Anda di halaman 1dari 8

Anggaran Dasar

KEKERABATAN MASYARAKAT ADAT ULU RIAU


Bahwa Nusantara dapat lahir pada sebuah tanah-tuah yang memiliki pusat-pusat kekuatan yang bersatu padu membentuk negeri di belahan khatulistiwa di asia timur raya. Disinilah kerajaan kerajaan dan wilayah-wilayah adat terus tumbuh sebagai daya-kuasa yang agung dan suci. Inilah bumi tempat segala tempat persilangan peradaban, keyakinan dan harkat kemanusiaan segala penjuru dunia. Menyusuri takdirnya dalam Perjanjian Luhur sebagai bangsa yang berdaulat, berdikari dan bermartabat. Bahwa dalam upaya melestarikan dan mengembangkan pusat pusat budaya nusantara diperlukan lompatan baru kembali dengan menciptakan karya kinerja baru yang dapat memanfaatkan eksistensi dan peran keraton kerajaan se - Nusantara dan Wilayah-wilayah Adat untuk menjawab berbagai tantangan kehidupan, lokal, nasional maupun mondial. Senyatanyalah kerajaan se Indonesia menghidupkan kembali Cahaya Budaya Nusantara sebagai amanah suci mengembalikan kemuliaan alam semesta. Bahwa Sultaniya, kerajaan, wilayah adat sebagai salah satu sumber nilai budaya luhur indonesia merasa terpanggil untuk menjaga keluhuran moral, ketauladanan, meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat, dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai anugrah yang tiada ternilai harganya. Negara yang telah merupakan amanah dari para kusuma bangsa, haruslah kembali menemukan kedigjayaannya dalam format masa kini dan mendepan. Bahwa Sultaniya, Kerajaan, dan Wilayah Adat telah menyadari sesadar-sadarnya bahwa dirinya adalah pengayom pelindung masyarakat dan gardadepan pelestari lumbung kebudayaan bangsa, dengan tanpa kenal kenal lelah memperjuangkan masyarakat kembali kejatidiri dan kepribadian nan adiluhung. Upaya ini dengan mengajak seluruh unsur lapisan masyarakat Indonesia untuk melestarikan keadaban bersama, menerapkan nilai nilai luhur budipekerti dalam kehidupan sehari hari, menggapai penerangan yang sempurna dan sekaligus pula menciptakan kebahagiaan seluruh mahluk-hidup dalam bentuknya yang paling mempesona. Atas dasar keinginan luhur untuk secara bersama-sama, terpadu dan sinergis, untuk mengembangkan jatidiri dan keperibadian Bangsa guna mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka dengan Ridho dan Berkat Tuhan Yang Maha Esa, dengan ini

seluruh Masyarakat Adat yang Berada dalam Kawasan Sejarah Adat dan Budaya Melayu Ulu Riaui, sebagai pelaku sosio-kultural, sepakat berhimpun dalam suatu wadah organisasi dengan landasan dan pengaturan sbb :

BAB. 1 NAMA, WAKTU, TEMPAT DAN KEDUDUKAN Pasal 1,. Nama, kedudukan dan hari 1. Organisasi ini bernama Kekerabatan Masyarakat Adat Melayu Ulu Riau, yg selanjutnya disingkat K.M.A.M ULU RIAU 2. Organisasi ini didirikan di Pulau Biram Dewa Kota Piring Ulu Riau Tanjungpinang sejak beerabat silam dan kini di bangkitkan kembali pada, tanggal Enambelas Januari dua ribu tiga belas ( 16-02-2013) dan didirikan untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya. 3. Tanggal pendirian organisasi 16 Februari dijadikan Kebangkitan Adat di Ilu Riau. 4. Organisasi ini berkedudukan di ibukota Republik Indonesia. Pasal 2. Azas Organisasi ini berazaskan Pancasila Pasal 3 Sifat 1. Organisasi ini bersifat independent, dan bukan merupakan bagian dari organisasi lain. 2. Organisasi ini dapat bekerjasama degnan pihak manapun, baik didalam maupun luarnegeri, sesuai dengan hukum yang berlaku. BAB 2. TUJUAN, MAKSUD DAN USAHA Pasal 4. Tujuan Organisasi ini bertujuan untuk melestarikan, melindungi khasanah budaya, dalam dayabudi, budipekerti yang agung, kemartabatan, kemuliaan dan kejayaaan Masyarakat Melayu Ulu Riau. Pasal 5. Maksud

1. Wahana komunikasi antar Masyarakat Adat, budaya, dan tradisi dan berbagai istilah yang dipersamakan dengan itu. 2. Memperkuat tali silaturahmi antar Masyarakat Adat, budaya dan tradisi dengan berbagai pihak dalam wahana kebajikan dan kemaslahatan. 3. Memperkuat kekerabatan, persahabatan yang luhur antara keluaerga dan pewaris budaya seluruh Ulu Riau, sepanjang masa. 4. Melestarikan warisan budaya, benda cagar budaya, Istana, puri dan seluruh sumberdaya pewarisan bangsa. 5. Memberikan perlindungan terhadap seluruh warisan budaya dan nilai nilai yang terkandung didalamnya. 6. Menguatkan nilai nilai kemartabatan, kemuliaan setiap manusia, dengan memulai tauladannya di Ulu Riau. 7. Menguatkan kearifan tradisional sebagai modal dasar pembangunan dalam berbagai aspek dan dimensinya. 8. Meningkatkan kesejahteraan para pewaris dan pelestari khasanah budaya bangsa. 9. Mengelola sumberdaya kebudayaan sebagai sumberdaya ekonomi, social dan integritas insani. 10. Mengembangkan kawasan budaya yang dapat menjawab tantangan zaman, dan kerinduan ummat. 11. Mempertahankan kawasan ulu riau sebagai kawasan yang memiliki Hak Ulayat. Pasal 6. usaha Dalam upaya mencapai tujuan organisasi ini, dilakukan usaha; 1. Bekerjasama dengan pemerintah, dan pihak pihak lain dalam pelestarian dan perlindungan khasanah budaya bangsa. 2. Memperkuat kemartabatan and kemuliaan bangsa secara keseluruhan dalam ketauladan dan budipekerti yang agung. 3. Mengembangkan media pengembangan khasanah kebudayaan nasional dalam bentuk film, jurnal, website, dan media lainnya. 4. Menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam rangka memperkokoh kemartabatan dan kemuliaan berbasis kearifan tradisional, keagungan sultaniya dan pengalaman kejayan kerajaan kerajaan di Indonesia. 5. Melakukan upaya menyeluruh untuk peningkatan kesejahteraan rakyat, para pewaris, pemangku adat, pemimpin komunitas dan seluruh kerabat/ sentana / zuriyat keraton dan kerajaan se Indonesia. 6. Melakukan upaya untuk meningkatkan pendapatan rakyat dengan pengelolaan sumbedaya alam, sumberdaya budaya, sumberdaya genentik, sumberdaya pengetahaun tradisi,

sumberdaya folklore dalam kemartabatan dan kemuliaannya yang agung dan berkeindahan. 7. Mengembangkan kelembagaan dalam upaya partisipasi pembangunan dan penguatan sumberdaya kerajaan dan kesultanan. 8. Mengupayakan usaha-usaha yang halal dan baik yang dapat mendukung tujuan organisasi

BAB 3. KEANGGOTAN, KOMPONEN ORGANISASI Pasal 7. anggota 1. Anggota adalah Masyarakat Budaya yang memegang teguh nilai adat istiadat warisan keluarga yang berada dikawasan ulu riau. 2. Kriteria, Prosedur dan Persyaratan Anggota akan ditetapkan secara tersendiri melalui keputusan khusus. Pasal 8. Struktur Keorganisasian 1. Stuktur organisasi terdiri dari Majlis Pangkuan, yaitu Pangkuan yang akan mengantarkan Masyarakat Adat kepada Pemangku Adat. 2. Pemangku Adat adalah pemegang amanah dari setiap bathin yang terkumpul dalam majlis pangkuan. Serta Pemangku bertanggung jawab mengantarkan kepada pemimpin yang lebih haq untuk mengantarkan kepada Pewaris Sultan Abdurrahman Muazzam Syah selaku Sultan Lingga-Riau terakhir yang berkuasa pada kawasan tersebut. 3. Setiap level kepengurusan terdiri dari Pangkuan Adat (Pengurus Harian), Datok berempat (Dewan Penasehat, Pakar) , Datok Berlapan (Dewan Pertimbangan). 4. Pemangku Adat (Pengurus Harian) dapat membuat kepengurusan yang terdiri dari Bidang-bidang, Departemendepartemen, Divisi-divisi dan Satuan kerja lainnya. 5. Pembentukan Badan Semi Otonom, Lembaga- lembaga, BadanBadan fungsional dibentuk sesuai dengan kebutuhan kontekstualnya.

BAB 4. INSTITUSI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pasal 9. Pengambilan keputusan dalam organisasi ini adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Musyawarah Adat ( Musrat ) Rapat Kepemangkuan ( Rapak) Rapat Kerja Adat ( Raker-Adat ) Musyawarah Kebatinan ( Mustin) Rapat Koordinasi ( Rakor ) Rapat- Rapat

Pasal 10. Fungsi fungsi institusi pengambilan keputusan 1. Musyawarah Adat adalah pengambilan keputusan tertinggi organisasi untuk perubahan anggaran dasar / anggaran rumah tangga, Sikap Organisasi, Rencana Strategis dan pemilihan Kepemangkuan hingga kebatinan, dan perangkat organisasi lainnya. 2. Rapat Kepemangkuan adalah forum pengambilan Keputusan Strategis Organisasi yang diselenggaran diantara 2 Musyawarah Agung 3. Rapat Kerja Adat adalah wahana Sosialisasi Kebijakan, Perencanaan and Evaluasi Program. 4. Musyawarah Kebatinan adalah pengambilan keputusan untuk kesepakatan wilayah, sikap organisasi propinsi. 5. Rapat Koordinasi adalah wahana dialog, konsultasi lembagalembaga, dan badan semi otonomi dan badan-badan fungsional. 6. Rapat Rapat diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan kontekstualnya.

Pasal 11. Penyelengaraan Musyawarah. 1. Musyawarah yang pertama kali diselenggarakan untuk memilih Dewan Kepemangkuan. 2. Dewan Kepemangkuan disetiap tingkatan pada dasarnya bersifat permanen, non periodik. 3. Musyawarah dapat dilaksanakan apabila Dewan Kepemangkuan; a. Berhalangan tetap. b. Mengundurkan diri c. Melanggar Syariat dan Kepatutan Umum d. Sudah Tak mampu lagi memimpin organisasi. 4. Musyawaran Adat Luarbiasa, dapat diselenggarakan, apabila: a. Ada Kondisi mendesak untuk perubahan konstitusi b. Kondisi Ummat yang membutuhkan konsolidasi Adat.

c. Pencerahan Keummatan yang konstitusi dan kepemimpinan.

membutuhkan

perubahan

5. Rapat Kepemangkuan diselenggarakan setiap tahun. 6. Rapat Kerja diselenggarakan setiap semester / 6 bulanan. 7. Rapat koordinasi sesuai dengan sistem yang disepakati pada masing-masing lembaga, badan, dan semi otonom 8. Rapat- Rapat lain, sesuai dengan kebutuhan.

BAB V. KEKAYAAN ORGANISASI & PERIKATAN HUKUM Pasal 12. Sumber Kekayaan Organisasi Kekayaan organisasi ini didapat dari: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Sumbangan pendiri dan penggagas organisasi iuran anggota Sumbangan donator dan bantuan yang tidak mengikat Anggaran pemerintah Republic Indonesia Kerjasama yang saling menguntungkan Bantuan Daerah-daerah Serumpun Melayu Pengelolaan Sumberdaya yang patut dan halal. Usaha usaha lain yang sah

Pasal 13. Aturan Kekayaan 1. Penggunaan kekayaan organsisasi diatur dalam anggaran rumah tangga 2. Besarnya iuran anggota dan sumbangan diatur dalam anggaran rumah tangga 3. Besarnya iuran anggota dan kerjasama para pihak diatur dalam anggaran rumah tangga Pasal 14. Laporan Keuangan 1. Laporan keuangan organisasi dilakukan secara transparan dan akuntabel 2. Laporan keuangan berkala dilakukan pada Rapat Kerja. BAB VI. PERUBAHAN DAN PEMBUBARAN

Pasal 15. perubahan Organsiasi ini hanya dapat diubah oleh Musyawarah Adat. Pasal 17. pembubaran 1. Organisasi ini hanya dapat dibubarkan oleh Musyawarah Adat Luarbiasa, dan kepentingan Negara Bangsa dan Ummat. 2. Apabila organisasi ini bubar, maka kekayaan organisasi akan diserahkan pada organisasi sejenis yang memiliki tujuan dan usaha yang sama dengan organsiasi ini. BAB VII. Penutup Pasal 18. Aturan lain dan Penetapan 1. Hal-hal lain yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini akan diatur dalam Anggaran Rumah tangga, dan aturan lain yang merupakan bagian yang integral dari Anggaran Dasar ini 2. Anggaran Dasar ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Kota Piring-Pulau Biram Dewa Pada tanggal : 2013 MAJLIS PANGKUAN ADAT

R.M ALI SIDEK