Anda di halaman 1dari 36

CONTOH JUDUL PROPOSAL PTK

oleh Suaidin Dompu pada 13 Mei 2012 pukul 9:19



Publik

Publik Teman (+) Teman selain Kenalan Hanya Saya Khusus Teman Dekat M. Irdhi & Irun Lihat semua daftar... Keluarga Daerah Dompu science teacher education institutes and the country makassar SMAN 1 DOMPU DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA Agent of Change Kenalan Kembali

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBAHASA MEMBACA SISWA KELAS VII B SMP NEGERI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PBL TEKNIK BERCERITA

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBAWAKAN ACARA DALAM AKTIVITAS PEMBELAJARAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN LESSON STUDY PADA PESERTA DIDIK KELAS VIIIA SMPN

PEMBELAJARAN PKn MENGGUNAKAN METODE PERMAINAN ULAR TANGGA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA KOMPETENSI DASAR BUDAYA DEMOKRASI KELAS VII.B SMPN

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION DENGAN PENDEKATAN SALINGTEMAS (SAINS-LINGKUNGAN-TEKNOLOGIMASYARAKAT) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KERJA ILMIAH DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF BIOLOGI SISWA KELAS X SMA NEGERI

PENERAPAN PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN THE 5 E LEARNING CYCLE MODEL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERTANYA GURU DAN SISWA SERTA PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VII E SMP Negeri

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA YANG DIAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KONVENSIONAL, PROBLEM SOLVING DAN STAD PADA MATERI HIDROLISIS GARAM PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI TAHUN AJARAN

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MATERI BANGUN DATAR SEGI EMPAT MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PARTISIPATIF SISWA KELAS VII-A SMP NEGERI.

PENGGUNAAN METODE BERMAIN PERAN PADA PEMBELAJARAN SEJARAH ISLAM UNTUK MENINGKATKAN PENGHAYATAN TERHADAP AJARAN ISLAM DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI SISWA KELAS 2 SMP NEGERI.

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN MODEL GROUP INVESTIGATION (GI) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI SMA.

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN KIMIA DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE DI KELAS VII-F SMP NEGERI

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PARTISIPATIF PADA MATA PELAJARAN SEJARAH DI KELAS XI.IPS.2

PENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MASALAH EKONOMI INTERNASIONAL PADA MATA PELAJARAN EKONOMI TERHADAP SISWA KELAS XII-IS SMA NEGERI SEMESTER I MELALUI PENERAPAN METODE BERVARIASI

PENERAPAN PENDEKATAN KOLABORATIF MURDER DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI PARA SISWA KELAS XI IPS1 SMAN

INTEGRASI OUTDOOR LEARNING DAN INDOOR LEARNING DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK DI TK

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MATERI BANGUN DATAR SEGI EMPAT MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PARTISIPATIF SISWA KELAS 2 SMP NEGERI

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP HUKUM BACAAN NUN MATI DAN TANWIN SERTA MIM MATI MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL SISWA KELAS 1 PADA SMP NEGERI

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN DALAM PENGUASAAN TEKNIK DASAR LOMPAT JAUH GAYA MENGGANTUNG (SCHNEPER) MELALUI METODE DRILL SISWA KELAS X 2 SEMESTER 1 SMA NEGERI

DENGAN MELALUI SIMULASI PERMAINAN DADU YANG UNIK AKAN MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA DI SMP

PEMANFAATAN MEDIA TELEVISI UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA KELAS IXE SMP NEGERI 1

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA TERHADAP KONSEP GELOMBANG MEKANIK MELALUI PENDEKATAN KOOPERATIF MODEL TGT MENGGUNAKAN FIGJIG PADA KELAS III IPA SMA NEGERI

PENERAPAN STRATEGI MIND MAPPING UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI BERBICARA BAHASA INGGRIS SISWA KELAS XI IPA1 SMA NEGERI

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ROLE PLAYING (BERMAIN PERAN) DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN MAKNA KETERBUKAAN DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA PADA SISWA KELAS XI IPA-1 SMA

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INGGRIS MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL TGT(TEAM GAMES TOURNAMENT) PADA SISWA KELAS V SD

2. METODE DEMONSTRASI DALAM UPAYA MININGKATKAN PROSES BELAJAR DAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA PADA SISWA KELAS IV SD

3. PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENDESKRIPSI SECARATERTULIS PADA SISWA KELAS II SD

4. EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATERI PELAJARAN BANGUN DATAR DENGAN METODE STAD DAN ALAT BANTU MBDW PADA PESERTA DIDIK KELAS V SD

5. PERANAN EKSPLORASI PUSTAKA UNTUKMENINGKATKAN KETRAMPILAN MENULISPADA SISWA KELAS IV SD

6. METODE PEMBELAJARAN IMAJINATIFDALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MENGARANG BAHASAINDONESIA SISWA KELAS V SD

7. MENINGKATKAN PRESTASI BELAJARBAHASA INDONESIA DENGAN MENERAPKAN MODEL PENGAJARANKOLABORASI SISWA KELAS VI SD

8. UPAYA MENINGKATKAN PRESTASIBELAJAR IPA DENGAN METODE PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY)SISWA KELAS VI SD

9. MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI PERKALIAN CARA SUSUN DENGAN METODE DEMONTRASI DAN UPAYA MEMOTIVASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN KEPAHLAWANAN DAN PATRIOTISME TOKOH-TOKOH DI LINGKUNGAN ANAK MELALUI PEMBERIAN PENGUATAN VERBAL DAN NON VERBAL PADA SISWA KELAS IV SD

10. MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENERAPKAN METODEPEMBERIAN BALIKAN SISWA KELAS VI SD

11. UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA DENGAN METODE PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING SISWA KELAS IV SD

12. PEMBELAJARAN TERSTRUKTUR DENGANPEMBERIAN TUGAS DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS V SD

13. MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA PADAMATA PELAJARAN IPS MELALUI PEMANFAATANALAT PERAGA PADA SISWA KELAS V SD

14. PENGARUH METODE BELAJAR AKTIF MODELPENGAJARAN TERARAH DALAM MENINGKATKANPRESTASI DAN PEMAHAMANPELAJARAN IPS SISWA KELAS V SD

15. PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PAIDENGAN DITERAPKANNYA METODE DEMONSTRASI SISWA KELAS IV SD

16. MENINGKATKAN PRESTASI BELAJARPENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN MENERAPKAN MODEL PENGAJARAN TUNTASSISWA KELAS IV SD

17. PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA YANG BERORIENTASI PADA PENDEKATAN REALISTIK UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN PECAHAN BAGI SISWA KELAS III SD

18. PENGGUNAAN METODE BERVARIASI UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS I SD

19. MENINGKATKAN DISIPLIN DAN TANGGUNGJAWAB SISWA MELALUI SANKSI BERJENJANG PADA SISWA KELAS III SD

20. PENERAPAN PENDEKATAN PROSES 5 FASE UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN MENULIS PADA SISWA KELAS V SD

21. MENINGKATKAN PRESTASI BELAJARMEMBACA DAN MENULIS MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS I SD

22. UPAYA MENINGKATKAN EFEKTIVITASBELAJAR LEMPAR CAKRAM DENGAN MEDIAMODIFIKASI PIRING PLASTIK SISWA KELASVI SD

23. PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR GUNAMENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DALAMPEMBELAJARAN IPS KELAS IV SD

24. UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJARPKN MELALUI METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL STAD (STUDENT TEAMSACHIEVEMENT DIVISION) PADA SISWA SD

25. UPAYA PENINGKATAN KELINCAHAN DANKECEPATAN DALAM BERMAIN SEPAK BOLA MELALUI METODE DEMONSTRASI SISWA SD

26. PENERAPAN METODE INKUIRI PADA MATAPELAJARAN PENJASKES UNTUK MENINGKATKAN TEKNIK BERMAIN BOLATANGAN PADA SISWA SD

27. PENGARUH GABUNGAN METODECERAMAH DENGAN METODE KERJA KOLOMPOK TERHADAP HASIL BELAJARBIDANG STUDI IPS PADA SISWA KELAS VI SD

28. MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPSMELALUI GABUNGAN METODE CERAMAHDENGAN METODE BELAJAR AKTIF MODELPENGAJARAN AUTENTIK PADA SISWA SD

29. MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPSMELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIFMODEL THINK-PAIR-SHARE PADA SISWA SD

30. PENERAPAN METODE DEMONSTRASIUNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS VI SD

31. UPAYA MENINGKATKAN PRESTASIBELAJAR IPA DENGAN METODE PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY)PADA SISWA KELAS VI SD

32. MENINGKATKAN PRESTASI DANMOTIVASI BELAJAR IPA DENGAN MENERAPKAN PENGAJARAN BERBASISINKUIRI PADA SISWA KELAS V SD

33. EFEKTIVITAS PEMBELAJARANKONTEKSTUAL MODEL PENGAJARAN BERBASIS MASALAH DALAMMENINGKATKAN PRESTASI DAN PENGUASAAN MATERI PELAJARAN IPASISWA SD

34. PENERAPAN METODE KOOPERATIFMODEL GROUP INVESTIGATION (GROUP INVESIGATION) SEBAGAI ALTERNATIFMENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA SD

35. MODEL PEMBELAJARAN REALISTIKDENGAN MENGGUNAKAN CONTOH YANG RELEVAN DENGAN PENGALAMAN ANAKSERTA MODEL BANGUN RUANG UNTUK MENINGKATKAN KONSEP PEMAHAMANSISWA TENTANG SIFAT BANGUN RUANG SISWA SD

36. UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUANSISWA DALAM MENGERJAKAN SOAL CERITA PADA MATA PELAJARANMATEMATIKA MELALUI METODE BERMAIN KARTU SOAL BAGI SISWA KELAS VI SD

37. PENINGKATAN PROSES PEMBELAJARANTENTANG LUAS BANGUN MELALUI MODELKOOPERATIF STAD DAN KUIS PADASISWA KELAS VI SD

38. MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION) PADA SISWA KELASSD

39. PENERAPAN METODE KOOPERATIF MODEL TGT (TEAM GAMESTOURNAMENT) SEBAGAI ALTERNATIF MENINGKATKAN PRESTASI BELAJARMATEMATIK PADA SISWA KELAS III SD

40. UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI DANKUALITAS BELAJAR BAHASA INDONESIAPADA MATERI BERBICARA DAN MEMBACA DENGAN MENERAPKAN METODE STAD DAN METODE ROLE PLAYING PADA SISWA KELASVI SD

41. MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INGGRIS DENGAN MENERAPKAN METODEKOOPERATIF MODEL JIGSAW PADA SISWA KELAS. SD

42. UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN KOLABORASI PADA SISWA KELAS VI SD

43. UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGANMENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN PAKEM PADA SISWA KELAS VI SD

44. PENERAPAN METODE TANYA JAWAB DALAM UPAYA MENINGKATKAN MUTU BELAJARPENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA SISWA KELAS..SD

1. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TYPE STAD DENGAN MEDIA VCD UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IX SMP

2. UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR FISIKA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPEJIG SAW SISWA KELAS IX SMP

3. UPAYA PENERAPAN PEMBELAJARANKOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADAMATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK SISWAKELAS VII MTS

4. UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJARSISWA MELALUI PENGGUNAAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF LEARNING MODEL JIGSAW PADA PELAJARAN AKIDAHAKHLAK SISWA KELAS VII MTS

5. MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR AKIDAHAKHLAK MELALUI PENERAPAN MODELPEMBELAJARAN MASTERY LEARNING (BELAJAR TUNTAS) SISWA KELAS VII MTS

6. MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADAKOMPETENSI IMAN KEPADA MALAIKAT MALAIKATALLAH DENGAN TEKNIK DISKUSI SISWA KELAS VII MTS

7. PENGGUNAAN METODE SEGMENTASI UNTUKMENINGKATKAN PRESTASI MATA PELAJARAN SENI BUDAYA SISWA KELAS VII SMP

8. MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF MELALUI TINDAKANPELAKSANAAN DAN PEMBIASAAN MENULIS JURNAL DALAM PEMBELAJARAN SISWA KELASVIII SMP

9. PENGGUNAAN METODE BERMAIN PERANDALAM MENINGKATKAN KEMAMPUANBERBAHASA JAWA SISWA KELAS VIII SMP

10. MENGATASI PERMASALAHAN BELAJARSISWA KELAS IX SMP MELALUI KONSELING EKLEKTIF DENGANPERILAKU ATTENDING DI SMP

11. PENDEKATAN METODE BELAJAR TUNTASDALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MENGARANG BAHASAINDONESIA PADA SISWA SMP

12. PENINGKATAN PEMBELAJARAN MENULISPUISI MELALUI METODE KONTEKSTUAL BERBASIS MASALAH PADA SISWA KELAS VIII SMP 13. MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR

BAHASA INGGRIS MELALUIPEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL

NUMBERED HEAD TOGETHER PADASISWA KELAS VII SMP

14. MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPSMELALUI METODE PENGAJARAN BERBASIS TUGAS/ PROYEK PADA SISWA KELAS..SMP

15. PENGGUNAAN METODE DISKUSI DANPENEMUAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWAKELAS II SMP

17. PENINGKATAN HASIL BELAJARMATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KOOPERATIF TEKNIK STAD PADA SISWAKELAS VII SMP

18. IMPLEMENTASIKAN PEMBELAJARAN BERBASIS INKUIRI DALAM UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN PELAJARANPKN SISWA KELAS VII SMP

19. MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BIDANG BIMBINGAN SOSIAL MATERI TATA KRAMA DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT SISWA KELAS VIII SEMESTER II MTS DENGAN BIMBINGAN DAN KONSELING CD 3 PTK SMA/MA/SMK:

1. PENINGKATAN KETUNTASAN BELAJAR SISWA KELAS X SMA PADA KOMPETENSI DASAR STRUKTUR ATOM, SIFAT-SIFAT PERIODIK UNSUR DAN IKATAN KIMIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD

2. PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR KIMIAMELALUI METODE ROLE PLAYING SISWAKELAS X SMA

3. PENGGUNAAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN MATERI LOGARITMA BAGI SISWA KELAS X SMA

4. PENINGKATAN RANAH KOGNITIF DAN AFEKTIF PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DENGAN MODEL PASA (PICTURES AND STUDENT ACTIVE) SISWA KELAS X SMA 5. PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS) UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR EKONOMI SISWA KELAS X SMA 6. MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH HAM DENGAN MENGGUNAKAN PROBLEM BASED LEARNING DALAM MATA PELAJARAN PKN KELAS X AK SMK 7. PENJELASAN GURU SECARA SINGKAT DAPAT MENGHILANGKAN KEJENUHAN SISWA DALAM MENGIKUTI PROSES PEMBELAJARAN PAI

SISWA KELAS X SMK 8. SANKSI AKADEMIS DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN PAI SISWA KELAS X SMK 9. MENGGUNAKAN METODE PRESENTASI UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DALAM PROSES PEMBELAJARAN PAI SISWA KELAS X SMK 10. KOLABORASI BEBERAPA POKOK BAHASAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP SATU POKOK BAHASAN HUBUNGANNYA DENGAN BAHASAN LAIN PADA MATA PELAJARAN PAI SISWA KELAS X SMK 11. SERTIFIKASI SISWA SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DALAM MENGAPLIKASI PEMBELAJARAN PAI SISWA KELAS X SMK 12. PENINGKATAN KEBIASAAAN SHOLAT LIMA WAKTU MELALUI PEMBERIAN MOTIVASI MULTI ASPEK SISWA SMK 13. PRAKTIKUM BIOLOGI BERBASIS KETERAMPILAN PROSES UNTUK

MENINGKATKAN KINERJA ILMIAH DAN PEMAHAMAN KONSEP METABOLISME PADA SISWA KELAS XII ILMU ALAM SMA 14. INOVASI PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM SEKITAR (IPAS) POKOK BAHASAN KIMIA LINGKUNGAN MELALUI PEMBUATAN FILM TENTANG PENCEMARAN LINGKUNGAN SEKITAR PADA SISWA KELAS III SMK 15. PENGGUNAAN KARTU DOMINO UNSUR UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KIMIA POKOK BAHASAN LAMBANG UNSUR SISWA KELAS X MEKANIK PERKAKAS SMK 16. PENGGUNAKAN MEDIA KOMPUTER DENGAN PERANGKAT LUNAK AUTODESK INVENTOR UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA DIKLAT MENGGAMBAR TEKNIK MESIN KELAS II PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK PEMESINAN DI SMK 17. PENINGKATAN KOMPETENSI MENGATASI MASALAH POWER SUPPLY TEGANGAN RENDAH DENGAN PENDEKATAN PROBLEM BASED LEARNING MELALUI MEDIA

FLOWCHART SISWA KELAS XII AUDIO VIDEO SMK 18. UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MERAKIT KOMPONEN ELEKTRONIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROJECT WORK PADA SISWA KELAS XI EA SMK 19. PENGGUNAAN MEDIA VISUAL UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP IRISAN BIDANG DENGAN BANGUN RUANG PADA SISWA KELAS X SMA 20. UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI BIOLOGI MELALUI PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA SISWA KELAS X SMA 21. MENINGKATKAN KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA (KEM) DENGAN MENGGUNAKAN METODE KLOS SISWA KELAS XI IPA 2 SMA 22. MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA JERMAN SISWA KELAS XI BAHASA SMA DENGAN MENGGUNAKAN ROLE PLAY 23. MENINGKATKAN MINAT BELAJAR BIDANG BIMBINGAN PRIBADI DAN SOSIAL MATERI PENTINGNYA MENGATUR WAKTU DI SEKOLAH PADA SISWA KELAS VIII SMK DENGAN MENGGUNAKAN LAYANAN INFORMASI 24. PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MELALUI BIDANG BIMBINGAN PRIBADI DAN SOSIAL MATERI MENGATASI STRES DAN DEPRESI SISWA KELAS VIII SMK DENGAN LAYANAN KELOMPOK 25. FUNGSI BIMBINGAN DAN PENYULUHAN (BP) DALAM MENUNJANG PRESTASI BELAJAR BIDANG STUDI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKN) SISWA KELAS VIII SMA CD 4 PTK TK (Taman Kanak-Kanak):Isi CD: dalam 1 CD telah berisi 1 buah laporan lengkap PTK TK (BAB I sd V), file bentuk Word. 1. PENINGKATAN KEMAMPUAN BIDANG PENGEMBANGAN KOGNITIF MELALUI MIND MAP PLUS SISWA

ALUR Proses Pengusulan Peserta Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah

oleh Suaidin Dompu pada 13 Mei 2012 pukul 8:44



Publik

Publik Teman (+) Teman selain Kenalan Hanya Saya Khusus Teman Dekat M. Irdhi & Irun Lihat semua daftar... Keluarga Daerah Dompu science teacher education institutes and the country makassar SMAN 1 DOMPU DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA Agent of Change Kenalan Kembali

Proses Pengusulan Peserta Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah 1. 2. 3. Kepala Dinas Pendidikan mengumumkan kebutuhan calon kepala sekolah Kepala sekolah Pengumuman kepada Guru, Guru Membuat Surat Lamaran, melengkapi persyaratan dan rekomendasi

4. Kepala sekolah dan pengawas mengidentifikasi Guru Potensial , Memberikan rekomendasi, 5. Kepala sekolah membuat surat pengusulan, Mendistribusikan Inst. AKPK kepada calon peserta. 6. 7. 8. 9. Kepala dinas menerima usulan, Pendistribusian Instrumen AKPK, Kepala sekolah mendistribusikan Inst. AKPK kepada calon peserta. Guru Melengkapi Instrumen AKPK dengan memberi respon Dinas Pendidkkan melakukan Seleksi Administrasi

a.Kepala Dinas Pendidikan Membuat Panitia Seleksi Adm.(dari asssor ) b. Panitia seleksi melakukan check list kelengkapan individu peserta, melakukan rekap kelengkapan seluruh peserta, melakukan penilaian kesesuaian, membuat Berita Acara Hasil Penilaian c. Kepala dinas Menerima Hasil Seleksi Adm, Mengumumkan Hasil Seleksi Adm, d. Kepala sekolah Menyampaikan hasil seleksi kepada calon peserta e. Guru Menerima hasil seleksi adm

10.SELEKSI AKADEMIK KEPALA SEKOLAH : (Psl 5 ayat 3) Permendiknas 28 tahun 2010 Seleksi akademik dilakukan melalui penilaian potensi kepemimpinan dan penguasaan awal terhadap kompetensi kepala sekolah/madrasah sesuai dengan peraturan perundang-undangan

Seleksi Akademik calon kepala sekolah merupakan salah satu tahapan dalam program penyiapan kepala sekolah yang berfungsi untuk memilih dan memilahkan calon kepala sekolah berdasarkan rekomendasi kepala sekolah, rekomendasi pengawas sekolah, penilaian kinerja/dp3, makalah kepemimpinan dan penilaian potensi kepemimpinan

Seleksi Akademik 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kepala Dinas Pendidikan Menunjuk lembaga penyelenggara Seleksi Akademik Kepala dinas Mengundang peserta Kepala sekolah Menyampaikan undangan kepada peserta Guru Menyerahkan instrumen AKPK yang telah direspon Menerima Undangan Resmi LP3CKS Persiapan seleksi akademik LP3CKS Registrasi Peserta

8.

LP3CKS Pelaksanaan Seleksi Akademik : Rekomendasi KS Rekomendasi PS PK/DP3 Makalah Kepemimpinan Penilaian Potensi Kepemimpinan Rekapitulasi Hasil Seleksi Akd Membuat Berita Acara Hasil Seleksi Akademik Kepala dinas Menerima Hasil Seleksi Akademik

9.

10. Kepala dinas Mengumumkan Hasil Seleksi Akademik 11. Kepala sekolah Menyampaikan hasil seleksi akd kepada peserta Guru Menerima hasil seleksi akademik
,,,,,? ,? AQBpud6n {

SukaTidak Suka Berhenti Mengikuti

KirimanIkuti Kiriman Bagikan Hapus


Tulis komentar...

Komentari

Facebook 2012 Bahasa Indonesia Tentang Iklan Buat Halaman Pengembang Karier Privasi Ketentuan Bantuan

Berfikir Konvergen (Proses di belahan otak Kiri) dan Berfikir Divergen (Proses di belahan otak kanan)
oleh Suaidin Dompu pada 13 Mei 2012 pukul 23:40

Publik

Publik Teman (+) Teman selain Kenalan Hanya Saya Khusus Teman Dekat M. Irdhi & Irun Lihat semua daftar... Keluarga Daerah Dompu science teacher education institutes and the country makassar SMAN 1 DOMPU DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA Agent of Change Kenalan Kembali

Berfikir Konvergen (Proses di belahan otak Kiri) 1. tertarik pada proses penemuan yang bersifat bagian-bagian dari suatu komponen. 2. proses berfikir analisis 3. proses berfikir yang mementingkan tata urutan secara sekuensial dan serial 4. proses berfikir temporal, terikat pada waktu kini 5. proses berfikir verbal, matematis, notasi musikal.

Berfikir Divergen (Proses di belahan otak kanan) 1. tertarik pada proses pengintegrasian dari bagian-bagian suatu komponen menjadi satu kesatuan yang bersifat utuh dan menyeluruh

2. 3. 4.

proses berfikir yang bersifat relasional, konstruksional, dan membangun suatu pola. proses berfikir simultan, dan paralel proses berfikir lintas ruang, tidak terikat pada waktu kini

proses berfikir yang bersifat visual, lintas ruang dan musikal. Mengembangkan sikap kritis dan kreatif siswa Sebagai salah satu ciri pembelajaran kontekstual adalah sikap kritis siswa dan kreatif guru dalam proses pembelajaran. Berfikir kritis dan kreatif merupakan komponen utama berfikir tingkat tinggi (higher order thinking). Proses berfikir tingkat tinggi harus dikembangkan pada setiap diri siswa. Hal ini merupakan tugas guru, karena guru harus megembangkan potensi siswa semaksimal mungkin hingga mencapai kemampuan yang tinggi pada setiap diri siswa. Oleh karena itu pembelajaran dituntut dapat mengembangkan siap kritis dan kreativitas siswa. Sikap kritis dan kreatifitas siswa dapat dikembangkan melalui pembelajaran yang berpusat pada otak kanan. Otak kanan mempunyai kemampuan berfikir kreatif, holistik, spasial. sedangkan otak kiri mengembangkan kemampuan berfikir rasional, analitis, linier. Otak kiri mengendalikan wicara dan otak kanan mengendalikan tindakan. Tabel berikut ditunjukkan perbedaan proses berfikir otak kiri dan kanan.

Berfikir Konvergen (Proses di belahan otak Kiri) 1. tertarik pada proses penemuan yang bersifat bagian-bagian dari suatu komponen. 2. proses berfikir analisis 3. proses berfikir yang mementingkan tata urutan secara sekuensial dan serial 4. proses berfikir temporal, terikat pada waktu kini proses berfikir verbal, matematis, notasi musikal.

Berfikir Divergen (Proses di belahan otak kanan) 1. tertarik pada proses pengintegrasian dari bagian-bagian suatu komponen menjadi satu kesatuan yang bersifat utuh dan menyeluruh

2. 3. 4.

proses berfikir yang bersifat relasional, konstruksional, dan membangun suatu pola. proses berfikir simultan, dan paralel proses berfikir lintas ruang, tidak terikat pada waktu kini

proses berfikir yang bersifat visual, lintas ruang dan musikal.

LANGKAH PERENCANAAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU


oleh Suaidin Dompu pada 14 Mei 2012 pukul 0:55

Publik

Publik Teman (+) Teman selain Kenalan Hanya Saya Khusus Teman Dekat M. Irdhi & Irun Lihat semua daftar... Keluarga Daerah Dompu science teacher education institutes and the country makassar SMAN 1 DOMPU DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA Agent of Change Kenalan Kembali

Keberhasilan pembelajaran terpadu akan lebih optimal jika perencanaan mempertimbangkan kondisi dan potensi peserta didik (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik sudah tercantum dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar per submata pelajaran IPA.

Ada berbagai model dalam mengembangkan pembelajaran IPA Terpadu yang dapat dilihat pada alangkah penyusunan perencanaan pembelajaran terpadu berikut ini:

Langkah (1): Menetapkan mata pelajaran yang akan dipadukan. Pada saat menetapkan beberapa mata pelajaran yang akan dipadukan sebaiknya sudah disertai dengan alasan atau rasional yang berkaitan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar oleh peserta didik dan kebermaknaan belajar. Contoh lihat lampiran.

Langkah (2): Mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar dari mata pelajaran yang akan dipadukan. Pada tahap ini dilakukan pengkajian atas kompetensi dasar pada semester dan kelas yang sama, antarsemester pada kelas yang sama, antarsemester dan kelas yang berbeda dari beberapa submata pelajaran IPA yang memungkinkan untuk diajarkan secara terpadu.

Langkah (3): Memilih dan menetapkan tema atau topik pemersatu. Dalam memilih tema/topik dapat dirumuskan dengan melihat isu-isu yang terkini, misalnya penyakit demam berdarah, HIV/AIDS, dan lainnya, kemudian baru dilihat koneksitasnya dengan kompetensi dasar dari berbagai submata pelajaran IPA.

Langkah (4): Membuat matriks keterhubungan kompetensi dasar dan tema/topik pemersatu. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kaitan antara tema/topik dengan kompetensi dasar yang dapat dipadukan. Contoh lihat lampiran.

Langkah (5): Menyusun dan merumuskan indikator pencapaian hasil belajar untuk setiap kompetensi dasar dari submata pelajaran yang dipadukan.

Langkah (6):

Menyusun silabus pembelajaran IPA terpadu, dikembangkan dari berbagai indikator submata pelajaran IPA menjadi beberapa pengalaman belajar yang konsep keterpaduan atau keterkaitan menyatu antara beberapa submata pelajaran IPA.

Langkah (7): Menjabarkan silabus menjadi desain pembelajaran atau rencana pelaksanaan pembelajaran untuk setiap pertemuan.

IMPLIKASI PEMBELAJARAN IPA TERPADU


oleh Suaidin Dompu pada 14 Mei 2012 pukul 1:09

Publik

Publik Teman (+) Teman selain Kenalan Hanya Saya Khusus Teman Dekat M. Irdhi & Irun Lihat semua daftar... Keluarga Daerah Dompu science teacher education institutes and the country makassar SMAN 1 DOMPU DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA Agent of Change Kenalan Kembali

Sesuatu yang baru atau merupakan inovasi tentu tidak mudah untuk dilaksanakan, karena memerlukan penyesuaian diri dan kemauan untuk beradaptasi. Begitu pula dengan pembelajaran IPA Terpadu. Pembelajaran terpadu biasa dilakukan jenjang pendidikan usia dini, namun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu jenjang SMP/MTs dan SMA/MA. Hasil uji coba menunjukkan bahwa pembelajaran terpadu dapat dilaksanakan.

1. Guru

Dalam pelaksanaannya, pembelajaran dapat dilakukan oleh tim pengajar atau guru tunggal. Hal ini tergantung pada kondisi sekolah. Bila di suatu sekolah guru IPA terdiri atas guru fisika, kimia, biologi, maka dalam penyusunan silabus, perencanaan pembelajaran, penggunaan media, dan strategi mengajar sebaiknya dibuat bersama hingga penyusunan alat penilaiannya. Namun dalam pembelajarannya dapat dilakukan oleh guru tunggal. Bila di sekolah, seorang guru mengajar semua mata pelajaran IPA, dan mengalami kesulitan untuk memadukan kompetensi dasar, indikator, dan materi, maka sangat dianjurkan agar guru tersebut bekerja sama dalam kelompok MGMP agar dapat terjadi diskusi tentang perencanaan strategi dan pelaksanaan KBM. Indikator yang sudah dipadukan tidak perlu diajarkan dua kali karena tujuan pembelajaran terpadu adalah efisiensi dan efektivitas dalam pembelajaran.

Dalam pelaksanaannya di lapangan, pembelajaran IPA Terpadu terbentur pada masalahmasalah berikut ini. (1) Jadwal pelajaran yang sudah diatur sedemikian rupa dan tak dapat diubah begitu saja. (2) Masalah guru mata pelajaran IPA yang terpisah. (3) Program semester yang telah memuat urutan materi yang akan diajarkan. (4) Penguasaan bahan ajar. (5) Keterpaduan kompetensi yang terjadi lintas kelas. Dalam mengajarkan bahan ajar dilakukan oleh guru mata pelajaran yang dominan. Misalnya bahan ajar tersebut dominan biologi maka yang mengajar sebaiknya guru biologi, atau bersamasama. Oleh karena itu, pembelajaran IPA terpadu dapat diajarkan oleh guru tunggal atau tim pengajar tergantung pada kesepakatan dan waktu.

Dalam bab sebelumnya telah diuraikan, bahwa yang terpenting adalah kerja sama antarguru IPA yang ada di suatu sekolah dalam membuat perencanaan pembelajaran, mulai dari silabus, desain pembelajaran/rencana pelaksanaan pembelajaran hingga kesepakatan dalam bentuk penilaian. Bila hal ini dapat dilaksanakan, maka pembelajaran terpadu dapat meningkatkan kerja sama antarguru IPA, baik yang ada di sekolah maupun dalam lingkup MGMP. Kerja sama ini meliputi

saling mempelajari materi dari mata pelajaran yang lain. Selain meningkatkan kerja sama, pembelajaran terpadu juga meningkatkan keharusan bagi guru untuk memperluas wawasan pengetahuannya. Pembelajaran terpadu oleh guru tunggal dapat memperkecil masalah pelaksanaannya yang menyangkut jadwal pelajaran. Secara teknis, pengaturannya dapat dilakukan sejak awal semester atau awal tahun pelajaran. Hal yang perlu dihindarkan adalah pembahasan materi yang tidak seimbang karena wawasan pengetahuan tentang materi pelajaran yang lain kurang memadai. Hal utama yang harus dilakukan guru adalah memahami model pembelajaran terpadu secara konseptual maupun praktikal.

2. Peserta didik

Bagi peserta didik, pembelajaran terpadu dapat mempertajam kemampuan analitis terhadap konsep-konsep yang dipadukan, karena dapat mengembangkan kemampuan asosiasi konsep dan aplikasi konsep. Pembelajaran terpadu perlu dilakukan dengan variasi metode yang tidak membosankan. Aktivitas pembelajaran harus lebih banyak berpusat pada peserta didik agar dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya.

3. Bahan Ajar

Bahan ajar yang digunakan tidak hanya buku mata pelajaran saja, tetapi dapat dari berbagai mata pelajaran yang direkatkan oleh tema. Peserta didik dapat juga mencari berbagai sumber belajar lainnya. Bahkan bila memungkinkan mereka dapat menggunakan teknologi informasi yang ada. Aktivitas peserta didik dalam penugasan dapat menjadi nilai tambah yang menguntungkan.

Dalam pembelajaran terpadu, suatu bahan ajar dapat dibahas dari berberapa mata pelajaran sehingga wawasan peserta didik diharapkan akan lebih terbuka. Di samping itu karena konsepkonsep itu dipadukan dalam suatu pembelajaran, maka akan mengurangi kebosanan peserta didik terhadap pengulangan bahan ajar pada berbagai mata pelajaran.

4. Sarana dan Prasarana

Dalam pembelajaran terpadu diperlukan berbagai alat dan media pembelajaran. Karena digunakan untuk pembelajaran konsep yang direkatkan oleh tema, maka penggunaan sarana pembelajaran dapat lebih efisien jika dibandingkan dengan pemisahan mata pelajaran. Memang tidak semua konsep dapat dipadukan. Konsep-konsep yang dipilih untuk direkat oleh tema dapat menghemat waktu dan ruang.

(Desain Pembelajaran Terpadu


oleh Suaidin Dompu pada 14 Mei 2012 pukul 1:03

Publik

Publik Teman (+) Teman selain Kenalan Hanya Saya Khusus Teman Dekat M. Irdhi & Irun Lihat semua daftar... Keluarga Daerah Dompu science teacher education institutes and the country makassar SMAN 1 DOMPU DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA Agent of Change Kenalan Kembali

Model pembelajaran dalam hal ini adalah menjabarkan silabus menjadi desain pembelajaran/rencana pelaksanaan pembelajaran terpadu, dikemas dalam kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup/tindak lanjut.

1. Kegiatan Awal/Pendahuluan

Kegiatan pendahuluan merupakan kegiatan awal yang harus ditempuh guru dan peserta didik pada setiap kali pelaksanaan pembelajaran terpadu. Fungsinya untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif, yang memungkinkan peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Efisiensi waktu dalam kegiatan awal ini perlu diperhatikan, karena waktu yang tersedia relatif singkat yaitu antara 5-10 menit. Dengan waktu yang relatif singkat tersebut, diharapkan guru dapat menciptakan kondisi awal pembelajaran dengan baik sehingga peserta didik siap mengikuti pembelajaran dengan seksama.

Langkah-langkah dalam kegiatan pendahuluan ini terdiri atas beberapa tahap yaitu: a) menarik perhatian peserta didik untuk menumbuhkan kesiapan belajar; b) memotivasi peserta didik: membangkitkan semangat dan minat peserta didik untuk siap menerima pelajaran; c) memberikan acuan topik yang akan dibahas; d) mengaitkan topik yang akan dipelajari dengan topik yang telah dipelajari yang dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan tentang topik yang sudah dipelajari sebelumnya dan memberikan komentar atas jawaban peserta didik Dalam kegiatan pendahuluan ini guru dapat pula melakukan penilaian awal peserta didik (tes awal) yang dapat diberikan secara lisan maupun tertulis.

2. Kegiatan Inti Kegiatan inti merupakan kegiatan pelaksanaan pembelajaran terpadu yang menekankan pada proses pembentukan pengalaman belajar peserta didik (learning experience). Pengalaman belajar dapat terjadi melalui kegiatan tatap muka dan kegiatan nontatap muka. Kegiatan tatap muka dimaksudkan sebagai kegiatan pembelajaran yang peserta didik dapat berinteraksi langsung dengan guru maupun dengan peserta didik lainnya. Kegiatan nontatap muka dimaksudkan sebagai kegiatan pembelajaran yang dilakukan peserta didik dengan sumber belajar lain di luar kelas atau di luar sekolah.

Kegiatan inti pembelajaran terpadu bersifat situasional, yakni disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam kegiatan inti pembelajaran terpadu, di antaranya adalah sebagai berikut ini.

a) Kegiatan yang paling awal: Guru memberitahukan tujuan atau kompetensi dasar yang harus dicapai oleh peserta didik beserta garis besar materi yang akan disampaikan. Cara yang paling praktis adalah menuliskannya di papan tulis dengan penjelasan secara lisan mengenai pentingnya kompetensi tersebut yang akan dikuasai oleh peserta didik.

b) Alternatif kegiatan belajar yang akan dialami peserta didik. Guru menyampaikan kepada peserta didik kegiatan belajar yang harus ditempuh peserta didik dalam mempelajari tema atau topik yang telah ditentukan. Kegiatan belajar hendaknya lebih mengutamakan aktivitas peserta didik, atau berorientasi pada aktivitas peserta didik. Guru hanya sebagai fasilitator yng memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk belajar. Peserta didik diarahkan untuk menemukan sendiri apa yang dipelajarinya. Prinsip belajar sesuai dengan konstruktivisme hendaknya dilaksanakan dalam pembelajaran terpadu

Dalam membahas dan menyajikan materi/bahan ajar terpadu harus diarahkan pada suatu proses perubahan tingkah laku peserta didik, penyajian harus dilakukan secara terpadu melalui penghubungan konsep di mata pelajaran yang satu dengan konsep di mata pelajaran lainnya. Guru harus berupaya untuk menyajikan bahan ajar dengan strategi mengajar yang bervariasi, yang mendorong peserta didik pada upaya penemuan pengetahuan baru, melalui pembelajaran yang bersifat klasikal, kelompok, dan perorangan. 2. Kegiatan Akhir/Penutup dan tindak lanjut Waktu yang tersedia untuk kegiatan penutup atau kegiatan akhir pembelajaran terpadu ini cukup singkat. Oleh karena itu guru perlu mengatur dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Secara umum kegiatan penutup ini terdiri atas hal-hal sebagai berikut ini. a) Mengajak peserta didik untuk menyimpulkan materi yang telah diajarkan. b) Melaksanakan tindak lanjut pembelajaran dengan pemberian tugas atau latihan yang harus dikerjakan di rumah, menjelaskan kembali bahan yang dianggap sulit oleh peserta didik, membaca materi pelajaran tertentu, memberikan motivasi atau bimbingan belajar. c) Mengemukakan topik yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya. d) Memberikan evaluasi lisan atau tertulis.
,,,,,? ,? AQBpud6n {

SukaTidak Suka Berhenti Mengikuti

KirimanIkuti Kiriman Bagikan Hapus


Tulis komentar...

Komentari

CONTOH RENCANA PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL


oleh Suaidin Dompu pada 13 Mei 2012 pukul 23:37

Publik

Publik Teman (+) Teman selain Kenalan Hanya Saya Khusus Teman Dekat M. Irdhi & Irun Lihat semua daftar... Keluarga Daerah Dompu science teacher education institutes and the country makassar SMAN 1 DOMPU DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA Agent of Change Kenalan Kembali

Mata Pelajaran Kelas Semester Waktu :

: IPA :

: 2 x 40 menit ( 1 kali pertemuan)

A. Tujuan Siswa dapat membedakan antara tumbuhan berbiji tunggal dengan tumbuhan berbiji banyak

B. Media 1. 2. lima kantung plastik ukuran 30 x 20 mc biji-bijian masing-masing 20 butir biji kacang tanah biji rambutan biji jambe biji aren biji salak biji kedelai biji kenari

3. lima pasang gambar, yang masing-masing menunjukkan jenis akar tumbuhan berbiji tunggaldan berbiji jamak.

Catatan : setiap kantung plastik diisi dengan lima butir biji-bijian dari masing-masing jenis.

C. Skenario Pembelajaran 1. sebagai kegiatan pembuka, guru menanyakan kepada siswa tentang :

a. buah-buahan yang setiap hari dikonsumsinya b. biji-bijian bahan pembuat makanan

2. siswa dibagi dalam lima kelompok, per kelompok menyebar mencari tempat, boleh di lantai, boleh menghadap meja (dan atau tiga meja disatukan). 3. siswa menerima satu kantung plastik biji-bijian dsn dua lembar gambar (gambar akar yang di sampingnya berupa kolom yang bisa diisi biji-bijian) 4. siswa membuka kantung plastik, kemudian mengamati secara teliti biji-bijian yang ada

5. berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya, siswa mengelompokkan biji-bijian berdasarkan bentuk akar yang ditunjukkan dalam gambar 6. siswa menempatkan biji-bijian yang telah dipisahkannya ke dalam kotak/kolom yang ada di samping gambar 7. siswa membuat catatan tentang pengelompokan jenis biji-bijian dengan istilah yang ditemukannya sendiri. 8. setelah tiga puluh menit bekerja, siswa menyampaikan secara lisan temuannya

9. guru memberi komentar temuan siswa dengan menyesuaikan istilah yang digunakan siswa dengan istilah dalam IPA 10. selanjutnya, dengan cara sharing, siswa menyebutkan sebanyak mungkin contoh tumbuhtumbuhan untuk masing-masing jenis 11. sebagai kegiatan akhir, siswa diminta mengungkapkan sejumlah komoditas biji-bijian unggulan di Indonesia

D. Penilaian Penilaian untuk kegiatan ini didasarkan pada : 1. 2. 3. kerja sama dalam kelompok format lembar kerja yang telah diisi siswa catatan yang dibuat siswa

CONTOH RENCANA PEMBELAJARAN BERBASIS CTL


oleh Suaidin Dompu pada 13 Mei 2012 pukul 23:35

Publik Teman (+)


Publik

Teman selain Kenalan Hanya Saya Khusus Teman Dekat M. Irdhi & Irun Lihat semua daftar... Keluarga Daerah Dompu science teacher education institutes and the country makassar SMAN 1 DOMPU DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA Agent of Change Kenalan Kembali

Topik

: Mendeskripsikan Ikan dan Perilakunya

Bidang Studi : Integrasi antara IPA, Matematika, dan Bahasa Indonesia Waktu : 90 menit

A. Tujuan Melatih siswa menemukan, menganalisis, mengamati, menggambarkan, menyajikan secara visual, dan menyajikan di hadapan orang banyak ikan dan perilakunya. B. Media Untuk melaksanakan kegiatan ini diperlukan media: 1. Lima topless atau gelas, yang masing-masing sudah diisi seekor ikan (besarnya disesuaikan dengan gelas). 2. Lima lembar kertas karton (manila) untuk membuat gambar. 3. 5 termometer pengukur suhu air. 4. 5 penggaris. 5. 5 spidol warna (atau lebih).

6. 10 lembar kertas kwarto.

C. Skenario pembelajaran 1. Kelas dibagi lima kelompok. 2. Masing-masing kelompok menghadap meja yang di atasnya telah tersedia 1 toples berisi air dan ikan, penggaris, termometer, dan kertas manila, masing-masing satu buah. Juga dua lembar kertas kwarto. 3. Selama empat puluh menit, siswa mengamati ikan yang ada di toples. Siswa diminta mengamati ikan itu, mencatat semua yang mereka amati: ukuran warna, kira-kira beratnya, dll., dan perilakunya. 4. Siswa menyajikan hasil pengamatan di kertas karton. Kreativitas dalam menyajikan ide hasil pengamatan sangat dihargai: boleh dengan gambar, bagan, atau verbal. Juga, apakah siswa mampu membedakan antara data kuantitatif dan data kualitatif yang mereka temukan. 5. Diwakili oleh salah seorang anggota, setiap kelompok menyajikan hasilnya. 6. Sharing dalam kelas mengenai apa-apa yang bisa diamati dari kehidupan seekor ikan: warna, ukuran, tebal, berapa kali bernapas setiap menit, dsb. 7. Berikan bonus untuk penampil terbaik! (gambar bintang, permen, bolepen, dsb.)

D. Authentic Assessment 1. Partisipasi siswa dalam kerja kelompok. 2. Kualitas display hasil pengamatan.

A. Catatan dari rp itu Ilmu dan pengalaman diperoleh siswa dari menemukan sendiri. Itu berarti konstruktivisme. Proses inquiry muncul pada cara dan kiat mendeskripsikan yang ditempuh siswa.

Questioning muncul ketika siswa (peserta) mengamati benda, bertanya, mengajukan usul, dan menebak. Learning community muncul pada kerja kelompok dan saling menebak dengan kelompok lain. Authentic assessment: yang dinilai dari kegiatan itu adalah kerja sama dalam kelompok dan hasil presentasi siswa.