JAMUS KALIMOSODO

Papat kalima pancer merupakan sebuah wacana yang perlu terus kita gali dan kita renungkan plus bertukar fikiran dengan orang-orang tua kita yang sudah mumpuni baik dari ilmu tahid dan ilmu rasanya. Menurut petunjuknya papat kalima pancer itu pusatnya ada di PANCER (yaitu lubuk hati yang paling dalam) dan PAPAT-nya adalah unsur-unsur ilahi yang kita sendiri hak untuk mendapatkannya. Karena dengan menggunakan PAPAT itu kita bisa selalu ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai penguasa alam semesta ini.

Papat yang pertama adalah nur-nya Allah (Nurullah=Cahaya dari Allah) bias dari asma-asma Allah dan sifat-sifat Allah, tanda dari PANCER-nya yaitu dalam segala sesuatu/ gerak gerik selalu BERSERAH DIRI kepada Allah dan pengakuan kita sebagai mahluknya merasa tiada daya secara ruhani dan tiada kekuatan secara jasmani kecuali hanya Allah yang memberikan gerah hidup dan kehidupan, dan berupaya untuk selalu meng-ibadahkan segala sesuatu untuk BERIBADAH kepada Allah memohon Ridho Allah, Rahmat Allah.

Papat yang kedua adalah NUR MUHAMMAD (cahaya syafa’at yang Allah cipta untuk Hambanya (Rasulullah) yang Allah mulyakan. setelah kita berserah diri kepada Allah lewat PANCER (lubuk hati yang paling dalam) ada sebuah kelembutan sebagai sebuah rahmat yang Allah berikan kepada mahluknya agar kita tunduk dan lemah lembut kepada Allah, selalu merasa sayang kepada apapun dan siapapun sebagaimana Rasulullah mempunyai perangai yang lembut dan berahlak mulia bagi semua mahluk.

PAPAT yang ketiga yaitu MALAIKAT sebagai kendaraan untuk membawa NURULLAH dan NUR MUHAMMAD tadi kedalam diri kita pada waktu kita berserah diri kepada Allah dan mengibadahkan segala sesuatu hanya untuk Allah dan fungsi malaikat ini untuk membantu memintakan permohonan ampun mendoakan kepada kita sebagai mahluk yang lemah, banyak berbuat dosa (karena manusia tempat salah dan lupa) dan nominal mereka tidak sedikit mendukung kita dalam beribadah kepada Allah.

PAPAT yang ke empat adalah KAROMAH yaitu berisi doa-doa dari para orang sholeh terdahulu (doa dari para Rasul-rasul, Nabi-nabi, dan para Auliya serta Sholihin yang telah mendahului kita) yang oleh allah diberikan kesempatan untuk membantu mendoakan segala hajat hidup kita dalam mengarungi kehidupan didunia sebagai bekal ibadah nanti kita setelah meninggal (akhirat).

Semoga Allah mengampuni kedua orang tua kita, keluarga kita, mengampuni kita, dan orang-orang yang mempunyai hak dan kewajiban atas kita yang seiman serta mengampuni sesepuh-sesepuh kita. Semoga Allah memberikan Taufiq dan hidayah kepada kita dan mereka dan semoga kita dan mereka semua dijadikan golongan dari hamba-hamba Allah yang sholeh.

ADABEBERAPA VERSI yang menginterpretasikan JAMUS KALIMOSODO.

1. ada yang menginterpretasikan 2 kalimah syahada

2. ada yang menginterpretasikan lahirnya pancasil

3. ada yang menginterpretasikan tokoh pewayangan pandawa lima, apakah semua nya salah? tentu tidak…karena cara pandang setiap orang tidaklah sama.

Hal yang terpenting adalah jangan sampai kita kehilangan ISI/makna dari Jamus Kalimosodo sebagai orang yang berpengertian jawa yang mendapatkan warisan dari leluhur Jawa, pengertian jamus kalimusodo secara singkat adalah:

Istilah jamus kalimosodo terdapat dalam kisah pewayangan baratayudha, suatu jamus/surat yang ada tulisannnya tentang pengertian/kawruh. “barang siapa mendapat kawruh ini ia akan menjadi raja/mempunyai kekuasaan yang besa. kitab ini dimiliki oleh prabu yudistira(samiaji) yang selalu menang dalam peperangan dan akhirnya masuk surga tanpa kematian…memiliki dalam hal ini adalah bukan saling berebut tetapi saling berebut memiliki makna.

Arti Kalimasada terdiri dari beberapa bagian:

Ka= huruf/pengejaan Ka, Lima=angka 5, Sada= lidi/tulang rusuk daun kelapa yang diartikan Selalu, Jadi kelima ini haruslah utuh(selalu 5), Kelima unsur kalimasada teridiri dari:

1. KaDonyan(Keduniawian).

ojo ngoyo dateng dunyo yang arti singkatnya adalah jangan mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi, kebutuhan duniawi kita kejar tapi jangan diutamakan.

2. Ka Hewanan ( sifat binatang).

ojo tumindak kaya dene hewan, cotoh:asusila. amoral, tidak beretika dll.

3. KaRobanan.

Ojo ngumbar hawa nafsu yang arti singkatnya jangan memelihra hawa nafsu…nafsu itu harus dikendalikan.

4. Kasetanan.

Ojo tumindak sing duduk samestine yang arti singkatnya jangan bertindak yang tidak semestinya alias gengsi, sombong( ingin seperti Gusti), menyesatkan, berbuat licik dll.

5. KaTuhanan.

artinya kosong

Gusti Allah iku tan keno kinoyo ngopo nanging ono yang artinya Gusti Allah tidak dapat diceritakan secara apapun tapi toh ada. Gantharwa adalah salah satunya yang diberikan “pusaka” mewarisi warisan dari leluhur Jawa. Pengertian Asli dari jamus kalimosodo diatas adalah isi murni dari pengertian sebenarnya..setiap orang boleh membungkusnya dengan bungkus apapun tetapi jangan sampai kehilangan makna aslinya, karena pengertian diatas adalah pengertian sebenarnya dari jamus kalimusodo.

Tinggalkan sebuah Komentar

Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 HAKEKAT TITIK

Apabila, Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah, Hakekat adalah ikhlas, syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah, Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat, Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain. Maka, Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah, Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingatnya, Hakekat adalah bagaimana ikhlas, syukur dan sabar dalam kehidupan, Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.

Apabila, Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah, Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingat-Nya, Hakekat adalah bagaimana ikhlas, syukur dan sabar dalam kehidupan, Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.

Maka, Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah, Hakekat adalah ikhlas, syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah, Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat, Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain.

Apabila dan Maka, Bersatu dalam Titik, Titik itu adalah Allah, Syari’at-Tarekat berawal dari Titik, Hakekat-Ma’rifat berakhir di Titik.

Billahu, Fillahu, Bi Idznillahu, Minallahu, Allahu,

Titik.

Tinggalkan sebuah Komentar

Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PHILOSOFI SEMAR

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

Bebadra = Membangun sarana dari dasar

Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

tanpa pamrih.Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat. yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi. Ciri sosok semar adalah : Semar berkuncung seperti kanak kanak. tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa. yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar. . jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu.Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis. persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.namun juga berwajah sangat tua Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Budha dan Isalam di tanah Jawa. untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Dikalangan spiritual Jawa .

1975 : 49 ) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia ( Geertz 1969 : 264 ). Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa ( Brandon dalam Suseno. Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa ( Poedjowijatno. yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi : Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati. Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa.dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa . agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan . Apabila muncul di depan layar.Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas . 1988 : 188 ) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi. Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri Dalam Etika Jawa ( Sesuno. maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian. sebagai rakyat biasa. ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“. Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara ( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 ). ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”. Meskipun berpenampilan sederhana. Bojo sira arsa mardi kamardikan. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan. bahkan sebagai abdi. ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan. 1988 : 188 ). Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.

Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar. maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita. Panut Darmaka. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula. Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya. merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula ( Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191 ). joinboll ( dalam Mulyono 1978 : 28 ) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ” ( timoer 1994 : 4 ). Subana. Sehubungan dengan itu. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar. 20-23 Januari 1995. Dikemukan oleh Arum ( 1995:10 ) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup. termasuk pembudayaan P4 ( Cermomanggolo 1995 : 5 ). yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-CaRa-Ka. tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu. rame ing ngawe ” sepi akan maksud. Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih. rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia ( Mulyono. tt : 13 ). Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma ( Mulyono 1978 : 35 ) Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar. . Anom Suroto. maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193 ) Dari segi etimologi. Nur Illahi atau sifat Ilahiah. sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa ( Mulyono 1978 : 18 ) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad. Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih ( timoer. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya.keterdidikannya ( Suseno 1988 : 190 ). Cermomanggolo dan manteb Soedarsono ( Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10 ). Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal. Prodjosoebroto ( 1969 : 31 ) berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.

Amujya Nabhaktya . Ajaamalat Duwe Nin Wadwa Nira Janganlah menjarah harta rakyatmu 4. Luluta Rin Pandita Mengabdilah pada mereka yang sadar 6.Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 10 SHILA SUTASOMA Karya Mpu Tantulan. Ajaamidanda Tan Sabenere janganlah menjatuhkan hukuman yang tidak adil 3. Aja Tan Asih In daridra Janganlah menunda kebaikan terhadap mereka yang kurang beruntung 5. 1. Aja Sira Anlarani Hati Nin Non Jangan Menyakiti Perasaan Orang Lain (dan jangan mengacaukan pikiran orang lain) 2. Aja Sira Katungkul Ing Kagunan.

Adalah yang terbaik. Aja Memateni Yen Tan Sabenere Janganlah menjatuhkan hukuman mati. Uttama Si Yen Sira Akalisa Rin Pati. . walau banyak orang menghormatimu 7. *** Gancaran basa Jawa ngoko. Anulaha Saama Daana Ajaapilih Jana (adalah yang terbaik) Jika kau berjiwa besar dan memberi tanpa pilih kasih. 9. kecuali menjadi tuntutan keadilan 8. jika kau tidak takut mati.Janganlah menjadi sombong. Sampuraha Rin Tiwas dan bersabar dalam keadaan susah 10. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 SERAT DARMOGANDHUL Darmagandhul Carita adege nagara Islam ing Demak bedhahe nagara Majapahit kang salugune wiwite wong Jawa ninggal agama Buddha banjur salin agama Islam.

masa Nem ringkêlnya Aryang. pangesthine ing awal akhir. mring sagung ahli sastra. sinung tembang macapat. tinarimeng Bathara. tarimanireng badan. myat carita dipangiketira. sru sêtya nglampahi dhawah. kiyai Kalamwadine. pinirit tinuladha. wuku Wukir sangkalanira ing warsi: wuk guna ngesthi Nata [taun Jawa 1830]. mung kinarya ngarem-aremi. suprandene tan kaliren wayah siwi. panitranira nuju. mangesthi amiluta. mring dhawuh weling gurune. Pan sinambi-sambi jagi panti. sagotra minulyarja. yun darbeya miwah nimpeni. Cap-capan ingkang kaping sekawan. kyai Kalamwadi ngarang. trewaca wijang raose.Babon asli tinggalane KRT Tandhanagara. pan ingembun pinusthi ing cipta. Surakarta. ing nguni anggeguru. anganggur ngethekur. tuladhaning kawruh. Pan katemben amaos kinteki. lelepiyanipun. sinung aran srat Darmagandhul jinilid. ping trilikur ri Tumpak manis. nggennya dama cinubluk. saselanira ngupaya tedha. tembang raras rum seya prasaja. linaksanan tinedhak tinurun sungging. Wus pinupus sumendhe ing takdir. karya suka pireneng jalmi. Sancaya kang windu. kinarya cagak lenggahe. Satuduhe Raden Budi ening. mring tyas gung kumacelu. sinung ilham ing alam sahir myang kabir. Ruwah Je warsanira. . sasedyanya kabul. Toko Buku “Sadu-Budi” Sala. sumungkem lair batine. pan sumarah kumambang karseng Hyang. Angawruhi sasmiteng Hyang Widdhi. panggusthine tan mamang ing lair batin. dumadya auliya. agung nugraheng Hyang Suksma. *** BEBUKA Sinarkara sarjunireng galih. kedah medharken kawruh. tan etung lebur luluh. kinarya nglipur manah. ing lokhilmakful tulise. sawusnya winaos tamat. ngebun-bun pasihaning Hyang. 1959. pan biyasa mituhu susetya. puruhita mring Raden Budi. pinindha lir Jawata. duta rehing guru.

(2) ing mangka Putri Cêmpa mau agamane Islam. ing mangka guruku kuwi iya kêna dipracaya. sajrone lagi sih-sinihan. kaparênga anggêlarake sarengate agama Rasul. nyaritakake purwane wong Jawa padha ninggal agama Buddha banjur salin agama Rasul”. para ngulama lan para maulana iku padhamarêk sang Prabu ing Majalêngka.DARMAGANDHUL Ing sawijining dina Darmagandhul matur marang Kalamwadi mangkene “Mau-maune kêpriye dene wong Jawa kok banjur padha ninggal agama Buddha salin agama Islam?” Wangsulane Ki Kalamwadi: “Aku dhewe iya ora pati ngrêti. kajaba mung mulyakake agama Islam. Ora antara suwe kaprênah pulunane Putri Cêmpa kang aran Sayid Rakhmat tinjo mênyang Majalêngka. ora ana maneh kang diaturake. Panyuwunan mangkono mau uga diparêngake dening Sang Nata. Sayid Rakhmat banjur kalakon dhêdhukuh ana Ngampeldênta ing (3) anggêlarake agama Rasul. nanging kang durung ngrêti dêdongengane iya Majapahit iku jênêng sakawit. Suwe-suwe pangidhêp mangkono mau saya ngrêbda. Ing wêktu iku. nganti njalari katariking panggalihe Sang Prabu marang agama Islam mau. Ature Darmagandhul: “Banjur kapriye dongengane?” Ki Kalamwadi banjur ngandika maneh: “Bab iki satêmêne iya prêlu dikandhakake. sarta nyuwun idi marang Sang Nata. Sang Prabu lagi kalimput panggalihe. wong Jawa banjur akeh bangêt kang padha agama Islam. Sayid Kramat dadi gurune wong-wong kang wis ngrasuk agama Islam kabeh. Sang Prabu iya marêngake apa kang dadi panyuwune Sayid rakhmat mau. mung kanggo pasêmon. banjur ngrasuk . Akeh wong Jawa kang padha kelu maguru marang Sayid Kramat. Ing jaman kuna nagara Majapahit iku jênênge nagara Majalêngka. bab luruhe agama Islam. Ing kono banjur akeh para ngulama saka sabrang kang padha têka. supaya wong kang ora ngrêti mula-bukane karêben ngrêti”. dene panggonane ana ing Benang (4) bawah Tuban. (1) Ing nagara Majalêngka kang jumênêng Nata wêkasan jêjuluk Prabu Brawijaya. mula bisa dadi gurune wong Islam. Sang Prabu krama oleh Putri Cêmpa. sarta padha nyuwun dhêdhukuh ing pasisir. sabên marak. Sayid Kramat iku maulana saka ing ‘Arab têdhake Kanjêng Nabi Rasulu’llah. dene ênggone jênêng Majapahit iku. nanging aku tau dikandhani guruku. Sang Rêtna tansah matur marang Sang Nata. Wong Jawa ing pasisir lor sapangulon sapangetan padha ninggal agamane Buddha.

para ngulama padha nyuwun pangkat sarta padha duwe sêsêbutan Sunan. sarta sarehne Babah Patah nalika ana ing Palembang agamane wis Islam. wêtune saka engêtan. Barêng wis sawatara masa. Satêkane Majalêngka Sang Prabu kewran panggalihe ênggone arêp maringi sêsêbutan marang putrane. arane Raden Kusen. awit yen miturut lêluri saka ingkang rama. iku wajib sinuwunan kawruhe ngelmu lair batin. diparingi têtêngêr Raden Patah. yen wohe budi ngrêti marang kaelingan bêcik. budi kang ngobahake. sowan ingkang rama. sêsêbutane: Kaotiang. Yen cêgah mangan rusak. miyose putra mau ana ing Palembang. manusa ora bisa apa-apa. putraning Nata kang pambabare ana ing gunung. Hawa iku karêping hati. sang Prabu Brawijaya kagungan panggalih. Ing nalika samana. dene Raden Kusen ing nalika iku jinunjung dadi Adipati ana ing Têrung (5). mulane katone iya sênêng. para ngulama sarake Buddha. Ing wêktu iku ana nalar kang aneh. madanani para bupati urut pasisir Dêmak sapangulon. Budi iku Dzate Hyang Widdhi. yen blastêran Cina lan Jawa sêsêbutane Babah. para nayaka uga padha mupakat. sirik cêgah mangan turu. padha dipundhuti têtimbangan ênggone arêp maringi sêsêbutan ingkang putra mau. lakune isih padha cêgah mangan. kabênêr wayahe kiyai Agêng Ngampel. têgêse pambabare ana nagara liya. sênênge mau amung kanggo samudana bae. Katêlah nganti tumêka saprene. mungguh satêmêne ora sênêng bangêt ênggone diparingi sêsêbutan Babah iku. Ing wêktu iku para ngulama budine bêcik-bêcik. yen putra Nata kang miyos ana ing Palembang iku diparingi sêsêbutan lan asma Babah Patah. Jawa Buddha agamane. nganti sadhereke seje rama tunggal ibu. banjur boyong marang Dêmak. pinaringan nama sarta sêsêbutan Raden Arya Pêcattandha. Ing nalika iku Babah Patah banjur jinunjung dadi Bupati ing Dêmak.agama Rasul. Sunan iku têgêse budi. Ing Balambangan sapangulon nganti tumêka ing Bantên. sêsêbutane Bambang. Prabu Brawijaya uga banjur paring idi. uwite kawruh kaelingan kang bêcik lan kang ala. Ature Patih kang mangkono mau. Mangka agama Buddha iku ana ing tanah Jawa wis kêlakon urip nganti sewu taun. Yen sarak rasul. dene yen wong ‘Arab sêsêbutane Sayid utawa Sarib. ana ing desa Bintara. bisane mung sadarma nglakoni. mung nuruti rasaning lesan lan awak. isih padha cêgah dhahar sarta cêgah sare. durung padha duwe karêp kang cidra. Saka ature Patih. Barêng Raden Patah wis diwasa. Yen miturut ibu. yen nglêluri lêluhur kuna. sarta Babah Patah dipalakramakake oleh ing Ngampelgadhing. kok nganggo sêsêbutan Sunan. nanging sarehne ibune bangsa Cina. wonge uga padha kelu rêmbuge Sayid Kramat. prayoga disêbut Babah. Suwe-suwe agama Rasul saya sumêbar. yen miturut lêluhur kuna putrane Sang Prabu mau disêbut Bambang. Sang Prabu banjur nimbali patih sarta para nayaka. jroning utêk iku yen diwarahi budi . Suwening suwe sarak Rasul saya ngrêbda. ora kêna dikawruhi sarana netra karna sarta lesan. cêgah turu. Sang Prabu Brawijaya kagungan putra kakung kang patutan saka Putri Bangsa Cina. Babah Patah wêdi yen ora nglakoni dhawuhe ingkang rama. anane ing Dêmak didhawuhi nglêstarekake agamane. mula Sang Nata iya banjur dhawuh marang padha wadya. dene wong-wonge padha manêmbah marang Budi Hawa.

apa isih agama Budi. iya kudu ditimbang ing sabênêre. tanah kene patut diarani Kutha Gêdhah”. kang padha rusak. iya iku dhêmit ing sumur Tanjungtani. mêjanani marang dheweke. Gêdhah iku ora irêng ora putih. nganti kawêtu pangandikane nyupatani. satêkane wetan kali banjur niti-niti agamane wong kono apa wis Islam. wong ing kono akeh padha agama Kalang. akeh desa kang padha rusak. kêpalangan banyu. arêp salat”. kang ndherekake mung sakabat loro. Sakabate siji banjur lunga mênyang padesan arêp golek banyu. barêng kêna dayaning pangandika mau. sarta jakane aja rabi yen durung dadi jaka tuwa. kali kang maune iline gêdhe sanalika dadi asat. yen diombe nglarani wêtêng. padha wadul yen ana wong arane Sunan Benang. iya iku saka . kang ana mung bocah prawan siji. barêng noleh wêruh lanang sajak kaya santri. mulyakake Bandung Bandawasa. ing wêktu iku lagi nênun. yen pinuji dina Riyadi. Nganti tumêka saprene tanah Gêdhah iku larang banyu. dene kang agama Rasul lagi bribik-bribik. kali kang saka Kadhiri disotake banjur asat sanalika. ing sanalika kali Brantas iline dadi cilik. kula nêdha toya imbon bêning rêsik”. Sunan Benang têrus tindak mênyang Kadhiri. alas. kang maca lan kang krungu nganggêp têmên lan ora. Sunan Benang ngandika marang sakabate: “Kowe goleka banyu imbon mênyang padesan. Ki Bandar matur: “Dhawuh pangandika panjênêngan. yen sampeyan ajêng ngombe”. iline banjur salin dalan kang dudu mêsthine. banyune isih buthêk. satêkane ngarsane Sunan Benang banjur ngaturake lêlakone nalika golek banyu. lan maneh iki wancine luhur. Sunan Benang sarta sakabate loro padha nyabrang. MBok Prawan salah cipta. bangêt dukane. iline banyu kang gêdhe nyimpang nrabas desa alas sawah lan patêgalan. têkan ing desa Pathuk ana omah katone suwung ora ana wonge lanang. kali Brantas pinuju banjir. Ature Ki Bandar wong ing kono agamane Kalang.nyambut gawe. mula akeh desa. sarak Buddha mung sawatara. saiki isih ana wujuding patilasane. Sunan Benang ngandika: “Yen ngono wong kene kabeh padha agama Gêdhah. kajaba uyuh kula niki imbon bêning. ngêndêl-êndêlake kaprawirane. sawah sarta patêgalan. pangrasane wong lanang arêp njêjawat. Tanah saloring kutha kadhiri banjur jênêng Kutha Gêdhah. wajah lagi arêp mêpêg birahi. Dhek nalika samana Sunan Benang sumêdya tindak marang Kadhiri. ngriki botên entên carane wong ngimbu banyu. Bandung dianggêp Nabine. kali iki isih banjir. tansah digubêl anak putune. padha sênêng-sênêng ana ing omah. Sakabat têka sarta alon calathune: “mBok Nganten. nganti têkane saiki isih karan Kutha Gêdhah. mBok Prawan kaget krungu swarane wong lanang. awit katrajang ilining banyu kali kang ngalih iline. isih kêna dinyatakake. prawane aja laki yen durung tuwa. mula saka pangiraku iya nyata. kula ingkang nêkseni”. Satêkane lor Kadhiri. wong-wong padha bêbarêngan mangan enak. jaka lan prawane iya nganti kasep ênggone omah-omah. aku arêp wudhu. Santri krungu têtêmbungan mangkono banjur lunga tanpa pamit lakune dirikatake sarta garundêlan turut dalan. iya iku ing tanah Kêrtasana. gawene nyikara marang para lêlêmbut. Sunan Benang mirêng ature sakabate. nanging kang mangkono mau arang kang padha ngrêti mula-bukane. mula ênggone mangsuli nganggo têmbung saru: “nDika mêntas liwat kali têka ngangge ngarani njaluk banyu imbon. ing panggonan kono disabdakake larang banyu. Ing wêktu iki ana dhêmit jênênge Nyai Plêncing.

matur marang ratune. nanging dhêmit-dhêmit mau ora bisa nyêdhaki Sunan Benang. Buta Locaya panggonane ana ing Selabale. Buta Locaya lagi ngandikan karo kang padha ngadhêp. mula sang Prabu asih bangêt marang kiyai Daka. sarirane nganti kaya gêni. sarta kono disotake larang banyu sarta diêlih jênênge tanah aran Kutha Gêdhah. Para lêlêmbut mau padha sikêp gêgaman pêrang. Nyai Plêncing krungu wadule anak putune mangkono mau. Sakabehe lêlêmbut kang ana ing lautan dharatan sarta kanan keringe tanah Jawa. diadhêp patihe aran Megamêndhung. iya iku kiyai daha lan kiyai Daka. Buta Locaya iku patihe Sri Jayabaya. Buta iku têgêse: butêng utawa bodho. ing kono Buta Locaya banjur maujud manusa aran kiyai Sumbre. Kiyai daha iki cikal-bakal ing Kadhiri. rumêksa kawah sarta lahar.panggawene Sunan Benang. sanalika banjur nimbali putra-wayahe sarta para jin pêri parajangan. Samuksane Sang Prabu Jayabaya lan putrane putri kang aran Ni Mas Ratu Pagêdhongan. Ni Mas Ratu Pagêdhongan dadi ratuning dhêmit nusa Jawa. enggal mangkat mêthukake lakune Sunan Benang. Sunan Benang dhêmêne salah gawe. nanging têmên mantêp sêtya ing Gusti. Nyai Plêncing ngaturake susahe para lêlêmbut sarta para manusa. ngaturake kahanane kabeh. sarta ngaturake yen kang gawe rusak iku. jênênge kiyai Daka dipundhut kanggo jênêng desa. dene para lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha ora ngaton. amarga rasane awake padha panas bangêt kaya diobong. duwe adhi jênênge kiyai Daka. Dhêmit-dhêmit mau banjur padha mlayu marang Kadhiri. (6) Jênênge Buta Locaya. sarta lakune barêng karo angin. dheweke diparingi Buta Locaya. Buta Locaya krungu wadule Nyai Plêncing mangkono mau bangêt dukane. ora antara suwe lêlêmbut wis têkan ing saêloring desa Kukum. lanang wadon ngantiya kasep ênggone omah-omah. dadi ora tansah ganggu gawe. sarta dadi senapatining pêrang. kang uga ngêsotake wong ing kono. dene kiyai Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut. dene Selabale iku dununge ana sukune gunung Wilis. kabeh padha sumiwi marang Ni Mas Ratu Anginangin. kaget kasaru têkane Nyai Plêncing. barêng Sri Jayabaya rawuh. Jêngkare Sri Narendra anjujug ing omahe kiyai Daka. kuthane ana sagara kidul sarta jêjuluk Ni Mas Ratu Anginangin. mulane didadekake patih. ngrungkêbi pangkone. kiyai Sumbre banjur ngadêg ana ing têngah dalan sangisoring wit sambi. wong saka Tuban kang sumêdya lêlana mênyang Kadhiri. bisaa tumêka ing pati. ratune manggon ing Selabale. Ing wêktu iku kiyai Buta Locaya lagi lênggah ana ing kursi kêncana kang dilemeki kasur babut isi sari. sarta banjur didadekake patihe Sang Prabu Jayabaya. maune jênênge kiyai Daha. matur bab rusake tanah lor Kadhiri. kang anom aran panji Sarilaut. lan putrane kakung loro uga padha ngadhêp. Lo têgêse kowe. kiyai têgêse: ngayahi anak putune sarta wong-wong ing kanan keringe. satêkane ing Kadhiri. ana ing kono Sang Prabu sawadya-balane disugata. Anak putune Nyai Plêncing padha ngajak supaya Nyai Plêncing gêlêma nêluh sarta ngrêridhu Sunan Benang. sarta kinêbutan êlaring mêrak. Buta Locaya lan kiyai Tunggulwulung uga padha muksa. kang tuwa arane Panji Sêktidiguna. Wiwite ana sêbutan kiyai. dene kiyai Daka banjur diparingi jênêng kiyai Tunggulwulung. didhawuhi nglawan Sunan Benang. caya têgêse: kêna dipracaya. ngadhang lakune Sunan Benang kang saka êlor. arane Sunan Benang. jênênge kiyai Daha dipundhut kanggo jênênge nagara. kiyai Buta Locaya iku bodho. . yen lahar mêtu supaya ora gawe rusaking desa sarta liya-liyane.

punika namanipun siya-siya botên surup. aku njaluk banyu ora oleh. pêrlu nonton patilasan kadhatone Sang Prabu Jayabaya. katitik saka awake panas kaya mawa. Mangkono uga Sunan Benang uga ora bêtah cêdhak karo kiyai Sumbre. amarga wonge kene agamane ora irêng ora putih. dede pangagêm Jawi. lepen Kadhiri ngalih panggenan mili nrajang dhusun. sêpintên susahipun tiyang ingkang sami kêbênan. prawan baleg. jênêngmu Buta Locaya. Sunan Benang ngandika: “Mula ing kene tak-êlih jênêng Kutha Gêdhah. sumêdya ganggu gawe. ngriki paduka-sotakên. namung kantun namaning dhusun.Ora antara suwe têkane Sunan Benang saka lor. lepenipun asat. amarga kaya dene cêdhak mawa. lajêng botên gampil pêncaripun titahing Latawalhujwa. sadaya patilasan sampun sami sirna. amarga kang tak jaluki banyu ora oleh iku. dene mangangge pating gêdhabyah. sarta nganggo jênêng Sumbre. dadi dheweke kawanguran karêpe. Sunan Benang ngandika: “Aku ora kasamaran. ngêlih lepen. wana. iku prênahe ana ing ngêndi?”. lajêng nyabdakakên ing ngriki awis toya. paduka sikara botên surup. Sakabat loro kang maune padha sumaput.”. makatên wau saking sabda paduka. . Sunan Benang wis ora kasamaran yen kang ngadêg ana sangisoring wit sambi iku ratuning dhêmit. kiyai Sumbre mangkono uga. pasanggrahan Wanacatur ugi sampun sirna. sabab agama Kalang. prawan tuwa jaka tuwa. banjur padha katisên. pintên-pintên sami risak. nyikara tanpa prakara”. sabin. ora bêtah kêna prabawane Sunan Benang. mula kaline banjur tak-êlih iline. dene ênggonku ngêsotake prawan tuwa jaka tuwa. jênêngku Sayid Kramat. Kados wangun walang kadung?”. Dene lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha sumingkir adoh. kraton sarta pasanggrahanipun inggih sampun botên wontên. sadaya wau sirnanipun kaurugan siti pasir sarta lahar saking rêdi Kêlut. nyabdakakên ingkang botên patut. amarga kêna daya prabawane kiyai Sumbre. sikara tanpa dosa. sarta ngêlih nami Kutha Gêdhah. Sunan Benang andangu marang kiyai Sumbre: “Buta Locaya! kowe kok mêthukake lakuku. Kiyai Sumbre matur marang Sunan Benang: “Paduka punika tiyang punapa. têtêpe agama biru. Kula badhe pitaken. kraton utawi patamanan Bagendhawati ingkang kagungan Ni Mas Ratu Pagêdhongan inggih sampun sirna. saiba susahipun tiyang gêsang laki rabi sampun lungse. mula tak-sotake larang banyu. kene kabeh tak sotake larang banyu. mungguh kang dadi sêdyaku arêp mênyang Kadhiri. Buta Locaya kaget bangêt dene Sunan Benang ngrêtos jênênge dheweke. paduka gêndhak sikara dhatêng anak putu Adam. Sunan Benang ngandika maneh: “Aku bangsa ‘Arab. dene omahku ing Benang tanah Tuban. Buta Locaya banjur matur: “Wetan punika wastanipun dhusun Mênang (9). sêlaminipun awis toya. aku ngrêti yen kowe ratuning dhêmit Kadhiri. wusana banjur matur marang Sunan Benang: “Kados pundi dene paduka sagêd mangrêtos manawi kula punika Buta Locaya?”.”. kowe apa padha slamêt?”.

muride Ijajil. mila sami siya-siya dhatêng sêsami. punapa paduka punika tiyang tunggilipun Aji Saka. paduka kula-banda”. Inggih sampun ta. kali iki bisa bali kaya mau-maune”. patute rêmbage tiyang entên ing bambon. nanging sami ahli budi sarta ajrih sêsikuning Dewa. dene gawe kasusahan warna-warna. ngêndêlake dumeh tiyang digdaya. sanadyan ing tanah Jawi rak inggih wontên ingkang nglangkungi kaprawiran paduka. sadaya manusa Jawi ingkang Islam badhe sami kula-têluh kajêngipun pêjah sadaya. Aji Saka dados Ratu tanah Jawi namung tigang taun lajêng minggat saking tanah Jawi. sanes alam kaliyan manusa. sarta susahe jalma lan dhêmit. calathune sêngol: “Rêmbag paduka niki dede rêmbage wong ahli praja. siya dahwen sikara botên ngangge prakara. mula banjur ngandika: “Buta Locaya! aku iki bangsa Sunan. dene kok kaya bocah cilik padha tukaran. besuk yen wus limang atus taun. paduka punika namanipun damêl mlaratipun tiyang kathah. manawi panjênêngan botên karsa mangsulakên. Sunan Benang ngandika: “Sanadyan kok-aturake Ratu Majalêngka aku ora wêdi”. lah sapunika mugi panjênêngan-sotakên wangsulipun malih. botên tahan digodha lare. Sunan Benang barêng mirêng nêpsune Buta Locaya rumaos lupute. paduka ngakên Sunan rak kêdah simpên budi luhur. nanging ingkang susah kok tiyang kathah sangêt.Buta Locaya matur maneh: “Punika namanipun botên timbang kaliyan sot panjênêngan. Kula niki bangsaning lêlêmbut. ora kêna mbaleni caturku kang wus kawêtu. dhêmit lan wong pêcicilan rêbut bênêr ngadu kawruh prakara rusaking tanah. sagêd dados asil panggêsangan laki rabi taksih alit lajêng mêncarakên titahipun Hyang Manon. mêsthi simpên budi luhur. lajêng mubal nêpsune gêlis duka. lajêng paduka-ênggeni piyambak. kula tamtu nyuwun bantu wadya bala dhatêng Kanjêng Ratu Ayu Anginangin ingkang wontên samodra kidul”. Aji Saka tiyang saka Hindhu. nyikara wong kang ora dosa. banjur nêpsu maneh. Panjênêngan sanes Narendra têka ngarubiru agami. Buta Locaya barêng krungu kêsagahane Sunan Benang. Buta Locaya barêng krungu têmbung ora wêdi marang Ratu Majalêngka banjur mêtu nêpsune. daginge dadiya asêm. botên sapintên lêpatipun. damêl wilujêng dhatêng tiyang kathah. saupami konjuk Ingkang Kagungan Nagari. nuli matur marang Sunan Benang: “Kêdah paduka. tandhane paduka sapunika sampun jasa naraka jahanam.wangsulna sapunika. woh sambi dadi warna loro kanggone. yen sampun dados. wijine mêtuwa lêngane. têbih saking ahli budi yen ngantos siya dhatêng sêsami nyikara tanpa prakara. aku pamit nyimpang mangetan. siram salêbêting kawah wedang ingkang umob mumpalmumpal. botên timbang kaliyan kukumipun. mbok sampun sumakehan dumeh dipunkasihi Hyang Widdhi. amargi ngrisakakên tanah. lepen ingkang asat lan panggenan ingkang sami katrajang toya kula-aturi mangsulakên kados sawaunipun. . Paduka niksa wong tanpa dosa. nanging kok jêbul botên makatên. paduka tiyang saking ‘Arab. punika namanipun tiyang dahwen”. sami damêl awising toya. ewadene kula taksih engêt dhatêng wilujêngipun manusa. sumbêr toya ing Mêdhang saurutipun dipunbêkta minggat sadaya. Sunan Benang ngandika marang Buta Locaya: “Wis kowe ora kêna mangsuli. nggih niki margi paduka cilaka. dak-suwun marang Rabbana. wujud paduka niki jajil bêlis katingal. niku Sunan napa? Yen pancen Sunaning jalma yêktos. ing ngriki sagêda mirah toya malih. woh sambi iki tak-jênêngake cacil. sugih sanak malaekat. lajêng tumindak sakarsa-karsa botên toleh kalêpatan. yen botên sagêd. tur namung tiyang satunggal ingkang lêpat. paduka inggih dipunukum mlarat ingkang langkung awrat. sapunika sadaya ingkang risak kula-aturi mangsulakên malih.

Singkal têgêse sêngkêl banjur nêmu akal. saupama diêlih saka panggonane. sintên ingkang sumêrêp rêca punika. kangge pralambang ing tekadipun wanita Jawi. iku pituture Raden Budi guruku. dene dhêmit padu lan manusa. iku pituture Raden Budi Sukardi. kajaba yen nganggo piranti. Buta Locaya mangsuli: “Inggih kaot punapa. katêlah nganti tumêka saprene ing tanah Kutha Gêdhah ana desa aran Kawanguran. jênênge dhêmit kêmênthus”. saya wuwuh nêpsune sarta mangkene wuwuse: “Punika yasanipun sang Prabu Jayabaya. sarta akeh kang tiba kanan keringe rêca buta mau. dene panggonane balamu kang ana ing kidul iku jênênge desa Kawanguran”. dhuwure ana 16 kaki. . dene Sunan Benang sawise. kêrsane arêp salat. Ing besuk dadiya pasêksen. Sunan Benang sawise salat banjur nêrusake tindake. satêkane desa Nyahen (10) ing kona ana rêca buta wadon. Sumbre sarta Singkal. prakara rusaking rêca”. Sunan Benang tindake têkan ing desa Bogêm. Sunan Benang ngasta kudhi. Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene sumur mau karane sumur Gumuling. Sunan Benang banjur tindak mangalor. Sunan Benang ngandika: “Kowe iku bangsa dhêmit kok wani padu karo manusa. prênahe ana sangisoring wit dhadhap. dene ana madhêp mangulon. awit saka sabdane Sunan Benang. ubênge bangkekane 10 kaki. rêca jaran êndhase digêmpal. lan wiwit saiki panggonan têtêmon iki. rêca mau awak siji êndhase loro. guruku”. bathuke dikrowak. yen aku kêrêngan karo dhêmit kumênthus. ana ing kono Sunan Benang mriksani rêca jaran. nganti katon abang mbêranang. Sunan Benang sawuse ngandika mangkono banjur mlumpat marang wetan kali.asêm dadi pasêmoning ulat kêcut. benjing jaman Nusa Srênggi. kang lor jênênge desa Singkal. dadiya pangeling-eling ing besuk. barêng wis wanci asar. Buta Locaya nututi tindake Sunan Benang. ngriku Sunan. yen dijunjung wong wolung atus ora kangkat. wohe trênggulun mau akeh bangêt kang padha tiba nganti amblasah. Buta Locaya barêng wêruh patrape Sunan Benang anggêmpal êndhasing rêca jaran. êmbuh bênêr lupute”. lênga têgêse dhêmit mlêlêng jalma lunga. yen aku padu karo kowe. kula Ratu”. lajêng sami mangrêtos tekadipun para wanita Jawi”. woh trênggulun jênênge kênthos. sajabane desa kono ana sumur nanging ora ana timbane. sumure banjur digolingake. Sunan Benang kang anggolingake. Sunan Benang priksa rêca mau gumun bangêt. dene prênahe ana sangisoring wit trênggulun. nuli sagêd mundhut banyu kagêm wudhu banjur salat. Kawanguran têgêse kawruhan. saka akehe kêmbange kang tiba. ing kene desa ing Sumbre. Sunan Benang ngandika: “Woh trênggulun iki tak-jênêngake kênthos. baune têngên rêca mau disêmpal dening Sunan Benang. wêktu iku dhadhape pinuju akeh bangêt kêmbange. Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene.

dheweke nêpsu maneh. Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Tandhane napa yen angsal sihe Pangeran. inggih punika ingkang kenging kangge tuladha. supaya aja dipundhi-pundhi dening wong akeh. Saking dhawuhipun Ingkang Maha Kuwaos. dipunkutugi. wujude nggih tugu sela. wontên ing rêca. botên gadhah daya. sasar nêmbah tugu sela. Aluwung manusa Jawa ngurmati wujud rêca ingkang pantês simpên budi nyawa. sayêktos yen yasanipun Ingkang Maha Kuwaos. bêtuwah . mila sami dipunladosi. supados para lêlêmbut sampun sami manggen wontên ing siti utawi kajêng. mila para lêlêmbut sami dipunsukani panggenan wontên ing rêca. ing mangka punika yasanipun Sang Prabu Jayabaya. manusa sadaya kêdah sumêrêp ing Batu’llahipun. sampun sami ngraos yen alamipun dhêmit punika sanes kalayan alamipun manusa. Buta Locaya mangsuli karo mbêkos: “Pêjah malih yen sumêrêpa. sanes Hyang Latawalhujwa. sintên sumêrêp asalipun badanipun. langkung sênêng malih manawi manggen wontên ing rêca wêtah ing panggenan ingkang sêpi edhum utawi wontên ngandhap kajêng ingkang agêng. tugu damêlan Nabi.Buta Locaya wêruh yen Sunan Benang ngrusak rêca. punika inggih langkung sasar”. manawi panggenanipun raga pêtêng. lah asilipun punapa panjênêngan ngrisak rêca?” Pangandikane Sunan Benang: “Mulane rêca iki tak-rusak. punapa sampun angsal saking Pangeran Kang Maha Agung tapak asta mawi cap abrit? Sunan Benang ngandika maneh: “Kang kasêbut ing kitabku. dhêmit manawi nêdha ganda wangi badanipun kraos sumyah. saniki awon warnine. inggih pintêr sugih engêtan sidik paningalipun têrus. Gusti Allah paring pangapura lupute kabeh salawase urip ana ing ‘alam pangumbaran”. calathune: “Panjênêngan nyata tiyang dahwen. amargi siti utawi kajêng punika wontên asilipun. Nabi punika rak inggih manusa kêkasihipun Gusti Allah. punika kêdah dipunrêksa. sing sapa sujud marang Ka’batu’llah. dados têdhanipun manusa. sumêrêp saderengipun kalampahan. wangsul tiyang bangsa ‘Arab sami sojah Ka’batu’llah. punika wajib dipunsujudi. panjênêngan-tundhung dhatêng pundi? Sampun jamakipun brêkasakan manggen ing guwa. dados panjênêngan punika têtêp tiyang jail gêndhak sikara siya-siya dhatêng sasamining tumitah. sumêrêp budi hawanipun. pinaringan wahyu nyata pintêr sugih engêtan. sumêrêp cipta sasmita ingkang dereng kalampahan. prayogi dhatêng rêdi Kêlut kathah sela agêng-agêng yasanipun Pangeran.” Buta Locaya calathu maneh: “Wong Jawa rak sampun ngrêtos. Sanadyan rintên dalu nglampahi salat. badanipun manusa punika Baitu’llah ingkang sayêktos. ta. sarta nêdha ganda wangi. botên kuwasa. manawi sampun nrimah nêmbah curi. rêca buta bêcik-bêcik dirusak tanpa prakara. angsal pangapuntên sadaya kalêpatanipun. sidik paningalipun têrus. tiyang Jawi pathokan sastra. ing kono pusêring bumi. manggen wontên ing rêca têka panjênêngan-sikara. Dene ingkang yasa rêca punika Prabu Jayabaya. paduka pathokan tulis. sasar nyêmbah tugu sela. kawruhipun sasar-susur. dipunsajeni. didelehi tugu watu disujudi wong akeh. besuk yen mati oleh kamulyan”. aja tansah disajeni dikutugi. inggih kêkasihipun Ingkang Kuwaos. kamulyan sanyata wontên ing dunya kemawon sampun korup. yen wong muji brahala iku jênênge kapir kupur lair batine kêsasar. yen punika rêca sela. makluking Pangeran. Pangandikane Sunan Benang: Ka’batu’llah iku kang jasa Kangjêng Nabi Ibrahim. pinaringan wahyu mulya. sami maujud piyambak saking sabda kun.

panjênêngan enggala kesah. Tiyang nyungkêmi kabar ‘Arab. asrêp lan bênteripun cêkapan. kula-aturi kesah saking ngriki. Patih matur. Sunan Benang ngandika: “Ora arêp manut rêmbugmu. kali kang saka Kadhiri miline nyimpang . Panjênêngan tiyang duraka. nambahi bênter. rêmên niksa ing sanes. anggêga ujaripun tiyang nglêmpara. awis toya. mastani Mêkah punika nagari cilaka. Ratu wajib niksa. Sunan Benang banjur tindak. nagari ing Majalêngka. kangge rencang tumbasan. ngarubiru agamane lêluhur kina. malah kathah tiyang sade tinumbas tiyang. panjênêngan kula-kroyok punapa sagêd mênang. Ingkang yasa rêca punika Maha Prabu Jayabaya. mbucal dhatêng Mênadhu”. inggih ing ngriki ingkang kula-linggihi punika. nagari Jawi ngriki nagari suci lan mulya. kowe setan brêkasakan”. maoni adating uwong. nyade mulyaning nagari Mêkah. yen mêntas nampani layang saka Tumênggung ing Kêrtasana. manawi kula lêpat panjênêngan jotos. lajêng kula bêkta mlêbêt dhatêng kawahipun rêdi Kêlut. punapa dora punapa yêktos. nyudakakên toya”. panjênêngan punapa sagêd ngêpal lampahing jaman? Sampun ta. woh dhadhap jênênge kledhung. Mula katêlah nganti tumêka saprene. damêl risak barang sae. kalah kawruh kalah nalar”. kula sumêrêp nagari Mêkah. manawi tiyang ingkang ahli nalar.saking lêluhuripun. kêmbange aran celung. maoni agama. saking lêpat. punapa panjênêngan kêpengin manggen ing sela kados kula? Mangga dhatêng Selabale. sabab aku kêcelung nalar lan kêledhung rêmbag. sitinipun panas. tekad panjênêngan rusuh. mulya langgêng salamine. madya luwês wicaranipun. bênteripun bantêr awis jawah. punapa ingkang dipuntanêm sagêd tuwuh. tandha kirang nalar. rêmên nyikara niaya. Rêmbag panjênêngan badhe priksa pusêring jagad. kirang nêdha kawruh budi. dereng ngrêtos kawontênanipun ngrika. panjênêngan dereng tampu mulya kados kula. Gênti kang cinarita. dados murid kula!”. kula aturi kesah kemawon saking ngriki. tanah pasir mirah toya. dene surasane layang ngaturi uninga yen nagara Kêrtasana kaline asat. Mila panjênêngan anganjawi. Sunan Benang ngandika: “Dhadhap iki kêmbange tak jênêngake celung. tanêm-tanêm tuwuh botên sagêd mêdal. manawi kadangon wontên ing ngriki mindhak damêl susah. sapunika panjênêngan ukur. mila minggat. nyade umuk. murugakên awis wos. nanging dhêmit raja. uwohe kledhung. badhe kula undhangakên adhi kula ingkang wontên ing rêdi Kêlut. wontên ing ‘Arab nakal kalêbêt tiyang awon. wontên ing ngriki mindhak damêl sangar. sami-sami nyungkêmi kabar. panjênêngan punapa botên badhe susah. digdayanipun ngungkuli panjênêngan. Rêmbag panjênêngan punika mblasar. ingkang patilasanipun taksih kenging dipuntingali. yen panjênêngan mulya tamtu botên kesah saking ‘Arab. manawi botên purun kesah sapunika. mila panjênêngan dhatêng tanah Jawi. diadhêp Patih sarta para wadya bala. tiyangipun jalêr bagus. dadiya pasêksen yen aku padu lan ratu dhêmit. Sunan Benang banjur pamitan: “Wis aku arêp mulih mênyang Benang”. aluwung nyungkêmi kabar sastra saking lêluhuripun piyambak. dene Buta Locaya sawadya-balane uga banjur mulih. anuju sawijining dina. Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Inggih sampun. tandhanipun wontên ing ngriki taksih krejaban. Buta Locaya mangsuli: “Sanadyan kula dhêmit. Sang Prabu Brawijaya miyos sinewaka. wanitanipun ayu.

kabeh mêsthi nurut marang kowe”. gaweya samudana. anggenipun makatên wau. dene duta kang diutus mênyang Tuban uga wis têka. kajawi namung Bathara Wisnu nalika jumênêng Nata wontên ing nagari Mêdhang-Kasapta. Patih sawise niti-priksa. pêparabipun Sunan ‘Aênalyakin. dhawuhana balamu para Sunan kabeh lan para Bupati kang wis padha Islam kumpulna ana ing Dêmak. suraosipun ing têmbung Jawi nama Prabu Satmata. Gêlising carita. golek kêkuwatan. diajak nglurug mênyang Majalêngka. dene kang kidul isih têtêp nganggo agama Buddha. paring pangandika yen ngulama saka ‘Arab pada ora lamba atine. ênggone ora sowan mênyang Majalêngka. pangandikane Sunan Benang marang Adipati Dêmak: “Wêruha yen saiki wis têkan masa rusake Kraton Majalêngka. 2. nanging kang sarana alus. ing wêktu iku tanah jawa wis meh saparo kang padha ngrasuk agama Islam. para Sunan sarta Bupati sawadya-balane kang wis padha Islam. Sang Prabu midhangêt ature Patih. têgêsipun Yakin punika wikan. mula banjur lunga karo Sunan Giri mênyang Dêmak. banjur ngaturake kahanane kabeh. amargi ngulama Giripura sampun tigang taun botên sowan utawi botên ngaturakên bulubêkti. ora kuwat nanggulangi pangamuke wadya Majapahit. amarga gawe ribêding nagara. rêmbugku rusakên Kraton Majalêngka. Sunan Giri mlayu mênyang Benang. saking kenging sabdanipun ngulama saking ‘Arab. dene yen padha ora gêlêm lunga didhawuhi ngrampungi bae. Patih budhal ngirid wadya-bala prajurit. wong-wong ing Pasisir lor wis padha agama Islam. Ature Patih: “Gusti! lêrês dhawuh paduka punika. Sang Prabu midhangêt ature para wadya banjur duka. sumilih Kaprabon Nata. nglêstarekake agamane. sowana besuk Garêbêg Mulud. kang kuwat dadi Ratu tanah Jawa. mênggah têgêsipun Sunan punika budi. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih.mangetan. saperanganing layang mau unine mangkene: “Wontên ler-kilen Kadhiri. wong ‘Arab kang ana ing tanah Jawa padha didhawuhi lunga. punika asma luhur ingkang makatên punika ngirib-irib tingalipun Kang Maha Kuwasa. nanging rumantiya sikêping pêrang: 1. Patih banjur diutus mênyang Kêrtasana. dene namanipun santri Giri anglangkungi asma paduka. Patih sawadya-balane satêkane ing Giri banjur campuh pêrang. amarga Sunan Benang lunga ora karuhan parane. liyane loro iku didhawuhi ngulihake mênyang asale. sawise oleh bêbantu. satêkane ing Dêmak. umure wis satus têlu taun. sumêrêp piyambak. Sang Prabu mirêng ature Patih bangêt dukane. saka panawangku. mung ing Dêmak lang Ngampelgadhing kang kêparêng ana ing tanah Jawa. kahanane wonge sarta asile bumi kang katrajang banyu kapriye? Sarta didhawuhi nimbali Sunan Benang. mênggah sêdyanipun badhe rêraton piyambak. pintên-pintên dhusun sami karisakan. pêrange rame bangêt. ing alam donya botên wontên kalih ingkang asma Sang Prabu Satmata. banjur dhawuh nglurugi pêrang mênyang Giri. botên ngrumaosi nêdha ngombe wontên tanah Jawi. . matur yen ora oleh gawe. Wong ing Giri geger. namanipun Sunan Benang. mêngko yen wis kumpul. dados nama tingal ingkang têrus. mariksa botên kasamaran. yen kumpule iku arêp gawe masjid. Sunan Benang wis ngrumasani kaluputane. banjur pêrang maneh mungsuh wong Majalêngka. banjur ngêbang marang Adipati Dêmak. nglurug mênyang Giri. aja nganti ngêtarani. niti-priksa ing kono kabeh. mung kowe. têgêsipun Aenal punika ma’rifat. punika nama ing têmbung ‘Arab.

mungsuh wong kapir. awit Ratu iku Khalifa wakile Hyang Widdhi. sapira mungguh kauntunganmu nugrahaning Pangeran tikêl kaping êmbuh. ngrusak kapir Buddha kawak: kang kok-têmu ganjaran swarga. ora ana alane. walêsên kalawan alus. gundhul bêntul butêng tanpa nalar. wong satanah Jawa padha Islam kabeh. Bupati ing Palembang. Eyangmu kuwi santri mêri. Giri kang dadi jalarane ngrusak Majalêngka. Sunan Benang kang wis dipuji wong sabumi ‘alam. yen aku kacandhak arêp dikuciri lan dikon ngêdusi asu. kajawi namung sêtya tuhu. akeh bangsa Cina kang padha têka ana ing tanah Jawa. Wangsulane Sang Adipati Dêmak: “Anggenipun nglurugi punika lêrês. kowe anak nom. awit panjênêngan botên ngrumaosi dhahar ngunjuk wontên in tanah Jawi”. mêsthine sihe Gusti Allah kang . patute mung dadi godhogan. iku durung gênêp uripe. kowe ngênteni surude bapakmu. patine slamêt nampani swarga mulya. tur ratu kapir. lajêng punapa ingkang kula-walêsakên. Ramanira panggalihe têtêp ora bêcik. Sunan Benang ngandika mêneh: “Sanadyan mungsuh bapa lan ratu. sapira kawruhe Ngampelgadhing. tiyang punika bapa inggih kêdah dipunhurmati. yen kowe ora ngukuhi. mula ibumu diparingake Arya Damar. dipunukum pêjah. lan ramanira sêngit bangêt marang santri kang muji dhikir. nanging yen bapakmu kalah. utawa dipasrahake marang putra mantu. nadyan mati. Satêmêne ramanira iku siya-siya marang sira. wong pranakan buta. amarga iku putrane kang tuwa. wiji jawa digawa Putri Cina. sihing Hyang Kang Maha Kuwasa kang dhawuh marang kowe. kaping tiganipun damêl sae paring kamukten ing dunya. mumpung iki ana lawang mênga. sumilih kaprabone ramamu. Sumbare Patih. iya iku: bae mati bae urip. Dene têkaku mrene ini ngungsi urip mênyang kowe. tandhane sira diparingi jênêng Babah. sanadyan dosa pisan. bocah kalairan Cêmpa. ora wajib jumênêng Nata. golek darajat kang unggul dhewe. ananging ing laire iya kudu nganggo sarat dirêbut sarana pêrang. karo wis wajibe wong urip golek kamuktening dunya. botên ngrumaosi yen kêdah manut prentahing Ratu ingkang mbawahakên. punapa malih dereng wontên lêpatipun dhatêng kula”. iku mêgat sih arane. apa bae kang dikarêpake bisa kêlakon.Islamake. ênggone ngarani jare lara ayan esuk lan sore. Dhawuhipun eyang Sunan Ngampelgadhing.Ature Adipati Dêmak: “Kula ajrih ngrisak Nagari Majalêngka. iku ora prayoga. botên kaparêng yen kula mêngsah bapa. tiyang rêraton. mati sabilu’llah. besuk ganjarane swarga. kaprabone bapakmu wis mêsthi ora bakal tiba kowe. wis wajibe wong Islam mati dening wong kapir. mulane rêmbugku. Inggih sanadyan Buddha punapa kapir. masa padhaa karo aku Sayid Kramat. sanadyan Buddha nanging margi-kula sagêd dumados gêsang wontên ing dunya. Sunan Giri nyambungi rêmbug: Aku iki ora dosa dilurugi ramamu. amêngsah bapa tur raja. saka ênggone nyungkêmi agamane. iya iku Ki Andayaningrat ing Pêngging. yen kowe ora gêlêm nglakoni. mula akeh bangsa Cina kang padha tak. mêsthi dipasrahake marang Adipati Pranaraga. Kang mangkono iku. mêsthi rusak agama Mukhammad Nabi”. Sunan Benang ngandika maneh: “Yen ora kok-rêbut dina iki. lamun sipat manusa mêsthi melik mêngku praja angreh wadya bala. ing batin sêsêpên gêtihe. mung karo wong siji. yen ngislamake wong kapir. didakwa rêraton. tak-anggêp kulawarga. mamahên balunge”. yen wong urip ora wêruh marang uripe. satêmêne kowe wis pinasthi bakal jumênêng Ratu ana ing tanah Jawa. amarga iku wong kapir. ana ing Giri padha tak-Islamake awit kang muni ing kitabku. têgêse Babah iku saru bangêt. amarga aku ora seba marang Majalêngka. aku wêdi marang Patih Majalêngka. sampun wajibipun dipunlurugi. lire aja katara. têdhak Rasul panutaning wong Islam kabeh. Kowe mungsuh bapakmu Nata.

dene kang kadhawuhan mateni iya iku Sunan Giri. Adipati Dêmak matur: “Manawi karsa panjênêngan makatên. ambirat ênggonmu madêg Narendra. padha manganggo . saiki kowe wis gêlêm tak botohi. Syekh Sitijênar dilawe gulune mati. banjur tutup lawang. jêjuluk Senapati Jimbuningrat. panjênêngan ingkang mbotohi”. kang gêlêm ngrusak bapa kapir. lan paring idi rahayuning laku. amarga aku wis wêruh sadurunge winarah. banjur arêp kêpyakan tumuli. Sadurunge Syekh Sitijênar tumêka ing pati. Patihe wis tuwa. Si gugur isih cilik. mungguh kang dadi senapati ing Giri iya iku sawijining bangsa Cina kang wis ngrasuk agama Islam. Para Sunan lan para Bupati wis padha rujuk kabeh. brêngose capang sirahe gundhul. yen Adipati Dêmak arêp dijumênêngake Nata. dadi mung para Sunan lan para Bupati bae kang ngiringake Sultan Bintara. amêngku tanah Jawa. Esuke Senapati Jimbuningrat wis miranti sapraboting pêrang. mung siji kang ora rujuk. mêsthi ora bisa nadhahi yudamu”. saguh ambiyantu pêrang. malah diwenehi lêpiyan carita Nabi. Sunan Benang ngandika maneh: “Iya mangkono iku kang tak karêpake. patihe wong saka Atasaning aran Patih Mangkurat. ninggal swara: “Eling-eling ngulama ing Giri. kajaba mung para Tumênggung lan para Sunan apa dene para ngulama. kula namung sadarmi nglampahi dhawuh. sarta banjur arêp ngrusak Majapahit. Sawise golong karêpe. kowe ora tak-walês ing akhirat. dithothok bae mati. saiki wani. besuk yen ana Ratu Jawa kanthi wong tuwa. Sang Adipati Dêmak banjur ingidenan jumênêng Nata. apa abot sadulur tuwa kang tunggal agama. pawadane sarehne wis sêpuh. wis tak-sêmprong nganggo sangkal bolong katon nêrawang ora samar sajroning gaib. lakune kaya dene Garêbêg Maulud. ananging têmbungmu kang rêmit sarta alus. ora suwe utusan bali. arane Sêcasena. bisa ngideni adêgmu Nata mêngku tanah Jawa. sabakdane salat.mênyang kowe bakal dipundhut bali. bisa lêstari satêruse”. lah saiki uga kowe kirima layang marang adhimu Adipati Têrung. Gênti kocapa nagara in Majapahit. Syekh Sitijênar dipateni. Yen adhimu wis rujuk adêgmu Nata. nglêstarekake apa kang wis dirêmbug. banjur budhal mênyang Majapahit. Majapahit sapa kang diêndêlake yen Kusen mbalik. samudana yen arêp ngêdêgake masjid. gêlêm ngrusak Majalêngka. iku padha nêmu rahayu. ora suwe para Sunan lan para Bupati padha têka kabeh. layang banjur katur Sunan Benang. Gêlising carita. mung arêp salat ana ing masjid bae. bisa dadi Ratu ana ing tanah Jawa. sawise mêsjid dadi. ndadekake sukaning panggalih. Adipati Dêmak banjur kirim layang marang Têrung. diiringake para Sunan lan para Bupati. sawadya-balane watara wong têlung atus. supaya Sang Adipati ngaturi para Sunan lan para Bupati kabeh. banjur pakumpulan ngêdêgake masjid. bab ênggone mukul pêrang ing Giri. apa abot Sang Nata. pambujuke marang adipati Dêmak supaya mêtu nêpsune. wong kabeh dipangandikani dening Sunan Benang. masa ndadak waniya. Patih saulihe saka ing Giri banjur matur sang Praba. gampang bangêt rusaking Majalêngka. aku ora bakal mundur”. wis tinampan wangsulane Sang Adipati Têrung. ora kacarita lakune ana ing dalan. nanging tak-walês ana ing dunya kene bae. yen wis padha rujuk. mangsah mêncak nganggo gêgêman abir. kowe kang katiban wahyu sihe Pangeran. Sunan Benang banjur ngandika marang Adipati Dêmak. iya iku Syekh Sitijênar. ing kono gulumu bakal tak-lawe gênti”. murwani agama suci. lan diwenehana sumurup yen Sunan Benang wis ana ing Dêmak. adhimu antêpên. Sunan Benang duka. padha bisa mêncak kabeh. dadi kowe jênênge nampik sihe Allah. banjur padha salat ana ing masjid. Sunan Giri mangsuli: “Iya besuk wani. Sunan Benang lan Sunan Giri ora melu mênyang Majapahit. para wadya bala ora ana kang ngrêti wadining laku. aku mung sadarma njurungi. Akeh-akeh dhawuhe Sunan Benang.

mlayu mênyang Benang têrus diburu dening wadya-bala Majapahit. dene kang ngêbang. Layang kang saka Pathi mau katitimasan tanggal kaping 3 sasi Mulud taun Jimakir 1303. Ing samêngko Babah Patah sawadya-balane wis budhal nglurug marang Majapahit. Ki Patih uga mung gumun. dene wadya-bala ing Giri pating jênkelang ora kêlar nadhahi tibaning mimis. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt. mungguh surasaning layang. ngaturake layang marang Patih. sajrone ana ing paseban jaba. sawêneh ngambang ing sagara. bangêt pangungune. Sang Prabu nganti ora bisa manggalih apa mungguh kang dadi sababe. ngenthengake ingkang rama. wadya Majapahit ambêdhili. dene ora padha ngrêti mênyang kabêcikane Sang Prabu. didhawuhi nyêkêl. dene putrane lan para ngulama têka arêp ngrusak karaton. iya iku Sunan Benang lan Sunan Giri. Sang Prabu banjur andangu marang Patih. malah padha gawe ala. masa Kasanga Wuku Prangbakat. digoleki nalar-nalare tansah wudhar. dene kok padha duwe pikir ala. ora padha ngelingi marang kabêcikan. para Sunan lan para Bupati padha ambiyantu anggone arêp mbêdhah Majapahit. mangsah pêrang paculat kaya walang kadung. jroning panggalih ngungun bangêt marang putrane sarta para Sunan. amarga adoh karo nalare. yen Adipati ing Dêmak. tekade sumêdya nglawan pêrang. sêdya mungsuh ingkang rama. gedheg-gedheg. wêkasane malah padha gawe buwana balik. sinêmonan dening Dewa. dibêciki walêse kok padha ala. para Bupati pasisir lor sawadyane kang wis padha Islam uga padha njurungi. dene bala Cina liyane lang kari padha mlayu salang tunjang. banjur nimbali duta kang arêp diutus mênyang Dêmak. Kiyai Patih sawise maos layang. Babah Patah abot mênyang gurune. padha diparingi pangkat. Kyai Patih banjur matur Sang Prabu. njêtung atine. awit dosane santri Benang ngrusak bumi ing Kêrtasana.srêban cara kaji. padha malês bêcik. bala ing Giri ngungsi mênyang alas ing gunung. Senapati Jimbuningrat. iya Sultan Adi Surya ‘Alam. . apa ta mungguh kang dadi sababe. Babah Patah anggone nggawa bala têlung lêksa miranti sapraboting pêrang. njêgrêg kaya tugu. kêsaru têkane utusane Bupati ing Pathi. nganti suwe ora ngandika. kolu ngrusak Majapahit. kaaturna bêbandan ing ngarsa Nata. iya iku Babah Patah. layang banjur diwaos kiyai Patih. Patih samêtune ing paseban jaba. dene wong Islam pikire kok padha ora bêcik. ngaturake surasane layang mau. sungkawane ratu Gêdhe kang linuwih. banjur tumênga ing tawang karo nyêbut marang Dewa kang Linuwih. dene dosane santri Giri ora gêlêm seba marang ngarsa Prabu. kinira banjur minggat marang Arab ora bali ngajawa. ing Bintara. gêrêng-gêrêng. mungguh kature Sang Prabu amborongake kiyai Patih. dene padha duwe sêdya kang mangkono.êbang adêging Nata. kaya dene atining kêbo êntek dimangsa ing tumaning kinjir. utawa Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’rrasul Amiri’lmukminin Tajudi’l’Abdu’lhamid Kak. Menak Tunjungpura ing Pathi ngaturi uninga. sarta kêrot. dene putrane lan para ngulama apa dene para Bupati kolu ngrusak Majapahit. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih. bangêt gumune mênyang wong Islam. wis madêg Ratu ana ing Dêmak. Senapati Sêcasena wis mati. Sang Prabu Brawijaya midhangêt ature Patih kaget bangêt panggalihe. Sunan Giri lan Sunan Benang banjur nunggal saprau-layar ngambang ing sagara. supaya utusan mênyang Dêmak. lair batin ora tinêmu ing nalar. dene jêjuluking Ratu. lumrahe mêsthi. wong dibêciki kok padha malês ala. Ature Patih. andhawuhake yen ngulama ing Giri lan ing Benang padha têka ing Dêmak. mratelakake yen uga ora mangêrti.

balang Majapahit mung têlung ewu. Sunan. mula dhawuhe Sang Prabu. Patih ora pasah sakehing gêgaman. barêng Sunan Ngudhung tiwas. Ature Patih prayoga nglawan têkaning mungsuh. dene nggêgampang marang agama kang wis kanggo turun-tumurun. kolu ngrusak nagara Majapahit. Bala Dêmak kang katrajang mêsthi mati. saupama disuwun kalayan aris bae mêsthi diparingake. sapira kuwate wong siji. Sang Nata saka putêking panggalihe nganti kawêdhar pangandikane ngêsotake marang wong Islam: Sun-suwung marang Dewa Gung. dene tan wruh kabêcikan. prajurite akeh kang padha mati. sarehne Majapahit karoban mungsuh. ana ing kono pada njarah rayah nganti rêsik.Sang Prabu banjur ngandika marang patih. tandhing karo Sunan Kudus. sarta ênggone kêgiwang marang ature Putri Cêmpa. tak-ajar wêruh nalar bênêr luput. ing ngêndi kang katrajang bubar ngisis. Sunan Ngudhung disuduk kêna. Wadya Dêmak banjur campuh karo wadya Majapahit. tinggal swara: “Eling-eling wong Islam. bab anane lêlakon kaya mangkono iku amarga saka lêpate sang nata piyambak. tak-damoni sirahmu. aja nganti ngrusakake bala. Wong Majapahit kang ora . Patih didhawuhi nimbali Adipati Pêngging sarta Adipati Pranaraga. ngrêbut nagara gawe pêpati. bangkening wong tumpang tindhih. kaya dene tugu waja. Raden Gugur isih timur lolos piyambak. besuk tak-walês. lagi rame-ramene têtandhingan pêrang. ngulama kabeh ngrangkêp jênêng walikan. dene mungsuh karo putra. Sabdapalon lan Nayagenggong. pangamuke kaya bantheng kataton. Patih dibyuki wadya ing Dêmak. wadya-bala Dêmak wis pacak baris ngêpung nagara. kadherekake abdi kêkasih. “Sabdaning Ratu Agung sajroning kasusahan. para Sunan banjur mlêbu mênyang kadhaton. manjalma dadi wong kucir. para Sunan banjur ngawaki pêrang. Sajrone Sang Prabu paring pangandika. dibêciki gustiku walêse ngalani. bala Dêmak têlung lêksa. wong Islam iku besuk kuwalika agamanira. Sang Prabu ngandika. Adipati Têrung banjur mlêbu mênyang jêro pura. iku dilawan apa ora? Sang Nata rumaos gêtun lan ngungun. Para Bupati Nayaka wolu uga banjur melu ngamuk. sun-bêciki walêse angalani”. dene Adipati Dêmak kapengin mêngkoni Majapahit bae kok dirêbut sarana pêrang. mula kasêsa tindake. ngideni para ngulama mêncarake agama Islam. ngulama jênênge walian. Pêrange rame bangêt. yen mapag pêrang kang sawatara bae. kang ana mung Ratu Mas. Sang Prabu banjur mundhut pamrayoga marang Patih. Sapatine Patih. iya iku kawitane manuk kuntul ana kang kucir. yen nganti nglawan rumaos lingsêm bangêt. nanging kuwandane sirna. kang tadhah mati nggêlasah. rambutmu tak-cukur rêsik”. Patih Mangkurat ing Dêmak nglambung. katarima dening Bathara. Putrane Sang Prabu aran Raden Lêmbupangarsa ngamuk ana satêngahing papêrangan. saya bangêt nêpsune. dene wadya Majapahit wis êntek. ngobongi buku-buku bêtuwah Buddha padha diobongi kabeh. katandhan ana swara jumêgur gêtêr patêr sabuwana. muga winalêsna susah-ingsun. kuntul kucir githoke. tibaning mimis kaya udan tiba ing watu. santri kang ngrêbut nagara. sang Putri diaturi sumingkir mênyang Benang uga karsa. sawise paring pangandika mangkono. amarga putra kang ana ing Majapahit durung wanci yen mapagake pêrang. wong kampung ora ana kang wani nglawan. Para prajurit Dêmak banjur padha mlêbu mênyang kadhaton. Sang Prabu banjur lolos arsa têdhak marang Bali. wadya sajroning pura padha bubar. wêkasan Patih ing Majapahit ngêmasi. beteng ing Bangsal wis dijaga wong Têrung. prakara têkane mungsuh. Patih Majapahit ngamuk ana samadyaning papêrangan. sinêksen ing jagad. iya iku Putri Cêmpa. Patih binendrongan saka kadohan. mung Patih sarta Bupati Nayaka pangamuke saya nêsêg. ora ana braja kang tumama marang sarirane. nanging sang Prabu wis ora ana. nanging ora pasah. Sunan Ngudhung mapagake banjur mrajaya. amarga Sang Nata wis sêpuh. katêlah tumêka saprene. ora ana kang diwêdeni. Putra Nata tiwas.

ênggone sowan mênyang Ngampel iku. dene kowe kok wani ngrusak kang tanpa dosa. wadya-bala kang saparo lan para Sunan padha ndherek Sang Prabu mênyang Ngampelgadhing. banjur dikumpulake karo wong Islam. têtêpa jumênêng Nata nganti run-tumurun aja ana kang nyêlani. dene kang dipatah tunggu ana ing Majapahit. njaga kaslamêtan mbokmanawa isih ana pakewuh ing wuri. iya iku Patih Mangkurat sarta Adipati Têrung. yen ngelingi kasaeane uwa Prabu Brawijaya. putrane Arya Teja.gêlêm têluk banjur ngungsi mênyang gunung lan alas-alas. Layone para putra santana lan nayaka padha kinumpulake. Kang ngangkat sarirane dadi Ratu mêngku tanah Jawa iku para Bupati pasisir kabeh. kandhaa satêmêne. sabên bêngi padha salat kajat sarta andêrês Kur’an. pinêtak ana sakidul-wetan pura. bapakmu tênan kuwi sapa? Sapa kang ngangkat kowe dadi Ratu tanah Jawa lan sapa kang ngideni kowe? Apa sababe dene kowe syikara kang tanpa dosa?” Sang Prabu banjur matur. Prabu Jimbuningrat matur yen mêntas mbêdhah Majapahit. Yen Gusti Allah wis marêngake. Kabeh iki sasênênge dhewe-dhewe. mung kari garwane kang isih ana ing Ngampel. Têrung uga dijaga ngulama têlung atus. kajaba mung siji Gusti Allah piyambak. Anane Islam lan kapir sapa kang gawe. ora dhawuh lan ora malangi marang wong kang salin agama. sarta padha diuja sakarêpe. banjur ngabekti Nyai Agung. Kowe wani mungsuh Ratu tur wong tuwamu dhewe. Gusti Allah kang sipat rahman. Sunan Ngampel wis seda. seda utawa sugênge ora ana kang wêruh”. mêsthi kêsiku ing Gusti Allah. Sunan Kudus njaga ana ing kraton dadi sulihe Sang Prabu. para ngulama padha diparingi panggonan kang wis anggawa pamêtu minangka dadi pangane. wis mêsthi salin dhewe ngrasuk agama Islam. mangkene pangudaraosing panggalih: “Putuku. banjur muwun sarta ngrangkul Sang Prabu. Sang Prabu Jambuningrat satêkane ing Ngampel. Nyai Agêng banjur ndangu Sang Prabu. Kuburan mau banjur dijênêngake Bratalaya. kowe iku dosa têlung prakara. Nyai Agêng barêng mirêng ature Prabu Jimbun. ngaturake lolose ingkang rama sarta Raden Gugur. wong pancene rak sêmbah nuwun bangêt. banjur njêrit ngrangkul Sang Prabu karo ngandika: “Êngger! kowe wêruha. prêlu nyuwun idi. jarene iku kubure Raden Lêmbupangarsa. kowe dosa têlung prakara. Buddha kawak dhawuk kaya kuwuk. isih ngagêm agama kapir kupur. Wong ganti agama iku ora kêna dipêksa yen durung mêtu saka karêpe dhewe. yen Prabu Brawijaya iku jarene ramane têmênan. dene kang padha gêlêm têluk. Sultan Dêmak budhal mênyang Ngampel. para Sunan sarta para Bupati gênti-gênti padha ngaturake sêmbah mênyang Nyai Agêng. dene jêjuluke: Senapati Jimbun. sarta kang aweh kamukten ing dunya. sasedane Sunan Ngampel. ngaturake patine Patih ing Majapahit lan matur yen panjênêngane wis madêg Nata mêngku tanah Jawa. ora susah ngango dikon. sarta sing aweh nugraha marang kowe. wusana banjur diwalês ala. têka dirusak kang tanpa prakara. mungsuh Ratu tur sudarmane. amarga Sang Prabu Brawijaya ora karsa salin agama Islam. sarta Panêmbahan Palembang. Barêng wis têlung dina. Nyai Agêng Ngampel sawise mirêng ature Prabu Jimbun. Gusti Allah ora niksa wong . Mulane nagara Majapahit dirusak. padha dikon nyêbut asmaning Allah. Wong kang nyungkêmi agamane nganti mati isih nggoceki tekade iku utama. Kang ngideni para Sunan. Nyai Agêng kanggo têtuwa wong Ngampel. garwane mau asli saking Tuban. pangandikane: “Êngger! aku arêp takon mênyang kowe. Nyai Agêng ing batos karaos-raos.

Kowe ora kêna sêngit mênyang wong kang agama Buddha. ing kitab hikayat wis muni. ênggone padha wani mungsuh wong tuwane. Jawa Jawi ngrêti matane mung siji. wêwalêre kok-trajang. kêduga ngrusak ora nganggo prakara. Prabu Jimbun matur yen ora kagungan mujijad apa-apa. tur dudu bukuning lêluhur. Lamun mangkono tumindake. putrane anggege . malah manti-manti aja nganti mungsuh wong tuwa. ora bêkti wong kapir. duwe maratuwa kapir. dadi ora dielingi kapire. carita tanah Mêsir. durung wani marang wong tuwa. Barêng wong kang kaya kowe. eyangmu ora parêng.kapir kang ora luput. awit kowe sing mêsthine paring idi marang aku. sarta ora paring ganjaran marang wong Islam kang tumindak ora bênêr. sanadyan mungsuh wong tuwa. Nyai Agêng Ngampel gumujêng karo ngandika: “Tindakmu iku saya luput bangêt. mung ngêndêlake ikêt putih. yen aku tuwa tiwas. wêruh kang bêcik lan kang ala. nanging ora karsa. mung kowe dhewe sing tuwa. iku tandha yen isih mêntah kawruhmu. aku bangsa cilik tur wong wadon. jarene anake Sang Prabu. lair batine ora luput. amarga iku wong tuwane. mula Wong Agung iya ngaji-aji marang maratuwane. wong ngumbara kok diturut rêmbuge. Ujar-jare bae kok disungkêmi. wong Agung Kuparman. têkane Majapahit banjur ngêpung nagara bae. tandha mripatmu iku lapisan. yen kowe têtêp tuwa Ratu”.asih lang ngaji-aji. Eklasing ati bêkti bapa. kang diarani wong linuwih.dongengi kupiya patang prakara. mujijadmu apa? Yen nyata Khalifatu’llah wênang nyalini agama lah coba wêtokna mujijadmu tak-tontone”. Lan aku arêp takon. aku ora wênang ngideni. ora ngrêti marang kang bênêr lan kang luput. prakara têtêpmu dadi Ratu tanah Jawa. dupeh kapir Budha ora gêlêm ganti agama. beda matane wong Jawa. amarga kowe Khalifatu’llah sajroning tanah Jawa. ewadene Wong Agung tansah wêdi. kowe tau matur yen arêp ngrusak Majapahit. ibumu Putri Cêmpa nyêmbah pikkong. saiki eyangmu wis seda. maratuwane gêthing marang wong Agung amarga seje agama. Kowe tak-dongengi. Kowe kuwi dudu santri ahli budi. mung bênêr karo lupute sing diadili nganggo têtêping adil. nanging kang dielingi wong tuwane. bapa disiya-siya. mangka sabên dinane wis diaturi mujijade. mêsthi wêdi mênyang bapa. têka kolu marang bapa. Yen kowe njaluk idi marang aku. iku amarga sabên dinane wis ngaturi santun agama. ora kaya tekadmu. kok-aturi salin agama? nagarane kok nganti kok-rusak iku kapriye? Prabu Jimbun matur. mula iya banjur dimungsuh. Iya iku êngger. saka kêpenginmu jumênêng Nata. kowe ora wêdi papacuhe. maratuwane tansah golek sraya bisane mantune mati. dadi wêruh ing bênêr lan luput. mung manut unine buku. amarga wis wajibe manusa bêkti marang wong tuwane. panjênêngane Kanjêng Nabi Dhawud. wujud dluwang utawa rêja watu. sanadyan para Nadi dhek jaman kuna. isih nglêstarekake agamane lawas. ananging atur mau ora dipanggalih. iku agamane Islam. yen durung ngaturi salin agama. kapindhone Ratu lan kang aweh nugraha. lalar-lulurên asalmu. kang nandhakake yen kudu wis santun agama Islam. mêngko rak buwana balik arane. saucapmu idu gêni. sing putih mung ing jaba. nalika eyangmu isih sugêng. mula blero pandêlêngmu. iku wajib dibêkteni. Nyai Agêng Ngampel gumujêng nanging wêwah dukane. sing nglakoni rusak ya kowe dhewe. jare yen ngislamake wong kapir iku ing besuk oleh ganjaran swarga. ing jêro abang. apa kowe wis matur marang wong tuwamu. iku dudu padon. kasusuhane ora dipikir. Banjure pangandikane Nyai Agêng Ngampel: “Putu! kowe tak. nanging putihe kuntul.

nganthi pothol gumantung ana ing kayu. gêthing marang Dewatacêngkar. tur kelangan bapa. kiraku ora bakal oleh pangapura. padha angucap sukur lan bungah bangêt dene Sang Prabu wis kondur sarta bisa mênang pêrange. iku kowe mrêtobata marang Kang Maha Kuwasa. yen wis kêtêmu diaturana kondur mênyang Majapahit. ngaturake yen mêntas saka Majapahit. kaping têlune ngrusak kabêcikan apa dene ngrusak prajane tanpa prakara. para wadya padha sênêng-sênêng lan suka-suka nutug. sarta didhawuhi nglari lolose ingkang rama. . aja dipêksa. sarta ngaturake yen ingkang rama lan Raden Gugur lolos. Putrane nunggang jaran mlayu mênyang alas. sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata. sapisan mungsuh bapa. banjur didhawuhi kondur mênyang Dêmak. Sang Prabu Jimbun mirêng pangandikane ingkang eyang. Nabi Dhawud nganti kengsêr saka nagara. anggêlarake panguwasa sulap ana ing tanah Jawa. kapindho murtat ing Ratu. sarta ngandika yen wis cocog karo panawange. Sang Prabu Danaraja wani karo ingkang rama. ora antara suwe banjur mati. Wong Jawa akeh kang padha asih marang Aji Saka. apa sapangandikane Nyai Agêng Ngampel diaturake kabeh marang Sunan Benang. ora suwe antarane. layang-layang Buddha iya wis diobongi kabeh. salawase urip jênêngmu ala.kapraboning rama. kabeh padha nêmu sangsara. dadi bajul. Ajisaka diangkat dadi Raja. gumujêng karo manthuk-manthuk. sabên dina mangsa jalma. nanging yen ora kêrsa. Ana maneh caritane Sang Prabu Dewata-cêngkar. Sang Prabu Jimbun sarawuhe ing Dêmak. Dewatacêngkar dipêrangi nganti kêplayu. Sang Prabu matur. jarane ambandhang kêcanthol-canthol kayu. patimu iya mlêbu mênyang yomani. ora lawas Nabi Dhawud sagêd wangsul ngrêbut nagarane. iya iku kang diarani kukuming Allah. Sunan Benang mirêngake ature Sang Prabu Jimbun. Patih Majapahit mati ana samadyaning papêrangan. Sang Nata banjur matur marang Sunan Benang yen Majapahit wis kêlakon bêdhah. nanging wis ora kêna dibalekake. panggalihe rumasa kêduwung bangêt. mungsuh bapa kang tanpa prakara. lan aturana mampir ing Ngampelgadhing. nanging ana ing Ngampel malah didukani sarta diuman-uman. Nyai Agêng akeh-akeh pangandikane marang Prabu Jimbun. wadya Majapahit sing wis têluk banjur padha dikon Islam. amarga yen nganti duka mangka banjur nyupatani. Apa maneh kaya kowe. kowe mêsthi cilaka. kang mangkono iku kukume Allah”. para santri padha trêbangan lan dhêdhikiran. ênggone ora ngrêti marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya. mêsthi mandi. aran Aji Saka. mung kowe kok gêlêm nglakoni. banjur didhawuhi ngupaya ingkang rama. Putri Cêmpa wis diaturi ngungsi mênyang Benang. ana Brahmana saka tanah sabrang angajawa. Sawise Sang Prabu dipangandikani. iku iya anggege kapraboning rama. yen kondure uga mampir ing Ngampeldênta. sing nglakoni cilaka rak iya mung kowe dhewe. nanging sawise. nanging banjur disotake dening ingkang rama banjur dadi buta. kukume iya isih tumindak kaya kang tak-caritakake mau. iku bae wis abot sanggane”. bisa mênang pêrang nanging mungsuh bapa Aji. sowan ingkang eyang Nyai Agêng Ngampel. ambyur ing sagara. Nyai Agêng Ngampel isih nêrusake pangandikane: “Kowe kuwi dilêbokake ing loropan dening para ngulama lan para Bupati. Sunan Benang mêthukake kondure Sang Prabu Jimbun. Ana maneh caritane nagara Lokapala uga mangkono. Adipati Pranaraga lan Adipati Pêngging masa trimaa rusaking Majapahit. mêsthine labuh marang bapa. putrane banjur sumilih jumênêng Nata.

aweta dados jêjimat pinundhi-pundhi para putra wayah buyut miwah para santana. abdi loro mau tansah gêguyon. Sang Prabu banjur ndangu marang Sunan Kalijaga: “Sahid! kowe têka ana apa? Apa prêlune nututi aku?” Sunan Kalijaga matur: “Sowan kula punika kautus putra paduka. sarehne wis kraos sayah banjur kendêl ana sapinggiring beji. botên sumêrêp tata krami. mêngku wadya sineba para punggawa. Sunan Benang paring dhawuh marang Sang Prabu. Sunan Benang banjur ngandika. yen ora nglakoni dhawuhe Nyai Ngampel. yen Prabu Jimbun mituhu dhawuhe Nyai Ngampeldênta. awit saking kalimputing manah mudha punggung. supaya dijumênêngake ana seje nagara ing sajabaning tanah Jawa. iya iku Nayagenggong lan Sabdapalon. bilih panjênêngan paduka linggar saking praja botên kantênan dunungipun. Gênti kang cinarita. Lampahe Sunan Kalijaga turut pasisir wetan. Samangke putra paduka rumaos ing kalêpatanipun. kapanggiha wontên ing pundi-pundi ingaturan kondur rawuh ing Majapahit. rumaos lupute. mêsthine bakal oleh sabda kang ora bêcik. banjur ngabêkti sumungkêm padane Sang Prabu. . aja ana ing tanah Jawa. Sang Prabu didhawuhi sowan nyuwun pangapura kabeh kaluputane. dene ngantos kamipurun ngrêbat kaprabon paduka Nata. samudanane nyalahake Sang Prabu Brawijaya lan Patih. mungguh prayoganing laku supaya ora ngrusakake bala. nuwun pangaksama sadaya kasisipanipun. têtêpa kados ingkang wau-wau. sing kalangkungan tindake Sang Prabu Brawijaya. dene darbe bapa Ratu Agung ingkang anyêngkakakên saking ngandhap aparing darajat Adipati ing Dêmak. Mila kawula dinuta madosi panjênêngan paduka. sineba ing para bupati. madosi panjênêngan paduka. Sunan Benang sarta Prabu Jimbun wis nayogyani panêmune Sunan Giri kang mangkono mau. yen dhawuhe Nyai Agêng Ngampel ora pêrlu dipanggalih. lan padha mikir kahaning lêlakon kang mêntas dilakoni. dene ora ngelingi marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya. saka ênggone ngupaya warta. tindake Sunan kalijaga ênggone ngupaya Sang Prabu Brawijaya. amarga panimbange wanita iku mêsthi kurang sampurna. punika putra paduka rumaos yen mêsthi manggih dêdukaning Pangeran. sangêt kapenginipun mêngku praja angreh wadyabala. tangeh malêsa ing sih paduka Nata. Sunan Giri banjur nyambungi pangandika. dene yen arêp ngaturi jumênêng Nata maneh. yen ingkang rama mêksa kondur mênyang Majapahit. Lampahe Sang Prabu Brawijaya wis têkan ing Blambangan. amarga mêsthi bakal ngribêdi lakune wong kang padha arêp salin agama Islam. mula iya wêdi.Sunan Benang sawise mirêngake ature Sang Nata ing batos iya kêduwung. awit yen mateni wong kapir ora ana dosane. mung didherekake sakabat loro lakune kêlunta-lunta. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt. ênggone ora karsa salin agama Islam. Sang Prabu Brawijaya sarta putrane bêcik ditênung bae. sabên desa diampiri. luwih bêcik ênggone ngrusak Majapahit dibanjurake. Nanging rasa kang mangkono mau banjur dislamur ing pangandika. Sunan Benang arêp kondur mênyang ‘Arab. sêmbah sungkêmipun konjuka ing pada paduka Aji. ing mangke putra paduka emut. kapanggiha wontên ing pundi-pundi. ora antara suwe kêsaru sowanne Sunan Kalijaga. wusana Prabu Jimbun banjur matur marang Sunan Benang. dene sing marak ana ngarsane mung kêkasih loro.

banjur wani mungsuh bapa Ratu. ingsun njaluk biyantu prajurit Cina. lan ingsun arsa angsung wikan marang Hongte ing Cina. namung nyuwun pangaksama paduka. kulit kisut gêgêr wungkuk. batine angandhut pasir kinapyukake ing mata. wangsul karsa paduka karsa tindak dhatêng pundi?” Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Saiki karsaningsun arsa tindak mênyang Bali. kapêtêk wontên ing êmbun. wani mungsuh bapa ratu. amarga katindhihan luput. têtêpa kados ingkang sampun. rahayunipun para putra wayah sadaya. rêmbuge mung manis ana ing lambe. ngandika sajroning ati: “Tan cidra karo dhawuhe Nyai Agêng Ngampelgadhing. putra paduka nyaosakên pêjah gêsang.” Sunan Kalijaga ngrungu dhawuhe Sang Prabu kang mangkono iku ing sanalika mung dhêlêg-dhêlêg. ing pundi sasênênging panggalih paduka. yen eyang wungkuk isih mbrêgagah nggagahi nagara. Manawi paduka kondur. ingsun ora isin. sinaosan kadhaton wontên ing rêdi. sabab murtat wani ing bapa kapindhone Ratu. yen anake karo pisan satêkane tanah Jawa sun-angkat dadi Bupati. kêtêmu karo yayi Prabu Dewa agung ing Kêlungkung. sadayaning kalêpatanipun. ora nyawang wujuding dhiri. ora wurung bakal ana pêrang gêdhe tur wadya ing Dêmak masa mênanga. murih picêka mataku siji. aninggal carane wong agung. apa ta salah-ingsun. samêkta sakapraboning pêrang. lan duwe wêlas marang wong wungkuk kaki-kaki. têka rinusak tanpa prakara. Lamun iki ngantiya nyabrang marang Bali. ing batin bangêt panalangsane. dadi dudu tataning manusa kang utama”. Sunan Kalijaga barêng ngrungu pangandikane Sang Prabu rumasa ing kaluputane ênggone melu mbêdhah karaton Majapahit. yen putrane wis patutan karo ingsun mêtu lanang siji. lan nyuwun pangkatipun lami dados Adipati ing Dêmak. putra paduka pasrah kaprabon paduka Nata. mula banjur ngrêrêpa. Yen wis samêkta sawadya prajurit. mula blero pandulune. yen putune arsa ingsun-pateni. sarta padha eling marang lêlabêtan kabêcikaningsun. yêkti padha têka ing Bali sagêgamaning pêrang. Sakawit ingsun bêciki. yen kaparêng saking karsa paduka. ing rêdi ingkang karsakakên badhe dipundhêpoki. lan arsa ingsun-kon nimbali para Raja kanan kering tanah jawa. lan Adipati Palembang sun-wehi wêruh. mawas ing ngarêp nanging jêbul anjênggung ing buri.kinurmatan sinuwunan idi wilujêngipun wontên ing bumi. mungsuh ratu pindho bapa. padha mata lapisan kabeh. nanging ora wêruh ing dalan. njujuga nagari Bali. dipunsuwun ingkang rila têrusing panggalih”. sun-jaluk lilane anake arêp ingsun pateni. kajawi namung pangapuntên paduka. Dene yen panjênêngan paduka botên karsa ngasta kaprabon Nata. sun-jak marang tanah Jawa angrêbut kapraboningsun. kaping têlune kang mbêciki. nanging nyuwun pusaka Karaton ing tanah Jawa. awit ingsun ora ngawiti ala. Sarehning sampun kalêpatan. dene kadudon kang wis kêbanjur. putra paduka nyaosi busana lan dhahar paduka. ature: “Inggih saduka-duka paduka ingkang dhumawa dhatêng putra wayah. iya sanadyan pêrang gêdhe gêgêmpuran amungsuh anak. arsa ingsun-wartani pratingkahe si Patah. mukul pêrang tanpa panantang. Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Ingsun-rungu aturira. iya ingsun-jaluk lilane. sikara wong tuwa kang tanpa dosa. karana ingsun wis kapok rêmbugan karo santri padha nganggo mata pitu. kacancang pucuking rema. samêkta sakapraboning pêrang. mandar amêwahana cahya nurbuwat ingkang wêning. tinggal tata adat caraning manusa. iku apa nganggo tataning babi. ananging ora wêruh ing dalan. walêse kaya kênyung buntut. Sahid! nanging ora ingsun-gatekake. punapa malih ingkang sinuwun malih. wis mêsthi bae wong . mugi dadosa jimat paripih.

kang miturut adat pranatane para lêluhur. sanadyan salat dhingklak-dhingkluk manawi dereng mangrêtos sahadat punika inggih têtêp nama kapir”. iya sun-paringake krana bêcik. Sahid! saiba susahing atiku. liya dina lali. saestu badhe pêrang gêgêmpuran. manawi botên karsa punika botên dados punapa. Sang prabu Brawijaya ngandika: “Mungguh kang mangkono iki luwih-luwih karsane Dewa Kang Linuwih. mula nganti suwe ora ngandika tansah têbah jaja karo nênggak waspa. kok dikum ing banyu”. Balik samêngko si Patah siya mring sun. benjing kula ingkang tanggêl. esuk sore diprêdi sêmbahyang. luwih karsaning Jawata Gung. lajêng nyêbut asmaning Allah. ingsun iki Ratu Binathara. Sumurupa Sahid! saupama aku kondur marang Majapahit. Sang Prabu nguningani patrape Sunan kalijaga kang mangkono mau. amarga aku kuwatir yen aturmu iku goroh kabeh. nyêkrukuk. amarga lingsêm manawa mêruhi lêlakon kang saru. rumasa ora kaconggah ngaturi. ingsun wis kakikaki. kêpengin dadi Ratu. dene bab agami namung kasarah sakarsa paduka. têmên lan gorohe. panggalihe kanggêg. disuwun krananing bêcik. sarta banjur nyaosake cundrike karo matur. wis warêg jumênêng Ratu. Sunan Kalijaga nyuwun supaya dipateni bae. nrima dadi pandhita.” Sang Prabu mbanjurake pangandikane marang Sunan Kalijaga: “Mara pikirên. Saupama si Patah ngrasa duwe bapa ingsun. nimbali para Raja. mung siji marang bênêr paningalku. angantêp tangkêping jurit. Sunan Kalijaga gumujêng karo matur: “Mokal manawi makatên. mêsthi asor wong Islam tumpês ing pêpêrangan. si Patah seba mênyang aku. nêtêpi mripat siji. tak-pikire sing bêcik. pamintane marang para titah ing wuri. aku banjur dicêkêl dibiri. mêsthine-ingsun iya ora lila ing tanah Jawa diratoni. karaton ing tanah Jawa.” Wusana Sunan Kalijaga matur alon: “Dhuh pukulun Jêng Sang Prabu! saupami paduka lajêngna rawuh ing bali. gêthinge ora bisa mari. ingkang kêrah tulus kêrah têtumpêsan sami pêjah sadaya daging lan manah kathêda ing sêgawon sanesipun”. sêrêt pangandikane: “Sahid! linggiha dhisik. amarga duwe bapa Buddha kawak kapir kupur. wong wis tuwa. botênbotênipun manawi putra paduka badhe siya-siya dhatêng panjênêngan paduka. yen ora ngrêti banjur diguyang ana ing blumbang dikosoki alang-alang garing. tak-timbange aturmu. yen Sang Prabu ora karsa nglampahi kaya ature Sunan Kalijaga. sampun tamtu putra paduka ingkang badhe nêmahi kasoran. aku kok durung ngrêti. . kaprabon Jawi kaliya ing sanes darah paduka Nata. panjênêngan paduka jumênêng Nata botên lami lajêng surud. punapa botên ngeman risakipun nagari Jawi. bênêr lan lupute. mula banjur nyungkêmi pada. pikêkahipun tiyang Islam punika sahadat. tiyang namung bab agami. pitêkur ana ing gunung. saupami kados dene sêgawon rêbatan bathang. namung langkung utami manawi panjênêngan paduka karsa gantos sarak rasul. ora nganggo mata loro. Sang Prabu ngandika: “Sahadat iku kaya apa. coba ucapna tak-rungokne”.Jawa kang durung Islam yêkti asih marang Ratu tuwa. dikon tunggu lawang pungkuran.” Sunan Kalijaga barêng mirêng pangandikane Sang Prabu.

luluh dados êndhut. 2: pari Randanunut.Sunan kalijaga banjur ngucapake sahadat: ashadu ala ilaha ila’llah. dados badanipun tiyang punika kuburipun rasa sakalir. sawise banjur mundhut paras marang Sunan Kalijaga nanging remane ora têdhas digunting. lantaran ashadualla. mila tiyang punika prêlu mangrêtos dhatêng lair lan batosipun. muji badanipun piyambak. . lan anêkseni. mulane Sunan Kalijaga banjur matur. kowe sakarone tak-ajak salin agama Rasul tinggal agama Buddha”. wa ashadu anna MukhammadarRasulu’llah. wajibipun manusa mangeran rasa. Sawêg paduka ingkang karsa nilar pikukuh luhur Jawi. Tiyang ngucap punika kêdah sumêrêp dhatêng ingkang dipunucapakên. sadangunipun kula tilêm tamtu wontên pêpêrangan sadherek mêngsah sami sadherek. kula momong pikukuh lajêr Jawi. Kangjêng Nabi Mukhammad iku utusane Allah”. nganti Prabu Brawijaya karsa santun agama Islam. Sunan kalijaga ature akeh-akeh. botên sumêrêp wujud têgêsipun. Jawi têgêsipun ngrêti. amarga yen mung lair bae. amung Allah. têka narimah nama Jawan. run-tumurun ngantos dumugi sapriki. Ature Sunan Kalijaga marang Sang Prabu: “Tiyang nêmbah dhatêng arah kemawon. ngrasuk agama Islam. kula manawi tilêm ngantos 200 taun. momong lajêr Jawi. Sang Prabu banjur ngandika yen wis lair batos. wijile rasaning urip. banjur nyêbut asmaning Allah Kang Sajati. Dene raganipun manusa punika asalipun saking roh idlafi. têgêsipun: Ingsung anêkseni. rasa pangan manjing lesan. botên sumêrêp rukun Islam. rêmên manut nunut-nunut. têgêsipun Rasul rasa. nêtêpi wiwit sapisan ngestokakên agami Buddha. rasa lan têdhi dados nyêbut Mukhammad rasulu’llah. mulane kêna diparasi. Sintên ingkang jumênêng Nata. kaping kalih wêruh ing têdhi. pamrihipun damêl kapiran muksa paduka mbenjing. Saka karsaku. Sang Wiku Manumanasa.” Sabdane Wiku tama sinauran gêtêr-patêr. iya iku rêrupan kahanan ing dunya ditambahi warna têlu: 1: aran sukêt Jawan. botên mangrêtos purwaning dumados”. lan malih sintên tiyang ingkang nêmbah puji ingkang sipat wujud warni. mila sêmbahyang mungêl “uzali” punika têgêsipun nyumêrêpi asalipun. ingkang nakal sami nêdha jalma. Sang Prabu Brawijaya sinêmonan dening Jawata. mêdal saking badan kang mênga. rohipun Mukhammad Rasul. Rasule minggah swarga. Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. Sang Prabu diaturi Islam lair batos. riningkês dados satunggal Mukhammad Rasula’llah. punika têtêp kapiripun. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin. sami nêdha bangsanipun piyambak. dados momongan kula. botên wontên ingkang ewah agamanipun. wujud makam kubur rasa. Sang Prabu sawise paras banjur ngandika marang Sabdapalon lan Nayagenggong: “Kowe karo pisan taktuturi. kang dhingin wêruh badan. botên muji Mukhammad ing ‘Arab. dene têgêsipun Nabi Mukhammad Rasula’llah: Mukhammad punika makam kuburan. Sakutrêm lan Bambang Sakri. punika nêmbah brahala namanipun. lan 3: pari Mriyi. wiwit dina iki aku ninggal agama Buddha. Rasul rasa kang nusuli. manawi botên mêngrêtos têgêsipun sahadat. lu’llah. dumugi sapriki umur-kula sampun 2000 langkung 3 taun. ora ana Pangeran kang sajati. ênggone karsa mlêbêt agama Rasul. remane ora têdhas digunting. kasêbut Rasulu’llah punika rasa ala ganda salah. raganipun manusa punika wêwayanganing Dzating Pangeran.

manawi kula santun agami. Jagad punika raganipun Dewa ingkang asipat budi lan hawa. dene ingkang mastani mulya punika rak tiyang ‘Arab sarta tiyang Islam sadaya. manawi tekadipun sae inggih nampeni kamulyan. Wangsul Prabu Brawijaya lajêng manggen wontên pundi. namung prêlu nênggani daging bacin ingkang sampun luluh dados siti. makatên punika ingkang nistha. mastani botên urus. Tiyang pêjah botên kêbawah pranataning Ratu ing lair. kados tiyang ‘Arab. sarira paduka sipate tiyang wujud dados. . nyêbut Nabi Mukhammad Rasula’llah panutaning para Nabi. namung kantun rumaos lan pangraos ingkang paduka-bêkta dhatêng pundi kemawon. dadosipun saking gaib samar. wujudipun piyambak. jasanipun budi. wontênipun wujud piyambak. saestu damêl kapiran kamuksan-kula. nêdha siti ngajêng-ajêng tiyang ngirim sajen tuwin slamêtanipun. sampun ebah saking prênahipun mlêbêt mbêkta sir cipta lami”. sampun dados wajibipun manusa punika manut dhatêng eling budi karêpan. ing têmbe tilar mujijat rakhmat nyukani kiyamat dhatêng anak putunipun ingkang kantun. botên ngengêti bilahinipun ing wingking. mila nami Mukhammad inggih makaman kuburan sakalir. Sabdapalon matur maneh: “Inggih punika kawruhipun tiyang bingung gêsangipun rugi. ingkang nglimputi wujud. nanging manawi tekadipun awon inggih nampeni siksanipun. roh idlafi têgêsipun lapisan. kubure rasa kang salah. ing benjing. têgêse Mukhammad niku makaman kubur. makaman kuburing rasa. bapa biyung botên damêl. kala gêsangipun dereng nêdha woh wit kawruh lan woh wit budi. tur siya dhatêng raga. nanging ingkang risak namung ingkang asal saking roh idlafi. manawi nyêbut Nabi Mukhammad Rasulu’llah. asal siji mantuk satunggal. punika sanes pêjah ingkang utami. Surup têgêsipun: sumurup purwa madya wasananipun. lan nyêbut asmaning Allah Kang Sajati?” Sabdapalon ature sêndhu: “Paduka mlêbêt piyambak. inggih punika sahadat ingkang botên mawi ashadu.Sang Prabu andangu maneh: “Kapriye kang padha dadi kêkêncênganmu. Manawi dipunpundhut ingkang Mahakuwasa. dene pêjah ingkang utami punika sewu satus têlung puluh. mila dipunwastani anak. Siya punika têgêsipun ngukum. manawi dados dhêmit ingkang têngga siti. lantaranipun ngabên awon. wujudipun risak. punika dadosipun piyambak. Uripipun langgêng namung raga pisah kaliyan sukma. apa gêlêm apa ora ninggal agama Buddha. risak-risakipun piyambak. ngapêsakên badanipun piyambak. namung mangeran rasa wadhag wadhahing êndhut. anggenipun ngalêm badanipun piyambak. botên manggih raos ingkang saestu. Manawi kula. dados botên ngapirani. botên gadhah kawruh kaengêtan. têlu punika tilas. makatên wau têtêp botên wontên prêlunipun. Adam punika muntêl kaliyan Hyang Brahim. dereng nêdha woh kawruh lan budi. kula rêmên agami lami. gantos roh idlafi lapisan: sasi surup mêsthi saking pundi asalipun wiwit dados jalmi. saking karsaning Latawalhujwa. asal Nur bali marang Nur”. nêtêpana namane tiyang lumampah. ngalêm saening tangga. têgêsipun kêbrahen nalika gêsangipun. namung tansah nêdha eca. Ingkang makatên punika amargi namung saking kirang budi kawruhipun. dipunwastani Mukhammadun. Têgêsipun satus punika putus. Cobi paduka-jawab atur-kula punika”. nyêbut Dewa Ingkang Linangkung. dados sipatipun tiyang lan raos. manawi sampun risak wangsul dhatêng asalipun malih. wujud malih. nanging tangining raos wujud badan. kula botên têgêl ningali watak siya. puluh punika pulih. nrimah pêjah dados setan. Sang Prabu ngandika: “Mulih marang asale. manawi dipunpundhut dening Ingkang Maha Kuwasa. sampun mêsthi sukma pisah kaliyan budi. salin agama Rasul.

kados dene kêmladeyan tumemplek wit-witan agêng. saênggen. Ênggi têgêsipun gawe. sampun ngantos kula mantuk dhatêng kamlaratan sarta minggah dhatêng akhirat adil nagari. Sabdapalon matur: “Akhirat. botên sagêd dados roh idlafi enggal. pêjahipun tiyang nistha. daging ingkang sampun luluh dados siti. Sabdapalon matur: “Punika tiyang kêsasar. namanipun botên sahadat. lajêng klambrangan. manawi kenging kula-singkiri. Tiyang pêjah muksa punika cêlaka. kamuktenipun namung nêmpil. Pangandikane Sang Prabu: “Aku ora duwe cipta apa-apa. Klêbêt akhirat nusa Srênggi. sampun paduka-bêkta ngaler ngidul. makatên punika namung sagêd lêma sugih daging. nusa têgêsipun manusa. sampun pêpak: akhirat. tiyang gêsang wontên ing dunya kados makatên wau. Inggih punika tiyang bodho mangrêtosa. jangan punika akhirat ingkang katingal tata lair. sakulawargane mung nadhah bêras sapithi. manawi dipuntundhung. tanpa ulam. Sang Prabu ngandika maneh: “Asal suwung aku bali. Sabdapalon: “Inggih punika pêjahipun tiyang cubluk. botên mangrêtos santun roh hidlafi enggal. Paduka badhe tindak dhatêng akhirat pundi. botên gêsang. naraka ‘arasy kursi. dados nama sampun narimah ngombe uyuh kemawon. nalika aku durung maujud iya durung ana apa-apa. dados setan kuburan. nanging botên tilar jisim. botên iman ‘ilmi. Sabdapalon: “Paduka nilar sipat. lajêng nempel dhatêng sanesipun malih”. nalika tapêl Adam. mênyang suwung. mangka ênggene akhirat punika têgêse mlarat. lêma kakathahên daging. manawi lêpat jawabipun tamtu dipunukum. botên pêjah. punapa botên cilaka. rêmênipun namung nempel. yen wis luluh dadi lêbu”. Sang Prabu: “Aku nunggoni makaman kubur. mangke manawi kêsasar lo.ênggen wontên akhirat. swarga. Nun!” Sang Prabu ngandika: “Aku arêp muksa saragaku”. manusa dipunwênangakên nampik milih. dados brêkasakan. swarga. botên ngrumaosi yen tinitah linangkung. dipunbanda. munggah swarga seba Kang maha Kuwasa”. Sabdapalon: “Punika pêjahipun tiyang kalap nglawong.Sang Prabu ngandika: “Ciptaku nempel wong kang luwih”. namung dados gunungan dhêmit”. nunut-nunut. botên bawa piyambak. dadi patiku iya mangkono”. Punika botên pêjah utami. namung nêdha ngombe lan tilêm. manawi akhiratipun . sambêl. botên bawa piyambak. Sang Prabu: “Ciptaku arêp mulih mênyang akhirat. sampun botên prêlu pados ‘ilmi kamulyaning seda”. Dados têgêsipun jalma pinêksa nyambut damêl dhatêng Ratu Nusa Srênggi namanipun. amargi nami pêjah. sakarsane Kang Maha Kuwasa”. jagadipun manusa punika sampun mêngku ‘alam sahir kabir. nilar wajibing manusa. Sabdapalon gumuyu: “Yen tiyang agami Rasul têrang botên sagêd muksa. dipunpaksa nyambut damêl awrat tur botên tampa arta. ora ikhtiar nampik milih. ical gêsangipun salêbêtipun pêjah”. botên kuwawi ngringkês nguntal raganipun. nalika gêsangipun kados kewan. nênggani daging wontên kuburan. manawi sampun narimah dados sela. Srêng têgêsipun padamêlan ingkang awrat sangêt.

manawi panggenanipun sampun sêpuh. ingkang ewah punika makaming raos. umuripun sampun dipunpasthekakên. Raga punika dipunibaratakên baita. Prabu Brawijaya botên anem botên sêpuh. lumampah botên ebah saking panggenanipun. rumêksa gêsangipun elingipun panjanmaning surya. nglimputi wontên ing dunya tuwin ing akhirat. botên ewah gingsir. ngGêgawa nêdha raga. dados botên wongsal-wangsul. ingkang gêsang napasipun taksih lumampah. ingkang pêjah namung raganipun. botên salah dipunpragat. inggih punika wetan kilen kidul ler : têgêsipun wetan : wiwitan manusa maujud. tanggal sapisan kapurnaman. punapa malih paduka. jagadipun manusa punika langgêng. madhêp dhatêng wujud. plêsatipun wêtaha. manawi baitanipun lumampah mangka salah pandomipun. ingkang dipunwastani pêjah gêsang. têbihipun botên mawi wangênan. kapanggihe cahya murub dados satunggal. sowan Hyang Latawalhujwa. wujudipun amung asma. sanes bangsanipun malaekat. tanggalipun manusa. têgêsipun lor : laire jabang bayi. baita pêcah. jumbuh punika têgêsipun pêpak. ana wujud. kathah rajakaya ingkang wontên ing ngriku. têpangipun amung têpang kados cahyanipun lintang lan rêmbulan.pundi botên ewah. kentir sagara rahmat lajêng lumêbêt ing guwa indra-kilaning estri. sampun dipunsêrat wontên lokhil-makful. mindhak kêsasar. paduka sampun ngantos kondur dhatêng akhirat. amargi Gusti Allah punika botên kantha botên warna.tiyang pêjah malah langkung saking punika. dene suksmanipun inggih punika tiyang ingkang wontên ing baita wau. paduka sampun ngantos sowan Gusti Allah. mêdal wontên kalamwadi. surup lan tanggalipun sampun samar : kala rumiyin. nyuwun ingkang enggal. botên sagêd ewah gingsir. manawi raganipun sampun sêpuh. ingkang ical utawi kirang ikhtiaripun inggih badhe ical utawi kirang bêgjanipun. nglangkungi ingkang sampun sêpuh. tibaning nikmat ing dhasaring bumi rahmat. mêngku alam sahir kabir. nutfah sampun ngantos ebah saking jagadipun. botên ewah botên gingsir. pramila tumrap tiyang agami Buddha. adhi punika ari-ari. sapunika lan benjing. sampun ngantos minggah dhatêng swarga. kawruhipun tiyang Buddha. tamtu manggih cilaka. wontên ing ngriku ki budi jasa kadhaton baitu’llah ingkang mulya. nanging langgêng manggen wontên satêngahipun jagadipun. manusa raganipun asal saking nutfah. têgêsipun kidul : estri didudul wêtênge ing têngah. Wiwitanipun keblat sakawan. dadosipun saking sabda kun. ma. suksmanipun mêdal nyuwun gantos ingkang sae. lênggah rupa cahya. mila Allah botên katingal. jujugipun ingkang cêtha cêthik cêthak. ingkang nêdahakên pandomipun. botên ngraosakên kanikmatan. sarêng tanggalipun kaliyan sadherekipun kakang mbarêp adhi ragil. Gawanên gêgawanmu. na. gêsangipun nyambut damêl kanthi paksan. kendêl malih wontên cêthik. botên pisah botên kumpul. sênteg sapisan tênunan sampun nigasi. Kangjêng Nabi Musa toh botên kuwawi mandêng dhatêng Gusti Allah. Lêbêtipun roh saking cêthak marginipun. ingkang têtêp langgêng. kontêning eling sadayanipun. sadherek ingkang sarêng tanggal gaibipun. Têgêsipun pur: jumbuh. punika kawruhipun tiyang Jawi ingkang agami Buddha. namung Dzatipun ingkang nglimputi sadaya wujud. dados wontên têngahing jagad swarganing tiyang sêpuh estri. cêlak botên panggihan. sadaya sami trima tilêm kêmul siti. mila jalma keblatipun wontên têngahing jagad. ingkang engêt sadayanipun. Tulis ical. sarwa wontên. siyang dalu sampun sumêlang dhatêng sadaya rêrupen. lairipun saking tiyang sêpuhipun estri. kula botên kuwawi cêlak. wontên salêbêting guwa sir cipta kang êning. kakang mbarêp punika kawah. bêgja cilakanipun gumantung wontên ing budi nalar lan kawruhipun. paduka dereng têpang. têgêsipun kulon : bapa kêlonan. etangan gunggunge: kumpul. têgêsipun urip. paduka wiji rohani. Punika pungkasanipun kawruh. . raga wadhag ingkang asal roh idlafi. Ningali jantung kêtêg kiwa: surut marga sire cipta. dipunbêkta dhatêng pundi. jagading tiyang punika guwa sir cipta namanipun.

gêsang langgêng ingkang botên sagêd pêjah. manawi angsal woh kuldi kathah. dadosipun saking sabda kun. dados wadya-balanipun Sang Nata. pêjahipun manjalma dados kuwuk. têgêsipun suksma ugi pisah kaliyan budi. ngadam utawi wujud sagêd sami sanalika. manawi sampun pisah raga suksma. muji dhatêng Gusti. nanging manawi tekadipun nasar. ingkang dipunwastani Sastrajendrayuningrat. ngungkulana ingkang lami. dados dhêmit têngga siti. Kiwa têgêsipun: raga iki isi hawa kêkajêngan. Timbangan têgêsipun salang. alamipun jalma sambungan. botên damêl botên tumbas. botên pitados dhatêng sêratipun Gusti. kawula ugi wajib utawi wênang matur dhatêng Gusti. Mata têgêsipun tingalana batin siji. wontên ing dunya amung sadarmi ngangge raga. inggih prau gaweyaning Allah. nêtêpi kamanusanipun.tiyangipun rêbah. lalarên gêgêrmu sing nggligir. Pundhak punika panduk. manawi paduka maibên. Sungsum têgêsipun sungsungên. Ula-ula: ulatana. Makatên punika ungêling sêrat. Manawi kula. saking tiyang inggih dados tiyang. gandanipun kadosdene nalika taksih dados sato kewan. dados saking sabda kun. punika namanipun sahadat. keblat lor bênêr siji. Nalika panjênênganipun Bathara Wisnu jumênêng Nata wontên ing Mêndhang Kasapta. nanging sagêd manjalma dados tiyang (kajêngipun. ing dunya kêbak manusa. sintên ingkang damêl raga? Sintên ingkang paring nama? inggih namung Latawalhujwa. kapiran seda paduka. Raganing manusa punika namanipun baitu’llah. Lêmpeng kiwa têngên têgêsipun tekadmu sing lêmpêng lair batin. lali eling urip mati. manawi pisaha raga suksma lan budi. paduka têtêp kapir. bêcik lawan ala. praunipun sampun rêmuk. napas tali. inggih nglêbêt inggih jawi. pisahipun kawula kaliyan Gusti. sato wana tuwin lêlêmbut dipuncipta dados manusa. Manawi paduka maibên. Nalika eyang paduka Prabu Palasara iyasa kadhaton wontên ing Gajahoya. kenging kangge sangu gêsang. têgêsipun incêngên aneng cêngêlmu. Lambung: waktu Dewa nyambung umur. sato wana tuwin lêlêmbut inggih dipuncipta dados tiyang. lajêng tangi malih. sing bênêr keblatira. inggih pisah kaliyan tiyangipun. sah têgêsipun pisah. purwa bênêr lawan luput. ngantos roh lapisan. Pramila kêdah ingkang mapan. gêsangipun gantos roh lapis enggal. Manawi paduka ngrasuk agami Islam. mrêtitis ingkang botên-botên. untungipun sugih daging. dados kantun sasêdya-kula kemawon. sampun jumbuh dados satunggal. tiyang Jawi tamtu lajêng Islam sadaya. pramila gandanipun tiyang satunggal-satunggalipun bedabeda. baitanipun tiyang Islam gêsangipun kantun pangrasa. Kanjêng Nabi Musa kala rumiyin tiyang ingkang pêjah wontên ing kubur. Têpak têgêsipun têpa-tapanira. lampahipun saking ênem urut sêpuh. manawi baitanipun tiyang Jawi sagêd mapan santun baitu’llah malih ingkang sae. manawi suksma punika pêjah ing ‘alam dunya suwung. mumpung baitanipun taksih lumampah. sarta murtat dhatêng lêluhur Jawi sadaya. ingkang dipunwastani jithok têgêsipun namung puji thok. punika kêdah ingkang waspada. kabêsaran. nyuwun baitu’llah ingkang enggal. saseda paduka manjalma dhatêng kuwuk. sanadyan suksmanipun tiyang. yen angsal woh kawruh kathah. ngengêtana dhatêng asaling kawula. gantos makam enggal. nempel tosan. Punuk têgêsipun panakna. yen tunggal. adiling Kawasa tiyang punika pinasthi ngundhuh wohing panggawene piyambak-piyambak). manawi tiyang punika têrus gêsang. manawi paduka botên sagêd maos sastra ingkang wontên ing badanipun manusa. Dewa ingkang damêl cahya murub nyrambahi badan. botên wontên tiyang. tanggalipun botên surup salaminipun. Walikat: walikane gêsang. dene manawi sagêd sagêd maos sastra ingkang wontên ing raga wau. Têngên têgêsipun têngênên ingkang têrang. pêjah malih sagêda mapan. budinipun lajêng santun baitu’llah. inggih punika . manawi baitanipun bibrah. urip wontên ing ‘alam dunya pados kawruh kaliyan woh kuldi. manawi kula kêpengin badhe wujud. botên wênang ngêkahi pêjah. manawi botên mapan gêsangipun. kajêng sela. kasêbut ing sêrat Anbiya. Jiling punika puji eling marang Gusti. Sêrat tapak Hyang. sanadyan suksmanipun kewan. wadhag alus-kula sampun kula-cakup lan kula-carub. dat punika Dzating Gusti.

aku ora kêna bali agama Buddha maneh. yen sêdya maujud sagêd katingal sanalika. mila tanah Jawi lajêng botên goyang. Yen banyu dicipta bisa ngganda wangi. kapriye mungguh ing gandane. Dados wicantên-kula punika. Naya têgêsipun ulat. punika kula. kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal.” Sunan Kalijaga banjur matur marang Sang Prabu. nanging inggih botên kumpul. ing kono Sunan kalijaga matur marang Sang Prabu. Paduka punika sampun Ratu linuhung tamtu botên badhe kêkilapan dhatêng atur-kula punika”. botên pêjah botên gêsang. Sang Prabu ngandika maneh: “Apa kowe ora manut agama?” Sabdapalon ature sêndhu: “Manut agami lami. budi hawa badan. langgêng salaminipun. Cobi paduka-dumuk: pundi wujudipun Sabdapalon. nanging yen gandane ora wangi. (11) Ature Sabdapalon marang Sang Prabu: Punika kasêkten punapa? kasêktening uyuh kula wingi sontên. kaya kang wis kathandha. adi Guru namung ngideni kemawon. botên ênem botên sêpuh. ingkang kula rêbat punika? Paduka sampun kêlajêng kêlorob.wujud-kula. Palon: pikukuh kandhang. Genggong: langgêng botên ewah. sami mêdal . langgêng salaminipun”. saking agênging latu ingkang wontên ing ngandhap siti. gêsangipun nglimputi salêbêting pêjahipun. iku anandhakake: yen Sang Prabu isih panggalih Buddha. tanpa guna kula êmong. padha sanalika banyu sêndhang banjur dadi wangi gandane. inggih sagêd ical sami sanalika. sêdya ngadam. rêdi-rêdi sami kula êntuti. Manawi paduka botên pitados. wis disêkseni Sahid. Sang Prabu ndangu: “Ana ing ngêndi Pangeran Kang Sajati?” Sabdapalon matur: “Botên têbih botên cêlak. nama Manik Maya. botên pisah. yen Sang Prabu nyata wis mantêp marang agama Rasul. prêlu kanggo tandha yêkti. dipunanggêp sarira tunggal. mêngsah uyuh-kula piyambak. Manawi kula sumêdya ngêdalakên kaprawiran. iku tandha yen Sang Prabu wis mantêp marang agama Rasul. dene pêjahipun nglimputi salêbêting gêsangipun. wirang momong tiyang cabluk. ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula.” Sang Prabu ngandika: “Kapriye iki.” Sabdapalon matur maneh: “Inggih sampun. aku wirang yen digêguyu bumi langit. mila rêdi-rêdi ingkang inggil pucakipun. amarga agama Islam iku mulya bangêt. botên rêmên momong paduka. pucakipun lajêng anjêmblong. Sunan Kalijaga banjur nyipta. ing wêkdal samantên tanah Jawi sitinipun gonjang-ganjing. latunipun kathah ingkang mêdal. badan-kawula sakojur gadhah nama piyambak-piyambak. saking pajaripun ngantos sampun botên katingal wujudipun Sabdapalon. lakar paduka-lampahi piyambak. paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus. karsa dados jawan. toya kula-êntut sêpisan kemawon. sampun kalingan pajar. tiga-tiga punika tumindakipun. sampun dados wangi. Raga-kawula punika sipating Dewa. kula wirang dhatêng bumi langit. kula botên tumut-tumut. aku wis kêbacut mlêbu agama Islam. kang surasane ora prêlu manggalih kang akeh-akeh. dipunpamerakên dhatêng kula. amarga banyu sêndhang gandane wangi. dhatêng agami enggal botên manut! Kenging punapa paduka gantos agami têka botên nantun kula. Manawi kula timbangana nama kapilare. kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi. rêmên manut nunut-nunut. paduka wayangipun wujud sipating suksma. kantun asma nglimputi badan. sarta matur yen arêp nyipta banyu kang ana ing beji. irib-iriban. kang kasêbut ing pikêkah Jawi.

Dewa lajêng paring pangapura. mriyi punika pantun kados kêtos. benjing: sasi murub botên tanggal. nanging ora manggon ing kono. wis ora bisa bali mênyang Buddha mêneh”. ingkang damêl bumi lan langit. tinanêma thukul mriyi. kang ngaturake yen wong agama Islam iku. angaturake lêpiyan. amarga wong wadon iku utamane kanggo wadhah. wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi. sami engêt dhatêng agami Buddha malih. Punapa cacadipun agami Buddha. Wiwit dintên punika jawahipun sampun suda. Bumbung sawise diiseni banyu. wiji bungkêr botên thukul. Jawinipun ical. manawi sampun santun agami Islam. ature ora lunga. damêl bingungipun kanca tani. wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput. iya iku sing diêmong Sabdapalon. sagêd wangsul kados jaman Buddha jawahipun”. benjing tanah Jawa ewah hawanipun. anglela kalingan padhang. tiyang sagêd matur piyambak dhatêng Ingkang Maha Kuwasa. Paduka yêktos. mung nêtêpi jênênge Sêmar. isi wedang lan toya tawa. suda asilipun siti. ora wênang miwiti karêp. antuk swarga kang ngungkuli swargane wong kapir. nglimputi salire wujud. wasana banjur ngandika. nilar agama Buddha. Sang Prabu diaturi ngyêktosi. lan sami purun nêdha woh kawruh. ing batos rumaos kaduwung bangêt dene ngrasuk agama Islam. yen gandane mari wangi. wong tanah Jawa padha salin agama kawruh. yen wiwit jaman kuna mula. kapriye kang dadi kêkêncênganing tekadmu? Yen aku mono ênggonku mlêbu agama Islam. amarga barang wis kêbacut. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang”. Sunan Kalijaga banjur didhawuhi nêngêri banyu sêndhang. Cobi paduka-yêktosi. kêndêl tindak nistha tuwin rêmên supata. mêsthi nêmu sangsara. sabanjure digawa sakabate loro. rêmên nêmbah sela. sijine diiseni banyu sêndhang. Banyu sêndhang mau kanggo tandha. rêmên nunut bangsa sanes. Sabdapalon matur. wêwah bênter awis jawah. sadaya wau atas karsanipun Latawalhujwa. kathah tiyang rêmên dora. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti. namung kangge têdha pêksi. barêng didangu lungane mênyang ngêndi. amratelakake yen ênggone mlêbêt agama Islam iku. jawah salah masa. yen wong lanang manut wong wadon. Sunan Kalijaga banjur jasa bumbung loro kang siji diiseni banyu tawa. Sabdapalon akeh-akeh ênggone nutuh marang Sang Prabu. Sang Prabu mirêng ature Sabdapalon. jarene besuk yen mati. besuk wong Jawa padha ninggal agama Islam ganti agama Kawruh. nilar agami Buddha. amarga kêpencut ature putri Cêmpa. Jawi kantun jawan. wis disêkseni dening si Sahid. Benjing yen sampun mrêtobat. Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong.latunipun sarta lajêng wontên kawahipun. dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. amargi paduka ingkang lêpat. Nganti suwe ora ngandika. turun paduka tamtu apês. agêgaman kawruh. banjur disumpêli godhong pandan-sili. Sabdapalon matur yen arêp misah. saiki mung kowe kang tak-tari. dipuntampik dening Dewa. amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami. nanging wong loro mau banjur musna. Paduka-yêktosi. punika inggih kula ingkang damêl. yen gandane mari wangi. Sang Prabu ngandika: “Kok-tutuha iya tanpa gawe. . ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa.

Prabalingga karo Bangêrwarih 12 ing kene besuk dadi panggonan kanggo pakumpulane wong-wong kang padha ngudi kawruh kapintêran lan kabatinan. tindake Raden Bondhankajawan namur kula. ora antara suwe Prabu Jimbun budhal sowan mênyang Ampel. kaya kang wis kasêbut ing ngarêp. layang wis katur marang Sang Prabu Jimbun.Sang Prabu Brawijaya banjur tindak didherekake Sunan Kalijaga lan sakabate loro. Sang Prabu banjur ngandika: “Wis aja nangis êngger. wis têkan ing Ampelgadhing. nyare ana ing Sumbêrwaru. ngrumaosi yen wis arêp kondur marang jaman kalanggêngan. esuke banyune ditiliki. aja padha ngrêbut kapraboningsun. Aku lan kowe mung sadarma nglakoni. tumuli dibuwang. sarta akeh-akeh sêsambate. têkan ing Prabalingga. kudu mangkene. ing wayah esuk. aku wis arêp mulih marang jaman kalanggêngan. Nyai Agêng Ampelgadhing tumuli mêthukake banjur ngabêkti marang Sang Prabu karo muwun. Barêng wis wayah surup srêngenge. Sang Prabu banjur nêrusake tindake nganti wayah surup srêngenge. amarga kêrêp diunjuk ana ing dalan. nungsung warta ing ngêndi dununge ingkang rama. nuli mbanjurake tindake. Nyai Agêng Ampel banjur matur marang Sang Prabu. Prabalingga têgêse prabawane wong Jawa kalingan prabawane tangga”. esuke banyu ing bumbung diganda mundhak wangine. balik padha ngemana rusaking wadya-bala. nanging mung kari sathithik. dene banyune sêndhang barêng ditiliki gandane dadi bangêr. mêngko tak-wenehane tandha asta. satêkane Surabaya. mupusa yen kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. aja padha pêrang. mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak. Sang Prabu mbanjurake tindake. nanging wajibe wong urip kudu kêpengin mênyang ilmu”. Sang Prabu banjur ngrangkul ingkang putra. Sang Prabu banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Prabalingga ing besuk jênênge loro. gêrahe Sang Prabu sangsaya mbatêk. wis têkan ing Panarukan. Nyai Ampel nuli utusan mênyang Dêmak nggawa layang. kowe gaweya layang mênyang Pêngging lan Pranaraga. rumasa ora kapenak panggalihe. unthuke gandane arum. satêkane ing Dêmak. mundhak gawe rudahing jagad. banjur tindak marang Majapahit. têkan ing Bêsuki. sapungkurku sing padha rukun. kang aran Raden Bondhankajawan ing Tarub. Sang Prabu nyare ana ing kono. sebaa marang Dêmak. Bêgja cilaka ora kêna disinggahi. mirêng warta yen ingkang rama Sang Prabu têdhak ing Ampel. ngaturake patrape ingkang wayah Prabu Jimbun. sapa sing miwiti ala. malah Sang Prabu lolos saka jroning pura. Sang Prabu ndangu: “Sing ngabêkti iki sapa?” Raden Bondhankajawan matur yen panjênêngane kang ngabêkti. banyune diambu isih wangi. tak-suwun marang Kang maha Kuwasa. banyune tawa isih enak. wis padha narima rusake Majalêngka. ora karuhan mênyang ngêndi tindake. Raden Bondhankajawan nuli sowan ngabêkti. ing pitung dinane. nanging banjur gêrah. Sang Prabu banjur dhawuh nimbali Prabu Jimbun. Sang Prabu uga nyare ana ing kono. nanging munthuk. yudane apêsa. wayah surup srêngenge. tindake kawêngen ana ing dalan.” . banyu ing bumbu diganda isih wangi. kabeh mau wis karsane Kang Maha Suci. kabeh lêlakon wis ditulis aneng lokhilmakful. Sang Prabu mbanjurake tindake. Kacarita putra Nata ing Majapahit. esuke bumbunge dibukak. pangandikane marang Sunan Kalijaga mangkene: Sahid. ana ing kono uga nyare sawêngi. nyêdhaka mrene.

lan maneh wêkasku marang kowe. saturun-turune êmongên.” Sunan Kalijaga sawise dipangandikani banjur matur: “Punapa Sang Prabu botên paring idi dhatêng ingkang putra Prabu Jimbun jumênêngipun Nata wontên ing tanah Jawi?” Sang Prabu ngandika: “Sun-paringi idi. nanging mung mandhêg têlung turunan. sapungkurku kowe sing bisa momong marang anak putuku. sabanjure diparingake marang Pêngging lan Pranaraga. Wulan têgêse damaring jagad. mulane ênggonku mangêni madêge Ratu mung têlung turunan. barang wis kêbacut iya mung kudu dilakoni. amarga si Patah iku wiji têlu. Nyai Agêng ngandika: “Wis bêgjane Prabu Jimbun ora nungkuli sedane ingkang rama. lan maneh wêlingku. banjur mangro tingal. iya mung mupus pêpêsthen. amarga aku wis diwadonake si Patah. amarga sajroning sihsinihan di seje bangsa mau nganggo ngobahake agamane. astane banjur sidhakêp. . katêlah nganti saprene kocape kang sumare ana ing kono iku Sang Putri Cêmpa. besuk anak-putuku aja nganti entuk liya bangsa. kabeh pitungkasku. anak-putuku aja entuk seje bangsa. mula tak-suwurake Putri Cêmpa. mula kolu marang bapa sarta rusuh tindake. ing sajroning mangun yuda. Prabu Jimbun ature marang Nyai Agêng. wis Sahid. layone banjur disarekake ana ing astana Sastrawulan ing Majapahit. dununing pasareyan ana ing Karang Kumuning. tulise kuburku mung kaya gêbyaring wulan.Sunan Kalijaga banjur nyêrat. sarta nyuwun pangapura kabeh kaluputane kang wis kêlakon”. Jawa. dadi ora bisa ngabêkti sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata. nganti kaya mangkene siya-siyane marang aku. lan suwurna kang sumare ana ing kono yayi Raja Putri Cêmpa. têrus seda. yen isih ana gêbyaring wulan. sarta wis ora dianggêp priya. mula wêkasku. tulisên. wong Jawa padha wêruh yen sedaku wis ngrasuk agama Islam. besuk bocah iki kang bisa nurunake lajêre tanah Jawa. aku titip bocah iki. Sultan Dêmak ana ing Ampel têlung dina lagi kondur. aja gawe senapati pêrang wong kang seje bangsa. manawa ana bêgjane. kacarita Sultan Bintara lagi rawuh ing Ampelgadhing sarta kapanggih Nyai Agêng. Sang Prabu banjur ngandika: “Sahid. Cina lan raksasa. Barêng wis têlung dina saka sedane Sang Prabu Brawijaya. bisaa ngapêsake urip. dene pasareyaningsun bakal sun-paringi jênêng Sastrawulan.” Sunan kalijaga nyuwun sumurup mungguh têgêse araning bakal pasareyane Sang Prabu. ing têmbe buri. dene mungguh satêmêne Putri Cêmpa iku sedane ana ing Tuban. sawise rampung banjur ditapak-astani dening sang Prabu. mundhak ngenthengake Gustine. mula aku paring piwêling aja gawe senapati pêrang wong kang seje jinis. sarekna ing Majapahit sa-lor-wetane sagaran.” Sang Prabu sawise paring pangandika mangkono. Sang Prabu ngandika: “Sastra têgêse tulis. yen aku wis kondur marang jaman kalanggêngan.

Kacarita Adipati Pêngging lan Pranaraga. pamrihe supaya aja ngribêdi ing têmbe buri. sapa kang ngandêl yen rusake Majapahit amarga tikus. [4] Sang Prabu Brawijaya sedane mekrad. mula mung kanggo pasêmon. kasaru têkane utusane Sang Prabu maringake layang. amarga saka putêking panggalihe banjur padha gêrah. muga aja awet urip. barêng wis diparingi. mung kari budhale bae. suwe-suwe yen diumbar banjur ngrêbda. nanging ênggone mbêdhah sinamun sowan riyaya. Adipati sakarone padha puguh ora karsa sowan marang Dêmak. mundhak ndêdawa wirang. piwalêse ngrusak. gêgamane ana ing silit. ora karuhan jujuge ana ing ngêndi. layang banjur disungkêmi kanthi bangêt ing pamuwune lan bangêt anjêntung panggalihe. wajane kêrot-kêrot. lan kawiyos pangandikane sêru. [3] Pêthi saka Palembang ana satêngahing paprangan dibukak mêtu dhêmite. putra mungsuh bapa. têgêse: para ‘ulama dhek samana. kaya kang kapratelakake ing ngisor iki: Kabeh mau mung pasêmon. tawon lan dhêmit. amarga carita kang mangkono mau kalêbu aneh lan ora mulih ing nalar. labuh bapa ngrêbut praja. tawon lan dhêmit. ora satimbang karo gêdhene nagara sarta ambane jajahane. ewadene bisa rusak mung amarga dikritiki tikus. wong Majapahit padha kagegeran amarga ditêluh ing dhêmit. Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga sawise tampa layang lan diwaos. Nanging yen Majapahit rusake amarga saking tikus. dene panggonane ana ing . Alas angkêr akeh dhêmite. Nagara Majapahit iku rak dudu barang kang gampang rusake. Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga bangêt dukane. surya katon abang kaya gêni. [2] Sunan Cirêbon badhonge mêtu tikuse maewu-ewu. amarga aran ambuka wêwadining ratu. wong Majapahit bubar. carita bêdhahing Majapahit iku kaya kang tak-caritakake ing ngarêp. kêrise Sunan Giri ditarik mêtu tawone ngêntupi wong Majapahit. mungguh sanyatane. padha mangani sangu lan bêkakas jaran. iku pratandha yen wong mau ora landhêp pikire. amarga wêruh akehing tikus. Dene têgêse pasêmon mau mangkene: Tikus iku watake ikras-ikris. yen dirasa satêmêne saru bangêt. kang surasane nyupatani marang panjênêngane dhewe. mangkene pasêmone: 1] Amarga saka kramate para Wali. yen dilugokake jênênge ambukak wadine Majapahit. ora cocog lair lan batine. sedane Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga padha ditênung dening Sunan Giri. wis padha mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak. Mula carita bêdhahe Majapahit sinêmonan dening para pujangga wicaksana. dene kaol kang gaib. para wadya-bala wis rumanti gêgamaning pêrang pupuh. nalika lagi têkane nyuwun panguripan marang sang Prabu ing Majapahit. tansah gedheg-gedheg lan gêrêng-gêrêng. mula mung dipralambangi pasêmon kang orang mulih karo nalare. arêp ditanduri. mula banjur dhawuh ngundhangi para wadya sumêdya nglurug pêrang marang Dêmak. Lumrahe tawon iku bubar amarga saka dipangan ing wong. Mula carita bêdhahe Majapahit iku mung dicêkak. bubaring dhêmit yen alase dirusak dening wong. Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi marang muride kang aran Darmagandhul. ora antara lawas padha nêmahi seda. Tawon iku nggawa madu kang rasane manis. iya iku Adipati Andayaningrat ing Pêngging lan Bathara katong ing Pranaraga. dene ingkang rama Sang Prabu lan putra Raden Gugur lolos saka praja.

Sang Prabu Jimbun iku wiji têlu. banjur ana manuk kuntul nganggo kucir. tuma têgêse tuman. iya iku ganti agama. kajaba mung kendêl gêrêng-gêrêng bae. Mungguh gênahe mangkene: bêdhahe nagara Majapahit sarana ditêluh kalayan primpên lan samar. têgêse: maune têkane nganggo têmbung manis. sawise padha mati. iya iku Prabu Brawijaya panggalihe têlas nalika bêdhahe Majapahit. Banjure maneh pangandikane kiyai Kalamwadi: Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi. dumeh agamane Buddha kawak kapir kupur. wusana banjur mukul pêrang ngrêbut nagara. iya iku Sang Prabu Brawijaya. dhek jaman kuna. dene ênggone kêndêl nanging tanpa duga iku saka wijine Sang Arja Damar. sapa kang ngrungu padha gawok. rêmit. ora ngetung bênêr utawa luput. . Bêdhahe Majapahit swarane jumêgur.gowok utawa tala. mula saiki banjur padha bali mulih marang tanah Jawa. dhêmit têgêse samar. têgêse oleh ati saka Sang Prabu. nalika santri Jawa durung akeh kawruhe. dhêmit iku uga tukang nêluh. Dene anane bangsa Cina padha nênêka ana ing tanah Jawa iku dêdongengane mangkene: Jare. nanging sanadyan para Wali liyane uga didhawuhi ngrumasani. ora karsa nglawan pêrang. barêng nagara wis ngalih marang Dêmak. sangane Adipati Dêmak. têgêse: tolehên githokmu. dadi suksmane bangsa mau. kêprungu saka ing ngêndi-êndi nagara. nalika arêp pambêdhahe ora ana rêmbag apa-apa. mula jênênge Wali ditêgêsi Walikan: dibêciki malês ngalani. iya iku Raden Patah nalika têkane ana ing Majapahit sumungkêm marang ingkang rama Sang Prabu. mula Sang Prabu Jimbun gêdhe panggalihe melik jumênêng Nata. wusana ngêntup saka ing buri. purwane Jawa. Kuna-kunane ora ana praja gêdhe kaya Majapahit bêdhahe mung saka diêntup ing tawon sarta dikritiki ing tikus bae. iku mau-maune iya akeh kang suksma Jawa. celeng iku iya aran andhapan. mula ana kuntul nganggo kucir iku wis karsaning Allah. manuk kuntul iku durung ana kang nganggo kucir. kabeh mau padha mbalela mbalik. apa dene bubare wong sapraja mung saka ditêluh ing dhêmit. ênggone nyêri-nyêri marang ingkang rama Sang Prabu. amarga katarik saka ibune. têgêse: Palembang iku mlembang. suksmane akeh kang katut angin banjur thukul ana ing tanah China. kombang têgêse mênêng swarane kang mbrêngêngêng. dene tala têgêse mêntala ngrusak Majapahit. dadi dikagetake. sênêng yen ngokop gêtih. ora mung Sunan Dêmak dhewe bae kang didhawuhi ngrumasani kaluputane. dene tuma kijir iku tumane celeng. dosane lair batin. kahanan ing dunya nuli malih. ing wêktu iku banjur diparingi pangkat. nganti ngêntekake panggalihe Sang Prabu. ora kêna nyêri-nyêri marang wong seje bangsa. barêng dibukak muni jumêglug. wêruh-wêruh Adipati Têrung wis ambantu Adipati Dêmak. ibumu Putri Cina. pêthi têgêse wadhah kang brukut kanggo madhahi barang kang samar. pambêkane siya. yen ora padha gêlêm ngrumasani kaluputane. yen bêdhahe saka binêdhah dening putra. Prabu Brawijaya sinêmonan ing gaib: kêbo kombang atine êntek dimangsa tuma kinjir. samudanane mung sowan garêbêgan. mulane Gusti Allah paring pasêmon. Dene kuntul nganggo kucir iku pasêmone Sultan Dêmak. iya iku Wali wolu utawa Sunan wolu kang padha dimêmule wong Jawa. githok kuntul kinuciran. amarga Arja Damar iku ibune putri raksasa. Dene dhêmit diwadhahi pêthi saka Palembang. rungsid. sadurunge Majapahit bêdhah. mulane melik ênggal sugih. mula wong Majapahit ora sikêp gêgaman pêrang. kêbo têgêse ratu sugih.

sanajan matiya ing tata-kalairane. siji warnane irêng sêmu abang dalah godhong sarta kêmbange. nanging lah eling-elingên ing besuk. beda karo para Wali liyane isih padha manganggo sarwa putih. Sêmboja. sabda iku mêtu saka ing karêp. Sawise mangkono.” Sultan Dêmak mirêng swara dumêling kang surasane mangkono iku. mula banjur ngrumaosi kabeh kaluputane. nganti wani mungsuh ingkang rama sarta ngrusak Majapahit. Sultan Dêmak banjur kondur. Den enak mangan turu. mula banjur mangagêm sarwa wulung. papat wit kang godhonge lêmbut sarta mawa êri. iya iku Tlasih. mobah mosik mung sadarma nglakoni. kang ngawruhi sajatining urip. manusa bisa apa. sajatining ‘ilmu iku ora susah maguru marang wong ‘Arab. tanpa luwih sarta ora arah ora ênggon. mangkono kang kasêbut ing kitab Anbiya”. dadi pasêmon kabeh. budi iku Dzate Kang Maha Agung. agung iku wis samêkta. budi kang ngobahake. sinêmonan wiwit anane orong-orong githoke tumêka ing punuk disêsêli tataling kayu jati. mula uga bangêt panalangsane sarta ngrumaosi kaluputane. rumaos kadukan dening Kang Maha Kuwasa. ngrumaosi klirune dene nuruti rêmbuge para Sunan kabeh. mula bangêt mrêtobate. wasana banjur pinaringan pangapura dening Allah. Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi. mung nêmbah marang Allah. karêp mêtu saka ing budi.Darmagandhul matur: “kiyai! Kang diarani agama Srani iku kang kaya apa?” Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake: “Kang diarani agama Srani iku têgêse sranane ngabêkti: têmêntêmên ngabêkti marang Pangeran. lan wêktu iku sajroning pasareyane Sang Prabu kêprungu ana swara dumêling. mung Sunan Kalijaga piyambak rumaos yen kadukan dening Kang Maha Kuwasa. yen wis agama kawruh. têlu wit kang godhonge ngrêmbuyut mubêng kaya payung. Sultan Dêmak waskitha ing gaib. mula sêbutane Gusti Kanjêng Nabi ‘Isa iku Putrane Allah. Mula nganti tumêka saprene wit Sêmboja panggonane ana ing kuburan. Sunan Kalijaga uga waskitha ing gaib yen sinêmonan dening Kang Maha Kuwasa.wujude puji thok. Iya wiwit titi masa iku anane wit-witan warna papat kang padha thukul ana ing kuburan. mula nganti suwe njêgrêg ora bisa ngandika. tansah ngrumaosi ing kalêpatane. mangkene ujaring swara: “Êntek katrêsnanku marang anak. Kabeh mau ora padha ngrumasani kaluputane. kaprênah pusêring kuburan tanpa sangkan thukul wit-witan warna papat. awit Allah kang mujudake. ‘ilmuning Gusti Allah wis ana ing githokmu dhewe-dhewe. mangan babi kaya dhek jaman Majapahit. tak-ajar wêruh ing nalar bênêr lan luput. ora nganggo nêmbah brahala. godonge Gêtakkucing yen kasenggol banjur obah. urip dadi wayangan Dzating Pangeran. mungguh karêpe: punukmu panakna. tanpa kurang tan wuwuh. Turugajah lan Gêtakkucing. ing têmbe bakal takwalês. godhonge uga banjur mingkup kaya dene godhong Gêtakkucing. pranatane mêngku praja. Ana gajah digêtak kaya kucing. sakondure saka pasareyane ingkang rama. loro wit sarta kêmbange putih godhonge sêdhêngan. nanging dudu puji jatining kawruh. nuli sowan andêdagan ana ing pasareyane ingkang rama. bangêt panalangsane ing dalêm batos. barêng wis antara têlung dina lawase. kêmbang Tlasih kanggo ngirim para lêluhur. ing batos bangêt kaduwung marang apa kang wis dilampahi. .

kang didhahar Nabi Adam lan Babu Kawa iku woh Kuldi. iku sindhenan Dharudhêmble. iya dipundhut banjur diobongi. mula wong-wong ing kono padha wêdi marang wisesaning Ratu. Saupama wong nulup manuk. Yen kawruhe wong pintêr ora angel yen disawang. mula Sang Prabu ing Mataram kewran panggalihe ênggone kagungan karsa iyasa babad carita tanah Jawa. buku-buku asli saka ing Dêmak lan Pajang padha dipriksa. ananging sarehne kang gawe Babad mau ora ngêmungake wong siji bae. ora . Ana maneh kitab kang nêrangake. Sayid Anwar didukani ingkang rama lan ingkang eyang. andikakake padha gawe layang Babad Tanah Jawa. kang muji lan kang dipuji wis nunggal dadi sawiji. kagungan panggalih. iku mau wis muji tanpa ngucap. nanging tinêmu tulisan ‘Arab. hakekat iku wujud. amarga mundhak ngrêribêdi agama Rasul. sabab saka ênggone padha dhahar wohe kayu Kawruh kang ditandur ana satêngahing taman Pirdus. buku-buku sakarine. Ing wêktu iku Sunan Kalijaga. Mula nyuwun têrange. sapa kang durung gêlêm nganggo agama Islam banjur dijarah rajah. yen ing kitab Jawa caritane kapriye. wêruh ora kasamaran ing sawiji-wiji. sanadyan buku kang padha disimpêni dening para wadya. Sang Nata ing Mataram andangu para wadya. Têmbung dhar iku têgêse wudhar. dhêmble wujud siji. sêmbahe kaya wêsi kang dilabuh ana ing gêni ilang abange mung rupa siji. Dene wong-wong kang wis padha gêlêm salin agama Rasul. caritane lêluhure supaya aja nganti pêdhot. yen wis sumurup têpunge sarat sari’at tarekat hakekat lan ma’rifat. amarga wani. iya iku nampik milih iktiyar lan manggaota.wani mangan wohe wit kayu Budi sêngkêrane Pangeran kang tinandur ana ing swarga. dene Sajarah Jawa iya ana kang nyêbutake turun Adam. wujud karsaning Allah. nalika sabêdhahe Majapahit. kang isih padha disimpên uga padha dipundhut kabeh. yen ra wêruh prênahe manuke. ênggone nulup mung ngawur. kitab Pêkih lan Taju-salatina apa dene Surya-Alam kang kanggo pikukuh. Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake. mungguh caritane kaya kang kasêbut ing ngisor iki”. Darmagandhul matur. iya kitab Manik Maya. kang nyêbutake kok mung kitab ‘Arab lan kitabe wong Srani. Ciptane Sayid Anwar supaya kuwasane bisa ngiribi kaya dene kuwasane Pangeran. yen kitabe wong Jawa ora nyêbutake bab mangkono iku.Kiyai kalamwadi nutugake caritane: “Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi mangkene: mungguh kang katarima. tarekat iku kang nimbang lan nandhing bênêr lan luput. sari’at iku saringane kawruh agal alus. arane Sayid Anwar. kang ngobahake sarta ngosikake rasane budi. Sang Prabu banjur dhawuh marang para pujangga. mêsthi wis marêm marang kawruhmu dhewe. dene dhêmble têgêse dhêmbel dadi siji. banjur padha diganjar pangkat utawa bumi sarta ora padha nyangga pajêg. Wayahe Nabi Adam iya iku putrane Nabi Sis. mêtune saka ing utêk”. Yen kowe wis bisangawruhi surasane kang tak-kandhakake iki. nanging wis padha amoh. muji marang Allah iku. Ratu Mataram uga mangun carita sajarahe para lêluhur Jawa. kanggo gantine kitab-kitab kuna kang wis padha diobongi. sarak iku sarate ngaurip. kang diênggo pathokan layang Lokapala. masa kênaa. Mangan woh kawruh lan budi. banjur iyasa wayang. jênênge munajad. Kiyai Kalamwadi banjur ngandhakake: “Sawise buku-buku pathokan agama Buddha diobongi. amarga padha melik ganjaran. nanging wis padha ora mênangi. kang ditandur ana ing swarga. mula ora bisa padha gaweyane. Yen kowe wis ngrêti marang têgêse Dharudhêmble. ru iku têgêse ruwêt sulit lan rungsit. nyuwun ditêrangake bab ênggone Nabi Adam lan Babu Kawa padha kêsiku dening Pangeran. wiwit Kraton Gilingwêsi nganti tumêka Mataram wis ora kasumurupan caritane. mulane wong-wong ing Majapahit banjur padha ngrasuk agama Islam.

mangkono uga karsa ngakoni yen turune Adam sarta Sis. Sêdya kang mangkono mau iya diideni dening Kang Maha Kuwasa. ngratoni para jin. ditêgêsi: nguja hawa. mangan woh wit kayu Kawruh. ora karsa ngagêm agamane ingkang rama lan ingkang eyang. sarta: wadi dawa. Sayid Anwar ditakoni iya banjur ngandharake lêlakone kabeh. sênêngan salah siji êndi kang disênêngi. kang jumênêng Nata. Yen kang dipangan woh wit kayu Budi. agamane Buddha budi. kabeh iku iya bênêr.narima yen mung mangan who Kawruh lan woh Kuldi bae. Sang Hyang Tunggal pêputra Sang Hyang Guru. apa wit kayu Budi. Saupama woh ora gêlêm . Sarehne diênut wong akeh. bali marang asale maneh. lakune mangetan nganti tumêka ing tanah Dewani. mangeran digdayane sarta ngaku Gusti Allah. dadi murtat sarta nampik agamane lêluhure. dadi ora aran siya-siya marang uripe. yen kalifah dhahar woh Kuldi. apa woh wit Kuldi? Saka panimbange Darmagandhul. jalaran mangkene: asal suwung mulih marang sêpi. iya melu mangan woh Budi. Sawise iku Sang Prabu banjur nganggit sastra mung salikur aksara. ana ing kono banjur kêtêmu karo ratuning jin arane Prabu Nuradi. uripe kaya watu ora duwe kêkarêpan lan ora mangrêti marang ala bêcik. dadi Panutan kudu kang bênêr. saturun-turune bisaa jumênêng Nata mêngkoni tanah Jawa. Sang Prabu putrane siji pêparab Sang Hyang Nurrasa. Sang Hyang Wênang uga dhaup karo putri jin. sarta manut sarake Sisingbing lan Sicim. dadine saka budi hawaning Pangeran. panyêbute marang Dewa. yen Kalifah dhahar woh kawruh. amarga wong dadi Panutan iku saupama têtuwuhan minangka wite. Dewa iku wêrdine ana loro têgêse: budi hawa. manawa mangan woh wit kawruh. Sayid Anwar miwiti yasa sarengat dhewe. iya melu mangan who kawruh. sambate marang nabi panutan. Yen bisa woh-wohan warna têlu iku mau iya dipangan kabeh. karsane Sang Prabu: bisaa rowa. kang padha didhahar woh wit kayu Budi. agamane Buddha budi. Têmbung Jawa. mêsthine banjur dadi wong bodho. mulane agamane Buddha. diantêpi salah siji aja nganti luput. Sang Hyang Guru kagungan pangraos yen kuwasane padha karo Gusti Allah. mula banjur iyasa kadhaton ana pucaking Mahameru. kabeh mau turune Sang Hyang Nurcahya. jênênge nagara banjur diêlih dadi aran nagara Jawa. wiwit jumênênge Prabu Nurcahya. Dene prakara bênêr utawa lupute. Aran Dewa ngaku misesani mujudake sipat roh. uga dhaup karo putri jin putrane mung siji iya iku Sang Hyang Wênang. pangraose Sayid Anwar iku dadi saka dadine piyambak. Dene mungguh bêcike wong urip iku mung kudu manut marang apa alame bae. jêjuluk Prabu Nurcahya. Misuwure. Darmagandhul didhawuhi nimbang mungguh kang bênêr kang êndi. mung waranane bae saka Adam lan Sis. salah sijine aja nganti luput. yen wong ora mangan salah sijine woh mau. Sarehne Sayid Anwar banjur lunga nuruti karêping atine. nanging wohe kayu Budi kang disuwun. dene putrane uga mung siji kakung pêparab Sang Hyang Tunggal. Sêbutan Dewi: têgêse: dening wadining wadon iku bisa ngêtokake êndhas bocah. iya melu mangan woh Kuldi. saucaping wong Jawa bisa kaucap. yen Kalifah dhahar woh Budi. sarta kalilan nimbangi jasane Kang Maha Kuwasa. dijênêngake Sastra Endra Prawata. agamane Islam. iku kaya dene iwak kang mêtu saka ing banyu. dene yen dhêmên Godhong Kawruh Godhong Budi. Jawa jawi ngrêti kawruh agal alus. sarta ngakoni yen purwaning dumadi mêtune asal saka budi hawa nêpsu. uki Kalifah kang bakal tanggung. Yen wong ora gêlêm manut marang kang bênêre kudu diênut. pênyêbute marang Kangjêng Nabi ‘Isa. iya iku Gusti Kangjêng Nabi Rasul. wusanane Sayid Anwar diêpek mantu sarta dipasrahi kaprabon. agamane srani. panêmbahe marang Pikkong. yen sênêng mangan woh wit kayu Kuldi. Ênggone Kagungan pamanggih mangkono mau diantêpi bangêt. krama oleh putri jin.

ing mangka iya kudu mangan woh wit kayu Budi.nempel wit. Darmagandhul matur nyuwun têrange agama Rasul lan liya-liyane. Yen wong luwih. Nanging banjur akeh kang kliru muja marang barang kang katon. supaya aja ngrêribêdi ana ing donyane. Yen bêcik narik raharja. Gusti Allah mêsthi paring pangapura. kang digoleki bisaa nikmat mulya punjula saka sapadhane. Geneya kok ora nganggo aksara warna siji bae? Kyai Kalamwadi banjur nêrangake. satêmah lali marang Pangerane. Dene kang bisa nyirnakake (nyudakake) dosa iku. Iku maune kêpriye. kêsusu tampa panglulu nganggit sastra kang nganti tanpa etungan cacahe. Darmagandhul matur maneh. Kang kaya mangkono mau ngrusakake agama. dadi pelon. amarga yen ora duwe agama mêsthi duwe dosa. Walanda lan Cina. pancadan kang tumuju marang kabêgjan utawa kacilakan. Dene sastrane kok uga beda-beda. mung bae dosane mau ana kang sathithik lan ana kang akeh. sinêbut kang utama. mulane wong iku kudu ngelingi marang agamane kang nurunake. Auliya mau lali yen tinitah dadi manusa. mung wong kang ora ngrêti sastra paringe Gusti Allah. Ewadene mêksa nganggo kuwasane Kang Maha Kuwasa. mula jênênge dalwang. Sastra warna-warna paringe kang Maha-Kuwasa. mangsi têgêse mangsit. yen saka dhawuhe kang Maha Kuwasa. Godhonge wit Budi lan wit Kawruh. . manusa ing dunya wujude mung lanang lan wadon. bisa tampa ganjaran. kaya nalika isih ana ing alam samar. para Auliya panggawene sastra dipathoki cacahe. Kang diarani lawang swarga lan lawang nêraka iku. iku wajib dipangan. yen ala ngundhuh cilaka. Mula aksarane digawe beda-beda. ora ngarêp-arêp munggah swarga. manusa ora bisa anggayuh. ora duwe susah lan prihatin. sanadyan para Auliya sarta para Nabi ênggone nggayuh iya mung sagaduke. amarga sanadyan saupama ana salahe. amarga manusa diparingi wahyu kaelingan. lan manut wujud. amarga Auliya kang nganggit kêsusu mangan woh Kawruh. iya iku kang diarani sastra urip. amarga maro tingal marang barang rêrupan. nanging panggawene ora bisa. kaya ta kêris. dipêthik saka sathithik. Kang diarani banyu tekad suci iku kang êning. tumbak. Woh wit Kawruh lan woh wit Budi ditandhani nganggo sipat wujud. amarga kawruhe anggawa alam. dicorek ana ing dluwang. Awit saka iku. mung banyu suci. supaya sugih pangrêten lan kaelingan. anggayuh kang dudu wajibe. mulya kaya maune. utawa liya-liyane barang. pamêthike sapira sagaduke. mêsthi dadi glundhungan kang tanpa dunung. aja nganti nêmu sangsara. Lawang swarga iku prêlu dirêsiki. mula jênêng kalam. amarga banjur mangeran marang wujud. bisaa nikmat badan lan atine. dalah têgêse sarta cacahing aksarane kok uga beda-beda. nganggo mangsi supaya wong bisa wêruh. dadine kok banjur warna-warna. bisa mêthik who Kawruh lan woh Budi. mungguh kang dadi bedane apa? Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake beda-bedane. Gusti Allah uga iyasa sastra. yen kabeh-kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. Wong urip iku kudu duwe gondhelan agama. nyuwun têrange. têgêse mêtu wangune. ana Jawa. nanging sastrane nglimputi ing jêro. mula pangucap kang ala. iya iku minangka aduse manusa. mêsthi mlêbu yomani. bisaa slamêt lair batine. dirêngga ing tekad kang utama. dadi yen dalwang ditrapi mangsi. bisa ngrêsiki lair batine. mêsthi banjur mêtu wangune. mêsthi ora mangêrti marang wangsit. bisaa duwe jênêng kang bêcik. manusa didhawuhi muja marang agamane. mangsit mangan kawruh. mung aksara Cina kang akeh bangêt cacahe. jênênge sastra godhong. iya iku tekad suci lair batin. Yen bêcik. sastrane unine kurang. Auliya Gong Cu kumênthus niru sastra tulisan paringe Gusti allah. supaya para kawulane padha mangan woh wit kayu Budi lan woh wit kayu Kawruh. nanging unine pelo. ‘Arab.

banjur dianggit kanggo sastra. sanadyan kahanane wis sarwa bêcik. dene isine mung têlung prakara. mung hawa kang katon. Kiyai Kalamwadi lênggah diadhêp garwane aran Endhang Prêjiwati. têgêse pari. Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Sarehne aku iku wong cubluk. iku mratandhani yen luwih pintêr tinimbang karo liya-liyane. prau dadi ‘ibarate wong wadon. kang anuduhake yen ragamu iku wujude kiwa. amarga arêp gawe sastra urip kaya yasane Gusti Allah. wadon têgêse mung dadi wadhah. Banjure pangandika kiyai Kalamwadi kaya ing ngisor iki. yen wong lanang wis bisa nyukupi pangane. Auliya Jawa ênggone mangan woh wit kayu Budi nganti warêg. . Auliya Cina kêsiku. kabeh mau iya bênêr. Ri. Kiyai Kalamwadi ngandika: “Yen manusa arêp wêruh sastrane Gusti Allah. tulisan mau ora kêna ditonton nganggo mripat lair – kudu ditonton nganggo mripat batin. Gusti Allah iku mung sawiji.ditata dikumpulake. mula ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. iya iku: “kar-ri-cis”. nanging ora mêtu ing lesan. têgêse dakar. dadi nêtêpi jênênge priya kudu mulang muruk marang rabine. sarta kudu kang mêlêng ênggone mawas. nanging anggêr mêtu saka budi. ora kêna kacampuran pikiran kang warna-warna. wong iku yen dipitakoni. mulane aksarane nganti ewon. nanging wis bisa nyukupi. Dene têgêse kar-ri-cis iku mangkene. wong têgêse ngêlowong. Auliya Arab ênggone mangan woh wit kayu Kuldi akeh bangêt. 1. amarga ragamu iku wis bisa sumaur dhewe”. Darmagandhul sarta para cantrik iya padha marak. Tanganmu kiwa iku wis anggawa têgês dhewe. Dene ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Yen ndêlêng kudu nganggo ati kang bêning. mungguh anggitane para Auliya kabeh mau kang mratandhani asor luhuring budine kang êndi? Saka panimbange Darmagandhul. bab kawruh kasunyatan sarta kawruh kang kanggo yen wis tumêka ing pati. Kiyai Kalamwadi paring piwulang marang garwane. mulane unine iya cêtha. Yen mangkono iya bisa katon. mêsthi wong wadon bisa têntrêm ora goreh. Nanging yen sastra yasane Gusti Allah. wusanane dadi nêmu slamêt ênggone jêjêdhowan. ing wong sêsomahan iku. dadi ora goreh atine. Nanging sabên dinane isih kudu dipiyara lan didandani. Yen prau wis isi têlung prakara iku. dadine saka sabda. mung paring sasmita kang wis ditulis ana saranduning badan sakojur. supaya ora bisa kliru karo kanyatane”. wong wadon wis kêcukup butuhe. iya iku yen wong lanang wis bisa nêtêpi lanange. wujude dadi dhewe. lan wis dadi piwulang kang bêcik lan nyata. ragamu iku di’ibaratake prau. wa: têgêse wêwadhah. satêmêne ragane wis bisa mangsuli. sabab ing kono wis ana pangandikane Gusti Allah paring piwulang. Kang wadon diupamakake omah. Saka pangandikane Kiayi Kalamwadi. aku mung arêp pitakon marang ragamu. Dene kang gawe aksara mung sathithik. nanging Dzate nyarambahi sakabehing wujud. iya iku kang minangka pangane wong wadon. Darmagandhul banjur didhawuhi nimbang. 2. Dene kang diwulangake. mêsthi wong wadon atine marêm. sastrane ora ana kang padha. Kar. Têmbung ki: iku têgêse iki. dadi ora bisa aweh piwulang kang endah.

3. Wong jêjodhowan. aja nganti tumindak kang ora bênêr. tak baleni maneh. Kuku têgêse ênggone rumêksa marang wadi. wong jêjodhowan iku pikukuhe kudu duwe ati eling. ya iku yen wong lanang wis bisa aweh dhuwit kang nyukupi. curigane jênênge wong lanang. iya iku: pawon. Driji têgêse drêjêg utawa pagêr. têgêse wanita wajib ngunggulake marang priyane. wong wadon bisa goreh atine. Kiyai Kalamwadi banjur paring pangandika maneh. jênênge banjur melu jênênge kang lanang. tumrap nindakake samubarang kang prêlu. gênahe wong wadon iku dadi kanthine wong lanang. utawa dhuwit. yen wanita dikarsakake dening priyane. Driji panuduh têgêse wanita nglakonana apa sapituduhe kang priya. awit wong wadon iku yen wis laki. nanging yen isih padha trêsnane iya ora bisa pêdhot. Tangan têngên têgêse etungên panggawemu. pangrêksa. Driji panunggul. apa dene kudu nyingkiri padudon. têgêse picis. mula kudu sêtya tuhu marang priyane. wanita iku kudu andarbeni ambêk kang utama. Saka pangandikane kiyai Kalamwadi. mêsthi wong wadon bisa têntrêm. mêsthi bisa slamêt sarta akeh têntrême. wong wadon wis dadi wajibe ngrewangi kang lanang anggone golek sandhang pangan. wicarane kudu kang manis lan prasaja. iku kang gampang gêtas rênyah kaya dene êmpoling klapa. cis têgêse bisa goreh atine. iya iku idêrana jiwamu nganggo pagêr kautaman. Bau têgêse kanthi. Sikut têgêse singkurên sakehing panggawe kang luput. Iya iku kang diarani warangka manjing curiga. supaya nyupangati bêcik. sabên dina sudiya. paribasane aja nganti kêndho tapihe. Kosok baline yen wong lanang ora bisa aweh momotan têlung prakara mau. dene kang dipangandikakake bab pikukuhe wong jêjodhowan. têgêse wong wadon iku panguwasane mung sapara limane wong lanang. paturon. Ugêl-ugêl têgêse sanadyan tukar padu. sanggup dadi kongkonan. nanging yen angel. warangkane wanita. dene driji kabeh mau ana têgêse dhewe-dhewe. Jênthik. Rajah (ing epek-epek) têgêse wong wadon iku panganggêpe marang guru-lakine dikaya dene panganggêpe marang raja. têgêse wanita kudu duwe pasêmon utawa polatan kang manis. dudu dunya lan dudu rupa. Driji manis. angele . Mungguh pikukuhe wong laki-rabi iku. Epek-epek têgêse ngêpek-ngêpek jênênge kang lanang. yen gampang luwih gampang. Mungguh pikikuhe wong jêjodhowan iku. Jêmpol têgêse êmpol. pikukuhe mung ati eling. wanita kudu sêtya marang lakine sarta nglakoni patang prakara. Cis. Wong jêjodhowan yen wis nêtêpi kaya piwulang iki.

lan mulya saka ênggone sugih ‘ilmu. kudu tansah eling. amarga yen ora mangkono bakal nandhang dosa rong prakara. manusa iku yen pikire rusak. kang sapisan dosa marang kang lanang. kang oleh katêntrêmaning ati. nanging kabêgjane mau ora mung kanggo awake dhewe. (4) Rusaking budi. yen kêmudhine salah. iku wong kang utama. lan mulya saka kapintêran. dene kang diarani cidra iku ora mung jina bae. awit ati iku dadi ratuning badan. Mula ati. nanging yen kang nyatang ora bênêr. Dene kang mulya saka ing bandha. dene kang wadon ngêmudheni. sanadyan satange bênêr. amarga tumindaking badan mung manut karêping ati. (4) Mulya saka kawignyan. Kowe tak-pituturi. nanging samubarang kang ora prasaja iya diarani cidra. bisa oleh kabêgjan kang gêdhe. (3) Mulya saka sugih ‘ilmu. iya iku wong lara. iya iku wong bodho. . iya akeh rêgane. ora kêna tinambak ing rajabrana lan rupa. kapenake uga kanggo wong akeh liyane. kang mangkono iku mêsthi ora bisa nêmu lêlakon kang kapenak. yen nganti ora eling. amargi yen wanita nganti cidra. apa dene têntrêm atine. prau ora bêcik lakune. Kang diarani mulya saka jênêng. Mungguh dalane kasangsaran uga ana patang prakara: (1) Rusaking ati. mula kudu rukun. kudu padha karêpe. iku ugi ngilangake Pangerane wong jêjodhowan. lupute banjur ngambraambra. iya iku wong mlarat. Wong lanang iku lakuning satang. ragane mêsthi iya melu rusak. kapindhone dosa marang Gusti Allah. (2) Mulya saka bandha. lakune prau iya ora bisa jêjêg. mula wong rukun iku bêcik bangêt. wong jêjodhowan. sanadyan tangga têparone iya melu têntrêm. cupêt budine. sanadyan bêcik ênggone ngêmudheni. dadi têgêse. amarga kang padha nglakokake padha karêpe. lakuning prau manut satang lan kêmudhine. (2) Rusaking raga. mungguh dalane kamulyan iku ana patang prakara: (1) Mulya saka jênêng. iku ana ngêndi bae. kanggo têtuladhan marang wong kang padha ditinggal ing têmbene”. mula wanita kudu prasaja lair batine. wong bodho lumrahe gampang nêpsune. Wanita kudu tansah eling yen winêngku ing priya. sarta bisa têkan kang disêdya. iya iku wong kang sêgêr kawarasan sarta kacukupan. Kang diarani tampa kanugrahing Gusti Allah. yen wis luput. Wong jêjodhowan itu luput pisan kêna pisan. ora ngêmungake wong jêjodhowan kang rukun bae. Wong jêjodhowan di’ibaratake prau kang gêdhe. Wong urip kang kêpengin bisaa dadi wong utama.ngluwihi. (3) Rusaking jênêng. duweya jênêng kang bêcik. rukun iku gawe karaharjan sarta mahanani katêntrêman.

mung wajib mangrêti tataning praja supaya uripmu aja kongsi dikul dening sapadhaning manusa. saikine jênênge desa Mênang. uripmu dadi bisa slamêt. akeh kang durung bisa mujudake kapintêrane. gabah kang ana kabur kabeh. mêsthi bae tumrape wong ing jaman saiki ora ana kang kanggo têtuladhan. tampahe diiseni gabah banjur diubêngake sadhela. kaprênah sawetane kali Brantas. Ki Darmagandhul banjur matur maneh. utawa uga ana wong pintêr bisa kasoran karo wong kompra. dene kang mujudake iya iku wong ing jaman saiki. bisane apa. Kiyai Kalamwadi ngandika: “Sang Prabu Jayabaya ora jumênêng ana ing Kêdhiri. Wong ing jaman saiki ngowahi kahanan kang wis ana. kang misesa marang kawulane. pasanggrahan Wanacatur lan taman Bagendhawati uga wis sirna. Têgêse: bêras yen arêp diolah kudu dirêsiki dhisik. mula katone banjur kaya dene ora pintêr. prênahe ing sa-lor-wetane desa Mênang. mung bae tumrape wong ing jaman kuna. dene pasanggrahan Sabda. Saupama ora ana kapintêrane wong ing jaman kuna. kowe aja pisan. Mula wêlingku marang kowe. bodho pintêring manusa iku saka karsane Kang Maha Kuwasa. Yen kowe arêp wêruh wong kang pintêr têmênan. êndi kang kurang bêcik banjur dibêcikake. ngupayaa kawruh kang nyata. Dene yen patilasane Sri Jayabaya ika ana ing daha. yen kabeh mau kapundhut banjur diparingake marang wong kompra. yen manusa iku rumasa pintêr. yen wis dipundhut. Yen kowe bisa mangreh marang manusa. amarga wong akeh panêmune warna-warna tumrape bab iku. sabanjure dipilah-pilah. mundhak kêsiku marang Kang Maha Kuwasa. sawise. iku satêmêne iya padha pintêre. iya iku kratone Sang Prabu Jayabaya. Dene kowe. amarga kahanan saiki iya akeh kang nganggo kupiya kahanan ing jaman kuna. rêca . banjur dadi beda-beda. Ana dene wong ing jaman saiki ênggone katon luwih pintêr iku amarga bisa mujudake kapintêrane. iya iku patilasane Sri Pujaningrat. iya iku rêca kang diputung tangane dening Sunan Benang nalika lêlana mênyang Kêdhiri. mung sadarma nganggo raga. saka kalangkungane Gusti Allah. patilasanpatilasan mau wis ilang kabeh. kowe pancen wong linuwih. iya iku kawruh kang gandheng karo kamuksan”. iku satêmêne pintêr kang êndi. awujud bêras mênir sarta gabah. iya iku candhi Prudhung. awit iku dadi kawajibane para Raja. kadhatone Ratu Pagêdhongan uga wis sirna. ngrumasanana yen wong urip iku mung sadarma. wis ana kang murba. dununge ana wong wadon kang nutu sabên dina. kaelokane Gusti Allah. nyuwun têrange bab tilase kraton Kêdhiri. lan rêca buta wadon. Mula wêlingku marang kowe. wong kompra banjur duwe kaluwihan kang ngungkuli kaluwihane wong pintêr. Dene yen Kêdhiri prênahe ana sakuloning kali Brantas lan sawetaning gunung Wilis. ing kono iku ana bata putih. miturut kaya karêpe kang arêp olah-olah. nanging kang mangkono mau dudu kawadjibanmu. ana wong pintêr isih kalah pintêr karo wong pintêr liyane. Wong ing jaman saiki ora ana kang bisa nganggit sastra.pisan ngaku pintêr. kowe bakal dadi têtuwa.Ki Darmagandhul matur lang nyuwun ditêrangake bab anane wong ing jaman kuna karo wong ing jaman saiki. yen ngrumasani pintêr. Têgalwangi. mung digadhuhi sadhela dening Kang Maha Kuwasa. Kang isih mung rêca yasane Sri Jayabaya. kaya dene wong wadon kang nutu mau. Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Wong kuna lan wong saiki. iku têgêse ora rumasa yen kawula. amarga kurugan ing lêmah lahar saka gunung Kêlut. nuli mung kari ngupuki bae. patilasane kadhaton wis ora katon. Wong ing jaman kuna kapintêrane iya wis akeh. ana ing desa Klotok. dene kratone ana ing Daha. manusa anduweni apa. kabeh mau bisa ilang sanalika. amarga kang mangkono mau dudu wajibing manusa. kêna kanggo pitakonan tumraping para mudha bab pratikêle wong ngawula ing praja. ênggone nyilah-nyilahake bêras aneng tampah. ora kêna ginayuh ing manusa. dene mobah mosik. mangka uripe manusa mung sadarma nglakoni.

Sang Prabu banjur mriksani putri buta mau. ana maneh rêca jaran awak siji êndhase loro.mau lungguhe madhêp mangulon. Dene jaran sêngkêran iya iku ngibaratake wong wadon kang disêngkêr. yen wis jaman Nusa Srênggi. Sirah loro iku dadi pasêmone wong wadon ing jaman besuk. Laren (12) kang ngubêngi jaran têgêse iya sêngkêran. Sawise dipangandikani mangkono. barêng ditakoni. kaya adate Raja ing jaman kuna. yen ênggone yasa rêca kang mangkono itu prêlu kanggo pasêmon ing besuk. Sang Prabu uga karsa rawuh ngurmati. buta wadon banjur ambruk. asmane ratu Anginangin. wêwêngkon dhistrik Sukarêja. kang surasane nyuwun mitêrang kang dadi karsa-Nata. mula Sri Jayabaya yasa rêca. apa dene putrane Sang Prabu kang kêkasih Ni Mas Ratu Pagêdhongan. Sang Prabu banjur paring pangandika marang para wadya. . supaya bisa sirna mulih marang alam sêpi. bisaa mulih marang asale. lagaran. margane saka lagaran dhisik. nagarane ing Prambanan. Patih Buta Locaya sarta Senapati Tunggulwulung. kang akeh padha mangro tingal. nanging durung mati. ênggone Sang Prabu yasa rêca mangkono mau. panggonane ana ing desa Bogêm. sanadyan ora kurang ing panjagane. barêng didangu iya matur kang dadi sêdyane. Kang mangkono iku wis dadi adate para raja ing jaman kuna. Sang Prabu banjur paring pangandika mangkene: “Buta! andadekna sumurupmu. kang kêlumrah wong arêp laki-rabi. Samuksane Sang Prabu Jayabaya. duwe rupa tanpa nyawa. nanging durung nganti katur ing ngarsa Prabu. nanging yen ora cocog. iya bisa cidra. Mula kang dadi panyuwunku marang Dewa. supaya desa ing ngêndi papan matine putri buta mau dijênêngake desa Gumuruh. (11) Ora antara suwe Sri Jayabaya banjur jasa rêca ana ing desa Bogêm. ora nganggo idine wong tuwane. aran Rara Jonggrang”. kowe dak-tuturi. (kaya kang kapratelakake ing ngisor ini)”. apa mungguh kang dadi karsane. aja suwe-suwe kaya mêmêdi. aku iku dudu jodhomu. putri buta banjur mati. besuk sapungkurku. iku têgêse tunggangan kang tanpa piranti. iya ora sida laki-rabi. Bogêm têgêse wadhah bangsa rêtna-rêtna kang adi. muga Sang Prabu karsa yasa candhi kanggo pangobongan mayit. lagi waleh yen sumêdya ngunggah-unggahi Sang Prabu. Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut. kabeh banjur padha andherek muksa. Ing Lodhaya ana buta wadon ngunggah-unggahi Sang Prabu Jayabaya. Ing jaman besuk. mangkene caritane. buta wadon wis dirampog dening wadya cilik-cilik. kulon kene bakal ana Ratu. Patihe Sang Prabu kang aran Buta Locaya sarta Senapatine kang aran Tunggulwulung padha matur marang sang Prabu. têgêse wanita iku bangsa wadhah kang winadi. Yen pinuju ngobong mayit. wujuda manusa. dene Ni Mas Ratu Pagêdhongan banjur dadi ratuning dhêdhêmit ana ing sagara kidul. kiwa têngên dilareni. iku kang pinasthi dadi jodhomu. sapa kang wêruh marang wujude rêca iku mêsthi banjur padha mangrêti kang dadi tekade wong wadon ing jaman besuk. Buta Locaya banjur dadi ratuning dhêdhêmit ing Kêdhiri. prêlu kanggo nyêdhiyani yen ana wadyabala kang mati banjur diobong ana ing kono. Sang Prabu ênggone yasa candhi. amarga aku iki anak dhalang. Rêca mau wujud jaran lagaran awak siji êndhase loro. iya sida diêpek rabi. yen wis mathuk pikire. Sang Prabu banjur paring pangandika. karsaning Dewa Kang Linuwih. nanging kowe aja wujud mangkono.

nama Awastidab. banjur pindhah ing Cêmpa. Ratu Fatimah krama oleh pangeran Ibrahim. kêkasih Lêmumbardadu iya Sang Pujaningrat. wus manjing Islam. pêputra Sayid ‘Ali Rachmat. iya Sultan Adi Surya ‘Alam ing Bintara (Dêmak). nyakabat marang maulana Ibrahim. dicocogake karo adate Sang Rêtna piyambak. dene dhiri iku têgêse anggêp. Dene Rêtna Dewi Kilisuci iku sadhereke sêpuh Nata ing Jênggala. Kanjeng Susuhunan Ampeldênta pêputra ratu Fatimah. patutan saka ibu Sitti Fatimah Kamarumi. [3] Isih timur rêmên marang laku tapa. Cêmpa iku kutha karajan ing India buri (Indo china). isih têdhake Kangjêng Nabi Mukammad. dêdalêm ana ing Jeddah. sukune gunung Wilis. [2] Raden Arya Lêmbupêtêng Adipati ing Madura.Ana kêkasihe Sang Prabu Jayabaya. barêng muksa kasêbut nama Sunan Lawu. Raden Patah (Raden Praba). ing Karang Kumuning Satilare Pangeran Karang Kumuning. dêdalêm ing Ampeldênta. iku kang pêputra Susuhunan Ampeldênta Surabaya. karo Pangeran Ibrahim Ratu Fatimah pêputra putri nama Nyai Agêng Malaka. patutan saka Nyai Agêng Bela. barêng Raden Patah wis jumênêng Nata. amarga Sang Rêtna Dewi Kilisuci iku wadat. Sawise têlung atus taun. banjur kasêbut nama Maulana Ibrahim Asmara. jumênêng Nata ana ing Kêdhiri. aja akeh gêtihe wong kang mêtu. putrane Prabu Brawijaya patutan saka putri Cêmpa kang katarimakake marang Arya Damar Adipati ing Palembang. pêputra têlu: [1] Putri nama Rêtna Pambayun. Kramatruna didhawuhi ana ing sêndhang Kalasan. Kang kêlumrah pambêkane wanita ing Kêdhiri iku gêdhe atine. nanging yen dilurugi apês. asma Maulana Ibrahim. nalika Sri Jayabaya durung muksa. Panênggak Putri Cêmpa nama Pismanhawanti kagarwa putrane Jumadi’l Kubra I. ngêjawa nama Susuhunan Katib ing Surabaya. jumênêng Raja Pandhita ing Cêmpa anggênteni ingkang rama. kêdhi têgêse wong wadon kang ora anggarap sari. amarga kasawaban pambêkane Sang Rêtna Dewi Kilisuci. kadhatone ana sakuloning bangawan (3). Putri Cêmpa nama Aranawanti (Ratu Êmas) kagarwa Prabu Brawijaya. yen nglurug pêrang akeh mênange. Kang ibu putri Cêmpa (garwa Maulana Ibrahim). kang paring jênêng iku Rêtna Dewi Kilisuci. jêjuluk Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’lRasul Amiri’lMu’minin Rajudi’l’Abdu’l Hamid Kak. WUWUHAN KATÊRANGAN. pêputra siji kakung kêkasih Raden Rachmat. Ratu Fatimah banjur tapa ana ing manyura. Dene putra Cêmpa kang waruju kakung. kasêbut Susuhunan Ampeldênta. dadi Imam ana ing Asmara tanah ing Cêmpa. Mula Kêdhiri iku diarani nagara wadon. putrane Ratu ing Prambanan. sarta ora anggarap sari. jênênge Kramatruna. katrimakake marang Adipati Andayaningrat ing Pêngging. Sang Rêtna mau tapa ana ing guwa Selamangleng. katêmokake Raden Patah. Dewi Kilisuci nyawabi nagarane. nama Raden Gugur. nalika jaman pambalelane nagara Bali marang Majapahit. .

1.Sayid Kramat kang kasêbut ing buku iki pêparabe Susuhunan ing Bonang (Sunan Benang). (2) Pêlabuhane saiki aran: “Haipong”. saka Kêdhiri. (11) Ing sacêlakipun pabrik Mênang. (4) Benang = Bonang ing Karêsidhenan Rêmbang. TAMAT KATRANGAN: (1) Kulon kutha Majakêrta lêt +/.7 km. (12) Laren = kalenan. 2. (3) Lor Stasiyun: Surabayakota “Sêmut”. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 BABAD GALUH . mbok manawi ewah-ewahan saking Gumêrah-Gumuruh. Saiki dicêluk desa Ngrimbi. (5) Tarik. (10) Kidul Majaagung lêt +/. (6) Kulon kutha Kêdhiri.15-16 km. stasiyune ing Gurah antarane Kêdhiri – Pare +/. (9) Akire Mênang didêgi pabrik gula arane iya pabrik Mênang. 3.10 km. (13) Bangawan = Brantas. Gurah = gusah. ngrêsiki gorokan. wontên dhusun nama Guruh.

punjul wolung puluh. waktu anyerat punika. amaosa carita punka. saking bumu Galuh nengge mentas praja ji wau. kang sastra langkung awone. ☻ 04 Kang pinurwa Pajajaran Mangkin. araga salimur. pan jenenge Kyai Serengrana. nyanggi talutuh ngalantang. pan si adhi mangulon ngadeg dewaji.☻ 03 Nama samya ingkang sami kapti.Babad Galuh adalah koleksi naskah kuno dari Kraton Kasepuhan cirebon merupakan warisan karya budaya leluhur yang mempunyai nilai yang sangat tinggi baik dari sudut sejarah. ing tahun Be Punika. sampun kari luwung. tahun Be kang hijrah Nabi. sastra ataupun disiplin ilmu lainnya. si kakang kang mingetan. ingkang sami sudi maca. samantuke sang Ciyungwanara. among angsal wolulas dinten nenggih.☻ 02 Awong dening kang anyerat iki. sasi kalih tanggal kaping sanga. ing tawilunipun. pan kalangkung bodho tur langip. lan sampun caket pandam. akathah tanduk kang sigug. Agar warisan ini tidak punah ditelan oleh zaman. pan ora nalasamwa. wau ingkang kalampah. mantrine Sultan Sepuh. kang alinggih Pulasaren. sewu rongatus ika. … umur skeet tahun nem warsi. akatut kang ……. maka purlu adanya penyelamatan isinya agar dapat diketahui dan dipelajari oleh generasi muda. pengeting tahunipun. ☻ . ababaka nagara. PUPUH I DHANDHANGGULA 01 Ingkang rinipta carita puniki. lawan sampun nyaringin nang iku sami. Senen Wage ing rangkepe. poma samya angapunteni. aneng alas Maostikta. kali Ardhangbang awisik.

mangking kombala badhak. ing Nagara Pakuwan. Rara Kandhegkinarha.. kombala buntut sing asami. kang sami amangun. Empretmohe ya ika. kang dadi emban-emban. Ciyungwanara angadedi Sribupati. kang gagandhi ing pilungguhe. angistreni lungguhira. ingiringi pandhe dhomas. gumurudug ngilen wus dumugi maring. Cipamali watesani. godebak bungkul cabolan. sikaki elu-elu. ☻ 06 Wus kapanggih lan Indang Sakati. jimat tunggul payung. ☻ 07 Cantrik Sakati ingkang anami. akadi kulit lutung. iku Indang Gunung Saketi. kang pinangku panembahanira. ☻ 09 . kawula warga Sakati kang uri-uri. sarengga-rengganing praja. Ki Okesa kalawan malih. Ciyungwanara nurut. Babakan Pajajaran. ing waos pangrenyu. ingkang acemeng ulese. kang kocap ing namane. Pajajaran sadakti. ngilen kali kang Ibu Dewi. ☻ 08 Wus rineka jati pangupami.05 …. kang arjane sang nata. kang ginawe rontek buntuk monyet dadi. arjaning sapaku. dawuh jengjenan kadang. sinawung galih liniga. umbul-umbul kulit wanara. sang Ciyung angadeg Ratu. lawan wau kadangira.

kikitiran ing pucuking lingga sari. rai awujud buta. sok lutung kidang ika. …. gelap pon sami ngulun. purwaning abal raja. sangkep sami kaprabone. ing siang lawan dalu. riniyung ing sagung. pasar ageng pan samya suka ing ati. sabawaning ratu susupaning wasi. ☻ 11 Yen bondanan pandununging…. tampingan gunung arame. kang tharokthok egar kapati. Wus gemuk. Maha Raja ing Pakuaji. jurig dewa mambar. sundari alas langenan... ingkang murwa sagala jagat. ☻ 13 Ajar Padhang ingkang dukmadhemit. angintali barat angabdi. kang winangun … unen-unen. pangrampiging menak Cidahur nyungkemi. jemegur yen kaginan. lir kang estu ajar padhang. gemelane reyog ngimba sraya. rarakandheg mila dadya. warna rupaning sambawa. marapit ing …. iton-intin liwurkali. pan jumegur lir mariyem kang swara. Sang Nata. Prabu Ciyungwana.Payung agung kulit maung kuning. dumadi praja gung. kang ngaolatingkah negari. ☻ 14 . agenging kawula bala. ☻ 12 Kang mambangan ules gumaringsing. rame kang surak-surak. purwa sing Cialur. padha icep bal makabe. kidung sari baung. ☻ 10 Andrawina kang kawula alit. ing Pajajaran tanggale nuli…. ing sadina-dina rena. sato-sato kang bisa akata jalmi. ical jenenging wana. dhog-dhog byos pan dharugdhug. kebo bule bungkul kang pancal pat. dhasar masih sedhepan daging.

lembah dhuwur lan pintu tundhaga. isa baisa Dipati Alurcenang. Ki Ardha mangun gen trahe nenggih. anyepeng para gul menak. pan acaos basa ing aji. angrekuricak cepenge. dupi ingkang kang nama. anyepengi putusan pra padungapti.Datan roro tetelu ing kapti. Pasowan panggenan aji. kang kepering angi … puraken gunung. pasisihan utawi manca nagari. sadasa sami prapta. limbung aning guwa santang. Demang Elu-elu. Kikandhuruwan babalban. andhum wancinipun. ragemragem mariboting sih. cina Sundha kawilang lilima. ☻ 18 Ki Tumenggung Sayoga nyepengi. ing Pahing dintenira. ngajangaken alun-alun. saha sri ing samandhepane. …. amegeng sewakanira. pan sirnaning ratu sukma ing pati. ing Pajajaran suude. ingkang kacepengan dene. ☻ . nengenaken sasagaran giri tasik. ing Sundha ginunggung. cekelan mangun gentra.ing sawancinira. anyakra kapatiyan. dine Wage jaganira. rang-orange jinunjung inggil. pating rangu rangu Sundha. seja tuhu genya karsa angabakti. ☻ 16 Sabandare sing sabrang sumadhing. ☻ 15 Mangunaken sagung kapurati. gul menak umbul adhu. ing bener lawan salah. paningadhun sang Bima larang. 17 Pan kapati kang duweni manis. santana kinabandu. …. ngajengaken bomanta. akidang kandhuru. amageng kawicaksanan. Sri Jampang sarta jinggine. ing ayunan sang prabu.

sinaroja umbul. dhalem Rangga Pakuan. sang dhang bana Ujung kulon wus anungkul. dalem ingkang kunakuna. naklukaken para umbul. Pasir Adu Pulangdhang. ing ulu balang wau.paning. dhalem demang kangene. ☻ PUPUH II PANGKUR 01 Angir-angir ing buwana. samya ngidhep ing Pajajaran angapti. dhalem Pakulada dhalem Pakuaji. kukuh ing pat Pakuan. sindhang kasimanut. Sendang Cibuntu ing praja ngapti. ☺ 03 . para dhangan pasir panjang.. pangaline rara nama Mundhing Jamparing. sura sowan sabrang pati. prajurit ing sawancine. sampun mentar kalawan idhine pati. sungga watang sarampang bandring.. ☻ 20 Ing Ciwindu anteng …. kidhalem kuwu agung. para idhang kang primanca. lan ki dhalem Cintangbarang. dhalem Tepus nalika wong kuna ing Raja…. Kalibadhaglolopak.19 Kang Ngabehi Lempretmonge kang jagi. dina Keliwon cinepengan. nalika binathara. nagara urut pesisir. kang kinarsa angirupi para ratu.☺ 02 Nyata sang roro ponggawa. lan kang namane sinebut.

ing Pakuan Pakuaji. dhening prahara lautan. ☺ 05 Amung siji ingkang nyelap. apa maning sang dhang Jakerta panadhun. ☺ 06 Kocap bala Pajajaran. ingkang ngambek sucira angrasawani. Jepun kulon gumulung. Ujung Maladha. bala Sundha ngadhaning rangseng padha kawur. pirang-pirang ambalan tan budhihi. tiba ing sawah-sawah. Raja Mongkara. iya iku nama ratunipun. lir walang kawur prahara. sang Srijunti sang Kalana Kandhanghaur. pirang-pirang bala maju. aneng Ujung Batagonggang …ipun. Menak Lampung sadasa kang ngapti. ☺ 07 Wong Sundha ingkang prawara.aji. daman pangunjung tanah. Palimanan Carbon Girang katiti. tan maju kadhadhak kawur. manglkana sandhenging wani. Jograt Lantan Tawangpadhang. ing tetelar aniba pating talumpuk. estu tan arsa kedhepa. ☺ 08 . Karawang lan Ujungmilir. tanpa sangkan breking angin. dhumateng sang Raja Ciyungwanara Pajajaran. sadasa akedhep samya. seja lurug dhatmakaning kulilip.Banten …. ing titah …. Indramayu lan Kondha. ☺ 04 Losaribang kulon miwa.

enggal pan sira alaju. pan pinanggih lan Sindhang Mongkara aji. ☺ 09 Nadyan …. pusaka sang Prabu Galuh. ☺ 13 Padha bae suwaningwang. ☺ 10 Puniki bumi Pasubdhan.. apa bidhane tunggal enggoning bumi. adhuweni buwana. ☺ . amisesa sasigar Jawa. sira ingkang selang gumun. padha ewong ambeneki. lan jajal. ☺ 11 Kukubaning Ratu Sundha. ambeg sawenang-wenang. yaganal pamuwusipun. anubruk dhateng sang aji. wong Kajiwa bumi re gelem nyangkul tembene ya ing amendhak. den age caked…. kang wus merad susirna.. iki kang si rajeneki. Lalangkara ewong dadi kulilip. Badhak Lolopak jal Kidang. datan ana wau ingkang ngucili. den ora gelem anungkul. ratu mung ngaku kewala. budhi kethek napsunira kaya asu.. ingkang kadhang raja iki. pan buwana Dhangwinta ingkang ngawangun. lawan Anglangkara ratu.Salamine ing ngayuda. ana jenek enggon kene sira iku. apa gawe si rajenak ing riki. mangkana Ratu Sundha kang dhadha susulur. dhen dhadhi kulilip. …. ☺ 12 Raja Mongkara panabda. ya para age bu………. anila bimi ning angin. kang ora suka. sabab bareng rereping kang lisus. yika Badhak lolopak. la iki kene apa. ingkang estu warise juragan Ahing.

binalangaken tebah. ing Munting Jamparing. kawur si Badhak Lolopak. api-api saha ngabdi. mila Dhikbo samana. colongen ika kang tuhu. aja sira papa … iku. mangsa suweya sasakti. ingkang kaparing …. anyepak maring kang musuh. nuli prapti ika wau ingkang lisus. ☺ 16 Tan kena aju narajang. jar akathi Indang Gunung Sakathi. kabereg-bereg ing agin. kang dhen wadhali Beruk Kalapaciyung. anuli sira den cawuk. ana ingsun ya negari. ☺ 15 Dedupak malih kapental. ingkang mangkono ngadheg anyar. ☺ 18 Kawula nana ngendhatna.14 Sigra sang Raja Mongkara. den balangaken …. ☺ 19 . Kontal Badhak Lolopak. ☺ 17 Ora kaya Ciyungwanara. niba tangi anubruk mali dencawuk. semunira karsa angadhoni ratu. kasektening Mongkara wantuning. balikan sulusupana. tiba tangi ngudhak maning. yen wis kanggep tungkuling wong aurip. matek mantra dhal emesal menginggil. putraning Bramana Laut. ora meneng-meneng abalik maning. den wus kaebut kang jimat.. ing Kahuripanne raja.

Beruk jimate Mongkara. sinerong ing amukan. ☺ 23 Dug Munting Jamparing.Yata munting Jamparing. … jejel paring pitulung. Raja Mongkara mudhidhing. lami rowang anyekep marang sang ratu. andhawuhi kang udhan krama. kondur dening Badhak muring. saka tiyang amba …. yata kang bala Mongkara. pan Silepe saking wingking. lumaksana sawisiking Yangnini. ipun. ☺ 20 Katur ingarsaning Ingdhang awan. Munting Jamparing lawan. papaning bala mapan saolih-olih. tan adangu Indhang Gunung. pan satengah pejah den wali-walik. bala Mongkara kokalan. ☺ 22 Raja Mongkara naraji.. pan gawa minggal tumuli. Badhak Lolopak sampun kawalik-walik.. watara satus dina. padha soroh ambek pejah. Raja Mongkara sira. bala Pajajaran kondur. Munting Jamparing angadhepi. ☺ 24 . satengah pejah dhen pupuh. …. wus uninga pancing surupe Yangwiku. ☺ 21 Ramya ingkang pancaraga. gumarudug anusul …. ing Batagonggang angulun. maring panusuling musuh. wadya maju Badhak Lolopak alaju. wong … angladosi.

pan iku karananipun. Ki Arya Munting Jamparing. Raja Mongkara dhen asandhangi dhata tangsul. yata prasami rinebut. gara … gara wangi. ☺ PUPUH III SINOM 01 Iya iku purwanira. wus andhepok ing sihi tanpa sakti. ingapingan jeng nini. basa Sundha kang panuji. ♥ 05 . mangkana arsa aji. sastra Sundha kartajani. Sundha sari Sundha lengdha Sundha larang. Raja Mongkara sampun angangya sewaka. lan Arya Badhak Lolopak. timbul salir wirasa. gara aji gara pagu. Kutha Manggung Kutha Raja kutha Gara. dhumateng purba nagari. ♥ 03 Lan rarasaning manusa. lintang saka tipun niku. Lalopak lawan Jamparing. iku ingkang sawiji. kasri ing babadhanira. ngamperi rarasan sabrang. Kanjeng sapta loka. gawe ewag saking Jawi. ♥ 04 Kutha Larang kutha Jampang. Ratu Agung Sundha sakti. olih gaweyan manca nagari. gara jaya kang …. miring Prabu Pakuaji. ing bala Pajajaran. gara tengah gara jati. kutha Idhang apa maning. Sinungan lenggah arya. … tigang prakawise nami.Angeles lumpuh entro raga.♥ 02 Aturing kang para … kawitan. kali prakwise nama. sastra selawe gumelar ya ing Pasundhan. Pakuwan … Ciyungwanara.

♥ 06 Bantarwangi Bantarpanji. kang nama rara Cunggilis.Sundhawestu Sundhasana. Medhangrasa Medhangterik. ing kadhaton dhalem agung. lawan Medhangkawiraja. pitung prakawis anama medhang kamulan. Medhangko … sajati. amung ika wanodya. Bantaraung Bantarjati. Ujungtana Ujungbarung. nem prakarane ingaran. Raja Galuh Raja Cingcing. Sundhalayang Sundhajahi. Raja Jawa lan malih. … putra jalu. ing pura Sundha negari. ing wuri-wuri jati. ing Pajajaran sang aji. ♥ 10 . ingadhang agung ing aji. lawan Ujungkandhi. Raja Larang Raja Dhanu. ♥ 08 Kang kasebut ing paparab. Ujungkulan Ujungbumi. Raja Kowek kalawan. lan gangsal prakawise. kang pinangka prameswara. lawan prakawise nama. Sundha Amalatra. ratu Cunggilis krama. garwa padmi saking Gembong arah wetan. pinutri-putri ing nata. ♥ 09 Putri Purbasari mulya. dumadiya turun saluraning raja. Ciyungwanara wus mijil. karaname narpati. putra estri kang paparab ing arja. Raja Wetan miwah malih. Bantalwaru Bantalwire Bantarjaya. Ciyungwanara pakolih. gumelar rajaning ratu. ♥ 07 Medhangdhatar Medhangpala. Ujungkembang Ujungsemi. … jayeng aji. sapta loka wus dadi.

♥ 13 Martingtrim Merkedheng lunta. putri saking Bangbayang. kang miyos saking narpati. gabuk ora amutrani. parandene oranana siji laksana. kang kekasih iku Jeng Dewi Anjatan. prandene … yakeni. agagarwa saking bebeting Bramana. tan ana leksanannya. dupi garwa sembar ayu. sakaliye ing gigabug tan aputra. akathah ajar bramana. ♥ 14 Ing Pakuwan pinakrama. wus angapti maha dewi. Markeseh ingkang yumanibini aji ing puri. wonten malih kang putra. dreman ing sabronjotipun. ♥ . kang jinalukan jajampi. ngalap garwa malih milih. kagarwa dhening nata. usada … wus tepung. parandene tan mutrani. nanging boya amiyosi. nami Dewi Tingtrim wawanginira. menak Cicilutung gelis. … kagungan waya. gabug salami-lami. iku kang Pajajaran. ♥ 11 Lan Dewi Markeseh kembaran. sanget kaul-kaul mambri. sang korone becik-becik. Pajajaran kaliyipun. dinama-nama ing marma. Martingtrim ingkang yumani. esi tan kena tinedhu. ingkang tedhak sisiwi. Sundha ora nana maning. ika putri Purbasari. ♥ 12 Mila … Banghayang.Putrining Ciyungwanara. nuli sang Ciyungwanara. sang Prabu …. komalaning dhalem pura.

ingkang ngadining-ngadenan. dening karsaning narpati. ajumbula moning angaksi. ♥ 19 Purbasari lan kang rama. kereronce kereampit. ♥ 18 Dugi maring pabarisan. gawok kasri nalendra. judhipatnantang weri. dereng karsa alaki. sapalih ngapti ing siwi. suradhadhu sarabang. katur ing nata Pakuwan. ginawa ing sang aji. iya orana siji. … kang upacara. ingkang amiyos sinunu. nami Dewi Kilikmangi.15 Putri saking Kandhanglarang. tan kenging dipun purba. supaya wadon lan lanang. sang Prabu Ciyungwanara. cathik-cathik raja peni. jajampi sing ngenda-endi. sapaliye Purbasari kang ngagem. yen tinaros banget lumuh. saparoning pribadi. krajahan dhen palipur. para ratu kang karsa … lesan. rinegep sari ngumining. ♥ 16 Lir ta selirnya marapag. sinedhepira dumadi. datan miyos putra. mapan mangkana agabug. saparo ing sunu ayu. ora nana ingkang darbe laksana. ♥ . Bawatciyung Naga Sakti. langkung kawandasa sasi. Bawatbenggi sari Manglar. judhialiman sang dhekur. ♥ 17 Saluraning Pajajaran. dhadakpulur wigalba wiragalba. Purbasari wadon kang winadhang-wadhang. kadi kembaran narpati. dening mung kalethek siji. mila saderenge lalis.

ingkang mara-mara kondur. Budiwati Budiminging. ♥ PUPUH IV KINANTHI 01 Sagung papalisanipun. Budisari Budigolis. rong prakara ingkang nami. kang akarsa samya balik. padha mengga ing ngalama. kang arsa sewa panglami. akeh kalesan balik. sedhengane dewa aji. Sokapura Kokaaji. Budipandhang miwah ika. Luwiladha Luwidhingding. sapta loka pari mina. nanging datan den pidhuli. saking kang rama narpati. ana baliking dhalanggung. ☺ . rada melang-melang kapti. ☺ 03 Luwilaja Luwilidhung. telung prakarane nama. bok sang putri kencok aning mamala. kang ingarsane si rara. kapepes ing tan kaconggi. ingkang mara-mara balik. Budirujit … Budi ….20 Pirang-pirang kang sewaka. ambaka … pikulih. ♥ 21 Ajaja sipating jalna. sing sabrang saking Jawa. ing ngarsane sang Dewi. Prabu Ciyungwanara. pan mangkana wangun mali. padha mundur mulak ora tinampanan. ☺ 02 Saprakara kang sinebut. Luwiseeng Luwimundhing.

kng simaan rama aji. nem prakarane kang nama.04 Sokapolang Sokaratu. sokawiyana lan malih. pitung prakarane kang nami. Sokanegara apa maning. sabdamenyat Sabdawangi. Sokamanah miwah ika. Kawunginten Kawungsari. Jeng saputri Purbasari. padhamatang lawan…. padhapenah padha bongor. patang prakarane kang nama. limang prakarane kang nami.. ☺ 05 Kawunglarang malih ipun. ☺ 08 Sampun ing kadya puniku. Kawunggehe Kawungomas. padhareka padhamuraging. miwah ingkang Sindhangkasih. ☺ 07 Sabdalarang malihipun. Kawungluwih Kawungaji. sindhangayu Sindhangaji.☺ 06 Padhamuhi padhamadhung. ☺ 09 . Sindhangkempeng Sindhangbarang. dumateng putri Pakuwan. Sindhangwangi Sindhangpala. dupu rangga kapatihan. Sabdanawa Sabdasari.

☺ . Cionje lawan Ciori. mengulon iku kang dadi. Lebakwangi lan Cikuwang. ing sapandum-pandum nira. Karapu Yudanegari. ☺ 12 Cikendheng lan juga Cigintung. Ciamis lan Sokapura. Makber lan Cipamali. Ciyungwanara ingabdi. 13 Purbasari kang amengku. Kuningan lan Sindhangkasih. mangetan jajahan istri. Menak Mangun … praniti. Menakwacacayan istri. Cikandhang Cicaridhangan.Dupi ingkang rama prabu. lamun pajajahan istri. Menak Pakuwan ingaran. Panjalu muwakawali. la iku dadi laluri. salwe princi kawilang. dupi sing kalih bayabang. prawatesanipun kali. Ciakarwangi katiti.☺ 10 Rang-urange pandumipun. teka ing satedhak-tedhak. Cibarangbang Cipaburi. ☺ 11 Cikaso lawan Luragung. Mangunkentra rada …. dening Arya Mangunkentra. iku sun dak sigar wetan. pusaka kawuri-wuri. ☺ 14 Bayabang kali Cilutung. Cigugur lawan Cirayap. pusaka kawuri-wuri. sapure kang katiti. raja Galuh lan Talaga.

Sawung … Gantilah Munoro. karata gampang pangulatan. Ciyungwanara apa maning. kang angresa hawa aji. laluri ugi salami. ☺ 19 Wus kukuh kang bala ratu. ☺ 17 Manonjaya Garut Ciaur. ukurlantara Juangin. Menak Pacacahan lanang.15 Pasawahan ramanipun. kang sarwa tinandur dadi. ☺ 18 Wanabaya Cibalagung. Cianjur Kujang Limbangan. ing ngarsa Sri Pakuaji. sang Prabu Ciyungwabara. kang nama Menak Pradhangan. ☺ 20 . Sumur Bandung Sunedang aji. Kadangladhang Pasiraji. Ujungkulon apa maning. jajahan Sundha nagari. Bogor lawan Kanjapura. Tegaluwar apa maning. Cikokok lan Nungkalaya. Sokowiyana lan malih. Batuwalang lan Biribis. ☺ 16 Pon salawe princi umtul. sigar kulon sun dapuri. wengkuning Arya magentra. salawe princi kawilangan. ing pajajahan angabdi.

Bojonggaluh Bojonglapang. mangkana kang prameswar sinung cacapagunungan. ☺ 25 Paindhon kang winalungun. Parakatan pawestri. Indhujanten Indhugirang. gunung Lajer gunung Kelir. jeng pawestri Cunggelis. Anjatan lan Giliwengi. Tegalmoto ingkang dadya. Indhuraga Indhusari. Indhupari Indhuaji. dhupi sang jeng bini aji. agung kacipta dumadi. ☺ . Paraketan nini aji. sinung pobojongan menggih. ☺ 23 Bojongmuntas Bojongwindu. 24 Tegalmenak Tegalbaput. dupi maha Dewi Sundha. maringtrim Merkedheh mewah. 21 Sami sinunut cangkohipun. Tegalkolot Tegalpakaji. kang sinung sasapan indhi. dhupi iku aneng ana. Parekatan bini aji. nuli ika garwa lima. Tegalgubug Tegalkunyit. ☺ 22 Kapituning gunung wupu. Parekatan iku Sundha. Bojongnerwasa Bojongleppit. Bojongrentan ingkang dadi.Sakalir karsa kadulur. sinung sasapetegalan. gunung dhukut gunungsira. Kapitune Inddhujaya. gunung Ga Gunung Licin.

waneh ingkang leletana. ing Pakuwan ikut yakti. 31 . Lebakpanjang Lebakwangi. Lebaklawang wus dumadi. mila-mila kawisesan. iku rerekan Pakuwan. kamukten den bagi-bagi. maring bumi ming narpati. 29 Mula akeh menak umbul. ☺ 28 Temah dedeake Ratu. ingkang satta sabumi. dhupi Pakuwan Marinci. ora selang surup apti. Lebakcenang Lebakcehang. bedha lawan Majapahit. anggelar enak ing urip. ☺ 30 Padha among sanak sambung. dening kang padha anyewa.26 Dupi ingkang Dewi matur. kang kanggo salami-lami. Lebaksidhu Lebaklenggar. angreka sabagi-bagi. prasasat den prenca-prenca. ☺ 27 Sawawasa prati umbul. sinung palebak kalepti. golong sapurba sasmaya. kasilane den remani. kinalilan purba bumi. waneh kang campur wong sabrang. mangkana adat Pakuwan.

lelemes buwatan sabrang. pagantang pajeganipun. yen wis padha ngundhuh-undhuh. ☼ . kethang prunggu kang sinundhuk. kus jembar kahuripane.Sewa aning paken agung. iku Ratu kang dheres. pamule pegantang salir. ☼ 04 Palawijaning wong cilik. mung den wis panepadha. bendher den cap sastra Sundha. wus dadi anak Pakuwan. pamajeganipun gula. ing tatali karompyangan. kang sabandar pajeg ira. anut maring kasabpolah. pamajegane gugubar. sailing-elinge padha. mangkana kang lurah wana. tangu gegel ing majikan. pamajeganing pangumping. sawah tan mawi lalanjan. atur catur baktinipun. babakti ing majikan. ingkang lumampah ing Sundha. ingkang mawa tatakeran. ☼ 03 Bolong-bolong kaya dhuwit. ☺ PUPUH V ASMARANDANA 01 Ki Lurah Rawaprasmi. Ki Lurah gurupadha. kekendhangan kang isine. den elus sakamya-kamya.☼ 02 Ateka yu kang lumari. tukang maring pajeg trasi. ora nana pajegane.

reiku kang kinudhang. besane lamon kinuwu. re kang putra samana. Purbasari naminipun. tan ana turun tedhakan. akarsa ing sang rara. pinardhi ingwang tuwa. ☼ 08 Wus pirang-pirang pamuji. turunanira drapona. marna bangsa raja. mingkung dhatan arsa krama. sumadi isun akrama. japa mantra lan istiar. ing Pajajaran tuwuhe. ☼ 10 . ing salamine amurba. kewuhan dening kapadha. kang karsa dhateng kula. sanadyan para nalendra. ora nana kang misata. dhupi iku teka mingkung. winadhang-wadhang wiyose. tan arsa akrama ingong. manahe Ciyungwanara. sang nata sanget gegetun. ☼ 06 Wanti naros ingkang yudi. tumon adate kang putra. ora nana kang tumama.05 Warnanen sang Pakuaji. wiwiku lan ajar-ajar. ature wau kang putra. ponora tumama kabeh. tatambah wus mider tepung. ☼ 07 Kaul alukan mati. iku kang dadi pegele. ☼ 09 Kalangkung bebek ing pikir.

mila sanget kewuhane. ing Prabu Ciyungwanara. Purbasari dhuk sabda amit pejah rama prabu. ☼ .Du uwis amung sawiji. tumanga geni sakala. lan Arya Dhagdhagase. jasad kawula sanggine. wuku pring apilar wangwa. dupi den lumuh krama. saking anagara Tuban. Purbasari inggal mangun. kang asresewa panglamar. ☼ 13 Ruru bae anggonturi. den nama kumudu-kudu. wus loba tanpa wilangan. lir baronggong beledhoge. lan Dhipati Singgapura. wadon tumuli mangkana. 12 Saking sabrang Raja Kelir. lawan Dhipati Japara. den kula pinardi krama. turunan lantaran krana. temah puthes anak putu. lawan Arya Balangbangan. kawula sumangga pejah. tumpes aja katingalan. enggone nari kang putra. marakbak kagila-gila. ☼ 11 Ratu Sabrang Ratu Jawi. ing kadang ing ngakin. kang dadi bebeging manah. iku dhipati Manglewat. lawan Dhipati Cidah. sakabeh ika padha. suradil pan titah raja. anggondhel prakara iku. tan kena den palar mangke. ☼ 15 Alum kula anglabuhi tumangan geni sakala. ☼ 14 Ageng ilur sundhul ing langit. dhadhak sakala ika.

ing kamukten padha uman. sing purwa teka daksina. nini labuh geni sira. atemah boten mambu. sasada susut den wis waya. ingson kang urip dawa. kang dados sakiting manah. sipat matane si rama. padha bareng mukti kabeh. ☼ 18 Rasa kang sampun binukti. boten memper dhateng rasa. anak putu den arampak. sang Prabu Ciyungwanara. mundure tut sausap. sanadyan nama sihing rupa. istri kang kabobongganan. way kalereng anggepok. wirang nekaringgit ing jasad kula. lan anak putu den rampak. angandika aja babu. anunggoni anak putu. ☼ 21 . kang dadi ati ewuhe. mila kula angedados. ☼ 17 Jaler punika kamangi. mongsa pira gesang. ajur kula dados awu. ☼ 19 Lan aki sumamung aji. mung sira tan ana liyan. sama dening kula wirang. kaprawasa dening priya.16 Sumandika umalaki. purnapa awu sahana. den sampun gepok ing rasa. tan kangkat to nandhang. ☼ 20 Babarayan ngadek aji.

masih munjuk kang dahana. tan kaya dening dadaman. nanging ika tumangan. karanten dan mangke tulus. ora jamak lan manusa. den jeng rama sampun asung. mintuhu sakadikane. Den Purbasari medho. tan asung pinancas parum. kawula kelangan anak. amangsuli kang anggondhel. maredheng … maksa. tan nilapaken rama. sak akal budi pandaya. prandene den anakake. wawadine kayak iku. den kula pundhi kentasa. ☼ 26 Ika iki kangngangking. den sampun bubudayan. tinaros mangsuli iya. utawi kaluncurane. 23 Sang Ciyungwanara aji. sesaengek jamak wanudya. kang suka punika rara. ☼ . Dewi Purbasari girang. ☼ 22 Den pinaksa alaki. ☼ 25 Ciyungwanara mangsuli. tinari laki popoyan. dados awu lelebaran. mangke kang dados parenge. sang putri juwala purap. nuli ika temahan lampus. jamak istri asasdhu. kang geni gupak cawisan.Mangkana prangregep mami. ☼ 24 Mangsa wontena pawestri. mila tumangan masihe. sejane labuh dahana. karinggi awak kawula. kang rama kadi mangkana. amung siji anak kula. raja-raja atas sabrang.

tapi punika satuhu. kita sami medhek sowan. ya tetelu aturku sajatine. sasampuning geni urut. raja rama Ciyungwanara. rempage kadi mangkana. kawula dhuluri. ☼ 29 Panuhun raja tas angin. ing cilakane awak. kasabrangan pan sadaya. ing songonging kasabrangan. sing ngakenggep ing babajane. boten dados pana sarana. gih punapa karsa putra aji.27 Raja sabrang mangkeya angling. dipun jemba ing pamuhung. maketen ugi ciptane. tumangan kita pri pejah. ing adat tabidat Sundha.® . boten wonten roro. nanging putra sabrang kabeh. saduka-duka kasuhun. kang boten kanggep sanjata. munggi kang rama lila. ☼ 28 Ling sang Putri Purbasari. sak lilaha ing jeng rama. ☼ PUPUH VI MIJIL 01 Ya Prabu Ciyungwanara mangsuli. ☼ 30 Bilih boten angrakepti. rumuhun kita lanat. sok dadiya arju. memanten dados ing karsa. andhadhanr untunging awak. anuhuning palamarta. aweyos geni jatine.

pan rama ing uni. lagi laut kang jro jembare. lan dipun langeni. dhateng saenipun. ® 05 Raja-raja sabrang aturnya aris. tan wonten sosolot. 03 Kula tempuhaken lawan nalisip. nuntenweleh geni boten moset. adhining asakti. ® 06 Ingkang letak dadi pujajagi. kula dhugi wonten nyurupi. sampun kadhalangsu. kang atos inggih dipun linggis. mangkana kang inggil. panedha kula ing sadayane. punika kang dados. kenging ugi den silulupi.02 Sampun nelangsa ing salasa tunggil. dipun sengget runtuh. ® 04 Heran kula ika geni. para putra sing ngatas angin. kalawan parahu. dede geni pranti. kang suker tinatas entong. karanane punika kang geni. manther angger tan ana surude. gih cobi kemawon. kaduk mahinggurut. bilih putra mangko. geni lawan toya musuhe. ® 07 .

rurubahing ratu. reka-reka gatos. wane gobakwari. ting surakata ing sahakale kabeh. kocapan sang katong. Prabu Ciyungwanara sahure. ya sang Prabu dereng nampani karsane. kahula kang nguning. kawalahan anglaladeni. ® .Punika malih wernine kang geni. dening ewuhe putraneki. kang sadya patakon. bumi metu banyu. warna-warna katon. gampile kang mangko. lumuhe tan apti. akal sabrang ing sabagi-bagi. gawe pongpa kang anemburwarih. maring kang ngamambri. ® 08 Ya ta raja sabrang ting padhigdhing. dhateng putrinipun. ewu mana para ratu. ana gawe banjir. 09 Ana gawe banyu janantrawis. ruru bae wus anjaladri. kang anglamar tiban sampire. dhateng saenipun. pangumbuk-umbaking. banyu pecut kang munjuk mancure. la inggih sakarsane sami. ® 10 Sigegen ingkang sabagi-bagi. kang murut mrangmong-mong. ® 11 Sya kathah kang para bupati. sisrate mancur. ® 12 Ing alun-alun wus dadi ukir. ya sang prabu Ciyungwanara jatine.

maring putri kono. ® 16 Dalem Ujungtanah kang panggapti. ® 14 Sakapate anjum aminta kasih. ya prandene tan kanggep sawakane. buta ngengenggo apa gawene. ® 17 Dasa rupa merat sampurna lalais. la ika duk pahor. ® 15 Parandene ing putri den tampik. den panjer dumadi. dedenira jeng putri anampik. ratu papat iku rurubahe. lan gawe tahinipun. enggo apa sakti. Palimanan kalawan Junti. ing praja gung kono. Sadhajenggi matur kasaktene. sayajenggi lawen manggi kardi. buta geng asiyung. ® 18 . musuh datan weruh. lan putri ajodho. enggo apa thongsot. Ujungtanah malih. kaya kuwi niku.13 Kang wus sewaka kulina ngasi-asih. aneng kene anjejemberi. lawan Kandhanghaur. den panjer dumadi. dhalem Palimanan wau sewakane. la den nemu gawe ika nuli. gewe ingkang tewi.

ing putri den tampik malih. dening putri tinampik malih. saktine den manggih. wohing lir kulite. wohing rarawe lir wulu kucing. rasukan kang poleng. ® 20 Jajar-jajar kaya gethek ramping. bubuhayaniku. esak-esak katon lawan katon.Merat-merat apadu menesi. anyiluman kidul. ® 22 Dalem Kandhanghaur kang pangapti. kang ulese loreng lir kulite. sakti kaya bellis. la saka sanake. parandene tan kanggep sewakane. ingkang kaya iku. ® 19 Dalem Munti ingkang pangupami. anganti kang buhaya jiji. enggo maning. parandene tan kanggep sewakane. ora rerengkono. baju kaya ikut. buhaya tan untung. ora sudi mami. endah rama malih prahuake. gawewan rinusak. kang walira katimaha gawene. la den karsa lulumbaning tasik. dateng putri kono. atur karsa kang akon. ora papa mungguhing mami. binuwang dumadi. nangkono den panor. 23 Nuli katon macan ageng wingit. enggo apa sakti. ® . ® 21 Gigilani mungguh ingsun iki.

dupi iki yawis teka dhewek. datan ana kang kanggeping putri. maun padha iku. nanging kersane sang Prabu. ® 28 Gemenana ing kawan prakawis. iya saking iku. jalma nyarupaning. nuli dadi dato sanepane. ingkang kawan warni. iya Endah Kitarawati. rang-urange gupuh. gadha dalem pakuncen kang gedhe. ing gedhong kilempong. ® 27 Ana gunane ing sawuri-wuri. ® 25 Ora layak temen mungguhing mami. amung kita darma ngopeni. pramilane Pakuwan darbe asakti. ya ta atur-atur balik kabeh. ® 26 Ciyungwanara mgadheg pangabekti. Purbasari apik. tan kaserep ing putri karsane. sakti kang samono. esak-esak ewong. bok menawa besuk. jingika kasaktin. simpenen kepati. ina temen mungguhing mami. sanadyan tan kanggo. ® 29 . ngulatana ayo.24 Dadi macan apa gunaneki.

duga kaya udan ribut amalabar ingkang banjir. dalem Kandhanghaur. sareka budine entong. saking Juntu tudu pinangkane. sada kang den enggo. macan cipta saking. Ujungtanah pasthi. iya saking Palimanan asale. ® PUPUH VII MEGATRUH 01 Kawarnae ingkang padha sungguh-sungguh. warnanen ika sang prabu. nyipta buta ijo. den panjer dadi ing wiyange. sabrang amateni geni. ® 31 Telung prakara Pakuwan bangkit. sadaya pangngabakti. rong prakara ing Pakuwan bangkit. patang prakara ya bisa dari.© 02 Banyu singsor sing dhuwur padha maribu. ora katon dening. sing lor sing kidul sing kulon.Saprakara Pajajaran bangkit. ning mongkara windhu. ® 30 Kadi merad sapadhaning lalis. Pangroban ya sakti saking. cipta buhayangon. rebut dhingin den dhingini. © . pambereging musuh.

ratu sabrang nyata wadon. iku dumehne wong wadhon. © 06 Kaparimen yen wis geni ora purum. prandene kadhuk asanggup. prandene pating padhig-dhig. tan bisa meteni geni. kaduga pitung bengi. urube angger tan gigis. banyune cabar cawiri. surake kang para aji. © 08 . gumuruh sorak bala wong. sumagar ngarepi putri. © 07 Saya santek geni tinuruwan banyu. geni manjer tanpa surud. © 04 Ladalah rekaning wong sabrang gathul. maring genining manon. angraba kena ing banyu. naging tan bisa mateni. iku geni ngisin-isin. wong Pajajaran gumentur. prandene tanmigateni. tan ana endhaning banyu. © 05 Ora pira budine pating dharug-dhug. raja sabrang kaliwat ing sor.03 Saking wetan campuhe wau kang banyu.

iya ana kang nyumurupi. Ciyungwanara duk angling. © 09 Kawirangan dadi sira padha ngandhu. seja amateni geni. dangu-dangu ika warih. kang anglosot anganjerki. lema dadi wangwa geni. © 11 Duk angandut nuli ana ingkang laju. prakasa raksasa gasik. © 10 Purbasari genine patut den iku. © . niyat sami tur garumbyung. la iki intening wadon. © 12 Dalem iban Palimanan lanunipun. iya bener ing sang prabu. dadi buta sada iku. prasami apikir-pikir. ora yamane ya ewong. budi rekane wus pokok. mundhak dadi urub-urub. saha kala akalengkono. dadi wedang mulak metu. © 13 Angurugi geni wus jumegur-jegur. gelare ya kaya iku. anyangking sadanya jenggi. ora mati dening warih. munggah ing gunung den enggo. gawok para narpati. nanging ora dadi mati. muwuhi gedhene katon.Manonjaya pawestri jeng Listupaku.

© 17 Nuli ana gumantine kang lumaju. yen den senggreng pesparum. ora suwe jebul maning. padha anyunguri urub. dalem Kandhanghaur sakti. buhaya musnah kalowos. jer si geni den surupi. mangkana layan mangkono. © 18 La yen nyenggreng ing geni adadi parum. © 15 Lan walira katimaha buhaya muncul kapethakan ngebyuki. ora kaya urip maning.14 Ya muwuhi gedhene ing urubipun. sigra angrehai geni. dening rara panas nenggu. © 16 Gene pager ora nan sudanipun. lelewane galak katon. macane kang di adhu. atemah geni dhuwur. Sunan Tambalayung Kolot. dalem junti denya norong. buta ilang tan nguwali. wangwa ambles geni masih. dhumadi ana gumanti. dewaji dhemit. © 19 .

© . tan suwe jebul kemawon. anglabuhi sembara wong. kalesan kangarah pati.Mati urip mati urip urubipun. © 22 Wusing kadi mangkana welehing ratu. putri Sundha kang wulangon. maring geni lawan parum. yen den sabet pes mati. bisa mepes geni isun. pasthine sun aku laki. suwe-suwe urip jati. la iku sembaran ingon. kawirangan para aji. © 24 Iya iku kang dadi nereging laku. © 20 Dalem Ujungtanah anyangking sadha dipun den sabetaken tumuli. © 23 Aja wonge genine panika punjul. ratu salawe prasami. payu ayonana iki. macan sirna geni murub. ning geni lawan gumantos. singa-singa kang sakti. egare sang Purbasari. kalesan kang mikarani. dening welehing wigatos. dening geni delap timbul. kadya kaduk wuwusipun. miyarsa sembara ratu. © 21 Datan mendha mati maning jebul murub. dadi padha minangkani.

pangulawat sampun sami. agunem-gunem anglabu. © 27 Bongdaraji manggala sarebo jagung. © 30 . seja amateni geni. malapati ing kadhaton. rujitmanlawe lan malih. geni adhune warih. Manggadapura agatos. carat sewu sumarongbong. saking awu-awu langit. padha karsa tegal lan ratu. geni apetaka den go. para mantri lawan malih. sewanehe amangsuli. © 26 Mangka dipati Surawangga malihipun. © 28 Tobasruyungan sarayaksa kendha layu. mangsa kilapa kang ngenggo. © 29 Kang den enggo sayembara atiku kuwung.25 Ratu salawe nagara la iya ku. gampang adat kang kalaku. sasra yuga dasa pati. gembong Pasuruwan agung. bimakkendra gili uri. satriya sanusantawis.

geni tan mati neng banyu. tan kawagang ing ginisi. masih ngayeg ingkang geni. © 31 Pramilane cacak coba samya rawuh. 03 Tampek geni iku ora kara-kara. ana kang nyipta gelap namber ing geni. dupi ika kang geni. apara ratu wira sakti. urube tan obah. amsih ngenak-enak. ing geni sakala. dhatan dhoyong samendhing. © PUPUH VIII DURMA 01 Ya tawiyang ratu salawe nagara. ana kang cipta. dening banyu datan kawon. gawoke para narpati. 02 Ilen-ilen banjir bena amalabar. topan kagiri-giri.Pati-pati den sembaraaken ikut. wawartose angabati. pon masih kaya saban. anyipta awan deres kagiri-giri. saking ora paranti. sinten kang bagja kemawon. alagelar dening yakti. 04 . kita padha dhulu-dhulu. Mingsun dhahang ngayoni. kabenan dening topan.

kang sapendhil sakalenthing. watu kang sakalapa. 08 Waneh ingkang para ratu lajune rampak sabalane ngebyuki. ningali ungguling api. kaya saban duk lagi. kang geni waluya. deni dipun panahi. 06 Karsa waneh ana ratu nrajang lan pana. 09 Ora nana bisa ingkang matenana. padha angrobi pana. waneh kang yipta udan kalalar wedhi. maring urubin geni. angger urubing geni. sikep bandring-abandringi. suraking bala Sundha. ora dadi apa. geni dipun bedhili.lan sabalanira. sangsaya mundhak. raja-raja ingkang. sadaya awurahan. gedhene ingkang geni. agni sakala. kang sami hebat ningali. dengo ambalang. ya ora nana ngudhili. kaurungan ing wedhi. heran kang tuminggal. para sang nata.Parandene geni tan kage tan obah. pan angger tan mati. guru gelap tan mateni. sawancining sanjata. 05 Angebyuki ing geni tan kara-kara. 07 Ana ingkang maju sabalanira. sabalane arampak. kalawan kabalang. . ing geni apa maning. lan geni apa baya. prandene geni tan mati.

geni dipun pendhangi. pangameng-amengan. kang saban-saban. kocak kang jagad. iki geni dhudhu geni. yang tala kaherang. Sanghyang Bulusputih. waneh ingkang anyudhuki.10 Kang saweneh ana ratu kang narajang. tur ta laya tuwana. surake wong Pakuaji. kocap ratu sadhasaring. geni masih lunta. para ratu tan sakti. ngrasa kagungan asri. urube kaya saban. wus entong kang tanaga. prandakane kumaki. 12 Datan ana gunane mipis dahana. 11 Nonohogi wis sabagi-bagi tingkah. 15 . wau kang nama. maring dahana. saestu kang pasang giri. ana ingkang numbaki. Sanghyang talaga. tan nana miyatani. tedhak Prabu Galuh dhingin. panyanane la apa. den arani kaya geni. 13 Dewi Purbasari langkung bungah. ya ora karasa. 14 Pan sinegeg kang pasang giri punika. putri Sundha asakti. lawan nyata. dipun wasa-wasa.

ya Indhang Telubraja. ing Banten prananeki. kang geni pasang giri. bareng uculena. mesat aniba. Lutungkasarung sira. . mengko den kaseblak pasthi. tangtu sira amakolih. Lutungkasarung asakti. den sira sumeja.Kang ayoga Sanghyang Panggungkancane. Putri Rara Panas. tan kena gagabah. maraja Purbasari. camethi kalawan geni. weruha sira. iku kang pindah-pindhah. Hyang Jakahawa sakti. 16 Genem kalih sodara wedhi kang nana. sajane angaoni. ingkang anama. iku kang anami. adarbe siwi pandendhi. si jajaka tawa. 18 Seblakana iku geni tangtu pejah. lawan sasabet iki. aputra-putra mami. ajodho lawan. adarbe siwi panendhi. Talagamanggung nama. denora acining warih. 20 Iku putra Sunan Tambalayun ika. Sanghyang Ngacihiki. awit putraning Sanghyang. Sanghyang Maharaja. kang nuksma aneng geni. ana guneman. 17 Sanghyang Talagamanggung duk pangandika. iku kang anama. dhiwone padha mesat. 19 Banyu pitung windu gawanen nyeblak.

21

Saendenge intri alumuha krama, panas bawane benjing, kang singa kadhokan, tan kuwat ing sangsara, besuk mari-mari mandi, den wis kapendhak, lan Jakatawa benjing.

22

Pecut iku tibane ing bumi Selan, besuk tinemu wuri, si Jakatawa, jodho lan Rara Panas, besuk aneng guwa jati, gene panggiya, praciptanen den jati.

23

Pan wus tutug kang pangandika samana, enggalira tumuli, Jakatawa dadya, golethak sampun rupa, cemethi sihaciwara, kena ing sabda, ingkang sayoga mandhi.

24

Layan Lutungkasarung pamit anembah, sarta nyangking cemethi, dinulur ing karsa, dhateng ing Pajajaran, nembah matur ing sang aji, yenara numpak, sayembara raja putri.

25

Prabu Ciyungwanara ngandika liya, kamanyangan den yakti, munggapa kang salah, ing seja sudi malar, kaputren Sundha negari, ambabarena, si bapa kang ningali.

26

Yata oreg kalabandhu Pajajaran, seja nonongton mangkin, ing sagelar ira, kang ngarama rawasa, nyata geni den cemethi, geblas asirna, bareng lawan cemethi.

27

Bareng mesat cemethi lawan dahana, suraking Pakuaji, den ini satriya, olih gawe gadhang dadi, majikan kita, pan ora pindho gaweni.

28

La ya iki nyata tegese wong lanang, ladining sajati, nyata tedhaking nata, wani ing Sundha negari, tangtune ika, mangsa liyana maning.

PUPUH IX LADRANG

01

Kawarnaa jeng suputri Purbasari, pareng mulat, ing geni mepes wus lalis, dadi mujungbaheng pagulingan.

02

Ya sang Prabu Ciyungwanara sedhep manggihi, maring ika, Lutungkasarung den angling, ya ki mantu ingkang murba sigar wetan.

03

Menak pra kuwu kapurba sira, kang ngimponi, iku cacangkoking putri, pra watesan bangbayang purbaning anak.

04

Sakarepa angolahi ngadeg narpati arimbitan, ki mantu kalawan rabi, Purbasari la iku ing jodhonira.

05

Lutungkasarung ing sembah ira kapundhi, si jeng rama, pati rang-urange gasik, byantarakaken dhateng ing kawula wadya.

06

Apa kaya adating ngadeg narpati, maha raja, Lutungkasarung muponi, sigar wetan Pajajaran ingkang murba.

07

Menak pra kuwu dupi ingkang ngapti aji, dupi menak, prayangan masih nyungkemi, maring sang prabu sepuh Ciyungwanara.

08

Sang maraja Lutungkasarung winarni, genya ripta, pan nagara anyar dadi, arah wetan pan katelah Pajajaran.

09

Karajaan gumelar punapa kadi, ya para raja, lan jalma ing Pakuaji, wus ora nana paja-pajaning manusa.

10

Ya wus apa dudune mara jabali gene raja, ing Kiskendha duk ing dhingin, ya amangku garwa widadari pelag.

11

Mung siwane Lutungkasarung saiki agagarwa, dereng patut sarasmine, durung becik durung sajejeging akrama.

12

Nanging iku wus sangkep kang bini aji, miwah ingkang, garwa kalingking kang nami, matur dewi marapag selir akatha.

13

Kawandasa sisihing selir kang selir aji, amung iku, prameswari Purbasari, masih elik durung sakastaning krama.

14

Dhudhukune singdhi ora kang nambani ora nana, tatambah kang miyatani, ajar cantrik nusa Jawa pan kalesan.

15

Kalesane ora sanggup anambani prameswara, Purbasari denya elik, maha raja Lutungkasarung asabar.

16

Sabab kapuhung pyambege madeg aji lantarane, saking Dewi Purbasari, ratna iyang jongratna sapa kang gawa.

17

Tan na liyan Lutuingkasarung prayogi putraningkang, panggung kancana asakti, lami-lami sang raja amanggih warta.

18

Ya sang raja Lutung kasarung miyarsa wartyi, pulo lingga, yen ana brahmana sakti, ingkang ana ing lingga ing kasabrangan.

19

Kaya-kaya ika bisa anambani prameswari, namaning brahmana kuwi, kaki brahmana Maniklingga Buwana.

20

Ya ta Prabu Lutungkasarung nimbali patih ira, patih rang-urange pinrih, kang pinutus nabrang maring sang pandhita.

21

Den sawawi ature ajar maniklingga wayang, rawuh aneng Sundha puri, kang sun ajap sun gondhela ingkang usada.

22

Badan tampi rang-urange timbalaning karsa nata, dadya sejanira gasik, sarta Panglima kakalih ingkang binakta.

23

Lalawaran ya iku panglima nami, Ki Lagondhang, kalawan Ki Gumariming, sarta dipun binaktan adhi rurubah.

24

Kang babasan panglalandhep lawan wajani sabaita, isi gula aren jawi, sabaita isi empon-empon jawa.

. den kaputus ing sang aji. 30 Angrawuhi dhumateng Sundha negari inggih ara. inggih tuan yen katuran. 27 Sigra layar ki patih dhateng jaladri sartanira. boleh Sundha. gegel nata. dhateng madhigda ing mriki. minyak jarak kalawan minyak kalapa. sapara umaning isi. sela weweton sing jawi. 29 Pitung prahu kang kaisi warna-warni. ki brahmana Linggabuwana anabda. lalawaran wus teka ing pulo Lingga. lan lelemes sewetweton buwat Sundha. parahu pitu lumiring. 28 Pan wusmedhek ing ngarsane bramana luwih aba saja. woten kersane sang aji.25 Saparahu isi pucung lan kamiri. ngaturaken pasihan dalem Pakuwan. 26 Minyak kacang miwah saparahune maning kang sasoca.

tulung usada kang jati. 34 Aja lawan den ruruba iku maning isun seja. 32 Iya ika luwih nuhun nanging kangsi iku barang. 36 Ki brahmana sabdane patih ya patih aja kurang. isun medhek ing Pakuwan. sareng ngalempa pribadi. pitung prahu gawanen balik. patih rang-urange wus age balika. pracaya kang maring mami. pan wis karsa aji. puji pangesthi kang jati. .31 Sarta gumujeng asuka rena kang ati aturena. aturena maning ing Sri ing Pakuwan. mapan ingwang. data ana kang bramana iku bobad. ing prakara gegele Sri Pajajaran. 33 Aja sumlang ing karsane sri bupati. 35 Patih rang-urange ature ariris bok punapa. tumindake jengmadigda lan kawula.

ing rurubaku prantine. den estu pramana. lawan mangsa suwe laku den lalampah.PUPUH X PUCUNG 01 Ya sang patih rang-urange sigra wangsul sabaitanira. 02 Pan wus katur ing ratu Lutungkasarung. kita tumpes ya ika sang bramana lingga. tangtu mangsa bobat gedhe. 05 Wis becike anti ratuhipun. 03 Ya sang raja aris ing pamuwusipun. 04 Tangtu jagad pandelenge mung sagandhu. karsane madigda. sampun abalik sakabeh. nanging lamon bobad. lan mangsa gelema. . sejanipun medhek dhewek. padha kita lurugane. lalayaran dumugi ing Pajajaran. miskin tan ngulati sugiye tan rarawat. pun bramana sampun ngartos dhateng karsa.

ngenten tanpa anten-anten. karajaan kaprabone. terang layan karsa. Raden Mantri Ranggalawe. 11 . 09 Dupi putra saking bini ajinipun. Raden Rangga lanwan Mantri Kethebasa. lanang pinangaran. lanang nama ira. 10 Pon kalawan lilane sang prabu sepuh. Jayakarta alinggih ing rat Jakerta. Raden putra inggih ing Bantana warsa. malah prabu Lutungkasarung wus gawa.06 Ya ta lawas bramana pan durung iku rawuhira. 07 Putra saking ikut ika den pilungguh. sampun gelar tata. dipun prabu sepuh mangke. ingkang sarta lulungguhe. kang angrengga iku saking Pajajaran. 08 Linggihan ing Bnaten angarta dhatu.

jirnapura pulung beler. roro tumenggung anyare. kang anama ki Tumenggung Sanggrarungan. Sanghyang Sancakrit namane. kademangan ing namane. lanang karya parab. 14 Rang-urange kang dadi papatihipun. lanang kang namane. 16 Demang Bangkong sendhong andeling pamuk. 15 Ki Tumenggung Selangkuyit naminipun. 12 Dupi putra ingkang saking dewi matur. Demang Gogok lempog kalawan kang nama. . lan roro kang anyar. gumelara kata. kang amangku indhahan nang Ujungkulan.Dupi putra saking maha dewinipun. arja aneng jaba. kang amengku indhahan nang Ujungkaras. aneng Pajajaran. patih jero patih Burbutjalang. Sanghyang Resi Luwiluwe. dipun rangkepa patiye. 13 Ingkarsane snang prabu Lutungkasarung. pan samono lawase kang prameswara.

20 Dupi rabi babaku durung sapundhul. he paman bramana. sang bramana gumujeng atur sandika. paman bramana tulunge. ya kongsiya adhepe nama sang rara. nuli tan antara. 21 Pira bae ing mangko wajaninipun. ya duk jurung saragane. idhepena iku paman garwaningwang. 22 . kaduga manira. seja sun pilala. saking rabi liyan kang metoni anak. maring Sundha wis den mulya-mulya ika. bramana Lingga rawuhe. 18 Atur makca pangandikane sang prabu. 19 Gone elik wis windon takeran tahun. barangahan anakake. iku bebeg ingwang. manira nedha tulunge.17 Durung becik kelawan Lutungkasarung.

23 Mangke sae sacombana lan sang prabu. tegane ta sira. dan sang prabu ngunus dhuhung pan tumandhang. ana wong jaluk nrasane. pun paman tumuta. sun dhaku mendrassa. 24 Aleng pundi tan awor sandeng saumur. 27 Ingkang layong angucap tegane ratu. lan sang prabu nanginging punika sang rara. uning raose pun paman ginawa kawan. dalem tangtu mangke sae. binandhing combana mangke. gagarwa carapa. uninga dhateng raose. 26 Sigra nudhuk bramana ajaja terus. prakawising garwa. 25 Maharaja Lutungkasarung abendu. kang pakenak teka sinung rasa lara. tan asusah wajani punapa-punapa. pan tinarik kang dhuhung bramana pejah. . nuntak ludira maleber. dhumateng walikat. bramana cora nalosor.Sampun sumlang bapa prakawis puniku.

29 Yata prabu Lutungkasarung mituhu. ora kaya aluse bramana Lingga. ambri aja ababacot. kakeyan bacot si bramana camera. dadi ratu Sundha kene. narik kang babathang. 30 Iku padha obomgen babathang iku. kurnapa bramana. ya tumangen cone dadi awu pisan. ya mangsa luntaha. wue sirna purna den obong. sabab dening kumet arep bapa garap. maring jaba adhan rame. dadi gumaregeten sewot. 32 Tan adangu ingkang geni amurub. bandhu kula warga agawe tumangan.28 Nyata kumed maraja Lutungkasarung. 33 . 31 Ki patih Brubutjalang tanpa wuruk. sabdane babathang. sirnaken pisan.

ngrungu bae abane ing ati ewa. . ing ati mengkarang. ajaja rep sapatemon. sabadhan sedya wa-awor. 36 Praciptane gawok temen atinisun. 37 Poning mau ewo bae atinisun. luwih sengit pisan. sumerep sumanira. guranggame sapatemon. teka sejen pisan lagi mulamula. maring maha raja. Lutungkasarung warnane. 35 Ya sang putri Purbasari remen kalangkung.Manjing garba garwane Lutungkasarung. 34 Dewi Purbasari sira andulu. mengkorog saking jijithok. kena ing asmara. dupi iki teka ati kangen semang. dadi kakatonen bae. maring kakung tan kena pisah sadhela. Lutungkasarung dumadya raga asiyan. 38 Jember bae rupane deleng iku. dadi mundhak bagus katone gumawang. saiki kena ngapa.

mesem manis awe sira. 04 Kinundang putra ajalu. bersih kuning gilang-gilang. dhumateng kang prameswara. teka kapareng kang garwa.PUPUH XI KINANTHI 01 Warnanen Lutungkasarung. tumulus adhicombani. kalangkung ing lelesneki. Purbasari kang pinundhi. Lutungkasarung langkung asih. 02 Kang garwa lumados sampun. ningali kang prameswari. 03 Wus bobot ing wancinipun. angrungrum ing prameswari. carema la pitung dina. sumulura maring mami. duga nyidham sanga sai. kaya pa adating krami. dhateng karajaan ingwang. 05 . kaduk sang prameswari. binakta amadhang wulan. tutuging asisiyan. sang raja sigra trangginas.

iku jabang ora pejah. 09 Malah sedheng babar sampun miyos lanang kang prayayi. . sinumbele kang prayayi. angaras-aras kang rayi. nanging besuk yen wis medal. myarsa swara aruntik. ing isun kalimat lewih. asang prabu ta sireki. 08 Pareng semana sang prabu. la bagus suwarnanira. tan eca guling adhahar. 06 Mangkana pamuwusipun. tan antara dangunira. kalangkung den kumadana. yen kengetan ingkang wngsit. ing marma tur eman arsi. tanpa kara-kara nuli. kang sira dhingin prajaya. emar lesu les-elesan.Sang prabu Lutungkasarung. wau amiyarsa swara. ing sajroning wetengneki. dinulang upan mandi. enggal ngunus pedhangira. kang rama anyandhak aglis. mulane engatna benjing. anak-anak maring ingwang. cayane gumilang bening. saiki dumama eman. 07 Sira iku aja tambuh. 10 Dhateng jabang bayinipun. aja tungkul eman nesip. ingsun males ing sireki. kalangkung ing ruhing galih. iya sun bra … luwih.

kali cilutung ya nyata. wus sirna kagawa warih. 15 Sareng wis binuwang sampun. ing lepen cilutung sirna. pethi winuwang tumuli. maring mantu ingkang lali.11 Prandene tan pasha iku. kang putra dipun prajaya. matur kula birat kali. 12 Umatur ing ramanipun. sampun kabekta ing warih. ageng santer ilinira. kang putra den wasa-wasa. Lutungkasarung alali. 14 Dadya winadhahan sampun. arawuh kang rama neki. miyarsa aturing siwi. punika mejani putra. sang prabu Ciyungwanara. nembe siji dipejahi. 13 Lumajeng malah ambendhung. kocap kang mrajaya siwi. sigegen ana ing marga. kalih garwa takon jabang. wis kabekta dhateng warih. Purbasari aningali. karsa ingayun ing rama. prabu Ciyungwanara aji. 16 . pon tan kena ing pati. anjerit lumajeng agasik.

Yata prameswari wau. prabu Galuh duk ing dhingin. kasirep lelohing putra. melang maring anak siji. 21 Angunjung kaliyan kakung. sajrone wau kantaka. besuk bias muter nagri. den pracaya kang murbeng bumi. ing manah wus palipurna. egar suka manahira. kang mratuwa den unjungi. he mantu wruha sira. embaning turun ingwang. prabu sepuh ngandika ris. tangto kena ika dhelap. prandekane iya welas. ana ingkang swara jati. dewi Purbasari lilir. awake kang gadhang niladi. Purbasari sawunguning. sang putrid dadak sakala. . 19 Kang bunuwang iya iku. prabu sepuh ngendika ris. 17 Kali iku ing ramanipun. Purbasari aja sira. 20 Sang cinta tan cidra iku. kudu anurut ing eyang. anyuluri bapanira. pon isun binuwang dhingin. kang gaib luwih ningali. si jabang mangsa amati. besuk titenana mangkin. Purbasari nibang siti. sampun ngunjung kang ayugi. 18 Kawarnaa sira sang ayu. papasthene jabang bayi.

enggal sira anampani. 24 Angadika prabu sepuh. panukmanira lan laki.22 Rama Galuh dun rumuhun. 25 Yata prabu Lutungkasarung. karana sabebet kita. ora aliyan panukmaning. alalise iya merad. yen dugi ing ajal kula. enggal Purbasari memba. kandikane sira nini. 23 Sih jati waraha nuhun. pameradan pocapaning. ing Galuh ora na liyan maning. sawadose kula ngalap. 27 . ing ilmu pameradaning. ya sang prabu Ciyungwanara. manjinga ing dalem puri. maring dalem Kenya puri. den idhep ing pameradning. Lutungkasarung aturnya ris. kang aji pamerdaning. sebab sira ora pacak. mratuwane kang ambabar. ing rama prapona benjing. 26 Purbasari nyingkira babu. boten susah angilari. ki mantu la tampeni. pungpung saiki purnama. sabebet kula Santana.

awor daging awor getih sumarira. gumawang tanpa cantelaning. jati wisik ingkang yugi. onya ing sukma lewi. kang dhingin binuwang mangke.Wus tanpa Lutungkasarung. wus rumanjing kayangan kipethes peras. kawarna ajabar. buhaya bangawan ika. sukma rasa sukma larang. 02 Pan sinegeg caritane yan sang prabu. 28 Kadhaton tanpa gon iku. sakabeh-kabeh tan kari. aji pamedaran. 03 Tukang pethes peres ingkang luluhur. PUPUH XII PUCUNG 01 Prabu Lutungkasarung wus tampi wuruk. 04 . ungelling ingkang piwara. oranana ing rat jagat. gumilang sarira mami. den openi dening ki Pethesperas. angles-les angluwar ragi. sang jabang wus panggih mangke. purwa saking mratuwane. lenyep ilang dat pes ilang.

kasungsun arane angger. inggih iyang iku nama wis prayoga. anak pupone ki tukang. ingga iyang bapak ikut namaning wang. bapa y ailing wang. 08 Pan katelah ing desa pethis puniku. bocah cilik bias. bias rarasan basane. kaya wong tuwa basane. ngerti dening basane wong pathes desa. bapa aranan reki. besuk mengku bala. esaktemening namane. duk umur sawulan. 07 Patut iku ana kadadiyanipun. patut ikut tuturunan ing kusuma. . 06 Kaki Pathes peres nembe tumon rungu. 09 Cilik-cilik bias rerasan satuhu.Dipun aken anak jabang bayi ikut. ngerti dening basane. pan tembene mung ta iki anake sapa. bocah patut kasurupan. wis koncara inga iyang ingkang nama. dudu bocah salumrahe. 05 Jabang bayi kangucap abeluk-beluk.

Lingga hiyang ika. 13 Nurut bae buhaya sakarsanipun. silem ilang yen wis sadina rong dina. 14 Iya nuli ana maning nyata timbul. yakti ika tengeraning andana wirya. den parani ika. mung tai ka apa. umreg wong Pakuwon. dadi raja suntangguhe. tungtu besuk ika. katular-tular wartane. 11 Lawas-lawas pareng umur tigang tahun. 12 Wong kang paca ningali gawok andalu. lalayaran pangameng-amenge.10 Ya putute yen selamet urip tuwu. udan angina mudhik milir nunggang buhaya. 15 . katur maring sri bupati Pajajaran. paparahon buhaya putih tinungganga. dening wong nuli gacike. bocah apa setan kene.

lare ingga iyang. 17 kawarnaan ki empu kang namanipun. neng bengawan priyangga. 16 Ya gustine pareng nabda semana iku. Lingga iyang mangsuli kula punika. warta anak setan. buhaya putih tunggangane. lola dhiri kula. kasur bumi mega kemule. lagya ngalenthung miminggira nang walahar. sapa sira kang ayuga. lagi eca paparahon. 20 Kula lare tanpa bapa tanpa ibu. wong ningali padha wedhi sadaya. 19 Sira bocah cilik saking endi kacung. ki Calancang nama.Engandika sang prabu Lutungkasarung. 18 Maring kali Cilutung kapanggih wau. . kaliya ing comas pandhe. wedi bok den salah artos. kali bangawan kang nusoni dhateng kula. sisikune ratu ratu mandi salah dadya. dadi sirep kang warta. pan sinawanganing ki empu calangcang.

bangkit yen rarasan. inggih wasta kula. dika iki olih saking ngendi bocah. Linggahiyang teka dumulur ing karsa. datan weruh embok bapaneku bocah. 25 Lawan iku sapa ingkang duwe sunu. padha maring omah ingwang. nyata iki tereheng andanawriya. 26 . Lingga iyang ing namine.21 Pun buhaya kanga sung tedha puniku. 24 Ki Calangcang ngiring wus dumading aku. nyi Calangcang girap gawok. winangsulan enggal. sun aku anak temene. 22 Nembah tumon lare nabda kaya iku. 23 Empun nabda sira sunimponi kacung. manggih pinggir kali gedhe. ki Kalipa andaringeng manah ira. prapta wismanira. patitis ing wicarane.

dhasar enggih musuh kahula ing kuna. inggih kula kang tango bala witanya. kasur bumi mega kemule. welas ati sun ajak mulih maringwang. . patut ini dudu bocah samaneya. maring empu Kalipa langkung minulya. abentak lawan sang katong. ngaku bapa ngaku embok.Sun takoni wangsulane iya iku. den tututi wekasane. rarasan ingkang samono. dika nemu bocah. 28 Toli dika ing sang aji ya di ukum. 31 Iku bocah ana kada dene besuk. Linggaiyang ika. 29 Banggi bapa kikukum dening sang prabu. 27 Nyi Calangcang nabda bok den salah tanggu. Linggaiyang nabda. dipun pracaya si embok. tan duwe bok bapa. dika dadi den tareka nyolong anak. ana bocah bias. 30 Ki Calangcang Nyi Calangcang getun-getun. kula purun nalang.

jogede kang sunu. angrebut bapa biyang. wani mati kendel wani ambelani. agaweyan kang tahuna. Linggaiyang ora kakurangan. digjabenduning ratu. saktine sang Linggahiyang. wesi wus brapikul. aran wana Cikandhang. yen iku karungu. omah wesi aneng wanadri. 04 Linggahiyang wangsulane aris. wesi ing ngalas genahe. karana lare iku. kukuh kikib agarba. wesi lir lempung kewala. milu kara baraba. angalasan awangun. gisik bapa sampun uning.PUPUH XIII DHANDHANGGULA 01 Nyi Calangcang sajege angimponi. omah wesi nem dina sampun waradin. Linggaiyang umur rolas warsa. embok sisikuning raja. jar ai wesi nurut. ingkang aran Linggaiyang. 03 Ki Calangcang Nyi Calangcang angling. ya si bapa si embok tan wurung dadi. aja patiya sugih wani. dhateng kula ingkal awon. la dingo apa iku. 02 Lawas-lawas kirane andugi. pun embok tingalana. mung ta sira kacung gawe omah. iku teka reremane. watu ingkang kinarya. pan sinambut palastha sadina becik. bapak embok sampun tan pracaya. angrewangi agawe wesi. dumadi kasugiyane. 05 . dadi apa awak ira.

ika sang ratu apa. ya kene ginegem ginelar. anaking bramana reko. Linggaiyang apunjul. nanging lamon lininggiyan. Linggaiyang wangun rante tosan. 09 Pan sakedhap ki Calangcang ngarti. buktine kakecap menga. jar kasndhung ing arata. wong tan dosa mamateni den pateni. 06 Dadi rante anjiret kang linggih. bale rante bagus. kasuhur ing kasaktene. marga anglanggar narpati. mring bapane mau. ing basane arep males ing sang aji. lan kena dienggoa bebenting. . 08 Linggaiyang matur boten sanggi. 07 Ya sang prabu Lutungkasarung linuwih. tanpa bayanya lampahi. dening si namanipun. riringganing nagara. kula ngilari lalangen. ki Calangcang ta ingucap aris. nunggang tawa musuh. sapa wruha bok kadengangan. kadengangan ingkang kula ajap. lemes kadya tatangsul. kacung iku dingo apa gawe bale iku. sung sengge iya nyataa. nititeni apa iki bocah. mrajaya bramana Lingga. seja males puliya. dingo apa teka sun maras kang ati. ya iku dhadhak sakala. Linmggaiyang patute iki. akeh jalma padha kagawokan. nanging yen digelar dadya. tur ta ora sanyatane. iku bale ora karuwan maning.ora lawas la ika tumuli. ya ra pon dipun siku. kang adi warna lekere. ing siasating nata. yaw is aja ilok gawe tanpa tut dadi. dhasare ratu Sundha. ya wedi maring nata. sira katiti luput. tiwas temahipun.

umreging bala agung. 13 Nitir ganjur pusakaning aji. pan ratu agung ing Paku. mung ta anganti apa. budine lawan anggkohe. pra mantra acingak. geger samya bala Pajajaran. aje kakeyan tutur rujak gendhen gelis. sumantana si tai anjing. pati-pati manira wani-wani ngaku. Linggaiyang wus ngangkat. waspaos andulu. mada dudu ponggawa. kadeleng apa si monyet. yen tan pejah nalendra. sawaneh ingkang angucap. sira kang selang gumun. nakal si gila basa. 14 Wong Pajajaran surake la iki. alun-alun jembar tur radin.10 Ora suwe Linggaiyang mijil. sarta nggegem arante mandira. para mantra datan upaksi. katingal sanyata bocah. matanira baloloken mataning pring. anabuh adhenggung. ya rinujak ing wong Pajajaran. bubuyute ajur. ya saking waris manira. munggah ing lemah dhuwur. ngaku waris nalendra. datan kena tinabuh puniki. 12 Iya sira ngajaraken nangkis. pancaniti penuh. wis karuwan bocah iki ala. sudi wani angunggahi siti inggil. bedhul sapa kang mrentah. Linggaiyang wangsulane. . kaya cumra si tembe wara. sanyata kethek beruk. 11 waktu iku tinabuh den titir. nyana sang ratu sumered. andher ingkang aseba. atandha sing enda-endi. surak ing wong iki bocah saking endi. mring alun-alun puruge. pusakaning Pajajaran. mung ta sira deleng apa. ora idhep ing karta jani.

geger gumuruh kang anan Jawi. akeh kang para ponggawa. nyandhak bocah tan kena kenging. PUPUH XIV PANGKUR 01 Dupi sang nata miyarsa. dudu musuh iku. ora kena saloro ngarti. 17 La yen isun iki sun pikiri. 02 .15 Pajajaran kang bala ngebyuki. kapental ora menange. kaprimen den wis tanggal. puharane dadi majikan. bokmanawane kuhana. pada arontok sakabehe. demene iku bocah. angliga dhuhung Linggaiyang den suduk. sapisan madhuwa raga. ya batur dhengawas aja saloro ngarti. gagamane wus padha malesat. dening sang Linggaiyang. ya kaprimen den wis metu budine ngancil. dadi roro den pindhoni. ibur lir pinusus. la iki timbulipun. sang prabu Lutungkasarung. 16 Saya dangu saya angranohi. dadi padha sap maju. sawaneh para sepuh. kang dhingin denkaropoke. kang malesat dening padha densepaki. bok iku susupaning bramana. ingkang padha awangun piker. angluwihi nagara. ki patih rang-urange kapental. lir nyekel wawadhangan. den titening talata. iya bocah iku. sigra amiyos enggal.

la ya kita jaya. den babayang den suraki. lininggihaken ing rante wesi. ya sang prabu Lutungkasarung lali. ing kali cibayabang. prabu Lutungkasarung wansulanipun. dening lare kanembelas. gumurudug iku padha tut wingking. anggotong kang babaleyan. 03 Rinejeng tanpa wisesa. den bakta maring alas. suraksurak ing sapanjanging dalam gung. lare nembelas surak kasruh. pan si bapa uwis seja sumingkir. tan bias polah kawingkis. Lutungkasarung pinarna. telu kena ing saiki. . ing rante tanpa sesa. pa wus dadi akeh enggal ngarubut.Sinuduk pan dadi papat. Prabu Lutungkasarung yata aja tambuh. sulurana lungguh isun. 05 Iku ing sakarep ira. 07 Wus pinutup tanpa sesa. buang jabang aneng banyu. yata lare pra samya. wonten ing pagriyan wesi. 06 Para ponggawa Pakuwan. sang prabu ngebyuki padha. pining pat panyudukipun. aneng bale rinengku ya pinikul. iya isun eling pisan. braise kalaras aking. dadi bocah nembelas. bramana Lingga duk wingis. 04 Basane lare akathah. ya iki pamales ira. sapuruge gustinipun. Lutungkasarung wus lungguh. kedya wong den panjara tan bias mijil. pining telu dadi wolu sayakti. ing Cikundhang goning omah wesi mau.

tiba bumi mila den arani. lawan patinisun benjing. dening bapa ing laksana. ya sang prabu Ciyungwanara puniku. den idhep angaku gusti. dupi manira pejah. anak isun sing rayi Purbasari. karsa medhek ingkang eyang. wuryataning akuna. andaringen ningali pohal-pahil. mereh kadya wanara. Balerante iya iku.08 Yata mantra Pajajaran. wus polih dadi sajuga. ing bocah nembelas iku. wusing nabda samana adanuli. mesate ing jomantara. agadhaton tanpa genah. hadan Prabu Lutungkasarung amuwus. ing ayunan rama aji. sang prabu Lutungkasarung. 12 Kulawarga Pajajaran. mulih maring ajala kasuciyan isun. amengkorog sarta mealakken buntut. Purbasari wus ing kana. he wong Pajajaran sira. samatuke saking ngriku. padha ngiyung ing Linggaiyang ngapti. 13 . musna ilang tan ing ngaksi. 11 Bale rante bus malesat. wus mangkana lare nembelas pun wau. kadi duk wau tumuli. prayoga gaganti isun. 09 Ing bocah iku kang nyata. 10 Ana ing dina wekasan.

wong sanak singraja Galuh. sami atur sembah sadaya sumuhun. . 17 Ratu anyar Pajajaran. ajujuluk Somahita. amurba Sundha negari. jeneng prabu Linggaiyang. saikine sabetahan ya tinemu. kang dhingin dibuwang ngebur. ing istrenan sampun sira ngadeg ratu. geter pater ketug muni. ingbangawan ya ika. anakira Linggaiyang iki. wus prapta pura Pakuwan. Linggaiyang Sinarojang Bupati.Wus kempal amatepungun. Lutungkasarung anuruni rama Galuh. anake kang mikarani. ya tai ka kang liningan. sing bangdiwenka apa. Linggaiyang binakta mantuk dening. sinauran dening jagad. lan Ki Dalem Tegaljamang. 15 Maring iku anak ira. Sindhangkasih nama dalem Somaluhur. katemu maning denira. sanak medhoke sang aji. papatihe winastan. 16 Samantuke saking kana. den becik sira ngopeni. 18 Lan Ki Demang Dhungkabadhag. merade saking panjara. Ki Ngabehi Kolotbuntut asakti. Kyai Patih sempokwaja parab ipun. katumenggung Jatipamor sakti. prabu sepuh Ciyungwanara angling. bandhu warga kawula iku. bapane ingkang wus lampus. la ta bener ujar isun. istrinana dumadiya susuluring. 14 Purbasari lan momonga. Dewi Purbasari agung.

ora mati kaduga ana titis. kidang manjangan den jamah. wedi yen den rabenana. taliti turunan aji. pan sakehing istri sisiriha maju. kaya keris landhep pisan. amedal pamore mandi. besuk ana katela ingkang nami. katarajang Dakar waja landhepipun. parandene yen kacebak nuli mati. saking kono ruru ira. padha babar pisan pejah. gih manjangan gumarang sing naminipun. kang tumurunita besuk. La yen santek esir nora pilih lawuh. kang den wangking ingalulut. waris Yang Sundha negari. kang prayayi kang turun kidang pananjung. ana ingkang kasebat. PUPUH XV . 20 Dadya pirang-pirang garwa. kang den wangking angemasi. 23 Selir kidang lan majangan. wados ginawa sarasmi. ya babar pisan pejah.19 Ya sang Prabu linggaiyang. Linggaiyang dumadya. akathah selir kawangking angemasi. 21 Kapokoh pinaksa-paksa. taliti purba wisesa. pramila ika sang prabu. kacarita ora jengjem mengku rabi. mulane nuli nedhaki. 22 Kidang manjangan kang nyangga. prayayi kang katurun. sing awadon kang karungrum. kang katelah sesebatan.

Linggaiyang jalma wudhu. ing pulo gunung surandhil. mung ana wara gatra. dadya tandha rabi. la iku gawanen rabi. robbana lan panglamar. Purbasari tumon putra. patut den ika dadiya. jar padha wesineki.SINOM 01 Iya iku kang dumadya tan sakeca ing sang dewi. pitutur kang sajati. marawani saking atose kang baga. rabine si Lingga aji. kang eyang Ciyungwanara. ing anguling ing sarasmi. katalihatma mokal tan pasrah. ki bramana tali atma. coba ta sungsungen iku. karana Brajawati. iku duwe anak wadon kang anama. 04 Duginipun ora liyan. tan ana musuhira. bagane wesi atutup. nuli ana jati wisik. angandika ingkang siwi. datan jamak lawan jalmi. acombana istrine nuli apejah. kasulur tan ana bangkit. 02 Mangkana lawan mangkana. 03 Namane ingkang sinebat. kawagang ing sarasmi. 05 . among Linggaiyang sayakti. ika Dewi Brajawati. sacombana lawan ika. kandikane isun rungu.

09 Bramana aris wacana. ing pulo gunung surandhil. Ki Ngabehi Kolotbuntit. karsane aminta krami. mangke karya angimponi. Dewi Brajawati kang dinuking karsa. duta maring kasabrangan. 07 Kocapa sadhatengira. 08 Lamarane wus katampan. katur ing sakarsa aji. ki demang Wukubadhak ingkang sami layer. sukane ingkang nanamu. ing mana suka arena. Patih Sempokwaja wau. denira bramana luwih. ruruba saking Jawi.Ya ta prabu Pajajaran. pecile tiyang dherwis. ing pulo gunung Surandhil. tan kawarna layare aneng sagara. Jatipamor apa maning. ponggawa kang den titi. meng sampun kirang pamuhung. kali ira ingkang siwi. sedhah panglamaring ratu. 10 . Danyang Brajangkawat. dhuta raja ing Pakuwan. maring bramana ana ing gunung surandhil. derenguning tata Jawi. nata sundha nayangger mung gamulunga. sinuba ing Linggi. Linggaiyang sampun niti. sarma bakta palwa sapta. barang saking Sundha katur. ki bramana taliatma. kalawan katumenggungan. 06 Ingkang sami kesah ika. wus ana ngayunan. sang prabu Linggaiyang. lare istri badhigal. kang isi panglamar aji. sarta ngesrahken adi. nayangger Pajajaran. pinanggih bramana aji. ingkang pra menak prapti.

adhinira Brajawati. ngumbara ing karsanipun. 12 Sukaliye pinuturan. mange boten miyatani. den saingga wonten damel kula petak. angantos kadange malih. tan mudhun-mudhun ing siti. wewesen sarananipun bilih sang nata Sundha. 14 Dhayang parwatali nabda. ya ta bramana tali. ya subagja adhi sinarwehing nata. pun adhi Brajawati. sebab ika sakalih. karana pidhanget kula. lan kang nama Prawatali. mangsa ngijira sang aji. jaler Dangyang Talibarat. sami tedhak ing ngawiyat. dados wudhu ing Sundha den antuk wiring. anglalana ing tawan. sakalih nulya tumurun.Lan malih mangke sakedhap. Prabu Linggaiyang sami. ana kang sudi santosa. ingkang nama talibarata. amangku sundha nagari. boten amindhoni malih pramilane angupaya tandhangira. jaler Dangyang Parwatali. sarananipun wesi. putra sakalih ngastuti. . pinten-pinten selir lampus. ingkang pejah dinahar. tangtu punika sakalih. 11 Den sampun kula petak. sigra petak tumuli. Prabu Linggaiyang mangkin. mung wonten melang sakedhik. Pajajaran maringi sedhah panglamar amundhut. sakarone wus. sukane adhinira. minggah ngayunan rama. 13 Malak mandar darbe tedhak. Dangyang Brajakawat nabda.

sakarsane andherek dhateng jeng rama. dados kita kesseman. dadya turun rena ngaturaken putra. 16 Ya ta DEWI Braja rara. ing ratu Sundha negari. re kang putra sumandha. kahula amdherek maring. ing jati dipun dandosi. kalawan sang Talibarat. angsal putrining bramana. Parwatali namanipun. Brajawati aturnya. 17 Kahula darma lumampah. ing parahu kang den apti. ing wedra kirang panari. Brajawati lalayaran maring Sundha. paran ati lumiring. kalangkung ing rena ipun. boten dados basa jadra ponsasmata. putri Sundha negari. bokmanawi mangke sigug. dening kadang kakalih. punika sampun tinari. ing karsane rama yugi. tan kaping kalih adhi. . kranten dede lare alit. kang angeteraken rayi. saking Sundha angsal kardi. 19 Kering marang sang potusan. den piyambeke kinarsa. awon penes panitihing. kedah tinaros kentasa. wongtuwa datan pejah. sarananing katewangan. aneng nagri Sundha ingarsa sang nata. giyak-giyak anembang. ing manah kalangkung sukur. kahula liwarsa demi. sing pulo gunung surandhil. ya ta bramana Tali. 18 Brajawati wus pinuja. punika ingkang nglakoni. atawa ing tan purun.15 Dhayang Talibarat nabda. genya layar enggal prapti.

salamine anggar binim pepengene warna-warna. kadi sutaning bramana. dharahe den palothoti. ora lawan minatengan. malah sampung Brajawati. mangkana den kadengngangan. parandene den esiri.PUPUH XVI KINANTHI 01 Sang prabu Linggaiyang langkung. kang ora jamak dening. kadut den kocok kaduga. dening Linggaiyang dadi. kunyuk mati den tonyoi. oliye alaki rabi. lanang wesi wadon wesi. wus angrasa katimbangan. 03 Kapengen adhahar kunyuk. pinangan dening manusa. rena karawuhan putri. ora den sembelih maning. 05 . mulane arjaning krama. den enggo embut-tembutan. daginge benyo ayiyid. 02 Bobot angsal pitung tangsul. mung den panjingaken dening. 04 Kulite deng masih wulu.

pepengen ing dhaharan. mangkana yen kadengangan. 06 Anulya sigra tumurun. den tutulaken ing petis. atumon ipene runtik. .Sedhot hawa manah ipun. 09 Lami-lamining tumuwuh. kang sengit babalik asih. ing cacing urip-uripan. Brajawati sajen maning. mring nata girig sengit. tengtu lelet den patheni. kang ngemong kadang kakalih. 07 Lami-lami ning tumuwus. dhumateng sang Braja rara. iya timbul sengit maning. 08 Den kadengangan sang prabu. Brajawali enggal dadi. teka eman teka sih. Talibarat ngusap muka. dumadi kanggep alaki. kumokod babalan pisan. ningali dhateng kang rayi. sing awang-awang tumuli. pepengene sajen maning. angusp bathuking kadang. cicindhil kang masih abrit. ora kaya Braja rara. Parwatali Talibarat. ora kaya Parwatali. Talibarat Parwatali. kang ngusap ing bathuk ira. kang mungga kirig ika dadi. 10 Tan kaya yen wus tumurun. den dhahar urip-eripan. kang sengit dumadi welas.

lawan ora arju margi. mangsa lawas angartoni. ing sirrane kang yuga. Lutungkasarung kalindih. kaya ta beyating jalmi ditya. 12 Re kang putra wau lampus. godhog rontok rug-rug wit. 16 . aja dumeh anduluri. darbe manah tulak serik. apa layak anyuluri. Suhunan Panggungkancana. nagning ora arju margi. nandhang sekeling wong tuwa. iku kang Lokambadhigal. ana kang dadi kulilip. duduta beyating jalmi. pangganggo asu griwani. dening parecel kumaki. maring karajaan Sundha. mapan den mepes kang yuga.11 Lami-lamining tumuwuh. wani wong tuwa si setan. 15 Mengko uga tanggu isun. dening Prabu Linggaiyang. 13 Pira wareke wong munggu. angrumpak turus abecik. 14 Ari iku sawat-sawud. pasthine ya sinangkasal. ora nama liyan maning. ora sabar angenteni.

ya ika bramana kaparat. waneh ngarani kamangmang. semaune amateni. wong Pajajaran pra samya. 20 Mung ta apa murub iku. deningan sinaban bengi. sutejane wong abecik. ora paido wong lagi. . 21 Waneh angrebut kang dudu. kang lagi penyakit elik. 17 Wondene Lutungkasarung. kaget ketembe ningali. wong tuwa kendhang sangaja. 19 Nah kala napsune metu. la iku lebune apa. parek maring sulaksana. katone ing wektu bengi. nyingkiri wirang lan isin. ngejer ana ing gegana. binatang si tai olih. ana nyana tapak angin. ana nengge lintang ngalih. bramana Linggabuwana. kapokok broktak dening.Anduluri sota iku. malang-miling saban bengi. 18 Teka anuli den jaluk. ika dadi banaspati. anak lagi duwe pejah. ana kang ngarani teja. di akon nganggo wajani. kaya latune ing lintang. samono lagi ngalahi. kanggo surup nganggo kedhing. tumon nambakaken rabi. ngambingngambing rabi mula.

kalangkung ing suka ati. patelesan cindhe jenar. yen tengange lawan pajar. purnama sajroning putri. anyarengi sri narendra. ing pancuran sanga sami. 25 Sabab agamaning Galuh. waneh ingkang makidungan. yen purnama tilar guling. rembesa angulinting. Linggaiyang sami didis. siweg bobot madhang sasi. murnama dening ring-ring.22 Parek ing lintang kemukus. 26 Sadangune ing dalu. lawase wis sangang dina. 23 Kalih garwa ingkang wau. angideri tataman. datan bengi sawatawis. yen combana lan istri. para bibi para inya. pareng wengine tumuli. 27 . nelasaken agiyak-giyak. anggending jala wekunyit. yen tanggal pisan apantang. 24 Ameng-ameng ing lalangun. apantang barang den bukti. kesel sira ganti siram. sang aji atilar guling.

awit suka teka dhuka. tangise kelangan gusti. 03 Aja sira gawe ati. 02 Jodho lawan putu mami. mung siwewetengan ira. mangksa dadiya sangsayane. den salamet urip delap. kagete kelangan laki. dhumateng jongging sawargi. kudu mung samono sira. e-putuku Braja rara. sasirnane lakinira. tarimane ati nira. Linggaiyang sirna lalis. namber lir kilat sayuta. sira momonga anak. iku kang mangko gadhang. den samber sinawa musna. tema warna banaspati.Kang murup-murup sing dhuwur. estrenana madeg nata. wuwusen lamonika. salamet besuk yen metu. PUPUH XVII ASMARANDANA 01 Prabu sepuh atitilik. susulure ramanipun. 28 Wong dalem geger gumuruh. wus papasthene Yang Agung. ingkang gedhe pangrekdane. lalayad wusa ing waya. awak ira wuseng arja. Brajawati karuna jrit. gapuh aris kandikane. kantaka ping nem sadela. 04 .

kadika Ciyungwanara. seja denjaragan sirna. ya Talibarat matur sandika ing karsa nata. ana nyempad nyata jabang. jaga kaponakan nira. sawane atur usada. embok ana bala wita. yuganira tahunan. 08 Dhudhukun ana anambani. ana maning duracara. 06 Talibarat den abecik. dening si goronjolane. duk lagi ingucap teka. loro becik jagaa. ing jero garba punika. maring Brajawati wau. Parwatali aja gape. apa lakinira bae. seja ika nyambera. banaspati kang manglawe. lan ika sadulur ira.Ing sacangkoke sudarmi. Brajawati dening sejen. ora kajamak lan jalma. iku padha den kareksa. tumiling ing awang-awang. nyata ika lamon watu. wewetengane si rara. kaponakane yen metu. kawasa sira murbaa. dadak sakala turune. isun pracaya ing sira. saking awang-awang nembah. ana nyempad banget kelang. ana melang lara busung. ing ngarsane sang nata. atos kabina-bina. 09 Ya ta lamining lami. 07 Ya ta lami-lami. pinarcaya sira gupuh. . 05 Talibarat Parwatali.

kalihira Talibarat. apa ingsun cacangkoke. Brajawati nulya babar. karta buwana ira. baleger lir gandhik bae. galang-geleng ing tatampa. Talibarat kang anjaga. enggal rawuh prabu sepuh. rupane ika kadya. ora jamak ing rupane. maraja Ciyungwanara. ora asipat ing jalma. bales pati konangan. den tulak padha kawur. 12 Wus kadi raja pawestri. 13 Mangka dhateng waktuneki. tanama wani pareke. menak pra kuwu sumembah. waktu nata Linggaiyang. ana ing rat Pasundhan. kalangkung ya ing jagane.10 Ora kaya Purwatali. Parwatali Talibarat. 11 Braja rara estu kapti. ana jabang tan jamak. geger ing wong dalem pura. 14 Nanging ika obah mosik. sirna bala wita kabeh. kaumban roro sadulur. tan ana amaling kecu. prayayine dudu bocah. galundhung lir gandhik watu. salinggihe Braja rara. angreh Sundha sigar wetan. 15 . anulak ing bala wita.

16 Kapremen dayane iki. . akocap sapraptanira. ruruhe marga benere. tan kawarna ing lampahe. ora kajamak rupane. jeng Nyai Sukati indhang. ora endhas ora tangan. dohena gungsu minggaha. sang kama-kama dadya. ora guna ora gawe. Gunung Sakati watune. wong anak-anak bok apa. 18 Sigra mangkat angaturi. ambrih dadi manusa. pingnangeran ing jawata. kamapmaja kamaptulus. ningali jabang lir watu. maring kang mengkono iku. manawi wus nemu luwang. ana urip tanpa rupa. sugih reka pandaya. girap-girap sabdanira. 20 Luluhur ingkang mayungi. la iki nuli kaprimen. ing mangko dadi susulur. 17 La coba undangan gelis. aja anerus simpangan. sudi gawe anak Sundha. kang bener aja sarar.Aningali jabang bayi. dening iku buyut ingwang. iku kang wus ora nana. ika wong tuwa manawa. kipya-kipyahe nyi indhang. si Indhang Sakati ika. nuli kapara mentala. ana obah ora swara. iki jenenge apa. iku embok nyai indhang. ting-banting aja na wuruk. gumaluntung kaya watu. 19 Gulundhung wis apa gandhik.

atos-atos pra semone. kuranggeyan nyawuk-nyawuk. kinacekaken age. wis kajamak lawan uwong. anurut ing kaki buyut. nuwang prabu Ciyungwanara. si kacung munggwaya delap. kalangkung sukanira. ambabar punang paesan. Indhang Sukati ngandika. 24 Den saiki sun arani. jebol katingal endhase. si Linggawesi namane. 23 Jebol dadi metu sikil. ningali kang kaya wau. 25 Sadaya suka ing ati. Brajawati tumon ing putri. ing jabang kang kadi tosan. sapurna wus sipat jalma. jebol metu kang tangan. wusing kadi mangkana.21 Nuli nyi Indhang Sukati. sampun kaya manusa. ana ing jagat Pasundhan. 22 Sakedhap nuli anjerit. den kakacakaken gupuh. maring Dewi Brajawati. kamrala isi jabang. nuli sinembur den irag. kanggo nunute si buyut. jabang bayi nangis ira. si buyut kang gawe aran. ambridelap agesang. nurut jalma dadi jalma. PUPUH XVIII . nuli kinetab kang pada.

dupi ika saking pun nyai. tuwin ngilo banyu. krana iku wong. poma-poma nini aja aweh. sandenge tumuwuh. inggih kasuhun ing sihe nyai. ora kena ngilo dhiri. embok pulih watu. 03 Pan mulane pantang ngilo carmin. 05 Tedhakane kacung Linggawesi. galang gulung wikan jenenge. mula ja den kakacani. saking kaca timbole dadi. . tuwin ngilo caremin. poma den angartos. si kacung den eling.MIJIL 01 Indhang Sukati awewekas jati. kakaca angilo. tangtu ical ruru. 04 Pulih watu lebar ingkang jati. yen tan ana nyai. kang paring kamarin. iya kacung kon pantang sandenge. dadi braja aris wangsulane. panduman salamet benjing. maring sang dewi reko. saprakawis nuhun. 02 Ya pacuwan ilok akakaca dhiri. asal sing kono anane. boten dados ewong.

angadeg narpati. ginrabeg kabrabon. miwah ta ing benjing. iki jabang wus sun istreni. pinajengan agung.06 Inggih minanten langgeng pakeling. la iki dengartos. kang sumeja kula ati-ati. prakara samono. calapitaka lawan suling. dening sang prabu. pun kacung aemut. Prabu Ciyungwanara langkung sukane. 11 . kantun prabu kolot. lan kadhingdhang saruni salompret. nyuluri kang lampus. ing basa basuki jalma kabeh. prayayine den baraseni. 09 Pan binakta munggah sitinggil. 10 Prabu Ciyungwanara sru angling. sinowara gelis. datan wande kula wanti-wanti. ing saweweling ing nyai sakabeh. 08 Ya tan Indhang Sukati wus pamit. 07 Kula emutaken tan ing benjing. den embang tumuli. kawula menak pra kuwu sakabeh. den sampuna angartos. pun kacung kapenging. akaca ing besuk.

Pan sinebut Prabu Linggawesi. kaya mau-mau. ing Sundha sang katong. pan gurumu samya matur inggih. kang kalawan angati-ati. Parwatali Talibarat. sarta den sauri. ingkang luwih patut. la sira sakaro. kang babasan embok. anulya sang aji. angandika reka. embok banaspati. kakseni den mangko. aja gampangaken salir gawe. . den becik atunggu. 12 Geledhuging gurbaning ukir. maring si kacung aji. arumaksa maring jabang bayi. 14 Kaponakan aja sira cenger ngarsi. mung sira sakalih. ora liyan ingkang patut molek. enggal murud sami. prabu sepuh mantuk. Linggawesi ing mangke ingistren. 15 Sapa wruha nyamber jabang bayi. 13 Nelakaken prayayi sartaning. ya ta ika karo. enggonira jaga ngati-ati. malebet ing kadhatun. Parwatali Talibarat mangko. ngadeg ratu sing jabang bayi. 16 Prabu jabang si Linggawesi. atur sembah ing sandika ugi. ya pragul menak sakabeh. ing ketuk anglugur.

21 Den wiyak kapati den grayangi. 20 Dening ora kaliwat sawiji. ing tobong den susul. 19 Pan bagane dipun rogohi. kocap sang katong. umur tigang tahun jejege. dipun ingok-ingok. iya padha den sirik sakabeh. Talibarat lan Parwatali. prabu jabang ing salami-lamine. 18 Prabu jabang ya sang Linggawesi. sing aistri manjing.17 Mring daleme wus acakapti. diwegira mangko. dadi enggo dodolan duwena. (?) kalekanipun. ingiling den tonton. pareng tangiya iku nuli. maring wadon iku. patute wus esir. ora dhing-dhing kelir. ingkang manjing tobong. ingkang ngaubi maring. dening iki majikan cilik. darbe manah berag ing pawestri. yen waktu nyarengi. den rengkot den rangkul. wadon padha turu. 22 . wong jro pura agawok atine. sarta lamon ing mangsa ing wengi.

wus pating pancorong. istri cilik iku. warna-warni katon. langit warna ing para selir. 24 Den go selir ingkang putra aji. 27 Karanane ingkang wus bibit. ratu Brajawati age. ing watara umur. saoli-olihing cilik. kang dhenok kang sempwo. 25 Kadya sekara sataman kang asri. pira-pira puluh. 26 Nelung tahun istri becik-becik. ingkang cilik-cilik. den pantha-pantha adi warnane. suk ing karsanipun. kang putra samono. wis gopek sakrangulu. den embani sinureni. dipun wiwidahi. kang ati sumonggon. kang cilik kang becik.Den arasi den pareng ing istri. tan karsa nyangkrami. mangkana sang aji. kang mragaga dedege gedhe. memetheti ingkang para istri. kang wis sarwa gamoling kapti. kadya lintang gumelar aneng. 23 Ya pinangrengkangi budi teni. tandhinge pawestri. sinijang abrit sakabeh. . iya sida kuwel pareng karasmen. langkung den gegembyong. burat ganda arum. parandene prabu Linggawesi.

malah agung ingkang sami. 04 Teka wayah babar sakapitunipun. Ciyungwanara ndulu. canggah pitu bungahi ati. kang wus marga kabecik. dadi kaya dudu siwi. tumingal maring kang siwi. ya ta ingkang ibu nuli. 03 Pirang-pirang selir kang adhenok cangking. maring kang gedhe kang uwis. kaya adhine kemawon. teka ing karemenipun. . 05 Padha bae gedhene lare pipitu. kaya adhine puniku. bobot ana pitu wadon. methet ingkang sepuh-sepuh.PUPUH XIX MEGATRUH 01 Indhang Sukati awewekas jati. bandhot menthonge ambewok. prabu sepuh angrawuhi. 02 Ya pondhodhang dhadhinge masih sepanudu. warnane rampak yen tinon. jabang pitu abecik. rasti kang pirang-pirang puluh. kang gamol gandhes acemol.

sakapitune ing benjing. ya maring si Linggawesi. ya si Linggawewi iku. Linggasana naminipun.06 Kaya adhine si Lingga iku. karanane sira durung. mutrani pipitu reko. 08 Kang sijine Linggapakuwan jenengipun. la iki ya canggah isun. si Linggabuwana katon. Ciyungwanara ling aris. den kaya sadulur medhok. lawan sawijine maning. dudu kaya kang siwi. 07 Lanang kabeh ing sapitunipun. rong prakarane dha rapon. iku sawijine maning. kon ngudang kakang la iku. pantes mangko anganaki. Linggasri namining wong. 10 Linggawesi ngundanga adhi maring iku. 09 Linggaerang Linggamurti Linggarayu. pipitune sun arani. maring kapipitu iki. 11 .

kocap sang Linggawesi. 16 Ingkang mobyong kang empuk panggarapipun. aduwe anak pipitu. nalendrane sagegethik. selire abentrok-bentrok. ing para selir kang ngapti. iya sate masih timur. 13 Parwatali Talibarat aturipun. kang nyenyokar melok-melok. 15 Yen wis linggih ing korsi gadhing rinubung. gumredeg lir anak enthok. naging pangertose kadi. ratu ginotama mangko. lumayan rempeging urip. 12 Aeng temen inglalakon ira iku.Delap ika anak ira kang pipitu. angraksa tedhakan aji. bari rampak gumariwis. turanta anak sajatos. ana ta wong masih cilik. . sandika ing titah aji. 14 Prabu Ciyungwanara sampun amurud. kang cepol angaca piring. bala sadulur kumaritig. kang padaha adhunuk-dhunuk. ya ikut kang raket ngayun. kanggo gegerebeg ngunggu. lumampah idhin sang katong. menanten uga kadulur. kang aputih kang akuning.

andel-andel Pakuaji. karemane ingkang uwis. karsa kang para samono. wani mati solot-pogot. angrambaka bokongipun. padha anjum sila panor. Kiyan Patih Bandhungkrayo. wus tuwukan sagunging. sagunge menak pra kuwu. wadon irengireng manis. 22 . 18 Prabu lare Linggawesi masih timur. ingkang bobokong anggeyol. sinaroja ing bupati. bang wetan salir kumilip.17 Lan kang padha anggemeng kombalanipun. asale saking Keling. malih kapatiyan nami. Prabu Linggawesi mangun. ing Pajajaran muponi. kabelani pundha iku. 20 Ya gul menak asribawat samya riyung. bangsaning koja guludhung. 19 Prabu Linggawesi jengger tuwuhipun. 21 Lan tumenggung Sukabeling naminipun. ora nana liyan maning.

padha retak anguneni. ameng-ameng maring luwung. wetan kulon ting careluk. sing kidul sing elor. 26 Alok buron kaburu-buru alaju. gurnata garungune bedhil. ting sariwik nganan ngering. ting barisat sami lari. ana panggalan agacon. 27 Yen wus tutug abuburu aneng luwung. nuli padha ganti ulin. ana pingkal salih angrok. kang lebda karya ing kono. cala bangir kang pada lok. laradan alayu-layu. iyang-iyung kanthi wiri. waneh kang padha nalosob. amandhikudhing jamparing. . Menak Podhang Ujungberung. abandring cohok. 25 Pan tawura swaraning gutuk puniku. angungsen kidang apaul. 23 Kang tut wuntat ing sang nata ngalor ngidul. paburuhe bangkit-bangkit. nuli samya ngundha manuk.Ki Demang Alurkoneng kang pinangka dipun. lan Ngabehi Tegalbibis. 24 Ngayok alas arame surak gumuruh. ana amengameng gathik. sadaya ambedhak sami. pecat tandha adhir-adhir.

banaspati ngarah aji. sakehe banaspati. ing gagana galak. tan suwe ujungan kang wong. Parwatali akali. kagandheng anjok ing bumi. nuli areyog asrih. sabagi-bagiha ulin.28 Ora suwe jajangkungan ngalor ngidul. 29 Rog-rogan ting bilulung ngalor ngidul. begog anjog langunipun. ana wowolu dhustha. sapraptanira. tan adangu tumuli. padha tinangsulan. pating jalegir ing bumi. . PUPUH XX MIJIL 01 Sedangune suka-sukawan tu bocah. tan antara ika. kang sadya anyamber pitik. ageger ing tawang. sumyak amobat-mabit. pating kurenyang. ora suwe asukati. 02 Milang-miling kumrab ana ing tawang. ana pingkal silih angrok. kadi ulung babahak. sakabeh pan kena. 03 Talibarat amapang ing awang-awang. dodolan raraton umyung. kang seja den samberi. gumuruh pating jalerit.

marakbak kadi geni. raining kamang-mang. awake kaya buta. 06 Iler yiyid murub la ika padha. sarta wong dalem pura. kalangkung sukaning ati. 09 . eluhe wisa. 08 Sawengi-wengi tuwin sadina-dina. ing witing pakujajar. dodolan kamang-mang. 05 Untunya ngisis baris sakampak-kampak. ambebeda banaspati. ing wengi suk awana. wowolu banaspati. amelet anggigila. nata Pakuwan. asuka-suka. rame-rame ingkang sami. ing ameng-amengan. amawi den suraki. sang Prabu Linggawesi. sikile nungsang ming nginggil. 07 Ting burangkang aneng witing pakujajar. sang prabu Linggawesi.04 Samya tinonton dening wong sadalem pura. lambe kandel malenthing. mobyong-mobyong lir geni. aeng temen sun tingali. ilate amedal. rambut maudag. de go dodolan pranti. padha cinancangan. mana sabendhe mundelik. lan kinepokan. dadi ingoningonaning.

sedheng dipun apunteni. suliha tedhak. kabeh dipun uculi. 12 Rencang kula wowolu kang dika cang-cang. mangkana ya ika. saparti ngingu macan. pala karta Pajajaran. he madigda Parwatali. 11 Sadya nira angrebat ing rewangira. 14 . jengandika cang-cang. kang ukum pejah. kokalan ing druhaka. den pakakaken belis. lawan Talibarat. munggah suka akasmi. kapareng lamining lami. kapanggih sira aglis. den pakan lawan daging. mangkana ya ika. 10 Maring iku adat purba Pajajaran.Banaspati lamine den ingu delap. reh ipun sampun lami. lan ta ana jalmi. 13 Maring iku adat purba Pajajaran. daging buron alas. kang ukum pejah. den go ambuwang jalmi. meraja Banaspati. lan Talibarat. den go ambuwang jalmi. pala karta Pajajaran. kaparing lamining lami. endhas kang sira ngusap. meraja Banaspati. suliha tedhak. den pakakaken belis. kang muga-muga.

lan Talibarat. den pajahana mangkin. kokalan ing druhaka. ungseden maningala. endhas kang sira ngusap. rantenen pakarsa ngolahi. jengandika cang-cang. kula kang dadya. ingkang kadi wingi uning. munggah suka akasmi. 16 Gih sumangga kabeh padha sarat tobat. 19 Tan pracaya sumangga atetep jaga. . kabeh dipun uculi. 18 Pasthi iku banaspati iku jaga. saksining seja pati. kang babasan aja. tan genah wani-wani. 15 Rencang kula wowolu kang dika cang-cang. lan sanadyana. 17 Pan sejane banaspati satedhaira. ing duriyat Pakuaji. Ika kang sinambangan. lawan sumpah kang candri. turuna Linggawesi. reh ipun sampun lami. balikan kudu jaga. wani-wani gaweya. sok nang gunung sok nang pasir. kemit maring sang aji. sedheng dipun apunteni. lawan Talibarat. kang muga-muga.Sadya nira angrebat ing rewangira. ingkang anak putu aji. duriyat Pajajaran. tedhak Pajajaran. ing ngendi prana. kamang-mang jaga. kapanggih sira aglis. dumadak lirwa jangji. he madigda Parwatali.

anguripi ing wewering. nembah dhateng sang nata. gubug sawahan. banaspati padha. rumaksaa ing jeng gusti. Talibarat pon ugi. 22 Parwatali Talibarat ing sabdanira. 24 Pramilane Pajajaran akeh kamang-mang. cat katong dening jalmi. den culaken tumuli. pranjangji lawan sumpah. dingge punapa. mejahi babu pribadi.20 Kula boten lajeng nanggel kang acidra. prajangjinira. 23 Iku dhateng banaspati wolu sigra. nangi kita padha. kang kakayon ana hing. yen mangke cidraa. kang pangawula. Yang Maraja Banaspati. ngaturaken ingkang abdi. nguwel-tuwel kadi geni. 25 . kula dhewek kang tandang. suwawona ing tetelar. seja apracaya. yen mangkono ya becik. manecat ilang. 21 Ya ta sira Parwatali seja marma. banaspati wolu sami. maring raja endhas bang. kang wolu banaspati. amintal usul ing abdi.

malayua genudhang. satedhake dadya pangregep kewala. duga pegel kang lumari. kamang-mang padha angiring. gone gigila. 26 Kamang-mang tinangkeb lawan keranjang. mangkana kang adat. gelethak dadi lupi. napase kesotan. ing wengi kang peteng nuli. ing wuri tat Linggawesi. yen kekesahan. amung samemedeni.Ana meled-meled aneng gubug-gubug padha. mogok kang den baleding. 04 . 02 Pramilane Praburara Linggawesi. PUPUH XXI LADRANG 01 Sadangune suka-sukawan tu bocah. satedhake sang ratu ing Pajajaran. nanging kamang-mang cawiri. ya kamang-mang pinangka damar ing lampah. yawis tobat. angleledhek wong ngarit. ing lampah. 03 Mobyor-mobyor kaya obor atut margi. jar bangsa siluman. tan amikara.

Ya angraksa ing sabandu kulawargi Pajajaran. 07 Linggapakuwan tanopen Linggasari Linggasana. kang kaprabon pipitu ing Pajajaran. . sakabeh sinebut nami. ingkang putra. sabagi-bagi. pipitu kadi wargi. 09 Kang pinangka bala ratune Linggawesi jenggerjagat. iya iku amengku purbanagara. 06 Wus prajaka yuswa umur salawe warsi. Linggaerong Linggamurti. ya kamang-mang iku endhas kewala. Linggarahayu kalawan Linggabuwana. awake manungsang menginggil. rantab-rantab sakabeh namane lingga. 05 Yen tawiri kamang-mang awake paksi wus marena. 08 Kapitune wus alinggih bupati namanira. kawarnaa Prabu Linggawesi nata. Pajajaran duk jamaning.

10

Iya iku sang prabu Yang Linggawesi Linggatosan, babalik remen ing alit, maring wadon marucupe lagya.

11

Ingkang durung susune kumaringkil, wadon ingkang, masih rata kang pepenthil, kadya kaya susuning bocah lanang.

12

Wau pupak ya iku kang karemani dadya ika, kang ibu amemetheti, wadon cilik wus angsal kang kawandasa.

13

Gumariwis pan kaya bebek memeri agiringan, sagendhongan kumraritig, denpahesi sandhangan kang adi pelag.

14

Dadya susah ingkang ibu Brajawati, genya dhana, anuku-nuku atining, bocah wadon sangkane gelem dewasa.

25

Mungguh sire iku Prabu Linggawesi maring bocah, kang tembe pupak sawiji, kumokod pisan ing bocah perawan pelag.

26

Ya sang prabu dadi ora duwe selir, maring bocah, kang wus lungse sathithik, ora esir maring bocah kang wus tarab.

27

Kang wus reseb padha miretan kawangking kaparek kang, lare ingkang durung gething, iya iku kang kinarsakaken nata.

28

Ya sang prabu Linggawesi lir lare alit yen dodolan, yen mangsaning udan nuli, ya selire padha katimbalan wuwuda.

29

Aing latar anuli dipun suraki, lawan dinar, ya ta sakathaning selir, kang wuwuda rebut dhingin ruru dinar.

PUPUH XXII

01

Kang sinebut namaning kang raja sunu, Prabu Linggawayang, sinungan kabopatene, Bantalwaru ika ing cacangkok ira.

02

Ya mangkana Prabu Linggawesi mundhut, putrine wiliyang, Dewi Cibongas namane, gih punika nembe umur dasa warsa.

03

Sacareme ing kana kinarsa jatu nata Pajajaran pinangka bini ajine, malah iku sampun miyosaken putra.

04

Lanang ingkang sinebut ing naminipun, Prabu Linggarasa, sinungan ing kabopatenen, Karangsambung Purakadhongdhong Malangya.

05

Nulya Prabu Linggawesi sira mundhut putri Barisbulan, Dewi Rasati namane, iya nembe kang umur sadasa warsa.

06

Sinaptanan sampun pinrih jatu, ing dhatu Pakuwan, pinangka iku sang katong, careming sang sampun miyosaken putra.

07

Lanang ingkang sinebut saparab ipun, ing raja kaputran, Prabu Linggaening reko, pan sinukan kabopaten Sokalaya.

08

Lami-lami Prabu Linggawesi mundhut krama putri nira, Sunan Gunung Puntanggedhe, ingkang nata Dewi Rara Lisniutama.

09

Pon ya tunggal anembe yuswa sapuluh tahun wis pinuja, prameswari aneng kono, pan amurba para garwa ing Pakuwan.

10

Intening wadon ing pura Pakuwan agung, iku prameswara, Rara Lisni ing jenenge, ketang garwa waruju nanging kang dadya.

11

La yen mangking gamparan ika sang prabu, nyarengi kang garwa, lari gulingan ya age, ing karsane inguculan kang gamparan.

12

Arumaksa bilih kagete sang jatu, garwa kinasihan, kakasihing segedhene, damak-dimik lumampahe ta sang nata.

13

Genya tumpek ponjan asigarwanipun tansah pala-pala, mila sang prameswarine, ya wus bobot ananging ora kajamak.

14

Atahunan anggene ameteng iku, ora baba-babar, wus pirang-pirang lawase, kang dhudhukun anggrarayang sing dhi ora.

15

Kang sawane angarani rara busung, kawelehe ika, dening tan ana rasane, dupi busung akundhangan rasa lara.

16

Dupi iku ya kaya wong meteng iku, sejene mung lawas, ora na bebeleyane, kang sawane ambadhek lamon kawaya.

17

Kawelehe dening katilap ing ngujum, tan katara pucat, ora rumab ora nonjok, panyanane masih gumilang padhang.

18

Kang sawane lamon ika malembung, kanginan ika, kawelehe ika deneng, ora katon urat kang pating karenyang.

19

Dupi tingal ajar lawan wiwiku, den iya sanyata, mateng sang dewi samangke, isi jabang supaya tan karsa medal.

20

Ya sang Prabu Linggawesi ing tanyanipun, la prepun baya, paman ajar tarekange, dra pon medal si jabang duk kaya saban.

21

Para ajar sabane boten pikantuk, yen mange medala, kadesak wedale dhewek, boten kenging den paksa-paksa medala.

22

Ya sang Prabu Linggawesi pan dhedhesipun, iya kena apa, paman ajar satemene, weharena aja sabda kang den garba.

23

babarane ing suka atawa dhuka. ingkang ngadi ing ngadhenan. andherek ing sang aji. pan kalilan ing nata acangkraman. ye punika jabang. paman ajar dika. awit rebah watangiku. 24 Ya sang Prabu Linggawesi dhedhes gapuh. 02 Ingkang abanjar wangunan. mangsa boten ing gelar ing waskithaa. aja gamam ing awale. kudu dang nata rumiyin ingkang asirna.Para ajar para wiku sabdanipun. samya suka ati. giyak-giyak wong jro puri. ngadhem-adhem ing pantara. nang latar lan prameswara. boten kilap ing sang katong. kalangenan den ideri. ing adining puri. ing mangke tulus wewedhe. paninisan angemba ing. ana wang-wang lalangenan karta yasa. 03 . tarengkep ana ing. sarupane parekan agung. gih boten gadug. 25 Para ajar awale babar pamuwus. PUPUH XXIII SINOM 01 Tan anatara sang nata. wus katingal sadayaning.

ya kon manjing dhingin maring padaleman. la sendekala iki. jandika katuran mantuk. sapunika timbalaning. puniki pan sendhekala. wong dhodholan reren kudu. melang dhirine kang siwi. emban amintara aglis. prapta nembah nuhun gusti. tan kena barang sukati. 07 Ingkang aran sendhekala. katuran mantuk ing puri. mung siku adating apa. banget melang ing ila-ila ing kuna. wong den penging andalarung. ing anak isun nata. Prabu Linggawesi wau sabdanira. dangu wonten taman sari. gampang mengko wus miwat. ingkang ibu raja dewi. sendhekala ngalas maning. sendhekala boten suka meng amengan. susulan maning la ika. punika kawanti-wanti. dupi iku kapiyarsi.Brajawati apotusan. 05 Dening ibu dalem ratna. boten sakeca ing manah. gampil manghkin lekas malih. ing paduka gusti jandika katuuran. ya ta caraka wus kebat. kepyar-kepyur taragdagan. ora ngrungu pamarahing. 04 Isun iki enak. . tuturen den ujar mami. age mantuk dalem puri. duduwa dining gumuyu. sendhekala sukati. ibu dalem ratna wau. gumuruh kang suka-suka. ya mengko sadela maning. timbalane ibu nata. 06 Mengko isun mulih ngomah. nembah matur ing gusti. kepyar rasaning ati. kumepyar rasaning ati.

datan babar nuli lelewane pisan. kudu duwe pamali. 10 Sirep ora ana kang swara. anjog sajanira nusul. ing mamala sendhekala. dhateng panggenan putra. ya mange gak arep mulih. ila-ila bari iki. ya ta Dewi Brajawati. . nata anjrit agiro tur gedebugan. 09 Ganti mara asu aba. aja lok sawaya laku. kalangkung dhegel ing ati. sawusing kadi kamangkin. meteng tan jamak lan jalmi. abane antong wirasa. ora na abacut mewit. rabine kapadhan maning. buduk namber mataneki. kang ibu kelangan lari. wis neng kene bae iku. wong meteng ya kudu wedi. saking wanci pacek desi. kang baribin padha mampus. aja balik marana. ya ta sang prabu wus uning.08 Gampil mangke yen kalintang. masih kadi bocah alas wuwu cawak-wak. ngandika mung ta iki. Prabu Lingawesi nabda. 12 Mung ta padha asingidan. ya si Rara Lisni baranyak tandhungwaya. ora suwe ika hiji. gumuruha warna-warni. dening lelewaning siwi. sira jacraweya ing mami. yen kang ibu rawuh pan samya umpetan. maring ngendi Linggatosan. kenang samber mata prabu. 11 Sandhekala wong kang kuna. dheweke lagi garbana. mapan si dhewekw ika. umpetan kang maring ngendi. pating salindhut singidan. dhigal temen atiningwang.

ing jro kaca kaeksi. Rara Lisni aningali. PUPUH XXIV KINANTHI 01 Prameswari nira gupuh. 04 . 02 Pan dadining sakatemu. ingkang raka mukaneki. kang raka kadi mangkana. ora kalawan pamili. iku kang dadi kalilip. adan wong jro puri. katharak-thaak ing tingkah. 03 Raka dika tingali iku. kami ruru seneng ing ati. tan wande kalilip kenging. ya dadi milu anganis. padha nangis sambetipun. amundhut kacatu mulih. pan dika jiwit kewala. gusti kita kenang apa.13 Anjeli-jeli karuna. duk tumingal ingkang raka. pan kadya tambuh ingkang manah. Rara Lisni ical arti. ora wurung katingalan. tiningalaken enggal.

laku lalis tan ping kalih. kaledhug ingkang sawara. 17 Mapan mangsanaa iku. kembang kang wis megar ika. mangsa ababalik maning. ya wis padha ing pasrah sira. ya wus katalaya dadi. 05 Marang wadana sang prabu. adan geblang ya sang nata.Saestu kang garwa iku. pramilane gelis ambil. Linggawesi aninggali. welinge ingdhang Sakati. ya den penging akakaca. katingalan sarira neki. prapta ing kana lalawad. 07 Sareng ngilo kaca wau. teka tan kemutan iki. dipun tamengaken aglis. iku dadi wesi malih. ing pantangane sang aji. wis karsaning Yangandum titi. guragapaning asakit. mangsanaa kudhup maning. pantangan lamon kakaca. . udan kang wus timbang siti. 06 Ora kaya dening iku. yen sang nata boya uning. tan kemutan apa-apa. ing sarira kang nata. 16 Ora ana gunane iku. pan mangkana tan kemutan. wong wis dadi padha pisan. amundhut carmin punika. kadalang suhing ngungkara. nuli balik ing ngawiyat. angandika mituturi. kang garwa mintoken carmin. mapan reke sami neki. ing lemah baleger gandhik.

22 Lampahnya selur adulur. saking garba wewetengan. ing pasentran candha warsi. wus gumelar pangladhenging. kang padha sengkel ing ati. PUPUH XXIV . baris kang sabagi-bagi. 20 Samapta krajaan sampun. ya ta opyak para putra. kurnapane ingkang rama. 19 Ing pasisir kidul iku. Rara Lisni tahunan iki. kangmarapit anjalana. payung agung dhedhet kehing. pan sasilir ing angin. balikan padha rerepa. mangke gadhang timbul mijil. pama ing pacendheneki. saking kathah upacara. ingkang arep cilaka. datan mangkat saking puri. pra sami gelar ngasreni. Linggawesi sampurna kena. 21 Kang layon wau sang prabu. pajeng asri payung kembar. kang sampun sirna alalis. ing margi andher awilis. sangkan-sangkan bae kudu anemahi. pucuk praptangpa candhening.18 Lalu marag kembang iku. tanpa pegatan lampahnya.

wus den becik wuwusen nini. datan kena pindho laku. kang tan uning. kang sumurub ing jro garba. tunggaleku nipun. iya Rara iku. Brajawati wuwuse angemu tangis. ing lalis tan kena wande. dudu iku lampus. kudu bae amaspisani. ya mangkana anak mantu. ing pati lawan merad. temah nrajang pantangan. pan kewala salin nagara den panggih. 03 Kang minglintang kang mingsurya sasi.01 Ora ana bedane ing jalmi. kang arep bagja sing sangkan-sangkan. wewetengan titinggalan. lincakan aneng buwana. tan mindhoni lincakane. nyai Brajawati kang silib. anang gunung ing wetenge. ingkang ambes ngayangan dhasaring bumi. pan sarupa lakuning pati. ananging den wis pindah. yen dangdani ingkang aran sirna. ing kalpantanganing anak. ora opyak sawara. 02 Den wis nrajang pantangan tan keni. dudu mati dudu pejah. 04 Ora mantra den abalik maning. ing jro wetenging watu. amung kari entenana. kudu bae nemu eleng. 05 . mung sapisan sapisan kewala. mulane laku iku. pramila kudu emut. maring anak mantu. sakabeh iku tunggal. ingkang mingsa dhasaring toya. nya mungga tulungga. anang gunung ing jro garba.

putih sarta ngukup menyan. ya ing pasar kono iku. isun pejah dodolan ngundhang kang gaib. atawa mangurungan. ☻ 08 Ya ta Brajawati wus nimbali. PUPUH XXVI PANGKUR – 01 – La ya Nyi Indhang garjita. iku sadiya kena. supayane tiyasa amedal. karang melok aja na kari. 06 Inggih kula boten kilap nini. isun jaluk kukudhung. ya ta wus pepek sakabeh. Indhang Sakati sahure. ing sasangen pamundhut. susah temen yen boten si nyai. maring kang meteng lawas. . boreh wangi lan lenga. lan ukupana kang agung. anjumbul-jumbul kaget tur sarwi nabda he sakoro kacung. ambok kontal kenang thathit. suri kacinipun. den kajamak kalayan manusa. go sasajene kang gaib. windon takeran warsa. Parwatali lawan Talibarat padha gujengana iku. ingkang andaya-daya. ya aganti tanpa anten-anten dugi. kira-kira sakalapa. jawada ing sawarnane. den barikut sabadhan. 07 Lan anjaluk kembang kang wangi. nyi Indhang kukudhung. nunten kaparipun. sampun takeran tahun. ingkang warna kalawan dasa nedha. Rara Lisni ingkang rosa. maragsag ing ayunan. wastra putih ingkang abecik. wong jro pura kinen sadhiyaa. sadangune muja rara den adhepi. punapa adat kang prantos.Wewetangan dra pon gelis lahir. ipun Indhang Sakati. lan kembang campaka pethak. pola kula ngajab-ajab.

anggepeli rambute sing uluhipun. cirak-cirak kalangkang suka ningali. babar pisan wedale jabang jalu. pusere ingkang tigas. – 06 – Ya ta Prabu Ciyungwanara . mingsor maring ngawiyat. kang canggah wus babar metu. gelap ingkang mancaroba. kakacae ika dadi. dadi gela nyawang ing paparab ipun. dangu-dangunipun nuju maring Rara Lisni adan. astane sang rara iku. kang kina daluraning karsa.– 02 – Ya ta Talibarat. . amiyosaken babayi. ari[ari ika sampun dumadi. – 03 – Gebyar-gebyar ora mendha. dangu-dangu nuli medal gelapipun. – 04 – Maring ngarep maring wuntat. mapan kilat mancaroba nganan-ngering. – 05 – Gelap nyenggrang namanira. tan dangu kilat agemnya. Parwatali pansamya anggemeli. talerep kilat lan thathit. ingkang tulung Ingdhang Sakati ing mau. maring ngarep maring pungkur. kapat maring jabang bayi. wus kadadiyan titiga. warnane suteja peglag. maring dhuwur mingisor anjejeg bumi. gelap sangyang wastanipun. ingkang marga lantaran. dupi Nyi Brajarara. ting sariwik nganan-ngering.

pan sinebut Prabu Wastu parabipun. Prabu Wastu jabang bayi. rancakowek warni manuk. akeh padha rena. – 08 – Aketuge sasahuran. Ciyungwanara si jabang dipun imponi.– 07 – Sang jabang ika kaangkat. ya ta samulur raja. anjaga dhiri sang aji. ana ing rat Pajajaran. linggih ratu dening sang prabu yoni. – 11 – Prabu lare wus anyakra. menak pra kuwi sigar sawetaning. mrana-mrena atut wuntat. amuji juragan aji. padha nakseni ingkang lilinggih ratu. kang pinangka pamong-monga Prabu Wastu. kang aran Gunung Krendha. wetan kulon padha aganti uni. dening Prabu Wastu purba wisesa Sundha negari. ing Pakuwan ra timbul ingkang sasulur. Ciyungwanara kang junjung. Prabu Ciyungwanara saking ngukir. tatas maring Cipamali kang kawengku. Pajajaran kaya mau. sawaraning Yang jagat. – 10 – Mila ika kang wong sanak. kalenggahaning canggah. piyambak ing Prabu Sepuh. kasanson ing kulawarga. – 09 – Tatapi ing karsanira. Pajajaran suka ngapti. tanopen wetan lor kidul. awit Cilutung ngetan. – 12 – .

Parwatali angahu biwaya ipun. – 13 – Tanggung-tanggung kang manusa. Tumenggung Natakriya. – 14 – Tan Ki Demang Bantarpanjang. apa adating sang ratu. masih pinter kepati burung wiring. ingkang jaga-jaga nagara. patih Burung kandha nyatane paksi. kawuwuhan sadulur kang ngampingi. kang dadi anjugalani. sinaroja gul menak kang Bopati. kang juru pamong-mong wau. bisane anginger bala. angrampungi pradata. miwah eyang Talibarat. kang seghenge angampingi. – 15 – Wus tan ana kakurangan. pinayungan para eyang. Pakuaji saking Cigasong punjul. Tumenggunge kang sinebut.Papatihe kang anama. kang padha raksa rumaksa. – 17 – . gelap Sangyang Talag. bisa nginger pagaweyan. gelap nyawang Karangsembung. – 16 – Ing turunan Pajajaran. lan Ngabehi Sokapulang iya iku. langkung bisa amutus kang prakawis. agawe enaking padu. ing salinggih ing narpati. ngemiti pagusten aji. gelap senggreng kalangkeng pandengel wijung. mulane dadi papatih.

– 18 – Sing asing aneranga.Kocap praja Pajajaran. pramilane Pakuwan wanter pangaruh. anak putu ingkang anyerang papali. saanak putu nira. sing angidek Suramangkrak. ing pantange Pajajaran dadak nuli. ila-ila kang pamuli. maring sobawanira. Parwatali ngabar-abar. kaligane gumurubyuk. gumalendhang dharangdhangan. anuli ana gelap. udan angin gelap tempuk. . Parwatali Talibarat. – 22 – Ngayeg-ayeg kena tulah. nuli ngedhang para buyut. Prabu Wastu Pajajaran mandi. – 19 – Gelap sangyang sing jro toya. lan gelap nyawang nambungi. tanpa sangkan mobat-mabit awor lisus. dadi lumpuh dadi gering. tan kena sathithik sigug. inkang kena padha upataning ratu. ya mulane den arani ingkang nebut. wawayangane nalendra. sinata ing dhewaji. ngungkuli bawa dewaji. – 21 – Tangtu tiba kaju lina. Prabu Wastu Ginotama. ya polahe Talibarat anempuh. giyuwan peteng lir wengi. tan kena den idek iku. ora kena jaladhak ingkang wani. supatane dadi tumpur. – 20 – Iku dadi patengeran. iya iku martabat. sing angidek dadi pincang dadi buntung. mauk miber angambara. turunan ratu anget sakalir titi. aki buyut Banyakgarantang. gelap senggreng garantang tanpa thathit.

cirinipun den ingkedhi. – 02 – Kalangkung ing kinasihan. parekan kang ageng alit. sedhengane olih rabi. Ni Ratna Sekarati. jeng prameswari sakara. parandene datan metu.PUPUH XXVII SINOM – 01 – Prabu wastu Pajajaran. sapolahe amantesi. anak maning yen iyaa. dening datan miyos siwi. ing sadaleming purati. dening warnane abecik. patutuganipun arum. daropan anganaki. ora na sawalang kapti. laminipun ora amiyosi putra. linulutan ing sakula. anak-anak ing sasami. ora ilok kathik. gedhe cilik sadaya aturun marma. warnaning kaendahan. – 05 – . aresep saumur ipun. ya dadi ora bisa. tatamba ing ngenda-ngendi. tan ana ingkang mantari. – 04 – Suwane Sri Naradhipa. kalangkung warnane ayu. pranakane Sang Dewi Sarkara ika. anglegakaken manah. punika kang prameswara. – 03 – Wedi asihing majikan. Susuk lampung ingkang nami. saking anaking bramana. kaya garwa sang nata ing Pajajaran. sabab kaliwating aking.

estuning bresih sarira. saking pulo Tulangbawang. weleh tan ana dadi. Tulangbawang maring Jawi. – 08 – Kocap Ptih burungkrendha. – 09 – Ing besuk panusul ira. . saking sabrang saking Jawi. – 07 – Ngalap garwa wadon ingkang. ing marmane besuk karuru larinya. ora idu ora yiyid. tan ana roro tetelu. wau kang binakta dening. angiwat putraning aji. – 06 – Tan karinget tan kalalar. kang seja naglelesena. pun sampun wau akatur. garwo malih garwo malih pon tan putra. dhateng sang prabu nata. ing Pakuwan sampun tampi. kalangkung dermaneki. bebet manak istri saking. lawas-lawas katiliktik. sampun kagarwa puniku. koncara lamon ika.Pirang-pirang tukang tamba. pranakane ya Sang Dewi. salamine pon boya miyosi putra. Prabu Wastukalintang. wus boya anganaki. lan amijil putranipun. amung ing Sundha negari. pinuju panenggek kang asri. ora wadi ora mani. angused larining ilang. iya iku dadi purwakaning perang. ora umbel ora duwe sulu mata. nama Encecalingcing. ingkang papati garudha. mundhak akingipun gempung. ana ing Pajajaran. marmanipun dumadi. ora reseb ora mimis. putrane Buyut Satohan. anenggeh maring Jawi.

garwa aji ing puri. – 13 – Sariandilep kang nama. kasawung ing pegat turun. kangkat wani angambil. pon kagarwa tan mijil. rati ing Pajajaran. kang dudu waris ing aji. nuli malih gagarwa. putrane gabug maning. gawe ora arju mungguhing dewa. nuli sang nata garwa. kale wadon duwe laki. Prabu Wastu ing Pakuwan. pameswari iku wadon saking kubang. ngiseni ika kewan. – 11 – Tiya cicirine ta sira ki Patih Burung ya dening. sewakane dheweke kanggep ngawula. ora nana una uni. atuwin ana anelang. Ence Galingcing dumadi. karya laku ngiwat-iwat. marmane ika wanodya. nuli ana arti nisip. Pajajran iya iku. kanggo babakti ing ratu. pan mangkana pinet garwa. kang nanggoi pati urip. ya wis ngijir gadhang kaselang susupan. . apindah-pindah turuning. kang minangka maha dewi. wadon saking Luwiliyang kang anama. malih kang pinangka dadi. durung gemet angilari. kyan Patih Burungkrendha. – 14 – Marga peteng kang anyelang. tan ana medal siwi. putraning Buyut Gunggirik. satemene susupan ing bramana mangko gadhang kacatur. garwa tetelu tan sunu. – 12 – Wang ing sakala samana.– 10 – Dupi samangke kalingan. ya iku pan gabug maning.

Prabu Wastu pan andulur ing garwa. ambabar danawa wangi. langkung sadarga dening tan kagungan putra. – 16 – Prabu Wastu nuli ngalap. lami-lami kang garwa prameswari Sarkarati. tan nana medali siwi. garwa lima kapadhan. – 18 – Lalu buwang-buwang raga. iya dadi gabug maning. agabug sadayaning. PUPUH XXVIII KINANTHI – 01 – . rinebak-tebak asuwung. ngajah padha mathem wijil gembyung. ing aputra gawoke wong Pajajaran. gabuge tan ana mijil.– 15 – Putrane ki Cupangcapra. ora nana kaya iki. selir kawandasa sisi. mikiri punthes ing aji. ora na kang mijili. Prabu Wastu mulat bisa. garwa sakali manipun. winangking sadaya nira. sing ngarsane Sri Bupati. ora anggandol sami. wis windon takeran tahun. ing dos wiji-sawiji. tumulung darbeya siwi. panendhi ratu Pakuwan. salamine ngratoni. tan ana gumentasa. dadya pamitan sing kana. nami Nyi Carananggolis. – 17 – Wondening arjaning pura. rama ajar Sususklampung.

. anggepe sang nata endra. panuhun reka pandaya. ing lilani prameswari. sebab wis ora na maning. ing dhesthi ratna Calingcing. garwa ingkang kinasihan. – 04 – Amung kang den tunggu pupuk. ya toli kapremen si toli akale si bapa. kang dadi rasaning ati. sakathah ing para garwa. sok aja Calingcing ratna. pepedhang sadina-dina. mung garwa aji Calingcing. bubar kabeh para rabi. budine si bapa iki. entare saking Pakuwan. ora na kang miyatani. kang dipun abet ing ati. rimbitan sawengiwengi. estu kangge ing akrama. medheke maring kang rama. iya nyi Rara Calingcing. lan ana ketang katolih. – 05 – Sigegen kang dhesthi lulut. sakabeh tan amutrani. dra pon dheweke si siwi. bramana Susuk pinundhi. angrasa dadging sagelih. – 06 – Ki Bramana wuwusipun.Dadining sang Prabu wastu. sang nata pijer kakenan. – 02 – Asal Tualangbawang wau. – 03 – Gabug-gabug pan kapuhung. kocap nyi Sarkarati. toli kapremen tala.

supondaya amaringi. si bapa pon milu isin. toli kapremen maning. sumangga jeng rama amanah. jaluk mati sapuniki. – 12 – . sumangga den pejahana. kang usada warni-warni. kalowos tan angsal kardi. – 09 – Ratna sarkarati muwus. cupet cempole ing budi. mider kenges sun salaksak. awak kula langkung isin. babu nini ya ta iya. angupaya apa maning. dhateng maru-maru kula. yen boten medal putra. ora na kang miyatani.– 07 – Kajapa ingkang panedhu. ing sabisa-bisaningwang. Bramana Sususk mangsuli. yen boten badhe pikangsal. kasuhur ngilari jampi. pandaya misunwis cekap. – 08 – Kang luwih punjul sing isun. – 10 – Kula boten ajeng mantuk. rama kula jaluk mati. – 11 – Nunten kula mantukipun. ora kaya tan tumama. dening jeng rama ing ngriki. dateng Pajajaran malih.

anjeblung punang wadharan. – 15 – Ya ta bramana awangun. bebeg dheng wis sumpel ati. tumangan geni wus dadi. benjang ing sawuri mami. sira salameta urip. kaya pasakarep ira. toli kapremen iya. arahe suduk sarira. sarta aduwea anak. dupi ginarayangaken dening. sira gelisa pepecil. tegane wis sangu keris. – 17 – Adan gupuh enggal mantuk. – 13 – Ratna Sarkara agupuh. yen rumihin sacombana. wus dadi apu dahana. sasambate prameswari. berage nyi Sarkarati. . bramana wus dadi api. – 16 – Dhateng guwagarbanipun. malembung wadharan ira. ki Bramana Sususk enggal keris den candak tumuli. – 14 – Basane jalukan isun. babu nini aja sira. dupi katingalan dening. Sarkara dadi garbini. ambri dadalaning ngoli. dimane ikang nyurupi. ing Pajajaran wus isi. dhukun anyata bocah. lawan Prabu wastu nuli. adan enggal linebonan. ingkang mati labuh geni.Ora kaya yen isun.

kalangkung sengit kapati. Prabu Wastu angandika. iya dudu anak mami. sedheng tandang karsa nyingkir. ruru lanang liyan maning. inggih laksana pakolih. maras bok angliwati. kang garwa den tudhung wani. bekeng temah iya liwat. inggih isi jabang bayi. – 19 – Kang grayang inggih estu. nyata iku olihira.– 18 – Kula kesah ruru dhukun. puniki ingkang yumana. mangko yen manjing itungan. – 23 – . – 21 – Prameswari agegetun. salamine ketar-ketir. nanging yen angliwat saking sangang wulan duking bendra. samono Dewi Sarkara. – 22 – Ya ta ika Prabu Wastu. ucaping dhukun pawestri. dugi maring rolas sasi. dhukun sakti mandraguna. subagjane estu yakti. – 20 – Tya estu anak isun. sangang wulan duk sarasmi. ing sasiye bebeleyan. dugi kula meteng mangkin. tan karsa angaken putra.

muktine tinemu kari. samya ing Lampung ngabuhi. ya ta ika pancalima. . adhuh gudhi anak mami. – 26 – Nulak sagung bala ripu. Dewi Sarkara buwana. aranana Sususktunggal. ningali warengka sesi. – 24 – Sangsaya ing pulo Lampung. – 27 – Saryakaruna lingipun. anandhang lara katimpal. masa kakena ing manah. angreha Sundha negari. dadya tilar Pajajaran. ing Lampung rahayu urip.Kesahipun saking riku. gelapnyenggreng kinen sami. ming pancalima Pakuwan. ing kana nuli angimpi. Ciyungwanara nimbali. Talibarat Parwatali. kapanggih lawan kang rama. kang jabang kinempit ingindhit. angraksa jabang narpati. bramana Lampung nuturi. Gelapnyawang gelapsangyang. dening ingkang nyambat asih. – 28 – Aranana jabang iku. kang gondhol si jabang bayi. yen tuwaa besuk bagja. jabang bayi wareng mami. mantuk maring lampung karsa. cacaloning wong abecik. Prabu Sepuh liwat luwi. – 25 – Jaga aneng pulo Lampung. si jabang sira sun puja.

but buri amayungan. kabeh padha rumaksa. karemane angalenthung. jejeging sadasa warsa.– 29 – Wusing mangkana awungu. – 03 – Talibarat Parwatali. Gelapsenggreng salabehe. – 04 – . pancalima momong lampah. alusma barang laksana. ana ing lautan kidul. maring sang Susuktunggal. ing pasisir kidul ika. Susuktunggal kang nami. jabang lunta ingaranana. wis tan karungu wartane. emut wawangkiding ngimpi. – 02 – Wus awor lawan dhedhemit. yan mini moyang gaib. sagenahe Jaka Susuk. ombak-umbul ing sagara. nanging ika pancalima. pinayungan pancalima. PUPUH XXIX ASMARADANA – 01 – Duk kang yuswane sang jati. Gelapnyawang Gelapsangyang. adhemiwit arti budine. satingkah polah limunan. tan pati guling dhahar.

ing jagad alimunan. Ratna Calingcing ing kuna. pinanggihaken kaliyan. – 06 – Sigegen kang amor dhemit. nyi Rara Mutiyalarang. andel-andele sang nata. genya angrok bandawasa. sang putri seja mangko denrebat. maring kang Sususktunggal. Burungkrendha patihipun. denira para jawata.Ing karang kang sigreng sungil. padha doyan manusa. bala ayun-ayunan. angintaraken balane. karemene kumarasan. – 09 – Patih Burungkrendha aglis. wus bancik ing Pajajaran. Prabu Wastu sajengkare. belung kapal bulanipun. wus pinten ing laminipun. Kaka Ramana jenenge. – 08 – Seja angrebat sang putri. – 05 – Putrine ingkang anami. sang putri seja denjuput. genya anyakra buwana. . denuri-uri den ruru. seja mangko denrebat. tumuli ana esihe. muwah deniwat dhingine. panusuling Tulangbawang. dening patih Burungkrendha. – 07 – Datan antara ing lami. kocap kang aneng Pakuwan. nyi Gedheng Rarasiluman. amurba amisesa. kangiwat seja denrusak. ya ta dadya ingkang perang. ana ing tenjolayaran. sampun campa kramane. amampak maring payudan. sabrang dadi adat buta. ing kana den gawe mantu.

kadya ta bala wanara. – 13 – Angentongaken tanagi. nalampek naladhung nucuk. ingamuk ing patih ika. pirang-pirang dina gone. adan bala Pajajaran. Betyawelara denira. kadya garudha meta. – 12 – Adan lakining Calingcing. jejeg-jinejeg apalu. ing gelar angudi lawan. kundur kapereg lagane. den thothol jajantungipun. asore Betyawelara. pinalu balang-binalang. kuwel amagelutan. kang nama Betyawelara. ki Patih Burungkrendha. pareng katingal pejahe. – 11 – Patih Burungkrendha mijil. genya ajojo brawasa. bala sabrang kondur kabeh. mapagaken pangamuke.– 10 – Long-linongan akeh mati. kapereg ing bala buta. Patih Krendha wus den jragang. katarik ming jaba pejah. pating burisat lumayu. tarung nuli ana ingkang. ngajejar kang angga murca. nyoker musuh padha bubar. kan nana kakarawan. – 15 – . kabareg dening buta. adan mara sepuhipun. – 14 – Betyawelara wus mati.

milane analasak. – 19 – Ing praja akeh kang wani. – 17 – Ciyungwanara angarti. Talibarat ora nana. ngili ngidul miruda. Patih Burung wus anglenggak. Susuktunggal re sajege. adan pratignya wiyange. Parwatali muwah ingkang. pancalima sadhapure. den balangaken alepas. wareng nata ingkang nama. baledug ing ngarsa nata. maring ki Patih punika. apaladara susupan. muluk mesat dan tibane. den idek jalune iku. Gelapsangyang iya tunggal. ngingisik sagara kidul. kangtu tinemu sadaya. – 16 – Kang endhas sigra tumuli. sagarwa sakulawarga. padha asirna guriyang. puruge wareng sang Susuk. Patih Krendha gulu pegat. esmu rada kaduhung. munggwaika pinanggiha. anitah ing pancalima.Andik muntab ambeledig. mamane Ciyungwanara. kataring ing rawana. lan sakehe kabuyutan. . kaget sang nata wendra. – 20 – Yen pinanggih Sususktunggal. den kapepes ing ngalaga. dadi padha cama kabeh. – 18 – Sarya sira anglalari. ngayunan Ciyungwanara. Gelapnyawang Gelapsenggreng. ningali endhasing Burung. dipun jambak jambule.

– 24 – Dewi Calingcing tan kari. anyangking sada lanang.– 21 – Angemonga Susuktunggil. kang sejen sing jagat dharat. prajurit pakuwan saseg. banyu sigra dumadya. cocoratan atawa pongpa. ing pinggir Sangyang Talaga. ngentep ngetan sigra rawuh. mrepegi pura nata. kadhesk den ira jemur. tan kawarna kang susupan. – 22 – Wong Kaka Rawana wani. kocap ika sang katong. Prabu Wastu Pajajaran. camedhar lan tahi jalma. den kepung wakul kodagan. dinamai Cahierang. adan sineblak toyane. Prabu Wastu ika sarya. Prabu Wastu sagarwa. binakta dhateng kang raka. jagat buwana kadulu. lelewaning wog Tulang. najis kangginawe punglu. – 26 – . bubar lorode mengetan. kadhesek ing prawira. ya ta wong dhatulaya. lawan ingkang sada lanang. lir udan deres tibane. sadaya pan sami larut. sigra andarung lampahe. – 25 – Kang gamilang-gilang wening. – 23 – Siniratan uyuh anjing. bubar larut kumagilan.

adadalem ing jro banyu. paneleng ing katong. tan kagungan basarang-saring. sabata lawan sileman. wus jinabel dening musuhe. Kaka Rawana angadeg aji. PUPUH XXX MIJIL – 01 – Kang na dharat datan bisa uning. Prabu Tulangtogmol. sabab uwise ora balik maning. warga sakabeh kang dherek. yen karsane mangkin. tan kena sinundhul. lan ora na kang weruh. ing Pakuwan nami. pan jumeneng Prabu Karadhatang nengge. ing sa Sundha sami. lan ora kapanggih.Prabu Wastu karo rabi. iki pan jumeneng ratu. ora nana wani mantari. padha nang dhasar talaga. sadaya anungkul. – 04 – Anut maring prabu anyar mangkin. – 03 – Ya Sang Prabu Kaka Rawana nami. ya wis dadi kaya merad bae. – 02 – Ya Sang Prabu wus sirna alalis. pugas brangas ala atine. ing jagating kono. dupi sri kadhaton. . iku sadayanira. nyi Calingcing muwah bala.

la yen mabok dadi kamungguhane. kawarnaa sang katong. candhi-candhi entong. – 09 – Pareng angsal windu lami. kabuyutan tapakaning wasi. dadi amuwuhi. – 10 – . kang pinuja timbul malih. keras akalipun. tor-toran anginum sopi. Ciyungwanara ngilari warenge. ora kena den semayanane. wong Tulang Minadho enggene. – 06 – Ingkang denkait budi ngarani. datan kena sinundhul aturaning. – 08 – Ya Sang Prabu Kaka radha bang madhig-dhig. ya angluru ing tasik pasisir. ingkang singub-singub. akeh den padhangi. doyan main mabok. bener luput mesthi. padha atut buni. arubungan ing Sundha negari. kudu bae dados. akrh gempur kapur atine. – 07 – Demen mapan ingkang yoni-yoni. sajamaneng kono. tan kena winurung.– 05 – Yen wus karep kaya lare alit. ing pagusten isun. angrebat warisipun.

tan suwe agantos. kang wareng den puji. marono ambuneki. – 12 – Gelapnyenggreng dadya ika sang aji. Prabu Ciyung pan kukudhung putih reke. pan den jejep ing tingal dhemit. panter pamandheng ingong.Kang samangko kang kacekel maring ratu anyar othon. awan benginipun. ing watukiliyong. Gelapnyawang Gelapsangyang sami. – 13 – Pan kumutug ing ngarsane aji. Ciyungwanara ngidul. – 14 – Angembaa ratua tumuli. – 15 – Ngener cipta tan ana kakalih. Raden Susuk ingkang sayaktos. gelis amora wong iku. – 11 – Ana ganda ingkang samariwing. Talibarat Parwatali praptane. . pan ya iku tetengering Sususktunggal. Talibarat lan Parwataline. ager sagalugu. sarya ngobong ukup mangkin. Ciyungwanara gatos. kang dadi raosing ati. Gelapnyawang Gelaptanjung. kan den esthi kuwareng. Gelapnyenggreng karungu. swara kang tan pangling. ing pinggir kikisik. ngidul ngingisik jaladri pinggire. saliwer marono. meeng wareng Raden Susuktunggal. belenging manah ora nakali. lan galudhug saya seru swaraning.

pareng lahir takon bapa tumuli. kala iku mambu ukup gandane. krana ingsun dan raton. lan sumadi si wong kang duweni. – 17 – Kawarnaa kang aneng dalem dherit. – 21 – . tinggal rabi meteng tambu besuke. dudu turuning waris. aja ora ing takut. benggi pareng si jabang dumadi. – 19 – Mubya ya larang amangsuli aris. tan ngaku olihipun. isup arep titilik ibu. wau waheng garwaneki. lahir jabang bayi. kang ngimponi sapalayake. ing sadanguning nedhu. Raden Susuk mangko. krana kula pan lagya abobot. – 18 – Manah pikir karsa padhaning jalmi. ngendhel ora mari-mari. raden denya sewot-ewot. bawaning wong wis mukti.– 16 – Aja lunta awor lan gelis. kudu eling ing jagat maune. – 20 – Krana ingkang kang uwis lumari. angabdi tanpa uwis. ya sok aja lali maringong. wong lanang tinggal wadon. manah kadya rontog. dadya pamitan tumuli.

ora na liyan kadulu. aja timbul iku ing dadine. ika mapan wus anglilani. Gelapnyenggreng badhengel wijung. pancalima ting pancorni. – 24 – Ya yen eling maring ngalelek rabi. mung pohon rabi. nyai Gedheng Rarasiluman nabdane. Talibarat kang ngramon. medal saking kayanganneki. Gelapsangyang nyuwong warih. sumpah isun kang satuhuning. munggwa amlesa katengong. den pracaya kranane iku nini. pamuji-puji jati. sandika karsa jeng ibu apti. ing mratuwa nembah panor. Gelapnyawang tan udan tekane. yen cidra awuwus. – 23 – Agles Raden Susuktunggal pamit. apa maning maring ngong. – 22 – Ingkang ujar isun kang sayakti. lampahipun Susuktunggal nengge. tulus lampah wangsul. – 26 – Parwatali ulur-ulur apti. suka manah ipun.Ta kang uku panjaluk isun iki. – 25 – Ingalingan dening ingkang gaib iki. galudhug grantang widi narpati. raden nabda tan samono. ya ta mutwa larang asri. . ya manawa ora lali-lali bae. aja lawas ya ki mantu. teka upama benjing. Raden Susuk anembah adan linge. angambah karang kisik.

iku sapa kang kukudhung. Ciyungwanara pinundhi. kang sun ucap ing adi panewune. tulung sadarganing kalbu. rena-rena ningali kulebating. Gelapnyawang la iku kaki.ian anuli rinangkul. …. ambeg nakoda. – 30 – Angandika subagja ta kaki. luhur kita punika sang aji. purane den wasesa. pan ya sira ageage ngambil. Gelapnyawang tinon. – 29 – Inggih payu kita pedheki. agemen ing wareng isun.– 27 – Ingkang eyang Ciyungwanara aji. kraton Pakuaji. merad sejen alam. asowara dan sang nata manhe. ingkang sumedi kono. – 28 – Nyandhing ukup sarta asamedi. PUPUH XXXI DURMA – 01 – Ramanira Prabu wastu wus kokalan sirna alalu lalis. atatanya ya iku maring. sira kang sun seja panon. Raden Susuk wus awas tingale. Prabu Kakaratandhi. . ya ta gugu panor. dening nelendra serani. kang wareng medheki. yaktose Pajajaran punika prajane.

kang mangko dadi. praja Pakuwan. lindhu rat lir ginongjing. padha malumah. pinanggih lawan sira. – 04 – Pareng sira Prabu Sepuh angandika. – 03 – Ya kaduga manira apaladara. basmi kaosak-asik. kaganti budi srani. mayeng ing sabandina. maludhaging walirang. sakeh kang malumah. padha mayan dumadi.– 02 – Ya wus ilang palakarta ratu Sundha. ngrebut nagara. sigra mangkat padha. lor kidul ganti muni. kumanyang nganingwang. minanten barkah eyang. – 07 – . jawane sun anyingkir. pusakane kang dhingin. sayogya sira kang mangkin. sadina ping sanga. – 06 – Ing jro gunung gumledhug jumegur obah. sabandina nguneni. galudug ing arga. akeh gunung kobar. ulur-ulur nganan ngering. akeh kang rebah. Raden Susuk matur inggih. estu basmi negari. dadi kumureb rebah. sabenbengi wanti-wanti. – 05 – Datan apa menenge galudhug obah. amedheki kang nagari.

gawoke para bupati. jar jagate priyangga. ingkang pating sariwik. – 11 – Raden Susuk iku angruru pusaka. ngili marang jagat lami. gara-gara nempuh. katelahe sang aji. wiyange saking Sundha. padha sinuhuran dening. . bubar dhewek tan sudi. abubar priyangga. kang sinamber dening gelap. – 09 – Datan sudi jeneg aneng Sundha layang. para gul menak. – 08 – Ya sang Prabu Kaka Rawana awiyang. ge ris ing sangara. tan susah den perangi. Pakuwan anggege risi. wong Sundhane kuna. wong Tulangbawang. linggihe wareng aji. – 10 – Bumi Sundha bisa nundhung kang anelang. Prabu Susuktunggal. ketung kang swara. ing rat Sundha nagri. tumon so bawa. akeh padha rusak.Kasusulan datan mendha gelap ngampar. Prabu Rawana age ris. tan urusan bubar neki. bubar buyung kang kari. tumon widagda aji. kasaksen ing gul menak. tan lami punika. gara-gara ing nagara. rawuhe Susuktunggal. anjaya-jaya. – 12 – Inggistrenan ngadeg Nata Pajajaran. gumarang ing sabumi. aneng Sundha negari. wis tan krasan. prabu sepuh kang angiring.

– 14 – Prabu Ciyungwanara kang jaya-jaya. kang aneng Majapahit. ingkang padha angaugi. Talibarat nama. lan Gelapsangyang. Gelapnyawang Gelapnyenggrang. nginger kawula alit. kang dadi sorog wedhi. – 18 – . yen ing Pajajaran. kang sagawe ngratajani. sasat sinung nama. kadi duk kuna. sarwaning bisa.– 13 – Kang nakseni ngadeg Ratu Pajajaran. ora nana kang mantari. – 16 – Sasamine kaya Patih Gajahmada. pinudhung ing sagunging. kan nami Susuktunggil. – 17 – Emban-emban sang ratu kang nama. ing adi kulawarga. angsal panglima luwih. murwa pakaryan. – 15 – Salinggihe sang Prabu Susuktunggal. sampun sinaroja. Ki Tumenggung Ulungdaya. Pajajaran jengger malih. sugih kasekten lan bangkit. Patih Dhuyunglanangan. ya iku kang nama. kang nama Dhuyunglanangan. ing pagaweyan. amarigel ing nagari. ambeciki ing nagari. adat Sundha negari. Parwatali miwah.

anyawang-nyawang warni. Demang Cimancurluwi. sanak medhoke sami. ingkang mingkali kardi. yen gadhange ing benjang. dening prabu Susuktunggal. ingkang asirna. mula sang prabu ngarti. jagat kang babasan. akeh akalnya. – 21 – Kumarasan ing Sindhangkasih praja. purwane amerad. ora kewuhan ing udi. karanane sang aji. malawat katingal. wus angsal supna. anulak bala wita. – 20 – Prabu Susuk waktu duk sakala samana. pamagutan pradata. ing Sindhangkasih praja. enggenipun angalih. ingkang jaba negari. amblese maring bumi. kang langlang buwana. ing manah sri bupati. . sang maha dalem japati. iku dalem ingkang. ing kono enggone lalis. dados pakeca. kewala pan ora pejah. salin nagara kang lantip. – 23 – Tya iku enggon gadhang palincakan. – 22 – Ya ing bumi Sindhangkasih marmanira.Pajaksane duk samono kademangan. kang kinawratan. – 19 – Lan kang nama ki Ngabehi Sujimara. kang aneng dhasaring bumi. sampung kalawang. sakalir karya. kapracaya ing sang aji. lolomponganing jagat. kang dadya mikenaki.

ing wong sanak Sindhangkasih. – 25 – Dadya suka ki dalem japati ika. kang cacangkok Sindhangkasih. Kawularang …………… ing. kawangun pura nata. PUPUH XXXII LADRANG – 01 – Pan kaloka Prabu Susuk nyakrawati. nginep ing Sindhangkasih. raja Galuh nami. bali dalem japati. mangkana ing karsanira. yen kalingihan sang aji. . – 03 – Maha dewine pawestri sasl saking Sokapura. dewi mature asal saking Pasirpanjang. Karanglopang kang nami nyi An ………. kang nama nyi Luwilingling. dening pamajikan. dening rejanipun. nawang susirna. hang. prameswara putri saking Sindhangkasih. ……………… paparab.– 24 – Pan sawulan sapisan sang Susuktunggal. kadya nagara.. – 02 – Garwa maning pula ……. rehing den kulinani.

– 07 – Mapan dewi Mutyalarang ang garbini. putra jalu warna pekik. kocapa garwa ing dhemit. – 06 – Tan kawarna enggene amukti sari atahunan. lilima saya lempuri. ya rinengga. pinaparab Raden Anggalarang kwosa. ing sagenahe alinggih. Susuktunggal kang mengkoni Pajajaran. pan riniyang para ………………………………. – 05 – Ya wus apa kaya adat dewa aji.– 04 – Ingkang nami Dewi Simbarinten becik pinusthika. – 09 – . – 08 – Wus aprajaka ika tatakon sunarmi winangsulan. bapanira iku aji. pan riniyung ing para gegedhen sadaya. wus babar.. ingkang wau tinilar tasik lamunan.

ara ngunjung ing rama dhateng Pakuwan. inggih coba kentasa. amedheg ing rama aji. – 15 – . – 14 – Ya sang dewi Mutyalarang ngandika ris. – 12 – Anggalarang atur sembah ibu inggih ananacak. isun melang. – 10 – Mutyalarang sabdane arum manis. kang saingga. isun melang. jemg rama angaken siwi. denlara den pateni. nuli sira ing kana tan aku anak.Anggalarang aturipun ibu amit sedya kula. arep bedhah ing kuthaning Pajajran. juwala apa wong siji. bok sira den pitambuni. katongsone isun welas maring sira. ainggih kula mantuni digdaya pancas. – 11 – Nuli sira dentortalan baya pati. mung ta sira. – 13 – Inggih saya jeng rama kula perangi. ya dumadak yen boten ingaken ing nama.

– 18 – Tunta ngambang dewa mambang kang angiring. galethuk batu kacebur cai. mara jabang Kaljurig. anggep kula. pan anjeneng tan dangu siliran prapta. . sarya wiyang. – 20 – Angin wayah sumilir ika dumugi Pajajaran. kadya meres ujare kang amaskitha. angancik ingukir curi. ing kana den waskithani. – 16 – Raden Anggalarang ya matur boten sanggi. bagja cilaka ya kantun punapa karsa. calengep kali riringgit.Mandadene den ucap kaya wong baring tangtu sira. – 17 – Amung ibu pamujane kang sun pundhi. inton-inton memedi kanthung bragola. lampahe ngatut ing warih. – 19 – Awor ombak anggebyug maring kikisik karang braja. buwal-buwal mijil sing dhasar jaladri. jin prayangan. ngayune sang prabu Susuktunggal.

nunut aub ingaken putra sasmata. angaku putraning aji. dipun wasuh pinanjingaken panjara. – 22 – Pramilane kawula sumeja ngapti ana labda. – 25 – Pinanjara watarane danguneki sapangedang. kandikane si ibu yen tutur kandha. gampang-gampang si monyet si tambewara. kamawula ing sudarmi. calengep ing ngarsa malih. – 23 – Kapiyarsa denira wau sang Patih Dhuyunglanang. samya geer la yen ana bocah setan. – 26 – . – 24 – Anggalarang den surak bocah kangingsir sumantana. punika rama pribadi. Anggalarang dipun tarik.– 21 – Sambat-sambant wonten pundi rama aji Susuktunggal.

– 27 – Kalajurig ingkang padha ngiring-ngiring adan tandang. iku maring Anggalarang den galandhang. ya memedi bragola kang raksa-raksa. dewa mambang kang nguculi. Demang Cimancur anarik. calengap ngarsa aji. inton-inton kang nguculi.Den panjara ya bisa muncul pribadi ora wruha. – 30 – Maha raja Bangbangan ingkang mayungi adan tandang. Ki Tumemnggung Ulungangin. ya cinandhak Anggalarang wus pinala. – 29 – Lamon ika ya nyata bocah dhedhemit ora wruha. surak ing wong Pajajaran nyata setan. calengep ing ngarsa aji. – 28 – Den panjara maning kirane watawis sapangedang. gegering wong Pajajaran kumangilan. – 31 – Kira-kira iku maning sawatawis sapangedang. jin prayangan kang gagandhi lampahira. .

pan luluthu bangsat ngaku anak raja. – 34 – Panginane wong sadaya iku maring Anggalang. atawa cacangkok siwi. – 36 – Ambalentuk anyolong ing si narpati mula ika. – 33 – Sangyang Limun kang tut buri amayungi mula arja. Buyut Cai kang nguculi. Buyut Angin kang ngiring-ngiring kang ajaga. Anggalarang irus ing jati. Pajajaran padha tambuhing kang putra. belis guris angibur-ibur ing praja. . dhiri pagusten narpati.– 32 – Ya siluman tasik kidul boluwarti ora wruha. iku nyata buktine ing paneluhan. belis guguris nyaithis. – 37 – Ya jaganen iku saolih-olih maring ratu. kudu kang awas ing dhemit. aja padha den ganggangi iku bocah. – 35 – Lamun tulus ingaku paniya dadi olih praja.

– 03 – Pan rinate wesi pinanthokan kukuh. – 05 – . den sinulud kang geni ya wus maludag. amariyat karya. tumanganing geni gedhe. siniraman lenga. – 02 – Ya ki Patih sigra tumandang agupuh.PUPUH XXXIII PUCUNG – 01 – Prabu Susuk wau pangandikanipun. yen tan geseng ya iku ta anak ingwang. he Dhuyunglanang. ing sajroning geni gedhe. papathoke tosan. – 04 – Kang tumangan denesep kalawan eduh. obongen la iku lare. denepri darapon menter. wusing dadi Anggalarang den sangsara. pan darapon aja bisa lunga-lunga.

wanter munjuk urub kadi angambara. – 08 – Den akuwa piyambake raja sunu. surak wong Pakuwan. anjum andhingkul padane. gawe lalayangan. – 06 – Sapangedang langkung pagedering urub. kagila-gila gedhene. la den ora kawur nyata anak ingwang. ana ing tampingan. – 10 – Ki Tumenggung asigra tandang agupuh. Prabu Susuktunggal. pisan maning iku ing panacak ingwang. – 09 – He Tumenggung Ulungdhaya dene gupuh. iki Anggalarang.Purubipun pan ora kalawan kayu. patang puluh pasagi sampun prayatna. kawurana ing angin gedhe. matur nembah amalampah den akuwa. pan wus dadi awu aneng jro dahana. nalengep ngayunan. kandikane iya mengko. ing Gunung Galungung genahe. Anggalarang den samangke. – 07 – Ora suwe kaligane iku muncul. .

den culaken enggal. ika Anggalarang. munjuk kagawang abure. kethip-kethip kagawa dening siliran. kawur mumbule mengulon. – 16 – . ing layangan wus rinekep.– 11 – Tataline jenget ing sambadanipun. – 13 – Keplas munjuk lalayangan munjuk dhuwur. – 14 – Wus ing menit ngadeg saka dipun dudut. – 15 – Duga ngulon watara ngungkuli laut. ing gagaranira. ana ing sagara kulon. ambeneri angin ngulon santer pisan. duga silep cat katon ya cat ora. ana ing lalanang. nuli sira lalayangan pan den ajar. ya ta wus sadiya. surake wong Pakuwan yen Anggalarang. – 12 – Anggalarang wus den baleni akukuh. Ki Tumenggung sakancane.

Kyai Demang Cimancur la iki bocah. wus anembah ing ramane. – 20 – La ukumen ing kali manengteng iku. petilasan kuna. ingkang lalayangan. – 17 – Pan sing ngendi bisane awangsul iku. Cisanggarung kayaktene. – 18 – Anggalarang calengkep wus aneng ngayun. bahi nate lepas. ora karawuhan ruruhe. iki bocah tegane ya sira delap. pandadara isun gedhe. – 21 – Tya tangtu sun aku anak dening sun. . ya taksire kaya nyabrang pulo liyan. – 19 – Lawan mengko pisan maning panacakipun. pan dumadak ora mati kalem boya. nanging Susuktunggal. iku bareng sapangedang nuli prapta. Anggalarang wus den rante. iya Demang Tandang. sandhangen denira. pan ginawa ngetan binuwang ing toya. wus ora kawruhan tibane.Ya wus ilang tuture kagawa abur.

– 23 – Sarta sira den susuli maning watu. kang salumbung darapon angurugana. ingkang salulumpang. dhateng gusti Pajajaran tur uninga.– 22 – Aneng banyu den bandhuli kalawan watu. sakebo tuwin sagudel. – 26 – Wus laksana pakaryane la ta iku. nyatane ki Demang. laksanane gawene ngemban timbalan. sakebo ya rapona. masih anang marga. aja bisa kambang mangka. ing Pajajaran ya tegane. – 24 – Aja bisa timbul kang den ekum mau. Anggalarang wis katemu ing ngayunan. – 27 – . – 25 – Ya sabedhug salingsir ora na timbul. adan den tinggal wangsule. Anggalarang wus silep kalem ing toya. kaya ora pindho gawe. den nyana wus sirna.

Wus anembah ana ngayunan sang prabu. den pendhem watara. . aneng tegal uwar. – 29 – Nadya isun aku anak bocah iku. – 30 – Pan ginawa maring tegal uwar iku. den urugi tai besi pandhe dhomas. kang dumadak bisa balik ing Pakuwan. ya pugas delap si monyet. pisan iki sira sida pendhem jarat. Susuktunggal nabda. – 28 – Iku bocah pendhemen kang jro asiluk. jalayat si setan. lumpur ludhes dilolocok. pan tinarik Anggalarang den galadhag. – 31 – Ya den tetel pinaseg gen ira ngurug. – 32 – Pareng lawan laksanane gawe isun. ki Ngabehi Cukimire. ki ngabehi wangsule asuka rena. kang yatna angurugane. ya ta kang dinukang. patang puluh dhepa jrone. ngabehi gupuh tandange. Angabehi Sujimara kari sira. ing panyananira.

PUPUH XXXIV SINOM – 01 – Warnanen.– 33 – Ora matur ing pagustene sang prabu aneng Pajajaran. Anggalarang wus talangep aneng ngarsa. – 02 – . – 34 – Kaligane wus nembah arsa sang prabu. ya pinenthung tinabok kejeng kang tangan. sang Anggalarang. gulalitan miyatani. ajarujus medal warih. anggawoke wong saraje. den bandhemi den bedhili. den panahi datan kena. tombak keris lemes kadaya. – 35 – Tai olih si anjingsi kenang kutuk. ing Pakuwan den sakiti. wis kalesan panyobaning prabu nata. mung ta iki bocah calonos binatang. dupi dugi ing ngarsane. panyobaning ratu gedhe. ika ingkang dadya. datan bisa ambeledhug. sampun warna-warna.

jejegeng tan kangkat tangi. kuwat anjunjung mami. yen sira bisa balang. awak ira anteb temen tuduhena. ora bisa amikara. ing sakarep ira iku.padha mepes ingkang sakti. iya nyata tegese ku anak iwang. yen saestu anak ingwang. ilang pangaruhing nata. ngaken maring raga mami. – 03 – Mimpes pisan datan bisa. cinakot kaku kang uwang. hem ngandika sira iki. Gelapsangyang Gelapnyenggreng. sa cep ana Anggalarang ing Pakuwan. Prawatali datan bangkit. – 05 – Ing karsanipun sang nata. ora kaya awratira. kami sosote kang rana. datan sang Susuktunggal. – 04 – Anyirnakaken guriyang. karengkengrengkeng tan kapti. ika pancalima sami. rarasan lan bisa metu. tan bisa ulur-ulura.Jinejeg sikile akas. – 06 – Yen saestu sira nyata. – 07 – . dhumateng wau sang pekik. kena waliting Galarang. unine ha ha ho ho. tan kajungjung ing asakti. asakabehe datan guna Gelapnyawang. mangap lir cinengkal wesi. binalangaken tumuli. apes dening sang apekik. asun kalangean agelis. Talibarat tedhu sami. Pajajaran padha sami. ya tan bedhol saking lungguh. samana samangkenipun. ora bisa ambabari. den cinandhak Anggalarang dipun angkat. teges lamon anak mami. ya ta Prabu Susuktunggal.

dening sira wis pracaya. Susuktunggal wirang isin. lan Tumenggung Ulungdhayi. mengetan puruge ngili. – 08 – Teganira Anggalarang. – 11 – Dan Patih Dhuyunglanangan. sengkel ing manah tan sipi. dening Anggalarang gusti. ya wis payu padha pulang. wau dhateng Susuktunggal. – 09 – Ya ta iki prameswari. ingandikan pinariksa. maring kahiyangan mami. ing ngarsa Ciyung sang aji. ing Sindhangkasiningid. kaangkat sayengan mangkin. karaton sira duweni. lilingseme ing marmaning. maring wareng prabu aji. aturipun pon kula punika putra. angangkat dhateng sang Aji. . gegere wong dalem puri. Anggalarang sigra junjung. wus riringkes sang nata lan para garwa. dadiya gegenti aji. waneh ingkang atur uninga. den balangaken ning pura. kelangan majikan neki. samiyar tur kandha wara. aja adadawa lara. ya ta Anggalang iku. nyata kabuntal ing weri. nyata iku binuntal ing Anggalaran. wong sadaya ting balulung. Prameswari duk andulu. Sindhangkasih kang sinedya. enggal prapta Prabu Sepuh aneng kana. komalanten sabdaneki. pan gegetun wong kathah padha tumingal. lingsem maring kang rayi. – 10 – Miyos saking boborotan. angreha Pakuaji.Denisun wis sira buwang. kagume kang laki tiba. anglipuraken ing kalbu.

janjine dhateng kula. jinanjenan la yen nyata metu. inggih maksih tan ngakena. – 16 – Anak ingwang bisa teka. kinen ngekum ing warih. . bisa balangaken mami. inggih lajeng kanjeng rama. Cimenengteng pan binandhul. – 15 – Ing wasana kula teka. yen wis amuncul maning. boten geseng dhateng api.– 12 – Ya sang Prabu Susuktunggal. nunten kentas kawula. tan den sapakula iki. layan sela samahesa. boten ngaken dhalem mami. – 14 – Ing wasana kula teka. kalintang denira menit. saking kaputren siluman. – 13 – Ing wesana kula delap. ing si rama linggih aji. kelupun cidra maring. patutan Mutyalarang dewi. nunten kentas malih. ing wasana inggih kanyata. ing ngayunan rama aji. gih makaten ugi. inggih maksih tan ngakeni. ngaken isun ya sanyata ya anak ingwang. si rama kula pedheki. wekasane ngajak cucu. den janjeni la yen nyata anak nata. dipun aburaken enggal. inggih boten ingaken kula. kulu nunten tinaleni. den janjeni nyata anak lanon gesang. sanyata anank ingwang. ing lalayangan puniku. inggih pon jinanjen malih. dipun pendhem lebet bumi. ingobong jasad puniki. ing wasana kula prapti. la yen nyata anak ingwang bisa teka. den lalara tumangan.

pan den udhag sengit. susul iku bapanira. drapon sampun lingsem neki.– 17 – Inggih si wantu kahula. inggih kantos kula balang. Prabu Sepuh ngandika ris. – 02 – Nulya mangkat prabu sepuh lampah neki kalih sira. bapanira ingkang salah. PUPUH XXXV LADRANG – 01 – Pradenane semono payu saiki padha kita. ika dadi Susuktunggal artinira. wong atuwanira gusti. – 18 – Mangsa bodhoa kang guriyang. anglolos kalaning dalu. gawe lingsem pribadi. amalar dipun akeni. maring etan manawa kita rerempah. sapamanggih kula iki. Anggalarang mapan sami. angriyung ing sireki. ing temahe saiki. – 03 – Ora kaya Prabu Susuktunggal nuli genya salah. minanten leres kawula. samya sira kulawadya Pajajaran. kerpek jantung iya iku bener sira. wau dhateng kanya puri. . popolos amiruda. iya iku pangidhepe ing wong apa.

– 04 – Dadya sira Susuktunggal ika dadi kali marwa. ambles ing dhasaring siti. – 07 – Pan sinebur Prabu Anggalarang sangti ingauban. Talibarat Parwatali. – 05 – Malah katon ing tingale prabu wanara lang Anggalarang. langkung gegetun ing kapti. – 08 – Panjinaga dewa mambang apa maning jin prayangan. banaspati inton jurig lan kemangmang. susuluring kang rama ingkang wus sirna. Gelapnyengreng Gelapnyawang Gelaperang. ora kena untunge ku bapanira. kang memedi lan bragola. Anggalarang wus den asri. – 09 – . ing jajahan Sindhangkasih nukmanira. – 06 – Ya ta Prabu Ciyungwanara abalik sarta ika.

amuwuhi Anggalarang arjanira. anut ing titihing aji. Ki Tumenggung Paracutan. – 11 – Genya nyakra sumulur madeg dewaji wus koncora. kang ing tawang. – 10 – La kul manuk ingkang bisa tata jalmi samnya ngabdi. ing karsana sang prabu ing Pajajaran.Anggalarang pan riniyung ing saliring. kyana Patih Bentanglompang. nyananing sakuling kalulawadya. – 13 – Pramilane lintang karti cong keng siji iya ika. kadadiyane lintang karti iya ika. – 14 – Tumenggung ika ingkang den arani namanira. teluh braja lintang ngalih. menak pra kuwu nyungkemi. ing sang maha wruhing naya. layung abrit tapak angin lan gelapan. dadi patih langkung saking wicaksana. . – 12 – Waktu iki ingkang jumeneng papatih winastan.

ya janggelek urip maning ingkang kalma. – 18 – Yen anggerem ngoregaken ing sabumi kaya obah. – 17 – Waktu iku demange kang winuwuri kaki demang. – 16 – Sagedhangan apayuyune wong mati nanging ika. ingkang putra Sunan Jumanjang kang nama.– 15 – Mula nama paracutan iku dening angracuti jiwqaraga. nalangkep jalmi. yen wis den uculaken maning. prabu sampun mengku Prameswari. ingkang nyawa pan dadi pejah. kadya panggereming macan sami. saktinira nyentak jalmi kalenger padha. – 19 – Pan wus jengger sabawa Sundha negari aprakasa. Gurumuruh namanira. ngabehine Sindhanganjen namanira. – 20 – .

– 22 – Mangka nuli kang minangka rabine aji duk samana. . – 24 – Iya iku kang alinggi aneng suci dupi ingkang. satunggale malih nama. Raden Sinom kang alinggih Salagedhang. – 21 – Pucuk gumun sepuhi ya ingkang nami. kang besuke puputra. guru mindha Mantrisari. ingkang nami Wotsari aputra Yang Maduraksa. miyosi siwi sanunggal Raden Kalipa. pinangka iku ing kana. ratu Sekar ing tanpa omas. mangka nuli Mantrisari apuputra. – 23 – Iya iku kang ajatu krama maring Sangyang Citra. – 25 – Raden Sinom iya iku amurtrani kang sinebut. asal Baturuyuk ingkang miyosaken putra. nama Anggalarang malih. pan kasebut Raden Anggalarang mudha. mangka ingkang.Ni Ratu Gumiwanglayaran Sari. kaputran saking Jepura.

dupi garwa marujune. pawestri kasing timbangan. istri saking pasirmilir iya ika. Cipali ya ika. ingkang dipun rengkuh. Yang Widaya. ingkang nama Dewi Mayengan jeneng ira. dening Prabu Anggalarang. Sundha puri sarta selir walung dasa. ika nuli amutrani. Sanghyang Tubu kang linggih Sokawiyana. ing Pajajaran anengge. tetes kali Cilutung maring. dupi saking Cilutung ngulon pan maksih. cacangkok pra kuwu. wustahunan windon mengku raja. – 28 – Kang den sedhep ing ayunan sri bupati Anggalarang. kang dadya dewi mature. . – 27 – Dupi iku kang kaaken maha dewi iya ika. – 29 – Wawangine Ni Erangtungtang kang nami iya ika. kaapti Ciyungwanara. PUPUH XXXVI DHANDHANGGULA – 01 – Pan sinigeg Anggalarang mangkin.– 26 – Ingkang nama sanghyang Widaya kang sakti.

la payu katogena. ing sagunging sesa Anggalarang. teka den rumpaki kabeh. Sunan Talagamanggung. sing akasor lampus. – 03 – Seja ngaru ingkang linggij aji. – 04 – Edir-kadiran panantang weri. ing awang-awang trus. – 06 – . saktining Anggalarang. arep wangun lingsem ing aji. kudu bae ana kasandhungan. amponi buwana Sundha negari. dadya ngembat sarotama. kang darbe manah ngungak. kang padha sirikokalan. estu megat kukuncung. bulus putih angabar. atmaja ya Lengkaraganal. kang kasebut nama nipun kang karuru. ya iku ing sajenenge. yen den prasila mangpang. den katogaken sagung. iya isun ingkang estu. kyan Sukmaantalirasa. surupe ing kasakten. akeh panglimagung. Raden Jayalengkara ya tan giris. sing ameneng dadi raja. tanpa dadi kalilip luguting aji. – 05 – Ya ki Patih Bentanglopang agasik. img bumi anyaangkal obah. pan bunihan akeh amijil. mepeg gaman Pajajaran. basa jahata kerwanthen. ingkang putra jati kakalih. kang kang atma Jayanglangkara sakti.– 02 – Lami-lami danguning ngaurip. ing saiki seja ngadoni. Anggalarang songkawa.

dening Atmajaya kabeh. la ika pinritandang. maring sang Atmajaya. lan nama tiba ipun. Ki Tumenggung pejah kapisanan. nedha den gesangena. – 10 – Pan ya iku marganing angabdi. den jaragang cinawuk. Tumenggunge kangracut. Ki Tumenggung kabeh padha anangis. ragane dadi gesang. wadya bala Sundha negari. ragane wus galudhag. maring Jayanglengkara aji.Sanjatane sapujagat nempeki. Jayalengkara nyawa katarik. maring Lintang tiba padha silak. Patih Bentang gegetun kapti. nuli kulawarganira. Tumenggung wus lampus. den gigit dening musuhe. kempis-kempis kulimes sang Tumenggung ababalik sira ngabdi. kari saubing payungika. cunguring Paracutan. Ki Tumenggung apejah. popoyan maring rewang. aglis sira andamu maring. kinepus dinamu. analangkup nyawaning wang dadi mati. Menak Panumping kabeh kaparentah. Atmajaya agupuh. ing pangabdinipun. pan sumedya angabdi kahula. iya kaya lampus. – 11 – . urip kaya wau. den adhepaken muka. Atmajaya balik maning. ika ki Tumenggung. dhateng sampeyan sakabeh. kagem ngasta anyokot ilur ula mandi. Paracutan kocap bisa. – 07 – Ki Tumenggung atandang madhidhig. tinarempang den jarage. – 08 – Pan ageger wadya Pajajaran sami. sja nyuwuk atmaja Yang Tengkara. ora kaya atma ingkang. – 09 – Sasambate lamon mangke urip. padha balik ing parnahe.

ing sesane Anggalang. . – 13 – Lawas-lawas ika sang apati. Bentanglopang karsa nglepasi. maring sang Atmajaya. tinumpes den tempur.aga. pramila [atihipun. ingkang kathah wus padha kapurba. dening Atmajaya kabeh. ing Talaga kang den jeneki. atilar Anggalarang. lumepas anuju arah anglebur Ta. sigra ngalurug kang bala mungkari sathithik. maring sarirane dhewek.ora nyana kang kawula lit. wadya sajroning pura. Atmajaya adan ika ngangkat. singa ingkang tan anut ing titi. kang warna kadi gegelang. – 12 – Suuding bala kagiri-giri. gelap talaga ika mijil. sirna purna geni garantang alalis. – 14 – Dupi wadya bala dhateng jawi. sing amaneni jemur. amapag maring garantang. datan antara dangu. saolih-oliha merangi. Atmajaya wus kaloka. sanjata garantangan. – 15 – Wong Talaga kathah padha nangis. maring Atmajaya padha gumusti. wau dhateng sang Prabu Jaya. wus angadeg sang ratu. kadi gunung gelap marab-marab geni. Tumenggung Paracutan. Bentanglompang saja amakaya. seja malesaken iku. anyakra bawana Sundha. pirang-pirang ewu. ing emban-embanipun. ning Atmajaya dadya. tabuh maring Anggalarang. dening gelap maludage. mula padha kamawula. Susuhanan Talaga mengku nagari. sejanira ngrebut. welas maring Anggalarang. kadya ra ngobar jagat. panyanane sakabeh kabakar.

kaligane ambuwal. dadi maning lintang kerti iya iku. menthang sanjata topan sira aglis. iki isun wis pepes ya aja tanggung. alung babrena lalis. – 04 – Animbulaken ing toya. dhuwur pamumbaling warih. wong Talaga akeh padha anangis. – 05 – Kadi ta lir gunung toya. tampanan iya iku. – 02 – Kantun Prabu Anggalarang. pulih angsal pinangka. atmajaya anabda iya becik. ing wau wurung den obar.PUPUH XXXVII PANGKUR – 01 – Atandang Jayanglekara. Anggalarng angandhingini. sanjata aliwawar. kadak siking Cikeru. anggigilani kang toya. medal sira kapisemu. mubal malah tanpa tanpa sangkan mijil. – 03 – Aja dawa-dawa wirang. he Atmajaya iya. den lepas si sanjata angin. dan tandang Jayanglengkara. jelag subita babanting arti. surake bala Talaga. Bentanglompang geblas kawur. duk lagi nabda samana. sira kukuru alawas. gumaludhug tanpa krana wetunipun. . nyana den kelem ing banyu. tumon gustine asakti. kang nyawargakaken ing sira satuhu. sida iki den keleme dening banyu.

pramila sang Anggalarang. pramila nelang bagja. mring Prabu Ciyungwanara. sangang wulan menga-menggeh lumari. langkung payah ical ing samangeripun. merad maring ngalam lintang. niba tangi seja njujug. – 08 – Amung Prameswari nira. wau dhateng Anggalarang sab gaib. anarajang banyu asat pan tumuli. Talibarat datan weruh. Anggalarang katarajang nulya kawur. sumhati ararangkangan. Gelapnyawang sadhapure datan weruh. kaingsep ing sira lisus. ingkang nami jeng dewi. Parwatali tan mulat. muni ngowe-ngowe lir kebo limayu. – 12 – . malah kalampah Jaya ika saking. Ratugumilang lumayu. warnanen kang Jaya ngancik. sigegen kang pala dara. – 11 – Dadya tan bisa tulunga. bala wita ingkang iki. mulane muni lir mundhing.– 06 – Aliwawar wus lumarap. krana mengkele kang napas. – 09 – Apa maning lagi wawrat. turunan jeng Prabu Galuh. luntanira narajang. – 10 – Susuhunan ing Talaga. awiyang alalu lalis. kapepes kaduga lalis. tan bisa aningalana. dadya ika pancalima pandha cenguk.

Rawagadha putraning Bentangmerngu. jeng Dewi Simbarkancana. Ki Teja ing Ujung Lutung. olih nyelang marwasa.wis mangkana adating donya. Bentangmerngu punika. wis kandel ing rampak kuna. – 17 – . yen ingkang wis tumeka. Kenbalura jenengipun. – 15 – Lamining ajatu krama. tumuli kang anaming satriya Ki Teja ing Payunhagung. pan rakaning Centangbarang ingkang nami. ing untunge endi ana sakti punjul. – 16 – Nuli Teja Ingaguna. putraning Rawagadha. nuli ika ngadheni nami. Teja Pramana iki pambarepipun. lan Ki Teja Cintamanik. Jayanglengkara wis amiyosi sunu. Caierang lungguh ratu. panggulune ika nama. – 13 – Ta ika baja daulat. ya ki Teja Sokasari. kang sakt kang ora sakti. lan Ki Teja Sangapriya. kaputraning Bathara Pancarangin. – 14 – Ing wong agung kahiyangan. Simbarkancana nulya miyosi siwi. sote yen jaba ning untung. la yen mungguh gagaman ingkang mandi. Jayanglengkara suhunan ing cai. ingkang mangke olih laki. iya iku kang nama. putra satriya pipitu.

sugih garwa sagenah-genah mranti. alihan lincak-lincak. duk pangidhepe sang aji.Dupi ika kang anama. sawula-wulan awangun. tan bosenaken ing manah. suhunan sugih garwa. den parenca enggonipun. ana dhomas garwane amarinci. duk mangko durung ana. kawarta wus sugih rabi. ya ta Susunan Talaga. dhela-dhela ngelih puri. denganemu garwa. ing sandhenge angratu tan langgeng linggih. dumadi amukti sira. Silinwangi kang anami. – 22 – Sang Orabu Jayanglengkara. iyang-iyung pijer amurwa puri. yen kala ngider buwana. kampir angrantuning enu. gadhang jodhone sang putra. dhela-dhela sejen genah. aneng pungkuripun timbul. Ratu Pamratsari iku gadhange ing besuk. . ingkang nama punika. – 19 – Garwaning Jayanglengkara. anjembaraken ngalenthung. apuputri istri ayu. Teja Sokasasri kang gadhang ing benjing. sagenah-genah garwa. remen alincak lincak. – 20 – Karana Jayanglengkara. dadi anyar maning anyar datu. masih nyatur andhing luluhuripun. besuk rabi Ratu Pamratsari. kamuktene ora bosen ing alungguh. wus koncara tepis wiring. – 21 – Ngadhaton sagenah-genah. pan mulane katela paparabipun. kanggo pranti kandheg kampir ing lalaku. – 18 – Mundingdalem namaira.

medal jabang bayi jalu. pon ika sampun angarti. kadi wong anglalu lamis. praptane ing ngayunan. karana biyangmu nuni. anyungkemi ing padaning. ngowe-ngowe kadi mundhing. ing ngayunan sang aji. rabine ingkang lumayu. yen Anggalarang lalis. Jajaka Mundhingkawati. dening Atmajaya sakti. – 02 – Bari rumangkang lumampah. – 05 – . – 04 – Suka rena nalanira. ratu Gumiwang lumari. legane bragojol jalmi. Prabu Sepuh Ciyungwanara. kang karoban ing wibawa mukti. abagus wuwarnanira. ya ta pareng ing kana Ratna Gumiwang. kawarnaa kang miruda. ngowe-ngowe elap isun. sang prabu sepuh sukati. angadenaken babayi.PUPUH XXXVIII SINOM – 01 – Sigegen suhunan Talaga. embok metu maesa. awedi diboyonga. ngowe-ngowe lir mundhing. iya sun arani sira. Ciyungwanara jinujug. udheg-udheg bapa kyai. udheg-udheg tiningalan lanang pelag. menggap-menggap ingkang napas. ambekane mengkel ngeden arenggosan. –03– Nuli bae bebeleyan. ya sun puja dadiya sulur nalendra.

edan bae kawenangan ing wong liyan. kasmaran ing Mundhing iku. padha pasrah jiwa raga. wus ilang kang wirang isin.Susulure rama nira. ing wang tuwa maring laki. bisa amangko pinuli. ing rat prakuwu mangsa. manawa dadi susulur. ing benjang salamet urip. openana den abecik. dugi mraja kawarni. sun srahaken maring sukmane si jabang. randha muwah duwe laki. ing rat prayangan mangkin. – 07 – Ratna Gimiwang aturan. sandika ing mangkin aji. telungane ing kita. padha kabadri-badri. mangsa wurunga abangkit. aja-aja kang tumingal. tut buri ing Mundhing gupuh. akeh wadon kang kedanan. linulutan ing pawestri. yen nyata titise jati. dinelap lastari urip. Anggalarang kang wus lalis. kelingan bae ing swara. ya angrungu abane padha kasmaran. – 08 – Estuning raga asihan. pan si jabang wus den asta. ingkang prawan kang wulanjar. – 10 – . padha buri ingithil. maring Wundhingkawati padha kasmaran. bisa angrebut pusaka. konsi duga pitung bengi. angruru pusakanipun. nyi mantu udheg si jabang. katempelan asmara lulut. – 09 – Ingut-inguting swaranira. – 06 – Amung manawa si jabang. salagine ingkang sami. sabab uwis kajabel Jayanglengkara. akeh istri padha lali.

lan garwane Jayalengking. anggepe Mundhingkawati. Mundhinggkawati nadhahi. padedesan kang tumuwu yen den lewa. kalesan ingkang murugul. ingkang padha marinci. wong anom amurang titi. – 12 – Akirada pan sacombana. sakeh wadon kempong perot sok wadone. Raden Mundhingkawati. angambat maring garwa. mung kinambadan ni Pasung. ing wadon sagulingan. lara pati sun labuhi.Malah ika lampahira. maring sang Mundhingkawati. – 14 – Sakeh wadon duwe ningwang. padha rinujak ing lawan. malah yen kapandhak margi. akeh garwane Jayanglengkara jinamah. kang lagi tinandhu-tandhu. Malangsumirang mambrih. jar murang niti rungruman. saprakara wadon kang teka priyangga. teguhan talikrami. – 15 – . remening Mundhingkawati. prandene linorod binegal marga. ginaregeg den iring-iring. Raden Mundhingkawati. singasinga anekani. – 11 – Padha sungsung rebut ing sang. – 13 – Yen konangan ingkang jaga. adate Mundhingkawati. padha sami sakarani. angumbar akarsa nira. padha sosoroh gulingan. linadenan akirda pan sadaya. padha kondur kokalan. garwane Majayalengking. kang padha rinungruman. ngambat ing praja pra kuwu. tan lawan den undang maning. malah ika lami-lami.

nyumur gumuling lang angrong pusanakan. PUPUH XXXIX KINANTHI – 01 – . sakabeh den dalajahi. prameswari den sanggani. kang ning padesan marinci. ambegal ingkang pawestri. tan idhep garwa aji. pon ya iku kang angembat tupaningwang. Mundhingkawati kalangkung. tan ana braja nitisi. adate Mundhingkawati. Atmajaya musuhipun. isun ora anggingsiri. sapa bae kang kapapag. ora nana kang pinilih. datan kaliwat siji. – 18 – Lara pati dipun dhadha. padu wanodya ya iku. luwih liwat anglalanangi ing jagat.Ginawa ing pasenetan. anumbak pan sami nyuduk. esok bae angkohe Mundhing Bathara. pan rinungruman sadaya. kamanyangan yen mendhaka. yen wis sampurna abendra. braja gemet ing pawestri. – 16 – Nanging sun mangsa kandega. pan samya kang ngiring bedhil. panebusing murang sarak. rabine si Jayalengking. aburan carampusan. tinadhahan kang braja. sing awadon den cicipi. ingeculaken ing margi. iya pasthi sun sundhepi. – 17 – Ya ta garwa Atmajaya. dening kaliwat gemetan.

lamon geger garwa aji. den buru-buru tunungtik. dadak-dadak den ebyuki. – 06 – Sang Anom pan dipun cawuk. ginawe ing raga ina. yen pinanjingan ing dhustha. – 02 – Kang seja galethuk datu. ora duwe napas mijil. ambekane dipun tarik. pating bilulungan tan polih. ya ta kamisosot kangpri. ya ta dadi den lurugi dening bala ing Talaga. kacandhak Mundhingkawati. raja gagaman talaga. kaligane tan kacandhak.Ya wus dadi ara-uru. mundelik kaya apejah. ora nan kang ngundhili. dening Arya Paracutan. seja cinekel winingkis. Brajamatya adhag-dhag dhigdhig. karajahan Atmajaya. koncara angrurung sebi. seja nyekel sang Bathara. – 04 – Ting salengseng ngalor ngidul. – 03 – Juwala apa si bendhul. ya ta wis amaribui. Ki Tumenggung Paracutan. mabura kang tanpa sentik. Mundhingkawati wong siji. – 05 – Tan olih gawe alusut. seja den kacebur cai. angalahaken nagara. Mundhingkawati tan keni. . kang cinekel boya kena.

sujud ing sampeyan gusti. – 08 – Gelapnyawang wus jumegur. – 10 – Ngasih-asih aturipun. kawenangan ika dening. katura ing Mundhingkawati. Paracutan tulus pejah. Mundhungkawati lir mati. supados mangke gesanga. – 11 – Tilar Atmajayanipun. dhumateng Mundhingkawati. – 09 – mangsup dhateng jasadipun. ginawe abang putih. Talaga dipune ngabdi. sacecepenganing Paracutan. nuhunaken pangapura. dening Paracutan sakti. wus ngedhag tanpa ambegan. kaku jengkeng ora obah. namber Paracutan katimbis. nyawa Mundhing kawarnaa. tan wande angabdi. kulawargane anangis.– 07 – Sabab nyawa den talangkup. kahula datan langgana. nuhunaken gesang malih. Tumenggung pejah den Gelap. ucul wis rumanjing maning. janggelak tangi urip. rama dalem Anggalarang. – 12 – . babarpisan angemasi.

yen katekan musuh sesa.Dhateng Pakuwan pra kuwu. kanggepa ing ratu anyar. Paracutan endha modar. – 15 – Tan pantes dadi Tumenggung. enggo apa den uripi. sun rebut sing Atmajaya. – 16 – Sira wus age mampus. ya pon mangkono maning. cakelane den go bakti. ila ing badhami becik. patut kanggo gawa salang. pangidhepe nengah minggir. kena den pambri papati. Jayalengka wong mementhil. ora rep yen isun iki. – 17 – Nagara seja sun japut. sun prawasa lan dumadak. Mundhingkawati ngandika. endi ingkang gadhang menang. arep sun cekel pribadi. – 13 – Kadedo ra dadi ratu. calak-calik ing agusti. ing ngarsa sampeyan gusti. pikulan buburu dhuwit. saturune mapan ora. den bekteni ingkang kaya. aja supe kene nangis. si monyet si tai anjing. wong ora lana ngawula. . – 14 – Sanadyana maring isun. aweh ora weh ing mangkin. babaktine Paracutan. ya iku den aku gusti. Paracutan wong luwih ala. pantes dadi wedhi bumi.

sun uprak ing bumi ngriki. Rahaden Mundhingkawati. – 23 – . ambabar ing baris geni. malabar adadya wangwa. narajang baris dahana.– 18 – Ya sun anggep bala ratu. kentir kagawa ing warih. – 21 – Sukmaantalirasa sampun. mepes dadi awu nuli. wus wruh yen Tumenggung mati. Nyawange Mundhingkawati. sun tumpur kahananeki. – 22 – Medal tanpa sangkan banyu. amapag sireng payudan. adir-adir sakti luwih. mumbule lir gunung warih nrajang ing Antalirasa. Sukmaantalirasa sakti. anak putune sun buwang. ika Atmajaya lengking. yen wangkal iya sun kebat. den samber dening Gelap. kawarnaa Jayalengka. adan sang Mundhingkawati. – 20 – Jayalengkara agupuh. kalih sadherek kang nama. – 19 – Ya ta Baronjot Tumenggung. kawirangan padha nisi. kentir kagawa ing warih. ya wis larut tan katingal.

kapisanan kalembak. lisus angeder lir ngreba. kawur maning yen iyaa. angembat sanjata angin.Ambles maring dhasaringpun. akening Sangyang Ukir. silem ing talaga yoni. nuruni racun garigis. nampek ing Mundhingkawati. PUPUH XL ASMARANDANA – 01 – . medalaken wira sakti. gumingsir salagi beli. – 25 – Tandange Jayalengkara. – 24 – Mundhingkawati rahayu. tan pakara kang garigis. kajulina tibeng siti. Mundhingkawati amuja. sangyang Talaga alalis. sumilem amblese maring. bulus putih angambara. – 26 – Parandene kang tinuju. gramanggramang iku dadya. Sangyang Talaga ika. wangkeng kadi pacek wesi. narajang ming Jayalengking. – 27 – Panumbule kadi gunung. bulus putih dipun japa. wus merad alalu lalis. dan Prabu Jayanglengkara. banyu cikeruh ngulati. Sangyanf Aliwawar ngena.

jaksane lan papatihe. pusaka saking ramane. kawal ratu Pajajaran. angrapu-rapu bagja. Kawungluwuk ingkang nama. – 04 – Tumenggung kang anami. Ki Tumenggung Padhamenak. kang nguningani pagawe. wau ingkang manjing metu. idhepe ing Pajajaran. ingkang kasebat nama. – 06 – Ngabehine kang anami. katelah nalendra anyar. sakalir ring pamatrolan. putus ing kademangan. sumulur ing ramanipun. pinangka pajakanipun sang ratu ing Pajajaran. Mundhingkawati samana. ing buwana Pajajaran. – 03 – sang Prabu Mundhingkawati. Ki Patih Gurugul iku. ingkang ngreh pradata sakabeh. – 05 – Demang Sedhapura. wus den angkat pangratune. kang buawana Pajajara. nami Ciyungwanara. . pamagutaning wicara. wong cilik sabarang karya. ngabehi kang uninga. wong pinter anginger bala. tulus jayane angrebat. anulak cilaka isun. menak pra kuwu Pakuwan. dening luluhure ingkang. – 02 – Apa kaya wingi uning. anata ing Pajajaran. ngagem pajagan sakabeh. ing Mundhingkawati ngulun.Duk iku Mundhingkawati. sadaya sami nembah.

Dewi Trusgandarasa. kang wus lenggah binagawan. lan Sunan Jumajeng. Susunan ing Tatanpolawung. lan kaya ika benjang. lan Susunan Raja Malaka. garwa domas ing kathahe. pon ya tedhak Pajajaran. lan Susunan Pandhajawa. iku Susunan Sambate. tatapi duk samana. Prameswarine kang nama. Sunan Tegal kahiyangan. lan Sunan Ranggalimbangan.– 07 – Awindon ataker warsi. kang amba gawan linggihe. kang ana ing Pajajaran. iya kasebut Susunan. – 11 – Suhunan Jati apa maning. Mundhingkawati angraja. – 08 – Duk samono Gulbopati. lan Sunan Telagamunggung. lan Susunan Kidul ika. saking luluhur ibune. anak putu Pajajaran. masih nyatur kang luluhur. kabeh tedhak Pajajaran. kalawan Susunan Parung. lan Sunan Tegalkayangan. sakabeh durung ana. lan Susunan Ciburu ika. kang asal kaputrenipun. – 10 – Lan Susunan Wanaperi. – 09 – Duga ing sawuri-wuri. lan Susunan Ranggalawe. – 12 – .

Sang Prabu Mundhingkawti. . ana den brangas kewala. pirangpirang manjangan. manjangan asantana. sakti-sinatenan iku. – 13 – Pating careluk sukati. babat kang den pangan mantah. kang katelahe ing nama. ora nan kakurangan. kulawarga santana. duk rasmi lan manjangan. kang pareng olih bayangan. den sasate den pepenthul. olah-olahaning mangan. wus loba pana dhacinan. kumanjangan daden-daden. ing alas arame-rame. yen buru kidang manjangan. genya kasengsem aburu. wus warna-warna asuka. gaganting anarambah. paburu asadhiya. surake ambal-ambalan. – 14 – Kang den bakar dentengi. – 16 – Masih abang jare manis. kang dhinendheng dipun gulung. iku wus aduwe turun. wadya bala katutugan. turunaning Linggaiyang. sok rena sagedhene. karemene ambedhag sangsam. – 17 – Ya ta dadi anarengi. sukane manah agawe. idang pirang-pirang atis. lir ta kang mangan anyaran. kang dipun ayem atine. dupi lawasing lawas. bakasem daging sakabeh. singga alas den oyak. – 15 – Kang den bacem den petheni. pirang-pirang kang tampayang. den gecok den rerempah.

sampun wangun gelar pamuk. kalih sang kidang panawungan. – 22 – Paburu akeh kang mati. gagaman maning yen mempana. sakarang ngamuk ing alas. dening ika ing ngamukan.– 18 – Manjangan gumulung sakti. kang bangsa kidang sambawa. ya iku kang estu turun. gumaringsing ing ulese. mangka nata uga ika. ing kidang lan manjangan. iku ramaning manjangan. sumeja sira tutulung. – 21 – Manjangan gumulung sami. sang kidang panawungan. lan kidang panawungan. dening tantetesing punglu. maring Mundhing Bathara. manjangan pon sambawane. iya iku ramanipun. tanopen kidang ancaran. ing galunggung kahanane. – 23 – . samya kapalayu kabeh. tan sakeca ing nala. – 19 – Manjangan gumulung yakti. gegere wong Pajajaran. seja angayoni gawe. sang kidang pananjung ing Sundha. dadi ika ratunira. lan manjangan wulung upas. Linggaiyang kang sasmata. maring kula balanira. gelar panyelang susila. – 20 – Dangune den osak-asik.

PUPUH XLI MIJIL – 01 – Ki Ngabehi Kuwungluwuk ngandhepi. Kuwungluwuk den undha wanti. Ki Tumenggung Padhamenak sri angandhepi maring. ora kruwan Ki Demang tibane. pelore kaduga gepeng. ngamuk amarawasa. – 24 – Patutu iku dhedhemit. iya kuwel gulung rame lagane. kidang den cekel soso. lawan gada wesi. den tuju tumuli. muluk kadya pelor. kapental lir punglu. . wus kadi lempung kewala. dening teka kabeneran.Sedhengane ika bedhil. kidang jurig alas moreg. anglingkab koncaning ratu. prandene tan pupul. – 02 – Demang Padhamatang ngandhepi. galunggung betan siluman. – 03 – Gada tikel Ki Demang den undhi. iku ta manjangan apa. ingkang kidang dipun timbisi. ing awaking manjangan. lawan keris atugel kerise. inton-inton panawungan. kidang sangsam wau. mariyem datan tumama. manjangan den coco. gawoke nembe anemu.

kapental ing ngasruh. – 08 – Tangi ngudhag dipun tujah maning. Ki Tumenggung ing kabelasate. sadyanira sinembeleh age. tatali aliyur. ora kaya seking tan sipi. tan kahur parek den wingkis-wingkis. dadya sira ucul sing astaneki.– 04 – Sigra tortoran pijig-pinijig. kapyesan tan adoh. ambaluki Pati. ing Ki Patih ya karasa seget. duga pasukadi. ing gagamanipun. adan sang apatih. kidang ika uwis. ya datan miyatani. aprang popon-popon. sigra kang manjangan nyokni. pan binalangaken kidanga. kabyesat adhawu. dipun udha den walik-walik. sinerat dhumongkol. – 07 – Gulunipun manjangan tan kanin. ora kruwan tibane malih. tangi ngudhag den papagane. – 06 – Enggal tandang manjangan den kempit. nujahipun solot. – 05 – Ora kaya manjangan kang sakti. – 09 – . Yang Gurugulkiwul.

ya dening sang prabu. gunung Kuwendenlok. iya iku namaning kang ngukir. – 11 – Saking kutha Pajajaran mijil. Tegaluwar ayu. ngalor ngetan metu. pala dara nisih. mung kang kari saelir-elire. mulane dipun wastani. pandhe siluman ya iku genahe. munggu kadikuling. geger pating careluk. ing gon ya ing kono. kumaritig mrono. – 13 – Paparabe kang kuna angapti. samya bubar saupacarane. wus tan ana miyos.Murud tinandhu sang kyai patih. gamarudug gatos. maning jeng sang katong. Mundhingkawati sabandhu wargane. . ya pangonan alimun. kang seja den ungsi. trus kandha duk iku. – 12 – Ya sejane go umpetan aningid. ingkang kaparag sami. iku gunung Antragangsa rane. duk samana iku sang dewi prameswari aji. – 14 – Sagrawane saselire ngiring. – 10 – Dupi kidang manjangan anuntik. gunung Trogong kang den purugi. wong Pakuwan padha geris kabeh. Tarogong kang nami. garwa kula bala ngili.

wus anyandhing ingiring aning ukir. ting barisiting wong.– 15 – Dhuweg bobot wawahu sangang sasi. lagi kawalesan den baledig. – 17 – Tan emut garwa Kaluwargi. – 16 – Ya ing kono pareng kaget kanyedig. meteng tuwa suwe lakune. bubarira kadi kapusus ing musuh. duk lalaku pan ambeneri. ya kang meteng brojol mijil. – 19 – Prabu Mundhingkawati ambelik. he gunung Tarogong. lan manjangan gumalunggung pri kaget. dupi Prabu Mundhingkawati. kang gandane arum. – 18 – Tan karasa jabang bayi mijil. Antragangsa nenggih. den jaluki tulung. lan manjangan racun. ing tegalsili. bumi Tegalsili. pan kaburu karo laki lempate. ngenthe-enthe loyon. – 20 – . tulungana isun sakabehe. dening kidang sakti. dening kidang langgon. ingkang gandane arum. bawaning ambesot. rebut urip sewang-sewangane.

– 23 – Maring jagat ingkang ing sajroning ukir. wong Pakuwan samya abubar kabeh. – 21 – Balanisun akeh padha mati. ing gunung Tarogong. bawaning alali. wusing manjing ing sakulawargi. belamiyan katingal ing jrone. dupi iki isun kang kaseseg. katujah kacokot. sabronjote mangsup. mantrinisun sami. pirang-oirang buron. Yang Gunung Tarogong. gunung Tangkep maning. ora metu-metu salawase. tembe emut ing wewetangane. . – 25 – Ya ta Dewi Trusgandarasa adi. ya ta kidang manjangan dadi. mrene iki jawane angili.Ya ing wau kidang sun baledig. – 22 – Sinambadan pareng samana ukir. ing manjangan dadi amuki. ya dadi ingkang enakane. duk wau lumayu. tan kawagang nempuh. dan Mundhingkawati. apa kaya mau. wus mangsup sakabeh. tulungana isun. – 24 – Pan sarupa merad Mundhingkawati. kaget dhateng kempong. yen wewedhe tan karsa amilih. kaya jagat ing weteng ingukir. age den agelis.

ana ngendi baya ing tibane. tangtu anyuluri. dukaciptanira prakarane. pepeleme den dilati. sampun punthes kaya puput. kang neng Tegal Silih harum. warnane sang jabang bayi. anak kita kang marojol kari. ningali jabang ing kono. kaya kucing amberseni. ing garwa ja dados. sapa bisa manggihena gusti. si jabang bayi mami. – 03 – Karojotan si jabang lagi ing riku. dening embok macan wadon.– 26 – Prameswari alara anangis. ing tilas kita mau. baya anaking wong. – 27 – Prabu Mundhingkawati lingnya ris. nuli ana wong aruru. – 02 – Wus karesi si jabang kaya ingedus. . kang marojol kantun. macan kesah ngunguliti. maring anake mangkono. den cokot kang ari-ari. akyu aran kahiborit. PUPUH XLII MEGATRUH – 01 – Pan sigegen kang sarupa lalisipun.

– 04 –

Pan binakta si jabang den agupuh, pramila dipun wastani, Siliwangi namanipun, krana asale kapanggih, ing alas rum kuno.

– 05 –

Tegalsili tampanganing alas gunung, jabang sili rum dan urip, urip ing wong ngambil kayu, kocap anak kahi Borit, salirum warna jalitro.

– 06 –

Wantu-wantu dadi anak tukang kayu, badan ora bresih-bresih, kalalare ladheg buruk, ora na prajapajaning, taliti putra sang katong.

– 07 –

Ya wus apa dudune bocah ngon gunung, carobong ngenek-ngeneki, ora ilok adus-adus, ing maletenge agething, rambut kethel ingakotor.

– 08 –

Tan kawarna lampahe budhak salirum, kawarnaa kidang lemping, sasirnane ya sang prabu, dadi ika ngosak-asik, anang Pajajaran nyewot.

– 09 –

Maring menak pra kuwu padha alarut, amalayu den baledig, geris tan ana atunggu, ing praja den tinggal bresih, golendhang kariya kosong.

– 10 –

Kaisenan kidang manjangan akumpul, garadang-gridik awan bengi, angkohe anjabel dhatu, dheweke ingkang ratoni, ing kono mulane manggon.

– 11 –

Gawoking wong menak pra kuwu, genya kasanglat saking, wedi mareg bok den amuk, padha geris samya nisih, ing parna ing adoh-adoh.

– 12 –

Kidang Panawungan lan Manjangan Gumalunggung, lunta puas-puas ati, ngamuk ngulon ika mampuh, Pakuwan Prayangan goning, Ciyungwanara dipun brobok.

– 13 –

Geger gemetus menak Prayangan alarut, padha ngili nyingid tebih, maring guwa maring gunung, tan ana bisa ngundhili, pan sami abubar adoh.

– 14 –

Prabu Ciyungwanara ngili lumayu, ing Simpar patapaning, Ajar Ujung Banaliwung, asingidan denimponi, dening Ki Ajar ing kono.

– 15 –

Wus angarti anak putu padha larut, sowang-sowangan lumari, rebut urip laku rusuh, ibur uwis ora mikir, maring laku raton-raton.

– 16 –

Ya wis pating barisat tan mikir lungguh, nagara wus …………. gandring, kalingdih ing kidang bungur, …………. kaisen dening, kidang menjangan ton-inton.

– 17 –

Ika padha angkohe anglindih ratu, malesa poli den buroni, Mundhingkawati duk mau, amburu manjangan dari, saiki gagantos buron.

– 18 –

Ya sang Kidang Panawungan sabala ngratu, ing Pakuwan kulon nenggih, Prayangan kang dipun gelung, malah wus putra anami, Kidang Pananjung gadhang wong.

– 19 –

Dupi sangsam gumlunggung sabalanipun, angrat sakukubaning, Pajajaran kuwu, Pakuwan brang wetan nenggih, kang den wingkis kang den enggo.

– 20 –

Pajajaran kilen wetan wus den aku, ing Kidang Sampati, kulon sang Kidang Panawung, wetan Manjangan Kumliking, manjangan ya la wus miyos.

– 21 –

Putra Manjangan Gumaringsing namanipun, ya iku kang gadhang jalmi, pramila ing waktu iku, kidang manjangan kadhasir, sarasmi kalawan wong.

– 22 –

Sabab asal-usul Inggaiyang wau, Kidang Panawungan sami, akir dalanjal malulut, yen manjangan iku dening, sing Galunggung dhemen ing wong.

– 23 –

Lan yen monyet Cogowang iya ikut, ilok dhemen maring jalmi, sabab asal-usulipun, sing Lutungkasarung dhingin, margane kadi mangkono.

– 24 –

Waktu iku Pajajaran kaslangipun, ing ratu sato sambawi, ya sijar salaminipun, Silirum sing maksih alit, maksih dadi budhak kangon.

– 25 –

Ala walatra bocah anerus tunjung, lami-lami ika nuli, ana kawenganing pulung, putra menak Sindhangkasih, nyi Rara Sigir pan jatos.

– 26 –

Masakaken ing budhak si Silirum, ingimponi den karseni, denedusi timbul pulung, ya si wantu tedhakaning, andana wirya gung katon.

– 27 –

Gilang-gilang marenenge tejanepun, komarane anelehi, mangga ngucapa sang ayu, Rara Sigir genya ngapti, aja na liyaning jodho.

– 28 –

Dadya Jaka Silirum ing jidhonisun, mungga kadulura dening, panadyane atinisun, mangkana ing duk pamikir, sawiji kalawan jodho.

PUPUH XLIII DURMA

– 01 –

Waktu iku nuli ana ing bancana, wau cicipaning, dalem Palimanan, karsa angiwat-iwat, Sigir Panjaling ingkang den prih, adan sakala, iku nyamber sang putri.

– 02 –

Putri Sigir sinamber tan kena inadha, enggal dipun tulungi, dening Siliganda, kalampah sira pancas, buto roro den kembari, kinarya sepak, padha buta kagulinting.

– 03 –

Malah katon ing wong Sindhangkasih sadaya, Silirum asakti, anyana punika, dudu bandra-bandrakan, duga buta kalih neki, larut asirna, wau den sanjatani.

– 04 –

Dadi mundahak katarimahe ing kana, dening wong Sindhangkasih, pareng lawas-lawas, Siliwangi teka karsa, ing manjangan seja wani, pinenging aja, dening si Rara Sigir.

– 05 –

Aja sira ngulati gawe angangkah, isun melang ing ati, bok ora kawagang, sunrungu ika sangsam, kaliwat ing saktineki, kaduga ngebat, aken Mundhingkawati.

– 06 –

Jaka Salirum wangsulane ika, ingkang sun ajab lalis, angrebat nagara, babaguse wong lanang, angulati apa maning, punika sawarga, ginawe ayu mangkin.

– 07 –

Adan mangkat Silirum anggawa panah, tan arsi dipun iring, kali wayangan, sudira ngundi lawan, panantang baya ngenani, sampun anjujag, pra kuwu kang den ancik.

ingapura den wenehi. – 13 – . adan putranira. adan lan gagadhang. dhumateng Siliwangi. lamine sawelas warsi. tinujah kaliwat kadi. – 10 – Den papagaken layan sanjata wisesa. tan dangu den walesi. tembe saiki pulih. gupuh anembah. dupi tiba dadi jalmi.– 08 – Dyan Manjangan Gumulung wus dadya mulat. maring daleme malih. – 12 – Duka yuswaning sawelas warsa. ika ingkang nama. cacangkok pisan ing Galunggung pan nagari. – 09 – Ya Manjangan Gumalunggung sinabet lan panah. Siliganda wus bisa ngrebut puri. Manjangan Gumaringsing. nuju wawayangan. malesate kagawa. sagenah sayasa nipun kang mula-mula. bela ing bala. ya Manjangan Gumaringsing. wus kakenan panah. bugel sangsam ngemasi. – 11 – Apoliye iku menak pra kuwu ika. lan ika manjangan. narajang bela pati. iku hebating jalmi. Gumaringsing kumawula. Silirum dipun tujah. kosonging praja.

Siliwangi kang ngimponi. menak prayangan. . bisa balik mulih.Jaka Siliganda angulon ika. – 16 – Ing enggone alinggih lagi duk kuna. adan pinapag aglis. tumuli anembah. datan antara nuli. wus apulih karta. – 17 – Den apura pan sinung cacangkok sisan. Kidang Panawangsa. sawelas tahun angili. bisa pulih waluya. mantuk ing Ujungbana. maring Pajajaran malih. la iku purwaning dadi. sira dadi jalmi. seja bela ing rama. kang gadhang nyakrawati. Prabu Ciyungwanara. adan ingkang putra. – 14 – Dipun sabet lan panah tugel sang kidang. Kidang Panjing prepeki. ing Panawungan perni. ing rat Pajajaran. kidang den panah aglis. saiki dumadak. ing Pajajaran. ing jalmi amburu aglis. duk ningali kolebat. maring sang Ganda. jujug prayangan ngancik. asuka rena dening ananulungi. karebut ing Jaka Sili. riku kang kidang. Panawangsa ngemasi. Pananjung ika aksami. – 15 – Amalesat Kidang Pananjung atiba. ing Siliganda. – 18 – Baudendha wekasanira nalendra. dhumateng Siligandha.

sri Pajajaran ingkang bagawani. dadine danyata. – 20 – Ya tan dangu Parwatali talibarat. mesat dugi babar. arebat wipala. kaprabon duwe nira. subagjane sun puja. jabang tiba katilar. inggih punika delap dumadi sakti. babaring Tegal ara-ara Siliwangi. sima ingkang dilati. sasmata angrebat. tedhak atur wara. diweg mateng kang bibit. pareng macan linggar. jabang dipun gemes sang dening rencek kyai Borih. ora nyelang ora nyiling. – 21 – Duk kapeleter dening Kidang Manjangan. gela nyawang pra sami.– 19 – Kujajaka prawira nom sing dibaya. ing tegal siliwangi. ing pusaka pribadi. dadiya susuluraning. kinongang nundhung weri. peciling Mundhingkawati. rena manjing ukir. dening kaliwat sakti. – 23 – Ciyungwanara ngandika mangsa bodhoa. dupi kang yayah. – 24 – . – 22 – Ya sarupa lalis tilar si jabang ika.

Sira sanyata gintung-gingtung manira. ngiseni Sundha nagari. dadya angreh Pakuwan. sun istreni sira. – 03 – Sugih sanak sugih putra sugih rabi dadya merna. karajaan Siliwangi. kina wenang iku ing sakarsanira. ingkang muji jati. Prayangan pra kuwu uwis. karone tunggal. – 02 – Bala dewata jawata amayungi wus kaloka. ratu sajagat buwana kabeh iki. ing salungguhira. – 25 – Alungguhan nyakrawati Pajajaran. dening Yang Acintamanik. tirimaa sira. ratu araga sukma akadang sukma. – 04 – Lan koncara liwat luwihing prajurit. ora ana kaya ratu Pajajaran. ora ana musuhe ing buwana iki. PUPUH XLIV LADRANG – 01 – Sinahuran geger peter ketug muni genya ngangkat. kang anyar-anyar katondha saking kana. . sira ingkang ngimponi. kajana priya ing luwi. si gintung saiki.

– 06 – Gajah Enggang Gajah Puntang Gajah Rucik. – 09 – Pan mangkana wadon abrakothi. warna-warna. Kalangwirana Kalangbadhag Kalangbrama. Katumenggungan malih.– 05 – Menak pangrengku kang nama awarni-warni. Kalanglunana. sugih wadon miwah sugih putra wayah. – 07 – Kalangluhur kalawan Ki Kalangeling. ing Pakuwan nyakrawati. Gajah Muntang. – 08 – Kademangane kumerab awarni-warni. – 10 – . Kalangangkes Kalangsiyu Kalangrejang. mantri gedhe mantri cilik wis anjagat. Jalana kang ngabehine. Kalangtonggo Kalangsari. kebek ing rat. Gajah Manggala muwah Gajah Siluman. kocap ingkang. Gajah Barong Gajah tandhing.

. Mundhingdalem paparabe putra nata. tan ana durga nyantoli.Wis awindon takeran tahun amukti awibawa. – 15 – Pandhajaya iku wus mutrani maning ingkang nama. dadi tulus jodhone lawan sang nata. jaler ingkang naminipun Raden Umbang. – 11 – Malah istri kang purwa anggumateni timur mula. ajalera den Sangkeki. ing putra saiki negari. nuli puputra kang Susunan Pandhajaya. jaler ingkang apranami. – 12 – Katelah nyai Embok Agung amutrani ingkang nama. putra dalem ana ing rat Pajajaran. – 14 – Nulya iku akrama ya maring putri Tejasuka. pan gumelar putra wayah ya anjagat. ingkang wau Sindhangkasih. – 13 – Dupi garwa ingkang nama Panawangi apuputra. nami Putri Pamratsari.

– 18 – Prabu Kangkangirang ika mutrani ingkang nama. rang-arang acucuk prang ngamuka. Linggaiyang puputra Sangiyang Arjuna. Prabu Kangkangirang nenngih.– 16 – Dupi putra Nubdhingdalem sanes bibit iku lanang. cacangkoke bupati pan dudu nata. nama Prabu sabupati lungguhira. Linggaiyang anem suri. prabu ana ing bupati. – 19 – Sangiyang Arjuna baya gung asisiwi ingkang nama. iya iku amutrani. – 21 – . Linggalawang ing Cipamali. Sangiyang Madhangrasa Medhangkamamangga. – 17 – Duk samono akeh putra ingkang den prih lawan nana. – 20 – Dupi garwa Siliwangi ingkang nami mraja cinta.

Prabu Siliwangi maning. – 22 – Tyas iku ingkang ngawiyosi siwi ingkang nama. Ratu Widayaka sakti. – 23 – Prabu Resik ing Rajapolah kang puri dupi garwa. – 24 – Kang alinggih aneng Panembong ing puri. Siliwangi ingkang nami. Yang Wiraga puputra sang Ratu Puntang. Maharaja Larang kang nitis.Ana dene garwa Prabu Siliwangi ingkang nama. Saselawangi apuputra Sangiyang Tular. ana denegarwa Prabu Siliganda. ingkang nama Ratna Yumanik gumilang. . – 26 – Ingkang nama Dewi Pergilayaransari mulya putra. ing Ratulawang kang puri. Siliwangi ingkang nama. Kidang Pananjung ingkang saking Ratulawang. Sangiyang Wiragasakti. Ratu Widayaka anuli sira puputra. dupi garwa. – 25 – Apuputra Yang Jampana alinggih aku ana.

– 27 – Ingkang tapa aneng ing pucuking ukir made sukma. – 30 – Prabu Sendangpugeran iku kang alinggih. – 28 – Ratu Puntang puputra titiga nami. Pernalarang ing Raturuyuk kang puri. apuputra Kidang Pati. – 31 – Kang alingghih Kamiwelas dining puri. – 29 – Kang adalem ya ana ing Ratuwangi. sangkane jujuluk nami. Ukur sepuh aneng kadhipatenira. kapindhone Anggalarang Anem lenggah. ing Jumajang ingkang puri. Yang Mas tuwa. – 32 – . Prabu Jayapakuwan iku puputra. aneng arga Gunung Munara kang puri. kaping tiga. sang Prabu Jayapakuwan. angadheni Ratu Mas tuwa nini moyang. iya iku Sangiyang Bathara Larang.

kang adalem ing Rajapolah. – 35 – Sendhang Gunung iku amutrani maning. ing Ngabdu ing alinggih. – 37 – Prabu Wesi pareng ika amutrani. kang adalem ing Gunung Gedhe kang pura. Prabu Sendhanglimun sakti. ingkang dalem ana ing Tetegal. Prabu Wasipernasakti. ya ana ing timun putih puranira. kang adalem ya aneng Sagara Erang. – 33 – Sendhanglimun kunuli mutrani. kang anama Prabu Sendhang Jayasakti. Kandhuruwan tuwilimun kang alinggih aneng Gunung Ciaya ing enggonira. – 36 – Sendhang Kajayan nuli ika amutrani. kang nama. ingkang nama. Prabu Sendhang Gunung nami.Dupi Prabu Sendhangpugeran mutrani. Prabu Sela. . – 34 – Sendhang Ngabdu ika apuputra malih. ingkang nama.

Patrabangsa lan maninge. ana ing Pagagan. santohan punika. pernaira tapis wiring Pajajaran. Eran-eran Ngewre nami. ing Pamanukan genahe.– 38 – Kandhuruwan ika mau amutrani. ing Panguragan genahe. PUPUH XLV PUCUNG – 01 – Lurah Bangsa punika ingkang alungguh. . – 02 – Pancase la ing Palered dalemipun. sanga iku putrane Ki Kandhuruhan. – 39 – Ki Santohan Kadirun kang anjeneki desa aran. Wirakusuma ing Ciasem ingkang pernah. – 03 – Arya Wirantanu ing Cibalagung. ingkang linggih Luwimundhing dalemira. Mundhing Bthara kang linggih. adalem aneng Pamijahan Karang. Ki Wargakosala. sanga jalma.

– 08 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. Bathara Sakti jenenge. – 07 – Sempokwaja kang agarwa putrinipun. ing Panunukan genahe. – 05 – Ingkang ana Sundhalarang dalemipun. Panji Rababuwana. amiyosi kaputrane. – 09 – . ki Wargakosala. nulya puputra Sangiyang Sempokwaja. Buniwati raras. jenenge Ratu Pramana punika. – 06 – Wondane wau Yang Wiroga ausunu. timansapura jenenge. Sijine kang nama. amiyosaken putrane. sanga iku putrane Ki Kandhuruhan. kang kaksih jeng Batharadinata. nama ratu Demang.– 04 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. ingkang dalem ana ing timbangan ika.

sri Praman ika. kaloka ing rat. Dipati Cangkuang mangke. kang Susunan Jati ing Carbon. ingkang rayi istri iku namanira. putra nama Susunan Raja Malaka. – 13 – Ratu Kawunganten rama dewa iku besuk. mangka Dhiputi Cangkuang iku puputra. kaloka ing rat. – 11 – Tyas iku dadalem ing Cangkuang pernahipun. . Medalagung ingkang miyos. nama Suhunan Jaratna ing Cipinaha. – 14 – Ratu Pananten rama dewa jenengipun. – 12 – Kang dadalem ing Cangkuang pernahipun.Nulya gagarwa [iutri saking raja Galuh. kang dadalem ing Timbangaten nagara. ingkang rayi istri iku namanira. ingkang dados garwa. Dhipati Cangkuang mangke. anuli miyos putrane. kang Susunan Ranggalawe. jujuluking nama. – 10 – Garwa Ratu Pramana kang nemla ika. putraning Susunan.

ki Dhipati Cangal.– 15 – Dupi garwa Siliwangi kang pulangun. nuli puputra dalem Nayagati ing Sundha. nama Sangyang Mayak. ki Sangulara namane. iya iku kang limunan ing Tunjungbang. – 19 – Rara Siluman miyosi putra pipitu. Dupi garwa Siliwangi kang anama. Sangiyang Ageng kang alinggih Setularang. iku amiyos putrane. abangsa lelembut. tumuli apindha. – 18 – Kang dadalem ing Ngendher ingkang jujuluk. – 20 – . – 17 – Ing kajaksan ing Carbon iya iku. Yang Mayak puputra dalem Narasinga. aneng Cilutung genahe. – 16 – Nulya Yang Ageng nuli amiyosi sunu. dupi kang katelah ing ngendher. Rumsari ganda. maring Kanci dadalem.

– 22 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. iku miyosi putrane. putra ingkang paparab Ratu Rawana. Sri Intenbancana. dupi Yang Wirun kang miyos. kang neng Sawunggantang. ki Wanabaya linggihe. – 23 – Mundhingsari kapindho Yang Sumur Agung. pan titiga sawijine ingkang nama. ping telu kang nama. Prabu Wanabaya nulya puputra. ki Kamalarang ing Ngonom genya ngimba. sangyang Wirun paparabe. iki lewi aneng Guwa Pajajaran. pra buwana bala. – 21 – Ki Mayadewata ing Malakbok genya lungguh.Ki Dhiriwengi ing Ragan manggene lungguh. . – 25 – Ratu Rawana iku nuli susunu. ing Guwa Upas dhemite. ki Kuyupuk ingkang. ki Daluwengi ingkang. – 24 – Sangiyang Widaya anenggih ing namanipun. ing Guwa Sancang limute. mau Sumur Agung nuli puputra.

nuli puputra Raden Senapati Ngalaga. – 31 – . lan Linggawayang marmane. Sangyang topasri lan Sangyang Babak panyarang. dupi garwa Siliwangi kang anama. – 27 – Duk wau Linggawayang turun-tumurun. ingkang sakapika. Linggawayang putrane Sangiyang Arjuna. ingkang apranama. ing Citaman dadaleme. puputra Sri Wayang. Sangiyang Sogol ing Maleber. lilima satriya. Yang Sumur Bandhung linggihe. nuli Sri Wayang Nuli puputra. – 30 – Pandalarang ika amiyosi sunu. – 29 – Lan Sangyang Panengah ingkang muwah adhinipun. – 28 – Linggasri aneng Pangkalan tumuwu. nuli apuputra. Yang Lebakwangi jenenge.– 26 – Ingkang nama Sangiyang Ngabehi cucuk.

Prabu Rangsangjiwa. Rangsangjiwa nuli miyos. Yang Guntebuyeng jenenge. Raden Tetel kang sepuh nuli puputra. nama Raden Tetel kabeh. – 32 – Raden Memenang ingkang mangke tuwuh. jalu ingkang nama. dupi Ki Gedhengrungka. nuli puputra Prabu Layapakuwan. ing Tegal Koripan. putra lanang sang Dhipati Kartamana. – 35 – Kartamana lilima ing putrinipun. – 34 – Prabu Layapakuwan anuli susunu. – 36 – Kalih Ki Kartamnggala iya iku. – 33 – Katurunan ing sih ingkang miyos putranipun. iku Gedhengrungkang.Lan Sangyang Cimara kalih Sangyang Ciagus. jenek ing salami-lamine. dupi garwa Lisiwangi kang anama. Tumenggung Suradarmane. . sakalih maneh ika. apuputra ing name. Dhipati Manggala nuli puputra. Tumenggung Sedhangrungkang lan Tumenggung Cikakak.

lan Susunan Wanaperi ing Talaga. lan Raja Parana iku. PUPUH XLVI SINOM – 01 – Ki Tumenggung Suradarma. dupi Tumenggung Sedhangrunggi. – 39 – Kabeh iku tedhak Sundha gung-ginunggung. kang mernah pencar-pencare. saking Pajajaran. Wangsacandra Wangsanata Wangsaprana. Kyai Emas Anggawijaya puniku. kang aneng ardi. Bagus ardi Tumenggung warga dinata. kang jujuluk kang Ranggamantri. iku apuputra nyai. iya tirik iya lerek. Kabul putra papat. – 38 – Wangdaprana apuputra Ajengawu. Emas Batulawang ika. nulya Cirawati nama.– 37 – Ingkang nama kiyai Kabul puniku. kang anjagat sawengkening Pakuwan. – 02 – Dupi garwa Siliganda. lan Ajengarjuna. . anulya nuli puputra. lawan Puswawangi. Mayangkaruna kang anami puputra Guru Gantangan. Ki Nataraga wastane. Prabu ing Pakuwan adhi. anulya puputra nami.

Demang Gedhe puputra. kalawan Santohan iku. dupi putra Siliwangi. Raden Danupati ing namanira. tetelu ingkang anami. miyos putrane sakawan. Ukur Ngoradhipati. nuli Raden Gedhe nami. nuli ika sang Pandhahan. ingkang gagarwa iku maring puranira. jujuluk Maraja tunggilipun. lan ki Wansadhipa iki. Raden Rinahon iya iku. Raden Togog namaneki. – 07 – Klawan Raden Wargayuda. Raden Tandang kang nama. ingkang miyos saking ampiyan punika. – 05 – Ki Dipati Kungkang ika. lan Wangsadireja nami. nuli putra nyimas Kirana. dupi Yang Linggapakuwan. Wangsadhipa mutrani. Mas boncel Mas Kariya nami.– 03 – Wanaperi apuputra. mangkana santohan pelang. kabeh terah Pajajaran. Lembualas nulya mutrani. – 04 – Akrama aputranira. lan santohan Urureng. nyi Gedhengkulan kang nami. lan Raden Sobanumitadi. Ki Dhipati Ukur tuwa. nuli puputra punika. lan kang nama Raden Kacang iki. Raden Wirareja lan kimas Wargadipa. nuli putra papat nami. Sunan Parung ingkang nami. lilima kathahe iku. – 06 – Muwah Raden Wangsareja. Mundhingjaya ing Mandhal alinggih. . miyos puputra kakalih. nyi Gedhengkulan ika.

kang tapa ngawang-ngawang gempi. ing Taraju kang negari. putra istri kang anami. Ratu Gumilang akrama. Ciptalewi putra tetelu. nama sang Raja Wiwara. ing Kandhangwesi kang linggih. ing Cidhamar parnah neki. ing Majalakang dalemneki. ya iku bojakertadi. kang sawijine kumaning Siliwangi putranira. Rajaiyang brusbuhani. Ratu Guru Ajijaya namanira. kang alinggih aneng Parakantig. kang miyos saking Sri Tanduran. putra Siliwangi iku. kang sawijine maning kaputra. amiyosi putra ninipun. inggih titiga kang siwi. sijine ingkang nama. kang sawijine maning. ping telu Lokajaya. ing Kawungngora dalemneki. putra Santohan iki. saking arum ganda Wayangsari. kang tapa ing matahari. – 12 – Kapindhone Ratu Kara. Gajatapa nama dalem ing Pawenang. ingkang amiyosi siwi. – 11 – Lang Sngyang Rajawabana. kang Suhunan Ciptalewi. kanjeng Susunan Madya. Ratu Dewa Gung la ika. – 10 – Siliwangi ingkang medal. sang Bathara Resik Putih. putra ing ampiyaniku.– 08 – Kang nama Sang Deyasa. . Resik Putih asusunu. ing Gunung Licin linggih. Raden Srigadhing murtrani. – 09 – Nama Sunan Tambaliyang. ika paparabing putra. ingkang sawijene kumaning. ping telune ingkang nama. Sangyang Surakerta.

Susunan Kalana Ulunan. dupi wau Sedhangrerang. Anggamantri miyos siwi. lan ki Ranggagedhe nami.– 13 – Anuli ika puputra. ing Sumedhang gene linggih. Pangeran Sumedhang nami. kapat ki Tajimalela. sang Kidang Panajungan nami. – 15 – Anggamantri namanira. nuli ika asisiwi. nuli putra sakawan iku. ingkang nama Susunan ing Pajengan. miyos kakalih kang siwi. Yang Medhang nuli sisiwi. – 14 – Lan ki Yang Tunggabuwana. nama Raden Sadhanglarang. Sedhawati puputra wau. Cakradewa putraneki. Prabu Srimangka nuli puputra. Ratu Guru Aji Putih. ingkang krama putranira. ingkang namanira iku. lan sinine niku maning. nama Sedhawati. lan ki Raden Suradiwana ya ika. – 17 – . – 16 – Kang linggih aneng Kuningan. ing Wedhanglarang alinggih. kang sawiji ing namane punika. anana Yang Medhang. Caktradewa sisiwi. Sri Ngacala namanipun. ing satedhak-tedhak neki. Padnawati Araras. ki Ranggacarikan nama. dupi garwa Siliwangi.

nama Kantanalarang. ika nyi Subang Karancang. milane tinggal kaputran. Rara Santa jenengipun. lami-lami karsa nyabrang maring Mekah. Cakrabuwana mantuke. panengahe istri nami. dening kang rama aji. putra titiga lan rujuk dhateng kang rama. kang aneng Panjalu kang puri. – 18 – Kalih Ratu Pajajaran. ingkang nama Pangeran Carbon punika. gih punika careming jatu Krama. mila tilar bumi kana. ki Ngora ing Rajapolah. – 19 – Karsane kudu miluwa.Ingkang nama Boros lan Ngora. Prabu Cakrabuwanadi. maring Jawi aneng Carbon dalemira. Singapura kang negari. – 02 – Nulya krama dhateng putrane ki kuwu. warujune lanang nama. titiga miyosi siwi. ki Raja Sangara iki. maring agamaning muslim. agamaning bosok bedha. nyimpar-nyimpar numpal keli. PUPUH XLVII P U CU N G – 01 – Rara Santang pinet garwa Mesir ratu. dupi sing sabrang nenggih. pramilane den sengiti. inguprak-uprak tinundhung. anuli miyos putrane. . Subang Karancang jenengipun. siji lanang ingkang nama.

– 03 –

Kalih istri nyi Rakungwati ya ikut, dadya Cakrabuwana, katelah kaji namane, Abdul iman kalawan Arya Lumajang.

– 04 –

Lan kang nama Pangeran Gagak Lumayung, ngamandhing Pakuwan, manpet pajeg ing trasine, sabab dening cinandhak ing Arya Lumajang.

– 05 –

Rara Santang wis lawas ing Mesir iku, nuli wus puputra, loro lanang ing namane, Syeh Hidayatulah kalawan Syeh Nurullah.

– 06 –

Syeh Hidayatullah angajawa ikut, alingging Ardiamparan, Sunan Jati papabe, pan rinengga dening kang uwa Lumajang.

– 07 –

Dadi akeh kang manjing Islam aguru, ing wong cilik tuwis menak, barungah sadayane, Wali Jati kang katubturan akramat.

– 08 –

Dupi putra Siliwangi saking putranipun, Dhampuawang kang minangka, Kandhanghaur kaputrene, ingkang nama Balilayaran punika.

– 09 –

Putri bungsune Siliwangi iku, sang putri Layaran, masih cilik den kekentel, ingkang nama Siliwangi sebenernya.

– 10 –

Den kekentel mrana-mrene datan kantun, kocap Prabu Wanara, dan memeksa ing yogine, Siliwangi den tutur gagaib ira.

– 11 –

Den patiten sajeg ana wali iku, ilang ing guriyang, Pajajaran surem kabeh, pangaruhe ing puri tan wurung tanggal.

– 12 –

Den abecik aniti puri Sigintung, ya isun wis ana, kang mapag ngajal kasucen, pati nami ing dina kabeh wekasan.

– 13 –

Tan antara Ciyungwanara dadya iku, awak lutung asukupat, jalmi sing dhadha mukane, ……..anjengek alinggih roro kang asta.

– 14 –

Dupi saking wuri suku awarni buntut, nalosor nangcep ing andhap, narik maring sapta burine, pan tinarik ing buntutira priyangga.

– 15 –

Dadya sirna merad tan katingal iku, dening kang putra wayah, wusing sirna luluhure, amung kantun Prabu Siliwangi ika.

– 16 –

Mana sajen sadina roro ing kalbu, kukuwung mesum katingal, sang teja lor wetan pernahe, naban bengi sumonge padhang sumirat.

– 17 –

Ora liyan kang dadi sangsara iku, si cantang sarowangira, kang padha gama muslime, ingkang dadi sangara ing Pajajaran.

– 18 –

Adan prabu animbali patihipun, Tambisara nama, priksanen sumong ing kene, padhang sumong ya iku tejaning apa.

– 19 –

Ora pranti ana teja kaya iku, apa manusa bathara, anyala wadi katingale, den agelis padha rujagen denira.

– 20 –

Tambisara pamit nembah kesah sampun, ambakta satus prawira, angungtik kang teja tinon, nyata anang Gunung Jati pernahira.

– 21 –

Den talikah nyala wadi teja iku, pan seja den rujag, wong satus muwah patiye, ambrek sami lumpuh tan sesa ing angga.

– 22 –

Genya lumpuh sing dalu dalan enjingipun, pareng enjing suhunan, marikasa maring wong akeh, arep waras beli yen mambri ana atambah.

– 23 –

Tampanana kang sadat roro puniku, ucapen denira, tangtu waluya jasade, adan patih napal sadat sadhapurnya.

– 24 –

Padha Islam nulya waluya wong satus, tur den rampek pisan, lan suka wangsul ing nagrine, maring Sundha lir ring wus sejen agama.

– 25 –

Mung ki Patih Tambisara kinen wangsul, sarta bakta surat, saking sunan cacangkoke, wayah aji gih eyang amantu bilah.

– 26 –

Pan kang eyang sang prabu seja dumulur, maring gama Islam, ora kaya ing tedhake, Parwatali saking langit kandika aja.

– 27 –

Apa gawe idhep ing agama busuk, mung ta pusaka kita, sada lanang ngendi gone, prene kena age juputen den enggal.

– 28 –

Ya ingalap sada pinanjer ing alun-alun, apa ing Pakuwan, mangkana nulya parenge, merad lalis sakulawarganira.

– 29 –

Migerngiyang munjuk rayak-rayak gayuh, maring elor wetan, den papag adiasa srine, saking swarga kang para jawata sadaya.

– 30 –

Wusing merad lalis Prabu Siliarum, ing Pakuwan tan ana, kang kari amung bupatine, kang sapalih sapratiganing kang Islam.

– 31 –

Kaya Patih Cangkuwang wus mukmin iku, lan Dipati Kartamana, ki Dimati Ukur kolot, Islam maning ing Ciahur bupatinira.

– 32 –

Amung menak pra kuwu kang masih kupur, samerade Siliganda, Sunan Jati dereng ngertos, masih dadi satriya iku lalana.

– 33 –

Kawarnaa putri bungsuning sang prabu, Dewi Balilayaran, katilare sabab dening, balening Cangkolkencana.

PUPUH XLVIII DHANDHANGGULA

– 01 –

Dupi nusul amburu wus kari, dadya bungsu lara-lara, karuna polos wiyanga, salantrah-lantrah mangmung, pan dumadak nulya pinanggih, lawan jaler kang nama Jaka Kabu, asal kulup Siliganda, marmanipun katulus alaki rabi, aneng jabaning kutha.

– 02 –

– 03 – Ya kyan Santi atitising Siliwangi. laki maring kyan Santi wus gadhah pecil. lan Maraja Cipta kang linggoh. Bimalarang ingkang pranami. lan istri Ratu Madhapa. dupi ika mau. tanduran gagang iku. nama ki Pati ika sisiwi. inggistrenan dening wong sadhomas. kyai Gedheng utama. wadon Murngali jenenge. lan bedhil titiga. Maraja Cipta puputra. ciciptane Ajar Sukarsa. maring kyan Santiwara. ing Galuh apuputra. – 06 – Gedheng Utama puputra dalem Japati. apuputra kang nama. olih laki wong agung. tumuli puputra. nuli puputra ji Japatingora. Sunan kabu ika tumuli. ya tetelu kang dhingin istri anami. dupi ika prabu. kang kakasih tanduran gagang. iku Susukan kabu. Maraja Dalem Agengan. kyai Wiranegara. – 05 – Careming jodho ika mutrani. Prabu Ardikuning namanira. nuli ika amiyosi putra. ing Walanda den tuku dadi. ika sang putri Madhapa. Prabu Pucuk Kumun. – 04 – Rara Wudhu ora payu laki.Jaba kutha kutha Pakuwan den apti. Sri Jampang pan mau. Santohan Kolelet nuli sisiwi. sang Prabu Ciyungwanara. anuli puputra roro. – 07 – . nuli puputra ing mangke. marmane iku den edol. Sangyang Sarepan Agung. Ratu Madhapa kang besuk alih alaki. Inten Kadhaton ksputren titilaring. Pucuk Kumun agagarwa. sinebut ing pangasrine.

ing Dhigaluh ing Kakarsuka. aneng Kakarasuka. ingka wali kukubane. ki Dhipati Panahekan yakti. – 09 – Ki Wiraprabangsa ika nuli. nagara kawangsul. kocap Prabu Cimacur. Dhipati Kartanata. puputra Mertadinata. kyai Wiranaga mangko ika nuli. Kabolotan ing pernahe. kapindhone nama Sangyang Pramana. nulya puputra kyai Wiranaga. kaping telune ya iku. anuli susunu. nuli puputra ki Gedhe ana ing. – 12 – . ya Prabu Dhigaluh. dupi Sangyang Pramana nenggih. iku puputra Aciputi. nuli ika puputra.Jujuluke Tanduran Ageng Asri. nuli ika apuputra. nuli ika puputra. nama Sangyang Wirun. nuli ika mutrani nami. – 08 – Sunan Batuwangi kang ana ing Cipamancur ya ing parnah hira. Cipta Pramana kang linggih. ika nuli puputra. Yang Dhigaluh jujuluke. Arya Wirangun Yang Tunggal. – 11 – Dupi Cipta Pramana kang niti. nuli ika puputra. Cohaka ning Sorpura. mangka mau mraja dalem agen laki. nengga naminipun. Wiranaga kang sinare ing wewengkon Pasirnagara. nuli ika susunu. Akimas Imbanegara. ingkang paparabipun. ing Susunan Batuganda. apuputra Raden Walenggabala Estu. ki Kandharuwan Babakan. – 10 – Kyai Ajeng nama Amongragi. anuli Miyos putrane. nuli puputra ki Wirabaya Sakti.

dadi menak pagunungan ika sami. ing satedhak-tedhak ira. winuri-wuri ing jati ratu wali agung ingkang jumangah. Sang Jati Wali Allah. iku turun ratu. – 13 – Ing Prayangan pra kuwu wus dadi. Raden Wiranantaja. Raden Pati Tumurun. sewangsewangan angratu. deng uwa Cakrabuwana. ki Dhipati Sendhangmargalaya. Miyosaken putra kang nami. dupi ing Carbon ika kang dadi. TAMAT Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PIWULANG AL FAATIHAH AL FAATIHAH ( BEBUKA ) Surat kaping 1 : 7 ayat ( Tumuruning wahyu ana ing Mekkah. sasesa-sesane dhewek. taliti ing Pajajaran. para Bupati tanpa nelendra. tumurun sawuse surat Al-Muddatstsir ) . tumuli puputra mangke. kang den ratu-ratu.Gedhe Godhaka ika amutrani. Nuwun.

Sesembahaning ‘ alam jagad-rat pramudita. . Maaliki yaumid diin 5. Kalawan asma Allah kang Maha Murah ugi Maha Asih. Kang Maha Murah Maha Asih. Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim. Bismillahir rahmaanir rahim 2.Bahasa Arab : 1. ghairil maghdhuubi ‘ alaihim waladl dlaal-liin Bahasa Jawa : 1. Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin 3. 3. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in 6. 2. Kabeh pangalembana kagunganing Allah Pangeran. Arrahmanir rahiim 4. Ihdinash shiraathal mustaqiim 7.

mugi Paduka paring pitedah ing kita sadaya lumampah wonten ing margi ingkang leres. Ingkang baku wonten sekawan. Dhuh Gusti Allah. Zakat. Lajeng saking Haji tuwuh semangat ambelani sarta labuh ing agami. Namung dhumateng Paduka piyambak kita sami menembah ‘ ibadah. sanes ingkang sami kabendon. Shiyam lan kesah Haji. Saking ingkang baku kasebut. 5. ‘Ibadah . 7.w. Bab ‘aqaid utawi kaimanan . weweweh lan tetulung ing sasaminipun. Agaminipun para tetiyang ingkang sampun Paduka paringi kani’matan. Isi maksud ingkang wigatos ing Surat Al-Faatihah : Intisari saking isinipun Al-Quraan punika sampun kaweca pokok-pokok ingkang fundamentil wonten salebeting Surat Al Faatihah. lan saking Shiyam tuwuh watak Wira’I 9 mboten ndremis lan mboten kathah sesambat ) sumingkir saking ingkang nama lelangkungan ( gesang prasaja ). sarta ngrebahaken sadaya kamusyrikan. Saking zakat lajeng tuwuh ‘ ibadah qurban sidqah. langkunglangkung manungsa ( sabab manungsa punika makhluk ingkang saged damel kabudayan wonten ing ‘ alam donya ). kados kasebut ing ngandhap punika : 1.a. makaten ugi dening para andika Rasul saderengipun. punika kuwajiban ingkang wiwitan kaampil. utawi ngumawula lan manembah ing Allah. 2. ingkang kuwajiban sadaya titah. Ingkang baku inggih punika ‘ aqidah-tauhid ( memundhi saha mangeran namung dhumateng Panjenanganipun Allah piyambak ) ‘ Aqidah-tauhid wau dados jejering piwucal Agami. ugi ngajak Ummatipun supados samia ‘ibadah ( manembah ) ing Allah piyambak. dzikir lan tafakkur utawi I’tikaf ing masjid. 6. Kang Ngratoni ing dina Piwelas. ingkang dipun da’wahaken dening junjungan kita Nabi Muhammad s. . tuwin sanes ingkang sami sasar. Inggih punika margi.4. inggih punika : Shalat. lan nilar sadaya brahalanipun. sadaya para andika Nabi Utusaning Allah kautus ngampil tugas-pokok mbangun Tauhid ing Allah. lajeng tuwuh ‘ibadah memuji. saha namung dhumateng Paduka piyambak kita sami anyenyadhong pitulungan. ndedonga.

gesang sapisan wonten ing ‘ alam Donya. Angger. sesambetan internasional. Pramila ing salebetingQuraan ngemot pinten-pinten norma lan katamtuwan. nanging wonten ngarsaning Allah ing dinten Qiyanat tantu nboten saged lolos malih. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PIWULANG HA NA CA RA KA Oleh : BRM Panji Anom Resiningrum Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa. perang. agami. dahme. tatanagari. sosial. lan lingkungan sapiturutipun. Janji sarta ancaman : artosipun supados ngadeg keadilan lan keleresan ingkang saestu. Huruf Ha .pernatan : maksudipun Syari’at Islam damel angger-angger hukum lan pranatan punika kangge karaharjaning ummat manungsa ing Donya dumugi ing Akheratipun. kabudayan sarta kesenian.3. Sejarah : maksudipun ingkang saged dados tepa-palupi ing salebeting sesrawungan ummat manungsa. sampun ngantos damel sejarah awon. sanajan wonten Donya saged lolos saking hukuman. upami hukum. Pembukaan Huruf Jawa 1. 4.angger Hukum lan Pernatan. politik. sesambetaning manungsa kaliyan Allah. ekonomi. A. 5.

Huruf Ca Berarti ‘cahaya’. artinya cahaya di sini memang sama dengan cahaya yang telah disebutkan di atas. Huruf Na Berari ‘nur’ atau cahaya. Api b. yakni berkumpulnya Tuhan YMEyang juga terletak pada sifat manusia. 4. Huruf Ra Berarti ‘roh’. Bumi d. Kita telah mengetahui pula akan sifat Tuhan dan sifatsifat tersebut ada pada yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia karena memang Tuhan pun menghendaki agar manusia itu mempunyai sifat baik. atau huruf berarti juga ada hidup. yaitu roh Tuhan yang ada pada diri manusia. 3. 5.Berarti ‘hidup’. Yakni salah satu sifat Tuhan yang ada pada manusia. . Huruf Ka Berarti ‘berkumpul’. Air 2. hidup itu adalah sendirian dalam arti abadi atau langgeng tidak terkena kematian dalam menghadapi segala keadaan. sebab memang hidup itu ada. Hidup tersebut terdiri atas 4 unsur yaitu: a. Angin c. yakni cahaya dari Tuhan YME dan terletak pada sifat manusia. karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup.

Huruf Pa . berarti abadi pula untuk selama-lamanya. 7.6. 9. Huruf Sa Berarti ‘satu’. ialah zatnya Tuhan YME yang terletak pada sifat manusia. la yang mengandung arti langgeng ini juga nyata menunjukkan bahwa hanya Tuhan YME sendirian yang langgeng di dunia ini. jadi tidak ada yang dapat menyamai Tuhan. 10. 11. Dalam hal ini huruf sa tersebut telah nyata menunjukkan bahwa Tuhan YME yaitu satu. Huruf Wa Berarti ‘wujud’ atau bentuk. Huruf La Berarti ‘langgeng’ atau ‘abadi’. Huruf Da Berarti ‘zat’. dalam arti ini menyatakan bahwa wujud atau bentuk Tuhan itu ada dalam manusia yang setelah bertapa kurang lebih 9 bulan dalam gua garba ibu lalu dilahirkan dalam wujud diri. 8. Huruf Ta Berarti ‘tes’ atau tetes. yaitu tetes Tuhan YME yang berada pada manusia.

Huruf Dha Berarti dhawuh. Tuhan YME telah memberikan jalan kepada manusia yang berbuat jelek dan baik. Huruf Ya Berarti ‘dawuh’.Berarti ‘papan’ atau ‘tempat’. Huruf Nya Berarti ‘pasrah’ atau ‘menyerahkan’. yaitu papan Tuhan YME-lah yang memenuhi alam jagad raya ini. Dawuh di sini mempunyai lain arti dengan dhawuh di atas. 12. . 14. manusia yang utama. 16. Jasad Tuhan YME itu terletak pada sifat manusia yang utama. 13. jagad gede juga jagad kecil (manusia). Huruf Ma Berarti ‘marga’ atau ‘jalan’. Jelasnya Tuhan YME dengan ikhlas menyerahkan semua yang telah tersedia di dunia ini. yiatu perintah-perintah Tuhan YME inilah yang terletak dalam diri dan besarnya Adam. 15. Huruf Ja Berarti ‘jasad’ atau ‘badan’. karena dawuh berarti selalu menyaksikan kehendak manusia baik yang berbuat jelek maupun yang bertindak baik yang selalu menggunakan kata-katanya “Ya”.

18. Huruf Nga Berarti ‘ngalam’. yaitu kabarnya manusia dari gaibnya Tuhan YME. Huruf Ga Berarti ‘gaib’. seperti halnya cahaya terang tetapi tidak dapat diraba atau pun disentuh. atau terang/gaib Tuhan YME yang mengadakan sinar terang. 20. karena memang seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Jawa yang menggunakan huruf Jawa itupun merupakan sabda dari Tuhan YME. Penyatuan Huruf atau Aksara Jawa 20 . 19.17. dekat tetapi tidak dapat disentuh. B. Demikianlah huruf Jawa yang 20 itu dan ternyata dapat digunakan sebagai lambang dan dapat diartikan sesuai dengan sifat Tuhan sendiri. gaib dari Tuhan YME inilah yang terletak pada sifat manusia. Demikianlah gaibnya Tuhan YME itu (micro binubut). Huruf Tha Berarti ‘thukul’ atau ‘tumbuh’. Dapat pula dikatakan gaib adalah jalan jauh tanpa batas. Huruf Ba Berarti ‘babar’. dan harus diakui bahwa besarnya gaib itu adalah seperti debu atau terpandang. Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa. ‘yang bersinar terang’. Tumbuh atau adanya gaib adalah dari kehendak Tuhna YME.

1. seperti: 1. berarti coblong (lobang) dan kata tersebut di atas berarti wadah atau tampat yang dimilki oleh lelaki atau wanita saat menjalin rasa menjadi satu. 4. Huruf Ha + Nga Hanga berarti angan-angan. Angan-angan yang terletak di ubun-ubun (kepala) yang menyimpan otak untuk memikir akan keseluruhan keadaan. Angan-angan mata yang digunakan untuk melihat segala keadaan. 3. Huruf Na + Ta Noto. 3. berarti ‘nutuk’. Angan-angan hidung untuk mencium/membau seluruh keadaan. Huruf Ca + Ba Caba. Angan-angan mulut yang digunakan untuk merasakan dan mengunyah makanan. 2. Angan-angan telinga yang dipakai untuk mendengar keseluruhan keadaan. Dimaksudkan dengan angan-angan ini ialah panca indra yaitu lima indra. 2. adanya perkataan kun berarti pernyataan yang . 5.

berarti ‘badan awak/diri’.dikeluarkan oleh pria dan wanita dalam bentuk kata ya dan ayo dan kedua kata tersebut mempunyai persamaan arti dan kehendak yaitu mau. Setiap manusia baik laki-laki atau wanita pastilah mengandung benih untuk kelangsungan hidup. berarti ‘komo’ atau biji. bibit. benih. 4. 7. Huruf Ta + Ya Taya atau toya. Kelahiran manusia (jabang bayi) diawali dengan keluarnya air (kawah) pun pula kelahiran bayi tersebut juga dijemput dengan air (untuk membersihkan. Persatuan kedua benih atau kama tadi mengakibatkan kelahiran. 5. oleh karena itu di dalam kata raga seperti terurai di atas merupakan kehendak pria dan wanita untuk menjalin rasa menjadi satu. memandikan . Kata raga atau ragangan merupakan juga kerangka dan kehendak pria dan wanita ketika menjalin rasa menjadi satu karena bersama-sama menghendaki untuk menciptakan raga atau diri agar supaya dapat terlaksana untuk mendapatkan anak. 6. dan kelahiran ini merupakan calon keturunan di dunia atau (alam) donya. dan dengan penyatuan kama dari kedua belah pihak itu maka kelangsungan hidup akan dapat tercapai. Huruf Da + Nya Danya atau donya atau dunia. dengan demikian dapat dipahami kalau atas kehendak Tuhan YME maka diturunkanlah ke alam dunia ini benih-benih manusia dari Kahyangan dengan melewati penyatuan rasa kedua jenis manusia. Huruf Ka + Ma Kama. Karena itulah maka kata raga telah menunjukkan adanya kedua benih yang akan disatukan dengan melewati raga. yaitu ari atau banyu. Huruf Ra + Ga Raga.

andaikata jadi kelahiran kembar maka itulah kehendak Tuhan YME. Jadi jelaslah bahwa sebenarnya isilah yang mencari wadah. Pada umumnya kelahiran manusia (bayi) itu hanya satu. dapatlah dijelaskan bahwa: kematian manusia berarti (raga) ditinggalkan isi (hidup). 9. dan karena isi tersebut membutuhkan tempat penyimpanan. 8. Berbicara tentang wadah atau tempat. sebab rumah merupakan wadah manusia. sebenarnya hal ini adalah kurang benar. maka diciptakan pula wadahnya. Jangan sampai menimbulkan kalimat “Wadah mencari isi” akan tetapi haruslah “Isi mencari wadah” karena memang ‘isi’ diciptakan terlebih dahulu. dan manusia merupakan isi dari rumah. karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Dan kelahiran satu tersebut menunjukkan adanya kata saja atau siji atau satu. sudah seharusnya membicarakan tentang isi pula.dsb). Pada umumnya dikatakan kalau wadah harus diadakan terlebih dahulu. Dengan demikian timbul pertanyaan mengenai wadah dan isi. . Sebagai bukti dari uraian di atas. Hal ini jelas tidak mungkin terjadi. Huruf Wa + Da Wada atau wadah atau tempat. Huruf Sa + Ja Saja atau siji atau satu. Sebagai contoh dapat diambilkan di sini: rumah. siapakah yang ada terlebih dahulu. karena itulah air tersebut berumur lebih tua dari dirinya sendiri disebut juga mutmainah atau sukma yang sedang mengembara dan mempunyai watak suci dan adil. apalagi kalau kematian itu terjadi dalam umur muda dimana kesenangan dan kepuasan hidup tersebut belum dialaminya. Yang diciptakan terlebih dahulu adalah isi. baru kemudian isi. Bagai pendapat yang mengatakan “wadah terlebih dahulu diciptakan” maka mengenai kematian itu seharusnya wadah mengatakan supaya isi jangan meniggalkan terlebih dahulu sebelum wadah mendahului meninggalkan.

Dene empaning pandamelan wau winastan manekung. Semua keadaan yang hidup selalu dapat bergerak. ngeningaken utawi angluhuraken paningal. Akan tetapi sebenarnya dapatlah dikatakan bahwa suwung itu tetap ada sedangkan raga manusia yang berasal pula dari tanah akan kembali ke tanah (kuburan) pula. Sebab yang dikatakan mati tadi sebenarnya bukanlah kematian sebenarnya. pujabrata. Tetapi setelah jalinan rasa dilaksanakan oleh pria dan wanita maka meneteslah benih dan apabila benih tadi mendapatkan wadahnya akan terjadi kelahiran. mengku pikajeng : tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Meskipun begitu. akan tetapi kesalahan tadi telah dibenarkan sehingga menjadi salah kaprah. mesu cipta. matiraga lan sasaminipun. keadaan hidup tesebut kalau ditinggal oleh hidup maka disebut dengan mati. Huruf La + Pa Lapa atau mati atau lampus. 10. Sebaliknya kalau wadah tersebut belum ada maka kelahiran pun tidak akan terjadi. Pendapat lain mengatakan kalau sebelum diadakan jalinan rasa maka keadaan masih kosong (awangawung). akan tetapi hidup hanyalah meninggalkannya saja yaitu untuk mengembalikan semua ke asalnya. dan dimanakah letak isi tadi ialah pada ayah dan ibu. Wallahua’lam Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 AJI PAMELENG Tegesipun aji = ratu. yang bearti masih suwung atau kosong. karena sebelum dunia ini diciptakan (sebagai wadah) maka yang telah ada adalah (isinya) Tuhan YME. pameleng = pasamaden. “hidup’ itu tetap telah ada demikian pula “isi’. Sebenarnya pemikiran demikian itu tidak benar. Maka selama ayah dan ibu masih ada maka hidup masih dapat membenihkan biji atau bibit. mesu budi.Demikianlah persoalan wadah ini dengan dunia. karena hidup berasal dari suwung sudah tentu kembali ke suwung atau kosong (awangawung) lagi. hidup kembali kepada yang menciptakan hidup. .

Dene kawruh wau ing sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu. nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun. bangsa Jawi ing sa’indhengipun maratah sampun sami angrasuk agami Indhu. utawi sastrajendrayuningr at pangruwating diyu lan sapanunggalanipun. Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet ing Tanah jawi. kados kasebut ing nginggil. sastracetha. serta sami anggelaraken agaminipun tuwin kawruh sanes sanesipun. Namung kemawon wedharing agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden. temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu. mila kalayan gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi. panekungan. Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun. Dene wedharing kawruh winastan daiwan. Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi lan sanes sanesipun. margi saking wohing kawruh pandamel wau. tirtanirwala. margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged nandangaken dating pangolahing kawruh punika. katamtokaken mesthi ngrasuk pasamaden. kawasanan. dawan. Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden. kawicaksanaan. sebab lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. mahosadi. ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun Mohammad. pamujan. . margi saged anindakaken dhateng sawarnaning pandamel sae. kamulyan.Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen. tirtaamerta. inggih nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan saking pandamel kita ingkang boten tilar murwat. boten nawang bangsa Indhu ingkang agami punapa kemawon. punapadene kangge sarana duk kita darbe sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran). Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau. bilih miturut saking tembungtembungipun . tirtakamandhanu. ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun. Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami angajawi. paheningan lan sanes-sanesipun. awit kawruh wau saget nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi. sanyata kathah ingkang nagngge basa Sansekrit. Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. pamurcitan. kawilujengan lan sasaminipun. yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh pasamaden wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina makina. pamursitan. pahoman. kawaspadan. perlu kangge sarananing panembah murid manggih kawilujengan. makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun. lan ugi sampun sami saget ngraosaken kabegjan. kasebut agami Islam. Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning saliring kawruh sajagad. lan ugi dados pangajenging piwulan agami. Bebasan sakedeping netra.

ing ngriku lajeng angawisi kalayan kenceng. serta kenging kawejangaken ing sawanci-wancinipun. Sebab wontenipun sadaya punika supados kasumerepan dhateng ingakathah. yen miring lajeng malih dados manungsa.Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari. tamtu manggih pidana. sanadyan suket godhong. Mila santri karan putihan. yen nerak bade angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados. Purwo saking tembung klenik. lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh manjing agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam wau. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk kaliyan pun murid. purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman wisesaning Nata. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng katindakaken. Sebab yen ngantos kasumerepan. bilih dereng angsal palilah Guru. Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes. utawi Islam pangaran-aran. yen batosipun taksih angrungkepi agamipun lami. ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen. ing wana. purwanipun namung tetep kangge panjagi. sanadyan Nagari sampun boten angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden. langkung-langkung kawruh pasamaden punika ingkang sanyata dados mukaning . kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu walangataga ugi boten kenging miring. uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh pasamaden kasebat. Dumuginipun ing jaman samangke. titiyang Jawi boten kenging anindakaken kawruh pasamaden. ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau. Dene yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten. supados pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng pamarintahing agami Islam. katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12. inggih punika ingkang kasebut nama santri. kadosta ing ara-ara. margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam. ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah dhedhemitan. Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun agami Islam sadaya. bilih santri punika sarwosarwi langkung resik utawi suci tinimbang kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam. boten mawang nem sepuh. Mila lajeng angsal paparab saking panyedaning titiyang ingkang boten remen. serta kedah santun angrasuk agami Islam. utami tiyang ingkang anglampahi sarengating agami Islam. ugi papaning pamejang boten kenging kaubah wangon. pun murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng tiyang sanes. mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami. inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak). bilih wontening wejangan kawruh pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir kemawon. Panindak ingkang mekaten punika. serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru. dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok tiyanga. nanging panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan kados kawursita ing nginggil. Ingkang kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking agami Islam.

Milanipun dipun wewahi basa arab. kasebut salat sarengat. ingkang ugi apangkat Wali. saking . daim saking daiwan basa Sansekrit). lan sasaminipun. ingkang ugi dados pramugarining agami Islam apangkat Wali. lajeng sami ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar. Mila wajib sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing saindengipun. namung kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun ingkang sampun sami necep agami Islam. wirid saking tembung daiwan kasebut ing nginggil. tanpa nawang andhap inggiling darajadipun. dening Seh Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara. sarana dipun wewahi tembungipun. ateges panembah lahir. ing ngriku salat limang wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak boten kawulangaken babar pisan. wusana wonten kaelokaning lalampahan ingkang boten kanyananyana. punika panembahing batos. dening Seh Sitijenar kinen sami madeg paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. lajeng mungel : salat daim (salat – basa arab. margi piwulangipun langkung gampil. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng ingakatah. terang lan nyata. Kaping kalih salat daim. katentreman. Lajeng tunimbal dhateng Sunan Geseng. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe suwung. Sangsaya dangu sangsaya ngrebda. langkung-langkung ingkang dereng. temah Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami pinejahan katigas jangganipun dening para Wali. Punapadene lajeng kaewoaken dados saperanganing panembah. Ingkang pinindeng namung mumuruk tumindaking salat daim kemawon. sebab Seh Sitijenar punika mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged andhatengaken ing kawilujengan. anggenipun amencaraken piwulang agami Islam. lajeng kadhapuk ing ndalem serat karanganipun. Mila titiyang Jawi ingkang suwau manjing agami Islam. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar. margi yakin bilih kawruh pasamaden wau. mangertosipun : anekadaken manunggaling pribadinipun. Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten. ing pawingkingipun bab kawruh pasamaden wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang sampun kabuka raosipun. tiyang asal saking Pagelen. ingkang lajeng winastan daim. inggih Ki Cakrajaya. Sapisan salat 5 wekdal. Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning piwulang. inggih Pangeran Panggung. kamulyan. Ki Cakrajaya wau pandamelanipun anderes nitis gendhis. Amarengi wahyaning mangsakala.sadaya kawruh. Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden. ingkang mijeni Kyai Ageng Pengging. Punapadene tembung salat lajeng kapilah kalih prakawis. utawi kasebut loroning atunggil. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah. ingkang kacarios saderengipun dados Wali. anyuremaken panguwaosing para Wali. Kawruh asamaden.

ingkang sami miridaken kawruh pasamaden. Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng kakantunanipun ingkang sami pejah. lajeng oncat medal saking salebeting latu murub. karangkepan wuwulang salat limang wekdal tuwin rukuning Islam sanes. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh Sitijenar. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung. Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid nampi wiridan salat daim. temah dhawahing bendu. . Wiwit punika wuwulangan pasamaden lajeng wonten wanrni kalih. punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi. mila para guru samangke. kapidana kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun Demak. temah sami rumaos kawon angsal sihing Pangeran. langkung rumiyin kalatih lampah dhidhikiran lan maos ayat-ayat. temah kamitenggengen kadi tugu sinukarta. para sakabat tuwin murid-muridipun Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken kawruh pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar.sanesipun malih. lajeng sami mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar. Sareng sampun sawatawis tebih tindakipun Sang Pangeran.dhawuhipun Sultan Demak. kesah anututi lampahipun Pangeran Panggung. Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai. dene panindaking piwulang kawastan tafakur. Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening mawerdining Hyang Brama. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun mleset saking jejer ing sakawit. Salajengipun para Kyai guru wau. atur uninga bilih Sunan Geseng. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan wiridan naksobandiyah. Ingkang boten kacepeng sami lumajar pados gesang. inggih Ki Cakrajaya. ugi taksih sami madeg paguron nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden. Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg sami enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana. ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak rukuning agami Islam. kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih. Katungka unjuking wadyabala. pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. murih boten ka’arubiru dening para Wali pramugarining praja. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun. nanging mawi sislintru tinutupan wuwulang sarengating agami Islam. ingkang dipun santuni nama naksobandiyah utawi satariyah. inggih punika : 1. nginten bilih kawruh wau wiwiridan saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Dene nama Kyai. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi dukanipun. Dene piwulangipun kados ing ngandhap punika : Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim. nilar nagari Demak.

tanggeljawab boten lewerweh. Mila makaten. margi saking dayaning mas picis rajabrana. namung kemawon tumandangipun boten kawedharaken. 4. langkung-langkung pinter ngecani manahing sasami-sami. inggih amesu cipta angeningaken pranawaning paningal. wiji saking Kyai Ageng Pengging. kita badhe nandhang papa cintraka. bab kawruh pasamaden tuwin lampah limang prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh boten pilih andhap inggiling darajatipun. Awit saking makaten punika mila tumrap panindaking agami Jawi (Buda). Ing riki namung badhe anggelaraken lampah umandanging samadi sacara Jawi. Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah lan satariyah. adil paramarta. ngantos sabujading jagad. Setya tuhu utawi temen lan jujur. Temah kita manggen ing sasananing katrenteman. 2. Leres ing samubarang damel. Susila anor-raga. maweh rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa. Pinter saliring kawruh. 3. punapadene pinter angereh kamurkaning manah pribadi. ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing samangke karan klenik). dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan kamardikan kita sami. sabar welas asih ing sasami. Yen boten makaten. boten anguthuh melik anggendhong lali.2. kados ing ngandhap punika : 1. Lampah limang prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata anandangaken ulah samadi. 5. margi kacidraning manah kita pribadi. tebih saking watak panganiaya. tansah nganggeni tatakrami. sampun ka’andharaken ing nginggil. Santosa. ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar. boten ngunggul-unggulaken dhirinipun. ingkang dados purwaning piwulang. Piwulang pasamaden miturut Jawi. punika bilih tetep samadinipun. kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados kawursita ing nginggil. sebab musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan. dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis. punika ing sakawit. inggih punika makaten : . ingkang dereng kacarobosan agami sanes. dhateng ingkang sami kataman. kagiles dening rodha jantraning jagad.

inggih lajeng ka’edhakna kalayan alon-alon. punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking sumengkaning napas wau. bilih cariyos makaten punika tetep namung kangge pasemon utawi pralambang. Menggah pikajenganipun samadi ing riki. inggih punika ingkang kawastanan meleng. temah anuwuhaken tatacara. tuwin amuntu ilining rahsa. piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau. dados . boten wonten sanes namung badhe nyumerepi kajaten. awit duk kita mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah malih anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. suku ingkang lurus. sarta mawi kaendelna ing sawatawis dangunipun. dene pancering paningal kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa’antawising netra kakalih. Panampi makaten punika. punapadene pangalaman-pangalam an ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun . Dene panganggep. dene temenipun ingkang kados kita angkat. inggih cethaking tutuk kita punika. Inggih makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. yen awon inggih awon sayektos. dalamakan suku ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa. tetep namung ngenggeni pakulinaning tata-cara. Mangrehing anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah. sarana angereh solahing anggota (badan). dene sarananipun boten wonten malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking makartining rasa. bilih samadi punika angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal saking badan wadhag. boten yekti. epek-epek kiwa tengen tumempel ing pupu kiwa tengen. kasebut sirnaning papan lan tulis. Mugi kawuninganana. dados inggih dede kajaten utawi kasunyatan. Mila winastan makaten. cetha = antebing swara cethak. Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten : panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) . jer punika namung pakulinaning panganggep. utawi Sang Arjuna yen angraga-suksma. pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. Sumengkanipun napas wau kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa. Menawi napas kita dipun ereh. mugi sampun kalintu panampi. dene pamandengipun kedah kalayan angeremaken netra kakalih pisan. pikir lajeng gadhah panganggep awon lan sae. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing saniskara. ingkang sampun dados tata-cara margi sampun dados pakulinan punika. kang weruh tanpa tuduh. inggih punika ing papasu. menawi sampun kraos awrat panyangginipun napas. Tegesipun cetha = empaning kawruh. Punapadene angendelna ebahing netra (mripat). Saking dayaning panggulawenthah. Inggih ing riku punika jumenenging rasa jati kang nyata.Para nupiksa. yen sae inggih sae temenan. Dene makartining rasa jalaran saking panggulawenthah utawi piwulang. Punapa panganggep awon sae. mila lajeng kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. saha sidhakep utawi kalurusaken mangandhap. kang yekti. punika dereng tamtu. Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung samadi = sarasa – rasa tunggal – maligining rasa – rasa jati – rasa nalika dereng makarti. Inggih patrap ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. purwanipun mirid saking cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati. Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta (panggagas).

kedah kapanjang-panjangan a . tegesipun tri = tiga. (Ungeling mantra utawi panebut kakalih : hu – ya. sa’angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga. inggih wontening ambegan kita. inggih risaking badan wadhag wangsul dados babakalan malih. wedaling swara ingkang namung kabatos wau. Dados ulah samadi punika. yen tumedhak. ingkang sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). ugi kenging karancagaken.namung manut lampahing napas piyambak. Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau. Dene pikajengipun amastani bilih wontening napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng. Kajawi punika. Dene sa’angkataning pandamel wau kawastan : tripandurat. kasarengan kalihan wedaling napas. mila makaten. Lajeng `ya’. minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan cethak. ingkang sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya. minggah dumugi ing suhunan. Dene manawi sampun sareh. kita jumeneng gusti. sarwi mocapaken mantra sarana kabatos kemawon. kalihan lenggah. tamtu boten saget dumugi ing suhunan. Inggih punika ingkang kabasakaken paworing kawula Gusti. anggenipun kawastanan sastracetha. ugi kawistara saking dayaning cethak. ing wiridan naksobandiyah kaewahan dados mungel. sangsaya langkung prayogi sanget. Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang dipun wastani kawula gusti punika dede napas kita. hu – Allah. Mila sayogyanipun lampahing napas inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel. makaten salajengipun ngantos marambah-rambah sakuwawinipun. pikajengipun : mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh. lumampah. utawi ateges langgeng. kados ingkang kajarwa ing nginggil. uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing wijiling napas. margi saya kuwawi dangu. sanyata wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel. sebab paningal punika kadadosan saking rahsa. inggih punika mungel `hu’ kasarengan kalihan lumebeting napas. Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil. nanging dayaning cipta kita. jalaran sampun menggeh-menggeh. pandu = suci. margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun medhak malih. inggih lajeng ka’angkatana malih. panebut wau mungel : hailah – haillolah. wangsul dados kawula. wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe maksud sanesipun malih. inggih punika ateges panjang tanpa ujung. nanging tanpa angereh lampahing napas). Punapadene ugi winastan daiwan (dawan). awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen anandangana malih. Dene ambegan punika. margi nalika mocapaken mantra sastra kakalih : hu – ya. inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing puser. Dene ing wiridan satariyah. kalihan angeningaken (ambeningaken) paningal. Dene. pokokipun kita kedah amanjangaken panjing wijiling napas (lebet wedaling napas). suraosipun : kaping tiga napas kita saget tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). panebutipun ugi kasarengan lampahing napas. utawi nyambutdamel inggih kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau. Bilih kakalih wau kendel boten makarti nama pejah. inggih panariking napas saking puser. rat = jagad – badan – enggen. tegesipun : manawi napas kita sumengka.

waesia dados satriya. punika bilih ing suwaunipun tiyang awon. engkang ateges pinter.lampahipun. katentreman lan sapatunggalipun. endra = ratu – dewa. dados saras. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. jendra = saking panggarbaning tembung harja endra. pepeteng. murih panjanga ugi umur kita. babaya. kabodhohan lan sanesipun. Tegesipun harja = raharja. tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar. penyakit. Tiyang sakit sirna sakitipun. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 AJI PAMASA Wedharing wyata mirid gempilaning piwucal Aji Pamasa DHANDHANGGULA . Mangertosipun. Tiyang bodho dados pinter. buyut. temah saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak. brahmana sumengka pangawak braja asarira bathara. canggah. wilujeng lan sapanunggilipun. punika kangge pasemoning piawon. wareng. ningrat = jagad – enggen – badan. Suraosipun : Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon. Tegesipun sastra = empaning kawruh. mratelakaken bilih kawruh pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun. kaharjan. sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi. dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta. sae. satriya dados brahmana. welasasih. ingkang babranahan. Wontenipun andharan ing nginggil. yu = rahayu – wilujeng. Tiyang pinter dados pinter sanget. mila lajeng sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu. lajeng sirna piawonipun. Dados diyu punika kosokwangsulipun dewa. malih dados tiyang sae lampahipun. Dene tegesesipun pangruwating diyu = amalihaken diyu. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados waesia. rereget. Tiyang goroh lajeng dados temen. putu.

udinen mrih lestariné. temah manggih raharja. 2. Mangkya nenggih sastradu nayadhi. Mangkya kiyé gelaring pangerti. anebihi gegelah regeding bumi. damel padhanging prana nebihken bebendu. ywa sisip ing pangertiné. winedhar wiyar tebané. tan bungah lamun nemu. kaping kalih puniku. pangadilan jinejegna kanthi titi. janma kudu mituhu. 5. istingarah kang tinuju tan nalisir. ping tiga ywa mawang kadang. Pracékané janma luhur kaki.1. 4. tan mélik mèt artaning punggawa. nuntun mring lempenging lana. linepat king deksura tinebih panyaru. 8. sagung tumindak lupa winastanan luput. sarwi mapan nora badhé damel tuni. Apa baya kang pitung prakawis. yèku warah kapisané. nging pedak kautaman. prenah prandéné laras salir tindakipun. Kang wusana pitutur saptèki. lamun ngambah margining utama. siku dhendha nlikung sasami. luluh welas nalangsa. sinantun paramarta. kosok-wangsul wèh ayem dasih sadyèki. Catur angger ugering prarepi. sinirika cidra lan pitenah. nalusur woting darma. tan damel pilalaning lyan. njijiret sapapadhané. istingarah munpangaté. sirik cengil pasulayan. piguna mring kang ngluru. . seserepan wiraos prati. pratélané sapta pracèki. Kang ginelar wyataning suyati. lamun dipun upaya kinemat ing kalbu. 6. dèn ugemi pitutur kaping sat niki. 3. tan remen cacaketan klayan watak margu. nora gampil kayungyun. samubarang kang linakya. datan asurak susuka dupi miyat panandhanging sapadhèki. pinuntua ing driya. amrih dadi lantarané. dyan sentana ywa dèn alingi. 7. dadya tales tanduking karti. temah kalis watak umbag klawan edir. paugeran kang pitung prakara. tlatènana kang pitung prakara. aywa nganti anglalarangi. datan gampil kinelun kalulun ing wawatak nisthip. tinilingna walering darana. dalah mundhut putrèstriné. datan arsa guna pasang kala. Pradikané wawaler pratami. nora ngungalken jaja yèn asanès lesu. suka serep ing semu. mahanani kasudibyan. kapiluyu lampah basiwit. suka tentreming rahsa. kang sinebat cidra lan pitenah. olah pangupajiwa sasamining manu. tan pilih-pilih janma. dé kaping gangsalipun. songgarunggi mring kawula.

dhemenyar pepénginané. Lamun sirik watak ngadi-adi. wisayané karaos awrat ngantebi. istingarah gung pangajab temah dadi. Paran nggènira nyepeng sumangi. 16. tlunyar-tlunyur miwah lèlèmèran. tegen rigen pralaga tlatèn miwah tekun. aywa wudhar tanpa pangaji. 11. angugemi pakaryan kanthi permati. kaanggepa dèrèng nglunasi. datan lumpuh karana kaot sinanggi. Ywan wus wani nglairken prajangji. mokal lamun kalis ing sasanggan. tetembungan dèn arah jumbuh kang sinaguh. angulari papaka. wawataking satriya sirik colong playu. milaur urip iku. lir kanteban antaka. antepana minangka ubaya. nanging mugen manunggal genah kang tinuju. nora lèmèr ing wuwus. 14. poma-poma dipun tetepana. netes sagung pangucapé. tumapak ing lalampahan. kusung-kusung kemrungsung kécalan santi. . buteng ribeng krodhanya. raos bentèr nguntar-untar. temah ndadra misésa wathi. teguh maring bebahan. tilar salir manah sonta. Jejering titah sawantah kaki. nukulaken panandhang tuwin tilar latu. nging sapawingkingipun. lamun maksih linuru. amituhu kanthi taliti. nguwus-uwus tan ana dadi. Panjangka kang dadya lenging ati. dipun éling niyat kang utama. nering laku nora léngah. nggémbol upas kang niniwasi. nunuwun Hyang Murbèng Suksma. pinétang utang èstinè. tan darbya raos rigung. kang dèn bujung pakareman. kang wus dadi pepesthèné. ngandhar-andhar winuwus nglengkara. istingarah andika manggih basuki. Tembung cidra sinawung punagi. tan cidra ing ubaya. siyang-ratri tan kendhat nggènipun dhedheku. tundhonipun nalangsa nalisir king wangsu. 10. tan kablithuk pandulu. karem donya wah malih pangwasa. gampil sengsem kang katon èdi. setya tuhu bekti mring Hyang Murba. 13. 15. Kénging winastanan cidra ugi. prancana tan dèn ugung. linepat saking papa. pinurih saged rampungé. nilaraken palagan. kanthi nranyak ngrabasa gahi. 12.9. wèh sengsem mring tyasing lyan. nanging mamak wawatesé. nyahak wewenanging lyan kécalan pakéwuh. Lamun sumanggem tanduking gati. tan bosenan nora wegah. péndah madu mamanisé. ywa cidra gung pepecehé. tékad kang wus pinuntu. watanira suker tan béda wewerri. andhepipis ndhelik winengku raos jrih. datan ngucirèng ngayuda.

dupèh èdi ngelam-elami. rumaket-raket sasambé. murih dadya manuswa bisama. 22. nging maujud datan mandheg katamarti. Menggah tuduh ingkang gung utami. kumudu kang kapindhoné. sengkeraning pralaga datan ana wèstu. jalu gini datan ana béda. Sasing janmi swawi angupadi. tutura angarah-arah. saswih maring Hyang Murba tumus sanggya manu. satemah pinitaya. tebih saking tutur cidra. mamanisé wisasa. Wawaler tumrap sanggya pawèstri. dhépé-dhépé gilig ing prana maniwi. dimèn pana tuduhing Hyang Suksma. nginger-inger wawaler mamada sastradu. 18. pranahara jatining manuswa. cegah hawa tahen ring prancana. Wanti-wanti peceh parahati. basan pranamèng kapi wruh rukem kayungyun. ngumbar gujeng kucah liring nétra. . leheng meleng mring pranamya. 20. kasukan kang binujung atilar pakéwuh. aywa mblasar tumindaké. 19. Dipun tlatèn samya angulari. angrarantam pracéka. parnoh sagung tindakira. titah sawantah jejeré. kang dèn uja tan liya dityasmaraji. ririh raras sinuprih katon mrak-ati. kang anecep wurukira. upayanen kanthi sasmreti. pisan cidra angèl anguwalna. lupa upasing walika. undhuhané mrawata wèsdhi. temah wasa nering prajangji. lamun limpé ngaluyur ramban taruni. Pan wus dadi sasakiding parwi. katri wus kadi wuru. ngindhik-indhik pamrihé damel papati. kasmala binirata. 21. kanthi wijang kawrat sastracetha. 24. abiwadha setya hastuti. angulati bebener ingkang nayadhi. 23. ywan rumpil lampahipun.17. temah dyusdha niyak wastuti. rinumpaka ing tembung. tumus dugèng dalaha. ywa gampil mupus tekadé. Poma éling swawi dipun luri. tan kéragan mring napsu. rongèh tansah walisah. tumètès kadya kusaré. iku teges nggénjah papati. gesang datan piguna. cidra mring karsèng Ulun. was maring kakung tuhu. tan mangabisatya mring raka. datan uwal king cintaka. basagita adi wigati. dhadasar badan lugu. susmaya prabaning Hyang abyor cahya kitu. apesé ngemping lara nyanyadhang bebendu. adol ati sapa baé. ngundhuh wusa wisaya dadya mangangi. lampahnya pindha margu. Mangkya cidra tumraping akrami. tansah saswih ring garwa. kénging winastan pracoré. dyatmika neng nayadhi nging sirik salingkuh.

ngrarakit tembung lunyu. traping laku minongka manggala. sona ing setyanipun. ngumbar panyatur ala kèh panacadipun. tumrap priya kang wus balé wisma. 26. garwanira dèn papanken rowang padmi. catur wala pepindhané. Nora béda waler ingkang sami. kaya-kaya beciké tan ana sami. iku watak katbuta. pinindhakna wawadhah ringkih kaotipun. anguwus-uwus wuwusé. lamun dipun turutana. burusa lair batiné. amengangah ngangah-angah saya ndadi. ping kalih madhep atiné. alaning liyan dèn andhar. basda winewah bumbu. tuhu bekti nggigilut wiyata. kalima mangabiwadha. Sabanjuré winedhar sastradi. dimèn pana warahing luluhur yekti. dhihin mantep ing pamilihira. lir karaba muleg ing akasa. Tyang kang remen mbèbèrken wawadi.25. jroning gesang punika. nyarwètèh kedaling lambé. apan baya winastan pitenah. Aywa pisan cidra ing prajangji. kaping paté mawang ring rabi. klayan dhiri pribadya. kanem mardawèng budya. lubèr ing sih sarwi ngayomi. 31. amemada sarta ngadili. kasulistyan aniniwasi. sanès kinarya lalap uraping panyatur. tumus harja miwah basuki. tilar garwa kapéncut ing liya. adhakan dadya tuman angèl mantunipun. Kakaroné kasengsem tataki. swawi dipun tuladha. katri marem mring jatu. dyan pracara ukara datanpa bukti. . 27. murih dadi lantarané. tentrem ing brayatipun. Poma-poma kenceng dèn cepengi. temah kalis rubéda. awit awon pinanggihé. Dipun èmut ma nenem puniki. 30. myang turangga cukat ing karti. dwipangga datan kéguh saguh kang ginayuh. becik dèn singkirana. 28. sadaya samya pinerdya. brekiti ing sregepira. pantang pepes batosira. siyang-ratri makarya tan wènten sepi. dadya gapiting braya ywa mingkuh pakéwuh. manah gampil kayungyun. 29. lamun manggya kèh sambé-kalaning margi. pamurihé saya wigati. nukulken wijining tikbra. sumrambah tedhak-turun sapawingkingipun. asisipat memengku.

. lir bathang ingkang wus lungsé. tan mangkono ilatirèki. Tembung sisip sinusup kasisip. datan lèmèr ngumbar-umbar kata. tumanduk ring papadha. 39. lir jagading kadurakan. nora béda gandaning kusana. Angrèh sato teka langkung gampil. dalasan saisining wé. ipat-ipat punapa déné wastuti. kadi hakim kusalanya. angadili sapa-sapa ingkang wèsdhi. bacin lamun dèn ambu. pindha krodhaning denawa. ilat iku tan béda kadya hagni tuhu. kadi brahmana anggepé. temah mbesmi alas gedhé. dhahat karya sangsaya punapi kasumbung. nging misésa mring janma. dyan sapletik bisa ngambra-ambra. temah gampil dèn kemudhèni. kanthi permati empané. tuwin jumeneng hakimé. wit kasunyatanipun. lamun kalintu trepira. makantar urubipun. tumrah badan sakojur tan liya mung manut. Kadi latu nyalat wreksa langking. Èmperipun kendhali turanggi. katiwang ing papaka. Klawan ilat padha muji Gusti. muspra datanpa guna. 33. ing kawurya pranama adamel tuni. kumawani kumlungkung ngadil-adili. makaten lidhah sanyata. nging klawan lidhah ugi nyupatani manu. ywan pinekak satuhu. dipun trapken jroning cangkemira. tan liya mung Hyang Agung.32. Poma bisa mapanaken lathi. buron wana peksi raja-kaya. dadya sangarakalya. jail lampah candhala. 34. lumuh lamun prawadha kalindhih ing semu. nyata kalangkung lungit ywan kinarya tutut. ingkang yasa sanggyaning prarepa. samakéyan sasolahé. 36. kang kagungan gung kasugatin. sanadyan alit wujudé. nora ngétang katala sami. kasereng lir katwara. nyembur wisa wisaya aniniwasi. kang dumunung jro jiwa-raganirèki. parandéné si punggung pambeg wah kumingsun. anderbala mbabar wewerri. ngalad-alad ambilaèni. misésa palimirma miwah paring bendu. ngidung dhikir ing sawayah-wayah. surata siya-siya. Amemada sisiping sasami. mijil king tutuk sajuga. dé manuswa iku sapa. ilat iku lir wisa mandi. mangungsir mrih kasumbaga. kaya-kaya manekung. 35. 37. ancik-ancik kunarpanirèng sasami. angèmperi panatagami. dyan mujudken pérangan badan kang lengit. murih bisa sasap ing sasama. kudu unggul binuru. saged kadamel lulut. 38. Dipun émut ywan namung sawiji.

44. 42. ngreregedi janaloka. sinartan manah kang sarjé. Jihwa pindha landheping bedhami. lamun linga muwus ngayawara. dipun ening panampiné. pramila kang bisama. wus winedhar déning pramudika. . leget mring kautaman priyatna ing tembung. andhatengaken braminta. saraga gung ngebeki jro tyasirèki. Lir kusara mrentul wanci énjing. Mangkya dungkap warah kaping kalih. walagang nggènnya lumung ywan datan kapugut. 43. kang kaajab mung bahagé. amangangi kalamun nyenyebar branti. kang dados panènipun. datan mokal wawalar ndadi. sakelangkung anggigirisi. nyebar wijining tatu. watak asih tan sengkung. 41. lebetna manjing kalbu. mekak hawa laksita juti. sagung trékah kang cengkah klayan prarepi. mring bebener wucaling bremana. sumberipun saking alam raya. babasan ngingu-ingu. 47. sèstu soba suka wicaga ring dasih. nètèsken sarkara soba. temah dadya daya basuki. 45. lengka kang rinaosna. Kang wasisdha tansah angulati. Pan wus langkep lingkabing pramodi. Lumingkabing wawaler puniki. awit ageng durakané. dadya daya ingkang nguripi. Salir wawengkaning janma singgih. rurumpakaning wuwus. nora gampil pineper kalamun katrucut. pringga dhusdha mutawatosi. swawi dipun gatosna. wohira gung rudita. yèku manuswa tama. ngulari rèh sampurna. nanging kosokwangsulira. Nadyan namung pérangan kang lengit. tinalesken wisiking Hyang Suksma. sumimpang sagung pitenah. ywa ngalingi luputing sentana. tilingna kanthi luménggé. langet langkananing lana. was winawas kanthi premati. ukara rinumpaka jroning sekar Pangkur. wèh sarsa maring sasama. menggah warah cidra lan pitenah. pasulayan undhuhané. ngenut pangrèhing suksma. 46. sarasati binawa amangastuti. kasantyan kang dèn bujung. dimèn menep jro sarasati. leng lumingling ngluluri pranamya dhani. resepna kang satuhu.40. dadya daya paraya salir dhasdhi langut. wusna anjrah sulurnya angririsaki. lamun mogèl mobah jroning latha. prihé sami pinungkurna. dharaka pramusita. lidhah dipun kendhali tutur tan kalantur. ananawur sarawa gé. sung seger tanem-tuwuhé. makaten imbanipun lidhah ingkang wèstu. waged dados kabegjan kalamun pituhu. awiwéka mrih dadya harjaning janmi.

Tumarah para sentana. ywan gesangipun kastura. lumèng prabaning nagara. angalingi klepataning sentani. Murih harjaning puraya. langkana tan wrin godha. muksapada kang linari. Masiya maksih sudara. remen anunggyangtaya. amikara dupèh maksih tedhak luhur. Lamun ginadhuh wisésa. kaadilan kang santya. poma-poma wicaga dèn ugemi. tetep dugi titi mangsa. 51. temah sisah lamun katala wus kusup. sanadyanta dudu tuturasing ratu. lampahnya aywa dèn ugung. paribasa babathang dèn kemuli. pakeken datan lirwa. sanadyan tumrah ing bandhu. tikbranira dipun sanggi. 56. dadya ura jroning dhatu. 50. dinendha sawatara. nora idhep mring dadalan. becik tinerapan siku. upayanen paugeran priha tan wur. satemah lulus basuki. ngetrepi jejeging adil.PANGKUR 48. aywa mangu pinidana. Aywa pisan darbé sedya. gegebengan pradika gegyan adi. piyarsakna gung pasambating kasi. 53. niyak sagung prarepa. saya ndadi dhumateng wisésa wuru. ingkang murwat klayan kalepatanipun. paraha sanagara. wit tan lengkep manira angluluri. aywa gampil atilar silastuti. . dhusdha pinaring papaka. nora ngugung dupèh sentananing ratu. Kang wasisdha angrèh praja. siningkirna sagung dhasdhi angriridhu. nanging remen miyala sasing janmi. dharaka manggih astuti. kang dadya ugering dhatu. angèl dipun dandosana. 52. ywa nganti amémérangi. ywa parasama ring manu. 55. Pirengwa dipun landhepna. kalamun datan pakantuk. cepengana ingkang wastu. kinuswa gandaning pati. jugar wigar kang kawuri. Nilep lepating sentana. linenggahna sapadha. sumrambah kawula dasih. sanadyanta nganti brukut. 49. murih kalis king dhuskarta. wus datan kawistara. 54. pamurih rèh jinejegna. Ywan pramoda dadya wasa. mongka sutra ingkang kinarya salimut. kang gumendhung morang kèhing kintaki.

sinarujuk dyana luput. 61. mring dasih suka andaha. tundhoné angundhuh tuni. panganggepipun kalantur. andrawili kasukan ingkang kabujung. kascaryan kalenggahan. lumuh pènget myang warah. 65. jinarken ngambra-ambra. acongkak sosongaran. binari asuka-suka. . nora bener kalamun tan dèn paèlu. mring sentana mirah nggènnya andani. andé sangsaraning praja. sanak kadang dèn uja. tedhak turun dipun ugung. kawuri amamalati. pinaringan wengan awawatak diyu. kupiya ywa kawistara. tyang alit tan ana wani. 60. prana winengku ing moksil. samudaya kaleresna. ical landheping rahsa. Suka-suka parisuka. wit misésa datan wènten tembung klintu. tyang andèh tan ana wani. dupèh lelenggah ngaluhur. ngajak-ajak tingkahipun nyrambahi. 58. wirahsané bebener duk inguni. tyas ura nir waskitha. pinurih tiningal èdi. lamun mukti padatan dadya lali. mamanisé wisésa pinracadi. kethaha mring donya brana. ywan amengku wisésa nyakrawati. 64. trékahnya anjurbalani. 62. apracara sagendhingnya. Poma dipun waspadakna. Nggagadhang éndrasangsara. sinikara siya-siya. kasyang asih kibir edir lawan umuk. ngudi cantya aji mumpung. tan nayuti sanadyanta tindak luput. Aja dupèh kadang raja. Awasna pamawasira. nora gingsir kalindhih sagung pamrih. aywa kalulun ing napsu. basan badrak badan kramu. tandang-tanduk sarwi ngéwan-éwani. bisa akarya papaki. dhateng sanak-kadangipun. kang satiti mulat sisiping tumanduk. 63. Lamun kaladuk énaka. nadyanta alit kéwala. angandelken maksih dharahing ngaluhur. sentana dadya bala. 59. langking tan ana rega. Prayojana ingkang prama. Pan wus jamaking manuswa. mangka murba wewenang angrèh kasi. Aywa wuru mring sarkara. anjuk risaking nagari. mring pangwasa kapiluyu. lamun lepat sengadi datan anahu.57.

samektakna manah kadya udadi. kadang kawula pan sami. 71. 72. aywa mamang matrapi ingkang kalintu. 70. mring bebecik tan anaur. tan ana béda-béda. niyak gegebengan luhur. malah mamales ala. Mangkana traping trapsila. ical jatining rahsa. luput winastan waskitha. Kèh tyang sudra ananantya. panyaruwé tan pinanggya. ambuburu angkara. nora nilarken papacuh. wus tan wènten silastuti. sung apura kawula ingkang lali. tan ana nohan nuhoni. lepating kadang siningid. titis mawas gelitaning prakawis. pinitaya mangrèh jantraning nagri. 74. katalya ing panggraita. Angunguja karsèng driya. wus mratobat sanyata. nglangut nenga namu-namu. jinarken amurang tatir. Kalamun dadi pramuka. waris sentana dèn uja. dupèh sanès sentana. nalar mulur tan kalantur. kakarèné tan liya sarwi rungsit. tumrah kawula sadarum. Becik lamun paramarta. dadya linglung nunjang palang kadé diyu. tumrap kang sami andasih. kemarung bobondhotan. undhuhané prahara gung sakelang-kung. . 73. dyan loma pangapura. lampah dora datan maksi. basan tatanem gugrumbul. pinta-pinta paneraknya. catur wengis tumanduk ing sasami. pracékaning sentanèki.66. 69. 68. Urip muspra nir sarkara. nora luwèh mring panglawung. Utana lestari begja. kibir edir jubriya sagung janmi. wus samesthi kang lepat pinaring bendu. Bangkit nahen sagung hawa. kosok-wangsul mring sanak-kadang sadarum. risak sakèhing ukara. mélik dèn anjuk tebya. dadya pangungsèn sanyata. tinilingna pasambat kawlasarsi. andurasa labetipun. Latah remen andurkara. dupèh lagya ginadhuhan sendhang madu. sirik nyilibken piala. kaadilan tan kendhat dipun udi. iku dudu wawantuning pangrèh luhur. sung ancuta mring bebener datan indung. kekeling kang dipunnèni. 67. nanging baya aywa kalimput ing semu. mring asanès siya-siya.

temah angundhuh cintraka. ASMARADANA 76. Lamun ngrentahken paparing. ngugemi sagung wiyata. tan pantes sinung kawiryan. Aywa nganti atatawing. tan jetmika ing budya. 80. 78. gumuyu rasan sarwa sru. 82. kawurya tilar talutuh. menggah lengkeping ukara. andungkap warah katelu. murang kèhing pranata. winedhar sang twijara. 79. Tanasing janma utami. kukucah gung kamirahan. bangkit angéntasken karya. angajak-ajak sangsara. wawantuning taluwanwa. rongèh jlalatan ing semu. pantes sinudarsana. Dyan kadang lamun tan becik. polah-tingkah sarawéyan. Makaten kababarira. winirang lampah dursila. iku wateké wong kumprung. ingkang tumrah gesangira. raos lingsem datan darbya. 83. kèmbèt awoning sentana. sinekar Asmaradani. tiwas tuwas wuntatnya. 81. pantes dèn pedakana. kapengkok nora sembada. yèku amawang kadang. nanging pasemoning nitya. jroning tyas adil kang dumon. dupèh maksih dharah dhéwé. mring pakeken datan andor. Alelengis sarwi rukmi. .75. nora untung rinaketan. tulakang dadya babayu. kukuwating anggyanira. piniji ingkang tuwajuh. 77. rumaos trahing kusuma. mahnani gancaring laku. tan kénging pinitaya. linepat salir rencana. Saking pasemon wus kèksi. kang amiji karsèng Katong. dharah punapi liya. nanantya datan piguna. tuturasing kretiyasa. Boten wurung tumut isin. ywan kaandhar pepeceh kang kaping dwi. wasna kaduwung ing kalbu. nora béda klayan piwucal karuhun. nir kretyawan datan kalok. pinaringken ring sasama. remen narajang papakon. ngandelken kadang sentana. Ruruh rentahing andani. busana mawa lengkawa. bisa dadi kajalomprong. nora mawang béda-béda. pambeg ladak lumuh anor.

tangginas ngrampungi karya. nora kawuh ing pangrasa. Ywa karya tyasing lyan kanin. 85. néréndra nir ring sudarsa. iku patrapé wong pengung. Lagya kalampah samangkin. 91. morang sakèhing tata. sokur bagé linubèran. becik lamun rumasa. Boten lingsem ing durniti. sung kawiryan maring bandhu. lagya darbé pangawasa. singa celak kang kadrasa. kadang konang binucala. 88. 92. pingging sinuba dwija. dériti marang sakèhing wong. Dipun émut aja dumi. Dyan sanès darbé kawanin. mongka lengka twasanira.84. tilar warahing pujangga. pilih-pilih ingkang kanon. Sumimpanga king durniti. kawanin suba tan sengkung. 90. wit paparing tan warata. lenggah twijara tyang parnoh. twasa kalimput dureta. 93. datan kalèntu garjita. mundhak-mundhak ing pakéwoh. Lumingling sagung kajatin. patitis salir pepunton. ngembrah dadi taluwanwa. bisa mengku saniskara. wuru dhumateng pangwaos. Tilingna ning ing kawathi. dumarusa myang diggama. manah rupak nora kamot. ing jaman kala katwara. asanès winiruda. bubujeng pamurih kalok. linenggahken papan éca. 89. sanak-kadang mitra-karuh. lumrah pinaring pambombong. mumpung maksih amisésa. mung krana maksih sentana. pandhir dinadya pangarsa. bucal lampah tatakya. ngembat wisésa tan saguh. tebih nora tinenga. gatosna ingkang sayektos. makarya nora kawaba. jirèh ingangkat kretyawan. nanging sanakkadangira. patitis pamawasira. swawara asih sawegung. kakadang dinadya bala. tulya kujanapapa. ngangsu kawruh mring tyang blilu. dèn papanken ing ngarsa. pawingking manggih katala. iku dinadya pramoda. 87. milaur mundur kéwala. sarna donya sosoba. teges sanès trah ngawirya. daridya undhuhanipun. rèh praja déning babandhu. Kathah-kathahipun janmi. . mongka tan pengkuh ing kéwuh. Kalamun datan sawawi. 86. lamun paparing wisésa. aywa mawang sentana.

kasereng nunten kawirya. Dudu patraping wong singgih. Nandukna bebener ugi. kosok wangsul dyan sentana. nyimpang margining utama. kang nandhang wong sanagara. linimbang-limbang satuhu. Darbéning lyan dèn talappi. Mring sasama gardhawari. sakadang cepeng wisésa. 100. tan béda bebegal lamun.94. dundum brana duratmaka. kawurya dadya ura. sanadyan sisipat dura. daruti semunira. mring asanès durcara. kawaba nandukken dardya. remen anyelir sentana. tanpa panitipriksa. Èwon-èwoning wong drengki. mongka gething dhateng liya. nging kasingsal ing budya. sarujuk jajarah samya. . katala katiwang marga. sugal diksura dèn soroh. nanging bener pratikelnya. sareng sentana sapunton. datan remen karya pringga. lilingen kang prakara. miling-miling dupèh mitra. Ywan wus kukumpul nyawiji. 99. Lamun becik mring sawiji. suka-suka sagendhingnya. Lamun mangsa kala dugi. suthik wruh roganing manu. sadaya titahing Manon. mawang kadang lamun andon. kang winiyat dupèh bandhu. boten kénging kawa-kawa. iku winih ingkang awon. béda apa tiyang awon. Nadyan tedhaking acedhis. pantes kalamun linakon. tulakang panèn kasmala. garwakara sugih galu. aywa pilih-pilih jalma. 101. ririsak datarpa duwus. raos mèri ingkang thukul. mirungga maring sentana. drasa kaleban kasmala. suka dalajat pangkatnya. kasaénan amemengku. 98. jugar tataning puraya. tan mingkuh saking wawaton. tinengen mung kasukannya. praja dadya puwara. 96. guyub ngambah durniminta. gesang saraga wah kasor. tinurut temah kalintu. nging pinurih énaka. nétra kawuh tan menga. 95. 97. kanthi lungiting pangrasa. naracak miwah ngrabasa. 102.

Kinarya kudhung agami. asor ing bubudènira. iku nyanyadhang pakéwoh. kang nunggil winastan bala. Mlarat donya datan pasti. tekané jaman drubiksa. pinurih tan kawistara. 109. Tyang pengung mangrèh nagari. thukul welas tan pitakon. tan ana jrih duraka. tinaliti kanthi turut. Mengker mangsa danawa ji. nging pradana pangawruhnya. 105. sarana suka purba. tilar waspaosing prana. Miyat sudraning sasami. iku nora prayoga. ngruwat sanggyaning piroga. wuru kayungyun arta. becik legawa tutulung. muncar-muncar poladannya. maksih tilar wawantunya. 112. 107. cinegah lumawan sampun. pundi titiyang pranamya. srakah kethaha lestantun. dredah bangsa padha bangsa. 108. nuhoni jejeging pakon. madhangi kang puru-puru. ywan lepat tutup tinutup. Wus sinerat jro pepesthi. mung bubujung hartaka. nora krana maksih bandhu. Lakon jaman kalasrenggi. ngogak-ogak pangu-wasa. béda dèn anggep mala. temah puraya tan wèstu. 111. marma manah tinarbuka. tindakira tan béda. mangka wawaton dèn prusa. Pétanana kang priyatni. tan wastu luhur ing nala. kaleng-gahan miwah dhatu. wengis mamalak ing pémut. nging paéka kang dèn gémbol. nora maèlu piawon. papakeming puruhita. paraya anteng garjita. gendhon rukon tindak dhusta. Wageda dadya palupi. patitis pamawasira. jumbuh turasing ngawirya. tindakipun dumarusa. sanak kadang dalah yoga. 110. santun ingkang baureksa. kadi réwanda saranggon. ngimpunimpun sanggya mitra. 106. tan gampil luntur winasoh. pratingkahipun tan parnoh. lila mardawa ing budya. janma paramatatya. becik lamun saranta. ngungumbar saliting hawa. nora jejeg mring wawaton. maksih kèmbèt apa liya. suthik nilingken wasita. Saking iring wétan semi. prayoga purugana. makatena tiyang kalok. 104. . wit tan jajag rèh waskitha.103. trékahé tiyang candhala.

minongka tatadhahnya. sinambet wedharing weca. 120. lepat boten kawistara. supé harjaning kawula. suthik nenengen sudara. alus sakelangkung lembat. 115. nyinyingkur aji pamasa. pupuja ngéntasi karya. 117. Dungkap pungkasing wigati. pangiring samya anglulu. nubruk buron ingkang ringkya. tan mawang kadang satuhu. dyan mung samrica binubut. pongah awawatak rimong. prakawis mèt donya brana. Wus tan kapéncut ing daging. mungkul mring Hyang Widi-wasa. angedirken pangwasa. pamrih antuk kang dèn sedya. priha tindak tan kalintu. sapa wani mancasana. wadana ning susmaya. Sinuprih tan morang margi. jinugag lingkabing wahyu. adil tuwin paramarta. suka pémut mring kang mirong. Pasemonnya ladak edir. migati mring sakèhing wong. ingkang lagya amisésa. datan kasengsem pambombong. mijil saking jro wewengkon. wawarah mangrèh puraya. makaten tyang alit iku. sambet wyataning twijara. Tyang kang mlarat datan langking. remen lamun pinuja. adil sagung prakara. mirid karsaning Hyang Katong. tebih mélik cegah napsu. 114. kang damel rupaking jangka. tan luput ginayuha. sugih tan mangéran bandha. 119. 116. kalayan angudi wadon. harjaning rastala samya. 121. Piwucal catur puniki. mring panguwaos gumendhung.113. sudarpa asidikara. 118. Asring dadya ciri wanci. jro riribed sonya tuhu. lamun bénjang ana janma. Meleng gilig kang dèn udi. dèn mangsa nora suwala. uwal saking lenging widya. mangathik kadang myang mitra. . nora mangathik jana. pantang lamun dèn badala. Pungkasing jaman dériti. lirwa wisiking Hyang Manon. agal donya datan kamot. gelaring tanah Jawa. ngrucat salir angkara. gegaran wenang misésa. sasat Pangéran maraga.

Wus dadi jamaking janma. paripaos timun wungkuk. pangarem-arem mili. masiya dipun grujuga. panggah datanpa isi. wus ical éwuhing rahsa. Becik wantuning walika. .122. sapisan tumunten néndra. kang dèn bujung tan liya mung kasukannya. 124. ngangah-angah jroning budi. SINOM 123. kadya lampah tataki. toya sablumbang saari. dyan ngrebat uriping lyan. jro jaman mengeng puniki. tan mosik nganti sasasi. 128. 126. nora kaladuk hawa. dadya wadaling durniti. punapa déné upeti. wah malih kawula sami. kecèh wang paribasa. 125. kang badal dipun sirnani. ringkih dipun kaniaya. 127. Raos tuwuk tan kadarbya. mundhut lebon king punggawa. waton antuk kang dèn bujung. bikut gènira nalapi. tegel tan èwed papati. mamak dhumateng gahi. prawira datan kadarbi. kinarya ompaking wisdhi. welasarsa wus tebih saking pangrasa. tan nenga gegesing dasih. tebih tataning nagri. ngasil-asil donya brana. saya wantun nerak margi. tur ginadhuh wisésa. manut gaduking nala. raos lingsem wus kawuri. Menggah lengkeping kintaki. Remen angalap ruruba. béda janma ingkang wuru mring pangwasa. antuk leksa kurang kethi. kacetha pupuh lajengnya. songar dupèh tan ana wantun mamada. ngowos-owos maksih suwung. mring gebyar samya kayungyun. dyan kawedhar sakadarnya. nganung-anung aji pum-pung. Mangiwut tatandho arta. tangèh lamun marema. puluh-puluh iku wataking drubiksa. rinumpaka sekar Sinom. sasat genthong ingkang ciri. anguntal mangsanirèki. nenedha sacekapipun. temah gesang tansah kogung. murba gunging wisésa. kang tinengen karemenaning pribadya. kinarya imbet kéwala. pangadhuh tan praduli. Tyang alit kadamel tumbal.

kadya wawantuning diyu. bubujeng buron kang ringkih. puwara kasub jinawi. kang tinengen duraka klayan dursila. tinekuk-tekuk sakarsi. 135. praja jugar kawula buyar wuntatnya. Pawingking ngundhuh dahana. ingkang ngririsak nagari. gung asor dalajatnya. crah adredah rebat mukti.129. séjé bangsa sinengit. Ywan lepat gènnya mranata. babasan grumbul eri. tan ènget raos manunggil. panguwasa soroh napsu. Tangané padha candhala. blaka manggih antaka. sak-serik saya ndadi. ngrèrèndhèt ambancang laku. agahan karem mring donya. rinèmèh jro papaki. Tebih saking asih darma. surem madyaning buwana. . lamun kadhung kaduwung datan piguna. munasika kawula. Urip dadi salah kaprah. tyang mursid sampun sirna. 134. 132. 133. béda gama dèn cengili. narajang sagung papali. nora idhep tataning janma utama. 131. kang jujur nandhang kalantur. musna lestarining nagri. pinrawasa dèn gaglag kanthi kethaha. nora barès malah mukti. nasar antuk astuti. padha bangsa samya campuh. kemarung pindhanira. wus tan ana kang kénging dipun pracaya. tan pinétang nagara ji. akarya ngungun ing ati. pra pangarsa mutusi sukèng tyasira. élok lamun rinasakna. Prihatos lamun uninga. karya uraning pranata. 130. jro liliwunging wana. kala jiret dèn pasangi. wengkon samya ambalila. mitra tegel angapusi. wusna samya andon napsu. Angger-angger sinélakan. samya ngarah papati. bubujung mulading kapti. dingkik-diningkik sasami. bebener dèn tebihi. lupa rèhing prawira. welas-arsa pan wus sepi. tan éman patining liya. miruda padhaning manu. saking lebeting nagari. Ical kuncaraning praja. puluhpuluh wus dugi lengkeping jangka. kondhang bangsa ingkang wengis. 136. wus supé jejeging adil. hakim remen wang upeti. tilar tepaning sami. téga roga-ning sasama. resik winada tan wasis. masgul wit datan pinunjul. tumus gesangirèng dasih. miturut kang asung arta. trékahing umat puniki. mangsah prang mumungsuhan.

sinabarna dadya gugup. takeran sami dèn suda. ngandelken kuwasa-nipun. tan maèlu pager ayu. dupi wus lenggah ngaluhur. léna linepas jemparing. arsa aso kang sayah. traju ginanjel tan wèsti. 138. Kalakyan ing jaman ika.137. dugèng jangka jaman babaya cintraka. Poma-poma élingana. 143. 144. ipat-ipating Hyang Widi. sengsem kasmaran wanodya. wawaler dèn campahi. asalipun king durniti. 142. wenang mundhut babana. kadi tyang bodho katali. watu timbangan cicir. Atatandho rajabrana. lamun kena panèn mamala antaka. Rinungrum gampil arentah. nir tuladha sumimpang saking pranata. garwa yoga tan pinétang waton bisa. langkung kathah mapali. cinongok ing cungurira. kalebet minta pawèstri. ngombéya ing belikira. Ngombéya maksih dahaga. nyebar wiji tangèh angundhuh wohira. éwuhaya ing budi. supè walering margi. kineluh liring pawèstri. kabèh pokal tangèh lugu. Aja pasrah marang kanca. kang mlarat tan pinracaya. nguja mubaling branta. 141. linipur saya dhuhkita. 139. lir lembu dipun patrapi. lenging cipta mung juga tinurutana. kang dadi walering margi. winada nora malangi. ngalèyèh ing pangkonira. . pindha kukila kapulut. tilar waskitèng kapti. Nahen napsu nora kampah. ngumbar hawa tanpa budi. anak lanang tan bektya. tyang sugih remen ngapusi. tan sempulur ginawa dugèng pralaya. sisimpen datan gadhahi. suthik mirengna papali. mantu lumawan si biyung. 140. dora cidra salir janmi. temahan kénging walat. babaya tan uninga. myang liyan gampil mélik. Kayungyun mring kasulistyan. tatamba panggah sakit. babandan dèn adili. nenedha tangèh atuwuk. dèn nepken mubal andadi. padharan tansah luwya. punapa déné pawèstri. tan émut trapsilèng krami. ywa nglurug sanès parigi. langkung kesel kang pinanggih. nyanyaput nering pangreti. marang bapa mamancahi. tan jejeg kedaling lathi. ical waspaosing driya. pakèwed tan kadarbya. lamun léna sungkawa nora kuwawa.

raos èwed wus sepi. parwi dasih ingalap. Becik lamun tinahena. sinengguh dadya upeti. . temah lulus sempulur kuncaranira. ngasag-asag sapinanggih. kasengesem mring sendhanging lyan. 146. sinuyudan kawula. Cacat menggahing pangarsa. muncar wibawaning prabu. yèn mangkana ical prabawaning praja. rongèhing manah kadlarung. pinitaya dipun aji. ywa malang tumolèh margi. lamun remen luru warih. marema ingkang kadarbya.145. atataki sawatawis. tyas meleng ning nyawiji.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful