Anda di halaman 1dari 4

1.

Proses pencampuran porselen Sebagai medium untuk pencampuran dari serbuk porselen digunakan air destilasi yang mempunyai kekentalan yang rendah dan tekanan permukaan yang sangat tinggi. Air destilasi ini merupakan perantara yang efisien dalam pencampuran partikel porselen untuk menghasilkan massa yang homogen. Serbuk porselen diaduk dengan spatula kering kemudian ditambahkan air destilasi. Powder porselen dengan warna untuk daerah gingival dan incisal ditempatkan secara terpisah.

2. Kondensasi Proses kondensasi merupakan suatu proses pemadatan dari partikel-partikel dan menghilangkan kelebihan air. Kondensasi yang baik terhadap campuran yang basah akan mengurangi pengerutan dan akan menghasilkan permukaan yang padat dan homogen. Pemampatan yang padat dari partikel bubuk memberikan dua keuntungan: penyusutan waktu pembakaran yang lebih rendah dan porositas yang lebih sedikit pada porselen yang sudah dibakar. Pemampatan atau kondensasi ini dapat diperoleh dengan berbagai metode, Metode pertama menggunakan getaran ringan untuk memampatkan bubuk yang basah secara padat pada rangka dibawahnya. Air yang berlebih diserap dengan tissue bersih dan kondensasi akan terjadi kearah daerah yang diserap. Pada metode kedua, digunakan spatula kecil untuk mengaplikasikan dan menghaluskan porselen yang masih basah. Aksi penghalusan akan membawa kelebihan air naik ke permukaan , sehingga bisa dibuang. Metode ketiga, menggunakan penambahan bubuk porselen kering yang diletakkan dengan bantuan sikat di sisi berlawanan dari adonan porselen yang masih basah. Sewaktu air tertarik kearah bubuk yang kering, partikel yang basah akan terdorong saling mendekat.

Sebaliknya, kondensasi yang tidak baik akan mempengaruhi kepadatan dari porselen sehingga porselen mudah menjadi retak atau patah. Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pemadatan partikel ini antara lain: Volume porositas powder

Jumlah penyusutan berkaitan dengan porositas total porselen. Pemadatan yang terjadi harus lebih besar untuk mengurangi jumlah penyusutan. Tegangan permukaan

Pemadatan partikel akan lebih baik jika air dihilangkan oleh tegangan permukaan. Tegangan permukaan efektif hanya jika porselen selalu tetap lembab selama penumpukan. suhu ruangan yang tinggi dan suasana kering yang harus dihindari.

3. Pembakaran porselen. Tujuan pembakaran adalah mensintering partikel-partikel bubuk bersama-sama secara tepat guna membentuk suatu restorasi. Beberapa reaksi kimia memang terjadi selama waktu pembakaran yang panjang atau pembakaran multiple. Reaksi yang paling penting adalah perubahan yang terlihat pada kandungan leucite dari porselen yang di desain untuk membuat logam-keramik. Massa porselen yang sudah dikondensasi diletakkan di depan atau dibawah muffle dari tungku yang sudah dipanaskan (kira-kira 650 derajat Celsius untuk low-fusing). Prosedur prapemanasan ini memungkinkan sisa uap air dihilangkan. Setelah pra-pemanasan kira-kira 5 menit, porselen diletakkan ke dalam tungku dan siklus pembakaran dimulai. Pada temperature pembakaran awal, lubang kosong akan diisi oleh udara tungku. Sewaktu sintering dari partikel dimulai, partikel porselen saling berikatan pada titik kontaknya. Semakin tinggi temperature, kaca yang tersintering perlahan-lahan mengalir untuk mengisi ruang udara. Meskipun demikian, udara tetap terjebak dalam bentuk pori-pori karena massa terlalu kental untuk memungkinkan keluarnya semua udara. Sebuah alat untuk mengurangi porositas adalah vakum pembakaran.

Vakum pembakaran mengurangi porositas dengan cara sebagai berikut. Sewaktu porselen diletakkan pada tungku, partikel bubuk dimampatkan bersama-sama dengan saluran udara yang ada disekelilingnya. Tahapan pembakaran porselen: Tahap low bisque atau low biscuit, tahap ketika bahan menjadi sedikit kaku dan fluxe mulai mengalir Tahap medium bisque atau medium biscuit ketika telah terjadi sedikit pengerutandan terdapat kohesi yang lebih besar antara partikel Tahap high bisque (high biscuit) , pada tahap ini tidak ada lagi terjadi pengerutan

Hal yang perlu diperhatikan : a. Porselen yang telah dipadatkan diletakkan di atas piring pembakaran (terbuat dari keramik tahan bakar) dan tidak boleh berkontak dengan dinding tungku. Bila porselen melekat padanya, elemen pemanas akan rapuh. b. Pembakaran dimulai dari panas yang rendah, kalau tidak air akan menguap demikian cepat sehingga dapat meremukkan bagian porselen yang belum terbakar. c. Dibutuhkan pemanasan yang merata. Porselen memiliki sifat penghantar panas yang rendah, maka dibutuhkan pemanas secara perlahan agar diperoleh cukup waktu bagi lapisan sebelah dalam restorasi untuk menjadi panas. d. Mula mula jendela tungku dibiarkan terbuka agar uap air dan hasil pembakaran bahan pengikat lainnya dapat keluar.

4. Penambahan bahan glazing dan pewarna. Salah satu metode untuk memastikan bahwa pewarna pemberi karakter yang diaplikasikan akan bersifat permanen adalah dengan menggunakannya secara internal. Pewarnaan internal dan pemberian karakter dapat membuat gigi tampak hidup, terutama jika garis-garis email dan cirri lain ikut ditiru pada porselen ketimbang hanya diaplikasikan pada permukaan. Secara luas dianggap bahwa glazing dari porselen feldspathic dapat menghilangkan semua kekurangan pada permukaan. Bagaimanapun juga, metode optimal untuk menghasilkan permukaan yang paling halus dalam waktu singkat masih belum ada. Secara logika dianggap bahwa pemolesan yang halus dari permukaan kasar yang dilanjutkan dengan prosedur glazing menghasilkan permukaan yang lebih halus daripada hanya dilakukan pemolesan saja, sandblasting diikuti glazing, atau pengasahan denagn batu intan diikuti dengan glazing. Permukaan yang lebih halus akan mengurangi kerusakan abrasi akibat gigi / restorasi pada gigi anterior.

5. Pendinginan Porselen yang telah selesai dibakar, dikeluarkan dari alat pembakaran dan dibiarkan di udara terbuka sampai porselen menjadi dingin. Pendinginan harus dilakukan secara bertahap dan perlahan-lahan. Hal ini untuk memungkinkan terjadinya ekspansi dan kontraksi yang seragam sehingga mencegah perambatan retak. Proses pendinginan yang baik akan menambah strength daripada porselen, sebaliknya pendinginan yang tiba-tiba akan menambah stress dan mengurangi kekuatan porselen. Sumber : Anusavice, Kenneth J. 2004. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Jakarta : EGC. Combe, EC. 1992. Sari Dental Material. Penerjemah: Slamat Tarigan. Jakarta : Balai Pustaka. Anusavice, K.J. 2003. Phillips:Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi Ed.10. Jakarta: EGC. Craig, R.G. 1997. Restorative Dental Materials Ed.10. St.Louis Mosby.