JAMUS KALIMOSODO

Papat kalima pancer merupakan sebuah wacana yang perlu terus kita gali dan kita renungkan plus bertukar fikiran dengan orang-orang tua kita yang sudah mumpuni baik dari ilmu tahid dan ilmu rasanya. Menurut petunjuknya papat kalima pancer itu pusatnya ada di PANCER (yaitu lubuk hati yang paling dalam) dan PAPAT-nya adalah unsur-unsur ilahi yang kita sendiri hak untuk mendapatkannya. Karena dengan menggunakan PAPAT itu kita bisa selalu ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai penguasa alam semesta ini.

Papat yang pertama adalah nur-nya Allah (Nurullah=Cahaya dari Allah) bias dari asma-asma Allah dan sifat-sifat Allah, tanda dari PANCER-nya yaitu dalam segala sesuatu/ gerak gerik selalu BERSERAH DIRI kepada Allah dan pengakuan kita sebagai mahluknya merasa tiada daya secara ruhani dan tiada kekuatan secara jasmani kecuali hanya Allah yang memberikan gerah hidup dan kehidupan, dan berupaya untuk selalu meng-ibadahkan segala sesuatu untuk BERIBADAH kepada Allah memohon Ridho Allah, Rahmat Allah.

Papat yang kedua adalah NUR MUHAMMAD (cahaya syafa’at yang Allah cipta untuk Hambanya (Rasulullah) yang Allah mulyakan. setelah kita berserah diri kepada Allah lewat PANCER (lubuk hati yang paling dalam) ada sebuah kelembutan sebagai sebuah rahmat yang Allah berikan kepada mahluknya agar kita tunduk dan lemah lembut kepada Allah, selalu merasa sayang kepada apapun dan siapapun sebagaimana Rasulullah mempunyai perangai yang lembut dan berahlak mulia bagi semua mahluk.

PAPAT yang ketiga yaitu MALAIKAT sebagai kendaraan untuk membawa NURULLAH dan NUR MUHAMMAD tadi kedalam diri kita pada waktu kita berserah diri kepada Allah dan mengibadahkan segala sesuatu hanya untuk Allah dan fungsi malaikat ini untuk membantu memintakan permohonan ampun mendoakan kepada kita sebagai mahluk yang lemah, banyak berbuat dosa (karena manusia tempat salah dan lupa) dan nominal mereka tidak sedikit mendukung kita dalam beribadah kepada Allah.

PAPAT yang ke empat adalah KAROMAH yaitu berisi doa-doa dari para orang sholeh terdahulu (doa dari para Rasul-rasul, Nabi-nabi, dan para Auliya serta Sholihin yang telah mendahului kita) yang oleh allah diberikan kesempatan untuk membantu mendoakan segala hajat hidup kita dalam mengarungi kehidupan didunia sebagai bekal ibadah nanti kita setelah meninggal (akhirat).

Semoga Allah mengampuni kedua orang tua kita, keluarga kita, mengampuni kita, dan orang-orang yang mempunyai hak dan kewajiban atas kita yang seiman serta mengampuni sesepuh-sesepuh kita. Semoga Allah memberikan Taufiq dan hidayah kepada kita dan mereka dan semoga kita dan mereka semua dijadikan golongan dari hamba-hamba Allah yang sholeh.

ADABEBERAPA VERSI yang menginterpretasikan JAMUS KALIMOSODO.

1. ada yang menginterpretasikan 2 kalimah syahada

2. ada yang menginterpretasikan lahirnya pancasil

3. ada yang menginterpretasikan tokoh pewayangan pandawa lima, apakah semua nya salah? tentu tidak…karena cara pandang setiap orang tidaklah sama.

Hal yang terpenting adalah jangan sampai kita kehilangan ISI/makna dari Jamus Kalimosodo sebagai orang yang berpengertian jawa yang mendapatkan warisan dari leluhur Jawa, pengertian jamus kalimusodo secara singkat adalah:

Istilah jamus kalimosodo terdapat dalam kisah pewayangan baratayudha, suatu jamus/surat yang ada tulisannnya tentang pengertian/kawruh. “barang siapa mendapat kawruh ini ia akan menjadi raja/mempunyai kekuasaan yang besa. kitab ini dimiliki oleh prabu yudistira(samiaji) yang selalu menang dalam peperangan dan akhirnya masuk surga tanpa kematian…memiliki dalam hal ini adalah bukan saling berebut tetapi saling berebut memiliki makna.

Arti Kalimasada terdiri dari beberapa bagian:

Ka= huruf/pengejaan Ka, Lima=angka 5, Sada= lidi/tulang rusuk daun kelapa yang diartikan Selalu, Jadi kelima ini haruslah utuh(selalu 5), Kelima unsur kalimasada teridiri dari:

1. KaDonyan(Keduniawian).

ojo ngoyo dateng dunyo yang arti singkatnya adalah jangan mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi, kebutuhan duniawi kita kejar tapi jangan diutamakan.

2. Ka Hewanan ( sifat binatang).

ojo tumindak kaya dene hewan, cotoh:asusila. amoral, tidak beretika dll.

3. KaRobanan.

Ojo ngumbar hawa nafsu yang arti singkatnya jangan memelihra hawa nafsu…nafsu itu harus dikendalikan.

4. Kasetanan.

Ojo tumindak sing duduk samestine yang arti singkatnya jangan bertindak yang tidak semestinya alias gengsi, sombong( ingin seperti Gusti), menyesatkan, berbuat licik dll.

5. KaTuhanan.

artinya kosong

Gusti Allah iku tan keno kinoyo ngopo nanging ono yang artinya Gusti Allah tidak dapat diceritakan secara apapun tapi toh ada. Gantharwa adalah salah satunya yang diberikan “pusaka” mewarisi warisan dari leluhur Jawa. Pengertian Asli dari jamus kalimosodo diatas adalah isi murni dari pengertian sebenarnya..setiap orang boleh membungkusnya dengan bungkus apapun tetapi jangan sampai kehilangan makna aslinya, karena pengertian diatas adalah pengertian sebenarnya dari jamus kalimusodo.

Tinggalkan sebuah Komentar

Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 HAKEKAT TITIK

Apabila, Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah, Hakekat adalah ikhlas, syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah, Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat, Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain. Maka, Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah, Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingatnya, Hakekat adalah bagaimana ikhlas, syukur dan sabar dalam kehidupan, Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.

Apabila, Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah, Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingat-Nya, Hakekat adalah bagaimana ikhlas, syukur dan sabar dalam kehidupan, Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.

Maka, Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah, Hakekat adalah ikhlas, syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah, Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat, Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain.

Apabila dan Maka, Bersatu dalam Titik, Titik itu adalah Allah, Syari’at-Tarekat berawal dari Titik, Hakekat-Ma’rifat berakhir di Titik.

Billahu, Fillahu, Bi Idznillahu, Minallahu, Allahu,

Titik.

Tinggalkan sebuah Komentar

Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PHILOSOFI SEMAR

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

Bebadra = Membangun sarana dari dasar

Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an. . Budha dan Isalam di tanah Jawa. Dikalangan spiritual Jawa .Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis. tanpa pamrih. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa. Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi. jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu.namun juga berwajah sangat tua Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi. persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual .Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”. Ciri sosok semar adalah : Semar berkuncung seperti kanak kanak. untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar.

Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan. 1975 : 49 ) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia ( Geertz 1969 : 264 ). yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi : Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati. sebagai rakyat biasa. Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi. maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian. Meskipun berpenampilan sederhana. bahkan sebagai abdi. 1988 : 188 ) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan . Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri Dalam Etika Jawa ( Sesuno. Bojo sira arsa mardi kamardikan. Apabila muncul di depan layar. ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. 1988 : 188 ). Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya. Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara ( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 ). Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa ( Poedjowijatno.dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa . Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa ( Brandon dalam Suseno. agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”. ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“.Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas .

rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia ( Mulyono. Anom Suroto. Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih ( timoer. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar. yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-CaRa-Ka. merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula ( Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191 ). 20-23 Januari 1995. 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193 ) Dari segi etimologi. yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma ( Mulyono 1978 : 35 ) Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar. tt : 13 ). sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa ( Mulyono 1978 : 18 ) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad. maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “.keterdidikannya ( Suseno 1988 : 190 ). tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu. Prodjosoebroto ( 1969 : 31 ) berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah. Dikemukan oleh Arum ( 1995:10 ) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya. Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya. . maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal. Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sehubungan dengan itu. Subana. Panut Darmaka. joinboll ( dalam Mulyono 1978 : 28 ) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita. rame ing ngawe ” sepi akan maksud. Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. termasuk pembudayaan P4 ( Cermomanggolo 1995 : 5 ). Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ” ( timoer 1994 : 4 ). Cermomanggolo dan manteb Soedarsono ( Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10 ).

Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 10 SHILA SUTASOMA Karya Mpu Tantulan. Luluta Rin Pandita Mengabdilah pada mereka yang sadar 6. Aja Sira Anlarani Hati Nin Non Jangan Menyakiti Perasaan Orang Lain (dan jangan mengacaukan pikiran orang lain) 2. Aja Sira Katungkul Ing Kagunan. Ajaamidanda Tan Sabenere janganlah menjatuhkan hukuman yang tidak adil 3. 1. Aja Tan Asih In daridra Janganlah menunda kebaikan terhadap mereka yang kurang beruntung 5. Ajaamalat Duwe Nin Wadwa Nira Janganlah menjarah harta rakyatmu 4. Amujya Nabhaktya .

Aja Memateni Yen Tan Sabenere Janganlah menjatuhkan hukuman mati.Janganlah menjadi sombong. Anulaha Saama Daana Ajaapilih Jana (adalah yang terbaik) Jika kau berjiwa besar dan memberi tanpa pilih kasih. walau banyak orang menghormatimu 7. *** Gancaran basa Jawa ngoko. 9. . Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 SERAT DARMOGANDHUL Darmagandhul Carita adege nagara Islam ing Demak bedhahe nagara Majapahit kang salugune wiwite wong Jawa ninggal agama Buddha banjur salin agama Islam. Sampuraha Rin Tiwas dan bersabar dalam keadaan susah 10. Adalah yang terbaik. jika kau tidak takut mati. kecuali menjadi tuntutan keadilan 8. Uttama Si Yen Sira Akalisa Rin Pati.

puruhita mring Raden Budi. agung nugraheng Hyang Suksma. tuladhaning kawruh. ngebun-bun pasihaning Hyang. Sancaya kang windu. kiyai Kalamwadine. kinarya nglipur manah. ping trilikur ri Tumpak manis. pan biyasa mituhu susetya. karya suka pireneng jalmi. . sinung tembang macapat. anganggur ngethekur. pan sumarah kumambang karseng Hyang. sasedyanya kabul. *** BEBUKA Sinarkara sarjunireng galih. sru sêtya nglampahi dhawah. mring sagung ahli sastra. mring dhawuh weling gurune. Cap-capan ingkang kaping sekawan. sawusnya winaos tamat. pangesthine ing awal akhir. Ruwah Je warsanira. tan etung lebur luluh. mring tyas gung kumacelu. tembang raras rum seya prasaja. dumadya auliya. mung kinarya ngarem-aremi. mangesthi amiluta. yun darbeya miwah nimpeni. myat carita dipangiketira. nggennya dama cinubluk. Angawruhi sasmiteng Hyang Widdhi. kyai Kalamwadi ngarang. sinung aran srat Darmagandhul jinilid. ing lokhilmakful tulise. kedah medharken kawruh. ing nguni anggeguru. Toko Buku “Sadu-Budi” Sala. Pan sinambi-sambi jagi panti. sumungkem lair batine. kinarya cagak lenggahe. Surakarta. masa Nem ringkêlnya Aryang. pinirit tinuladha. panitranira nuju. sinung ilham ing alam sahir myang kabir. pinindha lir Jawata. panggusthine tan mamang ing lair batin. saselanira ngupaya tedha. wuku Wukir sangkalanira ing warsi: wuk guna ngesthi Nata [taun Jawa 1830]. linaksanan tinedhak tinurun sungging. tarimanireng badan. Pan katemben amaos kinteki. suprandene tan kaliren wayah siwi. Satuduhe Raden Budi ening. 1959. lelepiyanipun.Babon asli tinggalane KRT Tandhanagara. Wus pinupus sumendhe ing takdir. duta rehing guru. sagotra minulyarja. pan ingembun pinusthi ing cipta. tinarimeng Bathara. trewaca wijang raose.

Panyuwunan mangkono mau uga diparêngake dening Sang Nata. Sayid Rakhmat banjur kalakon dhêdhukuh ana Ngampeldênta ing (3) anggêlarake agama Rasul. dene ênggone jênêng Majapahit iku. sarta padha nyuwun dhêdhukuh ing pasisir.DARMAGANDHUL Ing sawijining dina Darmagandhul matur marang Kalamwadi mangkene “Mau-maune kêpriye dene wong Jawa kok banjur padha ninggal agama Buddha salin agama Islam?” Wangsulane Ki Kalamwadi: “Aku dhewe iya ora pati ngrêti. ora ana maneh kang diaturake. nanging kang durung ngrêti dêdongengane iya Majapahit iku jênêng sakawit. mung kanggo pasêmon. sajrone lagi sih-sinihan. Ing kono banjur akeh para ngulama saka sabrang kang padha têka. Sayid Kramat dadi gurune wong-wong kang wis ngrasuk agama Islam kabeh. mula bisa dadi gurune wong Islam. Ing wêktu iku. wong Jawa banjur akeh bangêt kang padha agama Islam. dene panggonane ana ing Benang (4) bawah Tuban. Sang Rêtna tansah matur marang Sang Nata. kajaba mung mulyakake agama Islam. (2) ing mangka Putri Cêmpa mau agamane Islam. Sang Prabu iya marêngake apa kang dadi panyuwune Sayid rakhmat mau. Sang Prabu lagi kalimput panggalihe. kaparênga anggêlarake sarengate agama Rasul. Ature Darmagandhul: “Banjur kapriye dongengane?” Ki Kalamwadi banjur ngandika maneh: “Bab iki satêmêne iya prêlu dikandhakake. bab luruhe agama Islam. supaya wong kang ora ngrêti mula-bukane karêben ngrêti”. sarta nyuwun idi marang Sang Nata. banjur ngrasuk . Akeh wong Jawa kang padha kelu maguru marang Sayid Kramat. Wong Jawa ing pasisir lor sapangulon sapangetan padha ninggal agamane Buddha. Sayid Kramat iku maulana saka ing ‘Arab têdhake Kanjêng Nabi Rasulu’llah. para ngulama lan para maulana iku padhamarêk sang Prabu ing Majalêngka. Ora antara suwe kaprênah pulunane Putri Cêmpa kang aran Sayid Rakhmat tinjo mênyang Majalêngka. ing mangka guruku kuwi iya kêna dipracaya. Suwe-suwe pangidhêp mangkono mau saya ngrêbda. nyaritakake purwane wong Jawa padha ninggal agama Buddha banjur salin agama Rasul”. (1) Ing nagara Majalêngka kang jumênêng Nata wêkasan jêjuluk Prabu Brawijaya. Ing jaman kuna nagara Majapahit iku jênênge nagara Majalêngka. nanging aku tau dikandhani guruku. sabên marak. nganti njalari katariking panggalihe Sang Prabu marang agama Islam mau. Sang Prabu krama oleh Putri Cêmpa.

Suwening suwe sarak Rasul saya ngrêbda. Mangka agama Buddha iku ana ing tanah Jawa wis kêlakon urip nganti sewu taun. iku wajib sinuwunan kawruhe ngelmu lair batin. Yen cêgah mangan rusak. sarta sarehne Babah Patah nalika ana ing Palembang agamane wis Islam. Ing wêktu iku ana nalar kang aneh. manusa ora bisa apa-apa. prayoga disêbut Babah. sowan ingkang rama. yen blastêran Cina lan Jawa sêsêbutane Babah. sêsêbutane Bambang. para ngulama sarake Buddha. miyose putra mau ana ing Palembang. bisane mung sadarma nglakoni. padha dipundhuti têtimbangan ênggone arêp maringi sêsêbutan ingkang putra mau. dene wong-wonge padha manêmbah marang Budi Hawa. pinaringan nama sarta sêsêbutan Raden Arya Pêcattandha. uwite kawruh kaelingan kang bêcik lan kang ala. putraning Nata kang pambabare ana ing gunung. Suwe-suwe agama Rasul saya sumêbar. mung nuruti rasaning lesan lan awak. Ing wêktu iku para ngulama budine bêcik-bêcik. wêtune saka engêtan. dene yen wong ‘Arab sêsêbutane Sayid utawa Sarib. Sang Prabu Brawijaya kagungan putra kakung kang patutan saka Putri Bangsa Cina. Sang Prabu banjur nimbali patih sarta para nayaka. têgêse pambabare ana nagara liya. sirik cêgah mangan turu. dene Raden Kusen ing nalika iku jinunjung dadi Adipati ana ing Têrung (5). isih padha cêgah dhahar sarta cêgah sare. Saka ature Patih. Ing nalika samana. madanani para bupati urut pasisir Dêmak sapangulon. Yen miturut ibu. cêgah turu. Ing Balambangan sapangulon nganti tumêka ing Bantên. anane ing Dêmak didhawuhi nglêstarekake agamane. kok nganggo sêsêbutan Sunan. mulane katone iya sênêng. yen putra Nata kang miyos ana ing Palembang iku diparingi sêsêbutan lan asma Babah Patah. Budi iku Dzate Hyang Widdhi. sang Prabu Brawijaya kagungan panggalih. nganti sadhereke seje rama tunggal ibu. awit yen miturut lêluri saka ingkang rama. mula Sang Nata iya banjur dhawuh marang padha wadya. Ing nalika iku Babah Patah banjur jinunjung dadi Bupati ing Dêmak.agama Rasul. jroning utêk iku yen diwarahi budi . sênênge mau amung kanggo samudana bae. Barêng wis sawatara masa. Ature Patih kang mangkono mau. ana ing desa Bintara. arane Raden Kusen. Yen sarak rasul. Hawa iku karêping hati. Babah Patah wêdi yen ora nglakoni dhawuhe ingkang rama. wonge uga padha kelu rêmbuge Sayid Kramat. mungguh satêmêne ora sênêng bangêt ênggone diparingi sêsêbutan Babah iku. lakune isih padha cêgah mangan. Prabu Brawijaya uga banjur paring idi. banjur boyong marang Dêmak. durung padha duwe karêp kang cidra. budi kang ngobahake. kabênêr wayahe kiyai Agêng Ngampel. para ngulama padha nyuwun pangkat sarta padha duwe sêsêbutan Sunan. Katêlah nganti tumêka saprene. Sunan iku têgêse budi. para nayaka uga padha mupakat. Barêng Raden Patah wis diwasa. sêsêbutane: Kaotiang. sarta Babah Patah dipalakramakake oleh ing Ngampelgadhing. Satêkane Majalêngka Sang Prabu kewran panggalihe ênggone arêp maringi sêsêbutan marang putrane. yen miturut lêluhur kuna putrane Sang Prabu mau disêbut Bambang. yen nglêluri lêluhur kuna. nanging sarehne ibune bangsa Cina. ora kêna dikawruhi sarana netra karna sarta lesan. Jawa Buddha agamane. yen wohe budi ngrêti marang kaelingan bêcik. diparingi têtêngêr Raden Patah.

Ing wêktu iki ana dhêmit jênênge Nyai Plêncing. Dhek nalika samana Sunan Benang sumêdya tindak marang Kadhiri. gawene nyikara marang para lêlêmbut. Satêkane lor Kadhiri. kali kang saka Kadhiri disotake banjur asat sanalika. Sunan Benang mirêng ature sakabate. iline banjur salin dalan kang dudu mêsthine. iya iku ing tanah Kêrtasana. kula ingkang nêkseni”. saiki isih ana wujuding patilasane. iya iku saka . Sakabate siji banjur lunga mênyang padesan arêp golek banyu. arêp salat”. pangrasane wong lanang arêp njêjawat. iya kudu ditimbang ing sabênêre. ing panggonan kono disabdakake larang banyu. jaka lan prawane iya nganti kasep ênggone omah-omah. nganti kawêtu pangandikane nyupatani. tanah kene patut diarani Kutha Gêdhah”. nganti têkane saiki isih karan Kutha Gêdhah. sawah sarta patêgalan. banyune isih buthêk. yen pinuji dina Riyadi. wong ing kono akeh padha agama Kalang. akeh desa kang padha rusak. kang ana mung bocah prawan siji. mêjanani marang dheweke. ngriki botên entên carane wong ngimbu banyu. Sunan Benang sarta sakabate loro padha nyabrang. barêng kêna dayaning pangandika mau. sarta jakane aja rabi yen durung dadi jaka tuwa. Sunan Benang ngandika: “Yen ngono wong kene kabeh padha agama Gêdhah. prawane aja laki yen durung tuwa. MBok Prawan salah cipta. kali kang maune iline gêdhe sanalika dadi asat. satêkane wetan kali banjur niti-niti agamane wong kono apa wis Islam. yen diombe nglarani wêtêng. iline banyu kang gêdhe nyimpang nrabas desa alas sawah lan patêgalan. wajah lagi arêp mêpêg birahi. Sunan Benang ngandika marang sakabate: “Kowe goleka banyu imbon mênyang padesan. Gêdhah iku ora irêng ora putih. Ki Bandar matur: “Dhawuh pangandika panjênêngan. Nganti tumêka saprene tanah Gêdhah iku larang banyu. awit katrajang ilining banyu kali kang ngalih iline. Santri krungu têtêmbungan mangkono banjur lunga tanpa pamit lakune dirikatake sarta garundêlan turut dalan. bangêt dukane. lan maneh iki wancine luhur. kali Brantas pinuju banjir. satêkane ngarsane Sunan Benang banjur ngaturake lêlakone nalika golek banyu. Ature Ki Bandar wong ing kono agamane Kalang.nyambut gawe. ing wêktu iku lagi nênun. aku arêp wudhu. mBok Prawan kaget krungu swarane wong lanang. nanging kang mangkono mau arang kang padha ngrêti mula-bukane. kula nêdha toya imbon bêning rêsik”. mulyakake Bandung Bandawasa. iya iku dhêmit ing sumur Tanjungtani. mula akeh desa. padha sênêng-sênêng ana ing omah. mula ênggone mangsuli nganggo têmbung saru: “nDika mêntas liwat kali têka ngangge ngarani njaluk banyu imbon. tansah digubêl anak putune. ing sanalika kali Brantas iline dadi cilik. kang ndherekake mung sakabat loro. kêpalangan banyu. alas. kajaba uyuh kula niki imbon bêning. têkan ing desa Pathuk ana omah katone suwung ora ana wonge lanang. kali iki isih banjir. Tanah saloring kutha kadhiri banjur jênêng Kutha Gêdhah. mula saka pangiraku iya nyata. Sunan Benang têrus tindak mênyang Kadhiri. sarak Buddha mung sawatara. Bandung dianggêp Nabine. yen sampeyan ajêng ngombe”. wong-wong padha bêbarêngan mangan enak. ngêndêl-êndêlake kaprawirane. barêng noleh wêruh lanang sajak kaya santri. apa isih agama Budi. kang padha rusak. kang maca lan kang krungu nganggêp têmên lan ora. dene kang agama Rasul lagi bribik-bribik. isih kêna dinyatakake. padha wadul yen ana wong arane Sunan Benang. Sakabat têka sarta alon calathune: “mBok Nganten.

kaget kasaru têkane Nyai Plêncing. maune jênênge kiyai Daha. dene para lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha ora ngaton. ratune manggon ing Selabale. Buta iku têgêse: butêng utawa bodho. Samuksane Sang Prabu Jayabaya lan putrane putri kang aran Ni Mas Ratu Pagêdhongan. sarta kinêbutan êlaring mêrak. wong saka Tuban kang sumêdya lêlana mênyang Kadhiri. bisaa tumêka ing pati. sanalika banjur nimbali putra-wayahe sarta para jin pêri parajangan. mulane didadekake patih. kang anom aran panji Sarilaut. Buta Locaya iku patihe Sri Jayabaya. nanging dhêmit-dhêmit mau ora bisa nyêdhaki Sunan Benang. enggal mangkat mêthukake lakune Sunan Benang. jênênge kiyai Daka dipundhut kanggo jênêng desa. lan putrane kakung loro uga padha ngadhêp. Kiyai daha iki cikal-bakal ing Kadhiri. ngadhang lakune Sunan Benang kang saka êlor. arane Sunan Benang. amarga rasane awake padha panas bangêt kaya diobong. mula sang Prabu asih bangêt marang kiyai Daka. dene Selabale iku dununge ana sukune gunung Wilis. sarirane nganti kaya gêni. didhawuhi nglawan Sunan Benang. kiyai Buta Locaya iku bodho. Jêngkare Sri Narendra anjujug ing omahe kiyai Daka. dheweke diparingi Buta Locaya. Lo têgêse kowe. kuthane ana sagara kidul sarta jêjuluk Ni Mas Ratu Anginangin. Buta Locaya lan kiyai Tunggulwulung uga padha muksa. . sarta dadi senapatining pêrang. kabeh padha sumiwi marang Ni Mas Ratu Anginangin. ngaturake kahanane kabeh. satêkane ing Kadhiri. (6) Jênênge Buta Locaya. jênênge kiyai Daha dipundhut kanggo jênênge nagara. Buta Locaya lagi ngandikan karo kang padha ngadhêp. ing kono Buta Locaya banjur maujud manusa aran kiyai Sumbre. kiyai têgêse: ngayahi anak putune sarta wong-wong ing kanan keringe. Wiwite ana sêbutan kiyai. kang tuwa arane Panji Sêktidiguna. diadhêp patihe aran Megamêndhung. caya têgêse: kêna dipracaya. lanang wadon ngantiya kasep ênggone omah-omah. Dhêmit-dhêmit mau banjur padha mlayu marang Kadhiri. Nyai Plêncing ngaturake susahe para lêlêmbut sarta para manusa. Buta Locaya krungu wadule Nyai Plêncing mangkono mau bangêt dukane. kiyai Sumbre banjur ngadêg ana ing têngah dalan sangisoring wit sambi. kang uga ngêsotake wong ing kono. dene kiyai Daka banjur diparingi jênêng kiyai Tunggulwulung. nanging têmên mantêp sêtya ing Gusti. Para lêlêmbut mau padha sikêp gêgaman pêrang. sarta kono disotake larang banyu sarta diêlih jênênge tanah aran Kutha Gêdhah. rumêksa kawah sarta lahar. Ni Mas Ratu Pagêdhongan dadi ratuning dhêmit nusa Jawa. barêng Sri Jayabaya rawuh. sarta lakune barêng karo angin. Nyai Plêncing krungu wadule anak putune mangkono mau. Anak putune Nyai Plêncing padha ngajak supaya Nyai Plêncing gêlêma nêluh sarta ngrêridhu Sunan Benang. ngrungkêbi pangkone. yen lahar mêtu supaya ora gawe rusaking desa sarta liya-liyane. Sakabehe lêlêmbut kang ana ing lautan dharatan sarta kanan keringe tanah Jawa. Sunan Benang dhêmêne salah gawe. ora antara suwe lêlêmbut wis têkan ing saêloring desa Kukum. Buta Locaya panggonane ana ing Selabale. Ing wêktu iku kiyai Buta Locaya lagi lênggah ana ing kursi kêncana kang dilemeki kasur babut isi sari. dene kiyai Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut. matur bab rusake tanah lor Kadhiri. sarta banjur didadekake patihe Sang Prabu Jayabaya.panggawene Sunan Benang. duwe adhi jênênge kiyai Daka. matur marang ratune. sarta ngaturake yen kang gawe rusak iku. iya iku kiyai daha lan kiyai Daka. dadi ora tansah ganggu gawe. ana ing kono Sang Prabu sawadya-balane disugata.

namung kantun namaning dhusun. nyikara tanpa prakara”. punika namanipun siya-siya botên surup. Sakabat loro kang maune padha sumaput.”. . Sunan Benang ngandika maneh: “Aku bangsa ‘Arab. kowe apa padha slamêt?”. aku ngrêti yen kowe ratuning dhêmit Kadhiri. lajêng botên gampil pêncaripun titahing Latawalhujwa. ora bêtah kêna prabawane Sunan Benang. lepen Kadhiri ngalih panggenan mili nrajang dhusun. katitik saka awake panas kaya mawa. ngêlih lepen. Sunan Benang ngandika: “Mula ing kene tak-êlih jênêng Kutha Gêdhah. pasanggrahan Wanacatur ugi sampun sirna. paduka gêndhak sikara dhatêng anak putu Adam. amarga kaya dene cêdhak mawa. sabin. sarta ngêlih nami Kutha Gêdhah. paduka sikara botên surup. sabab agama Kalang. kiyai Sumbre mangkono uga. mula kaline banjur tak-êlih iline.”. mula tak-sotake larang banyu. prawan tuwa jaka tuwa. kene kabeh tak sotake larang banyu. kraton utawi patamanan Bagendhawati ingkang kagungan Ni Mas Ratu Pagêdhongan inggih sampun sirna. saiba susahipun tiyang gêsang laki rabi sampun lungse. dene ênggonku ngêsotake prawan tuwa jaka tuwa. banjur padha katisên.Ora antara suwe têkane Sunan Benang saka lor. dadi dheweke kawanguran karêpe. Mangkono uga Sunan Benang uga ora bêtah cêdhak karo kiyai Sumbre. têtêpe agama biru. Kiyai Sumbre matur marang Sunan Benang: “Paduka punika tiyang punapa. mungguh kang dadi sêdyaku arêp mênyang Kadhiri. nyabdakakên ingkang botên patut. amarga wonge kene agamane ora irêng ora putih. iku prênahe ana ing ngêndi?”. Buta Locaya kaget bangêt dene Sunan Benang ngrêtos jênênge dheweke. amarga kang tak jaluki banyu ora oleh iku. jênêngmu Buta Locaya. makatên wau saking sabda paduka. sêpintên susahipun tiyang ingkang sami kêbênan. Sunan Benang ngandika: “Aku ora kasamaran. sadaya patilasan sampun sami sirna. prawan baleg. sadaya wau sirnanipun kaurugan siti pasir sarta lahar saking rêdi Kêlut. wana. sumêdya ganggu gawe. dene omahku ing Benang tanah Tuban. Kados wangun walang kadung?”. wusana banjur matur marang Sunan Benang: “Kados pundi dene paduka sagêd mangrêtos manawi kula punika Buta Locaya?”. lajêng nyabdakakên ing ngriki awis toya. sêlaminipun awis toya. amarga kêna daya prabawane kiyai Sumbre. pêrlu nonton patilasan kadhatone Sang Prabu Jayabaya. lepenipun asat. Kula badhe pitaken. kraton sarta pasanggrahanipun inggih sampun botên wontên. Dene lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha sumingkir adoh. aku njaluk banyu ora oleh. Buta Locaya banjur matur: “Wetan punika wastanipun dhusun Mênang (9). sikara tanpa dosa. jênêngku Sayid Kramat. pintên-pintên sami risak. dede pangagêm Jawi. dene mangangge pating gêdhabyah. ngriki paduka-sotakên. sarta nganggo jênêng Sumbre. Sunan Benang wis ora kasamaran yen kang ngadêg ana sangisoring wit sambi iku ratuning dhêmit. Sunan Benang andangu marang kiyai Sumbre: “Buta Locaya! kowe kok mêthukake lakuku.

Aji Saka dados Ratu tanah Jawi namung tigang taun lajêng minggat saking tanah Jawi. Sunan Benang ngandika marang Buta Locaya: “Wis kowe ora kêna mangsuli. nanging kok jêbul botên makatên. nanging sami ahli budi sarta ajrih sêsikuning Dewa. lajêng tumindak sakarsa-karsa botên toleh kalêpatan. Buta Locaya barêng krungu têmbung ora wêdi marang Ratu Majalêngka banjur mêtu nêpsune. paduka tiyang saking ‘Arab. yen sampun dados. lepen ingkang asat lan panggenan ingkang sami katrajang toya kula-aturi mangsulakên kados sawaunipun. patute rêmbage tiyang entên ing bambon. wujud paduka niki jajil bêlis katingal. paduka inggih dipunukum mlarat ingkang langkung awrat. Panjênêngan sanes Narendra têka ngarubiru agami. tur namung tiyang satunggal ingkang lêpat. muride Ijajil. sadaya manusa Jawi ingkang Islam badhe sami kula-têluh kajêngipun pêjah sadaya. sumbêr toya ing Mêdhang saurutipun dipunbêkta minggat sadaya. punika namanipun tiyang dahwen”. nuli matur marang Sunan Benang: “Kêdah paduka. ing ngriki sagêda mirah toya malih. botên sapintên lêpatipun. besuk yen wus limang atus taun. mula banjur ngandika: “Buta Locaya! aku iki bangsa Sunan. sugih sanak malaekat. lajêng mubal nêpsune gêlis duka. dhêmit lan wong pêcicilan rêbut bênêr ngadu kawruh prakara rusaking tanah. lajêng paduka-ênggeni piyambak. amargi ngrisakakên tanah. Inggih sampun ta. . paduka ngakên Sunan rak kêdah simpên budi luhur. Paduka niksa wong tanpa dosa.Buta Locaya matur maneh: “Punika namanipun botên timbang kaliyan sot panjênêngan. calathune sêngol: “Rêmbag paduka niki dede rêmbage wong ahli praja. sarta susahe jalma lan dhêmit. sapunika sadaya ingkang risak kula-aturi mangsulakên malih. saupami konjuk Ingkang Kagungan Nagari. sagêd dados asil panggêsangan laki rabi taksih alit lajêng mêncarakên titahipun Hyang Manon. daginge dadiya asêm. botên tahan digodha lare. banjur nêpsu maneh. dak-suwun marang Rabbana. damêl wilujêng dhatêng tiyang kathah. nanging ingkang susah kok tiyang kathah sangêt. dene gawe kasusahan warna-warna. siram salêbêting kawah wedang ingkang umob mumpalmumpal. kula tamtu nyuwun bantu wadya bala dhatêng Kanjêng Ratu Ayu Anginangin ingkang wontên samodra kidul”. punapa paduka punika tiyang tunggilipun Aji Saka. nyikara wong kang ora dosa. mila sami siya-siya dhatêng sêsami. sanadyan ing tanah Jawi rak inggih wontên ingkang nglangkungi kaprawiran paduka. wijine mêtuwa lêngane. aku pamit nyimpang mangetan. Sunan Benang barêng mirêng nêpsune Buta Locaya rumaos lupute. ngêndêlake dumeh tiyang digdaya. botên timbang kaliyan kukumipun.wangsulna sapunika. manawi panjênêngan botên karsa mangsulakên. ora kêna mbaleni caturku kang wus kawêtu. nggih niki margi paduka cilaka. ewadene kula taksih engêt dhatêng wilujêngipun manusa. sami damêl awising toya. yen botên sagêd. dene kok kaya bocah cilik padha tukaran. mêsthi simpên budi luhur. mbok sampun sumakehan dumeh dipunkasihi Hyang Widdhi. siya dahwen sikara botên ngangge prakara. Buta Locaya barêng krungu kêsagahane Sunan Benang. sanes alam kaliyan manusa. tandhane paduka sapunika sampun jasa naraka jahanam. têbih saking ahli budi yen ngantos siya dhatêng sêsami nyikara tanpa prakara. paduka kula-banda”. lah sapunika mugi panjênêngan-sotakên wangsulipun malih. kali iki bisa bali kaya mau-maune”. paduka punika namanipun damêl mlaratipun tiyang kathah. Kula niki bangsaning lêlêmbut. niku Sunan napa? Yen pancen Sunaning jalma yêktos. woh sambi iki tak-jênêngake cacil. Sunan Benang ngandika: “Sanadyan kok-aturake Ratu Majalêngka aku ora wêdi”. woh sambi dadi warna loro kanggone. Aji Saka tiyang saka Hindhu.

dene dhêmit padu lan manusa. dadiya pangeling-eling ing besuk. ngriku Sunan. . barêng wis wanci asar. nuli sagêd mundhut banyu kagêm wudhu banjur salat. iku pituture Raden Budi guruku. Kawanguran têgêse kawruhan.asêm dadi pasêmoning ulat kêcut. kangge pralambang ing tekadipun wanita Jawi. dene panggonane balamu kang ana ing kidul iku jênênge desa Kawanguran”. Sunan Benang priksa rêca mau gumun bangêt. yen aku kêrêngan karo dhêmit kumênthus. Sunan Benang kang anggolingake. sintên ingkang sumêrêp rêca punika. ing kene desa ing Sumbre. bathuke dikrowak. Buta Locaya nututi tindake Sunan Benang. katêlah nganti tumêka saprene ing tanah Kutha Gêdhah ana desa aran Kawanguran. kula Ratu”. kang lor jênênge desa Singkal. Buta Locaya barêng wêruh patrape Sunan Benang anggêmpal êndhasing rêca jaran. Sunan Benang sawise salat banjur nêrusake tindake. saupama diêlih saka panggonane. guruku”. yen dijunjung wong wolung atus ora kangkat. Singkal têgêse sêngkêl banjur nêmu akal. Ing besuk dadiya pasêksen. kêrsane arêp salat. dene Sunan Benang sawise. Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene sumur mau karane sumur Gumuling. prakara rusaking rêca”. baune têngên rêca mau disêmpal dening Sunan Benang. Sumbre sarta Singkal. rêca mau awak siji êndhase loro. Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene. dene prênahe ana sangisoring wit trênggulun. Sunan Benang ngandika: “Woh trênggulun iki tak-jênêngake kênthos. sumure banjur digolingake. sarta akeh kang tiba kanan keringe rêca buta mau. iku pituture Raden Budi Sukardi. ana ing kono Sunan Benang mriksani rêca jaran. Sunan Benang banjur tindak mangalor. saka akehe kêmbange kang tiba. Sunan Benang sawuse ngandika mangkono banjur mlumpat marang wetan kali. Sunan Benang ngasta kudhi. woh trênggulun jênênge kênthos. nganti katon abang mbêranang. lan wiwit saiki panggonan têtêmon iki. jênênge dhêmit kêmênthus”. êmbuh bênêr lupute”. Buta Locaya mangsuli: “Inggih kaot punapa. benjing jaman Nusa Srênggi. dhuwure ana 16 kaki. Sunan Benang ngandika: “Kowe iku bangsa dhêmit kok wani padu karo manusa. satêkane desa Nyahen (10) ing kona ana rêca buta wadon. kajaba yen nganggo piranti. saya wuwuh nêpsune sarta mangkene wuwuse: “Punika yasanipun sang Prabu Jayabaya. ubênge bangkekane 10 kaki. rêca jaran êndhase digêmpal. wêktu iku dhadhape pinuju akeh bangêt kêmbange. wohe trênggulun mau akeh bangêt kang padha tiba nganti amblasah. sajabane desa kono ana sumur nanging ora ana timbane. lajêng sami mangrêtos tekadipun para wanita Jawi”. prênahe ana sangisoring wit dhadhap. dene ana madhêp mangulon. Sunan Benang tindake têkan ing desa Bogêm. yen aku padu karo kowe. awit saka sabdane Sunan Benang. lênga têgêse dhêmit mlêlêng jalma lunga.

dipunkutugi. wujude nggih tugu sela. supaya aja dipundhi-pundhi dening wong akeh. supados para lêlêmbut sampun sami manggen wontên ing siti utawi kajêng. Dene ingkang yasa rêca punika Prabu Jayabaya.” Buta Locaya calathu maneh: “Wong Jawa rak sampun ngrêtos. inggih punika ingkang kenging kangge tuladha. manawi panggenanipun raga pêtêng. panjênêngan-tundhung dhatêng pundi? Sampun jamakipun brêkasakan manggen ing guwa. sayêktos yen yasanipun Ingkang Maha Kuwaos. saniki awon warnine. tugu damêlan Nabi. Sanadyan rintên dalu nglampahi salat. badanipun manusa punika Baitu’llah ingkang sayêktos. yen punika rêca sela. sami maujud piyambak saking sabda kun. sidik paningalipun têrus. punika kêdah dipunrêksa. angsal pangapuntên sadaya kalêpatanipun. sumêrêp budi hawanipun. sasar nêmbah tugu sela. manusa sadaya kêdah sumêrêp ing Batu’llahipun. sumêrêp saderengipun kalampahan. didelehi tugu watu disujudi wong akeh. aja tansah disajeni dikutugi. sampun sami ngraos yen alamipun dhêmit punika sanes kalayan alamipun manusa. langkung sênêng malih manawi manggen wontên ing rêca wêtah ing panggenan ingkang sêpi edhum utawi wontên ngandhap kajêng ingkang agêng. sintên sumêrêp asalipun badanipun. Buta Locaya mangsuli karo mbêkos: “Pêjah malih yen sumêrêpa. punapa sampun angsal saking Pangeran Kang Maha Agung tapak asta mawi cap abrit? Sunan Benang ngandika maneh: “Kang kasêbut ing kitabku. wangsul tiyang bangsa ‘Arab sami sojah Ka’batu’llah. ing mangka punika yasanipun Sang Prabu Jayabaya. calathune: “Panjênêngan nyata tiyang dahwen. Gusti Allah paring pangapura lupute kabeh salawase urip ana ing ‘alam pangumbaran”. kawruhipun sasar-susur. pinaringan wahyu nyata pintêr sugih engêtan. sarta nêdha ganda wangi. inggih kêkasihipun Ingkang Kuwaos. mila sami dipunladosi. pinaringan wahyu mulya. makluking Pangeran. besuk yen mati oleh kamulyan”. amargi siti utawi kajêng punika wontên asilipun.Buta Locaya wêruh yen Sunan Benang ngrusak rêca. ing kono pusêring bumi. dipunsajeni. sanes Hyang Latawalhujwa. ta. sasar nyêmbah tugu sela. dhêmit manawi nêdha ganda wangi badanipun kraos sumyah. punika inggih langkung sasar”. dheweke nêpsu maneh. yen wong muji brahala iku jênênge kapir kupur lair batine kêsasar. Aluwung manusa Jawa ngurmati wujud rêca ingkang pantês simpên budi nyawa. kamulyan sanyata wontên ing dunya kemawon sampun korup. bêtuwah . mila para lêlêmbut sami dipunsukani panggenan wontên ing rêca. paduka pathokan tulis. tiyang Jawi pathokan sastra. rêca buta bêcik-bêcik dirusak tanpa prakara. Nabi punika rak inggih manusa kêkasihipun Gusti Allah. manggen wontên ing rêca têka panjênêngan-sikara. sing sapa sujud marang Ka’batu’llah. manawi sampun nrimah nêmbah curi. Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Tandhane napa yen angsal sihe Pangeran. dados panjênêngan punika têtêp tiyang jail gêndhak sikara siya-siya dhatêng sasamining tumitah. punika wajib dipunsujudi. wontên ing rêca. Saking dhawuhipun Ingkang Maha Kuwaos. sumêrêp cipta sasmita ingkang dereng kalampahan. Pangandikane Sunan Benang: Ka’batu’llah iku kang jasa Kangjêng Nabi Ibrahim. inggih pintêr sugih engêtan sidik paningalipun têrus. botên kuwasa. prayogi dhatêng rêdi Kêlut kathah sela agêng-agêng yasanipun Pangeran. botên gadhah daya. lah asilipun punapa panjênêngan ngrisak rêca?” Pangandikane Sunan Benang: “Mulane rêca iki tak-rusak. dados têdhanipun manusa.

tekad panjênêngan rusuh. kula-aturi kesah saking ngriki. dados murid kula!”. nyade mulyaning nagari Mêkah. kowe setan brêkasakan”. mbucal dhatêng Mênadhu”. tiyangipun jalêr bagus. uwohe kledhung. madya luwês wicaranipun. Sunan Benang banjur tindak. wanitanipun ayu. nambahi bênter. Gênti kang cinarita. sapunika panjênêngan ukur. saking lêpat. bênteripun bantêr awis jawah. nanging dhêmit raja. punapa panjênêngan kêpengin manggen ing sela kados kula? Mangga dhatêng Selabale. tandha kirang nalar. damêl risak barang sae. manawi tiyang ingkang ahli nalar. asrêp lan bênteripun cêkapan. Tiyang nyungkêmi kabar ‘Arab. kali kang saka Kadhiri miline nyimpang . mastani Mêkah punika nagari cilaka. punapa dora punapa yêktos. yen mêntas nampani layang saka Tumênggung ing Kêrtasana. Mila panjênêngan anganjawi. panjênêngan punapa botên badhe susah. murugakên awis wos. Panjênêngan tiyang duraka. Mula katêlah nganti tumêka saprene. ingkang patilasanipun taksih kenging dipuntingali. mulya langgêng salamine. wontên ing ngriki mindhak damêl sangar. kangge rencang tumbasan. Patih matur. Sunan Benang ngandika: “Dhadhap iki kêmbange tak jênêngake celung. lajêng kula bêkta mlêbêt dhatêng kawahipun rêdi Kêlut. sitinipun panas. Ratu wajib niksa. mila minggat. Sunan Benang banjur pamitan: “Wis aku arêp mulih mênyang Benang”. anuju sawijining dina. manawi botên purun kesah sapunika. kêmbange aran celung. mila panjênêngan dhatêng tanah Jawi.saking lêluhuripun. Rêmbag panjênêngan punika mblasar. rêmên nyikara niaya. kirang nêdha kawruh budi. dereng ngrêtos kawontênanipun ngrika. rêmên niksa ing sanes. maoni adating uwong. woh dhadhap jênênge kledhung. wontên ing ‘Arab nakal kalêbêt tiyang awon. anggêga ujaripun tiyang nglêmpara. manawi kadangon wontên ing ngriki mindhak damêl susah. nagari Jawi ngriki nagari suci lan mulya. nyade umuk. panjênêngan dereng tampu mulya kados kula. kula sumêrêp nagari Mêkah. yen panjênêngan mulya tamtu botên kesah saking ‘Arab. Ingkang yasa rêca punika Maha Prabu Jayabaya. sabab aku kêcelung nalar lan kêledhung rêmbag. Buta Locaya mangsuli: “Sanadyan kula dhêmit. manawi kula lêpat panjênêngan jotos. tandhanipun wontên ing ngriki taksih krejaban. Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Inggih sampun. nyudakakên toya”. panjênêngan kula-kroyok punapa sagêd mênang. Sang Prabu Brawijaya miyos sinewaka. maoni agama. nagari ing Majalêngka. tanêm-tanêm tuwuh botên sagêd mêdal. dene surasane layang ngaturi uninga yen nagara Kêrtasana kaline asat. dadiya pasêksen yen aku padu lan ratu dhêmit. Rêmbag panjênêngan badhe priksa pusêring jagad. inggih ing ngriki ingkang kula-linggihi punika. awis toya. dene Buta Locaya sawadya-balane uga banjur mulih. kula aturi kesah kemawon saking ngriki. digdayanipun ngungkuli panjênêngan. kalah kawruh kalah nalar”. aluwung nyungkêmi kabar sastra saking lêluhuripun piyambak. malah kathah tiyang sade tinumbas tiyang. tanah pasir mirah toya. panjênêngan enggala kesah. Sunan Benang ngandika: “Ora arêp manut rêmbugmu. diadhêp Patih sarta para wadya bala. badhe kula undhangakên adhi kula ingkang wontên ing rêdi Kêlut. ngarubiru agamane lêluhur kina. sami-sami nyungkêmi kabar. panjênêngan punapa sagêd ngêpal lampahing jaman? Sampun ta. punapa ingkang dipuntanêm sagêd tuwuh.

punika nama ing têmbung ‘Arab. niti-priksa ing kono kabeh. ing alam donya botên wontên kalih ingkang asma Sang Prabu Satmata. Sunan Benang wis ngrumasani kaluputane. saking kenging sabdanipun ngulama saking ‘Arab. dados nama tingal ingkang têrus. pintên-pintên dhusun sami karisakan. amargi ngulama Giripura sampun tigang taun botên sowan utawi botên ngaturakên bulubêkti. satêkane ing Dêmak. dene kang kidul isih têtêp nganggo agama Buddha. pangandikane Sunan Benang marang Adipati Dêmak: “Wêruha yen saiki wis têkan masa rusake Kraton Majalêngka. sowana besuk Garêbêg Mulud. têgêsipun Yakin punika wikan. amarga Sunan Benang lunga ora karuhan parane. rêmbugku rusakên Kraton Majalêngka. gaweya samudana. mêngko yen wis kumpul. saka panawangku. botên ngrumaosi nêdha ngombe wontên tanah Jawi. banjur ngaturake kahanane kabeh. nglêstarekake agamane. Patih banjur diutus mênyang Kêrtasana. liyane loro iku didhawuhi ngulihake mênyang asale. Ature Patih: “Gusti! lêrês dhawuh paduka punika. mênggah têgêsipun Sunan punika budi. kajawi namung Bathara Wisnu nalika jumênêng Nata wontên ing nagari Mêdhang-Kasapta. Sang Prabu midhangêt ature para wadya banjur duka. dene duta kang diutus mênyang Tuban uga wis têka. Patih sawise niti-priksa. kahanane wonge sarta asile bumi kang katrajang banyu kapriye? Sarta didhawuhi nimbali Sunan Benang. mung kowe. matur yen ora oleh gawe. ing wêktu iku tanah jawa wis meh saparo kang padha ngrasuk agama Islam. 2. Patih budhal ngirid wadya-bala prajurit. kabeh mêsthi nurut marang kowe”. punika asma luhur ingkang makatên punika ngirib-irib tingalipun Kang Maha Kuwasa. nanging kang sarana alus. saperanganing layang mau unine mangkene: “Wontên ler-kilen Kadhiri. paring pangandika yen ngulama saka ‘Arab pada ora lamba atine. dene namanipun santri Giri anglangkungi asma paduka. banjur pêrang maneh mungsuh wong Majalêngka. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih. golek kêkuwatan. Sang Prabu mirêng ature Patih bangêt dukane. Wong ing Giri geger. wong-wong ing Pasisir lor wis padha agama Islam. amarga gawe ribêding nagara. pêparabipun Sunan ‘Aênalyakin. para Sunan sarta Bupati sawadya-balane kang wis padha Islam. yen kumpule iku arêp gawe masjid. Sunan Giri mlayu mênyang Benang. nglurug mênyang Giri. mênggah sêdyanipun badhe rêraton piyambak. banjur ngêbang marang Adipati Dêmak. anggenipun makatên wau. kang kuwat dadi Ratu tanah Jawa. sawise oleh bêbantu. mula banjur lunga karo Sunan Giri mênyang Dêmak.mangetan. namanipun Sunan Benang. mariksa botên kasamaran. umure wis satus têlu taun. Sang Prabu midhangêt ature Patih. pêrange rame bangêt. sumêrêp piyambak. banjur dhawuh nglurugi pêrang mênyang Giri. diajak nglurug mênyang Majalêngka. ora kuwat nanggulangi pangamuke wadya Majapahit. ênggone ora sowan mênyang Majalêngka. suraosipun ing têmbung Jawi nama Prabu Satmata. mung ing Dêmak lang Ngampelgadhing kang kêparêng ana ing tanah Jawa. dhawuhana balamu para Sunan kabeh lan para Bupati kang wis padha Islam kumpulna ana ing Dêmak. wong ‘Arab kang ana ing tanah Jawa padha didhawuhi lunga. têgêsipun Aenal punika ma’rifat. Gêlising carita. aja nganti ngêtarani. dene yen padha ora gêlêm lunga didhawuhi ngrampungi bae. Patih sawadya-balane satêkane ing Giri banjur campuh pêrang. sumilih Kaprabon Nata. nanging rumantiya sikêping pêrang: 1. .

botên kaparêng yen kula mêngsah bapa. akeh bangsa Cina kang padha têka ana ing tanah Jawa. awit panjênêngan botên ngrumaosi dhahar ngunjuk wontên in tanah Jawi”. Wangsulane Sang Adipati Dêmak: “Anggenipun nglurugi punika lêrês. mêsthi dipasrahake marang Adipati Pranaraga. karo wis wajibe wong urip golek kamuktening dunya. wis wajibe wong Islam mati dening wong kapir. dipunukum pêjah. punapa malih dereng wontên lêpatipun dhatêng kula”. ana ing Giri padha tak-Islamake awit kang muni ing kitabku. besuk ganjarane swarga. saka ênggone nyungkêmi agamane. yen kowe ora ngukuhi. têdhak Rasul panutaning wong Islam kabeh. patute mung dadi godhogan.Islamake. ananging ing laire iya kudu nganggo sarat dirêbut sarana pêrang. sanadyan Buddha nanging margi-kula sagêd dumados gêsang wontên ing dunya. walêsên kalawan alus. yen aku kacandhak arêp dikuciri lan dikon ngêdusi asu. mêsthine sihe Gusti Allah kang . lan ramanira sêngit bangêt marang santri kang muji dhikir. Dene têkaku mrene ini ngungsi urip mênyang kowe. Kowe mungsuh bapakmu Nata. tandhane sira diparingi jênêng Babah. Dhawuhipun eyang Sunan Ngampelgadhing. iya iku: bae mati bae urip. iya iku Ki Andayaningrat ing Pêngging. tak-anggêp kulawarga. lamun sipat manusa mêsthi melik mêngku praja angreh wadya bala. yen kowe ora gêlêm nglakoni. wong satanah Jawa padha Islam kabeh. sumilih kaprabone ramamu. Sunan Benang ngandika maneh: “Yen ora kok-rêbut dina iki. bocah kalairan Cêmpa. mula ibumu diparingake Arya Damar. sanadyan dosa pisan. amarga aku ora seba marang Majalêngka. wong pranakan buta. iku mêgat sih arane. Satêmêne ramanira iku siya-siya marang sira. tiyang punika bapa inggih kêdah dipunhurmati. Giri kang dadi jalarane ngrusak Majalêngka. ênggone ngarani jare lara ayan esuk lan sore. Sumbare Patih. sapira kawruhe Ngampelgadhing. kaping tiganipun damêl sae paring kamukten ing dunya. Sunan Giri nyambungi rêmbug: Aku iki ora dosa dilurugi ramamu. ngrusak kapir Buddha kawak: kang kok-têmu ganjaran swarga. kowe anak nom. amarga iku putrane kang tuwa. mamahên balunge”. botên ngrumaosi yen kêdah manut prentahing Ratu ingkang mbawahakên. lire aja katara. satêmêne kowe wis pinasthi bakal jumênêng Ratu ana ing tanah Jawa. awit Ratu iku Khalifa wakile Hyang Widdhi. lajêng punapa ingkang kula-walêsakên. mumpung iki ana lawang mênga. Sunan Benang kang wis dipuji wong sabumi ‘alam. sihing Hyang Kang Maha Kuwasa kang dhawuh marang kowe. patine slamêt nampani swarga mulya. tiyang rêraton. aku wêdi marang Patih Majalêngka. apa bae kang dikarêpake bisa kêlakon. Inggih sanadyan Buddha punapa kapir. amarga iku wong kapir. sapira mungguh kauntunganmu nugrahaning Pangeran tikêl kaping êmbuh. utawa dipasrahake marang putra mantu. têgêse Babah iku saru bangêt. Eyangmu kuwi santri mêri. yen wong urip ora wêruh marang uripe. kowe ngênteni surude bapakmu. yen ngislamake wong kapir. Ramanira panggalihe têtêp ora bêcik. nanging yen bapakmu kalah. kajawi namung sêtya tuhu. masa padhaa karo aku Sayid Kramat. mêsthi rusak agama Mukhammad Nabi”.Ature Adipati Dêmak: “Kula ajrih ngrisak Nagari Majalêngka. ora wajib jumênêng Nata. Kang mangkono iku. Bupati ing Palembang. wiji jawa digawa Putri Cina. iku durung gênêp uripe. ing batin sêsêpên gêtihe. Sunan Benang ngandika mêneh: “Sanadyan mungsuh bapa lan ratu. didakwa rêraton. nadyan mati. mungsuh wong kapir. mula akeh bangsa Cina kang padha tak. kaprabone bapakmu wis mêsthi ora bakal tiba kowe. gundhul bêntul butêng tanpa nalar. amêngsah bapa tur raja. ora ana alane. mung karo wong siji. mati sabilu’llah. mulane rêmbugku. tur ratu kapir. golek darajat kang unggul dhewe. sampun wajibipun dipunlurugi. iku ora prayoga.

padha bisa mêncak kabeh. jêjuluk Senapati Jimbuningrat. Majapahit sapa kang diêndêlake yen Kusen mbalik. mung siji kang ora rujuk. Si gugur isih cilik. lakune kaya dene Garêbêg Maulud. Syekh Sitijênar dilawe gulune mati. yen Adipati Dêmak arêp dijumênêngake Nata.mênyang kowe bakal dipundhut bali. Sunan Benang ngandika maneh: “Iya mangkono iku kang tak karêpake. Sunan Benang banjur ngandika marang Adipati Dêmak. Sadurunge Syekh Sitijênar tumêka ing pati. banjur pakumpulan ngêdêgake masjid. banjur tutup lawang. Gênti kocapa nagara in Majapahit. gêlêm ngrusak Majalêngka. apa abot Sang Nata. mungguh kang dadi senapati ing Giri iya iku sawijining bangsa Cina kang wis ngrasuk agama Islam. Sunan Giri mangsuli: “Iya besuk wani. mêsthi ora bisa nadhahi yudamu”. layang banjur katur Sunan Benang. wis tinampan wangsulane Sang Adipati Têrung. besuk yen ana Ratu Jawa kanthi wong tuwa. ora kacarita lakune ana ing dalan. ora suwe para Sunan lan para Bupati padha têka kabeh. pambujuke marang adipati Dêmak supaya mêtu nêpsune. gampang bangêt rusaking Majalêngka. kang gêlêm ngrusak bapa kapir. Akeh-akeh dhawuhe Sunan Benang. ninggal swara: “Eling-eling ngulama ing Giri. aku ora bakal mundur”. kowe ora tak-walês ing akhirat. dadi mung para Sunan lan para Bupati bae kang ngiringake Sultan Bintara. Sawise golong karêpe. bisa dadi Ratu ana ing tanah Jawa. saguh ambiyantu pêrang. saiki wani. diiringake para Sunan lan para Bupati. wong kabeh dipangandikani dening Sunan Benang. ambirat ênggonmu madêg Narendra. ndadekake sukaning panggalih. wis tak-sêmprong nganggo sangkal bolong katon nêrawang ora samar sajroning gaib. brêngose capang sirahe gundhul. Patih saulihe saka ing Giri banjur matur sang Praba. lan diwenehana sumurup yen Sunan Benang wis ana ing Dêmak. mangsah mêncak nganggo gêgêman abir. Sunan Benang duka. Esuke Senapati Jimbuningrat wis miranti sapraboting pêrang. amêngku tanah Jawa. patihe wong saka Atasaning aran Patih Mangkurat. Adipati Dêmak banjur kirim layang marang Têrung. bisa lêstari satêruse”. dene kang kadhawuhan mateni iya iku Sunan Giri. nglêstarekake apa kang wis dirêmbug. yen wis padha rujuk. iku padha nêmu rahayu. sabakdane salat. samudana yen arêp ngêdêgake masjid. aku mung sadarma njurungi. banjur arêp kêpyakan tumuli. Syekh Sitijênar dipateni. iya iku Syekh Sitijênar. padha manganggo . pawadane sarehne wis sêpuh. supaya Sang Adipati ngaturi para Sunan lan para Bupati kabeh. sarta banjur arêp ngrusak Majapahit. masa ndadak waniya. saiki kowe wis gêlêm tak botohi. Sunan Benang lan Sunan Giri ora melu mênyang Majapahit. lan paring idi rahayuning laku. apa abot sadulur tuwa kang tunggal agama. sawadya-balane watara wong têlung atus. amarga aku wis wêruh sadurunge winarah. Patihe wis tuwa. murwani agama suci. para wadya bala ora ana kang ngrêti wadining laku. malah diwenehi lêpiyan carita Nabi. dadi kowe jênênge nampik sihe Allah. banjur padha salat ana ing masjid. arane Sêcasena. nanging tak-walês ana ing dunya kene bae. Adipati Dêmak matur: “Manawi karsa panjênêngan makatên. lah saiki uga kowe kirima layang marang adhimu Adipati Têrung. ing kono gulumu bakal tak-lawe gênti”. Yen adhimu wis rujuk adêgmu Nata. ora suwe utusan bali. kula namung sadarmi nglampahi dhawuh. dithothok bae mati. ananging têmbungmu kang rêmit sarta alus. sawise mêsjid dadi. panjênêngan ingkang mbotohi”. Gêlising carita. Sang Adipati Dêmak banjur ingidenan jumênêng Nata. kajaba mung para Tumênggung lan para Sunan apa dene para ngulama. mung arêp salat ana ing masjid bae. adhimu antêpên. kowe kang katiban wahyu sihe Pangeran. banjur budhal mênyang Majapahit. Para Sunan lan para Bupati wis padha rujuk kabeh. bisa ngideni adêgmu Nata mêngku tanah Jawa. bab ênggone mukul pêrang ing Giri.

Kyai Patih banjur matur Sang Prabu. dene kang ngêbang. Ing samêngko Babah Patah sawadya-balane wis budhal nglurug marang Majapahit. njêgrêg kaya tugu. apa ta mungguh kang dadi sababe. wadya Majapahit ambêdhili. didhawuhi nyêkêl. mratelakake yen uga ora mangêrti. iya iku Babah Patah. Sunan Giri lan Sunan Benang banjur nunggal saprau-layar ngambang ing sagara. sawêneh ngambang ing sagara. wis madêg Ratu ana ing Dêmak. padha diparingi pangkat. dene putrane lan para ngulama apa dene para Bupati kolu ngrusak Majapahit. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih. ing Bintara. . kinira banjur minggat marang Arab ora bali ngajawa. kaaturna bêbandan ing ngarsa Nata. digoleki nalar-nalare tansah wudhar. dene ora padha ngrêti mênyang kabêcikane Sang Prabu. Menak Tunjungpura ing Pathi ngaturi uninga. bangêt pangungune. mlayu mênyang Benang têrus diburu dening wadya-bala Majapahit. bala ing Giri ngungsi mênyang alas ing gunung. sinêmonan dening Dewa. layang banjur diwaos kiyai Patih. bangêt gumune mênyang wong Islam. dene dosane santri Giri ora gêlêm seba marang ngarsa Prabu. dene jêjuluking Ratu. malah padha gawe ala. tekade sumêdya nglawan pêrang. Senapati Jimbuningrat. masa Kasanga Wuku Prangbakat. Babah Patah abot mênyang gurune. sêdya mungsuh ingkang rama. para Sunan lan para Bupati padha ambiyantu anggone arêp mbêdhah Majapahit. Sang Prabu banjur andangu marang Patih. dene padha duwe sêdya kang mangkono. andhawuhake yen ngulama ing Giri lan ing Benang padha têka ing Dêmak. ngaturake layang marang Patih. dene bala Cina liyane lang kari padha mlayu salang tunjang. mungguh kature Sang Prabu amborongake kiyai Patih. Senapati Sêcasena wis mati. ora padha ngelingi marang kabêcikan. dene kok padha duwe pikir ala. kêsaru têkane utusane Bupati ing Pathi.êbang adêging Nata. Layang kang saka Pathi mau katitimasan tanggal kaping 3 sasi Mulud taun Jimakir 1303. dene wong Islam pikire kok padha ora bêcik. njêtung atine. sajrone ana ing paseban jaba. Sang Prabu nganti ora bisa manggalih apa mungguh kang dadi sababe. nganti suwe ora ngandika. iya Sultan Adi Surya ‘Alam. iya iku Sunan Benang lan Sunan Giri. dibêciki walêse kok padha ala. wong dibêciki kok padha malês ala. ngaturake surasane layang mau. mangsah pêrang paculat kaya walang kadung. supaya utusan mênyang Dêmak. dene wadya-bala ing Giri pating jênkelang ora kêlar nadhahi tibaning mimis. banjur tumênga ing tawang karo nyêbut marang Dewa kang Linuwih. dene putrane lan para ngulama têka arêp ngrusak karaton. mungguh surasaning layang. Patih samêtune ing paseban jaba. Ki Patih uga mung gumun. Babah Patah anggone nggawa bala têlung lêksa miranti sapraboting pêrang. amarga adoh karo nalare. wêkasane malah padha gawe buwana balik. Ature Patih. lair batin ora tinêmu ing nalar. gedheg-gedheg. awit dosane santri Benang ngrusak bumi ing Kêrtasana. kolu ngrusak Majapahit. sarta kêrot. para Bupati pasisir lor sawadyane kang wis padha Islam uga padha njurungi. utawa Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’rrasul Amiri’lmukminin Tajudi’l’Abdu’lhamid Kak. sungkawane ratu Gêdhe kang linuwih. jroning panggalih ngungun bangêt marang putrane sarta para Sunan.srêban cara kaji. yen Adipati ing Dêmak. ngenthengake ingkang rama. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt. padha malês bêcik. Sang Prabu Brawijaya midhangêt ature Patih kaget bangêt panggalihe. lumrahe mêsthi. gêrêng-gêrêng. banjur nimbali duta kang arêp diutus mênyang Dêmak. kaya dene atining kêbo êntek dimangsa ing tumaning kinjir. Kiyai Patih sawise maos layang.

prakara têkane mungsuh. para Sunan banjur ngawaki pêrang. aja nganti ngrusakake bala. dene wadya Majapahit wis êntek. kuntul kucir githoke. muga winalêsna susah-ingsun. pangamuke kaya bantheng kataton. wong Islam iku besuk kuwalika agamanira. Patih Majapahit ngamuk ana samadyaning papêrangan. Patih didhawuhi nimbali Adipati Pêngging sarta Adipati Pranaraga. ngulama kabeh ngrangkêp jênêng walikan. mung Patih sarta Bupati Nayaka pangamuke saya nêsêg. sarehne Majapahit karoban mungsuh.Sang Prabu banjur ngandika marang patih. sinêksen ing jagad. kang ana mung Ratu Mas. ngideni para ngulama mêncarake agama Islam. katarima dening Bathara. Wadya Dêmak banjur campuh karo wadya Majapahit. prajurite akeh kang padha mati. wadya sajroning pura padha bubar. Sunan. ora ana braja kang tumama marang sarirane. tak-ajar wêruh nalar bênêr luput. Sunan Ngudhung disuduk kêna. lagi rame-ramene têtandhingan pêrang. yen mapag pêrang kang sawatara bae. Bala Dêmak kang katrajang mêsthi mati. tinggal swara: “Eling-eling wong Islam. sun-bêciki walêse angalani”. tibaning mimis kaya udan tiba ing watu. wêkasan Patih ing Majapahit ngêmasi. dene tan wruh kabêcikan. wadya-bala Dêmak wis pacak baris ngêpung nagara. sarta ênggone kêgiwang marang ature Putri Cêmpa. dene Adipati Dêmak kapengin mêngkoni Majapahit bae kok dirêbut sarana pêrang. ing ngêndi kang katrajang bubar ngisis. Patih ora pasah sakehing gêgaman. Putrane Sang Prabu aran Raden Lêmbupangarsa ngamuk ana satêngahing papêrangan. Sang Prabu banjur mundhut pamrayoga marang Patih. katêlah tumêka saprene. bab anane lêlakon kaya mangkono iku amarga saka lêpate sang nata piyambak. sawise paring pangandika mangkono. dibêciki gustiku walêse ngalani. Para prajurit Dêmak banjur padha mlêbu mênyang kadhaton. mula dhawuhe Sang Prabu. Sunan Ngudhung mapagake banjur mrajaya. iya iku kawitane manuk kuntul ana kang kucir. sang Putri diaturi sumingkir mênyang Benang uga karsa. Patih Mangkurat ing Dêmak nglambung. Putra Nata tiwas. amarga Sang Nata wis sêpuh. kaya dene tugu waja. mula kasêsa tindake. tak-damoni sirahmu. Sang Prabu ngandika. iya iku Putri Cêmpa. balang Majapahit mung têlung ewu. Ature Patih prayoga nglawan têkaning mungsuh. kadherekake abdi kêkasih. ngulama jênênge walian. ana ing kono pada njarah rayah nganti rêsik. dene nggêgampang marang agama kang wis kanggo turun-tumurun. nanging sang Prabu wis ora ana. Sapatine Patih. Sabdapalon lan Nayagenggong. Pêrange rame bangêt. nanging ora pasah. amarga putra kang ana ing Majapahit durung wanci yen mapagake pêrang. kolu ngrusak nagara Majapahit. tandhing karo Sunan Kudus. wong kampung ora ana kang wani nglawan. manjalma dadi wong kucir. barêng Sunan Ngudhung tiwas. Wong Majapahit kang ora . katandhan ana swara jumêgur gêtêr patêr sabuwana. ngobongi buku-buku bêtuwah Buddha padha diobongi kabeh. Patih dibyuki wadya ing Dêmak. santri kang ngrêbut nagara. ngrêbut nagara gawe pêpati. bala Dêmak têlung lêksa. Para Bupati Nayaka wolu uga banjur melu ngamuk. para Sunan banjur mlêbu mênyang kadhaton. saya bangêt nêpsune. Sajrone Sang Prabu paring pangandika. kang tadhah mati nggêlasah. ora ana kang diwêdeni. besuk tak-walês. Adipati Têrung banjur mlêbu mênyang jêro pura. Patih binendrongan saka kadohan. sapira kuwate wong siji. “Sabdaning Ratu Agung sajroning kasusahan. dene mungsuh karo putra. saupama disuwun kalayan aris bae mêsthi diparingake. Raden Gugur isih timur lolos piyambak. nanging kuwandane sirna. yen nganti nglawan rumaos lingsêm bangêt. bangkening wong tumpang tindhih. beteng ing Bangsal wis dijaga wong Têrung. Sang Prabu banjur lolos arsa têdhak marang Bali. rambutmu tak-cukur rêsik”. Sang Nata saka putêking panggalihe nganti kawêdhar pangandikane ngêsotake marang wong Islam: Sun-suwung marang Dewa Gung. iku dilawan apa ora? Sang Nata rumaos gêtun lan ngungun.

Nyai Agêng kanggo têtuwa wong Ngampel. banjur njêrit ngrangkul Sang Prabu karo ngandika: “Êngger! kowe wêruha. Sang Prabu Jambuningrat satêkane ing Ngampel. iya iku Patih Mangkurat sarta Adipati Têrung. kowe iku dosa têlung prakara. têka dirusak kang tanpa prakara. Têrung uga dijaga ngulama têlung atus. dene jêjuluke: Senapati Jimbun. yen Prabu Brawijaya iku jarene ramane têmênan. sabên bêngi padha salat kajat sarta andêrês Kur’an. banjur ngabekti Nyai Agung. Barêng wis têlung dina. para Sunan sarta para Bupati gênti-gênti padha ngaturake sêmbah mênyang Nyai Agêng. seda utawa sugênge ora ana kang wêruh”. têtêpa jumênêng Nata nganti run-tumurun aja ana kang nyêlani. Yen Gusti Allah wis marêngake. mungsuh Ratu tur sudarmane. pangandikane: “Êngger! aku arêp takon mênyang kowe. dene kowe kok wani ngrusak kang tanpa dosa. wadya-bala kang saparo lan para Sunan padha ndherek Sang Prabu mênyang Ngampelgadhing. Kang ngideni para Sunan. padha dikon nyêbut asmaning Allah. putrane Arya Teja. bapakmu tênan kuwi sapa? Sapa kang ngangkat kowe dadi Ratu tanah Jawa lan sapa kang ngideni kowe? Apa sababe dene kowe syikara kang tanpa dosa?” Sang Prabu banjur matur.gêlêm têluk banjur ngungsi mênyang gunung lan alas-alas. sarta kang aweh kamukten ing dunya. mangkene pangudaraosing panggalih: “Putuku. ênggone sowan mênyang Ngampel iku. ora dhawuh lan ora malangi marang wong kang salin agama. Kowe wani mungsuh Ratu tur wong tuwamu dhewe. wusana banjur diwalês ala. Sunan Kudus njaga ana ing kraton dadi sulihe Sang Prabu. Kuburan mau banjur dijênêngake Bratalaya. Mulane nagara Majapahit dirusak. garwane mau asli saking Tuban. yen ngelingi kasaeane uwa Prabu Brawijaya. banjur dikumpulake karo wong Islam. banjur muwun sarta ngrangkul Sang Prabu. ngaturake lolose ingkang rama sarta Raden Gugur. Kang ngangkat sarirane dadi Ratu mêngku tanah Jawa iku para Bupati pasisir kabeh. Nyai Agêng banjur ndangu Sang Prabu. ora susah ngango dikon. pinêtak ana sakidul-wetan pura. Sultan Dêmak budhal mênyang Ngampel. dene kang padha gêlêm têluk. Nyai Agêng barêng mirêng ature Prabu Jimbun. dene kang dipatah tunggu ana ing Majapahit. mêsthi kêsiku ing Gusti Allah. Prabu Jimbuningrat matur yen mêntas mbêdhah Majapahit. kowe dosa têlung prakara. jarene iku kubure Raden Lêmbupangarsa. Wong ganti agama iku ora kêna dipêksa yen durung mêtu saka karêpe dhewe. isih ngagêm agama kapir kupur. para ngulama padha diparingi panggonan kang wis anggawa pamêtu minangka dadi pangane. prêlu nyuwun idi. amarga Sang Prabu Brawijaya ora karsa salin agama Islam. Gusti Allah ora niksa wong . Anane Islam lan kapir sapa kang gawe. sarta padha diuja sakarêpe. kandhaa satêmêne. kajaba mung siji Gusti Allah piyambak. ngaturake patine Patih ing Majapahit lan matur yen panjênêngane wis madêg Nata mêngku tanah Jawa. sasedane Sunan Ngampel. sarta sing aweh nugraha marang kowe. sarta Panêmbahan Palembang. Wong kang nyungkêmi agamane nganti mati isih nggoceki tekade iku utama. Layone para putra santana lan nayaka padha kinumpulake. Sunan Ngampel wis seda. wong pancene rak sêmbah nuwun bangêt. Kabeh iki sasênênge dhewe-dhewe. njaga kaslamêtan mbokmanawa isih ana pakewuh ing wuri. Gusti Allah kang sipat rahman. Nyai Agêng ing batos karaos-raos. Nyai Agêng Ngampel sawise mirêng ature Prabu Jimbun. wis mêsthi salin dhewe ngrasuk agama Islam. Buddha kawak dhawuk kaya kuwuk. mung kari garwane kang isih ana ing Ngampel.

lalar-lulurên asalmu. têka kolu marang bapa. kêduga ngrusak ora nganggo prakara. Barêng wong kang kaya kowe. prakara têtêpmu dadi Ratu tanah Jawa. sarta ora paring ganjaran marang wong Islam kang tumindak ora bênêr. nanging ora karsa. eyangmu ora parêng. mung manut unine buku. ibumu Putri Cêmpa nyêmbah pikkong. Lan aku arêp takon. malah manti-manti aja nganti mungsuh wong tuwa. kang diarani wong linuwih. aku ora wênang ngideni. bapa disiya-siya. mula blero pandêlêngmu. beda matane wong Jawa. Kowe ora kêna sêngit mênyang wong kang agama Buddha.dongengi kupiya patang prakara. putrane anggege . ênggone padha wani mungsuh wong tuwane. yen kowe têtêp tuwa Ratu”. mujijadmu apa? Yen nyata Khalifatu’llah wênang nyalini agama lah coba wêtokna mujijadmu tak-tontone”. dupeh kapir Budha ora gêlêm ganti agama. wêruh kang bêcik lan kang ala. iku tandha yen isih mêntah kawruhmu. wong ngumbara kok diturut rêmbuge. panjênêngane Kanjêng Nabi Dhawud. nalika eyangmu isih sugêng. sanadyan mungsuh wong tuwa. iku amarga sabên dinane wis ngaturi santun agama. wujud dluwang utawa rêja watu. kowe tau matur yen arêp ngrusak Majapahit. aku bangsa cilik tur wong wadon. durung wani marang wong tuwa. Nyai Agêng Ngampel gumujêng karo ngandika: “Tindakmu iku saya luput bangêt. Ujar-jare bae kok disungkêmi. dadi ora dielingi kapire. sing putih mung ing jaba. Eklasing ati bêkti bapa. wong Agung Kuparman. yen aku tuwa tiwas. mung ngêndêlake ikêt putih. jare yen ngislamake wong kapir iku ing besuk oleh ganjaran swarga. amarga kowe Khalifatu’llah sajroning tanah Jawa.asih lang ngaji-aji. ora bêkti wong kapir. maratuwane gêthing marang wong Agung amarga seje agama. yen durung ngaturi salin agama. mung bênêr karo lupute sing diadili nganggo têtêping adil. ora kaya tekadmu. lair batine ora luput. saka kêpenginmu jumênêng Nata. amarga wis wajibe manusa bêkti marang wong tuwane. kowe ora wêdi papacuhe. Kowe kuwi dudu santri ahli budi. tur dudu bukuning lêluhur. mêngko rak buwana balik arane. saucapmu idu gêni. mangka sabên dinane wis diaturi mujijade. kasusuhane ora dipikir. Iya iku êngger. saiki eyangmu wis seda. jarene anake Sang Prabu. Prabu Jimbun matur yen ora kagungan mujijad apa-apa. dadi wêruh ing bênêr lan luput. Nyai Agêng Ngampel gumujêng nanging wêwah dukane. Lamun mangkono tumindake. Yen kowe njaluk idi marang aku. amarga iku wong tuwane. sing nglakoni rusak ya kowe dhewe. apa kowe wis matur marang wong tuwamu. ing jêro abang. ewadene Wong Agung tansah wêdi. duwe maratuwa kapir. kapindhone Ratu lan kang aweh nugraha.kapir kang ora luput. mung kowe dhewe sing tuwa. kok-aturi salin agama? nagarane kok nganti kok-rusak iku kapriye? Prabu Jimbun matur. tandha mripatmu iku lapisan. nanging kang dielingi wong tuwane. ananging atur mau ora dipanggalih. maratuwane tansah golek sraya bisane mantune mati. Jawa Jawi ngrêti matane mung siji. wêwalêre kok-trajang. carita tanah Mêsir. Kowe tak-dongengi. sanadyan para Nadi dhek jaman kuna. mula iya banjur dimungsuh. Banjure pangandikane Nyai Agêng Ngampel: “Putu! kowe tak. mêsthi wêdi mênyang bapa. iku dudu padon. ing kitab hikayat wis muni. têkane Majapahit banjur ngêpung nagara bae. isih nglêstarekake agamane lawas. awit kowe sing mêsthine paring idi marang aku. nanging putihe kuntul. iku agamane Islam. kang nandhakake yen kudu wis santun agama Islam. mula Wong Agung iya ngaji-aji marang maratuwane. iku wajib dibêkteni. ora ngrêti marang kang bênêr lan kang luput.

Dewatacêngkar dipêrangi nganti kêplayu. mêsthi mandi. mêsthine labuh marang bapa. tur kelangan bapa. ora lawas Nabi Dhawud sagêd wangsul ngrêbut nagarane. Sang Prabu Jimbun sarawuhe ing Dêmak. Ajisaka diangkat dadi Raja. nanging banjur disotake dening ingkang rama banjur dadi buta. Sawise Sang Prabu dipangandikani. Putri Cêmpa wis diaturi ngungsi mênyang Benang. lan aturana mampir ing Ngampelgadhing. ênggone ora ngrêti marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya. kiraku ora bakal oleh pangapura. anggêlarake panguwasa sulap ana ing tanah Jawa. kaping têlune ngrusak kabêcikan apa dene ngrusak prajane tanpa prakara. sarta ngandika yen wis cocog karo panawange. nanging yen ora kêrsa. Sang Prabu Jimbun mirêng pangandikane ingkang eyang. aja dipêksa. wadya Majapahit sing wis têluk banjur padha dikon Islam. banjur didhawuhi kondur mênyang Dêmak. panggalihe rumasa kêduwung bangêt. layang-layang Buddha iya wis diobongi kabeh. putrane banjur sumilih jumênêng Nata. padha angucap sukur lan bungah bangêt dene Sang Prabu wis kondur sarta bisa mênang pêrange. aran Aji Saka. Sang Prabu Danaraja wani karo ingkang rama. patimu iya mlêbu mênyang yomani. kapindho murtat ing Ratu.kapraboning rama. jarane ambandhang kêcanthol-canthol kayu. para santri padha trêbangan lan dhêdhikiran. bisa mênang pêrang nanging mungsuh bapa Aji. kang mangkono iku kukume Allah”. sarta didhawuhi nglari lolose ingkang rama. sapisan mungsuh bapa. Sunan Benang mirêngake ature Sang Prabu Jimbun. kowe mêsthi cilaka. yen kondure uga mampir ing Ngampeldênta. sing nglakoni cilaka rak iya mung kowe dhewe. ora antara suwe banjur mati. Nyai Agêng Ngampel isih nêrusake pangandikane: “Kowe kuwi dilêbokake ing loropan dening para ngulama lan para Bupati. nanging wis ora kêna dibalekake. gêthing marang Dewatacêngkar. sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata. Putrane nunggang jaran mlayu mênyang alas. Patih Majapahit mati ana samadyaning papêrangan. Apa maneh kaya kowe. ora suwe antarane. apa sapangandikane Nyai Agêng Ngampel diaturake kabeh marang Sunan Benang. iku iya anggege kapraboning rama. sarta ngaturake yen ingkang rama lan Raden Gugur lolos. yen wis kêtêmu diaturana kondur mênyang Majapahit. mung kowe kok gêlêm nglakoni. mungsuh bapa kang tanpa prakara. iya iku kang diarani kukuming Allah. amarga yen nganti duka mangka banjur nyupatani. Wong Jawa akeh kang padha asih marang Aji Saka. Adipati Pranaraga lan Adipati Pêngging masa trimaa rusaking Majapahit. Sunan Benang mêthukake kondure Sang Prabu Jimbun. nganthi pothol gumantung ana ing kayu. kukume iya isih tumindak kaya kang tak-caritakake mau. gumujêng karo manthuk-manthuk. iku kowe mrêtobata marang Kang Maha Kuwasa. kabeh padha nêmu sangsara. nanging sawise. . Nabi Dhawud nganti kengsêr saka nagara. sowan ingkang eyang Nyai Agêng Ngampel. ambyur ing sagara. ana Brahmana saka tanah sabrang angajawa. banjur didhawuhi ngupaya ingkang rama. Sang Nata banjur matur marang Sunan Benang yen Majapahit wis kêlakon bêdhah. Ana maneh caritane Sang Prabu Dewata-cêngkar. Sang Prabu matur. Nyai Agêng akeh-akeh pangandikane marang Prabu Jimbun. sabên dina mangsa jalma. nanging ana ing Ngampel malah didukani sarta diuman-uman. dadi bajul. para wadya padha sênêng-sênêng lan suka-suka nutug. salawase urip jênêngmu ala. iku bae wis abot sanggane”. ngaturake yen mêntas saka Majapahit. Ana maneh caritane nagara Lokapala uga mangkono.

Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt. sing kalangkungan tindake Sang Prabu Brawijaya. yen Prabu Jimbun mituhu dhawuhe Nyai Ngampeldênta. mêngku wadya sineba para punggawa. awit yen mateni wong kapir ora ana dosane. iya iku Nayagenggong lan Sabdapalon. banjur ngabêkti sumungkêm padane Sang Prabu. ing mangke putra paduka emut. bilih panjênêngan paduka linggar saking praja botên kantênan dunungipun. ora antara suwe kêsaru sowanne Sunan Kalijaga. yen dhawuhe Nyai Agêng Ngampel ora pêrlu dipanggalih. aweta dados jêjimat pinundhi-pundhi para putra wayah buyut miwah para santana. dene darbe bapa Ratu Agung ingkang anyêngkakakên saking ngandhap aparing darajat Adipati ing Dêmak. mêsthine bakal oleh sabda kang ora bêcik. . rumaos lupute. mung didherekake sakabat loro lakune kêlunta-lunta. lan padha mikir kahaning lêlakon kang mêntas dilakoni. têtêpa kados ingkang wau-wau. saka ênggone ngupaya warta. nuwun pangaksama sadaya kasisipanipun. Sang Prabu Brawijaya sarta putrane bêcik ditênung bae. amarga panimbange wanita iku mêsthi kurang sampurna. Sang Prabu didhawuhi sowan nyuwun pangapura kabeh kaluputane. dene ora ngelingi marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya. yen ingkang rama mêksa kondur mênyang Majapahit.Sunan Benang sawise mirêngake ature Sang Nata ing batos iya kêduwung. Lampahe Sunan Kalijaga turut pasisir wetan. sangêt kapenginipun mêngku praja angreh wadyabala. sarehne wis kraos sayah banjur kendêl ana sapinggiring beji. dene yen arêp ngaturi jumênêng Nata maneh. yen ora nglakoni dhawuhe Nyai Ngampel. samudanane nyalahake Sang Prabu Brawijaya lan Patih. Sang Prabu banjur ndangu marang Sunan Kalijaga: “Sahid! kowe têka ana apa? Apa prêlune nututi aku?” Sunan Kalijaga matur: “Sowan kula punika kautus putra paduka. sineba ing para bupati. tindake Sunan kalijaga ênggone ngupaya Sang Prabu Brawijaya. dene ngantos kamipurun ngrêbat kaprabon paduka Nata. kapanggiha wontên ing pundi-pundi ingaturan kondur rawuh ing Majapahit. mungguh prayoganing laku supaya ora ngrusakake bala. Sunan Benang arêp kondur mênyang ‘Arab. supaya dijumênêngake ana seje nagara ing sajabaning tanah Jawa. Sunan Benang paring dhawuh marang Sang Prabu. Sunan Benang sarta Prabu Jimbun wis nayogyani panêmune Sunan Giri kang mangkono mau. botên sumêrêp tata krami. sêmbah sungkêmipun konjuka ing pada paduka Aji. Sunan Benang banjur ngandika. Sunan Giri banjur nyambungi pangandika. tangeh malêsa ing sih paduka Nata. kapanggiha wontên ing pundi-pundi. punika putra paduka rumaos yen mêsthi manggih dêdukaning Pangeran. awit saking kalimputing manah mudha punggung. madosi panjênêngan paduka. Samangke putra paduka rumaos ing kalêpatanipun. amarga mêsthi bakal ngribêdi lakune wong kang padha arêp salin agama Islam. mula iya wêdi. Mila kawula dinuta madosi panjênêngan paduka. abdi loro mau tansah gêguyon. wusana Prabu Jimbun banjur matur marang Sunan Benang. aja ana ing tanah Jawa. ênggone ora karsa salin agama Islam. Gênti kang cinarita. luwih bêcik ênggone ngrusak Majapahit dibanjurake. Lampahe Sang Prabu Brawijaya wis têkan ing Blambangan. Nanging rasa kang mangkono mau banjur dislamur ing pangandika. sabên desa diampiri. dene sing marak ana ngarsane mung kêkasih loro.

rahayunipun para putra wayah sadaya. kulit kisut gêgêr wungkuk. dipunsuwun ingkang rila têrusing panggalih”. mawas ing ngarêp nanging jêbul anjênggung ing buri. kacancang pucuking rema. Sakawit ingsun bêciki. Sunan Kalijaga barêng ngrungu pangandikane Sang Prabu rumasa ing kaluputane ênggone melu mbêdhah karaton Majapahit. Lamun iki ngantiya nyabrang marang Bali. dene kadudon kang wis kêbanjur. samêkta sakapraboning pêrang. lan ingsun arsa angsung wikan marang Hongte ing Cina. Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Ingsun-rungu aturira. yen putrane wis patutan karo ingsun mêtu lanang siji. banjur wani mungsuh bapa Ratu. têtêpa kados ingkang sampun. rêmbuge mung manis ana ing lambe. ing batin bangêt panalangsane. mukul pêrang tanpa panantang. têka rinusak tanpa prakara. putra paduka nyaosi busana lan dhahar paduka.” Sunan Kalijaga ngrungu dhawuhe Sang Prabu kang mangkono iku ing sanalika mung dhêlêg-dhêlêg. mugi dadosa jimat paripih. sarta padha eling marang lêlabêtan kabêcikaningsun. aninggal carane wong agung. samêkta sakapraboning pêrang. sun-jaluk lilane anake arêp ingsun pateni. lan arsa ingsun-kon nimbali para Raja kanan kering tanah jawa. ananging ora wêruh ing dalan. Manawi paduka kondur. sinaosan kadhaton wontên ing rêdi. ingsun ora isin. iku apa nganggo tataning babi. yen putune arsa ingsun-pateni. awit ingsun ora ngawiti ala. Sahid! nanging ora ingsun-gatekake. ngandika sajroning ati: “Tan cidra karo dhawuhe Nyai Agêng Ngampelgadhing. kêtêmu karo yayi Prabu Dewa agung ing Kêlungkung. ora wurung bakal ana pêrang gêdhe tur wadya ing Dêmak masa mênanga. yen anake karo pisan satêkane tanah Jawa sun-angkat dadi Bupati. mula banjur ngrêrêpa.kinurmatan sinuwunan idi wilujêngipun wontên ing bumi. apa ta salah-ingsun. nanging ora wêruh ing dalan. dadi dudu tataning manusa kang utama”. ingsun njaluk biyantu prajurit Cina. padha mata lapisan kabeh. njujuga nagari Bali. lan Adipati Palembang sun-wehi wêruh. putra paduka nyaosakên pêjah gêsang. tinggal tata adat caraning manusa. batine angandhut pasir kinapyukake ing mata. mula blero pandulune. ature: “Inggih saduka-duka paduka ingkang dhumawa dhatêng putra wayah. yêkti padha têka ing Bali sagêgamaning pêrang. yen kaparêng saking karsa paduka. sikara wong tuwa kang tanpa dosa. iya ingsun-jaluk lilane. iya sanadyan pêrang gêdhe gêgêmpuran amungsuh anak. sun-jak marang tanah Jawa angrêbut kapraboningsun. wani mungsuh bapa ratu. kajawi namung pangapuntên paduka. yen eyang wungkuk isih mbrêgagah nggagahi nagara. sadayaning kalêpatanipun. ing rêdi ingkang karsakakên badhe dipundhêpoki. karana ingsun wis kapok rêmbugan karo santri padha nganggo mata pitu. murih picêka mataku siji. sabab murtat wani ing bapa kapindhone Ratu. Dene yen panjênêngan paduka botên karsa ngasta kaprabon Nata. kaping têlune kang mbêciki. namung nyuwun pangaksama paduka. nanging nyuwun pusaka Karaton ing tanah Jawa. walêse kaya kênyung buntut. amarga katindhihan luput. wis mêsthi bae wong . Yen wis samêkta sawadya prajurit. lan nyuwun pangkatipun lami dados Adipati ing Dêmak. kapêtêk wontên ing êmbun. ing pundi sasênênging panggalih paduka. wangsul karsa paduka karsa tindak dhatêng pundi?” Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Saiki karsaningsun arsa tindak mênyang Bali. putra paduka pasrah kaprabon paduka Nata. ora nyawang wujuding dhiri. mungsuh ratu pindho bapa. punapa malih ingkang sinuwun malih. Sarehning sampun kalêpatan. lan duwe wêlas marang wong wungkuk kaki-kaki. mandar amêwahana cahya nurbuwat ingkang wêning. arsa ingsun-wartani pratingkahe si Patah.

sarta banjur nyaosake cundrike karo matur. aku banjur dicêkêl dibiri. saestu badhe pêrang gêgêmpuran. mung siji marang bênêr paningalku. liya dina lali. ingsun wis kakikaki.” Wusana Sunan Kalijaga matur alon: “Dhuh pukulun Jêng Sang Prabu! saupami paduka lajêngna rawuh ing bali. lajêng nyêbut asmaning Allah. mula nganti suwe ora ngandika tansah têbah jaja karo nênggak waspa. panggalihe kanggêg. yen Sang Prabu ora karsa nglampahi kaya ature Sunan Kalijaga. tiyang namung bab agami. iya sun-paringake krana bêcik. luwih karsaning Jawata Gung. pikêkahipun tiyang Islam punika sahadat. nêtêpi mripat siji. wis warêg jumênêng Ratu. kang miturut adat pranatane para lêluhur. kaprabon Jawi kaliya ing sanes darah paduka Nata. amarga aku kuwatir yen aturmu iku goroh kabeh. nimbali para Raja. nrima dadi pandhita. Sahid! saiba susahing atiku. ora nganggo mata loro. dene bab agami namung kasarah sakarsa paduka. tak-timbange aturmu. Sunan Kalijaga nyuwun supaya dipateni bae. amarga lingsêm manawa mêruhi lêlakon kang saru. disuwun krananing bêcik. kok dikum ing banyu”. manawi botên karsa punika botên dados punapa. aku kok durung ngrêti. amarga duwe bapa Buddha kawak kapir kupur. . Sang Prabu nguningani patrape Sunan kalijaga kang mangkono mau. angantêp tangkêping jurit. tak-pikire sing bêcik. benjing kula ingkang tanggêl. botênbotênipun manawi putra paduka badhe siya-siya dhatêng panjênêngan paduka. Saupama si Patah ngrasa duwe bapa ingsun. dikon tunggu lawang pungkuran. mêsthi asor wong Islam tumpês ing pêpêrangan. saupami kados dene sêgawon rêbatan bathang. panjênêngan paduka jumênêng Nata botên lami lajêng surud. punapa botên ngeman risakipun nagari Jawi. karaton ing tanah Jawa. pamintane marang para titah ing wuri. yen ora ngrêti banjur diguyang ana ing blumbang dikosoki alang-alang garing. Sang Prabu ngandika: “Sahadat iku kaya apa.Jawa kang durung Islam yêkti asih marang Ratu tuwa. mula banjur nyungkêmi pada. sanadyan salat dhingklak-dhingkluk manawi dereng mangrêtos sahadat punika inggih têtêp nama kapir”. wong wis tuwa. sêrêt pangandikane: “Sahid! linggiha dhisik. Balik samêngko si Patah siya mring sun. mêsthine-ingsun iya ora lila ing tanah Jawa diratoni. Sang prabu Brawijaya ngandika: “Mungguh kang mangkono iki luwih-luwih karsane Dewa Kang Linuwih. gêthinge ora bisa mari. kêpengin dadi Ratu.” Sang Prabu mbanjurake pangandikane marang Sunan Kalijaga: “Mara pikirên. namung langkung utami manawi panjênêngan paduka karsa gantos sarak rasul. ingkang kêrah tulus kêrah têtumpêsan sami pêjah sadaya daging lan manah kathêda ing sêgawon sanesipun”. coba ucapna tak-rungokne”. Sumurupa Sahid! saupama aku kondur marang Majapahit. nyêkrukuk. Sunan Kalijaga gumujêng karo matur: “Mokal manawi makatên. ingsun iki Ratu Binathara. têmên lan gorohe. si Patah seba mênyang aku.” Sunan Kalijaga barêng mirêng pangandikane Sang Prabu. bênêr lan lupute. sampun tamtu putra paduka ingkang badhe nêmahi kasoran. esuk sore diprêdi sêmbahyang. rumasa ora kaconggah ngaturi. pitêkur ana ing gunung.

run-tumurun ngantos dumugi sapriki. têgêsipun Rasul rasa. rasa pangan manjing lesan. Sang Wiku Manumanasa. mila sêmbahyang mungêl “uzali” punika têgêsipun nyumêrêpi asalipun. Rasule minggah swarga. pamrihipun damêl kapiran muksa paduka mbenjing. sami nêdha bangsanipun piyambak. punika têtêp kapiripun. botên wontên ingkang ewah agamanipun. kang dhingin wêruh badan. dene têgêsipun Nabi Mukhammad Rasula’llah: Mukhammad punika makam kuburan. Tiyang ngucap punika kêdah sumêrêp dhatêng ingkang dipunucapakên. wajibipun manusa mangeran rasa. Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa.” Sabdane Wiku tama sinauran gêtêr-patêr. nêtêpi wiwit sapisan ngestokakên agami Buddha. Sawêg paduka ingkang karsa nilar pikukuh luhur Jawi. lan anêkseni. Sintên ingkang jumênêng Nata. botên sumêrêp rukun Islam. Sang Prabu banjur ngandika yen wis lair batos. têgêsipun: Ingsung anêkseni. kula manawi tilêm ngantos 200 taun. mulane Sunan Kalijaga banjur matur. . mêdal saking badan kang mênga. kaping kalih wêruh ing têdhi. rohipun Mukhammad Rasul. nganti Prabu Brawijaya karsa santun agama Islam. momong lajêr Jawi. ora ana Pangeran kang sajati. mila tiyang punika prêlu mangrêtos dhatêng lair lan batosipun. têka narimah nama Jawan. Ature Sunan Kalijaga marang Sang Prabu: “Tiyang nêmbah dhatêng arah kemawon. banjur nyêbut asmaning Allah Kang Sajati. lu’llah. Sunan kalijaga ature akeh-akeh. Sang Prabu Brawijaya sinêmonan dening Jawata. raganipun manusa punika wêwayanganing Dzating Pangeran. lan 3: pari Mriyi. rasa lan têdhi dados nyêbut Mukhammad rasulu’llah. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin. Sang Prabu sawise paras banjur ngandika marang Sabdapalon lan Nayagenggong: “Kowe karo pisan taktuturi. dados badanipun tiyang punika kuburipun rasa sakalir. ênggone karsa mlêbêt agama Rasul. Saka karsaku. Kangjêng Nabi Mukhammad iku utusane Allah”. 2: pari Randanunut. manawi botên mêngrêtos têgêsipun sahadat. rêmên manut nunut-nunut. sawise banjur mundhut paras marang Sunan Kalijaga nanging remane ora têdhas digunting. Dene raganipun manusa punika asalipun saking roh idlafi. luluh dados êndhut. lantaran ashadualla. wa ashadu anna MukhammadarRasulu’llah. ngrasuk agama Islam. dados momongan kula. Sakutrêm lan Bambang Sakri. botên sumêrêp wujud têgêsipun. kula momong pikukuh lajêr Jawi. wijile rasaning urip. Sang Prabu diaturi Islam lair batos. wiwit dina iki aku ninggal agama Buddha. botên muji Mukhammad ing ‘Arab. remane ora têdhas digunting. wujud makam kubur rasa. kowe sakarone tak-ajak salin agama Rasul tinggal agama Buddha”. lan malih sintên tiyang ingkang nêmbah puji ingkang sipat wujud warni. sadangunipun kula tilêm tamtu wontên pêpêrangan sadherek mêngsah sami sadherek. iya iku rêrupan kahanan ing dunya ditambahi warna têlu: 1: aran sukêt Jawan. botên mangrêtos purwaning dumados”. muji badanipun piyambak. Rasul rasa kang nusuli. kasêbut Rasulu’llah punika rasa ala ganda salah. riningkês dados satunggal Mukhammad Rasula’llah. amarga yen mung lair bae. mulane kêna diparasi. dumugi sapriki umur-kula sampun 2000 langkung 3 taun. amung Allah. Jawi têgêsipun ngrêti. punika nêmbah brahala namanipun.Sunan kalijaga banjur ngucapake sahadat: ashadu ala ilaha ila’llah. ingkang nakal sami nêdha jalma.

manawi nyêbut Nabi Mukhammad Rasulu’llah. kula botên têgêl ningali watak siya. botên manggih raos ingkang saestu. nêtêpana namane tiyang lumampah. kados tiyang ‘Arab. gantos roh idlafi lapisan: sasi surup mêsthi saking pundi asalipun wiwit dados jalmi. nrimah pêjah dados setan. asal siji mantuk satunggal. Sabdapalon matur maneh: “Inggih punika kawruhipun tiyang bingung gêsangipun rugi. Tiyang pêjah botên kêbawah pranataning Ratu ing lair. kula rêmên agami lami. sampun dados wajibipun manusa punika manut dhatêng eling budi karêpan. Manawi kula. wujudipun piyambak. lantaranipun ngabên awon. sampun ebah saking prênahipun mlêbêt mbêkta sir cipta lami”. salin agama Rasul. punika dadosipun piyambak. sarira paduka sipate tiyang wujud dados. tur siya dhatêng raga. sampun mêsthi sukma pisah kaliyan budi. ngapêsakên badanipun piyambak. dene ingkang mastani mulya punika rak tiyang ‘Arab sarta tiyang Islam sadaya. ing têmbe tilar mujijat rakhmat nyukani kiyamat dhatêng anak putunipun ingkang kantun. makatên wau têtêp botên wontên prêlunipun. wujudipun risak. anggenipun ngalêm badanipun piyambak. Manawi dipunpundhut ingkang Mahakuwasa. nyêbut Nabi Mukhammad Rasula’llah panutaning para Nabi. dadosipun saking gaib samar. wontênipun wujud piyambak. têlu punika tilas. ngalêm saening tangga. botên ngengêti bilahinipun ing wingking. wujud malih. Adam punika muntêl kaliyan Hyang Brahim. namung kantun rumaos lan pangraos ingkang paduka-bêkta dhatêng pundi kemawon. dipunwastani Mukhammadun. dados botên ngapirani. têgêsipun kêbrahen nalika gêsangipun. mastani botên urus. botên gadhah kawruh kaengêtan. nanging ingkang risak namung ingkang asal saking roh idlafi. jasanipun budi. kubure rasa kang salah. namung mangeran rasa wadhag wadhahing êndhut. roh idlafi têgêsipun lapisan. Uripipun langgêng namung raga pisah kaliyan sukma. namung prêlu nênggani daging bacin ingkang sampun luluh dados siti. Ingkang makatên punika amargi namung saking kirang budi kawruhipun. dereng nêdha woh kawruh lan budi. dene pêjah ingkang utami punika sewu satus têlung puluh. Sang Prabu ngandika: “Mulih marang asale. mila nami Mukhammad inggih makaman kuburan sakalir. puluh punika pulih. inggih punika sahadat ingkang botên mawi ashadu. namung tansah nêdha eca.Sang Prabu andangu maneh: “Kapriye kang padha dadi kêkêncênganmu. Cobi paduka-jawab atur-kula punika”. manawi dados dhêmit ingkang têngga siti. nyêbut Dewa Ingkang Linangkung. apa gêlêm apa ora ninggal agama Buddha. dados sipatipun tiyang lan raos. kala gêsangipun dereng nêdha woh wit kawruh lan woh wit budi. manawi tekadipun sae inggih nampeni kamulyan. ing benjing. . ingkang nglimputi wujud. manawi sampun risak wangsul dhatêng asalipun malih. nêdha siti ngajêng-ajêng tiyang ngirim sajen tuwin slamêtanipun. saking karsaning Latawalhujwa. nanging tangining raos wujud badan. asal Nur bali marang Nur”. saestu damêl kapiran kamuksan-kula. manawi dipunpundhut dening Ingkang Maha Kuwasa. Siya punika têgêsipun ngukum. Jagad punika raganipun Dewa ingkang asipat budi lan hawa. bapa biyung botên damêl. Surup têgêsipun: sumurup purwa madya wasananipun. lan nyêbut asmaning Allah Kang Sajati?” Sabdapalon ature sêndhu: “Paduka mlêbêt piyambak. Wangsul Prabu Brawijaya lajêng manggen wontên pundi. têgêse Mukhammad niku makaman kubur. nanging manawi tekadipun awon inggih nampeni siksanipun. manawi kula santun agami. mila dipunwastani anak. makatên punika ingkang nistha. risak-risakipun piyambak. makaman kuburing rasa. Têgêsipun satus punika putus. punika sanes pêjah ingkang utami.

naraka ‘arasy kursi. Sabdapalon: “Inggih punika pêjahipun tiyang cubluk. manawi sampun narimah dados sela. dipunpaksa nyambut damêl awrat tur botên tampa arta. Inggih punika tiyang bodho mangrêtosa. makatên punika namung sagêd lêma sugih daging.Sang Prabu ngandika: “Ciptaku nempel wong kang luwih”. yen wis luluh dadi lêbu”. lajêng klambrangan. Sabdapalon matur: “Punika tiyang kêsasar. manawi akhiratipun . dados brêkasakan. manawi kenging kula-singkiri. Srêng têgêsipun padamêlan ingkang awrat sangêt. namung dados gunungan dhêmit”. ora ikhtiar nampik milih. botên pêjah. Punika botên pêjah utami. nalika aku durung maujud iya durung ana apa-apa. sampun botên prêlu pados ‘ilmi kamulyaning seda”. nilar wajibing manusa. mangka ênggene akhirat punika têgêse mlarat. Tiyang pêjah muksa punika cêlaka. sakulawargane mung nadhah bêras sapithi.ênggen wontên akhirat. Ênggi têgêsipun gawe. manusa dipunwênangakên nampik milih. nusa têgêsipun manusa. nalika tapêl Adam. sampun paduka-bêkta ngaler ngidul. nalika gêsangipun kados kewan. dados setan kuburan. jagadipun manusa punika sampun mêngku ‘alam sahir kabir. saênggen. rêmênipun namung nempel. botên sagêd dados roh idlafi enggal. ical gêsangipun salêbêtipun pêjah”. botên bawa piyambak. tiyang gêsang wontên ing dunya kados makatên wau. botên mangrêtos santun roh hidlafi enggal. daging ingkang sampun luluh dados siti. botên bawa piyambak. dados nama sampun narimah ngombe uyuh kemawon. kados dene kêmladeyan tumemplek wit-witan agêng. nanging botên tilar jisim. sambêl. tanpa ulam. lajêng nempel dhatêng sanesipun malih”. botên iman ‘ilmi. Sang Prabu: “Ciptaku arêp mulih mênyang akhirat. mangke manawi kêsasar lo. dadi patiku iya mangkono”. Sabdapalon gumuyu: “Yen tiyang agami Rasul têrang botên sagêd muksa. dipunbanda. botên kuwawi ngringkês nguntal raganipun. nênggani daging wontên kuburan. Sabdapalon matur: “Akhirat. Sabdapalon: “Punika pêjahipun tiyang kalap nglawong. Klêbêt akhirat nusa Srênggi. Dados têgêsipun jalma pinêksa nyambut damêl dhatêng Ratu Nusa Srênggi namanipun. namung nêdha ngombe lan tilêm. kamuktenipun namung nêmpil. swarga. amargi nami pêjah. jangan punika akhirat ingkang katingal tata lair. lêma kakathahên daging. Sang Prabu: “Aku nunggoni makaman kubur. nunut-nunut. mênyang suwung. pêjahipun tiyang nistha. botên gêsang. manawi dipuntundhung. Pangandikane Sang Prabu: “Aku ora duwe cipta apa-apa. Paduka badhe tindak dhatêng akhirat pundi. sampun pêpak: akhirat. sampun ngantos kula mantuk dhatêng kamlaratan sarta minggah dhatêng akhirat adil nagari. manawi lêpat jawabipun tamtu dipunukum. namanipun botên sahadat. Sang Prabu ngandika maneh: “Asal suwung aku bali. botên ngrumaosi yen tinitah linangkung. Nun!” Sang Prabu ngandika: “Aku arêp muksa saragaku”. munggah swarga seba Kang maha Kuwasa”. Sabdapalon: “Paduka nilar sipat. sakarsane Kang Maha Kuwasa”. punapa botên cilaka. swarga.

têgêsipun kidul : estri didudul wêtênge ing têngah. Tulis ical. ingkang dipunwastani pêjah gêsang. mindhak kêsasar. jagading tiyang punika guwa sir cipta namanipun. gêsangipun nyambut damêl kanthi paksan. têgêsipun kulon : bapa kêlonan. dados botên wongsal-wangsul. sampun dipunsêrat wontên lokhil-makful. ingkang pêjah namung raganipun. kathah rajakaya ingkang wontên ing ngriku. jagadipun manusa punika langgêng. Ningali jantung kêtêg kiwa: surut marga sire cipta. nglimputi wontên ing dunya tuwin ing akhirat. têgêsipun lor : laire jabang bayi. sarwa wontên. Wiwitanipun keblat sakawan. manusa raganipun asal saking nutfah. botên ewah gingsir. sadherek ingkang sarêng tanggal gaibipun. têpangipun amung têpang kados cahyanipun lintang lan rêmbulan. pramila tumrap tiyang agami Buddha.pundi botên ewah. ingkang têtêp langgêng. baita pêcah. amargi Gusti Allah punika botên kantha botên warna. . botên pisah botên kumpul. ingkang ical utawi kirang ikhtiaripun inggih badhe ical utawi kirang bêgjanipun. dadosipun saking sabda kun. Kangjêng Nabi Musa toh botên kuwawi mandêng dhatêng Gusti Allah. nutfah sampun ngantos ebah saking jagadipun. têbihipun botên mawi wangênan. Raga punika dipunibaratakên baita. punika kawruhipun tiyang Jawi ingkang agami Buddha. tanggalipun manusa. mêngku alam sahir kabir. manawi panggenanipun sampun sêpuh. paduka sampun ngantos sowan Gusti Allah. mila Allah botên katingal. lairipun saking tiyang sêpuhipun estri.tiyang pêjah malah langkung saking punika. kendêl malih wontên cêthik. botên ewah botên gingsir. ingkang engêt sadayanipun. ngGêgawa nêdha raga. ingkang nêdahakên pandomipun. sowan Hyang Latawalhujwa. wontên ing ngriku ki budi jasa kadhaton baitu’llah ingkang mulya. kula botên kuwawi cêlak. botên sagêd ewah gingsir. rumêksa gêsangipun elingipun panjanmaning surya. dene suksmanipun inggih punika tiyang ingkang wontên ing baita wau. têgêsipun urip. paduka dereng têpang. etangan gunggunge: kumpul. bêgja cilakanipun gumantung wontên ing budi nalar lan kawruhipun. tanggal sapisan kapurnaman. wujudipun amung asma. sadaya sami trima tilêm kêmul siti. ma. dipunbêkta dhatêng pundi. inggih punika wetan kilen kidul ler : têgêsipun wetan : wiwitan manusa maujud. tamtu manggih cilaka. ingkang gêsang napasipun taksih lumampah. punapa malih paduka. Prabu Brawijaya botên anem botên sêpuh. Punika pungkasanipun kawruh. madhêp dhatêng wujud. paduka sampun ngantos kondur dhatêng akhirat. jujugipun ingkang cêtha cêthik cêthak. manawi baitanipun lumampah mangka salah pandomipun. nyuwun ingkang enggal. jumbuh punika têgêsipun pêpak. sapunika lan benjing. Têgêsipun pur: jumbuh. paduka wiji rohani. mila jalma keblatipun wontên têngahing jagad. nglangkungi ingkang sampun sêpuh. sênteg sapisan tênunan sampun nigasi. Lêbêtipun roh saking cêthak marginipun. na. cêlak botên panggihan. suksmanipun mêdal nyuwun gantos ingkang sae. wontên salêbêting guwa sir cipta kang êning. adhi punika ari-ari. mêdal wontên kalamwadi. kentir sagara rahmat lajêng lumêbêt ing guwa indra-kilaning estri. kakang mbarêp punika kawah. botên salah dipunpragat. sampun ngantos minggah dhatêng swarga. manawi raganipun sampun sêpuh. sanes bangsanipun malaekat. tibaning nikmat ing dhasaring bumi rahmat. dados wontên têngahing jagad swarganing tiyang sêpuh estri. botên ngraosakên kanikmatan. namung Dzatipun ingkang nglimputi sadaya wujud. raga wadhag ingkang asal roh idlafi. lênggah rupa cahya. lumampah botên ebah saking panggenanipun. ingkang ewah punika makaming raos. kawruhipun tiyang Buddha. plêsatipun wêtaha. ana wujud. umuripun sampun dipunpasthekakên. sarêng tanggalipun kaliyan sadherekipun kakang mbarêp adhi ragil. nanging langgêng manggen wontên satêngahipun jagadipun. surup lan tanggalipun sampun samar : kala rumiyin. kapanggihe cahya murub dados satunggal. kontêning eling sadayanipun. siyang dalu sampun sumêlang dhatêng sadaya rêrupen. Gawanên gêgawanmu.

gêsangipun gantos roh lapis enggal. Manawi paduka ngrasuk agami Islam. manawi sampun pisah raga suksma. punika namanipun sahadat. mumpung baitanipun taksih lumampah. pêjah malih sagêda mapan. Pramila kêdah ingkang mapan. lajêng tangi malih. pramila gandanipun tiyang satunggal-satunggalipun bedabeda. kenging kangge sangu gêsang. Ula-ula: ulatana. tiyang Jawi tamtu lajêng Islam sadaya. lali eling urip mati. Têpak têgêsipun têpa-tapanira. Nalika eyang paduka Prabu Palasara iyasa kadhaton wontên ing Gajahoya. Sêrat tapak Hyang.tiyangipun rêbah. saseda paduka manjalma dhatêng kuwuk. sintên ingkang damêl raga? Sintên ingkang paring nama? inggih namung Latawalhujwa. nanging sagêd manjalma dados tiyang (kajêngipun. ngantos roh lapisan. saking tiyang inggih dados tiyang. botên pitados dhatêng sêratipun Gusti. sato wana tuwin lêlêmbut inggih dipuncipta dados tiyang. ingkang dipunwastani jithok têgêsipun namung puji thok. ing dunya kêbak manusa. gandanipun kadosdene nalika taksih dados sato kewan. ingkang dipunwastani Sastrajendrayuningrat. untungipun sugih daging. sampun jumbuh dados satunggal. Lambung: waktu Dewa nyambung umur. yen angsal woh kawruh kathah. nempel tosan. kajêng sela. purwa bênêr lawan luput. paduka têtêp kapir. dat punika Dzating Gusti. têgêsipun incêngên aneng cêngêlmu. dados saking sabda kun. sanadyan suksmanipun tiyang. ngungkulana ingkang lami. manawi angsal woh kuldi kathah. kawula ugi wajib utawi wênang matur dhatêng Gusti. Nalika panjênênganipun Bathara Wisnu jumênêng Nata wontên ing Mêndhang Kasapta. manawi baitanipun bibrah. sanadyan suksmanipun kewan. sah têgêsipun pisah. nyuwun baitu’llah ingkang enggal. Mata têgêsipun tingalana batin siji. Kiwa têgêsipun: raga iki isi hawa kêkajêngan. keblat lor bênêr siji. Raganing manusa punika namanipun baitu’llah. manawi pisaha raga suksma lan budi. manawi kula kêpengin badhe wujud. bêcik lawan ala. nêtêpi kamanusanipun. lampahipun saking ênem urut sêpuh. Walikat: walikane gêsang. inggih punika . pisahipun kawula kaliyan Gusti. Pundhak punika panduk. Têngên têgêsipun têngênên ingkang têrang. muji dhatêng Gusti. dados wadya-balanipun Sang Nata. têgêsipun suksma ugi pisah kaliyan budi. dados kantun sasêdya-kula kemawon. Manawi kula. alamipun jalma sambungan. dadosipun saking sabda kun. yen tunggal. sing bênêr keblatira. wontên ing dunya amung sadarmi ngangge raga. inggih prau gaweyaning Allah. inggih pisah kaliyan tiyangipun. gantos makam enggal. Dewa ingkang damêl cahya murub nyrambahi badan. urip wontên ing ‘alam dunya pados kawruh kaliyan woh kuldi. sato wana tuwin lêlêmbut dipuncipta dados manusa. Sungsum têgêsipun sungsungên. mrêtitis ingkang botên-botên. manawi paduka botên sagêd maos sastra ingkang wontên ing badanipun manusa. baitanipun tiyang Islam gêsangipun kantun pangrasa. dene manawi sagêd sagêd maos sastra ingkang wontên ing raga wau. manawi baitanipun tiyang Jawi sagêd mapan santun baitu’llah malih ingkang sae. botên damêl botên tumbas. Jiling punika puji eling marang Gusti. praunipun sampun rêmuk. botên wontên tiyang. manawi paduka maibên. adiling Kawasa tiyang punika pinasthi ngundhuh wohing panggawene piyambak-piyambak). nanging manawi tekadipun nasar. Timbangan têgêsipun salang. dados dhêmit têngga siti. kapiran seda paduka. tanggalipun botên surup salaminipun. kabêsaran. Lêmpeng kiwa têngên têgêsipun tekadmu sing lêmpêng lair batin. Kanjêng Nabi Musa kala rumiyin tiyang ingkang pêjah wontên ing kubur. botên wênang ngêkahi pêjah. budinipun lajêng santun baitu’llah. Makatên punika ungêling sêrat. inggih nglêbêt inggih jawi. manawi suksma punika pêjah ing ‘alam dunya suwung. Punuk têgêsipun panakna. pêjahipun manjalma dados kuwuk. ngengêtana dhatêng asaling kawula. Manawi paduka maibên. gêsang langgêng ingkang botên sagêd pêjah. ngadam utawi wujud sagêd sami sanalika. punika kêdah ingkang waspada. manawi tiyang punika têrus gêsang. wadhag alus-kula sampun kula-cakup lan kula-carub. napas tali. manawi botên mapan gêsangipun. sarta murtat dhatêng lêluhur Jawi sadaya. kasêbut ing sêrat Anbiya. lalarên gêgêrmu sing nggligir.

yen Sang Prabu nyata wis mantêp marang agama Rasul. dipunpamerakên dhatêng kula. saking agênging latu ingkang wontên ing ngandhap siti. prêlu kanggo tandha yêkti. ingkang kula rêbat punika? Paduka sampun kêlajêng kêlorob. (11) Ature Sabdapalon marang Sang Prabu: Punika kasêkten punapa? kasêktening uyuh kula wingi sontên. botên rêmên momong paduka. Genggong: langgêng botên ewah. Manawi kula sumêdya ngêdalakên kaprawiran. botên pêjah botên gêsang. kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi. mêngsah uyuh-kula piyambak. padha sanalika banyu sêndhang banjur dadi wangi gandane. latunipun kathah ingkang mêdal. iku tandha yen Sang Prabu wis mantêp marang agama Rasul. dene pêjahipun nglimputi salêbêting gêsangipun. nama Manik Maya. botên pisah.” Sunan Kalijaga banjur matur marang Sang Prabu. amarga agama Islam iku mulya bangêt.” Sabdapalon matur maneh: “Inggih sampun. kula botên tumut-tumut. kapriye mungguh ing gandane. Cobi paduka-dumuk: pundi wujudipun Sabdapalon. rêmên manut nunut-nunut. Raga-kawula punika sipating Dewa. budi hawa badan. kantun asma nglimputi badan. Dados wicantên-kula punika. lakar paduka-lampahi piyambak. Yen banyu dicipta bisa ngganda wangi. botên ênem botên sêpuh. kang surasane ora prêlu manggalih kang akeh-akeh. aku wis kêbacut mlêbu agama Islam. ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula. Sang Prabu ndangu: “Ana ing ngêndi Pangeran Kang Sajati?” Sabdapalon matur: “Botên têbih botên cêlak. ing wêkdal samantên tanah Jawi sitinipun gonjang-ganjing. yen sêdya maujud sagêd katingal sanalika. adi Guru namung ngideni kemawon. sarta matur yen arêp nyipta banyu kang ana ing beji. wirang momong tiyang cabluk. nanging inggih botên kumpul. wis disêkseni Sahid. mila tanah Jawi lajêng botên goyang. tiga-tiga punika tumindakipun. aku wirang yen digêguyu bumi langit. Manawi paduka botên pitados. sami mêdal . karsa dados jawan. iku anandhakake: yen Sang Prabu isih panggalih Buddha. dipunanggêp sarira tunggal. kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal. kang kasêbut ing pikêkah Jawi. sampun kalingan pajar. pucakipun lajêng anjêmblong. toya kula-êntut sêpisan kemawon. kaya kang wis kathandha. punika kula. tanpa guna kula êmong. aku ora kêna bali agama Buddha maneh. dhatêng agami enggal botên manut! Kenging punapa paduka gantos agami têka botên nantun kula. Manawi kula timbangana nama kapilare. nanging yen gandane ora wangi. langgêng salaminipun”. kula wirang dhatêng bumi langit. Sang Prabu ngandika maneh: “Apa kowe ora manut agama?” Sabdapalon ature sêndhu: “Manut agami lami. saking pajaripun ngantos sampun botên katingal wujudipun Sabdapalon. amarga banyu sêndhang gandane wangi.” Sang Prabu ngandika: “Kapriye iki. Naya têgêsipun ulat. badan-kawula sakojur gadhah nama piyambak-piyambak. ing kono Sunan kalijaga matur marang Sang Prabu. mila rêdi-rêdi ingkang inggil pucakipun. paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus.wujud-kula. gêsangipun nglimputi salêbêting pêjahipun. Sunan Kalijaga banjur nyipta. paduka wayangipun wujud sipating suksma. langgêng salaminipun. rêdi-rêdi sami kula êntuti. sampun dados wangi. sêdya ngadam. Palon: pikukuh kandhang. inggih sagêd ical sami sanalika. irib-iriban. Paduka punika sampun Ratu linuhung tamtu botên badhe kêkilapan dhatêng atur-kula punika”.

kathah tiyang rêmên dora. wis disêkseni dening si Sahid. sijine diiseni banyu sêndhang. lan sami purun nêdha woh kawruh. damêl bingungipun kanca tani. manawi sampun santun agami Islam. Bumbung sawise diiseni banyu. Jawinipun ical. rêmên nunut bangsa sanes. Sang Prabu mirêng ature Sabdapalon. Nganti suwe ora ngandika. wis ora bisa bali mênyang Buddha mêneh”. dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. yen gandane mari wangi. ingkang damêl bumi lan langit. Punapa cacadipun agami Buddha. Sabdapalon matur yen arêp misah. iya iku sing diêmong Sabdapalon. ing batos rumaos kaduwung bangêt dene ngrasuk agama Islam. punika inggih kula ingkang damêl. rêmên nêmbah sela. Paduka yêktos. Sang Prabu diaturi ngyêktosi. kapriye kang dadi kêkêncênganing tekadmu? Yen aku mono ênggonku mlêbu agama Islam. nanging ora manggon ing kono. banjur disumpêli godhong pandan-sili. Sang Prabu ngandika: “Kok-tutuha iya tanpa gawe. yen wiwit jaman kuna mula. Sabdapalon akeh-akeh ênggone nutuh marang Sang Prabu. sami engêt dhatêng agami Buddha malih. mung nêtêpi jênênge Sêmar. benjing: sasi murub botên tanggal. Cobi paduka-yêktosi. yen gandane mari wangi. Paduka-yêktosi. antuk swarga kang ngungkuli swargane wong kapir. isi wedang lan toya tawa. ature ora lunga. tiyang sagêd matur piyambak dhatêng Ingkang Maha Kuwasa. suda asilipun siti. dipuntampik dening Dewa. amarga kêpencut ature putri Cêmpa. Banyu sêndhang mau kanggo tandha. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa. mêsthi nêmu sangsara. kang ngaturake yen wong agama Islam iku. wasana banjur ngandika. Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong. Wiwit dintên punika jawahipun sampun suda. amarga wong wadon iku utamane kanggo wadhah. wong tanah Jawa padha salin agama kawruh. Dewa lajêng paring pangapura. Sabdapalon matur. wiji bungkêr botên thukul. nilar agami Buddha. Benjing yen sampun mrêtobat. amarga barang wis kêbacut. jawah salah masa. anglela kalingan padhang. amratelakake yen ênggone mlêbêt agama Islam iku. sadaya wau atas karsanipun Latawalhujwa. barêng didangu lungane mênyang ngêndi. mriyi punika pantun kados kêtos. . kêndêl tindak nistha tuwin rêmên supata. wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput. sagêd wangsul kados jaman Buddha jawahipun”. Sunan Kalijaga banjur didhawuhi nêngêri banyu sêndhang. benjing tanah Jawa ewah hawanipun. yen wong lanang manut wong wadon. ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa. turun paduka tamtu apês. wêwah bênter awis jawah. amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami. tinanêma thukul mriyi. agêgaman kawruh. wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi. sabanjure digawa sakabate loro. namung kangge têdha pêksi. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti. besuk wong Jawa padha ninggal agama Islam ganti agama Kawruh. Sunan Kalijaga banjur jasa bumbung loro kang siji diiseni banyu tawa. nglimputi salire wujud. amargi paduka ingkang lêpat. nilar agama Buddha. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang”. angaturake lêpiyan. jarene besuk yen mati. Jawi kantun jawan. ora wênang miwiti karêp.latunipun sarta lajêng wontên kawahipun. nanging wong loro mau banjur musna. saiki mung kowe kang tak-tari.

satêkane ing Dêmak. Sang Prabu banjur nêrusake tindake nganti wayah surup srêngenge. mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak. Sang Prabu mbanjurake tindake. Sang Prabu mbanjurake tindake. nyare ana ing Sumbêrwaru. amarga kêrêp diunjuk ana ing dalan. banyu ing bumbu diganda isih wangi. kabeh mau wis karsane Kang Maha Suci. nanging munthuk. tindake Raden Bondhankajawan namur kula. esuke banyu ing bumbung diganda mundhak wangine. ngaturake patrape ingkang wayah Prabu Jimbun. Sang Prabu banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Prabalingga ing besuk jênênge loro. rumasa ora kapenak panggalihe. Sang Prabu banjur dhawuh nimbali Prabu Jimbun. Sang Prabu uga nyare ana ing kono. Nyai Agêng Ampelgadhing tumuli mêthukake banjur ngabêkti marang Sang Prabu karo muwun. mirêng warta yen ingkang rama Sang Prabu têdhak ing Ampel. Bêgja cilaka ora kêna disinggahi. Aku lan kowe mung sadarma nglakoni. nyêdhaka mrene. esuke bumbunge dibukak. ing wayah esuk. Nyai Agêng Ampel banjur matur marang Sang Prabu. nanging wajibe wong urip kudu kêpengin mênyang ilmu”. wis têkan ing Ampelgadhing. wayah surup srêngenge. kudu mangkene. banyune tawa isih enak. sebaa marang Dêmak. tak-suwun marang Kang maha Kuwasa. sapungkurku sing padha rukun. layang wis katur marang Sang Prabu Jimbun. ora antara suwe Prabu Jimbun budhal sowan mênyang Ampel. nungsung warta ing ngêndi dununge ingkang rama. yudane apêsa. aja padha pêrang. kabeh lêlakon wis ditulis aneng lokhilmakful. satêkane Surabaya. nuli mbanjurake tindake. Prabalingga karo Bangêrwarih 12 ing kene besuk dadi panggonan kanggo pakumpulane wong-wong kang padha ngudi kawruh kapintêran lan kabatinan. têkan ing Prabalingga. Prabalingga têgêse prabawane wong Jawa kalingan prabawane tangga”. kowe gaweya layang mênyang Pêngging lan Pranaraga. unthuke gandane arum. Nyai Ampel nuli utusan mênyang Dêmak nggawa layang. sapa sing miwiti ala. esuke banyune ditiliki. mupusa yen kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. Kacarita putra Nata ing Majapahit. Barêng wis wayah surup srêngenge.” . pangandikane marang Sunan Kalijaga mangkene: Sahid. ora karuhan mênyang ngêndi tindake. kang aran Raden Bondhankajawan ing Tarub. wis padha narima rusake Majalêngka. ngrumaosi yen wis arêp kondur marang jaman kalanggêngan. wis têkan ing Panarukan. kaya kang wis kasêbut ing ngarêp. Sang Prabu banjur ngandika: “Wis aja nangis êngger. nanging mung kari sathithik. nanging banjur gêrah. balik padha ngemana rusaking wadya-bala. banyune diambu isih wangi. malah Sang Prabu lolos saka jroning pura. tindake kawêngen ana ing dalan. dene banyune sêndhang barêng ditiliki gandane dadi bangêr. ana ing kono uga nyare sawêngi. ing pitung dinane. tumuli dibuwang. aku wis arêp mulih marang jaman kalanggêngan. mundhak gawe rudahing jagad. sarta akeh-akeh sêsambate. aja padha ngrêbut kapraboningsun. banjur tindak marang Majapahit. gêrahe Sang Prabu sangsaya mbatêk. têkan ing Bêsuki. mêngko tak-wenehane tandha asta. Sang Prabu ndangu: “Sing ngabêkti iki sapa?” Raden Bondhankajawan matur yen panjênêngane kang ngabêkti. Sang Prabu nyare ana ing kono.Sang Prabu Brawijaya banjur tindak didherekake Sunan Kalijaga lan sakabate loro. Sang Prabu banjur ngrangkul ingkang putra. Raden Bondhankajawan nuli sowan ngabêkti.

dununing pasareyan ana ing Karang Kumuning. kacarita Sultan Bintara lagi rawuh ing Ampelgadhing sarta kapanggih Nyai Agêng. aku titip bocah iki. iya mung mupus pêpêsthen. dene pasareyaningsun bakal sun-paringi jênêng Sastrawulan. amarga si Patah iku wiji têlu. Wulan têgêse damaring jagad. Nyai Agêng ngandika: “Wis bêgjane Prabu Jimbun ora nungkuli sedane ingkang rama. Cina lan raksasa. aja gawe senapati pêrang wong kang seje bangsa. besuk bocah iki kang bisa nurunake lajêre tanah Jawa. amarga sajroning sihsinihan di seje bangsa mau nganggo ngobahake agamane. sarta wis ora dianggêp priya. mundhak ngenthengake Gustine. Prabu Jimbun ature marang Nyai Agêng. nanging mung mandhêg têlung turunan. Sang Prabu ngandika: “Sastra têgêse tulis. lan maneh wêkasku marang kowe. sarekna ing Majapahit sa-lor-wetane sagaran. kabeh pitungkasku.” Sang Prabu sawise paring pangandika mangkono. ing têmbe buri. saturun-turune êmongên. sapungkurku kowe sing bisa momong marang anak putuku. katêlah nganti saprene kocape kang sumare ana ing kono iku Sang Putri Cêmpa. wis Sahid. bisaa ngapêsake urip. ing sajroning mangun yuda. Sang Prabu banjur ngandika: “Sahid. mula kolu marang bapa sarta rusuh tindake. layone banjur disarekake ana ing astana Sastrawulan ing Majapahit. mula aku paring piwêling aja gawe senapati pêrang wong kang seje jinis. lan suwurna kang sumare ana ing kono yayi Raja Putri Cêmpa. anak-putuku aja entuk seje bangsa. mulane ênggonku mangêni madêge Ratu mung têlung turunan. sarta nyuwun pangapura kabeh kaluputane kang wis kêlakon”. . besuk anak-putuku aja nganti entuk liya bangsa. nganti kaya mangkene siya-siyane marang aku. amarga aku wis diwadonake si Patah. banjur mangro tingal. wong Jawa padha wêruh yen sedaku wis ngrasuk agama Islam. tulisên. têrus seda. manawa ana bêgjane. astane banjur sidhakêp. dadi ora bisa ngabêkti sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata. mula tak-suwurake Putri Cêmpa. dene mungguh satêmêne Putri Cêmpa iku sedane ana ing Tuban. sabanjure diparingake marang Pêngging lan Pranaraga. yen aku wis kondur marang jaman kalanggêngan.Sunan Kalijaga banjur nyêrat. tulise kuburku mung kaya gêbyaring wulan. Barêng wis têlung dina saka sedane Sang Prabu Brawijaya. lan maneh wêlingku.” Sunan Kalijaga sawise dipangandikani banjur matur: “Punapa Sang Prabu botên paring idi dhatêng ingkang putra Prabu Jimbun jumênêngipun Nata wontên ing tanah Jawi?” Sang Prabu ngandika: “Sun-paringi idi. yen isih ana gêbyaring wulan. Jawa. barang wis kêbacut iya mung kudu dilakoni. sawise rampung banjur ditapak-astani dening sang Prabu. mula wêkasku. Sultan Dêmak ana ing Ampel têlung dina lagi kondur.” Sunan kalijaga nyuwun sumurup mungguh têgêse araning bakal pasareyane Sang Prabu.

dene ingkang rama Sang Prabu lan putra Raden Gugur lolos saka praja. mungguh sanyatane. tawon lan dhêmit. ora karuhan jujuge ana ing ngêndi.Kacarita Adipati Pêngging lan Pranaraga. Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi marang muride kang aran Darmagandhul. kaya kang kapratelakake ing ngisor iki: Kabeh mau mung pasêmon. amarga wêruh akehing tikus. yen dilugokake jênênge ambukak wadine Majapahit. wong Majapahit padha kagegeran amarga ditêluh ing dhêmit. lan kawiyos pangandikane sêru. layang banjur disungkêmi kanthi bangêt ing pamuwune lan bangêt anjêntung panggalihe. mangkene pasêmone: 1] Amarga saka kramate para Wali. ora cocog lair lan batine. piwalêse ngrusak. Mula carita bêdhahe Majapahit iku mung dicêkak. barêng wis diparingi. mung kari budhale bae. nanging ênggone mbêdhah sinamun sowan riyaya. para wadya-bala wis rumanti gêgamaning pêrang pupuh. ora satimbang karo gêdhene nagara sarta ambane jajahane. Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga sawise tampa layang lan diwaos. sapa kang ngandêl yen rusake Majapahit amarga tikus. Tawon iku nggawa madu kang rasane manis. [3] Pêthi saka Palembang ana satêngahing paprangan dibukak mêtu dhêmite. gêgamane ana ing silit. yen dirasa satêmêne saru bangêt. Dene têgêse pasêmon mau mangkene: Tikus iku watake ikras-ikris. têgêse: para ‘ulama dhek samana. dene kaol kang gaib. wajane kêrot-kêrot. [2] Sunan Cirêbon badhonge mêtu tikuse maewu-ewu. Lumrahe tawon iku bubar amarga saka dipangan ing wong. mula banjur dhawuh ngundhangi para wadya sumêdya nglurug pêrang marang Dêmak. muga aja awet urip. sedane Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga padha ditênung dening Sunan Giri. kasaru têkane utusane Sang Prabu maringake layang. amarga carita kang mangkono mau kalêbu aneh lan ora mulih ing nalar. amarga aran ambuka wêwadining ratu. Nagara Majapahit iku rak dudu barang kang gampang rusake. Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga bangêt dukane. putra mungsuh bapa. labuh bapa ngrêbut praja. kang surasane nyupatani marang panjênêngane dhewe. amarga saka putêking panggalihe banjur padha gêrah. surya katon abang kaya gêni. Alas angkêr akeh dhêmite. bubaring dhêmit yen alase dirusak dening wong. tansah gedheg-gedheg lan gêrêng-gêrêng. nalika lagi têkane nyuwun panguripan marang sang Prabu ing Majapahit. pamrihe supaya aja ngribêdi ing têmbe buri. dene panggonane ana ing . Nanging yen Majapahit rusake amarga saking tikus. ewadene bisa rusak mung amarga dikritiki tikus. Mula carita bêdhahe Majapahit sinêmonan dening para pujangga wicaksana. iku pratandha yen wong mau ora landhêp pikire. tawon lan dhêmit. ora antara lawas padha nêmahi seda. arêp ditanduri. mundhak ndêdawa wirang. Adipati sakarone padha puguh ora karsa sowan marang Dêmak. mula mung kanggo pasêmon. padha mangani sangu lan bêkakas jaran. wis padha mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak. suwe-suwe yen diumbar banjur ngrêbda. carita bêdhahing Majapahit iku kaya kang tak-caritakake ing ngarêp. kêrise Sunan Giri ditarik mêtu tawone ngêntupi wong Majapahit. [4] Sang Prabu Brawijaya sedane mekrad. wong Majapahit bubar. iya iku Adipati Andayaningrat ing Pêngging lan Bathara katong ing Pranaraga. mula mung dipralambangi pasêmon kang orang mulih karo nalare.

iya iku ganti agama. wêruh-wêruh Adipati Têrung wis ambantu Adipati Dêmak. . mula saiki banjur padha bali mulih marang tanah Jawa. dene ênggone kêndêl nanging tanpa duga iku saka wijine Sang Arja Damar. dadi dikagetake. rungsid. ibumu Putri Cina. kabeh mau padha mbalela mbalik. pambêkane siya. têgêse oleh ati saka Sang Prabu. iya iku Sang Prabu Brawijaya. rêmit. têgêse: maune têkane nganggo têmbung manis. purwane Jawa. dadi suksmane bangsa mau. celeng iku iya aran andhapan. dosane lair batin. amarga katarik saka ibune. ora kêna nyêri-nyêri marang wong seje bangsa. mula Sang Prabu Jimbun gêdhe panggalihe melik jumênêng Nata. sênêng yen ngokop gêtih. iya iku Raden Patah nalika têkane ana ing Majapahit sumungkêm marang ingkang rama Sang Prabu. sawise padha mati. Dene kuntul nganggo kucir iku pasêmone Sultan Dêmak. ora karsa nglawan pêrang. Banjure maneh pangandikane kiyai Kalamwadi: Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi.gowok utawa tala. mula ana kuntul nganggo kucir iku wis karsaning Allah. Dene dhêmit diwadhahi pêthi saka Palembang. nganti ngêntekake panggalihe Sang Prabu. sapa kang ngrungu padha gawok. ing wêktu iku banjur diparingi pangkat. dene tala têgêse mêntala ngrusak Majapahit. apa dene bubare wong sapraja mung saka ditêluh ing dhêmit. pêthi têgêse wadhah kang brukut kanggo madhahi barang kang samar. Prabu Brawijaya sinêmonan ing gaib: kêbo kombang atine êntek dimangsa tuma kinjir. Dene anane bangsa Cina padha nênêka ana ing tanah Jawa iku dêdongengane mangkene: Jare. têgêse: tolehên githokmu. kêbo têgêse ratu sugih. dumeh agamane Buddha kawak kapir kupur. dhêmit iku uga tukang nêluh. iya iku Wali wolu utawa Sunan wolu kang padha dimêmule wong Jawa. dhêmit têgêse samar. manuk kuntul iku durung ana kang nganggo kucir. ora mung Sunan Dêmak dhewe bae kang didhawuhi ngrumasani kaluputane. Sang Prabu Jimbun iku wiji têlu. wusana banjur mukul pêrang ngrêbut nagara. nalika arêp pambêdhahe ora ana rêmbag apa-apa. amarga Arja Damar iku ibune putri raksasa. dene tuma kijir iku tumane celeng. sangane Adipati Dêmak. nalika santri Jawa durung akeh kawruhe. mula jênênge Wali ditêgêsi Walikan: dibêciki malês ngalani. ênggone nyêri-nyêri marang ingkang rama Sang Prabu. nanging sanadyan para Wali liyane uga didhawuhi ngrumasani. Mungguh gênahe mangkene: bêdhahe nagara Majapahit sarana ditêluh kalayan primpên lan samar. kajaba mung kendêl gêrêng-gêrêng bae. barêng dibukak muni jumêglug. iku mau-maune iya akeh kang suksma Jawa. kahanan ing dunya nuli malih. mula wong Majapahit ora sikêp gêgaman pêrang. têgêse: Palembang iku mlembang. Bêdhahe Majapahit swarane jumêgur. samudanane mung sowan garêbêgan. ora ngetung bênêr utawa luput. kêprungu saka ing ngêndi-êndi nagara. tuma têgêse tuman. dhek jaman kuna. Kuna-kunane ora ana praja gêdhe kaya Majapahit bêdhahe mung saka diêntup ing tawon sarta dikritiki ing tikus bae. githok kuntul kinuciran. wusana ngêntup saka ing buri. iya iku Prabu Brawijaya panggalihe têlas nalika bêdhahe Majapahit. yen bêdhahe saka binêdhah dening putra. suksmane akeh kang katut angin banjur thukul ana ing tanah China. kombang têgêse mênêng swarane kang mbrêngêngêng. sadurunge Majapahit bêdhah. barêng nagara wis ngalih marang Dêmak. banjur ana manuk kuntul nganggo kucir. mulane Gusti Allah paring pasêmon. mulane melik ênggal sugih. yen ora padha gêlêm ngrumasani kaluputane.

Mula nganti tumêka saprene wit Sêmboja panggonane ana ing kuburan. iya iku Tlasih. bangêt panalangsane ing dalêm batos. beda karo para Wali liyane isih padha manganggo sarwa putih. mula banjur mangagêm sarwa wulung. pranatane mêngku praja. Ana gajah digêtak kaya kucing. mangkene ujaring swara: “Êntek katrêsnanku marang anak. ing têmbe bakal takwalês. Turugajah lan Gêtakkucing. ngrumaosi klirune dene nuruti rêmbuge para Sunan kabeh. Iya wiwit titi masa iku anane wit-witan warna papat kang padha thukul ana ing kuburan. nanging lah eling-elingên ing besuk. tak-ajar wêruh ing nalar bênêr lan luput. sajatining ‘ilmu iku ora susah maguru marang wong ‘Arab.” Sultan Dêmak mirêng swara dumêling kang surasane mangkono iku. Sawise mangkono. Kabeh mau ora padha ngrumasani kaluputane. barêng wis antara têlung dina lawase. manusa bisa apa. kaprênah pusêring kuburan tanpa sangkan thukul wit-witan warna papat. nganti wani mungsuh ingkang rama sarta ngrusak Majapahit. karêp mêtu saka ing budi. rumaos kadukan dening Kang Maha Kuwasa. kang ngawruhi sajatining urip. ‘ilmuning Gusti Allah wis ana ing githokmu dhewe-dhewe. mula nganti suwe njêgrêg ora bisa ngandika. godonge Gêtakkucing yen kasenggol banjur obah. ing batos bangêt kaduwung marang apa kang wis dilampahi. awit Allah kang mujudake. godhonge uga banjur mingkup kaya dene godhong Gêtakkucing. têlu wit kang godhonge ngrêmbuyut mubêng kaya payung. yen wis agama kawruh. tansah ngrumaosi ing kalêpatane. mangan babi kaya dhek jaman Majapahit.Darmagandhul matur: “kiyai! Kang diarani agama Srani iku kang kaya apa?” Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake: “Kang diarani agama Srani iku têgêse sranane ngabêkti: têmêntêmên ngabêkti marang Pangeran. mula banjur ngrumaosi kabeh kaluputane. mula bangêt mrêtobate. ora nganggo nêmbah brahala. mula uga bangêt panalangsane sarta ngrumaosi kaluputane. sinêmonan wiwit anane orong-orong githoke tumêka ing punuk disêsêli tataling kayu jati. nanging dudu puji jatining kawruh. papat wit kang godhonge lêmbut sarta mawa êri. mula sêbutane Gusti Kanjêng Nabi ‘Isa iku Putrane Allah. Sultan Dêmak banjur kondur. Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi. dadi pasêmon kabeh. budi iku Dzate Kang Maha Agung. Sultan Dêmak waskitha ing gaib. tanpa kurang tan wuwuh. lan wêktu iku sajroning pasareyane Sang Prabu kêprungu ana swara dumêling. nuli sowan andêdagan ana ing pasareyane ingkang rama. mung nêmbah marang Allah. kêmbang Tlasih kanggo ngirim para lêluhur. Sunan Kalijaga uga waskitha ing gaib yen sinêmonan dening Kang Maha Kuwasa. mobah mosik mung sadarma nglakoni. budi kang ngobahake. sanajan matiya ing tata-kalairane. sabda iku mêtu saka ing karêp. mungguh karêpe: punukmu panakna. mung Sunan Kalijaga piyambak rumaos yen kadukan dening Kang Maha Kuwasa. Sêmboja. siji warnane irêng sêmu abang dalah godhong sarta kêmbange.wujude puji thok. . loro wit sarta kêmbange putih godhonge sêdhêngan. urip dadi wayangan Dzating Pangeran. wasana banjur pinaringan pangapura dening Allah. sakondure saka pasareyane ingkang rama. mangkono kang kasêbut ing kitab Anbiya”. agung iku wis samêkta. Den enak mangan turu. tanpa luwih sarta ora arah ora ênggon.

Sayid Anwar didukani ingkang rama lan ingkang eyang. sêmbahe kaya wêsi kang dilabuh ana ing gêni ilang abange mung rupa siji. mula wong-wong ing kono padha wêdi marang wisesaning Ratu. Têmbung dhar iku têgêse wudhar. Kiyai Kalamwadi banjur ngandhakake: “Sawise buku-buku pathokan agama Buddha diobongi. wêruh ora kasamaran ing sawiji-wiji. kang nyêbutake kok mung kitab ‘Arab lan kitabe wong Srani. sari’at iku saringane kawruh agal alus. yen wis sumurup têpunge sarat sari’at tarekat hakekat lan ma’rifat. buku-buku asli saka ing Dêmak lan Pajang padha dipriksa. Darmagandhul matur. nanging wis padha ora mênangi. banjur iyasa wayang. kang muji lan kang dipuji wis nunggal dadi sawiji. andikakake padha gawe layang Babad Tanah Jawa. Ana maneh kitab kang nêrangake. mulane wong-wong ing Majapahit banjur padha ngrasuk agama Islam. Sang Nata ing Mataram andangu para wadya. nanging tinêmu tulisan ‘Arab. nalika sabêdhahe Majapahit. kitab Pêkih lan Taju-salatina apa dene Surya-Alam kang kanggo pikukuh. kang isih padha disimpên uga padha dipundhut kabeh. kang ditandur ana ing swarga. mula Sang Prabu ing Mataram kewran panggalihe ênggone kagungan karsa iyasa babad carita tanah Jawa. yen kitabe wong Jawa ora nyêbutake bab mangkono iku.wani mangan wohe wit kayu Budi sêngkêrane Pangeran kang tinandur ana ing swarga. amarga wani. Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake. kang ngobahake sarta ngosikake rasane budi. sanadyan buku kang padha disimpêni dening para wadya. iya iku nampik milih iktiyar lan manggaota. Wayahe Nabi Adam iya iku putrane Nabi Sis.Kiyai kalamwadi nutugake caritane: “Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi mangkene: mungguh kang katarima. arane Sayid Anwar. Dene wong-wong kang wis padha gêlêm salin agama Rasul. Yen kawruhe wong pintêr ora angel yen disawang. tarekat iku kang nimbang lan nandhing bênêr lan luput. Mangan woh kawruh lan budi. ananging sarehne kang gawe Babad mau ora ngêmungake wong siji bae. amarga padha melik ganjaran. hakekat iku wujud. iya dipundhut banjur diobongi. Saupama wong nulup manuk. ru iku têgêse ruwêt sulit lan rungsit. buku-buku sakarine. amarga mundhak ngrêribêdi agama Rasul. ora . Yen kowe wis bisangawruhi surasane kang tak-kandhakake iki. Ciptane Sayid Anwar supaya kuwasane bisa ngiribi kaya dene kuwasane Pangeran. Yen kowe wis ngrêti marang têgêse Dharudhêmble. ênggone nulup mung ngawur. kang didhahar Nabi Adam lan Babu Kawa iku woh Kuldi. sarak iku sarate ngaurip. mêtune saka ing utêk”. yen ra wêruh prênahe manuke. nyuwun ditêrangake bab ênggone Nabi Adam lan Babu Kawa padha kêsiku dening Pangeran. sapa kang durung gêlêm nganggo agama Islam banjur dijarah rajah. mungguh caritane kaya kang kasêbut ing ngisor iki”. jênênge munajad. nanging wis padha amoh. banjur padha diganjar pangkat utawa bumi sarta ora padha nyangga pajêg. caritane lêluhure supaya aja nganti pêdhot. dene dhêmble têgêse dhêmbel dadi siji. mula ora bisa padha gaweyane. Mula nyuwun têrange. kanggo gantine kitab-kitab kuna kang wis padha diobongi. Ing wêktu iku Sunan Kalijaga. Ratu Mataram uga mangun carita sajarahe para lêluhur Jawa. kagungan panggalih. yen ing kitab Jawa caritane kapriye. iya kitab Manik Maya. iku sindhenan Dharudhêmble. kang diênggo pathokan layang Lokapala. wujud karsaning Allah. muji marang Allah iku. dene Sajarah Jawa iya ana kang nyêbutake turun Adam. mêsthi wis marêm marang kawruhmu dhewe. wiwit Kraton Gilingwêsi nganti tumêka Mataram wis ora kasumurupan caritane. masa kênaa. sabab saka ênggone padha dhahar wohe kayu Kawruh kang ditandur ana satêngahing taman Pirdus. dhêmble wujud siji. Sang Prabu banjur dhawuh marang para pujangga. iku mau wis muji tanpa ngucap.

Sawise iku Sang Prabu banjur nganggit sastra mung salikur aksara. Sang Prabu putrane siji pêparab Sang Hyang Nurrasa. saturun-turune bisaa jumênêng Nata mêngkoni tanah Jawa. apa wit kayu Budi. sarta: wadi dawa. uga dhaup karo putri jin putrane mung siji iya iku Sang Hyang Wênang. yen wong ora mangan salah sijine woh mau. dadine saka budi hawaning Pangeran. dadi murtat sarta nampik agamane lêluhure. yen sênêng mangan woh wit kayu Kuldi. panyêbute marang Dewa. pangraose Sayid Anwar iku dadi saka dadine piyambak. manawa mangan woh wit kawruh. saucaping wong Jawa bisa kaucap. Yen bisa woh-wohan warna têlu iku mau iya dipangan kabeh. nanging wohe kayu Budi kang disuwun. dadi Panutan kudu kang bênêr. sênêngan salah siji êndi kang disênêngi. Sang Hyang Tunggal pêputra Sang Hyang Guru. Sang Hyang Wênang uga dhaup karo putri jin. karsane Sang Prabu: bisaa rowa. Sêbutan Dewi: têgêse: dening wadining wadon iku bisa ngêtokake êndhas bocah. agamane Buddha budi. mangan woh wit kayu Kawruh. diantêpi salah siji aja nganti luput. wiwit jumênênge Prabu Nurcahya. jênênge nagara banjur diêlih dadi aran nagara Jawa.narima yen mung mangan who Kawruh lan woh Kuldi bae. Sarehne Sayid Anwar banjur lunga nuruti karêping atine. kang padha didhahar woh wit kayu Budi. uripe kaya watu ora duwe kêkarêpan lan ora mangrêti marang ala bêcik. Darmagandhul didhawuhi nimbang mungguh kang bênêr kang êndi. Têmbung Jawa. Yen wong ora gêlêm manut marang kang bênêre kudu diênut. iku kaya dene iwak kang mêtu saka ing banyu. Sarehne diênut wong akeh. agamane Islam. mêsthine banjur dadi wong bodho. agamane Buddha budi. apa woh wit Kuldi? Saka panimbange Darmagandhul. mangkono uga karsa ngakoni yen turune Adam sarta Sis. agamane srani. amarga wong dadi Panutan iku saupama têtuwuhan minangka wite. Ênggone Kagungan pamanggih mangkono mau diantêpi bangêt. uki Kalifah kang bakal tanggung. Jawa jawi ngrêti kawruh agal alus. panêmbahe marang Pikkong. iya melu mangan woh Kuldi. kabeh iku iya bênêr. pênyêbute marang Kangjêng Nabi ‘Isa. krama oleh putri jin. Sêdya kang mangkono mau iya diideni dening Kang Maha Kuwasa. dene putrane uga mung siji kakung pêparab Sang Hyang Tunggal. Sayid Anwar miwiti yasa sarengat dhewe. kang jumênêng Nata. yen Kalifah dhahar woh kawruh. Misuwure. jalaran mangkene: asal suwung mulih marang sêpi. ora karsa ngagêm agamane ingkang rama lan ingkang eyang. iya melu mangan who kawruh. bali marang asale maneh. wusanane Sayid Anwar diêpek mantu sarta dipasrahi kaprabon. ditêgêsi: nguja hawa. Sayid Anwar ditakoni iya banjur ngandharake lêlakone kabeh. Dene prakara bênêr utawa lupute. iya iku Gusti Kangjêng Nabi Rasul. Sang Hyang Guru kagungan pangraos yen kuwasane padha karo Gusti Allah. mula banjur iyasa kadhaton ana pucaking Mahameru. mulane agamane Buddha. salah sijine aja nganti luput. ana ing kono banjur kêtêmu karo ratuning jin arane Prabu Nuradi. sarta kalilan nimbangi jasane Kang Maha Kuwasa. Dene mungguh bêcike wong urip iku mung kudu manut marang apa alame bae. mangeran digdayane sarta ngaku Gusti Allah. lakune mangetan nganti tumêka ing tanah Dewani. sarta ngakoni yen purwaning dumadi mêtune asal saka budi hawa nêpsu. sambate marang nabi panutan. dadi ora aran siya-siya marang uripe. yen kalifah dhahar woh Kuldi. mung waranane bae saka Adam lan Sis. kabeh mau turune Sang Hyang Nurcahya. jêjuluk Prabu Nurcahya. iya melu mangan woh Budi. Dewa iku wêrdine ana loro têgêse: budi hawa. ngratoni para jin. dene yen dhêmên Godhong Kawruh Godhong Budi. Yen kang dipangan woh wit kayu Budi. yen Kalifah dhahar woh Budi. sarta manut sarake Sisingbing lan Sicim. Aran Dewa ngaku misesani mujudake sipat roh. dijênêngake Sastra Endra Prawata. Saupama woh ora gêlêm .

Sastra warna-warna paringe kang Maha-Kuwasa. Nanging banjur akeh kang kliru muja marang barang kang katon. nganggo mangsi supaya wong bisa wêruh. iya iku tekad suci lair batin. mêsthi mlêbu yomani. sastrane unine kurang. dadine kok banjur warna-warna. mung wong kang ora ngrêti sastra paringe Gusti Allah. bisa tampa ganjaran. supaya sugih pangrêten lan kaelingan. supaya para kawulane padha mangan woh wit kayu Budi lan woh wit kayu Kawruh. iku wajib dipangan. tumbak. satêmah lali marang Pangerane. amarga sanadyan saupama ana salahe. bisaa slamêt lair batine. Dene sastrane kok uga beda-beda. lan manut wujud. Wong urip iku kudu duwe gondhelan agama. kaya ta kêris. iya iku minangka aduse manusa. Darmagandhul matur maneh.nempel wit. manusa ing dunya wujude mung lanang lan wadon. ana Jawa. Dene kang bisa nyirnakake (nyudakake) dosa iku. pamêthike sapira sagaduke. Mula aksarane digawe beda-beda. supaya aja ngrêribêdi ana ing donyane. Godhonge wit Budi lan wit Kawruh. bisa mêthik who Kawruh lan woh Budi. ora ngarêp-arêp munggah swarga. amarga maro tingal marang barang rêrupan. dirêngga ing tekad kang utama. . Auliya Gong Cu kumênthus niru sastra tulisan paringe Gusti allah. utawa liya-liyane barang. mulane wong iku kudu ngelingi marang agamane kang nurunake. Lawang swarga iku prêlu dirêsiki. manusa ora bisa anggayuh. bisaa duwe jênêng kang bêcik. amarga kawruhe anggawa alam. Kang diarani lawang swarga lan lawang nêraka iku. para Auliya panggawene sastra dipathoki cacahe. Gusti Allah mêsthi paring pangapura. anggayuh kang dudu wajibe. mungguh kang dadi bedane apa? Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake beda-bedane. Awit saka iku. Kang diarani banyu tekad suci iku kang êning. Gusti Allah uga iyasa sastra. amarga Auliya kang nganggit kêsusu mangan woh Kawruh. dipêthik saka sathithik. amarga banjur mangeran marang wujud. Yen bêcik narik raharja. dalah têgêse sarta cacahing aksarane kok uga beda-beda. nanging sastrane nglimputi ing jêro. Auliya mau lali yen tinitah dadi manusa. sinêbut kang utama. Darmagandhul matur nyuwun têrange agama Rasul lan liya-liyane. Yen wong luwih. mung bae dosane mau ana kang sathithik lan ana kang akeh. ing mangka iya kudu mangan woh wit kayu Budi. nanging unine pelo. yen saka dhawuhe kang Maha Kuwasa. mula jênênge dalwang. mung aksara Cina kang akeh bangêt cacahe. pancadan kang tumuju marang kabêgjan utawa kacilakan. mulya kaya maune. Kang kaya mangkono mau ngrusakake agama. dicorek ana ing dluwang. kaya nalika isih ana ing alam samar. iya iku kang diarani sastra urip. bisaa nikmat badan lan atine. mula pangucap kang ala. nanging panggawene ora bisa. mêsthi banjur mêtu wangune. amarga manusa diparingi wahyu kaelingan. mangsit mangan kawruh. Woh wit Kawruh lan woh wit Budi ditandhani nganggo sipat wujud. mangsi têgêse mangsit. Geneya kok ora nganggo aksara warna siji bae? Kyai Kalamwadi banjur nêrangake. nyuwun têrange. kang digoleki bisaa nikmat mulya punjula saka sapadhane. bisa ngrêsiki lair batine. yen kabeh-kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. jênênge sastra godhong. Ewadene mêksa nganggo kuwasane Kang Maha Kuwasa. yen ala ngundhuh cilaka. mêsthi ora mangêrti marang wangsit. mung banyu suci. aja nganti nêmu sangsara. manusa didhawuhi muja marang agamane. ora duwe susah lan prihatin. dadi pelon. ‘Arab. Yen bêcik. mula jênêng kalam. Walanda lan Cina. dadi yen dalwang ditrapi mangsi. amarga yen ora duwe agama mêsthi duwe dosa. sanadyan para Auliya sarta para Nabi ênggone nggayuh iya mung sagaduke. Iku maune kêpriye. mêsthi dadi glundhungan kang tanpa dunung. têgêse mêtu wangune. kêsusu tampa panglulu nganggit sastra kang nganti tanpa etungan cacahe.

Kang wadon diupamakake omah. têgêse dakar. Kiyai Kalamwadi lênggah diadhêp garwane aran Endhang Prêjiwati. wong têgêse ngêlowong. iya iku kang minangka pangane wong wadon. ora kêna kacampuran pikiran kang warna-warna. Banjure pangandika kiyai Kalamwadi kaya ing ngisor iki. Tanganmu kiwa iku wis anggawa têgês dhewe. wa: têgêse wêwadhah. iya iku yen wong lanang wis bisa nêtêpi lanange. mungguh anggitane para Auliya kabeh mau kang mratandhani asor luhuring budine kang êndi? Saka panimbange Darmagandhul. kang anuduhake yen ragamu iku wujude kiwa. amarga arêp gawe sastra urip kaya yasane Gusti Allah. Auliya Jawa ênggone mangan woh wit kayu Budi nganti warêg. mung paring sasmita kang wis ditulis ana saranduning badan sakojur. kabeh mau iya bênêr. ing wong sêsomahan iku. Kiyai Kalamwadi ngandika: “Yen manusa arêp wêruh sastrane Gusti Allah. sabab ing kono wis ana pangandikane Gusti Allah paring piwulang. nanging ora mêtu ing lesan. Yen prau wis isi têlung prakara iku. Darmagandhul banjur didhawuhi nimbang. Kiyai Kalamwadi paring piwulang marang garwane. Auliya Arab ênggone mangan woh wit kayu Kuldi akeh bangêt. lan wis dadi piwulang kang bêcik lan nyata. Têmbung ki: iku têgêse iki. mulane aksarane nganti ewon. mula ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Saka pangandikane Kiayi Kalamwadi. nanging anggêr mêtu saka budi. nanging Dzate nyarambahi sakabehing wujud. wadon têgêse mung dadi wadhah. Darmagandhul sarta para cantrik iya padha marak. tulisan mau ora kêna ditonton nganggo mripat lair – kudu ditonton nganggo mripat batin. wong iku yen dipitakoni. mung hawa kang katon. Nanging yen sastra yasane Gusti Allah. aku mung arêp pitakon marang ragamu. Yen mangkono iya bisa katon. Dene kang diwulangake. prau dadi ‘ibarate wong wadon. Gusti Allah iku mung sawiji. dadi nêtêpi jênênge priya kudu mulang muruk marang rabine. Dene têgêse kar-ri-cis iku mangkene. iya iku: “kar-ri-cis”. yen wong lanang wis bisa nyukupi pangane. dadine saka sabda. Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Sarehne aku iku wong cubluk. . banjur dianggit kanggo sastra. bab kawruh kasunyatan sarta kawruh kang kanggo yen wis tumêka ing pati.ditata dikumpulake. Dene ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. supaya ora bisa kliru karo kanyatane”. dene isine mung têlung prakara. mêsthi wong wadon bisa têntrêm ora goreh. satêmêne ragane wis bisa mangsuli. 2. Dene kang gawe aksara mung sathithik. 1. iku mratandhani yen luwih pintêr tinimbang karo liya-liyane. wujude dadi dhewe. amarga ragamu iku wis bisa sumaur dhewe”. sastrane ora ana kang padha. têgêse pari. sanadyan kahanane wis sarwa bêcik. Yen ndêlêng kudu nganggo ati kang bêning. ragamu iku di’ibaratake prau. Kar. dadi ora goreh atine. Ri. Auliya Cina kêsiku. sarta kudu kang mêlêng ênggone mawas. wusanane dadi nêmu slamêt ênggone jêjêdhowan. nanging wis bisa nyukupi. Nanging sabên dinane isih kudu dipiyara lan didandani. mêsthi wong wadon atine marêm. mulane unine iya cêtha. wong wadon wis kêcukup butuhe. dadi ora bisa aweh piwulang kang endah.

Driji têgêse drêjêg utawa pagêr. dene driji kabeh mau ana têgêse dhewe-dhewe. Wong jêjodhowan yen wis nêtêpi kaya piwulang iki. warangkane wanita. supaya nyupangati bêcik. jênênge banjur melu jênênge kang lanang. wong jêjodhowan iku pikukuhe kudu duwe ati eling. Driji manis. Mungguh pikukuhe wong laki-rabi iku. Wong jêjodhowan. wong wadon bisa goreh atine. têgêse picis. Driji panuduh têgêse wanita nglakonana apa sapituduhe kang priya. iya iku: pawon. iku kang gampang gêtas rênyah kaya dene êmpoling klapa. Epek-epek têgêse ngêpek-ngêpek jênênge kang lanang. wanita iku kudu andarbeni ambêk kang utama. nanging yen isih padha trêsnane iya ora bisa pêdhot. paribasane aja nganti kêndho tapihe. têgêse wanita kudu duwe pasêmon utawa polatan kang manis. ya iku yen wong lanang wis bisa aweh dhuwit kang nyukupi. sabên dina sudiya. sanggup dadi kongkonan. mêsthi wong wadon bisa têntrêm. yen wanita dikarsakake dening priyane. Jênthik. cis têgêse bisa goreh atine. nanging yen angel. awit wong wadon iku yen wis laki. Ugêl-ugêl têgêse sanadyan tukar padu. Sikut têgêse singkurên sakehing panggawe kang luput. Bau têgêse kanthi. Tangan têngên têgêse etungên panggawemu. Kiyai Kalamwadi banjur paring pangandika maneh. gênahe wong wadon iku dadi kanthine wong lanang. wicarane kudu kang manis lan prasaja. Kosok baline yen wong lanang ora bisa aweh momotan têlung prakara mau. Mungguh pikikuhe wong jêjodhowan iku. yen gampang luwih gampang. iya iku idêrana jiwamu nganggo pagêr kautaman. dudu dunya lan dudu rupa. Cis. angele . pangrêksa. têgêse wanita wajib ngunggulake marang priyane. Saka pangandikane kiyai Kalamwadi. Kuku têgêse ênggone rumêksa marang wadi. tak baleni maneh. wanita kudu sêtya marang lakine sarta nglakoni patang prakara. wong wadon wis dadi wajibe ngrewangi kang lanang anggone golek sandhang pangan. pikukuhe mung ati eling. dene kang dipangandikakake bab pikukuhe wong jêjodhowan. Driji panunggul. mêsthi bisa slamêt sarta akeh têntrême. tumrap nindakake samubarang kang prêlu. apa dene kudu nyingkiri padudon. paturon. aja nganti tumindak kang ora bênêr.3. utawa dhuwit. Iya iku kang diarani warangka manjing curiga. curigane jênênge wong lanang. Jêmpol têgêse êmpol. mula kudu sêtya tuhu marang priyane. Rajah (ing epek-epek) têgêse wong wadon iku panganggêpe marang guru-lakine dikaya dene panganggêpe marang raja. têgêse wong wadon iku panguwasane mung sapara limane wong lanang.

dene kang diarani cidra iku ora mung jina bae. Kang diarani tampa kanugrahing Gusti Allah. mula kudu rukun. iya akeh rêgane. ragane mêsthi iya melu rusak. manusa iku yen pikire rusak. yen wis luput. ora kêna tinambak ing rajabrana lan rupa. mula wong rukun iku bêcik bangêt. lakuning prau manut satang lan kêmudhine. lan mulya saka ênggone sugih ‘ilmu. rukun iku gawe karaharjan sarta mahanani katêntrêman. Wong jêjodhowan itu luput pisan kêna pisan. (4) Mulya saka kawignyan. bisa oleh kabêgjan kang gêdhe. mungguh dalane kamulyan iku ana patang prakara: (1) Mulya saka jênêng. (4) Rusaking budi. iku ugi ngilangake Pangerane wong jêjodhowan. iya iku wong bodho. Wanita kudu tansah eling yen winêngku ing priya. prau ora bêcik lakune. Mungguh dalane kasangsaran uga ana patang prakara: (1) Rusaking ati. Wong lanang iku lakuning satang. amarga yen ora mangkono bakal nandhang dosa rong prakara.ngluwihi. iku wong kang utama. kudu tansah eling. sanadyan bêcik ênggone ngêmudheni. yen nganti ora eling. (2) Rusaking raga. nanging samubarang kang ora prasaja iya diarani cidra. ora ngêmungake wong jêjodhowan kang rukun bae. sanadyan tangga têparone iya melu têntrêm. kang mangkono iku mêsthi ora bisa nêmu lêlakon kang kapenak. amargi yen wanita nganti cidra. wong jêjodhowan. sarta bisa têkan kang disêdya. dene kang wadon ngêmudheni. Wong jêjodhowan di’ibaratake prau kang gêdhe. kang sapisan dosa marang kang lanang. Kang diarani mulya saka jênêng. sanadyan satange bênêr. kanggo têtuladhan marang wong kang padha ditinggal ing têmbene”. iku ana ngêndi bae. awit ati iku dadi ratuning badan. kapindhone dosa marang Gusti Allah. amarga kang padha nglakokake padha karêpe. amarga tumindaking badan mung manut karêping ati. (3) Mulya saka sugih ‘ilmu. apa dene têntrêm atine. iya iku wong kang sêgêr kawarasan sarta kacukupan. (3) Rusaking jênêng. . kudu padha karêpe. yen kêmudhine salah. lan mulya saka kapintêran. lupute banjur ngambraambra. nanging yen kang nyatang ora bênêr. kang oleh katêntrêmaning ati. Wong urip kang kêpengin bisaa dadi wong utama. wong bodho lumrahe gampang nêpsune. duweya jênêng kang bêcik. iya iku wong mlarat. dadi têgêse. Mula ati. iya iku wong lara. mula wanita kudu prasaja lair batine. kapenake uga kanggo wong akeh liyane. cupêt budine. Dene kang mulya saka ing bandha. (2) Mulya saka bandha. nanging kabêgjane mau ora mung kanggo awake dhewe. lakune prau iya ora bisa jêjêg. Kowe tak-pituturi.

kowe aja pisan. utawa uga ana wong pintêr bisa kasoran karo wong kompra. Dene yen Kêdhiri prênahe ana sakuloning kali Brantas lan sawetaning gunung Wilis. amarga kurugan ing lêmah lahar saka gunung Kêlut. nanging kang mangkono mau dudu kawadjibanmu. yen wis dipundhut. yen ngrumasani pintêr. mung wajib mangrêti tataning praja supaya uripmu aja kongsi dikul dening sapadhaning manusa. rêca . Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Wong kuna lan wong saiki. uripmu dadi bisa slamêt. nyuwun têrange bab tilase kraton Kêdhiri. wong kompra banjur duwe kaluwihan kang ngungkuli kaluwihane wong pintêr. dene mobah mosik. ngupayaa kawruh kang nyata. iku têgêse ora rumasa yen kawula. mundhak kêsiku marang Kang Maha Kuwasa. ora kêna ginayuh ing manusa. êndi kang kurang bêcik banjur dibêcikake. awujud bêras mênir sarta gabah. Wong ing jaman kuna kapintêrane iya wis akeh. tampahe diiseni gabah banjur diubêngake sadhela. amarga kang mangkono mau dudu wajibing manusa. akeh kang durung bisa mujudake kapintêrane. kaya dene wong wadon kang nutu mau. dene kratone ana ing Daha.pisan ngaku pintêr. iya iku candhi Prudhung. mula katone banjur kaya dene ora pintêr. saka kalangkungane Gusti Allah. iya iku rêca kang diputung tangane dening Sunan Benang nalika lêlana mênyang Kêdhiri. dene kang mujudake iya iku wong ing jaman saiki. iku satêmêne pintêr kang êndi. mangka uripe manusa mung sadarma nglakoni. banjur dadi beda-beda. lan rêca buta wadon. amarga kahanan saiki iya akeh kang nganggo kupiya kahanan ing jaman kuna. bodho pintêring manusa iku saka karsane Kang Maha Kuwasa. bisane apa. sabanjure dipilah-pilah. dununge ana wong wadon kang nutu sabên dina. iya iku patilasane Sri Pujaningrat. Saupama ora ana kapintêrane wong ing jaman kuna. nuli mung kari ngupuki bae. yen manusa iku rumasa pintêr. ênggone nyilah-nyilahake bêras aneng tampah. mung bae tumrape wong ing jaman kuna. amarga wong akeh panêmune warna-warna tumrape bab iku. mung sadarma nganggo raga. gabah kang ana kabur kabeh. dene pasanggrahan Sabda. Mula wêlingku marang kowe. Wong ing jaman saiki ora ana kang bisa nganggit sastra. kang misesa marang kawulane. Kang isih mung rêca yasane Sri Jayabaya. sawise. iya iku kawruh kang gandheng karo kamuksan”. saikine jênênge desa Mênang. kadhatone Ratu Pagêdhongan uga wis sirna. iku satêmêne iya padha pintêre. Kiyai Kalamwadi ngandika: “Sang Prabu Jayabaya ora jumênêng ana ing Kêdhiri. kaprênah sawetane kali Brantas. Yen kowe arêp wêruh wong kang pintêr têmênan. patilasane kadhaton wis ora katon. Mula wêlingku marang kowe. kowe bakal dadi têtuwa. awit iku dadi kawajibane para Raja. ngrumasanana yen wong urip iku mung sadarma. ana ing desa Klotok. yen kabeh mau kapundhut banjur diparingake marang wong kompra. Têgêse: bêras yen arêp diolah kudu dirêsiki dhisik. Têgalwangi. patilasanpatilasan mau wis ilang kabeh. Yen kowe bisa mangreh marang manusa. Wong ing jaman saiki ngowahi kahanan kang wis ana. Dene yen patilasane Sri Jayabaya ika ana ing daha. Ana dene wong ing jaman saiki ênggone katon luwih pintêr iku amarga bisa mujudake kapintêrane. prênahe ing sa-lor-wetane desa Mênang. mung digadhuhi sadhela dening Kang Maha Kuwasa. pasanggrahan Wanacatur lan taman Bagendhawati uga wis sirna. ana wong pintêr isih kalah pintêr karo wong pintêr liyane. mêsthi bae tumrape wong ing jaman saiki ora ana kang kanggo têtuladhan.Ki Darmagandhul matur lang nyuwun ditêrangake bab anane wong ing jaman kuna karo wong ing jaman saiki. kêna kanggo pitakonan tumraping para mudha bab pratikêle wong ngawula ing praja. wis ana kang murba. ing kono iku ana bata putih. kaelokane Gusti Allah. kowe pancen wong linuwih. kabeh mau bisa ilang sanalika. Dene kowe. Ki Darmagandhul banjur matur maneh. iya iku kratone Sang Prabu Jayabaya. miturut kaya karêpe kang arêp olah-olah. manusa anduweni apa.

mula Sri Jayabaya yasa rêca. ênggone Sang Prabu yasa rêca mangkono mau. Patihe Sang Prabu kang aran Buta Locaya sarta Senapatine kang aran Tunggulwulung padha matur marang sang Prabu. nanging durung nganti katur ing ngarsa Prabu. barêng ditakoni. kang kêlumrah wong arêp laki-rabi. Dene jaran sêngkêran iya iku ngibaratake wong wadon kang disêngkêr. kaya adate Raja ing jaman kuna. kulon kene bakal ana Ratu. Buta Locaya banjur dadi ratuning dhêdhêmit ing Kêdhiri. margane saka lagaran dhisik. Sawise dipangandikani mangkono. besuk sapungkurku. Rêca mau wujud jaran lagaran awak siji êndhase loro. supaya bisa sirna mulih marang alam sêpi. buta wadon wis dirampog dening wadya cilik-cilik. Sang Prabu banjur mriksani putri buta mau. iya bisa cidra. aja suwe-suwe kaya mêmêdi. kiwa têngên dilareni.mau lungguhe madhêp mangulon. lagaran. yen wis mathuk pikire. Ing jaman besuk. mangkene caritane. nagarane ing Prambanan. buta wadon banjur ambruk. apa mungguh kang dadi karsane. yen wis jaman Nusa Srênggi. Mula kang dadi panyuwunku marang Dewa. . duwe rupa tanpa nyawa. Sang Prabu banjur paring pangandika mangkene: “Buta! andadekna sumurupmu. Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut. Sirah loro iku dadi pasêmone wong wadon ing jaman besuk. karsaning Dewa Kang Linuwih. Sang Prabu uga karsa rawuh ngurmati. wêwêngkon dhistrik Sukarêja. Laren (12) kang ngubêngi jaran têgêse iya sêngkêran. kang surasane nyuwun mitêrang kang dadi karsa-Nata. ora nganggo idine wong tuwane. Sang Prabu ênggone yasa candhi. muga Sang Prabu karsa yasa candhi kanggo pangobongan mayit. kowe dak-tuturi. aran Rara Jonggrang”. aku iku dudu jodhomu. Kang mangkono iku wis dadi adate para raja ing jaman kuna. barêng didangu iya matur kang dadi sêdyane. kabeh banjur padha andherek muksa. (kaya kang kapratelakake ing ngisor ini)”. Patih Buta Locaya sarta Senapati Tunggulwulung. nanging yen ora cocog. iku kang pinasthi dadi jodhomu. iya sida diêpek rabi. lagi waleh yen sumêdya ngunggah-unggahi Sang Prabu. Samuksane Sang Prabu Jayabaya. nanging durung mati. (11) Ora antara suwe Sri Jayabaya banjur jasa rêca ana ing desa Bogêm. iku têgêse tunggangan kang tanpa piranti. têgêse wanita iku bangsa wadhah kang winadi. iya ora sida laki-rabi. Bogêm têgêse wadhah bangsa rêtna-rêtna kang adi. wujuda manusa. sanadyan ora kurang ing panjagane. supaya desa ing ngêndi papan matine putri buta mau dijênêngake desa Gumuruh. kang akeh padha mangro tingal. apa dene putrane Sang Prabu kang kêkasih Ni Mas Ratu Pagêdhongan. Sang Prabu banjur paring pangandika marang para wadya. asmane ratu Anginangin. nanging kowe aja wujud mangkono. amarga aku iki anak dhalang. ana maneh rêca jaran awak siji êndhase loro. putri buta banjur mati. bisaa mulih marang asale. sapa kang wêruh marang wujude rêca iku mêsthi banjur padha mangrêti kang dadi tekade wong wadon ing jaman besuk. dene Ni Mas Ratu Pagêdhongan banjur dadi ratuning dhêdhêmit ana ing sagara kidul. yen ênggone yasa rêca kang mangkono itu prêlu kanggo pasêmon ing besuk. Ing Lodhaya ana buta wadon ngunggah-unggahi Sang Prabu Jayabaya. Sang Prabu banjur paring pangandika. prêlu kanggo nyêdhiyani yen ana wadyabala kang mati banjur diobong ana ing kono. panggonane ana ing desa Bogêm. Yen pinuju ngobong mayit.

barêng Raden Patah wis jumênêng Nata. Mula Kêdhiri iku diarani nagara wadon. jênênge Kramatruna. nalika Sri Jayabaya durung muksa. pêputra siji kakung kêkasih Raden Rachmat. sarta ora anggarap sari. iya Sultan Adi Surya ‘Alam ing Bintara (Dêmak). dêdalêm ana ing Jeddah. dene dhiri iku têgêse anggêp. pêputra têlu: [1] Putri nama Rêtna Pambayun. Dewi Kilisuci nyawabi nagarane. Ratu Fatimah krama oleh pangeran Ibrahim. nalika jaman pambalelane nagara Bali marang Majapahit. katrimakake marang Adipati Andayaningrat ing Pêngging. Cêmpa iku kutha karajan ing India buri (Indo china). Sang Rêtna mau tapa ana ing guwa Selamangleng. dicocogake karo adate Sang Rêtna piyambak. asma Maulana Ibrahim. nama Raden Gugur. pêputra Sayid ‘Ali Rachmat. karo Pangeran Ibrahim Ratu Fatimah pêputra putri nama Nyai Agêng Malaka. katêmokake Raden Patah. ing Karang Kumuning Satilare Pangeran Karang Kumuning. Kanjeng Susuhunan Ampeldênta pêputra ratu Fatimah. Raden Patah (Raden Praba). Sawise têlung atus taun. kang paring jênêng iku Rêtna Dewi Kilisuci.Ana kêkasihe Sang Prabu Jayabaya. Ratu Fatimah banjur tapa ana ing manyura. isih têdhake Kangjêng Nabi Mukammad. jumênêng Nata ana ing Kêdhiri. Kramatruna didhawuhi ana ing sêndhang Kalasan. Dene Rêtna Dewi Kilisuci iku sadhereke sêpuh Nata ing Jênggala. Kang ibu putri Cêmpa (garwa Maulana Ibrahim). jêjuluk Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’lRasul Amiri’lMu’minin Rajudi’l’Abdu’l Hamid Kak. yen nglurug pêrang akeh mênange. [2] Raden Arya Lêmbupêtêng Adipati ing Madura. [3] Isih timur rêmên marang laku tapa. nama Awastidab. dêdalêm ing Ampeldênta. nyakabat marang maulana Ibrahim. barêng muksa kasêbut nama Sunan Lawu. wus manjing Islam. banjur kasêbut nama Maulana Ibrahim Asmara. amarga Sang Rêtna Dewi Kilisuci iku wadat. banjur pindhah ing Cêmpa. aja akeh gêtihe wong kang mêtu. . jumênêng Raja Pandhita ing Cêmpa anggênteni ingkang rama. Kang kêlumrah pambêkane wanita ing Kêdhiri iku gêdhe atine. sukune gunung Wilis. amarga kasawaban pambêkane Sang Rêtna Dewi Kilisuci. WUWUHAN KATÊRANGAN. dadi Imam ana ing Asmara tanah ing Cêmpa. Putri Cêmpa nama Aranawanti (Ratu Êmas) kagarwa Prabu Brawijaya. kadhatone ana sakuloning bangawan (3). kasêbut Susuhunan Ampeldênta. ngêjawa nama Susuhunan Katib ing Surabaya. putrane Ratu ing Prambanan. iku kang pêputra Susuhunan Ampeldênta Surabaya. kêkasih Lêmumbardadu iya Sang Pujaningrat. kêdhi têgêse wong wadon kang ora anggarap sari. patutan saka Nyai Agêng Bela. patutan saka ibu Sitti Fatimah Kamarumi. Dene putra Cêmpa kang waruju kakung. nanging yen dilurugi apês. putrane Prabu Brawijaya patutan saka putri Cêmpa kang katarimakake marang Arya Damar Adipati ing Palembang. Panênggak Putri Cêmpa nama Pismanhawanti kagarwa putrane Jumadi’l Kubra I.

3. saka Kêdhiri. mbok manawi ewah-ewahan saking Gumêrah-Gumuruh. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 BABAD GALUH . wontên dhusun nama Guruh. (3) Lor Stasiyun: Surabayakota “Sêmut”. stasiyune ing Gurah antarane Kêdhiri – Pare +/.Sayid Kramat kang kasêbut ing buku iki pêparabe Susuhunan ing Bonang (Sunan Benang). (11) Ing sacêlakipun pabrik Mênang. (4) Benang = Bonang ing Karêsidhenan Rêmbang.15-16 km. Saiki dicêluk desa Ngrimbi.10 km. (5) Tarik. (12) Laren = kalenan. (10) Kidul Majaagung lêt +/. TAMAT KATRANGAN: (1) Kulon kutha Majakêrta lêt +/. (2) Pêlabuhane saiki aran: “Haipong”. 2. Gurah = gusah. 1. (13) Bangawan = Brantas. (6) Kulon kutha Kêdhiri. (9) Akire Mênang didêgi pabrik gula arane iya pabrik Mênang.7 km. ngrêsiki gorokan.

ing tahun Be Punika. wau ingkang kalampah. ☻ 04 Kang pinurwa Pajajaran Mangkin. akatut kang ……. si kakang kang mingetan. lawan sampun nyaringin nang iku sami. amaosa carita punka. nyanggi talutuh ngalantang. sastra ataupun disiplin ilmu lainnya. kali Ardhangbang awisik. sasi kalih tanggal kaping sanga. lan sampun caket pandam. maka purlu adanya penyelamatan isinya agar dapat diketahui dan dipelajari oleh generasi muda. Agar warisan ini tidak punah ditelan oleh zaman. ing tawilunipun. samantuke sang Ciyungwanara. among angsal wolulas dinten nenggih. saking bumu Galuh nengge mentas praja ji wau. pan ora nalasamwa. akathah tanduk kang sigug. poma samya angapunteni. pan kalangkung bodho tur langip. mantrine Sultan Sepuh. … umur skeet tahun nem warsi. araga salimur. pengeting tahunipun. ingkang sami sudi maca.☻ 02 Awong dening kang anyerat iki.Babad Galuh adalah koleksi naskah kuno dari Kraton Kasepuhan cirebon merupakan warisan karya budaya leluhur yang mempunyai nilai yang sangat tinggi baik dari sudut sejarah. kang alinggih Pulasaren. ☻ . kang sastra langkung awone. sewu rongatus ika. pan jenenge Kyai Serengrana. Senen Wage ing rangkepe. pan si adhi mangulon ngadeg dewaji. tahun Be kang hijrah Nabi.☻ 03 Nama samya ingkang sami kapti. PUPUH I DHANDHANGGULA 01 Ingkang rinipta carita puniki. waktu anyerat punika. aneng alas Maostikta. punjul wolung puluh. sampun kari luwung. ababaka nagara.

Ciyungwanara angadedi Sribupati. gumurudug ngilen wus dumugi maring. ing waos pangrenyu. kang dadi emban-emban. ingkang acemeng ulese. umbul-umbul kulit wanara. sarengga-rengganing praja. ngilen kali kang Ibu Dewi. ☻ 08 Wus rineka jati pangupami.05 …. mangking kombala badhak. Empretmohe ya ika. ing Nagara Pakuwan. Ki Okesa kalawan malih. Babakan Pajajaran. ☻ 09 . kang ginawe rontek buntuk monyet dadi. sang Ciyung angadeg Ratu. arjaning sapaku. jimat tunggul payung. ☻ 06 Wus kapanggih lan Indang Sakati. godebak bungkul cabolan. Rara Kandhegkinarha.. kombala buntut sing asami. dawuh jengjenan kadang. kang sami amangun. ☻ 07 Cantrik Sakati ingkang anami. kang kocap ing namane. sikaki elu-elu. angistreni lungguhira. iku Indang Gunung Saketi. kang pinangku panembahanira. Ciyungwanara nurut. Cipamali watesani. ingiringi pandhe dhomas. Pajajaran sadakti. sinawung galih liniga. akadi kulit lutung. kang arjane sang nata. kawula warga Sakati kang uri-uri. kang gagandhi ing pilungguhe. lawan wau kadangira.

sundari alas langenan. Maha Raja ing Pakuaji. sok lutung kidang ika. sabawaning ratu susupaning wasi. ☻ 10 Andrawina kang kawula alit. agenging kawula bala. tampingan gunung arame. ing sadina-dina rena. pangrampiging menak Cidahur nyungkemi. ☻ 14 . dumadi praja gung. Sang Nata. kebo bule bungkul kang pancal pat.Payung agung kulit maung kuning. riniyung ing sagung. ☻ 11 Yen bondanan pandununging…. jemegur yen kaginan. sato-sato kang bisa akata jalmi. warna rupaning sambawa. rai awujud buta. angintali barat angabdi. ☻ 13 Ajar Padhang ingkang dukmadhemit. pasar ageng pan samya suka ing ati. rarakandheg mila dadya. ical jenenging wana.. dhasar masih sedhepan daging. rame kang surak-surak. ing Pajajaran tanggale nuli…. dhog-dhog byos pan dharugdhug. …. ing siang lawan dalu. purwaning abal raja. gemelane reyog ngimba sraya. jurig dewa mambar. kang tharokthok egar kapati. kikitiran ing pucuking lingga sari. kang ngaolatingkah negari. marapit ing …. sangkep sami kaprabone. Wus gemuk. gelap pon sami ngulun. ingkang murwa sagala jagat. padha icep bal makabe. ☻ 12 Kang mambangan ules gumaringsing. Prabu Ciyungwana. kidung sari baung.. pan jumegur lir mariyem kang swara. lir kang estu ajar padhang. kang winangun … unen-unen. purwa sing Cialur. iton-intin liwurkali.

saha sri ing samandhepane. rang-orange jinunjung inggil. ingkang kacepengan dene. limbung aning guwa santang. anyepeng para gul menak. pating rangu rangu Sundha. pan acaos basa ing aji. cekelan mangun gentra. Sri Jampang sarta jinggine. 17 Pan kapati kang duweni manis. Kikandhuruwan babalban. sadasa sami prapta. santana kinabandu. …. ngajengaken bomanta. pasisihan utawi manca nagari. dine Wage jaganira. ☻ . anyakra kapatiyan. Demang Elu-elu. amageng kawicaksanan. ing Pajajaran suude. angrekuricak cepenge. Pasowan panggenan aji. seja tuhu genya karsa angabakti. kang kepering angi … puraken gunung. ing bener lawan salah.Datan roro tetelu ing kapti. ngajangaken alun-alun. ☻ 16 Sabandare sing sabrang sumadhing. ing Sundha ginunggung. ing ayunan sang prabu. gul menak umbul adhu. Ki Ardha mangun gen trahe nenggih. isa baisa Dipati Alurcenang. anyepengi putusan pra padungapti. akidang kandhuru. ☻ 15 Mangunaken sagung kapurati. …. paningadhun sang Bima larang. amegeng sewakanira. dupi ingkang kang nama. nengenaken sasagaran giri tasik. ☻ 18 Ki Tumenggung Sayoga nyepengi. ragemragem mariboting sih. ing Pahing dintenira. cina Sundha kawilang lilima. andhum wancinipun.ing sawancinira. pan sirnaning ratu sukma ing pati. lembah dhuwur lan pintu tundhaga.

naklukaken para umbul. sura sowan sabrang pati. ☻ 20 Ing Ciwindu anteng …. samya ngidhep ing Pajajaran angapti.. dina Keliwon cinepengan. ☻ PUPUH II PANGKUR 01 Angir-angir ing buwana. lan kang namane sinebut. kang kinarsa angirupi para ratu. para idhang kang primanca.paning. dalem ingkang kunakuna. prajurit ing sawancine. ☺ 03 . dhalem demang kangene. pangaline rara nama Mundhing Jamparing. Kalibadhaglolopak.. para dhangan pasir panjang. lan ki dhalem Cintangbarang. nagara urut pesisir. sindhang kasimanut. sungga watang sarampang bandring.19 Kang Ngabehi Lempretmonge kang jagi. dhalem Tepus nalika wong kuna ing Raja…. kukuh ing pat Pakuan. ing ulu balang wau. dhalem Pakulada dhalem Pakuaji. sang dhang bana Ujung kulon wus anungkul.☺ 02 Nyata sang roro ponggawa. sinaroja umbul. kidhalem kuwu agung. dhalem Rangga Pakuan. sampun mentar kalawan idhine pati. Pasir Adu Pulangdhang. nalika binathara. Sendang Cibuntu ing praja ngapti.

seja lurug dhatmakaning kulilip. lir walang kawur prahara. manglkana sandhenging wani. Jograt Lantan Tawangpadhang. iya iku nama ratunipun. Raja Mongkara. dhumateng sang Raja Ciyungwanara Pajajaran.Banten …. tanpa sangkan breking angin. pirang-pirang bala maju. ☺ 05 Amung siji ingkang nyelap.aji. ing tetelar aniba pating talumpuk. ing titah …. daman pangunjung tanah. aneng Ujung Batagonggang …ipun. estu tan arsa kedhepa. ingkang ngambek sucira angrasawani. sang Srijunti sang Kalana Kandhanghaur. ☺ 08 . Ujung Maladha. ☺ 07 Wong Sundha ingkang prawara. ☺ 06 Kocap bala Pajajaran. apa maning sang dhang Jakerta panadhun. ☺ 04 Losaribang kulon miwa. bala Sundha ngadhaning rangseng padha kawur. Menak Lampung sadasa kang ngapti. pirang-pirang ambalan tan budhihi. Palimanan Carbon Girang katiti. ing Pakuan Pakuaji. Indramayu lan Kondha. sadasa akedhep samya. tan maju kadhadhak kawur. Jepun kulon gumulung. tiba ing sawah-sawah. dhening prahara lautan. Karawang lan Ujungmilir.

la iki kene apa. apa bidhane tunggal enggoning bumi. apa gawe si rajenak ing riki... pan pinanggih lan Sindhang Mongkara aji. den ora gelem anungkul. pusaka sang Prabu Galuh. den age caked…. Badhak Lolopak jal Kidang. sabab bareng rereping kang lisus. ☺ 09 Nadyan …. ya para age bu………. ingkang estu warise juragan Ahing. mangkana Ratu Sundha kang dhadha susulur. ☺ . datan ana wau ingkang ngucili. ☺ 13 Padha bae suwaningwang. budhi kethek napsunira kaya asu. …. padha ewong ambeneki. Lalangkara ewong dadi kulilip. sira ingkang selang gumun. kang ora suka. ambeg sawenang-wenang. anila bimi ning angin. ratu mung ngaku kewala. ☺ 10 Puniki bumi Pasubdhan.. ☺ 11 Kukubaning Ratu Sundha. amisesa sasigar Jawa. pan buwana Dhangwinta ingkang ngawangun. ☺ 12 Raja Mongkara panabda. ingkang kadhang raja iki. wong Kajiwa bumi re gelem nyangkul tembene ya ing amendhak. yika Badhak lolopak. kang wus merad susirna. ana jenek enggon kene sira iku. dhen dhadhi kulilip. enggal pan sira alaju. iki kang si rajeneki. adhuweni buwana. anubruk dhateng sang aji. lan jajal. lawan Anglangkara ratu. yaganal pamuwusipun.Salamine ing ngayuda.

putraning Bramana Laut. ☺ 16 Tan kena aju narajang. den balangaken …. ☺ 17 Ora kaya Ciyungwanara. aja sira papa … iku. semunira karsa angadhoni ratu. ingkang mangkono ngadheg anyar. mila Dhikbo samana. tiba tangi ngudhak maning. yen wis kanggep tungkuling wong aurip. binalangaken tebah. ana ingsun ya negari. ing Kahuripanne raja. nuli prapti ika wau ingkang lisus. colongen ika kang tuhu. ing Munting Jamparing.. Kontal Badhak Lolopak. api-api saha ngabdi. mangsa suweya sasakti.14 Sigra sang Raja Mongkara. ☺ 18 Kawula nana ngendhatna. ☺ 19 . matek mantra dhal emesal menginggil. balikan sulusupana. ora meneng-meneng abalik maning. den wus kaebut kang jimat. niba tangi anubruk mali dencawuk. jar akathi Indang Gunung Sakathi. kang dhen wadhali Beruk Kalapaciyung. kabereg-bereg ing agin. kasektening Mongkara wantuning. ☺ 15 Dedupak malih kapental. anuli sira den cawuk. ingkang kaparing …. kawur si Badhak Lolopak. anyepak maring kang musuh.

Badhak Lolopak sampun kawalik-walik. kondur dening Badhak muring. wong … angladosi. bala Mongkara kokalan. papaning bala mapan saolih-olih. ☺ 22 Raja Mongkara naraji. … jejel paring pitulung. lami rowang anyekep marang sang ratu. pan Silepe saking wingking. ☺ 23 Dug Munting Jamparing. lumaksana sawisiking Yangnini. …. bala Pajajaran kondur. ing Batagonggang angulun. padha soroh ambek pejah. ☺ 21 Ramya ingkang pancaraga. ipun. andhawuhi kang udhan krama. satengah pejah dhen pupuh. sinerong ing amukan. ☺ 24 . pan gawa minggal tumuli. maring panusuling musuh. Munting Jamparing angadhepi. saka tiyang amba …. Beruk jimate Mongkara.. pan satengah pejah den wali-walik. wadya maju Badhak Lolopak alaju. Raja Mongkara sira.Yata munting Jamparing. Munting Jamparing lawan. gumarudug anusul …. yata kang bala Mongkara. Raja Mongkara mudhidhing. wus uninga pancing surupe Yangwiku. watara satus dina.. tan adangu Indhang Gunung. ☺ 20 Katur ingarsaning Ingdhang awan.

Raja Mongkara sampun angangya sewaka. … tigang prakawise nami.♥ 02 Aturing kang para … kawitan. kali prakwise nama. kasri ing babadhanira. ♥ 05 . Kutha Manggung Kutha Raja kutha Gara. gawe ewag saking Jawi.Angeles lumpuh entro raga. ♥ 03 Lan rarasaning manusa. Pakuwan … Ciyungwanara. sastra Sundha kartajani. gara jaya kang …. iku ingkang sawiji. Kanjeng sapta loka. miring Prabu Pakuaji. ngamperi rarasan sabrang. dhumateng purba nagari. pan iku karananipun. lintang saka tipun niku. gara aji gara pagu. lan Arya Badhak Lolopak. ingapingan jeng nini. mangkana arsa aji. ☺ PUPUH III SINOM 01 Iya iku purwanira. Lalopak lawan Jamparing. basa Sundha kang panuji. sastra selawe gumelar ya ing Pasundhan. wus andhepok ing sihi tanpa sakti. yata prasami rinebut. ♥ 04 Kutha Larang kutha Jampang. kutha Idhang apa maning. Sundha sari Sundha lengdha Sundha larang. Ki Arya Munting Jamparing. gara tengah gara jati. ing bala Pajajaran. gara … gara wangi. olih gaweyan manca nagari. Ratu Agung Sundha sakti. timbul salir wirasa. Sinungan lenggah arya. Raja Mongkara dhen asandhangi dhata tangsul.

dumadiya turun saluraning raja. Raja Galuh Raja Cingcing. Raja Larang Raja Dhanu.Sundhawestu Sundhasana. Raja Wetan miwah malih. Medhangko … sajati. pitung prakawis anama medhang kamulan. Sundhalayang Sundhajahi. amung ika wanodya. … putra jalu. Raja Jawa lan malih. Ciyungwanara wus mijil. ing Pajajaran sang aji. Ujungkembang Ujungsemi. lawan Ujungkandhi. Ujungtana Ujungbarung. nem prakarane ingaran. putra estri kang paparab ing arja. Bantaraung Bantarjati. ♥ 09 Putri Purbasari mulya. karaname narpati. ♥ 06 Bantarwangi Bantarpanji. lawan Medhangkawiraja. lawan prakawise nama. gumelar rajaning ratu. Ujungkulan Ujungbumi. Sundha Amalatra. pinutri-putri ing nata. ing wuri-wuri jati. garwa padmi saking Gembong arah wetan. lan gangsal prakawise. kang nama rara Cunggilis. Medhangrasa Medhangterik. … jayeng aji. sapta loka wus dadi. Bantalwaru Bantalwire Bantarjaya. ♥ 08 Kang kasebut ing paparab. ratu Cunggilis krama. Ciyungwanara pakolih. ingadhang agung ing aji. kang pinangka prameswara. ing kadhaton dhalem agung. ing pura Sundha negari. ♥ 10 . ♥ 07 Medhangdhatar Medhangpala. Raja Kowek kalawan.

agagarwa saking bebeting Bramana. ♥ 13 Martingtrim Merkedheng lunta. wus angapti maha dewi. nami Dewi Tingtrim wawanginira.Putrining Ciyungwanara. Sundha ora nana maning. iku kang Pajajaran. nanging boya amiyosi. tan ana leksanannya. usada … wus tepung. akathah ajar bramana. prandene … yakeni. komalaning dhalem pura. parandene oranana siji laksana. Pajajaran kaliyipun. ingkang tedhak sisiwi. ika putri Purbasari. dinama-nama ing marma. dupi garwa sembar ayu. dreman ing sabronjotipun. kang kekasih iku Jeng Dewi Anjatan. gabuk ora amutrani. ngalap garwa malih milih. kang miyos saking narpati. gabug salami-lami. sang Prabu …. menak Cicilutung gelis. kang jinalukan jajampi. Martingtrim ingkang yumani. ♥ 14 Ing Pakuwan pinakrama. ♥ 12 Mila … Banghayang. sang korone becik-becik. … kagungan waya. Markeseh ingkang yumanibini aji ing puri. esi tan kena tinedhu. parandene tan mutrani. ♥ 11 Lan Dewi Markeseh kembaran. sakaliye ing gigabug tan aputra. ♥ . sanget kaul-kaul mambri. wonten malih kang putra. kagarwa dhening nata. nuli sang Ciyungwanara. putri saking Bangbayang.

ajumbula moning angaksi. ♥ . dening karsaning narpati. ♥ 17 Saluraning Pajajaran. nami Dewi Kilikmangi. ♥ 19 Purbasari lan kang rama. sapalih ngapti ing siwi. judhipatnantang weri. katur ing nata Pakuwan. ora nana ingkang darbe laksana. judhialiman sang dhekur. dening mung kalethek siji. rinegep sari ngumining. Bawatciyung Naga Sakti. jajampi sing ngenda-endi. langkung kawandasa sasi. mapan mangkana agabug.15 Putri saking Kandhanglarang. Bawatbenggi sari Manglar. iya orana siji. ♥ 16 Lir ta selirnya marapag. krajahan dhen palipur. gawok kasri nalendra. sang Prabu Ciyungwanara. kereronce kereampit. saparo ing sunu ayu. ingkang amiyos sinunu. yen tinaros banget lumuh. cathik-cathik raja peni. ginawa ing sang aji. ♥ 18 Dugi maring pabarisan. saparoning pribadi. tan kenging dipun purba. Purbasari wadon kang winadhang-wadhang. ingkang ngadining-ngadenan. sinedhepira dumadi. dereng karsa alaki. … kang upacara. kadi kembaran narpati. para ratu kang karsa … lesan. suradhadhu sarabang. mila saderenge lalis. dhadakpulur wigalba wiragalba. sapaliye Purbasari kang ngagem. datan miyos putra. supaya wadon lan lanang.

bok sang putri kencok aning mamala. ☺ . pan mangkana wangun mali. sedhengane dewa aji. padha mundur mulak ora tinampanan. kapepes ing tan kaconggi. ana baliking dhalanggung. ☺ 03 Luwilaja Luwilidhung. Budisari Budigolis. rada melang-melang kapti. ingkang mara-mara kondur. telung prakarane nama. Prabu Ciyungwanara. kang akarsa samya balik. rong prakara ingkang nami. Luwiseeng Luwimundhing. Sokapura Kokaaji. ambaka … pikulih. ing ngarsane sang Dewi. Luwiladha Luwidhingding. padha mengga ing ngalama. ♥ PUPUH IV KINANTHI 01 Sagung papalisanipun. Budiwati Budiminging. saking kang rama narpati. ingkang mara-mara balik. sing sabrang saking Jawa. akeh kalesan balik. sapta loka pari mina. Budirujit … Budi …. ☺ 02 Saprakara kang sinebut. ♥ 21 Ajaja sipating jalna. nanging datan den pidhuli. kang ingarsane si rara.20 Pirang-pirang kang sewaka. kang arsa sewa panglami. Budipandhang miwah ika.

sokawiyana lan malih. Sindhangkempeng Sindhangbarang. limang prakarane kang nami. kng simaan rama aji. Jeng saputri Purbasari. Kawunginten Kawungsari. Sindhangwangi Sindhangpala.☺ 06 Padhamuhi padhamadhung. dumateng putri Pakuwan. dupu rangga kapatihan. sabdamenyat Sabdawangi. miwah ingkang Sindhangkasih. padhareka padhamuraging. padhamatang lawan…. Sokamanah miwah ika. padhapenah padha bongor.. pitung prakarane kang nami. Kawungluwih Kawungaji. ☺ 08 Sampun ing kadya puniku.04 Sokapolang Sokaratu. Sokanegara apa maning. sindhangayu Sindhangaji. Kawunggehe Kawungomas. ☺ 07 Sabdalarang malihipun. nem prakarane kang nama. Sabdanawa Sabdasari. ☺ 05 Kawunglarang malih ipun. ☺ 09 . patang prakarane kang nama.

prawatesanipun kali. mangetan jajahan istri. ☺ 14 Bayabang kali Cilutung. dupi sing kalih bayabang. salwe princi kawilang. Lebakwangi lan Cikuwang. Mangunkentra rada …. sapure kang katiti. Makber lan Cipamali. Cigugur lawan Cirayap. teka ing satedhak-tedhak. dening Arya Mangunkentra. Cibarangbang Cipaburi. Menak Pakuwan ingaran. Ciamis lan Sokapura. pusaka kawuri-wuri. Karapu Yudanegari. iku sun dak sigar wetan. 13 Purbasari kang amengku.☺ 10 Rang-urange pandumipun. pusaka kawuri-wuri. Menak Mangun … praniti. Cikandhang Cicaridhangan. Ciyungwanara ingabdi.Dupi ingkang rama prabu. ☺ 12 Cikendheng lan juga Cigintung. Cionje lawan Ciori. la iku dadi laluri. raja Galuh lan Talaga. ☺ 11 Cikaso lawan Luragung. Kuningan lan Sindhangkasih. lamun pajajahan istri. Ciakarwangi katiti. Menakwacacayan istri. ☺ . Panjalu muwakawali. mengulon iku kang dadi. ing sapandum-pandum nira.

kang angresa hawa aji. Ciyungwanara apa maning. sang Prabu Ciyungwabara. ukurlantara Juangin. Bogor lawan Kanjapura. ☺ 17 Manonjaya Garut Ciaur. ing pajajahan angabdi. Tegaluwar apa maning. ☺ 19 Wus kukuh kang bala ratu. karata gampang pangulatan. Batuwalang lan Biribis. Ujungkulon apa maning. kang sarwa tinandur dadi. ☺ 16 Pon salawe princi umtul. Kadangladhang Pasiraji. sigar kulon sun dapuri. Sokowiyana lan malih. Cikokok lan Nungkalaya. wengkuning Arya magentra. laluri ugi salami. jajahan Sundha nagari. ing ngarsa Sri Pakuaji. ☺ 20 . Cianjur Kujang Limbangan. Menak Pacacahan lanang. Sawung … Gantilah Munoro. kang nama Menak Pradhangan. ☺ 18 Wanabaya Cibalagung. Sumur Bandung Sunedang aji.15 Pasawahan ramanipun. salawe princi kawilangan.

Parekatan iku Sundha. Tegalgubug Tegalkunyit. ☺ . Indhujanten Indhugirang. 21 Sami sinunut cangkohipun. Bojongrentan ingkang dadi. sinung sasapetegalan. ☺ 25 Paindhon kang winalungun. jeng pawestri Cunggelis. sinung pobojongan menggih. Kapitune Inddhujaya. Parakatan pawestri. Indhuraga Indhusari. gunung Lajer gunung Kelir. dhupi iku aneng ana. Bojongnerwasa Bojongleppit. ☺ 23 Bojongmuntas Bojongwindu. kang sinung sasapan indhi. Indhupari Indhuaji. maringtrim Merkedheh mewah. dhupi sang jeng bini aji. mangkana kang prameswar sinung cacapagunungan. Paraketan nini aji. agung kacipta dumadi. gunung Ga Gunung Licin. Tegalmoto ingkang dadya. Parekatan bini aji. Tegalkolot Tegalpakaji. 24 Tegalmenak Tegalbaput. ☺ 22 Kapituning gunung wupu. Anjatan lan Giliwengi. gunung dhukut gunungsira.Sakalir karsa kadulur. dupi maha Dewi Sundha. nuli ika garwa lima. Bojonggaluh Bojonglapang.

26 Dupi ingkang Dewi matur. ora selang surup apti. waneh kang campur wong sabrang. kinalilan purba bumi. Lebakcenang Lebakcehang. kamukten den bagi-bagi. iku rerekan Pakuwan. kasilane den remani. mangkana adat Pakuwan. Lebakpanjang Lebakwangi. bedha lawan Majapahit. Lebaksidhu Lebaklenggar. kang kanggo salami-lami. 29 Mula akeh menak umbul. ☺ 27 Sawawasa prati umbul. ingkang satta sabumi. prasasat den prenca-prenca. ☺ 28 Temah dedeake Ratu. angreka sabagi-bagi. 31 . anggelar enak ing urip. mila-mila kawisesan. dening kang padha anyewa. sinung palebak kalepti. waneh ingkang leletana. dhupi Pakuwan Marinci. ☺ 30 Padha among sanak sambung. maring bumi ming narpati. Lebaklawang wus dumadi. golong sapurba sasmaya. ing Pakuwan ikut yakti.

☼ 03 Bolong-bolong kaya dhuwit. sawah tan mawi lalanjan. sailing-elinge padha. kethang prunggu kang sinundhuk. pamajeganing pangumping. mung den wis panepadha. ☺ PUPUH V ASMARANDANA 01 Ki Lurah Rawaprasmi. yen wis padha ngundhuh-undhuh. bendher den cap sastra Sundha. kekendhangan kang isine. ☼ . babakti ing majikan. lelemes buwatan sabrang. Ki Lurah gurupadha.☼ 02 Ateka yu kang lumari. kus jembar kahuripane. anut maring kasabpolah. wus dadi anak Pakuwan. ☼ 04 Palawijaning wong cilik. den elus sakamya-kamya. ingkang mawa tatakeran. pamajegane gugubar. kang sabandar pajeg ira. iku Ratu kang dheres. tangu gegel ing majikan. pamule pegantang salir. pagantang pajeganipun. atur catur baktinipun. ing tatali karompyangan. ingkang lumampah ing Sundha. pamajeganipun gula. ora nana pajegane. mangkana kang lurah wana.Sewa aning paken agung. tukang maring pajeg trasi.

mingkung dhatan arsa krama. manahe Ciyungwanara. ing salamine amurba. tumon adate kang putra. sang nata sanget gegetun. ☼ 07 Kaul alukan mati. akarsa ing sang rara. winadhang-wadhang wiyose. Purbasari naminipun. dhupi iku teka mingkung. re kang putra samana. japa mantra lan istiar.05 Warnanen sang Pakuaji. ora nana kang tumama. ☼ 09 Kalangkung bebek ing pikir. kewuhan dening kapadha. iku kang dadi pegele. ature wau kang putra. turunanira drapona. ☼ 10 . sumadi isun akrama. reiku kang kinudhang. ing Pajajaran tuwuhe. pinardhi ingwang tuwa. tatambah wus mider tepung. tan arsa akrama ingong. kang karsa dhateng kula. wiwiku lan ajar-ajar. besane lamon kinuwu. marna bangsa raja. ☼ 06 Wanti naros ingkang yudi. ponora tumama kabeh. tan ana turun tedhakan. sanadyan para nalendra. ☼ 08 Wus pirang-pirang pamuji. ora nana kang misata.

turunan lantaran krana. saking anagara Tuban. wadon tumuli mangkana. temah puthes anak putu. tan kena den palar mangke. ☼ 11 Ratu Sabrang Ratu Jawi. wus loba tanpa wilangan. lan Dhipati Singgapura. Purbasari dhuk sabda amit pejah rama prabu. tumanga geni sakala. lir baronggong beledhoge. lawan Arya Balangbangan. den nama kumudu-kudu. 12 Saking sabrang Raja Kelir. kang dadi bebeging manah. kang asresewa panglamar. tumpes aja katingalan. iku dhipati Manglewat. ☼ 14 Ageng ilur sundhul ing langit. ☼ . ☼ 13 Ruru bae anggonturi. den kula pinardi krama. anggondhel prakara iku. jasad kawula sanggine. Purbasari inggal mangun. lawan Dhipati Japara. sakabeh ika padha.Du uwis amung sawiji. enggone nari kang putra. lan Arya Dhagdhagase. kawula sumangga pejah. ing Prabu Ciyungwanara. ☼ 15 Alum kula anglabuhi tumangan geni sakala. wuku pring apilar wangwa. lawan Dhipati Cidah. suradil pan titah raja. ing kadang ing ngakin. dupi den lumuh krama. mila sanget kewuhane. dhadhak sakala ika. marakbak kagila-gila.

lan anak putu den rampak. way kalereng anggepok. anunggoni anak putu. sama dening kula wirang. mundure tut sausap. ajur kula dados awu. sipat matane si rama. kaprawasa dening priya. nini labuh geni sira. boten memper dhateng rasa. ☼ 18 Rasa kang sampun binukti. wirang nekaringgit ing jasad kula. ingson kang urip dawa. sang Prabu Ciyungwanara. padha bareng mukti kabeh. ☼ 19 Lan aki sumamung aji. mila kula angedados. atemah boten mambu. tan kangkat to nandhang. den sampun gepok ing rasa. ☼ 17 Jaler punika kamangi. angandika aja babu. mongsa pira gesang. purnapa awu sahana. sasada susut den wis waya. kang dados sakiting manah.16 Sumandika umalaki. kang dadi ati ewuhe. mung sira tan ana liyan. sing purwa teka daksina. istri kang kabobongganan. ☼ 21 . ing kamukten padha uman. anak putu den arampak. sanadyan nama sihing rupa. ☼ 20 Babarayan ngadek aji.

☼ 22 Den pinaksa alaki. prandene den anakake. jamak istri asasdhu. tan nilapaken rama. kang geni gupak cawisan. dados awu lelebaran. mintuhu sakadikane. Dewi Purbasari girang. mangke kang dados parenge. 23 Sang Ciyungwanara aji. karinggi awak kawula. tinari laki popoyan. Den Purbasari medho. ☼ 26 Ika iki kangngangking. kawula kelangan anak. kang rama kadi mangkana.Mangkana prangregep mami. amangsuli kang anggondhel. tan asung pinancas parum. karanten dan mangke tulus. mila tumangan masihe. ☼ 25 Ciyungwanara mangsuli. sejane labuh dahana. sak akal budi pandaya. utawi kaluncurane. masih munjuk kang dahana. tinaros mangsuli iya. sesaengek jamak wanudya. den sampun bubudayan. ora jamak lan manusa. ☼ . nanging ika tumangan. den jeng rama sampun asung. wawadine kayak iku. sang putri juwala purap. ☼ 24 Mangsa wontena pawestri. maredheng … maksa. tan kaya dening dadaman. den kula pundhi kentasa. amung siji anak kula. raja-raja atas sabrang. nuli ika temahan lampus. kang suka punika rara.

nanging putra sabrang kabeh. rumuhun kita lanat. kita sami medhek sowan. dipun jemba ing pamuhung. munggi kang rama lila. rempage kadi mangkana. andhadhanr untunging awak.27 Raja sabrang mangkeya angling. kang boten kanggep sanjata. aweyos geni jatine. ☼ 30 Bilih boten angrakepti. ing adat tabidat Sundha. anuhuning palamarta. sak lilaha ing jeng rama. ☼ 28 Ling sang Putri Purbasari. ing cilakane awak. boten wonten roro. tapi punika satuhu. sasampuning geni urut. kawula dhuluri. sing ngakenggep ing babajane. ☼ 29 Panuhun raja tas angin. maketen ugi ciptane. sok dadiya arju. boten dados pana sarana. kasabrangan pan sadaya. gih punapa karsa putra aji. saduka-duka kasuhun. raja rama Ciyungwanara.® . tumangan kita pri pejah. ing songonging kasabrangan. ya tetelu aturku sajatine. ☼ PUPUH VI MIJIL 01 Ya Prabu Ciyungwanara mangsuli. memanten dados ing karsa.

kenging ugi den silulupi. kang suker tinatas entong. pan rama ing uni. ® 05 Raja-raja sabrang aturnya aris. 03 Kula tempuhaken lawan nalisip. kaduk mahinggurut. para putra sing ngatas angin. panedha kula ing sadayane. kang atos inggih dipun linggis. dipun sengget runtuh. ® 07 . lagi laut kang jro jembare. ® 04 Heran kula ika geni. mangkana kang inggil. kalawan parahu. bilih putra mangko. nuntenweleh geni boten moset. sampun kadhalangsu.02 Sampun nelangsa ing salasa tunggil. tan wonten sosolot. dhateng saenipun. manther angger tan ana surude. adhining asakti. punika kang dados. lan dipun langeni. gih cobi kemawon. karanane punika kang geni. kula dhugi wonten nyurupi. dede geni pranti. geni lawan toya musuhe. ® 06 Ingkang letak dadi pujajagi.

ewu mana para ratu. maring kang ngamambri. kocapan sang katong. ting surakata ing sahakale kabeh. ya sang prabu Ciyungwanara jatine. ® 08 Ya ta raja sabrang ting padhigdhing. kang anglamar tiban sampire. kang sadya patakon. 09 Ana gawe banyu janantrawis. ana gawe banjir. kahula kang nguning. ruru bae wus anjaladri. Prabu Ciyungwanara sahure. la inggih sakarsane sami. kang murut mrangmong-mong. gawe pongpa kang anemburwarih. warna-warna katon. lumuhe tan apti. dhateng saenipun. banyu pecut kang munjuk mancure. dening ewuhe putraneki. ® . ® 11 Sya kathah kang para bupati. sisrate mancur. dhateng putrinipun. bumi metu banyu. ya sang Prabu dereng nampani karsane. kawalahan anglaladeni. reka-reka gatos. wane gobakwari. ® 12 Ing alun-alun wus dadi ukir. gampile kang mangko.Punika malih wernine kang geni. ® 10 Sigegen ingkang sabagi-bagi. akal sabrang ing sabagi-bagi. rurubahing ratu. pangumbuk-umbaking.

Palimanan kalawan Junti. enggo apa sakti. maring putri kono. gewe ingkang tewi.13 Kang wus sewaka kulina ngasi-asih. musuh datan weruh. buta geng asiyung. den panjer dumadi. ing praja gung kono. ® 16 Dalem Ujungtanah kang panggapti. kaya kuwi niku. la den nemu gawe ika nuli. den panjer dumadi. ® 15 Parandene ing putri den tampik. ® 17 Dasa rupa merat sampurna lalais. Sadhajenggi matur kasaktene. lan putri ajodho. Ujungtanah malih. ® 14 Sakapate anjum aminta kasih. enggo apa thongsot. dedenira jeng putri anampik. lan gawe tahinipun. ya prandene tan kanggep sawakane. sayajenggi lawen manggi kardi. ® 18 . aneng kene anjejemberi. lawan Kandhanghaur. la ika duk pahor. ratu papat iku rurubahe. dhalem Palimanan wau sewakane. buta ngengenggo apa gawene.

parandene tan kanggep sewakane. sakti kaya bellis. ® . parandene tan kanggep sewakane. ® 21 Gigilani mungguh ingsun iki. kang ulese loreng lir kulite. dening putri tinampik malih. la den karsa lulumbaning tasik. ingkang kaya iku. buhaya tan untung. 23 Nuli katon macan ageng wingit.Merat-merat apadu menesi. ® 20 Jajar-jajar kaya gethek ramping. nangkono den panor. saktine den manggih. esak-esak katon lawan katon. anyiluman kidul. ing putri den tampik malih. anganti kang buhaya jiji. enggo apa sakti. la saka sanake. ® 22 Dalem Kandhanghaur kang pangapti. binuwang dumadi. ® 19 Dalem Munti ingkang pangupami. baju kaya ikut. endah rama malih prahuake. dateng putri kono. rasukan kang poleng. ora rerengkono. enggo maning. wohing lir kulite. bubuhayaniku. ora papa mungguhing mami. atur karsa kang akon. kang walira katimaha gawene. ora sudi mami. gawewan rinusak. wohing rarawe lir wulu kucing.

rang-urange gupuh. jingika kasaktin. maun padha iku. nanging kersane sang Prabu. ® 26 Ciyungwanara mgadheg pangabekti. ina temen mungguhing mami. ® 29 . ® 25 Ora layak temen mungguhing mami. esak-esak ewong. ® 27 Ana gunane ing sawuri-wuri. datan ana kang kanggeping putri. sakti kang samono. jalma nyarupaning. tan kaserep ing putri karsane. gadha dalem pakuncen kang gedhe. simpenen kepati. ing gedhong kilempong. bok menawa besuk. amung kita darma ngopeni. iya Endah Kitarawati. pramilane Pakuwan darbe asakti. ingkang kawan warni. ® 28 Gemenana ing kawan prakawis. Purbasari apik. dupi iki yawis teka dhewek.24 Dadi macan apa gunaneki. iya saking iku. ya ta atur-atur balik kabeh. ngulatana ayo. nuli dadi dato sanepane. sanadyan tan kanggo.

sadaya pangngabakti. den panjer dadi ing wiyange. dalem Kandhanghaur. rebut dhingin den dhingini. saking Juntu tudu pinangkane. ® 30 Kadi merad sapadhaning lalis. macan cipta saking. Ujungtanah pasthi. rong prakara ing Pakuwan bangkit. ® 31 Telung prakara Pakuwan bangkit. iya saking Palimanan asale. cipta buhayangon. sareka budine entong. Pangroban ya sakti saking.Saprakara Pajajaran bangkit.© 02 Banyu singsor sing dhuwur padha maribu. pambereging musuh. warnanen ika sang prabu. ora katon dening. nyipta buta ijo. sada kang den enggo. ® PUPUH VII MEGATRUH 01 Kawarnae ingkang padha sungguh-sungguh. duga kaya udan ribut amalabar ingkang banjir. sing lor sing kidul sing kulon. sabrang amateni geni. © . patang prakara ya bisa dari. ning mongkara windhu.

angraba kena ing banyu. prandene pating padhig-dhig. surake kang para aji. ratu sabrang nyata wadon. maring genining manon. © 08 . naging tan bisa mateni. © 06 Kaparimen yen wis geni ora purum. tan bisa meteni geni. banyune cabar cawiri. kaduga pitung bengi. geni manjer tanpa surud. tan ana endhaning banyu. iku dumehne wong wadhon. gumuruh sorak bala wong. sumagar ngarepi putri. © 05 Ora pira budine pating dharug-dhug. urube angger tan gigis. iku geni ngisin-isin. prandene tanmigateni. © 07 Saya santek geni tinuruwan banyu. raja sabrang kaliwat ing sor. prandene kadhuk asanggup.03 Saking wetan campuhe wau kang banyu. © 04 Ladalah rekaning wong sabrang gathul. wong Pajajaran gumentur.

© . prakasa raksasa gasik. munggah ing gunung den enggo. dangu-dangu ika warih. prasami apikir-pikir. niyat sami tur garumbyung. dadi wedang mulak metu. © 13 Angurugi geni wus jumegur-jegur. dadi buta sada iku. anyangking sadanya jenggi. Ciyungwanara duk angling.Manonjaya pawestri jeng Listupaku. iya bener ing sang prabu. iya ana kang nyumurupi. budi rekane wus pokok. la iki intening wadon. gelare ya kaya iku. © 10 Purbasari genine patut den iku. © 09 Kawirangan dadi sira padha ngandhu. mundhak dadi urub-urub. © 12 Dalem iban Palimanan lanunipun. © 11 Duk angandut nuli ana ingkang laju. kang anglosot anganjerki. ora mati dening warih. gawok para narpati. lema dadi wangwa geni. saha kala akalengkono. nanging ora dadi mati. muwuhi gedhene katon. seja amateni geni. ora yamane ya ewong.

wangwa ambles geni masih. mangkana layan mangkono. ora suwe jebul maning. atemah geni dhuwur.14 Ya muwuhi gedhene ing urubipun. dalem junti denya norong. dewaji dhemit. sigra angrehai geni. © 17 Nuli ana gumantine kang lumaju. macane kang di adhu. dalem Kandhanghaur sakti. © 18 La yen nyenggreng ing geni adadi parum. buhaya musnah kalowos. dhumadi ana gumanti. yen den senggreng pesparum. jer si geni den surupi. padha anyunguri urub. © 16 Gene pager ora nan sudanipun. © 19 . lelewane galak katon. dening rara panas nenggu. © 15 Lan walira katimaha buhaya muncul kapethakan ngebyuki. ora kaya urip maning. Sunan Tambalayung Kolot. buta ilang tan nguwali.

dening geni delap timbul. dadi padha minangkani. bisa mepes geni isun. kalesan kang mikarani. putri Sundha kang wulangon. © 22 Wusing kadi mangkana welehing ratu. © 20 Dalem Ujungtanah anyangking sadha dipun den sabetaken tumuli. egare sang Purbasari. suwe-suwe urip jati. kalesan kangarah pati. yen den sabet pes mati.Mati urip mati urip urubipun. © 23 Aja wonge genine panika punjul. tan suwe jebul kemawon. payu ayonana iki. la iku sembaran ingon. kawirangan para aji. dening welehing wigatos. miyarsa sembara ratu. anglabuhi sembara wong. © 21 Datan mendha mati maning jebul murub. singa-singa kang sakti. macan sirna geni murub. maring geni lawan parum. kadya kaduk wuwusipun. ning geni lawan gumantos. © 24 Iya iku kang dadi nereging laku. ratu salawe prasami. pasthine sun aku laki. © .

pangulawat sampun sami. agunem-gunem anglabu. gampang adat kang kalaku. © 30 . geni adhune warih. carat sewu sumarongbong. sewanehe amangsuli. malapati ing kadhaton. © 26 Mangka dipati Surawangga malihipun. para mantri lawan malih. © 29 Kang den enggo sayembara atiku kuwung. © 28 Tobasruyungan sarayaksa kendha layu. sasra yuga dasa pati. mangsa kilapa kang ngenggo. rujitmanlawe lan malih. geni apetaka den go. seja amateni geni. satriya sanusantawis. © 27 Bongdaraji manggala sarebo jagung. saking awu-awu langit. padha karsa tegal lan ratu. Manggadapura agatos. bimakkendra gili uri.25 Ratu salawe nagara la iya ku. gembong Pasuruwan agung.

pon masih kaya saban. dhatan dhoyong samendhing.Pati-pati den sembaraaken ikut. anyipta awan deres kagiri-giri. apara ratu wira sakti. 02 Ilen-ilen banjir bena amalabar. kabenan dening topan. geni tan mati neng banyu. amsih ngenak-enak. gawoke para narpati. Mingsun dhahang ngayoni. © PUPUH VIII DURMA 01 Ya tawiyang ratu salawe nagara. alagelar dening yakti. topan kagiri-giri. © 31 Pramilane cacak coba samya rawuh. sinten kang bagja kemawon. tan kawagang ing ginisi. ana kang cipta. kita padha dhulu-dhulu. dupi ika kang geni. ing geni sakala. urube tan obah. saking ora paranti. wawartose angabati. masih ngayeg ingkang geni. 03 Tampek geni iku ora kara-kara. 04 . dening banyu datan kawon. ana kang nyipta gelap namber ing geni.

07 Ana ingkang maju sabalanira. gedhene ingkang geni. deni dipun panahi. suraking bala Sundha. kang geni waluya. kang sapendhil sakalenthing. guru gelap tan mateni. ora dadi apa. watu kang sakalapa. ningali ungguling api. kaya saban duk lagi. 08 Waneh ingkang para ratu lajune rampak sabalane ngebyuki. sangsaya mundhak. angger urubing geni. agni sakala. . kaurungan ing wedhi. waneh kang yipta udan kalalar wedhi. sabalane arampak. ya ora nana ngudhili. 09 Ora nana bisa ingkang matenana. maring urubin geni. raja-raja ingkang. ing geni apa maning. kalawan kabalang. lan geni apa baya. heran kang tuminggal. 06 Karsa waneh ana ratu nrajang lan pana. geni dipun bedhili. kang sami hebat ningali. padha angrobi pana. para sang nata.Parandene geni tan kage tan obah. 05 Angebyuki ing geni tan kara-kara. sadaya awurahan. dengo ambalang. sikep bandring-abandringi. sawancining sanjata.lan sabalanira. pan angger tan mati. prandene geni tan mati.

tan nana miyatani. tur ta laya tuwana. panyanane la apa. yang tala kaherang. ngrasa kagungan asri. urube kaya saban. 15 . den arani kaya geni. lawan nyata. wus entong kang tanaga. pangameng-amengan. para ratu tan sakti. geni masih lunta.10 Kang saweneh ana ratu kang narajang. dipun wasa-wasa. ana ingkang numbaki. ya ora karasa. kang saban-saban. 11 Nonohogi wis sabagi-bagi tingkah. wau kang nama. putri Sundha asakti. 12 Datan ana gunane mipis dahana. surake wong Pakuaji. Sanghyang talaga. maring dahana. 14 Pan sinegeg kang pasang giri punika. iki geni dhudhu geni. kocak kang jagad. prandakane kumaki. tedhak Prabu Galuh dhingin. waneh ingkang anyudhuki. kocap ratu sadhasaring. 13 Dewi Purbasari langkung bungah. Sanghyang Bulusputih. geni dipun pendhangi. saestu kang pasang giri.

19 Banyu pitung windu gawanen nyeblak. camethi kalawan geni. Sanghyang Ngacihiki. adarbe siwi pandendhi. si jajaka tawa. mesat aniba. aputra-putra mami. den sira sumeja. Hyang Jakahawa sakti. 17 Sanghyang Talagamanggung duk pangandika. denora acining warih. lawan sasabet iki. 20 Iku putra Sunan Tambalayun ika. ajodho lawan. iku kang pindah-pindhah. iku kang anama. 18 Seblakana iku geni tangtu pejah. kang geni pasang giri. Sanghyang Maharaja. ya Indhang Telubraja. dhiwone padha mesat. adarbe siwi panendhi. Lutungkasarung sira. kang nuksma aneng geni. maraja Purbasari. 16 Genem kalih sodara wedhi kang nana. tangtu sira amakolih. awit putraning Sanghyang.Kang ayoga Sanghyang Panggungkancane. . tan kena gagabah. weruha sira. iku kang anami. mengko den kaseblak pasthi. ingkang anama. ing Banten prananeki. sajane angaoni. Putri Rara Panas. Talagamanggung nama. Lutungkasarung asakti. bareng uculena. ana guneman.

21

Saendenge intri alumuha krama, panas bawane benjing, kang singa kadhokan, tan kuwat ing sangsara, besuk mari-mari mandi, den wis kapendhak, lan Jakatawa benjing.

22

Pecut iku tibane ing bumi Selan, besuk tinemu wuri, si Jakatawa, jodho lan Rara Panas, besuk aneng guwa jati, gene panggiya, praciptanen den jati.

23

Pan wus tutug kang pangandika samana, enggalira tumuli, Jakatawa dadya, golethak sampun rupa, cemethi sihaciwara, kena ing sabda, ingkang sayoga mandhi.

24

Layan Lutungkasarung pamit anembah, sarta nyangking cemethi, dinulur ing karsa, dhateng ing Pajajaran, nembah matur ing sang aji, yenara numpak, sayembara raja putri.

25

Prabu Ciyungwanara ngandika liya, kamanyangan den yakti, munggapa kang salah, ing seja sudi malar, kaputren Sundha negari, ambabarena, si bapa kang ningali.

26

Yata oreg kalabandhu Pajajaran, seja nonongton mangkin, ing sagelar ira, kang ngarama rawasa, nyata geni den cemethi, geblas asirna, bareng lawan cemethi.

27

Bareng mesat cemethi lawan dahana, suraking Pakuaji, den ini satriya, olih gawe gadhang dadi, majikan kita, pan ora pindho gaweni.

28

La ya iki nyata tegese wong lanang, ladining sajati, nyata tedhaking nata, wani ing Sundha negari, tangtune ika, mangsa liyana maning.

PUPUH IX LADRANG

01

Kawarnaa jeng suputri Purbasari, pareng mulat, ing geni mepes wus lalis, dadi mujungbaheng pagulingan.

02

Ya sang Prabu Ciyungwanara sedhep manggihi, maring ika, Lutungkasarung den angling, ya ki mantu ingkang murba sigar wetan.

03

Menak pra kuwu kapurba sira, kang ngimponi, iku cacangkoking putri, pra watesan bangbayang purbaning anak.

04

Sakarepa angolahi ngadeg narpati arimbitan, ki mantu kalawan rabi, Purbasari la iku ing jodhonira.

05

Lutungkasarung ing sembah ira kapundhi, si jeng rama, pati rang-urange gasik, byantarakaken dhateng ing kawula wadya.

06

Apa kaya adating ngadeg narpati, maha raja, Lutungkasarung muponi, sigar wetan Pajajaran ingkang murba.

07

Menak pra kuwu dupi ingkang ngapti aji, dupi menak, prayangan masih nyungkemi, maring sang prabu sepuh Ciyungwanara.

08

Sang maraja Lutungkasarung winarni, genya ripta, pan nagara anyar dadi, arah wetan pan katelah Pajajaran.

09

Karajaan gumelar punapa kadi, ya para raja, lan jalma ing Pakuaji, wus ora nana paja-pajaning manusa.

10

Ya wus apa dudune mara jabali gene raja, ing Kiskendha duk ing dhingin, ya amangku garwa widadari pelag.

11

Mung siwane Lutungkasarung saiki agagarwa, dereng patut sarasmine, durung becik durung sajejeging akrama.

12

Nanging iku wus sangkep kang bini aji, miwah ingkang, garwa kalingking kang nami, matur dewi marapag selir akatha.

13

Kawandasa sisihing selir kang selir aji, amung iku, prameswari Purbasari, masih elik durung sakastaning krama.

14

Dhudhukune singdhi ora kang nambani ora nana, tatambah kang miyatani, ajar cantrik nusa Jawa pan kalesan.

15

Kalesane ora sanggup anambani prameswara, Purbasari denya elik, maha raja Lutungkasarung asabar.

16

Sabab kapuhung pyambege madeg aji lantarane, saking Dewi Purbasari, ratna iyang jongratna sapa kang gawa.

17

Tan na liyan Lutuingkasarung prayogi putraningkang, panggung kancana asakti, lami-lami sang raja amanggih warta.

18

Ya sang raja Lutung kasarung miyarsa wartyi, pulo lingga, yen ana brahmana sakti, ingkang ana ing lingga ing kasabrangan.

19

Kaya-kaya ika bisa anambani prameswari, namaning brahmana kuwi, kaki brahmana Maniklingga Buwana.

20

Ya ta Prabu Lutungkasarung nimbali patih ira, patih rang-urange pinrih, kang pinutus nabrang maring sang pandhita.

21

Den sawawi ature ajar maniklingga wayang, rawuh aneng Sundha puri, kang sun ajap sun gondhela ingkang usada.

22

Badan tampi rang-urange timbalaning karsa nata, dadya sejanira gasik, sarta Panglima kakalih ingkang binakta.

23

Lalawaran ya iku panglima nami, Ki Lagondhang, kalawan Ki Gumariming, sarta dipun binaktan adhi rurubah.

24

Kang babasan panglalandhep lawan wajani sabaita, isi gula aren jawi, sabaita isi empon-empon jawa.

gegel nata. woten kersane sang aji. 28 Pan wusmedhek ing ngarsane bramana luwih aba saja. ngaturaken pasihan dalem Pakuwan. . 26 Minyak kacang miwah saparahune maning kang sasoca. inggih tuan yen katuran. 29 Pitung prahu kang kaisi warna-warni. boleh Sundha. den kaputus ing sang aji.25 Saparahu isi pucung lan kamiri. sela weweton sing jawi. minyak jarak kalawan minyak kalapa. parahu pitu lumiring. 27 Sigra layar ki patih dhateng jaladri sartanira. dhateng madhigda ing mriki. lan lelemes sewetweton buwat Sundha. ki brahmana Linggabuwana anabda. lalawaran wus teka ing pulo Lingga. sapara umaning isi. 30 Angrawuhi dhumateng Sundha negari inggih ara.

aturena maning ing Sri ing Pakuwan. 33 Aja sumlang ing karsane sri bupati. ing prakara gegele Sri Pajajaran. 32 Iya ika luwih nuhun nanging kangsi iku barang. 36 Ki brahmana sabdane patih ya patih aja kurang. tumindake jengmadigda lan kawula. mapan ingwang.31 Sarta gumujeng asuka rena kang ati aturena. puji pangesthi kang jati. tulung usada kang jati. pracaya kang maring mami. patih rang-urange wus age balika. 35 Patih rang-urange ature ariris bok punapa. pitung prahu gawanen balik. data ana kang bramana iku bobad. isun medhek ing Pakuwan. . pan wis karsa aji. 34 Aja lawan den ruruba iku maning isun seja. sareng ngalempa pribadi.

.PUPUH X PUCUNG 01 Ya sang patih rang-urange sigra wangsul sabaitanira. 03 Ya sang raja aris ing pamuwusipun. sejanipun medhek dhewek. miskin tan ngulati sugiye tan rarawat. kita tumpes ya ika sang bramana lingga. sampun abalik sakabeh. lawan mangsa suwe laku den lalampah. ing rurubaku prantine. den estu pramana. padha kita lurugane. 02 Pan wus katur ing ratu Lutungkasarung. tangtu mangsa bobat gedhe. lalayaran dumugi ing Pajajaran. karsane madigda. nanging lamon bobad. 05 Wis becike anti ratuhipun. lan mangsa gelema. 04 Tangtu jagad pandelenge mung sagandhu. pun bramana sampun ngartos dhateng karsa.

Raden putra inggih ing Bantana warsa. sampun gelar tata. kang angrengga iku saking Pajajaran. karajaan kaprabone. Raden Rangga lanwan Mantri Kethebasa. lanang nama ira. lanang pinangaran. 09 Dupi putra saking bini ajinipun. 11 . Jayakarta alinggih ing rat Jakerta.06 Ya ta lawas bramana pan durung iku rawuhira. ngenten tanpa anten-anten. malah prabu Lutungkasarung wus gawa. dipun prabu sepuh mangke. 08 Linggihan ing Bnaten angarta dhatu. terang layan karsa. 07 Putra saking ikut ika den pilungguh. Raden Mantri Ranggalawe. 10 Pon kalawan lilane sang prabu sepuh. ingkang sarta lulungguhe.

dipun rangkepa patiye. . kang amangku indhahan nang Ujungkulan. kang anama ki Tumenggung Sanggrarungan. 15 Ki Tumenggung Selangkuyit naminipun. lanang kang namane. Sanghyang Resi Luwiluwe. aneng Pajajaran. lanang karya parab. Sanghyang Sancakrit namane. 12 Dupi putra ingkang saking dewi matur. Demang Gogok lempog kalawan kang nama. arja aneng jaba. pan samono lawase kang prameswara. lan roro kang anyar. jirnapura pulung beler.Dupi putra saking maha dewinipun. patih jero patih Burbutjalang. roro tumenggung anyare. kang amengku indhahan nang Ujungkaras. 16 Demang Bangkong sendhong andeling pamuk. 13 Ingkarsane snang prabu Lutungkasarung. kademangan ing namane. 14 Rang-urange kang dadi papatihipun. gumelara kata.

bramana Lingga rawuhe. 22 . barangahan anakake. sang bramana gumujeng atur sandika. idhepena iku paman garwaningwang. he paman bramana. iku bebeg ingwang. ya duk jurung saragane. kaduga manira. 18 Atur makca pangandikane sang prabu. 20 Dupi rabi babaku durung sapundhul.17 Durung becik kelawan Lutungkasarung. 19 Gone elik wis windon takeran tahun. paman bramana tulunge. seja sun pilala. maring Sundha wis den mulya-mulya ika. 21 Pira bae ing mangko wajaninipun. ya kongsiya adhepe nama sang rara. saking rabi liyan kang metoni anak. manira nedha tulunge. nuli tan antara.

. binandhing combana mangke. uninga dhateng raose. kang pakenak teka sinung rasa lara. uning raose pun paman ginawa kawan. lan sang prabu nanginging punika sang rara. tan asusah wajani punapa-punapa. dan sang prabu ngunus dhuhung pan tumandhang. dhumateng walikat. 26 Sigra nudhuk bramana ajaja terus. nuntak ludira maleber. pan tinarik kang dhuhung bramana pejah. gagarwa carapa. bramana cora nalosor.Sampun sumlang bapa prakawis puniku. 23 Mangke sae sacombana lan sang prabu. tegane ta sira. 25 Maharaja Lutungkasarung abendu. dalem tangtu mangke sae. 27 Ingkang layong angucap tegane ratu. prakawising garwa. 24 Aleng pundi tan awor sandeng saumur. sun dhaku mendrassa. pun paman tumuta. ana wong jaluk nrasane.

ambri aja ababacot. ora kaya aluse bramana Lingga. narik kang babathang. 33 . ya tumangen cone dadi awu pisan. sabab dening kumet arep bapa garap. kakeyan bacot si bramana camera. dadi gumaregeten sewot. 29 Yata prabu Lutungkasarung mituhu. maring jaba adhan rame. sirnaken pisan. kurnapa bramana. ya mangsa luntaha. 32 Tan adangu ingkang geni amurub. sabdane babathang.28 Nyata kumed maraja Lutungkasarung. bandhu kula warga agawe tumangan. dadi ratu Sundha kene. 30 Iku padha obomgen babathang iku. 31 Ki patih Brubutjalang tanpa wuruk. wue sirna purna den obong.

35 Ya sang putri Purbasari remen kalangkung. 38 Jember bae rupane deleng iku. Lutungkasarung warnane. ing ati mengkarang. luwih sengit pisan. . 34 Dewi Purbasari sira andulu. ajaja rep sapatemon. maring kakung tan kena pisah sadhela. dadi kakatonen bae. kena ing asmara. teka sejen pisan lagi mulamula. sabadhan sedya wa-awor. maring maha raja. dupi iki teka ati kangen semang. ngrungu bae abane ing ati ewa. mengkorog saking jijithok. guranggame sapatemon. 36 Praciptane gawok temen atinisun. dadi mundhak bagus katone gumawang. saiki kena ngapa. Lutungkasarung dumadya raga asiyan. sumerep sumanira.Manjing garba garwane Lutungkasarung. 37 Poning mau ewo bae atinisun.

02 Kang garwa lumados sampun. carema la pitung dina. angrungrum ing prameswari. dhumateng kang prameswara. ningali kang prameswari. sumulura maring mami. sang raja sigra trangginas. 04 Kinundang putra ajalu. duga nyidham sanga sai. binakta amadhang wulan. mesem manis awe sira. kalangkung ing lelesneki. teka kapareng kang garwa. Purbasari kang pinundhi. dhateng karajaan ingwang.PUPUH XI KINANTHI 01 Warnanen Lutungkasarung. bersih kuning gilang-gilang. tutuging asisiyan. kaduk sang prameswari. 05 . tumulus adhicombani. 03 Wus bobot ing wancinipun. kaya pa adating krami. Lutungkasarung langkung asih.

ing marma tur eman arsi. myarsa swara aruntik. ing sajroning wetengneki. yen kengetan ingkang wngsit. asang prabu ta sireki. . cayane gumilang bening. kang sira dhingin prajaya. anak-anak maring ingwang. emar lesu les-elesan. sinumbele kang prayayi. ingsun males ing sireki. mulane engatna benjing. la bagus suwarnanira. 10 Dhateng jabang bayinipun. kalangkung ing ruhing galih. 08 Pareng semana sang prabu. aja tungkul eman nesip. 07 Sira iku aja tambuh. 06 Mangkana pamuwusipun. iku jabang ora pejah. angaras-aras kang rayi. kalangkung den kumadana. kang rama anyandhak aglis.Sang prabu Lutungkasarung. tanpa kara-kara nuli. tan eca guling adhahar. enggal ngunus pedhangira. ing isun kalimat lewih. iya sun bra … luwih. wau amiyarsa swara. 09 Malah sedheng babar sampun miyos lanang kang prayayi. dinulang upan mandi. nanging besuk yen wis medal. saiki dumama eman. tan antara dangunira.

miyarsa aturing siwi. anjerit lumajeng agasik. 12 Umatur ing ramanipun. ageng santer ilinira. sampun kabekta ing warih. karsa ingayun ing rama. 13 Lumajeng malah ambendhung. ing lepen cilutung sirna. 16 . wus sirna kagawa warih. 15 Sareng wis binuwang sampun. prabu Ciyungwanara aji. sigegen ana ing marga. punika mejani putra. Lutungkasarung alali. pethi winuwang tumuli. kali cilutung ya nyata. Purbasari aningali. matur kula birat kali. kang putra dipun prajaya. kang putra den wasa-wasa. arawuh kang rama neki. nembe siji dipejahi. maring mantu ingkang lali. 14 Dadya winadhahan sampun.11 Prandene tan pasha iku. pon tan kena ing pati. kocap kang mrajaya siwi. sang prabu Ciyungwanara. kalih garwa takon jabang. wis kabekta dhateng warih.

. embaning turun ingwang. egar suka manahira. sampun ngunjung kang ayugi. dewi Purbasari lilir. Purbasari sawunguning. kudu anurut ing eyang. awake kang gadhang niladi. Purbasari aja sira. prabu sepuh ngandika ris.Yata prameswari wau. besuk bias muter nagri. prabu Galuh duk ing dhingin. prabu sepuh ngendika ris. 21 Angunjung kaliyan kakung. Purbasari nibang siti. kasirep lelohing putra. prandekane iya welas. kang gaib luwih ningali. ana ingkang swara jati. melang maring anak siji. 20 Sang cinta tan cidra iku. sang putrid dadak sakala. ing manah wus palipurna. besuk titenana mangkin. 17 Kali iku ing ramanipun. anyuluri bapanira. si jabang mangsa amati. he mantu wruha sira. den pracaya kang murbeng bumi. pon isun binuwang dhingin. papasthene jabang bayi. tangto kena ika dhelap. 19 Kang bunuwang iya iku. 18 Kawarnaa sira sang ayu. sajrone wau kantaka. kang mratuwa den unjungi.

sawadose kula ngalap. kandikane sira nini. mratuwane kang ambabar. karana sabebet kita. 23 Sih jati waraha nuhun. 26 Purbasari nyingkira babu. ing Galuh ora na liyan maning. ya sang prabu Ciyungwanara. den idhep ing pameradning. kang aji pamerdaning. sebab sira ora pacak. sabebet kula Santana. enggal sira anampani. Lutungkasarung aturnya ris. enggal Purbasari memba. ing ilmu pameradaning.22 Rama Galuh dun rumuhun. ki mantu la tampeni. 27 . boten susah angilari. alalise iya merad. maring dalem Kenya puri. ora aliyan panukmaning. pameradan pocapaning. 25 Yata prabu Lutungkasarung. panukmanira lan laki. manjinga ing dalem puri. 24 Angadika prabu sepuh. pungpung saiki purnama. yen dugi ing ajal kula. ing rama prapona benjing.

den openi dening ki Pethesperas. lenyep ilang dat pes ilang. 28 Kadhaton tanpa gon iku. aji pamedaran. gumilang sarira mami. angles-les angluwar ragi. 03 Tukang pethes peres ingkang luluhur. PUPUH XII PUCUNG 01 Prabu Lutungkasarung wus tampi wuruk. purwa saking mratuwane. sukma rasa sukma larang.Wus tanpa Lutungkasarung. jati wisik ingkang yugi. onya ing sukma lewi. sang jabang wus panggih mangke. 02 Pan sinegeg caritane yan sang prabu. sakabeh-kabeh tan kari. kang dhingin binuwang mangke. wus rumanjing kayangan kipethes peras. 04 . ungelling ingkang piwara. kawarna ajabar. gumawang tanpa cantelaning. awor daging awor getih sumarira. oranana ing rat jagat. buhaya bangawan ika.

patut ikut tuturunan ing kusuma. 05 Jabang bayi kangucap abeluk-beluk. esaktemening namane. bocah patut kasurupan. bapa y ailing wang. bias rarasan basane. bocah cilik bias. ngerti dening basane. .Dipun aken anak jabang bayi ikut. duk umur sawulan. pan tembene mung ta iki anake sapa. anak pupone ki tukang. 08 Pan katelah ing desa pethis puniku. dudu bocah salumrahe. 09 Cilik-cilik bias rerasan satuhu. ingga iyang bapak ikut namaning wang. ngerti dening basane wong pathes desa. wis koncara inga iyang ingkang nama. kasungsun arane angger. kaya wong tuwa basane. besuk mengku bala. bapa aranan reki. inggih iyang iku nama wis prayoga. 06 Kaki Pathes peres nembe tumon rungu. 07 Patut iku ana kadadiyanipun.

umreg wong Pakuwon. mung tai ka apa. Lingga hiyang ika. lalayaran pangameng-amenge. paparahon buhaya putih tinungganga. dadi raja suntangguhe. katular-tular wartane. udan angina mudhik milir nunggang buhaya. 15 . silem ilang yen wis sadina rong dina. dening wong nuli gacike. 14 Iya nuli ana maning nyata timbul. tungtu besuk ika. bocah apa setan kene. 11 Lawas-lawas pareng umur tigang tahun.10 Ya putute yen selamet urip tuwu. yakti ika tengeraning andana wirya. 12 Wong kang paca ningali gawok andalu. 13 Nurut bae buhaya sakarsanipun. katur maring sri bupati Pajajaran. den parani ika.

Engandika sang prabu Lutungkasarung. 18 Maring kali Cilutung kapanggih wau. 20 Kula lare tanpa bapa tanpa ibu. kasur bumi mega kemule. buhaya putih tunggangane. 19 Sira bocah cilik saking endi kacung. lola dhiri kula. ki Calancang nama. kaliya ing comas pandhe. dadi sirep kang warta. pan sinawanganing ki empu calangcang. . wedi bok den salah artos. Lingga iyang mangsuli kula punika. lare ingga iyang. 17 kawarnaan ki empu kang namanipun. warta anak setan. 16 Ya gustine pareng nabda semana iku. lagi eca paparahon. sisikune ratu ratu mandi salah dadya. sapa sira kang ayuga. kali bangawan kang nusoni dhateng kula. neng bengawan priyangga. wong ningali padha wedhi sadaya. lagya ngalenthung miminggira nang walahar.

24 Ki Calangcang ngiring wus dumading aku. sun aku anak temene. prapta wismanira. 26 . inggih wasta kula. dika iki olih saking ngendi bocah. padha maring omah ingwang. manggih pinggir kali gedhe. nyata iki tereheng andanawriya. bangkit yen rarasan. datan weruh embok bapaneku bocah. patitis ing wicarane. Lingga iyang ing namine. 25 Lawan iku sapa ingkang duwe sunu.21 Pun buhaya kanga sung tedha puniku. 22 Nembah tumon lare nabda kaya iku. 23 Empun nabda sira sunimponi kacung. ki Kalipa andaringeng manah ira. nyi Calangcang girap gawok. winangsulan enggal. Linggahiyang teka dumulur ing karsa.

ana bocah bias. welas ati sun ajak mulih maringwang. kula purun nalang. abentak lawan sang katong. patut ini dudu bocah samaneya. dipun pracaya si embok. . den tututi wekasane. 30 Ki Calangcang Nyi Calangcang getun-getun. 27 Nyi Calangcang nabda bok den salah tanggu. Linggaiyang ika. Linggaiyang nabda. maring empu Kalipa langkung minulya. 31 Iku bocah ana kada dene besuk. ngaku bapa ngaku embok. 29 Banggi bapa kikukum dening sang prabu. rarasan ingkang samono. tan duwe bok bapa. kasur bumi mega kemule. 28 Toli dika ing sang aji ya di ukum. dhasar enggih musuh kahula ing kuna. dika nemu bocah. inggih kula kang tango bala witanya.Sun takoni wangsulane iya iku. dika dadi den tareka nyolong anak.

iku teka reremane. omah wesi aneng wanadri. wesi lir lempung kewala. la dingo apa iku. aja patiya sugih wani. angrewangi agawe wesi. dumadi kasugiyane. ya si bapa si embok tan wurung dadi. angrebut bapa biyang. dhateng kula ingkal awon. watu ingkang kinarya. jogede kang sunu. wesi ing ngalas genahe. agaweyan kang tahuna. omah wesi nem dina sampun waradin. wani mati kendel wani ambelani. wesi wus brapikul. 03 Ki Calangcang Nyi Calangcang angling. Linggaiyang ora kakurangan. bapak embok sampun tan pracaya. 05 . pun embok tingalana. 04 Linggahiyang wangsulane aris. dadi apa awak ira. saktine sang Linggahiyang. aran wana Cikandhang. kukuh kikib agarba. embok sisikuning raja. jar ai wesi nurut. yen iku karungu. angalasan awangun. mung ta sira kacung gawe omah. gisik bapa sampun uning. karana lare iku. digjabenduning ratu.PUPUH XIII DHANDHANGGULA 01 Nyi Calangcang sajege angimponi. Linggaiyang umur rolas warsa. milu kara baraba. 02 Lawas-lawas kirane andugi. ingkang aran Linggaiyang. pan sinambut palastha sadina becik.

kacung iku dingo apa gawe bale iku. Linggaiyang apunjul. marga anglanggar narpati. 09 Pan sakedhap ki Calangcang ngarti. iku bale ora karuwan maning. lemes kadya tatangsul. mrajaya bramana Lingga. tanpa bayanya lampahi. ya wedi maring nata. 06 Dadi rante anjiret kang linggih. ing siasating nata. nanging yen digelar dadya. Linggaiyang wangun rante tosan. ya iku dhadhak sakala. dingo apa teka sun maras kang ati. tiwas temahipun. tur ta ora sanyatane. mring bapane mau. nititeni apa iki bocah. bale rante bagus. . nanging lamon lininggiyan. ki Calangcang ta ingucap aris. ya ra pon dipun siku. kasuhur ing kasaktene. lan kena dienggoa bebenting. 07 Ya sang prabu Lutungkasarung linuwih. riringganing nagara. jar kasndhung ing arata. sira katiti luput.ora lawas la ika tumuli. seja males puliya. ika sang ratu apa. wong tan dosa mamateni den pateni. nunggang tawa musuh. yaw is aja ilok gawe tanpa tut dadi. sapa wruha bok kadengangan. buktine kakecap menga. ing basane arep males ing sang aji. akeh jalma padha kagawokan. ya kene ginegem ginelar. dhasare ratu Sundha. kadengangan ingkang kula ajap. dening si namanipun. sung sengge iya nyataa. kang adi warna lekere. kula ngilari lalangen. 08 Linggaiyang matur boten sanggi. anaking bramana reko. Linmggaiyang patute iki.

yen tan pejah nalendra. pra mantra acingak. budine lawan anggkohe. sira kang selang gumun. umreging bala agung. mring alun-alun puruge. katingal sanyata bocah. sanyata kethek beruk. sawaneh ingkang angucap. sumantana si tai anjing. kaya cumra si tembe wara. ya rinujak ing wong Pajajaran. nyana sang ratu sumered. 12 Iya sira ngajaraken nangkis. pati-pati manira wani-wani ngaku. andher ingkang aseba. datan kena tinabuh puniki. nakal si gila basa. anabuh adhenggung. ngaku waris nalendra. 11 waktu iku tinabuh den titir. sarta nggegem arante mandira. bedhul sapa kang mrentah. geger samya bala Pajajaran. 14 Wong Pajajaran surake la iki. pan ratu agung ing Paku. ya saking waris manira. sudi wani angunggahi siti inggil.10 Ora suwe Linggaiyang mijil. aje kakeyan tutur rujak gendhen gelis. waspaos andulu. mung ta sira deleng apa. mada dudu ponggawa. atandha sing enda-endi. alun-alun jembar tur radin. mung ta anganti apa. Linggaiyang wus ngangkat. pusakaning Pajajaran. matanira baloloken mataning pring. para mantra datan upaksi. . bubuyute ajur. munggah ing lemah dhuwur. kadeleng apa si monyet. ora idhep ing karta jani. 13 Nitir ganjur pusakaning aji. wis karuwan bocah iki ala. Linggaiyang wangsulane. surak ing wong iki bocah saking endi. pancaniti penuh.

02 . lir nyekel wawadhangan. kapental ora menange. ki patih rang-urange kapental. geger gumuruh kang anan Jawi. sapisan madhuwa raga. ora kena saloro ngarti. la iki timbulipun. demene iku bocah. iya bocah iku.15 Pajajaran kang bala ngebyuki. nyandhak bocah tan kena kenging. puharane dadi majikan. dudu musuh iku. dening sang Linggaiyang. angliga dhuhung Linggaiyang den suduk. 17 La yen isun iki sun pikiri. akeh kang para ponggawa. 16 Saya dangu saya angranohi. angluwihi nagara. kang dhingin denkaropoke. PUPUH XIV PANGKUR 01 Dupi sang nata miyarsa. bokmanawane kuhana. sang prabu Lutungkasarung. kaprimen den wis tanggal. dadi roro den pindhoni. sawaneh para sepuh. ibur lir pinusus. dadi padha sap maju. kang malesat dening padha densepaki. ingkang padha awangun piker. ya kaprimen den wis metu budine ngancil. gagamane wus padha malesat. bok iku susupaning bramana. sigra amiyos enggal. den titening talata. pada arontok sakabehe. ya batur dhengawas aja saloro ngarti.

aneng bale rinengku ya pinikul. 03 Rinejeng tanpa wisesa. sulurana lungguh isun. ing kali cibayabang. ing Cikundhang goning omah wesi mau. buang jabang aneng banyu. iya isun eling pisan. 04 Basane lare akathah. Lutungkasarung wus lungguh. pining pat panyudukipun. prabu Lutungkasarung wansulanipun. kedya wong den panjara tan bias mijil. pa wus dadi akeh enggal ngarubut. pan si bapa uwis seja sumingkir. sang prabu ngebyuki padha. . 06 Para ponggawa Pakuwan. Prabu Lutungkasarung yata aja tambuh. 05 Iku ing sakarep ira. lininggihaken ing rante wesi. tan bias polah kawingkis. sapuruge gustinipun. dadi bocah nembelas. Lutungkasarung pinarna. suraksurak ing sapanjanging dalam gung. ing rante tanpa sesa. dening lare kanembelas. telu kena ing saiki. ya iki pamales ira. den bakta maring alas.Sinuduk pan dadi papat. braise kalaras aking. bramana Lingga duk wingis. anggotong kang babaleyan. gumurudug iku padha tut wingking. la ya kita jaya. yata lare pra samya. ya sang prabu Lutungkasarung lali. 07 Wus pinutup tanpa sesa. pining telu dadi wolu sayakti. lare nembelas surak kasruh. den babayang den suraki. wonten ing pagriyan wesi.

ya sang prabu Ciyungwanara puniku. Purbasari wus ing kana. andaringen ningali pohal-pahil. karsa medhek ingkang eyang. 11 Bale rante bus malesat. padha ngiyung ing Linggaiyang ngapti. dupi manira pejah.08 Yata mantra Pajajaran. sang prabu Lutungkasarung. 09 Ing bocah iku kang nyata. wuryataning akuna. mesate ing jomantara. hadan Prabu Lutungkasarung amuwus. lawan patinisun benjing. prayoga gaganti isun. mulih maring ajala kasuciyan isun. ing ayunan rama aji. ing bocah nembelas iku. wus mangkana lare nembelas pun wau. samatuke saking ngriku. wusing nabda samana adanuli. anak isun sing rayi Purbasari. mereh kadya wanara. tiba bumi mila den arani. dening bapa ing laksana. den idhep angaku gusti. 12 Kulawarga Pajajaran. wus polih dadi sajuga. agadhaton tanpa genah. kadi duk wau tumuli. Balerante iya iku. musna ilang tan ing ngaksi. 10 Ana ing dina wekasan. amengkorog sarta mealakken buntut. 13 . he wong Pajajaran sira.

sanak medhoke sang aji. katumenggung Jatipamor sakti. . ing istrenan sampun sira ngadeg ratu. ya tai ka kang liningan. anakira Linggaiyang iki. sinauran dening jagad. papatihe winastan. istrinana dumadiya susuluring. Linggaiyang binakta mantuk dening. Kyai Patih sempokwaja parab ipun. Linggaiyang Sinarojang Bupati. Dewi Purbasari agung. lan Ki Dalem Tegaljamang. Ki Ngabehi Kolotbuntut asakti. 17 Ratu anyar Pajajaran. bapane ingkang wus lampus. prabu sepuh Ciyungwanara angling. 18 Lan Ki Demang Dhungkabadhag. kang dhingin dibuwang ngebur. 15 Maring iku anak ira. 16 Samantuke saking kana. Lutungkasarung anuruni rama Galuh. wong sanak singraja Galuh. merade saking panjara. jeneng prabu Linggaiyang. geter pater ketug muni. la ta bener ujar isun. Sindhangkasih nama dalem Somaluhur. ingbangawan ya ika. bandhu warga kawula iku. amurba Sundha negari. 14 Purbasari lan momonga. sing bangdiwenka apa. sami atur sembah sadaya sumuhun. ajujuluk Somahita. anake kang mikarani. den becik sira ngopeni. wus prapta pura Pakuwan. katemu maning denira. saikine sabetahan ya tinemu.Wus kempal amatepungun.

23 Selir kidang lan majangan. padha babar pisan pejah. taliti turunan aji. gih manjangan gumarang sing naminipun. amedal pamore mandi. pan sakehing istri sisiriha maju. ana ingkang kasebat. kacarita ora jengjem mengku rabi. parandene yen kacebak nuli mati. sing awadon kang karungrum. pramila ika sang prabu. PUPUH XV . ya babar pisan pejah. taliti purba wisesa.19 Ya sang Prabu linggaiyang. besuk ana katela ingkang nami. 21 Kapokoh pinaksa-paksa. kang den wangking angemasi. 20 Dadya pirang-pirang garwa. saking kono ruru ira. kang katelah sesebatan. wados ginawa sarasmi. wedi yen den rabenana. prayayi kang katurun. waris Yang Sundha negari. mulane nuli nedhaki. akathah selir kawangking angemasi. kidang manjangan den jamah. kang prayayi kang turun kidang pananjung. kang den wangking ingalulut. kang tumurunita besuk. kaya keris landhep pisan. katarajang Dakar waja landhepipun. ora mati kaduga ana titis. 22 Kidang manjangan kang nyangga. La yen santek esir nora pilih lawuh. Linggaiyang dumadya.

Purbasari tumon putra. ika Dewi Brajawati. marawani saking atose kang baga. angandika ingkang siwi. katalihatma mokal tan pasrah. kawagang ing sarasmi. sacombana lawan ika. ki bramana tali atma. robbana lan panglamar. patut den ika dadiya. 05 . pitutur kang sajati. rabine si Lingga aji. mung ana wara gatra. kandikane isun rungu. dadya tandha rabi. nuli ana jati wisik. Linggaiyang jalma wudhu. ing pulo gunung surandhil. iku duwe anak wadon kang anama. datan jamak lawan jalmi. kang eyang Ciyungwanara. bagane wesi atutup. coba ta sungsungen iku. 04 Duginipun ora liyan. tan ana musuhira. kasulur tan ana bangkit. jar padha wesineki.SINOM 01 Iya iku kang dumadya tan sakeca ing sang dewi. acombana istrine nuli apejah. 03 Namane ingkang sinebat. among Linggaiyang sayakti. 02 Mangkana lawan mangkana. la iku gawanen rabi. karana Brajawati. ing anguling ing sarasmi.

sang prabu Linggaiyang. tan kawarna layare aneng sagara. 06 Ingkang sami kesah ika. wus ana ngayunan.Ya ta prabu Pajajaran. Danyang Brajangkawat. barang saking Sundha katur. 09 Bramana aris wacana. sarta ngesrahken adi. nata sundha nayangger mung gamulunga. derenguning tata Jawi. Patih Sempokwaja wau. Jatipamor apa maning. sarma bakta palwa sapta. 10 . Dewi Brajawati kang dinuking karsa. Ki Ngabehi Kolotbuntit. meng sampun kirang pamuhung. ki demang Wukubadhak ingkang sami layer. ponggawa kang den titi. sedhah panglamaring ratu. kang isi panglamar aji. 08 Lamarane wus katampan. ki bramana taliatma. katur ing sakarsa aji. nayangger Pajajaran. kali ira ingkang siwi. 07 Kocapa sadhatengira. lare istri badhigal. maring bramana ana ing gunung surandhil. karsane aminta krami. ruruba saking Jawi. dhuta raja ing Pakuwan. sukane ingkang nanamu. ingkang pra menak prapti. ing pulo gunung surandhil. ing pulo gunung Surandhil. pinanggih bramana aji. sinuba ing Linggi. ing mana suka arena. denira bramana luwih. kalawan katumenggungan. duta maring kasabrangan. mangke karya angimponi. pecile tiyang dherwis. Linggaiyang sampun niti.

dados wudhu ing Sundha den antuk wiring. mung wonten melang sakedhik. wewesen sarananipun bilih sang nata Sundha. 13 Malak mandar darbe tedhak. ingkang nama talibarata. ya ta bramana tali. ana kang sudi santosa. 11 Den sampun kula petak. sukane adhinira. ngumbara ing karsanipun. Prabu Linggaiyang sami. sebab ika sakalih. adhinira Brajawati. jaler Dangyang Talibarat. tan mudhun-mudhun ing siti. jaler Dangyang Parwatali. angantos kadange malih. pun adhi Brajawati. Dangyang Brajakawat nabda.Lan malih mangke sakedhap. mange boten miyatani. karana pidhanget kula. tangtu punika sakalih. putra sakalih ngastuti. boten amindhoni malih pramilane angupaya tandhangira. ya subagja adhi sinarwehing nata. sakalih nulya tumurun. sigra petak tumuli. sami tedhak ing ngawiyat. . mangsa ngijira sang aji. pinten-pinten selir lampus. ingkang pejah dinahar. Prabu Linggaiyang mangkin. den saingga wonten damel kula petak. sakarone wus. anglalana ing tawan. sarananipun wesi. 14 Dhayang parwatali nabda. amangku sundha nagari. 12 Sukaliye pinuturan. minggah ngayunan rama. Pajajaran maringi sedhah panglamar amundhut. lan kang nama Prawatali.

15 Dhayang Talibarat nabda. kahula liwarsa demi. kalawan sang Talibarat. 18 Brajawati wus pinuja. kang angeteraken rayi. Parwatali namanipun. dening kadang kakalih. 16 Ya ta DEWI Braja rara. kahula amdherek maring. aneng nagri Sundha ingarsa sang nata. 19 Kering marang sang potusan. kranten dede lare alit. angsal putrining bramana. putri Sundha negari. bokmanawi mangke sigug. dados kita kesseman. re kang putra sumandha. Brajawati lalayaran maring Sundha. ing ratu Sundha negari. kedah tinaros kentasa. atawa ing tan purun. den piyambeke kinarsa. genya layar enggal prapti. awon penes panitihing. saking Sundha angsal kardi. sing pulo gunung surandhil. ing parahu kang den apti. ya ta bramana Tali. boten dados basa jadra ponsasmata. ing jati dipun dandosi. tan kaping kalih adhi. punika ingkang nglakoni. sakarsane andherek dhateng jeng rama. sarananing katewangan. kalangkung ing rena ipun. dadya turun rena ngaturaken putra. 17 Kahula darma lumampah. ing manah kalangkung sukur. . Brajawati aturnya. paran ati lumiring. ing karsane rama yugi. punika sampun tinari. wongtuwa datan pejah. giyak-giyak anembang. ing wedra kirang panari.

parandene den esiri. rena karawuhan putri. 02 Bobot angsal pitung tangsul. malah sampung Brajawati. daginge benyo ayiyid. dening Linggaiyang dadi. pinangan dening manusa. 03 Kapengen adhahar kunyuk. kadi sutaning bramana. dharahe den palothoti. kadut den kocok kaduga. ora den sembelih maning. 04 Kulite deng masih wulu.PUPUH XVI KINANTHI 01 Sang prabu Linggaiyang langkung. ora lawan minatengan. lanang wesi wadon wesi. den enggo embut-tembutan. oliye alaki rabi. 05 . kunyuk mati den tonyoi. salamine anggar binim pepengene warna-warna. mulane arjaning krama. kang ora jamak dening. wus angrasa katimbangan. mangkana den kadengngangan. mung den panjingaken dening.

den tutulaken ing petis. cicindhil kang masih abrit. 07 Lami-lami ning tumuwus. tengtu lelet den patheni. ing cacing urip-uripan. pepengene sajen maning. Brajawali enggal dadi. kang sengit dumadi welas. atumon ipene runtik. iya timbul sengit maning. . mring nata girig sengit. ora kaya Parwatali. pepengen ing dhaharan. sing awang-awang tumuli. kang sengit babalik asih. dumadi kanggep alaki. mangkana yen kadengangan. ningali dhateng kang rayi. 10 Tan kaya yen wus tumurun. den dhahar urip-eripan. dhumateng sang Braja rara. angusp bathuking kadang. ora kaya Braja rara. Brajawati sajen maning. Talibarat ngusap muka.Sedhot hawa manah ipun. teka eman teka sih. 08 Den kadengangan sang prabu. 09 Lami-lamining tumuwuh. 06 Anulya sigra tumurun. Talibarat Parwatali. kumokod babalan pisan. kang ngemong kadang kakalih. kang ngusap ing bathuk ira. Parwatali Talibarat. kang mungga kirig ika dadi.

maring karajaan Sundha. 12 Re kang putra wau lampus. dening parecel kumaki. lawan ora arju margi. 15 Mengko uga tanggu isun. duduta beyating jalmi. pasthine ya sinangkasal. Suhunan Panggungkancana. aja dumeh anduluri. Lutungkasarung kalindih. 13 Pira wareke wong munggu. angrumpak turus abecik. ana kang dadi kulilip. mangsa lawas angartoni. nagning ora arju margi. pangganggo asu griwani. iku kang Lokambadhigal. ora nama liyan maning.11 Lami-lamining tumuwuh. darbe manah tulak serik. kaya ta beyating jalmi ditya. nandhang sekeling wong tuwa. 16 . godhog rontok rug-rug wit. ing sirrane kang yuga. mapan den mepes kang yuga. wani wong tuwa si setan. apa layak anyuluri. 14 Ari iku sawat-sawud. dening Prabu Linggaiyang. ora sabar angenteni.

di akon nganggo wajani. ngejer ana ing gegana. ana kang ngarani teja.Anduluri sota iku. 19 Nah kala napsune metu. binatang si tai olih. ya ika bramana kaparat. nyingkiri wirang lan isin. waneh ngarani kamangmang. wong Pajajaran pra samya. kaya latune ing lintang. katone ing wektu bengi. 18 Teka anuli den jaluk. tumon nambakaken rabi. wong tuwa kendhang sangaja. parek maring sulaksana. . kapokok broktak dening. kang lagi penyakit elik. 20 Mung ta apa murub iku. samono lagi ngalahi. 17 Wondene Lutungkasarung. kaget ketembe ningali. anak lagi duwe pejah. la iku lebune apa. ana nengge lintang ngalih. kanggo surup nganggo kedhing. sutejane wong abecik. bramana Linggabuwana. ika dadi banaspati. malang-miling saban bengi. ngambingngambing rabi mula. deningan sinaban bengi. 21 Waneh angrebut kang dudu. semaune amateni. ora paido wong lagi. ana nyana tapak angin.

nelasaken agiyak-giyak. angideri tataman. purnama sajroning putri. patelesan cindhe jenar. 27 . yen tanggal pisan apantang. yen purnama tilar guling. datan bengi sawatawis. waneh ingkang makidungan. Linggaiyang sami didis. 23 Kalih garwa ingkang wau. anggending jala wekunyit. yen tengange lawan pajar. lawase wis sangang dina. pareng wengine tumuli. rembesa angulinting. apantang barang den bukti. 24 Ameng-ameng ing lalangun. 25 Sabab agamaning Galuh. ing pancuran sanga sami. yen combana lan istri. 26 Sadangune ing dalu.22 Parek ing lintang kemukus. sang aji atilar guling. para bibi para inya. murnama dening ring-ring. kesel sira ganti siram. siweg bobot madhang sasi. anyarengi sri narendra. kalangkung ing suka ati.

28 Wong dalem geger gumuruh. estrenana madeg nata. tarimane ati nira. mung siwewetengan ira. kudu mung samono sira. kagete kelangan laki. 03 Aja sira gawe ati. sira momonga anak. Linggaiyang sirna lalis. ingkang gedhe pangrekdane. wuwusen lamonika. tangise kelangan gusti. mangksa dadiya sangsayane. den samber sinawa musna. dhumateng jongging sawargi. lalayad wusa ing waya. tema warna banaspati. kantaka ping nem sadela. 02 Jodho lawan putu mami. gapuh aris kandikane. wus papasthene Yang Agung. 04 . iku kang mangko gadhang. susulure ramanipun. sasirnane lakinira.Kang murup-murup sing dhuwur. awak ira wuseng arja. awit suka teka dhuka. Brajawati karuna jrit. namber lir kilat sayuta. PUPUH XVII ASMARANDANA 01 Prabu sepuh atitilik. salamet besuk yen metu. e-putuku Braja rara. den salamet urip delap.

Parwatali aja gape. embok ana bala wita. kaponakane yen metu. ya Talibarat matur sandika ing karsa nata. seja denjaragan sirna. atos kabina-bina. kawasa sira murbaa.Ing sacangkoke sudarmi. banaspati kang manglawe. saking awang-awang nembah. 05 Talibarat Parwatali. yuganira tahunan. ana melang lara busung. dadak sakala turune. 08 Dhudhukun ana anambani. seja ika nyambera. maring Brajawati wau. 06 Talibarat den abecik. kadika Ciyungwanara. jaga kaponakan nira. ana maning duracara. ana nyempad nyata jabang. isun pracaya ing sira. wewetengane si rara. ora kajamak lan jalma. ana nyempad banget kelang. lan ika sadulur ira. ing jero garba punika. dening si goronjolane. pinarcaya sira gupuh. 09 Ya ta lamining lami. tumiling ing awang-awang. ing ngarsane sang nata. iku padha den kareksa. loro becik jagaa. nyata ika lamon watu. 07 Ya ta lami-lami. sawane atur usada. . Brajawati dening sejen. apa lakinira bae. duk lagi ingucap teka.

Brajawati nulya babar. salinggihe Braja rara. ana ing rat Pasundhan. bales pati konangan. anulak ing bala wita. 14 Nanging ika obah mosik. angreh Sundha sigar wetan. karta buwana ira. den tulak padha kawur.10 Ora kaya Purwatali. menak pra kuwu sumembah. ana jabang tan jamak. prayayine dudu bocah. baleger lir gandhik bae. 12 Wus kadi raja pawestri. galang-geleng ing tatampa. 11 Braja rara estu kapti. Talibarat kang anjaga. waktu nata Linggaiyang. kalangkung ya ing jagane. ora jamak ing rupane. kalihira Talibarat. rupane ika kadya. enggal rawuh prabu sepuh. galundhung lir gandhik watu. 13 Mangka dhateng waktuneki. sirna bala wita kabeh. maraja Ciyungwanara. ora asipat ing jalma. Parwatali Talibarat. kaumban roro sadulur. tan ana amaling kecu. apa ingsun cacangkoke. tanama wani pareke. geger ing wong dalem pura. 15 .

la iki nuli kaprimen. wong anak-anak bok apa. aja anerus simpangan. ambrih dadi manusa. 17 La coba undangan gelis. . dohena gungsu minggaha. ana urip tanpa rupa. manawi wus nemu luwang. ing mangko dadi susulur. kamapmaja kamaptulus. iki jenenge apa. tan kawarna ing lampahe. sudi gawe anak Sundha. kang bener aja sarar. sang kama-kama dadya. ningali jabang lir watu. sugih reka pandaya. 16 Kapremen dayane iki. dening iku buyut ingwang. ora guna ora gawe. ika wong tuwa manawa. 18 Sigra mangkat angaturi. 20 Luluhur ingkang mayungi. kipya-kipyahe nyi indhang.Aningali jabang bayi. ana obah ora swara. gumaluntung kaya watu. ora endhas ora tangan. ora kajamak rupane. ruruhe marga benere. Gunung Sakati watune. si Indhang Sakati ika. akocap sapraptanira. 19 Gulundhung wis apa gandhik. ting-banting aja na wuruk. jeng Nyai Sukati indhang. girap-girap sabdanira. nuli kapara mentala. iku kang wus ora nana. iku embok nyai indhang. maring kang mengkono iku. pingnangeran ing jawata.

wis kajamak lawan uwong. jebol katingal endhase. jebol metu kang tangan. nuwang prabu Ciyungwanara. atos-atos pra semone. si kacung munggwaya delap. si Linggawesi namane. kanggo nunute si buyut. anurut ing kaki buyut. ing jabang kang kadi tosan. ana ing jagat Pasundhan. nuli kinetab kang pada. wusing kadi mangkana. kamrala isi jabang. 25 Sadaya suka ing ati. Indhang Sukati ngandika. ambridelap agesang. si buyut kang gawe aran. sampun kaya manusa. jabang bayi nangis ira. maring Dewi Brajawati. PUPUH XVIII . den kakacakaken gupuh. 24 Den saiki sun arani. ambabar punang paesan. kalangkung sukanira. ningali kang kaya wau.21 Nuli nyi Indhang Sukati. kinacekaken age. nuli sinembur den irag. kuranggeyan nyawuk-nyawuk. nurut jalma dadi jalma. sapurna wus sipat jalma. 22 Sakedhap nuli anjerit. Brajawati tumon ing putri. 23 Jebol dadi metu sikil.

tangtu ical ruru. krana iku wong. si kacung den eling. asal sing kono anane. sandenge tumuwuh. panduman salamet benjing. kang paring kamarin. tuwin ngilo banyu. iya kacung kon pantang sandenge. 03 Pan mulane pantang ngilo carmin. poma-poma nini aja aweh.MIJIL 01 Indhang Sukati awewekas jati. kakaca angilo. mula ja den kakacani. dadi braja aris wangsulane. 05 Tedhakane kacung Linggawesi. poma den angartos. ora kena ngilo dhiri. dupi ika saking pun nyai. . saprakawis nuhun. 02 Ya pacuwan ilok akakaca dhiri. galang gulung wikan jenenge. saking kaca timbole dadi. boten dados ewong. tuwin ngilo caremin. inggih kasuhun ing sihe nyai. embok pulih watu. yen tan ana nyai. 04 Pulih watu lebar ingkang jati. maring sang dewi reko.

prakara samono. ing basa basuki jalma kabeh. 09 Pan binakta munggah sitinggil. dening sang prabu. iki jabang wus sun istreni.06 Inggih minanten langgeng pakeling. pun kacung kapenging. miwah ta ing benjing. 07 Kula emutaken tan ing benjing. den sampuna angartos. datan wande kula wanti-wanti. den embang tumuli. akaca ing besuk. ing saweweling ing nyai sakabeh. 10 Prabu Ciyungwanara sru angling. prayayine den baraseni. Prabu Ciyungwanara langkung sukane. sinowara gelis. 08 Ya tan Indhang Sukati wus pamit. kang sumeja kula ati-ati. lan kadhingdhang saruni salompret. pun kacung aemut. ginrabeg kabrabon. nyuluri kang lampus. la iki dengartos. 11 . pinajengan agung. kantun prabu kolot. kawula menak pra kuwu sakabeh. calapitaka lawan suling. angadeg narpati.

Parwatali Talibarat mangko. kaya mau-mau. enggal murud sami. ora liyan ingkang patut molek.Pan sinebut Prabu Linggawesi. 13 Nelakaken prayayi sartaning. angandika reka. 16 Prabu jabang si Linggawesi. enggonira jaga ngati-ati. pan gurumu samya matur inggih. prabu sepuh mantuk. ing Sundha sang katong. sarta den sauri. 14 Kaponakan aja sira cenger ngarsi. Parwatali Talibarat. mung sira sakalih. atur sembah ing sandika ugi. la sira sakaro. 12 Geledhuging gurbaning ukir. aja gampangaken salir gawe. Linggawesi ing mangke ingistren. ingkang luwih patut. kang kalawan angati-ati. arumaksa maring jabang bayi. ngadeg ratu sing jabang bayi. 15 Sapa wruha nyamber jabang bayi. kang babasan embok. . ing ketuk anglugur. den becik atunggu. malebet ing kadhatun. ya ta ika karo. kakseni den mangko. maring si kacung aji. embok banaspati. ya pragul menak sakabeh. anulya sang aji.

ingiling den tonton. diwegira mangko. kocap sang katong. pareng tangiya iku nuli. wong jro pura agawok atine. iya padha den sirik sakabeh. sarta lamon ing mangsa ing wengi. dipun ingok-ingok. prabu jabang ing salami-lamine. (?) kalekanipun. Talibarat lan Parwatali. ing tobong den susul. ingkang manjing tobong. dening iki majikan cilik. 19 Pan bagane dipun rogohi. den rengkot den rangkul. darbe manah berag ing pawestri. yen waktu nyarengi. dadi enggo dodolan duwena. ingkang ngaubi maring. 18 Prabu jabang ya sang Linggawesi. patute wus esir.17 Mring daleme wus acakapti. 20 Dening ora kaliwat sawiji. maring wadon iku. 22 . sing aistri manjing. 21 Den wiyak kapati den grayangi. ora dhing-dhing kelir. umur tigang tahun jejege. wadon padha turu.

pira-pira puluh. kang wis sarwa gamoling kapti. parandene prabu Linggawesi. ratu Brajawati age. kadya lintang gumelar aneng. langit warna ing para selir. 25 Kadya sekara sataman kang asri. burat ganda arum. kang cilik kang becik. tandhinge pawestri. mangkana sang aji. 24 Den go selir ingkang putra aji. suk ing karsanipun. ing watara umur. sinijang abrit sakabeh. tan karsa nyangkrami. istri cilik iku. langkung den gegembyong. den pantha-pantha adi warnane. 26 Nelung tahun istri becik-becik. wus pating pancorong. kang putra samono. 23 Ya pinangrengkangi budi teni. kang mragaga dedege gedhe. den embani sinureni. dipun wiwidahi. kang ati sumonggon. iya sida kuwel pareng karasmen.Den arasi den pareng ing istri. saoli-olihing cilik. 27 Karanane ingkang wus bibit. wis gopek sakrangulu. warna-warni katon. kang dhenok kang sempwo. . memetheti ingkang para istri. ingkang cilik-cilik.

PUPUH XIX MEGATRUH 01 Indhang Sukati awewekas jati. prabu sepuh angrawuhi. 03 Pirang-pirang selir kang adhenok cangking. kang wus marga kabecik. Ciyungwanara ndulu. 04 Teka wayah babar sakapitunipun. malah agung ingkang sami. 05 Padha bae gedhene lare pipitu. kaya adhine puniku. . kaya adhine kemawon. jabang pitu abecik. bobot ana pitu wadon. canggah pitu bungahi ati. teka ing karemenipun. kang gamol gandhes acemol. maring kang gedhe kang uwis. dadi kaya dudu siwi. ya ta ingkang ibu nuli. tumingal maring kang siwi. methet ingkang sepuh-sepuh. rasti kang pirang-pirang puluh. warnane rampak yen tinon. 02 Ya pondhodhang dhadhinge masih sepanudu. bandhot menthonge ambewok.

pipitune sun arani. karanane sira durung. den kaya sadulur medhok. la iki ya canggah isun. iku sawijine maning. Ciyungwanara ling aris. sakapitune ing benjing. 08 Kang sijine Linggapakuwan jenengipun. 11 . 07 Lanang kabeh ing sapitunipun. Linggasri namining wong. 10 Linggawesi ngundanga adhi maring iku. ya si Linggawewi iku. rong prakarane dha rapon. dudu kaya kang siwi. pantes mangko anganaki. si Linggabuwana katon. Linggasana naminipun. 09 Linggaerang Linggamurti Linggarayu. lawan sawijine maning.06 Kaya adhine si Lingga iku. kon ngudang kakang la iku. ya maring si Linggawesi. maring kapipitu iki. mutrani pipitu reko.

sandika ing titah aji. ing para selir kang ngapti. 14 Prabu Ciyungwanara sampun amurud. nalendrane sagegethik. 16 Ingkang mobyong kang empuk panggarapipun. lumampah idhin sang katong. menanten uga kadulur. iya sate masih timur.Delap ika anak ira kang pipitu. aduwe anak pipitu. 13 Parwatali Talibarat aturipun. kang cepol angaca piring. kanggo gegerebeg ngunggu. bari rampak gumariwis. kocap sang Linggawesi. kang aputih kang akuning. ana ta wong masih cilik. ya ikut kang raket ngayun. turanta anak sajatos. ratu ginotama mangko. 15 Yen wis linggih ing korsi gadhing rinubung. kang nyenyokar melok-melok. selire abentrok-bentrok. naging pangertose kadi. kang padaha adhunuk-dhunuk. 12 Aeng temen inglalakon ira iku. bala sadulur kumaritig. angraksa tedhakan aji. . gumredeg lir anak enthok. lumayan rempeging urip.

angrambaka bokongipun. kabelani pundha iku. 19 Prabu Linggawesi jengger tuwuhipun. ing Pajajaran muponi. 21 Lan tumenggung Sukabeling naminipun. 20 Ya gul menak asribawat samya riyung. padha anjum sila panor. ora nana liyan maning. sinaroja ing bupati. wani mati solot-pogot. malih kapatiyan nami.17 Lan kang padha anggemeng kombalanipun. 22 . karsa kang para samono. wadon irengireng manis. ingkang bobokong anggeyol. 18 Prabu lare Linggawesi masih timur. Prabu Linggawesi mangun. bang wetan salir kumilip. asale saking Keling. andel-andel Pakuaji. Kiyan Patih Bandhungkrayo. bangsaning koja guludhung. wus tuwukan sagunging. sagunge menak pra kuwu. karemane ingkang uwis.

angungsen kidang apaul. sing kidul sing elor. . gurnata garungune bedhil. ting sariwik nganan ngering. 23 Kang tut wuntat ing sang nata ngalor ngidul. abandring cohok. 27 Yen wus tutug abuburu aneng luwung. padha retak anguneni. iyang-iyung kanthi wiri. ana amengameng gathik.Ki Demang Alurkoneng kang pinangka dipun. Menak Podhang Ujungberung. 26 Alok buron kaburu-buru alaju. ameng-ameng maring luwung. 24 Ngayok alas arame surak gumuruh. paburuhe bangkit-bangkit. lan Ngabehi Tegalbibis. waneh kang padha nalosob. wetan kulon ting careluk. sadaya ambedhak sami. ting barisat sami lari. ana panggalan agacon. laradan alayu-layu. nuli padha ganti ulin. amandhikudhing jamparing. pecat tandha adhir-adhir. kang lebda karya ing kono. 25 Pan tawura swaraning gutuk puniku. nuli samya ngundha manuk. ana pingkal salih angrok. cala bangir kang pada lok.

sabagi-bagiha ulin. tan adangu tumuli. kang seja den samberi. 29 Rog-rogan ting bilulung ngalor ngidul. pating kurenyang. kagandheng anjok ing bumi. PUPUH XX MIJIL 01 Sedangune suka-sukawan tu bocah. sakehe banaspati. 02 Milang-miling kumrab ana ing tawang. sakabeh pan kena. ing gagana galak. dodolan raraton umyung. padha tinangsulan. ana pingkal silih angrok. ageger ing tawang. sapraptanira. kadi ulung babahak.28 Ora suwe jajangkungan ngalor ngidul. kang sadya anyamber pitik. begog anjog langunipun. sumyak amobat-mabit. Parwatali akali. tan antara ika. pating jalegir ing bumi. . 03 Talibarat amapang ing awang-awang. ana wowolu dhustha. nuli areyog asrih. ora suwe asukati. banaspati ngarah aji. tan suwe ujungan kang wong. gumuruh pating jalerit.

ing wengi suk awana. marakbak kadi geni. eluhe wisa. kalangkung sukaning ati. lambe kandel malenthing. mana sabendhe mundelik.04 Samya tinonton dening wong sadalem pura. ing witing pakujajar. lan kinepokan. amawi den suraki. raining kamang-mang. aeng temen sun tingali. dadi ingoningonaning. de go dodolan pranti. sikile nungsang ming nginggil. 08 Sawengi-wengi tuwin sadina-dina. asuka-suka. rambut maudag. ilate amedal. sang prabu Linggawesi. ing ameng-amengan. nata Pakuwan. dodolan kamang-mang. 05 Untunya ngisis baris sakampak-kampak. ambebeda banaspati. 07 Ting burangkang aneng witing pakujajar. sang Prabu Linggawesi. awake kaya buta. mobyong-mobyong lir geni. padha cinancangan. wowolu banaspati. rame-rame ingkang sami. 09 . amelet anggigila. 06 Iler yiyid murub la ika padha. sarta wong dalem pura.

kokalan ing druhaka. lan Talibarat. den pakan lawan daging. 13 Maring iku adat purba Pajajaran. jengandika cang-cang. meraja Banaspati. suliha tedhak. den pakakaken belis. kapareng lamining lami. kang ukum pejah. daging buron alas. he madigda Parwatali. munggah suka akasmi. mangkana ya ika. 12 Rencang kula wowolu kang dika cang-cang. saparti ngingu macan. reh ipun sampun lami. den go ambuwang jalmi. lan ta ana jalmi. kang muga-muga. pala karta Pajajaran. den pakakaken belis. den go ambuwang jalmi. kapanggih sira aglis. mangkana ya ika.Banaspati lamine den ingu delap. 14 . sedheng dipun apunteni. 10 Maring iku adat purba Pajajaran. pala karta Pajajaran. meraja Banaspati. suliha tedhak. kang ukum pejah. endhas kang sira ngusap. kaparing lamining lami. 11 Sadya nira angrebat ing rewangira. kabeh dipun uculi. lawan Talibarat.

endhas kang sira ngusap. saksining seja pati. tedhak Pajajaran. lawan Talibarat. lawan sumpah kang candri. sok nang gunung sok nang pasir. 18 Pasthi iku banaspati iku jaga. reh ipun sampun lami. tan genah wani-wani.Sadya nira angrebat ing rewangira. munggah suka akasmi. wani-wani gaweya. kapanggih sira aglis. kemit maring sang aji. ungseden maningala. balikan kudu jaga. kabeh dipun uculi. . jengandika cang-cang. Ika kang sinambangan. kang muga-muga. 16 Gih sumangga kabeh padha sarat tobat. 17 Pan sejane banaspati satedhaira. rantenen pakarsa ngolahi. 15 Rencang kula wowolu kang dika cang-cang. lan sanadyana. ing duriyat Pakuaji. ingkang kadi wingi uning. duriyat Pajajaran. sedheng dipun apunteni. kang babasan aja. kokalan ing druhaka. ingkang anak putu aji. lan Talibarat. he madigda Parwatali. ing ngendi prana. kula kang dadya. den pajahana mangkin. kamang-mang jaga. dumadak lirwa jangji. 19 Tan pracaya sumangga atetep jaga. turuna Linggawesi.

prajangjinira. maring raja endhas bang. kang pangawula. Yang Maraja Banaspati. anguripi ing wewering. kang wolu banaspati.20 Kula boten lajeng nanggel kang acidra. 21 Ya ta sira Parwatali seja marma. seja apracaya. suwawona ing tetelar. nembah dhateng sang nata. ngaturaken ingkang abdi. Talibarat pon ugi. nangi kita padha. banaspati padha. 23 Iku dhateng banaspati wolu sigra. yen mangke cidraa. den culaken tumuli. nguwel-tuwel kadi geni. cat katong dening jalmi. rumaksaa ing jeng gusti. dingge punapa. banaspati wolu sami. 22 Parwatali Talibarat ing sabdanira. manecat ilang. gubug sawahan. mejahi babu pribadi. yen mangkono ya becik. kula dhewek kang tandang. kang kakayon ana hing. 24 Pramilane Pajajaran akeh kamang-mang. 25 . pranjangji lawan sumpah. amintal usul ing abdi.

yawis tobat. jar bangsa siluman. angleledhek wong ngarit. gone gigila. ing lampah. satedhake dadya pangregep kewala. mogok kang den baleding. nanging kamang-mang cawiri. 03 Mobyor-mobyor kaya obor atut margi. ing wuri tat Linggawesi. satedhake sang ratu ing Pajajaran. kamang-mang padha angiring. ya kamang-mang pinangka damar ing lampah. duga pegel kang lumari. gelethak dadi lupi. 04 .Ana meled-meled aneng gubug-gubug padha. 02 Pramilane Praburara Linggawesi. malayua genudhang. amung samemedeni. napase kesotan. tan amikara. PUPUH XXI LADRANG 01 Sadangune suka-sukawan tu bocah. mangkana kang adat. 26 Kamang-mang tinangkeb lawan keranjang. yen kekesahan. ing wengi kang peteng nuli.

05 Yen tawiri kamang-mang awake paksi wus marena. 08 Kapitune wus alinggih bupati namanira. pipitu kadi wargi. ya kamang-mang iku endhas kewala.Ya angraksa ing sabandu kulawargi Pajajaran. Linggarahayu kalawan Linggabuwana. awake manungsang menginggil. Pajajaran duk jamaning. 07 Linggapakuwan tanopen Linggasari Linggasana. sabagi-bagi. . kang kaprabon pipitu ing Pajajaran. ingkang putra. 06 Wus prajaka yuswa umur salawe warsi. iya iku amengku purbanagara. rantab-rantab sakabeh namane lingga. sakabeh sinebut nami. Linggaerong Linggamurti. kawarnaa Prabu Linggawesi nata. 09 Kang pinangka bala ratune Linggawesi jenggerjagat.

10

Iya iku sang prabu Yang Linggawesi Linggatosan, babalik remen ing alit, maring wadon marucupe lagya.

11

Ingkang durung susune kumaringkil, wadon ingkang, masih rata kang pepenthil, kadya kaya susuning bocah lanang.

12

Wau pupak ya iku kang karemani dadya ika, kang ibu amemetheti, wadon cilik wus angsal kang kawandasa.

13

Gumariwis pan kaya bebek memeri agiringan, sagendhongan kumraritig, denpahesi sandhangan kang adi pelag.

14

Dadya susah ingkang ibu Brajawati, genya dhana, anuku-nuku atining, bocah wadon sangkane gelem dewasa.

25

Mungguh sire iku Prabu Linggawesi maring bocah, kang tembe pupak sawiji, kumokod pisan ing bocah perawan pelag.

26

Ya sang prabu dadi ora duwe selir, maring bocah, kang wus lungse sathithik, ora esir maring bocah kang wus tarab.

27

Kang wus reseb padha miretan kawangking kaparek kang, lare ingkang durung gething, iya iku kang kinarsakaken nata.

28

Ya sang prabu Linggawesi lir lare alit yen dodolan, yen mangsaning udan nuli, ya selire padha katimbalan wuwuda.

29

Aing latar anuli dipun suraki, lawan dinar, ya ta sakathaning selir, kang wuwuda rebut dhingin ruru dinar.

PUPUH XXII

01

Kang sinebut namaning kang raja sunu, Prabu Linggawayang, sinungan kabopatene, Bantalwaru ika ing cacangkok ira.

02

Ya mangkana Prabu Linggawesi mundhut, putrine wiliyang, Dewi Cibongas namane, gih punika nembe umur dasa warsa.

03

Sacareme ing kana kinarsa jatu nata Pajajaran pinangka bini ajine, malah iku sampun miyosaken putra.

04

Lanang ingkang sinebut ing naminipun, Prabu Linggarasa, sinungan ing kabopatenen, Karangsambung Purakadhongdhong Malangya.

05

Nulya Prabu Linggawesi sira mundhut putri Barisbulan, Dewi Rasati namane, iya nembe kang umur sadasa warsa.

06

Sinaptanan sampun pinrih jatu, ing dhatu Pakuwan, pinangka iku sang katong, careming sang sampun miyosaken putra.

07

Lanang ingkang sinebut saparab ipun, ing raja kaputran, Prabu Linggaening reko, pan sinukan kabopaten Sokalaya.

08

Lami-lami Prabu Linggawesi mundhut krama putri nira, Sunan Gunung Puntanggedhe, ingkang nata Dewi Rara Lisniutama.

09

Pon ya tunggal anembe yuswa sapuluh tahun wis pinuja, prameswari aneng kono, pan amurba para garwa ing Pakuwan.

10

Intening wadon ing pura Pakuwan agung, iku prameswara, Rara Lisni ing jenenge, ketang garwa waruju nanging kang dadya.

11

La yen mangking gamparan ika sang prabu, nyarengi kang garwa, lari gulingan ya age, ing karsane inguculan kang gamparan.

12

Arumaksa bilih kagete sang jatu, garwa kinasihan, kakasihing segedhene, damak-dimik lumampahe ta sang nata.

13

Genya tumpek ponjan asigarwanipun tansah pala-pala, mila sang prameswarine, ya wus bobot ananging ora kajamak.

14

Atahunan anggene ameteng iku, ora baba-babar, wus pirang-pirang lawase, kang dhudhukun anggrarayang sing dhi ora.

15

Kang sawane angarani rara busung, kawelehe ika, dening tan ana rasane, dupi busung akundhangan rasa lara.

16

Dupi iku ya kaya wong meteng iku, sejene mung lawas, ora na bebeleyane, kang sawane ambadhek lamon kawaya.

17

Kawelehe dening katilap ing ngujum, tan katara pucat, ora rumab ora nonjok, panyanane masih gumilang padhang.

18

Kang sawane lamon ika malembung, kanginan ika, kawelehe ika deneng, ora katon urat kang pating karenyang.

19

Dupi tingal ajar lawan wiwiku, den iya sanyata, mateng sang dewi samangke, isi jabang supaya tan karsa medal.

20

Ya sang Prabu Linggawesi ing tanyanipun, la prepun baya, paman ajar tarekange, dra pon medal si jabang duk kaya saban.

21

Para ajar sabane boten pikantuk, yen mange medala, kadesak wedale dhewek, boten kenging den paksa-paksa medala.

22

Ya sang Prabu Linggawesi pan dhedhesipun, iya kena apa, paman ajar satemene, weharena aja sabda kang den garba.

23

25 Para ajar awale babar pamuwus. andherek ing sang aji. ing mangke tulus wewedhe. ingkang ngadi ing ngadhenan. kalangenan den ideri. giyak-giyak wong jro puri. gih boten gadug. ngadhem-adhem ing pantara. kudu dang nata rumiyin ingkang asirna. wus katingal sadayaning. 03 . ing adining puri. paman ajar dika. mangsa boten ing gelar ing waskithaa. aja gamam ing awale. sarupane parekan agung. PUPUH XXIII SINOM 01 Tan anatara sang nata. paninisan angemba ing. 24 Ya sang Prabu Linggawesi dhedhes gapuh. nang latar lan prameswara. tarengkep ana ing. 02 Ingkang abanjar wangunan. samya suka ati. boten kilap ing sang katong. ana wang-wang lalangenan karta yasa. babarane ing suka atawa dhuka. awit rebah watangiku. pan kalilan ing nata acangkraman.Para ajar para wiku sabdanipun. ye punika jabang.

tuturen den ujar mami. gumuruh kang suka-suka. dupi iku kapiyarsi. kepyar-kepyur taragdagan. katuran mantuk ing puri. 05 Dening ibu dalem ratna. gampang mengko wus miwat. Prabu Linggawesi wau sabdanira. ibu dalem ratna wau. timbalane ibu nata. ing anak isun nata. sendhekala ngalas maning. kepyar rasaning ati. emban amintara aglis. 06 Mengko isun mulih ngomah.Brajawati apotusan. ing paduka gusti jandika katuuran. ya kon manjing dhingin maring padaleman. boten sakeca ing manah. punika kawanti-wanti. banget melang ing ila-ila ing kuna. ingkang ibu raja dewi. dangu wonten taman sari. sendhekala boten suka meng amengan. age mantuk dalem puri. ya mengko sadela maning. ya ta caraka wus kebat. nembah matur ing gusti. gampil manghkin lekas malih. 04 Isun iki enak. ora ngrungu pamarahing. wong dhodholan reren kudu. jandika katuran mantuk. sendhekala sukati. kumepyar rasaning ati. sapunika timbalaning. mung siku adating apa. la sendekala iki. wong den penging andalarung. puniki pan sendhekala. susulan maning la ika. . tan kena barang sukati. 07 Ingkang aran sendhekala. prapta nembah nuhun gusti. melang dhirine kang siwi. duduwa dining gumuyu.

rabine kapadhan maning. anjog sajanira nusul. ya mange gak arep mulih. 10 Sirep ora ana kang swara. kalangkung dhegel ing ati. buduk namber mataneki. ing mamala sendhekala. masih kadi bocah alas wuwu cawak-wak. ya ta Dewi Brajawati. ora suwe ika hiji. aja balik marana. sawusing kadi kamangkin. dhigal temen atiningwang. sira jacraweya ing mami.08 Gampil mangke yen kalintang. saking wanci pacek desi. abane antong wirasa. wis neng kene bae iku. kang ibu kelangan lari. gumuruha warna-warni. umpetan kang maring ngendi. dening lelewaning siwi. ora na abacut mewit. pating salindhut singidan. 11 Sandhekala wong kang kuna. ngandika mung ta iki. dhateng panggenan putra. datan babar nuli lelewane pisan. kenang samber mata prabu. ya si Rara Lisni baranyak tandhungwaya. yen kang ibu rawuh pan samya umpetan. . 09 Ganti mara asu aba. Prabu Lingawesi nabda. kang baribin padha mampus. nata anjrit agiro tur gedebugan. mapan si dhewekw ika. maring ngendi Linggatosan. meteng tan jamak lan jalmi. kudu duwe pamali. aja lok sawaya laku. 12 Mung ta padha asingidan. dheweke lagi garbana. ila-ila bari iki. wong meteng ya kudu wedi. ya ta sang prabu wus uning.

03 Raka dika tingali iku. padha nangis sambetipun. tan wande kalilip kenging. kang raka kadi mangkana. Rara Lisni ical arti. katharak-thaak ing tingkah. tiningalaken enggal.13 Anjeli-jeli karuna. pan kadya tambuh ingkang manah. adan wong jro puri. gusti kita kenang apa. 04 . amundhut kacatu mulih. ing jro kaca kaeksi. Rara Lisni aningali. 02 Pan dadining sakatemu. ora wurung katingalan. ora kalawan pamili. duk tumingal ingkang raka. ingkang raka mukaneki. iku kang dadi kalilip. ya dadi milu anganis. PUPUH XXIV KINANTHI 01 Prameswari nira gupuh. pan dika jiwit kewala. kami ruru seneng ing ati.

teka tan kemutan iki. ing pantangane sang aji. nuli balik ing ngawiyat. wong wis dadi padha pisan. 17 Mapan mangsanaa iku. ya wus katalaya dadi. udan kang wus timbang siti. iku dadi wesi malih. amundhut carmin punika. kadalang suhing ngungkara. dipun tamengaken aglis. kembang kang wis megar ika. pramilane gelis ambil. guragapaning asakit. pan mangkana tan kemutan. ya den penging akakaca. . pantangan lamon kakaca. yen sang nata boya uning. mapan reke sami neki. adan geblang ya sang nata. katingalan sarira neki. angandika mituturi. 07 Sareng ngilo kaca wau. mangsa ababalik maning. prapta ing kana lalawad. mangsanaa kudhup maning. wis karsaning Yangandum titi. ya wis padha ing pasrah sira. 06 Ora kaya dening iku. welinge ingdhang Sakati. ing lemah baleger gandhik. kaledhug ingkang sawara.Saestu kang garwa iku. ing sarira kang nata. kang garwa mintoken carmin. laku lalis tan ping kalih. tan kemutan apa-apa. Linggawesi aninggali. 05 Marang wadana sang prabu. 16 Ora ana gunane iku.

sangkan-sangkan bae kudu anemahi. payung agung dhedhet kehing. ing pasentran candha warsi. Linggawesi sampurna kena. ingkang arep cilaka. pan sasilir ing angin. 20 Samapta krajaan sampun. ing margi andher awilis. saking kathah upacara. 19 Ing pasisir kidul iku. kang padha sengkel ing ati. baris kang sabagi-bagi. pucuk praptangpa candhening. wus gumelar pangladhenging. 21 Kang layon wau sang prabu. mangke gadhang timbul mijil. Rara Lisni tahunan iki. pama ing pacendheneki. ya ta opyak para putra. kangmarapit anjalana. balikan padha rerepa. PUPUH XXIV .18 Lalu marag kembang iku. tanpa pegatan lampahnya. datan mangkat saking puri. saking garba wewetengan. 22 Lampahnya selur adulur. kang sampun sirna alalis. pajeng asri payung kembar. pra sami gelar ngasreni. kurnapane ingkang rama.

mulane laku iku. dudu mati dudu pejah. tunggaleku nipun. sakabeh iku tunggal. amung kari entenana. kudu bae nemu eleng. pan kewala salin nagara den panggih. ya mangkana anak mantu. temah nrajang pantangan.01 Ora ana bedane ing jalmi. wewetengan titinggalan. nyai Brajawati kang silib. dudu iku lampus. ora opyak sawara. 04 Ora mantra den abalik maning. ing jro wetenging watu. ing lalis tan kena wande. anang gunung ing wetenge. ing kalpantanganing anak. datan kena pindho laku. ing pati lawan merad. kudu bae amaspisani. tan mindhoni lincakane. maring anak mantu. anang gunung ing jro garba. lincakan aneng buwana. wus den becik wuwusen nini. ingkang mingsa dhasaring toya. kang sumurub ing jro garba. yen dangdani ingkang aran sirna. pramila kudu emut. 05 . Brajawati wuwuse angemu tangis. nya mungga tulungga. ingkang ambes ngayangan dhasaring bumi. pan sarupa lakuning pati. mung sapisan sapisan kewala. 02 Den wis nrajang pantangan tan keni. iya Rara iku. kang tan uning. kang arep bagja sing sangkan-sangkan. ananging den wis pindah. 03 Kang minglintang kang mingsurya sasi.

sampun takeran tahun. isun pejah dodolan ngundhang kang gaib. supayane tiyasa amedal. putih sarta ngukup menyan. wastra putih ingkang abecik. karang melok aja na kari. ing sasangen pamundhut. kira-kira sakalapa. boreh wangi lan lenga. lan ukupana kang agung. lan kembang campaka pethak. ipun Indhang Sakati. Rara Lisni ingkang rosa. windon takeran warsa. ☻ 08 Ya ta Brajawati wus nimbali. iku sadiya kena. 07 Lan anjaluk kembang kang wangi. ya aganti tanpa anten-anten dugi. . nunten kaparipun. den barikut sabadhan. punapa adat kang prantos. susah temen yen boten si nyai. suri kacinipun. ambok kontal kenang thathit. wong jro pura kinen sadhiyaa. ya ta wus pepek sakabeh. PUPUH XXVI PANGKUR – 01 – La ya Nyi Indhang garjita.Wewetangan dra pon gelis lahir. ingkang andaya-daya. isun jaluk kukudhung. sadangune muja rara den adhepi. maragsag ing ayunan. ya ing pasar kono iku. jawada ing sawarnane. 06 Inggih kula boten kilap nini. Parwatali lawan Talibarat padha gujengana iku. den kajamak kalayan manusa. maring kang meteng lawas. go sasajene kang gaib. pola kula ngajab-ajab. anjumbul-jumbul kaget tur sarwi nabda he sakoro kacung. ingkang warna kalawan dasa nedha. nyi Indhang kukudhung. Indhang Sakati sahure. atawa mangurungan.

dupi Nyi Brajarara. talerep kilat lan thathit. kang kina daluraning karsa. mapan kilat mancaroba nganan-ngering. maring dhuwur mingisor anjejeg bumi. cirak-cirak kalangkang suka ningali. – 05 – Gelap nyenggrang namanira. dadi gela nyawang ing paparab ipun. ingkang marga lantaran. gelap sangyang wastanipun. . astane sang rara iku. ingkang tulung Ingdhang Sakati ing mau. dangu-dangunipun nuju maring Rara Lisni adan. kakacae ika dadi. kang canggah wus babar metu. – 03 – Gebyar-gebyar ora mendha.– 02 – Ya ta Talibarat. kapat maring jabang bayi. anggepeli rambute sing uluhipun. – 04 – Maring ngarep maring wuntat. gelap ingkang mancaroba. ting sariwik nganan-ngering. dangu-dangu nuli medal gelapipun. – 06 – Ya ta Prabu Ciyungwanara . Parwatali pansamya anggemeli. amiyosaken babayi. mingsor maring ngawiyat. tan dangu kilat agemnya. wus kadadiyan titiga. babar pisan wedale jabang jalu. maring ngarep maring pungkur. pusere ingkang tigas. ari[ari ika sampun dumadi. warnane suteja peglag.

piyambak ing Prabu Sepuh. Prabu Ciyungwanara saking ngukir. linggih ratu dening sang prabu yoni. Ciyungwanara kang junjung. padha nakseni ingkang lilinggih ratu. – 08 – Aketuge sasahuran. – 10 – Mila ika kang wong sanak. menak pra kuwi sigar sawetaning. pan sinebut Prabu Wastu parabipun. tanopen wetan lor kidul. Ciyungwanara si jabang dipun imponi. Pajajaran kaya mau. amuji juragan aji. ana ing rat Pajajaran. akeh padha rena. – 09 – Tatapi ing karsanira. anjaga dhiri sang aji. sawaraning Yang jagat. – 12 – . wetan kulon padha aganti uni. Prabu Wastu jabang bayi. kang aran Gunung Krendha. Pajajaran suka ngapti. rancakowek warni manuk. – 11 – Prabu lare wus anyakra. kang pinangka pamong-monga Prabu Wastu. ing Pakuwan ra timbul ingkang sasulur. tatas maring Cipamali kang kawengku. mrana-mrena atut wuntat. awit Cilutung ngetan. ya ta samulur raja. kasanson ing kulawarga. dening Prabu Wastu purba wisesa Sundha negari.– 07 – Sang jabang ika kaangkat. kalenggahaning canggah.

kang padha raksa rumaksa. kawuwuhan sadulur kang ngampingi. patih Burung kandha nyatane paksi. – 14 – Tan Ki Demang Bantarpanjang. Tumenggung Natakriya. Parwatali angahu biwaya ipun. gelap Sangyang Talag. kang seghenge angampingi. kang juru pamong-mong wau. sinaroja gul menak kang Bopati. – 15 – Wus tan ana kakurangan. gelap senggreng kalangkeng pandengel wijung. miwah eyang Talibarat. langkung bisa amutus kang prakawis. mulane dadi papatih. – 16 – Ing turunan Pajajaran. gelap nyawang Karangsembung. angrampungi pradata. pinayungan para eyang. bisa nginger pagaweyan. Pakuaji saking Cigasong punjul. agawe enaking padu. apa adating sang ratu.Papatihe kang anama. – 13 – Tanggung-tanggung kang manusa. ing salinggih ing narpati. kang dadi anjugalani. ingkang jaga-jaga nagara. lan Ngabehi Sokapulang iya iku. – 17 – . masih pinter kepati burung wiring. bisane anginger bala. ngemiti pagusten aji. Tumenggunge kang sinebut.

gelap senggreng garantang tanpa thathit. – 18 – Sing asing aneranga. gumalendhang dharangdhangan. giyuwan peteng lir wengi. sinata ing dhewaji. anuli ana gelap. kaligane gumurubyuk. – 19 – Gelap sangyang sing jro toya. udan angin gelap tempuk. – 21 – Tangtu tiba kaju lina. Prabu Wastu Pajajaran mandi. maring sobawanira.Kocap praja Pajajaran. inkang kena padha upataning ratu. . ya polahe Talibarat anempuh. dadi lumpuh dadi gering. supatane dadi tumpur. tanpa sangkan mobat-mabit awor lisus. tan kena sathithik sigug. – 22 – Ngayeg-ayeg kena tulah. wawayangane nalendra. Prabu Wastu Ginotama. ila-ila kang pamuli. iya iku martabat. pramilane Pakuwan wanter pangaruh. ing pantange Pajajaran dadak nuli. Parwatali ngabar-abar. ya mulane den arani ingkang nebut. aki buyut Banyakgarantang. – 20 – Iku dadi patengeran. sing angidek Suramangkrak. nuli ngedhang para buyut. ora kena jaladhak ingkang wani. sing angidek dadi pincang dadi buntung. mauk miber angambara. anak putu ingkang anyerang papali. turunan ratu anget sakalir titi. lan gelap nyawang nambungi. saanak putu nira. tan kena den idek iku. ngungkuli bawa dewaji. Parwatali Talibarat.

pranakane Sang Dewi Sarkara ika. punika kang prameswara. anglegakaken manah. – 04 – Suwane Sri Naradhipa. anak-anak ing sasami. patutuganipun arum. sabab kaliwating aking. parekan kang ageng alit. anak maning yen iyaa.PUPUH XXVII SINOM – 01 – Prabu wastu Pajajaran. parandene datan metu. aresep saumur ipun. – 05 – . kalangkung warnane ayu. ora na sawalang kapti. – 02 – Kalangkung ing kinasihan. dening warnane abecik. saking anaking bramana. kaya garwa sang nata ing Pajajaran. daropan anganaki. warnaning kaendahan. linulutan ing sakula. gedhe cilik sadaya aturun marma. Susuk lampung ingkang nami. sedhengane olih rabi. ora ilok kathik. sapolahe amantesi. cirinipun den ingkedhi. ing sadaleming purati. ya dadi ora bisa. jeng prameswari sakara. dening datan miyos siwi. tatamba ing ngenda-ngendi. laminipun ora amiyosi putra. – 03 – Wedi asihing majikan. tan ana ingkang mantari. Ni Ratna Sekarati.

weleh tan ana dadi. estuning bresih sarira. – 06 – Tan karinget tan kalalar. – 07 – Ngalap garwa wadon ingkang. salamine pon boya miyosi putra. ana ing Pajajaran. kang seja naglelesena. pranakane ya Sang Dewi. . – 08 – Kocap Ptih burungkrendha. – 09 – Ing besuk panusul ira. iya iku dadi purwakaning perang. lawas-lawas katiliktik. pun sampun wau akatur. kalangkung dermaneki. nama Encecalingcing. sampun kagarwa puniku. dhateng sang prabu nata. ora umbel ora duwe sulu mata. angused larining ilang. amung ing Sundha negari. mundhak akingipun gempung. anenggeh maring Jawi. tan ana roro tetelu. ora reseb ora mimis. angiwat putraning aji. bebet manak istri saking. garwo malih garwo malih pon tan putra. ora wadi ora mani. lan amijil putranipun. saking pulo Tulangbawang. ora idu ora yiyid. ingkang papati garudha. Tulangbawang maring Jawi. ing Pakuwan sampun tampi. koncara lamon ika. wau kang binakta dening. saking sabrang saking Jawi. pinuju panenggek kang asri. marmanipun dumadi. Prabu Wastukalintang. putrane Buyut Satohan. wus boya anganaki.Pirang-pirang tukang tamba. ing marmane besuk karuru larinya.

– 12 – Wang ing sakala samana. kangkat wani angambil. Pajajran iya iku. tan ana medal siwi. kang minangka maha dewi. putraning Buyut Gunggirik. ora nana una uni. satemene susupan ing bramana mangko gadhang kacatur. kanggo babakti ing ratu. kasawung ing pegat turun. – 14 – Marga peteng kang anyelang. sewakane dheweke kanggep ngawula. putrane gabug maning. karya laku ngiwat-iwat. malih kang pinangka dadi. apindah-pindah turuning. – 13 – Sariandilep kang nama. kale wadon duwe laki. kang dudu waris ing aji. nuli malih gagarwa. garwa aji ing puri. durung gemet angilari. Prabu Wastu ing Pakuwan. atuwin ana anelang.– 10 – Dupi samangke kalingan. pameswari iku wadon saking kubang. – 11 – Tiya cicirine ta sira ki Patih Burung ya dening. ya wis ngijir gadhang kaselang susupan. nuli sang nata garwa. ngiseni ika kewan. garwa tetelu tan sunu. gawe ora arju mungguhing dewa. pon kagarwa tan mijil. Ence Galingcing dumadi. rati ing Pajajaran. . kyan Patih Burungkrendha. nuli ana arti nisip. wadon saking Luwiliyang kang anama. marmane ika wanodya. pan mangkana pinet garwa. ya iku pan gabug maning. kang nanggoi pati urip.

rama ajar Sususklampung. winangking sadaya nira. mikiri punthes ing aji. tumulung darbeya siwi. ora nana kaya iki. sing ngarsane Sri Bupati. ing aputra gawoke wong Pajajaran. dadya pamitan sing kana.– 15 – Putrane ki Cupangcapra. – 17 – Wondening arjaning pura. ing dos wiji-sawiji. rinebak-tebak asuwung. gabuge tan ana mijil. – 18 – Lalu buwang-buwang raga. ambabar danawa wangi. selir kawandasa sisi. – 16 – Prabu Wastu nuli ngalap. langkung sadarga dening tan kagungan putra. panendhi ratu Pakuwan. garwa lima kapadhan. Prabu Wastu pan andulur ing garwa. nami Nyi Carananggolis. agabug sadayaning. salamine ngratoni. lami-lami kang garwa prameswari Sarkarati. wis windon takeran tahun. tan ana gumentasa. Prabu Wastu mulat bisa. ora anggandol sami. ngajah padha mathem wijil gembyung. iya dadi gabug maning. garwa sakali manipun. tan nana medali siwi. PUPUH XXVIII KINANTHI – 01 – . ora na kang mijili.

panuhun reka pandaya.Dadining sang Prabu wastu. sang nata pijer kakenan. garwa ingkang kinasihan. kang dipun abet ing ati. medheke maring kang rama. bramana Susuk pinundhi. – 06 – Ki Bramana wuwusipun. . rimbitan sawengiwengi. budine si bapa iki. anggepe sang nata endra. angrasa dadging sagelih. estu kangge ing akrama. – 04 – Amung kang den tunggu pupuk. kocap nyi Sarkarati. kang dadi rasaning ati. ing lilani prameswari. – 03 – Gabug-gabug pan kapuhung. ing dhesthi ratna Calingcing. ya toli kapremen si toli akale si bapa. sok aja Calingcing ratna. entare saking Pakuwan. pepedhang sadina-dina. sakabeh tan amutrani. dra pon dheweke si siwi. sebab wis ora na maning. mung garwa aji Calingcing. – 02 – Asal Tualangbawang wau. bubar kabeh para rabi. ora na kang miyatani. lan ana ketang katolih. – 05 – Sigegen kang dhesthi lulut. iya nyi Rara Calingcing. sakathah ing para garwa. toli kapremen tala.

sumangga jeng rama amanah. yen boten badhe pikangsal. supondaya amaringi. rama kula jaluk mati. toli kapremen maning. kalowos tan angsal kardi. – 12 – . cupet cempole ing budi. – 11 – Nunten kula mantukipun. dening jeng rama ing ngriki. – 10 – Kula boten ajeng mantuk. mider kenges sun salaksak. sumangga den pejahana. angupaya apa maning. ora na kang miyatani. – 08 – Kang luwih punjul sing isun. dhateng maru-maru kula. ing sabisa-bisaningwang. Bramana Sususk mangsuli. si bapa pon milu isin. pandaya misunwis cekap. ora kaya tan tumama.– 07 – Kajapa ingkang panedhu. kasuhur ngilari jampi. dateng Pajajaran malih. yen boten medal putra. babu nini ya ta iya. jaluk mati sapuniki. – 09 – Ratna sarkarati muwus. awak kula langkung isin. kang usada warni-warni.

berage nyi Sarkarati. sarta aduwea anak. – 15 – Ya ta bramana awangun. – 14 – Basane jalukan isun. adan enggal linebonan. babu nini aja sira. ki Bramana Sususk enggal keris den candak tumuli. . dupi katingalan dening. – 16 – Dhateng guwagarbanipun. anjeblung punang wadharan. wus dadi apu dahana. bebeg dheng wis sumpel ati. yen rumihin sacombana. sira gelisa pepecil. ingkang mati labuh geni. – 17 – Adan gupuh enggal mantuk. ambri dadalaning ngoli. bramana wus dadi api. tumangan geni wus dadi. toli kapremen iya. – 13 – Ratna Sarkara agupuh. dhukun anyata bocah. ing Pajajaran wus isi. dimane ikang nyurupi. Sarkara dadi garbini. malembung wadharan ira. tegane wis sangu keris. arahe suduk sarira. lawan Prabu wastu nuli. sasambate prameswari. kaya pasakarep ira.Ora kaya yen isun. dupi ginarayangaken dening. benjang ing sawuri mami. sira salameta urip.

salamine ketar-ketir. sedheng tandang karsa nyingkir. kang garwa den tudhung wani. – 21 – Prameswari agegetun. dhukun sakti mandraguna. dugi kula meteng mangkin. ruru lanang liyan maning. maras bok angliwati. puniki ingkang yumana. nanging yen angliwat saking sangang wulan duking bendra. bekeng temah iya liwat. iya dudu anak mami. – 20 – Tya estu anak isun. – 22 – Ya ta ika Prabu Wastu.– 18 – Kula kesah ruru dhukun. inggih laksana pakolih. subagjane estu yakti. Prabu Wastu angandika. inggih isi jabang bayi. sangang wulan duk sarasmi. kalangkung sengit kapati. ing sasiye bebeleyan. – 23 – . – 19 – Kang grayang inggih estu. mangko yen manjing itungan. samono Dewi Sarkara. ucaping dhukun pawestri. nyata iku olihira. tan karsa angaken putra. dugi maring rolas sasi.

ningali warengka sesi. yen tuwaa besuk bagja. aranana Sususktunggal. adhuh gudhi anak mami. Ciyungwanara nimbali. dening ingkang nyambat asih. – 27 – Saryakaruna lingipun. gelapnyenggreng kinen sami. Talibarat Parwatali. ing kana nuli angimpi. cacaloning wong abecik. anandhang lara katimpal. masa kakena ing manah. Gelapnyawang gelapsangyang. dadya tilar Pajajaran. – 26 – Nulak sagung bala ripu. – 28 – Aranana jabang iku. – 25 – Jaga aneng pulo Lampung. angreha Sundha negari. angraksa jabang narpati. bramana Lampung nuturi. ya ta ika pancalima. . – 24 – Sangsaya ing pulo Lampung. mantuk maring lampung karsa. Prabu Sepuh liwat luwi. ming pancalima Pakuwan. kang gondhol si jabang bayi.Kesahipun saking riku. si jabang sira sun puja. samya ing Lampung ngabuhi. jabang bayi wareng mami. Dewi Sarkara buwana. kapanggih lawan kang rama. kang jabang kinempit ingindhit. muktine tinemu kari. ing Lampung rahayu urip.

ana ing lautan kidul. pancalima momong lampah. pinayungan pancalima. jejeging sadasa warsa. PUPUH XXIX ASMARADANA – 01 – Duk kang yuswane sang jati. tan pati guling dhahar. – 02 – Wus awor lawan dhedhemit. Gelapnyawang Gelapsangyang. emut wawangkiding ngimpi.– 29 – Wusing mangkana awungu. kabeh padha rumaksa. wis tan karungu wartane. adhemiwit arti budine. – 03 – Talibarat Parwatali. yan mini moyang gaib. maring sang Susuktunggal. nanging ika pancalima. karemane angalenthung. sagenahe Jaka Susuk. alusma barang laksana. Susuktunggal kang nami. Gelapsenggreng salabehe. satingkah polah limunan. but buri amayungan. ombak-umbul ing sagara. ing pasisir kidul ika. jabang lunta ingaranana. – 04 – .

padha doyan manusa. nyi Rara Mutiyalarang. karemene kumarasan. – 07 – Datan antara ing lami. Prabu Wastu sajengkare. denuri-uri den ruru. nyi Gedheng Rarasiluman. sampun campa kramane. kangiwat seja denrusak. angintaraken balane. – 06 – Sigegen kang amor dhemit. amampak maring payudan. Kaka Ramana jenenge. ing kana den gawe mantu. – 09 – Patih Burungkrendha aglis. dening patih Burungkrendha. belung kapal bulanipun. genya anyakra buwana. – 05 – Putrine ingkang anami. wus bancik ing Pajajaran. tumuli ana esihe. sang putri seja mangko denrebat. wus pinten ing laminipun. Burungkrendha patihipun. bala ayun-ayunan. sang putri seja denjuput. maring kang Sususktunggal. – 08 – Seja angrebat sang putri. sabrang dadi adat buta. Ratna Calingcing ing kuna. panusuling Tulangbawang. denira para jawata. . ana ing tenjolayaran. pinanggihaken kaliyan.Ing karang kang sigreng sungil. muwah deniwat dhingine. ing jagad alimunan. amurba amisesa. seja mangko denrebat. ya ta dadya ingkang perang. kocap kang aneng Pakuwan. genya angrok bandawasa. andel-andele sang nata.

– 10 – Long-linongan akeh mati. mapagaken pangamuke. nalampek naladhung nucuk. kang nama Betyawelara. ing gelar angudi lawan. pating burisat lumayu. ngajejar kang angga murca. – 15 – . den thothol jajantungipun. kuwel amagelutan. nyoker musuh padha bubar. – 11 – Patih Burungkrendha mijil. pareng katingal pejahe. adan bala Pajajaran. ki Patih Burungkrendha. kadya ta bala wanara. Patih Krendha wus den jragang. tarung nuli ana ingkang. adan mara sepuhipun. kabareg dening buta. – 13 – Angentongaken tanagi. asore Betyawelara. bala sabrang kondur kabeh. kadya garudha meta. jejeg-jinejeg apalu. pirang-pirang dina gone. kapereg ing bala buta. Betyawelara denira. genya ajojo brawasa. pinalu balang-binalang. – 12 – Adan lakining Calingcing. kan nana kakarawan. – 14 – Betyawelara wus mati. ingamuk ing patih ika. katarik ming jaba pejah. kundur kapereg lagane.

– 19 – Ing praja akeh kang wani. Parwatali muwah ingkang. ngayunan Ciyungwanara. baledug ing ngarsa nata. munggwaika pinanggiha. apaladara susupan. ningali endhasing Burung. Susuktunggal re sajege. den idek jalune iku. wareng nata ingkang nama.Andik muntab ambeledig. sagarwa sakulawarga. ngili ngidul miruda. den balangaken alepas. pancalima sadhapure. Gelapsangyang iya tunggal. ngingisik sagara kidul. milane analasak. – 17 – Ciyungwanara angarti. mamane Ciyungwanara. padha asirna guriyang. lan sakehe kabuyutan. dadi padha cama kabeh. . dipun jambak jambule. kataring ing rawana. Talibarat ora nana. maring ki Patih punika. Gelapnyawang Gelapsenggreng. anitah ing pancalima. kaget sang nata wendra. – 18 – Sarya sira anglalari. den kapepes ing ngalaga. adan pratignya wiyange. muluk mesat dan tibane. Patih Krendha gulu pegat. puruge wareng sang Susuk. Patih Burung wus anglenggak. – 16 – Kang endhas sigra tumuli. kangtu tinemu sadaya. – 20 – Yen pinanggih Sususktunggal. esmu rada kaduhung.

– 23 – Siniratan uyuh anjing. bubar larut kumagilan. lelewaning wog Tulang. – 25 – Kang gamilang-gilang wening. bubar lorode mengetan. camedhar lan tahi jalma. kadhesk den ira jemur.– 21 – Angemonga Susuktunggil. kocap ika sang katong. banyu sigra dumadya. kadhesek ing prawira. Prabu Wastu Pajajaran. najis kangginawe punglu. adan sineblak toyane. Prabu Wastu sagarwa. lawan ingkang sada lanang. Prabu Wastu ika sarya. prajurit pakuwan saseg. – 24 – Dewi Calingcing tan kari. lir udan deres tibane. tan kawarna kang susupan. den kepung wakul kodagan. sigra andarung lampahe. – 22 – Wong Kaka Rawana wani. anyangking sada lanang. binakta dhateng kang raka. ing pinggir Sangyang Talaga. mrepegi pura nata. ngentep ngetan sigra rawuh. sadaya pan sami larut. kang sejen sing jagat dharat. ya ta wong dhatulaya. jagat buwana kadulu. dinamai Cahierang. – 26 – . cocoratan atawa pongpa.

– 03 – Ya Sang Prabu Kaka Rawana nami. ora nana wani mantari. – 02 – Ya Sang Prabu wus sirna alalis. Prabu Tulangtogmol. iku sadayanira. lan ora na kang weruh. yen karsane mangkin. padha nang dhasar talaga. ya wis dadi kaya merad bae. tan kena sinundhul. PUPUH XXX MIJIL – 01 – Kang na dharat datan bisa uning. – 04 – Anut maring prabu anyar mangkin. lan ora kapanggih. Kaka Rawana angadeg aji. sabata lawan sileman. pugas brangas ala atine. paneleng ing katong. iki pan jumeneng ratu. ing Pakuwan nami. ing sa Sundha sami. adadalem ing jro banyu. pan jumeneng Prabu Karadhatang nengge. wus jinabel dening musuhe. .Prabu Wastu karo rabi. nyi Calingcing muwah bala. dupi sri kadhaton. ing jagating kono. sabab uwise ora balik maning. tan kagungan basarang-saring. sadaya anungkul. warga sakabeh kang dherek.

doyan main mabok. dadi amuwuhi. keras akalipun. – 09 – Pareng angsal windu lami. tan kena winurung. Ciyungwanara ngilari warenge. kang pinuja timbul malih. bener luput mesthi. wong Tulang Minadho enggene. datan kena sinundhul aturaning. arubungan ing Sundha negari. padha atut buni. – 10 – . ingkang singub-singub. – 06 – Ingkang denkait budi ngarani. ora kena den semayanane. akrh gempur kapur atine. kabuyutan tapakaning wasi. ing pagusten isun. tor-toran anginum sopi. ya angluru ing tasik pasisir. – 08 – Ya Sang Prabu Kaka radha bang madhig-dhig. kawarnaa sang katong. – 07 – Demen mapan ingkang yoni-yoni. akeh den padhangi. angrebat warisipun. candhi-candhi entong. kudu bae dados.– 05 – Yen wus karep kaya lare alit. la yen mabok dadi kamungguhane. sajamaneng kono.

meeng wareng Raden Susuktunggal. tan suwe agantos. – 15 – Ngener cipta tan ana kakalih. ager sagalugu. – 14 – Angembaa ratua tumuli. marono ambuneki. sarya ngobong ukup mangkin.Kang samangko kang kacekel maring ratu anyar othon. – 12 – Gelapnyenggreng dadya ika sang aji. Gelapnyenggreng karungu. ing pinggir kikisik. ngidul ngingisik jaladri pinggire. ing watukiliyong. awan benginipun. Gelapnyawang Gelapsangyang sami. Ciyungwanara gatos. pan den jejep ing tingal dhemit. kan den esthi kuwareng. gelis amora wong iku. kang wareng den puji. Talibarat lan Parwataline. pan ya iku tetengering Sususktunggal. swara kang tan pangling. saliwer marono. Ciyungwanara ngidul. lan galudhug saya seru swaraning. . – 13 – Pan kumutug ing ngarsane aji. Gelapnyawang Gelaptanjung. kang dadi raosing ati. belenging manah ora nakali. Talibarat Parwatali praptane. Raden Susuk ingkang sayaktos. Prabu Ciyung pan kukudhung putih reke. panter pamandheng ingong. – 11 – Ana ganda ingkang samariwing.

angabdi tanpa uwis.– 16 – Aja lunta awor lan gelis. lahir jabang bayi. kala iku mambu ukup gandane. ngendhel ora mari-mari. manah kadya rontog. benggi pareng si jabang dumadi. – 21 – . raden denya sewot-ewot. ing sadanguning nedhu. isup arep titilik ibu. lan sumadi si wong kang duweni. bawaning wong wis mukti. wau waheng garwaneki. wong lanang tinggal wadon. aja ora ing takut. – 18 – Manah pikir karsa padhaning jalmi. – 17 – Kawarnaa kang aneng dalem dherit. pareng lahir takon bapa tumuli. krana kula pan lagya abobot. krana ingsun dan raton. – 19 – Mubya ya larang amangsuli aris. – 20 – Krana ingkang kang uwis lumari. Raden Susuk mangko. kudu eling ing jagat maune. tan ngaku olihipun. dudu turuning waris. ya sok aja lali maringong. kang ngimponi sapalayake. tinggal rabi meteng tambu besuke. dadya pamitan tumuli.

lampahipun Susuktunggal nengge. nyai Gedheng Rarasiluman nabdane. angambah karang kisik. ya manawa ora lali-lali bae. ora na liyan kadulu. aja timbul iku ing dadine. Raden Susuk anembah adan linge. ing mratuwa nembah panor.Ta kang uku panjaluk isun iki. Gelapnyenggreng badhengel wijung. tulus lampah wangsul. raden nabda tan samono. sumpah isun kang satuhuning. pancalima ting pancorni. medal saking kayanganneki. ika mapan wus anglilani. ya ta mutwa larang asri. – 26 – Parwatali ulur-ulur apti. galudhug grantang widi narpati. Gelapsangyang nyuwong warih. . teka upama benjing. Talibarat kang ngramon. – 22 – Ingkang ujar isun kang sayakti. sandika karsa jeng ibu apti. suka manah ipun. pamuji-puji jati. apa maning maring ngong. – 23 – Agles Raden Susuktunggal pamit. munggwa amlesa katengong. den pracaya kranane iku nini. – 24 – Ya yen eling maring ngalelek rabi. mung pohon rabi. Gelapnyawang tan udan tekane. aja lawas ya ki mantu. yen cidra awuwus. – 25 – Ingalingan dening ingkang gaib iki.

Prabu Kakaratandhi. tulung sadarganing kalbu. Gelapnyawang tinon. Raden Susuk wus awas tingale. …. purane den wasesa. ingkang sumedi kono. rena-rena ningali kulebating. iku sapa kang kukudhung. yaktose Pajajaran punika prajane. – 30 – Angandika subagja ta kaki. dening nelendra serani. atatanya ya iku maring. sira kang sun seja panon. merad sejen alam. . kang wareng medheki. kang sun ucap ing adi panewune. ya ta gugu panor. Ciyungwanara pinundhi.– 27 – Ingkang eyang Ciyungwanara aji. agemen ing wareng isun. Gelapnyawang la iku kaki. PUPUH XXXI DURMA – 01 – Ramanira Prabu wastu wus kokalan sirna alalu lalis. kraton Pakuaji.ian anuli rinangkul. ambeg nakoda. pan ya sira ageage ngambil. – 28 – Nyandhing ukup sarta asamedi. asowara dan sang nata manhe. luhur kita punika sang aji. – 29 – Inggih payu kita pedheki.

– 06 – Ing jro gunung gumledhug jumegur obah. minanten barkah eyang. – 03 – Ya kaduga manira apaladara. praja Pakuwan. padha mayan dumadi. mayeng ing sabandina. basmi kaosak-asik. sayogya sira kang mangkin. akeh kang rebah. pusakane kang dhingin. kang mangko dadi. sabandina nguneni. ulur-ulur nganan ngering. sabenbengi wanti-wanti. maludhaging walirang. galudug ing arga. pinanggih lawan sira.– 02 – Ya wus ilang palakarta ratu Sundha. lor kidul ganti muni. Raden Susuk matur inggih. sadina ping sanga. akeh gunung kobar. ngrebut nagara. lindhu rat lir ginongjing. estu basmi negari. – 07 – . amedheki kang nagari. dadi kumureb rebah. – 04 – Pareng sira Prabu Sepuh angandika. kaganti budi srani. kumanyang nganingwang. padha malumah. sigra mangkat padha. – 05 – Datan apa menenge galudhug obah. sakeh kang malumah. jawane sun anyingkir.

ngili marang jagat lami. ketung kang swara. tan urusan bubar neki. aneng Sundha negari. jar jagate priyangga. – 11 – Raden Susuk iku angruru pusaka. gara-gara ing nagara. wong Tulangbawang. kasaksen ing gul menak. Pakuwan anggege risi. tumon so bawa. bubar buyung kang kari. wong Sundhane kuna. padha sinuhuran dening. . tan lami punika. – 08 – Ya sang Prabu Kaka Rawana awiyang. – 09 – Datan sudi jeneg aneng Sundha layang. tan susah den perangi. Prabu Rawana age ris. – 10 – Bumi Sundha bisa nundhung kang anelang. abubar priyangga. tumon widagda aji. ingkang pating sariwik. gawoke para bupati.Kasusulan datan mendha gelap ngampar. wiyange saking Sundha. rawuhe Susuktunggal. gumarang ing sabumi. katelahe sang aji. para gul menak. akeh padha rusak. – 12 – Inggistrenan ngadeg Nata Pajajaran. kang sinamber dening gelap. ge ris ing sangara. Prabu Susuktunggal. wis tan krasan. ing rat Sundha nagri. gara-gara nempuh. bubar dhewek tan sudi. anjaya-jaya. prabu sepuh kang angiring. linggihe wareng aji.

ambeciki ing nagari. sugih kasekten lan bangkit. ing pagaweyan. kang dadi sorog wedhi. murwa pakaryan. Talibarat nama. adat Sundha negari. nginger kawula alit. Gelapnyawang Gelapnyenggrang. – 17 – Emban-emban sang ratu kang nama. Pajajaran jengger malih. sasat sinung nama. Ki Tumenggung Ulungdaya. amarigel ing nagari. kang aneng Majapahit. ing adi kulawarga. Patih Dhuyunglanangan. Parwatali miwah. ya iku kang nama. kang nama Dhuyunglanangan. lan Gelapsangyang.– 13 – Kang nakseni ngadeg Ratu Pajajaran. kadi duk kuna. – 16 – Sasamine kaya Patih Gajahmada. pinudhung ing sagunging. ora nana kang mantari. – 15 – Salinggihe sang Prabu Susuktunggal. kang sagawe ngratajani. – 18 – . kan nami Susuktunggil. yen ing Pajajaran. – 14 – Prabu Ciyungwanara kang jaya-jaya. angsal panglima luwih. sampun sinaroja. ingkang padha angaugi. sarwaning bisa.

ing kono enggone lalis.Pajaksane duk samono kademangan. anulak bala wita. dados pakeca. – 20 – Prabu Susuk waktu duk sakala samana. – 21 – Kumarasan ing Sindhangkasih praja. dening prabu Susuktunggal. kapracaya ing sang aji. – 19 – Lan kang nama ki Ngabehi Sujimara. – 23 – Tya iku enggon gadhang palincakan. kewala pan ora pejah. malawat katingal. iku dalem ingkang. yen gadhange ing benjang. enggenipun angalih. ing Sindhangkasih praja. salin nagara kang lantip. purwane amerad. . ingkang jaba negari. kang kinawratan. sang maha dalem japati. sanak medhoke sami. ingkang mingkali kardi. ora kewuhan ing udi. anyawang-nyawang warni. jagat kang babasan. amblese maring bumi. – 22 – Ya ing bumi Sindhangkasih marmanira. sampung kalawang. wus angsal supna. kang dadya mikenaki. ing manah sri bupati. Demang Cimancurluwi. kang langlang buwana. pamagutan pradata. akeh akalnya. sakalir karya. lolomponganing jagat. mula sang prabu ngarti. ingkang asirna. kang aneng dhasaring bumi. karanane sang aji.

ing wong sanak Sindhangkasih. nginep ing Sindhangkasih. dening rejanipun. – 02 – Garwa maning pula ……. bali dalem japati. PUPUH XXXII LADRANG – 01 – Pan kaloka Prabu Susuk nyakrawati. mangkana ing karsanira. – 25 – Dadya suka ki dalem japati ika. rehing den kulinani. yen kalingihan sang aji. kadya nagara. kang nama nyi Luwilingling. prameswara putri saking Sindhangkasih. Kawularang …………… ing. dewi mature asal saking Pasirpanjang. hang. kawangun pura nata. ……………… paparab. . – 03 – Maha dewine pawestri sasl saking Sokapura. raja Galuh nami. kang cacangkok Sindhangkasih. Karanglopang kang nami nyi An ………. dening pamajikan.. nawang susirna.– 24 – Pan sawulan sapisan sang Susuktunggal.

ya rinengga. wus babar. ingkang wau tinilar tasik lamunan. bapanira iku aji. ing sagenahe alinggih. – 08 – Wus aprajaka ika tatakon sunarmi winangsulan. putra jalu warna pekik. pinaparab Raden Anggalarang kwosa. – 05 – Ya wus apa kaya adat dewa aji.– 04 – Ingkang nami Dewi Simbarinten becik pinusthika. pan riniyung ing para gegedhen sadaya. lilima saya lempuri. – 09 – .. pan riniyang para ………………………………. – 06 – Tan kawarna enggene amukti sari atahunan. – 07 – Mapan dewi Mutyalarang ang garbini. Susuktunggal kang mengkoni Pajajaran. kocapa garwa ing dhemit.

bok sira den pitambuni. – 11 – Nuli sira dentortalan baya pati. – 12 – Anggalarang atur sembah ibu inggih ananacak. jemg rama angaken siwi. juwala apa wong siji. – 14 – Ya sang dewi Mutyalarang ngandika ris. arep bedhah ing kuthaning Pajajran. inggih coba kentasa. ara ngunjung ing rama dhateng Pakuwan. denlara den pateni. ainggih kula mantuni digdaya pancas. mung ta sira.Anggalarang aturipun ibu amit sedya kula. nuli sira ing kana tan aku anak. – 15 – . – 10 – Mutyalarang sabdane arum manis. kang saingga. isun melang. isun melang. amedheg ing rama aji. – 13 – Inggih saya jeng rama kula perangi. ya dumadak yen boten ingaken ing nama. katongsone isun welas maring sira.

– 20 – Angin wayah sumilir ika dumugi Pajajaran. ngayune sang prabu Susuktunggal. mara jabang Kaljurig. – 18 – Tunta ngambang dewa mambang kang angiring. anggep kula. bagja cilaka ya kantun punapa karsa. buwal-buwal mijil sing dhasar jaladri. – 16 – Raden Anggalarang ya matur boten sanggi. sarya wiyang. – 19 – Awor ombak anggebyug maring kikisik karang braja. calengep kali riringgit.Mandadene den ucap kaya wong baring tangtu sira. lampahe ngatut ing warih. pan anjeneng tan dangu siliran prapta. inton-inton memedi kanthung bragola. jin prayangan. kadya meres ujare kang amaskitha. . ing kana den waskithani. angancik ingukir curi. – 17 – Amung ibu pamujane kang sun pundhi. galethuk batu kacebur cai.

gampang-gampang si monyet si tambewara. punika rama pribadi. kandikane si ibu yen tutur kandha. angaku putraning aji. Anggalarang dipun tarik. – 23 – Kapiyarsa denira wau sang Patih Dhuyunglanang. calengep ing ngarsa malih. – 26 – .– 21 – Sambat-sambant wonten pundi rama aji Susuktunggal. – 24 – Anggalarang den surak bocah kangingsir sumantana. – 22 – Pramilane kawula sumeja ngapti ana labda. kamawula ing sudarmi. nunut aub ingaken putra sasmata. samya geer la yen ana bocah setan. dipun wasuh pinanjingaken panjara. – 25 – Pinanjara watarane danguneki sapangedang.

Den panjara ya bisa muncul pribadi ora wruha. – 31 – Kira-kira iku maning sawatawis sapangedang. – 27 – Kalajurig ingkang padha ngiring-ngiring adan tandang. jin prayangan kang gagandhi lampahira. Ki Tumemnggung Ulungangin. surak ing wong Pajajaran nyata setan. gegering wong Pajajaran kumangilan. inton-inton kang nguculi. calengap ngarsa aji. dewa mambang kang nguculi. – 30 – Maha raja Bangbangan ingkang mayungi adan tandang. iku maring Anggalarang den galandhang. – 29 – Lamon ika ya nyata bocah dhedhemit ora wruha. . – 28 – Den panjara maning kirane watawis sapangedang. Demang Cimancur anarik. ya memedi bragola kang raksa-raksa. ya cinandhak Anggalarang wus pinala. calengep ing ngarsa aji.

– 37 – Ya jaganen iku saolih-olih maring ratu. Buyut Angin kang ngiring-ngiring kang ajaga. Buyut Cai kang nguculi. iku nyata buktine ing paneluhan. dhiri pagusten narpati. – 33 – Sangyang Limun kang tut buri amayungi mula arja. aja padha den ganggangi iku bocah. – 36 – Ambalentuk anyolong ing si narpati mula ika. . pan luluthu bangsat ngaku anak raja. – 34 – Panginane wong sadaya iku maring Anggalang. Anggalarang irus ing jati. – 35 – Lamun tulus ingaku paniya dadi olih praja.– 32 – Ya siluman tasik kidul boluwarti ora wruha. kudu kang awas ing dhemit. belis guris angibur-ibur ing praja. belis guguris nyaithis. atawa cacangkok siwi. Pajajaran padha tambuhing kang putra.

ing sajroning geni gedhe. obongen la iku lare. denepri darapon menter. papathoke tosan. – 03 – Pan rinate wesi pinanthokan kukuh. – 02 – Ya ki Patih sigra tumandang agupuh. wusing dadi Anggalarang den sangsara. siniraman lenga. he Dhuyunglanang. – 05 – . – 04 – Kang tumangan denesep kalawan eduh. pan darapon aja bisa lunga-lunga. amariyat karya. den sinulud kang geni ya wus maludag. tumanganing geni gedhe.PUPUH XXXIII PUCUNG – 01 – Prabu Susuk wau pangandikanipun. yen tan geseng ya iku ta anak ingwang.

ing Gunung Galungung genahe. kawurana ing angin gedhe. pan wus dadi awu aneng jro dahana. surak wong Pakuwan. patang puluh pasagi sampun prayatna. iki Anggalarang. – 06 – Sapangedang langkung pagedering urub. – 08 – Den akuwa piyambake raja sunu. Prabu Susuktunggal. pisan maning iku ing panacak ingwang. nalengep ngayunan. Anggalarang den samangke. – 07 – Ora suwe kaligane iku muncul. la den ora kawur nyata anak ingwang. gawe lalayangan. wanter munjuk urub kadi angambara.Purubipun pan ora kalawan kayu. – 09 – He Tumenggung Ulungdhaya dene gupuh. anjum andhingkul padane. kagila-gila gedhene. – 10 – Ki Tumenggung asigra tandang agupuh. ana ing tampingan. . matur nembah amalampah den akuwa. kandikane iya mengko.

ana ing lalanang. kawur mumbule mengulon. – 12 – Anggalarang wus den baleni akukuh. ana ing sagara kulon.– 11 – Tataline jenget ing sambadanipun. den culaken enggal. kethip-kethip kagawa dening siliran. ambeneri angin ngulon santer pisan. – 16 – . ing gagaranira. Ki Tumenggung sakancane. ya ta wus sadiya. – 15 – Duga ngulon watara ngungkuli laut. ing layangan wus rinekep. surake wong Pakuwan yen Anggalarang. nuli sira lalayangan pan den ajar. ika Anggalarang. – 13 – Keplas munjuk lalayangan munjuk dhuwur. munjuk kagawang abure. – 14 – Wus ing menit ngadeg saka dipun dudut. duga silep cat katon ya cat ora.

Kyai Demang Cimancur la iki bocah. – 20 – La ukumen ing kali manengteng iku. iki bocah tegane ya sira delap. iya Demang Tandang. nanging Susuktunggal. pan dumadak ora mati kalem boya. ingkang lalayangan. wus anembah ing ramane.Ya wus ilang tuture kagawa abur. petilasan kuna. wus ora kawruhan tibane. ora karawuhan ruruhe. pan ginawa ngetan binuwang ing toya. sandhangen denira. . – 19 – Lawan mengko pisan maning panacakipun. bahi nate lepas. – 21 – Tya tangtu sun aku anak dening sun. ya taksire kaya nyabrang pulo liyan. Anggalarang wus den rante. – 17 – Pan sing ngendi bisane awangsul iku. – 18 – Anggalarang calengkep wus aneng ngayun. pandadara isun gedhe. iku bareng sapangedang nuli prapta. Cisanggarung kayaktene.

masih anang marga. sakebo ya rapona. den nyana wus sirna. Anggalarang wus silep kalem ing toya. aja bisa kambang mangka. nyatane ki Demang. kaya ora pindho gawe. laksanane gawene ngemban timbalan. ingkang salulumpang. – 26 – Wus laksana pakaryane la ta iku. adan den tinggal wangsule. – 23 – Sarta sira den susuli maning watu. sakebo tuwin sagudel. – 27 – . – 24 – Aja bisa timbul kang den ekum mau. – 25 – Ya sabedhug salingsir ora na timbul. Anggalarang wis katemu ing ngayunan. ing Pajajaran ya tegane.– 22 – Aneng banyu den bandhuli kalawan watu. dhateng gusti Pajajaran tur uninga. kang salumbung darapon angurugana.

– 28 – Iku bocah pendhemen kang jro asiluk. ngabehi gupuh tandange. ki Ngabehi Cukimire. – 31 – Ya den tetel pinaseg gen ira ngurug.Wus anembah ana ngayunan sang prabu. lumpur ludhes dilolocok. . ing panyananira. Angabehi Sujimara kari sira. ya ta kang dinukang. ki ngabehi wangsule asuka rena. pan tinarik Anggalarang den galadhag. kang dumadak bisa balik ing Pakuwan. patang puluh dhepa jrone. jalayat si setan. – 32 – Pareng lawan laksanane gawe isun. den urugi tai besi pandhe dhomas. kang yatna angurugane. – 29 – Nadya isun aku anak bocah iku. ya pugas delap si monyet. den pendhem watara. aneng tegal uwar. Susuktunggal nabda. pisan iki sira sida pendhem jarat. – 30 – Pan ginawa maring tegal uwar iku.

wis kalesan panyobaning prabu nata. den panahi datan kena. anggawoke wong saraje. ya pinenthung tinabok kejeng kang tangan. panyobaning ratu gedhe. dupi dugi ing ngarsane. ajarujus medal warih. – 34 – Kaligane wus nembah arsa sang prabu. datan bisa ambeledhug.– 33 – Ora matur ing pagustene sang prabu aneng Pajajaran. – 02 – . – 35 – Tai olih si anjingsi kenang kutuk. gulalitan miyatani. ing Pakuwan den sakiti. Anggalarang wus talangep aneng ngarsa. sampun warna-warna. mung ta iki bocah calonos binatang. sang Anggalarang. den bandhemi den bedhili. PUPUH XXXIV SINOM – 01 – Warnanen. ika ingkang dadya. tombak keris lemes kadaya.

– 06 – Yen saestu sira nyata. Talibarat tedhu sami. – 03 – Mimpes pisan datan bisa. asakabehe datan guna Gelapnyawang. yen saestu anak ingwang. teges lamon anak mami. binalangaken tumuli. iya nyata tegese ku anak iwang.Jinejeg sikile akas. Gelapsangyang Gelapnyenggreng. ya ta Prabu Susuktunggal. samana samangkenipun. yen sira bisa balang. datan sang Susuktunggal. ora bisa amikara. – 05 – Ing karsanipun sang nata. Prawatali datan bangkit. kami sosote kang rana. ya tan bedhol saking lungguh. – 07 – . tan kajungjung ing asakti. apes dening sang apekik. hem ngandika sira iki. asun kalangean agelis. ora kaya awratira. rarasan lan bisa metu. Pajajaran padha sami. jejegeng tan kangkat tangi. kena waliting Galarang. unine ha ha ho ho. kuwat anjunjung mami. ing sakarep ira iku. den cinandhak Anggalarang dipun angkat.padha mepes ingkang sakti. cinakot kaku kang uwang. – 04 – Anyirnakaken guriyang. mangap lir cinengkal wesi. sa cep ana Anggalarang ing Pakuwan. ilang pangaruhing nata. karengkengrengkeng tan kapti. awak ira anteb temen tuduhena. ora bisa ambabari. ika pancalima sami. dhumateng wau sang pekik. tan bisa ulur-ulura. ngaken maring raga mami.

Prameswari duk andulu. komalanten sabdaneki. aturipun pon kula punika putra. gegere wong dalem puri. ya wis payu padha pulang. wus riringkes sang nata lan para garwa. wau dhateng Susuktunggal. ing Sindhangkasiningid. kagume kang laki tiba. nyata iku binuntal ing Anggalaran. – 10 – Miyos saking boborotan. aja adadawa lara. nyata kabuntal ing weri. lan Tumenggung Ulungdhayi. enggal prapta Prabu Sepuh aneng kana. den balangaken ning pura. dening Anggalarang gusti. mengetan puruge ngili.Denisun wis sira buwang. Susuktunggal wirang isin. anglipuraken ing kalbu. Sindhangkasih kang sinedya. – 08 – Teganira Anggalarang. kelangan majikan neki. sengkel ing manah tan sipi. lingsem maring kang rayi. lilingseme ing marmaning. . karaton sira duweni. – 11 – Dan Patih Dhuyunglanangan. dening sira wis pracaya. angreha Pakuaji. dadiya gegenti aji. maring wareng prabu aji. ya ta Anggalang iku. ingandikan pinariksa. kaangkat sayengan mangkin. pan gegetun wong kathah padha tumingal. wong sadaya ting balulung. maring kahiyangan mami. samiyar tur kandha wara. Anggalarang sigra junjung. angangkat dhateng sang Aji. waneh ingkang atur uninga. – 09 – Ya ta iki prameswari. ing ngarsa Ciyung sang aji.

kelupun cidra maring. nunten kentas malih.– 12 – Ya sang Prabu Susuktunggal. den janjeni la yen nyata anak nata. inggih maksih tan ngakena. la yen nyata anak ingwang bisa teka. den lalara tumangan. kalintang denira menit. bisa balangaken mami. si rama kula pedheki. inggih boten ingaken kula. inggih lajeng kanjeng rama. dipun aburaken enggal. layan sela samahesa. dipun pendhem lebet bumi. saking kaputren siluman. tan den sapakula iki. ing si rama linggih aji. kinen ngekum ing warih. ing wasana inggih kanyata. patutan Mutyalarang dewi. kulu nunten tinaleni. boten geseng dhateng api. ngaken isun ya sanyata ya anak ingwang. gih makaten ugi. inggih maksih tan ngakeni. . – 13 – Ing wesana kula delap. janjine dhateng kula. – 14 – Ing wasana kula teka. sanyata anank ingwang. – 15 – Ing wasana kula teka. boten ngaken dhalem mami. nunten kentas kawula. yen wis amuncul maning. jinanjenan la yen nyata metu. ing ngayunan rama aji. ing wasana kula prapti. – 16 – Anak ingwang bisa teka. den janjeni nyata anak lanon gesang. ingobong jasad puniki. Cimenengteng pan binandhul. inggih pon jinanjen malih. ing lalayangan puniku. wekasane ngajak cucu.

. wau dhateng kanya puri.– 17 – Inggih si wantu kahula. – 18 – Mangsa bodhoa kang guriyang. gawe lingsem pribadi. amalar dipun akeni. ika dadi Susuktunggal artinira. Prabu Sepuh ngandika ris. bapanira ingkang salah. maring etan manawa kita rerempah. inggih kantos kula balang. – 03 – Ora kaya Prabu Susuktunggal nuli genya salah. – 02 – Nulya mangkat prabu sepuh lampah neki kalih sira. Anggalarang mapan sami. kerpek jantung iya iku bener sira. anglolos kalaning dalu. sapamanggih kula iki. drapon sampun lingsem neki. ing temahe saiki. samya sira kulawadya Pajajaran. susul iku bapanira. minanten leres kawula. PUPUH XXXV LADRANG – 01 – Pradenane semono payu saiki padha kita. iya iku pangidhepe ing wong apa. pan den udhag sengit. angriyung ing sireki. wong atuwanira gusti. popolos amiruda.

– 04 – Dadya sira Susuktunggal ika dadi kali marwa. Gelapnyengreng Gelapnyawang Gelaperang. ambles ing dhasaring siti. ing jajahan Sindhangkasih nukmanira. langkung gegetun ing kapti. ora kena untunge ku bapanira. Talibarat Parwatali. banaspati inton jurig lan kemangmang. susuluring kang rama ingkang wus sirna. – 08 – Panjinaga dewa mambang apa maning jin prayangan. – 05 – Malah katon ing tingale prabu wanara lang Anggalarang. kang memedi lan bragola. – 06 – Ya ta Prabu Ciyungwanara abalik sarta ika. – 09 – . Anggalarang wus den asri. – 07 – Pan sinebur Prabu Anggalarang sangti ingauban.

kang ing tawang. kadadiyane lintang karti iya ika. – 11 – Genya nyakra sumulur madeg dewaji wus koncora. amuwuhi Anggalarang arjanira. dadi patih langkung saking wicaksana. ing karsana sang prabu ing Pajajaran. menak pra kuwu nyungkemi. – 14 – Tumenggung ika ingkang den arani namanira. – 12 – Waktu iki ingkang jumeneng papatih winastan. – 13 – Pramilane lintang karti cong keng siji iya ika. nyananing sakuling kalulawadya. – 10 – La kul manuk ingkang bisa tata jalmi samnya ngabdi.Anggalarang pan riniyung ing saliring. . teluh braja lintang ngalih. ing sang maha wruhing naya. anut ing titihing aji. kyana Patih Bentanglompang. Ki Tumenggung Paracutan. layung abrit tapak angin lan gelapan.

ingkang nyawa pan dadi pejah.– 15 – Mula nama paracutan iku dening angracuti jiwqaraga. ingkang putra Sunan Jumanjang kang nama. kadya panggereming macan sami. – 19 – Pan wus jengger sabawa Sundha negari aprakasa. – 16 – Sagedhangan apayuyune wong mati nanging ika. – 18 – Yen anggerem ngoregaken ing sabumi kaya obah. ya janggelek urip maning ingkang kalma. prabu sampun mengku Prameswari. yen wis den uculaken maning. – 17 – Waktu iku demange kang winuwuri kaki demang. nalangkep jalmi. Gurumuruh namanira. – 20 – . ngabehine Sindhanganjen namanira. saktinira nyentak jalmi kalenger padha.

– 22 – Mangka nuli kang minangka rabine aji duk samana. mangka ingkang. ingkang nami Wotsari aputra Yang Maduraksa. – 24 – Iya iku kang alinggi aneng suci dupi ingkang. kaputran saking Jepura. kang besuke puputra. asal Baturuyuk ingkang miyosaken putra. – 21 – Pucuk gumun sepuhi ya ingkang nami. mangka nuli Mantrisari apuputra. guru mindha Mantrisari. – 25 – Raden Sinom iya iku amurtrani kang sinebut. miyosi siwi sanunggal Raden Kalipa. pinangka iku ing kana. nama Anggalarang malih. ratu Sekar ing tanpa omas. satunggale malih nama. pan kasebut Raden Anggalarang mudha. – 23 – Iya iku kang ajatu krama maring Sangyang Citra.Ni Ratu Gumiwanglayaran Sari. . Raden Sinom kang alinggih Salagedhang.

Sanghyang Tubu kang linggih Sokawiyana. dening Prabu Anggalarang. . tetes kali Cilutung maring.– 26 – Ingkang nama sanghyang Widaya kang sakti. pawestri kasing timbangan. dupi garwa marujune. ing Pajajaran anengge. kaapti Ciyungwanara. dupi saking Cilutung ngulon pan maksih. cacangkok pra kuwu. – 29 – Wawangine Ni Erangtungtang kang nami iya ika. Sundha puri sarta selir walung dasa. – 27 – Dupi iku kang kaaken maha dewi iya ika. ika nuli amutrani. – 28 – Kang den sedhep ing ayunan sri bupati Anggalarang. wustahunan windon mengku raja. Cipali ya ika. kang dadya dewi mature. ingkang nama Dewi Mayengan jeneng ira. Yang Widaya. istri saking pasirmilir iya ika. ingkang dipun rengkuh. PUPUH XXXVI DHANDHANGGULA – 01 – Pan sinigeg Anggalarang mangkin.

ing sagunging sesa Anggalarang. pan bunihan akeh amijil. kudu bae ana kasandhungan. atmaja ya Lengkaraganal. bulus putih angabar. arep wangun lingsem ing aji. estu megat kukuncung. kang darbe manah ngungak. den katogaken sagung. ing saiki seja ngadoni. sing ameneng dadi raja. ya iku ing sajenenge. surupe ing kasakten. Raden Jayalengkara ya tan giris. ingkang putra jati kakalih. ing awang-awang trus. kang kasebut nama nipun kang karuru. sing akasor lampus.– 02 – Lami-lami danguning ngaurip. kang padha sirikokalan. akeh panglimagung. saktining Anggalarang. teka den rumpaki kabeh. mepeg gaman Pajajaran. Anggalarang songkawa. dadya ngembat sarotama. – 06 – . kyan Sukmaantalirasa. – 04 – Edir-kadiran panantang weri. la payu katogena. img bumi anyaangkal obah. tanpa dadi kalilip luguting aji. Sunan Talagamanggung. basa jahata kerwanthen. kang kang atma Jayanglangkara sakti. yen den prasila mangpang. – 03 – Seja ngaru ingkang linggij aji. – 05 – Ya ki Patih Bentanglopang agasik. amponi buwana Sundha negari. iya isun ingkang estu.

padha balik ing parnahe. dhateng sampeyan sakabeh. – 10 – Pan ya iku marganing angabdi. ing pangabdinipun. Tumenggunge kangracut. maring Jayanglengkara aji. Menak Panumping kabeh kaparentah. ika ki Tumenggung. kagem ngasta anyokot ilur ula mandi. pan sumedya angabdi kahula.Sanjatane sapujagat nempeki. popoyan maring rewang. Ki Tumenggung pejah kapisanan. kinepus dinamu. lan nama tiba ipun. Patih Bentang gegetun kapti. Ki Tumenggung kabeh padha anangis. Atmajaya agupuh. nedha den gesangena. den jaragang cinawuk. ora kaya atma ingkang. Ki Tumenggung apejah. kari saubing payungika. Atmajaya balik maning. maring sang Atmajaya. kempis-kempis kulimes sang Tumenggung ababalik sira ngabdi. – 09 – Sasambate lamon mangke urip. iya kaya lampus. sja nyuwuk atmaja Yang Tengkara. Tumenggung wus lampus. ragane wus galudhag. maring Lintang tiba padha silak. ragane dadi gesang. la ika pinritandang. urip kaya wau. wadya bala Sundha negari. den adhepaken muka. dening Atmajaya kabeh. tinarempang den jarage. – 11 – . cunguring Paracutan. den gigit dening musuhe. – 07 – Ki Tumenggung atandang madhidhig. analangkup nyawaning wang dadi mati. Paracutan kocap bisa. – 08 – Pan ageger wadya Pajajaran sami. Jayalengkara nyawa katarik. nuli kulawarganira. aglis sira andamu maring.

lumepas anuju arah anglebur Ta. Tumenggung Paracutan. ingkang kathah wus padha kapurba. maring sang Atmajaya. – 15 – Wong Talaga kathah padha nangis.ora nyana kang kawula lit. kang warna kadi gegelang. wadya sajroning pura. – 12 – Suuding bala kagiri-giri. maring sarirane dhewek. sirna purna geni garantang alalis. Bentanglompang saja amakaya. datan antara dangu. seja malesaken iku. sejanira ngrebut. panyanane sakabeh kabakar. dening Atmajaya kabeh. kadi gunung gelap marab-marab geni. atilar Anggalarang. singa ingkang tan anut ing titi. tabuh maring Anggalarang. sanjata garantangan. wus angadeg sang ratu. – 14 – Dupi wadya bala dhateng jawi. ing Talaga kang den jeneki. sing amaneni jemur. – 13 – Lawas-lawas ika sang apati. mula padha kamawula. tinumpes den tempur. welas maring Anggalarang. Bentanglopang karsa nglepasi. wau dhateng sang Prabu Jaya. maring Atmajaya padha gumusti. Atmajaya wus kaloka. pirang-pirang ewu.aga. amapag maring garantang. ing emban-embanipun. sigra ngalurug kang bala mungkari sathithik. dening gelap maludage. saolih-oliha merangi. ing sesane Anggalang. ning Atmajaya dadya. Susuhanan Talaga mengku nagari. kadya ra ngobar jagat. gelap talaga ika mijil. . Atmajaya adan ika ngangkat. pramila [atihipun. anyakra bawana Sundha.

dadi maning lintang kerti iya iku. kadak siking Cikeru. Bentanglompang geblas kawur. ing wau wurung den obar. jelag subita babanting arti.PUPUH XXXVII PANGKUR – 01 – Atandang Jayanglekara. alung babrena lalis. pulih angsal pinangka. kaligane ambuwal. he Atmajaya iya. iki isun wis pepes ya aja tanggung. medal sira kapisemu. kang nyawargakaken ing sira satuhu. – 02 – Kantun Prabu Anggalarang. – 04 – Animbulaken ing toya. wong Talaga akeh padha anangis. den lepas si sanjata angin. – 03 – Aja dawa-dawa wirang. Anggalarng angandhingini. tampanan iya iku. surake bala Talaga. atmajaya anabda iya becik. duk lagi nabda samana. . menthang sanjata topan sira aglis. sanjata aliwawar. dhuwur pamumbaling warih. dan tandang Jayanglengkara. mubal malah tanpa tanpa sangkan mijil. sira kukuru alawas. sida iki den keleme dening banyu. anggigilani kang toya. tumon gustine asakti. nyana den kelem ing banyu. gumaludhug tanpa krana wetunipun. – 05 – Kadi ta lir gunung toya.

anarajang banyu asat pan tumuli. Talibarat datan weruh. sangang wulan menga-menggeh lumari. – 11 – Dadya tan bisa tulunga. warnanen kang Jaya ngancik. Parwatali tan mulat. bala wita ingkang iki. tan bisa aningalana. sigegen kang pala dara. Ratugumilang lumayu. pramila nelang bagja. awiyang alalu lalis. – 09 – Apa maning lagi wawrat. pramila sang Anggalarang. Gelapnyawang sadhapure datan weruh. – 08 – Amung Prameswari nira. kapepes kaduga lalis. – 10 – Susuhunan ing Talaga. mulane muni lir mundhing. dadya ika pancalima pandha cenguk. niba tangi seja njujug. langkung payah ical ing samangeripun. muni ngowe-ngowe lir kebo limayu. ingkang nami jeng dewi. wau dhateng Anggalarang sab gaib. malah kalampah Jaya ika saking. – 12 – . mring Prabu Ciyungwanara. Anggalarang katarajang nulya kawur. sumhati ararangkangan. merad maring ngalam lintang. kaingsep ing sira lisus. krana mengkele kang napas. luntanira narajang.– 06 – Aliwawar wus lumarap. turunan jeng Prabu Galuh.

jeng Dewi Simbarkancana. Jayanglengkara wis amiyosi sunu. kaputraning Bathara Pancarangin. putra satriya pipitu. Teja Pramana iki pambarepipun. tumuli kang anaming satriya Ki Teja ing Payunhagung. kang sakt kang ora sakti. lan Ki Teja Cintamanik. pan rakaning Centangbarang ingkang nami. Ki Teja ing Ujung Lutung. lan Ki Teja Sangapriya.wis mangkana adating donya. – 17 – . wis kandel ing rampak kuna. ing untunge endi ana sakti punjul. ingkang mangke olih laki. ya ki Teja Sokasari. nuli ika ngadheni nami. la yen mungguh gagaman ingkang mandi. – 16 – Nuli Teja Ingaguna. iya iku kang nama. Caierang lungguh ratu. Rawagadha putraning Bentangmerngu. – 13 – Ta ika baja daulat. Jayanglengkara suhunan ing cai. – 14 – Ing wong agung kahiyangan. Simbarkancana nulya miyosi siwi. Bentangmerngu punika. panggulune ika nama. olih nyelang marwasa. Kenbalura jenengipun. yen ingkang wis tumeka. – 15 – Lamining ajatu krama. putraning Rawagadha. sote yen jaba ning untung.

ingkang nama punika. ya ta Susunan Talaga. gadhang jodhone sang putra. – 20 – Karana Jayanglengkara. Silinwangi kang anami. sawula-wulan awangun. aneng pungkuripun timbul. sagenah-genah garwa. – 22 – Sang Orabu Jayanglengkara. apuputri istri ayu. – 21 – Ngadhaton sagenah-genah. dhela-dhela ngelih puri. duk pangidhepe sang aji. duk mangko durung ana. denganemu garwa. dadi anyar maning anyar datu. yen kala ngider buwana. dhela-dhela sejen genah. Teja Sokasasri kang gadhang ing benjing. ing sandhenge angratu tan langgeng linggih. ana dhomas garwane amarinci. anjembaraken ngalenthung. kawarta wus sugih rabi. Ratu Pamratsari iku gadhange ing besuk. kanggo pranti kandheg kampir ing lalaku. – 18 – Mundingdalem namaira. pan mulane katela paparabipun. iyang-iyung pijer amurwa puri. masih nyatur andhing luluhuripun.Dupi ika kang anama. den parenca enggonipun. dumadi amukti sira. besuk rabi Ratu Pamratsari. . sugih garwa sagenah-genah mranti. suhunan sugih garwa. remen alincak lincak. kamuktene ora bosen ing alungguh. wus koncara tepis wiring. alihan lincak-lincak. – 19 – Garwaning Jayanglengkara. kampir angrantuning enu. tan bosenaken ing manah.

ya sun puja dadiya sulur nalendra. sang prabu sepuh sukati. – 02 – Bari rumangkang lumampah. ing ngayunan sang aji. Prabu Sepuh Ciyungwanara. praptane ing ngayunan.PUPUH XXXVIII SINOM – 01 – Sigegen suhunan Talaga. yen Anggalarang lalis. ya ta pareng ing kana Ratna Gumiwang. kang karoban ing wibawa mukti. abagus wuwarnanira. menggap-menggap ingkang napas. rabine ingkang lumayu. Jajaka Mundhingkawati. ngowe-ngowe lir mundhing. dening Atmajaya sakti. – 04 – Suka rena nalanira. ratu Gumiwang lumari. medal jabang bayi jalu. udheg-udheg tiningalan lanang pelag. udheg-udheg bapa kyai. – 05 – . legane bragojol jalmi. ambekane mengkel ngeden arenggosan. anyungkemi ing padaning. embok metu maesa. –03– Nuli bae bebeleyan. iya sun arani sira. pon ika sampun angarti. angadenaken babayi. ngowe-ngowe kadi mundhing. kadi wong anglalu lamis. ngowe-ngowe elap isun. karana biyangmu nuni. awedi diboyonga. kawarnaa kang miruda. Ciyungwanara jinujug.

edan bae kawenangan ing wong liyan. ing benjang salamet urip. konsi duga pitung bengi. randha muwah duwe laki. maring Wundhingkawati padha kasmaran. katempelan asmara lulut. nyi mantu udheg si jabang. telungane ing kita. mangsa wurunga abangkit. padha pasrah jiwa raga. sun srahaken maring sukmane si jabang. kasmaran ing Mundhing iku. sandika ing mangkin aji. padha buri ingithil. ing wang tuwa maring laki. manawa dadi susulur. aja-aja kang tumingal. angruru pusakanipun. ing rat prakuwu mangsa. bisa amangko pinuli. padha kabadri-badri. akeh wadon kang kedanan. akeh istri padha lali. – 06 – Amung manawa si jabang.Susulure rama nira. – 07 – Ratna Gimiwang aturan. openana den abecik. dugi mraja kawarni. sabab uwis kajabel Jayanglengkara. – 09 – Ingut-inguting swaranira. Anggalarang kang wus lalis. tut buri ing Mundhing gupuh. ya angrungu abane padha kasmaran. – 08 – Estuning raga asihan. wus ilang kang wirang isin. linulutan ing pawestri. bisa angrebut pusaka. dinelap lastari urip. salagine ingkang sami. pan si jabang wus den asta. ing rat prayangan mangkin. ingkang prawan kang wulanjar. – 10 – . kelingan bae ing swara. yen nyata titise jati.

remening Mundhingkawati. teguhan talikrami. anggepe Mundhingkawati. kalesan ingkang murugul. linadenan akirda pan sadaya. padha kondur kokalan. kang padha rinungruman. mung kinambadan ni Pasung. lan garwane Jayalengking. jar murang niti rungruman. – 11 – Padha sungsung rebut ing sang. – 15 – . ingkang padha marinci. singasinga anekani. maring sang Mundhingkawati. saprakara wadon kang teka priyangga. angumbar akarsa nira. – 12 – Akirada pan sacombana. garwane Majayalengking. wong anom amurang titi. padha sami sakarani. ngambat ing praja pra kuwu. padedesan kang tumuwu yen den lewa. Raden Mundhingkawati. adate Mundhingkawati. akeh garwane Jayanglengkara jinamah. tan lawan den undang maning. ing wadon sagulingan. padha rinujak ing lawan. angambat maring garwa. – 14 – Sakeh wadon duwe ningwang. padha sosoroh gulingan. Mundhinggkawati nadhahi. – 13 – Yen konangan ingkang jaga. prandene linorod binegal marga. ginaregeg den iring-iring. malah yen kapandhak margi.Malah ika lampahira. sakeh wadon kempong perot sok wadone. malah ika lami-lami. lara pati sun labuhi. kang lagi tinandhu-tandhu. Malangsumirang mambrih. Raden Mundhingkawati.

prameswari den sanggani. tan ana braja nitisi. braja gemet ing pawestri. pan rinungruman sadaya. – 18 – Lara pati dipun dhadha. panebusing murang sarak. datan kaliwat siji. PUPUH XXXIX KINANTHI – 01 – . kang ning padesan marinci. yen wis sampurna abendra. padu wanodya ya iku. iya pasthi sun sundhepi. aburan carampusan. adate Mundhingkawati. sakabeh den dalajahi. pon ya iku kang angembat tupaningwang. esok bae angkohe Mundhing Bathara. ora nana kang pinilih. tinadhahan kang braja.Ginawa ing pasenetan. tan idhep garwa aji. luwih liwat anglalanangi ing jagat. sapa bae kang kapapag. kamanyangan yen mendhaka. – 16 – Nanging sun mangsa kandega. isun ora anggingsiri. Mundhingkawati kalangkung. ambegal ingkang pawestri. – 17 – Ya ta garwa Atmajaya. dening kaliwat gemetan. pan samya kang ngiring bedhil. nyumur gumuling lang angrong pusanakan. sing awadon den cicipi. ingeculaken ing margi. anumbak pan sami nyuduk. Atmajaya musuhipun. rabine si Jayalengking.

seja den kacebur cai. kaligane tan kacandhak. – 04 – Ting salengseng ngalor ngidul.Ya wus dadi ara-uru. Mundhingkawati wong siji. den buru-buru tunungtik. – 05 – Tan olih gawe alusut. kacandhak Mundhingkawati. Mundhingkawati tan keni. dadak-dadak den ebyuki. ya ta dadi den lurugi dening bala ing Talaga. pating bilulungan tan polih. . lamon geger garwa aji. ginawe ing raga ina. kang cinekel boya kena. ora nan kang ngundhili. Brajamatya adhag-dhag dhigdhig. karajahan Atmajaya. ora duwe napas mijil. – 03 – Juwala apa si bendhul. mabura kang tanpa sentik. ya ta wis amaribui. seja nyekel sang Bathara. angalahaken nagara. yen pinanjingan ing dhustha. raja gagaman talaga. seja cinekel winingkis. ambekane dipun tarik. – 02 – Kang seja galethuk datu. koncara angrurung sebi. mundelik kaya apejah. Ki Tumenggung Paracutan. dening Arya Paracutan. ya ta kamisosot kangpri. – 06 – Sang Anom pan dipun cawuk.

janggelak tangi urip. kawenangan ika dening. nuhunaken gesang malih. katura ing Mundhingkawati. – 10 – Ngasih-asih aturipun. ucul wis rumanjing maning. – 08 – Gelapnyawang wus jumegur. nuhunaken pangapura. – 11 – Tilar Atmajayanipun. Paracutan tulus pejah. wus ngedhag tanpa ambegan. Mundhungkawati lir mati.– 07 – Sabab nyawa den talangkup. – 12 – . kahula datan langgana. supados mangke gesanga. ginawe abang putih. Tumenggung pejah den Gelap. Talaga dipune ngabdi. tan wande angabdi. – 09 – mangsup dhateng jasadipun. sujud ing sampeyan gusti. namber Paracutan katimbis. sacecepenganing Paracutan. rama dalem Anggalarang. dening Paracutan sakti. babarpisan angemasi. dhumateng Mundhingkawati. nyawa Mundhing kawarnaa. kulawargane anangis. kaku jengkeng ora obah.

Mundhingkawati ngandika. sun prawasa lan dumadak.Dhateng Pakuwan pra kuwu. – 17 – Nagara seja sun japut. – 15 – Tan pantes dadi Tumenggung. kena den pambri papati. yen katekan musuh sesa. Jayalengka wong mementhil. . cakelane den go bakti. ora rep yen isun iki. aja supe kene nangis. Paracutan wong luwih ala. pangidhepe nengah minggir. pantes dadi wedhi bumi. kanggepa ing ratu anyar. babaktine Paracutan. si monyet si tai anjing. den bekteni ingkang kaya. ya iku den aku gusti. ila ing badhami becik. pikulan buburu dhuwit. sun rebut sing Atmajaya. – 13 – Kadedo ra dadi ratu. arep sun cekel pribadi. – 14 – Sanadyana maring isun. Paracutan endha modar. ing ngarsa sampeyan gusti. endi ingkang gadhang menang. wong ora lana ngawula. saturune mapan ora. – 16 – Sira wus age mampus. enggo apa den uripi. aweh ora weh ing mangkin. ya pon mangkono maning. patut kanggo gawa salang. calak-calik ing agusti.

– 21 – Sukmaantalirasa sampun. sun tumpur kahananeki. anak putune sun buwang. kentir kagawa ing warih. Rahaden Mundhingkawati. ambabar ing baris geni. kalih sadherek kang nama. wus wruh yen Tumenggung mati. mumbule lir gunung warih nrajang ing Antalirasa. – 22 – Medal tanpa sangkan banyu. malabar adadya wangwa. adan sang Mundhingkawati. – 20 – Jayalengkara agupuh. Nyawange Mundhingkawati. – 23 – . amapag sireng payudan. kawarnaa Jayalengka. ya wis larut tan katingal. adir-adir sakti luwih. mepes dadi awu nuli. ika Atmajaya lengking.– 18 – Ya sun anggep bala ratu. narajang baris dahana. Sukmaantalirasa sakti. kawirangan padha nisi. kentir kagawa ing warih. – 19 – Ya ta Baronjot Tumenggung. yen wangkal iya sun kebat. den samber dening Gelap. sun uprak ing bumi ngriki.

angembat sanjata angin. tan pakara kang garigis. – 26 – Parandene kang tinuju. gumingsir salagi beli. Sangyang Talaga ika. PUPUH XL ASMARANDANA – 01 – .Ambles maring dhasaringpun. – 24 – Mundhingkawati rahayu. kajulina tibeng siti. Sangyanf Aliwawar ngena. wangkeng kadi pacek wesi. kapisanan kalembak. – 27 – Panumbule kadi gunung. – 25 – Tandange Jayalengkara. lisus angeder lir ngreba. silem ing talaga yoni. nampek ing Mundhingkawati. gramanggramang iku dadya. bulus putih dipun japa. sumilem amblese maring. sangyang Talaga alalis. banyu cikeruh ngulati. medalaken wira sakti. Mundhingkawati amuja. wus merad alalu lalis. dan Prabu Jayanglengkara. narajang ming Jayalengking. akening Sangyang Ukir. nuruni racun garigis. kawur maning yen iyaa. bulus putih angambara.

Duk iku Mundhingkawati. kawal ratu Pajajaran. . ing buwana Pajajaran. ingkang ngreh pradata sakabeh. nami Ciyungwanara. idhepe ing Pajajaran. Mundhingkawati samana. tulus jayane angrebat. – 02 – Apa kaya wingi uning. kang buawana Pajajara. Kawungluwuk ingkang nama. pinangka pajakanipun sang ratu ing Pajajaran. wong pinter anginger bala. ngabehi kang uninga. Ki Tumenggung Padhamenak. Ki Patih Gurugul iku. – 03 – sang Prabu Mundhingkawati. sumulur ing ramanipun. ngagem pajagan sakabeh. wus den angkat pangratune. katelah nalendra anyar. putus ing kademangan. sadaya sami nembah. ingkang kasebat nama. wau ingkang manjing metu. jaksane lan papatihe. dening luluhure ingkang. – 06 – Ngabehine kang anami. ing Mundhingkawati ngulun. kang nguningani pagawe. – 05 – Demang Sedhapura. anulak cilaka isun. – 04 – Tumenggung kang anami. wong cilik sabarang karya. menak pra kuwu Pakuwan. pusaka saking ramane. angrapu-rapu bagja. pamagutaning wicara. anata ing Pajajaran. sakalir ring pamatrolan.

– 09 – Duga ing sawuri-wuri. iya kasebut Susunan. Susunan ing Tatanpolawung. lan Susunan Raja Malaka. – 10 – Lan Susunan Wanaperi. – 08 – Duk samono Gulbopati. Mundhingkawati angraja. lan Susunan Ranggalawe. garwa domas ing kathahe. Dewi Trusgandarasa. lan Sunan Jumajeng. lan Susunan Kidul ika. lan Sunan Telagamunggung. – 11 – Suhunan Jati apa maning. kalawan Susunan Parung. kabeh tedhak Pajajaran. iku Susunan Sambate.– 07 – Awindon ataker warsi. kang asal kaputrenipun. Sunan Tegal kahiyangan. tatapi duk samana. lan Sunan Tegalkayangan. lan kaya ika benjang. kang wus lenggah binagawan. lan Susunan Pandhajawa. lan Sunan Ranggalimbangan. pon ya tedhak Pajajaran. – 12 – . kang amba gawan linggihe. Prameswarine kang nama. masih nyatur kang luluhur. lan Susunan Ciburu ika. sakabeh durung ana. kang ana ing Pajajaran. anak putu Pajajaran. saking luluhur ibune.

manjangan asantana. sok rena sagedhene. surake ambal-ambalan. yen buru kidang manjangan. ana den brangas kewala. kulawarga santana. wus loba pana dhacinan. babat kang den pangan mantah. wus warna-warna asuka. genya kasengsem aburu. . ing alas arame-rame. – 15 – Kang den bacem den petheni. idang pirang-pirang atis. sakti-sinatenan iku. sukane manah agawe. bakasem daging sakabeh. duk rasmi lan manjangan. ora nan kakurangan. paburu asadhiya. dupi lawasing lawas. den sasate den pepenthul. pirang-pirang kang tampayang. gaganting anarambah. – 13 – Pating careluk sukati. kang dipun ayem atine. turunaning Linggaiyang. kang dhinendheng dipun gulung. olah-olahaning mangan. – 17 – Ya ta dadi anarengi. kumanjangan daden-daden. iku wus aduwe turun. kang katelahe ing nama. pirangpirang manjangan. den gecok den rerempah. wadya bala katutugan.Sang Prabu Mundhingkawti. lir ta kang mangan anyaran. kang pareng olih bayangan. – 14 – Kang den bakar dentengi. karemene ambedhag sangsam. – 16 – Masih abang jare manis. singga alas den oyak.

– 23 – . gagaman maning yen mempana. tanopen kidang ancaran. kang bangsa kidang sambawa. maring Mundhing Bathara. dening ika ing ngamukan. mangka nata uga ika. manjangan pon sambawane. – 19 – Manjangan gumulung yakti. ing kidang lan manjangan. iku ramaning manjangan. – 21 – Manjangan gumulung sami. gumaringsing ing ulese. maring kula balanira. samya kapalayu kabeh. dadi ika ratunira. gelar panyelang susila. seja angayoni gawe. lan kidang panawungan. ing galunggung kahanane. iya iku ramanipun. sumeja sira tutulung. gegere wong Pajajaran.– 18 – Manjangan gumulung sakti. sang kidang pananjung ing Sundha. ya iku kang estu turun. – 20 – Dangune den osak-asik. sakarang ngamuk ing alas. dening tantetesing punglu. sang kidang panawungan. lan manjangan wulung upas. tan sakeca ing nala. sampun wangun gelar pamuk. kalih sang kidang panawungan. – 22 – Paburu akeh kang mati. Linggaiyang kang sasmata.

– 03 – Gada tikel Ki Demang den undhi. kidang sangsam wau. .Sedhengane ika bedhil. ngamuk amarawasa. prandene tan pupul. kapental lir punglu. ora kruwan Ki Demang tibane. wus kadi lempung kewala. ingkang kidang dipun timbisi. – 24 – Patutu iku dhedhemit. lawan keris atugel kerise. lawan gada wesi. mariyem datan tumama. pelore kaduga gepeng. Kuwungluwuk den undha wanti. iku ta manjangan apa. dening teka kabeneran. manjangan den coco. muluk kadya pelor. PUPUH XLI MIJIL – 01 – Ki Ngabehi Kuwungluwuk ngandhepi. inton-inton panawungan. den tuju tumuli. – 02 – Demang Padhamatang ngandhepi. anglingkab koncaning ratu. kidang den cekel soso. gawoke nembe anemu. Ki Tumenggung Padhamenak sri angandhepi maring. galunggung betan siluman. ing awaking manjangan. kidang jurig alas moreg. iya kuwel gulung rame lagane.

ing Ki Patih ya karasa seget. pan binalangaken kidanga. kidang ika uwis. sigra kang manjangan nyokni. dadya sira ucul sing astaneki.– 04 – Sigra tortoran pijig-pinijig. tatali aliyur. Ki Tumenggung ing kabelasate. ora kaya seking tan sipi. kabyesat adhawu. duga pasukadi. kapyesan tan adoh. sadyanira sinembeleh age. ing gagamanipun. ora kruwan tibane malih. tan kahur parek den wingkis-wingkis. tangi ngudhag den papagane. Yang Gurugulkiwul. ya datan miyatani. adan sang apatih. – 06 – Enggal tandang manjangan den kempit. ambaluki Pati. nujahipun solot. – 07 – Gulunipun manjangan tan kanin. kapental ing ngasruh. – 08 – Tangi ngudhag dipun tujah maning. – 09 – . – 05 – Ora kaya manjangan kang sakti. sinerat dhumongkol. aprang popon-popon. dipun udha den walik-walik.

pala dara nisih. gunung Trogong kang den purugi. wong Pakuwan padha geris kabeh. – 11 – Saking kutha Pajajaran mijil. maning jeng sang katong. Mundhingkawati sabandhu wargane. gunung Kuwendenlok. duk samana iku sang dewi prameswari aji. trus kandha duk iku. iya iku namaning kang ngukir. kang seja den ungsi. Tegaluwar ayu. mulane dipun wastani. iku gunung Antragangsa rane. ing gon ya ing kono. ya dening sang prabu. pandhe siluman ya iku genahe. – 14 – Sagrawane saselire ngiring. garwa kula bala ngili. samya bubar saupacarane. . munggu kadikuling. gamarudug gatos. ngalor ngetan metu. ingkang kaparag sami. ya pangonan alimun. geger pating careluk. – 10 – Dupi kidang manjangan anuntik. mung kang kari saelir-elire. kumaritig mrono.Murud tinandhu sang kyai patih. – 13 – Paparabe kang kuna angapti. Tarogong kang nami. – 12 – Ya sejane go umpetan aningid. wus tan ana miyos.

– 16 – Ya ing kono pareng kaget kanyedig. ngenthe-enthe loyon. den jaluki tulung. he gunung Tarogong. tulungana isun sakabehe. lagi kawalesan den baledig. Antragangsa nenggih. rebut urip sewang-sewangane. lan manjangan racun. – 17 – Tan emut garwa Kaluwargi.– 15 – Dhuweg bobot wawahu sangang sasi. ting barisiting wong. pan kaburu karo laki lempate. bawaning ambesot. ingkang gandane arum. dupi Prabu Mundhingkawati. ing tegalsili. kang gandane arum. – 20 – . lan manjangan gumalunggung pri kaget. bubarira kadi kapusus ing musuh. duk lalaku pan ambeneri. bumi Tegalsili. wus anyandhing ingiring aning ukir. – 19 – Prabu Mundhingkawati ambelik. meteng tuwa suwe lakune. ya kang meteng brojol mijil. – 18 – Tan karasa jabang bayi mijil. dening kidang sakti. dening kidang langgon.

duk wau lumayu. wus mangsup sakabeh. ing manjangan dadi amuki. tan kawagang nempuh. kaget dhateng kempong. tulungana isun. dupi iki isun kang kaseseg. wong Pakuwan samya abubar kabeh. wusing manjing ing sakulawargi. dan Mundhingkawati. ing gunung Tarogong. katujah kacokot. gunung Tangkep maning. bawaning alali. mrene iki jawane angili. tembe emut ing wewetangane. . – 24 – Pan sarupa merad Mundhingkawati. ya dadi ingkang enakane. – 21 – Balanisun akeh padha mati.Ya ing wau kidang sun baledig. sabronjote mangsup. ya ta kidang manjangan dadi. mantrinisun sami. ora metu-metu salawase. pirang-oirang buron. – 25 – Ya ta Dewi Trusgandarasa adi. kaya jagat ing weteng ingukir. yen wewedhe tan karsa amilih. – 23 – Maring jagat ingkang ing sajroning ukir. – 22 – Sinambadan pareng samana ukir. apa kaya mau. Yang Gunung Tarogong. age den agelis. belamiyan katingal ing jrone.

tangtu anyuluri. anak kita kang marojol kari. kaya kucing amberseni. ana ngendi baya ing tibane. – 27 – Prabu Mundhingkawati lingnya ris. nuli ana wong aruru. den cokot kang ari-ari. dukaciptanira prakarane. macan kesah ngunguliti. – 02 – Wus karesi si jabang kaya ingedus. baya anaking wong. maring anake mangkono. sapa bisa manggihena gusti. ing garwa ja dados. ningali jabang ing kono. kang marojol kantun. akyu aran kahiborit. warnane sang jabang bayi. PUPUH XLII MEGATRUH – 01 – Pan sigegen kang sarupa lalisipun. kang neng Tegal Silih harum. dening embok macan wadon. sampun punthes kaya puput. ing tilas kita mau. . – 03 – Karojotan si jabang lagi ing riku.– 26 – Prameswari alara anangis. si jabang bayi mami. pepeleme den dilati.

– 04 –

Pan binakta si jabang den agupuh, pramila dipun wastani, Siliwangi namanipun, krana asale kapanggih, ing alas rum kuno.

– 05 –

Tegalsili tampanganing alas gunung, jabang sili rum dan urip, urip ing wong ngambil kayu, kocap anak kahi Borit, salirum warna jalitro.

– 06 –

Wantu-wantu dadi anak tukang kayu, badan ora bresih-bresih, kalalare ladheg buruk, ora na prajapajaning, taliti putra sang katong.

– 07 –

Ya wus apa dudune bocah ngon gunung, carobong ngenek-ngeneki, ora ilok adus-adus, ing maletenge agething, rambut kethel ingakotor.

– 08 –

Tan kawarna lampahe budhak salirum, kawarnaa kidang lemping, sasirnane ya sang prabu, dadi ika ngosak-asik, anang Pajajaran nyewot.

– 09 –

Maring menak pra kuwu padha alarut, amalayu den baledig, geris tan ana atunggu, ing praja den tinggal bresih, golendhang kariya kosong.

– 10 –

Kaisenan kidang manjangan akumpul, garadang-gridik awan bengi, angkohe anjabel dhatu, dheweke ingkang ratoni, ing kono mulane manggon.

– 11 –

Gawoking wong menak pra kuwu, genya kasanglat saking, wedi mareg bok den amuk, padha geris samya nisih, ing parna ing adoh-adoh.

– 12 –

Kidang Panawungan lan Manjangan Gumalunggung, lunta puas-puas ati, ngamuk ngulon ika mampuh, Pakuwan Prayangan goning, Ciyungwanara dipun brobok.

– 13 –

Geger gemetus menak Prayangan alarut, padha ngili nyingid tebih, maring guwa maring gunung, tan ana bisa ngundhili, pan sami abubar adoh.

– 14 –

Prabu Ciyungwanara ngili lumayu, ing Simpar patapaning, Ajar Ujung Banaliwung, asingidan denimponi, dening Ki Ajar ing kono.

– 15 –

Wus angarti anak putu padha larut, sowang-sowangan lumari, rebut urip laku rusuh, ibur uwis ora mikir, maring laku raton-raton.

– 16 –

Ya wis pating barisat tan mikir lungguh, nagara wus …………. gandring, kalingdih ing kidang bungur, …………. kaisen dening, kidang menjangan ton-inton.

– 17 –

Ika padha angkohe anglindih ratu, malesa poli den buroni, Mundhingkawati duk mau, amburu manjangan dari, saiki gagantos buron.

– 18 –

Ya sang Kidang Panawungan sabala ngratu, ing Pakuwan kulon nenggih, Prayangan kang dipun gelung, malah wus putra anami, Kidang Pananjung gadhang wong.

– 19 –

Dupi sangsam gumlunggung sabalanipun, angrat sakukubaning, Pajajaran kuwu, Pakuwan brang wetan nenggih, kang den wingkis kang den enggo.

– 20 –

Pajajaran kilen wetan wus den aku, ing Kidang Sampati, kulon sang Kidang Panawung, wetan Manjangan Kumliking, manjangan ya la wus miyos.

– 21 –

Putra Manjangan Gumaringsing namanipun, ya iku kang gadhang jalmi, pramila ing waktu iku, kidang manjangan kadhasir, sarasmi kalawan wong.

– 22 –

Sabab asal-usul Inggaiyang wau, Kidang Panawungan sami, akir dalanjal malulut, yen manjangan iku dening, sing Galunggung dhemen ing wong.

– 23 –

Lan yen monyet Cogowang iya ikut, ilok dhemen maring jalmi, sabab asal-usulipun, sing Lutungkasarung dhingin, margane kadi mangkono.

– 24 –

Waktu iku Pajajaran kaslangipun, ing ratu sato sambawi, ya sijar salaminipun, Silirum sing maksih alit, maksih dadi budhak kangon.

– 25 –

Ala walatra bocah anerus tunjung, lami-lami ika nuli, ana kawenganing pulung, putra menak Sindhangkasih, nyi Rara Sigir pan jatos.

– 26 –

Masakaken ing budhak si Silirum, ingimponi den karseni, denedusi timbul pulung, ya si wantu tedhakaning, andana wirya gung katon.

– 27 –

Gilang-gilang marenenge tejanepun, komarane anelehi, mangga ngucapa sang ayu, Rara Sigir genya ngapti, aja na liyaning jodho.

– 28 –

Dadya Jaka Silirum ing jidhonisun, mungga kadulura dening, panadyane atinisun, mangkana ing duk pamikir, sawiji kalawan jodho.

PUPUH XLIII DURMA

– 01 –

Waktu iku nuli ana ing bancana, wau cicipaning, dalem Palimanan, karsa angiwat-iwat, Sigir Panjaling ingkang den prih, adan sakala, iku nyamber sang putri.

– 02 –

Putri Sigir sinamber tan kena inadha, enggal dipun tulungi, dening Siliganda, kalampah sira pancas, buto roro den kembari, kinarya sepak, padha buta kagulinting.

– 03 –

Malah katon ing wong Sindhangkasih sadaya, Silirum asakti, anyana punika, dudu bandra-bandrakan, duga buta kalih neki, larut asirna, wau den sanjatani.

– 04 –

Dadi mundahak katarimahe ing kana, dening wong Sindhangkasih, pareng lawas-lawas, Siliwangi teka karsa, ing manjangan seja wani, pinenging aja, dening si Rara Sigir.

– 05 –

Aja sira ngulati gawe angangkah, isun melang ing ati, bok ora kawagang, sunrungu ika sangsam, kaliwat ing saktineki, kaduga ngebat, aken Mundhingkawati.

– 06 –

Jaka Salirum wangsulane ika, ingkang sun ajab lalis, angrebat nagara, babaguse wong lanang, angulati apa maning, punika sawarga, ginawe ayu mangkin.

– 07 –

Adan mangkat Silirum anggawa panah, tan arsi dipun iring, kali wayangan, sudira ngundi lawan, panantang baya ngenani, sampun anjujag, pra kuwu kang den ancik.

tinujah kaliwat kadi. adan lan gagadhang. ingapura den wenehi. ika ingkang nama. Siliganda wus bisa ngrebut puri. – 09 – Ya Manjangan Gumalunggung sinabet lan panah. tembe saiki pulih. lan ika manjangan. narajang bela pati. – 12 – Duka yuswaning sawelas warsa. gupuh anembah.– 08 – Dyan Manjangan Gumulung wus dadya mulat. sagenah sayasa nipun kang mula-mula. ya Manjangan Gumaringsing. – 11 – Apoliye iku menak pra kuwu ika. bela ing bala. malesate kagawa. maring daleme malih. wus kakenan panah. dhumateng Siliwangi. iku hebating jalmi. Manjangan Gumaringsing. adan putranira. Silirum dipun tujah. bugel sangsam ngemasi. – 13 – . cacangkok pisan ing Galunggung pan nagari. nuju wawayangan. kosonging praja. dupi tiba dadi jalmi. tan dangu den walesi. – 10 – Den papagaken layan sanjata wisesa. Gumaringsing kumawula. lamine sawelas warsi.

menak prayangan.Jaka Siliganda angulon ika. duk ningali kolebat. maring Pajajaran malih. kidang den panah aglis. sawelas tahun angili. Kidang Panawangsa. ing jalmi amburu aglis. – 18 – Baudendha wekasanira nalendra. ing Panawungan perni. asuka rena dening ananulungi. saiki dumadak. Prabu Ciyungwanara. dhumateng Siligandha. Siliwangi kang ngimponi. mantuk ing Ujungbana. ing Pajajaran. jujug prayangan ngancik. – 17 – Den apura pan sinung cacangkok sisan. la iku purwaning dadi. seja bela ing rama. sira dadi jalmi. karebut ing Jaka Sili. wus apulih karta. kang gadhang nyakrawati. datan antara nuli. adan ingkang putra. – 16 – Ing enggone alinggih lagi duk kuna. Kidang Panjing prepeki. bisa pulih waluya. ing Siliganda. Pananjung ika aksami. riku kang kidang. maring sang Ganda. Panawangsa ngemasi. tumuli anembah. – 15 – Amalesat Kidang Pananjung atiba. . – 14 – Dipun sabet lan panah tugel sang kidang. ing rat Pajajaran. adan pinapag aglis. bisa balik mulih.

sima ingkang dilati. ing pusaka pribadi.– 19 – Kujajaka prawira nom sing dibaya. ing tegal siliwangi. mesat dugi babar. dupi kang yayah. – 24 – . dadine danyata. diweg mateng kang bibit. sasmata angrebat. dening kaliwat sakti. tedhak atur wara. rena manjing ukir. subagjane sun puja. peciling Mundhingkawati. kinongang nundhung weri. – 21 – Duk kapeleter dening Kidang Manjangan. – 23 – Ciyungwanara ngandika mangsa bodhoa. – 22 – Ya sarupa lalis tilar si jabang ika. dadiya susuluraning. inggih punika delap dumadi sakti. kaprabon duwe nira. pareng macan linggar. arebat wipala. gela nyawang pra sami. jabang dipun gemes sang dening rencek kyai Borih. jabang tiba katilar. ora nyelang ora nyiling. babaring Tegal ara-ara Siliwangi. sri Pajajaran ingkang bagawani. – 20 – Ya tan dangu Parwatali talibarat.

– 02 – Bala dewata jawata amayungi wus kaloka. ora ana musuhe ing buwana iki. PUPUH XLIV LADRANG – 01 – Sinahuran geger peter ketug muni genya ngangkat. ratu araga sukma akadang sukma. . karajaan Siliwangi.Sira sanyata gintung-gingtung manira. – 04 – Lan koncara liwat luwihing prajurit. kina wenang iku ing sakarsanira. dadya angreh Pakuwan. sira ingkang ngimponi. ngiseni Sundha nagari. Prayangan pra kuwu uwis. sun istreni sira. ora ana kaya ratu Pajajaran. ratu sajagat buwana kabeh iki. – 25 – Alungguhan nyakrawati Pajajaran. kajana priya ing luwi. tirimaa sira. ing salungguhira. karone tunggal. kang anyar-anyar katondha saking kana. si gintung saiki. ingkang muji jati. – 03 – Sugih sanak sugih putra sugih rabi dadya merna. dening Yang Acintamanik.

kebek ing rat.– 05 – Menak pangrengku kang nama awarni-warni. warna-warna. Kalanglunana. Katumenggungan malih. kocap ingkang. sugih wadon miwah sugih putra wayah. ing Pakuwan nyakrawati. Gajah Manggala muwah Gajah Siluman. – 08 – Kademangane kumerab awarni-warni. mantri gedhe mantri cilik wis anjagat. Jalana kang ngabehine. Kalangangkes Kalangsiyu Kalangrejang. Gajah Barong Gajah tandhing. Kalangtonggo Kalangsari. Kalangwirana Kalangbadhag Kalangbrama. – 06 – Gajah Enggang Gajah Puntang Gajah Rucik. – 09 – Pan mangkana wadon abrakothi. Gajah Muntang. – 10 – . – 07 – Kalangluhur kalawan Ki Kalangeling.

tan ana durga nyantoli. putra dalem ana ing rat Pajajaran. – 14 – Nulya iku akrama ya maring putri Tejasuka. nami Putri Pamratsari. – 12 – Katelah nyai Embok Agung amutrani ingkang nama. jaler ingkang apranami. pan gumelar putra wayah ya anjagat.Wis awindon takeran tahun amukti awibawa. ingkang wau Sindhangkasih. ajalera den Sangkeki. – 11 – Malah istri kang purwa anggumateni timur mula. nuli puputra kang Susunan Pandhajaya. Mundhingdalem paparabe putra nata. jaler ingkang naminipun Raden Umbang. – 13 – Dupi garwa ingkang nama Panawangi apuputra. dadi tulus jodhone lawan sang nata. . – 15 – Pandhajaya iku wus mutrani maning ingkang nama. ing putra saiki negari.

cacangkoke bupati pan dudu nata. nama Prabu sabupati lungguhira. – 21 – . Linggaiyang anem suri. – 19 – Sangiyang Arjuna baya gung asisiwi ingkang nama. – 20 – Dupi garwa Siliwangi ingkang nami mraja cinta. Linggaiyang puputra Sangiyang Arjuna. Prabu Kangkangirang nenngih. – 17 – Duk samono akeh putra ingkang den prih lawan nana. prabu ana ing bupati. – 18 – Prabu Kangkangirang ika mutrani ingkang nama. rang-arang acucuk prang ngamuka.– 16 – Dupi putra Nubdhingdalem sanes bibit iku lanang. iya iku amutrani. Linggalawang ing Cipamali. Sangiyang Madhangrasa Medhangkamamangga.

Prabu Siliwangi maning. ingkang nama Ratna Yumanik gumilang. – 24 – Kang alinggih aneng Panembong ing puri. . – 23 – Prabu Resik ing Rajapolah kang puri dupi garwa. Kidang Pananjung ingkang saking Ratulawang. Siliwangi ingkang nama. ana denegarwa Prabu Siliganda. – 25 – Apuputra Yang Jampana alinggih aku ana. Ratu Widayaka anuli sira puputra. – 26 – Ingkang nama Dewi Pergilayaransari mulya putra. Siliwangi ingkang nami. dupi garwa. Maharaja Larang kang nitis. – 22 – Tyas iku ingkang ngawiyosi siwi ingkang nama. Sangiyang Wiragasakti. Saselawangi apuputra Sangiyang Tular.Ana dene garwa Prabu Siliwangi ingkang nama. Yang Wiraga puputra sang Ratu Puntang. ing Ratulawang kang puri. Ratu Widayaka sakti.

– 28 – Ratu Puntang puputra titiga nami. apuputra Kidang Pati. sang Prabu Jayapakuwan. iya iku Sangiyang Bathara Larang. Pernalarang ing Raturuyuk kang puri. – 30 – Prabu Sendangpugeran iku kang alinggih. aneng arga Gunung Munara kang puri. – 31 – Kang alingghih Kamiwelas dining puri. sangkane jujuluk nami. Ukur sepuh aneng kadhipatenira. Prabu Jayapakuwan iku puputra. ing Jumajang ingkang puri. angadheni Ratu Mas tuwa nini moyang. – 29 – Kang adalem ya ana ing Ratuwangi. – 32 – . kaping tiga. kapindhone Anggalarang Anem lenggah. Yang Mas tuwa.– 27 – Ingkang tapa aneng ing pucuking ukir made sukma.

Prabu Wasipernasakti. Prabu Sela. ya ana ing timun putih puranira. kang anama Prabu Sendhang Jayasakti. – 36 – Sendhang Kajayan nuli ika amutrani. Prabu Sendhang Gunung nami. – 37 – Prabu Wesi pareng ika amutrani. – 35 – Sendhang Gunung iku amutrani maning. Kandhuruwan tuwilimun kang alinggih aneng Gunung Ciaya ing enggonira. ingkang nama. . Prabu Sendhanglimun sakti.Dupi Prabu Sendhangpugeran mutrani. kang adalem ing Gunung Gedhe kang pura. ingkang nama. – 33 – Sendhanglimun kunuli mutrani. ing Ngabdu ing alinggih. kang nama. kang adalem ya aneng Sagara Erang. – 34 – Sendhang Ngabdu ika apuputra malih. kang adalem ing Rajapolah. ingkang dalem ana ing Tetegal.

sanga iku putrane Ki Kandhuruhan. adalem aneng Pamijahan Karang. Patrabangsa lan maninge. Ki Wargakosala. Eran-eran Ngewre nami. PUPUH XLV PUCUNG – 01 – Lurah Bangsa punika ingkang alungguh. – 02 – Pancase la ing Palered dalemipun. sanga jalma. ing Pamanukan genahe.– 38 – Kandhuruwan ika mau amutrani. Mundhing Bthara kang linggih. . ingkang linggih Luwimundhing dalemira. santohan punika. ing Panguragan genahe. – 03 – Arya Wirantanu ing Cibalagung. – 39 – Ki Santohan Kadirun kang anjeneki desa aran. Wirakusuma ing Ciasem ingkang pernah. pernaira tapis wiring Pajajaran. ana ing Pagagan.

Sijine kang nama. amiyosaken putrane. nulya puputra Sangiyang Sempokwaja. kang kaksih jeng Batharadinata. ing Panunukan genahe. – 05 – Ingkang ana Sundhalarang dalemipun. Buniwati raras.– 04 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. Bathara Sakti jenenge. – 07 – Sempokwaja kang agarwa putrinipun. ingkang dalem ana ing timbangan ika. – 06 – Wondane wau Yang Wiroga ausunu. jenenge Ratu Pramana punika. ki Wargakosala. timansapura jenenge. Panji Rababuwana. – 09 – . – 08 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. nama ratu Demang. sanga iku putrane Ki Kandhuruhan. amiyosi kaputrane.

– 12 – Kang dadalem ing Cangkuang pernahipun. – 14 – Ratu Pananten rama dewa jenengipun. kang dadalem ing Timbangaten nagara. – 11 – Tyas iku dadalem ing Cangkuang pernahipun. . sri Praman ika. Medalagung ingkang miyos. putra nama Susunan Raja Malaka. kang Susunan Ranggalawe. ingkang dados garwa. jujuluking nama. mangka Dhiputi Cangkuang iku puputra. putraning Susunan. – 13 – Ratu Kawunganten rama dewa iku besuk. kaloka ing rat. Dipati Cangkuang mangke. – 10 – Garwa Ratu Pramana kang nemla ika. Dhipati Cangkuang mangke. kang Susunan Jati ing Carbon. ingkang rayi istri iku namanira. kaloka ing rat. anuli miyos putrane. nama Suhunan Jaratna ing Cipinaha. ingkang rayi istri iku namanira.Nulya gagarwa [iutri saking raja Galuh.

– 16 – Nulya Yang Ageng nuli amiyosi sunu. – 20 – . aneng Cilutung genahe. dupi kang katelah ing ngendher. Yang Mayak puputra dalem Narasinga. iya iku kang limunan ing Tunjungbang. iku amiyos putrane. Rumsari ganda. maring Kanci dadalem.– 15 – Dupi garwa Siliwangi kang pulangun. – 18 – Kang dadalem ing Ngendher ingkang jujuluk. Sangiyang Ageng kang alinggih Setularang. nuli puputra dalem Nayagati ing Sundha. tumuli apindha. ki Sangulara namane. nama Sangyang Mayak. abangsa lelembut. – 17 – Ing kajaksan ing Carbon iya iku. Dupi garwa Siliwangi kang anama. – 19 – Rara Siluman miyosi putra pipitu. ki Dhipati Cangal.

iku miyosi putrane. ki Wanabaya linggihe. mau Sumur Agung nuli puputra. kang neng Sawunggantang. ki Kamalarang ing Ngonom genya ngimba. ki Kuyupuk ingkang. pan titiga sawijine ingkang nama.Ki Dhiriwengi ing Ragan manggene lungguh. ing Guwa Sancang limute. putra ingkang paparab Ratu Rawana. ping telu kang nama. iki lewi aneng Guwa Pajajaran. dupi Yang Wirun kang miyos. Sri Intenbancana. – 22 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. – 24 – Sangiyang Widaya anenggih ing namanipun. – 25 – Ratu Rawana iku nuli susunu. . ki Daluwengi ingkang. – 21 – Ki Mayadewata ing Malakbok genya lungguh. sangyang Wirun paparabe. pra buwana bala. – 23 – Mundhingsari kapindho Yang Sumur Agung. Prabu Wanabaya nulya puputra. ing Guwa Upas dhemite.

ingkang apranama. nuli puputra Raden Senapati Ngalaga. Yang Lebakwangi jenenge. – 29 – Lan Sangyang Panengah ingkang muwah adhinipun. – 28 – Linggasri aneng Pangkalan tumuwu. Sangiyang Sogol ing Maleber. nuli apuputra. – 27 – Duk wau Linggawayang turun-tumurun. ingkang sakapika. nuli Sri Wayang Nuli puputra. Yang Sumur Bandhung linggihe.– 26 – Ingkang nama Sangiyang Ngabehi cucuk. Sangyang topasri lan Sangyang Babak panyarang. lilima satriya. Linggawayang putrane Sangiyang Arjuna. – 30 – Pandalarang ika amiyosi sunu. dupi garwa Siliwangi kang anama. lan Linggawayang marmane. puputra Sri Wayang. – 31 – . ing Citaman dadaleme.

nama Raden Tetel kabeh. Prabu Rangsangjiwa. nuli puputra Prabu Layapakuwan. jenek ing salami-lamine. . Tumenggung Sedhangrungkang lan Tumenggung Cikakak. – 32 – Raden Memenang ingkang mangke tuwuh. apuputra ing name. Rangsangjiwa nuli miyos. dupi garwa Lisiwangi kang anama. ing Tegal Koripan. – 33 – Katurunan ing sih ingkang miyos putranipun. – 36 – Kalih Ki Kartamnggala iya iku. jalu ingkang nama. Yang Guntebuyeng jenenge. Tumenggung Suradarmane. Dhipati Manggala nuli puputra. – 34 – Prabu Layapakuwan anuli susunu. – 35 – Kartamana lilima ing putrinipun. iku Gedhengrungkang. Raden Tetel kang sepuh nuli puputra. putra lanang sang Dhipati Kartamana. dupi Ki Gedhengrungka. sakalih maneh ika.Lan Sangyang Cimara kalih Sangyang Ciagus.

anulya puputra nami. dupi Tumenggung Sedhangrunggi. kang anjagat sawengkening Pakuwan. saking Pajajaran. kang aneng ardi. lan Susunan Wanaperi ing Talaga. – 39 – Kabeh iku tedhak Sundha gung-ginunggung. Prabu ing Pakuwan adhi. lan Ajengarjuna. . Kabul putra papat. Ki Nataraga wastane. lawan Puswawangi. nulya Cirawati nama. – 38 – Wangdaprana apuputra Ajengawu. iya tirik iya lerek. anulya nuli puputra. Emas Batulawang ika.– 37 – Ingkang nama kiyai Kabul puniku. Wangsacandra Wangsanata Wangsaprana. – 02 – Dupi garwa Siliganda. Kyai Emas Anggawijaya puniku. iku apuputra nyai. PUPUH XLVI SINOM – 01 – Ki Tumenggung Suradarma. Bagus ardi Tumenggung warga dinata. kang mernah pencar-pencare. Mayangkaruna kang anami puputra Guru Gantangan. kang jujuluk kang Ranggamantri. lan Raja Parana iku.

Ki Dhipati Ukur tuwa. Demang Gedhe puputra. ingkang gagarwa iku maring puranira. Raden Rinahon iya iku. nyi Gedhengkulan ika.– 03 – Wanaperi apuputra. kalawan Santohan iku. nuli ika sang Pandhahan. Ukur Ngoradhipati. dupi putra Siliwangi. Mundhingjaya ing Mandhal alinggih. Raden Wirareja lan kimas Wargadipa. – 06 – Muwah Raden Wangsareja. Raden Danupati ing namanira. nuli Raden Gedhe nami. lan santohan Urureng. – 04 – Akrama aputranira. Lembualas nulya mutrani. Raden Tandang kang nama. lan Raden Sobanumitadi. Mas boncel Mas Kariya nami. nuli puputra punika. kabeh terah Pajajaran. lan kang nama Raden Kacang iki. lan Wangsadireja nami. miyos putrane sakawan. jujuluk Maraja tunggilipun. lilima kathahe iku. nuli putra papat nami. lan ki Wansadhipa iki. – 05 – Ki Dipati Kungkang ika. . tetelu ingkang anami. nyi Gedhengkulan kang nami. mangkana santohan pelang. miyos puputra kakalih. nuli putra nyimas Kirana. Wangsadhipa mutrani. Sunan Parung ingkang nami. ingkang miyos saking ampiyan punika. dupi Yang Linggapakuwan. Raden Togog namaneki. – 07 – Klawan Raden Wargayuda.

Ratu Gumilang akrama. – 09 – Nama Sunan Tambaliyang. kang tapa ing matahari. ing Kandhangwesi kang linggih. putra Santohan iki. ing Majalakang dalemneki. kang alinggih aneng Parakantig. Gajatapa nama dalem ing Pawenang. ika paparabing putra. kang Suhunan Ciptalewi. ingkang amiyosi siwi. sang Bathara Resik Putih. ing Taraju kang negari. amiyosi putra ninipun. putra Siliwangi iku. putra ing ampiyaniku. kang miyos saking Sri Tanduran. – 12 – Kapindhone Ratu Kara. . Raden Srigadhing murtrani. Ratu Guru Ajijaya namanira.– 08 – Kang nama Sang Deyasa. kang sawijine maning kaputra. – 11 – Lang Sngyang Rajawabana. ing Cidhamar parnah neki. kang sawijine maning. ing Kawungngora dalemneki. Rajaiyang brusbuhani. ping telune ingkang nama. Resik Putih asusunu. ing Gunung Licin linggih. kang tapa ngawang-ngawang gempi. Sangyang Surakerta. putra istri kang anami. – 10 – Siliwangi ingkang medal. inggih titiga kang siwi. Ciptalewi putra tetelu. kang sawijine kumaning Siliwangi putranira. ping telu Lokajaya. kanjeng Susunan Madya. sijine ingkang nama. Ratu Dewa Gung la ika. nama sang Raja Wiwara. ya iku bojakertadi. saking arum ganda Wayangsari. ingkang sawijene kumaning.

Yang Medhang nuli sisiwi. ki Ranggacarikan nama. ingkang krama putranira. lan ki Ranggagedhe nami. Sri Ngacala namanipun. nama Raden Sadhanglarang.– 13 – Anuli ika puputra. miyos kakalih kang siwi. lan ki Raden Suradiwana ya ika. dupi wau Sedhangrerang. nama Sedhawati. Pangeran Sumedhang nami. nuli ika asisiwi. nuli putra sakawan iku. Anggamantri miyos siwi. ing Wedhanglarang alinggih. – 16 – Kang linggih aneng Kuningan. Caktradewa sisiwi. – 15 – Anggamantri namanira. anana Yang Medhang. Cakradewa putraneki. Prabu Srimangka nuli puputra. kang sawiji ing namane punika. ing Sumedhang gene linggih. – 14 – Lan ki Yang Tunggabuwana. lan sinine niku maning. ing satedhak-tedhak neki. sang Kidang Panajungan nami. dupi garwa Siliwangi. ingkang namanira iku. Sedhawati puputra wau. kapat ki Tajimalela. ingkang nama Susunan ing Pajengan. Ratu Guru Aji Putih. – 17 – . Padnawati Araras. Susunan Kalana Ulunan.

Subang Karancang jenengipun. panengahe istri nami. milane tinggal kaputran. nyimpar-nyimpar numpal keli. Prabu Cakrabuwanadi. nama Kantanalarang. ika nyi Subang Karancang. anuli miyos putrane. siji lanang ingkang nama. pramilane den sengiti. .Ingkang nama Boros lan Ngora. Singapura kang negari. kang aneng Panjalu kang puri. inguprak-uprak tinundhung. Rara Santa jenengipun. dening kang rama aji. PUPUH XLVII P U CU N G – 01 – Rara Santang pinet garwa Mesir ratu. warujune lanang nama. – 18 – Kalih Ratu Pajajaran. ki Ngora ing Rajapolah. ingkang nama Pangeran Carbon punika. lami-lami karsa nyabrang maring Mekah. gih punika careming jatu Krama. maring agamaning muslim. ki Raja Sangara iki. titiga miyosi siwi. mila tilar bumi kana. putra titiga lan rujuk dhateng kang rama. Cakrabuwana mantuke. dupi sing sabrang nenggih. agamaning bosok bedha. – 02 – Nulya krama dhateng putrane ki kuwu. maring Jawi aneng Carbon dalemira. – 19 – Karsane kudu miluwa.

– 03 –

Kalih istri nyi Rakungwati ya ikut, dadya Cakrabuwana, katelah kaji namane, Abdul iman kalawan Arya Lumajang.

– 04 –

Lan kang nama Pangeran Gagak Lumayung, ngamandhing Pakuwan, manpet pajeg ing trasine, sabab dening cinandhak ing Arya Lumajang.

– 05 –

Rara Santang wis lawas ing Mesir iku, nuli wus puputra, loro lanang ing namane, Syeh Hidayatulah kalawan Syeh Nurullah.

– 06 –

Syeh Hidayatullah angajawa ikut, alingging Ardiamparan, Sunan Jati papabe, pan rinengga dening kang uwa Lumajang.

– 07 –

Dadi akeh kang manjing Islam aguru, ing wong cilik tuwis menak, barungah sadayane, Wali Jati kang katubturan akramat.

– 08 –

Dupi putra Siliwangi saking putranipun, Dhampuawang kang minangka, Kandhanghaur kaputrene, ingkang nama Balilayaran punika.

– 09 –

Putri bungsune Siliwangi iku, sang putri Layaran, masih cilik den kekentel, ingkang nama Siliwangi sebenernya.

– 10 –

Den kekentel mrana-mrene datan kantun, kocap Prabu Wanara, dan memeksa ing yogine, Siliwangi den tutur gagaib ira.

– 11 –

Den patiten sajeg ana wali iku, ilang ing guriyang, Pajajaran surem kabeh, pangaruhe ing puri tan wurung tanggal.

– 12 –

Den abecik aniti puri Sigintung, ya isun wis ana, kang mapag ngajal kasucen, pati nami ing dina kabeh wekasan.

– 13 –

Tan antara Ciyungwanara dadya iku, awak lutung asukupat, jalmi sing dhadha mukane, ……..anjengek alinggih roro kang asta.

– 14 –

Dupi saking wuri suku awarni buntut, nalosor nangcep ing andhap, narik maring sapta burine, pan tinarik ing buntutira priyangga.

– 15 –

Dadya sirna merad tan katingal iku, dening kang putra wayah, wusing sirna luluhure, amung kantun Prabu Siliwangi ika.

– 16 –

Mana sajen sadina roro ing kalbu, kukuwung mesum katingal, sang teja lor wetan pernahe, naban bengi sumonge padhang sumirat.

– 17 –

Ora liyan kang dadi sangsara iku, si cantang sarowangira, kang padha gama muslime, ingkang dadi sangara ing Pajajaran.

– 18 –

Adan prabu animbali patihipun, Tambisara nama, priksanen sumong ing kene, padhang sumong ya iku tejaning apa.

– 19 –

Ora pranti ana teja kaya iku, apa manusa bathara, anyala wadi katingale, den agelis padha rujagen denira.

– 20 –

Tambisara pamit nembah kesah sampun, ambakta satus prawira, angungtik kang teja tinon, nyata anang Gunung Jati pernahira.

– 21 –

Den talikah nyala wadi teja iku, pan seja den rujag, wong satus muwah patiye, ambrek sami lumpuh tan sesa ing angga.

– 22 –

Genya lumpuh sing dalu dalan enjingipun, pareng enjing suhunan, marikasa maring wong akeh, arep waras beli yen mambri ana atambah.

– 23 –

Tampanana kang sadat roro puniku, ucapen denira, tangtu waluya jasade, adan patih napal sadat sadhapurnya.

– 24 –

Padha Islam nulya waluya wong satus, tur den rampek pisan, lan suka wangsul ing nagrine, maring Sundha lir ring wus sejen agama.

– 25 –

Mung ki Patih Tambisara kinen wangsul, sarta bakta surat, saking sunan cacangkoke, wayah aji gih eyang amantu bilah.

– 26 –

Pan kang eyang sang prabu seja dumulur, maring gama Islam, ora kaya ing tedhake, Parwatali saking langit kandika aja.

– 27 –

Apa gawe idhep ing agama busuk, mung ta pusaka kita, sada lanang ngendi gone, prene kena age juputen den enggal.

– 28 –

Ya ingalap sada pinanjer ing alun-alun, apa ing Pakuwan, mangkana nulya parenge, merad lalis sakulawarganira.

– 29 –

Migerngiyang munjuk rayak-rayak gayuh, maring elor wetan, den papag adiasa srine, saking swarga kang para jawata sadaya.

– 30 –

Wusing merad lalis Prabu Siliarum, ing Pakuwan tan ana, kang kari amung bupatine, kang sapalih sapratiganing kang Islam.

– 31 –

Kaya Patih Cangkuwang wus mukmin iku, lan Dipati Kartamana, ki Dimati Ukur kolot, Islam maning ing Ciahur bupatinira.

– 32 –

Amung menak pra kuwu kang masih kupur, samerade Siliganda, Sunan Jati dereng ngertos, masih dadi satriya iku lalana.

– 33 –

Kawarnaa putri bungsuning sang prabu, Dewi Balilayaran, katilare sabab dening, balening Cangkolkencana.

PUPUH XLVIII DHANDHANGGULA

– 01 –

Dupi nusul amburu wus kari, dadya bungsu lara-lara, karuna polos wiyanga, salantrah-lantrah mangmung, pan dumadak nulya pinanggih, lawan jaler kang nama Jaka Kabu, asal kulup Siliganda, marmanipun katulus alaki rabi, aneng jabaning kutha.

– 02 –

kyai Wiranegara. lan bedhil titiga. nuli puputra ji Japatingora. sang Prabu Ciyungwanara. iku Susukan kabu. Inten Kadhaton ksputren titilaring. Bimalarang ingkang pranami. laki maring kyan Santi wus gadhah pecil. nuli puputra ing mangke. ciciptane Ajar Sukarsa. Sangyang Sarepan Agung. tanduran gagang iku. ya tetelu kang dhingin istri anami. dupi ika mau. anuli puputra roro. Prabu Ardikuning namanira. – 04 – Rara Wudhu ora payu laki. wadon Murngali jenenge. sinebut ing pangasrine. Maraja Cipta puputra. ing Walanda den tuku dadi. ika sang putri Madhapa. maring kyan Santiwara. Ratu Madhapa kang besuk alih alaki.Jaba kutha kutha Pakuwan den apti. Santohan Kolelet nuli sisiwi. kyai Gedheng utama. tumuli puputra. – 05 – Careming jodho ika mutrani. marmane iku den edol. – 03 – Ya kyan Santi atitising Siliwangi. lan istri Ratu Madhapa. nama ki Pati ika sisiwi. olih laki wong agung. ing Galuh apuputra. Prabu Pucuk Kumun. Sri Jampang pan mau. inggistrenan dening wong sadhomas. Pucuk Kumun agagarwa. Maraja Dalem Agengan. kang kakasih tanduran gagang. nuli ika amiyosi putra. apuputra kang nama. – 07 – . dupi ika prabu. Sunan kabu ika tumuli. – 06 – Gedheng Utama puputra dalem Japati. lan Maraja Cipta kang linggoh.

Akimas Imbanegara. ingkang paparabipun. Yang Dhigaluh jujuluke. nuli ika mutrani nami. ing Susunan Batuganda. nuli ika susunu. puputra Mertadinata. nuli ika puputra. nuli ika puputra. – 12 – . Arya Wirangun Yang Tunggal. iku puputra Aciputi. kocap Prabu Cimacur. ingka wali kukubane. ki Dhipati Panahekan yakti.Jujuluke Tanduran Ageng Asri. apuputra Raden Walenggabala Estu. ya Prabu Dhigaluh. dupi Sangyang Pramana nenggih. anuli Miyos putrane. – 10 – Kyai Ajeng nama Amongragi. Cohaka ning Sorpura. nuli ika puputra. nama Sangyang Wirun. nuli puputra ki Wirabaya Sakti. nulya puputra kyai Wiranaga. – 09 – Ki Wiraprabangsa ika nuli. Kabolotan ing pernahe. nengga naminipun. kaping telune ya iku. kyai Wiranaga mangko ika nuli. Wiranaga kang sinare ing wewengkon Pasirnagara. – 11 – Dupi Cipta Pramana kang niti. nuli puputra ki Gedhe ana ing. mangka mau mraja dalem agen laki. nuli ika apuputra. ika nuli puputra. Dhipati Kartanata. kapindhone nama Sangyang Pramana. aneng Kakarasuka. ing Dhigaluh ing Kakarsuka. ki Kandharuwan Babakan. Cipta Pramana kang linggih. nagara kawangsul. – 08 – Sunan Batuwangi kang ana ing Cipamancur ya ing parnah hira. anuli susunu.

Sang Jati Wali Allah. tumurun sawuse surat Al-Muddatstsir ) . dupi ing Carbon ika kang dadi. Nuwun. sasesa-sesane dhewek. winuri-wuri ing jati ratu wali agung ingkang jumangah. para Bupati tanpa nelendra. dadi menak pagunungan ika sami. tumuli puputra mangke. taliti ing Pajajaran. iku turun ratu.Gedhe Godhaka ika amutrani. kang den ratu-ratu. Miyosaken putra kang nami. Raden Pati Tumurun. ing satedhak-tedhak ira. deng uwa Cakrabuwana. Raden Wiranantaja. – 13 – Ing Prayangan pra kuwu wus dadi. sewangsewangan angratu. ki Dhipati Sendhangmargalaya. TAMAT Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PIWULANG AL FAATIHAH AL FAATIHAH ( BEBUKA ) Surat kaping 1 : 7 ayat ( Tumuruning wahyu ana ing Mekkah.

Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim. Sesembahaning ‘ alam jagad-rat pramudita.Bahasa Arab : 1. Ihdinash shiraathal mustaqiim 7. Kang Maha Murah Maha Asih. Maaliki yaumid diin 5. . ghairil maghdhuubi ‘ alaihim waladl dlaal-liin Bahasa Jawa : 1. 2. Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin 3. 3. Bismillahir rahmaanir rahim 2. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in 6. Kabeh pangalembana kagunganing Allah Pangeran. Arrahmanir rahiim 4. Kalawan asma Allah kang Maha Murah ugi Maha Asih.

Ingkang baku wonten sekawan. 5. tuwin sanes ingkang sami sasar. makaten ugi dening para andika Rasul saderengipun. Saking ingkang baku kasebut. Kang Ngratoni ing dina Piwelas. ingkang dipun da’wahaken dening junjungan kita Nabi Muhammad s. sarta ngrebahaken sadaya kamusyrikan. langkunglangkung manungsa ( sabab manungsa punika makhluk ingkang saged damel kabudayan wonten ing ‘ alam donya ). Namung dhumateng Paduka piyambak kita sami menembah ‘ ibadah. sadaya para andika Nabi Utusaning Allah kautus ngampil tugas-pokok mbangun Tauhid ing Allah. Shiyam lan kesah Haji. Agaminipun para tetiyang ingkang sampun Paduka paringi kani’matan. kados kasebut ing ngandhap punika : 1. lan nilar sadaya brahalanipun. 7. Zakat. ingkang kuwajiban sadaya titah. Saking zakat lajeng tuwuh ‘ ibadah qurban sidqah. Dhuh Gusti Allah. lan saking Shiyam tuwuh watak Wira’I 9 mboten ndremis lan mboten kathah sesambat ) sumingkir saking ingkang nama lelangkungan ( gesang prasaja ). Lajeng saking Haji tuwuh semangat ambelani sarta labuh ing agami.w. weweweh lan tetulung ing sasaminipun. Inggih punika margi. dzikir lan tafakkur utawi I’tikaf ing masjid. mugi Paduka paring pitedah ing kita sadaya lumampah wonten ing margi ingkang leres. Ingkang baku inggih punika ‘ aqidah-tauhid ( memundhi saha mangeran namung dhumateng Panjenanganipun Allah piyambak ) ‘ Aqidah-tauhid wau dados jejering piwucal Agami. inggih punika : Shalat. lajeng tuwuh ‘ibadah memuji.4. ugi ngajak Ummatipun supados samia ‘ibadah ( manembah ) ing Allah piyambak. ndedonga. sanes ingkang sami kabendon. utawi ngumawula lan manembah ing Allah. saha namung dhumateng Paduka piyambak kita sami anyenyadhong pitulungan.a. 6. Bab ‘aqaid utawi kaimanan . punika kuwajiban ingkang wiwitan kaampil. 2. ‘Ibadah . . Isi maksud ingkang wigatos ing Surat Al-Faatihah : Intisari saking isinipun Al-Quraan punika sampun kaweca pokok-pokok ingkang fundamentil wonten salebeting Surat Al Faatihah.

sesambetaning manungsa kaliyan Allah. ekonomi. perang.angger Hukum lan Pernatan. Huruf Ha . politik.3. nanging wonten ngarsaning Allah ing dinten Qiyanat tantu nboten saged lolos malih. 5. Janji sarta ancaman : artosipun supados ngadeg keadilan lan keleresan ingkang saestu. Sejarah : maksudipun ingkang saged dados tepa-palupi ing salebeting sesrawungan ummat manungsa. lan lingkungan sapiturutipun.pernatan : maksudipun Syari’at Islam damel angger-angger hukum lan pranatan punika kangge karaharjaning ummat manungsa ing Donya dumugi ing Akheratipun. upami hukum. sanajan wonten Donya saged lolos saking hukuman. Angger. sesambetan internasional. dahme. agami. gesang sapisan wonten ing ‘ alam Donya. tatanagari. 4. sampun ngantos damel sejarah awon. sosial. Pembukaan Huruf Jawa 1. kabudayan sarta kesenian. A. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PIWULANG HA NA CA RA KA Oleh : BRM Panji Anom Resiningrum Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa. Pramila ing salebetingQuraan ngemot pinten-pinten norma lan katamtuwan.

Air 2. karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup. yakni berkumpulnya Tuhan YMEyang juga terletak pada sifat manusia. Angin c. Huruf Ca Berarti ‘cahaya’. 5. artinya cahaya di sini memang sama dengan cahaya yang telah disebutkan di atas. Api b. 4. yaitu roh Tuhan yang ada pada diri manusia.Berarti ‘hidup’. sebab memang hidup itu ada. Kita telah mengetahui pula akan sifat Tuhan dan sifatsifat tersebut ada pada yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia karena memang Tuhan pun menghendaki agar manusia itu mempunyai sifat baik. Huruf Ra Berarti ‘roh’. Hidup tersebut terdiri atas 4 unsur yaitu: a. 3. yakni cahaya dari Tuhan YME dan terletak pada sifat manusia. Huruf Ka Berarti ‘berkumpul’. Bumi d. hidup itu adalah sendirian dalam arti abadi atau langgeng tidak terkena kematian dalam menghadapi segala keadaan. . atau huruf berarti juga ada hidup. Huruf Na Berari ‘nur’ atau cahaya. Yakni salah satu sifat Tuhan yang ada pada manusia.

jadi tidak ada yang dapat menyamai Tuhan. Huruf Da Berarti ‘zat’. Huruf Sa Berarti ‘satu’. Dalam hal ini huruf sa tersebut telah nyata menunjukkan bahwa Tuhan YME yaitu satu. dalam arti ini menyatakan bahwa wujud atau bentuk Tuhan itu ada dalam manusia yang setelah bertapa kurang lebih 9 bulan dalam gua garba ibu lalu dilahirkan dalam wujud diri. 9. Huruf Pa . 11.6. Huruf La Berarti ‘langgeng’ atau ‘abadi’. Huruf Wa Berarti ‘wujud’ atau bentuk. 7. Huruf Ta Berarti ‘tes’ atau tetes. 10. berarti abadi pula untuk selama-lamanya. ialah zatnya Tuhan YME yang terletak pada sifat manusia. 8. yaitu tetes Tuhan YME yang berada pada manusia. la yang mengandung arti langgeng ini juga nyata menunjukkan bahwa hanya Tuhan YME sendirian yang langgeng di dunia ini.

. Tuhan YME telah memberikan jalan kepada manusia yang berbuat jelek dan baik. Huruf Dha Berarti dhawuh. 12. Huruf Ya Berarti ‘dawuh’. Dawuh di sini mempunyai lain arti dengan dhawuh di atas. Huruf Ma Berarti ‘marga’ atau ‘jalan’.Berarti ‘papan’ atau ‘tempat’. Jasad Tuhan YME itu terletak pada sifat manusia yang utama. Huruf Ja Berarti ‘jasad’ atau ‘badan’. jagad gede juga jagad kecil (manusia). yaitu papan Tuhan YME-lah yang memenuhi alam jagad raya ini. Jelasnya Tuhan YME dengan ikhlas menyerahkan semua yang telah tersedia di dunia ini. yiatu perintah-perintah Tuhan YME inilah yang terletak dalam diri dan besarnya Adam. 15. 14. manusia yang utama. 16. 13. Huruf Nya Berarti ‘pasrah’ atau ‘menyerahkan’. karena dawuh berarti selalu menyaksikan kehendak manusia baik yang berbuat jelek maupun yang bertindak baik yang selalu menggunakan kata-katanya “Ya”.

seperti halnya cahaya terang tetapi tidak dapat diraba atau pun disentuh. ‘yang bersinar terang’. Huruf Ga Berarti ‘gaib’. 20. karena memang seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Jawa yang menggunakan huruf Jawa itupun merupakan sabda dari Tuhan YME. Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa. Demikianlah gaibnya Tuhan YME itu (micro binubut).17. 19. dan harus diakui bahwa besarnya gaib itu adalah seperti debu atau terpandang. yaitu kabarnya manusia dari gaibnya Tuhan YME. Dapat pula dikatakan gaib adalah jalan jauh tanpa batas. Penyatuan Huruf atau Aksara Jawa 20 . Demikianlah huruf Jawa yang 20 itu dan ternyata dapat digunakan sebagai lambang dan dapat diartikan sesuai dengan sifat Tuhan sendiri. Tumbuh atau adanya gaib adalah dari kehendak Tuhna YME. Huruf Nga Berarti ‘ngalam’. dekat tetapi tidak dapat disentuh. Huruf Tha Berarti ‘thukul’ atau ‘tumbuh’. gaib dari Tuhan YME inilah yang terletak pada sifat manusia. Huruf Ba Berarti ‘babar’. 18. B. atau terang/gaib Tuhan YME yang mengadakan sinar terang.

1. seperti: 1. berarti ‘nutuk’. 2. Huruf Ha + Nga Hanga berarti angan-angan. Huruf Ca + Ba Caba. 3. 2. berarti coblong (lobang) dan kata tersebut di atas berarti wadah atau tampat yang dimilki oleh lelaki atau wanita saat menjalin rasa menjadi satu. Huruf Na + Ta Noto. Angan-angan mata yang digunakan untuk melihat segala keadaan. 3. adanya perkataan kun berarti pernyataan yang . Angan-angan hidung untuk mencium/membau seluruh keadaan. Angan-angan yang terletak di ubun-ubun (kepala) yang menyimpan otak untuk memikir akan keseluruhan keadaan. 4. Dimaksudkan dengan angan-angan ini ialah panca indra yaitu lima indra. Angan-angan telinga yang dipakai untuk mendengar keseluruhan keadaan. Angan-angan mulut yang digunakan untuk merasakan dan mengunyah makanan. 5.

berarti ‘komo’ atau biji. Persatuan kedua benih atau kama tadi mengakibatkan kelahiran. Kata raga atau ragangan merupakan juga kerangka dan kehendak pria dan wanita ketika menjalin rasa menjadi satu karena bersama-sama menghendaki untuk menciptakan raga atau diri agar supaya dapat terlaksana untuk mendapatkan anak. memandikan . oleh karena itu di dalam kata raga seperti terurai di atas merupakan kehendak pria dan wanita untuk menjalin rasa menjadi satu. 6. Kelahiran manusia (jabang bayi) diawali dengan keluarnya air (kawah) pun pula kelahiran bayi tersebut juga dijemput dengan air (untuk membersihkan. bibit. dengan demikian dapat dipahami kalau atas kehendak Tuhan YME maka diturunkanlah ke alam dunia ini benih-benih manusia dari Kahyangan dengan melewati penyatuan rasa kedua jenis manusia. benih. dan kelahiran ini merupakan calon keturunan di dunia atau (alam) donya. 4. Huruf Ta + Ya Taya atau toya. 5. Huruf Da + Nya Danya atau donya atau dunia. yaitu ari atau banyu. Setiap manusia baik laki-laki atau wanita pastilah mengandung benih untuk kelangsungan hidup. 7. dan dengan penyatuan kama dari kedua belah pihak itu maka kelangsungan hidup akan dapat tercapai. berarti ‘badan awak/diri’. Huruf Ra + Ga Raga. Huruf Ka + Ma Kama. Karena itulah maka kata raga telah menunjukkan adanya kedua benih yang akan disatukan dengan melewati raga.dikeluarkan oleh pria dan wanita dalam bentuk kata ya dan ayo dan kedua kata tersebut mempunyai persamaan arti dan kehendak yaitu mau.

karena itulah air tersebut berumur lebih tua dari dirinya sendiri disebut juga mutmainah atau sukma yang sedang mengembara dan mempunyai watak suci dan adil. Sebagai bukti dari uraian di atas. . 8. sebab rumah merupakan wadah manusia. sebenarnya hal ini adalah kurang benar. Bagai pendapat yang mengatakan “wadah terlebih dahulu diciptakan” maka mengenai kematian itu seharusnya wadah mengatakan supaya isi jangan meniggalkan terlebih dahulu sebelum wadah mendahului meninggalkan. maka diciptakan pula wadahnya. Berbicara tentang wadah atau tempat. dapatlah dijelaskan bahwa: kematian manusia berarti (raga) ditinggalkan isi (hidup). andaikata jadi kelahiran kembar maka itulah kehendak Tuhan YME. karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Sebagai contoh dapat diambilkan di sini: rumah. Jangan sampai menimbulkan kalimat “Wadah mencari isi” akan tetapi haruslah “Isi mencari wadah” karena memang ‘isi’ diciptakan terlebih dahulu. Huruf Wa + Da Wada atau wadah atau tempat. Dengan demikian timbul pertanyaan mengenai wadah dan isi. 9. Yang diciptakan terlebih dahulu adalah isi. sudah seharusnya membicarakan tentang isi pula. Dan kelahiran satu tersebut menunjukkan adanya kata saja atau siji atau satu.dsb). Huruf Sa + Ja Saja atau siji atau satu. Pada umumnya dikatakan kalau wadah harus diadakan terlebih dahulu. siapakah yang ada terlebih dahulu. apalagi kalau kematian itu terjadi dalam umur muda dimana kesenangan dan kepuasan hidup tersebut belum dialaminya. dan manusia merupakan isi dari rumah. Pada umumnya kelahiran manusia (bayi) itu hanya satu. dan karena isi tersebut membutuhkan tempat penyimpanan. Hal ini jelas tidak mungkin terjadi. baru kemudian isi. Jadi jelaslah bahwa sebenarnya isilah yang mencari wadah.

Sebaliknya kalau wadah tersebut belum ada maka kelahiran pun tidak akan terjadi. Pendapat lain mengatakan kalau sebelum diadakan jalinan rasa maka keadaan masih kosong (awangawung). Dene empaning pandamelan wau winastan manekung. keadaan hidup tesebut kalau ditinggal oleh hidup maka disebut dengan mati. Semua keadaan yang hidup selalu dapat bergerak. Sebab yang dikatakan mati tadi sebenarnya bukanlah kematian sebenarnya. karena hidup berasal dari suwung sudah tentu kembali ke suwung atau kosong (awangawung) lagi. Akan tetapi sebenarnya dapatlah dikatakan bahwa suwung itu tetap ada sedangkan raga manusia yang berasal pula dari tanah akan kembali ke tanah (kuburan) pula. dan dimanakah letak isi tadi ialah pada ayah dan ibu.Demikianlah persoalan wadah ini dengan dunia. Wallahua’lam Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 AJI PAMELENG Tegesipun aji = ratu. mengku pikajeng : tandaning sedya ingkang luhur piyambak. mesu cipta. yang bearti masih suwung atau kosong. Meskipun begitu. karena sebelum dunia ini diciptakan (sebagai wadah) maka yang telah ada adalah (isinya) Tuhan YME. akan tetapi kesalahan tadi telah dibenarkan sehingga menjadi salah kaprah. . pujabrata. “hidup’ itu tetap telah ada demikian pula “isi’. pameleng = pasamaden. Huruf La + Pa Lapa atau mati atau lampus. hidup kembali kepada yang menciptakan hidup. ngeningaken utawi angluhuraken paningal. Maka selama ayah dan ibu masih ada maka hidup masih dapat membenihkan biji atau bibit. Sebenarnya pemikiran demikian itu tidak benar. 10. matiraga lan sasaminipun. akan tetapi hidup hanyalah meninggalkannya saja yaitu untuk mengembalikan semua ke asalnya. Tetapi setelah jalinan rasa dilaksanakan oleh pria dan wanita maka meneteslah benih dan apabila benih tadi mendapatkan wadahnya akan terjadi kelahiran. mesu budi.

pamujan. kasebut agami Islam. Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet ing Tanah jawi. ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun. Namung kemawon wedharing agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden. pamurcitan. ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun Mohammad. Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun. lan ugi sampun sami saget ngraosaken kabegjan. katamtokaken mesthi ngrasuk pasamaden. dawan. Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau.Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen. perlu kangge sarananing panembah murid manggih kawilujengan. kawilujengan lan sasaminipun. sebab lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. bilih miturut saking tembungtembungipun . inggih nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan saking pandamel kita ingkang boten tilar murwat. sanyata kathah ingkang nagngge basa Sansekrit. tirtaamerta. mila kalayan gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi. panekungan. Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning saliring kawruh sajagad. tirtanirwala. tirtakamandhanu. boten nawang bangsa Indhu ingkang agami punapa kemawon. punapadene kangge sarana duk kita darbe sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran). pamursitan. pahoman. kawicaksanaan. bangsa Jawi ing sa’indhengipun maratah sampun sami angrasuk agami Indhu. kamulyan. awit kawruh wau saget nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi. kados kasebut ing nginggil. utawi sastrajendrayuningr at pangruwating diyu lan sapanunggalanipun. . yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh pasamaden wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina makina. Bebasan sakedeping netra. Dene kawruh wau ing sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu. kawaspadan. makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun. serta sami anggelaraken agaminipun tuwin kawruh sanes sanesipun. mahosadi. Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. paheningan lan sanes-sanesipun. margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged nandangaken dating pangolahing kawruh punika. Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami angajawi. temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu. Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi lan sanes sanesipun. margi saged anindakaken dhateng sawarnaning pandamel sae. nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun. Dene wedharing kawruh winastan daiwan. lan ugi dados pangajenging piwulan agami. kawasanan. sastracetha. Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden. margi saking wohing kawruh pandamel wau.

Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes. bilih wontening wejangan kawruh pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun agami Islam sadaya. inggih punika ingkang kasebut nama santri. katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12. supados pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng pamarintahing agami Islam. serta kenging kawejangaken ing sawanci-wancinipun. yen batosipun taksih angrungkepi agamipun lami. Dumuginipun ing jaman samangke. ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah dhedhemitan. utawi Islam pangaran-aran. kadosta ing ara-ara. sanadyan Nagari sampun boten angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden. Mila lajeng angsal paparab saking panyedaning titiyang ingkang boten remen. langkung-langkung kawruh pasamaden punika ingkang sanyata dados mukaning . titiyang Jawi boten kenging anindakaken kawruh pasamaden. bilih santri punika sarwosarwi langkung resik utawi suci tinimbang kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari. dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir kemawon. ugi papaning pamejang boten kenging kaubah wangon. mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami. yen nerak bade angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam. Ingkang kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking agami Islam. serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru. boten mawang nem sepuh. kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu walangataga ugi boten kenging miring. nanging panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan kados kawursita ing nginggil. dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok tiyanga. menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau. purwanipun namung tetep kangge panjagi. purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman wisesaning Nata. ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen. ing ngriku lajeng angawisi kalayan kenceng. Purwo saking tembung klenik. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng katindakaken. lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. Mila santri karan putihan. dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh manjing agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam wau. Panindak ingkang mekaten punika. Sebab wontenipun sadaya punika supados kasumerepan dhateng ingakathah. serta kedah santun angrasuk agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan. bilih dereng angsal palilah Guru. sanadyan suket godhong. utami tiyang ingkang anglampahi sarengating agami Islam. Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados. inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak). tamtu manggih pidana. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk kaliyan pun murid. Dene yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten. ing wana. yen miring lajeng malih dados manungsa. uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh pasamaden kasebat. pun murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng tiyang sanes.

ingkang mijeni Kyai Ageng Pengging. dening Seh Sitijenar kinen sami madeg paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. namung kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun ingkang sampun sami necep agami Islam. margi yakin bilih kawruh pasamaden wau. Kaping kalih salat daim. Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning piwulang. margi piwulangipun langkung gampil. Lajeng tunimbal dhateng Sunan Geseng. wirid saking tembung daiwan kasebut ing nginggil. Mila titiyang Jawi ingkang suwau manjing agami Islam. pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged andhatengaken ing kawilujengan. kasebut salat sarengat. terang lan nyata. ingkang ugi apangkat Wali. Ki Cakrajaya wau pandamelanipun anderes nitis gendhis. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah. ing ngriku salat limang wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak boten kawulangaken babar pisan. Punapadene lajeng kaewoaken dados saperanganing panembah. Kawruh asamaden. daim saking daiwan basa Sansekrit). saking . anyuremaken panguwaosing para Wali. kamulyan. utawi kasebut loroning atunggil. ingkang lajeng winastan daim. langkung-langkung ingkang dereng. ing pawingkingipun bab kawruh pasamaden wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam. Punapadene tembung salat lajeng kapilah kalih prakawis. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe suwung. punika panembahing batos. ateges panembah lahir. wusana wonten kaelokaning lalampahan ingkang boten kanyananyana.sadaya kawruh. katentreman. ingkang kacarios saderengipun dados Wali. temah Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami pinejahan katigas jangganipun dening para Wali. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar. anggenipun amencaraken piwulang agami Islam. lajeng kadhapuk ing ndalem serat karanganipun. inggih Ki Cakrajaya. tanpa nawang andhap inggiling darajadipun. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang sampun kabuka raosipun. lan sasaminipun. Amarengi wahyaning mangsakala. Mila wajib sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing saindengipun. dening Seh Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara. Ingkang pinindeng namung mumuruk tumindaking salat daim kemawon. Milanipun dipun wewahi basa arab. Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden. Sangsaya dangu sangsaya ngrebda. lajeng sami ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng ingakatah. Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten. sebab Seh Sitijenar punika mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. ingkang ugi dados pramugarining agami Islam apangkat Wali. inggih Pangeran Panggung. lajeng mungel : salat daim (salat – basa arab. mangertosipun : anekadaken manunggaling pribadinipun. sarana dipun wewahi tembungipun. Sapisan salat 5 wekdal. tiyang asal saking Pagelen.

ingkang sami miridaken kawruh pasamaden. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun. dene panindaking piwulang kawastan tafakur. atur uninga bilih Sunan Geseng. amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken kawruh pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar. nanging mawi sislintru tinutupan wuwulang sarengating agami Islam. . Wiwit punika wuwulangan pasamaden lajeng wonten wanrni kalih. kesah anututi lampahipun Pangeran Panggung. Ingkang boten kacepeng sami lumajar pados gesang. Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg sami enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana. pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. inggih punika : 1. temah kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening mawerdining Hyang Brama. inggih Ki Cakrajaya. para sakabat tuwin murid-muridipun Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan.sanesipun malih. kapidana kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun Demak. mila para guru samangke. ingkang dipun santuni nama naksobandiyah utawi satariyah. ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak rukuning agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun mleset saking jejer ing sakawit. Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid nampi wiridan salat daim. kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih. Salajengipun para Kyai guru wau. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi dukanipun. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung. temah sami rumaos kawon angsal sihing Pangeran. karangkepan wuwulang salat limang wekdal tuwin rukuning Islam sanes. murih boten ka’arubiru dening para Wali pramugarining praja. punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi. Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai. langkung rumiyin kalatih lampah dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh Sitijenar. nilar nagari Demak. nginten bilih kawruh wau wiwiridan saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Sareng sampun sawatawis tebih tindakipun Sang Pangeran. lajeng sami mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar. Dene piwulangipun kados ing ngandhap punika : Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim. Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng kakantunanipun ingkang sami pejah. ugi taksih sami madeg paguron nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan wiridan naksobandiyah. Dene nama Kyai. lajeng oncat medal saking salebeting latu murub. Katungka unjuking wadyabala. temah dhawahing bendu.dhawuhipun Sultan Demak.

Awit saking makaten punika mila tumrap panindaking agami Jawi (Buda). kagiles dening rodha jantraning jagad. punika bilih tetep samadinipun. sabar welas asih ing sasami. boten anguthuh melik anggendhong lali. 5. ingkang dados purwaning piwulang. sampun ka’andharaken ing nginggil. adil paramarta. dhateng ingkang sami kataman. Yen boten makaten. Temah kita manggen ing sasananing katrenteman.2. boten ngunggul-unggulaken dhirinipun. 3. ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar. namung kemawon tumandangipun boten kawedharaken. 2. ingkang dereng kacarobosan agami sanes. Setya tuhu utawi temen lan jujur. dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis. Lampah limang prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata anandangaken ulah samadi. margi saking dayaning mas picis rajabrana. 4. dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan kamardikan kita sami. langkung-langkung pinter ngecani manahing sasami-sami. Pinter saliring kawruh. tansah nganggeni tatakrami. kados ing ngandhap punika : 1. Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah lan satariyah. kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados kawursita ing nginggil. Susila anor-raga. inggih punika makaten : . wiji saking Kyai Ageng Pengging. inggih amesu cipta angeningaken pranawaning paningal. punapadene pinter angereh kamurkaning manah pribadi. ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing samangke karan klenik). kita badhe nandhang papa cintraka. Leres ing samubarang damel. Piwulang pasamaden miturut Jawi. sebab musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan. tebih saking watak panganiaya. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah umandanging samadi sacara Jawi. punika ing sakawit. ngantos sabujading jagad. Mila makaten. margi kacidraning manah kita pribadi. maweh rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa. Santosa. bab kawruh pasamaden tuwin lampah limang prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh boten pilih andhap inggiling darajatipun. tanggeljawab boten lewerweh.

Panampi makaten punika. cetha = antebing swara cethak. dene pamandengipun kedah kalayan angeremaken netra kakalih pisan. kang weruh tanpa tuduh. inggih punika ingkang kawastanan meleng. dados inggih dede kajaten utawi kasunyatan. Menawi napas kita dipun ereh. boten yekti. Sumengkanipun napas wau kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa. yen sae inggih sae temenan. punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking sumengkaning napas wau. ingkang sampun dados tata-cara margi sampun dados pakulinan punika. suku ingkang lurus. punika dereng tamtu. Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta (panggagas). kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing riku punika jumenenging rasa jati kang nyata. Mugi kawuninganana. mila lajeng kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. dene temenipun ingkang kados kita angkat. boten wonten sanes namung badhe nyumerepi kajaten. dalamakan suku ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa. kang yekti. piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau. dene pancering paningal kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa’antawising netra kakalih. mugi sampun kalintu panampi. inggih lajeng ka’edhakna kalayan alon-alon. yen awon inggih awon sayektos. Inggih makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Mila winastan makaten. inggih punika ing papasu. dene sarananipun boten wonten malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking makartining rasa. punapadene pangalaman-pangalam an ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun . Tegesipun cetha = empaning kawruh. Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung samadi = sarasa – rasa tunggal – maligining rasa – rasa jati – rasa nalika dereng makarti. tuwin amuntu ilining rahsa. sarta mawi kaendelna ing sawatawis dangunipun. bilih cariyos makaten punika tetep namung kangge pasemon utawi pralambang. menawi sampun kraos awrat panyangginipun napas. dados . Dene panganggep. Menggah pikajenganipun samadi ing riki. pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan.Para nupiksa. utawi Sang Arjuna yen angraga-suksma. temah anuwuhaken tatacara. Inggih patrap ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. epek-epek kiwa tengen tumempel ing pupu kiwa tengen. Mangrehing anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah. Punapa panganggep awon sae. pikir lajeng gadhah panganggep awon lan sae. tetep namung ngenggeni pakulinaning tata-cara. Punapadene angendelna ebahing netra (mripat). saha sidhakep utawi kalurusaken mangandhap. awit duk kita mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah malih anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. sarana angereh solahing anggota (badan). purwanipun mirid saking cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati. Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten : panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) . Dene makartining rasa jalaran saking panggulawenthah utawi piwulang. bilih samadi punika angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal saking badan wadhag. jer punika namung pakulinaning panganggep. Saking dayaning panggulawenthah. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing saniskara. inggih cethaking tutuk kita punika.

margi nalika mocapaken mantra sastra kakalih : hu – ya. Dene manawi sampun sareh. sarwi mocapaken mantra sarana kabatos kemawon. Mila sayogyanipun lampahing napas inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel. minggah dumugi ing suhunan. Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau. wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe maksud sanesipun malih. wedaling swara ingkang namung kabatos wau. Dene. panebut wau mungel : hailah – haillolah. Bilih kakalih wau kendel boten makarti nama pejah. pandu = suci. kalihan lenggah. margi saya kuwawi dangu. ingkang sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). utawi nyambutdamel inggih kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau. kasarengan kalihan wedaling napas. mila makaten. minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan cethak. nanging dayaning cipta kita. makaten salajengipun ngantos marambah-rambah sakuwawinipun. ugi kawistara saking dayaning cethak. Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil. hu – Allah. kita jumeneng gusti. inggih punika mungel `hu’ kasarengan kalihan lumebeting napas. inggih punika ateges panjang tanpa ujung. utawi ateges langgeng. Dene ambegan punika. Inggih punika ingkang kabasakaken paworing kawula Gusti. awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen anandangana malih. Dados ulah samadi punika. Kajawi punika. tamtu boten saget dumugi ing suhunan. ing wiridan naksobandiyah kaewahan dados mungel. anggenipun kawastanan sastracetha. kados ingkang kajarwa ing nginggil. yen tumedhak. inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing puser. inggih risaking badan wadhag wangsul dados babakalan malih. Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang dipun wastani kawula gusti punika dede napas kita. (Ungeling mantra utawi panebut kakalih : hu – ya. sanyata wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel. pikajengipun : mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh.namung manut lampahing napas piyambak. kalihan angeningaken (ambeningaken) paningal. suraosipun : kaping tiga napas kita saget tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). wangsul dados kawula. sa’angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga. panebutipun ugi kasarengan lampahing napas. lumampah. uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing wijiling napas. sebab paningal punika kadadosan saking rahsa. nanging tanpa angereh lampahing napas). margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun medhak malih. kedah kapanjang-panjangan a . inggih wontening ambegan kita. inggih lajeng ka’angkatana malih. ugi kenging karancagaken. Dene sa’angkataning pandamel wau kawastan : tripandurat. Dene pikajengipun amastani bilih wontening napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng. rat = jagad – badan – enggen. sangsaya langkung prayogi sanget. tegesipun tri = tiga. Lajeng `ya’. Dene ing wiridan satariyah. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan). inggih panariking napas saking puser. pokokipun kita kedah amanjangaken panjing wijiling napas (lebet wedaling napas). jalaran sampun menggeh-menggeh. ingkang sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya. tegesipun : manawi napas kita sumengka.

dados saras. endra = ratu – dewa. waesia dados satriya. sae. yu = rahayu – wilujeng. Tiyang goroh lajeng dados temen. Tegesipun sastra = empaning kawruh. dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta. putu. tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 AJI PAMASA Wedharing wyata mirid gempilaning piwucal Aji Pamasa DHANDHANGGULA . engkang ateges pinter. punika kangge pasemoning piawon. wilujeng lan sapanunggilipun. sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi. katentreman lan sapatunggalipun. Tiyang pinter dados pinter sanget. kabodhohan lan sanesipun. buyut. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. jendra = saking panggarbaning tembung harja endra. rereget. Wontenipun andharan ing nginggil. Tiyang sakit sirna sakitipun. welasasih. wareng. Dados diyu punika kosokwangsulipun dewa. satriya dados brahmana. mratelakaken bilih kawruh pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun. babaya. Suraosipun : Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon. pepeteng. Mangertosipun. Dene tegesesipun pangruwating diyu = amalihaken diyu. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados waesia. ningrat = jagad – enggen – badan. penyakit. Tegesipun harja = raharja. temah saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak. kaharjan. ingkang babranahan.lampahipun. brahmana sumengka pangawak braja asarira bathara. murih panjanga ugi umur kita. lajeng sirna piawonipun. punika bilih ing suwaunipun tiyang awon. mila lajeng sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu. malih dados tiyang sae lampahipun. Tiyang bodho dados pinter. canggah.

2. lamun dipun upaya kinemat ing kalbu. aywa nganti anglalarangi. istingarah munpangaté. amrih dadi lantarané. tinilingna walering darana. temah manggih raharja. tlatènana kang pitung prakara. . 8. datan gampil kinelun kalulun ing wawatak nisthip. Mangkya nenggih sastradu nayadhi. Apa baya kang pitung prakawis. sinirika cidra lan pitenah. tan mélik mèt artaning punggawa. paugeran kang pitung prakara. dèn ugemi pitutur kaping sat niki. temah kalis watak umbag klawan edir. damel padhanging prana nebihken bebendu. Kang ginelar wyataning suyati. njijiret sapapadhané. anebihi gegelah regeding bumi. samubarang kang linakya. nora ngungalken jaja yèn asanès lesu. tan remen cacaketan klayan watak margu. tan damel pilalaning lyan. 7. Pracékané janma luhur kaki. nuntun mring lempenging lana. dyan sentana ywa dèn alingi. Mangkya kiyé gelaring pangerti. kapiluyu lampah basiwit. 6. janma kudu mituhu. nora gampil kayungyun. pinuntua ing driya. sinantun paramarta. sagung tumindak lupa winastanan luput. 4. suka serep ing semu. dé kaping gangsalipun. Catur angger ugering prarepi. dalah mundhut putrèstriné. udinen mrih lestariné. datan asurak susuka dupi miyat panandhanging sapadhèki. siku dhendha nlikung sasami. kang sinebat cidra lan pitenah. prenah prandéné laras salir tindakipun. winedhar wiyar tebané. Kang wusana pitutur saptèki. kosok-wangsul wèh ayem dasih sadyèki. dadya tales tanduking karti. yèku warah kapisané. istingarah kang tinuju tan nalisir. kaping kalih puniku. 3. tan pilih-pilih janma. linepat king deksura tinebih panyaru. ping tiga ywa mawang kadang. nging pedak kautaman. mahanani kasudibyan. tan bungah lamun nemu. sarwi mapan nora badhé damel tuni. luluh welas nalangsa. olah pangupajiwa sasamining manu. 5.1. songgarunggi mring kawula. seserepan wiraos prati. Pradikané wawaler pratami. suka tentreming rahsa. nalusur woting darma. datan arsa guna pasang kala. lamun ngambah margining utama. sirik cengil pasulayan. piguna mring kang ngluru. pratélané sapta pracèki. pangadilan jinejegna kanthi titi. ywa sisip ing pangertiné.

raos bentèr nguntar-untar. nilaraken palagan. antepana minangka ubaya. prancana tan dèn ugung. watanira suker tan béda wewerri. wèh sengsem mring tyasing lyan. nering laku nora léngah. karem donya wah malih pangwasa. 13. temah ndadra misésa wathi. nanging mugen manunggal genah kang tinuju. mokal lamun kalis ing sasanggan. andhepipis ndhelik winengku raos jrih. 11. milaur urip iku. dipun éling niyat kang utama. nyahak wewenanging lyan kécalan pakéwuh. ngandhar-andhar winuwus nglengkara. pinurih saged rampungé. tumapak ing lalampahan. 12. Panjangka kang dadya lenging ati. pinétang utang èstinè. Paran nggènira nyepeng sumangi. dhemenyar pepénginané. istingarah andika manggih basuki. . tan kablithuk pandulu. tegen rigen pralaga tlatèn miwah tekun. Lamun sumanggem tanduking gati. wawataking satriya sirik colong playu. siyang-ratri tan kendhat nggènipun dhedheku. poma-poma dipun tetepana. Ywan wus wani nglairken prajangji. tilar salir manah sonta. lir kanteban antaka. datan lumpuh karana kaot sinanggi. angugemi pakaryan kanthi permati. nguwus-uwus tan ana dadi. tundhonipun nalangsa nalisir king wangsu. ywa cidra gung pepecehé. kang wus dadi pepesthèné. nora lèmèr ing wuwus. wisayané karaos awrat ngantebi. linepat saking papa. tetembungan dèn arah jumbuh kang sinaguh. nggémbol upas kang niniwasi. Lamun sirik watak ngadi-adi. tan bosenan nora wegah. 16. 10. datan ngucirèng ngayuda. 15. nanging mamak wawatesé. amituhu kanthi taliti. setya tuhu bekti mring Hyang Murba. kusung-kusung kemrungsung kécalan santi. lamun maksih linuru. gampil sengsem kang katon èdi. tan cidra ing ubaya. kang dèn bujung pakareman.9. kanthi nranyak ngrabasa gahi. péndah madu mamanisé. Tembung cidra sinawung punagi. nukulaken panandhang tuwin tilar latu. kaanggepa dèrèng nglunasi. angulari papaka. netes sagung pangucapé. nunuwun Hyang Murbèng Suksma. Jejering titah sawantah kaki. istingarah gung pangajab temah dadi. buteng ribeng krodhanya. tlunyar-tlunyur miwah lèlèmèran. aywa wudhar tanpa pangaji. Kénging winastanan cidra ugi. 14. nging sapawingkingipun. tékad kang wus pinuntu. tan darbya raos rigung. teguh maring bebahan.

satemah pinitaya. rumaket-raket sasambé. kumudu kang kapindhoné. dhadasar badan lugu. ririh raras sinuprih katon mrak-ati. was maring kakung tuhu. basagita adi wigati. dyatmika neng nayadhi nging sirik salingkuh. tumus dugèng dalaha. 22. jalu gini datan ana béda. leheng meleng mring pranamya. 23. rongèh tansah walisah. pisan cidra angèl anguwalna. adol ati sapa baé. dimèn pana tuduhing Hyang Suksma. upayanen kanthi sasmreti. ngumbar gujeng kucah liring nétra. kang dèn uja tan liya dityasmaraji. datan uwal king cintaka. ywa gampil mupus tekadé. Wanti-wanti peceh parahati. kasukan kang binujung atilar pakéwuh. lupa upasing walika. angrarantam pracéka. nging maujud datan mandheg katamarti. kénging winastan pracoré. . aywa mblasar tumindaké. Wawaler tumrap sanggya pawèstri. murih dadya manuswa bisama. 24. apesé ngemping lara nyanyadhang bebendu. Mangkya cidra tumraping akrami. tutura angarah-arah. titah sawantah jejeré. susmaya prabaning Hyang abyor cahya kitu. tan kéragan mring napsu. parnoh sagung tindakira. tebih saking tutur cidra. undhuhané mrawata wèsdhi. angulati bebener ingkang nayadhi. gesang datan piguna. mamanisé wisasa. tansah saswih ring garwa. Dipun tlatèn samya angulari. basan pranamèng kapi wruh rukem kayungyun. sengkeraning pralaga datan ana wèstu. Menggah tuduh ingkang gung utami. kasmala binirata. dupèh èdi ngelam-elami. tumètès kadya kusaré. kang anecep wurukira. 18. rinumpaka ing tembung. iku teges nggénjah papati. nginger-inger wawaler mamada sastradu.17. kanthi wijang kawrat sastracetha. ngundhuh wusa wisaya dadya mangangi. Sasing janmi swawi angupadi. temah dyusdha niyak wastuti. ywan rumpil lampahipun. 20. dhépé-dhépé gilig ing prana maniwi. ngindhik-indhik pamrihé damel papati. Poma éling swawi dipun luri. saswih maring Hyang Murba tumus sanggya manu. pranahara jatining manuswa. temah wasa nering prajangji. abiwadha setya hastuti. katri wus kadi wuru. Pan wus dadi sasakiding parwi. 19. 21. tan mangabisatya mring raka. cidra mring karsèng Ulun. lampahnya pindha margu. cegah hawa tahen ring prancana. lamun limpé ngaluyur ramban taruni.

manah gampil kayungyun. Kakaroné kasengsem tataki. Poma-poma kenceng dèn cepengi. iku watak katbuta. dadya gapiting braya ywa mingkuh pakéwuh. amengangah ngangah-angah saya ndadi. lir karaba muleg ing akasa. kalima mangabiwadha. dimèn pana warahing luluhur yekti. Dipun èmut ma nenem puniki. murih dadi lantarané. kaya-kaya beciké tan ana sami. catur wala pepindhané. asisipat memengku. siyang-ratri makarya tan wènten sepi. kasulistyan aniniwasi. awit awon pinanggihé. dyan pracara ukara datanpa bukti.25. myang turangga cukat ing karti. apan baya winastan pitenah. sadaya samya pinerdya. sanès kinarya lalap uraping panyatur. amemada sarta ngadili. lamun dipun turutana. dhihin mantep ing pamilihira. nukulken wijining tikbra. 31. sona ing setyanipun. ngrarakit tembung lunyu. jroning gesang punika. 30. ping kalih madhep atiné. 27. brekiti ing sregepira. tumrap priya kang wus balé wisma. burusa lair batiné. alaning liyan dèn andhar. Sabanjuré winedhar sastradi. sumrambah tedhak-turun sapawingkingipun. tumus harja miwah basuki. tuhu bekti nggigilut wiyata. pantang pepes batosira. 28. 29. traping laku minongka manggala. lubèr ing sih sarwi ngayomi. anguwus-uwus wuwusé. Nora béda waler ingkang sami. Tyang kang remen mbèbèrken wawadi. nyarwètèh kedaling lambé. . Aywa pisan cidra ing prajangji. tilar garwa kapéncut ing liya. becik dèn singkirana. pinindhakna wawadhah ringkih kaotipun. ngumbar panyatur ala kèh panacadipun. garwanira dèn papanken rowang padmi. lamun manggya kèh sambé-kalaning margi. adhakan dadya tuman angèl mantunipun. basda winewah bumbu. swawi dipun tuladha. klayan dhiri pribadya. temah kalis rubéda. 26. pamurihé saya wigati. katri marem mring jatu. tentrem ing brayatipun. kanem mardawèng budya. dwipangga datan kéguh saguh kang ginayuh. kaping paté mawang ring rabi.

jail lampah candhala. tan liya mung Hyang Agung. ing kawurya pranama adamel tuni. dé manuswa iku sapa. tumanduk ring papadha. 37. lumuh lamun prawadha kalindhih ing semu. ilat iku lir wisa mandi. ngalad-alad ambilaèni. murih bisa sasap ing sasama. 34. . tan mangkono ilatirèki. katiwang ing papaka. tuwin jumeneng hakimé. 33. lamun kalintu trepira. makaten lidhah sanyata. samakéyan sasolahé. mijil king tutuk sajuga. bacin lamun dèn ambu. datan lèmèr ngumbar-umbar kata. kasereng lir katwara. kanthi permati empané. parandéné si punggung pambeg wah kumingsun. Kadi latu nyalat wreksa langking. dalasan saisining wé. lir bathang ingkang wus lungsé. angèmperi panatagami. pindha krodhaning denawa. Klawan ilat padha muji Gusti. kudu unggul binuru. saged kadamel lulut. nora ngétang katala sami. anderbala mbabar wewerri. temah mbesmi alas gedhé. nyembur wisa wisaya aniniwasi. Dipun émut ywan namung sawiji. mangungsir mrih kasumbaga. buron wana peksi raja-kaya. misésa palimirma miwah paring bendu. tumrah badan sakojur tan liya mung manut. 35. Angrèh sato teka langkung gampil. kang dumunung jro jiwa-raganirèki. ilat iku tan béda kadya hagni tuhu. angadili sapa-sapa ingkang wèsdhi. kaya-kaya manekung. kang kagungan gung kasugatin. Amemada sisiping sasami. ywan pinekak satuhu. muspra datanpa guna. Èmperipun kendhali turanggi. kadi hakim kusalanya.32. dipun trapken jroning cangkemira. ipat-ipat punapa déné wastuti. 36. 38. nging klawan lidhah ugi nyupatani manu. dyan mujudken pérangan badan kang lengit. nora béda gandaning kusana. sanadyan alit wujudé. dhahat karya sangsaya punapi kasumbung. lir jagading kadurakan. dyan sapletik bisa ngambra-ambra. nyata kalangkung lungit ywan kinarya tutut. surata siya-siya. Poma bisa mapanaken lathi. temah gampil dèn kemudhèni. ingkang yasa sanggyaning prarepa. makantar urubipun. wit kasunyatanipun. dadya sangarakalya. ngidung dhikir ing sawayah-wayah. 39. kumawani kumlungkung ngadil-adili. kadi brahmana anggepé. Tembung sisip sinusup kasisip. nging misésa mring janma. ancik-ancik kunarpanirèng sasami.

lidhah dipun kendhali tutur tan kalantur. ngreregedi janaloka. makaten imbanipun lidhah ingkang wèstu. Salir wawengkaning janma singgih. dimèn menep jro sarasati. nyebar wijining tatu. tinalesken wisiking Hyang Suksma. menggah warah cidra lan pitenah. prihé sami pinungkurna. sarasati binawa amangastuti. pasulayan undhuhané. Nadyan namung pérangan kang lengit. mring bebener wucaling bremana. ngenut pangrèhing suksma. wus winedhar déning pramudika. awiwéka mrih dadya harjaning janmi. 42. ukara rinumpaka jroning sekar Pangkur.40. swawi dipun gatosna. andhatengaken braminta. was winawas kanthi premati. nètèsken sarkara soba. dadya daya ingkang nguripi. Pan wus langkep lingkabing pramodi. Kang wasisdha tansah angulati. 41. leng lumingling ngluluri pranamya dhani. 45. ananawur sarawa gé. datan mokal wawalar ndadi. lebetna manjing kalbu. babasan ngingu-ingu. nanging kosokwangsulira. dadya daya paraya salir dhasdhi langut. kasantyan kang dèn bujung. sung seger tanem-tuwuhé. dipun ening panampiné. . lamun linga muwus ngayawara. tilingna kanthi luménggé. temah dadya daya basuki. leget mring kautaman priyatna ing tembung. sumberipun saking alam raya. awit ageng durakané. walagang nggènnya lumung ywan datan kapugut. Lumingkabing wawaler puniki. wèh sarsa maring sasama. kang dados panènipun. langet langkananing lana. sumimpang sagung pitenah. mekak hawa laksita juti. amangangi kalamun nyenyebar branti. kang kaajab mung bahagé. sakelangkung anggigirisi. pringga dhusdha mutawatosi. sèstu soba suka wicaga ring dasih. watak asih tan sengkung. yèku manuswa tama. rurumpakaning wuwus. lengka kang rinaosna. 47. wohira gung rudita. 46. lamun mogèl mobah jroning latha. Mangkya dungkap warah kaping kalih. ywa ngalingi luputing sentana. pramila kang bisama. Lir kusara mrentul wanci énjing. 44. Jihwa pindha landheping bedhami. wusna anjrah sulurnya angririsaki. saraga gung ngebeki jro tyasirèki. nora gampil pineper kalamun katrucut. ngulari rèh sampurna. sagung trékah kang cengkah klayan prarepi. waged dados kabegjan kalamun pituhu. 43. resepna kang satuhu. dharaka pramusita. sinartan manah kang sarjé.

kang gumendhung morang kèhing kintaki.PANGKUR 48. Lamun ginadhuh wisésa. nora idhep mring dadalan. linenggahna sapadha. 51. kalamun datan pakantuk. ywa parasama ring manu. cepengana ingkang wastu. poma-poma wicaga dèn ugemi. mongka sutra ingkang kinarya salimut. dinendha sawatara. tetep dugi titi mangsa. muksapada kang linari. Nilep lepating sentana. pakeken datan lirwa. gegebengan pradika gegyan adi. 55. angalingi klepataning sentani. paribasa babathang dèn kemuli. nora ngugung dupèh sentananing ratu. becik tinerapan siku. langkana tan wrin godha. kang dadya ugering dhatu. siningkirna sagung dhasdhi angriridhu. 56. lampahnya aywa dèn ugung. tikbranira dipun sanggi. lumèng prabaning nagara. remen anunggyangtaya. aywa mangu pinidana. dhusdha pinaring papaka. kaadilan kang santya. satemah lulus basuki. paraha sanagara. dadya ura jroning dhatu. jugar wigar kang kawuri. pamurih rèh jinejegna. sumrambah kawula dasih. amikara dupèh maksih tedhak luhur. Pirengwa dipun landhepna. ingkang murwat klayan kalepatanipun. wit tan lengkep manira angluluri. sanadyanta dudu tuturasing ratu. 52. dharaka manggih astuti. piyarsakna gung pasambating kasi. niyak sagung prarepa. 49. Masiya maksih sudara. Murih harjaning puraya. upayanen paugeran priha tan wur. 54. Ywan pramoda dadya wasa. Aywa pisan darbé sedya. 50. ywa nganti amémérangi. 53. Kang wasisdha angrèh praja. sanadyan tumrah ing bandhu. ywan gesangipun kastura. kinuswa gandaning pati. . saya ndadi dhumateng wisésa wuru. wus datan kawistara. nanging remen miyala sasing janmi. temah sisah lamun katala wus kusup. murih kalis king dhuskarta. Tumarah para sentana. sanadyanta nganti brukut. ngetrepi jejeging adil. aywa gampil atilar silastuti. angèl dipun dandosana.

kawuri amamalati. andé sangsaraning praja. Aywa wuru mring sarkara. sentana dadya bala. kupiya ywa kawistara. pinaringan wengan awawatak diyu. anjuk risaking nagari. bisa akarya papaki. wit misésa datan wènten tembung klintu. tyas ura nir waskitha. Pan wus jamaking manuswa. apracara sagendhingnya. sinarujuk dyana luput. Poma dipun waspadakna. dupèh lelenggah ngaluhur. lamun mukti padatan dadya lali. nora gingsir kalindhih sagung pamrih. sinikara siya-siya. jinarken ngambra-ambra. dhateng sanak-kadangipun. tan nayuti sanadyanta tindak luput.57. tundhoné angundhuh tuni. tandang-tanduk sarwi ngéwan-éwani. aywa kalulun ing napsu. 64. kascaryan kalenggahan. ngajak-ajak tingkahipun nyrambahi. 61. kethaha mring donya brana. panganggepipun kalantur. Prayojana ingkang prama. mring sentana mirah nggènnya andani. 60. mangka murba wewenang angrèh kasi. Suka-suka parisuka. Lamun kaladuk énaka. kasyang asih kibir edir lawan umuk. binari asuka-suka. trékahnya anjurbalani. 62. samudaya kaleresna. 63. Nggagadhang éndrasangsara. prana winengku ing moksil. langking tan ana rega. mring dasih suka andaha. 65. pinurih tiningal èdi. ywan amengku wisésa nyakrawati. acongkak sosongaran. 59. mamanisé wisésa pinracadi. ical landheping rahsa. ngudi cantya aji mumpung. basan badrak badan kramu. mring pangwasa kapiluyu. lumuh pènget myang warah. angandelken maksih dharahing ngaluhur. nora bener kalamun tan dèn paèlu. Aja dupèh kadang raja. sanak kadang dèn uja. tyang andèh tan ana wani. . wirahsané bebener duk inguni. tedhak turun dipun ugung. kang satiti mulat sisiping tumanduk. 58. Awasna pamawasira. nadyanta alit kéwala. andrawili kasukan ingkang kabujung. tyang alit tan ana wani. lamun lepat sengadi datan anahu.

71. tumrah kawula sadarum. ambuburu angkara. basan tatanem gugrumbul. iku dudu wawantuning pangrèh luhur. niyak gegebengan luhur. titis mawas gelitaning prakawis. sirik nyilibken piala. nora nilarken papacuh. nanging baya aywa kalimput ing semu. 70. lampah dora datan maksi. luput winastan waskitha. dupèh sanès sentana. tan ana nohan nuhoni. Latah remen andurkara. katalya ing panggraita. dupèh lagya ginadhuhan sendhang madu. pinitaya mangrèh jantraning nagri. catur wengis tumanduk ing sasami. Kèh tyang sudra ananantya. aywa mamang matrapi ingkang kalintu. panyaruwé tan pinanggya. undhuhané prahara gung sakelang-kung. mélik dèn anjuk tebya. 69. nglangut nenga namu-namu. 67. Becik lamun paramarta. mring bebecik tan anaur. lepating kadang siningid. mring asanès siya-siya. Mangkana traping trapsila. risak sakèhing ukara. kemarung bobondhotan. kakarèné tan liya sarwi rungsit. Angunguja karsèng driya.66. dyan loma pangapura. wus mratobat sanyata. andurasa labetipun. kosok-wangsul mring sanak-kadang sadarum. Urip muspra nir sarkara. 74. dadya pangungsèn sanyata. wus tan wènten silastuti. tinilingna pasambat kawlasarsi. Bangkit nahen sagung hawa. sung ancuta mring bebener datan indung. wus samesthi kang lepat pinaring bendu. tumrap kang sami andasih. dadya linglung nunjang palang kadé diyu. 73. Kalamun dadi pramuka. sung apura kawula ingkang lali. nalar mulur tan kalantur. malah mamales ala. kibir edir jubriya sagung janmi. kaadilan tan kendhat dipun udi. waris sentana dèn uja. Utana lestari begja. kekeling kang dipunnèni. kadang kawula pan sami. nora luwèh mring panglawung. tan ana béda-béda. pracékaning sentanèki. jinarken amurang tatir. pinta-pinta paneraknya. . samektakna manah kadya udadi. 72. 68. ical jatining rahsa.

linepat salir rencana. kukuwating anggyanira. kang amiji karsèng Katong. kapengkok nora sembada. nora untung rinaketan. kawurya tilar talutuh. kukucah gung kamirahan. angajak-ajak sangsara. busana mawa lengkawa. 81. jroning tyas adil kang dumon. 77. nanantya datan piguna. bangkit angéntasken karya. Boten wurung tumut isin. Saking pasemon wus kèksi. Ruruh rentahing andani. 82. yèku amawang kadang. ASMARADANA 76. murang kèhing pranata. andungkap warah katelu. nir kretyawan datan kalok.75. 80. nanging pasemoning nitya. rumaos trahing kusuma. nora mawang béda-béda. nora béda klayan piwucal karuhun. tiwas tuwas wuntatnya. piniji ingkang tuwajuh. menggah lengkeping ukara. winedhar sang twijara. Aywa nganti atatawing. tan kénging pinitaya. Tanasing janma utami. dupèh maksih dharah dhéwé. tan jetmika ing budya. bisa dadi kajalomprong. Makaten kababarira. pinaringken ring sasama. pambeg ladak lumuh anor. mring pakeken datan andor. pantes dèn pedakana. sinekar Asmaradani. raos lingsem datan darbya. 78. Dyan kadang lamun tan becik. . gumuyu rasan sarwa sru. rongèh jlalatan ing semu. tuturasing kretiyasa. ywan kaandhar pepeceh kang kaping dwi. wasna kaduwung ing kalbu. tulakang dadya babayu. ngandelken kadang sentana. mahnani gancaring laku. polah-tingkah sarawéyan. tan pantes sinung kawiryan. ngugemi sagung wiyata. remen narajang papakon. kèmbèt awoning sentana. 79. ingkang tumrah gesangira. temah angundhuh cintraka. Lamun ngrentahken paparing. pantes sinudarsana. Alelengis sarwi rukmi. 83. wawantuning taluwanwa. winirang lampah dursila. iku wateké wong kumprung. dharah punapi liya.

iku dinadya pramoda. iku patrapé wong pengung. Dyan sanès darbé kawanin. pandhir dinadya pangarsa. 85. tulya kujanapapa. gatosna ingkang sayektos. teges sanès trah ngawirya. jirèh ingangkat kretyawan. mumpung maksih amisésa. 87. 89. sarna donya sosoba. manah rupak nora kamot. ngembat wisésa tan saguh. kadang konang binucala. Tilingna ning ing kawathi. Sumimpanga king durniti. singa celak kang kadrasa. néréndra nir ring sudarsa. rèh praja déning babandhu. bubujeng pamurih kalok. 92. wit paparing tan warata. sanak-kadang mitra-karuh. kakadang dinadya bala. dèn papanken ing ngarsa. kawanin suba tan sengkung. datan kalèntu garjita. bisa mengku saniskara. pingging sinuba dwija. linenggahken papan éca. mongka lengka twasanira. makarya nora kawaba. 91. lamun paparing wisésa. pilih-pilih ingkang kanon. ngangsu kawruh mring tyang blilu. Kalamun datan sawawi. ngembrah dadi taluwanwa. ing jaman kala katwara. bucal lampah tatakya. tilar warahing pujangga. 93. daridya undhuhanipun. lagya darbé pangawasa. patitis salir pepunton. Boten lingsem ing durniti. 86. Dipun émut aja dumi. aywa mawang sentana.84. twasa kalimput dureta. asanès winiruda. . dumarusa myang diggama. Lumingling sagung kajatin. nora kawuh ing pangrasa. milaur mundur kéwala. lenggah twijara tyang parnoh. dériti marang sakèhing wong. sokur bagé linubèran. morang sakèhing tata. wuru dhumateng pangwaos. mung krana maksih sentana. Kathah-kathahipun janmi. tebih nora tinenga. mundhak-mundhak ing pakéwoh. tangginas ngrampungi karya. sung kawiryan maring bandhu. mongka tan pengkuh ing kéwuh. pawingking manggih katala. 90. Lagya kalampah samangkin. nanging sanakkadangira. becik lamun rumasa. 88. patitis pamawasira. swawara asih sawegung. lumrah pinaring pambombong. Ywa karya tyasing lyan kanin.

tanpa panitipriksa. Dudu patraping wong singgih. aywa pilih-pilih jalma. béda apa tiyang awon. mongka gething dhateng liya. kasaénan amemengku. tan mingkuh saking wawaton. 97. tan béda bebegal lamun. nging pinurih énaka. miling-miling dupèh mitra. boten kénging kawa-kawa. katala katiwang marga. suka dalajat pangkatnya. mirungga maring sentana. sarujuk jajarah samya. dundum brana duratmaka. sugal diksura dèn soroh. Lamun becik mring sawiji. tulakang panèn kasmala. 99. daruti semunira. 101. sakadang cepeng wisésa. naracak miwah ngrabasa. ririsak datarpa duwus. kanthi lungiting pangrasa. suthik wruh roganing manu. Nadyan tedhaking acedhis. . sadaya titahing Manon. kang nandhang wong sanagara. guyub ngambah durniminta. nyimpang margining utama. 98. garwakara sugih galu. 102. nging kasingsal ing budya. suka-suka sagendhingnya. Mring sasama gardhawari. tinurut temah kalintu. 100. mawang kadang lamun andon. Èwon-èwoning wong drengki. pantes kalamun linakon. nétra kawuh tan menga. kawurya dadya ura. raos mèri ingkang thukul. sanadyan sisipat dura. kawaba nandukken dardya. gesang saraga wah kasor. kasereng nunten kawirya. kosok wangsul dyan sentana. sareng sentana sapunton. Nandukna bebener ugi. 96. Ywan wus kukumpul nyawiji. nanging bener pratikelnya. praja dadya puwara. jugar tataning puraya.94. lilingen kang prakara. drasa kaleban kasmala. datan remen karya pringga. Darbéning lyan dèn talappi. kang winiyat dupèh bandhu. tinengen mung kasukannya. 95. iku winih ingkang awon. linimbang-limbang satuhu. remen anyelir sentana. mring asanès durcara. Lamun mangsa kala dugi.

ngungumbar saliting hawa. pundi titiyang pranamya. kadi réwanda saranggon. santun ingkang baureksa. Pétanana kang priyatni. tekané jaman drubiksa. asor ing bubudènira. tan ana jrih duraka. nora jejeg mring wawaton. prayoga purugana. temah puraya tan wèstu. nora krana maksih bandhu. nging pradana pangawruhnya. madhangi kang puru-puru. sarana suka purba. papakeming puruhita. Miyat sudraning sasami. janma paramatatya. maksih tilar wawantunya. 112. mangka wawaton dèn prusa. dredah bangsa padha bangsa. mung bubujung hartaka. trékahé tiyang candhala. tinaliti kanthi turut. iku nora prayoga. iku nyanyadhang pakéwoh. becik lamun saranta. wuru kayungyun arta. nora maèlu piawon. 105. Mengker mangsa danawa ji. 107. béda dèn anggep mala. Kinarya kudhung agami. tindakira tan béda. wit tan jajag rèh waskitha. gendhon rukon tindak dhusta. Wus sinerat jro pepesthi. makatena tiyang kalok. maksih kèmbèt apa liya. thukul welas tan pitakon. 109. paraya anteng garjita. kaleng-gahan miwah dhatu. ngimpunimpun sanggya mitra. becik legawa tutulung. suthik nilingken wasita. tan gampil luntur winasoh. sanak kadang dalah yoga. . kang nunggil winastan bala. srakah kethaha lestantun. pinurih tan kawistara. Mlarat donya datan pasti. muncar-muncar poladannya. Saking iring wétan semi. jumbuh turasing ngawirya. marma manah tinarbuka. Tyang pengung mangrèh nagari. 106. 108. patitis pamawasira. tan wastu luhur ing nala. ngruwat sanggyaning piroga. nging paéka kang dèn gémbol. Lakon jaman kalasrenggi. lila mardawa ing budya. ywan lepat tutup tinutup. 111. cinegah lumawan sampun. 110. ngogak-ogak pangu-wasa. pratingkahipun tan parnoh. tindakipun dumarusa. nuhoni jejeging pakon. Wageda dadya palupi. wengis mamalak ing pémut. tilar waspaosing prana. 104.103.

116. nora mangathik jana. mirid karsaning Hyang Katong. sudarpa asidikara. sasat Pangéran maraga. mijil saking jro wewengkon. gegaran wenang misésa. sambet wyataning twijara. dyan mung samrica binubut. Meleng gilig kang dèn udi. dèn mangsa nora suwala. adil sagung prakara. sinambet wedharing weca. ngrucat salir angkara. 114. .113. Asring dadya ciri wanci. 121. pupuja ngéntasi karya. sugih tan mangéran bandha. migati mring sakèhing wong. makaten tyang alit iku. Tyang kang mlarat datan langking. pantang lamun dèn badala. tan mawang kadang satuhu. wawarah mangrèh puraya. 117. nubruk buron ingkang ringkya. jinugag lingkabing wahyu. lamun bénjang ana janma. 119. Wus tan kapéncut ing daging. kalayan angudi wadon. 120. Pasemonnya ladak edir. ingkang lagya amisésa. pamrih antuk kang dèn sedya. priha tindak tan kalintu. Piwucal catur puniki. tan luput ginayuha. mungkul mring Hyang Widi-wasa. minongka tatadhahnya. Pungkasing jaman dériti. sapa wani mancasana. pongah awawatak rimong. jro riribed sonya tuhu. 118. lirwa wisiking Hyang Manon. prakawis mèt donya brana. Dungkap pungkasing wigati. alus sakelangkung lembat. wadana ning susmaya. lepat boten kawistara. adil tuwin paramarta. suthik nenengen sudara. gelaring tanah Jawa. kang damel rupaking jangka. uwal saking lenging widya. pangiring samya anglulu. mring panguwaos gumendhung. tebih mélik cegah napsu. angedirken pangwasa. 115. agal donya datan kamot. harjaning rastala samya. datan kasengsem pambombong. suka pémut mring kang mirong. supé harjaning kawula. nyinyingkur aji pamasa. Sinuprih tan morang margi. remen lamun pinuja. mangathik kadang myang mitra.

ringkih dipun kaniaya. raos lingsem wus kawuri. kadya lampah tataki. nenedha sacekapipun. panggah datanpa isi. tebih tataning nagri. sasat genthong ingkang ciri. jro jaman mengeng puniki. . 128. masiya dipun grujuga. mamak dhumateng gahi. kinarya ompaking wisdhi. punapa déné upeti. Tyang alit kadamel tumbal. temah gesang tansah kogung. rinumpaka sekar Sinom. tan nenga gegesing dasih. tangèh lamun marema. welasarsa wus tebih saking pangrasa. kang badal dipun sirnani. saya wantun nerak margi. nora kaladuk hawa. kecèh wang paribasa. dyan kawedhar sakadarnya. dadya wadaling durniti. béda janma ingkang wuru mring pangwasa. pangadhuh tan praduli. paripaos timun wungkuk. waton antuk kang dèn bujung.122. ngasil-asil donya brana. Mangiwut tatandho arta. manut gaduking nala. kang dèn bujung tan liya mung kasukannya. tegel tan èwed papati. pangarem-arem mili. anguntal mangsanirèki. toya sablumbang saari. Becik wantuning walika. antuk leksa kurang kethi. Remen angalap ruruba. sapisan tumunten néndra. mundhut lebon king punggawa. kacetha pupuh lajengnya. Raos tuwuk tan kadarbya. kinarya imbet kéwala. 127. bikut gènira nalapi. 124. dyan ngrebat uriping lyan. wus ical éwuhing rahsa. Menggah lengkeping kintaki. 125. songar dupèh tan ana wantun mamada. wah malih kawula sami. kang tinengen karemenaning pribadya. tur ginadhuh wisésa. ngangah-angah jroning budi. Wus dadi jamaking janma. prawira datan kadarbi. nganung-anung aji pum-pung. puluh-puluh iku wataking drubiksa. SINOM 123. ngowos-owos maksih suwung. murba gunging wisésa. 126. tan mosik nganti sasasi. mring gebyar samya kayungyun.

kang jujur nandhang kalantur. tyang mursid sampun sirna. nasar antuk astuti. kadya wawantuning diyu. séjé bangsa sinengit. padha bangsa samya campuh. ngrèrèndhèt ambancang laku. wus supé jejeging adil. lamun kadhung kaduwung datan piguna. gung asor dalajatnya. samya ngarah papati. tinekuk-tekuk sakarsi. trékahing umat puniki. masgul wit datan pinunjul. hakim remen wang upeti. kala jiret dèn pasangi.129. saking lebeting nagari. karya uraning pranata. élok lamun rinasakna. 136. Angger-angger sinélakan. tan ènget raos manunggil. pra pangarsa mutusi sukèng tyasira. miturut kang asung arta. 131. blaka manggih antaka. mitra tegel angapusi. mangsah prang mumungsuhan. munasika kawula. kang tinengen duraka klayan dursila. bubujeng buron kang ringkih. . puwara kasub jinawi. lupa rèhing prawira. ingkang ngririsak nagari. wus tan ana kang kénging dipun pracaya. dingkik-diningkik sasami. 130. tumus gesangirèng dasih. agahan karem mring donya. resik winada tan wasis. surem madyaning buwana. miruda padhaning manu. tan éman patining liya. babasan grumbul eri. musna lestarining nagri. téga roga-ning sasama. narajang sagung papali. rinèmèh jro papaki. bebener dèn tebihi. nora idhep tataning janma utama. Tangané padha candhala. wusna samya andon napsu. praja jugar kawula buyar wuntatnya. crah adredah rebat mukti. 135. 133. kemarung pindhanira. bubujung mulading kapti. akarya ngungun ing ati. 134. tan pinétang nagara ji. puluhpuluh wus dugi lengkeping jangka. kondhang bangsa ingkang wengis. wengkon samya ambalila. panguwasa soroh napsu. Ywan lepat gènnya mranata. sak-serik saya ndadi. Tebih saking asih darma. Prihatos lamun uninga. Ical kuncaraning praja. Urip dadi salah kaprah. pinrawasa dèn gaglag kanthi kethaha. béda gama dèn cengili. 132. Pawingking ngundhuh dahana. tilar tepaning sami. jro liliwunging wana. welas-arsa pan wus sepi. nora barès malah mukti.

kadi tyang bodho katali. 142. Rinungrum gampil arentah. ical waspaosing driya. nyebar wiji tangèh angundhuh wohira. ywa nglurug sanès parigi. tan maèlu pager ayu. Kayungyun mring kasulistyan. Nahen napsu nora kampah. Ngombéya maksih dahaga.137. pindha kukila kapulut. temahan kénging walat. mantu lumawan si biyung. lamun kena panèn mamala antaka. 143. nguja mubaling branta. Aja pasrah marang kanca. winada nora malangi. garwa yoga tan pinétang waton bisa. tan sempulur ginawa dugèng pralaya. sengsem kasmaran wanodya. . marang bapa mamancahi. langkung kesel kang pinanggih. dèn nepken mubal andadi. kalebet minta pawèstri. Poma-poma élingana. éwuhaya ing budi. ngalèyèh ing pangkonira. wawaler dèn campahi. cinongok ing cungurira. lir lembu dipun patrapi. tan jejeg kedaling lathi. suthik mirengna papali. watu timbangan cicir. lenging cipta mung juga tinurutana. asalipun king durniti. 141. ipat-ipating Hyang Widi. anak lanang tan bektya. kabèh pokal tangèh lugu. kang dadi walering margi. langkung kathah mapali. babaya tan uninga. linipur saya dhuhkita. padharan tansah luwya. 139. dupi wus lenggah ngaluhur. myang liyan gampil mélik. 138. dora cidra salir janmi. supè walering margi. punapa déné pawèstri. nir tuladha sumimpang saking pranata. Kalakyan ing jaman ika. tatamba panggah sakit. kang mlarat tan pinracaya. arsa aso kang sayah. lamun léna sungkawa nora kuwawa. nyanyaput nering pangreti. kineluh liring pawèstri. wenang mundhut babana. tan émut trapsilèng krami. léna linepas jemparing. ngumbar hawa tanpa budi. ngombéya ing belikira. sisimpen datan gadhahi. takeran sami dèn suda. tilar waskitèng kapti. traju ginanjel tan wèsti. 140. 144. dugèng jangka jaman babaya cintraka. Atatandho rajabrana. tyang sugih remen ngapusi. pakèwed tan kadarbya. ngandelken kuwasa-nipun. nenedha tangèh atuwuk. sinabarna dadya gugup. babandan dèn adili.

145. sinengguh dadya upeti. parwi dasih ingalap. atataki sawatawis. raos èwed wus sepi. sinuyudan kawula. yèn mangkana ical prabawaning praja. lamun remen luru warih. . tyas meleng ning nyawiji. 146. rongèhing manah kadlarung. muncar wibawaning prabu. ngasag-asag sapinanggih. kasengesem mring sendhanging lyan. Becik lamun tinahena. Cacat menggahing pangarsa. pinitaya dipun aji. ywa malang tumolèh margi. temah lulus sempulur kuncaranira. marema ingkang kadarbya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful