Anda di halaman 1dari 44

Desain Fermentor

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah: Teknologi Bioproses Dosen pengampu: Prof. Dr. Ir. Chandrawati Cahyani, M.S.

Disusun Oleh:

Mariatul Khiftiyah Wahdah Mudrikah Sisca Ameliawati Sharfina Widyaningrum

(115061113111002) (115061101111018) (115061101111015) (115061105111003)

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2013

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang

Dalam industri bio atau farmasi, fermentasi merupakan suatu proses yang sangat penting, dan suatu proses fermentasi berlangsung dalam fermentor. Fermentor atau bioreaktor adalah alat dimana terjadi reaksi biokimia yang dihasilkan oleh metabolime mikroba atau dari reaksi biokimia enzim (Katoh, 2009). Sedangkan menurut Stanbury, 1999, fementor yaitu alat yang memiliki fungsi untuk menyediakan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan mikroorganisme atau sel hewan, sehingga mikroorganisme atau sel hewan tersebut dapat menghasilkan produk yang diiinginkan. Sehingga dibutuhkan suatu desain dari fermenter yang mampu mendukung proses fermentasi dan dicapai produktivitas pada tingkat yang diinginkan. Dalam mendesain suatu fermenter harus diperhatikan beberapa hal seperti jenis bahan yang digunakan untuk bejana, aerasi, agitasi, sistem pengendali paramater lingkungan seperti suhu, pH, dan-lain-lain yang akan dibahas dalam makalah ini.

BAB II ISI

2.1 FERMENTOR 2.1.1Pengertian


Fermentor atau bioreaktor adalah alat dimana terjadi reaksi biokimia yang dihasilkan oleh metabolime mikroba atau dari reaksi biokimia enzim (Katoh, 2009). Sedangkan menurut Stanbury, 1999, fementor yaitu alat yang memiliki fungsi untuk menyediakan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan mikroorganisme atau sel hewan, sehingga mikroorganisme atau sel hewan tersebut dapat menghasilkan produk yang diiinginkan. Dalam mendesign dan membuat sebuah fermentor terdapat hal-hal yang harus diperhatikan, seperti: (Stanbury, 1999) 1. Fermentor harus dapat dioperasikan secara aseptik untuk beberapa hari dan

harus bisa dioperasikan dengan lama serta harus memenuhi persyaratan keamanan. 2. Penambahan aerasi dan agitasi dapat ditambahkan untuk memenuhi

kebutuhan. metabolisme mikroorganisme. Serta tidak menyebabkan kerusakan pada mikroorganisme. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pemakaian daya untuk operasi fermentor harus serendah mungkin. Diperlukannya sistem pengendalian suhu dan tahan terhadap sterilisasi. Sistem kontrol pH harus terdapat dalam suatu fermentor. Dibutuhkan fasilitas sampling untuk mendapat fermentor yang sesuai. Gas yang keluar dari fermentor harus dapat dikendalikan Fermentor yang didesign seharusnya menggunakan tenaga kerja dalam

operasi, pembersihan, dan pemanenan seminimal mungkin. 9. Sebuah fermentor seharusnya than terhadap kontaminan dan mencegah

terjadinya kontaminan selama proses berlangsung. 10. Konstruksi fermentor harus memiliki permukaan yang halus, sehingga

digunakan welds dibandingkan flange joint. 11. Fermentor harus memiliki bentuk geometri yang mirip dan sesuai dengan

fermentor yang lebih kecil pada skala lab dan skala pilot.

12.

Bahan yang digunakan untuk konstruksi fermentor sebaiknya bahan yang

murah yang bisa memungkinkan mikroba agar bisa membuat produk. 13. Terdapat ketentuan umum operasi yang harus ada dalam setiap fermenter,

seperti yang dijelaskan pada tabel:


Table 1 ketentuan operasi yang biasa terdapat dalam sebuah fermentor (Stanbury, 1999)

Terdapat banyak tipe fermentor, fermentor-fermentor tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, yaitu: (Katoh, 2009) 1. 2. Fermentor dengan agitasi mekanik Bubble coloumn, yaitu reaktor silinder tanpa agitasi mekanik, dimana gas

dimasukkan dalam liqiud dalam bentuk gelembung 3. 4. 5. Loop reaktor dengan pompa atau jet untuk sirkulasi liquid Packed-bed reactor Membrane bioreactor, menggunakan membran semipermeabel (biasanya

tipe hollow fiber) 6. Mikroreaktor

Terdapat banyak jenis fermentor yang telah ditemukan, namun hanya beberapa fermentor yang terbukti efektif untuk proses biokimia khususnya yang beroperasi secara aerobik. Fermentor yang banyak digunakan sebagai alat dalam proses biokimia aerobik yaitu fermentor yang dilengkapi dengan aerator dan agitator.

(a)

(b)
Figure 1 fermentor aerasi dan agitasi, (a)satu impeller agitator (b) tiga impeller agitator

Suatu fermentor harus dirancang dengan bentuk geometri yang sesuai. Oleh karena itu banyak penelitian yang menunjukkan rasio dimensi geometri yang sesuai yang dapat digunakan dalam pembuatan fermentor. Untuk fermentor dengan satu impeller seperti pada gambar diatas (a), rasio geometri yang sering digunakan dapat dijelaskan pada tabel berikut:
Table 2 rasio geometri fermentor dengan satu impeller menurut beberapa ahli (Stanbury, 1999)

Sedangkan untuk fermentor dengan tiga impeller seperti pada gambar diatas(b), rasio geometri yang sering digunakan dapat dijelaskan pada tabel berikut:

Table 3 . rasio geometri fermentor dengan tiga impeller menurut beberapa ahli (Stanbury,
1999)

2.1.2Body construction
2.1.2.1 Komponen fermentor Dalam suatu fermentor, terdapat banyak komponen yang harus ada dan diperhatikan dalam pembuatannya. Komponen-komponen dasar yang terdapat dalam suatu fermentor ideal dijelaskan dalam tabel berikut: No 1 Komponen Top plate Tujuan Cover/tutup fermentor

(biasanya terbuat dari baja) 2 Sambungan Untuk memisahkan tutup dari vessel fermentor agar mencegah kebocoran udara 3 Vessel Sebagai tempat biokimia 4 Drive motor Untuk menggerakkan badan fermentor reaksi

terjadinya

tangkai pengaduk 5 Drive shaft Mengaduk media dalam

fermentor dengan bantuan impeller 6 Baffle Mencegah sedimentasi/pengendapan

pada dinding fermentor dan untuk menyempurnakan

pengadukan 7 8 Sparger Inoculation needle Penyuplai udara Tempat untuk

menambahkan inokulum 9 Feed pump Menambahakan (media/ nutrien) bahan dengan

kecepatan tertentu 10 Monitoring and controller Untuk memantau dan

mengendalikan didalam fermentor

keadaan

Proses yang terjadi didalam fermentor pasti melibatkan mikroorganisme. Oleh karena itu proses didalam fermentor menjadi sangat sensitif dengan perubahan lingkungan karena dapat berakibat buruk seperti tidak terbentuknya produk. Sehingga, pada suatu fermentor juga terdapat alat-alat tambahan yang digunakan untuk memantau serta mengendalikan segala hal yang ada didalam fermentor tersebut. Macam alat kontroler yang terdapat dalam suatu fermentor dapat dijelaskan dengan tabel dibawah ini: No 1 Komponen Pt100 Kegunaan Sebagai sensor temperatur (elektroda platinum) 2 Foam probe Diletakkan diatas resisten

permukaan media untuk sensor pembentukan foam 3 4 Elektroda pH O2sensor Sebagai sensor pH Untuk memantau

dissolved oksigen dalam fermentor 5 Cold water jacket Untuk menjaga fermentor

agar operasi

tetap

pada

suhu

(dengan air dingin

mengalirkan

sepanjang jaket) 6 Air pump Untuk menyuplai udara kedalam fermentor (aerob) 7 Peristaltic pump Untuk memompa masuk

media/asam/basa kedalam fermentor

Figure 2. fermentor ideal dengan berbagai komponen didalamnya (Bisen, 2012)

2.1.2.2 Bahan konstruksi Pada fermentor ideal yang mengutamakan aseptisitas dalam operasinya, pemilihan bahan untuk fermentor menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Vessel yang digunakan sebagai fermentor seharusnya tidak memiliki sudut dan memiliki permukaan yang halus. Bahan konstruksi untuk vessel fermentor harus tidak beracun dan tahan korosi. Terdapat dua tipe bahan konstruksi yang digunakan dalam pembuatan fermentor, yaitu: 1. Vessel kaca (kaca borosilikat)

Tipe I vessel kaca bentuk tabung atau bawah datar dengan pelat atas. Fermentor tipe ini dapat disterilkan dengan autoklaf dan diameter terbesar adalah 60cm.

Figure 3. fermentor kaca tipe 1 (Stanbury, 1999)

Tipe II fermentor kaca dengan bagian bawah datar dengan plat stainless steel atas dan bawah. Jenis ini digunakan dengan proses sterilisasi in situ dan diameter 30cm terbesar. Vessel dengan dua pelat stainless steel lebih mahal sekitar 50% dengan hanya pelat pada bagian atas.

Figure 4. fermentor kaca tipe 2 (Stanbury, 1999)

2.

Stainless steel Stainless steel digunakan sebagai bahan konstruksi fermentor dengan

modifikasi berikut: 1. 4% kromium (minimal 10-13%) dapat ditambahkan untuk mencegah

terjadinya korosi

2.

Memiliki lapisan oksida hidro - non-porous, yang dapat teruai sendiri ketika

terekspos keudara luar, tahan terhadap korosi 3. Dimasukkannya nikel - meningkatkan kemampuan teknik dan memperbesar

ketahanan terhadap korosi 4. laut 5. Tungsten, silikon - meningkatkan ketahanan terhadap korosi Kehadiran molibdenum - ketahanan terhadap garam halogen, air garam, air

Figure 5. fermentor stainless steel (Stanbury, 1999)

Ketebalan fermentor harus ditingkatkan sesuai skala. Sisi plate memiliki ketebalan lebih rendah dari atas dan pelat bawah. Pelat atas dan bawah adalah hemispherical untuk menahan tekanan. 2.1.2.3 Sealing (Pengelasan) Pengelasan antara pelat atas dan fermentor merupakan kriteria penting untuk menjaga kondisi kedap udara, aseptik dan ketahanan fermentor. Pengelasan harus dilakukan antara tiga jenis permukaan yaitu: antara kaca-kaca, kaca-logam dan logam-logam. Ada tiga jenis pengelasan, yaitu: paking, lipseal dan 'O' ring.Ada dua cara pengelasan di O ring yaitu pengelasan sederhana dan pengelasan ganda dengan uap antara dua las.Untuk pengelasan antara kaca logam dapat digunakan teknik pengelasan gasket, lipseal, dan Oring. Untuk logam-logam hanya dapat menggunakan teknik pengelasan Oring.

Pengelasan yang tepat dapat memperketat lipatan antara tutup dan badan fermentor meskipun terjadi ekspansi dalam fermentor selama proses bioreaksi. Bahan yang digunakn untuk mengelas dapat berupa fabric-nitryl atau karet butil. Setiap bahan pengelasan memiliki batas waktu penggunaan sehingga pengelasan harus dicek setelah waktu tertentu.

Figure 6. (a) pengelasan gasket, (b) lipseal, (c) Oring (Stanbury, 1999)

2.1.2.4 Baffle Baffle adalah strip logam yang mencegah pembentukan pusaran di sekitar dinding fermentor. Strip logam ini terpasang secara radial ke dinding untuk setiap 1/10 diameter pembuluh. biasanya 4 baffle hadir tapi ketika diameter pembuluh lebih 3dm3 sekitar 6-8 baffle digunakan. di sana harus cukup jarak antara dinding dan baffle sehingga memungkinkan untuk menjangkau seluruh bagian fermentor. Gerakan ini meminimalkan pertumbuhan mikroba pada baffle dan dinding fermentasi. Jika diperlukan kumparan pendingin dapat diletakkan pada baffle.

Figure 7. peletakkan baffle pada fermentor (Bisen, 2012)

2.1.2.5 Sistem aerasi (sparger) Sparger adalah alat untuk memasukkan udara ke dalam fermentor. Aerasi dilakukan untuk menyediakan cukup oksigen untuk organisme dalam fermentor. Aerator gelembung halus harus digunakan. Gelembung besar akan memiliki luas permukaan kurang dari gelembung kecil yang akan membuati transfer oksigen yang lebih besar dari batas. Agitasi tidak diperlukan bila aerasi menyediakan cukup agitasi seperti pada airlift fermentor. Tapi ini mungkin hanya untuk media dengan viskositas rendah dan total padatan rendah. Untuk aerasi yang digunakan untuk memberikan agitasi pada fermentor, maka rasio tinggi fermentor/ diameter (aspek rasio) harus 5:1. Pasokan udara ke sparger harus dipasok melalui filter. Ada tiga jenis sparger, yaitu porous sparger, orifice sparger dan nozzle sparger. 1. Porous sparger : terbuat dari kaca sinter , keramik atau logam . Sparger ini

hanya digunakan di skala lab atau pada fermentor tidak teragitasi . Ukuran gelembung yang terbentuk adalah 10-100 kali lebih besar dari ukuran pori . Ada penurunan tekanan di sparger dan lubang cenderung tertutup oleh pertumbuhan, hal ini merupakan keterbatasan sparger berpori .

Figure 8. porous sparger

2.

Orifice sparger : digunakan dalam stirred fermentor kecil . Sparger ini

adalah pipa berlubang yang diletakkan di bawah impeller dalam bentuk salib atau cincin . Ukurannya harus ~ dari diameter impeller . lubang udara dibuat pada permukaan bawah dari tabung dan lubang harus minimal berdiameter 6mm. Jenis sparger digunakan terutama dengan agitasi . Hal ini juga digunakan tanpa agitasi dalam beberapa kasus seperti pembuatan ragi , pengolahan limbah dan produksi SCP .

Figure 9. orifice sparger

3.

Nozzle sparger : Banyak digunakan dalam skala besar . Sparger ini adalah

pipa terbuka / pipa sebagian tertutup terpusat diposisikan di bawah impeller . Ketika udara melewati pipa ini ada kehilangan tekanan yang lebih rendah dan tidak di blok .

Figure 10. nozzle sparger

4.

Gabungan sparger agitator : Ini adalah alat pasokan udara melalui poros

agitator hallow. Udara dipancarkan melalui lubang di disk atau bilah pengaduk.

Figure 11 .Combined sparger agitator (Stanbury, 1999)

2.1.2.6 Agitasi Agitasi memberikan suspensi seragam pada sel dalam media nutrien homogen. Agitasi ini memberikan pengadukan fluida bulk dan fase gas, dispersi udara, memfasilitasi transfer oksigen dan perpindahan panas dan lingkungan yang seragam di seluruh fermentor. Ada empat kelas, yaitu Disc turbin, Vaned disc, Open turbine dengan berbagai pitch dan marine impeller. Turbin Disc mencegah luapan oleh gelembung udara. Luapan terjadi ketika penyebaran gelembung udara dari kantong udara terbentuk pada satu daerah. Ketika menggunakan disk turbin luapan debit udara hanya 120 min/hour. Ketika turbin terbuka dan baling-baling yang digunakan, luapan di media sekitar 21min per jam debit udara. Perbedaan antara disk turbin dan turbin terbuka adalah sebagai berikut: Disc turbin Open Turbine

Mencegah luapan gelembung udara Mencegah lupan hanya hingga 20 hingga 120 min/hr Aliran radial min/hr Aliran axial

Terdapat gaya disc pada ujung agitator Tidak terdapat gaya disc sehingga mendispersi udara
Tabel. 4 : perbedaan disc turbin dan open turbin

Turbin disc terdiri dari disc dengan serangkaian baling-baling persegi panjang diatur dalam bidang vertikal di sekitar lingkar dan vaned disc memiliki serangkaian baling-baling persegi terpasang vertikal ke bawah. Udara dari sparger menyentuh bagian bawah disk dan dipindahkan menuju baling-baling di mana gelembung udara yang dipecah menjadi gelembung yang lebih kecil. Balingbaling dari berbagai tempat turbin terbuka dan bilah baling-baling marine yang melekat langsung untuk atasan pada poros agitator. Dalam hal ini udara gelembung awalnya tidak memukul permukaan apapun sebelum dispersi dengan baling-baling atau blade.

Figure 12. macam-macam agitator (Stanbury, 1999)

Rushton disc turbine dengan 1/3 dari diameter fermentor telah optimal untuk beberapa proses fermentasi. Sekarang desain terbaru dari agitator telah diperkenalkan. Scaba adalah desain baru agitator yang dapat menangani laju alir tinggi sebelum luapan dan memiliki aliran radial. Tapi ini tidak ideal untuk pencampuran atas ke bawah.Prochem maxflow agitator memiliki konsepsi daya rendah dengan gaya hidrodinamika tinggi. Desain ini telah meningkatkan kapasitas pemompaan ke bawah blade. Di rasio diameter desain agitator / fermentor ini adalah 0,4. Kebutuhan daya sekitar 66% lebih sedikit bahkan ketika transfer efisiensi kental dan oksigen meningkat. Agitator Intermig memiliki dua unit. Berbeda sebelumnya rasio diameter desain agitator / fermentor adalah 0,60,7. Untuk agitator ini menggunakan sparger udara yang lebih besar dan pencampuran atas ke bawah tidak efektif digunakan. Desain turbin baru dengan dual impeller telah diperkenalkan. Satu untuk disperser gas dan lainnya untuk membantu sirkulasi dengan multirod pencampuran. 2.1.2.7 Katup (valve) Terdapat empat katup penambahan. Ada empat jenis katup tambahan yaitu (a) Simple ON dan OFF, (b) Untuk kontrol tekanan, (c) check valve dan (d) safety valve-aliran dalam satu arah. Ada berbagai model katup: 1. a. Pembukaan dan penutupan, menaikkan atau menurunkan menutup unit Gate valve - sliding disc bergerak in / out dari jalur aliran oleh pergantian

batang

Gambar. 13 : gate valve (Stanbury, 1999)

b.

Globe valve - horizontal disc / steker - dinaikkan / diturunkan

Gambar. 14 : globe valve (Stanbury, 1999)

c. d.

Piston valve - mirip dengan globe valve kecuali kontrol aliran piston Needle valve - mirip dengan globe valve kecuali disc diganti dengan tapered

plug / needle

Gambar. 15 : needle valve(Stanbury, 1999)

2. a.

Drilled shpere/ konektor Plug valve - paralel / konektor meruncing dengan orifice - pada 900

gilirannya menutup / membuka jalur aliran b. ball valve - mirip dengan plug valve - kecuali bola (ss) dengan orifice

menggantikan steker

Gambar. 16 : ball valve (Stanbury, 1999)

3.

Disc rotarring antara bantalan

Butterfly valve - disk berputar sekitar poros - menutup terhadap segel untuk menghentikan aliran 4. a. Diafragma karet / tube pinching Diafragma valve - mirip dengan pinch valve kecuali menggunakan pinch,

tetapi mendorong dari salah satu sisi berlawanan dari diafragma b. Pinch valve - lengan fleksibel ditutup oleh sepasang pinch bar (karet,

neoprene dll)

Gambar 17: pinch valve (Stanbury, 1999)

Pemilihan katup berdasarkan pada jenis aplikasi seperti pada aplikasi ON / OFF digunakan Globe, butterfly, untuk kontrol aliran digunakan Crude gate valve, dan untuk kontrol yang akurat lebih dipilih needle valve serta untuk operasi yang sangat steril digunakan Pinch / Diafragma

5.

Check valve Katup yang digunakan untuk mencegah aliran balik dari liquid atau gas

karena rusak. Terdapat tiga macam katup, yaitu swing check, lift check, combined stop and check.

Gambar 18: swing check pada safety valve (Stanbury, 1999)

2.1.2.8 Steam traps Steam trap ini penting untuk menghilangkan kondensat steam. Ada dua komponen yaitu valve dan unit seat dan perangkat pembuka/penutup. Operasi komponen didasarkan pada, a) densitas fluida: Sebuah float (bola / ember) mengapung dalam air,

tenggelam dalam steam. Ketika mengapung itu menutup dan ketika itu tenggelam membuka katup

Gambar 19 : steam trap berdasarkan densitas fluida (Stanbury, 1999)

b)

suhu fluida: Memiliki air / campuran alkohol yang merasakan perubahan

suhu. Campuran ini meluas dalam uap panas dan menutup katup. Ketika kontak dalam air dingin membuka katup.

Gambar 20: steam trap berdasarkan suhu fluida (Stanbury, 1999)

c)

efek kinetik cairan dalam gerak: jika tekanan diturunkan, steam dengan

densitas rendah mengalir dengan kecepatan tinggi. Begitu juga dengan steam densitas tinggi akan mengalir dengan kecepatan rendah. Konversi energi tekanan menjadi energi kinetik mengendalikan pembukaan dan penutupan

2.2

JENIS- JENIS FERMENTOR

2.2.1 Strirred tank fermenter Stirred tank fermentor merupakan fermentor yang dilengkapi dengan pengadukan mekanik. Biasanya fermentor jenis ini dipakai untuk fermentasi dalam skala industri. Fermentor ini dapat digunakan baik pada fermentasi aerobic dan anaerobik dengan jumlah sel mikroba yang cukup besar. Intensitas pengadukan dapat bervariasi dengan cara memilih tipe impeller dan kecepatan agitasi. Agitasi mekanik dan aerasi sangat cocok untuk kultivasi sel, oksigenasi, pengadukan media, dan transfer panas. Dalam mendesain stirred tank fermentor, ada hal-hal yang harus diperhatikan yaitu sebagai berikut: Terbuat dari stainless steel top plate dan kaca Fermenter ukuran besar : stainless steel tipe 316 Rasio tinggi & diameter adalah 2 :1 atau 3:1 Diagitasi menggunakan dua atau tiga turbin impeller Poros impeller memasuki fermentor baik dari atas atau bagian bawah vessel

melalui bantalan dan rakitan mekanik. Diameter impeller : diameter tangki = 0.3 : 0.4 Dua impeller : jarak antara impeller pertama dan yang bawah adalah 1.5 DI Tiga impeller : Jarak dikurangi menjadi satu diameter impeller.

Empat impeller : Dipasang untuk mencegah formasi vortex yang

mengurangi efisiensi pencampuran Lebar baffle +- 1/10 DT Untuk fermentasi aerobik, sebuah lubang sparger atau cincin sparger

tunggal digunakan untuk mengalirkan oksigen ke fermentor. Sparger ini terletak antara impeller bawah dan bagian bawah fermentor Terdapat pengatur pH. Suhu dikendalikan oleh pemanasan atau pendinginan.

Namun, fermentor jenis ini memiliki kekurangan dalam penggunaannya, seperti: Memerlukan konsumsi energi yang besar. Merusak sel yang sensitif terhadap gesekan Gesekan yang ditimbulkan oleh fluida dalam pencampuran dihasilkan oleh

gradien kecepatan dari komponen kecepatan tangensial dan radial cairan yang meninggalkan wilayah impeller. Kecepatan yang dihasilkan menurun sebesar 85 % pada satu jarak blade-

width dibagian atas atau di bawah yang menciptakan daerah geser tinggi ketika semakin menengah

2.2.2 Fermentor Batch atau Plug Flow Fermentor berpengaduk yang ideal diasumsikan terjadi pengadukan sempurna sehingga isi dalam fermentor seragam dalam komposisinya pada tiap waktu. Fermentor ideal lainnya adalah fermentor [lug flow, analisis yang analoginya dari fermentor batch ideal. Dalam fermentor tubular-flow, nitrisi dan moikroorganisme dimasukkan pada ujung pipa silinder dan sel sel tumbuh sepanjang pipa silinder tersebut. Karena panjangnya pipa dan kurangnya pengadukan system mencegah pencampuran fluda secara sempurna, maka sifat sifat aliran yang mengalir akan berbeda-beda di kedua arah longitudinal dan radial. Namun, variasi dalam arah radial lebih kecil dibandingkan dengan di arah longitudinal . Fermentor tubularflow yang ideal tanpa variasi radial disebut plug flow fermenter ( PFF ) .

Pada kenyataannya, fermentor PFF sulit untuk ditemukan . Namun, packed-bed fermenter dan multi-stage fermenter dapat diperkirakan sebagai PFF . Meskipun PFF steady-state dioperasikan dalam model kontinyu , konsentrasi sel fermentor batch ideal setelah waktu t akan sama seperti PFF steady-state di area membujur di mana waktu tinggal sama dengan t ( Gambar 6.4 ) . Oleh karena itu, analisis berikut ini berlaku untuk keduanya yaitu fermentor batch ideal dan PFF steady state . Jika media cair diinokulasi dengan biakan murni , sel akan mulai tumbuh dengan sangat cepat setelah fase lag. Perubahan konsentrasi sel dalam fermentor batch sama dengan tingkat pertumbuhan sel-sel di dalamnya: (1) Untuk menurunkan persamaan hasil fermentasi batch, kita perlu mengintegrasikan Persamaan. (1) untuk memperoleh: (2)

Perlu dicatat bahwa Pers . ( 2 ) hanya berlaku ketika rx lebih besar dari nol. Oleh karena itu, t dalam Pers. (2) bukan waktu kultur diinokulasi, tapi saat itu sel-sel mulai tumbuh, yang merupakan awal dari fase pertumbuhan aselerasi. Menurut Pers. (2), waktu pertumbuhan batch t t0 adalah daerah di bawah kurva l/rx vs Cx antara CX0 dan Cx seperti yang ditunjukkan pada Gambar.21. Solid line dalam Gambar.21 dihitung dengan persamaan Monod dan daerah yang diarsir sama dengan t t0. Waktu pertumbuhan batch jarang diestimasi dengan metode grafis ini sejak dibandingkan kurva CX vs t adalah cara yang lebih mudah untuk menentukan hal itu. Namun, representasi grafis berguna dalam membandingkan kinerja berbagai konfigurasi fermentor, yang dibahas kemudian. Pada saat ini hanya diketahui bahwa kurva berbentuk U, merupakan karakteristik dari reaksi auto katalitis :

Gambar. 21 : Diagram skematik (a) fermentor stirred-tank batch dan (b) fermentor plug flow S+XX+X laju untuk reaksi autokatalitis lambat di awal karena konsentrasi X rendah. Hal ini meningkatkan sebagai sel berkembang biak dan mencapai tingkat maksimum. Substrat aka habis dan produk-produk toksik akan bertambah, laju menurun ke nilai yang rendah. Jika kinetika Monod cukup mewakili tingkat pertumbuhan selama periode eksponensial, kita dapat menggantikan Pers. ( 6.11 ) ke Pers. (2) untuk memperoleh (3)

Pers. (3) dapat diintegrasikan jika kita mengetahui hubungan antara Cs dan Cx. Telah sering diamati bahwa jumlah cell mass yang diproduksi sebanding dengan jumlah limiting substrate yang dikonsumsi. Hasil pertumbuhan (YX/S ) didefinisikan sebagai (4) Substitusi Pers. (4) ke Pers. (3) dan mengintegrasi persamaan resultan memberikan hubungan yang menunjukkan bagaimana konsentrasi sel berubah dengann adanya waktu :

( Parameter kinetika Monod,

(5) dan KS tidak dapat diperkirakan dengan

serangkaian system yang berjalan secara batch semudah parameter Michaelis Menten untuk reaksi enzim. Dalam kasus reaksi enzim, tingkat awal reaksi dapat diukur sebagai fungsi dari konsentrasi substrat yang berjalan secara batch. Namun, dalam kasus kultur sel, tingkat awal reaksi pada system batch selalu nol karena adanya fase lag, di mana kinetika Monod tidak berlaku. Perlu dicatat bahwa meskipun persamaan Monod memiliki bentuk yang sama dengan persamaan Michaelis - Menten, laju persamaannya berbeda. Pada persamaan Michaelis Menten, (6) Sedangkan dalam persamaan Monod, (7) Ada istilah Cx pada persamaan Monod yang tidak terdapat dalam persamaan Michealis-Menten. 2.2.3 Fermentor Continous Stirred Tank Continuous culture merupakan suatu teknik dimana mikroba ditumbuhkan secara terus menerus pada fase paling optimum untuk fase pertumbuhan yaitu fase eksponensial dimana sel membelah diri dengan laju yang konstan. Hal ini dilakukan dengan memberi nutrisi secara terus menerus sehingga mikroba tidak pernah kekurangan nutrisi. Penambahan nutrisi atau media segar ke dalam bioreaktor dilakukan secara kontinyu, dimana dalam waktu yang sama larutan yang berisi sel dan hasil produk hasil metabolisme dikeluarkan dari media dengan volume yang sama dengan substrat yang diberikan. Kondisi tersebut menghasilkan keadaan yang steady state, dimana pembentukan sel-sel baru sama dengan sel-sel yang dikeluarkan dari fermentor (Stanbury, 1999).

Gambar 3.1. Diagram Skematis Fermentor Berpengaduk Kontinyu (Dutta, 2008)

Pada cara Sinambung (Continues Process), pengaliran subtrat dan pengambilan produk dilakukan secara terus menerus (sinambung) setiap saat setelah diperoleh konsentrasi produk maksimal atau subtract pembatasnya mencapai konsentrasi yang hampir tetap. Dalam hal ini subtrat dan inokulum dapat ditambahkan bersama-sama secara terus menerus sehingga fase eksponensial dapat

diperpanjang. Ada 2 tipe siste, yaitu : homogenously mixed bioreactor dan Plug flow reactor. Pada tipe Homogenously mixed bioreactor dapat dibagi menjadi 2 macam diantaranya Chemostat dan Turbidostat (Rusmana, 2008) Pemberian nutrient secara kontinyu dan untuk mempertahankan keadaan steady state dalam teknik kultivasi ini dapat dilakukan dengan dua macam cara, yaitu a. Khemostat Teknik continuous culture dengan menggunakan kemostat dilakukan dengan menambahkan nutrien melalui sebuah tangki sedemikian rupa sehingga komposisi nutrient di dalam fermentor tempat kultivasi mikrobia selalu dalam keadaan tetap. Hal ini dapat dicapai dengan mengatur kecepatan aliran medium baru ke dalam fermentor disesuaikan dengan aliran medium keluar fermentor untuk di panen. Di dalam sistem ini sel dapat dipertahankan terus menerus pada fase pertumbuhan eksponensial atau fase pertumbuhan logaritma. Continuous culture mempunyai ciri ukuran populasi dan kecepatan pertumbuhan dapat diatur pada nilai konstan menggunakan khemostat. Untuk mengatur proses di dalam khemostat, diatur kecepatan aliran medium dan kadar substrat (nutrien pembatas). Sebagai nutrien pembatas dapat menggunakan sumber C (karbon), sumber N atau faktor tumbuh. Pada sistem ini , ada aliran keluar untuk mempertahankan volume biakan

dalam kemostat sehingga tetap konstan. Dengan sistem ini, sel seolah-olah dibuat dalam keadaan setengah kelaparan, dengan nutrien pembatas. Kadar nutrien yang rendah menyebabkan kecepatan pertumbuhan berbanding lurus dengan kadar nutrien atau substrat tersebut. (Scragg, 1988) Keterangan: 1. Reservoir of steril medium (fresh) 2. Flow rate regulator 3. Air inlet 4. Air filter 5. Passage for inoculation 6. Siphon and Overflow 7. Growth camber 8. Receptacle (wadah)

Gambar 3.2. Desain Skema Kultur Mikroba dalam Khemostat (Budiyanto, 2005)

b. Turbidostat Teknik kultivasi dengan sistem turbidostat dilakukan dengan menambahkan nutrient secara kontinyu sehingga kerapatan sel selalu dalam keadaan tetap. Dalam teknik turbidostat, aliran medium diatur berdasarkan atas kerapatan optik kultur mikrobia. Pertumbuhan konsentrasi sel dipertahankan konstan dengan cara memonitor kekeruhan kultur. Sistem ini didasarkan pada kerapatan bakteri tertentu atau kekeruhan tertentu yang dipertahankan konstan. Ada perbedaan mendasar antara biak statik klasik dengan biak sinambung dalam kemostat biak static arus dilihat sebagai sistem tertutup (boleh disamakan dengan organisme sial, tahap stationer dan tahap kematian. Kalau pada biak sinambung merupakan sistem terbuka yang mengupayakan keseimbangan aliran untuk organisme selalu terdapat kondisi lingkungan yang sama. Dalam pertumbuhan sinkron akan terjadi sinkronisasi pembelahan sel. Hal ini dimaksudkan agar proses metabolisme siklus pembelahan bakteri dapat dipelajari diperlukan suspensi sel yang mengalami pembelahan sel dalam waktu sama yaitu sinkron. Sinkronisasi populasi sel dapat dicapai dengan berbagai tindakan buatan antara lain dengan merubah suhu rangsangan cahaya, pembatasan nutrien atau menyaring untuk memperoleh sel-sel

yang sama ukurannya. Sinkronisasi pertumbuhan ini juga dimaksudkan untuk menyediakan stater dengan usia yang sama. (Budiyanto, 2005). Turbidiostat

direkomendasikan saat fermentasi berlangsung pada laju dilusi tingi dekat dengan washout point , sehingga dapat mencegah washout dengan mengatur laju alir. (Dutta, 2008) Keterangan : 1. Reservoir of steril medium 2. Valve controling flow of medium 3. Outlet for spent medium 4. Foto sel 5. Sumber cahaya 6. Turbistat

Gambar 3.3. Desain Skema Kultur Mikroba dalam Turbidostat (Budiyanto, 2005).

Neraca Massa mikroorganisme dalam CSTF (Gambar 2.1) sebagai berikut :

3.1

Dimana rx adalah laju pertumbuhan dalam fermenter dan dCx/dt menunjukkan perubahan konsentrasi sel didalam fermentor terhadap waktu. Pada CSTF steady state , perubahan konsentrasi sel terhadap waktu sama dengan nol (dCx/dt = 0), karena mikroorganisme dalam vessel tumbuh dengan cepat menggantikan mikrronrganisme yang keluar melalui outlet stream. Dan persamaan 3.1 menjadi
3.2

Persamaan 3.2 menunjukkan resident time sama terhadap Cx-Cxi, dikali 1/rx , dimana sama terhadap luas area persegi, dengan lebar Cx-Cxi, dan tinggi 1/rx pada kurva 1/rx versus Cx.

Gambar 3.4 menunjukkan kurva 1/rx versus Cx. Luas area persegi yang diarsir dalam gambar sama terhadap resident time dalam CSTF saat aliran masuk steril, Ilustrasi grafik yyang menunjukkan resident time, dapat memberikan informasi terkait dengan efektifitas suatu system fermentor. Resident time yang lebih pendek dalam mencapai konsentrasi sel tertentu, maka fermentor akan lebih efektif. (Dutta, 2008) Jika aliran masuk steril (Cxi= 0), dan sel dalam CSTF tumbuh secara eksponensial (rx = Cx), Persamaan 3.2 menjadi,
3.3

Dimana D merupakan laju dilusi dan berbanding terbalik dengan resident time (m). Untuk CSTF steady state dengan umpan steril, laju pertumbuhan sama terhadap laju dilusi. Laju pertumbuhan mikroorganisme dapat dikontrol dengan merubah laju alir. Laju pertumbuhan dapat ditunjukkan oleh persmaan Monod,
3.4

Dari persamaan ( 3.4) , Cs dapat dihitung dengan resident time dan parameter kinetika Monod :
3.5

Gambar 3.4 Grafik estimasi resident time pada CSTF (Dutta, 2008) Persamaan tersebut valid saat . Jika , laju

pertumbuhan sel lebih lambat daripada laju sel yang meninggalkan aliran keluar. Sehingga semua sel dalam fermentor akan washed out ( tercuci keluar) dan persamaan (3.5) tidak valid. (Dutta, 2008) Jika koefisien hasil pertumbuhan (Yx/s) konstan, maka
3.6

Substitusi persamaan (3.5) ke persamaan (3.6) menghasilkan korelasi Cx ,

3.7

3.8

Persamaan (3.7) dan (3.8) valid saat 2.2.4 Produktivitas CSTF Produktivitas fermentor adalah jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu dan volume. Jika aliran masuk steril (Cxi = 0), produktivitas massa sel sama dengan Cx/m , dimana sama terhadap slope garis lurus OAB pada kurva Cx versus m , seperti yang ditunjukkan pada gambar (3.5). Produktivitas pada titik A

sama dengan produktivitas pada titik B. Pada titik A =, konsentrasi sel aliran keluar rendah, tetapi resident time pendek, sehingga sebagian besar medium dengan cepat mengalir keluar. Pada titik B konsentrasi sel pada aliran keluar tinggi, tetapi resident time panjang, sehingga hanya sejumlah kecil medium mengalir keluar. Titik A adalah daerah yang tidak stabil, karena sangat dekat dengan titik D ( washout point) . Peningkatan slope pada garis lurus, maka meningkatkan produktivitas , dan panjan g AB menurun. Sehingga dapat disimoulkan bahwa nilai produkivitas maksimum sama terhadap slope pada garis OC. Maksimum produktivitas dapat dipertahankan pada titik D. (Dutta, 2008) Kondisi operasi untuk produktivitas maksimum pada CSTF dapat diestimasi menggunakan grafik kurva 1/rx versus Cx. Maksimum produktivitas dapat dicapai saat resident time kecil. Sehingga resident time sama terhadap luas area persegi dengan lebar Cx dan tinggi 1/rx. (Dutta, 2008)

Gambar 3.5 . Perubahan konsentrasi sel dan substrat sebagai fungsi resident time (Dutta, 2008)

Gambar 3.6. Ilustrasi grafik CSTF dengan produktivitas maksimum (Dutta, 2008) Sehingga melalui persamaan untuk memperoleh konsentrasi sel dan resident time pada produktivitas sel maksimum : (Produktivitas sel pada CSTF steady state dengan umpan steril)
3.9

Produktivitas

maksimum

saat

drx/dCx

0.Setelah

substitusi

kedalam persamaan sebelumnya, mendiferentialkan terhadap Cx, dan mengatur resultan 0, Sehingga diperoleh konsentrasi sel optimum pada produktivitas maksimum :

3.10 3.11 3.12 3.13

Substitusi pesamaan (3.13) untuk Cs ke persamaan (3.9), menghasilkan optimum resident time :
3.14

2.2.5 Perbandingan Batch dan CSTF Resident time yang dibutuhkan pada fermentor batch atau steady state PFF untuk mencapai konsentrasi sel tertentu adalah

3.15

Dimana to adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai fase pertumbuhan eksponensial. Area dibawah kurva 1/rx versus Cx sama terhadap tb- to. (Dutta, 2008) Resident time untuk CSTF ditunjukkan dengan persamaan (3.2), dimana sama terhadap luas area persegi dengan lebar Cx- Cxi dan tinggi 1/rx. Kurva 1/rx dan Cx memiliki bentuk U , sehingga dapat dibuat kesimpulan untuk single fermentor: 1. Sistem fermentor yang paling produktif adalah CSTF yang dioperasikan

pada konsentrasi sel yang memiliki nilai 1/rx minimum, seperti yang ditunjukkan dalam gambar 3.7(a), karena membutuhkan resident time paling kecil. 2. Jika konsentrasi sel dicapai pada fase stasioner, fermentor batch lebih dipilih

daripada CSTF karena resident time yang dibutuhkan pada batch seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.7 (b) lebih kecil daripada CSTF. (Dutta, 2008)

Gambar 3.7. Grafik resident time yang dibutuhkan (luas area yang diarsir) pada (a) CSTF dan (b) fermentor batch (Dutta, 2008) 2.3 MULTIPLE FERMENTOR YANG DIHUBUNGKAN SERI

Pemilihan system fermentor untuk produktivitas maksimum tergantung pada bentuk kurva 1/rx versus Cx dan konversi akhir. Dalam kurva 1/rx versus Cx, jika konsentrasi sel akhir kurang dari Cx,opt , maka satu fermentor lebih baik daripada dua fermentor yang dihubungkan seri, karena dua CSTF yang dihubungkan seri membutuhkan resident time lebih besar daripada menggunakan satu fermentor dalam kasus ini, (Dutta, 2008) Jika konsentrasi sel akhir lebih besar daripada Cx,opt, maka kombinasi dua fermentor untuk total resident time minimum dalam CSTF dioperasikan pada Cx,opt diikuti dengan PFF, seperti ditunjukkan dalam (Gambar 3.8a). CSTF dioperasikan pada Cx,opt diikuti CSTF lainnya yang dihubungkan secara seri juga lebih baik daripada menggunakan satu CSTF (Gambar 3.8b). (Dutta, 2008)

Gambar 3.8 Grafik ilustrasi total resident time yang dibutuhkan (area yang diarsir) saat dua fermentor dihubungkan seri : (a) CSTF dan PFF , dan (b) dua CSTF. (Dutta, 2008) 2.3.1 CSTF dan PFF dalam Seri Gambar 3.9 menunjukkan diagram skematik dua fermentor yang dihubungkan seri, CSTF diikuti dengan PFF. Neraca massa fermentor pertama sama seperti neraca massa single CSTF. Jika aliran masuk steril (Cxi = 0), konsentrasi substrat, sel, dan produk dapat dihitung dari persamaan (3.5), (3.7), dan (3.8), sebagai beikut:

Gambar 3.9 Diagram skematik dua fermentor CSTF dan PFF, dihubungkan seri. (Dutta, 2008)
3.16

3.17

3.18

Untuk fermentor selanjutnya, PFF, resident time dapat diestimasi dengan :

3.19

Koefisien hasil pertumbuhan dapat dijelaskan sebagai berikut :


3.20

Integrasi

persamaan

(3.19)

setelah

substitusi

persamaan

(3.20)

akan

mengahasilkan :

3.21

Jika konsentrasi akhir sel (Cx2) diketahui, maka konsentrasi akhir substrat (Cs2) dapat dihitung dari persamaan (3.20). Resident time pada fermentor kedua dapat dihitung menggunakan persamaan (3.21). Jika resident time fermentor kedua diketahui, maka persamaan (3.20) dan (3.21) dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi sel dan konsentrasi substrat. Pendekatan lainnya yaitu dengan mengintegralkan persamaan (3.19) ,sehingga nilai p2 diperoleh. (Dutta, 2008) 2.3.2 Multiple CSTF Dalam Seri Kultivasi mikroorganisme dalam PFF hanya terbatas pada berbagai kasus percobaan seperti tubular loop batch fermenter (Russel et al., 19740 dan scraped tubular fermenter (Moo-Young et al., 1979). Sehingga kinetika pertumuhan dalam PFF dapat berbeda secara signifikan dari CSTF. (Dutta, 2008) Multiple CSTF dalam seri, dimana CSTF dioperasikan pada Cx,opt diikuti dengan CSTF lainnya yang dihubungkan secara seri. Hill dan Robinson (1989) memberikan persamaan untuk memprediksikan kemungkinan resident time yang minimum untuk mencapai konversi substrat yang diinginkan. (Dutta, 2008) Gambar 3.10 menunjukkan diagram skematik multiple CSTFs yang dihubungkan secara seri. Untuk n steady state CSTF, neraca massa mikroorganisme dapat dituliskan sebagai berikut:
3.22

Gambar 3.10 Diagram skematik multiple CSTFs dih ubungkan secara seri (Dutta, 2008)

3.23

Growth Yield dapat diekspresikan sebagai berikut :


3.24

Dengan memecahkan persamaan (3.22), (3.23), dan (3.24), maka dapat dihitung laju dilusi dengan konsentrasi sel yang diketahui, atau sebaliknya. (Dutta, 2008) Estimasi konsentrasi sel atau substrat dengan laju dilusi yang telah diketahui dapat diselesaikan dengan mudah menggunakan grafik. Dari persamaan (3.22), laju dilusi reactor pertama saat aliran masuk steril adalah,
3.25

Dimana dapat dijelaskan dengan slope pada garis lurus yang menghubungkan titik awal dan (Cxi Sxi) dalam (Gambar 3.11). Hal yang sama juga berlaku untuk fermentor kedua.

3.26

Dimana, slope pada gari yang menghubungkan (Cx1) dan (Cx2,rx2). Sehingga dengan diperoleh laju dilusi pada setiap fermentor, dapat diestimasi konsentrasi sel pada setiap fermentor, atau sebaliknya. (Dutta, 2008)

Gambar 3.11 Grafik penyelesaian fermentor kontinyu terhubung secara seri (Dutta, 2008) 2.4 CELL RECYCLING Untuk operasi secara kontinyu pada PFF atau CSTF, sel dibuang dengan aliran keluar fermentor yang produktivitasnya terbatas. Produktivitas bisa ditingkatkan dengan mendaur ulangvsel dari aliran keluar pada fermentor. 2.4.1 PFF dengan recycle sel

PFF membutuhkan adanya mikroorganisme pada awalnya dalam aliran masuk seperti fermentor batch yang membutuhkan inokulum pada awalnya. Sebagian besar jalan secara ekonomis dengan menyediakan sel pada aliran masuk untuk mendaur ulang sebagian dari aliran keluar dikembalikan ke aliran masuk dengan/tanpa alat pemisah sel. Gambar 6.17 menunjukkna diagram skematik pada PFF dengan mendaur ulang sel. Tidak seperti CSTF, PFF tidak membutuhkan pemisah sel saat mendaur ulang, walaupun itu akan meningkatkan sedikit produktivitas fermentor seperti yang akan ditunjukkan selnjutnya. Persamaan ditunjukkan untuk PFF dengan kinetika Monod bisa dituliskan seperti :

Dimana

(6.55)

adalah waktu tinggal berdasarkan laju alir pada system keseluruhan. yag

Waktu tinggal yang sebenarnya dalam fermentor lebih besar dari pada meningkatkan laju alir dengan mendaur ulang. Apabila hasil pertumbuhan konstan, (6.56)

Mensubtitisi Pers. (6.56) ke Pers. (6.55) untuk Cs dan menintegrasi akan didapatkan : ( )

Dimana

dan

bisa diperkirakan dari kesetimbangan sel dan substrat pada titik

pencampuran aliran masuk dan daur ulang (recycle) sebagai (6.58) (6.59) Konsentrasi sel pada aliran keluar, bisa diperkirakan dari kesetimbangan sel secara keseluruhan [ ( )] (6.60)

Konsentrasi sel pada aliran daur ulang, dapat diperkirakan dari kesetimbangan sel diatas penyaring sebagai (6.61)

Gambar 6.18 menunjukkan akibat dari laju recycle atas waktu tinggal dari sostem PFF dengan me-recycle. Catatan dihitung berdasarkan atas laju alir masuk yang yang sebenarnya pada PFF

waktu tinggal sebenarnya terhadap sistem fermentor.

tidak penting karena itu akan menurun dengan kenaikan laju recycle. Ketika sama dengan nol, laju bleeding sama dengan laju alir dan laju alir aliran filtrate L adalah nol, oleh karena itu, aliran recycle tidak disaring. Waktu tinggal akan tak terbatas apabila R adalah nol dan menurun secara tajam sebagai R ditingkatkan sampai itu mencapai titik penurunan secara sedikit demi sedikit. Dalam kasus spesifik, rasio recycle optimum mungkin pada sekitar 0.2.

Kurva lainnya pada gambar 6.18 untuk

= B/F = 1.8. Waktu tinggal dapat

diturunkan dengan membutuhkan konsentrasi aliran recycle 25-40% ketika R diantara 0.2 dan 1.0. ketika R 1.2, sebagian kurva dituliskan sebagai garis putus-putus karena itu mungkin sulit untuk menurunkan rasio recycle dibawah 0.2 ketika =0.8. Contohnya, untuk mempertahankan R = 0.1, jumlah 1.3F

membutuhkan di-recycle dn terkonsentrasi mencapai 0.1F, yang mungkin sulit tergantung pada konsentrasi sel yang keluar. Faktor konsentrasi yang lebih tinggi

pada unit penyaring dapat mendapatkan bahaya lebih tinggi pada kegagalan penyaringan. Analisis pada bagian ini dan selanjutnya bisa juga diaplikasikan untuk penyimpanan sel sebagai pemisah sel. Aliran keluar dari penyimpanan sel akan sama dengan F = B + L dan konsentrasi itu akan menjadi (B/F)CXf = CSf.

2.4.2 CSTF dengan recycle sel

Gambar 6.19 Diagram skematik CSTF dengan recycle sel ( Dutta, 2008) Produktivitas sel dalam CSTF dapat ditingkatkan dengan meningkatkan laju dilusi dan mencapai nilai maksimum. Jika laju dilusi ditingkatkan melebihi nilai maksimum , produktivitas akan menurun dan sel mulai ter wash out karena laju pembentukan sel kurang dari hilangnya sel dari aliran keluar. Sehingga produktivitas fermenter terbatas karena hilangnya sel dengan aliran keluar. Salah satu cara meningkatkan produktivitas reaktor adalah merecycle sel dengan cara memisahkan sel dari aliran produk mengggunakan unit cross-flow filter (Gambar 6.19) Konsentrasi sel yang tinggi dipertahankan dengan menggunakan runtuk merecycle sel yang akan meningkatkan produktivitas sel karena laju pertumbuhan sebanding dengan konsentrasi sel. Bagaimanapun, terdapat suatu batasan dalam peningkatan produktivitas sel dengan konsentrasi sel yang meingkat karena

dalam lingkungan dengan konsentrasi sel tinggi maka laju transfer nutrisi akan menurun karena terlalu penuh dan pengumpulan sel. Jika semua sel direcycle kembali ke fermenter, konsentrasi sel akan meingkat secara kontinu dengan waktu dan keadaan steady state tidak akan pernah dicapai. Sehingga untuk mengoperasikam CSTF dengan recycle pada saat steady state , perlu adanya aliran pencampur seperti pada gambar 6.19. Neraca massa untuk sel di fermenter dengan unit recycle sel adalah

(6.63)

Untuk keadaan steady state pada CSTF dengan recycle sel dan umpan steril , D sama dengan laju pertumbuhan spesifik (Persamaan 6.64), ketika = 1, maka sel tidak direcycle, sehingga D=. (6.64)

Jika laju pertumbuhan dinyatakan dengan kinetika Monod, subtitusi persamaan 6. 11 ke 6.64 dan disusun ulang untuk Cs maka

(6.65)

dan berlaku saat menjadi

. Konsentrasi sel di fermenter dihitung dari nilai Cs

(6.66)

Gambar 6.20 menunjukkan pengaruh rasio pencampuran terhadap produktivitas sel untuk model Monod. Seiring pengurangan dari 1 ke 0,5 , produktivitas sel menjadi dua kali lipat.

DAFTAR PUSTAKA Bisen, Singh Anjana. 2012. Introduction to Instrumentation in Life Sciences. India: CRC Press Budiyanto, MAK. 2005. Mikrobiologi Umum. Malang: Universitas

Muhammadiyah Malang Press. Dutta, Rajiv. 2008. Fundamentals of Biochemical Engineering. India : Ane Books India. Katoh, Shigeo and Fumitake Yoshida. Biochemical Engineering. Japan: Wiley VCH Rusmana, Iman. 2008. Sistem Operasi Fermentasi. Departemen Biologi FMIPA IPB : Bogor. Rao, B. Sarva ; Muralidhararao dan AV.N. Swamy. 2011. Studies on Continuous Production Kinetics of L-Lysine by Immobilized Corynebacterium glutamicum 13032. Middle-East Journal of Scientific Research 7 (2): 235-240, ISSN 19909233. Stanbury, Peter, Allan Whitaker, Stephen J. Hall. 1999. Principles of Fermentation Technology. 2nd. New York: Elsevier Science Ltd.

DISKUSI 1. Alfonsina AAT

Pada CSTF, bagaimana cara menentukan resident time menggunakan grafik ?Mengapa pada grafik kurva 1/rx versus Cx (Gambar 3.4) daerah yang diarsir berbeda dengan daerah yang diarsir pada kurva 1/rx versus Cx (Gambar 3.6)? Jawab : Cara menentukan resident time (m) dengan menggunakan grafik kurva 1/rx versus Cx dengan model Monod adalah dengan menentukan nilai Cx dan 1/rx, setelah itu resident time dapat diperoleh dengan mencari luas persegi, yaitu Cx sebagai lebar dan 1/rx sebagai tinggi.

Gambar 3.4

Gambar 3.6

Grafik ini dibuat berdasarkan hasil eksperimen dengan kondisi diatas dan umpan masuk dalam keadaan steril. , lalu dimasukkan kedalam persamaan Monod, sehingga diperoleh kurva tersebut. Untuk mencari resident time, dapat di plot nilai Cx = 5,8 dan nilai 1/rx= 0,4 , resident time (m) = 2,32 tetapi pada kasus Cx = 5,8 dan nilai 1/rx= 0,3.

Selanjutnya dicoba kembali dengan memasukkan nilai Cx = 4,8 dan 1/rx = 0,2, diperoleh resident time (m) = 0,96 , maka Gambar 3.6 menunjukkan grafik dengan produktivitas maksimum, dan dapat disimpulkan untuk mencapai produktivitas maksimum diperoleh saat resident time kecil dan dapat dicapai saat nilai 1/rx minimum. Sehingga dari grafik Gambar 3.6 produktivitas maksimum dapat diperoleh saat luas area yang terarsir (Cx vs 1/rx) terletak tepat dibawah kurva.