JAMUS KALIMOSODO

Papat kalima pancer merupakan sebuah wacana yang perlu terus kita gali dan kita renungkan plus bertukar fikiran dengan orang-orang tua kita yang sudah mumpuni baik dari ilmu tahid dan ilmu rasanya. Menurut petunjuknya papat kalima pancer itu pusatnya ada di PANCER (yaitu lubuk hati yang paling dalam) dan PAPAT-nya adalah unsur-unsur ilahi yang kita sendiri hak untuk mendapatkannya. Karena dengan menggunakan PAPAT itu kita bisa selalu ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai penguasa alam semesta ini.

Papat yang pertama adalah nur-nya Allah (Nurullah=Cahaya dari Allah) bias dari asma-asma Allah dan sifat-sifat Allah, tanda dari PANCER-nya yaitu dalam segala sesuatu/ gerak gerik selalu BERSERAH DIRI kepada Allah dan pengakuan kita sebagai mahluknya merasa tiada daya secara ruhani dan tiada kekuatan secara jasmani kecuali hanya Allah yang memberikan gerah hidup dan kehidupan, dan berupaya untuk selalu meng-ibadahkan segala sesuatu untuk BERIBADAH kepada Allah memohon Ridho Allah, Rahmat Allah.

Papat yang kedua adalah NUR MUHAMMAD (cahaya syafa’at yang Allah cipta untuk Hambanya (Rasulullah) yang Allah mulyakan. setelah kita berserah diri kepada Allah lewat PANCER (lubuk hati yang paling dalam) ada sebuah kelembutan sebagai sebuah rahmat yang Allah berikan kepada mahluknya agar kita tunduk dan lemah lembut kepada Allah, selalu merasa sayang kepada apapun dan siapapun sebagaimana Rasulullah mempunyai perangai yang lembut dan berahlak mulia bagi semua mahluk.

PAPAT yang ketiga yaitu MALAIKAT sebagai kendaraan untuk membawa NURULLAH dan NUR MUHAMMAD tadi kedalam diri kita pada waktu kita berserah diri kepada Allah dan mengibadahkan segala sesuatu hanya untuk Allah dan fungsi malaikat ini untuk membantu memintakan permohonan ampun mendoakan kepada kita sebagai mahluk yang lemah, banyak berbuat dosa (karena manusia tempat salah dan lupa) dan nominal mereka tidak sedikit mendukung kita dalam beribadah kepada Allah.

PAPAT yang ke empat adalah KAROMAH yaitu berisi doa-doa dari para orang sholeh terdahulu (doa dari para Rasul-rasul, Nabi-nabi, dan para Auliya serta Sholihin yang telah mendahului kita) yang oleh allah diberikan kesempatan untuk membantu mendoakan segala hajat hidup kita dalam mengarungi kehidupan didunia sebagai bekal ibadah nanti kita setelah meninggal (akhirat).

Semoga Allah mengampuni kedua orang tua kita, keluarga kita, mengampuni kita, dan orang-orang yang mempunyai hak dan kewajiban atas kita yang seiman serta mengampuni sesepuh-sesepuh kita. Semoga Allah memberikan Taufiq dan hidayah kepada kita dan mereka dan semoga kita dan mereka semua dijadikan golongan dari hamba-hamba Allah yang sholeh.

ADABEBERAPA VERSI yang menginterpretasikan JAMUS KALIMOSODO.

1. ada yang menginterpretasikan 2 kalimah syahada

2. ada yang menginterpretasikan lahirnya pancasil

3. ada yang menginterpretasikan tokoh pewayangan pandawa lima, apakah semua nya salah? tentu tidak…karena cara pandang setiap orang tidaklah sama.

Hal yang terpenting adalah jangan sampai kita kehilangan ISI/makna dari Jamus Kalimosodo sebagai orang yang berpengertian jawa yang mendapatkan warisan dari leluhur Jawa, pengertian jamus kalimusodo secara singkat adalah:

Istilah jamus kalimosodo terdapat dalam kisah pewayangan baratayudha, suatu jamus/surat yang ada tulisannnya tentang pengertian/kawruh. “barang siapa mendapat kawruh ini ia akan menjadi raja/mempunyai kekuasaan yang besa. kitab ini dimiliki oleh prabu yudistira(samiaji) yang selalu menang dalam peperangan dan akhirnya masuk surga tanpa kematian…memiliki dalam hal ini adalah bukan saling berebut tetapi saling berebut memiliki makna.

Arti Kalimasada terdiri dari beberapa bagian:

Ka= huruf/pengejaan Ka, Lima=angka 5, Sada= lidi/tulang rusuk daun kelapa yang diartikan Selalu, Jadi kelima ini haruslah utuh(selalu 5), Kelima unsur kalimasada teridiri dari:

1. KaDonyan(Keduniawian).

ojo ngoyo dateng dunyo yang arti singkatnya adalah jangan mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi, kebutuhan duniawi kita kejar tapi jangan diutamakan.

2. Ka Hewanan ( sifat binatang).

ojo tumindak kaya dene hewan, cotoh:asusila. amoral, tidak beretika dll.

3. KaRobanan.

Ojo ngumbar hawa nafsu yang arti singkatnya jangan memelihra hawa nafsu…nafsu itu harus dikendalikan.

4. Kasetanan.

Ojo tumindak sing duduk samestine yang arti singkatnya jangan bertindak yang tidak semestinya alias gengsi, sombong( ingin seperti Gusti), menyesatkan, berbuat licik dll.

5. KaTuhanan.

artinya kosong

Gusti Allah iku tan keno kinoyo ngopo nanging ono yang artinya Gusti Allah tidak dapat diceritakan secara apapun tapi toh ada. Gantharwa adalah salah satunya yang diberikan “pusaka” mewarisi warisan dari leluhur Jawa. Pengertian Asli dari jamus kalimosodo diatas adalah isi murni dari pengertian sebenarnya..setiap orang boleh membungkusnya dengan bungkus apapun tetapi jangan sampai kehilangan makna aslinya, karena pengertian diatas adalah pengertian sebenarnya dari jamus kalimusodo.

Tinggalkan sebuah Komentar

Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 HAKEKAT TITIK

Apabila, Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah, Hakekat adalah ikhlas, syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah, Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat, Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain. Maka, Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah, Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingatnya, Hakekat adalah bagaimana ikhlas, syukur dan sabar dalam kehidupan, Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.

Apabila, Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah, Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingat-Nya, Hakekat adalah bagaimana ikhlas, syukur dan sabar dalam kehidupan, Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.

Maka, Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah, Hakekat adalah ikhlas, syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah, Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat, Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain.

Apabila dan Maka, Bersatu dalam Titik, Titik itu adalah Allah, Syari’at-Tarekat berawal dari Titik, Hakekat-Ma’rifat berakhir di Titik.

Billahu, Fillahu, Bi Idznillahu, Minallahu, Allahu,

Titik.

Tinggalkan sebuah Komentar

Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PHILOSOFI SEMAR

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

Bebadra = Membangun sarana dari dasar

Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi. yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar. . Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa. persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an.namun juga berwajah sangat tua Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu. Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat. Ciri sosok semar adalah : Semar berkuncung seperti kanak kanak. Dikalangan spiritual Jawa .Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis. tanpa pamrih. Budha dan Isalam di tanah Jawa.

ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“. maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian. sebagai rakyat biasa. Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara ( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 ). Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa ( Brandon dalam Suseno. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan. agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan .Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas . ia disambut oleh gelombang simpati para penonton.dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa . yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi : Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan. Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya. Apabila muncul di depan layar. 1988 : 188 ) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Meskipun berpenampilan sederhana. 1988 : 188 ). Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri Dalam Etika Jawa ( Sesuno. Bojo sira arsa mardi kamardikan. 1975 : 49 ) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia ( Geertz 1969 : 264 ). bahkan sebagai abdi. Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa ( Poedjowijatno. Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi. ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

20-23 Januari 1995. rame ing ngawe ” sepi akan maksud. joinboll ( dalam Mulyono 1978 : 28 ) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. Panut Darmaka. Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya. Anom Suroto. tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu. . sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa ( Mulyono 1978 : 18 ) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad. termasuk pembudayaan P4 ( Cermomanggolo 1995 : 5 ). yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih ( timoer. Dikemukan oleh Arum ( 1995:10 ) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup. yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-CaRa-Ka. 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193 ) Dari segi etimologi. Prodjosoebroto ( 1969 : 31 ) berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah. Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma ( Mulyono 1978 : 35 ) Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Cermomanggolo dan manteb Soedarsono ( Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10 ).keterdidikannya ( Suseno 1988 : 190 ). Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih. Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal. Sehubungan dengan itu. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar. tt : 13 ). Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula. rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia ( Mulyono. maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar. Nur Illahi atau sifat Ilahiah. merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula ( Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191 ). Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ” ( timoer 1994 : 4 ). Subana.

Amujya Nabhaktya .Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 10 SHILA SUTASOMA Karya Mpu Tantulan. Luluta Rin Pandita Mengabdilah pada mereka yang sadar 6. Aja Tan Asih In daridra Janganlah menunda kebaikan terhadap mereka yang kurang beruntung 5. Aja Sira Katungkul Ing Kagunan. Ajaamidanda Tan Sabenere janganlah menjatuhkan hukuman yang tidak adil 3. 1. Aja Sira Anlarani Hati Nin Non Jangan Menyakiti Perasaan Orang Lain (dan jangan mengacaukan pikiran orang lain) 2. Ajaamalat Duwe Nin Wadwa Nira Janganlah menjarah harta rakyatmu 4.

Uttama Si Yen Sira Akalisa Rin Pati. Aja Memateni Yen Tan Sabenere Janganlah menjatuhkan hukuman mati. *** Gancaran basa Jawa ngoko. . Anulaha Saama Daana Ajaapilih Jana (adalah yang terbaik) Jika kau berjiwa besar dan memberi tanpa pilih kasih. kecuali menjadi tuntutan keadilan 8. walau banyak orang menghormatimu 7.Janganlah menjadi sombong. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 SERAT DARMOGANDHUL Darmagandhul Carita adege nagara Islam ing Demak bedhahe nagara Majapahit kang salugune wiwite wong Jawa ninggal agama Buddha banjur salin agama Islam. Sampuraha Rin Tiwas dan bersabar dalam keadaan susah 10. jika kau tidak takut mati. 9. Adalah yang terbaik.

ing lokhilmakful tulise. puruhita mring Raden Budi. nggennya dama cinubluk. Ruwah Je warsanira. sasedyanya kabul. Cap-capan ingkang kaping sekawan. anganggur ngethekur. 1959. . saselanira ngupaya tedha. sawusnya winaos tamat. karya suka pireneng jalmi. kiyai Kalamwadine. pan ingembun pinusthi ing cipta. kinarya cagak lenggahe. sumungkem lair batine. tarimanireng badan. panitranira nuju. mring sagung ahli sastra. Sancaya kang windu. myat carita dipangiketira. sagotra minulyarja. ing nguni anggeguru. tembang raras rum seya prasaja. sru sêtya nglampahi dhawah. pan biyasa mituhu susetya. Pan katemben amaos kinteki. yun darbeya miwah nimpeni. sinung ilham ing alam sahir myang kabir. pinindha lir Jawata. tuladhaning kawruh. trewaca wijang raose. pinirit tinuladha. duta rehing guru. Toko Buku “Sadu-Budi” Sala. *** BEBUKA Sinarkara sarjunireng galih. mangesthi amiluta. pangesthine ing awal akhir. tinarimeng Bathara. kedah medharken kawruh. Angawruhi sasmiteng Hyang Widdhi. mung kinarya ngarem-aremi. suprandene tan kaliren wayah siwi. pan sumarah kumambang karseng Hyang. lelepiyanipun. Satuduhe Raden Budi ening. Wus pinupus sumendhe ing takdir. linaksanan tinedhak tinurun sungging.Babon asli tinggalane KRT Tandhanagara. panggusthine tan mamang ing lair batin. masa Nem ringkêlnya Aryang. sinung aran srat Darmagandhul jinilid. mring tyas gung kumacelu. dumadya auliya. ngebun-bun pasihaning Hyang. kinarya nglipur manah. agung nugraheng Hyang Suksma. ping trilikur ri Tumpak manis. kyai Kalamwadi ngarang. Surakarta. mring dhawuh weling gurune. tan etung lebur luluh. wuku Wukir sangkalanira ing warsi: wuk guna ngesthi Nata [taun Jawa 1830]. sinung tembang macapat. Pan sinambi-sambi jagi panti.

Panyuwunan mangkono mau uga diparêngake dening Sang Nata. Suwe-suwe pangidhêp mangkono mau saya ngrêbda. nyaritakake purwane wong Jawa padha ninggal agama Buddha banjur salin agama Rasul”. (2) ing mangka Putri Cêmpa mau agamane Islam. Sang Prabu lagi kalimput panggalihe. Sayid Kramat iku maulana saka ing ‘Arab têdhake Kanjêng Nabi Rasulu’llah. (1) Ing nagara Majalêngka kang jumênêng Nata wêkasan jêjuluk Prabu Brawijaya. Ora antara suwe kaprênah pulunane Putri Cêmpa kang aran Sayid Rakhmat tinjo mênyang Majalêngka. sabên marak. nanging aku tau dikandhani guruku. dene ênggone jênêng Majapahit iku. Ing kono banjur akeh para ngulama saka sabrang kang padha têka. mung kanggo pasêmon. para ngulama lan para maulana iku padhamarêk sang Prabu ing Majalêngka. sarta nyuwun idi marang Sang Nata. nganti njalari katariking panggalihe Sang Prabu marang agama Islam mau.DARMAGANDHUL Ing sawijining dina Darmagandhul matur marang Kalamwadi mangkene “Mau-maune kêpriye dene wong Jawa kok banjur padha ninggal agama Buddha salin agama Islam?” Wangsulane Ki Kalamwadi: “Aku dhewe iya ora pati ngrêti. ing mangka guruku kuwi iya kêna dipracaya. kaparênga anggêlarake sarengate agama Rasul. bab luruhe agama Islam. wong Jawa banjur akeh bangêt kang padha agama Islam. sarta padha nyuwun dhêdhukuh ing pasisir. Akeh wong Jawa kang padha kelu maguru marang Sayid Kramat. Sang Rêtna tansah matur marang Sang Nata. Sang Prabu iya marêngake apa kang dadi panyuwune Sayid rakhmat mau. dene panggonane ana ing Benang (4) bawah Tuban. nanging kang durung ngrêti dêdongengane iya Majapahit iku jênêng sakawit. Wong Jawa ing pasisir lor sapangulon sapangetan padha ninggal agamane Buddha. Sang Prabu krama oleh Putri Cêmpa. Ing wêktu iku. ora ana maneh kang diaturake. mula bisa dadi gurune wong Islam. banjur ngrasuk . kajaba mung mulyakake agama Islam. sajrone lagi sih-sinihan. Sayid Rakhmat banjur kalakon dhêdhukuh ana Ngampeldênta ing (3) anggêlarake agama Rasul. supaya wong kang ora ngrêti mula-bukane karêben ngrêti”. Ing jaman kuna nagara Majapahit iku jênênge nagara Majalêngka. Ature Darmagandhul: “Banjur kapriye dongengane?” Ki Kalamwadi banjur ngandika maneh: “Bab iki satêmêne iya prêlu dikandhakake. Sayid Kramat dadi gurune wong-wong kang wis ngrasuk agama Islam kabeh.

lakune isih padha cêgah mangan. sang Prabu Brawijaya kagungan panggalih. sarta sarehne Babah Patah nalika ana ing Palembang agamane wis Islam. wonge uga padha kelu rêmbuge Sayid Kramat. manusa ora bisa apa-apa. Yen cêgah mangan rusak. pinaringan nama sarta sêsêbutan Raden Arya Pêcattandha. Sang Prabu Brawijaya kagungan putra kakung kang patutan saka Putri Bangsa Cina. Hawa iku karêping hati. isih padha cêgah dhahar sarta cêgah sare. para ngulama padha nyuwun pangkat sarta padha duwe sêsêbutan Sunan. sêsêbutane Bambang. Babah Patah wêdi yen ora nglakoni dhawuhe ingkang rama. prayoga disêbut Babah. wêtune saka engêtan. Yen sarak rasul. budi kang ngobahake. awit yen miturut lêluri saka ingkang rama. yen wohe budi ngrêti marang kaelingan bêcik. banjur boyong marang Dêmak. dene Raden Kusen ing nalika iku jinunjung dadi Adipati ana ing Têrung (5). Barêng Raden Patah wis diwasa. Saka ature Patih. Yen miturut ibu. nanging sarehne ibune bangsa Cina. madanani para bupati urut pasisir Dêmak sapangulon. bisane mung sadarma nglakoni. Budi iku Dzate Hyang Widdhi. dene wong-wonge padha manêmbah marang Budi Hawa. sêsêbutane: Kaotiang. têgêse pambabare ana nagara liya. diparingi têtêngêr Raden Patah. Suwening suwe sarak Rasul saya ngrêbda. para ngulama sarake Buddha. para nayaka uga padha mupakat. mulane katone iya sênêng. durung padha duwe karêp kang cidra. yen nglêluri lêluhur kuna. Ing nalika iku Babah Patah banjur jinunjung dadi Bupati ing Dêmak. Jawa Buddha agamane. yen blastêran Cina lan Jawa sêsêbutane Babah. sarta Babah Patah dipalakramakake oleh ing Ngampelgadhing. ora kêna dikawruhi sarana netra karna sarta lesan. Katêlah nganti tumêka saprene. Satêkane Majalêngka Sang Prabu kewran panggalihe ênggone arêp maringi sêsêbutan marang putrane. putraning Nata kang pambabare ana ing gunung. dene yen wong ‘Arab sêsêbutane Sayid utawa Sarib. sênênge mau amung kanggo samudana bae. cêgah turu. Sunan iku têgêse budi. anane ing Dêmak didhawuhi nglêstarekake agamane. jroning utêk iku yen diwarahi budi . kok nganggo sêsêbutan Sunan. padha dipundhuti têtimbangan ênggone arêp maringi sêsêbutan ingkang putra mau. Mangka agama Buddha iku ana ing tanah Jawa wis kêlakon urip nganti sewu taun. ana ing desa Bintara. iku wajib sinuwunan kawruhe ngelmu lair batin.agama Rasul. uwite kawruh kaelingan kang bêcik lan kang ala. Barêng wis sawatara masa. yen miturut lêluhur kuna putrane Sang Prabu mau disêbut Bambang. mula Sang Nata iya banjur dhawuh marang padha wadya. sowan ingkang rama. Ature Patih kang mangkono mau. mung nuruti rasaning lesan lan awak. yen putra Nata kang miyos ana ing Palembang iku diparingi sêsêbutan lan asma Babah Patah. kabênêr wayahe kiyai Agêng Ngampel. sirik cêgah mangan turu. mungguh satêmêne ora sênêng bangêt ênggone diparingi sêsêbutan Babah iku. Suwe-suwe agama Rasul saya sumêbar. miyose putra mau ana ing Palembang. Ing Balambangan sapangulon nganti tumêka ing Bantên. Ing wêktu iku ana nalar kang aneh. nganti sadhereke seje rama tunggal ibu. Prabu Brawijaya uga banjur paring idi. arane Raden Kusen. Sang Prabu banjur nimbali patih sarta para nayaka. Ing nalika samana. Ing wêktu iku para ngulama budine bêcik-bêcik.

kali iki isih banjir. ing wêktu iku lagi nênun. kali kang maune iline gêdhe sanalika dadi asat. lan maneh iki wancine luhur. wong-wong padha bêbarêngan mangan enak. yen diombe nglarani wêtêng. sarta jakane aja rabi yen durung dadi jaka tuwa. Sunan Benang mirêng ature sakabate. kali Brantas pinuju banjir. iya iku ing tanah Kêrtasana. nanging kang mangkono mau arang kang padha ngrêti mula-bukane. tanah kene patut diarani Kutha Gêdhah”. kajaba uyuh kula niki imbon bêning. sarak Buddha mung sawatara. Sunan Benang sarta sakabate loro padha nyabrang. yen sampeyan ajêng ngombe”.nyambut gawe. Satêkane lor Kadhiri. barêng kêna dayaning pangandika mau. iline banyu kang gêdhe nyimpang nrabas desa alas sawah lan patêgalan. iline banjur salin dalan kang dudu mêsthine. ing sanalika kali Brantas iline dadi cilik. iya kudu ditimbang ing sabênêre. Santri krungu têtêmbungan mangkono banjur lunga tanpa pamit lakune dirikatake sarta garundêlan turut dalan. mula ênggone mangsuli nganggo têmbung saru: “nDika mêntas liwat kali têka ngangge ngarani njaluk banyu imbon. Gêdhah iku ora irêng ora putih. kang maca lan kang krungu nganggêp têmên lan ora. banyune isih buthêk. sawah sarta patêgalan. mêjanani marang dheweke. pangrasane wong lanang arêp njêjawat. Sunan Benang ngandika marang sakabate: “Kowe goleka banyu imbon mênyang padesan. satêkane wetan kali banjur niti-niti agamane wong kono apa wis Islam. mBok Prawan kaget krungu swarane wong lanang. alas. kang ndherekake mung sakabat loro. kêpalangan banyu. padha wadul yen ana wong arane Sunan Benang. kali kang saka Kadhiri disotake banjur asat sanalika. awit katrajang ilining banyu kali kang ngalih iline. Sakabate siji banjur lunga mênyang padesan arêp golek banyu. wajah lagi arêp mêpêg birahi. padha sênêng-sênêng ana ing omah. isih kêna dinyatakake. yen pinuji dina Riyadi. kang ana mung bocah prawan siji. Ki Bandar matur: “Dhawuh pangandika panjênêngan. iya iku saka . MBok Prawan salah cipta. Ature Ki Bandar wong ing kono agamane Kalang. nganti kawêtu pangandikane nyupatani. akeh desa kang padha rusak. Bandung dianggêp Nabine. kula ingkang nêkseni”. Dhek nalika samana Sunan Benang sumêdya tindak marang Kadhiri. aku arêp wudhu. saiki isih ana wujuding patilasane. prawane aja laki yen durung tuwa. ing panggonan kono disabdakake larang banyu. ngriki botên entên carane wong ngimbu banyu. apa isih agama Budi. gawene nyikara marang para lêlêmbut. dene kang agama Rasul lagi bribik-bribik. jaka lan prawane iya nganti kasep ênggone omah-omah. iya iku dhêmit ing sumur Tanjungtani. mulyakake Bandung Bandawasa. têkan ing desa Pathuk ana omah katone suwung ora ana wonge lanang. bangêt dukane. satêkane ngarsane Sunan Benang banjur ngaturake lêlakone nalika golek banyu. ngêndêl-êndêlake kaprawirane. Ing wêktu iki ana dhêmit jênênge Nyai Plêncing. tansah digubêl anak putune. barêng noleh wêruh lanang sajak kaya santri. Tanah saloring kutha kadhiri banjur jênêng Kutha Gêdhah. arêp salat”. kang padha rusak. nganti têkane saiki isih karan Kutha Gêdhah. Sakabat têka sarta alon calathune: “mBok Nganten. Nganti tumêka saprene tanah Gêdhah iku larang banyu. mula saka pangiraku iya nyata. mula akeh desa. Sunan Benang ngandika: “Yen ngono wong kene kabeh padha agama Gêdhah. wong ing kono akeh padha agama Kalang. Sunan Benang têrus tindak mênyang Kadhiri. kula nêdha toya imbon bêning rêsik”.

sarta kono disotake larang banyu sarta diêlih jênênge tanah aran Kutha Gêdhah. Dhêmit-dhêmit mau banjur padha mlayu marang Kadhiri. Nyai Plêncing ngaturake susahe para lêlêmbut sarta para manusa. sarta banjur didadekake patihe Sang Prabu Jayabaya. sanalika banjur nimbali putra-wayahe sarta para jin pêri parajangan.panggawene Sunan Benang. kang uga ngêsotake wong ing kono. duwe adhi jênênge kiyai Daka. diadhêp patihe aran Megamêndhung. Samuksane Sang Prabu Jayabaya lan putrane putri kang aran Ni Mas Ratu Pagêdhongan. Wiwite ana sêbutan kiyai. kuthane ana sagara kidul sarta jêjuluk Ni Mas Ratu Anginangin. . bisaa tumêka ing pati. kabeh padha sumiwi marang Ni Mas Ratu Anginangin. Buta Locaya iku patihe Sri Jayabaya. Buta Locaya krungu wadule Nyai Plêncing mangkono mau bangêt dukane. nanging têmên mantêp sêtya ing Gusti. kiyai Buta Locaya iku bodho. Anak putune Nyai Plêncing padha ngajak supaya Nyai Plêncing gêlêma nêluh sarta ngrêridhu Sunan Benang. lan putrane kakung loro uga padha ngadhêp. sarta dadi senapatining pêrang. mulane didadekake patih. didhawuhi nglawan Sunan Benang. Buta Locaya lagi ngandikan karo kang padha ngadhêp. Buta Locaya lan kiyai Tunggulwulung uga padha muksa. ngaturake kahanane kabeh. dene kiyai Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut. sarta ngaturake yen kang gawe rusak iku. enggal mangkat mêthukake lakune Sunan Benang. caya têgêse: kêna dipracaya. sarirane nganti kaya gêni. jênênge kiyai Daka dipundhut kanggo jênêng desa. matur bab rusake tanah lor Kadhiri. amarga rasane awake padha panas bangêt kaya diobong. Jêngkare Sri Narendra anjujug ing omahe kiyai Daka. ora antara suwe lêlêmbut wis têkan ing saêloring desa Kukum. dene kiyai Daka banjur diparingi jênêng kiyai Tunggulwulung. ngadhang lakune Sunan Benang kang saka êlor. lanang wadon ngantiya kasep ênggone omah-omah. sarta lakune barêng karo angin. kiyai têgêse: ngayahi anak putune sarta wong-wong ing kanan keringe. kaget kasaru têkane Nyai Plêncing. Ing wêktu iku kiyai Buta Locaya lagi lênggah ana ing kursi kêncana kang dilemeki kasur babut isi sari. kang tuwa arane Panji Sêktidiguna. kiyai Sumbre banjur ngadêg ana ing têngah dalan sangisoring wit sambi. Kiyai daha iki cikal-bakal ing Kadhiri. ing kono Buta Locaya banjur maujud manusa aran kiyai Sumbre. matur marang ratune. jênênge kiyai Daha dipundhut kanggo jênênge nagara. Nyai Plêncing krungu wadule anak putune mangkono mau. yen lahar mêtu supaya ora gawe rusaking desa sarta liya-liyane. ngrungkêbi pangkone. dene Selabale iku dununge ana sukune gunung Wilis. kang anom aran panji Sarilaut. dheweke diparingi Buta Locaya. Ni Mas Ratu Pagêdhongan dadi ratuning dhêmit nusa Jawa. Buta iku têgêse: butêng utawa bodho. dene para lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha ora ngaton. mula sang Prabu asih bangêt marang kiyai Daka. rumêksa kawah sarta lahar. Sakabehe lêlêmbut kang ana ing lautan dharatan sarta kanan keringe tanah Jawa. sarta kinêbutan êlaring mêrak. iya iku kiyai daha lan kiyai Daka. (6) Jênênge Buta Locaya. Sunan Benang dhêmêne salah gawe. ana ing kono Sang Prabu sawadya-balane disugata. wong saka Tuban kang sumêdya lêlana mênyang Kadhiri. Para lêlêmbut mau padha sikêp gêgaman pêrang. nanging dhêmit-dhêmit mau ora bisa nyêdhaki Sunan Benang. Buta Locaya panggonane ana ing Selabale. maune jênênge kiyai Daha. dadi ora tansah ganggu gawe. Lo têgêse kowe. ratune manggon ing Selabale. barêng Sri Jayabaya rawuh. satêkane ing Kadhiri. arane Sunan Benang.

kowe apa padha slamêt?”. sadaya wau sirnanipun kaurugan siti pasir sarta lahar saking rêdi Kêlut. mungguh kang dadi sêdyaku arêp mênyang Kadhiri. punika namanipun siya-siya botên surup. dadi dheweke kawanguran karêpe. namung kantun namaning dhusun. Kiyai Sumbre matur marang Sunan Benang: “Paduka punika tiyang punapa. sumêdya ganggu gawe. katitik saka awake panas kaya mawa. wusana banjur matur marang Sunan Benang: “Kados pundi dene paduka sagêd mangrêtos manawi kula punika Buta Locaya?”. mula kaline banjur tak-êlih iline. sêpintên susahipun tiyang ingkang sami kêbênan. kraton sarta pasanggrahanipun inggih sampun botên wontên. Sunan Benang ngandika: “Aku ora kasamaran. lajêng botên gampil pêncaripun titahing Latawalhujwa. . makatên wau saking sabda paduka. Sunan Benang wis ora kasamaran yen kang ngadêg ana sangisoring wit sambi iku ratuning dhêmit. amarga kaya dene cêdhak mawa. nyabdakakên ingkang botên patut. amarga kang tak jaluki banyu ora oleh iku. Sunan Benang ngandika maneh: “Aku bangsa ‘Arab. aku njaluk banyu ora oleh. pintên-pintên sami risak. paduka gêndhak sikara dhatêng anak putu Adam. jênêngmu Buta Locaya. Mangkono uga Sunan Benang uga ora bêtah cêdhak karo kiyai Sumbre. dede pangagêm Jawi. kene kabeh tak sotake larang banyu. amarga kêna daya prabawane kiyai Sumbre.Ora antara suwe têkane Sunan Benang saka lor. sêlaminipun awis toya. Sakabat loro kang maune padha sumaput. prawan baleg. têtêpe agama biru. pêrlu nonton patilasan kadhatone Sang Prabu Jayabaya. Sunan Benang andangu marang kiyai Sumbre: “Buta Locaya! kowe kok mêthukake lakuku.”. sarta ngêlih nami Kutha Gêdhah. sadaya patilasan sampun sami sirna. kraton utawi patamanan Bagendhawati ingkang kagungan Ni Mas Ratu Pagêdhongan inggih sampun sirna. Kados wangun walang kadung?”. sabin. kiyai Sumbre mangkono uga. sabab agama Kalang. Buta Locaya kaget bangêt dene Sunan Benang ngrêtos jênênge dheweke. dene omahku ing Benang tanah Tuban. lepen Kadhiri ngalih panggenan mili nrajang dhusun. saiba susahipun tiyang gêsang laki rabi sampun lungse. Sunan Benang ngandika: “Mula ing kene tak-êlih jênêng Kutha Gêdhah. mula tak-sotake larang banyu. jênêngku Sayid Kramat. ora bêtah kêna prabawane Sunan Benang. nyikara tanpa prakara”. amarga wonge kene agamane ora irêng ora putih. ngêlih lepen. banjur padha katisên. dene mangangge pating gêdhabyah. aku ngrêti yen kowe ratuning dhêmit Kadhiri.”. dene ênggonku ngêsotake prawan tuwa jaka tuwa. pasanggrahan Wanacatur ugi sampun sirna. lepenipun asat. paduka sikara botên surup. Dene lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha sumingkir adoh. Buta Locaya banjur matur: “Wetan punika wastanipun dhusun Mênang (9). wana. ngriki paduka-sotakên. lajêng nyabdakakên ing ngriki awis toya. iku prênahe ana ing ngêndi?”. prawan tuwa jaka tuwa. sarta nganggo jênêng Sumbre. sikara tanpa dosa. Kula badhe pitaken.

sugih sanak malaekat. ing ngriki sagêda mirah toya malih. nuli matur marang Sunan Benang: “Kêdah paduka. sarta susahe jalma lan dhêmit. punika namanipun tiyang dahwen”. botên timbang kaliyan kukumipun. yen sampun dados. dak-suwun marang Rabbana. woh sambi dadi warna loro kanggone. nanging sami ahli budi sarta ajrih sêsikuning Dewa. sumbêr toya ing Mêdhang saurutipun dipunbêkta minggat sadaya. Sunan Benang ngandika marang Buta Locaya: “Wis kowe ora kêna mangsuli. Aji Saka dados Ratu tanah Jawi namung tigang taun lajêng minggat saking tanah Jawi. Buta Locaya barêng krungu têmbung ora wêdi marang Ratu Majalêngka banjur mêtu nêpsune. damêl wilujêng dhatêng tiyang kathah. tur namung tiyang satunggal ingkang lêpat. Kula niki bangsaning lêlêmbut. sami damêl awising toya. Paduka niksa wong tanpa dosa. Sunan Benang ngandika: “Sanadyan kok-aturake Ratu Majalêngka aku ora wêdi”. . paduka kula-banda”. sanes alam kaliyan manusa. punapa paduka punika tiyang tunggilipun Aji Saka. paduka punika namanipun damêl mlaratipun tiyang kathah. Sunan Benang barêng mirêng nêpsune Buta Locaya rumaos lupute. paduka inggih dipunukum mlarat ingkang langkung awrat. Inggih sampun ta. dhêmit lan wong pêcicilan rêbut bênêr ngadu kawruh prakara rusaking tanah. niku Sunan napa? Yen pancen Sunaning jalma yêktos. ora kêna mbaleni caturku kang wus kawêtu. amargi ngrisakakên tanah. botên sapintên lêpatipun.wangsulna sapunika. nggih niki margi paduka cilaka. sagêd dados asil panggêsangan laki rabi taksih alit lajêng mêncarakên titahipun Hyang Manon. mbok sampun sumakehan dumeh dipunkasihi Hyang Widdhi. besuk yen wus limang atus taun. mêsthi simpên budi luhur. mila sami siya-siya dhatêng sêsami. aku pamit nyimpang mangetan. patute rêmbage tiyang entên ing bambon. kali iki bisa bali kaya mau-maune”. wijine mêtuwa lêngane. kula tamtu nyuwun bantu wadya bala dhatêng Kanjêng Ratu Ayu Anginangin ingkang wontên samodra kidul”. Aji Saka tiyang saka Hindhu. paduka ngakên Sunan rak kêdah simpên budi luhur. nanging kok jêbul botên makatên. siram salêbêting kawah wedang ingkang umob mumpalmumpal. daginge dadiya asêm. wujud paduka niki jajil bêlis katingal. lepen ingkang asat lan panggenan ingkang sami katrajang toya kula-aturi mangsulakên kados sawaunipun. lajêng paduka-ênggeni piyambak. lajêng mubal nêpsune gêlis duka. yen botên sagêd. banjur nêpsu maneh. dene gawe kasusahan warna-warna. mula banjur ngandika: “Buta Locaya! aku iki bangsa Sunan. têbih saking ahli budi yen ngantos siya dhatêng sêsami nyikara tanpa prakara. siya dahwen sikara botên ngangge prakara. manawi panjênêngan botên karsa mangsulakên. paduka tiyang saking ‘Arab. lah sapunika mugi panjênêngan-sotakên wangsulipun malih. ewadene kula taksih engêt dhatêng wilujêngipun manusa. woh sambi iki tak-jênêngake cacil.Buta Locaya matur maneh: “Punika namanipun botên timbang kaliyan sot panjênêngan. tandhane paduka sapunika sampun jasa naraka jahanam. nyikara wong kang ora dosa. sanadyan ing tanah Jawi rak inggih wontên ingkang nglangkungi kaprawiran paduka. sapunika sadaya ingkang risak kula-aturi mangsulakên malih. dene kok kaya bocah cilik padha tukaran. saupami konjuk Ingkang Kagungan Nagari. botên tahan digodha lare. lajêng tumindak sakarsa-karsa botên toleh kalêpatan. sadaya manusa Jawi ingkang Islam badhe sami kula-têluh kajêngipun pêjah sadaya. muride Ijajil. nanging ingkang susah kok tiyang kathah sangêt. ngêndêlake dumeh tiyang digdaya. calathune sêngol: “Rêmbag paduka niki dede rêmbage wong ahli praja. Panjênêngan sanes Narendra têka ngarubiru agami. Buta Locaya barêng krungu kêsagahane Sunan Benang.

barêng wis wanci asar. Sunan Benang kang anggolingake. dene ana madhêp mangulon. Sunan Benang sawuse ngandika mangkono banjur mlumpat marang wetan kali. ana ing kono Sunan Benang mriksani rêca jaran. yen aku kêrêngan karo dhêmit kumênthus. nganti katon abang mbêranang. lênga têgêse dhêmit mlêlêng jalma lunga. awit saka sabdane Sunan Benang. guruku”. Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene. ubênge bangkekane 10 kaki. Sunan Benang ngandika: “Kowe iku bangsa dhêmit kok wani padu karo manusa. woh trênggulun jênênge kênthos. wêktu iku dhadhape pinuju akeh bangêt kêmbange. saka akehe kêmbange kang tiba. wohe trênggulun mau akeh bangêt kang padha tiba nganti amblasah. satêkane desa Nyahen (10) ing kona ana rêca buta wadon. ngriku Sunan. dene prênahe ana sangisoring wit trênggulun. Singkal têgêse sêngkêl banjur nêmu akal. Sunan Benang sawise salat banjur nêrusake tindake. iku pituture Raden Budi guruku. ing kene desa ing Sumbre. saya wuwuh nêpsune sarta mangkene wuwuse: “Punika yasanipun sang Prabu Jayabaya. lan wiwit saiki panggonan têtêmon iki. Ing besuk dadiya pasêksen. Kawanguran têgêse kawruhan. nuli sagêd mundhut banyu kagêm wudhu banjur salat. Sumbre sarta Singkal. kang lor jênênge desa Singkal. dhuwure ana 16 kaki.asêm dadi pasêmoning ulat kêcut. dene dhêmit padu lan manusa. baune têngên rêca mau disêmpal dening Sunan Benang. Buta Locaya barêng wêruh patrape Sunan Benang anggêmpal êndhasing rêca jaran. sintên ingkang sumêrêp rêca punika. Sunan Benang priksa rêca mau gumun bangêt. sumure banjur digolingake. dene Sunan Benang sawise. Sunan Benang banjur tindak mangalor. . kangge pralambang ing tekadipun wanita Jawi. iku pituture Raden Budi Sukardi. Sunan Benang ngasta kudhi. Sunan Benang tindake têkan ing desa Bogêm. Buta Locaya mangsuli: “Inggih kaot punapa. benjing jaman Nusa Srênggi. sarta akeh kang tiba kanan keringe rêca buta mau. bathuke dikrowak. yen dijunjung wong wolung atus ora kangkat. sajabane desa kono ana sumur nanging ora ana timbane. Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene sumur mau karane sumur Gumuling. dene panggonane balamu kang ana ing kidul iku jênênge desa Kawanguran”. prênahe ana sangisoring wit dhadhap. jênênge dhêmit kêmênthus”. rêca mau awak siji êndhase loro. lajêng sami mangrêtos tekadipun para wanita Jawi”. yen aku padu karo kowe. kêrsane arêp salat. Sunan Benang ngandika: “Woh trênggulun iki tak-jênêngake kênthos. kula Ratu”. dadiya pangeling-eling ing besuk. saupama diêlih saka panggonane. kajaba yen nganggo piranti. êmbuh bênêr lupute”. Buta Locaya nututi tindake Sunan Benang. rêca jaran êndhase digêmpal. prakara rusaking rêca”. katêlah nganti tumêka saprene ing tanah Kutha Gêdhah ana desa aran Kawanguran.

panjênêngan-tundhung dhatêng pundi? Sampun jamakipun brêkasakan manggen ing guwa. Aluwung manusa Jawa ngurmati wujud rêca ingkang pantês simpên budi nyawa. lah asilipun punapa panjênêngan ngrisak rêca?” Pangandikane Sunan Benang: “Mulane rêca iki tak-rusak. botên kuwasa. prayogi dhatêng rêdi Kêlut kathah sela agêng-agêng yasanipun Pangeran. Sanadyan rintên dalu nglampahi salat. kawruhipun sasar-susur. sumêrêp budi hawanipun. sidik paningalipun têrus. Pangandikane Sunan Benang: Ka’batu’llah iku kang jasa Kangjêng Nabi Ibrahim. punika kêdah dipunrêksa. sanes Hyang Latawalhujwa. kamulyan sanyata wontên ing dunya kemawon sampun korup. punika wajib dipunsujudi. manawi sampun nrimah nêmbah curi. dados panjênêngan punika têtêp tiyang jail gêndhak sikara siya-siya dhatêng sasamining tumitah. sami maujud piyambak saking sabda kun. yen wong muji brahala iku jênênge kapir kupur lair batine kêsasar. saniki awon warnine. badanipun manusa punika Baitu’llah ingkang sayêktos. ing kono pusêring bumi. wujude nggih tugu sela. sing sapa sujud marang Ka’batu’llah. dados têdhanipun manusa. inggih kêkasihipun Ingkang Kuwaos. Dene ingkang yasa rêca punika Prabu Jayabaya. inggih pintêr sugih engêtan sidik paningalipun têrus. supaya aja dipundhi-pundhi dening wong akeh. sasar nêmbah tugu sela. amargi siti utawi kajêng punika wontên asilipun. tiyang Jawi pathokan sastra. angsal pangapuntên sadaya kalêpatanipun. langkung sênêng malih manawi manggen wontên ing rêca wêtah ing panggenan ingkang sêpi edhum utawi wontên ngandhap kajêng ingkang agêng. calathune: “Panjênêngan nyata tiyang dahwen. wangsul tiyang bangsa ‘Arab sami sojah Ka’batu’llah. yen punika rêca sela. makluking Pangeran. mila para lêlêmbut sami dipunsukani panggenan wontên ing rêca. pinaringan wahyu mulya. punapa sampun angsal saking Pangeran Kang Maha Agung tapak asta mawi cap abrit? Sunan Benang ngandika maneh: “Kang kasêbut ing kitabku. dipunsajeni. Gusti Allah paring pangapura lupute kabeh salawase urip ana ing ‘alam pangumbaran”. manusa sadaya kêdah sumêrêp ing Batu’llahipun.” Buta Locaya calathu maneh: “Wong Jawa rak sampun ngrêtos. dipunkutugi. dhêmit manawi nêdha ganda wangi badanipun kraos sumyah. sumêrêp cipta sasmita ingkang dereng kalampahan. sumêrêp saderengipun kalampahan. tugu damêlan Nabi. manggen wontên ing rêca têka panjênêngan-sikara. pinaringan wahyu nyata pintêr sugih engêtan. Buta Locaya mangsuli karo mbêkos: “Pêjah malih yen sumêrêpa. ta. ing mangka punika yasanipun Sang Prabu Jayabaya. botên gadhah daya. rêca buta bêcik-bêcik dirusak tanpa prakara. sasar nyêmbah tugu sela.Buta Locaya wêruh yen Sunan Benang ngrusak rêca. sarta nêdha ganda wangi. sintên sumêrêp asalipun badanipun. sampun sami ngraos yen alamipun dhêmit punika sanes kalayan alamipun manusa. wontên ing rêca. paduka pathokan tulis. inggih punika ingkang kenging kangge tuladha. supados para lêlêmbut sampun sami manggen wontên ing siti utawi kajêng. bêtuwah . aja tansah disajeni dikutugi. dheweke nêpsu maneh. Saking dhawuhipun Ingkang Maha Kuwaos. sayêktos yen yasanipun Ingkang Maha Kuwaos. besuk yen mati oleh kamulyan”. mila sami dipunladosi. didelehi tugu watu disujudi wong akeh. Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Tandhane napa yen angsal sihe Pangeran. Nabi punika rak inggih manusa kêkasihipun Gusti Allah. punika inggih langkung sasar”. manawi panggenanipun raga pêtêng.

aluwung nyungkêmi kabar sastra saking lêluhuripun piyambak. Panjênêngan tiyang duraka. kowe setan brêkasakan”. mastani Mêkah punika nagari cilaka. mila minggat. punapa dora punapa yêktos. mulya langgêng salamine. sitinipun panas. nyudakakên toya”. murugakên awis wos. dados murid kula!”. kangge rencang tumbasan. nanging dhêmit raja. anuju sawijining dina. Patih matur. Sunan Benang ngandika: “Ora arêp manut rêmbugmu. mila panjênêngan dhatêng tanah Jawi. tandhanipun wontên ing ngriki taksih krejaban. awis toya. Sunan Benang ngandika: “Dhadhap iki kêmbange tak jênêngake celung. saking lêpat. lajêng kula bêkta mlêbêt dhatêng kawahipun rêdi Kêlut. kirang nêdha kawruh budi. inggih ing ngriki ingkang kula-linggihi punika. tekad panjênêngan rusuh. digdayanipun ngungkuli panjênêngan. ngarubiru agamane lêluhur kina. maoni adating uwong. Mila panjênêngan anganjawi. anggêga ujaripun tiyang nglêmpara. asrêp lan bênteripun cêkapan. dene surasane layang ngaturi uninga yen nagara Kêrtasana kaline asat. Rêmbag panjênêngan punika mblasar. damêl risak barang sae. Buta Locaya mangsuli: “Sanadyan kula dhêmit. kula aturi kesah kemawon saking ngriki. kêmbange aran celung. kula sumêrêp nagari Mêkah. manawi kadangon wontên ing ngriki mindhak damêl susah. Tiyang nyungkêmi kabar ‘Arab. Sunan Benang banjur pamitan: “Wis aku arêp mulih mênyang Benang”. nyade mulyaning nagari Mêkah. Gênti kang cinarita. manawi tiyang ingkang ahli nalar. panjênêngan kula-kroyok punapa sagêd mênang. malah kathah tiyang sade tinumbas tiyang. Mula katêlah nganti tumêka saprene. punapa panjênêngan kêpengin manggen ing sela kados kula? Mangga dhatêng Selabale. wanitanipun ayu. tanah pasir mirah toya.saking lêluhuripun. nambahi bênter. Sunan Benang banjur tindak. Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Inggih sampun. nyade umuk. madya luwês wicaranipun. manawi botên purun kesah sapunika. ingkang patilasanipun taksih kenging dipuntingali. panjênêngan dereng tampu mulya kados kula. nagari Jawi ngriki nagari suci lan mulya. nagari ing Majalêngka. sabab aku kêcelung nalar lan kêledhung rêmbag. dereng ngrêtos kawontênanipun ngrika. yen panjênêngan mulya tamtu botên kesah saking ‘Arab. maoni agama. yen mêntas nampani layang saka Tumênggung ing Kêrtasana. rêmên niksa ing sanes. Sang Prabu Brawijaya miyos sinewaka. tandha kirang nalar. uwohe kledhung. dadiya pasêksen yen aku padu lan ratu dhêmit. sapunika panjênêngan ukur. diadhêp Patih sarta para wadya bala. kula-aturi kesah saking ngriki. panjênêngan punapa botên badhe susah. sami-sami nyungkêmi kabar. mbucal dhatêng Mênadhu”. wontên ing ‘Arab nakal kalêbêt tiyang awon. Ratu wajib niksa. dene Buta Locaya sawadya-balane uga banjur mulih. kali kang saka Kadhiri miline nyimpang . bênteripun bantêr awis jawah. panjênêngan punapa sagêd ngêpal lampahing jaman? Sampun ta. Rêmbag panjênêngan badhe priksa pusêring jagad. Ingkang yasa rêca punika Maha Prabu Jayabaya. badhe kula undhangakên adhi kula ingkang wontên ing rêdi Kêlut. woh dhadhap jênênge kledhung. rêmên nyikara niaya. kalah kawruh kalah nalar”. panjênêngan enggala kesah. manawi kula lêpat panjênêngan jotos. tiyangipun jalêr bagus. punapa ingkang dipuntanêm sagêd tuwuh. tanêm-tanêm tuwuh botên sagêd mêdal. wontên ing ngriki mindhak damêl sangar.

dene namanipun santri Giri anglangkungi asma paduka. satêkane ing Dêmak. têgêsipun Yakin punika wikan. pintên-pintên dhusun sami karisakan. sumilih Kaprabon Nata. têgêsipun Aenal punika ma’rifat. Sunan Giri mlayu mênyang Benang. pêrange rame bangêt. liyane loro iku didhawuhi ngulihake mênyang asale. umure wis satus têlu taun. wong-wong ing Pasisir lor wis padha agama Islam. botên ngrumaosi nêdha ngombe wontên tanah Jawi. Patih banjur diutus mênyang Kêrtasana. ênggone ora sowan mênyang Majalêngka. kang kuwat dadi Ratu tanah Jawa. nanging rumantiya sikêping pêrang: 1. anggenipun makatên wau. gaweya samudana. Sang Prabu midhangêt ature para wadya banjur duka. mula banjur lunga karo Sunan Giri mênyang Dêmak. dhawuhana balamu para Sunan kabeh lan para Bupati kang wis padha Islam kumpulna ana ing Dêmak. wong ‘Arab kang ana ing tanah Jawa padha didhawuhi lunga. dene duta kang diutus mênyang Tuban uga wis têka. mênggah têgêsipun Sunan punika budi. . sawise oleh bêbantu. aja nganti ngêtarani. mung ing Dêmak lang Ngampelgadhing kang kêparêng ana ing tanah Jawa. mêngko yen wis kumpul. banjur dhawuh nglurugi pêrang mênyang Giri. rêmbugku rusakên Kraton Majalêngka. golek kêkuwatan. diajak nglurug mênyang Majalêngka. Patih sawadya-balane satêkane ing Giri banjur campuh pêrang. para Sunan sarta Bupati sawadya-balane kang wis padha Islam. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih. sumêrêp piyambak. saking kenging sabdanipun ngulama saking ‘Arab. Sang Prabu midhangêt ature Patih. yen kumpule iku arêp gawe masjid.mangetan. punika nama ing têmbung ‘Arab. ing wêktu iku tanah jawa wis meh saparo kang padha ngrasuk agama Islam. mariksa botên kasamaran. Sang Prabu mirêng ature Patih bangêt dukane. mung kowe. sowana besuk Garêbêg Mulud. nglurug mênyang Giri. Wong ing Giri geger. kajawi namung Bathara Wisnu nalika jumênêng Nata wontên ing nagari Mêdhang-Kasapta. pangandikane Sunan Benang marang Adipati Dêmak: “Wêruha yen saiki wis têkan masa rusake Kraton Majalêngka. banjur ngêbang marang Adipati Dêmak. Gêlising carita. suraosipun ing têmbung Jawi nama Prabu Satmata. banjur ngaturake kahanane kabeh. namanipun Sunan Benang. amargi ngulama Giripura sampun tigang taun botên sowan utawi botên ngaturakên bulubêkti. Sunan Benang wis ngrumasani kaluputane. banjur pêrang maneh mungsuh wong Majalêngka. paring pangandika yen ngulama saka ‘Arab pada ora lamba atine. dene kang kidul isih têtêp nganggo agama Buddha. dene yen padha ora gêlêm lunga didhawuhi ngrampungi bae. saka panawangku. kabeh mêsthi nurut marang kowe”. mênggah sêdyanipun badhe rêraton piyambak. Ature Patih: “Gusti! lêrês dhawuh paduka punika. amarga Sunan Benang lunga ora karuhan parane. ing alam donya botên wontên kalih ingkang asma Sang Prabu Satmata. 2. Patih budhal ngirid wadya-bala prajurit. niti-priksa ing kono kabeh. nanging kang sarana alus. kahanane wonge sarta asile bumi kang katrajang banyu kapriye? Sarta didhawuhi nimbali Sunan Benang. Patih sawise niti-priksa. nglêstarekake agamane. punika asma luhur ingkang makatên punika ngirib-irib tingalipun Kang Maha Kuwasa. dados nama tingal ingkang têrus. saperanganing layang mau unine mangkene: “Wontên ler-kilen Kadhiri. amarga gawe ribêding nagara. matur yen ora oleh gawe. ora kuwat nanggulangi pangamuke wadya Majapahit. pêparabipun Sunan ‘Aênalyakin.

Giri kang dadi jalarane ngrusak Majalêngka. tak-anggêp kulawarga. amarga iku wong kapir. ora ana alane. kaprabone bapakmu wis mêsthi ora bakal tiba kowe. sapira mungguh kauntunganmu nugrahaning Pangeran tikêl kaping êmbuh. Inggih sanadyan Buddha punapa kapir. Kowe mungsuh bapakmu Nata. mêsthi dipasrahake marang Adipati Pranaraga. awit Ratu iku Khalifa wakile Hyang Widdhi. patute mung dadi godhogan. sapira kawruhe Ngampelgadhing. ananging ing laire iya kudu nganggo sarat dirêbut sarana pêrang. wong satanah Jawa padha Islam kabeh. akeh bangsa Cina kang padha têka ana ing tanah Jawa. nadyan mati. yen kowe ora gêlêm nglakoni. iya iku: bae mati bae urip. iku ora prayoga. sihing Hyang Kang Maha Kuwasa kang dhawuh marang kowe. mulane rêmbugku. Wangsulane Sang Adipati Dêmak: “Anggenipun nglurugi punika lêrês. tiyang rêraton. iku durung gênêp uripe. têgêse Babah iku saru bangêt. nanging yen bapakmu kalah. apa bae kang dikarêpake bisa kêlakon. karo wis wajibe wong urip golek kamuktening dunya. punapa malih dereng wontên lêpatipun dhatêng kula”. mêsthi rusak agama Mukhammad Nabi”. utawa dipasrahake marang putra mantu. iku mêgat sih arane. gundhul bêntul butêng tanpa nalar. Kang mangkono iku. mula ibumu diparingake Arya Damar. wis wajibe wong Islam mati dening wong kapir. golek darajat kang unggul dhewe. Dhawuhipun eyang Sunan Ngampelgadhing. Sunan Benang kang wis dipuji wong sabumi ‘alam. amarga iku putrane kang tuwa. sampun wajibipun dipunlurugi. ana ing Giri padha tak-Islamake awit kang muni ing kitabku. têdhak Rasul panutaning wong Islam kabeh. lire aja katara. kowe ngênteni surude bapakmu. sanadyan dosa pisan. ing batin sêsêpên gêtihe. didakwa rêraton. botên ngrumaosi yen kêdah manut prentahing Ratu ingkang mbawahakên.Ature Adipati Dêmak: “Kula ajrih ngrisak Nagari Majalêngka. Dene têkaku mrene ini ngungsi urip mênyang kowe. Sunan Giri nyambungi rêmbug: Aku iki ora dosa dilurugi ramamu. ora wajib jumênêng Nata. ênggone ngarani jare lara ayan esuk lan sore. yen kowe ora ngukuhi. Ramanira panggalihe têtêp ora bêcik. walêsên kalawan alus. ngrusak kapir Buddha kawak: kang kok-têmu ganjaran swarga. tandhane sira diparingi jênêng Babah. aku wêdi marang Patih Majalêngka.Islamake. Sunan Benang ngandika mêneh: “Sanadyan mungsuh bapa lan ratu. mati sabilu’llah. satêmêne kowe wis pinasthi bakal jumênêng Ratu ana ing tanah Jawa. saka ênggone nyungkêmi agamane. besuk ganjarane swarga. mumpung iki ana lawang mênga. Eyangmu kuwi santri mêri. amarga aku ora seba marang Majalêngka. kajawi namung sêtya tuhu. sanadyan Buddha nanging margi-kula sagêd dumados gêsang wontên ing dunya. bocah kalairan Cêmpa. mamahên balunge”. sumilih kaprabone ramamu. masa padhaa karo aku Sayid Kramat. yen aku kacandhak arêp dikuciri lan dikon ngêdusi asu. wiji jawa digawa Putri Cina. yen wong urip ora wêruh marang uripe. mula akeh bangsa Cina kang padha tak. iya iku Ki Andayaningrat ing Pêngging. Sunan Benang ngandika maneh: “Yen ora kok-rêbut dina iki. lan ramanira sêngit bangêt marang santri kang muji dhikir. lamun sipat manusa mêsthi melik mêngku praja angreh wadya bala. Bupati ing Palembang. Sumbare Patih. botên kaparêng yen kula mêngsah bapa. mungsuh wong kapir. dipunukum pêjah. mêsthine sihe Gusti Allah kang . kowe anak nom. Satêmêne ramanira iku siya-siya marang sira. lajêng punapa ingkang kula-walêsakên. wong pranakan buta. kaping tiganipun damêl sae paring kamukten ing dunya. mung karo wong siji. patine slamêt nampani swarga mulya. amêngsah bapa tur raja. tiyang punika bapa inggih kêdah dipunhurmati. tur ratu kapir. yen ngislamake wong kapir. awit panjênêngan botên ngrumaosi dhahar ngunjuk wontên in tanah Jawi”.

bisa ngideni adêgmu Nata mêngku tanah Jawa. malah diwenehi lêpiyan carita Nabi. sabakdane salat. ananging têmbungmu kang rêmit sarta alus. brêngose capang sirahe gundhul. Patihe wis tuwa. pawadane sarehne wis sêpuh. dadi kowe jênênge nampik sihe Allah. lan diwenehana sumurup yen Sunan Benang wis ana ing Dêmak. banjur padha salat ana ing masjid. para wadya bala ora ana kang ngrêti wadining laku. iya iku Syekh Sitijênar. padha bisa mêncak kabeh. kowe ora tak-walês ing akhirat. Sang Adipati Dêmak banjur ingidenan jumênêng Nata. banjur arêp kêpyakan tumuli. apa abot sadulur tuwa kang tunggal agama. Sunan Benang ngandika maneh: “Iya mangkono iku kang tak karêpake. patihe wong saka Atasaning aran Patih Mangkurat. panjênêngan ingkang mbotohi”. amarga aku wis wêruh sadurunge winarah. mungguh kang dadi senapati ing Giri iya iku sawijining bangsa Cina kang wis ngrasuk agama Islam. yen wis padha rujuk. bab ênggone mukul pêrang ing Giri. Patih saulihe saka ing Giri banjur matur sang Praba. Sawise golong karêpe. Syekh Sitijênar dipateni. layang banjur katur Sunan Benang. besuk yen ana Ratu Jawa kanthi wong tuwa. Akeh-akeh dhawuhe Sunan Benang. sarta banjur arêp ngrusak Majapahit. aku ora bakal mundur”. Esuke Senapati Jimbuningrat wis miranti sapraboting pêrang. adhimu antêpên. Gênti kocapa nagara in Majapahit. Si gugur isih cilik. Para Sunan lan para Bupati wis padha rujuk kabeh. pambujuke marang adipati Dêmak supaya mêtu nêpsune. saiki kowe wis gêlêm tak botohi. ing kono gulumu bakal tak-lawe gênti”. Yen adhimu wis rujuk adêgmu Nata. wis tak-sêmprong nganggo sangkal bolong katon nêrawang ora samar sajroning gaib. Adipati Dêmak matur: “Manawi karsa panjênêngan makatên. nanging tak-walês ana ing dunya kene bae. saiki wani. Sunan Benang banjur ngandika marang Adipati Dêmak. yen Adipati Dêmak arêp dijumênêngake Nata. banjur tutup lawang. wis tinampan wangsulane Sang Adipati Têrung. dene kang kadhawuhan mateni iya iku Sunan Giri. mangsah mêncak nganggo gêgêman abir. banjur pakumpulan ngêdêgake masjid. gampang bangêt rusaking Majalêngka. kula namung sadarmi nglampahi dhawuh. ora suwe para Sunan lan para Bupati padha têka kabeh. Majapahit sapa kang diêndêlake yen Kusen mbalik. nglêstarekake apa kang wis dirêmbug. Adipati Dêmak banjur kirim layang marang Têrung. padha manganggo . samudana yen arêp ngêdêgake masjid. diiringake para Sunan lan para Bupati. lan paring idi rahayuning laku. kowe kang katiban wahyu sihe Pangeran. lah saiki uga kowe kirima layang marang adhimu Adipati Têrung. Sadurunge Syekh Sitijênar tumêka ing pati. mung arêp salat ana ing masjid bae. supaya Sang Adipati ngaturi para Sunan lan para Bupati kabeh. ambirat ênggonmu madêg Narendra. saguh ambiyantu pêrang. iku padha nêmu rahayu. arane Sêcasena. ora suwe utusan bali. sawadya-balane watara wong têlung atus. bisa lêstari satêruse”. ninggal swara: “Eling-eling ngulama ing Giri. lakune kaya dene Garêbêg Maulud. masa ndadak waniya. ndadekake sukaning panggalih. jêjuluk Senapati Jimbuningrat. aku mung sadarma njurungi. Sunan Giri mangsuli: “Iya besuk wani. dithothok bae mati. murwani agama suci. kang gêlêm ngrusak bapa kapir. apa abot Sang Nata. wong kabeh dipangandikani dening Sunan Benang. Gêlising carita. bisa dadi Ratu ana ing tanah Jawa. kajaba mung para Tumênggung lan para Sunan apa dene para ngulama. amêngku tanah Jawa. dadi mung para Sunan lan para Bupati bae kang ngiringake Sultan Bintara. sawise mêsjid dadi. gêlêm ngrusak Majalêngka. mung siji kang ora rujuk. banjur budhal mênyang Majapahit. Sunan Benang lan Sunan Giri ora melu mênyang Majapahit. mêsthi ora bisa nadhahi yudamu”. ora kacarita lakune ana ing dalan.mênyang kowe bakal dipundhut bali. Sunan Benang duka. Syekh Sitijênar dilawe gulune mati.

mangsah pêrang paculat kaya walang kadung. supaya utusan mênyang Dêmak. lair batin ora tinêmu ing nalar. bangêt pangungune. mratelakake yen uga ora mangêrti. wadya Majapahit ambêdhili. dibêciki walêse kok padha ala. Sang Prabu nganti ora bisa manggalih apa mungguh kang dadi sababe. bangêt gumune mênyang wong Islam. padha malês bêcik. Patih samêtune ing paseban jaba. dene padha duwe sêdya kang mangkono. sêdya mungsuh ingkang rama. mlayu mênyang Benang têrus diburu dening wadya-bala Majapahit. sarta kêrot. Sang Prabu banjur andangu marang Patih. ngaturake layang marang Patih. para Sunan lan para Bupati padha ambiyantu anggone arêp mbêdhah Majapahit. ngaturake surasane layang mau. sinêmonan dening Dewa. dene putrane lan para ngulama apa dene para Bupati kolu ngrusak Majapahit. dene putrane lan para ngulama têka arêp ngrusak karaton. Sang Prabu Brawijaya midhangêt ature Patih kaget bangêt panggalihe. Babah Patah abot mênyang gurune. mungguh surasaning layang. Kyai Patih banjur matur Sang Prabu. ngenthengake ingkang rama.êbang adêging Nata. Senapati Jimbuningrat. Babah Patah anggone nggawa bala têlung lêksa miranti sapraboting pêrang. apa ta mungguh kang dadi sababe. padha diparingi pangkat. wêkasane malah padha gawe buwana balik. amarga adoh karo nalare. tekade sumêdya nglawan pêrang. wis madêg Ratu ana ing Dêmak. wong dibêciki kok padha malês ala. utawa Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’rrasul Amiri’lmukminin Tajudi’l’Abdu’lhamid Kak. Menak Tunjungpura ing Pathi ngaturi uninga. ora padha ngelingi marang kabêcikan. mungguh kature Sang Prabu amborongake kiyai Patih. Layang kang saka Pathi mau katitimasan tanggal kaping 3 sasi Mulud taun Jimakir 1303. njêgrêg kaya tugu. iya iku Babah Patah. banjur nimbali duta kang arêp diutus mênyang Dêmak. kinira banjur minggat marang Arab ora bali ngajawa. banjur tumênga ing tawang karo nyêbut marang Dewa kang Linuwih. Kiyai Patih sawise maos layang. kaya dene atining kêbo êntek dimangsa ing tumaning kinjir. sajrone ana ing paseban jaba. . njêtung atine. jroning panggalih ngungun bangêt marang putrane sarta para Sunan. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt. Ature Patih. dene jêjuluking Ratu. digoleki nalar-nalare tansah wudhar. dene wadya-bala ing Giri pating jênkelang ora kêlar nadhahi tibaning mimis. nganti suwe ora ngandika. dene dosane santri Giri ora gêlêm seba marang ngarsa Prabu. Sunan Giri lan Sunan Benang banjur nunggal saprau-layar ngambang ing sagara. dene ora padha ngrêti mênyang kabêcikane Sang Prabu. sawêneh ngambang ing sagara. para Bupati pasisir lor sawadyane kang wis padha Islam uga padha njurungi. andhawuhake yen ngulama ing Giri lan ing Benang padha têka ing Dêmak. dene kok padha duwe pikir ala. iya iku Sunan Benang lan Sunan Giri. dene bala Cina liyane lang kari padha mlayu salang tunjang. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih. gêrêng-gêrêng. bala ing Giri ngungsi mênyang alas ing gunung.srêban cara kaji. lumrahe mêsthi. masa Kasanga Wuku Prangbakat. kêsaru têkane utusane Bupati ing Pathi. ing Bintara. yen Adipati ing Dêmak. didhawuhi nyêkêl. sungkawane ratu Gêdhe kang linuwih. gedheg-gedheg. iya Sultan Adi Surya ‘Alam. malah padha gawe ala. Senapati Sêcasena wis mati. dene wong Islam pikire kok padha ora bêcik. Ing samêngko Babah Patah sawadya-balane wis budhal nglurug marang Majapahit. kolu ngrusak Majapahit. dene kang ngêbang. awit dosane santri Benang ngrusak bumi ing Kêrtasana. layang banjur diwaos kiyai Patih. Ki Patih uga mung gumun. kaaturna bêbandan ing ngarsa Nata.

bala Dêmak têlung lêksa. saya bangêt nêpsune. yen nganti nglawan rumaos lingsêm bangêt. Sang Prabu ngandika. Sunan Ngudhung disuduk kêna. Patih binendrongan saka kadohan. Sang Prabu banjur lolos arsa têdhak marang Bali. dene wadya Majapahit wis êntek. iku dilawan apa ora? Sang Nata rumaos gêtun lan ngungun. iya iku Putri Cêmpa. tandhing karo Sunan Kudus. prajurite akeh kang padha mati. para Sunan banjur mlêbu mênyang kadhaton. wêkasan Patih ing Majapahit ngêmasi. mula kasêsa tindake. Putrane Sang Prabu aran Raden Lêmbupangarsa ngamuk ana satêngahing papêrangan. Patih didhawuhi nimbali Adipati Pêngging sarta Adipati Pranaraga. aja nganti ngrusakake bala. bab anane lêlakon kaya mangkono iku amarga saka lêpate sang nata piyambak. mula dhawuhe Sang Prabu. dene mungsuh karo putra. sinêksen ing jagad. Para prajurit Dêmak banjur padha mlêbu mênyang kadhaton. manjalma dadi wong kucir. Patih Majapahit ngamuk ana samadyaning papêrangan. Patih Mangkurat ing Dêmak nglambung. wadya sajroning pura padha bubar. katêlah tumêka saprene. Adipati Têrung banjur mlêbu mênyang jêro pura. saupama disuwun kalayan aris bae mêsthi diparingake. amarga putra kang ana ing Majapahit durung wanci yen mapagake pêrang. sarehne Majapahit karoban mungsuh. wadya-bala Dêmak wis pacak baris ngêpung nagara. nanging ora pasah. ana ing kono pada njarah rayah nganti rêsik. kolu ngrusak nagara Majapahit. sun-bêciki walêse angalani”. kadherekake abdi kêkasih. kuntul kucir githoke. Wong Majapahit kang ora . wong kampung ora ana kang wani nglawan. wong Islam iku besuk kuwalika agamanira. Pêrange rame bangêt. ngobongi buku-buku bêtuwah Buddha padha diobongi kabeh. tak-damoni sirahmu. Wadya Dêmak banjur campuh karo wadya Majapahit. Raden Gugur isih timur lolos piyambak. katarima dening Bathara. katandhan ana swara jumêgur gêtêr patêr sabuwana. Sapatine Patih. Para Bupati Nayaka wolu uga banjur melu ngamuk. “Sabdaning Ratu Agung sajroning kasusahan. ora ana kang diwêdeni. Bala Dêmak kang katrajang mêsthi mati. Sang Prabu banjur mundhut pamrayoga marang Patih. bangkening wong tumpang tindhih. Sajrone Sang Prabu paring pangandika. lagi rame-ramene têtandhingan pêrang. Sunan. dene Adipati Dêmak kapengin mêngkoni Majapahit bae kok dirêbut sarana pêrang. para Sunan banjur ngawaki pêrang. Putra Nata tiwas. iya iku kawitane manuk kuntul ana kang kucir. ngideni para ngulama mêncarake agama Islam. ing ngêndi kang katrajang bubar ngisis. tinggal swara: “Eling-eling wong Islam. nanging sang Prabu wis ora ana. barêng Sunan Ngudhung tiwas. Sang Nata saka putêking panggalihe nganti kawêdhar pangandikane ngêsotake marang wong Islam: Sun-suwung marang Dewa Gung. Patih ora pasah sakehing gêgaman. dene nggêgampang marang agama kang wis kanggo turun-tumurun. mung Patih sarta Bupati Nayaka pangamuke saya nêsêg. balang Majapahit mung têlung ewu. ora ana braja kang tumama marang sarirane. Sabdapalon lan Nayagenggong. Patih dibyuki wadya ing Dêmak. sarta ênggone kêgiwang marang ature Putri Cêmpa. kaya dene tugu waja. Ature Patih prayoga nglawan têkaning mungsuh. sapira kuwate wong siji. pangamuke kaya bantheng kataton. tibaning mimis kaya udan tiba ing watu. sang Putri diaturi sumingkir mênyang Benang uga karsa. muga winalêsna susah-ingsun. beteng ing Bangsal wis dijaga wong Têrung. dibêciki gustiku walêse ngalani. sawise paring pangandika mangkono. kang tadhah mati nggêlasah. rambutmu tak-cukur rêsik”. ngulama kabeh ngrangkêp jênêng walikan. ngrêbut nagara gawe pêpati. Sunan Ngudhung mapagake banjur mrajaya. yen mapag pêrang kang sawatara bae. nanging kuwandane sirna.Sang Prabu banjur ngandika marang patih. kang ana mung Ratu Mas. dene tan wruh kabêcikan. santri kang ngrêbut nagara. besuk tak-walês. prakara têkane mungsuh. amarga Sang Nata wis sêpuh. tak-ajar wêruh nalar bênêr luput. ngulama jênênge walian.

Gusti Allah kang sipat rahman. Sang Prabu Jambuningrat satêkane ing Ngampel. ênggone sowan mênyang Ngampel iku. Sunan Kudus njaga ana ing kraton dadi sulihe Sang Prabu. wadya-bala kang saparo lan para Sunan padha ndherek Sang Prabu mênyang Ngampelgadhing. sarta kang aweh kamukten ing dunya. Barêng wis têlung dina. ngaturake patine Patih ing Majapahit lan matur yen panjênêngane wis madêg Nata mêngku tanah Jawa. Anane Islam lan kapir sapa kang gawe. banjur dikumpulake karo wong Islam. jarene iku kubure Raden Lêmbupangarsa. njaga kaslamêtan mbokmanawa isih ana pakewuh ing wuri. sarta sing aweh nugraha marang kowe.gêlêm têluk banjur ngungsi mênyang gunung lan alas-alas. isih ngagêm agama kapir kupur. pangandikane: “Êngger! aku arêp takon mênyang kowe. Kowe wani mungsuh Ratu tur wong tuwamu dhewe. ora susah ngango dikon. Gusti Allah ora niksa wong . wis mêsthi salin dhewe ngrasuk agama Islam. mung kari garwane kang isih ana ing Ngampel. Sultan Dêmak budhal mênyang Ngampel. Buddha kawak dhawuk kaya kuwuk. Yen Gusti Allah wis marêngake. Nyai Agêng barêng mirêng ature Prabu Jimbun. mêsthi kêsiku ing Gusti Allah. Têrung uga dijaga ngulama têlung atus. sarta padha diuja sakarêpe. garwane mau asli saking Tuban. iya iku Patih Mangkurat sarta Adipati Têrung. kowe dosa têlung prakara. wusana banjur diwalês ala. Nyai Agêng kanggo têtuwa wong Ngampel. putrane Arya Teja. Wong ganti agama iku ora kêna dipêksa yen durung mêtu saka karêpe dhewe. dene kowe kok wani ngrusak kang tanpa dosa. ora dhawuh lan ora malangi marang wong kang salin agama. wong pancene rak sêmbah nuwun bangêt. Layone para putra santana lan nayaka padha kinumpulake. banjur muwun sarta ngrangkul Sang Prabu. dene kang dipatah tunggu ana ing Majapahit. padha dikon nyêbut asmaning Allah. yen ngelingi kasaeane uwa Prabu Brawijaya. Nyai Agêng banjur ndangu Sang Prabu. para Sunan sarta para Bupati gênti-gênti padha ngaturake sêmbah mênyang Nyai Agêng. Kuburan mau banjur dijênêngake Bratalaya. Prabu Jimbuningrat matur yen mêntas mbêdhah Majapahit. dene kang padha gêlêm têluk. banjur ngabekti Nyai Agung. Wong kang nyungkêmi agamane nganti mati isih nggoceki tekade iku utama. Mulane nagara Majapahit dirusak. kandhaa satêmêne. Kang ngideni para Sunan. banjur njêrit ngrangkul Sang Prabu karo ngandika: “Êngger! kowe wêruha. Nyai Agêng Ngampel sawise mirêng ature Prabu Jimbun. yen Prabu Brawijaya iku jarene ramane têmênan. Kang ngangkat sarirane dadi Ratu mêngku tanah Jawa iku para Bupati pasisir kabeh. Kabeh iki sasênênge dhewe-dhewe. dene jêjuluke: Senapati Jimbun. para ngulama padha diparingi panggonan kang wis anggawa pamêtu minangka dadi pangane. amarga Sang Prabu Brawijaya ora karsa salin agama Islam. Nyai Agêng ing batos karaos-raos. pinêtak ana sakidul-wetan pura. sasedane Sunan Ngampel. sabên bêngi padha salat kajat sarta andêrês Kur’an. seda utawa sugênge ora ana kang wêruh”. Sunan Ngampel wis seda. prêlu nyuwun idi. ngaturake lolose ingkang rama sarta Raden Gugur. têka dirusak kang tanpa prakara. kajaba mung siji Gusti Allah piyambak. têtêpa jumênêng Nata nganti run-tumurun aja ana kang nyêlani. kowe iku dosa têlung prakara. sarta Panêmbahan Palembang. mangkene pangudaraosing panggalih: “Putuku. bapakmu tênan kuwi sapa? Sapa kang ngangkat kowe dadi Ratu tanah Jawa lan sapa kang ngideni kowe? Apa sababe dene kowe syikara kang tanpa dosa?” Sang Prabu banjur matur. mungsuh Ratu tur sudarmane.

kang nandhakake yen kudu wis santun agama Islam. sing putih mung ing jaba. Prabu Jimbun matur yen ora kagungan mujijad apa-apa. mêsthi wêdi mênyang bapa. kok-aturi salin agama? nagarane kok nganti kok-rusak iku kapriye? Prabu Jimbun matur. maratuwane gêthing marang wong Agung amarga seje agama. iku tandha yen isih mêntah kawruhmu. lalar-lulurên asalmu. Eklasing ati bêkti bapa. tur dudu bukuning lêluhur. mêngko rak buwana balik arane. mung manut unine buku. mula Wong Agung iya ngaji-aji marang maratuwane. iku amarga sabên dinane wis ngaturi santun agama. durung wani marang wong tuwa. sanadyan para Nadi dhek jaman kuna. ora bêkti wong kapir. Yen kowe njaluk idi marang aku. amarga kowe Khalifatu’llah sajroning tanah Jawa. yen durung ngaturi salin agama. nanging putihe kuntul. ora ngrêti marang kang bênêr lan kang luput. sing nglakoni rusak ya kowe dhewe. panjênêngane Kanjêng Nabi Dhawud. malah manti-manti aja nganti mungsuh wong tuwa. kowe ora wêdi papacuhe. ananging atur mau ora dipanggalih. Ujar-jare bae kok disungkêmi. kang diarani wong linuwih. eyangmu ora parêng. Lan aku arêp takon. jare yen ngislamake wong kapir iku ing besuk oleh ganjaran swarga. têka kolu marang bapa. dadi ora dielingi kapire. amarga wis wajibe manusa bêkti marang wong tuwane. isih nglêstarekake agamane lawas. mula iya banjur dimungsuh. mangka sabên dinane wis diaturi mujijade. wong Agung Kuparman. ibumu Putri Cêmpa nyêmbah pikkong. mung ngêndêlake ikêt putih. putrane anggege . sarta ora paring ganjaran marang wong Islam kang tumindak ora bênêr. nanging kang dielingi wong tuwane. amarga iku wong tuwane. Nyai Agêng Ngampel gumujêng nanging wêwah dukane. saka kêpenginmu jumênêng Nata. ewadene Wong Agung tansah wêdi. mung kowe dhewe sing tuwa. Iya iku êngger. Banjure pangandikane Nyai Agêng Ngampel: “Putu! kowe tak. nanging ora karsa. iku wajib dibêkteni. sanadyan mungsuh wong tuwa. ing jêro abang. wong ngumbara kok diturut rêmbuge. Kowe ora kêna sêngit mênyang wong kang agama Buddha. têkane Majapahit banjur ngêpung nagara bae.dongengi kupiya patang prakara. duwe maratuwa kapir. Kowe tak-dongengi. ing kitab hikayat wis muni. kasusuhane ora dipikir. awit kowe sing mêsthine paring idi marang aku. Nyai Agêng Ngampel gumujêng karo ngandika: “Tindakmu iku saya luput bangêt. iku dudu padon. bapa disiya-siya. maratuwane tansah golek sraya bisane mantune mati. beda matane wong Jawa. dupeh kapir Budha ora gêlêm ganti agama. mujijadmu apa? Yen nyata Khalifatu’llah wênang nyalini agama lah coba wêtokna mujijadmu tak-tontone”. saucapmu idu gêni. carita tanah Mêsir. yen kowe têtêp tuwa Ratu”. Kowe kuwi dudu santri ahli budi. iku agamane Islam. jarene anake Sang Prabu. lair batine ora luput.kapir kang ora luput. wêwalêre kok-trajang. apa kowe wis matur marang wong tuwamu. Lamun mangkono tumindake. ora kaya tekadmu. kêduga ngrusak ora nganggo prakara. nalika eyangmu isih sugêng. aku ora wênang ngideni. dadi wêruh ing bênêr lan luput. wêruh kang bêcik lan kang ala. saiki eyangmu wis seda. ênggone padha wani mungsuh wong tuwane. kowe tau matur yen arêp ngrusak Majapahit. yen aku tuwa tiwas.asih lang ngaji-aji. Jawa Jawi ngrêti matane mung siji. kapindhone Ratu lan kang aweh nugraha. tandha mripatmu iku lapisan. mung bênêr karo lupute sing diadili nganggo têtêping adil. Barêng wong kang kaya kowe. prakara têtêpmu dadi Ratu tanah Jawa. mula blero pandêlêngmu. wujud dluwang utawa rêja watu. aku bangsa cilik tur wong wadon.

aja dipêksa. iku kowe mrêtobata marang Kang Maha Kuwasa. kaping têlune ngrusak kabêcikan apa dene ngrusak prajane tanpa prakara. Nyai Agêng Ngampel isih nêrusake pangandikane: “Kowe kuwi dilêbokake ing loropan dening para ngulama lan para Bupati. ora antara suwe banjur mati. Sang Nata banjur matur marang Sunan Benang yen Majapahit wis kêlakon bêdhah. para wadya padha sênêng-sênêng lan suka-suka nutug. Putrane nunggang jaran mlayu mênyang alas. kang mangkono iku kukume Allah”. nanging banjur disotake dening ingkang rama banjur dadi buta. sowan ingkang eyang Nyai Agêng Ngampel. nanging sawise. ana Brahmana saka tanah sabrang angajawa. Sang Prabu Jimbun mirêng pangandikane ingkang eyang. Sunan Benang mirêngake ature Sang Prabu Jimbun. Sang Prabu matur. anggêlarake panguwasa sulap ana ing tanah Jawa. lan aturana mampir ing Ngampelgadhing. sabên dina mangsa jalma. ora suwe antarane. sarta ngaturake yen ingkang rama lan Raden Gugur lolos. Adipati Pranaraga lan Adipati Pêngging masa trimaa rusaking Majapahit. banjur didhawuhi ngupaya ingkang rama. mêsthi mandi. Sang Prabu Jimbun sarawuhe ing Dêmak. padha angucap sukur lan bungah bangêt dene Sang Prabu wis kondur sarta bisa mênang pêrange. banjur didhawuhi kondur mênyang Dêmak. para santri padha trêbangan lan dhêdhikiran. apa sapangandikane Nyai Agêng Ngampel diaturake kabeh marang Sunan Benang. iya iku kang diarani kukuming Allah. wadya Majapahit sing wis têluk banjur padha dikon Islam. yen wis kêtêmu diaturana kondur mênyang Majapahit. ambyur ing sagara. putrane banjur sumilih jumênêng Nata. sarta didhawuhi nglari lolose ingkang rama. kapindho murtat ing Ratu. gêthing marang Dewatacêngkar. Dewatacêngkar dipêrangi nganti kêplayu. nanging wis ora kêna dibalekake. Sang Prabu Danaraja wani karo ingkang rama. patimu iya mlêbu mênyang yomani. Apa maneh kaya kowe. mung kowe kok gêlêm nglakoni. jarane ambandhang kêcanthol-canthol kayu. kukume iya isih tumindak kaya kang tak-caritakake mau. nanging ana ing Ngampel malah didukani sarta diuman-uman. tur kelangan bapa. iku bae wis abot sanggane”. nganthi pothol gumantung ana ing kayu. sing nglakoni cilaka rak iya mung kowe dhewe. kowe mêsthi cilaka. sapisan mungsuh bapa. amarga yen nganti duka mangka banjur nyupatani. Ana maneh caritane nagara Lokapala uga mangkono. gumujêng karo manthuk-manthuk. ênggone ora ngrêti marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya. Nabi Dhawud nganti kengsêr saka nagara. . layang-layang Buddha iya wis diobongi kabeh. Nyai Agêng akeh-akeh pangandikane marang Prabu Jimbun. Ana maneh caritane Sang Prabu Dewata-cêngkar. Sawise Sang Prabu dipangandikani. bisa mênang pêrang nanging mungsuh bapa Aji. nanging yen ora kêrsa. mêsthine labuh marang bapa. aran Aji Saka. Patih Majapahit mati ana samadyaning papêrangan. salawase urip jênêngmu ala. sarta ngandika yen wis cocog karo panawange.kapraboning rama. yen kondure uga mampir ing Ngampeldênta. Wong Jawa akeh kang padha asih marang Aji Saka. kabeh padha nêmu sangsara. Sunan Benang mêthukake kondure Sang Prabu Jimbun. ora lawas Nabi Dhawud sagêd wangsul ngrêbut nagarane. mungsuh bapa kang tanpa prakara. sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata. Putri Cêmpa wis diaturi ngungsi mênyang Benang. Ajisaka diangkat dadi Raja. kiraku ora bakal oleh pangapura. dadi bajul. iku iya anggege kapraboning rama. ngaturake yen mêntas saka Majapahit. panggalihe rumasa kêduwung bangêt.

yen ingkang rama mêksa kondur mênyang Majapahit. Sunan Benang banjur ngandika. Sunan Benang paring dhawuh marang Sang Prabu. lan padha mikir kahaning lêlakon kang mêntas dilakoni. dene ngantos kamipurun ngrêbat kaprabon paduka Nata. Sunan Benang sarta Prabu Jimbun wis nayogyani panêmune Sunan Giri kang mangkono mau. dene darbe bapa Ratu Agung ingkang anyêngkakakên saking ngandhap aparing darajat Adipati ing Dêmak. abdi loro mau tansah gêguyon. mêsthine bakal oleh sabda kang ora bêcik. kapanggiha wontên ing pundi-pundi. supaya dijumênêngake ana seje nagara ing sajabaning tanah Jawa. dene ora ngelingi marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya. sing kalangkungan tindake Sang Prabu Brawijaya. punika putra paduka rumaos yen mêsthi manggih dêdukaning Pangeran. saka ênggone ngupaya warta. botên sumêrêp tata krami. amarga panimbange wanita iku mêsthi kurang sampurna. mung didherekake sakabat loro lakune kêlunta-lunta. yen Prabu Jimbun mituhu dhawuhe Nyai Ngampeldênta. iya iku Nayagenggong lan Sabdapalon. Lampahe Sang Prabu Brawijaya wis têkan ing Blambangan. amarga mêsthi bakal ngribêdi lakune wong kang padha arêp salin agama Islam. têtêpa kados ingkang wau-wau. tangeh malêsa ing sih paduka Nata. kapanggiha wontên ing pundi-pundi ingaturan kondur rawuh ing Majapahit. Sang Prabu Brawijaya sarta putrane bêcik ditênung bae. Sang Prabu didhawuhi sowan nyuwun pangapura kabeh kaluputane. Lampahe Sunan Kalijaga turut pasisir wetan. bilih panjênêngan paduka linggar saking praja botên kantênan dunungipun. Sunan Benang arêp kondur mênyang ‘Arab. Samangke putra paduka rumaos ing kalêpatanipun. yen ora nglakoni dhawuhe Nyai Ngampel. sêmbah sungkêmipun konjuka ing pada paduka Aji. dene sing marak ana ngarsane mung kêkasih loro. banjur ngabêkti sumungkêm padane Sang Prabu. yen dhawuhe Nyai Agêng Ngampel ora pêrlu dipanggalih. Sunan Giri banjur nyambungi pangandika. sangêt kapenginipun mêngku praja angreh wadyabala. dene yen arêp ngaturi jumênêng Nata maneh. ing mangke putra paduka emut. aja ana ing tanah Jawa. sarehne wis kraos sayah banjur kendêl ana sapinggiring beji. . ênggone ora karsa salin agama Islam. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt. sabên desa diampiri. Sang Prabu banjur ndangu marang Sunan Kalijaga: “Sahid! kowe têka ana apa? Apa prêlune nututi aku?” Sunan Kalijaga matur: “Sowan kula punika kautus putra paduka. mungguh prayoganing laku supaya ora ngrusakake bala. sineba ing para bupati. Mila kawula dinuta madosi panjênêngan paduka. awit yen mateni wong kapir ora ana dosane. aweta dados jêjimat pinundhi-pundhi para putra wayah buyut miwah para santana. rumaos lupute. madosi panjênêngan paduka. wusana Prabu Jimbun banjur matur marang Sunan Benang. awit saking kalimputing manah mudha punggung. Gênti kang cinarita. mêngku wadya sineba para punggawa. luwih bêcik ênggone ngrusak Majapahit dibanjurake. ora antara suwe kêsaru sowanne Sunan Kalijaga.Sunan Benang sawise mirêngake ature Sang Nata ing batos iya kêduwung. Nanging rasa kang mangkono mau banjur dislamur ing pangandika. tindake Sunan kalijaga ênggone ngupaya Sang Prabu Brawijaya. mula iya wêdi. samudanane nyalahake Sang Prabu Brawijaya lan Patih. nuwun pangaksama sadaya kasisipanipun.

mawas ing ngarêp nanging jêbul anjênggung ing buri. karana ingsun wis kapok rêmbugan karo santri padha nganggo mata pitu. kaping têlune kang mbêciki. wangsul karsa paduka karsa tindak dhatêng pundi?” Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Saiki karsaningsun arsa tindak mênyang Bali. ingsun njaluk biyantu prajurit Cina. walêse kaya kênyung buntut. yen putrane wis patutan karo ingsun mêtu lanang siji. kulit kisut gêgêr wungkuk. wani mungsuh bapa ratu. amarga katindhihan luput. samêkta sakapraboning pêrang. ora wurung bakal ana pêrang gêdhe tur wadya ing Dêmak masa mênanga. samêkta sakapraboning pêrang. Yen wis samêkta sawadya prajurit. yen anake karo pisan satêkane tanah Jawa sun-angkat dadi Bupati. Lamun iki ngantiya nyabrang marang Bali. kajawi namung pangapuntên paduka. mukul pêrang tanpa panantang. mugi dadosa jimat paripih. sarta padha eling marang lêlabêtan kabêcikaningsun. batine angandhut pasir kinapyukake ing mata. murih picêka mataku siji. ora nyawang wujuding dhiri. lan ingsun arsa angsung wikan marang Hongte ing Cina. nanging ora wêruh ing dalan. iya sanadyan pêrang gêdhe gêgêmpuran amungsuh anak. lan duwe wêlas marang wong wungkuk kaki-kaki. banjur wani mungsuh bapa Ratu. ature: “Inggih saduka-duka paduka ingkang dhumawa dhatêng putra wayah. sikara wong tuwa kang tanpa dosa. Sahid! nanging ora ingsun-gatekake. namung nyuwun pangaksama paduka. yen kaparêng saking karsa paduka. kêtêmu karo yayi Prabu Dewa agung ing Kêlungkung. kacancang pucuking rema. sabab murtat wani ing bapa kapindhone Ratu. ananging ora wêruh ing dalan. Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Ingsun-rungu aturira. putra paduka nyaosi busana lan dhahar paduka. awit ingsun ora ngawiti ala. ing rêdi ingkang karsakakên badhe dipundhêpoki. apa ta salah-ingsun. Sarehning sampun kalêpatan. dipunsuwun ingkang rila têrusing panggalih”. putra paduka nyaosakên pêjah gêsang. aninggal carane wong agung. lan Adipati Palembang sun-wehi wêruh. Dene yen panjênêngan paduka botên karsa ngasta kaprabon Nata. sun-jaluk lilane anake arêp ingsun pateni. sinaosan kadhaton wontên ing rêdi. nanging nyuwun pusaka Karaton ing tanah Jawa. têtêpa kados ingkang sampun. mula banjur ngrêrêpa. arsa ingsun-wartani pratingkahe si Patah. têka rinusak tanpa prakara. dadi dudu tataning manusa kang utama”. yêkti padha têka ing Bali sagêgamaning pêrang. ing pundi sasênênging panggalih paduka. ing batin bangêt panalangsane. lan arsa ingsun-kon nimbali para Raja kanan kering tanah jawa. sun-jak marang tanah Jawa angrêbut kapraboningsun. wis mêsthi bae wong . ngandika sajroning ati: “Tan cidra karo dhawuhe Nyai Agêng Ngampelgadhing. yen putune arsa ingsun-pateni. njujuga nagari Bali. ingsun ora isin. kapêtêk wontên ing êmbun. rêmbuge mung manis ana ing lambe. mungsuh ratu pindho bapa.” Sunan Kalijaga ngrungu dhawuhe Sang Prabu kang mangkono iku ing sanalika mung dhêlêg-dhêlêg. iku apa nganggo tataning babi. punapa malih ingkang sinuwun malih. dene kadudon kang wis kêbanjur. iya ingsun-jaluk lilane.kinurmatan sinuwunan idi wilujêngipun wontên ing bumi. Manawi paduka kondur. padha mata lapisan kabeh. tinggal tata adat caraning manusa. rahayunipun para putra wayah sadaya. lan nyuwun pangkatipun lami dados Adipati ing Dêmak. sadayaning kalêpatanipun. putra paduka pasrah kaprabon paduka Nata. yen eyang wungkuk isih mbrêgagah nggagahi nagara. mula blero pandulune. Sunan Kalijaga barêng ngrungu pangandikane Sang Prabu rumasa ing kaluputane ênggone melu mbêdhah karaton Majapahit. mandar amêwahana cahya nurbuwat ingkang wêning. Sakawit ingsun bêciki.

yen ora ngrêti banjur diguyang ana ing blumbang dikosoki alang-alang garing. angantêp tangkêping jurit. . sêrêt pangandikane: “Sahid! linggiha dhisik. yen Sang Prabu ora karsa nglampahi kaya ature Sunan Kalijaga. benjing kula ingkang tanggêl. pamintane marang para titah ing wuri.” Wusana Sunan Kalijaga matur alon: “Dhuh pukulun Jêng Sang Prabu! saupami paduka lajêngna rawuh ing bali. wis warêg jumênêng Ratu. luwih karsaning Jawata Gung. mung siji marang bênêr paningalku. ingsun wis kakikaki. dene bab agami namung kasarah sakarsa paduka. nêtêpi mripat siji. gêthinge ora bisa mari. mêsthi asor wong Islam tumpês ing pêpêrangan. kang miturut adat pranatane para lêluhur. sanadyan salat dhingklak-dhingkluk manawi dereng mangrêtos sahadat punika inggih têtêp nama kapir”. saupami kados dene sêgawon rêbatan bathang. nyêkrukuk. lajêng nyêbut asmaning Allah. ingsun iki Ratu Binathara. iya sun-paringake krana bêcik.Jawa kang durung Islam yêkti asih marang Ratu tuwa. Saupama si Patah ngrasa duwe bapa ingsun. aku kok durung ngrêti. disuwun krananing bêcik. sampun tamtu putra paduka ingkang badhe nêmahi kasoran. nimbali para Raja.” Sunan Kalijaga barêng mirêng pangandikane Sang Prabu. ora nganggo mata loro. sarta banjur nyaosake cundrike karo matur. bênêr lan lupute. tak-timbange aturmu. amarga lingsêm manawa mêruhi lêlakon kang saru. saestu badhe pêrang gêgêmpuran. Sahid! saiba susahing atiku. Sunan Kalijaga gumujêng karo matur: “Mokal manawi makatên. wong wis tuwa. amarga duwe bapa Buddha kawak kapir kupur. liya dina lali. Sunan Kalijaga nyuwun supaya dipateni bae. ingkang kêrah tulus kêrah têtumpêsan sami pêjah sadaya daging lan manah kathêda ing sêgawon sanesipun”. kaprabon Jawi kaliya ing sanes darah paduka Nata. esuk sore diprêdi sêmbahyang. kok dikum ing banyu”. rumasa ora kaconggah ngaturi. coba ucapna tak-rungokne”. si Patah seba mênyang aku. nrima dadi pandhita. amarga aku kuwatir yen aturmu iku goroh kabeh. tak-pikire sing bêcik. panggalihe kanggêg. Sang prabu Brawijaya ngandika: “Mungguh kang mangkono iki luwih-luwih karsane Dewa Kang Linuwih. botênbotênipun manawi putra paduka badhe siya-siya dhatêng panjênêngan paduka.” Sang Prabu mbanjurake pangandikane marang Sunan Kalijaga: “Mara pikirên. kêpengin dadi Ratu. dikon tunggu lawang pungkuran. pitêkur ana ing gunung. Sumurupa Sahid! saupama aku kondur marang Majapahit. Sang Prabu nguningani patrape Sunan kalijaga kang mangkono mau. Sang Prabu ngandika: “Sahadat iku kaya apa. Balik samêngko si Patah siya mring sun. tiyang namung bab agami. têmên lan gorohe. panjênêngan paduka jumênêng Nata botên lami lajêng surud. pikêkahipun tiyang Islam punika sahadat. punapa botên ngeman risakipun nagari Jawi. mula nganti suwe ora ngandika tansah têbah jaja karo nênggak waspa. manawi botên karsa punika botên dados punapa. mêsthine-ingsun iya ora lila ing tanah Jawa diratoni. namung langkung utami manawi panjênêngan paduka karsa gantos sarak rasul. mula banjur nyungkêmi pada. aku banjur dicêkêl dibiri. karaton ing tanah Jawa.

Sang Prabu sawise paras banjur ngandika marang Sabdapalon lan Nayagenggong: “Kowe karo pisan taktuturi. ngrasuk agama Islam. mulane Sunan Kalijaga banjur matur. kula manawi tilêm ngantos 200 taun. run-tumurun ngantos dumugi sapriki. iya iku rêrupan kahanan ing dunya ditambahi warna têlu: 1: aran sukêt Jawan. Sunan kalijaga ature akeh-akeh. dumugi sapriki umur-kula sampun 2000 langkung 3 taun. lan anêkseni. dene têgêsipun Nabi Mukhammad Rasula’llah: Mukhammad punika makam kuburan. rasa lan têdhi dados nyêbut Mukhammad rasulu’llah. sami nêdha bangsanipun piyambak. ingkang nakal sami nêdha jalma. wijile rasaning urip. amung Allah. remane ora têdhas digunting. punika nêmbah brahala namanipun. mêdal saking badan kang mênga. lu’llah. lan malih sintên tiyang ingkang nêmbah puji ingkang sipat wujud warni. botên mangrêtos purwaning dumados”. mila tiyang punika prêlu mangrêtos dhatêng lair lan batosipun.Sunan kalijaga banjur ngucapake sahadat: ashadu ala ilaha ila’llah. kaping kalih wêruh ing têdhi. punika têtêp kapiripun. kowe sakarone tak-ajak salin agama Rasul tinggal agama Buddha”. botên sumêrêp rukun Islam. Tiyang ngucap punika kêdah sumêrêp dhatêng ingkang dipunucapakên. banjur nyêbut asmaning Allah Kang Sajati. Sang Prabu banjur ngandika yen wis lair batos. ora ana Pangeran kang sajati. Rasul rasa kang nusuli. Sakutrêm lan Bambang Sakri. raganipun manusa punika wêwayanganing Dzating Pangeran. wiwit dina iki aku ninggal agama Buddha. dados momongan kula. Sang Wiku Manumanasa. 2: pari Randanunut. . lantaran ashadualla. Ature Sunan Kalijaga marang Sang Prabu: “Tiyang nêmbah dhatêng arah kemawon. Saka karsaku. Jawi têgêsipun ngrêti. nganti Prabu Brawijaya karsa santun agama Islam. pamrihipun damêl kapiran muksa paduka mbenjing. Kangjêng Nabi Mukhammad iku utusane Allah”. ênggone karsa mlêbêt agama Rasul. nêtêpi wiwit sapisan ngestokakên agami Buddha. sadangunipun kula tilêm tamtu wontên pêpêrangan sadherek mêngsah sami sadherek. têka narimah nama Jawan. amarga yen mung lair bae. Sintên ingkang jumênêng Nata. Sawêg paduka ingkang karsa nilar pikukuh luhur Jawi. dados badanipun tiyang punika kuburipun rasa sakalir. kula momong pikukuh lajêr Jawi. Rasule minggah swarga. rohipun Mukhammad Rasul. kang dhingin wêruh badan. Dene raganipun manusa punika asalipun saking roh idlafi. mulane kêna diparasi. luluh dados êndhut. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin. momong lajêr Jawi. manawi botên mêngrêtos têgêsipun sahadat.” Sabdane Wiku tama sinauran gêtêr-patêr. kasêbut Rasulu’llah punika rasa ala ganda salah. botên muji Mukhammad ing ‘Arab. Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. Sang Prabu diaturi Islam lair batos. wujud makam kubur rasa. sawise banjur mundhut paras marang Sunan Kalijaga nanging remane ora têdhas digunting. muji badanipun piyambak. botên wontên ingkang ewah agamanipun. rêmên manut nunut-nunut. riningkês dados satunggal Mukhammad Rasula’llah. Sang Prabu Brawijaya sinêmonan dening Jawata. wa ashadu anna MukhammadarRasulu’llah. botên sumêrêp wujud têgêsipun. têgêsipun Rasul rasa. mila sêmbahyang mungêl “uzali” punika têgêsipun nyumêrêpi asalipun. têgêsipun: Ingsung anêkseni. wajibipun manusa mangeran rasa. lan 3: pari Mriyi. rasa pangan manjing lesan.

wujudipun piyambak. puluh punika pulih. roh idlafi têgêsipun lapisan. manawi sampun risak wangsul dhatêng asalipun malih. dene ingkang mastani mulya punika rak tiyang ‘Arab sarta tiyang Islam sadaya.Sang Prabu andangu maneh: “Kapriye kang padha dadi kêkêncênganmu. dados sipatipun tiyang lan raos. nyêbut Dewa Ingkang Linangkung. Sabdapalon matur maneh: “Inggih punika kawruhipun tiyang bingung gêsangipun rugi. kubure rasa kang salah. sampun ebah saking prênahipun mlêbêt mbêkta sir cipta lami”. manawi dipunpundhut dening Ingkang Maha Kuwasa. Cobi paduka-jawab atur-kula punika”. têlu punika tilas. anggenipun ngalêm badanipun piyambak. nêtêpana namane tiyang lumampah. dados botên ngapirani. gantos roh idlafi lapisan: sasi surup mêsthi saking pundi asalipun wiwit dados jalmi. lan nyêbut asmaning Allah Kang Sajati?” Sabdapalon ature sêndhu: “Paduka mlêbêt piyambak. sampun dados wajibipun manusa punika manut dhatêng eling budi karêpan. makaman kuburing rasa. nanging tangining raos wujud badan. risak-risakipun piyambak. dadosipun saking gaib samar. namung mangeran rasa wadhag wadhahing êndhut. namung kantun rumaos lan pangraos ingkang paduka-bêkta dhatêng pundi kemawon. Ingkang makatên punika amargi namung saking kirang budi kawruhipun. Adam punika muntêl kaliyan Hyang Brahim. namung prêlu nênggani daging bacin ingkang sampun luluh dados siti. nêdha siti ngajêng-ajêng tiyang ngirim sajen tuwin slamêtanipun. têgêse Mukhammad niku makaman kubur. manawi tekadipun sae inggih nampeni kamulyan. namung tansah nêdha eca. bapa biyung botên damêl. Manawi dipunpundhut ingkang Mahakuwasa. mila nami Mukhammad inggih makaman kuburan sakalir. têgêsipun kêbrahen nalika gêsangipun. ngapêsakên badanipun piyambak. Siya punika têgêsipun ngukum. asal siji mantuk satunggal. ing têmbe tilar mujijat rakhmat nyukani kiyamat dhatêng anak putunipun ingkang kantun. Uripipun langgêng namung raga pisah kaliyan sukma. Jagad punika raganipun Dewa ingkang asipat budi lan hawa. manawi dados dhêmit ingkang têngga siti. Sang Prabu ngandika: “Mulih marang asale. nanging ingkang risak namung ingkang asal saking roh idlafi. Têgêsipun satus punika putus. kula botên têgêl ningali watak siya. mastani botên urus. kados tiyang ‘Arab. kala gêsangipun dereng nêdha woh wit kawruh lan woh wit budi. nrimah pêjah dados setan. dene pêjah ingkang utami punika sewu satus têlung puluh. ngalêm saening tangga. dipunwastani Mukhammadun. saestu damêl kapiran kamuksan-kula. saking karsaning Latawalhujwa. asal Nur bali marang Nur”. apa gêlêm apa ora ninggal agama Buddha. Manawi kula. wujud malih. . kula rêmên agami lami. nyêbut Nabi Mukhammad Rasula’llah panutaning para Nabi. ingkang nglimputi wujud. punika dadosipun piyambak. Surup têgêsipun: sumurup purwa madya wasananipun. sarira paduka sipate tiyang wujud dados. wontênipun wujud piyambak. dereng nêdha woh kawruh lan budi. inggih punika sahadat ingkang botên mawi ashadu. manawi nyêbut Nabi Mukhammad Rasulu’llah. manawi kula santun agami. makatên wau têtêp botên wontên prêlunipun. Wangsul Prabu Brawijaya lajêng manggen wontên pundi. salin agama Rasul. Tiyang pêjah botên kêbawah pranataning Ratu ing lair. punika sanes pêjah ingkang utami. nanging manawi tekadipun awon inggih nampeni siksanipun. botên manggih raos ingkang saestu. mila dipunwastani anak. wujudipun risak. botên gadhah kawruh kaengêtan. jasanipun budi. sampun mêsthi sukma pisah kaliyan budi. ing benjing. makatên punika ingkang nistha. botên ngengêti bilahinipun ing wingking. tur siya dhatêng raga. lantaranipun ngabên awon.

Srêng têgêsipun padamêlan ingkang awrat sangêt. dipunpaksa nyambut damêl awrat tur botên tampa arta. rêmênipun namung nempel. mênyang suwung. lajêng nempel dhatêng sanesipun malih”. sampun ngantos kula mantuk dhatêng kamlaratan sarta minggah dhatêng akhirat adil nagari. sakulawargane mung nadhah bêras sapithi. botên mangrêtos santun roh hidlafi enggal. Sabdapalon: “Paduka nilar sipat. sampun pêpak: akhirat. nanging botên tilar jisim. makatên punika namung sagêd lêma sugih daging. sambêl. Sabdapalon matur: “Punika tiyang kêsasar. naraka ‘arasy kursi. dados nama sampun narimah ngombe uyuh kemawon. Inggih punika tiyang bodho mangrêtosa. Dados têgêsipun jalma pinêksa nyambut damêl dhatêng Ratu Nusa Srênggi namanipun. Ênggi têgêsipun gawe. manawi sampun narimah dados sela. tiyang gêsang wontên ing dunya kados makatên wau. jangan punika akhirat ingkang katingal tata lair. botên kuwawi ngringkês nguntal raganipun. Sabdapalon: “Punika pêjahipun tiyang kalap nglawong. nilar wajibing manusa. botên sagêd dados roh idlafi enggal. Sang Prabu: “Aku nunggoni makaman kubur.Sang Prabu ngandika: “Ciptaku nempel wong kang luwih”. kados dene kêmladeyan tumemplek wit-witan agêng. botên gêsang. sampun botên prêlu pados ‘ilmi kamulyaning seda”. nalika aku durung maujud iya durung ana apa-apa. manawi akhiratipun . nalika tapêl Adam. Sabdapalon matur: “Akhirat. jagadipun manusa punika sampun mêngku ‘alam sahir kabir. nalika gêsangipun kados kewan. tanpa ulam. namanipun botên sahadat. lêma kakathahên daging. Sabdapalon gumuyu: “Yen tiyang agami Rasul têrang botên sagêd muksa. yen wis luluh dadi lêbu”. dadi patiku iya mangkono”. punapa botên cilaka. nusa têgêsipun manusa. botên iman ‘ilmi. Klêbêt akhirat nusa Srênggi. namung nêdha ngombe lan tilêm. daging ingkang sampun luluh dados siti. manawi lêpat jawabipun tamtu dipunukum. botên ngrumaosi yen tinitah linangkung. Pangandikane Sang Prabu: “Aku ora duwe cipta apa-apa. ora ikhtiar nampik milih. swarga. swarga. pêjahipun tiyang nistha. Nun!” Sang Prabu ngandika: “Aku arêp muksa saragaku”. dipunbanda. Tiyang pêjah muksa punika cêlaka. sakarsane Kang Maha Kuwasa”. botên bawa piyambak. munggah swarga seba Kang maha Kuwasa”. Sang Prabu: “Ciptaku arêp mulih mênyang akhirat. manawi dipuntundhung. mangka ênggene akhirat punika têgêse mlarat. sampun paduka-bêkta ngaler ngidul. kamuktenipun namung nêmpil. botên pêjah. Sabdapalon: “Inggih punika pêjahipun tiyang cubluk. manawi kenging kula-singkiri. saênggen. ical gêsangipun salêbêtipun pêjah”.ênggen wontên akhirat. Punika botên pêjah utami. nênggani daging wontên kuburan. dados setan kuburan. nunut-nunut. amargi nami pêjah. namung dados gunungan dhêmit”. manusa dipunwênangakên nampik milih. botên bawa piyambak. mangke manawi kêsasar lo. Sang Prabu ngandika maneh: “Asal suwung aku bali. dados brêkasakan. lajêng klambrangan. Paduka badhe tindak dhatêng akhirat pundi.

manawi panggenanipun sampun sêpuh. rumêksa gêsangipun elingipun panjanmaning surya. plêsatipun wêtaha. ingkang ewah punika makaming raos. sowan Hyang Latawalhujwa. sênteg sapisan tênunan sampun nigasi. nanging langgêng manggen wontên satêngahipun jagadipun. kentir sagara rahmat lajêng lumêbêt ing guwa indra-kilaning estri. punika kawruhipun tiyang Jawi ingkang agami Buddha. botên sagêd ewah gingsir. manawi raganipun sampun sêpuh.pundi botên ewah. Prabu Brawijaya botên anem botên sêpuh. dene suksmanipun inggih punika tiyang ingkang wontên ing baita wau. tibaning nikmat ing dhasaring bumi rahmat. sarêng tanggalipun kaliyan sadherekipun kakang mbarêp adhi ragil. kapanggihe cahya murub dados satunggal. ngGêgawa nêdha raga. jagading tiyang punika guwa sir cipta namanipun. Têgêsipun pur: jumbuh. lairipun saking tiyang sêpuhipun estri. etangan gunggunge: kumpul. Gawanên gêgawanmu. ingkang dipunwastani pêjah gêsang. baita pêcah. ana wujud. dados wontên têngahing jagad swarganing tiyang sêpuh estri. nglangkungi ingkang sampun sêpuh. paduka sampun ngantos sowan Gusti Allah. sampun ngantos minggah dhatêng swarga. sarwa wontên. mêngku alam sahir kabir. ingkang pêjah namung raganipun. têbihipun botên mawi wangênan. sanes bangsanipun malaekat. Kangjêng Nabi Musa toh botên kuwawi mandêng dhatêng Gusti Allah. paduka wiji rohani. dadosipun saking sabda kun. lumampah botên ebah saking panggenanipun. namung Dzatipun ingkang nglimputi sadaya wujud. têgêsipun lor : laire jabang bayi. botên salah dipunpragat. kawruhipun tiyang Buddha. jujugipun ingkang cêtha cêthik cêthak. Raga punika dipunibaratakên baita. têgêsipun kidul : estri didudul wêtênge ing têngah. têpangipun amung têpang kados cahyanipun lintang lan rêmbulan. Lêbêtipun roh saking cêthak marginipun. nglimputi wontên ing dunya tuwin ing akhirat. nutfah sampun ngantos ebah saking jagadipun. surup lan tanggalipun sampun samar : kala rumiyin. sampun dipunsêrat wontên lokhil-makful. kendêl malih wontên cêthik. dipunbêkta dhatêng pundi. raga wadhag ingkang asal roh idlafi. botên ngraosakên kanikmatan. jumbuh punika têgêsipun pêpak. ingkang gêsang napasipun taksih lumampah. Wiwitanipun keblat sakawan. inggih punika wetan kilen kidul ler : têgêsipun wetan : wiwitan manusa maujud. botên ewah botên gingsir. wontên ing ngriku ki budi jasa kadhaton baitu’llah ingkang mulya. lênggah rupa cahya. Ningali jantung kêtêg kiwa: surut marga sire cipta. tanggalipun manusa. siyang dalu sampun sumêlang dhatêng sadaya rêrupen. paduka dereng têpang. ingkang têtêp langgêng. kontêning eling sadayanipun. manawi baitanipun lumampah mangka salah pandomipun. botên pisah botên kumpul. ingkang nêdahakên pandomipun. botên ewah gingsir. adhi punika ari-ari. manusa raganipun asal saking nutfah. mila jalma keblatipun wontên têngahing jagad. ma. jagadipun manusa punika langgêng. mêdal wontên kalamwadi. suksmanipun mêdal nyuwun gantos ingkang sae. wontên salêbêting guwa sir cipta kang êning. punapa malih paduka. ingkang ical utawi kirang ikhtiaripun inggih badhe ical utawi kirang bêgjanipun. gêsangipun nyambut damêl kanthi paksan. sapunika lan benjing. têgêsipun kulon : bapa kêlonan. tamtu manggih cilaka. wujudipun amung asma. bêgja cilakanipun gumantung wontên ing budi nalar lan kawruhipun. paduka sampun ngantos kondur dhatêng akhirat. na. dados botên wongsal-wangsul. tanggal sapisan kapurnaman. ingkang engêt sadayanipun. Punika pungkasanipun kawruh. pramila tumrap tiyang agami Buddha. kathah rajakaya ingkang wontên ing ngriku. umuripun sampun dipunpasthekakên. sadherek ingkang sarêng tanggal gaibipun. cêlak botên panggihan. Tulis ical. amargi Gusti Allah punika botên kantha botên warna.tiyang pêjah malah langkung saking punika. . têgêsipun urip. kula botên kuwawi cêlak. nyuwun ingkang enggal. kakang mbarêp punika kawah. madhêp dhatêng wujud. mila Allah botên katingal. mindhak kêsasar. sadaya sami trima tilêm kêmul siti.

muji dhatêng Gusti. gantos makam enggal. lajêng tangi malih. ngengêtana dhatêng asaling kawula. yen angsal woh kawruh kathah. Têngên têgêsipun têngênên ingkang têrang. dados saking sabda kun. Pramila kêdah ingkang mapan. dados kantun sasêdya-kula kemawon. manawi botên mapan gêsangipun. paduka têtêp kapir. nanging sagêd manjalma dados tiyang (kajêngipun. sarta murtat dhatêng lêluhur Jawi sadaya. Raganing manusa punika namanipun baitu’llah. dene manawi sagêd sagêd maos sastra ingkang wontên ing raga wau. lalarên gêgêrmu sing nggligir. sato wana tuwin lêlêmbut dipuncipta dados manusa. nyuwun baitu’llah ingkang enggal. Jiling punika puji eling marang Gusti. Manawi kula. kapiran seda paduka. Mata têgêsipun tingalana batin siji. praunipun sampun rêmuk. napas tali. Ula-ula: ulatana. manawi paduka maibên. manawi paduka botên sagêd maos sastra ingkang wontên ing badanipun manusa. lali eling urip mati. bêcik lawan ala. têgêsipun incêngên aneng cêngêlmu. yen tunggal. sing bênêr keblatira. ingkang dipunwastani jithok têgêsipun namung puji thok. manawi kula kêpengin badhe wujud. inggih nglêbêt inggih jawi. ngungkulana ingkang lami. untungipun sugih daging. inggih punika . ngadam utawi wujud sagêd sami sanalika. saseda paduka manjalma dhatêng kuwuk. Nalika panjênênganipun Bathara Wisnu jumênêng Nata wontên ing Mêndhang Kasapta. dados dhêmit têngga siti. mrêtitis ingkang botên-botên. sah têgêsipun pisah. Nalika eyang paduka Prabu Palasara iyasa kadhaton wontên ing Gajahoya. Dewa ingkang damêl cahya murub nyrambahi badan. wadhag alus-kula sampun kula-cakup lan kula-carub. botên wênang ngêkahi pêjah. kenging kangge sangu gêsang. Punuk têgêsipun panakna. gêsang langgêng ingkang botên sagêd pêjah. ingkang dipunwastani Sastrajendrayuningrat. kawula ugi wajib utawi wênang matur dhatêng Gusti. manawi sampun pisah raga suksma. pisahipun kawula kaliyan Gusti. pêjah malih sagêda mapan. botên damêl botên tumbas. sanadyan suksmanipun tiyang. alamipun jalma sambungan. kabêsaran. nempel tosan. Kanjêng Nabi Musa kala rumiyin tiyang ingkang pêjah wontên ing kubur. Sungsum têgêsipun sungsungên. punika kêdah ingkang waspada. lampahipun saking ênem urut sêpuh. botên pitados dhatêng sêratipun Gusti. manawi baitanipun bibrah. saking tiyang inggih dados tiyang. inggih pisah kaliyan tiyangipun. manawi baitanipun tiyang Jawi sagêd mapan santun baitu’llah malih ingkang sae. sato wana tuwin lêlêmbut inggih dipuncipta dados tiyang. Timbangan têgêsipun salang. kajêng sela. dat punika Dzating Gusti. inggih prau gaweyaning Allah. Sêrat tapak Hyang. adiling Kawasa tiyang punika pinasthi ngundhuh wohing panggawene piyambak-piyambak). ing dunya kêbak manusa. Manawi paduka maibên. gandanipun kadosdene nalika taksih dados sato kewan. urip wontên ing ‘alam dunya pados kawruh kaliyan woh kuldi. tanggalipun botên surup salaminipun. Walikat: walikane gêsang. sintên ingkang damêl raga? Sintên ingkang paring nama? inggih namung Latawalhujwa. Lêmpeng kiwa têngên têgêsipun tekadmu sing lêmpêng lair batin. manawi suksma punika pêjah ing ‘alam dunya suwung. ngantos roh lapisan. kasêbut ing sêrat Anbiya. purwa bênêr lawan luput. dados wadya-balanipun Sang Nata. manawi angsal woh kuldi kathah. têgêsipun suksma ugi pisah kaliyan budi. mumpung baitanipun taksih lumampah. manawi pisaha raga suksma lan budi. pêjahipun manjalma dados kuwuk. keblat lor bênêr siji. sampun jumbuh dados satunggal. Pundhak punika panduk. baitanipun tiyang Islam gêsangipun kantun pangrasa. Têpak têgêsipun têpa-tapanira. budinipun lajêng santun baitu’llah. Kiwa têgêsipun: raga iki isi hawa kêkajêngan. pramila gandanipun tiyang satunggal-satunggalipun bedabeda. botên wontên tiyang. punika namanipun sahadat. tiyang Jawi tamtu lajêng Islam sadaya. nanging manawi tekadipun nasar. wontên ing dunya amung sadarmi ngangge raga. Manawi paduka ngrasuk agami Islam. sanadyan suksmanipun kewan. nêtêpi kamanusanipun.tiyangipun rêbah. manawi tiyang punika têrus gêsang. Lambung: waktu Dewa nyambung umur. gêsangipun gantos roh lapis enggal. dadosipun saking sabda kun. Makatên punika ungêling sêrat.

dipunpamerakên dhatêng kula. kantun asma nglimputi badan. wis disêkseni Sahid. dhatêng agami enggal botên manut! Kenging punapa paduka gantos agami têka botên nantun kula. adi Guru namung ngideni kemawon. aku ora kêna bali agama Buddha maneh.” Sang Prabu ngandika: “Kapriye iki. botên pisah. dipunanggêp sarira tunggal. kula botên tumut-tumut. toya kula-êntut sêpisan kemawon. amarga banyu sêndhang gandane wangi. rêdi-rêdi sami kula êntuti. lakar paduka-lampahi piyambak. aku wis kêbacut mlêbu agama Islam. rêmên manut nunut-nunut. Yen banyu dicipta bisa ngganda wangi. sami mêdal . mila tanah Jawi lajêng botên goyang. kang surasane ora prêlu manggalih kang akeh-akeh. ingkang kula rêbat punika? Paduka sampun kêlajêng kêlorob. Cobi paduka-dumuk: pundi wujudipun Sabdapalon. Sunan Kalijaga banjur nyipta. langgêng salaminipun”. sêdya ngadam. gêsangipun nglimputi salêbêting pêjahipun.wujud-kula. karsa dados jawan. kang kasêbut ing pikêkah Jawi. budi hawa badan. sarta matur yen arêp nyipta banyu kang ana ing beji. mêngsah uyuh-kula piyambak. ing wêkdal samantên tanah Jawi sitinipun gonjang-ganjing. iku anandhakake: yen Sang Prabu isih panggalih Buddha. nanging inggih botên kumpul. Manawi kula sumêdya ngêdalakên kaprawiran. (11) Ature Sabdapalon marang Sang Prabu: Punika kasêkten punapa? kasêktening uyuh kula wingi sontên. botên rêmên momong paduka. padha sanalika banyu sêndhang banjur dadi wangi gandane. botên pêjah botên gêsang. Sang Prabu ngandika maneh: “Apa kowe ora manut agama?” Sabdapalon ature sêndhu: “Manut agami lami. saking pajaripun ngantos sampun botên katingal wujudipun Sabdapalon. paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus.” Sunan Kalijaga banjur matur marang Sang Prabu. aku wirang yen digêguyu bumi langit. Manawi kula timbangana nama kapilare. nama Manik Maya. Genggong: langgêng botên ewah. kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal. ing kono Sunan kalijaga matur marang Sang Prabu. kula wirang dhatêng bumi langit. mila rêdi-rêdi ingkang inggil pucakipun. tanpa guna kula êmong. amarga agama Islam iku mulya bangêt. badan-kawula sakojur gadhah nama piyambak-piyambak. botên ênem botên sêpuh. inggih sagêd ical sami sanalika. kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi. Dados wicantên-kula punika. Naya têgêsipun ulat. sampun dados wangi. sampun kalingan pajar. kapriye mungguh ing gandane. Manawi paduka botên pitados. wirang momong tiyang cabluk. saking agênging latu ingkang wontên ing ngandhap siti. langgêng salaminipun. paduka wayangipun wujud sipating suksma. prêlu kanggo tandha yêkti. pucakipun lajêng anjêmblong. Sang Prabu ndangu: “Ana ing ngêndi Pangeran Kang Sajati?” Sabdapalon matur: “Botên têbih botên cêlak.” Sabdapalon matur maneh: “Inggih sampun. nanging yen gandane ora wangi. irib-iriban. latunipun kathah ingkang mêdal. punika kula. yen sêdya maujud sagêd katingal sanalika. Paduka punika sampun Ratu linuhung tamtu botên badhe kêkilapan dhatêng atur-kula punika”. Raga-kawula punika sipating Dewa. ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula. kaya kang wis kathandha. Palon: pikukuh kandhang. iku tandha yen Sang Prabu wis mantêp marang agama Rasul. yen Sang Prabu nyata wis mantêp marang agama Rasul. tiga-tiga punika tumindakipun. dene pêjahipun nglimputi salêbêting gêsangipun.

Benjing yen sampun mrêtobat. nilar agama Buddha. sadaya wau atas karsanipun Latawalhujwa. nanging ora manggon ing kono. Sang Prabu ngandika: “Kok-tutuha iya tanpa gawe. antuk swarga kang ngungkuli swargane wong kapir. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang”. ing batos rumaos kaduwung bangêt dene ngrasuk agama Islam. sabanjure digawa sakabate loro. agêgaman kawruh. damêl bingungipun kanca tani. Bumbung sawise diiseni banyu. Nganti suwe ora ngandika. ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa. amarga barang wis kêbacut. Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong. isi wedang lan toya tawa. Sang Prabu mirêng ature Sabdapalon. amratelakake yen ênggone mlêbêt agama Islam iku.latunipun sarta lajêng wontên kawahipun. banjur disumpêli godhong pandan-sili. sijine diiseni banyu sêndhang. Jawinipun ical. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa. amarga wong wadon iku utamane kanggo wadhah. kapriye kang dadi kêkêncênganing tekadmu? Yen aku mono ênggonku mlêbu agama Islam. ingkang damêl bumi lan langit. wis ora bisa bali mênyang Buddha mêneh”. Sabdapalon matur yen arêp misah. Sang Prabu diaturi ngyêktosi. yen wiwit jaman kuna mula. Sabdapalon akeh-akeh ênggone nutuh marang Sang Prabu. yen gandane mari wangi. Cobi paduka-yêktosi. rêmên nêmbah sela. punika inggih kula ingkang damêl. jarene besuk yen mati. lan sami purun nêdha woh kawruh. Sunan Kalijaga banjur jasa bumbung loro kang siji diiseni banyu tawa. . Wiwit dintên punika jawahipun sampun suda. sami engêt dhatêng agami Buddha malih. wêwah bênter awis jawah. amarga kêpencut ature putri Cêmpa. Banyu sêndhang mau kanggo tandha. Sunan Kalijaga banjur didhawuhi nêngêri banyu sêndhang. kêndêl tindak nistha tuwin rêmên supata. Jawi kantun jawan. nilar agami Buddha. wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput. amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami. mung nêtêpi jênênge Sêmar. wis disêkseni dening si Sahid. Dewa lajêng paring pangapura. tiyang sagêd matur piyambak dhatêng Ingkang Maha Kuwasa. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti. iya iku sing diêmong Sabdapalon. yen wong lanang manut wong wadon. Punapa cacadipun agami Buddha. benjing: sasi murub botên tanggal. kathah tiyang rêmên dora. wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi. manawi sampun santun agami Islam. anglela kalingan padhang. wasana banjur ngandika. Paduka yêktos. kang ngaturake yen wong agama Islam iku. mriyi punika pantun kados kêtos. jawah salah masa. barêng didangu lungane mênyang ngêndi. benjing tanah Jawa ewah hawanipun. besuk wong Jawa padha ninggal agama Islam ganti agama Kawruh. nanging wong loro mau banjur musna. ature ora lunga. rêmên nunut bangsa sanes. yen gandane mari wangi. namung kangge têdha pêksi. sagêd wangsul kados jaman Buddha jawahipun”. angaturake lêpiyan. saiki mung kowe kang tak-tari. dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. wong tanah Jawa padha salin agama kawruh. Paduka-yêktosi. dipuntampik dening Dewa. Sabdapalon matur. suda asilipun siti. amargi paduka ingkang lêpat. ora wênang miwiti karêp. mêsthi nêmu sangsara. nglimputi salire wujud. tinanêma thukul mriyi. turun paduka tamtu apês. wiji bungkêr botên thukul.

satêkane Surabaya. kabeh mau wis karsane Kang Maha Suci. mundhak gawe rudahing jagad. ana ing kono uga nyare sawêngi. tumuli dibuwang. dene banyune sêndhang barêng ditiliki gandane dadi bangêr.Sang Prabu Brawijaya banjur tindak didherekake Sunan Kalijaga lan sakabate loro. aja padha pêrang. têkan ing Bêsuki. kaya kang wis kasêbut ing ngarêp. nyare ana ing Sumbêrwaru. sapungkurku sing padha rukun. banyu ing bumbu diganda isih wangi. banjur tindak marang Majapahit. aku wis arêp mulih marang jaman kalanggêngan. pangandikane marang Sunan Kalijaga mangkene: Sahid. nyêdhaka mrene. tindake Raden Bondhankajawan namur kula. mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak. Sang Prabu banjur ngandika: “Wis aja nangis êngger. Sang Prabu mbanjurake tindake. têkan ing Prabalingga. Nyai Agêng Ampelgadhing tumuli mêthukake banjur ngabêkti marang Sang Prabu karo muwun. Sang Prabu banjur nêrusake tindake nganti wayah surup srêngenge. ing wayah esuk. aja padha ngrêbut kapraboningsun. esuke bumbunge dibukak. wis têkan ing Ampelgadhing. wis padha narima rusake Majalêngka. ing pitung dinane. nanging munthuk. Nyai Agêng Ampel banjur matur marang Sang Prabu. mêngko tak-wenehane tandha asta. nuli mbanjurake tindake. balik padha ngemana rusaking wadya-bala. esuke banyune ditiliki. Sang Prabu mbanjurake tindake. ora karuhan mênyang ngêndi tindake. sebaa marang Dêmak. Sang Prabu banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Prabalingga ing besuk jênênge loro. sapa sing miwiti ala. wis têkan ing Panarukan. kudu mangkene. unthuke gandane arum. nanging mung kari sathithik. yudane apêsa. Nyai Ampel nuli utusan mênyang Dêmak nggawa layang. nanging banjur gêrah. mirêng warta yen ingkang rama Sang Prabu têdhak ing Ampel. Prabalingga karo Bangêrwarih 12 ing kene besuk dadi panggonan kanggo pakumpulane wong-wong kang padha ngudi kawruh kapintêran lan kabatinan. Barêng wis wayah surup srêngenge. kabeh lêlakon wis ditulis aneng lokhilmakful. mupusa yen kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. Sang Prabu banjur ngrangkul ingkang putra. banyune tawa isih enak. rumasa ora kapenak panggalihe. Raden Bondhankajawan nuli sowan ngabêkti. kowe gaweya layang mênyang Pêngging lan Pranaraga. Sang Prabu ndangu: “Sing ngabêkti iki sapa?” Raden Bondhankajawan matur yen panjênêngane kang ngabêkti. esuke banyu ing bumbung diganda mundhak wangine. amarga kêrêp diunjuk ana ing dalan. banyune diambu isih wangi. satêkane ing Dêmak. tindake kawêngen ana ing dalan. Kacarita putra Nata ing Majapahit. nungsung warta ing ngêndi dununge ingkang rama. Sang Prabu nyare ana ing kono. tak-suwun marang Kang maha Kuwasa. ngaturake patrape ingkang wayah Prabu Jimbun. ora antara suwe Prabu Jimbun budhal sowan mênyang Ampel. Sang Prabu banjur dhawuh nimbali Prabu Jimbun. layang wis katur marang Sang Prabu Jimbun. Aku lan kowe mung sadarma nglakoni. kang aran Raden Bondhankajawan ing Tarub. Bêgja cilaka ora kêna disinggahi. Prabalingga têgêse prabawane wong Jawa kalingan prabawane tangga”. nanging wajibe wong urip kudu kêpengin mênyang ilmu”. gêrahe Sang Prabu sangsaya mbatêk. sarta akeh-akeh sêsambate. malah Sang Prabu lolos saka jroning pura.” . ngrumaosi yen wis arêp kondur marang jaman kalanggêngan. Sang Prabu uga nyare ana ing kono. wayah surup srêngenge.

mula tak-suwurake Putri Cêmpa. sarekna ing Majapahit sa-lor-wetane sagaran. nanging mung mandhêg têlung turunan. sapungkurku kowe sing bisa momong marang anak putuku. têrus seda. amarga si Patah iku wiji têlu. amarga sajroning sihsinihan di seje bangsa mau nganggo ngobahake agamane. bisaa ngapêsake urip. Nyai Agêng ngandika: “Wis bêgjane Prabu Jimbun ora nungkuli sedane ingkang rama. Prabu Jimbun ature marang Nyai Agêng. kacarita Sultan Bintara lagi rawuh ing Ampelgadhing sarta kapanggih Nyai Agêng. lan suwurna kang sumare ana ing kono yayi Raja Putri Cêmpa. lan maneh wêkasku marang kowe. kabeh pitungkasku. mula wêkasku. saturun-turune êmongên. . mulane ênggonku mangêni madêge Ratu mung têlung turunan. yen isih ana gêbyaring wulan. sarta wis ora dianggêp priya. banjur mangro tingal. besuk bocah iki kang bisa nurunake lajêre tanah Jawa.” Sunan kalijaga nyuwun sumurup mungguh têgêse araning bakal pasareyane Sang Prabu. layone banjur disarekake ana ing astana Sastrawulan ing Majapahit.” Sunan Kalijaga sawise dipangandikani banjur matur: “Punapa Sang Prabu botên paring idi dhatêng ingkang putra Prabu Jimbun jumênêngipun Nata wontên ing tanah Jawi?” Sang Prabu ngandika: “Sun-paringi idi. Sang Prabu ngandika: “Sastra têgêse tulis. besuk anak-putuku aja nganti entuk liya bangsa. wis Sahid. Wulan têgêse damaring jagad. iya mung mupus pêpêsthen. amarga aku wis diwadonake si Patah. anak-putuku aja entuk seje bangsa. ing sajroning mangun yuda. mula kolu marang bapa sarta rusuh tindake. aja gawe senapati pêrang wong kang seje bangsa.Sunan Kalijaga banjur nyêrat. dadi ora bisa ngabêkti sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata. nganti kaya mangkene siya-siyane marang aku. barang wis kêbacut iya mung kudu dilakoni. Sang Prabu banjur ngandika: “Sahid. Sultan Dêmak ana ing Ampel têlung dina lagi kondur. sawise rampung banjur ditapak-astani dening sang Prabu. aku titip bocah iki. dene pasareyaningsun bakal sun-paringi jênêng Sastrawulan. ing têmbe buri. Barêng wis têlung dina saka sedane Sang Prabu Brawijaya. dene mungguh satêmêne Putri Cêmpa iku sedane ana ing Tuban.” Sang Prabu sawise paring pangandika mangkono. manawa ana bêgjane. mula aku paring piwêling aja gawe senapati pêrang wong kang seje jinis. astane banjur sidhakêp. dununing pasareyan ana ing Karang Kumuning. sabanjure diparingake marang Pêngging lan Pranaraga. yen aku wis kondur marang jaman kalanggêngan. tulisên. tulise kuburku mung kaya gêbyaring wulan. mundhak ngenthengake Gustine. katêlah nganti saprene kocape kang sumare ana ing kono iku Sang Putri Cêmpa. sarta nyuwun pangapura kabeh kaluputane kang wis kêlakon”. lan maneh wêlingku. Jawa. Cina lan raksasa. wong Jawa padha wêruh yen sedaku wis ngrasuk agama Islam.

mula mung kanggo pasêmon. amarga saka putêking panggalihe banjur padha gêrah. [3] Pêthi saka Palembang ana satêngahing paprangan dibukak mêtu dhêmite. sapa kang ngandêl yen rusake Majapahit amarga tikus. Nanging yen Majapahit rusake amarga saking tikus. Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi marang muride kang aran Darmagandhul. Dene têgêse pasêmon mau mangkene: Tikus iku watake ikras-ikris. yen dilugokake jênênge ambukak wadine Majapahit. mung kari budhale bae. gêgamane ana ing silit. amarga aran ambuka wêwadining ratu.Kacarita Adipati Pêngging lan Pranaraga. tawon lan dhêmit. amarga wêruh akehing tikus. piwalêse ngrusak. dene panggonane ana ing . wong Majapahit bubar. Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga sawise tampa layang lan diwaos. nalika lagi têkane nyuwun panguripan marang sang Prabu ing Majapahit. Alas angkêr akeh dhêmite. wis padha mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak. suwe-suwe yen diumbar banjur ngrêbda. ora cocog lair lan batine. bubaring dhêmit yen alase dirusak dening wong. Tawon iku nggawa madu kang rasane manis. mungguh sanyatane. yen dirasa satêmêne saru bangêt. mula banjur dhawuh ngundhangi para wadya sumêdya nglurug pêrang marang Dêmak. lan kawiyos pangandikane sêru. layang banjur disungkêmi kanthi bangêt ing pamuwune lan bangêt anjêntung panggalihe. pamrihe supaya aja ngribêdi ing têmbe buri. ora satimbang karo gêdhene nagara sarta ambane jajahane. [4] Sang Prabu Brawijaya sedane mekrad. Mula carita bêdhahe Majapahit iku mung dicêkak. mundhak ndêdawa wirang. padha mangani sangu lan bêkakas jaran. putra mungsuh bapa. ewadene bisa rusak mung amarga dikritiki tikus. muga aja awet urip. kaya kang kapratelakake ing ngisor iki: Kabeh mau mung pasêmon. barêng wis diparingi. kasaru têkane utusane Sang Prabu maringake layang. Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga bangêt dukane. ora karuhan jujuge ana ing ngêndi. Lumrahe tawon iku bubar amarga saka dipangan ing wong. tansah gedheg-gedheg lan gêrêng-gêrêng. arêp ditanduri. para wadya-bala wis rumanti gêgamaning pêrang pupuh. têgêse: para ‘ulama dhek samana. Adipati sakarone padha puguh ora karsa sowan marang Dêmak. dene ingkang rama Sang Prabu lan putra Raden Gugur lolos saka praja. ora antara lawas padha nêmahi seda. nanging ênggone mbêdhah sinamun sowan riyaya. dene kaol kang gaib. Nagara Majapahit iku rak dudu barang kang gampang rusake. kang surasane nyupatani marang panjênêngane dhewe. surya katon abang kaya gêni. iku pratandha yen wong mau ora landhêp pikire. mangkene pasêmone: 1] Amarga saka kramate para Wali. tawon lan dhêmit. labuh bapa ngrêbut praja. mula mung dipralambangi pasêmon kang orang mulih karo nalare. carita bêdhahing Majapahit iku kaya kang tak-caritakake ing ngarêp. amarga carita kang mangkono mau kalêbu aneh lan ora mulih ing nalar. [2] Sunan Cirêbon badhonge mêtu tikuse maewu-ewu. wajane kêrot-kêrot. sedane Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga padha ditênung dening Sunan Giri. iya iku Adipati Andayaningrat ing Pêngging lan Bathara katong ing Pranaraga. wong Majapahit padha kagegeran amarga ditêluh ing dhêmit. kêrise Sunan Giri ditarik mêtu tawone ngêntupi wong Majapahit. Mula carita bêdhahe Majapahit sinêmonan dening para pujangga wicaksana.

Mungguh gênahe mangkene: bêdhahe nagara Majapahit sarana ditêluh kalayan primpên lan samar. suksmane akeh kang katut angin banjur thukul ana ing tanah China. Dene kuntul nganggo kucir iku pasêmone Sultan Dêmak. Prabu Brawijaya sinêmonan ing gaib: kêbo kombang atine êntek dimangsa tuma kinjir. nalika santri Jawa durung akeh kawruhe. barêng nagara wis ngalih marang Dêmak. têgêse oleh ati saka Sang Prabu.gowok utawa tala. têgêse: maune têkane nganggo têmbung manis. ora mung Sunan Dêmak dhewe bae kang didhawuhi ngrumasani kaluputane. iya iku Wali wolu utawa Sunan wolu kang padha dimêmule wong Jawa. yen ora padha gêlêm ngrumasani kaluputane. pambêkane siya. nalika arêp pambêdhahe ora ana rêmbag apa-apa. ibumu Putri Cina. mulane Gusti Allah paring pasêmon. nganti ngêntekake panggalihe Sang Prabu. barêng dibukak muni jumêglug. nanging sanadyan para Wali liyane uga didhawuhi ngrumasani. wusana ngêntup saka ing buri. manuk kuntul iku durung ana kang nganggo kucir. ênggone nyêri-nyêri marang ingkang rama Sang Prabu. Bêdhahe Majapahit swarane jumêgur. githok kuntul kinuciran. purwane Jawa. iya iku ganti agama. dene ênggone kêndêl nanging tanpa duga iku saka wijine Sang Arja Damar. rungsid. iya iku Prabu Brawijaya panggalihe têlas nalika bêdhahe Majapahit. têgêse: tolehên githokmu. ora ngetung bênêr utawa luput. apa dene bubare wong sapraja mung saka ditêluh ing dhêmit. iya iku Raden Patah nalika têkane ana ing Majapahit sumungkêm marang ingkang rama Sang Prabu. têgêse: Palembang iku mlembang. dosane lair batin. amarga katarik saka ibune. dhek jaman kuna. mula saiki banjur padha bali mulih marang tanah Jawa. wêruh-wêruh Adipati Têrung wis ambantu Adipati Dêmak. dhêmit têgêse samar. ing wêktu iku banjur diparingi pangkat. mula Sang Prabu Jimbun gêdhe panggalihe melik jumênêng Nata. yen bêdhahe saka binêdhah dening putra. dadi suksmane bangsa mau. ora kêna nyêri-nyêri marang wong seje bangsa. dumeh agamane Buddha kawak kapir kupur. . mula ana kuntul nganggo kucir iku wis karsaning Allah. sadurunge Majapahit bêdhah. kabeh mau padha mbalela mbalik. mulane melik ênggal sugih. dene tala têgêse mêntala ngrusak Majapahit. amarga Arja Damar iku ibune putri raksasa. pêthi têgêse wadhah kang brukut kanggo madhahi barang kang samar. samudanane mung sowan garêbêgan. banjur ana manuk kuntul nganggo kucir. mula jênênge Wali ditêgêsi Walikan: dibêciki malês ngalani. sapa kang ngrungu padha gawok. kombang têgêse mênêng swarane kang mbrêngêngêng. dene tuma kijir iku tumane celeng. dhêmit iku uga tukang nêluh. iya iku Sang Prabu Brawijaya. sawise padha mati. rêmit. sênêng yen ngokop gêtih. dadi dikagetake. Kuna-kunane ora ana praja gêdhe kaya Majapahit bêdhahe mung saka diêntup ing tawon sarta dikritiki ing tikus bae. wusana banjur mukul pêrang ngrêbut nagara. ora karsa nglawan pêrang. kahanan ing dunya nuli malih. iku mau-maune iya akeh kang suksma Jawa. tuma têgêse tuman. kêbo têgêse ratu sugih. Dene dhêmit diwadhahi pêthi saka Palembang. Dene anane bangsa Cina padha nênêka ana ing tanah Jawa iku dêdongengane mangkene: Jare. Banjure maneh pangandikane kiyai Kalamwadi: Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi. celeng iku iya aran andhapan. mula wong Majapahit ora sikêp gêgaman pêrang. sangane Adipati Dêmak. kajaba mung kendêl gêrêng-gêrêng bae. Sang Prabu Jimbun iku wiji têlu. kêprungu saka ing ngêndi-êndi nagara.

sinêmonan wiwit anane orong-orong githoke tumêka ing punuk disêsêli tataling kayu jati. Ana gajah digêtak kaya kucing. lan wêktu iku sajroning pasareyane Sang Prabu kêprungu ana swara dumêling. Kabeh mau ora padha ngrumasani kaluputane. manusa bisa apa. mung nêmbah marang Allah. mobah mosik mung sadarma nglakoni. ngrumaosi klirune dene nuruti rêmbuge para Sunan kabeh. ing batos bangêt kaduwung marang apa kang wis dilampahi. agung iku wis samêkta. pranatane mêngku praja. rumaos kadukan dening Kang Maha Kuwasa. barêng wis antara têlung dina lawase. karêp mêtu saka ing budi. godhonge uga banjur mingkup kaya dene godhong Gêtakkucing. mula bangêt mrêtobate. beda karo para Wali liyane isih padha manganggo sarwa putih. ing têmbe bakal takwalês. mangan babi kaya dhek jaman Majapahit. Sunan Kalijaga uga waskitha ing gaib yen sinêmonan dening Kang Maha Kuwasa. nanging dudu puji jatining kawruh. tanpa kurang tan wuwuh. tanpa luwih sarta ora arah ora ênggon. sanajan matiya ing tata-kalairane. mula uga bangêt panalangsane sarta ngrumaosi kaluputane. sajatining ‘ilmu iku ora susah maguru marang wong ‘Arab. mula banjur ngrumaosi kabeh kaluputane.” Sultan Dêmak mirêng swara dumêling kang surasane mangkono iku. Den enak mangan turu.Darmagandhul matur: “kiyai! Kang diarani agama Srani iku kang kaya apa?” Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake: “Kang diarani agama Srani iku têgêse sranane ngabêkti: têmêntêmên ngabêkti marang Pangeran. mungguh karêpe: punukmu panakna. nuli sowan andêdagan ana ing pasareyane ingkang rama. mula nganti suwe njêgrêg ora bisa ngandika. mula banjur mangagêm sarwa wulung. tansah ngrumaosi ing kalêpatane. urip dadi wayangan Dzating Pangeran. têlu wit kang godhonge ngrêmbuyut mubêng kaya payung. tak-ajar wêruh ing nalar bênêr lan luput. bangêt panalangsane ing dalêm batos. kêmbang Tlasih kanggo ngirim para lêluhur. Turugajah lan Gêtakkucing. papat wit kang godhonge lêmbut sarta mawa êri. loro wit sarta kêmbange putih godhonge sêdhêngan. budi iku Dzate Kang Maha Agung. sabda iku mêtu saka ing karêp. sakondure saka pasareyane ingkang rama. dadi pasêmon kabeh. Sultan Dêmak banjur kondur. kaprênah pusêring kuburan tanpa sangkan thukul wit-witan warna papat. Iya wiwit titi masa iku anane wit-witan warna papat kang padha thukul ana ing kuburan. wasana banjur pinaringan pangapura dening Allah. budi kang ngobahake. mangkono kang kasêbut ing kitab Anbiya”. nganti wani mungsuh ingkang rama sarta ngrusak Majapahit. ora nganggo nêmbah brahala. ‘ilmuning Gusti Allah wis ana ing githokmu dhewe-dhewe. siji warnane irêng sêmu abang dalah godhong sarta kêmbange. Sêmboja. Mula nganti tumêka saprene wit Sêmboja panggonane ana ing kuburan. Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi. . iya iku Tlasih. Sawise mangkono. godonge Gêtakkucing yen kasenggol banjur obah. Sultan Dêmak waskitha ing gaib. kang ngawruhi sajatining urip. awit Allah kang mujudake. mangkene ujaring swara: “Êntek katrêsnanku marang anak.wujude puji thok. yen wis agama kawruh. nanging lah eling-elingên ing besuk. mung Sunan Kalijaga piyambak rumaos yen kadukan dening Kang Maha Kuwasa. mula sêbutane Gusti Kanjêng Nabi ‘Isa iku Putrane Allah.

iku mau wis muji tanpa ngucap. iya iku nampik milih iktiyar lan manggaota. dhêmble wujud siji. Sayid Anwar didukani ingkang rama lan ingkang eyang. sêmbahe kaya wêsi kang dilabuh ana ing gêni ilang abange mung rupa siji. mula Sang Prabu ing Mataram kewran panggalihe ênggone kagungan karsa iyasa babad carita tanah Jawa. andikakake padha gawe layang Babad Tanah Jawa. Wayahe Nabi Adam iya iku putrane Nabi Sis. amarga mundhak ngrêribêdi agama Rasul. yen ra wêruh prênahe manuke. wiwit Kraton Gilingwêsi nganti tumêka Mataram wis ora kasumurupan caritane. wujud karsaning Allah.Kiyai kalamwadi nutugake caritane: “Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi mangkene: mungguh kang katarima. masa kênaa. Sang Prabu banjur dhawuh marang para pujangga. kang nyêbutake kok mung kitab ‘Arab lan kitabe wong Srani. hakekat iku wujud. sanadyan buku kang padha disimpêni dening para wadya. kang muji lan kang dipuji wis nunggal dadi sawiji. kang isih padha disimpên uga padha dipundhut kabeh. Kiyai Kalamwadi banjur ngandhakake: “Sawise buku-buku pathokan agama Buddha diobongi. Darmagandhul matur. Ciptane Sayid Anwar supaya kuwasane bisa ngiribi kaya dene kuwasane Pangeran. sapa kang durung gêlêm nganggo agama Islam banjur dijarah rajah. Ing wêktu iku Sunan Kalijaga. Ratu Mataram uga mangun carita sajarahe para lêluhur Jawa. dene dhêmble têgêse dhêmbel dadi siji. yen wis sumurup têpunge sarat sari’at tarekat hakekat lan ma’rifat. sabab saka ênggone padha dhahar wohe kayu Kawruh kang ditandur ana satêngahing taman Pirdus. banjur padha diganjar pangkat utawa bumi sarta ora padha nyangga pajêg. Yen kowe wis bisangawruhi surasane kang tak-kandhakake iki. sari’at iku saringane kawruh agal alus. ênggone nulup mung ngawur. mêsthi wis marêm marang kawruhmu dhewe. Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake. Yen kowe wis ngrêti marang têgêse Dharudhêmble. iya kitab Manik Maya. banjur iyasa wayang. Mula nyuwun têrange. nalika sabêdhahe Majapahit. nanging wis padha amoh. mula wong-wong ing kono padha wêdi marang wisesaning Ratu. ora . Mangan woh kawruh lan budi. yen ing kitab Jawa caritane kapriye. jênênge munajad. kagungan panggalih. dene Sajarah Jawa iya ana kang nyêbutake turun Adam. arane Sayid Anwar. Yen kawruhe wong pintêr ora angel yen disawang. iku sindhenan Dharudhêmble. caritane lêluhure supaya aja nganti pêdhot. Saupama wong nulup manuk. kang didhahar Nabi Adam lan Babu Kawa iku woh Kuldi. iya dipundhut banjur diobongi. ru iku têgêse ruwêt sulit lan rungsit. Ana maneh kitab kang nêrangake. Sang Nata ing Mataram andangu para wadya. muji marang Allah iku. nyuwun ditêrangake bab ênggone Nabi Adam lan Babu Kawa padha kêsiku dening Pangeran. kang ngobahake sarta ngosikake rasane budi. buku-buku sakarine. Dene wong-wong kang wis padha gêlêm salin agama Rasul. ananging sarehne kang gawe Babad mau ora ngêmungake wong siji bae. mêtune saka ing utêk”. tarekat iku kang nimbang lan nandhing bênêr lan luput. amarga wani. kitab Pêkih lan Taju-salatina apa dene Surya-Alam kang kanggo pikukuh. Têmbung dhar iku têgêse wudhar. mula ora bisa padha gaweyane. kang ditandur ana ing swarga. mungguh caritane kaya kang kasêbut ing ngisor iki”. yen kitabe wong Jawa ora nyêbutake bab mangkono iku. wêruh ora kasamaran ing sawiji-wiji. mulane wong-wong ing Majapahit banjur padha ngrasuk agama Islam. nanging wis padha ora mênangi. kang diênggo pathokan layang Lokapala. kanggo gantine kitab-kitab kuna kang wis padha diobongi. buku-buku asli saka ing Dêmak lan Pajang padha dipriksa. sarak iku sarate ngaurip.wani mangan wohe wit kayu Budi sêngkêrane Pangeran kang tinandur ana ing swarga. amarga padha melik ganjaran. nanging tinêmu tulisan ‘Arab.

uripe kaya watu ora duwe kêkarêpan lan ora mangrêti marang ala bêcik. Sayid Anwar ditakoni iya banjur ngandharake lêlakone kabeh. jalaran mangkene: asal suwung mulih marang sêpi. dene yen dhêmên Godhong Kawruh Godhong Budi. iya melu mangan woh Budi. Yen kang dipangan woh wit kayu Budi. ana ing kono banjur kêtêmu karo ratuning jin arane Prabu Nuradi. dadi murtat sarta nampik agamane lêluhure. ora karsa ngagêm agamane ingkang rama lan ingkang eyang. uki Kalifah kang bakal tanggung. mangan woh wit kayu Kawruh. mula banjur iyasa kadhaton ana pucaking Mahameru. Yen bisa woh-wohan warna têlu iku mau iya dipangan kabeh. Sawise iku Sang Prabu banjur nganggit sastra mung salikur aksara. wusanane Sayid Anwar diêpek mantu sarta dipasrahi kaprabon. karsane Sang Prabu: bisaa rowa. dadi Panutan kudu kang bênêr. agamane Islam. Sarehne Sayid Anwar banjur lunga nuruti karêping atine. dadi ora aran siya-siya marang uripe. mangkono uga karsa ngakoni yen turune Adam sarta Sis. iya melu mangan who kawruh. Sarehne diênut wong akeh. jênênge nagara banjur diêlih dadi aran nagara Jawa. mangeran digdayane sarta ngaku Gusti Allah. Ênggone Kagungan pamanggih mangkono mau diantêpi bangêt. iku kaya dene iwak kang mêtu saka ing banyu. bali marang asale maneh. diantêpi salah siji aja nganti luput. Sang Hyang Guru kagungan pangraos yen kuwasane padha karo Gusti Allah. lakune mangetan nganti tumêka ing tanah Dewani. yen wong ora mangan salah sijine woh mau. sarta ngakoni yen purwaning dumadi mêtune asal saka budi hawa nêpsu. Sayid Anwar miwiti yasa sarengat dhewe. Dene mungguh bêcike wong urip iku mung kudu manut marang apa alame bae. mêsthine banjur dadi wong bodho. Misuwure. pangraose Sayid Anwar iku dadi saka dadine piyambak. nanging wohe kayu Budi kang disuwun. panêmbahe marang Pikkong. Sang Prabu putrane siji pêparab Sang Hyang Nurrasa. ditêgêsi: nguja hawa. agamane Buddha budi. Dewa iku wêrdine ana loro têgêse: budi hawa. kang padha didhahar woh wit kayu Budi. Sêbutan Dewi: têgêse: dening wadining wadon iku bisa ngêtokake êndhas bocah. Têmbung Jawa. mulane agamane Buddha. sarta: wadi dawa. Sêdya kang mangkono mau iya diideni dening Kang Maha Kuwasa. kabeh mau turune Sang Hyang Nurcahya. uga dhaup karo putri jin putrane mung siji iya iku Sang Hyang Wênang. Jawa jawi ngrêti kawruh agal alus. krama oleh putri jin. sarta manut sarake Sisingbing lan Sicim. salah sijine aja nganti luput. manawa mangan woh wit kawruh. sambate marang nabi panutan. jêjuluk Prabu Nurcahya. apa wit kayu Budi. Yen wong ora gêlêm manut marang kang bênêre kudu diênut. iya melu mangan woh Kuldi. agamane srani. amarga wong dadi Panutan iku saupama têtuwuhan minangka wite. agamane Buddha budi. saucaping wong Jawa bisa kaucap. ngratoni para jin. Aran Dewa ngaku misesani mujudake sipat roh. wiwit jumênênge Prabu Nurcahya. yen kalifah dhahar woh Kuldi. dene putrane uga mung siji kakung pêparab Sang Hyang Tunggal.narima yen mung mangan who Kawruh lan woh Kuldi bae. panyêbute marang Dewa. dadine saka budi hawaning Pangeran. Sang Hyang Wênang uga dhaup karo putri jin. iya iku Gusti Kangjêng Nabi Rasul. kabeh iku iya bênêr. sarta kalilan nimbangi jasane Kang Maha Kuwasa. Darmagandhul didhawuhi nimbang mungguh kang bênêr kang êndi. sênêngan salah siji êndi kang disênêngi. yen Kalifah dhahar woh Budi. pênyêbute marang Kangjêng Nabi ‘Isa. Sang Hyang Tunggal pêputra Sang Hyang Guru. Saupama woh ora gêlêm . yen sênêng mangan woh wit kayu Kuldi. kang jumênêng Nata. Dene prakara bênêr utawa lupute. yen Kalifah dhahar woh kawruh. apa woh wit Kuldi? Saka panimbange Darmagandhul. dijênêngake Sastra Endra Prawata. mung waranane bae saka Adam lan Sis. saturun-turune bisaa jumênêng Nata mêngkoni tanah Jawa.

iku wajib dipangan. amarga sanadyan saupama ana salahe. mêsthi dadi glundhungan kang tanpa dunung. yen ala ngundhuh cilaka. ora ngarêp-arêp munggah swarga. Walanda lan Cina. utawa liya-liyane barang. para Auliya panggawene sastra dipathoki cacahe. mung banyu suci. Gusti Allah mêsthi paring pangapura. yen kabeh-kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. aja nganti nêmu sangsara. Dene kang bisa nyirnakake (nyudakake) dosa iku. nanging panggawene ora bisa. iya iku kang diarani sastra urip. sastrane unine kurang. iya iku minangka aduse manusa. bisa ngrêsiki lair batine. mungguh kang dadi bedane apa? Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake beda-bedane. mêsthi ora mangêrti marang wangsit. Mula aksarane digawe beda-beda. supaya sugih pangrêten lan kaelingan. mula pangucap kang ala. ana Jawa. jênênge sastra godhong. manusa didhawuhi muja marang agamane. Geneya kok ora nganggo aksara warna siji bae? Kyai Kalamwadi banjur nêrangake. amarga yen ora duwe agama mêsthi duwe dosa. Yen wong luwih. supaya para kawulane padha mangan woh wit kayu Budi lan woh wit kayu Kawruh. amarga Auliya kang nganggit kêsusu mangan woh Kawruh. ora duwe susah lan prihatin. mêsthi banjur mêtu wangune. Kang diarani banyu tekad suci iku kang êning. kang digoleki bisaa nikmat mulya punjula saka sapadhane. Darmagandhul matur maneh. iya iku tekad suci lair batin. manusa ora bisa anggayuh. têgêse mêtu wangune. amarga banjur mangeran marang wujud. Iku maune kêpriye. nanging unine pelo. satêmah lali marang Pangerane. pamêthike sapira sagaduke. nganggo mangsi supaya wong bisa wêruh. mula jênêng kalam. dalah têgêse sarta cacahing aksarane kok uga beda-beda. nanging sastrane nglimputi ing jêro. kêsusu tampa panglulu nganggit sastra kang nganti tanpa etungan cacahe. Darmagandhul matur nyuwun têrange agama Rasul lan liya-liyane. amarga manusa diparingi wahyu kaelingan. mangsit mangan kawruh. mung wong kang ora ngrêti sastra paringe Gusti Allah. Wong urip iku kudu duwe gondhelan agama. Auliya mau lali yen tinitah dadi manusa. Auliya Gong Cu kumênthus niru sastra tulisan paringe Gusti allah. ing mangka iya kudu mangan woh wit kayu Budi. sinêbut kang utama. pancadan kang tumuju marang kabêgjan utawa kacilakan. manusa ing dunya wujude mung lanang lan wadon. . bisa tampa ganjaran. dipêthik saka sathithik. mangsi têgêse mangsit. lan manut wujud. kaya ta kêris. mêsthi mlêbu yomani. tumbak. Ewadene mêksa nganggo kuwasane Kang Maha Kuwasa. kaya nalika isih ana ing alam samar. yen saka dhawuhe kang Maha Kuwasa. Woh wit Kawruh lan woh wit Budi ditandhani nganggo sipat wujud. bisaa slamêt lair batine. sanadyan para Auliya sarta para Nabi ênggone nggayuh iya mung sagaduke. Yen bêcik. dicorek ana ing dluwang. dadi pelon. ‘Arab. Kang diarani lawang swarga lan lawang nêraka iku.nempel wit. supaya aja ngrêribêdi ana ing donyane. mung aksara Cina kang akeh bangêt cacahe. Awit saka iku. bisa mêthik who Kawruh lan woh Budi. dadine kok banjur warna-warna. nyuwun têrange. amarga kawruhe anggawa alam. Nanging banjur akeh kang kliru muja marang barang kang katon. dadi yen dalwang ditrapi mangsi. mula jênênge dalwang. Kang kaya mangkono mau ngrusakake agama. Yen bêcik narik raharja. dirêngga ing tekad kang utama. bisaa nikmat badan lan atine. bisaa duwe jênêng kang bêcik. amarga maro tingal marang barang rêrupan. mulya kaya maune. mung bae dosane mau ana kang sathithik lan ana kang akeh. Dene sastrane kok uga beda-beda. Lawang swarga iku prêlu dirêsiki. Sastra warna-warna paringe kang Maha-Kuwasa. mulane wong iku kudu ngelingi marang agamane kang nurunake. anggayuh kang dudu wajibe. Gusti Allah uga iyasa sastra. Godhonge wit Budi lan wit Kawruh.

têgêse pari. ragamu iku di’ibaratake prau. sanadyan kahanane wis sarwa bêcik.ditata dikumpulake. Ri. iya iku kang minangka pangane wong wadon. Dene kang diwulangake. Auliya Arab ênggone mangan woh wit kayu Kuldi akeh bangêt. dene isine mung têlung prakara. tulisan mau ora kêna ditonton nganggo mripat lair – kudu ditonton nganggo mripat batin. mêsthi wong wadon atine marêm. Yen mangkono iya bisa katon. mulane unine iya cêtha. lan wis dadi piwulang kang bêcik lan nyata. banjur dianggit kanggo sastra. wong iku yen dipitakoni. têgêse dakar. iya iku yen wong lanang wis bisa nêtêpi lanange. dadi ora goreh atine. mungguh anggitane para Auliya kabeh mau kang mratandhani asor luhuring budine kang êndi? Saka panimbange Darmagandhul. satêmêne ragane wis bisa mangsuli. Kar. amarga ragamu iku wis bisa sumaur dhewe”. nanging wis bisa nyukupi. ora kêna kacampuran pikiran kang warna-warna. 1. wadon têgêse mung dadi wadhah. dadine saka sabda. dadi nêtêpi jênênge priya kudu mulang muruk marang rabine. Auliya Cina kêsiku. mulane aksarane nganti ewon. Kiyai Kalamwadi lênggah diadhêp garwane aran Endhang Prêjiwati. wujude dadi dhewe. Darmagandhul banjur didhawuhi nimbang. sabab ing kono wis ana pangandikane Gusti Allah paring piwulang. amarga arêp gawe sastra urip kaya yasane Gusti Allah. kang anuduhake yen ragamu iku wujude kiwa. dadi ora bisa aweh piwulang kang endah. Nanging sabên dinane isih kudu dipiyara lan didandani. mêsthi wong wadon bisa têntrêm ora goreh. aku mung arêp pitakon marang ragamu. wong têgêse ngêlowong. nanging Dzate nyarambahi sakabehing wujud. Dene kang gawe aksara mung sathithik. Kiyai Kalamwadi ngandika: “Yen manusa arêp wêruh sastrane Gusti Allah. Kiyai Kalamwadi paring piwulang marang garwane. mung hawa kang katon. ing wong sêsomahan iku. Dene ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Yen ndêlêng kudu nganggo ati kang bêning. Têmbung ki: iku têgêse iki. nanging anggêr mêtu saka budi. sarta kudu kang mêlêng ênggone mawas. Kang wadon diupamakake omah. Yen prau wis isi têlung prakara iku. supaya ora bisa kliru karo kanyatane”. iku mratandhani yen luwih pintêr tinimbang karo liya-liyane. Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Sarehne aku iku wong cubluk. Banjure pangandika kiyai Kalamwadi kaya ing ngisor iki. Tanganmu kiwa iku wis anggawa têgês dhewe. wa: têgêse wêwadhah. nanging ora mêtu ing lesan. sastrane ora ana kang padha. wusanane dadi nêmu slamêt ênggone jêjêdhowan. prau dadi ‘ibarate wong wadon. Darmagandhul sarta para cantrik iya padha marak. mula ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Auliya Jawa ênggone mangan woh wit kayu Budi nganti warêg. wong wadon wis kêcukup butuhe. . Nanging yen sastra yasane Gusti Allah. Dene têgêse kar-ri-cis iku mangkene. Saka pangandikane Kiayi Kalamwadi. iya iku: “kar-ri-cis”. Gusti Allah iku mung sawiji. 2. bab kawruh kasunyatan sarta kawruh kang kanggo yen wis tumêka ing pati. mung paring sasmita kang wis ditulis ana saranduning badan sakojur. kabeh mau iya bênêr. yen wong lanang wis bisa nyukupi pangane.

pangrêksa. sabên dina sudiya. supaya nyupangati bêcik. têgêse wanita kudu duwe pasêmon utawa polatan kang manis. Wong jêjodhowan. Kuku têgêse ênggone rumêksa marang wadi. angele . mêsthi wong wadon bisa têntrêm. wicarane kudu kang manis lan prasaja. Driji têgêse drêjêg utawa pagêr. tumrap nindakake samubarang kang prêlu. Epek-epek têgêse ngêpek-ngêpek jênênge kang lanang. Jênthik. têgêse wong wadon iku panguwasane mung sapara limane wong lanang. mula kudu sêtya tuhu marang priyane. apa dene kudu nyingkiri padudon. Driji manis. wong jêjodhowan iku pikukuhe kudu duwe ati eling. sanggup dadi kongkonan. gênahe wong wadon iku dadi kanthine wong lanang. Driji panunggul. Saka pangandikane kiyai Kalamwadi. Iya iku kang diarani warangka manjing curiga. têgêse picis. Driji panuduh têgêse wanita nglakonana apa sapituduhe kang priya. Mungguh pikukuhe wong laki-rabi iku. paturon. paribasane aja nganti kêndho tapihe. Jêmpol têgêse êmpol. dene driji kabeh mau ana têgêse dhewe-dhewe. wong wadon bisa goreh atine. wanita iku kudu andarbeni ambêk kang utama. cis têgêse bisa goreh atine. ya iku yen wong lanang wis bisa aweh dhuwit kang nyukupi. jênênge banjur melu jênênge kang lanang. nanging yen isih padha trêsnane iya ora bisa pêdhot. Rajah (ing epek-epek) têgêse wong wadon iku panganggêpe marang guru-lakine dikaya dene panganggêpe marang raja. aja nganti tumindak kang ora bênêr. Wong jêjodhowan yen wis nêtêpi kaya piwulang iki. yen wanita dikarsakake dening priyane. pikukuhe mung ati eling. curigane jênênge wong lanang. iku kang gampang gêtas rênyah kaya dene êmpoling klapa. wanita kudu sêtya marang lakine sarta nglakoni patang prakara. nanging yen angel. Sikut têgêse singkurên sakehing panggawe kang luput. yen gampang luwih gampang. iya iku: pawon. Tangan têngên têgêse etungên panggawemu. awit wong wadon iku yen wis laki. têgêse wanita wajib ngunggulake marang priyane. dene kang dipangandikakake bab pikukuhe wong jêjodhowan. Cis. Kiyai Kalamwadi banjur paring pangandika maneh.3. utawa dhuwit. warangkane wanita. Kosok baline yen wong lanang ora bisa aweh momotan têlung prakara mau. dudu dunya lan dudu rupa. iya iku idêrana jiwamu nganggo pagêr kautaman. mêsthi bisa slamêt sarta akeh têntrême. Mungguh pikikuhe wong jêjodhowan iku. wong wadon wis dadi wajibe ngrewangi kang lanang anggone golek sandhang pangan. Ugêl-ugêl têgêse sanadyan tukar padu. Bau têgêse kanthi. tak baleni maneh.

iya iku wong bodho. kudu padha karêpe. wong bodho lumrahe gampang nêpsune. iya iku wong lara. nanging kabêgjane mau ora mung kanggo awake dhewe. Wong lanang iku lakuning satang. lan mulya saka kapintêran. (4) Mulya saka kawignyan. kang mangkono iku mêsthi ora bisa nêmu lêlakon kang kapenak. . lupute banjur ngambraambra. kang oleh katêntrêmaning ati. (3) Mulya saka sugih ‘ilmu. iku ugi ngilangake Pangerane wong jêjodhowan. sarta bisa têkan kang disêdya. Wong jêjodhowan itu luput pisan kêna pisan. kang sapisan dosa marang kang lanang. lan mulya saka ênggone sugih ‘ilmu. Kowe tak-pituturi.ngluwihi. Dene kang mulya saka ing bandha. sanadyan satange bênêr. mungguh dalane kamulyan iku ana patang prakara: (1) Mulya saka jênêng. sanadyan bêcik ênggone ngêmudheni. amarga yen ora mangkono bakal nandhang dosa rong prakara. iku ana ngêndi bae. lakune prau iya ora bisa jêjêg. nanging samubarang kang ora prasaja iya diarani cidra. lakuning prau manut satang lan kêmudhine. manusa iku yen pikire rusak. (3) Rusaking jênêng. Wong urip kang kêpengin bisaa dadi wong utama. sanadyan tangga têparone iya melu têntrêm. iya akeh rêgane. iku wong kang utama. kudu tansah eling. yen kêmudhine salah. mula wanita kudu prasaja lair batine. duweya jênêng kang bêcik. apa dene têntrêm atine. iya iku wong kang sêgêr kawarasan sarta kacukupan. cupêt budine. nanging yen kang nyatang ora bênêr. awit ati iku dadi ratuning badan. Mungguh dalane kasangsaran uga ana patang prakara: (1) Rusaking ati. bisa oleh kabêgjan kang gêdhe. Wong jêjodhowan di’ibaratake prau kang gêdhe. kapindhone dosa marang Gusti Allah. (4) Rusaking budi. amargi yen wanita nganti cidra. amarga tumindaking badan mung manut karêping ati. Wanita kudu tansah eling yen winêngku ing priya. iya iku wong mlarat. dadi têgêse. dene kang diarani cidra iku ora mung jina bae. (2) Rusaking raga. Mula ati. amarga kang padha nglakokake padha karêpe. kapenake uga kanggo wong akeh liyane. dene kang wadon ngêmudheni. wong jêjodhowan. prau ora bêcik lakune. rukun iku gawe karaharjan sarta mahanani katêntrêman. ora kêna tinambak ing rajabrana lan rupa. ragane mêsthi iya melu rusak. Kang diarani tampa kanugrahing Gusti Allah. yen nganti ora eling. kanggo têtuladhan marang wong kang padha ditinggal ing têmbene”. mula kudu rukun. Kang diarani mulya saka jênêng. mula wong rukun iku bêcik bangêt. ora ngêmungake wong jêjodhowan kang rukun bae. yen wis luput. (2) Mulya saka bandha.

amarga kahanan saiki iya akeh kang nganggo kupiya kahanan ing jaman kuna. yen manusa iku rumasa pintêr. iya iku kawruh kang gandheng karo kamuksan”. wis ana kang murba. dene mobah mosik. awit iku dadi kawajibane para Raja. Yen kowe bisa mangreh marang manusa. Kiyai Kalamwadi ngandika: “Sang Prabu Jayabaya ora jumênêng ana ing Kêdhiri. nyuwun têrange bab tilase kraton Kêdhiri. amarga wong akeh panêmune warna-warna tumrape bab iku. lan rêca buta wadon. nuli mung kari ngupuki bae. kowe pancen wong linuwih. patilasanpatilasan mau wis ilang kabeh. dene pasanggrahan Sabda. awujud bêras mênir sarta gabah. Ki Darmagandhul banjur matur maneh. iku satêmêne pintêr kang êndi. rêca . Mula wêlingku marang kowe. mundhak kêsiku marang Kang Maha Kuwasa. gabah kang ana kabur kabeh. utawa uga ana wong pintêr bisa kasoran karo wong kompra. wong kompra banjur duwe kaluwihan kang ngungkuli kaluwihane wong pintêr. mung sadarma nganggo raga. kaya dene wong wadon kang nutu mau. Saupama ora ana kapintêrane wong ing jaman kuna. kadhatone Ratu Pagêdhongan uga wis sirna. iku satêmêne iya padha pintêre. manusa anduweni apa. mangka uripe manusa mung sadarma nglakoni. ana ing desa Klotok. ngrumasanana yen wong urip iku mung sadarma. iya iku patilasane Sri Pujaningrat. sawise. mung digadhuhi sadhela dening Kang Maha Kuwasa. Kang isih mung rêca yasane Sri Jayabaya. Yen kowe arêp wêruh wong kang pintêr têmênan. Ana dene wong ing jaman saiki ênggone katon luwih pintêr iku amarga bisa mujudake kapintêrane. saka kalangkungane Gusti Allah. bodho pintêring manusa iku saka karsane Kang Maha Kuwasa. dene kratone ana ing Daha. uripmu dadi bisa slamêt. yen wis dipundhut. Têgalwangi. Wong ing jaman saiki ngowahi kahanan kang wis ana. sabanjure dipilah-pilah. ênggone nyilah-nyilahake bêras aneng tampah. iya iku rêca kang diputung tangane dening Sunan Benang nalika lêlana mênyang Kêdhiri. saikine jênênge desa Mênang. Dene kowe. kabeh mau bisa ilang sanalika. mêsthi bae tumrape wong ing jaman saiki ora ana kang kanggo têtuladhan. Têgêse: bêras yen arêp diolah kudu dirêsiki dhisik. yen ngrumasani pintêr. ngupayaa kawruh kang nyata. ana wong pintêr isih kalah pintêr karo wong pintêr liyane. kaprênah sawetane kali Brantas. iya iku candhi Prudhung. patilasane kadhaton wis ora katon. amarga kurugan ing lêmah lahar saka gunung Kêlut. Wong ing jaman kuna kapintêrane iya wis akeh. kaelokane Gusti Allah. kêna kanggo pitakonan tumraping para mudha bab pratikêle wong ngawula ing praja. Dene yen patilasane Sri Jayabaya ika ana ing daha. iku têgêse ora rumasa yen kawula. kowe bakal dadi têtuwa. pasanggrahan Wanacatur lan taman Bagendhawati uga wis sirna. kang misesa marang kawulane. amarga kang mangkono mau dudu wajibing manusa. prênahe ing sa-lor-wetane desa Mênang.Ki Darmagandhul matur lang nyuwun ditêrangake bab anane wong ing jaman kuna karo wong ing jaman saiki. mula katone banjur kaya dene ora pintêr. êndi kang kurang bêcik banjur dibêcikake. kowe aja pisan. tampahe diiseni gabah banjur diubêngake sadhela. yen kabeh mau kapundhut banjur diparingake marang wong kompra. Wong ing jaman saiki ora ana kang bisa nganggit sastra. Mula wêlingku marang kowe. miturut kaya karêpe kang arêp olah-olah. dununge ana wong wadon kang nutu sabên dina.pisan ngaku pintêr. Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Wong kuna lan wong saiki. iya iku kratone Sang Prabu Jayabaya. mung bae tumrape wong ing jaman kuna. Dene yen Kêdhiri prênahe ana sakuloning kali Brantas lan sawetaning gunung Wilis. dene kang mujudake iya iku wong ing jaman saiki. bisane apa. ing kono iku ana bata putih. banjur dadi beda-beda. mung wajib mangrêti tataning praja supaya uripmu aja kongsi dikul dening sapadhaning manusa. akeh kang durung bisa mujudake kapintêrane. nanging kang mangkono mau dudu kawadjibanmu. ora kêna ginayuh ing manusa.

barêng ditakoni. Buta Locaya banjur dadi ratuning dhêdhêmit ing Kêdhiri. Sang Prabu uga karsa rawuh ngurmati. aku iku dudu jodhomu. dene Ni Mas Ratu Pagêdhongan banjur dadi ratuning dhêdhêmit ana ing sagara kidul. ênggone Sang Prabu yasa rêca mangkono mau. kulon kene bakal ana Ratu. asmane ratu Anginangin. Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut. putri buta banjur mati. amarga aku iki anak dhalang. yen ênggone yasa rêca kang mangkono itu prêlu kanggo pasêmon ing besuk. nanging durung nganti katur ing ngarsa Prabu. Sang Prabu banjur paring pangandika. supaya desa ing ngêndi papan matine putri buta mau dijênêngake desa Gumuruh. Bogêm têgêse wadhah bangsa rêtna-rêtna kang adi. mangkene caritane. ora nganggo idine wong tuwane. yen wis mathuk pikire. aja suwe-suwe kaya mêmêdi. Sang Prabu ênggone yasa candhi. ana maneh rêca jaran awak siji êndhase loro. Ing Lodhaya ana buta wadon ngunggah-unggahi Sang Prabu Jayabaya. lagi waleh yen sumêdya ngunggah-unggahi Sang Prabu. iya sida diêpek rabi. buta wadon wis dirampog dening wadya cilik-cilik. (11) Ora antara suwe Sri Jayabaya banjur jasa rêca ana ing desa Bogêm. Rêca mau wujud jaran lagaran awak siji êndhase loro. kowe dak-tuturi. Samuksane Sang Prabu Jayabaya. Dene jaran sêngkêran iya iku ngibaratake wong wadon kang disêngkêr. mula Sri Jayabaya yasa rêca. duwe rupa tanpa nyawa. têgêse wanita iku bangsa wadhah kang winadi. kang akeh padha mangro tingal. iya ora sida laki-rabi. yen wis jaman Nusa Srênggi. kiwa têngên dilareni. Patihe Sang Prabu kang aran Buta Locaya sarta Senapatine kang aran Tunggulwulung padha matur marang sang Prabu. Sang Prabu banjur paring pangandika marang para wadya. sanadyan ora kurang ing panjagane. nagarane ing Prambanan. kang surasane nyuwun mitêrang kang dadi karsa-Nata. lagaran. sapa kang wêruh marang wujude rêca iku mêsthi banjur padha mangrêti kang dadi tekade wong wadon ing jaman besuk. nanging durung mati. Sirah loro iku dadi pasêmone wong wadon ing jaman besuk. apa dene putrane Sang Prabu kang kêkasih Ni Mas Ratu Pagêdhongan. supaya bisa sirna mulih marang alam sêpi. Sang Prabu banjur mriksani putri buta mau. aran Rara Jonggrang”. wêwêngkon dhistrik Sukarêja. Sang Prabu banjur paring pangandika mangkene: “Buta! andadekna sumurupmu. nanging yen ora cocog. Sawise dipangandikani mangkono. Ing jaman besuk. Patih Buta Locaya sarta Senapati Tunggulwulung. panggonane ana ing desa Bogêm. . iya bisa cidra. karsaning Dewa Kang Linuwih. Mula kang dadi panyuwunku marang Dewa. wujuda manusa. buta wadon banjur ambruk. nanging kowe aja wujud mangkono. iku têgêse tunggangan kang tanpa piranti. kang kêlumrah wong arêp laki-rabi. margane saka lagaran dhisik. muga Sang Prabu karsa yasa candhi kanggo pangobongan mayit. iku kang pinasthi dadi jodhomu. bisaa mulih marang asale. Kang mangkono iku wis dadi adate para raja ing jaman kuna. besuk sapungkurku. barêng didangu iya matur kang dadi sêdyane. (kaya kang kapratelakake ing ngisor ini)”.mau lungguhe madhêp mangulon. kabeh banjur padha andherek muksa. Yen pinuju ngobong mayit. apa mungguh kang dadi karsane. kaya adate Raja ing jaman kuna. Laren (12) kang ngubêngi jaran têgêse iya sêngkêran. prêlu kanggo nyêdhiyani yen ana wadyabala kang mati banjur diobong ana ing kono.

. Putri Cêmpa nama Aranawanti (Ratu Êmas) kagarwa Prabu Brawijaya. nanging yen dilurugi apês. amarga kasawaban pambêkane Sang Rêtna Dewi Kilisuci. barêng muksa kasêbut nama Sunan Lawu. Kanjeng Susuhunan Ampeldênta pêputra ratu Fatimah. barêng Raden Patah wis jumênêng Nata. wus manjing Islam. Kramatruna didhawuhi ana ing sêndhang Kalasan. Ratu Fatimah krama oleh pangeran Ibrahim. [3] Isih timur rêmên marang laku tapa. [2] Raden Arya Lêmbupêtêng Adipati ing Madura. dêdalêm ana ing Jeddah. nalika jaman pambalelane nagara Bali marang Majapahit. pêputra Sayid ‘Ali Rachmat. nama Raden Gugur. banjur pindhah ing Cêmpa. kêdhi têgêse wong wadon kang ora anggarap sari.Ana kêkasihe Sang Prabu Jayabaya. WUWUHAN KATÊRANGAN. karo Pangeran Ibrahim Ratu Fatimah pêputra putri nama Nyai Agêng Malaka. pêputra siji kakung kêkasih Raden Rachmat. kêkasih Lêmumbardadu iya Sang Pujaningrat. aja akeh gêtihe wong kang mêtu. kadhatone ana sakuloning bangawan (3). dicocogake karo adate Sang Rêtna piyambak. Cêmpa iku kutha karajan ing India buri (Indo china). Kang kêlumrah pambêkane wanita ing Kêdhiri iku gêdhe atine. sukune gunung Wilis. Dene Rêtna Dewi Kilisuci iku sadhereke sêpuh Nata ing Jênggala. yen nglurug pêrang akeh mênange. Ratu Fatimah banjur tapa ana ing manyura. kasêbut Susuhunan Ampeldênta. dêdalêm ing Ampeldênta. Dene putra Cêmpa kang waruju kakung. kang paring jênêng iku Rêtna Dewi Kilisuci. dadi Imam ana ing Asmara tanah ing Cêmpa. jêjuluk Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’lRasul Amiri’lMu’minin Rajudi’l’Abdu’l Hamid Kak. jumênêng Raja Pandhita ing Cêmpa anggênteni ingkang rama. jumênêng Nata ana ing Kêdhiri. Mula Kêdhiri iku diarani nagara wadon. ngêjawa nama Susuhunan Katib ing Surabaya. sarta ora anggarap sari. asma Maulana Ibrahim. Raden Patah (Raden Praba). Dewi Kilisuci nyawabi nagarane. katrimakake marang Adipati Andayaningrat ing Pêngging. putrane Ratu ing Prambanan. nyakabat marang maulana Ibrahim. Panênggak Putri Cêmpa nama Pismanhawanti kagarwa putrane Jumadi’l Kubra I. jênênge Kramatruna. banjur kasêbut nama Maulana Ibrahim Asmara. isih têdhake Kangjêng Nabi Mukammad. patutan saka Nyai Agêng Bela. putrane Prabu Brawijaya patutan saka putri Cêmpa kang katarimakake marang Arya Damar Adipati ing Palembang. Kang ibu putri Cêmpa (garwa Maulana Ibrahim). katêmokake Raden Patah. nalika Sri Jayabaya durung muksa. Sang Rêtna mau tapa ana ing guwa Selamangleng. ing Karang Kumuning Satilare Pangeran Karang Kumuning. iya Sultan Adi Surya ‘Alam ing Bintara (Dêmak). patutan saka ibu Sitti Fatimah Kamarumi. amarga Sang Rêtna Dewi Kilisuci iku wadat. pêputra têlu: [1] Putri nama Rêtna Pambayun. nama Awastidab. Sawise têlung atus taun. dene dhiri iku têgêse anggêp. iku kang pêputra Susuhunan Ampeldênta Surabaya.

7 km.15-16 km. 3. saka Kêdhiri. ngrêsiki gorokan. (5) Tarik. (9) Akire Mênang didêgi pabrik gula arane iya pabrik Mênang. 1. (6) Kulon kutha Kêdhiri. stasiyune ing Gurah antarane Kêdhiri – Pare +/. (12) Laren = kalenan. (2) Pêlabuhane saiki aran: “Haipong”. (11) Ing sacêlakipun pabrik Mênang. mbok manawi ewah-ewahan saking Gumêrah-Gumuruh.Sayid Kramat kang kasêbut ing buku iki pêparabe Susuhunan ing Bonang (Sunan Benang). (13) Bangawan = Brantas. Saiki dicêluk desa Ngrimbi. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 BABAD GALUH . (3) Lor Stasiyun: Surabayakota “Sêmut”. 2. (10) Kidul Majaagung lêt +/. wontên dhusun nama Guruh. Gurah = gusah. (4) Benang = Bonang ing Karêsidhenan Rêmbang. TAMAT KATRANGAN: (1) Kulon kutha Majakêrta lêt +/.10 km.

samantuke sang Ciyungwanara. nyanggi talutuh ngalantang.☻ 03 Nama samya ingkang sami kapti. si kakang kang mingetan. pan si adhi mangulon ngadeg dewaji. saking bumu Galuh nengge mentas praja ji wau. PUPUH I DHANDHANGGULA 01 Ingkang rinipta carita puniki. ☻ . maka purlu adanya penyelamatan isinya agar dapat diketahui dan dipelajari oleh generasi muda. mantrine Sultan Sepuh. kang alinggih Pulasaren. aneng alas Maostikta. sasi kalih tanggal kaping sanga. ababaka nagara. Senen Wage ing rangkepe. sewu rongatus ika. pan kalangkung bodho tur langip. waktu anyerat punika. tahun Be kang hijrah Nabi. pan jenenge Kyai Serengrana. poma samya angapunteni. araga salimur. pan ora nalasamwa. ☻ 04 Kang pinurwa Pajajaran Mangkin. ingkang sami sudi maca. amaosa carita punka. kang sastra langkung awone. punjul wolung puluh. sastra ataupun disiplin ilmu lainnya. pengeting tahunipun. kali Ardhangbang awisik. ing tahun Be Punika. wau ingkang kalampah. ing tawilunipun.Babad Galuh adalah koleksi naskah kuno dari Kraton Kasepuhan cirebon merupakan warisan karya budaya leluhur yang mempunyai nilai yang sangat tinggi baik dari sudut sejarah.☻ 02 Awong dening kang anyerat iki. akatut kang ……. Agar warisan ini tidak punah ditelan oleh zaman. sampun kari luwung. lan sampun caket pandam. among angsal wolulas dinten nenggih. … umur skeet tahun nem warsi. lawan sampun nyaringin nang iku sami. akathah tanduk kang sigug.

05 …. kombala buntut sing asami. sinawung galih liniga. iku Indang Gunung Saketi. Ciyungwanara nurut. sikaki elu-elu. kang gagandhi ing pilungguhe. Pajajaran sadakti. kawula warga Sakati kang uri-uri. ☻ 07 Cantrik Sakati ingkang anami. kang arjane sang nata. Ki Okesa kalawan malih. ing Nagara Pakuwan. ngilen kali kang Ibu Dewi. kang sami amangun. jimat tunggul payung. ingiringi pandhe dhomas. dawuh jengjenan kadang. Rara Kandhegkinarha. Babakan Pajajaran. akadi kulit lutung. angistreni lungguhira. ☻ 06 Wus kapanggih lan Indang Sakati. gumurudug ngilen wus dumugi maring. lawan wau kadangira. ingkang acemeng ulese. kang ginawe rontek buntuk monyet dadi. kang dadi emban-emban.. kang pinangku panembahanira. Cipamali watesani. sarengga-rengganing praja. mangking kombala badhak. Empretmohe ya ika. umbul-umbul kulit wanara. ing waos pangrenyu. Ciyungwanara angadedi Sribupati. sang Ciyung angadeg Ratu. godebak bungkul cabolan. ☻ 08 Wus rineka jati pangupami. ☻ 09 . arjaning sapaku. kang kocap ing namane.

sundari alas langenan. Prabu Ciyungwana. rai awujud buta. pan jumegur lir mariyem kang swara. padha icep bal makabe.Payung agung kulit maung kuning. sok lutung kidang ika. tampingan gunung arame. kang ngaolatingkah negari. Wus gemuk. kikitiran ing pucuking lingga sari. angintali barat angabdi.. kebo bule bungkul kang pancal pat. rame kang surak-surak. dumadi praja gung. gemelane reyog ngimba sraya. riniyung ing sagung. purwa sing Cialur. ingkang murwa sagala jagat. purwaning abal raja. lir kang estu ajar padhang. ing siang lawan dalu. pangrampiging menak Cidahur nyungkemi. dhasar masih sedhepan daging. pasar ageng pan samya suka ing ati. ing sadina-dina rena. Sang Nata. ing Pajajaran tanggale nuli…. kang winangun … unen-unen. iton-intin liwurkali. gelap pon sami ngulun. ☻ 14 . jemegur yen kaginan. sabawaning ratu susupaning wasi.. ☻ 13 Ajar Padhang ingkang dukmadhemit. rarakandheg mila dadya. sato-sato kang bisa akata jalmi. warna rupaning sambawa. jurig dewa mambar. kidung sari baung. ical jenenging wana. ☻ 10 Andrawina kang kawula alit. ☻ 12 Kang mambangan ules gumaringsing. kang tharokthok egar kapati. …. dhog-dhog byos pan dharugdhug. marapit ing …. ☻ 11 Yen bondanan pandununging…. sangkep sami kaprabone. Maha Raja ing Pakuaji. agenging kawula bala.

anyakra kapatiyan. angrekuricak cepenge. 17 Pan kapati kang duweni manis. Sri Jampang sarta jinggine. Ki Ardha mangun gen trahe nenggih. Demang Elu-elu. amegeng sewakanira. pan acaos basa ing aji.Datan roro tetelu ing kapti. isa baisa Dipati Alurcenang. ☻ 15 Mangunaken sagung kapurati. nengenaken sasagaran giri tasik. pating rangu rangu Sundha. sadasa sami prapta. lembah dhuwur lan pintu tundhaga. ing bener lawan salah. ☻ 16 Sabandare sing sabrang sumadhing. seja tuhu genya karsa angabakti. limbung aning guwa santang. pan sirnaning ratu sukma ing pati.ing sawancinira. santana kinabandu. Kikandhuruwan babalban. anyepeng para gul menak. ing ayunan sang prabu. …. ing Sundha ginunggung. ing Pahing dintenira. kang kepering angi … puraken gunung. anyepengi putusan pra padungapti. amageng kawicaksanan. …. cina Sundha kawilang lilima. saha sri ing samandhepane. Pasowan panggenan aji. rang-orange jinunjung inggil. andhum wancinipun. dine Wage jaganira. ☻ . ing Pajajaran suude. ingkang kacepengan dene. pasisihan utawi manca nagari. ngajengaken bomanta. ☻ 18 Ki Tumenggung Sayoga nyepengi. paningadhun sang Bima larang. akidang kandhuru. ragemragem mariboting sih. dupi ingkang kang nama. ngajangaken alun-alun. cekelan mangun gentra. gul menak umbul adhu.

ing ulu balang wau. para dhangan pasir panjang. kukuh ing pat Pakuan. naklukaken para umbul. lan ki dhalem Cintangbarang. sungga watang sarampang bandring. Pasir Adu Pulangdhang. nalika binathara. dhalem demang kangene. prajurit ing sawancine. pangaline rara nama Mundhing Jamparing. para idhang kang primanca. sura sowan sabrang pati.. ☻ 20 Ing Ciwindu anteng …. Kalibadhaglolopak. lan kang namane sinebut. dhalem Pakulada dhalem Pakuaji. kidhalem kuwu agung.☺ 02 Nyata sang roro ponggawa. sindhang kasimanut. dalem ingkang kunakuna. dina Keliwon cinepengan.. Sendang Cibuntu ing praja ngapti.paning. sinaroja umbul. sampun mentar kalawan idhine pati. nagara urut pesisir. ☺ 03 . kang kinarsa angirupi para ratu. sang dhang bana Ujung kulon wus anungkul. dhalem Rangga Pakuan.19 Kang Ngabehi Lempretmonge kang jagi. samya ngidhep ing Pajajaran angapti. dhalem Tepus nalika wong kuna ing Raja…. ☻ PUPUH II PANGKUR 01 Angir-angir ing buwana.

manglkana sandhenging wani. Jepun kulon gumulung. ing tetelar aniba pating talumpuk. Jograt Lantan Tawangpadhang. Raja Mongkara. ing Pakuan Pakuaji. ☺ 06 Kocap bala Pajajaran. dhening prahara lautan. Menak Lampung sadasa kang ngapti. tiba ing sawah-sawah. ☺ 07 Wong Sundha ingkang prawara. tan maju kadhadhak kawur.Banten …. Ujung Maladha. ☺ 08 . iya iku nama ratunipun. tanpa sangkan breking angin. bala Sundha ngadhaning rangseng padha kawur. ingkang ngambek sucira angrasawani. Karawang lan Ujungmilir. estu tan arsa kedhepa. Indramayu lan Kondha. pirang-pirang bala maju. pirang-pirang ambalan tan budhihi. apa maning sang dhang Jakerta panadhun. aneng Ujung Batagonggang …ipun.aji. dhumateng sang Raja Ciyungwanara Pajajaran. sadasa akedhep samya. ☺ 04 Losaribang kulon miwa. sang Srijunti sang Kalana Kandhanghaur. seja lurug dhatmakaning kulilip. lir walang kawur prahara. daman pangunjung tanah. ing titah …. Palimanan Carbon Girang katiti. ☺ 05 Amung siji ingkang nyelap.

. sabab bareng rereping kang lisus. ☺ 13 Padha bae suwaningwang. pusaka sang Prabu Galuh. amisesa sasigar Jawa. pan buwana Dhangwinta ingkang ngawangun. ya para age bu………. dhen dhadhi kulilip. iki kang si rajeneki. anubruk dhateng sang aji. ambeg sawenang-wenang. mangkana Ratu Sundha kang dhadha susulur. anila bimi ning angin. lan jajal. kang wus merad susirna. la iki kene apa. wong Kajiwa bumi re gelem nyangkul tembene ya ing amendhak. adhuweni buwana. enggal pan sira alaju. den ora gelem anungkul. den age caked…. apa bidhane tunggal enggoning bumi. yaganal pamuwusipun. budhi kethek napsunira kaya asu.. kang ora suka. ana jenek enggon kene sira iku.Salamine ing ngayuda. ingkang kadhang raja iki. padha ewong ambeneki. yika Badhak lolopak. apa gawe si rajenak ing riki. Lalangkara ewong dadi kulilip. datan ana wau ingkang ngucili. ☺ . ingkang estu warise juragan Ahing. pan pinanggih lan Sindhang Mongkara aji. Badhak Lolopak jal Kidang. ☺ 10 Puniki bumi Pasubdhan. ☺ 11 Kukubaning Ratu Sundha. ratu mung ngaku kewala. lawan Anglangkara ratu. sira ingkang selang gumun. ☺ 09 Nadyan …. ☺ 12 Raja Mongkara panabda.. ….

jar akathi Indang Gunung Sakathi. den wus kaebut kang jimat. ☺ 18 Kawula nana ngendhatna. ☺ 19 .14 Sigra sang Raja Mongkara. nuli prapti ika wau ingkang lisus. Kontal Badhak Lolopak. ☺ 15 Dedupak malih kapental. ing Kahuripanne raja. binalangaken tebah. matek mantra dhal emesal menginggil. ☺ 17 Ora kaya Ciyungwanara. ana ingsun ya negari. tiba tangi ngudhak maning.. kawur si Badhak Lolopak. kang dhen wadhali Beruk Kalapaciyung. mangsa suweya sasakti. kasektening Mongkara wantuning. den balangaken …. putraning Bramana Laut. api-api saha ngabdi. aja sira papa … iku. colongen ika kang tuhu. semunira karsa angadhoni ratu. ora meneng-meneng abalik maning. ing Munting Jamparing. mila Dhikbo samana. yen wis kanggep tungkuling wong aurip. ingkang kaparing …. balikan sulusupana. kabereg-bereg ing agin. ☺ 16 Tan kena aju narajang. ingkang mangkono ngadheg anyar. anyepak maring kang musuh. niba tangi anubruk mali dencawuk. anuli sira den cawuk.

watara satus dina.Yata munting Jamparing. bala Pajajaran kondur. Munting Jamparing lawan. saka tiyang amba ….. Beruk jimate Mongkara. yata kang bala Mongkara. tan adangu Indhang Gunung. kondur dening Badhak muring. sinerong ing amukan. pan gawa minggal tumuli. wong … angladosi. bala Mongkara kokalan. padha soroh ambek pejah. ipun. papaning bala mapan saolih-olih. satengah pejah dhen pupuh.. maring panusuling musuh. ☺ 21 Ramya ingkang pancaraga. ☺ 22 Raja Mongkara naraji. Raja Mongkara sira. lumaksana sawisiking Yangnini. ing Batagonggang angulun. ☺ 23 Dug Munting Jamparing. …. wus uninga pancing surupe Yangwiku. gumarudug anusul …. ☺ 24 . pan Silepe saking wingking. lami rowang anyekep marang sang ratu. Raja Mongkara mudhidhing. pan satengah pejah den wali-walik. Badhak Lolopak sampun kawalik-walik. Munting Jamparing angadhepi. ☺ 20 Katur ingarsaning Ingdhang awan. … jejel paring pitulung. andhawuhi kang udhan krama. wadya maju Badhak Lolopak alaju.

olih gaweyan manca nagari. kutha Idhang apa maning. mangkana arsa aji. gara tengah gara jati. ♥ 05 . … tigang prakawise nami. iku ingkang sawiji. lintang saka tipun niku. Sinungan lenggah arya. Kutha Manggung Kutha Raja kutha Gara. pan iku karananipun. ☺ PUPUH III SINOM 01 Iya iku purwanira. lan Arya Badhak Lolopak. ing bala Pajajaran. Raja Mongkara dhen asandhangi dhata tangsul. basa Sundha kang panuji. ngamperi rarasan sabrang. Sundha sari Sundha lengdha Sundha larang. Kanjeng sapta loka. gawe ewag saking Jawi. Raja Mongkara sampun angangya sewaka. kasri ing babadhanira.Angeles lumpuh entro raga. sastra selawe gumelar ya ing Pasundhan. ingapingan jeng nini. Pakuwan … Ciyungwanara. gara … gara wangi. ♥ 04 Kutha Larang kutha Jampang. gara aji gara pagu. ♥ 03 Lan rarasaning manusa. Ki Arya Munting Jamparing. miring Prabu Pakuaji. dhumateng purba nagari. Lalopak lawan Jamparing. sastra Sundha kartajani. yata prasami rinebut. kali prakwise nama.♥ 02 Aturing kang para … kawitan. gara jaya kang …. wus andhepok ing sihi tanpa sakti. Ratu Agung Sundha sakti. timbul salir wirasa.

putra estri kang paparab ing arja. ingadhang agung ing aji. ♥ 07 Medhangdhatar Medhangpala. Raja Galuh Raja Cingcing. ing kadhaton dhalem agung. kang pinangka prameswara. ♥ 08 Kang kasebut ing paparab. Ciyungwanara pakolih. gumelar rajaning ratu. Raja Kowek kalawan. dumadiya turun saluraning raja. ing wuri-wuri jati. pinutri-putri ing nata. … putra jalu. ratu Cunggilis krama. Ujungtana Ujungbarung. pitung prakawis anama medhang kamulan. lawan Medhangkawiraja. karaname narpati. Sundha Amalatra. Raja Jawa lan malih. nem prakarane ingaran. Bantaraung Bantarjati. Ujungkembang Ujungsemi. Raja Larang Raja Dhanu. Ciyungwanara wus mijil. kang nama rara Cunggilis. garwa padmi saking Gembong arah wetan. ♥ 10 . amung ika wanodya. ing Pajajaran sang aji. Bantalwaru Bantalwire Bantarjaya. Ujungkulan Ujungbumi. ing pura Sundha negari. Sundhalayang Sundhajahi. Medhangrasa Medhangterik. sapta loka wus dadi. lawan prakawise nama. Raja Wetan miwah malih. ♥ 09 Putri Purbasari mulya. lawan Ujungkandhi.Sundhawestu Sundhasana. lan gangsal prakawise. Medhangko … sajati. … jayeng aji. ♥ 06 Bantarwangi Bantarpanji.

dupi garwa sembar ayu. akathah ajar bramana. ika putri Purbasari. ♥ 14 Ing Pakuwan pinakrama. komalaning dhalem pura. agagarwa saking bebeting Bramana. wonten malih kang putra. ♥ 12 Mila … Banghayang. nami Dewi Tingtrim wawanginira. wus angapti maha dewi. ♥ 11 Lan Dewi Markeseh kembaran. sang korone becik-becik. kang kekasih iku Jeng Dewi Anjatan. gabuk ora amutrani. parandene oranana siji laksana. kagarwa dhening nata. kang miyos saking narpati. sanget kaul-kaul mambri. Markeseh ingkang yumanibini aji ing puri. menak Cicilutung gelis. kang jinalukan jajampi. esi tan kena tinedhu.Putrining Ciyungwanara. nuli sang Ciyungwanara. sang Prabu …. putri saking Bangbayang. ngalap garwa malih milih. Sundha ora nana maning. iku kang Pajajaran. dreman ing sabronjotipun. dinama-nama ing marma. ingkang tedhak sisiwi. … kagungan waya. ♥ . Pajajaran kaliyipun. nanging boya amiyosi. prandene … yakeni. Martingtrim ingkang yumani. parandene tan mutrani. usada … wus tepung. gabug salami-lami. sakaliye ing gigabug tan aputra. tan ana leksanannya. ♥ 13 Martingtrim Merkedheng lunta.

judhipatnantang weri. ♥ 16 Lir ta selirnya marapag. ♥ 17 Saluraning Pajajaran.15 Putri saking Kandhanglarang. katur ing nata Pakuwan. dhadakpulur wigalba wiragalba. mapan mangkana agabug. datan miyos putra. sinedhepira dumadi. ♥ . cathik-cathik raja peni. langkung kawandasa sasi. … kang upacara. sapaliye Purbasari kang ngagem. Purbasari wadon kang winadhang-wadhang. rinegep sari ngumining. para ratu kang karsa … lesan. jajampi sing ngenda-endi. sapalih ngapti ing siwi. Bawatciyung Naga Sakti. yen tinaros banget lumuh. iya orana siji. ingkang amiyos sinunu. ora nana ingkang darbe laksana. dening karsaning narpati. ingkang ngadining-ngadenan. ajumbula moning angaksi. krajahan dhen palipur. kereronce kereampit. dening mung kalethek siji. judhialiman sang dhekur. gawok kasri nalendra. Bawatbenggi sari Manglar. tan kenging dipun purba. ♥ 18 Dugi maring pabarisan. supaya wadon lan lanang. ginawa ing sang aji. suradhadhu sarabang. saparoning pribadi. dereng karsa alaki. nami Dewi Kilikmangi. mila saderenge lalis. saparo ing sunu ayu. sang Prabu Ciyungwanara. ♥ 19 Purbasari lan kang rama. kadi kembaran narpati.

padha mundur mulak ora tinampanan. sapta loka pari mina. ambaka … pikulih. ing ngarsane sang Dewi. Budirujit … Budi …. ☺ 03 Luwilaja Luwilidhung. akeh kalesan balik. ♥ 21 Ajaja sipating jalna. sing sabrang saking Jawa. ingkang mara-mara balik. Budiwati Budiminging. Prabu Ciyungwanara. kang akarsa samya balik. kang arsa sewa panglami. rada melang-melang kapti. padha mengga ing ngalama. ☺ . ♥ PUPUH IV KINANTHI 01 Sagung papalisanipun. ☺ 02 Saprakara kang sinebut. bok sang putri kencok aning mamala. nanging datan den pidhuli. Sokapura Kokaaji. sedhengane dewa aji. Luwiladha Luwidhingding. pan mangkana wangun mali. kapepes ing tan kaconggi.20 Pirang-pirang kang sewaka. telung prakarane nama. Budipandhang miwah ika. saking kang rama narpati. ingkang mara-mara kondur. Luwiseeng Luwimundhing. ana baliking dhalanggung. kang ingarsane si rara. rong prakara ingkang nami. Budisari Budigolis.

sindhangayu Sindhangaji. miwah ingkang Sindhangkasih. pitung prakarane kang nami. ☺ 07 Sabdalarang malihipun.. padhamatang lawan….☺ 06 Padhamuhi padhamadhung. Kawungluwih Kawungaji. sokawiyana lan malih. limang prakarane kang nami. ☺ 08 Sampun ing kadya puniku. padhapenah padha bongor. Sindhangkempeng Sindhangbarang. Sokanegara apa maning. dumateng putri Pakuwan. Kawunggehe Kawungomas. ☺ 05 Kawunglarang malih ipun. Sindhangwangi Sindhangpala. Sabdanawa Sabdasari. Kawunginten Kawungsari. ☺ 09 . nem prakarane kang nama. Sokamanah miwah ika. kng simaan rama aji. patang prakarane kang nama. dupu rangga kapatihan. Jeng saputri Purbasari. padhareka padhamuraging.04 Sokapolang Sokaratu. sabdamenyat Sabdawangi.

salwe princi kawilang. la iku dadi laluri. Menakwacacayan istri. mangetan jajahan istri. Panjalu muwakawali. Cikandhang Cicaridhangan. Mangunkentra rada …. Menak Mangun … praniti. Ciamis lan Sokapura. mengulon iku kang dadi. dupi sing kalih bayabang. Cibarangbang Cipaburi. Cionje lawan Ciori. iku sun dak sigar wetan. lamun pajajahan istri. teka ing satedhak-tedhak.Dupi ingkang rama prabu. Ciyungwanara ingabdi. Cigugur lawan Cirayap. pusaka kawuri-wuri. ☺ 11 Cikaso lawan Luragung. ☺ 14 Bayabang kali Cilutung. prawatesanipun kali. Menak Pakuwan ingaran. dening Arya Mangunkentra.☺ 10 Rang-urange pandumipun. Lebakwangi lan Cikuwang. Ciakarwangi katiti. 13 Purbasari kang amengku. Karapu Yudanegari. raja Galuh lan Talaga. Kuningan lan Sindhangkasih. ☺ 12 Cikendheng lan juga Cigintung. sapure kang katiti. Makber lan Cipamali. pusaka kawuri-wuri. ing sapandum-pandum nira. ☺ .

jajahan Sundha nagari. ☺ 20 . laluri ugi salami. Batuwalang lan Biribis. kang angresa hawa aji. sigar kulon sun dapuri. Cianjur Kujang Limbangan. Tegaluwar apa maning.15 Pasawahan ramanipun. salawe princi kawilangan. Menak Pacacahan lanang. Sawung … Gantilah Munoro. Cikokok lan Nungkalaya. ing pajajahan angabdi. kang nama Menak Pradhangan. ☺ 19 Wus kukuh kang bala ratu. Bogor lawan Kanjapura. Sokowiyana lan malih. sang Prabu Ciyungwabara. Ciyungwanara apa maning. ☺ 17 Manonjaya Garut Ciaur. ing ngarsa Sri Pakuaji. ☺ 16 Pon salawe princi umtul. Ujungkulon apa maning. kang sarwa tinandur dadi. Sumur Bandung Sunedang aji. karata gampang pangulatan. ☺ 18 Wanabaya Cibalagung. Kadangladhang Pasiraji. ukurlantara Juangin. wengkuning Arya magentra.

kang sinung sasapan indhi. Indhujanten Indhugirang. Parekatan iku Sundha. Indhuraga Indhusari. ☺ 25 Paindhon kang winalungun. Paraketan nini aji. Indhupari Indhuaji. Tegalmoto ingkang dadya. Bojongrentan ingkang dadi. ☺ . 24 Tegalmenak Tegalbaput. nuli ika garwa lima. ☺ 23 Bojongmuntas Bojongwindu. mangkana kang prameswar sinung cacapagunungan. jeng pawestri Cunggelis. Parekatan bini aji. Tegalkolot Tegalpakaji. Kapitune Inddhujaya. gunung Ga Gunung Licin. Tegalgubug Tegalkunyit. ☺ 22 Kapituning gunung wupu. Bojonggaluh Bojonglapang. Parakatan pawestri. gunung Lajer gunung Kelir. sinung sasapetegalan. maringtrim Merkedheh mewah. gunung dhukut gunungsira. dupi maha Dewi Sundha. 21 Sami sinunut cangkohipun. sinung pobojongan menggih. dhupi iku aneng ana. Bojongnerwasa Bojongleppit.Sakalir karsa kadulur. dhupi sang jeng bini aji. Anjatan lan Giliwengi. agung kacipta dumadi.

Lebakpanjang Lebakwangi. prasasat den prenca-prenca. kasilane den remani. 31 . 29 Mula akeh menak umbul. anggelar enak ing urip. ingkang satta sabumi. mangkana adat Pakuwan. Lebaklawang wus dumadi. sinung palebak kalepti. kamukten den bagi-bagi. mila-mila kawisesan. ☺ 27 Sawawasa prati umbul.26 Dupi ingkang Dewi matur. waneh kang campur wong sabrang. ☺ 30 Padha among sanak sambung. dening kang padha anyewa. maring bumi ming narpati. ☺ 28 Temah dedeake Ratu. waneh ingkang leletana. bedha lawan Majapahit. Lebakcenang Lebakcehang. ing Pakuwan ikut yakti. golong sapurba sasmaya. ora selang surup apti. kang kanggo salami-lami. Lebaksidhu Lebaklenggar. iku rerekan Pakuwan. kinalilan purba bumi. angreka sabagi-bagi. dhupi Pakuwan Marinci.

pamajeganing pangumping. ingkang mawa tatakeran. iku Ratu kang dheres. yen wis padha ngundhuh-undhuh. sailing-elinge padha. pamule pegantang salir. ingkang lumampah ing Sundha. kethang prunggu kang sinundhuk. Ki Lurah gurupadha. mangkana kang lurah wana.☼ 02 Ateka yu kang lumari. ing tatali karompyangan. kus jembar kahuripane. atur catur baktinipun. lelemes buwatan sabrang. anut maring kasabpolah. wus dadi anak Pakuwan. ☼ 04 Palawijaning wong cilik. ☺ PUPUH V ASMARANDANA 01 Ki Lurah Rawaprasmi. kekendhangan kang isine.Sewa aning paken agung. kang sabandar pajeg ira. den elus sakamya-kamya. tukang maring pajeg trasi. babakti ing majikan. pamajegane gugubar. ora nana pajegane. pamajeganipun gula. ☼ 03 Bolong-bolong kaya dhuwit. bendher den cap sastra Sundha. tangu gegel ing majikan. sawah tan mawi lalanjan. pagantang pajeganipun. ☼ . mung den wis panepadha.

iku kang dadi pegele. tatambah wus mider tepung.05 Warnanen sang Pakuaji. pinardhi ingwang tuwa. re kang putra samana. ature wau kang putra. besane lamon kinuwu. sang nata sanget gegetun. dhupi iku teka mingkung. kang karsa dhateng kula. ☼ 06 Wanti naros ingkang yudi. ora nana kang misata. manahe Ciyungwanara. kewuhan dening kapadha. wiwiku lan ajar-ajar. ponora tumama kabeh. ☼ 10 . sumadi isun akrama. ☼ 07 Kaul alukan mati. winadhang-wadhang wiyose. marna bangsa raja. turunanira drapona. ☼ 08 Wus pirang-pirang pamuji. japa mantra lan istiar. tumon adate kang putra. ing salamine amurba. akarsa ing sang rara. reiku kang kinudhang. ing Pajajaran tuwuhe. tan arsa akrama ingong. ora nana kang tumama. Purbasari naminipun. mingkung dhatan arsa krama. tan ana turun tedhakan. ☼ 09 Kalangkung bebek ing pikir. sanadyan para nalendra.

☼ 13 Ruru bae anggonturi. mila sanget kewuhane. tumpes aja katingalan. ☼ 14 Ageng ilur sundhul ing langit. tumanga geni sakala. kawula sumangga pejah. sakabeh ika padha. ☼ 15 Alum kula anglabuhi tumangan geni sakala. 12 Saking sabrang Raja Kelir. lawan Arya Balangbangan. kang dadi bebeging manah. kang asresewa panglamar.Du uwis amung sawiji. Purbasari dhuk sabda amit pejah rama prabu. Purbasari inggal mangun. lan Arya Dhagdhagase. ☼ 11 Ratu Sabrang Ratu Jawi. enggone nari kang putra. jasad kawula sanggine. wadon tumuli mangkana. lawan Dhipati Cidah. iku dhipati Manglewat. wus loba tanpa wilangan. turunan lantaran krana. saking anagara Tuban. ing kadang ing ngakin. dhadhak sakala ika. lir baronggong beledhoge. tan kena den palar mangke. lawan Dhipati Japara. marakbak kagila-gila. temah puthes anak putu. lan Dhipati Singgapura. den kula pinardi krama. suradil pan titah raja. wuku pring apilar wangwa. dupi den lumuh krama. den nama kumudu-kudu. ☼ . ing Prabu Ciyungwanara. anggondhel prakara iku.

☼ 20 Babarayan ngadek aji. mundure tut sausap. wirang nekaringgit ing jasad kula. sang Prabu Ciyungwanara. boten memper dhateng rasa. sama dening kula wirang. ☼ 18 Rasa kang sampun binukti. nini labuh geni sira. ajur kula dados awu. kang dadi ati ewuhe. lan anak putu den rampak. sing purwa teka daksina. ☼ 19 Lan aki sumamung aji. sanadyan nama sihing rupa. kang dados sakiting manah. angandika aja babu. atemah boten mambu. ingson kang urip dawa. way kalereng anggepok. den sampun gepok ing rasa. mila kula angedados. sasada susut den wis waya. tan kangkat to nandhang. anak putu den arampak. mongsa pira gesang. padha bareng mukti kabeh. sipat matane si rama. mung sira tan ana liyan. ☼ 21 . anunggoni anak putu. istri kang kabobongganan. kaprawasa dening priya. purnapa awu sahana.16 Sumandika umalaki. ing kamukten padha uman. ☼ 17 Jaler punika kamangi.

☼ . amung siji anak kula. ☼ 22 Den pinaksa alaki. kang geni gupak cawisan. ☼ 26 Ika iki kangngangking. tan kaya dening dadaman. sang putri juwala purap. wawadine kayak iku. tinari laki popoyan. Dewi Purbasari girang. dados awu lelebaran. nanging ika tumangan. ☼ 25 Ciyungwanara mangsuli. den kula pundhi kentasa. sesaengek jamak wanudya. utawi kaluncurane. raja-raja atas sabrang. tinaros mangsuli iya. jamak istri asasdhu. masih munjuk kang dahana. mila tumangan masihe. tan asung pinancas parum. kang suka punika rara. ☼ 24 Mangsa wontena pawestri. Den Purbasari medho. karinggi awak kawula. sejane labuh dahana. sak akal budi pandaya. kang rama kadi mangkana. den sampun bubudayan. prandene den anakake. 23 Sang Ciyungwanara aji. karanten dan mangke tulus. ora jamak lan manusa. mangke kang dados parenge. mintuhu sakadikane. den jeng rama sampun asung. amangsuli kang anggondhel. tan nilapaken rama. maredheng … maksa. kawula kelangan anak.Mangkana prangregep mami. nuli ika temahan lampus.

maketen ugi ciptane. nanging putra sabrang kabeh. memanten dados ing karsa. saduka-duka kasuhun. munggi kang rama lila. sok dadiya arju. sing ngakenggep ing babajane. kasabrangan pan sadaya. ☼ 29 Panuhun raja tas angin. kang boten kanggep sanjata. ☼ PUPUH VI MIJIL 01 Ya Prabu Ciyungwanara mangsuli. rempage kadi mangkana. ing adat tabidat Sundha. dipun jemba ing pamuhung. tapi punika satuhu. boten dados pana sarana. ing songonging kasabrangan. kita sami medhek sowan.® . raja rama Ciyungwanara. gih punapa karsa putra aji. boten wonten roro. rumuhun kita lanat. ing cilakane awak. kawula dhuluri. sak lilaha ing jeng rama.27 Raja sabrang mangkeya angling. anuhuning palamarta. ya tetelu aturku sajatine. ☼ 28 Ling sang Putri Purbasari. tumangan kita pri pejah. aweyos geni jatine. andhadhanr untunging awak. ☼ 30 Bilih boten angrakepti. sasampuning geni urut.

02 Sampun nelangsa ing salasa tunggil. dhateng saenipun. dede geni pranti. bilih putra mangko. kaduk mahinggurut. dipun sengget runtuh. lagi laut kang jro jembare. kang suker tinatas entong. nuntenweleh geni boten moset. karanane punika kang geni. geni lawan toya musuhe. para putra sing ngatas angin. panedha kula ing sadayane. punika kang dados. kalawan parahu. kang atos inggih dipun linggis. gih cobi kemawon. mangkana kang inggil. ® 06 Ingkang letak dadi pujajagi. sampun kadhalangsu. ® 05 Raja-raja sabrang aturnya aris. ® 07 . pan rama ing uni. 03 Kula tempuhaken lawan nalisip. manther angger tan ana surude. lan dipun langeni. ® 04 Heran kula ika geni. kenging ugi den silulupi. tan wonten sosolot. kula dhugi wonten nyurupi. adhining asakti.

kang murut mrangmong-mong. wane gobakwari. rurubahing ratu. la inggih sakarsane sami. ewu mana para ratu. sisrate mancur. bumi metu banyu. dhateng saenipun. ting surakata ing sahakale kabeh. dhateng putrinipun. kocapan sang katong. ruru bae wus anjaladri. lumuhe tan apti. ® 12 Ing alun-alun wus dadi ukir. kahula kang nguning. kawalahan anglaladeni. Prabu Ciyungwanara sahure. reka-reka gatos. pangumbuk-umbaking. akal sabrang ing sabagi-bagi. warna-warna katon. ® . 09 Ana gawe banyu janantrawis. ® 10 Sigegen ingkang sabagi-bagi.Punika malih wernine kang geni. ® 11 Sya kathah kang para bupati. kang anglamar tiban sampire. maring kang ngamambri. ana gawe banjir. kang sadya patakon. dening ewuhe putraneki. banyu pecut kang munjuk mancure. ya sang prabu Ciyungwanara jatine. ® 08 Ya ta raja sabrang ting padhigdhing. gampile kang mangko. gawe pongpa kang anemburwarih. ya sang Prabu dereng nampani karsane.

lan gawe tahinipun. Ujungtanah malih. buta geng asiyung. enggo apa thongsot. ya prandene tan kanggep sawakane. den panjer dumadi. ® 14 Sakapate anjum aminta kasih. lan putri ajodho. ® 15 Parandene ing putri den tampik. gewe ingkang tewi. aneng kene anjejemberi. la ika duk pahor. den panjer dumadi. buta ngengenggo apa gawene. ® 17 Dasa rupa merat sampurna lalais. ing praja gung kono. lawan Kandhanghaur. dedenira jeng putri anampik. ® 16 Dalem Ujungtanah kang panggapti. sayajenggi lawen manggi kardi. la den nemu gawe ika nuli. maring putri kono. enggo apa sakti. musuh datan weruh. Palimanan kalawan Junti. kaya kuwi niku. dhalem Palimanan wau sewakane. ratu papat iku rurubahe.13 Kang wus sewaka kulina ngasi-asih. ® 18 . Sadhajenggi matur kasaktene.

endah rama malih prahuake. parandene tan kanggep sewakane. wohing rarawe lir wulu kucing. anyiluman kidul. parandene tan kanggep sewakane. dateng putri kono. ® . 23 Nuli katon macan ageng wingit. ora papa mungguhing mami. ® 21 Gigilani mungguh ingsun iki. baju kaya ikut. ingkang kaya iku. nangkono den panor. anganti kang buhaya jiji. esak-esak katon lawan katon. kang walira katimaha gawene. la den karsa lulumbaning tasik. gawewan rinusak. kang ulese loreng lir kulite. la saka sanake. ® 20 Jajar-jajar kaya gethek ramping. ora rerengkono. ® 19 Dalem Munti ingkang pangupami. dening putri tinampik malih. bubuhayaniku. ing putri den tampik malih. sakti kaya bellis. buhaya tan untung. enggo apa sakti. atur karsa kang akon.Merat-merat apadu menesi. saktine den manggih. wohing lir kulite. rasukan kang poleng. ora sudi mami. enggo maning. binuwang dumadi. ® 22 Dalem Kandhanghaur kang pangapti.

amung kita darma ngopeni. ina temen mungguhing mami. esak-esak ewong. datan ana kang kanggeping putri. nuli dadi dato sanepane. ingkang kawan warni. simpenen kepati. rang-urange gupuh. ya ta atur-atur balik kabeh. tan kaserep ing putri karsane. iya Endah Kitarawati. ing gedhong kilempong. gadha dalem pakuncen kang gedhe. ® 27 Ana gunane ing sawuri-wuri. sakti kang samono. jalma nyarupaning. bok menawa besuk. sanadyan tan kanggo.24 Dadi macan apa gunaneki. ® 25 Ora layak temen mungguhing mami. jingika kasaktin. ngulatana ayo. maun padha iku. Purbasari apik. dupi iki yawis teka dhewek. iya saking iku. ® 28 Gemenana ing kawan prakawis. nanging kersane sang Prabu. pramilane Pakuwan darbe asakti. ® 29 . ® 26 Ciyungwanara mgadheg pangabekti.

warnanen ika sang prabu. macan cipta saking. ® PUPUH VII MEGATRUH 01 Kawarnae ingkang padha sungguh-sungguh. rong prakara ing Pakuwan bangkit. sareka budine entong.Saprakara Pajajaran bangkit. © . Pangroban ya sakti saking. Ujungtanah pasthi. ning mongkara windhu. sing lor sing kidul sing kulon. cipta buhayangon. sabrang amateni geni. ® 31 Telung prakara Pakuwan bangkit. den panjer dadi ing wiyange. rebut dhingin den dhingini. nyipta buta ijo. ® 30 Kadi merad sapadhaning lalis. dalem Kandhanghaur. patang prakara ya bisa dari. sada kang den enggo.© 02 Banyu singsor sing dhuwur padha maribu. iya saking Palimanan asale. sadaya pangngabakti. duga kaya udan ribut amalabar ingkang banjir. ora katon dening. pambereging musuh. saking Juntu tudu pinangkane.

geni manjer tanpa surud. maring genining manon. © 05 Ora pira budine pating dharug-dhug. urube angger tan gigis. kaduga pitung bengi. naging tan bisa mateni. raja sabrang kaliwat ing sor. gumuruh sorak bala wong. prandene tanmigateni. © 06 Kaparimen yen wis geni ora purum.03 Saking wetan campuhe wau kang banyu. iku geni ngisin-isin. surake kang para aji. sumagar ngarepi putri. prandene kadhuk asanggup. tan bisa meteni geni. prandene pating padhig-dhig. angraba kena ing banyu. © 07 Saya santek geni tinuruwan banyu. ratu sabrang nyata wadon. banyune cabar cawiri. iku dumehne wong wadhon. © 08 . tan ana endhaning banyu. © 04 Ladalah rekaning wong sabrang gathul. wong Pajajaran gumentur.

budi rekane wus pokok. © 10 Purbasari genine patut den iku. prakasa raksasa gasik. munggah ing gunung den enggo. lema dadi wangwa geni. muwuhi gedhene katon. gelare ya kaya iku. iya ana kang nyumurupi. nanging ora dadi mati. © 12 Dalem iban Palimanan lanunipun. niyat sami tur garumbyung. gawok para narpati. Ciyungwanara duk angling. prasami apikir-pikir. © 09 Kawirangan dadi sira padha ngandhu. la iki intening wadon. dadi wedang mulak metu. © . © 11 Duk angandut nuli ana ingkang laju. © 13 Angurugi geni wus jumegur-jegur. seja amateni geni. dadi buta sada iku. ora mati dening warih.Manonjaya pawestri jeng Listupaku. dangu-dangu ika warih. ora yamane ya ewong. saha kala akalengkono. iya bener ing sang prabu. mundhak dadi urub-urub. kang anglosot anganjerki. anyangking sadanya jenggi.

© 15 Lan walira katimaha buhaya muncul kapethakan ngebyuki. dalem junti denya norong. ora kaya urip maning. sigra angrehai geni. ora suwe jebul maning. buhaya musnah kalowos. dening rara panas nenggu. yen den senggreng pesparum. wangwa ambles geni masih. mangkana layan mangkono. © 16 Gene pager ora nan sudanipun. jer si geni den surupi. dhumadi ana gumanti. © 18 La yen nyenggreng ing geni adadi parum. dalem Kandhanghaur sakti. atemah geni dhuwur. dewaji dhemit. lelewane galak katon. buta ilang tan nguwali.14 Ya muwuhi gedhene ing urubipun. © 19 . macane kang di adhu. © 17 Nuli ana gumantine kang lumaju. padha anyunguri urub. Sunan Tambalayung Kolot.

© 22 Wusing kadi mangkana welehing ratu. egare sang Purbasari.Mati urip mati urip urubipun. © 23 Aja wonge genine panika punjul. la iku sembaran ingon. singa-singa kang sakti. kalesan kang mikarani. bisa mepes geni isun. suwe-suwe urip jati. © 20 Dalem Ujungtanah anyangking sadha dipun den sabetaken tumuli. anglabuhi sembara wong. tan suwe jebul kemawon. yen den sabet pes mati. dadi padha minangkani. pasthine sun aku laki. ratu salawe prasami. macan sirna geni murub. miyarsa sembara ratu. dening welehing wigatos. payu ayonana iki. maring geni lawan parum. putri Sundha kang wulangon. kadya kaduk wuwusipun. dening geni delap timbul. © . © 24 Iya iku kang dadi nereging laku. kalesan kangarah pati. © 21 Datan mendha mati maning jebul murub. ning geni lawan gumantos. kawirangan para aji.

satriya sanusantawis. sewanehe amangsuli. carat sewu sumarongbong.25 Ratu salawe nagara la iya ku. gampang adat kang kalaku. rujitmanlawe lan malih. sasra yuga dasa pati. padha karsa tegal lan ratu. gembong Pasuruwan agung. © 28 Tobasruyungan sarayaksa kendha layu. Manggadapura agatos. saking awu-awu langit. pangulawat sampun sami. © 30 . seja amateni geni. © 26 Mangka dipati Surawangga malihipun. para mantri lawan malih. geni apetaka den go. © 27 Bongdaraji manggala sarebo jagung. agunem-gunem anglabu. bimakkendra gili uri. mangsa kilapa kang ngenggo. © 29 Kang den enggo sayembara atiku kuwung. malapati ing kadhaton. geni adhune warih.

gawoke para narpati. ana kang nyipta gelap namber ing geni. kabenan dening topan. alagelar dening yakti. wawartose angabati. tan kawagang ing ginisi. 03 Tampek geni iku ora kara-kara. dupi ika kang geni. masih ngayeg ingkang geni. © PUPUH VIII DURMA 01 Ya tawiyang ratu salawe nagara. kita padha dhulu-dhulu. 04 . apara ratu wira sakti. sinten kang bagja kemawon. saking ora paranti. ana kang cipta. Mingsun dhahang ngayoni. pon masih kaya saban. topan kagiri-giri. urube tan obah. dening banyu datan kawon. anyipta awan deres kagiri-giri. amsih ngenak-enak. dhatan dhoyong samendhing. ing geni sakala. 02 Ilen-ilen banjir bena amalabar. geni tan mati neng banyu.Pati-pati den sembaraaken ikut. © 31 Pramilane cacak coba samya rawuh.

geni dipun bedhili. kalawan kabalang. ningali ungguling api. sangsaya mundhak. maring urubin geni. kaya saban duk lagi. ora dadi apa. waneh kang yipta udan kalalar wedhi. kang sami hebat ningali. 06 Karsa waneh ana ratu nrajang lan pana. kang sapendhil sakalenthing. prandene geni tan mati. deni dipun panahi.Parandene geni tan kage tan obah. 05 Angebyuki ing geni tan kara-kara.lan sabalanira. gedhene ingkang geni. raja-raja ingkang. para sang nata. sikep bandring-abandringi. dengo ambalang. ya ora nana ngudhili. sawancining sanjata. 08 Waneh ingkang para ratu lajune rampak sabalane ngebyuki. kaurungan ing wedhi. watu kang sakalapa. 09 Ora nana bisa ingkang matenana. sadaya awurahan. ing geni apa maning. pan angger tan mati. guru gelap tan mateni. kang geni waluya. heran kang tuminggal. 07 Ana ingkang maju sabalanira. suraking bala Sundha. angger urubing geni. padha angrobi pana. agni sakala. . lan geni apa baya. sabalane arampak.

12 Datan ana gunane mipis dahana.10 Kang saweneh ana ratu kang narajang. wau kang nama. saestu kang pasang giri. kang saban-saban. prandakane kumaki. kocak kang jagad. wus entong kang tanaga. 13 Dewi Purbasari langkung bungah. geni dipun pendhangi. geni masih lunta. yang tala kaherang. ya ora karasa. surake wong Pakuaji. ana ingkang numbaki. den arani kaya geni. kocap ratu sadhasaring. tedhak Prabu Galuh dhingin. pangameng-amengan. tan nana miyatani. ngrasa kagungan asri. iki geni dhudhu geni. Sanghyang Bulusputih. urube kaya saban. waneh ingkang anyudhuki. para ratu tan sakti. Sanghyang talaga. tur ta laya tuwana. putri Sundha asakti. panyanane la apa. dipun wasa-wasa. 15 . 14 Pan sinegeg kang pasang giri punika. 11 Nonohogi wis sabagi-bagi tingkah. maring dahana. lawan nyata.

Putri Rara Panas. Lutungkasarung asakti. awit putraning Sanghyang. Hyang Jakahawa sakti. Sanghyang Maharaja. iku kang anama. maraja Purbasari. 17 Sanghyang Talagamanggung duk pangandika. kang geni pasang giri. 16 Genem kalih sodara wedhi kang nana. si jajaka tawa. . dhiwone padha mesat. sajane angaoni. 19 Banyu pitung windu gawanen nyeblak. aputra-putra mami. den sira sumeja. denora acining warih. Talagamanggung nama. camethi kalawan geni. mesat aniba. tangtu sira amakolih. 18 Seblakana iku geni tangtu pejah. ya Indhang Telubraja. adarbe siwi pandendhi. tan kena gagabah. weruha sira. kang nuksma aneng geni. lawan sasabet iki. mengko den kaseblak pasthi. ingkang anama. ing Banten prananeki. iku kang pindah-pindhah. Lutungkasarung sira. iku kang anami. ajodho lawan. 20 Iku putra Sunan Tambalayun ika. adarbe siwi panendhi. bareng uculena.Kang ayoga Sanghyang Panggungkancane. ana guneman. Sanghyang Ngacihiki.

21

Saendenge intri alumuha krama, panas bawane benjing, kang singa kadhokan, tan kuwat ing sangsara, besuk mari-mari mandi, den wis kapendhak, lan Jakatawa benjing.

22

Pecut iku tibane ing bumi Selan, besuk tinemu wuri, si Jakatawa, jodho lan Rara Panas, besuk aneng guwa jati, gene panggiya, praciptanen den jati.

23

Pan wus tutug kang pangandika samana, enggalira tumuli, Jakatawa dadya, golethak sampun rupa, cemethi sihaciwara, kena ing sabda, ingkang sayoga mandhi.

24

Layan Lutungkasarung pamit anembah, sarta nyangking cemethi, dinulur ing karsa, dhateng ing Pajajaran, nembah matur ing sang aji, yenara numpak, sayembara raja putri.

25

Prabu Ciyungwanara ngandika liya, kamanyangan den yakti, munggapa kang salah, ing seja sudi malar, kaputren Sundha negari, ambabarena, si bapa kang ningali.

26

Yata oreg kalabandhu Pajajaran, seja nonongton mangkin, ing sagelar ira, kang ngarama rawasa, nyata geni den cemethi, geblas asirna, bareng lawan cemethi.

27

Bareng mesat cemethi lawan dahana, suraking Pakuaji, den ini satriya, olih gawe gadhang dadi, majikan kita, pan ora pindho gaweni.

28

La ya iki nyata tegese wong lanang, ladining sajati, nyata tedhaking nata, wani ing Sundha negari, tangtune ika, mangsa liyana maning.

PUPUH IX LADRANG

01

Kawarnaa jeng suputri Purbasari, pareng mulat, ing geni mepes wus lalis, dadi mujungbaheng pagulingan.

02

Ya sang Prabu Ciyungwanara sedhep manggihi, maring ika, Lutungkasarung den angling, ya ki mantu ingkang murba sigar wetan.

03

Menak pra kuwu kapurba sira, kang ngimponi, iku cacangkoking putri, pra watesan bangbayang purbaning anak.

04

Sakarepa angolahi ngadeg narpati arimbitan, ki mantu kalawan rabi, Purbasari la iku ing jodhonira.

05

Lutungkasarung ing sembah ira kapundhi, si jeng rama, pati rang-urange gasik, byantarakaken dhateng ing kawula wadya.

06

Apa kaya adating ngadeg narpati, maha raja, Lutungkasarung muponi, sigar wetan Pajajaran ingkang murba.

07

Menak pra kuwu dupi ingkang ngapti aji, dupi menak, prayangan masih nyungkemi, maring sang prabu sepuh Ciyungwanara.

08

Sang maraja Lutungkasarung winarni, genya ripta, pan nagara anyar dadi, arah wetan pan katelah Pajajaran.

09

Karajaan gumelar punapa kadi, ya para raja, lan jalma ing Pakuaji, wus ora nana paja-pajaning manusa.

10

Ya wus apa dudune mara jabali gene raja, ing Kiskendha duk ing dhingin, ya amangku garwa widadari pelag.

11

Mung siwane Lutungkasarung saiki agagarwa, dereng patut sarasmine, durung becik durung sajejeging akrama.

12

Nanging iku wus sangkep kang bini aji, miwah ingkang, garwa kalingking kang nami, matur dewi marapag selir akatha.

13

Kawandasa sisihing selir kang selir aji, amung iku, prameswari Purbasari, masih elik durung sakastaning krama.

14

Dhudhukune singdhi ora kang nambani ora nana, tatambah kang miyatani, ajar cantrik nusa Jawa pan kalesan.

15

Kalesane ora sanggup anambani prameswara, Purbasari denya elik, maha raja Lutungkasarung asabar.

16

Sabab kapuhung pyambege madeg aji lantarane, saking Dewi Purbasari, ratna iyang jongratna sapa kang gawa.

17

Tan na liyan Lutuingkasarung prayogi putraningkang, panggung kancana asakti, lami-lami sang raja amanggih warta.

18

Ya sang raja Lutung kasarung miyarsa wartyi, pulo lingga, yen ana brahmana sakti, ingkang ana ing lingga ing kasabrangan.

19

Kaya-kaya ika bisa anambani prameswari, namaning brahmana kuwi, kaki brahmana Maniklingga Buwana.

20

Ya ta Prabu Lutungkasarung nimbali patih ira, patih rang-urange pinrih, kang pinutus nabrang maring sang pandhita.

21

Den sawawi ature ajar maniklingga wayang, rawuh aneng Sundha puri, kang sun ajap sun gondhela ingkang usada.

22

Badan tampi rang-urange timbalaning karsa nata, dadya sejanira gasik, sarta Panglima kakalih ingkang binakta.

23

Lalawaran ya iku panglima nami, Ki Lagondhang, kalawan Ki Gumariming, sarta dipun binaktan adhi rurubah.

24

Kang babasan panglalandhep lawan wajani sabaita, isi gula aren jawi, sabaita isi empon-empon jawa.

boleh Sundha. woten kersane sang aji. . lalawaran wus teka ing pulo Lingga.25 Saparahu isi pucung lan kamiri. dhateng madhigda ing mriki. inggih tuan yen katuran. 30 Angrawuhi dhumateng Sundha negari inggih ara. lan lelemes sewetweton buwat Sundha. 28 Pan wusmedhek ing ngarsane bramana luwih aba saja. gegel nata. sapara umaning isi. ngaturaken pasihan dalem Pakuwan. 29 Pitung prahu kang kaisi warna-warni. 26 Minyak kacang miwah saparahune maning kang sasoca. den kaputus ing sang aji. ki brahmana Linggabuwana anabda. sela weweton sing jawi. minyak jarak kalawan minyak kalapa. parahu pitu lumiring. 27 Sigra layar ki patih dhateng jaladri sartanira.

puji pangesthi kang jati. data ana kang bramana iku bobad. tumindake jengmadigda lan kawula. . sareng ngalempa pribadi. tulung usada kang jati.31 Sarta gumujeng asuka rena kang ati aturena. pitung prahu gawanen balik. aturena maning ing Sri ing Pakuwan. 34 Aja lawan den ruruba iku maning isun seja. ing prakara gegele Sri Pajajaran. 36 Ki brahmana sabdane patih ya patih aja kurang. mapan ingwang. pracaya kang maring mami. patih rang-urange wus age balika. isun medhek ing Pakuwan. 35 Patih rang-urange ature ariris bok punapa. pan wis karsa aji. 33 Aja sumlang ing karsane sri bupati. 32 Iya ika luwih nuhun nanging kangsi iku barang.

PUPUH X PUCUNG 01 Ya sang patih rang-urange sigra wangsul sabaitanira. nanging lamon bobad. sampun abalik sakabeh. 04 Tangtu jagad pandelenge mung sagandhu. den estu pramana. sejanipun medhek dhewek. . ing rurubaku prantine. kita tumpes ya ika sang bramana lingga. 03 Ya sang raja aris ing pamuwusipun. karsane madigda. tangtu mangsa bobat gedhe. 02 Pan wus katur ing ratu Lutungkasarung. miskin tan ngulati sugiye tan rarawat. lawan mangsa suwe laku den lalampah. lan mangsa gelema. lalayaran dumugi ing Pajajaran. pun bramana sampun ngartos dhateng karsa. 05 Wis becike anti ratuhipun. padha kita lurugane.

Raden Mantri Ranggalawe. ingkang sarta lulungguhe. terang layan karsa. lanang pinangaran. lanang nama ira. dipun prabu sepuh mangke. sampun gelar tata. Raden putra inggih ing Bantana warsa. kang angrengga iku saking Pajajaran. karajaan kaprabone. 10 Pon kalawan lilane sang prabu sepuh. ngenten tanpa anten-anten. 07 Putra saking ikut ika den pilungguh.06 Ya ta lawas bramana pan durung iku rawuhira. 08 Linggihan ing Bnaten angarta dhatu. 11 . Jayakarta alinggih ing rat Jakerta. Raden Rangga lanwan Mantri Kethebasa. 09 Dupi putra saking bini ajinipun. malah prabu Lutungkasarung wus gawa.

patih jero patih Burbutjalang. kang amengku indhahan nang Ujungkaras. lanang kang namane. gumelara kata. 14 Rang-urange kang dadi papatihipun. aneng Pajajaran. 13 Ingkarsane snang prabu Lutungkasarung. roro tumenggung anyare. .Dupi putra saking maha dewinipun. kademangan ing namane. lanang karya parab. Sanghyang Sancakrit namane. kang anama ki Tumenggung Sanggrarungan. Demang Gogok lempog kalawan kang nama. kang amangku indhahan nang Ujungkulan. Sanghyang Resi Luwiluwe. pan samono lawase kang prameswara. lan roro kang anyar. arja aneng jaba. 16 Demang Bangkong sendhong andeling pamuk. jirnapura pulung beler. 12 Dupi putra ingkang saking dewi matur. 15 Ki Tumenggung Selangkuyit naminipun. dipun rangkepa patiye.

sang bramana gumujeng atur sandika.17 Durung becik kelawan Lutungkasarung. barangahan anakake. maring Sundha wis den mulya-mulya ika. manira nedha tulunge. 22 . 20 Dupi rabi babaku durung sapundhul. 18 Atur makca pangandikane sang prabu. idhepena iku paman garwaningwang. saking rabi liyan kang metoni anak. kaduga manira. bramana Lingga rawuhe. 21 Pira bae ing mangko wajaninipun. ya duk jurung saragane. ya kongsiya adhepe nama sang rara. 19 Gone elik wis windon takeran tahun. seja sun pilala. nuli tan antara. iku bebeg ingwang. he paman bramana. paman bramana tulunge.

25 Maharaja Lutungkasarung abendu. ana wong jaluk nrasane. bramana cora nalosor. lan sang prabu nanginging punika sang rara. tan asusah wajani punapa-punapa. kang pakenak teka sinung rasa lara. nuntak ludira maleber. dalem tangtu mangke sae. pan tinarik kang dhuhung bramana pejah. 23 Mangke sae sacombana lan sang prabu. dhumateng walikat. binandhing combana mangke. 26 Sigra nudhuk bramana ajaja terus. uning raose pun paman ginawa kawan. sun dhaku mendrassa. dan sang prabu ngunus dhuhung pan tumandhang. uninga dhateng raose. 27 Ingkang layong angucap tegane ratu. gagarwa carapa. 24 Aleng pundi tan awor sandeng saumur. pun paman tumuta. prakawising garwa. tegane ta sira. .Sampun sumlang bapa prakawis puniku.

sabab dening kumet arep bapa garap. ya mangsa luntaha.28 Nyata kumed maraja Lutungkasarung. wue sirna purna den obong. sabdane babathang. 29 Yata prabu Lutungkasarung mituhu. maring jaba adhan rame. 33 . dadi ratu Sundha kene. bandhu kula warga agawe tumangan. ora kaya aluse bramana Lingga. 30 Iku padha obomgen babathang iku. kakeyan bacot si bramana camera. ya tumangen cone dadi awu pisan. ambri aja ababacot. dadi gumaregeten sewot. narik kang babathang. sirnaken pisan. 31 Ki patih Brubutjalang tanpa wuruk. kurnapa bramana. 32 Tan adangu ingkang geni amurub.

dupi iki teka ati kangen semang. 36 Praciptane gawok temen atinisun. ing ati mengkarang. ajaja rep sapatemon. 37 Poning mau ewo bae atinisun. saiki kena ngapa. 35 Ya sang putri Purbasari remen kalangkung. sabadhan sedya wa-awor. ngrungu bae abane ing ati ewa. sumerep sumanira.Manjing garba garwane Lutungkasarung. Lutungkasarung dumadya raga asiyan. dadi mundhak bagus katone gumawang. Lutungkasarung warnane. kena ing asmara. mengkorog saking jijithok. . maring maha raja. dadi kakatonen bae. maring kakung tan kena pisah sadhela. 34 Dewi Purbasari sira andulu. teka sejen pisan lagi mulamula. luwih sengit pisan. guranggame sapatemon. 38 Jember bae rupane deleng iku.

dhumateng kang prameswara. teka kapareng kang garwa. duga nyidham sanga sai. carema la pitung dina. bersih kuning gilang-gilang. Lutungkasarung langkung asih.PUPUH XI KINANTHI 01 Warnanen Lutungkasarung. kaduk sang prameswari. mesem manis awe sira. 05 . 02 Kang garwa lumados sampun. sumulura maring mami. Purbasari kang pinundhi. kaya pa adating krami. dhateng karajaan ingwang. angrungrum ing prameswari. binakta amadhang wulan. 04 Kinundang putra ajalu. sang raja sigra trangginas. tutuging asisiyan. kalangkung ing lelesneki. tumulus adhicombani. ningali kang prameswari. 03 Wus bobot ing wancinipun.

iya sun bra … luwih. ing isun kalimat lewih. myarsa swara aruntik.Sang prabu Lutungkasarung. tan eca guling adhahar. wau amiyarsa swara. 06 Mangkana pamuwusipun. 07 Sira iku aja tambuh. ing sajroning wetengneki. la bagus suwarnanira. anak-anak maring ingwang. kang sira dhingin prajaya. asang prabu ta sireki. aja tungkul eman nesip. kalangkung den kumadana. iku jabang ora pejah. sinumbele kang prayayi. 10 Dhateng jabang bayinipun. yen kengetan ingkang wngsit. nanging besuk yen wis medal. kang rama anyandhak aglis. 08 Pareng semana sang prabu. kalangkung ing ruhing galih. mulane engatna benjing. saiki dumama eman. ingsun males ing sireki. ing marma tur eman arsi. . dinulang upan mandi. tanpa kara-kara nuli. enggal ngunus pedhangira. 09 Malah sedheng babar sampun miyos lanang kang prayayi. cayane gumilang bening. angaras-aras kang rayi. emar lesu les-elesan. tan antara dangunira.

sang prabu Ciyungwanara. kang putra den wasa-wasa. kocap kang mrajaya siwi. Purbasari aningali. kali cilutung ya nyata. nembe siji dipejahi. 16 . punika mejani putra. anjerit lumajeng agasik.11 Prandene tan pasha iku. ing lepen cilutung sirna. 12 Umatur ing ramanipun. sampun kabekta ing warih. wus sirna kagawa warih. kalih garwa takon jabang. sigegen ana ing marga. 14 Dadya winadhahan sampun. pon tan kena ing pati. prabu Ciyungwanara aji. miyarsa aturing siwi. wis kabekta dhateng warih. maring mantu ingkang lali. kang putra dipun prajaya. matur kula birat kali. Lutungkasarung alali. ageng santer ilinira. 13 Lumajeng malah ambendhung. 15 Sareng wis binuwang sampun. karsa ingayun ing rama. arawuh kang rama neki. pethi winuwang tumuli.

si jabang mangsa amati. 20 Sang cinta tan cidra iku. kang gaib luwih ningali. ing manah wus palipurna. awake kang gadhang niladi. sang putrid dadak sakala. besuk titenana mangkin. kasirep lelohing putra. embaning turun ingwang. Purbasari aja sira. he mantu wruha sira. . sajrone wau kantaka. den pracaya kang murbeng bumi. pon isun binuwang dhingin. Purbasari nibang siti. dewi Purbasari lilir. prabu Galuh duk ing dhingin. tangto kena ika dhelap. ana ingkang swara jati. papasthene jabang bayi. prabu sepuh ngandika ris.Yata prameswari wau. prandekane iya welas. Purbasari sawunguning. 21 Angunjung kaliyan kakung. besuk bias muter nagri. 19 Kang bunuwang iya iku. sampun ngunjung kang ayugi. prabu sepuh ngendika ris. melang maring anak siji. 17 Kali iku ing ramanipun. kudu anurut ing eyang. egar suka manahira. kang mratuwa den unjungi. anyuluri bapanira. 18 Kawarnaa sira sang ayu.

ki mantu la tampeni.22 Rama Galuh dun rumuhun. 26 Purbasari nyingkira babu. kang aji pamerdaning. manjinga ing dalem puri. sebab sira ora pacak. maring dalem Kenya puri. boten susah angilari. pameradan pocapaning. 25 Yata prabu Lutungkasarung. karana sabebet kita. enggal sira anampani. alalise iya merad. 24 Angadika prabu sepuh. sabebet kula Santana. 27 . panukmanira lan laki. pungpung saiki purnama. enggal Purbasari memba. ing rama prapona benjing. ing ilmu pameradaning. den idhep ing pameradning. yen dugi ing ajal kula. mratuwane kang ambabar. 23 Sih jati waraha nuhun. ing Galuh ora na liyan maning. ya sang prabu Ciyungwanara. Lutungkasarung aturnya ris. kandikane sira nini. sawadose kula ngalap. ora aliyan panukmaning.

PUPUH XII PUCUNG 01 Prabu Lutungkasarung wus tampi wuruk. onya ing sukma lewi. gumilang sarira mami. den openi dening ki Pethesperas. oranana ing rat jagat. 02 Pan sinegeg caritane yan sang prabu. buhaya bangawan ika. angles-les angluwar ragi. sang jabang wus panggih mangke. purwa saking mratuwane. aji pamedaran. 04 . sakabeh-kabeh tan kari. kawarna ajabar. kang dhingin binuwang mangke. 03 Tukang pethes peres ingkang luluhur.Wus tanpa Lutungkasarung. wus rumanjing kayangan kipethes peras. lenyep ilang dat pes ilang. awor daging awor getih sumarira. ungelling ingkang piwara. 28 Kadhaton tanpa gon iku. gumawang tanpa cantelaning. sukma rasa sukma larang. jati wisik ingkang yugi.

ingga iyang bapak ikut namaning wang. 06 Kaki Pathes peres nembe tumon rungu. 05 Jabang bayi kangucap abeluk-beluk. dudu bocah salumrahe. . bapa aranan reki. anak pupone ki tukang. bocah patut kasurupan. bias rarasan basane. duk umur sawulan. 09 Cilik-cilik bias rerasan satuhu. 07 Patut iku ana kadadiyanipun. kaya wong tuwa basane.Dipun aken anak jabang bayi ikut. patut ikut tuturunan ing kusuma. 08 Pan katelah ing desa pethis puniku. esaktemening namane. wis koncara inga iyang ingkang nama. ngerti dening basane. inggih iyang iku nama wis prayoga. bapa y ailing wang. bocah cilik bias. kasungsun arane angger. pan tembene mung ta iki anake sapa. besuk mengku bala. ngerti dening basane wong pathes desa.

den parani ika. yakti ika tengeraning andana wirya. katur maring sri bupati Pajajaran. katular-tular wartane. silem ilang yen wis sadina rong dina. 14 Iya nuli ana maning nyata timbul. udan angina mudhik milir nunggang buhaya. lalayaran pangameng-amenge. Lingga hiyang ika. paparahon buhaya putih tinungganga. dening wong nuli gacike. mung tai ka apa. 11 Lawas-lawas pareng umur tigang tahun. 13 Nurut bae buhaya sakarsanipun. 12 Wong kang paca ningali gawok andalu. bocah apa setan kene. tungtu besuk ika.10 Ya putute yen selamet urip tuwu. 15 . umreg wong Pakuwon. dadi raja suntangguhe.

19 Sira bocah cilik saking endi kacung. wedi bok den salah artos. lare ingga iyang. kaliya ing comas pandhe. ki Calancang nama. sisikune ratu ratu mandi salah dadya. 16 Ya gustine pareng nabda semana iku. neng bengawan priyangga. wong ningali padha wedhi sadaya. Lingga iyang mangsuli kula punika. lola dhiri kula. warta anak setan. 20 Kula lare tanpa bapa tanpa ibu.Engandika sang prabu Lutungkasarung. kasur bumi mega kemule. lagi eca paparahon. 18 Maring kali Cilutung kapanggih wau. 17 kawarnaan ki empu kang namanipun. dadi sirep kang warta. buhaya putih tunggangane. . pan sinawanganing ki empu calangcang. lagya ngalenthung miminggira nang walahar. kali bangawan kang nusoni dhateng kula. sapa sira kang ayuga.

25 Lawan iku sapa ingkang duwe sunu. nyi Calangcang girap gawok. winangsulan enggal. datan weruh embok bapaneku bocah. dika iki olih saking ngendi bocah. inggih wasta kula. prapta wismanira. 26 . nyata iki tereheng andanawriya. manggih pinggir kali gedhe. 23 Empun nabda sira sunimponi kacung.21 Pun buhaya kanga sung tedha puniku. sun aku anak temene. patitis ing wicarane. Linggahiyang teka dumulur ing karsa. padha maring omah ingwang. bangkit yen rarasan. 24 Ki Calangcang ngiring wus dumading aku. ki Kalipa andaringeng manah ira. 22 Nembah tumon lare nabda kaya iku. Lingga iyang ing namine.

abentak lawan sang katong. patut ini dudu bocah samaneya. 29 Banggi bapa kikukum dening sang prabu. 28 Toli dika ing sang aji ya di ukum. . 27 Nyi Calangcang nabda bok den salah tanggu. Linggaiyang nabda. dipun pracaya si embok. maring empu Kalipa langkung minulya. dhasar enggih musuh kahula ing kuna. dika dadi den tareka nyolong anak. ngaku bapa ngaku embok. welas ati sun ajak mulih maringwang. rarasan ingkang samono. kula purun nalang. dika nemu bocah. kasur bumi mega kemule. 30 Ki Calangcang Nyi Calangcang getun-getun. tan duwe bok bapa. 31 Iku bocah ana kada dene besuk. Linggaiyang ika.Sun takoni wangsulane iya iku. inggih kula kang tango bala witanya. ana bocah bias. den tututi wekasane.

watu ingkang kinarya. angrebut bapa biyang. la dingo apa iku. wesi lir lempung kewala. dumadi kasugiyane. aran wana Cikandhang. mung ta sira kacung gawe omah. dhateng kula ingkal awon. embok sisikuning raja. Linggaiyang umur rolas warsa. jar ai wesi nurut. wani mati kendel wani ambelani. angalasan awangun.PUPUH XIII DHANDHANGGULA 01 Nyi Calangcang sajege angimponi. bapak embok sampun tan pracaya. omah wesi nem dina sampun waradin. iku teka reremane. 05 . kukuh kikib agarba. gisik bapa sampun uning. milu kara baraba. 04 Linggahiyang wangsulane aris. Linggaiyang ora kakurangan. 02 Lawas-lawas kirane andugi. jogede kang sunu. aja patiya sugih wani. dadi apa awak ira. digjabenduning ratu. pan sinambut palastha sadina becik. ingkang aran Linggaiyang. saktine sang Linggahiyang. karana lare iku. agaweyan kang tahuna. 03 Ki Calangcang Nyi Calangcang angling. angrewangi agawe wesi. wesi wus brapikul. yen iku karungu. omah wesi aneng wanadri. ya si bapa si embok tan wurung dadi. wesi ing ngalas genahe. pun embok tingalana.

sung sengge iya nyataa. lan kena dienggoa bebenting. jar kasndhung ing arata. buktine kakecap menga. wong tan dosa mamateni den pateni. akeh jalma padha kagawokan. bale rante bagus. ya ra pon dipun siku. ki Calangcang ta ingucap aris. dingo apa teka sun maras kang ati. riringganing nagara. ing siasating nata. tiwas temahipun. Linggaiyang apunjul. sapa wruha bok kadengangan. Linggaiyang wangun rante tosan. ika sang ratu apa. ya kene ginegem ginelar. dhasare ratu Sundha. nititeni apa iki bocah. mrajaya bramana Lingga. dening si namanipun.ora lawas la ika tumuli. tur ta ora sanyatane. nanging lamon lininggiyan. ya iku dhadhak sakala. . seja males puliya. kasuhur ing kasaktene. kang adi warna lekere. mring bapane mau. nunggang tawa musuh. ya wedi maring nata. tanpa bayanya lampahi. 07 Ya sang prabu Lutungkasarung linuwih. sira katiti luput. 06 Dadi rante anjiret kang linggih. kacung iku dingo apa gawe bale iku. kula ngilari lalangen. iku bale ora karuwan maning. 09 Pan sakedhap ki Calangcang ngarti. 08 Linggaiyang matur boten sanggi. yaw is aja ilok gawe tanpa tut dadi. ing basane arep males ing sang aji. nanging yen digelar dadya. Linmggaiyang patute iki. anaking bramana reko. marga anglanggar narpati. kadengangan ingkang kula ajap. lemes kadya tatangsul.

aje kakeyan tutur rujak gendhen gelis. ya saking waris manira. wis karuwan bocah iki ala. surak ing wong iki bocah saking endi. mung ta anganti apa. waspaos andulu. kaya cumra si tembe wara. ya rinujak ing wong Pajajaran. alun-alun jembar tur radin. Linggaiyang wangsulane. pan ratu agung ing Paku. anabuh adhenggung. sarta nggegem arante mandira. 13 Nitir ganjur pusakaning aji. munggah ing lemah dhuwur. sawaneh ingkang angucap. ora idhep ing karta jani. sira kang selang gumun. datan kena tinabuh puniki. nyana sang ratu sumered. para mantra datan upaksi.10 Ora suwe Linggaiyang mijil. kadeleng apa si monyet. nakal si gila basa. pati-pati manira wani-wani ngaku. yen tan pejah nalendra. katingal sanyata bocah. bedhul sapa kang mrentah. ngaku waris nalendra. sumantana si tai anjing. . andher ingkang aseba. pancaniti penuh. 12 Iya sira ngajaraken nangkis. geger samya bala Pajajaran. 14 Wong Pajajaran surake la iki. budine lawan anggkohe. mung ta sira deleng apa. mring alun-alun puruge. pra mantra acingak. 11 waktu iku tinabuh den titir. umreging bala agung. atandha sing enda-endi. Linggaiyang wus ngangkat. mada dudu ponggawa. sanyata kethek beruk. bubuyute ajur. matanira baloloken mataning pring. sudi wani angunggahi siti inggil. pusakaning Pajajaran.

ki patih rang-urange kapental. angliga dhuhung Linggaiyang den suduk. angluwihi nagara. iya bocah iku. sawaneh para sepuh. la iki timbulipun. 16 Saya dangu saya angranohi. dadi roro den pindhoni. puharane dadi majikan. kang dhingin denkaropoke. ibur lir pinusus. bokmanawane kuhana. 02 . dudu musuh iku. lir nyekel wawadhangan. PUPUH XIV PANGKUR 01 Dupi sang nata miyarsa. pada arontok sakabehe. nyandhak bocah tan kena kenging. bok iku susupaning bramana. gagamane wus padha malesat. geger gumuruh kang anan Jawi. kaprimen den wis tanggal. ya batur dhengawas aja saloro ngarti. dadi padha sap maju. sapisan madhuwa raga. sang prabu Lutungkasarung. akeh kang para ponggawa.15 Pajajaran kang bala ngebyuki. sigra amiyos enggal. ora kena saloro ngarti. kapental ora menange. demene iku bocah. 17 La yen isun iki sun pikiri. ya kaprimen den wis metu budine ngancil. kang malesat dening padha densepaki. ingkang padha awangun piker. den titening talata. dening sang Linggaiyang.

braise kalaras aking. ing kali cibayabang. prabu Lutungkasarung wansulanipun. dening lare kanembelas. ing Cikundhang goning omah wesi mau. Lutungkasarung pinarna. suraksurak ing sapanjanging dalam gung. sang prabu ngebyuki padha.Sinuduk pan dadi papat. anggotong kang babaleyan. ya iki pamales ira. 03 Rinejeng tanpa wisesa. Prabu Lutungkasarung yata aja tambuh. . la ya kita jaya. wonten ing pagriyan wesi. sapuruge gustinipun. pining telu dadi wolu sayakti. den babayang den suraki. 04 Basane lare akathah. 05 Iku ing sakarep ira. lare nembelas surak kasruh. Lutungkasarung wus lungguh. 07 Wus pinutup tanpa sesa. pan si bapa uwis seja sumingkir. den bakta maring alas. ing rante tanpa sesa. ya sang prabu Lutungkasarung lali. iya isun eling pisan. tan bias polah kawingkis. kedya wong den panjara tan bias mijil. gumurudug iku padha tut wingking. bramana Lingga duk wingis. sulurana lungguh isun. dadi bocah nembelas. pining pat panyudukipun. lininggihaken ing rante wesi. buang jabang aneng banyu. 06 Para ponggawa Pakuwan. yata lare pra samya. telu kena ing saiki. pa wus dadi akeh enggal ngarubut. aneng bale rinengku ya pinikul.

prayoga gaganti isun. 13 .08 Yata mantra Pajajaran. andaringen ningali pohal-pahil. dening bapa ing laksana. ing bocah nembelas iku. musna ilang tan ing ngaksi. ya sang prabu Ciyungwanara puniku. dupi manira pejah. wus polih dadi sajuga. wuryataning akuna. 10 Ana ing dina wekasan. ing ayunan rama aji. hadan Prabu Lutungkasarung amuwus. 09 Ing bocah iku kang nyata. den idhep angaku gusti. anak isun sing rayi Purbasari. wusing nabda samana adanuli. wus mangkana lare nembelas pun wau. tiba bumi mila den arani. sang prabu Lutungkasarung. mesate ing jomantara. karsa medhek ingkang eyang. 12 Kulawarga Pajajaran. samatuke saking ngriku. Balerante iya iku. lawan patinisun benjing. kadi duk wau tumuli. padha ngiyung ing Linggaiyang ngapti. mulih maring ajala kasuciyan isun. amengkorog sarta mealakken buntut. Purbasari wus ing kana. he wong Pajajaran sira. agadhaton tanpa genah. 11 Bale rante bus malesat. mereh kadya wanara.

bapane ingkang wus lampus. anake kang mikarani. Ki Ngabehi Kolotbuntut asakti. den becik sira ngopeni. prabu sepuh Ciyungwanara angling. sanak medhoke sang aji. la ta bener ujar isun. lan Ki Dalem Tegaljamang.Wus kempal amatepungun. ingbangawan ya ika. istrinana dumadiya susuluring. 15 Maring iku anak ira. kang dhingin dibuwang ngebur. wus prapta pura Pakuwan. ajujuluk Somahita. 16 Samantuke saking kana. ing istrenan sampun sira ngadeg ratu. Lutungkasarung anuruni rama Galuh. katumenggung Jatipamor sakti. anakira Linggaiyang iki. Sindhangkasih nama dalem Somaluhur. 17 Ratu anyar Pajajaran. wong sanak singraja Galuh. 18 Lan Ki Demang Dhungkabadhag. katemu maning denira. jeneng prabu Linggaiyang. merade saking panjara. papatihe winastan. sami atur sembah sadaya sumuhun. sing bangdiwenka apa. sinauran dening jagad. 14 Purbasari lan momonga. amurba Sundha negari. Dewi Purbasari agung. . Linggaiyang binakta mantuk dening. ya tai ka kang liningan. Linggaiyang Sinarojang Bupati. Kyai Patih sempokwaja parab ipun. bandhu warga kawula iku. saikine sabetahan ya tinemu. geter pater ketug muni.

kang katelah sesebatan. mulane nuli nedhaki. taliti turunan aji. 21 Kapokoh pinaksa-paksa. kang prayayi kang turun kidang pananjung. kidang manjangan den jamah. waris Yang Sundha negari. 20 Dadya pirang-pirang garwa. wedi yen den rabenana. parandene yen kacebak nuli mati. ya babar pisan pejah. prayayi kang katurun. PUPUH XV . kacarita ora jengjem mengku rabi. padha babar pisan pejah. Linggaiyang dumadya. kang tumurunita besuk. La yen santek esir nora pilih lawuh. kaya keris landhep pisan. gih manjangan gumarang sing naminipun. kang den wangking angemasi. pan sakehing istri sisiriha maju. taliti purba wisesa. ana ingkang kasebat. sing awadon kang karungrum. wados ginawa sarasmi.19 Ya sang Prabu linggaiyang. katarajang Dakar waja landhepipun. ora mati kaduga ana titis. pramila ika sang prabu. kang den wangking ingalulut. saking kono ruru ira. 23 Selir kidang lan majangan. akathah selir kawangking angemasi. besuk ana katela ingkang nami. amedal pamore mandi. 22 Kidang manjangan kang nyangga.

angandika ingkang siwi. la iku gawanen rabi. ika Dewi Brajawati. datan jamak lawan jalmi. mung ana wara gatra. 02 Mangkana lawan mangkana. bagane wesi atutup. kasulur tan ana bangkit. ki bramana tali atma. Purbasari tumon putra. dadya tandha rabi. acombana istrine nuli apejah. nuli ana jati wisik. sacombana lawan ika. among Linggaiyang sayakti. pitutur kang sajati. ing pulo gunung surandhil.SINOM 01 Iya iku kang dumadya tan sakeca ing sang dewi. kandikane isun rungu. kang eyang Ciyungwanara. marawani saking atose kang baga. Linggaiyang jalma wudhu. robbana lan panglamar. iku duwe anak wadon kang anama. 05 . karana Brajawati. ing anguling ing sarasmi. kawagang ing sarasmi. rabine si Lingga aji. coba ta sungsungen iku. 03 Namane ingkang sinebat. 04 Duginipun ora liyan. jar padha wesineki. katalihatma mokal tan pasrah. patut den ika dadiya. tan ana musuhira.

ki demang Wukubadhak ingkang sami layer.Ya ta prabu Pajajaran. nayangger Pajajaran. pinanggih bramana aji. nata sundha nayangger mung gamulunga. Patih Sempokwaja wau. 07 Kocapa sadhatengira. sarta ngesrahken adi. sinuba ing Linggi. Jatipamor apa maning. 06 Ingkang sami kesah ika. Danyang Brajangkawat. maring bramana ana ing gunung surandhil. sedhah panglamaring ratu. pecile tiyang dherwis. ki bramana taliatma. sukane ingkang nanamu. 09 Bramana aris wacana. katur ing sakarsa aji. denira bramana luwih. Linggaiyang sampun niti. duta maring kasabrangan. ing mana suka arena. 10 . ingkang pra menak prapti. sarma bakta palwa sapta. wus ana ngayunan. barang saking Sundha katur. kalawan katumenggungan. derenguning tata Jawi. 08 Lamarane wus katampan. ruruba saking Jawi. Ki Ngabehi Kolotbuntit. mangke karya angimponi. lare istri badhigal. sang prabu Linggaiyang. karsane aminta krami. ing pulo gunung surandhil. kang isi panglamar aji. ponggawa kang den titi. kali ira ingkang siwi. meng sampun kirang pamuhung. Dewi Brajawati kang dinuking karsa. dhuta raja ing Pakuwan. ing pulo gunung Surandhil. tan kawarna layare aneng sagara.

angantos kadange malih. sukane adhinira. pun adhi Brajawati. ingkang nama talibarata. minggah ngayunan rama. ya subagja adhi sinarwehing nata. 14 Dhayang parwatali nabda. pinten-pinten selir lampus. Dangyang Brajakawat nabda. ya ta bramana tali. sakalih nulya tumurun. sami tedhak ing ngawiyat. ana kang sudi santosa. karana pidhanget kula. mung wonten melang sakedhik. tangtu punika sakalih. Prabu Linggaiyang mangkin. sarananipun wesi. dados wudhu ing Sundha den antuk wiring. jaler Dangyang Talibarat. amangku sundha nagari. sebab ika sakalih. ngumbara ing karsanipun. 12 Sukaliye pinuturan. den saingga wonten damel kula petak. boten amindhoni malih pramilane angupaya tandhangira. 11 Den sampun kula petak. sakarone wus. mangsa ngijira sang aji. sigra petak tumuli. . wewesen sarananipun bilih sang nata Sundha. ingkang pejah dinahar. tan mudhun-mudhun ing siti. adhinira Brajawati. Pajajaran maringi sedhah panglamar amundhut. mange boten miyatani. jaler Dangyang Parwatali.Lan malih mangke sakedhap. putra sakalih ngastuti. anglalana ing tawan. lan kang nama Prawatali. Prabu Linggaiyang sami. 13 Malak mandar darbe tedhak.

sing pulo gunung surandhil. Brajawati aturnya. 16 Ya ta DEWI Braja rara. ing manah kalangkung sukur. 19 Kering marang sang potusan. 17 Kahula darma lumampah. sakarsane andherek dhateng jeng rama. ing karsane rama yugi. kalawan sang Talibarat. ing parahu kang den apti. paran ati lumiring. tan kaping kalih adhi. dadya turun rena ngaturaken putra. . dados kita kesseman. Parwatali namanipun. saking Sundha angsal kardi. bokmanawi mangke sigug. ing wedra kirang panari. boten dados basa jadra ponsasmata. kang angeteraken rayi. dening kadang kakalih. awon penes panitihing. giyak-giyak anembang. 18 Brajawati wus pinuja. atawa ing tan purun. kahula amdherek maring. wongtuwa datan pejah.15 Dhayang Talibarat nabda. ya ta bramana Tali. putri Sundha negari. re kang putra sumandha. kedah tinaros kentasa. genya layar enggal prapti. Brajawati lalayaran maring Sundha. kalangkung ing rena ipun. kranten dede lare alit. sarananing katewangan. den piyambeke kinarsa. ing ratu Sundha negari. punika sampun tinari. aneng nagri Sundha ingarsa sang nata. punika ingkang nglakoni. angsal putrining bramana. kahula liwarsa demi. ing jati dipun dandosi.

parandene den esiri. oliye alaki rabi. lanang wesi wadon wesi. malah sampung Brajawati. kadut den kocok kaduga. 02 Bobot angsal pitung tangsul. dening Linggaiyang dadi. salamine anggar binim pepengene warna-warna. kadi sutaning bramana. 04 Kulite deng masih wulu. dharahe den palothoti. kang ora jamak dening. pinangan dening manusa. kunyuk mati den tonyoi. mung den panjingaken dening. ora lawan minatengan. daginge benyo ayiyid. den enggo embut-tembutan. 05 . mangkana den kadengngangan. ora den sembelih maning. rena karawuhan putri. mulane arjaning krama. wus angrasa katimbangan. 03 Kapengen adhahar kunyuk.PUPUH XVI KINANTHI 01 Sang prabu Linggaiyang langkung.

10 Tan kaya yen wus tumurun. ningali dhateng kang rayi. mangkana yen kadengangan. 07 Lami-lami ning tumuwus. angusp bathuking kadang. pepengene sajen maning. kang ngemong kadang kakalih. mring nata girig sengit. kang sengit babalik asih. kang sengit dumadi welas. den dhahar urip-eripan. dumadi kanggep alaki. Brajawali enggal dadi. tengtu lelet den patheni. ing cacing urip-uripan. kumokod babalan pisan.Sedhot hawa manah ipun. 08 Den kadengangan sang prabu. Talibarat ngusap muka. iya timbul sengit maning. cicindhil kang masih abrit. kang ngusap ing bathuk ira. teka eman teka sih. ora kaya Parwatali. sing awang-awang tumuli. . 06 Anulya sigra tumurun. atumon ipene runtik. pepengen ing dhaharan. Talibarat Parwatali. den tutulaken ing petis. kang mungga kirig ika dadi. dhumateng sang Braja rara. ora kaya Braja rara. 09 Lami-lamining tumuwuh. Brajawati sajen maning. Parwatali Talibarat.

apa layak anyuluri. pangganggo asu griwani. nagning ora arju margi. mangsa lawas angartoni.11 Lami-lamining tumuwuh. 12 Re kang putra wau lampus. pasthine ya sinangkasal. Lutungkasarung kalindih. 16 . darbe manah tulak serik. 13 Pira wareke wong munggu. ing sirrane kang yuga. dening Prabu Linggaiyang. iku kang Lokambadhigal. lawan ora arju margi. aja dumeh anduluri. kaya ta beyating jalmi ditya. wani wong tuwa si setan. mapan den mepes kang yuga. Suhunan Panggungkancana. duduta beyating jalmi. 15 Mengko uga tanggu isun. ora nama liyan maning. godhog rontok rug-rug wit. dening parecel kumaki. nandhang sekeling wong tuwa. maring karajaan Sundha. angrumpak turus abecik. 14 Ari iku sawat-sawud. ora sabar angenteni. ana kang dadi kulilip.

bramana Linggabuwana. la iku lebune apa. katone ing wektu bengi. kaya latune ing lintang. anak lagi duwe pejah. ana nengge lintang ngalih. ya ika bramana kaparat. kapokok broktak dening. ika dadi banaspati. waneh ngarani kamangmang. kaget ketembe ningali. ngambingngambing rabi mula. deningan sinaban bengi. ngejer ana ing gegana. nyingkiri wirang lan isin. wong tuwa kendhang sangaja. 19 Nah kala napsune metu. 18 Teka anuli den jaluk. ana kang ngarani teja. sutejane wong abecik. wong Pajajaran pra samya. semaune amateni. parek maring sulaksana. tumon nambakaken rabi.Anduluri sota iku. binatang si tai olih. malang-miling saban bengi. di akon nganggo wajani. 20 Mung ta apa murub iku. 21 Waneh angrebut kang dudu. kanggo surup nganggo kedhing. kang lagi penyakit elik. samono lagi ngalahi. ana nyana tapak angin. ora paido wong lagi. 17 Wondene Lutungkasarung. .

waneh ingkang makidungan. anggending jala wekunyit. murnama dening ring-ring. ing pancuran sanga sami. Linggaiyang sami didis. apantang barang den bukti. anyarengi sri narendra. purnama sajroning putri. lawase wis sangang dina.22 Parek ing lintang kemukus. 23 Kalih garwa ingkang wau. pareng wengine tumuli. 25 Sabab agamaning Galuh. siweg bobot madhang sasi. 26 Sadangune ing dalu. yen purnama tilar guling. rembesa angulinting. nelasaken agiyak-giyak. datan bengi sawatawis. patelesan cindhe jenar. yen combana lan istri. 27 . sang aji atilar guling. para bibi para inya. kalangkung ing suka ati. angideri tataman. yen tengange lawan pajar. kesel sira ganti siram. yen tanggal pisan apantang. 24 Ameng-ameng ing lalangun.

mangksa dadiya sangsayane. sira momonga anak. lalayad wusa ing waya.Kang murup-murup sing dhuwur. wuwusen lamonika. 03 Aja sira gawe ati. namber lir kilat sayuta. sasirnane lakinira. 02 Jodho lawan putu mami. Linggaiyang sirna lalis. 04 . kagete kelangan laki. tangise kelangan gusti. e-putuku Braja rara. awit suka teka dhuka. tarimane ati nira. susulure ramanipun. tema warna banaspati. kudu mung samono sira. kantaka ping nem sadela. salamet besuk yen metu. gapuh aris kandikane. PUPUH XVII ASMARANDANA 01 Prabu sepuh atitilik. ingkang gedhe pangrekdane. dhumateng jongging sawargi. mung siwewetengan ira. den samber sinawa musna. iku kang mangko gadhang. awak ira wuseng arja. Brajawati karuna jrit. den salamet urip delap. 28 Wong dalem geger gumuruh. estrenana madeg nata. wus papasthene Yang Agung.

embok ana bala wita. atos kabina-bina. kadika Ciyungwanara. wewetengane si rara. dening si goronjolane. iku padha den kareksa. Brajawati dening sejen. ing jero garba punika. ana nyempad banget kelang. jaga kaponakan nira. sawane atur usada. 09 Ya ta lamining lami. banaspati kang manglawe. pinarcaya sira gupuh. maring Brajawati wau. 08 Dhudhukun ana anambani. Parwatali aja gape. yuganira tahunan. seja ika nyambera. loro becik jagaa. kaponakane yen metu. 05 Talibarat Parwatali. ya Talibarat matur sandika ing karsa nata. tumiling ing awang-awang. isun pracaya ing sira. 06 Talibarat den abecik.Ing sacangkoke sudarmi. dadak sakala turune. ing ngarsane sang nata. lan ika sadulur ira. kawasa sira murbaa. 07 Ya ta lami-lami. apa lakinira bae. ana melang lara busung. saking awang-awang nembah. . ora kajamak lan jalma. duk lagi ingucap teka. seja denjaragan sirna. nyata ika lamon watu. ana nyempad nyata jabang. ana maning duracara.

anulak ing bala wita. 13 Mangka dhateng waktuneki. Brajawati nulya babar. Parwatali Talibarat. den tulak padha kawur. galang-geleng ing tatampa. maraja Ciyungwanara. menak pra kuwu sumembah. 12 Wus kadi raja pawestri. rupane ika kadya. karta buwana ira. enggal rawuh prabu sepuh. Talibarat kang anjaga. geger ing wong dalem pura. baleger lir gandhik bae. ora asipat ing jalma. kalihira Talibarat. bales pati konangan. ora jamak ing rupane. 11 Braja rara estu kapti. 14 Nanging ika obah mosik. salinggihe Braja rara. apa ingsun cacangkoke.10 Ora kaya Purwatali. 15 . ana ing rat Pasundhan. ana jabang tan jamak. sirna bala wita kabeh. tan ana amaling kecu. galundhung lir gandhik watu. angreh Sundha sigar wetan. waktu nata Linggaiyang. kaumban roro sadulur. tanama wani pareke. prayayine dudu bocah. kalangkung ya ing jagane.

iku embok nyai indhang. iki jenenge apa. ana obah ora swara. sudi gawe anak Sundha. la iki nuli kaprimen. dohena gungsu minggaha. aja anerus simpangan. jeng Nyai Sukati indhang. nuli kapara mentala. ika wong tuwa manawa. dening iku buyut ingwang. tan kawarna ing lampahe. maring kang mengkono iku. ningali jabang lir watu. ora kajamak rupane. 17 La coba undangan gelis. gumaluntung kaya watu. Gunung Sakati watune. manawi wus nemu luwang. ting-banting aja na wuruk. pingnangeran ing jawata.Aningali jabang bayi. sang kama-kama dadya. iku kang wus ora nana. . 20 Luluhur ingkang mayungi. ana urip tanpa rupa. ing mangko dadi susulur. si Indhang Sakati ika. kang bener aja sarar. ruruhe marga benere. ambrih dadi manusa. kamapmaja kamaptulus. sugih reka pandaya. 16 Kapremen dayane iki. kipya-kipyahe nyi indhang. wong anak-anak bok apa. 19 Gulundhung wis apa gandhik. ora guna ora gawe. 18 Sigra mangkat angaturi. ora endhas ora tangan. akocap sapraptanira. girap-girap sabdanira.

nurut jalma dadi jalma. nuli kinetab kang pada. si buyut kang gawe aran. nuwang prabu Ciyungwanara. PUPUH XVIII . jebol metu kang tangan. maring Dewi Brajawati. sapurna wus sipat jalma. 23 Jebol dadi metu sikil. den kakacakaken gupuh. kamrala isi jabang. Indhang Sukati ngandika.21 Nuli nyi Indhang Sukati. ing jabang kang kadi tosan. nuli sinembur den irag. si Linggawesi namane. wusing kadi mangkana. ambabar punang paesan. anurut ing kaki buyut. si kacung munggwaya delap. wis kajamak lawan uwong. ambridelap agesang. kalangkung sukanira. 22 Sakedhap nuli anjerit. ningali kang kaya wau. ana ing jagat Pasundhan. kuranggeyan nyawuk-nyawuk. atos-atos pra semone. 25 Sadaya suka ing ati. sampun kaya manusa. 24 Den saiki sun arani. kinacekaken age. jabang bayi nangis ira. kanggo nunute si buyut. Brajawati tumon ing putri. jebol katingal endhase.

asal sing kono anane. saking kaca timbole dadi. mula ja den kakacani.MIJIL 01 Indhang Sukati awewekas jati. poma den angartos. 05 Tedhakane kacung Linggawesi. dadi braja aris wangsulane. krana iku wong. sandenge tumuwuh. ora kena ngilo dhiri. saprakawis nuhun. inggih kasuhun ing sihe nyai. boten dados ewong. dupi ika saking pun nyai. 03 Pan mulane pantang ngilo carmin. 04 Pulih watu lebar ingkang jati. . 02 Ya pacuwan ilok akakaca dhiri. si kacung den eling. embok pulih watu. tangtu ical ruru. kakaca angilo. kang paring kamarin. poma-poma nini aja aweh. iya kacung kon pantang sandenge. galang gulung wikan jenenge. yen tan ana nyai. maring sang dewi reko. tuwin ngilo caremin. panduman salamet benjing. tuwin ngilo banyu.

pun kacung aemut. 07 Kula emutaken tan ing benjing. la iki dengartos. ginrabeg kabrabon. pun kacung kapenging. 08 Ya tan Indhang Sukati wus pamit. den embang tumuli. prayayine den baraseni. nyuluri kang lampus. sinowara gelis. prakara samono. ing basa basuki jalma kabeh.06 Inggih minanten langgeng pakeling. miwah ta ing benjing. Prabu Ciyungwanara langkung sukane. 11 . calapitaka lawan suling. den sampuna angartos. pinajengan agung. kantun prabu kolot. angadeg narpati. dening sang prabu. kang sumeja kula ati-ati. datan wande kula wanti-wanti. 10 Prabu Ciyungwanara sru angling. akaca ing besuk. iki jabang wus sun istreni. lan kadhingdhang saruni salompret. ing saweweling ing nyai sakabeh. kawula menak pra kuwu sakabeh. 09 Pan binakta munggah sitinggil.

ngadeg ratu sing jabang bayi. angandika reka. atur sembah ing sandika ugi. arumaksa maring jabang bayi. kaya mau-mau. enggonira jaga ngati-ati. ora liyan ingkang patut molek. kang babasan embok. 12 Geledhuging gurbaning ukir. Parwatali Talibarat mangko. Parwatali Talibarat. Linggawesi ing mangke ingistren. ya pragul menak sakabeh. ing ketuk anglugur. 15 Sapa wruha nyamber jabang bayi. maring si kacung aji. 13 Nelakaken prayayi sartaning. ya ta ika karo.Pan sinebut Prabu Linggawesi. . kang kalawan angati-ati. 16 Prabu jabang si Linggawesi. 14 Kaponakan aja sira cenger ngarsi. enggal murud sami. den becik atunggu. la sira sakaro. malebet ing kadhatun. kakseni den mangko. embok banaspati. aja gampangaken salir gawe. pan gurumu samya matur inggih. sarta den sauri. mung sira sakalih. anulya sang aji. ing Sundha sang katong. prabu sepuh mantuk. ingkang luwih patut.

dipun ingok-ingok. diwegira mangko. wong jro pura agawok atine. 20 Dening ora kaliwat sawiji. Talibarat lan Parwatali. ingkang ngaubi maring. (?) kalekanipun. ing tobong den susul. pareng tangiya iku nuli. 18 Prabu jabang ya sang Linggawesi. sarta lamon ing mangsa ing wengi. ora dhing-dhing kelir. ingkang manjing tobong. ingiling den tonton. kocap sang katong. maring wadon iku. umur tigang tahun jejege. 22 . darbe manah berag ing pawestri. den rengkot den rangkul. sing aistri manjing. dening iki majikan cilik. prabu jabang ing salami-lamine. wadon padha turu.17 Mring daleme wus acakapti. 19 Pan bagane dipun rogohi. 21 Den wiyak kapati den grayangi. yen waktu nyarengi. iya padha den sirik sakabeh. patute wus esir. dadi enggo dodolan duwena.

suk ing karsanipun. kang cilik kang becik. ing watara umur. istri cilik iku. mangkana sang aji. . langit warna ing para selir. tandhinge pawestri. tan karsa nyangkrami. ratu Brajawati age. 23 Ya pinangrengkangi budi teni. iya sida kuwel pareng karasmen.Den arasi den pareng ing istri. 26 Nelung tahun istri becik-becik. 27 Karanane ingkang wus bibit. burat ganda arum. kang dhenok kang sempwo. kang putra samono. langkung den gegembyong. den pantha-pantha adi warnane. den embani sinureni. dipun wiwidahi. memetheti ingkang para istri. saoli-olihing cilik. kang mragaga dedege gedhe. ingkang cilik-cilik. pira-pira puluh. wus pating pancorong. warna-warni katon. sinijang abrit sakabeh. wis gopek sakrangulu. kadya lintang gumelar aneng. 24 Den go selir ingkang putra aji. 25 Kadya sekara sataman kang asri. parandene prabu Linggawesi. kang ati sumonggon. kang wis sarwa gamoling kapti.

malah agung ingkang sami. kang gamol gandhes acemol. 04 Teka wayah babar sakapitunipun. kaya adhine kemawon. bobot ana pitu wadon. kaya adhine puniku. warnane rampak yen tinon.PUPUH XIX MEGATRUH 01 Indhang Sukati awewekas jati. maring kang gedhe kang uwis. tumingal maring kang siwi. 05 Padha bae gedhene lare pipitu. . canggah pitu bungahi ati. jabang pitu abecik. dadi kaya dudu siwi. Ciyungwanara ndulu. 02 Ya pondhodhang dhadhinge masih sepanudu. bandhot menthonge ambewok. ya ta ingkang ibu nuli. 03 Pirang-pirang selir kang adhenok cangking. rasti kang pirang-pirang puluh. kang wus marga kabecik. prabu sepuh angrawuhi. teka ing karemenipun. methet ingkang sepuh-sepuh.

iku sawijine maning. lawan sawijine maning. dudu kaya kang siwi. la iki ya canggah isun. 09 Linggaerang Linggamurti Linggarayu. ya si Linggawewi iku. pantes mangko anganaki. rong prakarane dha rapon. Ciyungwanara ling aris. Linggasana naminipun. 07 Lanang kabeh ing sapitunipun. mutrani pipitu reko. si Linggabuwana katon. karanane sira durung. ya maring si Linggawesi. 10 Linggawesi ngundanga adhi maring iku. Linggasri namining wong. 08 Kang sijine Linggapakuwan jenengipun. kon ngudang kakang la iku. den kaya sadulur medhok.06 Kaya adhine si Lingga iku. 11 . sakapitune ing benjing. maring kapipitu iki. pipitune sun arani.

kang cepol angaca piring. lumampah idhin sang katong. gumredeg lir anak enthok. menanten uga kadulur. sandika ing titah aji. lumayan rempeging urip. kang nyenyokar melok-melok. . kocap sang Linggawesi. kang padaha adhunuk-dhunuk. ya ikut kang raket ngayun. kang aputih kang akuning. kanggo gegerebeg ngunggu. bari rampak gumariwis. 14 Prabu Ciyungwanara sampun amurud. turanta anak sajatos. nalendrane sagegethik. 16 Ingkang mobyong kang empuk panggarapipun. 13 Parwatali Talibarat aturipun. selire abentrok-bentrok. 12 Aeng temen inglalakon ira iku. naging pangertose kadi. angraksa tedhakan aji. ana ta wong masih cilik. 15 Yen wis linggih ing korsi gadhing rinubung. bala sadulur kumaritig. iya sate masih timur. aduwe anak pipitu. ratu ginotama mangko.Delap ika anak ira kang pipitu. ing para selir kang ngapti.

sinaroja ing bupati. karsa kang para samono. ingkang bobokong anggeyol. ora nana liyan maning. 22 . wadon irengireng manis. 20 Ya gul menak asribawat samya riyung. kabelani pundha iku. angrambaka bokongipun. 18 Prabu lare Linggawesi masih timur. Prabu Linggawesi mangun. wani mati solot-pogot. karemane ingkang uwis. sagunge menak pra kuwu. malih kapatiyan nami. bang wetan salir kumilip. ing Pajajaran muponi. andel-andel Pakuaji. 21 Lan tumenggung Sukabeling naminipun. bangsaning koja guludhung. 19 Prabu Linggawesi jengger tuwuhipun. wus tuwukan sagunging. padha anjum sila panor. asale saking Keling.17 Lan kang padha anggemeng kombalanipun. Kiyan Patih Bandhungkrayo.

kang lebda karya ing kono. abandring cohok. ting barisat sami lari. Menak Podhang Ujungberung. 27 Yen wus tutug abuburu aneng luwung. cala bangir kang pada lok. ana pingkal salih angrok. 24 Ngayok alas arame surak gumuruh. paburuhe bangkit-bangkit. ting sariwik nganan ngering. 26 Alok buron kaburu-buru alaju. 25 Pan tawura swaraning gutuk puniku. iyang-iyung kanthi wiri. pecat tandha adhir-adhir. gurnata garungune bedhil. 23 Kang tut wuntat ing sang nata ngalor ngidul. ana amengameng gathik. padha retak anguneni. laradan alayu-layu. amandhikudhing jamparing. waneh kang padha nalosob. sing kidul sing elor. wetan kulon ting careluk. angungsen kidang apaul. nuli samya ngundha manuk. sadaya ambedhak sami. ameng-ameng maring luwung. lan Ngabehi Tegalbibis. ana panggalan agacon.Ki Demang Alurkoneng kang pinangka dipun. nuli padha ganti ulin. .

begog anjog langunipun. pating jalegir ing bumi. kang seja den samberi. kagandheng anjok ing bumi. kadi ulung babahak. ageger ing tawang. PUPUH XX MIJIL 01 Sedangune suka-sukawan tu bocah. tan suwe ujungan kang wong. sakabeh pan kena. sakehe banaspati. gumuruh pating jalerit. Parwatali akali. nuli areyog asrih. kang sadya anyamber pitik.28 Ora suwe jajangkungan ngalor ngidul. sumyak amobat-mabit. 29 Rog-rogan ting bilulung ngalor ngidul. padha tinangsulan. tan antara ika. ing gagana galak. sapraptanira. ana wowolu dhustha. sabagi-bagiha ulin. 02 Milang-miling kumrab ana ing tawang. 03 Talibarat amapang ing awang-awang. ana pingkal silih angrok. dodolan raraton umyung. pating kurenyang. . ora suwe asukati. tan adangu tumuli. banaspati ngarah aji.

ing witing pakujajar. ing ameng-amengan. ilate amedal. amawi den suraki. ing wengi suk awana. eluhe wisa. de go dodolan pranti. 08 Sawengi-wengi tuwin sadina-dina. 09 . mobyong-mobyong lir geni. 06 Iler yiyid murub la ika padha. mana sabendhe mundelik. 07 Ting burangkang aneng witing pakujajar. awake kaya buta. marakbak kadi geni. 05 Untunya ngisis baris sakampak-kampak.04 Samya tinonton dening wong sadalem pura. dadi ingoningonaning. sarta wong dalem pura. lambe kandel malenthing. wowolu banaspati. asuka-suka. dodolan kamang-mang. rambut maudag. lan kinepokan. sang Prabu Linggawesi. rame-rame ingkang sami. ambebeda banaspati. raining kamang-mang. sang prabu Linggawesi. amelet anggigila. aeng temen sun tingali. kalangkung sukaning ati. padha cinancangan. sikile nungsang ming nginggil. nata Pakuwan.

kapareng lamining lami. den pakan lawan daging. 10 Maring iku adat purba Pajajaran. he madigda Parwatali. meraja Banaspati. saparti ngingu macan. meraja Banaspati. kokalan ing druhaka. kang muga-muga. pala karta Pajajaran. suliha tedhak. kapanggih sira aglis. den go ambuwang jalmi. kabeh dipun uculi. lawan Talibarat. mangkana ya ika. den go ambuwang jalmi. endhas kang sira ngusap. reh ipun sampun lami.Banaspati lamine den ingu delap. den pakakaken belis. pala karta Pajajaran. jengandika cang-cang. mangkana ya ika. lan Talibarat. kaparing lamining lami. 11 Sadya nira angrebat ing rewangira. munggah suka akasmi. daging buron alas. den pakakaken belis. kang ukum pejah. lan ta ana jalmi. suliha tedhak. kang ukum pejah. 12 Rencang kula wowolu kang dika cang-cang. 13 Maring iku adat purba Pajajaran. sedheng dipun apunteni. 14 .

16 Gih sumangga kabeh padha sarat tobat. endhas kang sira ngusap. kang babasan aja. rantenen pakarsa ngolahi. munggah suka akasmi. kapanggih sira aglis. kula kang dadya.Sadya nira angrebat ing rewangira. kang muga-muga. Ika kang sinambangan. kemit maring sang aji. balikan kudu jaga. ingkang kadi wingi uning. he madigda Parwatali. tan genah wani-wani. ing ngendi prana. lan Talibarat. 17 Pan sejane banaspati satedhaira. dumadak lirwa jangji. tedhak Pajajaran. 19 Tan pracaya sumangga atetep jaga. reh ipun sampun lami. ingkang anak putu aji. duriyat Pajajaran. lawan Talibarat. lawan sumpah kang candri. kamang-mang jaga. ungseden maningala. ing duriyat Pakuaji. sok nang gunung sok nang pasir. sedheng dipun apunteni. 15 Rencang kula wowolu kang dika cang-cang. 18 Pasthi iku banaspati iku jaga. . lan sanadyana. wani-wani gaweya. kokalan ing druhaka. turuna Linggawesi. kabeh dipun uculi. saksining seja pati. den pajahana mangkin. jengandika cang-cang.

ngaturaken ingkang abdi. banaspati wolu sami. 21 Ya ta sira Parwatali seja marma. kula dhewek kang tandang.20 Kula boten lajeng nanggel kang acidra. kang pangawula. kang kakayon ana hing. prajangjinira. manecat ilang. 22 Parwatali Talibarat ing sabdanira. banaspati padha. pranjangji lawan sumpah. Yang Maraja Banaspati. gubug sawahan. suwawona ing tetelar. nembah dhateng sang nata. 23 Iku dhateng banaspati wolu sigra. yen mangke cidraa. rumaksaa ing jeng gusti. den culaken tumuli. anguripi ing wewering. maring raja endhas bang. 25 . dingge punapa. kang wolu banaspati. cat katong dening jalmi. Talibarat pon ugi. nguwel-tuwel kadi geni. seja apracaya. yen mangkono ya becik. amintal usul ing abdi. mejahi babu pribadi. nangi kita padha. 24 Pramilane Pajajaran akeh kamang-mang.

mogok kang den baleding. ing lampah.Ana meled-meled aneng gubug-gubug padha. ing wengi kang peteng nuli. yawis tobat. gone gigila. ya kamang-mang pinangka damar ing lampah. gelethak dadi lupi. kamang-mang padha angiring. malayua genudhang. nanging kamang-mang cawiri. jar bangsa siluman. yen kekesahan. ing wuri tat Linggawesi. satedhake sang ratu ing Pajajaran. 03 Mobyor-mobyor kaya obor atut margi. angleledhek wong ngarit. amung samemedeni. 04 . mangkana kang adat. duga pegel kang lumari. 26 Kamang-mang tinangkeb lawan keranjang. napase kesotan. PUPUH XXI LADRANG 01 Sadangune suka-sukawan tu bocah. tan amikara. 02 Pramilane Praburara Linggawesi. satedhake dadya pangregep kewala.

Ya angraksa ing sabandu kulawargi Pajajaran. kang kaprabon pipitu ing Pajajaran. iya iku amengku purbanagara. Linggaerong Linggamurti. sakabeh sinebut nami. . 08 Kapitune wus alinggih bupati namanira. sabagi-bagi. kawarnaa Prabu Linggawesi nata. pipitu kadi wargi. 07 Linggapakuwan tanopen Linggasari Linggasana. 06 Wus prajaka yuswa umur salawe warsi. Pajajaran duk jamaning. 09 Kang pinangka bala ratune Linggawesi jenggerjagat. ya kamang-mang iku endhas kewala. 05 Yen tawiri kamang-mang awake paksi wus marena. ingkang putra. Linggarahayu kalawan Linggabuwana. awake manungsang menginggil. rantab-rantab sakabeh namane lingga.

10

Iya iku sang prabu Yang Linggawesi Linggatosan, babalik remen ing alit, maring wadon marucupe lagya.

11

Ingkang durung susune kumaringkil, wadon ingkang, masih rata kang pepenthil, kadya kaya susuning bocah lanang.

12

Wau pupak ya iku kang karemani dadya ika, kang ibu amemetheti, wadon cilik wus angsal kang kawandasa.

13

Gumariwis pan kaya bebek memeri agiringan, sagendhongan kumraritig, denpahesi sandhangan kang adi pelag.

14

Dadya susah ingkang ibu Brajawati, genya dhana, anuku-nuku atining, bocah wadon sangkane gelem dewasa.

25

Mungguh sire iku Prabu Linggawesi maring bocah, kang tembe pupak sawiji, kumokod pisan ing bocah perawan pelag.

26

Ya sang prabu dadi ora duwe selir, maring bocah, kang wus lungse sathithik, ora esir maring bocah kang wus tarab.

27

Kang wus reseb padha miretan kawangking kaparek kang, lare ingkang durung gething, iya iku kang kinarsakaken nata.

28

Ya sang prabu Linggawesi lir lare alit yen dodolan, yen mangsaning udan nuli, ya selire padha katimbalan wuwuda.

29

Aing latar anuli dipun suraki, lawan dinar, ya ta sakathaning selir, kang wuwuda rebut dhingin ruru dinar.

PUPUH XXII

01

Kang sinebut namaning kang raja sunu, Prabu Linggawayang, sinungan kabopatene, Bantalwaru ika ing cacangkok ira.

02

Ya mangkana Prabu Linggawesi mundhut, putrine wiliyang, Dewi Cibongas namane, gih punika nembe umur dasa warsa.

03

Sacareme ing kana kinarsa jatu nata Pajajaran pinangka bini ajine, malah iku sampun miyosaken putra.

04

Lanang ingkang sinebut ing naminipun, Prabu Linggarasa, sinungan ing kabopatenen, Karangsambung Purakadhongdhong Malangya.

05

Nulya Prabu Linggawesi sira mundhut putri Barisbulan, Dewi Rasati namane, iya nembe kang umur sadasa warsa.

06

Sinaptanan sampun pinrih jatu, ing dhatu Pakuwan, pinangka iku sang katong, careming sang sampun miyosaken putra.

07

Lanang ingkang sinebut saparab ipun, ing raja kaputran, Prabu Linggaening reko, pan sinukan kabopaten Sokalaya.

08

Lami-lami Prabu Linggawesi mundhut krama putri nira, Sunan Gunung Puntanggedhe, ingkang nata Dewi Rara Lisniutama.

09

Pon ya tunggal anembe yuswa sapuluh tahun wis pinuja, prameswari aneng kono, pan amurba para garwa ing Pakuwan.

10

Intening wadon ing pura Pakuwan agung, iku prameswara, Rara Lisni ing jenenge, ketang garwa waruju nanging kang dadya.

11

La yen mangking gamparan ika sang prabu, nyarengi kang garwa, lari gulingan ya age, ing karsane inguculan kang gamparan.

12

Arumaksa bilih kagete sang jatu, garwa kinasihan, kakasihing segedhene, damak-dimik lumampahe ta sang nata.

13

Genya tumpek ponjan asigarwanipun tansah pala-pala, mila sang prameswarine, ya wus bobot ananging ora kajamak.

14

Atahunan anggene ameteng iku, ora baba-babar, wus pirang-pirang lawase, kang dhudhukun anggrarayang sing dhi ora.

15

Kang sawane angarani rara busung, kawelehe ika, dening tan ana rasane, dupi busung akundhangan rasa lara.

16

Dupi iku ya kaya wong meteng iku, sejene mung lawas, ora na bebeleyane, kang sawane ambadhek lamon kawaya.

17

Kawelehe dening katilap ing ngujum, tan katara pucat, ora rumab ora nonjok, panyanane masih gumilang padhang.

18

Kang sawane lamon ika malembung, kanginan ika, kawelehe ika deneng, ora katon urat kang pating karenyang.

19

Dupi tingal ajar lawan wiwiku, den iya sanyata, mateng sang dewi samangke, isi jabang supaya tan karsa medal.

20

Ya sang Prabu Linggawesi ing tanyanipun, la prepun baya, paman ajar tarekange, dra pon medal si jabang duk kaya saban.

21

Para ajar sabane boten pikantuk, yen mange medala, kadesak wedale dhewek, boten kenging den paksa-paksa medala.

22

Ya sang Prabu Linggawesi pan dhedhesipun, iya kena apa, paman ajar satemene, weharena aja sabda kang den garba.

23

kudu dang nata rumiyin ingkang asirna. mangsa boten ing gelar ing waskithaa. tarengkep ana ing. wus katingal sadayaning. awit rebah watangiku. babarane ing suka atawa dhuka. paninisan angemba ing. kalangenan den ideri. nang latar lan prameswara. paman ajar dika. ing adining puri. ing mangke tulus wewedhe. gih boten gadug. pan kalilan ing nata acangkraman. ye punika jabang. sarupane parekan agung.Para ajar para wiku sabdanipun. ana wang-wang lalangenan karta yasa. PUPUH XXIII SINOM 01 Tan anatara sang nata. boten kilap ing sang katong. ngadhem-adhem ing pantara. 02 Ingkang abanjar wangunan. aja gamam ing awale. giyak-giyak wong jro puri. 03 . samya suka ati. 24 Ya sang Prabu Linggawesi dhedhes gapuh. andherek ing sang aji. 25 Para ajar awale babar pamuwus. ingkang ngadi ing ngadhenan.

dupi iku kapiyarsi. dangu wonten taman sari. kumepyar rasaning ati. age mantuk dalem puri. mung siku adating apa. ya mengko sadela maning. boten sakeca ing manah. Prabu Linggawesi wau sabdanira. kepyar-kepyur taragdagan. prapta nembah nuhun gusti. nembah matur ing gusti. puniki pan sendhekala. timbalane ibu nata. gampang mengko wus miwat. wong den penging andalarung. wong dhodholan reren kudu. 05 Dening ibu dalem ratna. punika kawanti-wanti. melang dhirine kang siwi. ingkang ibu raja dewi. katuran mantuk ing puri. tuturen den ujar mami. banget melang ing ila-ila ing kuna. ora ngrungu pamarahing. ing paduka gusti jandika katuuran. ing anak isun nata. la sendekala iki. tan kena barang sukati. sendhekala ngalas maning. gumuruh kang suka-suka. susulan maning la ika. emban amintara aglis. ibu dalem ratna wau. ya ta caraka wus kebat. . jandika katuran mantuk. sendhekala boten suka meng amengan. 06 Mengko isun mulih ngomah. 04 Isun iki enak. kepyar rasaning ati. sendhekala sukati. duduwa dining gumuyu. ya kon manjing dhingin maring padaleman. sapunika timbalaning. gampil manghkin lekas malih.Brajawati apotusan. 07 Ingkang aran sendhekala.

maring ngendi Linggatosan. Prabu Lingawesi nabda. kudu duwe pamali. . datan babar nuli lelewane pisan. wong meteng ya kudu wedi. ing mamala sendhekala. umpetan kang maring ngendi. aja balik marana. 12 Mung ta padha asingidan. 10 Sirep ora ana kang swara. ora suwe ika hiji. buduk namber mataneki. sira jacraweya ing mami. anjog sajanira nusul. meteng tan jamak lan jalmi. nata anjrit agiro tur gedebugan. pating salindhut singidan. ya ta sang prabu wus uning. masih kadi bocah alas wuwu cawak-wak. mapan si dhewekw ika. ora na abacut mewit. kalangkung dhegel ing ati. yen kang ibu rawuh pan samya umpetan. 09 Ganti mara asu aba. ngandika mung ta iki. kang baribin padha mampus. ya si Rara Lisni baranyak tandhungwaya. dhateng panggenan putra. aja lok sawaya laku. ila-ila bari iki. ya ta Dewi Brajawati.08 Gampil mangke yen kalintang. ya mange gak arep mulih. wis neng kene bae iku. rabine kapadhan maning. dening lelewaning siwi. gumuruha warna-warni. abane antong wirasa. kang ibu kelangan lari. dhigal temen atiningwang. dheweke lagi garbana. kenang samber mata prabu. 11 Sandhekala wong kang kuna. saking wanci pacek desi. sawusing kadi kamangkin.

kami ruru seneng ing ati. kang raka kadi mangkana. PUPUH XXIV KINANTHI 01 Prameswari nira gupuh. katharak-thaak ing tingkah. adan wong jro puri. duk tumingal ingkang raka. ora wurung katingalan. iku kang dadi kalilip. 04 . tiningalaken enggal. ing jro kaca kaeksi. pan kadya tambuh ingkang manah. ya dadi milu anganis. ora kalawan pamili. gusti kita kenang apa. Rara Lisni aningali. amundhut kacatu mulih. tan wande kalilip kenging. 02 Pan dadining sakatemu.13 Anjeli-jeli karuna. 03 Raka dika tingali iku. pan dika jiwit kewala. padha nangis sambetipun. Rara Lisni ical arti. ingkang raka mukaneki.

Linggawesi aninggali. ya wis padha ing pasrah sira. wong wis dadi padha pisan. 16 Ora ana gunane iku. pan mangkana tan kemutan. 07 Sareng ngilo kaca wau. guragapaning asakit. yen sang nata boya uning. angandika mituturi. mangsa ababalik maning. wis karsaning Yangandum titi. katingalan sarira neki. . kembang kang wis megar ika. iku dadi wesi malih. tan kemutan apa-apa. amundhut carmin punika. dipun tamengaken aglis. kadalang suhing ngungkara. 17 Mapan mangsanaa iku. ya wus katalaya dadi. pantangan lamon kakaca. pramilane gelis ambil. nuli balik ing ngawiyat.Saestu kang garwa iku. udan kang wus timbang siti. mangsanaa kudhup maning. welinge ingdhang Sakati. 06 Ora kaya dening iku. adan geblang ya sang nata. prapta ing kana lalawad. kaledhug ingkang sawara. mapan reke sami neki. ing pantangane sang aji. teka tan kemutan iki. laku lalis tan ping kalih. ing lemah baleger gandhik. ya den penging akakaca. ing sarira kang nata. 05 Marang wadana sang prabu. kang garwa mintoken carmin.

PUPUH XXIV . baris kang sabagi-bagi. tanpa pegatan lampahnya. pama ing pacendheneki.18 Lalu marag kembang iku. 22 Lampahnya selur adulur. saking kathah upacara. payung agung dhedhet kehing. ya ta opyak para putra. ing pasentran candha warsi. balikan padha rerepa. 20 Samapta krajaan sampun. ing margi andher awilis. datan mangkat saking puri. Rara Lisni tahunan iki. pucuk praptangpa candhening. kurnapane ingkang rama. kangmarapit anjalana. pan sasilir ing angin. mangke gadhang timbul mijil. sangkan-sangkan bae kudu anemahi. kang sampun sirna alalis. 21 Kang layon wau sang prabu. wus gumelar pangladhenging. Linggawesi sampurna kena. pajeng asri payung kembar. ingkang arep cilaka. kang padha sengkel ing ati. 19 Ing pasisir kidul iku. saking garba wewetengan. pra sami gelar ngasreni.

kang arep bagja sing sangkan-sangkan. kudu bae nemu eleng. ingkang mingsa dhasaring toya. iya Rara iku. ora opyak sawara. ing pati lawan merad. nyai Brajawati kang silib.01 Ora ana bedane ing jalmi. tan mindhoni lincakane. yen dangdani ingkang aran sirna. lincakan aneng buwana. anang gunung ing jro garba. 04 Ora mantra den abalik maning. ingkang ambes ngayangan dhasaring bumi. maring anak mantu. pramila kudu emut. pan sarupa lakuning pati. anang gunung ing wetenge. pan kewala salin nagara den panggih. datan kena pindho laku. 05 . 02 Den wis nrajang pantangan tan keni. dudu mati dudu pejah. sakabeh iku tunggal. Brajawati wuwuse angemu tangis. wewetengan titinggalan. ing lalis tan kena wande. nya mungga tulungga. ananging den wis pindah. mulane laku iku. kudu bae amaspisani. amung kari entenana. tunggaleku nipun. ing jro wetenging watu. ing kalpantanganing anak. temah nrajang pantangan. wus den becik wuwusen nini. kang tan uning. ya mangkana anak mantu. mung sapisan sapisan kewala. kang sumurub ing jro garba. dudu iku lampus. 03 Kang minglintang kang mingsurya sasi.

karang melok aja na kari. iku sadiya kena. ☻ 08 Ya ta Brajawati wus nimbali. 06 Inggih kula boten kilap nini. susah temen yen boten si nyai. wastra putih ingkang abecik. jawada ing sawarnane. Parwatali lawan Talibarat padha gujengana iku. boreh wangi lan lenga. ya aganti tanpa anten-anten dugi. . windon takeran warsa. atawa mangurungan. ipun Indhang Sakati. 07 Lan anjaluk kembang kang wangi. Rara Lisni ingkang rosa. anjumbul-jumbul kaget tur sarwi nabda he sakoro kacung. suri kacinipun. maring kang meteng lawas. sampun takeran tahun. PUPUH XXVI PANGKUR – 01 – La ya Nyi Indhang garjita. go sasajene kang gaib. nunten kaparipun. ya ing pasar kono iku. lan kembang campaka pethak. ing sasangen pamundhut. nyi Indhang kukudhung. sadangune muja rara den adhepi. lan ukupana kang agung. kira-kira sakalapa. ingkang andaya-daya. Indhang Sakati sahure. wong jro pura kinen sadhiyaa. ya ta wus pepek sakabeh. putih sarta ngukup menyan. ingkang warna kalawan dasa nedha. den barikut sabadhan. den kajamak kalayan manusa. isun jaluk kukudhung.Wewetangan dra pon gelis lahir. pola kula ngajab-ajab. punapa adat kang prantos. maragsag ing ayunan. ambok kontal kenang thathit. isun pejah dodolan ngundhang kang gaib. supayane tiyasa amedal.

Parwatali pansamya anggemeli. babar pisan wedale jabang jalu. . mingsor maring ngawiyat. gelap sangyang wastanipun. – 04 – Maring ngarep maring wuntat. dadi gela nyawang ing paparab ipun. talerep kilat lan thathit. anggepeli rambute sing uluhipun. kang kina daluraning karsa. warnane suteja peglag. – 06 – Ya ta Prabu Ciyungwanara . dangu-dangu nuli medal gelapipun. dangu-dangunipun nuju maring Rara Lisni adan. cirak-cirak kalangkang suka ningali. maring dhuwur mingisor anjejeg bumi. – 05 – Gelap nyenggrang namanira. maring ngarep maring pungkur. ari[ari ika sampun dumadi. tan dangu kilat agemnya. pusere ingkang tigas. gelap ingkang mancaroba. amiyosaken babayi.– 02 – Ya ta Talibarat. ingkang tulung Ingdhang Sakati ing mau. kakacae ika dadi. ingkang marga lantaran. dupi Nyi Brajarara. mapan kilat mancaroba nganan-ngering. kang canggah wus babar metu. – 03 – Gebyar-gebyar ora mendha. kapat maring jabang bayi. astane sang rara iku. ting sariwik nganan-ngering. wus kadadiyan titiga.

akeh padha rena. anjaga dhiri sang aji. Prabu Ciyungwanara saking ngukir. Pajajaran suka ngapti. pan sinebut Prabu Wastu parabipun. – 11 – Prabu lare wus anyakra. ana ing rat Pajajaran. Pajajaran kaya mau. menak pra kuwi sigar sawetaning. tatas maring Cipamali kang kawengku. – 09 – Tatapi ing karsanira. wetan kulon padha aganti uni. ing Pakuwan ra timbul ingkang sasulur. Ciyungwanara kang junjung. kang pinangka pamong-monga Prabu Wastu. – 10 – Mila ika kang wong sanak. padha nakseni ingkang lilinggih ratu. piyambak ing Prabu Sepuh. linggih ratu dening sang prabu yoni. – 08 – Aketuge sasahuran. kang aran Gunung Krendha. ya ta samulur raja. kasanson ing kulawarga. kalenggahaning canggah. – 12 – . sawaraning Yang jagat.– 07 – Sang jabang ika kaangkat. dening Prabu Wastu purba wisesa Sundha negari. Ciyungwanara si jabang dipun imponi. mrana-mrena atut wuntat. amuji juragan aji. awit Cilutung ngetan. Prabu Wastu jabang bayi. tanopen wetan lor kidul. rancakowek warni manuk.

ngemiti pagusten aji. gelap Sangyang Talag. angrampungi pradata. bisane anginger bala. lan Ngabehi Sokapulang iya iku. langkung bisa amutus kang prakawis. – 15 – Wus tan ana kakurangan. ingkang jaga-jaga nagara. sinaroja gul menak kang Bopati. – 14 – Tan Ki Demang Bantarpanjang. Parwatali angahu biwaya ipun. – 16 – Ing turunan Pajajaran. Tumenggunge kang sinebut. Pakuaji saking Cigasong punjul. gelap senggreng kalangkeng pandengel wijung. – 13 – Tanggung-tanggung kang manusa. – 17 – . bisa nginger pagaweyan. patih Burung kandha nyatane paksi. masih pinter kepati burung wiring. miwah eyang Talibarat. pinayungan para eyang. Tumenggung Natakriya. kang seghenge angampingi. ing salinggih ing narpati. apa adating sang ratu.Papatihe kang anama. kang padha raksa rumaksa. kawuwuhan sadulur kang ngampingi. kang juru pamong-mong wau. mulane dadi papatih. gelap nyawang Karangsembung. agawe enaking padu. kang dadi anjugalani.

Parwatali Talibarat. giyuwan peteng lir wengi. inkang kena padha upataning ratu. nuli ngedhang para buyut. gumalendhang dharangdhangan. – 19 – Gelap sangyang sing jro toya. – 20 – Iku dadi patengeran. sinata ing dhewaji. tanpa sangkan mobat-mabit awor lisus. . wawayangane nalendra. Prabu Wastu Ginotama. turunan ratu anget sakalir titi. iya iku martabat. ya polahe Talibarat anempuh. ila-ila kang pamuli. mauk miber angambara. gelap senggreng garantang tanpa thathit. ing pantange Pajajaran dadak nuli. pramilane Pakuwan wanter pangaruh. Prabu Wastu Pajajaran mandi. sing angidek Suramangkrak. sing angidek dadi pincang dadi buntung. kaligane gumurubyuk. supatane dadi tumpur. – 18 – Sing asing aneranga. aki buyut Banyakgarantang. tan kena sathithik sigug. – 22 – Ngayeg-ayeg kena tulah. udan angin gelap tempuk. tan kena den idek iku. – 21 – Tangtu tiba kaju lina. anak putu ingkang anyerang papali.Kocap praja Pajajaran. Parwatali ngabar-abar. lan gelap nyawang nambungi. saanak putu nira. ora kena jaladhak ingkang wani. anuli ana gelap. dadi lumpuh dadi gering. maring sobawanira. ngungkuli bawa dewaji. ya mulane den arani ingkang nebut.

ing sadaleming purati. tan ana ingkang mantari. ora na sawalang kapti. punika kang prameswara. dening datan miyos siwi. tatamba ing ngenda-ngendi. kalangkung warnane ayu. anglegakaken manah. laminipun ora amiyosi putra. daropan anganaki. Ni Ratna Sekarati. sedhengane olih rabi. gedhe cilik sadaya aturun marma.PUPUH XXVII SINOM – 01 – Prabu wastu Pajajaran. parandene datan metu. Susuk lampung ingkang nami. – 02 – Kalangkung ing kinasihan. ya dadi ora bisa. anak-anak ing sasami. aresep saumur ipun. – 05 – . dening warnane abecik. jeng prameswari sakara. ora ilok kathik. pranakane Sang Dewi Sarkara ika. saking anaking bramana. kaya garwa sang nata ing Pajajaran. parekan kang ageng alit. linulutan ing sakula. – 03 – Wedi asihing majikan. – 04 – Suwane Sri Naradhipa. anak maning yen iyaa. sabab kaliwating aking. patutuganipun arum. cirinipun den ingkedhi. sapolahe amantesi. warnaning kaendahan.

ing marmane besuk karuru larinya. saking pulo Tulangbawang. marmanipun dumadi. ana ing Pajajaran. saking sabrang saking Jawi. weleh tan ana dadi. mundhak akingipun gempung. pun sampun wau akatur. wau kang binakta dening. pranakane ya Sang Dewi. putrane Buyut Satohan. amung ing Sundha negari. estuning bresih sarira. salamine pon boya miyosi putra. – 06 – Tan karinget tan kalalar. pinuju panenggek kang asri. – 07 – Ngalap garwa wadon ingkang. – 08 – Kocap Ptih burungkrendha. – 09 – Ing besuk panusul ira. . angused larining ilang. nama Encecalingcing. Tulangbawang maring Jawi. wus boya anganaki. lawas-lawas katiliktik. anenggeh maring Jawi. koncara lamon ika. kang seja naglelesena. kalangkung dermaneki. sampun kagarwa puniku. bebet manak istri saking.Pirang-pirang tukang tamba. ora wadi ora mani. ing Pakuwan sampun tampi. ora umbel ora duwe sulu mata. angiwat putraning aji. tan ana roro tetelu. Prabu Wastukalintang. lan amijil putranipun. iya iku dadi purwakaning perang. ora idu ora yiyid. ora reseb ora mimis. dhateng sang prabu nata. garwo malih garwo malih pon tan putra. ingkang papati garudha.

kang minangka maha dewi. atuwin ana anelang. – 11 – Tiya cicirine ta sira ki Patih Burung ya dening. – 12 – Wang ing sakala samana. kyan Patih Burungkrendha.– 10 – Dupi samangke kalingan. kale wadon duwe laki. – 13 – Sariandilep kang nama. apindah-pindah turuning. pameswari iku wadon saking kubang. tan ana medal siwi. pon kagarwa tan mijil. pan mangkana pinet garwa. garwa aji ing puri. wadon saking Luwiliyang kang anama. karya laku ngiwat-iwat. Pajajran iya iku. rati ing Pajajaran. ya wis ngijir gadhang kaselang susupan. kanggo babakti ing ratu. – 14 – Marga peteng kang anyelang. sewakane dheweke kanggep ngawula. nuli ana arti nisip. putraning Buyut Gunggirik. kasawung ing pegat turun. garwa tetelu tan sunu. satemene susupan ing bramana mangko gadhang kacatur. nuli malih gagarwa. . Prabu Wastu ing Pakuwan. kang nanggoi pati urip. putrane gabug maning. gawe ora arju mungguhing dewa. ngiseni ika kewan. kang dudu waris ing aji. kangkat wani angambil. durung gemet angilari. nuli sang nata garwa. malih kang pinangka dadi. ora nana una uni. Ence Galingcing dumadi. ya iku pan gabug maning. marmane ika wanodya.

– 18 – Lalu buwang-buwang raga. ing aputra gawoke wong Pajajaran. – 17 – Wondening arjaning pura. rama ajar Sususklampung. panendhi ratu Pakuwan. agabug sadayaning. selir kawandasa sisi. iya dadi gabug maning. gabuge tan ana mijil. mikiri punthes ing aji. ngajah padha mathem wijil gembyung. rinebak-tebak asuwung. winangking sadaya nira.– 15 – Putrane ki Cupangcapra. tan ana gumentasa. ora nana kaya iki. tumulung darbeya siwi. Prabu Wastu mulat bisa. nami Nyi Carananggolis. ambabar danawa wangi. wis windon takeran tahun. lami-lami kang garwa prameswari Sarkarati. langkung sadarga dening tan kagungan putra. sing ngarsane Sri Bupati. garwa sakali manipun. garwa lima kapadhan. salamine ngratoni. – 16 – Prabu Wastu nuli ngalap. dadya pamitan sing kana. tan nana medali siwi. ing dos wiji-sawiji. ora anggandol sami. Prabu Wastu pan andulur ing garwa. ora na kang mijili. PUPUH XXVIII KINANTHI – 01 – .

dra pon dheweke si siwi. lan ana ketang katolih. – 03 – Gabug-gabug pan kapuhung. ing lilani prameswari. entare saking Pakuwan. – 05 – Sigegen kang dhesthi lulut.Dadining sang Prabu wastu. budine si bapa iki. sakathah ing para garwa. sebab wis ora na maning. toli kapremen tala. . medheke maring kang rama. – 04 – Amung kang den tunggu pupuk. kang dipun abet ing ati. bubar kabeh para rabi. kang dadi rasaning ati. rimbitan sawengiwengi. ing dhesthi ratna Calingcing. kocap nyi Sarkarati. panuhun reka pandaya. – 06 – Ki Bramana wuwusipun. – 02 – Asal Tualangbawang wau. ya toli kapremen si toli akale si bapa. estu kangge ing akrama. pepedhang sadina-dina. bramana Susuk pinundhi. mung garwa aji Calingcing. iya nyi Rara Calingcing. sok aja Calingcing ratna. sang nata pijer kakenan. angrasa dadging sagelih. sakabeh tan amutrani. anggepe sang nata endra. garwa ingkang kinasihan. ora na kang miyatani.

sumangga den pejahana. yen boten badhe pikangsal. kasuhur ngilari jampi. ing sabisa-bisaningwang. mider kenges sun salaksak. awak kula langkung isin. supondaya amaringi. – 12 – .– 07 – Kajapa ingkang panedhu. pandaya misunwis cekap. kalowos tan angsal kardi. si bapa pon milu isin. babu nini ya ta iya. jaluk mati sapuniki. rama kula jaluk mati. ora na kang miyatani. ora kaya tan tumama. yen boten medal putra. dhateng maru-maru kula. angupaya apa maning. – 11 – Nunten kula mantukipun. – 08 – Kang luwih punjul sing isun. dateng Pajajaran malih. toli kapremen maning. Bramana Sususk mangsuli. dening jeng rama ing ngriki. kang usada warni-warni. cupet cempole ing budi. – 09 – Ratna sarkarati muwus. – 10 – Kula boten ajeng mantuk. sumangga jeng rama amanah.

toli kapremen iya. sarta aduwea anak. ing Pajajaran wus isi. – 14 – Basane jalukan isun. tegane wis sangu keris. ambri dadalaning ngoli. – 17 – Adan gupuh enggal mantuk. berage nyi Sarkarati. adan enggal linebonan. ingkang mati labuh geni. dupi ginarayangaken dening. . malembung wadharan ira. ki Bramana Sususk enggal keris den candak tumuli. benjang ing sawuri mami. sasambate prameswari. wus dadi apu dahana. dupi katingalan dening. Sarkara dadi garbini. – 13 – Ratna Sarkara agupuh. lawan Prabu wastu nuli. – 15 – Ya ta bramana awangun. bebeg dheng wis sumpel ati. arahe suduk sarira.Ora kaya yen isun. bramana wus dadi api. sira salameta urip. kaya pasakarep ira. anjeblung punang wadharan. – 16 – Dhateng guwagarbanipun. dhukun anyata bocah. tumangan geni wus dadi. yen rumihin sacombana. sira gelisa pepecil. babu nini aja sira. dimane ikang nyurupi.

Prabu Wastu angandika. dugi maring rolas sasi. salamine ketar-ketir. subagjane estu yakti. ucaping dhukun pawestri. – 23 – . sedheng tandang karsa nyingkir. dugi kula meteng mangkin. puniki ingkang yumana. – 21 – Prameswari agegetun.– 18 – Kula kesah ruru dhukun. nanging yen angliwat saking sangang wulan duking bendra. – 22 – Ya ta ika Prabu Wastu. sangang wulan duk sarasmi. mangko yen manjing itungan. – 19 – Kang grayang inggih estu. ruru lanang liyan maning. dhukun sakti mandraguna. maras bok angliwati. kalangkung sengit kapati. inggih isi jabang bayi. – 20 – Tya estu anak isun. tan karsa angaken putra. ing sasiye bebeleyan. samono Dewi Sarkara. bekeng temah iya liwat. iya dudu anak mami. nyata iku olihira. kang garwa den tudhung wani. inggih laksana pakolih.

Talibarat Parwatali. cacaloning wong abecik. – 27 – Saryakaruna lingipun. Gelapnyawang gelapsangyang. yen tuwaa besuk bagja. mantuk maring lampung karsa. angreha Sundha negari. dadya tilar Pajajaran. si jabang sira sun puja. ming pancalima Pakuwan. samya ing Lampung ngabuhi. – 26 – Nulak sagung bala ripu. muktine tinemu kari. ing kana nuli angimpi. adhuh gudhi anak mami. masa kakena ing manah. – 24 – Sangsaya ing pulo Lampung. aranana Sususktunggal. gelapnyenggreng kinen sami. Ciyungwanara nimbali. . ing Lampung rahayu urip. kang gondhol si jabang bayi. jabang bayi wareng mami. anandhang lara katimpal. dening ingkang nyambat asih. bramana Lampung nuturi. angraksa jabang narpati. – 25 – Jaga aneng pulo Lampung. ya ta ika pancalima.Kesahipun saking riku. kang jabang kinempit ingindhit. kapanggih lawan kang rama. ningali warengka sesi. Prabu Sepuh liwat luwi. Dewi Sarkara buwana. – 28 – Aranana jabang iku.

Gelapsenggreng salabehe. ing pasisir kidul ika. alusma barang laksana. adhemiwit arti budine. maring sang Susuktunggal. yan mini moyang gaib. pinayungan pancalima. karemane angalenthung. satingkah polah limunan. jejeging sadasa warsa. emut wawangkiding ngimpi. jabang lunta ingaranana. pancalima momong lampah. but buri amayungan. tan pati guling dhahar. Susuktunggal kang nami. kabeh padha rumaksa. wis tan karungu wartane. sagenahe Jaka Susuk. ombak-umbul ing sagara. ana ing lautan kidul. Gelapnyawang Gelapsangyang. – 04 – . – 03 – Talibarat Parwatali. – 02 – Wus awor lawan dhedhemit. nanging ika pancalima.– 29 – Wusing mangkana awungu. PUPUH XXIX ASMARADANA – 01 – Duk kang yuswane sang jati.

nyi Gedheng Rarasiluman. . wus pinten ing laminipun. denira para jawata. amampak maring payudan. kocap kang aneng Pakuwan. andel-andele sang nata. muwah deniwat dhingine. seja mangko denrebat. sampun campa kramane. ing kana den gawe mantu. ya ta dadya ingkang perang. – 05 – Putrine ingkang anami. Burungkrendha patihipun. angintaraken balane. ing jagad alimunan. denuri-uri den ruru. – 07 – Datan antara ing lami. tumuli ana esihe. dening patih Burungkrendha. pinanggihaken kaliyan. maring kang Sususktunggal. ana ing tenjolayaran. sang putri seja denjuput.Ing karang kang sigreng sungil. – 06 – Sigegen kang amor dhemit. Kaka Ramana jenenge. amurba amisesa. sang putri seja mangko denrebat. sabrang dadi adat buta. karemene kumarasan. padha doyan manusa. Ratna Calingcing ing kuna. nyi Rara Mutiyalarang. wus bancik ing Pajajaran. Prabu Wastu sajengkare. kangiwat seja denrusak. – 09 – Patih Burungkrendha aglis. genya anyakra buwana. bala ayun-ayunan. genya angrok bandawasa. belung kapal bulanipun. – 08 – Seja angrebat sang putri. panusuling Tulangbawang.

katarik ming jaba pejah. – 15 – . den thothol jajantungipun. kundur kapereg lagane.– 10 – Long-linongan akeh mati. – 13 – Angentongaken tanagi. asore Betyawelara. Patih Krendha wus den jragang. ing gelar angudi lawan. nalampek naladhung nucuk. adan mara sepuhipun. pinalu balang-binalang. kadya ta bala wanara. – 11 – Patih Burungkrendha mijil. pating burisat lumayu. ki Patih Burungkrendha. Betyawelara denira. genya ajojo brawasa. – 14 – Betyawelara wus mati. – 12 – Adan lakining Calingcing. kuwel amagelutan. kapereg ing bala buta. kadya garudha meta. jejeg-jinejeg apalu. kang nama Betyawelara. kabareg dening buta. kan nana kakarawan. ingamuk ing patih ika. ngajejar kang angga murca. adan bala Pajajaran. pareng katingal pejahe. nyoker musuh padha bubar. pirang-pirang dina gone. tarung nuli ana ingkang. bala sabrang kondur kabeh. mapagaken pangamuke.

puruge wareng sang Susuk. apaladara susupan. ngayunan Ciyungwanara. muluk mesat dan tibane. den idek jalune iku. ngingisik sagara kidul. esmu rada kaduhung. Patih Burung wus anglenggak. Gelapnyawang Gelapsenggreng. kataring ing rawana. mamane Ciyungwanara. wareng nata ingkang nama. Talibarat ora nana. lan sakehe kabuyutan.Andik muntab ambeledig. milane analasak. Patih Krendha gulu pegat. – 19 – Ing praja akeh kang wani. dadi padha cama kabeh. – 17 – Ciyungwanara angarti. ningali endhasing Burung. . maring ki Patih punika. kangtu tinemu sadaya. ngili ngidul miruda. Susuktunggal re sajege. – 16 – Kang endhas sigra tumuli. anitah ing pancalima. dipun jambak jambule. pancalima sadhapure. – 18 – Sarya sira anglalari. Parwatali muwah ingkang. den kapepes ing ngalaga. sagarwa sakulawarga. Gelapsangyang iya tunggal. kaget sang nata wendra. munggwaika pinanggiha. padha asirna guriyang. adan pratignya wiyange. den balangaken alepas. baledug ing ngarsa nata. – 20 – Yen pinanggih Sususktunggal.

Prabu Wastu Pajajaran. lir udan deres tibane. anyangking sada lanang. – 24 – Dewi Calingcing tan kari. banyu sigra dumadya. sigra andarung lampahe. adan sineblak toyane. camedhar lan tahi jalma. – 26 – . dinamai Cahierang. kadhesek ing prawira. Prabu Wastu sagarwa. najis kangginawe punglu. – 23 – Siniratan uyuh anjing. – 25 – Kang gamilang-gilang wening. binakta dhateng kang raka. kadhesk den ira jemur. den kepung wakul kodagan. lelewaning wog Tulang. Prabu Wastu ika sarya. kocap ika sang katong. ngentep ngetan sigra rawuh. ya ta wong dhatulaya. tan kawarna kang susupan. kang sejen sing jagat dharat. – 22 – Wong Kaka Rawana wani. prajurit pakuwan saseg. mrepegi pura nata. cocoratan atawa pongpa.– 21 – Angemonga Susuktunggil. jagat buwana kadulu. lawan ingkang sada lanang. bubar larut kumagilan. sadaya pan sami larut. ing pinggir Sangyang Talaga. bubar lorode mengetan.

– 04 – Anut maring prabu anyar mangkin. sadaya anungkul. paneleng ing katong. tan kena sinundhul. wus jinabel dening musuhe. pan jumeneng Prabu Karadhatang nengge. tan kagungan basarang-saring.Prabu Wastu karo rabi. ora nana wani mantari. Kaka Rawana angadeg aji. dupi sri kadhaton. warga sakabeh kang dherek. lan ora na kang weruh. Prabu Tulangtogmol. ing Pakuwan nami. nyi Calingcing muwah bala. sabab uwise ora balik maning. adadalem ing jro banyu. iku sadayanira. iki pan jumeneng ratu. – 03 – Ya Sang Prabu Kaka Rawana nami. PUPUH XXX MIJIL – 01 – Kang na dharat datan bisa uning. . ing sa Sundha sami. ing jagating kono. padha nang dhasar talaga. sabata lawan sileman. – 02 – Ya Sang Prabu wus sirna alalis. lan ora kapanggih. ya wis dadi kaya merad bae. yen karsane mangkin. pugas brangas ala atine.

– 10 – . dadi amuwuhi. candhi-candhi entong.– 05 – Yen wus karep kaya lare alit. datan kena sinundhul aturaning. la yen mabok dadi kamungguhane. kudu bae dados. ya angluru ing tasik pasisir. wong Tulang Minadho enggene. keras akalipun. tan kena winurung. kabuyutan tapakaning wasi. tor-toran anginum sopi. arubungan ing Sundha negari. sajamaneng kono. bener luput mesthi. doyan main mabok. kawarnaa sang katong. – 08 – Ya Sang Prabu Kaka radha bang madhig-dhig. – 07 – Demen mapan ingkang yoni-yoni. padha atut buni. ora kena den semayanane. – 06 – Ingkang denkait budi ngarani. akrh gempur kapur atine. kang pinuja timbul malih. – 09 – Pareng angsal windu lami. Ciyungwanara ngilari warenge. akeh den padhangi. ingkang singub-singub. angrebat warisipun. ing pagusten isun.

Ciyungwanara gatos. pan den jejep ing tingal dhemit. – 13 – Pan kumutug ing ngarsane aji. awan benginipun. – 14 – Angembaa ratua tumuli. Prabu Ciyung pan kukudhung putih reke. Talibarat lan Parwataline. Raden Susuk ingkang sayaktos. marono ambuneki. kang wareng den puji. Gelapnyawang Gelapsangyang sami. ngidul ngingisik jaladri pinggire. ager sagalugu. gelis amora wong iku. – 11 – Ana ganda ingkang samariwing. kang dadi raosing ati. kan den esthi kuwareng. Ciyungwanara ngidul. lan galudhug saya seru swaraning. – 15 – Ngener cipta tan ana kakalih. Talibarat Parwatali praptane.Kang samangko kang kacekel maring ratu anyar othon. pan ya iku tetengering Sususktunggal. tan suwe agantos. . sarya ngobong ukup mangkin. Gelapnyenggreng karungu. – 12 – Gelapnyenggreng dadya ika sang aji. ing pinggir kikisik. belenging manah ora nakali. meeng wareng Raden Susuktunggal. panter pamandheng ingong. ing watukiliyong. swara kang tan pangling. saliwer marono. Gelapnyawang Gelaptanjung.

manah kadya rontog. kala iku mambu ukup gandane. tinggal rabi meteng tambu besuke. Raden Susuk mangko.– 16 – Aja lunta awor lan gelis. kang ngimponi sapalayake. aja ora ing takut. dudu turuning waris. bawaning wong wis mukti. isup arep titilik ibu. ing sadanguning nedhu. lan sumadi si wong kang duweni. pareng lahir takon bapa tumuli. krana ingsun dan raton. raden denya sewot-ewot. dadya pamitan tumuli. – 20 – Krana ingkang kang uwis lumari. wau waheng garwaneki. ya sok aja lali maringong. – 17 – Kawarnaa kang aneng dalem dherit. – 19 – Mubya ya larang amangsuli aris. krana kula pan lagya abobot. angabdi tanpa uwis. wong lanang tinggal wadon. kudu eling ing jagat maune. tan ngaku olihipun. – 18 – Manah pikir karsa padhaning jalmi. benggi pareng si jabang dumadi. lahir jabang bayi. – 21 – . ngendhel ora mari-mari.

tulus lampah wangsul. raden nabda tan samono. – 22 – Ingkang ujar isun kang sayakti. suka manah ipun. munggwa amlesa katengong. ya ta mutwa larang asri. Gelapsangyang nyuwong warih. – 25 – Ingalingan dening ingkang gaib iki. – 24 – Ya yen eling maring ngalelek rabi. lampahipun Susuktunggal nengge. teka upama benjing. ing mratuwa nembah panor. ora na liyan kadulu. medal saking kayanganneki. – 23 – Agles Raden Susuktunggal pamit. ika mapan wus anglilani. sumpah isun kang satuhuning. angambah karang kisik. sandika karsa jeng ibu apti.Ta kang uku panjaluk isun iki. den pracaya kranane iku nini. Gelapnyenggreng badhengel wijung. galudhug grantang widi narpati. yen cidra awuwus. apa maning maring ngong. aja timbul iku ing dadine. Gelapnyawang tan udan tekane. ya manawa ora lali-lali bae. pancalima ting pancorni. . nyai Gedheng Rarasiluman nabdane. aja lawas ya ki mantu. Talibarat kang ngramon. pamuji-puji jati. – 26 – Parwatali ulur-ulur apti. Raden Susuk anembah adan linge. mung pohon rabi.

agemen ing wareng isun. luhur kita punika sang aji. yaktose Pajajaran punika prajane. …. iku sapa kang kukudhung. PUPUH XXXI DURMA – 01 – Ramanira Prabu wastu wus kokalan sirna alalu lalis. Gelapnyawang la iku kaki. kang sun ucap ing adi panewune. dening nelendra serani.ian anuli rinangkul. kang wareng medheki. ambeg nakoda. Raden Susuk wus awas tingale. Gelapnyawang tinon. ingkang sumedi kono. asowara dan sang nata manhe. tulung sadarganing kalbu.– 27 – Ingkang eyang Ciyungwanara aji. rena-rena ningali kulebating. ya ta gugu panor. – 30 – Angandika subagja ta kaki. – 28 – Nyandhing ukup sarta asamedi. atatanya ya iku maring. – 29 – Inggih payu kita pedheki. . purane den wasesa. Ciyungwanara pinundhi. Prabu Kakaratandhi. kraton Pakuaji. sira kang sun seja panon. pan ya sira ageage ngambil. merad sejen alam.

basmi kaosak-asik. praja Pakuwan. – 07 – . dadi kumureb rebah. – 04 – Pareng sira Prabu Sepuh angandika. sadina ping sanga. akeh gunung kobar. kaganti budi srani. sayogya sira kang mangkin. estu basmi negari. sabenbengi wanti-wanti.– 02 – Ya wus ilang palakarta ratu Sundha. padha mayan dumadi. galudug ing arga. ngrebut nagara. sakeh kang malumah. jawane sun anyingkir. lor kidul ganti muni. maludhaging walirang. padha malumah. amedheki kang nagari. kumanyang nganingwang. sigra mangkat padha. – 05 – Datan apa menenge galudhug obah. akeh kang rebah. mayeng ing sabandina. lindhu rat lir ginongjing. kang mangko dadi. – 03 – Ya kaduga manira apaladara. pinanggih lawan sira. minanten barkah eyang. sabandina nguneni. Raden Susuk matur inggih. – 06 – Ing jro gunung gumledhug jumegur obah. pusakane kang dhingin. ulur-ulur nganan ngering.

gara-gara ing nagara. katelahe sang aji. bubar buyung kang kari. abubar priyangga. padha sinuhuran dening. tan susah den perangi. wong Sundhane kuna. ketung kang swara. – 10 – Bumi Sundha bisa nundhung kang anelang. ge ris ing sangara. . ngili marang jagat lami. tan lami punika. tumon widagda aji. ingkang pating sariwik. bubar dhewek tan sudi. Prabu Rawana age ris. anjaya-jaya. Pakuwan anggege risi. – 08 – Ya sang Prabu Kaka Rawana awiyang. gara-gara nempuh. Prabu Susuktunggal. prabu sepuh kang angiring. tan urusan bubar neki. aneng Sundha negari. – 09 – Datan sudi jeneg aneng Sundha layang. – 11 – Raden Susuk iku angruru pusaka. gumarang ing sabumi. kang sinamber dening gelap. kasaksen ing gul menak. akeh padha rusak. para gul menak. wis tan krasan. linggihe wareng aji. jar jagate priyangga. gawoke para bupati. wong Tulangbawang. tumon so bawa. ing rat Sundha nagri. rawuhe Susuktunggal.Kasusulan datan mendha gelap ngampar. wiyange saking Sundha. – 12 – Inggistrenan ngadeg Nata Pajajaran.

– 16 – Sasamine kaya Patih Gajahmada. – 14 – Prabu Ciyungwanara kang jaya-jaya. sugih kasekten lan bangkit. sampun sinaroja. – 18 – . – 17 – Emban-emban sang ratu kang nama. kang nama Dhuyunglanangan. murwa pakaryan. kang dadi sorog wedhi. lan Gelapsangyang. Parwatali miwah. Ki Tumenggung Ulungdaya. kan nami Susuktunggil. yen ing Pajajaran. ing adi kulawarga. adat Sundha negari. pinudhung ing sagunging. kang aneng Majapahit. kang sagawe ngratajani. Gelapnyawang Gelapnyenggrang. Patih Dhuyunglanangan. Talibarat nama. ambeciki ing nagari. ya iku kang nama. sasat sinung nama. Pajajaran jengger malih. amarigel ing nagari. ingkang padha angaugi.– 13 – Kang nakseni ngadeg Ratu Pajajaran. nginger kawula alit. kadi duk kuna. ing pagaweyan. ora nana kang mantari. – 15 – Salinggihe sang Prabu Susuktunggal. sarwaning bisa. angsal panglima luwih.

ing manah sri bupati. ora kewuhan ing udi. malawat katingal. ingkang mingkali kardi. kapracaya ing sang aji. pamagutan pradata. yen gadhange ing benjang. kang dadya mikenaki. dados pakeca. sang maha dalem japati. anulak bala wita. karanane sang aji. – 21 – Kumarasan ing Sindhangkasih praja. sanak medhoke sami. amblese maring bumi. lolomponganing jagat. iku dalem ingkang. ing kono enggone lalis. jagat kang babasan. purwane amerad. – 22 – Ya ing bumi Sindhangkasih marmanira. wus angsal supna.Pajaksane duk samono kademangan. kang langlang buwana. Demang Cimancurluwi. – 20 – Prabu Susuk waktu duk sakala samana. – 19 – Lan kang nama ki Ngabehi Sujimara. ingkang asirna. akeh akalnya. dening prabu Susuktunggal. – 23 – Tya iku enggon gadhang palincakan. kewala pan ora pejah. kang kinawratan. salin nagara kang lantip. mula sang prabu ngarti. sampung kalawang. kang aneng dhasaring bumi. anyawang-nyawang warni. sakalir karya. ing Sindhangkasih praja. ingkang jaba negari. enggenipun angalih. .

rehing den kulinani. nginep ing Sindhangkasih. – 25 – Dadya suka ki dalem japati ika. kadya nagara.. – 02 – Garwa maning pula ……. dewi mature asal saking Pasirpanjang. prameswara putri saking Sindhangkasih. dening pamajikan. dening rejanipun. PUPUH XXXII LADRANG – 01 – Pan kaloka Prabu Susuk nyakrawati. yen kalingihan sang aji. mangkana ing karsanira. . kang nama nyi Luwilingling.– 24 – Pan sawulan sapisan sang Susuktunggal. ing wong sanak Sindhangkasih. hang. bali dalem japati. – 03 – Maha dewine pawestri sasl saking Sokapura. kawangun pura nata. ……………… paparab. Kawularang …………… ing. Karanglopang kang nami nyi An ………. kang cacangkok Sindhangkasih. nawang susirna. raja Galuh nami.

kocapa garwa ing dhemit. – 05 – Ya wus apa kaya adat dewa aji. lilima saya lempuri. – 08 – Wus aprajaka ika tatakon sunarmi winangsulan. – 07 – Mapan dewi Mutyalarang ang garbini. ing sagenahe alinggih.– 04 – Ingkang nami Dewi Simbarinten becik pinusthika. bapanira iku aji.. – 06 – Tan kawarna enggene amukti sari atahunan. putra jalu warna pekik. ya rinengga. ingkang wau tinilar tasik lamunan. – 09 – . pan riniyang para ………………………………. pan riniyung ing para gegedhen sadaya. pinaparab Raden Anggalarang kwosa. Susuktunggal kang mengkoni Pajajaran. wus babar.

kang saingga. – 14 – Ya sang dewi Mutyalarang ngandika ris. ainggih kula mantuni digdaya pancas. bok sira den pitambuni. katongsone isun welas maring sira. – 10 – Mutyalarang sabdane arum manis. amedheg ing rama aji. jemg rama angaken siwi. ara ngunjung ing rama dhateng Pakuwan. nuli sira ing kana tan aku anak.Anggalarang aturipun ibu amit sedya kula. ya dumadak yen boten ingaken ing nama. denlara den pateni. arep bedhah ing kuthaning Pajajran. – 15 – . – 12 – Anggalarang atur sembah ibu inggih ananacak. inggih coba kentasa. – 11 – Nuli sira dentortalan baya pati. – 13 – Inggih saya jeng rama kula perangi. mung ta sira. isun melang. juwala apa wong siji. isun melang.

. – 18 – Tunta ngambang dewa mambang kang angiring. anggep kula. mara jabang Kaljurig.Mandadene den ucap kaya wong baring tangtu sira. – 20 – Angin wayah sumilir ika dumugi Pajajaran. kadya meres ujare kang amaskitha. ing kana den waskithani. bagja cilaka ya kantun punapa karsa. – 17 – Amung ibu pamujane kang sun pundhi. sarya wiyang. calengep kali riringgit. pan anjeneng tan dangu siliran prapta. jin prayangan. buwal-buwal mijil sing dhasar jaladri. angancik ingukir curi. galethuk batu kacebur cai. ngayune sang prabu Susuktunggal. – 19 – Awor ombak anggebyug maring kikisik karang braja. inton-inton memedi kanthung bragola. – 16 – Raden Anggalarang ya matur boten sanggi. lampahe ngatut ing warih.

– 24 – Anggalarang den surak bocah kangingsir sumantana. punika rama pribadi.– 21 – Sambat-sambant wonten pundi rama aji Susuktunggal. – 23 – Kapiyarsa denira wau sang Patih Dhuyunglanang. dipun wasuh pinanjingaken panjara. kamawula ing sudarmi. nunut aub ingaken putra sasmata. calengep ing ngarsa malih. samya geer la yen ana bocah setan. gampang-gampang si monyet si tambewara. kandikane si ibu yen tutur kandha. angaku putraning aji. Anggalarang dipun tarik. – 22 – Pramilane kawula sumeja ngapti ana labda. – 25 – Pinanjara watarane danguneki sapangedang. – 26 – .

– 29 – Lamon ika ya nyata bocah dhedhemit ora wruha. Demang Cimancur anarik. calengap ngarsa aji. gegering wong Pajajaran kumangilan. Ki Tumemnggung Ulungangin.Den panjara ya bisa muncul pribadi ora wruha. ya cinandhak Anggalarang wus pinala. ya memedi bragola kang raksa-raksa. iku maring Anggalarang den galandhang. . surak ing wong Pajajaran nyata setan. – 27 – Kalajurig ingkang padha ngiring-ngiring adan tandang. jin prayangan kang gagandhi lampahira. – 31 – Kira-kira iku maning sawatawis sapangedang. – 28 – Den panjara maning kirane watawis sapangedang. inton-inton kang nguculi. calengep ing ngarsa aji. dewa mambang kang nguculi. – 30 – Maha raja Bangbangan ingkang mayungi adan tandang.

Pajajaran padha tambuhing kang putra. Buyut Angin kang ngiring-ngiring kang ajaga. belis guguris nyaithis. – 36 – Ambalentuk anyolong ing si narpati mula ika.– 32 – Ya siluman tasik kidul boluwarti ora wruha. dhiri pagusten narpati. belis guris angibur-ibur ing praja. . – 34 – Panginane wong sadaya iku maring Anggalang. – 35 – Lamun tulus ingaku paniya dadi olih praja. – 37 – Ya jaganen iku saolih-olih maring ratu. iku nyata buktine ing paneluhan. aja padha den ganggangi iku bocah. atawa cacangkok siwi. Anggalarang irus ing jati. pan luluthu bangsat ngaku anak raja. – 33 – Sangyang Limun kang tut buri amayungi mula arja. Buyut Cai kang nguculi. kudu kang awas ing dhemit.

pan darapon aja bisa lunga-lunga. yen tan geseng ya iku ta anak ingwang.PUPUH XXXIII PUCUNG – 01 – Prabu Susuk wau pangandikanipun. amariyat karya. he Dhuyunglanang. den sinulud kang geni ya wus maludag. – 05 – . siniraman lenga. obongen la iku lare. ing sajroning geni gedhe. tumanganing geni gedhe. wusing dadi Anggalarang den sangsara. denepri darapon menter. papathoke tosan. – 03 – Pan rinate wesi pinanthokan kukuh. – 02 – Ya ki Patih sigra tumandang agupuh. – 04 – Kang tumangan denesep kalawan eduh.

Purubipun pan ora kalawan kayu. anjum andhingkul padane. ing Gunung Galungung genahe. Prabu Susuktunggal. kagila-gila gedhene. . – 09 – He Tumenggung Ulungdhaya dene gupuh. – 07 – Ora suwe kaligane iku muncul. kawurana ing angin gedhe. – 10 – Ki Tumenggung asigra tandang agupuh. ana ing tampingan. pisan maning iku ing panacak ingwang. – 08 – Den akuwa piyambake raja sunu. – 06 – Sapangedang langkung pagedering urub. kandikane iya mengko. nalengep ngayunan. Anggalarang den samangke. surak wong Pakuwan. gawe lalayangan. patang puluh pasagi sampun prayatna. matur nembah amalampah den akuwa. wanter munjuk urub kadi angambara. la den ora kawur nyata anak ingwang. iki Anggalarang. pan wus dadi awu aneng jro dahana.

– 12 – Anggalarang wus den baleni akukuh.– 11 – Tataline jenget ing sambadanipun. surake wong Pakuwan yen Anggalarang. kethip-kethip kagawa dening siliran. duga silep cat katon ya cat ora. Ki Tumenggung sakancane. ya ta wus sadiya. ana ing sagara kulon. ing layangan wus rinekep. ambeneri angin ngulon santer pisan. ing gagaranira. – 14 – Wus ing menit ngadeg saka dipun dudut. munjuk kagawang abure. – 16 – . kawur mumbule mengulon. ana ing lalanang. nuli sira lalayangan pan den ajar. – 15 – Duga ngulon watara ngungkuli laut. ika Anggalarang. den culaken enggal. – 13 – Keplas munjuk lalayangan munjuk dhuwur.

. – 20 – La ukumen ing kali manengteng iku. – 19 – Lawan mengko pisan maning panacakipun. pan ginawa ngetan binuwang ing toya. Cisanggarung kayaktene. wus anembah ing ramane. ora karawuhan ruruhe. iku bareng sapangedang nuli prapta.Ya wus ilang tuture kagawa abur. ya taksire kaya nyabrang pulo liyan. pan dumadak ora mati kalem boya. sandhangen denira. – 21 – Tya tangtu sun aku anak dening sun. Anggalarang wus den rante. petilasan kuna. ingkang lalayangan. iki bocah tegane ya sira delap. nanging Susuktunggal. – 18 – Anggalarang calengkep wus aneng ngayun. iya Demang Tandang. pandadara isun gedhe. – 17 – Pan sing ngendi bisane awangsul iku. wus ora kawruhan tibane. bahi nate lepas. Kyai Demang Cimancur la iki bocah.

Anggalarang wis katemu ing ngayunan. den nyana wus sirna. – 23 – Sarta sira den susuli maning watu. aja bisa kambang mangka. sakebo tuwin sagudel. kaya ora pindho gawe. – 24 – Aja bisa timbul kang den ekum mau. dhateng gusti Pajajaran tur uninga.– 22 – Aneng banyu den bandhuli kalawan watu. laksanane gawene ngemban timbalan. Anggalarang wus silep kalem ing toya. masih anang marga. adan den tinggal wangsule. nyatane ki Demang. kang salumbung darapon angurugana. – 26 – Wus laksana pakaryane la ta iku. sakebo ya rapona. – 27 – . – 25 – Ya sabedhug salingsir ora na timbul. ingkang salulumpang. ing Pajajaran ya tegane.

kang yatna angurugane. lumpur ludhes dilolocok. ya pugas delap si monyet. den pendhem watara. – 30 – Pan ginawa maring tegal uwar iku. Angabehi Sujimara kari sira. ki Ngabehi Cukimire. Susuktunggal nabda.Wus anembah ana ngayunan sang prabu. . – 31 – Ya den tetel pinaseg gen ira ngurug. ki ngabehi wangsule asuka rena. patang puluh dhepa jrone. pan tinarik Anggalarang den galadhag. ngabehi gupuh tandange. – 32 – Pareng lawan laksanane gawe isun. jalayat si setan. pisan iki sira sida pendhem jarat. ing panyananira. aneng tegal uwar. den urugi tai besi pandhe dhomas. ya ta kang dinukang. – 28 – Iku bocah pendhemen kang jro asiluk. kang dumadak bisa balik ing Pakuwan. – 29 – Nadya isun aku anak bocah iku.

tombak keris lemes kadaya. den bandhemi den bedhili. den panahi datan kena. ing Pakuwan den sakiti. gulalitan miyatani. ajarujus medal warih. panyobaning ratu gedhe. Anggalarang wus talangep aneng ngarsa. – 02 – . mung ta iki bocah calonos binatang. sampun warna-warna. wis kalesan panyobaning prabu nata. PUPUH XXXIV SINOM – 01 – Warnanen. – 35 – Tai olih si anjingsi kenang kutuk. ika ingkang dadya. – 34 – Kaligane wus nembah arsa sang prabu. anggawoke wong saraje. sang Anggalarang. datan bisa ambeledhug. dupi dugi ing ngarsane. ya pinenthung tinabok kejeng kang tangan.– 33 – Ora matur ing pagustene sang prabu aneng Pajajaran.

mangap lir cinengkal wesi. ngaken maring raga mami. asun kalangean agelis. – 07 – . hem ngandika sira iki. ika pancalima sami. awak ira anteb temen tuduhena. tan kajungjung ing asakti.padha mepes ingkang sakti. karengkengrengkeng tan kapti. binalangaken tumuli. jejegeng tan kangkat tangi. tan bisa ulur-ulura. iya nyata tegese ku anak iwang. cinakot kaku kang uwang. – 03 – Mimpes pisan datan bisa. kami sosote kang rana. asakabehe datan guna Gelapnyawang. Gelapsangyang Gelapnyenggreng. ya tan bedhol saking lungguh.Jinejeg sikile akas. ora bisa amikara. teges lamon anak mami. ora bisa ambabari. Pajajaran padha sami. – 04 – Anyirnakaken guriyang. sa cep ana Anggalarang ing Pakuwan. ing sakarep ira iku. Prawatali datan bangkit. – 06 – Yen saestu sira nyata. ora kaya awratira. datan sang Susuktunggal. – 05 – Ing karsanipun sang nata. kena waliting Galarang. yen sira bisa balang. unine ha ha ho ho. dhumateng wau sang pekik. samana samangkenipun. rarasan lan bisa metu. yen saestu anak ingwang. den cinandhak Anggalarang dipun angkat. kuwat anjunjung mami. ilang pangaruhing nata. ya ta Prabu Susuktunggal. Talibarat tedhu sami. apes dening sang apekik.

. kaangkat sayengan mangkin. anglipuraken ing kalbu. ingandikan pinariksa. aturipun pon kula punika putra. lingsem maring kang rayi. wong sadaya ting balulung. komalanten sabdaneki. – 11 – Dan Patih Dhuyunglanangan. nyata iku binuntal ing Anggalaran. kelangan majikan neki. – 09 – Ya ta iki prameswari. angangkat dhateng sang Aji. maring kahiyangan mami. aja adadawa lara. sengkel ing manah tan sipi. gegere wong dalem puri. Susuktunggal wirang isin. lan Tumenggung Ulungdhayi. wus riringkes sang nata lan para garwa. maring wareng prabu aji. ing Sindhangkasiningid. wau dhateng Susuktunggal. waneh ingkang atur uninga. ya ta Anggalang iku. ya wis payu padha pulang. samiyar tur kandha wara.Denisun wis sira buwang. kagume kang laki tiba. nyata kabuntal ing weri. dadiya gegenti aji. – 10 – Miyos saking boborotan. lilingseme ing marmaning. angreha Pakuaji. den balangaken ning pura. – 08 – Teganira Anggalarang. dening sira wis pracaya. enggal prapta Prabu Sepuh aneng kana. dening Anggalarang gusti. Anggalarang sigra junjung. ing ngarsa Ciyung sang aji. pan gegetun wong kathah padha tumingal. karaton sira duweni. Prameswari duk andulu. mengetan puruge ngili. Sindhangkasih kang sinedya.

nunten kentas malih. – 14 – Ing wasana kula teka. ingobong jasad puniki. layan sela samahesa. – 16 – Anak ingwang bisa teka. inggih maksih tan ngakeni. Cimenengteng pan binandhul. kalintang denira menit. kelupun cidra maring. ngaken isun ya sanyata ya anak ingwang. inggih pon jinanjen malih. ing ngayunan rama aji. den janjeni nyata anak lanon gesang. ing lalayangan puniku. patutan Mutyalarang dewi.– 12 – Ya sang Prabu Susuktunggal. si rama kula pedheki. ing si rama linggih aji. . dipun aburaken enggal. boten ngaken dhalem mami. ing wasana kula prapti. kulu nunten tinaleni. janjine dhateng kula. tan den sapakula iki. gih makaten ugi. wekasane ngajak cucu. – 13 – Ing wesana kula delap. – 15 – Ing wasana kula teka. sanyata anank ingwang. boten geseng dhateng api. dipun pendhem lebet bumi. inggih maksih tan ngakena. inggih lajeng kanjeng rama. inggih boten ingaken kula. saking kaputren siluman. yen wis amuncul maning. bisa balangaken mami. kinen ngekum ing warih. den janjeni la yen nyata anak nata. la yen nyata anak ingwang bisa teka. nunten kentas kawula. den lalara tumangan. jinanjenan la yen nyata metu. ing wasana inggih kanyata.

anglolos kalaning dalu. drapon sampun lingsem neki.– 17 – Inggih si wantu kahula. PUPUH XXXV LADRANG – 01 – Pradenane semono payu saiki padha kita. Anggalarang mapan sami. minanten leres kawula. pan den udhag sengit. samya sira kulawadya Pajajaran. Prabu Sepuh ngandika ris. maring etan manawa kita rerempah. wau dhateng kanya puri. gawe lingsem pribadi. kerpek jantung iya iku bener sira. ika dadi Susuktunggal artinira. bapanira ingkang salah. popolos amiruda. iya iku pangidhepe ing wong apa. . amalar dipun akeni. – 18 – Mangsa bodhoa kang guriyang. sapamanggih kula iki. inggih kantos kula balang. angriyung ing sireki. susul iku bapanira. – 02 – Nulya mangkat prabu sepuh lampah neki kalih sira. – 03 – Ora kaya Prabu Susuktunggal nuli genya salah. ing temahe saiki. wong atuwanira gusti.

banaspati inton jurig lan kemangmang. ora kena untunge ku bapanira. kang memedi lan bragola. – 08 – Panjinaga dewa mambang apa maning jin prayangan.– 04 – Dadya sira Susuktunggal ika dadi kali marwa. – 07 – Pan sinebur Prabu Anggalarang sangti ingauban. Talibarat Parwatali. – 09 – . susuluring kang rama ingkang wus sirna. Gelapnyengreng Gelapnyawang Gelaperang. ambles ing dhasaring siti. – 06 – Ya ta Prabu Ciyungwanara abalik sarta ika. langkung gegetun ing kapti. – 05 – Malah katon ing tingale prabu wanara lang Anggalarang. ing jajahan Sindhangkasih nukmanira. Anggalarang wus den asri.

anut ing titihing aji. nyananing sakuling kalulawadya. kyana Patih Bentanglompang. teluh braja lintang ngalih. ing karsana sang prabu ing Pajajaran. kadadiyane lintang karti iya ika. .Anggalarang pan riniyung ing saliring. amuwuhi Anggalarang arjanira. kang ing tawang. dadi patih langkung saking wicaksana. ing sang maha wruhing naya. layung abrit tapak angin lan gelapan. – 10 – La kul manuk ingkang bisa tata jalmi samnya ngabdi. – 13 – Pramilane lintang karti cong keng siji iya ika. – 12 – Waktu iki ingkang jumeneng papatih winastan. – 11 – Genya nyakra sumulur madeg dewaji wus koncora. – 14 – Tumenggung ika ingkang den arani namanira. Ki Tumenggung Paracutan. menak pra kuwu nyungkemi.

– 20 – .– 15 – Mula nama paracutan iku dening angracuti jiwqaraga. – 19 – Pan wus jengger sabawa Sundha negari aprakasa. ingkang nyawa pan dadi pejah. ingkang putra Sunan Jumanjang kang nama. yen wis den uculaken maning. – 18 – Yen anggerem ngoregaken ing sabumi kaya obah. saktinira nyentak jalmi kalenger padha. – 17 – Waktu iku demange kang winuwuri kaki demang. Gurumuruh namanira. prabu sampun mengku Prameswari. – 16 – Sagedhangan apayuyune wong mati nanging ika. ya janggelek urip maning ingkang kalma. nalangkep jalmi. kadya panggereming macan sami. ngabehine Sindhanganjen namanira.

pan kasebut Raden Anggalarang mudha. pinangka iku ing kana. – 25 – Raden Sinom iya iku amurtrani kang sinebut. – 23 – Iya iku kang ajatu krama maring Sangyang Citra. satunggale malih nama. nama Anggalarang malih. ingkang nami Wotsari aputra Yang Maduraksa. – 24 – Iya iku kang alinggi aneng suci dupi ingkang. guru mindha Mantrisari. mangka ingkang. kaputran saking Jepura. mangka nuli Mantrisari apuputra. ratu Sekar ing tanpa omas.Ni Ratu Gumiwanglayaran Sari. miyosi siwi sanunggal Raden Kalipa. asal Baturuyuk ingkang miyosaken putra. . kang besuke puputra. – 22 – Mangka nuli kang minangka rabine aji duk samana. Raden Sinom kang alinggih Salagedhang. – 21 – Pucuk gumun sepuhi ya ingkang nami.

ika nuli amutrani. – 27 – Dupi iku kang kaaken maha dewi iya ika. ingkang dipun rengkuh. Sundha puri sarta selir walung dasa. ingkang nama Dewi Mayengan jeneng ira. Yang Widaya. kaapti Ciyungwanara. dupi saking Cilutung ngulon pan maksih. wustahunan windon mengku raja. . kang dadya dewi mature. istri saking pasirmilir iya ika. pawestri kasing timbangan.– 26 – Ingkang nama sanghyang Widaya kang sakti. tetes kali Cilutung maring. – 29 – Wawangine Ni Erangtungtang kang nami iya ika. – 28 – Kang den sedhep ing ayunan sri bupati Anggalarang. PUPUH XXXVI DHANDHANGGULA – 01 – Pan sinigeg Anggalarang mangkin. Sanghyang Tubu kang linggih Sokawiyana. dupi garwa marujune. cacangkok pra kuwu. ing Pajajaran anengge. Cipali ya ika. dening Prabu Anggalarang.

estu megat kukuncung. den katogaken sagung. bulus putih angabar. ing saiki seja ngadoni. kang darbe manah ngungak. teka den rumpaki kabeh. saktining Anggalarang. ya iku ing sajenenge. kang kasebut nama nipun kang karuru. basa jahata kerwanthen. mepeg gaman Pajajaran. Raden Jayalengkara ya tan giris. kudu bae ana kasandhungan. atmaja ya Lengkaraganal. kang padha sirikokalan. sing akasor lampus. ing sagunging sesa Anggalarang.– 02 – Lami-lami danguning ngaurip. surupe ing kasakten. dadya ngembat sarotama. ingkang putra jati kakalih. kang kang atma Jayanglangkara sakti. yen den prasila mangpang. tanpa dadi kalilip luguting aji. Anggalarang songkawa. – 06 – . – 03 – Seja ngaru ingkang linggij aji. sing ameneng dadi raja. arep wangun lingsem ing aji. – 05 – Ya ki Patih Bentanglopang agasik. kyan Sukmaantalirasa. ing awang-awang trus. Sunan Talagamanggung. amponi buwana Sundha negari. pan bunihan akeh amijil. img bumi anyaangkal obah. – 04 – Edir-kadiran panantang weri. la payu katogena. akeh panglimagung. iya isun ingkang estu.

nedha den gesangena. kagem ngasta anyokot ilur ula mandi. Ki Tumenggung apejah. ragane dadi gesang. cunguring Paracutan. kempis-kempis kulimes sang Tumenggung ababalik sira ngabdi. dhateng sampeyan sakabeh. tinarempang den jarage. urip kaya wau. den jaragang cinawuk. kari saubing payungika. den adhepaken muka. aglis sira andamu maring. lan nama tiba ipun. popoyan maring rewang. maring Lintang tiba padha silak. padha balik ing parnahe. den gigit dening musuhe. pan sumedya angabdi kahula. ing pangabdinipun. analangkup nyawaning wang dadi mati. ika ki Tumenggung. Patih Bentang gegetun kapti. – 10 – Pan ya iku marganing angabdi. Menak Panumping kabeh kaparentah. ragane wus galudhag. Tumenggung wus lampus. Ki Tumenggung pejah kapisanan. kinepus dinamu. sja nyuwuk atmaja Yang Tengkara. ora kaya atma ingkang. iya kaya lampus. Jayalengkara nyawa katarik. – 11 – . la ika pinritandang. – 09 – Sasambate lamon mangke urip. – 07 – Ki Tumenggung atandang madhidhig. Paracutan kocap bisa. Tumenggunge kangracut.Sanjatane sapujagat nempeki. nuli kulawarganira. – 08 – Pan ageger wadya Pajajaran sami. maring sang Atmajaya. dening Atmajaya kabeh. Atmajaya balik maning. wadya bala Sundha negari. Ki Tumenggung kabeh padha anangis. Atmajaya agupuh. maring Jayanglengkara aji.

Atmajaya wus kaloka. – 12 – Suuding bala kagiri-giri. sanjata garantangan. panyanane sakabeh kabakar. kadi gunung gelap marab-marab geni. tabuh maring Anggalarang. kang warna kadi gegelang. ing Talaga kang den jeneki. lumepas anuju arah anglebur Ta. pramila [atihipun. – 15 – Wong Talaga kathah padha nangis. singa ingkang tan anut ing titi. . – 14 – Dupi wadya bala dhateng jawi. dening Atmajaya kabeh. Atmajaya adan ika ngangkat. maring sarirane dhewek. wadya sajroning pura. wau dhateng sang Prabu Jaya. ing emban-embanipun. datan antara dangu. sejanira ngrebut. seja malesaken iku. amapag maring garantang.ora nyana kang kawula lit. welas maring Anggalarang. saolih-oliha merangi. Bentanglompang saja amakaya. ing sesane Anggalang. gelap talaga ika mijil. atilar Anggalarang. anyakra bawana Sundha. Bentanglopang karsa nglepasi. maring sang Atmajaya. wus angadeg sang ratu. sing amaneni jemur. tinumpes den tempur. pirang-pirang ewu. Susuhanan Talaga mengku nagari. dening gelap maludage. mula padha kamawula. – 13 – Lawas-lawas ika sang apati. Tumenggung Paracutan.aga. sigra ngalurug kang bala mungkari sathithik. sirna purna geni garantang alalis. maring Atmajaya padha gumusti. ingkang kathah wus padha kapurba. kadya ra ngobar jagat. ning Atmajaya dadya.

Bentanglompang geblas kawur. – 02 – Kantun Prabu Anggalarang. surake bala Talaga. sira kukuru alawas. pulih angsal pinangka. dadi maning lintang kerti iya iku. tumon gustine asakti. dhuwur pamumbaling warih. kaligane ambuwal. anggigilani kang toya. jelag subita babanting arti. sanjata aliwawar. alung babrena lalis. duk lagi nabda samana. gumaludhug tanpa krana wetunipun. kadak siking Cikeru. – 03 – Aja dawa-dawa wirang. medal sira kapisemu. ing wau wurung den obar. . he Atmajaya iya. kang nyawargakaken ing sira satuhu. nyana den kelem ing banyu. sida iki den keleme dening banyu. – 05 – Kadi ta lir gunung toya.PUPUH XXXVII PANGKUR – 01 – Atandang Jayanglekara. Anggalarng angandhingini. atmajaya anabda iya becik. iki isun wis pepes ya aja tanggung. den lepas si sanjata angin. – 04 – Animbulaken ing toya. mubal malah tanpa tanpa sangkan mijil. wong Talaga akeh padha anangis. menthang sanjata topan sira aglis. tampanan iya iku. dan tandang Jayanglengkara.

anarajang banyu asat pan tumuli. awiyang alalu lalis. krana mengkele kang napas. – 08 – Amung Prameswari nira.– 06 – Aliwawar wus lumarap. muni ngowe-ngowe lir kebo limayu. – 10 – Susuhunan ing Talaga. mring Prabu Ciyungwanara. Parwatali tan mulat. dadya ika pancalima pandha cenguk. tan bisa aningalana. niba tangi seja njujug. merad maring ngalam lintang. Ratugumilang lumayu. Gelapnyawang sadhapure datan weruh. langkung payah ical ing samangeripun. – 12 – . kaingsep ing sira lisus. Anggalarang katarajang nulya kawur. malah kalampah Jaya ika saking. pramila sang Anggalarang. sigegen kang pala dara. turunan jeng Prabu Galuh. warnanen kang Jaya ngancik. wau dhateng Anggalarang sab gaib. Talibarat datan weruh. luntanira narajang. – 11 – Dadya tan bisa tulunga. bala wita ingkang iki. pramila nelang bagja. sumhati ararangkangan. kapepes kaduga lalis. mulane muni lir mundhing. sangang wulan menga-menggeh lumari. – 09 – Apa maning lagi wawrat. ingkang nami jeng dewi.

Teja Pramana iki pambarepipun. – 15 – Lamining ajatu krama. lan Ki Teja Sangapriya. Simbarkancana nulya miyosi siwi. nuli ika ngadheni nami. putraning Rawagadha. – 14 – Ing wong agung kahiyangan. ya ki Teja Sokasari. jeng Dewi Simbarkancana. – 13 – Ta ika baja daulat. kang sakt kang ora sakti. putra satriya pipitu. tumuli kang anaming satriya Ki Teja ing Payunhagung. lan Ki Teja Cintamanik. olih nyelang marwasa. – 16 – Nuli Teja Ingaguna. Rawagadha putraning Bentangmerngu. panggulune ika nama. Bentangmerngu punika. wis kandel ing rampak kuna. Kenbalura jenengipun. ingkang mangke olih laki.wis mangkana adating donya. kaputraning Bathara Pancarangin. iya iku kang nama. yen ingkang wis tumeka. Caierang lungguh ratu. ing untunge endi ana sakti punjul. Ki Teja ing Ujung Lutung. la yen mungguh gagaman ingkang mandi. Jayanglengkara suhunan ing cai. sote yen jaba ning untung. pan rakaning Centangbarang ingkang nami. – 17 – . Jayanglengkara wis amiyosi sunu.

gadhang jodhone sang putra. kamuktene ora bosen ing alungguh. – 19 – Garwaning Jayanglengkara. Teja Sokasasri kang gadhang ing benjing. dumadi amukti sira. anjembaraken ngalenthung. sawula-wulan awangun. ana dhomas garwane amarinci.Dupi ika kang anama. iyang-iyung pijer amurwa puri. duk mangko durung ana. wus koncara tepis wiring. – 22 – Sang Orabu Jayanglengkara. . ingkang nama punika. ing sandhenge angratu tan langgeng linggih. pan mulane katela paparabipun. dhela-dhela ngelih puri. apuputri istri ayu. yen kala ngider buwana. masih nyatur andhing luluhuripun. dadi anyar maning anyar datu. denganemu garwa. ya ta Susunan Talaga. den parenca enggonipun. – 20 – Karana Jayanglengkara. besuk rabi Ratu Pamratsari. sugih garwa sagenah-genah mranti. alihan lincak-lincak. kanggo pranti kandheg kampir ing lalaku. duk pangidhepe sang aji. sagenah-genah garwa. kampir angrantuning enu. – 21 – Ngadhaton sagenah-genah. dhela-dhela sejen genah. kawarta wus sugih rabi. – 18 – Mundingdalem namaira. Silinwangi kang anami. aneng pungkuripun timbul. tan bosenaken ing manah. suhunan sugih garwa. Ratu Pamratsari iku gadhange ing besuk. remen alincak lincak.

ambekane mengkel ngeden arenggosan. iya sun arani sira. ratu Gumiwang lumari.PUPUH XXXVIII SINOM – 01 – Sigegen suhunan Talaga. legane bragojol jalmi. sang prabu sepuh sukati. Ciyungwanara jinujug. praptane ing ngayunan. kang karoban ing wibawa mukti. awedi diboyonga. pon ika sampun angarti. ya ta pareng ing kana Ratna Gumiwang. ing ngayunan sang aji. anyungkemi ing padaning. – 02 – Bari rumangkang lumampah. –03– Nuli bae bebeleyan. angadenaken babayi. rabine ingkang lumayu. kadi wong anglalu lamis. embok metu maesa. menggap-menggap ingkang napas. Jajaka Mundhingkawati. – 05 – . udheg-udheg tiningalan lanang pelag. ngowe-ngowe lir mundhing. medal jabang bayi jalu. abagus wuwarnanira. Prabu Sepuh Ciyungwanara. kawarnaa kang miruda. ngowe-ngowe elap isun. ngowe-ngowe kadi mundhing. – 04 – Suka rena nalanira. yen Anggalarang lalis. ya sun puja dadiya sulur nalendra. dening Atmajaya sakti. karana biyangmu nuni. udheg-udheg bapa kyai.

ing wang tuwa maring laki. padha buri ingithil.Susulure rama nira. Anggalarang kang wus lalis. linulutan ing pawestri. katempelan asmara lulut. ing rat prakuwu mangsa. – 10 – . dugi mraja kawarni. mangsa wurunga abangkit. – 06 – Amung manawa si jabang. ya angrungu abane padha kasmaran. wus ilang kang wirang isin. – 09 – Ingut-inguting swaranira. dinelap lastari urip. sun srahaken maring sukmane si jabang. ing benjang salamet urip. ingkang prawan kang wulanjar. kasmaran ing Mundhing iku. padha pasrah jiwa raga. konsi duga pitung bengi. telungane ing kita. bisa amangko pinuli. ing rat prayangan mangkin. akeh istri padha lali. sabab uwis kajabel Jayanglengkara. bisa angrebut pusaka. – 07 – Ratna Gimiwang aturan. padha kabadri-badri. tut buri ing Mundhing gupuh. kelingan bae ing swara. edan bae kawenangan ing wong liyan. salagine ingkang sami. maring Wundhingkawati padha kasmaran. randha muwah duwe laki. sandika ing mangkin aji. yen nyata titise jati. aja-aja kang tumingal. angruru pusakanipun. manawa dadi susulur. nyi mantu udheg si jabang. akeh wadon kang kedanan. – 08 – Estuning raga asihan. openana den abecik. pan si jabang wus den asta.

jar murang niti rungruman. singasinga anekani. sakeh wadon kempong perot sok wadone. adate Mundhingkawati. kalesan ingkang murugul. Raden Mundhingkawati. kang padha rinungruman. maring sang Mundhingkawati. wong anom amurang titi. angambat maring garwa. padha sami sakarani. akeh garwane Jayanglengkara jinamah. ingkang padha marinci. – 13 – Yen konangan ingkang jaga. saprakara wadon kang teka priyangga. teguhan talikrami. – 11 – Padha sungsung rebut ing sang. ginaregeg den iring-iring. – 14 – Sakeh wadon duwe ningwang. padha kondur kokalan. linadenan akirda pan sadaya. padha rinujak ing lawan. lara pati sun labuhi. ing wadon sagulingan. anggepe Mundhingkawati. padha sosoroh gulingan. prandene linorod binegal marga. malah ika lami-lami. garwane Majayalengking. mung kinambadan ni Pasung. Raden Mundhingkawati. Malangsumirang mambrih. – 12 – Akirada pan sacombana. malah yen kapandhak margi. – 15 – . tan lawan den undang maning. angumbar akarsa nira. ngambat ing praja pra kuwu. padedesan kang tumuwu yen den lewa.Malah ika lampahira. kang lagi tinandhu-tandhu. remening Mundhingkawati. Mundhinggkawati nadhahi. lan garwane Jayalengking.

pan samya kang ngiring bedhil. anumbak pan sami nyuduk. – 18 – Lara pati dipun dhadha. kamanyangan yen mendhaka. rabine si Jayalengking. tan ana braja nitisi. – 17 – Ya ta garwa Atmajaya. braja gemet ing pawestri. ora nana kang pinilih. kang ning padesan marinci. adate Mundhingkawati.Ginawa ing pasenetan. luwih liwat anglalanangi ing jagat. sapa bae kang kapapag. isun ora anggingsiri. yen wis sampurna abendra. aburan carampusan. – 16 – Nanging sun mangsa kandega. tinadhahan kang braja. esok bae angkohe Mundhing Bathara. panebusing murang sarak. ingeculaken ing margi. tan idhep garwa aji. sing awadon den cicipi. ambegal ingkang pawestri. datan kaliwat siji. prameswari den sanggani. sakabeh den dalajahi. Atmajaya musuhipun. padu wanodya ya iku. pan rinungruman sadaya. dening kaliwat gemetan. PUPUH XXXIX KINANTHI – 01 – . Mundhingkawati kalangkung. iya pasthi sun sundhepi. nyumur gumuling lang angrong pusanakan. pon ya iku kang angembat tupaningwang.

dening Arya Paracutan. dadak-dadak den ebyuki. – 03 – Juwala apa si bendhul. seja cinekel winingkis. koncara angrurung sebi. Mundhingkawati wong siji. Ki Tumenggung Paracutan. ya ta kamisosot kangpri. yen pinanjingan ing dhustha. – 05 – Tan olih gawe alusut. – 02 – Kang seja galethuk datu. mundelik kaya apejah. den buru-buru tunungtik. Mundhingkawati tan keni. ginawe ing raga ina. pating bilulungan tan polih. angalahaken nagara. ambekane dipun tarik. seja nyekel sang Bathara. mabura kang tanpa sentik. – 04 – Ting salengseng ngalor ngidul. raja gagaman talaga. – 06 – Sang Anom pan dipun cawuk. Brajamatya adhag-dhag dhigdhig. kang cinekel boya kena. kacandhak Mundhingkawati. ya ta dadi den lurugi dening bala ing Talaga. . seja den kacebur cai.Ya wus dadi ara-uru. lamon geger garwa aji. ora nan kang ngundhili. ya ta wis amaribui. ora duwe napas mijil. kaligane tan kacandhak. karajahan Atmajaya.

kaku jengkeng ora obah. nuhunaken pangapura. janggelak tangi urip.– 07 – Sabab nyawa den talangkup. katura ing Mundhingkawati. namber Paracutan katimbis. tan wande angabdi. – 09 – mangsup dhateng jasadipun. ucul wis rumanjing maning. rama dalem Anggalarang. dhumateng Mundhingkawati. kulawargane anangis. Tumenggung pejah den Gelap. – 08 – Gelapnyawang wus jumegur. Mundhungkawati lir mati. kawenangan ika dening. wus ngedhag tanpa ambegan. babarpisan angemasi. Talaga dipune ngabdi. – 11 – Tilar Atmajayanipun. sujud ing sampeyan gusti. kahula datan langgana. nuhunaken gesang malih. nyawa Mundhing kawarnaa. ginawe abang putih. – 10 – Ngasih-asih aturipun. supados mangke gesanga. dening Paracutan sakti. – 12 – . sacecepenganing Paracutan. Paracutan tulus pejah.

sun prawasa lan dumadak. – 15 – Tan pantes dadi Tumenggung. si monyet si tai anjing. pangidhepe nengah minggir. ora rep yen isun iki. cakelane den go bakti. kena den pambri papati. – 16 – Sira wus age mampus. – 14 – Sanadyana maring isun. enggo apa den uripi. – 13 – Kadedo ra dadi ratu. Paracutan wong luwih ala. Jayalengka wong mementhil. wong ora lana ngawula. arep sun cekel pribadi.Dhateng Pakuwan pra kuwu. calak-calik ing agusti. Mundhingkawati ngandika. aweh ora weh ing mangkin. pikulan buburu dhuwit. ila ing badhami becik. ya iku den aku gusti. – 17 – Nagara seja sun japut. babaktine Paracutan. saturune mapan ora. patut kanggo gawa salang. yen katekan musuh sesa. kanggepa ing ratu anyar. den bekteni ingkang kaya. ing ngarsa sampeyan gusti. ya pon mangkono maning. . aja supe kene nangis. endi ingkang gadhang menang. pantes dadi wedhi bumi. Paracutan endha modar. sun rebut sing Atmajaya.

malabar adadya wangwa. kawarnaa Jayalengka. kawirangan padha nisi. Sukmaantalirasa sakti. – 21 – Sukmaantalirasa sampun. wus wruh yen Tumenggung mati. – 20 – Jayalengkara agupuh. sun tumpur kahananeki. – 23 – . adir-adir sakti luwih. kalih sadherek kang nama. yen wangkal iya sun kebat. sun uprak ing bumi ngriki. ambabar ing baris geni. kentir kagawa ing warih. amapag sireng payudan. ya wis larut tan katingal. ika Atmajaya lengking. mumbule lir gunung warih nrajang ing Antalirasa. – 19 – Ya ta Baronjot Tumenggung. Rahaden Mundhingkawati.– 18 – Ya sun anggep bala ratu. – 22 – Medal tanpa sangkan banyu. mepes dadi awu nuli. anak putune sun buwang. Nyawange Mundhingkawati. kentir kagawa ing warih. narajang baris dahana. den samber dening Gelap. adan sang Mundhingkawati.

wangkeng kadi pacek wesi. PUPUH XL ASMARANDANA – 01 – . Mundhingkawati amuja. – 27 – Panumbule kadi gunung. dan Prabu Jayanglengkara. sumilem amblese maring. Sangyanf Aliwawar ngena. narajang ming Jayalengking. bulus putih angambara. lisus angeder lir ngreba.Ambles maring dhasaringpun. medalaken wira sakti. bulus putih dipun japa. akening Sangyang Ukir. kawur maning yen iyaa. wus merad alalu lalis. sangyang Talaga alalis. silem ing talaga yoni. nampek ing Mundhingkawati. banyu cikeruh ngulati. – 25 – Tandange Jayalengkara. nuruni racun garigis. Sangyang Talaga ika. gramanggramang iku dadya. tan pakara kang garigis. kapisanan kalembak. angembat sanjata angin. – 26 – Parandene kang tinuju. gumingsir salagi beli. kajulina tibeng siti. – 24 – Mundhingkawati rahayu.

anata ing Pajajaran. kang buawana Pajajara. tulus jayane angrebat. wong pinter anginger bala. wus den angkat pangratune. ingkang kasebat nama. . kang nguningani pagawe. kawal ratu Pajajaran. – 05 – Demang Sedhapura. ngagem pajagan sakabeh. ing buwana Pajajaran. ingkang ngreh pradata sakabeh. jaksane lan papatihe. – 04 – Tumenggung kang anami. pusaka saking ramane. – 02 – Apa kaya wingi uning. sadaya sami nembah. sumulur ing ramanipun. wau ingkang manjing metu. anulak cilaka isun. menak pra kuwu Pakuwan.Duk iku Mundhingkawati. Kawungluwuk ingkang nama. – 06 – Ngabehine kang anami. idhepe ing Pajajaran. Ki Patih Gurugul iku. nami Ciyungwanara. sakalir ring pamatrolan. katelah nalendra anyar. pinangka pajakanipun sang ratu ing Pajajaran. ing Mundhingkawati ngulun. Mundhingkawati samana. Ki Tumenggung Padhamenak. pamagutaning wicara. – 03 – sang Prabu Mundhingkawati. putus ing kademangan. angrapu-rapu bagja. ngabehi kang uninga. wong cilik sabarang karya. dening luluhure ingkang.

kang wus lenggah binagawan. kalawan Susunan Parung. Susunan ing Tatanpolawung. kang asal kaputrenipun. – 08 – Duk samono Gulbopati. – 12 – . kang ana ing Pajajaran. – 11 – Suhunan Jati apa maning. masih nyatur kang luluhur. tatapi duk samana. garwa domas ing kathahe. – 09 – Duga ing sawuri-wuri. lan Susunan Kidul ika. lan Sunan Tegalkayangan. Sunan Tegal kahiyangan. lan Susunan Ciburu ika. lan Sunan Ranggalimbangan. lan kaya ika benjang. lan Sunan Telagamunggung. lan Susunan Raja Malaka. saking luluhur ibune. kang amba gawan linggihe. Mundhingkawati angraja. Dewi Trusgandarasa. Prameswarine kang nama. anak putu Pajajaran. sakabeh durung ana. pon ya tedhak Pajajaran. lan Susunan Pandhajawa. kabeh tedhak Pajajaran. lan Susunan Ranggalawe.– 07 – Awindon ataker warsi. – 10 – Lan Susunan Wanaperi. iku Susunan Sambate. lan Sunan Jumajeng. iya kasebut Susunan.

babat kang den pangan mantah. gaganting anarambah. dupi lawasing lawas. kumanjangan daden-daden. idang pirang-pirang atis. olah-olahaning mangan. lir ta kang mangan anyaran. iku wus aduwe turun. singga alas den oyak. surake ambal-ambalan. sakti-sinatenan iku. kang dipun ayem atine. – 13 – Pating careluk sukati. kulawarga santana. yen buru kidang manjangan. ana den brangas kewala. kang dhinendheng dipun gulung. sukane manah agawe. manjangan asantana. – 14 – Kang den bakar dentengi. pirang-pirang kang tampayang. ora nan kakurangan. paburu asadhiya. kang pareng olih bayangan. karemene ambedhag sangsam. wadya bala katutugan. wus warna-warna asuka. . kang katelahe ing nama. duk rasmi lan manjangan.Sang Prabu Mundhingkawti. den gecok den rerempah. den sasate den pepenthul. pirangpirang manjangan. genya kasengsem aburu. turunaning Linggaiyang. ing alas arame-rame. bakasem daging sakabeh. wus loba pana dhacinan. sok rena sagedhene. – 15 – Kang den bacem den petheni. – 16 – Masih abang jare manis. – 17 – Ya ta dadi anarengi.

sang kidang pananjung ing Sundha. lan manjangan wulung upas. ing galunggung kahanane. gelar panyelang susila. dening tantetesing punglu. dadi ika ratunira. mangka nata uga ika. kalih sang kidang panawungan. dening ika ing ngamukan. manjangan pon sambawane. – 19 – Manjangan gumulung yakti. ing kidang lan manjangan. maring kula balanira. tan sakeca ing nala. – 22 – Paburu akeh kang mati. gagaman maning yen mempana.– 18 – Manjangan gumulung sakti. tanopen kidang ancaran. kang bangsa kidang sambawa. lan kidang panawungan. iya iku ramanipun. sakarang ngamuk ing alas. sumeja sira tutulung. seja angayoni gawe. – 20 – Dangune den osak-asik. – 21 – Manjangan gumulung sami. sampun wangun gelar pamuk. iku ramaning manjangan. gumaringsing ing ulese. gegere wong Pajajaran. Linggaiyang kang sasmata. sang kidang panawungan. ya iku kang estu turun. maring Mundhing Bathara. – 23 – . samya kapalayu kabeh.

Sedhengane ika bedhil. manjangan den coco. ngamuk amarawasa. – 03 – Gada tikel Ki Demang den undhi. kidang den cekel soso. mariyem datan tumama. lawan gada wesi. anglingkab koncaning ratu. kidang sangsam wau. – 24 – Patutu iku dhedhemit. iya kuwel gulung rame lagane. PUPUH XLI MIJIL – 01 – Ki Ngabehi Kuwungluwuk ngandhepi. ingkang kidang dipun timbisi. . muluk kadya pelor. gawoke nembe anemu. dening teka kabeneran. kidang jurig alas moreg. ing awaking manjangan. inton-inton panawungan. prandene tan pupul. lawan keris atugel kerise. kapental lir punglu. – 02 – Demang Padhamatang ngandhepi. ora kruwan Ki Demang tibane. pelore kaduga gepeng. wus kadi lempung kewala. Kuwungluwuk den undha wanti. iku ta manjangan apa. galunggung betan siluman. Ki Tumenggung Padhamenak sri angandhepi maring. den tuju tumuli.

ing gagamanipun. kidang ika uwis. duga pasukadi. – 07 – Gulunipun manjangan tan kanin. ya datan miyatani. sadyanira sinembeleh age. dipun udha den walik-walik. dadya sira ucul sing astaneki.– 04 – Sigra tortoran pijig-pinijig. adan sang apatih. ora kaya seking tan sipi. kabyesat adhawu. aprang popon-popon. – 09 – . nujahipun solot. pan binalangaken kidanga. sinerat dhumongkol. Ki Tumenggung ing kabelasate. – 08 – Tangi ngudhag dipun tujah maning. – 05 – Ora kaya manjangan kang sakti. tatali aliyur. tan kahur parek den wingkis-wingkis. sigra kang manjangan nyokni. tangi ngudhag den papagane. ambaluki Pati. Yang Gurugulkiwul. kapental ing ngasruh. ora kruwan tibane malih. ing Ki Patih ya karasa seget. – 06 – Enggal tandang manjangan den kempit. kapyesan tan adoh.

gunung Trogong kang den purugi.Murud tinandhu sang kyai patih. Tarogong kang nami. . wong Pakuwan padha geris kabeh. ya pangonan alimun. – 14 – Sagrawane saselire ngiring. mung kang kari saelir-elire. geger pating careluk. munggu kadikuling. pandhe siluman ya iku genahe. – 11 – Saking kutha Pajajaran mijil. Mundhingkawati sabandhu wargane. gamarudug gatos. pala dara nisih. Tegaluwar ayu. – 10 – Dupi kidang manjangan anuntik. – 13 – Paparabe kang kuna angapti. mulane dipun wastani. trus kandha duk iku. gunung Kuwendenlok. iku gunung Antragangsa rane. iya iku namaning kang ngukir. garwa kula bala ngili. ingkang kaparag sami. kumaritig mrono. duk samana iku sang dewi prameswari aji. kang seja den ungsi. ngalor ngetan metu. wus tan ana miyos. maning jeng sang katong. samya bubar saupacarane. – 12 – Ya sejane go umpetan aningid. ya dening sang prabu. ing gon ya ing kono.

he gunung Tarogong. lan manjangan racun. bawaning ambesot. lan manjangan gumalunggung pri kaget. pan kaburu karo laki lempate. duk lalaku pan ambeneri. rebut urip sewang-sewangane. ya kang meteng brojol mijil. – 16 – Ya ing kono pareng kaget kanyedig. bubarira kadi kapusus ing musuh. ing tegalsili. dupi Prabu Mundhingkawati. ngenthe-enthe loyon. – 18 – Tan karasa jabang bayi mijil. – 20 – .– 15 – Dhuweg bobot wawahu sangang sasi. tulungana isun sakabehe. meteng tuwa suwe lakune. ingkang gandane arum. – 19 – Prabu Mundhingkawati ambelik. – 17 – Tan emut garwa Kaluwargi. ting barisiting wong. kang gandane arum. bumi Tegalsili. wus anyandhing ingiring aning ukir. den jaluki tulung. dening kidang langgon. dening kidang sakti. lagi kawalesan den baledig. Antragangsa nenggih.

ora metu-metu salawase. gunung Tangkep maning. – 24 – Pan sarupa merad Mundhingkawati. Yang Gunung Tarogong. tulungana isun. ing gunung Tarogong. kaya jagat ing weteng ingukir. wong Pakuwan samya abubar kabeh. apa kaya mau. mrene iki jawane angili. tembe emut ing wewetangane. wusing manjing ing sakulawargi. – 23 – Maring jagat ingkang ing sajroning ukir. tan kawagang nempuh. pirang-oirang buron. – 22 – Sinambadan pareng samana ukir. bawaning alali. belamiyan katingal ing jrone. kaget dhateng kempong. mantrinisun sami. – 21 – Balanisun akeh padha mati. katujah kacokot. – 25 – Ya ta Dewi Trusgandarasa adi.Ya ing wau kidang sun baledig. age den agelis. sabronjote mangsup. yen wewedhe tan karsa amilih. ing manjangan dadi amuki. ya dadi ingkang enakane. wus mangsup sakabeh. dan Mundhingkawati. ya ta kidang manjangan dadi. . dupi iki isun kang kaseseg. duk wau lumayu.

dukaciptanira prakarane. pepeleme den dilati. tangtu anyuluri. ing garwa ja dados. kang marojol kantun. kang neng Tegal Silih harum. PUPUH XLII MEGATRUH – 01 – Pan sigegen kang sarupa lalisipun. anak kita kang marojol kari.– 26 – Prameswari alara anangis. kaya kucing amberseni. ing tilas kita mau. akyu aran kahiborit. – 03 – Karojotan si jabang lagi ing riku. – 27 – Prabu Mundhingkawati lingnya ris. baya anaking wong. macan kesah ngunguliti. si jabang bayi mami. maring anake mangkono. sapa bisa manggihena gusti. – 02 – Wus karesi si jabang kaya ingedus. den cokot kang ari-ari. nuli ana wong aruru. ningali jabang ing kono. sampun punthes kaya puput. ana ngendi baya ing tibane. warnane sang jabang bayi. dening embok macan wadon. .

– 04 –

Pan binakta si jabang den agupuh, pramila dipun wastani, Siliwangi namanipun, krana asale kapanggih, ing alas rum kuno.

– 05 –

Tegalsili tampanganing alas gunung, jabang sili rum dan urip, urip ing wong ngambil kayu, kocap anak kahi Borit, salirum warna jalitro.

– 06 –

Wantu-wantu dadi anak tukang kayu, badan ora bresih-bresih, kalalare ladheg buruk, ora na prajapajaning, taliti putra sang katong.

– 07 –

Ya wus apa dudune bocah ngon gunung, carobong ngenek-ngeneki, ora ilok adus-adus, ing maletenge agething, rambut kethel ingakotor.

– 08 –

Tan kawarna lampahe budhak salirum, kawarnaa kidang lemping, sasirnane ya sang prabu, dadi ika ngosak-asik, anang Pajajaran nyewot.

– 09 –

Maring menak pra kuwu padha alarut, amalayu den baledig, geris tan ana atunggu, ing praja den tinggal bresih, golendhang kariya kosong.

– 10 –

Kaisenan kidang manjangan akumpul, garadang-gridik awan bengi, angkohe anjabel dhatu, dheweke ingkang ratoni, ing kono mulane manggon.

– 11 –

Gawoking wong menak pra kuwu, genya kasanglat saking, wedi mareg bok den amuk, padha geris samya nisih, ing parna ing adoh-adoh.

– 12 –

Kidang Panawungan lan Manjangan Gumalunggung, lunta puas-puas ati, ngamuk ngulon ika mampuh, Pakuwan Prayangan goning, Ciyungwanara dipun brobok.

– 13 –

Geger gemetus menak Prayangan alarut, padha ngili nyingid tebih, maring guwa maring gunung, tan ana bisa ngundhili, pan sami abubar adoh.

– 14 –

Prabu Ciyungwanara ngili lumayu, ing Simpar patapaning, Ajar Ujung Banaliwung, asingidan denimponi, dening Ki Ajar ing kono.

– 15 –

Wus angarti anak putu padha larut, sowang-sowangan lumari, rebut urip laku rusuh, ibur uwis ora mikir, maring laku raton-raton.

– 16 –

Ya wis pating barisat tan mikir lungguh, nagara wus …………. gandring, kalingdih ing kidang bungur, …………. kaisen dening, kidang menjangan ton-inton.

– 17 –

Ika padha angkohe anglindih ratu, malesa poli den buroni, Mundhingkawati duk mau, amburu manjangan dari, saiki gagantos buron.

– 18 –

Ya sang Kidang Panawungan sabala ngratu, ing Pakuwan kulon nenggih, Prayangan kang dipun gelung, malah wus putra anami, Kidang Pananjung gadhang wong.

– 19 –

Dupi sangsam gumlunggung sabalanipun, angrat sakukubaning, Pajajaran kuwu, Pakuwan brang wetan nenggih, kang den wingkis kang den enggo.

– 20 –

Pajajaran kilen wetan wus den aku, ing Kidang Sampati, kulon sang Kidang Panawung, wetan Manjangan Kumliking, manjangan ya la wus miyos.

– 21 –

Putra Manjangan Gumaringsing namanipun, ya iku kang gadhang jalmi, pramila ing waktu iku, kidang manjangan kadhasir, sarasmi kalawan wong.

– 22 –

Sabab asal-usul Inggaiyang wau, Kidang Panawungan sami, akir dalanjal malulut, yen manjangan iku dening, sing Galunggung dhemen ing wong.

– 23 –

Lan yen monyet Cogowang iya ikut, ilok dhemen maring jalmi, sabab asal-usulipun, sing Lutungkasarung dhingin, margane kadi mangkono.

– 24 –

Waktu iku Pajajaran kaslangipun, ing ratu sato sambawi, ya sijar salaminipun, Silirum sing maksih alit, maksih dadi budhak kangon.

– 25 –

Ala walatra bocah anerus tunjung, lami-lami ika nuli, ana kawenganing pulung, putra menak Sindhangkasih, nyi Rara Sigir pan jatos.

– 26 –

Masakaken ing budhak si Silirum, ingimponi den karseni, denedusi timbul pulung, ya si wantu tedhakaning, andana wirya gung katon.

– 27 –

Gilang-gilang marenenge tejanepun, komarane anelehi, mangga ngucapa sang ayu, Rara Sigir genya ngapti, aja na liyaning jodho.

– 28 –

Dadya Jaka Silirum ing jidhonisun, mungga kadulura dening, panadyane atinisun, mangkana ing duk pamikir, sawiji kalawan jodho.

PUPUH XLIII DURMA

– 01 –

Waktu iku nuli ana ing bancana, wau cicipaning, dalem Palimanan, karsa angiwat-iwat, Sigir Panjaling ingkang den prih, adan sakala, iku nyamber sang putri.

– 02 –

Putri Sigir sinamber tan kena inadha, enggal dipun tulungi, dening Siliganda, kalampah sira pancas, buto roro den kembari, kinarya sepak, padha buta kagulinting.

– 03 –

Malah katon ing wong Sindhangkasih sadaya, Silirum asakti, anyana punika, dudu bandra-bandrakan, duga buta kalih neki, larut asirna, wau den sanjatani.

– 04 –

Dadi mundahak katarimahe ing kana, dening wong Sindhangkasih, pareng lawas-lawas, Siliwangi teka karsa, ing manjangan seja wani, pinenging aja, dening si Rara Sigir.

– 05 –

Aja sira ngulati gawe angangkah, isun melang ing ati, bok ora kawagang, sunrungu ika sangsam, kaliwat ing saktineki, kaduga ngebat, aken Mundhingkawati.

– 06 –

Jaka Salirum wangsulane ika, ingkang sun ajab lalis, angrebat nagara, babaguse wong lanang, angulati apa maning, punika sawarga, ginawe ayu mangkin.

– 07 –

Adan mangkat Silirum anggawa panah, tan arsi dipun iring, kali wayangan, sudira ngundi lawan, panantang baya ngenani, sampun anjujag, pra kuwu kang den ancik.

– 13 – . Manjangan Gumaringsing. dhumateng Siliwangi. Silirum dipun tujah. – 11 – Apoliye iku menak pra kuwu ika. narajang bela pati. tinujah kaliwat kadi. tan dangu den walesi. lamine sawelas warsi. dupi tiba dadi jalmi. Gumaringsing kumawula. bugel sangsam ngemasi. Siliganda wus bisa ngrebut puri. ya Manjangan Gumaringsing. ingapura den wenehi. cacangkok pisan ing Galunggung pan nagari. gupuh anembah. malesate kagawa. ika ingkang nama. adan putranira. tembe saiki pulih. iku hebating jalmi. kosonging praja. – 09 – Ya Manjangan Gumalunggung sinabet lan panah. – 10 – Den papagaken layan sanjata wisesa. lan ika manjangan. sagenah sayasa nipun kang mula-mula. bela ing bala.– 08 – Dyan Manjangan Gumulung wus dadya mulat. maring daleme malih. nuju wawayangan. adan lan gagadhang. wus kakenan panah. – 12 – Duka yuswaning sawelas warsa.

bisa balik mulih. adan pinapag aglis. wus apulih karta. saiki dumadak. menak prayangan. – 16 – Ing enggone alinggih lagi duk kuna. kang gadhang nyakrawati. karebut ing Jaka Sili. duk ningali kolebat. kidang den panah aglis. – 17 – Den apura pan sinung cacangkok sisan. Panawangsa ngemasi. tumuli anembah. ing Panawungan perni. maring sang Ganda.Jaka Siliganda angulon ika. Siliwangi kang ngimponi. dhumateng Siligandha. seja bela ing rama. mantuk ing Ujungbana. ing Pajajaran. ing rat Pajajaran. jujug prayangan ngancik. Prabu Ciyungwanara. maring Pajajaran malih. – 15 – Amalesat Kidang Pananjung atiba. adan ingkang putra. sawelas tahun angili. sira dadi jalmi. . ing jalmi amburu aglis. riku kang kidang. – 14 – Dipun sabet lan panah tugel sang kidang. la iku purwaning dadi. ing Siliganda. Pananjung ika aksami. asuka rena dening ananulungi. Kidang Panjing prepeki. – 18 – Baudendha wekasanira nalendra. bisa pulih waluya. Kidang Panawangsa. datan antara nuli.

dadine danyata. babaring Tegal ara-ara Siliwangi. ing pusaka pribadi. – 21 – Duk kapeleter dening Kidang Manjangan. – 23 – Ciyungwanara ngandika mangsa bodhoa. mesat dugi babar. rena manjing ukir. dupi kang yayah. – 22 – Ya sarupa lalis tilar si jabang ika. arebat wipala. dening kaliwat sakti.– 19 – Kujajaka prawira nom sing dibaya. – 24 – . peciling Mundhingkawati. ing tegal siliwangi. jabang tiba katilar. inggih punika delap dumadi sakti. subagjane sun puja. tedhak atur wara. kaprabon duwe nira. diweg mateng kang bibit. sasmata angrebat. gela nyawang pra sami. sima ingkang dilati. – 20 – Ya tan dangu Parwatali talibarat. ora nyelang ora nyiling. dadiya susuluraning. kinongang nundhung weri. pareng macan linggar. jabang dipun gemes sang dening rencek kyai Borih. sri Pajajaran ingkang bagawani.

PUPUH XLIV LADRANG – 01 – Sinahuran geger peter ketug muni genya ngangkat. tirimaa sira. ingkang muji jati. sun istreni sira. ing salungguhira. karajaan Siliwangi. Prayangan pra kuwu uwis. dening Yang Acintamanik. kajana priya ing luwi. ora ana musuhe ing buwana iki. – 02 – Bala dewata jawata amayungi wus kaloka. dadya angreh Pakuwan. ratu araga sukma akadang sukma. kang anyar-anyar katondha saking kana.Sira sanyata gintung-gingtung manira. kina wenang iku ing sakarsanira. si gintung saiki. ratu sajagat buwana kabeh iki. – 04 – Lan koncara liwat luwihing prajurit. karone tunggal. – 25 – Alungguhan nyakrawati Pajajaran. . ora ana kaya ratu Pajajaran. ngiseni Sundha nagari. sira ingkang ngimponi. – 03 – Sugih sanak sugih putra sugih rabi dadya merna.

– 05 – Menak pangrengku kang nama awarni-warni. Katumenggungan malih. Kalangtonggo Kalangsari. kebek ing rat. mantri gedhe mantri cilik wis anjagat. warna-warna. – 07 – Kalangluhur kalawan Ki Kalangeling. Gajah Manggala muwah Gajah Siluman. – 09 – Pan mangkana wadon abrakothi. – 10 – . kocap ingkang. Gajah Muntang. – 08 – Kademangane kumerab awarni-warni. Kalangangkes Kalangsiyu Kalangrejang. Kalanglunana. Jalana kang ngabehine. ing Pakuwan nyakrawati. – 06 – Gajah Enggang Gajah Puntang Gajah Rucik. Kalangwirana Kalangbadhag Kalangbrama. Gajah Barong Gajah tandhing. sugih wadon miwah sugih putra wayah.

– 14 – Nulya iku akrama ya maring putri Tejasuka. nuli puputra kang Susunan Pandhajaya. – 12 – Katelah nyai Embok Agung amutrani ingkang nama. tan ana durga nyantoli. pan gumelar putra wayah ya anjagat. – 15 – Pandhajaya iku wus mutrani maning ingkang nama. ajalera den Sangkeki.Wis awindon takeran tahun amukti awibawa. ing putra saiki negari. jaler ingkang naminipun Raden Umbang. . jaler ingkang apranami. ingkang wau Sindhangkasih. dadi tulus jodhone lawan sang nata. nami Putri Pamratsari. putra dalem ana ing rat Pajajaran. Mundhingdalem paparabe putra nata. – 13 – Dupi garwa ingkang nama Panawangi apuputra. – 11 – Malah istri kang purwa anggumateni timur mula.

Linggaiyang puputra Sangiyang Arjuna.– 16 – Dupi putra Nubdhingdalem sanes bibit iku lanang. – 19 – Sangiyang Arjuna baya gung asisiwi ingkang nama. Prabu Kangkangirang nenngih. prabu ana ing bupati. – 20 – Dupi garwa Siliwangi ingkang nami mraja cinta. cacangkoke bupati pan dudu nata. Sangiyang Madhangrasa Medhangkamamangga. – 18 – Prabu Kangkangirang ika mutrani ingkang nama. Linggalawang ing Cipamali. – 21 – . – 17 – Duk samono akeh putra ingkang den prih lawan nana. rang-arang acucuk prang ngamuka. Linggaiyang anem suri. nama Prabu sabupati lungguhira. iya iku amutrani.

Maharaja Larang kang nitis. Siliwangi ingkang nami. Prabu Siliwangi maning. Siliwangi ingkang nama. – 26 – Ingkang nama Dewi Pergilayaransari mulya putra. Yang Wiraga puputra sang Ratu Puntang. – 24 – Kang alinggih aneng Panembong ing puri. . Ratu Widayaka sakti. ing Ratulawang kang puri. Sangiyang Wiragasakti. ingkang nama Ratna Yumanik gumilang. – 22 – Tyas iku ingkang ngawiyosi siwi ingkang nama. dupi garwa. – 23 – Prabu Resik ing Rajapolah kang puri dupi garwa. – 25 – Apuputra Yang Jampana alinggih aku ana. ana denegarwa Prabu Siliganda. Kidang Pananjung ingkang saking Ratulawang.Ana dene garwa Prabu Siliwangi ingkang nama. Saselawangi apuputra Sangiyang Tular. Ratu Widayaka anuli sira puputra.

sang Prabu Jayapakuwan. Ukur sepuh aneng kadhipatenira. iya iku Sangiyang Bathara Larang. Pernalarang ing Raturuyuk kang puri. angadheni Ratu Mas tuwa nini moyang. Prabu Jayapakuwan iku puputra. – 32 – .– 27 – Ingkang tapa aneng ing pucuking ukir made sukma. kaping tiga. – 31 – Kang alingghih Kamiwelas dining puri. – 28 – Ratu Puntang puputra titiga nami. ing Jumajang ingkang puri. sangkane jujuluk nami. – 29 – Kang adalem ya ana ing Ratuwangi. apuputra Kidang Pati. Yang Mas tuwa. kapindhone Anggalarang Anem lenggah. – 30 – Prabu Sendangpugeran iku kang alinggih. aneng arga Gunung Munara kang puri.

Prabu Sendhanglimun sakti. – 36 – Sendhang Kajayan nuli ika amutrani. Kandhuruwan tuwilimun kang alinggih aneng Gunung Ciaya ing enggonira. kang adalem ing Rajapolah. kang anama Prabu Sendhang Jayasakti. ingkang nama. ing Ngabdu ing alinggih. kang adalem ya aneng Sagara Erang. – 34 – Sendhang Ngabdu ika apuputra malih. – 37 – Prabu Wesi pareng ika amutrani. ingkang dalem ana ing Tetegal. . kang nama. kang adalem ing Gunung Gedhe kang pura. – 33 – Sendhanglimun kunuli mutrani. ingkang nama. Prabu Wasipernasakti. Prabu Sendhang Gunung nami. – 35 – Sendhang Gunung iku amutrani maning.Dupi Prabu Sendhangpugeran mutrani. Prabu Sela. ya ana ing timun putih puranira.

Mundhing Bthara kang linggih. Patrabangsa lan maninge. – 03 – Arya Wirantanu ing Cibalagung. ing Panguragan genahe. Ki Wargakosala. – 39 – Ki Santohan Kadirun kang anjeneki desa aran. pernaira tapis wiring Pajajaran. santohan punika. adalem aneng Pamijahan Karang. Wirakusuma ing Ciasem ingkang pernah. . ingkang linggih Luwimundhing dalemira. sanga iku putrane Ki Kandhuruhan. ana ing Pagagan. ing Pamanukan genahe. sanga jalma. – 02 – Pancase la ing Palered dalemipun. Eran-eran Ngewre nami. PUPUH XLV PUCUNG – 01 – Lurah Bangsa punika ingkang alungguh.– 38 – Kandhuruwan ika mau amutrani.

amiyosaken putrane. kang kaksih jeng Batharadinata. nama ratu Demang. – 09 – . – 06 – Wondane wau Yang Wiroga ausunu.– 04 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. Panji Rababuwana. Sijine kang nama. – 08 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. ing Panunukan genahe. Buniwati raras. sanga iku putrane Ki Kandhuruhan. – 05 – Ingkang ana Sundhalarang dalemipun. amiyosi kaputrane. timansapura jenenge. Bathara Sakti jenenge. ki Wargakosala. – 07 – Sempokwaja kang agarwa putrinipun. ingkang dalem ana ing timbangan ika. nulya puputra Sangiyang Sempokwaja. jenenge Ratu Pramana punika.

kaloka ing rat. sri Praman ika. Dhipati Cangkuang mangke. kang dadalem ing Timbangaten nagara. kang Susunan Ranggalawe. ingkang rayi istri iku namanira. jujuluking nama. – 13 – Ratu Kawunganten rama dewa iku besuk. – 11 – Tyas iku dadalem ing Cangkuang pernahipun. kaloka ing rat.Nulya gagarwa [iutri saking raja Galuh. mangka Dhiputi Cangkuang iku puputra. . nama Suhunan Jaratna ing Cipinaha. – 14 – Ratu Pananten rama dewa jenengipun. kang Susunan Jati ing Carbon. putra nama Susunan Raja Malaka. ingkang rayi istri iku namanira. – 12 – Kang dadalem ing Cangkuang pernahipun. ingkang dados garwa. anuli miyos putrane. putraning Susunan. – 10 – Garwa Ratu Pramana kang nemla ika. Dipati Cangkuang mangke. Medalagung ingkang miyos.

Rumsari ganda. – 16 – Nulya Yang Ageng nuli amiyosi sunu. Yang Mayak puputra dalem Narasinga. Dupi garwa Siliwangi kang anama. tumuli apindha. ki Sangulara namane. ki Dhipati Cangal. nuli puputra dalem Nayagati ing Sundha. – 19 – Rara Siluman miyosi putra pipitu. iya iku kang limunan ing Tunjungbang. – 17 – Ing kajaksan ing Carbon iya iku. Sangiyang Ageng kang alinggih Setularang.– 15 – Dupi garwa Siliwangi kang pulangun. nama Sangyang Mayak. – 20 – . iku amiyos putrane. maring Kanci dadalem. abangsa lelembut. – 18 – Kang dadalem ing Ngendher ingkang jujuluk. aneng Cilutung genahe. dupi kang katelah ing ngendher.

iki lewi aneng Guwa Pajajaran. ping telu kang nama. – 22 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. dupi Yang Wirun kang miyos. – 25 – Ratu Rawana iku nuli susunu. ki Kamalarang ing Ngonom genya ngimba. sangyang Wirun paparabe. ing Guwa Sancang limute. Prabu Wanabaya nulya puputra. ing Guwa Upas dhemite.Ki Dhiriwengi ing Ragan manggene lungguh. Sri Intenbancana. iku miyosi putrane. – 24 – Sangiyang Widaya anenggih ing namanipun. – 23 – Mundhingsari kapindho Yang Sumur Agung. pan titiga sawijine ingkang nama. ki Wanabaya linggihe. – 21 – Ki Mayadewata ing Malakbok genya lungguh. putra ingkang paparab Ratu Rawana. ki Kuyupuk ingkang. . pra buwana bala. mau Sumur Agung nuli puputra. kang neng Sawunggantang. ki Daluwengi ingkang.

– 31 – .– 26 – Ingkang nama Sangiyang Ngabehi cucuk. Linggawayang putrane Sangiyang Arjuna. lan Linggawayang marmane. Yang Lebakwangi jenenge. – 28 – Linggasri aneng Pangkalan tumuwu. dupi garwa Siliwangi kang anama. Yang Sumur Bandhung linggihe. ingkang sakapika. – 29 – Lan Sangyang Panengah ingkang muwah adhinipun. Sangyang topasri lan Sangyang Babak panyarang. nuli puputra Raden Senapati Ngalaga. nuli Sri Wayang Nuli puputra. puputra Sri Wayang. ing Citaman dadaleme. nuli apuputra. lilima satriya. ingkang apranama. – 27 – Duk wau Linggawayang turun-tumurun. – 30 – Pandalarang ika amiyosi sunu. Sangiyang Sogol ing Maleber.

Raden Tetel kang sepuh nuli puputra. nuli puputra Prabu Layapakuwan. Dhipati Manggala nuli puputra. Tumenggung Suradarmane. dupi garwa Lisiwangi kang anama. . – 32 – Raden Memenang ingkang mangke tuwuh. iku Gedhengrungkang. ing Tegal Koripan. Prabu Rangsangjiwa. apuputra ing name. dupi Ki Gedhengrungka. putra lanang sang Dhipati Kartamana. Yang Guntebuyeng jenenge. jenek ing salami-lamine. – 36 – Kalih Ki Kartamnggala iya iku. – 33 – Katurunan ing sih ingkang miyos putranipun. jalu ingkang nama.Lan Sangyang Cimara kalih Sangyang Ciagus. – 34 – Prabu Layapakuwan anuli susunu. Tumenggung Sedhangrungkang lan Tumenggung Cikakak. sakalih maneh ika. – 35 – Kartamana lilima ing putrinipun. nama Raden Tetel kabeh. Rangsangjiwa nuli miyos.

– 39 – Kabeh iku tedhak Sundha gung-ginunggung. dupi Tumenggung Sedhangrunggi. kang jujuluk kang Ranggamantri. lan Susunan Wanaperi ing Talaga. Bagus ardi Tumenggung warga dinata. Wangsacandra Wangsanata Wangsaprana. Mayangkaruna kang anami puputra Guru Gantangan. anulya nuli puputra. Emas Batulawang ika. Prabu ing Pakuwan adhi. anulya puputra nami.– 37 – Ingkang nama kiyai Kabul puniku. iya tirik iya lerek. lan Raja Parana iku. lan Ajengarjuna. . nulya Cirawati nama. lawan Puswawangi. kang aneng ardi. PUPUH XLVI SINOM – 01 – Ki Tumenggung Suradarma. – 38 – Wangdaprana apuputra Ajengawu. saking Pajajaran. Kyai Emas Anggawijaya puniku. – 02 – Dupi garwa Siliganda. Kabul putra papat. kang anjagat sawengkening Pakuwan. Ki Nataraga wastane. iku apuputra nyai. kang mernah pencar-pencare.

– 04 – Akrama aputranira. jujuluk Maraja tunggilipun. lan ki Wansadhipa iki. kabeh terah Pajajaran. Mundhingjaya ing Mandhal alinggih. nuli putra papat nami. lilima kathahe iku. Mas boncel Mas Kariya nami. lan Wangsadireja nami. – 06 – Muwah Raden Wangsareja. Ukur Ngoradhipati. dupi Yang Linggapakuwan. Wangsadhipa mutrani. Ki Dhipati Ukur tuwa. ingkang gagarwa iku maring puranira.– 03 – Wanaperi apuputra. miyos putrane sakawan. Raden Rinahon iya iku. nuli ika sang Pandhahan. nuli putra nyimas Kirana. nyi Gedhengkulan ika. dupi putra Siliwangi. mangkana santohan pelang. Raden Tandang kang nama. ingkang miyos saking ampiyan punika. nuli puputra punika. Raden Wirareja lan kimas Wargadipa. – 05 – Ki Dipati Kungkang ika. nyi Gedhengkulan kang nami. miyos puputra kakalih. tetelu ingkang anami. Raden Togog namaneki. lan kang nama Raden Kacang iki. Lembualas nulya mutrani. . Raden Danupati ing namanira. Demang Gedhe puputra. lan santohan Urureng. kalawan Santohan iku. Sunan Parung ingkang nami. – 07 – Klawan Raden Wargayuda. lan Raden Sobanumitadi. nuli Raden Gedhe nami.

– 10 – Siliwangi ingkang medal. Rajaiyang brusbuhani. Gajatapa nama dalem ing Pawenang. Ratu Gumilang akrama. Sangyang Surakerta. Resik Putih asusunu. ya iku bojakertadi. Ratu Guru Ajijaya namanira. kanjeng Susunan Madya. – 09 – Nama Sunan Tambaliyang. Raden Srigadhing murtrani. sijine ingkang nama. . Ratu Dewa Gung la ika. inggih titiga kang siwi. ika paparabing putra. ing Majalakang dalemneki. ing Kandhangwesi kang linggih. ingkang sawijene kumaning. nama sang Raja Wiwara.– 08 – Kang nama Sang Deyasa. – 12 – Kapindhone Ratu Kara. sang Bathara Resik Putih. – 11 – Lang Sngyang Rajawabana. ing Taraju kang negari. ingkang amiyosi siwi. kang sawijine maning. kang alinggih aneng Parakantig. putra ing ampiyaniku. kang sawijine maning kaputra. ing Gunung Licin linggih. kang miyos saking Sri Tanduran. amiyosi putra ninipun. ing Cidhamar parnah neki. kang tapa ngawang-ngawang gempi. ing Kawungngora dalemneki. saking arum ganda Wayangsari. ping telune ingkang nama. kang Suhunan Ciptalewi. putra istri kang anami. putra Santohan iki. kang tapa ing matahari. putra Siliwangi iku. Ciptalewi putra tetelu. ping telu Lokajaya. kang sawijine kumaning Siliwangi putranira.

lan ki Raden Suradiwana ya ika. sang Kidang Panajungan nami. ing Wedhanglarang alinggih. kang sawiji ing namane punika. ki Ranggacarikan nama. miyos kakalih kang siwi. Sri Ngacala namanipun. ingkang nama Susunan ing Pajengan. Susunan Kalana Ulunan. nuli ika asisiwi. – 14 – Lan ki Yang Tunggabuwana. Yang Medhang nuli sisiwi. ingkang krama putranira. Ratu Guru Aji Putih. Prabu Srimangka nuli puputra. Caktradewa sisiwi.– 13 – Anuli ika puputra. Padnawati Araras. lan ki Ranggagedhe nami. ing Sumedhang gene linggih. lan sinine niku maning. – 17 – . Pangeran Sumedhang nami. Sedhawati puputra wau. nama Sedhawati. ing satedhak-tedhak neki. kapat ki Tajimalela. nuli putra sakawan iku. dupi wau Sedhangrerang. Cakradewa putraneki. dupi garwa Siliwangi. – 15 – Anggamantri namanira. nama Raden Sadhanglarang. Anggamantri miyos siwi. ingkang namanira iku. anana Yang Medhang. – 16 – Kang linggih aneng Kuningan.

panengahe istri nami. siji lanang ingkang nama. putra titiga lan rujuk dhateng kang rama. milane tinggal kaputran. Singapura kang negari. nyimpar-nyimpar numpal keli. anuli miyos putrane. agamaning bosok bedha. maring agamaning muslim. ki Ngora ing Rajapolah. nama Kantanalarang. dupi sing sabrang nenggih. ika nyi Subang Karancang. lami-lami karsa nyabrang maring Mekah. PUPUH XLVII P U CU N G – 01 – Rara Santang pinet garwa Mesir ratu. warujune lanang nama. mila tilar bumi kana. – 02 – Nulya krama dhateng putrane ki kuwu. ingkang nama Pangeran Carbon punika. kang aneng Panjalu kang puri. Prabu Cakrabuwanadi. Cakrabuwana mantuke. . maring Jawi aneng Carbon dalemira. inguprak-uprak tinundhung. Subang Karancang jenengipun. pramilane den sengiti. – 18 – Kalih Ratu Pajajaran.Ingkang nama Boros lan Ngora. ki Raja Sangara iki. – 19 – Karsane kudu miluwa. titiga miyosi siwi. Rara Santa jenengipun. gih punika careming jatu Krama. dening kang rama aji.

– 03 –

Kalih istri nyi Rakungwati ya ikut, dadya Cakrabuwana, katelah kaji namane, Abdul iman kalawan Arya Lumajang.

– 04 –

Lan kang nama Pangeran Gagak Lumayung, ngamandhing Pakuwan, manpet pajeg ing trasine, sabab dening cinandhak ing Arya Lumajang.

– 05 –

Rara Santang wis lawas ing Mesir iku, nuli wus puputra, loro lanang ing namane, Syeh Hidayatulah kalawan Syeh Nurullah.

– 06 –

Syeh Hidayatullah angajawa ikut, alingging Ardiamparan, Sunan Jati papabe, pan rinengga dening kang uwa Lumajang.

– 07 –

Dadi akeh kang manjing Islam aguru, ing wong cilik tuwis menak, barungah sadayane, Wali Jati kang katubturan akramat.

– 08 –

Dupi putra Siliwangi saking putranipun, Dhampuawang kang minangka, Kandhanghaur kaputrene, ingkang nama Balilayaran punika.

– 09 –

Putri bungsune Siliwangi iku, sang putri Layaran, masih cilik den kekentel, ingkang nama Siliwangi sebenernya.

– 10 –

Den kekentel mrana-mrene datan kantun, kocap Prabu Wanara, dan memeksa ing yogine, Siliwangi den tutur gagaib ira.

– 11 –

Den patiten sajeg ana wali iku, ilang ing guriyang, Pajajaran surem kabeh, pangaruhe ing puri tan wurung tanggal.

– 12 –

Den abecik aniti puri Sigintung, ya isun wis ana, kang mapag ngajal kasucen, pati nami ing dina kabeh wekasan.

– 13 –

Tan antara Ciyungwanara dadya iku, awak lutung asukupat, jalmi sing dhadha mukane, ……..anjengek alinggih roro kang asta.

– 14 –

Dupi saking wuri suku awarni buntut, nalosor nangcep ing andhap, narik maring sapta burine, pan tinarik ing buntutira priyangga.

– 15 –

Dadya sirna merad tan katingal iku, dening kang putra wayah, wusing sirna luluhure, amung kantun Prabu Siliwangi ika.

– 16 –

Mana sajen sadina roro ing kalbu, kukuwung mesum katingal, sang teja lor wetan pernahe, naban bengi sumonge padhang sumirat.

– 17 –

Ora liyan kang dadi sangsara iku, si cantang sarowangira, kang padha gama muslime, ingkang dadi sangara ing Pajajaran.

– 18 –

Adan prabu animbali patihipun, Tambisara nama, priksanen sumong ing kene, padhang sumong ya iku tejaning apa.

– 19 –

Ora pranti ana teja kaya iku, apa manusa bathara, anyala wadi katingale, den agelis padha rujagen denira.

– 20 –

Tambisara pamit nembah kesah sampun, ambakta satus prawira, angungtik kang teja tinon, nyata anang Gunung Jati pernahira.

– 21 –

Den talikah nyala wadi teja iku, pan seja den rujag, wong satus muwah patiye, ambrek sami lumpuh tan sesa ing angga.

– 22 –

Genya lumpuh sing dalu dalan enjingipun, pareng enjing suhunan, marikasa maring wong akeh, arep waras beli yen mambri ana atambah.

– 23 –

Tampanana kang sadat roro puniku, ucapen denira, tangtu waluya jasade, adan patih napal sadat sadhapurnya.

– 24 –

Padha Islam nulya waluya wong satus, tur den rampek pisan, lan suka wangsul ing nagrine, maring Sundha lir ring wus sejen agama.

– 25 –

Mung ki Patih Tambisara kinen wangsul, sarta bakta surat, saking sunan cacangkoke, wayah aji gih eyang amantu bilah.

– 26 –

Pan kang eyang sang prabu seja dumulur, maring gama Islam, ora kaya ing tedhake, Parwatali saking langit kandika aja.

– 27 –

Apa gawe idhep ing agama busuk, mung ta pusaka kita, sada lanang ngendi gone, prene kena age juputen den enggal.

– 28 –

Ya ingalap sada pinanjer ing alun-alun, apa ing Pakuwan, mangkana nulya parenge, merad lalis sakulawarganira.

– 29 –

Migerngiyang munjuk rayak-rayak gayuh, maring elor wetan, den papag adiasa srine, saking swarga kang para jawata sadaya.

– 30 –

Wusing merad lalis Prabu Siliarum, ing Pakuwan tan ana, kang kari amung bupatine, kang sapalih sapratiganing kang Islam.

– 31 –

Kaya Patih Cangkuwang wus mukmin iku, lan Dipati Kartamana, ki Dimati Ukur kolot, Islam maning ing Ciahur bupatinira.

– 32 –

Amung menak pra kuwu kang masih kupur, samerade Siliganda, Sunan Jati dereng ngertos, masih dadi satriya iku lalana.

– 33 –

Kawarnaa putri bungsuning sang prabu, Dewi Balilayaran, katilare sabab dening, balening Cangkolkencana.

PUPUH XLVIII DHANDHANGGULA

– 01 –

Dupi nusul amburu wus kari, dadya bungsu lara-lara, karuna polos wiyanga, salantrah-lantrah mangmung, pan dumadak nulya pinanggih, lawan jaler kang nama Jaka Kabu, asal kulup Siliganda, marmanipun katulus alaki rabi, aneng jabaning kutha.

– 02 –

sinebut ing pangasrine. nuli puputra ing mangke. dupi ika mau. ya tetelu kang dhingin istri anami. nuli ika amiyosi putra. – 07 – . Prabu Pucuk Kumun. lan bedhil titiga. Sangyang Sarepan Agung. Inten Kadhaton ksputren titilaring. laki maring kyan Santi wus gadhah pecil. iku Susukan kabu. lan Maraja Cipta kang linggoh. nama ki Pati ika sisiwi. kang kakasih tanduran gagang. inggistrenan dening wong sadhomas. marmane iku den edol. Maraja Dalem Agengan.Jaba kutha kutha Pakuwan den apti. Santohan Kolelet nuli sisiwi. Maraja Cipta puputra. Sunan kabu ika tumuli. tumuli puputra. ing Walanda den tuku dadi. – 03 – Ya kyan Santi atitising Siliwangi. – 04 – Rara Wudhu ora payu laki. Ratu Madhapa kang besuk alih alaki. Bimalarang ingkang pranami. – 06 – Gedheng Utama puputra dalem Japati. apuputra kang nama. wadon Murngali jenenge. olih laki wong agung. ika sang putri Madhapa. ciciptane Ajar Sukarsa. lan istri Ratu Madhapa. kyai Gedheng utama. dupi ika prabu. – 05 – Careming jodho ika mutrani. Prabu Ardikuning namanira. Sri Jampang pan mau. anuli puputra roro. tanduran gagang iku. nuli puputra ji Japatingora. kyai Wiranegara. maring kyan Santiwara. ing Galuh apuputra. Pucuk Kumun agagarwa. sang Prabu Ciyungwanara.

Wiranaga kang sinare ing wewengkon Pasirnagara. – 10 – Kyai Ajeng nama Amongragi. nuli ika apuputra. – 09 – Ki Wiraprabangsa ika nuli. Cipta Pramana kang linggih. Kabolotan ing pernahe. puputra Mertadinata. kaping telune ya iku. Akimas Imbanegara. nengga naminipun. – 08 – Sunan Batuwangi kang ana ing Cipamancur ya ing parnah hira. nagara kawangsul. nuli puputra ki Gedhe ana ing. nuli puputra ki Wirabaya Sakti. aneng Kakarasuka. Cohaka ning Sorpura. mangka mau mraja dalem agen laki. Arya Wirangun Yang Tunggal. nuli ika puputra. kocap Prabu Cimacur.Jujuluke Tanduran Ageng Asri. – 11 – Dupi Cipta Pramana kang niti. kyai Wiranaga mangko ika nuli. ya Prabu Dhigaluh. nuli ika mutrani nami. nulya puputra kyai Wiranaga. – 12 – . ing Susunan Batuganda. kapindhone nama Sangyang Pramana. nama Sangyang Wirun. anuli susunu. dupi Sangyang Pramana nenggih. nuli ika susunu. ika nuli puputra. nuli ika puputra. ing Dhigaluh ing Kakarsuka. Dhipati Kartanata. anuli Miyos putrane. apuputra Raden Walenggabala Estu. ingka wali kukubane. ingkang paparabipun. iku puputra Aciputi. Yang Dhigaluh jujuluke. ki Dhipati Panahekan yakti. nuli ika puputra. ki Kandharuwan Babakan.

Sang Jati Wali Allah. – 13 – Ing Prayangan pra kuwu wus dadi. sasesa-sesane dhewek. sewangsewangan angratu. para Bupati tanpa nelendra. kang den ratu-ratu. tumurun sawuse surat Al-Muddatstsir ) . Miyosaken putra kang nami. TAMAT Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PIWULANG AL FAATIHAH AL FAATIHAH ( BEBUKA ) Surat kaping 1 : 7 ayat ( Tumuruning wahyu ana ing Mekkah. ing satedhak-tedhak ira. ki Dhipati Sendhangmargalaya.Gedhe Godhaka ika amutrani. iku turun ratu. dupi ing Carbon ika kang dadi. winuri-wuri ing jati ratu wali agung ingkang jumangah. dadi menak pagunungan ika sami. Raden Pati Tumurun. tumuli puputra mangke. Nuwun. taliti ing Pajajaran. Raden Wiranantaja. deng uwa Cakrabuwana.

Bismillahir rahmaanir rahim 2. 3. . Arrahmanir rahiim 4. ghairil maghdhuubi ‘ alaihim waladl dlaal-liin Bahasa Jawa : 1. 2.Bahasa Arab : 1. Kabeh pangalembana kagunganing Allah Pangeran. Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin 3. Kang Maha Murah Maha Asih. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in 6. Kalawan asma Allah kang Maha Murah ugi Maha Asih. Sesembahaning ‘ alam jagad-rat pramudita. Ihdinash shiraathal mustaqiim 7. Maaliki yaumid diin 5. Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim.

dzikir lan tafakkur utawi I’tikaf ing masjid. Dhuh Gusti Allah. Saking zakat lajeng tuwuh ‘ ibadah qurban sidqah.w. 5. 7. Namung dhumateng Paduka piyambak kita sami menembah ‘ ibadah. tuwin sanes ingkang sami sasar. ingkang kuwajiban sadaya titah. . kados kasebut ing ngandhap punika : 1. ‘Ibadah . Shiyam lan kesah Haji. Saking ingkang baku kasebut. ugi ngajak Ummatipun supados samia ‘ibadah ( manembah ) ing Allah piyambak. Zakat. utawi ngumawula lan manembah ing Allah. makaten ugi dening para andika Rasul saderengipun. lajeng tuwuh ‘ibadah memuji. Inggih punika margi. weweweh lan tetulung ing sasaminipun. lan saking Shiyam tuwuh watak Wira’I 9 mboten ndremis lan mboten kathah sesambat ) sumingkir saking ingkang nama lelangkungan ( gesang prasaja ). 6.4. 2. Agaminipun para tetiyang ingkang sampun Paduka paringi kani’matan. Kang Ngratoni ing dina Piwelas. Ingkang baku wonten sekawan. Ingkang baku inggih punika ‘ aqidah-tauhid ( memundhi saha mangeran namung dhumateng Panjenanganipun Allah piyambak ) ‘ Aqidah-tauhid wau dados jejering piwucal Agami. lan nilar sadaya brahalanipun. punika kuwajiban ingkang wiwitan kaampil. ingkang dipun da’wahaken dening junjungan kita Nabi Muhammad s. Isi maksud ingkang wigatos ing Surat Al-Faatihah : Intisari saking isinipun Al-Quraan punika sampun kaweca pokok-pokok ingkang fundamentil wonten salebeting Surat Al Faatihah. sadaya para andika Nabi Utusaning Allah kautus ngampil tugas-pokok mbangun Tauhid ing Allah.a. sanes ingkang sami kabendon. saha namung dhumateng Paduka piyambak kita sami anyenyadhong pitulungan. mugi Paduka paring pitedah ing kita sadaya lumampah wonten ing margi ingkang leres. inggih punika : Shalat. Lajeng saking Haji tuwuh semangat ambelani sarta labuh ing agami. Bab ‘aqaid utawi kaimanan . langkunglangkung manungsa ( sabab manungsa punika makhluk ingkang saged damel kabudayan wonten ing ‘ alam donya ). ndedonga. sarta ngrebahaken sadaya kamusyrikan.

A. agami. 5. Huruf Ha . Janji sarta ancaman : artosipun supados ngadeg keadilan lan keleresan ingkang saestu. ekonomi. sesambetan internasional.angger Hukum lan Pernatan. sanajan wonten Donya saged lolos saking hukuman. kabudayan sarta kesenian. upami hukum. politik. Pramila ing salebetingQuraan ngemot pinten-pinten norma lan katamtuwan.3. Angger. Sejarah : maksudipun ingkang saged dados tepa-palupi ing salebeting sesrawungan ummat manungsa. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PIWULANG HA NA CA RA KA Oleh : BRM Panji Anom Resiningrum Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa. lan lingkungan sapiturutipun. gesang sapisan wonten ing ‘ alam Donya. 4. sesambetaning manungsa kaliyan Allah. tatanagari. nanging wonten ngarsaning Allah ing dinten Qiyanat tantu nboten saged lolos malih. sampun ngantos damel sejarah awon. Pembukaan Huruf Jawa 1.pernatan : maksudipun Syari’at Islam damel angger-angger hukum lan pranatan punika kangge karaharjaning ummat manungsa ing Donya dumugi ing Akheratipun. sosial. perang. dahme.

Berarti ‘hidup’. Yakni salah satu sifat Tuhan yang ada pada manusia. Angin c. artinya cahaya di sini memang sama dengan cahaya yang telah disebutkan di atas. 3. 5. Air 2. yakni cahaya dari Tuhan YME dan terletak pada sifat manusia. yakni berkumpulnya Tuhan YMEyang juga terletak pada sifat manusia. Kita telah mengetahui pula akan sifat Tuhan dan sifatsifat tersebut ada pada yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia karena memang Tuhan pun menghendaki agar manusia itu mempunyai sifat baik. Huruf Ca Berarti ‘cahaya’. sebab memang hidup itu ada. Huruf Ra Berarti ‘roh’. atau huruf berarti juga ada hidup. hidup itu adalah sendirian dalam arti abadi atau langgeng tidak terkena kematian dalam menghadapi segala keadaan. . Api b. yaitu roh Tuhan yang ada pada diri manusia. 4. Huruf Ka Berarti ‘berkumpul’. Bumi d. karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup. Huruf Na Berari ‘nur’ atau cahaya. Hidup tersebut terdiri atas 4 unsur yaitu: a.

Huruf Pa . berarti abadi pula untuk selama-lamanya. yaitu tetes Tuhan YME yang berada pada manusia. la yang mengandung arti langgeng ini juga nyata menunjukkan bahwa hanya Tuhan YME sendirian yang langgeng di dunia ini. Huruf Sa Berarti ‘satu’. Huruf La Berarti ‘langgeng’ atau ‘abadi’. Dalam hal ini huruf sa tersebut telah nyata menunjukkan bahwa Tuhan YME yaitu satu. 7. 8. 11. Huruf Da Berarti ‘zat’. Huruf Ta Berarti ‘tes’ atau tetes. jadi tidak ada yang dapat menyamai Tuhan.6. dalam arti ini menyatakan bahwa wujud atau bentuk Tuhan itu ada dalam manusia yang setelah bertapa kurang lebih 9 bulan dalam gua garba ibu lalu dilahirkan dalam wujud diri. Huruf Wa Berarti ‘wujud’ atau bentuk. 10. 9. ialah zatnya Tuhan YME yang terletak pada sifat manusia.

Berarti ‘papan’ atau ‘tempat’. manusia yang utama. 16. Jelasnya Tuhan YME dengan ikhlas menyerahkan semua yang telah tersedia di dunia ini. yiatu perintah-perintah Tuhan YME inilah yang terletak dalam diri dan besarnya Adam. Huruf Ma Berarti ‘marga’ atau ‘jalan’. Huruf Nya Berarti ‘pasrah’ atau ‘menyerahkan’. 14. 15. Jasad Tuhan YME itu terletak pada sifat manusia yang utama. Tuhan YME telah memberikan jalan kepada manusia yang berbuat jelek dan baik. jagad gede juga jagad kecil (manusia). Huruf Dha Berarti dhawuh. Dawuh di sini mempunyai lain arti dengan dhawuh di atas. yaitu papan Tuhan YME-lah yang memenuhi alam jagad raya ini. 12. 13. Huruf Ya Berarti ‘dawuh’. . Huruf Ja Berarti ‘jasad’ atau ‘badan’. karena dawuh berarti selalu menyaksikan kehendak manusia baik yang berbuat jelek maupun yang bertindak baik yang selalu menggunakan kata-katanya “Ya”.

Huruf Ga Berarti ‘gaib’. Dapat pula dikatakan gaib adalah jalan jauh tanpa batas. gaib dari Tuhan YME inilah yang terletak pada sifat manusia. 19. atau terang/gaib Tuhan YME yang mengadakan sinar terang. yaitu kabarnya manusia dari gaibnya Tuhan YME. Penyatuan Huruf atau Aksara Jawa 20 . 20. dan harus diakui bahwa besarnya gaib itu adalah seperti debu atau terpandang. karena memang seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Jawa yang menggunakan huruf Jawa itupun merupakan sabda dari Tuhan YME. Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa. dekat tetapi tidak dapat disentuh.17. B. Huruf Nga Berarti ‘ngalam’. Huruf Ba Berarti ‘babar’. Demikianlah huruf Jawa yang 20 itu dan ternyata dapat digunakan sebagai lambang dan dapat diartikan sesuai dengan sifat Tuhan sendiri. 18. Demikianlah gaibnya Tuhan YME itu (micro binubut). ‘yang bersinar terang’. Tumbuh atau adanya gaib adalah dari kehendak Tuhna YME. Huruf Tha Berarti ‘thukul’ atau ‘tumbuh’. seperti halnya cahaya terang tetapi tidak dapat diraba atau pun disentuh.

5. 4. Angan-angan yang terletak di ubun-ubun (kepala) yang menyimpan otak untuk memikir akan keseluruhan keadaan. 3. Dimaksudkan dengan angan-angan ini ialah panca indra yaitu lima indra. Huruf Na + Ta Noto. Huruf Ca + Ba Caba. berarti ‘nutuk’. adanya perkataan kun berarti pernyataan yang . Angan-angan telinga yang dipakai untuk mendengar keseluruhan keadaan. seperti: 1. berarti coblong (lobang) dan kata tersebut di atas berarti wadah atau tampat yang dimilki oleh lelaki atau wanita saat menjalin rasa menjadi satu. Angan-angan mata yang digunakan untuk melihat segala keadaan. 2.1. Angan-angan mulut yang digunakan untuk merasakan dan mengunyah makanan. 2. Angan-angan hidung untuk mencium/membau seluruh keadaan. 3. Huruf Ha + Nga Hanga berarti angan-angan.

yaitu ari atau banyu. berarti ‘badan awak/diri’. Huruf Ta + Ya Taya atau toya. oleh karena itu di dalam kata raga seperti terurai di atas merupakan kehendak pria dan wanita untuk menjalin rasa menjadi satu. Huruf Da + Nya Danya atau donya atau dunia. memandikan . Setiap manusia baik laki-laki atau wanita pastilah mengandung benih untuk kelangsungan hidup. Kata raga atau ragangan merupakan juga kerangka dan kehendak pria dan wanita ketika menjalin rasa menjadi satu karena bersama-sama menghendaki untuk menciptakan raga atau diri agar supaya dapat terlaksana untuk mendapatkan anak. Kelahiran manusia (jabang bayi) diawali dengan keluarnya air (kawah) pun pula kelahiran bayi tersebut juga dijemput dengan air (untuk membersihkan. dengan demikian dapat dipahami kalau atas kehendak Tuhan YME maka diturunkanlah ke alam dunia ini benih-benih manusia dari Kahyangan dengan melewati penyatuan rasa kedua jenis manusia. Persatuan kedua benih atau kama tadi mengakibatkan kelahiran. Huruf Ka + Ma Kama. dan kelahiran ini merupakan calon keturunan di dunia atau (alam) donya. benih. berarti ‘komo’ atau biji. Karena itulah maka kata raga telah menunjukkan adanya kedua benih yang akan disatukan dengan melewati raga. dan dengan penyatuan kama dari kedua belah pihak itu maka kelangsungan hidup akan dapat tercapai. 5. 6. 7.dikeluarkan oleh pria dan wanita dalam bentuk kata ya dan ayo dan kedua kata tersebut mempunyai persamaan arti dan kehendak yaitu mau. 4. Huruf Ra + Ga Raga. bibit.

karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Berbicara tentang wadah atau tempat. dan karena isi tersebut membutuhkan tempat penyimpanan.dsb). Hal ini jelas tidak mungkin terjadi. Huruf Sa + Ja Saja atau siji atau satu. Huruf Wa + Da Wada atau wadah atau tempat. 9. Pada umumnya dikatakan kalau wadah harus diadakan terlebih dahulu. Pada umumnya kelahiran manusia (bayi) itu hanya satu. sudah seharusnya membicarakan tentang isi pula. dan manusia merupakan isi dari rumah. Jangan sampai menimbulkan kalimat “Wadah mencari isi” akan tetapi haruslah “Isi mencari wadah” karena memang ‘isi’ diciptakan terlebih dahulu. apalagi kalau kematian itu terjadi dalam umur muda dimana kesenangan dan kepuasan hidup tersebut belum dialaminya. Sebagai bukti dari uraian di atas. Dan kelahiran satu tersebut menunjukkan adanya kata saja atau siji atau satu. andaikata jadi kelahiran kembar maka itulah kehendak Tuhan YME. maka diciptakan pula wadahnya. sebab rumah merupakan wadah manusia. Dengan demikian timbul pertanyaan mengenai wadah dan isi. dapatlah dijelaskan bahwa: kematian manusia berarti (raga) ditinggalkan isi (hidup). Yang diciptakan terlebih dahulu adalah isi. karena itulah air tersebut berumur lebih tua dari dirinya sendiri disebut juga mutmainah atau sukma yang sedang mengembara dan mempunyai watak suci dan adil. baru kemudian isi. 8. Sebagai contoh dapat diambilkan di sini: rumah. siapakah yang ada terlebih dahulu. . Bagai pendapat yang mengatakan “wadah terlebih dahulu diciptakan” maka mengenai kematian itu seharusnya wadah mengatakan supaya isi jangan meniggalkan terlebih dahulu sebelum wadah mendahului meninggalkan. sebenarnya hal ini adalah kurang benar. Jadi jelaslah bahwa sebenarnya isilah yang mencari wadah.

. Huruf La + Pa Lapa atau mati atau lampus. Semua keadaan yang hidup selalu dapat bergerak. Sebaliknya kalau wadah tersebut belum ada maka kelahiran pun tidak akan terjadi. keadaan hidup tesebut kalau ditinggal oleh hidup maka disebut dengan mati. Pendapat lain mengatakan kalau sebelum diadakan jalinan rasa maka keadaan masih kosong (awangawung). Sebenarnya pemikiran demikian itu tidak benar. mesu cipta. matiraga lan sasaminipun. akan tetapi hidup hanyalah meninggalkannya saja yaitu untuk mengembalikan semua ke asalnya. Meskipun begitu. Akan tetapi sebenarnya dapatlah dikatakan bahwa suwung itu tetap ada sedangkan raga manusia yang berasal pula dari tanah akan kembali ke tanah (kuburan) pula. karena sebelum dunia ini diciptakan (sebagai wadah) maka yang telah ada adalah (isinya) Tuhan YME. Tetapi setelah jalinan rasa dilaksanakan oleh pria dan wanita maka meneteslah benih dan apabila benih tadi mendapatkan wadahnya akan terjadi kelahiran. pujabrata. 10. Sebab yang dikatakan mati tadi sebenarnya bukanlah kematian sebenarnya. karena hidup berasal dari suwung sudah tentu kembali ke suwung atau kosong (awangawung) lagi. yang bearti masih suwung atau kosong. ngeningaken utawi angluhuraken paningal. akan tetapi kesalahan tadi telah dibenarkan sehingga menjadi salah kaprah. pameleng = pasamaden.Demikianlah persoalan wadah ini dengan dunia. Dene empaning pandamelan wau winastan manekung. dan dimanakah letak isi tadi ialah pada ayah dan ibu. mesu budi. mengku pikajeng : tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Wallahua’lam Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 AJI PAMELENG Tegesipun aji = ratu. hidup kembali kepada yang menciptakan hidup. “hidup’ itu tetap telah ada demikian pula “isi’. Maka selama ayah dan ibu masih ada maka hidup masih dapat membenihkan biji atau bibit.

mahosadi. utawi sastrajendrayuningr at pangruwating diyu lan sapanunggalanipun. ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun. Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. margi saged anindakaken dhateng sawarnaning pandamel sae. kawilujengan lan sasaminipun. margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged nandangaken dating pangolahing kawruh punika. Bebasan sakedeping netra.Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen. pahoman. perlu kangge sarananing panembah murid manggih kawilujengan. punapadene kangge sarana duk kita darbe sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran). lan ugi sampun sami saget ngraosaken kabegjan. kawicaksanaan. boten nawang bangsa Indhu ingkang agami punapa kemawon. sanyata kathah ingkang nagngge basa Sansekrit. serta sami anggelaraken agaminipun tuwin kawruh sanes sanesipun. pamursitan. tirtakamandhanu. temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu. bangsa Jawi ing sa’indhengipun maratah sampun sami angrasuk agami Indhu. pamujan. margi saking wohing kawruh pandamel wau. Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning saliring kawruh sajagad. panekungan. dawan. lan ugi dados pangajenging piwulan agami. yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh pasamaden wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina makina. mila kalayan gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi. tirtaamerta. awit kawruh wau saget nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi. sebab lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden. sastracetha. Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau. kasebut agami Islam. Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet ing Tanah jawi. paheningan lan sanes-sanesipun. nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun. Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun. katamtokaken mesthi ngrasuk pasamaden. kados kasebut ing nginggil. . Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi lan sanes sanesipun. Dene kawruh wau ing sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu. Namung kemawon wedharing agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden. bilih miturut saking tembungtembungipun . kamulyan. kawaspadan. kawasanan. Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami angajawi. tirtanirwala. pamurcitan. inggih nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan saking pandamel kita ingkang boten tilar murwat. ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun Mohammad. makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun. Dene wedharing kawruh winastan daiwan.

boten mawang nem sepuh. utawi Islam pangaran-aran. kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu walangataga ugi boten kenging miring. serta kenging kawejangaken ing sawanci-wancinipun. Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes. dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh manjing agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam wau. ugi papaning pamejang boten kenging kaubah wangon. pun murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng tiyang sanes. serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru. Dumuginipun ing jaman samangke. Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados. mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami. bilih dereng angsal palilah Guru. kadosta ing ara-ara. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk kaliyan pun murid. uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh pasamaden kasebat. bilih santri punika sarwosarwi langkung resik utawi suci tinimbang kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam. Purwo saking tembung klenik. katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12. ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau. ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen. dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir kemawon. ing ngriku lajeng angawisi kalayan kenceng. titiyang Jawi boten kenging anindakaken kawruh pasamaden. inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri karan putihan. Sebab wontenipun sadaya punika supados kasumerepan dhateng ingakathah. yen miring lajeng malih dados manungsa. utami tiyang ingkang anglampahi sarengating agami Islam.Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari. dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok tiyanga. serta kedah santun angrasuk agami Islam. margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam. ing wana. Ingkang kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan. lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. langkung-langkung kawruh pasamaden punika ingkang sanyata dados mukaning . sanadyan Nagari sampun boten angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden. purwanipun namung tetep kangge panjagi. inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak). ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah dhedhemitan. tamtu manggih pidana. supados pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng pamarintahing agami Islam. nanging panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking panyedaning titiyang ingkang boten remen. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng katindakaken. Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun agami Islam sadaya. yen nerak bade angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang mekaten punika. yen batosipun taksih angrungkepi agamipun lami. sanadyan suket godhong. purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman wisesaning Nata. bilih wontening wejangan kawruh pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Dene yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten. menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil.

inggih Pangeran Panggung. kamulyan. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar. Sapisan salat 5 wekdal. lajeng sami ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar. Kaping kalih salat daim. Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden. Lajeng tunimbal dhateng Sunan Geseng. Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten. Mila titiyang Jawi ingkang suwau manjing agami Islam. namung kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun ingkang sampun sami necep agami Islam. dening Seh Sitijenar kinen sami madeg paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. saking . Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning piwulang. wirid saking tembung daiwan kasebut ing nginggil. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng ingakatah. ing ngriku salat limang wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak boten kawulangaken babar pisan. Amarengi wahyaning mangsakala. sebab Seh Sitijenar punika mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Mila wajib sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing saindengipun. Punapadene tembung salat lajeng kapilah kalih prakawis. kasebut salat sarengat.sadaya kawruh. katentreman. ateges panembah lahir. langkung-langkung ingkang dereng. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah. temah Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami pinejahan katigas jangganipun dening para Wali. Ki Cakrajaya wau pandamelanipun anderes nitis gendhis. ingkang ugi apangkat Wali. Kawruh asamaden. ingkang kacarios saderengipun dados Wali. anyuremaken panguwaosing para Wali. lajeng kadhapuk ing ndalem serat karanganipun. terang lan nyata. Punapadene lajeng kaewoaken dados saperanganing panembah. mangertosipun : anekadaken manunggaling pribadinipun. pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged andhatengaken ing kawilujengan. Ingkang pinindeng namung mumuruk tumindaking salat daim kemawon. margi piwulangipun langkung gampil. tiyang asal saking Pagelen. lan sasaminipun. Sangsaya dangu sangsaya ngrebda. sarana dipun wewahi tembungipun. ingkang mijeni Kyai Ageng Pengging. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang sampun kabuka raosipun. punika panembahing batos. Milanipun dipun wewahi basa arab. daim saking daiwan basa Sansekrit). anggenipun amencaraken piwulang agami Islam. inggih Ki Cakrajaya. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe suwung. ingkang lajeng winastan daim. ing pawingkingipun bab kawruh pasamaden wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam. utawi kasebut loroning atunggil. ingkang ugi dados pramugarining agami Islam apangkat Wali. dening Seh Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara. tanpa nawang andhap inggiling darajadipun. lajeng mungel : salat daim (salat – basa arab. wusana wonten kaelokaning lalampahan ingkang boten kanyananyana. margi yakin bilih kawruh pasamaden wau.

Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg sami enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana. Katungka unjuking wadyabala. lajeng oncat medal saking salebeting latu murub. Wiwit punika wuwulangan pasamaden lajeng wonten wanrni kalih.sanesipun malih. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung. amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken kawruh pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar. temah dhawahing bendu. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh Sitijenar. atur uninga bilih Sunan Geseng. Ingkang boten kacepeng sami lumajar pados gesang. langkung rumiyin kalatih lampah dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun mleset saking jejer ing sakawit. mila para guru samangke. . Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng kakantunanipun ingkang sami pejah. dene panindaking piwulang kawastan tafakur. Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening mawerdining Hyang Brama. Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid nampi wiridan salat daim. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan wiridan naksobandiyah. temah kamitenggengen kadi tugu sinukarta. kapidana kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun Demak. lajeng sami mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar. Dene piwulangipun kados ing ngandhap punika : Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim. Sareng sampun sawatawis tebih tindakipun Sang Pangeran. pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. ingkang dipun santuni nama naksobandiyah utawi satariyah. kesah anututi lampahipun Pangeran Panggung. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun. inggih Ki Cakrajaya. murih boten ka’arubiru dening para Wali pramugarining praja. para sakabat tuwin murid-muridipun Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak rukuning agami Islam. Dene nama Kyai. karangkepan wuwulang salat limang wekdal tuwin rukuning Islam sanes. Salajengipun para Kyai guru wau. punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi. ingkang sami miridaken kawruh pasamaden. nanging mawi sislintru tinutupan wuwulang sarengating agami Islam. nginten bilih kawruh wau wiwiridan saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). ugi taksih sami madeg paguron nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden. temah sami rumaos kawon angsal sihing Pangeran. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi dukanipun. kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih. inggih punika : 1. nilar nagari Demak. Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai.dhawuhipun Sultan Demak.

sampun ka’andharaken ing nginggil. Awit saking makaten punika mila tumrap panindaking agami Jawi (Buda). bab kawruh pasamaden tuwin lampah limang prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh boten pilih andhap inggiling darajatipun. Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah lan satariyah. Lampah limang prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata anandangaken ulah samadi. tansah nganggeni tatakrami. ngantos sabujading jagad. margi kacidraning manah kita pribadi. dhateng ingkang sami kataman. kagiles dening rodha jantraning jagad. dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis.2. adil paramarta. inggih amesu cipta angeningaken pranawaning paningal. ingkang dereng kacarobosan agami sanes. dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan kamardikan kita sami. margi saking dayaning mas picis rajabrana. Mila makaten. Leres ing samubarang damel. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah umandanging samadi sacara Jawi. punapadene pinter angereh kamurkaning manah pribadi. ingkang dados purwaning piwulang. Pinter saliring kawruh. tanggeljawab boten lewerweh. sebab musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan. 3. tebih saking watak panganiaya. boten anguthuh melik anggendhong lali. 5. inggih punika makaten : . Setya tuhu utawi temen lan jujur. punika bilih tetep samadinipun. Santosa. wiji saking Kyai Ageng Pengging. kita badhe nandhang papa cintraka. namung kemawon tumandangipun boten kawedharaken. kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados kawursita ing nginggil. ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar. 4. kados ing ngandhap punika : 1. 2. ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing samangke karan klenik). Yen boten makaten. Susila anor-raga. sabar welas asih ing sasami. boten ngunggul-unggulaken dhirinipun. langkung-langkung pinter ngecani manahing sasami-sami. Piwulang pasamaden miturut Jawi. maweh rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa. punika ing sakawit. Temah kita manggen ing sasananing katrenteman.

boten wonten sanes namung badhe nyumerepi kajaten. piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau. punika dereng tamtu. Punapadene angendelna ebahing netra (mripat). bilih cariyos makaten punika tetep namung kangge pasemon utawi pralambang. ingkang sampun dados tata-cara margi sampun dados pakulinan punika. yen sae inggih sae temenan. dalamakan suku ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa. temah anuwuhaken tatacara. inggih punika ing papasu. utawi Sang Arjuna yen angraga-suksma. sarta mawi kaendelna ing sawatawis dangunipun. tuwin amuntu ilining rahsa. purwanipun mirid saking cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati. dene pancering paningal kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa’antawising netra kakalih. kasebut sirnaning papan lan tulis. cetha = antebing swara cethak. Menggah pikajenganipun samadi ing riki. dene sarananipun boten wonten malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking makartining rasa. dene pamandengipun kedah kalayan angeremaken netra kakalih pisan. Dene panganggep. dados . punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking sumengkaning napas wau. inggih lajeng ka’edhakna kalayan alon-alon. Mila winastan makaten. Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten : panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) . Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing saniskara. boten yekti. pikir lajeng gadhah panganggep awon lan sae. suku ingkang lurus. inggih punika ingkang kawastanan meleng.Para nupiksa. Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung samadi = sarasa – rasa tunggal – maligining rasa – rasa jati – rasa nalika dereng makarti. Inggih patrap ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. yen awon inggih awon sayektos. Dene makartining rasa jalaran saking panggulawenthah utawi piwulang. Menawi napas kita dipun ereh. pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. mugi sampun kalintu panampi. Saking dayaning panggulawenthah. menawi sampun kraos awrat panyangginipun napas. Panampi makaten punika. Tegesipun cetha = empaning kawruh. mila lajeng kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. kang yekti. saha sidhakep utawi kalurusaken mangandhap. bilih samadi punika angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal saking badan wadhag. awit duk kita mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah malih anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. dados inggih dede kajaten utawi kasunyatan. dene temenipun ingkang kados kita angkat. Inggih ing riku punika jumenenging rasa jati kang nyata. inggih cethaking tutuk kita punika. epek-epek kiwa tengen tumempel ing pupu kiwa tengen. Inggih makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Mugi kawuninganana. Punapa panganggep awon sae. Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta (panggagas). Mangrehing anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah. kang weruh tanpa tuduh. punapadene pangalaman-pangalam an ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun . sarana angereh solahing anggota (badan). Sumengkanipun napas wau kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa. tetep namung ngenggeni pakulinaning tata-cara. jer punika namung pakulinaning panganggep.

rat = jagad – badan – enggen. panebut wau mungel : hailah – haillolah. utawi ateges langgeng. kita jumeneng gusti. Dene. kedah kapanjang-panjangan a . ingkang sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya. kalihan angeningaken (ambeningaken) paningal. Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil. ugi kenging karancagaken. kalihan lenggah. ing wiridan naksobandiyah kaewahan dados mungel. inggih lajeng ka’angkatana malih. margi nalika mocapaken mantra sastra kakalih : hu – ya. inggih wontening ambegan kita. utawi nyambutdamel inggih kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau. ugi kawistara saking dayaning cethak. nanging tanpa angereh lampahing napas). sarwi mocapaken mantra sarana kabatos kemawon. inggih risaking badan wadhag wangsul dados babakalan malih. Dene pikajengipun amastani bilih wontening napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng. wedaling swara ingkang namung kabatos wau. Bilih kakalih wau kendel boten makarti nama pejah. minggah dumugi ing suhunan. Inggih punika ingkang kabasakaken paworing kawula Gusti. yen tumedhak. tegesipun : manawi napas kita sumengka. minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan cethak. lumampah. Mila sayogyanipun lampahing napas inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel. sebab paningal punika kadadosan saking rahsa. inggih punika mungel `hu’ kasarengan kalihan lumebeting napas. panebutipun ugi kasarengan lampahing napas. mila makaten. tamtu boten saget dumugi ing suhunan. tegesipun tri = tiga. Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang dipun wastani kawula gusti punika dede napas kita. uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing wijiling napas. Dene ing wiridan satariyah. inggih punika ateges panjang tanpa ujung. sa’angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga. sangsaya langkung prayogi sanget. Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau. wangsul dados kawula. suraosipun : kaping tiga napas kita saget tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Dene sa’angkataning pandamel wau kawastan : tripandurat. Dados ulah samadi punika. pokokipun kita kedah amanjangaken panjing wijiling napas (lebet wedaling napas). sanyata wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel. jalaran sampun menggeh-menggeh. inggih panariking napas saking puser. kasarengan kalihan wedaling napas. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan).namung manut lampahing napas piyambak. kados ingkang kajarwa ing nginggil. Dene ambegan punika. Lajeng `ya’. pandu = suci. margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun medhak malih. nanging dayaning cipta kita. pikajengipun : mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh. anggenipun kawastanan sastracetha. ingkang sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe maksud sanesipun malih. hu – Allah. awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen anandangana malih. Kajawi punika. margi saya kuwawi dangu. makaten salajengipun ngantos marambah-rambah sakuwawinipun. Dene manawi sampun sareh. inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing puser. (Ungeling mantra utawi panebut kakalih : hu – ya.

lajeng sirna piawonipun. Suraosipun : Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon. babaya. sae. rereget. punika bilih ing suwaunipun tiyang awon. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 AJI PAMASA Wedharing wyata mirid gempilaning piwucal Aji Pamasa DHANDHANGGULA . temah saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak. Dene tegesesipun pangruwating diyu = amalihaken diyu. Tiyang goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. yu = rahayu – wilujeng. endra = ratu – dewa. ningrat = jagad – enggen – badan. putu.lampahipun. punika kangge pasemoning piawon. waesia dados satriya. tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar. murih panjanga ugi umur kita. dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta. Tegesipun sastra = empaning kawruh. penyakit. mratelakaken bilih kawruh pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun. jendra = saking panggarbaning tembung harja endra. dados saras. Tiyang pinter dados pinter sanget. Dados diyu punika kosokwangsulipun dewa. katentreman lan sapatunggalipun. Tegesipun harja = raharja. malih dados tiyang sae lampahipun. pepeteng. Mangertosipun. satriya dados brahmana. brahmana sumengka pangawak braja asarira bathara. mila lajeng sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu. wareng. welasasih. Tiyang sakit sirna sakitipun. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados waesia. kabodhohan lan sanesipun. buyut. wilujeng lan sapanunggilipun. kaharjan. sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi. ingkang babranahan. engkang ateges pinter. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Wontenipun andharan ing nginggil. canggah.

seserepan wiraos prati. nuntun mring lempenging lana. datan asurak susuka dupi miyat panandhanging sapadhèki. luluh welas nalangsa. 8. Kang ginelar wyataning suyati. winedhar wiyar tebané. kang sinebat cidra lan pitenah. mahanani kasudibyan. kosok-wangsul wèh ayem dasih sadyèki. kapiluyu lampah basiwit. 3. temah kalis watak umbag klawan edir. nora ngungalken jaja yèn asanès lesu. sirik cengil pasulayan. ping tiga ywa mawang kadang. tlatènana kang pitung prakara. dalah mundhut putrèstriné. 6. dyan sentana ywa dèn alingi. njijiret sapapadhané. pinuntua ing driya. tan pilih-pilih janma. nora gampil kayungyun. datan arsa guna pasang kala. sinantun paramarta. tan damel pilalaning lyan. 4. tan mélik mèt artaning punggawa. lamun ngambah margining utama. sagung tumindak lupa winastanan luput. lamun dipun upaya kinemat ing kalbu. tan bungah lamun nemu. pangadilan jinejegna kanthi titi. Mangkya nenggih sastradu nayadhi. istingarah kang tinuju tan nalisir. Apa baya kang pitung prakawis. kaping kalih puniku. nalusur woting darma. songgarunggi mring kawula. siku dhendha nlikung sasami. piguna mring kang ngluru. damel padhanging prana nebihken bebendu. yèku warah kapisané. ywa sisip ing pangertiné. suka tentreming rahsa. dèn ugemi pitutur kaping sat niki. linepat king deksura tinebih panyaru. janma kudu mituhu. tan remen cacaketan klayan watak margu. nging pedak kautaman. 2. Kang wusana pitutur saptèki.1. pratélané sapta pracèki. 7. . istingarah munpangaté. tinilingna walering darana. olah pangupajiwa sasamining manu. suka serep ing semu. sinirika cidra lan pitenah. udinen mrih lestariné. Catur angger ugering prarepi. paugeran kang pitung prakara. Mangkya kiyé gelaring pangerti. datan gampil kinelun kalulun ing wawatak nisthip. anebihi gegelah regeding bumi. aywa nganti anglalarangi. 5. sarwi mapan nora badhé damel tuni. samubarang kang linakya. amrih dadi lantarané. dé kaping gangsalipun. Pracékané janma luhur kaki. Pradikané wawaler pratami. temah manggih raharja. prenah prandéné laras salir tindakipun. dadya tales tanduking karti.

tegen rigen pralaga tlatèn miwah tekun. watanira suker tan béda wewerri. tetembungan dèn arah jumbuh kang sinaguh. pinétang utang èstinè. dipun éling niyat kang utama. poma-poma dipun tetepana. kaanggepa dèrèng nglunasi. Kénging winastanan cidra ugi. kusung-kusung kemrungsung kécalan santi.9. amituhu kanthi taliti. tumapak ing lalampahan. Panjangka kang dadya lenging ati. nanging mugen manunggal genah kang tinuju. Jejering titah sawantah kaki. nora lèmèr ing wuwus. 12. wisayané karaos awrat ngantebi. nggémbol upas kang niniwasi. Lamun sumanggem tanduking gati. gampil sengsem kang katon èdi. 10. tékad kang wus pinuntu. nunuwun Hyang Murbèng Suksma. nering laku nora léngah. teguh maring bebahan. 15. temah ndadra misésa wathi. datan ngucirèng ngayuda. dhemenyar pepénginané. istingarah andika manggih basuki. 11. tlunyar-tlunyur miwah lèlèmèran. setya tuhu bekti mring Hyang Murba. antepana minangka ubaya. 13. nging sapawingkingipun. wèh sengsem mring tyasing lyan. buteng ribeng krodhanya. milaur urip iku. pinurih saged rampungé. aywa wudhar tanpa pangaji. kanthi nranyak ngrabasa gahi. istingarah gung pangajab temah dadi. datan lumpuh karana kaot sinanggi. karem donya wah malih pangwasa. siyang-ratri tan kendhat nggènipun dhedheku. 16. angugemi pakaryan kanthi permati. Tembung cidra sinawung punagi. raos bentèr nguntar-untar. wawataking satriya sirik colong playu. . netes sagung pangucapé. tilar salir manah sonta. tundhonipun nalangsa nalisir king wangsu. nyahak wewenanging lyan kécalan pakéwuh. 14. linepat saking papa. Ywan wus wani nglairken prajangji. tan cidra ing ubaya. nanging mamak wawatesé. Lamun sirik watak ngadi-adi. nukulaken panandhang tuwin tilar latu. angulari papaka. prancana tan dèn ugung. nguwus-uwus tan ana dadi. ywa cidra gung pepecehé. mokal lamun kalis ing sasanggan. lamun maksih linuru. tan bosenan nora wegah. tan kablithuk pandulu. andhepipis ndhelik winengku raos jrih. tan darbya raos rigung. lir kanteban antaka. kang wus dadi pepesthèné. ngandhar-andhar winuwus nglengkara. kang dèn bujung pakareman. péndah madu mamanisé. nilaraken palagan. Paran nggènira nyepeng sumangi.

Mangkya cidra tumraping akrami. tumètès kadya kusaré. . kasukan kang binujung atilar pakéwuh. nging maujud datan mandheg katamarti. ngindhik-indhik pamrihé damel papati. datan uwal king cintaka. kumudu kang kapindhoné. pisan cidra angèl anguwalna. katri wus kadi wuru. tansah saswih ring garwa. kang anecep wurukira. mamanisé wisasa. jalu gini datan ana béda. titah sawantah jejeré. basan pranamèng kapi wruh rukem kayungyun. nginger-inger wawaler mamada sastradu.17. ririh raras sinuprih katon mrak-ati. kang dèn uja tan liya dityasmaraji. ywa gampil mupus tekadé. iku teges nggénjah papati. Wawaler tumrap sanggya pawèstri. 18. murih dadya manuswa bisama. Poma éling swawi dipun luri. 20. basagita adi wigati. tan mangabisatya mring raka. angulati bebener ingkang nayadhi. Pan wus dadi sasakiding parwi. kanthi wijang kawrat sastracetha. cegah hawa tahen ring prancana. undhuhané mrawata wèsdhi. Sasing janmi swawi angupadi. 19. temah dyusdha niyak wastuti. upayanen kanthi sasmreti. tumus dugèng dalaha. aywa mblasar tumindaké. tebih saking tutur cidra. ngundhuh wusa wisaya dadya mangangi. abiwadha setya hastuti. Dipun tlatèn samya angulari. lamun limpé ngaluyur ramban taruni. leheng meleng mring pranamya. dhadasar badan lugu. apesé ngemping lara nyanyadhang bebendu. dhépé-dhépé gilig ing prana maniwi. adol ati sapa baé. dupèh èdi ngelam-elami. kasmala binirata. satemah pinitaya. 21. rumaket-raket sasambé. angrarantam pracéka. parnoh sagung tindakira. rinumpaka ing tembung. ngumbar gujeng kucah liring nétra. ywan rumpil lampahipun. tan kéragan mring napsu. was maring kakung tuhu. lupa upasing walika. lampahnya pindha margu. cidra mring karsèng Ulun. Wanti-wanti peceh parahati. dyatmika neng nayadhi nging sirik salingkuh. susmaya prabaning Hyang abyor cahya kitu. 23. sengkeraning pralaga datan ana wèstu. temah wasa nering prajangji. 22. Menggah tuduh ingkang gung utami. rongèh tansah walisah. dimèn pana tuduhing Hyang Suksma. 24. pranahara jatining manuswa. saswih maring Hyang Murba tumus sanggya manu. kénging winastan pracoré. gesang datan piguna. tutura angarah-arah.

brekiti ing sregepira. tilar garwa kapéncut ing liya. pantang pepes batosira. basda winewah bumbu. ngrarakit tembung lunyu. adhakan dadya tuman angèl mantunipun. tumus harja miwah basuki. pinindhakna wawadhah ringkih kaotipun. swawi dipun tuladha. temah kalis rubéda. Kakaroné kasengsem tataki. lamun manggya kèh sambé-kalaning margi. amengangah ngangah-angah saya ndadi. kasulistyan aniniwasi. becik dèn singkirana. sona ing setyanipun. garwanira dèn papanken rowang padmi. manah gampil kayungyun. lir karaba muleg ing akasa. Sabanjuré winedhar sastradi. amemada sarta ngadili. dwipangga datan kéguh saguh kang ginayuh. nukulken wijining tikbra. alaning liyan dèn andhar. sumrambah tedhak-turun sapawingkingipun. tumrap priya kang wus balé wisma. iku watak katbuta. dhihin mantep ing pamilihira. Poma-poma kenceng dèn cepengi. kanem mardawèng budya. kaya-kaya beciké tan ana sami. murih dadi lantarané. dadya gapiting braya ywa mingkuh pakéwuh. dimèn pana warahing luluhur yekti. 28. klayan dhiri pribadya. siyang-ratri makarya tan wènten sepi. Nora béda waler ingkang sami. 26. kalima mangabiwadha. asisipat memengku. dyan pracara ukara datanpa bukti. apan baya winastan pitenah. burusa lair batiné. anguwus-uwus wuwusé. awit awon pinanggihé. 27. pamurihé saya wigati. Tyang kang remen mbèbèrken wawadi. lamun dipun turutana. catur wala pepindhané. nyarwètèh kedaling lambé. ngumbar panyatur ala kèh panacadipun. tuhu bekti nggigilut wiyata. sanès kinarya lalap uraping panyatur. sadaya samya pinerdya. Dipun èmut ma nenem puniki. tentrem ing brayatipun. lubèr ing sih sarwi ngayomi. traping laku minongka manggala. myang turangga cukat ing karti. ping kalih madhep atiné. 31. katri marem mring jatu. 30. kaping paté mawang ring rabi. . 29.25. jroning gesang punika. Aywa pisan cidra ing prajangji.

34. tumanduk ring papadha. 38. kang kagungan gung kasugatin. saged kadamel lulut. bacin lamun dèn ambu. ipat-ipat punapa déné wastuti. makaten lidhah sanyata. wit kasunyatanipun. tumrah badan sakojur tan liya mung manut. Poma bisa mapanaken lathi. angèmperi panatagami. dadya sangarakalya. nora ngétang katala sami. makantar urubipun. Tembung sisip sinusup kasisip. ingkang yasa sanggyaning prarepa. dipun trapken jroning cangkemira. Kadi latu nyalat wreksa langking. lir bathang ingkang wus lungsé. kaya-kaya manekung. datan lèmèr ngumbar-umbar kata. jail lampah candhala. ilat iku tan béda kadya hagni tuhu. ancik-ancik kunarpanirèng sasami. nging misésa mring janma. kadi brahmana anggepé. nyata kalangkung lungit ywan kinarya tutut. dalasan saisining wé. temah gampil dèn kemudhèni. Amemada sisiping sasami. . angadili sapa-sapa ingkang wèsdhi. tan mangkono ilatirèki. Èmperipun kendhali turanggi. kadi hakim kusalanya. nora béda gandaning kusana. 37. anderbala mbabar wewerri. lamun kalintu trepira. ngalad-alad ambilaèni. tan liya mung Hyang Agung. 36. mijil king tutuk sajuga. buron wana peksi raja-kaya. katiwang ing papaka. kumawani kumlungkung ngadil-adili. lir jagading kadurakan. ing kawurya pranama adamel tuni. misésa palimirma miwah paring bendu. dhahat karya sangsaya punapi kasumbung.32. ywan pinekak satuhu. pindha krodhaning denawa. murih bisa sasap ing sasama. lumuh lamun prawadha kalindhih ing semu. sanadyan alit wujudé. samakéyan sasolahé. ilat iku lir wisa mandi. surata siya-siya. 33. kanthi permati empané. tuwin jumeneng hakimé. muspra datanpa guna. Angrèh sato teka langkung gampil. Klawan ilat padha muji Gusti. dé manuswa iku sapa. kudu unggul binuru. kang dumunung jro jiwa-raganirèki. nyembur wisa wisaya aniniwasi. dyan mujudken pérangan badan kang lengit. nging klawan lidhah ugi nyupatani manu. dyan sapletik bisa ngambra-ambra. kasereng lir katwara. 35. 39. temah mbesmi alas gedhé. Dipun émut ywan namung sawiji. ngidung dhikir ing sawayah-wayah. parandéné si punggung pambeg wah kumingsun. mangungsir mrih kasumbaga.

nanging kosokwangsulira. tinalesken wisiking Hyang Suksma. wèh sarsa maring sasama. sagung trékah kang cengkah klayan prarepi. pringga dhusdha mutawatosi.40. Lir kusara mrentul wanci énjing. 42. Lumingkabing wawaler puniki. 47. pramila kang bisama. dipun ening panampiné. Kang wasisdha tansah angulati. waged dados kabegjan kalamun pituhu. watak asih tan sengkung. amangangi kalamun nyenyebar branti. ngenut pangrèhing suksma. wohira gung rudita. sumimpang sagung pitenah. sèstu soba suka wicaga ring dasih. awiwéka mrih dadya harjaning janmi. awit ageng durakané. prihé sami pinungkurna. mekak hawa laksita juti. was winawas kanthi premati. leng lumingling ngluluri pranamya dhani. sinartan manah kang sarjé. menggah warah cidra lan pitenah. dadya daya paraya salir dhasdhi langut. Pan wus langkep lingkabing pramodi. kang dados panènipun. lengka kang rinaosna. Jihwa pindha landheping bedhami. 46. temah dadya daya basuki. sakelangkung anggigirisi. dimèn menep jro sarasati. sarasati binawa amangastuti. Salir wawengkaning janma singgih. ywa ngalingi luputing sentana. pasulayan undhuhané. dadya daya ingkang nguripi. 45. lamun mogèl mobah jroning latha. saraga gung ngebeki jro tyasirèki. andhatengaken braminta. babasan ngingu-ingu. yèku manuswa tama. datan mokal wawalar ndadi. ngreregedi janaloka. nètèsken sarkara soba. kang kaajab mung bahagé. rurumpakaning wuwus. kasantyan kang dèn bujung. swawi dipun gatosna. 43. Nadyan namung pérangan kang lengit. lidhah dipun kendhali tutur tan kalantur. ananawur sarawa gé. lebetna manjing kalbu. 44. walagang nggènnya lumung ywan datan kapugut. leget mring kautaman priyatna ing tembung. dharaka pramusita. langet langkananing lana. wusna anjrah sulurnya angririsaki. Mangkya dungkap warah kaping kalih. mring bebener wucaling bremana. 41. tilingna kanthi luménggé. wus winedhar déning pramudika. ukara rinumpaka jroning sekar Pangkur. . ngulari rèh sampurna. sumberipun saking alam raya. sung seger tanem-tuwuhé. nyebar wijining tatu. resepna kang satuhu. makaten imbanipun lidhah ingkang wèstu. nora gampil pineper kalamun katrucut. lamun linga muwus ngayawara.

Murih harjaning puraya. niyak sagung prarepa. kinuswa gandaning pati. gegebengan pradika gegyan adi. 50. tikbranira dipun sanggi. aywa mangu pinidana. kang gumendhung morang kèhing kintaki. dharaka manggih astuti. ywa nganti amémérangi. temah sisah lamun katala wus kusup. ywa parasama ring manu. pakeken datan lirwa. paraha sanagara. Masiya maksih sudara. Tumarah para sentana. aywa gampil atilar silastuti. 55. wit tan lengkep manira angluluri. poma-poma wicaga dèn ugemi. 56. Pirengwa dipun landhepna. nanging remen miyala sasing janmi. angalingi klepataning sentani. muksapada kang linari. tetep dugi titi mangsa. ngetrepi jejeging adil. kang dadya ugering dhatu. dinendha sawatara. Aywa pisan darbé sedya. ywan gesangipun kastura. saya ndadi dhumateng wisésa wuru. becik tinerapan siku. 52. piyarsakna gung pasambating kasi. . murih kalis king dhuskarta. kalamun datan pakantuk. Nilep lepating sentana. Lamun ginadhuh wisésa. 53. wus datan kawistara. amikara dupèh maksih tedhak luhur. mongka sutra ingkang kinarya salimut. paribasa babathang dèn kemuli. sanadyan tumrah ing bandhu. cepengana ingkang wastu. nora ngugung dupèh sentananing ratu. lumèng prabaning nagara. 54.PANGKUR 48. kaadilan kang santya. dhusdha pinaring papaka. sumrambah kawula dasih. 51. siningkirna sagung dhasdhi angriridhu. pamurih rèh jinejegna. sanadyanta dudu tuturasing ratu. upayanen paugeran priha tan wur. linenggahna sapadha. Kang wasisdha angrèh praja. langkana tan wrin godha. jugar wigar kang kawuri. 49. angèl dipun dandosana. ingkang murwat klayan kalepatanipun. remen anunggyangtaya. Ywan pramoda dadya wasa. sanadyanta nganti brukut. dadya ura jroning dhatu. nora idhep mring dadalan. satemah lulus basuki. lampahnya aywa dèn ugung.

kawuri amamalati. panganggepipun kalantur. sinikara siya-siya. lamun lepat sengadi datan anahu. nadyanta alit kéwala. dupèh lelenggah ngaluhur. sinarujuk dyana luput. kascaryan kalenggahan. kasyang asih kibir edir lawan umuk. trékahnya anjurbalani. Awasna pamawasira. basan badrak badan kramu. nora bener kalamun tan dèn paèlu. Aywa wuru mring sarkara. nora gingsir kalindhih sagung pamrih. tandang-tanduk sarwi ngéwan-éwani. tyas ura nir waskitha. Prayojana ingkang prama. 60. Suka-suka parisuka. Aja dupèh kadang raja. kupiya ywa kawistara. pinurih tiningal èdi. apracara sagendhingnya. andrawili kasukan ingkang kabujung. Nggagadhang éndrasangsara. tyang andèh tan ana wani. kang satiti mulat sisiping tumanduk. 59. sentana dadya bala. tyang alit tan ana wani. mamanisé wisésa pinracadi. wirahsané bebener duk inguni. dhateng sanak-kadangipun. langking tan ana rega. ywan amengku wisésa nyakrawati. mring dasih suka andaha. . ical landheping rahsa. tedhak turun dipun ugung. acongkak sosongaran. pinaringan wengan awawatak diyu. lamun mukti padatan dadya lali. tundhoné angundhuh tuni. mring sentana mirah nggènnya andani. Pan wus jamaking manuswa. wit misésa datan wènten tembung klintu. angandelken maksih dharahing ngaluhur. tan nayuti sanadyanta tindak luput. aywa kalulun ing napsu. mring pangwasa kapiluyu. 64. jinarken ngambra-ambra. samudaya kaleresna. andé sangsaraning praja.57. prana winengku ing moksil. anjuk risaking nagari. Poma dipun waspadakna. sanak kadang dèn uja. 62. mangka murba wewenang angrèh kasi. 65. binari asuka-suka. ngajak-ajak tingkahipun nyrambahi. lumuh pènget myang warah. 63. 58. ngudi cantya aji mumpung. Lamun kaladuk énaka. 61. bisa akarya papaki. kethaha mring donya brana.

titis mawas gelitaning prakawis. sirik nyilibken piala. kibir edir jubriya sagung janmi. Becik lamun paramarta. tumrap kang sami andasih. katalya ing panggraita. nalar mulur tan kalantur. 69. wus mratobat sanyata. Latah remen andurkara. dadya pangungsèn sanyata. samektakna manah kadya udadi. 68. tinilingna pasambat kawlasarsi. kadang kawula pan sami. nora luwèh mring panglawung. dupèh sanès sentana. mélik dèn anjuk tebya. kosok-wangsul mring sanak-kadang sadarum. panyaruwé tan pinanggya. risak sakèhing ukara. jinarken amurang tatir. aywa mamang matrapi ingkang kalintu. wus tan wènten silastuti. Angunguja karsèng driya. luput winastan waskitha. wus samesthi kang lepat pinaring bendu. mring asanès siya-siya. waris sentana dèn uja. 74. nanging baya aywa kalimput ing semu. sung ancuta mring bebener datan indung. dadya linglung nunjang palang kadé diyu. malah mamales ala. iku dudu wawantuning pangrèh luhur. tan ana béda-béda. Urip muspra nir sarkara. 71. 73. 72. dyan loma pangapura. Kèh tyang sudra ananantya. lepating kadang siningid. 70. tumrah kawula sadarum. dupèh lagya ginadhuhan sendhang madu.66. tan ana nohan nuhoni. Kalamun dadi pramuka. basan tatanem gugrumbul. 67. kemarung bobondhotan. andurasa labetipun. pinitaya mangrèh jantraning nagri. kekeling kang dipunnèni. kakarèné tan liya sarwi rungsit. Utana lestari begja. ical jatining rahsa. nora nilarken papacuh. niyak gegebengan luhur. . pinta-pinta paneraknya. mring bebecik tan anaur. Bangkit nahen sagung hawa. pracékaning sentanèki. undhuhané prahara gung sakelang-kung. Mangkana traping trapsila. kaadilan tan kendhat dipun udi. sung apura kawula ingkang lali. lampah dora datan maksi. nglangut nenga namu-namu. catur wengis tumanduk ing sasami. ambuburu angkara.

wasna kaduwung ing kalbu. Aywa nganti atatawing. angajak-ajak sangsara. bisa dadi kajalomprong. . gumuyu rasan sarwa sru. dharah punapi liya. Lamun ngrentahken paparing. 81. nora untung rinaketan. nanging pasemoning nitya. mring pakeken datan andor. kukuwating anggyanira. polah-tingkah sarawéyan. raos lingsem datan darbya. tan kénging pinitaya. winedhar sang twijara. tan jetmika ing budya. linepat salir rencana.75. wawantuning taluwanwa. Makaten kababarira. ingkang tumrah gesangira. temah angundhuh cintraka. yèku amawang kadang. piniji ingkang tuwajuh. pantes dèn pedakana. menggah lengkeping ukara. jroning tyas adil kang dumon. Alelengis sarwi rukmi. kèmbèt awoning sentana. bangkit angéntasken karya. nir kretyawan datan kalok. pinaringken ring sasama. rongèh jlalatan ing semu. mahnani gancaring laku. iku wateké wong kumprung. tiwas tuwas wuntatnya. nanantya datan piguna. 78. 77. ngandelken kadang sentana. busana mawa lengkawa. nora béda klayan piwucal karuhun. murang kèhing pranata. winirang lampah dursila. kapengkok nora sembada. andungkap warah katelu. remen narajang papakon. ngugemi sagung wiyata. pantes sinudarsana. 79. sinekar Asmaradani. tuturasing kretiyasa. Tanasing janma utami. Boten wurung tumut isin. kawurya tilar talutuh. 82. kang amiji karsèng Katong. dupèh maksih dharah dhéwé. 80. pambeg ladak lumuh anor. Ruruh rentahing andani. Dyan kadang lamun tan becik. tulakang dadya babayu. Saking pasemon wus kèksi. ywan kaandhar pepeceh kang kaping dwi. ASMARADANA 76. 83. nora mawang béda-béda. rumaos trahing kusuma. kukucah gung kamirahan. tan pantes sinung kawiryan.

milaur mundur kéwala. bubujeng pamurih kalok. lumrah pinaring pambombong. sokur bagé linubèran. lenggah twijara tyang parnoh. kakadang dinadya bala. 86. dumarusa myang diggama. linenggahken papan éca. datan kalèntu garjita. patitis salir pepunton. kawanin suba tan sengkung. Tilingna ning ing kawathi. Sumimpanga king durniti. becik lamun rumasa. makarya nora kawaba. pawingking manggih katala. Dipun émut aja dumi. iku dinadya pramoda. ngembat wisésa tan saguh. néréndra nir ring sudarsa. 87. ngembrah dadi taluwanwa.84. tulya kujanapapa. mumpung maksih amisésa. sung kawiryan maring bandhu. Lagya kalampah samangkin. asanès winiruda. pilih-pilih ingkang kanon. . manah rupak nora kamot. pingging sinuba dwija. sanak-kadang mitra-karuh. nora kawuh ing pangrasa. iku patrapé wong pengung. lamun paparing wisésa. 92. 93. ing jaman kala katwara. rèh praja déning babandhu. bisa mengku saniskara. 85. nanging sanakkadangira. tangginas ngrampungi karya. aywa mawang sentana. singa celak kang kadrasa. Kathah-kathahipun janmi. dèn papanken ing ngarsa. mundhak-mundhak ing pakéwoh. twasa kalimput dureta. swawara asih sawegung. patitis pamawasira. morang sakèhing tata. Dyan sanès darbé kawanin. sarna donya sosoba. Boten lingsem ing durniti. lagya darbé pangawasa. ngangsu kawruh mring tyang blilu. 91. Kalamun datan sawawi. mung krana maksih sentana. mongka tan pengkuh ing kéwuh. 89. pandhir dinadya pangarsa. daridya undhuhanipun. kadang konang binucala. teges sanès trah ngawirya. 90. wuru dhumateng pangwaos. Lumingling sagung kajatin. 88. dériti marang sakèhing wong. bucal lampah tatakya. jirèh ingangkat kretyawan. tilar warahing pujangga. tebih nora tinenga. Ywa karya tyasing lyan kanin. mongka lengka twasanira. wit paparing tan warata. gatosna ingkang sayektos.

Darbéning lyan dèn talappi. boten kénging kawa-kawa. suka-suka sagendhingnya. nyimpang margining utama. 102. sakadang cepeng wisésa. tinengen mung kasukannya. kawurya dadya ura. nging kasingsal ing budya. tan béda bebegal lamun. nanging bener pratikelnya. kosok wangsul dyan sentana. raos mèri ingkang thukul. praja dadya puwara. tulakang panèn kasmala. sanadyan sisipat dura. 98. tinurut temah kalintu. garwakara sugih galu. jugar tataning puraya. aywa pilih-pilih jalma. tanpa panitipriksa. pantes kalamun linakon. kang nandhang wong sanagara. suthik wruh roganing manu. 96. sarujuk jajarah samya. nging pinurih énaka. tan mingkuh saking wawaton. lilingen kang prakara. datan remen karya pringga. Mring sasama gardhawari. nétra kawuh tan menga. 99. Nandukna bebener ugi. daruti semunira. mring asanès durcara. Lamun becik mring sawiji. katala katiwang marga. 95. linimbang-limbang satuhu. sadaya titahing Manon. suka dalajat pangkatnya. gesang saraga wah kasor. kasereng nunten kawirya. remen anyelir sentana. Dudu patraping wong singgih. dundum brana duratmaka. miling-miling dupèh mitra. Lamun mangsa kala dugi. drasa kaleban kasmala. mawang kadang lamun andon. naracak miwah ngrabasa. kawaba nandukken dardya. ririsak datarpa duwus. mirungga maring sentana. Ywan wus kukumpul nyawiji. 101. Nadyan tedhaking acedhis. sugal diksura dèn soroh. Èwon-èwoning wong drengki. 97. 100. mongka gething dhateng liya. iku winih ingkang awon. sareng sentana sapunton. kasaénan amemengku.94. . kanthi lungiting pangrasa. béda apa tiyang awon. kang winiyat dupèh bandhu. guyub ngambah durniminta.

pinurih tan kawistara. 108. wuru kayungyun arta. patitis pamawasira. kaleng-gahan miwah dhatu. nuhoni jejeging pakon. béda dèn anggep mala. iku nyanyadhang pakéwoh. Tyang pengung mangrèh nagari. prayoga purugana. tekané jaman drubiksa. Pétanana kang priyatni. papakeming puruhita. kang nunggil winastan bala. tan wastu luhur ing nala. ngogak-ogak pangu-wasa. maksih tilar wawantunya. iku nora prayoga. tilar waspaosing prana. temah puraya tan wèstu. . lila mardawa ing budya. tindakira tan béda. becik legawa tutulung. tan ana jrih duraka. sarana suka purba. nora maèlu piawon. dredah bangsa padha bangsa. 111. pratingkahipun tan parnoh. 110. janma paramatatya. ywan lepat tutup tinutup. tinaliti kanthi turut. nora jejeg mring wawaton. maksih kèmbèt apa liya. suthik nilingken wasita. Mengker mangsa danawa ji. kadi réwanda saranggon. pundi titiyang pranamya. trékahé tiyang candhala. paraya anteng garjita. mung bubujung hartaka. 106. thukul welas tan pitakon. tan gampil luntur winasoh. wit tan jajag rèh waskitha. muncar-muncar poladannya. nging pradana pangawruhnya. srakah kethaha lestantun. 112. 104. Lakon jaman kalasrenggi. jumbuh turasing ngawirya. marma manah tinarbuka. Miyat sudraning sasami. 109. Mlarat donya datan pasti. Wus sinerat jro pepesthi. 105. Wageda dadya palupi. asor ing bubudènira.103. ngruwat sanggyaning piroga. mangka wawaton dèn prusa. makatena tiyang kalok. nora krana maksih bandhu. tindakipun dumarusa. nging paéka kang dèn gémbol. cinegah lumawan sampun. gendhon rukon tindak dhusta. Kinarya kudhung agami. Saking iring wétan semi. ngimpunimpun sanggya mitra. 107. madhangi kang puru-puru. santun ingkang baureksa. sanak kadang dalah yoga. becik lamun saranta. wengis mamalak ing pémut. ngungumbar saliting hawa.

113. tebih mélik cegah napsu. nyinyingkur aji pamasa. jinugag lingkabing wahyu. suthik nenengen sudara. lepat boten kawistara. prakawis mèt donya brana. Dungkap pungkasing wigati. mijil saking jro wewengkon. angedirken pangwasa. datan kasengsem pambombong. dyan mung samrica binubut. harjaning rastala samya. minongka tatadhahnya. Piwucal catur puniki. 119. sudarpa asidikara. suka pémut mring kang mirong. Tyang kang mlarat datan langking. gegaran wenang misésa. dèn mangsa nora suwala. pupuja ngéntasi karya. ingkang lagya amisésa. mangathik kadang myang mitra. adil tuwin paramarta. Meleng gilig kang dèn udi. kang damel rupaking jangka. gelaring tanah Jawa. Pungkasing jaman dériti. 120. mirid karsaning Hyang Katong. supé harjaning kawula. pantang lamun dèn badala. 121. 116. adil sagung prakara. pamrih antuk kang dèn sedya. agal donya datan kamot. 115. migati mring sakèhing wong. sasat Pangéran maraga. tan luput ginayuha. makaten tyang alit iku. . 118. sinambet wedharing weca. ngrucat salir angkara. priha tindak tan kalintu. wawarah mangrèh puraya. sambet wyataning twijara. sugih tan mangéran bandha. pangiring samya anglulu. jro riribed sonya tuhu. 114. lirwa wisiking Hyang Manon. nora mangathik jana. nubruk buron ingkang ringkya. remen lamun pinuja. wadana ning susmaya. pongah awawatak rimong. Wus tan kapéncut ing daging. uwal saking lenging widya. alus sakelangkung lembat. 117. Pasemonnya ladak edir. kalayan angudi wadon. mring panguwaos gumendhung. mungkul mring Hyang Widi-wasa. tan mawang kadang satuhu. Asring dadya ciri wanci. lamun bénjang ana janma. sapa wani mancasana. Sinuprih tan morang margi.

kadya lampah tataki. ringkih dipun kaniaya. masiya dipun grujuga. mundhut lebon king punggawa. puluh-puluh iku wataking drubiksa. temah gesang tansah kogung. dadya wadaling durniti. Becik wantuning walika. kang tinengen karemenaning pribadya. antuk leksa kurang kethi. punapa déné upeti. béda janma ingkang wuru mring pangwasa. kang dèn bujung tan liya mung kasukannya. jro jaman mengeng puniki. 125. nenedha sacekapipun. nora kaladuk hawa. dyan kawedhar sakadarnya. pangarem-arem mili. dyan ngrebat uriping lyan. tur ginadhuh wisésa. raos lingsem wus kawuri. SINOM 123. welasarsa wus tebih saking pangrasa. sapisan tumunten néndra. ngasil-asil donya brana. prawira datan kadarbi. rinumpaka sekar Sinom. Mangiwut tatandho arta. tangèh lamun marema.122. kang badal dipun sirnani. panggah datanpa isi. waton antuk kang dèn bujung. 128. toya sablumbang saari. Remen angalap ruruba. paripaos timun wungkuk. Raos tuwuk tan kadarbya. songar dupèh tan ana wantun mamada. mring gebyar samya kayungyun. tegel tan èwed papati. kinarya ompaking wisdhi. ngangah-angah jroning budi. . kacetha pupuh lajengnya. 127. kinarya imbet kéwala. kecèh wang paribasa. Wus dadi jamaking janma. ngowos-owos maksih suwung. tan mosik nganti sasasi. tan nenga gegesing dasih. saya wantun nerak margi. Menggah lengkeping kintaki. manut gaduking nala. anguntal mangsanirèki. nganung-anung aji pum-pung. wus ical éwuhing rahsa. wah malih kawula sami. Tyang alit kadamel tumbal. tebih tataning nagri. mamak dhumateng gahi. 124. murba gunging wisésa. bikut gènira nalapi. 126. sasat genthong ingkang ciri. pangadhuh tan praduli.

dingkik-diningkik sasami. tan pinétang nagara ji. bebener dèn tebihi. séjé bangsa sinengit. karya uraning pranata. kala jiret dèn pasangi. mitra tegel angapusi. ngrèrèndhèt ambancang laku. wus tan ana kang kénging dipun pracaya. 132. hakim remen wang upeti. . 136. élok lamun rinasakna. tumus gesangirèng dasih. téga roga-ning sasama. surem madyaning buwana. saking lebeting nagari. trékahing umat puniki. wusna samya andon napsu. sak-serik saya ndadi. resik winada tan wasis. narajang sagung papali. 134. 130. masgul wit datan pinunjul. kang jujur nandhang kalantur. ingkang ngririsak nagari. pinrawasa dèn gaglag kanthi kethaha. nora idhep tataning janma utama. tan éman patining liya. kondhang bangsa ingkang wengis. agahan karem mring donya. mangsah prang mumungsuhan. 135. panguwasa soroh napsu. wengkon samya ambalila. jro liliwunging wana. miruda padhaning manu. Tangané padha candhala. 131. béda gama dèn cengili. praja jugar kawula buyar wuntatnya. Tebih saking asih darma. Prihatos lamun uninga. tilar tepaning sami. nora barès malah mukti. lamun kadhung kaduwung datan piguna. Urip dadi salah kaprah. kang tinengen duraka klayan dursila. pra pangarsa mutusi sukèng tyasira. crah adredah rebat mukti. nasar antuk astuti. munasika kawula. gung asor dalajatnya. Angger-angger sinélakan. akarya ngungun ing ati. musna lestarining nagri. miturut kang asung arta. Ical kuncaraning praja. Pawingking ngundhuh dahana. welas-arsa pan wus sepi.129. wus supé jejeging adil. 133. tinekuk-tekuk sakarsi. kemarung pindhanira. padha bangsa samya campuh. puwara kasub jinawi. lupa rèhing prawira. rinèmèh jro papaki. Ywan lepat gènnya mranata. kadya wawantuning diyu. babasan grumbul eri. samya ngarah papati. bubujung mulading kapti. blaka manggih antaka. puluhpuluh wus dugi lengkeping jangka. bubujeng buron kang ringkih. tyang mursid sampun sirna. tan ènget raos manunggil.

babaya tan uninga. tilar waskitèng kapti. éwuhaya ing budi. kalebet minta pawèstri. Atatandho rajabrana. winada nora malangi. traju ginanjel tan wèsti. 142. tyang sugih remen ngapusi. ngalèyèh ing pangkonira. dèn nepken mubal andadi. babandan dèn adili. kang mlarat tan pinracaya. supè walering margi. Ngombéya maksih dahaga. 140. nguja mubaling branta. arsa aso kang sayah. lamun léna sungkawa nora kuwawa. marang bapa mamancahi. ipat-ipating Hyang Widi. léna linepas jemparing. sengsem kasmaran wanodya. . nir tuladha sumimpang saking pranata. lamun kena panèn mamala antaka. lenging cipta mung juga tinurutana. 144. wenang mundhut babana. Nahen napsu nora kampah. takeran sami dèn suda. ngombéya ing belikira. kang dadi walering margi. tan maèlu pager ayu. dugèng jangka jaman babaya cintraka. punapa déné pawèstri. tan jejeg kedaling lathi. 141. garwa yoga tan pinétang waton bisa. tan émut trapsilèng krami. linipur saya dhuhkita. langkung kathah mapali. kineluh liring pawèstri. nyebar wiji tangèh angundhuh wohira. 143. ywa nglurug sanès parigi. Aja pasrah marang kanca. asalipun king durniti. mantu lumawan si biyung. kadi tyang bodho katali. ical waspaosing driya. Kayungyun mring kasulistyan. pakèwed tan kadarbya. tatamba panggah sakit.137. pindha kukila kapulut. 138. nyanyaput nering pangreti. nenedha tangèh atuwuk. ngumbar hawa tanpa budi. Kalakyan ing jaman ika. 139. cinongok ing cungurira. myang liyan gampil mélik. padharan tansah luwya. tan sempulur ginawa dugèng pralaya. wawaler dèn campahi. lir lembu dipun patrapi. watu timbangan cicir. ngandelken kuwasa-nipun. kabèh pokal tangèh lugu. langkung kesel kang pinanggih. dora cidra salir janmi. dupi wus lenggah ngaluhur. temahan kénging walat. sinabarna dadya gugup. suthik mirengna papali. Rinungrum gampil arentah. Poma-poma élingana. anak lanang tan bektya. sisimpen datan gadhahi.

raos èwed wus sepi. sinengguh dadya upeti. temah lulus sempulur kuncaranira. lamun remen luru warih. yèn mangkana ical prabawaning praja. rongèhing manah kadlarung. marema ingkang kadarbya. sinuyudan kawula. 146. muncar wibawaning prabu. kasengesem mring sendhanging lyan. Cacat menggahing pangarsa. ngasag-asag sapinanggih. tyas meleng ning nyawiji. atataki sawatawis.145. pinitaya dipun aji. Becik lamun tinahena. ywa malang tumolèh margi. . parwi dasih ingalap.