Anda di halaman 1dari 15

PEDOMAN PELAKSANAAN ANALISIS KEBUTUHAN PELATIHAN (TRAINING NEED ANALYSIS) BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Pelatihan merupakan suatu hal yang penting untuk meningkatkan kemampuan seseorang salah satu jenis pelatihan adalah pelatihan arsetivitas. Pelatihan asertivitas adalah suatu teknik pelatihan yang dimaksudkan untuk mengajarkan dan membiasakan individu berperilaku asertif dalam hubungan sehari-hari dengan orang lain di sekitarnya. Dalam menjalin hubungan dengan orang lain hendaknya seseorang harus bisa menempatkan diri sesuai dengan kondisi saat itu. Untuk itu pelatihan arsetivitas diperlukan agar seseorang terbiasa untuk bersikap sopan terhadap orang lain. Banyak sekali kasus menunjukkan bahwa seseorang tidak dapat menjalin hubungan baik dengan orang lain, mereka bersikap acuh dan tidak acuh, sibuk dengan pekerjaan masingmasing, tidak menghargai hak-hak orang lain, tidak bisa mengahargai orang lain. Berdasarkan hasil wawancara awal dengan guru BK, didapat informasi bahwa para siswa mempunyai masalah dalam hal interpersonal terutama bagaimana mengungkapkan apa yang sesuai dengan dirinya melalui sikap yang baik. Guru BK sering menangani masalah percekcokan antar siswa maupun siswa yang kesulitan untuk menolak permintaan temannya. Permasalahan yang ada biasanya memang masih pada tingkat verbal walaupun ada juga sampai pada tindakan fisik berupa perkelahian. Kasus bullying juga ada namun tidak terlalu menonjol, adapun keluhankeluhan siswa junior terhadap sikap atau ucapan dari siswa senior biasanya berupa kesulitan untuk mengekspresikan perasaannya atas perilaku atau ucapan senior tersebut. Dalam mengahadapi kasus ini pelatihan arsetivitas diperlukan agar sesorang itu bisa berubah dan menunjukkan hubungan baik dengan

orang lain. Untuk itu dalam makalah ini akan dijelaskan tentang konsep pelatihan arsetivitas.

TUJUAN DAN MANFAAT Sesuai dengan masalah yang telah dikemukakan pada latar belakang maka tujuan pelatihan asertivitas ini adalah : 1. Untuk menurunkan agresivitas verbal pada remaja 2. Mengurangi kasus kekerasan remaja 3. Meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri 4. Membantu untuk mendapatkan perhatian dari orang lain 5. Meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan Pelatihan asertif ini sangat bermanfaat sekali dalam membentuk mental komunikasi yang baik dan memberi penolakan dengan tetap menghargai dan menghormati orang lain, selain itu dengan bersikap asertif kita juga dapat: 1. Mampu menunjukkan rasa empati pada orang lain 2. Mampu membangun kesadaran diri dan pemahaman pribadi 3. Mampu mengendalikan impuls-impuls negatif pada diri sendiri 4. Mampu menyalurkan emosi positif secara efektif 5. Dapat berhubungan dengan orang lain dengan konflik, kekhawatiran dan penolakan yang lebih sedikit Lebih jauh lagi perilaku asertif membuat seseorang merasa bertanggung jawab dan konsekuen untuk melaksanakan keputusannya sendiri. Dalam hal ini, ia bebas untuk mengemukakan berbagai keinginan, pendapat, gagasan dan perasaan secara terbuaka sambil tetap memperhatikan perasaan orang lain. Citra dirinya akan terlihat sebagai sosok yang berpendirina dan tidak terjebak pada eksploitasi yang merugikan dirinya sendiri. Dengan demikian, akan timbul rasa hormat dan penghargaan orang lain yang berpengaruh besar terhadap pemantapan eksistensi dirinya ditengah-tengah khalayak luas.

C.

Ruang Lingkup Ruang lingkup analisis kebutuhan pelatihan meliputi : 1. Membina hubungan interpersonal -makna hubungan interpersonal -manfaat hubungan interpersonal -empat syarat dalam membina hubungan interpersonal >empati >kepercayaan >Kredibilitas >fleksibilitas 2. Komunikasi interpersonal -proses komunikasi interpersonal -komunikasi interpersonal yang efektif -hambatan dalam komunikasi yang efektif -komunikasi empati -manfaat komunikasi empati -praktek komunikasi empati 3. Membina kerjasama interpersonal -kerjasama dan sinergi -makna dan manfaat sinergi -persyaratan untuk terjadinya sinergi dan kerjasama interpersonal -simulasi : pengambilan keputusan sinergi dalam kelompok 4. Mengatasi konflik interpersonal -pengertian konflik dan perbedaan pendapat -memahami mengapa orang bisa menjadi sulit -teknik menyelesaikan konflik dan perbedaan -teknik mendengarkan dengan aktif dan empati -teknik meredakan kemarahan dalam diri sendiri -teknik mengurangi konflik interpersonal dalam kelas 5. Komunikasi asertif -pengertian asertivitas -manfaat komunikasi asertif -perspektif perilaku asertif -hak dan tanggung jawab

-bahasa asertif -nada asertif dan bahasa tubuh -bersikap responsif -menempatkan diri ke depan -menghadapi orang yang sulit -memberi dan menerima umpan-balik dan kritik

D. Pengertian-Pengertian 1. Program Pelatihan adalah suatu paket yang berisi keterampilan teknis atau manajerial yang dilengkapi jumlah peserta, metode kurikulum dan silabus yang dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu; 2. 3. Pelatihan Teknis untuk Pelatihan Stella Duce I Fasilitas dan Sarana Pelatihan adalah sarana pendukung dalam penyelenggaraan Pelatihan yang berupa gedung sekolah, ruang kelas. 4. 5. Tenaga Pelatih/Instruktur adalah seseorang calon Psikolog klinis. Asertif adalah Perilaku yang menyatakan secara langsung suatu ide, opini, dan keinginan. Tujuan perilaku asertif adalah untuk mengkomunikasikan sesuatu pada suasana saling percaya. Konflik yang muncul dihadapi dan solusi dicari yang menguntungkan semua pihak. Individu yang asertif memulai komunikasi dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat menyampaikan kepedulian dan rasa penghargaan mereka terhadap orang lain. asertivitas adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain (Rini,2001). perilaku asertif adalah perilaku yang menunjukkan penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain(Willis dan Daisley, 1995). asertif adalah tingkah laku yang menampilkan keberanian kebutuhan, untuk secara jujur dan terbuka menyatakan apa adanya, perasaan, dan pikiran-pikiran Asertif Pada Remaja Di SMA

mempertahankan hak-hak pribadi, serta menolak permintaanpermintaan yang tidak masuk akal dari figur otoritas dan standarstandar yang berlaku pada suatu kelompok (Rathus dan Nevid, 1983). perilaku asertif adalah perilaku yang membuat seseorang dapat bertindak demi kebaikan dirinya, mempertahankan haknya tanpa cemas, mengekspresikan perasaan secara nyaman, dan menjalankan haknya tanpa melanggar orang lain (Alberti dan Emmons, 2002). Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan asertif adalah apa perilaku yang bertujuan dirasakan, untuk dan mengkomunikasikan yang diinginkan,

dipikirkan kepada orang lain secara jujur dan terbuka dengan menghormati hak pribadi kita sendiri dan orang lain. 6. Analisis Asertif dalah Analisis sistematik tingkah laku (keterampilan, pengetahuan dan sikap) yang dipersyaratkan untuk mengkomunikasikan sesuatu pada suasana saling percaya agar individu mampu merefleksikan apa yang seharusnya dia lakukan ketika menghadapi suatu kondisi tertentu. 7. Analisis Kebutuhan yang diinginkan. 8. 9. Analisis Perilaku asertif adalah Proses menganalisis perilaku individu dalam mengkomunikasikan apa yang individu rasakan. Keterampilan adalah Kemampuan mental atau fisik yang dipersyaratkan untuk menunjukkan kegiatan atau pelatihan asertif yang dapat membantu Remaja Di SMA Stella Duce I. adalah Analisis kebutuhan mengacu pada perbedaan antara kondisi sekarang dan kondisi unjuk perilaku

BAB. II ANALISIS KEBUTUHAN PELATIHAN (TRAINING NEED ANALYSIS/TNA)

A.

KONSEP TNA Dalam melaksanakan pelatihan hal yang paling utama dan pertama adalah analisis kebutuhan pelatihan. Analisis kebutuhan pelatihan akan mencerminkan keadaan yang sesungguhnya yang dihadapi oleh para calon peserta pelatihan dalam hal ini adalah siswa SMA Stella Duce I dalam melaksanakan tugasnya, jika dibandingjkan dengan sesuatu yang menjadi standar. Dalam menganalisis kebutuhan pelatihan dicoba dibandingkan antara perilaku para remaja tersebut yang telah diberikan pelatihan asertif dan yang belum diberikan pelatihan asertif sesuai dalam standar operasi yang telah ditetapkan. Adanya perbedaan antara kedua perlakuan tersebut merupakan petunjuk tentang adanya permasalahan yang dihadapi oleh remaja dan sekolah. Perbedaan atau masalah itu merupakan petunjuk apa yang perlu disiapkan bagi pemilihan strategi (pelatihan atau non pelatihan) dan pemilihan program pelatihan.

B.

FUNGSI TNA Training Need Analysis ini adalah suatu proses analisis terhadap permasalahan dan bagaimana pelatihan akan diberikan berkenaan pengembabngan kemampuan siswa remaja tersebut untuk berperilaku asertif. TNA memiliki berbagai fungsi yang meliputi: 1. Mengumpulkan informasi kemampuan keterampilan, pengetahuan dan sikap siswa remaja tersebut. 2. Mengumpulkan tentang sikap dan perilaku siswa remaja tersebut yang sebenarnya. 3. Mendefenisikan/menetapkan secara terperinci manfaat kemampuan berprilaku asertif. 4. Memunculkan keberanian mengambil keputusan untuk berprilaku asertif.

C.

METODE PELATIHAN Dalam pelaksanaantraining need analysis untuk remaja di SMA Stella Duce I digunakan metode pelatihan antara lain sebagai berikut 1. Empati (Role Play / Film), 2. Keterampilan Sosial (Team Work), 3. Motivasi (Film), Relaksasi

BAB III MEKANISME ANALISIS KEBUTUHAN PELATIHAN (TNA) A. Skema Analisis Kebutuhan Pelatihan

Analisis Perilaku asertif

Empati (Role Play / Film), Atau Keterampilan Membandingkan hasil Analisis Calon peserta dengan hasil Analisis obyek Sosial (Team Work), Atau Motivasi (Film), Relaksasi Kebutuhan Pelatihan

Analisis Calon Peserta pelatihan (Remaja SMA Stella Duce I)

Program Pelatihan
Penjelasan skema adalah sebagai berikut: Analisis Kebutuhan Pelatihan sebagai upaya untuk memperoleh informasi tentang kebutuhan pelatihan yang digunakan sebagai bahan dasar penyusunan /pengembangan program pelatihan. Analisis kebutuhan pelatihan dimulai dari analisis Perilaku asertif, yang merupakan hasil dari observasi pretest dan post test.

Kebijakan pelatihan tersebut, akan menjadi acuan analisis-analisis selanjutnya. Analisis Kebutuhan Pelatihan dapat dilakukan terhadap beberapa obyek analisis yaitu : 1. Analisis pelatihan perilaku asertif dilakukan jika sudah ada/tersedia standar kompetensi yang sesuai dengan program pelatihan yang hendak disusun 2. Analisis Perilaku asertif, jika sudah jelas perilaku tersebut perlu diberlakukan pelatihan untuk perubahan perilaku remaja di SMA Stella Duce I. 3. Analisis Calon Peserta Pelatihan, dilakukan terhadap peserta untuk mengetahui sejauhmana kemampuan peserta untuk mengkomunikasikan atau melakukan perilaku asertif. Analisis 1 s/d 3, merupakan analisis terhadap pihak yang

membutuhkan (Demand), Selanjutnya analisis kebutuhan pelatihan juga dilakukan terhadap pihak calon peserta pelatihan (Supply) Setelah diperoleh hasil analisis dari pihak yang membutuhkan (demand) dan pihak calon peserta pelatihan yang ada (supply), maka kebutuhan pelatihan yang ada ditentukan dengan membandingkan kedua hasil analisis pihak demand dan supply tersebut yang merupakan selisih atau kesenjangan yang ada Kebutuhan pelatihan ini merupakan isi/muatan pada sub judul Pelatihan Asertif Pada Remaja Di SMA Stella Duce I dalam program pelatihan. B. ANALISIS KEBIJAKAN PELATIHAN Kebijakan Pelatihan adalah pernyataan secara tertulis atau secara lisan, tentang keputusan yang berhubungan dengan prioritas pelatihan serta pendekatan, cara dan sistem penyelenggaraan pelatihan. Kebijakan pelatihan tidak selalu dinyatakan secara lengkap dan terinci, oleh karena itu perlu dilakukan analisis dan penjabaran kedalam kalimat dan bahasa yang lebih operasional, sehingga maksud kebijaksanaan tersebut dapat lebih mudah untuk dimengerti , dipahami, dihayati dan lebih mudah dilaksanakan dalam penyelenggaraan pelatihan Asertif.

LANGKAH-LANGKAH ANALISIS Dalam melakukan analisis kebijakan pelatihan digunakan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Observasi 2. Wawancara 3. Pretest 4. Menentukan prioritas : Dengan diketahuinya tujuan kebijakan, selanjutnya dapat ditentukan hal-hal yang hendak/harus dilakukan dan disusun atau diurut sesuai dengan skala prioritas yang artinya hal-hal mana mana yang selayaknya didahulukan 5. Menentukan pelaksanaan : Setelah hal-hal yang harus dilakukan secara berurutan sesuai skala prioritas selanjutnya ditentukan jadwal pelaksanaan dari masing-masing kegiatan tersebut. 6. Memeriksa hasil analisis : Setelah diperoleh hasil analisis dan dicatat dengan baik, perlu diperiksa dengan cara membandingkan dengan keseluruhan isi teks kebijaksanaan pelatihan tersebut 7. Mendiskusikan hasil analisis : Akhirnya hasil analisis yang dicatat dengan baik didiskusikan dengan pihak-pihak lain baik secara perorangan maupun secara kelompok yang dipandang berkaitan dengan tugas dan tanggungjawabnya, disempurnakan. keahlian, pengalaman, sehingga dapat lebih

BAB IV PROSES PELAKSANAAN TRAINING NEED ANALYSIS (TNA) Sebelum Proses pelaksanaan analis kebutuhan pelatihan ini

dilakukan maka diberikan pretest berupa kuesioner dalam bentuk skala asertivitas yang dibuat berdasarkan ciri perilaku asertif menurut Weaver (1993) yang mengemukakan beberapa ciri yang bisa dilihat dari seorang individu yang asertif, yaitu: (a) Mengijinkan orang lain untuk menjelaskan pikirannya sebelum dirinya sendiri berbicara, (b) Mempertahankan keadaan yang sesuai dengan perasaan individu, (c) Membuat keputusan berdasar pada apa yang dianggap individu benar, (d) Memandang persahabatan sebagai kesempatan untuk belajar lebih jauh tentang diri sendiridan orang lain serta untuk bertukar pikiran, (e) Secara spontan dan alami memulai percakapan menggunakan tekanan dan volume suara yang sedang, (f) Berusaha untuk mengerti perasaan orang lain sebelum membicarakan perasaannya sendiri, (g) Berusaha untuk menghindari hal yang merugikan dan merepotkan dengan membicarakan masalahnya sebelum dirinya menemukan arti yang masuk akal untuk memecahkan masalah yang tidak dapat dihindari, (h) Menghadapi masalah dan pengambilan keputusan dengan tabah, dan (i) Bertanggung jawab dengan menghargai situasi, kebutuhan dan hak individu.

Program Pelatihan Setelah ditetapkan kebutuhan pelatihan selanjutnya dapat disusun Program pelatihan yang diatur dalam pedoman tersendiri. Cakupan Materi Training : 1. Pengantar Pengertian dan ciri-ciri perilaku aserif Pentingnya perilaku asertif Aturan-aturan dalam perilaku asertif

2. Mengenali tingkat asertif diri sendiri N O 1 Di sekolah INDIKATOR Saya selalu berusaha memberikan kesempatan orang lain terlebih dahulu dari saya untuk menjelaskan pikirannya Saya selalu mengikuti perasaan saya berkenaan dengan keadaan yang ada. Keputusan saya selalu berdasarkan apa yang saya anggap benar. Menurut saya persahabatan itu adalah kesempatan untuk belajar lebih jauh tentang diri sendiri dan orang lain serta untuk bertukar pikiran Saya selalu berusaha secara spontan dan alami memulai percakapan menggunakan tekanan dan volume suara yang sedang Saya selalu berusaha untuk mengerti perasaan orang lain sebelum membicarakan perasaan saya sendiri Saya selalu berusaha mencari jalan keluar sendiri terhadap masalah saya sebelum membicarakannya dengan orang lain. Saya selalu tabah dalam menghadapi masalah terhadap hasil keputusan yang diambil. Saya selalu berusaha menghargai situasi, kebutuhan dan hak diri sendiri dan orang lain. SS S TS STS

2 3 4

8 9

Di rumah Secara umum

3. Mempersiapkan diri untuk menjadi asertif Kontrol emosi Pribadi yang kalem Berpikir positif a. Mawas diri (self-awareness) b. Penilaian diri (self-esteem) c. Citra diri yang positif (positive self-image) d. Bahasa yang positif e. Berbicara yang positif f. Mencari hasil yang positif dalam menyelesaikan konflik Mengenali hak dasar diri sendiri dan orang lain

4. Teknik-teknik bertindak asertif Memberikan umpan balik Meminta umpan balik dari orang lain Menentukan batasan Membuat permintaan Berlaku persisten Membingkai kembali Mengabaikan provokasi Merespon kritik

5. Praktek berperilaku asertif

BAB V PENUTUP

Pada dasarnya pendidikan dan pelatihan adalah saling terkait, tidak dapat dipisahkan dari pembinaan sumber daya manusia. Pembinaan sumber daya manusia dapat dilakukan melalui tiga jalur yang saling terpadu dan berkelanjutan. Tiga jalur tersebut adalah pendidikan, pelatihan, dan pengembangan di tempat kerja.

Jalur pelatihan harus diawali dengan kegiatan analisis kebutuhan pelatihan (Training Need Analysis). Maka untuk mempermudah tenaga pelatihan dalam menyususn kebutuhan pelatihan, dapat menggunakan pedoman analisis kebutuhan pelatihan. Pedoman ini dimaksudkan sebagai salah satu acuan dalam pelaksanaan analisis kebutuhan pelatihan (Training Need Analysis).