Anda di halaman 1dari 14

KINERJA SISTEM AGRIBISNIS KENTANG DI KABUPATEN KARO, PROVINSI SUMATERA UTARA

Oleh: Baida Soraya, SP, MP, M.Si Dosen Fakultas Pertanian Universitas Darma Agung Medan

Abstract

Potatoes are one of the crops that can be used as a main food. The problem that occurred in Indonesia in terms of potatoes production is the inequality production patterns. At a certain moment, potatoes production can be very high, but at other times can be very low. This research aims to analyze the performance of potatoes agribusiness system. The research was conducted in January - February 2010 in the Regency of Karo, which is decided by purposive sampling. The results concluded that the performance of potatoes agribusiness sistem in the research area is fairly good with total score of 109,77 (max score: 200). Among the 40 farmer samples, all of them (100%) have a quite good performance. Keywords : Performance, Agribusiness Systems, Potatoes, Karo, North Sumatera

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Kentang merupakan salah satu tanaman pangan karena banyak mengandung karbohidrat sehingga kentang juga dapat dijadikan sebagai salah satu makanan pokok. Meskipun kentang bukan bahan makanan pokok bagi masyarakat Indonesia, tetapi konsumennya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Menurut data FAO (2008), pada tahun 2006-2007 konsumsi kentang di Indonesia adalah 1,92 kg/kapita/tahun. Sedangkan 1

berdasarkan Statistika Indonesia, penyediaan kentang di Indonesia adalah sebanyak 2,98 kg/kapita/tahun. Jadi, kebutuhan konsumsi yang kurang lebih hanya 2kg/kapita/tahun masih bisa dipenuhi. Namun masalah terdapat pada pola produksi kentang Indonesia. Pada saat tertentu produksi dapat menjadi sangat tinggi, namun pada saat yang lain dapat menjadi sangat rendah. (Setiadi, 2009) Agar produktivitas pertanian di Indonesia meningkat, maka sangat

penting adanya pengembangan konsep agribisnis. Peranan agribisnis sangat besar bagi negara agraris seperti Indonesia. Hal ini disebabkan karena cakupan aspek agribisnis adalah meliputi kaitan mulai dari proses produksi, pengolahan sampai pemasaran termasuk di dalamnya kegiatan lain yang menunjang proses produksi pertanian serta kegiatan lain yang ditunjang oleh kegiatan pertanian. Dunia agribisnis di negaranegara berkembang, termasuk Indonesia umumnya merupakan suatu sistem pertanian rakyat dan hanya sedikit saja yang berupa sistem perusahaan pertanian. Walaupun keduanya tidak dapat dipisahkan dan sangat menentukan kinerja secara keseluruhan pertanian Indonesia, akan tetapi perbedaan pada skala usaha, penguasaan teknologi, kemampuan manajemen, dan perspektif pemasaran sudah cukup mewakili kenyataan bahwa keduanya merupakan dua entitas yang sangat berbeda. (Arifin, 2001) 1.2. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis kinerja sistem agribisnis kentang yang meliputi subsistem praproduksi, subsistem produksi, dan subsistem postproduksi di daerah penelitian. II. TINJAUAN TEORITIS Agribisnis dapat dibagi menjadi tiga sektor yang saling tergantung secara ekonomis, yaitu sektor masukan (input), produksi

(farm), dan sektor keluaran (output). Cakupan kegiatan agribisnis meliputi seluruh sektor bahan masukan, usahatani, produk yang memasok bahan masukan usahatani, terlibat dalam produksi, dan pada akhirnya menangani pemrosesan, penyebaran, penjualan secara borongan, dan penjualan eceran produk kepada konsumen akhir (Downey, W.D. dan Erickson S.P., 2000). Pengertian lain dari agribisnis yaitu, agribisnis merupakan suatu kesatuan kegiatan usaha yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan hasil dan pemasaran yang ada hubungannya dengan pertanian dalam arti luas. Yang dimaksud dengan ada hubungannya dengan pertanian dalam arti luas adalah kegiatan usaha yang menunjang kegiatan pertanian dan kegiatan usaha yang ditunjang oleh kegiatan pertanian (Soekartawi, 2003). Faktor produksi (input) /production factor adalah semua korbanan yang diberikan pada tanaman agar tanaman tersebut mampu tumbuh dan menghasilkan dengan baik. Faktor produksi sangat menentukan besar-kecilnya produksi yang diperoleh. Faktor produksi lahan, modal untuk membeli bibit, pupuk, obat-obatan, tenaga kerja dan aspek manajemen merupakan faktor produksi terpenting di antara faktor produksi yang lain (Soekartawi, 2003). Sedangkan fungsi produksi merupakan seperangkat prosedur dan

kegiatan yang terjadi dalam penciptaan produk. Fungsi produksi merupakan pengaruh input yang digunakan dengan output yang dihasilkan. Terdapat beberapa teori produksi yang menjelaskan hubungan atau pengaruh jumlah pemakaian faktor-faktor produksi dengan jumlah produksi. Pada pertanian, dikenal teori produksi berupa hukum kenaikan hasil berkurang (law of deminishing return) yang berbunyi: bila satu faktor produksi ditambah terus dalam suatu proses produksi, maka mulamula terjadi kenaikan hasil, kemudian kenaikan hasil itu menurun, lalu kenaikan hasil nol dan akhirnya kenaikan hasil negatif. Dalam kegiatan usaha tani, ada beberapa cakupan aktivitas yang harus dilakukan agar kegiatan usahatani dapat berjalan lancar dan berproduksi optimal. Aktivitasaktivitas tersebut meliputi: a. Aktivitas Teknis - Memutuskan akan memproduksi apa dan bagaimana caranya - Memanfaatkan lahan - Membuat gambaran tentang teknologi dan peralatan yang akan digunakan serta implikasinya pada penggunaan tenaga kerja - Menentukan skala usaha b. Aktivitas Komersial - Menghitung berapa dan apa saja input yang dibutuhkan baik yang telah dipunyai maupun yang akan dicari

- Menentukan kapan, darimana, dan berapa jumlah input yang diperoleh - Meramalkan penggunaan input dan produksi yang akan diperoleh - Menentukan pemasaran hasil, kepada siapa, dimana, kapan, dan kualitas produk atau hasil c. Aktivitas Finansial - Mendapatkan dana dari sendiri, pinjaman kredit bank, atau kredit yang lain - Menggunakan dana untuk memperoleh pendapatan dan keuntungan (jangka panjang) - Meramalkan kebutuhan dana untuk jangka panjang yang akan datang (investasi untuk penggantian alat-alat atau perluasan usaha) Aktivitas Akuntansi - Membuat catatan tentang transaksi baik bisnis maupun pajak - Menyimpan data tentang usahanya. (Suratiya, 2006)

d.

Agribisnis membutuhkan kas sebagai modal kerja. Sumber kas yang paling utama haruslah berupa pendapatan atau penerimaan yang dihasilkan oleh bisnis itu sendiri. Ada tiga sumber yang dapat digali pengelola untuk memperoleh dana yang perlu guna mengoperasikan agribisnis: 1) investasi atau penanaman modal oleh para pemilik, 2) peminjaman, dan 3) dana yang berasal dari laba dan penyusutan.

(Downey, W.D. dan Erickson S.P., 2000) Selanjutnya, pengolahan hasil merupakan salah satu kegiatan yang cukup penting dari serangkaian kegiatan agribisnis. Hal ini disebabkan kegiatan pengolahan hasil memberikan beberapa manfaat dan keuntungan, antara lain meningkatkan nilai tambah, meningkatkan kualitas hasil, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, meningkatkan keterampilan produsen, dan meningkatkan pendapatan produsen. (Soekartawi, 2003) III. METODE PENELITIAN 3.1. Metode Penentuan Daerah Penelitian Daerah penelitian yang dipilih adalah Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Daerah penelitian dipilih secara purposive (sengaja) berdasarkan hasil pra-survey bahwa daerah tersebut merupakan daerah penghasil kentang. 3.2. Metode Penentuan Sampel Metode penentuan sampel dalam penelitian ini adalah secara purposive (sengaja). Petani yang dipilih sebagai sampel adalah petani di Kecamatan Merek yang sedang melakukan kegiatan produksi kentang. Jumlah sampel yang

diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 40 kepala keluarga (KK) petani kentang di Kecamatan Merek. Jumlah sampel tersebut ditentukan dengan tujuan agar penelitian dapat lebih representatif karena tidak ada data pasti mengenai jumlah populasi petani kentang di Kecamatan Merek. 3.3. Metode Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer merupakan hasil wawancara peneliti langsung dengan petani yang menjadi sampel dengan daftar kuesioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Sedangkan data sekunder merupakan data pelengkap yang diperoleh dari lembaga/instansi yang terkait, literatur, buku, dan media lain yang sesuai dengan penelitian ini. 3.4. Metode Analisis Data Analisis kinerja sistem agribisnis kentang di lokasi penelitian menggunakan skala peringkat (rating scale), yaitu data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Langkah awal penilaian adalah dengan memberikan bobot atas setiap aspek penelitian. Bobot tersebut dibagi lagi untuk setiap deskriptor, dengan rincian pada Tabel 1.

Tabel 1. Indikator Penilaian Kinerja Sistem Agribisnis Kentang


Aspek I. Perencanaan Indikator Petani kentang telah memiliki dokumen perencanaan kegiatan usahatani dengan mempertimbangkan kondisi biofisik, sarana dan prasarana, kebijakan atau peraturan pemerintah, serta pasar kentang Verifier 1. Ada dokumen tertulis dan lengkap yang dimiliki oleh setiap petani pada perencanaan kegiatan usahataninya. Variants of verifier a. Tertulis, lengkap b. Tertulis, tidak lengkap c. Tidak ada dokumen Skor 2 1 0 Bobot 15

2. Dokumen disusun oleh petani sendiri beserta keluarga, kelompok tani, ataupun penyuluh pertanian 3. Dokumen telah dipakai oleh petani kentang sebagai acuan dalam kegiatan usahataninya Total II. Pengorgani sasian Petani kentang dapat menyiapkan seluruh kebutuhan untuk usahataninya beserta pendanaan, sehingga seluruh kegiatan pada setiap subsistem berjalan lancar oleh sarana dan prasarana yang memadai 1. Petani melakukan kegiatan menginventaris jenis, kuantitas, dan kualitas seluruh faktor produksi yang akan digunakan pada usahataninya 2. Petani melakukan perincian biaya yang akan dikeluarkan dalam kegiatan usahataninya 3. Sumber dana disiapkan secara matang baik berasal dari petani sendiri, beserta keluarga, maupun dari pinjaman. 4. Seluruh faktor produksi yang akan digunakan tersedia secara memadai dan tepat pada waktu yang dibutuhkan Total

a. Disusun bersama penyuluh/kelompok tani b. Disusun bersama keluarga c. Tidak disusun a. Selalu dipakai b. Jarang dipakai c. Tidak memakai dokumen

1 0 2 1 0 10

30 a. Menginventaris seluruhnya b. Menginventaris sebagian c. Tidak Menginventaris 2 1 0 3

a. Perincian seluruh biaya b. Perincian sebagian biaya, c. Tidak dilakukan perincian biaya a. Dari petani sendiri b. Dari petani beserta keluarga atau pinjaman c. Tidak dipersiapkan secara matang a. Tersedia memadai, tepat waktu b. Tersedia memadai, tidak tepat waktu c. Tidak tersedia memadai

2 1 0 2 1 0

2 1 0

10

20

Aspek III. Pengaktualisasian

Indikator Petani melakukan kegiatan produksi dan pascapanen dengan baik sesuai dengan prosedur standar pada usahatani kentang sehingga menghasilkan produk kentang yang bermutu baik

Verifier 1. Kegiatan pengolahan tanah dilakukan dengan baik yaitu adanya kegiatan penggemburan tanah, pembuatan bedengan, dan pemberian pupuk dasar. 2. Pemakaian benih bersertifikat maksimal hingga lima kali pemakaian ulang (F1-F5)

Variants of verifier a. Ada, seluruhnya b. Ada, sebagian c. Tidak ada pengolahan tanah

Skor 2 1 0

Bobot 5

a. Pemakaian benih bersertifikat hingga maksimal F5 b. Pemakaian benih bersertifikat hingga lebih dari F5 c. Tidak memakai benih bersertifikat a. Sesuai standar b. Mendekati standar c. Tidak sesuai standar a. Jadwal dan dosis sesuai kebutuhan b. Jadwal dan dosis mendekati kebutuhan c. Jadwal dan dosis tidak sesuai kebutuhan a. Ada, terpadu b. Ada, tidak terpadu c. Tidak ada a. Ada, sesuai b. Ada, tidak sesuai c. Tidak ada

3. Pembuatan jarak tanam standar yaitu minimal 30x70 cm dan lubang tanam 7,510cm. 4. Ada kegiatan pemupukan yang dilakukan sesuai jadwal dan kebutuhan tanaman kentang.

2 1 0

2 1

5. Ada kegiatan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu 6. Ada kegiatan pemeliharaan lanjutan yaitu penyiangan, serta pembumbunan yang dilakukan sesuai jadwal dan kebutuhan tanaman kentang. 7. Ada kegiatan seleksi mutu atau pengelasan sesuai dengan produk kentang yang dihasilkan

2 1 0 2 1 0

a. Ada, selalu b. Ada, tidak selalu c. Tidak ada

2 1 0

8. Ada kegiatan pengemasan dan penyimpanan yang baik sehingga kentang tidak rusak dan tahan lama Total 1. Jadwal dan kegiatan tanam berjalan sesuai kebutuhan tanaman kentang 2. Ada tindakan penanganan terhadap kendala yang dijumpai pada saat penyediaan faktor produksi usahatani kentang 3. Seluruh hasil produksi dapat dipasarkan sesuai permintaan serta kebutuhan pasar kentang

a. Ada, baik b. Ada, kurang baik c. Tidak ada

2 1 0

IV. Pengawasan

Seluruh sistem agribisnis kentang yang meliputi subsistem praproduksi, produksi, dan postproduksi berjalan dengan baik

a. Sesuai b. Kurang sesuai c. Tidak sesuai

2 1 0

40 4

a. Ada, selalu b. Ada, tidak selalu c. Tidak ada

2 1 0

4. Ada tindakan antisipasi terhadap harga kentang yang rendah, misalnya: pengolahan lanjutan, menjalin mitra dagang, dan lainnya Total Total over

a. Dapat dipasarkan seluruhnya b. Dapat dipasarkan sebagian c. Tidak dapat dipasarkan a. Ada, selalu b. Ada, tidak selalu c. Tidak ada

2 1 0

2 1 0

10 100

Untuk nilai akhir diperoleh dengan mengalikan skor jawaban dengan bobot. Sehingga total nilai berada diantara 0-200. Berdasarkan total nilai tersebut ditentukan kriteria kinerja sebagai berikut. Apabila nilai berada diantara: 0 66 = Kinerja kurang baik 67 133 = Kinerja cukup baik 134 200 = Kinerja baik

3.5. Batasan Operasional Batasan operasional dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman yang terdapat dalam tulisan ini. 1) Penelitian dilakukan di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. 2) Sampel penelitian adalah petani yang sedang menanam kentang pada periode penelitian di

Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. 3) Periode penelitian adalah bulan Januari 2010 sampai Pebruari 2010.

BAB III. HASIL PENELITAN DAN PEMBAHASAN 3.1. Kinerja Sistem Agribisnis Kentang di Kecamatan Merek Berdasarkan hasil penelitian kinerja sistem agribisnis kentang di Kecamatan Merek dipaparkan di Tabel 2.

Tabel 2. Kinerja Sistem Agribisnis Kentang di Daerah Penelitian


Aspek I. Perencanaan Verifiers 1. Ada dokumen tertulis dan lengkap yang dimiliki oleh setiap petani pada perencanaan kegiatan usahataninya. 3. Dokumen disusun oleh petani sendiri beserta keluarga, kelompok tani, ataupun penyuluh pertanian Variants of verifier a. Tertulis, lengkap b. Tertulis, tidak lengkap c. Tidak ada dokumen Populasi (KK) 0 (0,00%) 0 (0,00%) 40 (100,00%)

a. Disusun bersama 0 (0,00%) penyuluh/kelompok tani b. Disusun bersama keluarga 0 (0,00%) c. Tidak disusun 40 (100,00%) a. Selalu dipakai b. Jarang dipakai c. Tidak dipakai a. Menginventarisasi seluruhnya b. Menginventarisasi sebagian c. Tidak Menginventarisasi a. Perincian seluruh biaya b. Perincian sebagian biaya c. Tidak dilakukan perincian biaya a. Dari petani sendiri b. Dari petani beserta keluarga atau pinjaman c. Tidak dipersiapkan secara matang a. Tersedia memadai, tepat waktu b. Tersedia memadai, tidak tepat waktu c. Tidak tersedia memadai a. Ada, seluruhnya b. Ada, sebagian c. Tidak ada pengolahan tanah 0 (0,00%) 0 (0,00%) 40 (100,00%) 23 (57,50%) 17 (42.50%) 0 (0,00%)

4. Dokumen telah dipakai oleh petani kentang sebagai acuan dalam kegiatan usahataninya/ II. Pengorganisasian 1. Petani melakukan kegiatan inventarisasi jenis, kuantitas, dan kualitas seluruh faktor produksi yang akan digunakan pada usahataninya

2. Petani melakukan perincian biaya yang akan dikeluarkan dalam kegiatan usahataninya 3. Sumber dana disiapkan secara matang baik berasal dari petani sendiri, beserta keluarga, maupun dari pinjaman. 4. Seluruh faktor produksi yang akan digunakan tersedia secara memadai dan tepat pada waktu yang dibutuhkan III. Pengaktualisasian 1. Kegiatan pengolahan tanah dilakukan dengan baik yaitu adanya kegiatan penggemburan tanah, pembuatan bedengan, dan pemberian pupuk dasar. 2. Pembuatan jarak tanam standar yaitu minimal 30x70 cm dan lubang tanam 7,5-10cm.

2 (5,00%) 33 (82,50%) 5 (12,50%) 30 (75,00%) 6 (15,00%) 4 (10,00%) 40 (100,00%) 0 (0,00%) 0 (0,00%)

31 (77,50%) 9 (22,50%) 0 (0,00%)

a. Sesuai standar b. Kurang sesuai standar c. Tidak sesuai standar

40 (100,00%) 0 (0,00%) 0 (0,00%))

3. Ada kegiatan pemupukan dilakukan sesuai jadwal kebutuhan tanaman kentang.

yang dan

4. Ada kegiatan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu 5. Ada kegiatan pemeliharaan lanjutan yaitu penyiangan serta pembumbunan yang dilakukan sesuai jadwal dan kebutuhan tanaman kentang. 6. Ada kegiatan seleksi mutu atau pengelasan sesuai dengan produk kentang yang dihasilkan 7. Ada kegiatan pengemasan dan penyimpanan yang baik sehingga kentang tidak rusak dan tahan lama. 1. Jadwal dan kegiatan tanam berjalan sesuai kebutuhan tanaman kentang

a. Sesuai jadwal dan dosis 31 (77,50%) b. Sesuai jadwal, dosis tidak 9 (22,50%) sesuai c. Jadwal dan dosis tidak 0 (0,00%) sesuai kebutuhan a. Ada, terpadu 31 (77,50%) b. Ada, tidak terpadu 9 (22,50%) c. Tidak ada 0 (0,00%) a. Ada, sesuai 31 (77,50%) b. Ada, tidak sesuai 9 (22,50%) c. Tidak ada 0 (0,00%) a. Ada, selalu b. Ada, tidak selalu c. Tidak ada a. Ada, baik b. Ada, kurang baik c. Tidak ada a. Sesuai b. Kurang sesuai c. Tidak sesuai a. Ada, selalu b. Ada, tidak selalu c. Tidak ada 40 (100,00%) 0 (0,00%) 0 (0,00%) 1 (2,50%) 39 (75,00%) 0 (22,50%) 33 (82,50%) 7 (17,5%) 0 (0,00%) 40 (100,00%) 0 (0,00%) 0 (0,00%)

IV. Pengawasan

2. Ada tindakan penanganan terhadap kendala yang dijumpai pada saat penyediaan faktor produksi usahatani kentang 3. Seluruh hasil produksi dapat dipasarkan sesuai dengan kebutuhan dan permintaan produk kentang yang telah dihasilkan. 4. Ada tindakan antisipasi terhadap harga kentang yang rendah, misalnya: pengolahan lanjutan, menjalin mitra dagang, dan lainnya

a. Dapat dipasarkan 40 (100,00%) seluruhnya 0 (0,00%) b. Dapat dipasarkan sebagian 0 (0,00%) c. Tidak dapat dipasarkan a. Ada, selalu 0 (0,00%) b. Ada, tidak selalu 0 (0,00%) c. Tidak ada 40 (100,00%)

Sumber: Analisis Primer

Gambaran kinerja sistem agribisnis setiap petani kentang di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo pada Tabel 3.

Tabel 3. Kinerja Sistem Agribisnis Kentang di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo


No. sampel Skor total 1 126 2 123 3 116 4 121 5 69 6 116 7 121 8 118 9 119 10 69 11 121 12 121 13 121 14 121 15 121 16 116 17 81 18 121 19 75 20 81 21 119 22 118 23 114 24 108 25 113 26 116 27 116 28 116 29 85 30 81 31 121 32 118 33 121 34 121 35 118 36 81 37 121 38 85 39 121 40 121 Total 4391 Rataan 109,77 Sumber: Analisis Primer Kinerja Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik Cukup baik

Tabel 4. Skor Total Setiap Aspek Manajemen Agribisnis Kentang di Kecamatan Merak, Kabupaten Karo
Aspek Manajemen Agribisnis I. Perencanaan II. Pengorgaisasian III. Pengaktualisasian IV. Pengawasan Total Sumber: Analisis Primer Skor Skor Total Maksimal 0 34,82 59,65 16,30 109,77 60 40 80 20 200

Sedangkan skor untuk setiap aspek agirbisnis kentang di Merak, Kabupaten Karo pada Tabel 4.

total kinerja manajemen Kecamatan dapat dilihat

Berdasarkan data Tabel 3, kinerja sistem agribisnis di Kecamatan Merek secara rata-rata cukup baik (skor 109,77). Namun, data pada Tabel 4 menunjukkan ada beberapa aspek manajemen dan subsistem agribisnis yang belum dijalankan dengan baik bahkan belum dilaksanakan sama sekali. Kegiatan-kegiatan penting agribisnis yang belum dilaksanakan dengan baik yaitu perencanaan kegiatan usahatani secara tertulis dan menyeluruh, pemakaian benih unggul dan bersertifikat, dan skala cakupan pemasaran. Jika seluruh kegiatan dari seluruh aspek manajemen dijalankan dengan baik, petani dapat meningkatakan pendapatan dan kesejahteraannya. Perencanaan merupakan aspek di dalam manajemen yang penting dilaksanakan sebelum suatu kegiatan dimulai yaitu kegiatan usahatani. Kegiatan yang telah direncanakan untuk dilaksanakan kemudian disusun secara tertulis

10

menjadi sebuah dokumen perencanaan kegiatan usahatani. Penyusunan secara tertulis dapat membantu petani untuk mengetahui dan merekam apa yang dibutuhkan dalam usahatani yang akan dijalankannya. Dokumen perencanaan kegiatan usahatani tersebut juga lebih baik jika disusun bersama penyuluh, kelompok tani, minimal bersama keluarga. Penyusunan dokumen bersama penyuluh atau kelompok tani dapat membantu petani mendapatkan saran dan masukan yang baik bagi petani dari para ahli yaitu penyuluh maupun dari rekan dalam kelompok tani berdasarkan pengalaman maupun informasi yang mereka ketahui. Penyusunan dokumen usahatani juga dapat dilakukan bersama keluarga petani tersebut. Penyusunan bersama keluarga bertujuan agar keluarga dapat memberi masukan untuk pelaksanaan usahatani yang akan diusahakan. Selain itu, penyusunan dokumen usahatani bersama keluarga dapat membuat keluarga lebih memahami dan membantu pelaksanaan kegiatan usahatani yang akan dijalankan. Kinerja petani di daerah penelitian pada aspek perencanaan masih belum baik (Skor 0). Petani di Kecamatan Merek tidak menyusun dokumen perencanaan kegiatan usahatani kentang secara tertulis. Perencanaan yang dilakukan yaitu merencanakan komoditi apa yang akan ditanam dan berapa jumlah atau luas lahan yang akan ditanami komoditi tersebut. Kegiatan-kegiatan

lain yang akan dilaksanakan dalam usahataninya akan dijalankan berdasarkan pengalaman petani tersebut, yaitu pengalaman menanam kentang yang sudah pernah dilaksanakannya. Kinerja petani akan menjadi lebih baik jika petani membuat dokumen tertulis perencanaan kegiatan usahatani yang akan dijalankan. Perencanaan yang disusun meliputi kegiatan yang akan dilakukan, sarana produksi yang dibutuhkan, biaya yang akan dikeluarkan, jadwal kegiatan yang akan dilaksanakan, hingga cara dan tujuan pemasaran. Kegiatan perencanaan ini juga akan lebih baik jika petani di daerah penelitian menyusun dokumen tersebut bersama penyuluh, kelompok tani, atau keluarga. Hal ini berguna agar petani mendapat saran dan informasi yang berguna bagi usahatani mereka. Setelah melaksanakan kegiatan perencanaan, maka aspek manajemen selanjutnya yang perlu dilaksanakan adalah pengorganisasian. Di dalam kegiatan usahatani yang akan dijalankan, petani perlu mengorganisasikan seluruh kebutuhan yang dibutuhkan dalam kegiatan usahatani. Jika kebutuhan atau sarana produksi yang dibutuhkan tidak dipenuhi dengan baik, apalagi jika merupakan kebutuhan vital, maka kegiatan usahatani berjalan secara tidak lancar atau terhambat bahkan dapat berhenti di tengah kegiatan usahatani. Petani harus mengorganisasikan faktor produksi dan dana sesuai dengan

11

kebutuhan dan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Pengorganisasian ini diharapkan dapat membuat usahatani yang telah dijalankan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Petani di daerah penelitian dalam pelaksanaan aspek pengorganisasian secara rata-rata sudah baik (skor 34,82). Walaupun secara perencanaan kinerja petani tidak cukup baik, namun para petani dapat menyediakan seluruh faktor produksi yang mereka butuhkan secara tepat waktu sesuai dengan kebutuhan pada usahataninya. Salah satu yang menjadi faktor lancarnya kegiatan pengorganisasian adalah ketersediaan fasilitas yang mendukung dan dapat dijangkau oleh petani. Untuk alat-alat pertanian, petani telah memiliki sebagian besar dari peralatan tersebut. Peralatan untuk usahatani kentang sebagian besar sama dengan peralatan usahatani yang lain, hampir tidak ada peralatan khusus yang sulit didapat. Sedangkan untuk bahanbahan pertanian seperti pupuk dan obat-obatan tersedia secara memadai. Di daerah penelitian terdapat 8 kios pupuk dan pestisida yang menjual kebutuhan pupuk termasuk juga pupuk subsidi dan juga obat-obatan yang lain. Untuk dana atau biaya yang dibutuhkan, seluruh petani telah memperhitungkan biaya yang dibutuhkan terutama biaya pokok di dalam usahataninya. Sumber-sumber pembiayaan dapat berasal dari petani sendiri maupun pinjaman yang didapat oleh pedagang pengumpul.

Pada subsistem produksi atau aspek pengaktualisasian pada kegiatan usahatani, terdapat tiga faktor penting yang harus dicapai untuk meningkatkan produktivitas. Tiga faktor tersebut yaitu: pemakaian benih atau bibit unggul, lingkungan yang mendukung, dan perawatan yang baik. Ketiga faktor tersebut juga harus didukung dengan peralatan yang memadai, biaya yang cukup, dan jadwal pelaksanaan yang sesuai. Produktivitas usahatani kentang di daerah penelitian hampir setara dengan produktivitas kentang nasional secara rata-rata. Tingkat produktivitas kentang nasional secara rata-rata adalah sebesar 17 ton/ha. Sedangkan produktivitas kentang di daerah penelitian secara rata-rata adalah sebesar 14,66 ton/ha. Walaupun produktivitas kentang di daerah penelitian sedikit lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas kentang nasional, namun ditinjau dari segi proses produksi yang telah dilakukan, petani di daerah penelitian telah memiliki kinerja yang baik pada aspek pengaktualisasian atau pada subsistem produksi. Produktivitas kentang di daerah penelitian yang masih rendah disebabkan oleh benih yang dipakai bukan benih unggul bersertifikat. Benih yang dipakai oleh petani di daerah penelitian merupakan benih yang telah berulang kali dipakai sejak pembelian pertama benih bersertifikat. Pemakaian benih unggul dapat meningkatkan produktivitas karena menghasilkan

12

banyak umbi dengan ukuran yang memadai sebagai kentang konsumsi serta tahan hama dan penyakit. Oleh karena itu, pemakaian benih unggul yang paling penting diperhatikan dan dilaksanakan, kemudian didukung dengan kegiatan budidaya yang baik. Aspek selanjutnya dalam manajemen usahatani yaitu aspek pengawasan. Pengawasan dilakukan agar seluruh kegiatan usahatani yang telah dijalankan berjalan sesuai dengan rencana atau tujuan dari kegiatan usahatani. Tujuan utama dari kegiatan usahatani adalah untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Hal-hal yang perlu diawasi antara lain kegiatan produksi, pascapanen, dan pemasaran. Di dalam aspek pengawasan, harus ada tindakan antisipasi dan penanganan apabila terjadi hal-hal yang diluar perkiraan atau rencana. Aspek pengawasan yang dilakukan petani di daerah penelitian secara rata-rata masih belum cukup baik (skor 15,3). Pengawasan beserta tindakan penanganan yang dilakukan hanya pada penyediaan faktor produksi. Tidak ada tindakan penanganan pada kegiatan tanam yang tidak berjalan sesuai jadwal serta ketika harga kentang turun. Dari uraian-uraian kinerja sistem agribisnis kentang, diketahui bahwa terdapat sinergitas yang belum baik dan menyeluruh dalam kegiatan usahatani kentang oleh petani di daerah penelitian. Kinerja agribisnis yang baik hanya terdapat dalam kegiatan pengorganisasian

sarana produksi, sebagian dari kegiatan budidaya, dan kegiatan pemasaran yang dapat menjual seluruh hasil produksi kentang. Kinerja agribisnis akan menjadi lebih baik dan dapat meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan petani apabila petani melaksanakan seluruh aspek manajemen maupun subsistem agribisnis dengan baik, efisien, dan efektif. IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian diperoleh beberapa kesimpulan, yaitu: 1) Kinerja sistem agribisnis kentang di daerah penelitian cukup baik dengan total skor sebesar 109,77. 2) Skor total untuk setiap aspek manajemen agribisnis kentang di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo adalah: a. Perencanaan: 0 (skor maksimal: 60) b. Pengorganisasian: 34,82 (skor maksimal: 40) c. Pengaktualisasian: 59,65 (skor maksimal: 80) d. Pengawasan: 15,30 (skor maksimal: 20)

13

4.2 Saran Pemerintah sebaiknya membangun sarana dan prasarana yang perlu untuk meningkatkan kinerja sistem agribisnis kentang, yaitu balai penelitian dan produksi bibit kentang di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Balai tersebut berfungsi untuk menghasilkan bibit unggul kentang yang harga dan aksesnya terjangkau petani. Sebaiknya juga didirikan balai riset pengolahan dan pemasaran kentang untuk meningkatkan nilai tambah kentang. Petani kentang sebaiknya ikut aktif dalam setiap program-program pemerintah yang sedang berjalan serta melanjutkan program-program yang telah selesai. Petani sebaiknya lebih sadar, adaptif, dan adoptif pada setiap teknologi baru mulai dari teknologi produksi hingga teknologi pascapanen. Kecamatan Merek, Kabupaten Karo memiliki potensi lingkungan yang sangat mendukung produksi kentang sehingga sebaiknya varietas tanaman kentang yang ditanam sebaiknya lebih divariasikan, tidak hanya varietas Granola. Salah satu varietas kentang yang sebaiknya ditanam juga adalah varietas Atlantic/Atlantik/Atlantis. Varietas tersebut menghasilkan kentang dengan harga yang cenderung lebih tinggi, dan jika dilakukan pengolahan lanjutan akan menghasilkan nilai tambah yang tinggi.

V. DAFTAR PUSTAKA Arifin, B. 2001. Spektrum Kebijakan Pertanian Indonesia. Erlangga. Jakarta Downey, W.D. dan Erickson S.P. 2000. Manajemen Agribisnis. Edisi kedua. Penerjemah: Ganda, R dan Sirait, A. Erlangga. Jakarta Setiadi.2009. Budi Daya Kentang. Penebar Swadaya.Jakarta Soekartawi, 2003.Agribisnis Teori dan Aplikasinya. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta Suratiya, K.2006.Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta

14