P. 1
Ilmu JAMUS KALIMOSODO.docx

Ilmu JAMUS KALIMOSODO.docx

|Views: 824|Likes:
Dipublikasikan oleh mas.diro9231

More info:

Published by: mas.diro9231 on Mar 27, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2013

pdf

text

original

JAMUS KALIMOSODO

Papat kalima pancer merupakan sebuah wacana yang perlu terus kita gali dan kita renungkan plus bertukar fikiran dengan orang-orang tua kita yang sudah mumpuni baik dari ilmu tahid dan ilmu rasanya. Menurut petunjuknya papat kalima pancer itu pusatnya ada di PANCER (yaitu lubuk hati yang paling dalam) dan PAPAT-nya adalah unsur-unsur ilahi yang kita sendiri hak untuk mendapatkannya. Karena dengan menggunakan PAPAT itu kita bisa selalu ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai penguasa alam semesta ini.

Papat yang pertama adalah nur-nya Allah (Nurullah=Cahaya dari Allah) bias dari asma-asma Allah dan sifat-sifat Allah, tanda dari PANCER-nya yaitu dalam segala sesuatu/ gerak gerik selalu BERSERAH DIRI kepada Allah dan pengakuan kita sebagai mahluknya merasa tiada daya secara ruhani dan tiada kekuatan secara jasmani kecuali hanya Allah yang memberikan gerah hidup dan kehidupan, dan berupaya untuk selalu meng-ibadahkan segala sesuatu untuk BERIBADAH kepada Allah memohon Ridho Allah, Rahmat Allah.

Papat yang kedua adalah NUR MUHAMMAD (cahaya syafa’at yang Allah cipta untuk Hambanya (Rasulullah) yang Allah mulyakan. setelah kita berserah diri kepada Allah lewat PANCER (lubuk hati yang paling dalam) ada sebuah kelembutan sebagai sebuah rahmat yang Allah berikan kepada mahluknya agar kita tunduk dan lemah lembut kepada Allah, selalu merasa sayang kepada apapun dan siapapun sebagaimana Rasulullah mempunyai perangai yang lembut dan berahlak mulia bagi semua mahluk.

PAPAT yang ketiga yaitu MALAIKAT sebagai kendaraan untuk membawa NURULLAH dan NUR MUHAMMAD tadi kedalam diri kita pada waktu kita berserah diri kepada Allah dan mengibadahkan segala sesuatu hanya untuk Allah dan fungsi malaikat ini untuk membantu memintakan permohonan ampun mendoakan kepada kita sebagai mahluk yang lemah, banyak berbuat dosa (karena manusia tempat salah dan lupa) dan nominal mereka tidak sedikit mendukung kita dalam beribadah kepada Allah.

PAPAT yang ke empat adalah KAROMAH yaitu berisi doa-doa dari para orang sholeh terdahulu (doa dari para Rasul-rasul, Nabi-nabi, dan para Auliya serta Sholihin yang telah mendahului kita) yang oleh allah diberikan kesempatan untuk membantu mendoakan segala hajat hidup kita dalam mengarungi kehidupan didunia sebagai bekal ibadah nanti kita setelah meninggal (akhirat).

Semoga Allah mengampuni kedua orang tua kita, keluarga kita, mengampuni kita, dan orang-orang yang mempunyai hak dan kewajiban atas kita yang seiman serta mengampuni sesepuh-sesepuh kita. Semoga Allah memberikan Taufiq dan hidayah kepada kita dan mereka dan semoga kita dan mereka semua dijadikan golongan dari hamba-hamba Allah yang sholeh.

ADABEBERAPA VERSI yang menginterpretasikan JAMUS KALIMOSODO.

1. ada yang menginterpretasikan 2 kalimah syahada

2. ada yang menginterpretasikan lahirnya pancasil

3. ada yang menginterpretasikan tokoh pewayangan pandawa lima, apakah semua nya salah? tentu tidak…karena cara pandang setiap orang tidaklah sama.

Hal yang terpenting adalah jangan sampai kita kehilangan ISI/makna dari Jamus Kalimosodo sebagai orang yang berpengertian jawa yang mendapatkan warisan dari leluhur Jawa, pengertian jamus kalimusodo secara singkat adalah:

Istilah jamus kalimosodo terdapat dalam kisah pewayangan baratayudha, suatu jamus/surat yang ada tulisannnya tentang pengertian/kawruh. “barang siapa mendapat kawruh ini ia akan menjadi raja/mempunyai kekuasaan yang besa. kitab ini dimiliki oleh prabu yudistira(samiaji) yang selalu menang dalam peperangan dan akhirnya masuk surga tanpa kematian…memiliki dalam hal ini adalah bukan saling berebut tetapi saling berebut memiliki makna.

Arti Kalimasada terdiri dari beberapa bagian:

Ka= huruf/pengejaan Ka, Lima=angka 5, Sada= lidi/tulang rusuk daun kelapa yang diartikan Selalu, Jadi kelima ini haruslah utuh(selalu 5), Kelima unsur kalimasada teridiri dari:

1. KaDonyan(Keduniawian).

ojo ngoyo dateng dunyo yang arti singkatnya adalah jangan mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi, kebutuhan duniawi kita kejar tapi jangan diutamakan.

2. Ka Hewanan ( sifat binatang).

ojo tumindak kaya dene hewan, cotoh:asusila. amoral, tidak beretika dll.

3. KaRobanan.

Ojo ngumbar hawa nafsu yang arti singkatnya jangan memelihra hawa nafsu…nafsu itu harus dikendalikan.

4. Kasetanan.

Ojo tumindak sing duduk samestine yang arti singkatnya jangan bertindak yang tidak semestinya alias gengsi, sombong( ingin seperti Gusti), menyesatkan, berbuat licik dll.

5. KaTuhanan.

artinya kosong

Gusti Allah iku tan keno kinoyo ngopo nanging ono yang artinya Gusti Allah tidak dapat diceritakan secara apapun tapi toh ada. Gantharwa adalah salah satunya yang diberikan “pusaka” mewarisi warisan dari leluhur Jawa. Pengertian Asli dari jamus kalimosodo diatas adalah isi murni dari pengertian sebenarnya..setiap orang boleh membungkusnya dengan bungkus apapun tetapi jangan sampai kehilangan makna aslinya, karena pengertian diatas adalah pengertian sebenarnya dari jamus kalimusodo.

Tinggalkan sebuah Komentar

Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 HAKEKAT TITIK

Apabila, Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah, Hakekat adalah ikhlas, syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah, Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat, Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain. Maka, Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah, Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingatnya, Hakekat adalah bagaimana ikhlas, syukur dan sabar dalam kehidupan, Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.

Apabila, Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah, Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingat-Nya, Hakekat adalah bagaimana ikhlas, syukur dan sabar dalam kehidupan, Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.

Maka, Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah, Hakekat adalah ikhlas, syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah, Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat, Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain.

Apabila dan Maka, Bersatu dalam Titik, Titik itu adalah Allah, Syari’at-Tarekat berawal dari Titik, Hakekat-Ma’rifat berakhir di Titik.

Billahu, Fillahu, Bi Idznillahu, Minallahu, Allahu,

Titik.

Tinggalkan sebuah Komentar

Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PHILOSOFI SEMAR

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

Bebadra = Membangun sarana dari dasar

Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

tanpa pamrih. Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa. yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”. jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu.Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis. Budha dan Isalam di tanah Jawa. tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an.namun juga berwajah sangat tua Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Dikalangan spiritual Jawa . untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Ciri sosok semar adalah : Semar berkuncung seperti kanak kanak. yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi. .Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat.

yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi : Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati. agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. bahkan sebagai abdi. Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa ( Brandon dalam Suseno. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan. maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian. ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“. 1988 : 188 ) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. 1988 : 188 ). Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan. Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan . Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa ( Poedjowijatno. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa . Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi. Meskipun berpenampilan sederhana.Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas . Bojo sira arsa mardi kamardikan. 1975 : 49 ) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia ( Geertz 1969 : 264 ). Apabila muncul di depan layar. ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara ( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 ). sebagai rakyat biasa. Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri Dalam Etika Jawa ( Sesuno. ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya. yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal. 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193 ) Dari segi etimologi. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita. Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya. rame ing ngawe ” sepi akan maksud. merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula ( Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191 ). joinboll ( dalam Mulyono 1978 : 28 ) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. termasuk pembudayaan P4 ( Cermomanggolo 1995 : 5 ). Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa ( Mulyono 1978 : 18 ) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar. Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih ( timoer. rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia ( Mulyono.keterdidikannya ( Suseno 1988 : 190 ). Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. 20-23 Januari 1995. tt : 13 ). Cermomanggolo dan manteb Soedarsono ( Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10 ). Prodjosoebroto ( 1969 : 31 ) berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah. maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka. . Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma ( Mulyono 1978 : 35 ) Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar. Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ” ( timoer 1994 : 4 ). Anom Suroto. Sehubungan dengan itu. Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar. Dikemukan oleh Arum ( 1995:10 ) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup. Panut Darmaka. Subana. yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-CaRa-Ka. maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih. tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu.

Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 10 SHILA SUTASOMA Karya Mpu Tantulan. 1. Luluta Rin Pandita Mengabdilah pada mereka yang sadar 6. Aja Sira Anlarani Hati Nin Non Jangan Menyakiti Perasaan Orang Lain (dan jangan mengacaukan pikiran orang lain) 2. Aja Sira Katungkul Ing Kagunan. Ajaamidanda Tan Sabenere janganlah menjatuhkan hukuman yang tidak adil 3. Aja Tan Asih In daridra Janganlah menunda kebaikan terhadap mereka yang kurang beruntung 5. Ajaamalat Duwe Nin Wadwa Nira Janganlah menjarah harta rakyatmu 4. Amujya Nabhaktya .

Adalah yang terbaik. Uttama Si Yen Sira Akalisa Rin Pati. kecuali menjadi tuntutan keadilan 8. 9.Janganlah menjadi sombong. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 SERAT DARMOGANDHUL Darmagandhul Carita adege nagara Islam ing Demak bedhahe nagara Majapahit kang salugune wiwite wong Jawa ninggal agama Buddha banjur salin agama Islam. *** Gancaran basa Jawa ngoko. jika kau tidak takut mati. walau banyak orang menghormatimu 7. Anulaha Saama Daana Ajaapilih Jana (adalah yang terbaik) Jika kau berjiwa besar dan memberi tanpa pilih kasih. Sampuraha Rin Tiwas dan bersabar dalam keadaan susah 10. . Aja Memateni Yen Tan Sabenere Janganlah menjatuhkan hukuman mati.

Cap-capan ingkang kaping sekawan. Angawruhi sasmiteng Hyang Widdhi. Surakarta. anganggur ngethekur. tarimanireng badan. linaksanan tinedhak tinurun sungging. sinung aran srat Darmagandhul jinilid. . agung nugraheng Hyang Suksma. lelepiyanipun. mring tyas gung kumacelu. trewaca wijang raose. pinindha lir Jawata. yun darbeya miwah nimpeni. *** BEBUKA Sinarkara sarjunireng galih. pan ingembun pinusthi ing cipta. wuku Wukir sangkalanira ing warsi: wuk guna ngesthi Nata [taun Jawa 1830]. Pan sinambi-sambi jagi panti. nggennya dama cinubluk. mangesthi amiluta. tan etung lebur luluh. tuladhaning kawruh. Satuduhe Raden Budi ening. kinarya cagak lenggahe. pangesthine ing awal akhir. saselanira ngupaya tedha. kedah medharken kawruh. sawusnya winaos tamat. mring dhawuh weling gurune. Toko Buku “Sadu-Budi” Sala. karya suka pireneng jalmi. dumadya auliya.Babon asli tinggalane KRT Tandhanagara. kinarya nglipur manah. pinirit tinuladha. tinarimeng Bathara. panggusthine tan mamang ing lair batin. mring sagung ahli sastra. suprandene tan kaliren wayah siwi. puruhita mring Raden Budi. kyai Kalamwadi ngarang. pan biyasa mituhu susetya. sasedyanya kabul. myat carita dipangiketira. kiyai Kalamwadine. sinung ilham ing alam sahir myang kabir. ing nguni anggeguru. ngebun-bun pasihaning Hyang. sinung tembang macapat. sumungkem lair batine. tembang raras rum seya prasaja. sagotra minulyarja. ing lokhilmakful tulise. ping trilikur ri Tumpak manis. 1959. Pan katemben amaos kinteki. pan sumarah kumambang karseng Hyang. masa Nem ringkêlnya Aryang. Sancaya kang windu. panitranira nuju. mung kinarya ngarem-aremi. Ruwah Je warsanira. Wus pinupus sumendhe ing takdir. duta rehing guru. sru sêtya nglampahi dhawah.

sarta nyuwun idi marang Sang Nata. Sang Prabu lagi kalimput panggalihe. (2) ing mangka Putri Cêmpa mau agamane Islam.DARMAGANDHUL Ing sawijining dina Darmagandhul matur marang Kalamwadi mangkene “Mau-maune kêpriye dene wong Jawa kok banjur padha ninggal agama Buddha salin agama Islam?” Wangsulane Ki Kalamwadi: “Aku dhewe iya ora pati ngrêti. kaparênga anggêlarake sarengate agama Rasul. Sang Prabu krama oleh Putri Cêmpa. Akeh wong Jawa kang padha kelu maguru marang Sayid Kramat. mung kanggo pasêmon. mula bisa dadi gurune wong Islam. Ora antara suwe kaprênah pulunane Putri Cêmpa kang aran Sayid Rakhmat tinjo mênyang Majalêngka. dene ênggone jênêng Majapahit iku. Sayid Kramat dadi gurune wong-wong kang wis ngrasuk agama Islam kabeh. Wong Jawa ing pasisir lor sapangulon sapangetan padha ninggal agamane Buddha. Ing wêktu iku. Ing jaman kuna nagara Majapahit iku jênênge nagara Majalêngka. Sang Rêtna tansah matur marang Sang Nata. banjur ngrasuk . Ing kono banjur akeh para ngulama saka sabrang kang padha têka. supaya wong kang ora ngrêti mula-bukane karêben ngrêti”. ora ana maneh kang diaturake. nanging kang durung ngrêti dêdongengane iya Majapahit iku jênêng sakawit. nganti njalari katariking panggalihe Sang Prabu marang agama Islam mau. Panyuwunan mangkono mau uga diparêngake dening Sang Nata. Ature Darmagandhul: “Banjur kapriye dongengane?” Ki Kalamwadi banjur ngandika maneh: “Bab iki satêmêne iya prêlu dikandhakake. Sayid Rakhmat banjur kalakon dhêdhukuh ana Ngampeldênta ing (3) anggêlarake agama Rasul. dene panggonane ana ing Benang (4) bawah Tuban. sabên marak. (1) Ing nagara Majalêngka kang jumênêng Nata wêkasan jêjuluk Prabu Brawijaya. nyaritakake purwane wong Jawa padha ninggal agama Buddha banjur salin agama Rasul”. sarta padha nyuwun dhêdhukuh ing pasisir. bab luruhe agama Islam. Sang Prabu iya marêngake apa kang dadi panyuwune Sayid rakhmat mau. para ngulama lan para maulana iku padhamarêk sang Prabu ing Majalêngka. kajaba mung mulyakake agama Islam. wong Jawa banjur akeh bangêt kang padha agama Islam. nanging aku tau dikandhani guruku. ing mangka guruku kuwi iya kêna dipracaya. Suwe-suwe pangidhêp mangkono mau saya ngrêbda. sajrone lagi sih-sinihan. Sayid Kramat iku maulana saka ing ‘Arab têdhake Kanjêng Nabi Rasulu’llah.

manusa ora bisa apa-apa. yen putra Nata kang miyos ana ing Palembang iku diparingi sêsêbutan lan asma Babah Patah. Satêkane Majalêngka Sang Prabu kewran panggalihe ênggone arêp maringi sêsêbutan marang putrane. Sang Prabu Brawijaya kagungan putra kakung kang patutan saka Putri Bangsa Cina. Ature Patih kang mangkono mau. awit yen miturut lêluri saka ingkang rama. sêsêbutane Bambang. dene wong-wonge padha manêmbah marang Budi Hawa. Yen miturut ibu. iku wajib sinuwunan kawruhe ngelmu lair batin. Sunan iku têgêse budi. dene Raden Kusen ing nalika iku jinunjung dadi Adipati ana ing Têrung (5). sowan ingkang rama. diparingi têtêngêr Raden Patah. Barêng wis sawatara masa. têgêse pambabare ana nagara liya. para ngulama sarake Buddha. Prabu Brawijaya uga banjur paring idi. yen miturut lêluhur kuna putrane Sang Prabu mau disêbut Bambang. sarta sarehne Babah Patah nalika ana ing Palembang agamane wis Islam. putraning Nata kang pambabare ana ing gunung. arane Raden Kusen. banjur boyong marang Dêmak. madanani para bupati urut pasisir Dêmak sapangulon. Ing Balambangan sapangulon nganti tumêka ing Bantên. isih padha cêgah dhahar sarta cêgah sare. Mangka agama Buddha iku ana ing tanah Jawa wis kêlakon urip nganti sewu taun. Hawa iku karêping hati. Sang Prabu banjur nimbali patih sarta para nayaka. budi kang ngobahake. cêgah turu. durung padha duwe karêp kang cidra. mung nuruti rasaning lesan lan awak. jroning utêk iku yen diwarahi budi . sênênge mau amung kanggo samudana bae. prayoga disêbut Babah. Saka ature Patih. Ing nalika iku Babah Patah banjur jinunjung dadi Bupati ing Dêmak. sirik cêgah mangan turu.agama Rasul. ora kêna dikawruhi sarana netra karna sarta lesan. nanging sarehne ibune bangsa Cina. Yen sarak rasul. Ing wêktu iku ana nalar kang aneh. yen nglêluri lêluhur kuna. para ngulama padha nyuwun pangkat sarta padha duwe sêsêbutan Sunan. Suwening suwe sarak Rasul saya ngrêbda. kabênêr wayahe kiyai Agêng Ngampel. Jawa Buddha agamane. sarta Babah Patah dipalakramakake oleh ing Ngampelgadhing. nganti sadhereke seje rama tunggal ibu. yen wohe budi ngrêti marang kaelingan bêcik. yen blastêran Cina lan Jawa sêsêbutane Babah. Suwe-suwe agama Rasul saya sumêbar. bisane mung sadarma nglakoni. Budi iku Dzate Hyang Widdhi. para nayaka uga padha mupakat. mulane katone iya sênêng. ana ing desa Bintara. kok nganggo sêsêbutan Sunan. pinaringan nama sarta sêsêbutan Raden Arya Pêcattandha. wêtune saka engêtan. sêsêbutane: Kaotiang. sang Prabu Brawijaya kagungan panggalih. Ing wêktu iku para ngulama budine bêcik-bêcik. lakune isih padha cêgah mangan. mula Sang Nata iya banjur dhawuh marang padha wadya. wonge uga padha kelu rêmbuge Sayid Kramat. Babah Patah wêdi yen ora nglakoni dhawuhe ingkang rama. dene yen wong ‘Arab sêsêbutane Sayid utawa Sarib. Katêlah nganti tumêka saprene. Yen cêgah mangan rusak. Ing nalika samana. anane ing Dêmak didhawuhi nglêstarekake agamane. Barêng Raden Patah wis diwasa. uwite kawruh kaelingan kang bêcik lan kang ala. mungguh satêmêne ora sênêng bangêt ênggone diparingi sêsêbutan Babah iku. miyose putra mau ana ing Palembang. padha dipundhuti têtimbangan ênggone arêp maringi sêsêbutan ingkang putra mau.

awit katrajang ilining banyu kali kang ngalih iline. ngêndêl-êndêlake kaprawirane. kajaba uyuh kula niki imbon bêning. ngriki botên entên carane wong ngimbu banyu. mBok Prawan kaget krungu swarane wong lanang. MBok Prawan salah cipta. iya iku ing tanah Kêrtasana. akeh desa kang padha rusak. Sakabat têka sarta alon calathune: “mBok Nganten. kula nêdha toya imbon bêning rêsik”. Ing wêktu iki ana dhêmit jênênge Nyai Plêncing. mula ênggone mangsuli nganggo têmbung saru: “nDika mêntas liwat kali têka ngangge ngarani njaluk banyu imbon. kang padha rusak. iya kudu ditimbang ing sabênêre. nanging kang mangkono mau arang kang padha ngrêti mula-bukane. iline banyu kang gêdhe nyimpang nrabas desa alas sawah lan patêgalan. Gêdhah iku ora irêng ora putih. bangêt dukane. barêng kêna dayaning pangandika mau. Bandung dianggêp Nabine. kang ndherekake mung sakabat loro. Satêkane lor Kadhiri. satêkane ngarsane Sunan Benang banjur ngaturake lêlakone nalika golek banyu. Sunan Benang ngandika marang sakabate: “Kowe goleka banyu imbon mênyang padesan. ing wêktu iku lagi nênun. sawah sarta patêgalan. nganti têkane saiki isih karan Kutha Gêdhah. apa isih agama Budi. kang ana mung bocah prawan siji. aku arêp wudhu. Sunan Benang sarta sakabate loro padha nyabrang. sarak Buddha mung sawatara. pangrasane wong lanang arêp njêjawat. mula saka pangiraku iya nyata. padha sênêng-sênêng ana ing omah. Nganti tumêka saprene tanah Gêdhah iku larang banyu. kang maca lan kang krungu nganggêp têmên lan ora. lan maneh iki wancine luhur. Sunan Benang mirêng ature sakabate. Sakabate siji banjur lunga mênyang padesan arêp golek banyu. têkan ing desa Pathuk ana omah katone suwung ora ana wonge lanang. Tanah saloring kutha kadhiri banjur jênêng Kutha Gêdhah. mula akeh desa. alas. Santri krungu têtêmbungan mangkono banjur lunga tanpa pamit lakune dirikatake sarta garundêlan turut dalan. tansah digubêl anak putune. Ature Ki Bandar wong ing kono agamane Kalang. isih kêna dinyatakake. banyune isih buthêk. wajah lagi arêp mêpêg birahi. tanah kene patut diarani Kutha Gêdhah”. kêpalangan banyu. Dhek nalika samana Sunan Benang sumêdya tindak marang Kadhiri. mulyakake Bandung Bandawasa. Sunan Benang ngandika: “Yen ngono wong kene kabeh padha agama Gêdhah. iline banjur salin dalan kang dudu mêsthine. wong-wong padha bêbarêngan mangan enak. nganti kawêtu pangandikane nyupatani. satêkane wetan kali banjur niti-niti agamane wong kono apa wis Islam. saiki isih ana wujuding patilasane. ing panggonan kono disabdakake larang banyu.nyambut gawe. sarta jakane aja rabi yen durung dadi jaka tuwa. yen sampeyan ajêng ngombe”. mêjanani marang dheweke. Ki Bandar matur: “Dhawuh pangandika panjênêngan. kali iki isih banjir. jaka lan prawane iya nganti kasep ênggone omah-omah. padha wadul yen ana wong arane Sunan Benang. arêp salat”. ing sanalika kali Brantas iline dadi cilik. kali Brantas pinuju banjir. yen diombe nglarani wêtêng. Sunan Benang têrus tindak mênyang Kadhiri. wong ing kono akeh padha agama Kalang. kali kang maune iline gêdhe sanalika dadi asat. iya iku saka . iya iku dhêmit ing sumur Tanjungtani. yen pinuji dina Riyadi. gawene nyikara marang para lêlêmbut. kula ingkang nêkseni”. prawane aja laki yen durung tuwa. dene kang agama Rasul lagi bribik-bribik. kali kang saka Kadhiri disotake banjur asat sanalika. barêng noleh wêruh lanang sajak kaya santri.

matur bab rusake tanah lor Kadhiri. Dhêmit-dhêmit mau banjur padha mlayu marang Kadhiri. kabeh padha sumiwi marang Ni Mas Ratu Anginangin. sarta ngaturake yen kang gawe rusak iku. sanalika banjur nimbali putra-wayahe sarta para jin pêri parajangan. kuthane ana sagara kidul sarta jêjuluk Ni Mas Ratu Anginangin. maune jênênge kiyai Daha. sarta kono disotake larang banyu sarta diêlih jênênge tanah aran Kutha Gêdhah. Ni Mas Ratu Pagêdhongan dadi ratuning dhêmit nusa Jawa. Buta Locaya panggonane ana ing Selabale. kang anom aran panji Sarilaut. sarta lakune barêng karo angin. kiyai têgêse: ngayahi anak putune sarta wong-wong ing kanan keringe. Lo têgêse kowe. enggal mangkat mêthukake lakune Sunan Benang. Buta Locaya lagi ngandikan karo kang padha ngadhêp. Buta iku têgêse: butêng utawa bodho. Jêngkare Sri Narendra anjujug ing omahe kiyai Daka. didhawuhi nglawan Sunan Benang. yen lahar mêtu supaya ora gawe rusaking desa sarta liya-liyane. Sakabehe lêlêmbut kang ana ing lautan dharatan sarta kanan keringe tanah Jawa. (6) Jênênge Buta Locaya. amarga rasane awake padha panas bangêt kaya diobong. satêkane ing Kadhiri. Nyai Plêncing ngaturake susahe para lêlêmbut sarta para manusa. sarirane nganti kaya gêni. mula sang Prabu asih bangêt marang kiyai Daka. Samuksane Sang Prabu Jayabaya lan putrane putri kang aran Ni Mas Ratu Pagêdhongan. rumêksa kawah sarta lahar. sarta banjur didadekake patihe Sang Prabu Jayabaya. . Buta Locaya krungu wadule Nyai Plêncing mangkono mau bangêt dukane. Para lêlêmbut mau padha sikêp gêgaman pêrang. dheweke diparingi Buta Locaya. iya iku kiyai daha lan kiyai Daka. jênênge kiyai Daha dipundhut kanggo jênênge nagara. kiyai Buta Locaya iku bodho. kang uga ngêsotake wong ing kono. kaget kasaru têkane Nyai Plêncing. Buta Locaya lan kiyai Tunggulwulung uga padha muksa. bisaa tumêka ing pati. dene Selabale iku dununge ana sukune gunung Wilis. Kiyai daha iki cikal-bakal ing Kadhiri. Wiwite ana sêbutan kiyai. Anak putune Nyai Plêncing padha ngajak supaya Nyai Plêncing gêlêma nêluh sarta ngrêridhu Sunan Benang.panggawene Sunan Benang. mulane didadekake patih. ora antara suwe lêlêmbut wis têkan ing saêloring desa Kukum. ratune manggon ing Selabale. Sunan Benang dhêmêne salah gawe. matur marang ratune. dene kiyai Daka banjur diparingi jênêng kiyai Tunggulwulung. dene para lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha ora ngaton. lanang wadon ngantiya kasep ênggone omah-omah. caya têgêse: kêna dipracaya. Nyai Plêncing krungu wadule anak putune mangkono mau. ana ing kono Sang Prabu sawadya-balane disugata. arane Sunan Benang. ngadhang lakune Sunan Benang kang saka êlor. barêng Sri Jayabaya rawuh. kang tuwa arane Panji Sêktidiguna. diadhêp patihe aran Megamêndhung. jênênge kiyai Daka dipundhut kanggo jênêng desa. ing kono Buta Locaya banjur maujud manusa aran kiyai Sumbre. wong saka Tuban kang sumêdya lêlana mênyang Kadhiri. lan putrane kakung loro uga padha ngadhêp. duwe adhi jênênge kiyai Daka. ngrungkêbi pangkone. sarta kinêbutan êlaring mêrak. nanging dhêmit-dhêmit mau ora bisa nyêdhaki Sunan Benang. kiyai Sumbre banjur ngadêg ana ing têngah dalan sangisoring wit sambi. Ing wêktu iku kiyai Buta Locaya lagi lênggah ana ing kursi kêncana kang dilemeki kasur babut isi sari. sarta dadi senapatining pêrang. dene kiyai Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut. dadi ora tansah ganggu gawe. ngaturake kahanane kabeh. Buta Locaya iku patihe Sri Jayabaya. nanging têmên mantêp sêtya ing Gusti.

amarga wonge kene agamane ora irêng ora putih. dadi dheweke kawanguran karêpe. kowe apa padha slamêt?”. saiba susahipun tiyang gêsang laki rabi sampun lungse. banjur padha katisên. sarta ngêlih nami Kutha Gêdhah. têtêpe agama biru. Kados wangun walang kadung?”. pêrlu nonton patilasan kadhatone Sang Prabu Jayabaya. ora bêtah kêna prabawane Sunan Benang. Sunan Benang wis ora kasamaran yen kang ngadêg ana sangisoring wit sambi iku ratuning dhêmit. paduka sikara botên surup. mula tak-sotake larang banyu. kene kabeh tak sotake larang banyu. sêlaminipun awis toya. amarga kêna daya prabawane kiyai Sumbre. ngriki paduka-sotakên. Kula badhe pitaken. paduka gêndhak sikara dhatêng anak putu Adam. aku ngrêti yen kowe ratuning dhêmit Kadhiri. pasanggrahan Wanacatur ugi sampun sirna. lepen Kadhiri ngalih panggenan mili nrajang dhusun. nyabdakakên ingkang botên patut. dene ênggonku ngêsotake prawan tuwa jaka tuwa. namung kantun namaning dhusun.”. Sakabat loro kang maune padha sumaput. jênêngku Sayid Kramat. katitik saka awake panas kaya mawa. lajêng botên gampil pêncaripun titahing Latawalhujwa. sumêdya ganggu gawe. prawan baleg. kiyai Sumbre mangkono uga. Buta Locaya kaget bangêt dene Sunan Benang ngrêtos jênênge dheweke. Buta Locaya banjur matur: “Wetan punika wastanipun dhusun Mênang (9). lajêng nyabdakakên ing ngriki awis toya. kraton sarta pasanggrahanipun inggih sampun botên wontên. amarga kaya dene cêdhak mawa. Kiyai Sumbre matur marang Sunan Benang: “Paduka punika tiyang punapa. sadaya wau sirnanipun kaurugan siti pasir sarta lahar saking rêdi Kêlut. . Sunan Benang andangu marang kiyai Sumbre: “Buta Locaya! kowe kok mêthukake lakuku. amarga kang tak jaluki banyu ora oleh iku. sêpintên susahipun tiyang ingkang sami kêbênan. wana. dede pangagêm Jawi. ngêlih lepen. nyikara tanpa prakara”. aku njaluk banyu ora oleh. sabab agama Kalang. Sunan Benang ngandika: “Aku ora kasamaran. makatên wau saking sabda paduka. lepenipun asat. sabin. iku prênahe ana ing ngêndi?”. sikara tanpa dosa. jênêngmu Buta Locaya. dene mangangge pating gêdhabyah. pintên-pintên sami risak. Dene lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha sumingkir adoh. prawan tuwa jaka tuwa. kraton utawi patamanan Bagendhawati ingkang kagungan Ni Mas Ratu Pagêdhongan inggih sampun sirna. Mangkono uga Sunan Benang uga ora bêtah cêdhak karo kiyai Sumbre. Sunan Benang ngandika maneh: “Aku bangsa ‘Arab. Sunan Benang ngandika: “Mula ing kene tak-êlih jênêng Kutha Gêdhah.Ora antara suwe têkane Sunan Benang saka lor. dene omahku ing Benang tanah Tuban. mula kaline banjur tak-êlih iline. sarta nganggo jênêng Sumbre. wusana banjur matur marang Sunan Benang: “Kados pundi dene paduka sagêd mangrêtos manawi kula punika Buta Locaya?”.”. punika namanipun siya-siya botên surup. mungguh kang dadi sêdyaku arêp mênyang Kadhiri. sadaya patilasan sampun sami sirna.

kula tamtu nyuwun bantu wadya bala dhatêng Kanjêng Ratu Ayu Anginangin ingkang wontên samodra kidul”. wujud paduka niki jajil bêlis katingal. sanadyan ing tanah Jawi rak inggih wontên ingkang nglangkungi kaprawiran paduka. tur namung tiyang satunggal ingkang lêpat. sarta susahe jalma lan dhêmit. punika namanipun tiyang dahwen”. calathune sêngol: “Rêmbag paduka niki dede rêmbage wong ahli praja. dene gawe kasusahan warna-warna. dene kok kaya bocah cilik padha tukaran. sagêd dados asil panggêsangan laki rabi taksih alit lajêng mêncarakên titahipun Hyang Manon. besuk yen wus limang atus taun. aku pamit nyimpang mangetan. Aji Saka tiyang saka Hindhu. nanging ingkang susah kok tiyang kathah sangêt. paduka inggih dipunukum mlarat ingkang langkung awrat. daginge dadiya asêm. niku Sunan napa? Yen pancen Sunaning jalma yêktos. sadaya manusa Jawi ingkang Islam badhe sami kula-têluh kajêngipun pêjah sadaya. nuli matur marang Sunan Benang: “Kêdah paduka. botên timbang kaliyan kukumipun. Kula niki bangsaning lêlêmbut. ngêndêlake dumeh tiyang digdaya. ewadene kula taksih engêt dhatêng wilujêngipun manusa. Sunan Benang ngandika marang Buta Locaya: “Wis kowe ora kêna mangsuli. ora kêna mbaleni caturku kang wus kawêtu. woh sambi dadi warna loro kanggone.wangsulna sapunika. dak-suwun marang Rabbana. saupami konjuk Ingkang Kagungan Nagari. mula banjur ngandika: “Buta Locaya! aku iki bangsa Sunan. manawi panjênêngan botên karsa mangsulakên. mbok sampun sumakehan dumeh dipunkasihi Hyang Widdhi. yen botên sagêd. punapa paduka punika tiyang tunggilipun Aji Saka. nanging kok jêbul botên makatên. nanging sami ahli budi sarta ajrih sêsikuning Dewa. tandhane paduka sapunika sampun jasa naraka jahanam. siram salêbêting kawah wedang ingkang umob mumpalmumpal. Inggih sampun ta. siya dahwen sikara botên ngangge prakara. Sunan Benang ngandika: “Sanadyan kok-aturake Ratu Majalêngka aku ora wêdi”. nggih niki margi paduka cilaka. Buta Locaya barêng krungu têmbung ora wêdi marang Ratu Majalêngka banjur mêtu nêpsune. sapunika sadaya ingkang risak kula-aturi mangsulakên malih. Aji Saka dados Ratu tanah Jawi namung tigang taun lajêng minggat saking tanah Jawi. sugih sanak malaekat. lepen ingkang asat lan panggenan ingkang sami katrajang toya kula-aturi mangsulakên kados sawaunipun. paduka punika namanipun damêl mlaratipun tiyang kathah. . ing ngriki sagêda mirah toya malih. lajêng mubal nêpsune gêlis duka. lajêng paduka-ênggeni piyambak. banjur nêpsu maneh. Paduka niksa wong tanpa dosa. kali iki bisa bali kaya mau-maune”. yen sampun dados. sami damêl awising toya. Panjênêngan sanes Narendra têka ngarubiru agami. Sunan Benang barêng mirêng nêpsune Buta Locaya rumaos lupute. paduka ngakên Sunan rak kêdah simpên budi luhur. lah sapunika mugi panjênêngan-sotakên wangsulipun malih. mêsthi simpên budi luhur. sanes alam kaliyan manusa. amargi ngrisakakên tanah. woh sambi iki tak-jênêngake cacil. muride Ijajil. mila sami siya-siya dhatêng sêsami. Buta Locaya barêng krungu kêsagahane Sunan Benang. patute rêmbage tiyang entên ing bambon. wijine mêtuwa lêngane. têbih saking ahli budi yen ngantos siya dhatêng sêsami nyikara tanpa prakara. botên sapintên lêpatipun.Buta Locaya matur maneh: “Punika namanipun botên timbang kaliyan sot panjênêngan. lajêng tumindak sakarsa-karsa botên toleh kalêpatan. paduka tiyang saking ‘Arab. paduka kula-banda”. botên tahan digodha lare. nyikara wong kang ora dosa. sumbêr toya ing Mêdhang saurutipun dipunbêkta minggat sadaya. dhêmit lan wong pêcicilan rêbut bênêr ngadu kawruh prakara rusaking tanah. damêl wilujêng dhatêng tiyang kathah.

Sumbre sarta Singkal. yen dijunjung wong wolung atus ora kangkat. woh trênggulun jênênge kênthos. dadiya pangeling-eling ing besuk. Kawanguran têgêse kawruhan. sajabane desa kono ana sumur nanging ora ana timbane. Sunan Benang ngandika: “Woh trênggulun iki tak-jênêngake kênthos. Buta Locaya mangsuli: “Inggih kaot punapa. yen aku padu karo kowe. rêca mau awak siji êndhase loro. lênga têgêse dhêmit mlêlêng jalma lunga. ngriku Sunan. ing kene desa ing Sumbre. bathuke dikrowak. iku pituture Raden Budi Sukardi. saka akehe kêmbange kang tiba. jênênge dhêmit kêmênthus”. Ing besuk dadiya pasêksen. dene ana madhêp mangulon. lajêng sami mangrêtos tekadipun para wanita Jawi”. wêktu iku dhadhape pinuju akeh bangêt kêmbange. nuli sagêd mundhut banyu kagêm wudhu banjur salat. yen aku kêrêngan karo dhêmit kumênthus. kajaba yen nganggo piranti. Sunan Benang kang anggolingake. barêng wis wanci asar. dene dhêmit padu lan manusa. sarta akeh kang tiba kanan keringe rêca buta mau. nganti katon abang mbêranang. ubênge bangkekane 10 kaki. kangge pralambang ing tekadipun wanita Jawi. sintên ingkang sumêrêp rêca punika.asêm dadi pasêmoning ulat kêcut. Buta Locaya nututi tindake Sunan Benang. benjing jaman Nusa Srênggi. Sunan Benang priksa rêca mau gumun bangêt. Sunan Benang sawise salat banjur nêrusake tindake. Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene. Sunan Benang sawuse ngandika mangkono banjur mlumpat marang wetan kali. Buta Locaya barêng wêruh patrape Sunan Benang anggêmpal êndhasing rêca jaran. Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene sumur mau karane sumur Gumuling. . Sunan Benang ngasta kudhi. prakara rusaking rêca”. iku pituture Raden Budi guruku. katêlah nganti tumêka saprene ing tanah Kutha Gêdhah ana desa aran Kawanguran. rêca jaran êndhase digêmpal. sumure banjur digolingake. kêrsane arêp salat. guruku”. Sunan Benang ngandika: “Kowe iku bangsa dhêmit kok wani padu karo manusa. dene Sunan Benang sawise. saya wuwuh nêpsune sarta mangkene wuwuse: “Punika yasanipun sang Prabu Jayabaya. ana ing kono Sunan Benang mriksani rêca jaran. Sunan Benang tindake têkan ing desa Bogêm. prênahe ana sangisoring wit dhadhap. lan wiwit saiki panggonan têtêmon iki. satêkane desa Nyahen (10) ing kona ana rêca buta wadon. Singkal têgêse sêngkêl banjur nêmu akal. kang lor jênênge desa Singkal. Sunan Benang banjur tindak mangalor. dene panggonane balamu kang ana ing kidul iku jênênge desa Kawanguran”. awit saka sabdane Sunan Benang. wohe trênggulun mau akeh bangêt kang padha tiba nganti amblasah. dhuwure ana 16 kaki. kula Ratu”. saupama diêlih saka panggonane. baune têngên rêca mau disêmpal dening Sunan Benang. dene prênahe ana sangisoring wit trênggulun. êmbuh bênêr lupute”.

tiyang Jawi pathokan sastra. amargi siti utawi kajêng punika wontên asilipun. rêca buta bêcik-bêcik dirusak tanpa prakara. yen wong muji brahala iku jênênge kapir kupur lair batine kêsasar. manggen wontên ing rêca têka panjênêngan-sikara. manusa sadaya kêdah sumêrêp ing Batu’llahipun. ta. inggih kêkasihipun Ingkang Kuwaos. Sanadyan rintên dalu nglampahi salat. pinaringan wahyu nyata pintêr sugih engêtan. lah asilipun punapa panjênêngan ngrisak rêca?” Pangandikane Sunan Benang: “Mulane rêca iki tak-rusak. sintên sumêrêp asalipun badanipun. punika inggih langkung sasar”. saniki awon warnine. sarta nêdha ganda wangi. Dene ingkang yasa rêca punika Prabu Jayabaya. bêtuwah . mila para lêlêmbut sami dipunsukani panggenan wontên ing rêca.” Buta Locaya calathu maneh: “Wong Jawa rak sampun ngrêtos. inggih punika ingkang kenging kangge tuladha. punapa sampun angsal saking Pangeran Kang Maha Agung tapak asta mawi cap abrit? Sunan Benang ngandika maneh: “Kang kasêbut ing kitabku. badanipun manusa punika Baitu’llah ingkang sayêktos. dados têdhanipun manusa. langkung sênêng malih manawi manggen wontên ing rêca wêtah ing panggenan ingkang sêpi edhum utawi wontên ngandhap kajêng ingkang agêng. sayêktos yen yasanipun Ingkang Maha Kuwaos. supaya aja dipundhi-pundhi dening wong akeh. Gusti Allah paring pangapura lupute kabeh salawase urip ana ing ‘alam pangumbaran”. ing kono pusêring bumi. didelehi tugu watu disujudi wong akeh. botên gadhah daya. besuk yen mati oleh kamulyan”. Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Tandhane napa yen angsal sihe Pangeran. punika kêdah dipunrêksa. sumêrêp budi hawanipun. dhêmit manawi nêdha ganda wangi badanipun kraos sumyah. sumêrêp saderengipun kalampahan. panjênêngan-tundhung dhatêng pundi? Sampun jamakipun brêkasakan manggen ing guwa. wontên ing rêca. calathune: “Panjênêngan nyata tiyang dahwen. sasar nyêmbah tugu sela. dheweke nêpsu maneh. pinaringan wahyu mulya. Nabi punika rak inggih manusa kêkasihipun Gusti Allah. kamulyan sanyata wontên ing dunya kemawon sampun korup. aja tansah disajeni dikutugi.Buta Locaya wêruh yen Sunan Benang ngrusak rêca. sanes Hyang Latawalhujwa. sasar nêmbah tugu sela. yen punika rêca sela. sami maujud piyambak saking sabda kun. kawruhipun sasar-susur. wujude nggih tugu sela. manawi panggenanipun raga pêtêng. sidik paningalipun têrus. inggih pintêr sugih engêtan sidik paningalipun têrus. Saking dhawuhipun Ingkang Maha Kuwaos. punika wajib dipunsujudi. Buta Locaya mangsuli karo mbêkos: “Pêjah malih yen sumêrêpa. supados para lêlêmbut sampun sami manggen wontên ing siti utawi kajêng. dipunsajeni. wangsul tiyang bangsa ‘Arab sami sojah Ka’batu’llah. prayogi dhatêng rêdi Kêlut kathah sela agêng-agêng yasanipun Pangeran. dipunkutugi. ing mangka punika yasanipun Sang Prabu Jayabaya. Pangandikane Sunan Benang: Ka’batu’llah iku kang jasa Kangjêng Nabi Ibrahim. dados panjênêngan punika têtêp tiyang jail gêndhak sikara siya-siya dhatêng sasamining tumitah. paduka pathokan tulis. botên kuwasa. manawi sampun nrimah nêmbah curi. mila sami dipunladosi. angsal pangapuntên sadaya kalêpatanipun. sumêrêp cipta sasmita ingkang dereng kalampahan. makluking Pangeran. Aluwung manusa Jawa ngurmati wujud rêca ingkang pantês simpên budi nyawa. sampun sami ngraos yen alamipun dhêmit punika sanes kalayan alamipun manusa. sing sapa sujud marang Ka’batu’llah. tugu damêlan Nabi.

ingkang patilasanipun taksih kenging dipuntingali. kali kang saka Kadhiri miline nyimpang . uwohe kledhung. nambahi bênter. dadiya pasêksen yen aku padu lan ratu dhêmit. kangge rencang tumbasan. anggêga ujaripun tiyang nglêmpara. Sunan Benang banjur tindak. panjênêngan punapa sagêd ngêpal lampahing jaman? Sampun ta. manawi botên purun kesah sapunika. tanêm-tanêm tuwuh botên sagêd mêdal. Patih matur. Buta Locaya mangsuli: “Sanadyan kula dhêmit. sami-sami nyungkêmi kabar. panjênêngan punapa botên badhe susah. asrêp lan bênteripun cêkapan. maoni adating uwong. madya luwês wicaranipun. malah kathah tiyang sade tinumbas tiyang. nyade umuk. Mula katêlah nganti tumêka saprene. kirang nêdha kawruh budi. Ratu wajib niksa. wontên ing ngriki mindhak damêl sangar. awis toya. woh dhadhap jênênge kledhung. Rêmbag panjênêngan punika mblasar. aluwung nyungkêmi kabar sastra saking lêluhuripun piyambak. inggih ing ngriki ingkang kula-linggihi punika. Sunan Benang ngandika: “Ora arêp manut rêmbugmu. Tiyang nyungkêmi kabar ‘Arab. nanging dhêmit raja. nagari ing Majalêngka. yen panjênêngan mulya tamtu botên kesah saking ‘Arab. punapa dora punapa yêktos. mastani Mêkah punika nagari cilaka. murugakên awis wos. Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Inggih sampun. manawi kadangon wontên ing ngriki mindhak damêl susah. tandhanipun wontên ing ngriki taksih krejaban. panjênêngan enggala kesah. badhe kula undhangakên adhi kula ingkang wontên ing rêdi Kêlut. rêmên nyikara niaya. tekad panjênêngan rusuh. Ingkang yasa rêca punika Maha Prabu Jayabaya. Mila panjênêngan anganjawi. Sunan Benang ngandika: “Dhadhap iki kêmbange tak jênêngake celung. diadhêp Patih sarta para wadya bala. kula-aturi kesah saking ngriki. tanah pasir mirah toya. mila panjênêngan dhatêng tanah Jawi. dene Buta Locaya sawadya-balane uga banjur mulih. manawi tiyang ingkang ahli nalar. yen mêntas nampani layang saka Tumênggung ing Kêrtasana. tiyangipun jalêr bagus. saking lêpat. dados murid kula!”. wontên ing ‘Arab nakal kalêbêt tiyang awon.saking lêluhuripun. kalah kawruh kalah nalar”. tandha kirang nalar. Sunan Benang banjur pamitan: “Wis aku arêp mulih mênyang Benang”. nyade mulyaning nagari Mêkah. nyudakakên toya”. punapa panjênêngan kêpengin manggen ing sela kados kula? Mangga dhatêng Selabale. panjênêngan kula-kroyok punapa sagêd mênang. sapunika panjênêngan ukur. dereng ngrêtos kawontênanipun ngrika. mbucal dhatêng Mênadhu”. wanitanipun ayu. Rêmbag panjênêngan badhe priksa pusêring jagad. maoni agama. sabab aku kêcelung nalar lan kêledhung rêmbag. Panjênêngan tiyang duraka. bênteripun bantêr awis jawah. damêl risak barang sae. kula aturi kesah kemawon saking ngriki. Gênti kang cinarita. panjênêngan dereng tampu mulya kados kula. punapa ingkang dipuntanêm sagêd tuwuh. Sang Prabu Brawijaya miyos sinewaka. mila minggat. kêmbange aran celung. anuju sawijining dina. lajêng kula bêkta mlêbêt dhatêng kawahipun rêdi Kêlut. kowe setan brêkasakan”. dene surasane layang ngaturi uninga yen nagara Kêrtasana kaline asat. mulya langgêng salamine. kula sumêrêp nagari Mêkah. nagari Jawi ngriki nagari suci lan mulya. ngarubiru agamane lêluhur kina. rêmên niksa ing sanes. digdayanipun ngungkuli panjênêngan. sitinipun panas. manawi kula lêpat panjênêngan jotos.

ing alam donya botên wontên kalih ingkang asma Sang Prabu Satmata. mung kowe. ing wêktu iku tanah jawa wis meh saparo kang padha ngrasuk agama Islam. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih. punika asma luhur ingkang makatên punika ngirib-irib tingalipun Kang Maha Kuwasa. Sang Prabu mirêng ature Patih bangêt dukane. niti-priksa ing kono kabeh. nanging kang sarana alus. têgêsipun Aenal punika ma’rifat. botên ngrumaosi nêdha ngombe wontên tanah Jawi. banjur ngaturake kahanane kabeh. amarga Sunan Benang lunga ora karuhan parane. suraosipun ing têmbung Jawi nama Prabu Satmata. mêngko yen wis kumpul. sumêrêp piyambak. banjur pêrang maneh mungsuh wong Majalêngka. matur yen ora oleh gawe. paring pangandika yen ngulama saka ‘Arab pada ora lamba atine. amargi ngulama Giripura sampun tigang taun botên sowan utawi botên ngaturakên bulubêkti. saperanganing layang mau unine mangkene: “Wontên ler-kilen Kadhiri. wong ‘Arab kang ana ing tanah Jawa padha didhawuhi lunga. banjur ngêbang marang Adipati Dêmak. namanipun Sunan Benang. dene yen padha ora gêlêm lunga didhawuhi ngrampungi bae. mung ing Dêmak lang Ngampelgadhing kang kêparêng ana ing tanah Jawa. nanging rumantiya sikêping pêrang: 1. golek kêkuwatan. ora kuwat nanggulangi pangamuke wadya Majapahit. têgêsipun Yakin punika wikan. pangandikane Sunan Benang marang Adipati Dêmak: “Wêruha yen saiki wis têkan masa rusake Kraton Majalêngka. Gêlising carita. rêmbugku rusakên Kraton Majalêngka. kahanane wonge sarta asile bumi kang katrajang banyu kapriye? Sarta didhawuhi nimbali Sunan Benang. Patih banjur diutus mênyang Kêrtasana. kajawi namung Bathara Wisnu nalika jumênêng Nata wontên ing nagari Mêdhang-Kasapta. pintên-pintên dhusun sami karisakan. diajak nglurug mênyang Majalêngka. amarga gawe ribêding nagara. dene kang kidul isih têtêp nganggo agama Buddha. dhawuhana balamu para Sunan kabeh lan para Bupati kang wis padha Islam kumpulna ana ing Dêmak. dene duta kang diutus mênyang Tuban uga wis têka. Patih budhal ngirid wadya-bala prajurit. ênggone ora sowan mênyang Majalêngka. mula banjur lunga karo Sunan Giri mênyang Dêmak. anggenipun makatên wau. para Sunan sarta Bupati sawadya-balane kang wis padha Islam. Wong ing Giri geger. banjur dhawuh nglurugi pêrang mênyang Giri.mangetan. sumilih Kaprabon Nata. dene namanipun santri Giri anglangkungi asma paduka. sawise oleh bêbantu. nglurug mênyang Giri. Sunan Benang wis ngrumasani kaluputane. saking kenging sabdanipun ngulama saking ‘Arab. Ature Patih: “Gusti! lêrês dhawuh paduka punika. mênggah sêdyanipun badhe rêraton piyambak. Sunan Giri mlayu mênyang Benang. mariksa botên kasamaran. satêkane ing Dêmak. umure wis satus têlu taun. pêrange rame bangêt. pêparabipun Sunan ‘Aênalyakin. dados nama tingal ingkang têrus. gaweya samudana. kang kuwat dadi Ratu tanah Jawa. 2. wong-wong ing Pasisir lor wis padha agama Islam. nglêstarekake agamane. mênggah têgêsipun Sunan punika budi. Patih sawise niti-priksa. Sang Prabu midhangêt ature para wadya banjur duka. . kabeh mêsthi nurut marang kowe”. Patih sawadya-balane satêkane ing Giri banjur campuh pêrang. punika nama ing têmbung ‘Arab. liyane loro iku didhawuhi ngulihake mênyang asale. yen kumpule iku arêp gawe masjid. Sang Prabu midhangêt ature Patih. aja nganti ngêtarani. saka panawangku. sowana besuk Garêbêg Mulud.

Sunan Giri nyambungi rêmbug: Aku iki ora dosa dilurugi ramamu. lire aja katara. kaprabone bapakmu wis mêsthi ora bakal tiba kowe. iku durung gênêp uripe. mulane rêmbugku. têdhak Rasul panutaning wong Islam kabeh. tur ratu kapir. sihing Hyang Kang Maha Kuwasa kang dhawuh marang kowe. kowe anak nom. ing batin sêsêpên gêtihe. golek darajat kang unggul dhewe. lamun sipat manusa mêsthi melik mêngku praja angreh wadya bala. iya iku Ki Andayaningrat ing Pêngging. ngrusak kapir Buddha kawak: kang kok-têmu ganjaran swarga. Dene têkaku mrene ini ngungsi urip mênyang kowe. sanadyan Buddha nanging margi-kula sagêd dumados gêsang wontên ing dunya. amêngsah bapa tur raja. patine slamêt nampani swarga mulya. mêsthine sihe Gusti Allah kang . karo wis wajibe wong urip golek kamuktening dunya. apa bae kang dikarêpake bisa kêlakon. satêmêne kowe wis pinasthi bakal jumênêng Ratu ana ing tanah Jawa. tandhane sira diparingi jênêng Babah. yen ngislamake wong kapir. sapira kawruhe Ngampelgadhing. yen kowe ora ngukuhi. tak-anggêp kulawarga. bocah kalairan Cêmpa. amarga iku wong kapir. amarga aku ora seba marang Majalêngka. Eyangmu kuwi santri mêri. Kowe mungsuh bapakmu Nata. mêsthi dipasrahake marang Adipati Pranaraga. amarga iku putrane kang tuwa. nadyan mati. wiji jawa digawa Putri Cina. ana ing Giri padha tak-Islamake awit kang muni ing kitabku. mamahên balunge”. Sunan Benang ngandika mêneh: “Sanadyan mungsuh bapa lan ratu. iku ora prayoga. awit panjênêngan botên ngrumaosi dhahar ngunjuk wontên in tanah Jawi”. lan ramanira sêngit bangêt marang santri kang muji dhikir. mula ibumu diparingake Arya Damar. iku mêgat sih arane. masa padhaa karo aku Sayid Kramat. Wangsulane Sang Adipati Dêmak: “Anggenipun nglurugi punika lêrês. Dhawuhipun eyang Sunan Ngampelgadhing. yen wong urip ora wêruh marang uripe. mati sabilu’llah. dipunukum pêjah. mungsuh wong kapir. Bupati ing Palembang. Sumbare Patih. tiyang punika bapa inggih kêdah dipunhurmati. Sunan Benang kang wis dipuji wong sabumi ‘alam. nanging yen bapakmu kalah. mula akeh bangsa Cina kang padha tak. Satêmêne ramanira iku siya-siya marang sira. ora ana alane. sumilih kaprabone ramamu. wong pranakan buta. botên ngrumaosi yen kêdah manut prentahing Ratu ingkang mbawahakên. lajêng punapa ingkang kula-walêsakên. gundhul bêntul butêng tanpa nalar. wong satanah Jawa padha Islam kabeh. mêsthi rusak agama Mukhammad Nabi”.Ature Adipati Dêmak: “Kula ajrih ngrisak Nagari Majalêngka. sanadyan dosa pisan. besuk ganjarane swarga. akeh bangsa Cina kang padha têka ana ing tanah Jawa. iya iku: bae mati bae urip. kaping tiganipun damêl sae paring kamukten ing dunya. walêsên kalawan alus. yen aku kacandhak arêp dikuciri lan dikon ngêdusi asu. wis wajibe wong Islam mati dening wong kapir. utawa dipasrahake marang putra mantu. sapira mungguh kauntunganmu nugrahaning Pangeran tikêl kaping êmbuh. didakwa rêraton. ora wajib jumênêng Nata. mung karo wong siji. Kang mangkono iku. tiyang rêraton. patute mung dadi godhogan. sampun wajibipun dipunlurugi. punapa malih dereng wontên lêpatipun dhatêng kula”. kowe ngênteni surude bapakmu.Islamake. Ramanira panggalihe têtêp ora bêcik. aku wêdi marang Patih Majalêngka. yen kowe ora gêlêm nglakoni. awit Ratu iku Khalifa wakile Hyang Widdhi. saka ênggone nyungkêmi agamane. mumpung iki ana lawang mênga. ênggone ngarani jare lara ayan esuk lan sore. Sunan Benang ngandika maneh: “Yen ora kok-rêbut dina iki. kajawi namung sêtya tuhu. têgêse Babah iku saru bangêt. Inggih sanadyan Buddha punapa kapir. botên kaparêng yen kula mêngsah bapa. ananging ing laire iya kudu nganggo sarat dirêbut sarana pêrang. Giri kang dadi jalarane ngrusak Majalêngka.

aku ora bakal mundur”. banjur pakumpulan ngêdêgake masjid. ora kacarita lakune ana ing dalan. Syekh Sitijênar dipateni. lah saiki uga kowe kirima layang marang adhimu Adipati Têrung. Si gugur isih cilik. Sunan Benang lan Sunan Giri ora melu mênyang Majapahit. amêngku tanah Jawa. Gênti kocapa nagara in Majapahit. brêngose capang sirahe gundhul. besuk yen ana Ratu Jawa kanthi wong tuwa. Patihe wis tuwa. dadi kowe jênênge nampik sihe Allah.mênyang kowe bakal dipundhut bali. saiki wani. Sunan Benang duka. wis tinampan wangsulane Sang Adipati Têrung. jêjuluk Senapati Jimbuningrat. kula namung sadarmi nglampahi dhawuh. bab ênggone mukul pêrang ing Giri. gampang bangêt rusaking Majalêngka. saiki kowe wis gêlêm tak botohi. amarga aku wis wêruh sadurunge winarah. kowe kang katiban wahyu sihe Pangeran. para wadya bala ora ana kang ngrêti wadining laku. mêsthi ora bisa nadhahi yudamu”. yen wis padha rujuk. apa abot sadulur tuwa kang tunggal agama. apa abot Sang Nata. banjur padha salat ana ing masjid. ndadekake sukaning panggalih. padha bisa mêncak kabeh. nglêstarekake apa kang wis dirêmbug. banjur tutup lawang. lan paring idi rahayuning laku. bisa dadi Ratu ana ing tanah Jawa. iya iku Syekh Sitijênar. arane Sêcasena. dadi mung para Sunan lan para Bupati bae kang ngiringake Sultan Bintara. pambujuke marang adipati Dêmak supaya mêtu nêpsune. Majapahit sapa kang diêndêlake yen Kusen mbalik. bisa lêstari satêruse”. ing kono gulumu bakal tak-lawe gênti”. Patih saulihe saka ing Giri banjur matur sang Praba. dithothok bae mati. lan diwenehana sumurup yen Sunan Benang wis ana ing Dêmak. Sadurunge Syekh Sitijênar tumêka ing pati. lakune kaya dene Garêbêg Maulud. Sunan Benang banjur ngandika marang Adipati Dêmak. kajaba mung para Tumênggung lan para Sunan apa dene para ngulama. sawise mêsjid dadi. ora suwe para Sunan lan para Bupati padha têka kabeh. mung siji kang ora rujuk. dene kang kadhawuhan mateni iya iku Sunan Giri. aku mung sadarma njurungi. panjênêngan ingkang mbotohi”. sawadya-balane watara wong têlung atus. ninggal swara: “Eling-eling ngulama ing Giri. banjur budhal mênyang Majapahit. Sang Adipati Dêmak banjur ingidenan jumênêng Nata. Yen adhimu wis rujuk adêgmu Nata. patihe wong saka Atasaning aran Patih Mangkurat. wis tak-sêmprong nganggo sangkal bolong katon nêrawang ora samar sajroning gaib. ora suwe utusan bali. padha manganggo . gêlêm ngrusak Majalêngka. pawadane sarehne wis sêpuh. Sawise golong karêpe. Adipati Dêmak banjur kirim layang marang Têrung. adhimu antêpên. iku padha nêmu rahayu. saguh ambiyantu pêrang. mungguh kang dadi senapati ing Giri iya iku sawijining bangsa Cina kang wis ngrasuk agama Islam. layang banjur katur Sunan Benang. Syekh Sitijênar dilawe gulune mati. masa ndadak waniya. Para Sunan lan para Bupati wis padha rujuk kabeh. bisa ngideni adêgmu Nata mêngku tanah Jawa. sarta banjur arêp ngrusak Majapahit. ananging têmbungmu kang rêmit sarta alus. supaya Sang Adipati ngaturi para Sunan lan para Bupati kabeh. mung arêp salat ana ing masjid bae. yen Adipati Dêmak arêp dijumênêngake Nata. Akeh-akeh dhawuhe Sunan Benang. banjur arêp kêpyakan tumuli. ambirat ênggonmu madêg Narendra. mangsah mêncak nganggo gêgêman abir. nanging tak-walês ana ing dunya kene bae. Esuke Senapati Jimbuningrat wis miranti sapraboting pêrang. murwani agama suci. sabakdane salat. wong kabeh dipangandikani dening Sunan Benang. samudana yen arêp ngêdêgake masjid. Sunan Giri mangsuli: “Iya besuk wani. Sunan Benang ngandika maneh: “Iya mangkono iku kang tak karêpake. kowe ora tak-walês ing akhirat. diiringake para Sunan lan para Bupati. Gêlising carita. Adipati Dêmak matur: “Manawi karsa panjênêngan makatên. malah diwenehi lêpiyan carita Nabi. kang gêlêm ngrusak bapa kapir.

bangêt gumune mênyang wong Islam. dene dosane santri Giri ora gêlêm seba marang ngarsa Prabu. . wêkasane malah padha gawe buwana balik. Babah Patah abot mênyang gurune. ngaturake layang marang Patih. dene kang ngêbang. Sang Prabu banjur andangu marang Patih. yen Adipati ing Dêmak. Layang kang saka Pathi mau katitimasan tanggal kaping 3 sasi Mulud taun Jimakir 1303. sarta kêrot.êbang adêging Nata. mratelakake yen uga ora mangêrti. mungguh surasaning layang. nganti suwe ora ngandika. para Sunan lan para Bupati padha ambiyantu anggone arêp mbêdhah Majapahit. mlayu mênyang Benang têrus diburu dening wadya-bala Majapahit. padha malês bêcik. banjur tumênga ing tawang karo nyêbut marang Dewa kang Linuwih. iya Sultan Adi Surya ‘Alam. digoleki nalar-nalare tansah wudhar. wong dibêciki kok padha malês ala. para Bupati pasisir lor sawadyane kang wis padha Islam uga padha njurungi. awit dosane santri Benang ngrusak bumi ing Kêrtasana. dene bala Cina liyane lang kari padha mlayu salang tunjang. sêdya mungsuh ingkang rama. dene ora padha ngrêti mênyang kabêcikane Sang Prabu. mangsah pêrang paculat kaya walang kadung. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt. iya iku Sunan Benang lan Sunan Giri. wadya Majapahit ambêdhili. sungkawane ratu Gêdhe kang linuwih. dene padha duwe sêdya kang mangkono. andhawuhake yen ngulama ing Giri lan ing Benang padha têka ing Dêmak. mungguh kature Sang Prabu amborongake kiyai Patih. Ing samêngko Babah Patah sawadya-balane wis budhal nglurug marang Majapahit. gedheg-gedheg. ing Bintara. dene kok padha duwe pikir ala. Sunan Giri lan Sunan Benang banjur nunggal saprau-layar ngambang ing sagara. lair batin ora tinêmu ing nalar.srêban cara kaji. didhawuhi nyêkêl. njêgrêg kaya tugu. ngaturake surasane layang mau. dene putrane lan para ngulama têka arêp ngrusak karaton. Sang Prabu Brawijaya midhangêt ature Patih kaget bangêt panggalihe. njêtung atine. sawêneh ngambang ing sagara. Senapati Sêcasena wis mati. ora padha ngelingi marang kabêcikan. supaya utusan mênyang Dêmak. banjur nimbali duta kang arêp diutus mênyang Dêmak. gêrêng-gêrêng. apa ta mungguh kang dadi sababe. Ki Patih uga mung gumun. dene wong Islam pikire kok padha ora bêcik. utawa Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’rrasul Amiri’lmukminin Tajudi’l’Abdu’lhamid Kak. masa Kasanga Wuku Prangbakat. bangêt pangungune. amarga adoh karo nalare. dene wadya-bala ing Giri pating jênkelang ora kêlar nadhahi tibaning mimis. Babah Patah anggone nggawa bala têlung lêksa miranti sapraboting pêrang. Sang Prabu nganti ora bisa manggalih apa mungguh kang dadi sababe. Senapati Jimbuningrat. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih. kaya dene atining kêbo êntek dimangsa ing tumaning kinjir. ngenthengake ingkang rama. kêsaru têkane utusane Bupati ing Pathi. sajrone ana ing paseban jaba. iya iku Babah Patah. dibêciki walêse kok padha ala. padha diparingi pangkat. tekade sumêdya nglawan pêrang. malah padha gawe ala. wis madêg Ratu ana ing Dêmak. kolu ngrusak Majapahit. Patih samêtune ing paseban jaba. dene putrane lan para ngulama apa dene para Bupati kolu ngrusak Majapahit. kinira banjur minggat marang Arab ora bali ngajawa. Ature Patih. layang banjur diwaos kiyai Patih. bala ing Giri ngungsi mênyang alas ing gunung. Kiyai Patih sawise maos layang. kaaturna bêbandan ing ngarsa Nata. lumrahe mêsthi. dene jêjuluking Ratu. jroning panggalih ngungun bangêt marang putrane sarta para Sunan. sinêmonan dening Dewa. Menak Tunjungpura ing Pathi ngaturi uninga. Kyai Patih banjur matur Sang Prabu.

tak-ajar wêruh nalar bênêr luput. ana ing kono pada njarah rayah nganti rêsik. dibêciki gustiku walêse ngalani. katarima dening Bathara. lagi rame-ramene têtandhingan pêrang. dene tan wruh kabêcikan. para Sunan banjur mlêbu mênyang kadhaton. Sapatine Patih. nanging sang Prabu wis ora ana. katandhan ana swara jumêgur gêtêr patêr sabuwana. Patih ora pasah sakehing gêgaman. sun-bêciki walêse angalani”. kaya dene tugu waja. Patih Mangkurat ing Dêmak nglambung. amarga putra kang ana ing Majapahit durung wanci yen mapagake pêrang. katêlah tumêka saprene. yen mapag pêrang kang sawatara bae. dene Adipati Dêmak kapengin mêngkoni Majapahit bae kok dirêbut sarana pêrang. tinggal swara: “Eling-eling wong Islam. kang ana mung Ratu Mas. tak-damoni sirahmu. Adipati Têrung banjur mlêbu mênyang jêro pura. prakara têkane mungsuh. amarga Sang Nata wis sêpuh. saupama disuwun kalayan aris bae mêsthi diparingake. pangamuke kaya bantheng kataton. Ature Patih prayoga nglawan têkaning mungsuh. sarta ênggone kêgiwang marang ature Putri Cêmpa. kolu ngrusak nagara Majapahit. aja nganti ngrusakake bala. balang Majapahit mung têlung ewu. dene nggêgampang marang agama kang wis kanggo turun-tumurun. Bala Dêmak kang katrajang mêsthi mati. wong Islam iku besuk kuwalika agamanira. mula kasêsa tindake. Patih didhawuhi nimbali Adipati Pêngging sarta Adipati Pranaraga. Patih Majapahit ngamuk ana samadyaning papêrangan. ngulama kabeh ngrangkêp jênêng walikan. Sajrone Sang Prabu paring pangandika. ngideni para ngulama mêncarake agama Islam. rambutmu tak-cukur rêsik”. santri kang ngrêbut nagara. ngrêbut nagara gawe pêpati. nanging kuwandane sirna. barêng Sunan Ngudhung tiwas. iku dilawan apa ora? Sang Nata rumaos gêtun lan ngungun. Sang Nata saka putêking panggalihe nganti kawêdhar pangandikane ngêsotake marang wong Islam: Sun-suwung marang Dewa Gung. dene mungsuh karo putra. kang tadhah mati nggêlasah. manjalma dadi wong kucir. Pêrange rame bangêt. wêkasan Patih ing Majapahit ngêmasi. saya bangêt nêpsune. mung Patih sarta Bupati Nayaka pangamuke saya nêsêg. Wong Majapahit kang ora . para Sunan banjur ngawaki pêrang. Sunan. wong kampung ora ana kang wani nglawan. Putrane Sang Prabu aran Raden Lêmbupangarsa ngamuk ana satêngahing papêrangan. ngobongi buku-buku bêtuwah Buddha padha diobongi kabeh. “Sabdaning Ratu Agung sajroning kasusahan. besuk tak-walês. ngulama jênênge walian. iya iku kawitane manuk kuntul ana kang kucir. dene wadya Majapahit wis êntek. sarehne Majapahit karoban mungsuh. wadya sajroning pura padha bubar. bala Dêmak têlung lêksa. Wadya Dêmak banjur campuh karo wadya Majapahit. Sunan Ngudhung mapagake banjur mrajaya. tibaning mimis kaya udan tiba ing watu. sinêksen ing jagad. wadya-bala Dêmak wis pacak baris ngêpung nagara. Sabdapalon lan Nayagenggong. Sang Prabu ngandika. muga winalêsna susah-ingsun.Sang Prabu banjur ngandika marang patih. kuntul kucir githoke. yen nganti nglawan rumaos lingsêm bangêt. ora ana kang diwêdeni. prajurite akeh kang padha mati. sapira kuwate wong siji. Sang Prabu banjur lolos arsa têdhak marang Bali. Sang Prabu banjur mundhut pamrayoga marang Patih. iya iku Putri Cêmpa. ing ngêndi kang katrajang bubar ngisis. ora ana braja kang tumama marang sarirane. Patih dibyuki wadya ing Dêmak. beteng ing Bangsal wis dijaga wong Têrung. bab anane lêlakon kaya mangkono iku amarga saka lêpate sang nata piyambak. nanging ora pasah. Patih binendrongan saka kadohan. Para prajurit Dêmak banjur padha mlêbu mênyang kadhaton. sawise paring pangandika mangkono. tandhing karo Sunan Kudus. kadherekake abdi kêkasih. mula dhawuhe Sang Prabu. Sunan Ngudhung disuduk kêna. bangkening wong tumpang tindhih. Para Bupati Nayaka wolu uga banjur melu ngamuk. Putra Nata tiwas. sang Putri diaturi sumingkir mênyang Benang uga karsa. Raden Gugur isih timur lolos piyambak.

isih ngagêm agama kapir kupur. dene jêjuluke: Senapati Jimbun.gêlêm têluk banjur ngungsi mênyang gunung lan alas-alas. banjur ngabekti Nyai Agung. ora susah ngango dikon. sabên bêngi padha salat kajat sarta andêrês Kur’an. Sang Prabu Jambuningrat satêkane ing Ngampel. Nyai Agêng barêng mirêng ature Prabu Jimbun. wong pancene rak sêmbah nuwun bangêt. pangandikane: “Êngger! aku arêp takon mênyang kowe. Kang ngideni para Sunan. Prabu Jimbuningrat matur yen mêntas mbêdhah Majapahit. Wong kang nyungkêmi agamane nganti mati isih nggoceki tekade iku utama. Têrung uga dijaga ngulama têlung atus. sarta padha diuja sakarêpe. dene kang dipatah tunggu ana ing Majapahit. têtêpa jumênêng Nata nganti run-tumurun aja ana kang nyêlani. Barêng wis têlung dina. ênggone sowan mênyang Ngampel iku. Nyai Agêng kanggo têtuwa wong Ngampel. pinêtak ana sakidul-wetan pura. para ngulama padha diparingi panggonan kang wis anggawa pamêtu minangka dadi pangane. garwane mau asli saking Tuban. ora dhawuh lan ora malangi marang wong kang salin agama. kowe dosa têlung prakara. wusana banjur diwalês ala. para Sunan sarta para Bupati gênti-gênti padha ngaturake sêmbah mênyang Nyai Agêng. wis mêsthi salin dhewe ngrasuk agama Islam. kowe iku dosa têlung prakara. seda utawa sugênge ora ana kang wêruh”. sarta sing aweh nugraha marang kowe. Gusti Allah kang sipat rahman. dene kowe kok wani ngrusak kang tanpa dosa. mung kari garwane kang isih ana ing Ngampel. Buddha kawak dhawuk kaya kuwuk. yen Prabu Brawijaya iku jarene ramane têmênan. Kabeh iki sasênênge dhewe-dhewe. yen ngelingi kasaeane uwa Prabu Brawijaya. têka dirusak kang tanpa prakara. Kang ngangkat sarirane dadi Ratu mêngku tanah Jawa iku para Bupati pasisir kabeh. Sultan Dêmak budhal mênyang Ngampel. banjur muwun sarta ngrangkul Sang Prabu. njaga kaslamêtan mbokmanawa isih ana pakewuh ing wuri. Gusti Allah ora niksa wong . Nyai Agêng ing batos karaos-raos. Layone para putra santana lan nayaka padha kinumpulake. mangkene pangudaraosing panggalih: “Putuku. prêlu nyuwun idi. sarta kang aweh kamukten ing dunya. Nyai Agêng Ngampel sawise mirêng ature Prabu Jimbun. Yen Gusti Allah wis marêngake. iya iku Patih Mangkurat sarta Adipati Têrung. Kuburan mau banjur dijênêngake Bratalaya. putrane Arya Teja. Mulane nagara Majapahit dirusak. bapakmu tênan kuwi sapa? Sapa kang ngangkat kowe dadi Ratu tanah Jawa lan sapa kang ngideni kowe? Apa sababe dene kowe syikara kang tanpa dosa?” Sang Prabu banjur matur. dene kang padha gêlêm têluk. Nyai Agêng banjur ndangu Sang Prabu. Kowe wani mungsuh Ratu tur wong tuwamu dhewe. Sunan Ngampel wis seda. mungsuh Ratu tur sudarmane. jarene iku kubure Raden Lêmbupangarsa. ngaturake lolose ingkang rama sarta Raden Gugur. banjur dikumpulake karo wong Islam. amarga Sang Prabu Brawijaya ora karsa salin agama Islam. mêsthi kêsiku ing Gusti Allah. Anane Islam lan kapir sapa kang gawe. ngaturake patine Patih ing Majapahit lan matur yen panjênêngane wis madêg Nata mêngku tanah Jawa. sarta Panêmbahan Palembang. padha dikon nyêbut asmaning Allah. kajaba mung siji Gusti Allah piyambak. Wong ganti agama iku ora kêna dipêksa yen durung mêtu saka karêpe dhewe. sasedane Sunan Ngampel. kandhaa satêmêne. Sunan Kudus njaga ana ing kraton dadi sulihe Sang Prabu. banjur njêrit ngrangkul Sang Prabu karo ngandika: “Êngger! kowe wêruha. wadya-bala kang saparo lan para Sunan padha ndherek Sang Prabu mênyang Ngampelgadhing.

Lamun mangkono tumindake. kowe ora wêdi papacuhe. Yen kowe njaluk idi marang aku. mung kowe dhewe sing tuwa. yen aku tuwa tiwas. wong Agung Kuparman. amarga kowe Khalifatu’llah sajroning tanah Jawa. wêwalêre kok-trajang. wêruh kang bêcik lan kang ala. durung wani marang wong tuwa. mula Wong Agung iya ngaji-aji marang maratuwane. ananging atur mau ora dipanggalih. Nyai Agêng Ngampel gumujêng nanging wêwah dukane. sing nglakoni rusak ya kowe dhewe. lalar-lulurên asalmu. carita tanah Mêsir. ênggone padha wani mungsuh wong tuwane. ora kaya tekadmu. mung bênêr karo lupute sing diadili nganggo têtêping adil. iku wajib dibêkteni. Kowe tak-dongengi. tur dudu bukuning lêluhur.kapir kang ora luput. prakara têtêpmu dadi Ratu tanah Jawa. maratuwane gêthing marang wong Agung amarga seje agama. jarene anake Sang Prabu. iku dudu padon. iku tandha yen isih mêntah kawruhmu. Jawa Jawi ngrêti matane mung siji. wong ngumbara kok diturut rêmbuge. dupeh kapir Budha ora gêlêm ganti agama. kowe tau matur yen arêp ngrusak Majapahit. jare yen ngislamake wong kapir iku ing besuk oleh ganjaran swarga. kang diarani wong linuwih. ora ngrêti marang kang bênêr lan kang luput. ibumu Putri Cêmpa nyêmbah pikkong. kasusuhane ora dipikir. maratuwane tansah golek sraya bisane mantune mati. Barêng wong kang kaya kowe. sarta ora paring ganjaran marang wong Islam kang tumindak ora bênêr. awit kowe sing mêsthine paring idi marang aku. beda matane wong Jawa. apa kowe wis matur marang wong tuwamu. duwe maratuwa kapir. Ujar-jare bae kok disungkêmi. Banjure pangandikane Nyai Agêng Ngampel: “Putu! kowe tak. putrane anggege . nanging putihe kuntul. sanadyan mungsuh wong tuwa. Prabu Jimbun matur yen ora kagungan mujijad apa-apa. mung ngêndêlake ikêt putih. ing jêro abang. dadi ora dielingi kapire.asih lang ngaji-aji. Kowe kuwi dudu santri ahli budi. nanging ora karsa. wujud dluwang utawa rêja watu. Iya iku êngger. mula iya banjur dimungsuh. sanadyan para Nadi dhek jaman kuna. iku amarga sabên dinane wis ngaturi santun agama. malah manti-manti aja nganti mungsuh wong tuwa. mung manut unine buku. iku agamane Islam. nanging kang dielingi wong tuwane. dadi wêruh ing bênêr lan luput. saka kêpenginmu jumênêng Nata. ora bêkti wong kapir. lair batine ora luput. mujijadmu apa? Yen nyata Khalifatu’llah wênang nyalini agama lah coba wêtokna mujijadmu tak-tontone”. panjênêngane Kanjêng Nabi Dhawud. amarga iku wong tuwane. mêsthi wêdi mênyang bapa. têka kolu marang bapa. eyangmu ora parêng. aku ora wênang ngideni. mula blero pandêlêngmu. mangka sabên dinane wis diaturi mujijade. bapa disiya-siya. sing putih mung ing jaba. kang nandhakake yen kudu wis santun agama Islam. mêngko rak buwana balik arane. aku bangsa cilik tur wong wadon. Nyai Agêng Ngampel gumujêng karo ngandika: “Tindakmu iku saya luput bangêt. kêduga ngrusak ora nganggo prakara. kok-aturi salin agama? nagarane kok nganti kok-rusak iku kapriye? Prabu Jimbun matur. ewadene Wong Agung tansah wêdi. saiki eyangmu wis seda. yen kowe têtêp tuwa Ratu”. ing kitab hikayat wis muni. nalika eyangmu isih sugêng. Eklasing ati bêkti bapa.dongengi kupiya patang prakara. Kowe ora kêna sêngit mênyang wong kang agama Buddha. yen durung ngaturi salin agama. isih nglêstarekake agamane lawas. kapindhone Ratu lan kang aweh nugraha. saucapmu idu gêni. têkane Majapahit banjur ngêpung nagara bae. Lan aku arêp takon. amarga wis wajibe manusa bêkti marang wong tuwane. tandha mripatmu iku lapisan.

ana Brahmana saka tanah sabrang angajawa. mêsthine labuh marang bapa. nanging ana ing Ngampel malah didukani sarta diuman-uman. aran Aji Saka. . yen wis kêtêmu diaturana kondur mênyang Majapahit. panggalihe rumasa kêduwung bangêt. Sunan Benang mêthukake kondure Sang Prabu Jimbun. kang mangkono iku kukume Allah”. ngaturake yen mêntas saka Majapahit. Wong Jawa akeh kang padha asih marang Aji Saka. aja dipêksa. padha angucap sukur lan bungah bangêt dene Sang Prabu wis kondur sarta bisa mênang pêrange. sowan ingkang eyang Nyai Agêng Ngampel. Sang Prabu Jimbun sarawuhe ing Dêmak. Nyai Agêng akeh-akeh pangandikane marang Prabu Jimbun. bisa mênang pêrang nanging mungsuh bapa Aji. sapisan mungsuh bapa.kapraboning rama. Sang Prabu Danaraja wani karo ingkang rama. amarga yen nganti duka mangka banjur nyupatani. kukume iya isih tumindak kaya kang tak-caritakake mau. kiraku ora bakal oleh pangapura. Apa maneh kaya kowe. kaping têlune ngrusak kabêcikan apa dene ngrusak prajane tanpa prakara. nanging wis ora kêna dibalekake. Ana maneh caritane nagara Lokapala uga mangkono. ora suwe antarane. apa sapangandikane Nyai Agêng Ngampel diaturake kabeh marang Sunan Benang. iku kowe mrêtobata marang Kang Maha Kuwasa. banjur didhawuhi kondur mênyang Dêmak. kowe mêsthi cilaka. jarane ambandhang kêcanthol-canthol kayu. para santri padha trêbangan lan dhêdhikiran. layang-layang Buddha iya wis diobongi kabeh. Sunan Benang mirêngake ature Sang Prabu Jimbun. Nyai Agêng Ngampel isih nêrusake pangandikane: “Kowe kuwi dilêbokake ing loropan dening para ngulama lan para Bupati. dadi bajul. Nabi Dhawud nganti kengsêr saka nagara. sarta didhawuhi nglari lolose ingkang rama. Sang Prabu matur. patimu iya mlêbu mênyang yomani. sabên dina mangsa jalma. gumujêng karo manthuk-manthuk. Sawise Sang Prabu dipangandikani. Putrane nunggang jaran mlayu mênyang alas. nanging yen ora kêrsa. wadya Majapahit sing wis têluk banjur padha dikon Islam. mung kowe kok gêlêm nglakoni. banjur didhawuhi ngupaya ingkang rama. tur kelangan bapa. Sang Prabu Jimbun mirêng pangandikane ingkang eyang. sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata. mungsuh bapa kang tanpa prakara. sarta ngandika yen wis cocog karo panawange. anggêlarake panguwasa sulap ana ing tanah Jawa. iya iku kang diarani kukuming Allah. Patih Majapahit mati ana samadyaning papêrangan. putrane banjur sumilih jumênêng Nata. sing nglakoni cilaka rak iya mung kowe dhewe. kabeh padha nêmu sangsara. Adipati Pranaraga lan Adipati Pêngging masa trimaa rusaking Majapahit. Dewatacêngkar dipêrangi nganti kêplayu. gêthing marang Dewatacêngkar. nanging sawise. nganthi pothol gumantung ana ing kayu. ora lawas Nabi Dhawud sagêd wangsul ngrêbut nagarane. lan aturana mampir ing Ngampelgadhing. ambyur ing sagara. ora antara suwe banjur mati. salawase urip jênêngmu ala. iku iya anggege kapraboning rama. Ana maneh caritane Sang Prabu Dewata-cêngkar. nanging banjur disotake dening ingkang rama banjur dadi buta. iku bae wis abot sanggane”. yen kondure uga mampir ing Ngampeldênta. mêsthi mandi. Sang Nata banjur matur marang Sunan Benang yen Majapahit wis kêlakon bêdhah. kapindho murtat ing Ratu. Putri Cêmpa wis diaturi ngungsi mênyang Benang. para wadya padha sênêng-sênêng lan suka-suka nutug. ênggone ora ngrêti marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya. Ajisaka diangkat dadi Raja. sarta ngaturake yen ingkang rama lan Raden Gugur lolos.

iya iku Nayagenggong lan Sabdapalon. mung didherekake sakabat loro lakune kêlunta-lunta. supaya dijumênêngake ana seje nagara ing sajabaning tanah Jawa. Nanging rasa kang mangkono mau banjur dislamur ing pangandika. sing kalangkungan tindake Sang Prabu Brawijaya. awit saking kalimputing manah mudha punggung. lan padha mikir kahaning lêlakon kang mêntas dilakoni. . yen ora nglakoni dhawuhe Nyai Ngampel. aweta dados jêjimat pinundhi-pundhi para putra wayah buyut miwah para santana. nuwun pangaksama sadaya kasisipanipun. Sunan Giri banjur nyambungi pangandika. awit yen mateni wong kapir ora ana dosane. dene ngantos kamipurun ngrêbat kaprabon paduka Nata. samudanane nyalahake Sang Prabu Brawijaya lan Patih. tindake Sunan kalijaga ênggone ngupaya Sang Prabu Brawijaya. mêsthine bakal oleh sabda kang ora bêcik. Sang Prabu didhawuhi sowan nyuwun pangapura kabeh kaluputane. mêngku wadya sineba para punggawa. Gênti kang cinarita. amarga panimbange wanita iku mêsthi kurang sampurna. Sang Prabu Brawijaya sarta putrane bêcik ditênung bae. botên sumêrêp tata krami. dene darbe bapa Ratu Agung ingkang anyêngkakakên saking ngandhap aparing darajat Adipati ing Dêmak. Sunan Benang banjur ngandika. tangeh malêsa ing sih paduka Nata. kapanggiha wontên ing pundi-pundi. abdi loro mau tansah gêguyon. punika putra paduka rumaos yen mêsthi manggih dêdukaning Pangeran. mula iya wêdi. sineba ing para bupati. dene yen arêp ngaturi jumênêng Nata maneh. Sunan Benang paring dhawuh marang Sang Prabu. kapanggiha wontên ing pundi-pundi ingaturan kondur rawuh ing Majapahit. wusana Prabu Jimbun banjur matur marang Sunan Benang. banjur ngabêkti sumungkêm padane Sang Prabu. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt. Lampahe Sunan Kalijaga turut pasisir wetan. saka ênggone ngupaya warta. Sunan Benang arêp kondur mênyang ‘Arab. yen ingkang rama mêksa kondur mênyang Majapahit. luwih bêcik ênggone ngrusak Majapahit dibanjurake. dene sing marak ana ngarsane mung kêkasih loro.Sunan Benang sawise mirêngake ature Sang Nata ing batos iya kêduwung. Lampahe Sang Prabu Brawijaya wis têkan ing Blambangan. madosi panjênêngan paduka. yen Prabu Jimbun mituhu dhawuhe Nyai Ngampeldênta. Mila kawula dinuta madosi panjênêngan paduka. sarehne wis kraos sayah banjur kendêl ana sapinggiring beji. amarga mêsthi bakal ngribêdi lakune wong kang padha arêp salin agama Islam. Sang Prabu banjur ndangu marang Sunan Kalijaga: “Sahid! kowe têka ana apa? Apa prêlune nututi aku?” Sunan Kalijaga matur: “Sowan kula punika kautus putra paduka. têtêpa kados ingkang wau-wau. ênggone ora karsa salin agama Islam. dene ora ngelingi marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya. bilih panjênêngan paduka linggar saking praja botên kantênan dunungipun. aja ana ing tanah Jawa. rumaos lupute. yen dhawuhe Nyai Agêng Ngampel ora pêrlu dipanggalih. Sunan Benang sarta Prabu Jimbun wis nayogyani panêmune Sunan Giri kang mangkono mau. sangêt kapenginipun mêngku praja angreh wadyabala. sabên desa diampiri. ing mangke putra paduka emut. ora antara suwe kêsaru sowanne Sunan Kalijaga. Samangke putra paduka rumaos ing kalêpatanipun. sêmbah sungkêmipun konjuka ing pada paduka Aji. mungguh prayoganing laku supaya ora ngrusakake bala.

mandar amêwahana cahya nurbuwat ingkang wêning. awit ingsun ora ngawiti ala. nanging ora wêruh ing dalan. sabab murtat wani ing bapa kapindhone Ratu. padha mata lapisan kabeh. putra paduka pasrah kaprabon paduka Nata. karana ingsun wis kapok rêmbugan karo santri padha nganggo mata pitu. murih picêka mataku siji. apa ta salah-ingsun. dene kadudon kang wis kêbanjur.” Sunan Kalijaga ngrungu dhawuhe Sang Prabu kang mangkono iku ing sanalika mung dhêlêg-dhêlêg. sadayaning kalêpatanipun. Sarehning sampun kalêpatan. ora nyawang wujuding dhiri. têka rinusak tanpa prakara. punapa malih ingkang sinuwun malih. dipunsuwun ingkang rila têrusing panggalih”. njujuga nagari Bali. yen putune arsa ingsun-pateni. lan Adipati Palembang sun-wehi wêruh. samêkta sakapraboning pêrang. mula blero pandulune. mula banjur ngrêrêpa. rêmbuge mung manis ana ing lambe. ngandika sajroning ati: “Tan cidra karo dhawuhe Nyai Agêng Ngampelgadhing. yen eyang wungkuk isih mbrêgagah nggagahi nagara. kaping têlune kang mbêciki. ingsun njaluk biyantu prajurit Cina. lan duwe wêlas marang wong wungkuk kaki-kaki. ature: “Inggih saduka-duka paduka ingkang dhumawa dhatêng putra wayah. ing rêdi ingkang karsakakên badhe dipundhêpoki. Sahid! nanging ora ingsun-gatekake. sun-jak marang tanah Jawa angrêbut kapraboningsun. sinaosan kadhaton wontên ing rêdi. Sunan Kalijaga barêng ngrungu pangandikane Sang Prabu rumasa ing kaluputane ênggone melu mbêdhah karaton Majapahit. wangsul karsa paduka karsa tindak dhatêng pundi?” Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Saiki karsaningsun arsa tindak mênyang Bali. samêkta sakapraboning pêrang. kulit kisut gêgêr wungkuk. iya sanadyan pêrang gêdhe gêgêmpuran amungsuh anak. sikara wong tuwa kang tanpa dosa. sun-jaluk lilane anake arêp ingsun pateni. banjur wani mungsuh bapa Ratu. nanging nyuwun pusaka Karaton ing tanah Jawa. kacancang pucuking rema. mukul pêrang tanpa panantang. yen kaparêng saking karsa paduka. dadi dudu tataning manusa kang utama”. ing batin bangêt panalangsane. yêkti padha têka ing Bali sagêgamaning pêrang. mawas ing ngarêp nanging jêbul anjênggung ing buri. sarta padha eling marang lêlabêtan kabêcikaningsun. Lamun iki ngantiya nyabrang marang Bali. arsa ingsun-wartani pratingkahe si Patah. rahayunipun para putra wayah sadaya. iya ingsun-jaluk lilane. ora wurung bakal ana pêrang gêdhe tur wadya ing Dêmak masa mênanga. namung nyuwun pangaksama paduka. walêse kaya kênyung buntut. têtêpa kados ingkang sampun. lan nyuwun pangkatipun lami dados Adipati ing Dêmak. ingsun ora isin. kêtêmu karo yayi Prabu Dewa agung ing Kêlungkung. yen putrane wis patutan karo ingsun mêtu lanang siji. kajawi namung pangapuntên paduka. batine angandhut pasir kinapyukake ing mata. lan arsa ingsun-kon nimbali para Raja kanan kering tanah jawa. wani mungsuh bapa ratu. iku apa nganggo tataning babi. Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Ingsun-rungu aturira. mungsuh ratu pindho bapa. Manawi paduka kondur. yen anake karo pisan satêkane tanah Jawa sun-angkat dadi Bupati. Yen wis samêkta sawadya prajurit. ing pundi sasênênging panggalih paduka. Sakawit ingsun bêciki. ananging ora wêruh ing dalan. aninggal carane wong agung. kapêtêk wontên ing êmbun. mugi dadosa jimat paripih. Dene yen panjênêngan paduka botên karsa ngasta kaprabon Nata. putra paduka nyaosi busana lan dhahar paduka. amarga katindhihan luput. wis mêsthi bae wong . lan ingsun arsa angsung wikan marang Hongte ing Cina. tinggal tata adat caraning manusa. putra paduka nyaosakên pêjah gêsang.kinurmatan sinuwunan idi wilujêngipun wontên ing bumi.

mêsthi asor wong Islam tumpês ing pêpêrangan. ingkang kêrah tulus kêrah têtumpêsan sami pêjah sadaya daging lan manah kathêda ing sêgawon sanesipun”. karaton ing tanah Jawa. nêtêpi mripat siji.” Sunan Kalijaga barêng mirêng pangandikane Sang Prabu. iya sun-paringake krana bêcik. disuwun krananing bêcik. liya dina lali. tak-pikire sing bêcik. gêthinge ora bisa mari. mung siji marang bênêr paningalku. dikon tunggu lawang pungkuran. Sang Prabu nguningani patrape Sunan kalijaga kang mangkono mau.Jawa kang durung Islam yêkti asih marang Ratu tuwa. nyêkrukuk. mula banjur nyungkêmi pada. luwih karsaning Jawata Gung. panggalihe kanggêg. têmên lan gorohe. . namung langkung utami manawi panjênêngan paduka karsa gantos sarak rasul. Saupama si Patah ngrasa duwe bapa ingsun.” Sang Prabu mbanjurake pangandikane marang Sunan Kalijaga: “Mara pikirên. amarga aku kuwatir yen aturmu iku goroh kabeh. yen ora ngrêti banjur diguyang ana ing blumbang dikosoki alang-alang garing. punapa botên ngeman risakipun nagari Jawi. amarga lingsêm manawa mêruhi lêlakon kang saru. Sang Prabu ngandika: “Sahadat iku kaya apa. bênêr lan lupute. angantêp tangkêping jurit. aku banjur dicêkêl dibiri. kok dikum ing banyu”. esuk sore diprêdi sêmbahyang. tak-timbange aturmu. nrima dadi pandhita. Sang prabu Brawijaya ngandika: “Mungguh kang mangkono iki luwih-luwih karsane Dewa Kang Linuwih.” Wusana Sunan Kalijaga matur alon: “Dhuh pukulun Jêng Sang Prabu! saupami paduka lajêngna rawuh ing bali. pikêkahipun tiyang Islam punika sahadat. wis warêg jumênêng Ratu. Sunan Kalijaga nyuwun supaya dipateni bae. kaprabon Jawi kaliya ing sanes darah paduka Nata. mula nganti suwe ora ngandika tansah têbah jaja karo nênggak waspa. botênbotênipun manawi putra paduka badhe siya-siya dhatêng panjênêngan paduka. mêsthine-ingsun iya ora lila ing tanah Jawa diratoni. nimbali para Raja. sanadyan salat dhingklak-dhingkluk manawi dereng mangrêtos sahadat punika inggih têtêp nama kapir”. amarga duwe bapa Buddha kawak kapir kupur. wong wis tuwa. Sunan Kalijaga gumujêng karo matur: “Mokal manawi makatên. saestu badhe pêrang gêgêmpuran. ingsun wis kakikaki. kang miturut adat pranatane para lêluhur. manawi botên karsa punika botên dados punapa. benjing kula ingkang tanggêl. yen Sang Prabu ora karsa nglampahi kaya ature Sunan Kalijaga. sampun tamtu putra paduka ingkang badhe nêmahi kasoran. kêpengin dadi Ratu. rumasa ora kaconggah ngaturi. pitêkur ana ing gunung. si Patah seba mênyang aku. tiyang namung bab agami. sarta banjur nyaosake cundrike karo matur. aku kok durung ngrêti. Sumurupa Sahid! saupama aku kondur marang Majapahit. Balik samêngko si Patah siya mring sun. dene bab agami namung kasarah sakarsa paduka. Sahid! saiba susahing atiku. ora nganggo mata loro. sêrêt pangandikane: “Sahid! linggiha dhisik. lajêng nyêbut asmaning Allah. panjênêngan paduka jumênêng Nata botên lami lajêng surud. pamintane marang para titah ing wuri. saupami kados dene sêgawon rêbatan bathang. ingsun iki Ratu Binathara. coba ucapna tak-rungokne”.

Sang Prabu banjur ngandika yen wis lair batos. wajibipun manusa mangeran rasa. wujud makam kubur rasa. kula momong pikukuh lajêr Jawi. Saka karsaku. muji badanipun piyambak. Sawêg paduka ingkang karsa nilar pikukuh luhur Jawi. Kangjêng Nabi Mukhammad iku utusane Allah”. sami nêdha bangsanipun piyambak. 2: pari Randanunut. kula manawi tilêm ngantos 200 taun. amung Allah. Sunan kalijaga ature akeh-akeh. punika nêmbah brahala namanipun. rêmên manut nunut-nunut. Dene raganipun manusa punika asalipun saking roh idlafi. kowe sakarone tak-ajak salin agama Rasul tinggal agama Buddha”. têka narimah nama Jawan. lu’llah. raganipun manusa punika wêwayanganing Dzating Pangeran. Sang Wiku Manumanasa. iya iku rêrupan kahanan ing dunya ditambahi warna têlu: 1: aran sukêt Jawan.Sunan kalijaga banjur ngucapake sahadat: ashadu ala ilaha ila’llah. punika têtêp kapiripun. run-tumurun ngantos dumugi sapriki. lan 3: pari Mriyi. Tiyang ngucap punika kêdah sumêrêp dhatêng ingkang dipunucapakên. mila sêmbahyang mungêl “uzali” punika têgêsipun nyumêrêpi asalipun. mulane Sunan Kalijaga banjur matur. banjur nyêbut asmaning Allah Kang Sajati. kang dhingin wêruh badan. botên wontên ingkang ewah agamanipun. ingkang nakal sami nêdha jalma. Sintên ingkang jumênêng Nata.” Sabdane Wiku tama sinauran gêtêr-patêr. ngrasuk agama Islam. kaping kalih wêruh ing têdhi. Sang Prabu sawise paras banjur ngandika marang Sabdapalon lan Nayagenggong: “Kowe karo pisan taktuturi. botên sumêrêp wujud têgêsipun. botên muji Mukhammad ing ‘Arab. riningkês dados satunggal Mukhammad Rasula’llah. wiwit dina iki aku ninggal agama Buddha. momong lajêr Jawi. Rasul rasa kang nusuli. Sang Prabu Brawijaya sinêmonan dening Jawata. mila tiyang punika prêlu mangrêtos dhatêng lair lan batosipun. Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. lantaran ashadualla. wa ashadu anna MukhammadarRasulu’llah. dene têgêsipun Nabi Mukhammad Rasula’llah: Mukhammad punika makam kuburan. Rasule minggah swarga. sadangunipun kula tilêm tamtu wontên pêpêrangan sadherek mêngsah sami sadherek. dados momongan kula. rohipun Mukhammad Rasul. rasa pangan manjing lesan. ora ana Pangeran kang sajati. Sang Prabu diaturi Islam lair batos. kasêbut Rasulu’llah punika rasa ala ganda salah. têgêsipun: Ingsung anêkseni. Sakutrêm lan Bambang Sakri. pamrihipun damêl kapiran muksa paduka mbenjing. lan malih sintên tiyang ingkang nêmbah puji ingkang sipat wujud warni. rasa lan têdhi dados nyêbut Mukhammad rasulu’llah. wijile rasaning urip. remane ora têdhas digunting. mêdal saking badan kang mênga. botên mangrêtos purwaning dumados”. Ature Sunan Kalijaga marang Sang Prabu: “Tiyang nêmbah dhatêng arah kemawon. botên sumêrêp rukun Islam. sawise banjur mundhut paras marang Sunan Kalijaga nanging remane ora têdhas digunting. . amarga yen mung lair bae. lan anêkseni. nêtêpi wiwit sapisan ngestokakên agami Buddha. dados badanipun tiyang punika kuburipun rasa sakalir. têgêsipun Rasul rasa. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin. luluh dados êndhut. nganti Prabu Brawijaya karsa santun agama Islam. dumugi sapriki umur-kula sampun 2000 langkung 3 taun. mulane kêna diparasi. Jawi têgêsipun ngrêti. manawi botên mêngrêtos têgêsipun sahadat. ênggone karsa mlêbêt agama Rasul.

asal siji mantuk satunggal. punika dadosipun piyambak. Jagad punika raganipun Dewa ingkang asipat budi lan hawa. dene pêjah ingkang utami punika sewu satus têlung puluh. risak-risakipun piyambak. Wangsul Prabu Brawijaya lajêng manggen wontên pundi. apa gêlêm apa ora ninggal agama Buddha. nêdha siti ngajêng-ajêng tiyang ngirim sajen tuwin slamêtanipun. namung tansah nêdha eca. ingkang nglimputi wujud. dipunwastani Mukhammadun. kala gêsangipun dereng nêdha woh wit kawruh lan woh wit budi. sampun ebah saking prênahipun mlêbêt mbêkta sir cipta lami”. saestu damêl kapiran kamuksan-kula. nanging ingkang risak namung ingkang asal saking roh idlafi. wujudipun risak. dados botên ngapirani. sampun mêsthi sukma pisah kaliyan budi. nyêbut Dewa Ingkang Linangkung. ing têmbe tilar mujijat rakhmat nyukani kiyamat dhatêng anak putunipun ingkang kantun. makaman kuburing rasa. kula rêmên agami lami. dereng nêdha woh kawruh lan budi. gantos roh idlafi lapisan: sasi surup mêsthi saking pundi asalipun wiwit dados jalmi. manawi tekadipun sae inggih nampeni kamulyan. Manawi kula. botên ngengêti bilahinipun ing wingking. Tiyang pêjah botên kêbawah pranataning Ratu ing lair. kados tiyang ‘Arab. botên manggih raos ingkang saestu. puluh punika pulih. wujudipun piyambak. nêtêpana namane tiyang lumampah. sampun dados wajibipun manusa punika manut dhatêng eling budi karêpan. mila nami Mukhammad inggih makaman kuburan sakalir. saking karsaning Latawalhujwa. Adam punika muntêl kaliyan Hyang Brahim. ing benjing. namung mangeran rasa wadhag wadhahing êndhut. wontênipun wujud piyambak. anggenipun ngalêm badanipun piyambak. namung kantun rumaos lan pangraos ingkang paduka-bêkta dhatêng pundi kemawon. dados sipatipun tiyang lan raos. Uripipun langgêng namung raga pisah kaliyan sukma. inggih punika sahadat ingkang botên mawi ashadu. lantaranipun ngabên awon. ngalêm saening tangga. Manawi dipunpundhut ingkang Mahakuwasa. nyêbut Nabi Mukhammad Rasula’llah panutaning para Nabi. jasanipun budi. Sabdapalon matur maneh: “Inggih punika kawruhipun tiyang bingung gêsangipun rugi. botên gadhah kawruh kaengêtan. dene ingkang mastani mulya punika rak tiyang ‘Arab sarta tiyang Islam sadaya. sarira paduka sipate tiyang wujud dados. nanging tangining raos wujud badan. manawi dados dhêmit ingkang têngga siti. salin agama Rasul. dadosipun saking gaib samar. mastani botên urus. têgêsipun kêbrahen nalika gêsangipun. Têgêsipun satus punika putus. Ingkang makatên punika amargi namung saking kirang budi kawruhipun. Surup têgêsipun: sumurup purwa madya wasananipun. manawi dipunpundhut dening Ingkang Maha Kuwasa. mila dipunwastani anak. roh idlafi têgêsipun lapisan. . ngapêsakên badanipun piyambak. Sang Prabu ngandika: “Mulih marang asale. manawi sampun risak wangsul dhatêng asalipun malih. têlu punika tilas. Siya punika têgêsipun ngukum. namung prêlu nênggani daging bacin ingkang sampun luluh dados siti. Cobi paduka-jawab atur-kula punika”.Sang Prabu andangu maneh: “Kapriye kang padha dadi kêkêncênganmu. bapa biyung botên damêl. nanging manawi tekadipun awon inggih nampeni siksanipun. nrimah pêjah dados setan. lan nyêbut asmaning Allah Kang Sajati?” Sabdapalon ature sêndhu: “Paduka mlêbêt piyambak. wujud malih. kubure rasa kang salah. tur siya dhatêng raga. punika sanes pêjah ingkang utami. manawi kula santun agami. makatên wau têtêp botên wontên prêlunipun. kula botên têgêl ningali watak siya. têgêse Mukhammad niku makaman kubur. manawi nyêbut Nabi Mukhammad Rasulu’llah. asal Nur bali marang Nur”. makatên punika ingkang nistha.

Sabdapalon matur: “Punika tiyang kêsasar. sampun ngantos kula mantuk dhatêng kamlaratan sarta minggah dhatêng akhirat adil nagari. sakarsane Kang Maha Kuwasa”. botên ngrumaosi yen tinitah linangkung. manawi kenging kula-singkiri. Sabdapalon: “Inggih punika pêjahipun tiyang cubluk. nunut-nunut. mênyang suwung. manusa dipunwênangakên nampik milih. daging ingkang sampun luluh dados siti. dadi patiku iya mangkono”. namung nêdha ngombe lan tilêm. rêmênipun namung nempel. lajêng nempel dhatêng sanesipun malih”. swarga. kamuktenipun namung nêmpil. Sabdapalon gumuyu: “Yen tiyang agami Rasul têrang botên sagêd muksa. dados nama sampun narimah ngombe uyuh kemawon. botên mangrêtos santun roh hidlafi enggal. nalika tapêl Adam. botên kuwawi ngringkês nguntal raganipun. naraka ‘arasy kursi. lêma kakathahên daging. dados brêkasakan. nanging botên tilar jisim. manawi sampun narimah dados sela. nalika gêsangipun kados kewan. swarga. botên iman ‘ilmi. Sabdapalon matur: “Akhirat. mangke manawi kêsasar lo. mangka ênggene akhirat punika têgêse mlarat. Nun!” Sang Prabu ngandika: “Aku arêp muksa saragaku”. sampun botên prêlu pados ‘ilmi kamulyaning seda”. nênggani daging wontên kuburan. tanpa ulam. Sabdapalon: “Paduka nilar sipat. Sang Prabu: “Ciptaku arêp mulih mênyang akhirat. nilar wajibing manusa.Sang Prabu ngandika: “Ciptaku nempel wong kang luwih”. ora ikhtiar nampik milih. namung dados gunungan dhêmit”.ênggen wontên akhirat. sambêl. Srêng têgêsipun padamêlan ingkang awrat sangêt. botên pêjah. botên bawa piyambak. jangan punika akhirat ingkang katingal tata lair. namanipun botên sahadat. lajêng klambrangan. amargi nami pêjah. dados setan kuburan. saênggen. manawi lêpat jawabipun tamtu dipunukum. punapa botên cilaka. Sang Prabu ngandika maneh: “Asal suwung aku bali. Klêbêt akhirat nusa Srênggi. dipunbanda. Sang Prabu: “Aku nunggoni makaman kubur. Pangandikane Sang Prabu: “Aku ora duwe cipta apa-apa. sakulawargane mung nadhah bêras sapithi. pêjahipun tiyang nistha. Ênggi têgêsipun gawe. botên gêsang. munggah swarga seba Kang maha Kuwasa”. Punika botên pêjah utami. manawi dipuntundhung. Paduka badhe tindak dhatêng akhirat pundi. ical gêsangipun salêbêtipun pêjah”. Sabdapalon: “Punika pêjahipun tiyang kalap nglawong. kados dene kêmladeyan tumemplek wit-witan agêng. makatên punika namung sagêd lêma sugih daging. Dados têgêsipun jalma pinêksa nyambut damêl dhatêng Ratu Nusa Srênggi namanipun. jagadipun manusa punika sampun mêngku ‘alam sahir kabir. botên bawa piyambak. Inggih punika tiyang bodho mangrêtosa. tiyang gêsang wontên ing dunya kados makatên wau. sampun pêpak: akhirat. dipunpaksa nyambut damêl awrat tur botên tampa arta. yen wis luluh dadi lêbu”. sampun paduka-bêkta ngaler ngidul. nalika aku durung maujud iya durung ana apa-apa. nusa têgêsipun manusa. manawi akhiratipun . Tiyang pêjah muksa punika cêlaka. botên sagêd dados roh idlafi enggal.

manusa raganipun asal saking nutfah. sadherek ingkang sarêng tanggal gaibipun. lumampah botên ebah saking panggenanipun. sanes bangsanipun malaekat. nanging langgêng manggen wontên satêngahipun jagadipun. têgêsipun urip. paduka sampun ngantos kondur dhatêng akhirat. ingkang nêdahakên pandomipun. Punika pungkasanipun kawruh. Tulis ical. Prabu Brawijaya botên anem botên sêpuh. sênteg sapisan tênunan sampun nigasi. dipunbêkta dhatêng pundi.pundi botên ewah. wujudipun amung asma. mila Allah botên katingal. botên pisah botên kumpul. gêsangipun nyambut damêl kanthi paksan. paduka wiji rohani. rumêksa gêsangipun elingipun panjanmaning surya. ingkang têtêp langgêng. bêgja cilakanipun gumantung wontên ing budi nalar lan kawruhipun. nglimputi wontên ing dunya tuwin ing akhirat. sarwa wontên. kontêning eling sadayanipun. lênggah rupa cahya. botên ngraosakên kanikmatan. kendêl malih wontên cêthik. tibaning nikmat ing dhasaring bumi rahmat. paduka dereng têpang. Gawanên gêgawanmu. plêsatipun wêtaha. inggih punika wetan kilen kidul ler : têgêsipun wetan : wiwitan manusa maujud. Raga punika dipunibaratakên baita. ingkang gêsang napasipun taksih lumampah. manawi raganipun sampun sêpuh. têbihipun botên mawi wangênan. ma. dados botên wongsal-wangsul. tanggal sapisan kapurnaman. Lêbêtipun roh saking cêthak marginipun. umuripun sampun dipunpasthekakên. manawi baitanipun lumampah mangka salah pandomipun. wontên salêbêting guwa sir cipta kang êning. Kangjêng Nabi Musa toh botên kuwawi mandêng dhatêng Gusti Allah. ingkang engêt sadayanipun.tiyang pêjah malah langkung saking punika. cêlak botên panggihan. kapanggihe cahya murub dados satunggal. suksmanipun mêdal nyuwun gantos ingkang sae. dadosipun saking sabda kun. madhêp dhatêng wujud. mêdal wontên kalamwadi. sadaya sami trima tilêm kêmul siti. jagadipun manusa punika langgêng. dene suksmanipun inggih punika tiyang ingkang wontên ing baita wau. . na. dados wontên têngahing jagad swarganing tiyang sêpuh estri. nutfah sampun ngantos ebah saking jagadipun. jujugipun ingkang cêtha cêthik cêthak. kula botên kuwawi cêlak. Wiwitanipun keblat sakawan. ingkang pêjah namung raganipun. sampun ngantos minggah dhatêng swarga. tanggalipun manusa. sowan Hyang Latawalhujwa. têgêsipun kulon : bapa kêlonan. sarêng tanggalipun kaliyan sadherekipun kakang mbarêp adhi ragil. pramila tumrap tiyang agami Buddha. siyang dalu sampun sumêlang dhatêng sadaya rêrupen. kathah rajakaya ingkang wontên ing ngriku. raga wadhag ingkang asal roh idlafi. kentir sagara rahmat lajêng lumêbêt ing guwa indra-kilaning estri. wontên ing ngriku ki budi jasa kadhaton baitu’llah ingkang mulya. namung Dzatipun ingkang nglimputi sadaya wujud. têpangipun amung têpang kados cahyanipun lintang lan rêmbulan. paduka sampun ngantos sowan Gusti Allah. Ningali jantung kêtêg kiwa: surut marga sire cipta. jagading tiyang punika guwa sir cipta namanipun. jumbuh punika têgêsipun pêpak. surup lan tanggalipun sampun samar : kala rumiyin. nyuwun ingkang enggal. sapunika lan benjing. manawi panggenanipun sampun sêpuh. punapa malih paduka. etangan gunggunge: kumpul. ingkang dipunwastani pêjah gêsang. punika kawruhipun tiyang Jawi ingkang agami Buddha. têgêsipun kidul : estri didudul wêtênge ing têngah. kakang mbarêp punika kawah. ingkang ical utawi kirang ikhtiaripun inggih badhe ical utawi kirang bêgjanipun. ngGêgawa nêdha raga. kawruhipun tiyang Buddha. mila jalma keblatipun wontên têngahing jagad. ana wujud. Têgêsipun pur: jumbuh. botên salah dipunpragat. baita pêcah. sampun dipunsêrat wontên lokhil-makful. botên ewah botên gingsir. mindhak kêsasar. têgêsipun lor : laire jabang bayi. lairipun saking tiyang sêpuhipun estri. amargi Gusti Allah punika botên kantha botên warna. botên ewah gingsir. mêngku alam sahir kabir. tamtu manggih cilaka. ingkang ewah punika makaming raos. adhi punika ari-ari. nglangkungi ingkang sampun sêpuh. botên sagêd ewah gingsir.

manawi pisaha raga suksma lan budi. inggih punika . mumpung baitanipun taksih lumampah. botên wontên tiyang. Pramila kêdah ingkang mapan. Nalika eyang paduka Prabu Palasara iyasa kadhaton wontên ing Gajahoya. Lêmpeng kiwa têngên têgêsipun tekadmu sing lêmpêng lair batin. manawi baitanipun bibrah. gandanipun kadosdene nalika taksih dados sato kewan. têgêsipun suksma ugi pisah kaliyan budi. manawi suksma punika pêjah ing ‘alam dunya suwung. inggih nglêbêt inggih jawi. dados dhêmit têngga siti. sato wana tuwin lêlêmbut dipuncipta dados manusa. inggih prau gaweyaning Allah. yen tunggal. dadosipun saking sabda kun. nanging manawi tekadipun nasar. Timbangan têgêsipun salang. sarta murtat dhatêng lêluhur Jawi sadaya. gêsangipun gantos roh lapis enggal. sah têgêsipun pisah. punika kêdah ingkang waspada. gantos makam enggal. botên pitados dhatêng sêratipun Gusti. Têpak têgêsipun têpa-tapanira. pisahipun kawula kaliyan Gusti. Kiwa têgêsipun: raga iki isi hawa kêkajêngan. punika namanipun sahadat. kenging kangge sangu gêsang. têgêsipun incêngên aneng cêngêlmu. yen angsal woh kawruh kathah. praunipun sampun rêmuk. nanging sagêd manjalma dados tiyang (kajêngipun. ngengêtana dhatêng asaling kawula. gêsang langgêng ingkang botên sagêd pêjah. manawi sampun pisah raga suksma. Nalika panjênênganipun Bathara Wisnu jumênêng Nata wontên ing Mêndhang Kasapta. untungipun sugih daging.tiyangipun rêbah. ingkang dipunwastani Sastrajendrayuningrat. sing bênêr keblatira. baitanipun tiyang Islam gêsangipun kantun pangrasa. nempel tosan. manawi kula kêpengin badhe wujud. wontên ing dunya amung sadarmi ngangge raga. mrêtitis ingkang botên-botên. tiyang Jawi tamtu lajêng Islam sadaya. ingkang dipunwastani jithok têgêsipun namung puji thok. Lambung: waktu Dewa nyambung umur. botên wênang ngêkahi pêjah. Makatên punika ungêling sêrat. Jiling punika puji eling marang Gusti. urip wontên ing ‘alam dunya pados kawruh kaliyan woh kuldi. manawi tiyang punika têrus gêsang. ngadam utawi wujud sagêd sami sanalika. Ula-ula: ulatana. saking tiyang inggih dados tiyang. sintên ingkang damêl raga? Sintên ingkang paring nama? inggih namung Latawalhujwa. Sêrat tapak Hyang. Pundhak punika panduk. nyuwun baitu’llah ingkang enggal. kapiran seda paduka. manawi paduka botên sagêd maos sastra ingkang wontên ing badanipun manusa. Mata têgêsipun tingalana batin siji. paduka têtêp kapir. Raganing manusa punika namanipun baitu’llah. keblat lor bênêr siji. alamipun jalma sambungan. nêtêpi kamanusanipun. manawi baitanipun tiyang Jawi sagêd mapan santun baitu’llah malih ingkang sae. ing dunya kêbak manusa. inggih pisah kaliyan tiyangipun. saseda paduka manjalma dhatêng kuwuk. Manawi paduka maibên. purwa bênêr lawan luput. manawi botên mapan gêsangipun. manawi paduka maibên. kabêsaran. pêjah malih sagêda mapan. dados kantun sasêdya-kula kemawon. napas tali. ngantos roh lapisan. Têngên têgêsipun têngênên ingkang têrang. manawi angsal woh kuldi kathah. lajêng tangi malih. tanggalipun botên surup salaminipun. muji dhatêng Gusti. sanadyan suksmanipun tiyang. Walikat: walikane gêsang. dat punika Dzating Gusti. wadhag alus-kula sampun kula-cakup lan kula-carub. Dewa ingkang damêl cahya murub nyrambahi badan. kawula ugi wajib utawi wênang matur dhatêng Gusti. lalarên gêgêrmu sing nggligir. budinipun lajêng santun baitu’llah. ngungkulana ingkang lami. lali eling urip mati. Punuk têgêsipun panakna. pramila gandanipun tiyang satunggal-satunggalipun bedabeda. pêjahipun manjalma dados kuwuk. lampahipun saking ênem urut sêpuh. bêcik lawan ala. dados saking sabda kun. adiling Kawasa tiyang punika pinasthi ngundhuh wohing panggawene piyambak-piyambak). Manawi paduka ngrasuk agami Islam. sanadyan suksmanipun kewan. botên damêl botên tumbas. dados wadya-balanipun Sang Nata. Kanjêng Nabi Musa kala rumiyin tiyang ingkang pêjah wontên ing kubur. Sungsum têgêsipun sungsungên. kajêng sela. dene manawi sagêd sagêd maos sastra ingkang wontên ing raga wau. sampun jumbuh dados satunggal. sato wana tuwin lêlêmbut inggih dipuncipta dados tiyang. Manawi kula. kasêbut ing sêrat Anbiya.

kula wirang dhatêng bumi langit. karsa dados jawan. sampun kalingan pajar. kantun asma nglimputi badan. kula botên tumut-tumut. tiga-tiga punika tumindakipun.wujud-kula. toya kula-êntut sêpisan kemawon. pucakipun lajêng anjêmblong. Sang Prabu ngandika maneh: “Apa kowe ora manut agama?” Sabdapalon ature sêndhu: “Manut agami lami. badan-kawula sakojur gadhah nama piyambak-piyambak. punika kula. dhatêng agami enggal botên manut! Kenging punapa paduka gantos agami têka botên nantun kula. mêngsah uyuh-kula piyambak. rêdi-rêdi sami kula êntuti. kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal. (11) Ature Sabdapalon marang Sang Prabu: Punika kasêkten punapa? kasêktening uyuh kula wingi sontên. langgêng salaminipun”. yen sêdya maujud sagêd katingal sanalika. ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula. prêlu kanggo tandha yêkti. budi hawa badan. Naya têgêsipun ulat. ingkang kula rêbat punika? Paduka sampun kêlajêng kêlorob. Dados wicantên-kula punika. paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus. kang surasane ora prêlu manggalih kang akeh-akeh. adi Guru namung ngideni kemawon. iku tandha yen Sang Prabu wis mantêp marang agama Rasul. kaya kang wis kathandha. amarga banyu sêndhang gandane wangi. Manawi paduka botên pitados. Sang Prabu ndangu: “Ana ing ngêndi Pangeran Kang Sajati?” Sabdapalon matur: “Botên têbih botên cêlak. sampun dados wangi. Sunan Kalijaga banjur nyipta. sêdya ngadam. mila tanah Jawi lajêng botên goyang. botên pisah. aku ora kêna bali agama Buddha maneh. Raga-kawula punika sipating Dewa. botên pêjah botên gêsang. yen Sang Prabu nyata wis mantêp marang agama Rasul. ing wêkdal samantên tanah Jawi sitinipun gonjang-ganjing. iku anandhakake: yen Sang Prabu isih panggalih Buddha. ing kono Sunan kalijaga matur marang Sang Prabu.” Sunan Kalijaga banjur matur marang Sang Prabu. nanging yen gandane ora wangi. sarta matur yen arêp nyipta banyu kang ana ing beji. dene pêjahipun nglimputi salêbêting gêsangipun. wis disêkseni Sahid. saking pajaripun ngantos sampun botên katingal wujudipun Sabdapalon. sami mêdal . nanging inggih botên kumpul. Genggong: langgêng botên ewah. Palon: pikukuh kandhang. langgêng salaminipun. mila rêdi-rêdi ingkang inggil pucakipun. kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi. aku wis kêbacut mlêbu agama Islam. nama Manik Maya. dipunanggêp sarira tunggal. Manawi kula timbangana nama kapilare. amarga agama Islam iku mulya bangêt. Manawi kula sumêdya ngêdalakên kaprawiran. Cobi paduka-dumuk: pundi wujudipun Sabdapalon. kang kasêbut ing pikêkah Jawi. padha sanalika banyu sêndhang banjur dadi wangi gandane. botên rêmên momong paduka. aku wirang yen digêguyu bumi langit. botên ênem botên sêpuh. gêsangipun nglimputi salêbêting pêjahipun. saking agênging latu ingkang wontên ing ngandhap siti. kapriye mungguh ing gandane. rêmên manut nunut-nunut. inggih sagêd ical sami sanalika. irib-iriban. paduka wayangipun wujud sipating suksma.” Sang Prabu ngandika: “Kapriye iki. wirang momong tiyang cabluk. Paduka punika sampun Ratu linuhung tamtu botên badhe kêkilapan dhatêng atur-kula punika”. dipunpamerakên dhatêng kula. Yen banyu dicipta bisa ngganda wangi. latunipun kathah ingkang mêdal. tanpa guna kula êmong.” Sabdapalon matur maneh: “Inggih sampun. lakar paduka-lampahi piyambak.

ing batos rumaos kaduwung bangêt dene ngrasuk agama Islam. yen gandane mari wangi. wiji bungkêr botên thukul. rêmên nunut bangsa sanes.latunipun sarta lajêng wontên kawahipun. Sunan Kalijaga banjur didhawuhi nêngêri banyu sêndhang. rêmên nêmbah sela. Dewa lajêng paring pangapura. lan sami purun nêdha woh kawruh. Wiwit dintên punika jawahipun sampun suda. wis disêkseni dening si Sahid. amarga wong wadon iku utamane kanggo wadhah. anglela kalingan padhang. sijine diiseni banyu sêndhang. tiyang sagêd matur piyambak dhatêng Ingkang Maha Kuwasa. namung kangge têdha pêksi. ingkang damêl bumi lan langit. Sabdapalon matur yen arêp misah. benjing: sasi murub botên tanggal. wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput. Punapa cacadipun agami Buddha. manawi sampun santun agami Islam. sabanjure digawa sakabate loro. ora wênang miwiti karêp. Paduka yêktos. Nganti suwe ora ngandika. tinanêma thukul mriyi. Banyu sêndhang mau kanggo tandha. besuk wong Jawa padha ninggal agama Islam ganti agama Kawruh. wêwah bênter awis jawah. kang ngaturake yen wong agama Islam iku. Sunan Kalijaga banjur jasa bumbung loro kang siji diiseni banyu tawa. nanging ora manggon ing kono. kapriye kang dadi kêkêncênganing tekadmu? Yen aku mono ênggonku mlêbu agama Islam. saiki mung kowe kang tak-tari. sami engêt dhatêng agami Buddha malih. wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang”. amratelakake yen ênggone mlêbêt agama Islam iku. mung nêtêpi jênênge Sêmar. yen wong lanang manut wong wadon. sadaya wau atas karsanipun Latawalhujwa. amarga barang wis kêbacut. benjing tanah Jawa ewah hawanipun. . nanging wong loro mau banjur musna. antuk swarga kang ngungkuli swargane wong kapir. isi wedang lan toya tawa. nilar agama Buddha. dipuntampik dening Dewa. Cobi paduka-yêktosi. mriyi punika pantun kados kêtos. banjur disumpêli godhong pandan-sili. yen wiwit jaman kuna mula. suda asilipun siti. wasana banjur ngandika. sagêd wangsul kados jaman Buddha jawahipun”. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa. Jawinipun ical. turun paduka tamtu apês. Benjing yen sampun mrêtobat. amarga kêpencut ature putri Cêmpa. nglimputi salire wujud. amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami. yen gandane mari wangi. ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa. nilar agami Buddha. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti. angaturake lêpiyan. Sang Prabu ngandika: “Kok-tutuha iya tanpa gawe. Paduka-yêktosi. Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong. Jawi kantun jawan. Sabdapalon akeh-akeh ênggone nutuh marang Sang Prabu. Sang Prabu mirêng ature Sabdapalon. kathah tiyang rêmên dora. wong tanah Jawa padha salin agama kawruh. wis ora bisa bali mênyang Buddha mêneh”. Bumbung sawise diiseni banyu. Sabdapalon matur. agêgaman kawruh. mêsthi nêmu sangsara. dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. jawah salah masa. ature ora lunga. damêl bingungipun kanca tani. Sang Prabu diaturi ngyêktosi. barêng didangu lungane mênyang ngêndi. punika inggih kula ingkang damêl. amargi paduka ingkang lêpat. jarene besuk yen mati. iya iku sing diêmong Sabdapalon. kêndêl tindak nistha tuwin rêmên supata.

wis padha narima rusake Majalêngka. yudane apêsa. wis têkan ing Panarukan. Sang Prabu banjur ngrangkul ingkang putra. Sang Prabu banjur dhawuh nimbali Prabu Jimbun. ora karuhan mênyang ngêndi tindake. gêrahe Sang Prabu sangsaya mbatêk. mupusa yen kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. banyune diambu isih wangi. sapa sing miwiti ala. sarta akeh-akeh sêsambate. mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak. Sang Prabu banjur ngandika: “Wis aja nangis êngger. ing pitung dinane. sapungkurku sing padha rukun. ora antara suwe Prabu Jimbun budhal sowan mênyang Ampel. Sang Prabu mbanjurake tindake. satêkane Surabaya. nuli mbanjurake tindake. nanging wajibe wong urip kudu kêpengin mênyang ilmu”. banyune tawa isih enak. Barêng wis wayah surup srêngenge. nanging mung kari sathithik. tak-suwun marang Kang maha Kuwasa. mirêng warta yen ingkang rama Sang Prabu têdhak ing Ampel.Sang Prabu Brawijaya banjur tindak didherekake Sunan Kalijaga lan sakabate loro. nanging munthuk. aku wis arêp mulih marang jaman kalanggêngan. banyu ing bumbu diganda isih wangi. nyare ana ing Sumbêrwaru. esuke banyune ditiliki. Sang Prabu banjur nêrusake tindake nganti wayah surup srêngenge. Aku lan kowe mung sadarma nglakoni. dene banyune sêndhang barêng ditiliki gandane dadi bangêr. amarga kêrêp diunjuk ana ing dalan. ana ing kono uga nyare sawêngi. Sang Prabu uga nyare ana ing kono. kowe gaweya layang mênyang Pêngging lan Pranaraga. Sang Prabu mbanjurake tindake. Sang Prabu ndangu: “Sing ngabêkti iki sapa?” Raden Bondhankajawan matur yen panjênêngane kang ngabêkti. aja padha ngrêbut kapraboningsun. balik padha ngemana rusaking wadya-bala. Prabalingga karo Bangêrwarih 12 ing kene besuk dadi panggonan kanggo pakumpulane wong-wong kang padha ngudi kawruh kapintêran lan kabatinan. mêngko tak-wenehane tandha asta. Nyai Agêng Ampelgadhing tumuli mêthukake banjur ngabêkti marang Sang Prabu karo muwun. sebaa marang Dêmak. nungsung warta ing ngêndi dununge ingkang rama. Prabalingga têgêse prabawane wong Jawa kalingan prabawane tangga”. rumasa ora kapenak panggalihe. satêkane ing Dêmak. kaya kang wis kasêbut ing ngarêp. wayah surup srêngenge. nyêdhaka mrene. kabeh mau wis karsane Kang Maha Suci. nanging banjur gêrah. Nyai Ampel nuli utusan mênyang Dêmak nggawa layang. Bêgja cilaka ora kêna disinggahi. malah Sang Prabu lolos saka jroning pura. wis têkan ing Ampelgadhing. mundhak gawe rudahing jagad. Sang Prabu nyare ana ing kono. tumuli dibuwang. Sang Prabu banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Prabalingga ing besuk jênênge loro. kang aran Raden Bondhankajawan ing Tarub. Kacarita putra Nata ing Majapahit. têkan ing Bêsuki. kudu mangkene. Nyai Agêng Ampel banjur matur marang Sang Prabu.” . esuke banyu ing bumbung diganda mundhak wangine. banjur tindak marang Majapahit. Raden Bondhankajawan nuli sowan ngabêkti. ing wayah esuk. unthuke gandane arum. kabeh lêlakon wis ditulis aneng lokhilmakful. pangandikane marang Sunan Kalijaga mangkene: Sahid. ngaturake patrape ingkang wayah Prabu Jimbun. tindake Raden Bondhankajawan namur kula. têkan ing Prabalingga. aja padha pêrang. esuke bumbunge dibukak. layang wis katur marang Sang Prabu Jimbun. tindake kawêngen ana ing dalan. ngrumaosi yen wis arêp kondur marang jaman kalanggêngan.

” Sunan kalijaga nyuwun sumurup mungguh têgêse araning bakal pasareyane Sang Prabu. sarekna ing Majapahit sa-lor-wetane sagaran. Wulan têgêse damaring jagad. astane banjur sidhakêp. mula kolu marang bapa sarta rusuh tindake. mulane ênggonku mangêni madêge Ratu mung têlung turunan. Prabu Jimbun ature marang Nyai Agêng. mula tak-suwurake Putri Cêmpa. dadi ora bisa ngabêkti sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata. saturun-turune êmongên.” Sunan Kalijaga sawise dipangandikani banjur matur: “Punapa Sang Prabu botên paring idi dhatêng ingkang putra Prabu Jimbun jumênêngipun Nata wontên ing tanah Jawi?” Sang Prabu ngandika: “Sun-paringi idi.” Sang Prabu sawise paring pangandika mangkono. amarga sajroning sihsinihan di seje bangsa mau nganggo ngobahake agamane. sapungkurku kowe sing bisa momong marang anak putuku. lan maneh wêlingku. tulise kuburku mung kaya gêbyaring wulan. mundhak ngenthengake Gustine. kacarita Sultan Bintara lagi rawuh ing Ampelgadhing sarta kapanggih Nyai Agêng. aku titip bocah iki. dene pasareyaningsun bakal sun-paringi jênêng Sastrawulan. manawa ana bêgjane. ing têmbe buri. banjur mangro tingal. Sang Prabu ngandika: “Sastra têgêse tulis. sabanjure diparingake marang Pêngging lan Pranaraga. sarta nyuwun pangapura kabeh kaluputane kang wis kêlakon”. lan suwurna kang sumare ana ing kono yayi Raja Putri Cêmpa. layone banjur disarekake ana ing astana Sastrawulan ing Majapahit. mula wêkasku. dununing pasareyan ana ing Karang Kumuning. besuk anak-putuku aja nganti entuk liya bangsa. wong Jawa padha wêruh yen sedaku wis ngrasuk agama Islam. sarta wis ora dianggêp priya. yen aku wis kondur marang jaman kalanggêngan. katêlah nganti saprene kocape kang sumare ana ing kono iku Sang Putri Cêmpa. barang wis kêbacut iya mung kudu dilakoni. aja gawe senapati pêrang wong kang seje bangsa. sawise rampung banjur ditapak-astani dening sang Prabu. ing sajroning mangun yuda. iya mung mupus pêpêsthen. tulisên. lan maneh wêkasku marang kowe. . nanging mung mandhêg têlung turunan. kabeh pitungkasku. Cina lan raksasa. nganti kaya mangkene siya-siyane marang aku. yen isih ana gêbyaring wulan. têrus seda. mula aku paring piwêling aja gawe senapati pêrang wong kang seje jinis. wis Sahid. bisaa ngapêsake urip. Barêng wis têlung dina saka sedane Sang Prabu Brawijaya.Sunan Kalijaga banjur nyêrat. Sultan Dêmak ana ing Ampel têlung dina lagi kondur. anak-putuku aja entuk seje bangsa. amarga si Patah iku wiji têlu. amarga aku wis diwadonake si Patah. Jawa. Nyai Agêng ngandika: “Wis bêgjane Prabu Jimbun ora nungkuli sedane ingkang rama. besuk bocah iki kang bisa nurunake lajêre tanah Jawa. Sang Prabu banjur ngandika: “Sahid. dene mungguh satêmêne Putri Cêmpa iku sedane ana ing Tuban.

wis padha mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak. ora cocog lair lan batine. wong Majapahit padha kagegeran amarga ditêluh ing dhêmit. wong Majapahit bubar. piwalêse ngrusak. Alas angkêr akeh dhêmite. pamrihe supaya aja ngribêdi ing têmbe buri. lan kawiyos pangandikane sêru.Kacarita Adipati Pêngging lan Pranaraga. kang surasane nyupatani marang panjênêngane dhewe. kaya kang kapratelakake ing ngisor iki: Kabeh mau mung pasêmon. [2] Sunan Cirêbon badhonge mêtu tikuse maewu-ewu. surya katon abang kaya gêni. iya iku Adipati Andayaningrat ing Pêngging lan Bathara katong ing Pranaraga. muga aja awet urip. dene ingkang rama Sang Prabu lan putra Raden Gugur lolos saka praja. amarga saka putêking panggalihe banjur padha gêrah. mangkene pasêmone: 1] Amarga saka kramate para Wali. mundhak ndêdawa wirang. Adipati sakarone padha puguh ora karsa sowan marang Dêmak. mungguh sanyatane. iku pratandha yen wong mau ora landhêp pikire. mula mung kanggo pasêmon. Dene têgêse pasêmon mau mangkene: Tikus iku watake ikras-ikris. mula banjur dhawuh ngundhangi para wadya sumêdya nglurug pêrang marang Dêmak. mung kari budhale bae. yen dilugokake jênênge ambukak wadine Majapahit. ora antara lawas padha nêmahi seda. Lumrahe tawon iku bubar amarga saka dipangan ing wong. para wadya-bala wis rumanti gêgamaning pêrang pupuh. amarga carita kang mangkono mau kalêbu aneh lan ora mulih ing nalar. amarga wêruh akehing tikus. dene panggonane ana ing . ewadene bisa rusak mung amarga dikritiki tikus. dene kaol kang gaib. gêgamane ana ing silit. barêng wis diparingi. tawon lan dhêmit. kasaru têkane utusane Sang Prabu maringake layang. labuh bapa ngrêbut praja. yen dirasa satêmêne saru bangêt. [3] Pêthi saka Palembang ana satêngahing paprangan dibukak mêtu dhêmite. ora karuhan jujuge ana ing ngêndi. Mula carita bêdhahe Majapahit sinêmonan dening para pujangga wicaksana. Mula carita bêdhahe Majapahit iku mung dicêkak. layang banjur disungkêmi kanthi bangêt ing pamuwune lan bangêt anjêntung panggalihe. Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi marang muride kang aran Darmagandhul. Tawon iku nggawa madu kang rasane manis. amarga aran ambuka wêwadining ratu. carita bêdhahing Majapahit iku kaya kang tak-caritakake ing ngarêp. putra mungsuh bapa. ora satimbang karo gêdhene nagara sarta ambane jajahane. tansah gedheg-gedheg lan gêrêng-gêrêng. sapa kang ngandêl yen rusake Majapahit amarga tikus. kêrise Sunan Giri ditarik mêtu tawone ngêntupi wong Majapahit. Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga sawise tampa layang lan diwaos. bubaring dhêmit yen alase dirusak dening wong. padha mangani sangu lan bêkakas jaran. suwe-suwe yen diumbar banjur ngrêbda. [4] Sang Prabu Brawijaya sedane mekrad. têgêse: para ‘ulama dhek samana. wajane kêrot-kêrot. Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga bangêt dukane. mula mung dipralambangi pasêmon kang orang mulih karo nalare. arêp ditanduri. nanging ênggone mbêdhah sinamun sowan riyaya. nalika lagi têkane nyuwun panguripan marang sang Prabu ing Majapahit. Nanging yen Majapahit rusake amarga saking tikus. tawon lan dhêmit. sedane Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga padha ditênung dening Sunan Giri. Nagara Majapahit iku rak dudu barang kang gampang rusake.

dene tuma kijir iku tumane celeng. dadi suksmane bangsa mau.gowok utawa tala. suksmane akeh kang katut angin banjur thukul ana ing tanah China. wusana banjur mukul pêrang ngrêbut nagara. mula saiki banjur padha bali mulih marang tanah Jawa. githok kuntul kinuciran. wêruh-wêruh Adipati Têrung wis ambantu Adipati Dêmak. apa dene bubare wong sapraja mung saka ditêluh ing dhêmit. mulane melik ênggal sugih. yen ora padha gêlêm ngrumasani kaluputane. iya iku ganti agama. dhêmit têgêse samar. sênêng yen ngokop gêtih. banjur ana manuk kuntul nganggo kucir. Dene dhêmit diwadhahi pêthi saka Palembang. dene tala têgêse mêntala ngrusak Majapahit. ênggone nyêri-nyêri marang ingkang rama Sang Prabu. . ora ngetung bênêr utawa luput. kajaba mung kendêl gêrêng-gêrêng bae. dadi dikagetake. nalika arêp pambêdhahe ora ana rêmbag apa-apa. Mungguh gênahe mangkene: bêdhahe nagara Majapahit sarana ditêluh kalayan primpên lan samar. yen bêdhahe saka binêdhah dening putra. Kuna-kunane ora ana praja gêdhe kaya Majapahit bêdhahe mung saka diêntup ing tawon sarta dikritiki ing tikus bae. ing wêktu iku banjur diparingi pangkat. dhek jaman kuna. nganti ngêntekake panggalihe Sang Prabu. têgêse: maune têkane nganggo têmbung manis. celeng iku iya aran andhapan. iya iku Sang Prabu Brawijaya. barêng nagara wis ngalih marang Dêmak. ibumu Putri Cina. sadurunge Majapahit bêdhah. Banjure maneh pangandikane kiyai Kalamwadi: Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi. kêprungu saka ing ngêndi-êndi nagara. barêng dibukak muni jumêglug. purwane Jawa. amarga Arja Damar iku ibune putri raksasa. Sang Prabu Jimbun iku wiji têlu. dhêmit iku uga tukang nêluh. Prabu Brawijaya sinêmonan ing gaib: kêbo kombang atine êntek dimangsa tuma kinjir. tuma têgêse tuman. manuk kuntul iku durung ana kang nganggo kucir. nalika santri Jawa durung akeh kawruhe. nanging sanadyan para Wali liyane uga didhawuhi ngrumasani. kabeh mau padha mbalela mbalik. sawise padha mati. iya iku Raden Patah nalika têkane ana ing Majapahit sumungkêm marang ingkang rama Sang Prabu. iku mau-maune iya akeh kang suksma Jawa. dosane lair batin. mula jênênge Wali ditêgêsi Walikan: dibêciki malês ngalani. têgêse: tolehên githokmu. mula wong Majapahit ora sikêp gêgaman pêrang. amarga katarik saka ibune. ora karsa nglawan pêrang. rungsid. Dene kuntul nganggo kucir iku pasêmone Sultan Dêmak. rêmit. pambêkane siya. Dene anane bangsa Cina padha nênêka ana ing tanah Jawa iku dêdongengane mangkene: Jare. dene ênggone kêndêl nanging tanpa duga iku saka wijine Sang Arja Damar. Bêdhahe Majapahit swarane jumêgur. sapa kang ngrungu padha gawok. têgêse oleh ati saka Sang Prabu. ora mung Sunan Dêmak dhewe bae kang didhawuhi ngrumasani kaluputane. kombang têgêse mênêng swarane kang mbrêngêngêng. wusana ngêntup saka ing buri. ora kêna nyêri-nyêri marang wong seje bangsa. samudanane mung sowan garêbêgan. têgêse: Palembang iku mlembang. kêbo têgêse ratu sugih. iya iku Prabu Brawijaya panggalihe têlas nalika bêdhahe Majapahit. mula ana kuntul nganggo kucir iku wis karsaning Allah. sangane Adipati Dêmak. mula Sang Prabu Jimbun gêdhe panggalihe melik jumênêng Nata. dumeh agamane Buddha kawak kapir kupur. pêthi têgêse wadhah kang brukut kanggo madhahi barang kang samar. iya iku Wali wolu utawa Sunan wolu kang padha dimêmule wong Jawa. kahanan ing dunya nuli malih. mulane Gusti Allah paring pasêmon.

mangkono kang kasêbut ing kitab Anbiya”. sinêmonan wiwit anane orong-orong githoke tumêka ing punuk disêsêli tataling kayu jati. Iya wiwit titi masa iku anane wit-witan warna papat kang padha thukul ana ing kuburan. mangan babi kaya dhek jaman Majapahit. ora nganggo nêmbah brahala. nanging lah eling-elingên ing besuk. yen wis agama kawruh. nuli sowan andêdagan ana ing pasareyane ingkang rama. Kabeh mau ora padha ngrumasani kaluputane. budi iku Dzate Kang Maha Agung. Sultan Dêmak waskitha ing gaib. sajatining ‘ilmu iku ora susah maguru marang wong ‘Arab. Ana gajah digêtak kaya kucing. wasana banjur pinaringan pangapura dening Allah. Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi. mung nêmbah marang Allah. mula bangêt mrêtobate. Den enak mangan turu. Sawise mangkono. mula sêbutane Gusti Kanjêng Nabi ‘Isa iku Putrane Allah. barêng wis antara têlung dina lawase. rumaos kadukan dening Kang Maha Kuwasa. agung iku wis samêkta. beda karo para Wali liyane isih padha manganggo sarwa putih.Darmagandhul matur: “kiyai! Kang diarani agama Srani iku kang kaya apa?” Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake: “Kang diarani agama Srani iku têgêse sranane ngabêkti: têmêntêmên ngabêkti marang Pangeran. siji warnane irêng sêmu abang dalah godhong sarta kêmbange. lan wêktu iku sajroning pasareyane Sang Prabu kêprungu ana swara dumêling. godhonge uga banjur mingkup kaya dene godhong Gêtakkucing. bangêt panalangsane ing dalêm batos. mungguh karêpe: punukmu panakna. sabda iku mêtu saka ing karêp. kang ngawruhi sajatining urip. mangkene ujaring swara: “Êntek katrêsnanku marang anak. mula banjur ngrumaosi kabeh kaluputane. tanpa kurang tan wuwuh. tanpa luwih sarta ora arah ora ênggon. Sunan Kalijaga uga waskitha ing gaib yen sinêmonan dening Kang Maha Kuwasa. manusa bisa apa. ing têmbe bakal takwalês. budi kang ngobahake. nganti wani mungsuh ingkang rama sarta ngrusak Majapahit. kaprênah pusêring kuburan tanpa sangkan thukul wit-witan warna papat. mobah mosik mung sadarma nglakoni. ngrumaosi klirune dene nuruti rêmbuge para Sunan kabeh. Turugajah lan Gêtakkucing. Mula nganti tumêka saprene wit Sêmboja panggonane ana ing kuburan. iya iku Tlasih. dadi pasêmon kabeh. godonge Gêtakkucing yen kasenggol banjur obah. ‘ilmuning Gusti Allah wis ana ing githokmu dhewe-dhewe. loro wit sarta kêmbange putih godhonge sêdhêngan. karêp mêtu saka ing budi. mung Sunan Kalijaga piyambak rumaos yen kadukan dening Kang Maha Kuwasa. pranatane mêngku praja.wujude puji thok.” Sultan Dêmak mirêng swara dumêling kang surasane mangkono iku. papat wit kang godhonge lêmbut sarta mawa êri. sanajan matiya ing tata-kalairane. mula uga bangêt panalangsane sarta ngrumaosi kaluputane. . mula banjur mangagêm sarwa wulung. tak-ajar wêruh ing nalar bênêr lan luput. sakondure saka pasareyane ingkang rama. urip dadi wayangan Dzating Pangeran. têlu wit kang godhonge ngrêmbuyut mubêng kaya payung. ing batos bangêt kaduwung marang apa kang wis dilampahi. Sêmboja. tansah ngrumaosi ing kalêpatane. Sultan Dêmak banjur kondur. mula nganti suwe njêgrêg ora bisa ngandika. awit Allah kang mujudake. kêmbang Tlasih kanggo ngirim para lêluhur. nanging dudu puji jatining kawruh.

amarga mundhak ngrêribêdi agama Rasul. Yen kowe wis ngrêti marang têgêse Dharudhêmble. mungguh caritane kaya kang kasêbut ing ngisor iki”. Sayid Anwar didukani ingkang rama lan ingkang eyang. andikakake padha gawe layang Babad Tanah Jawa. Sang Nata ing Mataram andangu para wadya. sari’at iku saringane kawruh agal alus. amarga padha melik ganjaran. kanggo gantine kitab-kitab kuna kang wis padha diobongi. Darmagandhul matur. mulane wong-wong ing Majapahit banjur padha ngrasuk agama Islam. iku sindhenan Dharudhêmble. nanging tinêmu tulisan ‘Arab. mula Sang Prabu ing Mataram kewran panggalihe ênggone kagungan karsa iyasa babad carita tanah Jawa. muji marang Allah iku. tarekat iku kang nimbang lan nandhing bênêr lan luput. banjur iyasa wayang. jênênge munajad. sanadyan buku kang padha disimpêni dening para wadya. wêruh ora kasamaran ing sawiji-wiji. kang ditandur ana ing swarga. kang didhahar Nabi Adam lan Babu Kawa iku woh Kuldi. sabab saka ênggone padha dhahar wohe kayu Kawruh kang ditandur ana satêngahing taman Pirdus. nyuwun ditêrangake bab ênggone Nabi Adam lan Babu Kawa padha kêsiku dening Pangeran. Mula nyuwun têrange. iya dipundhut banjur diobongi. Yen kowe wis bisangawruhi surasane kang tak-kandhakake iki. kang diênggo pathokan layang Lokapala. ênggone nulup mung ngawur. masa kênaa. buku-buku sakarine. wiwit Kraton Gilingwêsi nganti tumêka Mataram wis ora kasumurupan caritane. nalika sabêdhahe Majapahit. wujud karsaning Allah. ru iku têgêse ruwêt sulit lan rungsit. yen ra wêruh prênahe manuke. caritane lêluhure supaya aja nganti pêdhot. dene dhêmble têgêse dhêmbel dadi siji. Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake. kang ngobahake sarta ngosikake rasane budi. Saupama wong nulup manuk. Wayahe Nabi Adam iya iku putrane Nabi Sis. kang isih padha disimpên uga padha dipundhut kabeh. ora . Ratu Mataram uga mangun carita sajarahe para lêluhur Jawa. Dene wong-wong kang wis padha gêlêm salin agama Rasul. nanging wis padha amoh. Mangan woh kawruh lan budi. nanging wis padha ora mênangi. kagungan panggalih. ananging sarehne kang gawe Babad mau ora ngêmungake wong siji bae. dhêmble wujud siji. Têmbung dhar iku têgêse wudhar. arane Sayid Anwar. sêmbahe kaya wêsi kang dilabuh ana ing gêni ilang abange mung rupa siji. Sang Prabu banjur dhawuh marang para pujangga. kang muji lan kang dipuji wis nunggal dadi sawiji. Yen kawruhe wong pintêr ora angel yen disawang. amarga wani. sarak iku sarate ngaurip. kang nyêbutake kok mung kitab ‘Arab lan kitabe wong Srani. Kiyai Kalamwadi banjur ngandhakake: “Sawise buku-buku pathokan agama Buddha diobongi. yen ing kitab Jawa caritane kapriye. Ciptane Sayid Anwar supaya kuwasane bisa ngiribi kaya dene kuwasane Pangeran. dene Sajarah Jawa iya ana kang nyêbutake turun Adam. Ing wêktu iku Sunan Kalijaga. mêtune saka ing utêk”. yen wis sumurup têpunge sarat sari’at tarekat hakekat lan ma’rifat. mêsthi wis marêm marang kawruhmu dhewe. sapa kang durung gêlêm nganggo agama Islam banjur dijarah rajah. banjur padha diganjar pangkat utawa bumi sarta ora padha nyangga pajêg. yen kitabe wong Jawa ora nyêbutake bab mangkono iku. buku-buku asli saka ing Dêmak lan Pajang padha dipriksa. Ana maneh kitab kang nêrangake.wani mangan wohe wit kayu Budi sêngkêrane Pangeran kang tinandur ana ing swarga. iya kitab Manik Maya.Kiyai kalamwadi nutugake caritane: “Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi mangkene: mungguh kang katarima. kitab Pêkih lan Taju-salatina apa dene Surya-Alam kang kanggo pikukuh. iku mau wis muji tanpa ngucap. hakekat iku wujud. mula wong-wong ing kono padha wêdi marang wisesaning Ratu. mula ora bisa padha gaweyane. iya iku nampik milih iktiyar lan manggaota.

jêjuluk Prabu Nurcahya. saucaping wong Jawa bisa kaucap. mangan woh wit kayu Kawruh. saturun-turune bisaa jumênêng Nata mêngkoni tanah Jawa. wusanane Sayid Anwar diêpek mantu sarta dipasrahi kaprabon. Yen kang dipangan woh wit kayu Budi. Têmbung Jawa. kang padha didhahar woh wit kayu Budi. iya melu mangan woh Kuldi. amarga wong dadi Panutan iku saupama têtuwuhan minangka wite. salah sijine aja nganti luput. yen sênêng mangan woh wit kayu Kuldi. karsane Sang Prabu: bisaa rowa. agamane srani. mula banjur iyasa kadhaton ana pucaking Mahameru. bali marang asale maneh.narima yen mung mangan who Kawruh lan woh Kuldi bae. wiwit jumênênge Prabu Nurcahya. Sang Hyang Guru kagungan pangraos yen kuwasane padha karo Gusti Allah. sarta ngakoni yen purwaning dumadi mêtune asal saka budi hawa nêpsu. Sarehne Sayid Anwar banjur lunga nuruti karêping atine. lakune mangetan nganti tumêka ing tanah Dewani. sambate marang nabi panutan. yen Kalifah dhahar woh kawruh. sarta: wadi dawa. Saupama woh ora gêlêm . sênêngan salah siji êndi kang disênêngi. kabeh iku iya bênêr. Sayid Anwar ditakoni iya banjur ngandharake lêlakone kabeh. uripe kaya watu ora duwe kêkarêpan lan ora mangrêti marang ala bêcik. krama oleh putri jin. Jawa jawi ngrêti kawruh agal alus. pênyêbute marang Kangjêng Nabi ‘Isa. Aran Dewa ngaku misesani mujudake sipat roh. iya iku Gusti Kangjêng Nabi Rasul. Sang Hyang Tunggal pêputra Sang Hyang Guru. Sarehne diênut wong akeh. agamane Buddha budi. mangkono uga karsa ngakoni yen turune Adam sarta Sis. mangeran digdayane sarta ngaku Gusti Allah. Sang Prabu putrane siji pêparab Sang Hyang Nurrasa. jalaran mangkene: asal suwung mulih marang sêpi. sarta manut sarake Sisingbing lan Sicim. yen kalifah dhahar woh Kuldi. dene putrane uga mung siji kakung pêparab Sang Hyang Tunggal. Darmagandhul didhawuhi nimbang mungguh kang bênêr kang êndi. Dewa iku wêrdine ana loro têgêse: budi hawa. Dene prakara bênêr utawa lupute. Yen bisa woh-wohan warna têlu iku mau iya dipangan kabeh. mêsthine banjur dadi wong bodho. ditêgêsi: nguja hawa. agamane Buddha budi. yen Kalifah dhahar woh Budi. mulane agamane Buddha. Sêdya kang mangkono mau iya diideni dening Kang Maha Kuwasa. jênênge nagara banjur diêlih dadi aran nagara Jawa. dadine saka budi hawaning Pangeran. Sayid Anwar miwiti yasa sarengat dhewe. Sang Hyang Wênang uga dhaup karo putri jin. dadi ora aran siya-siya marang uripe. mung waranane bae saka Adam lan Sis. Dene mungguh bêcike wong urip iku mung kudu manut marang apa alame bae. apa woh wit Kuldi? Saka panimbange Darmagandhul. pangraose Sayid Anwar iku dadi saka dadine piyambak. diantêpi salah siji aja nganti luput. nanging wohe kayu Budi kang disuwun. panyêbute marang Dewa. dadi Panutan kudu kang bênêr. Misuwure. Ênggone Kagungan pamanggih mangkono mau diantêpi bangêt. iya melu mangan who kawruh. panêmbahe marang Pikkong. dene yen dhêmên Godhong Kawruh Godhong Budi. ana ing kono banjur kêtêmu karo ratuning jin arane Prabu Nuradi. Sawise iku Sang Prabu banjur nganggit sastra mung salikur aksara. agamane Islam. apa wit kayu Budi. uga dhaup karo putri jin putrane mung siji iya iku Sang Hyang Wênang. iku kaya dene iwak kang mêtu saka ing banyu. yen wong ora mangan salah sijine woh mau. uki Kalifah kang bakal tanggung. ngratoni para jin. dijênêngake Sastra Endra Prawata. ora karsa ngagêm agamane ingkang rama lan ingkang eyang. kabeh mau turune Sang Hyang Nurcahya. Sêbutan Dewi: têgêse: dening wadining wadon iku bisa ngêtokake êndhas bocah. Yen wong ora gêlêm manut marang kang bênêre kudu diênut. manawa mangan woh wit kawruh. kang jumênêng Nata. iya melu mangan woh Budi. dadi murtat sarta nampik agamane lêluhure. sarta kalilan nimbangi jasane Kang Maha Kuwasa.

nyuwun têrange. nanging panggawene ora bisa. amarga kawruhe anggawa alam. supaya sugih pangrêten lan kaelingan. amarga banjur mangeran marang wujud. dalah têgêse sarta cacahing aksarane kok uga beda-beda. mangsi têgêse mangsit. lan manut wujud. mula jênênge dalwang. bisa mêthik who Kawruh lan woh Budi. jênênge sastra godhong. Auliya mau lali yen tinitah dadi manusa. ora duwe susah lan prihatin. amarga maro tingal marang barang rêrupan. anggayuh kang dudu wajibe. mula jênêng kalam. sastrane unine kurang. mêsthi mlêbu yomani. mêsthi dadi glundhungan kang tanpa dunung. nganggo mangsi supaya wong bisa wêruh. satêmah lali marang Pangerane. Awit saka iku. pancadan kang tumuju marang kabêgjan utawa kacilakan. amarga manusa diparingi wahyu kaelingan. mung bae dosane mau ana kang sathithik lan ana kang akeh. Nanging banjur akeh kang kliru muja marang barang kang katon. Geneya kok ora nganggo aksara warna siji bae? Kyai Kalamwadi banjur nêrangake. Kang diarani lawang swarga lan lawang nêraka iku. iya iku tekad suci lair batin. mung banyu suci. bisaa duwe jênêng kang bêcik. manusa didhawuhi muja marang agamane. dirêngga ing tekad kang utama. ora ngarêp-arêp munggah swarga. Wong urip iku kudu duwe gondhelan agama. amarga sanadyan saupama ana salahe. iya iku kang diarani sastra urip. Godhonge wit Budi lan wit Kawruh. bisaa slamêt lair batine. . Dene kang bisa nyirnakake (nyudakake) dosa iku.nempel wit. ing mangka iya kudu mangan woh wit kayu Budi. mula pangucap kang ala. manusa ora bisa anggayuh. ‘Arab. yen saka dhawuhe kang Maha Kuwasa. nanging unine pelo. sinêbut kang utama. kêsusu tampa panglulu nganggit sastra kang nganti tanpa etungan cacahe. dipêthik saka sathithik. dadi yen dalwang ditrapi mangsi. mulya kaya maune. kaya ta kêris. mungguh kang dadi bedane apa? Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake beda-bedane. têgêse mêtu wangune. bisa ngrêsiki lair batine. yen ala ngundhuh cilaka. kang digoleki bisaa nikmat mulya punjula saka sapadhane. ana Jawa. Gusti Allah mêsthi paring pangapura. mung wong kang ora ngrêti sastra paringe Gusti Allah. yen kabeh-kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. Iku maune kêpriye. dicorek ana ing dluwang. iya iku minangka aduse manusa. manusa ing dunya wujude mung lanang lan wadon. Mula aksarane digawe beda-beda. bisa tampa ganjaran. Lawang swarga iku prêlu dirêsiki. supaya para kawulane padha mangan woh wit kayu Budi lan woh wit kayu Kawruh. tumbak. Kang kaya mangkono mau ngrusakake agama. Gusti Allah uga iyasa sastra. Auliya Gong Cu kumênthus niru sastra tulisan paringe Gusti allah. pamêthike sapira sagaduke. mulane wong iku kudu ngelingi marang agamane kang nurunake. Walanda lan Cina. Yen wong luwih. Yen bêcik. Yen bêcik narik raharja. mangsit mangan kawruh. mung aksara Cina kang akeh bangêt cacahe. para Auliya panggawene sastra dipathoki cacahe. iku wajib dipangan. amarga Auliya kang nganggit kêsusu mangan woh Kawruh. supaya aja ngrêribêdi ana ing donyane. aja nganti nêmu sangsara. kaya nalika isih ana ing alam samar. Kang diarani banyu tekad suci iku kang êning. Sastra warna-warna paringe kang Maha-Kuwasa. mêsthi banjur mêtu wangune. dadi pelon. Ewadene mêksa nganggo kuwasane Kang Maha Kuwasa. dadine kok banjur warna-warna. bisaa nikmat badan lan atine. Woh wit Kawruh lan woh wit Budi ditandhani nganggo sipat wujud. Dene sastrane kok uga beda-beda. nanging sastrane nglimputi ing jêro. sanadyan para Auliya sarta para Nabi ênggone nggayuh iya mung sagaduke. amarga yen ora duwe agama mêsthi duwe dosa. utawa liya-liyane barang. Darmagandhul matur maneh. Darmagandhul matur nyuwun têrange agama Rasul lan liya-liyane. mêsthi ora mangêrti marang wangsit.

Auliya Jawa ênggone mangan woh wit kayu Budi nganti warêg. lan wis dadi piwulang kang bêcik lan nyata. sarta kudu kang mêlêng ênggone mawas. amarga arêp gawe sastra urip kaya yasane Gusti Allah. Yen prau wis isi têlung prakara iku. aku mung arêp pitakon marang ragamu. Kang wadon diupamakake omah. Darmagandhul banjur didhawuhi nimbang. kang anuduhake yen ragamu iku wujude kiwa. mung hawa kang katon. Auliya Arab ênggone mangan woh wit kayu Kuldi akeh bangêt. nanging anggêr mêtu saka budi. Ri. prau dadi ‘ibarate wong wadon. iya iku: “kar-ri-cis”. Yen ndêlêng kudu nganggo ati kang bêning. Gusti Allah iku mung sawiji. kabeh mau iya bênêr. dadi ora bisa aweh piwulang kang endah. Dene kang diwulangake. mêsthi wong wadon atine marêm. Tanganmu kiwa iku wis anggawa têgês dhewe. mungguh anggitane para Auliya kabeh mau kang mratandhani asor luhuring budine kang êndi? Saka panimbange Darmagandhul. ing wong sêsomahan iku. Dene ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Darmagandhul sarta para cantrik iya padha marak. Dene kang gawe aksara mung sathithik. wong wadon wis kêcukup butuhe. amarga ragamu iku wis bisa sumaur dhewe”. wujude dadi dhewe. Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Sarehne aku iku wong cubluk. Nanging yen sastra yasane Gusti Allah. Saka pangandikane Kiayi Kalamwadi. Auliya Cina kêsiku. mulane unine iya cêtha. Dene têgêse kar-ri-cis iku mangkene. Nanging sabên dinane isih kudu dipiyara lan didandani.ditata dikumpulake. sanadyan kahanane wis sarwa bêcik. mulane aksarane nganti ewon. Banjure pangandika kiyai Kalamwadi kaya ing ngisor iki. wong iku yen dipitakoni. supaya ora bisa kliru karo kanyatane”. nanging ora mêtu ing lesan. têgêse dakar. sabab ing kono wis ana pangandikane Gusti Allah paring piwulang. wong têgêse ngêlowong. iya iku kang minangka pangane wong wadon. iku mratandhani yen luwih pintêr tinimbang karo liya-liyane. ora kêna kacampuran pikiran kang warna-warna. . Kar. dene isine mung têlung prakara. sastrane ora ana kang padha. 1. dadine saka sabda. tulisan mau ora kêna ditonton nganggo mripat lair – kudu ditonton nganggo mripat batin. têgêse pari. wusanane dadi nêmu slamêt ênggone jêjêdhowan. mung paring sasmita kang wis ditulis ana saranduning badan sakojur. wa: têgêse wêwadhah. satêmêne ragane wis bisa mangsuli. yen wong lanang wis bisa nyukupi pangane. iya iku yen wong lanang wis bisa nêtêpi lanange. Kiyai Kalamwadi ngandika: “Yen manusa arêp wêruh sastrane Gusti Allah. dadi ora goreh atine. nanging Dzate nyarambahi sakabehing wujud. dadi nêtêpi jênênge priya kudu mulang muruk marang rabine. Kiyai Kalamwadi lênggah diadhêp garwane aran Endhang Prêjiwati. banjur dianggit kanggo sastra. Kiyai Kalamwadi paring piwulang marang garwane. bab kawruh kasunyatan sarta kawruh kang kanggo yen wis tumêka ing pati. mula ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. nanging wis bisa nyukupi. 2. mêsthi wong wadon bisa têntrêm ora goreh. wadon têgêse mung dadi wadhah. ragamu iku di’ibaratake prau. Yen mangkono iya bisa katon. Têmbung ki: iku têgêse iki.

yen wanita dikarsakake dening priyane. nanging yen isih padha trêsnane iya ora bisa pêdhot. Ugêl-ugêl têgêse sanadyan tukar padu. Wong jêjodhowan. Mungguh pikikuhe wong jêjodhowan iku. gênahe wong wadon iku dadi kanthine wong lanang. jênênge banjur melu jênênge kang lanang. iku kang gampang gêtas rênyah kaya dene êmpoling klapa. supaya nyupangati bêcik. nanging yen angel. Kiyai Kalamwadi banjur paring pangandika maneh. curigane jênênge wong lanang. Tangan têngên têgêse etungên panggawemu. wong wadon wis dadi wajibe ngrewangi kang lanang anggone golek sandhang pangan. têgêse wanita kudu duwe pasêmon utawa polatan kang manis. pangrêksa. iya iku idêrana jiwamu nganggo pagêr kautaman. Epek-epek têgêse ngêpek-ngêpek jênênge kang lanang. ya iku yen wong lanang wis bisa aweh dhuwit kang nyukupi. paribasane aja nganti kêndho tapihe. wanita iku kudu andarbeni ambêk kang utama. têgêse wanita wajib ngunggulake marang priyane. dene kang dipangandikakake bab pikukuhe wong jêjodhowan. aja nganti tumindak kang ora bênêr. Iya iku kang diarani warangka manjing curiga. sanggup dadi kongkonan. wong wadon bisa goreh atine. pikukuhe mung ati eling. tak baleni maneh. Bau têgêse kanthi. têgêse wong wadon iku panguwasane mung sapara limane wong lanang. wanita kudu sêtya marang lakine sarta nglakoni patang prakara. Driji manis. cis têgêse bisa goreh atine. Mungguh pikukuhe wong laki-rabi iku. wicarane kudu kang manis lan prasaja. apa dene kudu nyingkiri padudon. Driji têgêse drêjêg utawa pagêr. Wong jêjodhowan yen wis nêtêpi kaya piwulang iki. Driji panunggul. Kuku têgêse ênggone rumêksa marang wadi. wong jêjodhowan iku pikukuhe kudu duwe ati eling. mêsthi bisa slamêt sarta akeh têntrême. Saka pangandikane kiyai Kalamwadi. utawa dhuwit. mêsthi wong wadon bisa têntrêm. tumrap nindakake samubarang kang prêlu. Sikut têgêse singkurên sakehing panggawe kang luput. awit wong wadon iku yen wis laki. paturon. Cis. têgêse picis. angele . Rajah (ing epek-epek) têgêse wong wadon iku panganggêpe marang guru-lakine dikaya dene panganggêpe marang raja. dene driji kabeh mau ana têgêse dhewe-dhewe.3. mula kudu sêtya tuhu marang priyane. Jêmpol têgêse êmpol. iya iku: pawon. dudu dunya lan dudu rupa. sabên dina sudiya. warangkane wanita. Kosok baline yen wong lanang ora bisa aweh momotan têlung prakara mau. yen gampang luwih gampang. Jênthik. Driji panuduh têgêse wanita nglakonana apa sapituduhe kang priya.

Wong jêjodhowan di’ibaratake prau kang gêdhe. bisa oleh kabêgjan kang gêdhe. wong bodho lumrahe gampang nêpsune. lakuning prau manut satang lan kêmudhine. yen nganti ora eling. iya iku wong bodho. iya akeh rêgane. Mula ati. yen kêmudhine salah. manusa iku yen pikire rusak. (2) Mulya saka bandha. iya iku wong lara. nanging kabêgjane mau ora mung kanggo awake dhewe. iya iku wong kang sêgêr kawarasan sarta kacukupan. rukun iku gawe karaharjan sarta mahanani katêntrêman.ngluwihi. Dene kang mulya saka ing bandha. Wong urip kang kêpengin bisaa dadi wong utama. iku wong kang utama. Wong jêjodhowan itu luput pisan kêna pisan. dene kang wadon ngêmudheni. lakune prau iya ora bisa jêjêg. sanadyan tangga têparone iya melu têntrêm. nanging samubarang kang ora prasaja iya diarani cidra. mula kudu rukun. dadi têgêse. amargi yen wanita nganti cidra. sarta bisa têkan kang disêdya. ragane mêsthi iya melu rusak. (3) Rusaking jênêng. iku ugi ngilangake Pangerane wong jêjodhowan. kang mangkono iku mêsthi ora bisa nêmu lêlakon kang kapenak. mula wong rukun iku bêcik bangêt. wong jêjodhowan. kapindhone dosa marang Gusti Allah. apa dene têntrêm atine. yen wis luput. cupêt budine. ora kêna tinambak ing rajabrana lan rupa. awit ati iku dadi ratuning badan. Wanita kudu tansah eling yen winêngku ing priya. Wong lanang iku lakuning satang. . amarga yen ora mangkono bakal nandhang dosa rong prakara. (3) Mulya saka sugih ‘ilmu. lupute banjur ngambraambra. kanggo têtuladhan marang wong kang padha ditinggal ing têmbene”. (4) Mulya saka kawignyan. mula wanita kudu prasaja lair batine. iku ana ngêndi bae. kapenake uga kanggo wong akeh liyane. mungguh dalane kamulyan iku ana patang prakara: (1) Mulya saka jênêng. nanging yen kang nyatang ora bênêr. Kowe tak-pituturi. lan mulya saka ênggone sugih ‘ilmu. Mungguh dalane kasangsaran uga ana patang prakara: (1) Rusaking ati. sanadyan bêcik ênggone ngêmudheni. prau ora bêcik lakune. sanadyan satange bênêr. (4) Rusaking budi. lan mulya saka kapintêran. (2) Rusaking raga. dene kang diarani cidra iku ora mung jina bae. amarga tumindaking badan mung manut karêping ati. kang sapisan dosa marang kang lanang. amarga kang padha nglakokake padha karêpe. duweya jênêng kang bêcik. iya iku wong mlarat. Kang diarani mulya saka jênêng. Kang diarani tampa kanugrahing Gusti Allah. ora ngêmungake wong jêjodhowan kang rukun bae. kudu padha karêpe. kudu tansah eling. kang oleh katêntrêmaning ati.

kang misesa marang kawulane. yen wis dipundhut. wong kompra banjur duwe kaluwihan kang ngungkuli kaluwihane wong pintêr. kowe bakal dadi têtuwa. mundhak kêsiku marang Kang Maha Kuwasa. pasanggrahan Wanacatur lan taman Bagendhawati uga wis sirna. Dene yen Kêdhiri prênahe ana sakuloning kali Brantas lan sawetaning gunung Wilis. awujud bêras mênir sarta gabah. bodho pintêring manusa iku saka karsane Kang Maha Kuwasa. rêca . Wong ing jaman saiki ora ana kang bisa nganggit sastra. Yen kowe arêp wêruh wong kang pintêr têmênan. Kang isih mung rêca yasane Sri Jayabaya. awit iku dadi kawajibane para Raja. sawise. ora kêna ginayuh ing manusa. utawa uga ana wong pintêr bisa kasoran karo wong kompra. wis ana kang murba. miturut kaya karêpe kang arêp olah-olah. ngupayaa kawruh kang nyata. Têgêse: bêras yen arêp diolah kudu dirêsiki dhisik. gabah kang ana kabur kabeh. ngrumasanana yen wong urip iku mung sadarma. amarga kahanan saiki iya akeh kang nganggo kupiya kahanan ing jaman kuna. nuli mung kari ngupuki bae. iya iku candhi Prudhung. iku satêmêne pintêr kang êndi. prênahe ing sa-lor-wetane desa Mênang. nanging kang mangkono mau dudu kawadjibanmu. saikine jênênge desa Mênang. Yen kowe bisa mangreh marang manusa. yen manusa iku rumasa pintêr. Ana dene wong ing jaman saiki ênggone katon luwih pintêr iku amarga bisa mujudake kapintêrane. Ki Darmagandhul banjur matur maneh. amarga kurugan ing lêmah lahar saka gunung Kêlut. iku satêmêne iya padha pintêre. Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Wong kuna lan wong saiki. iya iku kratone Sang Prabu Jayabaya. dene kratone ana ing Daha. dene pasanggrahan Sabda. mula katone banjur kaya dene ora pintêr. banjur dadi beda-beda. yen ngrumasani pintêr. mung digadhuhi sadhela dening Kang Maha Kuwasa. iku têgêse ora rumasa yen kawula. dene mobah mosik. kadhatone Ratu Pagêdhongan uga wis sirna. Wong ing jaman kuna kapintêrane iya wis akeh. Saupama ora ana kapintêrane wong ing jaman kuna. sabanjure dipilah-pilah. amarga wong akeh panêmune warna-warna tumrape bab iku. yen kabeh mau kapundhut banjur diparingake marang wong kompra. saka kalangkungane Gusti Allah. bisane apa. manusa anduweni apa. akeh kang durung bisa mujudake kapintêrane. kêna kanggo pitakonan tumraping para mudha bab pratikêle wong ngawula ing praja. nyuwun têrange bab tilase kraton Kêdhiri. mung wajib mangrêti tataning praja supaya uripmu aja kongsi dikul dening sapadhaning manusa. Wong ing jaman saiki ngowahi kahanan kang wis ana. uripmu dadi bisa slamêt. mung bae tumrape wong ing jaman kuna. kabeh mau bisa ilang sanalika. dununge ana wong wadon kang nutu sabên dina.Ki Darmagandhul matur lang nyuwun ditêrangake bab anane wong ing jaman kuna karo wong ing jaman saiki. tampahe diiseni gabah banjur diubêngake sadhela. êndi kang kurang bêcik banjur dibêcikake. ênggone nyilah-nyilahake bêras aneng tampah. patilasane kadhaton wis ora katon. patilasanpatilasan mau wis ilang kabeh. kaelokane Gusti Allah. lan rêca buta wadon. iya iku kawruh kang gandheng karo kamuksan”. Mula wêlingku marang kowe. Mula wêlingku marang kowe. mêsthi bae tumrape wong ing jaman saiki ora ana kang kanggo têtuladhan. kowe aja pisan. Kiyai Kalamwadi ngandika: “Sang Prabu Jayabaya ora jumênêng ana ing Kêdhiri. dene kang mujudake iya iku wong ing jaman saiki. ing kono iku ana bata putih. Dene yen patilasane Sri Jayabaya ika ana ing daha. ana ing desa Klotok. kaya dene wong wadon kang nutu mau. mangka uripe manusa mung sadarma nglakoni. iya iku rêca kang diputung tangane dening Sunan Benang nalika lêlana mênyang Kêdhiri. amarga kang mangkono mau dudu wajibing manusa. Dene kowe. kaprênah sawetane kali Brantas. iya iku patilasane Sri Pujaningrat. Têgalwangi. kowe pancen wong linuwih. mung sadarma nganggo raga.pisan ngaku pintêr. ana wong pintêr isih kalah pintêr karo wong pintêr liyane.

kang kêlumrah wong arêp laki-rabi. dene Ni Mas Ratu Pagêdhongan banjur dadi ratuning dhêdhêmit ana ing sagara kidul. kang surasane nyuwun mitêrang kang dadi karsa-Nata. Laren (12) kang ngubêngi jaran têgêse iya sêngkêran. ênggone Sang Prabu yasa rêca mangkono mau. Mula kang dadi panyuwunku marang Dewa. Bogêm têgêse wadhah bangsa rêtna-rêtna kang adi. Patihe Sang Prabu kang aran Buta Locaya sarta Senapatine kang aran Tunggulwulung padha matur marang sang Prabu. aja suwe-suwe kaya mêmêdi. putri buta banjur mati. kaya adate Raja ing jaman kuna. aran Rara Jonggrang”. margane saka lagaran dhisik. amarga aku iki anak dhalang. nanging durung nganti katur ing ngarsa Prabu. iya ora sida laki-rabi. sapa kang wêruh marang wujude rêca iku mêsthi banjur padha mangrêti kang dadi tekade wong wadon ing jaman besuk. iku têgêse tunggangan kang tanpa piranti.mau lungguhe madhêp mangulon. asmane ratu Anginangin. nagarane ing Prambanan. kowe dak-tuturi. yen wis mathuk pikire. Sang Prabu banjur mriksani putri buta mau. lagi waleh yen sumêdya ngunggah-unggahi Sang Prabu. apa mungguh kang dadi karsane. Ing jaman besuk. kiwa têngên dilareni. supaya desa ing ngêndi papan matine putri buta mau dijênêngake desa Gumuruh. prêlu kanggo nyêdhiyani yen ana wadyabala kang mati banjur diobong ana ing kono. . Rêca mau wujud jaran lagaran awak siji êndhase loro. apa dene putrane Sang Prabu kang kêkasih Ni Mas Ratu Pagêdhongan. karsaning Dewa Kang Linuwih. bisaa mulih marang asale. ana maneh rêca jaran awak siji êndhase loro. muga Sang Prabu karsa yasa candhi kanggo pangobongan mayit. Yen pinuju ngobong mayit. iku kang pinasthi dadi jodhomu. têgêse wanita iku bangsa wadhah kang winadi. panggonane ana ing desa Bogêm. Sang Prabu banjur paring pangandika. Sang Prabu banjur paring pangandika marang para wadya. Dene jaran sêngkêran iya iku ngibaratake wong wadon kang disêngkêr. sanadyan ora kurang ing panjagane. kang akeh padha mangro tingal. Sang Prabu banjur paring pangandika mangkene: “Buta! andadekna sumurupmu. wujuda manusa. supaya bisa sirna mulih marang alam sêpi. Ing Lodhaya ana buta wadon ngunggah-unggahi Sang Prabu Jayabaya. yen wis jaman Nusa Srênggi. ora nganggo idine wong tuwane. Sang Prabu uga karsa rawuh ngurmati. iya sida diêpek rabi. besuk sapungkurku. wêwêngkon dhistrik Sukarêja. iya bisa cidra. kabeh banjur padha andherek muksa. barêng ditakoni. Sawise dipangandikani mangkono. Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut. duwe rupa tanpa nyawa. mula Sri Jayabaya yasa rêca. buta wadon wis dirampog dening wadya cilik-cilik. buta wadon banjur ambruk. nanging yen ora cocog. Kang mangkono iku wis dadi adate para raja ing jaman kuna. yen ênggone yasa rêca kang mangkono itu prêlu kanggo pasêmon ing besuk. kulon kene bakal ana Ratu. nanging kowe aja wujud mangkono. Sang Prabu ênggone yasa candhi. (kaya kang kapratelakake ing ngisor ini)”. mangkene caritane. (11) Ora antara suwe Sri Jayabaya banjur jasa rêca ana ing desa Bogêm. Samuksane Sang Prabu Jayabaya. Sirah loro iku dadi pasêmone wong wadon ing jaman besuk. Buta Locaya banjur dadi ratuning dhêdhêmit ing Kêdhiri. nanging durung mati. Patih Buta Locaya sarta Senapati Tunggulwulung. barêng didangu iya matur kang dadi sêdyane. lagaran. aku iku dudu jodhomu.

iku kang pêputra Susuhunan Ampeldênta Surabaya. isih têdhake Kangjêng Nabi Mukammad. Kang ibu putri Cêmpa (garwa Maulana Ibrahim). jumênêng Raja Pandhita ing Cêmpa anggênteni ingkang rama. nyakabat marang maulana Ibrahim. asma Maulana Ibrahim. kêkasih Lêmumbardadu iya Sang Pujaningrat. dene dhiri iku têgêse anggêp. patutan saka Nyai Agêng Bela. nama Awastidab. pêputra siji kakung kêkasih Raden Rachmat. jumênêng Nata ana ing Kêdhiri. Putri Cêmpa nama Aranawanti (Ratu Êmas) kagarwa Prabu Brawijaya. [2] Raden Arya Lêmbupêtêng Adipati ing Madura. Raden Patah (Raden Praba). Sawise têlung atus taun. pêputra Sayid ‘Ali Rachmat. Sang Rêtna mau tapa ana ing guwa Selamangleng. sarta ora anggarap sari. Ratu Fatimah krama oleh pangeran Ibrahim. dêdalêm ing Ampeldênta. pêputra têlu: [1] Putri nama Rêtna Pambayun. nalika jaman pambalelane nagara Bali marang Majapahit. putrane Ratu ing Prambanan. katêmokake Raden Patah. kêdhi têgêse wong wadon kang ora anggarap sari. Dene Rêtna Dewi Kilisuci iku sadhereke sêpuh Nata ing Jênggala. kasêbut Susuhunan Ampeldênta. yen nglurug pêrang akeh mênange. nalika Sri Jayabaya durung muksa. aja akeh gêtihe wong kang mêtu. amarga kasawaban pambêkane Sang Rêtna Dewi Kilisuci. iya Sultan Adi Surya ‘Alam ing Bintara (Dêmak). banjur kasêbut nama Maulana Ibrahim Asmara. kang paring jênêng iku Rêtna Dewi Kilisuci. Cêmpa iku kutha karajan ing India buri (Indo china). dêdalêm ana ing Jeddah. [3] Isih timur rêmên marang laku tapa. patutan saka ibu Sitti Fatimah Kamarumi. jênênge Kramatruna. Dene putra Cêmpa kang waruju kakung. ing Karang Kumuning Satilare Pangeran Karang Kumuning. Dewi Kilisuci nyawabi nagarane.Ana kêkasihe Sang Prabu Jayabaya. Kramatruna didhawuhi ana ing sêndhang Kalasan. putrane Prabu Brawijaya patutan saka putri Cêmpa kang katarimakake marang Arya Damar Adipati ing Palembang. wus manjing Islam. katrimakake marang Adipati Andayaningrat ing Pêngging. jêjuluk Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’lRasul Amiri’lMu’minin Rajudi’l’Abdu’l Hamid Kak. barêng Raden Patah wis jumênêng Nata. banjur pindhah ing Cêmpa. dicocogake karo adate Sang Rêtna piyambak. Panênggak Putri Cêmpa nama Pismanhawanti kagarwa putrane Jumadi’l Kubra I. sukune gunung Wilis. Ratu Fatimah banjur tapa ana ing manyura. Mula Kêdhiri iku diarani nagara wadon. Kang kêlumrah pambêkane wanita ing Kêdhiri iku gêdhe atine. barêng muksa kasêbut nama Sunan Lawu. dadi Imam ana ing Asmara tanah ing Cêmpa. kadhatone ana sakuloning bangawan (3). . ngêjawa nama Susuhunan Katib ing Surabaya. WUWUHAN KATÊRANGAN. nama Raden Gugur. karo Pangeran Ibrahim Ratu Fatimah pêputra putri nama Nyai Agêng Malaka. nanging yen dilurugi apês. Kanjeng Susuhunan Ampeldênta pêputra ratu Fatimah. amarga Sang Rêtna Dewi Kilisuci iku wadat.

stasiyune ing Gurah antarane Kêdhiri – Pare +/. TAMAT KATRANGAN: (1) Kulon kutha Majakêrta lêt +/. (9) Akire Mênang didêgi pabrik gula arane iya pabrik Mênang. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 BABAD GALUH . 3. ngrêsiki gorokan. wontên dhusun nama Guruh. (13) Bangawan = Brantas. saka Kêdhiri.10 km.15-16 km. (4) Benang = Bonang ing Karêsidhenan Rêmbang. (10) Kidul Majaagung lêt +/.7 km. (6) Kulon kutha Kêdhiri. 1. (5) Tarik. 2.Sayid Kramat kang kasêbut ing buku iki pêparabe Susuhunan ing Bonang (Sunan Benang). (2) Pêlabuhane saiki aran: “Haipong”. Saiki dicêluk desa Ngrimbi. Gurah = gusah. mbok manawi ewah-ewahan saking Gumêrah-Gumuruh. (12) Laren = kalenan. (3) Lor Stasiyun: Surabayakota “Sêmut”. (11) Ing sacêlakipun pabrik Mênang.

sampun kari luwung. tahun Be kang hijrah Nabi. sastra ataupun disiplin ilmu lainnya. wau ingkang kalampah. pan jenenge Kyai Serengrana. pan si adhi mangulon ngadeg dewaji.Babad Galuh adalah koleksi naskah kuno dari Kraton Kasepuhan cirebon merupakan warisan karya budaya leluhur yang mempunyai nilai yang sangat tinggi baik dari sudut sejarah. sewu rongatus ika. si kakang kang mingetan. Agar warisan ini tidak punah ditelan oleh zaman. ☻ 04 Kang pinurwa Pajajaran Mangkin. kang alinggih Pulasaren. ababaka nagara. ☻ .☻ 02 Awong dening kang anyerat iki. lan sampun caket pandam. poma samya angapunteni. nyanggi talutuh ngalantang. samantuke sang Ciyungwanara. akathah tanduk kang sigug. ing tawilunipun. saking bumu Galuh nengge mentas praja ji wau. Senen Wage ing rangkepe. aneng alas Maostikta. PUPUH I DHANDHANGGULA 01 Ingkang rinipta carita puniki. amaosa carita punka. ing tahun Be Punika. kang sastra langkung awone. among angsal wolulas dinten nenggih. araga salimur.☻ 03 Nama samya ingkang sami kapti. punjul wolung puluh. ingkang sami sudi maca. waktu anyerat punika. kali Ardhangbang awisik. … umur skeet tahun nem warsi. mantrine Sultan Sepuh. pan ora nalasamwa. pengeting tahunipun. akatut kang ……. sasi kalih tanggal kaping sanga. lawan sampun nyaringin nang iku sami. pan kalangkung bodho tur langip. maka purlu adanya penyelamatan isinya agar dapat diketahui dan dipelajari oleh generasi muda.

kang arjane sang nata. kang gagandhi ing pilungguhe. kang kocap ing namane.. godebak bungkul cabolan. ingkang acemeng ulese. Ciyungwanara angadedi Sribupati. Ciyungwanara nurut. akadi kulit lutung. Pajajaran sadakti. sarengga-rengganing praja. Rara Kandhegkinarha. Babakan Pajajaran. sang Ciyung angadeg Ratu. ingiringi pandhe dhomas. lawan wau kadangira. Empretmohe ya ika. iku Indang Gunung Saketi. Ki Okesa kalawan malih. ngilen kali kang Ibu Dewi. jimat tunggul payung. kawula warga Sakati kang uri-uri. kang sami amangun. mangking kombala badhak. umbul-umbul kulit wanara. ☻ 06 Wus kapanggih lan Indang Sakati.05 …. sinawung galih liniga. arjaning sapaku. kang pinangku panembahanira. kombala buntut sing asami. ☻ 09 . ing waos pangrenyu. kang dadi emban-emban. sikaki elu-elu. ☻ 08 Wus rineka jati pangupami. Cipamali watesani. dawuh jengjenan kadang. ☻ 07 Cantrik Sakati ingkang anami. kang ginawe rontek buntuk monyet dadi. angistreni lungguhira. ing Nagara Pakuwan. gumurudug ngilen wus dumugi maring.

sok lutung kidang ika. dhasar masih sedhepan daging. marapit ing …. sato-sato kang bisa akata jalmi. pan jumegur lir mariyem kang swara. rai awujud buta. sangkep sami kaprabone. tampingan gunung arame. gemelane reyog ngimba sraya. pasar ageng pan samya suka ing ati.. ☻ 12 Kang mambangan ules gumaringsing. kang ngaolatingkah negari. kikitiran ing pucuking lingga sari. jurig dewa mambar. padha icep bal makabe. pangrampiging menak Cidahur nyungkemi. ☻ 14 . ☻ 13 Ajar Padhang ingkang dukmadhemit. rarakandheg mila dadya. rame kang surak-surak. agenging kawula bala. kebo bule bungkul kang pancal pat. gelap pon sami ngulun. Maha Raja ing Pakuaji. riniyung ing sagung. jemegur yen kaginan. angintali barat angabdi. Prabu Ciyungwana. kang tharokthok egar kapati. purwaning abal raja. dhog-dhog byos pan dharugdhug. ing Pajajaran tanggale nuli…. ing siang lawan dalu. ical jenenging wana. iton-intin liwurkali. lir kang estu ajar padhang. ingkang murwa sagala jagat. ☻ 11 Yen bondanan pandununging…. kidung sari baung. Wus gemuk. Sang Nata. …. ing sadina-dina rena. sabawaning ratu susupaning wasi. purwa sing Cialur. kang winangun … unen-unen.Payung agung kulit maung kuning. ☻ 10 Andrawina kang kawula alit. warna rupaning sambawa.. dumadi praja gung. sundari alas langenan.

☻ 16 Sabandare sing sabrang sumadhing. kang kepering angi … puraken gunung. seja tuhu genya karsa angabakti. ngajengaken bomanta. dine Wage jaganira. ing bener lawan salah. pan sirnaning ratu sukma ing pati. ing Pajajaran suude. lembah dhuwur lan pintu tundhaga. cekelan mangun gentra. gul menak umbul adhu. anyepengi putusan pra padungapti. Demang Elu-elu. ingkang kacepengan dene. andhum wancinipun. anyakra kapatiyan. Pasowan panggenan aji. anyepeng para gul menak. ing Sundha ginunggung. pating rangu rangu Sundha. ing ayunan sang prabu. amegeng sewakanira. paningadhun sang Bima larang. limbung aning guwa santang. 17 Pan kapati kang duweni manis. cina Sundha kawilang lilima. ☻ 18 Ki Tumenggung Sayoga nyepengi. …. Ki Ardha mangun gen trahe nenggih. dupi ingkang kang nama. Kikandhuruwan babalban. Sri Jampang sarta jinggine. amageng kawicaksanan. ragemragem mariboting sih. santana kinabandu. angrekuricak cepenge. pasisihan utawi manca nagari. ☻ 15 Mangunaken sagung kapurati. saha sri ing samandhepane. …. ☻ . ing Pahing dintenira. sadasa sami prapta.ing sawancinira. isa baisa Dipati Alurcenang. rang-orange jinunjung inggil. nengenaken sasagaran giri tasik. akidang kandhuru. ngajangaken alun-alun. pan acaos basa ing aji.Datan roro tetelu ing kapti.

dhalem Rangga Pakuan. sura sowan sabrang pati. para dhangan pasir panjang. Pasir Adu Pulangdhang. kang kinarsa angirupi para ratu.. kukuh ing pat Pakuan. ☻ PUPUH II PANGKUR 01 Angir-angir ing buwana. Kalibadhaglolopak. samya ngidhep ing Pajajaran angapti. ☻ 20 Ing Ciwindu anteng …. lan ki dhalem Cintangbarang. prajurit ing sawancine. lan kang namane sinebut. naklukaken para umbul. pangaline rara nama Mundhing Jamparing. sungga watang sarampang bandring. dhalem demang kangene. nagara urut pesisir. dhalem Pakulada dhalem Pakuaji. sampun mentar kalawan idhine pati. kidhalem kuwu agung. para idhang kang primanca.. dalem ingkang kunakuna. dhalem Tepus nalika wong kuna ing Raja….paning. ing ulu balang wau. Sendang Cibuntu ing praja ngapti.☺ 02 Nyata sang roro ponggawa. sindhang kasimanut. nalika binathara. dina Keliwon cinepengan. ☺ 03 .19 Kang Ngabehi Lempretmonge kang jagi. sang dhang bana Ujung kulon wus anungkul. sinaroja umbul.

Jograt Lantan Tawangpadhang. pirang-pirang ambalan tan budhihi. manglkana sandhenging wani. lir walang kawur prahara. ☺ 07 Wong Sundha ingkang prawara. Raja Mongkara. dhening prahara lautan. apa maning sang dhang Jakerta panadhun. ☺ 05 Amung siji ingkang nyelap. Indramayu lan Kondha. ☺ 04 Losaribang kulon miwa. ing tetelar aniba pating talumpuk. Karawang lan Ujungmilir. iya iku nama ratunipun. bala Sundha ngadhaning rangseng padha kawur. ☺ 08 . tanpa sangkan breking angin. ingkang ngambek sucira angrasawani. seja lurug dhatmakaning kulilip. ing Pakuan Pakuaji. aneng Ujung Batagonggang …ipun.aji.Banten …. Menak Lampung sadasa kang ngapti. sang Srijunti sang Kalana Kandhanghaur. Ujung Maladha. ☺ 06 Kocap bala Pajajaran. tiba ing sawah-sawah. dhumateng sang Raja Ciyungwanara Pajajaran. sadasa akedhep samya. daman pangunjung tanah. estu tan arsa kedhepa. Jepun kulon gumulung. Palimanan Carbon Girang katiti. tan maju kadhadhak kawur. ing titah …. pirang-pirang bala maju.

den ora gelem anungkul. ☺ 11 Kukubaning Ratu Sundha. mangkana Ratu Sundha kang dhadha susulur. ya para age bu………. yaganal pamuwusipun. amisesa sasigar Jawa. sabab bareng rereping kang lisus. …. ☺ 12 Raja Mongkara panabda. enggal pan sira alaju.Salamine ing ngayuda. datan ana wau ingkang ngucili. apa gawe si rajenak ing riki. dhen dhadhi kulilip. pan pinanggih lan Sindhang Mongkara aji. kang ora suka. ambeg sawenang-wenang. anila bimi ning angin. sira ingkang selang gumun. yika Badhak lolopak. pan buwana Dhangwinta ingkang ngawangun. ☺ 09 Nadyan …. ingkang kadhang raja iki. anubruk dhateng sang aji. ☺ . ana jenek enggon kene sira iku.. wong Kajiwa bumi re gelem nyangkul tembene ya ing amendhak.. ☺ 13 Padha bae suwaningwang.. apa bidhane tunggal enggoning bumi. Lalangkara ewong dadi kulilip. ratu mung ngaku kewala. ingkang estu warise juragan Ahing. lawan Anglangkara ratu. kang wus merad susirna. pusaka sang Prabu Galuh. ☺ 10 Puniki bumi Pasubdhan. budhi kethek napsunira kaya asu. la iki kene apa. iki kang si rajeneki. padha ewong ambeneki. adhuweni buwana. den age caked…. Badhak Lolopak jal Kidang. lan jajal.

☺ 17 Ora kaya Ciyungwanara. ingkang mangkono ngadheg anyar. ☺ 18 Kawula nana ngendhatna. anuli sira den cawuk. kawur si Badhak Lolopak. den balangaken …. api-api saha ngabdi. semunira karsa angadhoni ratu. ☺ 19 . jar akathi Indang Gunung Sakathi. putraning Bramana Laut. tiba tangi ngudhak maning. Kontal Badhak Lolopak. anyepak maring kang musuh. mangsa suweya sasakti. colongen ika kang tuhu. kang dhen wadhali Beruk Kalapaciyung.14 Sigra sang Raja Mongkara. binalangaken tebah. ing Kahuripanne raja. matek mantra dhal emesal menginggil. ingkang kaparing …. ☺ 15 Dedupak malih kapental. ana ingsun ya negari. kasektening Mongkara wantuning. kabereg-bereg ing agin. aja sira papa … iku. balikan sulusupana. ☺ 16 Tan kena aju narajang. ing Munting Jamparing. yen wis kanggep tungkuling wong aurip. niba tangi anubruk mali dencawuk. den wus kaebut kang jimat. nuli prapti ika wau ingkang lisus. mila Dhikbo samana. ora meneng-meneng abalik maning..

☺ 20 Katur ingarsaning Ingdhang awan. Badhak Lolopak sampun kawalik-walik. ☺ 22 Raja Mongkara naraji. …. ☺ 23 Dug Munting Jamparing. pan gawa minggal tumuli. Raja Mongkara sira.. yata kang bala Mongkara.. pan satengah pejah den wali-walik. kondur dening Badhak muring. satengah pejah dhen pupuh. tan adangu Indhang Gunung. bala Mongkara kokalan. sinerong ing amukan.Yata munting Jamparing. Raja Mongkara mudhidhing. wus uninga pancing surupe Yangwiku. andhawuhi kang udhan krama. lami rowang anyekep marang sang ratu. gumarudug anusul …. … jejel paring pitulung. ☺ 24 . ipun. lumaksana sawisiking Yangnini. ing Batagonggang angulun. pan Silepe saking wingking. ☺ 21 Ramya ingkang pancaraga. papaning bala mapan saolih-olih. wong … angladosi. bala Pajajaran kondur. wadya maju Badhak Lolopak alaju. saka tiyang amba …. Munting Jamparing angadhepi. maring panusuling musuh. watara satus dina. Beruk jimate Mongkara. Munting Jamparing lawan. padha soroh ambek pejah.

Lalopak lawan Jamparing. Raja Mongkara sampun angangya sewaka. … tigang prakawise nami. ♥ 03 Lan rarasaning manusa. ♥ 05 . ☺ PUPUH III SINOM 01 Iya iku purwanira. timbul salir wirasa. Kanjeng sapta loka. pan iku karananipun. gara jaya kang ….♥ 02 Aturing kang para … kawitan. Sinungan lenggah arya. mangkana arsa aji. miring Prabu Pakuaji. Pakuwan … Ciyungwanara. iku ingkang sawiji. kali prakwise nama. kutha Idhang apa maning. ngamperi rarasan sabrang. ingapingan jeng nini. sastra selawe gumelar ya ing Pasundhan. Raja Mongkara dhen asandhangi dhata tangsul. Kutha Manggung Kutha Raja kutha Gara. olih gaweyan manca nagari. ing bala Pajajaran. sastra Sundha kartajani. yata prasami rinebut. lan Arya Badhak Lolopak. Ki Arya Munting Jamparing. ♥ 04 Kutha Larang kutha Jampang. gawe ewag saking Jawi. gara … gara wangi. lintang saka tipun niku. basa Sundha kang panuji. Sundha sari Sundha lengdha Sundha larang. gara tengah gara jati. dhumateng purba nagari. kasri ing babadhanira. gara aji gara pagu. wus andhepok ing sihi tanpa sakti.Angeles lumpuh entro raga. Ratu Agung Sundha sakti.

pinutri-putri ing nata. lawan Medhangkawiraja. kang nama rara Cunggilis. Raja Jawa lan malih. ♥ 10 . ♥ 06 Bantarwangi Bantarpanji. ing Pajajaran sang aji. Sundha Amalatra.Sundhawestu Sundhasana. lan gangsal prakawise. Raja Wetan miwah malih. lawan Ujungkandhi. ♥ 07 Medhangdhatar Medhangpala. ♥ 09 Putri Purbasari mulya. ing kadhaton dhalem agung. Ujungkulan Ujungbumi. nem prakarane ingaran. dumadiya turun saluraning raja. kang pinangka prameswara. Raja Galuh Raja Cingcing. Medhangko … sajati. Ciyungwanara pakolih. putra estri kang paparab ing arja. Raja Larang Raja Dhanu. Sundhalayang Sundhajahi. garwa padmi saking Gembong arah wetan. ratu Cunggilis krama. ing wuri-wuri jati. lawan prakawise nama. sapta loka wus dadi. ing pura Sundha negari. amung ika wanodya. ♥ 08 Kang kasebut ing paparab. Bantalwaru Bantalwire Bantarjaya. … jayeng aji. pitung prakawis anama medhang kamulan. gumelar rajaning ratu. … putra jalu. Medhangrasa Medhangterik. Ujungtana Ujungbarung. Raja Kowek kalawan. ingadhang agung ing aji. karaname narpati. Ujungkembang Ujungsemi. Ciyungwanara wus mijil. Bantaraung Bantarjati.

kang jinalukan jajampi. … kagungan waya. iku kang Pajajaran. kang miyos saking narpati. ♥ . esi tan kena tinedhu. parandene oranana siji laksana. akathah ajar bramana. sakaliye ing gigabug tan aputra. parandene tan mutrani. ingkang tedhak sisiwi. dreman ing sabronjotipun. kagarwa dhening nata. putri saking Bangbayang. ♥ 14 Ing Pakuwan pinakrama. sang Prabu …. sanget kaul-kaul mambri. usada … wus tepung. dupi garwa sembar ayu. wus angapti maha dewi. nuli sang Ciyungwanara. sang korone becik-becik. wonten malih kang putra. Markeseh ingkang yumanibini aji ing puri. tan ana leksanannya. nanging boya amiyosi. ♥ 12 Mila … Banghayang. Pajajaran kaliyipun. nami Dewi Tingtrim wawanginira. komalaning dhalem pura. ♥ 11 Lan Dewi Markeseh kembaran. ika putri Purbasari.Putrining Ciyungwanara. ♥ 13 Martingtrim Merkedheng lunta. gabug salami-lami. agagarwa saking bebeting Bramana. prandene … yakeni. kang kekasih iku Jeng Dewi Anjatan. Martingtrim ingkang yumani. Sundha ora nana maning. ngalap garwa malih milih. dinama-nama ing marma. menak Cicilutung gelis. gabuk ora amutrani.

… kang upacara. supaya wadon lan lanang. ♥ 16 Lir ta selirnya marapag. tan kenging dipun purba. mila saderenge lalis. kadi kembaran narpati. ♥ 17 Saluraning Pajajaran. ingkang amiyos sinunu. cathik-cathik raja peni. iya orana siji. dening karsaning narpati. ingkang ngadining-ngadenan. dhadakpulur wigalba wiragalba. gawok kasri nalendra. ♥ 18 Dugi maring pabarisan. kereronce kereampit. ora nana ingkang darbe laksana. nami Dewi Kilikmangi. Bawatbenggi sari Manglar. datan miyos putra. ajumbula moning angaksi. rinegep sari ngumining. dereng karsa alaki. Bawatciyung Naga Sakti. saparoning pribadi. Purbasari wadon kang winadhang-wadhang. katur ing nata Pakuwan. para ratu kang karsa … lesan. ♥ . sang Prabu Ciyungwanara. dening mung kalethek siji.15 Putri saking Kandhanglarang. ginawa ing sang aji. jajampi sing ngenda-endi. sinedhepira dumadi. krajahan dhen palipur. judhialiman sang dhekur. suradhadhu sarabang. saparo ing sunu ayu. judhipatnantang weri. yen tinaros banget lumuh. sapalih ngapti ing siwi. mapan mangkana agabug. ♥ 19 Purbasari lan kang rama. sapaliye Purbasari kang ngagem. langkung kawandasa sasi.

☺ 03 Luwilaja Luwilidhung. sing sabrang saking Jawa. ambaka … pikulih. Luwiseeng Luwimundhing. akeh kalesan balik. Budirujit … Budi …. ♥ 21 Ajaja sipating jalna. ingkang mara-mara balik. padha mengga ing ngalama. rada melang-melang kapti. ing ngarsane sang Dewi. kang arsa sewa panglami. telung prakarane nama. kapepes ing tan kaconggi. Sokapura Kokaaji. rong prakara ingkang nami. bok sang putri kencok aning mamala. nanging datan den pidhuli. Budisari Budigolis. Budipandhang miwah ika. ♥ PUPUH IV KINANTHI 01 Sagung papalisanipun. ☺ . kang ingarsane si rara. Prabu Ciyungwanara. ☺ 02 Saprakara kang sinebut. pan mangkana wangun mali. Luwiladha Luwidhingding. sapta loka pari mina.20 Pirang-pirang kang sewaka. ana baliking dhalanggung. kang akarsa samya balik. ingkang mara-mara kondur. padha mundur mulak ora tinampanan. Budiwati Budiminging. saking kang rama narpati. sedhengane dewa aji.

sabdamenyat Sabdawangi. Sindhangwangi Sindhangpala. dumateng putri Pakuwan. sindhangayu Sindhangaji. nem prakarane kang nama. patang prakarane kang nama. padhamatang lawan…. ☺ 05 Kawunglarang malih ipun. Kawunginten Kawungsari. dupu rangga kapatihan.04 Sokapolang Sokaratu. kng simaan rama aji. limang prakarane kang nami. Kawunggehe Kawungomas. Sokanegara apa maning. Sabdanawa Sabdasari.☺ 06 Padhamuhi padhamadhung. Sokamanah miwah ika. padhapenah padha bongor. padhareka padhamuraging. pitung prakarane kang nami. sokawiyana lan malih. ☺ 08 Sampun ing kadya puniku. Jeng saputri Purbasari. ☺ 07 Sabdalarang malihipun. Kawungluwih Kawungaji. ☺ 09 . miwah ingkang Sindhangkasih. Sindhangkempeng Sindhangbarang..

dupi sing kalih bayabang.Dupi ingkang rama prabu. ☺ 12 Cikendheng lan juga Cigintung. 13 Purbasari kang amengku. ☺ 14 Bayabang kali Cilutung. Makber lan Cipamali. Ciakarwangi katiti. lamun pajajahan istri. Cionje lawan Ciori. la iku dadi laluri. teka ing satedhak-tedhak. Ciamis lan Sokapura. Ciyungwanara ingabdi. dening Arya Mangunkentra. Menak Pakuwan ingaran. mangetan jajahan istri. mengulon iku kang dadi. Cikandhang Cicaridhangan. iku sun dak sigar wetan. Panjalu muwakawali. pusaka kawuri-wuri. raja Galuh lan Talaga. Menakwacacayan istri. Cigugur lawan Cirayap. ☺ . sapure kang katiti. Cibarangbang Cipaburi. prawatesanipun kali. Menak Mangun … praniti. salwe princi kawilang. Mangunkentra rada …. Kuningan lan Sindhangkasih. Lebakwangi lan Cikuwang. pusaka kawuri-wuri.☺ 10 Rang-urange pandumipun. Karapu Yudanegari. ☺ 11 Cikaso lawan Luragung. ing sapandum-pandum nira.

15 Pasawahan ramanipun. Sumur Bandung Sunedang aji. ☺ 16 Pon salawe princi umtul. ☺ 17 Manonjaya Garut Ciaur. Sawung … Gantilah Munoro. ☺ 19 Wus kukuh kang bala ratu. karata gampang pangulatan. ing ngarsa Sri Pakuaji. ☺ 20 . wengkuning Arya magentra. sigar kulon sun dapuri. Bogor lawan Kanjapura. Ujungkulon apa maning. sang Prabu Ciyungwabara. Batuwalang lan Biribis. Cianjur Kujang Limbangan. kang sarwa tinandur dadi. ukurlantara Juangin. jajahan Sundha nagari. salawe princi kawilangan. Cikokok lan Nungkalaya. Kadangladhang Pasiraji. ☺ 18 Wanabaya Cibalagung. Sokowiyana lan malih. Tegaluwar apa maning. laluri ugi salami. Ciyungwanara apa maning. ing pajajahan angabdi. Menak Pacacahan lanang. kang nama Menak Pradhangan. kang angresa hawa aji.

24 Tegalmenak Tegalbaput. kang sinung sasapan indhi. ☺ 22 Kapituning gunung wupu. Paraketan nini aji. ☺ 23 Bojongmuntas Bojongwindu. Bojongnerwasa Bojongleppit. Kapitune Inddhujaya. Indhuraga Indhusari. agung kacipta dumadi. Bojongrentan ingkang dadi. jeng pawestri Cunggelis. Anjatan lan Giliwengi. sinung sasapetegalan. Tegalkolot Tegalpakaji. mangkana kang prameswar sinung cacapagunungan.Sakalir karsa kadulur. Bojonggaluh Bojonglapang. Indhujanten Indhugirang. gunung Ga Gunung Licin. Tegalmoto ingkang dadya. ☺ 25 Paindhon kang winalungun. Parekatan bini aji. nuli ika garwa lima. gunung Lajer gunung Kelir. sinung pobojongan menggih. maringtrim Merkedheh mewah. Indhupari Indhuaji. Tegalgubug Tegalkunyit. Parekatan iku Sundha. dhupi sang jeng bini aji. ☺ . 21 Sami sinunut cangkohipun. dupi maha Dewi Sundha. dhupi iku aneng ana. Parakatan pawestri. gunung dhukut gunungsira.

31 . kang kanggo salami-lami. mila-mila kawisesan. iku rerekan Pakuwan. Lebaksidhu Lebaklenggar. dhupi Pakuwan Marinci. ing Pakuwan ikut yakti. angreka sabagi-bagi. anggelar enak ing urip.26 Dupi ingkang Dewi matur. ☺ 27 Sawawasa prati umbul. ora selang surup apti. kinalilan purba bumi. Lebakcenang Lebakcehang. prasasat den prenca-prenca. waneh kang campur wong sabrang. ingkang satta sabumi. golong sapurba sasmaya. Lebaklawang wus dumadi. maring bumi ming narpati. dening kang padha anyewa. waneh ingkang leletana. ☺ 28 Temah dedeake Ratu. kasilane den remani. Lebakpanjang Lebakwangi. bedha lawan Majapahit. kamukten den bagi-bagi. sinung palebak kalepti. 29 Mula akeh menak umbul. ☺ 30 Padha among sanak sambung. mangkana adat Pakuwan.

tangu gegel ing majikan. ☼ 03 Bolong-bolong kaya dhuwit. pamule pegantang salir. Ki Lurah gurupadha. den elus sakamya-kamya. ☼ . mung den wis panepadha. sailing-elinge padha. sawah tan mawi lalanjan. bendher den cap sastra Sundha. pamajegane gugubar. kethang prunggu kang sinundhuk. pamajeganipun gula. iku Ratu kang dheres.Sewa aning paken agung. pagantang pajeganipun. ☺ PUPUH V ASMARANDANA 01 Ki Lurah Rawaprasmi. ing tatali karompyangan. babakti ing majikan. kekendhangan kang isine. lelemes buwatan sabrang. atur catur baktinipun. tukang maring pajeg trasi. kus jembar kahuripane. ingkang mawa tatakeran. anut maring kasabpolah. pamajeganing pangumping.☼ 02 Ateka yu kang lumari. ☼ 04 Palawijaning wong cilik. yen wis padha ngundhuh-undhuh. ingkang lumampah ing Sundha. ora nana pajegane. mangkana kang lurah wana. wus dadi anak Pakuwan. kang sabandar pajeg ira.

05 Warnanen sang Pakuaji. ☼ 07 Kaul alukan mati. japa mantra lan istiar. ing Pajajaran tuwuhe. sang nata sanget gegetun. sanadyan para nalendra. ☼ 09 Kalangkung bebek ing pikir. besane lamon kinuwu. iku kang dadi pegele. pinardhi ingwang tuwa. ora nana kang misata. dhupi iku teka mingkung. Purbasari naminipun. wiwiku lan ajar-ajar. manahe Ciyungwanara. mingkung dhatan arsa krama. reiku kang kinudhang. tumon adate kang putra. ☼ 08 Wus pirang-pirang pamuji. ponora tumama kabeh. ing salamine amurba. ora nana kang tumama. tan arsa akrama ingong. tatambah wus mider tepung. winadhang-wadhang wiyose. kewuhan dening kapadha. kang karsa dhateng kula. ☼ 10 . turunanira drapona. ature wau kang putra. akarsa ing sang rara. ☼ 06 Wanti naros ingkang yudi. tan ana turun tedhakan. re kang putra samana. marna bangsa raja. sumadi isun akrama.

12 Saking sabrang Raja Kelir. ☼ 11 Ratu Sabrang Ratu Jawi.Du uwis amung sawiji. den nama kumudu-kudu. lawan Dhipati Cidah. tumpes aja katingalan. enggone nari kang putra. den kula pinardi krama. wuku pring apilar wangwa. dupi den lumuh krama. saking anagara Tuban. kawula sumangga pejah. lan Arya Dhagdhagase. ing Prabu Ciyungwanara. lan Dhipati Singgapura. Purbasari inggal mangun. tan kena den palar mangke. sakabeh ika padha. marakbak kagila-gila. jasad kawula sanggine. ☼ 14 Ageng ilur sundhul ing langit. ☼ . kang asresewa panglamar. suradil pan titah raja. ing kadang ing ngakin. anggondhel prakara iku. Purbasari dhuk sabda amit pejah rama prabu. wus loba tanpa wilangan. lir baronggong beledhoge. turunan lantaran krana. wadon tumuli mangkana. ☼ 13 Ruru bae anggonturi. temah puthes anak putu. tumanga geni sakala. dhadhak sakala ika. iku dhipati Manglewat. lawan Dhipati Japara. ☼ 15 Alum kula anglabuhi tumangan geni sakala. lawan Arya Balangbangan. mila sanget kewuhane. kang dadi bebeging manah.

☼ 18 Rasa kang sampun binukti. way kalereng anggepok. ingson kang urip dawa. purnapa awu sahana. anunggoni anak putu. mundure tut sausap. sing purwa teka daksina. sang Prabu Ciyungwanara. wirang nekaringgit ing jasad kula. padha bareng mukti kabeh. ajur kula dados awu. sasada susut den wis waya. sama dening kula wirang. ☼ 19 Lan aki sumamung aji. ☼ 21 . mung sira tan ana liyan. anak putu den arampak. sipat matane si rama. nini labuh geni sira. mongsa pira gesang. kang dadi ati ewuhe. kang dados sakiting manah. istri kang kabobongganan. ☼ 17 Jaler punika kamangi. tan kangkat to nandhang. atemah boten mambu. sanadyan nama sihing rupa. ing kamukten padha uman. den sampun gepok ing rasa. ☼ 20 Babarayan ngadek aji. mila kula angedados.16 Sumandika umalaki. kaprawasa dening priya. lan anak putu den rampak. angandika aja babu. boten memper dhateng rasa.

kawula kelangan anak. den jeng rama sampun asung. ☼ 24 Mangsa wontena pawestri. wawadine kayak iku. sang putri juwala purap. masih munjuk kang dahana. kang geni gupak cawisan. raja-raja atas sabrang. kang suka punika rara. prandene den anakake. karanten dan mangke tulus. karinggi awak kawula. 23 Sang Ciyungwanara aji. ☼ 25 Ciyungwanara mangsuli. ☼ . ora jamak lan manusa. jamak istri asasdhu. sesaengek jamak wanudya. amangsuli kang anggondhel. kang rama kadi mangkana. tinari laki popoyan. tinaros mangsuli iya. mintuhu sakadikane. sejane labuh dahana. Dewi Purbasari girang. den kula pundhi kentasa. den sampun bubudayan. tan asung pinancas parum. ☼ 26 Ika iki kangngangking. utawi kaluncurane. nuli ika temahan lampus. tan kaya dening dadaman. mila tumangan masihe. Den Purbasari medho. amung siji anak kula. ☼ 22 Den pinaksa alaki. tan nilapaken rama. mangke kang dados parenge. nanging ika tumangan. sak akal budi pandaya. maredheng … maksa. dados awu lelebaran.Mangkana prangregep mami.

boten dados pana sarana. ☼ 28 Ling sang Putri Purbasari. kita sami medhek sowan. sak lilaha ing jeng rama. ing songonging kasabrangan. maketen ugi ciptane. kawula dhuluri. rempage kadi mangkana. sasampuning geni urut.27 Raja sabrang mangkeya angling. memanten dados ing karsa. anuhuning palamarta. sok dadiya arju. saduka-duka kasuhun. sing ngakenggep ing babajane. raja rama Ciyungwanara. ya tetelu aturku sajatine. ☼ 30 Bilih boten angrakepti. tapi punika satuhu. aweyos geni jatine. munggi kang rama lila.® . ing adat tabidat Sundha. kasabrangan pan sadaya. tumangan kita pri pejah. ☼ PUPUH VI MIJIL 01 Ya Prabu Ciyungwanara mangsuli. dipun jemba ing pamuhung. kang boten kanggep sanjata. ☼ 29 Panuhun raja tas angin. andhadhanr untunging awak. boten wonten roro. gih punapa karsa putra aji. rumuhun kita lanat. ing cilakane awak. nanging putra sabrang kabeh.

lagi laut kang jro jembare. ® 06 Ingkang letak dadi pujajagi. ® 05 Raja-raja sabrang aturnya aris. kaduk mahinggurut. para putra sing ngatas angin. geni lawan toya musuhe. ® 04 Heran kula ika geni. kula dhugi wonten nyurupi. ® 07 . sampun kadhalangsu. pan rama ing uni. panedha kula ing sadayane. gih cobi kemawon. 03 Kula tempuhaken lawan nalisip. tan wonten sosolot. mangkana kang inggil. manther angger tan ana surude. kalawan parahu. kang suker tinatas entong. dede geni pranti. nuntenweleh geni boten moset. dhateng saenipun. kang atos inggih dipun linggis. bilih putra mangko. karanane punika kang geni. lan dipun langeni. dipun sengget runtuh. kenging ugi den silulupi. adhining asakti. punika kang dados.02 Sampun nelangsa ing salasa tunggil.

pangumbuk-umbaking. ruru bae wus anjaladri. Prabu Ciyungwanara sahure. rurubahing ratu. akal sabrang ing sabagi-bagi. ting surakata ing sahakale kabeh. ya sang Prabu dereng nampani karsane. 09 Ana gawe banyu janantrawis. kawalahan anglaladeni. gampile kang mangko. kocapan sang katong. maring kang ngamambri. kang sadya patakon. ya sang prabu Ciyungwanara jatine. sisrate mancur. ® 12 Ing alun-alun wus dadi ukir. kang murut mrangmong-mong. ewu mana para ratu. ® . lumuhe tan apti. ® 11 Sya kathah kang para bupati. dhateng saenipun. dening ewuhe putraneki. warna-warna katon. la inggih sakarsane sami. ® 08 Ya ta raja sabrang ting padhigdhing. kang anglamar tiban sampire. wane gobakwari. ana gawe banjir. gawe pongpa kang anemburwarih.Punika malih wernine kang geni. reka-reka gatos. ® 10 Sigegen ingkang sabagi-bagi. kahula kang nguning. bumi metu banyu. banyu pecut kang munjuk mancure. dhateng putrinipun.

Palimanan kalawan Junti. dedenira jeng putri anampik. lan putri ajodho. ya prandene tan kanggep sawakane. aneng kene anjejemberi. musuh datan weruh. ® 15 Parandene ing putri den tampik. gewe ingkang tewi. Ujungtanah malih. enggo apa sakti. den panjer dumadi.13 Kang wus sewaka kulina ngasi-asih. kaya kuwi niku. lawan Kandhanghaur. ratu papat iku rurubahe. lan gawe tahinipun. ® 18 . ® 17 Dasa rupa merat sampurna lalais. ing praja gung kono. Sadhajenggi matur kasaktene. dhalem Palimanan wau sewakane. la ika duk pahor. den panjer dumadi. ® 14 Sakapate anjum aminta kasih. enggo apa thongsot. sayajenggi lawen manggi kardi. buta geng asiyung. ® 16 Dalem Ujungtanah kang panggapti. la den nemu gawe ika nuli. maring putri kono. buta ngengenggo apa gawene.

ing putri den tampik malih. binuwang dumadi. saktine den manggih. ora rerengkono. 23 Nuli katon macan ageng wingit. baju kaya ikut. la den karsa lulumbaning tasik. wohing rarawe lir wulu kucing. dening putri tinampik malih.Merat-merat apadu menesi. rasukan kang poleng. kang ulese loreng lir kulite. enggo maning. esak-esak katon lawan katon. atur karsa kang akon. wohing lir kulite. endah rama malih prahuake. parandene tan kanggep sewakane. buhaya tan untung. anyiluman kidul. ora sudi mami. nangkono den panor. bubuhayaniku. kang walira katimaha gawene. ® 21 Gigilani mungguh ingsun iki. anganti kang buhaya jiji. ingkang kaya iku. enggo apa sakti. sakti kaya bellis. ® 19 Dalem Munti ingkang pangupami. ® . ® 20 Jajar-jajar kaya gethek ramping. la saka sanake. dateng putri kono. parandene tan kanggep sewakane. gawewan rinusak. ® 22 Dalem Kandhanghaur kang pangapti. ora papa mungguhing mami.

® 26 Ciyungwanara mgadheg pangabekti. ingkang kawan warni. sanadyan tan kanggo. ® 29 . nuli dadi dato sanepane. gadha dalem pakuncen kang gedhe. iya saking iku. ing gedhong kilempong. ya ta atur-atur balik kabeh. Purbasari apik. tan kaserep ing putri karsane. bok menawa besuk. simpenen kepati. sakti kang samono. ® 28 Gemenana ing kawan prakawis. rang-urange gupuh. ® 27 Ana gunane ing sawuri-wuri. esak-esak ewong.24 Dadi macan apa gunaneki. jingika kasaktin. iya Endah Kitarawati. dupi iki yawis teka dhewek. nanging kersane sang Prabu. ngulatana ayo. amung kita darma ngopeni. datan ana kang kanggeping putri. ® 25 Ora layak temen mungguhing mami. maun padha iku. ina temen mungguhing mami. jalma nyarupaning. pramilane Pakuwan darbe asakti.

nyipta buta ijo. pambereging musuh. ® 30 Kadi merad sapadhaning lalis. macan cipta saking. dalem Kandhanghaur. rong prakara ing Pakuwan bangkit. den panjer dadi ing wiyange.Saprakara Pajajaran bangkit. ning mongkara windhu. ora katon dening. Pangroban ya sakti saking. sada kang den enggo. warnanen ika sang prabu. © . duga kaya udan ribut amalabar ingkang banjir. sareka budine entong. sabrang amateni geni. sadaya pangngabakti. rebut dhingin den dhingini. saking Juntu tudu pinangkane. ® 31 Telung prakara Pakuwan bangkit. patang prakara ya bisa dari.© 02 Banyu singsor sing dhuwur padha maribu. sing lor sing kidul sing kulon. Ujungtanah pasthi. cipta buhayangon. ® PUPUH VII MEGATRUH 01 Kawarnae ingkang padha sungguh-sungguh. iya saking Palimanan asale.

wong Pajajaran gumentur. banyune cabar cawiri. surake kang para aji. prandene tanmigateni. gumuruh sorak bala wong. prandene pating padhig-dhig. © 05 Ora pira budine pating dharug-dhug. prandene kadhuk asanggup. iku dumehne wong wadhon. ratu sabrang nyata wadon. raja sabrang kaliwat ing sor.03 Saking wetan campuhe wau kang banyu. tan ana endhaning banyu. maring genining manon. tan bisa meteni geni. urube angger tan gigis. © 06 Kaparimen yen wis geni ora purum. geni manjer tanpa surud. kaduga pitung bengi. angraba kena ing banyu. naging tan bisa mateni. © 07 Saya santek geni tinuruwan banyu. © 08 . iku geni ngisin-isin. © 04 Ladalah rekaning wong sabrang gathul. sumagar ngarepi putri.

gelare ya kaya iku. mundhak dadi urub-urub. munggah ing gunung den enggo. niyat sami tur garumbyung. la iki intening wadon. ora yamane ya ewong. gawok para narpati. budi rekane wus pokok. kang anglosot anganjerki. dadi buta sada iku. prakasa raksasa gasik. Ciyungwanara duk angling. seja amateni geni. anyangking sadanya jenggi. prasami apikir-pikir. © . iya ana kang nyumurupi. dadi wedang mulak metu. saha kala akalengkono. © 12 Dalem iban Palimanan lanunipun. lema dadi wangwa geni. © 13 Angurugi geni wus jumegur-jegur. © 10 Purbasari genine patut den iku.Manonjaya pawestri jeng Listupaku. © 11 Duk angandut nuli ana ingkang laju. nanging ora dadi mati. muwuhi gedhene katon. © 09 Kawirangan dadi sira padha ngandhu. dangu-dangu ika warih. iya bener ing sang prabu. ora mati dening warih.

buta ilang tan nguwali. ora suwe jebul maning. © 17 Nuli ana gumantine kang lumaju. padha anyunguri urub. jer si geni den surupi. dalem junti denya norong. © 19 . dewaji dhemit. © 16 Gene pager ora nan sudanipun. mangkana layan mangkono. dening rara panas nenggu. buhaya musnah kalowos. sigra angrehai geni. lelewane galak katon. Sunan Tambalayung Kolot. ora kaya urip maning. dalem Kandhanghaur sakti. atemah geni dhuwur. © 15 Lan walira katimaha buhaya muncul kapethakan ngebyuki. dhumadi ana gumanti.14 Ya muwuhi gedhene ing urubipun. yen den senggreng pesparum. wangwa ambles geni masih. macane kang di adhu. © 18 La yen nyenggreng ing geni adadi parum.

putri Sundha kang wulangon. dening geni delap timbul. ning geni lawan gumantos. yen den sabet pes mati. © 23 Aja wonge genine panika punjul. miyarsa sembara ratu. © 24 Iya iku kang dadi nereging laku. © 22 Wusing kadi mangkana welehing ratu. kalesan kang mikarani.Mati urip mati urip urubipun. egare sang Purbasari. anglabuhi sembara wong. © 20 Dalem Ujungtanah anyangking sadha dipun den sabetaken tumuli. la iku sembaran ingon. © 21 Datan mendha mati maning jebul murub. kadya kaduk wuwusipun. bisa mepes geni isun. © . suwe-suwe urip jati. pasthine sun aku laki. ratu salawe prasami. dadi padha minangkani. dening welehing wigatos. tan suwe jebul kemawon. payu ayonana iki. macan sirna geni murub. kawirangan para aji. kalesan kangarah pati. singa-singa kang sakti. maring geni lawan parum.

gembong Pasuruwan agung. bimakkendra gili uri. pangulawat sampun sami. geni apetaka den go. © 26 Mangka dipati Surawangga malihipun. satriya sanusantawis. seja amateni geni. © 29 Kang den enggo sayembara atiku kuwung.25 Ratu salawe nagara la iya ku. mangsa kilapa kang ngenggo. padha karsa tegal lan ratu. carat sewu sumarongbong. malapati ing kadhaton. © 27 Bongdaraji manggala sarebo jagung. sewanehe amangsuli. sasra yuga dasa pati. geni adhune warih. agunem-gunem anglabu. para mantri lawan malih. gampang adat kang kalaku. © 30 . © 28 Tobasruyungan sarayaksa kendha layu. Manggadapura agatos. saking awu-awu langit. rujitmanlawe lan malih.

03 Tampek geni iku ora kara-kara. © PUPUH VIII DURMA 01 Ya tawiyang ratu salawe nagara. ing geni sakala. topan kagiri-giri. wawartose angabati. urube tan obah. saking ora paranti. sinten kang bagja kemawon. gawoke para narpati.Pati-pati den sembaraaken ikut. alagelar dening yakti. 02 Ilen-ilen banjir bena amalabar. dupi ika kang geni. kabenan dening topan. 04 . anyipta awan deres kagiri-giri. dhatan dhoyong samendhing. tan kawagang ing ginisi. pon masih kaya saban. Mingsun dhahang ngayoni. © 31 Pramilane cacak coba samya rawuh. amsih ngenak-enak. masih ngayeg ingkang geni. ana kang cipta. geni tan mati neng banyu. ana kang nyipta gelap namber ing geni. dening banyu datan kawon. apara ratu wira sakti. kita padha dhulu-dhulu.

guru gelap tan mateni.Parandene geni tan kage tan obah. kalawan kabalang. suraking bala Sundha. sabalane arampak. deni dipun panahi. sawancining sanjata. para sang nata. kang sapendhil sakalenthing. agni sakala. padha angrobi pana. kaya saban duk lagi. sangsaya mundhak. . watu kang sakalapa. ora dadi apa. 06 Karsa waneh ana ratu nrajang lan pana. prandene geni tan mati.lan sabalanira. waneh kang yipta udan kalalar wedhi. 08 Waneh ingkang para ratu lajune rampak sabalane ngebyuki. lan geni apa baya. sikep bandring-abandringi. dengo ambalang. maring urubin geni. ningali ungguling api. kaurungan ing wedhi. gedhene ingkang geni. ya ora nana ngudhili. 09 Ora nana bisa ingkang matenana. ing geni apa maning. 05 Angebyuki ing geni tan kara-kara. raja-raja ingkang. geni dipun bedhili. 07 Ana ingkang maju sabalanira. kang geni waluya. sadaya awurahan. heran kang tuminggal. angger urubing geni. kang sami hebat ningali. pan angger tan mati.

14 Pan sinegeg kang pasang giri punika. pangameng-amengan. Sanghyang talaga. surake wong Pakuaji. panyanane la apa. maring dahana. iki geni dhudhu geni. 15 . tedhak Prabu Galuh dhingin. saestu kang pasang giri. kocap ratu sadhasaring. kocak kang jagad. urube kaya saban. prandakane kumaki. 12 Datan ana gunane mipis dahana. wau kang nama. geni masih lunta.10 Kang saweneh ana ratu kang narajang. ana ingkang numbaki. waneh ingkang anyudhuki. kang saban-saban. yang tala kaherang. den arani kaya geni. dipun wasa-wasa. 13 Dewi Purbasari langkung bungah. lawan nyata. para ratu tan sakti. geni dipun pendhangi. tan nana miyatani. ngrasa kagungan asri. putri Sundha asakti. tur ta laya tuwana. 11 Nonohogi wis sabagi-bagi tingkah. ya ora karasa. Sanghyang Bulusputih. wus entong kang tanaga.

Putri Rara Panas. adarbe siwi pandendhi. si jajaka tawa. iku kang anami. Talagamanggung nama. Sanghyang Maharaja. ana guneman. denora acining warih. den sira sumeja. aputra-putra mami. iku kang pindah-pindhah. tangtu sira amakolih. dhiwone padha mesat. mesat aniba. sajane angaoni. 18 Seblakana iku geni tangtu pejah. . awit putraning Sanghyang. lawan sasabet iki. adarbe siwi panendhi. camethi kalawan geni. Lutungkasarung asakti. ajodho lawan.Kang ayoga Sanghyang Panggungkancane. maraja Purbasari. kang nuksma aneng geni. ya Indhang Telubraja. Hyang Jakahawa sakti. Lutungkasarung sira. iku kang anama. bareng uculena. mengko den kaseblak pasthi. 20 Iku putra Sunan Tambalayun ika. Sanghyang Ngacihiki. weruha sira. ing Banten prananeki. 19 Banyu pitung windu gawanen nyeblak. ingkang anama. tan kena gagabah. 17 Sanghyang Talagamanggung duk pangandika. 16 Genem kalih sodara wedhi kang nana. kang geni pasang giri.

21

Saendenge intri alumuha krama, panas bawane benjing, kang singa kadhokan, tan kuwat ing sangsara, besuk mari-mari mandi, den wis kapendhak, lan Jakatawa benjing.

22

Pecut iku tibane ing bumi Selan, besuk tinemu wuri, si Jakatawa, jodho lan Rara Panas, besuk aneng guwa jati, gene panggiya, praciptanen den jati.

23

Pan wus tutug kang pangandika samana, enggalira tumuli, Jakatawa dadya, golethak sampun rupa, cemethi sihaciwara, kena ing sabda, ingkang sayoga mandhi.

24

Layan Lutungkasarung pamit anembah, sarta nyangking cemethi, dinulur ing karsa, dhateng ing Pajajaran, nembah matur ing sang aji, yenara numpak, sayembara raja putri.

25

Prabu Ciyungwanara ngandika liya, kamanyangan den yakti, munggapa kang salah, ing seja sudi malar, kaputren Sundha negari, ambabarena, si bapa kang ningali.

26

Yata oreg kalabandhu Pajajaran, seja nonongton mangkin, ing sagelar ira, kang ngarama rawasa, nyata geni den cemethi, geblas asirna, bareng lawan cemethi.

27

Bareng mesat cemethi lawan dahana, suraking Pakuaji, den ini satriya, olih gawe gadhang dadi, majikan kita, pan ora pindho gaweni.

28

La ya iki nyata tegese wong lanang, ladining sajati, nyata tedhaking nata, wani ing Sundha negari, tangtune ika, mangsa liyana maning.

PUPUH IX LADRANG

01

Kawarnaa jeng suputri Purbasari, pareng mulat, ing geni mepes wus lalis, dadi mujungbaheng pagulingan.

02

Ya sang Prabu Ciyungwanara sedhep manggihi, maring ika, Lutungkasarung den angling, ya ki mantu ingkang murba sigar wetan.

03

Menak pra kuwu kapurba sira, kang ngimponi, iku cacangkoking putri, pra watesan bangbayang purbaning anak.

04

Sakarepa angolahi ngadeg narpati arimbitan, ki mantu kalawan rabi, Purbasari la iku ing jodhonira.

05

Lutungkasarung ing sembah ira kapundhi, si jeng rama, pati rang-urange gasik, byantarakaken dhateng ing kawula wadya.

06

Apa kaya adating ngadeg narpati, maha raja, Lutungkasarung muponi, sigar wetan Pajajaran ingkang murba.

07

Menak pra kuwu dupi ingkang ngapti aji, dupi menak, prayangan masih nyungkemi, maring sang prabu sepuh Ciyungwanara.

08

Sang maraja Lutungkasarung winarni, genya ripta, pan nagara anyar dadi, arah wetan pan katelah Pajajaran.

09

Karajaan gumelar punapa kadi, ya para raja, lan jalma ing Pakuaji, wus ora nana paja-pajaning manusa.

10

Ya wus apa dudune mara jabali gene raja, ing Kiskendha duk ing dhingin, ya amangku garwa widadari pelag.

11

Mung siwane Lutungkasarung saiki agagarwa, dereng patut sarasmine, durung becik durung sajejeging akrama.

12

Nanging iku wus sangkep kang bini aji, miwah ingkang, garwa kalingking kang nami, matur dewi marapag selir akatha.

13

Kawandasa sisihing selir kang selir aji, amung iku, prameswari Purbasari, masih elik durung sakastaning krama.

14

Dhudhukune singdhi ora kang nambani ora nana, tatambah kang miyatani, ajar cantrik nusa Jawa pan kalesan.

15

Kalesane ora sanggup anambani prameswara, Purbasari denya elik, maha raja Lutungkasarung asabar.

16

Sabab kapuhung pyambege madeg aji lantarane, saking Dewi Purbasari, ratna iyang jongratna sapa kang gawa.

17

Tan na liyan Lutuingkasarung prayogi putraningkang, panggung kancana asakti, lami-lami sang raja amanggih warta.

18

Ya sang raja Lutung kasarung miyarsa wartyi, pulo lingga, yen ana brahmana sakti, ingkang ana ing lingga ing kasabrangan.

19

Kaya-kaya ika bisa anambani prameswari, namaning brahmana kuwi, kaki brahmana Maniklingga Buwana.

20

Ya ta Prabu Lutungkasarung nimbali patih ira, patih rang-urange pinrih, kang pinutus nabrang maring sang pandhita.

21

Den sawawi ature ajar maniklingga wayang, rawuh aneng Sundha puri, kang sun ajap sun gondhela ingkang usada.

22

Badan tampi rang-urange timbalaning karsa nata, dadya sejanira gasik, sarta Panglima kakalih ingkang binakta.

23

Lalawaran ya iku panglima nami, Ki Lagondhang, kalawan Ki Gumariming, sarta dipun binaktan adhi rurubah.

24

Kang babasan panglalandhep lawan wajani sabaita, isi gula aren jawi, sabaita isi empon-empon jawa.

ki brahmana Linggabuwana anabda. 27 Sigra layar ki patih dhateng jaladri sartanira. 28 Pan wusmedhek ing ngarsane bramana luwih aba saja. inggih tuan yen katuran. sela weweton sing jawi. dhateng madhigda ing mriki. lalawaran wus teka ing pulo Lingga. woten kersane sang aji. .25 Saparahu isi pucung lan kamiri. sapara umaning isi. gegel nata. 26 Minyak kacang miwah saparahune maning kang sasoca. lan lelemes sewetweton buwat Sundha. 30 Angrawuhi dhumateng Sundha negari inggih ara. ngaturaken pasihan dalem Pakuwan. parahu pitu lumiring. minyak jarak kalawan minyak kalapa. den kaputus ing sang aji. 29 Pitung prahu kang kaisi warna-warni. boleh Sundha.

mapan ingwang. data ana kang bramana iku bobad. patih rang-urange wus age balika. aturena maning ing Sri ing Pakuwan. pan wis karsa aji. pracaya kang maring mami. isun medhek ing Pakuwan. ing prakara gegele Sri Pajajaran. 35 Patih rang-urange ature ariris bok punapa.31 Sarta gumujeng asuka rena kang ati aturena. tulung usada kang jati. 33 Aja sumlang ing karsane sri bupati. tumindake jengmadigda lan kawula. 32 Iya ika luwih nuhun nanging kangsi iku barang. sareng ngalempa pribadi. pitung prahu gawanen balik. 36 Ki brahmana sabdane patih ya patih aja kurang. . 34 Aja lawan den ruruba iku maning isun seja. puji pangesthi kang jati.

padha kita lurugane. tangtu mangsa bobat gedhe. 02 Pan wus katur ing ratu Lutungkasarung. karsane madigda. den estu pramana. lawan mangsa suwe laku den lalampah. 03 Ya sang raja aris ing pamuwusipun. lan mangsa gelema. miskin tan ngulati sugiye tan rarawat. 05 Wis becike anti ratuhipun. lalayaran dumugi ing Pajajaran. nanging lamon bobad. kita tumpes ya ika sang bramana lingga. . 04 Tangtu jagad pandelenge mung sagandhu. ing rurubaku prantine. sejanipun medhek dhewek. pun bramana sampun ngartos dhateng karsa. sampun abalik sakabeh.PUPUH X PUCUNG 01 Ya sang patih rang-urange sigra wangsul sabaitanira.

terang layan karsa. 09 Dupi putra saking bini ajinipun. Jayakarta alinggih ing rat Jakerta. dipun prabu sepuh mangke. Raden Rangga lanwan Mantri Kethebasa. 08 Linggihan ing Bnaten angarta dhatu. Raden putra inggih ing Bantana warsa. 07 Putra saking ikut ika den pilungguh. 11 . malah prabu Lutungkasarung wus gawa. ingkang sarta lulungguhe.06 Ya ta lawas bramana pan durung iku rawuhira. lanang nama ira. kang angrengga iku saking Pajajaran. karajaan kaprabone. Raden Mantri Ranggalawe. lanang pinangaran. sampun gelar tata. ngenten tanpa anten-anten. 10 Pon kalawan lilane sang prabu sepuh.

14 Rang-urange kang dadi papatihipun. lanang kang namane. 15 Ki Tumenggung Selangkuyit naminipun. dipun rangkepa patiye. pan samono lawase kang prameswara. aneng Pajajaran. kang amengku indhahan nang Ujungkaras. lanang karya parab. kang anama ki Tumenggung Sanggrarungan. Demang Gogok lempog kalawan kang nama. 12 Dupi putra ingkang saking dewi matur. kademangan ing namane. 16 Demang Bangkong sendhong andeling pamuk. lan roro kang anyar. kang amangku indhahan nang Ujungkulan. Sanghyang Sancakrit namane.Dupi putra saking maha dewinipun. 13 Ingkarsane snang prabu Lutungkasarung. Sanghyang Resi Luwiluwe. gumelara kata. patih jero patih Burbutjalang. arja aneng jaba. . jirnapura pulung beler. roro tumenggung anyare.

barangahan anakake. 22 . paman bramana tulunge. 21 Pira bae ing mangko wajaninipun. manira nedha tulunge. kaduga manira. iku bebeg ingwang. 18 Atur makca pangandikane sang prabu. bramana Lingga rawuhe. ya kongsiya adhepe nama sang rara. idhepena iku paman garwaningwang. sang bramana gumujeng atur sandika. 20 Dupi rabi babaku durung sapundhul. seja sun pilala. he paman bramana. nuli tan antara. 19 Gone elik wis windon takeran tahun.17 Durung becik kelawan Lutungkasarung. saking rabi liyan kang metoni anak. maring Sundha wis den mulya-mulya ika. ya duk jurung saragane.

pun paman tumuta. 25 Maharaja Lutungkasarung abendu. dalem tangtu mangke sae. 23 Mangke sae sacombana lan sang prabu. 24 Aleng pundi tan awor sandeng saumur. dhumateng walikat. ana wong jaluk nrasane. nuntak ludira maleber. uning raose pun paman ginawa kawan. pan tinarik kang dhuhung bramana pejah. tan asusah wajani punapa-punapa. dan sang prabu ngunus dhuhung pan tumandhang. kang pakenak teka sinung rasa lara. bramana cora nalosor. 27 Ingkang layong angucap tegane ratu. sun dhaku mendrassa.Sampun sumlang bapa prakawis puniku. gagarwa carapa. . uninga dhateng raose. 26 Sigra nudhuk bramana ajaja terus. tegane ta sira. prakawising garwa. lan sang prabu nanginging punika sang rara. binandhing combana mangke.

sabdane babathang. 29 Yata prabu Lutungkasarung mituhu. ya tumangen cone dadi awu pisan.28 Nyata kumed maraja Lutungkasarung. narik kang babathang. kurnapa bramana. 30 Iku padha obomgen babathang iku. bandhu kula warga agawe tumangan. 31 Ki patih Brubutjalang tanpa wuruk. sirnaken pisan. 33 . dadi ratu Sundha kene. maring jaba adhan rame. kakeyan bacot si bramana camera. 32 Tan adangu ingkang geni amurub. ya mangsa luntaha. dadi gumaregeten sewot. wue sirna purna den obong. ambri aja ababacot. ora kaya aluse bramana Lingga. sabab dening kumet arep bapa garap.

sumerep sumanira. maring kakung tan kena pisah sadhela. guranggame sapatemon.Manjing garba garwane Lutungkasarung. dadi mundhak bagus katone gumawang. kena ing asmara. 36 Praciptane gawok temen atinisun. sabadhan sedya wa-awor. dupi iki teka ati kangen semang. luwih sengit pisan. 37 Poning mau ewo bae atinisun. 35 Ya sang putri Purbasari remen kalangkung. 34 Dewi Purbasari sira andulu. teka sejen pisan lagi mulamula. mengkorog saking jijithok. . Lutungkasarung warnane. ajaja rep sapatemon. dadi kakatonen bae. Lutungkasarung dumadya raga asiyan. ngrungu bae abane ing ati ewa. maring maha raja. 38 Jember bae rupane deleng iku. ing ati mengkarang. saiki kena ngapa.

kaduk sang prameswari. teka kapareng kang garwa. 02 Kang garwa lumados sampun. binakta amadhang wulan. duga nyidham sanga sai. carema la pitung dina. ningali kang prameswari. kaya pa adating krami. sang raja sigra trangginas. bersih kuning gilang-gilang. mesem manis awe sira. sumulura maring mami.PUPUH XI KINANTHI 01 Warnanen Lutungkasarung. tutuging asisiyan. Purbasari kang pinundhi. kalangkung ing lelesneki. 05 . angrungrum ing prameswari. Lutungkasarung langkung asih. 04 Kinundang putra ajalu. tumulus adhicombani. dhumateng kang prameswara. dhateng karajaan ingwang. 03 Wus bobot ing wancinipun.

myarsa swara aruntik. emar lesu les-elesan. kang sira dhingin prajaya. iku jabang ora pejah. 06 Mangkana pamuwusipun. ing isun kalimat lewih. yen kengetan ingkang wngsit. . enggal ngunus pedhangira. asang prabu ta sireki. saiki dumama eman. 07 Sira iku aja tambuh. 09 Malah sedheng babar sampun miyos lanang kang prayayi. ing marma tur eman arsi. kalangkung ing ruhing galih. kalangkung den kumadana. dinulang upan mandi. 10 Dhateng jabang bayinipun. mulane engatna benjing. tanpa kara-kara nuli. angaras-aras kang rayi. 08 Pareng semana sang prabu. tan antara dangunira. anak-anak maring ingwang. kang rama anyandhak aglis. nanging besuk yen wis medal. ingsun males ing sireki. cayane gumilang bening.Sang prabu Lutungkasarung. sinumbele kang prayayi. iya sun bra … luwih. tan eca guling adhahar. la bagus suwarnanira. ing sajroning wetengneki. aja tungkul eman nesip. wau amiyarsa swara.

13 Lumajeng malah ambendhung. sampun kabekta ing warih. arawuh kang rama neki. kocap kang mrajaya siwi. anjerit lumajeng agasik. 15 Sareng wis binuwang sampun. ageng santer ilinira. wis kabekta dhateng warih. kalih garwa takon jabang. pon tan kena ing pati. sang prabu Ciyungwanara. pethi winuwang tumuli. maring mantu ingkang lali. wus sirna kagawa warih. matur kula birat kali. nembe siji dipejahi. kali cilutung ya nyata. miyarsa aturing siwi. sigegen ana ing marga. kang putra dipun prajaya. kang putra den wasa-wasa. ing lepen cilutung sirna. 14 Dadya winadhahan sampun. 16 . Lutungkasarung alali. 12 Umatur ing ramanipun. punika mejani putra. Purbasari aningali. karsa ingayun ing rama. prabu Ciyungwanara aji.11 Prandene tan pasha iku.

kang gaib luwih ningali. . tangto kena ika dhelap. 18 Kawarnaa sira sang ayu. awake kang gadhang niladi. egar suka manahira. sang putrid dadak sakala. melang maring anak siji. ing manah wus palipurna. pon isun binuwang dhingin. prabu Galuh duk ing dhingin. he mantu wruha sira. Purbasari sawunguning. papasthene jabang bayi.Yata prameswari wau. 19 Kang bunuwang iya iku. besuk bias muter nagri. kang mratuwa den unjungi. 17 Kali iku ing ramanipun. sajrone wau kantaka. Purbasari aja sira. Purbasari nibang siti. 20 Sang cinta tan cidra iku. prabu sepuh ngandika ris. 21 Angunjung kaliyan kakung. besuk titenana mangkin. den pracaya kang murbeng bumi. embaning turun ingwang. kudu anurut ing eyang. prabu sepuh ngendika ris. prandekane iya welas. anyuluri bapanira. ana ingkang swara jati. sampun ngunjung kang ayugi. si jabang mangsa amati. kasirep lelohing putra. dewi Purbasari lilir.

panukmanira lan laki. sabebet kula Santana. pungpung saiki purnama. 27 .22 Rama Galuh dun rumuhun. 23 Sih jati waraha nuhun. kandikane sira nini. boten susah angilari. maring dalem Kenya puri. sebab sira ora pacak. ing rama prapona benjing. 26 Purbasari nyingkira babu. ki mantu la tampeni. enggal sira anampani. alalise iya merad. 25 Yata prabu Lutungkasarung. 24 Angadika prabu sepuh. enggal Purbasari memba. den idhep ing pameradning. karana sabebet kita. pameradan pocapaning. kang aji pamerdaning. mratuwane kang ambabar. sawadose kula ngalap. ing ilmu pameradaning. ya sang prabu Ciyungwanara. yen dugi ing ajal kula. Lutungkasarung aturnya ris. manjinga ing dalem puri. ing Galuh ora na liyan maning. ora aliyan panukmaning.

purwa saking mratuwane. buhaya bangawan ika. ungelling ingkang piwara. sukma rasa sukma larang. jati wisik ingkang yugi. den openi dening ki Pethesperas. gumawang tanpa cantelaning. gumilang sarira mami. 03 Tukang pethes peres ingkang luluhur. sakabeh-kabeh tan kari. onya ing sukma lewi. angles-les angluwar ragi. PUPUH XII PUCUNG 01 Prabu Lutungkasarung wus tampi wuruk. awor daging awor getih sumarira. oranana ing rat jagat.Wus tanpa Lutungkasarung. wus rumanjing kayangan kipethes peras. aji pamedaran. lenyep ilang dat pes ilang. kawarna ajabar. 04 . 28 Kadhaton tanpa gon iku. kang dhingin binuwang mangke. 02 Pan sinegeg caritane yan sang prabu. sang jabang wus panggih mangke.

inggih iyang iku nama wis prayoga. 09 Cilik-cilik bias rerasan satuhu. wis koncara inga iyang ingkang nama. 08 Pan katelah ing desa pethis puniku. ingga iyang bapak ikut namaning wang. bocah cilik bias. besuk mengku bala. dudu bocah salumrahe. bapa y ailing wang. kasungsun arane angger. esaktemening namane. anak pupone ki tukang. bocah patut kasurupan. patut ikut tuturunan ing kusuma. ngerti dening basane wong pathes desa. 07 Patut iku ana kadadiyanipun.Dipun aken anak jabang bayi ikut. . 06 Kaki Pathes peres nembe tumon rungu. kaya wong tuwa basane. 05 Jabang bayi kangucap abeluk-beluk. bias rarasan basane. ngerti dening basane. pan tembene mung ta iki anake sapa. bapa aranan reki. duk umur sawulan.

den parani ika. paparahon buhaya putih tinungganga. dadi raja suntangguhe. 14 Iya nuli ana maning nyata timbul. mung tai ka apa. 11 Lawas-lawas pareng umur tigang tahun. umreg wong Pakuwon. yakti ika tengeraning andana wirya. katur maring sri bupati Pajajaran. Lingga hiyang ika. 13 Nurut bae buhaya sakarsanipun. dening wong nuli gacike. lalayaran pangameng-amenge.10 Ya putute yen selamet urip tuwu. udan angina mudhik milir nunggang buhaya. tungtu besuk ika. bocah apa setan kene. 15 . katular-tular wartane. silem ilang yen wis sadina rong dina. 12 Wong kang paca ningali gawok andalu.

dadi sirep kang warta. 16 Ya gustine pareng nabda semana iku. 17 kawarnaan ki empu kang namanipun. 18 Maring kali Cilutung kapanggih wau. pan sinawanganing ki empu calangcang. lagi eca paparahon. wong ningali padha wedhi sadaya.Engandika sang prabu Lutungkasarung. lagya ngalenthung miminggira nang walahar. sapa sira kang ayuga. 20 Kula lare tanpa bapa tanpa ibu. ki Calancang nama. warta anak setan. buhaya putih tunggangane. kali bangawan kang nusoni dhateng kula. neng bengawan priyangga. 19 Sira bocah cilik saking endi kacung. sisikune ratu ratu mandi salah dadya. . lola dhiri kula. kaliya ing comas pandhe. kasur bumi mega kemule. Lingga iyang mangsuli kula punika. wedi bok den salah artos. lare ingga iyang.

21 Pun buhaya kanga sung tedha puniku. inggih wasta kula. manggih pinggir kali gedhe. ki Kalipa andaringeng manah ira. datan weruh embok bapaneku bocah. 22 Nembah tumon lare nabda kaya iku. dika iki olih saking ngendi bocah. nyata iki tereheng andanawriya. 23 Empun nabda sira sunimponi kacung. Lingga iyang ing namine. patitis ing wicarane. 25 Lawan iku sapa ingkang duwe sunu. 26 . winangsulan enggal. padha maring omah ingwang. bangkit yen rarasan. prapta wismanira. 24 Ki Calangcang ngiring wus dumading aku. nyi Calangcang girap gawok. Linggahiyang teka dumulur ing karsa. sun aku anak temene.

ana bocah bias. 28 Toli dika ing sang aji ya di ukum. dika dadi den tareka nyolong anak. inggih kula kang tango bala witanya. ngaku bapa ngaku embok. Linggaiyang nabda. welas ati sun ajak mulih maringwang. dhasar enggih musuh kahula ing kuna. den tututi wekasane. Linggaiyang ika. dika nemu bocah. tan duwe bok bapa. maring empu Kalipa langkung minulya. dipun pracaya si embok.Sun takoni wangsulane iya iku. 31 Iku bocah ana kada dene besuk. patut ini dudu bocah samaneya. rarasan ingkang samono. 29 Banggi bapa kikukum dening sang prabu. kasur bumi mega kemule. . 27 Nyi Calangcang nabda bok den salah tanggu. abentak lawan sang katong. 30 Ki Calangcang Nyi Calangcang getun-getun. kula purun nalang.

05 . angrebut bapa biyang. wesi lir lempung kewala. gisik bapa sampun uning. saktine sang Linggahiyang. iku teka reremane. omah wesi nem dina sampun waradin. aja patiya sugih wani. wesi wus brapikul. angrewangi agawe wesi. omah wesi aneng wanadri. la dingo apa iku. karana lare iku. milu kara baraba. angalasan awangun. dhateng kula ingkal awon. digjabenduning ratu. wani mati kendel wani ambelani. aran wana Cikandhang. jogede kang sunu. ya si bapa si embok tan wurung dadi. agaweyan kang tahuna. dadi apa awak ira. pun embok tingalana. yen iku karungu. pan sinambut palastha sadina becik. Linggaiyang ora kakurangan. bapak embok sampun tan pracaya. 03 Ki Calangcang Nyi Calangcang angling. kukuh kikib agarba. wesi ing ngalas genahe. watu ingkang kinarya.PUPUH XIII DHANDHANGGULA 01 Nyi Calangcang sajege angimponi. mung ta sira kacung gawe omah. embok sisikuning raja. ingkang aran Linggaiyang. 04 Linggahiyang wangsulane aris. dumadi kasugiyane. jar ai wesi nurut. 02 Lawas-lawas kirane andugi. Linggaiyang umur rolas warsa.

ora lawas la ika tumuli. ya iku dhadhak sakala. kacung iku dingo apa gawe bale iku. tanpa bayanya lampahi. Linggaiyang apunjul. wong tan dosa mamateni den pateni. anaking bramana reko. sira katiti luput. sapa wruha bok kadengangan. jar kasndhung ing arata. lemes kadya tatangsul. Linmggaiyang patute iki. nititeni apa iki bocah. ya wedi maring nata. kang adi warna lekere. kasuhur ing kasaktene. . 08 Linggaiyang matur boten sanggi. dening si namanipun. 06 Dadi rante anjiret kang linggih. yaw is aja ilok gawe tanpa tut dadi. nanging yen digelar dadya. sung sengge iya nyataa. ika sang ratu apa. buktine kakecap menga. dhasare ratu Sundha. dingo apa teka sun maras kang ati. riringganing nagara. tur ta ora sanyatane. ing basane arep males ing sang aji. lan kena dienggoa bebenting. kula ngilari lalangen. ya kene ginegem ginelar. nunggang tawa musuh. ing siasating nata. iku bale ora karuwan maning. kadengangan ingkang kula ajap. mrajaya bramana Lingga. seja males puliya. nanging lamon lininggiyan. bale rante bagus. marga anglanggar narpati. 09 Pan sakedhap ki Calangcang ngarti. tiwas temahipun. akeh jalma padha kagawokan. 07 Ya sang prabu Lutungkasarung linuwih. ki Calangcang ta ingucap aris. Linggaiyang wangun rante tosan. ya ra pon dipun siku. mring bapane mau.

katingal sanyata bocah. sumantana si tai anjing. pusakaning Pajajaran. pan ratu agung ing Paku. pra mantra acingak. umreging bala agung. ya rinujak ing wong Pajajaran. atandha sing enda-endi. nakal si gila basa. bedhul sapa kang mrentah. 14 Wong Pajajaran surake la iki. sanyata kethek beruk. 13 Nitir ganjur pusakaning aji. anabuh adhenggung. mung ta sira deleng apa.10 Ora suwe Linggaiyang mijil. yen tan pejah nalendra. wis karuwan bocah iki ala. budine lawan anggkohe. andher ingkang aseba. Linggaiyang wus ngangkat. Linggaiyang wangsulane. sira kang selang gumun. pati-pati manira wani-wani ngaku. surak ing wong iki bocah saking endi. mung ta anganti apa. 12 Iya sira ngajaraken nangkis. alun-alun jembar tur radin. ya saking waris manira. 11 waktu iku tinabuh den titir. ngaku waris nalendra. kadeleng apa si monyet. munggah ing lemah dhuwur. aje kakeyan tutur rujak gendhen gelis. kaya cumra si tembe wara. pancaniti penuh. sarta nggegem arante mandira. . mada dudu ponggawa. bubuyute ajur. mring alun-alun puruge. sudi wani angunggahi siti inggil. matanira baloloken mataning pring. geger samya bala Pajajaran. datan kena tinabuh puniki. nyana sang ratu sumered. para mantra datan upaksi. sawaneh ingkang angucap. waspaos andulu. ora idhep ing karta jani.

15 Pajajaran kang bala ngebyuki. ya kaprimen den wis metu budine ngancil. ya batur dhengawas aja saloro ngarti. puharane dadi majikan. gagamane wus padha malesat. den titening talata. dening sang Linggaiyang. ora kena saloro ngarti. pada arontok sakabehe. kapental ora menange. iya bocah iku. dudu musuh iku. kang dhingin denkaropoke. geger gumuruh kang anan Jawi. sang prabu Lutungkasarung. sigra amiyos enggal. sawaneh para sepuh. angluwihi nagara. lir nyekel wawadhangan. akeh kang para ponggawa. ingkang padha awangun piker. 16 Saya dangu saya angranohi. demene iku bocah. la iki timbulipun. kang malesat dening padha densepaki. dadi roro den pindhoni. ki patih rang-urange kapental. ibur lir pinusus. nyandhak bocah tan kena kenging. bok iku susupaning bramana. 02 . bokmanawane kuhana. angliga dhuhung Linggaiyang den suduk. dadi padha sap maju. 17 La yen isun iki sun pikiri. kaprimen den wis tanggal. PUPUH XIV PANGKUR 01 Dupi sang nata miyarsa. sapisan madhuwa raga.

pining pat panyudukipun. 03 Rinejeng tanpa wisesa. Lutungkasarung pinarna. ing kali cibayabang. la ya kita jaya. suraksurak ing sapanjanging dalam gung. iya isun eling pisan. Prabu Lutungkasarung yata aja tambuh. tan bias polah kawingkis. sulurana lungguh isun. den babayang den suraki. 05 Iku ing sakarep ira. kedya wong den panjara tan bias mijil. pining telu dadi wolu sayakti. aneng bale rinengku ya pinikul. yata lare pra samya. gumurudug iku padha tut wingking. prabu Lutungkasarung wansulanipun. anggotong kang babaleyan. wonten ing pagriyan wesi. buang jabang aneng banyu. pa wus dadi akeh enggal ngarubut. bramana Lingga duk wingis. ya iki pamales ira. ing rante tanpa sesa. ing Cikundhang goning omah wesi mau. braise kalaras aking. den bakta maring alas. Lutungkasarung wus lungguh. 07 Wus pinutup tanpa sesa. sang prabu ngebyuki padha. telu kena ing saiki. dadi bocah nembelas. 04 Basane lare akathah. lininggihaken ing rante wesi. lare nembelas surak kasruh.Sinuduk pan dadi papat. sapuruge gustinipun. dening lare kanembelas. ya sang prabu Lutungkasarung lali. pan si bapa uwis seja sumingkir. 06 Para ponggawa Pakuwan. .

11 Bale rante bus malesat. kadi duk wau tumuli. wus polih dadi sajuga. he wong Pajajaran sira. 10 Ana ing dina wekasan. ing ayunan rama aji. agadhaton tanpa genah. ing bocah nembelas iku. dening bapa ing laksana. dupi manira pejah. Balerante iya iku. andaringen ningali pohal-pahil. ya sang prabu Ciyungwanara puniku. wusing nabda samana adanuli. amengkorog sarta mealakken buntut. mesate ing jomantara. hadan Prabu Lutungkasarung amuwus.08 Yata mantra Pajajaran. samatuke saking ngriku. tiba bumi mila den arani. mulih maring ajala kasuciyan isun. mereh kadya wanara. den idhep angaku gusti. musna ilang tan ing ngaksi. Purbasari wus ing kana. lawan patinisun benjing. sang prabu Lutungkasarung. wuryataning akuna. 12 Kulawarga Pajajaran. anak isun sing rayi Purbasari. wus mangkana lare nembelas pun wau. karsa medhek ingkang eyang. 13 . prayoga gaganti isun. padha ngiyung ing Linggaiyang ngapti. 09 Ing bocah iku kang nyata.

den becik sira ngopeni. Ki Ngabehi Kolotbuntut asakti. Dewi Purbasari agung. la ta bener ujar isun. kang dhingin dibuwang ngebur. sinauran dening jagad. papatihe winastan. geter pater ketug muni.Wus kempal amatepungun. wus prapta pura Pakuwan. lan Ki Dalem Tegaljamang. jeneng prabu Linggaiyang. bapane ingkang wus lampus. istrinana dumadiya susuluring. sanak medhoke sang aji. katumenggung Jatipamor sakti. Kyai Patih sempokwaja parab ipun. 16 Samantuke saking kana. Sindhangkasih nama dalem Somaluhur. amurba Sundha negari. 18 Lan Ki Demang Dhungkabadhag. . sami atur sembah sadaya sumuhun. ya tai ka kang liningan. ingbangawan ya ika. 15 Maring iku anak ira. Lutungkasarung anuruni rama Galuh. anakira Linggaiyang iki. anake kang mikarani. 17 Ratu anyar Pajajaran. ajujuluk Somahita. merade saking panjara. prabu sepuh Ciyungwanara angling. katemu maning denira. bandhu warga kawula iku. saikine sabetahan ya tinemu. Linggaiyang Sinarojang Bupati. 14 Purbasari lan momonga. Linggaiyang binakta mantuk dening. ing istrenan sampun sira ngadeg ratu. sing bangdiwenka apa. wong sanak singraja Galuh.

wedi yen den rabenana. kang prayayi kang turun kidang pananjung. kang katelah sesebatan. La yen santek esir nora pilih lawuh. parandene yen kacebak nuli mati. kang tumurunita besuk. kacarita ora jengjem mengku rabi. kaya keris landhep pisan. kidang manjangan den jamah. padha babar pisan pejah. amedal pamore mandi. kang den wangking ingalulut. akathah selir kawangking angemasi. waris Yang Sundha negari. kang den wangking angemasi. taliti purba wisesa. 23 Selir kidang lan majangan. saking kono ruru ira. ana ingkang kasebat. gih manjangan gumarang sing naminipun.19 Ya sang Prabu linggaiyang. ora mati kaduga ana titis. mulane nuli nedhaki. PUPUH XV . 21 Kapokoh pinaksa-paksa. wados ginawa sarasmi. katarajang Dakar waja landhepipun. prayayi kang katurun. ya babar pisan pejah. taliti turunan aji. 22 Kidang manjangan kang nyangga. besuk ana katela ingkang nami. pramila ika sang prabu. pan sakehing istri sisiriha maju. Linggaiyang dumadya. sing awadon kang karungrum. 20 Dadya pirang-pirang garwa.

ika Dewi Brajawati. bagane wesi atutup. tan ana musuhira. mung ana wara gatra. acombana istrine nuli apejah. marawani saking atose kang baga. pitutur kang sajati. Purbasari tumon putra. 05 . 04 Duginipun ora liyan. robbana lan panglamar. datan jamak lawan jalmi. iku duwe anak wadon kang anama. ing anguling ing sarasmi. Linggaiyang jalma wudhu. katalihatma mokal tan pasrah. kawagang ing sarasmi. la iku gawanen rabi. angandika ingkang siwi. patut den ika dadiya. ki bramana tali atma. sacombana lawan ika. among Linggaiyang sayakti. kandikane isun rungu. jar padha wesineki. kang eyang Ciyungwanara. karana Brajawati. rabine si Lingga aji. ing pulo gunung surandhil. coba ta sungsungen iku. dadya tandha rabi. 02 Mangkana lawan mangkana. kasulur tan ana bangkit. nuli ana jati wisik.SINOM 01 Iya iku kang dumadya tan sakeca ing sang dewi. 03 Namane ingkang sinebat.

barang saking Sundha katur. kalawan katumenggungan. Ki Ngabehi Kolotbuntit. karsane aminta krami. pecile tiyang dherwis. wus ana ngayunan. denira bramana luwih. ki demang Wukubadhak ingkang sami layer. ruruba saking Jawi. ki bramana taliatma. Danyang Brajangkawat. Patih Sempokwaja wau. tan kawarna layare aneng sagara. 10 . mangke karya angimponi. sedhah panglamaring ratu. meng sampun kirang pamuhung. sinuba ing Linggi. nata sundha nayangger mung gamulunga. Linggaiyang sampun niti. ing pulo gunung Surandhil. kang isi panglamar aji. derenguning tata Jawi. dhuta raja ing Pakuwan.Ya ta prabu Pajajaran. pinanggih bramana aji. sarma bakta palwa sapta. ponggawa kang den titi. 07 Kocapa sadhatengira. ing pulo gunung surandhil. nayangger Pajajaran. ing mana suka arena. Dewi Brajawati kang dinuking karsa. Jatipamor apa maning. lare istri badhigal. sukane ingkang nanamu. maring bramana ana ing gunung surandhil. katur ing sakarsa aji. kali ira ingkang siwi. 08 Lamarane wus katampan. duta maring kasabrangan. 06 Ingkang sami kesah ika. sang prabu Linggaiyang. 09 Bramana aris wacana. ingkang pra menak prapti. sarta ngesrahken adi.

sigra petak tumuli. sakalih nulya tumurun. sakarone wus. boten amindhoni malih pramilane angupaya tandhangira. den saingga wonten damel kula petak. ana kang sudi santosa. sebab ika sakalih. dados wudhu ing Sundha den antuk wiring. 12 Sukaliye pinuturan. putra sakalih ngastuti. Pajajaran maringi sedhah panglamar amundhut. 14 Dhayang parwatali nabda. sami tedhak ing ngawiyat. ngumbara ing karsanipun. 11 Den sampun kula petak. pun adhi Brajawati. . ya subagja adhi sinarwehing nata. jaler Dangyang Talibarat. ingkang nama talibarata. sarananipun wesi. mung wonten melang sakedhik. Prabu Linggaiyang sami. Dangyang Brajakawat nabda.Lan malih mangke sakedhap. anglalana ing tawan. mange boten miyatani. angantos kadange malih. tan mudhun-mudhun ing siti. sukane adhinira. jaler Dangyang Parwatali. lan kang nama Prawatali. Prabu Linggaiyang mangkin. pinten-pinten selir lampus. wewesen sarananipun bilih sang nata Sundha. karana pidhanget kula. ya ta bramana tali. 13 Malak mandar darbe tedhak. adhinira Brajawati. tangtu punika sakalih. mangsa ngijira sang aji. ingkang pejah dinahar. minggah ngayunan rama. amangku sundha nagari.

punika ingkang nglakoni. Brajawati lalayaran maring Sundha. dados kita kesseman. putri Sundha negari. tan kaping kalih adhi. dening kadang kakalih. kedah tinaros kentasa. Brajawati aturnya. aneng nagri Sundha ingarsa sang nata. sarananing katewangan. ing parahu kang den apti. ya ta bramana Tali. bokmanawi mangke sigug. paran ati lumiring. dadya turun rena ngaturaken putra. punika sampun tinari. . sing pulo gunung surandhil. 17 Kahula darma lumampah. kahula liwarsa demi. Parwatali namanipun. ing wedra kirang panari. kalawan sang Talibarat. genya layar enggal prapti. atawa ing tan purun. saking Sundha angsal kardi. ing jati dipun dandosi. awon penes panitihing. den piyambeke kinarsa. boten dados basa jadra ponsasmata. sakarsane andherek dhateng jeng rama. kahula amdherek maring. ing manah kalangkung sukur.15 Dhayang Talibarat nabda. 18 Brajawati wus pinuja. wongtuwa datan pejah. kranten dede lare alit. giyak-giyak anembang. 16 Ya ta DEWI Braja rara. kang angeteraken rayi. 19 Kering marang sang potusan. kalangkung ing rena ipun. angsal putrining bramana. ing ratu Sundha negari. re kang putra sumandha. ing karsane rama yugi.

02 Bobot angsal pitung tangsul. oliye alaki rabi. dening Linggaiyang dadi. daginge benyo ayiyid. malah sampung Brajawati. pinangan dening manusa. ora den sembelih maning. den enggo embut-tembutan. wus angrasa katimbangan. rena karawuhan putri. ora lawan minatengan. kadi sutaning bramana. 05 . mulane arjaning krama. mangkana den kadengngangan. dharahe den palothoti.PUPUH XVI KINANTHI 01 Sang prabu Linggaiyang langkung. kunyuk mati den tonyoi. 03 Kapengen adhahar kunyuk. lanang wesi wadon wesi. mung den panjingaken dening. kadut den kocok kaduga. kang ora jamak dening. salamine anggar binim pepengene warna-warna. 04 Kulite deng masih wulu. parandene den esiri.

kang sengit dumadi welas. Brajawali enggal dadi. ing cacing urip-uripan. tengtu lelet den patheni. mring nata girig sengit. cicindhil kang masih abrit. Talibarat Parwatali. 08 Den kadengangan sang prabu. den dhahar urip-eripan. ora kaya Braja rara. dhumateng sang Braja rara. sing awang-awang tumuli. ora kaya Parwatali. kumokod babalan pisan. teka eman teka sih. Brajawati sajen maning. Parwatali Talibarat.Sedhot hawa manah ipun. angusp bathuking kadang. ningali dhateng kang rayi. iya timbul sengit maning. 06 Anulya sigra tumurun. mangkana yen kadengangan. den tutulaken ing petis. 10 Tan kaya yen wus tumurun. pepengene sajen maning. dumadi kanggep alaki. 07 Lami-lami ning tumuwus. Talibarat ngusap muka. kang ngemong kadang kakalih. kang mungga kirig ika dadi. atumon ipene runtik. kang ngusap ing bathuk ira. kang sengit babalik asih. 09 Lami-lamining tumuwuh. pepengen ing dhaharan. .

dening parecel kumaki. dening Prabu Linggaiyang. 15 Mengko uga tanggu isun. ing sirrane kang yuga. 16 . 14 Ari iku sawat-sawud. 13 Pira wareke wong munggu. 12 Re kang putra wau lampus. darbe manah tulak serik. maring karajaan Sundha. mapan den mepes kang yuga. Lutungkasarung kalindih. wani wong tuwa si setan. duduta beyating jalmi.11 Lami-lamining tumuwuh. Suhunan Panggungkancana. angrumpak turus abecik. nagning ora arju margi. ora nama liyan maning. nandhang sekeling wong tuwa. ana kang dadi kulilip. iku kang Lokambadhigal. aja dumeh anduluri. ora sabar angenteni. apa layak anyuluri. pasthine ya sinangkasal. pangganggo asu griwani. mangsa lawas angartoni. godhog rontok rug-rug wit. kaya ta beyating jalmi ditya. lawan ora arju margi.

binatang si tai olih. kang lagi penyakit elik. ika dadi banaspati. 21 Waneh angrebut kang dudu. 18 Teka anuli den jaluk. anak lagi duwe pejah. nyingkiri wirang lan isin. ya ika bramana kaparat. ngambingngambing rabi mula. parek maring sulaksana. deningan sinaban bengi. kaya latune ing lintang. samono lagi ngalahi. ana kang ngarani teja. kanggo surup nganggo kedhing. kaget ketembe ningali. wong Pajajaran pra samya. katone ing wektu bengi. di akon nganggo wajani. sutejane wong abecik. ana nyana tapak angin. bramana Linggabuwana. 19 Nah kala napsune metu. ana nengge lintang ngalih.Anduluri sota iku. kapokok broktak dening. 20 Mung ta apa murub iku. la iku lebune apa. semaune amateni. ora paido wong lagi. . malang-miling saban bengi. ngejer ana ing gegana. tumon nambakaken rabi. 17 Wondene Lutungkasarung. waneh ngarani kamangmang. wong tuwa kendhang sangaja.

27 . yen tengange lawan pajar. 23 Kalih garwa ingkang wau. apantang barang den bukti. waneh ingkang makidungan. rembesa angulinting. patelesan cindhe jenar. Linggaiyang sami didis. anyarengi sri narendra. kalangkung ing suka ati. 24 Ameng-ameng ing lalangun. siweg bobot madhang sasi. yen combana lan istri. lawase wis sangang dina. datan bengi sawatawis. nelasaken agiyak-giyak. ing pancuran sanga sami. sang aji atilar guling. yen purnama tilar guling. angideri tataman.22 Parek ing lintang kemukus. para bibi para inya. 25 Sabab agamaning Galuh. kesel sira ganti siram. murnama dening ring-ring. yen tanggal pisan apantang. 26 Sadangune ing dalu. pareng wengine tumuli. purnama sajroning putri. anggending jala wekunyit.

sira momonga anak. lalayad wusa ing waya. ingkang gedhe pangrekdane. tema warna banaspati. kagete kelangan laki. 02 Jodho lawan putu mami. salamet besuk yen metu. 03 Aja sira gawe ati. sasirnane lakinira. kudu mung samono sira. den salamet urip delap. tarimane ati nira. mung siwewetengan ira. PUPUH XVII ASMARANDANA 01 Prabu sepuh atitilik. tangise kelangan gusti. wuwusen lamonika. estrenana madeg nata. gapuh aris kandikane. Linggaiyang sirna lalis. den samber sinawa musna. kantaka ping nem sadela. awak ira wuseng arja. awit suka teka dhuka. wus papasthene Yang Agung. mangksa dadiya sangsayane. dhumateng jongging sawargi. 04 . namber lir kilat sayuta. Brajawati karuna jrit. iku kang mangko gadhang. e-putuku Braja rara. 28 Wong dalem geger gumuruh. susulure ramanipun.Kang murup-murup sing dhuwur.

kaponakane yen metu. yuganira tahunan. tumiling ing awang-awang. saking awang-awang nembah.Ing sacangkoke sudarmi. apa lakinira bae. seja ika nyambera. dening si goronjolane. lan ika sadulur ira. ya Talibarat matur sandika ing karsa nata. banaspati kang manglawe. maring Brajawati wau. ora kajamak lan jalma. Parwatali aja gape. dadak sakala turune. wewetengane si rara. ing ngarsane sang nata. jaga kaponakan nira. kawasa sira murbaa. loro becik jagaa. 08 Dhudhukun ana anambani. 06 Talibarat den abecik. embok ana bala wita. Brajawati dening sejen. pinarcaya sira gupuh. . ana nyempad banget kelang. nyata ika lamon watu. isun pracaya ing sira. ing jero garba punika. sawane atur usada. duk lagi ingucap teka. ana maning duracara. atos kabina-bina. seja denjaragan sirna. ana nyempad nyata jabang. 07 Ya ta lami-lami. 05 Talibarat Parwatali. kadika Ciyungwanara. 09 Ya ta lamining lami. iku padha den kareksa. ana melang lara busung.

maraja Ciyungwanara. angreh Sundha sigar wetan. 13 Mangka dhateng waktuneki. menak pra kuwu sumembah. enggal rawuh prabu sepuh. tanama wani pareke. Brajawati nulya babar. anulak ing bala wita. 14 Nanging ika obah mosik. salinggihe Braja rara. karta buwana ira. den tulak padha kawur. tan ana amaling kecu. galundhung lir gandhik watu. ana ing rat Pasundhan. kalangkung ya ing jagane.10 Ora kaya Purwatali. Talibarat kang anjaga. bales pati konangan. kaumban roro sadulur. rupane ika kadya. ora jamak ing rupane. Parwatali Talibarat. prayayine dudu bocah. sirna bala wita kabeh. 11 Braja rara estu kapti. ana jabang tan jamak. kalihira Talibarat. ora asipat ing jalma. waktu nata Linggaiyang. galang-geleng ing tatampa. geger ing wong dalem pura. 15 . baleger lir gandhik bae. 12 Wus kadi raja pawestri. apa ingsun cacangkoke.

manawi wus nemu luwang. ika wong tuwa manawa. sugih reka pandaya. si Indhang Sakati ika. 17 La coba undangan gelis. wong anak-anak bok apa. ing mangko dadi susulur. iku kang wus ora nana. kipya-kipyahe nyi indhang. nuli kapara mentala. ora guna ora gawe. 16 Kapremen dayane iki. girap-girap sabdanira. jeng Nyai Sukati indhang. kamapmaja kamaptulus. 18 Sigra mangkat angaturi. sang kama-kama dadya. ruruhe marga benere. dohena gungsu minggaha. sudi gawe anak Sundha. la iki nuli kaprimen. dening iku buyut ingwang. iku embok nyai indhang. ambrih dadi manusa. 19 Gulundhung wis apa gandhik. iki jenenge apa. gumaluntung kaya watu. ana urip tanpa rupa. 20 Luluhur ingkang mayungi. . tan kawarna ing lampahe. kang bener aja sarar. ora endhas ora tangan. maring kang mengkono iku. ting-banting aja na wuruk. ora kajamak rupane. pingnangeran ing jawata. aja anerus simpangan. Gunung Sakati watune. akocap sapraptanira.Aningali jabang bayi. ana obah ora swara. ningali jabang lir watu.

ningali kang kaya wau. atos-atos pra semone. nuli sinembur den irag. ambabar punang paesan. ana ing jagat Pasundhan. wusing kadi mangkana. nurut jalma dadi jalma. 22 Sakedhap nuli anjerit. sapurna wus sipat jalma. si kacung munggwaya delap. 24 Den saiki sun arani. sampun kaya manusa. ambridelap agesang. wis kajamak lawan uwong. maring Dewi Brajawati. kalangkung sukanira. Brajawati tumon ing putri. den kakacakaken gupuh. jebol metu kang tangan. kanggo nunute si buyut. nuli kinetab kang pada. PUPUH XVIII . jabang bayi nangis ira. 23 Jebol dadi metu sikil. kuranggeyan nyawuk-nyawuk. jebol katingal endhase. anurut ing kaki buyut. Indhang Sukati ngandika.21 Nuli nyi Indhang Sukati. ing jabang kang kadi tosan. si buyut kang gawe aran. 25 Sadaya suka ing ati. si Linggawesi namane. kinacekaken age. kamrala isi jabang. nuwang prabu Ciyungwanara.

yen tan ana nyai. galang gulung wikan jenenge. boten dados ewong. 02 Ya pacuwan ilok akakaca dhiri. ora kena ngilo dhiri. maring sang dewi reko. saprakawis nuhun. kakaca angilo. embok pulih watu. . iya kacung kon pantang sandenge. tuwin ngilo caremin. panduman salamet benjing. tuwin ngilo banyu. saking kaca timbole dadi. si kacung den eling. krana iku wong. poma-poma nini aja aweh. 04 Pulih watu lebar ingkang jati. asal sing kono anane. poma den angartos. inggih kasuhun ing sihe nyai.MIJIL 01 Indhang Sukati awewekas jati. kang paring kamarin. 05 Tedhakane kacung Linggawesi. mula ja den kakacani. sandenge tumuwuh. 03 Pan mulane pantang ngilo carmin. tangtu ical ruru. dadi braja aris wangsulane. dupi ika saking pun nyai.

07 Kula emutaken tan ing benjing. kang sumeja kula ati-ati. den sampuna angartos. angadeg narpati. miwah ta ing benjing. ginrabeg kabrabon. sinowara gelis. 09 Pan binakta munggah sitinggil. den embang tumuli. ing basa basuki jalma kabeh. 11 . pun kacung aemut. calapitaka lawan suling. kawula menak pra kuwu sakabeh. akaca ing besuk. datan wande kula wanti-wanti. dening sang prabu. 08 Ya tan Indhang Sukati wus pamit. nyuluri kang lampus. pun kacung kapenging. prakara samono.06 Inggih minanten langgeng pakeling. lan kadhingdhang saruni salompret. ing saweweling ing nyai sakabeh. prayayine den baraseni. kantun prabu kolot. iki jabang wus sun istreni. 10 Prabu Ciyungwanara sru angling. Prabu Ciyungwanara langkung sukane. pinajengan agung. la iki dengartos.

13 Nelakaken prayayi sartaning. Parwatali Talibarat. atur sembah ing sandika ugi. ngadeg ratu sing jabang bayi. maring si kacung aji. Parwatali Talibarat mangko. ya pragul menak sakabeh. embok banaspati. kang kalawan angati-ati. ingkang luwih patut. 16 Prabu jabang si Linggawesi. arumaksa maring jabang bayi. ya ta ika karo. 14 Kaponakan aja sira cenger ngarsi. malebet ing kadhatun.Pan sinebut Prabu Linggawesi. pan gurumu samya matur inggih. mung sira sakalih. anulya sang aji. 15 Sapa wruha nyamber jabang bayi. ing Sundha sang katong. kakseni den mangko. kaya mau-mau. kang babasan embok. enggonira jaga ngati-ati. enggal murud sami. 12 Geledhuging gurbaning ukir. ing ketuk anglugur. ora liyan ingkang patut molek. Linggawesi ing mangke ingistren. angandika reka. . den becik atunggu. aja gampangaken salir gawe. la sira sakaro. prabu sepuh mantuk. sarta den sauri.

18 Prabu jabang ya sang Linggawesi. 19 Pan bagane dipun rogohi. sarta lamon ing mangsa ing wengi. Talibarat lan Parwatali. patute wus esir. diwegira mangko. prabu jabang ing salami-lamine. dipun ingok-ingok. maring wadon iku. iya padha den sirik sakabeh. umur tigang tahun jejege. kocap sang katong. 20 Dening ora kaliwat sawiji. 22 . wadon padha turu.17 Mring daleme wus acakapti. 21 Den wiyak kapati den grayangi. darbe manah berag ing pawestri. ingiling den tonton. (?) kalekanipun. dening iki majikan cilik. dadi enggo dodolan duwena. ora dhing-dhing kelir. ingkang manjing tobong. wong jro pura agawok atine. ing tobong den susul. den rengkot den rangkul. sing aistri manjing. yen waktu nyarengi. pareng tangiya iku nuli. ingkang ngaubi maring.

kang wis sarwa gamoling kapti. tan karsa nyangkrami. kang mragaga dedege gedhe. kang ati sumonggon. den pantha-pantha adi warnane.Den arasi den pareng ing istri. langit warna ing para selir. pira-pira puluh. kang cilik kang becik. langkung den gegembyong. 25 Kadya sekara sataman kang asri. kang putra samono. dipun wiwidahi. wis gopek sakrangulu. saoli-olihing cilik. wus pating pancorong. warna-warni katon. suk ing karsanipun. kadya lintang gumelar aneng. ing watara umur. burat ganda arum. 27 Karanane ingkang wus bibit. 24 Den go selir ingkang putra aji. ingkang cilik-cilik. istri cilik iku. parandene prabu Linggawesi. ratu Brajawati age. memetheti ingkang para istri. . iya sida kuwel pareng karasmen. den embani sinureni. sinijang abrit sakabeh. tandhinge pawestri. 23 Ya pinangrengkangi budi teni. kang dhenok kang sempwo. 26 Nelung tahun istri becik-becik. mangkana sang aji.

dadi kaya dudu siwi. malah agung ingkang sami. rasti kang pirang-pirang puluh. kang gamol gandhes acemol. methet ingkang sepuh-sepuh. tumingal maring kang siwi. canggah pitu bungahi ati. 02 Ya pondhodhang dhadhinge masih sepanudu.PUPUH XIX MEGATRUH 01 Indhang Sukati awewekas jati. . jabang pitu abecik. 03 Pirang-pirang selir kang adhenok cangking. bobot ana pitu wadon. kaya adhine puniku. Ciyungwanara ndulu. ya ta ingkang ibu nuli. maring kang gedhe kang uwis. bandhot menthonge ambewok. prabu sepuh angrawuhi. 05 Padha bae gedhene lare pipitu. warnane rampak yen tinon. 04 Teka wayah babar sakapitunipun. teka ing karemenipun. kang wus marga kabecik. kaya adhine kemawon.

Ciyungwanara ling aris. 11 . 07 Lanang kabeh ing sapitunipun.06 Kaya adhine si Lingga iku. dudu kaya kang siwi. 10 Linggawesi ngundanga adhi maring iku. rong prakarane dha rapon. 08 Kang sijine Linggapakuwan jenengipun. lawan sawijine maning. Linggasana naminipun. Linggasri namining wong. ya maring si Linggawesi. iku sawijine maning. si Linggabuwana katon. la iki ya canggah isun. den kaya sadulur medhok. 09 Linggaerang Linggamurti Linggarayu. sakapitune ing benjing. mutrani pipitu reko. maring kapipitu iki. pipitune sun arani. pantes mangko anganaki. ya si Linggawewi iku. karanane sira durung. kon ngudang kakang la iku.

13 Parwatali Talibarat aturipun. turanta anak sajatos. . 12 Aeng temen inglalakon ira iku. kocap sang Linggawesi. menanten uga kadulur. ing para selir kang ngapti. iya sate masih timur. 15 Yen wis linggih ing korsi gadhing rinubung. sandika ing titah aji. lumampah idhin sang katong. lumayan rempeging urip. kang padaha adhunuk-dhunuk. selire abentrok-bentrok. kang cepol angaca piring. ratu ginotama mangko. 14 Prabu Ciyungwanara sampun amurud. bala sadulur kumaritig. bari rampak gumariwis. kang aputih kang akuning. aduwe anak pipitu. ya ikut kang raket ngayun. nalendrane sagegethik. naging pangertose kadi. 16 Ingkang mobyong kang empuk panggarapipun. gumredeg lir anak enthok. angraksa tedhakan aji. kanggo gegerebeg ngunggu. kang nyenyokar melok-melok. ana ta wong masih cilik.Delap ika anak ira kang pipitu.

Kiyan Patih Bandhungkrayo. 22 . 19 Prabu Linggawesi jengger tuwuhipun. karemane ingkang uwis. bangsaning koja guludhung. wadon irengireng manis. padha anjum sila panor. ingkang bobokong anggeyol. 21 Lan tumenggung Sukabeling naminipun. 20 Ya gul menak asribawat samya riyung. 18 Prabu lare Linggawesi masih timur. Prabu Linggawesi mangun. ing Pajajaran muponi. ora nana liyan maning. wus tuwukan sagunging. asale saking Keling. sinaroja ing bupati. wani mati solot-pogot. kabelani pundha iku.17 Lan kang padha anggemeng kombalanipun. sagunge menak pra kuwu. malih kapatiyan nami. bang wetan salir kumilip. andel-andel Pakuaji. angrambaka bokongipun. karsa kang para samono.

sadaya ambedhak sami. . 24 Ngayok alas arame surak gumuruh.Ki Demang Alurkoneng kang pinangka dipun. ting barisat sami lari. ting sariwik nganan ngering. wetan kulon ting careluk. 25 Pan tawura swaraning gutuk puniku. 27 Yen wus tutug abuburu aneng luwung. kang lebda karya ing kono. amandhikudhing jamparing. nuli samya ngundha manuk. lan Ngabehi Tegalbibis. ana amengameng gathik. sing kidul sing elor. 23 Kang tut wuntat ing sang nata ngalor ngidul. abandring cohok. pecat tandha adhir-adhir. ana panggalan agacon. laradan alayu-layu. padha retak anguneni. cala bangir kang pada lok. iyang-iyung kanthi wiri. ana pingkal salih angrok. Menak Podhang Ujungberung. ameng-ameng maring luwung. waneh kang padha nalosob. nuli padha ganti ulin. gurnata garungune bedhil. 26 Alok buron kaburu-buru alaju. paburuhe bangkit-bangkit. angungsen kidang apaul.

gumuruh pating jalerit. tan adangu tumuli. sakabeh pan kena. . kang sadya anyamber pitik. ana wowolu dhustha. Parwatali akali. kagandheng anjok ing bumi. pating kurenyang. ora suwe asukati. ana pingkal silih angrok. sakehe banaspati. kang seja den samberi. tan antara ika. begog anjog langunipun. nuli areyog asrih. ing gagana galak. padha tinangsulan. ageger ing tawang.28 Ora suwe jajangkungan ngalor ngidul. dodolan raraton umyung. 29 Rog-rogan ting bilulung ngalor ngidul. PUPUH XX MIJIL 01 Sedangune suka-sukawan tu bocah. sumyak amobat-mabit. kadi ulung babahak. tan suwe ujungan kang wong. sabagi-bagiha ulin. sapraptanira. pating jalegir ing bumi. banaspati ngarah aji. 03 Talibarat amapang ing awang-awang. 02 Milang-miling kumrab ana ing tawang.

ing ameng-amengan. ambebeda banaspati. rambut maudag. wowolu banaspati. 05 Untunya ngisis baris sakampak-kampak. sarta wong dalem pura. awake kaya buta. rame-rame ingkang sami. nata Pakuwan. amelet anggigila. sang prabu Linggawesi. sikile nungsang ming nginggil. lan kinepokan. asuka-suka. ilate amedal. ing wengi suk awana. de go dodolan pranti. aeng temen sun tingali. dadi ingoningonaning.04 Samya tinonton dening wong sadalem pura. lambe kandel malenthing. 06 Iler yiyid murub la ika padha. raining kamang-mang. 08 Sawengi-wengi tuwin sadina-dina. marakbak kadi geni. sang Prabu Linggawesi. padha cinancangan. dodolan kamang-mang. amawi den suraki. kalangkung sukaning ati. mobyong-mobyong lir geni. mana sabendhe mundelik. 09 . ing witing pakujajar. 07 Ting burangkang aneng witing pakujajar. eluhe wisa.

kokalan ing druhaka. saparti ngingu macan. munggah suka akasmi. den pakakaken belis. mangkana ya ika. den pakan lawan daging. jengandika cang-cang. kapareng lamining lami.Banaspati lamine den ingu delap. lawan Talibarat. pala karta Pajajaran. 11 Sadya nira angrebat ing rewangira. kapanggih sira aglis. kabeh dipun uculi. kang muga-muga. den go ambuwang jalmi. pala karta Pajajaran. 10 Maring iku adat purba Pajajaran. mangkana ya ika. sedheng dipun apunteni. lan Talibarat. 12 Rencang kula wowolu kang dika cang-cang. den go ambuwang jalmi. kang ukum pejah. meraja Banaspati. 14 . suliha tedhak. reh ipun sampun lami. daging buron alas. kang ukum pejah. suliha tedhak. kaparing lamining lami. he madigda Parwatali. 13 Maring iku adat purba Pajajaran. den pakakaken belis. lan ta ana jalmi. meraja Banaspati. endhas kang sira ngusap.

kang babasan aja. kapanggih sira aglis. kemit maring sang aji. lawan sumpah kang candri. den pajahana mangkin. kang muga-muga. . ing duriyat Pakuaji. he madigda Parwatali. duriyat Pajajaran. kabeh dipun uculi. jengandika cang-cang. kokalan ing druhaka.Sadya nira angrebat ing rewangira. tan genah wani-wani. balikan kudu jaga. 15 Rencang kula wowolu kang dika cang-cang. 18 Pasthi iku banaspati iku jaga. turuna Linggawesi. 16 Gih sumangga kabeh padha sarat tobat. 17 Pan sejane banaspati satedhaira. ingkang kadi wingi uning. saksining seja pati. lan Talibarat. rantenen pakarsa ngolahi. kula kang dadya. lawan Talibarat. wani-wani gaweya. ungseden maningala. 19 Tan pracaya sumangga atetep jaga. lan sanadyana. sok nang gunung sok nang pasir. ingkang anak putu aji. dumadak lirwa jangji. Ika kang sinambangan. tedhak Pajajaran. endhas kang sira ngusap. reh ipun sampun lami. kamang-mang jaga. munggah suka akasmi. ing ngendi prana. sedheng dipun apunteni.

nangi kita padha. manecat ilang. Yang Maraja Banaspati. anguripi ing wewering. prajangjinira. den culaken tumuli. banaspati wolu sami. 23 Iku dhateng banaspati wolu sigra. seja apracaya. yen mangkono ya becik. rumaksaa ing jeng gusti. 21 Ya ta sira Parwatali seja marma. 24 Pramilane Pajajaran akeh kamang-mang. banaspati padha. nembah dhateng sang nata. gubug sawahan. Talibarat pon ugi. dingge punapa. cat katong dening jalmi. yen mangke cidraa. 25 . kula dhewek kang tandang. kang kakayon ana hing. suwawona ing tetelar. 22 Parwatali Talibarat ing sabdanira. mejahi babu pribadi. pranjangji lawan sumpah. maring raja endhas bang. amintal usul ing abdi.20 Kula boten lajeng nanggel kang acidra. nguwel-tuwel kadi geni. ngaturaken ingkang abdi. kang pangawula. kang wolu banaspati.

jar bangsa siluman. angleledhek wong ngarit. malayua genudhang. mangkana kang adat. kamang-mang padha angiring. PUPUH XXI LADRANG 01 Sadangune suka-sukawan tu bocah. ing lampah. 04 . ing wengi kang peteng nuli. 03 Mobyor-mobyor kaya obor atut margi. 02 Pramilane Praburara Linggawesi. 26 Kamang-mang tinangkeb lawan keranjang. amung samemedeni. satedhake sang ratu ing Pajajaran. ing wuri tat Linggawesi. gelethak dadi lupi. duga pegel kang lumari. satedhake dadya pangregep kewala. mogok kang den baleding. yawis tobat. gone gigila. tan amikara. ya kamang-mang pinangka damar ing lampah. nanging kamang-mang cawiri. yen kekesahan. napase kesotan.Ana meled-meled aneng gubug-gubug padha.

Pajajaran duk jamaning. . Linggaerong Linggamurti. 07 Linggapakuwan tanopen Linggasari Linggasana. 05 Yen tawiri kamang-mang awake paksi wus marena. iya iku amengku purbanagara. ingkang putra. rantab-rantab sakabeh namane lingga. awake manungsang menginggil. sabagi-bagi. 09 Kang pinangka bala ratune Linggawesi jenggerjagat. sakabeh sinebut nami.Ya angraksa ing sabandu kulawargi Pajajaran. kawarnaa Prabu Linggawesi nata. pipitu kadi wargi. ya kamang-mang iku endhas kewala. 06 Wus prajaka yuswa umur salawe warsi. Linggarahayu kalawan Linggabuwana. kang kaprabon pipitu ing Pajajaran. 08 Kapitune wus alinggih bupati namanira.

10

Iya iku sang prabu Yang Linggawesi Linggatosan, babalik remen ing alit, maring wadon marucupe lagya.

11

Ingkang durung susune kumaringkil, wadon ingkang, masih rata kang pepenthil, kadya kaya susuning bocah lanang.

12

Wau pupak ya iku kang karemani dadya ika, kang ibu amemetheti, wadon cilik wus angsal kang kawandasa.

13

Gumariwis pan kaya bebek memeri agiringan, sagendhongan kumraritig, denpahesi sandhangan kang adi pelag.

14

Dadya susah ingkang ibu Brajawati, genya dhana, anuku-nuku atining, bocah wadon sangkane gelem dewasa.

25

Mungguh sire iku Prabu Linggawesi maring bocah, kang tembe pupak sawiji, kumokod pisan ing bocah perawan pelag.

26

Ya sang prabu dadi ora duwe selir, maring bocah, kang wus lungse sathithik, ora esir maring bocah kang wus tarab.

27

Kang wus reseb padha miretan kawangking kaparek kang, lare ingkang durung gething, iya iku kang kinarsakaken nata.

28

Ya sang prabu Linggawesi lir lare alit yen dodolan, yen mangsaning udan nuli, ya selire padha katimbalan wuwuda.

29

Aing latar anuli dipun suraki, lawan dinar, ya ta sakathaning selir, kang wuwuda rebut dhingin ruru dinar.

PUPUH XXII

01

Kang sinebut namaning kang raja sunu, Prabu Linggawayang, sinungan kabopatene, Bantalwaru ika ing cacangkok ira.

02

Ya mangkana Prabu Linggawesi mundhut, putrine wiliyang, Dewi Cibongas namane, gih punika nembe umur dasa warsa.

03

Sacareme ing kana kinarsa jatu nata Pajajaran pinangka bini ajine, malah iku sampun miyosaken putra.

04

Lanang ingkang sinebut ing naminipun, Prabu Linggarasa, sinungan ing kabopatenen, Karangsambung Purakadhongdhong Malangya.

05

Nulya Prabu Linggawesi sira mundhut putri Barisbulan, Dewi Rasati namane, iya nembe kang umur sadasa warsa.

06

Sinaptanan sampun pinrih jatu, ing dhatu Pakuwan, pinangka iku sang katong, careming sang sampun miyosaken putra.

07

Lanang ingkang sinebut saparab ipun, ing raja kaputran, Prabu Linggaening reko, pan sinukan kabopaten Sokalaya.

08

Lami-lami Prabu Linggawesi mundhut krama putri nira, Sunan Gunung Puntanggedhe, ingkang nata Dewi Rara Lisniutama.

09

Pon ya tunggal anembe yuswa sapuluh tahun wis pinuja, prameswari aneng kono, pan amurba para garwa ing Pakuwan.

10

Intening wadon ing pura Pakuwan agung, iku prameswara, Rara Lisni ing jenenge, ketang garwa waruju nanging kang dadya.

11

La yen mangking gamparan ika sang prabu, nyarengi kang garwa, lari gulingan ya age, ing karsane inguculan kang gamparan.

12

Arumaksa bilih kagete sang jatu, garwa kinasihan, kakasihing segedhene, damak-dimik lumampahe ta sang nata.

13

Genya tumpek ponjan asigarwanipun tansah pala-pala, mila sang prameswarine, ya wus bobot ananging ora kajamak.

14

Atahunan anggene ameteng iku, ora baba-babar, wus pirang-pirang lawase, kang dhudhukun anggrarayang sing dhi ora.

15

Kang sawane angarani rara busung, kawelehe ika, dening tan ana rasane, dupi busung akundhangan rasa lara.

16

Dupi iku ya kaya wong meteng iku, sejene mung lawas, ora na bebeleyane, kang sawane ambadhek lamon kawaya.

17

Kawelehe dening katilap ing ngujum, tan katara pucat, ora rumab ora nonjok, panyanane masih gumilang padhang.

18

Kang sawane lamon ika malembung, kanginan ika, kawelehe ika deneng, ora katon urat kang pating karenyang.

19

Dupi tingal ajar lawan wiwiku, den iya sanyata, mateng sang dewi samangke, isi jabang supaya tan karsa medal.

20

Ya sang Prabu Linggawesi ing tanyanipun, la prepun baya, paman ajar tarekange, dra pon medal si jabang duk kaya saban.

21

Para ajar sabane boten pikantuk, yen mange medala, kadesak wedale dhewek, boten kenging den paksa-paksa medala.

22

Ya sang Prabu Linggawesi pan dhedhesipun, iya kena apa, paman ajar satemene, weharena aja sabda kang den garba.

23

nang latar lan prameswara. mangsa boten ing gelar ing waskithaa. boten kilap ing sang katong. gih boten gadug. wus katingal sadayaning. PUPUH XXIII SINOM 01 Tan anatara sang nata. ana wang-wang lalangenan karta yasa. paninisan angemba ing. kalangenan den ideri. paman ajar dika. sarupane parekan agung. aja gamam ing awale.Para ajar para wiku sabdanipun. giyak-giyak wong jro puri. ngadhem-adhem ing pantara. 24 Ya sang Prabu Linggawesi dhedhes gapuh. tarengkep ana ing. 03 . 02 Ingkang abanjar wangunan. ye punika jabang. 25 Para ajar awale babar pamuwus. pan kalilan ing nata acangkraman. awit rebah watangiku. samya suka ati. babarane ing suka atawa dhuka. kudu dang nata rumiyin ingkang asirna. ingkang ngadi ing ngadhenan. ing mangke tulus wewedhe. andherek ing sang aji. ing adining puri.

punika kawanti-wanti. timbalane ibu nata. dupi iku kapiyarsi. banget melang ing ila-ila ing kuna. susulan maning la ika. ingkang ibu raja dewi. wong den penging andalarung. duduwa dining gumuyu. gampang mengko wus miwat. gampil manghkin lekas malih. gumuruh kang suka-suka. wong dhodholan reren kudu. sendhekala sukati. sapunika timbalaning. kepyar-kepyur taragdagan. dangu wonten taman sari. ing paduka gusti jandika katuuran. 07 Ingkang aran sendhekala. puniki pan sendhekala. sendhekala ngalas maning. jandika katuran mantuk. 06 Mengko isun mulih ngomah. kumepyar rasaning ati. ibu dalem ratna wau. sendhekala boten suka meng amengan. nembah matur ing gusti. boten sakeca ing manah. . Prabu Linggawesi wau sabdanira. 04 Isun iki enak. ya mengko sadela maning. kepyar rasaning ati. ora ngrungu pamarahing. age mantuk dalem puri. emban amintara aglis. ya kon manjing dhingin maring padaleman. 05 Dening ibu dalem ratna. katuran mantuk ing puri. tuturen den ujar mami.Brajawati apotusan. ing anak isun nata. tan kena barang sukati. ya ta caraka wus kebat. melang dhirine kang siwi. mung siku adating apa. prapta nembah nuhun gusti. la sendekala iki.

ora suwe ika hiji. umpetan kang maring ngendi. wis neng kene bae iku. meteng tan jamak lan jalmi. ya ta sang prabu wus uning. .08 Gampil mangke yen kalintang. kalangkung dhegel ing ati. kenang samber mata prabu. pating salindhut singidan. dhateng panggenan putra. ya mange gak arep mulih. 12 Mung ta padha asingidan. maring ngendi Linggatosan. ora na abacut mewit. saking wanci pacek desi. kang baribin padha mampus. 10 Sirep ora ana kang swara. anjog sajanira nusul. masih kadi bocah alas wuwu cawak-wak. sira jacraweya ing mami. kang ibu kelangan lari. aja lok sawaya laku. datan babar nuli lelewane pisan. kudu duwe pamali. Prabu Lingawesi nabda. dening lelewaning siwi. rabine kapadhan maning. ngandika mung ta iki. gumuruha warna-warni. aja balik marana. abane antong wirasa. sawusing kadi kamangkin. yen kang ibu rawuh pan samya umpetan. ya ta Dewi Brajawati. ila-ila bari iki. 09 Ganti mara asu aba. dheweke lagi garbana. 11 Sandhekala wong kang kuna. buduk namber mataneki. mapan si dhewekw ika. nata anjrit agiro tur gedebugan. ya si Rara Lisni baranyak tandhungwaya. wong meteng ya kudu wedi. ing mamala sendhekala. dhigal temen atiningwang.

katharak-thaak ing tingkah. pan dika jiwit kewala. ya dadi milu anganis. ora kalawan pamili. 02 Pan dadining sakatemu. Rara Lisni aningali. tan wande kalilip kenging. ingkang raka mukaneki. padha nangis sambetipun. adan wong jro puri. 04 . ora wurung katingalan. iku kang dadi kalilip. tiningalaken enggal. pan kadya tambuh ingkang manah. amundhut kacatu mulih. ing jro kaca kaeksi. Rara Lisni ical arti.13 Anjeli-jeli karuna. gusti kita kenang apa. 03 Raka dika tingali iku. PUPUH XXIV KINANTHI 01 Prameswari nira gupuh. kang raka kadi mangkana. kami ruru seneng ing ati. duk tumingal ingkang raka.

ya wus katalaya dadi. pan mangkana tan kemutan. katingalan sarira neki.Saestu kang garwa iku. ya den penging akakaca. laku lalis tan ping kalih. mapan reke sami neki. mangsanaa kudhup maning. dipun tamengaken aglis. Linggawesi aninggali. welinge ingdhang Sakati. yen sang nata boya uning. amundhut carmin punika. udan kang wus timbang siti. 06 Ora kaya dening iku. kadalang suhing ngungkara. wong wis dadi padha pisan. ing pantangane sang aji. iku dadi wesi malih. prapta ing kana lalawad. 16 Ora ana gunane iku. nuli balik ing ngawiyat. 07 Sareng ngilo kaca wau. kembang kang wis megar ika. pantangan lamon kakaca. kaledhug ingkang sawara. kang garwa mintoken carmin. teka tan kemutan iki. . guragapaning asakit. wis karsaning Yangandum titi. ing lemah baleger gandhik. angandika mituturi. mangsa ababalik maning. ing sarira kang nata. 17 Mapan mangsanaa iku. adan geblang ya sang nata. tan kemutan apa-apa. pramilane gelis ambil. 05 Marang wadana sang prabu. ya wis padha ing pasrah sira.

kangmarapit anjalana. ing margi andher awilis. kurnapane ingkang rama. saking garba wewetengan. PUPUH XXIV . ing pasentran candha warsi. tanpa pegatan lampahnya. 22 Lampahnya selur adulur. wus gumelar pangladhenging. pama ing pacendheneki. pra sami gelar ngasreni. ingkang arep cilaka. balikan padha rerepa. 21 Kang layon wau sang prabu. datan mangkat saking puri. pan sasilir ing angin.18 Lalu marag kembang iku. pajeng asri payung kembar. Rara Lisni tahunan iki. 19 Ing pasisir kidul iku. sangkan-sangkan bae kudu anemahi. baris kang sabagi-bagi. mangke gadhang timbul mijil. ya ta opyak para putra. 20 Samapta krajaan sampun. Linggawesi sampurna kena. payung agung dhedhet kehing. kang padha sengkel ing ati. saking kathah upacara. pucuk praptangpa candhening. kang sampun sirna alalis.

wewetengan titinggalan. 03 Kang minglintang kang mingsurya sasi. kudu bae amaspisani. tan mindhoni lincakane. yen dangdani ingkang aran sirna. kang tan uning. ya mangkana anak mantu. kudu bae nemu eleng. pan kewala salin nagara den panggih. ing kalpantanganing anak. iya Rara iku. mung sapisan sapisan kewala. amung kari entenana. ing lalis tan kena wande. lincakan aneng buwana. sakabeh iku tunggal. temah nrajang pantangan. 04 Ora mantra den abalik maning. 02 Den wis nrajang pantangan tan keni. ingkang ambes ngayangan dhasaring bumi.01 Ora ana bedane ing jalmi. datan kena pindho laku. pan sarupa lakuning pati. anang gunung ing jro garba. ananging den wis pindah. dudu mati dudu pejah. kang sumurub ing jro garba. ing jro wetenging watu. maring anak mantu. ora opyak sawara. Brajawati wuwuse angemu tangis. ing pati lawan merad. nyai Brajawati kang silib. mulane laku iku. dudu iku lampus. tunggaleku nipun. pramila kudu emut. ingkang mingsa dhasaring toya. kang arep bagja sing sangkan-sangkan. nya mungga tulungga. wus den becik wuwusen nini. anang gunung ing wetenge. 05 .

atawa mangurungan. nunten kaparipun. ingkang warna kalawan dasa nedha. wong jro pura kinen sadhiyaa. iku sadiya kena. ☻ 08 Ya ta Brajawati wus nimbali. lan kembang campaka pethak. Rara Lisni ingkang rosa. supayane tiyasa amedal. Indhang Sakati sahure. den barikut sabadhan. ambok kontal kenang thathit. wastra putih ingkang abecik. ipun Indhang Sakati. suri kacinipun. Parwatali lawan Talibarat padha gujengana iku. isun pejah dodolan ngundhang kang gaib. windon takeran warsa. sampun takeran tahun. nyi Indhang kukudhung. . 07 Lan anjaluk kembang kang wangi. susah temen yen boten si nyai. anjumbul-jumbul kaget tur sarwi nabda he sakoro kacung. ya ta wus pepek sakabeh. ingkang andaya-daya. kira-kira sakalapa. maring kang meteng lawas. 06 Inggih kula boten kilap nini. sadangune muja rara den adhepi. putih sarta ngukup menyan. PUPUH XXVI PANGKUR – 01 – La ya Nyi Indhang garjita. maragsag ing ayunan. boreh wangi lan lenga. ya aganti tanpa anten-anten dugi.Wewetangan dra pon gelis lahir. karang melok aja na kari. punapa adat kang prantos. pola kula ngajab-ajab. go sasajene kang gaib. isun jaluk kukudhung. ya ing pasar kono iku. jawada ing sawarnane. ing sasangen pamundhut. lan ukupana kang agung. den kajamak kalayan manusa.

– 06 – Ya ta Prabu Ciyungwanara . talerep kilat lan thathit. Parwatali pansamya anggemeli. – 03 – Gebyar-gebyar ora mendha. wus kadadiyan titiga. dangu-dangunipun nuju maring Rara Lisni adan. ting sariwik nganan-ngering. pusere ingkang tigas. dupi Nyi Brajarara. kang kina daluraning karsa. . dadi gela nyawang ing paparab ipun. warnane suteja peglag. kapat maring jabang bayi. mapan kilat mancaroba nganan-ngering. ingkang marga lantaran. ingkang tulung Ingdhang Sakati ing mau. dangu-dangu nuli medal gelapipun. kang canggah wus babar metu. babar pisan wedale jabang jalu. cirak-cirak kalangkang suka ningali. astane sang rara iku. kakacae ika dadi. maring ngarep maring pungkur. mingsor maring ngawiyat. amiyosaken babayi. tan dangu kilat agemnya. – 04 – Maring ngarep maring wuntat. anggepeli rambute sing uluhipun. – 05 – Gelap nyenggrang namanira. maring dhuwur mingisor anjejeg bumi.– 02 – Ya ta Talibarat. gelap ingkang mancaroba. gelap sangyang wastanipun. ari[ari ika sampun dumadi.

Ciyungwanara kang junjung. padha nakseni ingkang lilinggih ratu. Pajajaran kaya mau. rancakowek warni manuk. mrana-mrena atut wuntat. – 12 – . – 10 – Mila ika kang wong sanak. Ciyungwanara si jabang dipun imponi. amuji juragan aji. tatas maring Cipamali kang kawengku. anjaga dhiri sang aji. – 08 – Aketuge sasahuran. tanopen wetan lor kidul. Prabu Ciyungwanara saking ngukir. pan sinebut Prabu Wastu parabipun. ya ta samulur raja. kang aran Gunung Krendha. ing Pakuwan ra timbul ingkang sasulur. Pajajaran suka ngapti. wetan kulon padha aganti uni. Prabu Wastu jabang bayi. – 09 – Tatapi ing karsanira. ana ing rat Pajajaran. kasanson ing kulawarga. – 11 – Prabu lare wus anyakra. dening Prabu Wastu purba wisesa Sundha negari. linggih ratu dening sang prabu yoni. kalenggahaning canggah. akeh padha rena. awit Cilutung ngetan.– 07 – Sang jabang ika kaangkat. kang pinangka pamong-monga Prabu Wastu. piyambak ing Prabu Sepuh. sawaraning Yang jagat. menak pra kuwi sigar sawetaning.

sinaroja gul menak kang Bopati. mulane dadi papatih. Pakuaji saking Cigasong punjul. ngemiti pagusten aji. ingkang jaga-jaga nagara. kang seghenge angampingi.Papatihe kang anama. kawuwuhan sadulur kang ngampingi. – 17 – . miwah eyang Talibarat. lan Ngabehi Sokapulang iya iku. patih Burung kandha nyatane paksi. – 14 – Tan Ki Demang Bantarpanjang. Tumenggunge kang sinebut. agawe enaking padu. – 16 – Ing turunan Pajajaran. Parwatali angahu biwaya ipun. kang padha raksa rumaksa. gelap Sangyang Talag. masih pinter kepati burung wiring. langkung bisa amutus kang prakawis. gelap senggreng kalangkeng pandengel wijung. apa adating sang ratu. pinayungan para eyang. Tumenggung Natakriya. kang juru pamong-mong wau. bisa nginger pagaweyan. ing salinggih ing narpati. – 15 – Wus tan ana kakurangan. bisane anginger bala. – 13 – Tanggung-tanggung kang manusa. kang dadi anjugalani. angrampungi pradata. gelap nyawang Karangsembung.

kaligane gumurubyuk. Parwatali Talibarat. tan kena sathithik sigug. – 19 – Gelap sangyang sing jro toya. inkang kena padha upataning ratu. nuli ngedhang para buyut. tan kena den idek iku. ing pantange Pajajaran dadak nuli. ora kena jaladhak ingkang wani. ngungkuli bawa dewaji. gelap senggreng garantang tanpa thathit. – 18 – Sing asing aneranga. ya mulane den arani ingkang nebut. dadi lumpuh dadi gering. gumalendhang dharangdhangan. lan gelap nyawang nambungi. ya polahe Talibarat anempuh. mauk miber angambara.Kocap praja Pajajaran. sinata ing dhewaji. tanpa sangkan mobat-mabit awor lisus. ila-ila kang pamuli. . wawayangane nalendra. pramilane Pakuwan wanter pangaruh. saanak putu nira. Parwatali ngabar-abar. aki buyut Banyakgarantang. sing angidek Suramangkrak. – 20 – Iku dadi patengeran. – 22 – Ngayeg-ayeg kena tulah. supatane dadi tumpur. turunan ratu anget sakalir titi. iya iku martabat. udan angin gelap tempuk. Prabu Wastu Pajajaran mandi. sing angidek dadi pincang dadi buntung. anak putu ingkang anyerang papali. Prabu Wastu Ginotama. – 21 – Tangtu tiba kaju lina. maring sobawanira. giyuwan peteng lir wengi. anuli ana gelap.

saking anaking bramana. – 03 – Wedi asihing majikan. warnaning kaendahan. anglegakaken manah. laminipun ora amiyosi putra. dening datan miyos siwi. sedhengane olih rabi. kaya garwa sang nata ing Pajajaran. jeng prameswari sakara. Susuk lampung ingkang nami. tatamba ing ngenda-ngendi. anak maning yen iyaa. punika kang prameswara. kalangkung warnane ayu.PUPUH XXVII SINOM – 01 – Prabu wastu Pajajaran. tan ana ingkang mantari. daropan anganaki. sabab kaliwating aking. patutuganipun arum. – 02 – Kalangkung ing kinasihan. – 04 – Suwane Sri Naradhipa. ing sadaleming purati. ora na sawalang kapti. cirinipun den ingkedhi. parekan kang ageng alit. sapolahe amantesi. parandene datan metu. ora ilok kathik. Ni Ratna Sekarati. anak-anak ing sasami. linulutan ing sakula. dening warnane abecik. aresep saumur ipun. pranakane Sang Dewi Sarkara ika. gedhe cilik sadaya aturun marma. ya dadi ora bisa. – 05 – .

angiwat putraning aji. saking pulo Tulangbawang. ana ing Pajajaran. iya iku dadi purwakaning perang.Pirang-pirang tukang tamba. bebet manak istri saking. koncara lamon ika. weleh tan ana dadi. marmanipun dumadi. ing marmane besuk karuru larinya. angused larining ilang. – 09 – Ing besuk panusul ira. saking sabrang saking Jawi. putrane Buyut Satohan. – 06 – Tan karinget tan kalalar. pun sampun wau akatur. dhateng sang prabu nata. lawas-lawas katiliktik. ora reseb ora mimis. ora idu ora yiyid. amung ing Sundha negari. salamine pon boya miyosi putra. Tulangbawang maring Jawi. . mundhak akingipun gempung. ora wadi ora mani. pranakane ya Sang Dewi. estuning bresih sarira. – 07 – Ngalap garwa wadon ingkang. ingkang papati garudha. lan amijil putranipun. wau kang binakta dening. Prabu Wastukalintang. nama Encecalingcing. pinuju panenggek kang asri. kang seja naglelesena. ora umbel ora duwe sulu mata. sampun kagarwa puniku. ing Pakuwan sampun tampi. kalangkung dermaneki. – 08 – Kocap Ptih burungkrendha. tan ana roro tetelu. wus boya anganaki. garwo malih garwo malih pon tan putra. anenggeh maring Jawi.

– 10 – Dupi samangke kalingan. kanggo babakti ing ratu. – 13 – Sariandilep kang nama. durung gemet angilari. pameswari iku wadon saking kubang. wadon saking Luwiliyang kang anama. karya laku ngiwat-iwat. kale wadon duwe laki. marmane ika wanodya. ya iku pan gabug maning. kang nanggoi pati urip. kasawung ing pegat turun. tan ana medal siwi. nuli malih gagarwa. kang dudu waris ing aji. pon kagarwa tan mijil. garwa tetelu tan sunu. atuwin ana anelang. . nuli sang nata garwa. pan mangkana pinet garwa. Pajajran iya iku. kang minangka maha dewi. Ence Galingcing dumadi. – 14 – Marga peteng kang anyelang. – 12 – Wang ing sakala samana. rati ing Pajajaran. malih kang pinangka dadi. Prabu Wastu ing Pakuwan. garwa aji ing puri. putraning Buyut Gunggirik. apindah-pindah turuning. ngiseni ika kewan. kangkat wani angambil. kyan Patih Burungkrendha. nuli ana arti nisip. ora nana una uni. gawe ora arju mungguhing dewa. putrane gabug maning. satemene susupan ing bramana mangko gadhang kacatur. ya wis ngijir gadhang kaselang susupan. sewakane dheweke kanggep ngawula. – 11 – Tiya cicirine ta sira ki Patih Burung ya dening.

selir kawandasa sisi. salamine ngratoni. tumulung darbeya siwi. winangking sadaya nira. wis windon takeran tahun. sing ngarsane Sri Bupati. panendhi ratu Pakuwan. iya dadi gabug maning. garwa lima kapadhan. Prabu Wastu pan andulur ing garwa. rama ajar Sususklampung. langkung sadarga dening tan kagungan putra. – 17 – Wondening arjaning pura. ing dos wiji-sawiji. ngajah padha mathem wijil gembyung. ora nana kaya iki. ambabar danawa wangi. agabug sadayaning. gabuge tan ana mijil. dadya pamitan sing kana. rinebak-tebak asuwung. – 18 – Lalu buwang-buwang raga.– 15 – Putrane ki Cupangcapra. tan ana gumentasa. lami-lami kang garwa prameswari Sarkarati. garwa sakali manipun. ora anggandol sami. ing aputra gawoke wong Pajajaran. mikiri punthes ing aji. ora na kang mijili. nami Nyi Carananggolis. Prabu Wastu mulat bisa. tan nana medali siwi. PUPUH XXVIII KINANTHI – 01 – . – 16 – Prabu Wastu nuli ngalap.

sakabeh tan amutrani. entare saking Pakuwan. angrasa dadging sagelih. panuhun reka pandaya. ora na kang miyatani. sok aja Calingcing ratna. ing lilani prameswari.Dadining sang Prabu wastu. dra pon dheweke si siwi. – 02 – Asal Tualangbawang wau. kang dadi rasaning ati. – 03 – Gabug-gabug pan kapuhung. budine si bapa iki. – 06 – Ki Bramana wuwusipun. toli kapremen tala. ya toli kapremen si toli akale si bapa. lan ana ketang katolih. sebab wis ora na maning. bubar kabeh para rabi. mung garwa aji Calingcing. sang nata pijer kakenan. ing dhesthi ratna Calingcing. estu kangge ing akrama. pepedhang sadina-dina. – 04 – Amung kang den tunggu pupuk. medheke maring kang rama. bramana Susuk pinundhi. kocap nyi Sarkarati. sakathah ing para garwa. garwa ingkang kinasihan. . rimbitan sawengiwengi. iya nyi Rara Calingcing. kang dipun abet ing ati. – 05 – Sigegen kang dhesthi lulut. anggepe sang nata endra.

– 08 – Kang luwih punjul sing isun. awak kula langkung isin. ora na kang miyatani. ora kaya tan tumama. – 10 – Kula boten ajeng mantuk. kalowos tan angsal kardi. kang usada warni-warni. Bramana Sususk mangsuli. yen boten badhe pikangsal. sumangga jeng rama amanah. – 12 – . babu nini ya ta iya. sumangga den pejahana. jaluk mati sapuniki. pandaya misunwis cekap. mider kenges sun salaksak. dening jeng rama ing ngriki.– 07 – Kajapa ingkang panedhu. supondaya amaringi. – 11 – Nunten kula mantukipun. kasuhur ngilari jampi. rama kula jaluk mati. – 09 – Ratna sarkarati muwus. ing sabisa-bisaningwang. cupet cempole ing budi. dhateng maru-maru kula. angupaya apa maning. yen boten medal putra. dateng Pajajaran malih. toli kapremen maning. si bapa pon milu isin.

ing Pajajaran wus isi. tegane wis sangu keris. sira gelisa pepecil. – 14 – Basane jalukan isun. sasambate prameswari. – 13 – Ratna Sarkara agupuh. ki Bramana Sususk enggal keris den candak tumuli. bramana wus dadi api. – 16 – Dhateng guwagarbanipun. benjang ing sawuri mami. malembung wadharan ira.Ora kaya yen isun. dhukun anyata bocah. wus dadi apu dahana. – 15 – Ya ta bramana awangun. dimane ikang nyurupi. yen rumihin sacombana. adan enggal linebonan. anjeblung punang wadharan. sarta aduwea anak. sira salameta urip. kaya pasakarep ira. lawan Prabu wastu nuli. dupi katingalan dening. babu nini aja sira. . toli kapremen iya. Sarkara dadi garbini. ingkang mati labuh geni. tumangan geni wus dadi. berage nyi Sarkarati. – 17 – Adan gupuh enggal mantuk. ambri dadalaning ngoli. bebeg dheng wis sumpel ati. dupi ginarayangaken dening. arahe suduk sarira.

dhukun sakti mandraguna. ruru lanang liyan maning. samono Dewi Sarkara. Prabu Wastu angandika. nyata iku olihira. kang garwa den tudhung wani. puniki ingkang yumana. – 22 – Ya ta ika Prabu Wastu. maras bok angliwati. sedheng tandang karsa nyingkir. – 19 – Kang grayang inggih estu. sangang wulan duk sarasmi.– 18 – Kula kesah ruru dhukun. dugi kula meteng mangkin. inggih isi jabang bayi. – 21 – Prameswari agegetun. salamine ketar-ketir. – 20 – Tya estu anak isun. tan karsa angaken putra. subagjane estu yakti. – 23 – . mangko yen manjing itungan. bekeng temah iya liwat. nanging yen angliwat saking sangang wulan duking bendra. inggih laksana pakolih. kalangkung sengit kapati. iya dudu anak mami. ing sasiye bebeleyan. dugi maring rolas sasi. ucaping dhukun pawestri.

aranana Sususktunggal. – 24 – Sangsaya ing pulo Lampung. masa kakena ing manah. angraksa jabang narpati. dadya tilar Pajajaran. kapanggih lawan kang rama. yen tuwaa besuk bagja. anandhang lara katimpal. Dewi Sarkara buwana. Gelapnyawang gelapsangyang. ya ta ika pancalima. angreha Sundha negari. ming pancalima Pakuwan. gelapnyenggreng kinen sami. kang gondhol si jabang bayi. Talibarat Parwatali. – 26 – Nulak sagung bala ripu. .Kesahipun saking riku. si jabang sira sun puja. – 25 – Jaga aneng pulo Lampung. mantuk maring lampung karsa. cacaloning wong abecik. jabang bayi wareng mami. adhuh gudhi anak mami. Prabu Sepuh liwat luwi. muktine tinemu kari. – 27 – Saryakaruna lingipun. bramana Lampung nuturi. ing Lampung rahayu urip. samya ing Lampung ngabuhi. Ciyungwanara nimbali. ing kana nuli angimpi. ningali warengka sesi. dening ingkang nyambat asih. – 28 – Aranana jabang iku. kang jabang kinempit ingindhit.

ing pasisir kidul ika. Susuktunggal kang nami. pinayungan pancalima. ana ing lautan kidul. but buri amayungan. yan mini moyang gaib. jabang lunta ingaranana. kabeh padha rumaksa. ombak-umbul ing sagara. sagenahe Jaka Susuk. emut wawangkiding ngimpi. – 02 – Wus awor lawan dhedhemit. wis tan karungu wartane. tan pati guling dhahar. maring sang Susuktunggal. karemane angalenthung. – 03 – Talibarat Parwatali. jejeging sadasa warsa. – 04 – . satingkah polah limunan. alusma barang laksana. adhemiwit arti budine. nanging ika pancalima. PUPUH XXIX ASMARADANA – 01 – Duk kang yuswane sang jati. Gelapnyawang Gelapsangyang. Gelapsenggreng salabehe.– 29 – Wusing mangkana awungu. pancalima momong lampah.

andel-andele sang nata. – 05 – Putrine ingkang anami. padha doyan manusa. dening patih Burungkrendha. – 09 – Patih Burungkrendha aglis. . amurba amisesa. Kaka Ramana jenenge. Ratna Calingcing ing kuna. – 06 – Sigegen kang amor dhemit. wus bancik ing Pajajaran. pinanggihaken kaliyan.Ing karang kang sigreng sungil. muwah deniwat dhingine. kocap kang aneng Pakuwan. genya angrok bandawasa. sampun campa kramane. genya anyakra buwana. ing kana den gawe mantu. ing jagad alimunan. seja mangko denrebat. panusuling Tulangbawang. sabrang dadi adat buta. bala ayun-ayunan. denira para jawata. maring kang Sususktunggal. ana ing tenjolayaran. tumuli ana esihe. sang putri seja denjuput. nyi Gedheng Rarasiluman. karemene kumarasan. nyi Rara Mutiyalarang. – 08 – Seja angrebat sang putri. ya ta dadya ingkang perang. amampak maring payudan. wus pinten ing laminipun. belung kapal bulanipun. kangiwat seja denrusak. sang putri seja mangko denrebat. denuri-uri den ruru. angintaraken balane. – 07 – Datan antara ing lami. Prabu Wastu sajengkare. Burungkrendha patihipun.

pareng katingal pejahe. nyoker musuh padha bubar. den thothol jajantungipun. kang nama Betyawelara. pating burisat lumayu. jejeg-jinejeg apalu. pinalu balang-binalang. – 15 – . kabareg dening buta.– 10 – Long-linongan akeh mati. – 12 – Adan lakining Calingcing. kundur kapereg lagane. ing gelar angudi lawan. kapereg ing bala buta. – 11 – Patih Burungkrendha mijil. kuwel amagelutan. adan mara sepuhipun. kadya ta bala wanara. ingamuk ing patih ika. tarung nuli ana ingkang. mapagaken pangamuke. genya ajojo brawasa. ki Patih Burungkrendha. kan nana kakarawan. – 14 – Betyawelara wus mati. kadya garudha meta. nalampek naladhung nucuk. ngajejar kang angga murca. asore Betyawelara. pirang-pirang dina gone. Patih Krendha wus den jragang. Betyawelara denira. adan bala Pajajaran. bala sabrang kondur kabeh. katarik ming jaba pejah. – 13 – Angentongaken tanagi.

puruge wareng sang Susuk.Andik muntab ambeledig. kaget sang nata wendra. ngili ngidul miruda. muluk mesat dan tibane. anitah ing pancalima. munggwaika pinanggiha. dadi padha cama kabeh. den idek jalune iku. – 20 – Yen pinanggih Sususktunggal. Patih Burung wus anglenggak. Talibarat ora nana. . lan sakehe kabuyutan. sagarwa sakulawarga. dipun jambak jambule. den balangaken alepas. – 16 – Kang endhas sigra tumuli. mamane Ciyungwanara. – 17 – Ciyungwanara angarti. pancalima sadhapure. kataring ing rawana. – 19 – Ing praja akeh kang wani. ningali endhasing Burung. padha asirna guriyang. den kapepes ing ngalaga. baledug ing ngarsa nata. apaladara susupan. milane analasak. maring ki Patih punika. kangtu tinemu sadaya. ngayunan Ciyungwanara. wareng nata ingkang nama. Parwatali muwah ingkang. adan pratignya wiyange. ngingisik sagara kidul. – 18 – Sarya sira anglalari. esmu rada kaduhung. Gelapsangyang iya tunggal. Susuktunggal re sajege. Gelapnyawang Gelapsenggreng. Patih Krendha gulu pegat.

jagat buwana kadulu. lawan ingkang sada lanang. kocap ika sang katong. Prabu Wastu sagarwa. – 26 – . cocoratan atawa pongpa. tan kawarna kang susupan. sigra andarung lampahe. prajurit pakuwan saseg. ing pinggir Sangyang Talaga. dinamai Cahierang. binakta dhateng kang raka. kadhesk den ira jemur. den kepung wakul kodagan. kadhesek ing prawira. camedhar lan tahi jalma. – 23 – Siniratan uyuh anjing. najis kangginawe punglu. anyangking sada lanang. bubar lorode mengetan. kang sejen sing jagat dharat. mrepegi pura nata. adan sineblak toyane. Prabu Wastu ika sarya. banyu sigra dumadya. sadaya pan sami larut. lelewaning wog Tulang. – 22 – Wong Kaka Rawana wani. lir udan deres tibane. ngentep ngetan sigra rawuh. Prabu Wastu Pajajaran. ya ta wong dhatulaya. – 24 – Dewi Calingcing tan kari. – 25 – Kang gamilang-gilang wening. bubar larut kumagilan.– 21 – Angemonga Susuktunggil.

yen karsane mangkin. PUPUH XXX MIJIL – 01 – Kang na dharat datan bisa uning.Prabu Wastu karo rabi. iki pan jumeneng ratu. sabata lawan sileman. adadalem ing jro banyu. . wus jinabel dening musuhe. – 02 – Ya Sang Prabu wus sirna alalis. Prabu Tulangtogmol. pugas brangas ala atine. dupi sri kadhaton. ing Pakuwan nami. tan kena sinundhul. Kaka Rawana angadeg aji. – 04 – Anut maring prabu anyar mangkin. ora nana wani mantari. paneleng ing katong. pan jumeneng Prabu Karadhatang nengge. padha nang dhasar talaga. iku sadayanira. ya wis dadi kaya merad bae. ing jagating kono. nyi Calingcing muwah bala. sabab uwise ora balik maning. tan kagungan basarang-saring. lan ora na kang weruh. ing sa Sundha sami. – 03 – Ya Sang Prabu Kaka Rawana nami. warga sakabeh kang dherek. sadaya anungkul. lan ora kapanggih.

datan kena sinundhul aturaning. – 10 – . bener luput mesthi. ing pagusten isun. – 09 – Pareng angsal windu lami. akeh den padhangi. – 08 – Ya Sang Prabu Kaka radha bang madhig-dhig. kang pinuja timbul malih. la yen mabok dadi kamungguhane. ingkang singub-singub. candhi-candhi entong. angrebat warisipun. tan kena winurung. Ciyungwanara ngilari warenge. arubungan ing Sundha negari.– 05 – Yen wus karep kaya lare alit. doyan main mabok. wong Tulang Minadho enggene. – 07 – Demen mapan ingkang yoni-yoni. ya angluru ing tasik pasisir. sajamaneng kono. padha atut buni. ora kena den semayanane. kudu bae dados. dadi amuwuhi. kawarnaa sang katong. akrh gempur kapur atine. keras akalipun. kabuyutan tapakaning wasi. tor-toran anginum sopi. – 06 – Ingkang denkait budi ngarani.

lan galudhug saya seru swaraning. kan den esthi kuwareng. saliwer marono. kang wareng den puji. – 11 – Ana ganda ingkang samariwing. tan suwe agantos. meeng wareng Raden Susuktunggal. Gelapnyawang Gelapsangyang sami. Gelapnyenggreng karungu. marono ambuneki. kang dadi raosing ati. belenging manah ora nakali. – 15 – Ngener cipta tan ana kakalih. Ciyungwanara ngidul. ngidul ngingisik jaladri pinggire. pan ya iku tetengering Sususktunggal. Talibarat lan Parwataline. ing watukiliyong. panter pamandheng ingong. ing pinggir kikisik. Raden Susuk ingkang sayaktos. – 14 – Angembaa ratua tumuli. awan benginipun. gelis amora wong iku. swara kang tan pangling. Talibarat Parwatali praptane. sarya ngobong ukup mangkin. Ciyungwanara gatos. . ager sagalugu.Kang samangko kang kacekel maring ratu anyar othon. Prabu Ciyung pan kukudhung putih reke. Gelapnyawang Gelaptanjung. pan den jejep ing tingal dhemit. – 12 – Gelapnyenggreng dadya ika sang aji. – 13 – Pan kumutug ing ngarsane aji.

wau waheng garwaneki. dadya pamitan tumuli. kudu eling ing jagat maune. kala iku mambu ukup gandane. ing sadanguning nedhu. kang ngimponi sapalayake. ya sok aja lali maringong. wong lanang tinggal wadon. – 20 – Krana ingkang kang uwis lumari. Raden Susuk mangko.– 16 – Aja lunta awor lan gelis. – 17 – Kawarnaa kang aneng dalem dherit. – 21 – . aja ora ing takut. dudu turuning waris. isup arep titilik ibu. benggi pareng si jabang dumadi. krana kula pan lagya abobot. raden denya sewot-ewot. krana ingsun dan raton. lan sumadi si wong kang duweni. – 18 – Manah pikir karsa padhaning jalmi. tan ngaku olihipun. – 19 – Mubya ya larang amangsuli aris. pareng lahir takon bapa tumuli. angabdi tanpa uwis. tinggal rabi meteng tambu besuke. ngendhel ora mari-mari. manah kadya rontog. bawaning wong wis mukti. lahir jabang bayi.

Gelapsangyang nyuwong warih. Gelapnyawang tan udan tekane. nyai Gedheng Rarasiluman nabdane. sandika karsa jeng ibu apti. – 23 – Agles Raden Susuktunggal pamit. tulus lampah wangsul. raden nabda tan samono. sumpah isun kang satuhuning. suka manah ipun. – 24 – Ya yen eling maring ngalelek rabi. galudhug grantang widi narpati. apa maning maring ngong. . Talibarat kang ngramon. den pracaya kranane iku nini.Ta kang uku panjaluk isun iki. mung pohon rabi. munggwa amlesa katengong. Gelapnyenggreng badhengel wijung. aja timbul iku ing dadine. ika mapan wus anglilani. Raden Susuk anembah adan linge. pancalima ting pancorni. – 26 – Parwatali ulur-ulur apti. teka upama benjing. pamuji-puji jati. – 22 – Ingkang ujar isun kang sayakti. lampahipun Susuktunggal nengge. ora na liyan kadulu. aja lawas ya ki mantu. – 25 – Ingalingan dening ingkang gaib iki. ya ta mutwa larang asri. angambah karang kisik. ya manawa ora lali-lali bae. medal saking kayanganneki. yen cidra awuwus. ing mratuwa nembah panor.

– 29 – Inggih payu kita pedheki. Ciyungwanara pinundhi. sira kang sun seja panon. iku sapa kang kukudhung. .– 27 – Ingkang eyang Ciyungwanara aji. purane den wasesa. pan ya sira ageage ngambil. ingkang sumedi kono. kang wareng medheki. dening nelendra serani. Gelapnyawang la iku kaki. merad sejen alam. ambeg nakoda. asowara dan sang nata manhe. agemen ing wareng isun. atatanya ya iku maring. Prabu Kakaratandhi. Raden Susuk wus awas tingale. ya ta gugu panor. rena-rena ningali kulebating. – 30 – Angandika subagja ta kaki. yaktose Pajajaran punika prajane.ian anuli rinangkul. – 28 – Nyandhing ukup sarta asamedi. …. luhur kita punika sang aji. tulung sadarganing kalbu. kang sun ucap ing adi panewune. Gelapnyawang tinon. kraton Pakuaji. PUPUH XXXI DURMA – 01 – Ramanira Prabu wastu wus kokalan sirna alalu lalis.

minanten barkah eyang. akeh gunung kobar. sabandina nguneni. – 07 – . pinanggih lawan sira. pusakane kang dhingin. praja Pakuwan. galudug ing arga. sabenbengi wanti-wanti. sakeh kang malumah. – 06 – Ing jro gunung gumledhug jumegur obah. dadi kumureb rebah. lindhu rat lir ginongjing. padha malumah. basmi kaosak-asik. Raden Susuk matur inggih. estu basmi negari. padha mayan dumadi. akeh kang rebah. kang mangko dadi. ngrebut nagara. sadina ping sanga. ulur-ulur nganan ngering. jawane sun anyingkir. sigra mangkat padha. mayeng ing sabandina. amedheki kang nagari.– 02 – Ya wus ilang palakarta ratu Sundha. lor kidul ganti muni. kaganti budi srani. – 04 – Pareng sira Prabu Sepuh angandika. sayogya sira kang mangkin. – 05 – Datan apa menenge galudhug obah. – 03 – Ya kaduga manira apaladara. maludhaging walirang. kumanyang nganingwang.

Kasusulan datan mendha gelap ngampar. katelahe sang aji. kasaksen ing gul menak. wiyange saking Sundha. gara-gara ing nagara. tan lami punika. padha sinuhuran dening. – 10 – Bumi Sundha bisa nundhung kang anelang. aneng Sundha negari. abubar priyangga. bubar dhewek tan sudi. anjaya-jaya. gumarang ing sabumi. rawuhe Susuktunggal. . para gul menak. – 12 – Inggistrenan ngadeg Nata Pajajaran. tan urusan bubar neki. bubar buyung kang kari. akeh padha rusak. – 11 – Raden Susuk iku angruru pusaka. gara-gara nempuh. – 08 – Ya sang Prabu Kaka Rawana awiyang. jar jagate priyangga. wis tan krasan. ingkang pating sariwik. ketung kang swara. tumon so bawa. kang sinamber dening gelap. gawoke para bupati. – 09 – Datan sudi jeneg aneng Sundha layang. ge ris ing sangara. Prabu Susuktunggal. Prabu Rawana age ris. tan susah den perangi. ngili marang jagat lami. ing rat Sundha nagri. tumon widagda aji. wong Sundhane kuna. prabu sepuh kang angiring. Pakuwan anggege risi. linggihe wareng aji. wong Tulangbawang.

Parwatali miwah. – 18 – . ora nana kang mantari. kang sagawe ngratajani. ing pagaweyan. ingkang padha angaugi.– 13 – Kang nakseni ngadeg Ratu Pajajaran. angsal panglima luwih. sampun sinaroja. Pajajaran jengger malih. nginger kawula alit. kadi duk kuna. sarwaning bisa. kang nama Dhuyunglanangan. Patih Dhuyunglanangan. amarigel ing nagari. ya iku kang nama. Gelapnyawang Gelapnyenggrang. sugih kasekten lan bangkit. murwa pakaryan. yen ing Pajajaran. Ki Tumenggung Ulungdaya. Talibarat nama. – 14 – Prabu Ciyungwanara kang jaya-jaya. – 16 – Sasamine kaya Patih Gajahmada. lan Gelapsangyang. ambeciki ing nagari. – 17 – Emban-emban sang ratu kang nama. adat Sundha negari. ing adi kulawarga. pinudhung ing sagunging. – 15 – Salinggihe sang Prabu Susuktunggal. kang aneng Majapahit. sasat sinung nama. kan nami Susuktunggil. kang dadi sorog wedhi.

ingkang asirna. anyawang-nyawang warni. – 23 – Tya iku enggon gadhang palincakan. ingkang jaba negari. pamagutan pradata. – 21 – Kumarasan ing Sindhangkasih praja. karanane sang aji. kang langlang buwana.Pajaksane duk samono kademangan. dening prabu Susuktunggal. wus angsal supna. kapracaya ing sang aji. salin nagara kang lantip. sanak medhoke sami. kewala pan ora pejah. jagat kang babasan. mula sang prabu ngarti. lolomponganing jagat. ing kono enggone lalis. – 20 – Prabu Susuk waktu duk sakala samana. anulak bala wita. kang kinawratan. enggenipun angalih. purwane amerad. – 22 – Ya ing bumi Sindhangkasih marmanira. Demang Cimancurluwi. ingkang mingkali kardi. – 19 – Lan kang nama ki Ngabehi Sujimara. akeh akalnya. sakalir karya. ing Sindhangkasih praja. ora kewuhan ing udi. ing manah sri bupati. sang maha dalem japati. kang aneng dhasaring bumi. malawat katingal. iku dalem ingkang. yen gadhange ing benjang. kang dadya mikenaki. amblese maring bumi. sampung kalawang. dados pakeca. .

Kawularang …………… ing. yen kalingihan sang aji. rehing den kulinani. kang cacangkok Sindhangkasih. Karanglopang kang nami nyi An ………. ing wong sanak Sindhangkasih. prameswara putri saking Sindhangkasih. PUPUH XXXII LADRANG – 01 – Pan kaloka Prabu Susuk nyakrawati. . mangkana ing karsanira. kang nama nyi Luwilingling. – 03 – Maha dewine pawestri sasl saking Sokapura. dening rejanipun. dening pamajikan. raja Galuh nami. dewi mature asal saking Pasirpanjang.. hang. kawangun pura nata. ……………… paparab. – 02 – Garwa maning pula ……. nawang susirna. nginep ing Sindhangkasih.– 24 – Pan sawulan sapisan sang Susuktunggal. – 25 – Dadya suka ki dalem japati ika. bali dalem japati. kadya nagara.

– 07 – Mapan dewi Mutyalarang ang garbini.. ya rinengga. pinaparab Raden Anggalarang kwosa. – 06 – Tan kawarna enggene amukti sari atahunan. pan riniyang para ………………………………. ingkang wau tinilar tasik lamunan. ing sagenahe alinggih. kocapa garwa ing dhemit. bapanira iku aji. – 09 – . – 05 – Ya wus apa kaya adat dewa aji. – 08 – Wus aprajaka ika tatakon sunarmi winangsulan.– 04 – Ingkang nami Dewi Simbarinten becik pinusthika. lilima saya lempuri. Susuktunggal kang mengkoni Pajajaran. putra jalu warna pekik. wus babar. pan riniyung ing para gegedhen sadaya.

amedheg ing rama aji. nuli sira ing kana tan aku anak. mung ta sira. – 10 – Mutyalarang sabdane arum manis. – 11 – Nuli sira dentortalan baya pati. arep bedhah ing kuthaning Pajajran. inggih coba kentasa. katongsone isun welas maring sira. ara ngunjung ing rama dhateng Pakuwan. juwala apa wong siji. jemg rama angaken siwi. – 12 – Anggalarang atur sembah ibu inggih ananacak.Anggalarang aturipun ibu amit sedya kula. – 13 – Inggih saya jeng rama kula perangi. bok sira den pitambuni. – 15 – . isun melang. ya dumadak yen boten ingaken ing nama. ainggih kula mantuni digdaya pancas. isun melang. – 14 – Ya sang dewi Mutyalarang ngandika ris. kang saingga. denlara den pateni.

jin prayangan. galethuk batu kacebur cai. mara jabang Kaljurig. – 17 – Amung ibu pamujane kang sun pundhi. ngayune sang prabu Susuktunggal. calengep kali riringgit. pan anjeneng tan dangu siliran prapta. bagja cilaka ya kantun punapa karsa. – 18 – Tunta ngambang dewa mambang kang angiring. ing kana den waskithani. anggep kula. buwal-buwal mijil sing dhasar jaladri. inton-inton memedi kanthung bragola. sarya wiyang. – 20 – Angin wayah sumilir ika dumugi Pajajaran. – 16 – Raden Anggalarang ya matur boten sanggi.Mandadene den ucap kaya wong baring tangtu sira. angancik ingukir curi. kadya meres ujare kang amaskitha. . lampahe ngatut ing warih. – 19 – Awor ombak anggebyug maring kikisik karang braja.

– 24 – Anggalarang den surak bocah kangingsir sumantana. samya geer la yen ana bocah setan. – 23 – Kapiyarsa denira wau sang Patih Dhuyunglanang. kandikane si ibu yen tutur kandha. – 22 – Pramilane kawula sumeja ngapti ana labda. Anggalarang dipun tarik. nunut aub ingaken putra sasmata. calengep ing ngarsa malih. punika rama pribadi. gampang-gampang si monyet si tambewara. dipun wasuh pinanjingaken panjara.– 21 – Sambat-sambant wonten pundi rama aji Susuktunggal. – 25 – Pinanjara watarane danguneki sapangedang. – 26 – . kamawula ing sudarmi. angaku putraning aji.

– 27 – Kalajurig ingkang padha ngiring-ngiring adan tandang. calengap ngarsa aji. Ki Tumemnggung Ulungangin. – 29 – Lamon ika ya nyata bocah dhedhemit ora wruha. dewa mambang kang nguculi. – 30 – Maha raja Bangbangan ingkang mayungi adan tandang. calengep ing ngarsa aji. gegering wong Pajajaran kumangilan. surak ing wong Pajajaran nyata setan. – 31 – Kira-kira iku maning sawatawis sapangedang. .Den panjara ya bisa muncul pribadi ora wruha. Demang Cimancur anarik. ya cinandhak Anggalarang wus pinala. iku maring Anggalarang den galandhang. inton-inton kang nguculi. ya memedi bragola kang raksa-raksa. jin prayangan kang gagandhi lampahira. – 28 – Den panjara maning kirane watawis sapangedang.

– 36 – Ambalentuk anyolong ing si narpati mula ika. belis guguris nyaithis. dhiri pagusten narpati. – 34 – Panginane wong sadaya iku maring Anggalang. – 35 – Lamun tulus ingaku paniya dadi olih praja. Pajajaran padha tambuhing kang putra. . – 33 – Sangyang Limun kang tut buri amayungi mula arja. – 37 – Ya jaganen iku saolih-olih maring ratu. pan luluthu bangsat ngaku anak raja. belis guris angibur-ibur ing praja.– 32 – Ya siluman tasik kidul boluwarti ora wruha. Anggalarang irus ing jati. atawa cacangkok siwi. Buyut Cai kang nguculi. iku nyata buktine ing paneluhan. Buyut Angin kang ngiring-ngiring kang ajaga. kudu kang awas ing dhemit. aja padha den ganggangi iku bocah.

den sinulud kang geni ya wus maludag. siniraman lenga. he Dhuyunglanang. papathoke tosan. ing sajroning geni gedhe. obongen la iku lare. wusing dadi Anggalarang den sangsara. amariyat karya. – 02 – Ya ki Patih sigra tumandang agupuh. – 05 – . denepri darapon menter. pan darapon aja bisa lunga-lunga. yen tan geseng ya iku ta anak ingwang. – 03 – Pan rinate wesi pinanthokan kukuh. tumanganing geni gedhe. – 04 – Kang tumangan denesep kalawan eduh.PUPUH XXXIII PUCUNG – 01 – Prabu Susuk wau pangandikanipun.

Prabu Susuktunggal. Anggalarang den samangke. surak wong Pakuwan. pan wus dadi awu aneng jro dahana. kawurana ing angin gedhe. matur nembah amalampah den akuwa. – 09 – He Tumenggung Ulungdhaya dene gupuh. – 06 – Sapangedang langkung pagedering urub. kandikane iya mengko. wanter munjuk urub kadi angambara. – 10 – Ki Tumenggung asigra tandang agupuh. – 07 – Ora suwe kaligane iku muncul. kagila-gila gedhene. nalengep ngayunan. la den ora kawur nyata anak ingwang. – 08 – Den akuwa piyambake raja sunu. iki Anggalarang. gawe lalayangan. pisan maning iku ing panacak ingwang. anjum andhingkul padane.Purubipun pan ora kalawan kayu. ana ing tampingan. . patang puluh pasagi sampun prayatna. ing Gunung Galungung genahe.

ana ing sagara kulon. ambeneri angin ngulon santer pisan. – 12 – Anggalarang wus den baleni akukuh. ana ing lalanang. – 14 – Wus ing menit ngadeg saka dipun dudut. ing gagaranira. den culaken enggal. Ki Tumenggung sakancane. surake wong Pakuwan yen Anggalarang. kawur mumbule mengulon. ya ta wus sadiya. – 16 – . – 15 – Duga ngulon watara ngungkuli laut.– 11 – Tataline jenget ing sambadanipun. duga silep cat katon ya cat ora. nuli sira lalayangan pan den ajar. – 13 – Keplas munjuk lalayangan munjuk dhuwur. kethip-kethip kagawa dening siliran. ika Anggalarang. munjuk kagawang abure. ing layangan wus rinekep.

Kyai Demang Cimancur la iki bocah. iku bareng sapangedang nuli prapta. Anggalarang wus den rante. – 19 – Lawan mengko pisan maning panacakipun. iki bocah tegane ya sira delap. nanging Susuktunggal. pan ginawa ngetan binuwang ing toya. – 18 – Anggalarang calengkep wus aneng ngayun. ya taksire kaya nyabrang pulo liyan. – 20 – La ukumen ing kali manengteng iku. wus ora kawruhan tibane. iya Demang Tandang. – 21 – Tya tangtu sun aku anak dening sun. wus anembah ing ramane. pandadara isun gedhe. petilasan kuna. ora karawuhan ruruhe.Ya wus ilang tuture kagawa abur. bahi nate lepas. – 17 – Pan sing ngendi bisane awangsul iku. pan dumadak ora mati kalem boya. ingkang lalayangan. . Cisanggarung kayaktene. sandhangen denira.

adan den tinggal wangsule. aja bisa kambang mangka. nyatane ki Demang. kang salumbung darapon angurugana. ingkang salulumpang. Anggalarang wus silep kalem ing toya.– 22 – Aneng banyu den bandhuli kalawan watu. Anggalarang wis katemu ing ngayunan. kaya ora pindho gawe. – 27 – . – 24 – Aja bisa timbul kang den ekum mau. sakebo ya rapona. – 23 – Sarta sira den susuli maning watu. ing Pajajaran ya tegane. dhateng gusti Pajajaran tur uninga. den nyana wus sirna. – 26 – Wus laksana pakaryane la ta iku. sakebo tuwin sagudel. – 25 – Ya sabedhug salingsir ora na timbul. laksanane gawene ngemban timbalan. masih anang marga.

– 30 – Pan ginawa maring tegal uwar iku. ki ngabehi wangsule asuka rena. – 29 – Nadya isun aku anak bocah iku. ya pugas delap si monyet. den urugi tai besi pandhe dhomas. jalayat si setan. – 31 – Ya den tetel pinaseg gen ira ngurug. pisan iki sira sida pendhem jarat. . – 32 – Pareng lawan laksanane gawe isun. ngabehi gupuh tandange. kang dumadak bisa balik ing Pakuwan. aneng tegal uwar.Wus anembah ana ngayunan sang prabu. lumpur ludhes dilolocok. – 28 – Iku bocah pendhemen kang jro asiluk. ing panyananira. ya ta kang dinukang. den pendhem watara. Angabehi Sujimara kari sira. kang yatna angurugane. Susuktunggal nabda. pan tinarik Anggalarang den galadhag. ki Ngabehi Cukimire. patang puluh dhepa jrone.

Anggalarang wus talangep aneng ngarsa. sampun warna-warna. – 34 – Kaligane wus nembah arsa sang prabu. panyobaning ratu gedhe. – 02 – . den bandhemi den bedhili. ing Pakuwan den sakiti. gulalitan miyatani. datan bisa ambeledhug. – 35 – Tai olih si anjingsi kenang kutuk. dupi dugi ing ngarsane. PUPUH XXXIV SINOM – 01 – Warnanen. mung ta iki bocah calonos binatang. ya pinenthung tinabok kejeng kang tangan. anggawoke wong saraje. den panahi datan kena.– 33 – Ora matur ing pagustene sang prabu aneng Pajajaran. ajarujus medal warih. sang Anggalarang. tombak keris lemes kadaya. wis kalesan panyobaning prabu nata. ika ingkang dadya.

awak ira anteb temen tuduhena. ika pancalima sami. iya nyata tegese ku anak iwang. unine ha ha ho ho. ora kaya awratira. sa cep ana Anggalarang ing Pakuwan. tan bisa ulur-ulura. jejegeng tan kangkat tangi. asun kalangean agelis. Prawatali datan bangkit. den cinandhak Anggalarang dipun angkat. asakabehe datan guna Gelapnyawang. – 03 – Mimpes pisan datan bisa.Jinejeg sikile akas. kena waliting Galarang. – 05 – Ing karsanipun sang nata. Talibarat tedhu sami. ing sakarep ira iku. teges lamon anak mami. ora bisa amikara. ora bisa ambabari. ya tan bedhol saking lungguh. datan sang Susuktunggal. cinakot kaku kang uwang.padha mepes ingkang sakti. kami sosote kang rana. binalangaken tumuli. ilang pangaruhing nata. mangap lir cinengkal wesi. samana samangkenipun. Pajajaran padha sami. yen sira bisa balang. ngaken maring raga mami. Gelapsangyang Gelapnyenggreng. kuwat anjunjung mami. – 06 – Yen saestu sira nyata. apes dening sang apekik. hem ngandika sira iki. – 07 – . tan kajungjung ing asakti. ya ta Prabu Susuktunggal. karengkengrengkeng tan kapti. dhumateng wau sang pekik. rarasan lan bisa metu. yen saestu anak ingwang. – 04 – Anyirnakaken guriyang.

kagume kang laki tiba.Denisun wis sira buwang. – 08 – Teganira Anggalarang. karaton sira duweni. Anggalarang sigra junjung. lan Tumenggung Ulungdhayi. kelangan majikan neki. waneh ingkang atur uninga. komalanten sabdaneki. Susuktunggal wirang isin. wong sadaya ting balulung. nyata iku binuntal ing Anggalaran. gegere wong dalem puri. sengkel ing manah tan sipi. aturipun pon kula punika putra. – 10 – Miyos saking boborotan. aja adadawa lara. samiyar tur kandha wara. wus riringkes sang nata lan para garwa. lilingseme ing marmaning. angreha Pakuaji. maring kahiyangan mami. angangkat dhateng sang Aji. lingsem maring kang rayi. dening Anggalarang gusti. dadiya gegenti aji. pan gegetun wong kathah padha tumingal. ingandikan pinariksa. – 11 – Dan Patih Dhuyunglanangan. Sindhangkasih kang sinedya. nyata kabuntal ing weri. ing ngarsa Ciyung sang aji. ya ta Anggalang iku. den balangaken ning pura. wau dhateng Susuktunggal. maring wareng prabu aji. enggal prapta Prabu Sepuh aneng kana. anglipuraken ing kalbu. Prameswari duk andulu. . ya wis payu padha pulang. mengetan puruge ngili. ing Sindhangkasiningid. dening sira wis pracaya. kaangkat sayengan mangkin. – 09 – Ya ta iki prameswari.

ingobong jasad puniki. den lalara tumangan. gih makaten ugi. – 14 – Ing wasana kula teka. . kelupun cidra maring. inggih maksih tan ngakena. ing wasana kula prapti. inggih maksih tan ngakeni. ing lalayangan puniku. saking kaputren siluman. yen wis amuncul maning. kalintang denira menit. inggih lajeng kanjeng rama. layan sela samahesa. la yen nyata anak ingwang bisa teka. Cimenengteng pan binandhul. inggih pon jinanjen malih. janjine dhateng kula. nunten kentas malih. tan den sapakula iki. – 13 – Ing wesana kula delap. inggih boten ingaken kula. den janjeni la yen nyata anak nata. ngaken isun ya sanyata ya anak ingwang. patutan Mutyalarang dewi. nunten kentas kawula. dipun pendhem lebet bumi. boten geseng dhateng api. – 15 – Ing wasana kula teka. dipun aburaken enggal. bisa balangaken mami. den janjeni nyata anak lanon gesang. boten ngaken dhalem mami. wekasane ngajak cucu. ing ngayunan rama aji. si rama kula pedheki. kulu nunten tinaleni. jinanjenan la yen nyata metu.– 12 – Ya sang Prabu Susuktunggal. – 16 – Anak ingwang bisa teka. sanyata anank ingwang. ing wasana inggih kanyata. kinen ngekum ing warih. ing si rama linggih aji.

angriyung ing sireki. Prabu Sepuh ngandika ris. popolos amiruda. pan den udhag sengit. inggih kantos kula balang. kerpek jantung iya iku bener sira. minanten leres kawula. drapon sampun lingsem neki. wong atuwanira gusti. – 18 – Mangsa bodhoa kang guriyang. – 03 – Ora kaya Prabu Susuktunggal nuli genya salah. Anggalarang mapan sami. samya sira kulawadya Pajajaran. bapanira ingkang salah. anglolos kalaning dalu. PUPUH XXXV LADRANG – 01 – Pradenane semono payu saiki padha kita. gawe lingsem pribadi. amalar dipun akeni. iya iku pangidhepe ing wong apa. maring etan manawa kita rerempah. sapamanggih kula iki. ika dadi Susuktunggal artinira. – 02 – Nulya mangkat prabu sepuh lampah neki kalih sira. wau dhateng kanya puri.– 17 – Inggih si wantu kahula. . susul iku bapanira. ing temahe saiki.

– 07 – Pan sinebur Prabu Anggalarang sangti ingauban. susuluring kang rama ingkang wus sirna.– 04 – Dadya sira Susuktunggal ika dadi kali marwa. – 06 – Ya ta Prabu Ciyungwanara abalik sarta ika. – 08 – Panjinaga dewa mambang apa maning jin prayangan. ambles ing dhasaring siti. ora kena untunge ku bapanira. kang memedi lan bragola. ing jajahan Sindhangkasih nukmanira. Gelapnyengreng Gelapnyawang Gelaperang. – 05 – Malah katon ing tingale prabu wanara lang Anggalarang. Anggalarang wus den asri. banaspati inton jurig lan kemangmang. langkung gegetun ing kapti. – 09 – . Talibarat Parwatali.

– 11 – Genya nyakra sumulur madeg dewaji wus koncora. . ing sang maha wruhing naya. teluh braja lintang ngalih. – 10 – La kul manuk ingkang bisa tata jalmi samnya ngabdi. – 14 – Tumenggung ika ingkang den arani namanira. menak pra kuwu nyungkemi.Anggalarang pan riniyung ing saliring. ing karsana sang prabu ing Pajajaran. kadadiyane lintang karti iya ika. – 13 – Pramilane lintang karti cong keng siji iya ika. kang ing tawang. layung abrit tapak angin lan gelapan. anut ing titihing aji. Ki Tumenggung Paracutan. – 12 – Waktu iki ingkang jumeneng papatih winastan. amuwuhi Anggalarang arjanira. kyana Patih Bentanglompang. dadi patih langkung saking wicaksana. nyananing sakuling kalulawadya.

– 17 – Waktu iku demange kang winuwuri kaki demang. – 20 – . ngabehine Sindhanganjen namanira. nalangkep jalmi. kadya panggereming macan sami. – 16 – Sagedhangan apayuyune wong mati nanging ika. ingkang putra Sunan Jumanjang kang nama. prabu sampun mengku Prameswari. ya janggelek urip maning ingkang kalma. Gurumuruh namanira.– 15 – Mula nama paracutan iku dening angracuti jiwqaraga. saktinira nyentak jalmi kalenger padha. yen wis den uculaken maning. – 19 – Pan wus jengger sabawa Sundha negari aprakasa. – 18 – Yen anggerem ngoregaken ing sabumi kaya obah. ingkang nyawa pan dadi pejah.

kang besuke puputra. ingkang nami Wotsari aputra Yang Maduraksa. pan kasebut Raden Anggalarang mudha. – 22 – Mangka nuli kang minangka rabine aji duk samana. . – 25 – Raden Sinom iya iku amurtrani kang sinebut. guru mindha Mantrisari. satunggale malih nama. kaputran saking Jepura. nama Anggalarang malih. ratu Sekar ing tanpa omas. mangka ingkang.Ni Ratu Gumiwanglayaran Sari. mangka nuli Mantrisari apuputra. – 24 – Iya iku kang alinggi aneng suci dupi ingkang. Raden Sinom kang alinggih Salagedhang. miyosi siwi sanunggal Raden Kalipa. pinangka iku ing kana. – 21 – Pucuk gumun sepuhi ya ingkang nami. asal Baturuyuk ingkang miyosaken putra. – 23 – Iya iku kang ajatu krama maring Sangyang Citra.

wustahunan windon mengku raja. ing Pajajaran anengge. PUPUH XXXVI DHANDHANGGULA – 01 – Pan sinigeg Anggalarang mangkin. ika nuli amutrani. dupi garwa marujune. cacangkok pra kuwu. tetes kali Cilutung maring. – 27 – Dupi iku kang kaaken maha dewi iya ika. Sundha puri sarta selir walung dasa. kaapti Ciyungwanara. dupi saking Cilutung ngulon pan maksih. kang dadya dewi mature. . dening Prabu Anggalarang. ingkang dipun rengkuh. Sanghyang Tubu kang linggih Sokawiyana. pawestri kasing timbangan.– 26 – Ingkang nama sanghyang Widaya kang sakti. istri saking pasirmilir iya ika. – 29 – Wawangine Ni Erangtungtang kang nami iya ika. ingkang nama Dewi Mayengan jeneng ira. Cipali ya ika. Yang Widaya. – 28 – Kang den sedhep ing ayunan sri bupati Anggalarang.

tanpa dadi kalilip luguting aji. estu megat kukuncung. mepeg gaman Pajajaran. ing awang-awang trus. dadya ngembat sarotama.– 02 – Lami-lami danguning ngaurip. sing akasor lampus. ing sagunging sesa Anggalarang. ya iku ing sajenenge. bulus putih angabar. arep wangun lingsem ing aji. – 03 – Seja ngaru ingkang linggij aji. kang darbe manah ngungak. – 05 – Ya ki Patih Bentanglopang agasik. ingkang putra jati kakalih. kudu bae ana kasandhungan. pan bunihan akeh amijil. kang kasebut nama nipun kang karuru. la payu katogena. yen den prasila mangpang. – 06 – . Sunan Talagamanggung. Raden Jayalengkara ya tan giris. kyan Sukmaantalirasa. amponi buwana Sundha negari. – 04 – Edir-kadiran panantang weri. img bumi anyaangkal obah. surupe ing kasakten. iya isun ingkang estu. den katogaken sagung. teka den rumpaki kabeh. Anggalarang songkawa. akeh panglimagung. kang padha sirikokalan. sing ameneng dadi raja. atmaja ya Lengkaraganal. ing saiki seja ngadoni. basa jahata kerwanthen. kang kang atma Jayanglangkara sakti. saktining Anggalarang.

kari saubing payungika. nedha den gesangena. – 09 – Sasambate lamon mangke urip. la ika pinritandang. dening Atmajaya kabeh. ragane dadi gesang. urip kaya wau. dhateng sampeyan sakabeh. – 11 – . analangkup nyawaning wang dadi mati. aglis sira andamu maring. cunguring Paracutan. pan sumedya angabdi kahula. – 10 – Pan ya iku marganing angabdi. iya kaya lampus. kempis-kempis kulimes sang Tumenggung ababalik sira ngabdi. wadya bala Sundha negari. maring sang Atmajaya. Ki Tumenggung kabeh padha anangis. Paracutan kocap bisa. maring Jayanglengkara aji. kinepus dinamu. den jaragang cinawuk. popoyan maring rewang. – 08 – Pan ageger wadya Pajajaran sami. sja nyuwuk atmaja Yang Tengkara. Atmajaya agupuh. Atmajaya balik maning. den adhepaken muka. tinarempang den jarage. ing pangabdinipun. ragane wus galudhag. Ki Tumenggung apejah. nuli kulawarganira. ora kaya atma ingkang. Tumenggung wus lampus.Sanjatane sapujagat nempeki. den gigit dening musuhe. Ki Tumenggung pejah kapisanan. lan nama tiba ipun. Tumenggunge kangracut. maring Lintang tiba padha silak. Menak Panumping kabeh kaparentah. Jayalengkara nyawa katarik. kagem ngasta anyokot ilur ula mandi. padha balik ing parnahe. ika ki Tumenggung. – 07 – Ki Tumenggung atandang madhidhig. Patih Bentang gegetun kapti.

sigra ngalurug kang bala mungkari sathithik. atilar Anggalarang. Bentanglopang karsa nglepasi. sirna purna geni garantang alalis. tabuh maring Anggalarang. Atmajaya wus kaloka. amapag maring garantang. – 12 – Suuding bala kagiri-giri. wau dhateng sang Prabu Jaya. sanjata garantangan. ing sesane Anggalang. tinumpes den tempur. datan antara dangu. welas maring Anggalarang. seja malesaken iku. kadi gunung gelap marab-marab geni. – 13 – Lawas-lawas ika sang apati. kadya ra ngobar jagat. singa ingkang tan anut ing titi. Bentanglompang saja amakaya. sing amaneni jemur. saolih-oliha merangi. maring sarirane dhewek. dening Atmajaya kabeh. – 14 – Dupi wadya bala dhateng jawi. maring Atmajaya padha gumusti. lumepas anuju arah anglebur Ta. sejanira ngrebut. ning Atmajaya dadya. Tumenggung Paracutan. – 15 – Wong Talaga kathah padha nangis. Susuhanan Talaga mengku nagari. pramila [atihipun. Atmajaya adan ika ngangkat. pirang-pirang ewu. wadya sajroning pura. gelap talaga ika mijil. wus angadeg sang ratu.ora nyana kang kawula lit. . maring sang Atmajaya. mula padha kamawula. anyakra bawana Sundha. kang warna kadi gegelang. ing Talaga kang den jeneki.aga. ing emban-embanipun. panyanane sakabeh kabakar. dening gelap maludage. ingkang kathah wus padha kapurba.

iki isun wis pepes ya aja tanggung. sira kukuru alawas. – 04 – Animbulaken ing toya. – 05 – Kadi ta lir gunung toya. Anggalarng angandhingini. sanjata aliwawar. gumaludhug tanpa krana wetunipun. he Atmajaya iya. dadi maning lintang kerti iya iku. menthang sanjata topan sira aglis. medal sira kapisemu. Bentanglompang geblas kawur. – 02 – Kantun Prabu Anggalarang. kang nyawargakaken ing sira satuhu. nyana den kelem ing banyu. pulih angsal pinangka. tumon gustine asakti. duk lagi nabda samana. atmajaya anabda iya becik. dan tandang Jayanglengkara. kadak siking Cikeru. den lepas si sanjata angin. mubal malah tanpa tanpa sangkan mijil.PUPUH XXXVII PANGKUR – 01 – Atandang Jayanglekara. kaligane ambuwal. dhuwur pamumbaling warih. surake bala Talaga. jelag subita babanting arti. tampanan iya iku. – 03 – Aja dawa-dawa wirang. sida iki den keleme dening banyu. alung babrena lalis. . ing wau wurung den obar. wong Talaga akeh padha anangis. anggigilani kang toya.

mring Prabu Ciyungwanara. pramila sang Anggalarang. ingkang nami jeng dewi. Ratugumilang lumayu. pramila nelang bagja. – 08 – Amung Prameswari nira. kapepes kaduga lalis. – 10 – Susuhunan ing Talaga. wau dhateng Anggalarang sab gaib. Anggalarang katarajang nulya kawur. – 12 – . – 09 – Apa maning lagi wawrat. mulane muni lir mundhing. anarajang banyu asat pan tumuli. sumhati ararangkangan. sangang wulan menga-menggeh lumari. langkung payah ical ing samangeripun. tan bisa aningalana. krana mengkele kang napas. Gelapnyawang sadhapure datan weruh. malah kalampah Jaya ika saking. Parwatali tan mulat.– 06 – Aliwawar wus lumarap. turunan jeng Prabu Galuh. dadya ika pancalima pandha cenguk. Talibarat datan weruh. luntanira narajang. niba tangi seja njujug. – 11 – Dadya tan bisa tulunga. sigegen kang pala dara. merad maring ngalam lintang. muni ngowe-ngowe lir kebo limayu. kaingsep ing sira lisus. awiyang alalu lalis. warnanen kang Jaya ngancik. bala wita ingkang iki.

Ki Teja ing Ujung Lutung. putra satriya pipitu. pan rakaning Centangbarang ingkang nami. la yen mungguh gagaman ingkang mandi. Jayanglengkara wis amiyosi sunu. Jayanglengkara suhunan ing cai. panggulune ika nama. tumuli kang anaming satriya Ki Teja ing Payunhagung. Caierang lungguh ratu. ya ki Teja Sokasari. lan Ki Teja Sangapriya.wis mangkana adating donya. ingkang mangke olih laki. yen ingkang wis tumeka. nuli ika ngadheni nami. Rawagadha putraning Bentangmerngu. sote yen jaba ning untung. – 16 – Nuli Teja Ingaguna. putraning Rawagadha. Simbarkancana nulya miyosi siwi. Bentangmerngu punika. – 14 – Ing wong agung kahiyangan. olih nyelang marwasa. iya iku kang nama. – 15 – Lamining ajatu krama. Teja Pramana iki pambarepipun. Kenbalura jenengipun. – 13 – Ta ika baja daulat. wis kandel ing rampak kuna. jeng Dewi Simbarkancana. kaputraning Bathara Pancarangin. kang sakt kang ora sakti. lan Ki Teja Cintamanik. ing untunge endi ana sakti punjul. – 17 – .

aneng pungkuripun timbul. sugih garwa sagenah-genah mranti. kamuktene ora bosen ing alungguh. pan mulane katela paparabipun. apuputri istri ayu. masih nyatur andhing luluhuripun. kampir angrantuning enu. ingkang nama punika. Ratu Pamratsari iku gadhange ing besuk. dumadi amukti sira. dadi anyar maning anyar datu. alihan lincak-lincak. – 22 – Sang Orabu Jayanglengkara. kanggo pranti kandheg kampir ing lalaku. – 21 – Ngadhaton sagenah-genah.Dupi ika kang anama. remen alincak lincak. sagenah-genah garwa. sawula-wulan awangun. gadhang jodhone sang putra. – 18 – Mundingdalem namaira. – 19 – Garwaning Jayanglengkara. – 20 – Karana Jayanglengkara. iyang-iyung pijer amurwa puri. suhunan sugih garwa. dhela-dhela sejen genah. Silinwangi kang anami. wus koncara tepis wiring. anjembaraken ngalenthung. tan bosenaken ing manah. ana dhomas garwane amarinci. dhela-dhela ngelih puri. ya ta Susunan Talaga. duk pangidhepe sang aji. den parenca enggonipun. yen kala ngider buwana. kawarta wus sugih rabi. Teja Sokasasri kang gadhang ing benjing. duk mangko durung ana. . denganemu garwa. besuk rabi Ratu Pamratsari. ing sandhenge angratu tan langgeng linggih.

ngowe-ngowe lir mundhing. praptane ing ngayunan. – 05 – . ambekane mengkel ngeden arenggosan. karana biyangmu nuni. – 04 – Suka rena nalanira. ratu Gumiwang lumari. kadi wong anglalu lamis. pon ika sampun angarti. ngowe-ngowe kadi mundhing. ya ta pareng ing kana Ratna Gumiwang. yen Anggalarang lalis. Ciyungwanara jinujug.PUPUH XXXVIII SINOM – 01 – Sigegen suhunan Talaga. udheg-udheg bapa kyai. ngowe-ngowe elap isun. legane bragojol jalmi. angadenaken babayi. anyungkemi ing padaning. abagus wuwarnanira. iya sun arani sira. rabine ingkang lumayu. embok metu maesa. kang karoban ing wibawa mukti. ya sun puja dadiya sulur nalendra. dening Atmajaya sakti. sang prabu sepuh sukati. awedi diboyonga. – 02 – Bari rumangkang lumampah. Prabu Sepuh Ciyungwanara. menggap-menggap ingkang napas. Jajaka Mundhingkawati. kawarnaa kang miruda. medal jabang bayi jalu. –03– Nuli bae bebeleyan. udheg-udheg tiningalan lanang pelag. ing ngayunan sang aji.

sandika ing mangkin aji. pan si jabang wus den asta. ing benjang salamet urip. maring Wundhingkawati padha kasmaran. konsi duga pitung bengi. edan bae kawenangan ing wong liyan. – 10 – . sun srahaken maring sukmane si jabang. Anggalarang kang wus lalis. dinelap lastari urip. ing rat prayangan mangkin. telungane ing kita.Susulure rama nira. padha pasrah jiwa raga. katempelan asmara lulut. bisa angrebut pusaka. tut buri ing Mundhing gupuh. – 07 – Ratna Gimiwang aturan. padha kabadri-badri. akeh wadon kang kedanan. ingkang prawan kang wulanjar. kelingan bae ing swara. mangsa wurunga abangkit. ing rat prakuwu mangsa. salagine ingkang sami. akeh istri padha lali. bisa amangko pinuli. angruru pusakanipun. yen nyata titise jati. openana den abecik. wus ilang kang wirang isin. kasmaran ing Mundhing iku. aja-aja kang tumingal. – 09 – Ingut-inguting swaranira. randha muwah duwe laki. linulutan ing pawestri. ya angrungu abane padha kasmaran. padha buri ingithil. nyi mantu udheg si jabang. dugi mraja kawarni. manawa dadi susulur. sabab uwis kajabel Jayanglengkara. ing wang tuwa maring laki. – 06 – Amung manawa si jabang. – 08 – Estuning raga asihan.

garwane Majayalengking. jar murang niti rungruman. sakeh wadon kempong perot sok wadone. malah ika lami-lami. ingkang padha marinci. – 12 – Akirada pan sacombana. padha sosoroh gulingan. angambat maring garwa. saprakara wadon kang teka priyangga. lan garwane Jayalengking. ngambat ing praja pra kuwu. – 13 – Yen konangan ingkang jaga. – 11 – Padha sungsung rebut ing sang. padedesan kang tumuwu yen den lewa. malah yen kapandhak margi. teguhan talikrami. wong anom amurang titi. Raden Mundhingkawati. Raden Mundhingkawati. Malangsumirang mambrih. – 14 – Sakeh wadon duwe ningwang. ing wadon sagulingan. akeh garwane Jayanglengkara jinamah. adate Mundhingkawati. padha kondur kokalan. linadenan akirda pan sadaya. padha sami sakarani. tan lawan den undang maning.Malah ika lampahira. kang padha rinungruman. Mundhinggkawati nadhahi. prandene linorod binegal marga. – 15 – . anggepe Mundhingkawati. ginaregeg den iring-iring. singasinga anekani. maring sang Mundhingkawati. padha rinujak ing lawan. kalesan ingkang murugul. remening Mundhingkawati. angumbar akarsa nira. kang lagi tinandhu-tandhu. mung kinambadan ni Pasung. lara pati sun labuhi.

Mundhingkawati kalangkung. kang ning padesan marinci. – 16 – Nanging sun mangsa kandega. – 17 – Ya ta garwa Atmajaya. pan samya kang ngiring bedhil. tinadhahan kang braja. tan ana braja nitisi. esok bae angkohe Mundhing Bathara. aburan carampusan. datan kaliwat siji. ora nana kang pinilih. sakabeh den dalajahi. – 18 – Lara pati dipun dhadha. pan rinungruman sadaya. PUPUH XXXIX KINANTHI – 01 – . padu wanodya ya iku. rabine si Jayalengking. pon ya iku kang angembat tupaningwang. ingeculaken ing margi. Atmajaya musuhipun. panebusing murang sarak. kamanyangan yen mendhaka.Ginawa ing pasenetan. sing awadon den cicipi. tan idhep garwa aji. sapa bae kang kapapag. adate Mundhingkawati. luwih liwat anglalanangi ing jagat. iya pasthi sun sundhepi. ambegal ingkang pawestri. isun ora anggingsiri. yen wis sampurna abendra. anumbak pan sami nyuduk. nyumur gumuling lang angrong pusanakan. dening kaliwat gemetan. prameswari den sanggani. braja gemet ing pawestri.

kacandhak Mundhingkawati. den buru-buru tunungtik. lamon geger garwa aji. – 04 – Ting salengseng ngalor ngidul. Mundhingkawati tan keni. koncara angrurung sebi. Brajamatya adhag-dhag dhigdhig. ya ta wis amaribui. kang cinekel boya kena. pating bilulungan tan polih. – 03 – Juwala apa si bendhul. ora nan kang ngundhili. mabura kang tanpa sentik. ginawe ing raga ina. – 06 – Sang Anom pan dipun cawuk. ora duwe napas mijil. – 02 – Kang seja galethuk datu. seja nyekel sang Bathara. – 05 – Tan olih gawe alusut. dadak-dadak den ebyuki. karajahan Atmajaya. seja cinekel winingkis. ya ta kamisosot kangpri.Ya wus dadi ara-uru. dening Arya Paracutan. mundelik kaya apejah. ambekane dipun tarik. seja den kacebur cai. yen pinanjingan ing dhustha. Ki Tumenggung Paracutan. . ya ta dadi den lurugi dening bala ing Talaga. raja gagaman talaga. kaligane tan kacandhak. angalahaken nagara. Mundhingkawati wong siji.

kawenangan ika dening. – 10 – Ngasih-asih aturipun. tan wande angabdi. sacecepenganing Paracutan. sujud ing sampeyan gusti. ginawe abang putih. – 11 – Tilar Atmajayanipun. nuhunaken gesang malih. janggelak tangi urip. kaku jengkeng ora obah. kahula datan langgana. dhumateng Mundhingkawati. Tumenggung pejah den Gelap. rama dalem Anggalarang. wus ngedhag tanpa ambegan. ucul wis rumanjing maning. – 12 – .– 07 – Sabab nyawa den talangkup. namber Paracutan katimbis. – 09 – mangsup dhateng jasadipun. nuhunaken pangapura. Mundhungkawati lir mati. Paracutan tulus pejah. supados mangke gesanga. Talaga dipune ngabdi. kulawargane anangis. – 08 – Gelapnyawang wus jumegur. katura ing Mundhingkawati. dening Paracutan sakti. babarpisan angemasi. nyawa Mundhing kawarnaa.

pantes dadi wedhi bumi. Paracutan endha modar. patut kanggo gawa salang. sun prawasa lan dumadak. yen katekan musuh sesa. – 14 – Sanadyana maring isun. aja supe kene nangis. pangidhepe nengah minggir. wong ora lana ngawula. sun rebut sing Atmajaya. ya pon mangkono maning. – 13 – Kadedo ra dadi ratu. arep sun cekel pribadi. ing ngarsa sampeyan gusti. – 17 – Nagara seja sun japut. babaktine Paracutan. aweh ora weh ing mangkin. kena den pambri papati. pikulan buburu dhuwit. ora rep yen isun iki. . si monyet si tai anjing. ya iku den aku gusti. – 16 – Sira wus age mampus. saturune mapan ora. – 15 – Tan pantes dadi Tumenggung. calak-calik ing agusti. kanggepa ing ratu anyar. ila ing badhami becik. Mundhingkawati ngandika. cakelane den go bakti.Dhateng Pakuwan pra kuwu. Paracutan wong luwih ala. enggo apa den uripi. endi ingkang gadhang menang. den bekteni ingkang kaya. Jayalengka wong mementhil.

ya wis larut tan katingal. – 23 – . – 19 – Ya ta Baronjot Tumenggung. kawarnaa Jayalengka. den samber dening Gelap. mumbule lir gunung warih nrajang ing Antalirasa. sun tumpur kahananeki. kawirangan padha nisi. Rahaden Mundhingkawati. wus wruh yen Tumenggung mati. Nyawange Mundhingkawati. adir-adir sakti luwih. kalih sadherek kang nama. anak putune sun buwang. mepes dadi awu nuli. kentir kagawa ing warih. narajang baris dahana. ambabar ing baris geni. Sukmaantalirasa sakti. – 20 – Jayalengkara agupuh. – 21 – Sukmaantalirasa sampun. adan sang Mundhingkawati.– 18 – Ya sun anggep bala ratu. kentir kagawa ing warih. yen wangkal iya sun kebat. sun uprak ing bumi ngriki. – 22 – Medal tanpa sangkan banyu. amapag sireng payudan. malabar adadya wangwa. ika Atmajaya lengking.

bulus putih dipun japa. PUPUH XL ASMARANDANA – 01 – . nampek ing Mundhingkawati. Sangyanf Aliwawar ngena. gramanggramang iku dadya. – 26 – Parandene kang tinuju. silem ing talaga yoni.Ambles maring dhasaringpun. Sangyang Talaga ika. kawur maning yen iyaa. tan pakara kang garigis. wus merad alalu lalis. nuruni racun garigis. banyu cikeruh ngulati. bulus putih angambara. medalaken wira sakti. angembat sanjata angin. – 25 – Tandange Jayalengkara. dan Prabu Jayanglengkara. narajang ming Jayalengking. akening Sangyang Ukir. sumilem amblese maring. lisus angeder lir ngreba. kapisanan kalembak. – 27 – Panumbule kadi gunung. gumingsir salagi beli. sangyang Talaga alalis. kajulina tibeng siti. – 24 – Mundhingkawati rahayu. Mundhingkawati amuja. wangkeng kadi pacek wesi.

ing Mundhingkawati ngulun. katelah nalendra anyar. pamagutaning wicara. jaksane lan papatihe. sakalir ring pamatrolan. putus ing kademangan. wong cilik sabarang karya. – 04 – Tumenggung kang anami. kang buawana Pajajara. ingkang ngreh pradata sakabeh. angrapu-rapu bagja. kawal ratu Pajajaran. anulak cilaka isun. tulus jayane angrebat. – 02 – Apa kaya wingi uning. dening luluhure ingkang. ingkang kasebat nama. wau ingkang manjing metu. kang nguningani pagawe. pusaka saking ramane. anata ing Pajajaran. Mundhingkawati samana. sumulur ing ramanipun. . ngagem pajagan sakabeh. – 05 – Demang Sedhapura. wus den angkat pangratune. nami Ciyungwanara. wong pinter anginger bala. ngabehi kang uninga. pinangka pajakanipun sang ratu ing Pajajaran. Ki Patih Gurugul iku. – 06 – Ngabehine kang anami. Kawungluwuk ingkang nama. menak pra kuwu Pakuwan. ing buwana Pajajaran. Ki Tumenggung Padhamenak. sadaya sami nembah. – 03 – sang Prabu Mundhingkawati. idhepe ing Pajajaran.Duk iku Mundhingkawati.

masih nyatur kang luluhur. lan Susunan Ranggalawe. garwa domas ing kathahe. Mundhingkawati angraja. – 12 – . tatapi duk samana. kang amba gawan linggihe. – 09 – Duga ing sawuri-wuri. saking luluhur ibune. kabeh tedhak Pajajaran. lan Susunan Kidul ika. Sunan Tegal kahiyangan. lan Sunan Tegalkayangan. Prameswarine kang nama.– 07 – Awindon ataker warsi. lan Susunan Ciburu ika. iku Susunan Sambate. lan Sunan Jumajeng. anak putu Pajajaran. kang asal kaputrenipun. pon ya tedhak Pajajaran. kang wus lenggah binagawan. – 10 – Lan Susunan Wanaperi. iya kasebut Susunan. lan kaya ika benjang. kang ana ing Pajajaran. – 08 – Duk samono Gulbopati. sakabeh durung ana. Susunan ing Tatanpolawung. lan Susunan Raja Malaka. kalawan Susunan Parung. Dewi Trusgandarasa. – 11 – Suhunan Jati apa maning. lan Sunan Telagamunggung. lan Sunan Ranggalimbangan. lan Susunan Pandhajawa.

idang pirang-pirang atis. wus warna-warna asuka. kang dipun ayem atine. ana den brangas kewala. kulawarga santana. turunaning Linggaiyang. sakti-sinatenan iku.Sang Prabu Mundhingkawti. bakasem daging sakabeh. – 14 – Kang den bakar dentengi. lir ta kang mangan anyaran. – 15 – Kang den bacem den petheni. – 16 – Masih abang jare manis. den gecok den rerempah. – 13 – Pating careluk sukati. ora nan kakurangan. yen buru kidang manjangan. singga alas den oyak. kang dhinendheng dipun gulung. kang katelahe ing nama. . kang pareng olih bayangan. pirangpirang manjangan. dupi lawasing lawas. olah-olahaning mangan. den sasate den pepenthul. babat kang den pangan mantah. karemene ambedhag sangsam. sukane manah agawe. gaganting anarambah. duk rasmi lan manjangan. wus loba pana dhacinan. genya kasengsem aburu. manjangan asantana. pirang-pirang kang tampayang. surake ambal-ambalan. kumanjangan daden-daden. iku wus aduwe turun. – 17 – Ya ta dadi anarengi. wadya bala katutugan. sok rena sagedhene. ing alas arame-rame. paburu asadhiya.

gagaman maning yen mempana. ing kidang lan manjangan. lan kidang panawungan. Linggaiyang kang sasmata. ing galunggung kahanane. – 19 – Manjangan gumulung yakti. iya iku ramanipun. – 23 – . sampun wangun gelar pamuk. sang kidang pananjung ing Sundha. iku ramaning manjangan. seja angayoni gawe. tan sakeca ing nala. – 20 – Dangune den osak-asik. samya kapalayu kabeh. sakarang ngamuk ing alas. lan manjangan wulung upas. tanopen kidang ancaran. manjangan pon sambawane. – 21 – Manjangan gumulung sami. gumaringsing ing ulese. ya iku kang estu turun. – 22 – Paburu akeh kang mati.– 18 – Manjangan gumulung sakti. dening tantetesing punglu. maring Mundhing Bathara. kalih sang kidang panawungan. sang kidang panawungan. mangka nata uga ika. sumeja sira tutulung. dening ika ing ngamukan. dadi ika ratunira. maring kula balanira. kang bangsa kidang sambawa. gelar panyelang susila. gegere wong Pajajaran.

anglingkab koncaning ratu. kidang sangsam wau. galunggung betan siluman. . Kuwungluwuk den undha wanti. pelore kaduga gepeng. PUPUH XLI MIJIL – 01 – Ki Ngabehi Kuwungluwuk ngandhepi. ora kruwan Ki Demang tibane. Ki Tumenggung Padhamenak sri angandhepi maring. inton-inton panawungan. – 02 – Demang Padhamatang ngandhepi. ngamuk amarawasa. – 03 – Gada tikel Ki Demang den undhi. kapental lir punglu. lawan gada wesi. dening teka kabeneran. kidang jurig alas moreg. kidang den cekel soso. den tuju tumuli. ingkang kidang dipun timbisi. – 24 – Patutu iku dhedhemit. wus kadi lempung kewala. gawoke nembe anemu. mariyem datan tumama. prandene tan pupul. ing awaking manjangan. muluk kadya pelor. iku ta manjangan apa. iya kuwel gulung rame lagane. manjangan den coco. lawan keris atugel kerise.Sedhengane ika bedhil.

ora kaya seking tan sipi. tatali aliyur. dipun udha den walik-walik. ya datan miyatani. – 09 – . kapyesan tan adoh. duga pasukadi. ambaluki Pati. tan kahur parek den wingkis-wingkis. ora kruwan tibane malih. adan sang apatih. ing Ki Patih ya karasa seget. sadyanira sinembeleh age. dadya sira ucul sing astaneki. Yang Gurugulkiwul. – 08 – Tangi ngudhag dipun tujah maning. sinerat dhumongkol. Ki Tumenggung ing kabelasate. kabyesat adhawu. pan binalangaken kidanga. – 07 – Gulunipun manjangan tan kanin. kidang ika uwis. ing gagamanipun. tangi ngudhag den papagane. sigra kang manjangan nyokni. nujahipun solot. kapental ing ngasruh. aprang popon-popon.– 04 – Sigra tortoran pijig-pinijig. – 05 – Ora kaya manjangan kang sakti. – 06 – Enggal tandang manjangan den kempit.

. Mundhingkawati sabandhu wargane. geger pating careluk. Tegaluwar ayu. Tarogong kang nami. duk samana iku sang dewi prameswari aji. kang seja den ungsi. gunung Trogong kang den purugi. garwa kula bala ngili. wus tan ana miyos. pandhe siluman ya iku genahe. ing gon ya ing kono. – 10 – Dupi kidang manjangan anuntik. samya bubar saupacarane. munggu kadikuling. – 12 – Ya sejane go umpetan aningid. mulane dipun wastani. mung kang kari saelir-elire. kumaritig mrono. ingkang kaparag sami. iya iku namaning kang ngukir. gamarudug gatos. wong Pakuwan padha geris kabeh. ya pangonan alimun. – 14 – Sagrawane saselire ngiring. pala dara nisih. iku gunung Antragangsa rane. ngalor ngetan metu. trus kandha duk iku.Murud tinandhu sang kyai patih. maning jeng sang katong. – 11 – Saking kutha Pajajaran mijil. gunung Kuwendenlok. ya dening sang prabu. – 13 – Paparabe kang kuna angapti.

dupi Prabu Mundhingkawati. lagi kawalesan den baledig. – 17 – Tan emut garwa Kaluwargi. duk lalaku pan ambeneri.– 15 – Dhuweg bobot wawahu sangang sasi. bawaning ambesot. pan kaburu karo laki lempate. lan manjangan racun. Antragangsa nenggih. he gunung Tarogong. dening kidang langgon. bumi Tegalsili. wus anyandhing ingiring aning ukir. ing tegalsili. – 18 – Tan karasa jabang bayi mijil. – 16 – Ya ing kono pareng kaget kanyedig. tulungana isun sakabehe. rebut urip sewang-sewangane. ingkang gandane arum. – 20 – . ting barisiting wong. bubarira kadi kapusus ing musuh. ya kang meteng brojol mijil. kang gandane arum. lan manjangan gumalunggung pri kaget. den jaluki tulung. meteng tuwa suwe lakune. ngenthe-enthe loyon. – 19 – Prabu Mundhingkawati ambelik. dening kidang sakti.

duk wau lumayu. wong Pakuwan samya abubar kabeh. gunung Tangkep maning. .Ya ing wau kidang sun baledig. tulungana isun. ing gunung Tarogong. kaget dhateng kempong. bawaning alali. ing manjangan dadi amuki. – 25 – Ya ta Dewi Trusgandarasa adi. kaya jagat ing weteng ingukir. dupi iki isun kang kaseseg. tembe emut ing wewetangane. katujah kacokot. wusing manjing ing sakulawargi. – 22 – Sinambadan pareng samana ukir. – 23 – Maring jagat ingkang ing sajroning ukir. pirang-oirang buron. – 24 – Pan sarupa merad Mundhingkawati. mantrinisun sami. Yang Gunung Tarogong. wus mangsup sakabeh. ya ta kidang manjangan dadi. ya dadi ingkang enakane. yen wewedhe tan karsa amilih. tan kawagang nempuh. belamiyan katingal ing jrone. sabronjote mangsup. mrene iki jawane angili. dan Mundhingkawati. – 21 – Balanisun akeh padha mati. apa kaya mau. ora metu-metu salawase. age den agelis.

macan kesah ngunguliti. dening embok macan wadon. ing garwa ja dados. . sampun punthes kaya puput.– 26 – Prameswari alara anangis. sapa bisa manggihena gusti. nuli ana wong aruru. maring anake mangkono. ana ngendi baya ing tibane. – 27 – Prabu Mundhingkawati lingnya ris. kang marojol kantun. dukaciptanira prakarane. ningali jabang ing kono. – 03 – Karojotan si jabang lagi ing riku. – 02 – Wus karesi si jabang kaya ingedus. PUPUH XLII MEGATRUH – 01 – Pan sigegen kang sarupa lalisipun. akyu aran kahiborit. tangtu anyuluri. kaya kucing amberseni. kang neng Tegal Silih harum. baya anaking wong. si jabang bayi mami. warnane sang jabang bayi. anak kita kang marojol kari. pepeleme den dilati. den cokot kang ari-ari. ing tilas kita mau.

– 04 –

Pan binakta si jabang den agupuh, pramila dipun wastani, Siliwangi namanipun, krana asale kapanggih, ing alas rum kuno.

– 05 –

Tegalsili tampanganing alas gunung, jabang sili rum dan urip, urip ing wong ngambil kayu, kocap anak kahi Borit, salirum warna jalitro.

– 06 –

Wantu-wantu dadi anak tukang kayu, badan ora bresih-bresih, kalalare ladheg buruk, ora na prajapajaning, taliti putra sang katong.

– 07 –

Ya wus apa dudune bocah ngon gunung, carobong ngenek-ngeneki, ora ilok adus-adus, ing maletenge agething, rambut kethel ingakotor.

– 08 –

Tan kawarna lampahe budhak salirum, kawarnaa kidang lemping, sasirnane ya sang prabu, dadi ika ngosak-asik, anang Pajajaran nyewot.

– 09 –

Maring menak pra kuwu padha alarut, amalayu den baledig, geris tan ana atunggu, ing praja den tinggal bresih, golendhang kariya kosong.

– 10 –

Kaisenan kidang manjangan akumpul, garadang-gridik awan bengi, angkohe anjabel dhatu, dheweke ingkang ratoni, ing kono mulane manggon.

– 11 –

Gawoking wong menak pra kuwu, genya kasanglat saking, wedi mareg bok den amuk, padha geris samya nisih, ing parna ing adoh-adoh.

– 12 –

Kidang Panawungan lan Manjangan Gumalunggung, lunta puas-puas ati, ngamuk ngulon ika mampuh, Pakuwan Prayangan goning, Ciyungwanara dipun brobok.

– 13 –

Geger gemetus menak Prayangan alarut, padha ngili nyingid tebih, maring guwa maring gunung, tan ana bisa ngundhili, pan sami abubar adoh.

– 14 –

Prabu Ciyungwanara ngili lumayu, ing Simpar patapaning, Ajar Ujung Banaliwung, asingidan denimponi, dening Ki Ajar ing kono.

– 15 –

Wus angarti anak putu padha larut, sowang-sowangan lumari, rebut urip laku rusuh, ibur uwis ora mikir, maring laku raton-raton.

– 16 –

Ya wis pating barisat tan mikir lungguh, nagara wus …………. gandring, kalingdih ing kidang bungur, …………. kaisen dening, kidang menjangan ton-inton.

– 17 –

Ika padha angkohe anglindih ratu, malesa poli den buroni, Mundhingkawati duk mau, amburu manjangan dari, saiki gagantos buron.

– 18 –

Ya sang Kidang Panawungan sabala ngratu, ing Pakuwan kulon nenggih, Prayangan kang dipun gelung, malah wus putra anami, Kidang Pananjung gadhang wong.

– 19 –

Dupi sangsam gumlunggung sabalanipun, angrat sakukubaning, Pajajaran kuwu, Pakuwan brang wetan nenggih, kang den wingkis kang den enggo.

– 20 –

Pajajaran kilen wetan wus den aku, ing Kidang Sampati, kulon sang Kidang Panawung, wetan Manjangan Kumliking, manjangan ya la wus miyos.

– 21 –

Putra Manjangan Gumaringsing namanipun, ya iku kang gadhang jalmi, pramila ing waktu iku, kidang manjangan kadhasir, sarasmi kalawan wong.

– 22 –

Sabab asal-usul Inggaiyang wau, Kidang Panawungan sami, akir dalanjal malulut, yen manjangan iku dening, sing Galunggung dhemen ing wong.

– 23 –

Lan yen monyet Cogowang iya ikut, ilok dhemen maring jalmi, sabab asal-usulipun, sing Lutungkasarung dhingin, margane kadi mangkono.

– 24 –

Waktu iku Pajajaran kaslangipun, ing ratu sato sambawi, ya sijar salaminipun, Silirum sing maksih alit, maksih dadi budhak kangon.

– 25 –

Ala walatra bocah anerus tunjung, lami-lami ika nuli, ana kawenganing pulung, putra menak Sindhangkasih, nyi Rara Sigir pan jatos.

– 26 –

Masakaken ing budhak si Silirum, ingimponi den karseni, denedusi timbul pulung, ya si wantu tedhakaning, andana wirya gung katon.

– 27 –

Gilang-gilang marenenge tejanepun, komarane anelehi, mangga ngucapa sang ayu, Rara Sigir genya ngapti, aja na liyaning jodho.

– 28 –

Dadya Jaka Silirum ing jidhonisun, mungga kadulura dening, panadyane atinisun, mangkana ing duk pamikir, sawiji kalawan jodho.

PUPUH XLIII DURMA

– 01 –

Waktu iku nuli ana ing bancana, wau cicipaning, dalem Palimanan, karsa angiwat-iwat, Sigir Panjaling ingkang den prih, adan sakala, iku nyamber sang putri.

– 02 –

Putri Sigir sinamber tan kena inadha, enggal dipun tulungi, dening Siliganda, kalampah sira pancas, buto roro den kembari, kinarya sepak, padha buta kagulinting.

– 03 –

Malah katon ing wong Sindhangkasih sadaya, Silirum asakti, anyana punika, dudu bandra-bandrakan, duga buta kalih neki, larut asirna, wau den sanjatani.

– 04 –

Dadi mundahak katarimahe ing kana, dening wong Sindhangkasih, pareng lawas-lawas, Siliwangi teka karsa, ing manjangan seja wani, pinenging aja, dening si Rara Sigir.

– 05 –

Aja sira ngulati gawe angangkah, isun melang ing ati, bok ora kawagang, sunrungu ika sangsam, kaliwat ing saktineki, kaduga ngebat, aken Mundhingkawati.

– 06 –

Jaka Salirum wangsulane ika, ingkang sun ajab lalis, angrebat nagara, babaguse wong lanang, angulati apa maning, punika sawarga, ginawe ayu mangkin.

– 07 –

Adan mangkat Silirum anggawa panah, tan arsi dipun iring, kali wayangan, sudira ngundi lawan, panantang baya ngenani, sampun anjujag, pra kuwu kang den ancik.

dupi tiba dadi jalmi. ika ingkang nama. cacangkok pisan ing Galunggung pan nagari. tinujah kaliwat kadi. – 11 – Apoliye iku menak pra kuwu ika. – 13 – . iku hebating jalmi. dhumateng Siliwangi.– 08 – Dyan Manjangan Gumulung wus dadya mulat. – 10 – Den papagaken layan sanjata wisesa. bugel sangsam ngemasi. malesate kagawa. ingapura den wenehi. nuju wawayangan. gupuh anembah. bela ing bala. ya Manjangan Gumaringsing. – 12 – Duka yuswaning sawelas warsa. Silirum dipun tujah. – 09 – Ya Manjangan Gumalunggung sinabet lan panah. maring daleme malih. tan dangu den walesi. Siliganda wus bisa ngrebut puri. sagenah sayasa nipun kang mula-mula. Manjangan Gumaringsing. lan ika manjangan. adan putranira. wus kakenan panah. narajang bela pati. lamine sawelas warsi. tembe saiki pulih. Gumaringsing kumawula. kosonging praja. adan lan gagadhang.

maring sang Ganda. – 17 – Den apura pan sinung cacangkok sisan. saiki dumadak. adan pinapag aglis. – 16 – Ing enggone alinggih lagi duk kuna. sira dadi jalmi. bisa balik mulih. bisa pulih waluya. maring Pajajaran malih. – 14 – Dipun sabet lan panah tugel sang kidang. ing Pajajaran. ing Siliganda. Kidang Panawangsa. Pananjung ika aksami. la iku purwaning dadi. ing Panawungan perni. – 15 – Amalesat Kidang Pananjung atiba. tumuli anembah. ing rat Pajajaran. wus apulih karta. adan ingkang putra.Jaka Siliganda angulon ika. ing jalmi amburu aglis. Kidang Panjing prepeki. – 18 – Baudendha wekasanira nalendra. jujug prayangan ngancik. datan antara nuli. mantuk ing Ujungbana. asuka rena dening ananulungi. karebut ing Jaka Sili. Prabu Ciyungwanara. Panawangsa ngemasi. riku kang kidang. seja bela ing rama. kidang den panah aglis. duk ningali kolebat. kang gadhang nyakrawati. dhumateng Siligandha. . menak prayangan. sawelas tahun angili. Siliwangi kang ngimponi.

pareng macan linggar. dening kaliwat sakti. ora nyelang ora nyiling. jabang dipun gemes sang dening rencek kyai Borih. – 23 – Ciyungwanara ngandika mangsa bodhoa. kinongang nundhung weri. babaring Tegal ara-ara Siliwangi. kaprabon duwe nira. – 22 – Ya sarupa lalis tilar si jabang ika. – 20 – Ya tan dangu Parwatali talibarat. rena manjing ukir. arebat wipala. diweg mateng kang bibit. dadiya susuluraning. jabang tiba katilar. dupi kang yayah. ing tegal siliwangi. dadine danyata. peciling Mundhingkawati.– 19 – Kujajaka prawira nom sing dibaya. sima ingkang dilati. sasmata angrebat. subagjane sun puja. ing pusaka pribadi. – 21 – Duk kapeleter dening Kidang Manjangan. tedhak atur wara. mesat dugi babar. sri Pajajaran ingkang bagawani. – 24 – . gela nyawang pra sami. inggih punika delap dumadi sakti.

kang anyar-anyar katondha saking kana. dening Yang Acintamanik. kajana priya ing luwi. ingkang muji jati. . ora ana musuhe ing buwana iki. karajaan Siliwangi. tirimaa sira. sira ingkang ngimponi. kina wenang iku ing sakarsanira. si gintung saiki.Sira sanyata gintung-gingtung manira. sun istreni sira. ing salungguhira. – 25 – Alungguhan nyakrawati Pajajaran. ngiseni Sundha nagari. ratu sajagat buwana kabeh iki. ratu araga sukma akadang sukma. karone tunggal. ora ana kaya ratu Pajajaran. PUPUH XLIV LADRANG – 01 – Sinahuran geger peter ketug muni genya ngangkat. – 04 – Lan koncara liwat luwihing prajurit. dadya angreh Pakuwan. Prayangan pra kuwu uwis. – 03 – Sugih sanak sugih putra sugih rabi dadya merna. – 02 – Bala dewata jawata amayungi wus kaloka.

Gajah Muntang. Katumenggungan malih. Jalana kang ngabehine. mantri gedhe mantri cilik wis anjagat.– 05 – Menak pangrengku kang nama awarni-warni. sugih wadon miwah sugih putra wayah. – 09 – Pan mangkana wadon abrakothi. – 06 – Gajah Enggang Gajah Puntang Gajah Rucik. ing Pakuwan nyakrawati. kocap ingkang. Kalangwirana Kalangbadhag Kalangbrama. warna-warna. – 07 – Kalangluhur kalawan Ki Kalangeling. Kalanglunana. kebek ing rat. Gajah Barong Gajah tandhing. – 08 – Kademangane kumerab awarni-warni. Kalangtonggo Kalangsari. Kalangangkes Kalangsiyu Kalangrejang. – 10 – . Gajah Manggala muwah Gajah Siluman.

tan ana durga nyantoli. ing putra saiki negari. jaler ingkang apranami. – 14 – Nulya iku akrama ya maring putri Tejasuka. – 13 – Dupi garwa ingkang nama Panawangi apuputra. – 12 – Katelah nyai Embok Agung amutrani ingkang nama. ajalera den Sangkeki. pan gumelar putra wayah ya anjagat. putra dalem ana ing rat Pajajaran. ingkang wau Sindhangkasih. – 15 – Pandhajaya iku wus mutrani maning ingkang nama. dadi tulus jodhone lawan sang nata. . Mundhingdalem paparabe putra nata.Wis awindon takeran tahun amukti awibawa. nami Putri Pamratsari. jaler ingkang naminipun Raden Umbang. – 11 – Malah istri kang purwa anggumateni timur mula. nuli puputra kang Susunan Pandhajaya.

rang-arang acucuk prang ngamuka. cacangkoke bupati pan dudu nata. – 21 – . nama Prabu sabupati lungguhira. Linggaiyang puputra Sangiyang Arjuna. iya iku amutrani.– 16 – Dupi putra Nubdhingdalem sanes bibit iku lanang. – 20 – Dupi garwa Siliwangi ingkang nami mraja cinta. Sangiyang Madhangrasa Medhangkamamangga. – 18 – Prabu Kangkangirang ika mutrani ingkang nama. – 17 – Duk samono akeh putra ingkang den prih lawan nana. Linggalawang ing Cipamali. prabu ana ing bupati. – 19 – Sangiyang Arjuna baya gung asisiwi ingkang nama. Prabu Kangkangirang nenngih. Linggaiyang anem suri.

Siliwangi ingkang nami. – 24 – Kang alinggih aneng Panembong ing puri. Kidang Pananjung ingkang saking Ratulawang. Saselawangi apuputra Sangiyang Tular. ingkang nama Ratna Yumanik gumilang. Yang Wiraga puputra sang Ratu Puntang. – 26 – Ingkang nama Dewi Pergilayaransari mulya putra. ana denegarwa Prabu Siliganda. – 25 – Apuputra Yang Jampana alinggih aku ana. . dupi garwa. – 22 – Tyas iku ingkang ngawiyosi siwi ingkang nama. Sangiyang Wiragasakti. Maharaja Larang kang nitis. Siliwangi ingkang nama. – 23 – Prabu Resik ing Rajapolah kang puri dupi garwa.Ana dene garwa Prabu Siliwangi ingkang nama. ing Ratulawang kang puri. Prabu Siliwangi maning. Ratu Widayaka sakti. Ratu Widayaka anuli sira puputra.

Yang Mas tuwa. Ukur sepuh aneng kadhipatenira. kapindhone Anggalarang Anem lenggah.– 27 – Ingkang tapa aneng ing pucuking ukir made sukma. angadheni Ratu Mas tuwa nini moyang. aneng arga Gunung Munara kang puri. – 30 – Prabu Sendangpugeran iku kang alinggih. iya iku Sangiyang Bathara Larang. kaping tiga. sangkane jujuluk nami. apuputra Kidang Pati. ing Jumajang ingkang puri. Pernalarang ing Raturuyuk kang puri. – 32 – . – 31 – Kang alingghih Kamiwelas dining puri. sang Prabu Jayapakuwan. – 29 – Kang adalem ya ana ing Ratuwangi. Prabu Jayapakuwan iku puputra. – 28 – Ratu Puntang puputra titiga nami.

kang adalem ya aneng Sagara Erang. ingkang nama. Prabu Sendhanglimun sakti. kang nama. Prabu Wasipernasakti. – 33 – Sendhanglimun kunuli mutrani. ingkang nama. Prabu Sendhang Gunung nami. ingkang dalem ana ing Tetegal. ya ana ing timun putih puranira. – 36 – Sendhang Kajayan nuli ika amutrani. Kandhuruwan tuwilimun kang alinggih aneng Gunung Ciaya ing enggonira. kang adalem ing Rajapolah. . kang adalem ing Gunung Gedhe kang pura. Prabu Sela. – 34 – Sendhang Ngabdu ika apuputra malih. – 37 – Prabu Wesi pareng ika amutrani. – 35 – Sendhang Gunung iku amutrani maning. ing Ngabdu ing alinggih. kang anama Prabu Sendhang Jayasakti.Dupi Prabu Sendhangpugeran mutrani.

ingkang linggih Luwimundhing dalemira. PUPUH XLV PUCUNG – 01 – Lurah Bangsa punika ingkang alungguh.– 38 – Kandhuruwan ika mau amutrani. Wirakusuma ing Ciasem ingkang pernah. santohan punika. – 02 – Pancase la ing Palered dalemipun. sanga iku putrane Ki Kandhuruhan. Eran-eran Ngewre nami. . Mundhing Bthara kang linggih. – 03 – Arya Wirantanu ing Cibalagung. ing Pamanukan genahe. adalem aneng Pamijahan Karang. pernaira tapis wiring Pajajaran. ing Panguragan genahe. ana ing Pagagan. Ki Wargakosala. sanga jalma. Patrabangsa lan maninge. – 39 – Ki Santohan Kadirun kang anjeneki desa aran.

nulya puputra Sangiyang Sempokwaja. jenenge Ratu Pramana punika.– 04 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. – 07 – Sempokwaja kang agarwa putrinipun. – 06 – Wondane wau Yang Wiroga ausunu. Bathara Sakti jenenge. amiyosaken putrane. – 09 – . timansapura jenenge. – 05 – Ingkang ana Sundhalarang dalemipun. Buniwati raras. ingkang dalem ana ing timbangan ika. – 08 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. sanga iku putrane Ki Kandhuruhan. amiyosi kaputrane. nama ratu Demang. Panji Rababuwana. Sijine kang nama. kang kaksih jeng Batharadinata. ing Panunukan genahe. ki Wargakosala.

anuli miyos putrane. – 11 – Tyas iku dadalem ing Cangkuang pernahipun. – 12 – Kang dadalem ing Cangkuang pernahipun. ingkang rayi istri iku namanira. putraning Susunan. kang dadalem ing Timbangaten nagara. Dipati Cangkuang mangke. kang Susunan Jati ing Carbon. kang Susunan Ranggalawe. putra nama Susunan Raja Malaka.Nulya gagarwa [iutri saking raja Galuh. – 10 – Garwa Ratu Pramana kang nemla ika. jujuluking nama. nama Suhunan Jaratna ing Cipinaha. sri Praman ika. ingkang rayi istri iku namanira. ingkang dados garwa. mangka Dhiputi Cangkuang iku puputra. kaloka ing rat. . Medalagung ingkang miyos. kaloka ing rat. Dhipati Cangkuang mangke. – 13 – Ratu Kawunganten rama dewa iku besuk. – 14 – Ratu Pananten rama dewa jenengipun.

ki Dhipati Cangal. – 20 – . maring Kanci dadalem. Rumsari ganda.– 15 – Dupi garwa Siliwangi kang pulangun. nama Sangyang Mayak. iya iku kang limunan ing Tunjungbang. – 19 – Rara Siluman miyosi putra pipitu. Yang Mayak puputra dalem Narasinga. – 18 – Kang dadalem ing Ngendher ingkang jujuluk. Dupi garwa Siliwangi kang anama. tumuli apindha. nuli puputra dalem Nayagati ing Sundha. aneng Cilutung genahe. dupi kang katelah ing ngendher. iku amiyos putrane. Sangiyang Ageng kang alinggih Setularang. – 16 – Nulya Yang Ageng nuli amiyosi sunu. – 17 – Ing kajaksan ing Carbon iya iku. abangsa lelembut. ki Sangulara namane.

– 24 – Sangiyang Widaya anenggih ing namanipun. ing Guwa Sancang limute. pra buwana bala.Ki Dhiriwengi ing Ragan manggene lungguh. pan titiga sawijine ingkang nama. ki Kamalarang ing Ngonom genya ngimba. iki lewi aneng Guwa Pajajaran. Sri Intenbancana. ping telu kang nama. ki Kuyupuk ingkang. – 21 – Ki Mayadewata ing Malakbok genya lungguh. – 22 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. sangyang Wirun paparabe. ki Wanabaya linggihe. putra ingkang paparab Ratu Rawana. iku miyosi putrane. dupi Yang Wirun kang miyos. Prabu Wanabaya nulya puputra. mau Sumur Agung nuli puputra. ing Guwa Upas dhemite. ki Daluwengi ingkang. – 25 – Ratu Rawana iku nuli susunu. kang neng Sawunggantang. – 23 – Mundhingsari kapindho Yang Sumur Agung. .

Sangiyang Sogol ing Maleber. Yang Sumur Bandhung linggihe. – 29 – Lan Sangyang Panengah ingkang muwah adhinipun. – 28 – Linggasri aneng Pangkalan tumuwu. puputra Sri Wayang. ingkang apranama. nuli apuputra. Linggawayang putrane Sangiyang Arjuna. Sangyang topasri lan Sangyang Babak panyarang. lilima satriya. – 27 – Duk wau Linggawayang turun-tumurun. – 31 – . lan Linggawayang marmane. Yang Lebakwangi jenenge. ingkang sakapika.– 26 – Ingkang nama Sangiyang Ngabehi cucuk. nuli Sri Wayang Nuli puputra. dupi garwa Siliwangi kang anama. ing Citaman dadaleme. nuli puputra Raden Senapati Ngalaga. – 30 – Pandalarang ika amiyosi sunu.

Yang Guntebuyeng jenenge. Raden Tetel kang sepuh nuli puputra. nama Raden Tetel kabeh. Dhipati Manggala nuli puputra. . putra lanang sang Dhipati Kartamana. apuputra ing name. – 35 – Kartamana lilima ing putrinipun. dupi Ki Gedhengrungka. iku Gedhengrungkang. Tumenggung Suradarmane. – 36 – Kalih Ki Kartamnggala iya iku. ing Tegal Koripan.Lan Sangyang Cimara kalih Sangyang Ciagus. – 33 – Katurunan ing sih ingkang miyos putranipun. nuli puputra Prabu Layapakuwan. Rangsangjiwa nuli miyos. – 34 – Prabu Layapakuwan anuli susunu. – 32 – Raden Memenang ingkang mangke tuwuh. Tumenggung Sedhangrungkang lan Tumenggung Cikakak. jenek ing salami-lamine. Prabu Rangsangjiwa. sakalih maneh ika. dupi garwa Lisiwangi kang anama. jalu ingkang nama.

nulya Cirawati nama. lawan Puswawangi. Emas Batulawang ika. kang anjagat sawengkening Pakuwan. Wangsacandra Wangsanata Wangsaprana. anulya nuli puputra. lan Ajengarjuna. kang jujuluk kang Ranggamantri. PUPUH XLVI SINOM – 01 – Ki Tumenggung Suradarma. – 02 – Dupi garwa Siliganda. lan Raja Parana iku. kang aneng ardi. Kyai Emas Anggawijaya puniku.– 37 – Ingkang nama kiyai Kabul puniku. Mayangkaruna kang anami puputra Guru Gantangan. Kabul putra papat. Ki Nataraga wastane. lan Susunan Wanaperi ing Talaga. – 38 – Wangdaprana apuputra Ajengawu. – 39 – Kabeh iku tedhak Sundha gung-ginunggung. kang mernah pencar-pencare. . saking Pajajaran. Prabu ing Pakuwan adhi. anulya puputra nami. iku apuputra nyai. iya tirik iya lerek. dupi Tumenggung Sedhangrunggi. Bagus ardi Tumenggung warga dinata.

lan kang nama Raden Kacang iki. – 07 – Klawan Raden Wargayuda. dupi putra Siliwangi. nuli ika sang Pandhahan. nyi Gedhengkulan ika. Mundhingjaya ing Mandhal alinggih. Raden Rinahon iya iku. miyos putrane sakawan. kabeh terah Pajajaran. miyos puputra kakalih. nuli putra papat nami. Raden Togog namaneki. Demang Gedhe puputra. nuli Raden Gedhe nami. tetelu ingkang anami. nuli putra nyimas Kirana. Mas boncel Mas Kariya nami. – 06 – Muwah Raden Wangsareja. . Wangsadhipa mutrani. lan ki Wansadhipa iki. Raden Wirareja lan kimas Wargadipa. nyi Gedhengkulan kang nami. Ki Dhipati Ukur tuwa. – 05 – Ki Dipati Kungkang ika. lilima kathahe iku. ingkang gagarwa iku maring puranira. lan Wangsadireja nami. Lembualas nulya mutrani. nuli puputra punika. – 04 – Akrama aputranira. Ukur Ngoradhipati. jujuluk Maraja tunggilipun. kalawan Santohan iku. mangkana santohan pelang. lan Raden Sobanumitadi. Sunan Parung ingkang nami. lan santohan Urureng. Raden Tandang kang nama. Raden Danupati ing namanira.– 03 – Wanaperi apuputra. dupi Yang Linggapakuwan. ingkang miyos saking ampiyan punika.

putra Siliwangi iku. – 11 – Lang Sngyang Rajawabana. Raden Srigadhing murtrani. Resik Putih asusunu. inggih titiga kang siwi. putra Santohan iki. ingkang sawijene kumaning. – 10 – Siliwangi ingkang medal. kang sawijine maning kaputra. ya iku bojakertadi. . – 12 – Kapindhone Ratu Kara. ing Cidhamar parnah neki. Rajaiyang brusbuhani. ika paparabing putra.– 08 – Kang nama Sang Deyasa. Ratu Gumilang akrama. putra istri kang anami. putra ing ampiyaniku. kang Suhunan Ciptalewi. Sangyang Surakerta. Gajatapa nama dalem ing Pawenang. Ratu Dewa Gung la ika. kang tapa ing matahari. nama sang Raja Wiwara. ping telu Lokajaya. ing Kawungngora dalemneki. sang Bathara Resik Putih. Ciptalewi putra tetelu. ing Majalakang dalemneki. kanjeng Susunan Madya. kang alinggih aneng Parakantig. – 09 – Nama Sunan Tambaliyang. Ratu Guru Ajijaya namanira. kang sawijine kumaning Siliwangi putranira. ing Gunung Licin linggih. amiyosi putra ninipun. kang tapa ngawang-ngawang gempi. ing Kandhangwesi kang linggih. ping telune ingkang nama. ingkang amiyosi siwi. ing Taraju kang negari. sijine ingkang nama. kang miyos saking Sri Tanduran. kang sawijine maning. saking arum ganda Wayangsari.

ing Sumedhang gene linggih. ki Ranggacarikan nama. Padnawati Araras. kapat ki Tajimalela. – 14 – Lan ki Yang Tunggabuwana. – 16 – Kang linggih aneng Kuningan. ingkang nama Susunan ing Pajengan. lan ki Raden Suradiwana ya ika. – 15 – Anggamantri namanira. lan ki Ranggagedhe nami. miyos kakalih kang siwi. Prabu Srimangka nuli puputra. dupi wau Sedhangrerang. Caktradewa sisiwi. nama Sedhawati. ing satedhak-tedhak neki. Cakradewa putraneki. Sri Ngacala namanipun. nuli ika asisiwi. dupi garwa Siliwangi. – 17 – . lan sinine niku maning. Sedhawati puputra wau. Yang Medhang nuli sisiwi. nuli putra sakawan iku. Susunan Kalana Ulunan. ingkang krama putranira. ing Wedhanglarang alinggih. Ratu Guru Aji Putih.– 13 – Anuli ika puputra. kang sawiji ing namane punika. Anggamantri miyos siwi. anana Yang Medhang. nama Raden Sadhanglarang. ingkang namanira iku. Pangeran Sumedhang nami. sang Kidang Panajungan nami.

inguprak-uprak tinundhung. – 02 – Nulya krama dhateng putrane ki kuwu. . dupi sing sabrang nenggih. ki Raja Sangara iki. milane tinggal kaputran. panengahe istri nami. maring Jawi aneng Carbon dalemira. agamaning bosok bedha. titiga miyosi siwi. Singapura kang negari. ki Ngora ing Rajapolah. putra titiga lan rujuk dhateng kang rama.Ingkang nama Boros lan Ngora. Cakrabuwana mantuke. kang aneng Panjalu kang puri. siji lanang ingkang nama. gih punika careming jatu Krama. Subang Karancang jenengipun. anuli miyos putrane. pramilane den sengiti. dening kang rama aji. nama Kantanalarang. maring agamaning muslim. PUPUH XLVII P U CU N G – 01 – Rara Santang pinet garwa Mesir ratu. mila tilar bumi kana. lami-lami karsa nyabrang maring Mekah. nyimpar-nyimpar numpal keli. Rara Santa jenengipun. – 18 – Kalih Ratu Pajajaran. ingkang nama Pangeran Carbon punika. ika nyi Subang Karancang. warujune lanang nama. – 19 – Karsane kudu miluwa. Prabu Cakrabuwanadi.

– 03 –

Kalih istri nyi Rakungwati ya ikut, dadya Cakrabuwana, katelah kaji namane, Abdul iman kalawan Arya Lumajang.

– 04 –

Lan kang nama Pangeran Gagak Lumayung, ngamandhing Pakuwan, manpet pajeg ing trasine, sabab dening cinandhak ing Arya Lumajang.

– 05 –

Rara Santang wis lawas ing Mesir iku, nuli wus puputra, loro lanang ing namane, Syeh Hidayatulah kalawan Syeh Nurullah.

– 06 –

Syeh Hidayatullah angajawa ikut, alingging Ardiamparan, Sunan Jati papabe, pan rinengga dening kang uwa Lumajang.

– 07 –

Dadi akeh kang manjing Islam aguru, ing wong cilik tuwis menak, barungah sadayane, Wali Jati kang katubturan akramat.

– 08 –

Dupi putra Siliwangi saking putranipun, Dhampuawang kang minangka, Kandhanghaur kaputrene, ingkang nama Balilayaran punika.

– 09 –

Putri bungsune Siliwangi iku, sang putri Layaran, masih cilik den kekentel, ingkang nama Siliwangi sebenernya.

– 10 –

Den kekentel mrana-mrene datan kantun, kocap Prabu Wanara, dan memeksa ing yogine, Siliwangi den tutur gagaib ira.

– 11 –

Den patiten sajeg ana wali iku, ilang ing guriyang, Pajajaran surem kabeh, pangaruhe ing puri tan wurung tanggal.

– 12 –

Den abecik aniti puri Sigintung, ya isun wis ana, kang mapag ngajal kasucen, pati nami ing dina kabeh wekasan.

– 13 –

Tan antara Ciyungwanara dadya iku, awak lutung asukupat, jalmi sing dhadha mukane, ……..anjengek alinggih roro kang asta.

– 14 –

Dupi saking wuri suku awarni buntut, nalosor nangcep ing andhap, narik maring sapta burine, pan tinarik ing buntutira priyangga.

– 15 –

Dadya sirna merad tan katingal iku, dening kang putra wayah, wusing sirna luluhure, amung kantun Prabu Siliwangi ika.

– 16 –

Mana sajen sadina roro ing kalbu, kukuwung mesum katingal, sang teja lor wetan pernahe, naban bengi sumonge padhang sumirat.

– 17 –

Ora liyan kang dadi sangsara iku, si cantang sarowangira, kang padha gama muslime, ingkang dadi sangara ing Pajajaran.

– 18 –

Adan prabu animbali patihipun, Tambisara nama, priksanen sumong ing kene, padhang sumong ya iku tejaning apa.

– 19 –

Ora pranti ana teja kaya iku, apa manusa bathara, anyala wadi katingale, den agelis padha rujagen denira.

– 20 –

Tambisara pamit nembah kesah sampun, ambakta satus prawira, angungtik kang teja tinon, nyata anang Gunung Jati pernahira.

– 21 –

Den talikah nyala wadi teja iku, pan seja den rujag, wong satus muwah patiye, ambrek sami lumpuh tan sesa ing angga.

– 22 –

Genya lumpuh sing dalu dalan enjingipun, pareng enjing suhunan, marikasa maring wong akeh, arep waras beli yen mambri ana atambah.

– 23 –

Tampanana kang sadat roro puniku, ucapen denira, tangtu waluya jasade, adan patih napal sadat sadhapurnya.

– 24 –

Padha Islam nulya waluya wong satus, tur den rampek pisan, lan suka wangsul ing nagrine, maring Sundha lir ring wus sejen agama.

– 25 –

Mung ki Patih Tambisara kinen wangsul, sarta bakta surat, saking sunan cacangkoke, wayah aji gih eyang amantu bilah.

– 26 –

Pan kang eyang sang prabu seja dumulur, maring gama Islam, ora kaya ing tedhake, Parwatali saking langit kandika aja.

– 27 –

Apa gawe idhep ing agama busuk, mung ta pusaka kita, sada lanang ngendi gone, prene kena age juputen den enggal.

– 28 –

Ya ingalap sada pinanjer ing alun-alun, apa ing Pakuwan, mangkana nulya parenge, merad lalis sakulawarganira.

– 29 –

Migerngiyang munjuk rayak-rayak gayuh, maring elor wetan, den papag adiasa srine, saking swarga kang para jawata sadaya.

– 30 –

Wusing merad lalis Prabu Siliarum, ing Pakuwan tan ana, kang kari amung bupatine, kang sapalih sapratiganing kang Islam.

– 31 –

Kaya Patih Cangkuwang wus mukmin iku, lan Dipati Kartamana, ki Dimati Ukur kolot, Islam maning ing Ciahur bupatinira.

– 32 –

Amung menak pra kuwu kang masih kupur, samerade Siliganda, Sunan Jati dereng ngertos, masih dadi satriya iku lalana.

– 33 –

Kawarnaa putri bungsuning sang prabu, Dewi Balilayaran, katilare sabab dening, balening Cangkolkencana.

PUPUH XLVIII DHANDHANGGULA

– 01 –

Dupi nusul amburu wus kari, dadya bungsu lara-lara, karuna polos wiyanga, salantrah-lantrah mangmung, pan dumadak nulya pinanggih, lawan jaler kang nama Jaka Kabu, asal kulup Siliganda, marmanipun katulus alaki rabi, aneng jabaning kutha.

– 02 –

kang kakasih tanduran gagang. lan bedhil titiga. Inten Kadhaton ksputren titilaring. Ratu Madhapa kang besuk alih alaki. nuli puputra ji Japatingora. dupi ika mau. lan istri Ratu Madhapa. Sri Jampang pan mau. lan Maraja Cipta kang linggoh. sinebut ing pangasrine. dupi ika prabu. maring kyan Santiwara. nuli puputra ing mangke. tumuli puputra. anuli puputra roro. – 05 – Careming jodho ika mutrani. Prabu Ardikuning namanira. sang Prabu Ciyungwanara. Bimalarang ingkang pranami. olih laki wong agung. tanduran gagang iku. ciciptane Ajar Sukarsa. laki maring kyan Santi wus gadhah pecil. nama ki Pati ika sisiwi. wadon Murngali jenenge. ika sang putri Madhapa. Santohan Kolelet nuli sisiwi.Jaba kutha kutha Pakuwan den apti. – 07 – . – 06 – Gedheng Utama puputra dalem Japati. Sangyang Sarepan Agung. ya tetelu kang dhingin istri anami. inggistrenan dening wong sadhomas. iku Susukan kabu. Pucuk Kumun agagarwa. apuputra kang nama. nuli ika amiyosi putra. ing Walanda den tuku dadi. kyai Wiranegara. ing Galuh apuputra. Sunan kabu ika tumuli. Maraja Dalem Agengan. Maraja Cipta puputra. Prabu Pucuk Kumun. marmane iku den edol. kyai Gedheng utama. – 03 – Ya kyan Santi atitising Siliwangi. – 04 – Rara Wudhu ora payu laki.

kapindhone nama Sangyang Pramana. anuli Miyos putrane. Wiranaga kang sinare ing wewengkon Pasirnagara. Yang Dhigaluh jujuluke. dupi Sangyang Pramana nenggih. Dhipati Kartanata. Arya Wirangun Yang Tunggal. kocap Prabu Cimacur. ki Kandharuwan Babakan. nagara kawangsul. nuli puputra ki Gedhe ana ing. apuputra Raden Walenggabala Estu. ingka wali kukubane. kyai Wiranaga mangko ika nuli. nuli ika puputra. iku puputra Aciputi. – 10 – Kyai Ajeng nama Amongragi. anuli susunu. nulya puputra kyai Wiranaga. mangka mau mraja dalem agen laki. – 09 – Ki Wiraprabangsa ika nuli. nuli ika mutrani nami. nuli ika puputra. – 11 – Dupi Cipta Pramana kang niti. – 08 – Sunan Batuwangi kang ana ing Cipamancur ya ing parnah hira. nuli ika susunu. ki Dhipati Panahekan yakti. ika nuli puputra. nuli ika puputra. ing Susunan Batuganda. – 12 – . Akimas Imbanegara. nuli ika apuputra. aneng Kakarasuka. kaping telune ya iku. nuli puputra ki Wirabaya Sakti. puputra Mertadinata.Jujuluke Tanduran Ageng Asri. Kabolotan ing pernahe. ya Prabu Dhigaluh. nengga naminipun. nama Sangyang Wirun. Cohaka ning Sorpura. ingkang paparabipun. Cipta Pramana kang linggih. ing Dhigaluh ing Kakarsuka.

para Bupati tanpa nelendra. dadi menak pagunungan ika sami. taliti ing Pajajaran. Sang Jati Wali Allah. sewangsewangan angratu. dupi ing Carbon ika kang dadi. Miyosaken putra kang nami. Nuwun. Raden Wiranantaja. ing satedhak-tedhak ira. iku turun ratu. Raden Pati Tumurun. ki Dhipati Sendhangmargalaya. winuri-wuri ing jati ratu wali agung ingkang jumangah. – 13 – Ing Prayangan pra kuwu wus dadi.Gedhe Godhaka ika amutrani. TAMAT Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PIWULANG AL FAATIHAH AL FAATIHAH ( BEBUKA ) Surat kaping 1 : 7 ayat ( Tumuruning wahyu ana ing Mekkah. tumurun sawuse surat Al-Muddatstsir ) . sasesa-sesane dhewek. kang den ratu-ratu. deng uwa Cakrabuwana. tumuli puputra mangke.

Ihdinash shiraathal mustaqiim 7. Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin 3. Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim. Sesembahaning ‘ alam jagad-rat pramudita. Arrahmanir rahiim 4.Bahasa Arab : 1. Kabeh pangalembana kagunganing Allah Pangeran. ghairil maghdhuubi ‘ alaihim waladl dlaal-liin Bahasa Jawa : 1. Kalawan asma Allah kang Maha Murah ugi Maha Asih. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in 6. Kang Maha Murah Maha Asih. 3. Maaliki yaumid diin 5. Bismillahir rahmaanir rahim 2. 2. .

sadaya para andika Nabi Utusaning Allah kautus ngampil tugas-pokok mbangun Tauhid ing Allah. weweweh lan tetulung ing sasaminipun. Ingkang baku inggih punika ‘ aqidah-tauhid ( memundhi saha mangeran namung dhumateng Panjenanganipun Allah piyambak ) ‘ Aqidah-tauhid wau dados jejering piwucal Agami. Saking zakat lajeng tuwuh ‘ ibadah qurban sidqah. lan saking Shiyam tuwuh watak Wira’I 9 mboten ndremis lan mboten kathah sesambat ) sumingkir saking ingkang nama lelangkungan ( gesang prasaja ). Dhuh Gusti Allah. Agaminipun para tetiyang ingkang sampun Paduka paringi kani’matan. lan nilar sadaya brahalanipun. ‘Ibadah . tuwin sanes ingkang sami sasar.4. makaten ugi dening para andika Rasul saderengipun. punika kuwajiban ingkang wiwitan kaampil. sanes ingkang sami kabendon.w. Lajeng saking Haji tuwuh semangat ambelani sarta labuh ing agami. 7. Saking ingkang baku kasebut. utawi ngumawula lan manembah ing Allah. lajeng tuwuh ‘ibadah memuji. Namung dhumateng Paduka piyambak kita sami menembah ‘ ibadah. ingkang kuwajiban sadaya titah. Kang Ngratoni ing dina Piwelas. mugi Paduka paring pitedah ing kita sadaya lumampah wonten ing margi ingkang leres. 5. 6. Inggih punika margi. . inggih punika : Shalat. 2. langkunglangkung manungsa ( sabab manungsa punika makhluk ingkang saged damel kabudayan wonten ing ‘ alam donya ). dzikir lan tafakkur utawi I’tikaf ing masjid. Isi maksud ingkang wigatos ing Surat Al-Faatihah : Intisari saking isinipun Al-Quraan punika sampun kaweca pokok-pokok ingkang fundamentil wonten salebeting Surat Al Faatihah. ndedonga. ugi ngajak Ummatipun supados samia ‘ibadah ( manembah ) ing Allah piyambak. sarta ngrebahaken sadaya kamusyrikan.a. ingkang dipun da’wahaken dening junjungan kita Nabi Muhammad s. Zakat. kados kasebut ing ngandhap punika : 1. Shiyam lan kesah Haji. saha namung dhumateng Paduka piyambak kita sami anyenyadhong pitulungan. Bab ‘aqaid utawi kaimanan . Ingkang baku wonten sekawan.

Pembukaan Huruf Jawa 1. Sejarah : maksudipun ingkang saged dados tepa-palupi ing salebeting sesrawungan ummat manungsa. sanajan wonten Donya saged lolos saking hukuman. sosial. agami. nanging wonten ngarsaning Allah ing dinten Qiyanat tantu nboten saged lolos malih.3. Angger. sesambetan internasional. Huruf Ha . perang. sesambetaning manungsa kaliyan Allah. dahme. Janji sarta ancaman : artosipun supados ngadeg keadilan lan keleresan ingkang saestu. Pramila ing salebetingQuraan ngemot pinten-pinten norma lan katamtuwan. sampun ngantos damel sejarah awon. politik.pernatan : maksudipun Syari’at Islam damel angger-angger hukum lan pranatan punika kangge karaharjaning ummat manungsa ing Donya dumugi ing Akheratipun. ekonomi. 5. upami hukum. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PIWULANG HA NA CA RA KA Oleh : BRM Panji Anom Resiningrum Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa. 4. A. gesang sapisan wonten ing ‘ alam Donya. kabudayan sarta kesenian. tatanagari.angger Hukum lan Pernatan. lan lingkungan sapiturutipun.

. 4. 3.Berarti ‘hidup’. Bumi d. Huruf Ka Berarti ‘berkumpul’. sebab memang hidup itu ada. Huruf Ra Berarti ‘roh’. Huruf Na Berari ‘nur’ atau cahaya. karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup. artinya cahaya di sini memang sama dengan cahaya yang telah disebutkan di atas. Hidup tersebut terdiri atas 4 unsur yaitu: a. Api b. yakni berkumpulnya Tuhan YMEyang juga terletak pada sifat manusia. Angin c. Yakni salah satu sifat Tuhan yang ada pada manusia. 5. hidup itu adalah sendirian dalam arti abadi atau langgeng tidak terkena kematian dalam menghadapi segala keadaan. yaitu roh Tuhan yang ada pada diri manusia. Kita telah mengetahui pula akan sifat Tuhan dan sifatsifat tersebut ada pada yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia karena memang Tuhan pun menghendaki agar manusia itu mempunyai sifat baik. Huruf Ca Berarti ‘cahaya’. atau huruf berarti juga ada hidup. Air 2. yakni cahaya dari Tuhan YME dan terletak pada sifat manusia.

jadi tidak ada yang dapat menyamai Tuhan. 8. 10. Huruf Sa Berarti ‘satu’. yaitu tetes Tuhan YME yang berada pada manusia. Huruf Ta Berarti ‘tes’ atau tetes. 7. 11. dalam arti ini menyatakan bahwa wujud atau bentuk Tuhan itu ada dalam manusia yang setelah bertapa kurang lebih 9 bulan dalam gua garba ibu lalu dilahirkan dalam wujud diri. Huruf Wa Berarti ‘wujud’ atau bentuk. la yang mengandung arti langgeng ini juga nyata menunjukkan bahwa hanya Tuhan YME sendirian yang langgeng di dunia ini. 9. Huruf Pa . Huruf La Berarti ‘langgeng’ atau ‘abadi’.6. Huruf Da Berarti ‘zat’. Dalam hal ini huruf sa tersebut telah nyata menunjukkan bahwa Tuhan YME yaitu satu. berarti abadi pula untuk selama-lamanya. ialah zatnya Tuhan YME yang terletak pada sifat manusia.

Huruf Ya Berarti ‘dawuh’. jagad gede juga jagad kecil (manusia). 12. Huruf Nya Berarti ‘pasrah’ atau ‘menyerahkan’. Huruf Ja Berarti ‘jasad’ atau ‘badan’. manusia yang utama. Jelasnya Tuhan YME dengan ikhlas menyerahkan semua yang telah tersedia di dunia ini. 14. Huruf Ma Berarti ‘marga’ atau ‘jalan’. Dawuh di sini mempunyai lain arti dengan dhawuh di atas. karena dawuh berarti selalu menyaksikan kehendak manusia baik yang berbuat jelek maupun yang bertindak baik yang selalu menggunakan kata-katanya “Ya”. Jasad Tuhan YME itu terletak pada sifat manusia yang utama. 13. Tuhan YME telah memberikan jalan kepada manusia yang berbuat jelek dan baik. . yiatu perintah-perintah Tuhan YME inilah yang terletak dalam diri dan besarnya Adam. 15. yaitu papan Tuhan YME-lah yang memenuhi alam jagad raya ini. 16. Huruf Dha Berarti dhawuh.Berarti ‘papan’ atau ‘tempat’.

Huruf Nga Berarti ‘ngalam’. Huruf Ga Berarti ‘gaib’. Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa. 19. dekat tetapi tidak dapat disentuh. Demikianlah gaibnya Tuhan YME itu (micro binubut). 20. gaib dari Tuhan YME inilah yang terletak pada sifat manusia. Tumbuh atau adanya gaib adalah dari kehendak Tuhna YME. seperti halnya cahaya terang tetapi tidak dapat diraba atau pun disentuh.17. Huruf Ba Berarti ‘babar’. Demikianlah huruf Jawa yang 20 itu dan ternyata dapat digunakan sebagai lambang dan dapat diartikan sesuai dengan sifat Tuhan sendiri. Penyatuan Huruf atau Aksara Jawa 20 . B. 18. Dapat pula dikatakan gaib adalah jalan jauh tanpa batas. karena memang seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Jawa yang menggunakan huruf Jawa itupun merupakan sabda dari Tuhan YME. Huruf Tha Berarti ‘thukul’ atau ‘tumbuh’. ‘yang bersinar terang’. yaitu kabarnya manusia dari gaibnya Tuhan YME. dan harus diakui bahwa besarnya gaib itu adalah seperti debu atau terpandang. atau terang/gaib Tuhan YME yang mengadakan sinar terang.

3. Angan-angan yang terletak di ubun-ubun (kepala) yang menyimpan otak untuk memikir akan keseluruhan keadaan. Angan-angan hidung untuk mencium/membau seluruh keadaan.1. Huruf Ha + Nga Hanga berarti angan-angan. Huruf Na + Ta Noto. Angan-angan mata yang digunakan untuk melihat segala keadaan. berarti coblong (lobang) dan kata tersebut di atas berarti wadah atau tampat yang dimilki oleh lelaki atau wanita saat menjalin rasa menjadi satu. Dimaksudkan dengan angan-angan ini ialah panca indra yaitu lima indra. seperti: 1. berarti ‘nutuk’. 4. 3. 5. Huruf Ca + Ba Caba. adanya perkataan kun berarti pernyataan yang . 2. Angan-angan mulut yang digunakan untuk merasakan dan mengunyah makanan. Angan-angan telinga yang dipakai untuk mendengar keseluruhan keadaan. 2.

5.dikeluarkan oleh pria dan wanita dalam bentuk kata ya dan ayo dan kedua kata tersebut mempunyai persamaan arti dan kehendak yaitu mau. Persatuan kedua benih atau kama tadi mengakibatkan kelahiran. dan kelahiran ini merupakan calon keturunan di dunia atau (alam) donya. berarti ‘badan awak/diri’. Huruf Ka + Ma Kama. 6. memandikan . berarti ‘komo’ atau biji. Huruf Ra + Ga Raga. dan dengan penyatuan kama dari kedua belah pihak itu maka kelangsungan hidup akan dapat tercapai. Huruf Da + Nya Danya atau donya atau dunia. Kata raga atau ragangan merupakan juga kerangka dan kehendak pria dan wanita ketika menjalin rasa menjadi satu karena bersama-sama menghendaki untuk menciptakan raga atau diri agar supaya dapat terlaksana untuk mendapatkan anak. 7. Huruf Ta + Ya Taya atau toya. oleh karena itu di dalam kata raga seperti terurai di atas merupakan kehendak pria dan wanita untuk menjalin rasa menjadi satu. Karena itulah maka kata raga telah menunjukkan adanya kedua benih yang akan disatukan dengan melewati raga. 4. yaitu ari atau banyu. dengan demikian dapat dipahami kalau atas kehendak Tuhan YME maka diturunkanlah ke alam dunia ini benih-benih manusia dari Kahyangan dengan melewati penyatuan rasa kedua jenis manusia. benih. Kelahiran manusia (jabang bayi) diawali dengan keluarnya air (kawah) pun pula kelahiran bayi tersebut juga dijemput dengan air (untuk membersihkan. bibit. Setiap manusia baik laki-laki atau wanita pastilah mengandung benih untuk kelangsungan hidup.

Berbicara tentang wadah atau tempat. sebab rumah merupakan wadah manusia. Huruf Wa + Da Wada atau wadah atau tempat. Bagai pendapat yang mengatakan “wadah terlebih dahulu diciptakan” maka mengenai kematian itu seharusnya wadah mengatakan supaya isi jangan meniggalkan terlebih dahulu sebelum wadah mendahului meninggalkan. dapatlah dijelaskan bahwa: kematian manusia berarti (raga) ditinggalkan isi (hidup). 9. Pada umumnya dikatakan kalau wadah harus diadakan terlebih dahulu. siapakah yang ada terlebih dahulu. Jangan sampai menimbulkan kalimat “Wadah mencari isi” akan tetapi haruslah “Isi mencari wadah” karena memang ‘isi’ diciptakan terlebih dahulu. Dengan demikian timbul pertanyaan mengenai wadah dan isi. apalagi kalau kematian itu terjadi dalam umur muda dimana kesenangan dan kepuasan hidup tersebut belum dialaminya. maka diciptakan pula wadahnya. Dan kelahiran satu tersebut menunjukkan adanya kata saja atau siji atau satu. dan manusia merupakan isi dari rumah. baru kemudian isi. Sebagai bukti dari uraian di atas. Pada umumnya kelahiran manusia (bayi) itu hanya satu. Huruf Sa + Ja Saja atau siji atau satu. sebenarnya hal ini adalah kurang benar. Sebagai contoh dapat diambilkan di sini: rumah. . 8. Hal ini jelas tidak mungkin terjadi. dan karena isi tersebut membutuhkan tempat penyimpanan. sudah seharusnya membicarakan tentang isi pula. Jadi jelaslah bahwa sebenarnya isilah yang mencari wadah. karena itulah air tersebut berumur lebih tua dari dirinya sendiri disebut juga mutmainah atau sukma yang sedang mengembara dan mempunyai watak suci dan adil. karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan.dsb). andaikata jadi kelahiran kembar maka itulah kehendak Tuhan YME. Yang diciptakan terlebih dahulu adalah isi.

karena hidup berasal dari suwung sudah tentu kembali ke suwung atau kosong (awangawung) lagi. pujabrata. matiraga lan sasaminipun. mengku pikajeng : tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan wau winastan manekung. Tetapi setelah jalinan rasa dilaksanakan oleh pria dan wanita maka meneteslah benih dan apabila benih tadi mendapatkan wadahnya akan terjadi kelahiran. keadaan hidup tesebut kalau ditinggal oleh hidup maka disebut dengan mati. akan tetapi hidup hanyalah meninggalkannya saja yaitu untuk mengembalikan semua ke asalnya. hidup kembali kepada yang menciptakan hidup. mesu cipta. Wallahua’lam Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 AJI PAMELENG Tegesipun aji = ratu. Meskipun begitu. mesu budi. Sebab yang dikatakan mati tadi sebenarnya bukanlah kematian sebenarnya. dan dimanakah letak isi tadi ialah pada ayah dan ibu. “hidup’ itu tetap telah ada demikian pula “isi’. 10. . akan tetapi kesalahan tadi telah dibenarkan sehingga menjadi salah kaprah. pameleng = pasamaden. Maka selama ayah dan ibu masih ada maka hidup masih dapat membenihkan biji atau bibit. Semua keadaan yang hidup selalu dapat bergerak. Akan tetapi sebenarnya dapatlah dikatakan bahwa suwung itu tetap ada sedangkan raga manusia yang berasal pula dari tanah akan kembali ke tanah (kuburan) pula. Sebaliknya kalau wadah tersebut belum ada maka kelahiran pun tidak akan terjadi. Pendapat lain mengatakan kalau sebelum diadakan jalinan rasa maka keadaan masih kosong (awangawung). karena sebelum dunia ini diciptakan (sebagai wadah) maka yang telah ada adalah (isinya) Tuhan YME. ngeningaken utawi angluhuraken paningal.Demikianlah persoalan wadah ini dengan dunia. Sebenarnya pemikiran demikian itu tidak benar. Huruf La + Pa Lapa atau mati atau lampus. yang bearti masih suwung atau kosong.

makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun. lan ugi sampun sami saget ngraosaken kabegjan. Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning saliring kawruh sajagad. utawi sastrajendrayuningr at pangruwating diyu lan sapanunggalanipun. kawicaksanaan. pahoman. panekungan. kawaspadan. nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun. kawasanan. dawan. perlu kangge sarananing panembah murid manggih kawilujengan. Bebasan sakedeping netra. tirtaamerta.Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen. tirtanirwala. kados kasebut ing nginggil. ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun. kasebut agami Islam. boten nawang bangsa Indhu ingkang agami punapa kemawon. pamursitan. paheningan lan sanes-sanesipun. margi saged anindakaken dhateng sawarnaning pandamel sae. mahosadi. sebab lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. punapadene kangge sarana duk kita darbe sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran). margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged nandangaken dating pangolahing kawruh punika. Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet ing Tanah jawi. awit kawruh wau saget nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi. temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu. lan ugi dados pangajenging piwulan agami. serta sami anggelaraken agaminipun tuwin kawruh sanes sanesipun. inggih nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan saking pandamel kita ingkang boten tilar murwat. sastracetha. mila kalayan gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi. pamujan. bangsa Jawi ing sa’indhengipun maratah sampun sami angrasuk agami Indhu. kamulyan. margi saking wohing kawruh pandamel wau. ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun Mohammad. Dene kawruh wau ing sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu. yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh pasamaden wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina makina. bilih miturut saking tembungtembungipun . . Dene wedharing kawruh winastan daiwan. katamtokaken mesthi ngrasuk pasamaden. Namung kemawon wedharing agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden. kawilujengan lan sasaminipun. sanyata kathah ingkang nagngge basa Sansekrit. Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau. pamurcitan. Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami angajawi. Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun. Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi lan sanes sanesipun. tirtakamandhanu. Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden.

Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes. utami tiyang ingkang anglampahi sarengating agami Islam. serta kedah santun angrasuk agami Islam. yen nerak bade angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. sanadyan suket godhong. tamtu manggih pidana. Purwo saking tembung klenik. dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh manjing agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam wau. bilih dereng angsal palilah Guru. ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau. kadosta ing ara-ara. serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru. nanging panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan kados kawursita ing nginggil. ing ngriku lajeng angawisi kalayan kenceng. Mila santri karan putihan. inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak). katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12. supados pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng pamarintahing agami Islam. Mila lajeng angsal paparab saking panyedaning titiyang ingkang boten remen. serta kenging kawejangaken ing sawanci-wancinipun. Dene yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten. bilih wontening wejangan kawruh pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Sebab yen ngantos kasumerepan.Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari. menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen. Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun agami Islam sadaya. margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam. yen batosipun taksih angrungkepi agamipun lami. lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami. Panindak ingkang mekaten punika. pun murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng tiyang sanes. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng katindakaken. sanadyan Nagari sampun boten angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden. langkung-langkung kawruh pasamaden punika ingkang sanyata dados mukaning . purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman wisesaning Nata. ing wana. kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu walangataga ugi boten kenging miring. uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh pasamaden kasebat. dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok tiyanga. Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados. purwanipun namung tetep kangge panjagi. ugi papaning pamejang boten kenging kaubah wangon. boten mawang nem sepuh. Sebab wontenipun sadaya punika supados kasumerepan dhateng ingakathah. dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir kemawon. yen miring lajeng malih dados manungsa. inggih punika ingkang kasebut nama santri. titiyang Jawi boten kenging anindakaken kawruh pasamaden. ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah dhedhemitan. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk kaliyan pun murid. Dumuginipun ing jaman samangke. utawi Islam pangaran-aran. Ingkang kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking agami Islam. bilih santri punika sarwosarwi langkung resik utawi suci tinimbang kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.

saking . lajeng sami ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng ingakatah. sebab Seh Sitijenar punika mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. temah Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami pinejahan katigas jangganipun dening para Wali. lajeng mungel : salat daim (salat – basa arab. Lajeng tunimbal dhateng Sunan Geseng. Punapadene lajeng kaewoaken dados saperanganing panembah. tanpa nawang andhap inggiling darajadipun. Kaping kalih salat daim. Ingkang pinindeng namung mumuruk tumindaking salat daim kemawon. kamulyan. Milanipun dipun wewahi basa arab. lan sasaminipun. Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe suwung. inggih Ki Cakrajaya. Ki Cakrajaya wau pandamelanipun anderes nitis gendhis. punika panembahing batos. sarana dipun wewahi tembungipun. Punapadene tembung salat lajeng kapilah kalih prakawis. namung kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun ingkang sampun sami necep agami Islam. ing ngriku salat limang wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak boten kawulangaken babar pisan. dening Seh Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara. Kawruh asamaden. ingkang ugi dados pramugarining agami Islam apangkat Wali. utawi kasebut loroning atunggil. daim saking daiwan basa Sansekrit). Sangsaya dangu sangsaya ngrebda. ingkang ugi apangkat Wali.sadaya kawruh. anyuremaken panguwaosing para Wali. wusana wonten kaelokaning lalampahan ingkang boten kanyananyana. pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged andhatengaken ing kawilujengan. ingkang lajeng winastan daim. Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten. margi piwulangipun langkung gampil. katentreman. mangertosipun : anekadaken manunggaling pribadinipun. anggenipun amencaraken piwulang agami Islam. tiyang asal saking Pagelen. inggih Pangeran Panggung. lajeng kadhapuk ing ndalem serat karanganipun. Sapisan salat 5 wekdal. Mila titiyang Jawi ingkang suwau manjing agami Islam. terang lan nyata. ingkang mijeni Kyai Ageng Pengging. Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning piwulang. dening Seh Sitijenar kinen sami madeg paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. margi yakin bilih kawruh pasamaden wau. ingkang kacarios saderengipun dados Wali. ateges panembah lahir. Mila wajib sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing saindengipun. Amarengi wahyaning mangsakala. wirid saking tembung daiwan kasebut ing nginggil. kasebut salat sarengat. langkung-langkung ingkang dereng. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar. ing pawingkingipun bab kawruh pasamaden wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang sampun kabuka raosipun.

ingkang sami miridaken kawruh pasamaden. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi dukanipun. ingkang dipun santuni nama naksobandiyah utawi satariyah. lajeng sami mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar. Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid nampi wiridan salat daim. murih boten ka’arubiru dening para Wali pramugarining praja. Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai. kesah anututi lampahipun Pangeran Panggung. langkung rumiyin kalatih lampah dhidhikiran lan maos ayat-ayat. nginten bilih kawruh wau wiwiridan saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). kapidana kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun Demak. temah kamitenggengen kadi tugu sinukarta. temah sami rumaos kawon angsal sihing Pangeran.dhawuhipun Sultan Demak. Dene piwulangipun kados ing ngandhap punika : Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim. lajeng oncat medal saking salebeting latu murub. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan wiridan naksobandiyah. temah dhawahing bendu. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh Sitijenar.sanesipun malih. ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak rukuning agami Islam. mila para guru samangke. Wiwit punika wuwulangan pasamaden lajeng wonten wanrni kalih. para sakabat tuwin murid-muridipun Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. atur uninga bilih Sunan Geseng. inggih punika : 1. . Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening mawerdining Hyang Brama. Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg sami enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana. Sareng sampun sawatawis tebih tindakipun Sang Pangeran. karangkepan wuwulang salat limang wekdal tuwin rukuning Islam sanes. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung. amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken kawruh pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar. Salajengipun para Kyai guru wau. Katungka unjuking wadyabala. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun mleset saking jejer ing sakawit. Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng kakantunanipun ingkang sami pejah. nanging mawi sislintru tinutupan wuwulang sarengating agami Islam. pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi. ugi taksih sami madeg paguron nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden. Ingkang boten kacepeng sami lumajar pados gesang. Dene nama Kyai. kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih. nilar nagari Demak. inggih Ki Cakrajaya. dene panindaking piwulang kawastan tafakur.

Santosa. boten anguthuh melik anggendhong lali. punapadene pinter angereh kamurkaning manah pribadi. margi saking dayaning mas picis rajabrana. 5. tansah nganggeni tatakrami. maweh rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa. boten ngunggul-unggulaken dhirinipun. ngantos sabujading jagad. adil paramarta. tanggeljawab boten lewerweh. dhateng ingkang sami kataman. Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah lan satariyah.2. kita badhe nandhang papa cintraka. Setya tuhu utawi temen lan jujur. inggih punika makaten : . sampun ka’andharaken ing nginggil. Susila anor-raga. ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing samangke karan klenik). namung kemawon tumandangipun boten kawedharaken. inggih amesu cipta angeningaken pranawaning paningal. punika bilih tetep samadinipun. 2. kados ing ngandhap punika : 1. Lampah limang prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata anandangaken ulah samadi. tebih saking watak panganiaya. Mila makaten. 4. dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis. Pinter saliring kawruh. punika ing sakawit. wiji saking Kyai Ageng Pengging. 3. sabar welas asih ing sasami. Leres ing samubarang damel. kagiles dening rodha jantraning jagad. ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar. Awit saking makaten punika mila tumrap panindaking agami Jawi (Buda). langkung-langkung pinter ngecani manahing sasami-sami. dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan kamardikan kita sami. Piwulang pasamaden miturut Jawi. ingkang dados purwaning piwulang. Yen boten makaten. sebab musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan. kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados kawursita ing nginggil. ingkang dereng kacarobosan agami sanes. bab kawruh pasamaden tuwin lampah limang prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh boten pilih andhap inggiling darajatipun. Temah kita manggen ing sasananing katrenteman. margi kacidraning manah kita pribadi. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah umandanging samadi sacara Jawi.

Menawi napas kita dipun ereh. dalamakan suku ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa. Inggih ing riku punika jumenenging rasa jati kang nyata. sarana angereh solahing anggota (badan). dene pancering paningal kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa’antawising netra kakalih. Mugi kawuninganana. Saking dayaning panggulawenthah. Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten : panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) . bilih cariyos makaten punika tetep namung kangge pasemon utawi pralambang. saha sidhakep utawi kalurusaken mangandhap. inggih cethaking tutuk kita punika. boten wonten sanes namung badhe nyumerepi kajaten. punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking sumengkaning napas wau. temah anuwuhaken tatacara. Punapadene angendelna ebahing netra (mripat). yen awon inggih awon sayektos. ingkang sampun dados tata-cara margi sampun dados pakulinan punika.Para nupiksa. Dene makartining rasa jalaran saking panggulawenthah utawi piwulang. kang yekti. Panampi makaten punika. dene temenipun ingkang kados kita angkat. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing saniskara. kang weruh tanpa tuduh. Punapa panganggep awon sae. suku ingkang lurus. menawi sampun kraos awrat panyangginipun napas. punapadene pangalaman-pangalam an ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun . Menggah pikajenganipun samadi ing riki. punika dereng tamtu. inggih punika ing papasu. tuwin amuntu ilining rahsa. Tegesipun cetha = empaning kawruh. dene sarananipun boten wonten malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking makartining rasa. sarta mawi kaendelna ing sawatawis dangunipun. Dene panganggep. epek-epek kiwa tengen tumempel ing pupu kiwa tengen. Inggih makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. utawi Sang Arjuna yen angraga-suksma. Sumengkanipun napas wau kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa. yen sae inggih sae temenan. dados inggih dede kajaten utawi kasunyatan. pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. awit duk kita mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah malih anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung samadi = sarasa – rasa tunggal – maligining rasa – rasa jati – rasa nalika dereng makarti. inggih punika ingkang kawastanan meleng. dados . Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta (panggagas). bilih samadi punika angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal saking badan wadhag. dene pamandengipun kedah kalayan angeremaken netra kakalih pisan. pikir lajeng gadhah panganggep awon lan sae. boten yekti. purwanipun mirid saking cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati. Mila winastan makaten. inggih lajeng ka’edhakna kalayan alon-alon. jer punika namung pakulinaning panganggep. kasebut sirnaning papan lan tulis. tetep namung ngenggeni pakulinaning tata-cara. cetha = antebing swara cethak. mugi sampun kalintu panampi. Mangrehing anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah. Inggih patrap ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau. mila lajeng kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal.

tamtu boten saget dumugi ing suhunan. rat = jagad – badan – enggen. kalihan angeningaken (ambeningaken) paningal. wedaling swara ingkang namung kabatos wau. Dados ulah samadi punika. tegesipun tri = tiga. kedah kapanjang-panjangan a . inggih risaking badan wadhag wangsul dados babakalan malih. anggenipun kawastanan sastracetha. panebutipun ugi kasarengan lampahing napas. margi saya kuwawi dangu. Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang dipun wastani kawula gusti punika dede napas kita. minggah dumugi ing suhunan. yen tumedhak. nanging tanpa angereh lampahing napas). minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan cethak. wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe maksud sanesipun malih. Kajawi punika. Dene ing wiridan satariyah. sarwi mocapaken mantra sarana kabatos kemawon. utawi ateges langgeng. Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil. (Ungeling mantra utawi panebut kakalih : hu – ya. margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun medhak malih. ingkang sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). inggih wontening ambegan kita. Mila sayogyanipun lampahing napas inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel. Inggih punika ingkang kabasakaken paworing kawula Gusti. inggih punika mungel `hu’ kasarengan kalihan lumebeting napas. inggih panariking napas saking puser. awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen anandangana malih. Dene. kita jumeneng gusti. nanging dayaning cipta kita. lumampah. pokokipun kita kedah amanjangaken panjing wijiling napas (lebet wedaling napas). sangsaya langkung prayogi sanget. ugi kenging karancagaken.namung manut lampahing napas piyambak. inggih lajeng ka’angkatana malih. utawi nyambutdamel inggih kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau. inggih punika ateges panjang tanpa ujung. kalihan lenggah. pikajengipun : mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh. margi nalika mocapaken mantra sastra kakalih : hu – ya. ingkang sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya. makaten salajengipun ngantos marambah-rambah sakuwawinipun. sebab paningal punika kadadosan saking rahsa. wangsul dados kawula. Dene manawi sampun sareh. Lajeng `ya’. Bilih kakalih wau kendel boten makarti nama pejah. kados ingkang kajarwa ing nginggil. ing wiridan naksobandiyah kaewahan dados mungel. uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing wijiling napas. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan). panebut wau mungel : hailah – haillolah. jalaran sampun menggeh-menggeh. suraosipun : kaping tiga napas kita saget tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). pandu = suci. Dene ambegan punika. ugi kawistara saking dayaning cethak. Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau. kasarengan kalihan wedaling napas. tegesipun : manawi napas kita sumengka. Dene pikajengipun amastani bilih wontening napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng. sa’angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga. hu – Allah. sanyata wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel. Dene sa’angkataning pandamel wau kawastan : tripandurat. inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing puser. mila makaten.

putu. Tiyang pinter dados pinter sanget. waesia dados satriya. rereget. Dados diyu punika kosokwangsulipun dewa. tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar.lampahipun. penyakit. welasasih. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. canggah. Tiyang sakit sirna sakitipun. dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta. pepeteng. temah saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak. punika bilih ing suwaunipun tiyang awon. endra = ratu – dewa. jendra = saking panggarbaning tembung harja endra. Tiyang bodho dados pinter. babaya. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados waesia. wareng. yu = rahayu – wilujeng. lajeng sirna piawonipun. Suraosipun : Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon. kabodhohan lan sanesipun. murih panjanga ugi umur kita. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 AJI PAMASA Wedharing wyata mirid gempilaning piwucal Aji Pamasa DHANDHANGGULA . malih dados tiyang sae lampahipun. satriya dados brahmana. ningrat = jagad – enggen – badan. engkang ateges pinter. Tiyang goroh lajeng dados temen. mila lajeng sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu. sae. Tegesipun harja = raharja. buyut. brahmana sumengka pangawak braja asarira bathara. Mangertosipun. punika kangge pasemoning piawon. ingkang babranahan. Dene tegesesipun pangruwating diyu = amalihaken diyu. wilujeng lan sapanunggilipun. Wontenipun andharan ing nginggil. mratelakaken bilih kawruh pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun. katentreman lan sapatunggalipun. Tegesipun sastra = empaning kawruh. sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi. kaharjan. dados saras.

nora ngungalken jaja yèn asanès lesu. dèn ugemi pitutur kaping sat niki. suka serep ing semu. sirik cengil pasulayan. tan pilih-pilih janma. damel padhanging prana nebihken bebendu. samubarang kang linakya. Pradikané wawaler pratami. sagung tumindak lupa winastanan luput. linepat king deksura tinebih panyaru. lamun dipun upaya kinemat ing kalbu. amrih dadi lantarané. aywa nganti anglalarangi. Kang wusana pitutur saptèki. istingarah munpangaté. 4. 5. dadya tales tanduking karti. sarwi mapan nora badhé damel tuni. . temah kalis watak umbag klawan edir. njijiret sapapadhané. Apa baya kang pitung prakawis. kang sinebat cidra lan pitenah. nuntun mring lempenging lana. suka tentreming rahsa. nging pedak kautaman. sinirika cidra lan pitenah. yèku warah kapisané. udinen mrih lestariné. tan damel pilalaning lyan. seserepan wiraos prati. 6. dalah mundhut putrèstriné. istingarah kang tinuju tan nalisir. kapiluyu lampah basiwit. siku dhendha nlikung sasami. pinuntua ing driya. datan arsa guna pasang kala. 8. sinantun paramarta. mahanani kasudibyan. Mangkya nenggih sastradu nayadhi. kaping kalih puniku. tinilingna walering darana. nora gampil kayungyun. dé kaping gangsalipun. paugeran kang pitung prakara. temah manggih raharja. datan gampil kinelun kalulun ing wawatak nisthip. winedhar wiyar tebané. Catur angger ugering prarepi. 3. luluh welas nalangsa.1. prenah prandéné laras salir tindakipun. kosok-wangsul wèh ayem dasih sadyèki. piguna mring kang ngluru. Kang ginelar wyataning suyati. datan asurak susuka dupi miyat panandhanging sapadhèki. Mangkya kiyé gelaring pangerti. olah pangupajiwa sasamining manu. dyan sentana ywa dèn alingi. tlatènana kang pitung prakara. 2. ping tiga ywa mawang kadang. 7. ywa sisip ing pangertiné. pratélané sapta pracèki. Pracékané janma luhur kaki. tan mélik mèt artaning punggawa. tan bungah lamun nemu. janma kudu mituhu. nalusur woting darma. anebihi gegelah regeding bumi. pangadilan jinejegna kanthi titi. lamun ngambah margining utama. songgarunggi mring kawula. tan remen cacaketan klayan watak margu.

poma-poma dipun tetepana. 15. kaanggepa dèrèng nglunasi. ywa cidra gung pepecehé. Lamun sirik watak ngadi-adi. 10. pinurih saged rampungé. angugemi pakaryan kanthi permati. lamun maksih linuru. dipun éling niyat kang utama. Tembung cidra sinawung punagi. 13. tumapak ing lalampahan. pinétang utang èstinè. buteng ribeng krodhanya. wawataking satriya sirik colong playu. temah ndadra misésa wathi. milaur urip iku. kusung-kusung kemrungsung kécalan santi. karem donya wah malih pangwasa. nering laku nora léngah. tundhonipun nalangsa nalisir king wangsu. amituhu kanthi taliti. datan lumpuh karana kaot sinanggi. tan cidra ing ubaya. kang dèn bujung pakareman. 11. . wisayané karaos awrat ngantebi. nggémbol upas kang niniwasi. kanthi nranyak ngrabasa gahi. setya tuhu bekti mring Hyang Murba. nilaraken palagan. dhemenyar pepénginané. prancana tan dèn ugung. tan darbya raos rigung. ngandhar-andhar winuwus nglengkara. tékad kang wus pinuntu. tan kablithuk pandulu. tilar salir manah sonta. tegen rigen pralaga tlatèn miwah tekun. aywa wudhar tanpa pangaji. netes sagung pangucapé. raos bentèr nguntar-untar. lir kanteban antaka. wèh sengsem mring tyasing lyan. nanging mamak wawatesé. nora lèmèr ing wuwus. 12. teguh maring bebahan. nunuwun Hyang Murbèng Suksma. nging sapawingkingipun. Jejering titah sawantah kaki. andhepipis ndhelik winengku raos jrih. Paran nggènira nyepeng sumangi. siyang-ratri tan kendhat nggènipun dhedheku. istingarah gung pangajab temah dadi. gampil sengsem kang katon èdi. nguwus-uwus tan ana dadi. péndah madu mamanisé. Kénging winastanan cidra ugi. tetembungan dèn arah jumbuh kang sinaguh. nyahak wewenanging lyan kécalan pakéwuh. nukulaken panandhang tuwin tilar latu. linepat saking papa. datan ngucirèng ngayuda. watanira suker tan béda wewerri. Panjangka kang dadya lenging ati. tan bosenan nora wegah. 14. mokal lamun kalis ing sasanggan. angulari papaka. Lamun sumanggem tanduking gati. Ywan wus wani nglairken prajangji. tlunyar-tlunyur miwah lèlèmèran. kang wus dadi pepesthèné.9. antepana minangka ubaya. 16. nanging mugen manunggal genah kang tinuju. istingarah andika manggih basuki.

tumètès kadya kusaré. dyatmika neng nayadhi nging sirik salingkuh. Wawaler tumrap sanggya pawèstri. jalu gini datan ana béda. mamanisé wisasa. kénging winastan pracoré. lupa upasing walika. datan uwal king cintaka. kasmala binirata. nging maujud datan mandheg katamarti. kang anecep wurukira. murih dadya manuswa bisama. Dipun tlatèn samya angulari. kanthi wijang kawrat sastracetha. 18. dupèh èdi ngelam-elami. temah wasa nering prajangji. undhuhané mrawata wèsdhi. 19. 21. apesé ngemping lara nyanyadhang bebendu. tumus dugèng dalaha. tan mangabisatya mring raka. parnoh sagung tindakira. nginger-inger wawaler mamada sastradu. cidra mring karsèng Ulun. upayanen kanthi sasmreti. angrarantam pracéka. pranahara jatining manuswa. rongèh tansah walisah. was maring kakung tuhu. Sasing janmi swawi angupadi. cegah hawa tahen ring prancana. saswih maring Hyang Murba tumus sanggya manu. iku teges nggénjah papati. tansah saswih ring garwa. Pan wus dadi sasakiding parwi. ywan rumpil lampahipun. Wanti-wanti peceh parahati. tebih saking tutur cidra. katri wus kadi wuru. abiwadha setya hastuti. 22. ngumbar gujeng kucah liring nétra.17. . leheng meleng mring pranamya. lamun limpé ngaluyur ramban taruni. rumaket-raket sasambé. basan pranamèng kapi wruh rukem kayungyun. ngindhik-indhik pamrihé damel papati. kasukan kang binujung atilar pakéwuh. susmaya prabaning Hyang abyor cahya kitu. lampahnya pindha margu. kang dèn uja tan liya dityasmaraji. satemah pinitaya. 23. dimèn pana tuduhing Hyang Suksma. tan kéragan mring napsu. rinumpaka ing tembung. gesang datan piguna. ririh raras sinuprih katon mrak-ati. dhadasar badan lugu. Menggah tuduh ingkang gung utami. temah dyusdha niyak wastuti. adol ati sapa baé. Poma éling swawi dipun luri. ywa gampil mupus tekadé. angulati bebener ingkang nayadhi. basagita adi wigati. dhépé-dhépé gilig ing prana maniwi. tutura angarah-arah. kumudu kang kapindhoné. aywa mblasar tumindaké. Mangkya cidra tumraping akrami. 20. sengkeraning pralaga datan ana wèstu. 24. ngundhuh wusa wisaya dadya mangangi. pisan cidra angèl anguwalna. titah sawantah jejeré.

alaning liyan dèn andhar. 31. amengangah ngangah-angah saya ndadi. temah kalis rubéda. burusa lair batiné. katri marem mring jatu. brekiti ing sregepira. Nora béda waler ingkang sami. tuhu bekti nggigilut wiyata. nukulken wijining tikbra. nyarwètèh kedaling lambé. Kakaroné kasengsem tataki. iku watak katbuta. Poma-poma kenceng dèn cepengi. manah gampil kayungyun. sanès kinarya lalap uraping panyatur. tumrap priya kang wus balé wisma. kanem mardawèng budya. traping laku minongka manggala. kalima mangabiwadha. murih dadi lantarané. basda winewah bumbu. dwipangga datan kéguh saguh kang ginayuh. Sabanjuré winedhar sastradi. sadaya samya pinerdya. dyan pracara ukara datanpa bukti. adhakan dadya tuman angèl mantunipun. 26. lamun manggya kèh sambé-kalaning margi. tumus harja miwah basuki. ngrarakit tembung lunyu. tentrem ing brayatipun. myang turangga cukat ing karti. swawi dipun tuladha. kaya-kaya beciké tan ana sami. . amemada sarta ngadili.25. pamurihé saya wigati. anguwus-uwus wuwusé. ngumbar panyatur ala kèh panacadipun. 27. pantang pepes batosira. kaping paté mawang ring rabi. lamun dipun turutana. dadya gapiting braya ywa mingkuh pakéwuh. dimèn pana warahing luluhur yekti. dhihin mantep ing pamilihira. pinindhakna wawadhah ringkih kaotipun. catur wala pepindhané. jroning gesang punika. Dipun èmut ma nenem puniki. apan baya winastan pitenah. klayan dhiri pribadya. Aywa pisan cidra ing prajangji. asisipat memengku. 30. ping kalih madhep atiné. sona ing setyanipun. 28. tilar garwa kapéncut ing liya. Tyang kang remen mbèbèrken wawadi. becik dèn singkirana. lubèr ing sih sarwi ngayomi. garwanira dèn papanken rowang padmi. 29. lir karaba muleg ing akasa. kasulistyan aniniwasi. sumrambah tedhak-turun sapawingkingipun. siyang-ratri makarya tan wènten sepi. awit awon pinanggihé.

pindha krodhaning denawa. ilat iku lir wisa mandi. 38. kadi brahmana anggepé. buron wana peksi raja-kaya. Kadi latu nyalat wreksa langking. parandéné si punggung pambeg wah kumingsun. lir bathang ingkang wus lungsé. tumrah badan sakojur tan liya mung manut. lumuh lamun prawadha kalindhih ing semu. surata siya-siya. wit kasunyatanipun. 36. kadi hakim kusalanya. kanthi permati empané. kumawani kumlungkung ngadil-adili. dyan sapletik bisa ngambra-ambra. lamun kalintu trepira. anderbala mbabar wewerri. nora ngétang katala sami. datan lèmèr ngumbar-umbar kata. muspra datanpa guna. mijil king tutuk sajuga. bacin lamun dèn ambu. tuwin jumeneng hakimé. ipat-ipat punapa déné wastuti. dalasan saisining wé. Poma bisa mapanaken lathi. ing kawurya pranama adamel tuni. kang kagungan gung kasugatin. Tembung sisip sinusup kasisip. kasereng lir katwara. makantar urubipun. angèmperi panatagami.32. tumanduk ring papadha. angadili sapa-sapa ingkang wèsdhi. makaten lidhah sanyata. temah gampil dèn kemudhèni. 35. jail lampah candhala. saged kadamel lulut. 37. Èmperipun kendhali turanggi. Angrèh sato teka langkung gampil. kaya-kaya manekung. misésa palimirma miwah paring bendu. samakéyan sasolahé. sanadyan alit wujudé. tan liya mung Hyang Agung. dipun trapken jroning cangkemira. dé manuswa iku sapa. nging misésa mring janma. Klawan ilat padha muji Gusti. ngalad-alad ambilaèni. Dipun émut ywan namung sawiji. dhahat karya sangsaya punapi kasumbung. katiwang ing papaka. ilat iku tan béda kadya hagni tuhu. mangungsir mrih kasumbaga. kang dumunung jro jiwa-raganirèki. dyan mujudken pérangan badan kang lengit. ngidung dhikir ing sawayah-wayah. dadya sangarakalya. nyembur wisa wisaya aniniwasi. Amemada sisiping sasami. nyata kalangkung lungit ywan kinarya tutut. nora béda gandaning kusana. nging klawan lidhah ugi nyupatani manu. 34. ancik-ancik kunarpanirèng sasami. kudu unggul binuru. tan mangkono ilatirèki. ingkang yasa sanggyaning prarepa. temah mbesmi alas gedhé. 39. ywan pinekak satuhu. 33. lir jagading kadurakan. murih bisa sasap ing sasama. .

Lumingkabing wawaler puniki. pringga dhusdha mutawatosi. ngenut pangrèhing suksma. amangangi kalamun nyenyebar branti. tinalesken wisiking Hyang Suksma. saraga gung ngebeki jro tyasirèki. nora gampil pineper kalamun katrucut. wohira gung rudita. datan mokal wawalar ndadi. ukara rinumpaka jroning sekar Pangkur. mring bebener wucaling bremana. yèku manuswa tama. ananawur sarawa gé. andhatengaken braminta. lidhah dipun kendhali tutur tan kalantur. tilingna kanthi luménggé. pramila kang bisama. rurumpakaning wuwus. Pan wus langkep lingkabing pramodi. sagung trékah kang cengkah klayan prarepi. 41. awiwéka mrih dadya harjaning janmi. Mangkya dungkap warah kaping kalih. langet langkananing lana. . dharaka pramusita. 45. wusna anjrah sulurnya angririsaki. Kang wasisdha tansah angulati. sakelangkung anggigirisi. nyebar wijining tatu. 43. kang kaajab mung bahagé. 42. nètèsken sarkara soba. 46. menggah warah cidra lan pitenah. awit ageng durakané. leng lumingling ngluluri pranamya dhani. nanging kosokwangsulira. sung seger tanem-tuwuhé. was winawas kanthi premati. leget mring kautaman priyatna ing tembung. 44. lamun linga muwus ngayawara. makaten imbanipun lidhah ingkang wèstu. wus winedhar déning pramudika. lengka kang rinaosna. dipun ening panampiné. Salir wawengkaning janma singgih. pasulayan undhuhané. ywa ngalingi luputing sentana. ngreregedi janaloka. mekak hawa laksita juti. Nadyan namung pérangan kang lengit. swawi dipun gatosna. kang dados panènipun. watak asih tan sengkung. 47. walagang nggènnya lumung ywan datan kapugut. lamun mogèl mobah jroning latha. temah dadya daya basuki. babasan ngingu-ingu. waged dados kabegjan kalamun pituhu. sumberipun saking alam raya. prihé sami pinungkurna. Lir kusara mrentul wanci énjing. Jihwa pindha landheping bedhami. resepna kang satuhu. dadya daya ingkang nguripi. sinartan manah kang sarjé. dimèn menep jro sarasati. sumimpang sagung pitenah. lebetna manjing kalbu. sarasati binawa amangastuti. dadya daya paraya salir dhasdhi langut.40. kasantyan kang dèn bujung. ngulari rèh sampurna. wèh sarsa maring sasama. sèstu soba suka wicaga ring dasih.

jugar wigar kang kawuri. Pirengwa dipun landhepna. 50. mongka sutra ingkang kinarya salimut. wus datan kawistara. muksapada kang linari. angalingi klepataning sentani. Kang wasisdha angrèh praja. nora ngugung dupèh sentananing ratu. nanging remen miyala sasing janmi. kang gumendhung morang kèhing kintaki. sanadyanta dudu tuturasing ratu. remen anunggyangtaya. Ywan pramoda dadya wasa. lumèng prabaning nagara. kang dadya ugering dhatu. Nilep lepating sentana. satemah lulus basuki. angèl dipun dandosana. kinuswa gandaning pati. 52. paraha sanagara.PANGKUR 48. becik tinerapan siku. piyarsakna gung pasambating kasi. siningkirna sagung dhasdhi angriridhu. langkana tan wrin godha. aywa mangu pinidana. gegebengan pradika gegyan adi. aywa gampil atilar silastuti. 55. ywa parasama ring manu. Murih harjaning puraya. Lamun ginadhuh wisésa. pamurih rèh jinejegna. . ywa nganti amémérangi. upayanen paugeran priha tan wur. nora idhep mring dadalan. wit tan lengkep manira angluluri. 49. dadya ura jroning dhatu. 56. Aywa pisan darbé sedya. 53. tetep dugi titi mangsa. temah sisah lamun katala wus kusup. kalamun datan pakantuk. niyak sagung prarepa. cepengana ingkang wastu. murih kalis king dhuskarta. 51. pakeken datan lirwa. dinendha sawatara. Masiya maksih sudara. Tumarah para sentana. ingkang murwat klayan kalepatanipun. ywan gesangipun kastura. paribasa babathang dèn kemuli. saya ndadi dhumateng wisésa wuru. dhusdha pinaring papaka. sanadyan tumrah ing bandhu. dharaka manggih astuti. amikara dupèh maksih tedhak luhur. sanadyanta nganti brukut. kaadilan kang santya. lampahnya aywa dèn ugung. poma-poma wicaga dèn ugemi. 54. tikbranira dipun sanggi. sumrambah kawula dasih. ngetrepi jejeging adil. linenggahna sapadha.

anjuk risaking nagari. pinurih tiningal èdi. langking tan ana rega. 65. sanak kadang dèn uja. Nggagadhang éndrasangsara. basan badrak badan kramu. nora bener kalamun tan dèn paèlu. Prayojana ingkang prama. nora gingsir kalindhih sagung pamrih. dhateng sanak-kadangipun. panganggepipun kalantur. aywa kalulun ing napsu. mamanisé wisésa pinracadi. pinaringan wengan awawatak diyu.57. kupiya ywa kawistara. tan nayuti sanadyanta tindak luput. 59. Suka-suka parisuka. kasyang asih kibir edir lawan umuk. lumuh pènget myang warah. andé sangsaraning praja. tyas ura nir waskitha. mring pangwasa kapiluyu. 61. dupèh lelenggah ngaluhur. 62. ngajak-ajak tingkahipun nyrambahi. Aja dupèh kadang raja. ywan amengku wisésa nyakrawati. tandang-tanduk sarwi ngéwan-éwani. wit misésa datan wènten tembung klintu. tedhak turun dipun ugung. Awasna pamawasira. ngudi cantya aji mumpung. sinarujuk dyana luput. acongkak sosongaran. lamun mukti padatan dadya lali. binari asuka-suka. apracara sagendhingnya. mring sentana mirah nggènnya andani. 63. jinarken ngambra-ambra. sinikara siya-siya. 64. mring dasih suka andaha. 58. tundhoné angundhuh tuni. Aywa wuru mring sarkara. sentana dadya bala. mangka murba wewenang angrèh kasi. prana winengku ing moksil. wirahsané bebener duk inguni. bisa akarya papaki. kang satiti mulat sisiping tumanduk. tyang andèh tan ana wani. kascaryan kalenggahan. 60. Pan wus jamaking manuswa. Lamun kaladuk énaka. samudaya kaleresna. . nadyanta alit kéwala. lamun lepat sengadi datan anahu. Poma dipun waspadakna. kethaha mring donya brana. andrawili kasukan ingkang kabujung. kawuri amamalati. tyang alit tan ana wani. angandelken maksih dharahing ngaluhur. trékahnya anjurbalani. ical landheping rahsa.

catur wengis tumanduk ing sasami. wus samesthi kang lepat pinaring bendu. jinarken amurang tatir. luput winastan waskitha. 73. lampah dora datan maksi. pinta-pinta paneraknya. nglangut nenga namu-namu. 71. andurasa labetipun. ical jatining rahsa. Utana lestari begja. panyaruwé tan pinanggya. kibir edir jubriya sagung janmi. katalya ing panggraita. Angunguja karsèng driya. titis mawas gelitaning prakawis. nanging baya aywa kalimput ing semu. 70. nora nilarken papacuh. wus mratobat sanyata. kemarung bobondhotan. lepating kadang siningid. tan ana nohan nuhoni. kakarèné tan liya sarwi rungsit. waris sentana dèn uja. mring bebecik tan anaur. basan tatanem gugrumbul. sung apura kawula ingkang lali. 74. dadya linglung nunjang palang kadé diyu. kadang kawula pan sami. Latah remen andurkara. dadya pangungsèn sanyata. mring asanès siya-siya. kekeling kang dipunnèni. undhuhané prahara gung sakelang-kung. tumrap kang sami andasih. . pinitaya mangrèh jantraning nagri. sirik nyilibken piala. iku dudu wawantuning pangrèh luhur. 69. Urip muspra nir sarkara. kaadilan tan kendhat dipun udi. Mangkana traping trapsila. dupèh sanès sentana. tinilingna pasambat kawlasarsi. nora luwèh mring panglawung.66. dupèh lagya ginadhuhan sendhang madu. 72. pracékaning sentanèki. Bangkit nahen sagung hawa. sung ancuta mring bebener datan indung. tan ana béda-béda. nalar mulur tan kalantur. mélik dèn anjuk tebya. risak sakèhing ukara. kosok-wangsul mring sanak-kadang sadarum. 68. malah mamales ala. aywa mamang matrapi ingkang kalintu. samektakna manah kadya udadi. dyan loma pangapura. Kèh tyang sudra ananantya. Becik lamun paramarta. 67. tumrah kawula sadarum. niyak gegebengan luhur. ambuburu angkara. wus tan wènten silastuti. Kalamun dadi pramuka.

dupèh maksih dharah dhéwé. mring pakeken datan andor. Dyan kadang lamun tan becik. tiwas tuwas wuntatnya. kang amiji karsèng Katong. ywan kaandhar pepeceh kang kaping dwi. iku wateké wong kumprung. Tanasing janma utami. winedhar sang twijara. rongèh jlalatan ing semu. ngandelken kadang sentana. piniji ingkang tuwajuh. tan jetmika ing budya. kawurya tilar talutuh. 83. 80. nanantya datan piguna. polah-tingkah sarawéyan. 81. ingkang tumrah gesangira. . mahnani gancaring laku. bangkit angéntasken karya. 78. Ruruh rentahing andani. raos lingsem datan darbya. linepat salir rencana. ngugemi sagung wiyata. temah angundhuh cintraka. dharah punapi liya. bisa dadi kajalomprong. 82. wawantuning taluwanwa. wasna kaduwung ing kalbu. tuturasing kretiyasa. andungkap warah katelu. kapengkok nora sembada. 77. kukucah gung kamirahan. pambeg ladak lumuh anor. busana mawa lengkawa. ASMARADANA 76. tulakang dadya babayu. 79. Lamun ngrentahken paparing. angajak-ajak sangsara. murang kèhing pranata. yèku amawang kadang. nir kretyawan datan kalok. kukuwating anggyanira. sinekar Asmaradani. kèmbèt awoning sentana.75. jroning tyas adil kang dumon. pantes sinudarsana. nora béda klayan piwucal karuhun. remen narajang papakon. Alelengis sarwi rukmi. pantes dèn pedakana. Makaten kababarira. nora mawang béda-béda. tan kénging pinitaya. rumaos trahing kusuma. nanging pasemoning nitya. Aywa nganti atatawing. Boten wurung tumut isin. tan pantes sinung kawiryan. gumuyu rasan sarwa sru. winirang lampah dursila. nora untung rinaketan. menggah lengkeping ukara. pinaringken ring sasama. Saking pasemon wus kèksi.

sokur bagé linubèran. lumrah pinaring pambombong. 87. 86. mumpung maksih amisésa. Tilingna ning ing kawathi. bisa mengku saniskara. kakadang dinadya bala. Kalamun datan sawawi. iku dinadya pramoda. kadang konang binucala. jirèh ingangkat kretyawan. ngangsu kawruh mring tyang blilu. Dyan sanès darbé kawanin. 88. datan kalèntu garjita. Lagya kalampah samangkin. ngembat wisésa tan saguh. teges sanès trah ngawirya. ing jaman kala katwara. sarna donya sosoba. pawingking manggih katala. becik lamun rumasa. 93. patitis pamawasira. nanging sanakkadangira. mundhak-mundhak ing pakéwoh. kawanin suba tan sengkung. tebih nora tinenga. néréndra nir ring sudarsa. dériti marang sakèhing wong. nora kawuh ing pangrasa. dumarusa myang diggama. daridya undhuhanipun. 90. mongka lengka twasanira. twasa kalimput dureta. wuru dhumateng pangwaos. wit paparing tan warata. linenggahken papan éca. bubujeng pamurih kalok. lagya darbé pangawasa. dèn papanken ing ngarsa. mung krana maksih sentana. 92. 89. bucal lampah tatakya. aywa mawang sentana. Ywa karya tyasing lyan kanin. milaur mundur kéwala. sung kawiryan maring bandhu. Dipun émut aja dumi. pilih-pilih ingkang kanon. patitis salir pepunton. Boten lingsem ing durniti. 91. Kathah-kathahipun janmi. sanak-kadang mitra-karuh. 85. singa celak kang kadrasa. Sumimpanga king durniti. pandhir dinadya pangarsa. lenggah twijara tyang parnoh. tulya kujanapapa. rèh praja déning babandhu. swawara asih sawegung. morang sakèhing tata. mongka tan pengkuh ing kéwuh. tangginas ngrampungi karya. lamun paparing wisésa. asanès winiruda. manah rupak nora kamot. ngembrah dadi taluwanwa. iku patrapé wong pengung. pingging sinuba dwija. . makarya nora kawaba.84. gatosna ingkang sayektos. tilar warahing pujangga. Lumingling sagung kajatin.

praja dadya puwara. tinurut temah kalintu. sadaya titahing Manon. sarujuk jajarah samya. mirungga maring sentana. guyub ngambah durniminta. tan béda bebegal lamun. nanging bener pratikelnya. kasereng nunten kawirya. tan mingkuh saking wawaton. kanthi lungiting pangrasa. lilingen kang prakara. tinengen mung kasukannya. kang winiyat dupèh bandhu. nging pinurih énaka. kosok wangsul dyan sentana. kang nandhang wong sanagara. dundum brana duratmaka. béda apa tiyang awon. drasa kaleban kasmala. 96. tanpa panitipriksa. jugar tataning puraya. Nadyan tedhaking acedhis. 100. Lamun becik mring sawiji. nyimpang margining utama. suka-suka sagendhingnya. sugal diksura dèn soroh.94. 97. garwakara sugih galu. raos mèri ingkang thukul. linimbang-limbang satuhu. sanadyan sisipat dura. . katala katiwang marga. mawang kadang lamun andon. Nandukna bebener ugi. daruti semunira. nétra kawuh tan menga. iku winih ingkang awon. sareng sentana sapunton. Èwon-èwoning wong drengki. kawurya dadya ura. Darbéning lyan dèn talappi. Dudu patraping wong singgih. 99. sakadang cepeng wisésa. Ywan wus kukumpul nyawiji. 101. mongka gething dhateng liya. suthik wruh roganing manu. kawaba nandukken dardya. mring asanès durcara. remen anyelir sentana. gesang saraga wah kasor. pantes kalamun linakon. tulakang panèn kasmala. ririsak datarpa duwus. nging kasingsal ing budya. suka dalajat pangkatnya. kasaénan amemengku. miling-miling dupèh mitra. boten kénging kawa-kawa. aywa pilih-pilih jalma. Lamun mangsa kala dugi. 95. datan remen karya pringga. 98. naracak miwah ngrabasa. Mring sasama gardhawari. 102.

ngogak-ogak pangu-wasa. prayoga purugana. iku nyanyadhang pakéwoh. tan ana jrih duraka. ngungumbar saliting hawa. marma manah tinarbuka. wuru kayungyun arta. ywan lepat tutup tinutup. béda dèn anggep mala. cinegah lumawan sampun. thukul welas tan pitakon. 105. 112. 104. temah puraya tan wèstu. kaleng-gahan miwah dhatu. dredah bangsa padha bangsa. 106. becik lamun saranta. maksih kèmbèt apa liya. nora krana maksih bandhu. janma paramatatya. sarana suka purba. Miyat sudraning sasami. Lakon jaman kalasrenggi. santun ingkang baureksa. 109. kadi réwanda saranggon. trékahé tiyang candhala. . gendhon rukon tindak dhusta. Mlarat donya datan pasti. Kinarya kudhung agami. 111.103. tekané jaman drubiksa. papakeming puruhita. becik legawa tutulung. tindakipun dumarusa. tan wastu luhur ing nala. tan gampil luntur winasoh. nora maèlu piawon. muncar-muncar poladannya. iku nora prayoga. tinaliti kanthi turut. mung bubujung hartaka. pratingkahipun tan parnoh. tilar waspaosing prana. maksih tilar wawantunya. asor ing bubudènira. lila mardawa ing budya. madhangi kang puru-puru. 107. nora jejeg mring wawaton. sanak kadang dalah yoga. wengis mamalak ing pémut. nging paéka kang dèn gémbol. Tyang pengung mangrèh nagari. nuhoni jejeging pakon. pundi titiyang pranamya. ngruwat sanggyaning piroga. tindakira tan béda. ngimpunimpun sanggya mitra. suthik nilingken wasita. srakah kethaha lestantun. 108. pinurih tan kawistara. 110. Wus sinerat jro pepesthi. kang nunggil winastan bala. jumbuh turasing ngawirya. Mengker mangsa danawa ji. Saking iring wétan semi. patitis pamawasira. Pétanana kang priyatni. wit tan jajag rèh waskitha. makatena tiyang kalok. paraya anteng garjita. mangka wawaton dèn prusa. nging pradana pangawruhnya. Wageda dadya palupi.

kalayan angudi wadon. kang damel rupaking jangka. alus sakelangkung lembat. suka pémut mring kang mirong. jro riribed sonya tuhu. adil tuwin paramarta. tan mawang kadang satuhu. priha tindak tan kalintu. gegaran wenang misésa. nyinyingkur aji pamasa. lamun bénjang ana janma. nora mangathik jana. pantang lamun dèn badala. wadana ning susmaya. lirwa wisiking Hyang Manon. 119. Meleng gilig kang dèn udi. sasat Pangéran maraga. dèn mangsa nora suwala. 118. sambet wyataning twijara. makaten tyang alit iku. Pungkasing jaman dériti. Dungkap pungkasing wigati. Tyang kang mlarat datan langking. ngrucat salir angkara. uwal saking lenging widya. tebih mélik cegah napsu. migati mring sakèhing wong. Asring dadya ciri wanci. mangathik kadang myang mitra. ingkang lagya amisésa. lepat boten kawistara. minongka tatadhahnya. remen lamun pinuja. harjaning rastala samya. 121. tan luput ginayuha. pongah awawatak rimong. agal donya datan kamot. 120. mungkul mring Hyang Widi-wasa. gelaring tanah Jawa. mijil saking jro wewengkon. supé harjaning kawula. pangiring samya anglulu.113. wawarah mangrèh puraya. 114. 116. suthik nenengen sudara. sinambet wedharing weca. Sinuprih tan morang margi. sapa wani mancasana. mring panguwaos gumendhung. adil sagung prakara. 117. Wus tan kapéncut ing daging. dyan mung samrica binubut. . prakawis mèt donya brana. sugih tan mangéran bandha. 115. Pasemonnya ladak edir. angedirken pangwasa. jinugag lingkabing wahyu. Piwucal catur puniki. sudarpa asidikara. pamrih antuk kang dèn sedya. pupuja ngéntasi karya. datan kasengsem pambombong. mirid karsaning Hyang Katong. nubruk buron ingkang ringkya.

kacetha pupuh lajengnya. wah malih kawula sami. . kadya lampah tataki. 127. kang tinengen karemenaning pribadya. tangèh lamun marema. wus ical éwuhing rahsa. murba gunging wisésa. temah gesang tansah kogung. tan nenga gegesing dasih. welasarsa wus tebih saking pangrasa. punapa déné upeti. tan mosik nganti sasasi. puluh-puluh iku wataking drubiksa. raos lingsem wus kawuri. Remen angalap ruruba. rinumpaka sekar Sinom. dyan ngrebat uriping lyan. bikut gènira nalapi. nganung-anung aji pum-pung. pangarem-arem mili. kecèh wang paribasa. béda janma ingkang wuru mring pangwasa. Menggah lengkeping kintaki. antuk leksa kurang kethi. mring gebyar samya kayungyun. jro jaman mengeng puniki. manut gaduking nala. ngangah-angah jroning budi. pangadhuh tan praduli. sasat genthong ingkang ciri. Mangiwut tatandho arta. waton antuk kang dèn bujung. songar dupèh tan ana wantun mamada. mamak dhumateng gahi. anguntal mangsanirèki. mundhut lebon king punggawa. nenedha sacekapipun. kang badal dipun sirnani. Tyang alit kadamel tumbal. paripaos timun wungkuk. Becik wantuning walika. toya sablumbang saari. nora kaladuk hawa. dadya wadaling durniti. Wus dadi jamaking janma. kang dèn bujung tan liya mung kasukannya. prawira datan kadarbi. 125. tebih tataning nagri. 126. 124. ringkih dipun kaniaya. saya wantun nerak margi. SINOM 123. sapisan tumunten néndra. ngowos-owos maksih suwung. 128. kinarya ompaking wisdhi.122. kinarya imbet kéwala. masiya dipun grujuga. dyan kawedhar sakadarnya. panggah datanpa isi. tur ginadhuh wisésa. ngasil-asil donya brana. tegel tan èwed papati. Raos tuwuk tan kadarbya.

135. tan ènget raos manunggil. pinrawasa dèn gaglag kanthi kethaha. agahan karem mring donya. lupa rèhing prawira. séjé bangsa sinengit. surem madyaning buwana. tilar tepaning sami. Prihatos lamun uninga. Urip dadi salah kaprah. gung asor dalajatnya. kadya wawantuning diyu. kang tinengen duraka klayan dursila. miturut kang asung arta. babasan grumbul eri. dingkik-diningkik sasami. nasar antuk astuti. 130. bebener dèn tebihi. kang jujur nandhang kalantur. kala jiret dèn pasangi. bubujung mulading kapti. ingkang ngririsak nagari. mangsah prang mumungsuhan. Angger-angger sinélakan. masgul wit datan pinunjul. wengkon samya ambalila. 131. ngrèrèndhèt ambancang laku. welas-arsa pan wus sepi. rinèmèh jro papaki. tumus gesangirèng dasih. puwara kasub jinawi. Ical kuncaraning praja. panguwasa soroh napsu. béda gama dèn cengili. blaka manggih antaka. 136. wus supé jejeging adil. trékahing umat puniki. tan éman patining liya. pra pangarsa mutusi sukèng tyasira. tyang mursid sampun sirna. crah adredah rebat mukti. musna lestarining nagri. 133. nora idhep tataning janma utama. tan pinétang nagara ji. munasika kawula. resik winada tan wasis. samya ngarah papati. . kondhang bangsa ingkang wengis. narajang sagung papali. wus tan ana kang kénging dipun pracaya. praja jugar kawula buyar wuntatnya. nora barès malah mukti. hakim remen wang upeti. padha bangsa samya campuh. wusna samya andon napsu. sak-serik saya ndadi. mitra tegel angapusi. saking lebeting nagari. akarya ngungun ing ati. bubujeng buron kang ringkih. jro liliwunging wana. élok lamun rinasakna. Ywan lepat gènnya mranata. 132. kemarung pindhanira. puluhpuluh wus dugi lengkeping jangka. karya uraning pranata. tinekuk-tekuk sakarsi. 134. miruda padhaning manu. Pawingking ngundhuh dahana. lamun kadhung kaduwung datan piguna. Tebih saking asih darma. Tangané padha candhala. téga roga-ning sasama.129.

garwa yoga tan pinétang waton bisa. traju ginanjel tan wèsti. linipur saya dhuhkita. nenedha tangèh atuwuk. suthik mirengna papali. temahan kénging walat. dora cidra salir janmi. ywa nglurug sanès parigi. anak lanang tan bektya. ngalèyèh ing pangkonira. 143. kadi tyang bodho katali. 138. . Rinungrum gampil arentah. dèn nepken mubal andadi. tan émut trapsilèng krami. winada nora malangi. éwuhaya ing budi. nyebar wiji tangèh angundhuh wohira.137. 144. léna linepas jemparing. mantu lumawan si biyung. asalipun king durniti. padharan tansah luwya. ical waspaosing driya. watu timbangan cicir. sengsem kasmaran wanodya. Nahen napsu nora kampah. 139. lenging cipta mung juga tinurutana. pakèwed tan kadarbya. nyanyaput nering pangreti. supè walering margi. dugèng jangka jaman babaya cintraka. kang mlarat tan pinracaya. tyang sugih remen ngapusi. wawaler dèn campahi. nir tuladha sumimpang saking pranata. kabèh pokal tangèh lugu. 142. babandan dèn adili. lamun kena panèn mamala antaka. arsa aso kang sayah. wenang mundhut babana. lir lembu dipun patrapi. ngumbar hawa tanpa budi. Ngombéya maksih dahaga. 141. dupi wus lenggah ngaluhur. ngombéya ing belikira. ipat-ipating Hyang Widi. kineluh liring pawèstri. Kayungyun mring kasulistyan. tilar waskitèng kapti. tan sempulur ginawa dugèng pralaya. cinongok ing cungurira. tan maèlu pager ayu. langkung kesel kang pinanggih. sinabarna dadya gugup. Kalakyan ing jaman ika. Atatandho rajabrana. nguja mubaling branta. kang dadi walering margi. babaya tan uninga. kalebet minta pawèstri. takeran sami dèn suda. sisimpen datan gadhahi. punapa déné pawèstri. lamun léna sungkawa nora kuwawa. tatamba panggah sakit. myang liyan gampil mélik. pindha kukila kapulut. marang bapa mamancahi. ngandelken kuwasa-nipun. tan jejeg kedaling lathi. Aja pasrah marang kanca. 140. langkung kathah mapali. Poma-poma élingana.

parwi dasih ingalap. temah lulus sempulur kuncaranira. muncar wibawaning prabu. 146. kasengesem mring sendhanging lyan. Cacat menggahing pangarsa. yèn mangkana ical prabawaning praja.145. marema ingkang kadarbya. ngasag-asag sapinanggih. rongèhing manah kadlarung. sinuyudan kawula. tyas meleng ning nyawiji. lamun remen luru warih. sinengguh dadya upeti. atataki sawatawis. ywa malang tumolèh margi. Becik lamun tinahena. pinitaya dipun aji. raos èwed wus sepi. .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->