Anda di halaman 1dari 71

Chapter 1

Dmitri Protemkin seharusnya senang. Sejauh yang bisa diingatnya, dulu ia ingin sekali pergi ke laut. Tapi bayangannya tentang mengarungi lautan berubah menjadi mimpi buruk. Dmitri adalah juru mesin dengan tingkat paling bawah di kapal pengangkut kargo milik Rusia. Kapalnya dulu diberi nama Lenin. Lalu Uni Soviet runtuh, dan kapal itu diganti namanya menjadi Liberty. Tapi para kru punya nama sendiri untuk kapal itu. Mereka menyebutnya tempat sampah yang mengapung. Sekarang Liberty berada jauh dari pelabuhan asalnya di Vladivostok. Dalam cuaca yang buruk ia mengarungi Samudera Atlantik yang gelap dekat pesisir New Jersey. Dmitri bisa merasakan gerakan kapal yang melawan ombak besar. Gerakan itulah yang membuatnya sadar bahwa ia sedang berada di laut. Ia tinggal di dek bawah, bekerja di kamar mesin, makan di dapur, dan tidurnya di gudang kapal. Terakhir kalinya ia melihat laut adalah ketika ia harus ke atas untuk mengangkat jeruji. Paling tidak sekarang ia tidak mabuk laut lagi. Tapi, hidup di Liberty membuatnya berpikir bahwa pekerjaannya yang dulu sebagai peternak biri-biri terasa lebih enak. Dmitri sedang menghitung hari ketika kapalnya sampai di daratan dan ia bisa melihat pohon dan rumput serta merasakan segarnya udara lagi. Gilirannya bertugas pada hari itu sudah hampir selesai. Sambil menarik gulungan pipa karet, ia menuruni tangga besi ke kamar mesin yang penuh asap dan berisik. Setelah selesai menambal sambungan minyak yang bocor, ia bisa istirahat.

Lalu didengarnya suara yang meningkahi gemuruhnya mesin,"Dmitri!" Serge Steklov, kepala juru mesin, sedang menunggunya. Serge yang bertubuh besar dengan wajah penuh jenggot itu tersenyum lebar. Dmitri menguatkan dirinya. Ia ingin tahu pekerjaan busuk apalagi yang akan ditimpakan Serge padanya kali ini. "Kita punya masalah yang mendesak," kata Serge. "Aku menerima laporan bahwa toilet kita meluap. Mesin yang tidak beres sih tidak apa-apatapi jangan toilet. Kita harus melakukan sesuatu." Dmitri menyeringai. Serge mengatakan "kita". Tapi yang ia maksud hanya satu orang saja. "Ikuti aku," kata Serge. Dmitri mengikutinya ke atas, lalu berjalan melalui koridor yang sempit, menuju ke kamar mandi yang digunakan oleh kru kapal kecuali para perwira. Di situ, dua toilet tumpah airnya dan membuat genangan berwarna cokelat. "Semua salurannya tersumbat," kata Serge. "Kita harus memeriksanya." Mereka meninggalkan kamar mandi dan berjalan ke tangga lain yang menuju ke bawah. Dua orang kru langsung menyembunyikan rokok mereka karena sebetulnya di situ dilarang merokok. Serge tidak menghiraukan mereka. Ia menepuk pelat logam berbentuk persegi di dinding pemisah dalam kapal. "Tangki pembuangan toiletnya ada di balik sekat ini," katanya: "Kita harus menemukan dan mengeluarkan benda yang menyumbat salurannya." "Kenapa selalu aku yang mengerjakannya?" Dmitri mengeluh. Serge terbahak-bahak, perutnya yang gendut berguncangguncang. "Karena kamu yang muda," katanya pada Dmitri. "Dan karena ini pekerjaan yang menjijikkan."

Dua pelaut lainnya ikut tertawa. Serge mengulurkan bor angin. Dengan wajah masam Dmitri mulai melepaskan baut yang menahan pelat logam. Sepuluh menit kemudian ia melepaskan pelatnya. Ia hampir terjatuh karena bau yang menghembus keluar. Serge yang mengawasi dari kejauhan, dari jarak yang aman, berkata,"Ayo, Dmitri. Teruskan." Dmitri memalingkan wajahnya dari lubang dan menarik napas dalam-dalam. Ia menahan napas lalu memasukkan kepalanya ke dalam tangki. Senter di tangannya dinyalakan. Ia melihat kotoran yang beriak-riak. Lalu dicarinya benda yang menyumbat. Badannya dijulurkan lebih dalam lagi, lalu mencari-cari tanpa hasil, sampai ia mulai kehabisan napas. Mendadak ada yang terjulur keluar dari kotoran manusia itu. Benda itu melingkari lehernya dan menariknya ke bawah. Tanpa berpikir lagi, ia menghirup udara yang busuk, lalu menjerit. Serge dan dua kru lainnya segera lari ke tempatnya dan menarik kakinya yang menendang-nendang. Tubuh mereka besar-besar dan kuattapi tidak cukup besar atau kuat untuk menahan tubuh Dmitri yang terus tertarik ke dalam tangki. Tubuh Dmitri terenggut dari cengkeraman mereka dan lenyap ke dalam lubang. Serge sudah lupa dengan bau busuk dari tangki. Dijulurkannya kepalanya ke dalam tangki dan sempat dilihatnya tapak sepatu bot Dmitri lenyap ke dalam kotoran yang bergolak. Lalu ia melihat satu sosok berwarna pucat yang membuatnya menyentakkan kepalanya dan berteriak pada dua pelaut lainnya yang masih terbelalak, "Kosongkan tangkinya! Kosongkan tangkinya!" Sementara ia menatap ke dalam lubang, mereka menjalankan perintahnya.

Setelah mendengar suara gemuruh pompa yang membuang isi tangki ke laut, ia baru bisa bernapas dengan lega.

Chapter 2

Agen Khusus FBI Fox Mulder duduk di kursi lipat di ruang perbekalan sebuah motel yang pengap di Washington D.C. Headphone di telinganya dihubungkan ke alat yang terletak di meja di depannya. Gilirannya berjaga masih lima jam lagi baru selesai. Ia sudah makan setengah kantung biji bunga matahari. Kulit-kulitnya menumpuk di meja. Jari telunjuknya menjentikkan kulit biji ke cangkir kopi di hadapannya yang sudah kosong. Bingo. Kulit biji itu masuk ke cangkir. Mulder meringis. Itu satunya-satunya yang bisa dikerjakannya hari ini. Lalu ia kembali mendengarkan percakapan di telepon yang sudah berlangsung selama dua puluh menit. Percakapan orang-orang itu jelas tidak akan menghasilkan apaapa. Dan yang paling mengesalkan bukan rencananya, tapi pembicaraannya yang sangat membosankan. "Drake mengatakan kalau ia bisa menyiapkannya, tapi biayanya sedikit lebih mahal," kata yang seorang. "Dave orangnya berani," kata yang lainnya. "Kalau ia bisa menyiapkannya, sebaiknya jangan kamu lewatkan." "Aku tahu," kata yang pertama. "Aku hanya" "Kamu hanya apa?" kata yang kedua. "Kalau ingin berenang, kamu harus merasakan airnya. Tapi kamu tidak ingin basah." "Bukan begitu, Bung," kata yang pertama. "Berenang itu terlarang bagiku."

Mulder mendesah, lalu menguap. Kedua orang itu sudah sering berhubungan selama hampir seminggu ini, paling tidak tiga kali sehari. Orang selalu mengatakan kalau para wanita senang mengobrol di telepon. Tapi tidak ada yang bisa mengalahkan obrolan para kriminal yang asal buka mulut. Saat dua orang bijak ini memutuskan untuk betul-betul beraksi, Mulder mungkin sudah pensiun dari FBI. Atau keluar. Atau ditembak. Mana yang duluan. Sekarang Mulder tidak peduli mana yang akan datang duluan. Beberapa bulan sebelumnya, pihak biro menutup X-files. Rekan Mulder, Agen Khusus Dana Scully, sudah kembali ke Quantico. Dan Mulder sendiri mendapat tugas menangani serangkaian kasus yang rutindan semuanya membosankan. Ia mulai berpikir apa itu ada gunanya. "Jadi aku katakan padanya" suara orang yang pertama masih berdengung ketika Mulder melihat pintu ruang perbekalan membuka. Tangannya meraih sarung pistol. Lalu gerakannya terhenti dan rileks lagi. Dua pria yang masuk menunjukkan lencana FBI. Mereka tidak membutuhkan identitas. Setelan mereka yang berwarna gelap, kemeja putih, dan wajah yang tidak menunjukkan perasaan sudah menjadi tanda pengenal yang standar dari biro. "Agen Mulder?" tanya yang seorang. "Ya," kata Mulder sambil melepaskan headphone-nya supaya bisa mendengar lebih jelas. "Saya Agen Brisentine," kata orang itu. "Senang bertemu Anda," kata Mulder. "Tapi saya kira saya tidak memerlukan bantuan. Yang saya butuhkan adalah teka-teki silang yang bagus. Soalnya teka-teki silang di surat kabar bisa saya selesaikan dalam sepuluh menit."

"Anda dibebaskan dari tugas Anda sekarang ini," kata Brisentine. "Karena terlalu banyak minum kafein saat bertugas, saya kira," kata Mulder dengan tajam. Brisentine tidak tersenyum. "Agen Brozoff yang akan menggantikannya," katanya pada Mulder. "Anda harus segera berangkat dengan pesawat." "Ke mana?" Mulder bertanya. "Menyelidiki satu kasus pembunuhan," kata Brisentine. "Di Newark, New Jersey." Tanpa berkata-kata, Agen Brozoff mengambil headphone dari Mulder dan memakainya. Ketika Mulder berdiri, Brozoff langsung duduk menggantikannya. Mulder mengulurkan sisa biji matahari di kantung. "Selamat menikmati," kata Mulder, lalu mengikuti Brisentine ke luar ruang perbekalan. "Anda terbang dari National. Penghubung Anda di Newark adalah Detektif Norman," Brisentine melanjutkan. "Bagaimana saya bisa mendapat tugas ini?" Mulder bertanya. "Asisten Direktur Skinner yang memintanya," kata Brisentine. Alis Mulder berkerut. "Skinner yang memintanya?" "Begitulah yang saya dengar," kata Brisentine. Mulder menggelengkan kepalanya, tapi tidak mengatakan apaapa. Sejak Skinner memberi tahu bahwa X-files ditutup, hubungannya dengan asisten direktur itu tidak terlalu baik. Sekarang Skinner memintanya untuk menyelidiki suatu pembunuhan. Sambil berjalan mengikuti Agen Brisentine, ia bertanya-tanya: Apakah kasus baru ini merupakan pertanda adanya harapan untuk Xfiles? Atau merupakan pertanda yang semakin buruk?

Chapter 3

Mulder tidak perlu menunggu terlalu lama. Kurang dari satu jam kemudian, ia keluar dari mobil sewaannya di pusat kota Newark. Seorang pria muda dengan setelan yang kusut mendatanginya. "Detektif Norman?" Mulder bertanya. Orang itu mengangguk. Mulder melanjutkan,"Agen Khusus Mulder, FBI," katanya sambil memperlihatkan identitasnya. "Ceritakan." "Dengan senang hati," jawab Norman. "Tim saya sudah selesai memeriksa mayatnya. Saya akan meminta mereka membuat laporan tertulisnya." "Dan mayatnya sendiri?" Mulder bertanya. "Kami meninggalkannya di tempat kami menemukannya," kata Norman. "Sekarang terserah Anda." "Terima kasih," kata Mulder. "Bisakah saya melihatnya?" "Silakan," kata Norman. Ia berbalik dan memanggil seorang polisi berseragam, "Kenny! Bawa ke sini sepatu khusus untuk Agen Mulder!" Polisi itu datang dengan membawa sepasang sepatu karet yang tinggi. Sementara itu, Norman membungkuk dan mengenakan sepatu yang sama. "Untuk apa ini?" kata Mulder sambil memakainya. "Sepatu yang Anda kenakan itu sepatu bagus," kata Norman. "Anda pasti tidak ingin merusaknya." Norman mengambil senter, lalu mengajak Mulder ke sebuah lubang dan mulai menuruni tangga dari besi.

Di bawah tangga itu ada empat polisi berseragam dan seorang pria berbaju polos. Mereka berdiri menggerombol seperti tidak ingin sendirian. Semuanya membawa senter. Norman langsung menyalakan senternya begitu sampai di bawah. Sinarnya menerangi lorong saluran air yang terbuat dari bata setinggi delapan kaki. Dinding batanya memberi kesan seakan berasal dari abad terakhir. Di sepanjang dasar saluran mengalir berbagai macam sampah. Dengan jijik Mulder menjejakkan kakinya ke dasar saluran. Sampah itu hampir mencapai bagian atas sepatu karetnya. Mulder mengikuti para polisi yang masuk ke dalam lorong. Sinar senter menerangi sampah di depan mereka. "Hati-hati," Norman memperingatkan. "Ya," kata Mulder. "Saya tidak ingin menginjak sesuatu." "Atau menjatuhi sesuatu," kata Norman. Lalu ia menambahkan,"Sekarang siap-siap." Tapi terlambat. Mulder sudah menarik napas. Bau yang sangat busuk menerpa hidungnya. "Mereka mengatakan lebih baik bernapas melalui mulut," Norman menyarankan. "Mereka bohong," kata Mulder. "Benar," kata Norman, dan sinar senternya bergerak ke tempat asal bau itu. Sesosok tubuh yang separo tenggelam terbaring telungkup. Mulder mendekatinya, lalu memaksakan diri untuk berjongkok dan mengamati mayat yang sudah membusuk itu. Mulder pernah melihat yang lebih buruk lagi. Tapi tidak ingat kapan. Ia berdiri dan bertanya pada Norman, "Siapa yang menemukannya?" "Seorang petugas kebersihan," kata Norman. "Ia sedang melakukan tugas rutinnya, memeriksa saluran. Kalau tidak ada dia,

mungkin tidak akan segera ditemukan. Tidak banyak yang berjalanjalan ke sini." "Ada tanda pengenalnya?" Mulder bertanya. "Tidak," kata Norman. "Tidak banyak juga yang bisa kita ketahui dari wajahnya. Bagian depan tubuhnya sudah banyak yang hilang. Anda ingin kami membaliknya?" "Tidak usah," kata Mulder. "Saya percaya dengan penjelasan Anda." Setelah mengatakannya, Mulder langsung berbalik dan berjalan kembali ke tangga. "Hei!" Norman berteriak padanya. Mulder terus berjalan. Norman berteriak lagi,"Agen Mulder! Apa yang harus kami lakukan dengan mayat ini?" Mulder berhenti dan berpaling sebentar. "Bungkus saja dan kirimkan ke FBI!" katanya balas berteriak. "Ditujukan ke Asisten Direktur Skinner!"

Chapter 4

Perut Mulder terasa bergolak. Tapi ia tidak merasa mual lagi. Sekarang, dengan perasaan marah, ia menatap sebuah pintu kantor di Markas Besar FBI di Washington, D.C. Pelat nama di pintu itu bertuliskan: ASISTEN DIREKTUR WALTER S. SKINNER. Mulder membuka pintu dan langsung masuk. Ia melihat ke meja sekretaris Skinner. Kursinya kosong. Mulder mengetuk-ngetukkan kakinya dengan tidak sabar sambil menunggu sekretaris itu muncul. Semenit kemudian pintu kantor pribadi Skinner terbuka, dan sekretarisnya keluar. Seperti biasanya, ia kelihatan dingin dan ketus. Mulder tidak membuang-buang waktu untuk berbasa-basi. Mereka sudah sama-sama tahu. Ia langsung berkata,"Saya harus bicara dengannya." Suara sekretaris itu halus dan lancar. "Maaf, Mr. Skinner saat ini tidak bisa diganggu. Silakan duduk kalau Anda mau menunggunya." Mulder maju dan berdiri di antara si sekretaris dan mejanya. "Tolong beri tahu ia bahwa saya ke sini," kata Mulder padanya. "Sampaikan juga bahwa saya harus bicara dengannya. Sekarang." Wajah sekretaris itu menunjukkan pendapatnya tentang Mulder. Dan bahwa tidak ada orang yang bisa menentangnya. Tapi ia juga merasakan suara Mulder yang tajam, dan tahu bagaimana Mulder kalau sudah bertekad melakukan sesuatu. Ia menyadari bahwa kecil kemungkinannya untuk menundukkan Mulder. "Tunggu sebentar," katanya.

Ia lalu membuka pintu kantor Skinner dan menjulurkan badannya ke dalam. "Permisi, Mr. Skinner," katanya. "Maaf saya mengganggu, tapi Agen Mulder menuntut untuk bertemu dengan Anda." Melalui pintu yang terbuka, Mulder melihat Skinner, tinggi, botak, dengan mulut terkatup rapat dan kacamata berkilat, sedang berdiri di samping mejanya. Skinner membalas pandangan dingin Mulder tanpa berkedip. Lalu ia berjalan ke pintu dan berkata dengan suara kering,"Ada masalah, Agen Mulder?" "Ya," kata Mulder. "Kalau begitu buat janji dulu," kata Skinner dan mulai berbalik. Mulder langsung menjawab dengan marah. "Sulit untuk membuat janji kalau kaki Anda masuk ke saluran pembuangan dengan kotoran setinggi lututdan dipingpong dari satu kasus ke kasus lain yang tidak ada artinya." "Maaf, tapi saya tidak mengerti maksud Anda," jawab Skinner tanpa bergerak. "Apa hukuman saya selanjutnya?" Mulder menuntut. "Menggosok lantai kamar mandi dengan sikat gigi?" "Anda sudah keterlaluan, Agen Mulder," kata Skinner. "Oya?" kata Mulder dengan suara pedas. "Saya pikir itulah tujuan dari latihan-latihan yang sia-sia inisupaya saya tetap mengikuti aturan. Atau tepatnya, menempatkan saya di tempat yang selayaknya." Sekarang kata-kata Mulder mengena. Leher Skinner berubah merah. "Masuk ke kantor saya, Agen Mulder," Skinner membentak. "Ayo." Mulder berjalan melewati sekretaris yang hanya mengawasi mereka. Setelah Mulder masuk, Skinner menutup pintunya.

Saat itu baru Mulder melihat orang-orang yang duduk di sekeliling meja rapat yang panjang. Ia mengenali mereka adalah pembesar-pembesar FBL Tapi ia juga tidak menganggap mereka orang-orang yang penting. "Agen Mulder, tolong beritahukan kepada mereka kenapa Anda menganggap kasus pembunuhan di New Jersey yang Anda tangani itu 'tidak ada artinya'," kata Skinner. "Itu . . ." Mulder berhenti dan menelan ludah. Ia merasakan pandangan mata mereka. Ia merasakan cemoohan mereka. Mereka menunggu apa yang akan dikatakannya. Lalu ia melanjutkan katakatanya dengan hati-hati. "Menurut saya itu hanya korban perkelahian antargeng. Mungkin berkaitan dengan obat-obatan. Bukan jenis kasus yang harus menyita waktu dan tenaga FBI." "Agen Mulder, pertimbangkan sejarah Anda di biro," kata Skinner. "Perhatikan berapa banyak kasus Anda yang berakhir dengan kesimpulan yang kurang memuaskanatau tidak ada penyelesaiannya sama sekali." "Tapi" kata Mulder. Skinner tidak menghiraukannya. "Dengan catatan pengalaman Anda yang seperti itu, Anda tidak seharusnya menilai apa yang menyita dan apa yang tidak menyita waktu atau tenaga biro." Mulder mencoba mendebat lagi,"Sir, pekerjaan saya di X-files adalah jenis pekerjaan yang khusus " Sekali lagi Skinner memotongnya. "X-files sudah ditutup, Agen Mulder, dengan alasan seperti yang baru saja saya sebutkan. Anda harus segera mengerjakan tugas-tugas Anda yang baru. Anda harus menyelidikinya dengan sebaik-baiknya. Jelas?" "Ya," Mulder menggumamkan jawabannya. "Saya menunggu laporan penyelidikan Anda tentang kasus pembunuhan di Newark," kata Skinner. "Sekarang, kalau tidak ada

yang akan disampaikan lagi, saya sarankan Anda segera kembali ke pekerjaan Anda." Tanpa sepatah kata pun Mulder berbalik dan meninggalkan ruangan. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Sekarang ia hanya bisa bertanya-tanya apa yang harus dikerjakan selanjutnya.

Chapter 5

Mulder duduk di bangku taman di tepi Sungai Potomac. Air sungai yang beriak memantulkan sinar dari lampu di pinggir sungai. Monumen Washington yang dihias dengan lampu-lampu bersinar terang. Monumen itu menjulang ke angkasa seperti sebuah jari raksasa. Tapi Mulder tidak melihat ke menara yang bersinar itu. Ia juga tidak melihat ke bintang-bintang di langit. Ia duduk dan melihat ke bawah. Tatapan matanya kosong. Tiba-tiba ia mendengar suara dari belakangnya. "Apa tempat ini kosong?" Ia tidak perlu mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang bicara. Setelah lama bertugas dalam satu tim dengan Agen Khusus Scully, ia mengenal suaranya seperti ia mengenal suaranya sendiri. Sambil tetap menatap ke bawah, Mulder berkata,"Tempat ini kosong. Tapi aku harus memberi tahu kalau reaksiku sedang kasar." "Yah, untunglah aku membawa senjata," kata Scully. "Akan kucoba." Mulder menyunggingkan senyumsenyum seperti yang biasa dia tunjukkan saat mereka masih bekerja bersama. "Silakan," kata Mulder. Scully duduk di sampingnya. Tapi Mulder tetap tidak melihat padanya. "Aku dengar hari ini kamu bertengkar hebat dengan Skinner," katanya. "Oh, ya," kata Mulder, dan akhirnya melihat ke Scully.

Ia melihat rasa khawatir di wajah Scully. Scully mengkhawatirkannya. Yah, pikirnya, ia bukan satu-satunya. "Apa yang kamu dengar?" Mulder bertanya padanya. "Kamu mempermalukan dia," kata Scully. "Dan kamu juga tidak mendapat penilaian yang baik dari direktur-direktur biro." Mulder mengangkat bahunya. "Skinner mendesakku," katanya. "jadi aku balik mendesaknya." "Kedengarannya seperti kamu sudah kehabisan waktu," Scully berkomentar. "Ya, mungkin," kata Mulder sambil menatap ke kegelapan. "Tapi peduli apa? Kenapa harus khawatir dengan waktu kalau waktunya sudah lewat?" "Apa maksudmu?" Scully bertanya dengan tajam. "Aku tidak tahu, Scully," katanya. "Aku kira aku sudah sampai pada titik di mana aku tidak bisa hanya menyeringai dan menahannahannya saja." "Itu bukan hal baru," kata Scully. "Kalau kamu tidak mengikuti peraturan, kamu harus membayar dendanya. Sepertinya kamu tidak pernah mencoba menyesuaikan diri dengan program yang ada." "Ya, aku juga baru memikirkannya," kata Mulder. Ia berhenti sebentar, lalu berkata,"Aku bermaksud untuk keluar." Scully sulit berkata-kata. "Keluar? Dari biro?" Mulder tidak menjawab. Ia tidak perlu menjawabnya. "Mulder, menurutku kau terlalu serius dalam menanggapi semua kejadian ini," kata Scully sambil mencari kata yang tepat. "Biro membutuhkan kamu." "Untuk apa?" tuntut Mulder. "Untuk masuk ke saluran air? Untuk menyadap pembicaraan orang lain?" "Itu antara kamu dengan Skinner," kata Scully. "Aku yakin kalian bisa melakukan sesuatukalau kamu melakukannya dengan benar."

"Tidak setelah apa yang terjadi hari ini." "Tapi apa yang akan kamu kerjakan kalau kamu . . .?" Scully tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. "Aku tidak tahu," kata Mulder. "Mencoba menyelidiki hal-hal yang berhubungan dengan paranormal mungkin. Pasti ada jalannya." "Dengar," kata Scully yang mulai terdengar putus asa. "Mintalah supaya dipindahkan. Kembali ke Behavioral Sciences Unit. Aku di sana sekarang, dan kita bisa" "Mereka tidak ingin kita bekerja bersama, Scully." Ia tidak mendebat Scully. Ia hanya mengatakan apa yang sudah mereka ketahui. "Dan sekarang ini, itulah satu-satunya alasan yang membuatku tetap di sini." Scully tersentuh. Mulder tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Menyedihkan sekali perasaannya itu terlambat diungkapkan. Dan yang lebih menyedihkan lagi, mungkin itu sudah sangat terlambat. Scully melihat kekosongan di matanya. Ia mencoba membuatnya gembira lagi. "Bagaimana dengan kasus yang sedang kamu tangani?" ia bertanya. "Nol. Jenis menyingkirkan orang yang sudah tidak menguntungkan lagi." "Di mana mayatnya?" Scully mendesak. Mulder mengangkat bahunya. "Sudah dikirim ke lab FBI untuk menentukan penyebab kematiannya," katanya. Lalu ia memandang Scully dan menggeleng. "Dengar, Scully, aku tahu apa yang kamu pikirkan dan" "Aku bisa meminta untuk melakukan otopsinya," Scully memotong. "Aku yakin permintaanku akan dipenuhi. Aku termasuk orang-orang yang mereka percayai."

"Itu hanya akan membuang-buang waktumu saja," kata Mulder. "Tidak ada apa-apanya dalam kasus ini." "Maksudmu tubuh orang mati itu tidak berarti apa-apa?" Scully bertanya. "Kamu tidak mempercayaiku?" Mulder menjawab. "Oke, coba saja sendiri." Scully mendengar nada tidak peduli dalam suaranya, dan sadar bahwa Mulder mungkin jauh lebih tertekan daripada yang diduganya. Mulder bahkan tidak mencoba mendebat. Scully berusaha menjaga suaranya tidak kedengaran prihatin seperti perasaan mereka saat itu. "Aku akan melakukannya."

Chapter 6

Scully tidak mendapatkan kesulitan saat meminta izin untuk memeriksa mayat dari selokan itu. Yang dilakukannya cukup dengan meminta. Ketika kantung mayat yang berwarna hitam itu dibuka di ruang otopsi, tahulah ia kenapa tidak ada yang keberatan dengan permintaannya. Jas lab yang berwarna putih melindungi pakaiannya. Sarung tangan dari lateks melindungi tangannya. Kacamata plastik yang besar melindungi matanya. Tapi tidak ada yang menghentikan bau busuk itu masuk ke hidungnyalalu ke perutnya. "Ugghh," ia mengernyit, lalu mundur sampai perutnya normal lagi. Lalu ia mulai bekerja. Dihidupkannya tape perekam dan membacakan catatannya. "Pemeriksaan dan otopsi John Doe nomor 101356. Kasus nomor DP112148. Agen Khusus Fox Mulder, Penyelidik Lapangan." Lalu catatannya diletakkan dan ia mengamati tubuh di meja logam itu. Ada saat-saat di mana Scully merasa bersyukur sekali ia sudah dididik sebagai dokter sebelum bergabung dengan FBI. Sekolah kedokteran itu mengajarinya untuk mengamati mayat seakan-akan mayat itu adalah masalah yang harus dipecahkan. Sekolah itu juga mengajarinya untuk melupakan bahwa mayat itu dulunya adalah orang yang hidup dan bernapas serta bisa berpikir dan merasakan. Ia belajar memandang bagian-bagian tubuh mayat sebagai bagian-bagian dari suatu mesin, dan bukannya daging dan darah yang membusuk.

Sekarang Scully membutuhkan ajaran-ajaran itu untuk melakukan pekerjaannya, tanpa terganggu oleh rasa mual dan mau muntah. Sambil masih terus menatapnya, ia berkata ke tape perekam,"Mayat pria dewasa, kondisinya sudah sangat membusuk. Beratnya seratus enam puluh empat saat mati dan tingginya enam puluh sernbilan inci. Kulitnya burik dan hitam kotor setelah berada dalam air di lingkungan yang penuh bakteri. Penyebab dan waktu kematiannya tidak diketahui." Lalu ia melihat sesuatu di tangan kanan mayat itu, di bawah sikunya. Scully membungkuk supaya bisa melihatnya dengan lebih jelas. Di kulit yang sudah membusuk dan berbau amis itu ia melihat ada tanda yang samar-samar. Ia hampir tidak bisa memastikannya. Mungkin itu tato. Mungkin itu nama pacarnya. Atau lambang suatu geng. "Ada tanda di lengan kanannya yang bisa diidentifikas i," katanya sambil mencoba mengingat untuk memeriksanya nanti. Sekarang, ada pekerjaan yang lebih berat. Pekerjaannya sekarang bukan untuk mengetahui siapa mayat itu. Ia harus menemukan apa yang membunuhnya. Untuk itu, ia harus memeriksanya lebih dalam lagi. Diambilnya pisau bedah dari nampan peralatannya. Diirisnya bagian tubuh depan mulai dada sampai paha. Baginya itu mudah, seperti mengupas pisang. Diperiksanya jaringan tubuh di dalamnya. "Rongga tubuh tampak normal," katanya. "Organ bagian dalam lengkap. Kerusakannya cocok dengan kerusakan kulit di luarnya." Scully menggelengkan kepalanya. Belum ada apa-apa. Ia harus memeriksanya lebih dalam lagi. Diletakkannya pisau bedah dan mengambil alat pemotong.

Seperti sedang merapikan cabang-cabang pohon, diguntingnya tulang-tulang rusuk supaya organ tubuh yang vital bisa terlihat. "Kondisi jantung dan paru-parunya bagus," katanya. "Tidak ada tanda-tanda penyakit atau gangguan yang ditimbulkan oleh usia lanjut. Saya bisa menyimpulkan bahwa korban adalah pria dewasa muda, mungkin berusia dua puluhan tahun." Scully memasukkan tangannya dan menyentuh hati dengan jarijarinya. "Mungkin akibat terlalu banyak alkohol. Selain itu, tidak ada bagian tubuh yang menunjukkan penyebab kematiannya." Scully mengambil pisau bedahnya dan membuat irisan lagi. Lalu matanya membelalak. "Astaga," ia tersentak, lupa dengan tape yang masih terus merekam. Ada sesuatu yang merayap keluar dari irisan yang dibuatnya. Bentuknya seperti kepala. Kepala yang datar, putih, dan licin. Kepala dengan lubang bundar seperti membentuk mulut. Scully tidak bisa melepaskan pandangannya. Tapi tangannya terus bergerak seperti punya mata sendiri. Pisau bedahnya dibiarkannya terlepas dan mengambil gunting tang dari nampannya. Dengan menggunakan gunting tang sebagai penjepit, kepala itu dijepitnya sebelum sempat masuk lagi. Dengan perlahan dan hati-hati, ia menariknya. Sedikit demi sedikit, seekor cacing putih yang berlumpur keluar dari irisan itu. Jelas bukan jenis cacing yang digunakan sebagai umpan, pikirnya sambil menatap makhluk yang panjangnya satu kaki dan menggeliat-geliat dalam jepitannya. Ia ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh Mulder jika melihatnya.

Tapi satu hal yang pasti ia tidak bisa lagi mengatakan bahwa kasus ini adalah kasus yang biasa saja.

Chapter 7

Craig Jackson dan rekannya, Pete Helms, berdiri di samping lubang yang terbuka, di suatu jalan di Newark. Kedua orang itu mengenakan perlengkapan dinas kebersihan: helm putih, kaos berwarna oranye terang, baju kedap air, dan sepatu bot yang berat. "Sekarang atau tidak sama sekali," kata Craig pada Pete. Ia menghirup udara segar dalam-dalam, lalu menuruni tangga besi yang sudah berkarat, menuju ke saluran pembuangan. Sesampainya di dalam, keduanya berjalan ke titian dari kayu yang dipasang di dinding saluran. Sinar senter mereka menyapu aliran sampah di bawah mereka. "Wah, wah," kata Craig. "Ada masalah." Sinar senternya menerangi kasa kawat yang menyaring aliran sampah itu ke laut. Sepotong batang pohon yang bergerigi terjepit di kasanya. "Pasti karena badai malam itu," kata Craig. "Badai itu menghanyutkan segala macam benda ke saluran." "Sekarang giliranmu," kata Pete. "Yang terakhir kalinya kan aku." "Oke, oke," kata Craig. "Kamu kembali ke atas dan ambil kasa pengganti ukuran tiga puluh dan beberapa kawat pembungkus." Sudah lima tahun Craig melakukan pekerjaan ini sehingga ia tidak jijik lagi ketika masuk ke kotoran yang tingginya sampai ke pinggang. Ia berjalan mengarunginya menuju ke batang pohon. Sambil menggerutu ia mulai menariknya dengan susah payah. Setelah berhasil melepaskannya, ia bisa merasakan keringat yang mengalir di balik pakaiannya. Sambil memeluk batang pohon

itu, ia berjalan kembali ke titian di dinding dan mulai memanjat ke atasnya. Tiba-tiba ia tersentak ke belakang. Batang pohon itu jatuh ke titian dan ia tercebur ke dalam aliran sampah sambil menjerit. Jeritannya menggema ke seluruh lorong saluran, bahkan setelah kepalanya lenyap ke dalam kotoran. Di ujung tangga, Pete mendengarnya, dan berlari kembali. Ia sampai tepat pada saat tubuh Craig terhempas ke air. "Tolong!" Craig berteriak. "Initangkap!" Pete berteriak sambil melepaskan gulungan tali di pinggangnya dan melemparkan satu ujungnya ke rekannya. Tapi sebelum Craig bisa menangkapnya, ia tenggelam lagi. Pete berdiri dengan tali di tangan dan menatap ke aliran di bawahnya. "Craig! Craig! Di mana kamu?" ia berteriak, tanpa harapan bahwa rekannya bisa mendengar. Tapi beberapa saat kemudian sebuah suara menjawab,"Di sini! Di sini!" Craig muncul lagi ke permukaan, separo badannya masuk ke lubang kasa. Dengan berpegangan pada kawat kasa, ia berkelahi melawan sesuatu yang menariknya ke dalam ruang saluran yang lain di mana aliran sampah itu berubah menjadi sungai yang bergolak. Pete melemparkan talinya lagi, dan kali ini Craig berusaha menangkapnya. Craig berpegangan pada tali itu sementara Pete menggunakan seluruh berat badannya untuk menarik rekannya. Akhirnya, Craig terkulai di titian. Ia bernapas dengan megapmegap dan merintih kesakitan. "Kenapa, Craig?" Pete bertanya sambil membungkuk di atasnya. "Apanya yang sakit?"

Sambil masih megap-megap dan merintih, Craig mencoba dudukdan Pete melihat apa yang membuatnya merintih. Ada sobekan besar di bagian belakang pakaian Craig yang tebal. Melalui sobekan itu Pete bisa melihat daging yang terkoyak dan membentuk suatu lingkaran yang kasar dan berdarah. "Astaga, kenapa bisa begitu?" Pete menggumam sambil mengintip ke aliran sampah di bawah. "Ada apa di bawah sana?" Tapi ia tidak ingin menebaknya. Ada yang harus segera dilakukannya. "Aku akan memanggil bantuan," katanya sambil berlari ke tangga.

Chapter 8

Craig Jackson menatap ke sinar yang menyilaukan matanya. "Dokter," katanya,"yang sakit bukan mata saya." "Saya hanya ingin memastikan bahwa semuanya normal," kata Dr. Jo Zenzola. Senternya yang kecil dan berbentuk pena menyinari mata Craig. Tangannya yang lain, dengan mengenakan sarung tangan lateks, membuka kelopak matanya. Dokter berambut hitam itu melihat pupil mata Craig bereaksi dengan normal. "Saya tidak melihat ada kerusakan pada sistem saraf Anda," katanya pada Craig. "Satu-satunya yang berbahaya adalah tetanus yang berkembang dari luka itu. Saya akan memberikan suntikan untuk mencegahnya. Setelah itu Anda bisa melepaskan pakaian rumah sakit ini dan pulang lalu tidur dengan nyenyak. Tidak ada alasan untuk tidak bisa bekerja besok. Kalau Anda merasakan adanya kelainan, kembali kemari dan temui saya." "Saya pernah mendapat luka yang lebih buruk lagi dan saya hanya memakai Band-Aid," kata Craig sambil mengangkat bahunya. "Saya akan senang sekali kalau Anda bisa memberi saya sesuatu untuk menghilangkan rasa daging busuk di mulut saya inirasanya semakin tidak enak." "Coba saya lihat," kata Dr. Zenzola. "Buka mulut Anda." Craig membuka mulutnya dan dokter itu menyinari bagian dalamnya. "Saya tidak melihat ada yang tidak normal," katanya. "Apa Anda punya masalah saat menelan?"

Dengan mulut masih terbuka, Craig menggelengkan kepalanya. "Nggak." Dr. Zenzola merogoh ke dalam jas labnya. "Ini, coba makan ini," katanya sambil mengeluarkan permen karet dan memberikannya pada Craig. Ketika Craig kelihatan ragu-ragu, dokter itu meyakinkannya,"Jangan khawatir, rasa tidak enak itu akan hilang." "Saya harap begitu," kata Craig sambil membuka bungkusnya dan memasukkannya ke mulut. Dr. Zenzola menghentikan pembicaraannya ketika mendengar pintu kantornya membuka. Ia berbalik dan melihat seorang laki-laki dengan setelan berwarna gelap berdiri di ambang pintu. "Tunggu sebentar," katanya, lalu berbalik ke Craig. Ditinggalkannya pasiennya dan berjalan menemui tamunya. Diperiksanya identitas tamu itu dan berkata,"Senang bertemu dengan Anda, Agen Mulder." "Saya juga senang bertemu dengan Anda, Dr. Zenzola," kata Mulder. "Dari mana Anda tahu nama saya?" "Kepolisian Newark memberi tahu saya bahwa mungkin Anda akan dihubungi, berkaitan dengan kecelakaan ini," katanya. "Harus saya akui bahwa saya terkejut kenapa FBI dilibatkan dalam saluran pembuangan kota. Apa ada sesuatu yang sedang terjadi yang perlu saya ketahui?" "Saya tidak tahu," kata Mulder. "Mungkin Anda bisa menceritakannya pada saya." Dokter itu menceritakannya secara singkat. "Pasien ini, Craig Jackson, pegawai di dinas kebersihan. Ia mengatakan bahwa tadi pagi ia diserang oleh sesuatu ketika berada di dalam saluran." Mulder menunjukkan sikap tertarik. "Diserang?" tanyanya. "Oleh apa?"

"Kami belum mengetahuinya," kata dokter padanya. "Tadinya saya pikir itu hanya cerita yang dilebih-lebihkan saja oleh Mr. Jackson. Anda tahu, supaya tidak usah membayar biaya pengobatan. Tapi pemeriksaan fisiknya menunjukkan bahwa ia tidak berdusta." Sambil berbicara, Dr. Zenzola menyiapkan jarum suntik dan mengisinya dengan cairan antitetanus. "Apa yang Anda temukan?" Mulder bertanya. "Kesehatannya bagus," kata Dr. Zenzola. "Saya sudah memberinya antibiotik dalam dosis besar, dan kami sedang mengawasinya untuk melihat apakah ia terkena hepatitis karena cairan kotor itu ada yang masuk ke dalam tubuhnya." "Dan bukti serangan itu?" kata Mulder. "Ada luka di punggungnya," kata dokter. "Luka seperti apa?" Mulder ingin tahu. "Luka yang agak aneh," Dr. Zenzola menjawab sambil menggelengkan kepalanya. "Mungkin itu disebabkan oleh reaksi kulit terhadap sejenis infeksi yang ditimbulkan oleh bakteri, tapi sepertinya juga bukan. Lukanya seperti bekas gigitan. Saya hanya bisa mengatakan bahwa saya belum pernah melihat luka yang seperti itu." "Bagaimana ia sampai terluka?" Mulder bertanya. "Anda bisa bertanya sendiri padanya," kata Dr. Zenzola. Ia menghampiri Craig dengan alat suntik di tangannya. Ketika Craig mengulurkan lengannya, dokter itu berkata,"Ini Agen Mulder dari FBI. Ia ingin mengajukan beberapa pertanyaan." "Silakan," kata Craig pada Mulder, dan mengernyit ketika Dr. Zenzola memasukkan jarum ke lengannya. "Bisa diceritakan apa yang menyerang Anda?" Mulder bertanya. "Saya tidak yakin," kata Craig sambil menyeringai ketika dokter menekan alat suntiknya. "Tapi saya kira mungkin itu seekor ular piton."

"Ular piton?" Mulder tersenyum sedikit. "Atau mungkin ular boa," kata Craig dengan lega ketika jarum suntik dilepas dan Dr. Zenzola menyeka bekas suntikannya dengan alkohol. "Jangan tertawa dulu. Anda tidak tahu apa saja yang diguyur orang di toiletnya. Dua tahun lalu kami menemukan seekor aligator di saluran itu. Saluran itu seperti kebun binatarig." "Tapi Anda tidak tahu pasti apa itu," kata Mulder. "Apa pun makhluk itu, ia sekuat setan," kata Craig sambil bergidik ketika ingat pengalamannya. "Makhluk itu menjepit saya dengan kuat sekali. Dan ketika saya bisa melepaskan diri, makhluk itu meninggalkan bekasnya." "Boleh saya lihat lukanya?" Mulder bertanya. "Kalau perut Anda kuat," kata Craig. "Dan kalau dokter mengizinkan." "Tidak apa-apa," kata Dr. Zenzola sambil menyingkapkan pakaian Craig untuk memperlihatkan punggung bagian atas. Mulder melihat luka itu. Setelah dibersihkan, luka itu seperti gambar yang ditorehkan di kulit yang pucat. Bilur berwarna merah membentuk lingkaran dengan diameter hampir empat inci. Di dalam bilur itu ada empat lubang bekas tusukan yang terpisah. Dan di tengah-tengahnya ada satu lubang yang lebih, besar lagi. "Seperti yang saya katakan, ini seperti bekas gigitan," Dr. Zenzola mengomentari. "Tapi saya tidak bisa membayangkan apa yang menimbulkan bekas gigitan seperti itu." "Pola gigitannya memang tidak biasa," kata Mulder setuju, dan melihatnya lebih dekat. Sinar matanya sudah tidak menunjukkan perasaan bosan lagi. Tiba-tiba telepon selular di saku mantelnya berbunyi dan tangannya langsung meraihnya. "Mulder di sini," katanya. Entah bagaimana ia merasa tahu siapa yang meneleponnya.

Kasus ini mulai berubah. Perubahan yang aneh. Perubahan yang mungkin akan menuntun ke . . . siapa yang tahu? Tiba-tiba ia merasakan lagi saat-saat yang telah lalu ituyang ia kira selamanya tidak akan kembali lagi. "Mulder, ini aku," kata Scully.

Chapter 9

"Ada apa?" Mulder bertanya pada Scully. Sambil berbicara, ia berjalan menjauhi Dr. Zenzola dan Craig Jackson. "Aku perlu bertemu denganmu," kata Scully dengan nada mendesak. "Aku baru selesai mengotopsi John Doe dari saluran itu. Aku menemukan sesuatu yang kupikir kamu harus melihatnya." "Apa?" tanya Mulder. "Aku tidak bisa mengatakannya dengan pasti," kata Scully. "Sepertinya semacam parasit yang hidup di dalam tubuh. Aku akan memeriksanya lagi dengan lebih cermat. Nanti pasti ada yang bisa kuceritakan lagi saat kamu sampai di sini." "Aku sedang di New Jersey sekarang," kata Mulder. "Aku akan kembali dengan pesawat dan sampai di Washington dalam satu jam. Dari bandara aku akan langsung ke lab." "Baiklah," kata Scully. "Aku akan langsung bekerja." "Sampai ketemu," kata Mulder. "Sampai nanti," kata Scully lalu menutup teleponnya. Sambil memasukkan telepon ke sakunya, Mulder masih bisa mendengar nada bergairah dalam suara Scully. Bergairah dalam mengejar sesuatu. Ia tersenyum sendiri. Mungkin Scully juga sudah mendengar nada tertarik dalam suaranya. Di belakangnya ia mendengar Craig berkata pada dokter,"Kapan saya bisa keluar? Saya ingin pulang." Lalu teleponnya berbunyi lagi. Cepat sekali, apa yang ditemukan Scully? Ia bertanya-tanya. Dikeluarkannya teleponnya.

"Ya?" katanya. Suara yang didengarnya bukan suara Scully. Suara laki-laki. Suaranya dalam. "Mr. Mulder?" katanya. "Ya," kata Mulder. "Saya kira Anda harus mengetahuinyaAnda punya teman di FBI," katanya. "Siapa ini?" Mulder menuntut. Jawabannya suara klik. Dan suara hubungan telepon yang putus. Lalu didengarnya Dr. Zenzola berkata, "Kaau Anda tidak ada pertanyaan lagi, Agen Mulder, saya akan menyuruh orang ini pulang." "Tidak, ia bisa pergi," kata Mulder sambil memasukkan teleponnya ke saku. Ia tidak punya pertanyaan lagi untuk Craig Jackson. Sekarang ia punya pertanyaan sendiri. Pertanyaan itu terus bergaung di benaknya ketika ia mengendarai mobilnya ke bandara dan naik ke pesawat yang menuju Washington. "Anda punya teman di FBI." Suara siapa itu? Dari mana dia dan apa yang diinginkannya? Mulder teringat seorang "teman" yang lain, yang dulu dimilikinya. Seorang "teman" yang menghubunginya hanya kalau ia ingin saja, dan selalu memberikan informasi yang menarik pada Mulder. Mulder menyebut "teman" itu Deep Throat. Deep Throat sudah mati sekarang. Ia mati tepat di depan mata Mulder. Kalau tidak, Mulder tidak akan yakin bahwa ia sudah mati. Profesi dan kebanggaan Deep Throat adalah tipu muslihat.

Waktu itu dengan tersengal-sengal Deep Throat sempat membisikkan tiga patah kata kepada Mulder. Kata-kata nasihat. Mulder tidak akan pernah melupakannya: "Jangan percaya siapa pun." Tapi ada satu orang yang sangat dipercaya oleh Mulder. Dan ia sekarang akan menemuinya. Diketuknya pintu lab sebelum membukanya. "Tutup pintunya," kata Scully. Mulder cepat masuk ke lab dan menutup pintu. "Kamu bilang ada yang menarik untuk ditunjukkan." "Ya," kata Scully. "Tapi sebelumnya ada satu peringatan dulu." "Apa?" Mulder bertanya. "Aku harap sebelum ke sini kamu belum makan."

Chapter 10

Scully membuka laci yang terbuat dari logam dan mengeluarkan sebuah botol kaca yang besar. Diletakkannya botol itu di meja logam. "Lihatlah," katanya pada Mulder. Botol itu diisi cairan yang jernih. Mulder melihat ada cacing putih yang bergulung mengapung di dalamnya. Panjangnya hampir satu kaki. "Makhluk yang manis," kata Mulder. "Kamu sudah memberinya nama?" "Di buku itu disebut turbellaria," kata Scully. "Sebutannya yang lebih umum cacing pipih atau cacing pita." Mulder melihatnya lagi dan berkata, "Ini hidup dalam tubuh mayat itu?" "Ya," kata Scully. "Sepertinya ini menyangkutkan diri ke saluran air empedu dan sedang menggerogoti hati." "Percaya atau tidak, sekitar empat puluh juta orang di seluruh dunia terinfeksi oleh cacing parasit ini," katanya melanjutkan. "Apa ini yang dulu pernah kau ceritakan bahwa aku akan kemasukan cacing ini kalau aku makan sushi?" Mulder bertanya. Ia masih menatap cacing di dalam botol itu. Cacing itu kelihatannya mati, tapi tubuhnya yang terapung-apung memberi kesan seperti hidup. "Mungkin kamu lebih baik mendengarkan apa yang akan memasuki tubuhmu kalau kamu makan daging steak setengah matang yang sangat lezat itu," kata Scully.

Mulder akhirnya mengalihkan perhatiannya dan bertanya,"Jadi apa hubungannya dengan mayat itu?" "Cacing pita seperti ini sangat umum ditemukan di tempat yang kondisinya tidak bersih," kata Scully. "Mungkin sekali cacing ini masuk ke tubuh korban ketika ia terbenam di saluran." "Sebelum atau setelah ia mati?" Mulder bertanya. "Aku tidak tahu," kata Scully. "Tapi menurut semua buku kedokteran yang sudah kuperiksa, tidak mungkin hanya satu cacing seperti ini bisa membunuhnya." "Mungkin orang itu sedang dalam kondisi lemah," Mulder mengusulkan. "Sakit. Atau sudah tua. Atau karena alkohol atau obatobatan." Scully menggeleng. "Korbannya pria mudadan dalam kondisi sehat. Itulah yang aneh. Selain parasit kecil ini, aku tidak menemukan penyebab kematian lainnya." Mulder berpikir sebentar lalu merogoh ke dalam sakunya. Ia bertanya,"Bagaimana cacing ini menyangkutkan dirinya?" "Cacing ini memiliki sesuatu yang disebut scolex," kata Scully. "Yaitu?" Mulder bertanya sambil mengeluarkan selembar foto dari sakunya. "Mulut dengan empat kaitan seperti kail," kata Scully. "Sesuatu yang akan menghasilkan bekas gigitan seperti ini?" Mulder bertanya sambil memberikan foto itu pada Scully. Scully ternganga ketika melihatnya. Lalu katanya,"Dari mana kamu memperoleh gambar ini?" "Seorang pekerja pagi ini diserang sesuatu di saluran pembuangan di Newark tempat ditemukannya mayat itu," kata Mulder. "Ini foto luka di punggungnya." "Dan kamu bertanya apakah ini dari gigitan seekor cacing pita?" Scully bertanya dengan heran. "Mungkin atau tidak?" Mulder ingin tahu.

"Kamu harus ingat, Mulder," kata Scully sambil berusaha tidak tersenyum. "Cacing pita punya mulut yang kecil sekali. Ini bekas gigitan yang sangat besar." "Kira-kira bisa sebesar apa cacingnya?" Mulder bersikeras. "Bisa sebesar apa" Scully mulai berkata, lalu berhenti ketika sadar apa yang ditanyakan Mulder. Ia menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. "Mulder, kamu tidak pernah berubah. Rasanya sekarang seperti sedang bekerja bersama kamu lagi." Mulder tersenyum dan mengangguk. Lalu senyum mereka lenyap ketika melihat ke cacing di dalam botol itu lagi. "Coba ceritakan tentang cacing ini," kata Mulder. "Cacing pita ini yang biasa disebut obligate endoparasite," Scully menjelaskan. "Mereka hidup di dalam tubuh inangnya. Mereka masuk ke tubuh inang lewat makanan atau minuman yang mengandung telur atau larva mereka. Mereka ini termasuk organisme kecil yang bisa merusak kesehatan juga. Tapi mereka bukan, aku ulangi, bukan, makhluk yang biasa menggerogoti tubuh manusia." "Bagus," kata Mulder. "Karena aku tidak ingin melaporkan ke Asisten Direktur Skinner bahwa tersangka pembunuhnya adalah seekor cacing raksasa yang menghisap darah." Ia mengangkat botol itu dan berkata dengan suara letih,"Yah, sudahlah. Terima kasih, Scully." Scully meletakkan tangannya ke bahu Mulder. "Maaf, Mulder. Tadinya aku berpikir ada sesuatu yang lebih berarti. Aku berharap begitu." "Ya," Mulder berkata dengan suara tajam. "Yah, aku yakin paling tidak ini akan cukup menarik perhatian Dinas Kebersihan Newark. Mungkin mereka akan mengadakan kampanye antiparasit." Mulder diam sebentar. Ketika bicara lagi, suaranya serius. "Dengar, Scully, aku tidak tahu kamu bercerita pada siapa tentang

percakapan kita malam kemarin. Tapi aku lebih senang kalau kamu tidak mengadakan kampanye di biro untuk membelaku." "Apa?" tanya Scully dengan bingung. "Aku tidak tahu kamu bicara dengan siapa" Mulder mengulangi. "Aku tidak bicara dengan siapa-siapa," katanya menenangkan Mulder. "Yah, ada yang menelepon dan memberitahuku kalau aku punya teman di FBI." "Siapa yang menelepon?" Scully bertanya. "Ia tidak mau mengatakannya." "Dengar, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padamu," kata Scully. "Kecuali satu. Aku tidak akan mengkhianati kepercayaan yang diberikan padaku." "Ya," kata Mulder. "Tentu saja tidak. Yah, terima kasih untuk semuanya, Scully. Sampai ketemu."

Chapter 11

"Dokter-dokter itu tidak tahu apa-apa," Craig Jackson bergumam sendirian. "Gampang saja si Zenzola itu mengatakan kalau rasa busuk ini akan hilang. Ia tidak merasakannya sendiri." Craig sedang berdiri di kamar mandinya sambil menatap ke cermin. Ia sudah memeriksa lukanya masih kelihatan besar dan kasar. Ia harus membalutnya lagi setelah mandi. Sekarang ia memeriksa wajahnya. Wajahnya tidak kelihatan lebih baik daripada punggungnya. Ia tampak lelah dan pucat sekali. Kulit ini tidak akan pernah jadi cokelat, pikirnya, siang-malam bekerja di selokan bawah tanah. Craig mengoleskan pasta gigi ke sikat giginya. Mungkin setelah tiga kali digosok, rasa busuk itu akan hilang. Craig membuka mulutnya dan menggosok sekuat-kuatnya. Lalu sikat giginya dikeluarkan dan ia meludah ke bak cuci. Ia melihat ke bawah dan menyangka ia sudah menggosok terlalu keras. Busa putih itu tampak tercoreng oleh darah yang berwarna merah. Ia melihat ke cermin. Gosokannya pasti mengenai gusi. Bibirnya juga terkena darah. Ia mencoba tidak memikirkannya. Ia berusaha berpikir positif. Craig lalu melangkah ke pancuran. Diputarnya keran air panas. Ini untuk kedua kalinya ia mandi, tapi dengan pekerjaan seperti itu, tidak ada kata terlalu banyak untuk mandi. Ketika air yang beruap itu mengguyur tubuhnya, ia merasa ada yang menyodok-nyodok perutnya. Tidak dari luar. Dari sebelah dalam.

"Ugghh," ia mengerang. Tangannya ditempelkan ke dinding supaya tidak jatuh. Lalu rasa busuk itu muncul lagi. Ia terbatuk dengan keras. Rasanya seperti paru-parunya ikut keluar. Tapi ternyata lebih buruk lagi. Pertama-tama yang keluar dari mulutnya adalah darah yang kental. Lalu ia merasa ada lagi yang mau keluar. Lidahnya terasa seperti digelitik, lalu ada yang lewat di antara kedua bibirnya. Ia melihat ke bawah lewat samping hidungnya dan melihat sebuah kepala berwarna putih keluar dari mulutnyadiikuti oleh tubuh yang panjang seperti cacing. Sambil menggoyangkan kepalanya dengan jijik, Craig melihat cacing itu jatuh ke lantai lalu merayap masuk ke lubang saluran pembuangan.

Chapter 12

"Selamat datang di Pusat Saluran Pembuangan, Agen Mulder," kata Ray Heintz ketika Mulder memperkenalkan diri. Ray adalah kepala pabrik pemrosesan pembuangan di Newark. Ia sudah menjadi bulan-bulanan lelucon teman dan keluarganya sejak ia menerima pekerjaan itu. "Tempat Anda menyenangkan," kata Mulder sambil melihat ke sekeliling ruang kontrol pabrik. Tempat itu sangat bersih dan udaranya harum. Layar-layar komputer di dinding memberi tahu para pekerja bahwa sistemnya berjalan dengan lancar. Tidak ada yang menunjukkan bahwa sistem itu memproses kolam besar berisi sampah cair. Di dalam tangki beton, sampah itu diberi cairan kimia untuk membunuh bakteri, lalu dialirkan melalui pipa ke laut. "Pekerjaan ini merupakan seni tersendiri," kata Ray. Tubuhnya pendek, kurus tapi kelihatan kuat, berjenggot, dan mengenakan kacamata tebal. Ia berbicara dengan cepat saat memberikan penjelasan, dan kadang-kadang seperti bergurau. "Kami menggunakan teknologi yang mutakhir. Harus begitu, kalau tidak kami akan ketinggalan oleh limbah yang terus bertambah. Tapi salah satu problemnya adalah, sebagian besar saluran di sistem ini sudah tua, dibangun sekitar pergantian abad yang lalu." Ray berbalik dan tersenyum pada pegawai kebersihan yang lewat. Orang itu sudah tua dan berjalan dengan pelan, tidak tergesagesa. "Beberapa salurannya memang sudah cukup tua. Betul kan, Charlie?" kata Ray. "Oh, ya, Sir," Charlie menjawab sambil bergegas ke pintu.

"Coba jelaskan, saya berada di bagian sistem yang mana ketika melihat mayat yang ditemukan pegawai Anda?" Mulder bertanya. "Itu di salah satu bagian yang paling tua," kata Ray padanya. "Lorong-lorong delapan kaki yang besar. Tidak ada yang seperti itu dalam saluran-saluran kami yang baru," ia melanjutkan. "Semuanya terdiri dari pipa beton, tidak banyak yang besarnya lebih dari dua puluh empat inci." "Dan semua saluran pembuangan di kota melewati pabrik ini?" Mulder bertanya. "Setiap harinya lima ratus enam puluh ribu orang menghubungi kantor saya lewat telepon porselen," kata Ray. Mulder mengangguk, dan membuka tasnya. Ia mengeluarkan botol kaca yang dibawanya dari lab Scully. Ia mengulurkannya ke Ray, yang lalu mengamati makhluk yang mengapung di dalamnya. "Anda pernah melihat yang seperti ini sebelumnya?" Mulder bertanya. "Ini seperti cacing kuno yang besar," kata Ray yang masih melihat dengan takjub. "Ini disebut cacing pita," kata Mulder. "Ini ditemukan di dalam tubuh orang yang mereka keluarkan dari saluran itu." Ray mengangkat bahunya lalu mengembalikan botolnya. "Itu tidak mengherankan," katanya. "Tidak ada yang tahu apa yang berkembang biak di sana dalam seratus tahun terakhir ini." ***************************** Di bagian lain pabrik itu, Charlie Hobbs berjalan memutari gang-gang dari besi, di antara tangki-tangki pengolah yang berukuran raksasa. Charlie sudah bekerja di pabrik itu selama hampir dua puluh tahun. Dan setiap hari, ia memeriksa tangki-tangki itu, memeriksa apakah semuanya berjalan normal. Charlie menoleh ketika mendengar suara ceburan di salah satu tangki di belakangnya. Ia segera menghampirinya dan masih sempat

melihat ada sesuatu yang menyelinap ke bawah permukaan air yang gelap. Charlie berlari ke panel kontrol, meraih telepon untuk keadaan darurat, dan menekan tombol yang menghubungkannya ke ruang kontrol utama. "Ray di sini," kata kepala pabrik. Ia mendengarkan selama hampir satu menit karena orang yang meneleponnya kedengaran panik. "Oke, oke, Charlie. Saya akan segera ke sana," katanya. Lalu sambil berbalik ke Mulder, ia menambahkan, "Sepertinya kami ada masalah."

Chapter 13

Ray dan Mulder menemukan Charlie berdiri di titian di atas salah satu tangki beton berisi sampah. Orang itu menatap ke limbah yang beriak-riak seperti ia belum pernah melihat sebelumnya. "Saya sedang mengeringkan tangki," kata Charlie. "Apa tepatnya yang Anda lihat?" Mulder bertanya padanya. "Saya tidak bisa menggambarkannya," kata Charlie tanpa menoleh. "Pokoknya saya belum pernah melihatnya. Belum pernah yang seperti itu." "Tapi Anda yakin melihatnya?" Mulder bertanya. "Itu dia!" teriak Charlie. Turbin mulai mendesing. Mulder melihat permukaan limbah itu perlahan-lahan turun. Ia dan Ray melihat satu sosok muncul ke permukaan. Sosok itu meluncur dengan mulus di sampah cair seperti gerakan ikan di air, tapi itu bukan ikan. Sosok itu lalu menyelam lagi. Pemandangan yang tidak akan pernah dilupakan oleh orang yang pernah melihatnya. Sosok itu berwarna kelabu-putih dan ramping berkilauan. Tapi yang melihatnya mungkin akan mengatakan seperti manusiahampir seperti manusia. Dari belakang, kepala dan tubuh serta lengan dan kakinya mirip manusia. Tapi wajahnya bercerita lain. Wajahnya berwarna kelabu-putih dengan kepala tanpa rambut atau telinga. Sosok itu tidak punya hidung, hanya ada dua celah besar

dengan mata berwarna merah menyala. Sosok itu punya lubang besar seperti mulut. Di sekitar mulutnya terdapat bibir dengan empat gigi tajam yang bentuknya seperti dirancang untuk menggigit dan mencengkeram. Tidak, itu tidak bisa disebut manusia. Sama sekali bukan manusia. Laluapa? ***************************** Di laboratorium FBI, Scully menatap ke gambar mulut di layar komputernya. Ia mengklik mouse-nya untuk menampilkan gambar-gambar mulut lainnya yang mirip beserta informasinya dari bank data. Ia lalu membuat catatan dan berbicara ke tape perekamnya: "Cacing pipih Turbellaria adalah karnivora yang memakan bangkai," ia melaporkan. "Mereka memakan daging dan mampu bergerak cukup jauh untuk mendapatkannya. Panjangnya biasanya kurang dari tiga centimeter." Beberapa data muncul lagi, lalu ia melanjutkan. "Mereka jenis hermaprodit, yaitu jantan dan betina dalam satu tubuh. Jadi mereka bisa bereproduksi sendiri, tidak memerlukan pasangan. Banyak spesiesnya yang pindah dari satu inang ke inang yang lain untuk mencari makanan supaya tetap hidup." Scully berhenti lagi dan melihat ke gambar seekor cacing pipih yang memenuhi layar. Ia sedang mempelajarinya ketika mendengar suara gemerisik kertas. Suara itu datang dari balik pintu lab yang tertutup. "Apa" ia bergumam sendiri. Lalu berteriak,"Siapa itu?" Tidak ada jawaban. Ia sudah mau kembali ke pekerjaannya ketika melihat ujung sehelai kertas menyembul di bawah pintu.

Ia berjalan ke pintu lalu membukanya, dan melihat ke bawah. Sebuah koran tabloid tergeletak di kakinya. Kepalanya melongok ke koridor dan menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada siapa-siapa. Sambil mengerutkan dahinya, ia membungkuk dan mengambil koran itu. Ditutupnya pintu dan menguncinya, lalu membawa korannya ke meja kerja. Koran itu jenis yang di halaman depannya biasa memuat berita tentang penculikan oleh piring terbang, atau John F. Kennedy masih hidup di sebuah rumah sakit jiwa yang dirahasiakan, atau Elvis muncul dan mengadakan pesta. Di halaman depan koran itu ada sebuah gambar besar tentang dinosaurus yang hidup di jantung Afrika. Scully membaca beritanya dengan cepat tapi tidak menemukan apa-apa, kecuali foto-foto yang jelas dipalsukan dan pernyataan para saksi mata yang kurang waras. Dengan perasaan bingung ia terus membaca judul-judul berita yang lainnya. Ia berhenti di halaman 5. Yang dilihat matanya bukan gambar kapal kargo dengan bendera Rusia. Atau judul beritanya yang berbunyi: "KECELAKAAN ANEH DI KAPAL KARGO RUSIA MEMBUAT CURIGA BEBERAPA PEJABAT." Tapi subjudul di bawahnya: "KRU KAPAL MENYATAKAN MAKHLUK ANEH MENYERANG REKAN MEREKA DI TANGKI PEMBUANGAN." Dibacanya beritanya dengan cepat lalu diulanginya lambatlambat. Koran itu diletakkannya, lalu menoleh ke komputer dan mengklik mouse-nya tiga kali.

Gambar mayat yang ditemukan di saluran itu muncul. Lalu gambar jarak dekat tubuh bagian atasnya. Lalu gambar jarak dekat lengannya. Mouse-nya diklik lagi. Dan lagi. Tanda di lengannya tampak lebih jelas sekarang. Tato, pikirnya. Jelas itu gambar tato. Gambar tato itu diperbesar lagi. Sejenis huruf. Huruf-huruf asing. Huruf yang mungkin membentuk kata. Ia masih mencoba mengira-ngira apa bunyinya ketika teleponnya berdering. "Scully," jawabnya. "Ini aku," terdengar suara Mulder. "Di mana kamu?" Scully bertanya. "Di Middlesex County Psychiatric Hospital di New Jersey," Mulder memberi tahu. "Kamu baik-baik saja, kan?" Scully bertanya. "Jangan khawatir, aku belum gilameskipun mungkin kamu berpikir lain setelah mendengar apa yang akan kuceritakan," kata Mulder. Lalu ia melanjutkan. "Kamu ingat cacing yang kamu temukan di mayat itu?" "Ya?" Scully menjawab. "Itu tidak seberapa besarnya," kata Mulder. "Apa maksudmu?" Scully ingin tahu. "Aku tidak bisa menggambarkannya," kata Mulder. "Kamu lebih baik segera ke sini dan melihatnya sendiri."

Chapter 14

Mulder bertemu Scully di meja informasi rumah sakit. Setelah menunjukkan lencana mereka, Mulder membawa Scully melewati dua polisi yang bersenjata, menuju ke suatu koridor yang panjang, di mana di kanan-kirinya berderet pintu-pintu logam dengan jendela setinggi mata yang berkaca tebal. Mulder berhenti di depan pintu yang terakhir. Ia memberi isyarat pada Scully untuk melihat ke dalam melalui jendelanya. "Aku tidak melihatnya," katanya. Mulder mencondongkan tubuhnya untuk melihat lebih dekat. "Itu di sana, bersembunyi di belakang pipa-pipa di sudut sana," kata Mulder sambil menunjuk ke suatu bagian yang berbayang. "Astaga," kata Scully. Sinar di dalam kamar itu redup, tapi Scully masih bisa melihat ada sosok yang telanjang meringkuk di salah satu sudut kamar yang kosong. Kulitnya yang kelabu-putih dan tidak berambut tampak berkilat. Otot-ototnya memperlihatkan kekuatannya. Matanya yang merah bergerak-gerak dengan cepat, tampak putus asa mencari jalan untuk melarikan diri. Bibirnya yang berbentuk lubang besar di tengahtengah wajahnya membuat gerakan seperti bibir bayi yang mencari botol susunya. Tapi taring-taringnya yang berkait di belakang bibir itu membedakannya dengan mulut bayi. "Itu jantan atau betina?" Scully bertanya. "Tidak ada jenisnyaatau mungkin kedua-duanya," kata Mulder. Akhirnya Scully melepaskan pandangannya dari jendela.

"Ini cocok," katanya pada Mulder. "Platyhelminthes, atau cacing parasit, kebanyakan hermaprodit." Lalu ia menambahkan,"Ini menakjubkan, Mulder. Sosok makhluk ini seperti cacing parasittapi ratusan kali lebih besar. Dan tubuhnya seperti primataseperti monyet, gorila, atau malah manusia." "Bisa disimpulkan begitu," Mulder setuju. "Tapi dari mana asalnya?" Scully bertanya-tanya. "Aku tidak tahu," kata Mulder. "Tapi sepertinya aku harus memberi tahu Asisten Direktur Skinner bahwa si tersangka adalah cacing penghisap darah." Scully tidak tersenyum mendengar leluconnya. Ia sibuk dengan pikiran-pikiran yang melintas di kepalanya. "Mulutnya itu tampaknya akan meninggalkan bekas luka seperti di foto yang kamu tunjukkan waktu itu," katanya. "Di punggung pegawai kebersihan saluran itusiapa namanya?" "Craig Jackson," kata Mulder. "Kita harus mengikuti perkembangannya," kata Scully. "Periksa dia dengan lebih teliti. Lakukan beberapa tes." "Menurutku mereka jelas akan mengkonfirmasikan bahwa apa pun jenis makhluk ini, dialah yang menimbulkan luka itu," kata Mulder. "Tapi ada satu keterangan yang penting yang belum kita miliki. Identitas mayat yang ditemukan di saluran itu." "Itu orang Rusia," kata Scully. "Namanya Dmitri." "Kamu tahu dari mana?" Mulder bertanya. "Ia punya beberapa tanda di lengan bawahnyatato," kata Scully. "Tadinya itu seperti tidak ada artinya sampai aku sadar kalau itu huruf-huruf Cyrillic." Scully merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan cetakan foto komputer yang memperlihatkan lengan bawah yang bertato.

"Betul, abjad Rusia," kata Mulder setelah melihat sekilas. "Bagus. Tapi kita masih harus menemukan siapa dia. Pasti ada sejuta Dmitri di Rusia." "Nama lengkapnya Dmitri Protemkin dan ia juru mesin di sebuah kapal pengangkut kargo," kata Scully. "Dari mana kamu tahu itu?" Mulder bertanya. "Informasinya dari sini," kata Scully sambil mengeluarkan tabloid dari tas lalu membuka halaman 5 dan memberikannya pada Mulder. "Ada orang yang memasukkannya lewat bawah pintu lab." Scully melihat mata Mulder membesar, lalu ia berkata,"Aku kira kamu betul-betul punya teman di FBI." Mulder tersenyum menyeringai tepatnya. Scully meletakkan tangannya ke lengan Mulder. Sulit bagi dia untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan pendapatnya. "Mulder, nanti kalau kamu menemui Skinner untuk menyerahkan laporannya dan membicarakan situasimu, aku harap " Scully ragu-ragu, lalu melanjutkan. "Aku harap kamu tahu kalau aku menganggapnya sebagai suatu kehilangan yang besar kalau kamu memilih untuk keluar." Mulder menatap rekannya untuk sesaat. Lalu ia menoleh ke makhluk yang terkurung di dalam kamar. Makhluk itu masih di tempatnya, tapi meringkuk jauh lebih ke dalam, ke tempat yang lebih tertutup oleh bayangan. Seperti mencari tempat untuk bersembunyi.

Chapter 15

Pukul sembilan pagi hari berikutnya, Mulder masuk ke kantor Asisten Direktur Skinner. Skinner sedang duduk di mejanya, membaca laporan Mulder. "Silakan duduk, Agen Mulder," katanya. Skinner meletakkan laporan di depannya dan berkata,"Semuanya kelihatannya beres. Cukup memuaskan." Mulder menatap Skinner, tidak tahu harus berkata apa. Alis mata Skinner terangkat. "Ada yang salah, Agen Mulder?" ia bertanya. Mulder menjaga suaranya supaya tetap tenang. "Salah? Tidak, Sir. Saya hanya sedikit . . . terkejut." "Terkejut?" "Respon Anda terhadap laporan saya sedikit tak terduga, mengingat situasi pembunuhannya yang aneh," kata Mulder. "Termasuk kondisi tersangka." "Saya menyadari keanehan pelaku dan kejadiannya," kata Skinner. "Rincian kejadiannya sangat jelas bagi saya untuk memberi tahu penuntut federal mengenai cara menangani pelakunya. Tapi pertemuan ini tidak ada hubungannya dengan itu. Saya hanya memberi tahu penilaian akhir dari tugas Anda." "Maksud Anda, saya tidak menanganinya lagi?" Mulder bertanya. "Penyelidikannya sudah selesai," kata Skinner. "Kapan tersangka akan diadili?" tanya Mulder. "Belum ditentukan tanggalnya," kata Skinner. "Kami sudah meminta supaya dilakukan evaluasi psikiatris terhadap tersangka

untuk melihat apakah ia bisa diadili. Tersangka akan dipindahkan ke tempat yang lebih cocok untuk evaluasi itu." "Evaluasi psikiatris? Bisa diadili?" Mulder mengulangi. "Anda tahu apa hasil evaluasinya nanti. Si tersangka bukan manusia. Ia monster. Anda tidak bisa menempatkannya di rumah sakit jiwa." "Apa mau Anda, Agen Mulder?" Skinner bertanya dengan tajam. "Menaruhnya di kebun binatang? Ia sudah membunuh dua orang." "Dua?" Mulder bertanya. "Pegawai kebersihan yang diserang itu ditemukan mati di rumahnya karena luka-lukanya," kata Skinner. "Craig Jackson?" Mulder bertanya. "Pasti itu namanya," kata Skinner. Mulder menatap ke laporannya yang terletak di meja. Laporan itu jadi seperti tidak ada artinya. Dengan pahit ia berkata,"Anda tahu, dulu Anda punya sepasang agen yang bisa menangani kasus seperti ini mulai dari awal. Agen Scully dan saya mungkin masih bisa menyelamatkan nyawa orang itu. Tapi Anda membubarkan kami." Skinner melihat tatapan Mulder yang menyalahkan dengan tidak berkedip. Lama tidak ada yang berbicara. Lalu Skinner menjawab,"Saya tahu. Kasus ini seharusnya merupakan kasus X-file." Mulder menatap Skinner seperti belum pernah melihat asisten direktur itu sebelumnya. Lalu Skinner melanjutkan,"Kita semua menerima perintah dari seseorang. Itu saja, Agen Mulder," ia menambahkan, memberi tanda supaya Mulder keluar.

Chapter 16

"Perintah tetap perintah," kata Tom Mullins pada Rick Foster. "Ya, dan pekerjaan tetap pekerjaan," Rick setuju. "Tapi, seharusnya ada batasnya," kata Tom. Tom dan Rick memakai jaket dari nilon berwarna biru tua dengan lambang U.S. MARSHAL di belakangnya. Dalam karier mereka, mereka sudah mengerjakan dan melihat banyak hal yang sangat tidak menyenangkan, yang tidak bisa mereka hindari. Tapi sekarang tidak satu pun dari mereka berdua yang ingin melihat makhluk yang diikat di meja beroda, yang sedang mereka dorong di koridor Middlesex Psychiatric Hospital. Tubuh makhluk itu ditutupi selimut, tapi kepalanya terlihat. Mereka cukup sekali saja melihatnya. "Menurutmu ini manusia?" Tom bertanya-tanya. "Semoga bukandemi dirinya sendiri," kata Rick. Mereka mendorong meja itu melewati seorang polisi yang berjaga di pintu masuk. Mereka keluar menuju garasi di belakang institusi. Sebuah mobil van berwarna merah-putih sudah menunggu. Di pintu belakang ada tulisan Great Seal of the United States. Tulisan EMERGENCY tertera di kedua sisi kendaraan itu. "Sekarang terserah kamu, Roger," kata Tom pada orang yang duduk di belakang kemudi. Orang itu juga mengenakan jaket U.S. Marshal. "Masukkan dia dan aku akan mengantarnya," kata Roger. Tom dan Rick mengangkat mejanya ke bagian belakang van dan mengunci rodanya. Lalu mereka keluar dan mengunci pintu belakang.

Tom menepuk keras-keras bagian belakang van dengan telapak tangannya, dan van itu mulai menderu. Sambil melihat van itu berangkat, Tom berkata,"Ia kelihatannya tergesa-gesa sekali mengantarkan kiriman itu." "Aku tidak bisa menyalahkannya," kata Rick. Hari sudah malam dan Roger terus melihat ke depan, ke jalan besar yang sepi. Sebentar-sebentar ia melihat ke spedometer untuk mengecek kecepatannya. Satu-satunya yang dihindarinya adalah disuruh minggir oleh polisi patroli dan ditanya tentang barang yang dibawanya. Hal lain yang juga tidak ingin dilakukannya adalah menengok ke jendela di belakang kepalanya. Ia tidak ingin melihat apa yang terbaring di meja itu. Tapi tangannya lalu menyalakan lampu kompartemen belakang. Ia menahan napas, menoleh, dan mengintip lewat jendela. Perutnya terasa diaduk-aduk. Meja itu kosong. Tali pengikatnya tergeletak begitu saja. Roger langsung menginjak rem dan menghentikan kendaraannya di bahu jalan. Diraihnya corong radio dan berteriak,"Ini kendaraan empat puluh sembilan empat puluh. Di Rute 75, kurang lebih sepuluh mil di utara Middlesex Psychiatric Hospital." Lalu Roger meninggikan suaranya ketika berkata,"Saya minta bantuan secepatnya. Saya ulangi, secepatnya." "Permintaan diterima," terdengar suara di radio. "Bantuan sedang menuju ke sana." Roger meletakkan radionya dan mengambil senjata dari belakang tempat duduk. Ketika keluar dari van, ia melihat papan petunjuk tempat itu, Lake Betty Campground. Lampu neon merah di papan itu membuat suasana di sekitarnya mengerikan.

Dengan memegang senjatanya, ia berjalan ke belakang van. Ia harus waspada. Tapi mungkin juga ia sudah terlambat. Salah satu pintu belakang van sudah setengah terbuka. Satu pukulan yang sangat kuat telah menghantam pintu itu dari dalam dan merusakkan kuncinya. Makhluk itu bisa saja sudah berada di luartapi mungkin juga belum. Roger harus memeriksanya. Dengan jari siap menarik pelatuk, ia menggunakan laras senjatanya untuk membuka pintu. Ia memanjat ke dalam dengan perasaan ngeri. Meja itu masih kosong. Sejauh yang bisa dilihatnya, kompartemen itu kosong. Dengan satu tangan tetap di picu senjata, ia menggunakan tangannya yang lain untuk mengambil tali pengikat makhluk itu. Talinya terkena kotoran yang tebal. Roger mengangguk. Tali itu tidak dirancang untuk mengikat benda yang licin. Sambil mengusapkan tangannya ke celana, ia melihat ke rak tempat persediaan obat-obatan. Makhluk sebesar itu memang tidak mungkin bersembunyi di tempat sekecil itu, tapi Roger orang yang teliti. Lalu ia melihat ke bawah bangku di satu sisi kompartemen. Seperti yang diperkirakannya, tidak ada apa-apa di situ. Ketika ia berbalik untuk melihat ke bawah bangku di sisi satunya, ia sudah memikirkan langkah selanjutnya setelah selesai memeriksa bagian itu. Tapi ia hanya sampai di situsebelum sepasang tangan mencengkeramnya kuat-kuat dari belakang seperti kepiting. Sebelum sebuah mulut dengan empat taring dihujamkan ke punggungnya seperti pisau. Sebelum senjatanya meletus dan gemanya dikalahkan oleh jeritannya.

Chapter 17

"Saya segera menghubungi Anda setelah mengetahui detail kasusnya," Detektif Polisi Letnan Norman memberi tahu Mulder. Norman dan Mulder berdiri di samping papan reklame "Lake BettyNature's PlaygroundLive BaitCampsites Available Year Round." Lampu neonnya sekarang sudah mati bersamaan dengan terbitnya matahari pagi. Sinarnya menyinari lapangan, danau, dan van yang diparkir asal-asalan di bahu jalan raya. Di samping van itu ada empat mobil dari kesatuan polisi setempat dan dua kendaraan pemerintah AS. Beberapa polisi dan marshal federal memotret dan memeriksa daerah sekitarnya. Mulder melihat sebuah truk tanker dengan tulisan Sweetwater Sanitary Maintenance melewati mereka. Lalu ia menoleh ke Detektif Norman. "Apa yang Anda temukan sejauh ini?" tanyanya. "Yah, kami menemukan seorang marshal yang sudah tewas dan tahanan yang melarikan diri," kata Norman. "Selain itu, nol. Ada usulan, Agen Mulder?" Norman bertanya. "Saya ingin semua saluran air dan semua akses ke sistem pembuangan diawasi," kata Mulder. "Saya punya perasaan bahwa makhluk itu akan berusaha kembali ke bawah tanah." Norman meringis. "Makhluk apa ini sebetulnya, Agen Mulder?" ia menuntut. "Saya tidak yakin, tapi saya kira" Mulder menghentikan katakatanya ketika telepon di sakunya berbunyi.

"Permisi sebentar," kata Mulder pada Norman sambil mengeluarkan teleponnya. Ia berjalan menjauh sampai beberapa kaki dan berkata ke telepon, "Mulder." Ia mengenali suara di telepon itu. Suara orang misterius yang pernah meneleponnya dan memberi tahu bahwa ia punya teman di FBI. "Mr. Mulder, ini singkat saja. Keberhasilan Anda dalam tugas yang sekarang ini penting sekali. Sangat penting." "Dengan siapa saya bicara?" Mulder bertanya. Mulder bisa mendengar nada marah orang itu saat menjawab: "Saya menelepon tidak untuk menjawab pertanyaan. Anda dengar itu, Mr. Mulder?" "Ya," kata Mulder. "Tapi kenapa penyelesaian kasus ini sangat penting?" "Supaya jelas bahwa X-file seharusnya dibuka lagi," kata suara itu. Lalu terdengar bunyi klik dan desis sambungan telepon yang terputus. Mulder memasukkan teleponnya ke saku. Ia ingin memikirkan orang itu. Ingin menyelusuri siapa kira-kira orang itu. Tapi tidak ada waktutidak ketika walkie-talkie Norman berbunyi lagi. "Unit enam empat, copy." "Enam empat, diterima," Norman menjawab. "Kami di tempat berkemah kurang lebih seperempat mil dari posisi Anda," kata suara itu. "Anjing-anjing kami melacak bau dari van yang menuju ke toilet di sini. Kami pikir tahanan itu mungkin bersembunyi di dalamnya, tapi ternyata kosong." Mendadak Mulder menyela pembicaraan itu. "Itu dia," katanya. "Tunggu sebentar, enam empat," kata Norman dan menoleh ke Mulder.

"Truk tanker," kata Mulder dengan bersemangat. "Bagaimana kalau ia ada di truk tanker?" Norman mengangguk, ada secercah harapan.

Chapter 18

Mulder masuk ke mobilnya. Sebelum menghidupkan mesinnya, ia menelepon sebentar. The Sweetwater Sanitary Toilet Maintenance Company memberi tahu kalau truk-truk mereka membawa muatannya ke pabrik pengolahan limbah Newark. Tapi mereka tidak bisa menghubungi pengemudinya selama mereka masih di jalan. Mulder mencoba menghubungi Ray Heintz di pabrik, tapi hanya diterima oleh mesin penjawab. Mulder hanya bisa meninggalkan pesan supaya mengawasi kiriman dari Sweetwater. Ray Heintz memberi salam pada Mulder dengan riang ketika Mulder sampai di pabrik. "Perusahaan pemilik truk yang Anda cari tidak memiliki catatan yang lengkap. Pagi ini kurang lebih lima truk mereka ada di daerah Lake Betty," kata Ray padanya. "Tiga di antaranya sudah menurunkan muatannya." "Jadi truk yang dicari bisa jadi sudah datang dan sudah pergi lagi," kata Mulder. "Atau kalau belum tiba di sini, berarti belum sampai," kata Ray. "Anda yakin semua truk mengosongkan muatannya di sini?" Mulder bertanya. "Peraturannya begitu," kata Ray. "Dan semuanya diproses di pabrik ini?" Mulder bertanya. "Yap." "Apa kelanjutannya setelah diproses?" "Dibuang ke laut melalui pipa sepanjang lima mil," kata Ray padanya.

"Anda ingat makhluk yang kita temukan di sini dua hari yang lalu?" Mulder bertanya. "Tidak gampang untuk melupakannya," kata Ray. "Bisakah makhluk itu meloloskan diri melalui pipa pembuangan?" Mulder bertanya. "Sepertinya tidak," kata Ray. "Sistem salurannya penuh dengan saringan dan sekat-sekat. Tidak banyak yang lebih besar dari kelingking Anda yang bisa melaluinya. Kalau ia ada di sini, pasti ia akan terjebak di salah satu tangki pengolahan." "Jadi yang bisa kita lakukan hanya menunggu ia muncul ke permukaan?" Mulder bertanya. "Yah, kita bisa berkeliling dan melihat-lihat, siapa tahu ia muncul nanti," kata Ray padanya. Selama dua jam berikutnya, Mulder bersama Ray, Charlie, dan empat pegawai kebersihan berjalan di antara tangki-tangki limbah. Mata Mulder sudah capek ketika telepon selular di sakunya berbunyi. "Ini aku," kata Scully. "Di mana kamu?" "Di pabrik pengolahan limbah di Newark," kata Mulder. "Firasatku teman kita mungkin sudah kembali ke saluran limbah." "Bagaimana?" tanya Scully. "Lupakan saja," kata Mulder. "Aku sudah membuang-buang waktu di sinidan aku sebal memikirkan di mana makhluk itu sekarang. Mungkin ia ada di danau. Bisa di mana saja. Kita hanya tahu bahwa ia sekarang bebas." "Yah, kalau begitu pasti kamu tidak akan senang dengan yang akan kukatakan," kata Scully. "Apa maksudmu?" tanya Mulder. "Waktu itu tidak terpikir olehku, tapi menurutku cacing yang ditemukan di tubuh mayat itu adalah larva yang menetas," katanya.

"Larvamaksudmu, bentuk kehidupan dalam tahap awal?" tanya Mulder sambil berusaha mencerna informasi itu. "Suatu bentuk kehidupan yang bisa tumbuh menjadi" "Menjadi makhluk dewasa seperti yang sudah kita lihat," Scully menegaskan. "Makhluk itu, apa pun jenisnya, memindahkan telur atau larvanya melalui gigitannya. Ia menanamnya di tubuh orang yang diserangnya. Hal ini menjelaskan lubang di tengah luka pada punggung pekerja itu." "Jadi makhluk itu sedang bereproduksi?" Mulder bertanya. "Sudah bereproduksi," kata Scully. "Yang dilakukannya adalah mencari tempat tumbuh untuk anak-anaknya. Tempat yang memberikan kehangatan dan makanan untuk larva yang sedang berkembang. Dan tubuh manusia cocok untuk itu." Scully diam sebentar, lalu menambahkan,"Mulder, kalau makhluk itu menemukan tempat yang baru" "Aku tahu, Scully," Mulder memotong. "Ia akan berlipat ganda. Lalu" Sebelum Mulder selesai mengungkapkan pemikirannya, didengarnya Ray berteriak. "Agen Mulder!" panggilnya. "Seorang pegawai melihat sesuatu di salah satu bagian pipa saluran!"

Chapter 19

"Di mana dia?" tanya Mulder. "Ayo, akan saya tunjukkan," kata Ray. Kedua orang itu berlari ke ruang kontrol. Sesampainya di sana, Ray melihat ke peta sistem pembuangan sampai menemukan sektor yang dicarinya. "Salah satu pegawai saya yang sedang melakukan pemeriksaan rutin melihatnya di sini," kata Ray sambil menunjuk. "Ia lalu cepatcepat melaporkannya ke sini." Mulder memperhatikan petanya. "Itu bagian sistem yang sudah tua, kan?" tanyanya. "Di dekat tempat ditemukannya mayat itu." "Betul," kata Ray. "Tapi sektor yang ini berhubungan dengan pipa yang membuang sisa-sisa sampah ke pelabuhan. Ini hanya digunakan kalau hujan yang lebat menutup sistem pembuangannya. Selain itu, tidak ada sampah yang dibuang melalui pipa ini." "Apakah pipa ini cukup besar untuk dilewati makhluk itu?" tanya Mulder. "Kalau kepala atau kakinya duluan yang masuk." "Kalau begitu mungkin makhluknya ada di situ," kata Mulder sambil mengangguk. "Ia mencoba kembali ke laut. Kalau ia berhasil, tidak akan bisa dicegah lagi." "Dicegah apa?" tanya Ray. "Berkembang biak," kata Mulder. "Kalau begitu kita cepat ke sana," kata Ray. Mereka keluar dari ruang kontrol menuju tempat parkir pabrik pengolahan. "Kita pakai mobil saya saja," kata Ray. "Saya tahu letaknya."

Sepuluh menit kemudian, mereka berhenti di dekat lubang yang terbuka di jalan kota. Tiga orang pegawai berdiri di dekatnya. "Siapa yang tadi menghubungiku?" Ray bertanya sambil melompat keluar dari mobil. Mulder mengikuti di belakangnya. "Saya," kata seorang pegawai yang bertubuh besar dan berjenggot. "Anda melihat sesuatu di bawah sana?" tanya Mulder. "Yahsaya belum pernah melihat yang seperti itu," katanya. "Tepatnya di mana?" tanya Ray. "Beberapa yard sebelum ujung pipa yang mengarah ke laut," kata orang itu. Ray mengambil senter dari tangan salah satu pegawainya dan berjalan ke lubang. Mulder mengikutinya. Diambilnya satu senter dan mulai menuruni tangga. Ray menunggunya di titian bawah. Ray berjalan dengan cepat di sisi lorong yang tingginya delapan kaki itu. Sinar senter mereka menyinari sampah di bawah. Mulder memperhatikan bahwa mereka berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah ditemukannya mayat. Ia sudah lebih yakin dengan apa yang terjadi sebenarnya. Ia seakan-akan bisa membayangkan tubuh orang Rusia itu masuk melalui pipa pembuangan dan terapung di saluran. "Di sini tempatnya," kata Ray. Ia mengarahkan senternya ke permukaan sampah cair yang tenang, di tempat titiannya berakhir dan lorongnya berbelok tajam. Senter Mulder menyinari tempat itu, lalu ke dinding saluran sampai ke sebuah pipa besar yang terbuka. Letak pipa itu beberapa kaki di atas permukaan sampah. Tapi tidak terlalu tinggi bagi makhluk itu yang mempunyai tangan dan kaki untuk naik ke atasnya. LWS.OGOT.M "Itu pipa pembuangannya saya kira," katanya pada Ray.

"Ya, itu," kata Ray. "Pipa itu menuju ke lorong lain yang seperti ini. Dan lorong itu menuju ke pelabuhantiga perempat mil panjangnya." "Apa ada cara untuk menutup pipanya?" tanya Mulder. Ia tidak mengatakan kalimat berikutnya: Jika belum terlambat. "Ada pintu yang bisa diturunkan di depan pipa yang membuka keluarkalau tuasnya belum terlalu berkarat," kata Ray. "Tunggu di sini. Akan kulihat dulu." Mulder melihat tuasnya menonjol keluar dari sisi pipa yang terbuka. Ia juga bisa melihat bahwa satu-satunya jalan untuk meraih tuas itu adalah melalui langkan sempit di sisi lorong. "Hati-hati," Mulder memperingatkan. Mulder mengawasi Ray berjalan di sepanjang langkan. Akhirnya ia sampai ke tuas itu dan Mulder bisa bernapas lega. Ray memegang tuasnya. Sambil menggeram ia menariknya ke bawah. Tapi tuas itu tidak bergerak sedikit pun. "Ini yang kukhawatirkan," ia berteriak pada Mulder. "Sudah terlalu berkarat. Tapi mungkin masih bisa kalau kutarik lebih keras lagi" Ia menggeser kakinya supaya pijakannya lebih kuat, lalu menarik tuas dengan sekuat tenaga. Ia berteriak ketika kakinya terpeleset dari langkan. Mulder melihat dengan ngeri ketika Ray jatuh ke limbah dan tenggelam. Beberapa saat kemudian, kepala Ray muncul ke permukaan, diikuti bahu dan dadanya. Sambil berusaha berdiri di limbah yang tingginya sampai ke dada, ia melambaikan tangannya ke Mulder. "Anda tidak apa-apa?" Mulder berteriak padanya. Pada saat itu Mulder melihat dengan jijik pada sampah yang terciprat ke sepatunya. Hidungnya dikerutkan ketika mencium bau cairan kotor yang menetes ke tubuhnya dari pipa yang bocor di atas.

"Ya. Tapi kacamataku hilang," teriak Ray. "Mungkin aku bisa mencarinya" Tiba-tiba matanya terbelalak ngeri. "Ahhhh!" jeritnya lalu tenggelam lagi.

Chapter 20

Mulder menyambar senjatanya. Tapi ia tidak bisa melihat dengan jelas di mana makhluk yang menyeret Ray Heintz ke bawah. Dan di bawah sana, sudah jelas ia lebih tidak akan bisa melihat apa-apa. Mulder mengawasi tempat Ray lenyap. Tapi permukaannya sekarang tenang. Tenang seperti kuburan. Lalu, beberapa yard ke arah ujung pipa, kepala Ray muncul ke permukaan. Ia berteriak kesakitan dan penuh ketakutan: "Tolong! Keluarkan aku dari sini! Selamatkan!" Ray terhempas ke air ketika makhluk itu mencengkeramnya lagi. "Kami butuh bantuan di sini!" Mulder berteriak ke belakangnya. Lalu ia berlari di titian menuju ke tempat Ray berusaha keluar dari lumpur sampah. Sambil berpegangan pada jeruji di pinggir titian dengan tangannya yang memegang senjata, Mulder mengulurkan tangannya ke bawah untuk menolong Ray. Ia bisa meraih pergelangan tangan Ray dan mulai menariknya ke atas. Ray sudah setengah keluar dari air ketika tangan Mulder terlepas dari jeruji. Dilihatnya tubuh Ray terhempas lagi ke air, bersama dengan pistolnya. Ketika makhluk itu menarik Ray ke bawah lagi, Mulder melakukan satu-satunya hal yang bisa dilakukannya. Meskipun itu hal terakhir di dunia ini yang akan dilakukannya. Ia melompat ke air.

Kakinya menyentuh dasar saluran dan mulai terpeleset-peleset. Ia berusaha bertahan supaya tidak terjerembab ke dalam kotoran yang menjijikkan itu. Ray muncul lagi, masih berteriak. Tangannya bergerak-gerak dan memukul-mukul dengan liar. Dengan susah-payah ia berusaha memukuli makhluk yang menggigit punggungnya. Mulder bergerak secepat-cepatnya ke tempat Ray. Ia meraih Ray dan membantunya menepi ke pinggir lorong. Ray bernapas lega. Tubuhnya bersandar dengan lemah ke dinding lorong. Mulder mengawasinya sebentar lalu melihat ke pipa saluran yang terbuka. Tepat di bawahnya, sebuah kepala menyembul ke permukaan. Sebuah kepala putih dan licin dengan mulut bersimbah darah. Dari mulut itu terdengar suara mendesis. Makhluk itu keluar dari saluran lalu naik ke dalam pipa. Mulder cepat-cepat menuju ke tuas. Ia melompat dan meraih tuas itu tepat saat makhluk itu mau keluar dari saluran. Dengan seluruh tenaganya, Mulder menarik tuasnya. Lenganlengannya terasa seperti mau lepas. Makhluk itu sudah setengah jalan menuju keluar. Lalu, dengan suara berderit, tuas itu mulai bergerak. Perlahan. Perlahan sekali. Lalu lebih cepat. Sambil tetap menarik, Mulder terjatuh ke lumpur sampah dan tuasnya bergerak ke bawah. Ketika jatuh, ia melihat gerbang besi yang berat jatuh seperti pisau pemenggal kepala, menutup pipa saluran. Gerbang besi itu menjatuhi bagian tengah tubuh makhluk itu.

Terdengar jerit kesakitan yang melengking ketika gerbang itu memotong dagingnya. Gerbangnya lalu menutup rapat dan lengkingan itu lenyap. Sambil berusaha berdiri, Mulder melihat bagian bawah tubuh makhluk itu dan kakinya terapung, lalu perlahan-lahan tenggelam. Yang tertinggal hanya noda darah merah yang menyebar. Mulder menatap ke darah yang lalu bercampur dengan sampah. Dalam beberapa detik, semua jejaknya lenyap. Tapi Mulder menyadari kenangannya akan makhluk itu tidak akan lenyap secepat itu. Ia menoleh ketika mendengar suara di belakangnya, menggaungkan kata-kata di dalam benaknya. "Terima kasih Tuhan, akhirnya ini semua berakhir," kata Ray.

Chapter 21

Mulder duduk di bangku di pinggir sungai Potomac yang sudah terasa akrab. Di seberang sungai itu, kubah Lincoln Memorial bersinar terang dalam kegelapan. Tapi Mulder ke situ tidak untuk menikmati pemandangan. Matanya menatap ke tanah di antara kedua kakinya. Ia teringat pada kejadian selama beberapa hari terakhir ini. Sebuah suara membuyarkan pikirannya. "Apa bangku ini ada yang menempati?" Scully bertanya. "Tidak," kata Mulder. "Tapi aku peringatkan, tubuhku masih bau busuk." "Akan kucoba." Scully duduk di sampingnya. "Kemarin kamu bicara dengan Skinner?" Setelah beberapa saat, Mulder menjawab. "Keberhasilan tugas kita sangat penting. Pemulihan X-file harus segera dilaksanakan." "Skinner bilang begitu?" tanya Scully terkejut. "Bukan. Kita punya teman di FBI." Scully terdiam. Lalu ia mengubah pokok pembicaraan. Katanya,"Mungkin kamu tertarik dengan hasil pemeriksaan lab tentang larva cacing yang kuambil dari tubuh pelaut Rusia itu." "Apa yang kamu temukan?" tanya Mulder. "Aku melakukan pembedahan dan pemeriksaan mikroskopis secara menyeluruh. Analisisku menunjukkan ciri silang reproduktif dan fisiologis tingkat tinggi, yang menghasilkan sejenis makhluk setengah manusia." "Manusia?" Mulder bertanya sambil menatap Scully. "Ya," jawab Scully. "Tapi masih mampu regenerasi, seperti cacing pita atau cacing pipih."

"Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi?" "Radiasi," kata Scully. "Perkembangan sel yang abnormal. Perubahan gen yang radikal. Perubahan dalam proses genetis alamiah." Ia diam sebentar sebelum melanjutkan. "Alam tidak membuat makhluk seperti itu, Mulder. Kita yang melakukannya." Scully merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah map yang lalu diserahkannya ke Mulder. Map itu penuh dengan foto-foto. Mulder melihat foto-foto itu tanpa berbicara. Foto-foto itu menggambarkan hewan dan manusiasemua cacat tubuhnya. Mereka adalah korban dari mutasi genetis yang mengerikan. "Aku tahu gambar-gambar ini," kata Mulder. "Mereka dari Chernobyl." Scully mengangguk. "Aku memeriksa latar belakang kapal Rusia itu. Kapal itu digunakan untuk mengangkut bahan-bahan yang akan dibuang dari reaktor nuklir yang meledak itu. Makhluk ini tercipta dari kumpulan sampah radioaktif." Mulder menatap ke air sungai. "Mereka mengatakan bahwa setiap harinya tiga spesies lenyap dari planet ini," katanya. "Coba bayangkan berapa banyak spesies baru yang sedang diciptakan." Lalu Mulder berdiri dan berjalan pergi. Scully tetap duduk di bangkunya, menikmati pantulan sinar lampu yang berkilauan di air Sungai Potomac. ***************************** Tidak jauh dari Washington, sinar lampu-lampu New York City berkilauan di air Sungai Hudson, memberikan tontonan yang indah untuk penghuni New Jersey. Di bawah kota itu, pemandangannya tidak terlalu mengesankan. Bermil-mil saluran pembuangan tersebar di bawah tanah, mengalirkan airnya sejauh mungkin. Saluran-saluran itu membawa sampah yang sudah diproses dari kota ke tempat pembuangannya yang aman di pelabuhan.

Jauh di dalam salah satu saluran itu, air mengalir bebas melalui lubang di sebuah sekat. Melalui lubang inilah makhluk itu masuk ke saluran pembuangan. Tiba-tiba, sisa-sisa tubuh makhluk itu menyembul ke permukaan air, pucat dan terapung-apung. Matanya yang sudah tidak memancarkan tanda-tanda kehidupan menatap ke atas ketika air mengalir dari dinding saluran. Lalu mata itu berkedip. Sekali, lalu sekali lagi. Perlahan-lahan, makhluk itu mengangkat kepalanya. Mulutnya membuka. Di ujung lorong saluran, makhluk itu akan terbawa ke laut. Di sana, ia akan memulai kehidupan yang baru. Dan mencari tempat berkembang biak yang baru. END