JAMUS KALIMOSODO

Papat kalima pancer merupakan sebuah wacana yang perlu terus kita gali dan kita renungkan plus bertukar fikiran dengan orang-orang tua kita yang sudah mumpuni baik dari ilmu tahid dan ilmu rasanya. Menurut petunjuknya papat kalima pancer itu pusatnya ada di PANCER (yaitu lubuk hati yang paling dalam) dan PAPAT-nya adalah unsur-unsur ilahi yang kita sendiri hak untuk mendapatkannya. Karena dengan menggunakan PAPAT itu kita bisa selalu ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai penguasa alam semesta ini.

Papat yang pertama adalah nur-nya Allah (Nurullah=Cahaya dari Allah) bias dari asma-asma Allah dan sifat-sifat Allah, tanda dari PANCER-nya yaitu dalam segala sesuatu/ gerak gerik selalu BERSERAH DIRI kepada Allah dan pengakuan kita sebagai mahluknya merasa tiada daya secara ruhani dan tiada kekuatan secara jasmani kecuali hanya Allah yang memberikan gerah hidup dan kehidupan, dan berupaya untuk selalu meng-ibadahkan segala sesuatu untuk BERIBADAH kepada Allah memohon Ridho Allah, Rahmat Allah.

Papat yang kedua adalah NUR MUHAMMAD (cahaya syafa’at yang Allah cipta untuk Hambanya (Rasulullah) yang Allah mulyakan. setelah kita berserah diri kepada Allah lewat PANCER (lubuk hati yang paling dalam) ada sebuah kelembutan sebagai sebuah rahmat yang Allah berikan kepada mahluknya agar kita tunduk dan lemah lembut kepada Allah, selalu merasa sayang kepada apapun dan siapapun sebagaimana Rasulullah mempunyai perangai yang lembut dan berahlak mulia bagi semua mahluk.

PAPAT yang ketiga yaitu MALAIKAT sebagai kendaraan untuk membawa NURULLAH dan NUR MUHAMMAD tadi kedalam diri kita pada waktu kita berserah diri kepada Allah dan mengibadahkan segala sesuatu hanya untuk Allah dan fungsi malaikat ini untuk membantu memintakan permohonan ampun mendoakan kepada kita sebagai mahluk yang lemah, banyak berbuat dosa (karena manusia tempat salah dan lupa) dan nominal mereka tidak sedikit mendukung kita dalam beribadah kepada Allah.

PAPAT yang ke empat adalah KAROMAH yaitu berisi doa-doa dari para orang sholeh terdahulu (doa dari para Rasul-rasul, Nabi-nabi, dan para Auliya serta Sholihin yang telah mendahului kita) yang oleh allah diberikan kesempatan untuk membantu mendoakan segala hajat hidup kita dalam mengarungi kehidupan didunia sebagai bekal ibadah nanti kita setelah meninggal (akhirat).

Semoga Allah mengampuni kedua orang tua kita, keluarga kita, mengampuni kita, dan orang-orang yang mempunyai hak dan kewajiban atas kita yang seiman serta mengampuni sesepuh-sesepuh kita. Semoga Allah memberikan Taufiq dan hidayah kepada kita dan mereka dan semoga kita dan mereka semua dijadikan golongan dari hamba-hamba Allah yang sholeh.

ADABEBERAPA VERSI yang menginterpretasikan JAMUS KALIMOSODO.

1. ada yang menginterpretasikan 2 kalimah syahada

2. ada yang menginterpretasikan lahirnya pancasil

3. ada yang menginterpretasikan tokoh pewayangan pandawa lima, apakah semua nya salah? tentu tidak…karena cara pandang setiap orang tidaklah sama.

Hal yang terpenting adalah jangan sampai kita kehilangan ISI/makna dari Jamus Kalimosodo sebagai orang yang berpengertian jawa yang mendapatkan warisan dari leluhur Jawa, pengertian jamus kalimusodo secara singkat adalah:

Istilah jamus kalimosodo terdapat dalam kisah pewayangan baratayudha, suatu jamus/surat yang ada tulisannnya tentang pengertian/kawruh. “barang siapa mendapat kawruh ini ia akan menjadi raja/mempunyai kekuasaan yang besa. kitab ini dimiliki oleh prabu yudistira(samiaji) yang selalu menang dalam peperangan dan akhirnya masuk surga tanpa kematian…memiliki dalam hal ini adalah bukan saling berebut tetapi saling berebut memiliki makna.

Arti Kalimasada terdiri dari beberapa bagian:

Ka= huruf/pengejaan Ka, Lima=angka 5, Sada= lidi/tulang rusuk daun kelapa yang diartikan Selalu, Jadi kelima ini haruslah utuh(selalu 5), Kelima unsur kalimasada teridiri dari:

1. KaDonyan(Keduniawian).

ojo ngoyo dateng dunyo yang arti singkatnya adalah jangan mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi, kebutuhan duniawi kita kejar tapi jangan diutamakan.

2. Ka Hewanan ( sifat binatang).

ojo tumindak kaya dene hewan, cotoh:asusila. amoral, tidak beretika dll.

3. KaRobanan.

Ojo ngumbar hawa nafsu yang arti singkatnya jangan memelihra hawa nafsu…nafsu itu harus dikendalikan.

4. Kasetanan.

Ojo tumindak sing duduk samestine yang arti singkatnya jangan bertindak yang tidak semestinya alias gengsi, sombong( ingin seperti Gusti), menyesatkan, berbuat licik dll.

5. KaTuhanan.

artinya kosong

Gusti Allah iku tan keno kinoyo ngopo nanging ono yang artinya Gusti Allah tidak dapat diceritakan secara apapun tapi toh ada. Gantharwa adalah salah satunya yang diberikan “pusaka” mewarisi warisan dari leluhur Jawa. Pengertian Asli dari jamus kalimosodo diatas adalah isi murni dari pengertian sebenarnya..setiap orang boleh membungkusnya dengan bungkus apapun tetapi jangan sampai kehilangan makna aslinya, karena pengertian diatas adalah pengertian sebenarnya dari jamus kalimusodo.

Tinggalkan sebuah Komentar

Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 HAKEKAT TITIK

Apabila, Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah, Hakekat adalah ikhlas, syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah, Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat, Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain. Maka, Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah, Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingatnya, Hakekat adalah bagaimana ikhlas, syukur dan sabar dalam kehidupan, Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.

Apabila, Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah, Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingat-Nya, Hakekat adalah bagaimana ikhlas, syukur dan sabar dalam kehidupan, Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.

Maka, Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah, Hakekat adalah ikhlas, syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah, Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat, Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain.

Apabila dan Maka, Bersatu dalam Titik, Titik itu adalah Allah, Syari’at-Tarekat berawal dari Titik, Hakekat-Ma’rifat berakhir di Titik.

Billahu, Fillahu, Bi Idznillahu, Minallahu, Allahu,

Titik.

Tinggalkan sebuah Komentar

Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PHILOSOFI SEMAR

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

Bebadra = Membangun sarana dari dasar

Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

tanpa pamrih. tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an. yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi. .Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat. untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Dikalangan spiritual Jawa . yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar. Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa. Budha dan Isalam di tanah Jawa. persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual .namun juga berwajah sangat tua Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu. Ciri sosok semar adalah : Semar berkuncung seperti kanak kanak. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.

Apabila muncul di depan layar. ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya. sebagai rakyat biasa. bahkan sebagai abdi. 1988 : 188 ) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai.dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa . Meskipun berpenampilan sederhana. 1988 : 188 ). Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan. 1975 : 49 ) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia ( Geertz 1969 : 264 ). ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa ( Brandon dalam Suseno. Bojo sira arsa mardi kamardikan. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan. ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”. Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi. Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa ( Poedjowijatno. agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri Dalam Etika Jawa ( Sesuno. maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian.Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas . yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi : Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati. Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan . Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara ( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 ).

Bahkan jika mengacu pendapat Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar. tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu. merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula ( Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191 ). sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa ( Mulyono 1978 : 18 ) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad. Subana. Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih. Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ” ( timoer 1994 : 4 ). Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Anom Suroto. maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya. Prodjosoebroto ( 1969 : 31 ) berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah. tt : 13 ). maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma ( Mulyono 1978 : 35 ) Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar. . rame ing ngawe ” sepi akan maksud. Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula. Cermomanggolo dan manteb Soedarsono ( Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10 ). yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-CaRa-Ka. Sehubungan dengan itu. Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut.keterdidikannya ( Suseno 1988 : 190 ). Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar. Panut Darmaka. termasuk pembudayaan P4 ( Cermomanggolo 1995 : 5 ). 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193 ) Dari segi etimologi. joinboll ( dalam Mulyono 1978 : 28 ) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia ( Mulyono. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya. Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih ( timoer. Dikemukan oleh Arum ( 1995:10 ) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup. 20-23 Januari 1995.

1. Ajaamalat Duwe Nin Wadwa Nira Janganlah menjarah harta rakyatmu 4. Aja Sira Katungkul Ing Kagunan. Aja Sira Anlarani Hati Nin Non Jangan Menyakiti Perasaan Orang Lain (dan jangan mengacaukan pikiran orang lain) 2. Luluta Rin Pandita Mengabdilah pada mereka yang sadar 6. Aja Tan Asih In daridra Janganlah menunda kebaikan terhadap mereka yang kurang beruntung 5. Amujya Nabhaktya .Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 10 SHILA SUTASOMA Karya Mpu Tantulan. Ajaamidanda Tan Sabenere janganlah menjatuhkan hukuman yang tidak adil 3.

Aja Memateni Yen Tan Sabenere Janganlah menjatuhkan hukuman mati. kecuali menjadi tuntutan keadilan 8. walau banyak orang menghormatimu 7. Anulaha Saama Daana Ajaapilih Jana (adalah yang terbaik) Jika kau berjiwa besar dan memberi tanpa pilih kasih.Janganlah menjadi sombong. Uttama Si Yen Sira Akalisa Rin Pati. . Sampuraha Rin Tiwas dan bersabar dalam keadaan susah 10. *** Gancaran basa Jawa ngoko. jika kau tidak takut mati. 9. Adalah yang terbaik. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 SERAT DARMOGANDHUL Darmagandhul Carita adege nagara Islam ing Demak bedhahe nagara Majapahit kang salugune wiwite wong Jawa ninggal agama Buddha banjur salin agama Islam.

tinarimeng Bathara. tan etung lebur luluh. pinindha lir Jawata. agung nugraheng Hyang Suksma. sagotra minulyarja. pan sumarah kumambang karseng Hyang. sinung aran srat Darmagandhul jinilid. pan biyasa mituhu susetya. pan ingembun pinusthi ing cipta. tarimanireng badan. saselanira ngupaya tedha. kyai Kalamwadi ngarang. Ruwah Je warsanira. sasedyanya kabul. mangesthi amiluta. kiyai Kalamwadine. 1959. trewaca wijang raose. Pan katemben amaos kinteki. Sancaya kang windu. mring dhawuh weling gurune. tuladhaning kawruh. Angawruhi sasmiteng Hyang Widdhi. pinirit tinuladha. nggennya dama cinubluk. puruhita mring Raden Budi. ing nguni anggeguru. kedah medharken kawruh. ngebun-bun pasihaning Hyang. mring tyas gung kumacelu. Wus pinupus sumendhe ing takdir. *** BEBUKA Sinarkara sarjunireng galih. lelepiyanipun. dumadya auliya. sinung ilham ing alam sahir myang kabir. Toko Buku “Sadu-Budi” Sala. panitranira nuju. karya suka pireneng jalmi. duta rehing guru.Babon asli tinggalane KRT Tandhanagara. ing lokhilmakful tulise. myat carita dipangiketira. panggusthine tan mamang ing lair batin. mring sagung ahli sastra. kinarya nglipur manah. ping trilikur ri Tumpak manis. sinung tembang macapat. sru sêtya nglampahi dhawah. suprandene tan kaliren wayah siwi. wuku Wukir sangkalanira ing warsi: wuk guna ngesthi Nata [taun Jawa 1830]. Satuduhe Raden Budi ening. anganggur ngethekur. Cap-capan ingkang kaping sekawan. . kinarya cagak lenggahe. masa Nem ringkêlnya Aryang. pangesthine ing awal akhir. tembang raras rum seya prasaja. Surakarta. yun darbeya miwah nimpeni. sumungkem lair batine. Pan sinambi-sambi jagi panti. mung kinarya ngarem-aremi. linaksanan tinedhak tinurun sungging. sawusnya winaos tamat.

Ora antara suwe kaprênah pulunane Putri Cêmpa kang aran Sayid Rakhmat tinjo mênyang Majalêngka. Ature Darmagandhul: “Banjur kapriye dongengane?” Ki Kalamwadi banjur ngandika maneh: “Bab iki satêmêne iya prêlu dikandhakake. sabên marak. kaparênga anggêlarake sarengate agama Rasul. Ing kono banjur akeh para ngulama saka sabrang kang padha têka. supaya wong kang ora ngrêti mula-bukane karêben ngrêti”. sajrone lagi sih-sinihan. sarta padha nyuwun dhêdhukuh ing pasisir. dene ênggone jênêng Majapahit iku. bab luruhe agama Islam. (2) ing mangka Putri Cêmpa mau agamane Islam. Ing jaman kuna nagara Majapahit iku jênênge nagara Majalêngka. banjur ngrasuk . nanging kang durung ngrêti dêdongengane iya Majapahit iku jênêng sakawit. Sang Prabu iya marêngake apa kang dadi panyuwune Sayid rakhmat mau. Wong Jawa ing pasisir lor sapangulon sapangetan padha ninggal agamane Buddha. (1) Ing nagara Majalêngka kang jumênêng Nata wêkasan jêjuluk Prabu Brawijaya. Sang Prabu lagi kalimput panggalihe. sarta nyuwun idi marang Sang Nata. Sayid Kramat dadi gurune wong-wong kang wis ngrasuk agama Islam kabeh. nanging aku tau dikandhani guruku. Ing wêktu iku. nyaritakake purwane wong Jawa padha ninggal agama Buddha banjur salin agama Rasul”. para ngulama lan para maulana iku padhamarêk sang Prabu ing Majalêngka. Sayid Kramat iku maulana saka ing ‘Arab têdhake Kanjêng Nabi Rasulu’llah. mula bisa dadi gurune wong Islam. mung kanggo pasêmon. ing mangka guruku kuwi iya kêna dipracaya. Suwe-suwe pangidhêp mangkono mau saya ngrêbda. wong Jawa banjur akeh bangêt kang padha agama Islam. ora ana maneh kang diaturake. Sayid Rakhmat banjur kalakon dhêdhukuh ana Ngampeldênta ing (3) anggêlarake agama Rasul.DARMAGANDHUL Ing sawijining dina Darmagandhul matur marang Kalamwadi mangkene “Mau-maune kêpriye dene wong Jawa kok banjur padha ninggal agama Buddha salin agama Islam?” Wangsulane Ki Kalamwadi: “Aku dhewe iya ora pati ngrêti. Panyuwunan mangkono mau uga diparêngake dening Sang Nata. Akeh wong Jawa kang padha kelu maguru marang Sayid Kramat. nganti njalari katariking panggalihe Sang Prabu marang agama Islam mau. Sang Prabu krama oleh Putri Cêmpa. Sang Rêtna tansah matur marang Sang Nata. dene panggonane ana ing Benang (4) bawah Tuban. kajaba mung mulyakake agama Islam.

sênênge mau amung kanggo samudana bae. jroning utêk iku yen diwarahi budi . wêtune saka engêtan. yen wohe budi ngrêti marang kaelingan bêcik. yen miturut lêluhur kuna putrane Sang Prabu mau disêbut Bambang. yen putra Nata kang miyos ana ing Palembang iku diparingi sêsêbutan lan asma Babah Patah. para ngulama sarake Buddha. Mangka agama Buddha iku ana ing tanah Jawa wis kêlakon urip nganti sewu taun. kabênêr wayahe kiyai Agêng Ngampel. Sang Prabu banjur nimbali patih sarta para nayaka. ora kêna dikawruhi sarana netra karna sarta lesan. dene wong-wonge padha manêmbah marang Budi Hawa. Jawa Buddha agamane. isih padha cêgah dhahar sarta cêgah sare. Katêlah nganti tumêka saprene. Saka ature Patih. Suwe-suwe agama Rasul saya sumêbar. sêsêbutane: Kaotiang. Yen cêgah mangan rusak. nganti sadhereke seje rama tunggal ibu. padha dipundhuti têtimbangan ênggone arêp maringi sêsêbutan ingkang putra mau. Ing Balambangan sapangulon nganti tumêka ing Bantên. para ngulama padha nyuwun pangkat sarta padha duwe sêsêbutan Sunan. sang Prabu Brawijaya kagungan panggalih. Suwening suwe sarak Rasul saya ngrêbda. sowan ingkang rama. yen blastêran Cina lan Jawa sêsêbutane Babah. para nayaka uga padha mupakat. dene Raden Kusen ing nalika iku jinunjung dadi Adipati ana ing Têrung (5). yen nglêluri lêluhur kuna. putraning Nata kang pambabare ana ing gunung. miyose putra mau ana ing Palembang. Ing nalika samana. Barêng wis sawatara masa. Ing nalika iku Babah Patah banjur jinunjung dadi Bupati ing Dêmak. Yen miturut ibu. kok nganggo sêsêbutan Sunan. sêsêbutane Bambang. Ing wêktu iku para ngulama budine bêcik-bêcik. sarta Babah Patah dipalakramakake oleh ing Ngampelgadhing. Sang Prabu Brawijaya kagungan putra kakung kang patutan saka Putri Bangsa Cina. ana ing desa Bintara. diparingi têtêngêr Raden Patah. lakune isih padha cêgah mangan. mungguh satêmêne ora sênêng bangêt ênggone diparingi sêsêbutan Babah iku. Satêkane Majalêngka Sang Prabu kewran panggalihe ênggone arêp maringi sêsêbutan marang putrane. uwite kawruh kaelingan kang bêcik lan kang ala. dene yen wong ‘Arab sêsêbutane Sayid utawa Sarib. nanging sarehne ibune bangsa Cina. cêgah turu. mung nuruti rasaning lesan lan awak. pinaringan nama sarta sêsêbutan Raden Arya Pêcattandha. iku wajib sinuwunan kawruhe ngelmu lair batin. sarta sarehne Babah Patah nalika ana ing Palembang agamane wis Islam. budi kang ngobahake. Barêng Raden Patah wis diwasa. Prabu Brawijaya uga banjur paring idi. bisane mung sadarma nglakoni. arane Raden Kusen. manusa ora bisa apa-apa.agama Rasul. Yen sarak rasul. têgêse pambabare ana nagara liya. wonge uga padha kelu rêmbuge Sayid Kramat. prayoga disêbut Babah. awit yen miturut lêluri saka ingkang rama. Sunan iku têgêse budi. sirik cêgah mangan turu. madanani para bupati urut pasisir Dêmak sapangulon. Ing wêktu iku ana nalar kang aneh. Budi iku Dzate Hyang Widdhi. anane ing Dêmak didhawuhi nglêstarekake agamane. Ature Patih kang mangkono mau. mulane katone iya sênêng. durung padha duwe karêp kang cidra. banjur boyong marang Dêmak. Babah Patah wêdi yen ora nglakoni dhawuhe ingkang rama. mula Sang Nata iya banjur dhawuh marang padha wadya. Hawa iku karêping hati.

iya iku dhêmit ing sumur Tanjungtani. Ing wêktu iki ana dhêmit jênênge Nyai Plêncing. dene kang agama Rasul lagi bribik-bribik. Sunan Benang ngandika: “Yen ngono wong kene kabeh padha agama Gêdhah. sarta jakane aja rabi yen durung dadi jaka tuwa. kali kang saka Kadhiri disotake banjur asat sanalika. mêjanani marang dheweke. Ki Bandar matur: “Dhawuh pangandika panjênêngan. wong-wong padha bêbarêngan mangan enak. tanah kene patut diarani Kutha Gêdhah”. Sakabate siji banjur lunga mênyang padesan arêp golek banyu. bangêt dukane. sawah sarta patêgalan. Sunan Benang sarta sakabate loro padha nyabrang. barêng noleh wêruh lanang sajak kaya santri. aku arêp wudhu. banyune isih buthêk. padha wadul yen ana wong arane Sunan Benang. tansah digubêl anak putune. kang ndherekake mung sakabat loro. apa isih agama Budi. awit katrajang ilining banyu kali kang ngalih iline. yen sampeyan ajêng ngombe”. Satêkane lor Kadhiri. ing wêktu iku lagi nênun. sarak Buddha mung sawatara. Gêdhah iku ora irêng ora putih. prawane aja laki yen durung tuwa. ing sanalika kali Brantas iline dadi cilik. ngriki botên entên carane wong ngimbu banyu. wong ing kono akeh padha agama Kalang. iline banjur salin dalan kang dudu mêsthine. akeh desa kang padha rusak. kula nêdha toya imbon bêning rêsik”. padha sênêng-sênêng ana ing omah. Sakabat têka sarta alon calathune: “mBok Nganten. yen diombe nglarani wêtêng. kali iki isih banjir. kang ana mung bocah prawan siji. kang maca lan kang krungu nganggêp têmên lan ora. kali Brantas pinuju banjir. ngêndêl-êndêlake kaprawirane. Bandung dianggêp Nabine. mBok Prawan kaget krungu swarane wong lanang. mula saka pangiraku iya nyata. kajaba uyuh kula niki imbon bêning. lan maneh iki wancine luhur. kula ingkang nêkseni”. iya iku saka . Sunan Benang ngandika marang sakabate: “Kowe goleka banyu imbon mênyang padesan. Santri krungu têtêmbungan mangkono banjur lunga tanpa pamit lakune dirikatake sarta garundêlan turut dalan. mulyakake Bandung Bandawasa. iline banyu kang gêdhe nyimpang nrabas desa alas sawah lan patêgalan. saiki isih ana wujuding patilasane. gawene nyikara marang para lêlêmbut. isih kêna dinyatakake. yen pinuji dina Riyadi. têkan ing desa Pathuk ana omah katone suwung ora ana wonge lanang. kêpalangan banyu. nanging kang mangkono mau arang kang padha ngrêti mula-bukane. MBok Prawan salah cipta. satêkane ngarsane Sunan Benang banjur ngaturake lêlakone nalika golek banyu. Tanah saloring kutha kadhiri banjur jênêng Kutha Gêdhah. Dhek nalika samana Sunan Benang sumêdya tindak marang Kadhiri. pangrasane wong lanang arêp njêjawat. Sunan Benang têrus tindak mênyang Kadhiri. barêng kêna dayaning pangandika mau. wajah lagi arêp mêpêg birahi. mula akeh desa. jaka lan prawane iya nganti kasep ênggone omah-omah. nganti têkane saiki isih karan Kutha Gêdhah. satêkane wetan kali banjur niti-niti agamane wong kono apa wis Islam. kali kang maune iline gêdhe sanalika dadi asat. iya iku ing tanah Kêrtasana.nyambut gawe. iya kudu ditimbang ing sabênêre. alas. Sunan Benang mirêng ature sakabate. mula ênggone mangsuli nganggo têmbung saru: “nDika mêntas liwat kali têka ngangge ngarani njaluk banyu imbon. ing panggonan kono disabdakake larang banyu. Ature Ki Bandar wong ing kono agamane Kalang. arêp salat”. kang padha rusak. nganti kawêtu pangandikane nyupatani. Nganti tumêka saprene tanah Gêdhah iku larang banyu.

Para lêlêmbut mau padha sikêp gêgaman pêrang. sarirane nganti kaya gêni. dheweke diparingi Buta Locaya. Dhêmit-dhêmit mau banjur padha mlayu marang Kadhiri. diadhêp patihe aran Megamêndhung. dene para lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha ora ngaton. kaget kasaru têkane Nyai Plêncing. Buta Locaya lagi ngandikan karo kang padha ngadhêp. kiyai Sumbre banjur ngadêg ana ing têngah dalan sangisoring wit sambi. wong saka Tuban kang sumêdya lêlana mênyang Kadhiri. . ratune manggon ing Selabale. kuthane ana sagara kidul sarta jêjuluk Ni Mas Ratu Anginangin. mula sang Prabu asih bangêt marang kiyai Daka. sanalika banjur nimbali putra-wayahe sarta para jin pêri parajangan. Nyai Plêncing ngaturake susahe para lêlêmbut sarta para manusa. matur marang ratune. enggal mangkat mêthukake lakune Sunan Benang. sarta kinêbutan êlaring mêrak. arane Sunan Benang. ana ing kono Sang Prabu sawadya-balane disugata. mulane didadekake patih. sarta lakune barêng karo angin. kang anom aran panji Sarilaut. Ni Mas Ratu Pagêdhongan dadi ratuning dhêmit nusa Jawa. ing kono Buta Locaya banjur maujud manusa aran kiyai Sumbre. kang uga ngêsotake wong ing kono. duwe adhi jênênge kiyai Daka. rumêksa kawah sarta lahar. dene kiyai Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut. yen lahar mêtu supaya ora gawe rusaking desa sarta liya-liyane. maune jênênge kiyai Daha. Samuksane Sang Prabu Jayabaya lan putrane putri kang aran Ni Mas Ratu Pagêdhongan. sarta kono disotake larang banyu sarta diêlih jênênge tanah aran Kutha Gêdhah. kang tuwa arane Panji Sêktidiguna. kiyai têgêse: ngayahi anak putune sarta wong-wong ing kanan keringe. bisaa tumêka ing pati. amarga rasane awake padha panas bangêt kaya diobong. nanging têmên mantêp sêtya ing Gusti. barêng Sri Jayabaya rawuh. iya iku kiyai daha lan kiyai Daka. Sakabehe lêlêmbut kang ana ing lautan dharatan sarta kanan keringe tanah Jawa. lan putrane kakung loro uga padha ngadhêp. didhawuhi nglawan Sunan Benang. Jêngkare Sri Narendra anjujug ing omahe kiyai Daka. Lo têgêse kowe.panggawene Sunan Benang. Buta iku têgêse: butêng utawa bodho. lanang wadon ngantiya kasep ênggone omah-omah. ora antara suwe lêlêmbut wis têkan ing saêloring desa Kukum. nanging dhêmit-dhêmit mau ora bisa nyêdhaki Sunan Benang. Ing wêktu iku kiyai Buta Locaya lagi lênggah ana ing kursi kêncana kang dilemeki kasur babut isi sari. ngaturake kahanane kabeh. dene Selabale iku dununge ana sukune gunung Wilis. sarta banjur didadekake patihe Sang Prabu Jayabaya. Wiwite ana sêbutan kiyai. dadi ora tansah ganggu gawe. Nyai Plêncing krungu wadule anak putune mangkono mau. Sunan Benang dhêmêne salah gawe. dene kiyai Daka banjur diparingi jênêng kiyai Tunggulwulung. kiyai Buta Locaya iku bodho. jênênge kiyai Daha dipundhut kanggo jênênge nagara. matur bab rusake tanah lor Kadhiri. (6) Jênênge Buta Locaya. Buta Locaya krungu wadule Nyai Plêncing mangkono mau bangêt dukane. Kiyai daha iki cikal-bakal ing Kadhiri. caya têgêse: kêna dipracaya. kabeh padha sumiwi marang Ni Mas Ratu Anginangin. Anak putune Nyai Plêncing padha ngajak supaya Nyai Plêncing gêlêma nêluh sarta ngrêridhu Sunan Benang. Buta Locaya iku patihe Sri Jayabaya. sarta dadi senapatining pêrang. satêkane ing Kadhiri. ngrungkêbi pangkone. Buta Locaya lan kiyai Tunggulwulung uga padha muksa. jênênge kiyai Daka dipundhut kanggo jênêng desa. sarta ngaturake yen kang gawe rusak iku. Buta Locaya panggonane ana ing Selabale. ngadhang lakune Sunan Benang kang saka êlor.

lajêng nyabdakakên ing ngriki awis toya. ngêlih lepen. amarga kêna daya prabawane kiyai Sumbre. pasanggrahan Wanacatur ugi sampun sirna. lepen Kadhiri ngalih panggenan mili nrajang dhusun. lepenipun asat. sabin. Sunan Benang andangu marang kiyai Sumbre: “Buta Locaya! kowe kok mêthukake lakuku. amarga wonge kene agamane ora irêng ora putih. Kiyai Sumbre matur marang Sunan Benang: “Paduka punika tiyang punapa. namung kantun namaning dhusun. dede pangagêm Jawi. nyabdakakên ingkang botên patut. paduka sikara botên surup.”. jênêngmu Buta Locaya. Mangkono uga Sunan Benang uga ora bêtah cêdhak karo kiyai Sumbre. têtêpe agama biru. mula tak-sotake larang banyu. mungguh kang dadi sêdyaku arêp mênyang Kadhiri. Sunan Benang wis ora kasamaran yen kang ngadêg ana sangisoring wit sambi iku ratuning dhêmit. sêpintên susahipun tiyang ingkang sami kêbênan. amarga kaya dene cêdhak mawa. . dene ênggonku ngêsotake prawan tuwa jaka tuwa. iku prênahe ana ing ngêndi?”. kene kabeh tak sotake larang banyu. sarta ngêlih nami Kutha Gêdhah. aku ngrêti yen kowe ratuning dhêmit Kadhiri.”. pintên-pintên sami risak. kraton sarta pasanggrahanipun inggih sampun botên wontên. pêrlu nonton patilasan kadhatone Sang Prabu Jayabaya. kowe apa padha slamêt?”. aku njaluk banyu ora oleh. sabab agama Kalang. Sakabat loro kang maune padha sumaput. makatên wau saking sabda paduka. banjur padha katisên. jênêngku Sayid Kramat.Ora antara suwe têkane Sunan Benang saka lor. kraton utawi patamanan Bagendhawati ingkang kagungan Ni Mas Ratu Pagêdhongan inggih sampun sirna. Sunan Benang ngandika: “Aku ora kasamaran. Kula badhe pitaken. paduka gêndhak sikara dhatêng anak putu Adam. dene omahku ing Benang tanah Tuban. Buta Locaya kaget bangêt dene Sunan Benang ngrêtos jênênge dheweke. mula kaline banjur tak-êlih iline. prawan baleg. dadi dheweke kawanguran karêpe. sêlaminipun awis toya. amarga kang tak jaluki banyu ora oleh iku. ora bêtah kêna prabawane Sunan Benang. Sunan Benang ngandika: “Mula ing kene tak-êlih jênêng Kutha Gêdhah. punika namanipun siya-siya botên surup. Buta Locaya banjur matur: “Wetan punika wastanipun dhusun Mênang (9). sadaya wau sirnanipun kaurugan siti pasir sarta lahar saking rêdi Kêlut. kiyai Sumbre mangkono uga. sumêdya ganggu gawe. Sunan Benang ngandika maneh: “Aku bangsa ‘Arab. Dene lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha sumingkir adoh. katitik saka awake panas kaya mawa. ngriki paduka-sotakên. lajêng botên gampil pêncaripun titahing Latawalhujwa. wusana banjur matur marang Sunan Benang: “Kados pundi dene paduka sagêd mangrêtos manawi kula punika Buta Locaya?”. sadaya patilasan sampun sami sirna. wana. dene mangangge pating gêdhabyah. nyikara tanpa prakara”. prawan tuwa jaka tuwa. sikara tanpa dosa. Kados wangun walang kadung?”. sarta nganggo jênêng Sumbre. saiba susahipun tiyang gêsang laki rabi sampun lungse.

sanadyan ing tanah Jawi rak inggih wontên ingkang nglangkungi kaprawiran paduka. sanes alam kaliyan manusa. mbok sampun sumakehan dumeh dipunkasihi Hyang Widdhi. yen sampun dados. dene kok kaya bocah cilik padha tukaran. niku Sunan napa? Yen pancen Sunaning jalma yêktos. lah sapunika mugi panjênêngan-sotakên wangsulipun malih. sumbêr toya ing Mêdhang saurutipun dipunbêkta minggat sadaya. botên sapintên lêpatipun. besuk yen wus limang atus taun. daginge dadiya asêm. ewadene kula taksih engêt dhatêng wilujêngipun manusa. Sunan Benang ngandika marang Buta Locaya: “Wis kowe ora kêna mangsuli. damêl wilujêng dhatêng tiyang kathah. paduka kula-banda”. botên tahan digodha lare. ngêndêlake dumeh tiyang digdaya. nuli matur marang Sunan Benang: “Kêdah paduka. calathune sêngol: “Rêmbag paduka niki dede rêmbage wong ahli praja. saupami konjuk Ingkang Kagungan Nagari. nanging kok jêbul botên makatên. tur namung tiyang satunggal ingkang lêpat. sarta susahe jalma lan dhêmit. lajêng tumindak sakarsa-karsa botên toleh kalêpatan. nanging ingkang susah kok tiyang kathah sangêt. wijine mêtuwa lêngane. manawi panjênêngan botên karsa mangsulakên. Buta Locaya barêng krungu têmbung ora wêdi marang Ratu Majalêngka banjur mêtu nêpsune. siram salêbêting kawah wedang ingkang umob mumpalmumpal.Buta Locaya matur maneh: “Punika namanipun botên timbang kaliyan sot panjênêngan. nyikara wong kang ora dosa. banjur nêpsu maneh. woh sambi iki tak-jênêngake cacil. dhêmit lan wong pêcicilan rêbut bênêr ngadu kawruh prakara rusaking tanah. amargi ngrisakakên tanah. lajêng mubal nêpsune gêlis duka. Inggih sampun ta. paduka inggih dipunukum mlarat ingkang langkung awrat. botên timbang kaliyan kukumipun. nanging sami ahli budi sarta ajrih sêsikuning Dewa. sugih sanak malaekat. Sunan Benang ngandika: “Sanadyan kok-aturake Ratu Majalêngka aku ora wêdi”. nggih niki margi paduka cilaka. sagêd dados asil panggêsangan laki rabi taksih alit lajêng mêncarakên titahipun Hyang Manon. sami damêl awising toya. mila sami siya-siya dhatêng sêsami. sapunika sadaya ingkang risak kula-aturi mangsulakên malih. paduka punika namanipun damêl mlaratipun tiyang kathah. patute rêmbage tiyang entên ing bambon.wangsulna sapunika. muride Ijajil. Panjênêngan sanes Narendra têka ngarubiru agami. Sunan Benang barêng mirêng nêpsune Buta Locaya rumaos lupute. Aji Saka dados Ratu tanah Jawi namung tigang taun lajêng minggat saking tanah Jawi. paduka ngakên Sunan rak kêdah simpên budi luhur. aku pamit nyimpang mangetan. mula banjur ngandika: “Buta Locaya! aku iki bangsa Sunan. sadaya manusa Jawi ingkang Islam badhe sami kula-têluh kajêngipun pêjah sadaya. dene gawe kasusahan warna-warna. punika namanipun tiyang dahwen”. Aji Saka tiyang saka Hindhu. . Kula niki bangsaning lêlêmbut. punapa paduka punika tiyang tunggilipun Aji Saka. lepen ingkang asat lan panggenan ingkang sami katrajang toya kula-aturi mangsulakên kados sawaunipun. siya dahwen sikara botên ngangge prakara. ing ngriki sagêda mirah toya malih. dak-suwun marang Rabbana. tandhane paduka sapunika sampun jasa naraka jahanam. ora kêna mbaleni caturku kang wus kawêtu. kali iki bisa bali kaya mau-maune”. Buta Locaya barêng krungu kêsagahane Sunan Benang. kula tamtu nyuwun bantu wadya bala dhatêng Kanjêng Ratu Ayu Anginangin ingkang wontên samodra kidul”. lajêng paduka-ênggeni piyambak. mêsthi simpên budi luhur. woh sambi dadi warna loro kanggone. wujud paduka niki jajil bêlis katingal. Paduka niksa wong tanpa dosa. têbih saking ahli budi yen ngantos siya dhatêng sêsami nyikara tanpa prakara. paduka tiyang saking ‘Arab. yen botên sagêd.

dene prênahe ana sangisoring wit trênggulun. wêktu iku dhadhape pinuju akeh bangêt kêmbange. lajêng sami mangrêtos tekadipun para wanita Jawi”. Sunan Benang ngasta kudhi. dene dhêmit padu lan manusa. Buta Locaya nututi tindake Sunan Benang. Sunan Benang kang anggolingake. kang lor jênênge desa Singkal. prênahe ana sangisoring wit dhadhap. lênga têgêse dhêmit mlêlêng jalma lunga. kangge pralambang ing tekadipun wanita Jawi. kula Ratu”. jênênge dhêmit kêmênthus”. Sunan Benang priksa rêca mau gumun bangêt. nganti katon abang mbêranang. wohe trênggulun mau akeh bangêt kang padha tiba nganti amblasah. sarta akeh kang tiba kanan keringe rêca buta mau. Kawanguran têgêse kawruhan. sintên ingkang sumêrêp rêca punika. lan wiwit saiki panggonan têtêmon iki. benjing jaman Nusa Srênggi. saupama diêlih saka panggonane. woh trênggulun jênênge kênthos. dene ana madhêp mangulon. baune têngên rêca mau disêmpal dening Sunan Benang. ngriku Sunan. barêng wis wanci asar. dhuwure ana 16 kaki. Sunan Benang banjur tindak mangalor. Buta Locaya mangsuli: “Inggih kaot punapa. bathuke dikrowak. iku pituture Raden Budi Sukardi. kêrsane arêp salat. dene panggonane balamu kang ana ing kidul iku jênênge desa Kawanguran”. Singkal têgêse sêngkêl banjur nêmu akal. kajaba yen nganggo piranti. nuli sagêd mundhut banyu kagêm wudhu banjur salat. ana ing kono Sunan Benang mriksani rêca jaran. dadiya pangeling-eling ing besuk. ing kene desa ing Sumbre. Sunan Benang tindake têkan ing desa Bogêm. Sunan Benang sawise salat banjur nêrusake tindake. ubênge bangkekane 10 kaki. Ing besuk dadiya pasêksen. sumure banjur digolingake. Sunan Benang ngandika: “Kowe iku bangsa dhêmit kok wani padu karo manusa. Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene sumur mau karane sumur Gumuling. Buta Locaya barêng wêruh patrape Sunan Benang anggêmpal êndhasing rêca jaran. awit saka sabdane Sunan Benang. Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene. yen aku padu karo kowe. Sunan Benang sawuse ngandika mangkono banjur mlumpat marang wetan kali. satêkane desa Nyahen (10) ing kona ana rêca buta wadon. yen aku kêrêngan karo dhêmit kumênthus. katêlah nganti tumêka saprene ing tanah Kutha Gêdhah ana desa aran Kawanguran. rêca jaran êndhase digêmpal. Sunan Benang ngandika: “Woh trênggulun iki tak-jênêngake kênthos. saya wuwuh nêpsune sarta mangkene wuwuse: “Punika yasanipun sang Prabu Jayabaya. saka akehe kêmbange kang tiba. êmbuh bênêr lupute”. iku pituture Raden Budi guruku. . guruku”. prakara rusaking rêca”. sajabane desa kono ana sumur nanging ora ana timbane. Sumbre sarta Singkal. rêca mau awak siji êndhase loro. dene Sunan Benang sawise. yen dijunjung wong wolung atus ora kangkat.asêm dadi pasêmoning ulat kêcut.

dhêmit manawi nêdha ganda wangi badanipun kraos sumyah. bêtuwah . sasar nyêmbah tugu sela. Saking dhawuhipun Ingkang Maha Kuwaos. ta.Buta Locaya wêruh yen Sunan Benang ngrusak rêca. prayogi dhatêng rêdi Kêlut kathah sela agêng-agêng yasanipun Pangeran. langkung sênêng malih manawi manggen wontên ing rêca wêtah ing panggenan ingkang sêpi edhum utawi wontên ngandhap kajêng ingkang agêng. pinaringan wahyu nyata pintêr sugih engêtan. sayêktos yen yasanipun Ingkang Maha Kuwaos. panjênêngan-tundhung dhatêng pundi? Sampun jamakipun brêkasakan manggen ing guwa. besuk yen mati oleh kamulyan”. manusa sadaya kêdah sumêrêp ing Batu’llahipun. mila sami dipunladosi. Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Tandhane napa yen angsal sihe Pangeran. Pangandikane Sunan Benang: Ka’batu’llah iku kang jasa Kangjêng Nabi Ibrahim. botên kuwasa. didelehi tugu watu disujudi wong akeh. inggih kêkasihipun Ingkang Kuwaos. badanipun manusa punika Baitu’llah ingkang sayêktos. Gusti Allah paring pangapura lupute kabeh salawase urip ana ing ‘alam pangumbaran”. pinaringan wahyu mulya. punika inggih langkung sasar”. wangsul tiyang bangsa ‘Arab sami sojah Ka’batu’llah. Dene ingkang yasa rêca punika Prabu Jayabaya. sasar nêmbah tugu sela. dados têdhanipun manusa. tugu damêlan Nabi. sumêrêp budi hawanipun. sing sapa sujud marang Ka’batu’llah. yen wong muji brahala iku jênênge kapir kupur lair batine kêsasar. kawruhipun sasar-susur. ing kono pusêring bumi. mila para lêlêmbut sami dipunsukani panggenan wontên ing rêca. tiyang Jawi pathokan sastra. supados para lêlêmbut sampun sami manggen wontên ing siti utawi kajêng. sidik paningalipun têrus. rêca buta bêcik-bêcik dirusak tanpa prakara. manggen wontên ing rêca têka panjênêngan-sikara. Sanadyan rintên dalu nglampahi salat. angsal pangapuntên sadaya kalêpatanipun. sami maujud piyambak saking sabda kun. inggih pintêr sugih engêtan sidik paningalipun têrus. calathune: “Panjênêngan nyata tiyang dahwen. wujude nggih tugu sela. aja tansah disajeni dikutugi. punika kêdah dipunrêksa. inggih punika ingkang kenging kangge tuladha. manawi panggenanipun raga pêtêng. manawi sampun nrimah nêmbah curi. wontên ing rêca. lah asilipun punapa panjênêngan ngrisak rêca?” Pangandikane Sunan Benang: “Mulane rêca iki tak-rusak. Buta Locaya mangsuli karo mbêkos: “Pêjah malih yen sumêrêpa. botên gadhah daya. dheweke nêpsu maneh. sampun sami ngraos yen alamipun dhêmit punika sanes kalayan alamipun manusa. sumêrêp cipta sasmita ingkang dereng kalampahan. makluking Pangeran. dipunsajeni. sintên sumêrêp asalipun badanipun. punika wajib dipunsujudi. supaya aja dipundhi-pundhi dening wong akeh. dipunkutugi. ing mangka punika yasanipun Sang Prabu Jayabaya. saniki awon warnine. dados panjênêngan punika têtêp tiyang jail gêndhak sikara siya-siya dhatêng sasamining tumitah. punapa sampun angsal saking Pangeran Kang Maha Agung tapak asta mawi cap abrit? Sunan Benang ngandika maneh: “Kang kasêbut ing kitabku.” Buta Locaya calathu maneh: “Wong Jawa rak sampun ngrêtos. sumêrêp saderengipun kalampahan. sarta nêdha ganda wangi. sanes Hyang Latawalhujwa. paduka pathokan tulis. Nabi punika rak inggih manusa kêkasihipun Gusti Allah. amargi siti utawi kajêng punika wontên asilipun. Aluwung manusa Jawa ngurmati wujud rêca ingkang pantês simpên budi nyawa. kamulyan sanyata wontên ing dunya kemawon sampun korup. yen punika rêca sela.

nyudakakên toya”. panjênêngan enggala kesah. inggih ing ngriki ingkang kula-linggihi punika. mastani Mêkah punika nagari cilaka. sabab aku kêcelung nalar lan kêledhung rêmbag. Sunan Benang banjur tindak. kalah kawruh kalah nalar”. lajêng kula bêkta mlêbêt dhatêng kawahipun rêdi Kêlut. manawi botên purun kesah sapunika. kowe setan brêkasakan”. mila panjênêngan dhatêng tanah Jawi. Patih matur. nagari ing Majalêngka. manawi kula lêpat panjênêngan jotos. asrêp lan bênteripun cêkapan. Tiyang nyungkêmi kabar ‘Arab. mulya langgêng salamine. diadhêp Patih sarta para wadya bala. wontên ing ngriki mindhak damêl sangar. digdayanipun ngungkuli panjênêngan. nagari Jawi ngriki nagari suci lan mulya. anggêga ujaripun tiyang nglêmpara. ngarubiru agamane lêluhur kina. panjênêngan kula-kroyok punapa sagêd mênang. Gênti kang cinarita. kula-aturi kesah saking ngriki. Sunan Benang banjur pamitan: “Wis aku arêp mulih mênyang Benang”. tandhanipun wontên ing ngriki taksih krejaban. kula sumêrêp nagari Mêkah. Ingkang yasa rêca punika Maha Prabu Jayabaya. mila minggat. Sang Prabu Brawijaya miyos sinewaka. kangge rencang tumbasan. dene surasane layang ngaturi uninga yen nagara Kêrtasana kaline asat. wanitanipun ayu. tekad panjênêngan rusuh. malah kathah tiyang sade tinumbas tiyang. Rêmbag panjênêngan punika mblasar. manawi tiyang ingkang ahli nalar. punapa dora punapa yêktos. uwohe kledhung. sitinipun panas. Sunan Benang ngandika: “Ora arêp manut rêmbugmu. yen panjênêngan mulya tamtu botên kesah saking ‘Arab. woh dhadhap jênênge kledhung. nambahi bênter. kêmbange aran celung. maoni agama. sami-sami nyungkêmi kabar. damêl risak barang sae. punapa panjênêngan kêpengin manggen ing sela kados kula? Mangga dhatêng Selabale. yen mêntas nampani layang saka Tumênggung ing Kêrtasana. rêmên nyikara niaya. Mula katêlah nganti tumêka saprene. nanging dhêmit raja. manawi kadangon wontên ing ngriki mindhak damêl susah. Panjênêngan tiyang duraka. nyade mulyaning nagari Mêkah. Ratu wajib niksa. kali kang saka Kadhiri miline nyimpang . Mila panjênêngan anganjawi. awis toya. badhe kula undhangakên adhi kula ingkang wontên ing rêdi Kêlut. panjênêngan dereng tampu mulya kados kula. Buta Locaya mangsuli: “Sanadyan kula dhêmit. Sunan Benang ngandika: “Dhadhap iki kêmbange tak jênêngake celung. madya luwês wicaranipun. panjênêngan punapa botên badhe susah. tiyangipun jalêr bagus. aluwung nyungkêmi kabar sastra saking lêluhuripun piyambak. wontên ing ‘Arab nakal kalêbêt tiyang awon. punapa ingkang dipuntanêm sagêd tuwuh. dene Buta Locaya sawadya-balane uga banjur mulih. mbucal dhatêng Mênadhu”. kula aturi kesah kemawon saking ngriki. anuju sawijining dina. rêmên niksa ing sanes. murugakên awis wos. saking lêpat.saking lêluhuripun. tandha kirang nalar. panjênêngan punapa sagêd ngêpal lampahing jaman? Sampun ta. tanah pasir mirah toya. dados murid kula!”. tanêm-tanêm tuwuh botên sagêd mêdal. bênteripun bantêr awis jawah. kirang nêdha kawruh budi. maoni adating uwong. Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Inggih sampun. ingkang patilasanipun taksih kenging dipuntingali. dadiya pasêksen yen aku padu lan ratu dhêmit. nyade umuk. dereng ngrêtos kawontênanipun ngrika. sapunika panjênêngan ukur. Rêmbag panjênêngan badhe priksa pusêring jagad.

Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih. Sunan Giri mlayu mênyang Benang. Sang Prabu midhangêt ature Patih. suraosipun ing têmbung Jawi nama Prabu Satmata. Sang Prabu midhangêt ature para wadya banjur duka. Patih banjur diutus mênyang Kêrtasana. Sang Prabu mirêng ature Patih bangêt dukane. dene duta kang diutus mênyang Tuban uga wis têka. banjur dhawuh nglurugi pêrang mênyang Giri. banjur ngaturake kahanane kabeh. banjur ngêbang marang Adipati Dêmak. diajak nglurug mênyang Majalêngka. namanipun Sunan Benang. liyane loro iku didhawuhi ngulihake mênyang asale. punika nama ing têmbung ‘Arab. saking kenging sabdanipun ngulama saking ‘Arab. nanging rumantiya sikêping pêrang: 1. mung ing Dêmak lang Ngampelgadhing kang kêparêng ana ing tanah Jawa. paring pangandika yen ngulama saka ‘Arab pada ora lamba atine. mung kowe. dhawuhana balamu para Sunan kabeh lan para Bupati kang wis padha Islam kumpulna ana ing Dêmak. . Ature Patih: “Gusti! lêrês dhawuh paduka punika. Patih sawadya-balane satêkane ing Giri banjur campuh pêrang. dene yen padha ora gêlêm lunga didhawuhi ngrampungi bae. rêmbugku rusakên Kraton Majalêngka. nanging kang sarana alus. banjur pêrang maneh mungsuh wong Majalêngka. nglurug mênyang Giri. sowana besuk Garêbêg Mulud. yen kumpule iku arêp gawe masjid. dene kang kidul isih têtêp nganggo agama Buddha. ing alam donya botên wontên kalih ingkang asma Sang Prabu Satmata. mula banjur lunga karo Sunan Giri mênyang Dêmak. pangandikane Sunan Benang marang Adipati Dêmak: “Wêruha yen saiki wis têkan masa rusake Kraton Majalêngka. Patih sawise niti-priksa. mêngko yen wis kumpul. mênggah sêdyanipun badhe rêraton piyambak. amargi ngulama Giripura sampun tigang taun botên sowan utawi botên ngaturakên bulubêkti. Wong ing Giri geger. kabeh mêsthi nurut marang kowe”. umure wis satus têlu taun. sawise oleh bêbantu. pêparabipun Sunan ‘Aênalyakin. gaweya samudana. satêkane ing Dêmak. têgêsipun Aenal punika ma’rifat. ing wêktu iku tanah jawa wis meh saparo kang padha ngrasuk agama Islam. kajawi namung Bathara Wisnu nalika jumênêng Nata wontên ing nagari Mêdhang-Kasapta. mênggah têgêsipun Sunan punika budi. punika asma luhur ingkang makatên punika ngirib-irib tingalipun Kang Maha Kuwasa. botên ngrumaosi nêdha ngombe wontên tanah Jawi. têgêsipun Yakin punika wikan. aja nganti ngêtarani. amarga gawe ribêding nagara. ora kuwat nanggulangi pangamuke wadya Majapahit. golek kêkuwatan. anggenipun makatên wau. pintên-pintên dhusun sami karisakan. wong ‘Arab kang ana ing tanah Jawa padha didhawuhi lunga. sumêrêp piyambak.mangetan. dene namanipun santri Giri anglangkungi asma paduka. sumilih Kaprabon Nata. kahanane wonge sarta asile bumi kang katrajang banyu kapriye? Sarta didhawuhi nimbali Sunan Benang. amarga Sunan Benang lunga ora karuhan parane. saperanganing layang mau unine mangkene: “Wontên ler-kilen Kadhiri. nglêstarekake agamane. kang kuwat dadi Ratu tanah Jawa. niti-priksa ing kono kabeh. wong-wong ing Pasisir lor wis padha agama Islam. Sunan Benang wis ngrumasani kaluputane. matur yen ora oleh gawe. para Sunan sarta Bupati sawadya-balane kang wis padha Islam. 2. ênggone ora sowan mênyang Majalêngka. saka panawangku. pêrange rame bangêt. dados nama tingal ingkang têrus. Gêlising carita. mariksa botên kasamaran. Patih budhal ngirid wadya-bala prajurit.

ênggone ngarani jare lara ayan esuk lan sore. dipunukum pêjah. mêsthine sihe Gusti Allah kang . tiyang punika bapa inggih kêdah dipunhurmati. lajêng punapa ingkang kula-walêsakên. iku ora prayoga. mêsthi rusak agama Mukhammad Nabi”. masa padhaa karo aku Sayid Kramat. Dene têkaku mrene ini ngungsi urip mênyang kowe. karo wis wajibe wong urip golek kamuktening dunya. besuk ganjarane swarga. Sumbare Patih. lire aja katara. wis wajibe wong Islam mati dening wong kapir. sapira kawruhe Ngampelgadhing. iya iku: bae mati bae urip. walêsên kalawan alus. kaping tiganipun damêl sae paring kamukten ing dunya. apa bae kang dikarêpake bisa kêlakon. saka ênggone nyungkêmi agamane. nadyan mati. bocah kalairan Cêmpa. iku durung gênêp uripe. Giri kang dadi jalarane ngrusak Majalêngka. mati sabilu’llah. gundhul bêntul butêng tanpa nalar. têdhak Rasul panutaning wong Islam kabeh. kowe ngênteni surude bapakmu. tiyang rêraton. yen aku kacandhak arêp dikuciri lan dikon ngêdusi asu. mumpung iki ana lawang mênga. Sunan Benang kang wis dipuji wong sabumi ‘alam. amarga aku ora seba marang Majalêngka. aku wêdi marang Patih Majalêngka. iku mêgat sih arane. sampun wajibipun dipunlurugi. mamahên balunge”. wong satanah Jawa padha Islam kabeh. didakwa rêraton. kajawi namung sêtya tuhu. mêsthi dipasrahake marang Adipati Pranaraga. wong pranakan buta. Kowe mungsuh bapakmu Nata. amarga iku putrane kang tuwa. tandhane sira diparingi jênêng Babah. Inggih sanadyan Buddha punapa kapir. botên ngrumaosi yen kêdah manut prentahing Ratu ingkang mbawahakên. ana ing Giri padha tak-Islamake awit kang muni ing kitabku. ngrusak kapir Buddha kawak: kang kok-têmu ganjaran swarga. Kang mangkono iku. wiji jawa digawa Putri Cina.Islamake. akeh bangsa Cina kang padha têka ana ing tanah Jawa. sapira mungguh kauntunganmu nugrahaning Pangeran tikêl kaping êmbuh. iya iku Ki Andayaningrat ing Pêngging. yen kowe ora gêlêm nglakoni. mung karo wong siji. yen wong urip ora wêruh marang uripe. satêmêne kowe wis pinasthi bakal jumênêng Ratu ana ing tanah Jawa. ora wajib jumênêng Nata. Ramanira panggalihe têtêp ora bêcik. ananging ing laire iya kudu nganggo sarat dirêbut sarana pêrang. nanging yen bapakmu kalah. sanadyan Buddha nanging margi-kula sagêd dumados gêsang wontên ing dunya. utawa dipasrahake marang putra mantu. awit panjênêngan botên ngrumaosi dhahar ngunjuk wontên in tanah Jawi”. têgêse Babah iku saru bangêt. mula ibumu diparingake Arya Damar. Dhawuhipun eyang Sunan Ngampelgadhing. sihing Hyang Kang Maha Kuwasa kang dhawuh marang kowe. mula akeh bangsa Cina kang padha tak. tak-anggêp kulawarga. punapa malih dereng wontên lêpatipun dhatêng kula”. tur ratu kapir. lamun sipat manusa mêsthi melik mêngku praja angreh wadya bala. mungsuh wong kapir. sumilih kaprabone ramamu. kowe anak nom. awit Ratu iku Khalifa wakile Hyang Widdhi. Bupati ing Palembang. Wangsulane Sang Adipati Dêmak: “Anggenipun nglurugi punika lêrês. Sunan Benang ngandika mêneh: “Sanadyan mungsuh bapa lan ratu. patine slamêt nampani swarga mulya. Sunan Giri nyambungi rêmbug: Aku iki ora dosa dilurugi ramamu.Ature Adipati Dêmak: “Kula ajrih ngrisak Nagari Majalêngka. ing batin sêsêpên gêtihe. Sunan Benang ngandika maneh: “Yen ora kok-rêbut dina iki. amarga iku wong kapir. Satêmêne ramanira iku siya-siya marang sira. kaprabone bapakmu wis mêsthi ora bakal tiba kowe. patute mung dadi godhogan. sanadyan dosa pisan. lan ramanira sêngit bangêt marang santri kang muji dhikir. Eyangmu kuwi santri mêri. golek darajat kang unggul dhewe. yen ngislamake wong kapir. amêngsah bapa tur raja. ora ana alane. mulane rêmbugku. botên kaparêng yen kula mêngsah bapa. yen kowe ora ngukuhi.

mangsah mêncak nganggo gêgêman abir. ora suwe para Sunan lan para Bupati padha têka kabeh. kowe kang katiban wahyu sihe Pangeran. lan paring idi rahayuning laku. panjênêngan ingkang mbotohi”. Gêlising carita. masa ndadak waniya. besuk yen ana Ratu Jawa kanthi wong tuwa. sawadya-balane watara wong têlung atus. Adipati Dêmak banjur kirim layang marang Têrung. gampang bangêt rusaking Majalêngka. saiki wani. saiki kowe wis gêlêm tak botohi. wis tinampan wangsulane Sang Adipati Têrung. murwani agama suci. sawise mêsjid dadi. Patih saulihe saka ing Giri banjur matur sang Praba. sabakdane salat. bisa lêstari satêruse”. kang gêlêm ngrusak bapa kapir. Majapahit sapa kang diêndêlake yen Kusen mbalik. kajaba mung para Tumênggung lan para Sunan apa dene para ngulama. Sunan Benang lan Sunan Giri ora melu mênyang Majapahit. banjur budhal mênyang Majapahit. ananging têmbungmu kang rêmit sarta alus. nanging tak-walês ana ing dunya kene bae. Gênti kocapa nagara in Majapahit. bab ênggone mukul pêrang ing Giri. Akeh-akeh dhawuhe Sunan Benang. gêlêm ngrusak Majalêngka. ora suwe utusan bali. malah diwenehi lêpiyan carita Nabi. dadi kowe jênênge nampik sihe Allah. bisa ngideni adêgmu Nata mêngku tanah Jawa. lakune kaya dene Garêbêg Maulud. apa abot Sang Nata. jêjuluk Senapati Jimbuningrat. Sunan Giri mangsuli: “Iya besuk wani. banjur pakumpulan ngêdêgake masjid. banjur arêp kêpyakan tumuli. Sunan Benang duka. patihe wong saka Atasaning aran Patih Mangkurat. pawadane sarehne wis sêpuh. dene kang kadhawuhan mateni iya iku Sunan Giri. wis tak-sêmprong nganggo sangkal bolong katon nêrawang ora samar sajroning gaib. Sunan Benang ngandika maneh: “Iya mangkono iku kang tak karêpake. para wadya bala ora ana kang ngrêti wadining laku. Si gugur isih cilik. Sawise golong karêpe. ninggal swara: “Eling-eling ngulama ing Giri. Sadurunge Syekh Sitijênar tumêka ing pati. kula namung sadarmi nglampahi dhawuh. Patihe wis tuwa. mung arêp salat ana ing masjid bae. ambirat ênggonmu madêg Narendra. amêngku tanah Jawa. Esuke Senapati Jimbuningrat wis miranti sapraboting pêrang. Syekh Sitijênar dipateni. yen Adipati Dêmak arêp dijumênêngake Nata. ing kono gulumu bakal tak-lawe gênti”. banjur tutup lawang. mung siji kang ora rujuk. samudana yen arêp ngêdêgake masjid.mênyang kowe bakal dipundhut bali. Adipati Dêmak matur: “Manawi karsa panjênêngan makatên. adhimu antêpên. Sang Adipati Dêmak banjur ingidenan jumênêng Nata. apa abot sadulur tuwa kang tunggal agama. aku ora bakal mundur”. padha bisa mêncak kabeh. Syekh Sitijênar dilawe gulune mati. diiringake para Sunan lan para Bupati. yen wis padha rujuk. Sunan Benang banjur ngandika marang Adipati Dêmak. amarga aku wis wêruh sadurunge winarah. Yen adhimu wis rujuk adêgmu Nata. kowe ora tak-walês ing akhirat. brêngose capang sirahe gundhul. wong kabeh dipangandikani dening Sunan Benang. arane Sêcasena. sarta banjur arêp ngrusak Majapahit. banjur padha salat ana ing masjid. padha manganggo . saguh ambiyantu pêrang. Para Sunan lan para Bupati wis padha rujuk kabeh. dadi mung para Sunan lan para Bupati bae kang ngiringake Sultan Bintara. aku mung sadarma njurungi. lan diwenehana sumurup yen Sunan Benang wis ana ing Dêmak. supaya Sang Adipati ngaturi para Sunan lan para Bupati kabeh. lah saiki uga kowe kirima layang marang adhimu Adipati Têrung. pambujuke marang adipati Dêmak supaya mêtu nêpsune. dithothok bae mati. bisa dadi Ratu ana ing tanah Jawa. ndadekake sukaning panggalih. mungguh kang dadi senapati ing Giri iya iku sawijining bangsa Cina kang wis ngrasuk agama Islam. mêsthi ora bisa nadhahi yudamu”. ora kacarita lakune ana ing dalan. iku padha nêmu rahayu. iya iku Syekh Sitijênar. layang banjur katur Sunan Benang. nglêstarekake apa kang wis dirêmbug.

Sang Prabu banjur andangu marang Patih. Kyai Patih banjur matur Sang Prabu. ngenthengake ingkang rama. padha diparingi pangkat. sajrone ana ing paseban jaba. njêtung atine. andhawuhake yen ngulama ing Giri lan ing Benang padha têka ing Dêmak. sawêneh ngambang ing sagara.srêban cara kaji. mungguh surasaning layang. dene kok padha duwe pikir ala. gêrêng-gêrêng. awit dosane santri Benang ngrusak bumi ing Kêrtasana. masa Kasanga Wuku Prangbakat. Sang Prabu nganti ora bisa manggalih apa mungguh kang dadi sababe. nganti suwe ora ngandika. Layang kang saka Pathi mau katitimasan tanggal kaping 3 sasi Mulud taun Jimakir 1303. didhawuhi nyêkêl. Kiyai Patih sawise maos layang. kolu ngrusak Majapahit. digoleki nalar-nalare tansah wudhar. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih. dene wong Islam pikire kok padha ora bêcik. Senapati Sêcasena wis mati. layang banjur diwaos kiyai Patih. kaya dene atining kêbo êntek dimangsa ing tumaning kinjir. dene kang ngêbang. ngaturake layang marang Patih. Sunan Giri lan Sunan Benang banjur nunggal saprau-layar ngambang ing sagara. sinêmonan dening Dewa. jroning panggalih ngungun bangêt marang putrane sarta para Sunan. amarga adoh karo nalare. Ature Patih. para Sunan lan para Bupati padha ambiyantu anggone arêp mbêdhah Majapahit. mangsah pêrang paculat kaya walang kadung. wis madêg Ratu ana ing Dêmak.êbang adêging Nata. para Bupati pasisir lor sawadyane kang wis padha Islam uga padha njurungi. Ki Patih uga mung gumun. lair batin ora tinêmu ing nalar. bangêt gumune mênyang wong Islam. mungguh kature Sang Prabu amborongake kiyai Patih. sungkawane ratu Gêdhe kang linuwih. bala ing Giri ngungsi mênyang alas ing gunung. mlayu mênyang Benang têrus diburu dening wadya-bala Majapahit. iya iku Babah Patah. wêkasane malah padha gawe buwana balik. utawa Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’rrasul Amiri’lmukminin Tajudi’l’Abdu’lhamid Kak. yen Adipati ing Dêmak. iya iku Sunan Benang lan Sunan Giri. dene putrane lan para ngulama apa dene para Bupati kolu ngrusak Majapahit. banjur tumênga ing tawang karo nyêbut marang Dewa kang Linuwih. iya Sultan Adi Surya ‘Alam. wong dibêciki kok padha malês ala. Ing samêngko Babah Patah sawadya-balane wis budhal nglurug marang Majapahit. Babah Patah abot mênyang gurune. bangêt pangungune. dibêciki walêse kok padha ala. . dene dosane santri Giri ora gêlêm seba marang ngarsa Prabu. gedheg-gedheg. dene jêjuluking Ratu. kaaturna bêbandan ing ngarsa Nata. Senapati Jimbuningrat. Sang Prabu Brawijaya midhangêt ature Patih kaget bangêt panggalihe. ora padha ngelingi marang kabêcikan. dene bala Cina liyane lang kari padha mlayu salang tunjang. Patih samêtune ing paseban jaba. tekade sumêdya nglawan pêrang. banjur nimbali duta kang arêp diutus mênyang Dêmak. sêdya mungsuh ingkang rama. sarta kêrot. kinira banjur minggat marang Arab ora bali ngajawa. wadya Majapahit ambêdhili. dene wadya-bala ing Giri pating jênkelang ora kêlar nadhahi tibaning mimis. ing Bintara. Babah Patah anggone nggawa bala têlung lêksa miranti sapraboting pêrang. dene putrane lan para ngulama têka arêp ngrusak karaton. mratelakake yen uga ora mangêrti. lumrahe mêsthi. padha malês bêcik. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt. supaya utusan mênyang Dêmak. ngaturake surasane layang mau. dene padha duwe sêdya kang mangkono. njêgrêg kaya tugu. Menak Tunjungpura ing Pathi ngaturi uninga. malah padha gawe ala. apa ta mungguh kang dadi sababe. kêsaru têkane utusane Bupati ing Pathi. dene ora padha ngrêti mênyang kabêcikane Sang Prabu.

besuk tak-walês. kuntul kucir githoke. tak-ajar wêruh nalar bênêr luput. barêng Sunan Ngudhung tiwas. ngulama jênênge walian. ana ing kono pada njarah rayah nganti rêsik. nanging kuwandane sirna. sun-bêciki walêse angalani”. sapira kuwate wong siji. Patih didhawuhi nimbali Adipati Pêngging sarta Adipati Pranaraga. wadya sajroning pura padha bubar. dene mungsuh karo putra. Sajrone Sang Prabu paring pangandika. dene nggêgampang marang agama kang wis kanggo turun-tumurun. yen nganti nglawan rumaos lingsêm bangêt. nanging ora pasah. kang ana mung Ratu Mas. wong kampung ora ana kang wani nglawan. amarga putra kang ana ing Majapahit durung wanci yen mapagake pêrang. Wadya Dêmak banjur campuh karo wadya Majapahit. bala Dêmak têlung lêksa. Ature Patih prayoga nglawan têkaning mungsuh. kadherekake abdi kêkasih. tinggal swara: “Eling-eling wong Islam. bangkening wong tumpang tindhih. “Sabdaning Ratu Agung sajroning kasusahan. ora ana kang diwêdeni. yen mapag pêrang kang sawatara bae. ngobongi buku-buku bêtuwah Buddha padha diobongi kabeh. balang Majapahit mung têlung ewu. Raden Gugur isih timur lolos piyambak. Patih ora pasah sakehing gêgaman. kang tadhah mati nggêlasah. katêlah tumêka saprene. Adipati Têrung banjur mlêbu mênyang jêro pura. Pêrange rame bangêt. wadya-bala Dêmak wis pacak baris ngêpung nagara. saya bangêt nêpsune. pangamuke kaya bantheng kataton. kolu ngrusak nagara Majapahit. muga winalêsna susah-ingsun. manjalma dadi wong kucir. ngulama kabeh ngrangkêp jênêng walikan. kaya dene tugu waja. amarga Sang Nata wis sêpuh. prajurite akeh kang padha mati. ngrêbut nagara gawe pêpati. dene tan wruh kabêcikan. Para prajurit Dêmak banjur padha mlêbu mênyang kadhaton. sang Putri diaturi sumingkir mênyang Benang uga karsa. dene wadya Majapahit wis êntek. Putra Nata tiwas. sarehne Majapahit karoban mungsuh. sawise paring pangandika mangkono. Patih dibyuki wadya ing Dêmak. Sang Prabu ngandika. ngideni para ngulama mêncarake agama Islam. prakara têkane mungsuh. Sang Nata saka putêking panggalihe nganti kawêdhar pangandikane ngêsotake marang wong Islam: Sun-suwung marang Dewa Gung. katarima dening Bathara. iku dilawan apa ora? Sang Nata rumaos gêtun lan ngungun. tandhing karo Sunan Kudus. wêkasan Patih ing Majapahit ngêmasi. Sunan Ngudhung disuduk kêna. Sang Prabu banjur mundhut pamrayoga marang Patih. sinêksen ing jagad. saupama disuwun kalayan aris bae mêsthi diparingake. Wong Majapahit kang ora . mula kasêsa tindake. Patih Majapahit ngamuk ana samadyaning papêrangan. aja nganti ngrusakake bala. beteng ing Bangsal wis dijaga wong Têrung. Para Bupati Nayaka wolu uga banjur melu ngamuk. mung Patih sarta Bupati Nayaka pangamuke saya nêsêg. iya iku Putri Cêmpa. tibaning mimis kaya udan tiba ing watu.Sang Prabu banjur ngandika marang patih. ora ana braja kang tumama marang sarirane. Sang Prabu banjur lolos arsa têdhak marang Bali. katandhan ana swara jumêgur gêtêr patêr sabuwana. Bala Dêmak kang katrajang mêsthi mati. iya iku kawitane manuk kuntul ana kang kucir. Sapatine Patih. Patih binendrongan saka kadohan. Sunan Ngudhung mapagake banjur mrajaya. ing ngêndi kang katrajang bubar ngisis. nanging sang Prabu wis ora ana. bab anane lêlakon kaya mangkono iku amarga saka lêpate sang nata piyambak. Patih Mangkurat ing Dêmak nglambung. tak-damoni sirahmu. wong Islam iku besuk kuwalika agamanira. para Sunan banjur mlêbu mênyang kadhaton. santri kang ngrêbut nagara. Putrane Sang Prabu aran Raden Lêmbupangarsa ngamuk ana satêngahing papêrangan. Sabdapalon lan Nayagenggong. rambutmu tak-cukur rêsik”. dibêciki gustiku walêse ngalani. Sunan. sarta ênggone kêgiwang marang ature Putri Cêmpa. dene Adipati Dêmak kapengin mêngkoni Majapahit bae kok dirêbut sarana pêrang. lagi rame-ramene têtandhingan pêrang. para Sunan banjur ngawaki pêrang. mula dhawuhe Sang Prabu.

Gusti Allah kang sipat rahman. yen ngelingi kasaeane uwa Prabu Brawijaya. jarene iku kubure Raden Lêmbupangarsa. kandhaa satêmêne. Sang Prabu Jambuningrat satêkane ing Ngampel.gêlêm têluk banjur ngungsi mênyang gunung lan alas-alas. putrane Arya Teja. wis mêsthi salin dhewe ngrasuk agama Islam. para ngulama padha diparingi panggonan kang wis anggawa pamêtu minangka dadi pangane. Yen Gusti Allah wis marêngake. Sunan Kudus njaga ana ing kraton dadi sulihe Sang Prabu. Wong kang nyungkêmi agamane nganti mati isih nggoceki tekade iku utama. pangandikane: “Êngger! aku arêp takon mênyang kowe. Layone para putra santana lan nayaka padha kinumpulake. sarta padha diuja sakarêpe. mangkene pangudaraosing panggalih: “Putuku. banjur ngabekti Nyai Agung. Kuburan mau banjur dijênêngake Bratalaya. ngaturake lolose ingkang rama sarta Raden Gugur. Buddha kawak dhawuk kaya kuwuk. yen Prabu Brawijaya iku jarene ramane têmênan. Nyai Agêng Ngampel sawise mirêng ature Prabu Jimbun. kajaba mung siji Gusti Allah piyambak. ora dhawuh lan ora malangi marang wong kang salin agama. wong pancene rak sêmbah nuwun bangêt. dene kang padha gêlêm têluk. sarta Panêmbahan Palembang. wadya-bala kang saparo lan para Sunan padha ndherek Sang Prabu mênyang Ngampelgadhing. dene jêjuluke: Senapati Jimbun. Gusti Allah ora niksa wong . seda utawa sugênge ora ana kang wêruh”. Anane Islam lan kapir sapa kang gawe. têka dirusak kang tanpa prakara. sasedane Sunan Ngampel. Kabeh iki sasênênge dhewe-dhewe. Sultan Dêmak budhal mênyang Ngampel. sabên bêngi padha salat kajat sarta andêrês Kur’an. têtêpa jumênêng Nata nganti run-tumurun aja ana kang nyêlani. garwane mau asli saking Tuban. mêsthi kêsiku ing Gusti Allah. wusana banjur diwalês ala. Kowe wani mungsuh Ratu tur wong tuwamu dhewe. ngaturake patine Patih ing Majapahit lan matur yen panjênêngane wis madêg Nata mêngku tanah Jawa. njaga kaslamêtan mbokmanawa isih ana pakewuh ing wuri. sarta sing aweh nugraha marang kowe. pinêtak ana sakidul-wetan pura. banjur dikumpulake karo wong Islam. padha dikon nyêbut asmaning Allah. amarga Sang Prabu Brawijaya ora karsa salin agama Islam. Nyai Agêng kanggo têtuwa wong Ngampel. ora susah ngango dikon. kowe dosa têlung prakara. Kang ngangkat sarirane dadi Ratu mêngku tanah Jawa iku para Bupati pasisir kabeh. para Sunan sarta para Bupati gênti-gênti padha ngaturake sêmbah mênyang Nyai Agêng. Wong ganti agama iku ora kêna dipêksa yen durung mêtu saka karêpe dhewe. mungsuh Ratu tur sudarmane. banjur njêrit ngrangkul Sang Prabu karo ngandika: “Êngger! kowe wêruha. dene kowe kok wani ngrusak kang tanpa dosa. dene kang dipatah tunggu ana ing Majapahit. kowe iku dosa têlung prakara. Sunan Ngampel wis seda. Kang ngideni para Sunan. Têrung uga dijaga ngulama têlung atus. bapakmu tênan kuwi sapa? Sapa kang ngangkat kowe dadi Ratu tanah Jawa lan sapa kang ngideni kowe? Apa sababe dene kowe syikara kang tanpa dosa?” Sang Prabu banjur matur. prêlu nyuwun idi. Nyai Agêng ing batos karaos-raos. Nyai Agêng banjur ndangu Sang Prabu. Mulane nagara Majapahit dirusak. Nyai Agêng barêng mirêng ature Prabu Jimbun. ênggone sowan mênyang Ngampel iku. isih ngagêm agama kapir kupur. sarta kang aweh kamukten ing dunya. Barêng wis têlung dina. banjur muwun sarta ngrangkul Sang Prabu. Prabu Jimbuningrat matur yen mêntas mbêdhah Majapahit. mung kari garwane kang isih ana ing Ngampel. iya iku Patih Mangkurat sarta Adipati Têrung.

asih lang ngaji-aji. mêngko rak buwana balik arane. iku amarga sabên dinane wis ngaturi santun agama. mujijadmu apa? Yen nyata Khalifatu’llah wênang nyalini agama lah coba wêtokna mujijadmu tak-tontone”. amarga kowe Khalifatu’llah sajroning tanah Jawa. Eklasing ati bêkti bapa. tandha mripatmu iku lapisan. kang diarani wong linuwih. Jawa Jawi ngrêti matane mung siji. kowe tau matur yen arêp ngrusak Majapahit. ewadene Wong Agung tansah wêdi. Lamun mangkono tumindake. carita tanah Mêsir. awit kowe sing mêsthine paring idi marang aku. Banjure pangandikane Nyai Agêng Ngampel: “Putu! kowe tak. kang nandhakake yen kudu wis santun agama Islam. dadi wêruh ing bênêr lan luput. kasusuhane ora dipikir. têka kolu marang bapa. sanadyan para Nadi dhek jaman kuna. jare yen ngislamake wong kapir iku ing besuk oleh ganjaran swarga. ibumu Putri Cêmpa nyêmbah pikkong. kêduga ngrusak ora nganggo prakara. Nyai Agêng Ngampel gumujêng karo ngandika: “Tindakmu iku saya luput bangêt. Ujar-jare bae kok disungkêmi. dadi ora dielingi kapire. Iya iku êngger. saucapmu idu gêni. apa kowe wis matur marang wong tuwamu. Prabu Jimbun matur yen ora kagungan mujijad apa-apa. kowe ora wêdi papacuhe. mung bênêr karo lupute sing diadili nganggo têtêping adil. lair batine ora luput. jarene anake Sang Prabu. mêsthi wêdi mênyang bapa. Nyai Agêng Ngampel gumujêng nanging wêwah dukane. sing putih mung ing jaba. putrane anggege . mangka sabên dinane wis diaturi mujijade. iku agamane Islam. nanging kang dielingi wong tuwane. Barêng wong kang kaya kowe. mung manut unine buku. wong Agung Kuparman. wêwalêre kok-trajang.dongengi kupiya patang prakara. mula blero pandêlêngmu. têkane Majapahit banjur ngêpung nagara bae. bapa disiya-siya. mung kowe dhewe sing tuwa. nanging putihe kuntul. ora bêkti wong kapir. ora kaya tekadmu. malah manti-manti aja nganti mungsuh wong tuwa. mula iya banjur dimungsuh. iku wajib dibêkteni. nanging ora karsa. durung wani marang wong tuwa. aku ora wênang ngideni. yen aku tuwa tiwas. yen durung ngaturi salin agama. dupeh kapir Budha ora gêlêm ganti agama. prakara têtêpmu dadi Ratu tanah Jawa. wong ngumbara kok diturut rêmbuge. yen kowe têtêp tuwa Ratu”. amarga wis wajibe manusa bêkti marang wong tuwane. amarga iku wong tuwane. nalika eyangmu isih sugêng.kapir kang ora luput. Kowe tak-dongengi. maratuwane tansah golek sraya bisane mantune mati. tur dudu bukuning lêluhur. kok-aturi salin agama? nagarane kok nganti kok-rusak iku kapriye? Prabu Jimbun matur. mula Wong Agung iya ngaji-aji marang maratuwane. isih nglêstarekake agamane lawas. kapindhone Ratu lan kang aweh nugraha. mung ngêndêlake ikêt putih. ing jêro abang. iku dudu padon. wêruh kang bêcik lan kang ala. eyangmu ora parêng. sanadyan mungsuh wong tuwa. saka kêpenginmu jumênêng Nata. ananging atur mau ora dipanggalih. wujud dluwang utawa rêja watu. Kowe kuwi dudu santri ahli budi. Lan aku arêp takon. ing kitab hikayat wis muni. panjênêngane Kanjêng Nabi Dhawud. Yen kowe njaluk idi marang aku. saiki eyangmu wis seda. Kowe ora kêna sêngit mênyang wong kang agama Buddha. duwe maratuwa kapir. maratuwane gêthing marang wong Agung amarga seje agama. ênggone padha wani mungsuh wong tuwane. iku tandha yen isih mêntah kawruhmu. aku bangsa cilik tur wong wadon. sarta ora paring ganjaran marang wong Islam kang tumindak ora bênêr. sing nglakoni rusak ya kowe dhewe. lalar-lulurên asalmu. beda matane wong Jawa. ora ngrêti marang kang bênêr lan kang luput.

anggêlarake panguwasa sulap ana ing tanah Jawa. Ajisaka diangkat dadi Raja. Patih Majapahit mati ana samadyaning papêrangan. yen kondure uga mampir ing Ngampeldênta. Dewatacêngkar dipêrangi nganti kêplayu. aja dipêksa. ana Brahmana saka tanah sabrang angajawa. kang mangkono iku kukume Allah”. gêthing marang Dewatacêngkar. layang-layang Buddha iya wis diobongi kabeh. Apa maneh kaya kowe. Ana maneh caritane Sang Prabu Dewata-cêngkar. nanging wis ora kêna dibalekake. mung kowe kok gêlêm nglakoni. iku iya anggege kapraboning rama. ora lawas Nabi Dhawud sagêd wangsul ngrêbut nagarane. nanging ana ing Ngampel malah didukani sarta diuman-uman. kapindho murtat ing Ratu. nganthi pothol gumantung ana ing kayu. aran Aji Saka. Ana maneh caritane nagara Lokapala uga mangkono. putrane banjur sumilih jumênêng Nata. ngaturake yen mêntas saka Majapahit. mêsthi mandi. sarta ngandika yen wis cocog karo panawange. para wadya padha sênêng-sênêng lan suka-suka nutug. sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata. gumujêng karo manthuk-manthuk. nanging sawise. mungsuh bapa kang tanpa prakara. Sang Prabu matur. sowan ingkang eyang Nyai Agêng Ngampel. nanging banjur disotake dening ingkang rama banjur dadi buta. jarane ambandhang kêcanthol-canthol kayu. Nabi Dhawud nganti kengsêr saka nagara. kaping têlune ngrusak kabêcikan apa dene ngrusak prajane tanpa prakara. banjur didhawuhi kondur mênyang Dêmak. kiraku ora bakal oleh pangapura. nanging yen ora kêrsa. ambyur ing sagara. salawase urip jênêngmu ala. bisa mênang pêrang nanging mungsuh bapa Aji. ênggone ora ngrêti marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya. tur kelangan bapa. Putrane nunggang jaran mlayu mênyang alas. lan aturana mampir ing Ngampelgadhing. patimu iya mlêbu mênyang yomani. Sunan Benang mêthukake kondure Sang Prabu Jimbun. mêsthine labuh marang bapa. Sang Nata banjur matur marang Sunan Benang yen Majapahit wis kêlakon bêdhah. Sawise Sang Prabu dipangandikani. kowe mêsthi cilaka. iku kowe mrêtobata marang Kang Maha Kuwasa. Sunan Benang mirêngake ature Sang Prabu Jimbun. wadya Majapahit sing wis têluk banjur padha dikon Islam. Sang Prabu Danaraja wani karo ingkang rama. . kabeh padha nêmu sangsara. ora antara suwe banjur mati. dadi bajul. Sang Prabu Jimbun sarawuhe ing Dêmak. sing nglakoni cilaka rak iya mung kowe dhewe. panggalihe rumasa kêduwung bangêt. sarta ngaturake yen ingkang rama lan Raden Gugur lolos. Nyai Agêng Ngampel isih nêrusake pangandikane: “Kowe kuwi dilêbokake ing loropan dening para ngulama lan para Bupati. banjur didhawuhi ngupaya ingkang rama.kapraboning rama. sarta didhawuhi nglari lolose ingkang rama. Sang Prabu Jimbun mirêng pangandikane ingkang eyang. yen wis kêtêmu diaturana kondur mênyang Majapahit. apa sapangandikane Nyai Agêng Ngampel diaturake kabeh marang Sunan Benang. para santri padha trêbangan lan dhêdhikiran. Wong Jawa akeh kang padha asih marang Aji Saka. sabên dina mangsa jalma. iya iku kang diarani kukuming Allah. padha angucap sukur lan bungah bangêt dene Sang Prabu wis kondur sarta bisa mênang pêrange. Nyai Agêng akeh-akeh pangandikane marang Prabu Jimbun. sapisan mungsuh bapa. Putri Cêmpa wis diaturi ngungsi mênyang Benang. kukume iya isih tumindak kaya kang tak-caritakake mau. Adipati Pranaraga lan Adipati Pêngging masa trimaa rusaking Majapahit. iku bae wis abot sanggane”. amarga yen nganti duka mangka banjur nyupatani. ora suwe antarane.

mungguh prayoganing laku supaya ora ngrusakake bala. amarga panimbange wanita iku mêsthi kurang sampurna. Gênti kang cinarita. mêsthine bakal oleh sabda kang ora bêcik. Sunan Benang paring dhawuh marang Sang Prabu. supaya dijumênêngake ana seje nagara ing sajabaning tanah Jawa. Samangke putra paduka rumaos ing kalêpatanipun. kapanggiha wontên ing pundi-pundi ingaturan kondur rawuh ing Majapahit. iya iku Nayagenggong lan Sabdapalon. ênggone ora karsa salin agama Islam. sangêt kapenginipun mêngku praja angreh wadyabala. Sang Prabu didhawuhi sowan nyuwun pangapura kabeh kaluputane. mula iya wêdi. dene darbe bapa Ratu Agung ingkang anyêngkakakên saking ngandhap aparing darajat Adipati ing Dêmak. tindake Sunan kalijaga ênggone ngupaya Sang Prabu Brawijaya. aweta dados jêjimat pinundhi-pundhi para putra wayah buyut miwah para santana. botên sumêrêp tata krami. sineba ing para bupati. yen Prabu Jimbun mituhu dhawuhe Nyai Ngampeldênta. awit yen mateni wong kapir ora ana dosane. Nanging rasa kang mangkono mau banjur dislamur ing pangandika. têtêpa kados ingkang wau-wau. Sunan Giri banjur nyambungi pangandika. Lampahe Sang Prabu Brawijaya wis têkan ing Blambangan. aja ana ing tanah Jawa. Sunan Benang arêp kondur mênyang ‘Arab. sarehne wis kraos sayah banjur kendêl ana sapinggiring beji. Sang Prabu banjur ndangu marang Sunan Kalijaga: “Sahid! kowe têka ana apa? Apa prêlune nututi aku?” Sunan Kalijaga matur: “Sowan kula punika kautus putra paduka. Sunan Benang sarta Prabu Jimbun wis nayogyani panêmune Sunan Giri kang mangkono mau. sing kalangkungan tindake Sang Prabu Brawijaya. rumaos lupute. kapanggiha wontên ing pundi-pundi. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt. abdi loro mau tansah gêguyon. dene ngantos kamipurun ngrêbat kaprabon paduka Nata. samudanane nyalahake Sang Prabu Brawijaya lan Patih. Mila kawula dinuta madosi panjênêngan paduka. yen ingkang rama mêksa kondur mênyang Majapahit. nuwun pangaksama sadaya kasisipanipun. mung didherekake sakabat loro lakune kêlunta-lunta. dene ora ngelingi marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya. sêmbah sungkêmipun konjuka ing pada paduka Aji. Sang Prabu Brawijaya sarta putrane bêcik ditênung bae. saka ênggone ngupaya warta. Sunan Benang banjur ngandika. Lampahe Sunan Kalijaga turut pasisir wetan. lan padha mikir kahaning lêlakon kang mêntas dilakoni. ora antara suwe kêsaru sowanne Sunan Kalijaga. amarga mêsthi bakal ngribêdi lakune wong kang padha arêp salin agama Islam. madosi panjênêngan paduka. ing mangke putra paduka emut. mêngku wadya sineba para punggawa. banjur ngabêkti sumungkêm padane Sang Prabu. sabên desa diampiri. tangeh malêsa ing sih paduka Nata. luwih bêcik ênggone ngrusak Majapahit dibanjurake. yen dhawuhe Nyai Agêng Ngampel ora pêrlu dipanggalih. bilih panjênêngan paduka linggar saking praja botên kantênan dunungipun. . dene yen arêp ngaturi jumênêng Nata maneh. dene sing marak ana ngarsane mung kêkasih loro. yen ora nglakoni dhawuhe Nyai Ngampel.Sunan Benang sawise mirêngake ature Sang Nata ing batos iya kêduwung. punika putra paduka rumaos yen mêsthi manggih dêdukaning Pangeran. awit saking kalimputing manah mudha punggung. wusana Prabu Jimbun banjur matur marang Sunan Benang.

yen kaparêng saking karsa paduka. nanging nyuwun pusaka Karaton ing tanah Jawa. ingsun ora isin. yen putune arsa ingsun-pateni. punapa malih ingkang sinuwun malih. murih picêka mataku siji. putra paduka nyaosi busana lan dhahar paduka. têtêpa kados ingkang sampun. samêkta sakapraboning pêrang. iya sanadyan pêrang gêdhe gêgêmpuran amungsuh anak.” Sunan Kalijaga ngrungu dhawuhe Sang Prabu kang mangkono iku ing sanalika mung dhêlêg-dhêlêg. sikara wong tuwa kang tanpa dosa. rahayunipun para putra wayah sadaya. sun-jaluk lilane anake arêp ingsun pateni. kaping têlune kang mbêciki. mandar amêwahana cahya nurbuwat ingkang wêning. kapêtêk wontên ing êmbun. iya ingsun-jaluk lilane. yêkti padha têka ing Bali sagêgamaning pêrang. ora wurung bakal ana pêrang gêdhe tur wadya ing Dêmak masa mênanga. mukul pêrang tanpa panantang. Lamun iki ngantiya nyabrang marang Bali. Sakawit ingsun bêciki. mungsuh ratu pindho bapa. njujuga nagari Bali. sarta padha eling marang lêlabêtan kabêcikaningsun. dadi dudu tataning manusa kang utama”. ngandika sajroning ati: “Tan cidra karo dhawuhe Nyai Agêng Ngampelgadhing. Yen wis samêkta sawadya prajurit. mugi dadosa jimat paripih. wis mêsthi bae wong . wani mungsuh bapa ratu. dene kadudon kang wis kêbanjur. ing batin bangêt panalangsane. lan ingsun arsa angsung wikan marang Hongte ing Cina. lan arsa ingsun-kon nimbali para Raja kanan kering tanah jawa. putra paduka pasrah kaprabon paduka Nata. mula banjur ngrêrêpa. padha mata lapisan kabeh. rêmbuge mung manis ana ing lambe. ing rêdi ingkang karsakakên badhe dipundhêpoki.kinurmatan sinuwunan idi wilujêngipun wontên ing bumi. lan duwe wêlas marang wong wungkuk kaki-kaki. ature: “Inggih saduka-duka paduka ingkang dhumawa dhatêng putra wayah. kajawi namung pangapuntên paduka. têka rinusak tanpa prakara. amarga katindhihan luput. samêkta sakapraboning pêrang. kacancang pucuking rema. walêse kaya kênyung buntut. Manawi paduka kondur. sabab murtat wani ing bapa kapindhone Ratu. Dene yen panjênêngan paduka botên karsa ngasta kaprabon Nata. Sunan Kalijaga barêng ngrungu pangandikane Sang Prabu rumasa ing kaluputane ênggone melu mbêdhah karaton Majapahit. tinggal tata adat caraning manusa. sinaosan kadhaton wontên ing rêdi. arsa ingsun-wartani pratingkahe si Patah. kêtêmu karo yayi Prabu Dewa agung ing Kêlungkung. yen anake karo pisan satêkane tanah Jawa sun-angkat dadi Bupati. sun-jak marang tanah Jawa angrêbut kapraboningsun. apa ta salah-ingsun. karana ingsun wis kapok rêmbugan karo santri padha nganggo mata pitu. yen putrane wis patutan karo ingsun mêtu lanang siji. sadayaning kalêpatanipun. nanging ora wêruh ing dalan. iku apa nganggo tataning babi. awit ingsun ora ngawiti ala. Sahid! nanging ora ingsun-gatekake. banjur wani mungsuh bapa Ratu. ora nyawang wujuding dhiri. ananging ora wêruh ing dalan. lan Adipati Palembang sun-wehi wêruh. namung nyuwun pangaksama paduka. mawas ing ngarêp nanging jêbul anjênggung ing buri. Sarehning sampun kalêpatan. ingsun njaluk biyantu prajurit Cina. kulit kisut gêgêr wungkuk. batine angandhut pasir kinapyukake ing mata. dipunsuwun ingkang rila têrusing panggalih”. mula blero pandulune. ing pundi sasênênging panggalih paduka. yen eyang wungkuk isih mbrêgagah nggagahi nagara. lan nyuwun pangkatipun lami dados Adipati ing Dêmak. Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Ingsun-rungu aturira. aninggal carane wong agung. putra paduka nyaosakên pêjah gêsang. wangsul karsa paduka karsa tindak dhatêng pundi?” Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Saiki karsaningsun arsa tindak mênyang Bali.

sêrêt pangandikane: “Sahid! linggiha dhisik. sarta banjur nyaosake cundrike karo matur. Sunan Kalijaga gumujêng karo matur: “Mokal manawi makatên. Sang Prabu ngandika: “Sahadat iku kaya apa. yen Sang Prabu ora karsa nglampahi kaya ature Sunan Kalijaga. karaton ing tanah Jawa. nyêkrukuk. têmên lan gorohe. tiyang namung bab agami. kok dikum ing banyu”. tak-timbange aturmu. namung langkung utami manawi panjênêngan paduka karsa gantos sarak rasul. kang miturut adat pranatane para lêluhur. liya dina lali. panggalihe kanggêg. amarga aku kuwatir yen aturmu iku goroh kabeh. iya sun-paringake krana bêcik. Sang Prabu nguningani patrape Sunan kalijaga kang mangkono mau. Balik samêngko si Patah siya mring sun. sampun tamtu putra paduka ingkang badhe nêmahi kasoran. kaprabon Jawi kaliya ing sanes darah paduka Nata. lajêng nyêbut asmaning Allah.Jawa kang durung Islam yêkti asih marang Ratu tuwa. sanadyan salat dhingklak-dhingkluk manawi dereng mangrêtos sahadat punika inggih têtêp nama kapir”. manawi botên karsa punika botên dados punapa. nrima dadi pandhita. benjing kula ingkang tanggêl.” Wusana Sunan Kalijaga matur alon: “Dhuh pukulun Jêng Sang Prabu! saupami paduka lajêngna rawuh ing bali. Sumurupa Sahid! saupama aku kondur marang Majapahit. Sahid! saiba susahing atiku. dene bab agami namung kasarah sakarsa paduka. pitêkur ana ing gunung. rumasa ora kaconggah ngaturi. pamintane marang para titah ing wuri. wong wis tuwa. luwih karsaning Jawata Gung. mula nganti suwe ora ngandika tansah têbah jaja karo nênggak waspa. ingsun iki Ratu Binathara. disuwun krananing bêcik. aku kok durung ngrêti. si Patah seba mênyang aku. coba ucapna tak-rungokne”. mula banjur nyungkêmi pada. gêthinge ora bisa mari. amarga lingsêm manawa mêruhi lêlakon kang saru. Saupama si Patah ngrasa duwe bapa ingsun. punapa botên ngeman risakipun nagari Jawi. saupami kados dene sêgawon rêbatan bathang. ingkang kêrah tulus kêrah têtumpêsan sami pêjah sadaya daging lan manah kathêda ing sêgawon sanesipun”. pikêkahipun tiyang Islam punika sahadat. botênbotênipun manawi putra paduka badhe siya-siya dhatêng panjênêngan paduka. Sang prabu Brawijaya ngandika: “Mungguh kang mangkono iki luwih-luwih karsane Dewa Kang Linuwih. bênêr lan lupute. ingsun wis kakikaki.” Sunan Kalijaga barêng mirêng pangandikane Sang Prabu. tak-pikire sing bêcik.” Sang Prabu mbanjurake pangandikane marang Sunan Kalijaga: “Mara pikirên. mêsthi asor wong Islam tumpês ing pêpêrangan. nimbali para Raja. angantêp tangkêping jurit. ora nganggo mata loro. yen ora ngrêti banjur diguyang ana ing blumbang dikosoki alang-alang garing. mung siji marang bênêr paningalku. wis warêg jumênêng Ratu. aku banjur dicêkêl dibiri. Sunan Kalijaga nyuwun supaya dipateni bae. nêtêpi mripat siji. kêpengin dadi Ratu. amarga duwe bapa Buddha kawak kapir kupur. dikon tunggu lawang pungkuran. esuk sore diprêdi sêmbahyang. panjênêngan paduka jumênêng Nata botên lami lajêng surud. saestu badhe pêrang gêgêmpuran. mêsthine-ingsun iya ora lila ing tanah Jawa diratoni. .

mila sêmbahyang mungêl “uzali” punika têgêsipun nyumêrêpi asalipun. raganipun manusa punika wêwayanganing Dzating Pangeran. sami nêdha bangsanipun piyambak. amarga yen mung lair bae. wujud makam kubur rasa. Sang Prabu diaturi Islam lair batos. lan anêkseni. ora ana Pangeran kang sajati. Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. kang dhingin wêruh badan. Sunan kalijaga ature akeh-akeh. amung Allah. Dene raganipun manusa punika asalipun saking roh idlafi.” Sabdane Wiku tama sinauran gêtêr-patêr. remane ora têdhas digunting. mulane kêna diparasi. Sang Prabu banjur ngandika yen wis lair batos. wa ashadu anna MukhammadarRasulu’llah. punika têtêp kapiripun.Sunan kalijaga banjur ngucapake sahadat: ashadu ala ilaha ila’llah. Sang Wiku Manumanasa. botên wontên ingkang ewah agamanipun. Tiyang ngucap punika kêdah sumêrêp dhatêng ingkang dipunucapakên. manawi botên mêngrêtos têgêsipun sahadat. sawise banjur mundhut paras marang Sunan Kalijaga nanging remane ora têdhas digunting. nêtêpi wiwit sapisan ngestokakên agami Buddha. Saka karsaku. mêdal saking badan kang mênga. wijile rasaning urip. Sang Prabu Brawijaya sinêmonan dening Jawata. Jawi têgêsipun ngrêti. kaping kalih wêruh ing têdhi. kula momong pikukuh lajêr Jawi. kasêbut Rasulu’llah punika rasa ala ganda salah. Sakutrêm lan Bambang Sakri. botên sumêrêp rukun Islam. Rasule minggah swarga. botên muji Mukhammad ing ‘Arab. lu’llah. têgêsipun Rasul rasa. wiwit dina iki aku ninggal agama Buddha. têgêsipun: Ingsung anêkseni. lan malih sintên tiyang ingkang nêmbah puji ingkang sipat wujud warni. Rasul rasa kang nusuli. dumugi sapriki umur-kula sampun 2000 langkung 3 taun. 2: pari Randanunut. iya iku rêrupan kahanan ing dunya ditambahi warna têlu: 1: aran sukêt Jawan. punika nêmbah brahala namanipun. muji badanipun piyambak. ênggone karsa mlêbêt agama Rasul. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin. Kangjêng Nabi Mukhammad iku utusane Allah”. nganti Prabu Brawijaya karsa santun agama Islam. Sang Prabu sawise paras banjur ngandika marang Sabdapalon lan Nayagenggong: “Kowe karo pisan taktuturi. rasa pangan manjing lesan. pamrihipun damêl kapiran muksa paduka mbenjing. lan 3: pari Mriyi. . riningkês dados satunggal Mukhammad Rasula’llah. dene têgêsipun Nabi Mukhammad Rasula’llah: Mukhammad punika makam kuburan. momong lajêr Jawi. ngrasuk agama Islam. mulane Sunan Kalijaga banjur matur. Sawêg paduka ingkang karsa nilar pikukuh luhur Jawi. lantaran ashadualla. kowe sakarone tak-ajak salin agama Rasul tinggal agama Buddha”. luluh dados êndhut. banjur nyêbut asmaning Allah Kang Sajati. kula manawi tilêm ngantos 200 taun. sadangunipun kula tilêm tamtu wontên pêpêrangan sadherek mêngsah sami sadherek. rohipun Mukhammad Rasul. rêmên manut nunut-nunut. dados momongan kula. run-tumurun ngantos dumugi sapriki. ingkang nakal sami nêdha jalma. rasa lan têdhi dados nyêbut Mukhammad rasulu’llah. botên sumêrêp wujud têgêsipun. Ature Sunan Kalijaga marang Sang Prabu: “Tiyang nêmbah dhatêng arah kemawon. Sintên ingkang jumênêng Nata. dados badanipun tiyang punika kuburipun rasa sakalir. botên mangrêtos purwaning dumados”. têka narimah nama Jawan. wajibipun manusa mangeran rasa. mila tiyang punika prêlu mangrêtos dhatêng lair lan batosipun.

Manawi dipunpundhut ingkang Mahakuwasa. Wangsul Prabu Brawijaya lajêng manggen wontên pundi. Surup têgêsipun: sumurup purwa madya wasananipun. Têgêsipun satus punika putus. dene ingkang mastani mulya punika rak tiyang ‘Arab sarta tiyang Islam sadaya. sarira paduka sipate tiyang wujud dados. bapa biyung botên damêl. lantaranipun ngabên awon. apa gêlêm apa ora ninggal agama Buddha. manawi tekadipun sae inggih nampeni kamulyan. dipunwastani Mukhammadun. wontênipun wujud piyambak. manawi kula santun agami. dados sipatipun tiyang lan raos. ngalêm saening tangga. asal Nur bali marang Nur”. roh idlafi têgêsipun lapisan. dados botên ngapirani. saestu damêl kapiran kamuksan-kula. Uripipun langgêng namung raga pisah kaliyan sukma. saking karsaning Latawalhujwa. nanging tangining raos wujud badan. punika sanes pêjah ingkang utami. sampun mêsthi sukma pisah kaliyan budi. mila dipunwastani anak. . sampun ebah saking prênahipun mlêbêt mbêkta sir cipta lami”. manawi dipunpundhut dening Ingkang Maha Kuwasa. Adam punika muntêl kaliyan Hyang Brahim. Ingkang makatên punika amargi namung saking kirang budi kawruhipun. Manawi kula. lan nyêbut asmaning Allah Kang Sajati?” Sabdapalon ature sêndhu: “Paduka mlêbêt piyambak. nêtêpana namane tiyang lumampah. têlu punika tilas. manawi sampun risak wangsul dhatêng asalipun malih. botên ngengêti bilahinipun ing wingking. dene pêjah ingkang utami punika sewu satus têlung puluh. kala gêsangipun dereng nêdha woh wit kawruh lan woh wit budi. Sabdapalon matur maneh: “Inggih punika kawruhipun tiyang bingung gêsangipun rugi. nêdha siti ngajêng-ajêng tiyang ngirim sajen tuwin slamêtanipun. kula rêmên agami lami. mila nami Mukhammad inggih makaman kuburan sakalir. tur siya dhatêng raga. Tiyang pêjah botên kêbawah pranataning Ratu ing lair. nyêbut Nabi Mukhammad Rasula’llah panutaning para Nabi. manawi dados dhêmit ingkang têngga siti. Siya punika têgêsipun ngukum. wujud malih. wujudipun piyambak. puluh punika pulih. wujudipun risak. têgêse Mukhammad niku makaman kubur. makaman kuburing rasa. makatên wau têtêp botên wontên prêlunipun. ingkang nglimputi wujud. jasanipun budi. risak-risakipun piyambak. nanging manawi tekadipun awon inggih nampeni siksanipun. manawi nyêbut Nabi Mukhammad Rasulu’llah. kubure rasa kang salah. punika dadosipun piyambak. nrimah pêjah dados setan. namung mangeran rasa wadhag wadhahing êndhut. kula botên têgêl ningali watak siya. namung prêlu nênggani daging bacin ingkang sampun luluh dados siti. ing benjing. gantos roh idlafi lapisan: sasi surup mêsthi saking pundi asalipun wiwit dados jalmi. asal siji mantuk satunggal. Cobi paduka-jawab atur-kula punika”. sampun dados wajibipun manusa punika manut dhatêng eling budi karêpan. inggih punika sahadat ingkang botên mawi ashadu. nyêbut Dewa Ingkang Linangkung. namung tansah nêdha eca. nanging ingkang risak namung ingkang asal saking roh idlafi. mastani botên urus. Jagad punika raganipun Dewa ingkang asipat budi lan hawa. ing têmbe tilar mujijat rakhmat nyukani kiyamat dhatêng anak putunipun ingkang kantun. Sang Prabu ngandika: “Mulih marang asale. ngapêsakên badanipun piyambak. dereng nêdha woh kawruh lan budi. namung kantun rumaos lan pangraos ingkang paduka-bêkta dhatêng pundi kemawon. têgêsipun kêbrahen nalika gêsangipun. anggenipun ngalêm badanipun piyambak. dadosipun saking gaib samar. botên gadhah kawruh kaengêtan. salin agama Rasul. kados tiyang ‘Arab.Sang Prabu andangu maneh: “Kapriye kang padha dadi kêkêncênganmu. makatên punika ingkang nistha. botên manggih raos ingkang saestu.

sampun botên prêlu pados ‘ilmi kamulyaning seda”. Paduka badhe tindak dhatêng akhirat pundi. sampun pêpak: akhirat. ical gêsangipun salêbêtipun pêjah”. yen wis luluh dadi lêbu”. lajêng klambrangan. Sang Prabu: “Ciptaku arêp mulih mênyang akhirat. botên bawa piyambak. jagadipun manusa punika sampun mêngku ‘alam sahir kabir. Sabdapalon: “Punika pêjahipun tiyang kalap nglawong. dipunpaksa nyambut damêl awrat tur botên tampa arta. Klêbêt akhirat nusa Srênggi. nalika gêsangipun kados kewan. sampun paduka-bêkta ngaler ngidul. namung nêdha ngombe lan tilêm. botên sagêd dados roh idlafi enggal. botên gêsang. tiyang gêsang wontên ing dunya kados makatên wau. makatên punika namung sagêd lêma sugih daging. manawi sampun narimah dados sela. dados setan kuburan. nênggani daging wontên kuburan. Ênggi têgêsipun gawe. dipunbanda. Sang Prabu ngandika maneh: “Asal suwung aku bali. kamuktenipun namung nêmpil. swarga. nalika tapêl Adam. manusa dipunwênangakên nampik milih.ênggen wontên akhirat. Inggih punika tiyang bodho mangrêtosa. botên mangrêtos santun roh hidlafi enggal.Sang Prabu ngandika: “Ciptaku nempel wong kang luwih”. manawi kenging kula-singkiri. kados dene kêmladeyan tumemplek wit-witan agêng. sakulawargane mung nadhah bêras sapithi. botên iman ‘ilmi. Pangandikane Sang Prabu: “Aku ora duwe cipta apa-apa. Tiyang pêjah muksa punika cêlaka. lêma kakathahên daging. Nun!” Sang Prabu ngandika: “Aku arêp muksa saragaku”. munggah swarga seba Kang maha Kuwasa”. Sang Prabu: “Aku nunggoni makaman kubur. nanging botên tilar jisim. Sabdapalon gumuyu: “Yen tiyang agami Rasul têrang botên sagêd muksa. manawi akhiratipun . amargi nami pêjah. Sabdapalon matur: “Akhirat. sambêl. manawi lêpat jawabipun tamtu dipunukum. tanpa ulam. nusa têgêsipun manusa. naraka ‘arasy kursi. lajêng nempel dhatêng sanesipun malih”. botên pêjah. nilar wajibing manusa. dados brêkasakan. saênggen. namung dados gunungan dhêmit”. nalika aku durung maujud iya durung ana apa-apa. jangan punika akhirat ingkang katingal tata lair. namanipun botên sahadat. sampun ngantos kula mantuk dhatêng kamlaratan sarta minggah dhatêng akhirat adil nagari. Punika botên pêjah utami. Sabdapalon matur: “Punika tiyang kêsasar. Sabdapalon: “Paduka nilar sipat. botên bawa piyambak. mangka ênggene akhirat punika têgêse mlarat. manawi dipuntundhung. punapa botên cilaka. Sabdapalon: “Inggih punika pêjahipun tiyang cubluk. botên ngrumaosi yen tinitah linangkung. dados nama sampun narimah ngombe uyuh kemawon. nunut-nunut. mênyang suwung. swarga. sakarsane Kang Maha Kuwasa”. ora ikhtiar nampik milih. Srêng têgêsipun padamêlan ingkang awrat sangêt. botên kuwawi ngringkês nguntal raganipun. daging ingkang sampun luluh dados siti. dadi patiku iya mangkono”. pêjahipun tiyang nistha. mangke manawi kêsasar lo. rêmênipun namung nempel. Dados têgêsipun jalma pinêksa nyambut damêl dhatêng Ratu Nusa Srênggi namanipun.

kentir sagara rahmat lajêng lumêbêt ing guwa indra-kilaning estri. wujudipun amung asma. Têgêsipun pur: jumbuh. nglimputi wontên ing dunya tuwin ing akhirat. jagading tiyang punika guwa sir cipta namanipun. botên salah dipunpragat. rumêksa gêsangipun elingipun panjanmaning surya. jumbuh punika têgêsipun pêpak. adhi punika ari-ari. Tulis ical. plêsatipun wêtaha. kula botên kuwawi cêlak. kathah rajakaya ingkang wontên ing ngriku. sanes bangsanipun malaekat. nutfah sampun ngantos ebah saking jagadipun. suksmanipun mêdal nyuwun gantos ingkang sae. paduka sampun ngantos kondur dhatêng akhirat. ingkang nêdahakên pandomipun. sampun dipunsêrat wontên lokhil-makful. dados botên wongsal-wangsul. amargi Gusti Allah punika botên kantha botên warna. bêgja cilakanipun gumantung wontên ing budi nalar lan kawruhipun. kakang mbarêp punika kawah. gêsangipun nyambut damêl kanthi paksan. tibaning nikmat ing dhasaring bumi rahmat. ingkang engêt sadayanipun. lumampah botên ebah saking panggenanipun. kendêl malih wontên cêthik. mêngku alam sahir kabir. pramila tumrap tiyang agami Buddha. botên ewah gingsir. têpangipun amung têpang kados cahyanipun lintang lan rêmbulan. nanging langgêng manggen wontên satêngahipun jagadipun. ingkang pêjah namung raganipun. cêlak botên panggihan. mila jalma keblatipun wontên têngahing jagad. ingkang ewah punika makaming raos. ingkang dipunwastani pêjah gêsang. baita pêcah. umuripun sampun dipunpasthekakên. ingkang gêsang napasipun taksih lumampah. Punika pungkasanipun kawruh. Wiwitanipun keblat sakawan. nglangkungi ingkang sampun sêpuh. ana wujud. punika kawruhipun tiyang Jawi ingkang agami Buddha. dene suksmanipun inggih punika tiyang ingkang wontên ing baita wau. Gawanên gêgawanmu. têgêsipun lor : laire jabang bayi. ingkang têtêp langgêng. sowan Hyang Latawalhujwa. botên ngraosakên kanikmatan. siyang dalu sampun sumêlang dhatêng sadaya rêrupen. etangan gunggunge: kumpul. Ningali jantung kêtêg kiwa: surut marga sire cipta. Prabu Brawijaya botên anem botên sêpuh. dados wontên têngahing jagad swarganing tiyang sêpuh estri. sadaya sami trima tilêm kêmul siti. botên sagêd ewah gingsir. sampun ngantos minggah dhatêng swarga. mêdal wontên kalamwadi. paduka sampun ngantos sowan Gusti Allah. botên ewah botên gingsir. dadosipun saking sabda kun. mila Allah botên katingal. kontêning eling sadayanipun. sênteg sapisan tênunan sampun nigasi. sadherek ingkang sarêng tanggal gaibipun. têgêsipun kidul : estri didudul wêtênge ing têngah. tanggalipun manusa. kapanggihe cahya murub dados satunggal. Raga punika dipunibaratakên baita. ma.pundi botên ewah. têgêsipun urip. paduka wiji rohani. lênggah rupa cahya. manawi baitanipun lumampah mangka salah pandomipun. inggih punika wetan kilen kidul ler : têgêsipun wetan : wiwitan manusa maujud. mindhak kêsasar. sarwa wontên. manusa raganipun asal saking nutfah. Lêbêtipun roh saking cêthak marginipun. manawi panggenanipun sampun sêpuh. dipunbêkta dhatêng pundi. namung Dzatipun ingkang nglimputi sadaya wujud. madhêp dhatêng wujud. punapa malih paduka. tamtu manggih cilaka. raga wadhag ingkang asal roh idlafi. sarêng tanggalipun kaliyan sadherekipun kakang mbarêp adhi ragil. kawruhipun tiyang Buddha. tanggal sapisan kapurnaman. ingkang ical utawi kirang ikhtiaripun inggih badhe ical utawi kirang bêgjanipun. sapunika lan benjing. Kangjêng Nabi Musa toh botên kuwawi mandêng dhatêng Gusti Allah. jagadipun manusa punika langgêng.tiyang pêjah malah langkung saking punika. têbihipun botên mawi wangênan. na. nyuwun ingkang enggal. surup lan tanggalipun sampun samar : kala rumiyin. lairipun saking tiyang sêpuhipun estri. . têgêsipun kulon : bapa kêlonan. wontên ing ngriku ki budi jasa kadhaton baitu’llah ingkang mulya. jujugipun ingkang cêtha cêthik cêthak. wontên salêbêting guwa sir cipta kang êning. manawi raganipun sampun sêpuh. botên pisah botên kumpul. ngGêgawa nêdha raga. paduka dereng têpang.

inggih punika . manawi kula kêpengin badhe wujud. gandanipun kadosdene nalika taksih dados sato kewan. urip wontên ing ‘alam dunya pados kawruh kaliyan woh kuldi. nanging manawi tekadipun nasar. manawi paduka botên sagêd maos sastra ingkang wontên ing badanipun manusa. napas tali. kasêbut ing sêrat Anbiya. keblat lor bênêr siji. ngantos roh lapisan. ngadam utawi wujud sagêd sami sanalika. pisahipun kawula kaliyan Gusti. lali eling urip mati. untungipun sugih daging. gêsang langgêng ingkang botên sagêd pêjah. Walikat: walikane gêsang. wontên ing dunya amung sadarmi ngangge raga. Lêmpeng kiwa têngên têgêsipun tekadmu sing lêmpêng lair batin. wadhag alus-kula sampun kula-cakup lan kula-carub. alamipun jalma sambungan. botên damêl botên tumbas. manawi suksma punika pêjah ing ‘alam dunya suwung. nempel tosan. bêcik lawan ala. sato wana tuwin lêlêmbut inggih dipuncipta dados tiyang. manawi botên mapan gêsangipun. mrêtitis ingkang botên-botên. Nalika panjênênganipun Bathara Wisnu jumênêng Nata wontên ing Mêndhang Kasapta. Punuk têgêsipun panakna. nanging sagêd manjalma dados tiyang (kajêngipun. pêjah malih sagêda mapan. dadosipun saking sabda kun. lajêng tangi malih. sanadyan suksmanipun tiyang. inggih pisah kaliyan tiyangipun. tanggalipun botên surup salaminipun. Makatên punika ungêling sêrat. yen angsal woh kawruh kathah. saking tiyang inggih dados tiyang. Raganing manusa punika namanipun baitu’llah.tiyangipun rêbah. saseda paduka manjalma dhatêng kuwuk. Sungsum têgêsipun sungsungên. pramila gandanipun tiyang satunggal-satunggalipun bedabeda. Timbangan têgêsipun salang. manawi tiyang punika têrus gêsang. Dewa ingkang damêl cahya murub nyrambahi badan. kapiran seda paduka. manawi baitanipun tiyang Jawi sagêd mapan santun baitu’llah malih ingkang sae. praunipun sampun rêmuk. inggih nglêbêt inggih jawi. ingkang dipunwastani jithok têgêsipun namung puji thok. Pramila kêdah ingkang mapan. muji dhatêng Gusti. sah têgêsipun pisah. Lambung: waktu Dewa nyambung umur. Manawi paduka ngrasuk agami Islam. manawi pisaha raga suksma lan budi. Jiling punika puji eling marang Gusti. ingkang dipunwastani Sastrajendrayuningrat. nyuwun baitu’llah ingkang enggal. dene manawi sagêd sagêd maos sastra ingkang wontên ing raga wau. punika namanipun sahadat. Manawi kula. manawi sampun pisah raga suksma. dados wadya-balanipun Sang Nata. dat punika Dzating Gusti. yen tunggal. paduka têtêp kapir. botên pitados dhatêng sêratipun Gusti. Sêrat tapak Hyang. Kanjêng Nabi Musa kala rumiyin tiyang ingkang pêjah wontên ing kubur. ngungkulana ingkang lami. ngengêtana dhatêng asaling kawula. manawi angsal woh kuldi kathah. botên wontên tiyang. purwa bênêr lawan luput. mumpung baitanipun taksih lumampah. kawula ugi wajib utawi wênang matur dhatêng Gusti. dados dhêmit têngga siti. Kiwa têgêsipun: raga iki isi hawa kêkajêngan. dados kantun sasêdya-kula kemawon. lampahipun saking ênem urut sêpuh. baitanipun tiyang Islam gêsangipun kantun pangrasa. Nalika eyang paduka Prabu Palasara iyasa kadhaton wontên ing Gajahoya. kenging kangge sangu gêsang. inggih prau gaweyaning Allah. nêtêpi kamanusanipun. Pundhak punika panduk. Ula-ula: ulatana. sampun jumbuh dados satunggal. pêjahipun manjalma dados kuwuk. lalarên gêgêrmu sing nggligir. têgêsipun incêngên aneng cêngêlmu. gantos makam enggal. sing bênêr keblatira. têgêsipun suksma ugi pisah kaliyan budi. budinipun lajêng santun baitu’llah. kabêsaran. sintên ingkang damêl raga? Sintên ingkang paring nama? inggih namung Latawalhujwa. sanadyan suksmanipun kewan. gêsangipun gantos roh lapis enggal. dados saking sabda kun. Mata têgêsipun tingalana batin siji. Têpak têgêsipun têpa-tapanira. kajêng sela. sato wana tuwin lêlêmbut dipuncipta dados manusa. punika kêdah ingkang waspada. adiling Kawasa tiyang punika pinasthi ngundhuh wohing panggawene piyambak-piyambak). sarta murtat dhatêng lêluhur Jawi sadaya. Têngên têgêsipun têngênên ingkang têrang. tiyang Jawi tamtu lajêng Islam sadaya. manawi paduka maibên. ing dunya kêbak manusa. Manawi paduka maibên. botên wênang ngêkahi pêjah. manawi baitanipun bibrah.

Manawi kula sumêdya ngêdalakên kaprawiran. kantun asma nglimputi badan. kang surasane ora prêlu manggalih kang akeh-akeh. langgêng salaminipun. kang kasêbut ing pikêkah Jawi. saking pajaripun ngantos sampun botên katingal wujudipun Sabdapalon. dhatêng agami enggal botên manut! Kenging punapa paduka gantos agami têka botên nantun kula. sêdya ngadam. toya kula-êntut sêpisan kemawon. tiga-tiga punika tumindakipun. Manawi kula timbangana nama kapilare. sampun dados wangi. Palon: pikukuh kandhang. gêsangipun nglimputi salêbêting pêjahipun. dene pêjahipun nglimputi salêbêting gêsangipun. wis disêkseni Sahid. botên pisah. aku wirang yen digêguyu bumi langit.” Sang Prabu ngandika: “Kapriye iki. kaya kang wis kathandha. inggih sagêd ical sami sanalika. kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi. kula wirang dhatêng bumi langit. yen Sang Prabu nyata wis mantêp marang agama Rasul. Yen banyu dicipta bisa ngganda wangi. pucakipun lajêng anjêmblong. Manawi paduka botên pitados.” Sunan Kalijaga banjur matur marang Sang Prabu. dipunpamerakên dhatêng kula. iku tandha yen Sang Prabu wis mantêp marang agama Rasul. Genggong: langgêng botên ewah. Raga-kawula punika sipating Dewa. sarta matur yen arêp nyipta banyu kang ana ing beji. ing wêkdal samantên tanah Jawi sitinipun gonjang-ganjing. punika kula. sampun kalingan pajar. nanging inggih botên kumpul. mila rêdi-rêdi ingkang inggil pucakipun. kapriye mungguh ing gandane. mêngsah uyuh-kula piyambak. Naya têgêsipun ulat. ingkang kula rêbat punika? Paduka sampun kêlajêng kêlorob.wujud-kula. lakar paduka-lampahi piyambak. aku wis kêbacut mlêbu agama Islam.” Sabdapalon matur maneh: “Inggih sampun. wirang momong tiyang cabluk. Sang Prabu ngandika maneh: “Apa kowe ora manut agama?” Sabdapalon ature sêndhu: “Manut agami lami. yen sêdya maujud sagêd katingal sanalika. paduka wayangipun wujud sipating suksma. Sang Prabu ndangu: “Ana ing ngêndi Pangeran Kang Sajati?” Sabdapalon matur: “Botên têbih botên cêlak. nanging yen gandane ora wangi. botên pêjah botên gêsang. kula botên tumut-tumut. rêmên manut nunut-nunut. ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula. Cobi paduka-dumuk: pundi wujudipun Sabdapalon. amarga banyu sêndhang gandane wangi. amarga agama Islam iku mulya bangêt. karsa dados jawan. rêdi-rêdi sami kula êntuti. kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal. aku ora kêna bali agama Buddha maneh. badan-kawula sakojur gadhah nama piyambak-piyambak. adi Guru namung ngideni kemawon. dipunanggêp sarira tunggal. budi hawa badan. mila tanah Jawi lajêng botên goyang. latunipun kathah ingkang mêdal. saking agênging latu ingkang wontên ing ngandhap siti. tanpa guna kula êmong. sami mêdal . Paduka punika sampun Ratu linuhung tamtu botên badhe kêkilapan dhatêng atur-kula punika”. Dados wicantên-kula punika. prêlu kanggo tandha yêkti. langgêng salaminipun”. paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus. (11) Ature Sabdapalon marang Sang Prabu: Punika kasêkten punapa? kasêktening uyuh kula wingi sontên. ing kono Sunan kalijaga matur marang Sang Prabu. Sunan Kalijaga banjur nyipta. padha sanalika banyu sêndhang banjur dadi wangi gandane. botên ênem botên sêpuh. iku anandhakake: yen Sang Prabu isih panggalih Buddha. irib-iriban. botên rêmên momong paduka. nama Manik Maya.

Sabdapalon matur yen arêp misah. iya iku sing diêmong Sabdapalon. Banyu sêndhang mau kanggo tandha. Sang Prabu mirêng ature Sabdapalon. dipuntampik dening Dewa. nilar agami Buddha. Sunan Kalijaga banjur jasa bumbung loro kang siji diiseni banyu tawa. sagêd wangsul kados jaman Buddha jawahipun”. wasana banjur ngandika. turun paduka tamtu apês. wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi. kang ngaturake yen wong agama Islam iku. tinanêma thukul mriyi. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang”. Sang Prabu ngandika: “Kok-tutuha iya tanpa gawe. kêndêl tindak nistha tuwin rêmên supata. Jawi kantun jawan. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti. sijine diiseni banyu sêndhang. wiji bungkêr botên thukul. saiki mung kowe kang tak-tari. angaturake lêpiyan. mêsthi nêmu sangsara. ora wênang miwiti karêp. agêgaman kawruh. . Nganti suwe ora ngandika. Sabdapalon matur. wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput. rêmên nunut bangsa sanes. tiyang sagêd matur piyambak dhatêng Ingkang Maha Kuwasa. wis disêkseni dening si Sahid. mung nêtêpi jênênge Sêmar. jarene besuk yen mati. Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong. namung kangge têdha pêksi. dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. benjing tanah Jawa ewah hawanipun. nanging ora manggon ing kono. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa. Cobi paduka-yêktosi. ature ora lunga. Sunan Kalijaga banjur didhawuhi nêngêri banyu sêndhang. antuk swarga kang ngungkuli swargane wong kapir. manawi sampun santun agami Islam. Jawinipun ical. amargi paduka ingkang lêpat. nilar agama Buddha. yen wong lanang manut wong wadon. sadaya wau atas karsanipun Latawalhujwa. banjur disumpêli godhong pandan-sili. amarga kêpencut ature putri Cêmpa.latunipun sarta lajêng wontên kawahipun. barêng didangu lungane mênyang ngêndi. yen gandane mari wangi. wis ora bisa bali mênyang Buddha mêneh”. Dewa lajêng paring pangapura. ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa. Sang Prabu diaturi ngyêktosi. Paduka yêktos. amratelakake yen ênggone mlêbêt agama Islam iku. nanging wong loro mau banjur musna. wêwah bênter awis jawah. Wiwit dintên punika jawahipun sampun suda. ingkang damêl bumi lan langit. sami engêt dhatêng agami Buddha malih. mriyi punika pantun kados kêtos. Sabdapalon akeh-akeh ênggone nutuh marang Sang Prabu. rêmên nêmbah sela. Paduka-yêktosi. Bumbung sawise diiseni banyu. yen gandane mari wangi. suda asilipun siti. kathah tiyang rêmên dora. Benjing yen sampun mrêtobat. jawah salah masa. nglimputi salire wujud. amarga wong wadon iku utamane kanggo wadhah. Punapa cacadipun agami Buddha. isi wedang lan toya tawa. punika inggih kula ingkang damêl. ing batos rumaos kaduwung bangêt dene ngrasuk agama Islam. damêl bingungipun kanca tani. sabanjure digawa sakabate loro. amarga barang wis kêbacut. yen wiwit jaman kuna mula. wong tanah Jawa padha salin agama kawruh. lan sami purun nêdha woh kawruh. amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami. kapriye kang dadi kêkêncênganing tekadmu? Yen aku mono ênggonku mlêbu agama Islam. anglela kalingan padhang. besuk wong Jawa padha ninggal agama Islam ganti agama Kawruh. benjing: sasi murub botên tanggal.

Sang Prabu banjur ngrangkul ingkang putra. mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak. ora karuhan mênyang ngêndi tindake. wis têkan ing Panarukan. esuke banyune ditiliki. Sang Prabu nyare ana ing kono. banyu ing bumbu diganda isih wangi. Sang Prabu mbanjurake tindake. sebaa marang Dêmak. wis padha narima rusake Majalêngka. nanging banjur gêrah. nanging wajibe wong urip kudu kêpengin mênyang ilmu”. ngrumaosi yen wis arêp kondur marang jaman kalanggêngan. têkan ing Prabalingga. mupusa yen kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. satêkane ing Dêmak. Sang Prabu banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Prabalingga ing besuk jênênge loro. balik padha ngemana rusaking wadya-bala.Sang Prabu Brawijaya banjur tindak didherekake Sunan Kalijaga lan sakabate loro. nanging munthuk. wis têkan ing Ampelgadhing. nyare ana ing Sumbêrwaru. tindake Raden Bondhankajawan namur kula. ing wayah esuk. sapa sing miwiti ala. kaya kang wis kasêbut ing ngarêp. Nyai Agêng Ampelgadhing tumuli mêthukake banjur ngabêkti marang Sang Prabu karo muwun. tumuli dibuwang. Sang Prabu banjur dhawuh nimbali Prabu Jimbun. kudu mangkene. sarta akeh-akeh sêsambate. Kacarita putra Nata ing Majapahit. satêkane Surabaya. Prabalingga karo Bangêrwarih 12 ing kene besuk dadi panggonan kanggo pakumpulane wong-wong kang padha ngudi kawruh kapintêran lan kabatinan. Sang Prabu ndangu: “Sing ngabêkti iki sapa?” Raden Bondhankajawan matur yen panjênêngane kang ngabêkti. layang wis katur marang Sang Prabu Jimbun. Sang Prabu mbanjurake tindake. nuli mbanjurake tindake. Nyai Agêng Ampel banjur matur marang Sang Prabu. ngaturake patrape ingkang wayah Prabu Jimbun. yudane apêsa. kabeh lêlakon wis ditulis aneng lokhilmakful. banjur tindak marang Majapahit. sapungkurku sing padha rukun. Sang Prabu uga nyare ana ing kono. gêrahe Sang Prabu sangsaya mbatêk. dene banyune sêndhang barêng ditiliki gandane dadi bangêr. esuke banyu ing bumbung diganda mundhak wangine. banyune tawa isih enak. Nyai Ampel nuli utusan mênyang Dêmak nggawa layang. rumasa ora kapenak panggalihe. Aku lan kowe mung sadarma nglakoni.” . malah Sang Prabu lolos saka jroning pura. wayah surup srêngenge. nyêdhaka mrene. Prabalingga têgêse prabawane wong Jawa kalingan prabawane tangga”. tak-suwun marang Kang maha Kuwasa. mundhak gawe rudahing jagad. kowe gaweya layang mênyang Pêngging lan Pranaraga. aku wis arêp mulih marang jaman kalanggêngan. ora antara suwe Prabu Jimbun budhal sowan mênyang Ampel. tindake kawêngen ana ing dalan. ing pitung dinane. Sang Prabu banjur nêrusake tindake nganti wayah surup srêngenge. amarga kêrêp diunjuk ana ing dalan. mêngko tak-wenehane tandha asta. Sang Prabu banjur ngandika: “Wis aja nangis êngger. esuke bumbunge dibukak. banyune diambu isih wangi. unthuke gandane arum. pangandikane marang Sunan Kalijaga mangkene: Sahid. aja padha pêrang. nungsung warta ing ngêndi dununge ingkang rama. kang aran Raden Bondhankajawan ing Tarub. kabeh mau wis karsane Kang Maha Suci. nanging mung kari sathithik. aja padha ngrêbut kapraboningsun. Bêgja cilaka ora kêna disinggahi. ana ing kono uga nyare sawêngi. Barêng wis wayah surup srêngenge. têkan ing Bêsuki. mirêng warta yen ingkang rama Sang Prabu têdhak ing Ampel. Raden Bondhankajawan nuli sowan ngabêkti.

ing sajroning mangun yuda. lan suwurna kang sumare ana ing kono yayi Raja Putri Cêmpa. astane banjur sidhakêp.” Sunan Kalijaga sawise dipangandikani banjur matur: “Punapa Sang Prabu botên paring idi dhatêng ingkang putra Prabu Jimbun jumênêngipun Nata wontên ing tanah Jawi?” Sang Prabu ngandika: “Sun-paringi idi. kacarita Sultan Bintara lagi rawuh ing Ampelgadhing sarta kapanggih Nyai Agêng. wis Sahid.Sunan Kalijaga banjur nyêrat. sarta nyuwun pangapura kabeh kaluputane kang wis kêlakon”. anak-putuku aja entuk seje bangsa. aja gawe senapati pêrang wong kang seje bangsa. banjur mangro tingal. Nyai Agêng ngandika: “Wis bêgjane Prabu Jimbun ora nungkuli sedane ingkang rama. iya mung mupus pêpêsthen. nanging mung mandhêg têlung turunan. lan maneh wêkasku marang kowe. Jawa. sabanjure diparingake marang Pêngging lan Pranaraga. bisaa ngapêsake urip. Sultan Dêmak ana ing Ampel têlung dina lagi kondur.” Sang Prabu sawise paring pangandika mangkono. dene pasareyaningsun bakal sun-paringi jênêng Sastrawulan. besuk anak-putuku aja nganti entuk liya bangsa. mula wêkasku. dadi ora bisa ngabêkti sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata. aku titip bocah iki. sapungkurku kowe sing bisa momong marang anak putuku. Sang Prabu banjur ngandika: “Sahid. mulane ênggonku mangêni madêge Ratu mung têlung turunan. mula kolu marang bapa sarta rusuh tindake. Barêng wis têlung dina saka sedane Sang Prabu Brawijaya. lan maneh wêlingku. yen isih ana gêbyaring wulan. barang wis kêbacut iya mung kudu dilakoni. sawise rampung banjur ditapak-astani dening sang Prabu. kabeh pitungkasku. sarta wis ora dianggêp priya. dene mungguh satêmêne Putri Cêmpa iku sedane ana ing Tuban. amarga aku wis diwadonake si Patah. saturun-turune êmongên. tulisên. sarekna ing Majapahit sa-lor-wetane sagaran. mula tak-suwurake Putri Cêmpa. dununing pasareyan ana ing Karang Kumuning. Wulan têgêse damaring jagad. têrus seda.” Sunan kalijaga nyuwun sumurup mungguh têgêse araning bakal pasareyane Sang Prabu. manawa ana bêgjane. Cina lan raksasa. mula aku paring piwêling aja gawe senapati pêrang wong kang seje jinis. wong Jawa padha wêruh yen sedaku wis ngrasuk agama Islam. amarga sajroning sihsinihan di seje bangsa mau nganggo ngobahake agamane. mundhak ngenthengake Gustine. yen aku wis kondur marang jaman kalanggêngan. Sang Prabu ngandika: “Sastra têgêse tulis. nganti kaya mangkene siya-siyane marang aku. . tulise kuburku mung kaya gêbyaring wulan. amarga si Patah iku wiji têlu. ing têmbe buri. layone banjur disarekake ana ing astana Sastrawulan ing Majapahit. katêlah nganti saprene kocape kang sumare ana ing kono iku Sang Putri Cêmpa. Prabu Jimbun ature marang Nyai Agêng. besuk bocah iki kang bisa nurunake lajêre tanah Jawa.

bubaring dhêmit yen alase dirusak dening wong. dene ingkang rama Sang Prabu lan putra Raden Gugur lolos saka praja. amarga aran ambuka wêwadining ratu. gêgamane ana ing silit. ora antara lawas padha nêmahi seda. [4] Sang Prabu Brawijaya sedane mekrad. Alas angkêr akeh dhêmite. Nagara Majapahit iku rak dudu barang kang gampang rusake. amarga saka putêking panggalihe banjur padha gêrah. têgêse: para ‘ulama dhek samana. tansah gedheg-gedheg lan gêrêng-gêrêng. nalika lagi têkane nyuwun panguripan marang sang Prabu ing Majapahit. nanging ênggone mbêdhah sinamun sowan riyaya. muga aja awet urip. iya iku Adipati Andayaningrat ing Pêngging lan Bathara katong ing Pranaraga. putra mungsuh bapa. para wadya-bala wis rumanti gêgamaning pêrang pupuh. tawon lan dhêmit. Nanging yen Majapahit rusake amarga saking tikus. Mula carita bêdhahe Majapahit iku mung dicêkak. [3] Pêthi saka Palembang ana satêngahing paprangan dibukak mêtu dhêmite. lan kawiyos pangandikane sêru. dene panggonane ana ing . padha mangani sangu lan bêkakas jaran. sapa kang ngandêl yen rusake Majapahit amarga tikus. kasaru têkane utusane Sang Prabu maringake layang. mungguh sanyatane. Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga bangêt dukane. kêrise Sunan Giri ditarik mêtu tawone ngêntupi wong Majapahit. kang surasane nyupatani marang panjênêngane dhewe. dene kaol kang gaib. mula mung kanggo pasêmon. pamrihe supaya aja ngribêdi ing têmbe buri. mangkene pasêmone: 1] Amarga saka kramate para Wali. mula banjur dhawuh ngundhangi para wadya sumêdya nglurug pêrang marang Dêmak. yen dilugokake jênênge ambukak wadine Majapahit. [2] Sunan Cirêbon badhonge mêtu tikuse maewu-ewu. ora cocog lair lan batine. amarga wêruh akehing tikus. arêp ditanduri. Tawon iku nggawa madu kang rasane manis. labuh bapa ngrêbut praja.Kacarita Adipati Pêngging lan Pranaraga. tawon lan dhêmit. layang banjur disungkêmi kanthi bangêt ing pamuwune lan bangêt anjêntung panggalihe. wong Majapahit padha kagegeran amarga ditêluh ing dhêmit. barêng wis diparingi. ewadene bisa rusak mung amarga dikritiki tikus. sedane Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga padha ditênung dening Sunan Giri. Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga sawise tampa layang lan diwaos. kaya kang kapratelakake ing ngisor iki: Kabeh mau mung pasêmon. carita bêdhahing Majapahit iku kaya kang tak-caritakake ing ngarêp. mundhak ndêdawa wirang. Lumrahe tawon iku bubar amarga saka dipangan ing wong. yen dirasa satêmêne saru bangêt. amarga carita kang mangkono mau kalêbu aneh lan ora mulih ing nalar. Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi marang muride kang aran Darmagandhul. ora satimbang karo gêdhene nagara sarta ambane jajahane. mung kari budhale bae. Adipati sakarone padha puguh ora karsa sowan marang Dêmak. Mula carita bêdhahe Majapahit sinêmonan dening para pujangga wicaksana. suwe-suwe yen diumbar banjur ngrêbda. wis padha mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak. wong Majapahit bubar. wajane kêrot-kêrot. surya katon abang kaya gêni. iku pratandha yen wong mau ora landhêp pikire. mula mung dipralambangi pasêmon kang orang mulih karo nalare. ora karuhan jujuge ana ing ngêndi. piwalêse ngrusak. Dene têgêse pasêmon mau mangkene: Tikus iku watake ikras-ikris.

iya iku Prabu Brawijaya panggalihe têlas nalika bêdhahe Majapahit. Mungguh gênahe mangkene: bêdhahe nagara Majapahit sarana ditêluh kalayan primpên lan samar. banjur ana manuk kuntul nganggo kucir. tuma têgêse tuman. Bêdhahe Majapahit swarane jumêgur. ora ngetung bênêr utawa luput. barêng dibukak muni jumêglug. mulane Gusti Allah paring pasêmon. yen ora padha gêlêm ngrumasani kaluputane. mula Sang Prabu Jimbun gêdhe panggalihe melik jumênêng Nata. dhek jaman kuna. kajaba mung kendêl gêrêng-gêrêng bae. githok kuntul kinuciran. dosane lair batin. Prabu Brawijaya sinêmonan ing gaib: kêbo kombang atine êntek dimangsa tuma kinjir. nalika arêp pambêdhahe ora ana rêmbag apa-apa. Dene dhêmit diwadhahi pêthi saka Palembang. mula saiki banjur padha bali mulih marang tanah Jawa. nalika santri Jawa durung akeh kawruhe. dadi suksmane bangsa mau. rungsid.gowok utawa tala. mulane melik ênggal sugih. iya iku Raden Patah nalika têkane ana ing Majapahit sumungkêm marang ingkang rama Sang Prabu. suksmane akeh kang katut angin banjur thukul ana ing tanah China. wêruh-wêruh Adipati Têrung wis ambantu Adipati Dêmak. sapa kang ngrungu padha gawok. kombang têgêse mênêng swarane kang mbrêngêngêng. mula ana kuntul nganggo kucir iku wis karsaning Allah. dhêmit iku uga tukang nêluh. barêng nagara wis ngalih marang Dêmak. pêthi têgêse wadhah kang brukut kanggo madhahi barang kang samar. dumeh agamane Buddha kawak kapir kupur. amarga katarik saka ibune. sênêng yen ngokop gêtih. purwane Jawa. dene tuma kijir iku tumane celeng. têgêse oleh ati saka Sang Prabu. iya iku Sang Prabu Brawijaya. ênggone nyêri-nyêri marang ingkang rama Sang Prabu. dadi dikagetake. manuk kuntul iku durung ana kang nganggo kucir. nganti ngêntekake panggalihe Sang Prabu. ibumu Putri Cina. rêmit. kêbo têgêse ratu sugih. Kuna-kunane ora ana praja gêdhe kaya Majapahit bêdhahe mung saka diêntup ing tawon sarta dikritiki ing tikus bae. wusana ngêntup saka ing buri. apa dene bubare wong sapraja mung saka ditêluh ing dhêmit. . yen bêdhahe saka binêdhah dening putra. têgêse: Palembang iku mlembang. Dene kuntul nganggo kucir iku pasêmone Sultan Dêmak. têgêse: maune têkane nganggo têmbung manis. Dene anane bangsa Cina padha nênêka ana ing tanah Jawa iku dêdongengane mangkene: Jare. sangane Adipati Dêmak. ora karsa nglawan pêrang. kahanan ing dunya nuli malih. têgêse: tolehên githokmu. dene tala têgêse mêntala ngrusak Majapahit. ora mung Sunan Dêmak dhewe bae kang didhawuhi ngrumasani kaluputane. Sang Prabu Jimbun iku wiji têlu. dhêmit têgêse samar. iya iku ganti agama. mula jênênge Wali ditêgêsi Walikan: dibêciki malês ngalani. iya iku Wali wolu utawa Sunan wolu kang padha dimêmule wong Jawa. iku mau-maune iya akeh kang suksma Jawa. kêprungu saka ing ngêndi-êndi nagara. wusana banjur mukul pêrang ngrêbut nagara. mula wong Majapahit ora sikêp gêgaman pêrang. nanging sanadyan para Wali liyane uga didhawuhi ngrumasani. dene ênggone kêndêl nanging tanpa duga iku saka wijine Sang Arja Damar. ing wêktu iku banjur diparingi pangkat. samudanane mung sowan garêbêgan. kabeh mau padha mbalela mbalik. amarga Arja Damar iku ibune putri raksasa. sadurunge Majapahit bêdhah. celeng iku iya aran andhapan. pambêkane siya. sawise padha mati. ora kêna nyêri-nyêri marang wong seje bangsa. Banjure maneh pangandikane kiyai Kalamwadi: Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi.

têlu wit kang godhonge ngrêmbuyut mubêng kaya payung. loro wit sarta kêmbange putih godhonge sêdhêngan. iya iku Tlasih. beda karo para Wali liyane isih padha manganggo sarwa putih. nanging dudu puji jatining kawruh. ngrumaosi klirune dene nuruti rêmbuge para Sunan kabeh. bangêt panalangsane ing dalêm batos. Den enak mangan turu. Kabeh mau ora padha ngrumasani kaluputane. kang ngawruhi sajatining urip. sanajan matiya ing tata-kalairane. Sawise mangkono. tansah ngrumaosi ing kalêpatane. rumaos kadukan dening Kang Maha Kuwasa. tak-ajar wêruh ing nalar bênêr lan luput. Turugajah lan Gêtakkucing. mungguh karêpe: punukmu panakna. Mula nganti tumêka saprene wit Sêmboja panggonane ana ing kuburan. Ana gajah digêtak kaya kucing. siji warnane irêng sêmu abang dalah godhong sarta kêmbange.wujude puji thok. Sultan Dêmak waskitha ing gaib. mula uga bangêt panalangsane sarta ngrumaosi kaluputane. papat wit kang godhonge lêmbut sarta mawa êri. tanpa luwih sarta ora arah ora ênggon. sajatining ‘ilmu iku ora susah maguru marang wong ‘Arab. agung iku wis samêkta. Sêmboja. manusa bisa apa. urip dadi wayangan Dzating Pangeran. ing têmbe bakal takwalês. mula nganti suwe njêgrêg ora bisa ngandika. tanpa kurang tan wuwuh. ing batos bangêt kaduwung marang apa kang wis dilampahi. mung Sunan Kalijaga piyambak rumaos yen kadukan dening Kang Maha Kuwasa. godhonge uga banjur mingkup kaya dene godhong Gêtakkucing. mung nêmbah marang Allah. yen wis agama kawruh. mangkono kang kasêbut ing kitab Anbiya”. mula banjur ngrumaosi kabeh kaluputane. godonge Gêtakkucing yen kasenggol banjur obah. mula bangêt mrêtobate. dadi pasêmon kabeh. barêng wis antara têlung dina lawase. mula banjur mangagêm sarwa wulung. pranatane mêngku praja. . sakondure saka pasareyane ingkang rama. Iya wiwit titi masa iku anane wit-witan warna papat kang padha thukul ana ing kuburan. kêmbang Tlasih kanggo ngirim para lêluhur. nanging lah eling-elingên ing besuk. mangkene ujaring swara: “Êntek katrêsnanku marang anak. karêp mêtu saka ing budi.” Sultan Dêmak mirêng swara dumêling kang surasane mangkono iku. budi iku Dzate Kang Maha Agung. nuli sowan andêdagan ana ing pasareyane ingkang rama. awit Allah kang mujudake. Sunan Kalijaga uga waskitha ing gaib yen sinêmonan dening Kang Maha Kuwasa.Darmagandhul matur: “kiyai! Kang diarani agama Srani iku kang kaya apa?” Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake: “Kang diarani agama Srani iku têgêse sranane ngabêkti: têmêntêmên ngabêkti marang Pangeran. ora nganggo nêmbah brahala. kaprênah pusêring kuburan tanpa sangkan thukul wit-witan warna papat. ‘ilmuning Gusti Allah wis ana ing githokmu dhewe-dhewe. sabda iku mêtu saka ing karêp. mobah mosik mung sadarma nglakoni. mangan babi kaya dhek jaman Majapahit. budi kang ngobahake. wasana banjur pinaringan pangapura dening Allah. lan wêktu iku sajroning pasareyane Sang Prabu kêprungu ana swara dumêling. sinêmonan wiwit anane orong-orong githoke tumêka ing punuk disêsêli tataling kayu jati. Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi. Sultan Dêmak banjur kondur. nganti wani mungsuh ingkang rama sarta ngrusak Majapahit. mula sêbutane Gusti Kanjêng Nabi ‘Isa iku Putrane Allah.

mula wong-wong ing kono padha wêdi marang wisesaning Ratu. amarga mundhak ngrêribêdi agama Rasul. kang nyêbutake kok mung kitab ‘Arab lan kitabe wong Srani. Sang Nata ing Mataram andangu para wadya. Ing wêktu iku Sunan Kalijaga. Sayid Anwar didukani ingkang rama lan ingkang eyang. yen kitabe wong Jawa ora nyêbutake bab mangkono iku. ora . kang didhahar Nabi Adam lan Babu Kawa iku woh Kuldi. nanging wis padha ora mênangi. jênênge munajad.Kiyai kalamwadi nutugake caritane: “Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi mangkene: mungguh kang katarima. sanadyan buku kang padha disimpêni dening para wadya. Saupama wong nulup manuk. wêruh ora kasamaran ing sawiji-wiji. buku-buku sakarine. iku sindhenan Dharudhêmble. kang diênggo pathokan layang Lokapala. iya kitab Manik Maya. nanging tinêmu tulisan ‘Arab. muji marang Allah iku. kagungan panggalih. kanggo gantine kitab-kitab kuna kang wis padha diobongi. amarga wani. kang isih padha disimpên uga padha dipundhut kabeh. arane Sayid Anwar. buku-buku asli saka ing Dêmak lan Pajang padha dipriksa. yen wis sumurup têpunge sarat sari’at tarekat hakekat lan ma’rifat. iya dipundhut banjur diobongi. mêtune saka ing utêk”. sapa kang durung gêlêm nganggo agama Islam banjur dijarah rajah. nyuwun ditêrangake bab ênggone Nabi Adam lan Babu Kawa padha kêsiku dening Pangeran. masa kênaa. Têmbung dhar iku têgêse wudhar. kang ngobahake sarta ngosikake rasane budi. mulane wong-wong ing Majapahit banjur padha ngrasuk agama Islam.wani mangan wohe wit kayu Budi sêngkêrane Pangeran kang tinandur ana ing swarga. caritane lêluhure supaya aja nganti pêdhot. banjur iyasa wayang. Yen kawruhe wong pintêr ora angel yen disawang. ênggone nulup mung ngawur. mula Sang Prabu ing Mataram kewran panggalihe ênggone kagungan karsa iyasa babad carita tanah Jawa. Kiyai Kalamwadi banjur ngandhakake: “Sawise buku-buku pathokan agama Buddha diobongi. andikakake padha gawe layang Babad Tanah Jawa. tarekat iku kang nimbang lan nandhing bênêr lan luput. Mula nyuwun têrange. kang muji lan kang dipuji wis nunggal dadi sawiji. banjur padha diganjar pangkat utawa bumi sarta ora padha nyangga pajêg. sari’at iku saringane kawruh agal alus. Darmagandhul matur. Ciptane Sayid Anwar supaya kuwasane bisa ngiribi kaya dene kuwasane Pangeran. hakekat iku wujud. Dene wong-wong kang wis padha gêlêm salin agama Rasul. sarak iku sarate ngaurip. dene Sajarah Jawa iya ana kang nyêbutake turun Adam. ananging sarehne kang gawe Babad mau ora ngêmungake wong siji bae. sêmbahe kaya wêsi kang dilabuh ana ing gêni ilang abange mung rupa siji. wujud karsaning Allah. dene dhêmble têgêse dhêmbel dadi siji. yen ra wêruh prênahe manuke. Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake. yen ing kitab Jawa caritane kapriye. nalika sabêdhahe Majapahit. sabab saka ênggone padha dhahar wohe kayu Kawruh kang ditandur ana satêngahing taman Pirdus. ru iku têgêse ruwêt sulit lan rungsit. wiwit Kraton Gilingwêsi nganti tumêka Mataram wis ora kasumurupan caritane. amarga padha melik ganjaran. Mangan woh kawruh lan budi. Wayahe Nabi Adam iya iku putrane Nabi Sis. kang ditandur ana ing swarga. Ratu Mataram uga mangun carita sajarahe para lêluhur Jawa. kitab Pêkih lan Taju-salatina apa dene Surya-Alam kang kanggo pikukuh. nanging wis padha amoh. mula ora bisa padha gaweyane. Ana maneh kitab kang nêrangake. mungguh caritane kaya kang kasêbut ing ngisor iki”. Sang Prabu banjur dhawuh marang para pujangga. iya iku nampik milih iktiyar lan manggaota. iku mau wis muji tanpa ngucap. Yen kowe wis ngrêti marang têgêse Dharudhêmble. Yen kowe wis bisangawruhi surasane kang tak-kandhakake iki. dhêmble wujud siji. mêsthi wis marêm marang kawruhmu dhewe.

mula banjur iyasa kadhaton ana pucaking Mahameru. sarta kalilan nimbangi jasane Kang Maha Kuwasa. ana ing kono banjur kêtêmu karo ratuning jin arane Prabu Nuradi. Ênggone Kagungan pamanggih mangkono mau diantêpi bangêt. lakune mangetan nganti tumêka ing tanah Dewani. kang jumênêng Nata. dijênêngake Sastra Endra Prawata. Sarehne diênut wong akeh. panêmbahe marang Pikkong. dene putrane uga mung siji kakung pêparab Sang Hyang Tunggal. apa wit kayu Budi. iya melu mangan who kawruh. Sang Prabu putrane siji pêparab Sang Hyang Nurrasa. agamane Buddha budi. agamane srani. yen kalifah dhahar woh Kuldi. salah sijine aja nganti luput. manawa mangan woh wit kawruh. mangan woh wit kayu Kawruh. Sawise iku Sang Prabu banjur nganggit sastra mung salikur aksara. pangraose Sayid Anwar iku dadi saka dadine piyambak. panyêbute marang Dewa. kabeh iku iya bênêr. Sayid Anwar miwiti yasa sarengat dhewe. iku kaya dene iwak kang mêtu saka ing banyu. Sarehne Sayid Anwar banjur lunga nuruti karêping atine. apa woh wit Kuldi? Saka panimbange Darmagandhul. Dene prakara bênêr utawa lupute. pênyêbute marang Kangjêng Nabi ‘Isa. uga dhaup karo putri jin putrane mung siji iya iku Sang Hyang Wênang. saturun-turune bisaa jumênêng Nata mêngkoni tanah Jawa. sambate marang nabi panutan. mulane agamane Buddha. mêsthine banjur dadi wong bodho. krama oleh putri jin.narima yen mung mangan who Kawruh lan woh Kuldi bae. yen Kalifah dhahar woh Budi. dadi ora aran siya-siya marang uripe. sarta: wadi dawa. yen Kalifah dhahar woh kawruh. Jawa jawi ngrêti kawruh agal alus. Sang Hyang Wênang uga dhaup karo putri jin. ditêgêsi: nguja hawa. ora karsa ngagêm agamane ingkang rama lan ingkang eyang. uki Kalifah kang bakal tanggung. jênênge nagara banjur diêlih dadi aran nagara Jawa. nanging wohe kayu Budi kang disuwun. Saupama woh ora gêlêm . uripe kaya watu ora duwe kêkarêpan lan ora mangrêti marang ala bêcik. Misuwure. amarga wong dadi Panutan iku saupama têtuwuhan minangka wite. iya melu mangan woh Kuldi. bali marang asale maneh. kabeh mau turune Sang Hyang Nurcahya. agamane Islam. Aran Dewa ngaku misesani mujudake sipat roh. iya iku Gusti Kangjêng Nabi Rasul. yen wong ora mangan salah sijine woh mau. jalaran mangkene: asal suwung mulih marang sêpi. wiwit jumênênge Prabu Nurcahya. sarta manut sarake Sisingbing lan Sicim. diantêpi salah siji aja nganti luput. wusanane Sayid Anwar diêpek mantu sarta dipasrahi kaprabon. yen sênêng mangan woh wit kayu Kuldi. Sang Hyang Guru kagungan pangraos yen kuwasane padha karo Gusti Allah. dene yen dhêmên Godhong Kawruh Godhong Budi. ngratoni para jin. Dene mungguh bêcike wong urip iku mung kudu manut marang apa alame bae. Têmbung Jawa. Yen wong ora gêlêm manut marang kang bênêre kudu diênut. Sêdya kang mangkono mau iya diideni dening Kang Maha Kuwasa. dadi Panutan kudu kang bênêr. dadine saka budi hawaning Pangeran. mangkono uga karsa ngakoni yen turune Adam sarta Sis. Dewa iku wêrdine ana loro têgêse: budi hawa. saucaping wong Jawa bisa kaucap. mung waranane bae saka Adam lan Sis. sarta ngakoni yen purwaning dumadi mêtune asal saka budi hawa nêpsu. Sayid Anwar ditakoni iya banjur ngandharake lêlakone kabeh. sênêngan salah siji êndi kang disênêngi. mangeran digdayane sarta ngaku Gusti Allah. agamane Buddha budi. dadi murtat sarta nampik agamane lêluhure. Yen bisa woh-wohan warna têlu iku mau iya dipangan kabeh. Sang Hyang Tunggal pêputra Sang Hyang Guru. kang padha didhahar woh wit kayu Budi. karsane Sang Prabu: bisaa rowa. Yen kang dipangan woh wit kayu Budi. Darmagandhul didhawuhi nimbang mungguh kang bênêr kang êndi. Sêbutan Dewi: têgêse: dening wadining wadon iku bisa ngêtokake êndhas bocah. iya melu mangan woh Budi. jêjuluk Prabu Nurcahya.

amarga banjur mangeran marang wujud. Nanging banjur akeh kang kliru muja marang barang kang katon. mung aksara Cina kang akeh bangêt cacahe. iku wajib dipangan. Dene kang bisa nyirnakake (nyudakake) dosa iku. iya iku kang diarani sastra urip. mangsi têgêse mangsit. mung banyu suci. kêsusu tampa panglulu nganggit sastra kang nganti tanpa etungan cacahe. kang digoleki bisaa nikmat mulya punjula saka sapadhane. têgêse mêtu wangune. Yen wong luwih. pancadan kang tumuju marang kabêgjan utawa kacilakan. mula jênêng kalam. para Auliya panggawene sastra dipathoki cacahe. mangsit mangan kawruh. yen saka dhawuhe kang Maha Kuwasa. Kang diarani banyu tekad suci iku kang êning. Yen bêcik. . mêsthi ora mangêrti marang wangsit. nanging panggawene ora bisa. mungguh kang dadi bedane apa? Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake beda-bedane. yen kabeh-kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. mulane wong iku kudu ngelingi marang agamane kang nurunake. Sastra warna-warna paringe kang Maha-Kuwasa. Wong urip iku kudu duwe gondhelan agama. mêsthi dadi glundhungan kang tanpa dunung. lan manut wujud. Lawang swarga iku prêlu dirêsiki. amarga maro tingal marang barang rêrupan. mung bae dosane mau ana kang sathithik lan ana kang akeh. supaya aja ngrêribêdi ana ing donyane. Yen bêcik narik raharja. Walanda lan Cina. mêsthi mlêbu yomani. manusa ing dunya wujude mung lanang lan wadon. Darmagandhul matur maneh. nganggo mangsi supaya wong bisa wêruh. Godhonge wit Budi lan wit Kawruh. amarga Auliya kang nganggit kêsusu mangan woh Kawruh. Ewadene mêksa nganggo kuwasane Kang Maha Kuwasa. supaya sugih pangrêten lan kaelingan. bisa ngrêsiki lair batine. kaya ta kêris. yen ala ngundhuh cilaka. satêmah lali marang Pangerane. manusa didhawuhi muja marang agamane. Auliya Gong Cu kumênthus niru sastra tulisan paringe Gusti allah. dalah têgêse sarta cacahing aksarane kok uga beda-beda. nanging unine pelo. bisaa duwe jênêng kang bêcik. Iku maune kêpriye. bisaa nikmat badan lan atine. amarga manusa diparingi wahyu kaelingan. jênênge sastra godhong. mula jênênge dalwang. Awit saka iku. ana Jawa. Dene sastrane kok uga beda-beda. mêsthi banjur mêtu wangune. amarga kawruhe anggawa alam. Woh wit Kawruh lan woh wit Budi ditandhani nganggo sipat wujud. kaya nalika isih ana ing alam samar. amarga sanadyan saupama ana salahe. Kang kaya mangkono mau ngrusakake agama. nanging sastrane nglimputi ing jêro. Gusti Allah uga iyasa sastra. bisaa slamêt lair batine.nempel wit. Mula aksarane digawe beda-beda. dicorek ana ing dluwang. anggayuh kang dudu wajibe. dadine kok banjur warna-warna. mula pangucap kang ala. ‘Arab. mung wong kang ora ngrêti sastra paringe Gusti Allah. ora duwe susah lan prihatin. Auliya mau lali yen tinitah dadi manusa. bisa tampa ganjaran. sinêbut kang utama. tumbak. Geneya kok ora nganggo aksara warna siji bae? Kyai Kalamwadi banjur nêrangake. utawa liya-liyane barang. pamêthike sapira sagaduke. nyuwun têrange. iya iku minangka aduse manusa. Gusti Allah mêsthi paring pangapura. mulya kaya maune. manusa ora bisa anggayuh. aja nganti nêmu sangsara. amarga yen ora duwe agama mêsthi duwe dosa. supaya para kawulane padha mangan woh wit kayu Budi lan woh wit kayu Kawruh. sanadyan para Auliya sarta para Nabi ênggone nggayuh iya mung sagaduke. dipêthik saka sathithik. dadi pelon. dadi yen dalwang ditrapi mangsi. ing mangka iya kudu mangan woh wit kayu Budi. Darmagandhul matur nyuwun têrange agama Rasul lan liya-liyane. Kang diarani lawang swarga lan lawang nêraka iku. sastrane unine kurang. iya iku tekad suci lair batin. bisa mêthik who Kawruh lan woh Budi. ora ngarêp-arêp munggah swarga. dirêngga ing tekad kang utama.

Dene têgêse kar-ri-cis iku mangkene. têgêse dakar. Auliya Cina kêsiku. ora kêna kacampuran pikiran kang warna-warna. Dene kang gawe aksara mung sathithik. wong wadon wis kêcukup butuhe. Kang wadon diupamakake omah. nanging Dzate nyarambahi sakabehing wujud. Yen mangkono iya bisa katon. Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Sarehne aku iku wong cubluk. Kiyai Kalamwadi lênggah diadhêp garwane aran Endhang Prêjiwati. prau dadi ‘ibarate wong wadon. Darmagandhul banjur didhawuhi nimbang. iya iku kang minangka pangane wong wadon. nanging anggêr mêtu saka budi. dadi ora bisa aweh piwulang kang endah. . nanging ora mêtu ing lesan. Auliya Jawa ênggone mangan woh wit kayu Budi nganti warêg. mung hawa kang katon. Darmagandhul sarta para cantrik iya padha marak. dene isine mung têlung prakara. dadi ora goreh atine. supaya ora bisa kliru karo kanyatane”. mung paring sasmita kang wis ditulis ana saranduning badan sakojur. têgêse pari. Yen prau wis isi têlung prakara iku. Têmbung ki: iku têgêse iki. Auliya Arab ênggone mangan woh wit kayu Kuldi akeh bangêt. Saka pangandikane Kiayi Kalamwadi. sarta kudu kang mêlêng ênggone mawas. bab kawruh kasunyatan sarta kawruh kang kanggo yen wis tumêka ing pati. Dene ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. nanging wis bisa nyukupi. mula ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. mulane unine iya cêtha. aku mung arêp pitakon marang ragamu. dadine saka sabda. Kiyai Kalamwadi ngandika: “Yen manusa arêp wêruh sastrane Gusti Allah. iya iku: “kar-ri-cis”. Kar. wujude dadi dhewe.ditata dikumpulake. kang anuduhake yen ragamu iku wujude kiwa. amarga ragamu iku wis bisa sumaur dhewe”. wa: têgêse wêwadhah. ragamu iku di’ibaratake prau. iya iku yen wong lanang wis bisa nêtêpi lanange. tulisan mau ora kêna ditonton nganggo mripat lair – kudu ditonton nganggo mripat batin. sabab ing kono wis ana pangandikane Gusti Allah paring piwulang. Dene kang diwulangake. satêmêne ragane wis bisa mangsuli. mêsthi wong wadon bisa têntrêm ora goreh. amarga arêp gawe sastra urip kaya yasane Gusti Allah. banjur dianggit kanggo sastra. wadon têgêse mung dadi wadhah. Nanging yen sastra yasane Gusti Allah. Banjure pangandika kiyai Kalamwadi kaya ing ngisor iki. lan wis dadi piwulang kang bêcik lan nyata. kabeh mau iya bênêr. 1. wong têgêse ngêlowong. Kiyai Kalamwadi paring piwulang marang garwane. Tanganmu kiwa iku wis anggawa têgês dhewe. iku mratandhani yen luwih pintêr tinimbang karo liya-liyane. Yen ndêlêng kudu nganggo ati kang bêning. 2. Ri. wusanane dadi nêmu slamêt ênggone jêjêdhowan. dadi nêtêpi jênênge priya kudu mulang muruk marang rabine. Gusti Allah iku mung sawiji. Nanging sabên dinane isih kudu dipiyara lan didandani. sastrane ora ana kang padha. ing wong sêsomahan iku. mungguh anggitane para Auliya kabeh mau kang mratandhani asor luhuring budine kang êndi? Saka panimbange Darmagandhul. wong iku yen dipitakoni. mulane aksarane nganti ewon. mêsthi wong wadon atine marêm. sanadyan kahanane wis sarwa bêcik. yen wong lanang wis bisa nyukupi pangane.

Jêmpol têgêse êmpol. paribasane aja nganti kêndho tapihe. Wong jêjodhowan yen wis nêtêpi kaya piwulang iki. Driji panuduh têgêse wanita nglakonana apa sapituduhe kang priya. wanita iku kudu andarbeni ambêk kang utama. curigane jênênge wong lanang. yen gampang luwih gampang. nanging yen isih padha trêsnane iya ora bisa pêdhot. mula kudu sêtya tuhu marang priyane. tumrap nindakake samubarang kang prêlu. ya iku yen wong lanang wis bisa aweh dhuwit kang nyukupi. cis têgêse bisa goreh atine. sabên dina sudiya. Rajah (ing epek-epek) têgêse wong wadon iku panganggêpe marang guru-lakine dikaya dene panganggêpe marang raja. Iya iku kang diarani warangka manjing curiga. utawa dhuwit. têgêse wanita kudu duwe pasêmon utawa polatan kang manis. têgêse wanita wajib ngunggulake marang priyane. Wong jêjodhowan. wanita kudu sêtya marang lakine sarta nglakoni patang prakara. têgêse wong wadon iku panguwasane mung sapara limane wong lanang. Driji têgêse drêjêg utawa pagêr. supaya nyupangati bêcik. Driji panunggul. mêsthi bisa slamêt sarta akeh têntrême. Kuku têgêse ênggone rumêksa marang wadi. warangkane wanita. wicarane kudu kang manis lan prasaja. jênênge banjur melu jênênge kang lanang. wong wadon wis dadi wajibe ngrewangi kang lanang anggone golek sandhang pangan. dene kang dipangandikakake bab pikukuhe wong jêjodhowan. Bau têgêse kanthi. Driji manis. yen wanita dikarsakake dening priyane. Kosok baline yen wong lanang ora bisa aweh momotan têlung prakara mau. paturon. aja nganti tumindak kang ora bênêr. sanggup dadi kongkonan. Cis.3. gênahe wong wadon iku dadi kanthine wong lanang. Kiyai Kalamwadi banjur paring pangandika maneh. angele . Tangan têngên têgêse etungên panggawemu. iya iku: pawon. dudu dunya lan dudu rupa. nanging yen angel. wong jêjodhowan iku pikukuhe kudu duwe ati eling. Ugêl-ugêl têgêse sanadyan tukar padu. tak baleni maneh. Saka pangandikane kiyai Kalamwadi. Epek-epek têgêse ngêpek-ngêpek jênênge kang lanang. dene driji kabeh mau ana têgêse dhewe-dhewe. Mungguh pikukuhe wong laki-rabi iku. pikukuhe mung ati eling. mêsthi wong wadon bisa têntrêm. Mungguh pikikuhe wong jêjodhowan iku. wong wadon bisa goreh atine. iku kang gampang gêtas rênyah kaya dene êmpoling klapa. apa dene kudu nyingkiri padudon. Jênthik. pangrêksa. têgêse picis. awit wong wadon iku yen wis laki. iya iku idêrana jiwamu nganggo pagêr kautaman. Sikut têgêse singkurên sakehing panggawe kang luput.

prau ora bêcik lakune. mula wong rukun iku bêcik bangêt. iku wong kang utama. kang sapisan dosa marang kang lanang. ragane mêsthi iya melu rusak. kudu padha karêpe. iya iku wong kang sêgêr kawarasan sarta kacukupan. kanggo têtuladhan marang wong kang padha ditinggal ing têmbene”. . (3) Mulya saka sugih ‘ilmu. apa dene têntrêm atine. Mula ati. Kang diarani tampa kanugrahing Gusti Allah. Wong urip kang kêpengin bisaa dadi wong utama. Kowe tak-pituturi. Kang diarani mulya saka jênêng. Wanita kudu tansah eling yen winêngku ing priya. (3) Rusaking jênêng. dene kang wadon ngêmudheni. awit ati iku dadi ratuning badan. nanging kabêgjane mau ora mung kanggo awake dhewe. amarga kang padha nglakokake padha karêpe. wong bodho lumrahe gampang nêpsune. cupêt budine. kapindhone dosa marang Gusti Allah. lan mulya saka kapintêran. Wong jêjodhowan di’ibaratake prau kang gêdhe. sanadyan tangga têparone iya melu têntrêm. sarta bisa têkan kang disêdya. iku ana ngêndi bae. duweya jênêng kang bêcik. iku ugi ngilangake Pangerane wong jêjodhowan. ora ngêmungake wong jêjodhowan kang rukun bae. lan mulya saka ênggone sugih ‘ilmu. (2) Rusaking raga. Wong lanang iku lakuning satang. Mungguh dalane kasangsaran uga ana patang prakara: (1) Rusaking ati. lakune prau iya ora bisa jêjêg.ngluwihi. mula kudu rukun. yen kêmudhine salah. ora kêna tinambak ing rajabrana lan rupa. lakuning prau manut satang lan kêmudhine. rukun iku gawe karaharjan sarta mahanani katêntrêman. sanadyan bêcik ênggone ngêmudheni. manusa iku yen pikire rusak. dene kang diarani cidra iku ora mung jina bae. dadi têgêse. amarga tumindaking badan mung manut karêping ati. (4) Rusaking budi. nanging samubarang kang ora prasaja iya diarani cidra. amarga yen ora mangkono bakal nandhang dosa rong prakara. Dene kang mulya saka ing bandha. (4) Mulya saka kawignyan. iya iku wong lara. sanadyan satange bênêr. nanging yen kang nyatang ora bênêr. amargi yen wanita nganti cidra. (2) Mulya saka bandha. kang oleh katêntrêmaning ati. kapenake uga kanggo wong akeh liyane. lupute banjur ngambraambra. wong jêjodhowan. kudu tansah eling. Wong jêjodhowan itu luput pisan kêna pisan. bisa oleh kabêgjan kang gêdhe. kang mangkono iku mêsthi ora bisa nêmu lêlakon kang kapenak. iya iku wong bodho. yen wis luput. iya akeh rêgane. iya iku wong mlarat. yen nganti ora eling. mula wanita kudu prasaja lair batine. mungguh dalane kamulyan iku ana patang prakara: (1) Mulya saka jênêng.

saka kalangkungane Gusti Allah. dene kratone ana ing Daha. wis ana kang murba. Têgêse: bêras yen arêp diolah kudu dirêsiki dhisik. kaprênah sawetane kali Brantas. mung wajib mangrêti tataning praja supaya uripmu aja kongsi dikul dening sapadhaning manusa. rêca . ing kono iku ana bata putih. tampahe diiseni gabah banjur diubêngake sadhela. mula katone banjur kaya dene ora pintêr. iya iku kawruh kang gandheng karo kamuksan”. sabanjure dipilah-pilah. Mula wêlingku marang kowe. ora kêna ginayuh ing manusa. amarga kurugan ing lêmah lahar saka gunung Kêlut. iku satêmêne pintêr kang êndi. amarga kahanan saiki iya akeh kang nganggo kupiya kahanan ing jaman kuna. kadhatone Ratu Pagêdhongan uga wis sirna. amarga kang mangkono mau dudu wajibing manusa. patilasanpatilasan mau wis ilang kabeh. mangka uripe manusa mung sadarma nglakoni. Wong ing jaman saiki ora ana kang bisa nganggit sastra. ana wong pintêr isih kalah pintêr karo wong pintêr liyane. uripmu dadi bisa slamêt. kang misesa marang kawulane. mundhak kêsiku marang Kang Maha Kuwasa. êndi kang kurang bêcik banjur dibêcikake. Dene yen Kêdhiri prênahe ana sakuloning kali Brantas lan sawetaning gunung Wilis. Têgalwangi. akeh kang durung bisa mujudake kapintêrane. iya iku kratone Sang Prabu Jayabaya. kaya dene wong wadon kang nutu mau. ngupayaa kawruh kang nyata. dene kang mujudake iya iku wong ing jaman saiki. Dene yen patilasane Sri Jayabaya ika ana ing daha. mung digadhuhi sadhela dening Kang Maha Kuwasa. sawise. patilasane kadhaton wis ora katon. dene mobah mosik. utawa uga ana wong pintêr bisa kasoran karo wong kompra. mung sadarma nganggo raga. kêna kanggo pitakonan tumraping para mudha bab pratikêle wong ngawula ing praja. iya iku rêca kang diputung tangane dening Sunan Benang nalika lêlana mênyang Kêdhiri. Wong ing jaman kuna kapintêrane iya wis akeh. manusa anduweni apa. yen manusa iku rumasa pintêr. kabeh mau bisa ilang sanalika. ana ing desa Klotok. dununge ana wong wadon kang nutu sabên dina. yen ngrumasani pintêr. banjur dadi beda-beda. saikine jênênge desa Mênang. kaelokane Gusti Allah. ngrumasanana yen wong urip iku mung sadarma. Dene kowe. amarga wong akeh panêmune warna-warna tumrape bab iku. iku têgêse ora rumasa yen kawula. Yen kowe arêp wêruh wong kang pintêr têmênan. awujud bêras mênir sarta gabah.pisan ngaku pintêr. yen kabeh mau kapundhut banjur diparingake marang wong kompra. Yen kowe bisa mangreh marang manusa. lan rêca buta wadon. Wong ing jaman saiki ngowahi kahanan kang wis ana. Kiyai Kalamwadi ngandika: “Sang Prabu Jayabaya ora jumênêng ana ing Kêdhiri. gabah kang ana kabur kabeh. bisane apa. kowe bakal dadi têtuwa. wong kompra banjur duwe kaluwihan kang ngungkuli kaluwihane wong pintêr. mung bae tumrape wong ing jaman kuna. Mula wêlingku marang kowe. kowe aja pisan. nuli mung kari ngupuki bae. nanging kang mangkono mau dudu kawadjibanmu. iya iku candhi Prudhung. awit iku dadi kawajibane para Raja. iku satêmêne iya padha pintêre. iya iku patilasane Sri Pujaningrat. mêsthi bae tumrape wong ing jaman saiki ora ana kang kanggo têtuladhan. dene pasanggrahan Sabda.Ki Darmagandhul matur lang nyuwun ditêrangake bab anane wong ing jaman kuna karo wong ing jaman saiki. Kang isih mung rêca yasane Sri Jayabaya. pasanggrahan Wanacatur lan taman Bagendhawati uga wis sirna. Ki Darmagandhul banjur matur maneh. ênggone nyilah-nyilahake bêras aneng tampah. yen wis dipundhut. kowe pancen wong linuwih. Ana dene wong ing jaman saiki ênggone katon luwih pintêr iku amarga bisa mujudake kapintêrane. prênahe ing sa-lor-wetane desa Mênang. nyuwun têrange bab tilase kraton Kêdhiri. Saupama ora ana kapintêrane wong ing jaman kuna. bodho pintêring manusa iku saka karsane Kang Maha Kuwasa. miturut kaya karêpe kang arêp olah-olah. Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Wong kuna lan wong saiki.

Sang Prabu banjur paring pangandika mangkene: “Buta! andadekna sumurupmu. wujuda manusa. iya bisa cidra. iku têgêse tunggangan kang tanpa piranti. bisaa mulih marang asale. (kaya kang kapratelakake ing ngisor ini)”. kang surasane nyuwun mitêrang kang dadi karsa-Nata. barêng didangu iya matur kang dadi sêdyane. iya sida diêpek rabi. amarga aku iki anak dhalang. yen wis jaman Nusa Srênggi. yen wis mathuk pikire. margane saka lagaran dhisik. apa dene putrane Sang Prabu kang kêkasih Ni Mas Ratu Pagêdhongan. nanging kowe aja wujud mangkono. prêlu kanggo nyêdhiyani yen ana wadyabala kang mati banjur diobong ana ing kono. Ing jaman besuk. Dene jaran sêngkêran iya iku ngibaratake wong wadon kang disêngkêr. Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut. karsaning Dewa Kang Linuwih. sanadyan ora kurang ing panjagane. Sang Prabu banjur paring pangandika. sapa kang wêruh marang wujude rêca iku mêsthi banjur padha mangrêti kang dadi tekade wong wadon ing jaman besuk. besuk sapungkurku. Sang Prabu uga karsa rawuh ngurmati. Ing Lodhaya ana buta wadon ngunggah-unggahi Sang Prabu Jayabaya. Sawise dipangandikani mangkono. kiwa têngên dilareni. Sang Prabu banjur paring pangandika marang para wadya. asmane ratu Anginangin. dene Ni Mas Ratu Pagêdhongan banjur dadi ratuning dhêdhêmit ana ing sagara kidul. duwe rupa tanpa nyawa. yen ênggone yasa rêca kang mangkono itu prêlu kanggo pasêmon ing besuk. ênggone Sang Prabu yasa rêca mangkono mau.mau lungguhe madhêp mangulon. Patih Buta Locaya sarta Senapati Tunggulwulung. Samuksane Sang Prabu Jayabaya. Sang Prabu banjur mriksani putri buta mau. supaya desa ing ngêndi papan matine putri buta mau dijênêngake desa Gumuruh. kang kêlumrah wong arêp laki-rabi. aran Rara Jonggrang”. nanging yen ora cocog. wêwêngkon dhistrik Sukarêja. supaya bisa sirna mulih marang alam sêpi. kang akeh padha mangro tingal. buta wadon wis dirampog dening wadya cilik-cilik. lagaran. kaya adate Raja ing jaman kuna. Yen pinuju ngobong mayit. nanging durung nganti katur ing ngarsa Prabu. putri buta banjur mati. Patihe Sang Prabu kang aran Buta Locaya sarta Senapatine kang aran Tunggulwulung padha matur marang sang Prabu. Bogêm têgêse wadhah bangsa rêtna-rêtna kang adi. apa mungguh kang dadi karsane. mula Sri Jayabaya yasa rêca. lagi waleh yen sumêdya ngunggah-unggahi Sang Prabu. panggonane ana ing desa Bogêm. kowe dak-tuturi. Buta Locaya banjur dadi ratuning dhêdhêmit ing Kêdhiri. (11) Ora antara suwe Sri Jayabaya banjur jasa rêca ana ing desa Bogêm. ana maneh rêca jaran awak siji êndhase loro. nagarane ing Prambanan. Sirah loro iku dadi pasêmone wong wadon ing jaman besuk. buta wadon banjur ambruk. iya ora sida laki-rabi. Sang Prabu ênggone yasa candhi. Mula kang dadi panyuwunku marang Dewa. kulon kene bakal ana Ratu. nanging durung mati. . iku kang pinasthi dadi jodhomu. Rêca mau wujud jaran lagaran awak siji êndhase loro. aja suwe-suwe kaya mêmêdi. kabeh banjur padha andherek muksa. ora nganggo idine wong tuwane. mangkene caritane. aku iku dudu jodhomu. muga Sang Prabu karsa yasa candhi kanggo pangobongan mayit. Kang mangkono iku wis dadi adate para raja ing jaman kuna. Laren (12) kang ngubêngi jaran têgêse iya sêngkêran. barêng ditakoni. têgêse wanita iku bangsa wadhah kang winadi.

ing Karang Kumuning Satilare Pangeran Karang Kumuning. Ratu Fatimah banjur tapa ana ing manyura. nanging yen dilurugi apês. Kramatruna didhawuhi ana ing sêndhang Kalasan. wus manjing Islam. putrane Ratu ing Prambanan. amarga Sang Rêtna Dewi Kilisuci iku wadat. kang paring jênêng iku Rêtna Dewi Kilisuci. barêng Raden Patah wis jumênêng Nata. dadi Imam ana ing Asmara tanah ing Cêmpa. dicocogake karo adate Sang Rêtna piyambak. ngêjawa nama Susuhunan Katib ing Surabaya. [3] Isih timur rêmên marang laku tapa. aja akeh gêtihe wong kang mêtu. iya Sultan Adi Surya ‘Alam ing Bintara (Dêmak). kêkasih Lêmumbardadu iya Sang Pujaningrat. nalika jaman pambalelane nagara Bali marang Majapahit. nyakabat marang maulana Ibrahim. barêng muksa kasêbut nama Sunan Lawu. yen nglurug pêrang akeh mênange. pêputra Sayid ‘Ali Rachmat. asma Maulana Ibrahim. karo Pangeran Ibrahim Ratu Fatimah pêputra putri nama Nyai Agêng Malaka. Dewi Kilisuci nyawabi nagarane. kêdhi têgêse wong wadon kang ora anggarap sari. kadhatone ana sakuloning bangawan (3). Cêmpa iku kutha karajan ing India buri (Indo china). Kang ibu putri Cêmpa (garwa Maulana Ibrahim).Ana kêkasihe Sang Prabu Jayabaya. katrimakake marang Adipati Andayaningrat ing Pêngging. dêdalêm ing Ampeldênta. banjur pindhah ing Cêmpa. Mula Kêdhiri iku diarani nagara wadon. nama Awastidab. katêmokake Raden Patah. [2] Raden Arya Lêmbupêtêng Adipati ing Madura. dene dhiri iku têgêse anggêp. patutan saka Nyai Agêng Bela. kasêbut Susuhunan Ampeldênta. patutan saka ibu Sitti Fatimah Kamarumi. sukune gunung Wilis. jênênge Kramatruna. Putri Cêmpa nama Aranawanti (Ratu Êmas) kagarwa Prabu Brawijaya. amarga kasawaban pambêkane Sang Rêtna Dewi Kilisuci. putrane Prabu Brawijaya patutan saka putri Cêmpa kang katarimakake marang Arya Damar Adipati ing Palembang. Raden Patah (Raden Praba). jumênêng Nata ana ing Kêdhiri. Panênggak Putri Cêmpa nama Pismanhawanti kagarwa putrane Jumadi’l Kubra I. . banjur kasêbut nama Maulana Ibrahim Asmara. jêjuluk Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’lRasul Amiri’lMu’minin Rajudi’l’Abdu’l Hamid Kak. Sawise têlung atus taun. WUWUHAN KATÊRANGAN. Ratu Fatimah krama oleh pangeran Ibrahim. nama Raden Gugur. isih têdhake Kangjêng Nabi Mukammad. Kang kêlumrah pambêkane wanita ing Kêdhiri iku gêdhe atine. iku kang pêputra Susuhunan Ampeldênta Surabaya. pêputra siji kakung kêkasih Raden Rachmat. Dene putra Cêmpa kang waruju kakung. jumênêng Raja Pandhita ing Cêmpa anggênteni ingkang rama. pêputra têlu: [1] Putri nama Rêtna Pambayun. dêdalêm ana ing Jeddah. Sang Rêtna mau tapa ana ing guwa Selamangleng. sarta ora anggarap sari. Dene Rêtna Dewi Kilisuci iku sadhereke sêpuh Nata ing Jênggala. Kanjeng Susuhunan Ampeldênta pêputra ratu Fatimah. nalika Sri Jayabaya durung muksa.

Saiki dicêluk desa Ngrimbi. 1. (6) Kulon kutha Kêdhiri. Gurah = gusah.10 km. (11) Ing sacêlakipun pabrik Mênang.7 km.Sayid Kramat kang kasêbut ing buku iki pêparabe Susuhunan ing Bonang (Sunan Benang). (10) Kidul Majaagung lêt +/.15-16 km. (12) Laren = kalenan. (13) Bangawan = Brantas. (3) Lor Stasiyun: Surabayakota “Sêmut”. mbok manawi ewah-ewahan saking Gumêrah-Gumuruh. TAMAT KATRANGAN: (1) Kulon kutha Majakêrta lêt +/. (5) Tarik. ngrêsiki gorokan. wontên dhusun nama Guruh. 3. saka Kêdhiri. 2. (9) Akire Mênang didêgi pabrik gula arane iya pabrik Mênang. (4) Benang = Bonang ing Karêsidhenan Rêmbang. stasiyune ing Gurah antarane Kêdhiri – Pare +/. (2) Pêlabuhane saiki aran: “Haipong”. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 BABAD GALUH .

kali Ardhangbang awisik. … umur skeet tahun nem warsi. poma samya angapunteni. ababaka nagara. amaosa carita punka. saking bumu Galuh nengge mentas praja ji wau. lan sampun caket pandam. kang alinggih Pulasaren. PUPUH I DHANDHANGGULA 01 Ingkang rinipta carita puniki. ☻ 04 Kang pinurwa Pajajaran Mangkin. ☻ . sewu rongatus ika. punjul wolung puluh. si kakang kang mingetan. maka purlu adanya penyelamatan isinya agar dapat diketahui dan dipelajari oleh generasi muda.☻ 03 Nama samya ingkang sami kapti. lawan sampun nyaringin nang iku sami. wau ingkang kalampah. aneng alas Maostikta. ing tahun Be Punika. among angsal wolulas dinten nenggih. ingkang sami sudi maca. Senen Wage ing rangkepe. sampun kari luwung. pan kalangkung bodho tur langip.☻ 02 Awong dening kang anyerat iki. akathah tanduk kang sigug. sastra ataupun disiplin ilmu lainnya. mantrine Sultan Sepuh. waktu anyerat punika. kang sastra langkung awone. tahun Be kang hijrah Nabi. pan jenenge Kyai Serengrana. ing tawilunipun. Agar warisan ini tidak punah ditelan oleh zaman. nyanggi talutuh ngalantang. pengeting tahunipun.Babad Galuh adalah koleksi naskah kuno dari Kraton Kasepuhan cirebon merupakan warisan karya budaya leluhur yang mempunyai nilai yang sangat tinggi baik dari sudut sejarah. samantuke sang Ciyungwanara. akatut kang ……. pan si adhi mangulon ngadeg dewaji. sasi kalih tanggal kaping sanga. araga salimur. pan ora nalasamwa.

kang dadi emban-emban. ing waos pangrenyu. Ciyungwanara angadedi Sribupati. sinawung galih liniga. Ki Okesa kalawan malih. jimat tunggul payung. sikaki elu-elu. kawula warga Sakati kang uri-uri. sang Ciyung angadeg Ratu. ing Nagara Pakuwan. sarengga-rengganing praja. godebak bungkul cabolan. Empretmohe ya ika. kang pinangku panembahanira.05 …. kang kocap ing namane. gumurudug ngilen wus dumugi maring. kombala buntut sing asami. ☻ 09 . kang ginawe rontek buntuk monyet dadi. Babakan Pajajaran. dawuh jengjenan kadang. iku Indang Gunung Saketi. kang arjane sang nata. angistreni lungguhira. ☻ 07 Cantrik Sakati ingkang anami. umbul-umbul kulit wanara. ngilen kali kang Ibu Dewi. Rara Kandhegkinarha. ingkang acemeng ulese. arjaning sapaku. lawan wau kadangira. mangking kombala badhak. kang sami amangun. kang gagandhi ing pilungguhe. ingiringi pandhe dhomas.. ☻ 08 Wus rineka jati pangupami. ☻ 06 Wus kapanggih lan Indang Sakati. akadi kulit lutung. Cipamali watesani. Pajajaran sadakti. Ciyungwanara nurut.

sabawaning ratu susupaning wasi. ingkang murwa sagala jagat. lir kang estu ajar padhang. tampingan gunung arame. riniyung ing sagung. ☻ 13 Ajar Padhang ingkang dukmadhemit. …. dumadi praja gung. pangrampiging menak Cidahur nyungkemi. ☻ 14 . Wus gemuk. marapit ing ….. rame kang surak-surak. Prabu Ciyungwana.. Maha Raja ing Pakuaji. kang winangun … unen-unen. jemegur yen kaginan. purwa sing Cialur. rarakandheg mila dadya. ☻ 10 Andrawina kang kawula alit. warna rupaning sambawa.Payung agung kulit maung kuning. kebo bule bungkul kang pancal pat. sangkep sami kaprabone. gemelane reyog ngimba sraya. dhog-dhog byos pan dharugdhug. kang tharokthok egar kapati. dhasar masih sedhepan daging. gelap pon sami ngulun. rai awujud buta. Sang Nata. ing sadina-dina rena. angintali barat angabdi. ☻ 12 Kang mambangan ules gumaringsing. ing Pajajaran tanggale nuli…. jurig dewa mambar. sok lutung kidang ika. sundari alas langenan. kikitiran ing pucuking lingga sari. ing siang lawan dalu. ☻ 11 Yen bondanan pandununging…. agenging kawula bala. ical jenenging wana. kidung sari baung. kang ngaolatingkah negari. pan jumegur lir mariyem kang swara. purwaning abal raja. sato-sato kang bisa akata jalmi. padha icep bal makabe. iton-intin liwurkali. pasar ageng pan samya suka ing ati.

ing Pajajaran suude. gul menak umbul adhu. Sri Jampang sarta jinggine. ngajengaken bomanta. ngajangaken alun-alun. dupi ingkang kang nama. ☻ . angrekuricak cepenge. santana kinabandu. limbung aning guwa santang. ragemragem mariboting sih. nengenaken sasagaran giri tasik.ing sawancinira. amegeng sewakanira. rang-orange jinunjung inggil. anyakra kapatiyan. 17 Pan kapati kang duweni manis. anyepengi putusan pra padungapti. sadasa sami prapta. anyepeng para gul menak. ing Pahing dintenira. isa baisa Dipati Alurcenang. lembah dhuwur lan pintu tundhaga. …. pan acaos basa ing aji. Pasowan panggenan aji. seja tuhu genya karsa angabakti. andhum wancinipun. ☻ 18 Ki Tumenggung Sayoga nyepengi. cekelan mangun gentra. pating rangu rangu Sundha. Ki Ardha mangun gen trahe nenggih. saha sri ing samandhepane. ingkang kacepengan dene. akidang kandhuru. Demang Elu-elu. dine Wage jaganira. ☻ 15 Mangunaken sagung kapurati. pan sirnaning ratu sukma ing pati. ☻ 16 Sabandare sing sabrang sumadhing. cina Sundha kawilang lilima. ing Sundha ginunggung. …. amageng kawicaksanan. ing bener lawan salah.Datan roro tetelu ing kapti. kang kepering angi … puraken gunung. pasisihan utawi manca nagari. Kikandhuruwan babalban. ing ayunan sang prabu. paningadhun sang Bima larang.

dhalem demang kangene.☺ 02 Nyata sang roro ponggawa.paning. ☻ 20 Ing Ciwindu anteng …. kukuh ing pat Pakuan. prajurit ing sawancine. sura sowan sabrang pati. sinaroja umbul. ☻ PUPUH II PANGKUR 01 Angir-angir ing buwana. nagara urut pesisir. sindhang kasimanut. dina Keliwon cinepengan. lan ki dhalem Cintangbarang.19 Kang Ngabehi Lempretmonge kang jagi. kang kinarsa angirupi para ratu.. dhalem Pakulada dhalem Pakuaji. Pasir Adu Pulangdhang. lan kang namane sinebut. kidhalem kuwu agung. ☺ 03 . naklukaken para umbul. sampun mentar kalawan idhine pati. para dhangan pasir panjang. ing ulu balang wau. Kalibadhaglolopak. sang dhang bana Ujung kulon wus anungkul. dhalem Tepus nalika wong kuna ing Raja…. dhalem Rangga Pakuan. pangaline rara nama Mundhing Jamparing.. sungga watang sarampang bandring. para idhang kang primanca. dalem ingkang kunakuna. nalika binathara. samya ngidhep ing Pajajaran angapti. Sendang Cibuntu ing praja ngapti.

aji. ☺ 08 . apa maning sang dhang Jakerta panadhun. Menak Lampung sadasa kang ngapti. pirang-pirang ambalan tan budhihi. dhening prahara lautan. ☺ 05 Amung siji ingkang nyelap. iya iku nama ratunipun. seja lurug dhatmakaning kulilip. ingkang ngambek sucira angrasawani. ing tetelar aniba pating talumpuk. tiba ing sawah-sawah. ☺ 07 Wong Sundha ingkang prawara. Palimanan Carbon Girang katiti. Raja Mongkara. ☺ 04 Losaribang kulon miwa. bala Sundha ngadhaning rangseng padha kawur.Banten …. tanpa sangkan breking angin. ing titah …. Indramayu lan Kondha. tan maju kadhadhak kawur. Ujung Maladha. manglkana sandhenging wani. sang Srijunti sang Kalana Kandhanghaur. Jepun kulon gumulung. aneng Ujung Batagonggang …ipun. dhumateng sang Raja Ciyungwanara Pajajaran. pirang-pirang bala maju. Karawang lan Ujungmilir. lir walang kawur prahara. estu tan arsa kedhepa. ☺ 06 Kocap bala Pajajaran. Jograt Lantan Tawangpadhang. daman pangunjung tanah. sadasa akedhep samya. ing Pakuan Pakuaji.

ingkang estu warise juragan Ahing. kang ora suka. sabab bareng rereping kang lisus. yaganal pamuwusipun. lawan Anglangkara ratu. ☺ . adhuweni buwana. den ora gelem anungkul. pan buwana Dhangwinta ingkang ngawangun. wong Kajiwa bumi re gelem nyangkul tembene ya ing amendhak. mangkana Ratu Sundha kang dhadha susulur. padha ewong ambeneki. yika Badhak lolopak. den age caked…. ☺ 11 Kukubaning Ratu Sundha. apa bidhane tunggal enggoning bumi. Badhak Lolopak jal Kidang. ☺ 09 Nadyan …. …. Lalangkara ewong dadi kulilip. ☺ 12 Raja Mongkara panabda. budhi kethek napsunira kaya asu.. ingkang kadhang raja iki. ☺ 13 Padha bae suwaningwang. pusaka sang Prabu Galuh. amisesa sasigar Jawa. ana jenek enggon kene sira iku. ratu mung ngaku kewala. sira ingkang selang gumun. iki kang si rajeneki. anubruk dhateng sang aji. datan ana wau ingkang ngucili.. ☺ 10 Puniki bumi Pasubdhan. apa gawe si rajenak ing riki. enggal pan sira alaju. pan pinanggih lan Sindhang Mongkara aji. ambeg sawenang-wenang.. dhen dhadhi kulilip. anila bimi ning angin. ya para age bu………. kang wus merad susirna. la iki kene apa.Salamine ing ngayuda. lan jajal.

tiba tangi ngudhak maning. matek mantra dhal emesal menginggil. mangsa suweya sasakti. kang dhen wadhali Beruk Kalapaciyung. semunira karsa angadhoni ratu. putraning Bramana Laut. ingkang mangkono ngadheg anyar. kasektening Mongkara wantuning. yen wis kanggep tungkuling wong aurip. jar akathi Indang Gunung Sakathi. niba tangi anubruk mali dencawuk. mila Dhikbo samana. aja sira papa … iku. ☺ 16 Tan kena aju narajang. ☺ 19 . kabereg-bereg ing agin. binalangaken tebah. ora meneng-meneng abalik maning. ing Munting Jamparing. ingkang kaparing …. kawur si Badhak Lolopak. den balangaken …. ☺ 15 Dedupak malih kapental. ☺ 18 Kawula nana ngendhatna. den wus kaebut kang jimat. balikan sulusupana. api-api saha ngabdi.. nuli prapti ika wau ingkang lisus. anuli sira den cawuk. colongen ika kang tuhu.14 Sigra sang Raja Mongkara. anyepak maring kang musuh. ☺ 17 Ora kaya Ciyungwanara. Kontal Badhak Lolopak. ana ingsun ya negari. ing Kahuripanne raja.

ipun. ☺ 20 Katur ingarsaning Ingdhang awan. padha soroh ambek pejah. Beruk jimate Mongkara. maring panusuling musuh. bala Mongkara kokalan. wong … angladosi. andhawuhi kang udhan krama. lami rowang anyekep marang sang ratu. pan gawa minggal tumuli. ☺ 24 . satengah pejah dhen pupuh. gumarudug anusul …. watara satus dina. Munting Jamparing angadhepi. kondur dening Badhak muring. ☺ 22 Raja Mongkara naraji.. saka tiyang amba …. papaning bala mapan saolih-olih. sinerong ing amukan. ☺ 23 Dug Munting Jamparing. wadya maju Badhak Lolopak alaju. bala Pajajaran kondur. Raja Mongkara sira. …. ☺ 21 Ramya ingkang pancaraga.Yata munting Jamparing. wus uninga pancing surupe Yangwiku. Munting Jamparing lawan. yata kang bala Mongkara. ing Batagonggang angulun.. pan satengah pejah den wali-walik. pan Silepe saking wingking. … jejel paring pitulung. Badhak Lolopak sampun kawalik-walik. lumaksana sawisiking Yangnini. Raja Mongkara mudhidhing. tan adangu Indhang Gunung.

lintang saka tipun niku. basa Sundha kang panuji. gara aji gara pagu. Ratu Agung Sundha sakti. lan Arya Badhak Lolopak. kutha Idhang apa maning. ing bala Pajajaran. miring Prabu Pakuaji. kali prakwise nama. gara tengah gara jati. mangkana arsa aji. Raja Mongkara sampun angangya sewaka. ♥ 03 Lan rarasaning manusa. Kutha Manggung Kutha Raja kutha Gara. gara jaya kang …. … tigang prakawise nami. Raja Mongkara dhen asandhangi dhata tangsul. Kanjeng sapta loka. ♥ 05 . dhumateng purba nagari. iku ingkang sawiji. kasri ing babadhanira. pan iku karananipun. yata prasami rinebut. Sundha sari Sundha lengdha Sundha larang. ingapingan jeng nini. ♥ 04 Kutha Larang kutha Jampang. ☺ PUPUH III SINOM 01 Iya iku purwanira. sastra selawe gumelar ya ing Pasundhan. olih gaweyan manca nagari. gawe ewag saking Jawi.Angeles lumpuh entro raga. Pakuwan … Ciyungwanara. gara … gara wangi. timbul salir wirasa. ngamperi rarasan sabrang. wus andhepok ing sihi tanpa sakti. Lalopak lawan Jamparing. sastra Sundha kartajani. Ki Arya Munting Jamparing.♥ 02 Aturing kang para … kawitan. Sinungan lenggah arya.

Sundha Amalatra. sapta loka wus dadi. … jayeng aji. Raja Wetan miwah malih. Raja Galuh Raja Cingcing. ♥ 08 Kang kasebut ing paparab. Ujungkembang Ujungsemi. ♥ 07 Medhangdhatar Medhangpala. gumelar rajaning ratu. Bantaraung Bantarjati. nem prakarane ingaran. kang nama rara Cunggilis.Sundhawestu Sundhasana. Medhangko … sajati. lawan prakawise nama. lawan Medhangkawiraja. ing pura Sundha negari. lawan Ujungkandhi. Sundhalayang Sundhajahi. ing Pajajaran sang aji. amung ika wanodya. ♥ 09 Putri Purbasari mulya. Ujungkulan Ujungbumi. pinutri-putri ing nata. ♥ 06 Bantarwangi Bantarpanji. kang pinangka prameswara. Bantalwaru Bantalwire Bantarjaya. ing wuri-wuri jati. Ciyungwanara pakolih. garwa padmi saking Gembong arah wetan. ing kadhaton dhalem agung. Raja Jawa lan malih. lan gangsal prakawise. Medhangrasa Medhangterik. Raja Kowek kalawan. ♥ 10 . Ciyungwanara wus mijil. putra estri kang paparab ing arja. … putra jalu. Ujungtana Ujungbarung. pitung prakawis anama medhang kamulan. karaname narpati. Raja Larang Raja Dhanu. ratu Cunggilis krama. ingadhang agung ing aji. dumadiya turun saluraning raja.

kang miyos saking narpati. menak Cicilutung gelis. nanging boya amiyosi. sang korone becik-becik. komalaning dhalem pura. Sundha ora nana maning. putri saking Bangbayang. Martingtrim ingkang yumani. wus angapti maha dewi. ingkang tedhak sisiwi. … kagungan waya. Pajajaran kaliyipun. ika putri Purbasari. dreman ing sabronjotipun. prandene … yakeni. wonten malih kang putra. ♥ 11 Lan Dewi Markeseh kembaran. ♥ 12 Mila … Banghayang. kagarwa dhening nata. agagarwa saking bebeting Bramana. dupi garwa sembar ayu. parandene tan mutrani. gabuk ora amutrani. nami Dewi Tingtrim wawanginira. ♥ . sakaliye ing gigabug tan aputra. tan ana leksanannya. ♥ 13 Martingtrim Merkedheng lunta. sang Prabu …. ngalap garwa malih milih. sanget kaul-kaul mambri. gabug salami-lami. esi tan kena tinedhu. usada … wus tepung. ♥ 14 Ing Pakuwan pinakrama. nuli sang Ciyungwanara. akathah ajar bramana. parandene oranana siji laksana.Putrining Ciyungwanara. kang kekasih iku Jeng Dewi Anjatan. iku kang Pajajaran. Markeseh ingkang yumanibini aji ing puri. dinama-nama ing marma. kang jinalukan jajampi.

dhadakpulur wigalba wiragalba. dereng karsa alaki. cathik-cathik raja peni. ♥ 17 Saluraning Pajajaran. Bawatciyung Naga Sakti. dening mung kalethek siji. kereronce kereampit. ♥ . iya orana siji. … kang upacara. ♥ 19 Purbasari lan kang rama. yen tinaros banget lumuh. mapan mangkana agabug. rinegep sari ngumining. Bawatbenggi sari Manglar. saparoning pribadi. nami Dewi Kilikmangi. ingkang ngadining-ngadenan. jajampi sing ngenda-endi. krajahan dhen palipur. ♥ 16 Lir ta selirnya marapag. ♥ 18 Dugi maring pabarisan. ora nana ingkang darbe laksana. katur ing nata Pakuwan. suradhadhu sarabang. judhialiman sang dhekur. ajumbula moning angaksi. kadi kembaran narpati. ingkang amiyos sinunu. judhipatnantang weri. ginawa ing sang aji. mila saderenge lalis. datan miyos putra. para ratu kang karsa … lesan. sinedhepira dumadi. Purbasari wadon kang winadhang-wadhang. sang Prabu Ciyungwanara. saparo ing sunu ayu. tan kenging dipun purba.15 Putri saking Kandhanglarang. dening karsaning narpati. gawok kasri nalendra. sapalih ngapti ing siwi. sapaliye Purbasari kang ngagem. langkung kawandasa sasi. supaya wadon lan lanang.

Luwiladha Luwidhingding. saking kang rama narpati. Budirujit … Budi …. rada melang-melang kapti. bok sang putri kencok aning mamala. Prabu Ciyungwanara. Budiwati Budiminging. ☺ 02 Saprakara kang sinebut. kang arsa sewa panglami. ☺ . ☺ 03 Luwilaja Luwilidhung. kapepes ing tan kaconggi. sedhengane dewa aji. rong prakara ingkang nami. ingkang mara-mara kondur. ambaka … pikulih. Budipandhang miwah ika. ♥ PUPUH IV KINANTHI 01 Sagung papalisanipun.20 Pirang-pirang kang sewaka. ♥ 21 Ajaja sipating jalna. Budisari Budigolis. sapta loka pari mina. Sokapura Kokaaji. telung prakarane nama. ingkang mara-mara balik. akeh kalesan balik. padha mengga ing ngalama. kang akarsa samya balik. sing sabrang saking Jawa. pan mangkana wangun mali. Luwiseeng Luwimundhing. ana baliking dhalanggung. kang ingarsane si rara. nanging datan den pidhuli. ing ngarsane sang Dewi. padha mundur mulak ora tinampanan.

Kawunggehe Kawungomas. Sokamanah miwah ika. limang prakarane kang nami. pitung prakarane kang nami. dumateng putri Pakuwan. Kawunginten Kawungsari. sokawiyana lan malih. ☺ 07 Sabdalarang malihipun. padhamatang lawan…. kng simaan rama aji. sabdamenyat Sabdawangi. sindhangayu Sindhangaji.. Kawungluwih Kawungaji. miwah ingkang Sindhangkasih. ☺ 05 Kawunglarang malih ipun.☺ 06 Padhamuhi padhamadhung. Sindhangwangi Sindhangpala. Sabdanawa Sabdasari.04 Sokapolang Sokaratu. ☺ 08 Sampun ing kadya puniku. Sokanegara apa maning. padhapenah padha bongor. dupu rangga kapatihan. ☺ 09 . patang prakarane kang nama. Sindhangkempeng Sindhangbarang. nem prakarane kang nama. Jeng saputri Purbasari. padhareka padhamuraging.

Menakwacacayan istri. raja Galuh lan Talaga. dening Arya Mangunkentra. la iku dadi laluri. dupi sing kalih bayabang. Cikandhang Cicaridhangan. Menak Pakuwan ingaran. iku sun dak sigar wetan. mengulon iku kang dadi. ing sapandum-pandum nira. Cionje lawan Ciori. mangetan jajahan istri. ☺ 11 Cikaso lawan Luragung. Mangunkentra rada …. lamun pajajahan istri. Panjalu muwakawali.☺ 10 Rang-urange pandumipun. Ciyungwanara ingabdi. Karapu Yudanegari. prawatesanipun kali. ☺ . Lebakwangi lan Cikuwang. sapure kang katiti. 13 Purbasari kang amengku. Cigugur lawan Cirayap. ☺ 12 Cikendheng lan juga Cigintung. teka ing satedhak-tedhak. ☺ 14 Bayabang kali Cilutung. Cibarangbang Cipaburi. Ciakarwangi katiti. pusaka kawuri-wuri. Kuningan lan Sindhangkasih. Menak Mangun … praniti. Ciamis lan Sokapura.Dupi ingkang rama prabu. Makber lan Cipamali. salwe princi kawilang. pusaka kawuri-wuri.

15 Pasawahan ramanipun. Bogor lawan Kanjapura. Kadangladhang Pasiraji. kang sarwa tinandur dadi. salawe princi kawilangan. laluri ugi salami. ing ngarsa Sri Pakuaji. Ciyungwanara apa maning. karata gampang pangulatan. ☺ 20 . Cikokok lan Nungkalaya. ing pajajahan angabdi. Ujungkulon apa maning. sang Prabu Ciyungwabara. jajahan Sundha nagari. Batuwalang lan Biribis. ☺ 19 Wus kukuh kang bala ratu. Cianjur Kujang Limbangan. Tegaluwar apa maning. kang nama Menak Pradhangan. Sawung … Gantilah Munoro. ☺ 18 Wanabaya Cibalagung. Menak Pacacahan lanang. sigar kulon sun dapuri. Sokowiyana lan malih. ukurlantara Juangin. ☺ 16 Pon salawe princi umtul. ☺ 17 Manonjaya Garut Ciaur. Sumur Bandung Sunedang aji. wengkuning Arya magentra. kang angresa hawa aji.

sinung pobojongan menggih. dupi maha Dewi Sundha. gunung Lajer gunung Kelir. Indhupari Indhuaji. Tegalgubug Tegalkunyit. ☺ . gunung Ga Gunung Licin. Bojongrentan ingkang dadi. Indhuraga Indhusari. 24 Tegalmenak Tegalbaput. dhupi sang jeng bini aji. Parakatan pawestri. Indhujanten Indhugirang. jeng pawestri Cunggelis. dhupi iku aneng ana. Kapitune Inddhujaya. Paraketan nini aji. ☺ 23 Bojongmuntas Bojongwindu. 21 Sami sinunut cangkohipun. Bojonggaluh Bojonglapang. Parekatan bini aji. ☺ 22 Kapituning gunung wupu. maringtrim Merkedheh mewah. kang sinung sasapan indhi. gunung dhukut gunungsira. mangkana kang prameswar sinung cacapagunungan. Tegalkolot Tegalpakaji. nuli ika garwa lima. Parekatan iku Sundha. Bojongnerwasa Bojongleppit. agung kacipta dumadi. ☺ 25 Paindhon kang winalungun. Anjatan lan Giliwengi. Tegalmoto ingkang dadya.Sakalir karsa kadulur. sinung sasapetegalan.

☺ 28 Temah dedeake Ratu. waneh kang campur wong sabrang. kamukten den bagi-bagi. ora selang surup apti. ☺ 30 Padha among sanak sambung. waneh ingkang leletana. kang kanggo salami-lami. ingkang satta sabumi. bedha lawan Majapahit. Lebakpanjang Lebakwangi. iku rerekan Pakuwan. dening kang padha anyewa. Lebaksidhu Lebaklenggar. golong sapurba sasmaya. maring bumi ming narpati. kinalilan purba bumi. 31 . ing Pakuwan ikut yakti. Lebaklawang wus dumadi. sinung palebak kalepti. angreka sabagi-bagi. dhupi Pakuwan Marinci.26 Dupi ingkang Dewi matur. mila-mila kawisesan. ☺ 27 Sawawasa prati umbul. Lebakcenang Lebakcehang. mangkana adat Pakuwan. anggelar enak ing urip. 29 Mula akeh menak umbul. prasasat den prenca-prenca. kasilane den remani.

mangkana kang lurah wana. ingkang mawa tatakeran.Sewa aning paken agung. kang sabandar pajeg ira. ing tatali karompyangan. den elus sakamya-kamya. Ki Lurah gurupadha. iku Ratu kang dheres. ingkang lumampah ing Sundha. anut maring kasabpolah. mung den wis panepadha. kus jembar kahuripane. pagantang pajeganipun. pamajeganing pangumping. lelemes buwatan sabrang. ☼ 03 Bolong-bolong kaya dhuwit. ☼ .☼ 02 Ateka yu kang lumari. pamajeganipun gula. babakti ing majikan. sawah tan mawi lalanjan. bendher den cap sastra Sundha. sailing-elinge padha. tukang maring pajeg trasi. kekendhangan kang isine. kethang prunggu kang sinundhuk. pamule pegantang salir. ☺ PUPUH V ASMARANDANA 01 Ki Lurah Rawaprasmi. wus dadi anak Pakuwan. yen wis padha ngundhuh-undhuh. ora nana pajegane. ☼ 04 Palawijaning wong cilik. pamajegane gugubar. atur catur baktinipun. tangu gegel ing majikan.

ing Pajajaran tuwuhe. ☼ 10 . japa mantra lan istiar. ponora tumama kabeh. Purbasari naminipun. wiwiku lan ajar-ajar. ora nana kang tumama. marna bangsa raja. akarsa ing sang rara. ature wau kang putra. ☼ 07 Kaul alukan mati.05 Warnanen sang Pakuaji. sanadyan para nalendra. tumon adate kang putra. tan ana turun tedhakan. winadhang-wadhang wiyose. re kang putra samana. sumadi isun akrama. pinardhi ingwang tuwa. manahe Ciyungwanara. ing salamine amurba. tatambah wus mider tepung. sang nata sanget gegetun. dhupi iku teka mingkung. mingkung dhatan arsa krama. kang karsa dhateng kula. iku kang dadi pegele. ☼ 08 Wus pirang-pirang pamuji. kewuhan dening kapadha. reiku kang kinudhang. besane lamon kinuwu. ora nana kang misata. turunanira drapona. ☼ 06 Wanti naros ingkang yudi. ☼ 09 Kalangkung bebek ing pikir. tan arsa akrama ingong.

sakabeh ika padha.Du uwis amung sawiji. den kula pinardi krama. tumanga geni sakala. iku dhipati Manglewat. wadon tumuli mangkana. ☼ 13 Ruru bae anggonturi. ☼ . lan Arya Dhagdhagase. Purbasari dhuk sabda amit pejah rama prabu. ☼ 11 Ratu Sabrang Ratu Jawi. marakbak kagila-gila. lawan Dhipati Japara. ing Prabu Ciyungwanara. tumpes aja katingalan. dupi den lumuh krama. ing kadang ing ngakin. enggone nari kang putra. kang asresewa panglamar. saking anagara Tuban. ☼ 15 Alum kula anglabuhi tumangan geni sakala. lir baronggong beledhoge. lawan Arya Balangbangan. temah puthes anak putu. suradil pan titah raja. lawan Dhipati Cidah. Purbasari inggal mangun. anggondhel prakara iku. wus loba tanpa wilangan. kawula sumangga pejah. den nama kumudu-kudu. 12 Saking sabrang Raja Kelir. lan Dhipati Singgapura. kang dadi bebeging manah. turunan lantaran krana. ☼ 14 Ageng ilur sundhul ing langit. mila sanget kewuhane. tan kena den palar mangke. dhadhak sakala ika. jasad kawula sanggine. wuku pring apilar wangwa.

16 Sumandika umalaki. den sampun gepok ing rasa. ingson kang urip dawa. kang dados sakiting manah. tan kangkat to nandhang. sang Prabu Ciyungwanara. sasada susut den wis waya. kang dadi ati ewuhe. anak putu den arampak. ing kamukten padha uman. boten memper dhateng rasa. mila kula angedados. sipat matane si rama. ☼ 21 . atemah boten mambu. anunggoni anak putu. ☼ 17 Jaler punika kamangi. ajur kula dados awu. sama dening kula wirang. mundure tut sausap. purnapa awu sahana. padha bareng mukti kabeh. istri kang kabobongganan. sing purwa teka daksina. ☼ 19 Lan aki sumamung aji. lan anak putu den rampak. ☼ 20 Babarayan ngadek aji. mung sira tan ana liyan. angandika aja babu. kaprawasa dening priya. sanadyan nama sihing rupa. mongsa pira gesang. ☼ 18 Rasa kang sampun binukti. wirang nekaringgit ing jasad kula. nini labuh geni sira. way kalereng anggepok.

wawadine kayak iku. ora jamak lan manusa. mangke kang dados parenge. kang rama kadi mangkana. amangsuli kang anggondhel. tan kaya dening dadaman. jamak istri asasdhu. den sampun bubudayan. masih munjuk kang dahana. 23 Sang Ciyungwanara aji. sesaengek jamak wanudya. sak akal budi pandaya.Mangkana prangregep mami. kang suka punika rara. maredheng … maksa. ☼ 26 Ika iki kangngangking. sang putri juwala purap. tinari laki popoyan. karanten dan mangke tulus. den jeng rama sampun asung. ☼ 25 Ciyungwanara mangsuli. kang geni gupak cawisan. Dewi Purbasari girang. prandene den anakake. kawula kelangan anak. tinaros mangsuli iya. Den Purbasari medho. ☼ . mintuhu sakadikane. utawi kaluncurane. den kula pundhi kentasa. dados awu lelebaran. sejane labuh dahana. mila tumangan masihe. amung siji anak kula. karinggi awak kawula. raja-raja atas sabrang. nuli ika temahan lampus. ☼ 22 Den pinaksa alaki. ☼ 24 Mangsa wontena pawestri. tan nilapaken rama. tan asung pinancas parum. nanging ika tumangan.

kang boten kanggep sanjata. ing cilakane awak. aweyos geni jatine. sok dadiya arju. raja rama Ciyungwanara. ☼ 28 Ling sang Putri Purbasari. anuhuning palamarta. sing ngakenggep ing babajane. ☼ 30 Bilih boten angrakepti. ing adat tabidat Sundha. memanten dados ing karsa. kawula dhuluri. ☼ PUPUH VI MIJIL 01 Ya Prabu Ciyungwanara mangsuli. saduka-duka kasuhun. munggi kang rama lila. sasampuning geni urut.27 Raja sabrang mangkeya angling.® . andhadhanr untunging awak. kita sami medhek sowan. rumuhun kita lanat. rempage kadi mangkana. tumangan kita pri pejah. dipun jemba ing pamuhung. kasabrangan pan sadaya. sak lilaha ing jeng rama. boten wonten roro. boten dados pana sarana. tapi punika satuhu. ing songonging kasabrangan. ☼ 29 Panuhun raja tas angin. gih punapa karsa putra aji. nanging putra sabrang kabeh. maketen ugi ciptane. ya tetelu aturku sajatine.

® 06 Ingkang letak dadi pujajagi. karanane punika kang geni. mangkana kang inggil. geni lawan toya musuhe. panedha kula ing sadayane. para putra sing ngatas angin. ® 04 Heran kula ika geni. dipun sengget runtuh. adhining asakti. bilih putra mangko. ® 05 Raja-raja sabrang aturnya aris. kaduk mahinggurut. kalawan parahu. kang atos inggih dipun linggis. pan rama ing uni. lan dipun langeni. gih cobi kemawon. dhateng saenipun. 03 Kula tempuhaken lawan nalisip. kenging ugi den silulupi. nuntenweleh geni boten moset. dede geni pranti. punika kang dados. sampun kadhalangsu.02 Sampun nelangsa ing salasa tunggil. manther angger tan ana surude. kula dhugi wonten nyurupi. ® 07 . lagi laut kang jro jembare. tan wonten sosolot. kang suker tinatas entong.

® . dhateng putrinipun. dhateng saenipun. dening ewuhe putraneki. rurubahing ratu. Prabu Ciyungwanara sahure. kahula kang nguning. kang sadya patakon. lumuhe tan apti. ya sang prabu Ciyungwanara jatine. ® 08 Ya ta raja sabrang ting padhigdhing. gampile kang mangko. ewu mana para ratu. ya sang Prabu dereng nampani karsane. kang murut mrangmong-mong. kawalahan anglaladeni. 09 Ana gawe banyu janantrawis. ting surakata ing sahakale kabeh. wane gobakwari. ® 10 Sigegen ingkang sabagi-bagi. bumi metu banyu. ruru bae wus anjaladri. akal sabrang ing sabagi-bagi. reka-reka gatos. ® 12 Ing alun-alun wus dadi ukir. sisrate mancur. maring kang ngamambri. la inggih sakarsane sami. gawe pongpa kang anemburwarih.Punika malih wernine kang geni. ® 11 Sya kathah kang para bupati. ana gawe banjir. kang anglamar tiban sampire. pangumbuk-umbaking. warna-warna katon. banyu pecut kang munjuk mancure. kocapan sang katong.

enggo apa thongsot. lan gawe tahinipun. lan putri ajodho. dedenira jeng putri anampik.13 Kang wus sewaka kulina ngasi-asih. lawan Kandhanghaur. aneng kene anjejemberi. Palimanan kalawan Junti. ing praja gung kono. sayajenggi lawen manggi kardi. ratu papat iku rurubahe. buta geng asiyung. den panjer dumadi. la den nemu gawe ika nuli. ya prandene tan kanggep sawakane. ® 15 Parandene ing putri den tampik. maring putri kono. enggo apa sakti. ® 18 . ® 16 Dalem Ujungtanah kang panggapti. gewe ingkang tewi. la ika duk pahor. kaya kuwi niku. Sadhajenggi matur kasaktene. den panjer dumadi. buta ngengenggo apa gawene. ® 17 Dasa rupa merat sampurna lalais. ® 14 Sakapate anjum aminta kasih. musuh datan weruh. Ujungtanah malih. dhalem Palimanan wau sewakane.

enggo apa sakti. parandene tan kanggep sewakane. kang walira katimaha gawene. wohing lir kulite. la saka sanake. ® 21 Gigilani mungguh ingsun iki. enggo maning. ing putri den tampik malih. dateng putri kono. la den karsa lulumbaning tasik. ® 20 Jajar-jajar kaya gethek ramping. ingkang kaya iku. bubuhayaniku. atur karsa kang akon. esak-esak katon lawan katon. parandene tan kanggep sewakane.Merat-merat apadu menesi. ® 22 Dalem Kandhanghaur kang pangapti. binuwang dumadi. kang ulese loreng lir kulite. wohing rarawe lir wulu kucing. endah rama malih prahuake. gawewan rinusak. anganti kang buhaya jiji. ora sudi mami. saktine den manggih. ® . ® 19 Dalem Munti ingkang pangupami. ora rerengkono. rasukan kang poleng. anyiluman kidul. ora papa mungguhing mami. nangkono den panor. 23 Nuli katon macan ageng wingit. baju kaya ikut. dening putri tinampik malih. buhaya tan untung. sakti kaya bellis.

datan ana kang kanggeping putri. Purbasari apik. simpenen kepati. sakti kang samono. ngulatana ayo. ingkang kawan warni. tan kaserep ing putri karsane. gadha dalem pakuncen kang gedhe. ing gedhong kilempong. ® 26 Ciyungwanara mgadheg pangabekti. nuli dadi dato sanepane. ® 28 Gemenana ing kawan prakawis. ® 27 Ana gunane ing sawuri-wuri. maun padha iku. nanging kersane sang Prabu. rang-urange gupuh. iya Endah Kitarawati. sanadyan tan kanggo. ya ta atur-atur balik kabeh. esak-esak ewong. jalma nyarupaning. bok menawa besuk. jingika kasaktin. ina temen mungguhing mami. pramilane Pakuwan darbe asakti. ® 29 . ® 25 Ora layak temen mungguhing mami. iya saking iku. dupi iki yawis teka dhewek.24 Dadi macan apa gunaneki. amung kita darma ngopeni.

® 30 Kadi merad sapadhaning lalis. iya saking Palimanan asale. den panjer dadi ing wiyange. macan cipta saking. Pangroban ya sakti saking. sareka budine entong. duga kaya udan ribut amalabar ingkang banjir. ora katon dening. © .Saprakara Pajajaran bangkit. warnanen ika sang prabu. pambereging musuh. sabrang amateni geni. ® PUPUH VII MEGATRUH 01 Kawarnae ingkang padha sungguh-sungguh. sing lor sing kidul sing kulon.© 02 Banyu singsor sing dhuwur padha maribu. ning mongkara windhu. rebut dhingin den dhingini. nyipta buta ijo. sadaya pangngabakti. Ujungtanah pasthi. sada kang den enggo. rong prakara ing Pakuwan bangkit. saking Juntu tudu pinangkane. dalem Kandhanghaur. cipta buhayangon. ® 31 Telung prakara Pakuwan bangkit. patang prakara ya bisa dari.

wong Pajajaran gumentur. iku geni ngisin-isin. raja sabrang kaliwat ing sor. prandene tanmigateni. © 07 Saya santek geni tinuruwan banyu. prandene pating padhig-dhig. prandene kadhuk asanggup. © 08 .03 Saking wetan campuhe wau kang banyu. naging tan bisa mateni. kaduga pitung bengi. gumuruh sorak bala wong. angraba kena ing banyu. urube angger tan gigis. tan ana endhaning banyu. © 04 Ladalah rekaning wong sabrang gathul. © 06 Kaparimen yen wis geni ora purum. tan bisa meteni geni. iku dumehne wong wadhon. banyune cabar cawiri. sumagar ngarepi putri. surake kang para aji. © 05 Ora pira budine pating dharug-dhug. ratu sabrang nyata wadon. maring genining manon. geni manjer tanpa surud.

niyat sami tur garumbyung. iya ana kang nyumurupi. lema dadi wangwa geni. gelare ya kaya iku. © 13 Angurugi geni wus jumegur-jegur. Ciyungwanara duk angling. © 09 Kawirangan dadi sira padha ngandhu. © . iya bener ing sang prabu. dangu-dangu ika warih. la iki intening wadon. budi rekane wus pokok. © 10 Purbasari genine patut den iku. dadi wedang mulak metu. © 11 Duk angandut nuli ana ingkang laju. prasami apikir-pikir. prakasa raksasa gasik. mundhak dadi urub-urub. munggah ing gunung den enggo. saha kala akalengkono. seja amateni geni. kang anglosot anganjerki. ora mati dening warih.Manonjaya pawestri jeng Listupaku. gawok para narpati. nanging ora dadi mati. ora yamane ya ewong. muwuhi gedhene katon. anyangking sadanya jenggi. © 12 Dalem iban Palimanan lanunipun. dadi buta sada iku.

jer si geni den surupi. Sunan Tambalayung Kolot. atemah geni dhuwur. lelewane galak katon. © 16 Gene pager ora nan sudanipun. ora suwe jebul maning.14 Ya muwuhi gedhene ing urubipun. © 17 Nuli ana gumantine kang lumaju. dalem Kandhanghaur sakti. buhaya musnah kalowos. dhumadi ana gumanti. ora kaya urip maning. dening rara panas nenggu. macane kang di adhu. dewaji dhemit. sigra angrehai geni. dalem junti denya norong. © 18 La yen nyenggreng ing geni adadi parum. padha anyunguri urub. © 19 . buta ilang tan nguwali. © 15 Lan walira katimaha buhaya muncul kapethakan ngebyuki. mangkana layan mangkono. wangwa ambles geni masih. yen den senggreng pesparum.

miyarsa sembara ratu. kalesan kang mikarani. © 24 Iya iku kang dadi nereging laku. anglabuhi sembara wong.Mati urip mati urip urubipun. © 21 Datan mendha mati maning jebul murub. kadya kaduk wuwusipun. suwe-suwe urip jati. la iku sembaran ingon. singa-singa kang sakti. © 22 Wusing kadi mangkana welehing ratu. tan suwe jebul kemawon. kawirangan para aji. dening welehing wigatos. dening geni delap timbul. kalesan kangarah pati. ning geni lawan gumantos. © 23 Aja wonge genine panika punjul. macan sirna geni murub. pasthine sun aku laki. © 20 Dalem Ujungtanah anyangking sadha dipun den sabetaken tumuli. dadi padha minangkani. maring geni lawan parum. © . bisa mepes geni isun. payu ayonana iki. egare sang Purbasari. putri Sundha kang wulangon. ratu salawe prasami. yen den sabet pes mati.

© 26 Mangka dipati Surawangga malihipun. malapati ing kadhaton.25 Ratu salawe nagara la iya ku. mangsa kilapa kang ngenggo. agunem-gunem anglabu. geni apetaka den go. pangulawat sampun sami. bimakkendra gili uri. gampang adat kang kalaku. Manggadapura agatos. sasra yuga dasa pati. para mantri lawan malih. © 28 Tobasruyungan sarayaksa kendha layu. seja amateni geni. satriya sanusantawis. sewanehe amangsuli. padha karsa tegal lan ratu. geni adhune warih. rujitmanlawe lan malih. © 30 . © 27 Bongdaraji manggala sarebo jagung. gembong Pasuruwan agung. © 29 Kang den enggo sayembara atiku kuwung. carat sewu sumarongbong. saking awu-awu langit.

dupi ika kang geni. 03 Tampek geni iku ora kara-kara. Mingsun dhahang ngayoni. wawartose angabati. kabenan dening topan. sinten kang bagja kemawon. dhatan dhoyong samendhing. saking ora paranti. ing geni sakala. pon masih kaya saban. masih ngayeg ingkang geni. © 31 Pramilane cacak coba samya rawuh. amsih ngenak-enak. gawoke para narpati. 02 Ilen-ilen banjir bena amalabar. tan kawagang ing ginisi. kita padha dhulu-dhulu. ana kang nyipta gelap namber ing geni. topan kagiri-giri. ana kang cipta. alagelar dening yakti. urube tan obah. 04 . anyipta awan deres kagiri-giri. apara ratu wira sakti. © PUPUH VIII DURMA 01 Ya tawiyang ratu salawe nagara. geni tan mati neng banyu.Pati-pati den sembaraaken ikut. dening banyu datan kawon.

kang sami hebat ningali. gedhene ingkang geni. sabalane arampak. geni dipun bedhili. guru gelap tan mateni. angger urubing geni. . waneh kang yipta udan kalalar wedhi. raja-raja ingkang. heran kang tuminggal. 08 Waneh ingkang para ratu lajune rampak sabalane ngebyuki. padha angrobi pana.lan sabalanira. suraking bala Sundha. pan angger tan mati.Parandene geni tan kage tan obah. 09 Ora nana bisa ingkang matenana. lan geni apa baya. ya ora nana ngudhili. sadaya awurahan. dengo ambalang. deni dipun panahi. kaya saban duk lagi. sikep bandring-abandringi. maring urubin geni. 05 Angebyuki ing geni tan kara-kara. kang sapendhil sakalenthing. 06 Karsa waneh ana ratu nrajang lan pana. watu kang sakalapa. para sang nata. prandene geni tan mati. ora dadi apa. ningali ungguling api. agni sakala. kaurungan ing wedhi. kalawan kabalang. 07 Ana ingkang maju sabalanira. ing geni apa maning. kang geni waluya. sangsaya mundhak. sawancining sanjata.

ana ingkang numbaki. iki geni dhudhu geni. 15 . prandakane kumaki. ngrasa kagungan asri. tan nana miyatani. maring dahana. kocak kang jagad. 11 Nonohogi wis sabagi-bagi tingkah. urube kaya saban. para ratu tan sakti.10 Kang saweneh ana ratu kang narajang. tur ta laya tuwana. surake wong Pakuaji. wau kang nama. 14 Pan sinegeg kang pasang giri punika. kocap ratu sadhasaring. saestu kang pasang giri. Sanghyang talaga. ya ora karasa. panyanane la apa. putri Sundha asakti. wus entong kang tanaga. den arani kaya geni. kang saban-saban. geni dipun pendhangi. yang tala kaherang. lawan nyata. geni masih lunta. 13 Dewi Purbasari langkung bungah. waneh ingkang anyudhuki. pangameng-amengan. Sanghyang Bulusputih. dipun wasa-wasa. tedhak Prabu Galuh dhingin. 12 Datan ana gunane mipis dahana.

kang geni pasang giri. Hyang Jakahawa sakti. awit putraning Sanghyang. dhiwone padha mesat. . camethi kalawan geni. si jajaka tawa. den sira sumeja. tan kena gagabah. maraja Purbasari. kang nuksma aneng geni. aputra-putra mami. tangtu sira amakolih. denora acining warih. iku kang anami. adarbe siwi panendhi. bareng uculena. ingkang anama. ana guneman. Lutungkasarung asakti. 17 Sanghyang Talagamanggung duk pangandika. iku kang anama. 20 Iku putra Sunan Tambalayun ika. 16 Genem kalih sodara wedhi kang nana. Putri Rara Panas. ya Indhang Telubraja. 19 Banyu pitung windu gawanen nyeblak. Talagamanggung nama. Lutungkasarung sira. lawan sasabet iki. sajane angaoni. Sanghyang Maharaja. mesat aniba. iku kang pindah-pindhah.Kang ayoga Sanghyang Panggungkancane. adarbe siwi pandendhi. Sanghyang Ngacihiki. ajodho lawan. 18 Seblakana iku geni tangtu pejah. ing Banten prananeki. weruha sira. mengko den kaseblak pasthi.

21

Saendenge intri alumuha krama, panas bawane benjing, kang singa kadhokan, tan kuwat ing sangsara, besuk mari-mari mandi, den wis kapendhak, lan Jakatawa benjing.

22

Pecut iku tibane ing bumi Selan, besuk tinemu wuri, si Jakatawa, jodho lan Rara Panas, besuk aneng guwa jati, gene panggiya, praciptanen den jati.

23

Pan wus tutug kang pangandika samana, enggalira tumuli, Jakatawa dadya, golethak sampun rupa, cemethi sihaciwara, kena ing sabda, ingkang sayoga mandhi.

24

Layan Lutungkasarung pamit anembah, sarta nyangking cemethi, dinulur ing karsa, dhateng ing Pajajaran, nembah matur ing sang aji, yenara numpak, sayembara raja putri.

25

Prabu Ciyungwanara ngandika liya, kamanyangan den yakti, munggapa kang salah, ing seja sudi malar, kaputren Sundha negari, ambabarena, si bapa kang ningali.

26

Yata oreg kalabandhu Pajajaran, seja nonongton mangkin, ing sagelar ira, kang ngarama rawasa, nyata geni den cemethi, geblas asirna, bareng lawan cemethi.

27

Bareng mesat cemethi lawan dahana, suraking Pakuaji, den ini satriya, olih gawe gadhang dadi, majikan kita, pan ora pindho gaweni.

28

La ya iki nyata tegese wong lanang, ladining sajati, nyata tedhaking nata, wani ing Sundha negari, tangtune ika, mangsa liyana maning.

PUPUH IX LADRANG

01

Kawarnaa jeng suputri Purbasari, pareng mulat, ing geni mepes wus lalis, dadi mujungbaheng pagulingan.

02

Ya sang Prabu Ciyungwanara sedhep manggihi, maring ika, Lutungkasarung den angling, ya ki mantu ingkang murba sigar wetan.

03

Menak pra kuwu kapurba sira, kang ngimponi, iku cacangkoking putri, pra watesan bangbayang purbaning anak.

04

Sakarepa angolahi ngadeg narpati arimbitan, ki mantu kalawan rabi, Purbasari la iku ing jodhonira.

05

Lutungkasarung ing sembah ira kapundhi, si jeng rama, pati rang-urange gasik, byantarakaken dhateng ing kawula wadya.

06

Apa kaya adating ngadeg narpati, maha raja, Lutungkasarung muponi, sigar wetan Pajajaran ingkang murba.

07

Menak pra kuwu dupi ingkang ngapti aji, dupi menak, prayangan masih nyungkemi, maring sang prabu sepuh Ciyungwanara.

08

Sang maraja Lutungkasarung winarni, genya ripta, pan nagara anyar dadi, arah wetan pan katelah Pajajaran.

09

Karajaan gumelar punapa kadi, ya para raja, lan jalma ing Pakuaji, wus ora nana paja-pajaning manusa.

10

Ya wus apa dudune mara jabali gene raja, ing Kiskendha duk ing dhingin, ya amangku garwa widadari pelag.

11

Mung siwane Lutungkasarung saiki agagarwa, dereng patut sarasmine, durung becik durung sajejeging akrama.

12

Nanging iku wus sangkep kang bini aji, miwah ingkang, garwa kalingking kang nami, matur dewi marapag selir akatha.

13

Kawandasa sisihing selir kang selir aji, amung iku, prameswari Purbasari, masih elik durung sakastaning krama.

14

Dhudhukune singdhi ora kang nambani ora nana, tatambah kang miyatani, ajar cantrik nusa Jawa pan kalesan.

15

Kalesane ora sanggup anambani prameswara, Purbasari denya elik, maha raja Lutungkasarung asabar.

16

Sabab kapuhung pyambege madeg aji lantarane, saking Dewi Purbasari, ratna iyang jongratna sapa kang gawa.

17

Tan na liyan Lutuingkasarung prayogi putraningkang, panggung kancana asakti, lami-lami sang raja amanggih warta.

18

Ya sang raja Lutung kasarung miyarsa wartyi, pulo lingga, yen ana brahmana sakti, ingkang ana ing lingga ing kasabrangan.

19

Kaya-kaya ika bisa anambani prameswari, namaning brahmana kuwi, kaki brahmana Maniklingga Buwana.

20

Ya ta Prabu Lutungkasarung nimbali patih ira, patih rang-urange pinrih, kang pinutus nabrang maring sang pandhita.

21

Den sawawi ature ajar maniklingga wayang, rawuh aneng Sundha puri, kang sun ajap sun gondhela ingkang usada.

22

Badan tampi rang-urange timbalaning karsa nata, dadya sejanira gasik, sarta Panglima kakalih ingkang binakta.

23

Lalawaran ya iku panglima nami, Ki Lagondhang, kalawan Ki Gumariming, sarta dipun binaktan adhi rurubah.

24

Kang babasan panglalandhep lawan wajani sabaita, isi gula aren jawi, sabaita isi empon-empon jawa.

dhateng madhigda ing mriki. boleh Sundha. minyak jarak kalawan minyak kalapa. . lalawaran wus teka ing pulo Lingga. parahu pitu lumiring. 29 Pitung prahu kang kaisi warna-warni. 27 Sigra layar ki patih dhateng jaladri sartanira. ki brahmana Linggabuwana anabda. sela weweton sing jawi. ngaturaken pasihan dalem Pakuwan. 30 Angrawuhi dhumateng Sundha negari inggih ara. woten kersane sang aji. sapara umaning isi. gegel nata.25 Saparahu isi pucung lan kamiri. 28 Pan wusmedhek ing ngarsane bramana luwih aba saja. den kaputus ing sang aji. inggih tuan yen katuran. lan lelemes sewetweton buwat Sundha. 26 Minyak kacang miwah saparahune maning kang sasoca.

tulung usada kang jati. pan wis karsa aji. patih rang-urange wus age balika. mapan ingwang. puji pangesthi kang jati. 36 Ki brahmana sabdane patih ya patih aja kurang. 32 Iya ika luwih nuhun nanging kangsi iku barang. tumindake jengmadigda lan kawula. pracaya kang maring mami. data ana kang bramana iku bobad. isun medhek ing Pakuwan. 35 Patih rang-urange ature ariris bok punapa.31 Sarta gumujeng asuka rena kang ati aturena. sareng ngalempa pribadi. aturena maning ing Sri ing Pakuwan. 33 Aja sumlang ing karsane sri bupati. pitung prahu gawanen balik. . 34 Aja lawan den ruruba iku maning isun seja. ing prakara gegele Sri Pajajaran.

ing rurubaku prantine. karsane madigda. sampun abalik sakabeh. 02 Pan wus katur ing ratu Lutungkasarung. lalayaran dumugi ing Pajajaran. kita tumpes ya ika sang bramana lingga. den estu pramana. nanging lamon bobad. 03 Ya sang raja aris ing pamuwusipun. pun bramana sampun ngartos dhateng karsa. lan mangsa gelema. lawan mangsa suwe laku den lalampah. . tangtu mangsa bobat gedhe.PUPUH X PUCUNG 01 Ya sang patih rang-urange sigra wangsul sabaitanira. sejanipun medhek dhewek. 05 Wis becike anti ratuhipun. padha kita lurugane. miskin tan ngulati sugiye tan rarawat. 04 Tangtu jagad pandelenge mung sagandhu.

09 Dupi putra saking bini ajinipun. lanang pinangaran. Jayakarta alinggih ing rat Jakerta. 11 . ngenten tanpa anten-anten. terang layan karsa. 10 Pon kalawan lilane sang prabu sepuh. Raden putra inggih ing Bantana warsa.06 Ya ta lawas bramana pan durung iku rawuhira. karajaan kaprabone. sampun gelar tata. Raden Rangga lanwan Mantri Kethebasa. Raden Mantri Ranggalawe. dipun prabu sepuh mangke. ingkang sarta lulungguhe. 08 Linggihan ing Bnaten angarta dhatu. lanang nama ira. kang angrengga iku saking Pajajaran. 07 Putra saking ikut ika den pilungguh. malah prabu Lutungkasarung wus gawa.

aneng Pajajaran. lanang kang namane. Sanghyang Resi Luwiluwe. kang amengku indhahan nang Ujungkaras. 14 Rang-urange kang dadi papatihipun. 16 Demang Bangkong sendhong andeling pamuk. Demang Gogok lempog kalawan kang nama. arja aneng jaba. kademangan ing namane. 13 Ingkarsane snang prabu Lutungkasarung. lan roro kang anyar. kang anama ki Tumenggung Sanggrarungan. roro tumenggung anyare. gumelara kata. 15 Ki Tumenggung Selangkuyit naminipun. 12 Dupi putra ingkang saking dewi matur. kang amangku indhahan nang Ujungkulan. pan samono lawase kang prameswara. lanang karya parab.Dupi putra saking maha dewinipun. jirnapura pulung beler. dipun rangkepa patiye. patih jero patih Burbutjalang. Sanghyang Sancakrit namane. .

iku bebeg ingwang. saking rabi liyan kang metoni anak. 18 Atur makca pangandikane sang prabu. maring Sundha wis den mulya-mulya ika. 21 Pira bae ing mangko wajaninipun. idhepena iku paman garwaningwang. nuli tan antara. paman bramana tulunge. 22 . barangahan anakake. seja sun pilala. manira nedha tulunge. kaduga manira. 19 Gone elik wis windon takeran tahun. bramana Lingga rawuhe. ya duk jurung saragane. 20 Dupi rabi babaku durung sapundhul. ya kongsiya adhepe nama sang rara.17 Durung becik kelawan Lutungkasarung. sang bramana gumujeng atur sandika. he paman bramana.

lan sang prabu nanginging punika sang rara. pan tinarik kang dhuhung bramana pejah. gagarwa carapa. tan asusah wajani punapa-punapa. 27 Ingkang layong angucap tegane ratu. . binandhing combana mangke.Sampun sumlang bapa prakawis puniku. pun paman tumuta. 23 Mangke sae sacombana lan sang prabu. nuntak ludira maleber. sun dhaku mendrassa. kang pakenak teka sinung rasa lara. 26 Sigra nudhuk bramana ajaja terus. dhumateng walikat. ana wong jaluk nrasane. uninga dhateng raose. dalem tangtu mangke sae. 24 Aleng pundi tan awor sandeng saumur. tegane ta sira. 25 Maharaja Lutungkasarung abendu. bramana cora nalosor. dan sang prabu ngunus dhuhung pan tumandhang. prakawising garwa. uning raose pun paman ginawa kawan.

bandhu kula warga agawe tumangan. sabab dening kumet arep bapa garap. sirnaken pisan. ora kaya aluse bramana Lingga. 32 Tan adangu ingkang geni amurub. 31 Ki patih Brubutjalang tanpa wuruk. 30 Iku padha obomgen babathang iku. kurnapa bramana. 29 Yata prabu Lutungkasarung mituhu. narik kang babathang. dadi gumaregeten sewot. 33 . ambri aja ababacot. wue sirna purna den obong. maring jaba adhan rame.28 Nyata kumed maraja Lutungkasarung. ya tumangen cone dadi awu pisan. dadi ratu Sundha kene. kakeyan bacot si bramana camera. sabdane babathang. ya mangsa luntaha.

dadi mundhak bagus katone gumawang. kena ing asmara. dupi iki teka ati kangen semang. maring maha raja. dadi kakatonen bae. 38 Jember bae rupane deleng iku. saiki kena ngapa. 35 Ya sang putri Purbasari remen kalangkung. . 37 Poning mau ewo bae atinisun.Manjing garba garwane Lutungkasarung. 34 Dewi Purbasari sira andulu. guranggame sapatemon. ing ati mengkarang. sumerep sumanira. maring kakung tan kena pisah sadhela. teka sejen pisan lagi mulamula. luwih sengit pisan. sabadhan sedya wa-awor. Lutungkasarung dumadya raga asiyan. 36 Praciptane gawok temen atinisun. ajaja rep sapatemon. Lutungkasarung warnane. ngrungu bae abane ing ati ewa. mengkorog saking jijithok.

Purbasari kang pinundhi. kalangkung ing lelesneki. ningali kang prameswari.PUPUH XI KINANTHI 01 Warnanen Lutungkasarung. binakta amadhang wulan. bersih kuning gilang-gilang. tutuging asisiyan. dhateng karajaan ingwang. kaduk sang prameswari. 02 Kang garwa lumados sampun. sang raja sigra trangginas. sumulura maring mami. angrungrum ing prameswari. teka kapareng kang garwa. 05 . kaya pa adating krami. Lutungkasarung langkung asih. duga nyidham sanga sai. carema la pitung dina. 04 Kinundang putra ajalu. tumulus adhicombani. mesem manis awe sira. 03 Wus bobot ing wancinipun. dhumateng kang prameswara.

07 Sira iku aja tambuh. asang prabu ta sireki. 06 Mangkana pamuwusipun. wau amiyarsa swara. ing sajroning wetengneki. enggal ngunus pedhangira. nanging besuk yen wis medal. emar lesu les-elesan. ing marma tur eman arsi. tanpa kara-kara nuli. kalangkung ing ruhing galih. iku jabang ora pejah. 08 Pareng semana sang prabu. aja tungkul eman nesip. mulane engatna benjing. tan antara dangunira. 09 Malah sedheng babar sampun miyos lanang kang prayayi. kang rama anyandhak aglis. kalangkung den kumadana.Sang prabu Lutungkasarung. ing isun kalimat lewih. iya sun bra … luwih. saiki dumama eman. dinulang upan mandi. kang sira dhingin prajaya. angaras-aras kang rayi. cayane gumilang bening. anak-anak maring ingwang. sinumbele kang prayayi. tan eca guling adhahar. yen kengetan ingkang wngsit. 10 Dhateng jabang bayinipun. . ingsun males ing sireki. myarsa swara aruntik. la bagus suwarnanira.

Lutungkasarung alali. maring mantu ingkang lali. wis kabekta dhateng warih. 16 .11 Prandene tan pasha iku. kalih garwa takon jabang. sang prabu Ciyungwanara. karsa ingayun ing rama. anjerit lumajeng agasik. matur kula birat kali. sigegen ana ing marga. prabu Ciyungwanara aji. pethi winuwang tumuli. sampun kabekta ing warih. 15 Sareng wis binuwang sampun. Purbasari aningali. pon tan kena ing pati. kang putra dipun prajaya. arawuh kang rama neki. punika mejani putra. wus sirna kagawa warih. kang putra den wasa-wasa. kali cilutung ya nyata. ageng santer ilinira. 14 Dadya winadhahan sampun. 13 Lumajeng malah ambendhung. ing lepen cilutung sirna. nembe siji dipejahi. miyarsa aturing siwi. 12 Umatur ing ramanipun. kocap kang mrajaya siwi.

kasirep lelohing putra. besuk titenana mangkin. 18 Kawarnaa sira sang ayu. tangto kena ika dhelap. kudu anurut ing eyang. Purbasari nibang siti. pon isun binuwang dhingin. kang mratuwa den unjungi. . sajrone wau kantaka. 21 Angunjung kaliyan kakung. sang putrid dadak sakala. Purbasari sawunguning. kang gaib luwih ningali. prabu Galuh duk ing dhingin. Purbasari aja sira. dewi Purbasari lilir. prandekane iya welas. ana ingkang swara jati. anyuluri bapanira.Yata prameswari wau. awake kang gadhang niladi. den pracaya kang murbeng bumi. he mantu wruha sira. prabu sepuh ngendika ris. prabu sepuh ngandika ris. 17 Kali iku ing ramanipun. egar suka manahira. besuk bias muter nagri. 20 Sang cinta tan cidra iku. si jabang mangsa amati. papasthene jabang bayi. embaning turun ingwang. sampun ngunjung kang ayugi. ing manah wus palipurna. melang maring anak siji. 19 Kang bunuwang iya iku.

enggal Purbasari memba. sebab sira ora pacak. kang aji pamerdaning. mratuwane kang ambabar. ki mantu la tampeni.22 Rama Galuh dun rumuhun. pungpung saiki purnama. alalise iya merad. sawadose kula ngalap. ya sang prabu Ciyungwanara. 27 . 23 Sih jati waraha nuhun. yen dugi ing ajal kula. enggal sira anampani. kandikane sira nini. den idhep ing pameradning. sabebet kula Santana. 25 Yata prabu Lutungkasarung. maring dalem Kenya puri. ing ilmu pameradaning. manjinga ing dalem puri. pameradan pocapaning. ing rama prapona benjing. karana sabebet kita. boten susah angilari. Lutungkasarung aturnya ris. ing Galuh ora na liyan maning. 26 Purbasari nyingkira babu. 24 Angadika prabu sepuh. ora aliyan panukmaning. panukmanira lan laki.

ungelling ingkang piwara. 04 . sang jabang wus panggih mangke. awor daging awor getih sumarira. den openi dening ki Pethesperas. 02 Pan sinegeg caritane yan sang prabu. onya ing sukma lewi. 03 Tukang pethes peres ingkang luluhur. gumawang tanpa cantelaning. oranana ing rat jagat. wus rumanjing kayangan kipethes peras. kang dhingin binuwang mangke. purwa saking mratuwane. PUPUH XII PUCUNG 01 Prabu Lutungkasarung wus tampi wuruk. lenyep ilang dat pes ilang. kawarna ajabar. buhaya bangawan ika. 28 Kadhaton tanpa gon iku. jati wisik ingkang yugi. sakabeh-kabeh tan kari. aji pamedaran. gumilang sarira mami. angles-les angluwar ragi.Wus tanpa Lutungkasarung. sukma rasa sukma larang.

bapa aranan reki. 06 Kaki Pathes peres nembe tumon rungu. bapa y ailing wang. duk umur sawulan. ngerti dening basane. inggih iyang iku nama wis prayoga. besuk mengku bala. ngerti dening basane wong pathes desa. dudu bocah salumrahe. wis koncara inga iyang ingkang nama. kaya wong tuwa basane. ingga iyang bapak ikut namaning wang. bocah patut kasurupan. 08 Pan katelah ing desa pethis puniku. 07 Patut iku ana kadadiyanipun. anak pupone ki tukang. 09 Cilik-cilik bias rerasan satuhu. kasungsun arane angger. bocah cilik bias. esaktemening namane.Dipun aken anak jabang bayi ikut. bias rarasan basane. patut ikut tuturunan ing kusuma. 05 Jabang bayi kangucap abeluk-beluk. . pan tembene mung ta iki anake sapa.

14 Iya nuli ana maning nyata timbul. umreg wong Pakuwon. dadi raja suntangguhe. mung tai ka apa. tungtu besuk ika. yakti ika tengeraning andana wirya. silem ilang yen wis sadina rong dina. katur maring sri bupati Pajajaran. dening wong nuli gacike. 15 . paparahon buhaya putih tinungganga. 12 Wong kang paca ningali gawok andalu. den parani ika. lalayaran pangameng-amenge. udan angina mudhik milir nunggang buhaya. bocah apa setan kene. 13 Nurut bae buhaya sakarsanipun.10 Ya putute yen selamet urip tuwu. Lingga hiyang ika. katular-tular wartane. 11 Lawas-lawas pareng umur tigang tahun.

kaliya ing comas pandhe. sapa sira kang ayuga. wong ningali padha wedhi sadaya. kali bangawan kang nusoni dhateng kula. . ki Calancang nama. kasur bumi mega kemule. 19 Sira bocah cilik saking endi kacung. buhaya putih tunggangane. pan sinawanganing ki empu calangcang. lola dhiri kula. wedi bok den salah artos. 17 kawarnaan ki empu kang namanipun.Engandika sang prabu Lutungkasarung. lare ingga iyang. sisikune ratu ratu mandi salah dadya. lagya ngalenthung miminggira nang walahar. neng bengawan priyangga. 16 Ya gustine pareng nabda semana iku. 20 Kula lare tanpa bapa tanpa ibu. dadi sirep kang warta. lagi eca paparahon. 18 Maring kali Cilutung kapanggih wau. Lingga iyang mangsuli kula punika. warta anak setan.

dika iki olih saking ngendi bocah. bangkit yen rarasan.21 Pun buhaya kanga sung tedha puniku. inggih wasta kula. 25 Lawan iku sapa ingkang duwe sunu. nyi Calangcang girap gawok. patitis ing wicarane. padha maring omah ingwang. 26 . winangsulan enggal. Lingga iyang ing namine. 23 Empun nabda sira sunimponi kacung. ki Kalipa andaringeng manah ira. 24 Ki Calangcang ngiring wus dumading aku. manggih pinggir kali gedhe. Linggahiyang teka dumulur ing karsa. prapta wismanira. nyata iki tereheng andanawriya. sun aku anak temene. 22 Nembah tumon lare nabda kaya iku. datan weruh embok bapaneku bocah.

kasur bumi mega kemule. dhasar enggih musuh kahula ing kuna. maring empu Kalipa langkung minulya. inggih kula kang tango bala witanya. den tututi wekasane. ana bocah bias. Linggaiyang ika. 31 Iku bocah ana kada dene besuk. dika dadi den tareka nyolong anak. 29 Banggi bapa kikukum dening sang prabu. . 28 Toli dika ing sang aji ya di ukum. patut ini dudu bocah samaneya. rarasan ingkang samono.Sun takoni wangsulane iya iku. dika nemu bocah. 27 Nyi Calangcang nabda bok den salah tanggu. 30 Ki Calangcang Nyi Calangcang getun-getun. abentak lawan sang katong. tan duwe bok bapa. dipun pracaya si embok. kula purun nalang. ngaku bapa ngaku embok. Linggaiyang nabda. welas ati sun ajak mulih maringwang.

la dingo apa iku. karana lare iku. mung ta sira kacung gawe omah. aja patiya sugih wani. wesi ing ngalas genahe. gisik bapa sampun uning. 04 Linggahiyang wangsulane aris. wesi wus brapikul. iku teka reremane. wesi lir lempung kewala. embok sisikuning raja. dadi apa awak ira. jogede kang sunu. aran wana Cikandhang. wani mati kendel wani ambelani. 03 Ki Calangcang Nyi Calangcang angling. pun embok tingalana. angrebut bapa biyang. milu kara baraba. jar ai wesi nurut. pan sinambut palastha sadina becik. digjabenduning ratu. bapak embok sampun tan pracaya. yen iku karungu. agaweyan kang tahuna. saktine sang Linggahiyang. watu ingkang kinarya. angalasan awangun.PUPUH XIII DHANDHANGGULA 01 Nyi Calangcang sajege angimponi. dumadi kasugiyane. Linggaiyang umur rolas warsa. 05 . kukuh kikib agarba. ya si bapa si embok tan wurung dadi. 02 Lawas-lawas kirane andugi. Linggaiyang ora kakurangan. omah wesi aneng wanadri. ingkang aran Linggaiyang. angrewangi agawe wesi. omah wesi nem dina sampun waradin. dhateng kula ingkal awon.

Linmggaiyang patute iki. ika sang ratu apa. ya kene ginegem ginelar. buktine kakecap menga. dingo apa teka sun maras kang ati. kadengangan ingkang kula ajap. nunggang tawa musuh. ki Calangcang ta ingucap aris. bale rante bagus. 07 Ya sang prabu Lutungkasarung linuwih. . tiwas temahipun. kula ngilari lalangen. kacung iku dingo apa gawe bale iku. akeh jalma padha kagawokan. 08 Linggaiyang matur boten sanggi. riringganing nagara. sung sengge iya nyataa. jar kasndhung ing arata. ya iku dhadhak sakala. 06 Dadi rante anjiret kang linggih. tur ta ora sanyatane. kasuhur ing kasaktene. mrajaya bramana Lingga. lemes kadya tatangsul. dhasare ratu Sundha. yaw is aja ilok gawe tanpa tut dadi. tanpa bayanya lampahi. nanging yen digelar dadya. Linggaiyang wangun rante tosan. mring bapane mau. nanging lamon lininggiyan. Linggaiyang apunjul. marga anglanggar narpati. ya wedi maring nata. nititeni apa iki bocah. anaking bramana reko. ing basane arep males ing sang aji. dening si namanipun. ing siasating nata. sapa wruha bok kadengangan.ora lawas la ika tumuli. wong tan dosa mamateni den pateni. kang adi warna lekere. lan kena dienggoa bebenting. 09 Pan sakedhap ki Calangcang ngarti. seja males puliya. sira katiti luput. ya ra pon dipun siku. iku bale ora karuwan maning.

mung ta anganti apa. matanira baloloken mataning pring. pra mantra acingak. . anabuh adhenggung. bubuyute ajur. geger samya bala Pajajaran. sumantana si tai anjing. ora idhep ing karta jani. atandha sing enda-endi. datan kena tinabuh puniki. ya saking waris manira. alun-alun jembar tur radin. 12 Iya sira ngajaraken nangkis. yen tan pejah nalendra. munggah ing lemah dhuwur. waspaos andulu. mada dudu ponggawa. 13 Nitir ganjur pusakaning aji. andher ingkang aseba. katingal sanyata bocah. ngaku waris nalendra.10 Ora suwe Linggaiyang mijil. 11 waktu iku tinabuh den titir. aje kakeyan tutur rujak gendhen gelis. sarta nggegem arante mandira. nakal si gila basa. mung ta sira deleng apa. wis karuwan bocah iki ala. bedhul sapa kang mrentah. nyana sang ratu sumered. para mantra datan upaksi. 14 Wong Pajajaran surake la iki. pusakaning Pajajaran. mring alun-alun puruge. budine lawan anggkohe. ya rinujak ing wong Pajajaran. sanyata kethek beruk. Linggaiyang wus ngangkat. kadeleng apa si monyet. surak ing wong iki bocah saking endi. sudi wani angunggahi siti inggil. pan ratu agung ing Paku. sira kang selang gumun. sawaneh ingkang angucap. pancaniti penuh. kaya cumra si tembe wara. Linggaiyang wangsulane. umreging bala agung. pati-pati manira wani-wani ngaku.

puharane dadi majikan. la iki timbulipun. sang prabu Lutungkasarung. den titening talata. kaprimen den wis tanggal. ya kaprimen den wis metu budine ngancil.15 Pajajaran kang bala ngebyuki. kang malesat dening padha densepaki. 16 Saya dangu saya angranohi. ingkang padha awangun piker. geger gumuruh kang anan Jawi. angluwihi nagara. ya batur dhengawas aja saloro ngarti. kang dhingin denkaropoke. 02 . lir nyekel wawadhangan. ora kena saloro ngarti. iya bocah iku. angliga dhuhung Linggaiyang den suduk. ki patih rang-urange kapental. sigra amiyos enggal. gagamane wus padha malesat. sawaneh para sepuh. dudu musuh iku. bokmanawane kuhana. sapisan madhuwa raga. kapental ora menange. dadi padha sap maju. 17 La yen isun iki sun pikiri. bok iku susupaning bramana. PUPUH XIV PANGKUR 01 Dupi sang nata miyarsa. pada arontok sakabehe. nyandhak bocah tan kena kenging. dadi roro den pindhoni. ibur lir pinusus. akeh kang para ponggawa. demene iku bocah. dening sang Linggaiyang.

gumurudug iku padha tut wingking. den bakta maring alas. dadi bocah nembelas. prabu Lutungkasarung wansulanipun. sulurana lungguh isun. 04 Basane lare akathah. Lutungkasarung pinarna. pan si bapa uwis seja sumingkir. anggotong kang babaleyan. braise kalaras aking. ing kali cibayabang. buang jabang aneng banyu. Prabu Lutungkasarung yata aja tambuh. . ing Cikundhang goning omah wesi mau. 03 Rinejeng tanpa wisesa. la ya kita jaya. ing rante tanpa sesa. den babayang den suraki. 07 Wus pinutup tanpa sesa. sapuruge gustinipun. ya sang prabu Lutungkasarung lali. 06 Para ponggawa Pakuwan. wonten ing pagriyan wesi. iya isun eling pisan. aneng bale rinengku ya pinikul. dening lare kanembelas. yata lare pra samya. Lutungkasarung wus lungguh. pining pat panyudukipun. kedya wong den panjara tan bias mijil. ya iki pamales ira. lininggihaken ing rante wesi.Sinuduk pan dadi papat. pa wus dadi akeh enggal ngarubut. lare nembelas surak kasruh. telu kena ing saiki. bramana Lingga duk wingis. sang prabu ngebyuki padha. suraksurak ing sapanjanging dalam gung. tan bias polah kawingkis. 05 Iku ing sakarep ira. pining telu dadi wolu sayakti.

ing ayunan rama aji. 13 . Purbasari wus ing kana. wusing nabda samana adanuli. musna ilang tan ing ngaksi. 12 Kulawarga Pajajaran. kadi duk wau tumuli. mesate ing jomantara. 10 Ana ing dina wekasan. dupi manira pejah. padha ngiyung ing Linggaiyang ngapti. prayoga gaganti isun. amengkorog sarta mealakken buntut. mulih maring ajala kasuciyan isun. mereh kadya wanara. wus polih dadi sajuga. den idhep angaku gusti. ya sang prabu Ciyungwanara puniku. lawan patinisun benjing.08 Yata mantra Pajajaran. he wong Pajajaran sira. ing bocah nembelas iku. sang prabu Lutungkasarung. Balerante iya iku. agadhaton tanpa genah. 09 Ing bocah iku kang nyata. anak isun sing rayi Purbasari. tiba bumi mila den arani. dening bapa ing laksana. samatuke saking ngriku. 11 Bale rante bus malesat. wus mangkana lare nembelas pun wau. andaringen ningali pohal-pahil. karsa medhek ingkang eyang. wuryataning akuna. hadan Prabu Lutungkasarung amuwus.

anakira Linggaiyang iki. Dewi Purbasari agung. . la ta bener ujar isun. sami atur sembah sadaya sumuhun. wong sanak singraja Galuh. Sindhangkasih nama dalem Somaluhur. bandhu warga kawula iku. 15 Maring iku anak ira. Linggaiyang binakta mantuk dening. amurba Sundha negari. papatihe winastan. prabu sepuh Ciyungwanara angling. istrinana dumadiya susuluring. 17 Ratu anyar Pajajaran. 18 Lan Ki Demang Dhungkabadhag. den becik sira ngopeni. bapane ingkang wus lampus. ing istrenan sampun sira ngadeg ratu. Kyai Patih sempokwaja parab ipun. Ki Ngabehi Kolotbuntut asakti. sing bangdiwenka apa. 16 Samantuke saking kana. geter pater ketug muni. saikine sabetahan ya tinemu. sanak medhoke sang aji. kang dhingin dibuwang ngebur. lan Ki Dalem Tegaljamang. katumenggung Jatipamor sakti. Linggaiyang Sinarojang Bupati. 14 Purbasari lan momonga. anake kang mikarani. Lutungkasarung anuruni rama Galuh. ya tai ka kang liningan. ajujuluk Somahita.Wus kempal amatepungun. sinauran dening jagad. ingbangawan ya ika. katemu maning denira. merade saking panjara. wus prapta pura Pakuwan. jeneng prabu Linggaiyang.

besuk ana katela ingkang nami. taliti turunan aji. 20 Dadya pirang-pirang garwa. mulane nuli nedhaki. ya babar pisan pejah. taliti purba wisesa. PUPUH XV . La yen santek esir nora pilih lawuh. kang katelah sesebatan. saking kono ruru ira. Linggaiyang dumadya. gih manjangan gumarang sing naminipun. kacarita ora jengjem mengku rabi. sing awadon kang karungrum. kang den wangking ingalulut. 21 Kapokoh pinaksa-paksa. padha babar pisan pejah. wados ginawa sarasmi. kang prayayi kang turun kidang pananjung. wedi yen den rabenana. ora mati kaduga ana titis. parandene yen kacebak nuli mati. pramila ika sang prabu. kidang manjangan den jamah. 22 Kidang manjangan kang nyangga.19 Ya sang Prabu linggaiyang. 23 Selir kidang lan majangan. kaya keris landhep pisan. katarajang Dakar waja landhepipun. waris Yang Sundha negari. prayayi kang katurun. pan sakehing istri sisiriha maju. kang tumurunita besuk. kang den wangking angemasi. amedal pamore mandi. ana ingkang kasebat. akathah selir kawangking angemasi.

ing pulo gunung surandhil. bagane wesi atutup. acombana istrine nuli apejah. ki bramana tali atma. datan jamak lawan jalmi. rabine si Lingga aji. mung ana wara gatra. kang eyang Ciyungwanara. la iku gawanen rabi. katalihatma mokal tan pasrah. kawagang ing sarasmi. ika Dewi Brajawati.SINOM 01 Iya iku kang dumadya tan sakeca ing sang dewi. dadya tandha rabi. angandika ingkang siwi. Purbasari tumon putra. coba ta sungsungen iku. 04 Duginipun ora liyan. sacombana lawan ika. marawani saking atose kang baga. ing anguling ing sarasmi. jar padha wesineki. kandikane isun rungu. 05 . patut den ika dadiya. tan ana musuhira. among Linggaiyang sayakti. iku duwe anak wadon kang anama. nuli ana jati wisik. 03 Namane ingkang sinebat. Linggaiyang jalma wudhu. pitutur kang sajati. 02 Mangkana lawan mangkana. karana Brajawati. robbana lan panglamar. kasulur tan ana bangkit.

sinuba ing Linggi. ki demang Wukubadhak ingkang sami layer. tan kawarna layare aneng sagara. maring bramana ana ing gunung surandhil. Danyang Brajangkawat. Jatipamor apa maning. kali ira ingkang siwi. Patih Sempokwaja wau. kang isi panglamar aji. mangke karya angimponi. sukane ingkang nanamu. ing pulo gunung Surandhil. barang saking Sundha katur. Linggaiyang sampun niti. denira bramana luwih. lare istri badhigal. sedhah panglamaring ratu. 06 Ingkang sami kesah ika. Ki Ngabehi Kolotbuntit. pinanggih bramana aji. kalawan katumenggungan. 07 Kocapa sadhatengira. karsane aminta krami. 10 .Ya ta prabu Pajajaran. nayangger Pajajaran. derenguning tata Jawi. 08 Lamarane wus katampan. nata sundha nayangger mung gamulunga. sarta ngesrahken adi. 09 Bramana aris wacana. katur ing sakarsa aji. ruruba saking Jawi. ponggawa kang den titi. dhuta raja ing Pakuwan. ing pulo gunung surandhil. ing mana suka arena. ki bramana taliatma. meng sampun kirang pamuhung. sang prabu Linggaiyang. duta maring kasabrangan. sarma bakta palwa sapta. ingkang pra menak prapti. wus ana ngayunan. pecile tiyang dherwis. Dewi Brajawati kang dinuking karsa.

ingkang nama talibarata. wewesen sarananipun bilih sang nata Sundha. minggah ngayunan rama. mange boten miyatani. dados wudhu ing Sundha den antuk wiring. ana kang sudi santosa. sarananipun wesi. 14 Dhayang parwatali nabda. ya ta bramana tali. mung wonten melang sakedhik. anglalana ing tawan. sakalih nulya tumurun. 13 Malak mandar darbe tedhak. Pajajaran maringi sedhah panglamar amundhut. karana pidhanget kula. Dangyang Brajakawat nabda. boten amindhoni malih pramilane angupaya tandhangira. ya subagja adhi sinarwehing nata. sami tedhak ing ngawiyat. sebab ika sakalih. sukane adhinira. Prabu Linggaiyang sami. Prabu Linggaiyang mangkin. tan mudhun-mudhun ing siti.Lan malih mangke sakedhap. pun adhi Brajawati. sigra petak tumuli. ingkang pejah dinahar. jaler Dangyang Parwatali. pinten-pinten selir lampus. 11 Den sampun kula petak. mangsa ngijira sang aji. sakarone wus. 12 Sukaliye pinuturan. . jaler Dangyang Talibarat. putra sakalih ngastuti. lan kang nama Prawatali. tangtu punika sakalih. ngumbara ing karsanipun. adhinira Brajawati. amangku sundha nagari. den saingga wonten damel kula petak. angantos kadange malih.

den piyambeke kinarsa. ing karsane rama yugi. angsal putrining bramana. bokmanawi mangke sigug. saking Sundha angsal kardi.15 Dhayang Talibarat nabda. 17 Kahula darma lumampah. punika sampun tinari. giyak-giyak anembang. kahula amdherek maring. Brajawati aturnya. dados kita kesseman. awon penes panitihing. kranten dede lare alit. sarananing katewangan. kalawan sang Talibarat. boten dados basa jadra ponsasmata. wongtuwa datan pejah. re kang putra sumandha. Parwatali namanipun. genya layar enggal prapti. punika ingkang nglakoni. Brajawati lalayaran maring Sundha. tan kaping kalih adhi. dadya turun rena ngaturaken putra. sakarsane andherek dhateng jeng rama. 18 Brajawati wus pinuja. atawa ing tan purun. kedah tinaros kentasa. kang angeteraken rayi. kahula liwarsa demi. dening kadang kakalih. ing parahu kang den apti. . ing manah kalangkung sukur. ing ratu Sundha negari. 16 Ya ta DEWI Braja rara. ya ta bramana Tali. sing pulo gunung surandhil. putri Sundha negari. ing jati dipun dandosi. aneng nagri Sundha ingarsa sang nata. kalangkung ing rena ipun. 19 Kering marang sang potusan. ing wedra kirang panari. paran ati lumiring.

rena karawuhan putri. oliye alaki rabi. lanang wesi wadon wesi. malah sampung Brajawati. kadut den kocok kaduga.PUPUH XVI KINANTHI 01 Sang prabu Linggaiyang langkung. 05 . daginge benyo ayiyid. kadi sutaning bramana. kang ora jamak dening. 04 Kulite deng masih wulu. pinangan dening manusa. mulane arjaning krama. 03 Kapengen adhahar kunyuk. parandene den esiri. kunyuk mati den tonyoi. den enggo embut-tembutan. dharahe den palothoti. salamine anggar binim pepengene warna-warna. mangkana den kadengngangan. mung den panjingaken dening. ora lawan minatengan. 02 Bobot angsal pitung tangsul. wus angrasa katimbangan. ora den sembelih maning. dening Linggaiyang dadi.

dhumateng sang Braja rara. tengtu lelet den patheni. ora kaya Braja rara. 10 Tan kaya yen wus tumurun. pepengene sajen maning. angusp bathuking kadang. pepengen ing dhaharan. teka eman teka sih. . Talibarat Parwatali. Parwatali Talibarat. sing awang-awang tumuli. atumon ipene runtik. 09 Lami-lamining tumuwuh. ningali dhateng kang rayi. dumadi kanggep alaki. Brajawali enggal dadi. Talibarat ngusap muka. mring nata girig sengit. kang ngusap ing bathuk ira. ing cacing urip-uripan. den tutulaken ing petis. 06 Anulya sigra tumurun. den dhahar urip-eripan. ora kaya Parwatali.Sedhot hawa manah ipun. iya timbul sengit maning. 07 Lami-lami ning tumuwus. kumokod babalan pisan. kang sengit babalik asih. kang sengit dumadi welas. Brajawati sajen maning. kang ngemong kadang kakalih. 08 Den kadengangan sang prabu. kang mungga kirig ika dadi. cicindhil kang masih abrit. mangkana yen kadengangan.

ora sabar angenteni. mangsa lawas angartoni. dening parecel kumaki. ana kang dadi kulilip. 15 Mengko uga tanggu isun. 14 Ari iku sawat-sawud. ora nama liyan maning. mapan den mepes kang yuga. godhog rontok rug-rug wit. ing sirrane kang yuga. dening Prabu Linggaiyang. pangganggo asu griwani. lawan ora arju margi. wani wong tuwa si setan. angrumpak turus abecik.11 Lami-lamining tumuwuh. maring karajaan Sundha. pasthine ya sinangkasal. iku kang Lokambadhigal. duduta beyating jalmi. apa layak anyuluri. 16 . Suhunan Panggungkancana. 12 Re kang putra wau lampus. nagning ora arju margi. nandhang sekeling wong tuwa. aja dumeh anduluri. Lutungkasarung kalindih. darbe manah tulak serik. kaya ta beyating jalmi ditya. 13 Pira wareke wong munggu.

binatang si tai olih. ngambingngambing rabi mula. kaget ketembe ningali. anak lagi duwe pejah. ana nyana tapak angin. 21 Waneh angrebut kang dudu. kanggo surup nganggo kedhing. waneh ngarani kamangmang. la iku lebune apa. ya ika bramana kaparat. semaune amateni. ika dadi banaspati. ngejer ana ing gegana. kapokok broktak dening. tumon nambakaken rabi. katone ing wektu bengi. nyingkiri wirang lan isin. ana kang ngarani teja. 18 Teka anuli den jaluk. di akon nganggo wajani. parek maring sulaksana. ana nengge lintang ngalih. sutejane wong abecik. kaya latune ing lintang. malang-miling saban bengi. bramana Linggabuwana. wong Pajajaran pra samya. 19 Nah kala napsune metu. wong tuwa kendhang sangaja. samono lagi ngalahi. deningan sinaban bengi.Anduluri sota iku. ora paido wong lagi. 17 Wondene Lutungkasarung. 20 Mung ta apa murub iku. kang lagi penyakit elik. .

ing pancuran sanga sami. yen tanggal pisan apantang. kalangkung ing suka ati. purnama sajroning putri. nelasaken agiyak-giyak. datan bengi sawatawis. 26 Sadangune ing dalu. anggending jala wekunyit. 23 Kalih garwa ingkang wau. yen tengange lawan pajar. sang aji atilar guling. anyarengi sri narendra. pareng wengine tumuli. yen combana lan istri. lawase wis sangang dina.22 Parek ing lintang kemukus. apantang barang den bukti. 24 Ameng-ameng ing lalangun. patelesan cindhe jenar. 27 . murnama dening ring-ring. 25 Sabab agamaning Galuh. kesel sira ganti siram. para bibi para inya. siweg bobot madhang sasi. yen purnama tilar guling. Linggaiyang sami didis. angideri tataman. waneh ingkang makidungan. rembesa angulinting.

den salamet urip delap. den samber sinawa musna. namber lir kilat sayuta. Linggaiyang sirna lalis. mung siwewetengan ira. tema warna banaspati. 02 Jodho lawan putu mami. iku kang mangko gadhang. kagete kelangan laki. susulure ramanipun. 03 Aja sira gawe ati. e-putuku Braja rara. wus papasthene Yang Agung. gapuh aris kandikane. kudu mung samono sira. dhumateng jongging sawargi. 04 . tarimane ati nira. sasirnane lakinira. PUPUH XVII ASMARANDANA 01 Prabu sepuh atitilik. kantaka ping nem sadela. wuwusen lamonika. salamet besuk yen metu. 28 Wong dalem geger gumuruh. Brajawati karuna jrit. awit suka teka dhuka. sira momonga anak.Kang murup-murup sing dhuwur. tangise kelangan gusti. ingkang gedhe pangrekdane. awak ira wuseng arja. mangksa dadiya sangsayane. estrenana madeg nata. lalayad wusa ing waya.

tumiling ing awang-awang. pinarcaya sira gupuh. lan ika sadulur ira. .Ing sacangkoke sudarmi. sawane atur usada. dening si goronjolane. 09 Ya ta lamining lami. ing ngarsane sang nata. kadika Ciyungwanara. atos kabina-bina. Parwatali aja gape. duk lagi ingucap teka. ing jero garba punika. seja denjaragan sirna. ana melang lara busung. saking awang-awang nembah. maring Brajawati wau. iku padha den kareksa. kaponakane yen metu. ana maning duracara. ana nyempad banget kelang. ana nyempad nyata jabang. seja ika nyambera. 08 Dhudhukun ana anambani. kawasa sira murbaa. loro becik jagaa. banaspati kang manglawe. embok ana bala wita. yuganira tahunan. dadak sakala turune. isun pracaya ing sira. 06 Talibarat den abecik. ya Talibarat matur sandika ing karsa nata. jaga kaponakan nira. apa lakinira bae. Brajawati dening sejen. nyata ika lamon watu. 07 Ya ta lami-lami. ora kajamak lan jalma. 05 Talibarat Parwatali. wewetengane si rara.

apa ingsun cacangkoke. Parwatali Talibarat. sirna bala wita kabeh. 11 Braja rara estu kapti. salinggihe Braja rara. menak pra kuwu sumembah. tan ana amaling kecu. 12 Wus kadi raja pawestri.10 Ora kaya Purwatali. 14 Nanging ika obah mosik. kalihira Talibarat. 13 Mangka dhateng waktuneki. ana jabang tan jamak. ana ing rat Pasundhan. baleger lir gandhik bae. bales pati konangan. maraja Ciyungwanara. prayayine dudu bocah. angreh Sundha sigar wetan. galang-geleng ing tatampa. kaumban roro sadulur. kalangkung ya ing jagane. ora jamak ing rupane. geger ing wong dalem pura. galundhung lir gandhik watu. anulak ing bala wita. den tulak padha kawur. 15 . rupane ika kadya. ora asipat ing jalma. tanama wani pareke. Brajawati nulya babar. enggal rawuh prabu sepuh. Talibarat kang anjaga. karta buwana ira. waktu nata Linggaiyang.

ora kajamak rupane. dohena gungsu minggaha. akocap sapraptanira. ika wong tuwa manawa. iku kang wus ora nana. 19 Gulundhung wis apa gandhik. 18 Sigra mangkat angaturi. 20 Luluhur ingkang mayungi. kang bener aja sarar. nuli kapara mentala. ora guna ora gawe. ana obah ora swara. kamapmaja kamaptulus. kipya-kipyahe nyi indhang. Gunung Sakati watune. pingnangeran ing jawata. . ora endhas ora tangan. 16 Kapremen dayane iki. wong anak-anak bok apa. sang kama-kama dadya. 17 La coba undangan gelis. jeng Nyai Sukati indhang. ruruhe marga benere. sugih reka pandaya. sudi gawe anak Sundha. tan kawarna ing lampahe. si Indhang Sakati ika. gumaluntung kaya watu. dening iku buyut ingwang. iku embok nyai indhang.Aningali jabang bayi. ningali jabang lir watu. maring kang mengkono iku. ing mangko dadi susulur. manawi wus nemu luwang. ting-banting aja na wuruk. aja anerus simpangan. iki jenenge apa. ana urip tanpa rupa. la iki nuli kaprimen. ambrih dadi manusa. girap-girap sabdanira.

ningali kang kaya wau. si Linggawesi namane. sapurna wus sipat jalma. wis kajamak lawan uwong. si kacung munggwaya delap. anurut ing kaki buyut. jabang bayi nangis ira. nuli sinembur den irag. kamrala isi jabang. 25 Sadaya suka ing ati. ambabar punang paesan. nurut jalma dadi jalma. PUPUH XVIII . kalangkung sukanira. jebol metu kang tangan. sampun kaya manusa. den kakacakaken gupuh. ana ing jagat Pasundhan. kanggo nunute si buyut.21 Nuli nyi Indhang Sukati. kinacekaken age. 23 Jebol dadi metu sikil. atos-atos pra semone. nuli kinetab kang pada. nuwang prabu Ciyungwanara. 24 Den saiki sun arani. 22 Sakedhap nuli anjerit. wusing kadi mangkana. maring Dewi Brajawati. jebol katingal endhase. si buyut kang gawe aran. kuranggeyan nyawuk-nyawuk. ing jabang kang kadi tosan. Indhang Sukati ngandika. ambridelap agesang. Brajawati tumon ing putri.

maring sang dewi reko. saking kaca timbole dadi. 03 Pan mulane pantang ngilo carmin. tuwin ngilo banyu. kakaca angilo. dupi ika saking pun nyai. ora kena ngilo dhiri. inggih kasuhun ing sihe nyai. poma-poma nini aja aweh. mula ja den kakacani. kang paring kamarin. 04 Pulih watu lebar ingkang jati. saprakawis nuhun. embok pulih watu. asal sing kono anane. boten dados ewong. 02 Ya pacuwan ilok akakaca dhiri. galang gulung wikan jenenge. tangtu ical ruru. . tuwin ngilo caremin. panduman salamet benjing. poma den angartos. dadi braja aris wangsulane. yen tan ana nyai. 05 Tedhakane kacung Linggawesi.MIJIL 01 Indhang Sukati awewekas jati. si kacung den eling. krana iku wong. iya kacung kon pantang sandenge. sandenge tumuwuh.

kantun prabu kolot. pun kacung kapenging. ing basa basuki jalma kabeh. calapitaka lawan suling. kang sumeja kula ati-ati. nyuluri kang lampus. prayayine den baraseni. pun kacung aemut. datan wande kula wanti-wanti. akaca ing besuk. 10 Prabu Ciyungwanara sru angling. kawula menak pra kuwu sakabeh. lan kadhingdhang saruni salompret. ing saweweling ing nyai sakabeh. prakara samono. den sampuna angartos. 07 Kula emutaken tan ing benjing. angadeg narpati. 08 Ya tan Indhang Sukati wus pamit. iki jabang wus sun istreni. miwah ta ing benjing.06 Inggih minanten langgeng pakeling. den embang tumuli. 09 Pan binakta munggah sitinggil. dening sang prabu. la iki dengartos. pinajengan agung. ginrabeg kabrabon. Prabu Ciyungwanara langkung sukane. sinowara gelis. 11 .

14 Kaponakan aja sira cenger ngarsi. anulya sang aji. kang babasan embok. kang kalawan angati-ati. aja gampangaken salir gawe. ingkang luwih patut. 16 Prabu jabang si Linggawesi. ya ta ika karo. ya pragul menak sakabeh. la sira sakaro. sarta den sauri. angandika reka.Pan sinebut Prabu Linggawesi. atur sembah ing sandika ugi. pan gurumu samya matur inggih. . mung sira sakalih. Parwatali Talibarat mangko. maring si kacung aji. arumaksa maring jabang bayi. kakseni den mangko. Parwatali Talibarat. 15 Sapa wruha nyamber jabang bayi. ing Sundha sang katong. prabu sepuh mantuk. malebet ing kadhatun. embok banaspati. 12 Geledhuging gurbaning ukir. enggonira jaga ngati-ati. ing ketuk anglugur. Linggawesi ing mangke ingistren. ora liyan ingkang patut molek. kaya mau-mau. enggal murud sami. 13 Nelakaken prayayi sartaning. ngadeg ratu sing jabang bayi. den becik atunggu.

sing aistri manjing. ing tobong den susul. ingiling den tonton. yen waktu nyarengi. dadi enggo dodolan duwena. kocap sang katong. dening iki majikan cilik. darbe manah berag ing pawestri. den rengkot den rangkul. sarta lamon ing mangsa ing wengi. 21 Den wiyak kapati den grayangi. pareng tangiya iku nuli. wadon padha turu. umur tigang tahun jejege. 20 Dening ora kaliwat sawiji. diwegira mangko. (?) kalekanipun. prabu jabang ing salami-lamine. ingkang ngaubi maring. ingkang manjing tobong. ora dhing-dhing kelir. wong jro pura agawok atine. patute wus esir. maring wadon iku. iya padha den sirik sakabeh. 18 Prabu jabang ya sang Linggawesi. 19 Pan bagane dipun rogohi. dipun ingok-ingok.17 Mring daleme wus acakapti. Talibarat lan Parwatali. 22 .

langkung den gegembyong. pira-pira puluh. mangkana sang aji. 23 Ya pinangrengkangi budi teni.Den arasi den pareng ing istri. suk ing karsanipun. tandhinge pawestri. kang cilik kang becik. memetheti ingkang para istri. ratu Brajawati age. sinijang abrit sakabeh. kang dhenok kang sempwo. tan karsa nyangkrami. kadya lintang gumelar aneng. den embani sinureni. . ing watara umur. burat ganda arum. dipun wiwidahi. parandene prabu Linggawesi. wus pating pancorong. langit warna ing para selir. 24 Den go selir ingkang putra aji. 27 Karanane ingkang wus bibit. iya sida kuwel pareng karasmen. istri cilik iku. ingkang cilik-cilik. 26 Nelung tahun istri becik-becik. 25 Kadya sekara sataman kang asri. kang wis sarwa gamoling kapti. den pantha-pantha adi warnane. wis gopek sakrangulu. warna-warni katon. kang putra samono. kang mragaga dedege gedhe. saoli-olihing cilik. kang ati sumonggon.

kang gamol gandhes acemol. warnane rampak yen tinon. Ciyungwanara ndulu. methet ingkang sepuh-sepuh. rasti kang pirang-pirang puluh. kaya adhine kemawon. bandhot menthonge ambewok. jabang pitu abecik. dadi kaya dudu siwi. 03 Pirang-pirang selir kang adhenok cangking. maring kang gedhe kang uwis. canggah pitu bungahi ati. . kang wus marga kabecik. malah agung ingkang sami. teka ing karemenipun. 04 Teka wayah babar sakapitunipun. bobot ana pitu wadon.PUPUH XIX MEGATRUH 01 Indhang Sukati awewekas jati. ya ta ingkang ibu nuli. prabu sepuh angrawuhi. tumingal maring kang siwi. 05 Padha bae gedhene lare pipitu. 02 Ya pondhodhang dhadhinge masih sepanudu. kaya adhine puniku.

08 Kang sijine Linggapakuwan jenengipun. 09 Linggaerang Linggamurti Linggarayu. si Linggabuwana katon.06 Kaya adhine si Lingga iku. ya maring si Linggawesi. den kaya sadulur medhok. karanane sira durung. 11 . lawan sawijine maning. iku sawijine maning. 10 Linggawesi ngundanga adhi maring iku. 07 Lanang kabeh ing sapitunipun. Linggasana naminipun. sakapitune ing benjing. pantes mangko anganaki. rong prakarane dha rapon. maring kapipitu iki. Ciyungwanara ling aris. mutrani pipitu reko. la iki ya canggah isun. pipitune sun arani. dudu kaya kang siwi. Linggasri namining wong. kon ngudang kakang la iku. ya si Linggawewi iku.

sandika ing titah aji. kang cepol angaca piring. menanten uga kadulur. naging pangertose kadi. 12 Aeng temen inglalakon ira iku. kang aputih kang akuning. 16 Ingkang mobyong kang empuk panggarapipun. ratu ginotama mangko. 14 Prabu Ciyungwanara sampun amurud. bari rampak gumariwis. kocap sang Linggawesi. 13 Parwatali Talibarat aturipun. ana ta wong masih cilik. gumredeg lir anak enthok. bala sadulur kumaritig. lumayan rempeging urip. ing para selir kang ngapti. turanta anak sajatos.Delap ika anak ira kang pipitu. aduwe anak pipitu. kang padaha adhunuk-dhunuk. lumampah idhin sang katong. ya ikut kang raket ngayun. iya sate masih timur. 15 Yen wis linggih ing korsi gadhing rinubung. selire abentrok-bentrok. kang nyenyokar melok-melok. nalendrane sagegethik. . kanggo gegerebeg ngunggu. angraksa tedhakan aji.

21 Lan tumenggung Sukabeling naminipun. asale saking Keling. sagunge menak pra kuwu. karsa kang para samono. bang wetan salir kumilip. ing Pajajaran muponi. Prabu Linggawesi mangun. Kiyan Patih Bandhungkrayo. 20 Ya gul menak asribawat samya riyung. padha anjum sila panor. kabelani pundha iku. ingkang bobokong anggeyol. angrambaka bokongipun. ora nana liyan maning. 19 Prabu Linggawesi jengger tuwuhipun. 18 Prabu lare Linggawesi masih timur. sinaroja ing bupati. bangsaning koja guludhung. wani mati solot-pogot. 22 . malih kapatiyan nami. wus tuwukan sagunging. karemane ingkang uwis. wadon irengireng manis. andel-andel Pakuaji.17 Lan kang padha anggemeng kombalanipun.

Ki Demang Alurkoneng kang pinangka dipun. . paburuhe bangkit-bangkit. sing kidul sing elor. 24 Ngayok alas arame surak gumuruh. nuli samya ngundha manuk. laradan alayu-layu. sadaya ambedhak sami. ting sariwik nganan ngering. ameng-ameng maring luwung. 27 Yen wus tutug abuburu aneng luwung. ana panggalan agacon. nuli padha ganti ulin. kang lebda karya ing kono. waneh kang padha nalosob. padha retak anguneni. ana amengameng gathik. cala bangir kang pada lok. angungsen kidang apaul. 25 Pan tawura swaraning gutuk puniku. gurnata garungune bedhil. iyang-iyung kanthi wiri. wetan kulon ting careluk. ana pingkal salih angrok. abandring cohok. Menak Podhang Ujungberung. 23 Kang tut wuntat ing sang nata ngalor ngidul. pecat tandha adhir-adhir. amandhikudhing jamparing. 26 Alok buron kaburu-buru alaju. ting barisat sami lari. lan Ngabehi Tegalbibis.

padha tinangsulan. . nuli areyog asrih. kadi ulung babahak. ageger ing tawang. ana wowolu dhustha. kagandheng anjok ing bumi. sabagi-bagiha ulin. 03 Talibarat amapang ing awang-awang. kang sadya anyamber pitik. sumyak amobat-mabit. dodolan raraton umyung. 29 Rog-rogan ting bilulung ngalor ngidul. PUPUH XX MIJIL 01 Sedangune suka-sukawan tu bocah. banaspati ngarah aji. ora suwe asukati. sapraptanira. 02 Milang-miling kumrab ana ing tawang. sakabeh pan kena. kang seja den samberi.28 Ora suwe jajangkungan ngalor ngidul. pating kurenyang. ing gagana galak. tan antara ika. sakehe banaspati. ana pingkal silih angrok. tan suwe ujungan kang wong. begog anjog langunipun. Parwatali akali. tan adangu tumuli. gumuruh pating jalerit. pating jalegir ing bumi.

awake kaya buta. wowolu banaspati. nata Pakuwan. ing witing pakujajar. lambe kandel malenthing.04 Samya tinonton dening wong sadalem pura. ing ameng-amengan. amelet anggigila. aeng temen sun tingali. raining kamang-mang. dadi ingoningonaning. rambut maudag. kalangkung sukaning ati. ilate amedal. 09 . 05 Untunya ngisis baris sakampak-kampak. marakbak kadi geni. asuka-suka. ambebeda banaspati. eluhe wisa. lan kinepokan. 08 Sawengi-wengi tuwin sadina-dina. sang Prabu Linggawesi. sikile nungsang ming nginggil. 06 Iler yiyid murub la ika padha. mobyong-mobyong lir geni. sang prabu Linggawesi. 07 Ting burangkang aneng witing pakujajar. rame-rame ingkang sami. amawi den suraki. sarta wong dalem pura. dodolan kamang-mang. de go dodolan pranti. ing wengi suk awana. padha cinancangan. mana sabendhe mundelik.

daging buron alas. mangkana ya ika. 13 Maring iku adat purba Pajajaran. lawan Talibarat. kapareng lamining lami. pala karta Pajajaran. kokalan ing druhaka. den pakakaken belis. den go ambuwang jalmi. endhas kang sira ngusap. suliha tedhak. suliha tedhak. saparti ngingu macan. meraja Banaspati. kabeh dipun uculi. den pakan lawan daging. kaparing lamining lami. den pakakaken belis. 12 Rencang kula wowolu kang dika cang-cang. lan Talibarat. he madigda Parwatali. 14 . mangkana ya ika. lan ta ana jalmi. kang muga-muga. den go ambuwang jalmi.Banaspati lamine den ingu delap. jengandika cang-cang. reh ipun sampun lami. meraja Banaspati. munggah suka akasmi. 11 Sadya nira angrebat ing rewangira. kang ukum pejah. kang ukum pejah. sedheng dipun apunteni. kapanggih sira aglis. pala karta Pajajaran. 10 Maring iku adat purba Pajajaran.

duriyat Pajajaran. wani-wani gaweya. ingkang anak putu aji. kemit maring sang aji. kang muga-muga. kula kang dadya. kamang-mang jaga. kokalan ing druhaka. munggah suka akasmi.Sadya nira angrebat ing rewangira. ing duriyat Pakuaji. 15 Rencang kula wowolu kang dika cang-cang. lawan sumpah kang candri. 17 Pan sejane banaspati satedhaira. kabeh dipun uculi. ing ngendi prana. 19 Tan pracaya sumangga atetep jaga. lan sanadyana. kapanggih sira aglis. lan Talibarat. tedhak Pajajaran. sedheng dipun apunteni. . dumadak lirwa jangji. jengandika cang-cang. turuna Linggawesi. den pajahana mangkin. ungseden maningala. rantenen pakarsa ngolahi. Ika kang sinambangan. he madigda Parwatali. lawan Talibarat. balikan kudu jaga. endhas kang sira ngusap. ingkang kadi wingi uning. kang babasan aja. saksining seja pati. 18 Pasthi iku banaspati iku jaga. reh ipun sampun lami. 16 Gih sumangga kabeh padha sarat tobat. tan genah wani-wani. sok nang gunung sok nang pasir.

suwawona ing tetelar. 25 . seja apracaya. mejahi babu pribadi. yen mangke cidraa. nembah dhateng sang nata. nguwel-tuwel kadi geni. kang wolu banaspati. manecat ilang. 21 Ya ta sira Parwatali seja marma. pranjangji lawan sumpah. kang pangawula. kang kakayon ana hing. ngaturaken ingkang abdi. cat katong dening jalmi. Yang Maraja Banaspati. maring raja endhas bang. kula dhewek kang tandang. prajangjinira. 23 Iku dhateng banaspati wolu sigra. gubug sawahan. rumaksaa ing jeng gusti. Talibarat pon ugi. banaspati wolu sami. yen mangkono ya becik. amintal usul ing abdi. dingge punapa.20 Kula boten lajeng nanggel kang acidra. anguripi ing wewering. banaspati padha. 22 Parwatali Talibarat ing sabdanira. nangi kita padha. den culaken tumuli. 24 Pramilane Pajajaran akeh kamang-mang.

nanging kamang-mang cawiri. mangkana kang adat. malayua genudhang. 03 Mobyor-mobyor kaya obor atut margi. ing wuri tat Linggawesi. 02 Pramilane Praburara Linggawesi. yawis tobat. angleledhek wong ngarit. kamang-mang padha angiring. gone gigila. 26 Kamang-mang tinangkeb lawan keranjang. napase kesotan. yen kekesahan. 04 . amung samemedeni. satedhake sang ratu ing Pajajaran. PUPUH XXI LADRANG 01 Sadangune suka-sukawan tu bocah. duga pegel kang lumari. mogok kang den baleding. ing lampah. gelethak dadi lupi. satedhake dadya pangregep kewala. tan amikara. ing wengi kang peteng nuli.Ana meled-meled aneng gubug-gubug padha. jar bangsa siluman. ya kamang-mang pinangka damar ing lampah.

ingkang putra. 07 Linggapakuwan tanopen Linggasari Linggasana. rantab-rantab sakabeh namane lingga. iya iku amengku purbanagara. 06 Wus prajaka yuswa umur salawe warsi. 08 Kapitune wus alinggih bupati namanira. Linggarahayu kalawan Linggabuwana. ya kamang-mang iku endhas kewala. awake manungsang menginggil. sabagi-bagi. sakabeh sinebut nami.Ya angraksa ing sabandu kulawargi Pajajaran. Linggaerong Linggamurti. 05 Yen tawiri kamang-mang awake paksi wus marena. kawarnaa Prabu Linggawesi nata. Pajajaran duk jamaning. . pipitu kadi wargi. 09 Kang pinangka bala ratune Linggawesi jenggerjagat. kang kaprabon pipitu ing Pajajaran.

10

Iya iku sang prabu Yang Linggawesi Linggatosan, babalik remen ing alit, maring wadon marucupe lagya.

11

Ingkang durung susune kumaringkil, wadon ingkang, masih rata kang pepenthil, kadya kaya susuning bocah lanang.

12

Wau pupak ya iku kang karemani dadya ika, kang ibu amemetheti, wadon cilik wus angsal kang kawandasa.

13

Gumariwis pan kaya bebek memeri agiringan, sagendhongan kumraritig, denpahesi sandhangan kang adi pelag.

14

Dadya susah ingkang ibu Brajawati, genya dhana, anuku-nuku atining, bocah wadon sangkane gelem dewasa.

25

Mungguh sire iku Prabu Linggawesi maring bocah, kang tembe pupak sawiji, kumokod pisan ing bocah perawan pelag.

26

Ya sang prabu dadi ora duwe selir, maring bocah, kang wus lungse sathithik, ora esir maring bocah kang wus tarab.

27

Kang wus reseb padha miretan kawangking kaparek kang, lare ingkang durung gething, iya iku kang kinarsakaken nata.

28

Ya sang prabu Linggawesi lir lare alit yen dodolan, yen mangsaning udan nuli, ya selire padha katimbalan wuwuda.

29

Aing latar anuli dipun suraki, lawan dinar, ya ta sakathaning selir, kang wuwuda rebut dhingin ruru dinar.

PUPUH XXII

01

Kang sinebut namaning kang raja sunu, Prabu Linggawayang, sinungan kabopatene, Bantalwaru ika ing cacangkok ira.

02

Ya mangkana Prabu Linggawesi mundhut, putrine wiliyang, Dewi Cibongas namane, gih punika nembe umur dasa warsa.

03

Sacareme ing kana kinarsa jatu nata Pajajaran pinangka bini ajine, malah iku sampun miyosaken putra.

04

Lanang ingkang sinebut ing naminipun, Prabu Linggarasa, sinungan ing kabopatenen, Karangsambung Purakadhongdhong Malangya.

05

Nulya Prabu Linggawesi sira mundhut putri Barisbulan, Dewi Rasati namane, iya nembe kang umur sadasa warsa.

06

Sinaptanan sampun pinrih jatu, ing dhatu Pakuwan, pinangka iku sang katong, careming sang sampun miyosaken putra.

07

Lanang ingkang sinebut saparab ipun, ing raja kaputran, Prabu Linggaening reko, pan sinukan kabopaten Sokalaya.

08

Lami-lami Prabu Linggawesi mundhut krama putri nira, Sunan Gunung Puntanggedhe, ingkang nata Dewi Rara Lisniutama.

09

Pon ya tunggal anembe yuswa sapuluh tahun wis pinuja, prameswari aneng kono, pan amurba para garwa ing Pakuwan.

10

Intening wadon ing pura Pakuwan agung, iku prameswara, Rara Lisni ing jenenge, ketang garwa waruju nanging kang dadya.

11

La yen mangking gamparan ika sang prabu, nyarengi kang garwa, lari gulingan ya age, ing karsane inguculan kang gamparan.

12

Arumaksa bilih kagete sang jatu, garwa kinasihan, kakasihing segedhene, damak-dimik lumampahe ta sang nata.

13

Genya tumpek ponjan asigarwanipun tansah pala-pala, mila sang prameswarine, ya wus bobot ananging ora kajamak.

14

Atahunan anggene ameteng iku, ora baba-babar, wus pirang-pirang lawase, kang dhudhukun anggrarayang sing dhi ora.

15

Kang sawane angarani rara busung, kawelehe ika, dening tan ana rasane, dupi busung akundhangan rasa lara.

16

Dupi iku ya kaya wong meteng iku, sejene mung lawas, ora na bebeleyane, kang sawane ambadhek lamon kawaya.

17

Kawelehe dening katilap ing ngujum, tan katara pucat, ora rumab ora nonjok, panyanane masih gumilang padhang.

18

Kang sawane lamon ika malembung, kanginan ika, kawelehe ika deneng, ora katon urat kang pating karenyang.

19

Dupi tingal ajar lawan wiwiku, den iya sanyata, mateng sang dewi samangke, isi jabang supaya tan karsa medal.

20

Ya sang Prabu Linggawesi ing tanyanipun, la prepun baya, paman ajar tarekange, dra pon medal si jabang duk kaya saban.

21

Para ajar sabane boten pikantuk, yen mange medala, kadesak wedale dhewek, boten kenging den paksa-paksa medala.

22

Ya sang Prabu Linggawesi pan dhedhesipun, iya kena apa, paman ajar satemene, weharena aja sabda kang den garba.

23

03 . PUPUH XXIII SINOM 01 Tan anatara sang nata. gih boten gadug. mangsa boten ing gelar ing waskithaa. sarupane parekan agung. andherek ing sang aji. 25 Para ajar awale babar pamuwus. awit rebah watangiku.Para ajar para wiku sabdanipun. ye punika jabang. tarengkep ana ing. giyak-giyak wong jro puri. nang latar lan prameswara. boten kilap ing sang katong. ngadhem-adhem ing pantara. paman ajar dika. aja gamam ing awale. wus katingal sadayaning. ing adining puri. kudu dang nata rumiyin ingkang asirna. ing mangke tulus wewedhe. babarane ing suka atawa dhuka. ingkang ngadi ing ngadhenan. samya suka ati. kalangenan den ideri. ana wang-wang lalangenan karta yasa. 24 Ya sang Prabu Linggawesi dhedhes gapuh. 02 Ingkang abanjar wangunan. paninisan angemba ing. pan kalilan ing nata acangkraman.

Prabu Linggawesi wau sabdanira. nembah matur ing gusti. tan kena barang sukati. jandika katuran mantuk. kepyar-kepyur taragdagan. ora ngrungu pamarahing. dupi iku kapiyarsi. 06 Mengko isun mulih ngomah. katuran mantuk ing puri. timbalane ibu nata. gumuruh kang suka-suka. susulan maning la ika. ya kon manjing dhingin maring padaleman. sapunika timbalaning. sendhekala boten suka meng amengan. 04 Isun iki enak. banget melang ing ila-ila ing kuna. tuturen den ujar mami. . wong dhodholan reren kudu. kumepyar rasaning ati. emban amintara aglis. ingkang ibu raja dewi. sendhekala sukati. prapta nembah nuhun gusti. boten sakeca ing manah. ibu dalem ratna wau. kepyar rasaning ati. sendhekala ngalas maning. ya mengko sadela maning. ya ta caraka wus kebat. age mantuk dalem puri. melang dhirine kang siwi. 05 Dening ibu dalem ratna. 07 Ingkang aran sendhekala.Brajawati apotusan. la sendekala iki. puniki pan sendhekala. gampil manghkin lekas malih. ing anak isun nata. gampang mengko wus miwat. duduwa dining gumuyu. mung siku adating apa. punika kawanti-wanti. ing paduka gusti jandika katuuran. wong den penging andalarung. dangu wonten taman sari.

dhigal temen atiningwang. gumuruha warna-warni. meteng tan jamak lan jalmi. wong meteng ya kudu wedi. kang baribin padha mampus. ila-ila bari iki. kang ibu kelangan lari. ya ta Dewi Brajawati. mapan si dhewekw ika. yen kang ibu rawuh pan samya umpetan. pating salindhut singidan. datan babar nuli lelewane pisan. 12 Mung ta padha asingidan. abane antong wirasa. aja lok sawaya laku. dening lelewaning siwi. . 09 Ganti mara asu aba.08 Gampil mangke yen kalintang. umpetan kang maring ngendi. ora suwe ika hiji. wis neng kene bae iku. saking wanci pacek desi. anjog sajanira nusul. kudu duwe pamali. ya ta sang prabu wus uning. masih kadi bocah alas wuwu cawak-wak. Prabu Lingawesi nabda. nata anjrit agiro tur gedebugan. rabine kapadhan maning. ora na abacut mewit. ya mange gak arep mulih. sawusing kadi kamangkin. ngandika mung ta iki. kalangkung dhegel ing ati. buduk namber mataneki. 11 Sandhekala wong kang kuna. maring ngendi Linggatosan. dheweke lagi garbana. ing mamala sendhekala. 10 Sirep ora ana kang swara. aja balik marana. sira jacraweya ing mami. ya si Rara Lisni baranyak tandhungwaya. kenang samber mata prabu. dhateng panggenan putra.

iku kang dadi kalilip. gusti kita kenang apa. 04 . katharak-thaak ing tingkah. PUPUH XXIV KINANTHI 01 Prameswari nira gupuh. adan wong jro puri. amundhut kacatu mulih. ora wurung katingalan.13 Anjeli-jeli karuna. kang raka kadi mangkana. 02 Pan dadining sakatemu. ora kalawan pamili. Rara Lisni aningali. tan wande kalilip kenging. ingkang raka mukaneki. padha nangis sambetipun. pan dika jiwit kewala. ya dadi milu anganis. ing jro kaca kaeksi. duk tumingal ingkang raka. kami ruru seneng ing ati. pan kadya tambuh ingkang manah. Rara Lisni ical arti. tiningalaken enggal. 03 Raka dika tingali iku.

laku lalis tan ping kalih. yen sang nata boya uning. udan kang wus timbang siti. 06 Ora kaya dening iku. 07 Sareng ngilo kaca wau. nuli balik ing ngawiyat. kang garwa mintoken carmin. kadalang suhing ngungkara. ya wis padha ing pasrah sira. kaledhug ingkang sawara. ya wus katalaya dadi. 05 Marang wadana sang prabu. ya den penging akakaca.Saestu kang garwa iku. teka tan kemutan iki. angandika mituturi. pramilane gelis ambil. pan mangkana tan kemutan. katingalan sarira neki. Linggawesi aninggali. . 16 Ora ana gunane iku. tan kemutan apa-apa. mangsanaa kudhup maning. wis karsaning Yangandum titi. amundhut carmin punika. ing lemah baleger gandhik. ing sarira kang nata. welinge ingdhang Sakati. mapan reke sami neki. ing pantangane sang aji. pantangan lamon kakaca. kembang kang wis megar ika. prapta ing kana lalawad. wong wis dadi padha pisan. iku dadi wesi malih. dipun tamengaken aglis. mangsa ababalik maning. adan geblang ya sang nata. guragapaning asakit. 17 Mapan mangsanaa iku.

balikan padha rerepa. kang sampun sirna alalis. Rara Lisni tahunan iki. ingkang arep cilaka. saking kathah upacara. kang padha sengkel ing ati. baris kang sabagi-bagi. sangkan-sangkan bae kudu anemahi. pajeng asri payung kembar. 19 Ing pasisir kidul iku. ing pasentran candha warsi. pra sami gelar ngasreni. 20 Samapta krajaan sampun. payung agung dhedhet kehing. datan mangkat saking puri. wus gumelar pangladhenging. PUPUH XXIV . ing margi andher awilis. pama ing pacendheneki. 22 Lampahnya selur adulur. pucuk praptangpa candhening. ya ta opyak para putra. tanpa pegatan lampahnya.18 Lalu marag kembang iku. 21 Kang layon wau sang prabu. pan sasilir ing angin. saking garba wewetengan. kangmarapit anjalana. mangke gadhang timbul mijil. kurnapane ingkang rama. Linggawesi sampurna kena.

ing kalpantanganing anak. nyai Brajawati kang silib. pramila kudu emut. amung kari entenana. 02 Den wis nrajang pantangan tan keni. tunggaleku nipun. kudu bae amaspisani. mulane laku iku. ing pati lawan merad. ora opyak sawara. pan sarupa lakuning pati. iya Rara iku. wewetengan titinggalan. datan kena pindho laku. kudu bae nemu eleng. temah nrajang pantangan. 04 Ora mantra den abalik maning. anang gunung ing wetenge. ya mangkana anak mantu. dudu mati dudu pejah. kang arep bagja sing sangkan-sangkan. sakabeh iku tunggal. kang sumurub ing jro garba. wus den becik wuwusen nini. nya mungga tulungga. yen dangdani ingkang aran sirna. ingkang mingsa dhasaring toya. Brajawati wuwuse angemu tangis. 05 . ananging den wis pindah. maring anak mantu. kang tan uning. anang gunung ing jro garba. mung sapisan sapisan kewala. ing jro wetenging watu. ingkang ambes ngayangan dhasaring bumi. lincakan aneng buwana. dudu iku lampus.01 Ora ana bedane ing jalmi. 03 Kang minglintang kang mingsurya sasi. ing lalis tan kena wande. tan mindhoni lincakane. pan kewala salin nagara den panggih.

nyi Indhang kukudhung. windon takeran warsa. ingkang warna kalawan dasa nedha. susah temen yen boten si nyai. sampun takeran tahun. ambok kontal kenang thathit. putih sarta ngukup menyan. isun jaluk kukudhung. lan kembang campaka pethak. punapa adat kang prantos. jawada ing sawarnane. ing sasangen pamundhut. iku sadiya kena. Rara Lisni ingkang rosa. . isun pejah dodolan ngundhang kang gaib. nunten kaparipun. 06 Inggih kula boten kilap nini. go sasajene kang gaib. ingkang andaya-daya. anjumbul-jumbul kaget tur sarwi nabda he sakoro kacung. ☻ 08 Ya ta Brajawati wus nimbali. maragsag ing ayunan. 07 Lan anjaluk kembang kang wangi. Indhang Sakati sahure. kira-kira sakalapa. ipun Indhang Sakati.Wewetangan dra pon gelis lahir. ya ta wus pepek sakabeh. supayane tiyasa amedal. PUPUH XXVI PANGKUR – 01 – La ya Nyi Indhang garjita. atawa mangurungan. den barikut sabadhan. wastra putih ingkang abecik. ya aganti tanpa anten-anten dugi. pola kula ngajab-ajab. maring kang meteng lawas. boreh wangi lan lenga. ya ing pasar kono iku. sadangune muja rara den adhepi. karang melok aja na kari. Parwatali lawan Talibarat padha gujengana iku. den kajamak kalayan manusa. lan ukupana kang agung. suri kacinipun. wong jro pura kinen sadhiyaa.

kakacae ika dadi. maring ngarep maring pungkur. ari[ari ika sampun dumadi. maring dhuwur mingisor anjejeg bumi. gelap sangyang wastanipun. – 04 – Maring ngarep maring wuntat. ting sariwik nganan-ngering. – 06 – Ya ta Prabu Ciyungwanara . – 03 – Gebyar-gebyar ora mendha. Parwatali pansamya anggemeli. dangu-dangunipun nuju maring Rara Lisni adan. tan dangu kilat agemnya. anggepeli rambute sing uluhipun. ingkang marga lantaran. dupi Nyi Brajarara. amiyosaken babayi. kang kina daluraning karsa. mingsor maring ngawiyat. talerep kilat lan thathit. kapat maring jabang bayi. mapan kilat mancaroba nganan-ngering. ingkang tulung Ingdhang Sakati ing mau. dadi gela nyawang ing paparab ipun. – 05 – Gelap nyenggrang namanira. dangu-dangu nuli medal gelapipun. . babar pisan wedale jabang jalu. cirak-cirak kalangkang suka ningali. wus kadadiyan titiga. warnane suteja peglag. astane sang rara iku. kang canggah wus babar metu. pusere ingkang tigas. gelap ingkang mancaroba.– 02 – Ya ta Talibarat.

amuji juragan aji. wetan kulon padha aganti uni. ing Pakuwan ra timbul ingkang sasulur. – 12 – . Pajajaran suka ngapti. Pajajaran kaya mau. linggih ratu dening sang prabu yoni. kang pinangka pamong-monga Prabu Wastu. pan sinebut Prabu Wastu parabipun. awit Cilutung ngetan. – 10 – Mila ika kang wong sanak. Prabu Ciyungwanara saking ngukir. ya ta samulur raja. Prabu Wastu jabang bayi. tatas maring Cipamali kang kawengku. akeh padha rena. ana ing rat Pajajaran. rancakowek warni manuk. tanopen wetan lor kidul. – 08 – Aketuge sasahuran. – 11 – Prabu lare wus anyakra. sawaraning Yang jagat. menak pra kuwi sigar sawetaning. kasanson ing kulawarga. kalenggahaning canggah. dening Prabu Wastu purba wisesa Sundha negari. – 09 – Tatapi ing karsanira.– 07 – Sang jabang ika kaangkat. Ciyungwanara kang junjung. anjaga dhiri sang aji. Ciyungwanara si jabang dipun imponi. piyambak ing Prabu Sepuh. kang aran Gunung Krendha. mrana-mrena atut wuntat. padha nakseni ingkang lilinggih ratu.

gelap senggreng kalangkeng pandengel wijung. Pakuaji saking Cigasong punjul. mulane dadi papatih. – 17 – . angrampungi pradata. – 14 – Tan Ki Demang Bantarpanjang. gelap Sangyang Talag. Tumenggunge kang sinebut.Papatihe kang anama. agawe enaking padu. pinayungan para eyang. – 13 – Tanggung-tanggung kang manusa. kawuwuhan sadulur kang ngampingi. kang juru pamong-mong wau. bisane anginger bala. ingkang jaga-jaga nagara. – 16 – Ing turunan Pajajaran. masih pinter kepati burung wiring. kang dadi anjugalani. – 15 – Wus tan ana kakurangan. ing salinggih ing narpati. Tumenggung Natakriya. gelap nyawang Karangsembung. langkung bisa amutus kang prakawis. bisa nginger pagaweyan. miwah eyang Talibarat. ngemiti pagusten aji. sinaroja gul menak kang Bopati. patih Burung kandha nyatane paksi. apa adating sang ratu. lan Ngabehi Sokapulang iya iku. Parwatali angahu biwaya ipun. kang padha raksa rumaksa. kang seghenge angampingi.

Parwatali Talibarat. aki buyut Banyakgarantang. ora kena jaladhak ingkang wani. udan angin gelap tempuk. lan gelap nyawang nambungi. ing pantange Pajajaran dadak nuli. Prabu Wastu Ginotama. . nuli ngedhang para buyut. giyuwan peteng lir wengi. sinata ing dhewaji. – 18 – Sing asing aneranga. pramilane Pakuwan wanter pangaruh. mauk miber angambara. turunan ratu anget sakalir titi. supatane dadi tumpur. – 19 – Gelap sangyang sing jro toya. sing angidek Suramangkrak. ila-ila kang pamuli. – 20 – Iku dadi patengeran.Kocap praja Pajajaran. iya iku martabat. maring sobawanira. kaligane gumurubyuk. inkang kena padha upataning ratu. saanak putu nira. ngungkuli bawa dewaji. gelap senggreng garantang tanpa thathit. ya polahe Talibarat anempuh. anuli ana gelap. sing angidek dadi pincang dadi buntung. wawayangane nalendra. tan kena sathithik sigug. tan kena den idek iku. Prabu Wastu Pajajaran mandi. Parwatali ngabar-abar. gumalendhang dharangdhangan. tanpa sangkan mobat-mabit awor lisus. – 21 – Tangtu tiba kaju lina. dadi lumpuh dadi gering. ya mulane den arani ingkang nebut. anak putu ingkang anyerang papali. – 22 – Ngayeg-ayeg kena tulah.

sapolahe amantesi. daropan anganaki. parekan kang ageng alit. laminipun ora amiyosi putra. kaya garwa sang nata ing Pajajaran. aresep saumur ipun. – 05 – . sedhengane olih rabi. Ni Ratna Sekarati. ya dadi ora bisa. ing sadaleming purati. – 02 – Kalangkung ing kinasihan. anglegakaken manah. gedhe cilik sadaya aturun marma. saking anaking bramana. anak maning yen iyaa. ora ilok kathik. punika kang prameswara. kalangkung warnane ayu. – 04 – Suwane Sri Naradhipa. cirinipun den ingkedhi. ora na sawalang kapti. – 03 – Wedi asihing majikan. patutuganipun arum. linulutan ing sakula. tan ana ingkang mantari. anak-anak ing sasami. jeng prameswari sakara.PUPUH XXVII SINOM – 01 – Prabu wastu Pajajaran. tatamba ing ngenda-ngendi. warnaning kaendahan. Susuk lampung ingkang nami. dening datan miyos siwi. dening warnane abecik. pranakane Sang Dewi Sarkara ika. parandene datan metu. sabab kaliwating aking.

Tulangbawang maring Jawi. kang seja naglelesena. angused larining ilang. – 09 – Ing besuk panusul ira. . – 07 – Ngalap garwa wadon ingkang. ana ing Pajajaran. pranakane ya Sang Dewi. ing marmane besuk karuru larinya. estuning bresih sarira.Pirang-pirang tukang tamba. anenggeh maring Jawi. amung ing Sundha negari. bebet manak istri saking. – 08 – Kocap Ptih burungkrendha. saking sabrang saking Jawi. lan amijil putranipun. weleh tan ana dadi. angiwat putraning aji. ingkang papati garudha. garwo malih garwo malih pon tan putra. kalangkung dermaneki. nama Encecalingcing. ing Pakuwan sampun tampi. wau kang binakta dening. – 06 – Tan karinget tan kalalar. sampun kagarwa puniku. pun sampun wau akatur. tan ana roro tetelu. mundhak akingipun gempung. dhateng sang prabu nata. koncara lamon ika. ora reseb ora mimis. ora wadi ora mani. ora idu ora yiyid. pinuju panenggek kang asri. ora umbel ora duwe sulu mata. putrane Buyut Satohan. lawas-lawas katiliktik. saking pulo Tulangbawang. iya iku dadi purwakaning perang. wus boya anganaki. marmanipun dumadi. salamine pon boya miyosi putra. Prabu Wastukalintang.

kang minangka maha dewi. kanggo babakti ing ratu. – 13 – Sariandilep kang nama. ngiseni ika kewan. karya laku ngiwat-iwat. ya iku pan gabug maning. kale wadon duwe laki. nuli sang nata garwa. pameswari iku wadon saking kubang. tan ana medal siwi. malih kang pinangka dadi. pan mangkana pinet garwa. . nuli malih gagarwa. Ence Galingcing dumadi. atuwin ana anelang. – 14 – Marga peteng kang anyelang. nuli ana arti nisip. satemene susupan ing bramana mangko gadhang kacatur.– 10 – Dupi samangke kalingan. durung gemet angilari. Prabu Wastu ing Pakuwan. putraning Buyut Gunggirik. gawe ora arju mungguhing dewa. garwa aji ing puri. putrane gabug maning. kyan Patih Burungkrendha. garwa tetelu tan sunu. kasawung ing pegat turun. ora nana una uni. – 11 – Tiya cicirine ta sira ki Patih Burung ya dening. rati ing Pajajaran. kang nanggoi pati urip. wadon saking Luwiliyang kang anama. Pajajran iya iku. pon kagarwa tan mijil. ya wis ngijir gadhang kaselang susupan. kang dudu waris ing aji. kangkat wani angambil. marmane ika wanodya. – 12 – Wang ing sakala samana. sewakane dheweke kanggep ngawula. apindah-pindah turuning.

ora nana kaya iki. tan ana gumentasa. mikiri punthes ing aji. ing dos wiji-sawiji. tumulung darbeya siwi. ngajah padha mathem wijil gembyung. – 17 – Wondening arjaning pura. ora na kang mijili. winangking sadaya nira. lami-lami kang garwa prameswari Sarkarati. sing ngarsane Sri Bupati. ambabar danawa wangi. salamine ngratoni. Prabu Wastu mulat bisa. wis windon takeran tahun. garwa lima kapadhan. tan nana medali siwi. ora anggandol sami. gabuge tan ana mijil. – 16 – Prabu Wastu nuli ngalap. – 18 – Lalu buwang-buwang raga. selir kawandasa sisi. rama ajar Sususklampung. panendhi ratu Pakuwan. langkung sadarga dening tan kagungan putra. ing aputra gawoke wong Pajajaran. nami Nyi Carananggolis. iya dadi gabug maning. PUPUH XXVIII KINANTHI – 01 – . dadya pamitan sing kana. Prabu Wastu pan andulur ing garwa. garwa sakali manipun. rinebak-tebak asuwung.– 15 – Putrane ki Cupangcapra. agabug sadayaning.

pepedhang sadina-dina. kang dipun abet ing ati. ing lilani prameswari. . kocap nyi Sarkarati. – 06 – Ki Bramana wuwusipun. sakathah ing para garwa. bramana Susuk pinundhi. entare saking Pakuwan. iya nyi Rara Calingcing. kang dadi rasaning ati. rimbitan sawengiwengi. sebab wis ora na maning. medheke maring kang rama. dra pon dheweke si siwi.Dadining sang Prabu wastu. – 03 – Gabug-gabug pan kapuhung. mung garwa aji Calingcing. sakabeh tan amutrani. ora na kang miyatani. bubar kabeh para rabi. lan ana ketang katolih. panuhun reka pandaya. – 04 – Amung kang den tunggu pupuk. estu kangge ing akrama. budine si bapa iki. anggepe sang nata endra. angrasa dadging sagelih. garwa ingkang kinasihan. sang nata pijer kakenan. – 02 – Asal Tualangbawang wau. sok aja Calingcing ratna. ya toli kapremen si toli akale si bapa. toli kapremen tala. ing dhesthi ratna Calingcing. – 05 – Sigegen kang dhesthi lulut.

Bramana Sususk mangsuli. dening jeng rama ing ngriki. – 12 – . angupaya apa maning. cupet cempole ing budi. – 08 – Kang luwih punjul sing isun. awak kula langkung isin. yen boten badhe pikangsal. kang usada warni-warni. supondaya amaringi. toli kapremen maning. sumangga jeng rama amanah.– 07 – Kajapa ingkang panedhu. ora na kang miyatani. rama kula jaluk mati. ora kaya tan tumama. dhateng maru-maru kula. jaluk mati sapuniki. kalowos tan angsal kardi. mider kenges sun salaksak. kasuhur ngilari jampi. dateng Pajajaran malih. si bapa pon milu isin. pandaya misunwis cekap. sumangga den pejahana. – 11 – Nunten kula mantukipun. ing sabisa-bisaningwang. – 10 – Kula boten ajeng mantuk. babu nini ya ta iya. yen boten medal putra. – 09 – Ratna sarkarati muwus.

babu nini aja sira. adan enggal linebonan. – 17 – Adan gupuh enggal mantuk. dupi katingalan dening. arahe suduk sarira. toli kapremen iya. ki Bramana Sususk enggal keris den candak tumuli. yen rumihin sacombana. tegane wis sangu keris. benjang ing sawuri mami. kaya pasakarep ira. dhukun anyata bocah. sira gelisa pepecil. ingkang mati labuh geni. bramana wus dadi api. sasambate prameswari. lawan Prabu wastu nuli. sira salameta urip. dupi ginarayangaken dening. sarta aduwea anak. malembung wadharan ira. tumangan geni wus dadi. – 13 – Ratna Sarkara agupuh. – 14 – Basane jalukan isun. ing Pajajaran wus isi. wus dadi apu dahana. – 15 – Ya ta bramana awangun. Sarkara dadi garbini. . berage nyi Sarkarati. dimane ikang nyurupi. ambri dadalaning ngoli. bebeg dheng wis sumpel ati.Ora kaya yen isun. – 16 – Dhateng guwagarbanipun. anjeblung punang wadharan.

ruru lanang liyan maning. puniki ingkang yumana. Prabu Wastu angandika. kalangkung sengit kapati. salamine ketar-ketir. – 22 – Ya ta ika Prabu Wastu. dugi maring rolas sasi.– 18 – Kula kesah ruru dhukun. ing sasiye bebeleyan. nanging yen angliwat saking sangang wulan duking bendra. – 23 – . – 19 – Kang grayang inggih estu. ucaping dhukun pawestri. sedheng tandang karsa nyingkir. dugi kula meteng mangkin. nyata iku olihira. – 21 – Prameswari agegetun. inggih laksana pakolih. kang garwa den tudhung wani. dhukun sakti mandraguna. bekeng temah iya liwat. samono Dewi Sarkara. inggih isi jabang bayi. subagjane estu yakti. mangko yen manjing itungan. sangang wulan duk sarasmi. maras bok angliwati. – 20 – Tya estu anak isun. tan karsa angaken putra. iya dudu anak mami.

si jabang sira sun puja. – 27 – Saryakaruna lingipun. Dewi Sarkara buwana. ming pancalima Pakuwan. kang jabang kinempit ingindhit. ya ta ika pancalima. dadya tilar Pajajaran. . dening ingkang nyambat asih. cacaloning wong abecik. jabang bayi wareng mami. bramana Lampung nuturi. aranana Sususktunggal. yen tuwaa besuk bagja. adhuh gudhi anak mami. ningali warengka sesi. mantuk maring lampung karsa. – 24 – Sangsaya ing pulo Lampung. ing kana nuli angimpi. Talibarat Parwatali. gelapnyenggreng kinen sami. – 28 – Aranana jabang iku. ing Lampung rahayu urip. angraksa jabang narpati. anandhang lara katimpal. masa kakena ing manah.Kesahipun saking riku. Prabu Sepuh liwat luwi. – 26 – Nulak sagung bala ripu. – 25 – Jaga aneng pulo Lampung. angreha Sundha negari. kapanggih lawan kang rama. Ciyungwanara nimbali. Gelapnyawang gelapsangyang. kang gondhol si jabang bayi. samya ing Lampung ngabuhi. muktine tinemu kari.

Susuktunggal kang nami. maring sang Susuktunggal. jabang lunta ingaranana. emut wawangkiding ngimpi. ana ing lautan kidul. ing pasisir kidul ika. Gelapsenggreng salabehe. sagenahe Jaka Susuk. adhemiwit arti budine. – 02 – Wus awor lawan dhedhemit. – 04 – . yan mini moyang gaib. but buri amayungan. wis tan karungu wartane. ombak-umbul ing sagara. alusma barang laksana. jejeging sadasa warsa. tan pati guling dhahar. pancalima momong lampah. Gelapnyawang Gelapsangyang. pinayungan pancalima. – 03 – Talibarat Parwatali. satingkah polah limunan. kabeh padha rumaksa. PUPUH XXIX ASMARADANA – 01 – Duk kang yuswane sang jati. karemane angalenthung. nanging ika pancalima.– 29 – Wusing mangkana awungu.

maring kang Sususktunggal. – 07 – Datan antara ing lami. pinanggihaken kaliyan. sang putri seja denjuput. sabrang dadi adat buta. ya ta dadya ingkang perang. ing jagad alimunan. seja mangko denrebat. sampun campa kramane. – 06 – Sigegen kang amor dhemit. nyi Gedheng Rarasiluman. genya anyakra buwana. Ratna Calingcing ing kuna. karemene kumarasan. – 05 – Putrine ingkang anami. belung kapal bulanipun. wus pinten ing laminipun. padha doyan manusa. andel-andele sang nata. angintaraken balane. . wus bancik ing Pajajaran. denuri-uri den ruru. tumuli ana esihe. Prabu Wastu sajengkare. bala ayun-ayunan. Kaka Ramana jenenge. genya angrok bandawasa. ing kana den gawe mantu. Burungkrendha patihipun. – 09 – Patih Burungkrendha aglis. panusuling Tulangbawang. muwah deniwat dhingine. amampak maring payudan. sang putri seja mangko denrebat. – 08 – Seja angrebat sang putri. ana ing tenjolayaran. kocap kang aneng Pakuwan.Ing karang kang sigreng sungil. kangiwat seja denrusak. dening patih Burungkrendha. denira para jawata. nyi Rara Mutiyalarang. amurba amisesa.

mapagaken pangamuke. pinalu balang-binalang. ingamuk ing patih ika. kundur kapereg lagane. tarung nuli ana ingkang. nyoker musuh padha bubar. ngajejar kang angga murca. adan mara sepuhipun. genya ajojo brawasa. jejeg-jinejeg apalu. kadya ta bala wanara. – 15 – . Betyawelara denira. – 14 – Betyawelara wus mati. kuwel amagelutan. bala sabrang kondur kabeh. – 11 – Patih Burungkrendha mijil. nalampek naladhung nucuk. – 13 – Angentongaken tanagi. kang nama Betyawelara. pareng katingal pejahe. kan nana kakarawan. – 12 – Adan lakining Calingcing. kadya garudha meta. pating burisat lumayu. ing gelar angudi lawan. asore Betyawelara. ki Patih Burungkrendha.– 10 – Long-linongan akeh mati. den thothol jajantungipun. kapereg ing bala buta. kabareg dening buta. Patih Krendha wus den jragang. katarik ming jaba pejah. pirang-pirang dina gone. adan bala Pajajaran.

muluk mesat dan tibane. ngili ngidul miruda. maring ki Patih punika. Talibarat ora nana. anitah ing pancalima. kaget sang nata wendra. baledug ing ngarsa nata. Susuktunggal re sajege. puruge wareng sang Susuk. mamane Ciyungwanara. – 18 – Sarya sira anglalari. pancalima sadhapure. Parwatali muwah ingkang. dipun jambak jambule. apaladara susupan.Andik muntab ambeledig. padha asirna guriyang. ngayunan Ciyungwanara. wareng nata ingkang nama. den idek jalune iku. – 20 – Yen pinanggih Sususktunggal. lan sakehe kabuyutan. den kapepes ing ngalaga. – 16 – Kang endhas sigra tumuli. dadi padha cama kabeh. kataring ing rawana. den balangaken alepas. kangtu tinemu sadaya. ngingisik sagara kidul. – 19 – Ing praja akeh kang wani. Gelapsangyang iya tunggal. ningali endhasing Burung. Gelapnyawang Gelapsenggreng. – 17 – Ciyungwanara angarti. Patih Burung wus anglenggak. sagarwa sakulawarga. munggwaika pinanggiha. esmu rada kaduhung. adan pratignya wiyange. . milane analasak. Patih Krendha gulu pegat.

Prabu Wastu ika sarya. kocap ika sang katong. lawan ingkang sada lanang. – 22 – Wong Kaka Rawana wani. Prabu Wastu sagarwa. bubar lorode mengetan. mrepegi pura nata. – 26 – . sadaya pan sami larut. kang sejen sing jagat dharat. ngentep ngetan sigra rawuh. anyangking sada lanang. – 25 – Kang gamilang-gilang wening. – 24 – Dewi Calingcing tan kari. jagat buwana kadulu. lir udan deres tibane. dinamai Cahierang. ya ta wong dhatulaya. banyu sigra dumadya. sigra andarung lampahe. kadhesk den ira jemur. cocoratan atawa pongpa. camedhar lan tahi jalma. bubar larut kumagilan. kadhesek ing prawira. adan sineblak toyane. – 23 – Siniratan uyuh anjing. prajurit pakuwan saseg. lelewaning wog Tulang. Prabu Wastu Pajajaran. ing pinggir Sangyang Talaga. najis kangginawe punglu. binakta dhateng kang raka. den kepung wakul kodagan. tan kawarna kang susupan.– 21 – Angemonga Susuktunggil.

– 04 – Anut maring prabu anyar mangkin. padha nang dhasar talaga. Prabu Tulangtogmol. lan ora na kang weruh. iki pan jumeneng ratu. tan kena sinundhul. Kaka Rawana angadeg aji. pugas brangas ala atine. ing Pakuwan nami. sabata lawan sileman. ya wis dadi kaya merad bae. lan ora kapanggih. PUPUH XXX MIJIL – 01 – Kang na dharat datan bisa uning. paneleng ing katong. ora nana wani mantari. iku sadayanira. ing jagating kono. warga sakabeh kang dherek. – 03 – Ya Sang Prabu Kaka Rawana nami. wus jinabel dening musuhe. sabab uwise ora balik maning. . adadalem ing jro banyu. yen karsane mangkin. sadaya anungkul.Prabu Wastu karo rabi. tan kagungan basarang-saring. pan jumeneng Prabu Karadhatang nengge. nyi Calingcing muwah bala. ing sa Sundha sami. dupi sri kadhaton. – 02 – Ya Sang Prabu wus sirna alalis.

ing pagusten isun. akeh den padhangi.– 05 – Yen wus karep kaya lare alit. wong Tulang Minadho enggene. dadi amuwuhi. – 09 – Pareng angsal windu lami. kawarnaa sang katong. candhi-candhi entong. arubungan ing Sundha negari. ya angluru ing tasik pasisir. doyan main mabok. Ciyungwanara ngilari warenge. kang pinuja timbul malih. tan kena winurung. angrebat warisipun. la yen mabok dadi kamungguhane. keras akalipun. kudu bae dados. datan kena sinundhul aturaning. – 07 – Demen mapan ingkang yoni-yoni. – 06 – Ingkang denkait budi ngarani. – 08 – Ya Sang Prabu Kaka radha bang madhig-dhig. – 10 – . kabuyutan tapakaning wasi. padha atut buni. ingkang singub-singub. akrh gempur kapur atine. sajamaneng kono. ora kena den semayanane. bener luput mesthi. tor-toran anginum sopi.

lan galudhug saya seru swaraning. Gelapnyawang Gelaptanjung. Ciyungwanara ngidul. awan benginipun. panter pamandheng ingong. Gelapnyenggreng karungu. kang dadi raosing ati. meeng wareng Raden Susuktunggal. – 13 – Pan kumutug ing ngarsane aji. Raden Susuk ingkang sayaktos.Kang samangko kang kacekel maring ratu anyar othon. ing pinggir kikisik. Talibarat lan Parwataline. – 14 – Angembaa ratua tumuli. swara kang tan pangling. ing watukiliyong. gelis amora wong iku. Ciyungwanara gatos. – 12 – Gelapnyenggreng dadya ika sang aji. sarya ngobong ukup mangkin. – 15 – Ngener cipta tan ana kakalih. Prabu Ciyung pan kukudhung putih reke. kang wareng den puji. kan den esthi kuwareng. . saliwer marono. pan ya iku tetengering Sususktunggal. marono ambuneki. ager sagalugu. pan den jejep ing tingal dhemit. – 11 – Ana ganda ingkang samariwing. ngidul ngingisik jaladri pinggire. Talibarat Parwatali praptane. tan suwe agantos. belenging manah ora nakali. Gelapnyawang Gelapsangyang sami.

isup arep titilik ibu. – 18 – Manah pikir karsa padhaning jalmi. kang ngimponi sapalayake. lahir jabang bayi. wong lanang tinggal wadon. kala iku mambu ukup gandane. – 21 – . ngendhel ora mari-mari. lan sumadi si wong kang duweni. pareng lahir takon bapa tumuli. ya sok aja lali maringong. Raden Susuk mangko. raden denya sewot-ewot. dadya pamitan tumuli. tinggal rabi meteng tambu besuke. – 20 – Krana ingkang kang uwis lumari. bawaning wong wis mukti. krana ingsun dan raton. ing sadanguning nedhu. – 19 – Mubya ya larang amangsuli aris. manah kadya rontog. angabdi tanpa uwis. aja ora ing takut. krana kula pan lagya abobot. – 17 – Kawarnaa kang aneng dalem dherit.– 16 – Aja lunta awor lan gelis. benggi pareng si jabang dumadi. kudu eling ing jagat maune. dudu turuning waris. tan ngaku olihipun. wau waheng garwaneki.

ing mratuwa nembah panor. – 25 – Ingalingan dening ingkang gaib iki. apa maning maring ngong. angambah karang kisik. tulus lampah wangsul. – 24 – Ya yen eling maring ngalelek rabi. Gelapnyawang tan udan tekane. lampahipun Susuktunggal nengge. teka upama benjing. ya ta mutwa larang asri. aja timbul iku ing dadine. Gelapnyenggreng badhengel wijung. medal saking kayanganneki. pancalima ting pancorni. Talibarat kang ngramon. galudhug grantang widi narpati. .Ta kang uku panjaluk isun iki. ya manawa ora lali-lali bae. ora na liyan kadulu. ika mapan wus anglilani. munggwa amlesa katengong. – 23 – Agles Raden Susuktunggal pamit. den pracaya kranane iku nini. nyai Gedheng Rarasiluman nabdane. raden nabda tan samono. mung pohon rabi. suka manah ipun. sandika karsa jeng ibu apti. Gelapsangyang nyuwong warih. sumpah isun kang satuhuning. – 26 – Parwatali ulur-ulur apti. Raden Susuk anembah adan linge. – 22 – Ingkang ujar isun kang sayakti. aja lawas ya ki mantu. yen cidra awuwus. pamuji-puji jati.

kang wareng medheki. ambeg nakoda. . merad sejen alam. Ciyungwanara pinundhi.ian anuli rinangkul. asowara dan sang nata manhe. luhur kita punika sang aji. ya ta gugu panor. purane den wasesa. Gelapnyawang tinon. iku sapa kang kukudhung. yaktose Pajajaran punika prajane. rena-rena ningali kulebating. atatanya ya iku maring. kraton Pakuaji. Raden Susuk wus awas tingale. dening nelendra serani. – 30 – Angandika subagja ta kaki. kang sun ucap ing adi panewune. tulung sadarganing kalbu. …. Prabu Kakaratandhi. – 29 – Inggih payu kita pedheki. sira kang sun seja panon. Gelapnyawang la iku kaki. PUPUH XXXI DURMA – 01 – Ramanira Prabu wastu wus kokalan sirna alalu lalis. ingkang sumedi kono. agemen ing wareng isun.– 27 – Ingkang eyang Ciyungwanara aji. pan ya sira ageage ngambil. – 28 – Nyandhing ukup sarta asamedi.

sayogya sira kang mangkin. mayeng ing sabandina. ngrebut nagara. estu basmi negari. padha mayan dumadi. galudug ing arga. sadina ping sanga. minanten barkah eyang. maludhaging walirang. lor kidul ganti muni. padha malumah. pinanggih lawan sira. dadi kumureb rebah. jawane sun anyingkir. Raden Susuk matur inggih. akeh kang rebah. – 07 – . – 04 – Pareng sira Prabu Sepuh angandika. kang mangko dadi. sigra mangkat padha. sabandina nguneni. basmi kaosak-asik. – 05 – Datan apa menenge galudhug obah. – 06 – Ing jro gunung gumledhug jumegur obah. akeh gunung kobar. ulur-ulur nganan ngering. praja Pakuwan. lindhu rat lir ginongjing. sabenbengi wanti-wanti.– 02 – Ya wus ilang palakarta ratu Sundha. kaganti budi srani. – 03 – Ya kaduga manira apaladara. kumanyang nganingwang. amedheki kang nagari. sakeh kang malumah. pusakane kang dhingin.

ge ris ing sangara. tan urusan bubar neki. ingkang pating sariwik. akeh padha rusak. anjaya-jaya. – 11 – Raden Susuk iku angruru pusaka. Prabu Rawana age ris. katelahe sang aji. gara-gara nempuh. wiyange saking Sundha. – 09 – Datan sudi jeneg aneng Sundha layang. Prabu Susuktunggal. padha sinuhuran dening. Pakuwan anggege risi. rawuhe Susuktunggal.Kasusulan datan mendha gelap ngampar. . aneng Sundha negari. gawoke para bupati. tumon widagda aji. bubar dhewek tan sudi. tan lami punika. bubar buyung kang kari. wis tan krasan. jar jagate priyangga. tumon so bawa. – 08 – Ya sang Prabu Kaka Rawana awiyang. linggihe wareng aji. ing rat Sundha nagri. – 12 – Inggistrenan ngadeg Nata Pajajaran. gara-gara ing nagara. abubar priyangga. prabu sepuh kang angiring. ketung kang swara. wong Tulangbawang. gumarang ing sabumi. ngili marang jagat lami. kang sinamber dening gelap. kasaksen ing gul menak. para gul menak. wong Sundhane kuna. tan susah den perangi. – 10 – Bumi Sundha bisa nundhung kang anelang.

kang nama Dhuyunglanangan. kadi duk kuna. Parwatali miwah. ora nana kang mantari. nginger kawula alit. Ki Tumenggung Ulungdaya. sarwaning bisa. Gelapnyawang Gelapnyenggrang. ingkang padha angaugi. sugih kasekten lan bangkit. lan Gelapsangyang. ya iku kang nama. kan nami Susuktunggil.– 13 – Kang nakseni ngadeg Ratu Pajajaran. Talibarat nama. Patih Dhuyunglanangan. – 17 – Emban-emban sang ratu kang nama. – 18 – . – 15 – Salinggihe sang Prabu Susuktunggal. yen ing Pajajaran. pinudhung ing sagunging. kang dadi sorog wedhi. – 14 – Prabu Ciyungwanara kang jaya-jaya. sasat sinung nama. murwa pakaryan. adat Sundha negari. ing adi kulawarga. ambeciki ing nagari. sampun sinaroja. ing pagaweyan. kang aneng Majapahit. kang sagawe ngratajani. Pajajaran jengger malih. angsal panglima luwih. amarigel ing nagari. – 16 – Sasamine kaya Patih Gajahmada.

amblese maring bumi. sampung kalawang. ingkang jaba negari. kapracaya ing sang aji. kang langlang buwana. kang kinawratan. – 20 – Prabu Susuk waktu duk sakala samana. ingkang asirna. ing kono enggone lalis. – 19 – Lan kang nama ki Ngabehi Sujimara. jagat kang babasan. enggenipun angalih. ing Sindhangkasih praja. dados pakeca. malawat katingal. – 21 – Kumarasan ing Sindhangkasih praja. wus angsal supna. ing manah sri bupati. kang aneng dhasaring bumi. purwane amerad. anyawang-nyawang warni. anulak bala wita. ingkang mingkali kardi. pamagutan pradata. ora kewuhan ing udi. sang maha dalem japati. lolomponganing jagat.Pajaksane duk samono kademangan. mula sang prabu ngarti. salin nagara kang lantip. . karanane sang aji. kang dadya mikenaki. – 22 – Ya ing bumi Sindhangkasih marmanira. yen gadhange ing benjang. akeh akalnya. iku dalem ingkang. – 23 – Tya iku enggon gadhang palincakan. Demang Cimancurluwi. kewala pan ora pejah. sanak medhoke sami. dening prabu Susuktunggal. sakalir karya.

nawang susirna. . dewi mature asal saking Pasirpanjang. prameswara putri saking Sindhangkasih. nginep ing Sindhangkasih. bali dalem japati. kawangun pura nata. ing wong sanak Sindhangkasih. dening rejanipun. raja Galuh nami. – 02 – Garwa maning pula ……. ……………… paparab. yen kalingihan sang aji. rehing den kulinani. kadya nagara. hang.– 24 – Pan sawulan sapisan sang Susuktunggal.. Karanglopang kang nami nyi An ………. PUPUH XXXII LADRANG – 01 – Pan kaloka Prabu Susuk nyakrawati. mangkana ing karsanira. – 03 – Maha dewine pawestri sasl saking Sokapura. kang nama nyi Luwilingling. – 25 – Dadya suka ki dalem japati ika. dening pamajikan. kang cacangkok Sindhangkasih. Kawularang …………… ing.

ing sagenahe alinggih. – 05 – Ya wus apa kaya adat dewa aji. pinaparab Raden Anggalarang kwosa.. lilima saya lempuri. bapanira iku aji. – 09 – . – 07 – Mapan dewi Mutyalarang ang garbini. ya rinengga. putra jalu warna pekik. wus babar. – 06 – Tan kawarna enggene amukti sari atahunan. pan riniyung ing para gegedhen sadaya. ingkang wau tinilar tasik lamunan. Susuktunggal kang mengkoni Pajajaran. kocapa garwa ing dhemit.– 04 – Ingkang nami Dewi Simbarinten becik pinusthika. pan riniyang para ………………………………. – 08 – Wus aprajaka ika tatakon sunarmi winangsulan.

ainggih kula mantuni digdaya pancas. amedheg ing rama aji. – 12 – Anggalarang atur sembah ibu inggih ananacak. bok sira den pitambuni. mung ta sira. nuli sira ing kana tan aku anak. – 13 – Inggih saya jeng rama kula perangi. isun melang. inggih coba kentasa. ya dumadak yen boten ingaken ing nama. arep bedhah ing kuthaning Pajajran. – 15 – . juwala apa wong siji. jemg rama angaken siwi. katongsone isun welas maring sira. – 14 – Ya sang dewi Mutyalarang ngandika ris. isun melang. – 10 – Mutyalarang sabdane arum manis. – 11 – Nuli sira dentortalan baya pati. ara ngunjung ing rama dhateng Pakuwan. denlara den pateni. kang saingga.Anggalarang aturipun ibu amit sedya kula.

inton-inton memedi kanthung bragola. . lampahe ngatut ing warih. buwal-buwal mijil sing dhasar jaladri. anggep kula. bagja cilaka ya kantun punapa karsa. ngayune sang prabu Susuktunggal. jin prayangan. angancik ingukir curi. – 18 – Tunta ngambang dewa mambang kang angiring. galethuk batu kacebur cai. pan anjeneng tan dangu siliran prapta. kadya meres ujare kang amaskitha. mara jabang Kaljurig. – 17 – Amung ibu pamujane kang sun pundhi.Mandadene den ucap kaya wong baring tangtu sira. calengep kali riringgit. ing kana den waskithani. – 16 – Raden Anggalarang ya matur boten sanggi. – 19 – Awor ombak anggebyug maring kikisik karang braja. sarya wiyang. – 20 – Angin wayah sumilir ika dumugi Pajajaran.

– 21 – Sambat-sambant wonten pundi rama aji Susuktunggal. – 23 – Kapiyarsa denira wau sang Patih Dhuyunglanang. punika rama pribadi. Anggalarang dipun tarik. nunut aub ingaken putra sasmata. – 22 – Pramilane kawula sumeja ngapti ana labda. kamawula ing sudarmi. gampang-gampang si monyet si tambewara. – 25 – Pinanjara watarane danguneki sapangedang. – 24 – Anggalarang den surak bocah kangingsir sumantana. kandikane si ibu yen tutur kandha. samya geer la yen ana bocah setan. – 26 – . calengep ing ngarsa malih. dipun wasuh pinanjingaken panjara. angaku putraning aji.

– 28 – Den panjara maning kirane watawis sapangedang. calengap ngarsa aji. surak ing wong Pajajaran nyata setan. iku maring Anggalarang den galandhang. – 31 – Kira-kira iku maning sawatawis sapangedang. jin prayangan kang gagandhi lampahira. – 27 – Kalajurig ingkang padha ngiring-ngiring adan tandang. ya cinandhak Anggalarang wus pinala. gegering wong Pajajaran kumangilan.Den panjara ya bisa muncul pribadi ora wruha. . – 30 – Maha raja Bangbangan ingkang mayungi adan tandang. Demang Cimancur anarik. Ki Tumemnggung Ulungangin. dewa mambang kang nguculi. – 29 – Lamon ika ya nyata bocah dhedhemit ora wruha. ya memedi bragola kang raksa-raksa. calengep ing ngarsa aji. inton-inton kang nguculi.

– 37 – Ya jaganen iku saolih-olih maring ratu. atawa cacangkok siwi.– 32 – Ya siluman tasik kidul boluwarti ora wruha. dhiri pagusten narpati. aja padha den ganggangi iku bocah. iku nyata buktine ing paneluhan. – 33 – Sangyang Limun kang tut buri amayungi mula arja. kudu kang awas ing dhemit. – 35 – Lamun tulus ingaku paniya dadi olih praja. Anggalarang irus ing jati. Buyut Angin kang ngiring-ngiring kang ajaga. belis guguris nyaithis. Pajajaran padha tambuhing kang putra. belis guris angibur-ibur ing praja. pan luluthu bangsat ngaku anak raja. Buyut Cai kang nguculi. – 34 – Panginane wong sadaya iku maring Anggalang. – 36 – Ambalentuk anyolong ing si narpati mula ika. .

tumanganing geni gedhe. – 04 – Kang tumangan denesep kalawan eduh. – 05 – . – 02 – Ya ki Patih sigra tumandang agupuh. ing sajroning geni gedhe. amariyat karya. yen tan geseng ya iku ta anak ingwang. papathoke tosan. he Dhuyunglanang. – 03 – Pan rinate wesi pinanthokan kukuh. den sinulud kang geni ya wus maludag.PUPUH XXXIII PUCUNG – 01 – Prabu Susuk wau pangandikanipun. pan darapon aja bisa lunga-lunga. siniraman lenga. wusing dadi Anggalarang den sangsara. obongen la iku lare. denepri darapon menter.

patang puluh pasagi sampun prayatna. – 07 – Ora suwe kaligane iku muncul. iki Anggalarang. kagila-gila gedhene. pan wus dadi awu aneng jro dahana. kandikane iya mengko. Prabu Susuktunggal. anjum andhingkul padane.Purubipun pan ora kalawan kayu. . wanter munjuk urub kadi angambara. surak wong Pakuwan. – 09 – He Tumenggung Ulungdhaya dene gupuh. nalengep ngayunan. Anggalarang den samangke. la den ora kawur nyata anak ingwang. – 10 – Ki Tumenggung asigra tandang agupuh. kawurana ing angin gedhe. matur nembah amalampah den akuwa. ana ing tampingan. ing Gunung Galungung genahe. gawe lalayangan. pisan maning iku ing panacak ingwang. – 08 – Den akuwa piyambake raja sunu. – 06 – Sapangedang langkung pagedering urub.

– 15 – Duga ngulon watara ngungkuli laut. ing layangan wus rinekep. nuli sira lalayangan pan den ajar. – 16 – . – 12 – Anggalarang wus den baleni akukuh.– 11 – Tataline jenget ing sambadanipun. den culaken enggal. kawur mumbule mengulon. ing gagaranira. – 14 – Wus ing menit ngadeg saka dipun dudut. ika Anggalarang. surake wong Pakuwan yen Anggalarang. ana ing lalanang. kethip-kethip kagawa dening siliran. duga silep cat katon ya cat ora. ana ing sagara kulon. ambeneri angin ngulon santer pisan. Ki Tumenggung sakancane. ya ta wus sadiya. munjuk kagawang abure. – 13 – Keplas munjuk lalayangan munjuk dhuwur.

ingkang lalayangan. Kyai Demang Cimancur la iki bocah. pan dumadak ora mati kalem boya. – 19 – Lawan mengko pisan maning panacakipun. – 17 – Pan sing ngendi bisane awangsul iku. Cisanggarung kayaktene. wus anembah ing ramane. ya taksire kaya nyabrang pulo liyan. sandhangen denira. pandadara isun gedhe. – 21 – Tya tangtu sun aku anak dening sun. petilasan kuna. wus ora kawruhan tibane. Anggalarang wus den rante. bahi nate lepas. ora karawuhan ruruhe. pan ginawa ngetan binuwang ing toya. iku bareng sapangedang nuli prapta. nanging Susuktunggal. – 18 – Anggalarang calengkep wus aneng ngayun. iya Demang Tandang. iki bocah tegane ya sira delap. . – 20 – La ukumen ing kali manengteng iku.Ya wus ilang tuture kagawa abur.

aja bisa kambang mangka. ingkang salulumpang. sakebo tuwin sagudel. Anggalarang wis katemu ing ngayunan. nyatane ki Demang. kang salumbung darapon angurugana. kaya ora pindho gawe. den nyana wus sirna. – 27 – . laksanane gawene ngemban timbalan. ing Pajajaran ya tegane. – 25 – Ya sabedhug salingsir ora na timbul. dhateng gusti Pajajaran tur uninga. – 24 – Aja bisa timbul kang den ekum mau. adan den tinggal wangsule. – 26 – Wus laksana pakaryane la ta iku.– 22 – Aneng banyu den bandhuli kalawan watu. masih anang marga. sakebo ya rapona. Anggalarang wus silep kalem ing toya. – 23 – Sarta sira den susuli maning watu.

ya pugas delap si monyet. den urugi tai besi pandhe dhomas. – 29 – Nadya isun aku anak bocah iku. Susuktunggal nabda. pisan iki sira sida pendhem jarat. ki Ngabehi Cukimire. – 28 – Iku bocah pendhemen kang jro asiluk. patang puluh dhepa jrone. ngabehi gupuh tandange. jalayat si setan. ing panyananira. kang dumadak bisa balik ing Pakuwan. den pendhem watara. ya ta kang dinukang. . ki ngabehi wangsule asuka rena. pan tinarik Anggalarang den galadhag. – 32 – Pareng lawan laksanane gawe isun. – 31 – Ya den tetel pinaseg gen ira ngurug. lumpur ludhes dilolocok. kang yatna angurugane.Wus anembah ana ngayunan sang prabu. aneng tegal uwar. Angabehi Sujimara kari sira. – 30 – Pan ginawa maring tegal uwar iku.

sang Anggalarang. den panahi datan kena. tombak keris lemes kadaya. – 02 – . gulalitan miyatani. – 35 – Tai olih si anjingsi kenang kutuk. anggawoke wong saraje. ing Pakuwan den sakiti. ika ingkang dadya. PUPUH XXXIV SINOM – 01 – Warnanen.– 33 – Ora matur ing pagustene sang prabu aneng Pajajaran. datan bisa ambeledhug. Anggalarang wus talangep aneng ngarsa. sampun warna-warna. panyobaning ratu gedhe. – 34 – Kaligane wus nembah arsa sang prabu. ya pinenthung tinabok kejeng kang tangan. mung ta iki bocah calonos binatang. ajarujus medal warih. den bandhemi den bedhili. wis kalesan panyobaning prabu nata. dupi dugi ing ngarsane.

tan kajungjung ing asakti. Talibarat tedhu sami. binalangaken tumuli. datan sang Susuktunggal. iya nyata tegese ku anak iwang. kuwat anjunjung mami. ora bisa amikara.padha mepes ingkang sakti. hem ngandika sira iki. asakabehe datan guna Gelapnyawang. den cinandhak Anggalarang dipun angkat. ngaken maring raga mami. unine ha ha ho ho. tan bisa ulur-ulura. Prawatali datan bangkit. apes dening sang apekik. rarasan lan bisa metu. ya tan bedhol saking lungguh. awak ira anteb temen tuduhena. teges lamon anak mami. – 06 – Yen saestu sira nyata.Jinejeg sikile akas. ora bisa ambabari. yen sira bisa balang. ing sakarep ira iku. ora kaya awratira. asun kalangean agelis. jejegeng tan kangkat tangi. cinakot kaku kang uwang. karengkengrengkeng tan kapti. kami sosote kang rana. – 03 – Mimpes pisan datan bisa. kena waliting Galarang. Gelapsangyang Gelapnyenggreng. ilang pangaruhing nata. – 05 – Ing karsanipun sang nata. – 07 – . Pajajaran padha sami. dhumateng wau sang pekik. – 04 – Anyirnakaken guriyang. yen saestu anak ingwang. ika pancalima sami. samana samangkenipun. ya ta Prabu Susuktunggal. mangap lir cinengkal wesi. sa cep ana Anggalarang ing Pakuwan.

angreha Pakuaji. lingsem maring kang rayi. Susuktunggal wirang isin. – 10 – Miyos saking boborotan. maring kahiyangan mami. ing ngarsa Ciyung sang aji. – 11 – Dan Patih Dhuyunglanangan. ya wis payu padha pulang. waneh ingkang atur uninga. dening Anggalarang gusti. lan Tumenggung Ulungdhayi. kelangan majikan neki. enggal prapta Prabu Sepuh aneng kana. – 08 – Teganira Anggalarang. Prameswari duk andulu. sengkel ing manah tan sipi. Sindhangkasih kang sinedya. karaton sira duweni. wong sadaya ting balulung. aja adadawa lara. nyata iku binuntal ing Anggalaran. . pan gegetun wong kathah padha tumingal. Anggalarang sigra junjung.Denisun wis sira buwang. kagume kang laki tiba. ing Sindhangkasiningid. mengetan puruge ngili. gegere wong dalem puri. wau dhateng Susuktunggal. maring wareng prabu aji. – 09 – Ya ta iki prameswari. kaangkat sayengan mangkin. angangkat dhateng sang Aji. nyata kabuntal ing weri. lilingseme ing marmaning. dening sira wis pracaya. ya ta Anggalang iku. komalanten sabdaneki. aturipun pon kula punika putra. anglipuraken ing kalbu. dadiya gegenti aji. den balangaken ning pura. ingandikan pinariksa. wus riringkes sang nata lan para garwa. samiyar tur kandha wara.

ingobong jasad puniki. dipun aburaken enggal. – 13 – Ing wesana kula delap. patutan Mutyalarang dewi. – 15 – Ing wasana kula teka. jinanjenan la yen nyata metu. dipun pendhem lebet bumi. gih makaten ugi. nunten kentas malih. bisa balangaken mami. tan den sapakula iki. inggih maksih tan ngakena. janjine dhateng kula. inggih pon jinanjen malih. – 14 – Ing wasana kula teka. ing si rama linggih aji. saking kaputren siluman. den janjeni la yen nyata anak nata. boten ngaken dhalem mami.– 12 – Ya sang Prabu Susuktunggal. ing ngayunan rama aji. . inggih boten ingaken kula. inggih lajeng kanjeng rama. ing wasana kula prapti. den janjeni nyata anak lanon gesang. ing wasana inggih kanyata. nunten kentas kawula. ngaken isun ya sanyata ya anak ingwang. den lalara tumangan. yen wis amuncul maning. inggih maksih tan ngakeni. – 16 – Anak ingwang bisa teka. Cimenengteng pan binandhul. layan sela samahesa. sanyata anank ingwang. kalintang denira menit. si rama kula pedheki. boten geseng dhateng api. kinen ngekum ing warih. wekasane ngajak cucu. ing lalayangan puniku. kulu nunten tinaleni. kelupun cidra maring. la yen nyata anak ingwang bisa teka.

sapamanggih kula iki. minanten leres kawula. – 18 – Mangsa bodhoa kang guriyang. ika dadi Susuktunggal artinira. samya sira kulawadya Pajajaran. wong atuwanira gusti. amalar dipun akeni. anglolos kalaning dalu. kerpek jantung iya iku bener sira. bapanira ingkang salah. wau dhateng kanya puri.– 17 – Inggih si wantu kahula. inggih kantos kula balang. iya iku pangidhepe ing wong apa. angriyung ing sireki. ing temahe saiki. Anggalarang mapan sami. susul iku bapanira. drapon sampun lingsem neki. gawe lingsem pribadi. Prabu Sepuh ngandika ris. . maring etan manawa kita rerempah. – 02 – Nulya mangkat prabu sepuh lampah neki kalih sira. pan den udhag sengit. PUPUH XXXV LADRANG – 01 – Pradenane semono payu saiki padha kita. popolos amiruda. – 03 – Ora kaya Prabu Susuktunggal nuli genya salah.

ambles ing dhasaring siti. – 08 – Panjinaga dewa mambang apa maning jin prayangan. Anggalarang wus den asri. banaspati inton jurig lan kemangmang. ora kena untunge ku bapanira. ing jajahan Sindhangkasih nukmanira. – 07 – Pan sinebur Prabu Anggalarang sangti ingauban. langkung gegetun ing kapti. – 05 – Malah katon ing tingale prabu wanara lang Anggalarang. Gelapnyengreng Gelapnyawang Gelaperang. – 06 – Ya ta Prabu Ciyungwanara abalik sarta ika. – 09 – . Talibarat Parwatali. kang memedi lan bragola. susuluring kang rama ingkang wus sirna.– 04 – Dadya sira Susuktunggal ika dadi kali marwa.

kang ing tawang. kyana Patih Bentanglompang. Ki Tumenggung Paracutan.Anggalarang pan riniyung ing saliring. – 11 – Genya nyakra sumulur madeg dewaji wus koncora. anut ing titihing aji. . – 12 – Waktu iki ingkang jumeneng papatih winastan. amuwuhi Anggalarang arjanira. – 10 – La kul manuk ingkang bisa tata jalmi samnya ngabdi. – 14 – Tumenggung ika ingkang den arani namanira. ing sang maha wruhing naya. – 13 – Pramilane lintang karti cong keng siji iya ika. layung abrit tapak angin lan gelapan. nyananing sakuling kalulawadya. ing karsana sang prabu ing Pajajaran. kadadiyane lintang karti iya ika. menak pra kuwu nyungkemi. teluh braja lintang ngalih. dadi patih langkung saking wicaksana.

– 16 – Sagedhangan apayuyune wong mati nanging ika. yen wis den uculaken maning. – 17 – Waktu iku demange kang winuwuri kaki demang. ingkang putra Sunan Jumanjang kang nama. Gurumuruh namanira. – 19 – Pan wus jengger sabawa Sundha negari aprakasa. prabu sampun mengku Prameswari. ya janggelek urip maning ingkang kalma. – 18 – Yen anggerem ngoregaken ing sabumi kaya obah. ngabehine Sindhanganjen namanira. nalangkep jalmi. kadya panggereming macan sami.– 15 – Mula nama paracutan iku dening angracuti jiwqaraga. ingkang nyawa pan dadi pejah. – 20 – . saktinira nyentak jalmi kalenger padha.

ingkang nami Wotsari aputra Yang Maduraksa. – 23 – Iya iku kang ajatu krama maring Sangyang Citra. asal Baturuyuk ingkang miyosaken putra. kang besuke puputra. – 24 – Iya iku kang alinggi aneng suci dupi ingkang. pan kasebut Raden Anggalarang mudha. Raden Sinom kang alinggih Salagedhang. mangka ingkang. guru mindha Mantrisari. – 21 – Pucuk gumun sepuhi ya ingkang nami. ratu Sekar ing tanpa omas. .Ni Ratu Gumiwanglayaran Sari. nama Anggalarang malih. pinangka iku ing kana. kaputran saking Jepura. – 25 – Raden Sinom iya iku amurtrani kang sinebut. mangka nuli Mantrisari apuputra. satunggale malih nama. miyosi siwi sanunggal Raden Kalipa. – 22 – Mangka nuli kang minangka rabine aji duk samana.

wustahunan windon mengku raja. ingkang dipun rengkuh. dupi saking Cilutung ngulon pan maksih. kaapti Ciyungwanara. kang dadya dewi mature. cacangkok pra kuwu. Sundha puri sarta selir walung dasa. tetes kali Cilutung maring. ing Pajajaran anengge. – 28 – Kang den sedhep ing ayunan sri bupati Anggalarang. dupi garwa marujune. dening Prabu Anggalarang. – 29 – Wawangine Ni Erangtungtang kang nami iya ika. ika nuli amutrani. Cipali ya ika. – 27 – Dupi iku kang kaaken maha dewi iya ika. Yang Widaya. istri saking pasirmilir iya ika. PUPUH XXXVI DHANDHANGGULA – 01 – Pan sinigeg Anggalarang mangkin. pawestri kasing timbangan. ingkang nama Dewi Mayengan jeneng ira. Sanghyang Tubu kang linggih Sokawiyana.– 26 – Ingkang nama sanghyang Widaya kang sakti. .

akeh panglimagung. Sunan Talagamanggung. Anggalarang songkawa. ing saiki seja ngadoni. atmaja ya Lengkaraganal. ingkang putra jati kakalih. mepeg gaman Pajajaran. basa jahata kerwanthen. Raden Jayalengkara ya tan giris. arep wangun lingsem ing aji. kyan Sukmaantalirasa.– 02 – Lami-lami danguning ngaurip. – 03 – Seja ngaru ingkang linggij aji. teka den rumpaki kabeh. kang darbe manah ngungak. saktining Anggalarang. pan bunihan akeh amijil. tanpa dadi kalilip luguting aji. la payu katogena. kang padha sirikokalan. bulus putih angabar. den katogaken sagung. sing akasor lampus. kudu bae ana kasandhungan. – 04 – Edir-kadiran panantang weri. ya iku ing sajenenge. kang kasebut nama nipun kang karuru. iya isun ingkang estu. sing ameneng dadi raja. ing sagunging sesa Anggalarang. surupe ing kasakten. – 06 – . yen den prasila mangpang. amponi buwana Sundha negari. kang kang atma Jayanglangkara sakti. – 05 – Ya ki Patih Bentanglopang agasik. estu megat kukuncung. img bumi anyaangkal obah. ing awang-awang trus. dadya ngembat sarotama.

kinepus dinamu. Atmajaya balik maning. analangkup nyawaning wang dadi mati. ika ki Tumenggung. den adhepaken muka. – 10 – Pan ya iku marganing angabdi. cunguring Paracutan. padha balik ing parnahe. urip kaya wau. aglis sira andamu maring. popoyan maring rewang. sja nyuwuk atmaja Yang Tengkara. iya kaya lampus. maring Lintang tiba padha silak. Atmajaya agupuh. Paracutan kocap bisa. ing pangabdinipun. Tumenggunge kangracut. – 07 – Ki Tumenggung atandang madhidhig. Menak Panumping kabeh kaparentah. kari saubing payungika. ora kaya atma ingkang. nedha den gesangena. dhateng sampeyan sakabeh. den jaragang cinawuk. Ki Tumenggung apejah. tinarempang den jarage. lan nama tiba ipun.Sanjatane sapujagat nempeki. – 08 – Pan ageger wadya Pajajaran sami. la ika pinritandang. maring Jayanglengkara aji. ragane dadi gesang. Ki Tumenggung pejah kapisanan. pan sumedya angabdi kahula. ragane wus galudhag. maring sang Atmajaya. wadya bala Sundha negari. Jayalengkara nyawa katarik. – 11 – . dening Atmajaya kabeh. Tumenggung wus lampus. kagem ngasta anyokot ilur ula mandi. nuli kulawarganira. Patih Bentang gegetun kapti. – 09 – Sasambate lamon mangke urip. kempis-kempis kulimes sang Tumenggung ababalik sira ngabdi. Ki Tumenggung kabeh padha anangis. den gigit dening musuhe.

welas maring Anggalarang. atilar Anggalarang. mula padha kamawula. seja malesaken iku. Susuhanan Talaga mengku nagari. ing sesane Anggalang. Atmajaya wus kaloka. sejanira ngrebut. ing emban-embanipun.ora nyana kang kawula lit. pirang-pirang ewu. sing amaneni jemur. – 15 – Wong Talaga kathah padha nangis. sirna purna geni garantang alalis. saolih-oliha merangi. ning Atmajaya dadya. wau dhateng sang Prabu Jaya. lumepas anuju arah anglebur Ta. kadya ra ngobar jagat. ing Talaga kang den jeneki. – 12 – Suuding bala kagiri-giri. singa ingkang tan anut ing titi. pramila [atihipun. wadya sajroning pura. maring Atmajaya padha gumusti. dening Atmajaya kabeh. kang warna kadi gegelang. panyanane sakabeh kabakar. wus angadeg sang ratu. gelap talaga ika mijil. tabuh maring Anggalarang. maring sang Atmajaya. Bentanglompang saja amakaya. . Atmajaya adan ika ngangkat. ingkang kathah wus padha kapurba. – 14 – Dupi wadya bala dhateng jawi. anyakra bawana Sundha. sanjata garantangan. Bentanglopang karsa nglepasi.aga. – 13 – Lawas-lawas ika sang apati. amapag maring garantang. tinumpes den tempur. Tumenggung Paracutan. kadi gunung gelap marab-marab geni. dening gelap maludage. datan antara dangu. maring sarirane dhewek. sigra ngalurug kang bala mungkari sathithik.

he Atmajaya iya. den lepas si sanjata angin. pulih angsal pinangka. sanjata aliwawar. Anggalarng angandhingini. kadak siking Cikeru. menthang sanjata topan sira aglis. nyana den kelem ing banyu. alung babrena lalis. dadi maning lintang kerti iya iku. kang nyawargakaken ing sira satuhu. Bentanglompang geblas kawur. – 04 – Animbulaken ing toya. – 05 – Kadi ta lir gunung toya. – 02 – Kantun Prabu Anggalarang. surake bala Talaga. . gumaludhug tanpa krana wetunipun. kaligane ambuwal. – 03 – Aja dawa-dawa wirang.PUPUH XXXVII PANGKUR – 01 – Atandang Jayanglekara. duk lagi nabda samana. atmajaya anabda iya becik. dhuwur pamumbaling warih. tampanan iya iku. dan tandang Jayanglengkara. tumon gustine asakti. wong Talaga akeh padha anangis. sida iki den keleme dening banyu. iki isun wis pepes ya aja tanggung. medal sira kapisemu. anggigilani kang toya. mubal malah tanpa tanpa sangkan mijil. ing wau wurung den obar. jelag subita babanting arti. sira kukuru alawas.

– 10 – Susuhunan ing Talaga. Talibarat datan weruh. pramila nelang bagja. muni ngowe-ngowe lir kebo limayu. ingkang nami jeng dewi. malah kalampah Jaya ika saking. warnanen kang Jaya ngancik. tan bisa aningalana. wau dhateng Anggalarang sab gaib. anarajang banyu asat pan tumuli. krana mengkele kang napas. dadya ika pancalima pandha cenguk. – 09 – Apa maning lagi wawrat. kapepes kaduga lalis. – 12 – . sumhati ararangkangan. luntanira narajang. Anggalarang katarajang nulya kawur. pramila sang Anggalarang. – 11 – Dadya tan bisa tulunga. – 08 – Amung Prameswari nira. kaingsep ing sira lisus. Ratugumilang lumayu.– 06 – Aliwawar wus lumarap. mring Prabu Ciyungwanara. merad maring ngalam lintang. turunan jeng Prabu Galuh. sangang wulan menga-menggeh lumari. mulane muni lir mundhing. bala wita ingkang iki. sigegen kang pala dara. langkung payah ical ing samangeripun. niba tangi seja njujug. Gelapnyawang sadhapure datan weruh. Parwatali tan mulat. awiyang alalu lalis.

Caierang lungguh ratu. putraning Rawagadha. Rawagadha putraning Bentangmerngu. nuli ika ngadheni nami.wis mangkana adating donya. putra satriya pipitu. – 17 – . ya ki Teja Sokasari. olih nyelang marwasa. Jayanglengkara wis amiyosi sunu. Ki Teja ing Ujung Lutung. – 13 – Ta ika baja daulat. jeng Dewi Simbarkancana. sote yen jaba ning untung. Bentangmerngu punika. yen ingkang wis tumeka. lan Ki Teja Cintamanik. ing untunge endi ana sakti punjul. Jayanglengkara suhunan ing cai. kaputraning Bathara Pancarangin. kang sakt kang ora sakti. – 14 – Ing wong agung kahiyangan. – 16 – Nuli Teja Ingaguna. lan Ki Teja Sangapriya. tumuli kang anaming satriya Ki Teja ing Payunhagung. Simbarkancana nulya miyosi siwi. – 15 – Lamining ajatu krama. Teja Pramana iki pambarepipun. Kenbalura jenengipun. iya iku kang nama. la yen mungguh gagaman ingkang mandi. wis kandel ing rampak kuna. panggulune ika nama. ingkang mangke olih laki. pan rakaning Centangbarang ingkang nami.

Dupi ika kang anama. Teja Sokasasri kang gadhang ing benjing. – 21 – Ngadhaton sagenah-genah. pan mulane katela paparabipun. ana dhomas garwane amarinci. dadi anyar maning anyar datu. remen alincak lincak. – 19 – Garwaning Jayanglengkara. yen kala ngider buwana. besuk rabi Ratu Pamratsari. sagenah-genah garwa. dhela-dhela sejen genah. alihan lincak-lincak. apuputri istri ayu. dhela-dhela ngelih puri. ing sandhenge angratu tan langgeng linggih. den parenca enggonipun. suhunan sugih garwa. kanggo pranti kandheg kampir ing lalaku. duk pangidhepe sang aji. denganemu garwa. tan bosenaken ing manah. kampir angrantuning enu. aneng pungkuripun timbul. sawula-wulan awangun. dumadi amukti sira. . wus koncara tepis wiring. kawarta wus sugih rabi. masih nyatur andhing luluhuripun. anjembaraken ngalenthung. ya ta Susunan Talaga. sugih garwa sagenah-genah mranti. ingkang nama punika. – 18 – Mundingdalem namaira. – 22 – Sang Orabu Jayanglengkara. Silinwangi kang anami. – 20 – Karana Jayanglengkara. duk mangko durung ana. iyang-iyung pijer amurwa puri. Ratu Pamratsari iku gadhange ing besuk. gadhang jodhone sang putra. kamuktene ora bosen ing alungguh.

– 04 – Suka rena nalanira. awedi diboyonga. udheg-udheg bapa kyai. kang karoban ing wibawa mukti. kadi wong anglalu lamis. dening Atmajaya sakti. Jajaka Mundhingkawati. sang prabu sepuh sukati. yen Anggalarang lalis. iya sun arani sira. ratu Gumiwang lumari. ngowe-ngowe elap isun. menggap-menggap ingkang napas. legane bragojol jalmi. pon ika sampun angarti. angadenaken babayi. karana biyangmu nuni.PUPUH XXXVIII SINOM – 01 – Sigegen suhunan Talaga. –03– Nuli bae bebeleyan. ngowe-ngowe kadi mundhing. ngowe-ngowe lir mundhing. ing ngayunan sang aji. – 05 – . embok metu maesa. medal jabang bayi jalu. praptane ing ngayunan. ya sun puja dadiya sulur nalendra. abagus wuwarnanira. udheg-udheg tiningalan lanang pelag. – 02 – Bari rumangkang lumampah. Ciyungwanara jinujug. ambekane mengkel ngeden arenggosan. rabine ingkang lumayu. kawarnaa kang miruda. ya ta pareng ing kana Ratna Gumiwang. anyungkemi ing padaning. Prabu Sepuh Ciyungwanara.

linulutan ing pawestri. ing rat prayangan mangkin. konsi duga pitung bengi. openana den abecik. sun srahaken maring sukmane si jabang. wus ilang kang wirang isin. yen nyata titise jati.Susulure rama nira. kelingan bae ing swara. – 10 – . – 07 – Ratna Gimiwang aturan. aja-aja kang tumingal. ing wang tuwa maring laki. tut buri ing Mundhing gupuh. ing benjang salamet urip. mangsa wurunga abangkit. dinelap lastari urip. kasmaran ing Mundhing iku. ing rat prakuwu mangsa. – 09 – Ingut-inguting swaranira. telungane ing kita. pan si jabang wus den asta. randha muwah duwe laki. edan bae kawenangan ing wong liyan. sandika ing mangkin aji. dugi mraja kawarni. sabab uwis kajabel Jayanglengkara. ingkang prawan kang wulanjar. maring Wundhingkawati padha kasmaran. padha pasrah jiwa raga. padha kabadri-badri. akeh wadon kang kedanan. nyi mantu udheg si jabang. ya angrungu abane padha kasmaran. akeh istri padha lali. angruru pusakanipun. katempelan asmara lulut. manawa dadi susulur. – 08 – Estuning raga asihan. Anggalarang kang wus lalis. salagine ingkang sami. bisa amangko pinuli. padha buri ingithil. – 06 – Amung manawa si jabang. bisa angrebut pusaka.

mung kinambadan ni Pasung. lara pati sun labuhi. wong anom amurang titi. padha rinujak ing lawan. sakeh wadon kempong perot sok wadone. – 14 – Sakeh wadon duwe ningwang. anggepe Mundhingkawati. jar murang niti rungruman. ngambat ing praja pra kuwu. ing wadon sagulingan. linadenan akirda pan sadaya. maring sang Mundhingkawati.Malah ika lampahira. ingkang padha marinci. angumbar akarsa nira. ginaregeg den iring-iring. Raden Mundhingkawati. singasinga anekani. Mundhinggkawati nadhahi. kang lagi tinandhu-tandhu. padha sami sakarani. kang padha rinungruman. – 12 – Akirada pan sacombana. prandene linorod binegal marga. Raden Mundhingkawati. akeh garwane Jayanglengkara jinamah. kalesan ingkang murugul. adate Mundhingkawati. tan lawan den undang maning. saprakara wadon kang teka priyangga. garwane Majayalengking. malah ika lami-lami. malah yen kapandhak margi. padedesan kang tumuwu yen den lewa. angambat maring garwa. – 11 – Padha sungsung rebut ing sang. padha kondur kokalan. – 15 – . – 13 – Yen konangan ingkang jaga. Malangsumirang mambrih. padha sosoroh gulingan. teguhan talikrami. lan garwane Jayalengking. remening Mundhingkawati.

panebusing murang sarak. Atmajaya musuhipun. padu wanodya ya iku. kamanyangan yen mendhaka. tinadhahan kang braja. Mundhingkawati kalangkung. yen wis sampurna abendra. sakabeh den dalajahi. pan rinungruman sadaya. tan ana braja nitisi. braja gemet ing pawestri. ora nana kang pinilih. – 18 – Lara pati dipun dhadha.Ginawa ing pasenetan. isun ora anggingsiri. sing awadon den cicipi. PUPUH XXXIX KINANTHI – 01 – . anumbak pan sami nyuduk. pan samya kang ngiring bedhil. luwih liwat anglalanangi ing jagat. nyumur gumuling lang angrong pusanakan. – 16 – Nanging sun mangsa kandega. ambegal ingkang pawestri. datan kaliwat siji. iya pasthi sun sundhepi. – 17 – Ya ta garwa Atmajaya. adate Mundhingkawati. tan idhep garwa aji. prameswari den sanggani. kang ning padesan marinci. dening kaliwat gemetan. pon ya iku kang angembat tupaningwang. rabine si Jayalengking. aburan carampusan. sapa bae kang kapapag. ingeculaken ing margi. esok bae angkohe Mundhing Bathara.

Brajamatya adhag-dhag dhigdhig. angalahaken nagara. seja nyekel sang Bathara. ya ta dadi den lurugi dening bala ing Talaga. ya ta kamisosot kangpri. ora nan kang ngundhili. Ki Tumenggung Paracutan. karajahan Atmajaya. koncara angrurung sebi. . – 03 – Juwala apa si bendhul. – 05 – Tan olih gawe alusut. mabura kang tanpa sentik. kaligane tan kacandhak. – 06 – Sang Anom pan dipun cawuk. dening Arya Paracutan. – 02 – Kang seja galethuk datu. Mundhingkawati tan keni. ambekane dipun tarik. lamon geger garwa aji. den buru-buru tunungtik. yen pinanjingan ing dhustha. pating bilulungan tan polih. seja den kacebur cai. ya ta wis amaribui.Ya wus dadi ara-uru. kacandhak Mundhingkawati. Mundhingkawati wong siji. mundelik kaya apejah. – 04 – Ting salengseng ngalor ngidul. dadak-dadak den ebyuki. raja gagaman talaga. ginawe ing raga ina. seja cinekel winingkis. kang cinekel boya kena. ora duwe napas mijil.

Paracutan tulus pejah. supados mangke gesanga. sacecepenganing Paracutan. dening Paracutan sakti. ginawe abang putih. rama dalem Anggalarang. nuhunaken pangapura. tan wande angabdi. Mundhungkawati lir mati. namber Paracutan katimbis. kawenangan ika dening. – 08 – Gelapnyawang wus jumegur. nuhunaken gesang malih. dhumateng Mundhingkawati. kulawargane anangis. Talaga dipune ngabdi. ucul wis rumanjing maning. – 10 – Ngasih-asih aturipun. sujud ing sampeyan gusti. wus ngedhag tanpa ambegan. – 09 – mangsup dhateng jasadipun. kahula datan langgana.– 07 – Sabab nyawa den talangkup. nyawa Mundhing kawarnaa. – 12 – . kaku jengkeng ora obah. janggelak tangi urip. – 11 – Tilar Atmajayanipun. Tumenggung pejah den Gelap. katura ing Mundhingkawati. babarpisan angemasi.

si monyet si tai anjing. calak-calik ing agusti. Paracutan endha modar. Jayalengka wong mementhil. – 16 – Sira wus age mampus. – 14 – Sanadyana maring isun. ya pon mangkono maning. – 15 – Tan pantes dadi Tumenggung.Dhateng Pakuwan pra kuwu. – 17 – Nagara seja sun japut. Paracutan wong luwih ala. kena den pambri papati. kanggepa ing ratu anyar. sun rebut sing Atmajaya. pantes dadi wedhi bumi. den bekteni ingkang kaya. Mundhingkawati ngandika. patut kanggo gawa salang. enggo apa den uripi. – 13 – Kadedo ra dadi ratu. wong ora lana ngawula. endi ingkang gadhang menang. pangidhepe nengah minggir. ora rep yen isun iki. yen katekan musuh sesa. saturune mapan ora. sun prawasa lan dumadak. . ya iku den aku gusti. arep sun cekel pribadi. cakelane den go bakti. ila ing badhami becik. babaktine Paracutan. aweh ora weh ing mangkin. pikulan buburu dhuwit. aja supe kene nangis. ing ngarsa sampeyan gusti.

– 19 – Ya ta Baronjot Tumenggung. – 23 – . malabar adadya wangwa.– 18 – Ya sun anggep bala ratu. kawirangan padha nisi. ya wis larut tan katingal. ika Atmajaya lengking. adan sang Mundhingkawati. amapag sireng payudan. kawarnaa Jayalengka. narajang baris dahana. Nyawange Mundhingkawati. – 20 – Jayalengkara agupuh. wus wruh yen Tumenggung mati. sun tumpur kahananeki. kentir kagawa ing warih. den samber dening Gelap. yen wangkal iya sun kebat. – 22 – Medal tanpa sangkan banyu. mumbule lir gunung warih nrajang ing Antalirasa. sun uprak ing bumi ngriki. Sukmaantalirasa sakti. kentir kagawa ing warih. anak putune sun buwang. – 21 – Sukmaantalirasa sampun. Rahaden Mundhingkawati. mepes dadi awu nuli. ambabar ing baris geni. kalih sadherek kang nama. adir-adir sakti luwih.

Sangyanf Aliwawar ngena. gramanggramang iku dadya. nampek ing Mundhingkawati. – 27 – Panumbule kadi gunung. kapisanan kalembak. Mundhingkawati amuja. Sangyang Talaga ika. silem ing talaga yoni. sumilem amblese maring. wus merad alalu lalis. lisus angeder lir ngreba. akening Sangyang Ukir. narajang ming Jayalengking. nuruni racun garigis. banyu cikeruh ngulati. bulus putih dipun japa. – 26 – Parandene kang tinuju. dan Prabu Jayanglengkara. angembat sanjata angin.Ambles maring dhasaringpun. bulus putih angambara. tan pakara kang garigis. – 24 – Mundhingkawati rahayu. PUPUH XL ASMARANDANA – 01 – . kajulina tibeng siti. medalaken wira sakti. wangkeng kadi pacek wesi. – 25 – Tandange Jayalengkara. gumingsir salagi beli. kawur maning yen iyaa. sangyang Talaga alalis.

– 06 – Ngabehine kang anami. jaksane lan papatihe. angrapu-rapu bagja. ing Mundhingkawati ngulun. Mundhingkawati samana. idhepe ing Pajajaran. Kawungluwuk ingkang nama. sakalir ring pamatrolan. pamagutaning wicara. ingkang ngreh pradata sakabeh. – 05 – Demang Sedhapura. sumulur ing ramanipun. anulak cilaka isun. ingkang kasebat nama.Duk iku Mundhingkawati. katelah nalendra anyar. – 02 – Apa kaya wingi uning. sadaya sami nembah. dening luluhure ingkang. putus ing kademangan. ngagem pajagan sakabeh. kang nguningani pagawe. wau ingkang manjing metu. menak pra kuwu Pakuwan. – 03 – sang Prabu Mundhingkawati. ngabehi kang uninga. – 04 – Tumenggung kang anami. kang buawana Pajajara. . wus den angkat pangratune. ing buwana Pajajaran. nami Ciyungwanara. Ki Tumenggung Padhamenak. wong pinter anginger bala. pusaka saking ramane. wong cilik sabarang karya. kawal ratu Pajajaran. tulus jayane angrebat. pinangka pajakanipun sang ratu ing Pajajaran. Ki Patih Gurugul iku. anata ing Pajajaran.

garwa domas ing kathahe. lan Susunan Raja Malaka. Prameswarine kang nama. masih nyatur kang luluhur. Sunan Tegal kahiyangan. – 11 – Suhunan Jati apa maning. Dewi Trusgandarasa. lan Susunan Ciburu ika. anak putu Pajajaran. lan Susunan Pandhajawa. kang asal kaputrenipun. kang wus lenggah binagawan.– 07 – Awindon ataker warsi. Susunan ing Tatanpolawung. lan Sunan Ranggalimbangan. iku Susunan Sambate. lan Susunan Kidul ika. lan Sunan Tegalkayangan. kang ana ing Pajajaran. kang amba gawan linggihe. Mundhingkawati angraja. lan Susunan Ranggalawe. – 09 – Duga ing sawuri-wuri. iya kasebut Susunan. tatapi duk samana. – 10 – Lan Susunan Wanaperi. lan kaya ika benjang. pon ya tedhak Pajajaran. lan Sunan Jumajeng. lan Sunan Telagamunggung. kabeh tedhak Pajajaran. kalawan Susunan Parung. saking luluhur ibune. – 08 – Duk samono Gulbopati. – 12 – . sakabeh durung ana.

babat kang den pangan mantah. gaganting anarambah. surake ambal-ambalan. pirang-pirang kang tampayang. wus loba pana dhacinan. den gecok den rerempah. kang dipun ayem atine. duk rasmi lan manjangan. lir ta kang mangan anyaran. sok rena sagedhene. sukane manah agawe. den sasate den pepenthul. genya kasengsem aburu. – 15 – Kang den bacem den petheni. kang katelahe ing nama. kang dhinendheng dipun gulung. paburu asadhiya. kulawarga santana. kang pareng olih bayangan. idang pirang-pirang atis. ing alas arame-rame. bakasem daging sakabeh. ora nan kakurangan. – 17 – Ya ta dadi anarengi. wus warna-warna asuka. kumanjangan daden-daden.Sang Prabu Mundhingkawti. dupi lawasing lawas. – 14 – Kang den bakar dentengi. ana den brangas kewala. – 16 – Masih abang jare manis. . – 13 – Pating careluk sukati. karemene ambedhag sangsam. manjangan asantana. yen buru kidang manjangan. wadya bala katutugan. turunaning Linggaiyang. olah-olahaning mangan. sakti-sinatenan iku. singga alas den oyak. iku wus aduwe turun. pirangpirang manjangan.

ya iku kang estu turun. maring Mundhing Bathara. seja angayoni gawe. kang bangsa kidang sambawa. manjangan pon sambawane. iku ramaning manjangan. sakarang ngamuk ing alas. samya kapalayu kabeh. – 22 – Paburu akeh kang mati. Linggaiyang kang sasmata. sumeja sira tutulung. sampun wangun gelar pamuk. sang kidang pananjung ing Sundha. mangka nata uga ika. – 20 – Dangune den osak-asik. gelar panyelang susila. dadi ika ratunira. – 23 – . kalih sang kidang panawungan. gumaringsing ing ulese. ing kidang lan manjangan. dening tantetesing punglu. lan kidang panawungan. sang kidang panawungan. iya iku ramanipun. lan manjangan wulung upas. gegere wong Pajajaran. ing galunggung kahanane. tanopen kidang ancaran.– 18 – Manjangan gumulung sakti. – 19 – Manjangan gumulung yakti. – 21 – Manjangan gumulung sami. gagaman maning yen mempana. tan sakeca ing nala. maring kula balanira. dening ika ing ngamukan.

ora kruwan Ki Demang tibane. den tuju tumuli. Kuwungluwuk den undha wanti. lawan gada wesi. kidang den cekel soso. dening teka kabeneran. – 02 – Demang Padhamatang ngandhepi. – 03 – Gada tikel Ki Demang den undhi. anglingkab koncaning ratu. . wus kadi lempung kewala.Sedhengane ika bedhil. Ki Tumenggung Padhamenak sri angandhepi maring. kidang jurig alas moreg. muluk kadya pelor. kidang sangsam wau. iya kuwel gulung rame lagane. – 24 – Patutu iku dhedhemit. pelore kaduga gepeng. ngamuk amarawasa. iku ta manjangan apa. prandene tan pupul. PUPUH XLI MIJIL – 01 – Ki Ngabehi Kuwungluwuk ngandhepi. lawan keris atugel kerise. manjangan den coco. ing awaking manjangan. gawoke nembe anemu. ingkang kidang dipun timbisi. mariyem datan tumama. inton-inton panawungan. kapental lir punglu. galunggung betan siluman.

– 05 – Ora kaya manjangan kang sakti. sadyanira sinembeleh age. adan sang apatih. kapental ing ngasruh. sinerat dhumongkol. ing gagamanipun. duga pasukadi. nujahipun solot. aprang popon-popon. tan kahur parek den wingkis-wingkis. – 08 – Tangi ngudhag dipun tujah maning. ambaluki Pati. kidang ika uwis. – 06 – Enggal tandang manjangan den kempit. dipun udha den walik-walik. ya datan miyatani. pan binalangaken kidanga. – 07 – Gulunipun manjangan tan kanin. ora kruwan tibane malih. ing Ki Patih ya karasa seget.– 04 – Sigra tortoran pijig-pinijig. tatali aliyur. kabyesat adhawu. ora kaya seking tan sipi. Ki Tumenggung ing kabelasate. Yang Gurugulkiwul. kapyesan tan adoh. dadya sira ucul sing astaneki. tangi ngudhag den papagane. – 09 – . sigra kang manjangan nyokni.

mulane dipun wastani. wus tan ana miyos. – 12 – Ya sejane go umpetan aningid. ya pangonan alimun. gunung Trogong kang den purugi. duk samana iku sang dewi prameswari aji. garwa kula bala ngili. mung kang kari saelir-elire. – 11 – Saking kutha Pajajaran mijil. ngalor ngetan metu. ya dening sang prabu. ing gon ya ing kono. . iku gunung Antragangsa rane. gunung Kuwendenlok. Tarogong kang nami. Mundhingkawati sabandhu wargane. pandhe siluman ya iku genahe. pala dara nisih. samya bubar saupacarane.Murud tinandhu sang kyai patih. – 10 – Dupi kidang manjangan anuntik. maning jeng sang katong. geger pating careluk. – 13 – Paparabe kang kuna angapti. – 14 – Sagrawane saselire ngiring. kumaritig mrono. ingkang kaparag sami. wong Pakuwan padha geris kabeh. gamarudug gatos. kang seja den ungsi. trus kandha duk iku. munggu kadikuling. Tegaluwar ayu. iya iku namaning kang ngukir.

bumi Tegalsili. ting barisiting wong. – 16 – Ya ing kono pareng kaget kanyedig. Antragangsa nenggih. bubarira kadi kapusus ing musuh. – 17 – Tan emut garwa Kaluwargi. dupi Prabu Mundhingkawati. rebut urip sewang-sewangane. dening kidang langgon. lan manjangan racun. he gunung Tarogong. duk lalaku pan ambeneri. dening kidang sakti. ing tegalsili. – 20 – . wus anyandhing ingiring aning ukir. – 18 – Tan karasa jabang bayi mijil. ingkang gandane arum. den jaluki tulung. meteng tuwa suwe lakune. bawaning ambesot. ngenthe-enthe loyon. pan kaburu karo laki lempate. ya kang meteng brojol mijil. tulungana isun sakabehe. – 19 – Prabu Mundhingkawati ambelik. lagi kawalesan den baledig. kang gandane arum. lan manjangan gumalunggung pri kaget.– 15 – Dhuweg bobot wawahu sangang sasi.

– 25 – Ya ta Dewi Trusgandarasa adi. apa kaya mau. – 24 – Pan sarupa merad Mundhingkawati. – 23 – Maring jagat ingkang ing sajroning ukir. dan Mundhingkawati. wong Pakuwan samya abubar kabeh. belamiyan katingal ing jrone. sabronjote mangsup. tan kawagang nempuh.Ya ing wau kidang sun baledig. wus mangsup sakabeh. dupi iki isun kang kaseseg. mrene iki jawane angili. . ing gunung Tarogong. ya dadi ingkang enakane. Yang Gunung Tarogong. tulungana isun. yen wewedhe tan karsa amilih. ing manjangan dadi amuki. age den agelis. katujah kacokot. wusing manjing ing sakulawargi. ora metu-metu salawase. tembe emut ing wewetangane. bawaning alali. – 21 – Balanisun akeh padha mati. duk wau lumayu. – 22 – Sinambadan pareng samana ukir. kaya jagat ing weteng ingukir. kaget dhateng kempong. ya ta kidang manjangan dadi. pirang-oirang buron. mantrinisun sami. gunung Tangkep maning.

– 03 – Karojotan si jabang lagi ing riku. anak kita kang marojol kari. warnane sang jabang bayi. akyu aran kahiborit. sampun punthes kaya puput.– 26 – Prameswari alara anangis. – 02 – Wus karesi si jabang kaya ingedus. ana ngendi baya ing tibane. dening embok macan wadon. pepeleme den dilati. kang neng Tegal Silih harum. nuli ana wong aruru. PUPUH XLII MEGATRUH – 01 – Pan sigegen kang sarupa lalisipun. ing tilas kita mau. ningali jabang ing kono. kaya kucing amberseni. maring anake mangkono. den cokot kang ari-ari. ing garwa ja dados. baya anaking wong. dukaciptanira prakarane. . – 27 – Prabu Mundhingkawati lingnya ris. kang marojol kantun. si jabang bayi mami. sapa bisa manggihena gusti. macan kesah ngunguliti. tangtu anyuluri.

– 04 –

Pan binakta si jabang den agupuh, pramila dipun wastani, Siliwangi namanipun, krana asale kapanggih, ing alas rum kuno.

– 05 –

Tegalsili tampanganing alas gunung, jabang sili rum dan urip, urip ing wong ngambil kayu, kocap anak kahi Borit, salirum warna jalitro.

– 06 –

Wantu-wantu dadi anak tukang kayu, badan ora bresih-bresih, kalalare ladheg buruk, ora na prajapajaning, taliti putra sang katong.

– 07 –

Ya wus apa dudune bocah ngon gunung, carobong ngenek-ngeneki, ora ilok adus-adus, ing maletenge agething, rambut kethel ingakotor.

– 08 –

Tan kawarna lampahe budhak salirum, kawarnaa kidang lemping, sasirnane ya sang prabu, dadi ika ngosak-asik, anang Pajajaran nyewot.

– 09 –

Maring menak pra kuwu padha alarut, amalayu den baledig, geris tan ana atunggu, ing praja den tinggal bresih, golendhang kariya kosong.

– 10 –

Kaisenan kidang manjangan akumpul, garadang-gridik awan bengi, angkohe anjabel dhatu, dheweke ingkang ratoni, ing kono mulane manggon.

– 11 –

Gawoking wong menak pra kuwu, genya kasanglat saking, wedi mareg bok den amuk, padha geris samya nisih, ing parna ing adoh-adoh.

– 12 –

Kidang Panawungan lan Manjangan Gumalunggung, lunta puas-puas ati, ngamuk ngulon ika mampuh, Pakuwan Prayangan goning, Ciyungwanara dipun brobok.

– 13 –

Geger gemetus menak Prayangan alarut, padha ngili nyingid tebih, maring guwa maring gunung, tan ana bisa ngundhili, pan sami abubar adoh.

– 14 –

Prabu Ciyungwanara ngili lumayu, ing Simpar patapaning, Ajar Ujung Banaliwung, asingidan denimponi, dening Ki Ajar ing kono.

– 15 –

Wus angarti anak putu padha larut, sowang-sowangan lumari, rebut urip laku rusuh, ibur uwis ora mikir, maring laku raton-raton.

– 16 –

Ya wis pating barisat tan mikir lungguh, nagara wus …………. gandring, kalingdih ing kidang bungur, …………. kaisen dening, kidang menjangan ton-inton.

– 17 –

Ika padha angkohe anglindih ratu, malesa poli den buroni, Mundhingkawati duk mau, amburu manjangan dari, saiki gagantos buron.

– 18 –

Ya sang Kidang Panawungan sabala ngratu, ing Pakuwan kulon nenggih, Prayangan kang dipun gelung, malah wus putra anami, Kidang Pananjung gadhang wong.

– 19 –

Dupi sangsam gumlunggung sabalanipun, angrat sakukubaning, Pajajaran kuwu, Pakuwan brang wetan nenggih, kang den wingkis kang den enggo.

– 20 –

Pajajaran kilen wetan wus den aku, ing Kidang Sampati, kulon sang Kidang Panawung, wetan Manjangan Kumliking, manjangan ya la wus miyos.

– 21 –

Putra Manjangan Gumaringsing namanipun, ya iku kang gadhang jalmi, pramila ing waktu iku, kidang manjangan kadhasir, sarasmi kalawan wong.

– 22 –

Sabab asal-usul Inggaiyang wau, Kidang Panawungan sami, akir dalanjal malulut, yen manjangan iku dening, sing Galunggung dhemen ing wong.

– 23 –

Lan yen monyet Cogowang iya ikut, ilok dhemen maring jalmi, sabab asal-usulipun, sing Lutungkasarung dhingin, margane kadi mangkono.

– 24 –

Waktu iku Pajajaran kaslangipun, ing ratu sato sambawi, ya sijar salaminipun, Silirum sing maksih alit, maksih dadi budhak kangon.

– 25 –

Ala walatra bocah anerus tunjung, lami-lami ika nuli, ana kawenganing pulung, putra menak Sindhangkasih, nyi Rara Sigir pan jatos.

– 26 –

Masakaken ing budhak si Silirum, ingimponi den karseni, denedusi timbul pulung, ya si wantu tedhakaning, andana wirya gung katon.

– 27 –

Gilang-gilang marenenge tejanepun, komarane anelehi, mangga ngucapa sang ayu, Rara Sigir genya ngapti, aja na liyaning jodho.

– 28 –

Dadya Jaka Silirum ing jidhonisun, mungga kadulura dening, panadyane atinisun, mangkana ing duk pamikir, sawiji kalawan jodho.

PUPUH XLIII DURMA

– 01 –

Waktu iku nuli ana ing bancana, wau cicipaning, dalem Palimanan, karsa angiwat-iwat, Sigir Panjaling ingkang den prih, adan sakala, iku nyamber sang putri.

– 02 –

Putri Sigir sinamber tan kena inadha, enggal dipun tulungi, dening Siliganda, kalampah sira pancas, buto roro den kembari, kinarya sepak, padha buta kagulinting.

– 03 –

Malah katon ing wong Sindhangkasih sadaya, Silirum asakti, anyana punika, dudu bandra-bandrakan, duga buta kalih neki, larut asirna, wau den sanjatani.

– 04 –

Dadi mundahak katarimahe ing kana, dening wong Sindhangkasih, pareng lawas-lawas, Siliwangi teka karsa, ing manjangan seja wani, pinenging aja, dening si Rara Sigir.

– 05 –

Aja sira ngulati gawe angangkah, isun melang ing ati, bok ora kawagang, sunrungu ika sangsam, kaliwat ing saktineki, kaduga ngebat, aken Mundhingkawati.

– 06 –

Jaka Salirum wangsulane ika, ingkang sun ajab lalis, angrebat nagara, babaguse wong lanang, angulati apa maning, punika sawarga, ginawe ayu mangkin.

– 07 –

Adan mangkat Silirum anggawa panah, tan arsi dipun iring, kali wayangan, sudira ngundi lawan, panantang baya ngenani, sampun anjujag, pra kuwu kang den ancik.

ya Manjangan Gumaringsing. wus kakenan panah. tan dangu den walesi. – 09 – Ya Manjangan Gumalunggung sinabet lan panah. cacangkok pisan ing Galunggung pan nagari. malesate kagawa. – 12 – Duka yuswaning sawelas warsa. tinujah kaliwat kadi.– 08 – Dyan Manjangan Gumulung wus dadya mulat. maring daleme malih. iku hebating jalmi. dhumateng Siliwangi. ika ingkang nama. Gumaringsing kumawula. gupuh anembah. – 13 – . sagenah sayasa nipun kang mula-mula. bugel sangsam ngemasi. – 10 – Den papagaken layan sanjata wisesa. lan ika manjangan. narajang bela pati. tembe saiki pulih. dupi tiba dadi jalmi. Silirum dipun tujah. adan putranira. Siliganda wus bisa ngrebut puri. adan lan gagadhang. nuju wawayangan. lamine sawelas warsi. Manjangan Gumaringsing. kosonging praja. – 11 – Apoliye iku menak pra kuwu ika. bela ing bala. ingapura den wenehi.

ing Pajajaran. riku kang kidang. adan ingkang putra. tumuli anembah. dhumateng Siligandha. la iku purwaning dadi. seja bela ing rama. adan pinapag aglis. ing Panawungan perni. Siliwangi kang ngimponi. – 15 – Amalesat Kidang Pananjung atiba. – 14 – Dipun sabet lan panah tugel sang kidang. maring Pajajaran malih. jujug prayangan ngancik. kang gadhang nyakrawati. Panawangsa ngemasi. bisa pulih waluya. Kidang Panjing prepeki. ing rat Pajajaran. bisa balik mulih. Prabu Ciyungwanara. maring sang Ganda. Pananjung ika aksami. datan antara nuli. duk ningali kolebat. wus apulih karta. menak prayangan. asuka rena dening ananulungi. . sawelas tahun angili. karebut ing Jaka Sili. kidang den panah aglis. – 18 – Baudendha wekasanira nalendra. – 16 – Ing enggone alinggih lagi duk kuna. saiki dumadak. ing Siliganda. sira dadi jalmi.Jaka Siliganda angulon ika. ing jalmi amburu aglis. – 17 – Den apura pan sinung cacangkok sisan. mantuk ing Ujungbana. Kidang Panawangsa.

– 19 – Kujajaka prawira nom sing dibaya. dadiya susuluraning. – 24 – . – 22 – Ya sarupa lalis tilar si jabang ika. jabang tiba katilar. subagjane sun puja. ora nyelang ora nyiling. dening kaliwat sakti. inggih punika delap dumadi sakti. tedhak atur wara. peciling Mundhingkawati. dupi kang yayah. – 23 – Ciyungwanara ngandika mangsa bodhoa. arebat wipala. – 20 – Ya tan dangu Parwatali talibarat. diweg mateng kang bibit. sri Pajajaran ingkang bagawani. mesat dugi babar. jabang dipun gemes sang dening rencek kyai Borih. sasmata angrebat. pareng macan linggar. ing pusaka pribadi. dadine danyata. sima ingkang dilati. gela nyawang pra sami. babaring Tegal ara-ara Siliwangi. rena manjing ukir. ing tegal siliwangi. kinongang nundhung weri. – 21 – Duk kapeleter dening Kidang Manjangan. kaprabon duwe nira.

kang anyar-anyar katondha saking kana. ngiseni Sundha nagari. . Prayangan pra kuwu uwis. PUPUH XLIV LADRANG – 01 – Sinahuran geger peter ketug muni genya ngangkat. – 03 – Sugih sanak sugih putra sugih rabi dadya merna. kina wenang iku ing sakarsanira. si gintung saiki. – 04 – Lan koncara liwat luwihing prajurit. ratu araga sukma akadang sukma. karajaan Siliwangi. tirimaa sira.Sira sanyata gintung-gingtung manira. dadya angreh Pakuwan. ing salungguhira. sira ingkang ngimponi. – 02 – Bala dewata jawata amayungi wus kaloka. dening Yang Acintamanik. ingkang muji jati. ora ana kaya ratu Pajajaran. ratu sajagat buwana kabeh iki. ora ana musuhe ing buwana iki. sun istreni sira. kajana priya ing luwi. – 25 – Alungguhan nyakrawati Pajajaran. karone tunggal.

– 05 – Menak pangrengku kang nama awarni-warni. – 10 – . Kalangtonggo Kalangsari. Kalanglunana. sugih wadon miwah sugih putra wayah. – 06 – Gajah Enggang Gajah Puntang Gajah Rucik. – 07 – Kalangluhur kalawan Ki Kalangeling. ing Pakuwan nyakrawati. Gajah Manggala muwah Gajah Siluman. – 09 – Pan mangkana wadon abrakothi. kocap ingkang. Kalangangkes Kalangsiyu Kalangrejang. Katumenggungan malih. Gajah Barong Gajah tandhing. – 08 – Kademangane kumerab awarni-warni. warna-warna. Jalana kang ngabehine. Gajah Muntang. kebek ing rat. Kalangwirana Kalangbadhag Kalangbrama. mantri gedhe mantri cilik wis anjagat.

– 15 – Pandhajaya iku wus mutrani maning ingkang nama. – 14 – Nulya iku akrama ya maring putri Tejasuka. – 11 – Malah istri kang purwa anggumateni timur mula. pan gumelar putra wayah ya anjagat. ajalera den Sangkeki. . nami Putri Pamratsari. ing putra saiki negari.Wis awindon takeran tahun amukti awibawa. putra dalem ana ing rat Pajajaran. ingkang wau Sindhangkasih. jaler ingkang naminipun Raden Umbang. nuli puputra kang Susunan Pandhajaya. – 13 – Dupi garwa ingkang nama Panawangi apuputra. jaler ingkang apranami. Mundhingdalem paparabe putra nata. tan ana durga nyantoli. – 12 – Katelah nyai Embok Agung amutrani ingkang nama. dadi tulus jodhone lawan sang nata.

Linggalawang ing Cipamali. – 21 – . Prabu Kangkangirang nenngih. – 17 – Duk samono akeh putra ingkang den prih lawan nana. – 18 – Prabu Kangkangirang ika mutrani ingkang nama. – 19 – Sangiyang Arjuna baya gung asisiwi ingkang nama. Linggaiyang puputra Sangiyang Arjuna. iya iku amutrani. nama Prabu sabupati lungguhira. Sangiyang Madhangrasa Medhangkamamangga. cacangkoke bupati pan dudu nata. prabu ana ing bupati. rang-arang acucuk prang ngamuka.– 16 – Dupi putra Nubdhingdalem sanes bibit iku lanang. – 20 – Dupi garwa Siliwangi ingkang nami mraja cinta. Linggaiyang anem suri.

– 22 – Tyas iku ingkang ngawiyosi siwi ingkang nama. – 25 – Apuputra Yang Jampana alinggih aku ana.Ana dene garwa Prabu Siliwangi ingkang nama. ingkang nama Ratna Yumanik gumilang. dupi garwa. Siliwangi ingkang nami. Ratu Widayaka sakti. Sangiyang Wiragasakti. Prabu Siliwangi maning. Siliwangi ingkang nama. ana denegarwa Prabu Siliganda. Kidang Pananjung ingkang saking Ratulawang. – 23 – Prabu Resik ing Rajapolah kang puri dupi garwa. – 26 – Ingkang nama Dewi Pergilayaransari mulya putra. Maharaja Larang kang nitis. Ratu Widayaka anuli sira puputra. ing Ratulawang kang puri. – 24 – Kang alinggih aneng Panembong ing puri. Saselawangi apuputra Sangiyang Tular. Yang Wiraga puputra sang Ratu Puntang. .

Ukur sepuh aneng kadhipatenira. ing Jumajang ingkang puri. sangkane jujuluk nami. angadheni Ratu Mas tuwa nini moyang. Yang Mas tuwa. Pernalarang ing Raturuyuk kang puri. – 28 – Ratu Puntang puputra titiga nami. aneng arga Gunung Munara kang puri.– 27 – Ingkang tapa aneng ing pucuking ukir made sukma. Prabu Jayapakuwan iku puputra. sang Prabu Jayapakuwan. apuputra Kidang Pati. iya iku Sangiyang Bathara Larang. – 29 – Kang adalem ya ana ing Ratuwangi. – 31 – Kang alingghih Kamiwelas dining puri. – 30 – Prabu Sendangpugeran iku kang alinggih. kaping tiga. kapindhone Anggalarang Anem lenggah. – 32 – .

kang adalem ing Rajapolah. – 36 – Sendhang Kajayan nuli ika amutrani. kang adalem ing Gunung Gedhe kang pura. ingkang nama. kang adalem ya aneng Sagara Erang. ingkang nama. Prabu Sela. – 34 – Sendhang Ngabdu ika apuputra malih. Prabu Sendhang Gunung nami. ingkang dalem ana ing Tetegal. kang nama. . – 33 – Sendhanglimun kunuli mutrani. Prabu Wasipernasakti. Prabu Sendhanglimun sakti. – 35 – Sendhang Gunung iku amutrani maning. Kandhuruwan tuwilimun kang alinggih aneng Gunung Ciaya ing enggonira. ing Ngabdu ing alinggih.Dupi Prabu Sendhangpugeran mutrani. – 37 – Prabu Wesi pareng ika amutrani. ya ana ing timun putih puranira. kang anama Prabu Sendhang Jayasakti.

Patrabangsa lan maninge. Wirakusuma ing Ciasem ingkang pernah. ingkang linggih Luwimundhing dalemira. pernaira tapis wiring Pajajaran. ing Pamanukan genahe. Mundhing Bthara kang linggih. santohan punika. sanga iku putrane Ki Kandhuruhan. PUPUH XLV PUCUNG – 01 – Lurah Bangsa punika ingkang alungguh. – 39 – Ki Santohan Kadirun kang anjeneki desa aran.– 38 – Kandhuruwan ika mau amutrani. ana ing Pagagan. adalem aneng Pamijahan Karang. Eran-eran Ngewre nami. ing Panguragan genahe. – 03 – Arya Wirantanu ing Cibalagung. . sanga jalma. Ki Wargakosala. – 02 – Pancase la ing Palered dalemipun.

ingkang dalem ana ing timbangan ika. ing Panunukan genahe. nulya puputra Sangiyang Sempokwaja. timansapura jenenge. Bathara Sakti jenenge. – 07 – Sempokwaja kang agarwa putrinipun. kang kaksih jeng Batharadinata.– 04 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. amiyosi kaputrane. Buniwati raras. amiyosaken putrane. – 06 – Wondane wau Yang Wiroga ausunu. Panji Rababuwana. ki Wargakosala. jenenge Ratu Pramana punika. – 05 – Ingkang ana Sundhalarang dalemipun. – 08 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. nama ratu Demang. Sijine kang nama. – 09 – . sanga iku putrane Ki Kandhuruhan.

– 11 – Tyas iku dadalem ing Cangkuang pernahipun. – 12 – Kang dadalem ing Cangkuang pernahipun. jujuluking nama. Dhipati Cangkuang mangke. kang dadalem ing Timbangaten nagara. ingkang rayi istri iku namanira. kaloka ing rat. . Dipati Cangkuang mangke. sri Praman ika. ingkang rayi istri iku namanira. Medalagung ingkang miyos. mangka Dhiputi Cangkuang iku puputra. nama Suhunan Jaratna ing Cipinaha. kaloka ing rat. kang Susunan Ranggalawe. ingkang dados garwa.Nulya gagarwa [iutri saking raja Galuh. kang Susunan Jati ing Carbon. – 10 – Garwa Ratu Pramana kang nemla ika. putra nama Susunan Raja Malaka. – 14 – Ratu Pananten rama dewa jenengipun. anuli miyos putrane. putraning Susunan. – 13 – Ratu Kawunganten rama dewa iku besuk.

abangsa lelembut. iya iku kang limunan ing Tunjungbang. – 17 – Ing kajaksan ing Carbon iya iku. nama Sangyang Mayak. Yang Mayak puputra dalem Narasinga. Sangiyang Ageng kang alinggih Setularang. nuli puputra dalem Nayagati ing Sundha. iku amiyos putrane. ki Dhipati Cangal. aneng Cilutung genahe. Rumsari ganda.– 15 – Dupi garwa Siliwangi kang pulangun. dupi kang katelah ing ngendher. Dupi garwa Siliwangi kang anama. – 19 – Rara Siluman miyosi putra pipitu. – 16 – Nulya Yang Ageng nuli amiyosi sunu. – 20 – . ki Sangulara namane. tumuli apindha. maring Kanci dadalem. – 18 – Kang dadalem ing Ngendher ingkang jujuluk.

– 22 – Dupi garwa Siliwangi kang wulangun. – 25 – Ratu Rawana iku nuli susunu. iku miyosi putrane. ki Daluwengi ingkang. pan titiga sawijine ingkang nama. Prabu Wanabaya nulya puputra. – 21 – Ki Mayadewata ing Malakbok genya lungguh. ping telu kang nama. iki lewi aneng Guwa Pajajaran. ing Guwa Upas dhemite. . kang neng Sawunggantang. ki Kamalarang ing Ngonom genya ngimba. ing Guwa Sancang limute. ki Kuyupuk ingkang. dupi Yang Wirun kang miyos. mau Sumur Agung nuli puputra. putra ingkang paparab Ratu Rawana. sangyang Wirun paparabe. pra buwana bala. Sri Intenbancana.Ki Dhiriwengi ing Ragan manggene lungguh. ki Wanabaya linggihe. – 24 – Sangiyang Widaya anenggih ing namanipun. – 23 – Mundhingsari kapindho Yang Sumur Agung.

nuli Sri Wayang Nuli puputra. nuli apuputra.– 26 – Ingkang nama Sangiyang Ngabehi cucuk. lilima satriya. ing Citaman dadaleme. Yang Sumur Bandhung linggihe. – 27 – Duk wau Linggawayang turun-tumurun. ingkang sakapika. ingkang apranama. Sangyang topasri lan Sangyang Babak panyarang. lan Linggawayang marmane. dupi garwa Siliwangi kang anama. Yang Lebakwangi jenenge. nuli puputra Raden Senapati Ngalaga. – 30 – Pandalarang ika amiyosi sunu. Sangiyang Sogol ing Maleber. Linggawayang putrane Sangiyang Arjuna. – 31 – . puputra Sri Wayang. – 28 – Linggasri aneng Pangkalan tumuwu. – 29 – Lan Sangyang Panengah ingkang muwah adhinipun.

Raden Tetel kang sepuh nuli puputra. nama Raden Tetel kabeh. sakalih maneh ika. dupi garwa Lisiwangi kang anama. iku Gedhengrungkang. – 35 – Kartamana lilima ing putrinipun. Tumenggung Sedhangrungkang lan Tumenggung Cikakak. Dhipati Manggala nuli puputra. Yang Guntebuyeng jenenge. putra lanang sang Dhipati Kartamana. – 32 – Raden Memenang ingkang mangke tuwuh.Lan Sangyang Cimara kalih Sangyang Ciagus. – 34 – Prabu Layapakuwan anuli susunu. – 36 – Kalih Ki Kartamnggala iya iku. Prabu Rangsangjiwa. dupi Ki Gedhengrungka. nuli puputra Prabu Layapakuwan. Tumenggung Suradarmane. apuputra ing name. Rangsangjiwa nuli miyos. jenek ing salami-lamine. . jalu ingkang nama. – 33 – Katurunan ing sih ingkang miyos putranipun. ing Tegal Koripan.

Kabul putra papat. Ki Nataraga wastane. Wangsacandra Wangsanata Wangsaprana. – 39 – Kabeh iku tedhak Sundha gung-ginunggung. anulya puputra nami.– 37 – Ingkang nama kiyai Kabul puniku. saking Pajajaran. kang anjagat sawengkening Pakuwan. – 38 – Wangdaprana apuputra Ajengawu. Kyai Emas Anggawijaya puniku. lan Ajengarjuna. PUPUH XLVI SINOM – 01 – Ki Tumenggung Suradarma. anulya nuli puputra. iku apuputra nyai. Bagus ardi Tumenggung warga dinata. . Emas Batulawang ika. dupi Tumenggung Sedhangrunggi. iya tirik iya lerek. lan Raja Parana iku. kang aneng ardi. lan Susunan Wanaperi ing Talaga. lawan Puswawangi. kang mernah pencar-pencare. nulya Cirawati nama. – 02 – Dupi garwa Siliganda. kang jujuluk kang Ranggamantri. Prabu ing Pakuwan adhi. Mayangkaruna kang anami puputra Guru Gantangan.

nuli ika sang Pandhahan. Raden Wirareja lan kimas Wargadipa. – 04 – Akrama aputranira. ingkang miyos saking ampiyan punika. lilima kathahe iku. Ki Dhipati Ukur tuwa. nuli Raden Gedhe nami. Mas boncel Mas Kariya nami. Raden Danupati ing namanira. Wangsadhipa mutrani. nyi Gedhengkulan ika. Raden Tandang kang nama. miyos putrane sakawan. Lembualas nulya mutrani. – 05 – Ki Dipati Kungkang ika. jujuluk Maraja tunggilipun. Raden Rinahon iya iku. dupi Yang Linggapakuwan. kabeh terah Pajajaran. nyi Gedhengkulan kang nami. mangkana santohan pelang. ingkang gagarwa iku maring puranira. miyos puputra kakalih. tetelu ingkang anami. – 07 – Klawan Raden Wargayuda. Raden Togog namaneki. . Demang Gedhe puputra. lan Raden Sobanumitadi.– 03 – Wanaperi apuputra. nuli puputra punika. dupi putra Siliwangi. Sunan Parung ingkang nami. nuli putra nyimas Kirana. lan ki Wansadhipa iki. lan Wangsadireja nami. Ukur Ngoradhipati. kalawan Santohan iku. – 06 – Muwah Raden Wangsareja. lan kang nama Raden Kacang iki. Mundhingjaya ing Mandhal alinggih. nuli putra papat nami. lan santohan Urureng.

ping telu Lokajaya. ping telune ingkang nama. ya iku bojakertadi. ing Taraju kang negari. inggih titiga kang siwi. saking arum ganda Wayangsari. kang sawijine maning. kang tapa ngawang-ngawang gempi. amiyosi putra ninipun. – 09 – Nama Sunan Tambaliyang. Ratu Dewa Gung la ika. Ciptalewi putra tetelu. ing Cidhamar parnah neki. kang alinggih aneng Parakantig. ing Kawungngora dalemneki. Ratu Gumilang akrama. . Sangyang Surakerta. kang miyos saking Sri Tanduran. ing Gunung Licin linggih. – 10 – Siliwangi ingkang medal. ika paparabing putra. kang tapa ing matahari. Ratu Guru Ajijaya namanira. putra istri kang anami. kanjeng Susunan Madya. nama sang Raja Wiwara. Gajatapa nama dalem ing Pawenang.– 08 – Kang nama Sang Deyasa. ing Majalakang dalemneki. Raden Srigadhing murtrani. kang sawijine maning kaputra. putra Siliwangi iku. putra ing ampiyaniku. sijine ingkang nama. sang Bathara Resik Putih. Resik Putih asusunu. – 11 – Lang Sngyang Rajawabana. ing Kandhangwesi kang linggih. kang Suhunan Ciptalewi. putra Santohan iki. kang sawijine kumaning Siliwangi putranira. ingkang sawijene kumaning. ingkang amiyosi siwi. – 12 – Kapindhone Ratu Kara. Rajaiyang brusbuhani.

Susunan Kalana Ulunan. nuli ika asisiwi. Sri Ngacala namanipun. ingkang nama Susunan ing Pajengan.– 13 – Anuli ika puputra. dupi wau Sedhangrerang. – 15 – Anggamantri namanira. ki Ranggacarikan nama. nama Raden Sadhanglarang. Pangeran Sumedhang nami. – 17 – . Padnawati Araras. lan ki Ranggagedhe nami. Anggamantri miyos siwi. kang sawiji ing namane punika. – 16 – Kang linggih aneng Kuningan. Caktradewa sisiwi. dupi garwa Siliwangi. Yang Medhang nuli sisiwi. Prabu Srimangka nuli puputra. lan sinine niku maning. nuli putra sakawan iku. miyos kakalih kang siwi. ing satedhak-tedhak neki. lan ki Raden Suradiwana ya ika. ing Sumedhang gene linggih. Cakradewa putraneki. Ratu Guru Aji Putih. kapat ki Tajimalela. Sedhawati puputra wau. ing Wedhanglarang alinggih. ingkang krama putranira. nama Sedhawati. sang Kidang Panajungan nami. – 14 – Lan ki Yang Tunggabuwana. anana Yang Medhang. ingkang namanira iku.

ingkang nama Pangeran Carbon punika. putra titiga lan rujuk dhateng kang rama. inguprak-uprak tinundhung. ki Ngora ing Rajapolah. . dening kang rama aji. nyimpar-nyimpar numpal keli. panengahe istri nami. pramilane den sengiti. Cakrabuwana mantuke. PUPUH XLVII P U CU N G – 01 – Rara Santang pinet garwa Mesir ratu. siji lanang ingkang nama.Ingkang nama Boros lan Ngora. dupi sing sabrang nenggih. titiga miyosi siwi. maring Jawi aneng Carbon dalemira. lami-lami karsa nyabrang maring Mekah. Singapura kang negari. ki Raja Sangara iki. maring agamaning muslim. – 19 – Karsane kudu miluwa. Prabu Cakrabuwanadi. Subang Karancang jenengipun. nama Kantanalarang. Rara Santa jenengipun. warujune lanang nama. milane tinggal kaputran. – 02 – Nulya krama dhateng putrane ki kuwu. gih punika careming jatu Krama. anuli miyos putrane. – 18 – Kalih Ratu Pajajaran. kang aneng Panjalu kang puri. ika nyi Subang Karancang. mila tilar bumi kana. agamaning bosok bedha.

– 03 –

Kalih istri nyi Rakungwati ya ikut, dadya Cakrabuwana, katelah kaji namane, Abdul iman kalawan Arya Lumajang.

– 04 –

Lan kang nama Pangeran Gagak Lumayung, ngamandhing Pakuwan, manpet pajeg ing trasine, sabab dening cinandhak ing Arya Lumajang.

– 05 –

Rara Santang wis lawas ing Mesir iku, nuli wus puputra, loro lanang ing namane, Syeh Hidayatulah kalawan Syeh Nurullah.

– 06 –

Syeh Hidayatullah angajawa ikut, alingging Ardiamparan, Sunan Jati papabe, pan rinengga dening kang uwa Lumajang.

– 07 –

Dadi akeh kang manjing Islam aguru, ing wong cilik tuwis menak, barungah sadayane, Wali Jati kang katubturan akramat.

– 08 –

Dupi putra Siliwangi saking putranipun, Dhampuawang kang minangka, Kandhanghaur kaputrene, ingkang nama Balilayaran punika.

– 09 –

Putri bungsune Siliwangi iku, sang putri Layaran, masih cilik den kekentel, ingkang nama Siliwangi sebenernya.

– 10 –

Den kekentel mrana-mrene datan kantun, kocap Prabu Wanara, dan memeksa ing yogine, Siliwangi den tutur gagaib ira.

– 11 –

Den patiten sajeg ana wali iku, ilang ing guriyang, Pajajaran surem kabeh, pangaruhe ing puri tan wurung tanggal.

– 12 –

Den abecik aniti puri Sigintung, ya isun wis ana, kang mapag ngajal kasucen, pati nami ing dina kabeh wekasan.

– 13 –

Tan antara Ciyungwanara dadya iku, awak lutung asukupat, jalmi sing dhadha mukane, ……..anjengek alinggih roro kang asta.

– 14 –

Dupi saking wuri suku awarni buntut, nalosor nangcep ing andhap, narik maring sapta burine, pan tinarik ing buntutira priyangga.

– 15 –

Dadya sirna merad tan katingal iku, dening kang putra wayah, wusing sirna luluhure, amung kantun Prabu Siliwangi ika.

– 16 –

Mana sajen sadina roro ing kalbu, kukuwung mesum katingal, sang teja lor wetan pernahe, naban bengi sumonge padhang sumirat.

– 17 –

Ora liyan kang dadi sangsara iku, si cantang sarowangira, kang padha gama muslime, ingkang dadi sangara ing Pajajaran.

– 18 –

Adan prabu animbali patihipun, Tambisara nama, priksanen sumong ing kene, padhang sumong ya iku tejaning apa.

– 19 –

Ora pranti ana teja kaya iku, apa manusa bathara, anyala wadi katingale, den agelis padha rujagen denira.

– 20 –

Tambisara pamit nembah kesah sampun, ambakta satus prawira, angungtik kang teja tinon, nyata anang Gunung Jati pernahira.

– 21 –

Den talikah nyala wadi teja iku, pan seja den rujag, wong satus muwah patiye, ambrek sami lumpuh tan sesa ing angga.

– 22 –

Genya lumpuh sing dalu dalan enjingipun, pareng enjing suhunan, marikasa maring wong akeh, arep waras beli yen mambri ana atambah.

– 23 –

Tampanana kang sadat roro puniku, ucapen denira, tangtu waluya jasade, adan patih napal sadat sadhapurnya.

– 24 –

Padha Islam nulya waluya wong satus, tur den rampek pisan, lan suka wangsul ing nagrine, maring Sundha lir ring wus sejen agama.

– 25 –

Mung ki Patih Tambisara kinen wangsul, sarta bakta surat, saking sunan cacangkoke, wayah aji gih eyang amantu bilah.

– 26 –

Pan kang eyang sang prabu seja dumulur, maring gama Islam, ora kaya ing tedhake, Parwatali saking langit kandika aja.

– 27 –

Apa gawe idhep ing agama busuk, mung ta pusaka kita, sada lanang ngendi gone, prene kena age juputen den enggal.

– 28 –

Ya ingalap sada pinanjer ing alun-alun, apa ing Pakuwan, mangkana nulya parenge, merad lalis sakulawarganira.

– 29 –

Migerngiyang munjuk rayak-rayak gayuh, maring elor wetan, den papag adiasa srine, saking swarga kang para jawata sadaya.

– 30 –

Wusing merad lalis Prabu Siliarum, ing Pakuwan tan ana, kang kari amung bupatine, kang sapalih sapratiganing kang Islam.

– 31 –

Kaya Patih Cangkuwang wus mukmin iku, lan Dipati Kartamana, ki Dimati Ukur kolot, Islam maning ing Ciahur bupatinira.

– 32 –

Amung menak pra kuwu kang masih kupur, samerade Siliganda, Sunan Jati dereng ngertos, masih dadi satriya iku lalana.

– 33 –

Kawarnaa putri bungsuning sang prabu, Dewi Balilayaran, katilare sabab dening, balening Cangkolkencana.

PUPUH XLVIII DHANDHANGGULA

– 01 –

Dupi nusul amburu wus kari, dadya bungsu lara-lara, karuna polos wiyanga, salantrah-lantrah mangmung, pan dumadak nulya pinanggih, lawan jaler kang nama Jaka Kabu, asal kulup Siliganda, marmanipun katulus alaki rabi, aneng jabaning kutha.

– 02 –

Ratu Madhapa kang besuk alih alaki. kyai Gedheng utama. Maraja Cipta puputra. marmane iku den edol. inggistrenan dening wong sadhomas. kyai Wiranegara. dupi ika prabu. – 06 – Gedheng Utama puputra dalem Japati. nuli puputra ji Japatingora. apuputra kang nama. ing Walanda den tuku dadi. nuli ika amiyosi putra. laki maring kyan Santi wus gadhah pecil. Santohan Kolelet nuli sisiwi. lan istri Ratu Madhapa. kang kakasih tanduran gagang. tumuli puputra. ing Galuh apuputra. Sunan kabu ika tumuli. nuli puputra ing mangke. Bimalarang ingkang pranami. Sangyang Sarepan Agung. ciciptane Ajar Sukarsa. tanduran gagang iku. ika sang putri Madhapa. – 03 – Ya kyan Santi atitising Siliwangi. sinebut ing pangasrine. iku Susukan kabu. Prabu Ardikuning namanira. nama ki Pati ika sisiwi. Pucuk Kumun agagarwa. – 07 – . lan bedhil titiga. lan Maraja Cipta kang linggoh. maring kyan Santiwara. olih laki wong agung. dupi ika mau. sang Prabu Ciyungwanara. wadon Murngali jenenge. Inten Kadhaton ksputren titilaring. anuli puputra roro. ya tetelu kang dhingin istri anami. Prabu Pucuk Kumun. Maraja Dalem Agengan. – 05 – Careming jodho ika mutrani. Sri Jampang pan mau. – 04 – Rara Wudhu ora payu laki.Jaba kutha kutha Pakuwan den apti.

nuli ika susunu. – 10 – Kyai Ajeng nama Amongragi. nuli ika mutrani nami. ing Susunan Batuganda. Wiranaga kang sinare ing wewengkon Pasirnagara. – 12 – . apuputra Raden Walenggabala Estu. anuli Miyos putrane. kocap Prabu Cimacur. aneng Kakarasuka. Cohaka ning Sorpura. ki Dhipati Panahekan yakti. – 08 – Sunan Batuwangi kang ana ing Cipamancur ya ing parnah hira.Jujuluke Tanduran Ageng Asri. Kabolotan ing pernahe. ya Prabu Dhigaluh. kyai Wiranaga mangko ika nuli. ingka wali kukubane. Arya Wirangun Yang Tunggal. nuli puputra ki Gedhe ana ing. nagara kawangsul. Cipta Pramana kang linggih. nulya puputra kyai Wiranaga. ika nuli puputra. kapindhone nama Sangyang Pramana. nuli ika puputra. ingkang paparabipun. Akimas Imbanegara. ing Dhigaluh ing Kakarsuka. nuli puputra ki Wirabaya Sakti. iku puputra Aciputi. nengga naminipun. anuli susunu. kaping telune ya iku. Yang Dhigaluh jujuluke. – 11 – Dupi Cipta Pramana kang niti. – 09 – Ki Wiraprabangsa ika nuli. ki Kandharuwan Babakan. nuli ika apuputra. dupi Sangyang Pramana nenggih. puputra Mertadinata. Dhipati Kartanata. nuli ika puputra. mangka mau mraja dalem agen laki. nama Sangyang Wirun. nuli ika puputra.

TAMAT Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PIWULANG AL FAATIHAH AL FAATIHAH ( BEBUKA ) Surat kaping 1 : 7 ayat ( Tumuruning wahyu ana ing Mekkah. taliti ing Pajajaran. dupi ing Carbon ika kang dadi. deng uwa Cakrabuwana. tumuli puputra mangke. dadi menak pagunungan ika sami. ing satedhak-tedhak ira. sasesa-sesane dhewek. Sang Jati Wali Allah. Nuwun. iku turun ratu. Raden Pati Tumurun. winuri-wuri ing jati ratu wali agung ingkang jumangah. – 13 – Ing Prayangan pra kuwu wus dadi. Raden Wiranantaja. ki Dhipati Sendhangmargalaya.Gedhe Godhaka ika amutrani. Miyosaken putra kang nami. para Bupati tanpa nelendra. tumurun sawuse surat Al-Muddatstsir ) . sewangsewangan angratu. kang den ratu-ratu.

Sesembahaning ‘ alam jagad-rat pramudita. ghairil maghdhuubi ‘ alaihim waladl dlaal-liin Bahasa Jawa : 1. Kang Maha Murah Maha Asih. . 3. Arrahmanir rahiim 4. Kalawan asma Allah kang Maha Murah ugi Maha Asih. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in 6. Ihdinash shiraathal mustaqiim 7.Bahasa Arab : 1. Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin 3. Maaliki yaumid diin 5. Bismillahir rahmaanir rahim 2. 2. Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim. Kabeh pangalembana kagunganing Allah Pangeran.

kados kasebut ing ngandhap punika : 1. ndedonga. dzikir lan tafakkur utawi I’tikaf ing masjid. 2. Lajeng saking Haji tuwuh semangat ambelani sarta labuh ing agami. utawi ngumawula lan manembah ing Allah. Isi maksud ingkang wigatos ing Surat Al-Faatihah : Intisari saking isinipun Al-Quraan punika sampun kaweca pokok-pokok ingkang fundamentil wonten salebeting Surat Al Faatihah. Kang Ngratoni ing dina Piwelas. punika kuwajiban ingkang wiwitan kaampil. sanes ingkang sami kabendon. Bab ‘aqaid utawi kaimanan . Inggih punika margi. ugi ngajak Ummatipun supados samia ‘ibadah ( manembah ) ing Allah piyambak. sadaya para andika Nabi Utusaning Allah kautus ngampil tugas-pokok mbangun Tauhid ing Allah. 6. langkunglangkung manungsa ( sabab manungsa punika makhluk ingkang saged damel kabudayan wonten ing ‘ alam donya ). sarta ngrebahaken sadaya kamusyrikan. weweweh lan tetulung ing sasaminipun.a. . Ingkang baku inggih punika ‘ aqidah-tauhid ( memundhi saha mangeran namung dhumateng Panjenanganipun Allah piyambak ) ‘ Aqidah-tauhid wau dados jejering piwucal Agami. mugi Paduka paring pitedah ing kita sadaya lumampah wonten ing margi ingkang leres. Saking zakat lajeng tuwuh ‘ ibadah qurban sidqah. ingkang kuwajiban sadaya titah. makaten ugi dening para andika Rasul saderengipun. tuwin sanes ingkang sami sasar. Dhuh Gusti Allah. inggih punika : Shalat.4. lan saking Shiyam tuwuh watak Wira’I 9 mboten ndremis lan mboten kathah sesambat ) sumingkir saking ingkang nama lelangkungan ( gesang prasaja ). 7. ingkang dipun da’wahaken dening junjungan kita Nabi Muhammad s.w. lajeng tuwuh ‘ibadah memuji. Namung dhumateng Paduka piyambak kita sami menembah ‘ ibadah. Ingkang baku wonten sekawan. saha namung dhumateng Paduka piyambak kita sami anyenyadhong pitulungan. lan nilar sadaya brahalanipun. Agaminipun para tetiyang ingkang sampun Paduka paringi kani’matan. Shiyam lan kesah Haji. Saking ingkang baku kasebut. ‘Ibadah . 5. Zakat.

5. sosial. perang. Angger. A. sesambetaning manungsa kaliyan Allah. sesambetan internasional. politik.3.angger Hukum lan Pernatan. upami hukum. Janji sarta ancaman : artosipun supados ngadeg keadilan lan keleresan ingkang saestu. nanging wonten ngarsaning Allah ing dinten Qiyanat tantu nboten saged lolos malih. sampun ngantos damel sejarah awon. agami. Pramila ing salebetingQuraan ngemot pinten-pinten norma lan katamtuwan. lan lingkungan sapiturutipun. sanajan wonten Donya saged lolos saking hukuman. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 PIWULANG HA NA CA RA KA Oleh : BRM Panji Anom Resiningrum Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa. 4. Huruf Ha . dahme. Sejarah : maksudipun ingkang saged dados tepa-palupi ing salebeting sesrawungan ummat manungsa. tatanagari. ekonomi.pernatan : maksudipun Syari’at Islam damel angger-angger hukum lan pranatan punika kangge karaharjaning ummat manungsa ing Donya dumugi ing Akheratipun. kabudayan sarta kesenian. Pembukaan Huruf Jawa 1. gesang sapisan wonten ing ‘ alam Donya.

Huruf Na Berari ‘nur’ atau cahaya. 4. Yakni salah satu sifat Tuhan yang ada pada manusia. 5. karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup. hidup itu adalah sendirian dalam arti abadi atau langgeng tidak terkena kematian dalam menghadapi segala keadaan. 3.Berarti ‘hidup’. Api b. yakni berkumpulnya Tuhan YMEyang juga terletak pada sifat manusia. Kita telah mengetahui pula akan sifat Tuhan dan sifatsifat tersebut ada pada yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia karena memang Tuhan pun menghendaki agar manusia itu mempunyai sifat baik. Huruf Ca Berarti ‘cahaya’. sebab memang hidup itu ada. yaitu roh Tuhan yang ada pada diri manusia. Air 2. . Huruf Ra Berarti ‘roh’. Hidup tersebut terdiri atas 4 unsur yaitu: a. Angin c. Huruf Ka Berarti ‘berkumpul’. Bumi d. artinya cahaya di sini memang sama dengan cahaya yang telah disebutkan di atas. yakni cahaya dari Tuhan YME dan terletak pada sifat manusia. atau huruf berarti juga ada hidup.

Huruf Sa Berarti ‘satu’. 9. Dalam hal ini huruf sa tersebut telah nyata menunjukkan bahwa Tuhan YME yaitu satu. la yang mengandung arti langgeng ini juga nyata menunjukkan bahwa hanya Tuhan YME sendirian yang langgeng di dunia ini. jadi tidak ada yang dapat menyamai Tuhan. Huruf Ta Berarti ‘tes’ atau tetes. Huruf Wa Berarti ‘wujud’ atau bentuk. yaitu tetes Tuhan YME yang berada pada manusia. Huruf Da Berarti ‘zat’. ialah zatnya Tuhan YME yang terletak pada sifat manusia. dalam arti ini menyatakan bahwa wujud atau bentuk Tuhan itu ada dalam manusia yang setelah bertapa kurang lebih 9 bulan dalam gua garba ibu lalu dilahirkan dalam wujud diri. 11. berarti abadi pula untuk selama-lamanya. Huruf La Berarti ‘langgeng’ atau ‘abadi’. 7.6. 8. Huruf Pa . 10.

Huruf Ja Berarti ‘jasad’ atau ‘badan’. karena dawuh berarti selalu menyaksikan kehendak manusia baik yang berbuat jelek maupun yang bertindak baik yang selalu menggunakan kata-katanya “Ya”. Dawuh di sini mempunyai lain arti dengan dhawuh di atas. manusia yang utama. Huruf Nya Berarti ‘pasrah’ atau ‘menyerahkan’. jagad gede juga jagad kecil (manusia). Huruf Dha Berarti dhawuh. yaitu papan Tuhan YME-lah yang memenuhi alam jagad raya ini. Huruf Ya Berarti ‘dawuh’. 14. 15. . 16. 12. Jasad Tuhan YME itu terletak pada sifat manusia yang utama. Huruf Ma Berarti ‘marga’ atau ‘jalan’. Jelasnya Tuhan YME dengan ikhlas menyerahkan semua yang telah tersedia di dunia ini. yiatu perintah-perintah Tuhan YME inilah yang terletak dalam diri dan besarnya Adam.Berarti ‘papan’ atau ‘tempat’. 13. Tuhan YME telah memberikan jalan kepada manusia yang berbuat jelek dan baik.

Huruf Ga Berarti ‘gaib’. atau terang/gaib Tuhan YME yang mengadakan sinar terang. Dapat pula dikatakan gaib adalah jalan jauh tanpa batas. gaib dari Tuhan YME inilah yang terletak pada sifat manusia. Demikianlah huruf Jawa yang 20 itu dan ternyata dapat digunakan sebagai lambang dan dapat diartikan sesuai dengan sifat Tuhan sendiri.17. yaitu kabarnya manusia dari gaibnya Tuhan YME. B. Huruf Ba Berarti ‘babar’. 19. Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa. Huruf Tha Berarti ‘thukul’ atau ‘tumbuh’. seperti halnya cahaya terang tetapi tidak dapat diraba atau pun disentuh. dekat tetapi tidak dapat disentuh. Huruf Nga Berarti ‘ngalam’. dan harus diakui bahwa besarnya gaib itu adalah seperti debu atau terpandang. Tumbuh atau adanya gaib adalah dari kehendak Tuhna YME. 18. Penyatuan Huruf atau Aksara Jawa 20 . ‘yang bersinar terang’. karena memang seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Jawa yang menggunakan huruf Jawa itupun merupakan sabda dari Tuhan YME. Demikianlah gaibnya Tuhan YME itu (micro binubut). 20.

seperti: 1. 4. adanya perkataan kun berarti pernyataan yang . 3. Huruf Ca + Ba Caba. Huruf Na + Ta Noto. berarti ‘nutuk’. Angan-angan yang terletak di ubun-ubun (kepala) yang menyimpan otak untuk memikir akan keseluruhan keadaan. 2. Dimaksudkan dengan angan-angan ini ialah panca indra yaitu lima indra. 5. berarti coblong (lobang) dan kata tersebut di atas berarti wadah atau tampat yang dimilki oleh lelaki atau wanita saat menjalin rasa menjadi satu. Angan-angan mata yang digunakan untuk melihat segala keadaan.1. Angan-angan telinga yang dipakai untuk mendengar keseluruhan keadaan. 2. Huruf Ha + Nga Hanga berarti angan-angan. 3. Angan-angan hidung untuk mencium/membau seluruh keadaan. Angan-angan mulut yang digunakan untuk merasakan dan mengunyah makanan.

5. Karena itulah maka kata raga telah menunjukkan adanya kedua benih yang akan disatukan dengan melewati raga. berarti ‘badan awak/diri’. memandikan . Huruf Da + Nya Danya atau donya atau dunia. benih. 6.dikeluarkan oleh pria dan wanita dalam bentuk kata ya dan ayo dan kedua kata tersebut mempunyai persamaan arti dan kehendak yaitu mau. Setiap manusia baik laki-laki atau wanita pastilah mengandung benih untuk kelangsungan hidup. dengan demikian dapat dipahami kalau atas kehendak Tuhan YME maka diturunkanlah ke alam dunia ini benih-benih manusia dari Kahyangan dengan melewati penyatuan rasa kedua jenis manusia. oleh karena itu di dalam kata raga seperti terurai di atas merupakan kehendak pria dan wanita untuk menjalin rasa menjadi satu. dan dengan penyatuan kama dari kedua belah pihak itu maka kelangsungan hidup akan dapat tercapai. Kelahiran manusia (jabang bayi) diawali dengan keluarnya air (kawah) pun pula kelahiran bayi tersebut juga dijemput dengan air (untuk membersihkan. 7. Persatuan kedua benih atau kama tadi mengakibatkan kelahiran. Huruf Ka + Ma Kama. dan kelahiran ini merupakan calon keturunan di dunia atau (alam) donya. Kata raga atau ragangan merupakan juga kerangka dan kehendak pria dan wanita ketika menjalin rasa menjadi satu karena bersama-sama menghendaki untuk menciptakan raga atau diri agar supaya dapat terlaksana untuk mendapatkan anak. bibit. 4. berarti ‘komo’ atau biji. Huruf Ra + Ga Raga. Huruf Ta + Ya Taya atau toya. yaitu ari atau banyu.

baru kemudian isi. Pada umumnya kelahiran manusia (bayi) itu hanya satu. Huruf Sa + Ja Saja atau siji atau satu. siapakah yang ada terlebih dahulu. Hal ini jelas tidak mungkin terjadi. . Dan kelahiran satu tersebut menunjukkan adanya kata saja atau siji atau satu. Sebagai contoh dapat diambilkan di sini: rumah. Yang diciptakan terlebih dahulu adalah isi. dan manusia merupakan isi dari rumah. Dengan demikian timbul pertanyaan mengenai wadah dan isi. andaikata jadi kelahiran kembar maka itulah kehendak Tuhan YME. dapatlah dijelaskan bahwa: kematian manusia berarti (raga) ditinggalkan isi (hidup). karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Berbicara tentang wadah atau tempat. sebenarnya hal ini adalah kurang benar. sudah seharusnya membicarakan tentang isi pula. Huruf Wa + Da Wada atau wadah atau tempat. Bagai pendapat yang mengatakan “wadah terlebih dahulu diciptakan” maka mengenai kematian itu seharusnya wadah mengatakan supaya isi jangan meniggalkan terlebih dahulu sebelum wadah mendahului meninggalkan. sebab rumah merupakan wadah manusia. Sebagai bukti dari uraian di atas. maka diciptakan pula wadahnya. dan karena isi tersebut membutuhkan tempat penyimpanan. Jangan sampai menimbulkan kalimat “Wadah mencari isi” akan tetapi haruslah “Isi mencari wadah” karena memang ‘isi’ diciptakan terlebih dahulu.dsb). Jadi jelaslah bahwa sebenarnya isilah yang mencari wadah. apalagi kalau kematian itu terjadi dalam umur muda dimana kesenangan dan kepuasan hidup tersebut belum dialaminya. 9. Pada umumnya dikatakan kalau wadah harus diadakan terlebih dahulu. karena itulah air tersebut berumur lebih tua dari dirinya sendiri disebut juga mutmainah atau sukma yang sedang mengembara dan mempunyai watak suci dan adil. 8.

pameleng = pasamaden. Maka selama ayah dan ibu masih ada maka hidup masih dapat membenihkan biji atau bibit. mesu budi. ngeningaken utawi angluhuraken paningal. akan tetapi hidup hanyalah meninggalkannya saja yaitu untuk mengembalikan semua ke asalnya. Semua keadaan yang hidup selalu dapat bergerak. Akan tetapi sebenarnya dapatlah dikatakan bahwa suwung itu tetap ada sedangkan raga manusia yang berasal pula dari tanah akan kembali ke tanah (kuburan) pula. pujabrata. mengku pikajeng : tandaning sedya ingkang luhur piyambak. yang bearti masih suwung atau kosong. keadaan hidup tesebut kalau ditinggal oleh hidup maka disebut dengan mati. dan dimanakah letak isi tadi ialah pada ayah dan ibu. hidup kembali kepada yang menciptakan hidup. 10. akan tetapi kesalahan tadi telah dibenarkan sehingga menjadi salah kaprah. Meskipun begitu. Sebab yang dikatakan mati tadi sebenarnya bukanlah kematian sebenarnya. Sebenarnya pemikiran demikian itu tidak benar. matiraga lan sasaminipun. . Pendapat lain mengatakan kalau sebelum diadakan jalinan rasa maka keadaan masih kosong (awangawung). mesu cipta.Demikianlah persoalan wadah ini dengan dunia. Sebaliknya kalau wadah tersebut belum ada maka kelahiran pun tidak akan terjadi. Huruf La + Pa Lapa atau mati atau lampus. Tetapi setelah jalinan rasa dilaksanakan oleh pria dan wanita maka meneteslah benih dan apabila benih tadi mendapatkan wadahnya akan terjadi kelahiran. Dene empaning pandamelan wau winastan manekung. karena sebelum dunia ini diciptakan (sebagai wadah) maka yang telah ada adalah (isinya) Tuhan YME. Wallahua’lam Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 AJI PAMELENG Tegesipun aji = ratu. “hidup’ itu tetap telah ada demikian pula “isi’. karena hidup berasal dari suwung sudah tentu kembali ke suwung atau kosong (awangawung) lagi.

. ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun. Namung kemawon wedharing agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden. pahoman. Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami angajawi. paheningan lan sanes-sanesipun. punapadene kangge sarana duk kita darbe sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran). bangsa Jawi ing sa’indhengipun maratah sampun sami angrasuk agami Indhu. inggih nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan saking pandamel kita ingkang boten tilar murwat.Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen. Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet ing Tanah jawi. katamtokaken mesthi ngrasuk pasamaden. Bebasan sakedeping netra. ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun Mohammad. Dene wedharing kawruh winastan daiwan. sastracetha. bilih miturut saking tembungtembungipun . yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh pasamaden wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina makina. tirtaamerta. sanyata kathah ingkang nagngge basa Sansekrit. margi saking wohing kawruh pandamel wau. panekungan. tirtakamandhanu. Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning saliring kawruh sajagad. sebab lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. kados kasebut ing nginggil. Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi lan sanes sanesipun. lan ugi dados pangajenging piwulan agami. mila kalayan gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi. awit kawruh wau saget nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi. Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden. serta sami anggelaraken agaminipun tuwin kawruh sanes sanesipun. kawasanan. lan ugi sampun sami saget ngraosaken kabegjan. dawan. margi saged anindakaken dhateng sawarnaning pandamel sae. kawilujengan lan sasaminipun. mahosadi. makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun. pamurcitan. boten nawang bangsa Indhu ingkang agami punapa kemawon. kawaspadan. Dene kawruh wau ing sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu. pamujan. kasebut agami Islam. temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu. tirtanirwala. Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau. pamursitan. perlu kangge sarananing panembah murid manggih kawilujengan. nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun. margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged nandangaken dating pangolahing kawruh punika. kamulyan. Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun. kawicaksanaan. utawi sastrajendrayuningr at pangruwating diyu lan sapanunggalanipun.

dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh manjing agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam wau. dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir kemawon. Sebab yen ngantos kasumerepan. utawi Islam pangaran-aran. inggih punika ingkang kasebut nama santri. ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau. utami tiyang ingkang anglampahi sarengating agami Islam. Mila lajeng angsal paparab saking panyedaning titiyang ingkang boten remen. margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam. bilih wontening wejangan kawruh pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. bilih dereng angsal palilah Guru. ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah dhedhemitan. Purwo saking tembung klenik. mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami. ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen. boten mawang nem sepuh. uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh pasamaden kasebat. inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak). Dene yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten. menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng katindakaken. kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu walangataga ugi boten kenging miring. sanadyan suket godhong. titiyang Jawi boten kenging anindakaken kawruh pasamaden. yen nerak bade angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. sanadyan Nagari sampun boten angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden. Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun agami Islam sadaya. Ingkang kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking agami Islam. serta kedah santun angrasuk agami Islam. Mila santri karan putihan. tamtu manggih pidana. Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes. langkung-langkung kawruh pasamaden punika ingkang sanyata dados mukaning . bilih santri punika sarwosarwi langkung resik utawi suci tinimbang kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam. Dumuginipun ing jaman samangke. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk kaliyan pun murid. pun murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng tiyang sanes. ing ngriku lajeng angawisi kalayan kenceng. nanging panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan kados kawursita ing nginggil. yen miring lajeng malih dados manungsa. Sebab wontenipun sadaya punika supados kasumerepan dhateng ingakathah. supados pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng pamarintahing agami Islam. serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru. purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman wisesaning Nata. yen batosipun taksih angrungkepi agamipun lami. dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok tiyanga. purwanipun namung tetep kangge panjagi. Panindak ingkang mekaten punika. ing wana. Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados. kadosta ing ara-ara. lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. ugi papaning pamejang boten kenging kaubah wangon.Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari. serta kenging kawejangaken ing sawanci-wancinipun. katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12.

Kaping kalih salat daim. lajeng sami ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar. ing ngriku salat limang wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak boten kawulangaken babar pisan. Lajeng tunimbal dhateng Sunan Geseng. ingkang lajeng winastan daim. ingkang kacarios saderengipun dados Wali. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng ingakatah. temah Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami pinejahan katigas jangganipun dening para Wali. daim saking daiwan basa Sansekrit). ingkang ugi dados pramugarining agami Islam apangkat Wali. ingkang mijeni Kyai Ageng Pengging. Punapadene lajeng kaewoaken dados saperanganing panembah. Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning piwulang. tiyang asal saking Pagelen. Sangsaya dangu sangsaya ngrebda. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang sampun kabuka raosipun. inggih Ki Cakrajaya. saking . lan sasaminipun. Amarengi wahyaning mangsakala. Kawruh asamaden. mangertosipun : anekadaken manunggaling pribadinipun. sebab Seh Sitijenar punika mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged andhatengaken ing kawilujengan. dening Seh Sitijenar kinen sami madeg paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. sarana dipun wewahi tembungipun. Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten. lajeng kadhapuk ing ndalem serat karanganipun. langkung-langkung ingkang dereng. terang lan nyata. margi piwulangipun langkung gampil. wusana wonten kaelokaning lalampahan ingkang boten kanyananyana. tanpa nawang andhap inggiling darajadipun. Mila titiyang Jawi ingkang suwau manjing agami Islam. katentreman. kasebut salat sarengat. dening Seh Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar. lajeng mungel : salat daim (salat – basa arab. Sapisan salat 5 wekdal. punika panembahing batos. ateges panembah lahir. margi yakin bilih kawruh pasamaden wau. Punapadene tembung salat lajeng kapilah kalih prakawis. Mila wajib sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing saindengipun. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah. ing pawingkingipun bab kawruh pasamaden wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam. anggenipun amencaraken piwulang agami Islam. kamulyan. namung kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun ingkang sampun sami necep agami Islam. Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden. Ingkang pinindeng namung mumuruk tumindaking salat daim kemawon. Ki Cakrajaya wau pandamelanipun anderes nitis gendhis. inggih Pangeran Panggung. utawi kasebut loroning atunggil. wirid saking tembung daiwan kasebut ing nginggil. ingkang ugi apangkat Wali. Milanipun dipun wewahi basa arab. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe suwung.sadaya kawruh. anyuremaken panguwaosing para Wali.

Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai. nilar nagari Demak. nanging mawi sislintru tinutupan wuwulang sarengating agami Islam. . punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi.sanesipun malih. inggih Ki Cakrajaya. Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening mawerdining Hyang Brama. temah dhawahing bendu. murih boten ka’arubiru dening para Wali pramugarining praja. lajeng oncat medal saking salebeting latu murub. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi dukanipun. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun mleset saking jejer ing sakawit. mila para guru samangke. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan wiridan naksobandiyah. dene panindaking piwulang kawastan tafakur. temah kamitenggengen kadi tugu sinukarta. para sakabat tuwin murid-muridipun Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. ingkang dipun santuni nama naksobandiyah utawi satariyah. Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg sami enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana. ingkang sami miridaken kawruh pasamaden. langkung rumiyin kalatih lampah dhidhikiran lan maos ayat-ayat. amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken kawruh pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar. pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. nginten bilih kawruh wau wiwiridan saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). ugi taksih sami madeg paguron nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden. kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung. Dene nama Kyai. ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak rukuning agami Islam. Wiwit punika wuwulangan pasamaden lajeng wonten wanrni kalih. Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid nampi wiridan salat daim. Salajengipun para Kyai guru wau. kesah anututi lampahipun Pangeran Panggung. Dene piwulangipun kados ing ngandhap punika : Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim. Ingkang boten kacepeng sami lumajar pados gesang. kapidana kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun Demak. atur uninga bilih Sunan Geseng. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh Sitijenar. karangkepan wuwulang salat limang wekdal tuwin rukuning Islam sanes.dhawuhipun Sultan Demak. Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng kakantunanipun ingkang sami pejah. temah sami rumaos kawon angsal sihing Pangeran. Sareng sampun sawatawis tebih tindakipun Sang Pangeran. lajeng sami mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar. Katungka unjuking wadyabala. inggih punika : 1.

wiji saking Kyai Ageng Pengging. dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis. sampun ka’andharaken ing nginggil. tanggeljawab boten lewerweh. Piwulang pasamaden miturut Jawi. tebih saking watak panganiaya. Setya tuhu utawi temen lan jujur. sebab musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan. margi kacidraning manah kita pribadi. Santosa. Susila anor-raga. ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing samangke karan klenik). inggih punika makaten : . Leres ing samubarang damel. punapadene pinter angereh kamurkaning manah pribadi. namung kemawon tumandangipun boten kawedharaken. punika bilih tetep samadinipun. Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah lan satariyah. kados ing ngandhap punika : 1. boten anguthuh melik anggendhong lali. 2. 4. kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados kawursita ing nginggil. dhateng ingkang sami kataman. Lampah limang prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata anandangaken ulah samadi.2. bab kawruh pasamaden tuwin lampah limang prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh boten pilih andhap inggiling darajatipun. tansah nganggeni tatakrami. Temah kita manggen ing sasananing katrenteman. Yen boten makaten. ingkang dereng kacarobosan agami sanes. Awit saking makaten punika mila tumrap panindaking agami Jawi (Buda). ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar. langkung-langkung pinter ngecani manahing sasami-sami. Mila makaten. Pinter saliring kawruh. ngantos sabujading jagad. maweh rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa. kagiles dening rodha jantraning jagad. 3. dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan kamardikan kita sami. punika ing sakawit. ingkang dados purwaning piwulang. kita badhe nandhang papa cintraka. boten ngunggul-unggulaken dhirinipun. margi saking dayaning mas picis rajabrana. adil paramarta. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah umandanging samadi sacara Jawi. inggih amesu cipta angeningaken pranawaning paningal. 5. sabar welas asih ing sasami.

mila lajeng kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. dene temenipun ingkang kados kita angkat. inggih cethaking tutuk kita punika. inggih punika ingkang kawastanan meleng. pikir lajeng gadhah panganggep awon lan sae. sarana angereh solahing anggota (badan). Dene panganggep. boten wonten sanes namung badhe nyumerepi kajaten. Inggih ing riku punika jumenenging rasa jati kang nyata. purwanipun mirid saking cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati. Tegesipun cetha = empaning kawruh. punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking sumengkaning napas wau. cetha = antebing swara cethak. Panampi makaten punika. bilih cariyos makaten punika tetep namung kangge pasemon utawi pralambang. Mugi kawuninganana. menawi sampun kraos awrat panyangginipun napas. punika dereng tamtu. Inggih patrap ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. dados . dene sarananipun boten wonten malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking makartining rasa. piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau. bilih samadi punika angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal saking badan wadhag. saha sidhakep utawi kalurusaken mangandhap. Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten : panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) . Sumengkanipun napas wau kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa. boten yekti. Mila winastan makaten. inggih lajeng ka’edhakna kalayan alon-alon. kasebut sirnaning papan lan tulis. ingkang sampun dados tata-cara margi sampun dados pakulinan punika. epek-epek kiwa tengen tumempel ing pupu kiwa tengen. suku ingkang lurus. yen sae inggih sae temenan. tetep namung ngenggeni pakulinaning tata-cara.Para nupiksa. Saking dayaning panggulawenthah. Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta (panggagas). temah anuwuhaken tatacara. tuwin amuntu ilining rahsa. Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung samadi = sarasa – rasa tunggal – maligining rasa – rasa jati – rasa nalika dereng makarti. yen awon inggih awon sayektos. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing saniskara. kang yekti. dene pamandengipun kedah kalayan angeremaken netra kakalih pisan. dados inggih dede kajaten utawi kasunyatan. Punapa panganggep awon sae. sarta mawi kaendelna ing sawatawis dangunipun. jer punika namung pakulinaning panganggep. Menggah pikajenganipun samadi ing riki. Inggih makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. dene pancering paningal kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa’antawising netra kakalih. awit duk kita mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah malih anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. inggih punika ing papasu. Menawi napas kita dipun ereh. kang weruh tanpa tuduh. Mangrehing anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah. utawi Sang Arjuna yen angraga-suksma. Dene makartining rasa jalaran saking panggulawenthah utawi piwulang. mugi sampun kalintu panampi. punapadene pangalaman-pangalam an ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun . Punapadene angendelna ebahing netra (mripat). pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. dalamakan suku ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa.

minggah dumugi ing suhunan. ugi kenging karancagaken. kados ingkang kajarwa ing nginggil. Kajawi punika. awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen anandangana malih. pikajengipun : mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh. yen tumedhak. ingkang sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan). kalihan angeningaken (ambeningaken) paningal. hu – Allah. Dene pikajengipun amastani bilih wontening napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng. kita jumeneng gusti. pokokipun kita kedah amanjangaken panjing wijiling napas (lebet wedaling napas). kasarengan kalihan wedaling napas. Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau. ingkang sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). ugi kawistara saking dayaning cethak. anggenipun kawastanan sastracetha. utawi nyambutdamel inggih kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau. nanging dayaning cipta kita. tegesipun : manawi napas kita sumengka. mila makaten. inggih lajeng ka’angkatana malih. Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang dipun wastani kawula gusti punika dede napas kita. makaten salajengipun ngantos marambah-rambah sakuwawinipun. inggih punika mungel `hu’ kasarengan kalihan lumebeting napas. Dados ulah samadi punika. (Ungeling mantra utawi panebut kakalih : hu – ya. Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil. uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing wijiling napas. sarwi mocapaken mantra sarana kabatos kemawon. margi saya kuwawi dangu. inggih punika ateges panjang tanpa ujung. kalihan lenggah. inggih panariking napas saking puser. suraosipun : kaping tiga napas kita saget tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). tegesipun tri = tiga. panebutipun ugi kasarengan lampahing napas. sanyata wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel. sebab paningal punika kadadosan saking rahsa. sa’angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga. inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing puser. jalaran sampun menggeh-menggeh. wangsul dados kawula. Bilih kakalih wau kendel boten makarti nama pejah.namung manut lampahing napas piyambak. rat = jagad – badan – enggen. wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe maksud sanesipun malih. Dene. utawi ateges langgeng. inggih risaking badan wadhag wangsul dados babakalan malih. Inggih punika ingkang kabasakaken paworing kawula Gusti. Lajeng `ya’. panebut wau mungel : hailah – haillolah. sangsaya langkung prayogi sanget. Dene ambegan punika. kedah kapanjang-panjangan a . lumampah. minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan cethak. Dene manawi sampun sareh. margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun medhak malih. ing wiridan naksobandiyah kaewahan dados mungel. margi nalika mocapaken mantra sastra kakalih : hu – ya. inggih wontening ambegan kita. Dene sa’angkataning pandamel wau kawastan : tripandurat. Dene ing wiridan satariyah. nanging tanpa angereh lampahing napas). Mila sayogyanipun lampahing napas inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel. tamtu boten saget dumugi ing suhunan. pandu = suci. wedaling swara ingkang namung kabatos wau.

rereget. lajeng sirna piawonipun. ningrat = jagad – enggen – badan. Tegesipun harja = raharja. welasasih. sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi. babaya. canggah. kabodhohan lan sanesipun.lampahipun. malih dados tiyang sae lampahipun. dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta. sae. punika kangge pasemoning piawon. temah saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak. Tiyang goroh lajeng dados temen. jendra = saking panggarbaning tembung harja endra. Wontenipun andharan ing nginggil. waesia dados satriya. mratelakaken bilih kawruh pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun. Dados diyu punika kosokwangsulipun dewa. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Tiyang sakit sirna sakitipun. kaharjan. Tegesipun sastra = empaning kawruh. murih panjanga ugi umur kita. endra = ratu – dewa. mila lajeng sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu. katentreman lan sapatunggalipun. penyakit. Dene tegesesipun pangruwating diyu = amalihaken diyu. punika bilih ing suwaunipun tiyang awon. satriya dados brahmana. Tiyang bodho dados pinter. dados saras. yu = rahayu – wilujeng. Suraosipun : Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon. wareng. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Renungan Oleh: piwulang | 4 Desember 2009 AJI PAMASA Wedharing wyata mirid gempilaning piwucal Aji Pamasa DHANDHANGGULA . wilujeng lan sapanunggilipun. tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar. pepeteng. ingkang babranahan. engkang ateges pinter. Tiyang pinter dados pinter sanget. putu. buyut. brahmana sumengka pangawak braja asarira bathara. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados waesia. Mangertosipun.

. tan pilih-pilih janma. nora ngungalken jaja yèn asanès lesu. 5. sarwi mapan nora badhé damel tuni. tlatènana kang pitung prakara. udinen mrih lestariné. seserepan wiraos prati. suka serep ing semu. anebihi gegelah regeding bumi. Pradikané wawaler pratami. 7. Kang wusana pitutur saptèki. nging pedak kautaman. dadya tales tanduking karti. lamun ngambah margining utama. datan gampil kinelun kalulun ing wawatak nisthip. sagung tumindak lupa winastanan luput. sirik cengil pasulayan. suka tentreming rahsa. pinuntua ing driya. 3. damel padhanging prana nebihken bebendu. linepat king deksura tinebih panyaru. sinantun paramarta. Kang ginelar wyataning suyati. Apa baya kang pitung prakawis. pangadilan jinejegna kanthi titi. ping tiga ywa mawang kadang. temah kalis watak umbag klawan edir. siku dhendha nlikung sasami. njijiret sapapadhané. amrih dadi lantarané. Pracékané janma luhur kaki. tan remen cacaketan klayan watak margu. 2. Mangkya kiyé gelaring pangerti. nalusur woting darma. paugeran kang pitung prakara. kapiluyu lampah basiwit. mahanani kasudibyan. datan arsa guna pasang kala. 4. olah pangupajiwa sasamining manu. Mangkya nenggih sastradu nayadhi. songgarunggi mring kawula. tinilingna walering darana. Catur angger ugering prarepi. yèku warah kapisané. istingarah kang tinuju tan nalisir. pratélané sapta pracèki. kaping kalih puniku. kang sinebat cidra lan pitenah. prenah prandéné laras salir tindakipun. tan mélik mèt artaning punggawa. dé kaping gangsalipun. temah manggih raharja. kosok-wangsul wèh ayem dasih sadyèki. nora gampil kayungyun. 6. dalah mundhut putrèstriné. datan asurak susuka dupi miyat panandhanging sapadhèki. aywa nganti anglalarangi. winedhar wiyar tebané. lamun dipun upaya kinemat ing kalbu. luluh welas nalangsa. ywa sisip ing pangertiné. piguna mring kang ngluru. dèn ugemi pitutur kaping sat niki. sinirika cidra lan pitenah. 8. istingarah munpangaté. tan damel pilalaning lyan. nuntun mring lempenging lana. janma kudu mituhu. samubarang kang linakya. tan bungah lamun nemu.1. dyan sentana ywa dèn alingi.

raos bentèr nguntar-untar. nilaraken palagan. gampil sengsem kang katon èdi. 13. nggémbol upas kang niniwasi. lir kanteban antaka. nunuwun Hyang Murbèng Suksma. tan kablithuk pandulu. . datan ngucirèng ngayuda. nering laku nora léngah.9. wawataking satriya sirik colong playu. istingarah gung pangajab temah dadi. nanging mugen manunggal genah kang tinuju. tumapak ing lalampahan. tan cidra ing ubaya. kaanggepa dèrèng nglunasi. pinétang utang èstinè. Panjangka kang dadya lenging ati. lamun maksih linuru. tilar salir manah sonta. nukulaken panandhang tuwin tilar latu. prancana tan dèn ugung. angugemi pakaryan kanthi permati. nguwus-uwus tan ana dadi. kanthi nranyak ngrabasa gahi. tetembungan dèn arah jumbuh kang sinaguh. 12. Lamun sirik watak ngadi-adi. mokal lamun kalis ing sasanggan. buteng ribeng krodhanya. karem donya wah malih pangwasa. tegen rigen pralaga tlatèn miwah tekun. Kénging winastanan cidra ugi. nanging mamak wawatesé. netes sagung pangucapé. 16. Paran nggènira nyepeng sumangi. milaur urip iku. dipun éling niyat kang utama. nging sapawingkingipun. tékad kang wus pinuntu. amituhu kanthi taliti. angulari papaka. wèh sengsem mring tyasing lyan. 14. istingarah andika manggih basuki. wisayané karaos awrat ngantebi. nora lèmèr ing wuwus. ywa cidra gung pepecehé. andhepipis ndhelik winengku raos jrih. tan darbya raos rigung. temah ndadra misésa wathi. nyahak wewenanging lyan kécalan pakéwuh. tlunyar-tlunyur miwah lèlèmèran. Lamun sumanggem tanduking gati. dhemenyar pepénginané. watanira suker tan béda wewerri. kang dèn bujung pakareman. ngandhar-andhar winuwus nglengkara. 15. aywa wudhar tanpa pangaji. kang wus dadi pepesthèné. setya tuhu bekti mring Hyang Murba. datan lumpuh karana kaot sinanggi. 11. 10. Tembung cidra sinawung punagi. linepat saking papa. Jejering titah sawantah kaki. kusung-kusung kemrungsung kécalan santi. tundhonipun nalangsa nalisir king wangsu. poma-poma dipun tetepana. siyang-ratri tan kendhat nggènipun dhedheku. teguh maring bebahan. péndah madu mamanisé. pinurih saged rampungé. antepana minangka ubaya. tan bosenan nora wegah. Ywan wus wani nglairken prajangji.

22. apesé ngemping lara nyanyadhang bebendu. kumudu kang kapindhoné. sengkeraning pralaga datan ana wèstu. Poma éling swawi dipun luri. tebih saking tutur cidra. abiwadha setya hastuti. tansah saswih ring garwa. pisan cidra angèl anguwalna. lamun limpé ngaluyur ramban taruni. nginger-inger wawaler mamada sastradu. was maring kakung tuhu. 21. dimèn pana tuduhing Hyang Suksma. katri wus kadi wuru. adol ati sapa baé. pranahara jatining manuswa. susmaya prabaning Hyang abyor cahya kitu. basan pranamèng kapi wruh rukem kayungyun. tutura angarah-arah. 18. kang dèn uja tan liya dityasmaraji. 20. kang anecep wurukira. kanthi wijang kawrat sastracetha. dhépé-dhépé gilig ing prana maniwi. leheng meleng mring pranamya. dhadasar badan lugu. gesang datan piguna. ngundhuh wusa wisaya dadya mangangi. Dipun tlatèn samya angulari. ngindhik-indhik pamrihé damel papati. cidra mring karsèng Ulun. aywa mblasar tumindaké. iku teges nggénjah papati. 24. 19. Pan wus dadi sasakiding parwi. basagita adi wigati. tumus dugèng dalaha. dyatmika neng nayadhi nging sirik salingkuh. rumaket-raket sasambé. Menggah tuduh ingkang gung utami. rinumpaka ing tembung. rongèh tansah walisah. angulati bebener ingkang nayadhi. ywa gampil mupus tekadé. nging maujud datan mandheg katamarti. tumètès kadya kusaré. parnoh sagung tindakira. kasukan kang binujung atilar pakéwuh. lupa upasing walika. titah sawantah jejeré. murih dadya manuswa bisama. Mangkya cidra tumraping akrami. Sasing janmi swawi angupadi. tan kéragan mring napsu. Wanti-wanti peceh parahati. lampahnya pindha margu. ywan rumpil lampahipun. saswih maring Hyang Murba tumus sanggya manu. kénging winastan pracoré. angrarantam pracéka. datan uwal king cintaka. temah dyusdha niyak wastuti. kasmala binirata. . undhuhané mrawata wèsdhi.17. cegah hawa tahen ring prancana. mamanisé wisasa. dupèh èdi ngelam-elami. satemah pinitaya. Wawaler tumrap sanggya pawèstri. jalu gini datan ana béda. ngumbar gujeng kucah liring nétra. upayanen kanthi sasmreti. tan mangabisatya mring raka. temah wasa nering prajangji. 23. ririh raras sinuprih katon mrak-ati.

murih dadi lantarané. garwanira dèn papanken rowang padmi. kasulistyan aniniwasi. sadaya samya pinerdya. Dipun èmut ma nenem puniki. Sabanjuré winedhar sastradi. anguwus-uwus wuwusé. klayan dhiri pribadya. tentrem ing brayatipun. lamun dipun turutana. Kakaroné kasengsem tataki. kaping paté mawang ring rabi. lubèr ing sih sarwi ngayomi. ngrarakit tembung lunyu. kanem mardawèng budya. sona ing setyanipun. sanès kinarya lalap uraping panyatur. lamun manggya kèh sambé-kalaning margi. dwipangga datan kéguh saguh kang ginayuh. ngumbar panyatur ala kèh panacadipun. 28. swawi dipun tuladha.25. siyang-ratri makarya tan wènten sepi. burusa lair batiné. Poma-poma kenceng dèn cepengi. dimèn pana warahing luluhur yekti. dhihin mantep ing pamilihira. pantang pepes batosira. traping laku minongka manggala. iku watak katbuta. adhakan dadya tuman angèl mantunipun. nukulken wijining tikbra. 30. apan baya winastan pitenah. 27. dadya gapiting braya ywa mingkuh pakéwuh. myang turangga cukat ing karti. 29. Tyang kang remen mbèbèrken wawadi. lir karaba muleg ing akasa. sumrambah tedhak-turun sapawingkingipun. manah gampil kayungyun. amemada sarta ngadili. . katri marem mring jatu. basda winewah bumbu. awit awon pinanggihé. kalima mangabiwadha. pinindhakna wawadhah ringkih kaotipun. temah kalis rubéda. jroning gesang punika. amengangah ngangah-angah saya ndadi. Nora béda waler ingkang sami. tumrap priya kang wus balé wisma. ping kalih madhep atiné. kaya-kaya beciké tan ana sami. tumus harja miwah basuki. catur wala pepindhané. 31. asisipat memengku. tuhu bekti nggigilut wiyata. tilar garwa kapéncut ing liya. dyan pracara ukara datanpa bukti. brekiti ing sregepira. alaning liyan dèn andhar. Aywa pisan cidra ing prajangji. becik dèn singkirana. 26. pamurihé saya wigati. nyarwètèh kedaling lambé.

nora ngétang katala sami. jail lampah candhala. sanadyan alit wujudé. ipat-ipat punapa déné wastuti. buron wana peksi raja-kaya. mijil king tutuk sajuga. dadya sangarakalya. Poma bisa mapanaken lathi. dé manuswa iku sapa. misésa palimirma miwah paring bendu. Klawan ilat padha muji Gusti. saged kadamel lulut. Èmperipun kendhali turanggi. parandéné si punggung pambeg wah kumingsun. Dipun émut ywan namung sawiji. 37. makaten lidhah sanyata. 38. angadili sapa-sapa ingkang wèsdhi. lumuh lamun prawadha kalindhih ing semu. ancik-ancik kunarpanirèng sasami. anderbala mbabar wewerri. ywan pinekak satuhu. temah mbesmi alas gedhé. makantar urubipun. ngalad-alad ambilaèni. kasereng lir katwara. . nyata kalangkung lungit ywan kinarya tutut. samakéyan sasolahé. kumawani kumlungkung ngadil-adili. angèmperi panatagami. wit kasunyatanipun. nyembur wisa wisaya aniniwasi. mangungsir mrih kasumbaga. lamun kalintu trepira. 34. bacin lamun dèn ambu. lir jagading kadurakan. nging misésa mring janma. ingkang yasa sanggyaning prarepa. tumrah badan sakojur tan liya mung manut. 33. dyan sapletik bisa ngambra-ambra. tuwin jumeneng hakimé. dalasan saisining wé. lir bathang ingkang wus lungsé. ing kawurya pranama adamel tuni. nora béda gandaning kusana. nging klawan lidhah ugi nyupatani manu. 35. ngidung dhikir ing sawayah-wayah. katiwang ing papaka. 36. kaya-kaya manekung. kang dumunung jro jiwa-raganirèki. Kadi latu nyalat wreksa langking. ilat iku lir wisa mandi.32. tan mangkono ilatirèki. surata siya-siya. datan lèmèr ngumbar-umbar kata. Angrèh sato teka langkung gampil. tumanduk ring papadha. dipun trapken jroning cangkemira. kadi hakim kusalanya. ilat iku tan béda kadya hagni tuhu. Tembung sisip sinusup kasisip. kanthi permati empané. dyan mujudken pérangan badan kang lengit. temah gampil dèn kemudhèni. dhahat karya sangsaya punapi kasumbung. kadi brahmana anggepé. kang kagungan gung kasugatin. murih bisa sasap ing sasama. pindha krodhaning denawa. 39. kudu unggul binuru. Amemada sisiping sasami. tan liya mung Hyang Agung. muspra datanpa guna.

sèstu soba suka wicaga ring dasih. wèh sarsa maring sasama. lengka kang rinaosna. . 46. 44. sakelangkung anggigirisi. Lir kusara mrentul wanci énjing. tinalesken wisiking Hyang Suksma. pasulayan undhuhané. babasan ngingu-ingu. lamun linga muwus ngayawara. sumimpang sagung pitenah. 42. mekak hawa laksita juti. sinartan manah kang sarjé. amangangi kalamun nyenyebar branti. saraga gung ngebeki jro tyasirèki. nanging kosokwangsulira. wus winedhar déning pramudika. langet langkananing lana. wusna anjrah sulurnya angririsaki. sung seger tanem-tuwuhé. menggah warah cidra lan pitenah. sarasati binawa amangastuti. 43. Jihwa pindha landheping bedhami. watak asih tan sengkung. dharaka pramusita. kang dados panènipun. awiwéka mrih dadya harjaning janmi. 41. ngulari rèh sampurna. kang kaajab mung bahagé. sagung trékah kang cengkah klayan prarepi. swawi dipun gatosna. wohira gung rudita. tilingna kanthi luménggé. was winawas kanthi premati. 47. nètèsken sarkara soba. nyebar wijining tatu. walagang nggènnya lumung ywan datan kapugut. ngenut pangrèhing suksma. leget mring kautaman priyatna ing tembung. ukara rinumpaka jroning sekar Pangkur. Nadyan namung pérangan kang lengit. pringga dhusdha mutawatosi. sumberipun saking alam raya. dadya daya ingkang nguripi. awit ageng durakané. lidhah dipun kendhali tutur tan kalantur. prihé sami pinungkurna. 45. rurumpakaning wuwus. ngreregedi janaloka. dipun ening panampiné. Lumingkabing wawaler puniki. lamun mogèl mobah jroning latha. Mangkya dungkap warah kaping kalih.40. makaten imbanipun lidhah ingkang wèstu. Pan wus langkep lingkabing pramodi. Salir wawengkaning janma singgih. andhatengaken braminta. dadya daya paraya salir dhasdhi langut. leng lumingling ngluluri pranamya dhani. kasantyan kang dèn bujung. yèku manuswa tama. ywa ngalingi luputing sentana. ananawur sarawa gé. resepna kang satuhu. nora gampil pineper kalamun katrucut. Kang wasisdha tansah angulati. waged dados kabegjan kalamun pituhu. mring bebener wucaling bremana. temah dadya daya basuki. lebetna manjing kalbu. pramila kang bisama. datan mokal wawalar ndadi. dimèn menep jro sarasati.

Tumarah para sentana. siningkirna sagung dhasdhi angriridhu. upayanen paugeran priha tan wur. 49. 52. wit tan lengkep manira angluluri. temah sisah lamun katala wus kusup. lampahnya aywa dèn ugung. . pakeken datan lirwa. nora idhep mring dadalan. kinuswa gandaning pati. ywan gesangipun kastura. Masiya maksih sudara. murih kalis king dhuskarta. dadya ura jroning dhatu. Lamun ginadhuh wisésa. pamurih rèh jinejegna.PANGKUR 48. muksapada kang linari. langkana tan wrin godha. saya ndadi dhumateng wisésa wuru. ywa parasama ring manu. angalingi klepataning sentani. 50. linenggahna sapadha. satemah lulus basuki. Ywan pramoda dadya wasa. kang gumendhung morang kèhing kintaki. aywa gampil atilar silastuti. kaadilan kang santya. 51. sanadyanta dudu tuturasing ratu. Nilep lepating sentana. jugar wigar kang kawuri. 55. sanadyan tumrah ing bandhu. paraha sanagara. ywa nganti amémérangi. 56. cepengana ingkang wastu. paribasa babathang dèn kemuli. lumèng prabaning nagara. tetep dugi titi mangsa. dinendha sawatara. dharaka manggih astuti. aywa mangu pinidana. ngetrepi jejeging adil. sanadyanta nganti brukut. tikbranira dipun sanggi. sumrambah kawula dasih. piyarsakna gung pasambating kasi. becik tinerapan siku. poma-poma wicaga dèn ugemi. nora ngugung dupèh sentananing ratu. amikara dupèh maksih tedhak luhur. kang dadya ugering dhatu. Pirengwa dipun landhepna. Murih harjaning puraya. kalamun datan pakantuk. Aywa pisan darbé sedya. mongka sutra ingkang kinarya salimut. 54. nanging remen miyala sasing janmi. ingkang murwat klayan kalepatanipun. niyak sagung prarepa. 53. angèl dipun dandosana. gegebengan pradika gegyan adi. remen anunggyangtaya. wus datan kawistara. dhusdha pinaring papaka. Kang wasisdha angrèh praja.

Lamun kaladuk énaka. kethaha mring donya brana. tyang alit tan ana wani. wit misésa datan wènten tembung klintu. 59. prana winengku ing moksil. sentana dadya bala. angandelken maksih dharahing ngaluhur. nora bener kalamun tan dèn paèlu. . 61. wirahsané bebener duk inguni. ywan amengku wisésa nyakrawati. Prayojana ingkang prama. nora gingsir kalindhih sagung pamrih. lumuh pènget myang warah. Aja dupèh kadang raja. Awasna pamawasira. kascaryan kalenggahan. mamanisé wisésa pinracadi. panganggepipun kalantur. tan nayuti sanadyanta tindak luput. Poma dipun waspadakna. sinikara siya-siya. kasyang asih kibir edir lawan umuk. mring sentana mirah nggènnya andani. apracara sagendhingnya. pinaringan wengan awawatak diyu. pinurih tiningal èdi. aywa kalulun ing napsu. tedhak turun dipun ugung. langking tan ana rega. mring pangwasa kapiluyu. trékahnya anjurbalani. bisa akarya papaki. ical landheping rahsa. 60. lamun mukti padatan dadya lali.57. ngajak-ajak tingkahipun nyrambahi. Nggagadhang éndrasangsara. sinarujuk dyana luput. andé sangsaraning praja. kawuri amamalati. jinarken ngambra-ambra. tandang-tanduk sarwi ngéwan-éwani. 65. tundhoné angundhuh tuni. Suka-suka parisuka. 62. acongkak sosongaran. sanak kadang dèn uja. dupèh lelenggah ngaluhur. basan badrak badan kramu. tyas ura nir waskitha. Aywa wuru mring sarkara. anjuk risaking nagari. andrawili kasukan ingkang kabujung. nadyanta alit kéwala. binari asuka-suka. kupiya ywa kawistara. samudaya kaleresna. 64. 63. 58. tyang andèh tan ana wani. mangka murba wewenang angrèh kasi. dhateng sanak-kadangipun. kang satiti mulat sisiping tumanduk. ngudi cantya aji mumpung. Pan wus jamaking manuswa. lamun lepat sengadi datan anahu. mring dasih suka andaha.

nora nilarken papacuh. sirik nyilibken piala. Bangkit nahen sagung hawa. mring asanès siya-siya. tinilingna pasambat kawlasarsi. tumrah kawula sadarum. kemarung bobondhotan. kekeling kang dipunnèni. 71. wus tan wènten silastuti. jinarken amurang tatir. andurasa labetipun. 70. samektakna manah kadya udadi. 69. iku dudu wawantuning pangrèh luhur. sung apura kawula ingkang lali. dadya linglung nunjang palang kadé diyu. Mangkana traping trapsila. Kèh tyang sudra ananantya. Kalamun dadi pramuka. . tumrap kang sami andasih. nanging baya aywa kalimput ing semu. tan ana béda-béda.66. mring bebecik tan anaur. sung ancuta mring bebener datan indung. ambuburu angkara. 74. nora luwèh mring panglawung. 68. Latah remen andurkara. dyan loma pangapura. nalar mulur tan kalantur. waris sentana dèn uja. Angunguja karsèng driya. titis mawas gelitaning prakawis. lampah dora datan maksi. kakarèné tan liya sarwi rungsit. basan tatanem gugrumbul. kosok-wangsul mring sanak-kadang sadarum. mélik dèn anjuk tebya. kaadilan tan kendhat dipun udi. risak sakèhing ukara. pracékaning sentanèki. dadya pangungsèn sanyata. aywa mamang matrapi ingkang kalintu. katalya ing panggraita. ical jatining rahsa. catur wengis tumanduk ing sasami. niyak gegebengan luhur. malah mamales ala. lepating kadang siningid. 73. 67. luput winastan waskitha. pinitaya mangrèh jantraning nagri. Utana lestari begja. tan ana nohan nuhoni. Becik lamun paramarta. panyaruwé tan pinanggya. undhuhané prahara gung sakelang-kung. wus mratobat sanyata. nglangut nenga namu-namu. wus samesthi kang lepat pinaring bendu. kibir edir jubriya sagung janmi. pinta-pinta paneraknya. dupèh lagya ginadhuhan sendhang madu. 72. kadang kawula pan sami. Urip muspra nir sarkara. dupèh sanès sentana.

sinekar Asmaradani. iku wateké wong kumprung. . 79. wasna kaduwung ing kalbu. raos lingsem datan darbya. yèku amawang kadang. nora untung rinaketan. pantes dèn pedakana. 81. winirang lampah dursila. gumuyu rasan sarwa sru. tiwas tuwas wuntatnya. kukucah gung kamirahan. rongèh jlalatan ing semu. kukuwating anggyanira. winedhar sang twijara. murang kèhing pranata. Lamun ngrentahken paparing. pinaringken ring sasama. wawantuning taluwanwa. 78. Dyan kadang lamun tan becik. temah angundhuh cintraka. angajak-ajak sangsara. tan kénging pinitaya. andungkap warah katelu. nora béda klayan piwucal karuhun. mring pakeken datan andor. 80. ingkang tumrah gesangira. ngandelken kadang sentana. nora mawang béda-béda. Aywa nganti atatawing. ngugemi sagung wiyata. 82. tan pantes sinung kawiryan. Ruruh rentahing andani. bisa dadi kajalomprong. mahnani gancaring laku. linepat salir rencana. tuturasing kretiyasa. busana mawa lengkawa. Alelengis sarwi rukmi. 83. ywan kaandhar pepeceh kang kaping dwi. Makaten kababarira. pantes sinudarsana. dharah punapi liya. piniji ingkang tuwajuh. rumaos trahing kusuma. tulakang dadya babayu. kawurya tilar talutuh. Boten wurung tumut isin. 77. menggah lengkeping ukara. Tanasing janma utami. ASMARADANA 76. tan jetmika ing budya. nanging pasemoning nitya. bangkit angéntasken karya. pambeg ladak lumuh anor. remen narajang papakon. kèmbèt awoning sentana. nanantya datan piguna. kapengkok nora sembada. dupèh maksih dharah dhéwé. polah-tingkah sarawéyan. nir kretyawan datan kalok. Saking pasemon wus kèksi.75. jroning tyas adil kang dumon. kang amiji karsèng Katong.

Lumingling sagung kajatin. wuru dhumateng pangwaos. lamun paparing wisésa. nora kawuh ing pangrasa. iku patrapé wong pengung. 89.84. dèn papanken ing ngarsa. ing jaman kala katwara. Boten lingsem ing durniti. Lagya kalampah samangkin. ngembat wisésa tan saguh. Dipun émut aja dumi. mumpung maksih amisésa. pandhir dinadya pangarsa. mundhak-mundhak ing pakéwoh. lagya darbé pangawasa. morang sakèhing tata. sarna donya sosoba. kawanin suba tan sengkung. sokur bagé linubèran. Ywa karya tyasing lyan kanin. asanès winiruda. linenggahken papan éca. singa celak kang kadrasa. sung kawiryan maring bandhu. 86. rèh praja déning babandhu. aywa mawang sentana. iku dinadya pramoda. sanak-kadang mitra-karuh. makarya nora kawaba. dumarusa myang diggama. swawara asih sawegung. wit paparing tan warata. bubujeng pamurih kalok. jirèh ingangkat kretyawan. bucal lampah tatakya. ngangsu kawruh mring tyang blilu. tangginas ngrampungi karya. daridya undhuhanipun. 85. manah rupak nora kamot. pilih-pilih ingkang kanon. 92. tilar warahing pujangga. mung krana maksih sentana. patitis salir pepunton. dériti marang sakèhing wong. 88. mongka lengka twasanira. becik lamun rumasa. bisa mengku saniskara. Kathah-kathahipun janmi. patitis pamawasira. lenggah twijara tyang parnoh. nanging sanakkadangira. kadang konang binucala. 91. Kalamun datan sawawi. gatosna ingkang sayektos. mongka tan pengkuh ing kéwuh. Tilingna ning ing kawathi. datan kalèntu garjita. pawingking manggih katala. Dyan sanès darbé kawanin. teges sanès trah ngawirya. milaur mundur kéwala. néréndra nir ring sudarsa. tebih nora tinenga. 87. ngembrah dadi taluwanwa. pingging sinuba dwija. 90. kakadang dinadya bala. lumrah pinaring pambombong. . twasa kalimput dureta. tulya kujanapapa. 93. Sumimpanga king durniti.

mirungga maring sentana. boten kénging kawa-kawa. tan béda bebegal lamun. linimbang-limbang satuhu. pantes kalamun linakon. tinurut temah kalintu. Nadyan tedhaking acedhis. nanging bener pratikelnya. 95. raos mèri ingkang thukul. sugal diksura dèn soroh. suka dalajat pangkatnya. . 102. daruti semunira. lilingen kang prakara. jugar tataning puraya. 101. nging pinurih énaka. kawaba nandukken dardya. nging kasingsal ing budya. kasereng nunten kawirya. nyimpang margining utama. mongka gething dhateng liya. Darbéning lyan dèn talappi. 98. praja dadya puwara. garwakara sugih galu. Èwon-èwoning wong drengki. béda apa tiyang awon. dundum brana duratmaka. kang winiyat dupèh bandhu. 99. Ywan wus kukumpul nyawiji. Mring sasama gardhawari. mawang kadang lamun andon. sadaya titahing Manon. iku winih ingkang awon. guyub ngambah durniminta. datan remen karya pringga.94. tan mingkuh saking wawaton. sarujuk jajarah samya. 100. ririsak datarpa duwus. katala katiwang marga. gesang saraga wah kasor. drasa kaleban kasmala. kosok wangsul dyan sentana. tinengen mung kasukannya. nétra kawuh tan menga. tanpa panitipriksa. mring asanès durcara. miling-miling dupèh mitra. sanadyan sisipat dura. suthik wruh roganing manu. kanthi lungiting pangrasa. 97. tulakang panèn kasmala. naracak miwah ngrabasa. Nandukna bebener ugi. Lamun mangsa kala dugi. sakadang cepeng wisésa. suka-suka sagendhingnya. Lamun becik mring sawiji. kang nandhang wong sanagara. kasaénan amemengku. 96. kawurya dadya ura. remen anyelir sentana. aywa pilih-pilih jalma. Dudu patraping wong singgih. sareng sentana sapunton.

tekané jaman drubiksa. nora maèlu piawon. 104. iku nora prayoga. ngruwat sanggyaning piroga. wuru kayungyun arta. 105. marma manah tinarbuka. papakeming puruhita. nging paéka kang dèn gémbol. 112. kang nunggil winastan bala. tindakipun dumarusa. Tyang pengung mangrèh nagari. trékahé tiyang candhala. thukul welas tan pitakon. makatena tiyang kalok. tan gampil luntur winasoh. mung bubujung hartaka. tilar waspaosing prana. wit tan jajag rèh waskitha. 109. Mengker mangsa danawa ji. wengis mamalak ing pémut. tan wastu luhur ing nala. srakah kethaha lestantun. kaleng-gahan miwah dhatu. pratingkahipun tan parnoh. tan ana jrih duraka. paraya anteng garjita. mangka wawaton dèn prusa. madhangi kang puru-puru. santun ingkang baureksa. nuhoni jejeging pakon. kadi réwanda saranggon. asor ing bubudènira. patitis pamawasira. iku nyanyadhang pakéwoh. janma paramatatya. dredah bangsa padha bangsa. ngogak-ogak pangu-wasa. pinurih tan kawistara. becik lamun saranta. suthik nilingken wasita. Pétanana kang priyatni. 106. nora krana maksih bandhu. maksih kèmbèt apa liya. lila mardawa ing budya. Wageda dadya palupi. ywan lepat tutup tinutup. tinaliti kanthi turut. jumbuh turasing ngawirya. 110. gendhon rukon tindak dhusta. ngimpunimpun sanggya mitra. cinegah lumawan sampun. tindakira tan béda. maksih tilar wawantunya. Kinarya kudhung agami. prayoga purugana. becik legawa tutulung. ngungumbar saliting hawa. sarana suka purba. Wus sinerat jro pepesthi. muncar-muncar poladannya. sanak kadang dalah yoga. béda dèn anggep mala. Mlarat donya datan pasti. Miyat sudraning sasami. nging pradana pangawruhnya.103. temah puraya tan wèstu. Saking iring wétan semi. 111. . Lakon jaman kalasrenggi. 108. nora jejeg mring wawaton. pundi titiyang pranamya. 107.

dyan mung samrica binubut. 115. tan mawang kadang satuhu. alus sakelangkung lembat. pupuja ngéntasi karya. mangathik kadang myang mitra. sambet wyataning twijara. nora mangathik jana. priha tindak tan kalintu. Wus tan kapéncut ing daging. sinambet wedharing weca. supé harjaning kawula. tan luput ginayuha. Dungkap pungkasing wigati. harjaning rastala samya. remen lamun pinuja. Pungkasing jaman dériti. sugih tan mangéran bandha. nyinyingkur aji pamasa. lamun bénjang ana janma. suka pémut mring kang mirong. gegaran wenang misésa. nubruk buron ingkang ringkya. 118. makaten tyang alit iku. 121. tebih mélik cegah napsu. 114. wawarah mangrèh puraya. mijil saking jro wewengkon. uwal saking lenging widya. Sinuprih tan morang margi. lirwa wisiking Hyang Manon. angedirken pangwasa. sasat Pangéran maraga. datan kasengsem pambombong. wadana ning susmaya. adil tuwin paramarta. Pasemonnya ladak edir. mring panguwaos gumendhung. dèn mangsa nora suwala. Tyang kang mlarat datan langking.113. minongka tatadhahnya. 116. pantang lamun dèn badala. 117. prakawis mèt donya brana. Asring dadya ciri wanci. mirid karsaning Hyang Katong. sudarpa asidikara. 120. pangiring samya anglulu. . lepat boten kawistara. Piwucal catur puniki. jinugag lingkabing wahyu. mungkul mring Hyang Widi-wasa. ngrucat salir angkara. pamrih antuk kang dèn sedya. kalayan angudi wadon. adil sagung prakara. migati mring sakèhing wong. ingkang lagya amisésa. pongah awawatak rimong. kang damel rupaking jangka. 119. agal donya datan kamot. gelaring tanah Jawa. suthik nenengen sudara. sapa wani mancasana. jro riribed sonya tuhu. Meleng gilig kang dèn udi.

wus ical éwuhing rahsa. dyan ngrebat uriping lyan. nora kaladuk hawa. wah malih kawula sami. tangèh lamun marema.122. tebih tataning nagri. welasarsa wus tebih saking pangrasa. kinarya imbet kéwala. toya sablumbang saari. manut gaduking nala. paripaos timun wungkuk. dyan kawedhar sakadarnya. pangarem-arem mili. anguntal mangsanirèki. SINOM 123. Raos tuwuk tan kadarbya. kinarya ompaking wisdhi. Wus dadi jamaking janma. Becik wantuning walika. mamak dhumateng gahi. 128. . kang badal dipun sirnani. waton antuk kang dèn bujung. tur ginadhuh wisésa. 127. ngowos-owos maksih suwung. ringkih dipun kaniaya. bikut gènira nalapi. saya wantun nerak margi. mring gebyar samya kayungyun. kang tinengen karemenaning pribadya. antuk leksa kurang kethi. tan nenga gegesing dasih. tan mosik nganti sasasi. murba gunging wisésa. kang dèn bujung tan liya mung kasukannya. Remen angalap ruruba. kadya lampah tataki. prawira datan kadarbi. Mangiwut tatandho arta. panggah datanpa isi. béda janma ingkang wuru mring pangwasa. 126. sasat genthong ingkang ciri. 124. puluh-puluh iku wataking drubiksa. dadya wadaling durniti. ngasil-asil donya brana. punapa déné upeti. Menggah lengkeping kintaki. mundhut lebon king punggawa. jro jaman mengeng puniki. kacetha pupuh lajengnya. songar dupèh tan ana wantun mamada. ngangah-angah jroning budi. raos lingsem wus kawuri. masiya dipun grujuga. tegel tan èwed papati. 125. temah gesang tansah kogung. rinumpaka sekar Sinom. nganung-anung aji pum-pung. pangadhuh tan praduli. nenedha sacekapipun. Tyang alit kadamel tumbal. sapisan tumunten néndra. kecèh wang paribasa.

132. praja jugar kawula buyar wuntatnya. tan éman patining liya. wengkon samya ambalila. puluhpuluh wus dugi lengkeping jangka. kang jujur nandhang kalantur. lamun kadhung kaduwung datan piguna. béda gama dèn cengili. resik winada tan wasis. wus tan ana kang kénging dipun pracaya. ingkang ngririsak nagari. wusna samya andon napsu. padha bangsa samya campuh. Tangané padha candhala. dingkik-diningkik sasami. 130. tumus gesangirèng dasih. agahan karem mring donya. tan ènget raos manunggil. babasan grumbul eri. wus supé jejeging adil. pinrawasa dèn gaglag kanthi kethaha. bebener dèn tebihi. Ical kuncaraning praja. Pawingking ngundhuh dahana. . pra pangarsa mutusi sukèng tyasira. 136. mangsah prang mumungsuhan. panguwasa soroh napsu. masgul wit datan pinunjul. hakim remen wang upeti. séjé bangsa sinengit. bubujung mulading kapti. tilar tepaning sami. Prihatos lamun uninga. sak-serik saya ndadi. 133. bubujeng buron kang ringkih. tinekuk-tekuk sakarsi. nora idhep tataning janma utama. samya ngarah papati. ngrèrèndhèt ambancang laku. 134. kadya wawantuning diyu. miturut kang asung arta. musna lestarining nagri. téga roga-ning sasama. narajang sagung papali. crah adredah rebat mukti. mitra tegel angapusi. surem madyaning buwana. welas-arsa pan wus sepi. kondhang bangsa ingkang wengis. jro liliwunging wana. tan pinétang nagara ji. Angger-angger sinélakan. puwara kasub jinawi. nasar antuk astuti. lupa rèhing prawira. saking lebeting nagari. karya uraning pranata. 131. blaka manggih antaka. kala jiret dèn pasangi. rinèmèh jro papaki. gung asor dalajatnya. Tebih saking asih darma. Ywan lepat gènnya mranata. nora barès malah mukti. kang tinengen duraka klayan dursila. kemarung pindhanira. munasika kawula. trékahing umat puniki. tyang mursid sampun sirna. 135. miruda padhaning manu. akarya ngungun ing ati.129. Urip dadi salah kaprah. élok lamun rinasakna.

padharan tansah luwya. tatamba panggah sakit. Ngombéya maksih dahaga. tan émut trapsilèng krami. 139. supè walering margi. Nahen napsu nora kampah. . tyang sugih remen ngapusi. éwuhaya ing budi. langkung kathah mapali. anak lanang tan bektya. kabèh pokal tangèh lugu.137. nguja mubaling branta. babaya tan uninga. Kayungyun mring kasulistyan. tan jejeg kedaling lathi. kineluh liring pawèstri. dugèng jangka jaman babaya cintraka. 138. tilar waskitèng kapti. Poma-poma élingana. sisimpen datan gadhahi. nyanyaput nering pangreti. ngumbar hawa tanpa budi. pindha kukila kapulut. tan maèlu pager ayu. tan sempulur ginawa dugèng pralaya. nir tuladha sumimpang saking pranata. ipat-ipating Hyang Widi. sengsem kasmaran wanodya. Kalakyan ing jaman ika. Atatandho rajabrana. 140. ngandelken kuwasa-nipun. cinongok ing cungurira. ngalèyèh ing pangkonira. 143. nyebar wiji tangèh angundhuh wohira. 142. takeran sami dèn suda. nenedha tangèh atuwuk. myang liyan gampil mélik. linipur saya dhuhkita. dèn nepken mubal andadi. garwa yoga tan pinétang waton bisa. watu timbangan cicir. babandan dèn adili. kadi tyang bodho katali. dupi wus lenggah ngaluhur. 144. Rinungrum gampil arentah. pakèwed tan kadarbya. lenging cipta mung juga tinurutana. asalipun king durniti. arsa aso kang sayah. ical waspaosing driya. mantu lumawan si biyung. wawaler dèn campahi. suthik mirengna papali. lamun kena panèn mamala antaka. ywa nglurug sanès parigi. kang mlarat tan pinracaya. punapa déné pawèstri. Aja pasrah marang kanca. kang dadi walering margi. traju ginanjel tan wèsti. temahan kénging walat. winada nora malangi. lamun léna sungkawa nora kuwawa. dora cidra salir janmi. lir lembu dipun patrapi. 141. kalebet minta pawèstri. langkung kesel kang pinanggih. wenang mundhut babana. sinabarna dadya gugup. marang bapa mamancahi. ngombéya ing belikira. léna linepas jemparing.

146. tyas meleng ning nyawiji. atataki sawatawis. . muncar wibawaning prabu.145. rongèhing manah kadlarung. yèn mangkana ical prabawaning praja. marema ingkang kadarbya. ngasag-asag sapinanggih. pinitaya dipun aji. sinuyudan kawula. kasengesem mring sendhanging lyan. parwi dasih ingalap. raos èwed wus sepi. sinengguh dadya upeti. lamun remen luru warih. Cacat menggahing pangarsa. Becik lamun tinahena. ywa malang tumolèh margi. temah lulus sempulur kuncaranira.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful