 2011 atau saat ini jumlah penduduk yang menjadi peserta jaminan kesehatan dengan berbagai skema adalah 63 persen, mulai dari peserta Askes, Jamsosek, TNI-Polri, Jamkesmas, jamkesda dan jaminan perusahaan, berarti mulai sekarang sampai dengan akhir tahun 2014 harus meingkat 7 persen penduduk atau sekitar 16,6 juta jiwa. Syarat menjadi peserta jaminan kesehatan di BPJS adalah Penduduk yang sudah membayar iuran yang ditetapkan. Bagi pekerja penerima upah (pekerja swasta, PNS, TNI, Polri aktif) iuran dibayar oleh pekerja dan pemberi kerja akan ditetapkan kemudian, saat ini sedang dalam penggodokan. Bagi peserta yang iurannya dibayar oleh pemerintah dinamakan sebagai peserta penerima bantuan iuran (PBI), detailnya akan dituangkan dalam PP PBI yang RPPnya sekarang sedang dalam proses. Bagi pekerja bukan penerima upah atau istilah lainnya di luar negeri adalah kelompok pekerja informal, sedang diupayakan kelompok informal yang tidak terkena wajib pajak akan diusulkan untuk dimasukkan dalam PBI. namun secara bertahap akan membayar sendiri (mandiri) disisi lain untuk pekerja tidak menerima upah dantekena pajak (menjadi wajib pajak) akan dicarikan jalan keluarnya. Mengapa sektor informal diusulkan masuk dalam PBI? Karena sulitnya mengumpulkan iuran sehingga biaya mengumpulkan iuran hampir sama dengan besarnya iuran, sebab sistem pembayaran pajak masih belum mencakup seluruh pekerja seperti di negara Korea dan Amerika. Nanti pada saatnya, Indonesia juga bisa mencapai situasi seperti itu, dan kelompok informal ini akan secara bertahap membayar sendiri secara mandiri setelah semua sistem pembayaran disiapkan oleh BPJS dengan baik. Dan besaran biaya mengumpulkan iuran sudah efektif. Negara negara yang menjamin kelompok informal antara lain Thailand Meksiko, Brazil, dan sekarang India dalam proses untuk kesepakatan sektor informal iurannya dibayar pemerintah. Penambahan cakupan/coverage peserta 63 juta dapat dicapai apabila; seluruh pekerja penerima upah (formal) yang jumlahnya sekitar 70 juta jiwa itu sudah menjadi peserta jaminan kesehatan, membayar iuran sesuai aturan ke BPJS, saat ini pekerja formal yang menjadi peserta Jamsostek baru mencapai 4 jutaan. Penerima jumlah PBI bagi kelompok masyarakat sasaran yang saat ini 76,4 juta jiwa dan diharapkan pada 2014 mencaapi 96 juta jiwa.Tahapan kepesertaan BPJS kesehatan pada 1 Januari 2014 adalah PNS, TNI, (aktif dan pensiun), Polri (aktif dan

43

EDISI KHUSUS

JULI 2012

BINCANG
Peserta progam jaminan kesehatan adalah hak setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah, kepesertaan besifat wajib bagi setiap penduduk termasuk orang asing yang bekerja di Indonesia paling singkat 6 bulan (UU SJSN pasal 20 dan pasal 1 butir 8, jadi termasuk presiden dan pejabat.

pensiun), Jamkesmas, pekerja penerima upah (formal) yang dikelola Jamsostek, dan diharapkan semua pekerja penerima upah formal yang didaftarkan oleh pemberi kerjanhya. Sistem universal coverage akan mengcover semua penduduk. Apakah presiden dan pejabat negara mempunyai hak khusus ? Peserta progam jaminan kesehatan adalah hak setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah, kepesertaan besifat wajib bagi setiap penduduk termasuk orang asing yang bekerja di Indonesia paling singkat 6 bulan (UU SJSN pasal 20 dan pasal 1 butir 8, jadi termasuk presiden dan pejabat. Dalam BPJS tidak ada pembedaan dalam paket manfaat medis, jadi semua peserta jaminan kesehatan dalam penyelenggaraan BPJS nantinya akan dijamin secara komprehensif sesuai kebutuhan medis, yang berbeda hanya di paket non medisnya sesuai kondisi pada saatini. Berdasarkan komitmen saat penyusunan RUU BPJS, tidak boleh ada satu pihakpun yang dirugikan dalam pelaksanaan SJSN melalui BPJS. Jadi baik pegawai maupun peserta akan mempunyai minimal hak yang sama antara sebelum dan sesudah BPJS beroperasi, jadi peserta Askes, Jamsostek, Jamkesmas akan tetap mendapatkan paket pelayanan minimal sama seperti saat ini seperti contohnya jaminan sosial dapat tetap dilayani untuk rawat inap minimal pada ruang rawat kelas 2. Mengenai hak khusus para pejabat negara, memang pejabat negara saat ini juga sudah mendapat hak khusus karena membayar iur

tambahan dari standar.Kita tahu khan, paket manfaat pelayanan kesehatan dalam BPJS yang sudah disepakati terdapat dua jenis yaitu manfaat pelayanan medis dan manfaat pelayanan non medis. Sejauhmana soal paket manfaat medis yang disepakati? Begini, paket manfaat medis yang disepakati adalah semua pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis, dikategorikan manfaat pelayanan non medis.pelayanan kesehatan yang dijamin pelayanan kesehatan yang dibatasi lebih dini supaya tidak menjadi sakit yang berat dan biayamahal. pelayanan kesehatan yang dikenakan urun biaya dikenakan pada pelayanan yang dapat menimbulkan kecurangan baik oleh pasien maupun dokter pelayanan kesehatan yang tidak dijamin, misalnya operasi plastik atau kecantikan (kosmetik) Paket pelayanan non medis merupakan kelas pelayanan/perawatan untuk rawat inap, tidak boleh lebih dari yang sudah berjalan saat ini, jadi setidaknya adalah akan tetap seperti kondisi saat ini, yaitu bagi peserta PBI (yang sekarang jamkesmas) perawatan di kelas 3. Mengenai sistem rujukan, apakah ada perubahan ? Sistem rujukan itu bukan sistem IT, tetapi suatu sistem yang mengatur bagaimana pasien dengan tingkat keparahan penyakit tertentu harus dilayani pada tingkat layanan tertentu pula. Sebab, untuk eisiensi uang negara dan uang rakyat maka fasilitas kesehatan kemampuan pelayanannya perlu dikelompokkan, ada yang masuk kategori mampu melayani penyakit pada tingkat primer, sekunder dan

tertier. Contoh yang di fasilitas primer, kalau penyakit ringan seperti gatal batuk pilek cukup dilayani di faslitas kesehatan primer atau puskesmas, dokter umum praktik (dokter keluarga). Kalau persalinan normal cukup dapat ditolong oleh bidan atau dokter umum di Puskesmas Perawatan atau klinik bersalin, atau di polindes karena kompetensi kemampuan dan keterampilan sudah mencukupi, jadi persalinan normal tidak perlu dilayani di RS kecuali memang tidak ada fasilitas yang dapat melayani persalinan normal (kompetensi tidak terpenuhi) di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Misalnya, di fasilitas rujukan, kalau persalinannya dengan penyulit maka pasien perlu dirujuk atau dikirikan ke fasilitas kesehatan yang mempunyai peralatan lebih lengkap untuk kasus tersebut. Supaya pasien tertib, maka ke depan kalau persalinan normal di RS padahal ada klinik bersalin maka tidak dijamin, pasien harus membayar sendiri biaya persalinannya, inilah yang dinamakan tertib asas. Bagaimana dengan sistem evaluasi dan pemantauan BPJS nanti ? Sistem evaluasi dan pemantauan pelayanan, bagi masyarakat miskin tentunya tidak ada pembedaan, karena meskipun dia miskin dia tetap membayar iuran jaminan kesehatan, hanya saja yang membayar pemerintah. Masyarakat dapat langsung berperan untuk memonitor pelayanan ini melalui pengaduan, dimana BPJS berkewajibban membuka unit kendalian mutu, mengenai masalah pengaduan dan penyelesaiannya telah diatur dalam UU BPJS dalam Bab XII pasal 48-50 tentang penyelesaian pengaduan. silakan

44

INFOASKES

BINCANG
ajukan pengaduan jika tidak mendapatkan hak dengan benar. Bagaimana pula distribusi dokter untuk memastikan universal health coverage ? Dalam jangka pendek kebutuhan tenaga kesehatan inti (dokter spesialis, dokter umum, perawat, bidan, farmasi) masih mencukupi dan seimbang terdapat masalah distribusi tenaga khususnya dokter (umum dan sepsialis) yang mengalami hambatan karena letak geograis (susah, risiko tinggi). Adanya risiko lain termasuk risiko stagnasi ilm kedokterannya, komunikasi,pendidikan anak, dan fasilitas dalam jangaka panjang) namun insentif belum sesuai dengan risiko kecepatan pertumbuhan kebutuhan tenaga kesehatan yang sesuai (dokter spesials, dokter umum) untuk jangka panjang tidak seimbang antara kebutuhan dan lama pendidikan dokter spesialis, sehingga saat ini sedang dilakukan upaya percepatan untuk keseimbangan pemenuhan kebutuhan dalam jangka panjang. Bagaimana transisi program Jamkesmas ke BPJS ? Saat sekarang ini Jamkesmas dikelola oleh Kemenkes dari sisi organisasi dan pembiayaannya, sedangkan yang diserahkan PT Askes adalah pengelolaan peserta, khususnya penerbitan SKP (surat keabsahan peserta). Pada 2014, PT Askes akan menjadi BPJS kesehatan berarti Jamkesmas akan diserahkan ke BPJS, namun supaya PT Askes yang calon BPJS ini mulai menyesuaikan diri dengan sistem pembayaran Jamkesmas yang sudah menggunakan Ina-CBG’s maka direncanakan Jamkesmas akan diserahkan sepenuhnya ke PT Askes pada 2013 nanti, supaya terjadi pembelajaran sehingga pada tahun 2014 nanti benar-benar menjalankan fungsinya sebagai BPJS Kesehatan dan mampu langsung beroperasi secara penuh. Kembali soal PBI. apa alasan penetapan bahwa PBI mencaku 86 juta jiwa orang miskin dan mendekati miskin? Diharapkan PBI nantinya seluruh rumah tangga sasaran yang sudah diidentiikasi bersama antara BPJS dan TNP2K sebesar 96 jugta jwia. untuk tahap pertama tahun 2013 ditetapkan 86 juta jiwa dan tahun 2014 dapat seluruhnya menjadi peserta PBI. Kelompok yang teridentiikasi tersebut kemungkinan besar adalah pekerja bukan penerima upah atau kelompok pekerja informal yang saat ini diupayakan Kemenkes untuk dimasukkan dalam PBI, khsusunya kelompok informal yang tidak terkena wajib pajak akan disulkan namun secara bertahap mereka akan membayar sendiri (mandiri), disisi lain untuk pekerja tidak menerima upah dan terkena pajak (menjadi wajib pajak) akan dicarikan jalan keluarnya. Apakah sistem jaminan kesehatan masyarakat memerlukan kartu e-KTP kemudian bagaimana cara , pembayarannya, apakah di pihak ketiga seperti PT Askes atau PT Pos Indonesia ? Dalam sistem jaminan kesehatan diperlukan kartu tanda peserta jaminan kesehatan, saat ini kartu tanda peserta Jamkesmas, Askes, Jamsostek dst, e-ktp pasti kita gunakan nanti, sekarang e-ktp masih berbenah, dan saat ini sudah ada pembicaraan dengan Kemendagri khususnya ditjen administrasi kependudukan (adminduk) dan sedang dijajaki kemungkinan ke arah sana, tinggal variabel apa yang dibutuhkan dan kementerian mana yang bertanggungjawab penyediaan anggarannya. Cara pembayaran? pembayaran klaim pelayanan yang sudah diberikan oleh fasilitas kesehatan terhadap pesera jaminan kesehatan, maka BPJS akan membayar ke fasilitas kesehatan rujukan tersebut dengan cara pembayaran paket Ina-CBGs yang programnya sedang disempurnakan tim kemenkes, dan saat ini sistem pembayaran dengan cara Ina CBGs sudah digunakan Jamkesmas sejak tahun 2009.

Dalam BPJS tidak ada pembedaan dalam paket manfaat medis, jadi semua peserta jaminan kesehatan dalam penyelenggaraan BPJS nantinya akan dijamin secara komprehensif sesuai kebutuhan medis, yang berbeda hanya di paket non medisnya sesuai kondisi pada saatini.

45

EDISI KHUSUS

JULI 2012

RESONANSI

RESONANSI
Memasuki usianya yang ke-44, PT Askes (Persero) semakin dikenal sebagai perusahaan yang sangat identik dengan jasa pengelolaan jaminan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat. Lewat slogan “Melayani Pelanggan, Melampaui Harapan”, PT Askes (Persero) ingin menunjukkan tekadnya untuk senantiasa memberikan pelayanan terbaik, yang tak hanya sesuai dengan harapan pelanggannya, namun justru melampauinya.
Dalam Resonansi ini, Dalam Resonansi ini, Buletin Info Askes mengajak anda mendengar apa kata masyarakat tentang PT Askes (Persero). Sebagai perusahaan yang melayani kepentingan orang banyak sejak puluhan tahun lalu, tentu saja PT Askes (Persero) mendapat tempat sebagai “top of mind” di hati masyarakat Indonesia. Askes akrab bukan hanya di lidah, tetapi juga di alam pikiran dan perasaan berbagai kalangan dan lapisan masyarakat.

46

Kami memunculkan beberapa tokoh dengan latar belakang pendidikan dan bidang pekerjaan yang berbeda. Bagaimana mereka memandang Askes? Apa harapan mereka untuk perusahaan ini serta kritik dan saran mereka bagi perusahaan yang sudah berkiprah di jasa pengelolaan jaminan pemeliharaan kesehatan 44 tahun lamanya. Seperti apa masukan mereka tentang Askes dan tentu saja memandang Askes sebagai pengemban amanat UU No. 24 tahun 2011. Pandangan mereka soal proses negara ini menuju implementasi Jaminan Kesehatan Nasional, di tahun 2014.

INFOASKES

RESONANSI Menko Kesra, Agung Laksono

Jangan sampai Ada Dana yang “Idle”
Pelayanan kesehatan merupakan hak dasar masyarakat yang wajib dipenuhi oleh pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah sudah menyiapkan program jaminan sosial yang akan dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

E

sensi UU BPJS adalah tentang penetapan dan pengaturan kelembagaan untuk menyelenggarakan ke-lima program jaminan sosial sesuai amanat UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Demikian, Menko Kesra Agung Laksono. Perubahan apa yang harus disiapkan, pertama, badan penyelenggara merupakan badan hukum publik yang bertanggungjawab kepada Presiden, artinya tidak lagi berbentuk persero yang selama ini kita kenal. Kedua, hanya ada 2 (dua) penyelenggara yaitu BPJS Kesehatan untuk program Jaminan Kesehatan, dan BPJS Ketenagakerjaan untuk program Jaminan Kecelakaan Kerja; Jaminan Hari Tua; Jaminan Pensiun; dan Jaminan Kematian. Perubahan bentuk badan hukum BPJS merupakan amanat UU SJSN bahwa prinsip penyelenggaraan jaminan sosial dilaksanakan dengan kehati-hatian, keterbukaan, dan akuntabilitas, karena pada hakekatnya dana yang terkumpul merupakan dana amanat atau titipan yang dipergunakan sepenuhnya untuk pengembangan program dan kepentingan peserta. Dengan demikian diharapkan peserta akan mendapat pelayanan dan paket manfaat yang jauh lebih baik dari pada sebelumnya. Prinsip penyelenggaraan juga mengindikasikan perlunya profesionalisme dari para direksi BPJS yang bebas dari kepentingan atau intervensi pihak – pihak diluar kepentingan peserta. Kedua, BPJS tersebut akan dibentuk dan beroperasi pada 1 Januari 2014 dengan catatan untuk BPJS Ketenagakerjaan paling lambat beroperasi pada 1 Juli 2015. Tidak perlu mulai dari awal, karena BPJS Kesehatan merupakan transformasi dari PT Askes yang sudah lama memiliki pengalaman panjang dalam penyelenggaraan jaminan kesehatan. Demikian pula dengan BPJS Ketenagakerjaan merupakan transformasi dari PT Persero Jamsostek. Para pekerja yang selama ini menjadi peserta Jamsostek sudah merasakan manfaatnya menjadi peserta program yang dikelola Jamsostek, sesuai dengan mottonya “Untung Ikut Jamsostek” .

Askes dan Jamsostek dengan supervisi dari Kementerian BUMN saat ini sudah menyiapkan roadmap transformasi sehingga pada saatnya nanti siap untuk menyelenggarakan program jaminan sosial yang jauh lebih baik. Menurutnya, waktu dua tahun yang diamanatkan UU BPJS untuk mulai beroperasinya kedua BPJS bukanlah waktu yang panjang. Transformasi kelembagaan harus dipersiapkan secara matang dan seksama. Selain aspek hukum yang harus dipatuhi, dan perlu mempertimbangkan kepentingan peserta lama jangan sampai merasa dirugikan dengan berubahnya manfaat yang diperoleh, apalagi sampai terganggu atau berhenti sama sekali pelayanan yang diberikan. Transformasi kelembagaan harus juga mempertimbangkan aspek-aspek lain yang sifatnya berdampak nasional seperti kepemilikan aset, pemutusan hubungan kerja, investasi yang sudah berjalan, serta komitmen yang telah disepakati dengan lembaga-lembaga baik di dalam maupun di luar negeri. "Kita tidak mau niat baik mentransformasikan kelembagaan menimbulkan ketidak-pastian atau pun chaos bagi peserta dan pengelola asuransi sosial. To change and to change for better are two different things, melakukan perubahan dan melakukan perubahan untuk yang lebih baik adalah dua hal yang berbeda," jelasnya. Pada sisi lain, pemerintah perlu menyiapkan peraturan pelaksanaannya, ada 8 jenis Peraturan Pemerintah, 7 Peraturan Presiden, dan 1 Keputusan Presiden yang harus disiapkan. Kementerian Kesehatan akan memimpin penyiapan perangkat peraturan yang berkaitan dengan BPJS Kesehatan, sedangkan yang terkait dengan BPJS Ketenagakerjaan dipimpin oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. "Saya sudah meminta Ketua DJSN untuk terlibat aktif bersama dengan kedua kementerian tersebut," jelasnya. Sambutan dari pengusaha yang tergabung dalam Kadin, terhadap UU BPJS ini sangat positif sekali, karena meyakini bahwa kepastian jaminan sosial bagi pekerja akan berdampak posisif bagi dunia usaha. Oleh karenanya, dirinya meminta

Kadin bisa memberikan masukan dalam perumusan kebijakan yang terkait dengan penyelenggaraan jaminan sosial. "Besarnya iuran yang harus ditanggung pemberi kerja tentunya merupakan hal yang penting dalam kaitannya dengan besaran manfaat yang akan diberikan. Forum Tripartied hendaknya dipakai sebagai forum diskusi untuk mendapatkan kesepakatan yang bisa memuaskan semua pihak," ujarnya. Penerapan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) tak perlu disikapi dengan kekhawatiran yang berlebihan. "Kami menangkap kekhawatiran dari pihak penyelenggara asuransi swasta terkait dengan segmentasi pasar, sebenarnya masih terbuka peluang yang besar di kalangan menengah ke atas," kata Agung. Dua pengelola Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) berbentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Jamsostek dan PT Askes memiliki kewajiban untuk mengelola uang premi dari masyarakat sebaik mungkin. "Jangan sampai ada dana yang `idle` (mengendap), sebaliknya pengelola SJSN harus menyalurkannya dalam investasi yang rendah risiko dan tidak spekulatif," ujarnya. Maka, Agung berpendapat diperlukan profesionalisme tinggi dari pengelola SJSN yang sudah ditunjuk untuk mulai mengelola dana masyarakat yang diamanatkan UU BPJS untuk mulai beroperasi, yakni pada 1 Januari 2014. Pihaknya juga menerima masukan dari berbagai pihak. Mereka berpendapat perlu diperhatikan mengenai aturan pelaksanaannya karena dana yang dikelola sangat besar. Good governance atau tata kelola yang baik sangat diharapkan agar penyelenggara SJSN dapat mengelola dana masyarakat secara transparan, objektif, tepat sasaran dan adil. UU BPJS hanya merupakan salah satu sisi mengenai harapan kesejahteraan rakyat, sisi lainnya yang lebih penting adalah perkembangan perekonomian Indonesia ke arah yang lebih positif sehingga menghasilkan dana untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan tenaga kerja.

47

EDISI KHUSUS

JULI 2012

RESONANSI

ASKES LEMBAGA YANG KUAT KELOLA JAMINAN SOSIAL

M
Muhaimin Iskandar Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi

enteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar mengakui PT Askes (Persero) adalah lembaga yang kuat dan baik dalam mengelola asuransi sosial. Oleh karenanya kini ditunjuk menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang akan beroperasi mulai awal tahun 2014. Di hari ulang tahun (HUT) ke 44, PT Askes (Persero) diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan baik dan Menakertrans yakin PT

Askes dapat melakukannya sampai masa transformasi dari PT Askes menjadi BPJS. “Harapan saya, PT Askes yang nanti menjadi BPJS akan lebih baik lagi dalam melayani pesertanya, karena pesertanya nanti bukan hanya peserta Askes yang sekarang tetapi pesertanya seluruh rakyat Indonesia, tentu dengan peserta yang lebih besar bebannya lebih berat, tetapi pelayanan dituntut lebih baik, kata Menakertrans kepada Buletin Info ” Askes.

Sinyo Harry Sarundajang Gubernur Sulawesi Utara

Sinergi
dengan Askes Terus Ditingkatkan

K

48

esehatan adalah salah satu goods public yang akan selalu diharapkan kehadirannya, bagaimanapun keadaan masyarakat Indonesia pasti mereka akan butuh apa yang namanya sehat, semiskin apapun kita, kita akan masih butuh kehadiran kesehatan. Kesehatan adalah salah satu potensi ilmiah yang harus mereka miliki, karena dengan sehat maka mereka akan bisa mencari nafkah, berjalan mengais rezeki dan berpikir bagaimana cara mengubah hidupnya untuk tidak lagi menjadi miskin. Terlebih masyarakat Indonesia yang masih banyak dipenuhi masyarakat kalangan menengah ke bawah, rasa sakit akan menjadi ancaman terbesar dalam hidupnya dalam menjalani hidup sebagai manusia yang produktif. Pemerintah khususnya pemerintah daerah kini telah secara proaktif menyadari bahwa kesehatan adalah aspek penting dalam pembangunan derajat kesehatan masyarakat. Terlebih diperkuat dengan dikabulkannya Judicial Review oleh Mahkamah Konstitusi atas UU No. 40 Tahun 2004 yang memberikan kewenangan

sekaligus amanah konstitusi kepada pemerintah daerah untuk menyelenggarakan sistem jaminan kesehatan daerah baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota. Menurut Gubernur Sulawesi Utara, SH Sarundajang Berbagai cara dilakukan dalam pengembangan sistem jaminan kesehatan di daerah masing-masing termasuk Provinsi Sulawesi Utara. Salah satunya adalah bekerja sama dengan PT Askes (Persero) melalui Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Umum (PJKMU) yang ditujukan bagi masyarakat yang belum terasuransi baik oleh Jamkesmas, Askessos, maupun asuransi swasta. “Mengapa kita bekerja sama dengan PT Askes (Persero) karena PT Askes adalah BUMN, milik masyarakat, sudah sepatutnya kami pemerintah daerah khususnya memanfaatkan ini dengan sebaikbaiknya. Apalagi PT Askes (Persero) sudah diamanatkan UU SJSN sebagai Badan Penyelenggara, sehingga ke depannya sinergisitasnya akan lebih mudah, jelas ” Sarundajang.

Memang untuk Provinsi Sulawesi Utara, seluruh kabupaten/kota sudah melakukan perjanjian kerja sama dengan PT Askes (Persero) dalam PJKMU ini. Kepercayaan yang dibangun PT Askes (Persero) selama ini dengan pemerintahan daerah cukup membuahkan hasil. Dan yang menjadi targetan selanjutnya adalah universal coverage untuk Provinsi Sulawesi Utara. Bukan hanya Sulawesi Utara, seluruh kabupaten/kota di tiga provinsi lain seperti Sumatera Barat, Jambi, dan Nusa Tenggara Timur juga telah melakukan kerjasama dengan PT Askes (Persero).

INFOASKES

RESONANSI
Chazali H Situmorang Ketua Dewan Jaminan Kesehatan Nasional
untuk realisasi SJSN tahap pertama tentang jaminan kesehatan. "Yang bisa berbeda adalah pembayaran klaim ke tenaga medis dan tempat pelayanan kesehatan, sesuai dengan daerah masing-masing. Inipun tergantung negosiasi dengan BPJS," ujarnya. Dengan SJSN ini juga, lanjut Chazali, maka seluruh TNI/Polri juga diberlakukan sama. Mereka boleh berobat ke semua pelayanan kesehatan yang ada tanpa harus terfokus ke rumah sakit TNI/Polri. Sebaliknya, rumah sakit TNI/Polri juga bebas menerima pasien umum. Secara berulang-ulang Chazali, mengatakan, terbitnya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) mengamanatkan bahwa setiap orang atau warga negara berhak atas jaminan sosial untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak dan meningkatkan martabatnya menuju terwujudnya masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur. Program jaminan sosial menurut UndangUndang tersebut meliputi: jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian. Kesiapan PT Askes (Persero) dalam mengelola program jaminan kesehatan nasional sesuai amanat Undang-Undang tentang BPJS, perlu diacungi jempol. Prinsip dasar penyelenggaraan jaminan kesehatan sesuai dengan Undang-Undang No. 40 tahun 2004 tentang SJSN, antara lain konsep managed care, pengendalian biaya pelayanan kesehatan dengan mengoptimalkan mekanisme rujukan dan rujuk balik dengan Puskesmas dan dokter keluarga sebagai gate keeper, adanya DPHO, serta pengelolaan pembayaran provider.

PT Askes Harus Kembangkan Organisasi
anyak orang sakit terpaksa minum obat warung. mereka bukan enggan mendatangi Puskesmas atau rumah sakit melainkan ketiadaan uang membuat masyarakat mengurungkan niatnya berobat ke dokter. Dengan SJSN, maka semua warga mendapat jaminan. BPJS Kesehatan harus menangani kesehatan seluruh rakyat Indonesia mulai 1 Januari 2014. Untuk mewujudkan hal itu, pemerintah harus melakukan kerja keras mempersiapkan infrastruktur kesehatan menjelang 2014. Misalnya dengan mempersiapkan Puskesmas dengan fasilitas memadai, tempat tidur rawat inap, dokter, obat-obatan dan lainnya. Bagi PT Askes, yang nantinya ganti baju menjadi BPJS Kesehatan, cukup meningkatkan kinerja karena selama ini, PT Askes, memiliki kinerja yang luar biasa. "PT Askes, harus rajin melakukan roadmap, implementasikan soal BPJS dan pengembangan organisasi. Pemerintah daerah pun harus membantu pengembangan perluasan infrastruktur," kata Ketua Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) Dr Chazali H Situmorang Apt MSc (PH). Roadmap, memang sudah dilakukan mengimplementasi berbagai aspek yang koordinasi dilakukan dengan jajaran kemenkes.Pengembangan organisasi masih perlu dioptimalkan. Alasannya, belum semua wilayah kota/kabupaten ada cabang PT askes. nantinya, setiap provinsi juga harus ada kantor wilayah. Chazali, menjelaskan, dengan pemberlakukan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) pada 1 Januari 2014 nanti, maka pemerintah daerah tidak perlu lagi menganggarkan dana untuk jaminan kesehatan daerah (Jamkesda). Sebab, semua premi untuk orang miskin ditanggung pemerintah pusat secara nasional. "Jadi, daerah tidak perlu lagi menganggarkan dana untuk Jamkesda pada 2014. Daerah cukup menyediakan sarana dan prasarana

B

untuk realisasi SJSN di daerah termasuk fasilitas kesehatan dan tenaga medis," tegasnya. Dengan SJSN itu nanti, tambahnya, tenaga medis maupun rumah sakit provider tidak perlu khawatir. Karena pembayaran klaim akan diselaraskan. Tidak seperti dengan pola Jamkesmas yang dinilai masih murah."Selain pembayaran klaim yang disesuaikan, prosesnya juga paling lama 15 hari setelah diajukan ke BPJS. Jadi, ini sudah amanat UU BPJS yang mengharuskan seperti itu," jelasnya Pada SJSN nanti bagi warga miskin sesuai kategori pendataan program perlindungan sosial (PPLS) setidaknya ada 98,6 juta jiwa. Jumlah ini meningkat 20 juta dari total peserta Jamkesmas 76,4 juta jiwa. "Menurut UU No 1 tahun 2011 tentang BPJS, maka soal data warga miskin akan dimutakhirkan tiap tahun. Nanti, data BPS akan diveriikasi lagi oleh pemerintah kabupaten/kota masing-masing," jelasnya. Premi untuk jaminan sosialnya dibayar pemerintah ke BPJS. Sedangkan, bagi warga yang mampu akan dikenakan iuran yang teknis pemungutannya akan diatur dalam peraturan pemerintah baik untuk jaminan sosial yang ditanggung (jaminan kesehatan, kecelakaan kerja, kematian, hari tua dan jaminan pensiun). Menurut Chazali, direncanakan iuran sebesar Rp27 ribu per orang per bulan. Iuran ini, berlaku sama di seluruh Indonesia

49

EDISI KHUSUS

JULI 2012

RESONANSI
Pada sisi lain, kesiapan Badan Pelaksana Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk beroperasi selambat-lambatnya pada 2014 memerlukan dukungan sistem informasi atau link yang terhubung dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK).Semua data peserta harus terdaftar dan terekam dalam data base nasional. Dalam mempersiapkan beroperasinya BPJS Kesehatan, Hasbullah menyoroti pula tentang kualitas dan moralitas petugas BPJS harus di-upgrade dengan pemberian pemahaman jabatan publik agar dalam melakukan tugas sepenuhnya untuk memuaskan peserta. Namun sebelum sampai pada perbaikan Sumber Daya Manusia (SDM) dan fasilitas penunjang, pertama kali pemerintah harus menuntaskan peraturan pemerintah (PP) dan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai Jaminan Kesehatan dan BPJS Kesehatan di tahun 2012 "Intinya, PT Askes yang akan diubah menjadi BPJS Kesehatan,, harus mengubah semua prosedur dan mind set para stafnya agar konsisten dengan tugas UU SJSN dan UU BPJS. Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Daerah, dibantu oleh swasta juga harus membangun lebih banyak tempat tidur di Rumah Sakit kelas I, II, dan III," sarannya. Sedangkan untuk mempercepat persiapan beroperasinya BPJS Kesehatan, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI ini mengatakan dapat dilakukan dengan dg persiapan cakupan, memperluas penerima bantuan iuran, penduduk miskin, tidak mampu dan penduduk di sektor informal dengan besaran minimum Rp20 ribu per orang per bulan. Menurutnya dana APBN dan APBD cukup memadai untuk digunakan, hanya saja saat ini belum ada political will dari pemerintah. "Pemda membayar sebagian iuran, sharing dengan pemerintah pusat, agar rakyatnya segera terjamin. Selain itu perlu ada penegakan hukum untuk pengusaha yg belum bayar iuran kesehatan," jelasnya lagi. Beberapa bidang yang paling krusial yang harus dibenahi dalam pelayanan kesehatan diantaranya pelayanan yang nondiskriminatif, sosialisasi kepada seluruh dokter yang bekerja di Rumah Sakit, Klinik dan Puskemas. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) beserta Dinas Kesehatan juga perlu mensyaratkan sertiikasi pemahaman atau ujian mengenai Jaminan Kesehatan Nasional agar bisa melayani dengan baik dan benar, menghitung besaran iuran dan pembayaran yang sesuai, yang bisa diterima pasar. "Kelas perawatan peserta jamkesmas dan jamkesda boleh tetap di kelas III. Tetapi pegawai swasta dan PNS harus tetap dirawat di kelas II dan kelas I, tergantung besar gajinya," tuturnya.

Hasbullah Thabrany Pakar Asuransi Sosial

Kinerja PT Askes

Tidak Perlu Diragukan
P
rogram jaminan sosial tidak hanya merupakan perlindungan bagi rakyat melainkan sekaligus investasi bangsa. Di negara maju, program jaminan sosial dibangun dengan iuran wajib dari rakyat. Oleh karenanya penyelenggara program di sana tidak diserahkan kepada badan hukum privat seperti BUMN. Misalnya, Malaysia berhasil mengumpulkan Iuran wajib menjadi sumber dana perlindungan rakyat dari musibah sakit, kehilangan penghasilan akibat hari tua, sakit berat, atau kecelakaan. Untukitu Indonesia, perlu meniru dari Malaysia, yang berhasil mengumpulkan dana jaminan sosial sebesar 1.000 triliun dari iuran wajib dari rakyat. Malaysia telah memiliki dana jaminan sosial lebih dari 120 milyar dolar AS (Rp.1.000 triliun). Dana tersebut berasal dari iuran wajib pekerja sebesar 11 persen gaji ditambah iuran wajib majikan sebesar 12 persen gaji. Dana itu dikelola oleh Employee Providen Fund, Sebuah badan hukum publik (BPH). Korea Selatan memiliki dana jaminan Sosial lebih 300 miliar dolar AS yang dikelola oleh National PensionService. Di Indonesia, program jaminan sosial akan dikelola BPJS (Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial) Kesehatan dan BPJS ketenagakerjaan. PT Askes yang ganti baju menjadi BPJS Kesehatan sejak delapan tahun belakangan ini maju pesat dan tidak perlu dipersoalkan kinerjnya karena selama ini sudah mendapatkan predikat wajar tanpa pengecualian dan sudah memberikan pelayanan melampaui harapan. "Sejak sebilan tahun belakangan ini PT Askes, maju pesat," kata Guru Besar FKM UI Prof Dr Thabrani Hasbullah. Akan tetapi di lapangan terutama tingkat pelayanan di rumah sakit, masih ada riakriak kecil yang perlu disempurnakan. untuk itu diperlukan perubahan mindset agar peserta Askes tidak kesulitan memperoleh pelayanan. Misalnya, aturan tentang peserta Askes warga Jakarta, tetapi di Bandung dan langsung masuk UGD. Regulasi apa agar peserta memperoleh pelayanan kesehatan tanpa melalui birokrasi yang berbelit. "Itu hanya salah satu contoh kecil saja," tuturnya. Keluhan pihak rumah sakit perlu diakomodir terutama soal pembayaran atau persoalan lainnya walaupun tidak semua rumah sakit mengalami persoalan tersebut. "BPJS Kesehatan harus lebih baik," jelasnya. Baju baru yang dikenakan PT Askes, lebih besar dan perlu penambahan tenaga kerja. karena pekerjaan semakin banyak. Terutama di daerah terpencil.

50

INFOASKES

RESONANSI

Dr dr Pradana Soewondo, SpPD(K) Ketua Perkumpulan Endrokinologi Indonesia

Penyakit Tidak Menular Tak Terkendali

Menjadi Beban BPJS
P
enyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes melitus, hipertensi, kolesterol dan lainnya sangat terkait dengan perubahan gaya hidup (life style) seiring dengan kemajuan perekonomian dan kehidupan sosial suatu negara. Di negara berkembang seperti Indonesia, diabetes banyak diidap oleh kelompok berusia produktif yaitu antara 40 hingga 60 tahun. Sedangkan di negara maju, meskipun prevalensinya tinggi namun sebagian besar mengidap diabetes di usia yang lebih tua. Hal ini, menurut Ketua Perkumpulan endrokinologi Indoensia (Perkeni) Dr dr Pradana Soewondo, Sp PD (K) harus menjadi perhatian kita agar tidak menjadi beban dan mengurangi kualitas hidup penderitanya. “Jika tidak ada upaya pengendalian khusus, prevalensi diabetes dan PTM lainnya seperti hipertensi, kolesterol, obesitas, akan meningkat. Ini akan meningkatkan komplikasi-komplikasi diabetes dan kejadian penyakit-penyakit seperti kardiovaskuler, ” ujarnya. Hal ini juga menyebabkan meningkatnya biaya yang harus disediakan pemerintah. Apalagi jika nanti pembiayaan jaminan kesehatan sudah universal coverage atau menyeluruh dalam pelaksanaan sistem jaminan sosial kesehatan yang akan dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), akan menjadi beban ekonomi yang tinggi. “Oleh karena itu, kita tidak hanya memperbaiki pelayanan untuk diagnostic dan pengobatan saja, tetapi harus melakukan program preventif dan promotif. Karena sebenarnya penyakit tidak menular ini dapat dicegah perkembangannya melalui pengendalian faktor-faktor risiko dan mencegah sebagian penyakit yang timbul akibat PTM itu, papar Pradana. ” Upaya prevensi ini bisa dilakukan secara sistematik. Dengan demikian biaya

51

EDISI KHUSUS

JULI 2012

RESONANSI

Dengan PT Askes kami punya program secara sistematis agar dokter keluarga meningkat kapasitasnya, diharapkan dapat mengatasi diabetes melitus secara benar. Perkeni juga menyiapkan buku pedoman sebagai buku pegangan atau guide line bagi para dokter, utamanya di tingkat pelayanan primer.

diagnostik dan pengobatan bisa berkurang. Untuk diabetes melitus misalnya, jika tidak dikendalikan bisa mengakibatkan kebutaan, banyak yang diamputasi, sering dirawat, belum lagi kalau berkomplikasi jantung. Ada beberapa studi yang menyatakan bahwa diabetes dan komplikasinya bisa menyerap 20 persen dari anggaran belanja pelayanan kesehatan. Jika sebagian biaya ini dialihkan untuk pencegahan akan lebih baik. Di Singapura, bisa menurunkan prevalensi diabetes yaitu dengan upaya pencegahan. Antara lain melalui pencegahan obetistas pada anak sekolah, diantaranya siswa yang wajib militer, kegiatan kegiatan olahraga di masyarakat. “Cara-cara seperti itu bisa mengurangi penyakit tidak menular, Negara Skandinavia juga sudah berhasil, ” ungkapnya. Sementara di Indonesia, perubahan gaya hidup juga sudah terjadi di pedesaan, bisa dilihat dengan pemakaian sepedamotor yang meningkat, konsumsi kalori yang meningkat. Sehingga kasus obesitas atau kelebihan berat badan pun meningkat. Bahkan merokok pun bukan tidak mungkin terjadinya peningkatan prevalensi diabetes di wilayah pedesaan. Untuk itu Perkeni dan sekarang bersama PT Askes, telah menganjurkan pola hidup sehat, seperti mengatur makanan yang seimbang, seimbang antara jumlah kalori, karbohidrat, dan lemaknya. Menu makanan seimbang juga diatur, tidak terlalu asin, garam sesuai dengan kebutuhan. Jika kegiatan tidak terlalu banyak makannya juga tidak perlu banyak. Selain itu, untuk menjaga kebugaran tubuh, perlu olahraga yang teratur dan terukur.

PT Askes sudah melakukan pengendalian penyakit diabetes melitus (PPDM) yang dikelola oleh dokter-dokter keluarga atau di tingkat pelayanan primer. Sementara bagi masyarakat umum, saat ini sudah ada beberapa Posbindu (pos pembinaan terpadu) yaitu semacam Posyandu, tetapi Posbindu utamanya untuk mengendalikan penyakit tidak menular. Kegiatan untuk mengendalikan penyakit tidak menular antara lain, melakukan pengecekan tekanan darah, gula darah, kolesterol, berat badan, lingkar perut, dan berolah raga. “Saya dan teman-teman di Perkeni ingin BPJS memberikan “ruang” untuk upaya pencegahan penyakit tidak menular ini, kata Pradana. ” Sebagai organisasi profesi, Perkeni berada di bawah Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Lembaga ini mempunyai tugas meningkatkan profesional baik dokter umum dan dokter spesialis. “Kita melakukan seminar dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas dokter, ujarnya. ” Dengan PT Askes kami punya program secara sistematis agar dokter keluarga meningkat kapasitasnya, diharapkan dapat mengatasi diabetes melitus secara benar. Perkeni juga menyiapkan buku pedoman sebagai buku pegangan atau guide line bagi para dokter, utamanya di tingkat pelayanan primer. Ada perubahan paradigma yang dilakukan. Semula, peserta diketahui sudah mengidap diabetes melitus setelah mengalami sakit atau saat berobat ke dokter. Namun, sekarang harus diupayakan peserta

sedini mungkin dapat diketahui kondisi kesehatannya, midalnya dengan general check up bagi yang sudah berusia 40 tahun. Saat ini, secara nasional terdapat sekitar 70 persen pengidap diabetes melitus yang tidak terdiagnosa. Menurut Pradana, diabetes melitus tanpa komplikasi cukup berobat di layanan primer dan hanya yang komplikasi saja perlu pelayanan di rumah sakit atau dokter spesialis. Jika semua pasien pergi ke pelayanan tertier atau ke rumah sakit, maka rumah sakit akan menjadi penuh dan tidak efektif. Karena pasien yang seharusnya bisa diatasi di pelayanan primer akan menjadi beban rumah sakit. Sementara pasien yang seharusnya ditangani di rumah sakit bisa saja terabaikan. Perkeni juga mendorong peningkatan pelayanan primer yang dapat memberi pelayanan secara komprehensif. Khususnya untuk diabetes melitus petugas kesehatan di tingkat pelayanan primer harus mengenali diabetes melitus karena pengidap diabetes harus dikontrol dengan baik. Jika diperlukan saja baru dirujuk ke pelayanan sekunder. “Program dokter keluarga perlu ditingkatkan untuk melakukan upaya promosi dan prevensi, kata Pradana. ” Pelayanan yang berjenjang mulai dari tingkat pelayanan primer hingga tertier, menurutnya juga perlu diimbangi dengan program rujuk balik dari dokter spesialis kepada dokter di tingkat pelayanan primer. “Karena pelayanan primer seperti Puskesmas dan dokter keluarga harus menjadi ujung tombak dan gatekeeper pelayanan kesehatan, ujarnya. ”

52

INFOASKES

RESONANSI
Dr dr Pradana Soewondo, SpPD(K) Ketua Perkumpulan Endrokinologi Indonesia

JAMINAN KESEHATAN ADALAH IMPIAN RAKYAT
aminan sosial ini diupayakan bisa cepat dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Anggota Presidium ICMI, Marwah Daid Ibrahim. Dia mencontohkan di Amerika, jika mau masuk sekolah wajib mempunyai jaminan kesehatan. “Membayar premi untuk kesehatan sama saja menabung untuk memberi kepastian jaminan kesehatan saat kita membutuhkannya, ungkapnya. ” Marwah menambahkan Jaminan Kesehatan Nasional merupakan suatu terobosan yang sangat baik dalam upaya mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ia berharap PT Askes (Persero) ke depan akan terus membuktikan kualitas, peforma dalam upaya memberikan pelayanan yang baik bagi seluruh masyarakat. "Kami memiliki impian, bahwa nantinya masyarakat Indonesia akan merasakan pelayanan kesehatan yang layak. Ini saya

J

rasakan sendiri, ibunda saya adalah peserta Askes, dan sudah merasakan manfaat yang besar menjadi peserta Askes. Pelayanan yang melampaui harapan dari Askes sudah saya rasakan sendiri, dan saya sangat salut dengan apa yang dilakukan PT Askes sejauh ini," ungkap Marwah dalam sambutan. Jaminan Kesehatan Nasional adalah perwujudan nilai-nilai kemanusiaan dalam agama Islam pada khususnya, tutur Marwah. Karena di dalam JKN terdapat unsur-unsur gotong royong, tolong menolong antar sesama manusia, dan yang pasti makna 'sehat' itu sendiri adalah suatu kebutuhan dasar setiap manusia di dalam menjalani kehidupannya.. “Tanpa sehat, kita tidak akan bisa beribadah, menuntut ilmu, bekerja dan memperbaiki kualitas hidup. Kesadaran akan hal inilah yang ICMI dukung dan perlu disebarkan kepada seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, ” jelasnya.

Said Iqbal aja Sekretaris Presidium KAJS

TERUS TANYAKAN KESERIUSAN PEMERINTAH
ekretaris Presidium KAJS M Said Iqbal, mengatakan walaupun berbagai persiapan sudah dilakukan PT Askes dalam menyongsong diberlakukannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang operasionalisasinya akan dilaksanakan oleh Badan Penyelenggara Sistem Jaminan (BPJS) Kesehatan pada awal Januari 2014, namun Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS) mempertanyakan keseriusan pemerintah. Sebab, meskipun jangka waktu terwujudnya BPJS Kesehatan tinggal 18 bulan lagi dari sekarang ini, pemerintah terlihat belum memiliki kemauan politik yang kuat untuk mewujudkannya. "Hal itu terbukti dengan belum adanya tanda-tanda pemerintah mau menyelesaikan sejumlah ketentuan sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan UndangUndang BPJS seperti rancangan peraturan pemerintah (RPP) dan rancangan peraturan

kriteria dan deinisi dari fakir miskin dan rakyat tidak mampu untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan bantuan iuran (PBI) dari pemerintah. "Ketidakberanian Pemerintah secara politik untuk memutuskan secara tegas indikator fakir miskin dan tidak mampu dalam PP justru akan memicu permasalahan dalam level implementasi jaminan sosial," jelas Said. Ketiga, kekhawatiran pemerintah akan munculnya potensi banyaknya Rakyat yang bisa saja tidak memenuhi indikator miskin dan tidak mampu versi pemerintah sehingga tetap harus membayar iuran secara mandiri, meskipun secara ekonomi real mereka tidak mampu. "Kekhawatiran Ini menjadi sangat besar sehingga beban pemerintah diperkirakan akan menjadi jauh lebih besar. Inilah yang menyebabkan pemerintah dinilai tak serius mewujudkan sistem jaminan sosial," kata Said. Oleh sebab itu, menurut Said, KAJS secara tegas tidak mau terjebak dalam alur pikir pemerintah yang berpotensi menimbulkan kekacauan di kemudian hari karena ketidakjelasan indikator dari ketiga kategori miskin tersebut. "Dalam UU Nomor 23 Tahun 2011 tentang Penanggulangan Fakir Miskin, sudah jelas siapa yang disebut miskin," jelasnya.

S

presiden (perpres)," kata Sekretaris Presidium KAJS M Said Iqbal. Hingga waktu tersisa 18 bulan menjelang 1 Januari 2014, menurut Said, pemerintah masih belum memiliki kemauan politik yang kuat untuk bisa melaksanakan jaminan sosial khususnya jaminan kesehatan bagi seluruh Rakyat Indonesia. KAJS melihat keengganan politik pemerintah tercermin dari tiga hal. Pertama, enam bulan menjelang batas waktu yang ditentukan UU BPJS untuk pengesahan seluruh aturan pelaksana yang mengatur tentang pelaksanaan BPJS Kesehatan hingga kini belum ada tanda-tanda. RPP dan Rancangan Perpres masih jauh penyelesaiannya. Kedua, terlihat dari masih terus berkutatnya pemerintah dalam perdebatan menentukan

53

EDISI KHUSUS

JULI 2012

RESONANSI
Zuber Safawi Anggota Komisi IX DPR RI
alokasi dana itu agar mencukupi kebutuhan yang diperlukan. Sayangnya, Zuber belum melihat upaya pemerintah mewujudkan hal itu. “Menkeu belum mau melakukan itu, kata ” Zuber dalam diskusi di Jakarta, Senin (25/6). Menyinggung tentang infrastruktur, Zuber menyebut terdapat 283 kecamatan yang Puskesmasnya belum ada tenaga dokter. Dari kunjungannya ke berbagai daerah, Zuber juga menemukan terdapat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang tidak mampu menampung pasien. Hal itu menurutnya disebabkan oleh mekanisme rujukan dari puskesmas atau dokter umum ke RS tidak berjalan baik. Dalam penyelenggaraan BPJS Kesehatan Zuber berharap agar mekanisme rujukan itu dibenahi. Namun, dia mengingatkan konsekuensi dari dibenahinya sistem rujukan itu, pemerintah harus menyiapkan banyak dokter di tiap Puskesmas. Begitu pula dengan peraturan pelaksana BPJS yang harus segera diterbitkan pemerintah. Lagi-lagi dia menekankan kepada seluruh pemangku kepentingan untuk memantau terus dan memberi tekanan kepada pemerintah dan DPR agar BPJS dapat terselenggara dengan baik. Zuber mencontohkan, ketika pembahasan RUU BPJS di DPR, kaum pekerja memberi tekanan yang kuat sampai akhirnya UU BPJS berhasil diterbitkan. Bagi Zuber hal serupa juga harus dilakukan agar Pemerintah dan DPR melaksanakan tugas-tugasnya dengan serius untuk melaksanakan BPJS. “Ini harus ditekan, ujarnya. ”

PEMERINTAH HARUS LEBIH serius

U

ntuk melaksanakan penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional lewat Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), pemerintah harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Namun, sejumlah kalangan masih menilai pemerintah belum melakukan persiapan yang serius untuk melaksanakan BPJS. Mulai dari menerbitkan peraturan pelaksana, infrastruktur pendukung dan lainnya. Padahal di tahun 2014 nanti BPJS Kesehatan sudah mulai beroperasi. Atas dasar itu, tak heran sejumlah kalangan menaruh rasa pesimis bahwa BPJS Kesehatan dapat diselenggarakan dengan baik. Salah satunya disampaikan anggota Komisi IX DPR, Zuber Safawi. Menurutnya, sukses atau tidaknya penyelenggaraan BPJS, khususnya BPJS Kesehatan, tergantung dari komitmen para pemangku kepentingan,

terutama pemerintah. Sayangnya, sampai saat ini Zuber melihat pemerintah belum serius menjalankan komitmen tersebut. Salah satu hal yang disorot Zuber adalah penentuan siapa yang tergolong Penerima Bantuan Iuran (PBI). PBI adalah orang yang tergolong miskin atau terancam miskin, sehingga negara diwajibkan untuk menanggung biaya kesehatannya. Untuk menentukan PBI, Zuber menyebut Komisi IX DPR sudah memanggil pihak terkait seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2TK). Namun, tidak mendapat hasil yang memuaskan. Dari data yang diperoleh, Zuber menyebut pemerintah berasumsi penerima PBI di tahun 2012–2014 jumlahnya meningkat. Pada tahun 2012, jumlah PBI diperkirakan mencapai lebih dari 100 juta orang. Mengingat dana PBI ditanggung oleh pemerintah, Zuber mengimbau agar pemerintah memantau

Hj Lukman Hakim, SH Walikota Metro

PT Askes Perlu Tingkatkan Koordinasi
54

S

ejak menduduki jabatan sebagai Walikota Kota Metro Provinsi Lampung tujuh tahun yang lalu, Lukman Hakim memiliki niat menyehatkan masyarakat, selain berbagai program seperti sektor pendidikan, dan ekonomi kerakyatan. Kini, Pemerintah Kota Metro menjamin sebanyak 41.560 jiwa rakyatnya ke dalam pola pembiayaan Jaminan Kesehatan

Semesta (Jamkesta) yang dikelola oleh PT Askes (Persero). Program yang sebelumnya bernama Jamkesmasda, memberi perlindungan kesehatan kepada masyarakat menengah bawah yang belum terlindungi atau terakomodir jaminan kesehatan seperti Jamkesmas, Jamsostek, dan Askes. Untuk memberi perlindungan jaminan kesehatan Pemerintah Kota Metro menyiapkan dana sekitar Rp4 miliar setiap

INFOASKES

RESONANSI
tahunnya. Sehingga Jamkesta ini dapat memberi kepastian pesertanya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang sudah bekerjasama dengan PT Askes. Namun sayangnya, masih banyak masyarakat Metro yang belum mengetahui adanya program Jamkesta ini. “Secara umum, pelayanan Askes sudah baik. Tetapi masih ada masalah-masalah di lapangan, biasanya masalah data peserta. Untuk itu masih perlu sosialisasi yang lebih intens lagi, kata Walikota Metro Hj Lukman ” Hakim, SH, kepada Buletin Info Askes. Selain itu, PT Askes diharapkan dapat menambah kerjasamanya dengan rumah sakit swasta karena kapasitas kelas 3 di RSUD masih terbatas. “Koordinasi antara PT Askes dengan pemerintah daerah dan para provider juga perlu ditingkatkan kembali, agar pelayanan kepada masyarakat juga dapat optimal, kata Lukman. ” Meskipun masyarakat Kota Metro sudah mendapatkan jaminan kesehatan, namun Lukman ingin seluruh penduduk Kota Metro yang kini berjumlah 150.950 jiwa. Untuk itu upaya promosi dan preventif terus digalakkan, misalnya melalui senam bersama untuk membiasakan masyarakat berolahraga dan menanamkan pola hidup bersih dan sehat. Untuk diketahui, program jaminan kesehatan ini memiliki manfaat yang luas bagi masyarakat kurang mampu maupun yang tergolong miskin karena dengan memiliki kartu peserta jamkesta. Maka mereka yang tidak mempunyai biaya berobat, kini mempuyai kesempatan untuk merasakan manfaat jaminan kesehatan yang bersifat pelayanan perseorangan. Pelayanan kesehatan yang dimaksud mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, termasuk obat dan bahan medis habis pakai yang diperlukan. Jamkesta ini sebagai wujud dukungan pemerintah daerah terhadap kebijakan pemerintah pusat yang akan melaksanakan sistem jaminan sosial nasional (SJSN) dan pengelola jaminan kesehatan nasional akan dikelola oleh PT Askes (Persero) yang nanti di tahun 2014 berubah nama menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Prijo Sidipratomo Ketua Ikatan Dokter Indonesia

BPJS Berjalan
Kesejahteraan Dokter Meningkat
(IDI), Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) dan Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) mengadukan nasibnya terkait akan dilaksanakannya UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada 1 Januari 2014.Dalam rapat dengar pendapat dengan pihak DPR, para dokter tersebut meminta agar tarif dokter disesuaikan dalam pelaksaan UU tersebut. "IDI meminta agar kesejahteraan dokter ditingkatkan menuju implementasi BPJS I Kesehatan 1 Januari 2014," kata Ketua PB IDI Prijo Sidipratomo. 4. IDI berharap DPR dapat menjamin dalam pelaksanaan SJSN ini bahwa mutu pelayanan akan terjaga dengan memberi hak berkeadilan bagi dokter 5. Kesiapan IDI dalam menyiapkan SDA dokter dan dokter spesialis sudah matang. Saat ini jumlah dokter adalah 105 ribu terdiri dari 85 ribu dokter umum, 20 ribu dokter spesialis 6. Dalam pelaksanaan SJSN nanti, IDI mengusulkan sistem pelayanan yang dipakai nanti adalah sistem rujukan dengan gate keeper adalah dokter umum. Dengan sistem pembayaran kapitasi pra bayar bagi dokter umum. 7 . IDI mengusulkan pelayanan publik health, pelayanan kesehatan di daerah terpencil, pegunungan, dan DPTK jadi tanggungjawab pemerintah bukan BPJS

K

unci sukses pelaksanaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), khususnya BPJS Kesehatan, ada pada perhitungan premi yang tepat dan sebaran dokter primer yang merata. Premi menjadi penting untuk membiayai pelaksanaan jaminan sosial yang akan diselenggarakan. Oleh karenanya perhitungan yang tepat akan melancarkan pelaksanaan BPJS.Sebaran dokter yang melayani pelayanaan kesehatan primer yang merata di seluruh Indonesia, juga tak kalah penting. Karena, masih terdapat ratusan Puskesmas di daerah yang tidak memiliki tenaga dokter. Salah satu penyebab mahalnya biaya kesehatan adalah karena tidak terbangunnya pelayanan kesehatan primer dengan baik. Akibatnya, masyarakat cenderung memilih dokter spesialis atau rumah sakit swasta yang biaya pelayanannya lebih mahal.

IDI bukan bersikap matrealis, tetapi justru menuntut rasionalitas, karena mereka menilai penentuan tarif dokter pada skema premi BPJS perlu kajian yang mendalam dengan melibatkan IDI beserta berbagai asosiasi dalam penyusunan RPP (Rancangan Peraturan Pelaksana) UU BPJS. Dalam suratnya, IDI, menyampaikan sejumlah poin yang menjadi tuntutan dan keingian terkait persiapan pelaksanaan UU SJSN/ BPJS: 1. IDI berpendapat bahwa pelaksanaan BPJS/SJSN akan mempunyai dua implikasi yaitu kesejahteraan bagi masyarakat dan pemberi pelayanan yakni dokter. SJSN dapat menyebabkan bencana bagi pasien dan dokter. 2. SJSN dapat memberikan kesejahteraan apabila adanya keadilan bagi dokter maupun masyarakat dan sebaliknya. 3. Jamkesmas, Jamsostek, Askes, pada saat ini belum memberikan keadilan bagi pemberi pelayanan dokter.

8. IDI mengusulkan dala, pelaksanaan SJSN nanti penentuan tarif dasar jasa dokter dan dokter spesialis dan kapitasi menggunakan tarif yang rasional dan dirundingkan terlebih dahulu dengan IDI. 9. IDI mengusulkan dilakukam pilot projek terlebih dahulu sehingga dalam pelaksanaannya nanti dapat sempurna. 10. Pelaksanaan SJSN ini tidaklah mudah dan membutuhkan kerjasama lintas departemen, antara lain Kemenkes, Kemendagri, Kemenkeu, dan lainnya. DPR harus lebih intensif dalam mengawasi dan mengakselerasi pelaksanaan SJSN.

55

Terkait dengan itu, Buletin Info Askes, mengintip sejumlah sejumlah dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia

EDISI KHUSUS

JULI 2012

ADVERTORIAL
Memenuhi Kebutuhan BPJS Merupakan Kewajiban Indofarma

Djakfarudin:

Kita Komit Perbesar Trading Reguler
Industri farmasi nasional terus tumbuh pesat seiring meningkatnya daya beli masyarakat.Selaras dengan diberlakukannya undang-undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), PT Indofarma tbk, juga akan meningkatkan produksi obat-obatan berkualitas dan harga terjangkau.
Obat-obatan produksi industri PT Indofarma, benar-benar dapat terjangkau oleh masyarakat dari segala lapisan.Karena, obatobatan yang terjangkau dan bermutu adalah sangat dibutuhkan masyarakat sekarang ini. Selain itu juga ada obat-obatan yang mahal harganya tetapi sedikit pemakainya di Indonesia. Selama ini, obat generik dipakai 40 persen untuk kebutuhan semua pasar obat. Jika BPJS sudah mulai dilaksanakan. Diprediksi, jumlah obat yang dibutuhkan pun meningkat hingga tiga kali lipat dan Indofarma, menyiapkan sekitar 90 persen produk obat. Indofarma mendukung pemerintah ” dengan revitalisasi industri dan kewajiban Indofarma untuk memenuhi kebutuhan BPJS, kata Presidr PT Indofarma Tbk ” Djakfarudin Junus. INAF dalam BPJS, lanjutnya, introseksi diri dan punya range produk, punya kapasity dan standar kesehatan, sehingga industri farmasi yang dipimpinnya, selalu dievaluasi. Kita punya obat generik sebanyak ” 400 jenis, jelas Djakfarudin. ” Untuk mendukungnya, PT Indofarma Tbk menyiapkan anggaran sebesar Rp100 miliar yang akan digunakan untuk meningkatkan produksi obat-obatan pada 2012. Permintaan “ obat naik terus tahun depan. Apalagi, kalau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sudah berjalan, pasar akan tumbuh pesat, ” kata Djakfarudin, saat didampingi Manajer SCM Suyatno, dan Secretary Corporate Maylda. Investasi itu, akan dialokasikan untuk membeli mesin tablet dan mesin injeksi yang semuanya diimpor dari Italia. Dana Rp100 miliar itu juga akan dialokasikan untuk pembelian mesin pilot plan yaitu mesin produksi berkapasitas kecil, sebagai alat percobaan sebelum diproduksi massal. Nilai investasi untuk mesin itu ditaksir Rp10 miliar. Pilot plan sudah mulai pada kuartal “ I-2012 dan Rp100 miliar itu juga termasuk untuk renovasi walaupun sekarang ini teknologi milik INAF tidak kalah dengan yang lain, jelasnya. ” Jadi, BPJS harus disuport dengan pengembangan sistem pendukiungnya. Misalnya, jalur distribusi obat atau pun berbagai persoalan keterkaitan dengan rumah sakit. “Belum ada aturan, jika dokter, menulis resep harus diatur dan harus menyampaikan makna resep yang ditulis, masyarfakat juga diberi hak untuk bertanya. Ini perlu regulasi, jangan hanya sistem rumah sakit saja, tegasnya ” Membahas soal BPJS jangan hanya dilihat sebagai hal yang makro tetapi persoalan infrastruktur harus diperkuat agar daerah yang sulit dijangkau tidak lagi menjadi hambatan. Maka, pegembangan berikutnya bagi Indofarma, pengembangan aliansi strategidan menambah jejaring. Mencari sumber bahan baku lain, masukan nutrisi, kapasitas produksi, menggunakan mesin secara eisien, misalnya cukup dengan mangkuk kecil jangan pakai mangkuk besar. “Begitu, kalau BPJS itu diberikan agar masyarakat menjadi strong dan merupakan terobosan pemerintah dalam hajat hidup rakyat, paparnya. ” Tahun depan, Indofarma menargetkan peningkatan volume ekspor menjadi 50

56

INFOASKES

ADVERTORIAL

Djakfarudin Junus.
Presdir PT Indofarma Tbk

miliar dari Rp118,88 miliar pada periode yang sama 2011. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi perseroan per 31 Maret 2012 yang dirilis, tipisnya keuntungan yang diperoleh emiten berkode INAF itu disebabkan oleh kenaikan beban pokok penjualan dan beban PPh.Beban pokok penjualan perseroan dilaporkan naik 27,69% menjadi Rp98,4 miliar dari Rp77,06 miliar pada periode yang sama 2011. Sementara itu, laba sebelum pajak perseroan dilaporkan sebesar Rp1,84 miliar dari periode yang sama 2011 yang mencetak rugi sebelum pajak Rp26,47 miliar.Pada periode Januari-Maret, beban pajak penghasilan perseroan dilaporkan mencapai Rp1,69 triliun yang kemudian menggerus laba bersih perseroan menjadi Rp140,19 juta. Pria yang rumahnya bersebelahan dengan apangan golf tapi tidak bisa bermain golf, bertekad Presiden Direktur Indofarma Djakfarudin Junus bertekad memperbesar trading reguler karena keberhasilan perseroan mencetak laba pada kuartal I/2012 tersebut dipicu oleh perubahan strategi perdagangan yang dijalankan perseroan. Komitmen kami saat ini adalah ” memperbesar trading reguler alias non tender, tegasnya. ” Putra wakil rakyat yang tetap naik bus walaupun sudah menjadi anggota DPR 20 tahun, memang selalu diilhami pendidikan yang diberikan ayahnya. maka, strategi yang diterapkan berupa stretegi trading reguler, jelasnya, penjualan produk obat-obatan perseroan tidak lagi bergantung pada tender-tender yang berasal dari pemerintah. “Dengan adanya trading reguler, penjualan bisa langsung ke unit di luar pemerintah seperti apotek, klinik, dan rumah sakit, ” jelasnya.

persen dari total produksi. Peningkatan tersebut seiring rencana perusahaan membidik pasar negara-negara Afrika, Timur Tengah, serta beberapa negara Asia Tenggara. “Tahun depan, target ekspor naik dari 15 persen menjadi 50 persen, tuturnya. ” Hingga kini, penjualan terbesar Indofarma masih bertumpu pasar domestik sekitar 85 persen, sedangkan sisanya ditujukan untuk ekspor. “Kami juga menargetkan peningkatan penjualan hingga 25 persen secara keseluruhan dibanding tahun ini, ” ujarnya. Proporsi penjualan obat dari perusahaan, antara reguler dan tender, mengalami pertumbuhan setiap tahunnya. Jika tahun ini, porsi penjualan obat reguler dan tender masih berimbang 50:50, perusahaan menargetkan komposisi tahun depan berubah menjadi 60:40. Tahun 2014 akan “ menjadi 70:30 yaitu ketika BPJS mulai diberlakukan, kata Djakfarudin, serius. ” Laba pertama Tidak hanya itu saja, perseroan akan memperluas sektor reguler melalui apotek,

toko obat, dan rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta. Perseroan akan menambah dua distributor yakni PT Sawah Besar dan Mensa Bina Sukses (MBS). Sebelumnya, perusahaan hanya menggunakan distributor tunggal, Indofarma Global Medika (IGM). Menyinggung soal kondisi perseroan, Djakfarudin, laba bersih PT Indofarma Tbk pada kuartal pertama 2012 tergerus oleh beban pajak penghasilan sehingga hanya menyisakan Rp140,19 juta.Kendati demikian, angka tersebut sudah cukup lumayan jika dibandingkan dengan periode yang sama 2011 yang menderita rugi bersih sebesar Rp19,99 miliar. Kinerja laba positif yang dicatatkan oleh BUMN farmasi tersebut merupakan yang pertama kalinya sejak 10 tahun terakhir. Dengan pertumbuhan positif tersebut, margin laba bersih perseroan juga naik menjadi 0,08% dari sebelumnya -16,82%. Pada periode tersebut, perseroan yang dipimpin oleh Djakfarudin Junus itu membukukan pertumbuhan penjualan bersih sebesar 42,01% menjadi Rp168,82

57

EDISI KHUSUS

JULI 2012

ASKES IN

Customer Focus Strategy

STRATEGY

adalah Kunci

Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Askes (Persero) Suzana Zadli Razak juga menegaskan setiap peserta pasti memiliki ekspektasi atau standar kepuasaan yang berbeda-beda. Standar kepuasan ini senantiasa meningkat dari sebelumnya. Oleh karena itu, PT Askes (Persero) pun senatiasa melakukan perubahan dalam pengembangan program-program pelayanan yang ada. ”Jika perusahaan melakukan program pelayanan yang sama tanpa adanya peningkatan, bisa jadi pelanggan kabur dan tingkat kepuasan itu pun juga menurun” ujar wanita yang hampir 18 tahun bekerja , di PT Askes (Persero) beberapa waktu lalu.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Askes (Persero), Suzzana Zadli Razak

Tahun 2011, PT Askes (Persero) telah melakukan revitalisasi kegiatan usaha dan pengembangan produk untuk meningkatkan kualitas pelayanan maupun kinerja perusahaan. Program tersebut terus berjalan sebagai program berkelanjutan dalam rangka mencapai prospek usaha yang lebih baik. Dengan prinsip pelayanan prima harus diberikan kepada seluruh customer atau yang lebih dikenal Customer Focused Strategy, baik eksternal maupun internal, PT Askes (Persero) terus melakukan pengembangan atas pelayanan yang ada. Tidak hanya senantiasa menunjukkan sikap menghormati dan menghargai kepada setiap pesertanya, PT Askes (Persero) juga memberikan respon dan tanggap terhadap setiap kritik, masukan, atau keluhan yang disampaikan pesertanya. Peserta Askes akan terus mengharapkan pelayanan yang lebih dari sebelumnya. Perusahaan pun harus memenuhi tuntutan tersebut karena peserta merupakan aset perusahaan.

Oleh karena ini dalam rubrik Askes in Strategy ini, kami hadirkan beberapa program kerja yang dilakukan PT Askes Persero. Program kerja yang merupakan wujud dari inovasi, trobosan, manuver yang sistemis, efektif dan eisien seperti upaya Revitalisasi Pelayananan Tingkat Pertama, Program Rujuk Balik, Pengelolaan Penyakit Kronis Seperti Diabetes Dan Hipertensi, Program Promotif Dan Preventif, CSR Askes, Pelayanan Bagi Peserta Penyakit Katastropik, Upaya Penyesuaian Tarif dan Iuran, yang kesemuanya menjadi motor penggerak meningkatnya Customer Satisfaction Index PT Askes (Persero) di tiap tahunnya.

58

INFOASKES

ASKES IN STRATEGY

REVITALISASI PUSKESMAS GENCARKAN PROGRAM

PUSKESMAS BERBASIS DOKTER KELUARGA
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dibangun dengan tujuan untuk mempermudah masyarakat mendapatkan akses pelayanan kesehatan dasar. Sedangkan dokter dan petugas kesehatan lainnya di Puskesmas mempunyai tugas menjaga kesehatan masyarakat dengan memberikan penyuluhan hidup bersih dan sehat.
amun, fungsi Puskesmas telah bergeser. Masyarakat lebih senang langsung berobat ke rumah sakit dengan alasan ada kepastian pengobatan yang diberikan oleh dokter. Alasan lainnya, dokter di Puskesmas sering tidak ada di tempat atau memang di Puskesmas tidak ada dokternya. Sehingga rumah sakit pun akhirnya menjadi “puskesmas raksasa” karena sakit sedikit saja seperti lu, batuk, pilek, masyarakat minta dilayani oleh dokter spesialis. Awal Juni 2012 misalnya, PT Askes (Persero) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur mengembangkan

N

Puskesmas berbasis dokter keluarga khusus ingin mengembalikan lagi kepercayaan masyarakat dan mengoptimalkan kembali pola rujukan berjenjang dari Kementerian Kesehatan. Untuk tahap awal, ada depalan Puskesmas di Kabupaten Banyuwangi yang menjadi proyek percontohan Puskesmas berbasis keluarga, yakni Puskesmas Mojopanggung, Gitik, Singojuruh, Tegaldlimo, Sempu, Sepanjang, Sambirejo dan Puskesmas Pesanggaran. Masing-masing Puskesmas ini memiliki dua dokter yang siap memberikan pelayanan kepada peserta Askes dan masyarakat umum lainnya. Namun, pola

dokter keluarga ini baru diterapkan bagi peserta Askes. Menurut Direktur Utama PT Askes (Persero) dr I Gede Subawa, MKes, langkah yang ditempuh untuk meningkatkan pelayanan primer yang prima dan membangun kembali rujukan berjenjang ini, merupakan langkah awal persiapan beroperasinya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada 2014. Melihat kondisi isik Puskesmas Mojopanggung sudah sangat memadai untuk melayani kesehatan dasar. Apalagi Puskesmas yang kini dipimpin oleh dr Ida

59

EDISI KHUSUS

JULI 2012

ASKES IN STRATEGY

Program ini dapat meningkatkan kepuasan peserta Askes khususnya dan masyarakat pada umumnya, Dalam tugasnya nanti, Puskesmas dapat memberikan pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat pertama dengan jenis pelayanan konsultasi medis dan penyuluhan kesehatan, pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter, tindakan medis kecil (ringan), dan pemeriksaan penunjang laboratorium sederhana.
enam bulan ke depan. Jika terbukti efektif, program serupa akan diterapkan di daerahdaerah lain. Sehingga pada saat BPJS Kesehatan bisa beroperasi dengan baik sejak 2014. Program ini dapat meningkatkan kepuasan peserta Askes khususnya dan masyarakat pada umumnya, Dalam tugasnya nanti, Puskesmas dapat memberikan pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat pertama dengan jenis pelayanan konsultasi medis dan penyuluhan kesehatan, pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter, tindakan medis kecil (ringan), dan pemeriksaan penunjang laboratorium sederhana. Pelayanan yang dapat diberikan di Puskesmas antara lain pemeriksaan ibu hamil, nifas dan ibu menyusui, bayi dan anak balita, upaya penyembuhan terhadap efek samping kontrasepsi, pemberian obat pelayanan dasar dan pelayanan obat kronis atas indikasi medis (rujuk balik). Selain itu Puskesmas ini dapat memberikan surat rujukan ke rumah sakit atau dokter spesialis untuk kasus yang tidak dapat ditangani dokter keluarga. “Seharusnya, peserta Askes mau ditangani oleh dokter keluarga di Puskesmas, dan Puskesmas tidak hanya untuk mendapatkan surat rujukan saja, kata ” endrawan.

Bagus endrawan S ini sudah mendapatkan sertiikasi SNI ISO9001:2008. Artinya, sudah memiliki standar pelayanan kesehatan yang baik. Setiap bulan Puskesmas yang berlokasi di Jalan KH Agus Salim nomor 106 Banyuwangi, Jawa Timur, setiap bulan dikunjungi sekitar 2.400 pasien. Hari Senin biasanya pasiennya bisa mencapai 100 lebih pasien. “Peserta Askes ada sekitar 300-an per bulan dan yang minta surat rujukan ke rumah sakit sekitar 60 peserta, kata Kepala ” Puskesmas Mojopanggung dr Ida Bagus endrawan S. Sebagian penyakit yang dikeluhkan masyarakat tidak semua membutuhkan penanganan dokter spesialis, tetapi bisa diselesaikan di tingkat pelayanan primer seperti di Puskesmas dan dokter keluarga. “Ini akan lebih menghemat biaya dan efektif karena pasien juga tidak perlu mengeluarkan biaya transport ke rumah sakit, bahkan di rumah sakit seringkali harus mengantre lama, ujar nya. ” Di Puskesmas Mojopanggung selain ada dua dokter umum, juga ada satu dokter gigi, delapan bidan, lima perawat, satu ahli gizi, satu ahli lingkungan. “Jadi cukup untuk melayani masyarakat di Kecamatan Giri yang mempunyai wilayah kerja mencakup empat kelurahan dan dua desa, kata Ida Bagus ” endrawan. Dalam memimpin Puskesmas, dia mempunyai slogan: “kepemiminan bukanlah sesuatu yang saya lakukan terhadap orang lain, melainkan sesuatu yang saya lakukan bersama orang lain” Tulisan ini terpampang . di dinding ruang kerjanya. Hal ini kata dia, agar mengingatkan bahwa team work sangat penting untuk meraih sukses.

dr Ida Bagus Endrawan Kepala Puskesmas Mojopanggung Banyuwangi

Begitu juga harapannya, sistem rujukan berjenjang dan pola rujuk balik yang dibangun melalui Puskesmas berbasis dokter keluarga ini dapat berhasil dengan komitmen semua pihak baik rumah sakit, dokter, Puskesmas, dan masyarakat. Untuk tahap awal, dokter keluarga menerapkan model ini bagi peserta Askes. Puskesmas berbasis dokter keluarga sebagai gate keeper atau pintu pertama dari pelayanan kesehatan akan mengubah perilaku dokter. Dokter tidak hanya menunggu pasien yang sakit datang, tetapi mengajak masyarakat hidup sehat dan bersih. “Ini langkah preventif, kita bisa melakukan sosialisasi melalui penyuluhan kepada masyarakat termasuk peserta Askes, ujarnya. ” Proyek percontohan Puskesmas berbasis dokter keluarga ini akan dievaluasi selama

60

INFOASKES

Program Rujuk Balik
Asuransi Kesehatan (Askes) terus mengoptimalkan program pelayanan rujuk balik. Program ini merupakan layanan spesialistik yang dilanjutkan pelaksanaannya pada fasilitas pelayanan dasar (Puskesmas, Dokter Keluarga) bagi peserta Askes yang menderita penyakit kronis. Program layanan ini lebih mengoptimalkan peran dan fungsi Pukesmas sebagai layanan dasar dalam berobat.

Optimalisasi
Transfer pelayanan dari dokter spesialis ke dokter keluarga, sekaligus pemberdayaan fungsi dokter keluarga sebagai gate keeper sekaligus manajer kesehatan peserta, memudahkan prosedur untuk mendapatkan pelayanan bagi penderita penyakit kronis. Harapan PT Askes, program ini mampu meningkatkan kepuasan peserta terhadap pelayanan obat kronis, meningkatkan loyalitas dan apresiasi peserta. Dengan demikian, Program PT Askes (Persero),

ASKES IN STRATEGY

Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan, diselenggarakan berbagai upaya kesehatan secara menyeluruh, berjenjang dan terpadu melalui puskesmas. Namun dalam pelaksanaannya Puskesmas masih menghadapi masalah, diantaranya pelaksanaan program Puskesmas dan keterkaitannya dengan program pembangunan kesehatan secara keseluruhan belum optimal begitu juga rujukan kesehatan ke dan dari dinas kesehatan kurang berjalan dengan baik.

PT

memastikan pelayanan diberikan dengan biaya rasional dan mengendalikan utilisasi pelayanan tingkat lanjutan. Dalam layanan ini perubahan obat rujuk balik hanya diperkenankan oleh dokter yang memeriksa di tingkat lanjut dengan prosedur pelayanan tingkat lanjutan. Dokter keluarga/ Puskesmas meresepkan sesuai obat pada KKRB, bila obat tersedia di Puskesmas maka menggunakan obat yang ada di Puskesmas. Resep dilegalisasi di PT Askes (Persero)

61

EDISI KHUSUS

JULI 2012

ASKES IN STRATEGY
tempat mendaftar sebagai peserta penyakit kronis kemudian ambil obat pada apotek yang ditunjuk. Guna mendorong sejumlah daerah melaksanakan program rujuk balik dengan baik, PT Askes menunjuk sejumlah wilayah dijadikan proyek percontohan. Misalnya, Kabupaten Karanganyar dijadikan pilot proyek untuk percontohan program layanan rujukan balik pasien penyakit kronis PT Askes. Ini merupakan yang pertama di

Layanan tersebut menempatkan kembali Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan bagi masyarakat, terutama untuk penderita penyakit kronis. jangan sampai, Puskesmas hanya dimintai surat rujukan untuk pasien, yang kemudian langsung digunakan berobat ke rumah sakit besar. Dampaknya, menjadikan rumah sakit penuh sesak, berjubel, sementara Puskesmas sepi.

Kedua, manfaat pilihan (optional), yang dapat dipilih antara lain; a). Biaya persalinan/melahirkan, b) biaya penggantian manfaat suplemen, yang terdiri dari prothese gigi, alat bantu gerak, alat bantu dengar, kacamata dan lensa mata tanam / Intra Ocular Lens (IOL). Pelayanan kesehatan untuk produk diatas dapat diperoleh pada fasilitas pelayanan kesehatan yang ditunjuk. baik berupa, pelayanan rawat jalan tingkat pertama, tingkat lanjutan, rawat inap maupun pelayanan khusus dan obat. Pelayanan rawat jalan tingkat pertama dapat diberikan oleh provider yang bekerjasama dokter keluarga, klinik, Puskesmas, Balai pengobatan. Lingkup pelayanannya berupa konsultasi medis dan penyuluhan kesehatan.Pemeriksaan, pengobatan dan tindakan medis kecil oleh dokter umum. Pemeriksaan, pengobatan, termasuk pencabutan dan tambal gigi. Pemeriksaan penunjang diagnostik sederhana. Pemeriksaan ibu hamil, nifas. Immunisasi dasar BCG, DPT, Polio, Campak untuk bayi/anak dibawah 2 (dua) tahun. Pemberian surat rujukan ke provider tingkat lanjutan, atas indikasi medis. Sedangkan, pelayanan rujuk balik dari provider tingkat lanjutan, juga diberikan oleh provider yang ditunjuk. Bisa poliklinik spsesialis maupun Instalasi Gawat Darurat (emergency). Di sini peserta juga mendapatkan pemerinksaan dan pengobatan, dan bisa rehabilitasi medis.

Provinsi Jateng, dan diharapkan akan diikuti kabupaten lainnya. Layanan tersebut menempatkan kembali Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan bagi masyarakat, terutama untuk penderita penyakit kronis. jangan sampai, Puskesmas hanya dimintai surat rujukan untuk pasien, yang kemudian langsung digunakan berobat ke rumah sakit besar. Dampaknya, menjadikan rumah sakit penuh sesak, berjubel, sementara Puskesmas sepi. Padahal, melalui pemilahan penyakit tidak semua peserta Askes harus dirawat di rumah sakit. Idealnya, yang bisa dirawat di tingkat Puskesmas, cukup ditangani di situ. Jika memerlukan perawatan lanjutan, bisa dibawa ke rumah sakit setempat, misalnya RSUD Kartini Karanganyar. Baru jika memerlukan perawatan intensif, dibawa ke RSUD Moewardi. Kalau semua langsung ke Moewardi, jadinya seperti sekarang. Di loket Askes, berjubel pasien. Padahal ketika diperiksa di poli, ternyata justru penderita penyakit kronis yang mestinya malah lebih baik dilayani di tingkat Puskesmas. Penyakit kronis seperti hipertensi, kencing manis, dan lainnya yang ditangani Puskesmas justru bisa dikontrol secara cermat setiap

waktu kecuali dalam kondisi gawat darurat. Pada sisi lain, sejumlah tokoh yang memiliki pengalaman puluhan tahun pun memberikan standar pelayanan penyelenggaraan asuransi kesehatan secara ideal dan sudah dilaksanakan PT askes. Jaminan kesehatan , meliputi jaminan pelayanan kesehatan dan obat secara komprehensif. Pertama, manfaat utama berupa jaminan biaya pelayanan rawat jalan, rawat inap dan tindakan pembedahan.

62

INFOASKES

ASKES IN STRATEGY

Penyakit Katastropik
Ditanggung Askes
Dulu, peserta Askes sering mengeluhkan adanya tambahan biaya (urun biaya) pada beberapa pelayanan kesehatan. Namun, sejak 2009 penyakit-penyakit berat dan katastropik mulai ditanggung Askes. Hal ini merupakan meningkatan pelayanan PT Askes kepada peserta Askes Sosial.

J

enis penyakit katastropik seperti kanker, jantung, gagal ginjal, sifat dan karakteristiknya memerlukan keahlian khusus dan harus menggunakan alat kesehatan yang canggih, serta perlu pengobatan seumur hidup. Sehingga biaya pelayanannya menjadi tinggi. Konsekuensinya, peserta masih dibebani urun biaya, karena tarif peyanan Askes memang belum menutupi tarif rumah sakit. Namun, sejak 1 Mei 2011, semua tarif pelayanan bagi peserta Askes sudah disesuaikan dengan tarif yang didiskusikan dan disepakati bersama organisasi profesi bidang kedokteran, kesehatan, dan organisasi rumah sakit, termasuk tarif penyakit yang sifatnya katastropik. Sehingga tidak ada selisih biaya lagi. PT Askes juga harus mengikuti PeraturanMenteri Kesehatan RI nomor 416/PeR/II/2011 tentang Tarif Pelayanan Kesehatan bagi Peserta Askes (Persero).

Perkembangan yang sangat dinamis membawa PT Askes (Persero) menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada 2014. PT Askes pun harus mengikuti aturan yang ada. Pola tarif dan pembiayaan yang saat ini menggunakan pola paket manfaat, nanti saat menjadi BPJS menggunakan sistem INA-CBGs (Indonesia Case Base Groups). Perubahan-perubahan ini telah disiapkan secara matang selama masa transformasi dari PT Askes ) Persero menjadi BPJS. Sehingga pada 2014 BPJS siap landas dengan armada yang kuat karena Duta Askes telah dipersiapkan sejak 2004 menghadapi berbagai tantangan dan perubahan.

63

EDISI KHUSUS

JULI 2012

ASKES IN STRATEGY

Memperluas Lapangan Pekerjaan
Banyak perusahaan menyalurkan dana Corporate Social Responsibilty (CSR) tetapi dalam perkembangannya mengalami kemajuan pesat. Begitu juga PT Askes (Persero). CSR lembaga ini tidak hanya sekedar memberikan sumbangan saja melainkan memikirkan manfaat untuk masyarakat.
Dulu, PT Askes hanya memberikan bantuan kepada masyarakat yang memiliki usaha secara perorangan, namun ternyata kurang berhasil karena usaha yang dibantu itu kurang berhasil dan ada beberapa usaha kecil yang tidak bisa mengembalikan dana bergulir yang disalurkan PT Askes. Kini, PT Askes tidak hanya menyalurkan dana saja, tetapi juga membina dan membekali mitra binaannya dengan pelatihan-pelatihan, memberikan teori manajemen yang baik seperti manajemen risiko, keuangan maupun menjaga kualitas produknya. Sejak beberapa tahun terakhir, pola penyaluran dana kemitraan secara perorangan mulai bergeser kepada kelompok-kelompok usaha yang berada di dalam satu cluster. Dana kemitraan itu diharapkan dapat mendongkrak produk unggulan di area kluster-kluster tersebut. Hal itu sudah terbukti, di beberapa cluster, seperti cluster tenun di Wajo, Sulawesi Selatan dan cluster jamur tiram di Lebak, Banten. Faktanya, sejumlah pemuda sekitar yang semula nganggur, mendapatkan penghasilan tetap karena diajak bergabung di lokasi pembuatan jamur tiram. Apalagi, pangsa pasar usaha itu, semakin banyak konsumennya.

CSR PT Askes

S

etiap tahunnya, PT Askes melakukan evaluasi terhadap dana yang disalurkan bukan hanya semata-mata memenuhi target CSR perusahaan. Perusahaan ini menyadari jika sekedar memberikan dana, seberapapun dananya yang diberikan akan habis.

Pola penyaluran PKBL atau CSR secara kelompok dimaksudkan agar dana tidak terbuang sia-sia, selain dimaksudkan agar dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi kawasan. Untuk memberikan pemahaman mendalam kepada masyarakat tentang makna CSR. Sesuai diinisinya, CSR (Corporate Social Responsibility) diadalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggungjawab mereka terhadap sosial/lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada. Contoh bentuk tanggungjawab itu bermacam-macam, mulai dari melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perbaikan lingkungan, pemberian beasiswa untuk anak tidak mampu, pemberian dana untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk desa/fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut berada. Begitu juga yang dilakukan PT Askes. CSR merupakan fenomena strategi perusahaan yang mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan stakeholder-nya. Perusahaan ini, selain merealisasi dana kemitraan juga melakukan pembinaan lingkungan. Tahun 2011, PT Askes berpartisipasi dalam program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) sebagai salah bentuk pelaksanaan dan pengelolaan kegiatan PKBL bersinergi dengan PT Sang Hyang Seri (Persero) untuk memperluas cakupan program, pengembangan kualitas dan membangun sinergi yang kokoh dengan seluruh pihak terkait.

64

INFOASKES

ASKES IN STRATEGY
a. Program Kemitraan tahun 2011, sebagai berikut: 1. Penggunaan dana Program Kemitraan: a. Bantuan pembinaan (hibah) sebesar Rp5,425 Miliar digunakan untuk kegiatan pameran, pelatihan mitra binaan, promosi, dan kegiatan lain yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan penjualan mitra binaan. b. Bantuan pinjaman kepada mitra binaan terealisasi Rp55,816 Miliar, merupakan penyaluran kepada mitra binaan dari berbagai jenis industri/usaha. 2. Perkembangan Mitra Binaan dan Akumulasi Penyaluran Dana Program Kemitraan. Sampai dengan akhir tahun 2011, jumlah mitra binaan dibawah pengelolaan Program Kemitraan PT Askes (Persero) mencapai 28.812 mitra binaan. Secara rinci disajikan pada tabel berikut: Sedangkan akumulasi dana yang disalurkan sampai dengan akhir tahun 2011 mencapai Rp214.563 Miliar, yang secara rinci disajikan pada tabel berikut: Tabel 1 Perkembangan Mitra Binaan Sampai Dengan Tahun 2011 Tabel 2 Perkembangan Dana Program Kemitraan Yang Disalurkan Sampai Dengan Tahun 2011 (Ribu Rupiah)

No. 1
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Uraian 2
Sektor Industri Sektor Perdagangan Sektor Pertanian Sektor Peternakan Sektor Perkebunan Sektor Perikanan Sektor jasa Sektor Lainnya Cluster *)

s.d 2010 3
5.951.600 98.576.410 281.300 1.992.000 535.000 1.146.766 32.880.000 17.383.500

2011 4
2.491.000 15.469.900 125.000 759.600 40.000 417.500 9.440.500 640.000 26.432.87

s.d 2011 5 = 3+4
8.442.600 114.046.310 406.300 2.751.600 575.000 1.564.266 42.320.500 18.023.500 26.432.873

Total

158.746.576

55.816.373

214.562.949

No. 1
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Uraian 2
Sektor Industri Sektor Perdagangan Sektor Pertanian Sektor Peternakan Sektor Perkebunan Sektor Perikanan Sektor jasa Sektor Lainnya Cluster *)

s.d 2010 3
538 4.402 13 228 203 271 1.149 790

2011 4
92 554 5 26 1 16 291 15 20.217

s.d 2011 5 = 3+4
630 4.956 19 254 204 287 1.440 805 20.217

1. Pembinaan Mitra Binaan Upaya pembinaan yang dilakukan PT Askes (Persero) untuk mendorong mitra binaan supaya lebih mandiri dan dapat bersaing diindustrinya antara lain dilakukan melalui: a. Pelatihan mitra binaan, bertujuan untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan agar menjadi tangguh dan mandiri serta menegaskan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi selama menjadi mitra binaan antara lain kewajiban untuk membayar angsuran tepat waktu dan memberikan laporan perkembangan usaha. b. Mengikutsertakan mitra binaan pada pameran-pameran produk usaha mitra binaan di dalam dan luar negeri dengan tujuan membantu promosi penjualan produk serta mengembangkan jaringan usaha mitra binaan. 2. Program Bina Lingkungan tahun 2011, sebagai berikut: 1. Bantuan Bina Lingkungan BUMN Peduli Dana Bina Lingkungan BUMN Peduli tahun 2011 terealisasi sebesar Rp.2,125 Miliar. Dana tersebut dialokasikan untuk program penghijauan di Propinsi NTT dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Ciliwung dan Cimanuk. Realisasi dana Bina Lingkungan BUMN Peduli ditetapkan oleh Menteri Negara BUMN RI. 2. Program Bina Lingkungan BUMN Pembina Dana Bina Lingkungan BUMN Pembina tahun 2011 terealisasi sebesar Rp.29,541 Miliar. Realisasi Bina Lingkungan BUMN Pembina sebagai wujud peran serta PT Askes (Persero) dalam membantu masyarakat dalam membangun dan mengembangkan lingkungannya (Corporate Social Resposibility).

Total

7.595

21.217

28.812

*) Merupakan sektor baru pada tahun 2011, yaitu berupa penyaluran pinjaman kepada mitra binaan secara terpadu dalam 1 wilayah tertentu yang di dalamnya terdiri dari banyak UKM yang homogen/ terintegrasi dari hulu sampai dengan hilir.

Pola penyaluran PKBL atau CSR secara kelompok dimaksudkan agar dana tidak terbuang sia-sia, selain dimaksudkan agar dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi kawasan. Untuk memberikan pemahaman mendalam kepada masyarakat tentang makna CSR. Sesuai diinisinya, CSR (Corporate Social Responsibility) diadalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggungjawab mereka terhadap sosial/lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada.

65

EDISI KHUSUS

JULI 2012

ASKES IN STRATEGY

Kalahkan Kompetitor
Untuk Kepuasan Pelanggan

Customer Satisfaction Index

PT Askes (Persero) tidak mempunyai kompetitor sebagai perusahaan asuransi sosial yang ditunjuk pemerintah. Untuk itu, Duta Askes harus dapat menciptakan sesuatu sebagai saingannya agar dapat berkompetisi. Sebagai kompetitor Duta Askes adalah harapan pelanggan. Jika para Duta Askes ini dapat “mengalahkan” harapan pelanggan dengan meberikan pelayanan yang terbaik, hingga pelanggan itu puas.

66

INFOASKES

ASKES IN STRATEGY
sasaran utama sebagai Wildly Important Goals (WIG) tahun 2012, yaitu: a. Customer Satisfaction Index (CSI) sebesar 88,13 (1 poin diatas CSI tahun 2011; 87 ,13). b. Competency Compliance Index (CCI) sebesar 89,64 (3,64 poin diatas CCI tahun 2011; 86). c. Tingkat Kesehatan Perusahaan (TKP) minimal Sehat. Strategi perusahaan untuk mencapai ketiga sasaran utama tersebut adalah strategi yang mendukung pencapaian Customer Satisfaction Index (CSI) yaitu, 1. 2. Meningkatkan akses peserta dalam memperoleh informasi hak, kewajiban, ruang lingkup dan prosedur layanan Meningkatkan kecepatan dan ketepatan pelayanan administrasi kepada peserta dan akurasi master ile kepesertaan Meningkatkan jumlah jaringan layanan kesehatan Mengoptimalkan penerapan tarif baru untuk meminimalisasi iur biaya. Mengoptimalkan credentialing dan recredentialing (seleksi provider) Mengoptimalkan pengadaan dan pengelolaan barang dan jasa sesuai ketentuan yang berlaku.

3. 4. 5. 6.

Sedangkan strategi yang mendukung pencapaian Competency Compliance Index (CCI) yakni 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7 . Meningkatkan kompetensi pegawai Meningkatkan keterikatan pegawai (employees engagement) Strategi yang mendukung pencapaian Kinerja Keuangan Perusahaan minimal “SeHAT” adalah, Meningkatkan pendapatan premi dan pendapatan Investasi Mengendalikan biaya Mengendalikan utilisasi pelayanan dan klaim Meningkatkan tata kelola perusahaan

Melalui penetapan sasaran dan strategi tersebut di atas diharapkan dapat dihasilkan kualitas layanan yang tinggi untuk memenuhi komitmen perusahaan bagi peserta yaitu “Melayani Pelanggan Melampaui Harapan” Sehingga menjadikan PT Askes (Persero) . sebagai pemberi jaminan pelayanan kesehatan sosial yang “diakui, dibanggakan dan didambakan” oleh seluruh rakyat Indonesia.

K

epuasan pelanggan itu bisa tepantau dari customer satisfaction index (CSI/indeks kepuasan peserta meningkat terus setiap tahunnya. Tiga tahun terakhir ini, Duta Askes harus bekerja keras untuk menyaingi ekspektasi pelanggan yang semakin meningkat. Tahun 2010 CSI mencapai 84,89, tahun 2011 CSI nya 87 atau naik 2,24 poin. Dan tahun 2012 PT Askes (Persero) ,13 menargetkan CSI sebesar 87 ,13.

Sedangkan tingkat kesehatan perusahaan adalah Sehat AA dengan Total Skor 87 (berdasarkan perhitungan Peraturan Menteri BUMN RI No. Per-04/MBU/2011). Pencapaian kinerja ini berdasarkan Kontrak Manajemen (Annual Management Contract/AMC) mencapai bobot 103,74 dari target 100. Selain itu berdasarkan audit KAP Kanaka Puradiredja, Suhartono diperoleh hasil opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), merupakan opini WTP yang ke-20. Pada tahun 2012 PT Askes (Persero) menetapkan Customer Focus sebagai strategi utama perusahaan, yang memfokuskan seluruh kegiatan usaha pada upaya optimalisasi pelayanan bagi peserta dengan menjaga tingkat kesehatan keuangan perusahaan. Berdasarkan strategi tersebut, PT Askes (Persero) menetapkan 3

67

EDISI KHUSUS

JULI 2012

TESTIMONI
IIn Sukarna

Berserah Diri,

Jalani Cuci Darah
Penderita gagal ginjal harus benar-benar terukur cairan yang diminumnya, ini seringkali menyiksa. Tetapi lambat laun, tubuhnya dapat menyesuaikan diri dan kini sudah terbiasa tidak minum banyak dan sudah berapa cairan yang diminum sesuai lama lama badan bisa menyesuaikan diri. Tips agar tidak cepat haus, Iin menghindari minum dingin. Minumannya selalu panas dan dia senang minum teh panas manis. Untuk asupan gizi, dokter menyarankan dia tetap makan seperti biasa hanya porsinya dibatasi. Penderita gagal ginjal harus mengkonsumsi makanan berprotein seperti putih telur, belut (lindung), susu berprotein tinggi, dan mengkonsumsi buah yang kandungan kaliumnya rendah seperti papaya, agar BAB lancar. Sesekali dia juga minum kopi, tetapi minum madu setiap hari. Sesekali dia merasakan sesak napas terutama menjelang hari H cuci darah. Oleh karenanya di rumahnya selalu tersedia oksigen. “Bisa karena cairan sudah menumpuk. Maka sebelum cuci darah kita berat badan saya ditimbang. Berat badan basah tidak boleh naik lebih dari 2,5 kilogram dari berat badan kering yaitu berat badan setelah cuci darah. Dokter akan tahu kalau saya minumnya kebanyakan, ujar IIn. ” Sebelumnya, dia pernah berdialog dengan Ibu Negara Ani Susilo Bambang Yudhoyono tepatnya pada peringatan puncak Hari Ginjal Sedunia tahun 2007 dia memohon untuk mendapat bantuan cangkok , ginjal, karena dia biayanya sangat mahal. Namun, keinginan itu kini sudah tidak ada lagi. “Sekarang saya sudah benar-benar berserah diri dan percaya kebesaran Allah, kata pria yang memiliki tinggi badan ” 167 centimeter dan berat badan 46 kilogram Kalau boleh meminta, Iin memohon kepada PT Askes agar tabung cuci darahnya diganti setiap 2 atau 3 kali saja. Sekarang ini tabung cuci darah reuse sampai 6 atau 7 kali cuci darah. “Ini yang saya rasakan sering merasakan gatal-gatal di seluruh tubuh, jadi harus minum anti alergi. Dulu tabungnya, sekali pakai saja, ungkapnya. ” Guru SD yang mengajar kelas 3 ini, tempat tinggalnya tidak jauh dari tempatnya mengajar yaitu di Komplek Pertambangan 2, Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk. Setiap hari dia menggunakan sepeda motor untuk melakukan aktivitasnya. Melihat aktivitas sehari-hari, orang tidak menyangka Iin Sukarna menderita gagal ginjal dan harus cuci darah dua kali seminggu. Dan setelah tahu dia menderita gagal ginjal, orang pun pasti heran dia dikaruniai empat anak yang sehat dan pintar-pintar. Anak pertamanya, lulusan BSI, kini sudah bekerja di PT Telkom. Anak keduanya masih kuliah di BSI, anak ketiganya kuliah di Universitas Negeri Jakarta, dan anak keempatnya kelas dua SMA. “Bersyukur kami bisa menyekolahkan anak-anak dan Alhamdulillah pintar-pintar, katanya. ”

24 Tahun

S
68

ejak bulan Maret 1988 Iin Sukarna divonis dua ginjalnya tidak bisa berfungsi lagi atau disebut dengan gagal ginjal. Dan sejak itulah hidupnya tergantung mesin hemodialisa atau mesin pencuci darah. Jiwanya goncang mendengar penjelasan dokter bahwa dirinya harus menjalani cuci darah seminggu dua kali.

“Selama dua tahun saya drop karena hidup tergantung mesin dan sepertinya kematian sudah di depan mata. Waktu itu saya baru tahun pertama berumah tangga dan mau lahir anak pertama, kenang Iin ” saat diwawancara Buletin Info Askes, sepulang dari puncak Jawa Barat, mengikuti acara anak didiknya, Minggu (24/6/2012). Iin hingga kini masih aktif sebagai guru di SDN Sukabumi Selatan 06 Pagi, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Semangat hidupnya yang semakin kuat, tumbuh secara perlahan karena dukungan penuh dari keluarga. Keluarga terutama istri selalu memotivasi agar dirinya tegar dalam menjalani hidup. “Setelah saya punya anak pertama, semangat saya perlahan muncul, dan setelah tegar menerima kodrat irodat, saya dengan penuh ikhlas, berserah diri kepada Allah, ungkapnya. ” Pasien tetap Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) ini mempunyai jadwal cuci darah setiap hari Senin dan Kamis. Dia merasa beruntung dan bersyukur karena menjadi peserta Askes. Sehingga biaya cuci darah sudah ditanggung Askes. “Untung saja ada Askes, meskipun dipotong setiap bulan tetapi kalau sudah sakit begini manfaatnya luar biasa, kata Iin. ” Kalau harus membayar pasti berat sekali. Karena dia pernah membayar saat masa krisis di tahun 1998, sebulan bisa mengeluarkan uang sampai Rp4 juta-an. Iin menceritakan awalnya dia mengalami tekanan darah tinggi, ternyata menurut dokter karena ada gangguan di ginjal. Dukungan dan kasih sayang istrinya, Ny Komariah dan keluarga besarnya, menyadarkan dirinya untuk mengikuti semua anjuran dokter dan berserah diri pada Tuhan.

INFOASKES

TESTIMONI

Buandi, Pensiunan PNS Kopasus

Jalin Silaturahmi

Lewat Kegiatan Prolanis
K
egiatan senam bersama-sama dengan teman-teman senasib karena mengidap diabetes melitus (DM) atau lebih dikenal dengan sebutan kencing manis, rasanya menjadi sebuah hiburan. Buandi, pensiunan PNS Kopasus merasakan hal itu. Penyakit diabetes yang diketahuinya 2001 ini, ternyata harus menjadi sahabat dalam hidupnya. Semakin mengenali penyakit yang dideritanya, semakin mudah mengendalikannya. Demikian ungkapan Buandi yang kini tinggal di Kelurahan Baru, Pasar Rebo, Jakarta Timur ini kepada Buletin Info Askes. Perasaan hatinya semakin tenang dan merasa nyaman setelah dia ikut kegiatan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang sekarang ini khusus diabetes ada program pengendalian penyakit diabetes melitus (PPDM). “Sejak tujuh bulan lalu saya ikut kegiatan senam bersama-sama penderita diabetes lainnya yang dilaksanakan di Puskesmas Pasar Rebo bersama-sama dengan PT Askes. Itung-itung sekalian silaturahmi dan menambah teman, kata ayah dari dua cucu ini yang ” sudah pensiun sejak tahun 2008. Sebulan sekali ada “kumpul-kumpul” ada kegiatan penyuluhan, edukasi, dan penjelasan-penjelasan tentang penyakit diabetes, apa saja yang aman dikonsumsi, dan ada pemeriksaan kesehatan termasuk cek kadar gula darah. “Saya juga harus rutin jalan pagi paling tidak ya setengah jam sudah cukup, ujarnya. ” Banyak sekali pengetahuan yang diperoleh dari pertemuan-pertemuan tersebut, karena masing-masing pengidap DM menjadi paham bagaimana mengatasi danmengendalikan penyakitnya agar tidak menjadi komplikasi dengan penyakit lainnya seperti jantung, gagal ginjal, dan hipertensi. “Saya dulu, kadar gula darahnya mencapai 500, sekarang tidak pernah lagi, selalu stabil karena setiap hari rutin minum obat dan vitamin, ungkapnya. ” Obat pun diberikan sebulan sekali pada saat dilakukan kegiatan program PPDM yaitu senam bersama, pemeriksaan kesehatan, dan penyuluhan-penyuluhan. Ada tiga jenis obat yang diberikan kepadanya setiap bulan yaitu metformin, sulfonil urea, dan tiozianid. Terkait dengan pelayanan Askes, Buandi mengaku sudah sangat baik. Sebagai pensiunan dia merasa dihargai, dan dilayani dengan baik. Informasi yang dibutuhkan selalu mendapa tanggapan yang positif. “Kalau menggunakan kartu Askes baru untuk diabetes saja, yang lain belum pernah. Istri saya juga belum pernah memakai kartu Askes, semoga kami tidak menggunakannya, cukup untuk diabetes saja. Kami ingin hidup sehat wal aiat, kata Buandi penuh harap. ”

Banyak sekali pengetahuan yang diperoleh dari pertemuan-pertemuan tersebut, karena masing-masing pengidap DM menjadi paham bagaimana mengatasi danmengendalikan penyakitnya agar tidak menjadi komplikasi dengan penyakit lainnya seperti jantung, gagal ginjal, dan hipertensi.

69

EDISI KHUSUS

JULI 2012

TESTIMONI

Ny Suparti

Meskipun Punya Askes,

Tapi Tak Ingin Sakit
Suaminya yang pensiun pada 1991 telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya enam tahun lalu. Almarhum Harjo S dulu bekerja sebagai masinis kereta api daerah (KRD) di Dipo Bukit Duri Jakarta. Begitulah yang dituturkan Suparti saat Buletin Info Askes menjenguknya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, beberapa waktu lalu. Ketika itu, dia sedang menunggu hasil pemeriksaan dokter karena harus menjalani operasi tumor kolon yang didiagnosa sebagai penyakit kanker. “Kalau masalah biaya sih mungkin tidak terlalu berat karena saya anggota Askes, jadi semua biaya rumah sakit dan obat sudah dibayar oleh Askes. Tetapi kan jadi repot semua, anak-anak ikut repot harus mondar-mandir ngurusi saya dan saya sendiri kan tidak enak sakit begini. Yang paling enak punya Askes tetapi jangan sakit-sakitan, kata ” Suparti. Suparti, warga Rawalumbu, Bekasi, Jawa Barat ini, tampak memiliki semangat hidup yang tinggi. Meskipun dokter sudah menyatakan dirinya harus menjalani kemoterapi dan dia juga melihat pasien di sebelah tempat tidurnya, ada beberapa yang sudah di kemoterapi merasakan sakit. Namun, dia tampak siap menjalani cobaan yang menerpa dirinya ini. “Kita diberi sehat dan diberi sakit, mungkin supaya kita selalu ingat

S

ebagai peserta Askes, setiap bulan gajinya dipotong untuk iuran premi, begitu pula jika sudah pensiun. Bagi Ny Suparti, 60, sebagai istri pensiunan PNS almarhum Harjo S, hingga kini juga masih membayar iur premi dari uang pensiunan suaminya.

“Kita diberi sehat dan diberi sakit, mungkin supaya kita selalu ingat kepada Tuhan. Dan semua harus dapat kita terima. Maka, saya pun harus pasrah dan terus berdoa agar diringankan beban, kalau bisa penyakit di badan ini diangkat semua, sehingga saya sehat kembali,”

70

kepada Tuhan. Dan semua harus dapat kita terima. Maka, saya pun harus pasrah dan terus berdoa agar diringankan beban, kalau bisa penyakit di badan ini diangkat semua, sehingga saya sehat kembali, ” ujarnya. Sebelumnya, Suparti yang akrab disapa Bu Harjo ini, jarang sakit. Namun selama 3 bulan terus menerus buang-buang air. Akhirnya dia berobat ke RSUD Bekasi, dokter mendiagnosa sakit paru-paru. Namun, dia tidak tahan karena terus menerus buang air besar (BAB). Kemudian dia berobat ke RS Rawalumbu, Bekasi. Dokter di sana mendiagnosa dirinya mengalami infeksi usus. Lalu, dokter RS Rawalumbu merujuk ke RSCM. Di RSCM ini dilakukan pemeriksaan lengkap, ternyata ada tumor di usus besar. “Ya, pasti biayanya mahal bisa sampai puluhan juga, kemarin saja hanya 3 hari, belum dikemo biayanya hampir Rp4 juta. Makanya, bersyukur deh, menjadi peserta Askes, kata Suparti didampingi putrinya, Kartini. ”

INFOASKES

TESTIMONI

Kabid Humas Kementerian PU

Dra Etty winarni, MM.

Karena Dilayani Secara Baik
Mengagumkan dan hebat. Itulah kesan pelayanan kesehatan peserta asuransi kesehatan di rumah sakit. Fasilitas kesehatan yang diberikan sudah bagus tidak seperti zaman dulu. "Dulu, birokrasi yang berbelitbelit dan memperoleh perlakuan diskriminatif. Sekarang berbalik 180 derajat," kata Kabid Humas kementerian Pekerjaan Umum (PU) Dra etty Winarni, MM. Sebagai pegawai negeri, belasan tahun tidak memanfaatkan askes yang dimilikinya karena sakit yang dideritna tergolong ringan.Misalnya, kepala pusing atau gangguan pencernaan. dirinya masih dihantui dengan pelayanan peserta Askes di rumah sakit zaman dulu yang penuh dengan tagihan-tagihan tidak jelas. Beberapa bulan lalu, etty Winarni, mengalami sakit luar biasa. Oleh pihak keluarga, dirinya dibawa ke RS Haji di Pondok Gede, Jakarta Timur.melalui pemeriksaan intensif, dokter memvonis dirinya harus segera operasi batu empedu. Perempuan yang dikenal gesit di lingkungan kerjnya itu sejak masuk RS Haji, sudah mengatakan jika dirinya peserta Askes daningin dirawat di kelas satu. Dengan ramah petugas rumah sakit mengiyakan keinginan etty Winarni, tanpa banyak bertanya. Dokter maupun perawat yang ada di sana selalu menebar senyum dan ramah terhadap peserta Askes. singkat cerita operasi sudah dilaksanakan dan hasilnya cukup bagus. Hanya saja, di bekas jahitan muncul benjolan dan harus rutin datang ke sana. "Walaupun saya haus nambah biaya rumah sakit karena mendapatkan perawatan di kelas satu tapi saya bangga. Pelayanan peserta Askes di rumah sakit itu, benar-benar hebat. Saya pun kagum," kata etty. Mestinya rumah sakit lainnya, memperlakukan peserta Askes seperti yang dialaminya, jangan sampai dinomorduakan atau diping-pong. "Saya puas walaupun keluarga harus nombok puluhan juta rupiah atas klaim yang diberikan saya sebesar Rp30 juta," kata etty, tanpa merinci. Kenyataan ini menunjukkan apa yang dilakukan PT Akses, kata etty, menunjukan perubahan budaya kerja termasuk meningkatkan kualitas layanan yang terus dibenahi demi memenuhi jawaban atas kepuasan peserta. Sejalan dengan visinya yakni melayani pelanggan melampaui harapan, kondisi pelayanan seperti yang dialaminya tidak luntur. Setelah PT Askes ganti baju sebagai BPJS Kesehatan, mulai awal tahun 2014, etty, berharap masyarakat miskin mendapatkan pelayanan yang prima baik di tingkat Puskesmas maupun di rumah sakit. []

Kaget

71

Dokter maupun perawat yang ada di sana selalu menebar senyum dan ramah terhadap peserta Askes. singkat cerita operasi sudah dilaksanakan dan hasilnya cukup bagus. Hanya saja, di bekas jahitan muncul benjolan dan harus rutin datang ke sana.

EDISI KHUSUS

JULI 2012

VOXPOP
Sudirman Habibie,
Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo, Sulawesi Utara

Untung Ada Askes, Kesehatan Keluarga Jadi Terjaga
Ketika sakit orang biasanya, baru menyadari betapa pentingnya sebuah asuransi. Apalagi, saat sakit tidak memiliki uang banyak sehingga menambah penderitaan dalam mengarungi hidup. “Untung ada Askes, sehingga berbagai persoalan kesehatan keluarga terpenuhi, kata ” Sudirman Habibie, yang kini masih menjabat sebagai Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo, Sulawesi Utara. Pelayanan PT Askes menurutnya, tidak perlu diragukan. Semua turan main dijalankan petugas Askes di daerah tanpa harus melalui prosedur yang berbelit. “Secara pribadi, sangat meringankan, kata Sudirman. ” Kemudian, Sudirman yang meniti karir dari bawah alias dari nol, merasakan betapa sedihnya, manakala ada anggota keluarga yang sakit. Sedih bukan karena kebingungan bagaiamana membayar biaya perawatan dan pengobatan tetapi banyak kegiatan yang tersita oleh waktu. “kalau soal biaya khan sudah ditangani PT Askes, tuturnya. ” Maka, ketika Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tahun 2009, yang mengharapkan seluruh BUMN yang tidak bisa mengelola asuransi kesehatan pegawainya dengan baik agar menyerahkan urusan asuransinya ke PT Indonesia Health Insurance, dirinya pun menyetujui. Peserta Askes masih bekisar di PNS, purnawirawan dan pensiunan sipil. Dengan munculnya Inhealth diharapkan bisa menambah jumlah peserta dengan merangkul pihakpihak swasta. Berdasar pemikiran ini, Sudirman Habibie, setelah menjabat sebagai Kepala Bappeda Gorontalo, langsung mengusulkan kepada Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, menggandeng PT Askes untuk memberikan pelayanan terhadap warga miskin yang tidak memiliki kartu Jamkesmas. Alasannya, PT Askes bukan hanya usianya sudah hampir setengah abad namun pelayanan kesehatan yang dikoordinasikan PT Askes, memang bagus. “Ada sekitar 200.000 warga miskin yang dikoordinasikan, ” jelsnya. Sebelum Gubernur Gorontalo, memutuskan pemberian pelayanan kesehatan gratis dengan menggandeng PT Askes, pihaknya sempat melakukan survei dan mencaro alternatif laiinya. Misalnya, mempelajari berbagai kegiatan pelayanan di sejumlah wilayah. Misalnya, Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) Kota Pangkalpinang yang sudah dikelola langsung oleh PT Askes Persero. Hasilnya, pelayanan kesehatan yang diperoleh masyarakat menjadi lebih mudah dan terkesan profesional. Saat ini baru Kota Pangkalpinang dan dua kabupaten yaitu Bangka Tengah dan Belitung Timur yang bekerjasama dengan PT Askes. di Bangka Tengah PT Askes mengelola sebanyak 8.400 orang dan Beltim 60.000 orang.

H

idup itu bagaikan roda mobil. Kadang berada di bawah dan kadangkala berada di atas. dapat pula diibaratkan adakalanya mengantongi keuntungan yang banyak tetapi tidak sedikit yang merugi dan senantiasa tidak pernah sakit.

Keuntungan lain dengan bekerjasama dengan PT Askes selain lebih profesional adalah sisa dananya akan dikembalikan. “Askes tidak ambil untung. Seperti di Beltim, tahun 2009 Askes mengembalikan sisa dana mereka sebesar Rp507 juta. Sisa dana masuk ke kas daerah,. ” Minat Pemprov Gorontalo semakin bertambah besar untuk bekerjasama dengan PT Askes, karena memperoleh tambahan informasi bahwa PT Askes Persero, sudah ada lebih dari 200 daerah di Indonesia yang melakukan kerjasama pengelolaan jaminan kesehatan dengan PT Askes. Iurnya murah tapi pelayanannya prima, ” ” jelas Sudirman.

72

INFOASKES

VOXPOP

Julia,
Pramugari Merpati

Asuransi Kesehatan Sangat Diperlukan
ebagai pramugari dituntut memiliki kesehatan prima, tetapi adakalanya tidak menghindar dari serangan penyakit. Oleh karenanya asuransi kesehatan sangat penting untuk mengantisipasi biaya pengobatan. Julia, pramugari Merpati asal Mereauke ini mempunyai pemikiran seperti itu. Dirinya, saat ini sudah memiliki jaminan kesehatan, sehingga tidak perlu risau soal biaya kesehatan. Namun, bagi masyarakat yang sering dia jumpai, tidak mempunyai asuransi kesehatan dan seringkali menemui masalah ketika harus masuk rumah sakit. “Kalau orang miskin kan sudah ditanggung negara, tetapi orang yang tidak miskin tetapi tidak mampu itu yang sering mengalami masalah, kata Julia kepada Buletin Info Askes. ” Oleh karenanya, dia sangat setuju adanya sistem jaminan sosial nasional (SJSN). Dia pun berharap Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dapat beroperasi tahun 2014. Maunya sih, kata dia

S

segera dapat terealisasi jaminan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ada satu hal yang dipertanyakannya, bagaimana kalau seseorang seperti d,irinya yang sering mondar-mandir dari kota satu ke kota lainnya. Misalnya dia warga Merauke, kemudian saat berada di Jakarta jatuh sakit, apakah bisa berobat di Jakarta dengan jaminan kesehatan yang dimilikinya? Menurut pemikirannya, kalau itu programnya nasional seharusnya bisa. “Seharusnya, mungkin bisa ya. Mungkin regulasinya perlu dipertegas. Kalau orang sakit jangan ditanya surat nya dulu tapi dilayani dulu baru ditanya soal administrasina, katanya. ” Jika, harus surat rujukan dari daerahnya tentu akan menyulitkan rakyat. Kecuali dalam kondisi normal, dia sangat setuju adanya rujukan berjenjang, yang sakit ringan cukup ditangani oleh Puskesmas atau dokter umum, dan hanya penyakit yang sulit saja yang dibawa ke rumah sakit umum. “Saya sangat setuju ada rujukan seperti itu, ya semoga saja semua bisa berjalan sesuai aturan, kata Juli. ”

73

EDISI KHUSUS

JULI 2012

VOXPOP

Nurdin Pangharapan

Ingin Punya Asuransi Kesehatan

O

rang bisa tahan tidak makan selama 6 minggu dan bisa bertahan pula tidak minum selama satu minggu. Tetapi orang tidak akan tahan berminggu-minggu ketika dirinya kena penyakit, apalagi penyakit itu tergolong serius seperti thypus, diare berat, dan lainnya.

Tahun 2002, dia pernah merasakan susah, saat istrinya mengalami kecelakaan hingga membuat kaki istrinya, Nurhayati cacat tetap. Untung saat itu, istrinya mendapat ganti dari sebuah asuransi. “Saya bayangkan kalau waktu itu tidak diganti asuransi, saya tidak punya uang, pasti tambah bingung, ujarnya, ” Oleh karenanya, dia berangan-angan ada premi asuransi kesehatan yang tidak mahal. Ketika diberi tahu aka nada BPJS pada 2014, dia pun menyambut gembira. “Seperti saya ini bayar nggak ya? Tapi kalau harus bayar Rp30 ribu sebulan, Insya Allah, bisa lah, kata pria ” berkacamata ini kepada buletin info askes. Soal jaminan sosial kesehatan yang akan dikelola oleh BPJS, Nurdin mengaku belum terlalu paham, dia hanya tahu ada Jamkesmas saja. “Tapi, kalau jaminan sosial itu benar-benar ada, saya dan masyarakat Indonesia lainnya, pasti sangat senang, ujarnya. ”

Bagi masyarakat yang tidak mampu, seringkali bingung saat jatuh sakit. Karena biaya pengobatan tidak murah dan tidak mempunyai asuransi kesehatan. Hal itu pernah terjadi pada Nurdin Pangharapan, 44, warga Mutiara Gading Timur, Ruko R No 13, Bekasi Timur, Jawa Barat. “Kalau sakit biasa, saya sih hanya minum obat warung, tetapi kalau tidak sembuh-sembuh baru pergi ke dokter, kata Nurdin. ” Nurdin memiliki warung kopi dan usaha jual beli sepeda motor ini mengaku ngeri kalau tiba-tiba dirinya atau anggota keluarganya harus dirawat di rumah sakit. Karena dia tidak memiliki asuransi. “Saya ingin punya asuransi kesehatan, tetapi mahal ya, tetapi seharusnya punya buat jaga-jaga ya, kata ayah dari dua anak ini. ”

74

INFOASKES

VOXPOP

Stevanus Morik
cleaning service

Jalani Hidup Ikhlas agar Sehat S
etiap ada mobil yang akan masuk ke halaman gedung VIP keberangkatan di Bandara Mopah, Merauke, Papua, Stevanus Morik selalu siap membukakan pintu gerbang. Maklumlah, di sana tidak ada Satpam, kecuali pria tengah baya ini. Stevanus dengan ramah melayani setiap tamu yang datang. Meskipun dia seharusnya sudah memasuki usia pensiun, namun dia masih bersemangat dalam bekerja. Sejak tahun 1982 dia sudah bekerja di perusahaan penerbangan Merpati. Namun, karena sudah pensiun dua tahun lalu, Bupati Merauke masih memberi kesempatan dirinya bekerja sebagai penjaga kebersihan (cleaning service) di gedung VIP keberangkatan di Bandara Mopah. “Saya bekerja dengan ikhlas biar hidup ini senang. Kalau hati senang, pikiran jadi tenang, lalu membawa tubuh kita menjadi sehat. Begitu saja, cara menjalani hidup ini. Bersyukur saja dengan apa pun yang diberi Tuhan untuk kita, kata Stevanus. ”

Bapak dari tiga anak ini, bertempat tinggal di RT 02 RW 05 Kelapa Lima, Kecamatan Kelapa Lima, Merauke, Papua. Mungkin karena selalu ikhlas dalam menjalani hidup ini, Stevanus mengaku tidak pernah sakit yang parah, begitu juga dengan keluarganya. “Kalau sakit ya pergi saja ke Puskesmas, lalu istirahat saja. Saya punya Jamkesmas, ujarnya. ” Dia mengaku tidak tahu soal sistem jaminan sosial nasional (SJSN). Yang penting baginya, dia dan keluarganya diberi Tuhan badan yang sehat. Tetapi kalau sakit, kata dia, sudah tenang ada Jamkesmas, karena sudah tidak perlu merogoh kantongnya. “Saya harap secepatnya kami rakyat kecil lain memiliki asuransi kesehatan seperti PNS sekarang dengan memiliki Askes. Jika sakit bisa lebih tenang karena ada yang menjamin, pungkas Stevanus. ”

75

EDISI KHUSUS

JULI 2012

OPINI
Momentum JamKesNas:

Hasbullah Thabrany
xx

Taruhan Askes
merumuskan strategi, menyusun program operasional dan struktur organisasi yang sesuai dengan fungsi (structure follow function), sampai penganggaran dan evaluasi. Kita beruntung visi Siwabessy sudah diterjemahkan dalam UU SJSN dan UU BPJS sebagai model pembayar tunggal (single payer) seperti yang sudah berlangsung dengan baik di Taiwan, Filina, dan Korea Selatan. Tetapi, kita masih punya pekerjaan berat merumuskan strategi yang operasional, perumusan manfaat yang baik (dalam UUD45, dijabarkan sebagai ‘yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat”), dan menganggarkan dana yang memadai. Undang-undang BPJS telah mengoreksi kekeliruan masa lalu, dimana struktur kendaraan mencapai JamKesNas yang digunakan adalah PT (Persero) yang dirancang sebagai struktur dalam perdagangan, bukan program Nasional. Sebagian besar pola pikir dan pola tindak (mindset) pegawai Askes sudah dibentuk dalam koridor perdagangan. Sebagian besar rakyat, khususnya tenaga kesehatan, telah pula memahami keliru peran Askes sebagai pencari laba yang difahami sebagai akan terus mencari laba. Nah, koreksi untuk mengubah mindset dan menyusun program, struktur, anggaran, dan pemasaran sosial memerlukan uapa (tenaga, dana, metoda, dan waktu) yang besar. Inilah kerja besar yang dituntut setelah Patung Siwabessy, sebagai pengingat Visi Besar Bansa yang akan menjadi icon dan bentuk Nasionalisme yang akan memperkuat NKRI. Kenali Tantangan dan Peluang Jajaran Askes khususnya, dan para tenaga kesehatan pada umumnya, harus pertama-tama memahami visi JamKesNas sebagai wujud pemersatu bangsa, penguat NKRI dan sekaligus pengembangan penduduk Indonesia agar menjadi manusia yang bermartabat. Orang sakit yang tidak dilayani dengan baik, seolah mengemis diberikan obat dan layanan medis yang efektif dan menyenangkan, jelas bukan sebuah keadan bermartabat. Untuk menjadikan manusia Indonesia yang utuh dan bermartabat, jaminan kesehatan haruslah memadai akses, kualitas, dan kecukupan dananya. Tantangan terbesar sekarang adalah pemikiran pejabat yang

Tanggal 28 Oktober 2011 merupakan momentum sejarah, Hari Sumpah Pemuda, sekaligus pengukiran sejarah baru bagi bangsa Indonesia yang akan memperkuat Nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat dibentuk dengan berbagai himbauan atau kenangan pejuang-pejuang kemerdekaan. Nasionalisme akan terbentuk dengan fakta dimana rakyat di seluruh Tanah air menikmati kemerdekaan (dari beban biaya berobat) yang sama bagi seluruh bangsa Indonesia.

D
76

i bawah curahan hujan di luar gedung DPR sekitar 30.000 pekerja menunggu para wakil rakyat dan wakil Pemerintah memutuskan untuk menyetujui UU 24/2011 tentang BPJS. Sebelumnya, wakil Pemerintah sudah berkali-kali menunjukkan keengganannya menyetujui RUU BPJS yang diusulkan DPR. Jika saja, jalan toll di depan gedung DPR tidak ditutup dua arah; jika saja asap hitam hasil bakaran ban mobil tidak membumbung ke udara; dan jika saja para pekerja tidak mengancam akan menduduk DPR sampai RUU BPJS diundangkan, mungkin UU BPJS akan ditunda-lagi. Sebuah Visi Di tahun 1968, ketika memulai program askes PNS, dulu dikelola oleh Badan Pengelola Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDK), Siwabessy sebagai Menteri Kesehatan ketika itu menancapkan visi Asuransi Kesehatan Nasional. Ketika itu, Siwabessy mungkin tidak memahami betapa sulit dan rumitnya mewujudkan suatu Asuransi/Jaminan Kesehatan Nasional. Tetapi, visi itu menjadi penting untuk mendorong semua pihak mengembangkan sebuah sistem. Sejujurnya, visi Siwabessy tidak menggema dan tidak banyak difahami orang di luar PT Askes. Namun, semangat untuk mewujudkan Jaminan Kesehatan Nasional (JamKesNas), begitu istilah yang disepakati Tim Pokja Kemenkes, ternyata berkembang. Di Tahun 2002, UUD45 diamendemen dengan mencantumkan pasal 34 ayat 2 (..jaminan sosial untuk seluruh rakyat..). Di tahun 2005, WHO mengeluarkan Laporan Tahunan yang mendorong semua negara menuju JamKesNas. Maka, bagai gayung bersambut, UU SJSN dan UU BPJS akhirnya mendapat sambutan banyak pihak. Hanya saja, kemauan pejabat tinggi Pemerintah tampaknya masih belum memadai untuk mendorong menjadi sebuah tonggak sejarah, sebagian merupakan hasil pergerakan pekerja. Jika pada Ultah tahun 2012 ini Askes membangun patung Siwabessy, diharapkan semua jajaran Askes sebagai tulang punggung BPJS, harus memaknainya sebagai sebuah simbol pendorong untuk mewujudkan JamKesNas yang baik. Perumusan sebuah visi adalah langkah awal. Seorang pemimpin visioner mungkin tidak memahami perumusan lebih lanjut dari sebuah visi yang harus dijabarkan menjadi tujuan jangka panjang,

INFOASKES

OPINI
keekonomian sebagaimana dirumuskan dalam UU SJSN sebagai harga kesepakatan antara BPJS dengan asosiasi fasilitas kesehata publik dan swasta). Hanya dengan pembayaran yang layak/memadai, JamKesNas dapat memanusiakan WNI. Jika tenaga kesehatan dibayar di bawah harga pasar (belom costs), artinya sistem ini tidak memartabatkan tenaga kesehatan. Jika tenaga kesehatan tidak dihargai dengan layak, jangan harap tenaga kesehatan akan melayani penduduk dengan baik agar martabatnya naik. Kini adalah waktu yang paling mungkin untuk perubahan mendasar. Jangan lagi kita menciptakan sebuah sistem jaminan kesehatan yang ‘asal jadi atau asal ada’ yang mungkin menyenangkan secara politik jangka pendek, tetapi tidak memberi dampak perbaikan martabat bangsa. Jika tidak sekarang, maka sulit mengubah di masa depan.

Mereka yang mementingkan kepentingan sendiri harus mulai mengubah mindset mereka untuk bekerja profesional, baik di BPJS maupun di fasilitas kesehatan, untuk kepentingan rakyat. Perlu disadari semua pihak, khususnya pembayar iuran yaitu pekerja, pemberi kerja dan pemerintah, bahwa para profesional perlu dibayar secara profesional untuk bisa melayani rakyat sesuai perintah UUD45.

menilai program Askes, Jamkesmas, JPK Jamsostek dan PJKMU sebagai program yang dananya sudah memadai. Jika pandangan ini diteruskan, dapat dipastikan kita akan melanggar perintah konstitusi dan tidak akan mungkin kita mewujudkan manusia Indonesia yang bermartabat. Masih banyak pejabat yang menilai bahwa anggaran Jamkesmas yang hanya Rp 6.500 per orang per kapita per bulan dianggap memadai. Mereka tidak melihat dengan mata kepala dan mata hati bahwa peserta Jamkesmas belum dilayani secara bermartabat. Banyak dokter dan tenaga kesehatan lainnya tidak mendapat imbalan yang memadai, karenanya tidak mungkin mereka melayani dengan ikhlas dan bermartabat. Antrian luar biasa panjang. Jelas hal ini bukan cara meningkatkan martabat bangsa yang dikehendaki UUD45. Besaran iuran dan pembayaran ke fasilitas kesehatan untuk Askes PNS, yang kini iuran per kapitanya mencapai sekitar Rp 40.000 per orang per bulan, masih dinilai belum memadai. Banyak RS swasta dan bahkan masih ada RS publik yang belum bersedia menerima pasien Askes PNS karena pembayarannya belum mencapai harga keekonomian. Sebagai pembanding, Pemerintah Muangtai membayari iuran jaminan kesehatan untuk seluruh pekerja bukan penerima upah, tidak hanya yang miskin, mencapai setara Rp 80.000 per kapita per bulan. Kini, dengan penerapan UU SJSN dan UU BPJS, kita mempunyai peluang yang luar biasa bagus untuk melakukan reformasi sistem dengan JamKesNas. Momentum ini harus digunakan semua pihak, agar pembayaran ke tenaga kesehatan dan faskes memadai (harga

Perubahan Mindset Pemanfaatan peluang emas memerlukan perubahan mindset, khususnya di kalangan pegawai BPJS kelak. Banyak pihak skeptis tentang keseriusan Pemerintah dan pegawai BPJS untuk menjalankan tugas membangun identitas nasional ini dengan baik. Pola pikir dan pola tindak masa lalu, sekedar menyenangkan atasan tidak relevan lagi. Kita memasuki era demokrasi yang semakin matang. Fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan berhak mogok kerja jika mereka tidak dibayar dengan memadai. Sebaliknya, banyak fasilitas kesehatan dan tenaga dokter khususnya yang kini biasa memanfaatkan kesempatan untuk memperkaya diri akan bisa dikendalikan dengan JamKesNas. Mereka yang mementingkan kepentingan sendiri harus mulai mengubah mindset mereka untuk bekerja profesional, baik di BPJS maupun di fasilitas kesehatan, untuk kepentingan rakyat. Perlu disadari semua pihak, khususnya pembayar iuran yaitu pekerja, pemberi kerja dan pemerintah, bahwa para profesional perlu dibayar secara profesional untuk bisa melayani rakyat sesuai perintah UUD45. Jika JamKesNas yang dikelola BPJS Kesehatan kelak hanya basabasi, layanan tidak berkualitas karena tenaga kesehatan tidak dibayar memadai, maka rusaklah sistem kesehatan Indonesia. Semua itu, menjadi pekerjaan rumah kita dalam setahun ke depan. Jika dalam setahun kedepan, kita tidak mampu merumuskan Peraturan pemerintah dan Peraturan Presiden yang meyakinkan semua pihak. Pengaturan JamKesNas harus dirancang sebagai kendaraan yang tangguh untuk memenuhi amanat UUD45 dan dicukupi dengan bahan bakar (iuran) yang memadai untuk mencapai tujuan. Jika tidak, kendaraan yang dirancang bagus akan mogok di jalan karena kekurangan bahan bakar. Semua akan menderita. Mari, kerja keras sekarang untuk kenikmatan bersama di masa datang. Tinggalkan ego kelompok, ego sektoral, ego organisasi, ego institusi, dan ego-ego lainnya. Saatnya kita bangkit dari ketidak-adilan dan marasmik-kwosiorkor dari sistem kesehatan kita yang selama 40 tahun under funded. Jika kita berhasil mengubah sistem yang berkeadilan dan dengan dana (bahan bakar) yang cukup, insya Allah Indonesia akan keluar dari jurang bangsa yang hampir gagal.

77

EDISI KHUSUS

JULI 2012

KILAS & PERISTIWA
nasional ke depan, akan mengakibatkan naiknya permintaan (demand) masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan karena kepastian jaminan sudah didapatkan, ” jelas I Gede Subawa. Dokter yang bekerja di tingkat pertama (primer) pelayanan kesehatan, harus menguasai hal-hal terbaru mengenai prediksi, tanda, gejala, penegakan diagnosis dan penatalaksanaan komprehensif mengenai berbagai penyakit. Pencegahan penyakit yang kini menjadi produk lokal harus dipahami oleh setiap dokter yang bekerja di tengah masyarakat (yang heterogen) agar pasien ke depan memperoleh pelayanan kesehatan yang terjangkau, dengan kualitas tinggi serta mencapai kesembuhan. “Dokter praktik umum dan dokter keluarga akan menjadi gatekeeper dimana mereka akan menjadi kontak pertama pasien saat sakit. Ini akan mengurangi angka rujukan ke rumah sakit, karena harapannya pasien akan mendapatkan pengobatan yang efektif dan eisien. Tidak harus melulu ditangani langsung oleh dokter spesialis di rumah sakit jika penyakitnya juga bisa ditangani oleh dokter praktik umum atau dokter keluarga, ” jelasnya. Hadirnya dokter praktik umum dan dokter keluarga di era BPJS nantinya secara otomatis akan meningkatkan kualitas dokter itu sendiri. Saat ini ribuan tenaga dokter tidak terdistribusi dengan baik, hanya mengumpul di satu kota sehingga penghasilan yang mereka dapatkan pun tidak sesuai dengan harapan. Di era BPJS nanti, melalui sistem rujukan dengan peningkatan pelayanan kesehatan primer di Puskesmas, dokter praktik umum dan dokter keluarga akan terjadi penyebaran jumlah dokter hingga pelosok-pelosok daerah. “Ini akan terjadi jika sistem kapitasi berjalan baik. Sistem kapitasi akan meningkatkan kualitas dokter karena dokter akan berusaha membuat pasien mereka sehat dan penghasian dokter akan menjadi layak. Bedanya dengan sistem out of pocket yang kasarnya “menginginkan” pasien sakit agar memperoleh penghasilan yang lebih. Ini sudah tidak benar, oleh karena itu kualitas dokter khususnya dokter praktik umum dan dokter keluarga (baik dari segi peforma dan penghasilan) akan baik di era BPJS mendatang, dengan sistem asuransi sosial, ” jelas pria yang pernah menjadi dokter Puskesmas di pelosok Nusa Tenggara ini. Optimalisasi pelayanan kesehatan di tingkat pertama ini akan mempetaruhkan kompetensi dokter, dimana dokter dituntut keahliannya selain dari segi kuratif, dan yang terpenting adalah bagaimana mendidik peserta dengan upaya promotif dan preventif, disinilah tantangannya. Di sisi lain itu beban Puskesmas akan berkurang sehingga dapat fokus dalam upaya usaha-usaha kesehatan masyarakat yang bersifat massal. Misalnya posyandu, fogging, penyuluhan-penyuluhan kesehatan akan kembali aktif. Selain itu dokter sudah memiliki pasar tersendiri di daerah tersebut dan akan menetap pada akhirnya (distribusi dokter berjalan dengan baik). Mekanisme kerja dokter praktik umum dan dokter keluarga dalam Jaminan Kesehatan Nasional nantinya diharapkan mampu menunjang sistem komunikasi antara sesama PPK, antara PPK dengan peserta serta pihak terkait lainnya memang perlu dipelihara guna menjaga pelayanan PPK tetap bermutu (cost-effective, memuaskan peserta) dan terkendali biayanya. Untuk itu tantangan ini termaktub dalam aturan-aturan yang mengatur tentang berbagai standarisasi baik dari segi kompetensi, pelayananan, tarif, serta distribusi dokter praktik umum dan dokter keluarga di seluruh Indonesia.

Peran Dokter Keluarga

Sangat Besar di Era BPJS
Medan : Indonesia saat ini sedang melakukan persiapan menyongsong diberlakukannya Universal Coverage Jaminan Kesehatan. Mengingat UU No. 40 tahun 2004 dan UU No. 24 tahun 2011 yang mengamanatkan penjaminan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia melalui sistem pembiayaan dengan pengelolaan Badan Jaminan Sosial pada tahun 2014. Sistem kesehatan yang ke depan akan terlaksana dengan hadirnya BPJS Kesehatan tahun 2014 tentu melibatkan seluruh aspek pelayanan kesehatan termasuk diantaranya Dokter Praktik Umum dan Dokter Keluarga. Keduanya harus terus menerus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam bidang pelayanan di tingkat pertama yang saat ini menjadi primadona di seluruh dunia. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan Dokter tingkat pertama ini (Dokter Umum dan Dokter Keluarga) di Indonesia diharapkan terus menerus diasah melalui sistem pendidikan kedokteran berkelanjutan (CMe) agar mencapai kesetaraan dengan negara lain.

78

Menurut Direktur Utama PT Askes (Persero), I Gede Subawa saat menyampaikan materi presentasi dalam acara “Peran Dokter Keluarga dalam Mendukung Universal Coverage di Indonesia” di Medan (16/06) mengungkapkan begitu besar peran dokter praktik umum dan dokter keluarga sebagai pelaku pemberi pelayanan kesehatan primer di era BPJS mendatang. “Dalam implementasi sistem kesehatan nasional, yang akan menganut prinsip managed care, pelayanan kesehatan primer yang saat ini dilakukan di Puskesmas, dokter umum serta dokter keluarga akan menjadi gerbang utama pasien dalam mengakses pelayanan kesehatan. Untuk itu kualitas pelayanan kesehatan primer ini harus kita jaga, mengingat efek dari implementasi Jaminan Kesehatan

INFOASKES

KILAS & PERISTIWA
Nasional harus diimplementasikan, yang ke depan akan mencakup seluruh masyarakat di Indonesia tidak terkecuali masyarakat di pulau-pulau perbatasan seperti di Marore ini. PT Askes (Persero) yang bertransformasi menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), akan bersama-sama Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan, mencarikan jalan terbaik, agar masyarakat di pulau-pulau perbatasan dapat mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik, papar Direktur yang ” pernah menjadi dokter puskesmas di wilayah pelosok Nusa Tenggara ini. I Gede Subawa mengusulkan, alangkah lebih baik jika pemberdayaan tenaga medis lebih dioptimalkan. Misalnya, tutur I Gede Subawa, dengan melatih dokter atau perawat di atas standar yang ada, dibekali dengan keahlian yang lebih, dengan demikian jika pasien di sini sudah bisa ditangani dengan baik tidak perlu dirujuk jauh-jauh ke Manado yang memakan waktu karena minimnya transportasi di sini. Senada dengan I Gede Subawa, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, Maxi Rondonuwo mengungkapkan ke depan Pemerintah Sulut akan merealisasikan Puskesmas Keliling, serta sarana dan prasarana puskesmas yang lebih baik. Terutama ke sekarang, sebagian masyarakat Kepulauan terutama nelayan sudah ter-cover dalam Jamkesda Provinsi. 26 Tahun Mengabdi Perawat Berwin Samalam, terlihat berkaca-kaca kala menceritakan pengalaman hidupnya menjadi xx Kepala Puskesmas Kecamatan xx Kepulauan Marore, selama 26 tahun. Minimnya peralatan medis dan transportasi demi memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat kecamatan Kepulauan Marore, tak melunturkan semangat serta profesionalisme-nya sebagai perawat di pulau yang sangat dekat dengan negara Filipina tersebut. “Membantu persalinan di lautan bukan merupakan barang baru bagi saya. Minimnya transportasi sehingga mengharuskan melakukan tindakan medis di atas perahu menjadi keseharian saya dalam pekerjaan sehari-hari, cerita Berwin. ” Dalam menjalani pekerjaanya sebagai kepala Puskesmas, Berwin dibantu oleh beberapa perawat dan dua orang dokter PTT. Ada 3 pulau besar di wilayah kecamatan Marore, dan terdapat beberapa Pustu, yang secara bergiliran ditempati pegawai Puskesmas Kecamatan kepulauan Marore. Berwin melanjutkan, kisahnya saat membantu pasien kusta yang berjuang ingin sembuh. Berhari-hari berada di kapal menuju Manado untuk mendapat pengobatan yang lebih, mengganti perban ditengah lautan, merupakan pengalaman yang tak berharga bagi dirinya. Selama 26 tahun, pengabdiannya menjaga kesehatan masyarakat di benteng bumi pertiwi adalah kebanggaan bagi dirinya. “Kami akan memberikan penghargaan bagi Perawat Berwin sebagai perawat teladan. Karena pengabdian, keahlian, serta pengalamannya yang sudah A+, ujar Maxi. ”

Optimalisasi
Pelayanan Kesehatan

di Daerah Perbatasan
Marore, Kep. Sangihe : Ketertinggalan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di pulau-pulau terluar yang berbatasan dengan negara tetangga Filipina, mendapat perhatian khusus Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harri Sarundajang bersama Muspida Provinsi Sulawesi Utara, dan jajaran PT Askes (Persero). Dalam lawatan di Pulau Marore, Sabtu (19/5), Gubernur sempat berdialog dengan masyarakat dan aparat pemerintahan di pulau terluar itu. Ketika berdialog, masyarakat di Pulau Marore menyampaikan berbagai permasalahan yang mereka hadapi, di antaranya keterbatasan fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang masih. Menanggapi usulan masyarakat di pulau yang berbatasan dengan negara tetangga Filipina itu, Gubernur berjanji akan memenuhi tuntutan masyarakat di Pulau Marore. "Nantinya masyarakat Marore akan mendapat fasilitas kapal yang dilengkapi peralatan dan tenaga medis. Kapal itu nantinya secara rutin akan melayani masyarakat Marore dan masyarakat di pulau-pulau sekitar," kata Gubernur pertama pilihan rakyat Sulut itu. Sepakat dengan apa yang dikatakan Gubernur terbaik versi majalah GATRA tahun 2011 ini, Direktur Utama PT Askes (Persero) I Gede Subawa mengungkapkan, kelengkapan peralatan dan lebih penting adalah tenaga medis harus diperhatikan, karena wilayah perbatasan ini yang sangat jauh dari pusat kota akan sedikit kesulitan memperoleh fasilitas kesehatan yang baik. “Untuk itu, ke depan permasalahan ini harus kita carikan benar solusinya. Terlebih di tahun 2014, pelaksanaan Jaminan Kesehatan

79

EDISI KHUSUS

JULI 2012

KILAS & PERISTIWA
Rencananya, sinergi dalam upaya sosialisai jaminan kesehatan nasional ini akan dilakukan melalui programprogram seperti, program i-Sehat yang merupakan bagian dari program i-Masjid ICMI, dan yang menjadi sasaran adalah sebanyak 999 rumah ibadah. ICMI juga menyatakan dengan jaringan yang dimiliki, akan melakukan sosialisasi ini bersama PT Askes (Persero) yang mancakup jangkauan lapisan masyarakat dari tertinggi sampai level terendah. Bahkan ICMI juga memiliki jaringan dengan ikatan atau organisasi masyarakat dari agama lain. Dengan demikian, transfer knowladge akan jaminan kesehatan nasional akan semakin cepat dan efektif, sehingga dukungan dari berbagai pihak akan terwujud.

MoU Sinergi Askes - ICMI

dalam Sosialisasi
Jaminan Kesehatan Nasional
Jakarta : PT Askes (Persero) bersama Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) membuat nota kesepahaman (MoU) tentang Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional. MoU ini bertujuan untuk mensosialisasikan Program Jaminan Kesehatan Nasional yang akan diselenggarakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada 1 Januari 2014. Hal ini mengingat PT Askes (Persero) sebagai pengemban amanat tersebut, berkewajiban melakukan sosialisasi sebelum dimulainya program jaminan sosial bidang kesehatan, satu setangah tahun mendatang. "Pada saat ini, secara makro kami terus melakukan upaya sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan PT Askes (Persero) sebagai BPJS di tahun 2014. Untuk itu, kami mengajak ICMI selaku organisasi yang cukup luas jaringannya, bersinergi dalam program-program yang ICMI miliki terutama di bidang kesehatan, untuk dapat mensosialisasikan jaminan kesehatan nasional sebagai entry point," jelas Direktur Utama PT Askes (Persero), I Gede Subawa. Marwah Daud Ibrahim, selaku Presidium ICMI menyambut baik apa yang dilakukan PT Askes (Persero). Menurutnya sosialisasi ini penting karena banyak masyarakat Indonesia yang tidak paham akan jaminan atau asuransi kesehatan terlebih akan manfaatnya. Momentum ini, diharapkan akan menjadi pintu untuk memperolah informasi sebanyak-banyaknya akan manfaat jaminan kesehatan, dalam upaya meningkatkan kesejateraan masyarakat. "Kami memiliki impian, bahwa nantinya masyarakat Indonesia akan merasakan pelayanan kesehatan yang layak. Ini saya rasakan sendiri, ibunda saya adalah peserta Askes, dan sudah merasakan manfaat yang besar menjadi peserta Askes. Pelayanan yang melampaui harapan dari Askes sudah saya rasakan sendiri, dan saya sangat salut dengan apa yang dilakukan PT Askes sejauh ini," ungkap Marwah dalam sambutan.

Manfaat JKN Marwah Daud Ibrahim, mengungkapkan Jaminan Kesehatan Nasional merupakan suatu terobosan yang sangat baik dalam upaya mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ia berharap PT Askes (Persero) ke depan akan terus membuktikan kualitas, peforma dalam upaya memberikan pelayanan yang baik bagi seluruh masyarakat. "Jaminan Kesehatan Nasional adalah perwujudan nilai-nilai kemanusiaan dalam agama Islam pada khususnya. Karena di dalam JKN terdapat unsur-unsur gotong royong, tolong menolong antar sesama manusia, dan yang pasti makna 'sehat' itu sendiri adalah suatu kebutuhan dasar setiap manusia di dalam menjalani kehidupannya," paparnya. Tanpa sehat, tambah Marwah, kita tidak akan bisa beribadah, menuntut ilmu, bekerja dan memperbaiki kualitas hidup. Kesadaran akan hal inilah yang ICMI dukung dan perlu disebarkan kepada seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Senada dengan Marwah, Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Perlindungan Sosial dan Perumahan Rakyat, Adang Setiana mengungkapkan, diharapkan kesadaran masyarakat juga akan terbangun akan manfaat program jaminan sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan. "Kita harus sadar, bahwa dana jaminan sosial yang dimiliki 4 BPJS saat ini hanya sekitar 60 Triliun, padahal jika kita bandingkan dengan Malaysia yang memiliki jumlah penduduk lebih sedikit dari Indonesia sudah memiliki dana jaminan sosial sebanyak 1000 Triliun. Ini harus disadari benar, dimana dukungan dari masyarakat harus secara komprehesif, sehingga peningkatan kesejateraan masyarakat Indonesia bisa terwujud dengan cepat dan merata," jelas Adang. Perlindungan sosial adalah hal warga negara tanpa membedakan status sosial, tambah Adang. Untuk itu, program jaminan sosial harus didukung oleh berbagai pihak termasuk ICMI sehingga apa yang dicitacitakan dari Sistem Jaminan Sosial Nasional akan terwujud. Kita pun harus menyadari bahwa kesejahteraan tidak hanya diukur lewat angka statistik, tidak bisa diwujudkan dengan program-program yang tidak berkelanjutan. "Saya rasa, program yang ada di Askes saat ini sudah mengarah pada hal tersebut. Selain itu saya juga berharap, iuran yang nantinya dibebankan pada peserta (formal) bukan dijadikan sebagai beban, namun jadikanlah sebagai investasi. investasi jangka panjang untuk kesehatan kita," ujar Adang.

80

INFOASKES

KILAS & PERISTIWA

Banyuwangi Jadi Percontohan Nasional Program Puskesmas Berbasis Keluarga
BANYUWANGI – Meskipun perataturan pemerintah terkait pelaksanaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) belum rampung disepakati, namun PT Askes (Persero) sebagai lembaga yang ditunjuk sebagai BPJS Kesehatan sudah melakukan persiapanpersiapan transformasi dan sosialisasi secara makro soal jaminan sosial kesehatan nasional yang akan diembannya pada 2014. Salah satu, langkah aksi yang dilakukan PT Askes adalah membuat proyek percontohan Puskesmas berbasis dokter keluarga di delapan Puskesmas di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Gagasan PT Askes ini disambut baik oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan secara resmi dicanangkan oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, pada 4 Juni 2014. “Ini sebenarnya, kami melakukan penyegaran kembali program rujukan berjenjang yang sudah pernah ada di Kementerian Kesehatan. Tetapi saat ini, baru melayani peserta Askes saja, agar peserta Askes mendapatkan pelayanan prima di tingkat layanan primer, kata Direktur ” Utama PT Askes (Persero) I Gede Subawa, kemarin. Gede mengatakan, pelayanan yang prima di Puskesmas harus terus ditingkatkan. Fungsi Puskesmas sebagai gatekeeper atau pelayanan kesehatan di lini pertama diharapkan dapat mengatasi penyakitpenyakit ringan, sehingga tidak semua jenis penyakit ditangani di rumah sakit, bahkan saat ini banyak rumah sakit seperti “Puskesmas Raksasa” . Upaya yang dilakukan PT Askes untuk meningkatkan pelayanan prima di tingkat pelayanan primer merupakan implementasi dari pasal 24 UU SJSN yang menyebutkan BPJS mengembangkan sistem pelayanan kesehatan, sistem kendali mutu pelayanan, dan sistem pelayanan kesehatan untuk meningkatkan eisien dan efektivitas jaminan kesehatan. Salah satunya adalah dengan mengoptimalkan pelayanan (rujukan) dan rujuk balik. “Jadi, bagaimana usaha kita untuk memenuhi dokter di Puskesmas. Jika nanti sistem jaminan sosial berjalan, penyebaran dokter diharapkan dapat merata, karena pembiayaan kesehatan sudah pasti. Bupati Banyuwangi mempunyai komitmen yang kuat untuk memberikan kepastian rakyatnya mendapat jaminan sosial termasuk jaminan kesehatan, ujarnya. ” Delapan Puskesmas yang sudah mempunyai dua dokter sebagai proyek percontohan Puskesmas berbasis dokter keluarga di Kabupaten Banyuwangi adalah Puskesmas Mojopanggung, Gitik, Singojuruh, Tegaldlimo, Sempu, Sepanjang, Sambirejo, dan Pesanggaran. Sementara itu, Direktur Operasional PT Askes (Persero) Umbu M Marisi mengatakan, pertengahan 2013 idealnya, seluruh Puskesmas sudah ada dokternya. Saat ini, hanya 60 persen saja Puskesmas yang dokternya dua, sebanyak 30 persen Puskesmas mempunyai 1 dokter, dan 30 persen lagi tidak ada dokternya. “Untuk mengantisipasi, kekurangan dokter, bisa saja melatih perawat, atau Kepala Puskesmas tidak selalu harus dokter, tetapi dokter umum di Puskesmas sebaiknya mememberikan pelayanan langsung kepada pasien dan bisa melakukan upaya prevensi, mengajak masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat, ” ujarnya. Sementara itu, Bupati Abdullah Azwar Anas sangat mengapreasi langkah yang dilakukan oleh PT Askes. Menurut Bupati, ini merupakan wujud nyata dukungan PT Askes terhadap Pemkab Banyuwangi dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. “ Kami sangat berterima kasih atas terlaksananya program, sebab ini sejalan dengan ikhtiar Pemkab dalam memutus mata rantai kemiskinan di bidang kesehatan, tutur Bupati. ” Kedepan Bupati berharap program ini bisa dilaksanakan di seluruh Puskesmas yang ada di Kabupaten Banyuwangi.

81

EDISI KHUSUS

JULI 2012

DIVRE
BAHU MEMBAHU MEMBANGUN KOMITMEN
Kepala Divisi Regional I

KOMITMEN

Guna mewujudkan i PT Askes (Persero) spesialis asuransi dan market leader dalam bidang asuransi kesehatan di Indonesia, seluruh Kantor Divisi Regional PT Askes (Persero) harus bersinergi dengan visi dan misi tersebut. Bahkan seluruh Kantor Divisi Regional PT Askes (Persero) (Divre) mengembangkan visi tersebut menjadi suatu janji – komitmen untuk memberikan pelayanan terbaik bagi peserta Askes. Lalu bagaimana Kantor Divisi Regional PT Askes (Persero) mengembangkan pelayanannya? Dalam rubrik Komitmen Divre ini kami mengajak anda, pembaca setia Buletin Info Askes untuk menengok apa yang menjadi janji dan komitmen para Duta perwakilan Askes di 12 Regional dan 94 Kantor Cabang, seluruh Indonesia ini.

Zuchrady

kompetensi baik terhadap diri sendiri dan sumber daya manusia. Untuk itu semua memang perlu komitmen yang tinggi dan kerjasama yang baik di seluruh jajaran PT Askes karena tanpa tim yang solid semuanya akan sulit kita raih, jelasnya. ” Sebagaimana diketahui Divre sendiri, memiliki visi menjadikan Divisi Regional unggul dalam pelaksanaan jaminan sosial kesehatan.caranya, dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi dalam mendukung operasional perusahaan.Misalnya, memmberi motivasi dan komitmen kepada seluruh staf agar selalu berorientasi kepada kepuasan pelanggan, karena tanpa pelanggan PT Askes tidak ada artinya. dan meningkatkan kenyamanan dan kepastian dalam mendapatkan pelayanan administrasi. “Mengoptimalkan prolanis melalui kegiatan pelatihan dokter puskesmas dan dokter keluarga, serta melakukan penjaringan peserta prolanis di puskesmas dan rumah sakit, ujarnya. ” Mengenai rujuk balik dengan menggunakan teknologi SMS Gateway, sudah dilakukan. begitu juga soal penerapan sistem monitoring dan evaluasi berbasis TI di Askes Center, Kantor Cabang, dan Kantor Divre dalam rangka pengendalian mutu dan biaya. “Visi kita sederhana, menjadi pemimpin yang amanah.Dan akan terus meningkatkan “Setiap pekan, ada pertemuan 1 bulan, ” tambahnya, bahas sistem antrean, SMS Gateway, monitoring dan evaluasi, sembari menambahkan, harapan agar proses transformasi Askes menjadi BPJS berjalan dengan lancar dalam segala hal (SDM, Finansial, SIM dan perundang-undangan) dan didukung oleh seluruh stakeholder, sehingga cita-cita untuk mewujudkan pelayanan kesehatan semesta dapat tercapai. Yang urgent, Duta Askes selalu, meningkatkan kinerja dengan integritas tinggi untuk mewujudkan Askes sebagai BPJS Kesehatan. “Cintailah PT Askes dan lakukan setiap pekerjaan dengan ikhlas, sarannya. ”

Kerja Ikhlas
Percepat Kemajuan

Perusahaan
ivre I PT Askes terus berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi peserta.Antara lain dengan pelayanan kesehatan kacamata, perawatan gigi, dan peningkatan kelas untuk pegawai negeri sipil. “Memberikan kepuasan maksimal kepada pelanggan dengan tetap mengedepankan kendali mutu dan kendali biaya. marikita bekerja ikhlas agar cepat maju, kata Kepala Divre I PT Askes ” (Persero), Zuchrady Dengan keikhlasan, semua rintangan akan mudah dilalui tanpa merasa terbebani. Hal lain yang cukup penting adalah menerapkan sistem antrian di seluruh Kantor Cabang dan Askes Center dalam rangka mempersingkat waktu tunggu

D

P
82

emerintah selama ini masih belum optimal dalam mengalokasikan pembiayaan kesehatan sehingga kualitas kesehatan masyarakat, khususnya golongan menengah ke bawah, rendah. Dengan adanya, UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan UU BPJS, diharapkan jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta dan atau anggota keluarganya. “Ini tantangan, kita berusaha untuk menterjemahkan tujuan perusahaan yang telah tertuang dalam Wildly Important Goal (WIG) Corporate. Duta askes pun harus inovatif dan out of box, kata Kepala PT Askes Divre II, Aris ” Jatmiko. Kegiatan operasional sehari-hari, tetap dilaksanakan demi tercapainya kepuasan pelanggan serta kinerja keuangan yang baik. Pada sisi lain, pihaknya melakukan berbagai kesiapan. Apalagi, saat ini banyak Pemerintah Daerah yang telah mempercayakan PT Askes (Persero) Divre II dalam pengelolaan jaminan

Aris Jatmiko
Kepala Divisi Regional II

Duta Askes Harus Inovatif dan “Out of Box”
kesehatan masyarakatnya melalui Program Jamkesda (PJKMU). “Ini tantangan dan ujian buat Divre II, khususnya dalam pengelolaan Jaminan Kesehatan yang terkendali dan transparansi pengelolaan dana, tuturnya. ” Untuk itu, pihaknya terus melakukan penyuluhan kepada peserta dan kemitraan dengan pihak ketiga (PPK, Instansi, Pemerintah Daerah). Hal ini dilakukan agar peserta dan instansi / Pemda lebih memahami ketentuan pelayanan Askes. “Yang rutin, kegiatan promotif / preventif guna mendukung program pemerintah menuju Indonesia Sehat, ujarnya. ” Guna memastikan kinerja keuangan yang sehat, Divre II berupaya meningkatkan pengendalian biaya pelayanan kesehatan, meminimalisir pemanfaatan berlebihan (over utilisasi), pelayanan kesehatan yang tidak sesuai (fraud dan abuse). Kepedulian mengenai hal ini mulai ditumbuhkan kepada seluruh Duta Askes mulai dari Duta

INFOASKES

KOMITMEN DIVRE
Askes yang bertugas menerbitkan kartu maupun Duta Askes yang melayani peserta di Askes Center. Adanya beberapa alat bantu yang dikembangkan di Divre II dalam rangka mendukung kegiatan ini. Upaya lain, untuk mencapai target penerimaan Iuran Wajib baik peserta maupun Pemda dilakukan semaksimal mungkin antara lain pendekatan formal dan informal, pemberian hibah alat kesehatan serta kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR). Maka, motto “Melayani Pelanggan Melampaui Harapan “ sangat tepat, mengingat PT Askes yang telah melayani peserta selama 44 tahun dengan beberapa transformasi yang dilakukan, mulai dirasakan keberadaannya oleh masyarakat. “Saya rasa motto ini sesuai dengan visi dan misi setiap pribadi Duta Askes, berusaha memberikan yang terbaik kepada setiap orang. Hal ini sesuai dengan ajaran setiap agama, selalu melayani setiap orang dengan pelayanan yang terbaik, bahkan lebih, tambah Aris. ” Tekadnya, menjadi barometer pelayanan PT Askes (Persero)dengan memberikan jaminan pelayanan kesehatan kepada peserta dengan prinsip pengendalian biaya. Meningkatkan ” kemitraan dengan seluruh stakeholder dalam rangka pengelolaan jaminan kesehatan masyarakat.Begitu juga soal SDM. Karena dalam meningkatkan Pelayanan Prima menjadi Unggulan yang dilihat dari SDM, SIM, dan Askes Manajemen Sistem, jelasnya. Langkah ” yang ditempuh diantaranya, peningkatan kompetensi Duta Askes dalam Customer Service, optimalkan Knowledge Management. Selain itu, optimalkan sistem yang telah ada saat ini dengan beberapa inovasi untuk memudahkan operasional di lapangan, misalnya pengembangan Aplikasi Program Rujuk Balik, Aplikasi Monster (Askes Sosial dan PJKMU) untuk melakukan kajian Utilization Review (UR), Aplikasi Audit Tracking System yang digunakan meminimalisasi adanya over utilisasi dan fraud. Ke depan, PT Askes (Persero) yang sudah berusia 44 tahun, lebih mapan melaksanakan kepercayaan yang telah diberikan oleh seluruh rakyat Indonesia, dengan memberikan pelayanan lebih baik lagi dibandingkan saat ini. Pertambahan jumlah kepesertaan dengan berbagai latar belakang pada tahun 2014 nantinya harus dapat diantisipasi dengan menyiapkan kemampuan Sumber Daya Manusia serta dukungan teknologi. Duta Askes pun, diharapkan terus mengembangkan kemampuan dan kompetensi agar dapat mewujudkan visi / misi perusahaan serta mampu melaksanakan penugasan sebagai BPJS Kesehatan. “Terus kembangkan ide, membuat inovasi dan berpikir “out of box” terkait pelayanan kesehatan termasuk didalamnya tentang pengendalian biaya” tegasnya. Karena, tantangan kedepan jauh lebih banyak dan kompleks karena , “Kepuasan Pelanggan” adalah saingan PT Askes (Persero).

Erna Wijaya Kesuma
Kepala Divisi Regional III

Secara pribadi, visinya mengupayakan PT Askes Divre III menjadi ‘learning organization’ yang menghasilkan SDM yang unggul. erna memastikan ‘in house training’ / knowledge management dilaksanakan di seluruh Kantor Cabang secara rutin untuk mengembangkan kemampuan SDM. “Dengan demikian, dapat membangun koordinasi internal yang kondusif dan kemitraan eksternal yang erat agar pengelolaan JPK lancar, efektif dan eisien, ujarnya. ” Untuk mencapai kantor regional berkinerja unggul, maka perlu pemenuhan kompetensi SDM sesuai budaya perusahaan untuk menciptakan SDM unggul. SDM di masing-masing unit kerja harus mampu mempersentasikan program dan mamubat “Pojok Prolanis” di rumah sakit besar. Optimalisasi pelaksanaan sistem informasi manajemen (SIM) Asterix di seluruh KC dan PPK juga dilekuakan untuk mendukung proses bisnis excellence.SIM juga dimanfaatkan untuk monitoring pelaksanaan secara rutin. Ada juga inovasi “smileaskes.com” untuk memudahkan akses informasi data kantor cabang.

Setiap Insan Askes Jadi “Role Model”
ecara kelembagaan, Divisi Regional III berupaya meningkatkan kemampuan pengelolaan jaminan pemeliharaan kesehatan yang efektif dan eisien melalui peningkatan kompetensi pegawai dan peran kemitraan seluruh pelaku Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK). Oleh karena itu, para Duta Askes secara rutin dan berkesinambungan melakukan knowledge management dan in house training. Selain itu, menjalin kerjasama dengan Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan Dinas Kesehatan untuk

S

meningkatkan pemahaman dan kompetensi pemberi pelayanan kesehatan (PPK) tingkat I. “Semoga seluruh sistem dan insan Askes siap menjadi ‘role model’ dari setiap sisi pengelolaan Program JPK dalam menyambut era BPJS kesehatan, kata erna. ” Pesan yang disampaikan kepada para Duta Askes adalah disiplin mempimpin diri sendiri, ikhlas dan cintailah pekerjaan karena bekerja adalah ibadah, sederhanakan masalah dan sajikan solusinya dalam bekerja, serta terus memilihara, menjaga, dan meningkatkan integritas.

M. Ikhsan
Kepala Divisi Regional IV

83

Duta Askes Terbiasa Hadapi Perubahan

eluruh Duta Askes sudah terbiasa menghadapi perubahan dari waktu ke waktu. Oleh karenanya, Kepala PT Askes Divisi Regional IV M. Ikhsan sangat optimis seluruh Duta Askes siap melakukan perubahan di masa transformasi dari PT Askes (Persero) menjadi Badan

S

EDISI KHUSUS

JULI 2012

KOMITMEN DIVRE
Penyelenggara jaminan Sosial (BPJS) dan siap lepas landas di tahun 2014 melaksanakan amanah BPJS. “Kita harus sungguh-sungguh dalam bekerja dan harus bertanggungjawab supaya 1 Januari 2014 BPJS bisa dilaksanakan dengan sempurna. Mari kita serius dalam bekerja, ” kata Ikhsan. Khusus bagi Duta Askes di Regional IV diminta untuk memberikan pelayanan kepada stakeholder dan dapat meningkatkan kemampuan untuk menjadi yang terbaik dan unggul, dapat menjadi the real show window PT Askes (Persero) serta memperkuat kepercayaan rakyat Indonesia kepada Askes sebagai BPJS Kesehatan. Terobosan yang dilakukan Divre IV, dari aspek kepesertaan, melakukan penerbitan kartu peserta ber-barcode dan mendistribusikannya kepada peserta tepat waktu dan tepat sasaran. Duta Askes di Divre IV juga menggelar Askes Day untuk menjaring Obat Rujuk Balik (ORB) di beberapa Puskesmas dan Askes Corner, Pada kegiatan itu, ada pencetakan kartu baru, sekaligus mengupdate master ile pusat dan membeikan informasi kepada peserta terkait dengan penggunaan kartu tersebut. Untuk meningkatkan pelayanan, terus menamah jaringan rumah sakit dan meningkatkan pelayanan di Askes Center dan Pojok Prolanis. Sedangkan dalam meningkatkan kemampuan SDM diselenggarakan pelatihanpelatihan. Divre IV juga mengembangkan sistem informasi manajemen (SIM) secara online antara Puskesmas, dokter keluarga, rumah sakit, apotek, kantor cabang, dengan Divisi Regional IV. Dalam melayani pelanggan Divre IV mencatat kepuasan pelanggan (CSI) 88,13 sehingga Divre IV menjadi terbaik dan unggul dalam pelayanan kepada seluruh stakeholder secara optimal.

omitmen membangun perusahaan menjadi pusat asuransi sosial sudah sejak lama terpatri pada diri Duta Askes. Oleh karenanya, bagi dirinya dan Duta Askes di Divisi Regional V, budaya kerja untuk memberikan yang terbaik bagi peserta dan seluruh stakeholder merupakan kewajiban sekaligus amanah. Kepercayaan menerima amanah BPJS harus dibuktikan dengan kemampuan berkinerja yang tetap terbaik. Di usia 44 tahun, seluruh Duta Askes, khususnya di Divre V, agar tetap semangat dan bersiap-siap menjalankan amanah penugasan PT Askes (Persero) sebagai BPJS Kesehatan. Duta Askes Divre V berkomitmen mewujudkan kinerja perusahaan secara optimal sesuai WIG (wildly important goals) perusahaan yang telah ditetapkan. Terobosan yang dilakukan antara lain, menggalakkan program rujuk dan rujuk balik melalui optimalisasi pelayanan di puskesmas sehingga kepercayaan masyarakat kepada puskesmas bisa lebih baik lagi. Selain itu, mensinergikan SIM Askes dengan rumah sakit melalui bridging system, Upaya

K

Mohammad Yani
Kepala Divisi Regional V

Kontribusi Maksimal

Duta Askes adalah Ibadah
meningkatkan kompetensi pegawai melalui pelaksanaan knowledge management dan kegiatan kemitraan juga harus seiring dengan program lainnya. Begitu juga, optimalisasi tinggi Askes Center. Juga perlu meningkatkan intensitas monitoring dan evaluasi pencapaian kinerja secara terjadwal dengan dukungan SIM melalui piloting program electronic contract management, referal system dan enterprise risk management. “Sebagai Kepala Divre, saya harus berkontribusi maksimal kepada perusahaan, karena ini sebagai bagian dari ibadah kami, sangat sejalan dengan moto perusahaan dalam Melayani Pelanggan Melampaui Harapan.

Sri Endang Tidarwati
Kepala Divisi Regional VI

84

Jaga Amanah, Semua Menyoroti

V

Duta Askes
INFOASKES

isi Divisi Regional (Divre) VI adalah mampu menyiapkan kader sumber daya manusia (SDM) yang handal dan mampu mengembangkan kinerja perusahaan. Dan mempunyai visi menjadikan Duta Askes sebagai aset perusahaan yang mempunyai kompetensi dan perilaku kerja untuk wujudkan visi-misi perusahaan. Langkah ini menurut Kepala Divre VI Sri endang Tidarwati sangat penting dalam

KOMITMEN DIVRE
menyongsong BPJS. Sebagai Kepala Divre VI komitmennya, akan memberikan prioritas untuk peningkatan kepercayaan masyarakat, pemerintah kabupaten/kota/provinsi melalui program pelayanan kepada peserta dan provider yang diharapkan mampu meningkan citra PT Askes di wilayah provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Jogjakarta. Beberapa program yang dilakukan di Divre VI adalah yang dapat dilihat secara nyata oleh peserta maupun masyarakat. Selain itu, dapat dirasakan manfaatnya sekaligus juga dapat meningkatkan kinerja secara keseluruhan, baik di kabupaten/kota, di wilayah Kantor Cabang maupun keseluruhan divre. Dengan penduduk usia lanjut yang tinggi, 35 persen peserta adalah pensiunan maka Prolanis menjadi pilihan program. Secara pribadi sebagai Kepala Divisi Regional VI, dirinya ingin menjadi General Manager yang mampu membawa PT Askes di Jawa Tengah dan DIY sebagai lembaga yang diakui oleh share holder. Dengan misi berkontribusi maksimal untuk mencapai cita-cita jaminan kesehatan semesta. “Saya juga ingin memberi kesempatan untuk memperoleh pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi guna menambah wawasan, kompetensi dan intelektual Duta Askes, ” kata endangSoal sistem informasi, Divre VI telelah menata SIM di setiap titik pelayanan, di askes center, askes kabupaten, kantor cabang maupun Divre sendiri. Selain itu, mengembangan hasil ujicoba aplikasi SIM ke titik pelayanan yang lain: sms gateway, sistem antrean, survey kepuasan pelanggan, aplikasi dokter keluarga. Di usia 44 tahun PT Askes (Persero), menurutnya seluruh Duta Askes dituntut lebih arif bijaksana agar PT Askes tetap diakui, dibanggakan dan didambakan. “Dengan telah ditetapkannya PT Askes sebagai BPJS, semua pihak selalu menyoroti perilaku baik sebagai individu maupun korporat. Jaga amanah dengan menerapkan budaya perusahaan semaksimal mungkin, ujarnya. ”

D

alam mengarungi hidup, tak lepas adanya pasang surutnya semangat yang menyertai. Termasuk rutinitas kehidupan dalam lingkungan pekerjaan. Pernahkah tiba-tiba anda kehilangan semangat? Kalau tiba-tiba anda mengalaminya, jangan biarkan berlarut-larut. Karena selama anda membiarkan diri dalam keadaan tak bersemangat, maka anda telah kehilangan banyak kesempatan berharga dalam hidup anda. Penelitian membuktikan bahwa semangat seseorang yang mengendor seketika dapat bangkit kembali saat mengingat keberhasilan yang pernah dialaminya. Karena dengan mengingat saat-saat yang menyenangkan seperti mengingat semangat kerja maupun motivasi karyawan. Dilandasi persoalan itu, Kepala PT Askes Divis Regional VII Mohammad edison dalam menyongsong era BPJS menerapkan komitmen dan disiplin yang tinggi dalam melaksanakan kegiatan, baik berorientasi pelanggan, menjalin kemitraan dengan pemangku kepentingan, membangun tim kerja yg kompak dan solid. Selain itu, saling mengisi dan berbagi tugas sehingga seluruh kegiatan korporat yg berorintasi ke pelanggan dapat berjalan dengan efektif. Sedangkan inovasi lain yang dilakukan, Regional VII terus berbenah dan melakukan inovasi untuk mencapai kepuasan pelanggan. Misalnya, inovasi untuk mendukung CSI dan pembuatan kartu askes secara Drive Thru. Pelayanan satu atap/one stop service, yang senantiasa menempatkan dokter keluarga, dokter gigi, apotek dan laboratorium, sudah lama diwujudkan. Bahkan, dalam program dokterku, diberi nama sesuai dengan nama lokasi atau jalan yang memudahkan peserta dalam engaksesnya. Layanan khusus Lansia ” dan penyandang cacat, saat ini sedang dikembangkan di PT Askes (Persero) Cabang Utama Surabaya, tutur edison. Tidak ” ketinggalan, sistem antrian terpadu di rumah sakit berbasis SMS, diakui secara signiikan

Mohammad Edison
Kepala Divisi Regional VII

Sistem SMS Drive VII Turunkan Waktu Tunggu

Secara Signiikan
telah membantu menurunkan waktu tunggu peserta Askes yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan. Langkah ini sebagai upaya membantu pasien Askes terutama dari luar daerah yang datang jauh sebelum askes center dibuka. karena nomor antrean maupun nomor antrean sms, tidak dibedakan. Askes payment info yang ” memberikan informasi pembayaran klaim ke PPK atau peserta melalui SMS. Ini untuk mempermudah dan mempercepat pelayanan, ” tambah edison. Untuk pelayanan kesehatan di rumah sakit, lanjutnya, secara keseluruhan dari 93 Rumah Sakit yang telah bekerjasama, telah memberikan layanan yang baik kepada peserta askes, 91 RS tanpa iur biaya termasuk 2 RS type A (RSUD Dr. Soetomo dan RSUD Dr. Syaiful Anwar). “PT Askes (Persero) Regional VII membuat tools bantu untuk veriikasi yang tujuannya adalah mempercepat proses veriikasi secara cepat dan akurat, tegasnya. ” Sehingga harapannya, tagihan-tagihan dari PPK yang tidak sesuai dapat di kurangi secara signiikan serta dapat mengurangi beban kerja veriikator. Diharapkan dapat menurunkan tingkat kesalahan dalam melakukan veriikasi. Klarinet ini hanya sebagai alat bantu proses veriikasi sehingga tidak mengintervensi aplikasi maupun database.

“Saya punya obsesi, menjadikan Divisi Regional VII sebagai Divisi Regional terbaik dalam performance dan layanan kepada pelanggan, ujar edison. ” Secara khusus, Divisi Regional VII memiliki visi maupun misi, membantu Pemerintah Daerah dalam mewujudkan Jawa Timur Sehat dan konsultan menuju asuransi kesehatan semesta di Jawa Timur. Soal SDM senantiasa ” ditingkatkan, coaching dan conseling sudah rutin, knowledge manajement digalakkan, “ paparnya. Selanjutnya, dijelaskan tentang aplikasi semua keluhan & kegiatan dicatat secara teratur dan bisa dijadikan sebagai library dari solusi berbagai masalah yang ada. “Sistemantrean itu, tidak hanya memberikan kepastian peserta tetapi meningkatkan kepuasan peserta. tahun ini, akan dilakukan penambahan pemasangan antrian di 12 rumah sakit, “ tambahnya. Terkait dengan HUT ke-44 PT Askes, harapannya, kepercayaan dan pengakuan yang terus bertumbuh. “Duta, Askes, mari kita terus memberikan layanan terbaik buat pelanggan, terus meng upgrade kompetensi diri masing masing duta askes, memberikan karya terbaik dengan kerjasama tim yg kompak sehingga pelanggan semakin loyal dan perusahan terus berjaya.

85

EDISI KHUSUS

JULI 2012

KOMITMEN DIVRE

Sri Ponco Handayani
Kepala Divisi Regional VIII

Ingin Unggul
dalam Kejujuran

dan Kepatuhan

D

engan mengedepankan program – program inovatif serta peningkatan pelayanan kesehatan, indeks kepuasan peserta, berada di atas 85 persen. Semua ini, berkat kinerja Divre PT Askes. Peningkatan layanan PT Askes (Persero) tidak hanya dilakukan di lini provider kesehatan (apotik, klinik, rumah sakit swasta/pemerintah, optik) namun juga dilakukan dengan menambahkan daftar obat-obat yang ditanggung oleh PT Askes

(Persero). Hal ini telah dirumuskan pada pertemuan Nasional Pertimbangan Medik yang menentukan Daftar Plafon Harga Obat (DPHO).Kinerjnaya, semua sudah jelas sebagaimana apa yang tercantum pada visi dan misi perusahaan sebagai “inishing target” . Dengan menampilkan visi “ he Best Region With Integrity And Comply” Divre VIII bertekad , pula menjadi regional yang unggul dalam kejujuran dan kepatuhan terhadap peraturan. Selain memberikan laporan dan informasi

yang cepat, tepat dan akurat, juga bebas dari temuan Audit internal dan eksternal. Menyinggung soal realisasi BPJS Kesehatan pada 1 Januari 2014 merupakan perjalanan lanjutan yang harus tetap yang menjadi komitmen semua karyawan untuk memberikan prestasi terbaik. salah ” satunya melakukan “Social Marketing Masive” dengan memanfaatkan seluruh program dan kegiatan, jelas Kepala Divre ” VIII, Sri Ponco Handayani. Upaya mengarah kepada pencapaian target sudah dilakukan sosialisasi seluruh informasi yang terkait transformasi BPJS agar dapat dipahami secara utuh oleh seluruh pegawai Askes. Melaksanakan Transfer Knowledge secara berkesinambungan. Melakukan Delivery Order untuk pelayanan obat PRB bagi peserta Askes. “Mengembangkan aplikasi MONALISA Divre VIII, jelasnya. ” Berkaitan dengan HUT ke 44 PT Askes , berharap semakin dewasa dan matang sehingga dengan bijak dapat memuaskan dan membahagiakan seluruh stakeholder baik eksternal maupun internal. Pelaut “ Ulung tidak dilahirkan dari laut yang tenang dan tanpa gelombang, namun dari Badai yang menerpanya sehingga tantangan mengelola BPJS Kesehatan untuk seluruh Rakyat Indonesia bukan sesuatu yang mustahil namun sesuatu yang nyata dengan menyatukan seluruh potensi, pesannya. ”

Wahyu Handoko
Kepala Divisi Regional IX

Jangan Khawatirkan

Perubahan
erapan UU BPJS tak perlu disikapi dengan kekhawatiran yang berlebihan. Walaupun dalam pelaksanaannya memang ada beberapa perubahan. Sedangkan perubahan itu sendiri sering membawa kekhawatiran, tetapi perlu diingat bahwa tanpa perubahan tidak akan pernah tercapai kejayaan. Good governance sangat diharapkan agar penyelenggara SJSN dapat mengelola dana masyarakat secara transparan, objektif, tepat sasaran dan adil. Itulah tekad Divre IX PT Askes untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui jaminan kesehatan. Upaya lainnya, berupa tercapainya WIG Korporat . Langkah yang tidak kalah penting yaitu, pemetaan jaminan kesehatan yang dimiliki oleh masyarakat dalam wilayah kerja DIVRe IX yang meliputi Propinsi : Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Ambon.

Mengenai soal pelayanan, pihaknya sudah menerapkan pelayanan prima kepada para pemangku kepentingan (stakeholders) selain meningkatkan kompetensi melalui pembelajaran berkelanjutan. “Ini bukan muluk-muluk, kita bekerjasama dan sinergi dengan semua Duta Askes Divre IX untuk mewujudkan Divre unggulan, tegasnya. ” Untuk itu, pihaknya senantiasa mengupayakan tercapainya target yang ditugaskan dan dipercayakan oleh manajemen. Oh itu rutin, ” pembekalan dan pengkayaan pengetahuan dan ketrampilan duta Askes melalui coaching dan conseling serta transfer of knowledge, ujarnya. ” Pemetaan itu meliputi, fasilitas kesehatan, pemetaan, pembinaan dan pengembangan kompetensi SDM. Pemetaan dan mengusulkan kebutuhan SDS. “Membangun, memperluas dan meningkatkan hubungan kemitraan dengan pihak terkait, juga kita lakukan, kata Kepala Divre IX PT Askes ” (Persero), Wahyu Handoko. Guna merangsang peningkatan kerja, pihaknya, memberikan apresiasi kepada Kantor Cabang PT Askes, berkinerja terbaik per triwulan. Begitu juga kepada Puskesmas, diberikan apresiasi . Kita akan bentuk, Forum “Pilar – ” Pilar BPJS Kesehatan” yang melibatkan unsur pemerintah daerah, media, organisasi profesi kesehatan dan civitas akademika, jelasnya. ” Berbagai kunjungan ke Puskesmas maupun sosialisasi sudah berlangsung secara periodik dengan tujuan untuk rasionalisasi rujukan, peningkatan cakupan program pengelolaan penyakit kronis, pemberian informasi langsung, penyuluhan dan penyelesaian permasalahan di Puskesmas. Bukan hanya itu, kunjungan ke peserta yang di rawat di Rumah Sakit.Di setiap waktu dilaksanakan monitoring dan evaluasi. “Bravo PT Askes. Ulang tahun ke-44 PT Askes, bisa dijadikan momentum oleh segenap duta untuk membangun dan meningkatkan kemitraan dengan semua komponen agar tercipta dukungan, kerjasama dan sinergi untuk terwujudnya Jaminan Kesehatan Nasional bagi seluruh Masyarakat Indonesia, ungkap Wahyu. ”

P

86

INFOASKES

KOMITMEN DIVRE

Budi M Arief
Kepala Divre X

Meningkatkan “Trust” Mendorong Terwujudnya

soal info Kacamata, info PPK terdaftar, info peserta dan info obat DPHO. “Kita bertekad membawa Kantor Divre X menjadi Divre yang berkontribusi bermakna terhadap tercapainya WIG perusahaan. Tingkat kepuasan peserta yang tinggi dan biaya pelayanan kesehatan terkendal. Pihaknya juga menyediakan portal khusus selain penggunaan “Dropbox” sebagai tempat penyimpanan aplikasi SIM Asterix, tabel referensi serta software yang membantu operasional SIM di kantor Cabang dengan monitoring dan evaluasi secara sistematis disetiap level unit kerja. Terkait dengan HUT ke44 PT Askes, diharapakan semakin memahami memahami kebutuhan pelanggannya, sehingga volume pekerjaan yang besar tidak akan menjadi hambatan dalam pemenuhan kepuasan peserta. “Seluruh Duta Askes kiranya harus memiliki kepercayaan diri yang kuat dalam mengemban tugas mendatang. Meyakini bahwa tugas ini hanya mampu diselesaikan oleh kita, yang telah menjadi spesialis, tegas Budi. ” Duta Askes senantiasa meningkatkan kompetensinya agar menjadi insan professional, serta memiliki komitmen tinggi dalam mengabdi , tidak saja mengabdi kepada perusahaan namun juga meningkatkan level pengabdiannya kepada bangsa dan Negara , oleh karena kemanfaatan BPJS harus dirasakan oleh setiap masyarakat Indonesia.

Perusahaan yang Sehat
esungguhan, kerja keras disertai fokus kepada pelayanan, Askes akan memuaskan semua peserta Askes. Karena sejauh ini, kata Gede, PT Askes tetap mendapatkan kepercayaan publik maupun stakeholders lain. Kepercayaan itu bisa dipertahankan dan ditingkatkan karena pengelolaan dana peserta dan premi bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan, semua sumber daya manusia (SDM) di wilayah Divre X terus mengikuti pelatihan, organisasi dibenahi dan teknologi informasi ditingkatkan.

K

Dengan trust yang dimiliki, upaya meningkatkan level kepuasan pelanggan, cepat terwujud. kalau sudah seperti ini,maka bakal tercipta perusahaan yang sehat melalui prinsip pengendalian biaya kesehatan secara prudent dan sesuai indikasi medis. langkah ini bersamaan dengan collecting premi iuran wajib. “Kontinyu, proses edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat umum dan pihak pihak terkait tentang BPJS dan program SJSN berjalan dengan baik, ujar Kepala Divre ” X, Budi M Arief. Program lain yang perlu peningkatan adalah penyempurnaan sms gateway untuk memberikan informasi kepada peserta, baik

Yaddy Mulyadi
Kepala Divisi Regional XI

Divre XI Terus

Menekan Rasio Rujukan

P

roses pelaksanaan rujukan di sejumlah Puskesmas, sudah berjalan sesuai prosedur yang ada, namun dalam pelaksanaanya masih ada pemberian rujukan kepada pasien tanpa indikasi medis atau tanpa melalui proses yang seharusnya. Berdasarkan penelitian, yang dilakukan sejumlah pemerhati kesehatan, pelayanan kesehatan oleh peserta atau claim ratio kepesertaan wajib PT Askes pada beberapa tahun terakhir ini, memang masih relatif banyak. Oleh karena itu, PT Askes Divre XI , mengupayakan pengendalian pelayanan dan pengendalian biaya oleh Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK), terutama dalam upaya menekan rasio rujukan rawat jalan tingkat pertama yang dilakukan oleh dokter primer di Puskesmas. Langkahnya, menurunkan

Ratio Rujukan melalui intesiikasi program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis). Misalnya, penetapan PPK Sasaran Kegiatan Prolanis berdasarkan data base pelayanan kesehatan tingkat lanjutan (RJTL/ RITL).Penjaringan peserta prolanis dan mapping penyebaran peserta dan status kesehatan peserta prolanis. Monitoring ” secara kontinyu, selain petugas askes di Puskesmas sasaran untuk memastikan pelayanan prima sesuai dengan kebutuhan medis, termasuk, pelayanan informasi dan pengendalian rujukan di puskesmas sasaran, kata kepala PT Askes Divre XI ” Yaddy Mulyadi. Program Peserta Binaan, pemantauan peserta prolanis secara langsung oleh Duta Askes maupun Program Home Visite

Prolanis, serta Program Home Care Prolanis, senantiasa dioptimalkan. “PPDS Goes to Puskesmas, kerjasama antara PT Askes – Fakultas Kedokteran Udayana – RS Sanglah dan Dinas kesehatan dalam suatu MOU untuk pengelolaan pasien diabetes melitus secara proaktif melibatkan mahasiswa program PPDS, tutur Yaddy. ” Komitmen lainnya, memastikan visi perusahaan dapat diyakini, tertanam dalam setiap duta askes dan membangun komitmen seluruh Duta Askes Divisi Regional XI untuk menjadikan visi perusahaan sebagai acuan dalam bekerja dan mewujudkannya. “Kepastian jaminan pemeliharaan kesehatan kepada peserta melalui sistem pengelolaan yang efektif dan eisien serta pengembangan pegawai mencapai kinerja optimal merupakan komitmen selanjutnya, tegasnya. ”

87

EDISI KHUSUS

JULI 2012

KOMITMEN DIVRE
Mengenai terciptanya koordinasi dan kemitraan yang erat dengan seluruh stakeholder untuk bersama menciptakan pelayanan kesehatan yang berkualitas, selalu dilaksanakan. “Dukungan fasilitas pun, diupayakan terwujud, misalnya, Decision Support System . Tapi evaluasi rujukan maupun Prolanis, termasuk rekonsiliasi data kepesertaan dan penduduk untuk identiikasi awal masyarakat yang belum terjamin pemeliharaan kesehatan, tak pernah henti dilakukan, jelas Yaddy. ” Sesuai dengan visi maupun misi Divre XI, pihaknya, selalu memberikan kepastian jaminan pemeliharaan kesehatan yang menyeluruh secara pro aktif dengan prioritas kepada pelayanan promotif, preventif dan rehabilitatif untuk meningkatkan derajat kesehatan peserta. “efektiitas, sistem pengelolaan jaminan pemeliharaan kesehatan, juga dilakukan. Mengembangkan sumber daya manusia yang profesional dalam penyelenggaraan jaminan pemeliharaan kesehatan berbasis managed care, ” tambahnya. Pihaknya pun berupaya untuk menjadi Pusat Unggulan Asuransi Kesehatan di Propinsi Bali, NTB dan NTT. “Inovasi yang berkelanjutan untuk meningkatkan kepuasan peserta, kualitas pelayanan dan eisiensi biaya pengelolaan JPK.Selain itu, membangun kemitraan yang profesional dengan seluruh stake holder dalam penyelenggaraan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan, kataya.. ” Untuk meningkatkan pelayanan prima kepada peserta, langkah yang dilakukan diantaranya, penetapan PPK Sasaran Prolanis, peserta sasaran Prolanis, Program Askes Personal Care di PPK TK I dan RS, Askes Corner, dan sejumlah kegiatan lainnya. Tidak ketinggalan, mempersiapkan dan menyempurnakan seluruh sistem operasional sehingga PT Askes (Persero) akan lebih siap dalam mengemban tugas sebagai BPJS. Kita sambut kepercayaan pemerintah ” dan masyarakat kepada PT Askes (Persero) sebagai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial I dengan meningkatkan kinerja duta askes sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing dengan senantiasa mengimplementasikan budaya perusahaan dalam bekerja sehari-hari, tuturnya. ”

Benyamin Saut
Kepala Divisi Regional XII

Divre XII Ingin Raih

CSI Corporate 88,13
idak dipungkiri, hingga kini, risiko penyakit kronis yang degeneratif masih mengalami peningkatan di wilayah PT Askes Divre XII. Jangkauan pelayanan dan minimnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya menggunakan Askes, masih mewarnai masyarakat di wilayah ini. Maka, komitmen Kepala PT Askes Divisi Regional XII Benyamin Saut yang hendak meraih kinerja optimal, layak mendapatkan apresiasi. Melalui pencapaian 3 (tiga) sasaran utama Divisi Regional XII, tingkat kinerja perusahaan semakin sehat. Misalnya, merealisasikan biaya pelayanan kesehatan sebesar Rp 50.306.489.950 dari RKA yang ditetapkan sebesar Rp 54.386.757 .000 pada tahun 2012.

T

Tidak kalah menariknya, Divre XII, terus melakukan sosialisasi baik soal transformasi PT Askes menjadi BPJS, dalam setiap pertemuan resmi. Untuk memudahkan Dokter dan paramedis untuk mengetahui obat-obat DPHO terkini, pihaknya menerbitkan kalender DPHO. Begitu juga soal Program Pelayanan Rujuk Balik yang memberikan dampak optimal untuk peningkatan kualitas pelayanan sekaligus eisiensi biaya pelayanan kesehatan, tak pernah kendor dalam intensiikasi. Selain itu, buku pedoman standar operasional pelayanan prima, sudah diterbitkan. isinya, tidak hanya terbatas pada kualitas layanan dasar seperti kecepatan dan ketepatan, tetapi juga meningkatkan kenyamanan, baik dari segi fasilitas maupun sikap dan perilaku fronliner, satpam dan seluruh Duta Askes. "Kita juga lakukan inovasi aplikasi Utilization Review Kasumasa dan aplikasi eLFIS," tutur Benyamin. Mengenai visi maupoun misi Divre XII, menjadi pusat unggulan operasional layanan prima, dengan mengembangkan Program Fokus Pelanggan Dan Pengendalian Biaya Melalui Intensiikasi PRB, PPDM Dan PPHT Pada Dokter Keluarga & Puskesmas. Meraih kepercayaan Pemerintah Daerah (provinsi, kabupaten, kota Se-Provinsi Papua

& Papua Barat) dalam penyelenggaraan program jaminan kesehatan masyarakat umum, sudah menjadi tekad serius.Semua itu bisa diraih dengan tetap konsisten, disiplin dan komitmen untuk terus meningkatkan kompetensi individu baik yang bersumber dari program internal maupun maupun best practise dari sumber lain (seperti: ISSA, Joint Learning Network, Self Learning). Dibalik segudang kinerja optimal, Divre XII memiliki sejumlah harapan atas HUT ke-44 PT Askes. Diantaranya, konsistensi integritas, kerja sama dengan mengembangkan inovasi seluruh Duta Askes. Budaya khusus Kasumasa Leader (Duta Askes Divisi Regional XII) yang selalu antusias untuk selalu belajar, berbagi, mengajarkan dan melaksanakan setiap bagian dari proses bisnis yang dikerjakan, untuk terus menggali dan mendapatkan inovasi terbaru. "Kantor Pusat dapat mengakomodasi pemenuhan kebutuhan SDM dan SDS pada wilayah kerja Divisi Regional XII, terutama untuk beroperasinya KC Merauke dan KC Manokwari serta kebutuhan 28 SDM untuk KC Jayapura, KC Sorong dan KC Biak serta Kabupaten pemekaran yang telah memiliki Rumah Sakit," pintanya. Harapan lainnya, adalah semakin terjalin sinergi tim secara terpadu antara Kantor Pusat, Kantor Divisi Regional untuk mendukung optimalnya pencapaian sasaran utama perusahaan.

88

Kedua, ingin mencapai CSI Corporate 88,13. Caranya, intensiikasi pembinaan bagi pemberi pelayanan pelayanan tingkat I (Puskesmas dan Dokter Keluarga). Adapun bentuknya, berupa, Focus Group Discussion, Pertemuan evaluasi, Supervisi, Pelatihan Prolanis bagi Dokter Keluarga dan Dokter Puskesmas, Seminar Ilmiah Kedokteran, Dewan Pertimbangan Medis. "Intensiikasi operasional layanan prima, dan mencapai CCI Corporate = 89,64, melalui intensiikasi Knowledge Management enabler," jelasnya.

INFOASKES

DUT ASKES A

DARI

90

“Selamat Ulang Tahun PT Askes yang ke 44 Terima kasih Askes, langkah nyatamu telah membuat kami bangga menjadi Duta-Duta Askes. Semoga Askes selalu menjadi pe rusahaan yang diakui, dibanggakan dan didambakan oleh rakyat indonesia dan seluruh Duta Askes.” Hangki Kurniawan, KC Banyuwangi Staff Manajemen Manfa at

. Dengan Persero) ke 44 ahayu PT Askes in matang “Dirg bah umur, mak semakin bertam m memberikan jaminan l dala Dengan dan profesiona bagi peserta. nan kesehatan stakeholder pelaya diberikan oleh rcayaan yang kepe sehatan bagi aan jaminan ke untuk pelaksan pan, mari kita Indonesia ke de seluruh rakyat ) menjadi BPJS Askes (persero a songsong PT at dan dipercay ng kredibel, ku Kesehatan ya hak. oleh semua pi ). Horas!!“ Askes (Persero Dirgahayu PT o Siregar Dedy Revalin bangan n dan Pengem Grup Penelitia Staff sero) PT Askes (Per

INFOASKES

DARI DUTA ASKES

s. g Tahun Aske Selamat Ulan tangan andengan Bersama berg ta-cita” menggapai ci al, ngan Ekstern Bidang Hubu ) rsero PT Askes (Pe

“Dirgahayu ke-44 PT Askes (Persero). Semakin professional menuju langk ah pasti, pembangunan deraj at kesehatan di Indonesia.” Karyawan PT Askes (Persero) Kantor Pusat.
91

EDISI KHUSUS

JULI 2012

ADVERTORIAL

PT Indofarma Global Medika

dalam BPJS
92 MISALNYA, salah satu perusahan itu adalah PT Indofarma Global Medika (IGM) yang menjadi anak perusahaan dari PT Indofarma. Oleh karenanya, IGM mengutamakan pendistribusian obatobatan yang diproduksi PT Indofarma. Selain itu, IGM juga menyalurkan obat dari beberapa prinsipal lainnnya, seperti berbagai jenis infus dari Otsuka dan berbagai alat kesehatan dan kefarmasian.
Kini, IGM sudah memiliki 30 cabang dan sudah semakin dekat dengan customer. Untuk mendukung terselenggaranya BPJS, IGM akan menambah lagi kantor cabang di beberapa daerah dan menjalin kerjasama dengan PBF (Pedagang Besar Farmasi) lokal di beberapa daerah, antara lain di Kendari, Palu, Mamuju, dan Maluku yang dinilai masih kurang atau belum ada kerjasama dengan PBF . "SDM sudah cukup, kami punya 700 karyawan dan sudah kompeten. Sekarang ini tinggal kita membenahi saja secara IT-nya. IT koneksi antara cabang dan pusat harus

IGM Miliki Peran Penting

Perusahaan jasa distribusi obat turut berperan dalam pelaksanaan sistem jaminan sosial nasional (SJSN) khsusnya jaminan kesehatan nasional yang akan dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di awal tahun 2014.
diperkuat, jangan sampai terganggu karena menyangkut dengan ketersediaan obat," kata Direktur Utama PT Indofarma Global Medika, Ike Avianti. Nanti, saat BPJS Kesehatan beroperasi, cakupan obat mengalami peningkatan karena akan memenuhi kebutuhan seluruh rakyat Indonesia, oleh karenanya, distribusinya juga tidak hanya sampai kotakota besar saja tetapi harus sampai di seluruh kabupaten/kota. Oleh karenanya IGM akan memperkuat armada transportasi

INFOASKES

ADVERTORIAL

dan melengkapi muatan produk obat dari principal selain principal utama yaitu PT Indofarma. IGM yang sudah berdiri sejak tahun 2000 ini lebih banyak menggarap dan melayani kebutuhan pemerintah seperti melayani rumah sakit, apotek, kebutuhan Jamkesmas dan memenuhi kebutuhan peserta Askes, serta PBF-PBF . "Memang obat-obatan yang diproduksi Indofarma sudah sangat lengkap karena Indofarma produsen obat generik terbesar di Indonesia dengan 400-an jenis begitu juga untuk obat kelas terapinya, namun IGM akan memperluas range-nya karena untuk memenuhi kebutuhan pasar," ujarnya. IGM, saat ini akan meningkatkan kerjasama operasional (KSO) dengan rumah sakit untuk membuat laboratorium modern beserta isinya termasuk SDM. "Jadi rumah sakit melakukan outsourcing untuk laboratorium. Semua peralatan dari kami, SDM yang menggaji juga kami," papar Ike. KSO pembuatan laboratorium moderen sudah digarap sejak tiga tahun lalu. Dampaknya sangat bagus bagi rumah sakit. Biasanya di rumah sakit sudah ada laboratirumnya, pihak IGM melakukan upgrading menjadi laboratorium yang canggih, sehingga dari masing-masing unit cukup mengirimkan sampel yang akan diperiksa oleh laboratorium melalui pipapipa instalasi yang sudah terpasang. Semua dimonitor dengan komputer.

Laboratorium moderen yang dibangun IGM antara lain di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, RSUD Syaiful Anwar di malang, RSUD Adam Malik di medan, RSUD di Palembang. Untuk membangun instalasi laboratorium ini minimal membutuhkan sekitar Rp5 miliar. Sistem IT yang dibuat termasuk sistem pembayaran yang otomatis. PT IGM sebagai frontliner dalam jasa pendukung pelayanan kesehatan juga ikut membantu Kementerian Kesehatan membangun Rumah Sakit Bergerak, sejak tahun lalu. IGM telah membangun 10 RS bergerak yang dipasang dan melengkapi sarananya untuk daerah terpencil yaitu di Kepulauan Morotai, Halmahera Selatan, Sanggau, Sintang, Putusibau/Kapuas Hulu, Maluku Barat Daya, Gorontalo Utara, Memberamo Tengah, Sumba Tengah, dan Kepulauan Manambas. Posisi IGM yang berada diantara principal dengan user atau customer, bukan saja sebagai distributor obat saja, tetapi akan memenuhi kebutuhan pasar (consumer health) secara luas, seperti produk herbal, nutrisi, kosmetik. "Jadi customer minta apa kita ada dan bisa memenuhi," imbuh Operation and Bussiness Development IGM Ahdia Amini saat mendampingi Dirut IGM Ike Avianti. Pengalaman PT IGM yang sudah lebih dari 10 tahun mendistribusikan obat-obat generik yang itemnya banyak sekali, menurut

Ami, tidak bisa diukur dengan "rupiah". Oleh karenanya, adanya BPJS, merupakan lanscape obat generik yang meningkat, PT IGM telah siap menjalankan tugas untuk melayani BPJS. "Seperti Ibu Dirut katakan, sistem informasi teknologi harus ditingkatkan dari supporting menjadi enabler," ujarnya. Yang lebih penting lagi perlunya pemantapan pengelolaan persediaan obat dan pengeloaan utang-piutang. Selain itu, perlu menambah range or product yaitu dengan menyalurkan produk obat selain dari Indofarma. Untuk mendukung BPJS, IMG memerlukan investasi sekitar Rp250 miliar. Dana ini untuk penambahan armada, gudang, dan , termasuk armada dan gudang untuk penyimpanan sampai dengan pengiriman yang harus memenuhi syarat GDP (good distribution practise). Dalam tiga tahun ini trend keuangan IGM membaik, namun struktur modal IGM terbatas, apalagi nanti akan mengeskplor pasar rumahs sakit, butuh produk iansial untuk ke pasar rumah sakit. Tenggang waktu pembayaran customer ke IGM paling lama 120 hari, sedangkan pembayaran IGM ke principal hanya 4-5 hari. Sehingga IGM memerlukan dukungan modal atau produk inansial.

93

EDISI KHUSUS

JULI 2012

SEHAT

Berita bahagia

Memasuki usia 40 tahun atau bahkan telah berada dikisaran angka tersebut sering dianggap sebagai kilas balik sebuah kehidupan. Cerminan kehidupan sebelumnya akan muncul pada usia 40+, namun ada juga frasa yang kemudian dikenal luas yaitu Life begin at 40th, inilah salah satu tanda betapa misteri dan istimewanya usia 40 tahun.

40+
1. Pertahankan mindset positif bagi diri

untuk usia

94

D

ari segi kesehatan, beberapa studi pustaka mengungkapkan bahwa usia 40+ merupakan fase dimana semakin berisikonya tubuh terhadap penyakit – penyakit degeneratif atau penyakit kronis seperti Diabetes Melitus (Kencing Manis) Hipertensi (Darah Tinggi), dan lain – lain. Lebih lanjut dikatakan bahwa kesehatan diusia 40+ merupakan hasil dari pemeliharaan kesehatan diusia sebelumnya. Hal tersebut tidak salah namun tidak perlu terlalu risau karena diusia 40+, kita masih mempunyai hak untuk hidup sehat dan bahagia. Pada usia 40+, kedewasaan dan kematangan psikologis telah tercapai dengan sempurna. Dikatakan dalam arti lain, perangai seseorang akan selalu tetap ketika telah mencapai usia tersebut sampai dengan akhir hidupnya. Hal inilah yang kemudian menyebabkan seseorang diusia 40+ biasanya akan mulai membangun keterkaitan antara kebahagiaan jasmani dengan kebahagiaan rohani. Contoh dari kebahagiaan jasmani yaitu tubuh yang sehat optimal, sementara kebahagiaan rohani bisa

diartikan sebagai kehidupan yang mapan bersama anak – anak, pun menyoal kedekatan dengan Tuhan. Kebahagiaan memiliki deinisi berbeda untuk setiap orang, namun kerap identik dengan ketenangan jiwa dan kedamaian kehidupan. Terkait dengan hal tersebut, seseorang perlu mengetahui kunci – kunci sukses mencapai kebahagiaan. Dibawah ini beberapa berita bahagia untuk kita yang akan memasuki atau telah berada diusia 40+ agar kehidupan kita tetap berkualitas :

Mindset adalah pola pikir yang mendasari sikap dan tindakan seseorang. Mindset positif akan menarik pengalaman-pengalaman positif ke dalam hidup kita. Untuk dapat memiliki mindset positif, kita perlu memilliki impian – impian terbaik, kemudian nilai – nilai positif yang akan memandu pikiran dan tindakan kita mencapai impian – impian itu. Sebagai contoh, kita menginginkan anak kita lulus sekolah dengan nilai yang

INFOASKES

SEHAT
memuaskan, selanjutnya kita perlu menyusun hal positif apa saja yang sekiranya dapat mendorong pencapaian impian tersebut, misalnya dengan memberi keleluasaan bagi anak mengembangkan kemampuannya, menunjang kebutuhan belajarnya dan mendoakannya. Disadari ataupun tidak, setiap harinya otak kita akan menyerap informasi yang terjadi disekeliling pada kita. Informasi tersebut akan disimpan pada alam bawah sadar kita yang kemudian akan direpresentasikan sebagai sikap kita saat bertemu suatu hal/masalah. Bila informasi yang disimpan bersifat positif maka sikap yang kita keluarkan pun akan bernuansa positif, begitupun sebaliknya. Sebuah pesan bijak yang sangat mudah dipahami adalah dengan menganalogikan hati atau otak kita seperti sebuah lemari pakaian dimana kita hanya akan memasukkan pakaian – pakaian yang telah rapi dan wangi kedalamnya sehingga saat kita akan memakainya, pakaian itu tetap keluar dalam kondisi serupa, rapi dan wangi. Jadi, saringlah setiap informasi hingga hanya informasi positif yang kita masukkan kedalam pikiran kita. Hal ini tentu saja berkait erat dengan kebahagiaan, dimana sikap positif akan menjadikan diri kita dihargai orang lain, menimbulkan kecintaan yang amat banyak dari sekeliling dan dampaknya adalah tercapainya kepuasan batin dan kebahagiaan jiwa. Usia 40+ merupakan usia yang mempermudah seseorang untuk melakukan penyaringan terhadap informasi yang diterima. Maka untuk kita yang telah berusia 40+, kematangan berpikir serta kedewasaan memilih yang telah sempurna dapat kita jadikan senjata ampuh untuk menggapai kehidupan yang lebih baik dan sejahtera. Anggaplah kehidupan ini sebagai sebuah liburan panjang yang menyenangkan karena didalamnya kita isi dengan hal – hal baik serta positif. 2. Perhatikan kesehatan dan kemampuan untuk tetap sehat

Disadari ataupun tidak, setiap harinya otak kita akan menyerap informasi yang terjadi disekeliling pada kita. Informasi tersebut akan disimpan pada alam bawah sadar kita yang kemudian akan direpresentasikan sebagai sikap kita saat bertemu suatu hal/masalah.
untuk sehat sempurna seperti ketika berusia 25 tahun, namun optimalkan kesehatan yang masih kita miliki saat ini dan lihatlah betapa Tuhan dengan kebaikan Nya telah memberikan kita keleluasaan ruang untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dan bahagia. Budayakan tersenyum Berdasarkan penelitian, senyum bermanfaat untuk meredakan stres, menurunkan tekanan darah, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mengurangi rasa nyeri, membantu untuk tetap positif dan membuat penampilan menjadi lebih menarik. Hanya Tuhan sebaik – baik tempat kembali

Walaupun ancaman penyakit degeneratif semakin besar pada tingkat usia ini atau bahkan kita telah didiagnosa menyandang salah satu penyakit tersebut, namun tidak perlu risau ataupun galau, sebagai anggota kelompok usia 40+, kita tetap dapat hidup sehat berkualitas sesuai kemampuan optimal kita. Beberapa cara yang dapat kita lakukan antara lain : Kenali kesehatan kita secara utuh Lakukanlah konsultasi rutin kepada Dokter Umum/Dokter Keluarga kita. Terlebih bila kita merasakan kondisi kurang sehat. Medical Check Up (MCU) secara berkala sangat dianjurkan agar kewaspadaan terhadap resiko timbulnya penyakit semakin besar. Berpikirlah positif bahwa hasil MCU bukan untuk membuat kita takut melainkan untuk memberi tanda awal bagi peningkatan kualitas kesehatan. Optimalkan fungsi tubuh sesuai kemampuan Penurunan fungsi tubuh seperti misalnya gejala cepat lelah, kurang produktif, keluhan nyeri sendi, dan lain – lain merupakan hal yang biasa dialami oleh seseorang berusia 40+. Jika kita mengalaminya, hal terbaik selain tidak bersedih atau menyesali nasib yaitu dengan mengoptimalkan fungsi – fungsi tubuh sesuai dengan kemampuan yang masih dimiliki. Sebagai contoh, seseorang berusia 45 tahun yang menderita osteoporosis sehingga mengakibatkan ia harus duduk di kursi roda pun masih dapat mengoptimalkan fungsi tubuhnya yang lain dan melakukan hal yang juga bermanfaat. Atau seseorang dengan penyakit jantung dimana adanya pembatasan aktiitas isik yang bisa dilakukannya bukanlah halangan untuk membahagiakan diri. Prinsip dari hal tersebut adalah kita tidak memaksakan diri

3.

-

Permasalahan pasti akan selalu mengiringi perjalanan hidup seseorang. Mulai dari masalah ringan sampai dengan masalah yang sepertinya tidak sanggup kita selesaikan. Dan dari setiap masalah atau cobaan yang menimpa, sentuhan sisi spiritual pasti selalu dirindukan oleh setiap jiwa kecintaan Tuhan. Untuk itu, kedekatan kepada Ilahi merupakan salah satu jawaban memperoleh kebahagiaan hakiki. Tidak hanya untuk usia 40+, tapi hal tersebut berlaku untuk semua orang. Untuk itulah, segi spiritual ini pun tidak semestinya diabaikan, namun justru harus dipadu padankan dengan segi lain dalam kehidupan. Kelebihan bagi seseorang dengan usia 40+ adalah semakin tingginya dorongan untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Senada dengan paparan sebelumnya, bahwa usia 40+ merupakan usia yang menggambarkan kematangan seseorang baik dari tingkat kematangan isik maupun mental. Bagi pembaca yang kini telah memasuki usia 40 atau telah berada pada usia 40+ kami ucapkan selamat berbahagia. Gunakan waktu sebaik – baiknya karena waktu tidak akan pernah kembali. Gapailah keemasan hidup anda untuk mencapai kebahagiaan nan hakiki. Salam bahagia, Rianti Wakhyuni (dari berbagai sumber)

95

EDISI KHUSUS

JULI 2012

GAYAHIDUP
Makna Ritual

Potong Tumpeng
Ulang tahun bukan hanya sebuah peristiwa menggembirakan saja, bukan pula sekedar bertambah dewasa (tua) karena sudah dapat dihargai dengan hak-hak kedewasaan yang dimilikinya.

Kue Tart

&

96

INFOASKES

GAYA HIDUP
amun, ulang tahun adalah waktu yang tepat untuk introspeksi diri dan evaluasi, terhadap apa-apa yang masih kurang untuk terus diperbaiki. Untuk merayakan ualang tahun, beragam cara dilakukan. Ada yang menandai acara ritual itu dengan memotong kue tart tetapi tidak sedikit yang menyajikan nasi tumpeng. Dalam ritual Jawa, terdapat beberapa jenis tumpeng seperti jenisnya ada tumpeng sangga langit, arga dumilah, tumpeng megono dan tumpeng robyong. Tumpeng juga sarat dengan simbol mengenai ajaran makna hidup. Misalnya, tumpeng robyong, yang dipakai sebagai sarana upacara slametan (tasyakuran), dipercaya sebagai simbol keselamatan, kesuburan, dan kesejahteraan. Tumpeng yang menyerupai gunung menggambarkan kemakmuran sejati. Air yang mengalir dari gunung akan menghidupi tumbuhtumbuhan. Tumbuhan yang dibentuk ribyong disebut semi atau semen, yang berarti hidup dan tumbuh berkembang. Bentuk gunungan ini juga bisa diartikan sebagai harapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin “naik” dan “tinggi” . Sedangkan Sementara itu bagi masyarakat eropa, perayaan ulang tahun, awalnya, dimaksudkan untuk mengusir roh-roh jahat walaupun orang zaman dulu tidak mengetahui secara persis tanggal berapa mereka dilahirkan. Banyak simbol-simbol yang diasosiasikan atau berhubungan dengan ulang tahun sejak ratusan tahun lalu contohnya kue. Salah satu cerita mengatakan, dahulu bangsa Yunani menggunakan kue untuk persembahan ke kuil dewi bulan, Artemis. Mereka menggunakan kue berbentuk bulat yang merepresentasikan bulan purnama. Simbol lain yang selalu menyertai kue ulang tahun adalah penggunaan lilin ulang tahun di atas kue. Orang Yunani yang mempersembahkan kue mereka ke dewi Artemis juga meletakan lilin-lilin di atasnya karena membuat kue tersebut terlihat terang menyala sepeti bulan. Beberapa orang mengatakan lilin diletakan dengan alasan keagamaan/ religi. Malah, ada mitos, bahwa asap dari lilin tersebut akan membawa pengharapan mereka ke surga. Ada juga mitos yang mengatakan bahwa ketika kita memakan kata-kata yang ada di atas kue, kata-kata tersebut akan menjadi kenyataan. Jadi dengan memakan “Happy Birthday” akan membawa kebahagiaan dan dengan meniup lilin-lilin yang ada diatas kue dalam satu tiupan dipercaya akan membawa nasib baik. Pada pesta ulang tahun biasanya ada yang mengirimkan kartu ucapan selamat ulang tahun sebagai pertanda bahwa orang yang diundang tidak bisa datang. Tradisi mengirimkan kartu ucapan selamat ulang tahun ini pertama kali dimulai di Inggris sekitar 100 tahun yang lalu. Dan pesta ulang tahun anak-anak pertama kali dimulai di Jerman yang diberi nama “kinderfeste” Kini, masyarakat ingin membuat sesuatu yang praktis. menandai ulang tahun dengan memotong kue tart yang diberi angka pertanda usia seseorang. Alasannya, membuat kue tar lebih praktis ketimbang membuat nasi tumpeng. Ada mitos lain bahwa kue yang ada coklat punya antioksidan serta beberapa kanduingan gizi bisa membuat pemakan coklatnya awet muda. Jadi, cake berhias (kue tart) atau tanpa hiasan digunakan sebagai hidangan istimewa pada resepsi pernikahan atau pesta ulang tahun, terutama resepsi pernikahan ala Barat. Di Indonesia, nasi tumpeng sering digantikan peran cake sebagai makanan istimewa dalam berbagai upacara peringatan. Kue yang dihias biasanya disesuaikan dengan maksud dari menghias kue itu sendiri, seperti ucapan selamat: ulang tahun, menempuh hidup baru, pertunangan, hari raya, ungkapan rasa kasih sayang, dan lain-lain. Hiasan (bahan, warna dan bentuk) yang digunakan dan dihasilkan dapat langsung menunjukkan maksud kue hias tersebut. Misalnya sebagai ungkapan rasa kasih sayang, dibuat kue berbentuk hati (love) dihias dengan krim yang dibentuk bunga mawar menggunakan warna yang dominan merah muda. Lalu yang mana pilihan anda, tumpeng atau kue tart?

N

Kini, masyarakat ingin membuat sesuatu yang praktis. menandai ulang tahun dengan memotong kue tart yang diberi angka pertanda usia seseorang. Alasannya, membuat kue tar lebih praktis ketimbang membuat nasi tumpeng. Ada mitos lain bahwa kue yang ada coklat punya antioksidan serta beberapa kanduingan gizi bisa membuat pemakan coklatnya awet muda.

97

EDISI KHUSUS

JULI 2012

Dari Masa ke Masa
Seiring tumbuh dan berkembangnya PT Askes (Persero), Buletin Info Askes hadir dan setia menjadi jembatan informasi, komunikasi dan edukasi antara ASKeS dan seluruh pembaca setia.

INFOASKES

Health Insurance Specialist

Segenap Direksi PT Askes (Persero) Mengucapkan

Dirgahayu PT Askes (Persero) ke – 44
Dengan Prestasi, Mari Kita Melayani Pelanggan Melampaui Harapan. Junjung amanat dan kepercayaan bangsa menjadi BPJS Kesehatan yang Diakui, Dibanggakan, dan Didambakan Seluruh Rakyat Indonesia”

www.ptaskes.com

Health Insurance Specialist

Dengan Integritas Dan Komitmen Tinggi, Serta Ambisi Yang Kuat Melalui Kerja Keras, Kerja Ikhlas, Kerja Terarah Tanpa Pernah Mengenal Lelah. Berjuang Membangun Dan Membesarkan ASKES untuk Mewujudkan

CITA-CITA SANG PENDIRI, CITA-CITA PERUSAHAAN, DAN CITA-CITA BANGSA

www.ptaskes.com

Health Insurance Specialist

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->