Anda di halaman 1dari 5

KHUTBA IDUL ADHA 1433 H

oleh : TUGIMAN

Bapak-bapak dan saudara kaum muslimin yang berbahagia. Perkenankanlah dari atas mimbar ini. Saya mengajak pesan khusus kepada didri saya sendiri. Dan pada umumnya kepada kaum muslimin semua, marilah kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dan rasul-Nya agar dengan demikian kita termasuk orang-orang yang memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirast kelak. Allahu akbar-Allahu akbar walillahil hamd. Kaum muslimin yang saya muliakan. Hari ini tanggal 10 Zulhijjah 1433 H adalah hari raya Idul Adha atau yang biasa disebut hari raya Kurban. Sekaligus disunahkanuntuk melakukan dua perbuatan yaitu pertama kita disunahkan melakukan sholat dua rekaat sekaligus dengan khutbahnya dan kedua disunahkan untuk melakukan penyembelihan binatang ternak (kambing, lembu, atau unta) bagi yang mampu, guna disedekahkan kepada fakir miskin. Perintah sunah sekaligus dua hal itu terdapat pada firman Allah dalam satu ayat yang pendek (Al-Kautsar : 2) :


Artinya : Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.

- -
Kaum muslimin dan muslimat yang saya muliakan. Disamping ada tujuan amal sosial terhadap arang-orang yang tak mampu, ada tujuan lain. Bagi penyembelihan binatang kurban itu ialah guna memperingati peristiwa penting yang dilakukan oleh dua insan Nabi, masingmasing Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail (putranya). Apabila kita merenung kembali perjalanan Nabi Ibrahim dan keluarganya bukan sebagai cerita belaka, melainkan sebagai sumber inspirasi dalam rangka meluruskan niat dan motifasi serta memperbesar tekad untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan, kesejahteraan serta kemaslahatan bersama. Kita akan menemukan hikmah yang luar biasa, lebih-lebih di tengah kehidupan bangsa Indonesuia yang hingga kini masih dihantui berbagai persoalan yang terasa sangat sulit untuk menghadapi dan mengatasinya. Baik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, aqidah moral hukum, pertahanan dan keamanan. Yang semuanya itu terjadi karena adanya kesenjangan yang begitu besar antara pengakuan kita sebagai muslim dengan realitas kehidupan yang kita jalani. Salah satunya adalah kisah mengenai pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang kemudian menjadi syariat Idul Adha.

B
NOMOR DATA (Diisi oleh LPP PPA)

FORMULIR PENDATAAN PIMPINAN CABANG AISYIYAH


Nama Cabang : BANDAR PULAU Daerah ASAHAN Wilayah SUMATERA UTARA
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PIMPINAN PUSAT AISYIYAH 2012 Alamat : Jln. KH. Ahmad Dahlan 103 Yogyakarta Email : Ippa_ppa@Yahoo.com ; Telp : 0274-389486

: :

KHUTBAH IDUL FITRI


AHAD, 1 SYAWAL1433 H/19 AGUSTUS 2012 M

Allahu akbar, Allahu akbar laa ila ha illa-llohu, Allohu akbar wa-lillaahi-lhamd. Syukur kepada Allah yang telah memberikan kita nikmat sehat dan iman sehingga kita dapat hadir di tempat ini melaksanakan sholat Idul Fitri , 1

Syawal 1433 H/19 Agustus 2012 M yang berkenaan dengan bulan merdeka bangsa Indonesia. Selanjutnya selawat kepada Nabi Muhammad SAW semoga yang kita kerjakan sampai saat ini masih tetap mentaati ajarannya. Yang terhormat Bapak-bapak, Ibu-ibu kaum muslim yang dirahmati Alah. Idul Fitri berarti kembali kepada fitrah, kembali suci dari dosa. Sementara hari raya Iddul Fitri kita rayakan, kita besarkan, kita agungkan sebagai hari kemenangan setelah kita melewati satu proses kegiatan yang sangat luar biasa berat. Kegiatan kerja yang kita sebut puasa, yaitu menahan lapar dan haus juga tidak memperturutkan nafsu syahwat walaupun itu halal saat tidak sedang puasa. Tetapi selain itu kita harus menjaga hal yang dapat mengurangi hasil kerja puasa/pahala puasa yaitu tadak berbuat rafats. Seperti hadist berikut : Dari Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa yang tidak meninggalkan omongan dusta (palsu) dan bertindak bodoh (ngawur) maka Allah tidak akan menerima amal itu (puasa) yang meninggalkan makan dan minumnya. (Hadts riwayat Bukhori) Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah. Idul Fitri bermakna kembali kepada fitrah maka apakah sebenarnya yang menjadi fitrah manusia ? Kalau kita renungkan sebenarnya fitrah manusia cenderung kepada yang benar, yaitu cinta kebenaran. Kita lihat firman Allah Q.S. Al Baqarah : 147 berikut : Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. Jika fitrah manusia cinta kepada kebenaran dapat kita perjelas lagi bahwa manusia pasti membenci keraguan, kepalsuan, penyelewengan, kepurapuraan dan segala jenis tipuan yang semuanya membuat orang semakin jauh dari kebenaran yang ahirnya semakin jauh dari Allah SWT. Coba kita periksa akibat perbuatan palsu yang membuat orang menjadi rugi, susah, sengsara. Misalnya : minyak tanah palsu yang beredar dimasyarakat merugikan konsumennya. Maksud hati ingin memasak makanan sesuai harapan, namun karena bahan bakar minyak tanah palsu, panas api yang diharap tak terpanuhi. Selain masakan tak sempurna, kompor dapat menjadi rusak dan menambah biaya pengeluaran. Kemudian tindakan penyelewengan yang dilakukan para pejabat di Negara kita terasa tak berkurang malahan semakin menggila sehingga dana diharapkan cukup membangun sebuah proyek proyek ternyata pisiknya tampak bagus namun mutunya jauh dari harapan. Selanjutnya tindakan pura-pura juga masih banyak dianut orang-rang islam. Sementara kita berharap agar orang yang memegang jabatan dapat memperjuangkan amanah harapan rakyat tetapi malah mereka berkhianat. Yang sedihnya mereka malah bangga dengan keadaannya. Kita lihat Al Quran bahwa Allah telah mengilhamkan kepada manusia sifat fujur (buruk) dan sifat taqwa (baik). Jikalau sifat fujur (buruk) yang kita pelihara setiap hari tentu ia semakin sehat dan kuatlah ia, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup hanya keburukan sajalah yang menjadi landasan hidup. Diupayakan segala jenis kepalsuan, penyelewengan, kepura-puraan dan tipuan yang penting nafsu terpenuhi dan soal akibat tak terlalu menjadi pertimbangan. Sebaliknya jika sifat taqwa (baik) saja yang kita pelihara dalam hidaup sehar-hari, tentu senantiasa akan memilih melakukan kebaikan dalam segala tindaknnya. Misalnya, gemar melakukan ibadah yang pokok maupun yang tambahan seperti menegakkan sholat, berpuasa,infaq, berhaji dan sebagainya senantiasa tetap berusaha mengamalkan Islam dalam dirinya dengan diikuti perbuatan baik lainnya seperti menolong orang kesusahan, miskin, lemah dan sebagainya. Bagaimanakah cara agar kita mendapatkan kebenaran ?

Jawabannya sebenarnya tak terlalu sulit, hanya saja berat untuk mengamalkannya, karena semua berkaitan erat dengan kinerja hati. Berikut ini ada tiga hal untuk mendapatkan kebenaran , yaitu : 1. Jujur , artinya menyuarakan hati yang suci, bersih jauh dari pengaruh dari bisik-bisikan kotor, jahat yang sumbernya dari Syetan. 2. Netral, Artinya tidak memihak kepada siapapun yang mengaku benar. Dalam hal ini tak penting pihak mana yang menang dan yang kalah, yang utama adalah yang benar. Perhatikan isi kebenaran dan jangan perhatikan orang yang menyampaikannya. 3. Ikuti peraturan, artinya ketika kita ingin tahu mana yang benar tentu pergunakan aturan yang berlaku, yang sesuai permasalahan. Mana mungkin dapat menilai benar permainan voley jika dinilai dengan aturan main basket walau sama 6 pemain tiap tim di lapangan. Jadi seorang hakim yang adil terlebih dahulu mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang benar sebelum memutuskan suatu perkara, sehingga vonis yang dijatuhkan tepat sesuai kesalahan terdakwa. Kebenaran Islam tidak dapat divoting menggunakan suara terbanyak, tapi cukup satu atau dua orang saja yang benar-benar amanah yang dipakai menyaksikan satu Syawal dari pada suara terbanyak yang belum tentu amanah. Jadi orang yang selalu berpihak pada kebenaran itulah orang yang benarbenar merdeka. Menurut keyakinan makna merdeka sesuai Islam tertuang dalam Al Quran surat Al Baqarah : 208 ;

Hai orang-orang yang beriman masuklah ke dalan Islam secara total, dan jangan ikuti tata cara syetan. Sesungguhnya syetan musuh kamu yang nyata Merdeka maksudnya mengikuti aturan Allah yang mempunyai/menguasai alam ini. Seperti Hadist Qudsi berikut : Hai dunia berkhidmatlah kepada orang yang mengabdi kepada-Ku, dan perbudaklah orang yang mengabdi kepadamu Memang hanya orang yang benar-benar merdeka sajalah yang senantiasa merasa tatap dalam pengawasan Allah SWT dan berusaha mengikuti semua aturanNya. Sebaliknya orang yang tidak jelas mengikuti aturan Allah berarti sudah barang tentu telah mengikuti tata cara syetan. Syetan dengan liciknya memalsukan seolah-olah seperti ajaran islam, sehingga banyak umat Islam tak tahu bahwa amalan yang dikerjakan bukan datang dari sang junjungan Nabi Muhammad SAW. Sehubungan dengan itu Nabi Muhammad SAW sebelum wafat berpesan kepada umatnya agar tetap bepegang kepada Quran dan sunnah Nabi. Artinya sampai kapanpun aturan/ketetapan Allah tidak akan berubah dan merubah sunnah Nabi termasuk seburuk-buruk pekerjaan. Jadi siapapun yang berusaha merubah sunnah Nabi atau yang menjadi kewenangan Nabi Muhammad SAW disebut bidah. Bidah berarti penyelewengan dari ajaran islam yang sebenarnya, dan wajar jika setiap penyelewengan ajaran Islam berarti sesat, berakhir di nereka ! Naudzubillahi min dzalik. Lain pula dengan peraturan negara yang telah disahkan oleh wakil-walil rakyat di gedung MPR, sesuai kebutuhan boleh saja dirubah, diperbaiki atau diamandemen oleh mereka, karena itu memang kewenangan mereka. Dan kita tidak permasalahkan aturan dalam tertib upacara untuk mengenang hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Namun yang lebih penting adalah mengisi kemerdekaan Indinesia dengan kerja keras membangun bangsa berdasarkan aturan kebenaran yang nyata dan mengurangi segala jenis penjajahan yang bersemayam di dalam pribadi warga bangsa Indonesia dari segala bentuk penyelewengan, kepalsuan, kepura-puraan dan pertengkaran yang disponsori Syetan. Tentu kita mulai

dari tingkat masing-masing pribadi, dilanjutkan di kalangan keluarga, berukutnya di lingkungan warga kelompok masyarakat, sehingga terwujud negara yang benar-benar merdeka (baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur). Sebagaimana tertuang dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa. Kesimpulan : 1. Jika manusia masih mengikuti fitrahnya sebagai manusia berarti tetap mengikuti aturan Allah yang Maha suci, Maha fitrah. Artinya manusia telah merdeka. 2. Jika manusia mengikuti kemauannya sendiri berarti telah terjebak dalam tipuan syetan. Artinya manusia masih terjajah oleh syetan dan belum merdeka.