Anda di halaman 1dari 20

MODUL 1 VOLTAMETER TEMBAGA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. TUJUAN Tujuan dari praktikum fisika dasar II Voltameter Tembaga ini adalah: 1. Mengamati perubahan salah satu bentuk perubahan energi , yaitu energi listrik menjadi energi kimia 2. Memahami prinsip elektrolisis serta pemurnian logam dan peyepuhan (electroplating) 3. Menentukan tara kimia listrik dari tembaga

1.2. ALAT DAN BAHAN 1. Voltameter tembaga yang terdiri dari: a. Bejana b. Keping tembaga Anoda c. Keping tembaga Katoda 2. Larutan CuSO4 Sebagai elektrolit untuk penghantar listrik pada katoda 3. Sumber arus DC Sebagai sumber tenaga atau sumber arus listrik 4. Amperemeter DC Untuk mengukur besarnya arus listrik yang mengalir 5. Stopwatch Untuk mengukur waktu yang ditentukan pada saat percobaan 6. Tahanan geser pengatur Arus Untuk menstabilkan arus listrik yang mengalir 7. Penghubung arus 8. Kabel-kabel penghubung

9. Neraca digital Untuk mengukur berat plat katoda agar diketahui jumlah massa sebelum dan sesudah diendapkan pada sel elektrolit larutan CuSO4. 10. Amplas Untuk membersihkan plat katoda

Gambar 1.1. Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan (larutan tembaga sulfat, lempeng tembaga, power supply, ampermeter, neraca digital, stopwatch)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. ELEKTROKIMIA Hukum kekekalan energi menyatakan baha energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, melainkan dapat diubah dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Energi listrik dapat berubah bentuk menjadi energi gerak, energi cahaya, energi panas, dan energi bunyi. Energi listrik merupakan hasil perubahan energi yang lain, seperti dari energi matahari, energi gerak, energi potensial air, energi kimia gas alam, dan energi uap. Salah satu bentuk perubahan energi yang dibahas kali ini adalah perubahan energi kimia ke energi listrik, seperti pada baterai yang disebut sel galvani/sel volta. Maupun sebaliknya, perubahan energi listrik menjadi energi kimia seperti pada proses pemurnian logam yang disebut sel elektrolisis. Baik sel galvani maupun sel elektrolisis kedanya merupakan bagian dari elektrokimia. Elektrokimia itu sendiri adalah kajian mengenai proses perubahan antara energi listrik dan energi kimia. Sesuai dengan namanya, metode elektrokimia adalah metode yang didasarkan pada reaksi redoks, yakni gabungan dari reaksi reduksi dan oksidasi, yang berlangsung pada elektroda yang sama/berbeda dalam suatu sistim elektrokimia. Sistem elektrokimia meliputi sel elektrokimia dan reaksi elektrokimia. Sel elektrokimia yang menghasilkan listrik karena terjadinya reaksi spontan di dalamnya di sebut sel galvani. Sedangkan sel elektrokimia di mana reaksi tak-spontan terjadi di dalamnya di sebut sel elektrolisis. Peralatan dasar dari sel elektrokimia adalah dua elektroda -umumnya konduktor logam- yang dicelupkan ke dalam elektrolit konduktor ion (yang dapat berupa larutan maupun cairan) dan sumber arus. Karena didasarkan pada reaksi redoks, pereaksi utama yang berperan dalam metode ini adalah elektron yang di pasok dari suatu sumber listrik. Sesuai dengan reaksi yang berlangsung, elektroda dalam suatu sistem elektrokimia dapat dibedakan menjadi

katoda, yakni elektroda di mana reaksi reduksi (reaksi katodik) berlangsung dan anoda di mana reaksi oksidasi (reaksi anodik) berlangsung. Aplikasi metode elektrokimia untuk lingkungan dan laboratorium pada umumnya didasarkan pada proses elektrolisis, yakni terjadinya reaksi kimia dalam suatu sistem elektrokimia akibat pemberian arus listrik dari suatu sumber luar. Proses ini merupakan kebalikan dari proses Galvani, di mana reaksi kimia yang berlangsung dalam suatu sistem elektrokimia dimanfaatkan untuk menghasilkan arus listrik, misalnya dalam sel bahan bakar (fuel-cell). Aplikasi lainnya dari metode elektrokimia selain pemurnian logam dan elektroplating adalah elektroanalitik, elektrokoagulasi, elektrokatalis, elektrodialisis elektrorefining dan elektrolisis.

2.2. ELEKTROLISIS Elektrolisis ialah proses penguraian elektrolit kepada unsur-unsurnya apabila arus listrik searah mengalir melaluinya. Istilah elektrolisis diperkenalkan oleh Michael Faraday [1791 - 1867]. 'Lisis' bermaksud memecah dalam bahasa Yunani. Jadi, elektrolisis bermaksud pemecahan oleh arus elektrik. Proses Elektrolisis adalah keadaan di mana apabila elektrolit mengkonduksikan listrik, perubahan kimia berlaku dan elektrolit terurai kepada unsurnya di elektroda. Arus listrik dapat dialirkan melalui elektrolit dengan menggunakan dua elektroda. Elektroda yang disambungakan ke terminal positif yang dinamakan anoda, sedangkan elektroda yang disambungkan ke terminal negatif dinamakan katoda.Semasa elektrolisis berlaku, ion negatif akan bergerak ke anoda.Oleh itu ion ini dikenali sebagai kation.Ion positif pula akan bergerak ke katoda yang mana ion ini dikenali sebagai kation. Ada dua tipe elektrolisis, yaitu elektrolisis lelehan (leburan) dan elektrolisis larutan. Pada proses elektrolisis lelehan, kation pasti tereduksi di katoda dan anion

pasti teroksidasi di anoda. Sebagai contoh, berikut ini adalah reaksi elektrolisis lelehan garam NaCl (yang dikenal dengan istilah sel Downs) : Katoda (-) Anoda (+) Reaksi sel : 2 Na+(l) + 2 e- > 2 Na(s) .. (1) : 2 Cl-(l) Cl2(g) + 2 e- .. (2) : 2 Na+(l) + 2 Cl-(l) > 2 Na(s) + Cl2(g) .. *(1) + (2)+

Reaksi elektrolisis lelehan garam NaCl menghasilkan endapan logam natrium di katoda dan gelembung gas Cl2 di anoda. Pada katoda, terjadi persaingan antara air dengan ion Na+. Dengan demikian, reaksi yang terjadi pada elektrolisis larutan garam NaCl adalah sebagai berikut : Katoda (-) Anoda (+) Reaksi sel : 2 H2O(l) + 2 e- > H2(g) + 2 OH-(aq) .. (1) : 2 Cl-(aq) > Cl2(g) + 2 e- .. (2) : 2 H2O(l) + 2 Cl-(aq) > H2(g) + Cl2(g) + 2 OH-(aq) . *(1) + (2)+

Reaksi elektrolisis larutan garam NaCl menghasilkan gelembung gas H2 dan ion OH- (basa) di katoda serta gelembung gas Cl2 di anoda. Dengan demikian, terlihat bahwa produk elektrolisis lelehan umumnya berbeda dengan produk elektrolisis larutan. 2.3. HUKUM FARADAY Michael Faraday (1791-1867) pada tahun 1833 mengemukakan hubungan kuantitatif antara jumlah zat yang bereaksi di katoda adan anoda dengan muatan listrik total yang melewati sel, yang dikenal dengan hukum Faraday.bunyi hukum Faraday tersebut adalah: Hukum Faraday I : jumlah zat yang dihasilkan pada elektroda sebanding dengan jumlah arus yang dialirkan pada zat tersebut m=e.i.t/F q=i.t m=z.i.t m=z.q z=e/F

m = Massa zat yang dihasilkan (gram) e = Berat ekivalen = Ar/ Valens i= Mr/Valensi

i = Kuat arus listrik (amper) t = Waktu (detik) F = Tetapan Faraday (1 Faraday = 96500 coulumb) z = Tara kimia listrik, yaitu massa zat yang dipisahkan oleh muatan 1 coulomb selama proses elektrolisa satuan kg/coulomb q = Jumlah muatan listrik yang melalui larutan Hukum Faraday II : jumlah zat-zat yang dihasilkan oleh arus yang sama didalam beberapa sel yang berbeda sebanding dengan berat ekuivalen zatzat tersebut. m1 : m2 = e1 : e2 m = massa zat (garam) e = berat ekivalen = Ar/Valensi = Mr/Valensi

Faraday didefinisikan sebagai muatan (dalam Coulomb) mol elektron. Satu Faraday equivalen dengan satu mol elektron. Demikian halnya, setengah Faraday equivalen dengan setengah mol elektron. Sebagaimana yang telah kita ketahui, setiap satu mol partikel mengandung 6,02 x 1023 partikel. Sementara setiap elektron mengemban muatan sebesar 1,6 x 10-19 C. Dengan demikian : 1 Faraday = 1 mol elektron = 6,02 x 1023 partikel elektron x 1,6 x 10-19 C/partikel elektron 1 Faraday = 96320 C (sering dibulatkan menjadi 96500 C untuk mempermudah perhitungan) Salah satu aplikasi sel elektrolisis adalah pada proses yang disebut penyepuhan. Dalam proses penyepuhan, logam yang lebih mahal dilapiskan (diendapkan sebagai lapisan tipis) pada permukaan logam yang lebih murah dengan cara elektrolisis. Baterai umumnya digunakan sebagai sumber listrik selama proses penyepuhan berlangsung. Logam yang ingin disepuh berfungsi sebagai katoda dan lempeng perak (logam pelapis) yang merupakan logam penyepuh berfungsi sebagai anoda. Larutan

elektrolit yang digunakan harus mengandung ion logam yang sama dengan logam penyepuh (dalam hal ini, ion perak)seperti perak nitrat (AgNO3). Pada proses elektrolisis, lempeng perak di anoda akan teroksidasi dan larut menjadi ion perak. Ion perak tersebut kemudian akan diendapkan sebagai lapisan tipis pada permukaan katoda. Metode ini relatif mudah dan tanpa biaya yang mahal, sehingga banyak digunakan pada industri perabot rumah tangga dan peralatan dapur. Pemanfaatan lain dari elektrolisis adalah pada proses pemurnian logam. Pemurnian logam pada prinsipnya menggunakan reaksi elektrolisis larutan menggunakan elektroda yang tidak bereaksi. Seperti pemurnian logam tembaga, logam kotor yang akan dilapisi bertindak sebagai anoda sedangkan logam murni bertindak sebagai katoda. Kedua elektroda dicelupkan ke dalam larutan elektrolit yang mengandung ion tembaga (CuSO4 )yang mengandung asam. Sewaktu tembaga dioksidasi dari anoda tak murni, tembaga ini memasuki larutan dan bergerak ke katoda dan membentuk lapisan dalam bentuk yang lebih murni. Pada percobaan Voltameter Tembaga ini, akan mencari ketetapan Faraday dengan konsep elektrolisis. Hal ini erat kaitannya dengan ilmu kimia, dimana akan banyak berhubungan dengan elektrokimia dan reaksi reaksinya. Voltmeter adalah alat untuk mengukur besar tegangan listrik dalam suatu rangkaian listrik. Rangkaian yang digunakan adalah suatu sistem elektrolisis dengan cairan CuSO 4 . Dimana yang menjadi katoda dan anoda adalah adalah tembaga. Reaksi yang terjadi adalah :

Gambar 1.2. Sel elektrolisis CuSO4 (aq) Cu2+(aq) + SO42-(aq) Cu(s) Cu2+(aq) + 2eKatoda [elektroda - : reduksi] : Cu2+(aq) + 2eAnoda [elektroda + : oksidasi]: Cu(s)

Pada larutan elektrolit yang ada kecenderungan sebagai konduksi listrik, jika kedua elektrode dihubungkan dengan arus listrik searah (DC), maka ion-ion pada larutan akan bergerak berlawanan arah. Artinya, ion-ion positif akan bergerak ke elektrode negatif, sebaliknya ion-ion negatif akan bergerak kearah elektrode positif. Pergerakan-pergerakan muatan ion dalam larutan akan membawa energi listrik. Kondisi demikian ini disebut elektrolitik. Apabila ion-ion dalam larutan terkontak dengan elektrode maka reaksi kimia akan terjadi. Pada katoda akan mengalami reduksi dan pada anoda akan mengalami oksidasi.

Gambar 1.3. Rangkaian alat elektrolisis

BAB III PROSEDUR PERCOBAAN

1. 2.

Menggosok katoda dengan kertas amplas hingga bersih. Mencuci katoda dengan air, membilas dengan alkohol, kemudian

mendiamkannya hingga kering. 3. 4. 5. 6. 7. Menimbang katoda dengan teliti menggunakan neraca teknis digital. Membungkus katoda dengan kertas tissue bersih untuk menghidari kotoran. Merangkai alat percobaan dengan menngunakan katoda sementara. Menuangkan larutan CuSO4 ke dalam bejana. Menjalankan arus dan mengatur R (hambatan geser) sehingga amperemeter menunjukkan kuat arus sebesar 1,5 Ampere. 8. 9. Memutuskan hubungan sumber arus dengan tidak merubah rangkaian alat. Mengganti katoda sementara dengan katoda yang sebenarnya (yang telah dibersihkan). 10. Mengatur luas permukaan katoda yang tercelup ke dalam larutan agar sama dengan luas permukaan katoda sementara yang tercelup dalam larutan. 11. Menjalankan arus listrik selama 20 menit. Menjaga kuat arus yang mengalir agar stabil 12. Memutuskan hubungan arus listrik setelah 20 menit. 13. Mengeringkan katoda, kemudian menimbangnya dengan teliti. 14. Mengulangi percobaan (langkah 1-13) untuk kuat arus sebesar 2 Ampere. 15. Mengembalikan larutan ke dalam botol semula dan membereskan alat.

BAB IV HASIL DAN ANALISA

4.1. DATA DAN PENGAMATAN No. 1. 2. Kuat Arus I (Ampere) 1.5 2 Waktu t (menit) 15 15 Berat awal Wa (gram) 91.4 107,0 Berat akhir Wb (gram) 91.6 107,6 Endapan WCu = Wb-Wa (gram) 0,5 0,6

Tabel 1.1. Data percobaan Voltameter Tembaga

4.2. PERHITUNGAN 4.2.1. Arus 1,5 Ampere Diketahui: WCu = Berat Endapan Cu = 0,5 g ArCu = 63,55 e = Berat ekivalen = Ar/Valensi = 63,55/2 = 31,755 1 mol F = 96.500 coulumb I = Kuat arus = 1,5 Ampere t = Waktu = 15 menit = 900 second Ditanyakan: Tara kimia listrik Cu & Berat ideal endapan Cu Jawab: a. Tara kimia listrik Cu Rumus : WCu = z . I . t z = WCu / I . t z = 0,5 g / 1,5 A x 900 s z = Tara kimia listrik

z = 3,703.10-4 g/coulomb b. Berat ideal endapan Cu Rumus : WCu = e . I . t / F WCu = 31,755 x 1,5 A x 900 s / 96.500 coulomb WCu = 0,44 g

4.2.2. Arus 2 Ampere Diketahui: WCu = Berat Endapan Cu = 0.6 g ArCu = 63,55 e = Berat ekivalen = Ar/Valensi = 63,55/2 = 31,755 1 mol F = 96.500 coulumb I = Kuat arus = 2 Ampere t = Waktu = 15 menit = 900 second Ditanyakan: Tara kimia listrik Cu & Berat ideal endapan Cu Jawab: a. Tara kimia listrik Cu Rumus : WCu = z . I . t z = WCu / I . t z = 0,6 g / 2 A x 900 s z = 3,333.10-4 g/coulomb b. Berat ideal endapan Cu Rumus : WCu = e . I . t / F WCu = 31,755 x 2 A x 900 s / 96.500 coulomb WCu = 0,59 g z = Tara kimia listrik

4.2.3. Tara kimia listrik Cu Teoritis Rumus : WCu = z . I . t z = e/ F z = 31,755 g/ 96.500 coulomb z = 3,291.10-4 g/coulomb 4.2.4. Simpangan z = Tara kimia listrik

% SD =

x 100%

a. Tara kimia listrik Arus 1,5 A

%SD = [(3,291.10-4 - 3,703.10-4)/ 3,703.10-4 ] x 100% = - 11,13 %


Arus 2 A

%SD = [(3,291.10-4 3,333.10-4)/ 3,333.10-4 ] x 100% = - 1,26 %


b. Berat endapan Cu Arus 1,5 A

%SD = [(0,44) (0,50)/ 0,50] x 100% = - 12 %


Arus 2 A

%SD = [(0,59 0,60)/ 0,60] x 100% = - 1,67 %

4.3. PEMBAHASAN 1. Hasil yang didapatkan dari percobaan belum sempurna. Melihat adanya perbedaan antara nilai yang diperoleh dari percobaan dengan nilai teoritis. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti: 1.1 Kurang teliti dalam menimbang katoda. Pada saat penimbangan katoda, neraca yang digunakan adalah neraca digital dengan ketelitian 0,1 g. Sehingga berat yang diperoleh kurang teliti. 1.2 Pada saat penimbangan, kondisi katoda belum benar-benar kering, sehingga berat katoda lebih besar dari yang sebenarnya. 1.3 Kesalahan alat amperemeter pada saat mengukur arus yang mengalir pada sistem elektrolisis. Sehingga kuat arus yang mengalir tidak sesuai dengan yang seharusnya atau yang ditunjukkan oleh amperemeter. 2. Elektrolisis dapat berlangsung dengan arus listrik searah (DC). Karena arus DC mempunyai polaritas yang selalu sama (tetap) yaitu positif (+) dan negatif (-) dimana arus mengalir dari tegangan positif ke negatif. Sehingga pergerakanpergerakan muatan ion dalam sistem tetap. Artinya, ion-ion positif akan bergerak ke negatif, sebaliknya ion-ion negatif akan bergerak ke arah positif. Berbeda dengan arus AC atau biasa disebut tegangan bolak-balik mempunyai dua polaritas yang selalu berubah dari 14egative ke positif dan sebaliknya, dimana perubahan tersebut terjadi 50 kali dalam satu detik. Hal ini menyebabkan pergerakan-pergerakan muatan ion dalam sistem tidak stabil. Katoda dapat bersifat negatif, namun sewaktu-waktu dapat bersifat positif, begitu juga dengan anoda. Akibatnya tidak akan terbentuk endapan Cu pada katoda, karena reaksi yang terjadi berubah-ubah antara reduksi dan oksidasi.

BAB V KESIMPULAN 1. Hasil yang didapat dari percobaan adalah sebagai berikut:
No. Kuat Arus (Ampere) 1,5 2 Tara kimia listrik Cu (g/coulomb) Teoritis 3,291.10
-4

Berat endapan Cu (g) %SD Teoritis 0,44 0,59 Praktikum 0,5 0,6 %SD - 12 % - 1,67 %

Praktikum 3,703.10 3,333.10


-4 -4

1. 2.

- 11,13 % - 1,26 %

Tabel 1.2. Hasil percobaan 2. Tara kimia listrik adalah massa zat yang dipisahkan oleh muatan 1 coulomb selama proses elektrolisa satuan kg/coulomb atau g/coulomb 3. Kuat arus pada proses elektrolisis sebanding dengan massa zat yang terendapkan. Semakin besar kuat arus yang mengalir, maka zat yang terendapkan akan semakin banyak. 4. Elektrolisis adalah salah satu bentuk pemanfaatan perubahan energi. Pada elektrolisis terjadi perubahan bentuk energi dari energi listrik menjadi energi kimia. 5. Elektrolisis sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaanya sangat luas terutama di dunia industri. Pemanfaatan elektrolisis diantaranya untuk proses charging pada accu, pemurnian logam, penyepuhan logam (electroplating), pembuatan bahan-bahan kimia dan juga untuk elektrosintesis (sistesis zat-zat organik)

DAFTAR PUSTAKA

1.

Halliday, Resnick. 1985. Fisika, Edisi III jilid II, Terjemahan Silaban dan Sucipto. Jakarta: Erlangga

2.

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/ oksidasi_dan_reduksi1/elektrolisis

3.

http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_fisika/ elektrosintesis_metode_elektrokimia_untuk_memproduksi_senyawa_kimia

4. 5. 6. 7.

http://andykimia03.wordpress.com http://ravimalekinth.files.wordpress.com http://www.susilochem04.co.cc http://www.fredi-36-a1.blogspot.com/2009/12/voltameter-tembaga

TUGAS PENDAHULUAN

1. Tuliskan reaksi yang terjadi, baik pada anoda meupun katoda selama elektrolisis ! 2. Hukum apakah yang berlaku pada peristiwa pengendapan di elektrolisis? Jelaskan! 3. Tuliskan definisi tara kimia listrik ! 4. Dapatkah elektrolisis berlangsung memakai arus bolak-balik ? 5. Jika kuat arus yang melalui voltameter diketahui dan berat tembaga dapat ditimbang, maka berat atom dan/atau valensi endapan dapat dihitung. Terangkan hal tersebut? Jawaban : 1. CuSO4 (aq) Cu2+(aq) + SO42-(aq) Cu2+(aq) + 2eCu(s) Cu(s) Cu2+(aq) + 2e-

Katoda [elektroda - : reduksi] : Anoda [elektroda + : oksidasi]:

2. Hukum yang berlaku pada saat elektrolisis ialah hukum Faraday. Michael Faraday (1791-1867) pada tahun 1833 mengemukakan hubungan kuantitatif antara jumlah zat yang bereaksi di katoda adan anoda dengan muatan listrik total yang melewati sel, yang dikenal dengan hukum Faraday.bunyi hukum Faraday tersebut adalah: Hukum Faraday I : jumlah zat yang dihasilkan pada elektroda sebanding dengan jumlah arus yang dialirkan pada zat tersebut m=e.i.t/F q=i.t m=z.i.t m=z.q z=e/F

m = Massa zat yang dihasilkan (gram) e = Berat ekivalen = Ar/ Valens i= Mr/Valensi i = Kuat arus listrik (amper)

t = Waktu (detik) F = Tetapan Faraday (1 Faraday = 96500 coulumb) z = Tara kimia listrik, yaitu massa zat yang dipisahkan oleh muatan 1 coulomb selama proses elektrolisa satuan kg/coulomb q = Jumlah muatan listrik yang melalui larutan Hukum Faraday II : jumlah zat-zat yang dihasilkan oleh arus yang sama didalam beberapa sel yang berbeda sebanding dengan berat ekuivalen zat-zat tersebut. m1 : m2 = e1 : e2 m = massa zat (garam) e = berat ekivalen = Ar/Valensi = Mr/Valensi 3. Tara kimia listrik yaitu massa zat yang dipisahkan/diendapkan oleh muatan 1 coulomb selama proses elektrolisa satuan kg/coulomb. 4. Elektrolisis dapat berlangsung dengan arus listrik searah (DC). Karena arus DC mempunyai polaritas yang selalu sama (tetap) yaitu positif (+) dan negatif (-) dimana arus mengalir dari tegangan positif ke negatif. Sehingga pergerakan-pergerakan muatan ion dalam sistem tetap. Artinya, ion-ion positif akan bergerak ke negatif, sebaliknya ion-ion negatif akan bergerak ke arah positif. Berbeda dengan arus AC atau biasa disebut tegangan bolakbalik mempunyai dua polaritas yang selalu berubah dari egative ke positif dan sebaliknya, dimana perubahan tersebut terjadi 50 kali dalam satu detik. Hal ini menyebabkan pergerakan-pergerakan muatan ion dalam sistem tidak stabil. Katoda dapat bersifat negatif, namun sewaktu-waktu dapat bersifat positif, begitu juga dengan anoda. Akibatnya tidak akan terbentuk endapan Cu pada katoda, karena reaksi yang terjadi berubah-ubah antara reduksi dan oksidasi. 5. Dengan Hukum Faraday I : jumlah zat yang dihasilkan pada elektroda sebanding dengan jumlah arus yang dialirkan pada zat tersebut, kita dapat menghitung berat ekivalen suatu zat dengan menurunkan rumus nya m = e . i . t / F menjadi e=m.F/i.t

m = Massa zat yang dihasilkan (gram) e = Berat ekivalen = Ar/ Valens i= Mr/Valensi i = Kuat arus listrik (amper) t = Waktu (detik) F = Tetapan Faraday (1 Faraday = 96500 coulumb)

TUGAS AKHIR

1. Jelaskan pengaruh kuat arus pada proses elektrolisis yang aanda lakukan! Kuat arus pada proses elektrolisis sebanding dengan massa zat yang terendapkan. Semakin besar kuat arus yang mengalir, maka zat yang terendapkan akan semakin banyak. Sesuai dengan hukum Faraday I : jumlah zat yang dihasilkan pada elektroda sebanding dengan jumlah arus yang dialirkan pada zat tersebut