JAMUS KALIMOSODO

Papat kalima pancer merupakan sebuah wacana yang perlu terus kita gali dan kita renungkan plus bertukar fikiran dengan orang-orang tua kita yang sudah mumpuni baik dari ilmu tahid dan ilmu rasanya. Menurut petunjuknya papat kalima pancer itu pusatnya ada di PANCER (yaitu lubuk hati yang paling dalam) dan PAPAT-nya adalah unsur-unsur ilahi yang kita sendiri hak untuk mendapatkannya. Karena dengan menggunakan PAPAT itu kita bisa selalu ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai penguasa alam semesta ini.

Papat yang pertama adalah nur-nya Allah (Nurullah=Cahaya dari Allah) bias dari asma-asma Allah dan sifat-sifat Allah, tanda dari PANCER-nya yaitu dalam segala sesuatu/ gerak gerik selalu BERSERAH DIRI kepada Allah dan pengakuan kita sebagai mahluknya merasa tiada daya secara ruhani dan tiada kekuatan secara jasmani kecuali hanya Allah yang memberikan gerah hidup dan kehidupan, dan berupaya untuk selalu meng-ibadahkan segala sesuatu untuk BERIBADAH kepada Allah memohon Ridho Allah, Rahmat Allah.

Papat yang kedua adalah NUR MUHAMMAD (cahaya syafa’at yang Allah cipta untuk Hambanya (Rasulullah) yang Allah mulyakan. setelah kita berserah diri kepada Allah lewat PANCER (lubuk hati yang paling dalam) ada sebuah kelembutan sebagai sebuah rahmat yang Allah berikan kepada mahluknya agar kita tunduk dan lemah lembut kepada Allah, selalu merasa sayang kepada apapun dan siapapun sebagaimana Rasulullah mempunyai perangai yang lembut dan berahlak mulia bagi semua mahluk.

PAPAT yang ketiga yaitu MALAIKAT sebagai kendaraan untuk membawa NURULLAH dan NUR MUHAMMAD tadi kedalam diri kita pada waktu kita berserah diri kepada Allah dan mengibadahkan segala sesuatu hanya untuk Allah dan fungsi malaikat ini untuk membantu memintakan permohonan ampun mendoakan kepada kita sebagai mahluk yang lemah, banyak berbuat dosa (karena manusia tempat salah dan lupa) dan nominal mereka tidak sedikit mendukung kita dalam beribadah kepada Allah.

PAPAT yang ke empat adalah KAROMAH yaitu berisi doa-doa dari para orang sholeh terdahulu (doa dari para Rasul-rasul, Nabi-nabi, dan para Auliya serta Sholihin yang telah mendahului kita) yang oleh allah diberikan kesempatan untuk membantu mendoakan segala hajat hidup kita dalam mengarungi kehidupan didunia sebagai bekal ibadah nanti kita setelah meninggal (akhirat).

Semoga Allah mengampuni kedua orang tua kita, keluarga kita, mengampuni kita, dan orang-orang yang mempunyai hak dan kewajiban atas kita yang seiman serta mengampuni sesepuh-sesepuh kita. Semoga Allah memberikan Taufiq dan hidayah kepada kita dan mereka dan semoga kita dan mereka semua dijadikan golongan dari hamba-hamba Allah yang sholeh.

ADABEBERAPA VERSI yang menginterpretasikan JAMUS KALIMOSODO.

1. ada yang menginterpretasikan 2 kalimah syahada

2. ada yang menginterpretasikan lahirnya pancasil

3. ada yang menginterpretasikan tokoh pewayangan pandawa lima, apakah semua nya salah? tentu tidak…karena cara pandang setiap orang tidaklah sama.

Hal yang terpenting adalah jangan sampai kita kehilangan ISI/makna dari Jamus Kalimosodo sebagai orang yang berpengertian jawa yang mendapatkan warisan dari leluhur Jawa, pengertian jamus kalimusodo secara singkat adalah:

Istilah jamus kalimosodo terdapat dalam kisah pewayangan baratayudha, suatu jamus/surat yang ada tulisannnya tentang pengertian/kawruh. “barang siapa mendapat kawruh ini ia akan menjadi raja/mempunyai kekuasaan yang besa. kitab ini dimiliki oleh prabu yudistira(samiaji) yang selalu menang dalam peperangan dan akhirnya masuk surga tanpa kematian…memiliki dalam hal ini adalah bukan saling berebut tetapi saling berebut memiliki makna.

Arti Kalimasada terdiri dari beberapa bagian:

Ka= huruf/pengejaan Ka, Lima=angka 5, Sada= lidi/tulang rusuk daun kelapa yang diartikan Selalu, Jadi kelima ini haruslah utuh(selalu 5), Kelima unsur kalimasada teridiri dari:

1. KaDonyan(Keduniawian).

ojo ngoyo dateng dunyo yang arti singkatnya adalah jangan mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi, kebutuhan duniawi kita kejar tapi jangan diutamakan.

2. Ka Hewanan ( sifat binatang).

ojo tumindak kaya dene hewan, cotoh:asusila. amoral, tidak beretika dll.

3. KaRobanan.

Ojo ngumbar hawa nafsu yang arti singkatnya jangan memelihra hawa nafsu…nafsu itu harus dikendalikan.

4. Kasetanan.

Ojo tumindak sing duduk samestine yang arti singkatnya jangan bertindak yang tidak semestinya alias gengsi, sombong( ingin seperti Gusti), menyesatkan, berbuat licik dll.

5. KaTuhanan.

artinya kosong

Gusti Allah iku tan keno kinoyo ngopo nanging ono yang artinya Gusti Allah tidak dapat diceritakan secara apapun tapi toh ada. Gantharwa adalah salah satunya yang diberikan “pusaka” mewarisi warisan dari leluhur Jawa. Pengertian Asli dari jamus kalimosodo diatas adalah isi murni dari pengertian sebenarnya..setiap orang boleh membungkusnya dengan bungkus apapun tetapi jangan sampai kehilangan makna aslinya, karena pengertian diatas adalah pengertian sebenarnya dari jamus kalimusodo.

Tinggalkan sebuah Komentar

Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 HAKEKAT TITIK

Apabila, Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah, Hakekat adalah ikhlas, syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah, Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat, Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain. Maka, Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah, Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingatnya, Hakekat adalah bagaimana ikhlas, syukur dan sabar dalam kehidupan, Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.

Apabila, Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah, Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingat-Nya, Hakekat adalah bagaimana ikhlas, syukur dan sabar dalam kehidupan, Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.

Maka, Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah, Hakekat adalah ikhlas, syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah, Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat, Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain.

Apabila dan Maka, Bersatu dalam Titik, Titik itu adalah Allah, Syari’at-Tarekat berawal dari Titik, Hakekat-Ma’rifat berakhir di Titik.

Billahu, Fillahu, Bi Idznillahu, Minallahu, Allahu,

Titik.

Tinggalkan sebuah Komentar

Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PHILOSOFI SEMAR

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

Bebadra = Membangun sarana dari dasar

Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa. Dikalangan spiritual Jawa . jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu.Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis. untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”. tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an. Ciri sosok semar adalah : Semar berkuncung seperti kanak kanak. yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar. Budha dan Isalam di tanah Jawa. tanpa pamrih. persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual .Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat. Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi. yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi. .namun juga berwajah sangat tua Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa.

Bojo sira arsa mardi kamardikan. 1988 : 188 ) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai.dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa . ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”. Apabila muncul di depan layar. 1975 : 49 ) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia ( Geertz 1969 : 264 ). ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan. Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa ( Brandon dalam Suseno. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya. maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian. Meskipun berpenampilan sederhana.Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas . yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi : Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati. Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara ( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 ). Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa ( Poedjowijatno. Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan . sebagai rakyat biasa. 1988 : 188 ). agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan. Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi. bahkan sebagai abdi. Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri Dalam Etika Jawa ( Sesuno. ia disambut oleh gelombang simpati para penonton.

Panut Darmaka. merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula ( Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191 ).keterdidikannya ( Suseno 1988 : 190 ). Subana. . Anom Suroto. Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma ( Mulyono 1978 : 35 ) Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar. rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia ( Mulyono. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar. yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. rame ing ngawe ” sepi akan maksud. 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193 ) Dari segi etimologi. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita. Prodjosoebroto ( 1969 : 31 ) berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah. tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu. maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih ( timoer. 20-23 Januari 1995. sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa ( Mulyono 1978 : 18 ) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya. yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-CaRa-Ka. Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. tt : 13 ). Dikemukan oleh Arum ( 1995:10 ) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup. Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ” ( timoer 1994 : 4 ). Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar. termasuk pembudayaan P4 ( Cermomanggolo 1995 : 5 ). jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal. joinboll ( dalam Mulyono 1978 : 28 ) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Sehubungan dengan itu. Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih. Cermomanggolo dan manteb Soedarsono ( Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10 ). Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup.

Ajaamidanda Tan Sabenere janganlah menjatuhkan hukuman yang tidak adil 3. Aja Sira Anlarani Hati Nin Non Jangan Menyakiti Perasaan Orang Lain (dan jangan mengacaukan pikiran orang lain) 2. Aja Tan Asih In daridra Janganlah menunda kebaikan terhadap mereka yang kurang beruntung 5. 1.Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 10 SHILA SUTASOMA Karya Mpu Tantulan. Amujya Nabhaktya . Aja Sira Katungkul Ing Kagunan. Luluta Rin Pandita Mengabdilah pada mereka yang sadar 6. Ajaamalat Duwe Nin Wadwa Nira Janganlah menjarah harta rakyatmu 4.

walau banyak orang menghormatimu 7. Aja Memateni Yen Tan Sabenere Janganlah menjatuhkan hukuman mati. . Anulaha Saama Daana Ajaapilih Jana (adalah yang terbaik) Jika kau berjiwa besar dan memberi tanpa pilih kasih. jika kau tidak takut mati. 9. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 SERAT DARMOGANDHUL Darmagandhul Carita adege nagara Islam ing Demak bedhahe nagara Majapahit kang salugune wiwite wong Jawa ninggal agama Buddha banjur salin agama Islam. Uttama Si Yen Sira Akalisa Rin Pati. Adalah yang terbaik. kecuali menjadi tuntutan keadilan 8. *** Gancaran basa Jawa ngoko.Janganlah menjadi sombong. Sampuraha Rin Tiwas dan bersabar dalam keadaan susah 10.

sawusnya winaos tamat. pinindha lir Jawata. lelepiyanipun. Toko Buku “Sadu-Budi” Sala. Angawruhi sasmiteng Hyang Widdhi. dumadya auliya. kinarya cagak lenggahe.Babon asli tinggalane KRT Tandhanagara. trewaca wijang raose. sru sêtya nglampahi dhawah. masa Nem ringkêlnya Aryang. anganggur ngethekur. Cap-capan ingkang kaping sekawan. yun darbeya miwah nimpeni. sinung tembang macapat. mangesthi amiluta. mring dhawuh weling gurune. Sancaya kang windu. Satuduhe Raden Budi ening. Pan sinambi-sambi jagi panti. mring tyas gung kumacelu. tuladhaning kawruh. ngebun-bun pasihaning Hyang. pinirit tinuladha. agung nugraheng Hyang Suksma. saselanira ngupaya tedha. ing nguni anggeguru. Surakarta. pangesthine ing awal akhir. sinung ilham ing alam sahir myang kabir. sagotra minulyarja. *** BEBUKA Sinarkara sarjunireng galih. ping trilikur ri Tumpak manis. mung kinarya ngarem-aremi. Ruwah Je warsanira. karya suka pireneng jalmi. 1959. wuku Wukir sangkalanira ing warsi: wuk guna ngesthi Nata [taun Jawa 1830]. ing lokhilmakful tulise. duta rehing guru. Pan katemben amaos kinteki. nggennya dama cinubluk. mring sagung ahli sastra. linaksanan tinedhak tinurun sungging. sinung aran srat Darmagandhul jinilid. suprandene tan kaliren wayah siwi. pan biyasa mituhu susetya. pan sumarah kumambang karseng Hyang. tan etung lebur luluh. tembang raras rum seya prasaja. tarimanireng badan. sumungkem lair batine. kedah medharken kawruh. . kinarya nglipur manah. panitranira nuju. myat carita dipangiketira. pan ingembun pinusthi ing cipta. kyai Kalamwadi ngarang. kiyai Kalamwadine. Wus pinupus sumendhe ing takdir. puruhita mring Raden Budi. panggusthine tan mamang ing lair batin. sasedyanya kabul. tinarimeng Bathara.

Sayid Rakhmat banjur kalakon dhêdhukuh ana Ngampeldênta ing (3) anggêlarake agama Rasul. Sang Prabu lagi kalimput panggalihe. Sayid Kramat iku maulana saka ing ‘Arab têdhake Kanjêng Nabi Rasulu’llah. nanging aku tau dikandhani guruku. Suwe-suwe pangidhêp mangkono mau saya ngrêbda. mung kanggo pasêmon. supaya wong kang ora ngrêti mula-bukane karêben ngrêti”. Wong Jawa ing pasisir lor sapangulon sapangetan padha ninggal agamane Buddha. wong Jawa banjur akeh bangêt kang padha agama Islam. Ing wêktu iku. Sang Prabu iya marêngake apa kang dadi panyuwune Sayid rakhmat mau. banjur ngrasuk . Akeh wong Jawa kang padha kelu maguru marang Sayid Kramat. ora ana maneh kang diaturake. mula bisa dadi gurune wong Islam. Ing jaman kuna nagara Majapahit iku jênênge nagara Majalêngka. nanging kang durung ngrêti dêdongengane iya Majapahit iku jênêng sakawit. nganti njalari katariking panggalihe Sang Prabu marang agama Islam mau. sarta padha nyuwun dhêdhukuh ing pasisir. kajaba mung mulyakake agama Islam. nyaritakake purwane wong Jawa padha ninggal agama Buddha banjur salin agama Rasul”. Sang Prabu krama oleh Putri Cêmpa. Ature Darmagandhul: “Banjur kapriye dongengane?” Ki Kalamwadi banjur ngandika maneh: “Bab iki satêmêne iya prêlu dikandhakake. Ora antara suwe kaprênah pulunane Putri Cêmpa kang aran Sayid Rakhmat tinjo mênyang Majalêngka.DARMAGANDHUL Ing sawijining dina Darmagandhul matur marang Kalamwadi mangkene “Mau-maune kêpriye dene wong Jawa kok banjur padha ninggal agama Buddha salin agama Islam?” Wangsulane Ki Kalamwadi: “Aku dhewe iya ora pati ngrêti. (2) ing mangka Putri Cêmpa mau agamane Islam. Ing kono banjur akeh para ngulama saka sabrang kang padha têka. para ngulama lan para maulana iku padhamarêk sang Prabu ing Majalêngka. Panyuwunan mangkono mau uga diparêngake dening Sang Nata. sarta nyuwun idi marang Sang Nata. dene ênggone jênêng Majapahit iku. Sang Rêtna tansah matur marang Sang Nata. sajrone lagi sih-sinihan. Sayid Kramat dadi gurune wong-wong kang wis ngrasuk agama Islam kabeh. sabên marak. bab luruhe agama Islam. (1) Ing nagara Majalêngka kang jumênêng Nata wêkasan jêjuluk Prabu Brawijaya. ing mangka guruku kuwi iya kêna dipracaya. kaparênga anggêlarake sarengate agama Rasul. dene panggonane ana ing Benang (4) bawah Tuban.

nanging sarehne ibune bangsa Cina. budi kang ngobahake. manusa ora bisa apa-apa. Saka ature Patih. ana ing desa Bintara. Mangka agama Buddha iku ana ing tanah Jawa wis kêlakon urip nganti sewu taun. cêgah turu. banjur boyong marang Dêmak. yen blastêran Cina lan Jawa sêsêbutane Babah. anane ing Dêmak didhawuhi nglêstarekake agamane. Suwening suwe sarak Rasul saya ngrêbda. prayoga disêbut Babah. Sunan iku têgêse budi. mung nuruti rasaning lesan lan awak. Sang Prabu banjur nimbali patih sarta para nayaka. Hawa iku karêping hati. iku wajib sinuwunan kawruhe ngelmu lair batin. sang Prabu Brawijaya kagungan panggalih. lakune isih padha cêgah mangan. para ngulama sarake Buddha. yen wohe budi ngrêti marang kaelingan bêcik. Ing Balambangan sapangulon nganti tumêka ing Bantên. yen miturut lêluhur kuna putrane Sang Prabu mau disêbut Bambang. mula Sang Nata iya banjur dhawuh marang padha wadya. Jawa Buddha agamane. Sang Prabu Brawijaya kagungan putra kakung kang patutan saka Putri Bangsa Cina. sênênge mau amung kanggo samudana bae. têgêse pambabare ana nagara liya. Ature Patih kang mangkono mau.agama Rasul. Budi iku Dzate Hyang Widdhi. Ing nalika samana. Babah Patah wêdi yen ora nglakoni dhawuhe ingkang rama. jroning utêk iku yen diwarahi budi . kok nganggo sêsêbutan Sunan. Satêkane Majalêngka Sang Prabu kewran panggalihe ênggone arêp maringi sêsêbutan marang putrane. Katêlah nganti tumêka saprene. sarta Babah Patah dipalakramakake oleh ing Ngampelgadhing. mulane katone iya sênêng. ora kêna dikawruhi sarana netra karna sarta lesan. durung padha duwe karêp kang cidra. yen putra Nata kang miyos ana ing Palembang iku diparingi sêsêbutan lan asma Babah Patah. miyose putra mau ana ing Palembang. pinaringan nama sarta sêsêbutan Raden Arya Pêcattandha. para nayaka uga padha mupakat. Ing nalika iku Babah Patah banjur jinunjung dadi Bupati ing Dêmak. diparingi têtêngêr Raden Patah. dene wong-wonge padha manêmbah marang Budi Hawa. Ing wêktu iku ana nalar kang aneh. wêtune saka engêtan. dene Raden Kusen ing nalika iku jinunjung dadi Adipati ana ing Têrung (5). madanani para bupati urut pasisir Dêmak sapangulon. putraning Nata kang pambabare ana ing gunung. Yen cêgah mangan rusak. Barêng wis sawatara masa. isih padha cêgah dhahar sarta cêgah sare. sêsêbutane: Kaotiang. mungguh satêmêne ora sênêng bangêt ênggone diparingi sêsêbutan Babah iku. bisane mung sadarma nglakoni. padha dipundhuti têtimbangan ênggone arêp maringi sêsêbutan ingkang putra mau. awit yen miturut lêluri saka ingkang rama. sirik cêgah mangan turu. Prabu Brawijaya uga banjur paring idi. Barêng Raden Patah wis diwasa. arane Raden Kusen. Ing wêktu iku para ngulama budine bêcik-bêcik. Suwe-suwe agama Rasul saya sumêbar. kabênêr wayahe kiyai Agêng Ngampel. sowan ingkang rama. Yen sarak rasul. uwite kawruh kaelingan kang bêcik lan kang ala. sêsêbutane Bambang. Yen miturut ibu. para ngulama padha nyuwun pangkat sarta padha duwe sêsêbutan Sunan. sarta sarehne Babah Patah nalika ana ing Palembang agamane wis Islam. wonge uga padha kelu rêmbuge Sayid Kramat. nganti sadhereke seje rama tunggal ibu. dene yen wong ‘Arab sêsêbutane Sayid utawa Sarib. yen nglêluri lêluhur kuna.

barêng kêna dayaning pangandika mau. tansah digubêl anak putune. barêng noleh wêruh lanang sajak kaya santri. Satêkane lor Kadhiri. iya iku ing tanah Kêrtasana. yen sampeyan ajêng ngombe”. wong ing kono akeh padha agama Kalang. wajah lagi arêp mêpêg birahi. Ki Bandar matur: “Dhawuh pangandika panjênêngan. iline banyu kang gêdhe nyimpang nrabas desa alas sawah lan patêgalan. kang ana mung bocah prawan siji. satêkane ngarsane Sunan Benang banjur ngaturake lêlakone nalika golek banyu. awit katrajang ilining banyu kali kang ngalih iline. Sunan Benang têrus tindak mênyang Kadhiri. sarak Buddha mung sawatara. mula saka pangiraku iya nyata. kêpalangan banyu. yen pinuji dina Riyadi. têkan ing desa Pathuk ana omah katone suwung ora ana wonge lanang. nganti kawêtu pangandikane nyupatani. mula ênggone mangsuli nganggo têmbung saru: “nDika mêntas liwat kali têka ngangge ngarani njaluk banyu imbon. kali kang maune iline gêdhe sanalika dadi asat. iya iku dhêmit ing sumur Tanjungtani. jaka lan prawane iya nganti kasep ênggone omah-omah. Bandung dianggêp Nabine. banyune isih buthêk. sawah sarta patêgalan. arêp salat”. lan maneh iki wancine luhur. mula akeh desa. Tanah saloring kutha kadhiri banjur jênêng Kutha Gêdhah. satêkane wetan kali banjur niti-niti agamane wong kono apa wis Islam. ngriki botên entên carane wong ngimbu banyu. ing panggonan kono disabdakake larang banyu. apa isih agama Budi. kali kang saka Kadhiri disotake banjur asat sanalika. pangrasane wong lanang arêp njêjawat. prawane aja laki yen durung tuwa. tanah kene patut diarani Kutha Gêdhah”. sarta jakane aja rabi yen durung dadi jaka tuwa. kali iki isih banjir. saiki isih ana wujuding patilasane. kang ndherekake mung sakabat loro. iya iku saka . Sunan Benang ngandika: “Yen ngono wong kene kabeh padha agama Gêdhah.nyambut gawe. kula ingkang nêkseni”. Sakabate siji banjur lunga mênyang padesan arêp golek banyu. kang padha rusak. kula nêdha toya imbon bêning rêsik”. iline banjur salin dalan kang dudu mêsthine. bangêt dukane. aku arêp wudhu. Sunan Benang mirêng ature sakabate. Ature Ki Bandar wong ing kono agamane Kalang. ing wêktu iku lagi nênun. nanging kang mangkono mau arang kang padha ngrêti mula-bukane. yen diombe nglarani wêtêng. akeh desa kang padha rusak. ing sanalika kali Brantas iline dadi cilik. Sakabat têka sarta alon calathune: “mBok Nganten. Sunan Benang ngandika marang sakabate: “Kowe goleka banyu imbon mênyang padesan. mBok Prawan kaget krungu swarane wong lanang. Gêdhah iku ora irêng ora putih. ngêndêl-êndêlake kaprawirane. padha sênêng-sênêng ana ing omah. Santri krungu têtêmbungan mangkono banjur lunga tanpa pamit lakune dirikatake sarta garundêlan turut dalan. mulyakake Bandung Bandawasa. isih kêna dinyatakake. kang maca lan kang krungu nganggêp têmên lan ora. nganti têkane saiki isih karan Kutha Gêdhah. kali Brantas pinuju banjir. dene kang agama Rasul lagi bribik-bribik. Ing wêktu iki ana dhêmit jênênge Nyai Plêncing. gawene nyikara marang para lêlêmbut. padha wadul yen ana wong arane Sunan Benang. mêjanani marang dheweke. alas. wong-wong padha bêbarêngan mangan enak. Nganti tumêka saprene tanah Gêdhah iku larang banyu. kajaba uyuh kula niki imbon bêning. Dhek nalika samana Sunan Benang sumêdya tindak marang Kadhiri. MBok Prawan salah cipta. Sunan Benang sarta sakabate loro padha nyabrang. iya kudu ditimbang ing sabênêre.

dadi ora tansah ganggu gawe. kang uga ngêsotake wong ing kono. nanging têmên mantêp sêtya ing Gusti. didhawuhi nglawan Sunan Benang. Anak putune Nyai Plêncing padha ngajak supaya Nyai Plêncing gêlêma nêluh sarta ngrêridhu Sunan Benang. Jêngkare Sri Narendra anjujug ing omahe kiyai Daka. sanalika banjur nimbali putra-wayahe sarta para jin pêri parajangan. sarta banjur didadekake patihe Sang Prabu Jayabaya. sarta kinêbutan êlaring mêrak. ratune manggon ing Selabale. kang tuwa arane Panji Sêktidiguna. Sunan Benang dhêmêne salah gawe. Buta Locaya iku patihe Sri Jayabaya. iya iku kiyai daha lan kiyai Daka. (6) Jênênge Buta Locaya. yen lahar mêtu supaya ora gawe rusaking desa sarta liya-liyane. mula sang Prabu asih bangêt marang kiyai Daka. dene Selabale iku dununge ana sukune gunung Wilis. sarta lakune barêng karo angin. kiyai Buta Locaya iku bodho. sarirane nganti kaya gêni. Buta Locaya lan kiyai Tunggulwulung uga padha muksa. Buta Locaya lagi ngandikan karo kang padha ngadhêp. amarga rasane awake padha panas bangêt kaya diobong. kabeh padha sumiwi marang Ni Mas Ratu Anginangin. jênênge kiyai Daka dipundhut kanggo jênêng desa. Wiwite ana sêbutan kiyai. ora antara suwe lêlêmbut wis têkan ing saêloring desa Kukum. Sakabehe lêlêmbut kang ana ing lautan dharatan sarta kanan keringe tanah Jawa. Ing wêktu iku kiyai Buta Locaya lagi lênggah ana ing kursi kêncana kang dilemeki kasur babut isi sari. Dhêmit-dhêmit mau banjur padha mlayu marang Kadhiri. dene kiyai Daka banjur diparingi jênêng kiyai Tunggulwulung. ngadhang lakune Sunan Benang kang saka êlor. kiyai Sumbre banjur ngadêg ana ing têngah dalan sangisoring wit sambi. sarta dadi senapatining pêrang. Buta Locaya krungu wadule Nyai Plêncing mangkono mau bangêt dukane. Nyai Plêncing ngaturake susahe para lêlêmbut sarta para manusa. . kiyai têgêse: ngayahi anak putune sarta wong-wong ing kanan keringe. Kiyai daha iki cikal-bakal ing Kadhiri. Nyai Plêncing krungu wadule anak putune mangkono mau. duwe adhi jênênge kiyai Daka. wong saka Tuban kang sumêdya lêlana mênyang Kadhiri. ana ing kono Sang Prabu sawadya-balane disugata. bisaa tumêka ing pati. Buta Locaya panggonane ana ing Selabale. mulane didadekake patih. barêng Sri Jayabaya rawuh. enggal mangkat mêthukake lakune Sunan Benang. maune jênênge kiyai Daha. dheweke diparingi Buta Locaya. Samuksane Sang Prabu Jayabaya lan putrane putri kang aran Ni Mas Ratu Pagêdhongan. sarta ngaturake yen kang gawe rusak iku. lan putrane kakung loro uga padha ngadhêp. Ni Mas Ratu Pagêdhongan dadi ratuning dhêmit nusa Jawa. jênênge kiyai Daha dipundhut kanggo jênênge nagara. caya têgêse: kêna dipracaya.panggawene Sunan Benang. Para lêlêmbut mau padha sikêp gêgaman pêrang. satêkane ing Kadhiri. matur bab rusake tanah lor Kadhiri. kaget kasaru têkane Nyai Plêncing. ing kono Buta Locaya banjur maujud manusa aran kiyai Sumbre. rumêksa kawah sarta lahar. nanging dhêmit-dhêmit mau ora bisa nyêdhaki Sunan Benang. Lo têgêse kowe. matur marang ratune. ngrungkêbi pangkone. arane Sunan Benang. kang anom aran panji Sarilaut. diadhêp patihe aran Megamêndhung. Buta iku têgêse: butêng utawa bodho. sarta kono disotake larang banyu sarta diêlih jênênge tanah aran Kutha Gêdhah. kuthane ana sagara kidul sarta jêjuluk Ni Mas Ratu Anginangin. dene para lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha ora ngaton. ngaturake kahanane kabeh. lanang wadon ngantiya kasep ênggone omah-omah. dene kiyai Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut.

dede pangagêm Jawi. pintên-pintên sami risak. lajêng nyabdakakên ing ngriki awis toya. namung kantun namaning dhusun. ora bêtah kêna prabawane Sunan Benang. ngriki paduka-sotakên. sadaya wau sirnanipun kaurugan siti pasir sarta lahar saking rêdi Kêlut. pasanggrahan Wanacatur ugi sampun sirna. Kiyai Sumbre matur marang Sunan Benang: “Paduka punika tiyang punapa. Kula badhe pitaken. kraton sarta pasanggrahanipun inggih sampun botên wontên. Sunan Benang ngandika maneh: “Aku bangsa ‘Arab. Buta Locaya kaget bangêt dene Sunan Benang ngrêtos jênênge dheweke. lepenipun asat. lajêng botên gampil pêncaripun titahing Latawalhujwa. kowe apa padha slamêt?”. mula kaline banjur tak-êlih iline. sêlaminipun awis toya. Sunan Benang andangu marang kiyai Sumbre: “Buta Locaya! kowe kok mêthukake lakuku. dadi dheweke kawanguran karêpe. paduka gêndhak sikara dhatêng anak putu Adam. nyabdakakên ingkang botên patut. pêrlu nonton patilasan kadhatone Sang Prabu Jayabaya.”. lepen Kadhiri ngalih panggenan mili nrajang dhusun. prawan baleg. sumêdya ganggu gawe. amarga wonge kene agamane ora irêng ora putih. jênêngmu Buta Locaya. Sunan Benang ngandika: “Mula ing kene tak-êlih jênêng Kutha Gêdhah. Sunan Benang wis ora kasamaran yen kang ngadêg ana sangisoring wit sambi iku ratuning dhêmit. amarga kang tak jaluki banyu ora oleh iku. kraton utawi patamanan Bagendhawati ingkang kagungan Ni Mas Ratu Pagêdhongan inggih sampun sirna. dene ênggonku ngêsotake prawan tuwa jaka tuwa. amarga kaya dene cêdhak mawa. Sakabat loro kang maune padha sumaput. makatên wau saking sabda paduka. aku ngrêti yen kowe ratuning dhêmit Kadhiri. wana. mula tak-sotake larang banyu. kene kabeh tak sotake larang banyu. aku njaluk banyu ora oleh. prawan tuwa jaka tuwa. amarga kêna daya prabawane kiyai Sumbre. paduka sikara botên surup. sarta nganggo jênêng Sumbre. sabin. sêpintên susahipun tiyang ingkang sami kêbênan. sadaya patilasan sampun sami sirna. banjur padha katisên. dene mangangge pating gêdhabyah. sikara tanpa dosa. ngêlih lepen. têtêpe agama biru.”. katitik saka awake panas kaya mawa. sarta ngêlih nami Kutha Gêdhah. Buta Locaya banjur matur: “Wetan punika wastanipun dhusun Mênang (9). wusana banjur matur marang Sunan Benang: “Kados pundi dene paduka sagêd mangrêtos manawi kula punika Buta Locaya?”. Mangkono uga Sunan Benang uga ora bêtah cêdhak karo kiyai Sumbre.Ora antara suwe têkane Sunan Benang saka lor. Sunan Benang ngandika: “Aku ora kasamaran. nyikara tanpa prakara”. mungguh kang dadi sêdyaku arêp mênyang Kadhiri. sabab agama Kalang. Dene lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha sumingkir adoh. . iku prênahe ana ing ngêndi?”. jênêngku Sayid Kramat. dene omahku ing Benang tanah Tuban. punika namanipun siya-siya botên surup. kiyai Sumbre mangkono uga. saiba susahipun tiyang gêsang laki rabi sampun lungse. Kados wangun walang kadung?”.

saupami konjuk Ingkang Kagungan Nagari. lepen ingkang asat lan panggenan ingkang sami katrajang toya kula-aturi mangsulakên kados sawaunipun. sanadyan ing tanah Jawi rak inggih wontên ingkang nglangkungi kaprawiran paduka. Aji Saka dados Ratu tanah Jawi namung tigang taun lajêng minggat saking tanah Jawi. . Paduka niksa wong tanpa dosa. manawi panjênêngan botên karsa mangsulakên. siram salêbêting kawah wedang ingkang umob mumpalmumpal. mula banjur ngandika: “Buta Locaya! aku iki bangsa Sunan. sumbêr toya ing Mêdhang saurutipun dipunbêkta minggat sadaya. sanes alam kaliyan manusa. paduka tiyang saking ‘Arab. wujud paduka niki jajil bêlis katingal. Sunan Benang ngandika: “Sanadyan kok-aturake Ratu Majalêngka aku ora wêdi”. niku Sunan napa? Yen pancen Sunaning jalma yêktos. ngêndêlake dumeh tiyang digdaya. woh sambi dadi warna loro kanggone. Sunan Benang barêng mirêng nêpsune Buta Locaya rumaos lupute.wangsulna sapunika. ora kêna mbaleni caturku kang wus kawêtu. Kula niki bangsaning lêlêmbut. sagêd dados asil panggêsangan laki rabi taksih alit lajêng mêncarakên titahipun Hyang Manon. ing ngriki sagêda mirah toya malih. aku pamit nyimpang mangetan. lah sapunika mugi panjênêngan-sotakên wangsulipun malih. tur namung tiyang satunggal ingkang lêpat. besuk yen wus limang atus taun. nggih niki margi paduka cilaka. Inggih sampun ta. muride Ijajil. dhêmit lan wong pêcicilan rêbut bênêr ngadu kawruh prakara rusaking tanah. kali iki bisa bali kaya mau-maune”. lajêng mubal nêpsune gêlis duka. nanging sami ahli budi sarta ajrih sêsikuning Dewa. yen botên sagêd. dak-suwun marang Rabbana. tandhane paduka sapunika sampun jasa naraka jahanam. wijine mêtuwa lêngane. calathune sêngol: “Rêmbag paduka niki dede rêmbage wong ahli praja.Buta Locaya matur maneh: “Punika namanipun botên timbang kaliyan sot panjênêngan. sarta susahe jalma lan dhêmit. paduka ngakên Sunan rak kêdah simpên budi luhur. sami damêl awising toya. paduka inggih dipunukum mlarat ingkang langkung awrat. botên timbang kaliyan kukumipun. punika namanipun tiyang dahwen”. amargi ngrisakakên tanah. woh sambi iki tak-jênêngake cacil. dene gawe kasusahan warna-warna. ewadene kula taksih engêt dhatêng wilujêngipun manusa. Aji Saka tiyang saka Hindhu. kula tamtu nyuwun bantu wadya bala dhatêng Kanjêng Ratu Ayu Anginangin ingkang wontên samodra kidul”. mila sami siya-siya dhatêng sêsami. siya dahwen sikara botên ngangge prakara. sugih sanak malaekat. nanging ingkang susah kok tiyang kathah sangêt. botên sapintên lêpatipun. banjur nêpsu maneh. mbok sampun sumakehan dumeh dipunkasihi Hyang Widdhi. Panjênêngan sanes Narendra têka ngarubiru agami. punapa paduka punika tiyang tunggilipun Aji Saka. daginge dadiya asêm. lajêng tumindak sakarsa-karsa botên toleh kalêpatan. paduka kula-banda”. botên tahan digodha lare. nanging kok jêbul botên makatên. paduka punika namanipun damêl mlaratipun tiyang kathah. Sunan Benang ngandika marang Buta Locaya: “Wis kowe ora kêna mangsuli. Buta Locaya barêng krungu kêsagahane Sunan Benang. têbih saking ahli budi yen ngantos siya dhatêng sêsami nyikara tanpa prakara. Buta Locaya barêng krungu têmbung ora wêdi marang Ratu Majalêngka banjur mêtu nêpsune. yen sampun dados. dene kok kaya bocah cilik padha tukaran. nyikara wong kang ora dosa. mêsthi simpên budi luhur. lajêng paduka-ênggeni piyambak. nuli matur marang Sunan Benang: “Kêdah paduka. sadaya manusa Jawi ingkang Islam badhe sami kula-têluh kajêngipun pêjah sadaya. patute rêmbage tiyang entên ing bambon. sapunika sadaya ingkang risak kula-aturi mangsulakên malih. damêl wilujêng dhatêng tiyang kathah.

saupama diêlih saka panggonane. awit saka sabdane Sunan Benang. êmbuh bênêr lupute”. ubênge bangkekane 10 kaki. kula Ratu”. dene prênahe ana sangisoring wit trênggulun. baune têngên rêca mau disêmpal dening Sunan Benang. sajabane desa kono ana sumur nanging ora ana timbane. satêkane desa Nyahen (10) ing kona ana rêca buta wadon. ing kene desa ing Sumbre. kangge pralambang ing tekadipun wanita Jawi. lan wiwit saiki panggonan têtêmon iki. Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene sumur mau karane sumur Gumuling. ngriku Sunan. Ing besuk dadiya pasêksen.asêm dadi pasêmoning ulat kêcut. Buta Locaya mangsuli: “Inggih kaot punapa. Buta Locaya nututi tindake Sunan Benang. jênênge dhêmit kêmênthus”. nuli sagêd mundhut banyu kagêm wudhu banjur salat. prênahe ana sangisoring wit dhadhap. kang lor jênênge desa Singkal. sarta akeh kang tiba kanan keringe rêca buta mau. Sunan Benang kang anggolingake. Sumbre sarta Singkal. dene Sunan Benang sawise. yen aku padu karo kowe. wêktu iku dhadhape pinuju akeh bangêt kêmbange. woh trênggulun jênênge kênthos. Kawanguran têgêse kawruhan. Sunan Benang ngandika: “Woh trênggulun iki tak-jênêngake kênthos. dhuwure ana 16 kaki. saka akehe kêmbange kang tiba. Sunan Benang tindake têkan ing desa Bogêm. nganti katon abang mbêranang. ana ing kono Sunan Benang mriksani rêca jaran. katêlah nganti tumêka saprene ing tanah Kutha Gêdhah ana desa aran Kawanguran. lajêng sami mangrêtos tekadipun para wanita Jawi”. . prakara rusaking rêca”. rêca mau awak siji êndhase loro. Buta Locaya barêng wêruh patrape Sunan Benang anggêmpal êndhasing rêca jaran. benjing jaman Nusa Srênggi. barêng wis wanci asar. Singkal têgêse sêngkêl banjur nêmu akal. saya wuwuh nêpsune sarta mangkene wuwuse: “Punika yasanipun sang Prabu Jayabaya. kêrsane arêp salat. iku pituture Raden Budi guruku. Sunan Benang banjur tindak mangalor. Sunan Benang ngasta kudhi. lênga têgêse dhêmit mlêlêng jalma lunga. wohe trênggulun mau akeh bangêt kang padha tiba nganti amblasah. yen dijunjung wong wolung atus ora kangkat. Sunan Benang priksa rêca mau gumun bangêt. dadiya pangeling-eling ing besuk. bathuke dikrowak. sumure banjur digolingake. Sunan Benang sawise salat banjur nêrusake tindake. Sunan Benang sawuse ngandika mangkono banjur mlumpat marang wetan kali. Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene. yen aku kêrêngan karo dhêmit kumênthus. iku pituture Raden Budi Sukardi. kajaba yen nganggo piranti. Sunan Benang ngandika: “Kowe iku bangsa dhêmit kok wani padu karo manusa. dene dhêmit padu lan manusa. sintên ingkang sumêrêp rêca punika. dene ana madhêp mangulon. dene panggonane balamu kang ana ing kidul iku jênênge desa Kawanguran”. guruku”. rêca jaran êndhase digêmpal.

sasar nêmbah tugu sela. sumêrêp saderengipun kalampahan. botên kuwasa. sumêrêp cipta sasmita ingkang dereng kalampahan. amargi siti utawi kajêng punika wontên asilipun. sarta nêdha ganda wangi. manusa sadaya kêdah sumêrêp ing Batu’llahipun. kawruhipun sasar-susur. sampun sami ngraos yen alamipun dhêmit punika sanes kalayan alamipun manusa. inggih pintêr sugih engêtan sidik paningalipun têrus. supados para lêlêmbut sampun sami manggen wontên ing siti utawi kajêng. ing mangka punika yasanipun Sang Prabu Jayabaya. sidik paningalipun têrus. Dene ingkang yasa rêca punika Prabu Jayabaya. wujude nggih tugu sela. inggih kêkasihipun Ingkang Kuwaos.Buta Locaya wêruh yen Sunan Benang ngrusak rêca. dipunsajeni. punika kêdah dipunrêksa. besuk yen mati oleh kamulyan”. pinaringan wahyu nyata pintêr sugih engêtan. punika wajib dipunsujudi. manggen wontên ing rêca têka panjênêngan-sikara. sintên sumêrêp asalipun badanipun. prayogi dhatêng rêdi Kêlut kathah sela agêng-agêng yasanipun Pangeran. lah asilipun punapa panjênêngan ngrisak rêca?” Pangandikane Sunan Benang: “Mulane rêca iki tak-rusak. sami maujud piyambak saking sabda kun. ing kono pusêring bumi. badanipun manusa punika Baitu’llah ingkang sayêktos. dados têdhanipun manusa. botên gadhah daya.” Buta Locaya calathu maneh: “Wong Jawa rak sampun ngrêtos. rêca buta bêcik-bêcik dirusak tanpa prakara. Nabi punika rak inggih manusa kêkasihipun Gusti Allah. punapa sampun angsal saking Pangeran Kang Maha Agung tapak asta mawi cap abrit? Sunan Benang ngandika maneh: “Kang kasêbut ing kitabku. Buta Locaya mangsuli karo mbêkos: “Pêjah malih yen sumêrêpa. wontên ing rêca. dados panjênêngan punika têtêp tiyang jail gêndhak sikara siya-siya dhatêng sasamining tumitah. manawi sampun nrimah nêmbah curi. mila sami dipunladosi. yen punika rêca sela. paduka pathokan tulis. angsal pangapuntên sadaya kalêpatanipun. didelehi tugu watu disujudi wong akeh. bêtuwah . supaya aja dipundhi-pundhi dening wong akeh. langkung sênêng malih manawi manggen wontên ing rêca wêtah ing panggenan ingkang sêpi edhum utawi wontên ngandhap kajêng ingkang agêng. sanes Hyang Latawalhujwa. manawi panggenanipun raga pêtêng. dipunkutugi. kamulyan sanyata wontên ing dunya kemawon sampun korup. saniki awon warnine. sasar nyêmbah tugu sela. wangsul tiyang bangsa ‘Arab sami sojah Ka’batu’llah. tugu damêlan Nabi. sing sapa sujud marang Ka’batu’llah. Pangandikane Sunan Benang: Ka’batu’llah iku kang jasa Kangjêng Nabi Ibrahim. Gusti Allah paring pangapura lupute kabeh salawase urip ana ing ‘alam pangumbaran”. dhêmit manawi nêdha ganda wangi badanipun kraos sumyah. ta. sayêktos yen yasanipun Ingkang Maha Kuwaos. tiyang Jawi pathokan sastra. punika inggih langkung sasar”. mila para lêlêmbut sami dipunsukani panggenan wontên ing rêca. inggih punika ingkang kenging kangge tuladha. pinaringan wahyu mulya. sumêrêp budi hawanipun. Saking dhawuhipun Ingkang Maha Kuwaos. dheweke nêpsu maneh. aja tansah disajeni dikutugi. Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Tandhane napa yen angsal sihe Pangeran. Sanadyan rintên dalu nglampahi salat. panjênêngan-tundhung dhatêng pundi? Sampun jamakipun brêkasakan manggen ing guwa. calathune: “Panjênêngan nyata tiyang dahwen. yen wong muji brahala iku jênênge kapir kupur lair batine kêsasar. Aluwung manusa Jawa ngurmati wujud rêca ingkang pantês simpên budi nyawa. makluking Pangeran.

Sunan Benang banjur tindak. manawi tiyang ingkang ahli nalar. damêl risak barang sae. anuju sawijining dina. saking lêpat. digdayanipun ngungkuli panjênêngan. yen mêntas nampani layang saka Tumênggung ing Kêrtasana. tanah pasir mirah toya. kula-aturi kesah saking ngriki. uwohe kledhung. bênteripun bantêr awis jawah. badhe kula undhangakên adhi kula ingkang wontên ing rêdi Kêlut. panjênêngan punapa sagêd ngêpal lampahing jaman? Sampun ta. ingkang patilasanipun taksih kenging dipuntingali. manawi kula lêpat panjênêngan jotos. nanging dhêmit raja. nyudakakên toya”. sitinipun panas. punapa panjênêngan kêpengin manggen ing sela kados kula? Mangga dhatêng Selabale. manawi kadangon wontên ing ngriki mindhak damêl susah. wanitanipun ayu. lajêng kula bêkta mlêbêt dhatêng kawahipun rêdi Kêlut. Rêmbag panjênêngan badhe priksa pusêring jagad. tandhanipun wontên ing ngriki taksih krejaban. yen panjênêngan mulya tamtu botên kesah saking ‘Arab. nagari ing Majalêngka. dereng ngrêtos kawontênanipun ngrika. Sunan Benang banjur pamitan: “Wis aku arêp mulih mênyang Benang”. Rêmbag panjênêngan punika mblasar. kangge rencang tumbasan. Patih matur. tekad panjênêngan rusuh. ngarubiru agamane lêluhur kina. kêmbange aran celung. dene surasane layang ngaturi uninga yen nagara Kêrtasana kaline asat. manawi botên purun kesah sapunika. awis toya. Sang Prabu Brawijaya miyos sinewaka. panjênêngan kula-kroyok punapa sagêd mênang. madya luwês wicaranipun. kula sumêrêp nagari Mêkah. Ingkang yasa rêca punika Maha Prabu Jayabaya. tandha kirang nalar. rêmên niksa ing sanes. diadhêp Patih sarta para wadya bala. kirang nêdha kawruh budi. dene Buta Locaya sawadya-balane uga banjur mulih. wontên ing ‘Arab nakal kalêbêt tiyang awon. nyade mulyaning nagari Mêkah. nyade umuk. dadiya pasêksen yen aku padu lan ratu dhêmit. Gênti kang cinarita. punapa dora punapa yêktos. mila panjênêngan dhatêng tanah Jawi. panjênêngan enggala kesah. panjênêngan punapa botên badhe susah. Mila panjênêngan anganjawi. Mula katêlah nganti tumêka saprene. wontên ing ngriki mindhak damêl sangar. punapa ingkang dipuntanêm sagêd tuwuh. murugakên awis wos. Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Inggih sampun. Buta Locaya mangsuli: “Sanadyan kula dhêmit. Sunan Benang ngandika: “Dhadhap iki kêmbange tak jênêngake celung. tanêm-tanêm tuwuh botên sagêd mêdal. tiyangipun jalêr bagus. nambahi bênter. kula aturi kesah kemawon saking ngriki. nagari Jawi ngriki nagari suci lan mulya. sabab aku kêcelung nalar lan kêledhung rêmbag. Ratu wajib niksa. malah kathah tiyang sade tinumbas tiyang. kali kang saka Kadhiri miline nyimpang . kowe setan brêkasakan”. Tiyang nyungkêmi kabar ‘Arab. sapunika panjênêngan ukur. aluwung nyungkêmi kabar sastra saking lêluhuripun piyambak. dados murid kula!”. mastani Mêkah punika nagari cilaka. inggih ing ngriki ingkang kula-linggihi punika. maoni adating uwong. Sunan Benang ngandika: “Ora arêp manut rêmbugmu. mbucal dhatêng Mênadhu”. sami-sami nyungkêmi kabar. panjênêngan dereng tampu mulya kados kula. mila minggat. maoni agama. mulya langgêng salamine. asrêp lan bênteripun cêkapan. kalah kawruh kalah nalar”.saking lêluhuripun. anggêga ujaripun tiyang nglêmpara. rêmên nyikara niaya. Panjênêngan tiyang duraka. woh dhadhap jênênge kledhung.

Sang Prabu mirêng ature Patih bangêt dukane. wong ‘Arab kang ana ing tanah Jawa padha didhawuhi lunga. mênggah têgêsipun Sunan punika budi. niti-priksa ing kono kabeh. têgêsipun Yakin punika wikan. pêparabipun Sunan ‘Aênalyakin. punika nama ing têmbung ‘Arab. 2. mung ing Dêmak lang Ngampelgadhing kang kêparêng ana ing tanah Jawa. banjur dhawuh nglurugi pêrang mênyang Giri. wong-wong ing Pasisir lor wis padha agama Islam. Patih banjur diutus mênyang Kêrtasana. Sang Prabu midhangêt ature Patih. suraosipun ing têmbung Jawi nama Prabu Satmata. amarga gawe ribêding nagara. mula banjur lunga karo Sunan Giri mênyang Dêmak. matur yen ora oleh gawe. Sunan Benang wis ngrumasani kaluputane. Ature Patih: “Gusti! lêrês dhawuh paduka punika. diajak nglurug mênyang Majalêngka. sumilih Kaprabon Nata. Patih sawadya-balane satêkane ing Giri banjur campuh pêrang. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih. têgêsipun Aenal punika ma’rifat. sawise oleh bêbantu. namanipun Sunan Benang. dhawuhana balamu para Sunan kabeh lan para Bupati kang wis padha Islam kumpulna ana ing Dêmak. ênggone ora sowan mênyang Majalêngka. Sunan Giri mlayu mênyang Benang. mênggah sêdyanipun badhe rêraton piyambak. golek kêkuwatan. kang kuwat dadi Ratu tanah Jawa. Patih budhal ngirid wadya-bala prajurit. nanging rumantiya sikêping pêrang: 1. satêkane ing Dêmak. sumêrêp piyambak. amargi ngulama Giripura sampun tigang taun botên sowan utawi botên ngaturakên bulubêkti. saking kenging sabdanipun ngulama saking ‘Arab. sowana besuk Garêbêg Mulud.mangetan. nglurug mênyang Giri. kahanane wonge sarta asile bumi kang katrajang banyu kapriye? Sarta didhawuhi nimbali Sunan Benang. nanging kang sarana alus. umure wis satus têlu taun. Wong ing Giri geger. ing alam donya botên wontên kalih ingkang asma Sang Prabu Satmata. ora kuwat nanggulangi pangamuke wadya Majapahit. dene namanipun santri Giri anglangkungi asma paduka. mêngko yen wis kumpul. botên ngrumaosi nêdha ngombe wontên tanah Jawi. dene duta kang diutus mênyang Tuban uga wis têka. amarga Sunan Benang lunga ora karuhan parane. Patih sawise niti-priksa. gaweya samudana. saperanganing layang mau unine mangkene: “Wontên ler-kilen Kadhiri. kabeh mêsthi nurut marang kowe”. punika asma luhur ingkang makatên punika ngirib-irib tingalipun Kang Maha Kuwasa. anggenipun makatên wau. saka panawangku. dene yen padha ora gêlêm lunga didhawuhi ngrampungi bae. Sang Prabu midhangêt ature para wadya banjur duka. dene kang kidul isih têtêp nganggo agama Buddha. mung kowe. nglêstarekake agamane. banjur ngaturake kahanane kabeh. . mariksa botên kasamaran. dados nama tingal ingkang têrus. kajawi namung Bathara Wisnu nalika jumênêng Nata wontên ing nagari Mêdhang-Kasapta. pangandikane Sunan Benang marang Adipati Dêmak: “Wêruha yen saiki wis têkan masa rusake Kraton Majalêngka. liyane loro iku didhawuhi ngulihake mênyang asale. banjur ngêbang marang Adipati Dêmak. Gêlising carita. pintên-pintên dhusun sami karisakan. yen kumpule iku arêp gawe masjid. paring pangandika yen ngulama saka ‘Arab pada ora lamba atine. pêrange rame bangêt. aja nganti ngêtarani. banjur pêrang maneh mungsuh wong Majalêngka. ing wêktu iku tanah jawa wis meh saparo kang padha ngrasuk agama Islam. para Sunan sarta Bupati sawadya-balane kang wis padha Islam. rêmbugku rusakên Kraton Majalêngka.

iku ora prayoga. mêsthine sihe Gusti Allah kang . iya iku Ki Andayaningrat ing Pêngging. walêsên kalawan alus. amarga iku wong kapir. bocah kalairan Cêmpa. mungsuh wong kapir. tiyang rêraton. iku durung gênêp uripe. ananging ing laire iya kudu nganggo sarat dirêbut sarana pêrang. awit Ratu iku Khalifa wakile Hyang Widdhi. wong pranakan buta. têdhak Rasul panutaning wong Islam kabeh. Sunan Benang kang wis dipuji wong sabumi ‘alam. Sunan Benang ngandika maneh: “Yen ora kok-rêbut dina iki. ora wajib jumênêng Nata. patute mung dadi godhogan. mulane rêmbugku. kajawi namung sêtya tuhu. yen wong urip ora wêruh marang uripe. Bupati ing Palembang. awit panjênêngan botên ngrumaosi dhahar ngunjuk wontên in tanah Jawi”. yen ngislamake wong kapir. kowe ngênteni surude bapakmu. Kowe mungsuh bapakmu Nata. wiji jawa digawa Putri Cina. tak-anggêp kulawarga. Ramanira panggalihe têtêp ora bêcik. sanadyan dosa pisan. botên kaparêng yen kula mêngsah bapa. amêngsah bapa tur raja. têgêse Babah iku saru bangêt. punapa malih dereng wontên lêpatipun dhatêng kula”. Dene têkaku mrene ini ngungsi urip mênyang kowe. Dhawuhipun eyang Sunan Ngampelgadhing. kaprabone bapakmu wis mêsthi ora bakal tiba kowe. Sunan Benang ngandika mêneh: “Sanadyan mungsuh bapa lan ratu. tandhane sira diparingi jênêng Babah. botên ngrumaosi yen kêdah manut prentahing Ratu ingkang mbawahakên. golek darajat kang unggul dhewe. ing batin sêsêpên gêtihe. besuk ganjarane swarga. amarga aku ora seba marang Majalêngka. tiyang punika bapa inggih kêdah dipunhurmati. Satêmêne ramanira iku siya-siya marang sira. amarga iku putrane kang tuwa. mêsthi rusak agama Mukhammad Nabi”. utawa dipasrahake marang putra mantu. didakwa rêraton. sumilih kaprabone ramamu. mung karo wong siji.Ature Adipati Dêmak: “Kula ajrih ngrisak Nagari Majalêngka. nadyan mati. iya iku: bae mati bae urip. wong satanah Jawa padha Islam kabeh. ora ana alane. ênggone ngarani jare lara ayan esuk lan sore. lire aja katara. mêsthi dipasrahake marang Adipati Pranaraga. Inggih sanadyan Buddha punapa kapir. sampun wajibipun dipunlurugi. mula akeh bangsa Cina kang padha tak. mati sabilu’llah. apa bae kang dikarêpake bisa kêlakon. yen aku kacandhak arêp dikuciri lan dikon ngêdusi asu. mumpung iki ana lawang mênga. Giri kang dadi jalarane ngrusak Majalêngka. sapira kawruhe Ngampelgadhing. Eyangmu kuwi santri mêri. aku wêdi marang Patih Majalêngka. Wangsulane Sang Adipati Dêmak: “Anggenipun nglurugi punika lêrês. masa padhaa karo aku Sayid Kramat. Sunan Giri nyambungi rêmbug: Aku iki ora dosa dilurugi ramamu. gundhul bêntul butêng tanpa nalar. patine slamêt nampani swarga mulya. ngrusak kapir Buddha kawak: kang kok-têmu ganjaran swarga. dipunukum pêjah. nanging yen bapakmu kalah. tur ratu kapir. kowe anak nom.Islamake. sihing Hyang Kang Maha Kuwasa kang dhawuh marang kowe. kaping tiganipun damêl sae paring kamukten ing dunya. saka ênggone nyungkêmi agamane. yen kowe ora gêlêm nglakoni. akeh bangsa Cina kang padha têka ana ing tanah Jawa. mula ibumu diparingake Arya Damar. wis wajibe wong Islam mati dening wong kapir. ana ing Giri padha tak-Islamake awit kang muni ing kitabku. lamun sipat manusa mêsthi melik mêngku praja angreh wadya bala. Kang mangkono iku. yen kowe ora ngukuhi. sanadyan Buddha nanging margi-kula sagêd dumados gêsang wontên ing dunya. karo wis wajibe wong urip golek kamuktening dunya. satêmêne kowe wis pinasthi bakal jumênêng Ratu ana ing tanah Jawa. iku mêgat sih arane. sapira mungguh kauntunganmu nugrahaning Pangeran tikêl kaping êmbuh. lajêng punapa ingkang kula-walêsakên. Sumbare Patih. lan ramanira sêngit bangêt marang santri kang muji dhikir. mamahên balunge”.

malah diwenehi lêpiyan carita Nabi. wis tak-sêmprong nganggo sangkal bolong katon nêrawang ora samar sajroning gaib. Esuke Senapati Jimbuningrat wis miranti sapraboting pêrang. Si gugur isih cilik. ing kono gulumu bakal tak-lawe gênti”. para wadya bala ora ana kang ngrêti wadining laku. ninggal swara: “Eling-eling ngulama ing Giri. amarga aku wis wêruh sadurunge winarah. kang gêlêm ngrusak bapa kapir. Patih saulihe saka ing Giri banjur matur sang Praba. diiringake para Sunan lan para Bupati. mangsah mêncak nganggo gêgêman abir. jêjuluk Senapati Jimbuningrat. sawadya-balane watara wong têlung atus. mêsthi ora bisa nadhahi yudamu”. ndadekake sukaning panggalih. Adipati Dêmak banjur kirim layang marang Têrung. lah saiki uga kowe kirima layang marang adhimu Adipati Têrung. iya iku Syekh Sitijênar. gêlêm ngrusak Majalêngka. brêngose capang sirahe gundhul. Sawise golong karêpe. padha manganggo . arane Sêcasena. padha bisa mêncak kabeh. kowe ora tak-walês ing akhirat. lan paring idi rahayuning laku. saiki kowe wis gêlêm tak botohi. iku padha nêmu rahayu. murwani agama suci. bisa lêstari satêruse”. banjur budhal mênyang Majapahit. masa ndadak waniya. sawise mêsjid dadi. saguh ambiyantu pêrang. aku mung sadarma njurungi. ambirat ênggonmu madêg Narendra. dithothok bae mati. Syekh Sitijênar dipateni. bab ênggone mukul pêrang ing Giri. dadi kowe jênênge nampik sihe Allah. mung arêp salat ana ing masjid bae. apa abot sadulur tuwa kang tunggal agama. Adipati Dêmak matur: “Manawi karsa panjênêngan makatên. Sadurunge Syekh Sitijênar tumêka ing pati. pawadane sarehne wis sêpuh. yen wis padha rujuk. apa abot Sang Nata. Majapahit sapa kang diêndêlake yen Kusen mbalik. dadi mung para Sunan lan para Bupati bae kang ngiringake Sultan Bintara. Sunan Benang duka. besuk yen ana Ratu Jawa kanthi wong tuwa. Para Sunan lan para Bupati wis padha rujuk kabeh. yen Adipati Dêmak arêp dijumênêngake Nata. Gêlising carita. panjênêngan ingkang mbotohi”. banjur padha salat ana ing masjid. Sunan Benang ngandika maneh: “Iya mangkono iku kang tak karêpake. nanging tak-walês ana ing dunya kene bae. bisa ngideni adêgmu Nata mêngku tanah Jawa. wis tinampan wangsulane Sang Adipati Têrung. wong kabeh dipangandikani dening Sunan Benang. lan diwenehana sumurup yen Sunan Benang wis ana ing Dêmak. gampang bangêt rusaking Majalêngka. nglêstarekake apa kang wis dirêmbug. banjur pakumpulan ngêdêgake masjid. sarta banjur arêp ngrusak Majapahit. kajaba mung para Tumênggung lan para Sunan apa dene para ngulama.mênyang kowe bakal dipundhut bali. bisa dadi Ratu ana ing tanah Jawa. ananging têmbungmu kang rêmit sarta alus. pambujuke marang adipati Dêmak supaya mêtu nêpsune. Sunan Giri mangsuli: “Iya besuk wani. Gênti kocapa nagara in Majapahit. patihe wong saka Atasaning aran Patih Mangkurat. Sunan Benang banjur ngandika marang Adipati Dêmak. mungguh kang dadi senapati ing Giri iya iku sawijining bangsa Cina kang wis ngrasuk agama Islam. samudana yen arêp ngêdêgake masjid. Yen adhimu wis rujuk adêgmu Nata. Akeh-akeh dhawuhe Sunan Benang. Sunan Benang lan Sunan Giri ora melu mênyang Majapahit. ora kacarita lakune ana ing dalan. adhimu antêpên. Sang Adipati Dêmak banjur ingidenan jumênêng Nata. amêngku tanah Jawa. kowe kang katiban wahyu sihe Pangeran. layang banjur katur Sunan Benang. aku ora bakal mundur”. sabakdane salat. saiki wani. kula namung sadarmi nglampahi dhawuh. mung siji kang ora rujuk. ora suwe utusan bali. Patihe wis tuwa. banjur tutup lawang. Syekh Sitijênar dilawe gulune mati. lakune kaya dene Garêbêg Maulud. supaya Sang Adipati ngaturi para Sunan lan para Bupati kabeh. banjur arêp kêpyakan tumuli. ora suwe para Sunan lan para Bupati padha têka kabeh. dene kang kadhawuhan mateni iya iku Sunan Giri.

Layang kang saka Pathi mau katitimasan tanggal kaping 3 sasi Mulud taun Jimakir 1303. Babah Patah anggone nggawa bala têlung lêksa miranti sapraboting pêrang. sajrone ana ing paseban jaba. iya Sultan Adi Surya ‘Alam. njêgrêg kaya tugu. Sang Prabu Brawijaya midhangêt ature Patih kaget bangêt panggalihe.srêban cara kaji. sêdya mungsuh ingkang rama. digoleki nalar-nalare tansah wudhar. ngenthengake ingkang rama. nganti suwe ora ngandika. mlayu mênyang Benang têrus diburu dening wadya-bala Majapahit. supaya utusan mênyang Dêmak. yen Adipati ing Dêmak. awit dosane santri Benang ngrusak bumi ing Kêrtasana. ora padha ngelingi marang kabêcikan. dene wadya-bala ing Giri pating jênkelang ora kêlar nadhahi tibaning mimis. lair batin ora tinêmu ing nalar. wis madêg Ratu ana ing Dêmak. mratelakake yen uga ora mangêrti. dene putrane lan para ngulama apa dene para Bupati kolu ngrusak Majapahit. andhawuhake yen ngulama ing Giri lan ing Benang padha têka ing Dêmak. malah padha gawe ala. dene kang ngêbang. Menak Tunjungpura ing Pathi ngaturi uninga. dene ora padha ngrêti mênyang kabêcikane Sang Prabu. bangêt gumune mênyang wong Islam. masa Kasanga Wuku Prangbakat. para Bupati pasisir lor sawadyane kang wis padha Islam uga padha njurungi. kêsaru têkane utusane Bupati ing Pathi. dene kok padha duwe pikir ala. Sunan Giri lan Sunan Benang banjur nunggal saprau-layar ngambang ing sagara. wong dibêciki kok padha malês ala. Senapati Jimbuningrat. . wêkasane malah padha gawe buwana balik. ngaturake surasane layang mau. gedheg-gedheg. dene bala Cina liyane lang kari padha mlayu salang tunjang. sawêneh ngambang ing sagara. Kiyai Patih sawise maos layang. Ature Patih. bangêt pangungune. tekade sumêdya nglawan pêrang. padha diparingi pangkat. kinira banjur minggat marang Arab ora bali ngajawa. iya iku Sunan Benang lan Sunan Giri. Senapati Sêcasena wis mati. dene jêjuluking Ratu. mangsah pêrang paculat kaya walang kadung. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt. njêtung atine. dene wong Islam pikire kok padha ora bêcik. dene putrane lan para ngulama têka arêp ngrusak karaton. apa ta mungguh kang dadi sababe. lumrahe mêsthi. Sang Prabu banjur andangu marang Patih.êbang adêging Nata. utawa Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’rrasul Amiri’lmukminin Tajudi’l’Abdu’lhamid Kak. Kyai Patih banjur matur Sang Prabu. Ki Patih uga mung gumun. ing Bintara. jroning panggalih ngungun bangêt marang putrane sarta para Sunan. Patih samêtune ing paseban jaba. Sang Prabu nganti ora bisa manggalih apa mungguh kang dadi sababe. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih. mungguh surasaning layang. bala ing Giri ngungsi mênyang alas ing gunung. dibêciki walêse kok padha ala. iya iku Babah Patah. amarga adoh karo nalare. dene padha duwe sêdya kang mangkono. padha malês bêcik. kaaturna bêbandan ing ngarsa Nata. banjur tumênga ing tawang karo nyêbut marang Dewa kang Linuwih. mungguh kature Sang Prabu amborongake kiyai Patih. didhawuhi nyêkêl. sinêmonan dening Dewa. kolu ngrusak Majapahit. gêrêng-gêrêng. layang banjur diwaos kiyai Patih. kaya dene atining kêbo êntek dimangsa ing tumaning kinjir. Ing samêngko Babah Patah sawadya-balane wis budhal nglurug marang Majapahit. Babah Patah abot mênyang gurune. dene dosane santri Giri ora gêlêm seba marang ngarsa Prabu. sarta kêrot. banjur nimbali duta kang arêp diutus mênyang Dêmak. sungkawane ratu Gêdhe kang linuwih. wadya Majapahit ambêdhili. para Sunan lan para Bupati padha ambiyantu anggone arêp mbêdhah Majapahit. ngaturake layang marang Patih.

kolu ngrusak nagara Majapahit. Wadya Dêmak banjur campuh karo wadya Majapahit. prakara têkane mungsuh. ora ana kang diwêdeni. sarta ênggone kêgiwang marang ature Putri Cêmpa. “Sabdaning Ratu Agung sajroning kasusahan. kaya dene tugu waja. Sang Prabu banjur lolos arsa têdhak marang Bali. mung Patih sarta Bupati Nayaka pangamuke saya nêsêg. iya iku kawitane manuk kuntul ana kang kucir. nanging ora pasah. ngulama jênênge walian. Sunan Ngudhung disuduk kêna. iya iku Putri Cêmpa. dibêciki gustiku walêse ngalani. Sapatine Patih. tandhing karo Sunan Kudus. Adipati Têrung banjur mlêbu mênyang jêro pura. ngideni para ngulama mêncarake agama Islam. Putra Nata tiwas. sarehne Majapahit karoban mungsuh. yen nganti nglawan rumaos lingsêm bangêt. ngrêbut nagara gawe pêpati. rambutmu tak-cukur rêsik”. ngobongi buku-buku bêtuwah Buddha padha diobongi kabeh. Patih didhawuhi nimbali Adipati Pêngging sarta Adipati Pranaraga. saupama disuwun kalayan aris bae mêsthi diparingake. kang ana mung Ratu Mas. Sang Prabu banjur mundhut pamrayoga marang Patih. santri kang ngrêbut nagara. sun-bêciki walêse angalani”. wong kampung ora ana kang wani nglawan.Sang Prabu banjur ngandika marang patih. Ature Patih prayoga nglawan têkaning mungsuh. katandhan ana swara jumêgur gêtêr patêr sabuwana. dene wadya Majapahit wis êntek. Patih ora pasah sakehing gêgaman. lagi rame-ramene têtandhingan pêrang. pangamuke kaya bantheng kataton. Raden Gugur isih timur lolos piyambak. nanging sang Prabu wis ora ana. kuntul kucir githoke. yen mapag pêrang kang sawatara bae. beteng ing Bangsal wis dijaga wong Têrung. Sabdapalon lan Nayagenggong. katarima dening Bathara. katêlah tumêka saprene. Sajrone Sang Prabu paring pangandika. Sang Nata saka putêking panggalihe nganti kawêdhar pangandikane ngêsotake marang wong Islam: Sun-suwung marang Dewa Gung. ing ngêndi kang katrajang bubar ngisis. tinggal swara: “Eling-eling wong Islam. ana ing kono pada njarah rayah nganti rêsik. prajurite akeh kang padha mati. Patih dibyuki wadya ing Dêmak. bala Dêmak têlung lêksa. kang tadhah mati nggêlasah. besuk tak-walês. aja nganti ngrusakake bala. Pêrange rame bangêt. Sang Prabu ngandika. bangkening wong tumpang tindhih. Sunan Ngudhung mapagake banjur mrajaya. Bala Dêmak kang katrajang mêsthi mati. tibaning mimis kaya udan tiba ing watu. tak-damoni sirahmu. ngulama kabeh ngrangkêp jênêng walikan. wong Islam iku besuk kuwalika agamanira. Wong Majapahit kang ora . mula dhawuhe Sang Prabu. Putrane Sang Prabu aran Raden Lêmbupangarsa ngamuk ana satêngahing papêrangan. amarga Sang Nata wis sêpuh. para Sunan banjur ngawaki pêrang. Para prajurit Dêmak banjur padha mlêbu mênyang kadhaton. wêkasan Patih ing Majapahit ngêmasi. Patih Mangkurat ing Dêmak nglambung. mula kasêsa tindake. Para Bupati Nayaka wolu uga banjur melu ngamuk. dene tan wruh kabêcikan. tak-ajar wêruh nalar bênêr luput. wadya-bala Dêmak wis pacak baris ngêpung nagara. dene Adipati Dêmak kapengin mêngkoni Majapahit bae kok dirêbut sarana pêrang. sawise paring pangandika mangkono. ora ana braja kang tumama marang sarirane. balang Majapahit mung têlung ewu. Patih binendrongan saka kadohan. saya bangêt nêpsune. sang Putri diaturi sumingkir mênyang Benang uga karsa. barêng Sunan Ngudhung tiwas. iku dilawan apa ora? Sang Nata rumaos gêtun lan ngungun. kadherekake abdi kêkasih. amarga putra kang ana ing Majapahit durung wanci yen mapagake pêrang. muga winalêsna susah-ingsun. nanging kuwandane sirna. Patih Majapahit ngamuk ana samadyaning papêrangan. bab anane lêlakon kaya mangkono iku amarga saka lêpate sang nata piyambak. manjalma dadi wong kucir. para Sunan banjur mlêbu mênyang kadhaton. sinêksen ing jagad. Sunan. wadya sajroning pura padha bubar. dene nggêgampang marang agama kang wis kanggo turun-tumurun. sapira kuwate wong siji. dene mungsuh karo putra.

ora susah ngango dikon. Layone para putra santana lan nayaka padha kinumpulake. kandhaa satêmêne. ora dhawuh lan ora malangi marang wong kang salin agama. ênggone sowan mênyang Ngampel iku. Nyai Agêng barêng mirêng ature Prabu Jimbun. Kowe wani mungsuh Ratu tur wong tuwamu dhewe. mêsthi kêsiku ing Gusti Allah. Nyai Agêng banjur ndangu Sang Prabu. Kabeh iki sasênênge dhewe-dhewe. kajaba mung siji Gusti Allah piyambak. Prabu Jimbuningrat matur yen mêntas mbêdhah Majapahit. pinêtak ana sakidul-wetan pura. kowe iku dosa têlung prakara. Buddha kawak dhawuk kaya kuwuk. Gusti Allah kang sipat rahman. iya iku Patih Mangkurat sarta Adipati Têrung. ngaturake patine Patih ing Majapahit lan matur yen panjênêngane wis madêg Nata mêngku tanah Jawa. putrane Arya Teja. isih ngagêm agama kapir kupur. mangkene pangudaraosing panggalih: “Putuku. para Sunan sarta para Bupati gênti-gênti padha ngaturake sêmbah mênyang Nyai Agêng. sarta kang aweh kamukten ing dunya. dene jêjuluke: Senapati Jimbun. bapakmu tênan kuwi sapa? Sapa kang ngangkat kowe dadi Ratu tanah Jawa lan sapa kang ngideni kowe? Apa sababe dene kowe syikara kang tanpa dosa?” Sang Prabu banjur matur. yen Prabu Brawijaya iku jarene ramane têmênan. seda utawa sugênge ora ana kang wêruh”. prêlu nyuwun idi. sarta Panêmbahan Palembang. Sang Prabu Jambuningrat satêkane ing Ngampel. kowe dosa têlung prakara. Kang ngangkat sarirane dadi Ratu mêngku tanah Jawa iku para Bupati pasisir kabeh. banjur muwun sarta ngrangkul Sang Prabu. dene kang dipatah tunggu ana ing Majapahit. sarta padha diuja sakarêpe. mungsuh Ratu tur sudarmane. wong pancene rak sêmbah nuwun bangêt. têtêpa jumênêng Nata nganti run-tumurun aja ana kang nyêlani. Mulane nagara Majapahit dirusak. sasedane Sunan Ngampel. garwane mau asli saking Tuban. jarene iku kubure Raden Lêmbupangarsa. dene kowe kok wani ngrusak kang tanpa dosa. banjur dikumpulake karo wong Islam. Wong ganti agama iku ora kêna dipêksa yen durung mêtu saka karêpe dhewe. Wong kang nyungkêmi agamane nganti mati isih nggoceki tekade iku utama. banjur njêrit ngrangkul Sang Prabu karo ngandika: “Êngger! kowe wêruha. sabên bêngi padha salat kajat sarta andêrês Kur’an. Nyai Agêng Ngampel sawise mirêng ature Prabu Jimbun. yen ngelingi kasaeane uwa Prabu Brawijaya. amarga Sang Prabu Brawijaya ora karsa salin agama Islam. wusana banjur diwalês ala. dene kang padha gêlêm têluk. mung kari garwane kang isih ana ing Ngampel. Kuburan mau banjur dijênêngake Bratalaya.gêlêm têluk banjur ngungsi mênyang gunung lan alas-alas. Yen Gusti Allah wis marêngake. para ngulama padha diparingi panggonan kang wis anggawa pamêtu minangka dadi pangane. Kang ngideni para Sunan. padha dikon nyêbut asmaning Allah. Têrung uga dijaga ngulama têlung atus. Sultan Dêmak budhal mênyang Ngampel. pangandikane: “Êngger! aku arêp takon mênyang kowe. sarta sing aweh nugraha marang kowe. banjur ngabekti Nyai Agung. Anane Islam lan kapir sapa kang gawe. têka dirusak kang tanpa prakara. Gusti Allah ora niksa wong . Nyai Agêng ing batos karaos-raos. wis mêsthi salin dhewe ngrasuk agama Islam. njaga kaslamêtan mbokmanawa isih ana pakewuh ing wuri. Nyai Agêng kanggo têtuwa wong Ngampel. wadya-bala kang saparo lan para Sunan padha ndherek Sang Prabu mênyang Ngampelgadhing. Sunan Ngampel wis seda. ngaturake lolose ingkang rama sarta Raden Gugur. Barêng wis têlung dina. Sunan Kudus njaga ana ing kraton dadi sulihe Sang Prabu.

dongengi kupiya patang prakara. mula Wong Agung iya ngaji-aji marang maratuwane. maratuwane gêthing marang wong Agung amarga seje agama. dupeh kapir Budha ora gêlêm ganti agama. wong Agung Kuparman. kêduga ngrusak ora nganggo prakara. aku ora wênang ngideni. mujijadmu apa? Yen nyata Khalifatu’llah wênang nyalini agama lah coba wêtokna mujijadmu tak-tontone”. bapa disiya-siya. jarene anake Sang Prabu. mêsthi wêdi mênyang bapa. jare yen ngislamake wong kapir iku ing besuk oleh ganjaran swarga. wêwalêre kok-trajang. ananging atur mau ora dipanggalih. iku tandha yen isih mêntah kawruhmu. prakara têtêpmu dadi Ratu tanah Jawa. sanadyan para Nadi dhek jaman kuna. kang diarani wong linuwih. Eklasing ati bêkti bapa. amarga iku wong tuwane. saka kêpenginmu jumênêng Nata. iku agamane Islam. awit kowe sing mêsthine paring idi marang aku. Yen kowe njaluk idi marang aku. tur dudu bukuning lêluhur. wujud dluwang utawa rêja watu. kapindhone Ratu lan kang aweh nugraha. amarga wis wajibe manusa bêkti marang wong tuwane. sanadyan mungsuh wong tuwa. Barêng wong kang kaya kowe. beda matane wong Jawa. amarga kowe Khalifatu’llah sajroning tanah Jawa. mung bênêr karo lupute sing diadili nganggo têtêping adil. Nyai Agêng Ngampel gumujêng karo ngandika: “Tindakmu iku saya luput bangêt. sing putih mung ing jaba. mung ngêndêlake ikêt putih. kowe ora wêdi papacuhe. iku dudu padon. ora ngrêti marang kang bênêr lan kang luput. lair batine ora luput. malah manti-manti aja nganti mungsuh wong tuwa. ing kitab hikayat wis muni. têka kolu marang bapa. ing jêro abang. saiki eyangmu wis seda. saucapmu idu gêni. kok-aturi salin agama? nagarane kok nganti kok-rusak iku kapriye? Prabu Jimbun matur. carita tanah Mêsir. nanging kang dielingi wong tuwane. mula iya banjur dimungsuh.asih lang ngaji-aji. wêruh kang bêcik lan kang ala. mula blero pandêlêngmu. Kowe tak-dongengi. Kowe kuwi dudu santri ahli budi. wong ngumbara kok diturut rêmbuge. dadi wêruh ing bênêr lan luput. mêngko rak buwana balik arane. nalika eyangmu isih sugêng. yen durung ngaturi salin agama. têkane Majapahit banjur ngêpung nagara bae. Prabu Jimbun matur yen ora kagungan mujijad apa-apa. duwe maratuwa kapir. durung wani marang wong tuwa. eyangmu ora parêng. panjênêngane Kanjêng Nabi Dhawud. putrane anggege . nanging ora karsa. kasusuhane ora dipikir. Jawa Jawi ngrêti matane mung siji. Lan aku arêp takon. mangka sabên dinane wis diaturi mujijade. tandha mripatmu iku lapisan. sarta ora paring ganjaran marang wong Islam kang tumindak ora bênêr. Banjure pangandikane Nyai Agêng Ngampel: “Putu! kowe tak. mung kowe dhewe sing tuwa. ibumu Putri Cêmpa nyêmbah pikkong. iku wajib dibêkteni. dadi ora dielingi kapire. lalar-lulurên asalmu. aku bangsa cilik tur wong wadon. apa kowe wis matur marang wong tuwamu. Ujar-jare bae kok disungkêmi.kapir kang ora luput. iku amarga sabên dinane wis ngaturi santun agama. ewadene Wong Agung tansah wêdi. ora kaya tekadmu. sing nglakoni rusak ya kowe dhewe. maratuwane tansah golek sraya bisane mantune mati. ora bêkti wong kapir. ênggone padha wani mungsuh wong tuwane. yen kowe têtêp tuwa Ratu”. Lamun mangkono tumindake. kowe tau matur yen arêp ngrusak Majapahit. Iya iku êngger. Nyai Agêng Ngampel gumujêng nanging wêwah dukane. kang nandhakake yen kudu wis santun agama Islam. yen aku tuwa tiwas. mung manut unine buku. isih nglêstarekake agamane lawas. nanging putihe kuntul. Kowe ora kêna sêngit mênyang wong kang agama Buddha.

ana Brahmana saka tanah sabrang angajawa. sabên dina mangsa jalma. ora suwe antarane. para wadya padha sênêng-sênêng lan suka-suka nutug. para santri padha trêbangan lan dhêdhikiran. sapisan mungsuh bapa. salawase urip jênêngmu ala. sing nglakoni cilaka rak iya mung kowe dhewe. gêthing marang Dewatacêngkar. kapindho murtat ing Ratu. iku bae wis abot sanggane”. sarta ngandika yen wis cocog karo panawange. Sang Prabu matur. Sang Prabu Jimbun sarawuhe ing Dêmak. nanging sawise. lan aturana mampir ing Ngampelgadhing. ambyur ing sagara. mungsuh bapa kang tanpa prakara. Ajisaka diangkat dadi Raja. mêsthi mandi. Apa maneh kaya kowe. Nyai Agêng akeh-akeh pangandikane marang Prabu Jimbun. dadi bajul. kiraku ora bakal oleh pangapura. mung kowe kok gêlêm nglakoni. bisa mênang pêrang nanging mungsuh bapa Aji. . Sunan Benang mirêngake ature Sang Prabu Jimbun. mêsthine labuh marang bapa. kukume iya isih tumindak kaya kang tak-caritakake mau. ngaturake yen mêntas saka Majapahit. putrane banjur sumilih jumênêng Nata. Sawise Sang Prabu dipangandikani. wadya Majapahit sing wis têluk banjur padha dikon Islam. padha angucap sukur lan bungah bangêt dene Sang Prabu wis kondur sarta bisa mênang pêrange. kabeh padha nêmu sangsara. Nyai Agêng Ngampel isih nêrusake pangandikane: “Kowe kuwi dilêbokake ing loropan dening para ngulama lan para Bupati. sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata. jarane ambandhang kêcanthol-canthol kayu. sarta ngaturake yen ingkang rama lan Raden Gugur lolos. Ana maneh caritane Sang Prabu Dewata-cêngkar. ênggone ora ngrêti marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya. yen wis kêtêmu diaturana kondur mênyang Majapahit. banjur didhawuhi kondur mênyang Dêmak. nganthi pothol gumantung ana ing kayu. ora antara suwe banjur mati. Nabi Dhawud nganti kengsêr saka nagara. amarga yen nganti duka mangka banjur nyupatani. sarta didhawuhi nglari lolose ingkang rama. iku kowe mrêtobata marang Kang Maha Kuwasa. Sunan Benang mêthukake kondure Sang Prabu Jimbun. nanging banjur disotake dening ingkang rama banjur dadi buta. tur kelangan bapa. patimu iya mlêbu mênyang yomani. aja dipêksa. iku iya anggege kapraboning rama. kowe mêsthi cilaka. sowan ingkang eyang Nyai Agêng Ngampel. yen kondure uga mampir ing Ngampeldênta. panggalihe rumasa kêduwung bangêt. banjur didhawuhi ngupaya ingkang rama. apa sapangandikane Nyai Agêng Ngampel diaturake kabeh marang Sunan Benang. Putri Cêmpa wis diaturi ngungsi mênyang Benang. Sang Nata banjur matur marang Sunan Benang yen Majapahit wis kêlakon bêdhah.kapraboning rama. gumujêng karo manthuk-manthuk. Adipati Pranaraga lan Adipati Pêngging masa trimaa rusaking Majapahit. Ana maneh caritane nagara Lokapala uga mangkono. Wong Jawa akeh kang padha asih marang Aji Saka. Sang Prabu Danaraja wani karo ingkang rama. Sang Prabu Jimbun mirêng pangandikane ingkang eyang. nanging yen ora kêrsa. layang-layang Buddha iya wis diobongi kabeh. anggêlarake panguwasa sulap ana ing tanah Jawa. Putrane nunggang jaran mlayu mênyang alas. iya iku kang diarani kukuming Allah. Patih Majapahit mati ana samadyaning papêrangan. kaping têlune ngrusak kabêcikan apa dene ngrusak prajane tanpa prakara. kang mangkono iku kukume Allah”. nanging ana ing Ngampel malah didukani sarta diuman-uman. ora lawas Nabi Dhawud sagêd wangsul ngrêbut nagarane. nanging wis ora kêna dibalekake. aran Aji Saka. Dewatacêngkar dipêrangi nganti kêplayu.

abdi loro mau tansah gêguyon. luwih bêcik ênggone ngrusak Majapahit dibanjurake. iya iku Nayagenggong lan Sabdapalon. tangeh malêsa ing sih paduka Nata. mêngku wadya sineba para punggawa. awit saking kalimputing manah mudha punggung. awit yen mateni wong kapir ora ana dosane. Sunan Benang arêp kondur mênyang ‘Arab. banjur ngabêkti sumungkêm padane Sang Prabu. punika putra paduka rumaos yen mêsthi manggih dêdukaning Pangeran. Nanging rasa kang mangkono mau banjur dislamur ing pangandika. sabên desa diampiri. mêsthine bakal oleh sabda kang ora bêcik. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt. ing mangke putra paduka emut. sangêt kapenginipun mêngku praja angreh wadyabala. saka ênggone ngupaya warta. yen dhawuhe Nyai Agêng Ngampel ora pêrlu dipanggalih. dene ngantos kamipurun ngrêbat kaprabon paduka Nata. sêmbah sungkêmipun konjuka ing pada paduka Aji. Sunan Giri banjur nyambungi pangandika. mungguh prayoganing laku supaya ora ngrusakake bala. yen ora nglakoni dhawuhe Nyai Ngampel. dene ora ngelingi marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya. yen ingkang rama mêksa kondur mênyang Majapahit. sineba ing para bupati. ora antara suwe kêsaru sowanne Sunan Kalijaga. Sang Prabu Brawijaya sarta putrane bêcik ditênung bae. kapanggiha wontên ing pundi-pundi. lan padha mikir kahaning lêlakon kang mêntas dilakoni. amarga panimbange wanita iku mêsthi kurang sampurna. têtêpa kados ingkang wau-wau. mula iya wêdi. kapanggiha wontên ing pundi-pundi ingaturan kondur rawuh ing Majapahit. ênggone ora karsa salin agama Islam. supaya dijumênêngake ana seje nagara ing sajabaning tanah Jawa. mung didherekake sakabat loro lakune kêlunta-lunta. Sunan Benang banjur ngandika. Gênti kang cinarita.Sunan Benang sawise mirêngake ature Sang Nata ing batos iya kêduwung. Samangke putra paduka rumaos ing kalêpatanipun. wusana Prabu Jimbun banjur matur marang Sunan Benang. botên sumêrêp tata krami. sarehne wis kraos sayah banjur kendêl ana sapinggiring beji. aja ana ing tanah Jawa. Lampahe Sunan Kalijaga turut pasisir wetan. Sunan Benang paring dhawuh marang Sang Prabu. samudanane nyalahake Sang Prabu Brawijaya lan Patih. amarga mêsthi bakal ngribêdi lakune wong kang padha arêp salin agama Islam. Lampahe Sang Prabu Brawijaya wis têkan ing Blambangan. tindake Sunan kalijaga ênggone ngupaya Sang Prabu Brawijaya. aweta dados jêjimat pinundhi-pundhi para putra wayah buyut miwah para santana. . dene darbe bapa Ratu Agung ingkang anyêngkakakên saking ngandhap aparing darajat Adipati ing Dêmak. yen Prabu Jimbun mituhu dhawuhe Nyai Ngampeldênta. Sunan Benang sarta Prabu Jimbun wis nayogyani panêmune Sunan Giri kang mangkono mau. Sang Prabu didhawuhi sowan nyuwun pangapura kabeh kaluputane. bilih panjênêngan paduka linggar saking praja botên kantênan dunungipun. madosi panjênêngan paduka. rumaos lupute. dene yen arêp ngaturi jumênêng Nata maneh. nuwun pangaksama sadaya kasisipanipun. dene sing marak ana ngarsane mung kêkasih loro. sing kalangkungan tindake Sang Prabu Brawijaya. Sang Prabu banjur ndangu marang Sunan Kalijaga: “Sahid! kowe têka ana apa? Apa prêlune nututi aku?” Sunan Kalijaga matur: “Sowan kula punika kautus putra paduka. Mila kawula dinuta madosi panjênêngan paduka.

lan arsa ingsun-kon nimbali para Raja kanan kering tanah jawa. ngandika sajroning ati: “Tan cidra karo dhawuhe Nyai Agêng Ngampelgadhing. ing pundi sasênênging panggalih paduka. wangsul karsa paduka karsa tindak dhatêng pundi?” Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Saiki karsaningsun arsa tindak mênyang Bali. wani mungsuh bapa ratu. lan duwe wêlas marang wong wungkuk kaki-kaki. karana ingsun wis kapok rêmbugan karo santri padha nganggo mata pitu. ing batin bangêt panalangsane. têka rinusak tanpa prakara. mandar amêwahana cahya nurbuwat ingkang wêning. mungsuh ratu pindho bapa.” Sunan Kalijaga ngrungu dhawuhe Sang Prabu kang mangkono iku ing sanalika mung dhêlêg-dhêlêg. yen anake karo pisan satêkane tanah Jawa sun-angkat dadi Bupati. mula blero pandulune. dadi dudu tataning manusa kang utama”. iya sanadyan pêrang gêdhe gêgêmpuran amungsuh anak. Lamun iki ngantiya nyabrang marang Bali. banjur wani mungsuh bapa Ratu. awit ingsun ora ngawiti ala. ing rêdi ingkang karsakakên badhe dipundhêpoki. Sunan Kalijaga barêng ngrungu pangandikane Sang Prabu rumasa ing kaluputane ênggone melu mbêdhah karaton Majapahit. punapa malih ingkang sinuwun malih. namung nyuwun pangaksama paduka. iya ingsun-jaluk lilane. lan nyuwun pangkatipun lami dados Adipati ing Dêmak. Sakawit ingsun bêciki. ature: “Inggih saduka-duka paduka ingkang dhumawa dhatêng putra wayah. samêkta sakapraboning pêrang. njujuga nagari Bali. tinggal tata adat caraning manusa. apa ta salah-ingsun.kinurmatan sinuwunan idi wilujêngipun wontên ing bumi. lan Adipati Palembang sun-wehi wêruh. ora nyawang wujuding dhiri. putra paduka nyaosakên pêjah gêsang. mula banjur ngrêrêpa. sun-jak marang tanah Jawa angrêbut kapraboningsun. Manawi paduka kondur. putra paduka pasrah kaprabon paduka Nata. kapêtêk wontên ing êmbun. sabab murtat wani ing bapa kapindhone Ratu. sun-jaluk lilane anake arêp ingsun pateni. sarta padha eling marang lêlabêtan kabêcikaningsun. sikara wong tuwa kang tanpa dosa. nanging ora wêruh ing dalan. kulit kisut gêgêr wungkuk. Sahid! nanging ora ingsun-gatekake. sadayaning kalêpatanipun. lan ingsun arsa angsung wikan marang Hongte ing Cina. kajawi namung pangapuntên paduka. rahayunipun para putra wayah sadaya. yen putune arsa ingsun-pateni. dipunsuwun ingkang rila têrusing panggalih”. Yen wis samêkta sawadya prajurit. ora wurung bakal ana pêrang gêdhe tur wadya ing Dêmak masa mênanga. rêmbuge mung manis ana ing lambe. samêkta sakapraboning pêrang. kêtêmu karo yayi Prabu Dewa agung ing Kêlungkung. yen eyang wungkuk isih mbrêgagah nggagahi nagara. yêkti padha têka ing Bali sagêgamaning pêrang. kacancang pucuking rema. wis mêsthi bae wong . ingsun njaluk biyantu prajurit Cina. dene kadudon kang wis kêbanjur. batine angandhut pasir kinapyukake ing mata. amarga katindhihan luput. Dene yen panjênêngan paduka botên karsa ngasta kaprabon Nata. yen putrane wis patutan karo ingsun mêtu lanang siji. Sarehning sampun kalêpatan. mugi dadosa jimat paripih. aninggal carane wong agung. arsa ingsun-wartani pratingkahe si Patah. kaping têlune kang mbêciki. murih picêka mataku siji. mawas ing ngarêp nanging jêbul anjênggung ing buri. putra paduka nyaosi busana lan dhahar paduka. yen kaparêng saking karsa paduka. walêse kaya kênyung buntut. mukul pêrang tanpa panantang. ananging ora wêruh ing dalan. Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Ingsun-rungu aturira. nanging nyuwun pusaka Karaton ing tanah Jawa. padha mata lapisan kabeh. ingsun ora isin. iku apa nganggo tataning babi. têtêpa kados ingkang sampun. sinaosan kadhaton wontên ing rêdi.

pikêkahipun tiyang Islam punika sahadat. kok dikum ing banyu”. dene bab agami namung kasarah sakarsa paduka.” Sunan Kalijaga barêng mirêng pangandikane Sang Prabu. punapa botên ngeman risakipun nagari Jawi. luwih karsaning Jawata Gung. liya dina lali. benjing kula ingkang tanggêl. pitêkur ana ing gunung. yen Sang Prabu ora karsa nglampahi kaya ature Sunan Kalijaga. têmên lan gorohe. disuwun krananing bêcik. Sang Prabu ngandika: “Sahadat iku kaya apa. Sunan Kalijaga nyuwun supaya dipateni bae. sanadyan salat dhingklak-dhingkluk manawi dereng mangrêtos sahadat punika inggih têtêp nama kapir”. nimbali para Raja. mula banjur nyungkêmi pada. amarga duwe bapa Buddha kawak kapir kupur. angantêp tangkêping jurit. tak-timbange aturmu. mula nganti suwe ora ngandika tansah têbah jaja karo nênggak waspa. ingsun iki Ratu Binathara. nrima dadi pandhita. esuk sore diprêdi sêmbahyang. ingkang kêrah tulus kêrah têtumpêsan sami pêjah sadaya daging lan manah kathêda ing sêgawon sanesipun”. . aku banjur dicêkêl dibiri. karaton ing tanah Jawa. pamintane marang para titah ing wuri. amarga aku kuwatir yen aturmu iku goroh kabeh. si Patah seba mênyang aku. amarga lingsêm manawa mêruhi lêlakon kang saru. manawi botên karsa punika botên dados punapa. botênbotênipun manawi putra paduka badhe siya-siya dhatêng panjênêngan paduka. ingsun wis kakikaki. mung siji marang bênêr paningalku. panggalihe kanggêg. ora nganggo mata loro.” Sang Prabu mbanjurake pangandikane marang Sunan Kalijaga: “Mara pikirên. lajêng nyêbut asmaning Allah. kaprabon Jawi kaliya ing sanes darah paduka Nata. Sang Prabu nguningani patrape Sunan kalijaga kang mangkono mau. yen ora ngrêti banjur diguyang ana ing blumbang dikosoki alang-alang garing. sêrêt pangandikane: “Sahid! linggiha dhisik. Balik samêngko si Patah siya mring sun. nêtêpi mripat siji. mêsthi asor wong Islam tumpês ing pêpêrangan. saupami kados dene sêgawon rêbatan bathang. mêsthine-ingsun iya ora lila ing tanah Jawa diratoni. tak-pikire sing bêcik. aku kok durung ngrêti. bênêr lan lupute. Sang prabu Brawijaya ngandika: “Mungguh kang mangkono iki luwih-luwih karsane Dewa Kang Linuwih. nyêkrukuk. kang miturut adat pranatane para lêluhur. panjênêngan paduka jumênêng Nata botên lami lajêng surud. kêpengin dadi Ratu. Saupama si Patah ngrasa duwe bapa ingsun. Sahid! saiba susahing atiku. namung langkung utami manawi panjênêngan paduka karsa gantos sarak rasul. gêthinge ora bisa mari. tiyang namung bab agami. coba ucapna tak-rungokne”.Jawa kang durung Islam yêkti asih marang Ratu tuwa. sarta banjur nyaosake cundrike karo matur. dikon tunggu lawang pungkuran. wis warêg jumênêng Ratu. Sunan Kalijaga gumujêng karo matur: “Mokal manawi makatên. sampun tamtu putra paduka ingkang badhe nêmahi kasoran. wong wis tuwa. rumasa ora kaconggah ngaturi. saestu badhe pêrang gêgêmpuran.” Wusana Sunan Kalijaga matur alon: “Dhuh pukulun Jêng Sang Prabu! saupami paduka lajêngna rawuh ing bali. Sumurupa Sahid! saupama aku kondur marang Majapahit. iya sun-paringake krana bêcik.

Sang Prabu Brawijaya sinêmonan dening Jawata. nêtêpi wiwit sapisan ngestokakên agami Buddha. botên sumêrêp wujud têgêsipun. wujud makam kubur rasa. wa ashadu anna MukhammadarRasulu’llah. 2: pari Randanunut. luluh dados êndhut. dumugi sapriki umur-kula sampun 2000 langkung 3 taun. ênggone karsa mlêbêt agama Rasul. Saka karsaku. botên sumêrêp rukun Islam. raganipun manusa punika wêwayanganing Dzating Pangeran.Sunan kalijaga banjur ngucapake sahadat: ashadu ala ilaha ila’llah. lantaran ashadualla. amung Allah. rasa lan têdhi dados nyêbut Mukhammad rasulu’llah. ingkang nakal sami nêdha jalma. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin. mila sêmbahyang mungêl “uzali” punika têgêsipun nyumêrêpi asalipun. dene têgêsipun Nabi Mukhammad Rasula’llah: Mukhammad punika makam kuburan. rasa pangan manjing lesan. Jawi têgêsipun ngrêti. remane ora têdhas digunting. muji badanipun piyambak. lu’llah. ora ana Pangeran kang sajati. lan malih sintên tiyang ingkang nêmbah puji ingkang sipat wujud warni. Tiyang ngucap punika kêdah sumêrêp dhatêng ingkang dipunucapakên. Sakutrêm lan Bambang Sakri. momong lajêr Jawi. kowe sakarone tak-ajak salin agama Rasul tinggal agama Buddha”. rêmên manut nunut-nunut. botên wontên ingkang ewah agamanipun. punika nêmbah brahala namanipun. Sang Prabu sawise paras banjur ngandika marang Sabdapalon lan Nayagenggong: “Kowe karo pisan taktuturi. wiwit dina iki aku ninggal agama Buddha. têka narimah nama Jawan. wajibipun manusa mangeran rasa. lan 3: pari Mriyi. Sunan kalijaga ature akeh-akeh. punika têtêp kapiripun. Sawêg paduka ingkang karsa nilar pikukuh luhur Jawi. . sawise banjur mundhut paras marang Sunan Kalijaga nanging remane ora têdhas digunting. manawi botên mêngrêtos têgêsipun sahadat. sadangunipun kula tilêm tamtu wontên pêpêrangan sadherek mêngsah sami sadherek.” Sabdane Wiku tama sinauran gêtêr-patêr. run-tumurun ngantos dumugi sapriki. Sintên ingkang jumênêng Nata. pamrihipun damêl kapiran muksa paduka mbenjing. Sang Prabu banjur ngandika yen wis lair batos. têgêsipun Rasul rasa. dados badanipun tiyang punika kuburipun rasa sakalir. Dene raganipun manusa punika asalipun saking roh idlafi. iya iku rêrupan kahanan ing dunya ditambahi warna têlu: 1: aran sukêt Jawan. kasêbut Rasulu’llah punika rasa ala ganda salah. botên mangrêtos purwaning dumados”. nganti Prabu Brawijaya karsa santun agama Islam. rohipun Mukhammad Rasul. banjur nyêbut asmaning Allah Kang Sajati. wijile rasaning urip. kaping kalih wêruh ing têdhi. kang dhingin wêruh badan. Rasul rasa kang nusuli. Kangjêng Nabi Mukhammad iku utusane Allah”. kula momong pikukuh lajêr Jawi. Sang Wiku Manumanasa. ngrasuk agama Islam. dados momongan kula. botên muji Mukhammad ing ‘Arab. riningkês dados satunggal Mukhammad Rasula’llah. sami nêdha bangsanipun piyambak. mulane kêna diparasi. Sang Prabu diaturi Islam lair batos. amarga yen mung lair bae. lan anêkseni. têgêsipun: Ingsung anêkseni. Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. mila tiyang punika prêlu mangrêtos dhatêng lair lan batosipun. kula manawi tilêm ngantos 200 taun. mêdal saking badan kang mênga. Rasule minggah swarga. mulane Sunan Kalijaga banjur matur. Ature Sunan Kalijaga marang Sang Prabu: “Tiyang nêmbah dhatêng arah kemawon.

asal siji mantuk satunggal.Sang Prabu andangu maneh: “Kapriye kang padha dadi kêkêncênganmu. sampun mêsthi sukma pisah kaliyan budi. kados tiyang ‘Arab. manawi nyêbut Nabi Mukhammad Rasulu’llah. nanging ingkang risak namung ingkang asal saking roh idlafi. têgêsipun kêbrahen nalika gêsangipun. manawi dados dhêmit ingkang têngga siti. manawi tekadipun sae inggih nampeni kamulyan. ngalêm saening tangga. ing têmbe tilar mujijat rakhmat nyukani kiyamat dhatêng anak putunipun ingkang kantun. saking karsaning Latawalhujwa. namung prêlu nênggani daging bacin ingkang sampun luluh dados siti. Uripipun langgêng namung raga pisah kaliyan sukma. nanging manawi tekadipun awon inggih nampeni siksanipun. dene pêjah ingkang utami punika sewu satus têlung puluh. Adam punika muntêl kaliyan Hyang Brahim. wujud malih. nêdha siti ngajêng-ajêng tiyang ngirim sajen tuwin slamêtanipun. kula botên têgêl ningali watak siya. apa gêlêm apa ora ninggal agama Buddha. salin agama Rasul. Cobi paduka-jawab atur-kula punika”. Surup têgêsipun: sumurup purwa madya wasananipun. jasanipun budi. Manawi kula. nrimah pêjah dados setan. Sang Prabu ngandika: “Mulih marang asale. mila nami Mukhammad inggih makaman kuburan sakalir. namung mangeran rasa wadhag wadhahing êndhut. sampun ebah saking prênahipun mlêbêt mbêkta sir cipta lami”. têgêse Mukhammad niku makaman kubur. botên gadhah kawruh kaengêtan. saestu damêl kapiran kamuksan-kula. namung kantun rumaos lan pangraos ingkang paduka-bêkta dhatêng pundi kemawon. lan nyêbut asmaning Allah Kang Sajati?” Sabdapalon ature sêndhu: “Paduka mlêbêt piyambak. anggenipun ngalêm badanipun piyambak. bapa biyung botên damêl. botên ngengêti bilahinipun ing wingking. dados botên ngapirani. gantos roh idlafi lapisan: sasi surup mêsthi saking pundi asalipun wiwit dados jalmi. nyêbut Dewa Ingkang Linangkung. roh idlafi têgêsipun lapisan. nyêbut Nabi Mukhammad Rasula’llah panutaning para Nabi. wujudipun risak. Têgêsipun satus punika putus. manawi sampun risak wangsul dhatêng asalipun malih. risak-risakipun piyambak. mastani botên urus. Wangsul Prabu Brawijaya lajêng manggen wontên pundi. dereng nêdha woh kawruh lan budi. Tiyang pêjah botên kêbawah pranataning Ratu ing lair. ing benjing. wontênipun wujud piyambak. tur siya dhatêng raga. punika sanes pêjah ingkang utami. dadosipun saking gaib samar. kula rêmên agami lami. nêtêpana namane tiyang lumampah. botên manggih raos ingkang saestu. asal Nur bali marang Nur”. mila dipunwastani anak. makaman kuburing rasa. têlu punika tilas. dene ingkang mastani mulya punika rak tiyang ‘Arab sarta tiyang Islam sadaya. makatên punika ingkang nistha. manawi kula santun agami. dados sipatipun tiyang lan raos. puluh punika pulih. . makatên wau têtêp botên wontên prêlunipun. Ingkang makatên punika amargi namung saking kirang budi kawruhipun. kala gêsangipun dereng nêdha woh wit kawruh lan woh wit budi. sampun dados wajibipun manusa punika manut dhatêng eling budi karêpan. Jagad punika raganipun Dewa ingkang asipat budi lan hawa. kubure rasa kang salah. namung tansah nêdha eca. Manawi dipunpundhut ingkang Mahakuwasa. dipunwastani Mukhammadun. manawi dipunpundhut dening Ingkang Maha Kuwasa. punika dadosipun piyambak. nanging tangining raos wujud badan. ingkang nglimputi wujud. wujudipun piyambak. sarira paduka sipate tiyang wujud dados. inggih punika sahadat ingkang botên mawi ashadu. lantaranipun ngabên awon. Sabdapalon matur maneh: “Inggih punika kawruhipun tiyang bingung gêsangipun rugi. Siya punika têgêsipun ngukum. ngapêsakên badanipun piyambak.

tanpa ulam. sampun pêpak: akhirat. nalika aku durung maujud iya durung ana apa-apa. sampun paduka-bêkta ngaler ngidul. nusa têgêsipun manusa. dados nama sampun narimah ngombe uyuh kemawon. namung nêdha ngombe lan tilêm.ênggen wontên akhirat. botên bawa piyambak. Dados têgêsipun jalma pinêksa nyambut damêl dhatêng Ratu Nusa Srênggi namanipun. botên kuwawi ngringkês nguntal raganipun. Sang Prabu ngandika maneh: “Asal suwung aku bali. namanipun botên sahadat. makatên punika namung sagêd lêma sugih daging. Sang Prabu: “Ciptaku arêp mulih mênyang akhirat. lajêng nempel dhatêng sanesipun malih”. ical gêsangipun salêbêtipun pêjah”. Sabdapalon: “Punika pêjahipun tiyang kalap nglawong. saênggen. nanging botên tilar jisim. Tiyang pêjah muksa punika cêlaka. sampun ngantos kula mantuk dhatêng kamlaratan sarta minggah dhatêng akhirat adil nagari. botên bawa piyambak. manawi dipuntundhung. Punika botên pêjah utami. jangan punika akhirat ingkang katingal tata lair. Sabdapalon gumuyu: “Yen tiyang agami Rasul têrang botên sagêd muksa. kados dene kêmladeyan tumemplek wit-witan agêng. lêma kakathahên daging. botên sagêd dados roh idlafi enggal. sakarsane Kang Maha Kuwasa”. punapa botên cilaka.Sang Prabu ngandika: “Ciptaku nempel wong kang luwih”. dipunbanda. Pangandikane Sang Prabu: “Aku ora duwe cipta apa-apa. rêmênipun namung nempel. manawi sampun narimah dados sela. manawi akhiratipun . Paduka badhe tindak dhatêng akhirat pundi. tiyang gêsang wontên ing dunya kados makatên wau. nunut-nunut. Sang Prabu: “Aku nunggoni makaman kubur. sakulawargane mung nadhah bêras sapithi. namung dados gunungan dhêmit”. Ênggi têgêsipun gawe. mangke manawi kêsasar lo. mênyang suwung. Klêbêt akhirat nusa Srênggi. munggah swarga seba Kang maha Kuwasa”. amargi nami pêjah. manawi kenging kula-singkiri. daging ingkang sampun luluh dados siti. manusa dipunwênangakên nampik milih. Nun!” Sang Prabu ngandika: “Aku arêp muksa saragaku”. sampun botên prêlu pados ‘ilmi kamulyaning seda”. dados brêkasakan. botên iman ‘ilmi. yen wis luluh dadi lêbu”. kamuktenipun namung nêmpil. ora ikhtiar nampik milih. swarga. pêjahipun tiyang nistha. dipunpaksa nyambut damêl awrat tur botên tampa arta. manawi lêpat jawabipun tamtu dipunukum. Srêng têgêsipun padamêlan ingkang awrat sangêt. botên mangrêtos santun roh hidlafi enggal. mangka ênggene akhirat punika têgêse mlarat. Sabdapalon matur: “Akhirat. lajêng klambrangan. dadi patiku iya mangkono”. nilar wajibing manusa. nênggani daging wontên kuburan. Sabdapalon matur: “Punika tiyang kêsasar. sambêl. nalika gêsangipun kados kewan. botên gêsang. Inggih punika tiyang bodho mangrêtosa. botên pêjah. Sabdapalon: “Inggih punika pêjahipun tiyang cubluk. jagadipun manusa punika sampun mêngku ‘alam sahir kabir. Sabdapalon: “Paduka nilar sipat. dados setan kuburan. botên ngrumaosi yen tinitah linangkung. naraka ‘arasy kursi. nalika tapêl Adam. swarga.

botên ewah gingsir. punapa malih paduka. tanggal sapisan kapurnaman. sadherek ingkang sarêng tanggal gaibipun. ingkang dipunwastani pêjah gêsang. kontêning eling sadayanipun. mêngku alam sahir kabir. Raga punika dipunibaratakên baita. manusa raganipun asal saking nutfah. jumbuh punika têgêsipun pêpak. cêlak botên panggihan. ingkang têtêp langgêng. têbihipun botên mawi wangênan. punika kawruhipun tiyang Jawi ingkang agami Buddha. tamtu manggih cilaka. ingkang pêjah namung raganipun. nglangkungi ingkang sampun sêpuh. wontên ing ngriku ki budi jasa kadhaton baitu’llah ingkang mulya. ingkang gêsang napasipun taksih lumampah. pramila tumrap tiyang agami Buddha. ingkang ical utawi kirang ikhtiaripun inggih badhe ical utawi kirang bêgjanipun. mila Allah botên katingal. na. dipunbêkta dhatêng pundi. Têgêsipun pur: jumbuh. sapunika lan benjing. ngGêgawa nêdha raga. sarwa wontên. sênteg sapisan tênunan sampun nigasi. sarêng tanggalipun kaliyan sadherekipun kakang mbarêp adhi ragil. botên sagêd ewah gingsir. ingkang engêt sadayanipun. jagading tiyang punika guwa sir cipta namanipun. kapanggihe cahya murub dados satunggal. raga wadhag ingkang asal roh idlafi. paduka sampun ngantos kondur dhatêng akhirat. bêgja cilakanipun gumantung wontên ing budi nalar lan kawruhipun.tiyang pêjah malah langkung saking punika. tibaning nikmat ing dhasaring bumi rahmat. Wiwitanipun keblat sakawan. dadosipun saking sabda kun. dados wontên têngahing jagad swarganing tiyang sêpuh estri. dene suksmanipun inggih punika tiyang ingkang wontên ing baita wau. jagadipun manusa punika langgêng. ingkang nêdahakên pandomipun. botên salah dipunpragat. sampun ngantos minggah dhatêng swarga. rumêksa gêsangipun elingipun panjanmaning surya. jujugipun ingkang cêtha cêthik cêthak. tanggalipun manusa. dados botên wongsal-wangsul. ana wujud. manawi baitanipun lumampah mangka salah pandomipun. kula botên kuwawi cêlak. paduka dereng têpang. adhi punika ari-ari. ma. gêsangipun nyambut damêl kanthi paksan. paduka sampun ngantos sowan Gusti Allah. sowan Hyang Latawalhujwa. têgêsipun lor : laire jabang bayi. suksmanipun mêdal nyuwun gantos ingkang sae. . lumampah botên ebah saking panggenanipun. paduka wiji rohani. têgêsipun kulon : bapa kêlonan. têpangipun amung têpang kados cahyanipun lintang lan rêmbulan. botên ngraosakên kanikmatan. Kangjêng Nabi Musa toh botên kuwawi mandêng dhatêng Gusti Allah. Tulis ical. ingkang ewah punika makaming raos. têgêsipun kidul : estri didudul wêtênge ing têngah. sanes bangsanipun malaekat. botên pisah botên kumpul. mêdal wontên kalamwadi. Ningali jantung kêtêg kiwa: surut marga sire cipta. inggih punika wetan kilen kidul ler : têgêsipun wetan : wiwitan manusa maujud. nyuwun ingkang enggal. têgêsipun urip. mindhak kêsasar. botên ewah botên gingsir. sadaya sami trima tilêm kêmul siti. kakang mbarêp punika kawah. Gawanên gêgawanmu. etangan gunggunge: kumpul. lênggah rupa cahya. nglimputi wontên ing dunya tuwin ing akhirat. kendêl malih wontên cêthik. Punika pungkasanipun kawruh. kawruhipun tiyang Buddha. madhêp dhatêng wujud. lairipun saking tiyang sêpuhipun estri. plêsatipun wêtaha. baita pêcah. Lêbêtipun roh saking cêthak marginipun. kathah rajakaya ingkang wontên ing ngriku. nanging langgêng manggen wontên satêngahipun jagadipun. siyang dalu sampun sumêlang dhatêng sadaya rêrupen. surup lan tanggalipun sampun samar : kala rumiyin. manawi raganipun sampun sêpuh. Prabu Brawijaya botên anem botên sêpuh. wontên salêbêting guwa sir cipta kang êning. wujudipun amung asma. nutfah sampun ngantos ebah saking jagadipun. manawi panggenanipun sampun sêpuh. umuripun sampun dipunpasthekakên. amargi Gusti Allah punika botên kantha botên warna. namung Dzatipun ingkang nglimputi sadaya wujud.pundi botên ewah. kentir sagara rahmat lajêng lumêbêt ing guwa indra-kilaning estri. sampun dipunsêrat wontên lokhil-makful. mila jalma keblatipun wontên têngahing jagad.

napas tali. manawi tiyang punika têrus gêsang. kabêsaran. pramila gandanipun tiyang satunggal-satunggalipun bedabeda. gêsang langgêng ingkang botên sagêd pêjah. paduka têtêp kapir. urip wontên ing ‘alam dunya pados kawruh kaliyan woh kuldi. manawi baitanipun bibrah. bêcik lawan ala. Têpak têgêsipun têpa-tapanira. punika namanipun sahadat. manawi sampun pisah raga suksma. sintên ingkang damêl raga? Sintên ingkang paring nama? inggih namung Latawalhujwa. tiyang Jawi tamtu lajêng Islam sadaya. manawi paduka botên sagêd maos sastra ingkang wontên ing badanipun manusa. lalarên gêgêrmu sing nggligir. saseda paduka manjalma dhatêng kuwuk. lajêng tangi malih. ngadam utawi wujud sagêd sami sanalika. sarta murtat dhatêng lêluhur Jawi sadaya. nanging sagêd manjalma dados tiyang (kajêngipun. Kanjêng Nabi Musa kala rumiyin tiyang ingkang pêjah wontên ing kubur. purwa bênêr lawan luput. Makatên punika ungêling sêrat. praunipun sampun rêmuk. dat punika Dzating Gusti. sato wana tuwin lêlêmbut dipuncipta dados manusa. punika kêdah ingkang waspada. pêjah malih sagêda mapan. nyuwun baitu’llah ingkang enggal. Punuk têgêsipun panakna. manawi suksma punika pêjah ing ‘alam dunya suwung. manawi kula kêpengin badhe wujud. Jiling punika puji eling marang Gusti. botên wontên tiyang. Nalika eyang paduka Prabu Palasara iyasa kadhaton wontên ing Gajahoya. Dewa ingkang damêl cahya murub nyrambahi badan. mumpung baitanipun taksih lumampah. inggih nglêbêt inggih jawi. Lambung: waktu Dewa nyambung umur. kenging kangge sangu gêsang. gandanipun kadosdene nalika taksih dados sato kewan. kawula ugi wajib utawi wênang matur dhatêng Gusti. sing bênêr keblatira. Sungsum têgêsipun sungsungên. Sêrat tapak Hyang. ingkang dipunwastani jithok têgêsipun namung puji thok. manawi botên mapan gêsangipun. Manawi kula. Raganing manusa punika namanipun baitu’llah. botên pitados dhatêng sêratipun Gusti. sampun jumbuh dados satunggal. muji dhatêng Gusti. Pundhak punika panduk.tiyangipun rêbah. ngengêtana dhatêng asaling kawula. nanging manawi tekadipun nasar. dados wadya-balanipun Sang Nata. lali eling urip mati. gêsangipun gantos roh lapis enggal. untungipun sugih daging. Manawi paduka ngrasuk agami Islam. saking tiyang inggih dados tiyang. kajêng sela. botên wênang ngêkahi pêjah. sato wana tuwin lêlêmbut inggih dipuncipta dados tiyang. kapiran seda paduka. manawi paduka maibên. dados dhêmit têngga siti. Nalika panjênênganipun Bathara Wisnu jumênêng Nata wontên ing Mêndhang Kasapta. mrêtitis ingkang botên-botên. pêjahipun manjalma dados kuwuk. budinipun lajêng santun baitu’llah. têgêsipun incêngên aneng cêngêlmu. kasêbut ing sêrat Anbiya. dadosipun saking sabda kun. Pramila kêdah ingkang mapan. Manawi paduka maibên. tanggalipun botên surup salaminipun. dados saking sabda kun. gantos makam enggal. Têngên têgêsipun têngênên ingkang têrang. nêtêpi kamanusanipun. ingkang dipunwastani Sastrajendrayuningrat. ngantos roh lapisan. nempel tosan. Walikat: walikane gêsang. sanadyan suksmanipun kewan. manawi angsal woh kuldi kathah. wadhag alus-kula sampun kula-cakup lan kula-carub. Lêmpeng kiwa têngên têgêsipun tekadmu sing lêmpêng lair batin. têgêsipun suksma ugi pisah kaliyan budi. wontên ing dunya amung sadarmi ngangge raga. manawi pisaha raga suksma lan budi. lampahipun saking ênem urut sêpuh. Ula-ula: ulatana. sanadyan suksmanipun tiyang. inggih prau gaweyaning Allah. alamipun jalma sambungan. Kiwa têgêsipun: raga iki isi hawa kêkajêngan. pisahipun kawula kaliyan Gusti. dene manawi sagêd sagêd maos sastra ingkang wontên ing raga wau. keblat lor bênêr siji. inggih pisah kaliyan tiyangipun. Timbangan têgêsipun salang. ngungkulana ingkang lami. inggih punika . ing dunya kêbak manusa. Mata têgêsipun tingalana batin siji. sah têgêsipun pisah. yen angsal woh kawruh kathah. baitanipun tiyang Islam gêsangipun kantun pangrasa. yen tunggal. adiling Kawasa tiyang punika pinasthi ngundhuh wohing panggawene piyambak-piyambak). dados kantun sasêdya-kula kemawon. botên damêl botên tumbas. manawi baitanipun tiyang Jawi sagêd mapan santun baitu’llah malih ingkang sae.

Paduka punika sampun Ratu linuhung tamtu botên badhe kêkilapan dhatêng atur-kula punika”.wujud-kula. sêdya ngadam. tanpa guna kula êmong. ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula. wirang momong tiyang cabluk. langgêng salaminipun”. paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus. Yen banyu dicipta bisa ngganda wangi. kang surasane ora prêlu manggalih kang akeh-akeh. prêlu kanggo tandha yêkti. latunipun kathah ingkang mêdal. pucakipun lajêng anjêmblong. botên rêmên momong paduka. ing kono Sunan kalijaga matur marang Sang Prabu.” Sang Prabu ngandika: “Kapriye iki. dene pêjahipun nglimputi salêbêting gêsangipun. botên pêjah botên gêsang. padha sanalika banyu sêndhang banjur dadi wangi gandane. kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal. Manawi paduka botên pitados. saking pajaripun ngantos sampun botên katingal wujudipun Sabdapalon. Dados wicantên-kula punika. iku tandha yen Sang Prabu wis mantêp marang agama Rasul. tiga-tiga punika tumindakipun. Sunan Kalijaga banjur nyipta. wis disêkseni Sahid. kula botên tumut-tumut. punika kula. irib-iriban. kula wirang dhatêng bumi langit. dhatêng agami enggal botên manut! Kenging punapa paduka gantos agami têka botên nantun kula. amarga banyu sêndhang gandane wangi. botên ênem botên sêpuh. adi Guru namung ngideni kemawon. nanging inggih botên kumpul. rêdi-rêdi sami kula êntuti. dipunpamerakên dhatêng kula. rêmên manut nunut-nunut. aku ora kêna bali agama Buddha maneh. sarta matur yen arêp nyipta banyu kang ana ing beji. sampun kalingan pajar. Genggong: langgêng botên ewah. nanging yen gandane ora wangi. sampun dados wangi. sami mêdal . toya kula-êntut sêpisan kemawon. kapriye mungguh ing gandane. aku wirang yen digêguyu bumi langit. Cobi paduka-dumuk: pundi wujudipun Sabdapalon. Naya têgêsipun ulat. Sang Prabu ndangu: “Ana ing ngêndi Pangeran Kang Sajati?” Sabdapalon matur: “Botên têbih botên cêlak. Sang Prabu ngandika maneh: “Apa kowe ora manut agama?” Sabdapalon ature sêndhu: “Manut agami lami.” Sunan Kalijaga banjur matur marang Sang Prabu. iku anandhakake: yen Sang Prabu isih panggalih Buddha. badan-kawula sakojur gadhah nama piyambak-piyambak. lakar paduka-lampahi piyambak. yen Sang Prabu nyata wis mantêp marang agama Rasul. botên pisah. inggih sagêd ical sami sanalika. dipunanggêp sarira tunggal. (11) Ature Sabdapalon marang Sang Prabu: Punika kasêkten punapa? kasêktening uyuh kula wingi sontên. kang kasêbut ing pikêkah Jawi. kaya kang wis kathandha. mila rêdi-rêdi ingkang inggil pucakipun. mêngsah uyuh-kula piyambak. ing wêkdal samantên tanah Jawi sitinipun gonjang-ganjing. gêsangipun nglimputi salêbêting pêjahipun. yen sêdya maujud sagêd katingal sanalika. mila tanah Jawi lajêng botên goyang. aku wis kêbacut mlêbu agama Islam. kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi. Palon: pikukuh kandhang. saking agênging latu ingkang wontên ing ngandhap siti. Manawi kula timbangana nama kapilare. amarga agama Islam iku mulya bangêt. karsa dados jawan.” Sabdapalon matur maneh: “Inggih sampun. Manawi kula sumêdya ngêdalakên kaprawiran. Raga-kawula punika sipating Dewa. paduka wayangipun wujud sipating suksma. ingkang kula rêbat punika? Paduka sampun kêlajêng kêlorob. langgêng salaminipun. budi hawa badan. kantun asma nglimputi badan. nama Manik Maya.

namung kangge têdha pêksi. tinanêma thukul mriyi. saiki mung kowe kang tak-tari. ora wênang miwiti karêp. wong tanah Jawa padha salin agama kawruh. rêmên nunut bangsa sanes. barêng didangu lungane mênyang ngêndi. damêl bingungipun kanca tani. wêwah bênter awis jawah. jawah salah masa. mêsthi nêmu sangsara. kapriye kang dadi kêkêncênganing tekadmu? Yen aku mono ênggonku mlêbu agama Islam. nilar agama Buddha. ature ora lunga. turun paduka tamtu apês. Sunan Kalijaga banjur didhawuhi nêngêri banyu sêndhang. Paduka-yêktosi. Jawinipun ical. Sang Prabu diaturi ngyêktosi. ingkang damêl bumi lan langit. sabanjure digawa sakabate loro. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti. besuk wong Jawa padha ninggal agama Islam ganti agama Kawruh. nanging wong loro mau banjur musna. nilar agami Buddha. wiji bungkêr botên thukul. dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. . Sabdapalon matur yen arêp misah. benjing tanah Jawa ewah hawanipun. amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami. Banyu sêndhang mau kanggo tandha. wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput. antuk swarga kang ngungkuli swargane wong kapir. amargi paduka ingkang lêpat. wasana banjur ngandika. mung nêtêpi jênênge Sêmar. sagêd wangsul kados jaman Buddha jawahipun”. lan sami purun nêdha woh kawruh. agêgaman kawruh. amratelakake yen ênggone mlêbêt agama Islam iku. manawi sampun santun agami Islam. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa. Sang Prabu ngandika: “Kok-tutuha iya tanpa gawe. yen gandane mari wangi. iya iku sing diêmong Sabdapalon. Wiwit dintên punika jawahipun sampun suda. angaturake lêpiyan. Punapa cacadipun agami Buddha. dipuntampik dening Dewa. Cobi paduka-yêktosi. jarene besuk yen mati. kang ngaturake yen wong agama Islam iku. yen gandane mari wangi. ing batos rumaos kaduwung bangêt dene ngrasuk agama Islam. mriyi punika pantun kados kêtos. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang”. yen wiwit jaman kuna mula. anglela kalingan padhang. amarga barang wis kêbacut. Bumbung sawise diiseni banyu. Dewa lajêng paring pangapura. Benjing yen sampun mrêtobat. tiyang sagêd matur piyambak dhatêng Ingkang Maha Kuwasa. sijine diiseni banyu sêndhang. wis disêkseni dening si Sahid. kêndêl tindak nistha tuwin rêmên supata. Jawi kantun jawan. banjur disumpêli godhong pandan-sili. kathah tiyang rêmên dora.latunipun sarta lajêng wontên kawahipun. punika inggih kula ingkang damêl. Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong. Sang Prabu mirêng ature Sabdapalon. nglimputi salire wujud. suda asilipun siti. Sabdapalon matur. Paduka yêktos. sami engêt dhatêng agami Buddha malih. wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi. yen wong lanang manut wong wadon. nanging ora manggon ing kono. benjing: sasi murub botên tanggal. amarga kêpencut ature putri Cêmpa. ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa. wis ora bisa bali mênyang Buddha mêneh”. Sunan Kalijaga banjur jasa bumbung loro kang siji diiseni banyu tawa. sadaya wau atas karsanipun Latawalhujwa. isi wedang lan toya tawa. Nganti suwe ora ngandika. amarga wong wadon iku utamane kanggo wadhah. Sabdapalon akeh-akeh ênggone nutuh marang Sang Prabu. rêmên nêmbah sela.

ora karuhan mênyang ngêndi tindake. banyune diambu isih wangi. mêngko tak-wenehane tandha asta. kaya kang wis kasêbut ing ngarêp. satêkane Surabaya. Nyai Agêng Ampelgadhing tumuli mêthukake banjur ngabêkti marang Sang Prabu karo muwun. yudane apêsa. ngrumaosi yen wis arêp kondur marang jaman kalanggêngan. têkan ing Prabalingga. wayah surup srêngenge. ora antara suwe Prabu Jimbun budhal sowan mênyang Ampel. rumasa ora kapenak panggalihe. têkan ing Bêsuki. sarta akeh-akeh sêsambate. Prabalingga têgêse prabawane wong Jawa kalingan prabawane tangga”. mupusa yen kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. banyune tawa isih enak. Sang Prabu banjur ngandika: “Wis aja nangis êngger. kabeh mau wis karsane Kang Maha Suci. esuke bumbunge dibukak. Sang Prabu uga nyare ana ing kono. nanging banjur gêrah. Raden Bondhankajawan nuli sowan ngabêkti. nuli mbanjurake tindake. ing pitung dinane. balik padha ngemana rusaking wadya-bala. esuke banyune ditiliki. wis padha narima rusake Majalêngka. mirêng warta yen ingkang rama Sang Prabu têdhak ing Ampel. Prabalingga karo Bangêrwarih 12 ing kene besuk dadi panggonan kanggo pakumpulane wong-wong kang padha ngudi kawruh kapintêran lan kabatinan. Sang Prabu ndangu: “Sing ngabêkti iki sapa?” Raden Bondhankajawan matur yen panjênêngane kang ngabêkti. wis têkan ing Panarukan. aja padha pêrang. Sang Prabu nyare ana ing kono. dene banyune sêndhang barêng ditiliki gandane dadi bangêr. Sang Prabu banjur nêrusake tindake nganti wayah surup srêngenge. nanging wajibe wong urip kudu kêpengin mênyang ilmu”. unthuke gandane arum. ana ing kono uga nyare sawêngi. Sang Prabu banjur dhawuh nimbali Prabu Jimbun. Sang Prabu mbanjurake tindake. Nyai Agêng Ampel banjur matur marang Sang Prabu. Kacarita putra Nata ing Majapahit. tumuli dibuwang. layang wis katur marang Sang Prabu Jimbun. tak-suwun marang Kang maha Kuwasa. nanging mung kari sathithik. tindake kawêngen ana ing dalan. pangandikane marang Sunan Kalijaga mangkene: Sahid. nyare ana ing Sumbêrwaru. tindake Raden Bondhankajawan namur kula.” . mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak. kudu mangkene. amarga kêrêp diunjuk ana ing dalan. ing wayah esuk. ngaturake patrape ingkang wayah Prabu Jimbun. Sang Prabu banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Prabalingga ing besuk jênênge loro. banjur tindak marang Majapahit. Sang Prabu banjur ngrangkul ingkang putra. kabeh lêlakon wis ditulis aneng lokhilmakful. sapa sing miwiti ala. malah Sang Prabu lolos saka jroning pura. Sang Prabu mbanjurake tindake. aku wis arêp mulih marang jaman kalanggêngan. nanging munthuk. wis têkan ing Ampelgadhing. Barêng wis wayah surup srêngenge. nyêdhaka mrene. nungsung warta ing ngêndi dununge ingkang rama. kowe gaweya layang mênyang Pêngging lan Pranaraga. Nyai Ampel nuli utusan mênyang Dêmak nggawa layang. satêkane ing Dêmak. mundhak gawe rudahing jagad. aja padha ngrêbut kapraboningsun. sapungkurku sing padha rukun. Aku lan kowe mung sadarma nglakoni. sebaa marang Dêmak. Bêgja cilaka ora kêna disinggahi. banyu ing bumbu diganda isih wangi. gêrahe Sang Prabu sangsaya mbatêk. kang aran Raden Bondhankajawan ing Tarub. esuke banyu ing bumbung diganda mundhak wangine.Sang Prabu Brawijaya banjur tindak didherekake Sunan Kalijaga lan sakabate loro.

nanging mung mandhêg têlung turunan. manawa ana bêgjane. sapungkurku kowe sing bisa momong marang anak putuku. yen isih ana gêbyaring wulan. dene pasareyaningsun bakal sun-paringi jênêng Sastrawulan. tulisên. sarekna ing Majapahit sa-lor-wetane sagaran. Nyai Agêng ngandika: “Wis bêgjane Prabu Jimbun ora nungkuli sedane ingkang rama. katêlah nganti saprene kocape kang sumare ana ing kono iku Sang Putri Cêmpa. sarta nyuwun pangapura kabeh kaluputane kang wis kêlakon”. lan suwurna kang sumare ana ing kono yayi Raja Putri Cêmpa. mulane ênggonku mangêni madêge Ratu mung têlung turunan. sawise rampung banjur ditapak-astani dening sang Prabu. banjur mangro tingal. . ing sajroning mangun yuda. saturun-turune êmongên. wong Jawa padha wêruh yen sedaku wis ngrasuk agama Islam. ing têmbe buri.” Sunan Kalijaga sawise dipangandikani banjur matur: “Punapa Sang Prabu botên paring idi dhatêng ingkang putra Prabu Jimbun jumênêngipun Nata wontên ing tanah Jawi?” Sang Prabu ngandika: “Sun-paringi idi. Sang Prabu ngandika: “Sastra têgêse tulis. layone banjur disarekake ana ing astana Sastrawulan ing Majapahit. Barêng wis têlung dina saka sedane Sang Prabu Brawijaya.” Sang Prabu sawise paring pangandika mangkono. mula wêkasku. Cina lan raksasa. besuk bocah iki kang bisa nurunake lajêre tanah Jawa. besuk anak-putuku aja nganti entuk liya bangsa. sabanjure diparingake marang Pêngging lan Pranaraga. amarga sajroning sihsinihan di seje bangsa mau nganggo ngobahake agamane.Sunan Kalijaga banjur nyêrat. mula tak-suwurake Putri Cêmpa. Sang Prabu banjur ngandika: “Sahid. tulise kuburku mung kaya gêbyaring wulan. Jawa. Prabu Jimbun ature marang Nyai Agêng. amarga si Patah iku wiji têlu. anak-putuku aja entuk seje bangsa. dadi ora bisa ngabêkti sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata. barang wis kêbacut iya mung kudu dilakoni. dene mungguh satêmêne Putri Cêmpa iku sedane ana ing Tuban. amarga aku wis diwadonake si Patah. kacarita Sultan Bintara lagi rawuh ing Ampelgadhing sarta kapanggih Nyai Agêng. têrus seda. dununing pasareyan ana ing Karang Kumuning. astane banjur sidhakêp.” Sunan kalijaga nyuwun sumurup mungguh têgêse araning bakal pasareyane Sang Prabu. lan maneh wêkasku marang kowe. kabeh pitungkasku. Wulan têgêse damaring jagad. wis Sahid. mula kolu marang bapa sarta rusuh tindake. lan maneh wêlingku. yen aku wis kondur marang jaman kalanggêngan. aja gawe senapati pêrang wong kang seje bangsa. nganti kaya mangkene siya-siyane marang aku. aku titip bocah iki. iya mung mupus pêpêsthen. mundhak ngenthengake Gustine. bisaa ngapêsake urip. sarta wis ora dianggêp priya. mula aku paring piwêling aja gawe senapati pêrang wong kang seje jinis. Sultan Dêmak ana ing Ampel têlung dina lagi kondur.

Nanging yen Majapahit rusake amarga saking tikus. kang surasane nyupatani marang panjênêngane dhewe. muga aja awet urip. Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga bangêt dukane. mangkene pasêmone: 1] Amarga saka kramate para Wali. Mula carita bêdhahe Majapahit sinêmonan dening para pujangga wicaksana. mungguh sanyatane. tawon lan dhêmit. suwe-suwe yen diumbar banjur ngrêbda. [2] Sunan Cirêbon badhonge mêtu tikuse maewu-ewu. Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga sawise tampa layang lan diwaos. wong Majapahit bubar. dene panggonane ana ing . Nagara Majapahit iku rak dudu barang kang gampang rusake. carita bêdhahing Majapahit iku kaya kang tak-caritakake ing ngarêp. yen dilugokake jênênge ambukak wadine Majapahit. Tawon iku nggawa madu kang rasane manis. nanging ênggone mbêdhah sinamun sowan riyaya. pamrihe supaya aja ngribêdi ing têmbe buri. piwalêse ngrusak. barêng wis diparingi. sedane Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga padha ditênung dening Sunan Giri. mula mung kanggo pasêmon. arêp ditanduri. têgêse: para ‘ulama dhek samana. bubaring dhêmit yen alase dirusak dening wong. Alas angkêr akeh dhêmite. wajane kêrot-kêrot. amarga aran ambuka wêwadining ratu. surya katon abang kaya gêni. iya iku Adipati Andayaningrat ing Pêngging lan Bathara katong ing Pranaraga. mung kari budhale bae. gêgamane ana ing silit. layang banjur disungkêmi kanthi bangêt ing pamuwune lan bangêt anjêntung panggalihe. wong Majapahit padha kagegeran amarga ditêluh ing dhêmit. kêrise Sunan Giri ditarik mêtu tawone ngêntupi wong Majapahit. mundhak ndêdawa wirang. Lumrahe tawon iku bubar amarga saka dipangan ing wong. Mula carita bêdhahe Majapahit iku mung dicêkak. tawon lan dhêmit. [4] Sang Prabu Brawijaya sedane mekrad. para wadya-bala wis rumanti gêgamaning pêrang pupuh. dene ingkang rama Sang Prabu lan putra Raden Gugur lolos saka praja. amarga wêruh akehing tikus. iku pratandha yen wong mau ora landhêp pikire. mula mung dipralambangi pasêmon kang orang mulih karo nalare. ora cocog lair lan batine. ora antara lawas padha nêmahi seda. sapa kang ngandêl yen rusake Majapahit amarga tikus. ora satimbang karo gêdhene nagara sarta ambane jajahane.Kacarita Adipati Pêngging lan Pranaraga. mula banjur dhawuh ngundhangi para wadya sumêdya nglurug pêrang marang Dêmak. putra mungsuh bapa. tansah gedheg-gedheg lan gêrêng-gêrêng. Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi marang muride kang aran Darmagandhul. [3] Pêthi saka Palembang ana satêngahing paprangan dibukak mêtu dhêmite. kasaru têkane utusane Sang Prabu maringake layang. labuh bapa ngrêbut praja. ora karuhan jujuge ana ing ngêndi. lan kawiyos pangandikane sêru. wis padha mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak. amarga carita kang mangkono mau kalêbu aneh lan ora mulih ing nalar. Adipati sakarone padha puguh ora karsa sowan marang Dêmak. Dene têgêse pasêmon mau mangkene: Tikus iku watake ikras-ikris. amarga saka putêking panggalihe banjur padha gêrah. yen dirasa satêmêne saru bangêt. ewadene bisa rusak mung amarga dikritiki tikus. dene kaol kang gaib. padha mangani sangu lan bêkakas jaran. nalika lagi têkane nyuwun panguripan marang sang Prabu ing Majapahit. kaya kang kapratelakake ing ngisor iki: Kabeh mau mung pasêmon.

sapa kang ngrungu padha gawok. Prabu Brawijaya sinêmonan ing gaib: kêbo kombang atine êntek dimangsa tuma kinjir. tuma têgêse tuman. amarga Arja Damar iku ibune putri raksasa. iya iku ganti agama. wusana ngêntup saka ing buri. yen bêdhahe saka binêdhah dening putra. têgêse: Palembang iku mlembang. mula ana kuntul nganggo kucir iku wis karsaning Allah. pêthi têgêse wadhah kang brukut kanggo madhahi barang kang samar. Dene anane bangsa Cina padha nênêka ana ing tanah Jawa iku dêdongengane mangkene: Jare. Dene kuntul nganggo kucir iku pasêmone Sultan Dêmak. nganti ngêntekake panggalihe Sang Prabu. pambêkane siya. ibumu Putri Cina. apa dene bubare wong sapraja mung saka ditêluh ing dhêmit. wusana banjur mukul pêrang ngrêbut nagara. Dene dhêmit diwadhahi pêthi saka Palembang. dhêmit iku uga tukang nêluh. kahanan ing dunya nuli malih. mula jênênge Wali ditêgêsi Walikan: dibêciki malês ngalani. dene tuma kijir iku tumane celeng. iku mau-maune iya akeh kang suksma Jawa. têgêse: maune têkane nganggo têmbung manis. iya iku Prabu Brawijaya panggalihe têlas nalika bêdhahe Majapahit. celeng iku iya aran andhapan. barêng dibukak muni jumêglug. amarga katarik saka ibune. barêng nagara wis ngalih marang Dêmak. dadi dikagetake. . Sang Prabu Jimbun iku wiji têlu. dhek jaman kuna. Bêdhahe Majapahit swarane jumêgur. iya iku Wali wolu utawa Sunan wolu kang padha dimêmule wong Jawa. sênêng yen ngokop gêtih. kêbo têgêse ratu sugih. purwane Jawa. mulane melik ênggal sugih. banjur ana manuk kuntul nganggo kucir. kombang têgêse mênêng swarane kang mbrêngêngêng. ora karsa nglawan pêrang. sadurunge Majapahit bêdhah. kêprungu saka ing ngêndi-êndi nagara. githok kuntul kinuciran. mula wong Majapahit ora sikêp gêgaman pêrang. ora ngetung bênêr utawa luput. nanging sanadyan para Wali liyane uga didhawuhi ngrumasani. ênggone nyêri-nyêri marang ingkang rama Sang Prabu. samudanane mung sowan garêbêgan. rungsid. yen ora padha gêlêm ngrumasani kaluputane. mula saiki banjur padha bali mulih marang tanah Jawa. dene ênggone kêndêl nanging tanpa duga iku saka wijine Sang Arja Damar. Kuna-kunane ora ana praja gêdhe kaya Majapahit bêdhahe mung saka diêntup ing tawon sarta dikritiki ing tikus bae. suksmane akeh kang katut angin banjur thukul ana ing tanah China. têgêse: tolehên githokmu. kabeh mau padha mbalela mbalik. dosane lair batin. ing wêktu iku banjur diparingi pangkat. dene tala têgêse mêntala ngrusak Majapahit. mulane Gusti Allah paring pasêmon. kajaba mung kendêl gêrêng-gêrêng bae. ora mung Sunan Dêmak dhewe bae kang didhawuhi ngrumasani kaluputane. Mungguh gênahe mangkene: bêdhahe nagara Majapahit sarana ditêluh kalayan primpên lan samar. dhêmit têgêse samar. mula Sang Prabu Jimbun gêdhe panggalihe melik jumênêng Nata.gowok utawa tala. ora kêna nyêri-nyêri marang wong seje bangsa. manuk kuntul iku durung ana kang nganggo kucir. iya iku Raden Patah nalika têkane ana ing Majapahit sumungkêm marang ingkang rama Sang Prabu. dumeh agamane Buddha kawak kapir kupur. dadi suksmane bangsa mau. wêruh-wêruh Adipati Têrung wis ambantu Adipati Dêmak. nalika arêp pambêdhahe ora ana rêmbag apa-apa. sawise padha mati. iya iku Sang Prabu Brawijaya. nalika santri Jawa durung akeh kawruhe. rêmit. têgêse oleh ati saka Sang Prabu. Banjure maneh pangandikane kiyai Kalamwadi: Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi. sangane Adipati Dêmak.

lan wêktu iku sajroning pasareyane Sang Prabu kêprungu ana swara dumêling. mula bangêt mrêtobate. karêp mêtu saka ing budi. pranatane mêngku praja. papat wit kang godhonge lêmbut sarta mawa êri.” Sultan Dêmak mirêng swara dumêling kang surasane mangkono iku. siji warnane irêng sêmu abang dalah godhong sarta kêmbange. mula banjur ngrumaosi kabeh kaluputane. Sêmboja. awit Allah kang mujudake. sabda iku mêtu saka ing karêp. tanpa luwih sarta ora arah ora ênggon. mung Sunan Kalijaga piyambak rumaos yen kadukan dening Kang Maha Kuwasa. mung nêmbah marang Allah. ing têmbe bakal takwalês. beda karo para Wali liyane isih padha manganggo sarwa putih. sinêmonan wiwit anane orong-orong githoke tumêka ing punuk disêsêli tataling kayu jati. Iya wiwit titi masa iku anane wit-witan warna papat kang padha thukul ana ing kuburan. Ana gajah digêtak kaya kucing. Sunan Kalijaga uga waskitha ing gaib yen sinêmonan dening Kang Maha Kuwasa. nanging dudu puji jatining kawruh. kang ngawruhi sajatining urip. Turugajah lan Gêtakkucing. mula uga bangêt panalangsane sarta ngrumaosi kaluputane. Den enak mangan turu. dadi pasêmon kabeh. têlu wit kang godhonge ngrêmbuyut mubêng kaya payung.Darmagandhul matur: “kiyai! Kang diarani agama Srani iku kang kaya apa?” Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake: “Kang diarani agama Srani iku têgêse sranane ngabêkti: têmêntêmên ngabêkti marang Pangeran. mula banjur mangagêm sarwa wulung. Sultan Dêmak banjur kondur. mangan babi kaya dhek jaman Majapahit. mangkene ujaring swara: “Êntek katrêsnanku marang anak. agung iku wis samêkta. mungguh karêpe: punukmu panakna. budi kang ngobahake. tak-ajar wêruh ing nalar bênêr lan luput. wasana banjur pinaringan pangapura dening Allah. kêmbang Tlasih kanggo ngirim para lêluhur. ‘ilmuning Gusti Allah wis ana ing githokmu dhewe-dhewe. loro wit sarta kêmbange putih godhonge sêdhêngan. nuli sowan andêdagan ana ing pasareyane ingkang rama. manusa bisa apa. . ora nganggo nêmbah brahala. tansah ngrumaosi ing kalêpatane. godhonge uga banjur mingkup kaya dene godhong Gêtakkucing. mangkono kang kasêbut ing kitab Anbiya”. mobah mosik mung sadarma nglakoni.wujude puji thok. iya iku Tlasih. ing batos bangêt kaduwung marang apa kang wis dilampahi. sakondure saka pasareyane ingkang rama. ngrumaosi klirune dene nuruti rêmbuge para Sunan kabeh. Sawise mangkono. mula nganti suwe njêgrêg ora bisa ngandika. Mula nganti tumêka saprene wit Sêmboja panggonane ana ing kuburan. sajatining ‘ilmu iku ora susah maguru marang wong ‘Arab. barêng wis antara têlung dina lawase. nanging lah eling-elingên ing besuk. bangêt panalangsane ing dalêm batos. rumaos kadukan dening Kang Maha Kuwasa. yen wis agama kawruh. nganti wani mungsuh ingkang rama sarta ngrusak Majapahit. mula sêbutane Gusti Kanjêng Nabi ‘Isa iku Putrane Allah. godonge Gêtakkucing yen kasenggol banjur obah. Sultan Dêmak waskitha ing gaib. Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi. kaprênah pusêring kuburan tanpa sangkan thukul wit-witan warna papat. budi iku Dzate Kang Maha Agung. Kabeh mau ora padha ngrumasani kaluputane. sanajan matiya ing tata-kalairane. tanpa kurang tan wuwuh. urip dadi wayangan Dzating Pangeran.

Têmbung dhar iku têgêse wudhar. kang ditandur ana ing swarga. kang nyêbutake kok mung kitab ‘Arab lan kitabe wong Srani. ru iku têgêse ruwêt sulit lan rungsit. mêsthi wis marêm marang kawruhmu dhewe. Wayahe Nabi Adam iya iku putrane Nabi Sis. mula wong-wong ing kono padha wêdi marang wisesaning Ratu. mula ora bisa padha gaweyane. iku mau wis muji tanpa ngucap. arane Sayid Anwar. dene dhêmble têgêse dhêmbel dadi siji. dene Sajarah Jawa iya ana kang nyêbutake turun Adam. Saupama wong nulup manuk. sari’at iku saringane kawruh agal alus. mungguh caritane kaya kang kasêbut ing ngisor iki”. Mula nyuwun têrange. Yen kowe wis ngrêti marang têgêse Dharudhêmble. Ciptane Sayid Anwar supaya kuwasane bisa ngiribi kaya dene kuwasane Pangeran. Kiyai Kalamwadi banjur ngandhakake: “Sawise buku-buku pathokan agama Buddha diobongi. sapa kang durung gêlêm nganggo agama Islam banjur dijarah rajah. sanadyan buku kang padha disimpêni dening para wadya. sarak iku sarate ngaurip. yen wis sumurup têpunge sarat sari’at tarekat hakekat lan ma’rifat. amarga wani. Darmagandhul matur. jênênge munajad. Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake. amarga padha melik ganjaran. Dene wong-wong kang wis padha gêlêm salin agama Rasul. muji marang Allah iku. sabab saka ênggone padha dhahar wohe kayu Kawruh kang ditandur ana satêngahing taman Pirdus. buku-buku sakarine. caritane lêluhure supaya aja nganti pêdhot. iya iku nampik milih iktiyar lan manggaota. nanging wis padha amoh. nanging tinêmu tulisan ‘Arab. yen ra wêruh prênahe manuke. iya kitab Manik Maya. kang isih padha disimpên uga padha dipundhut kabeh. Sang Prabu banjur dhawuh marang para pujangga. ananging sarehne kang gawe Babad mau ora ngêmungake wong siji bae.wani mangan wohe wit kayu Budi sêngkêrane Pangeran kang tinandur ana ing swarga. mêtune saka ing utêk”. hakekat iku wujud. Yen kawruhe wong pintêr ora angel yen disawang. mula Sang Prabu ing Mataram kewran panggalihe ênggone kagungan karsa iyasa babad carita tanah Jawa. buku-buku asli saka ing Dêmak lan Pajang padha dipriksa. Sayid Anwar didukani ingkang rama lan ingkang eyang. masa kênaa. wêruh ora kasamaran ing sawiji-wiji. ênggone nulup mung ngawur. kang didhahar Nabi Adam lan Babu Kawa iku woh Kuldi. yen kitabe wong Jawa ora nyêbutake bab mangkono iku. nyuwun ditêrangake bab ênggone Nabi Adam lan Babu Kawa padha kêsiku dening Pangeran. banjur padha diganjar pangkat utawa bumi sarta ora padha nyangga pajêg. Ratu Mataram uga mangun carita sajarahe para lêluhur Jawa. andikakake padha gawe layang Babad Tanah Jawa. Yen kowe wis bisangawruhi surasane kang tak-kandhakake iki. Ing wêktu iku Sunan Kalijaga. Sang Nata ing Mataram andangu para wadya. nanging wis padha ora mênangi. kang ngobahake sarta ngosikake rasane budi. Mangan woh kawruh lan budi. kanggo gantine kitab-kitab kuna kang wis padha diobongi. banjur iyasa wayang. Ana maneh kitab kang nêrangake. wiwit Kraton Gilingwêsi nganti tumêka Mataram wis ora kasumurupan caritane. dhêmble wujud siji. amarga mundhak ngrêribêdi agama Rasul. wujud karsaning Allah. nalika sabêdhahe Majapahit.Kiyai kalamwadi nutugake caritane: “Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi mangkene: mungguh kang katarima. kang diênggo pathokan layang Lokapala. tarekat iku kang nimbang lan nandhing bênêr lan luput. yen ing kitab Jawa caritane kapriye. iya dipundhut banjur diobongi. kagungan panggalih. kang muji lan kang dipuji wis nunggal dadi sawiji. sêmbahe kaya wêsi kang dilabuh ana ing gêni ilang abange mung rupa siji. ora . iku sindhenan Dharudhêmble. mulane wong-wong ing Majapahit banjur padha ngrasuk agama Islam. kitab Pêkih lan Taju-salatina apa dene Surya-Alam kang kanggo pikukuh.

Dene mungguh bêcike wong urip iku mung kudu manut marang apa alame bae. mangan woh wit kayu Kawruh. Sarehne Sayid Anwar banjur lunga nuruti karêping atine. iku kaya dene iwak kang mêtu saka ing banyu. iya iku Gusti Kangjêng Nabi Rasul. Yen kang dipangan woh wit kayu Budi. dadi murtat sarta nampik agamane lêluhure. sarta manut sarake Sisingbing lan Sicim. Misuwure. Sarehne diênut wong akeh. pênyêbute marang Kangjêng Nabi ‘Isa. saturun-turune bisaa jumênêng Nata mêngkoni tanah Jawa. Sang Prabu putrane siji pêparab Sang Hyang Nurrasa. ora karsa ngagêm agamane ingkang rama lan ingkang eyang. mung waranane bae saka Adam lan Sis. mêsthine banjur dadi wong bodho. panêmbahe marang Pikkong. yen kalifah dhahar woh Kuldi. dene putrane uga mung siji kakung pêparab Sang Hyang Tunggal. uga dhaup karo putri jin putrane mung siji iya iku Sang Hyang Wênang. Jawa jawi ngrêti kawruh agal alus. mangeran digdayane sarta ngaku Gusti Allah. agamane srani. kabeh mau turune Sang Hyang Nurcahya. karsane Sang Prabu: bisaa rowa. yen Kalifah dhahar woh Budi. apa wit kayu Budi. sarta ngakoni yen purwaning dumadi mêtune asal saka budi hawa nêpsu. salah sijine aja nganti luput. manawa mangan woh wit kawruh. dadine saka budi hawaning Pangeran. Sayid Anwar miwiti yasa sarengat dhewe. Sayid Anwar ditakoni iya banjur ngandharake lêlakone kabeh. amarga wong dadi Panutan iku saupama têtuwuhan minangka wite. Sêbutan Dewi: têgêse: dening wadining wadon iku bisa ngêtokake êndhas bocah. mula banjur iyasa kadhaton ana pucaking Mahameru. dijênêngake Sastra Endra Prawata. mulane agamane Buddha. Aran Dewa ngaku misesani mujudake sipat roh. diantêpi salah siji aja nganti luput. yen wong ora mangan salah sijine woh mau. pangraose Sayid Anwar iku dadi saka dadine piyambak. jalaran mangkene: asal suwung mulih marang sêpi. nanging wohe kayu Budi kang disuwun. iya melu mangan woh Kuldi. Yen wong ora gêlêm manut marang kang bênêre kudu diênut. wusanane Sayid Anwar diêpek mantu sarta dipasrahi kaprabon. agamane Islam. lakune mangetan nganti tumêka ing tanah Dewani. sarta kalilan nimbangi jasane Kang Maha Kuwasa. agamane Buddha budi. Sêdya kang mangkono mau iya diideni dening Kang Maha Kuwasa. sambate marang nabi panutan. uki Kalifah kang bakal tanggung. wiwit jumênênge Prabu Nurcahya. ana ing kono banjur kêtêmu karo ratuning jin arane Prabu Nuradi. Têmbung Jawa. agamane Buddha budi. ngratoni para jin. Ênggone Kagungan pamanggih mangkono mau diantêpi bangêt. Sang Hyang Wênang uga dhaup karo putri jin. Sang Hyang Guru kagungan pangraos yen kuwasane padha karo Gusti Allah. kang padha didhahar woh wit kayu Budi. Sawise iku Sang Prabu banjur nganggit sastra mung salikur aksara.narima yen mung mangan who Kawruh lan woh Kuldi bae. Dene prakara bênêr utawa lupute. krama oleh putri jin. jêjuluk Prabu Nurcahya. Sang Hyang Tunggal pêputra Sang Hyang Guru. iya melu mangan who kawruh. dene yen dhêmên Godhong Kawruh Godhong Budi. kang jumênêng Nata. kabeh iku iya bênêr. Yen bisa woh-wohan warna têlu iku mau iya dipangan kabeh. Dewa iku wêrdine ana loro têgêse: budi hawa. dadi ora aran siya-siya marang uripe. yen sênêng mangan woh wit kayu Kuldi. Saupama woh ora gêlêm . jênênge nagara banjur diêlih dadi aran nagara Jawa. mangkono uga karsa ngakoni yen turune Adam sarta Sis. panyêbute marang Dewa. dadi Panutan kudu kang bênêr. iya melu mangan woh Budi. apa woh wit Kuldi? Saka panimbange Darmagandhul. uripe kaya watu ora duwe kêkarêpan lan ora mangrêti marang ala bêcik. yen Kalifah dhahar woh kawruh. sênêngan salah siji êndi kang disênêngi. bali marang asale maneh. Darmagandhul didhawuhi nimbang mungguh kang bênêr kang êndi. sarta: wadi dawa. saucaping wong Jawa bisa kaucap. ditêgêsi: nguja hawa.

nanging unine pelo. bisaa nikmat badan lan atine. amarga Auliya kang nganggit kêsusu mangan woh Kawruh. mula jênêng kalam. Kang kaya mangkono mau ngrusakake agama. amarga manusa diparingi wahyu kaelingan. Kang diarani lawang swarga lan lawang nêraka iku. Ewadene mêksa nganggo kuwasane Kang Maha Kuwasa.nempel wit. dadi pelon. manusa ing dunya wujude mung lanang lan wadon. Gusti Allah uga iyasa sastra. amarga yen ora duwe agama mêsthi duwe dosa. ana Jawa. manusa ora bisa anggayuh. iya iku tekad suci lair batin. pamêthike sapira sagaduke. mung banyu suci. utawa liya-liyane barang. Auliya Gong Cu kumênthus niru sastra tulisan paringe Gusti allah. supaya aja ngrêribêdi ana ing donyane. Darmagandhul matur maneh. yen saka dhawuhe kang Maha Kuwasa. mulya kaya maune. ing mangka iya kudu mangan woh wit kayu Budi. iya iku minangka aduse manusa. lan manut wujud. Nanging banjur akeh kang kliru muja marang barang kang katon. Iku maune kêpriye. jênênge sastra godhong. ora duwe susah lan prihatin. sinêbut kang utama. bisaa slamêt lair batine. anggayuh kang dudu wajibe. Darmagandhul matur nyuwun têrange agama Rasul lan liya-liyane. supaya sugih pangrêten lan kaelingan. Gusti Allah mêsthi paring pangapura. bisaa duwe jênêng kang bêcik. mula jênênge dalwang. nganggo mangsi supaya wong bisa wêruh. Yen bêcik narik raharja. ‘Arab. bisa ngrêsiki lair batine. Geneya kok ora nganggo aksara warna siji bae? Kyai Kalamwadi banjur nêrangake. mangsit mangan kawruh. aja nganti nêmu sangsara. tumbak. mêsthi banjur mêtu wangune. Wong urip iku kudu duwe gondhelan agama. Lawang swarga iku prêlu dirêsiki. bisa mêthik who Kawruh lan woh Budi. mêsthi dadi glundhungan kang tanpa dunung. iya iku kang diarani sastra urip. pancadan kang tumuju marang kabêgjan utawa kacilakan. mula pangucap kang ala. têgêse mêtu wangune. manusa didhawuhi muja marang agamane. amarga sanadyan saupama ana salahe. sastrane unine kurang. yen ala ngundhuh cilaka. nyuwun têrange. amarga banjur mangeran marang wujud. . satêmah lali marang Pangerane. mêsthi ora mangêrti marang wangsit. ora ngarêp-arêp munggah swarga. bisa tampa ganjaran. mêsthi mlêbu yomani. supaya para kawulane padha mangan woh wit kayu Budi lan woh wit kayu Kawruh. amarga kawruhe anggawa alam. dadine kok banjur warna-warna. Walanda lan Cina. dipêthik saka sathithik. Dene kang bisa nyirnakake (nyudakake) dosa iku. sanadyan para Auliya sarta para Nabi ênggone nggayuh iya mung sagaduke. dalah têgêse sarta cacahing aksarane kok uga beda-beda. Awit saka iku. Godhonge wit Budi lan wit Kawruh. Yen wong luwih. kaya nalika isih ana ing alam samar. mung bae dosane mau ana kang sathithik lan ana kang akeh. dadi yen dalwang ditrapi mangsi. yen kabeh-kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. dicorek ana ing dluwang. mulane wong iku kudu ngelingi marang agamane kang nurunake. Kang diarani banyu tekad suci iku kang êning. nanging sastrane nglimputi ing jêro. mungguh kang dadi bedane apa? Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake beda-bedane. Auliya mau lali yen tinitah dadi manusa. kang digoleki bisaa nikmat mulya punjula saka sapadhane. Dene sastrane kok uga beda-beda. kaya ta kêris. kêsusu tampa panglulu nganggit sastra kang nganti tanpa etungan cacahe. dirêngga ing tekad kang utama. Woh wit Kawruh lan woh wit Budi ditandhani nganggo sipat wujud. Mula aksarane digawe beda-beda. mangsi têgêse mangsit. mung wong kang ora ngrêti sastra paringe Gusti Allah. mung aksara Cina kang akeh bangêt cacahe. para Auliya panggawene sastra dipathoki cacahe. Yen bêcik. iku wajib dipangan. amarga maro tingal marang barang rêrupan. nanging panggawene ora bisa. Sastra warna-warna paringe kang Maha-Kuwasa.

Têmbung ki: iku têgêse iki. wong wadon wis kêcukup butuhe. Saka pangandikane Kiayi Kalamwadi. ragamu iku di’ibaratake prau. Tanganmu kiwa iku wis anggawa têgês dhewe. mêsthi wong wadon atine marêm. têgêse pari. nanging ora mêtu ing lesan. wusanane dadi nêmu slamêt ênggone jêjêdhowan. amarga arêp gawe sastra urip kaya yasane Gusti Allah. yen wong lanang wis bisa nyukupi pangane. ora kêna kacampuran pikiran kang warna-warna. Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Sarehne aku iku wong cubluk. mêsthi wong wadon bisa têntrêm ora goreh. prau dadi ‘ibarate wong wadon. lan wis dadi piwulang kang bêcik lan nyata. Auliya Arab ênggone mangan woh wit kayu Kuldi akeh bangêt. tulisan mau ora kêna ditonton nganggo mripat lair – kudu ditonton nganggo mripat batin. Kiyai Kalamwadi paring piwulang marang garwane. mulane aksarane nganti ewon. mungguh anggitane para Auliya kabeh mau kang mratandhani asor luhuring budine kang êndi? Saka panimbange Darmagandhul. satêmêne ragane wis bisa mangsuli. Banjure pangandika kiyai Kalamwadi kaya ing ngisor iki. aku mung arêp pitakon marang ragamu. iku mratandhani yen luwih pintêr tinimbang karo liya-liyane. Yen ndêlêng kudu nganggo ati kang bêning. Darmagandhul sarta para cantrik iya padha marak. dene isine mung têlung prakara. ing wong sêsomahan iku. Kiyai Kalamwadi lênggah diadhêp garwane aran Endhang Prêjiwati. Dene kang diwulangake. dadi ora bisa aweh piwulang kang endah. Kar. wadon têgêse mung dadi wadhah. mulane unine iya cêtha. Kang wadon diupamakake omah. Kiyai Kalamwadi ngandika: “Yen manusa arêp wêruh sastrane Gusti Allah. nanging anggêr mêtu saka budi. Dene kang gawe aksara mung sathithik. mung paring sasmita kang wis ditulis ana saranduning badan sakojur. Nanging yen sastra yasane Gusti Allah. supaya ora bisa kliru karo kanyatane”. dadi nêtêpi jênênge priya kudu mulang muruk marang rabine. wong iku yen dipitakoni. Dene têgêse kar-ri-cis iku mangkene. wujude dadi dhewe. sabab ing kono wis ana pangandikane Gusti Allah paring piwulang. dadine saka sabda. sarta kudu kang mêlêng ênggone mawas. Auliya Jawa ênggone mangan woh wit kayu Budi nganti warêg. wa: têgêse wêwadhah. iya iku: “kar-ri-cis”. amarga ragamu iku wis bisa sumaur dhewe”. mula ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. bab kawruh kasunyatan sarta kawruh kang kanggo yen wis tumêka ing pati. kabeh mau iya bênêr. iya iku kang minangka pangane wong wadon. Gusti Allah iku mung sawiji. Ri. Auliya Cina kêsiku. . têgêse dakar.ditata dikumpulake. 1. 2. dadi ora goreh atine. Yen prau wis isi têlung prakara iku. Nanging sabên dinane isih kudu dipiyara lan didandani. Yen mangkono iya bisa katon. wong têgêse ngêlowong. nanging Dzate nyarambahi sakabehing wujud. sanadyan kahanane wis sarwa bêcik. Darmagandhul banjur didhawuhi nimbang. iya iku yen wong lanang wis bisa nêtêpi lanange. sastrane ora ana kang padha. Dene ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. kang anuduhake yen ragamu iku wujude kiwa. mung hawa kang katon. nanging wis bisa nyukupi. banjur dianggit kanggo sastra.

warangkane wanita. Jêmpol têgêse êmpol. yen wanita dikarsakake dening priyane. wong wadon bisa goreh atine. wong wadon wis dadi wajibe ngrewangi kang lanang anggone golek sandhang pangan. têgêse wanita kudu duwe pasêmon utawa polatan kang manis. angele . apa dene kudu nyingkiri padudon. Driji manis. yen gampang luwih gampang. Kuku têgêse ênggone rumêksa marang wadi. cis têgêse bisa goreh atine. utawa dhuwit. iya iku idêrana jiwamu nganggo pagêr kautaman. mula kudu sêtya tuhu marang priyane. mêsthi wong wadon bisa têntrêm. dene driji kabeh mau ana têgêse dhewe-dhewe. iya iku: pawon. Driji panuduh têgêse wanita nglakonana apa sapituduhe kang priya. curigane jênênge wong lanang. aja nganti tumindak kang ora bênêr. wong jêjodhowan iku pikukuhe kudu duwe ati eling. Epek-epek têgêse ngêpek-ngêpek jênênge kang lanang. Tangan têngên têgêse etungên panggawemu. paribasane aja nganti kêndho tapihe. awit wong wadon iku yen wis laki. têgêse wong wadon iku panguwasane mung sapara limane wong lanang. Wong jêjodhowan. pikukuhe mung ati eling. iku kang gampang gêtas rênyah kaya dene êmpoling klapa. wanita iku kudu andarbeni ambêk kang utama. Kosok baline yen wong lanang ora bisa aweh momotan têlung prakara mau. Rajah (ing epek-epek) têgêse wong wadon iku panganggêpe marang guru-lakine dikaya dene panganggêpe marang raja. tak baleni maneh. wanita kudu sêtya marang lakine sarta nglakoni patang prakara. Mungguh pikikuhe wong jêjodhowan iku. dudu dunya lan dudu rupa. paturon. Saka pangandikane kiyai Kalamwadi. têgêse wanita wajib ngunggulake marang priyane. Iya iku kang diarani warangka manjing curiga. Ugêl-ugêl têgêse sanadyan tukar padu. tumrap nindakake samubarang kang prêlu. ya iku yen wong lanang wis bisa aweh dhuwit kang nyukupi. mêsthi bisa slamêt sarta akeh têntrême. dene kang dipangandikakake bab pikukuhe wong jêjodhowan. Jênthik. Driji têgêse drêjêg utawa pagêr.3. wicarane kudu kang manis lan prasaja. Cis. Sikut têgêse singkurên sakehing panggawe kang luput. têgêse picis. Mungguh pikukuhe wong laki-rabi iku. Wong jêjodhowan yen wis nêtêpi kaya piwulang iki. jênênge banjur melu jênênge kang lanang. nanging yen angel. supaya nyupangati bêcik. Driji panunggul. Bau têgêse kanthi. nanging yen isih padha trêsnane iya ora bisa pêdhot. pangrêksa. sanggup dadi kongkonan. Kiyai Kalamwadi banjur paring pangandika maneh. sabên dina sudiya. gênahe wong wadon iku dadi kanthine wong lanang.

(3) Rusaking jênêng. iya iku wong mlarat. dene kang wadon ngêmudheni. iya iku wong bodho. Dene kang mulya saka ing bandha. Kang diarani mulya saka jênêng. kang sapisan dosa marang kang lanang. Wong lanang iku lakuning satang. sanadyan bêcik ênggone ngêmudheni. nanging yen kang nyatang ora bênêr. amarga yen ora mangkono bakal nandhang dosa rong prakara. kapindhone dosa marang Gusti Allah. awit ati iku dadi ratuning badan. prau ora bêcik lakune. kapenake uga kanggo wong akeh liyane. nanging samubarang kang ora prasaja iya diarani cidra. Wong urip kang kêpengin bisaa dadi wong utama. mungguh dalane kamulyan iku ana patang prakara: (1) Mulya saka jênêng. lan mulya saka ênggone sugih ‘ilmu. Mula ati. . rukun iku gawe karaharjan sarta mahanani katêntrêman. Wanita kudu tansah eling yen winêngku ing priya. iku ugi ngilangake Pangerane wong jêjodhowan. amargi yen wanita nganti cidra. wong jêjodhowan. ora ngêmungake wong jêjodhowan kang rukun bae. iya akeh rêgane. dadi têgêse. Mungguh dalane kasangsaran uga ana patang prakara: (1) Rusaking ati. iya iku wong kang sêgêr kawarasan sarta kacukupan. kanggo têtuladhan marang wong kang padha ditinggal ing têmbene”. duweya jênêng kang bêcik. ora kêna tinambak ing rajabrana lan rupa. iya iku wong lara. kang mangkono iku mêsthi ora bisa nêmu lêlakon kang kapenak. sanadyan tangga têparone iya melu têntrêm.ngluwihi. nanging kabêgjane mau ora mung kanggo awake dhewe. (4) Mulya saka kawignyan. yen kêmudhine salah. sanadyan satange bênêr. lan mulya saka kapintêran. Kang diarani tampa kanugrahing Gusti Allah. apa dene têntrêm atine. manusa iku yen pikire rusak. lakune prau iya ora bisa jêjêg. (2) Rusaking raga. lakuning prau manut satang lan kêmudhine. amarga tumindaking badan mung manut karêping ati. mula kudu rukun. cupêt budine. kudu tansah eling. mula wong rukun iku bêcik bangêt. amarga kang padha nglakokake padha karêpe. (4) Rusaking budi. Wong jêjodhowan di’ibaratake prau kang gêdhe. yen wis luput. Wong jêjodhowan itu luput pisan kêna pisan. dene kang diarani cidra iku ora mung jina bae. mula wanita kudu prasaja lair batine. (3) Mulya saka sugih ‘ilmu. kang oleh katêntrêmaning ati. iku wong kang utama. iku ana ngêndi bae. ragane mêsthi iya melu rusak. (2) Mulya saka bandha. lupute banjur ngambraambra. Kowe tak-pituturi. wong bodho lumrahe gampang nêpsune. sarta bisa têkan kang disêdya. bisa oleh kabêgjan kang gêdhe. kudu padha karêpe. yen nganti ora eling.

ngrumasanana yen wong urip iku mung sadarma. mangka uripe manusa mung sadarma nglakoni. nanging kang mangkono mau dudu kawadjibanmu. mula katone banjur kaya dene ora pintêr. akeh kang durung bisa mujudake kapintêrane. ing kono iku ana bata putih. saka kalangkungane Gusti Allah. Dene yen patilasane Sri Jayabaya ika ana ing daha. rêca . amarga kahanan saiki iya akeh kang nganggo kupiya kahanan ing jaman kuna. mung sadarma nganggo raga. uripmu dadi bisa slamêt. Têgalwangi. bodho pintêring manusa iku saka karsane Kang Maha Kuwasa. utawa uga ana wong pintêr bisa kasoran karo wong kompra. amarga wong akeh panêmune warna-warna tumrape bab iku. sawise. Wong ing jaman kuna kapintêrane iya wis akeh. yen kabeh mau kapundhut banjur diparingake marang wong kompra. êndi kang kurang bêcik banjur dibêcikake. ana wong pintêr isih kalah pintêr karo wong pintêr liyane. wis ana kang murba. Ki Darmagandhul banjur matur maneh. iya iku patilasane Sri Pujaningrat. mêsthi bae tumrape wong ing jaman saiki ora ana kang kanggo têtuladhan. miturut kaya karêpe kang arêp olah-olah. tampahe diiseni gabah banjur diubêngake sadhela. Yen kowe bisa mangreh marang manusa. awit iku dadi kawajibane para Raja. dene mobah mosik. pasanggrahan Wanacatur lan taman Bagendhawati uga wis sirna. bisane apa. yen ngrumasani pintêr. Kang isih mung rêca yasane Sri Jayabaya. lan rêca buta wadon. banjur dadi beda-beda. prênahe ing sa-lor-wetane desa Mênang. amarga kurugan ing lêmah lahar saka gunung Kêlut. kaelokane Gusti Allah. mundhak kêsiku marang Kang Maha Kuwasa. Yen kowe arêp wêruh wong kang pintêr têmênan. kêna kanggo pitakonan tumraping para mudha bab pratikêle wong ngawula ing praja. kaya dene wong wadon kang nutu mau. Saupama ora ana kapintêrane wong ing jaman kuna. ênggone nyilah-nyilahake bêras aneng tampah. kang misesa marang kawulane. iku têgêse ora rumasa yen kawula. mung digadhuhi sadhela dening Kang Maha Kuwasa. sabanjure dipilah-pilah. Kiyai Kalamwadi ngandika: “Sang Prabu Jayabaya ora jumênêng ana ing Kêdhiri. yen wis dipundhut. wong kompra banjur duwe kaluwihan kang ngungkuli kaluwihane wong pintêr. kowe bakal dadi têtuwa. ana ing desa Klotok. yen manusa iku rumasa pintêr. ora kêna ginayuh ing manusa. iku satêmêne iya padha pintêre. Wong ing jaman saiki ora ana kang bisa nganggit sastra. nuli mung kari ngupuki bae. Dene yen Kêdhiri prênahe ana sakuloning kali Brantas lan sawetaning gunung Wilis. kowe pancen wong linuwih. Têgêse: bêras yen arêp diolah kudu dirêsiki dhisik. ngupayaa kawruh kang nyata. dene kratone ana ing Daha. manusa anduweni apa. iya iku candhi Prudhung. mung bae tumrape wong ing jaman kuna. kadhatone Ratu Pagêdhongan uga wis sirna. amarga kang mangkono mau dudu wajibing manusa.Ki Darmagandhul matur lang nyuwun ditêrangake bab anane wong ing jaman kuna karo wong ing jaman saiki. dununge ana wong wadon kang nutu sabên dina. Wong ing jaman saiki ngowahi kahanan kang wis ana. awujud bêras mênir sarta gabah. Mula wêlingku marang kowe. iya iku kratone Sang Prabu Jayabaya. Mula wêlingku marang kowe. Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Wong kuna lan wong saiki. kaprênah sawetane kali Brantas. saikine jênênge desa Mênang. iya iku kawruh kang gandheng karo kamuksan”. mung wajib mangrêti tataning praja supaya uripmu aja kongsi dikul dening sapadhaning manusa. Dene kowe. dene pasanggrahan Sabda. iya iku rêca kang diputung tangane dening Sunan Benang nalika lêlana mênyang Kêdhiri. iku satêmêne pintêr kang êndi. patilasane kadhaton wis ora katon. kowe aja pisan. gabah kang ana kabur kabeh.pisan ngaku pintêr. dene kang mujudake iya iku wong ing jaman saiki. kabeh mau bisa ilang sanalika. Ana dene wong ing jaman saiki ênggone katon luwih pintêr iku amarga bisa mujudake kapintêrane. nyuwun têrange bab tilase kraton Kêdhiri. patilasanpatilasan mau wis ilang kabeh.

Ing Lodhaya ana buta wadon ngunggah-unggahi Sang Prabu Jayabaya. iya ora sida laki-rabi. yen ênggone yasa rêca kang mangkono itu prêlu kanggo pasêmon ing besuk. Sang Prabu banjur paring pangandika mangkene: “Buta! andadekna sumurupmu. ana maneh rêca jaran awak siji êndhase loro. sanadyan ora kurang ing panjagane. Yen pinuju ngobong mayit. nanging durung mati. Sang Prabu uga karsa rawuh ngurmati. kang surasane nyuwun mitêrang kang dadi karsa-Nata. kaya adate Raja ing jaman kuna. mula Sri Jayabaya yasa rêca. sapa kang wêruh marang wujude rêca iku mêsthi banjur padha mangrêti kang dadi tekade wong wadon ing jaman besuk. iku têgêse tunggangan kang tanpa piranti. Sang Prabu banjur paring pangandika. aran Rara Jonggrang”. Sang Prabu ênggone yasa candhi. supaya desa ing ngêndi papan matine putri buta mau dijênêngake desa Gumuruh. bisaa mulih marang asale. besuk sapungkurku. nanging durung nganti katur ing ngarsa Prabu. panggonane ana ing desa Bogêm. nanging yen ora cocog. karsaning Dewa Kang Linuwih. Bogêm têgêse wadhah bangsa rêtna-rêtna kang adi. aku iku dudu jodhomu. mangkene caritane. Ing jaman besuk.mau lungguhe madhêp mangulon. kowe dak-tuturi. Laren (12) kang ngubêngi jaran têgêse iya sêngkêran. buta wadon wis dirampog dening wadya cilik-cilik. Dene jaran sêngkêran iya iku ngibaratake wong wadon kang disêngkêr. asmane ratu Anginangin. buta wadon banjur ambruk. kiwa têngên dilareni. nanging kowe aja wujud mangkono. Sang Prabu banjur paring pangandika marang para wadya. Rêca mau wujud jaran lagaran awak siji êndhase loro. iku kang pinasthi dadi jodhomu. ênggone Sang Prabu yasa rêca mangkono mau. prêlu kanggo nyêdhiyani yen ana wadyabala kang mati banjur diobong ana ing kono. Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut. barêng ditakoni. Buta Locaya banjur dadi ratuning dhêdhêmit ing Kêdhiri. aja suwe-suwe kaya mêmêdi. yen wis mathuk pikire. dene Ni Mas Ratu Pagêdhongan banjur dadi ratuning dhêdhêmit ana ing sagara kidul. iya bisa cidra. Sang Prabu banjur mriksani putri buta mau. lagi waleh yen sumêdya ngunggah-unggahi Sang Prabu. kabeh banjur padha andherek muksa. Patih Buta Locaya sarta Senapati Tunggulwulung. margane saka lagaran dhisik. putri buta banjur mati. Patihe Sang Prabu kang aran Buta Locaya sarta Senapatine kang aran Tunggulwulung padha matur marang sang Prabu. nagarane ing Prambanan. Kang mangkono iku wis dadi adate para raja ing jaman kuna. iya sida diêpek rabi. lagaran. . kang kêlumrah wong arêp laki-rabi. Sawise dipangandikani mangkono. ora nganggo idine wong tuwane. amarga aku iki anak dhalang. têgêse wanita iku bangsa wadhah kang winadi. muga Sang Prabu karsa yasa candhi kanggo pangobongan mayit. yen wis jaman Nusa Srênggi. Mula kang dadi panyuwunku marang Dewa. Samuksane Sang Prabu Jayabaya. barêng didangu iya matur kang dadi sêdyane. wujuda manusa. Sirah loro iku dadi pasêmone wong wadon ing jaman besuk. apa dene putrane Sang Prabu kang kêkasih Ni Mas Ratu Pagêdhongan. (kaya kang kapratelakake ing ngisor ini)”. kang akeh padha mangro tingal. wêwêngkon dhistrik Sukarêja. apa mungguh kang dadi karsane. kulon kene bakal ana Ratu. duwe rupa tanpa nyawa. supaya bisa sirna mulih marang alam sêpi. (11) Ora antara suwe Sri Jayabaya banjur jasa rêca ana ing desa Bogêm.

Ana kêkasihe Sang Prabu Jayabaya. Dene Rêtna Dewi Kilisuci iku sadhereke sêpuh Nata ing Jênggala. kêkasih Lêmumbardadu iya Sang Pujaningrat. [2] Raden Arya Lêmbupêtêng Adipati ing Madura. banjur kasêbut nama Maulana Ibrahim Asmara. ing Karang Kumuning Satilare Pangeran Karang Kumuning. ngêjawa nama Susuhunan Katib ing Surabaya. nanging yen dilurugi apês. kasêbut Susuhunan Ampeldênta. dêdalêm ing Ampeldênta. dicocogake karo adate Sang Rêtna piyambak. amarga kasawaban pambêkane Sang Rêtna Dewi Kilisuci. Ratu Fatimah krama oleh pangeran Ibrahim. aja akeh gêtihe wong kang mêtu. iya Sultan Adi Surya ‘Alam ing Bintara (Dêmak). Dewi Kilisuci nyawabi nagarane. iku kang pêputra Susuhunan Ampeldênta Surabaya. sarta ora anggarap sari. Dene putra Cêmpa kang waruju kakung. amarga Sang Rêtna Dewi Kilisuci iku wadat. dêdalêm ana ing Jeddah. banjur pindhah ing Cêmpa. katêmokake Raden Patah. jênênge Kramatruna. [3] Isih timur rêmên marang laku tapa. Kang kêlumrah pambêkane wanita ing Kêdhiri iku gêdhe atine. Sang Rêtna mau tapa ana ing guwa Selamangleng. isih têdhake Kangjêng Nabi Mukammad. kêdhi têgêse wong wadon kang ora anggarap sari. Panênggak Putri Cêmpa nama Pismanhawanti kagarwa putrane Jumadi’l Kubra I. nyakabat marang maulana Ibrahim. Kanjeng Susuhunan Ampeldênta pêputra ratu Fatimah. WUWUHAN KATÊRANGAN. asma Maulana Ibrahim. pêputra Sayid ‘Ali Rachmat. dene dhiri iku têgêse anggêp. pêputra siji kakung kêkasih Raden Rachmat. barêng Raden Patah wis jumênêng Nata. pêputra têlu: [1] Putri nama Rêtna Pambayun. jêjuluk Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’lRasul Amiri’lMu’minin Rajudi’l’Abdu’l Hamid Kak. sukune gunung Wilis. kang paring jênêng iku Rêtna Dewi Kilisuci. dadi Imam ana ing Asmara tanah ing Cêmpa. Ratu Fatimah banjur tapa ana ing manyura. kadhatone ana sakuloning bangawan (3). Cêmpa iku kutha karajan ing India buri (Indo china). patutan saka ibu Sitti Fatimah Kamarumi. nama Awastidab. Putri Cêmpa nama Aranawanti (Ratu Êmas) kagarwa Prabu Brawijaya. karo Pangeran Ibrahim Ratu Fatimah pêputra putri nama Nyai Agêng Malaka. nalika Sri Jayabaya durung muksa. jumênêng Raja Pandhita ing Cêmpa anggênteni ingkang rama. Mula Kêdhiri iku diarani nagara wadon. Sawise têlung atus taun. Raden Patah (Raden Praba). nama Raden Gugur. Kramatruna didhawuhi ana ing sêndhang Kalasan. patutan saka Nyai Agêng Bela. jumênêng Nata ana ing Kêdhiri. nalika jaman pambalelane nagara Bali marang Majapahit. . Kang ibu putri Cêmpa (garwa Maulana Ibrahim). katrimakake marang Adipati Andayaningrat ing Pêngging. barêng muksa kasêbut nama Sunan Lawu. wus manjing Islam. putrane Prabu Brawijaya patutan saka putri Cêmpa kang katarimakake marang Arya Damar Adipati ing Palembang. yen nglurug pêrang akeh mênange. putrane Ratu ing Prambanan.

7 km. (6) Kulon kutha Kêdhiri.10 km. (13) Bangawan = Brantas. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 BABAD GALUH .Sayid Kramat kang kasêbut ing buku iki pêparabe Susuhunan ing Bonang (Sunan Benang). Gurah = gusah. stasiyune ing Gurah antarane Kêdhiri – Pare +/. (11) Ing sacêlakipun pabrik Mênang. (12) Laren = kalenan. (3) Lor Stasiyun: Surabayakota “Sêmut”. (4) Benang = Bonang ing Karêsidhenan Rêmbang. (2) Pêlabuhane saiki aran: “Haipong”. Saiki dicêluk desa Ngrimbi. (10) Kidul Majaagung lêt +/. 3. saka Kêdhiri. (9) Akire Mênang didêgi pabrik gula arane iya pabrik Mênang. (5) Tarik. TAMAT KATRANGAN: (1) Kulon kutha Majakêrta lêt +/. 2. ngrêsiki gorokan. mbok manawi ewah-ewahan saking Gumêrah-Gumuruh.15-16 km. wontên dhusun nama Guruh. 1.

☻ 04 Kang pinurwa Pajajaran Mangkin. kali Ardhangbang awisik. … umur skeet tahun nem warsi. ☻ . pengeting tahunipun. sampun kari luwung. akatut kang ……. maka purlu adanya penyelamatan isinya agar dapat diketahui dan dipelajari oleh generasi muda. amaosa carita punka. sastra ataupun disiplin ilmu lainnya. Senen Wage ing rangkepe. pan jenenge Kyai Serengrana. sasi kalih tanggal kaping sanga. kang alinggih Pulasaren. waktu anyerat punika. pan kalangkung bodho tur langip. sewu rongatus ika. nyanggi talutuh ngalantang. araga salimur. samantuke sang Ciyungwanara. pan ora nalasamwa. ababaka nagara.Babad Galuh adalah koleksi naskah kuno dari Kraton Kasepuhan cirebon merupakan warisan karya budaya leluhur yang mempunyai nilai yang sangat tinggi baik dari sudut sejarah. saking bumu Galuh nengge mentas praja ji wau.☻ 02 Awong dening kang anyerat iki. wau ingkang kalampah. akathah tanduk kang sigug. among angsal wolulas dinten nenggih. si kakang kang mingetan. poma samya angapunteni. Agar warisan ini tidak punah ditelan oleh zaman. lawan sampun nyaringin nang iku sami. tahun Be kang hijrah Nabi. ing tawilunipun. ing tahun Be Punika. aneng alas Maostikta. mantrine Sultan Sepuh. kang sastra langkung awone. PUPUH I DHANDHANGGULA 01 Ingkang rinipta carita puniki. punjul wolung puluh. ingkang sami sudi maca.☻ 03 Nama samya ingkang sami kapti. pan si adhi mangulon ngadeg dewaji. lan sampun caket pandam.

kawula warga Sakati kang uri-uri. Ciyungwanara angadedi Sribupati. umbul-umbul kulit wanara. kang sami amangun. ☻ 09 . Ciyungwanara nurut. ing Nagara Pakuwan. kang dadi emban-emban. sikaki elu-elu. ngilen kali kang Ibu Dewi. jimat tunggul payung. kang gagandhi ing pilungguhe. Babakan Pajajaran. kang ginawe rontek buntuk monyet dadi. Cipamali watesani. angistreni lungguhira. Empretmohe ya ika. Ki Okesa kalawan malih. kang pinangku panembahanira. Rara Kandhegkinarha. ingiringi pandhe dhomas. ☻ 06 Wus kapanggih lan Indang Sakati. Pajajaran sadakti. ☻ 08 Wus rineka jati pangupami. arjaning sapaku. sinawung galih liniga. sarengga-rengganing praja.. kang arjane sang nata. godebak bungkul cabolan. akadi kulit lutung. mangking kombala badhak. dawuh jengjenan kadang. kang kocap ing namane. ingkang acemeng ulese.05 …. ☻ 07 Cantrik Sakati ingkang anami. iku Indang Gunung Saketi. kombala buntut sing asami. sang Ciyung angadeg Ratu. lawan wau kadangira. ing waos pangrenyu. gumurudug ngilen wus dumugi maring.

dumadi praja gung. lir kang estu ajar padhang. rarakandheg mila dadya. warna rupaning sambawa. ☻ 12 Kang mambangan ules gumaringsing. gemelane reyog ngimba sraya. iton-intin liwurkali.. pasar ageng pan samya suka ing ati. ☻ 13 Ajar Padhang ingkang dukmadhemit. jurig dewa mambar. kang ngaolatingkah negari. …. sabawaning ratu susupaning wasi. purwaning abal raja. padha icep bal makabe. marapit ing …. kidung sari baung. gelap pon sami ngulun. ☻ 11 Yen bondanan pandununging…. kang tharokthok egar kapati. Wus gemuk. ☻ 10 Andrawina kang kawula alit. ical jenenging wana. sundari alas langenan. sangkep sami kaprabone. purwa sing Cialur. dhog-dhog byos pan dharugdhug. kikitiran ing pucuking lingga sari. angintali barat angabdi. Sang Nata. pan jumegur lir mariyem kang swara. riniyung ing sagung. ☻ 14 . ing siang lawan dalu. Prabu Ciyungwana. pangrampiging menak Cidahur nyungkemi. jemegur yen kaginan.Payung agung kulit maung kuning. ing sadina-dina rena. ingkang murwa sagala jagat. ing Pajajaran tanggale nuli…. dhasar masih sedhepan daging. Maha Raja ing Pakuaji. sok lutung kidang ika. rame kang surak-surak. agenging kawula bala. kang winangun … unen-unen. kebo bule bungkul kang pancal pat. sato-sato kang bisa akata jalmi. tampingan gunung arame. rai awujud buta..

17 Pan kapati kang duweni manis. ☻ 16 Sabandare sing sabrang sumadhing. isa baisa Dipati Alurcenang. seja tuhu genya karsa angabakti. pating rangu rangu Sundha. amegeng sewakanira. ing bener lawan salah. anyepeng para gul menak. dupi ingkang kang nama. Pasowan panggenan aji. …. ngajengaken bomanta. ☻ 15 Mangunaken sagung kapurati. angrekuricak cepenge. pan sirnaning ratu sukma ing pati.ing sawancinira.Datan roro tetelu ing kapti. ing Sundha ginunggung. cina Sundha kawilang lilima. amageng kawicaksanan. paningadhun sang Bima larang. ngajangaken alun-alun. ☻ . anyakra kapatiyan. pasisihan utawi manca nagari. santana kinabandu. ingkang kacepengan dene. Sri Jampang sarta jinggine. dine Wage jaganira. sadasa sami prapta. Demang Elu-elu. ing ayunan sang prabu. cekelan mangun gentra. andhum wancinipun. nengenaken sasagaran giri tasik. lembah dhuwur lan pintu tundhaga. pan acaos basa ing aji. anyepengi putusan pra padungapti. limbung aning guwa santang. ing Pahing dintenira. ☻ 18 Ki Tumenggung Sayoga nyepengi. ing Pajajaran suude. kang kepering angi … puraken gunung. …. rang-orange jinunjung inggil. Ki Ardha mangun gen trahe nenggih. ragemragem mariboting sih. akidang kandhuru. saha sri ing samandhepane. gul menak umbul adhu. Kikandhuruwan babalban.

kidhalem kuwu agung. lan ki dhalem Cintangbarang. nalika binathara. samya ngidhep ing Pajajaran angapti. kukuh ing pat Pakuan. sungga watang sarampang bandring.. Kalibadhaglolopak. sura sowan sabrang pati. dhalem Pakulada dhalem Pakuaji.paning. dina Keliwon cinepengan. ☺ 03 . lan kang namane sinebut. Pasir Adu Pulangdhang.. dhalem demang kangene.19 Kang Ngabehi Lempretmonge kang jagi. dalem ingkang kunakuna. dhalem Tepus nalika wong kuna ing Raja…. ing ulu balang wau. sampun mentar kalawan idhine pati. Sendang Cibuntu ing praja ngapti. para dhangan pasir panjang. sinaroja umbul. nagara urut pesisir. dhalem Rangga Pakuan. naklukaken para umbul. ☻ 20 Ing Ciwindu anteng …. pangaline rara nama Mundhing Jamparing. para idhang kang primanca. sang dhang bana Ujung kulon wus anungkul. kang kinarsa angirupi para ratu.☺ 02 Nyata sang roro ponggawa. sindhang kasimanut. prajurit ing sawancine. ☻ PUPUH II PANGKUR 01 Angir-angir ing buwana.

seja lurug dhatmakaning kulilip. tanpa sangkan breking angin. Ujung Maladha. dhumateng sang Raja Ciyungwanara Pajajaran. ☺ 04 Losaribang kulon miwa.aji. ing tetelar aniba pating talumpuk. ☺ 08 . ☺ 05 Amung siji ingkang nyelap. lir walang kawur prahara. apa maning sang dhang Jakerta panadhun. tan maju kadhadhak kawur. ☺ 07 Wong Sundha ingkang prawara. bala Sundha ngadhaning rangseng padha kawur. ingkang ngambek sucira angrasawani. Indramayu lan Kondha. Menak Lampung sadasa kang ngapti. tiba ing sawah-sawah. pirang-pirang ambalan tan budhihi. Jepun kulon gumulung. Jograt Lantan Tawangpadhang. ing Pakuan Pakuaji. Karawang lan Ujungmilir. pirang-pirang bala maju. daman pangunjung tanah. iya iku nama ratunipun. aneng Ujung Batagonggang …ipun. sang Srijunti sang Kalana Kandhanghaur. ing titah ….Banten …. sadasa akedhep samya. Palimanan Carbon Girang katiti. estu tan arsa kedhepa. dhening prahara lautan. Raja Mongkara. ☺ 06 Kocap bala Pajajaran. manglkana sandhenging wani.

ya para age bu………... yaganal pamuwusipun. pusaka sang Prabu Galuh. ambeg sawenang-wenang. lan jajal. ☺ 11 Kukubaning Ratu Sundha. kang ora suka. ingkang kadhang raja iki. anubruk dhateng sang aji. amisesa sasigar Jawa. ana jenek enggon kene sira iku. ☺ 13 Padha bae suwaningwang. Lalangkara ewong dadi kulilip. apa gawe si rajenak ing riki. mangkana Ratu Sundha kang dhadha susulur. pan buwana Dhangwinta ingkang ngawangun. padha ewong ambeneki. ☺ 10 Puniki bumi Pasubdhan. ratu mung ngaku kewala. wong Kajiwa bumi re gelem nyangkul tembene ya ing amendhak. anila bimi ning angin. la iki kene apa. ☺ 09 Nadyan ….. sira ingkang selang gumun. ☺ 12 Raja Mongkara panabda. lawan Anglangkara ratu. ☺ . apa bidhane tunggal enggoning bumi. yika Badhak lolopak. den ora gelem anungkul. kang wus merad susirna. adhuweni buwana. Badhak Lolopak jal Kidang. den age caked…. …. dhen dhadhi kulilip. sabab bareng rereping kang lisus. enggal pan sira alaju. iki kang si rajeneki. ingkang estu warise juragan Ahing. datan ana wau ingkang ngucili.Salamine ing ngayuda. pan pinanggih lan Sindhang Mongkara aji. budhi kethek napsunira kaya asu.

ing Kahuripanne raja. ☺ 18 Kawula nana ngendhatna. mangsa suweya sasakti. colongen ika kang tuhu. kabereg-bereg ing agin. balikan sulusupana. ☺ 19 . aja sira papa … iku. kasektening Mongkara wantuning. ingkang mangkono ngadheg anyar. ☺ 15 Dedupak malih kapental. den wus kaebut kang jimat. ingkang kaparing …. den balangaken …. matek mantra dhal emesal menginggil. semunira karsa angadhoni ratu. niba tangi anubruk mali dencawuk. ora meneng-meneng abalik maning. ☺ 16 Tan kena aju narajang. putraning Bramana Laut. Kontal Badhak Lolopak. ☺ 17 Ora kaya Ciyungwanara. tiba tangi ngudhak maning. jar akathi Indang Gunung Sakathi. yen wis kanggep tungkuling wong aurip. binalangaken tebah. kawur si Badhak Lolopak. anyepak maring kang musuh. ing Munting Jamparing. mila Dhikbo samana. anuli sira den cawuk. api-api saha ngabdi..14 Sigra sang Raja Mongkara. nuli prapti ika wau ingkang lisus. kang dhen wadhali Beruk Kalapaciyung. ana ingsun ya negari.

ipun. pan satengah pejah den wali-walik. ☺ 21 Ramya ingkang pancaraga. ☺ 20 Katur ingarsaning Ingdhang awan. ☺ 22 Raja Mongkara naraji. wadya maju Badhak Lolopak alaju. kondur dening Badhak muring. Munting Jamparing angadhepi. lami rowang anyekep marang sang ratu. bala Mongkara kokalan. papaning bala mapan saolih-olih. tan adangu Indhang Gunung. andhawuhi kang udhan krama. ing Batagonggang angulun. pan Silepe saking wingking. sinerong ing amukan. … jejel paring pitulung. Munting Jamparing lawan. watara satus dina. saka tiyang amba …. pan gawa minggal tumuli. Raja Mongkara sira. ….. Raja Mongkara mudhidhing. lumaksana sawisiking Yangnini. maring panusuling musuh. ☺ 24 .Yata munting Jamparing. ☺ 23 Dug Munting Jamparing. gumarudug anusul …. Beruk jimate Mongkara.. bala Pajajaran kondur. padha soroh ambek pejah. Badhak Lolopak sampun kawalik-walik. satengah pejah dhen pupuh. wong … angladosi. yata kang bala Mongkara. wus uninga pancing surupe Yangwiku.

Ki Arya Munting Jamparing. mangkana arsa aji. Ratu Agung Sundha sakti.♥ 02 Aturing kang para … kawitan. gara jaya kang ….Angeles lumpuh entro raga. pan iku karananipun. wus andhepok ing sihi tanpa sakti. ♥ 03 Lan rarasaning manusa. … tigang prakawise nami. gara aji gara pagu. miring Prabu Pakuaji. olih gaweyan manca nagari. Pakuwan … Ciyungwanara. ☺ PUPUH III SINOM 01 Iya iku purwanira. Sinungan lenggah arya. gara … gara wangi. basa Sundha kang panuji. dhumateng purba nagari. Lalopak lawan Jamparing. sastra Sundha kartajani. ing bala Pajajaran. yata prasami rinebut. Kutha Manggung Kutha Raja kutha Gara. lan Arya Badhak Lolopak. lintang saka tipun niku. gawe ewag saking Jawi. Raja Mongkara dhen asandhangi dhata tangsul. Raja Mongkara sampun angangya sewaka. iku ingkang sawiji. Kanjeng sapta loka. timbul salir wirasa. kali prakwise nama. ♥ 05 . Sundha sari Sundha lengdha Sundha larang. ingapingan jeng nini. gara tengah gara jati. kasri ing babadhanira. kutha Idhang apa maning. sastra selawe gumelar ya ing Pasundhan. ngamperi rarasan sabrang. ♥ 04 Kutha Larang kutha Jampang.

♥ 06 Bantarwangi Bantarpanji. lawan Ujungkandhi. Sundha Amalatra. lan gangsal prakawise. ing Pajajaran sang aji. ♥ 08 Kang kasebut ing paparab. Ujungtana Ujungbarung. Raja Kowek kalawan. … jayeng aji. gumelar rajaning ratu. ♥ 10 . ♥ 09 Putri Purbasari mulya. Bantaraung Bantarjati. lawan prakawise nama. dumadiya turun saluraning raja. pinutri-putri ing nata. ing pura Sundha negari. Sundhalayang Sundhajahi. Raja Wetan miwah malih. amung ika wanodya. lawan Medhangkawiraja. Medhangko … sajati. Ujungkembang Ujungsemi.Sundhawestu Sundhasana. ratu Cunggilis krama. karaname narpati. Raja Jawa lan malih. Medhangrasa Medhangterik. ingadhang agung ing aji. pitung prakawis anama medhang kamulan. Bantalwaru Bantalwire Bantarjaya. kang nama rara Cunggilis. nem prakarane ingaran. ♥ 07 Medhangdhatar Medhangpala. Ujungkulan Ujungbumi. … putra jalu. garwa padmi saking Gembong arah wetan. sapta loka wus dadi. Raja Larang Raja Dhanu. Raja Galuh Raja Cingcing. kang pinangka prameswara. putra estri kang paparab ing arja. ing wuri-wuri jati. ing kadhaton dhalem agung. Ciyungwanara wus mijil. Ciyungwanara pakolih.

Martingtrim ingkang yumani. ika putri Purbasari. ♥ 12 Mila … Banghayang. agagarwa saking bebeting Bramana. tan ana leksanannya. dreman ing sabronjotipun. gabuk ora amutrani. kang jinalukan jajampi. … kagungan waya. gabug salami-lami. Markeseh ingkang yumanibini aji ing puri. parandene tan mutrani. kang kekasih iku Jeng Dewi Anjatan. ♥ . ngalap garwa malih milih. sakaliye ing gigabug tan aputra. akathah ajar bramana. Sundha ora nana maning. kang miyos saking narpati. kagarwa dhening nata. Pajajaran kaliyipun. sanget kaul-kaul mambri. nanging boya amiyosi. ingkang tedhak sisiwi. nuli sang Ciyungwanara. komalaning dhalem pura. nami Dewi Tingtrim wawanginira. parandene oranana siji laksana. putri saking Bangbayang.Putrining Ciyungwanara. ♥ 13 Martingtrim Merkedheng lunta. wus angapti maha dewi. dinama-nama ing marma. wonten malih kang putra. sang Prabu …. sang korone becik-becik. esi tan kena tinedhu. usada … wus tepung. ♥ 11 Lan Dewi Markeseh kembaran. iku kang Pajajaran. dupi garwa sembar ayu. ♥ 14 Ing Pakuwan pinakrama. menak Cicilutung gelis. prandene … yakeni.

♥ 18 Dugi maring pabarisan. jajampi sing ngenda-endi. cathik-cathik raja peni. sang Prabu Ciyungwanara. dhadakpulur wigalba wiragalba. sapalih ngapti ing siwi. Purbasari wadon kang winadhang-wadhang. kadi kembaran narpati. dening mung kalethek siji. ajumbula moning angaksi. ♥ . Bawatbenggi sari Manglar. gawok kasri nalendra. rinegep sari ngumining.15 Putri saking Kandhanglarang. ingkang amiyos sinunu. saparo ing sunu ayu. sapaliye Purbasari kang ngagem. katur ing nata Pakuwan. ♥ 19 Purbasari lan kang rama. kereronce kereampit. supaya wadon lan lanang. … kang upacara. dening karsaning narpati. mila saderenge lalis. yen tinaros banget lumuh. judhialiman sang dhekur. nami Dewi Kilikmangi. judhipatnantang weri. Bawatciyung Naga Sakti. langkung kawandasa sasi. ingkang ngadining-ngadenan. ora nana ingkang darbe laksana. suradhadhu sarabang. krajahan dhen palipur. saparoning pribadi. dereng karsa alaki. ♥ 17 Saluraning Pajajaran. para ratu kang karsa … lesan. sinedhepira dumadi. tan kenging dipun purba. mapan mangkana agabug. ginawa ing sang aji. ♥ 16 Lir ta selirnya marapag. datan miyos putra. iya orana siji.

☺ . Sokapura Kokaaji. ambaka … pikulih. Budiwati Budiminging. nanging datan den pidhuli. rada melang-melang kapti. telung prakarane nama. padha mengga ing ngalama. ing ngarsane sang Dewi. saking kang rama narpati. kang arsa sewa panglami. rong prakara ingkang nami. bok sang putri kencok aning mamala. sedhengane dewa aji. kapepes ing tan kaconggi. sing sabrang saking Jawa. ana baliking dhalanggung. ♥ 21 Ajaja sipating jalna.20 Pirang-pirang kang sewaka. ☺ 02 Saprakara kang sinebut. ♥ PUPUH IV KINANTHI 01 Sagung papalisanipun. ☺ 03 Luwilaja Luwilidhung. Budisari Budigolis. Luwiseeng Luwimundhing. Budirujit … Budi …. kang ingarsane si rara. Luwiladha Luwidhingding. sapta loka pari mina. pan mangkana wangun mali. padha mundur mulak ora tinampanan. kang akarsa samya balik. ingkang mara-mara balik. akeh kalesan balik. ingkang mara-mara kondur. Budipandhang miwah ika. Prabu Ciyungwanara.

☺ 05 Kawunglarang malih ipun. padhamatang lawan…. ☺ 08 Sampun ing kadya puniku. dupu rangga kapatihan. sabdamenyat Sabdawangi. padhareka padhamuraging. Sindhangwangi Sindhangpala. Sabdanawa Sabdasari. dumateng putri Pakuwan. Kawungluwih Kawungaji. Jeng saputri Purbasari. miwah ingkang Sindhangkasih. Sindhangkempeng Sindhangbarang. pitung prakarane kang nami. Kawunggehe Kawungomas. ☺ 07 Sabdalarang malihipun. Sokamanah miwah ika. sindhangayu Sindhangaji. Sokanegara apa maning..☺ 06 Padhamuhi padhamadhung. Kawunginten Kawungsari. nem prakarane kang nama. ☺ 09 . kng simaan rama aji. sokawiyana lan malih. padhapenah padha bongor. limang prakarane kang nami. patang prakarane kang nama.04 Sokapolang Sokaratu.

☺ 14 Bayabang kali Cilutung. iku sun dak sigar wetan. Lebakwangi lan Cikuwang. Cibarangbang Cipaburi. Menak Pakuwan ingaran. mangetan jajahan istri. Ciamis lan Sokapura. la iku dadi laluri. dupi sing kalih bayabang.☺ 10 Rang-urange pandumipun. teka ing satedhak-tedhak. Panjalu muwakawali. sapure kang katiti. raja Galuh lan Talaga. mengulon iku kang dadi. Menak Mangun … praniti. dening Arya Mangunkentra. ☺ 11 Cikaso lawan Luragung. salwe princi kawilang. ing sapandum-pandum nira. pusaka kawuri-wuri. Cikandhang Cicaridhangan. Ciakarwangi katiti. Kuningan lan Sindhangkasih. pusaka kawuri-wuri. Ciyungwanara ingabdi.Dupi ingkang rama prabu. Menakwacacayan istri. Karapu Yudanegari. lamun pajajahan istri. Mangunkentra rada …. ☺ . Cionje lawan Ciori. Makber lan Cipamali. Cigugur lawan Cirayap. prawatesanipun kali. 13 Purbasari kang amengku. ☺ 12 Cikendheng lan juga Cigintung.

sang Prabu Ciyungwabara. Ujungkulon apa maning. Batuwalang lan Biribis. ☺ 17 Manonjaya Garut Ciaur. Sumur Bandung Sunedang aji. ☺ 16 Pon salawe princi umtul. jajahan Sundha nagari. ☺ 18 Wanabaya Cibalagung. Kadangladhang Pasiraji. ing ngarsa Sri Pakuaji. ☺ 19 Wus kukuh kang bala ratu. Ciyungwanara apa maning.15 Pasawahan ramanipun. karata gampang pangulatan. ukurlantara Juangin. kang angresa hawa aji. ing pajajahan angabdi. kang sarwa tinandur dadi. Tegaluwar apa maning. kang nama Menak Pradhangan. sigar kulon sun dapuri. Cikokok lan Nungkalaya. Menak Pacacahan lanang. Bogor lawan Kanjapura. Sawung … Gantilah Munoro. Cianjur Kujang Limbangan. ☺ 20 . laluri ugi salami. Sokowiyana lan malih. salawe princi kawilangan. wengkuning Arya magentra.

Parekatan iku Sundha. ☺ 23 Bojongmuntas Bojongwindu. sinung pobojongan menggih. Bojongrentan ingkang dadi. jeng pawestri Cunggelis. Bojongnerwasa Bojongleppit. 24 Tegalmenak Tegalbaput. Indhupari Indhuaji. Parakatan pawestri. Tegalmoto ingkang dadya. gunung Lajer gunung Kelir.Sakalir karsa kadulur. mangkana kang prameswar sinung cacapagunungan. gunung Ga Gunung Licin. agung kacipta dumadi. Tegalgubug Tegalkunyit. ☺ 22 Kapituning gunung wupu. sinung sasapetegalan. Parekatan bini aji. Bojonggaluh Bojonglapang. dupi maha Dewi Sundha. Indhujanten Indhugirang. ☺ . gunung dhukut gunungsira. maringtrim Merkedheh mewah. 21 Sami sinunut cangkohipun. kang sinung sasapan indhi. Paraketan nini aji. dhupi iku aneng ana. Kapitune Inddhujaya. ☺ 25 Paindhon kang winalungun. Indhuraga Indhusari. Anjatan lan Giliwengi. Tegalkolot Tegalpakaji. nuli ika garwa lima. dhupi sang jeng bini aji.

waneh ingkang leletana. ora selang surup apti. anggelar enak ing urip. ☺ 30 Padha among sanak sambung. kinalilan purba bumi. waneh kang campur wong sabrang. sinung palebak kalepti. mila-mila kawisesan. dening kang padha anyewa. Lebakcenang Lebakcehang. golong sapurba sasmaya. angreka sabagi-bagi. kang kanggo salami-lami. Lebaksidhu Lebaklenggar. Lebaklawang wus dumadi. prasasat den prenca-prenca. 31 .26 Dupi ingkang Dewi matur. dhupi Pakuwan Marinci. ☺ 27 Sawawasa prati umbul. kamukten den bagi-bagi. Lebakpanjang Lebakwangi. ingkang satta sabumi. ☺ 28 Temah dedeake Ratu. kasilane den remani. ing Pakuwan ikut yakti. maring bumi ming narpati. 29 Mula akeh menak umbul. mangkana adat Pakuwan. iku rerekan Pakuwan. bedha lawan Majapahit.

mangkana kang lurah wana.☼ 02 Ateka yu kang lumari.Sewa aning paken agung. ing tatali karompyangan. ☼ . babakti ing majikan. pamajeganing pangumping. kang sabandar pajeg ira. pamajegane gugubar. pamajeganipun gula. ingkang lumampah ing Sundha. ☺ PUPUH V ASMARANDANA 01 Ki Lurah Rawaprasmi. bendher den cap sastra Sundha. kethang prunggu kang sinundhuk. lelemes buwatan sabrang. mung den wis panepadha. ☼ 03 Bolong-bolong kaya dhuwit. iku Ratu kang dheres. kus jembar kahuripane. yen wis padha ngundhuh-undhuh. wus dadi anak Pakuwan. Ki Lurah gurupadha. sailing-elinge padha. anut maring kasabpolah. kekendhangan kang isine. atur catur baktinipun. sawah tan mawi lalanjan. pamule pegantang salir. ora nana pajegane. tangu gegel ing majikan. ☼ 04 Palawijaning wong cilik. pagantang pajeganipun. tukang maring pajeg trasi. den elus sakamya-kamya. ingkang mawa tatakeran.

tumon adate kang putra. kang karsa dhateng kula. wiwiku lan ajar-ajar. winadhang-wadhang wiyose. reiku kang kinudhang. akarsa ing sang rara. sumadi isun akrama. pinardhi ingwang tuwa. ☼ 08 Wus pirang-pirang pamuji. ponora tumama kabeh. kewuhan dening kapadha. tan ana turun tedhakan. sanadyan para nalendra. iku kang dadi pegele. mingkung dhatan arsa krama. dhupi iku teka mingkung. ing salamine amurba. ☼ 07 Kaul alukan mati. ☼ 09 Kalangkung bebek ing pikir. japa mantra lan istiar. besane lamon kinuwu. ora nana kang misata. ☼ 06 Wanti naros ingkang yudi. manahe Ciyungwanara. ing Pajajaran tuwuhe. re kang putra samana. ature wau kang putra. ☼ 10 . Purbasari naminipun. turunanira drapona. sang nata sanget gegetun.05 Warnanen sang Pakuaji. tan arsa akrama ingong. tatambah wus mider tepung. marna bangsa raja. ora nana kang tumama.

kang asresewa panglamar. ☼ 11 Ratu Sabrang Ratu Jawi. dupi den lumuh krama. 12 Saking sabrang Raja Kelir. tan kena den palar mangke. lawan Arya Balangbangan. turunan lantaran krana. tumpes aja katingalan. lir baronggong beledhoge. kawula sumangga pejah. ☼ 14 Ageng ilur sundhul ing langit. Purbasari inggal mangun. tumanga geni sakala. temah puthes anak putu. dhadhak sakala ika. lawan Dhipati Japara. mila sanget kewuhane. enggone nari kang putra. ing Prabu Ciyungwanara. iku dhipati Manglewat. sakabeh ika padha. den nama kumudu-kudu. wuku pring apilar wangwa. ☼ 15 Alum kula anglabuhi tumangan geni sakala. den kula pinardi krama. ☼ 13 Ruru bae anggonturi. kang dadi bebeging manah. ☼ . suradil pan titah raja. wadon tumuli mangkana. saking anagara Tuban. ing kadang ing ngakin. lan Arya Dhagdhagase. jasad kawula sanggine. anggondhel prakara iku. lan Dhipati Singgapura. Purbasari dhuk sabda amit pejah rama prabu. wus loba tanpa wilangan. lawan Dhipati Cidah.Du uwis amung sawiji. marakbak kagila-gila.

ingson kang urip dawa. ajur kula dados awu. way kalereng anggepok. sama dening kula wirang. mung sira tan ana liyan. ☼ 17 Jaler punika kamangi. sang Prabu Ciyungwanara. kang dadi ati ewuhe. ing kamukten padha uman. sing purwa teka daksina. mila kula angedados. mongsa pira gesang. padha bareng mukti kabeh. ☼ 18 Rasa kang sampun binukti. boten memper dhateng rasa. anunggoni anak putu. sipat matane si rama. den sampun gepok ing rasa. ☼ 21 . mundure tut sausap. ☼ 19 Lan aki sumamung aji. nini labuh geni sira. sasada susut den wis waya. ☼ 20 Babarayan ngadek aji. anak putu den arampak.16 Sumandika umalaki. wirang nekaringgit ing jasad kula. tan kangkat to nandhang. kang dados sakiting manah. angandika aja babu. atemah boten mambu. purnapa awu sahana. kaprawasa dening priya. istri kang kabobongganan. lan anak putu den rampak. sanadyan nama sihing rupa.

tinaros mangsuli iya. Dewi Purbasari girang. amung siji anak kula. ☼ 26 Ika iki kangngangking. mila tumangan masihe. tinari laki popoyan. karanten dan mangke tulus. den sampun bubudayan. ☼ . tan nilapaken rama. sang putri juwala purap. prandene den anakake. nanging ika tumangan. amangsuli kang anggondhel. kang rama kadi mangkana. Den Purbasari medho. wawadine kayak iku. kang geni gupak cawisan. utawi kaluncurane. jamak istri asasdhu. mangke kang dados parenge. mintuhu sakadikane. kang suka punika rara. den jeng rama sampun asung. sesaengek jamak wanudya. nuli ika temahan lampus. ora jamak lan manusa. ☼ 24 Mangsa wontena pawestri. raja-raja atas sabrang. den kula pundhi kentasa. tan kaya dening dadaman.Mangkana prangregep mami. ☼ 22 Den pinaksa alaki. karinggi awak kawula. masih munjuk kang dahana. dados awu lelebaran. maredheng … maksa. tan asung pinancas parum. 23 Sang Ciyungwanara aji. ☼ 25 Ciyungwanara mangsuli. sejane labuh dahana. kawula kelangan anak. sak akal budi pandaya.

boten dados pana sarana. ☼ 30 Bilih boten angrakepti. maketen ugi ciptane. ya tetelu aturku sajatine. aweyos geni jatine. andhadhanr untunging awak. tumangan kita pri pejah. kawula dhuluri. boten wonten roro. sing ngakenggep ing babajane. ☼ 29 Panuhun raja tas angin. sasampuning geni urut. rumuhun kita lanat. gih punapa karsa putra aji.27 Raja sabrang mangkeya angling. anuhuning palamarta. kasabrangan pan sadaya.® . munggi kang rama lila. sok dadiya arju. ing cilakane awak. ☼ PUPUH VI MIJIL 01 Ya Prabu Ciyungwanara mangsuli. ing adat tabidat Sundha. memanten dados ing karsa. saduka-duka kasuhun. raja rama Ciyungwanara. tapi punika satuhu. ☼ 28 Ling sang Putri Purbasari. kang boten kanggep sanjata. kita sami medhek sowan. sak lilaha ing jeng rama. rempage kadi mangkana. ing songonging kasabrangan. dipun jemba ing pamuhung. nanging putra sabrang kabeh.

kalawan parahu. bilih putra mangko. kaduk mahinggurut. tan wonten sosolot. dede geni pranti. adhining asakti. gih cobi kemawon. kang suker tinatas entong. manther angger tan ana surude. ® 04 Heran kula ika geni. kenging ugi den silulupi. sampun kadhalangsu. ® 07 . panedha kula ing sadayane. punika kang dados. para putra sing ngatas angin. kula dhugi wonten nyurupi. lan dipun langeni. pan rama ing uni. geni lawan toya musuhe. lagi laut kang jro jembare. 03 Kula tempuhaken lawan nalisip. dhateng saenipun. ® 05 Raja-raja sabrang aturnya aris. mangkana kang inggil.02 Sampun nelangsa ing salasa tunggil. kang atos inggih dipun linggis. karanane punika kang geni. ® 06 Ingkang letak dadi pujajagi. dipun sengget runtuh. nuntenweleh geni boten moset.

rurubahing ratu. ya sang prabu Ciyungwanara jatine. kocapan sang katong. 09 Ana gawe banyu janantrawis. kang murut mrangmong-mong. ® 10 Sigegen ingkang sabagi-bagi. maring kang ngamambri. dhateng saenipun. kahula kang nguning. pangumbuk-umbaking. ana gawe banjir. reka-reka gatos. gampile kang mangko. kawalahan anglaladeni. dhateng putrinipun. kang sadya patakon. ya sang Prabu dereng nampani karsane. warna-warna katon. la inggih sakarsane sami. lumuhe tan apti. wane gobakwari. sisrate mancur. ting surakata ing sahakale kabeh. ® 11 Sya kathah kang para bupati. banyu pecut kang munjuk mancure. ® . gawe pongpa kang anemburwarih. bumi metu banyu. ruru bae wus anjaladri. kang anglamar tiban sampire.Punika malih wernine kang geni. ® 08 Ya ta raja sabrang ting padhigdhing. ewu mana para ratu. ® 12 Ing alun-alun wus dadi ukir. dening ewuhe putraneki. Prabu Ciyungwanara sahure. akal sabrang ing sabagi-bagi.

aneng kene anjejemberi. kaya kuwi niku. lan gawe tahinipun. ya prandene tan kanggep sawakane. dedenira jeng putri anampik. Palimanan kalawan Junti. sayajenggi lawen manggi kardi. Ujungtanah malih. ® 16 Dalem Ujungtanah kang panggapti. lawan Kandhanghaur. ® 15 Parandene ing putri den tampik. ® 17 Dasa rupa merat sampurna lalais. enggo apa thongsot. buta ngengenggo apa gawene. den panjer dumadi. lan putri ajodho. enggo apa sakti. ® 14 Sakapate anjum aminta kasih. ratu papat iku rurubahe. ing praja gung kono. den panjer dumadi. gewe ingkang tewi. Sadhajenggi matur kasaktene. buta geng asiyung. la den nemu gawe ika nuli. la ika duk pahor. dhalem Palimanan wau sewakane. musuh datan weruh. ® 18 .13 Kang wus sewaka kulina ngasi-asih. maring putri kono.

saktine den manggih. esak-esak katon lawan katon. dateng putri kono. 23 Nuli katon macan ageng wingit. wohing lir kulite. binuwang dumadi. ® 22 Dalem Kandhanghaur kang pangapti. wohing rarawe lir wulu kucing. ingkang kaya iku. la saka sanake. anyiluman kidul. ing putri den tampik malih. nangkono den panor. atur karsa kang akon. bubuhayaniku.Merat-merat apadu menesi. ora papa mungguhing mami. la den karsa lulumbaning tasik. ora rerengkono. ® 19 Dalem Munti ingkang pangupami. ® 20 Jajar-jajar kaya gethek ramping. endah rama malih prahuake. parandene tan kanggep sewakane. buhaya tan untung. ® . kang ulese loreng lir kulite. kang walira katimaha gawene. anganti kang buhaya jiji. dening putri tinampik malih. enggo maning. enggo apa sakti. gawewan rinusak. rasukan kang poleng. ora sudi mami. parandene tan kanggep sewakane. sakti kaya bellis. baju kaya ikut. ® 21 Gigilani mungguh ingsun iki.

ngulatana ayo. nuli dadi dato sanepane. jalma nyarupaning. maun padha iku. ® 29 . ® 27 Ana gunane ing sawuri-wuri. ing gedhong kilempong. simpenen kepati. gadha dalem pakuncen kang gedhe. nanging kersane sang Prabu. sakti kang samono. amung kita darma ngopeni. ya ta atur-atur balik kabeh. ® 26 Ciyungwanara mgadheg pangabekti. esak-esak ewong. pramilane Pakuwan darbe asakti. ingkang kawan warni. tan kaserep ing putri karsane. ® 28 Gemenana ing kawan prakawis. sanadyan tan kanggo. Purbasari apik. iya saking iku. dupi iki yawis teka dhewek. rang-urange gupuh. iya Endah Kitarawati. datan ana kang kanggeping putri. ina temen mungguhing mami. ® 25 Ora layak temen mungguhing mami. jingika kasaktin.24 Dadi macan apa gunaneki. bok menawa besuk.

Saprakara Pajajaran bangkit. saking Juntu tudu pinangkane. den panjer dadi ing wiyange. rong prakara ing Pakuwan bangkit.© 02 Banyu singsor sing dhuwur padha maribu. sing lor sing kidul sing kulon. duga kaya udan ribut amalabar ingkang banjir. sada kang den enggo. Ujungtanah pasthi. dalem Kandhanghaur. ora katon dening. sadaya pangngabakti. patang prakara ya bisa dari. © . iya saking Palimanan asale. macan cipta saking. ® 30 Kadi merad sapadhaning lalis. nyipta buta ijo. ning mongkara windhu. ® PUPUH VII MEGATRUH 01 Kawarnae ingkang padha sungguh-sungguh. sabrang amateni geni. cipta buhayangon. rebut dhingin den dhingini. pambereging musuh. warnanen ika sang prabu. ® 31 Telung prakara Pakuwan bangkit. Pangroban ya sakti saking. sareka budine entong.

iku dumehne wong wadhon. raja sabrang kaliwat ing sor. tan ana endhaning banyu. gumuruh sorak bala wong. sumagar ngarepi putri. iku geni ngisin-isin. tan bisa meteni geni. urube angger tan gigis. maring genining manon. © 05 Ora pira budine pating dharug-dhug. prandene kadhuk asanggup. naging tan bisa mateni. angraba kena ing banyu. wong Pajajaran gumentur. geni manjer tanpa surud. prandene tanmigateni. ratu sabrang nyata wadon. © 06 Kaparimen yen wis geni ora purum. © 08 . prandene pating padhig-dhig. surake kang para aji. kaduga pitung bengi.03 Saking wetan campuhe wau kang banyu. © 04 Ladalah rekaning wong sabrang gathul. © 07 Saya santek geni tinuruwan banyu. banyune cabar cawiri.

muwuhi gedhene katon. kang anglosot anganjerki. dadi buta sada iku. iya bener ing sang prabu. prakasa raksasa gasik. mundhak dadi urub-urub. la iki intening wadon. prasami apikir-pikir. ora mati dening warih. budi rekane wus pokok. iya ana kang nyumurupi. © . © 09 Kawirangan dadi sira padha ngandhu. gawok para narpati. anyangking sadanya jenggi. seja amateni geni. munggah ing gunung den enggo. © 11 Duk angandut nuli ana ingkang laju. © 13 Angurugi geni wus jumegur-jegur. dadi wedang mulak metu. dangu-dangu ika warih. gelare ya kaya iku. ora yamane ya ewong. saha kala akalengkono.Manonjaya pawestri jeng Listupaku. © 12 Dalem iban Palimanan lanunipun. © 10 Purbasari genine patut den iku. lema dadi wangwa geni. Ciyungwanara duk angling. nanging ora dadi mati. niyat sami tur garumbyung.

jer si geni den surupi. dalem junti denya norong. yen den senggreng pesparum. dening rara panas nenggu.14 Ya muwuhi gedhene ing urubipun. © 16 Gene pager ora nan sudanipun. macane kang di adhu. © 17 Nuli ana gumantine kang lumaju. mangkana layan mangkono. sigra angrehai geni. dhumadi ana gumanti. © 19 . ora kaya urip maning. dewaji dhemit. © 18 La yen nyenggreng ing geni adadi parum. padha anyunguri urub. wangwa ambles geni masih. buhaya musnah kalowos. © 15 Lan walira katimaha buhaya muncul kapethakan ngebyuki. ora suwe jebul maning. buta ilang tan nguwali. lelewane galak katon. atemah geni dhuwur. dalem Kandhanghaur sakti. Sunan Tambalayung Kolot.

pasthine sun aku laki. egare sang Purbasari. bisa mepes geni isun. © 21 Datan mendha mati maning jebul murub. © 24 Iya iku kang dadi nereging laku. © 23 Aja wonge genine panika punjul. kalesan kang mikarani. dadi padha minangkani. dening geni delap timbul. kadya kaduk wuwusipun.Mati urip mati urip urubipun. la iku sembaran ingon. yen den sabet pes mati. tan suwe jebul kemawon. ratu salawe prasami. dening welehing wigatos. putri Sundha kang wulangon. © . © 20 Dalem Ujungtanah anyangking sadha dipun den sabetaken tumuli. payu ayonana iki. kalesan kangarah pati. maring geni lawan parum. ning geni lawan gumantos. © 22 Wusing kadi mangkana welehing ratu. suwe-suwe urip jati. macan sirna geni murub. singa-singa kang sakti. miyarsa sembara ratu. kawirangan para aji. anglabuhi sembara wong.

© 26 Mangka dipati Surawangga malihipun. sewanehe amangsuli. geni apetaka den go.25 Ratu salawe nagara la iya ku. rujitmanlawe lan malih. agunem-gunem anglabu. gembong Pasuruwan agung. saking awu-awu langit. para mantri lawan malih. malapati ing kadhaton. gampang adat kang kalaku. pangulawat sampun sami. bimakkendra gili uri. © 30 . Manggadapura agatos. carat sewu sumarongbong. padha karsa tegal lan ratu. © 29 Kang den enggo sayembara atiku kuwung. satriya sanusantawis. © 28 Tobasruyungan sarayaksa kendha layu. seja amateni geni. geni adhune warih. mangsa kilapa kang ngenggo. © 27 Bongdaraji manggala sarebo jagung. sasra yuga dasa pati.

pon masih kaya saban. Mingsun dhahang ngayoni. 02 Ilen-ilen banjir bena amalabar. © PUPUH VIII DURMA 01 Ya tawiyang ratu salawe nagara. tan kawagang ing ginisi. 03 Tampek geni iku ora kara-kara. anyipta awan deres kagiri-giri. sinten kang bagja kemawon. topan kagiri-giri. gawoke para narpati. © 31 Pramilane cacak coba samya rawuh. amsih ngenak-enak. alagelar dening yakti. ing geni sakala. apara ratu wira sakti. geni tan mati neng banyu. dupi ika kang geni. urube tan obah. kita padha dhulu-dhulu. kabenan dening topan. ana kang cipta. wawartose angabati. masih ngayeg ingkang geni. dening banyu datan kawon. ana kang nyipta gelap namber ing geni. dhatan dhoyong samendhing. 04 .Pati-pati den sembaraaken ikut. saking ora paranti.

. 09 Ora nana bisa ingkang matenana. kang sapendhil sakalenthing. kang sami hebat ningali. para sang nata. geni dipun bedhili. maring urubin geni. lan geni apa baya. gedhene ingkang geni. waneh kang yipta udan kalalar wedhi. 07 Ana ingkang maju sabalanira. kang geni waluya. dengo ambalang. ing geni apa maning.Parandene geni tan kage tan obah. ningali ungguling api. 08 Waneh ingkang para ratu lajune rampak sabalane ngebyuki. angger urubing geni. heran kang tuminggal. kalawan kabalang. suraking bala Sundha. sangsaya mundhak. sikep bandring-abandringi.lan sabalanira. 05 Angebyuki ing geni tan kara-kara. 06 Karsa waneh ana ratu nrajang lan pana. agni sakala. sawancining sanjata. kaurungan ing wedhi. ora dadi apa. sabalane arampak. deni dipun panahi. kaya saban duk lagi. ya ora nana ngudhili. pan angger tan mati. raja-raja ingkang. padha angrobi pana. sadaya awurahan. watu kang sakalapa. prandene geni tan mati. guru gelap tan mateni.

ya ora karasa. geni masih lunta. iki geni dhudhu geni. kocap ratu sadhasaring. 12 Datan ana gunane mipis dahana. Sanghyang talaga. pangameng-amengan. 14 Pan sinegeg kang pasang giri punika. tedhak Prabu Galuh dhingin.10 Kang saweneh ana ratu kang narajang. maring dahana. kocak kang jagad. prandakane kumaki. tan nana miyatani. dipun wasa-wasa. geni dipun pendhangi. urube kaya saban. wau kang nama. ana ingkang numbaki. waneh ingkang anyudhuki. yang tala kaherang. 11 Nonohogi wis sabagi-bagi tingkah. panyanane la apa. 13 Dewi Purbasari langkung bungah. den arani kaya geni. wus entong kang tanaga. surake wong Pakuaji. kang saban-saban. 15 . para ratu tan sakti. ngrasa kagungan asri. saestu kang pasang giri. Sanghyang Bulusputih. tur ta laya tuwana. lawan nyata. putri Sundha asakti.

tan kena gagabah. mengko den kaseblak pasthi. 18 Seblakana iku geni tangtu pejah. 19 Banyu pitung windu gawanen nyeblak. lawan sasabet iki.Kang ayoga Sanghyang Panggungkancane. Lutungkasarung asakti. tangtu sira amakolih. iku kang pindah-pindhah. kang geni pasang giri. camethi kalawan geni. adarbe siwi pandendhi. Talagamanggung nama. ajodho lawan. ana guneman. awit putraning Sanghyang. Hyang Jakahawa sakti. sajane angaoni. ingkang anama. Putri Rara Panas. mesat aniba. kang nuksma aneng geni. si jajaka tawa. 20 Iku putra Sunan Tambalayun ika. ya Indhang Telubraja. aputra-putra mami. iku kang anama. weruha sira. adarbe siwi panendhi. Lutungkasarung sira. Sanghyang Maharaja. ing Banten prananeki. . den sira sumeja. iku kang anami. 17 Sanghyang Talagamanggung duk pangandika. 16 Genem kalih sodara wedhi kang nana. bareng uculena. Sanghyang Ngacihiki. dhiwone padha mesat. maraja Purbasari. denora acining warih.

21

Saendenge intri alumuha krama, panas bawane benjing, kang singa kadhokan, tan kuwat ing sangsara, besuk mari-mari mandi, den wis kapendhak, lan Jakatawa benjing.

22

Pecut iku tibane ing bumi Selan, besuk tinemu wuri, si Jakatawa, jodho lan Rara Panas, besuk aneng guwa jati, gene panggiya, praciptanen den jati.

23

Pan wus tutug kang pangandika samana, enggalira tumuli, Jakatawa dadya, golethak sampun rupa, cemethi sihaciwara, kena ing sabda, ingkang sayoga mandhi.

24

Layan Lutungkasarung pamit anembah, sarta nyangking cemethi, dinulur ing karsa, dhateng ing Pajajaran, nembah matur ing sang aji, yenara numpak, sayembara raja putri.

25

Prabu Ciyungwanara ngandika liya, kamanyangan den yakti, munggapa kang salah, ing seja sudi malar, kaputren Sundha negari, ambabarena, si bapa kang ningali.

26

Yata oreg kalabandhu Pajajaran, seja nonongton mangkin, ing sagelar ira, kang ngarama rawasa, nyata geni den cemethi, geblas asirna, bareng lawan cemethi.

27

Bareng mesat cemethi lawan dahana, suraking Pakuaji, den ini satriya, olih gawe gadhang dadi, majikan kita, pan ora pindho gaweni.

28

La ya iki nyata tegese wong lanang, ladining sajati, nyata tedhaking nata, wani ing Sundha negari, tangtune ika, mangsa liyana maning.

PUPUH IX LADRANG

01

Kawarnaa jeng suputri Purbasari, pareng mulat, ing geni mepes wus lalis, dadi mujungbaheng pagulingan.

02

Ya sang Prabu Ciyungwanara sedhep manggihi, maring ika, Lutungkasarung den angling, ya ki mantu ingkang murba sigar wetan.

03

Menak pra kuwu kapurba sira, kang ngimponi, iku cacangkoking putri, pra watesan bangbayang purbaning anak.

04

Sakarepa angolahi ngadeg narpati arimbitan, ki mantu kalawan rabi, Purbasari la iku ing jodhonira.

05

Lutungkasarung ing sembah ira kapundhi, si jeng rama, pati rang-urange gasik, byantarakaken dhateng ing kawula wadya.

06

Apa kaya adating ngadeg narpati, maha raja, Lutungkasarung muponi, sigar wetan Pajajaran ingkang murba.

07

Menak pra kuwu dupi ingkang ngapti aji, dupi menak, prayangan masih nyungkemi, maring sang prabu sepuh Ciyungwanara.

08

Sang maraja Lutungkasarung winarni, genya ripta, pan nagara anyar dadi, arah wetan pan katelah Pajajaran.

09

Karajaan gumelar punapa kadi, ya para raja, lan jalma ing Pakuaji, wus ora nana paja-pajaning manusa.

10

Ya wus apa dudune mara jabali gene raja, ing Kiskendha duk ing dhingin, ya amangku garwa widadari pelag.

11

Mung siwane Lutungkasarung saiki agagarwa, dereng patut sarasmine, durung becik durung sajejeging akrama.

12

Nanging iku wus sangkep kang bini aji, miwah ingkang, garwa kalingking kang nami, matur dewi marapag selir akatha.

13

Kawandasa sisihing selir kang selir aji, amung iku, prameswari Purbasari, masih elik durung sakastaning krama.

14

Dhudhukune singdhi ora kang nambani ora nana, tatambah kang miyatani, ajar cantrik nusa Jawa pan kalesan.

15

Kalesane ora sanggup anambani prameswara, Purbasari denya elik, maha raja Lutungkasarung asabar.

16

Sabab kapuhung pyambege madeg aji lantarane, saking Dewi Purbasari, ratna iyang jongratna sapa kang gawa.

17

Tan na liyan Lutuingkasarung prayogi putraningkang, panggung kancana asakti, lami-lami sang raja amanggih warta.

18

Ya sang raja Lutung kasarung miyarsa wartyi, pulo lingga, yen ana brahmana sakti, ingkang ana ing lingga ing kasabrangan.

19

Kaya-kaya ika bisa anambani prameswari, namaning brahmana kuwi, kaki brahmana Maniklingga Buwana.

20

Ya ta Prabu Lutungkasarung nimbali patih ira, patih rang-urange pinrih, kang pinutus nabrang maring sang pandhita.

21

Den sawawi ature ajar maniklingga wayang, rawuh aneng Sundha puri, kang sun ajap sun gondhela ingkang usada.

22

Badan tampi rang-urange timbalaning karsa nata, dadya sejanira gasik, sarta Panglima kakalih ingkang binakta.

23

Lalawaran ya iku panglima nami, Ki Lagondhang, kalawan Ki Gumariming, sarta dipun binaktan adhi rurubah.

24

Kang babasan panglalandhep lawan wajani sabaita, isi gula aren jawi, sabaita isi empon-empon jawa.

sela weweton sing jawi. inggih tuan yen katuran. 27 Sigra layar ki patih dhateng jaladri sartanira. ngaturaken pasihan dalem Pakuwan. lalawaran wus teka ing pulo Lingga. boleh Sundha. minyak jarak kalawan minyak kalapa. woten kersane sang aji. 28 Pan wusmedhek ing ngarsane bramana luwih aba saja. parahu pitu lumiring. dhateng madhigda ing mriki. .25 Saparahu isi pucung lan kamiri. 30 Angrawuhi dhumateng Sundha negari inggih ara. gegel nata. 26 Minyak kacang miwah saparahune maning kang sasoca. lan lelemes sewetweton buwat Sundha. den kaputus ing sang aji. 29 Pitung prahu kang kaisi warna-warni. ki brahmana Linggabuwana anabda. sapara umaning isi.

puji pangesthi kang jati.31 Sarta gumujeng asuka rena kang ati aturena. 36 Ki brahmana sabdane patih ya patih aja kurang. tulung usada kang jati. pracaya kang maring mami. sareng ngalempa pribadi. ing prakara gegele Sri Pajajaran. 35 Patih rang-urange ature ariris bok punapa. pitung prahu gawanen balik. 33 Aja sumlang ing karsane sri bupati. 32 Iya ika luwih nuhun nanging kangsi iku barang. data ana kang bramana iku bobad. patih rang-urange wus age balika. tumindake jengmadigda lan kawula. mapan ingwang. 34 Aja lawan den ruruba iku maning isun seja. isun medhek ing Pakuwan. pan wis karsa aji. aturena maning ing Sri ing Pakuwan. .

lawan mangsa suwe laku den lalampah. 02 Pan wus katur ing ratu Lutungkasarung. ing rurubaku prantine. pun bramana sampun ngartos dhateng karsa. 05 Wis becike anti ratuhipun. 03 Ya sang raja aris ing pamuwusipun. tangtu mangsa bobat gedhe. .PUPUH X PUCUNG 01 Ya sang patih rang-urange sigra wangsul sabaitanira. miskin tan ngulati sugiye tan rarawat. sejanipun medhek dhewek. kita tumpes ya ika sang bramana lingga. lalayaran dumugi ing Pajajaran. karsane madigda. lan mangsa gelema. sampun abalik sakabeh. nanging lamon bobad. padha kita lurugane. 04 Tangtu jagad pandelenge mung sagandhu. den estu pramana.

dipun prabu sepuh mangke. 09 Dupi putra saking bini ajinipun. malah prabu Lutungkasarung wus gawa. 10 Pon kalawan lilane sang prabu sepuh. Raden Mantri Ranggalawe.06 Ya ta lawas bramana pan durung iku rawuhira. karajaan kaprabone. Raden Rangga lanwan Mantri Kethebasa. 08 Linggihan ing Bnaten angarta dhatu. lanang pinangaran. 07 Putra saking ikut ika den pilungguh. lanang nama ira. ingkang sarta lulungguhe. Raden putra inggih ing Bantana warsa. kang angrengga iku saking Pajajaran. 11 . sampun gelar tata. terang layan karsa. ngenten tanpa anten-anten. Jayakarta alinggih ing rat Jakerta.

14 Rang-urange kang dadi papatihipun. pan samono lawase kang prameswara. kang amengku indhahan nang Ujungkaras. 16 Demang Bangkong sendhong andeling pamuk. 13 Ingkarsane snang prabu Lutungkasarung. roro tumenggung anyare. lan roro kang anyar. patih jero patih Burbutjalang. dipun rangkepa patiye. kang anama ki Tumenggung Sanggrarungan. 12 Dupi putra ingkang saking dewi matur. Demang Gogok lempog kalawan kang nama. aneng Pajajaran. jirnapura pulung beler. gumelara kata. Sanghyang Sancakrit namane. lanang kang namane. Sanghyang Resi Luwiluwe. . kademangan ing namane. lanang karya parab. 15 Ki Tumenggung Selangkuyit naminipun. kang amangku indhahan nang Ujungkulan. arja aneng jaba.Dupi putra saking maha dewinipun.

nuli tan antara. seja sun pilala. barangahan anakake. 20 Dupi rabi babaku durung sapundhul. manira nedha tulunge. he paman bramana. saking rabi liyan kang metoni anak. sang bramana gumujeng atur sandika. idhepena iku paman garwaningwang. 19 Gone elik wis windon takeran tahun. bramana Lingga rawuhe. ya kongsiya adhepe nama sang rara. paman bramana tulunge. 21 Pira bae ing mangko wajaninipun. kaduga manira.17 Durung becik kelawan Lutungkasarung. 18 Atur makca pangandikane sang prabu. iku bebeg ingwang. maring Sundha wis den mulya-mulya ika. ya duk jurung saragane. 22 .

tegane ta sira. dan sang prabu ngunus dhuhung pan tumandhang. sun dhaku mendrassa. kang pakenak teka sinung rasa lara. gagarwa carapa. 24 Aleng pundi tan awor sandeng saumur. nuntak ludira maleber. lan sang prabu nanginging punika sang rara. tan asusah wajani punapa-punapa. pan tinarik kang dhuhung bramana pejah. binandhing combana mangke. prakawising garwa. uninga dhateng raose. dalem tangtu mangke sae. dhumateng walikat. 23 Mangke sae sacombana lan sang prabu. . 25 Maharaja Lutungkasarung abendu. 26 Sigra nudhuk bramana ajaja terus. 27 Ingkang layong angucap tegane ratu. uning raose pun paman ginawa kawan. pun paman tumuta.Sampun sumlang bapa prakawis puniku. ana wong jaluk nrasane. bramana cora nalosor.

maring jaba adhan rame. kakeyan bacot si bramana camera. sirnaken pisan. 30 Iku padha obomgen babathang iku. sabdane babathang. ya tumangen cone dadi awu pisan. ya mangsa luntaha. dadi gumaregeten sewot. 31 Ki patih Brubutjalang tanpa wuruk. bandhu kula warga agawe tumangan. 32 Tan adangu ingkang geni amurub. ora kaya aluse bramana Lingga. ambri aja ababacot. kurnapa bramana. dadi ratu Sundha kene. narik kang babathang. wue sirna purna den obong. 33 . 29 Yata prabu Lutungkasarung mituhu.28 Nyata kumed maraja Lutungkasarung. sabab dening kumet arep bapa garap.

mengkorog saking jijithok. saiki kena ngapa.Manjing garba garwane Lutungkasarung. . sumerep sumanira. 36 Praciptane gawok temen atinisun. teka sejen pisan lagi mulamula. kena ing asmara. guranggame sapatemon. dadi mundhak bagus katone gumawang. 37 Poning mau ewo bae atinisun. maring maha raja. ngrungu bae abane ing ati ewa. 38 Jember bae rupane deleng iku. sabadhan sedya wa-awor. 35 Ya sang putri Purbasari remen kalangkung. 34 Dewi Purbasari sira andulu. maring kakung tan kena pisah sadhela. dadi kakatonen bae. ing ati mengkarang. Lutungkasarung dumadya raga asiyan. ajaja rep sapatemon. luwih sengit pisan. Lutungkasarung warnane. dupi iki teka ati kangen semang.

bersih kuning gilang-gilang. sang raja sigra trangginas. binakta amadhang wulan. Purbasari kang pinundhi. kaduk sang prameswari. sumulura maring mami. 05 . 04 Kinundang putra ajalu. 02 Kang garwa lumados sampun. duga nyidham sanga sai. 03 Wus bobot ing wancinipun. carema la pitung dina. tutuging asisiyan. kalangkung ing lelesneki. dhumateng kang prameswara. ningali kang prameswari. teka kapareng kang garwa. dhateng karajaan ingwang. kaya pa adating krami. Lutungkasarung langkung asih. angrungrum ing prameswari. tumulus adhicombani. mesem manis awe sira.PUPUH XI KINANTHI 01 Warnanen Lutungkasarung.

la bagus suwarnanira. kang sira dhingin prajaya. tan eca guling adhahar. 10 Dhateng jabang bayinipun. enggal ngunus pedhangira. aja tungkul eman nesip. tanpa kara-kara nuli. sinumbele kang prayayi. yen kengetan ingkang wngsit. kalangkung ing ruhing galih. wau amiyarsa swara. mulane engatna benjing. myarsa swara aruntik. iku jabang ora pejah. ing isun kalimat lewih. saiki dumama eman. 06 Mangkana pamuwusipun. 07 Sira iku aja tambuh. anak-anak maring ingwang. kang rama anyandhak aglis. angaras-aras kang rayi. cayane gumilang bening. tan antara dangunira. nanging besuk yen wis medal. kalangkung den kumadana. . ing marma tur eman arsi. 09 Malah sedheng babar sampun miyos lanang kang prayayi.Sang prabu Lutungkasarung. ing sajroning wetengneki. ingsun males ing sireki. asang prabu ta sireki. dinulang upan mandi. iya sun bra … luwih. 08 Pareng semana sang prabu. emar lesu les-elesan.

16 . sigegen ana ing marga. kalih garwa takon jabang. kang putra dipun prajaya. 12 Umatur ing ramanipun. maring mantu ingkang lali. 13 Lumajeng malah ambendhung. miyarsa aturing siwi. 14 Dadya winadhahan sampun. sampun kabekta ing warih. matur kula birat kali. Lutungkasarung alali. 15 Sareng wis binuwang sampun. kali cilutung ya nyata. Purbasari aningali. wis kabekta dhateng warih. nembe siji dipejahi. wus sirna kagawa warih. pethi winuwang tumuli. anjerit lumajeng agasik.11 Prandene tan pasha iku. punika mejani putra. ing lepen cilutung sirna. pon tan kena ing pati. ageng santer ilinira. arawuh kang rama neki. karsa ingayun ing rama. kang putra den wasa-wasa. sang prabu Ciyungwanara. prabu Ciyungwanara aji. kocap kang mrajaya siwi.

dewi Purbasari lilir.Yata prameswari wau. Purbasari aja sira. prabu sepuh ngendika ris. sang putrid dadak sakala. sajrone wau kantaka. awake kang gadhang niladi. prabu sepuh ngandika ris. 19 Kang bunuwang iya iku. papasthene jabang bayi. . 20 Sang cinta tan cidra iku. den pracaya kang murbeng bumi. 18 Kawarnaa sira sang ayu. prabu Galuh duk ing dhingin. ing manah wus palipurna. ana ingkang swara jati. kudu anurut ing eyang. kang gaib luwih ningali. besuk bias muter nagri. Purbasari sawunguning. egar suka manahira. anyuluri bapanira. embaning turun ingwang. pon isun binuwang dhingin. kang mratuwa den unjungi. kasirep lelohing putra. sampun ngunjung kang ayugi. besuk titenana mangkin. tangto kena ika dhelap. 17 Kali iku ing ramanipun. 21 Angunjung kaliyan kakung. he mantu wruha sira. si jabang mangsa amati. Purbasari nibang siti. prandekane iya welas. melang maring anak siji.

enggal sira anampani. maring dalem Kenya puri. 26 Purbasari nyingkira babu. kang aji pamerdaning. mratuwane kang ambabar. karana sabebet kita. enggal Purbasari memba. ing rama prapona benjing. pameradan pocapaning. kandikane sira nini. panukmanira lan laki. 24 Angadika prabu sepuh. sawadose kula ngalap. ya sang prabu Ciyungwanara. sebab sira ora pacak. sabebet kula Santana. Lutungkasarung aturnya ris. boten susah angilari. yen dugi ing ajal kula. ora aliyan panukmaning. den idhep ing pameradning. alalise iya merad. ing Galuh ora na liyan maning. ing ilmu pameradaning.22 Rama Galuh dun rumuhun. 23 Sih jati waraha nuhun. pungpung saiki purnama. ki mantu la tampeni. 27 . manjinga ing dalem puri. 25 Yata prabu Lutungkasarung.

sakabeh-kabeh tan kari. kawarna ajabar. oranana ing rat jagat. kang dhingin binuwang mangke. aji pamedaran. 03 Tukang pethes peres ingkang luluhur. 02 Pan sinegeg caritane yan sang prabu. onya ing sukma lewi. gumilang sarira mami. PUPUH XII PUCUNG 01 Prabu Lutungkasarung wus tampi wuruk. wus rumanjing kayangan kipethes peras. sukma rasa sukma larang. purwa saking mratuwane. jati wisik ingkang yugi. ungelling ingkang piwara. lenyep ilang dat pes ilang. sang jabang wus panggih mangke. den openi dening ki Pethesperas. 28 Kadhaton tanpa gon iku. gumawang tanpa cantelaning. angles-les angluwar ragi.Wus tanpa Lutungkasarung. awor daging awor getih sumarira. 04 . buhaya bangawan ika.

bias rarasan basane. bapa aranan reki. pan tembene mung ta iki anake sapa. inggih iyang iku nama wis prayoga. ngerti dening basane. duk umur sawulan. ingga iyang bapak ikut namaning wang. 08 Pan katelah ing desa pethis puniku. 05 Jabang bayi kangucap abeluk-beluk. besuk mengku bala. bapa y ailing wang. bocah patut kasurupan. 07 Patut iku ana kadadiyanipun. bocah cilik bias. patut ikut tuturunan ing kusuma. kasungsun arane angger. esaktemening namane. 06 Kaki Pathes peres nembe tumon rungu. 09 Cilik-cilik bias rerasan satuhu. wis koncara inga iyang ingkang nama. dudu bocah salumrahe. anak pupone ki tukang. kaya wong tuwa basane. . ngerti dening basane wong pathes desa.Dipun aken anak jabang bayi ikut.

dening wong nuli gacike. umreg wong Pakuwon. 14 Iya nuli ana maning nyata timbul. katular-tular wartane. Lingga hiyang ika.10 Ya putute yen selamet urip tuwu. silem ilang yen wis sadina rong dina. tungtu besuk ika. yakti ika tengeraning andana wirya. den parani ika. dadi raja suntangguhe. 12 Wong kang paca ningali gawok andalu. lalayaran pangameng-amenge. bocah apa setan kene. 15 . 11 Lawas-lawas pareng umur tigang tahun. udan angina mudhik milir nunggang buhaya. 13 Nurut bae buhaya sakarsanipun. katur maring sri bupati Pajajaran. paparahon buhaya putih tinungganga. mung tai ka apa.

kasur bumi mega kemule. 18 Maring kali Cilutung kapanggih wau. Lingga iyang mangsuli kula punika. sapa sira kang ayuga. dadi sirep kang warta. buhaya putih tunggangane. sisikune ratu ratu mandi salah dadya. wong ningali padha wedhi sadaya. warta anak setan. . kaliya ing comas pandhe. lola dhiri kula. wedi bok den salah artos. 17 kawarnaan ki empu kang namanipun. ki Calancang nama.Engandika sang prabu Lutungkasarung. 19 Sira bocah cilik saking endi kacung. 20 Kula lare tanpa bapa tanpa ibu. lagi eca paparahon. lagya ngalenthung miminggira nang walahar. 16 Ya gustine pareng nabda semana iku. kali bangawan kang nusoni dhateng kula. pan sinawanganing ki empu calangcang. lare ingga iyang. neng bengawan priyangga.

Lingga iyang ing namine. nyi Calangcang girap gawok. 25 Lawan iku sapa ingkang duwe sunu. Linggahiyang teka dumulur ing karsa. bangkit yen rarasan. 26 .21 Pun buhaya kanga sung tedha puniku. padha maring omah ingwang. 22 Nembah tumon lare nabda kaya iku. inggih wasta kula. patitis ing wicarane. prapta wismanira. 24 Ki Calangcang ngiring wus dumading aku. datan weruh embok bapaneku bocah. manggih pinggir kali gedhe. nyata iki tereheng andanawriya. dika iki olih saking ngendi bocah. sun aku anak temene. 23 Empun nabda sira sunimponi kacung. ki Kalipa andaringeng manah ira. winangsulan enggal.

kasur bumi mega kemule. . kula purun nalang. 27 Nyi Calangcang nabda bok den salah tanggu.Sun takoni wangsulane iya iku. 30 Ki Calangcang Nyi Calangcang getun-getun. ana bocah bias. patut ini dudu bocah samaneya. welas ati sun ajak mulih maringwang. inggih kula kang tango bala witanya. dipun pracaya si embok. maring empu Kalipa langkung minulya. 31 Iku bocah ana kada dene besuk. Linggaiyang ika. dika nemu bocah. abentak lawan sang katong. dika dadi den tareka nyolong anak. 28 Toli dika ing sang aji ya di ukum. den tututi wekasane. tan duwe bok bapa. rarasan ingkang samono. Linggaiyang nabda. dhasar enggih musuh kahula ing kuna. ngaku bapa ngaku embok. 29 Banggi bapa kikukum dening sang prabu.

Linggaiyang umur rolas warsa. wesi wus brapikul. la dingo apa iku. bapak embok sampun tan pracaya. kukuh kikib agarba. 03 Ki Calangcang Nyi Calangcang angling. jar ai wesi nurut. watu ingkang kinarya. mung ta sira kacung gawe omah. omah wesi aneng wanadri. iku teka reremane. wesi ing ngalas genahe. saktine sang Linggahiyang. gisik bapa sampun uning. dadi apa awak ira. karana lare iku. omah wesi nem dina sampun waradin. pan sinambut palastha sadina becik. Linggaiyang ora kakurangan. dhateng kula ingkal awon. yen iku karungu. angrebut bapa biyang. aran wana Cikandhang. wesi lir lempung kewala. digjabenduning ratu. pun embok tingalana. ya si bapa si embok tan wurung dadi. milu kara baraba. 04 Linggahiyang wangsulane aris. aja patiya sugih wani. dumadi kasugiyane. angrewangi agawe wesi. angalasan awangun. wani mati kendel wani ambelani. agaweyan kang tahuna. embok sisikuning raja. ingkang aran Linggaiyang.PUPUH XIII DHANDHANGGULA 01 Nyi Calangcang sajege angimponi. jogede kang sunu. 05 . 02 Lawas-lawas kirane andugi.

ya kene ginegem ginelar.ora lawas la ika tumuli. tiwas temahipun. kang adi warna lekere. ya iku dhadhak sakala. dingo apa teka sun maras kang ati. iku bale ora karuwan maning. ing basane arep males ing sang aji. 07 Ya sang prabu Lutungkasarung linuwih. kasuhur ing kasaktene. kula ngilari lalangen. Linmggaiyang patute iki. ya ra pon dipun siku. kadengangan ingkang kula ajap. dening si namanipun. anaking bramana reko. ki Calangcang ta ingucap aris. kacung iku dingo apa gawe bale iku. ya wedi maring nata. mring bapane mau. Linggaiyang apunjul. dhasare ratu Sundha. Linggaiyang wangun rante tosan. lan kena dienggoa bebenting. riringganing nagara. tur ta ora sanyatane. akeh jalma padha kagawokan. bale rante bagus. yaw is aja ilok gawe tanpa tut dadi. 06 Dadi rante anjiret kang linggih. sapa wruha bok kadengangan. nititeni apa iki bocah. nunggang tawa musuh. 09 Pan sakedhap ki Calangcang ngarti. mrajaya bramana Lingga. lemes kadya tatangsul. nanging yen digelar dadya. sira katiti luput. wong tan dosa mamateni den pateni. buktine kakecap menga. ing siasating nata. . sung sengge iya nyataa. marga anglanggar narpati. nanging lamon lininggiyan. ika sang ratu apa. jar kasndhung ing arata. 08 Linggaiyang matur boten sanggi. seja males puliya. tanpa bayanya lampahi.

11 waktu iku tinabuh den titir. ora idhep ing karta jani. matanira baloloken mataning pring. para mantra datan upaksi. alun-alun jembar tur radin. nyana sang ratu sumered. ngaku waris nalendra. katingal sanyata bocah. waspaos andulu. sira kang selang gumun. bedhul sapa kang mrentah. yen tan pejah nalendra. aje kakeyan tutur rujak gendhen gelis. andher ingkang aseba. kaya cumra si tembe wara. mring alun-alun puruge. pati-pati manira wani-wani ngaku. datan kena tinabuh puniki.10 Ora suwe Linggaiyang mijil. pusakaning Pajajaran. 13 Nitir ganjur pusakaning aji. pra mantra acingak. pancaniti penuh. mada dudu ponggawa. mung ta anganti apa. sawaneh ingkang angucap. mung ta sira deleng apa. bubuyute ajur. sudi wani angunggahi siti inggil. nakal si gila basa. ya rinujak ing wong Pajajaran. atandha sing enda-endi. munggah ing lemah dhuwur. geger samya bala Pajajaran. surak ing wong iki bocah saking endi. 14 Wong Pajajaran surake la iki. pan ratu agung ing Paku. wis karuwan bocah iki ala. sanyata kethek beruk. sumantana si tai anjing. sarta nggegem arante mandira. kadeleng apa si monyet. anabuh adhenggung. ya saking waris manira. umreging bala agung. Linggaiyang wus ngangkat. 12 Iya sira ngajaraken nangkis. budine lawan anggkohe. . Linggaiyang wangsulane.

den titening talata. puharane dadi majikan. dadi roro den pindhoni. gagamane wus padha malesat. ora kena saloro ngarti. kang malesat dening padha densepaki. sigra amiyos enggal. ya batur dhengawas aja saloro ngarti.15 Pajajaran kang bala ngebyuki. dening sang Linggaiyang. akeh kang para ponggawa. sapisan madhuwa raga. dadi padha sap maju. nyandhak bocah tan kena kenging. kang dhingin denkaropoke. 02 . 17 La yen isun iki sun pikiri. bokmanawane kuhana. angliga dhuhung Linggaiyang den suduk. ki patih rang-urange kapental. dudu musuh iku. sawaneh para sepuh. PUPUH XIV PANGKUR 01 Dupi sang nata miyarsa. bok iku susupaning bramana. ibur lir pinusus. ingkang padha awangun piker. 16 Saya dangu saya angranohi. la iki timbulipun. kaprimen den wis tanggal. iya bocah iku. angluwihi nagara. lir nyekel wawadhangan. pada arontok sakabehe. ya kaprimen den wis metu budine ngancil. geger gumuruh kang anan Jawi. sang prabu Lutungkasarung. demene iku bocah. kapental ora menange.

aneng bale rinengku ya pinikul. anggotong kang babaleyan. prabu Lutungkasarung wansulanipun. Prabu Lutungkasarung yata aja tambuh. suraksurak ing sapanjanging dalam gung. wonten ing pagriyan wesi. sapuruge gustinipun. iya isun eling pisan. ing rante tanpa sesa. ya iki pamales ira. 06 Para ponggawa Pakuwan. gumurudug iku padha tut wingking. sang prabu ngebyuki padha. dadi bocah nembelas. bramana Lingga duk wingis. pa wus dadi akeh enggal ngarubut. yata lare pra samya. Lutungkasarung pinarna.Sinuduk pan dadi papat. dening lare kanembelas. den babayang den suraki. den bakta maring alas. lare nembelas surak kasruh. buang jabang aneng banyu. 07 Wus pinutup tanpa sesa. . sulurana lungguh isun. 04 Basane lare akathah. pining pat panyudukipun. ya sang prabu Lutungkasarung lali. ing kali cibayabang. la ya kita jaya. 05 Iku ing sakarep ira. kedya wong den panjara tan bias mijil. Lutungkasarung wus lungguh. ing Cikundhang goning omah wesi mau. tan bias polah kawingkis. pan si bapa uwis seja sumingkir. telu kena ing saiki. pining telu dadi wolu sayakti. braise kalaras aking. lininggihaken ing rante wesi. 03 Rinejeng tanpa wisesa.

08 Yata mantra Pajajaran. samatuke saking ngriku. 10 Ana ing dina wekasan. ya sang prabu Ciyungwanara puniku. 09 Ing bocah iku kang nyata. 11 Bale rante bus malesat. den idhep angaku gusti. he wong Pajajaran sira. hadan Prabu Lutungkasarung amuwus. mulih maring ajala kasuciyan isun. amengkorog sarta mealakken buntut. dening bapa ing laksana. 13 . musna ilang tan ing ngaksi. sang prabu Lutungkasarung. 12 Kulawarga Pajajaran. agadhaton tanpa genah. mesate ing jomantara. padha ngiyung ing Linggaiyang ngapti. ing bocah nembelas iku. lawan patinisun benjing. Balerante iya iku. dupi manira pejah. wusing nabda samana adanuli. wus polih dadi sajuga. tiba bumi mila den arani. andaringen ningali pohal-pahil. wus mangkana lare nembelas pun wau. karsa medhek ingkang eyang. ing ayunan rama aji. wuryataning akuna. anak isun sing rayi Purbasari. mereh kadya wanara. prayoga gaganti isun. kadi duk wau tumuli. Purbasari wus ing kana.

lan Ki Dalem Tegaljamang. istrinana dumadiya susuluring. 15 Maring iku anak ira. Sindhangkasih nama dalem Somaluhur. 14 Purbasari lan momonga. Linggaiyang binakta mantuk dening. 18 Lan Ki Demang Dhungkabadhag. Dewi Purbasari agung. sinauran dening jagad.Wus kempal amatepungun. papatihe winastan. sami atur sembah sadaya sumuhun. anake kang mikarani. katemu maning denira. saikine sabetahan ya tinemu. Kyai Patih sempokwaja parab ipun. kang dhingin dibuwang ngebur. anakira Linggaiyang iki. sing bangdiwenka apa. prabu sepuh Ciyungwanara angling. sanak medhoke sang aji. bandhu warga kawula iku. 16 Samantuke saking kana. la ta bener ujar isun. Ki Ngabehi Kolotbuntut asakti. wus prapta pura Pakuwan. den becik sira ngopeni. ing istrenan sampun sira ngadeg ratu. geter pater ketug muni. . merade saking panjara. Lutungkasarung anuruni rama Galuh. ingbangawan ya ika. ya tai ka kang liningan. ajujuluk Somahita. 17 Ratu anyar Pajajaran. katumenggung Jatipamor sakti. amurba Sundha negari. jeneng prabu Linggaiyang. Linggaiyang Sinarojang Bupati. bapane ingkang wus lampus. wong sanak singraja Galuh.

kacarita ora jengjem mengku rabi. kang katelah sesebatan. pan sakehing istri sisiriha maju. parandene yen kacebak nuli mati. ora mati kaduga ana titis. sing awadon kang karungrum. 21 Kapokoh pinaksa-paksa. gih manjangan gumarang sing naminipun. taliti purba wisesa. kang den wangking angemasi. wedi yen den rabenana. ya babar pisan pejah.19 Ya sang Prabu linggaiyang. katarajang Dakar waja landhepipun. amedal pamore mandi. PUPUH XV . kaya keris landhep pisan. ana ingkang kasebat. pramila ika sang prabu. La yen santek esir nora pilih lawuh. 23 Selir kidang lan majangan. Linggaiyang dumadya. saking kono ruru ira. kang tumurunita besuk. akathah selir kawangking angemasi. padha babar pisan pejah. wados ginawa sarasmi. 20 Dadya pirang-pirang garwa. mulane nuli nedhaki. prayayi kang katurun. besuk ana katela ingkang nami. kang den wangking ingalulut. kidang manjangan den jamah. 22 Kidang manjangan kang nyangga. waris Yang Sundha negari. kang prayayi kang turun kidang pananjung. taliti turunan aji.

nuli ana jati wisik. bagane wesi atutup. Linggaiyang jalma wudhu. rabine si Lingga aji. among Linggaiyang sayakti. la iku gawanen rabi. robbana lan panglamar. ika Dewi Brajawati. patut den ika dadiya. 03 Namane ingkang sinebat. ing pulo gunung surandhil. jar padha wesineki. tan ana musuhira. karana Brajawati. 05 . kandikane isun rungu. dadya tandha rabi. marawani saking atose kang baga. coba ta sungsungen iku. katalihatma mokal tan pasrah. 02 Mangkana lawan mangkana. kang eyang Ciyungwanara. mung ana wara gatra. ing anguling ing sarasmi. Purbasari tumon putra. kasulur tan ana bangkit. datan jamak lawan jalmi. 04 Duginipun ora liyan. kawagang ing sarasmi. acombana istrine nuli apejah. pitutur kang sajati. angandika ingkang siwi. iku duwe anak wadon kang anama. ki bramana tali atma.SINOM 01 Iya iku kang dumadya tan sakeca ing sang dewi. sacombana lawan ika.

ki bramana taliatma. duta maring kasabrangan. sang prabu Linggaiyang. mangke karya angimponi. ingkang pra menak prapti. meng sampun kirang pamuhung. Ki Ngabehi Kolotbuntit. sarma bakta palwa sapta. sarta ngesrahken adi. Danyang Brajangkawat.Ya ta prabu Pajajaran. wus ana ngayunan. nayangger Pajajaran. lare istri badhigal. ing mana suka arena. ing pulo gunung surandhil. ruruba saking Jawi. pecile tiyang dherwis. dhuta raja ing Pakuwan. kali ira ingkang siwi. Patih Sempokwaja wau. barang saking Sundha katur. Dewi Brajawati kang dinuking karsa. denira bramana luwih. derenguning tata Jawi. 06 Ingkang sami kesah ika. karsane aminta krami. sedhah panglamaring ratu. maring bramana ana ing gunung surandhil. pinanggih bramana aji. kang isi panglamar aji. ing pulo gunung Surandhil. sukane ingkang nanamu. katur ing sakarsa aji. Linggaiyang sampun niti. nata sundha nayangger mung gamulunga. sinuba ing Linggi. 08 Lamarane wus katampan. 10 . 09 Bramana aris wacana. ponggawa kang den titi. tan kawarna layare aneng sagara. Jatipamor apa maning. 07 Kocapa sadhatengira. kalawan katumenggungan. ki demang Wukubadhak ingkang sami layer.

11 Den sampun kula petak. karana pidhanget kula. 14 Dhayang parwatali nabda. 12 Sukaliye pinuturan. sigra petak tumuli. sakarone wus. dados wudhu ing Sundha den antuk wiring. Dangyang Brajakawat nabda. anglalana ing tawan. mangsa ngijira sang aji. mung wonten melang sakedhik. ana kang sudi santosa. sebab ika sakalih. ngumbara ing karsanipun. minggah ngayunan rama. 13 Malak mandar darbe tedhak. ingkang nama talibarata. sarananipun wesi. lan kang nama Prawatali. sukane adhinira. sakalih nulya tumurun. ya subagja adhi sinarwehing nata. ya ta bramana tali. Pajajaran maringi sedhah panglamar amundhut. . adhinira Brajawati. Prabu Linggaiyang mangkin. putra sakalih ngastuti. pun adhi Brajawati. ingkang pejah dinahar. tan mudhun-mudhun ing siti. jaler Dangyang Talibarat. jaler Dangyang Parwatali. wewesen sarananipun bilih sang nata Sundha. sami tedhak ing ngawiyat. Prabu Linggaiyang sami. boten amindhoni malih pramilane angupaya tandhangira. den saingga wonten damel kula petak. angantos kadange malih. pinten-pinten selir lampus. amangku sundha nagari. tangtu punika sakalih.Lan malih mangke sakedhap. mange boten miyatani.

kalangkung ing rena ipun. ing karsane rama yugi. atawa ing tan purun. ing parahu kang den apti. aneng nagri Sundha ingarsa sang nata. Brajawati lalayaran maring Sundha. dados kita kesseman. punika ingkang nglakoni. den piyambeke kinarsa. kalawan sang Talibarat. ya ta bramana Tali. bokmanawi mangke sigug. kahula liwarsa demi. kang angeteraken rayi. ing wedra kirang panari.15 Dhayang Talibarat nabda. awon penes panitihing. . genya layar enggal prapti. wongtuwa datan pejah. 18 Brajawati wus pinuja. kahula amdherek maring. 16 Ya ta DEWI Braja rara. Brajawati aturnya. ing jati dipun dandosi. tan kaping kalih adhi. ing manah kalangkung sukur. 19 Kering marang sang potusan. dadya turun rena ngaturaken putra. sing pulo gunung surandhil. saking Sundha angsal kardi. angsal putrining bramana. sarananing katewangan. ing ratu Sundha negari. paran ati lumiring. 17 Kahula darma lumampah. putri Sundha negari. sakarsane andherek dhateng jeng rama. dening kadang kakalih. kedah tinaros kentasa. giyak-giyak anembang. re kang putra sumandha. Parwatali namanipun. boten dados basa jadra ponsasmata. punika sampun tinari. kranten dede lare alit.

daginge benyo ayiyid. kadi sutaning bramana. parandene den esiri. mulane arjaning krama.PUPUH XVI KINANTHI 01 Sang prabu Linggaiyang langkung. pinangan dening manusa. kang ora jamak dening. kadut den kocok kaduga. mung den panjingaken dening. malah sampung Brajawati. 05 . ora lawan minatengan. oliye alaki rabi. lanang wesi wadon wesi. den enggo embut-tembutan. kunyuk mati den tonyoi. dening Linggaiyang dadi. 04 Kulite deng masih wulu. wus angrasa katimbangan. salamine anggar binim pepengene warna-warna. dharahe den palothoti. 02 Bobot angsal pitung tangsul. mangkana den kadengngangan. rena karawuhan putri. 03 Kapengen adhahar kunyuk. ora den sembelih maning.

dumadi kanggep alaki. mangkana yen kadengangan. Brajawali enggal dadi. Parwatali Talibarat. Talibarat Parwatali. teka eman teka sih. ora kaya Parwatali. ningali dhateng kang rayi. 09 Lami-lamining tumuwuh. kang sengit dumadi welas. Brajawati sajen maning. sing awang-awang tumuli. kumokod babalan pisan. ing cacing urip-uripan. pepengen ing dhaharan. pepengene sajen maning. 06 Anulya sigra tumurun. atumon ipene runtik. kang sengit babalik asih. kang ngusap ing bathuk ira. 08 Den kadengangan sang prabu. dhumateng sang Braja rara.Sedhot hawa manah ipun. mring nata girig sengit. kang mungga kirig ika dadi. kang ngemong kadang kakalih. angusp bathuking kadang. den dhahar urip-eripan. tengtu lelet den patheni. 07 Lami-lami ning tumuwus. den tutulaken ing petis. ora kaya Braja rara. Talibarat ngusap muka. iya timbul sengit maning. cicindhil kang masih abrit. 10 Tan kaya yen wus tumurun. .

godhog rontok rug-rug wit. ora nama liyan maning. darbe manah tulak serik. ora sabar angenteni. aja dumeh anduluri. ana kang dadi kulilip. 13 Pira wareke wong munggu. lawan ora arju margi. nandhang sekeling wong tuwa. Lutungkasarung kalindih.11 Lami-lamining tumuwuh. 14 Ari iku sawat-sawud. wani wong tuwa si setan. apa layak anyuluri. dening Prabu Linggaiyang. pangganggo asu griwani. mapan den mepes kang yuga. 12 Re kang putra wau lampus. mangsa lawas angartoni. duduta beyating jalmi. kaya ta beyating jalmi ditya. iku kang Lokambadhigal. Suhunan Panggungkancana. angrumpak turus abecik. dening parecel kumaki. maring karajaan Sundha. 15 Mengko uga tanggu isun. 16 . ing sirrane kang yuga. nagning ora arju margi. pasthine ya sinangkasal.

tumon nambakaken rabi. kapokok broktak dening. 18 Teka anuli den jaluk. . ngambingngambing rabi mula. sutejane wong abecik. ana nyana tapak angin. kang lagi penyakit elik. kanggo surup nganggo kedhing. ana kang ngarani teja. ya ika bramana kaparat. binatang si tai olih. 17 Wondene Lutungkasarung. di akon nganggo wajani. ika dadi banaspati. malang-miling saban bengi. anak lagi duwe pejah. bramana Linggabuwana.Anduluri sota iku. la iku lebune apa. ora paido wong lagi. semaune amateni. samono lagi ngalahi. 20 Mung ta apa murub iku. wong tuwa kendhang sangaja. 19 Nah kala napsune metu. nyingkiri wirang lan isin. 21 Waneh angrebut kang dudu. ana nengge lintang ngalih. parek maring sulaksana. waneh ngarani kamangmang. deningan sinaban bengi. ngejer ana ing gegana. katone ing wektu bengi. wong Pajajaran pra samya. kaya latune ing lintang. kaget ketembe ningali.

angideri tataman. nelasaken agiyak-giyak. sang aji atilar guling. anyarengi sri narendra. anggending jala wekunyit. patelesan cindhe jenar. yen purnama tilar guling. lawase wis sangang dina. yen combana lan istri. ing pancuran sanga sami. pareng wengine tumuli. 25 Sabab agamaning Galuh.22 Parek ing lintang kemukus. kesel sira ganti siram. datan bengi sawatawis. yen tanggal pisan apantang. purnama sajroning putri. para bibi para inya. murnama dening ring-ring. siweg bobot madhang sasi. 24 Ameng-ameng ing lalangun. 27 . kalangkung ing suka ati. apantang barang den bukti. Linggaiyang sami didis. yen tengange lawan pajar. rembesa angulinting. 23 Kalih garwa ingkang wau. 26 Sadangune ing dalu. waneh ingkang makidungan.

gapuh aris kandikane. awit suka teka dhuka. 28 Wong dalem geger gumuruh. tema warna banaspati. sira momonga anak. namber lir kilat sayuta. Brajawati karuna jrit. 02 Jodho lawan putu mami. awak ira wuseng arja. tangise kelangan gusti.Kang murup-murup sing dhuwur. sasirnane lakinira. Linggaiyang sirna lalis. tarimane ati nira. kudu mung samono sira. lalayad wusa ing waya. e-putuku Braja rara. PUPUH XVII ASMARANDANA 01 Prabu sepuh atitilik. ingkang gedhe pangrekdane. kantaka ping nem sadela. wus papasthene Yang Agung. mung siwewetengan ira. susulure ramanipun. salamet besuk yen metu. dhumateng jongging sawargi. wuwusen lamonika. 04 . mangksa dadiya sangsayane. 03 Aja sira gawe ati. iku kang mangko gadhang. estrenana madeg nata. den samber sinawa musna. den salamet urip delap. kagete kelangan laki.

ya Talibarat matur sandika ing karsa nata. seja denjaragan sirna. jaga kaponakan nira. atos kabina-bina. nyata ika lamon watu. ana nyempad banget kelang. ana melang lara busung. pinarcaya sira gupuh. yuganira tahunan. maring Brajawati wau. 08 Dhudhukun ana anambani. ora kajamak lan jalma. ing ngarsane sang nata. kawasa sira murbaa. Brajawati dening sejen. duk lagi ingucap teka. tumiling ing awang-awang. wewetengane si rara. lan ika sadulur ira. iku padha den kareksa. banaspati kang manglawe. kaponakane yen metu. 09 Ya ta lamining lami.Ing sacangkoke sudarmi. seja ika nyambera. . isun pracaya ing sira. ana nyempad nyata jabang. dadak sakala turune. embok ana bala wita. loro becik jagaa. kadika Ciyungwanara. ing jero garba punika. apa lakinira bae. 07 Ya ta lami-lami. sawane atur usada. 06 Talibarat den abecik. dening si goronjolane. ana maning duracara. saking awang-awang nembah. Parwatali aja gape. 05 Talibarat Parwatali.

Brajawati nulya babar. menak pra kuwu sumembah. anulak ing bala wita. salinggihe Braja rara. 14 Nanging ika obah mosik.10 Ora kaya Purwatali. Talibarat kang anjaga. kaumban roro sadulur. ana jabang tan jamak. galang-geleng ing tatampa. angreh Sundha sigar wetan. enggal rawuh prabu sepuh. apa ingsun cacangkoke. tanama wani pareke. den tulak padha kawur. tan ana amaling kecu. 13 Mangka dhateng waktuneki. 11 Braja rara estu kapti. baleger lir gandhik bae. waktu nata Linggaiyang. rupane ika kadya. sirna bala wita kabeh. karta buwana ira. kalangkung ya ing jagane. ana ing rat Pasundhan. maraja Ciyungwanara. galundhung lir gandhik watu. 15 . geger ing wong dalem pura. bales pati konangan. Parwatali Talibarat. ora jamak ing rupane. ora asipat ing jalma. prayayine dudu bocah. 12 Wus kadi raja pawestri. kalihira Talibarat.

ora kajamak rupane. girap-girap sabdanira. wong anak-anak bok apa. maring kang mengkono iku. la iki nuli kaprimen. iku kang wus ora nana. 17 La coba undangan gelis. manawi wus nemu luwang. ora endhas ora tangan. si Indhang Sakati ika. sugih reka pandaya. ambrih dadi manusa. ana urip tanpa rupa. tan kawarna ing lampahe. nuli kapara mentala. aja anerus simpangan. kang bener aja sarar.Aningali jabang bayi. iki jenenge apa. sudi gawe anak Sundha. ing mangko dadi susulur. pingnangeran ing jawata. akocap sapraptanira. ningali jabang lir watu. kamapmaja kamaptulus. ora guna ora gawe. ruruhe marga benere. dohena gungsu minggaha. . dening iku buyut ingwang. Gunung Sakati watune. 19 Gulundhung wis apa gandhik. 18 Sigra mangkat angaturi. sang kama-kama dadya. 16 Kapremen dayane iki. ika wong tuwa manawa. iku embok nyai indhang. ana obah ora swara. ting-banting aja na wuruk. jeng Nyai Sukati indhang. 20 Luluhur ingkang mayungi. gumaluntung kaya watu. kipya-kipyahe nyi indhang.

ningali kang kaya wau. 24 Den saiki sun arani. maring Dewi Brajawati. anurut ing kaki buyut. si Linggawesi namane. nuli kinetab kang pada. ambridelap agesang. jebol metu kang tangan. ambabar punang paesan. kamrala isi jabang. sampun kaya manusa. den kakacakaken gupuh. PUPUH XVIII . Indhang Sukati ngandika. 22 Sakedhap nuli anjerit. ana ing jagat Pasundhan. kalangkung sukanira. Brajawati tumon ing putri. nuwang prabu Ciyungwanara. jebol katingal endhase. wis kajamak lawan uwong. wusing kadi mangkana. ing jabang kang kadi tosan. kuranggeyan nyawuk-nyawuk. nurut jalma dadi jalma. 23 Jebol dadi metu sikil. si kacung munggwaya delap.21 Nuli nyi Indhang Sukati. atos-atos pra semone. 25 Sadaya suka ing ati. kinacekaken age. jabang bayi nangis ira. si buyut kang gawe aran. kanggo nunute si buyut. nuli sinembur den irag. sapurna wus sipat jalma.

kang paring kamarin. 05 Tedhakane kacung Linggawesi. asal sing kono anane. tangtu ical ruru. inggih kasuhun ing sihe nyai. dadi braja aris wangsulane. yen tan ana nyai. boten dados ewong. embok pulih watu. mula ja den kakacani. iya kacung kon pantang sandenge. poma den angartos. . poma-poma nini aja aweh. ora kena ngilo dhiri. tuwin ngilo caremin.MIJIL 01 Indhang Sukati awewekas jati. galang gulung wikan jenenge. saprakawis nuhun. 03 Pan mulane pantang ngilo carmin. tuwin ngilo banyu. sandenge tumuwuh. si kacung den eling. maring sang dewi reko. kakaca angilo. 04 Pulih watu lebar ingkang jati. dupi ika saking pun nyai. krana iku wong. saking kaca timbole dadi. panduman salamet benjing. 02 Ya pacuwan ilok akakaca dhiri.

prakara samono. pun kacung aemut. calapitaka lawan suling. pun kacung kapenging. kantun prabu kolot. den sampuna angartos. datan wande kula wanti-wanti. 09 Pan binakta munggah sitinggil. prayayine den baraseni. dening sang prabu. la iki dengartos. 11 .06 Inggih minanten langgeng pakeling. kang sumeja kula ati-ati. sinowara gelis. miwah ta ing benjing. 07 Kula emutaken tan ing benjing. den embang tumuli. kawula menak pra kuwu sakabeh. akaca ing besuk. lan kadhingdhang saruni salompret. 08 Ya tan Indhang Sukati wus pamit. ing basa basuki jalma kabeh. pinajengan agung. nyuluri kang lampus. 10 Prabu Ciyungwanara sru angling. angadeg narpati. iki jabang wus sun istreni. ing saweweling ing nyai sakabeh. Prabu Ciyungwanara langkung sukane. ginrabeg kabrabon.

atur sembah ing sandika ugi. ora liyan ingkang patut molek. pan gurumu samya matur inggih. ya ta ika karo. Linggawesi ing mangke ingistren. enggonira jaga ngati-ati. kaya mau-mau. arumaksa maring jabang bayi. kakseni den mangko. Parwatali Talibarat. kang babasan embok.Pan sinebut Prabu Linggawesi. anulya sang aji. ngadeg ratu sing jabang bayi. kang kalawan angati-ati. 12 Geledhuging gurbaning ukir. den becik atunggu. angandika reka. 16 Prabu jabang si Linggawesi. 14 Kaponakan aja sira cenger ngarsi. la sira sakaro. embok banaspati. Parwatali Talibarat mangko. 15 Sapa wruha nyamber jabang bayi. maring si kacung aji. enggal murud sami. ing ketuk anglugur. ingkang luwih patut. mung sira sakalih. ing Sundha sang katong. aja gampangaken salir gawe. 13 Nelakaken prayayi sartaning. prabu sepuh mantuk. ya pragul menak sakabeh. malebet ing kadhatun. sarta den sauri. .

umur tigang tahun jejege. dening iki majikan cilik. ingiling den tonton. sing aistri manjing. darbe manah berag ing pawestri. prabu jabang ing salami-lamine. 20 Dening ora kaliwat sawiji. ora dhing-dhing kelir. diwegira mangko. wadon padha turu. (?) kalekanipun. ingkang manjing tobong. iya padha den sirik sakabeh. wong jro pura agawok atine. dipun ingok-ingok. ingkang ngaubi maring. dadi enggo dodolan duwena. 18 Prabu jabang ya sang Linggawesi. kocap sang katong. sarta lamon ing mangsa ing wengi. ing tobong den susul. patute wus esir. yen waktu nyarengi. den rengkot den rangkul. 19 Pan bagane dipun rogohi. pareng tangiya iku nuli. 22 . Talibarat lan Parwatali. 21 Den wiyak kapati den grayangi.17 Mring daleme wus acakapti. maring wadon iku.

memetheti ingkang para istri. istri cilik iku. pira-pira puluh. wis gopek sakrangulu. langkung den gegembyong. ingkang cilik-cilik. mangkana sang aji. dipun wiwidahi. 23 Ya pinangrengkangi budi teni. burat ganda arum. 24 Den go selir ingkang putra aji. ing watara umur. warna-warni katon. kang cilik kang becik. 27 Karanane ingkang wus bibit. den embani sinureni. kang mragaga dedege gedhe. parandene prabu Linggawesi. ratu Brajawati age. saoli-olihing cilik. kang dhenok kang sempwo. kang wis sarwa gamoling kapti. sinijang abrit sakabeh. 25 Kadya sekara sataman kang asri. suk ing karsanipun. 26 Nelung tahun istri becik-becik.Den arasi den pareng ing istri. tandhinge pawestri. . kang putra samono. wus pating pancorong. kadya lintang gumelar aneng. tan karsa nyangkrami. den pantha-pantha adi warnane. langit warna ing para selir. kang ati sumonggon. iya sida kuwel pareng karasmen.

kang gamol gandhes acemol. teka ing karemenipun. 05 Padha bae gedhene lare pipitu. . methet ingkang sepuh-sepuh. bandhot menthonge ambewok. kaya adhine puniku. prabu sepuh angrawuhi. 03 Pirang-pirang selir kang adhenok cangking. bobot ana pitu wadon. canggah pitu bungahi ati. warnane rampak yen tinon. malah agung ingkang sami. 02 Ya pondhodhang dhadhinge masih sepanudu. ya ta ingkang ibu nuli. tumingal maring kang siwi. maring kang gedhe kang uwis. dadi kaya dudu siwi. kang wus marga kabecik. rasti kang pirang-pirang puluh. kaya adhine kemawon. 04 Teka wayah babar sakapitunipun. jabang pitu abecik. Ciyungwanara ndulu.PUPUH XIX MEGATRUH 01 Indhang Sukati awewekas jati.

pipitune sun arani. sakapitune ing benjing. lawan sawijine maning. 08 Kang sijine Linggapakuwan jenengipun. si Linggabuwana katon. kon ngudang kakang la iku. mutrani pipitu reko. 09 Linggaerang Linggamurti Linggarayu. 10 Linggawesi ngundanga adhi maring iku. Linggasana naminipun. la iki ya canggah isun. dudu kaya kang siwi. maring kapipitu iki.06 Kaya adhine si Lingga iku. ya maring si Linggawesi. iku sawijine maning. den kaya sadulur medhok. pantes mangko anganaki. karanane sira durung. 11 . Ciyungwanara ling aris. 07 Lanang kabeh ing sapitunipun. Linggasri namining wong. ya si Linggawewi iku. rong prakarane dha rapon.

kanggo gegerebeg ngunggu. . ya ikut kang raket ngayun. lumampah idhin sang katong. bari rampak gumariwis. 16 Ingkang mobyong kang empuk panggarapipun. menanten uga kadulur. turanta anak sajatos. sandika ing titah aji. 14 Prabu Ciyungwanara sampun amurud. iya sate masih timur. selire abentrok-bentrok. ratu ginotama mangko. kang padaha adhunuk-dhunuk. bala sadulur kumaritig. aduwe anak pipitu. 13 Parwatali Talibarat aturipun. gumredeg lir anak enthok. ana ta wong masih cilik. kang nyenyokar melok-melok. ing para selir kang ngapti. kang aputih kang akuning.Delap ika anak ira kang pipitu. kocap sang Linggawesi. kang cepol angaca piring. 15 Yen wis linggih ing korsi gadhing rinubung. 12 Aeng temen inglalakon ira iku. nalendrane sagegethik. lumayan rempeging urip. naging pangertose kadi. angraksa tedhakan aji.

angrambaka bokongipun. Kiyan Patih Bandhungkrayo. wani mati solot-pogot. ingkang bobokong anggeyol. 21 Lan tumenggung Sukabeling naminipun. wus tuwukan sagunging.17 Lan kang padha anggemeng kombalanipun. 20 Ya gul menak asribawat samya riyung. sagunge menak pra kuwu. 22 . andel-andel Pakuaji. ing Pajajaran muponi. padha anjum sila panor. Prabu Linggawesi mangun. sinaroja ing bupati. karsa kang para samono. wadon irengireng manis. kabelani pundha iku. 18 Prabu lare Linggawesi masih timur. asale saking Keling. karemane ingkang uwis. malih kapatiyan nami. bang wetan salir kumilip. bangsaning koja guludhung. ora nana liyan maning. 19 Prabu Linggawesi jengger tuwuhipun.

ana amengameng gathik. gurnata garungune bedhil. iyang-iyung kanthi wiri. 27 Yen wus tutug abuburu aneng luwung. waneh kang padha nalosob. . sadaya ambedhak sami. angungsen kidang apaul. 25 Pan tawura swaraning gutuk puniku. nuli samya ngundha manuk. 24 Ngayok alas arame surak gumuruh. 26 Alok buron kaburu-buru alaju. padha retak anguneni.Ki Demang Alurkoneng kang pinangka dipun. laradan alayu-layu. lan Ngabehi Tegalbibis. ting barisat sami lari. nuli padha ganti ulin. Menak Podhang Ujungberung. ana panggalan agacon. kang lebda karya ing kono. ting sariwik nganan ngering. amandhikudhing jamparing. sing kidul sing elor. abandring cohok. wetan kulon ting careluk. 23 Kang tut wuntat ing sang nata ngalor ngidul. paburuhe bangkit-bangkit. ana pingkal salih angrok. ameng-ameng maring luwung. pecat tandha adhir-adhir. cala bangir kang pada lok.

begog anjog langunipun. sapraptanira. 02 Milang-miling kumrab ana ing tawang. kang sadya anyamber pitik. 29 Rog-rogan ting bilulung ngalor ngidul.28 Ora suwe jajangkungan ngalor ngidul. PUPUH XX MIJIL 01 Sedangune suka-sukawan tu bocah. tan adangu tumuli. ana pingkal silih angrok. 03 Talibarat amapang ing awang-awang. padha tinangsulan. sabagi-bagiha ulin. pating kurenyang. . ing gagana galak. pating jalegir ing bumi. tan suwe ujungan kang wong. kang seja den samberi. sakabeh pan kena. tan antara ika. kadi ulung babahak. ageger ing tawang. kagandheng anjok ing bumi. Parwatali akali. banaspati ngarah aji. nuli areyog asrih. sakehe banaspati. ana wowolu dhustha. dodolan raraton umyung. ora suwe asukati. sumyak amobat-mabit. gumuruh pating jalerit.

raining kamang-mang. 09 . sang Prabu Linggawesi. 08 Sawengi-wengi tuwin sadina-dina. ing witing pakujajar. amelet anggigila. 06 Iler yiyid murub la ika padha. mana sabendhe mundelik. de go dodolan pranti. ing ameng-amengan.04 Samya tinonton dening wong sadalem pura. 07 Ting burangkang aneng witing pakujajar. lambe kandel malenthing. dodolan kamang-mang. amawi den suraki. eluhe wisa. mobyong-mobyong lir geni. lan kinepokan. awake kaya buta. ambebeda banaspati. rame-rame ingkang sami. sarta wong dalem pura. dadi ingoningonaning. ilate amedal. sikile nungsang ming nginggil. aeng temen sun tingali. wowolu banaspati. rambut maudag. kalangkung sukaning ati. ing wengi suk awana. 05 Untunya ngisis baris sakampak-kampak. asuka-suka. padha cinancangan. sang prabu Linggawesi. nata Pakuwan. marakbak kadi geni.

lan Talibarat. munggah suka akasmi. meraja Banaspati.Banaspati lamine den ingu delap. pala karta Pajajaran. 14 . jengandika cang-cang. kang ukum pejah. meraja Banaspati. 12 Rencang kula wowolu kang dika cang-cang. kang muga-muga. kaparing lamining lami. reh ipun sampun lami. kabeh dipun uculi. den go ambuwang jalmi. mangkana ya ika. he madigda Parwatali. saparti ngingu macan. 10 Maring iku adat purba Pajajaran. den pakan lawan daging. den pakakaken belis. kang ukum pejah. den pakakaken belis. kapareng lamining lami. endhas kang sira ngusap. daging buron alas. mangkana ya ika. pala karta Pajajaran. lawan Talibarat. 13 Maring iku adat purba Pajajaran. den go ambuwang jalmi. kapanggih sira aglis. kokalan ing druhaka. suliha tedhak. sedheng dipun apunteni. 11 Sadya nira angrebat ing rewangira. lan ta ana jalmi. suliha tedhak.

kokalan ing druhaka. rantenen pakarsa ngolahi. 19 Tan pracaya sumangga atetep jaga. kang babasan aja. . kula kang dadya. sok nang gunung sok nang pasir. 15 Rencang kula wowolu kang dika cang-cang. lan Talibarat. 16 Gih sumangga kabeh padha sarat tobat. ungseden maningala. he madigda Parwatali. munggah suka akasmi. kamang-mang jaga. wani-wani gaweya. kemit maring sang aji. reh ipun sampun lami. kang muga-muga. 17 Pan sejane banaspati satedhaira. tedhak Pajajaran. 18 Pasthi iku banaspati iku jaga. jengandika cang-cang. dumadak lirwa jangji. sedheng dipun apunteni. duriyat Pajajaran. den pajahana mangkin. endhas kang sira ngusap. saksining seja pati.Sadya nira angrebat ing rewangira. balikan kudu jaga. kabeh dipun uculi. Ika kang sinambangan. ing duriyat Pakuaji. tan genah wani-wani. turuna Linggawesi. ingkang kadi wingi uning. kapanggih sira aglis. ingkang anak putu aji. lan sanadyana. ing ngendi prana. lawan Talibarat. lawan sumpah kang candri.

kang kakayon ana hing. ngaturaken ingkang abdi. nangi kita padha.20 Kula boten lajeng nanggel kang acidra. banaspati wolu sami. pranjangji lawan sumpah. cat katong dening jalmi. banaspati padha. kang wolu banaspati. mejahi babu pribadi. nguwel-tuwel kadi geni. nembah dhateng sang nata. suwawona ing tetelar. 22 Parwatali Talibarat ing sabdanira. amintal usul ing abdi. kang pangawula. den culaken tumuli. 25 . gubug sawahan. Yang Maraja Banaspati. yen mangke cidraa. rumaksaa ing jeng gusti. 24 Pramilane Pajajaran akeh kamang-mang. manecat ilang. Talibarat pon ugi. prajangjinira. dingge punapa. seja apracaya. kula dhewek kang tandang. 23 Iku dhateng banaspati wolu sigra. 21 Ya ta sira Parwatali seja marma. anguripi ing wewering. yen mangkono ya becik. maring raja endhas bang.

amung samemedeni. 02 Pramilane Praburara Linggawesi. ing wuri tat Linggawesi. angleledhek wong ngarit.Ana meled-meled aneng gubug-gubug padha. jar bangsa siluman. kamang-mang padha angiring. duga pegel kang lumari. mangkana kang adat. yen kekesahan. mogok kang den baleding. satedhake sang ratu ing Pajajaran. 03 Mobyor-mobyor kaya obor atut margi. tan amikara. 04 . gelethak dadi lupi. napase kesotan. yawis tobat. satedhake dadya pangregep kewala. ing lampah. PUPUH XXI LADRANG 01 Sadangune suka-sukawan tu bocah. gone gigila. malayua genudhang. nanging kamang-mang cawiri. 26 Kamang-mang tinangkeb lawan keranjang. ing wengi kang peteng nuli. ya kamang-mang pinangka damar ing lampah.

ya kamang-mang iku endhas kewala.Ya angraksa ing sabandu kulawargi Pajajaran. sakabeh sinebut nami. rantab-rantab sakabeh namane lingga. 06 Wus prajaka yuswa umur salawe warsi. Linggarahayu kalawan Linggabuwana. . 05 Yen tawiri kamang-mang awake paksi wus marena. sabagi-bagi. 09 Kang pinangka bala ratune Linggawesi jenggerjagat. 08 Kapitune wus alinggih bupati namanira. pipitu kadi wargi. ingkang putra. Linggaerong Linggamurti. iya iku amengku purbanagara. kang kaprabon pipitu ing Pajajaran. awake manungsang menginggil. Pajajaran duk jamaning. 07 Linggapakuwan tanopen Linggasari Linggasana. kawarnaa Prabu Linggawesi nata.

10

Iya iku sang prabu Yang Linggawesi Linggatosan, babalik remen ing alit, maring wadon marucupe lagya.

11

Ingkang durung susune kumaringkil, wadon ingkang, masih rata kang pepenthil, kadya kaya susuning bocah lanang.

12

Wau pupak ya iku kang karemani dadya ika, kang ibu amemetheti, wadon cilik wus angsal kang kawandasa.

13

Gumariwis pan kaya bebek memeri agiringan, sagendhongan kumraritig, denpahesi sandhangan kang adi pelag.

14

Dadya susah ingkang ibu Brajawati, genya dhana, anuku-nuku atining, bocah wadon sangkane gelem dewasa.

25

Mungguh sire iku Prabu Linggawesi maring bocah, kang tembe pupak sawiji, kumokod pisan ing bocah perawan pelag.

26

Ya sang prabu dadi ora duwe selir, maring bocah, kang wus lungse sathithik, ora esir maring bocah kang wus tarab.

27

Kang wus reseb padha miretan kawangking kaparek kang, lare ingkang durung gething, iya iku kang kinarsakaken nata.

28

Ya sang prabu Linggawesi lir lare alit yen dodolan, yen mangsaning udan nuli, ya selire padha katimbalan wuwuda.

29

Aing latar anuli dipun suraki, lawan dinar, ya ta sakathaning selir, kang wuwuda rebut dhingin ruru dinar.

PUPUH XXII

01

Kang sinebut namaning kang raja sunu, Prabu Linggawayang, sinungan kabopatene, Bantalwaru ika ing cacangkok ira.

02

Ya mangkana Prabu Linggawesi mundhut, putrine wiliyang, Dewi Cibongas namane, gih punika nembe umur dasa warsa.

03

Sacareme ing kana kinarsa jatu nata Pajajaran pinangka bini ajine, malah iku sampun miyosaken putra.

04

Lanang ingkang sinebut ing naminipun, Prabu Linggarasa, sinungan ing kabopatenen, Karangsambung Purakadhongdhong Malangya.

05

Nulya Prabu Linggawesi sira mundhut putri Barisbulan, Dewi Rasati namane, iya nembe kang umur sadasa warsa.

06

Sinaptanan sampun pinrih jatu, ing dhatu Pakuwan, pinangka iku sang katong, careming sang sampun miyosaken putra.

07

Lanang ingkang sinebut saparab ipun, ing raja kaputran, Prabu Linggaening reko, pan sinukan kabopaten Sokalaya.

08

Lami-lami Prabu Linggawesi mundhut krama putri nira, Sunan Gunung Puntanggedhe, ingkang nata Dewi Rara Lisniutama.

09

Pon ya tunggal anembe yuswa sapuluh tahun wis pinuja, prameswari aneng kono, pan amurba para garwa ing Pakuwan.

10

Intening wadon ing pura Pakuwan agung, iku prameswara, Rara Lisni ing jenenge, ketang garwa waruju nanging kang dadya.

11

La yen mangking gamparan ika sang prabu, nyarengi kang garwa, lari gulingan ya age, ing karsane inguculan kang gamparan.

12

Arumaksa bilih kagete sang jatu, garwa kinasihan, kakasihing segedhene, damak-dimik lumampahe ta sang nata.

13

Genya tumpek ponjan asigarwanipun tansah pala-pala, mila sang prameswarine, ya wus bobot ananging ora kajamak.

14

Atahunan anggene ameteng iku, ora baba-babar, wus pirang-pirang lawase, kang dhudhukun anggrarayang sing dhi ora.

15

Kang sawane angarani rara busung, kawelehe ika, dening tan ana rasane, dupi busung akundhangan rasa lara.

16

Dupi iku ya kaya wong meteng iku, sejene mung lawas, ora na bebeleyane, kang sawane ambadhek lamon kawaya.

17

Kawelehe dening katilap ing ngujum, tan katara pucat, ora rumab ora nonjok, panyanane masih gumilang padhang.

18

Kang sawane lamon ika malembung, kanginan ika, kawelehe ika deneng, ora katon urat kang pating karenyang.

19

Dupi tingal ajar lawan wiwiku, den iya sanyata, mateng sang dewi samangke, isi jabang supaya tan karsa medal.

20

Ya sang Prabu Linggawesi ing tanyanipun, la prepun baya, paman ajar tarekange, dra pon medal si jabang duk kaya saban.

21

Para ajar sabane boten pikantuk, yen mange medala, kadesak wedale dhewek, boten kenging den paksa-paksa medala.

22

Ya sang Prabu Linggawesi pan dhedhesipun, iya kena apa, paman ajar satemene, weharena aja sabda kang den garba.

23

boten kilap ing sang katong. babarane ing suka atawa dhuka.Para ajar para wiku sabdanipun. 24 Ya sang Prabu Linggawesi dhedhes gapuh. paninisan angemba ing. 03 . ing mangke tulus wewedhe. 02 Ingkang abanjar wangunan. samya suka ati. sarupane parekan agung. mangsa boten ing gelar ing waskithaa. PUPUH XXIII SINOM 01 Tan anatara sang nata. kalangenan den ideri. ye punika jabang. gih boten gadug. aja gamam ing awale. 25 Para ajar awale babar pamuwus. andherek ing sang aji. tarengkep ana ing. awit rebah watangiku. ingkang ngadi ing ngadhenan. ana wang-wang lalangenan karta yasa. paman ajar dika. wus katingal sadayaning. pan kalilan ing nata acangkraman. kudu dang nata rumiyin ingkang asirna. ngadhem-adhem ing pantara. ing adining puri. giyak-giyak wong jro puri. nang latar lan prameswara.

gampang mengko wus miwat. 06 Mengko isun mulih ngomah. . 07 Ingkang aran sendhekala. sendhekala sukati. sapunika timbalaning. timbalane ibu nata. gumuruh kang suka-suka. puniki pan sendhekala. 04 Isun iki enak. ingkang ibu raja dewi. punika kawanti-wanti. age mantuk dalem puri. ibu dalem ratna wau. wong dhodholan reren kudu. tuturen den ujar mami. dupi iku kapiyarsi. kepyar rasaning ati. ing paduka gusti jandika katuuran. melang dhirine kang siwi. sendhekala boten suka meng amengan. sendhekala ngalas maning. duduwa dining gumuyu. ing anak isun nata. ya kon manjing dhingin maring padaleman. nembah matur ing gusti. ora ngrungu pamarahing. prapta nembah nuhun gusti. mung siku adating apa. la sendekala iki. Prabu Linggawesi wau sabdanira. kumepyar rasaning ati. dangu wonten taman sari. banget melang ing ila-ila ing kuna. katuran mantuk ing puri. susulan maning la ika. boten sakeca ing manah. ya mengko sadela maning. ya ta caraka wus kebat.Brajawati apotusan. gampil manghkin lekas malih. wong den penging andalarung. jandika katuran mantuk. tan kena barang sukati. 05 Dening ibu dalem ratna. kepyar-kepyur taragdagan. emban amintara aglis.

dhateng panggenan putra. ya mange gak arep mulih. mapan si dhewekw ika. dening lelewaning siwi. kenang samber mata prabu. wong meteng ya kudu wedi. umpetan kang maring ngendi.08 Gampil mangke yen kalintang. aja balik marana. . wis neng kene bae iku. ora na abacut mewit. ngandika mung ta iki. ing mamala sendhekala. buduk namber mataneki. anjog sajanira nusul. dheweke lagi garbana. ora suwe ika hiji. rabine kapadhan maning. saking wanci pacek desi. yen kang ibu rawuh pan samya umpetan. Prabu Lingawesi nabda. ya si Rara Lisni baranyak tandhungwaya. kang baribin padha mampus. 10 Sirep ora ana kang swara. 09 Ganti mara asu aba. meteng tan jamak lan jalmi. dhigal temen atiningwang. sawusing kadi kamangkin. kalangkung dhegel ing ati. kang ibu kelangan lari. nata anjrit agiro tur gedebugan. masih kadi bocah alas wuwu cawak-wak. aja lok sawaya laku. kudu duwe pamali. 12 Mung ta padha asingidan. ila-ila bari iki. datan babar nuli lelewane pisan. gumuruha warna-warni. ya ta sang prabu wus uning. pating salindhut singidan. 11 Sandhekala wong kang kuna. maring ngendi Linggatosan. ya ta Dewi Brajawati. sira jacraweya ing mami. abane antong wirasa.

02 Pan dadining sakatemu. tan wande kalilip kenging. katharak-thaak ing tingkah.13 Anjeli-jeli karuna. ingkang raka mukaneki. 03 Raka dika tingali iku. Rara Lisni aningali. ya dadi milu anganis. tiningalaken enggal. ora wurung katingalan. PUPUH XXIV KINANTHI 01 Prameswari nira gupuh. ing jro kaca kaeksi. kami ruru seneng ing ati. iku kang dadi kalilip. padha nangis sambetipun. 04 . gusti kita kenang apa. duk tumingal ingkang raka. kang raka kadi mangkana. amundhut kacatu mulih. ora kalawan pamili. pan kadya tambuh ingkang manah. adan wong jro puri. pan dika jiwit kewala. Rara Lisni ical arti.

06 Ora kaya dening iku. adan geblang ya sang nata. ya wus katalaya dadi. wong wis dadi padha pisan. laku lalis tan ping kalih. tan kemutan apa-apa. . guragapaning asakit. mangsa ababalik maning. amundhut carmin punika. ing lemah baleger gandhik. 17 Mapan mangsanaa iku. katingalan sarira neki. iku dadi wesi malih. ya den penging akakaca. ya wis padha ing pasrah sira. pan mangkana tan kemutan. nuli balik ing ngawiyat. ing sarira kang nata. teka tan kemutan iki. ing pantangane sang aji. angandika mituturi. wis karsaning Yangandum titi. prapta ing kana lalawad. pramilane gelis ambil. 05 Marang wadana sang prabu. welinge ingdhang Sakati. Linggawesi aninggali. mapan reke sami neki. yen sang nata boya uning. kadalang suhing ngungkara. udan kang wus timbang siti. kaledhug ingkang sawara. dipun tamengaken aglis. pantangan lamon kakaca. 16 Ora ana gunane iku. kang garwa mintoken carmin. kembang kang wis megar ika. 07 Sareng ngilo kaca wau.Saestu kang garwa iku. mangsanaa kudhup maning.

ingkang arep cilaka. pan sasilir ing angin. payung agung dhedhet kehing. saking garba wewetengan. 22 Lampahnya selur adulur. kang sampun sirna alalis. mangke gadhang timbul mijil. wus gumelar pangladhenging. tanpa pegatan lampahnya. Linggawesi sampurna kena. kurnapane ingkang rama. sangkan-sangkan bae kudu anemahi. datan mangkat saking puri. saking kathah upacara. 20 Samapta krajaan sampun. kangmarapit anjalana. ya ta opyak para putra. 19 Ing pasisir kidul iku.18 Lalu marag kembang iku. pajeng asri payung kembar. ing pasentran candha warsi. kang padha sengkel ing ati. 21 Kang layon wau sang prabu. ing margi andher awilis. baris kang sabagi-bagi. balikan padha rerepa. Rara Lisni tahunan iki. pucuk praptangpa candhening. pama ing pacendheneki. PUPUH XXIV . pra sami gelar ngasreni.

pan sarupa lakuning pati. 02 Den wis nrajang pantangan tan keni. nya mungga tulungga. tunggaleku nipun. kang tan uning. lincakan aneng buwana. ingkang ambes ngayangan dhasaring bumi. wus den becik wuwusen nini. iya Rara iku. datan kena pindho laku. pramila kudu emut. ing kalpantanganing anak. ora opyak sawara. kudu bae nemu eleng. ing jro wetenging watu. mung sapisan sapisan kewala. ananging den wis pindah. kudu bae amaspisani. sakabeh iku tunggal. anang gunung ing wetenge. dudu mati dudu pejah.01 Ora ana bedane ing jalmi. 03 Kang minglintang kang mingsurya sasi. 04 Ora mantra den abalik maning. ing lalis tan kena wande. wewetengan titinggalan. maring anak mantu. temah nrajang pantangan. kang sumurub ing jro garba. tan mindhoni lincakane. nyai Brajawati kang silib. amung kari entenana. ingkang mingsa dhasaring toya. yen dangdani ingkang aran sirna. mulane laku iku. dudu iku lampus. 05 . Brajawati wuwuse angemu tangis. kang arep bagja sing sangkan-sangkan. ing pati lawan merad. ya mangkana anak mantu. anang gunung ing jro garba. pan kewala salin nagara den panggih.

maragsag ing ayunan. ingkang warna kalawan dasa nedha. anjumbul-jumbul kaget tur sarwi nabda he sakoro kacung. ing sasangen pamundhut. atawa mangurungan. kira-kira sakalapa. boreh wangi lan lenga. den barikut sabadhan. ya ing pasar kono iku. lan ukupana kang agung. Parwatali lawan Talibarat padha gujengana iku. ingkang andaya-daya. isun pejah dodolan ngundhang kang gaib. putih sarta ngukup menyan. nunten kaparipun. nyi Indhang kukudhung. sadangune muja rara den adhepi. wong jro pura kinen sadhiyaa. PUPUH XXVI PANGKUR – 01 – La ya Nyi Indhang garjita. windon takeran warsa. . pola kula ngajab-ajab. maring kang meteng lawas. 06 Inggih kula boten kilap nini. den kajamak kalayan manusa. Indhang Sakati sahure. ambok kontal kenang thathit. punapa adat kang prantos. karang melok aja na kari. 07 Lan anjaluk kembang kang wangi. iku sadiya kena. jawada ing sawarnane. susah temen yen boten si nyai. ya aganti tanpa anten-anten dugi. sampun takeran tahun. suri kacinipun. ya ta wus pepek sakabeh. ☻ 08 Ya ta Brajawati wus nimbali. ipun Indhang Sakati. supayane tiyasa amedal. wastra putih ingkang abecik. go sasajene kang gaib. isun jaluk kukudhung. Rara Lisni ingkang rosa.Wewetangan dra pon gelis lahir. lan kembang campaka pethak.

ingkang tulung Ingdhang Sakati ing mau. dangu-dangunipun nuju maring Rara Lisni adan. astane sang rara iku. wus kadadiyan titiga. warnane suteja peglag. ari[ari ika sampun dumadi. talerep kilat lan thathit. dangu-dangu nuli medal gelapipun. mingsor maring ngawiyat. kang canggah wus babar metu. . dupi Nyi Brajarara. ting sariwik nganan-ngering. babar pisan wedale jabang jalu. dadi gela nyawang ing paparab ipun. maring dhuwur mingisor anjejeg bumi. gelap ingkang mancaroba. maring ngarep maring pungkur. tan dangu kilat agemnya. kang kina daluraning karsa. anggepeli rambute sing uluhipun. kakacae ika dadi. ingkang marga lantaran. mapan kilat mancaroba nganan-ngering.– 02 – Ya ta Talibarat. gelap sangyang wastanipun. – 06 – Ya ta Prabu Ciyungwanara . amiyosaken babayi. cirak-cirak kalangkang suka ningali. kapat maring jabang bayi. pusere ingkang tigas. Parwatali pansamya anggemeli. – 03 – Gebyar-gebyar ora mendha. – 05 – Gelap nyenggrang namanira. – 04 – Maring ngarep maring wuntat.

– 10 – Mila ika kang wong sanak. kang pinangka pamong-monga Prabu Wastu. padha nakseni ingkang lilinggih ratu. tanopen wetan lor kidul. Prabu Ciyungwanara saking ngukir. wetan kulon padha aganti uni.– 07 – Sang jabang ika kaangkat. Pajajaran kaya mau. – 09 – Tatapi ing karsanira. sawaraning Yang jagat. ing Pakuwan ra timbul ingkang sasulur. mrana-mrena atut wuntat. kasanson ing kulawarga. Ciyungwanara kang junjung. Pajajaran suka ngapti. pan sinebut Prabu Wastu parabipun. – 12 – . akeh padha rena. awit Cilutung ngetan. piyambak ing Prabu Sepuh. Ciyungwanara si jabang dipun imponi. menak pra kuwi sigar sawetaning. anjaga dhiri sang aji. linggih ratu dening sang prabu yoni. rancakowek warni manuk. tatas maring Cipamali kang kawengku. ya ta samulur raja. kang aran Gunung Krendha. – 08 – Aketuge sasahuran. – 11 – Prabu lare wus anyakra. kalenggahaning canggah. dening Prabu Wastu purba wisesa Sundha negari. ana ing rat Pajajaran. amuji juragan aji. Prabu Wastu jabang bayi.

pinayungan para eyang. miwah eyang Talibarat. bisane anginger bala. agawe enaking padu. ngemiti pagusten aji. gelap senggreng kalangkeng pandengel wijung. kang seghenge angampingi. ing salinggih ing narpati. – 17 – . apa adating sang ratu. kawuwuhan sadulur kang ngampingi. kang juru pamong-mong wau. Parwatali angahu biwaya ipun. – 15 – Wus tan ana kakurangan. Tumenggung Natakriya. gelap Sangyang Talag. bisa nginger pagaweyan. patih Burung kandha nyatane paksi. – 13 – Tanggung-tanggung kang manusa. mulane dadi papatih. sinaroja gul menak kang Bopati. Pakuaji saking Cigasong punjul. masih pinter kepati burung wiring. – 14 – Tan Ki Demang Bantarpanjang. langkung bisa amutus kang prakawis. lan Ngabehi Sokapulang iya iku. kang dadi anjugalani. angrampungi pradata. – 16 – Ing turunan Pajajaran. gelap nyawang Karangsembung. kang padha raksa rumaksa. Tumenggunge kang sinebut.Papatihe kang anama. ingkang jaga-jaga nagara.

mauk miber angambara. – 22 – Ngayeg-ayeg kena tulah. lan gelap nyawang nambungi. udan angin gelap tempuk. sinata ing dhewaji. . Parwatali Talibarat. ing pantange Pajajaran dadak nuli. ila-ila kang pamuli. ya polahe Talibarat anempuh. maring sobawanira. supatane dadi tumpur. tan kena den idek iku. anak putu ingkang anyerang papali. – 21 – Tangtu tiba kaju lina. iya iku martabat. dadi lumpuh dadi gering. sing angidek dadi pincang dadi buntung. kaligane gumurubyuk. gelap senggreng garantang tanpa thathit. ora kena jaladhak ingkang wani. nuli ngedhang para buyut. saanak putu nira. Parwatali ngabar-abar. pramilane Pakuwan wanter pangaruh. inkang kena padha upataning ratu. – 18 – Sing asing aneranga. ya mulane den arani ingkang nebut. – 20 – Iku dadi patengeran. sing angidek Suramangkrak. tan kena sathithik sigug. Prabu Wastu Pajajaran mandi. Prabu Wastu Ginotama. anuli ana gelap. tanpa sangkan mobat-mabit awor lisus. turunan ratu anget sakalir titi. aki buyut Banyakgarantang. giyuwan peteng lir wengi. ngungkuli bawa dewaji.Kocap praja Pajajaran. wawayangane nalendra. – 19 – Gelap sangyang sing jro toya. gumalendhang dharangdhangan.

patutuganipun arum. saking anaking bramana. warnaning kaendahan. cirinipun den ingkedhi. pranakane Sang Dewi Sarkara ika. anak maning yen iyaa. aresep saumur ipun. tatamba ing ngenda-ngendi. sedhengane olih rabi. ora ilok kathik. daropan anganaki. sabab kaliwating aking. punika kang prameswara. ora na sawalang kapti.PUPUH XXVII SINOM – 01 – Prabu wastu Pajajaran. ing sadaleming purati. – 05 – . anak-anak ing sasami. – 04 – Suwane Sri Naradhipa. ya dadi ora bisa. jeng prameswari sakara. Ni Ratna Sekarati. dening warnane abecik. laminipun ora amiyosi putra. – 02 – Kalangkung ing kinasihan. – 03 – Wedi asihing majikan. anglegakaken manah. kaya garwa sang nata ing Pajajaran. tan ana ingkang mantari. parandene datan metu. Susuk lampung ingkang nami. sapolahe amantesi. parekan kang ageng alit. dening datan miyos siwi. gedhe cilik sadaya aturun marma. kalangkung warnane ayu. linulutan ing sakula.

lan amijil putranipun. garwo malih garwo malih pon tan putra.Pirang-pirang tukang tamba. ora wadi ora mani. kalangkung dermaneki. dhateng sang prabu nata. ingkang papati garudha. estuning bresih sarira. ing marmane besuk karuru larinya. – 06 – Tan karinget tan kalalar. nama Encecalingcing. angiwat putraning aji. bebet manak istri saking. kang seja naglelesena. salamine pon boya miyosi putra. – 08 – Kocap Ptih burungkrendha. pinuju panenggek kang asri. tan ana roro tetelu. putrane Buyut Satohan. angused larining ilang. mundhak akingipun gempung. iya iku dadi purwakaning perang. ora umbel ora duwe sulu mata. wau kang binakta dening. . saking pulo Tulangbawang. – 07 – Ngalap garwa wadon ingkang. pranakane ya Sang Dewi. wus boya anganaki. Prabu Wastukalintang. weleh tan ana dadi. marmanipun dumadi. pun sampun wau akatur. – 09 – Ing besuk panusul ira. amung ing Sundha negari. Tulangbawang maring Jawi. ora reseb ora mimis. anenggeh maring Jawi. sampun kagarwa puniku. ana ing Pajajaran. saking sabrang saking Jawi. koncara lamon ika. ing Pakuwan sampun tampi. lawas-lawas katiliktik. ora idu ora yiyid.

nuli malih gagarwa. kanggo babakti ing ratu. garwa aji ing puri. Pajajran iya iku. ya iku pan gabug maning. ora nana una uni. – 12 – Wang ing sakala samana. – 14 – Marga peteng kang anyelang. marmane ika wanodya. apindah-pindah turuning. kang minangka maha dewi. kangkat wani angambil. ya wis ngijir gadhang kaselang susupan. ngiseni ika kewan. nuli sang nata garwa. putrane gabug maning. . kang nanggoi pati urip.– 10 – Dupi samangke kalingan. malih kang pinangka dadi. pameswari iku wadon saking kubang. karya laku ngiwat-iwat. Prabu Wastu ing Pakuwan. rati ing Pajajaran. pon kagarwa tan mijil. sewakane dheweke kanggep ngawula. gawe ora arju mungguhing dewa. nuli ana arti nisip. – 13 – Sariandilep kang nama. tan ana medal siwi. pan mangkana pinet garwa. Ence Galingcing dumadi. kyan Patih Burungkrendha. satemene susupan ing bramana mangko gadhang kacatur. wadon saking Luwiliyang kang anama. putraning Buyut Gunggirik. kale wadon duwe laki. kang dudu waris ing aji. – 11 – Tiya cicirine ta sira ki Patih Burung ya dening. atuwin ana anelang. garwa tetelu tan sunu. durung gemet angilari. kasawung ing pegat turun.

panendhi ratu Pakuwan. langkung sadarga dening tan kagungan putra.– 15 – Putrane ki Cupangcapra. ambabar danawa wangi. tan nana medali siwi. tan ana gumentasa. ing aputra gawoke wong Pajajaran. rinebak-tebak asuwung. ngajah padha mathem wijil gembyung. – 18 – Lalu buwang-buwang raga. salamine ngratoni. – 17 – Wondening arjaning pura. ora na kang mijili. garwa lima kapadhan. ora nana kaya iki. garwa sakali manipun. lami-lami kang garwa prameswari Sarkarati. tumulung darbeya siwi. winangking sadaya nira. ora anggandol sami. rama ajar Sususklampung. iya dadi gabug maning. PUPUH XXVIII KINANTHI – 01 – . wis windon takeran tahun. sing ngarsane Sri Bupati. dadya pamitan sing kana. Prabu Wastu mulat bisa. agabug sadayaning. Prabu Wastu pan andulur ing garwa. nami Nyi Carananggolis. gabuge tan ana mijil. – 16 – Prabu Wastu nuli ngalap. ing dos wiji-sawiji. mikiri punthes ing aji. selir kawandasa sisi.

Dadining sang Prabu wastu. garwa ingkang kinasihan. ing lilani prameswari. toli kapremen tala. dra pon dheweke si siwi. angrasa dadging sagelih. bramana Susuk pinundhi. sang nata pijer kakenan. . iya nyi Rara Calingcing. kang dipun abet ing ati. – 05 – Sigegen kang dhesthi lulut. medheke maring kang rama. – 04 – Amung kang den tunggu pupuk. budine si bapa iki. kocap nyi Sarkarati. bubar kabeh para rabi. sakathah ing para garwa. ing dhesthi ratna Calingcing. sebab wis ora na maning. ya toli kapremen si toli akale si bapa. sok aja Calingcing ratna. pepedhang sadina-dina. anggepe sang nata endra. – 02 – Asal Tualangbawang wau. estu kangge ing akrama. kang dadi rasaning ati. – 03 – Gabug-gabug pan kapuhung. mung garwa aji Calingcing. entare saking Pakuwan. ora na kang miyatani. lan ana ketang katolih. sakabeh tan amutrani. – 06 – Ki Bramana wuwusipun. rimbitan sawengiwengi. panuhun reka pandaya.

– 09 – Ratna sarkarati muwus. ora kaya tan tumama. – 12 – . babu nini ya ta iya. kasuhur ngilari jampi. – 08 – Kang luwih punjul sing isun. yen boten medal putra. sumangga jeng rama amanah. angupaya apa maning. toli kapremen maning. yen boten badhe pikangsal. kang usada warni-warni. dhateng maru-maru kula. supondaya amaringi. kalowos tan angsal kardi. dening jeng rama ing ngriki. rama kula jaluk mati. dateng Pajajaran malih. – 11 – Nunten kula mantukipun. cupet cempole ing budi. mider kenges sun salaksak. awak kula langkung isin. ing sabisa-bisaningwang. jaluk mati sapuniki. pandaya misunwis cekap.– 07 – Kajapa ingkang panedhu. ora na kang miyatani. – 10 – Kula boten ajeng mantuk. sumangga den pejahana. si bapa pon milu isin. Bramana Sususk mangsuli.

dhukun anyata bocah. dupi katingalan dening. dimane ikang nyurupi. ing Pajajaran wus isi. – 13 – Ratna Sarkara agupuh. – 16 – Dhateng guwagarbanipun. babu nini aja sira. berage nyi Sarkarati. wus dadi apu dahana. – 17 – Adan gupuh enggal mantuk. – 14 – Basane jalukan isun. sarta aduwea anak. malembung wadharan ira. kaya pasakarep ira. Sarkara dadi garbini. dupi ginarayangaken dening.Ora kaya yen isun. bebeg dheng wis sumpel ati. anjeblung punang wadharan. sira salameta urip. sasambate prameswari. ki Bramana Sususk enggal keris den candak tumuli. adan enggal linebonan. – 15 – Ya ta bramana awangun. . ingkang mati labuh geni. arahe suduk sarira. tegane wis sangu keris. tumangan geni wus dadi. benjang ing sawuri mami. yen rumihin sacombana. bramana wus dadi api. toli kapremen iya. lawan Prabu wastu nuli. ambri dadalaning ngoli. sira gelisa pepecil.

iya dudu anak mami. mangko yen manjing itungan. – 19 – Kang grayang inggih estu. dhukun sakti mandraguna. nanging yen angliwat saking sangang wulan duking bendra. kang garwa den tudhung wani. ruru lanang liyan maning. nyata iku olihira. inggih laksana pakolih. ucaping dhukun pawestri. sangang wulan duk sarasmi. – 20 – Tya estu anak isun. salamine ketar-ketir. maras bok angliwati. inggih isi jabang bayi. ing sasiye bebeleyan. dugi kula meteng mangkin. bekeng temah iya liwat. – 22 – Ya ta ika Prabu Wastu. subagjane estu yakti. kalangkung sengit kapati. – 21 – Prameswari agegetun. puniki ingkang yumana.– 18 – Kula kesah ruru dhukun. Prabu Wastu angandika. dugi maring rolas sasi. tan karsa angaken putra. samono Dewi Sarkara. sedheng tandang karsa nyingkir. – 23 – .

angraksa jabang narpati. mantuk maring lampung karsa. ming pancalima Pakuwan. muktine tinemu kari. – 25 – Jaga aneng pulo Lampung. – 26 – Nulak sagung bala ripu. aranana Sususktunggal. – 28 – Aranana jabang iku. Prabu Sepuh liwat luwi. Gelapnyawang gelapsangyang. dening ingkang nyambat asih. . kang gondhol si jabang bayi. gelapnyenggreng kinen sami. – 24 – Sangsaya ing pulo Lampung. – 27 – Saryakaruna lingipun. kang jabang kinempit ingindhit. anandhang lara katimpal. kapanggih lawan kang rama. masa kakena ing manah. angreha Sundha negari. Talibarat Parwatali.Kesahipun saking riku. dadya tilar Pajajaran. jabang bayi wareng mami. adhuh gudhi anak mami. Dewi Sarkara buwana. cacaloning wong abecik. bramana Lampung nuturi. ing kana nuli angimpi. yen tuwaa besuk bagja. Ciyungwanara nimbali. ningali warengka sesi. si jabang sira sun puja. ing Lampung rahayu urip. ya ta ika pancalima. samya ing Lampung ngabuhi.

– 03 – Talibarat Parwatali. karemane angalenthung. maring sang Susuktunggal. sagenahe Jaka Susuk. Susuktunggal kang nami. Gelapsenggreng salabehe. ombak-umbul ing sagara. pancalima momong lampah. wis tan karungu wartane. – 04 – . ana ing lautan kidul. jejeging sadasa warsa. alusma barang laksana. yan mini moyang gaib. kabeh padha rumaksa. adhemiwit arti budine. – 02 – Wus awor lawan dhedhemit. emut wawangkiding ngimpi. Gelapnyawang Gelapsangyang. satingkah polah limunan.– 29 – Wusing mangkana awungu. ing pasisir kidul ika. but buri amayungan. pinayungan pancalima. jabang lunta ingaranana. PUPUH XXIX ASMARADANA – 01 – Duk kang yuswane sang jati. tan pati guling dhahar. nanging ika pancalima.

– 06 – Sigegen kang amor dhemit. pinanggihaken kaliyan. wus pinten ing laminipun. bala ayun-ayunan. maring kang Sususktunggal. sang putri seja denjuput. genya anyakra buwana. belung kapal bulanipun. Kaka Ramana jenenge. sampun campa kramane. Ratna Calingcing ing kuna. ya ta dadya ingkang perang. seja mangko denrebat. nyi Gedheng Rarasiluman. – 08 – Seja angrebat sang putri. angintaraken balane. muwah deniwat dhingine. denuri-uri den ruru. Prabu Wastu sajengkare.Ing karang kang sigreng sungil. panusuling Tulangbawang. – 09 – Patih Burungkrendha aglis. nyi Rara Mutiyalarang. amurba amisesa. wus bancik ing Pajajaran. . dening patih Burungkrendha. tumuli ana esihe. – 05 – Putrine ingkang anami. ing kana den gawe mantu. sang putri seja mangko denrebat. Burungkrendha patihipun. kocap kang aneng Pakuwan. andel-andele sang nata. padha doyan manusa. karemene kumarasan. sabrang dadi adat buta. genya angrok bandawasa. amampak maring payudan. ing jagad alimunan. denira para jawata. ana ing tenjolayaran. kangiwat seja denrusak. – 07 – Datan antara ing lami.

asore Betyawelara. kundur kapereg lagane. nalampek naladhung nucuk. – 13 – Angentongaken tanagi. ngajejar kang angga murca. – 15 – . pareng katingal pejahe. mapagaken pangamuke.– 10 – Long-linongan akeh mati. – 14 – Betyawelara wus mati. ingamuk ing patih ika. katarik ming jaba pejah. pating burisat lumayu. adan bala Pajajaran. kadya garudha meta. kadya ta bala wanara. Patih Krendha wus den jragang. genya ajojo brawasa. ing gelar angudi lawan. Betyawelara denira. pinalu balang-binalang. bala sabrang kondur kabeh. kabareg dening buta. tarung nuli ana ingkang. – 12 – Adan lakining Calingcing. den thothol jajantungipun. – 11 – Patih Burungkrendha mijil. kan nana kakarawan. kapereg ing bala buta. jejeg-jinejeg apalu. nyoker musuh padha bubar. adan mara sepuhipun. pirang-pirang dina gone. kang nama Betyawelara. kuwel amagelutan. ki Patih Burungkrendha.

ngayunan Ciyungwanara. den kapepes ing ngalaga.Andik muntab ambeledig. ningali endhasing Burung. pancalima sadhapure. sagarwa sakulawarga. – 17 – Ciyungwanara angarti. esmu rada kaduhung. Parwatali muwah ingkang. munggwaika pinanggiha. wareng nata ingkang nama. dadi padha cama kabeh. Talibarat ora nana. Gelapnyawang Gelapsenggreng. den idek jalune iku. apaladara susupan. Patih Krendha gulu pegat. maring ki Patih punika. anitah ing pancalima. baledug ing ngarsa nata. Patih Burung wus anglenggak. puruge wareng sang Susuk. kaget sang nata wendra. – 20 – Yen pinanggih Sususktunggal. . kangtu tinemu sadaya. muluk mesat dan tibane. milane analasak. adan pratignya wiyange. ngingisik sagara kidul. lan sakehe kabuyutan. padha asirna guriyang. den balangaken alepas. Susuktunggal re sajege. kataring ing rawana. Gelapsangyang iya tunggal. mamane Ciyungwanara. – 18 – Sarya sira anglalari. dipun jambak jambule. – 16 – Kang endhas sigra tumuli. – 19 – Ing praja akeh kang wani. ngili ngidul miruda.

– 24 – Dewi Calingcing tan kari. lir udan deres tibane. adan sineblak toyane. dinamai Cahierang. ngentep ngetan sigra rawuh. den kepung wakul kodagan. sigra andarung lampahe. ing pinggir Sangyang Talaga. Prabu Wastu sagarwa. kocap ika sang katong. lelewaning wog Tulang.– 21 – Angemonga Susuktunggil. cocoratan atawa pongpa. sadaya pan sami larut. anyangking sada lanang. jagat buwana kadulu. – 25 – Kang gamilang-gilang wening. Prabu Wastu Pajajaran. banyu sigra dumadya. prajurit pakuwan saseg. kadhesk den ira jemur. binakta dhateng kang raka. – 26 – . mrepegi pura nata. – 23 – Siniratan uyuh anjing. Prabu Wastu ika sarya. tan kawarna kang susupan. bubar lorode mengetan. lawan ingkang sada lanang. – 22 – Wong Kaka Rawana wani. camedhar lan tahi jalma. bubar larut kumagilan. kadhesek ing prawira. kang sejen sing jagat dharat. najis kangginawe punglu. ya ta wong dhatulaya.

tan kena sinundhul. nyi Calingcing muwah bala. Kaka Rawana angadeg aji. yen karsane mangkin. tan kagungan basarang-saring. lan ora na kang weruh. pugas brangas ala atine. sabab uwise ora balik maning. sadaya anungkul. iku sadayanira. pan jumeneng Prabu Karadhatang nengge. ing sa Sundha sami. – 04 – Anut maring prabu anyar mangkin. Prabu Tulangtogmol. padha nang dhasar talaga. . warga sakabeh kang dherek. dupi sri kadhaton. adadalem ing jro banyu. paneleng ing katong. – 02 – Ya Sang Prabu wus sirna alalis. wus jinabel dening musuhe. lan ora kapanggih. ing jagating kono. – 03 – Ya Sang Prabu Kaka Rawana nami. ya wis dadi kaya merad bae. iki pan jumeneng ratu. PUPUH XXX MIJIL – 01 – Kang na dharat datan bisa uning. sabata lawan sileman. ing Pakuwan nami.Prabu Wastu karo rabi. ora nana wani mantari.

sajamaneng kono. ora kena den semayanane. angrebat warisipun. ingkang singub-singub. ing pagusten isun. keras akalipun. akrh gempur kapur atine. datan kena sinundhul aturaning. doyan main mabok. – 08 – Ya Sang Prabu Kaka radha bang madhig-dhig. – 10 – . tan kena winurung. – 07 – Demen mapan ingkang yoni-yoni. – 09 – Pareng angsal windu lami. bener luput mesthi. kudu bae dados. arubungan ing Sundha negari. – 06 – Ingkang denkait budi ngarani. kawarnaa sang katong. dadi amuwuhi. wong Tulang Minadho enggene. akeh den padhangi. ya angluru ing tasik pasisir. tor-toran anginum sopi. kabuyutan tapakaning wasi.– 05 – Yen wus karep kaya lare alit. candhi-candhi entong. kang pinuja timbul malih. la yen mabok dadi kamungguhane. padha atut buni. Ciyungwanara ngilari warenge.

Talibarat lan Parwataline. Gelapnyenggreng karungu. Ciyungwanara ngidul. Raden Susuk ingkang sayaktos. – 12 – Gelapnyenggreng dadya ika sang aji. ing watukiliyong. ager sagalugu. . – 15 – Ngener cipta tan ana kakalih. Ciyungwanara gatos. Gelapnyawang Gelaptanjung. pan ya iku tetengering Sususktunggal. tan suwe agantos. pan den jejep ing tingal dhemit. – 11 – Ana ganda ingkang samariwing. swara kang tan pangling. sarya ngobong ukup mangkin. gelis amora wong iku. – 14 – Angembaa ratua tumuli. Gelapnyawang Gelapsangyang sami. kan den esthi kuwareng. Talibarat Parwatali praptane. panter pamandheng ingong. kang wareng den puji. belenging manah ora nakali. ngidul ngingisik jaladri pinggire. saliwer marono. meeng wareng Raden Susuktunggal. lan galudhug saya seru swaraning. marono ambuneki. Prabu Ciyung pan kukudhung putih reke. kang dadi raosing ati.Kang samangko kang kacekel maring ratu anyar othon. awan benginipun. – 13 – Pan kumutug ing ngarsane aji. ing pinggir kikisik.

dadya pamitan tumuli. – 21 – . tan ngaku olihipun. – 19 – Mubya ya larang amangsuli aris. raden denya sewot-ewot. tinggal rabi meteng tambu besuke. aja ora ing takut. wau waheng garwaneki. benggi pareng si jabang dumadi. krana kula pan lagya abobot. dudu turuning waris.– 16 – Aja lunta awor lan gelis. bawaning wong wis mukti. ing sadanguning nedhu. wong lanang tinggal wadon. isup arep titilik ibu. kala iku mambu ukup gandane. – 18 – Manah pikir karsa padhaning jalmi. ya sok aja lali maringong. pareng lahir takon bapa tumuli. manah kadya rontog. kang ngimponi sapalayake. lan sumadi si wong kang duweni. – 17 – Kawarnaa kang aneng dalem dherit. – 20 – Krana ingkang kang uwis lumari. kudu eling ing jagat maune. ngendhel ora mari-mari. lahir jabang bayi. angabdi tanpa uwis. krana ingsun dan raton. Raden Susuk mangko.

sandika karsa jeng ibu apti. ika mapan wus anglilani. aja timbul iku ing dadine. Talibarat kang ngramon. ora na liyan kadulu. munggwa amlesa katengong. apa maning maring ngong. . Gelapsangyang nyuwong warih. sumpah isun kang satuhuning. ing mratuwa nembah panor. angambah karang kisik. den pracaya kranane iku nini. lampahipun Susuktunggal nengge. – 22 – Ingkang ujar isun kang sayakti. yen cidra awuwus.Ta kang uku panjaluk isun iki. Gelapnyenggreng badhengel wijung. nyai Gedheng Rarasiluman nabdane. Raden Susuk anembah adan linge. pancalima ting pancorni. – 26 – Parwatali ulur-ulur apti. – 25 – Ingalingan dening ingkang gaib iki. – 24 – Ya yen eling maring ngalelek rabi. – 23 – Agles Raden Susuktunggal pamit. pamuji-puji jati. ya manawa ora lali-lali bae. teka upama benjing. raden nabda tan samono. aja lawas ya ki mantu. medal saking kayanganneki. ya ta mutwa larang asri. tulus lampah wangsul. galudhug grantang widi narpati. mung pohon rabi. Gelapnyawang tan udan tekane. suka manah ipun.

– 27 – Ingkang eyang Ciyungwanara aji. purane den wasesa. dening nelendra serani. kraton Pakuaji. luhur kita punika sang aji. kang sun ucap ing adi panewune. Gelapnyawang tinon. ambeg nakoda. ya ta gugu panor. Gelapnyawang la iku kaki. PUPUH XXXI DURMA – 01 – Ramanira Prabu wastu wus kokalan sirna alalu lalis. agemen ing wareng isun. atatanya ya iku maring. . – 28 – Nyandhing ukup sarta asamedi. sira kang sun seja panon. asowara dan sang nata manhe. – 30 – Angandika subagja ta kaki. yaktose Pajajaran punika prajane. Raden Susuk wus awas tingale. pan ya sira ageage ngambil. tulung sadarganing kalbu. merad sejen alam. rena-rena ningali kulebating. …. ingkang sumedi kono. Ciyungwanara pinundhi.ian anuli rinangkul. – 29 – Inggih payu kita pedheki. kang wareng medheki. Prabu Kakaratandhi. iku sapa kang kukudhung.

praja Pakuwan. padha malumah. akeh gunung kobar. ulur-ulur nganan ngering.– 02 – Ya wus ilang palakarta ratu Sundha. pinanggih lawan sira. kaganti budi srani. akeh kang rebah. kumanyang nganingwang. galudug ing arga. sabandina nguneni. estu basmi negari. sabenbengi wanti-wanti. dadi kumureb rebah. Raden Susuk matur inggih. sayogya sira kang mangkin. – 06 – Ing jro gunung gumledhug jumegur obah. – 05 – Datan apa menenge galudhug obah. ngrebut nagara. sadina ping sanga. padha mayan dumadi. – 07 – . minanten barkah eyang. – 03 – Ya kaduga manira apaladara. pusakane kang dhingin. mayeng ing sabandina. sigra mangkat padha. lor kidul ganti muni. sakeh kang malumah. lindhu rat lir ginongjing. maludhaging walirang. amedheki kang nagari. kang mangko dadi. jawane sun anyingkir. basmi kaosak-asik. – 04 – Pareng sira Prabu Sepuh angandika.

tumon so bawa. tan susah den perangi. ketung kang swara. aneng Sundha negari. . ge ris ing sangara. bubar dhewek tan sudi. Pakuwan anggege risi. bubar buyung kang kari. wong Tulangbawang. gara-gara ing nagara. anjaya-jaya. jar jagate priyangga. akeh padha rusak. katelahe sang aji. wis tan krasan. abubar priyangga. linggihe wareng aji. kasaksen ing gul menak. ingkang pating sariwik. prabu sepuh kang angiring. – 09 – Datan sudi jeneg aneng Sundha layang. tan urusan bubar neki. kang sinamber dening gelap. – 11 – Raden Susuk iku angruru pusaka.Kasusulan datan mendha gelap ngampar. para gul menak. rawuhe Susuktunggal. ngili marang jagat lami. Prabu Susuktunggal. – 10 – Bumi Sundha bisa nundhung kang anelang. padha sinuhuran dening. ing rat Sundha nagri. – 08 – Ya sang Prabu Kaka Rawana awiyang. gara-gara nempuh. wiyange saking Sundha. – 12 – Inggistrenan ngadeg Nata Pajajaran. tan lami punika. gawoke para bupati. tumon widagda aji. wong Sundhane kuna. gumarang ing sabumi. Prabu Rawana age ris.

Patih Dhuyunglanangan. ing pagaweyan. Gelapnyawang Gelapnyenggrang. nginger kawula alit. Pajajaran jengger malih. kang dadi sorog wedhi.– 13 – Kang nakseni ngadeg Ratu Pajajaran. adat Sundha negari. ingkang padha angaugi. yen ing Pajajaran. kan nami Susuktunggil. amarigel ing nagari. Ki Tumenggung Ulungdaya. kang aneng Majapahit. murwa pakaryan. ora nana kang mantari. ambeciki ing nagari. ya iku kang nama. sarwaning bisa. sampun sinaroja. kang sagawe ngratajani. kang nama Dhuyunglanangan. pinudhung ing sagunging. – 14 – Prabu Ciyungwanara kang jaya-jaya. angsal panglima luwih. – 16 – Sasamine kaya Patih Gajahmada. Talibarat nama. – 15 – Salinggihe sang Prabu Susuktunggal. ing adi kulawarga. – 18 – . sugih kasekten lan bangkit. Parwatali miwah. sasat sinung nama. kadi duk kuna. lan Gelapsangyang. – 17 – Emban-emban sang ratu kang nama.

sampung kalawang. sakalir karya. yen gadhange ing benjang. karanane sang aji. iku dalem ingkang. kapracaya ing sang aji. amblese maring bumi. sanak medhoke sami. enggenipun angalih. anulak bala wita. purwane amerad. kang aneng dhasaring bumi. salin nagara kang lantip. lolomponganing jagat.Pajaksane duk samono kademangan. kewala pan ora pejah. ingkang mingkali kardi. – 20 – Prabu Susuk waktu duk sakala samana. jagat kang babasan. ingkang asirna. ora kewuhan ing udi. sang maha dalem japati. ing Sindhangkasih praja. – 22 – Ya ing bumi Sindhangkasih marmanira. ingkang jaba negari. malawat katingal. kang dadya mikenaki. anyawang-nyawang warni. dados pakeca. akeh akalnya. mula sang prabu ngarti. dening prabu Susuktunggal. – 21 – Kumarasan ing Sindhangkasih praja. ing manah sri bupati. Demang Cimancurluwi. kang kinawratan. pamagutan pradata. wus angsal supna. – 19 – Lan kang nama ki Ngabehi Sujimara. kang langlang buwana. . – 23 – Tya iku enggon gadhang palincakan. ing kono enggone lalis.

kadya nagara. – 02 – Garwa maning pula ……. yen kalingihan sang aji. bali dalem japati. dening pamajikan. rehing den kulinani. dewi mature asal saking Pasirpanjang. hang.. nginep ing Sindhangkasih. kang cacangkok Sindhangkasih. Karanglopang kang nami nyi An ………. PUPUH XXXII LADRANG – 01 – Pan kaloka Prabu Susuk nyakrawati. – 03 – Maha dewine pawestri sasl saking Sokapura. ……………… paparab. Kawularang …………… ing. . mangkana ing karsanira. – 25 – Dadya suka ki dalem japati ika. kang nama nyi Luwilingling. nawang susirna. ing wong sanak Sindhangkasih. kawangun pura nata. prameswara putri saking Sindhangkasih.– 24 – Pan sawulan sapisan sang Susuktunggal. raja Galuh nami. dening rejanipun.

– 05 – Ya wus apa kaya adat dewa aji. pinaparab Raden Anggalarang kwosa.. bapanira iku aji. – 08 – Wus aprajaka ika tatakon sunarmi winangsulan. wus babar. lilima saya lempuri. kocapa garwa ing dhemit. pan riniyung ing para gegedhen sadaya. – 09 – . ingkang wau tinilar tasik lamunan. – 07 – Mapan dewi Mutyalarang ang garbini. pan riniyang para ………………………………. ya rinengga. ing sagenahe alinggih. putra jalu warna pekik. Susuktunggal kang mengkoni Pajajaran.– 04 – Ingkang nami Dewi Simbarinten becik pinusthika. – 06 – Tan kawarna enggene amukti sari atahunan.

– 15 – . isun melang. isun melang. nuli sira ing kana tan aku anak. bok sira den pitambuni. ara ngunjung ing rama dhateng Pakuwan. ainggih kula mantuni digdaya pancas. jemg rama angaken siwi. ya dumadak yen boten ingaken ing nama. arep bedhah ing kuthaning Pajajran. – 12 – Anggalarang atur sembah ibu inggih ananacak. katongsone isun welas maring sira. – 13 – Inggih saya jeng rama kula perangi. mung ta sira. inggih coba kentasa.Anggalarang aturipun ibu amit sedya kula. – 11 – Nuli sira dentortalan baya pati. denlara den pateni. – 14 – Ya sang dewi Mutyalarang ngandika ris. juwala apa wong siji. kang saingga. amedheg ing rama aji. – 10 – Mutyalarang sabdane arum manis.

kadya meres ujare kang amaskitha. ing kana den waskithani. buwal-buwal mijil sing dhasar jaladri. – 16 – Raden Anggalarang ya matur boten sanggi. – 19 – Awor ombak anggebyug maring kikisik karang braja. pan anjeneng tan dangu siliran prapta. inton-inton memedi kanthung bragola.Mandadene den ucap kaya wong baring tangtu sira. anggep kula. mara jabang Kaljurig. calengep kali riringgit. ngayune sang prabu Susuktunggal. jin prayangan. angancik ingukir curi. galethuk batu kacebur cai. – 20 – Angin wayah sumilir ika dumugi Pajajaran. sarya wiyang. bagja cilaka ya kantun punapa karsa. . – 17 – Amung ibu pamujane kang sun pundhi. – 18 – Tunta ngambang dewa mambang kang angiring. lampahe ngatut ing warih.

dipun wasuh pinanjingaken panjara.– 21 – Sambat-sambant wonten pundi rama aji Susuktunggal. – 26 – . kandikane si ibu yen tutur kandha. punika rama pribadi. – 24 – Anggalarang den surak bocah kangingsir sumantana. – 25 – Pinanjara watarane danguneki sapangedang. samya geer la yen ana bocah setan. kamawula ing sudarmi. gampang-gampang si monyet si tambewara. – 22 – Pramilane kawula sumeja ngapti ana labda. nunut aub ingaken putra sasmata. – 23 – Kapiyarsa denira wau sang Patih Dhuyunglanang. calengep ing ngarsa malih. Anggalarang dipun tarik. angaku putraning aji.

dewa mambang kang nguculi. calengep ing ngarsa aji. – 29 – Lamon ika ya nyata bocah dhedhemit ora wruha. surak ing wong Pajajaran nyata setan. ya cinandhak Anggalarang wus pinala. iku maring Anggalarang den galandhang. – 27 – Kalajurig ingkang padha ngiring-ngiring adan tandang. – 31 – Kira-kira iku maning sawatawis sapangedang. – 28 – Den panjara maning kirane watawis sapangedang. Demang Cimancur anarik. ya memedi bragola kang raksa-raksa. gegering wong Pajajaran kumangilan. calengap ngarsa aji. Ki Tumemnggung Ulungangin.Den panjara ya bisa muncul pribadi ora wruha. – 30 – Maha raja Bangbangan ingkang mayungi adan tandang. jin prayangan kang gagandhi lampahira. . inton-inton kang nguculi.

Pajajaran padha tambuhing kang putra. iku nyata buktine ing paneluhan. – 33 – Sangyang Limun kang tut buri amayungi mula arja. aja padha den ganggangi iku bocah. Anggalarang irus ing jati. – 37 – Ya jaganen iku saolih-olih maring ratu. belis guris angibur-ibur ing praja. dhiri pagusten narpati. – 34 – Panginane wong sadaya iku maring Anggalang. pan luluthu bangsat ngaku anak raja. kudu kang awas ing dhemit. belis guguris nyaithis. – 35 – Lamun tulus ingaku paniya dadi olih praja. – 36 – Ambalentuk anyolong ing si narpati mula ika. Buyut Angin kang ngiring-ngiring kang ajaga.– 32 – Ya siluman tasik kidul boluwarti ora wruha. . atawa cacangkok siwi. Buyut Cai kang nguculi.

obongen la iku lare. papathoke tosan. – 03 – Pan rinate wesi pinanthokan kukuh. – 05 – . denepri darapon menter. he Dhuyunglanang. yen tan geseng ya iku ta anak ingwang. amariyat karya. ing sajroning geni gedhe. – 04 – Kang tumangan denesep kalawan eduh. siniraman lenga. den sinulud kang geni ya wus maludag.PUPUH XXXIII PUCUNG – 01 – Prabu Susuk wau pangandikanipun. wusing dadi Anggalarang den sangsara. pan darapon aja bisa lunga-lunga. tumanganing geni gedhe. – 02 – Ya ki Patih sigra tumandang agupuh.

– 09 – He Tumenggung Ulungdhaya dene gupuh. gawe lalayangan. pan wus dadi awu aneng jro dahana. nalengep ngayunan. . – 06 – Sapangedang langkung pagedering urub. Prabu Susuktunggal. ing Gunung Galungung genahe. – 08 – Den akuwa piyambake raja sunu. la den ora kawur nyata anak ingwang.Purubipun pan ora kalawan kayu. kandikane iya mengko. patang puluh pasagi sampun prayatna. matur nembah amalampah den akuwa. ana ing tampingan. kagila-gila gedhene. wanter munjuk urub kadi angambara. kawurana ing angin gedhe. Anggalarang den samangke. anjum andhingkul padane. surak wong Pakuwan. – 10 – Ki Tumenggung asigra tandang agupuh. iki Anggalarang. – 07 – Ora suwe kaligane iku muncul. pisan maning iku ing panacak ingwang.

surake wong Pakuwan yen Anggalarang. – 14 – Wus ing menit ngadeg saka dipun dudut. kethip-kethip kagawa dening siliran. – 16 – . Ki Tumenggung sakancane. – 13 – Keplas munjuk lalayangan munjuk dhuwur. duga silep cat katon ya cat ora. ana ing lalanang. – 15 – Duga ngulon watara ngungkuli laut. nuli sira lalayangan pan den ajar. ana ing sagara kulon. ya ta wus sadiya. – 12 – Anggalarang wus den baleni akukuh. ing gagaranira. munjuk kagawang abure. ambeneri angin ngulon santer pisan.– 11 – Tataline jenget ing sambadanipun. den culaken enggal. ika Anggalarang. kawur mumbule mengulon. ing layangan wus rinekep.

Cisanggarung kayaktene. pandadara isun gedhe. wus anembah ing ramane. pan ginawa ngetan binuwang ing toya. iki bocah tegane ya sira delap. ingkang lalayangan. Anggalarang wus den rante. iku bareng sapangedang nuli prapta. iya Demang Tandang. Kyai Demang Cimancur la iki bocah. . petilasan kuna. sandhangen denira. ora karawuhan ruruhe. – 19 – Lawan mengko pisan maning panacakipun. ya taksire kaya nyabrang pulo liyan. pan dumadak ora mati kalem boya. nanging Susuktunggal. – 18 – Anggalarang calengkep wus aneng ngayun. bahi nate lepas. – 21 – Tya tangtu sun aku anak dening sun. – 17 – Pan sing ngendi bisane awangsul iku. wus ora kawruhan tibane. – 20 – La ukumen ing kali manengteng iku.Ya wus ilang tuture kagawa abur.

sakebo tuwin sagudel. masih anang marga. kang salumbung darapon angurugana. laksanane gawene ngemban timbalan. – 25 – Ya sabedhug salingsir ora na timbul. Anggalarang wus silep kalem ing toya. sakebo ya rapona. – 24 – Aja bisa timbul kang den ekum mau. den nyana wus sirna. aja bisa kambang mangka. Anggalarang wis katemu ing ngayunan. – 27 – .– 22 – Aneng banyu den bandhuli kalawan watu. kaya ora pindho gawe. – 23 – Sarta sira den susuli maning watu. – 26 – Wus laksana pakaryane la ta iku. adan den tinggal wangsule. ingkang salulumpang. ing Pajajaran ya tegane. dhateng gusti Pajajaran tur uninga. nyatane ki Demang.

. den urugi tai besi pandhe dhomas. jalayat si setan. pisan iki sira sida pendhem jarat. – 31 – Ya den tetel pinaseg gen ira ngurug. ki Ngabehi Cukimire. ngabehi gupuh tandange. – 29 – Nadya isun aku anak bocah iku. ya ta kang dinukang. pan tinarik Anggalarang den galadhag. Angabehi Sujimara kari sira. – 28 – Iku bocah pendhemen kang jro asiluk. – 32 – Pareng lawan laksanane gawe isun. patang puluh dhepa jrone.Wus anembah ana ngayunan sang prabu. kang dumadak bisa balik ing Pakuwan. – 30 – Pan ginawa maring tegal uwar iku. kang yatna angurugane. den pendhem watara. ing panyananira. lumpur ludhes dilolocok. aneng tegal uwar. ya pugas delap si monyet. ki ngabehi wangsule asuka rena. Susuktunggal nabda.

ing Pakuwan den sakiti. den bandhemi den bedhili.– 33 – Ora matur ing pagustene sang prabu aneng Pajajaran. sang Anggalarang. den panahi datan kena. anggawoke wong saraje. – 02 – . datan bisa ambeledhug. – 35 – Tai olih si anjingsi kenang kutuk. wis kalesan panyobaning prabu nata. ika ingkang dadya. gulalitan miyatani. tombak keris lemes kadaya. ajarujus medal warih. sampun warna-warna. Anggalarang wus talangep aneng ngarsa. – 34 – Kaligane wus nembah arsa sang prabu. PUPUH XXXIV SINOM – 01 – Warnanen. mung ta iki bocah calonos binatang. ya pinenthung tinabok kejeng kang tangan. panyobaning ratu gedhe. dupi dugi ing ngarsane.

ora bisa ambabari. ya tan bedhol saking lungguh. ika pancalima sami. tan kajungjung ing asakti. – 07 – . – 06 – Yen saestu sira nyata. Gelapsangyang Gelapnyenggreng. ora kaya awratira.padha mepes ingkang sakti. ngaken maring raga mami. Prawatali datan bangkit. yen saestu anak ingwang. teges lamon anak mami. hem ngandika sira iki. Talibarat tedhu sami. binalangaken tumuli. – 04 – Anyirnakaken guriyang. unine ha ha ho ho. ora bisa amikara. tan bisa ulur-ulura. den cinandhak Anggalarang dipun angkat. asakabehe datan guna Gelapnyawang. dhumateng wau sang pekik. ilang pangaruhing nata. karengkengrengkeng tan kapti. yen sira bisa balang. jejegeng tan kangkat tangi. awak ira anteb temen tuduhena. mangap lir cinengkal wesi. – 03 – Mimpes pisan datan bisa. samana samangkenipun.Jinejeg sikile akas. kuwat anjunjung mami. ya ta Prabu Susuktunggal. – 05 – Ing karsanipun sang nata. apes dening sang apekik. ing sakarep ira iku. cinakot kaku kang uwang. sa cep ana Anggalarang ing Pakuwan. kami sosote kang rana. rarasan lan bisa metu. asun kalangean agelis. kena waliting Galarang. Pajajaran padha sami. datan sang Susuktunggal. iya nyata tegese ku anak iwang.

angangkat dhateng sang Aji. kelangan majikan neki. wong sadaya ting balulung. aja adadawa lara. – 08 – Teganira Anggalarang. enggal prapta Prabu Sepuh aneng kana. dening sira wis pracaya. den balangaken ning pura. maring kahiyangan mami. kagume kang laki tiba. maring wareng prabu aji. ya ta Anggalang iku. Sindhangkasih kang sinedya. wus riringkes sang nata lan para garwa. gegere wong dalem puri. ingandikan pinariksa. karaton sira duweni. – 09 – Ya ta iki prameswari. dadiya gegenti aji. wau dhateng Susuktunggal. samiyar tur kandha wara. aturipun pon kula punika putra. komalanten sabdaneki. anglipuraken ing kalbu. Anggalarang sigra junjung. lan Tumenggung Ulungdhayi. dening Anggalarang gusti. nyata iku binuntal ing Anggalaran. lilingseme ing marmaning.Denisun wis sira buwang. . pan gegetun wong kathah padha tumingal. ing Sindhangkasiningid. – 11 – Dan Patih Dhuyunglanangan. Susuktunggal wirang isin. nyata kabuntal ing weri. lingsem maring kang rayi. angreha Pakuaji. mengetan puruge ngili. Prameswari duk andulu. sengkel ing manah tan sipi. ing ngarsa Ciyung sang aji. kaangkat sayengan mangkin. waneh ingkang atur uninga. ya wis payu padha pulang. – 10 – Miyos saking boborotan.

inggih pon jinanjen malih. nunten kentas malih. inggih maksih tan ngakeni. kalintang denira menit. ing lalayangan puniku. ngaken isun ya sanyata ya anak ingwang. jinanjenan la yen nyata metu. sanyata anank ingwang. gih makaten ugi. – 13 – Ing wesana kula delap. wekasane ngajak cucu. bisa balangaken mami. kelupun cidra maring. dipun pendhem lebet bumi. – 14 – Ing wasana kula teka. ing si rama linggih aji. boten ngaken dhalem mami. layan sela samahesa. dipun aburaken enggal. inggih lajeng kanjeng rama. – 16 – Anak ingwang bisa teka. la yen nyata anak ingwang bisa teka. janjine dhateng kula. si rama kula pedheki. ing wasana inggih kanyata.– 12 – Ya sang Prabu Susuktunggal. yen wis amuncul maning. tan den sapakula iki. ing wasana kula prapti. den lalara tumangan. Cimenengteng pan binandhul. boten geseng dhateng api. – 15 – Ing wasana kula teka. . ing ngayunan rama aji. den janjeni nyata anak lanon gesang. inggih boten ingaken kula. inggih maksih tan ngakena. saking kaputren siluman. kinen ngekum ing warih. kulu nunten tinaleni. den janjeni la yen nyata anak nata. ingobong jasad puniki. nunten kentas kawula. patutan Mutyalarang dewi.

samya sira kulawadya Pajajaran. Prabu Sepuh ngandika ris. . angriyung ing sireki. anglolos kalaning dalu. – 03 – Ora kaya Prabu Susuktunggal nuli genya salah.– 17 – Inggih si wantu kahula. maring etan manawa kita rerempah. gawe lingsem pribadi. pan den udhag sengit. – 18 – Mangsa bodhoa kang guriyang. ing temahe saiki. PUPUH XXXV LADRANG – 01 – Pradenane semono payu saiki padha kita. minanten leres kawula. bapanira ingkang salah. drapon sampun lingsem neki. amalar dipun akeni. ika dadi Susuktunggal artinira. susul iku bapanira. – 02 – Nulya mangkat prabu sepuh lampah neki kalih sira. sapamanggih kula iki. kerpek jantung iya iku bener sira. popolos amiruda. iya iku pangidhepe ing wong apa. wau dhateng kanya puri. wong atuwanira gusti. inggih kantos kula balang. Anggalarang mapan sami.

susuluring kang rama ingkang wus sirna. Talibarat Parwatali. langkung gegetun ing kapti. – 07 – Pan sinebur Prabu Anggalarang sangti ingauban. – 05 – Malah katon ing tingale prabu wanara lang Anggalarang. – 06 – Ya ta Prabu Ciyungwanara abalik sarta ika. – 08 – Panjinaga dewa mambang apa maning jin prayangan. Anggalarang wus den asri. kang memedi lan bragola. ambles ing dhasaring siti.– 04 – Dadya sira Susuktunggal ika dadi kali marwa. – 09 – . Gelapnyengreng Gelapnyawang Gelaperang. ing jajahan Sindhangkasih nukmanira. banaspati inton jurig lan kemangmang. ora kena untunge ku bapanira.

layung abrit tapak angin lan gelapan. ing karsana sang prabu ing Pajajaran. menak pra kuwu nyungkemi. anut ing titihing aji. teluh braja lintang ngalih. – 11 – Genya nyakra sumulur madeg dewaji wus koncora. kyana Patih Bentanglompang. kang ing tawang.Anggalarang pan riniyung ing saliring. – 12 – Waktu iki ingkang jumeneng papatih winastan. kadadiyane lintang karti iya ika. nyananing sakuling kalulawadya. Ki Tumenggung Paracutan. ing sang maha wruhing naya. – 13 – Pramilane lintang karti cong keng siji iya ika. – 10 – La kul manuk ingkang bisa tata jalmi samnya ngabdi. – 14 – Tumenggung ika ingkang den arani namanira. . amuwuhi Anggalarang arjanira. dadi patih langkung saking wicaksana.

ya janggelek urip maning ingkang kalma. – 20 – . prabu sampun mengku Prameswari. – 19 – Pan wus jengger sabawa Sundha negari aprakasa. saktinira nyentak jalmi kalenger padha. – 17 – Waktu iku demange kang winuwuri kaki demang. ingkang putra Sunan Jumanjang kang nama. nalangkep jalmi. Gurumuruh namanira. kadya panggereming macan sami. – 18 – Yen anggerem ngoregaken ing sabumi kaya obah. ngabehine Sindhanganjen namanira.– 15 – Mula nama paracutan iku dening angracuti jiwqaraga. ingkang nyawa pan dadi pejah. – 16 – Sagedhangan apayuyune wong mati nanging ika. yen wis den uculaken maning.

ratu Sekar ing tanpa omas. – 24 – Iya iku kang alinggi aneng suci dupi ingkang. – 23 – Iya iku kang ajatu krama maring Sangyang Citra. kaputran saking Jepura. pan kasebut Raden Anggalarang mudha. . – 22 – Mangka nuli kang minangka rabine aji duk samana. kang besuke puputra. – 25 – Raden Sinom iya iku amurtrani kang sinebut. mangka ingkang. guru mindha Mantrisari. mangka nuli Mantrisari apuputra. asal Baturuyuk ingkang miyosaken putra. pinangka iku ing kana. satunggale malih nama. miyosi siwi sanunggal Raden Kalipa. Raden Sinom kang alinggih Salagedhang.Ni Ratu Gumiwanglayaran Sari. nama Anggalarang malih. – 21 – Pucuk gumun sepuhi ya ingkang nami. ingkang nami Wotsari aputra Yang Maduraksa.

dupi garwa marujune. dupi saking Cilutung ngulon pan maksih. dening Prabu Anggalarang. ingkang nama Dewi Mayengan jeneng ira. kang dadya dewi mature. Sundha puri sarta selir walung dasa.– 26 – Ingkang nama sanghyang Widaya kang sakti. ing Pajajaran anengge. Cipali ya ika. ika nuli amutrani. PUPUH XXXVI DHANDHANGGULA – 01 – Pan sinigeg Anggalarang mangkin. . Yang Widaya. ingkang dipun rengkuh. Sanghyang Tubu kang linggih Sokawiyana. tetes kali Cilutung maring. – 28 – Kang den sedhep ing ayunan sri bupati Anggalarang. wustahunan windon mengku raja. cacangkok pra kuwu. – 27 – Dupi iku kang kaaken maha dewi iya ika. istri saking pasirmilir iya ika. – 29 – Wawangine Ni Erangtungtang kang nami iya ika. kaapti Ciyungwanara. pawestri kasing timbangan.

ing awang-awang trus. teka den rumpaki kabeh. basa jahata kerwanthen. ingkang putra jati kakalih. la payu katogena. img bumi anyaangkal obah. – 03 – Seja ngaru ingkang linggij aji. ing saiki seja ngadoni. yen den prasila mangpang. kyan Sukmaantalirasa. – 05 – Ya ki Patih Bentanglopang agasik. kudu bae ana kasandhungan. kang darbe manah ngungak. – 04 – Edir-kadiran panantang weri. sing akasor lampus. akeh panglimagung. – 06 – . kang padha sirikokalan. tanpa dadi kalilip luguting aji. pan bunihan akeh amijil. iya isun ingkang estu.– 02 – Lami-lami danguning ngaurip. saktining Anggalarang. dadya ngembat sarotama. surupe ing kasakten. ing sagunging sesa Anggalarang. kang kasebut nama nipun kang karuru. atmaja ya Lengkaraganal. mepeg gaman Pajajaran. sing ameneng dadi raja. bulus putih angabar. den katogaken sagung. estu megat kukuncung. amponi buwana Sundha negari. kang kang atma Jayanglangkara sakti. Anggalarang songkawa. arep wangun lingsem ing aji. Raden Jayalengkara ya tan giris. Sunan Talagamanggung. ya iku ing sajenenge.

ora kaya atma ingkang. tinarempang den jarage. ragane wus galudhag. Jayalengkara nyawa katarik. ing pangabdinipun. – 11 – . – 09 – Sasambate lamon mangke urip. kari saubing payungika. urip kaya wau. den gigit dening musuhe. pan sumedya angabdi kahula. Patih Bentang gegetun kapti. sja nyuwuk atmaja Yang Tengkara. dhateng sampeyan sakabeh. lan nama tiba ipun. kagem ngasta anyokot ilur ula mandi. Menak Panumping kabeh kaparentah. Ki Tumenggung kabeh padha anangis. den jaragang cinawuk. kinepus dinamu. – 07 – Ki Tumenggung atandang madhidhig. – 10 – Pan ya iku marganing angabdi. padha balik ing parnahe. maring sang Atmajaya. kempis-kempis kulimes sang Tumenggung ababalik sira ngabdi. maring Jayanglengkara aji. aglis sira andamu maring. nedha den gesangena. la ika pinritandang. maring Lintang tiba padha silak. Tumenggung wus lampus. ragane dadi gesang. Ki Tumenggung pejah kapisanan. ika ki Tumenggung. nuli kulawarganira. iya kaya lampus. Atmajaya balik maning. cunguring Paracutan. Paracutan kocap bisa. popoyan maring rewang. analangkup nyawaning wang dadi mati.Sanjatane sapujagat nempeki. Tumenggunge kangracut. den adhepaken muka. – 08 – Pan ageger wadya Pajajaran sami. wadya bala Sundha negari. Atmajaya agupuh. dening Atmajaya kabeh. Ki Tumenggung apejah.

ing Talaga kang den jeneki. Atmajaya adan ika ngangkat. tabuh maring Anggalarang. dening Atmajaya kabeh. tinumpes den tempur. seja malesaken iku. Bentanglopang karsa nglepasi. Bentanglompang saja amakaya. sing amaneni jemur. atilar Anggalarang. singa ingkang tan anut ing titi.aga. – 13 – Lawas-lawas ika sang apati. kadi gunung gelap marab-marab geni. – 15 – Wong Talaga kathah padha nangis. Susuhanan Talaga mengku nagari. maring sarirane dhewek. – 12 – Suuding bala kagiri-giri. Tumenggung Paracutan. ing sesane Anggalang. Atmajaya wus kaloka. amapag maring garantang. maring sang Atmajaya. lumepas anuju arah anglebur Ta. wus angadeg sang ratu. mula padha kamawula. gelap talaga ika mijil. ing emban-embanipun. wadya sajroning pura. . panyanane sakabeh kabakar. datan antara dangu. ingkang kathah wus padha kapurba. sejanira ngrebut. ning Atmajaya dadya.ora nyana kang kawula lit. sigra ngalurug kang bala mungkari sathithik. kadya ra ngobar jagat. dening gelap maludage. sanjata garantangan. maring Atmajaya padha gumusti. wau dhateng sang Prabu Jaya. anyakra bawana Sundha. kang warna kadi gegelang. welas maring Anggalarang. – 14 – Dupi wadya bala dhateng jawi. saolih-oliha merangi. pramila [atihipun. pirang-pirang ewu. sirna purna geni garantang alalis.

mubal malah tanpa tanpa sangkan mijil. kaligane ambuwal. kang nyawargakaken ing sira satuhu. alung babrena lalis. dan tandang Jayanglengkara. ing wau wurung den obar. . sira kukuru alawas. he Atmajaya iya.PUPUH XXXVII PANGKUR – 01 – Atandang Jayanglekara. anggigilani kang toya. pulih angsal pinangka. – 04 – Animbulaken ing toya. menthang sanjata topan sira aglis. – 05 – Kadi ta lir gunung toya. dadi maning lintang kerti iya iku. dhuwur pamumbaling warih. iki isun wis pepes ya aja tanggung. tumon gustine asakti. wong Talaga akeh padha anangis. kadak siking Cikeru. nyana den kelem ing banyu. sida iki den keleme dening banyu. surake bala Talaga. medal sira kapisemu. gumaludhug tanpa krana wetunipun. jelag subita babanting arti. atmajaya anabda iya becik. – 03 – Aja dawa-dawa wirang. sanjata aliwawar. duk lagi nabda samana. tampanan iya iku. – 02 – Kantun Prabu Anggalarang. Bentanglompang geblas kawur. Anggalarng angandhingini. den lepas si sanjata angin.

Ratugumilang lumayu. – 09 – Apa maning lagi wawrat.– 06 – Aliwawar wus lumarap. pramila nelang bagja. mulane muni lir mundhing. sangang wulan menga-menggeh lumari. Anggalarang katarajang nulya kawur. tan bisa aningalana. ingkang nami jeng dewi. krana mengkele kang napas. Parwatali tan mulat. dadya ika pancalima pandha cenguk. kaingsep ing sira lisus. muni ngowe-ngowe lir kebo limayu. Gelapnyawang sadhapure datan weruh. niba tangi seja njujug. mring Prabu Ciyungwanara. – 08 – Amung Prameswari nira. warnanen kang Jaya ngancik. wau dhateng Anggalarang sab gaib. bala wita ingkang iki. luntanira narajang. malah kalampah Jaya ika saking. sumhati ararangkangan. – 11 – Dadya tan bisa tulunga. langkung payah ical ing samangeripun. pramila sang Anggalarang. awiyang alalu lalis. – 10 – Susuhunan ing Talaga. kapepes kaduga lalis. Talibarat datan weruh. merad maring ngalam lintang. anarajang banyu asat pan tumuli. – 12 – . sigegen kang pala dara. turunan jeng Prabu Galuh.

Caierang lungguh ratu. Teja Pramana iki pambarepipun. sote yen jaba ning untung. Kenbalura jenengipun.wis mangkana adating donya. kaputraning Bathara Pancarangin. – 17 – . wis kandel ing rampak kuna. putraning Rawagadha. – 14 – Ing wong agung kahiyangan. ingkang mangke olih laki. yen ingkang wis tumeka. Ki Teja ing Ujung Lutung. nuli ika ngadheni nami. – 16 – Nuli Teja Ingaguna. ya ki Teja Sokasari. Jayanglengkara suhunan ing cai. lan Ki Teja Sangapriya. jeng Dewi Simbarkancana. Rawagadha putraning Bentangmerngu. lan Ki Teja Cintamanik. Bentangmerngu punika. iya iku kang nama. putra satriya pipitu. panggulune ika nama. Simbarkancana nulya miyosi siwi. ing untunge endi ana sakti punjul. – 13 – Ta ika baja daulat. kang sakt kang ora sakti. – 15 – Lamining ajatu krama. tumuli kang anaming satriya Ki Teja ing Payunhagung. pan rakaning Centangbarang ingkang nami. la yen mungguh gagaman ingkang mandi. olih nyelang marwasa. Jayanglengkara wis amiyosi sunu.

– 21 – Ngadhaton sagenah-genah. dhela-dhela sejen genah. duk pangidhepe sang aji. Silinwangi kang anami. duk mangko durung ana. dhela-dhela ngelih puri. kampir angrantuning enu. gadhang jodhone sang putra. masih nyatur andhing luluhuripun. ingkang nama punika. aneng pungkuripun timbul. – 20 – Karana Jayanglengkara. alihan lincak-lincak. – 19 – Garwaning Jayanglengkara. kawarta wus sugih rabi. yen kala ngider buwana. sugih garwa sagenah-genah mranti. kanggo pranti kandheg kampir ing lalaku. ana dhomas garwane amarinci.Dupi ika kang anama. sagenah-genah garwa. – 22 – Sang Orabu Jayanglengkara. ya ta Susunan Talaga. ing sandhenge angratu tan langgeng linggih. denganemu garwa. tan bosenaken ing manah. besuk rabi Ratu Pamratsari. iyang-iyung pijer amurwa puri. . remen alincak lincak. anjembaraken ngalenthung. – 18 – Mundingdalem namaira. dumadi amukti sira. Teja Sokasasri kang gadhang ing benjing. den parenca enggonipun. kamuktene ora bosen ing alungguh. apuputri istri ayu. pan mulane katela paparabipun. Ratu Pamratsari iku gadhange ing besuk. suhunan sugih garwa. wus koncara tepis wiring. sawula-wulan awangun. dadi anyar maning anyar datu.

embok metu maesa. ngowe-ngowe lir mundhing. Prabu Sepuh Ciyungwanara. ambekane mengkel ngeden arenggosan. praptane ing ngayunan. rabine ingkang lumayu. abagus wuwarnanira. karana biyangmu nuni. – 04 – Suka rena nalanira. awedi diboyonga. ya ta pareng ing kana Ratna Gumiwang. menggap-menggap ingkang napas. Jajaka Mundhingkawati. medal jabang bayi jalu. – 05 – . pon ika sampun angarti. kang karoban ing wibawa mukti. ngowe-ngowe kadi mundhing. Ciyungwanara jinujug. iya sun arani sira. ing ngayunan sang aji. ratu Gumiwang lumari. sang prabu sepuh sukati. ya sun puja dadiya sulur nalendra. –03– Nuli bae bebeleyan. udheg-udheg tiningalan lanang pelag. udheg-udheg bapa kyai. kadi wong anglalu lamis. yen Anggalarang lalis. dening Atmajaya sakti. ngowe-ngowe elap isun. legane bragojol jalmi. anyungkemi ing padaning.PUPUH XXXVIII SINOM – 01 – Sigegen suhunan Talaga. kawarnaa kang miruda. angadenaken babayi. – 02 – Bari rumangkang lumampah.

nyi mantu udheg si jabang. akeh wadon kang kedanan. edan bae kawenangan ing wong liyan. Anggalarang kang wus lalis. aja-aja kang tumingal. – 10 – . maring Wundhingkawati padha kasmaran. sabab uwis kajabel Jayanglengkara. bisa angrebut pusaka. sun srahaken maring sukmane si jabang. kasmaran ing Mundhing iku. wus ilang kang wirang isin. ing rat prakuwu mangsa. ya angrungu abane padha kasmaran. telungane ing kita. linulutan ing pawestri. manawa dadi susulur. katempelan asmara lulut. yen nyata titise jati. sandika ing mangkin aji. akeh istri padha lali. bisa amangko pinuli. – 08 – Estuning raga asihan. pan si jabang wus den asta. dinelap lastari urip. padha pasrah jiwa raga.Susulure rama nira. kelingan bae ing swara. konsi duga pitung bengi. – 07 – Ratna Gimiwang aturan. angruru pusakanipun. tut buri ing Mundhing gupuh. padha kabadri-badri. ingkang prawan kang wulanjar. ing wang tuwa maring laki. dugi mraja kawarni. padha buri ingithil. salagine ingkang sami. mangsa wurunga abangkit. – 09 – Ingut-inguting swaranira. ing rat prayangan mangkin. – 06 – Amung manawa si jabang. ing benjang salamet urip. openana den abecik. randha muwah duwe laki.

padha sosoroh gulingan. linadenan akirda pan sadaya. – 15 – . ngambat ing praja pra kuwu. sakeh wadon kempong perot sok wadone. padha kondur kokalan. anggepe Mundhingkawati. prandene linorod binegal marga. Raden Mundhingkawati. – 12 – Akirada pan sacombana. ing wadon sagulingan. wong anom amurang titi. – 13 – Yen konangan ingkang jaga. kang lagi tinandhu-tandhu. ingkang padha marinci. adate Mundhingkawati. padha rinujak ing lawan. Malangsumirang mambrih. angumbar akarsa nira. maring sang Mundhingkawati. padha sami sakarani. angambat maring garwa. mung kinambadan ni Pasung.Malah ika lampahira. malah ika lami-lami. lan garwane Jayalengking. garwane Majayalengking. saprakara wadon kang teka priyangga. ginaregeg den iring-iring. Mundhinggkawati nadhahi. – 11 – Padha sungsung rebut ing sang. Raden Mundhingkawati. lara pati sun labuhi. tan lawan den undang maning. kalesan ingkang murugul. jar murang niti rungruman. malah yen kapandhak margi. teguhan talikrami. kang padha rinungruman. – 14 – Sakeh wadon duwe ningwang. padedesan kang tumuwu yen den lewa. remening Mundhingkawati. akeh garwane Jayanglengkara jinamah. singasinga anekani.

panebusing murang sarak. rabine si Jayalengking. adate Mundhingkawati. – 18 – Lara pati dipun dhadha. nyumur gumuling lang angrong pusanakan. Mundhingkawati kalangkung. kamanyangan yen mendhaka. isun ora anggingsiri. ambegal ingkang pawestri. ora nana kang pinilih. braja gemet ing pawestri. – 17 – Ya ta garwa Atmajaya. yen wis sampurna abendra. anumbak pan sami nyuduk. sing awadon den cicipi. pan rinungruman sadaya. tinadhahan kang braja. dening kaliwat gemetan. padu wanodya ya iku. ingeculaken ing margi.Ginawa ing pasenetan. – 16 – Nanging sun mangsa kandega. datan kaliwat siji. kang ning padesan marinci. esok bae angkohe Mundhing Bathara. sakabeh den dalajahi. prameswari den sanggani. pon ya iku kang angembat tupaningwang. pan samya kang ngiring bedhil. iya pasthi sun sundhepi. aburan carampusan. Atmajaya musuhipun. luwih liwat anglalanangi ing jagat. tan ana braja nitisi. sapa bae kang kapapag. PUPUH XXXIX KINANTHI – 01 – . tan idhep garwa aji.

den buru-buru tunungtik. Brajamatya adhag-dhag dhigdhig.Ya wus dadi ara-uru. yen pinanjingan ing dhustha. seja nyekel sang Bathara. dening Arya Paracutan. raja gagaman talaga. mundelik kaya apejah. ya ta dadi den lurugi dening bala ing Talaga. mabura kang tanpa sentik. karajahan Atmajaya. ya ta kamisosot kangpri. ginawe ing raga ina. seja cinekel winingkis. – 04 – Ting salengseng ngalor ngidul. Mundhingkawati wong siji. koncara angrurung sebi. seja den kacebur cai. ambekane dipun tarik. angalahaken nagara. Mundhingkawati tan keni. ya ta wis amaribui. ora nan kang ngundhili. kang cinekel boya kena. – 05 – Tan olih gawe alusut. kacandhak Mundhingkawati. . Ki Tumenggung Paracutan. – 02 – Kang seja galethuk datu. – 03 – Juwala apa si bendhul. pating bilulungan tan polih. dadak-dadak den ebyuki. ora duwe napas mijil. – 06 – Sang Anom pan dipun cawuk. kaligane tan kacandhak. lamon geger garwa aji.

– 12 – . babarpisan angemasi. – 09 – mangsup dhateng jasadipun. sujud ing sampeyan gusti. katura ing Mundhingkawati. Tumenggung pejah den Gelap. Mundhungkawati lir mati. kahula datan langgana. – 08 – Gelapnyawang wus jumegur. – 11 – Tilar Atmajayanipun. supados mangke gesanga. namber Paracutan katimbis. dening Paracutan sakti. nyawa Mundhing kawarnaa.– 07 – Sabab nyawa den talangkup. ginawe abang putih. kawenangan ika dening. rama dalem Anggalarang. kaku jengkeng ora obah. nuhunaken pangapura. wus ngedhag tanpa ambegan. janggelak tangi urip. nuhunaken gesang malih. Talaga dipune ngabdi. dhumateng Mundhingkawati. ucul wis rumanjing maning. Paracutan tulus pejah. tan wande angabdi. – 10 – Ngasih-asih aturipun. sacecepenganing Paracutan. kulawargane anangis.

saturune mapan ora. . wong ora lana ngawula. sun rebut sing Atmajaya. si monyet si tai anjing. ya pon mangkono maning. – 15 – Tan pantes dadi Tumenggung. ora rep yen isun iki. cakelane den go bakti. endi ingkang gadhang menang. – 14 – Sanadyana maring isun. kena den pambri papati. – 17 – Nagara seja sun japut. Paracutan endha modar. Jayalengka wong mementhil. Mundhingkawati ngandika. – 16 – Sira wus age mampus. den bekteni ingkang kaya. babaktine Paracutan. arep sun cekel pribadi. pantes dadi wedhi bumi. ila ing badhami becik. ya iku den aku gusti. patut kanggo gawa salang. ing ngarsa sampeyan gusti. calak-calik ing agusti. – 13 – Kadedo ra dadi ratu. sun prawasa lan dumadak. pangidhepe nengah minggir. yen katekan musuh sesa.Dhateng Pakuwan pra kuwu. aweh ora weh ing mangkin. enggo apa den uripi. kanggepa ing ratu anyar. pikulan buburu dhuwit. Paracutan wong luwih ala. aja supe kene nangis.

anak putune sun buwang. Sukmaantalirasa sakti. Rahaden Mundhingkawati. – 23 – . ya wis larut tan katingal. mumbule lir gunung warih nrajang ing Antalirasa. sun tumpur kahananeki. adir-adir sakti luwih. mepes dadi awu nuli. sun uprak ing bumi ngriki. narajang baris dahana. Nyawange Mundhingkawati. kentir kagawa ing warih. malabar adadya wangwa. – 22 – Medal tanpa sangkan banyu. kawarnaa Jayalengka. – 20 – Jayalengkara agupuh. kawirangan padha nisi.– 18 – Ya sun anggep bala ratu. ika Atmajaya lengking. – 19 – Ya ta Baronjot Tumenggung. den samber dening Gelap. kentir kagawa ing warih. wus wruh yen Tumenggung mati. yen wangkal iya sun kebat. kalih sadherek kang nama. adan sang Mundhingkawati. – 21 – Sukmaantalirasa sampun. amapag sireng payudan. ambabar ing baris geni.

nuruni racun garigis. – 26 – Parandene kang tinuju. kajulina tibeng siti. lisus angeder lir ngreba. narajang ming Jayalengking. wus merad alalu lalis. – 24 – Mundhingkawati rahayu. medalaken wira sakti. Mundhingkawati amuja. bulus putih dipun japa. gramanggramang iku dadya. angembat sanjata angin. nampek ing Mundhingkawati. akening Sangyang Ukir. sumilem amblese maring. kawur maning yen iyaa. – 25 – Tandange Jayalengkara. sangyang Talaga alalis. kapisanan kalembak. Sangyanf Aliwawar ngena. wangkeng kadi pacek wesi. banyu cikeruh ngulati.Ambles maring dhasaringpun. silem ing talaga yoni. gumingsir salagi beli. bulus putih angambara. tan pakara kang garigis. PUPUH XL ASMARANDANA – 01 – . dan Prabu Jayanglengkara. – 27 – Panumbule kadi gunung. Sangyang Talaga ika.

ing Mundhingkawati ngulun. kawal ratu Pajajaran. pamagutaning wicara. Ki Tumenggung Padhamenak. tulus jayane angrebat. kang nguningani pagawe. – 04 – Tumenggung kang anami. putus ing kademangan. sakalir ring pamatrolan. angrapu-rapu bagja. ingkang kasebat nama. anata ing Pajajaran. Kawungluwuk ingkang nama. . anulak cilaka isun. wau ingkang manjing metu. jaksane lan papatihe. ngabehi kang uninga. – 06 – Ngabehine kang anami. – 02 – Apa kaya wingi uning. katelah nalendra anyar. wus den angkat pangratune. ing buwana Pajajaran. dening luluhure ingkang. – 03 – sang Prabu Mundhingkawati. sumulur ing ramanipun. sadaya sami nembah. ingkang ngreh pradata sakabeh. pusaka saking ramane. wong pinter anginger bala. Mundhingkawati samana. – 05 – Demang Sedhapura.Duk iku Mundhingkawati. Ki Patih Gurugul iku. ngagem pajagan sakabeh. idhepe ing Pajajaran. wong cilik sabarang karya. pinangka pajakanipun sang ratu ing Pajajaran. kang buawana Pajajara. menak pra kuwu Pakuwan. nami Ciyungwanara.

– 08 – Duk samono Gulbopati. sakabeh durung ana. – 10 – Lan Susunan Wanaperi. – 12 – . kalawan Susunan Parung. lan Susunan Ranggalawe. – 11 – Suhunan Jati apa maning. pon ya tedhak Pajajaran. Prameswarine kang nama. iku Susunan Sambate. kabeh tedhak Pajajaran. Sunan Tegal kahiyangan.– 07 – Awindon ataker warsi. iya kasebut Susunan. kang ana ing Pajajaran. lan kaya ika benjang. garwa domas ing kathahe. lan Sunan Ranggalimbangan. lan Susunan Raja Malaka. Dewi Trusgandarasa. lan Sunan Jumajeng. kang wus lenggah binagawan. masih nyatur kang luluhur. Susunan ing Tatanpolawung. Mundhingkawati angraja. lan Sunan Tegalkayangan. tatapi duk samana. lan Susunan Kidul ika. lan Susunan Pandhajawa. anak putu Pajajaran. lan Sunan Telagamunggung. kang amba gawan linggihe. saking luluhur ibune. – 09 – Duga ing sawuri-wuri. lan Susunan Ciburu ika. kang asal kaputrenipun.

ana den brangas kewala. babat kang den pangan mantah. dupi lawasing lawas. pirangpirang manjangan.Sang Prabu Mundhingkawti. pirang-pirang kang tampayang. wadya bala katutugan. turunaning Linggaiyang. singga alas den oyak. gaganting anarambah. yen buru kidang manjangan. ing alas arame-rame. surake ambal-ambalan. – 17 – Ya ta dadi anarengi. wus loba pana dhacinan. – 13 – Pating careluk sukati. wus warna-warna asuka. – 15 – Kang den bacem den petheni. den sasate den pepenthul. ora nan kakurangan. kang dipun ayem atine. paburu asadhiya. lir ta kang mangan anyaran. genya kasengsem aburu. sukane manah agawe. kang dhinendheng dipun gulung. sakti-sinatenan iku. iku wus aduwe turun. kulawarga santana. . idang pirang-pirang atis. duk rasmi lan manjangan. sok rena sagedhene. karemene ambedhag sangsam. kang katelahe ing nama. den gecok den rerempah. manjangan asantana. kang pareng olih bayangan. olah-olahaning mangan. bakasem daging sakabeh. – 14 – Kang den bakar dentengi. – 16 – Masih abang jare manis. kumanjangan daden-daden.

dening ika ing ngamukan. gelar panyelang susila. – 23 – . gumaringsing ing ulese.– 18 – Manjangan gumulung sakti. Linggaiyang kang sasmata. gagaman maning yen mempana. maring Mundhing Bathara. ing galunggung kahanane. tan sakeca ing nala. sumeja sira tutulung. sang kidang pananjung ing Sundha. sang kidang panawungan. manjangan pon sambawane. sakarang ngamuk ing alas. kalih sang kidang panawungan. sampun wangun gelar pamuk. iya iku ramanipun. mangka nata uga ika. lan manjangan wulung upas. seja angayoni gawe. dadi ika ratunira. ing kidang lan manjangan. – 22 – Paburu akeh kang mati. – 20 – Dangune den osak-asik. gegere wong Pajajaran. lan kidang panawungan. samya kapalayu kabeh. ya iku kang estu turun. dening tantetesing punglu. – 19 – Manjangan gumulung yakti. iku ramaning manjangan. – 21 – Manjangan gumulung sami. tanopen kidang ancaran. maring kula balanira. kang bangsa kidang sambawa.

anglingkab koncaning ratu. pelore kaduga gepeng. manjangan den coco. PUPUH XLI MIJIL – 01 – Ki Ngabehi Kuwungluwuk ngandhepi. wus kadi lempung kewala. . ora kruwan Ki Demang tibane. kapental lir punglu. ingkang kidang dipun timbisi. den tuju tumuli. – 24 – Patutu iku dhedhemit. prandene tan pupul. kidang den cekel soso. galunggung betan siluman. kidang sangsam wau.Sedhengane ika bedhil. inton-inton panawungan. iku ta manjangan apa. – 03 – Gada tikel Ki Demang den undhi. iya kuwel gulung rame lagane. lawan gada wesi. lawan keris atugel kerise. mariyem datan tumama. Kuwungluwuk den undha wanti. dening teka kabeneran. kidang jurig alas moreg. gawoke nembe anemu. ngamuk amarawasa. Ki Tumenggung Padhamenak sri angandhepi maring. – 02 – Demang Padhamatang ngandhepi. ing awaking manjangan. muluk kadya pelor.

dadya sira ucul sing astaneki. kabyesat adhawu. – 08 – Tangi ngudhag dipun tujah maning. – 07 – Gulunipun manjangan tan kanin. – 05 – Ora kaya manjangan kang sakti. sinerat dhumongkol. ambaluki Pati. ing Ki Patih ya karasa seget.– 04 – Sigra tortoran pijig-pinijig. tangi ngudhag den papagane. Yang Gurugulkiwul. sadyanira sinembeleh age. adan sang apatih. ora kruwan tibane malih. ing gagamanipun. tan kahur parek den wingkis-wingkis. tatali aliyur. aprang popon-popon. kidang ika uwis. kapyesan tan adoh. ora kaya seking tan sipi. – 06 – Enggal tandang manjangan den kempit. pan binalangaken kidanga. duga pasukadi. nujahipun solot. – 09 – . ya datan miyatani. kapental ing ngasruh. Ki Tumenggung ing kabelasate. sigra kang manjangan nyokni. dipun udha den walik-walik.

ya pangonan alimun. – 11 – Saking kutha Pajajaran mijil. ing gon ya ing kono. gunung Kuwendenlok. geger pating careluk. duk samana iku sang dewi prameswari aji. – 12 – Ya sejane go umpetan aningid. ya dening sang prabu. kumaritig mrono. kang seja den ungsi. maning jeng sang katong. wong Pakuwan padha geris kabeh. samya bubar saupacarane. Mundhingkawati sabandhu wargane. – 13 – Paparabe kang kuna angapti. munggu kadikuling. gamarudug gatos. Tegaluwar ayu. wus tan ana miyos. – 14 – Sagrawane saselire ngiring. pandhe siluman ya iku genahe. gunung Trogong kang den purugi. – 10 – Dupi kidang manjangan anuntik. Tarogong kang nami. pala dara nisih. iya iku namaning kang ngukir.Murud tinandhu sang kyai patih. ingkang kaparag sami. mung kang kari saelir-elire. trus kandha duk iku. . garwa kula bala ngili. iku gunung Antragangsa rane. ngalor ngetan metu. mulane dipun wastani.

dening kidang langgon. lagi kawalesan den baledig. lan manjangan gumalunggung pri kaget. – 19 – Prabu Mundhingkawati ambelik. lan manjangan racun. ya kang meteng brojol mijil. – 16 – Ya ing kono pareng kaget kanyedig. ngenthe-enthe loyon. Antragangsa nenggih. bubarira kadi kapusus ing musuh. – 20 – . – 17 – Tan emut garwa Kaluwargi. den jaluki tulung. rebut urip sewang-sewangane. kang gandane arum. bumi Tegalsili. ingkang gandane arum. pan kaburu karo laki lempate. ing tegalsili. duk lalaku pan ambeneri. dening kidang sakti. dupi Prabu Mundhingkawati. meteng tuwa suwe lakune. he gunung Tarogong.– 15 – Dhuweg bobot wawahu sangang sasi. wus anyandhing ingiring aning ukir. – 18 – Tan karasa jabang bayi mijil. tulungana isun sakabehe. ting barisiting wong. bawaning ambesot.

katujah kacokot. wus mangsup sakabeh. gunung Tangkep maning. . dan Mundhingkawati.Ya ing wau kidang sun baledig. dupi iki isun kang kaseseg. ora metu-metu salawase. wong Pakuwan samya abubar kabeh. pirang-oirang buron. ing gunung Tarogong. tan kawagang nempuh. – 23 – Maring jagat ingkang ing sajroning ukir. mantrinisun sami. sabronjote mangsup. yen wewedhe tan karsa amilih. – 21 – Balanisun akeh padha mati. – 22 – Sinambadan pareng samana ukir. tembe emut ing wewetangane. ya dadi ingkang enakane. kaya jagat ing weteng ingukir. wusing manjing ing sakulawargi. mrene iki jawane angili. ing manjangan dadi amuki. bawaning alali. – 24 – Pan sarupa merad Mundhingkawati. duk wau lumayu. belamiyan katingal ing jrone. Yang Gunung Tarogong. tulungana isun. ya ta kidang manjangan dadi. age den agelis. apa kaya mau. – 25 – Ya ta Dewi Trusgandarasa adi. kaget dhateng kempong.

warnane sang jabang bayi. kaya kucing amberseni. – 02 – Wus karesi si jabang kaya ingedus. maring anake mangkono. dukaciptanira prakarane. akyu aran kahiborit. sampun punthes kaya puput. baya anaking wong. macan kesah ngunguliti. kang marojol kantun. . PUPUH XLII MEGATRUH – 01 – Pan sigegen kang sarupa lalisipun. tangtu anyuluri. si jabang bayi mami. sapa bisa manggihena gusti. ana ngendi baya ing tibane. pepeleme den dilati. ing garwa ja dados. dening embok macan wadon. den cokot kang ari-ari.– 26 – Prameswari alara anangis. kang neng Tegal Silih harum. ing tilas kita mau. anak kita kang marojol kari. – 27 – Prabu Mundhingkawati lingnya ris. nuli ana wong aruru. ningali jabang ing kono. – 03 – Karojotan si jabang lagi ing riku.

– 04 –

Pan binakta si jabang den agupuh, pramila dipun wastani, Siliwangi namanipun, krana asale kapanggih, ing alas rum kuno.

– 05 –

Tegalsili tampanganing alas gunung, jabang sili rum dan urip, urip ing wong ngambil kayu, kocap anak kahi Borit, salirum warna jalitro.

– 06 –

Wantu-wantu dadi anak tukang kayu, badan ora bresih-bresih, kalalare ladheg buruk, ora na prajapajaning, taliti putra sang katong.

– 07 –

Ya wus apa dudune bocah ngon gunung, carobong ngenek-ngeneki, ora ilok adus-adus, ing maletenge agething, rambut kethel ingakotor.

– 08 –

Tan kawarna lampahe budhak salirum, kawarnaa kidang lemping, sasirnane ya sang prabu, dadi ika ngosak-asik, anang Pajajaran nyewot.

– 09 –

Maring menak pra kuwu padha alarut, amalayu den baledig, geris tan ana atunggu, ing praja den tinggal bresih, golendhang kariya kosong.

– 10 –

Kaisenan kidang manjangan akumpul, garadang-gridik awan bengi, angkohe anjabel dhatu, dheweke ingkang ratoni, ing kono mulane manggon.

– 11 –

Gawoking wong menak pra kuwu, genya kasanglat saking, wedi mareg bok den amuk, padha geris samya nisih, ing parna ing adoh-adoh.

– 12 –

Kidang Panawungan lan Manjangan Gumalunggung, lunta puas-puas ati, ngamuk ngulon ika mampuh, Pakuwan Prayangan goning, Ciyungwanara dipun brobok.

– 13 –

Geger gemetus menak Prayangan alarut, padha ngili nyingid tebih, maring guwa maring gunung, tan ana bisa ngundhili, pan sami abubar adoh.

– 14 –

Prabu Ciyungwanara ngili lumayu, ing Simpar patapaning, Ajar Ujung Banaliwung, asingidan denimponi, dening Ki Ajar ing kono.

– 15 –

Wus angarti anak putu padha larut, sowang-sowangan lumari, rebut urip laku rusuh, ibur uwis ora mikir, maring laku raton-raton.

– 16 –

Ya wis pating barisat tan mikir lungguh, nagara wus …………. gandring, kalingdih ing kidang bungur, …………. kaisen dening, kidang menjangan ton-inton.

– 17 –

Ika padha angkohe anglindih ratu, malesa poli den buroni, Mundhingkawati duk mau, amburu manjangan dari, saiki gagantos buron.

– 18 –

Ya sang Kidang Panawungan sabala ngratu, ing Pakuwan kulon nenggih, Prayangan kang dipun gelung, malah wus putra anami, Kidang Pananjung gadhang wong.

– 19 –

Dupi sangsam gumlunggung sabalanipun, angrat sakukubaning, Pajajaran kuwu, Pakuwan brang wetan nenggih, kang den wingkis kang den enggo.

– 20 –

Pajajaran kilen wetan wus den aku, ing Kidang Sampati, kulon sang Kidang Panawung, wetan Manjangan Kumliking, manjangan ya la wus miyos.

– 21 –

Putra Manjangan Gumaringsing namanipun, ya iku kang gadhang jalmi, pramila ing waktu iku, kidang manjangan kadhasir, sarasmi kalawan wong.

– 22 –

Sabab asal-usul Inggaiyang wau, Kidang Panawungan sami, akir dalanjal malulut, yen manjangan iku dening, sing Galunggung dhemen ing wong.

– 23 –

Lan yen monyet Cogowang iya ikut, ilok dhemen maring jalmi, sabab asal-usulipun, sing Lutungkasarung dhingin, margane kadi mangkono.

– 24 –

Waktu iku Pajajaran kaslangipun, ing ratu sato sambawi, ya sijar salaminipun, Silirum sing maksih alit, maksih dadi budhak kangon.

– 25 –

Ala walatra bocah anerus tunjung, lami-lami ika nuli, ana kawenganing pulung, putra menak Sindhangkasih, nyi Rara Sigir pan jatos.

– 26 –

Masakaken ing budhak si Silirum, ingimponi den karseni, denedusi timbul pulung, ya si wantu tedhakaning, andana wirya gung katon.

– 27 –

Gilang-gilang marenenge tejanepun, komarane anelehi, mangga ngucapa sang ayu, Rara Sigir genya ngapti, aja na liyaning jodho.

– 28 –

Dadya Jaka Silirum ing jidhonisun, mungga kadulura dening, panadyane atinisun, mangkana ing duk pamikir, sawiji kalawan jodho.

PUPUH XLIII DURMA

– 01 –

Waktu iku nuli ana ing bancana, wau cicipaning, dalem Palimanan, karsa angiwat-iwat, Sigir Panjaling ingkang den prih, adan sakala, iku nyamber sang putri.

– 02 –

Putri Sigir sinamber tan kena inadha, enggal dipun tulungi, dening Siliganda, kalampah sira pancas, buto roro den kembari, kinarya sepak, padha buta kagulinting.

– 03 –

Malah katon ing wong Sindhangkasih sadaya, Silirum asakti, anyana punika, dudu bandra-bandrakan, duga buta kalih neki, larut asirna, wau den sanjatani.

– 04 –

Dadi mundahak katarimahe ing kana, dening wong Sindhangkasih, pareng lawas-lawas, Siliwangi teka karsa, ing manjangan seja wani, pinenging aja, dening si Rara Sigir.

– 05 –

Aja sira ngulati gawe angangkah, isun melang ing ati, bok ora kawagang, sunrungu ika sangsam, kaliwat ing saktineki, kaduga ngebat, aken Mundhingkawati.

– 06 –

Jaka Salirum wangsulane ika, ingkang sun ajab lalis, angrebat nagara, babaguse wong lanang, angulati apa maning, punika sawarga, ginawe ayu mangkin.

– 07 –

Adan mangkat Silirum anggawa panah, tan arsi dipun iring, kali wayangan, sudira ngundi lawan, panantang baya ngenani, sampun anjujag, pra kuwu kang den ancik.

Siliganda wus bisa ngrebut puri. lan ika manjangan. adan putranira. – 13 – . ika ingkang nama.– 08 – Dyan Manjangan Gumulung wus dadya mulat. maring daleme malih. dhumateng Siliwangi. ya Manjangan Gumaringsing. adan lan gagadhang. dupi tiba dadi jalmi. bugel sangsam ngemasi. kosonging praja. lamine sawelas warsi. – 12 – Duka yuswaning sawelas warsa. nuju wawayangan. tinujah kaliwat kadi. narajang bela pati. tembe saiki pulih. – 11 – Apoliye iku menak pra kuwu ika. malesate kagawa. ingapura den wenehi. iku hebating jalmi. sagenah sayasa nipun kang mula-mula. Gumaringsing kumawula. – 10 – Den papagaken layan sanjata wisesa. tan dangu den walesi. gupuh anembah. cacangkok pisan ing Galunggung pan nagari. Manjangan Gumaringsing. Silirum dipun tujah. – 09 – Ya Manjangan Gumalunggung sinabet lan panah. wus kakenan panah. bela ing bala.

la iku purwaning dadi. Kidang Panjing prepeki. riku kang kidang. sira dadi jalmi. bisa pulih waluya. kang gadhang nyakrawati. kidang den panah aglis. Pananjung ika aksami. datan antara nuli. maring Pajajaran malih. – 18 – Baudendha wekasanira nalendra. karebut ing Jaka Sili. Siliwangi kang ngimponi. adan ingkang putra. tumuli anembah. Panawangsa ngemasi. ing Panawungan perni. jujug prayangan ngancik. – 15 – Amalesat Kidang Pananjung atiba. dhumateng Siligandha. maring sang Ganda. menak prayangan. ing Siliganda. – 17 – Den apura pan sinung cacangkok sisan. ing Pajajaran. saiki dumadak.Jaka Siliganda angulon ika. ing rat Pajajaran. wus apulih karta. mantuk ing Ujungbana. Prabu Ciyungwanara. bisa balik mulih. adan pinapag aglis. duk ningali kolebat. ing jalmi amburu aglis. seja bela ing rama. – 16 – Ing enggone alinggih lagi duk kuna. Kidang Panawangsa. – 14 – Dipun sabet lan panah tugel sang kidang. . sawelas tahun angili. asuka rena dening ananulungi.

dening kaliwat sakti. rena manjing ukir. mesat dugi babar. kinongang nundhung weri. pareng macan linggar. dadiya susuluraning. dadine danyata. babaring Tegal ara-ara Siliwangi. – 20 – Ya tan dangu Parwatali talibarat. sri Pajajaran ingkang bagawani. ing tegal siliwangi. ing pusaka pribadi. arebat wipala. subagjane sun puja. – 24 – . kaprabon duwe nira. – 22 – Ya sarupa lalis tilar si jabang ika. sasmata angrebat.– 19 – Kujajaka prawira nom sing dibaya. jabang tiba katilar. – 21 – Duk kapeleter dening Kidang Manjangan. jabang dipun gemes sang dening rencek kyai Borih. peciling Mundhingkawati. gela nyawang pra sami. diweg mateng kang bibit. ora nyelang ora nyiling. tedhak atur wara. dupi kang yayah. – 23 – Ciyungwanara ngandika mangsa bodhoa. sima ingkang dilati. inggih punika delap dumadi sakti.

– 25 – Alungguhan nyakrawati Pajajaran. ora ana musuhe ing buwana iki. ratu sajagat buwana kabeh iki. kang anyar-anyar katondha saking kana. kina wenang iku ing sakarsanira. karone tunggal. dening Yang Acintamanik. PUPUH XLIV LADRANG – 01 – Sinahuran geger peter ketug muni genya ngangkat. sira ingkang ngimponi.Sira sanyata gintung-gingtung manira. sun istreni sira. – 02 – Bala dewata jawata amayungi wus kaloka. – 04 – Lan koncara liwat luwihing prajurit. ing salungguhira. Prayangan pra kuwu uwis. tirimaa sira. ratu araga sukma akadang sukma. ingkang muji jati. kajana priya ing luwi. si gintung saiki. ngiseni Sundha nagari. dadya angreh Pakuwan. – 03 – Sugih sanak sugih putra sugih rabi dadya merna. ora ana kaya ratu Pajajaran. . karajaan Siliwangi.

Jalana kang ngabehine. Kalangwirana Kalangbadhag Kalangbrama. Kalanglunana. ing Pakuwan nyakrawati.– 05 – Menak pangrengku kang nama awarni-warni. kocap ingkang. Gajah Barong Gajah tandhing. Kalangtonggo Kalangsari. Gajah Muntang. – 07 – Kalangluhur kalawan Ki Kalangeling. Kalangangkes Kalangsiyu Kalangrejang. Katumenggungan malih. Gajah Manggala muwah Gajah Siluman. warna-warna. sugih wadon miwah sugih putra wayah. – 06 – Gajah Enggang Gajah Puntang Gajah Rucik. kebek ing rat. mantri gedhe mantri cilik wis anjagat. – 10 – . – 09 – Pan mangkana wadon abrakothi. – 08 – Kademangane kumerab awarni-warni.

– 12 – Katelah nyai Embok Agung amutrani ingkang nama. . jaler ingkang apranami. jaler ingkang naminipun Raden Umbang. Mundhingdalem paparabe putra nata. tan ana durga nyantoli. dadi tulus jodhone lawan sang nata. – 14 – Nulya iku akrama ya maring putri Tejasuka. ing putra saiki negari.Wis awindon takeran tahun amukti awibawa. – 15 – Pandhajaya iku wus mutrani maning ingkang nama. pan gumelar putra wayah ya anjagat. nuli puputra kang Susunan Pandhajaya. – 13 – Dupi garwa ingkang nama Panawangi apuputra. – 11 – Malah istri kang purwa anggumateni timur mula. nami Putri Pamratsari. ingkang wau Sindhangkasih. ajalera den Sangkeki. putra dalem ana ing rat Pajajaran.

rang-arang acucuk prang ngamuka. Linggaiyang puputra Sangiyang Arjuna. iya iku amutrani. cacangkoke bupati pan dudu nata. – 19 – Sangiyang Arjuna baya gung asisiwi ingkang nama. nama Prabu sabupati lungguhira. – 18 – Prabu Kangkangirang ika mutrani ingkang nama. Linggaiyang anem suri. – 21 – . – 20 – Dupi garwa Siliwangi ingkang nami mraja cinta. Prabu Kangkangirang nenngih.– 16 – Dupi putra Nubdhingdalem sanes bibit iku lanang. Linggalawang ing Cipamali. – 17 – Duk samono akeh putra ingkang den prih lawan nana. Sangiyang Madhangrasa Medhangkamamangga. prabu ana ing bupati.

Sangiyang Wiragasakti. ana denegarwa Prabu Siliganda. Siliwangi ingkang nami. ing Ratulawang kang puri. Maharaja Larang kang nitis. Saselawangi apuputra Sangiyang Tular. Kidang Pananjung ingkang saking Ratulawang. ingkang nama Ratna Yumanik gumilang. Ratu Widayaka anuli sira puputra. dupi garwa. – 26 – Ingkang nama Dewi Pergilayaransari mulya putra. Siliwangi ingkang nama. . – 22 – Tyas iku ingkang ngawiyosi siwi ingkang nama. Ratu Widayaka sakti. Prabu Siliwangi maning.Ana dene garwa Prabu Siliwangi ingkang nama. – 23 – Prabu Resik ing Rajapolah kang puri dupi garwa. – 25 – Apuputra Yang Jampana alinggih aku ana. – 24 – Kang alinggih aneng Panembong ing puri. Yang Wiraga puputra sang Ratu Puntang.

– 31 – Kang alingghih Kamiwelas dining puri. apuputra Kidang Pati. Ukur sepuh aneng kadhipatenira. kaping tiga. – 32 – . iya iku Sangiyang Bathara Larang.– 27 – Ingkang tapa aneng ing pucuking ukir made sukma. kapindhone Anggalarang Anem lenggah. ing Jumajang ingkang puri. angadheni Ratu Mas tuwa nini moyang. aneng arga Gunung Munara kang puri. sang Prabu Jayapakuwan. – 29 – Kang adalem ya ana ing Ratuwangi. Pernalarang ing Raturuyuk kang puri. – 28 – Ratu Puntang puputra titiga nami. sangkane jujuluk nami. Prabu Jayapakuwan iku puputra. – 30 – Prabu Sendangpugeran iku kang alinggih. Yang Mas tuwa.

kang adalem ya aneng Sagara Erang. Prabu Wasipernasakti. ingkang dalem ana ing Tetegal. ing Ngabdu ing alinggih. ingkang nama.Dupi Prabu Sendhangpugeran mutrani. Prabu Sendhanglimun sakti. Prabu Sela. kang nama. kang anama Prabu Sendhang Jayasakti. – 37 – Prabu Wesi pareng ika amutrani. Kandhuruwan tuwilimun kang alinggih aneng Gunung Ciaya ing enggonira. ya ana ing timun putih puranira. kang adalem ing Rajapolah. – 34 – Sendhang Ngabdu ika apuputra malih. – 35 – Sendhang Gunung iku amutrani maning. Prabu Sendhang Gunung nami. – 36 – Sendhang Kajayan nuli ika amutrani. . kang adalem ing Gunung Gedhe kang pura. ingkang nama. – 33 – Sendhanglimun kunuli mutrani.

– 38 – Kandhuruwan ika mau amutrani. – 39 – Ki Santohan Kadirun kang anjeneki desa aran. Patrabangsa lan maninge. Mundhing Bthara kang linggih. santohan punika. . ingkang linggih Luwimundhing dalemira. Ki Wargakosala. sanga jalma. PUPUH XLV PUCUNG – 01 – Lurah Bangsa punika ingkang alungguh. sanga iku putrane Ki Kandhuruhan. adalem aneng Pamijahan Karang. – 03 – Arya Wirantanu ing Cibalagung. Eran-eran Ngewre nami. pernaira tapis wiring Pajajaran. ing Pamanukan genahe. Wirakusuma ing Ciasem ingkang pernah. ing Panguragan genahe. – 02 – Pancase la ing Palered dalemipun. ana ing Pagagan.

nama ratu Demang. jenenge Ratu Pramana punika. Panji Rababuwana. – 08 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. kang kaksih jeng Batharadinata. – 06 – Wondane wau Yang Wiroga ausunu. Buniwati raras. ki Wargakosala. ingkang dalem ana ing timbangan ika. Bathara Sakti jenenge. ing Panunukan genahe. amiyosaken putrane. – 05 – Ingkang ana Sundhalarang dalemipun.– 04 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. sanga iku putrane Ki Kandhuruhan. nulya puputra Sangiyang Sempokwaja. amiyosi kaputrane. – 07 – Sempokwaja kang agarwa putrinipun. Sijine kang nama. timansapura jenenge. – 09 – .

sri Praman ika. – 13 – Ratu Kawunganten rama dewa iku besuk. Dhipati Cangkuang mangke. Medalagung ingkang miyos. – 10 – Garwa Ratu Pramana kang nemla ika. anuli miyos putrane. putra nama Susunan Raja Malaka. kaloka ing rat. kang Susunan Jati ing Carbon.Nulya gagarwa [iutri saking raja Galuh. mangka Dhiputi Cangkuang iku puputra. – 14 – Ratu Pananten rama dewa jenengipun. ingkang rayi istri iku namanira. kang Susunan Ranggalawe. – 12 – Kang dadalem ing Cangkuang pernahipun. – 11 – Tyas iku dadalem ing Cangkuang pernahipun. jujuluking nama. Dipati Cangkuang mangke. putraning Susunan. . ingkang rayi istri iku namanira. ingkang dados garwa. kaloka ing rat. nama Suhunan Jaratna ing Cipinaha. kang dadalem ing Timbangaten nagara.

ki Sangulara namane. – 19 – Rara Siluman miyosi putra pipitu. Rumsari ganda. – 18 – Kang dadalem ing Ngendher ingkang jujuluk. iya iku kang limunan ing Tunjungbang. – 16 – Nulya Yang Ageng nuli amiyosi sunu. nuli puputra dalem Nayagati ing Sundha. – 17 – Ing kajaksan ing Carbon iya iku. Sangiyang Ageng kang alinggih Setularang. abangsa lelembut. ki Dhipati Cangal. tumuli apindha. iku amiyos putrane. aneng Cilutung genahe. maring Kanci dadalem. Dupi garwa Siliwangi kang anama. nama Sangyang Mayak.– 15 – Dupi garwa Siliwangi kang pulangun. – 20 – . Yang Mayak puputra dalem Narasinga. dupi kang katelah ing ngendher.

mau Sumur Agung nuli puputra. – 22 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. kang neng Sawunggantang. – 25 – Ratu Rawana iku nuli susunu. ki Wanabaya linggihe. ki Kamalarang ing Ngonom genya ngimba. pra buwana bala. ki Kuyupuk ingkang. sangyang Wirun paparabe. pan titiga sawijine ingkang nama. putra ingkang paparab Ratu Rawana. ing Guwa Upas dhemite. ping telu kang nama. – 24 – Sangiyang Widaya anenggih ing namanipun. – 23 – Mundhingsari kapindho Yang Sumur Agung. dupi Yang Wirun kang miyos. Prabu Wanabaya nulya puputra. Sri Intenbancana. – 21 – Ki Mayadewata ing Malakbok genya lungguh. ing Guwa Sancang limute. ki Daluwengi ingkang. . iki lewi aneng Guwa Pajajaran.Ki Dhiriwengi ing Ragan manggene lungguh. iku miyosi putrane.

– 27 – Duk wau Linggawayang turun-tumurun. dupi garwa Siliwangi kang anama. Yang Lebakwangi jenenge. Linggawayang putrane Sangiyang Arjuna. lilima satriya. – 31 – . Sangiyang Sogol ing Maleber. lan Linggawayang marmane. Sangyang topasri lan Sangyang Babak panyarang. ing Citaman dadaleme. Yang Sumur Bandhung linggihe. puputra Sri Wayang. ingkang apranama. ingkang sakapika. – 29 – Lan Sangyang Panengah ingkang muwah adhinipun. – 30 – Pandalarang ika amiyosi sunu. nuli puputra Raden Senapati Ngalaga. nuli Sri Wayang Nuli puputra. – 28 – Linggasri aneng Pangkalan tumuwu.– 26 – Ingkang nama Sangiyang Ngabehi cucuk. nuli apuputra.

Prabu Rangsangjiwa. – 33 – Katurunan ing sih ingkang miyos putranipun. dupi Ki Gedhengrungka. Rangsangjiwa nuli miyos. Raden Tetel kang sepuh nuli puputra. apuputra ing name. Tumenggung Suradarmane. jenek ing salami-lamine. Yang Guntebuyeng jenenge. – 36 – Kalih Ki Kartamnggala iya iku. nuli puputra Prabu Layapakuwan.Lan Sangyang Cimara kalih Sangyang Ciagus. nama Raden Tetel kabeh. jalu ingkang nama. dupi garwa Lisiwangi kang anama. ing Tegal Koripan. Tumenggung Sedhangrungkang lan Tumenggung Cikakak. putra lanang sang Dhipati Kartamana. – 35 – Kartamana lilima ing putrinipun. iku Gedhengrungkang. – 34 – Prabu Layapakuwan anuli susunu. Dhipati Manggala nuli puputra. sakalih maneh ika. – 32 – Raden Memenang ingkang mangke tuwuh. .

Mayangkaruna kang anami puputra Guru Gantangan. saking Pajajaran. Emas Batulawang ika. – 02 – Dupi garwa Siliganda. nulya Cirawati nama. lawan Puswawangi. Ki Nataraga wastane. . iya tirik iya lerek. lan Raja Parana iku.– 37 – Ingkang nama kiyai Kabul puniku. PUPUH XLVI SINOM – 01 – Ki Tumenggung Suradarma. kang mernah pencar-pencare. – 39 – Kabeh iku tedhak Sundha gung-ginunggung. kang jujuluk kang Ranggamantri. dupi Tumenggung Sedhangrunggi. Wangsacandra Wangsanata Wangsaprana. kang anjagat sawengkening Pakuwan. kang aneng ardi. Kabul putra papat. Prabu ing Pakuwan adhi. iku apuputra nyai. lan Ajengarjuna. – 38 – Wangdaprana apuputra Ajengawu. lan Susunan Wanaperi ing Talaga. Kyai Emas Anggawijaya puniku. Bagus ardi Tumenggung warga dinata. anulya puputra nami. anulya nuli puputra.

miyos puputra kakalih. miyos putrane sakawan. nuli ika sang Pandhahan. Raden Danupati ing namanira. Ukur Ngoradhipati. tetelu ingkang anami. Demang Gedhe puputra. – 04 – Akrama aputranira. mangkana santohan pelang. nuli putra nyimas Kirana. nuli putra papat nami. Raden Togog namaneki. lilima kathahe iku. Mundhingjaya ing Mandhal alinggih. nuli Raden Gedhe nami. Ki Dhipati Ukur tuwa. – 07 – Klawan Raden Wargayuda. Sunan Parung ingkang nami. nuli puputra punika. lan ki Wansadhipa iki. ingkang miyos saking ampiyan punika. Lembualas nulya mutrani. kabeh terah Pajajaran. – 06 – Muwah Raden Wangsareja. – 05 – Ki Dipati Kungkang ika. lan Wangsadireja nami. lan Raden Sobanumitadi. Raden Wirareja lan kimas Wargadipa. lan santohan Urureng. kalawan Santohan iku. dupi Yang Linggapakuwan. Raden Rinahon iya iku. nyi Gedhengkulan ika. lan kang nama Raden Kacang iki. jujuluk Maraja tunggilipun. ingkang gagarwa iku maring puranira. Raden Tandang kang nama. dupi putra Siliwangi. Wangsadhipa mutrani. Mas boncel Mas Kariya nami.– 03 – Wanaperi apuputra. nyi Gedhengkulan kang nami. .

Ratu Dewa Gung la ika. putra ing ampiyaniku. – 12 – Kapindhone Ratu Kara. ingkang sawijene kumaning. kang tapa ing matahari. ping telu Lokajaya. Ratu Guru Ajijaya namanira. ing Taraju kang negari. ingkang amiyosi siwi. Ciptalewi putra tetelu. amiyosi putra ninipun. nama sang Raja Wiwara. putra Siliwangi iku. kang miyos saking Sri Tanduran. ya iku bojakertadi. Resik Putih asusunu. kang tapa ngawang-ngawang gempi. kang sawijine maning kaputra. putra istri kang anami. sang Bathara Resik Putih. kang Suhunan Ciptalewi. – 11 – Lang Sngyang Rajawabana. sijine ingkang nama. kang sawijine maning. Rajaiyang brusbuhani. Raden Srigadhing murtrani. inggih titiga kang siwi. ika paparabing putra. kang alinggih aneng Parakantig. ing Gunung Licin linggih. . saking arum ganda Wayangsari. – 10 – Siliwangi ingkang medal. Sangyang Surakerta. ing Cidhamar parnah neki. ing Majalakang dalemneki. ing Kawungngora dalemneki. – 09 – Nama Sunan Tambaliyang. ping telune ingkang nama. kanjeng Susunan Madya.– 08 – Kang nama Sang Deyasa. ing Kandhangwesi kang linggih. putra Santohan iki. kang sawijine kumaning Siliwangi putranira. Ratu Gumilang akrama. Gajatapa nama dalem ing Pawenang.

Sedhawati puputra wau. lan ki Ranggagedhe nami. miyos kakalih kang siwi. ingkang nama Susunan ing Pajengan. – 14 – Lan ki Yang Tunggabuwana. lan sinine niku maning. Padnawati Araras. Cakradewa putraneki. – 15 – Anggamantri namanira. ki Ranggacarikan nama. nuli putra sakawan iku. ingkang namanira iku. dupi garwa Siliwangi. ing satedhak-tedhak neki. ingkang krama putranira.– 13 – Anuli ika puputra. nuli ika asisiwi. ing Sumedhang gene linggih. sang Kidang Panajungan nami. – 17 – . Pangeran Sumedhang nami. anana Yang Medhang. kapat ki Tajimalela. ing Wedhanglarang alinggih. Yang Medhang nuli sisiwi. nama Raden Sadhanglarang. kang sawiji ing namane punika. Sri Ngacala namanipun. Caktradewa sisiwi. Ratu Guru Aji Putih. – 16 – Kang linggih aneng Kuningan. Susunan Kalana Ulunan. lan ki Raden Suradiwana ya ika. nama Sedhawati. Prabu Srimangka nuli puputra. Anggamantri miyos siwi. dupi wau Sedhangrerang.

Subang Karancang jenengipun. PUPUH XLVII P U CU N G – 01 – Rara Santang pinet garwa Mesir ratu. ingkang nama Pangeran Carbon punika.Ingkang nama Boros lan Ngora. . panengahe istri nami. Cakrabuwana mantuke. Rara Santa jenengipun. agamaning bosok bedha. lami-lami karsa nyabrang maring Mekah. warujune lanang nama. – 18 – Kalih Ratu Pajajaran. gih punika careming jatu Krama. nama Kantanalarang. ika nyi Subang Karancang. anuli miyos putrane. Singapura kang negari. ki Ngora ing Rajapolah. dening kang rama aji. maring Jawi aneng Carbon dalemira. siji lanang ingkang nama. inguprak-uprak tinundhung. milane tinggal kaputran. kang aneng Panjalu kang puri. nyimpar-nyimpar numpal keli. mila tilar bumi kana. maring agamaning muslim. dupi sing sabrang nenggih. – 02 – Nulya krama dhateng putrane ki kuwu. pramilane den sengiti. putra titiga lan rujuk dhateng kang rama. Prabu Cakrabuwanadi. ki Raja Sangara iki. – 19 – Karsane kudu miluwa. titiga miyosi siwi.

– 03 –

Kalih istri nyi Rakungwati ya ikut, dadya Cakrabuwana, katelah kaji namane, Abdul iman kalawan Arya Lumajang.

– 04 –

Lan kang nama Pangeran Gagak Lumayung, ngamandhing Pakuwan, manpet pajeg ing trasine, sabab dening cinandhak ing Arya Lumajang.

– 05 –

Rara Santang wis lawas ing Mesir iku, nuli wus puputra, loro lanang ing namane, Syeh Hidayatulah kalawan Syeh Nurullah.

– 06 –

Syeh Hidayatullah angajawa ikut, alingging Ardiamparan, Sunan Jati papabe, pan rinengga dening kang uwa Lumajang.

– 07 –

Dadi akeh kang manjing Islam aguru, ing wong cilik tuwis menak, barungah sadayane, Wali Jati kang katubturan akramat.

– 08 –

Dupi putra Siliwangi saking putranipun, Dhampuawang kang minangka, Kandhanghaur kaputrene, ingkang nama Balilayaran punika.

– 09 –

Putri bungsune Siliwangi iku, sang putri Layaran, masih cilik den kekentel, ingkang nama Siliwangi sebenernya.

– 10 –

Den kekentel mrana-mrene datan kantun, kocap Prabu Wanara, dan memeksa ing yogine, Siliwangi den tutur gagaib ira.

– 11 –

Den patiten sajeg ana wali iku, ilang ing guriyang, Pajajaran surem kabeh, pangaruhe ing puri tan wurung tanggal.

– 12 –

Den abecik aniti puri Sigintung, ya isun wis ana, kang mapag ngajal kasucen, pati nami ing dina kabeh wekasan.

– 13 –

Tan antara Ciyungwanara dadya iku, awak lutung asukupat, jalmi sing dhadha mukane, ……..anjengek alinggih roro kang asta.

– 14 –

Dupi saking wuri suku awarni buntut, nalosor nangcep ing andhap, narik maring sapta burine, pan tinarik ing buntutira priyangga.

– 15 –

Dadya sirna merad tan katingal iku, dening kang putra wayah, wusing sirna luluhure, amung kantun Prabu Siliwangi ika.

– 16 –

Mana sajen sadina roro ing kalbu, kukuwung mesum katingal, sang teja lor wetan pernahe, naban bengi sumonge padhang sumirat.

– 17 –

Ora liyan kang dadi sangsara iku, si cantang sarowangira, kang padha gama muslime, ingkang dadi sangara ing Pajajaran.

– 18 –

Adan prabu animbali patihipun, Tambisara nama, priksanen sumong ing kene, padhang sumong ya iku tejaning apa.

– 19 –

Ora pranti ana teja kaya iku, apa manusa bathara, anyala wadi katingale, den agelis padha rujagen denira.

– 20 –

Tambisara pamit nembah kesah sampun, ambakta satus prawira, angungtik kang teja tinon, nyata anang Gunung Jati pernahira.

– 21 –

Den talikah nyala wadi teja iku, pan seja den rujag, wong satus muwah patiye, ambrek sami lumpuh tan sesa ing angga.

– 22 –

Genya lumpuh sing dalu dalan enjingipun, pareng enjing suhunan, marikasa maring wong akeh, arep waras beli yen mambri ana atambah.

– 23 –

Tampanana kang sadat roro puniku, ucapen denira, tangtu waluya jasade, adan patih napal sadat sadhapurnya.

– 24 –

Padha Islam nulya waluya wong satus, tur den rampek pisan, lan suka wangsul ing nagrine, maring Sundha lir ring wus sejen agama.

– 25 –

Mung ki Patih Tambisara kinen wangsul, sarta bakta surat, saking sunan cacangkoke, wayah aji gih eyang amantu bilah.

– 26 –

Pan kang eyang sang prabu seja dumulur, maring gama Islam, ora kaya ing tedhake, Parwatali saking langit kandika aja.

– 27 –

Apa gawe idhep ing agama busuk, mung ta pusaka kita, sada lanang ngendi gone, prene kena age juputen den enggal.

– 28 –

Ya ingalap sada pinanjer ing alun-alun, apa ing Pakuwan, mangkana nulya parenge, merad lalis sakulawarganira.

– 29 –

Migerngiyang munjuk rayak-rayak gayuh, maring elor wetan, den papag adiasa srine, saking swarga kang para jawata sadaya.

– 30 –

Wusing merad lalis Prabu Siliarum, ing Pakuwan tan ana, kang kari amung bupatine, kang sapalih sapratiganing kang Islam.

– 31 –

Kaya Patih Cangkuwang wus mukmin iku, lan Dipati Kartamana, ki Dimati Ukur kolot, Islam maning ing Ciahur bupatinira.

– 32 –

Amung menak pra kuwu kang masih kupur, samerade Siliganda, Sunan Jati dereng ngertos, masih dadi satriya iku lalana.

– 33 –

Kawarnaa putri bungsuning sang prabu, Dewi Balilayaran, katilare sabab dening, balening Cangkolkencana.

PUPUH XLVIII DHANDHANGGULA

– 01 –

Dupi nusul amburu wus kari, dadya bungsu lara-lara, karuna polos wiyanga, salantrah-lantrah mangmung, pan dumadak nulya pinanggih, lawan jaler kang nama Jaka Kabu, asal kulup Siliganda, marmanipun katulus alaki rabi, aneng jabaning kutha.

– 02 –

– 05 – Careming jodho ika mutrani. marmane iku den edol. sang Prabu Ciyungwanara. Prabu Pucuk Kumun. nuli puputra ji Japatingora.Jaba kutha kutha Pakuwan den apti. lan Maraja Cipta kang linggoh. kang kakasih tanduran gagang. inggistrenan dening wong sadhomas. maring kyan Santiwara. tanduran gagang iku. nuli puputra ing mangke. – 06 – Gedheng Utama puputra dalem Japati. ing Galuh apuputra. lan istri Ratu Madhapa. kyai Gedheng utama. Bimalarang ingkang pranami. ciciptane Ajar Sukarsa. Maraja Dalem Agengan. apuputra kang nama. sinebut ing pangasrine. Inten Kadhaton ksputren titilaring. Maraja Cipta puputra. iku Susukan kabu. lan bedhil titiga. nuli ika amiyosi putra. kyai Wiranegara. Ratu Madhapa kang besuk alih alaki. Sri Jampang pan mau. ing Walanda den tuku dadi. ya tetelu kang dhingin istri anami. ika sang putri Madhapa. tumuli puputra. anuli puputra roro. laki maring kyan Santi wus gadhah pecil. olih laki wong agung. dupi ika prabu. – 03 – Ya kyan Santi atitising Siliwangi. Santohan Kolelet nuli sisiwi. dupi ika mau. – 07 – . – 04 – Rara Wudhu ora payu laki. wadon Murngali jenenge. Sangyang Sarepan Agung. Sunan kabu ika tumuli. Pucuk Kumun agagarwa. Prabu Ardikuning namanira. nama ki Pati ika sisiwi.

kaping telune ya iku. dupi Sangyang Pramana nenggih. puputra Mertadinata. Wiranaga kang sinare ing wewengkon Pasirnagara. nuli ika puputra. nuli puputra ki Gedhe ana ing. nengga naminipun. kapindhone nama Sangyang Pramana. ingka wali kukubane. nuli ika susunu. Kabolotan ing pernahe. – 08 – Sunan Batuwangi kang ana ing Cipamancur ya ing parnah hira. nama Sangyang Wirun. Yang Dhigaluh jujuluke. Akimas Imbanegara. apuputra Raden Walenggabala Estu.Jujuluke Tanduran Ageng Asri. kocap Prabu Cimacur. – 09 – Ki Wiraprabangsa ika nuli. ya Prabu Dhigaluh. Dhipati Kartanata. nuli ika mutrani nami. Cohaka ning Sorpura. kyai Wiranaga mangko ika nuli. mangka mau mraja dalem agen laki. – 12 – . nuli ika puputra. ki Kandharuwan Babakan. aneng Kakarasuka. ika nuli puputra. anuli Miyos putrane. Arya Wirangun Yang Tunggal. ingkang paparabipun. ing Susunan Batuganda. ing Dhigaluh ing Kakarsuka. nuli puputra ki Wirabaya Sakti. ki Dhipati Panahekan yakti. nulya puputra kyai Wiranaga. anuli susunu. nuli ika apuputra. – 10 – Kyai Ajeng nama Amongragi. nagara kawangsul. nuli ika puputra. Cipta Pramana kang linggih. – 11 – Dupi Cipta Pramana kang niti. iku puputra Aciputi.

Raden Pati Tumurun. Sang Jati Wali Allah. dupi ing Carbon ika kang dadi. winuri-wuri ing jati ratu wali agung ingkang jumangah. Miyosaken putra kang nami.Gedhe Godhaka ika amutrani. Raden Wiranantaja. iku turun ratu. ing satedhak-tedhak ira. deng uwa Cakrabuwana. tumurun sawuse surat Al-Muddatstsir ) . sasesa-sesane dhewek. sewangsewangan angratu. dadi menak pagunungan ika sami. kang den ratu-ratu. tumuli puputra mangke. TAMAT Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PIWULANG AL FAATIHAH AL FAATIHAH ( BEBUKA ) Surat kaping 1 : 7 ayat ( Tumuruning wahyu ana ing Mekkah. para Bupati tanpa nelendra. ki Dhipati Sendhangmargalaya. taliti ing Pajajaran. – 13 – Ing Prayangan pra kuwu wus dadi. Nuwun.

Maaliki yaumid diin 5. Kabeh pangalembana kagunganing Allah Pangeran. Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin 3. Kang Maha Murah Maha Asih. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in 6. Arrahmanir rahiim 4. Sesembahaning ‘ alam jagad-rat pramudita. 2. Kalawan asma Allah kang Maha Murah ugi Maha Asih. Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim. 3. Bismillahir rahmaanir rahim 2. ghairil maghdhuubi ‘ alaihim waladl dlaal-liin Bahasa Jawa : 1. Ihdinash shiraathal mustaqiim 7. .Bahasa Arab : 1.

utawi ngumawula lan manembah ing Allah. Saking zakat lajeng tuwuh ‘ ibadah qurban sidqah. lan nilar sadaya brahalanipun. 6.a. langkunglangkung manungsa ( sabab manungsa punika makhluk ingkang saged damel kabudayan wonten ing ‘ alam donya ). Ingkang baku inggih punika ‘ aqidah-tauhid ( memundhi saha mangeran namung dhumateng Panjenanganipun Allah piyambak ) ‘ Aqidah-tauhid wau dados jejering piwucal Agami. dzikir lan tafakkur utawi I’tikaf ing masjid. weweweh lan tetulung ing sasaminipun. Isi maksud ingkang wigatos ing Surat Al-Faatihah : Intisari saking isinipun Al-Quraan punika sampun kaweca pokok-pokok ingkang fundamentil wonten salebeting Surat Al Faatihah. Saking ingkang baku kasebut. Namung dhumateng Paduka piyambak kita sami menembah ‘ ibadah. ‘Ibadah . ingkang kuwajiban sadaya titah. makaten ugi dening para andika Rasul saderengipun. kados kasebut ing ngandhap punika : 1. . Shiyam lan kesah Haji. 2. Ingkang baku wonten sekawan. Bab ‘aqaid utawi kaimanan . Lajeng saking Haji tuwuh semangat ambelani sarta labuh ing agami. inggih punika : Shalat. sadaya para andika Nabi Utusaning Allah kautus ngampil tugas-pokok mbangun Tauhid ing Allah.4. tuwin sanes ingkang sami sasar. ingkang dipun da’wahaken dening junjungan kita Nabi Muhammad s. Zakat. ndedonga. lan saking Shiyam tuwuh watak Wira’I 9 mboten ndremis lan mboten kathah sesambat ) sumingkir saking ingkang nama lelangkungan ( gesang prasaja ). Kang Ngratoni ing dina Piwelas. Dhuh Gusti Allah. Inggih punika margi. 5. sarta ngrebahaken sadaya kamusyrikan. ugi ngajak Ummatipun supados samia ‘ibadah ( manembah ) ing Allah piyambak. Agaminipun para tetiyang ingkang sampun Paduka paringi kani’matan. punika kuwajiban ingkang wiwitan kaampil.w. saha namung dhumateng Paduka piyambak kita sami anyenyadhong pitulungan. 7. lajeng tuwuh ‘ibadah memuji. sanes ingkang sami kabendon. mugi Paduka paring pitedah ing kita sadaya lumampah wonten ing margi ingkang leres.

Pembukaan Huruf Jawa 1. sesambetaning manungsa kaliyan Allah. nanging wonten ngarsaning Allah ing dinten Qiyanat tantu nboten saged lolos malih. sanajan wonten Donya saged lolos saking hukuman. Janji sarta ancaman : artosipun supados ngadeg keadilan lan keleresan ingkang saestu. Pramila ing salebetingQuraan ngemot pinten-pinten norma lan katamtuwan. lan lingkungan sapiturutipun. sosial. agami.3. sesambetan internasional.pernatan : maksudipun Syari’at Islam damel angger-angger hukum lan pranatan punika kangge karaharjaning ummat manungsa ing Donya dumugi ing Akheratipun. Huruf Ha . Angger. politik. tatanagari. perang. ekonomi. 4. A. 5. upami hukum.angger Hukum lan Pernatan. gesang sapisan wonten ing ‘ alam Donya. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PIWULANG HA NA CA RA KA Oleh : BRM Panji Anom Resiningrum Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa. Sejarah : maksudipun ingkang saged dados tepa-palupi ing salebeting sesrawungan ummat manungsa. sampun ngantos damel sejarah awon. dahme. kabudayan sarta kesenian.

yakni cahaya dari Tuhan YME dan terletak pada sifat manusia. Huruf Ca Berarti ‘cahaya’. yaitu roh Tuhan yang ada pada diri manusia. Hidup tersebut terdiri atas 4 unsur yaitu: a. karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup. Huruf Na Berari ‘nur’ atau cahaya. 3. Air 2. Huruf Ka Berarti ‘berkumpul’. Api b. yakni berkumpulnya Tuhan YMEyang juga terletak pada sifat manusia. Kita telah mengetahui pula akan sifat Tuhan dan sifatsifat tersebut ada pada yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia karena memang Tuhan pun menghendaki agar manusia itu mempunyai sifat baik. Huruf Ra Berarti ‘roh’. Angin c.Berarti ‘hidup’. Yakni salah satu sifat Tuhan yang ada pada manusia. . 4. artinya cahaya di sini memang sama dengan cahaya yang telah disebutkan di atas. hidup itu adalah sendirian dalam arti abadi atau langgeng tidak terkena kematian dalam menghadapi segala keadaan. Bumi d. atau huruf berarti juga ada hidup. sebab memang hidup itu ada. 5.

la yang mengandung arti langgeng ini juga nyata menunjukkan bahwa hanya Tuhan YME sendirian yang langgeng di dunia ini. Huruf La Berarti ‘langgeng’ atau ‘abadi’.6. 11. Huruf Ta Berarti ‘tes’ atau tetes. dalam arti ini menyatakan bahwa wujud atau bentuk Tuhan itu ada dalam manusia yang setelah bertapa kurang lebih 9 bulan dalam gua garba ibu lalu dilahirkan dalam wujud diri. Huruf Da Berarti ‘zat’. ialah zatnya Tuhan YME yang terletak pada sifat manusia. Huruf Wa Berarti ‘wujud’ atau bentuk. jadi tidak ada yang dapat menyamai Tuhan. Huruf Sa Berarti ‘satu’. 10. Dalam hal ini huruf sa tersebut telah nyata menunjukkan bahwa Tuhan YME yaitu satu. 7. Huruf Pa . yaitu tetes Tuhan YME yang berada pada manusia. 8. 9. berarti abadi pula untuk selama-lamanya.

13. . Huruf Ja Berarti ‘jasad’ atau ‘badan’. Huruf Nya Berarti ‘pasrah’ atau ‘menyerahkan’. manusia yang utama. Jelasnya Tuhan YME dengan ikhlas menyerahkan semua yang telah tersedia di dunia ini. jagad gede juga jagad kecil (manusia). Huruf Ma Berarti ‘marga’ atau ‘jalan’. karena dawuh berarti selalu menyaksikan kehendak manusia baik yang berbuat jelek maupun yang bertindak baik yang selalu menggunakan kata-katanya “Ya”. Jasad Tuhan YME itu terletak pada sifat manusia yang utama. 14. 16. Huruf Dha Berarti dhawuh. Huruf Ya Berarti ‘dawuh’. yiatu perintah-perintah Tuhan YME inilah yang terletak dalam diri dan besarnya Adam. Tuhan YME telah memberikan jalan kepada manusia yang berbuat jelek dan baik. yaitu papan Tuhan YME-lah yang memenuhi alam jagad raya ini. 15.Berarti ‘papan’ atau ‘tempat’. 12. Dawuh di sini mempunyai lain arti dengan dhawuh di atas.

Huruf Ga Berarti ‘gaib’. Dapat pula dikatakan gaib adalah jalan jauh tanpa batas. karena memang seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Jawa yang menggunakan huruf Jawa itupun merupakan sabda dari Tuhan YME. ‘yang bersinar terang’.17. gaib dari Tuhan YME inilah yang terletak pada sifat manusia. 20. Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa. Huruf Nga Berarti ‘ngalam’. atau terang/gaib Tuhan YME yang mengadakan sinar terang. Huruf Tha Berarti ‘thukul’ atau ‘tumbuh’. 19. yaitu kabarnya manusia dari gaibnya Tuhan YME. Huruf Ba Berarti ‘babar’. 18. B. Demikianlah gaibnya Tuhan YME itu (micro binubut). Demikianlah huruf Jawa yang 20 itu dan ternyata dapat digunakan sebagai lambang dan dapat diartikan sesuai dengan sifat Tuhan sendiri. Penyatuan Huruf atau Aksara Jawa 20 . seperti halnya cahaya terang tetapi tidak dapat diraba atau pun disentuh. dan harus diakui bahwa besarnya gaib itu adalah seperti debu atau terpandang. dekat tetapi tidak dapat disentuh. Tumbuh atau adanya gaib adalah dari kehendak Tuhna YME.

Angan-angan mulut yang digunakan untuk merasakan dan mengunyah makanan. Angan-angan hidung untuk mencium/membau seluruh keadaan. 2. berarti ‘nutuk’. 3. adanya perkataan kun berarti pernyataan yang . berarti coblong (lobang) dan kata tersebut di atas berarti wadah atau tampat yang dimilki oleh lelaki atau wanita saat menjalin rasa menjadi satu. 5. 3. seperti: 1. 2. 4. Huruf Na + Ta Noto. Angan-angan mata yang digunakan untuk melihat segala keadaan. Huruf Ha + Nga Hanga berarti angan-angan. Angan-angan telinga yang dipakai untuk mendengar keseluruhan keadaan. Angan-angan yang terletak di ubun-ubun (kepala) yang menyimpan otak untuk memikir akan keseluruhan keadaan.1. Huruf Ca + Ba Caba. Dimaksudkan dengan angan-angan ini ialah panca indra yaitu lima indra.

Huruf Da + Nya Danya atau donya atau dunia. 6. memandikan . Huruf Ka + Ma Kama. Setiap manusia baik laki-laki atau wanita pastilah mengandung benih untuk kelangsungan hidup. Kelahiran manusia (jabang bayi) diawali dengan keluarnya air (kawah) pun pula kelahiran bayi tersebut juga dijemput dengan air (untuk membersihkan. dan kelahiran ini merupakan calon keturunan di dunia atau (alam) donya. Huruf Ta + Ya Taya atau toya. Persatuan kedua benih atau kama tadi mengakibatkan kelahiran. berarti ‘badan awak/diri’. 7. Karena itulah maka kata raga telah menunjukkan adanya kedua benih yang akan disatukan dengan melewati raga. bibit. Huruf Ra + Ga Raga. benih. dengan demikian dapat dipahami kalau atas kehendak Tuhan YME maka diturunkanlah ke alam dunia ini benih-benih manusia dari Kahyangan dengan melewati penyatuan rasa kedua jenis manusia. 5. Kata raga atau ragangan merupakan juga kerangka dan kehendak pria dan wanita ketika menjalin rasa menjadi satu karena bersama-sama menghendaki untuk menciptakan raga atau diri agar supaya dapat terlaksana untuk mendapatkan anak. 4. berarti ‘komo’ atau biji.dikeluarkan oleh pria dan wanita dalam bentuk kata ya dan ayo dan kedua kata tersebut mempunyai persamaan arti dan kehendak yaitu mau. oleh karena itu di dalam kata raga seperti terurai di atas merupakan kehendak pria dan wanita untuk menjalin rasa menjadi satu. yaitu ari atau banyu. dan dengan penyatuan kama dari kedua belah pihak itu maka kelangsungan hidup akan dapat tercapai.

9.dsb). karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Dan kelahiran satu tersebut menunjukkan adanya kata saja atau siji atau satu. apalagi kalau kematian itu terjadi dalam umur muda dimana kesenangan dan kepuasan hidup tersebut belum dialaminya. karena itulah air tersebut berumur lebih tua dari dirinya sendiri disebut juga mutmainah atau sukma yang sedang mengembara dan mempunyai watak suci dan adil. Pada umumnya dikatakan kalau wadah harus diadakan terlebih dahulu. maka diciptakan pula wadahnya. Jadi jelaslah bahwa sebenarnya isilah yang mencari wadah. Jangan sampai menimbulkan kalimat “Wadah mencari isi” akan tetapi haruslah “Isi mencari wadah” karena memang ‘isi’ diciptakan terlebih dahulu. sebab rumah merupakan wadah manusia. Huruf Sa + Ja Saja atau siji atau satu. sebenarnya hal ini adalah kurang benar. Huruf Wa + Da Wada atau wadah atau tempat. Hal ini jelas tidak mungkin terjadi. baru kemudian isi. Sebagai contoh dapat diambilkan di sini: rumah. Pada umumnya kelahiran manusia (bayi) itu hanya satu. dapatlah dijelaskan bahwa: kematian manusia berarti (raga) ditinggalkan isi (hidup). andaikata jadi kelahiran kembar maka itulah kehendak Tuhan YME. . Dengan demikian timbul pertanyaan mengenai wadah dan isi. 8. Bagai pendapat yang mengatakan “wadah terlebih dahulu diciptakan” maka mengenai kematian itu seharusnya wadah mengatakan supaya isi jangan meniggalkan terlebih dahulu sebelum wadah mendahului meninggalkan. Sebagai bukti dari uraian di atas. dan manusia merupakan isi dari rumah. sudah seharusnya membicarakan tentang isi pula. Berbicara tentang wadah atau tempat. Yang diciptakan terlebih dahulu adalah isi. dan karena isi tersebut membutuhkan tempat penyimpanan. siapakah yang ada terlebih dahulu.

Wallahua’lam Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 AJI PAMELENG Tegesipun aji = ratu. ngeningaken utawi angluhuraken paningal. Dene empaning pandamelan wau winastan manekung. Tetapi setelah jalinan rasa dilaksanakan oleh pria dan wanita maka meneteslah benih dan apabila benih tadi mendapatkan wadahnya akan terjadi kelahiran. pameleng = pasamaden. dan dimanakah letak isi tadi ialah pada ayah dan ibu. hidup kembali kepada yang menciptakan hidup. . karena hidup berasal dari suwung sudah tentu kembali ke suwung atau kosong (awangawung) lagi. Huruf La + Pa Lapa atau mati atau lampus. 10. matiraga lan sasaminipun. mesu cipta. Akan tetapi sebenarnya dapatlah dikatakan bahwa suwung itu tetap ada sedangkan raga manusia yang berasal pula dari tanah akan kembali ke tanah (kuburan) pula. Meskipun begitu. Semua keadaan yang hidup selalu dapat bergerak. Sebab yang dikatakan mati tadi sebenarnya bukanlah kematian sebenarnya. akan tetapi hidup hanyalah meninggalkannya saja yaitu untuk mengembalikan semua ke asalnya. Maka selama ayah dan ibu masih ada maka hidup masih dapat membenihkan biji atau bibit. “hidup’ itu tetap telah ada demikian pula “isi’. yang bearti masih suwung atau kosong. akan tetapi kesalahan tadi telah dibenarkan sehingga menjadi salah kaprah. mengku pikajeng : tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Sebenarnya pemikiran demikian itu tidak benar.Demikianlah persoalan wadah ini dengan dunia. Pendapat lain mengatakan kalau sebelum diadakan jalinan rasa maka keadaan masih kosong (awangawung). keadaan hidup tesebut kalau ditinggal oleh hidup maka disebut dengan mati. Sebaliknya kalau wadah tersebut belum ada maka kelahiran pun tidak akan terjadi. pujabrata. mesu budi. karena sebelum dunia ini diciptakan (sebagai wadah) maka yang telah ada adalah (isinya) Tuhan YME.

bilih miturut saking tembungtembungipun . Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi lan sanes sanesipun. Dene kawruh wau ing sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu. inggih nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan saking pandamel kita ingkang boten tilar murwat. tirtakamandhanu. margi saged anindakaken dhateng sawarnaning pandamel sae. kamulyan. Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau. lan ugi dados pangajenging piwulan agami. pamujan. Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning saliring kawruh sajagad. kawilujengan lan sasaminipun. lan ugi sampun sami saget ngraosaken kabegjan. mahosadi. Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun. pamurcitan. Bebasan sakedeping netra. Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden. pahoman. ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun Mohammad. perlu kangge sarananing panembah murid manggih kawilujengan. sastracetha. sebab lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun. kawaspadan. Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami angajawi. mila kalayan gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi. pamursitan. Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. dawan. Namung kemawon wedharing agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden. awit kawruh wau saget nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi. sanyata kathah ingkang nagngge basa Sansekrit. utawi sastrajendrayuningr at pangruwating diyu lan sapanunggalanipun. yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh pasamaden wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina makina. kados kasebut ing nginggil. kawicaksanaan. paheningan lan sanes-sanesipun. margi saking wohing kawruh pandamel wau. boten nawang bangsa Indhu ingkang agami punapa kemawon. katamtokaken mesthi ngrasuk pasamaden. tirtaamerta. kawasanan. serta sami anggelaraken agaminipun tuwin kawruh sanes sanesipun. panekungan. Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet ing Tanah jawi. ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun. makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun. margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged nandangaken dating pangolahing kawruh punika. temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu. bangsa Jawi ing sa’indhengipun maratah sampun sami angrasuk agami Indhu. kasebut agami Islam. tirtanirwala. punapadene kangge sarana duk kita darbe sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran).Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen. . Dene wedharing kawruh winastan daiwan.

Purwo saking tembung klenik. inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak). bilih santri punika sarwosarwi langkung resik utawi suci tinimbang kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam. inggih punika ingkang kasebut nama santri. ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen. purwanipun namung tetep kangge panjagi. purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman wisesaning Nata. Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes. ugi papaning pamejang boten kenging kaubah wangon. Dene yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten. Panindak ingkang mekaten punika. supados pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng pamarintahing agami Islam. ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah dhedhemitan. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng katindakaken. mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami. dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh manjing agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam wau. yen batosipun taksih angrungkepi agamipun lami. Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados. bilih wontening wejangan kawruh pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. langkung-langkung kawruh pasamaden punika ingkang sanyata dados mukaning . sanadyan Nagari sampun boten angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden. tamtu manggih pidana. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk kaliyan pun murid. yen nerak bade angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran.Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari. utawi Islam pangaran-aran. serta kenging kawejangaken ing sawanci-wancinipun. serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru. serta kedah santun angrasuk agami Islam. margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam. boten mawang nem sepuh. pun murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng tiyang sanes. Dumuginipun ing jaman samangke. Sebab yen ngantos kasumerepan. ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau. uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh pasamaden kasebat. Mila lajeng angsal paparab saking panyedaning titiyang ingkang boten remen. Ingkang kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking agami Islam. kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu walangataga ugi boten kenging miring. titiyang Jawi boten kenging anindakaken kawruh pasamaden. utami tiyang ingkang anglampahi sarengating agami Islam. katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12. dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir kemawon. sanadyan suket godhong. nanging panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan kados kawursita ing nginggil. dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok tiyanga. bilih dereng angsal palilah Guru. Mila santri karan putihan. Sebab wontenipun sadaya punika supados kasumerepan dhateng ingakathah. ing wana. lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. yen miring lajeng malih dados manungsa. kadosta ing ara-ara. menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun agami Islam sadaya. ing ngriku lajeng angawisi kalayan kenceng.

Sapisan salat 5 wekdal. pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged andhatengaken ing kawilujengan. terang lan nyata. Lajeng tunimbal dhateng Sunan Geseng. punika panembahing batos. margi yakin bilih kawruh pasamaden wau. Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning piwulang. ingkang lajeng winastan daim. lajeng mungel : salat daim (salat – basa arab. namung kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun ingkang sampun sami necep agami Islam. lan sasaminipun. tanpa nawang andhap inggiling darajadipun. Ki Cakrajaya wau pandamelanipun anderes nitis gendhis. inggih Ki Cakrajaya. Amarengi wahyaning mangsakala. anggenipun amencaraken piwulang agami Islam. Ingkang pinindeng namung mumuruk tumindaking salat daim kemawon. ing ngriku salat limang wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak boten kawulangaken babar pisan. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang sampun kabuka raosipun. lajeng sami ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng ingakatah. Milanipun dipun wewahi basa arab. Mila wajib sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing saindengipun.sadaya kawruh. daim saking daiwan basa Sansekrit). dening Seh Sitijenar kinen sami madeg paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah. ingkang kacarios saderengipun dados Wali. sebab Seh Sitijenar punika mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. tiyang asal saking Pagelen. Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten. Punapadene lajeng kaewoaken dados saperanganing panembah. ingkang ugi dados pramugarining agami Islam apangkat Wali. lajeng kadhapuk ing ndalem serat karanganipun. ing pawingkingipun bab kawruh pasamaden wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam. Kawruh asamaden. margi piwulangipun langkung gampil. temah Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami pinejahan katigas jangganipun dening para Wali. ingkang mijeni Kyai Ageng Pengging. anyuremaken panguwaosing para Wali. ingkang ugi apangkat Wali. langkung-langkung ingkang dereng. dening Seh Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara. kasebut salat sarengat. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe suwung. mangertosipun : anekadaken manunggaling pribadinipun. inggih Pangeran Panggung. utawi kasebut loroning atunggil. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar. wusana wonten kaelokaning lalampahan ingkang boten kanyananyana. kamulyan. sarana dipun wewahi tembungipun. Kaping kalih salat daim. wirid saking tembung daiwan kasebut ing nginggil. saking . katentreman. ateges panembah lahir. Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden. Sangsaya dangu sangsaya ngrebda. Punapadene tembung salat lajeng kapilah kalih prakawis. Mila titiyang Jawi ingkang suwau manjing agami Islam.

Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai. Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng kakantunanipun ingkang sami pejah. Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening mawerdining Hyang Brama. ingkang dipun santuni nama naksobandiyah utawi satariyah. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi dukanipun.dhawuhipun Sultan Demak. ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak rukuning agami Islam. nanging mawi sislintru tinutupan wuwulang sarengating agami Islam. Ingkang boten kacepeng sami lumajar pados gesang. kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih. para sakabat tuwin murid-muridipun Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. lajeng sami mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar. temah kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh Sitijenar. nginten bilih kawruh wau wiwiridan saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). inggih Ki Cakrajaya. kesah anututi lampahipun Pangeran Panggung. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung. atur uninga bilih Sunan Geseng. temah dhawahing bendu. Dene piwulangipun kados ing ngandhap punika : Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim. mila para guru samangke. dene panindaking piwulang kawastan tafakur. amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken kawruh pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar. inggih punika : 1. Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid nampi wiridan salat daim. temah sami rumaos kawon angsal sihing Pangeran. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun. ingkang sami miridaken kawruh pasamaden. Dene nama Kyai. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan wiridan naksobandiyah. lajeng oncat medal saking salebeting latu murub. karangkepan wuwulang salat limang wekdal tuwin rukuning Islam sanes. punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi. ugi taksih sami madeg paguron nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden. nilar nagari Demak. langkung rumiyin kalatih lampah dhidhikiran lan maos ayat-ayat. murih boten ka’arubiru dening para Wali pramugarining praja. Katungka unjuking wadyabala. Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg sami enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana. . Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun mleset saking jejer ing sakawit. Sareng sampun sawatawis tebih tindakipun Sang Pangeran. Salajengipun para Kyai guru wau. Wiwit punika wuwulangan pasamaden lajeng wonten wanrni kalih. pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. kapidana kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun Demak.sanesipun malih.

tebih saking watak panganiaya. adil paramarta. 2. ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar. 4. sampun ka’andharaken ing nginggil. sebab musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan. 3. boten ngunggul-unggulaken dhirinipun. Awit saking makaten punika mila tumrap panindaking agami Jawi (Buda). Temah kita manggen ing sasananing katrenteman. namung kemawon tumandangipun boten kawedharaken. inggih amesu cipta angeningaken pranawaning paningal. ingkang dados purwaning piwulang. bab kawruh pasamaden tuwin lampah limang prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh boten pilih andhap inggiling darajatipun. punika bilih tetep samadinipun. margi saking dayaning mas picis rajabrana. boten anguthuh melik anggendhong lali. Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah lan satariyah. Yen boten makaten. kagiles dening rodha jantraning jagad. kita badhe nandhang papa cintraka. wiji saking Kyai Ageng Pengging. ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing samangke karan klenik). Leres ing samubarang damel. kados ing ngandhap punika : 1. Piwulang pasamaden miturut Jawi. kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados kawursita ing nginggil. maweh rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa. punapadene pinter angereh kamurkaning manah pribadi. dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan kamardikan kita sami.2. langkung-langkung pinter ngecani manahing sasami-sami. ingkang dereng kacarobosan agami sanes. Susila anor-raga. Pinter saliring kawruh. 5. ngantos sabujading jagad. dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis. inggih punika makaten : . Mila makaten. Lampah limang prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata anandangaken ulah samadi. punika ing sakawit. sabar welas asih ing sasami. Setya tuhu utawi temen lan jujur. dhateng ingkang sami kataman. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah umandanging samadi sacara Jawi. Santosa. margi kacidraning manah kita pribadi. tansah nganggeni tatakrami. tanggeljawab boten lewerweh.

kang yekti. menawi sampun kraos awrat panyangginipun napas. yen sae inggih sae temenan. sarta mawi kaendelna ing sawatawis dangunipun. punika dereng tamtu. dados inggih dede kajaten utawi kasunyatan.Para nupiksa. Mila winastan makaten. Inggih makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Mangrehing anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah. epek-epek kiwa tengen tumempel ing pupu kiwa tengen. Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung samadi = sarasa – rasa tunggal – maligining rasa – rasa jati – rasa nalika dereng makarti. kasebut sirnaning papan lan tulis. Panampi makaten punika. Dene makartining rasa jalaran saking panggulawenthah utawi piwulang. dalamakan suku ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa. Dene panganggep. tuwin amuntu ilining rahsa. boten wonten sanes namung badhe nyumerepi kajaten. inggih lajeng ka’edhakna kalayan alon-alon. Menawi napas kita dipun ereh. dene sarananipun boten wonten malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking makartining rasa. kang weruh tanpa tuduh. utawi Sang Arjuna yen angraga-suksma. inggih punika ing papasu. inggih cethaking tutuk kita punika. Punapadene angendelna ebahing netra (mripat). bilih cariyos makaten punika tetep namung kangge pasemon utawi pralambang. punapadene pangalaman-pangalam an ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun . Punapa panganggep awon sae. dene pamandengipun kedah kalayan angeremaken netra kakalih pisan. Saking dayaning panggulawenthah. tetep namung ngenggeni pakulinaning tata-cara. cetha = antebing swara cethak. pikir lajeng gadhah panganggep awon lan sae. boten yekti. saha sidhakep utawi kalurusaken mangandhap. Tegesipun cetha = empaning kawruh. inggih punika ingkang kawastanan meleng. Mugi kawuninganana. Sumengkanipun napas wau kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa. ingkang sampun dados tata-cara margi sampun dados pakulinan punika. purwanipun mirid saking cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati. dene temenipun ingkang kados kita angkat. Inggih ing riku punika jumenenging rasa jati kang nyata. suku ingkang lurus. Inggih patrap ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. temah anuwuhaken tatacara. yen awon inggih awon sayektos. Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten : panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) . mugi sampun kalintu panampi. Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta (panggagas). sarana angereh solahing anggota (badan). Menggah pikajenganipun samadi ing riki. dene pancering paningal kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa’antawising netra kakalih. mila lajeng kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking sumengkaning napas wau. jer punika namung pakulinaning panganggep. piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing saniskara. dados . awit duk kita mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah malih anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. bilih samadi punika angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal saking badan wadhag.

wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe maksud sanesipun malih. inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing puser. inggih lajeng ka’angkatana malih. ingkang sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya. tegesipun : manawi napas kita sumengka. minggah dumugi ing suhunan. kalihan lenggah. panebutipun ugi kasarengan lampahing napas. inggih punika ateges panjang tanpa ujung. inggih risaking badan wadhag wangsul dados babakalan malih. sebab paningal punika kadadosan saking rahsa. Mila sayogyanipun lampahing napas inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel. Dene. nanging tanpa angereh lampahing napas). Dene ing wiridan satariyah. Bilih kakalih wau kendel boten makarti nama pejah. Dene pikajengipun amastani bilih wontening napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng. pandu = suci. sanyata wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel. nanging dayaning cipta kita. mila makaten. ugi kawistara saking dayaning cethak.namung manut lampahing napas piyambak. hu – Allah. sa’angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga. panebut wau mungel : hailah – haillolah. makaten salajengipun ngantos marambah-rambah sakuwawinipun. yen tumedhak. rat = jagad – badan – enggen. Dene sa’angkataning pandamel wau kawastan : tripandurat. (Ungeling mantra utawi panebut kakalih : hu – ya. anggenipun kawastanan sastracetha. Lajeng `ya’. kalihan angeningaken (ambeningaken) paningal. kados ingkang kajarwa ing nginggil. Inggih punika ingkang kabasakaken paworing kawula Gusti. inggih wontening ambegan kita. awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen anandangana malih. tamtu boten saget dumugi ing suhunan. inggih punika mungel `hu’ kasarengan kalihan lumebeting napas. wedaling swara ingkang namung kabatos wau. margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun medhak malih. Dene manawi sampun sareh. utawi nyambutdamel inggih kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau. utawi ateges langgeng. wangsul dados kawula. Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang dipun wastani kawula gusti punika dede napas kita. Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil. kedah kapanjang-panjangan a . lumampah. Dene ambegan punika. kasarengan kalihan wedaling napas. uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing wijiling napas. Kajawi punika. kita jumeneng gusti. Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau. tegesipun tri = tiga. sangsaya langkung prayogi sanget. ingkang sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Dados ulah samadi punika. sarwi mocapaken mantra sarana kabatos kemawon. pikajengipun : mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh. ugi kenging karancagaken. pokokipun kita kedah amanjangaken panjing wijiling napas (lebet wedaling napas). minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan cethak. ing wiridan naksobandiyah kaewahan dados mungel. margi saya kuwawi dangu. inggih panariking napas saking puser. suraosipun : kaping tiga napas kita saget tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Punapadene ugi winastan daiwan (dawan). margi nalika mocapaken mantra sastra kakalih : hu – ya. jalaran sampun menggeh-menggeh.

pepeteng. katentreman lan sapatunggalipun. yu = rahayu – wilujeng. Tiyang sakit sirna sakitipun. kaharjan. murih panjanga ugi umur kita. sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi. brahmana sumengka pangawak braja asarira bathara. babaya. canggah. rereget. Wontenipun andharan ing nginggil. endra = ratu – dewa. Tegesipun sastra = empaning kawruh. punika kangge pasemoning piawon. satriya dados brahmana. Dene tegesesipun pangruwating diyu = amalihaken diyu. tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar. ningrat = jagad – enggen – badan. Tiyang pinter dados pinter sanget. putu. ingkang babranahan. buyut. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 AJI PAMASA Wedharing wyata mirid gempilaning piwucal Aji Pamasa DHANDHANGGULA . malih dados tiyang sae lampahipun. Tiyang goroh lajeng dados temen. jendra = saking panggarbaning tembung harja endra. sae.lampahipun. dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta. Tiyang bodho dados pinter. penyakit. temah saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak. Tegesipun harja = raharja. wareng. engkang ateges pinter. Suraosipun : Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados waesia. mila lajeng sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu. dados saras. Mangertosipun. punika bilih ing suwaunipun tiyang awon. wilujeng lan sapanunggilipun. kabodhohan lan sanesipun. welasasih. lajeng sirna piawonipun. Dados diyu punika kosokwangsulipun dewa. mratelakaken bilih kawruh pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun. waesia dados satriya.

udinen mrih lestariné. kaping kalih puniku. olah pangupajiwa sasamining manu. mahanani kasudibyan. sinirika cidra lan pitenah. nora ngungalken jaja yèn asanès lesu. 3. sirik cengil pasulayan.1. seserepan wiraos prati. damel padhanging prana nebihken bebendu. Catur angger ugering prarepi. sinantun paramarta. suka serep ing semu. kosok-wangsul wèh ayem dasih sadyèki. tan mélik mèt artaning punggawa. sarwi mapan nora badhé damel tuni. dalah mundhut putrèstriné. temah kalis watak umbag klawan edir. datan asurak susuka dupi miyat panandhanging sapadhèki. lamun ngambah margining utama. Kang wusana pitutur saptèki. tan bungah lamun nemu. luluh welas nalangsa. lamun dipun upaya kinemat ing kalbu. linepat king deksura tinebih panyaru. nuntun mring lempenging lana. amrih dadi lantarané. tan pilih-pilih janma. istingarah kang tinuju tan nalisir. prenah prandéné laras salir tindakipun. samubarang kang linakya. Apa baya kang pitung prakawis. kang sinebat cidra lan pitenah. nalusur woting darma. piguna mring kang ngluru. Mangkya nenggih sastradu nayadhi. dyan sentana ywa dèn alingi. winedhar wiyar tebané. dèn ugemi pitutur kaping sat niki. aywa nganti anglalarangi. 5. paugeran kang pitung prakara. nora gampil kayungyun. nging pedak kautaman. 2. 7. songgarunggi mring kawula. yèku warah kapisané. siku dhendha nlikung sasami. ywa sisip ing pangertiné. dadya tales tanduking karti. janma kudu mituhu. dé kaping gangsalipun. Pradikané wawaler pratami. Kang ginelar wyataning suyati. 6. 4. sagung tumindak lupa winastanan luput. tan remen cacaketan klayan watak margu. istingarah munpangaté. tlatènana kang pitung prakara. Mangkya kiyé gelaring pangerti. . kapiluyu lampah basiwit. pinuntua ing driya. suka tentreming rahsa. 8. pangadilan jinejegna kanthi titi. pratélané sapta pracèki. anebihi gegelah regeding bumi. datan gampil kinelun kalulun ing wawatak nisthip. tinilingna walering darana. tan damel pilalaning lyan. njijiret sapapadhané. ping tiga ywa mawang kadang. Pracékané janma luhur kaki. temah manggih raharja. datan arsa guna pasang kala.

tan cidra ing ubaya. nering laku nora léngah. 14. Panjangka kang dadya lenging ati. 10. 11. nilaraken palagan. wisayané karaos awrat ngantebi. nukulaken panandhang tuwin tilar latu. kanthi nranyak ngrabasa gahi. ywa cidra gung pepecehé. nora lèmèr ing wuwus. nunuwun Hyang Murbèng Suksma. gampil sengsem kang katon èdi. Ywan wus wani nglairken prajangji. nggémbol upas kang niniwasi. istingarah gung pangajab temah dadi. linepat saking papa. kang dèn bujung pakareman. antepana minangka ubaya. siyang-ratri tan kendhat nggènipun dhedheku. 16. datan lumpuh karana kaot sinanggi. wèh sengsem mring tyasing lyan. ngandhar-andhar winuwus nglengkara. tan bosenan nora wegah. prancana tan dèn ugung. raos bentèr nguntar-untar. pinurih saged rampungé. Paran nggènira nyepeng sumangi. tundhonipun nalangsa nalisir king wangsu. milaur urip iku. karem donya wah malih pangwasa. tékad kang wus pinuntu. tetembungan dèn arah jumbuh kang sinaguh. tumapak ing lalampahan. tilar salir manah sonta. kusung-kusung kemrungsung kécalan santi. aywa wudhar tanpa pangaji. setya tuhu bekti mring Hyang Murba. istingarah andika manggih basuki. dhemenyar pepénginané. tan kablithuk pandulu. datan ngucirèng ngayuda. Lamun sirik watak ngadi-adi.9. 12. wawataking satriya sirik colong playu. netes sagung pangucapé. Lamun sumanggem tanduking gati. kang wus dadi pepesthèné. tlunyar-tlunyur miwah lèlèmèran. tegen rigen pralaga tlatèn miwah tekun. Jejering titah sawantah kaki. tan darbya raos rigung. nanging mamak wawatesé. kaanggepa dèrèng nglunasi. pinétang utang èstinè. péndah madu mamanisé. angugemi pakaryan kanthi permati. lamun maksih linuru. amituhu kanthi taliti. . nanging mugen manunggal genah kang tinuju. dipun éling niyat kang utama. buteng ribeng krodhanya. Tembung cidra sinawung punagi. 13. nguwus-uwus tan ana dadi. Kénging winastanan cidra ugi. nging sapawingkingipun. nyahak wewenanging lyan kécalan pakéwuh. angulari papaka. teguh maring bebahan. andhepipis ndhelik winengku raos jrih. temah ndadra misésa wathi. watanira suker tan béda wewerri. poma-poma dipun tetepana. 15. lir kanteban antaka. mokal lamun kalis ing sasanggan.

gesang datan piguna. tutura angarah-arah. kang anecep wurukira. tan mangabisatya mring raka. ywan rumpil lampahipun. dyatmika neng nayadhi nging sirik salingkuh. murih dadya manuswa bisama. parnoh sagung tindakira. tebih saking tutur cidra. temah dyusdha niyak wastuti. ngumbar gujeng kucah liring nétra. lamun limpé ngaluyur ramban taruni. tumus dugèng dalaha. apesé ngemping lara nyanyadhang bebendu. pisan cidra angèl anguwalna. tansah saswih ring garwa. ngindhik-indhik pamrihé damel papati. ririh raras sinuprih katon mrak-ati. kang dèn uja tan liya dityasmaraji. nginger-inger wawaler mamada sastradu. adol ati sapa baé. ngundhuh wusa wisaya dadya mangangi. 23. kasmala binirata. kanthi wijang kawrat sastracetha. jalu gini datan ana béda. 19. Wanti-wanti peceh parahati. cidra mring karsèng Ulun. Dipun tlatèn samya angulari. titah sawantah jejeré. pranahara jatining manuswa. basagita adi wigati. 18. rumaket-raket sasambé. Poma éling swawi dipun luri. susmaya prabaning Hyang abyor cahya kitu. rongèh tansah walisah. dupèh èdi ngelam-elami. Menggah tuduh ingkang gung utami. lupa upasing walika. 22. mamanisé wisasa. basan pranamèng kapi wruh rukem kayungyun. dhadasar badan lugu. nging maujud datan mandheg katamarti. cegah hawa tahen ring prancana. dhépé-dhépé gilig ing prana maniwi. angulati bebener ingkang nayadhi. dimèn pana tuduhing Hyang Suksma. datan uwal king cintaka. katri wus kadi wuru. Pan wus dadi sasakiding parwi. rinumpaka ing tembung. leheng meleng mring pranamya. temah wasa nering prajangji. lampahnya pindha margu.17. upayanen kanthi sasmreti. kumudu kang kapindhoné. angrarantam pracéka. ywa gampil mupus tekadé. abiwadha setya hastuti. iku teges nggénjah papati. kasukan kang binujung atilar pakéwuh. 24. tumètès kadya kusaré. sengkeraning pralaga datan ana wèstu. saswih maring Hyang Murba tumus sanggya manu. undhuhané mrawata wèsdhi. satemah pinitaya. aywa mblasar tumindaké. Mangkya cidra tumraping akrami. 20. 21. kénging winastan pracoré. Sasing janmi swawi angupadi. was maring kakung tuhu. . tan kéragan mring napsu. Wawaler tumrap sanggya pawèstri.

sadaya samya pinerdya. dhihin mantep ing pamilihira. tumrap priya kang wus balé wisma. 29. sanès kinarya lalap uraping panyatur. myang turangga cukat ing karti. . 30. kalima mangabiwadha. awit awon pinanggihé. basda winewah bumbu. dyan pracara ukara datanpa bukti. burusa lair batiné. ping kalih madhep atiné. nukulken wijining tikbra. jroning gesang punika. temah kalis rubéda. ngumbar panyatur ala kèh panacadipun. swawi dipun tuladha. lamun manggya kèh sambé-kalaning margi. 31. sona ing setyanipun. amengangah ngangah-angah saya ndadi. adhakan dadya tuman angèl mantunipun. tentrem ing brayatipun. tilar garwa kapéncut ing liya. dimèn pana warahing luluhur yekti. pantang pepes batosira. apan baya winastan pitenah. catur wala pepindhané. Poma-poma kenceng dèn cepengi. becik dèn singkirana. 26. lamun dipun turutana. katri marem mring jatu. 28. nyarwètèh kedaling lambé. Aywa pisan cidra ing prajangji. anguwus-uwus wuwusé. Nora béda waler ingkang sami. dadya gapiting braya ywa mingkuh pakéwuh. amemada sarta ngadili. tuhu bekti nggigilut wiyata. Tyang kang remen mbèbèrken wawadi. lir karaba muleg ing akasa. kaping paté mawang ring rabi. ngrarakit tembung lunyu. kasulistyan aniniwasi. Kakaroné kasengsem tataki. kaya-kaya beciké tan ana sami. murih dadi lantarané. dwipangga datan kéguh saguh kang ginayuh. kanem mardawèng budya. garwanira dèn papanken rowang padmi. traping laku minongka manggala.25. manah gampil kayungyun. 27. klayan dhiri pribadya. brekiti ing sregepira. iku watak katbuta. Dipun èmut ma nenem puniki. alaning liyan dèn andhar. tumus harja miwah basuki. siyang-ratri makarya tan wènten sepi. pinindhakna wawadhah ringkih kaotipun. sumrambah tedhak-turun sapawingkingipun. Sabanjuré winedhar sastradi. pamurihé saya wigati. asisipat memengku. lubèr ing sih sarwi ngayomi.

35. 33. kanthi permati empané. makaten lidhah sanyata. lir jagading kadurakan. datan lèmèr ngumbar-umbar kata. pindha krodhaning denawa. sanadyan alit wujudé. kadi brahmana anggepé. 39. . angadili sapa-sapa ingkang wèsdhi. nging misésa mring janma. dé manuswa iku sapa. nora ngétang katala sami. ilat iku lir wisa mandi. angèmperi panatagami. ngidung dhikir ing sawayah-wayah. ipat-ipat punapa déné wastuti. Poma bisa mapanaken lathi. samakéyan sasolahé. ingkang yasa sanggyaning prarepa. kaya-kaya manekung. kang kagungan gung kasugatin. tan mangkono ilatirèki. tuwin jumeneng hakimé. kadi hakim kusalanya. nyembur wisa wisaya aniniwasi. buron wana peksi raja-kaya. 37. tumrah badan sakojur tan liya mung manut. kang dumunung jro jiwa-raganirèki. dhahat karya sangsaya punapi kasumbung. lir bathang ingkang wus lungsé. lamun kalintu trepira. katiwang ing papaka. dipun trapken jroning cangkemira. surata siya-siya. Klawan ilat padha muji Gusti. temah gampil dèn kemudhèni. dalasan saisining wé. nging klawan lidhah ugi nyupatani manu. mijil king tutuk sajuga. kasereng lir katwara. 38. ancik-ancik kunarpanirèng sasami. Kadi latu nyalat wreksa langking. dyan mujudken pérangan badan kang lengit. 34. tan liya mung Hyang Agung. Èmperipun kendhali turanggi. nora béda gandaning kusana. wit kasunyatanipun. Tembung sisip sinusup kasisip. Angrèh sato teka langkung gampil. bacin lamun dèn ambu. makantar urubipun. parandéné si punggung pambeg wah kumingsun. Dipun émut ywan namung sawiji. ilat iku tan béda kadya hagni tuhu. ywan pinekak satuhu. tumanduk ring papadha. jail lampah candhala. ing kawurya pranama adamel tuni.32. lumuh lamun prawadha kalindhih ing semu. mangungsir mrih kasumbaga. murih bisa sasap ing sasama. muspra datanpa guna. nyata kalangkung lungit ywan kinarya tutut. 36. saged kadamel lulut. kudu unggul binuru. dyan sapletik bisa ngambra-ambra. Amemada sisiping sasami. misésa palimirma miwah paring bendu. temah mbesmi alas gedhé. ngalad-alad ambilaèni. anderbala mbabar wewerri. kumawani kumlungkung ngadil-adili. dadya sangarakalya.

41. sumberipun saking alam raya. saraga gung ngebeki jro tyasirèki. Jihwa pindha landheping bedhami. ngulari rèh sampurna. temah dadya daya basuki. andhatengaken braminta. sarasati binawa amangastuti. mekak hawa laksita juti. swawi dipun gatosna. Nadyan namung pérangan kang lengit. menggah warah cidra lan pitenah. wusna anjrah sulurnya angririsaki. yèku manuswa tama. dadya daya paraya salir dhasdhi langut. was winawas kanthi premati. dipun ening panampiné. awit ageng durakané. nanging kosokwangsulira. watak asih tan sengkung. amangangi kalamun nyenyebar branti. sagung trékah kang cengkah klayan prarepi. makaten imbanipun lidhah ingkang wèstu. 45. sakelangkung anggigirisi. 47. lamun mogèl mobah jroning latha. wus winedhar déning pramudika. pringga dhusdha mutawatosi. dadya daya ingkang nguripi. . langet langkananing lana. tinalesken wisiking Hyang Suksma. Lumingkabing wawaler puniki. walagang nggènnya lumung ywan datan kapugut. ywa ngalingi luputing sentana. resepna kang satuhu. 42. babasan ngingu-ingu. Pan wus langkep lingkabing pramodi. ukara rinumpaka jroning sekar Pangkur. 43. sung seger tanem-tuwuhé. 44. ngenut pangrèhing suksma. dimèn menep jro sarasati. wèh sarsa maring sasama. lebetna manjing kalbu. Mangkya dungkap warah kaping kalih. pasulayan undhuhané. kang dados panènipun. wohira gung rudita. pramila kang bisama. kang kaajab mung bahagé. sumimpang sagung pitenah. tilingna kanthi luménggé. Salir wawengkaning janma singgih. ngreregedi janaloka.40. ananawur sarawa gé. nètèsken sarkara soba. datan mokal wawalar ndadi. waged dados kabegjan kalamun pituhu. dharaka pramusita. nora gampil pineper kalamun katrucut. lamun linga muwus ngayawara. awiwéka mrih dadya harjaning janmi. Kang wasisdha tansah angulati. leng lumingling ngluluri pranamya dhani. prihé sami pinungkurna. rurumpakaning wuwus. lidhah dipun kendhali tutur tan kalantur. kasantyan kang dèn bujung. mring bebener wucaling bremana. leget mring kautaman priyatna ing tembung. lengka kang rinaosna. sèstu soba suka wicaga ring dasih. nyebar wijining tatu. sinartan manah kang sarjé. 46. Lir kusara mrentul wanci énjing.

kalamun datan pakantuk. ywan gesangipun kastura. wus datan kawistara. piyarsakna gung pasambating kasi. paribasa babathang dèn kemuli. angalingi klepataning sentani. muksapada kang linari. tetep dugi titi mangsa. mongka sutra ingkang kinarya salimut. langkana tan wrin godha. temah sisah lamun katala wus kusup. 55. 52. jugar wigar kang kawuri. kang dadya ugering dhatu. kang gumendhung morang kèhing kintaki. nanging remen miyala sasing janmi. 53. dadya ura jroning dhatu. angèl dipun dandosana. dharaka manggih astuti. pakeken datan lirwa. 51. kinuswa gandaning pati. 56. cepengana ingkang wastu. pamurih rèh jinejegna. wit tan lengkep manira angluluri. murih kalis king dhuskarta. niyak sagung prarepa. linenggahna sapadha. Aywa pisan darbé sedya. 50. 49. paraha sanagara. aywa gampil atilar silastuti. Masiya maksih sudara. sanadyanta dudu tuturasing ratu. Lamun ginadhuh wisésa. 54. tikbranira dipun sanggi. dinendha sawatara. Nilep lepating sentana. nora idhep mring dadalan. gegebengan pradika gegyan adi.PANGKUR 48. lampahnya aywa dèn ugung. Ywan pramoda dadya wasa. aywa mangu pinidana. sumrambah kawula dasih. lumèng prabaning nagara. nora ngugung dupèh sentananing ratu. Murih harjaning puraya. ywa nganti amémérangi. poma-poma wicaga dèn ugemi. upayanen paugeran priha tan wur. sanadyanta nganti brukut. ywa parasama ring manu. remen anunggyangtaya. amikara dupèh maksih tedhak luhur. satemah lulus basuki. ingkang murwat klayan kalepatanipun. Tumarah para sentana. saya ndadi dhumateng wisésa wuru. . sanadyan tumrah ing bandhu. Kang wasisdha angrèh praja. dhusdha pinaring papaka. becik tinerapan siku. ngetrepi jejeging adil. kaadilan kang santya. siningkirna sagung dhasdhi angriridhu. Pirengwa dipun landhepna.

sentana dadya bala. lamun mukti padatan dadya lali. Awasna pamawasira.57. sinikara siya-siya. tyang andèh tan ana wani. trékahnya anjurbalani. binari asuka-suka. ngudi cantya aji mumpung. tandang-tanduk sarwi ngéwan-éwani. aywa kalulun ing napsu. ical landheping rahsa. kupiya ywa kawistara. wirahsané bebener duk inguni. anjuk risaking nagari. 62. sanak kadang dèn uja. lumuh pènget myang warah. tyas ura nir waskitha. 65. Lamun kaladuk énaka. tan nayuti sanadyanta tindak luput. pinurih tiningal èdi. mring dasih suka andaha. ywan amengku wisésa nyakrawati. mangka murba wewenang angrèh kasi. prana winengku ing moksil. Suka-suka parisuka. basan badrak badan kramu. 58. 59. lamun lepat sengadi datan anahu. kawuri amamalati. 64. andé sangsaraning praja. tyang alit tan ana wani. jinarken ngambra-ambra. Aja dupèh kadang raja. bisa akarya papaki. Poma dipun waspadakna. pinaringan wengan awawatak diyu. Prayojana ingkang prama. 63. tundhoné angundhuh tuni. panganggepipun kalantur. mamanisé wisésa pinracadi. Pan wus jamaking manuswa. andrawili kasukan ingkang kabujung. sinarujuk dyana luput. nora gingsir kalindhih sagung pamrih. Nggagadhang éndrasangsara. wit misésa datan wènten tembung klintu. dhateng sanak-kadangipun. . tedhak turun dipun ugung. kascaryan kalenggahan. langking tan ana rega. apracara sagendhingnya. kang satiti mulat sisiping tumanduk. kethaha mring donya brana. mring pangwasa kapiluyu. kasyang asih kibir edir lawan umuk. samudaya kaleresna. 60. acongkak sosongaran. 61. Aywa wuru mring sarkara. nora bener kalamun tan dèn paèlu. nadyanta alit kéwala. angandelken maksih dharahing ngaluhur. ngajak-ajak tingkahipun nyrambahi. mring sentana mirah nggènnya andani. dupèh lelenggah ngaluhur.

undhuhané prahara gung sakelang-kung. 67. dupèh lagya ginadhuhan sendhang madu. kadang kawula pan sami. ambuburu angkara. 68. kaadilan tan kendhat dipun udi. wus samesthi kang lepat pinaring bendu. andurasa labetipun. lepating kadang siningid. risak sakèhing ukara. kekeling kang dipunnèni. 69. dyan loma pangapura. waris sentana dèn uja. tumrap kang sami andasih. dadya linglung nunjang palang kadé diyu. 72. Mangkana traping trapsila. sung ancuta mring bebener datan indung. sirik nyilibken piala. nanging baya aywa kalimput ing semu. Utana lestari begja. Kèh tyang sudra ananantya. wus tan wènten silastuti. mring asanès siya-siya. nalar mulur tan kalantur. Becik lamun paramarta. sung apura kawula ingkang lali. Angunguja karsèng driya. kosok-wangsul mring sanak-kadang sadarum. . nglangut nenga namu-namu. tumrah kawula sadarum. Urip muspra nir sarkara. Kalamun dadi pramuka. 70. jinarken amurang tatir. iku dudu wawantuning pangrèh luhur. kibir edir jubriya sagung janmi. Bangkit nahen sagung hawa. dadya pangungsèn sanyata. kakarèné tan liya sarwi rungsit. 71. aywa mamang matrapi ingkang kalintu. wus mratobat sanyata. 74. catur wengis tumanduk ing sasami. tan ana nohan nuhoni. tinilingna pasambat kawlasarsi. Latah remen andurkara. nora luwèh mring panglawung. ical jatining rahsa. niyak gegebengan luhur. tan ana béda-béda. dupèh sanès sentana. malah mamales ala. pinta-pinta paneraknya. katalya ing panggraita. 73. samektakna manah kadya udadi. pinitaya mangrèh jantraning nagri. kemarung bobondhotan. panyaruwé tan pinanggya.66. lampah dora datan maksi. basan tatanem gugrumbul. mélik dèn anjuk tebya. titis mawas gelitaning prakawis. pracékaning sentanèki. luput winastan waskitha. nora nilarken papacuh. mring bebecik tan anaur.

pantes sinudarsana. 77. bangkit angéntasken karya. busana mawa lengkawa. raos lingsem datan darbya. Saking pasemon wus kèksi. rumaos trahing kusuma. kukucah gung kamirahan. 79. pambeg ladak lumuh anor. ywan kaandhar pepeceh kang kaping dwi. mahnani gancaring laku. sinekar Asmaradani. tan kénging pinitaya. winedhar sang twijara. wasna kaduwung ing kalbu. piniji ingkang tuwajuh. linepat salir rencana. Dyan kadang lamun tan becik. rongèh jlalatan ing semu. kang amiji karsèng Katong. winirang lampah dursila. 80. nir kretyawan datan kalok. murang kèhing pranata. tan jetmika ing budya. kapengkok nora sembada. menggah lengkeping ukara. tuturasing kretiyasa. nora untung rinaketan. angajak-ajak sangsara. nanantya datan piguna. pinaringken ring sasama. yèku amawang kadang. dupèh maksih dharah dhéwé. nanging pasemoning nitya. ASMARADANA 76. gumuyu rasan sarwa sru. nora béda klayan piwucal karuhun. Ruruh rentahing andani.75. 81. jroning tyas adil kang dumon. andungkap warah katelu. tiwas tuwas wuntatnya. Aywa nganti atatawing. ngugemi sagung wiyata. dharah punapi liya. tulakang dadya babayu. remen narajang papakon. mring pakeken datan andor. kawurya tilar talutuh. ngandelken kadang sentana. Lamun ngrentahken paparing. 82. . ingkang tumrah gesangira. wawantuning taluwanwa. Boten wurung tumut isin. polah-tingkah sarawéyan. tan pantes sinung kawiryan. temah angundhuh cintraka. Alelengis sarwi rukmi. Tanasing janma utami. kèmbèt awoning sentana. bisa dadi kajalomprong. pantes dèn pedakana. 78. nora mawang béda-béda. iku wateké wong kumprung. kukuwating anggyanira. Makaten kababarira. 83.

bubujeng pamurih kalok. datan kalèntu garjita. tebih nora tinenga. Sumimpanga king durniti. Lagya kalampah samangkin. Dyan sanès darbé kawanin. . iku patrapé wong pengung. 89. Tilingna ning ing kawathi. linenggahken papan éca. wuru dhumateng pangwaos. aywa mawang sentana. bucal lampah tatakya. teges sanès trah ngawirya. nora kawuh ing pangrasa. sung kawiryan maring bandhu. morang sakèhing tata. pingging sinuba dwija. tilar warahing pujangga. 92. ngembat wisésa tan saguh. ing jaman kala katwara. 85. singa celak kang kadrasa. 88. sarna donya sosoba. rèh praja déning babandhu. gatosna ingkang sayektos. becik lamun rumasa. 90. mung krana maksih sentana. manah rupak nora kamot. wit paparing tan warata. swawara asih sawegung. dumarusa myang diggama. Lumingling sagung kajatin. tangginas ngrampungi karya. mundhak-mundhak ing pakéwoh. twasa kalimput dureta. mongka lengka twasanira. patitis pamawasira. 91. néréndra nir ring sudarsa. 93. iku dinadya pramoda. kadang konang binucala. lagya darbé pangawasa. makarya nora kawaba. sokur bagé linubèran. ngangsu kawruh mring tyang blilu. Ywa karya tyasing lyan kanin. Kalamun datan sawawi. jirèh ingangkat kretyawan. Kathah-kathahipun janmi. asanès winiruda. milaur mundur kéwala. sanak-kadang mitra-karuh. daridya undhuhanipun. pawingking manggih katala. dèn papanken ing ngarsa. 86. ngembrah dadi taluwanwa. dériti marang sakèhing wong. patitis salir pepunton. bisa mengku saniskara. Dipun émut aja dumi. mumpung maksih amisésa. kawanin suba tan sengkung. kakadang dinadya bala. Boten lingsem ing durniti. mongka tan pengkuh ing kéwuh. lumrah pinaring pambombong. tulya kujanapapa. pilih-pilih ingkang kanon. lenggah twijara tyang parnoh. nanging sanakkadangira. 87. lamun paparing wisésa.84. pandhir dinadya pangarsa.

kosok wangsul dyan sentana. nétra kawuh tan menga. kawaba nandukken dardya. 101. kawurya dadya ura. 95. 99. sarujuk jajarah samya. datan remen karya pringga. Nandukna bebener ugi. 98. pantes kalamun linakon. nanging bener pratikelnya. dundum brana duratmaka. kanthi lungiting pangrasa. mongka gething dhateng liya. kasaénan amemengku. garwakara sugih galu. sareng sentana sapunton. iku winih ingkang awon. mirungga maring sentana. tanpa panitipriksa. . Lamun mangsa kala dugi. nging pinurih énaka. sugal diksura dèn soroh. 100. guyub ngambah durniminta. mawang kadang lamun andon. kang nandhang wong sanagara. tan mingkuh saking wawaton. Èwon-èwoning wong drengki. daruti semunira. Dudu patraping wong singgih. 102. suthik wruh roganing manu. Nadyan tedhaking acedhis. miling-miling dupèh mitra. remen anyelir sentana.94. tan béda bebegal lamun. 96. kang winiyat dupèh bandhu. ririsak datarpa duwus. nging kasingsal ing budya. katala katiwang marga. béda apa tiyang awon. aywa pilih-pilih jalma. kasereng nunten kawirya. Mring sasama gardhawari. drasa kaleban kasmala. lilingen kang prakara. naracak miwah ngrabasa. gesang saraga wah kasor. suka-suka sagendhingnya. nyimpang margining utama. 97. Ywan wus kukumpul nyawiji. suka dalajat pangkatnya. jugar tataning puraya. boten kénging kawa-kawa. Lamun becik mring sawiji. raos mèri ingkang thukul. sanadyan sisipat dura. Darbéning lyan dèn talappi. sadaya titahing Manon. sakadang cepeng wisésa. mring asanès durcara. tulakang panèn kasmala. tinengen mung kasukannya. tinurut temah kalintu. praja dadya puwara. linimbang-limbang satuhu.

papakeming puruhita. gendhon rukon tindak dhusta. maksih kèmbèt apa liya. dredah bangsa padha bangsa. mangka wawaton dèn prusa. patitis pamawasira. thukul welas tan pitakon. marma manah tinarbuka. ywan lepat tutup tinutup. trékahé tiyang candhala. 107. kaleng-gahan miwah dhatu. Miyat sudraning sasami. kang nunggil winastan bala. jumbuh turasing ngawirya. tindakipun dumarusa. tinaliti kanthi turut. suthik nilingken wasita. cinegah lumawan sampun. paraya anteng garjita. kadi réwanda saranggon. Wageda dadya palupi. becik lamun saranta. santun ingkang baureksa. ngruwat sanggyaning piroga. Wus sinerat jro pepesthi. pratingkahipun tan parnoh. 110. 105. janma paramatatya. tan gampil luntur winasoh. madhangi kang puru-puru. nging paéka kang dèn gémbol. ngungumbar saliting hawa. tan wastu luhur ing nala. nora jejeg mring wawaton. nging pradana pangawruhnya. maksih tilar wawantunya. tindakira tan béda. tekané jaman drubiksa. ngimpunimpun sanggya mitra. sarana suka purba. . asor ing bubudènira. temah puraya tan wèstu. mung bubujung hartaka. tilar waspaosing prana. Tyang pengung mangrèh nagari. Kinarya kudhung agami. 109. prayoga purugana. tan ana jrih duraka. Saking iring wétan semi. béda dèn anggep mala.103. pundi titiyang pranamya. nora maèlu piawon. wengis mamalak ing pémut. nora krana maksih bandhu. 111. Mlarat donya datan pasti. Pétanana kang priyatni. 106. 112. srakah kethaha lestantun. muncar-muncar poladannya. sanak kadang dalah yoga. makatena tiyang kalok. pinurih tan kawistara. wit tan jajag rèh waskitha. iku nyanyadhang pakéwoh. 104. nuhoni jejeging pakon. 108. Lakon jaman kalasrenggi. lila mardawa ing budya. wuru kayungyun arta. becik legawa tutulung. ngogak-ogak pangu-wasa. Mengker mangsa danawa ji. iku nora prayoga.

mring panguwaos gumendhung. mungkul mring Hyang Widi-wasa. ingkang lagya amisésa. sugih tan mangéran bandha. ngrucat salir angkara. Pungkasing jaman dériti. lirwa wisiking Hyang Manon. pamrih antuk kang dèn sedya. mirid karsaning Hyang Katong. Pasemonnya ladak edir. jro riribed sonya tuhu. kalayan angudi wadon. Tyang kang mlarat datan langking. Sinuprih tan morang margi. 119. lamun bénjang ana janma. suka pémut mring kang mirong. prakawis mèt donya brana. pantang lamun dèn badala. sudarpa asidikara. 121. Dungkap pungkasing wigati. nora mangathik jana. pongah awawatak rimong. priha tindak tan kalintu. Wus tan kapéncut ing daging. 114. Meleng gilig kang dèn udi. 116. Piwucal catur puniki. sinambet wedharing weca. nyinyingkur aji pamasa. suthik nenengen sudara. dyan mung samrica binubut. makaten tyang alit iku. gelaring tanah Jawa. jinugag lingkabing wahyu. mijil saking jro wewengkon. sambet wyataning twijara. 118. dèn mangsa nora suwala. supé harjaning kawula. tan mawang kadang satuhu. lepat boten kawistara. tebih mélik cegah napsu. wadana ning susmaya. gegaran wenang misésa.113. pupuja ngéntasi karya. adil tuwin paramarta. remen lamun pinuja. tan luput ginayuha. Asring dadya ciri wanci. wawarah mangrèh puraya. minongka tatadhahnya. . sapa wani mancasana. harjaning rastala samya. 117. 115. agal donya datan kamot. 120. pangiring samya anglulu. uwal saking lenging widya. adil sagung prakara. nubruk buron ingkang ringkya. angedirken pangwasa. sasat Pangéran maraga. mangathik kadang myang mitra. kang damel rupaking jangka. alus sakelangkung lembat. migati mring sakèhing wong. datan kasengsem pambombong.

Tyang alit kadamel tumbal. kang tinengen karemenaning pribadya. anguntal mangsanirèki. dyan kawedhar sakadarnya. mundhut lebon king punggawa. 128. temah gesang tansah kogung. Raos tuwuk tan kadarbya. kinarya ompaking wisdhi. songar dupèh tan ana wantun mamada. pangadhuh tan praduli. waton antuk kang dèn bujung. kang dèn bujung tan liya mung kasukannya. tan nenga gegesing dasih. Wus dadi jamaking janma. saya wantun nerak margi. Remen angalap ruruba. welasarsa wus tebih saking pangrasa. rinumpaka sekar Sinom. 127. kacetha pupuh lajengnya. murba gunging wisésa. Mangiwut tatandho arta. ngangah-angah jroning budi. prawira datan kadarbi. bikut gènira nalapi. sapisan tumunten néndra. nenedha sacekapipun. wus ical éwuhing rahsa. 126. nora kaladuk hawa. dadya wadaling durniti. tebih tataning nagri.122. béda janma ingkang wuru mring pangwasa. masiya dipun grujuga. tur ginadhuh wisésa. jro jaman mengeng puniki. 124. punapa déné upeti. paripaos timun wungkuk. 125. . antuk leksa kurang kethi. mring gebyar samya kayungyun. kang badal dipun sirnani. manut gaduking nala. Becik wantuning walika. kadya lampah tataki. tan mosik nganti sasasi. ringkih dipun kaniaya. ngasil-asil donya brana. puluh-puluh iku wataking drubiksa. ngowos-owos maksih suwung. tangèh lamun marema. kinarya imbet kéwala. panggah datanpa isi. toya sablumbang saari. wah malih kawula sami. Menggah lengkeping kintaki. sasat genthong ingkang ciri. tegel tan èwed papati. SINOM 123. pangarem-arem mili. dyan ngrebat uriping lyan. mamak dhumateng gahi. nganung-anung aji pum-pung. raos lingsem wus kawuri. kecèh wang paribasa.

wusna samya andon napsu. mitra tegel angapusi. crah adredah rebat mukti. sak-serik saya ndadi. saking lebeting nagari. tinekuk-tekuk sakarsi. praja jugar kawula buyar wuntatnya. wus supé jejeging adil. musna lestarining nagri. babasan grumbul eri. Ywan lepat gènnya mranata. bubujeng buron kang ringkih. narajang sagung papali. élok lamun rinasakna. kang jujur nandhang kalantur. Angger-angger sinélakan. resik winada tan wasis. bebener dèn tebihi. samya ngarah papati. tan pinétang nagara ji. jro liliwunging wana. puwara kasub jinawi. kemarung pindhanira. surem madyaning buwana. mangsah prang mumungsuhan. kang tinengen duraka klayan dursila. masgul wit datan pinunjul. Tebih saking asih darma. lamun kadhung kaduwung datan piguna. puluhpuluh wus dugi lengkeping jangka. 133. tyang mursid sampun sirna. padha bangsa samya campuh. kadya wawantuning diyu. Urip dadi salah kaprah. miruda padhaning manu. Ical kuncaraning praja. karya uraning pranata. lupa rèhing prawira. gung asor dalajatnya. 130. nora barès malah mukti. akarya ngungun ing ati. Prihatos lamun uninga. trékahing umat puniki. Pawingking ngundhuh dahana. 135. ingkang ngririsak nagari. tilar tepaning sami. . welas-arsa pan wus sepi. 131. munasika kawula. tumus gesangirèng dasih. 134. Tangané padha candhala. rinèmèh jro papaki. séjé bangsa sinengit. tan ènget raos manunggil. béda gama dèn cengili. pra pangarsa mutusi sukèng tyasira. tan éman patining liya. 136. ngrèrèndhèt ambancang laku. nasar antuk astuti. kondhang bangsa ingkang wengis. dingkik-diningkik sasami. nora idhep tataning janma utama. agahan karem mring donya. wus tan ana kang kénging dipun pracaya. pinrawasa dèn gaglag kanthi kethaha.129. miturut kang asung arta. bubujung mulading kapti. wengkon samya ambalila. téga roga-ning sasama. kala jiret dèn pasangi. blaka manggih antaka. hakim remen wang upeti. 132. panguwasa soroh napsu.

lir lembu dipun patrapi. Rinungrum gampil arentah. ywa nglurug sanès parigi. lenging cipta mung juga tinurutana. tatamba panggah sakit. Poma-poma élingana. ngandelken kuwasa-nipun. pindha kukila kapulut. nguja mubaling branta. dora cidra salir janmi. cinongok ing cungurira. dèn nepken mubal andadi. sinabarna dadya gugup. lamun kena panèn mamala antaka. sisimpen datan gadhahi. wawaler dèn campahi. Atatandho rajabrana. wenang mundhut babana. tan jejeg kedaling lathi. 141. asalipun king durniti. suthik mirengna papali. tyang sugih remen ngapusi. kineluh liring pawèstri. padharan tansah luwya. kang dadi walering margi. ipat-ipating Hyang Widi. . temahan kénging walat. kalebet minta pawèstri. mantu lumawan si biyung. langkung kesel kang pinanggih. tan émut trapsilèng krami. nir tuladha sumimpang saking pranata. Nahen napsu nora kampah. dugèng jangka jaman babaya cintraka. dupi wus lenggah ngaluhur. tilar waskitèng kapti. takeran sami dèn suda. ngumbar hawa tanpa budi. Kayungyun mring kasulistyan. tan maèlu pager ayu. Ngombéya maksih dahaga. kadi tyang bodho katali. nyanyaput nering pangreti. léna linepas jemparing. 142. langkung kathah mapali. tan sempulur ginawa dugèng pralaya. Kalakyan ing jaman ika. kang mlarat tan pinracaya. winada nora malangi. pakèwed tan kadarbya. 139. watu timbangan cicir. garwa yoga tan pinétang waton bisa. éwuhaya ing budi. traju ginanjel tan wèsti. lamun léna sungkawa nora kuwawa. arsa aso kang sayah.137. anak lanang tan bektya. linipur saya dhuhkita. ngombéya ing belikira. ical waspaosing driya. Aja pasrah marang kanca. supè walering margi. babandan dèn adili. nenedha tangèh atuwuk. myang liyan gampil mélik. nyebar wiji tangèh angundhuh wohira. marang bapa mamancahi. 138. kabèh pokal tangèh lugu. ngalèyèh ing pangkonira. 144. sengsem kasmaran wanodya. punapa déné pawèstri. 143. babaya tan uninga. 140.

lamun remen luru warih. sinuyudan kawula. muncar wibawaning prabu. raos èwed wus sepi.145. rongèhing manah kadlarung. ywa malang tumolèh margi. sinengguh dadya upeti. ngasag-asag sapinanggih. tyas meleng ning nyawiji. marema ingkang kadarbya. atataki sawatawis. temah lulus sempulur kuncaranira. 146. yèn mangkana ical prabawaning praja. parwi dasih ingalap. . kasengesem mring sendhanging lyan. Becik lamun tinahena. pinitaya dipun aji. Cacat menggahing pangarsa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful