Anda di halaman 1dari 13

SUMBER 1 Banyak alasan yang mendasari keinginan membelibaby walker.

Umumnya ditujukan untuk melatih bayi menggunakan otot kaki. Ini kerap menjadi alasan utama. Dalam praktiknya banyak juga ibu menjadikan baby walker sebagai alternatif permainan untuk menyibukkan bayi saat ibu melakukan kegiatan lain, atau menjadi alat bantu yang membuat bayi merasa fun dan anteng saat diberi makan. Namun banyak juga orang tua yang membeli baby walker hanya karena lantaran ikut-ikutan tetangga atau teman. Dr. Karel A.L. Staa, MD, spesialis anak dari RS Pondok Indah Jakarta mengatakan setidaknya ada dua hal yang perlu disorot dalam memutuskan apakah akan menggunakan baby walker atau tidak. Pertama soal keamanan, dan kedua soal perkembangan motorik anak. Tidak Aman Fakta yang ada menunjukkan penggunaan baby walker cenderung membawa dampak negatif pada tumbuh kembang bayi, bahkan menjurus pada keadaan yang bisa membahayakan keselamatan anak. American Academy of Pediatric (APP) mengungkapkan bahwa pengunaan baby walker bisa mendatangkan kecelakaan atau cedera pada bayi. Di tahun 1999 di Amerika Serikat dilaporkan sekitar 8.800 bayi usia 15 bulan masuk rumah sakit karena menggunakan baby walker. Dan dalam rentang tahun 1973-1998 tercatat 34 bayi meninggal karena alat ini. Tak terelakkan, fakta ini membuat baby walker menuai pro dan kontra selama berbilang tahun. Memang ada banyak anak memakai baby walker dan aman-aman saja. Sebaiknbya jangan buru-buru mengambil kesimpulan sebelum mendengar pendapat ahli. Karel mengatakan kata aman-aman saja tidak bisa dijadikan patokan bahwa baby walker benar-benar aman untuk anak. Ibarat berjalan di lantai yang licin. Ada anak yang terjatuh ada yang selamat. Toh, kita tidak bisa mengatakan lantai licin itu tidak berbahaya bagi anak. Begitu juga dengan penggunaan baby walker, kata Karel. Salah satu penyebab kecelakaan ketika menggunakan baby walker adalah anak dapat bergerak leluasa, sehingga bisa menggelinding di tangga, terjepit daun pintu, atau menjangkau benda-benda berbahaya bagi anak (seperti gunting, pisau, gelas berisi air panas). Ada juga orang tua yang berpendapat bahwa boleh saja menggunakan baby walker selama anak diawasi. Kenyataannya penelitian menunjukkan mayoritas kecelakaan akibat baby walker terjadi disaat anak dalam pengawasan orang tua maupun pengasuh. Ini karena baby walker memungkinkan anak bergerak cukup cepat, rata-rata 1-3 meter perdetik. Anak terlanjur bergerak ke arah yang membahayakannya sebelum pengawas sempat menghentikannya. Masalah Motorik Banyak orang tua berminat membelikan baby walker karena propaganda yang mengatakan alat ini bisa membuat bayi cepat pandai berjalan. Kenyataannya tidak demikian. Karel

mengatakan baby walkerberpotensi mengganggu perkembangan motorik kaki anak. Sebab, untuk bergerak anak hanya perlu menggunakan sebagian serabut motorik otot kaki. Misal dengan menggerakkan ujung jari dan mengandalkan otot-otot betis, dalam posisi duduk sekalipun, anak bisa berpindah tempat. Sementara untuk bisa berjalan dengan benar dan lancar, anak perlu melatih otot paha dan pinggul. Dan ini sering tidak terpenuhi bila anak dibiasakan bermain dengan baby walker. Akibatnya otot tungkai tidak terlatih untuk menyangga tubuh anak saat berjalan. Anak jadi sering jatuh. Hal ini bisa menimbulkan trauma yang membuat anak takut melangkah, dan akhirnya membuat dia lambat pandai berjalan. Ditambah lagi ada efek psikologis yang membuat anak malas berjalan mandiri karena baby walkermembuatnya terbiasa bergerak ke sana kemari tanpa susah payah menjejakan kaki di lantai. Baby walker juga dicurigai sebagai salah satu penyebab kelainan kaki pada anak. Pasalnya duduk mengangkang di dalam baby walker bisa menyebabkan kelainan tulang paha. Para ahli menduga banyaknya anak berjalan seperti bebek atau mengangkang karena pengaruh baby walker. Bila ingin melatih motorik kaki, lebih baik anak dilepas di lantai dan belajar berjalan secara alami dengan kaki terlanjang, kata Karel. Cara ini bisa melatih seluruh serabut motorik otot, mulai dari otot betis, paha, sampai pinggul, juga membantu merangsang koordinasi jemari kaki, sehingga memembuat anak bisa berjalan dengan lebih baik. Jika anak mengalami jatuh bangun, itu hal biasa yang justru memberi pengalaman pada anak untuk tidak mudah menyerah. Tentunya belajar berjalan secara alami ini membutuhkan bantuan dan pengawasan orang tua. Ada beberapa persiapan sederhana yang perlu dilakukan, seperti memastikan lantai dalam keadaan bersih dan tidak licin. Satu lagi saran Karel. Ajaklah si kecil berenang. Kegiatan yang satu ini membuat seluruh otot tubuh bergerak, temasuk kaki, lengan, dan leher. Dan ini sangat bagus untuk merangsang perkembangan motorik anak SUMBER 2

Hampir semua ahli menyatakan bahwa baby walker TIDAK AMAN. Banyak sekali kasus yang terjadi di berbagai belahan dunia, dimana bayi terjatuh ketika menggunakan baby walker. Ada yang terjatuh karena rodanya menggilas mainan lain lalu terbalik, ada yang terjatuh meluncur ke bawah tangga, ada yang masuk ke dalam kolam dan sebagainya. Anda pun harus waspada lho, karena ketika bayi Anda diletakkan di baby walker, dia jadi bisa pergi ke tempat-tempat yang justru tidak aman bagi keselamatannya dan bisa menjangkau benda-benda berbahaya.

Efektifkah Baby Walker dalam Membantu Bayi Bisa Berjalan Lebih Cepat?
Seperti yang Anda ketahui, ketika bayi diletakkan di baby walker, maka biasanya kakinya akan agak menggantung dan hanya sedikit menyentuh lantai. Ini dikarenakan si bayi akan lebih memilih untuk banyak duduk ketimbang berdiri. Otot-otot yang digunakan oleh bayi ketika ia berkeliling menggunakan baby walker TIDAK SAMA dengan otot-otot yang digunakannya untuk berjalan secara normal. Dengan kata lain, berbagai kemampuan bergerak yang dibutuhkan ketika bayi berjalan menggunakanbaby walker, sebenarnya tidak akan bermanfaat baginya untuk berjalan secara normal tanpa baby walker! Bahkan, jika Anda menggunakan baby walker untuk bayi Anda, maka ia justru akan sulit untuk meningkatkan kemampuan menjaga keseimbangan tubuhnya. Ketika ia bergerak menggunakan baby walker, maka ia akan selalu memiliki tumpuan, sedangkan untuk bisa berjalan dengan normal, bayi Anda harus belajar untuk melangkah tanpa bertumpu kepada benda apapun. Sehingga, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan baby walker justru akan mengurangi motivasi bayi untuk bisa berjalan sendiri. Ia akan menjadi malas untuk belajar berjalan, karena sudah terbiasa menggunakan baby walker

Adakah Alternatif Lain?


Sebagai alternatif baby walker, Anda bisa menggunakan exersaucer (mirip dengan baby walker, tapi tidak menggunakan roda), atau kursi tinggi untuk bayi.

Bahkan cara sederhana seperti memberikan kursi plastik kecil untuk didorong-dorong oleh bayi Anda yang sedang belajar berjalan terbukti lebih banyak manfaatnya lho! Kesimpulannya? Buat apa mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak bermanfaat bagi perkembangan bayi Anda

SUMBER 3 Dina saat ini berusia 9 bulan dan sudah bisa berdiri, bahkan mulai berjalan berpegangan. Gerakannya yang makin lincah dan keinginannya berjalan ke sana-kemari membuat orang kelelahan menjaga.Sepertinya menggunakan baby walker merupakan saat yang tepat, namun amankah untuk anak? Memakai baby walker untuk bayi yang sedang belajar berjalan sebenarnya telah menjadi tradisi sejak setidaknya- pertengahan tahun 1600-an, dan baru dua dekade belakangan, para ahli menemukan bahwa bahayanya jauh melebihi keuntungannya. Di negara maju, diperkirakan 25.000 anak per tahun dibawa ke Unit Gawat Darurat akibat kecelakaan yang berkaitan dengan baby walker. Tentunya timbul pertanyaan, mengapa demikian? Penyebab kecelakaan tertinggi Di antara seluruh produk untuk bayi, baby walker menuruti peringkat pertama penyebab kecelakaan pada anak kecil dengan angka cukup signifikan. Bahkan, tak main-main, sebuah penelitian pada 271 anak yang celaka akibat baby walker, 96%-nya terjadi akibat anak jatuh dari tangga saat ia memakai baby walker-nya. Kasus yang lain yang pernah dilaporkan adalah jari terjepit, tersandung, luka bakar, ataupun menelan benda asing. Pemakaian baby walker terbatas pada usia tertentu yaitu usia 5-15 bulan, ketika bayi sudah mulai duduk tegak namun belum dapat berjalan sendiri. Ini menyebabkan kecelakaan paling banyak terjadi pada usia tersebut. Berikut hal-hal yang sering terjadi: Jatuh. Ini yang paling banyak terjadi. Bayi bergerak dengan cepat, tersandung, dan baby walker terguling membuat ia terbentur benda keras atau jatuh ke lantai, lebih parah lagi bila jatuh ke tangga. Penelitian menunjukkan, 60-90% kecelakaan di tangga berhubungan denga

baby walker. Banyaknya anak tangga berkorelasi dengan keparahan kecelakaan dan lantai yang keras di dasar tangga juga turut memperparahnya. Kepala adalah anggota tubuh yang paling sering terkena dibandingkan anggota tubuh lain. Terbakar atau terluka. Dengan memakai baby walker, anak dimungkinkan meraih bendabenda di tempat lebih tinggi yang berbahaya untuk mereka seperti gelas berisi air panas, pisau, vas bunga dari kaca dan lain-lain. Posisi anak yang mendongak saat meraih benda menyebabkan kebanyakan kasus terjadi di daerah wajah dan kepala. Gangguan Perkembangan dan baby walker. Banyak orang tua percaya baby walker dapat membantu anak mereka berjalan. Sesungguhnya ini tidak benar. Bahkan, fakta makin memperlihatkan baby walker malah memperlambat perkembangan anak. Sebuah penelitian pada anak kembar menunjukkan anak yang diletakkan di baby walker mengalami gangguan motorik berjalan dibandingkan saudara kembarnya. Perhatikanlah, anak tanpa baby walker akan lebih bebas berguling, duduk dan berdiri, bergerak mengambil sesuatu, dan bermain di lantai yang merupakan dasar untuk belajar berjalan, ketimbang bergeser ke sana kemari dengan baby walker. Pengawasan tak menjamin

SUMBER 4 Saya selalu mengawasinya kok atau Saya menggunakan pagar di tangga, jadi anak tak mungkin jatuh, ternyata tidak menjamin anak tak mengalami kecelak aan akibat baby walker. Dari sebagian besar kecelakaan jatuh dari tangga akibat baby walker, lebih dari setengahnya memiliki pagar di tangganya. Bisa dibayangkan, bayi dalam baby walker dapat bergerak satu meter perdetik, dan dengan usianya, ia belum memiliki kontrol terhadap kecepatan sehingga ketika kita lengah sedikit saja, si bayi yang aktif telah sampai di ujung ruangan dan terlepaslah ia dari jangkauan. Bahkan, dari 271 anak yang celaka akibat baby walker, 78%-nya sedang dalam pengawasan dengan 69%-nya diawasi oleh orang dewasa. Bagaimana dengan tanda peringatan yang selalu ada di setiap kemasan produk tersebut? Dari studi yang sama, sebagian besar orang tua menyadari sebelumnya bahwa baby walker memang berpotensi menyebabkan kecelakaan, bahkan setelah kecelakaan terjadi, sebagian dari mereka ada yang memakai kembali baby walker pada anak yang sama atau pada adiknya dengan berbagai alasan, misalnya si bayi tampak menyukainya, atau kecelakaan yang terjadi bukan karena baby walker-nya, tetapi karena kelengahan, dan sebagainya. Sehingga, tanda peringatan tentang bahaya baby walker tidaklah efektif untuk mencegah kecelakaan yang bisa terjadi. Jadi, bagaimana dong? Meskipun di negara maju telah ada usaha untuk menyegel produksi atau penjualan produk baby walker, namun hal ini menjadi sulit karena dianggap belum cukup bukti. Selain itu, tak semua orang tua setuju dengan penyegelan ini sehingga muncullah alternatif produk serupa baby walker yang lebih aman. Misalnya, telah dipasarkan baby walker tanpa roda yang tetap

membuat anak gembira karena ia tetap bisa berdiri, berputar, ataupun berjingkat. Dan yang jelas mengurangi risiko kecelakaan jatuh dari tangga akibat baby walker. Selain itu, banyak industri yang memodifikasi ukuran baby walker sehingga melebihi ukuran pintu standar, dengan harapan mengurangi angka kecelakaan. Namun, menurut Child Accident Prevention Trust, semua usaha ini belum terbukti menurunkan jumlah atau derajat keparahan kecelakaan yang terjadi. Jadi, pertimbangkan kembali sebelum memutuskan untuk menggunakan baby walker. Referensi 1. Smith AG, Bowman MJ, Luria JW, Shilds BJ, Baby Walker-related injuries continue despite warning labels and public education. Pediatrics Vol.100 No.2 Agustus 1997. 2. Child Accident Prevention Trust. Baby Walker Factsheet, 2004. Tersedia dalam: www. capt.org.uk SUMBER 5

Baby walker biasanya digunakan orangtua untuk membantu anaknya berjalan. Tapi pada beberapa anak justru membuatnya lebih lambat berjalan. Bermanfaatkah baby walker untuk membantu anak belajar berjalan? "Memang belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa baby walker membuat anak lambat berjalan, tapi risiko anak mengalami trauma terjatuh jika menggunakan baby walker memang tinggi dan sudah banyak penelitiannya," ujar dr Ayu Partiwi, SpA saat dihubungidetikHealth, Senin (11/1/2010). dr Ayu menuturkan secara logika hal tersebut bisa saja membuat anak lambat jalan dikarenakan kurangnya stimulasi yang didapatkan si anak dalam proses perkembangannya. Menurutnya, setiap perkembangan anak itu ada tahapan tersendirinya. Saat usia 6-8 bulan adalah saatnya anak belajar merangkak dan merayap. Tapi jika anak sudah diberikan baby walker, maka tahapan ini akan terlewati dan bisa mempengaruhi perkembangan anak nantinya. Perkembangan pada bayi itu tergantung dari latihannya. Jika anak kurang berlatih, maka bisa jadi tahap perkembangannya menjadi terlambat. Anak yang menggunakan baby walker cenderung membuat anak malas untuk berusaha sendiri, sehingga rangsangan atau stimulasi untuk otot-ototnya menjadi berkurang. Efek negatif lainnya membuat anak menjadi tidak percaya diri untuk berlatih berjalan sendiri tanpa bantuan baby walker. "Stimulasi yang bagus itu harus mencakup semua aspek misalnya otot tangan, kaki dan lainnya. Karena itu semakin banyak gerak yang dilakukan anak dalam proses perkembangannya maka stimulasi yang diberikan ke otaknya juga akan semakin bagus," ungkap dokter yang berpraktik di RS Bunda Menteng, Jakarta Pusat. Selain itu, setiap perkembangan anak memiliki fase kritis tersendiri. Misalnya anak usia 10 bulan saatnya untuk belajar berjalan, jika anak tidak dilatih menstimulasi sendiri maka

kedepannya anak membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa berjalan sendiri. dr Ayu menjelaskan anak yang menggunakan baby walker baisanya hanya menggunakan sedikit tenaga saja tapi bisa meluncur dengan jauh sehingga tenaga yang dibutuhkannya lebih sedikit. Kekurangan lainnya adalah kaki anak biasanya menjadi jinjit, ini karena dengan baby walker telapak kaki anak tidak akan menapak dengan sempurna. Jika hal ini terus berlangsung maka nantinya bisa menjadi kebiasaan bagi anak. "Saya sebagai dokter tidak menganjurkan orangtua untuk menggunakan baby walker bagi anaknya. Karena lebih banyak ruginya dibandingkan dengan manfaatnya. Lebih baik merangsang anak untuk belajar sendiri dengan dibantu oleh orangtua sehingga stimulasi yang didapatkan otak juga lebih banyak dan lebih bagus," tambahnya SUMBER 6
Australia: Di sini baby walker sangat tidak direkomendasi penggunaannya karena banyak kecelakaan terjadi akibat penggunaan yang tidak diawasi dengan ketat. Dengan tidak adanya rekomendasi tersebut, otomatis barang ini jadi langka. Kalaupun ada yang beli dan sampai terjadi kecelakaan, konsumen enggak bisa menyeret produsen ke pengadilan (ibaratnya sudah tahu bahayanya, kok masih dipakai.. yah salah sendiri). Lagi pula kalau si anak udah siap jalan, dia akan jalan kok malah baby walker bikin anak menjadi malas untuk berjalan. . Bunyi surat itu sangat pas mewakili kesadaran orang tua akan bahaya yang bisa ditimbulkan baby walker. Sayang, kesadaran orang tua di Indonesia akan keamanan baby walker yang kurang tampaknya masih minim. Nyatanya di sini baby walker masih saja digunakan, atau setidaknya produk ini masih banyak dijual di pasaran. Padahal, seperti dijelaskan dr. Karel A.L. Staa. M.D., dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta , kalau mau melirik kembali ke negara-negara barat, Amerika katakanlah, soal keamanan baby walker ini sudah menjadi ajang perdebatan seru sejak lama. Sampai-sampai, desain alat bantu belajar jalan ini, tidak pernah sama dari tahun ke tahun dan diberi semacam masa kedaluwarsa oleh pihak pemerintahnya. Jika setelah diteliti, desainnya dianggap tidak cukup baik untuk bayi, anjuran pemakaiannya akan ditinjau kembali bahkan kalau perlu dihapuskan. Pada tahun 1997, umpamanya, desain baby walker pernah diubah menjadi lebih besar dari ukuran sebelumnya dengan maksud agar benda itu tidak bisa menerobos pintu rumah Sayang, ukuran yang diubah tersebut tetap tidak dapat mencegah terjadinya kecelakaan lain. Oleh karena alasan inilah akhirnya produksi baby walker di negeri Paman Sam tersebut dihentikan. Sementara desain baby walker yang beredar di Indonesia merupakan desain kuno yang sebenarnya sudah ditinggalkan di negara

asalnya, ujar Karel. Akhirnya, kecelakaan pada bayi yang sudah dialami beberapa tahun lalu di Amerika Serikat sampai kini masih terjadi di Indonesia. TERKESAN PRAKTIS Lalu kenapa dong alat bantu jalan ini tetap diminati? Menurut Karel karena baby walker secara sekilas terkesan praktis. Si kecil tinggal dimasukkan ke dalamnya, lalu ia pun bisa berjalan ke sana kemari dengan leluasa. Bagi bayi berusia 7-12 bulan yang sedang tidak bisa diam dan tengah melatih kemampuannya berjalan, baby walker merupakan penyelamat tenaga orang tua. Bukankah dengan begitu orang tua jadi tak perlu capek-capek menatih si kecil? Apalagi di balik bahaya tersembunyi yang ada, baby walker tampak sebagai benda yang bermanfaat. Ketika bayi duduk atau berdiri dalam baby walker-nya, ia bisa menggerakkan kaki-kakinya dengan lincah. Jadilah orang tua berpikir, Ah, kaki anakku jadi terlatih untuk bergerak. Ini kan baik untuk persiapan fase berjalannya! Namun, alasan penggunaan baby walker yang paling utama biasanya berkaitan dengan upaya mengatasi keinginannya bergerak ke sana kemari. Dengan bisa bergerak leluasa ia menjadi lebih tenang dan tidak bosan. Sementara bagi orang tua, ketenangan si bayi memberi kesempatan kepadanya untuk mengurus berbagai pekerjaan rumah tangga tanpa harus mendampingi si kecil setiap saat. RIBUAN KASUS Kenyataannya, menurut penelitian di Amerika Serikat sekitar 14.000 kasus bayi masuk rumah sakit diakibatkan oleh kecelakaan saat menggunakan baby walker. Antara lain karena si kecil suka bereksplorasi ke setiap sudut rumah, komposisi roda yang tidak mendukung keamanan, komposisi rangka kurang kokoh, dan bentuknya yang membuat anak rentan jatuh. Namanya juga bayi, tentu saja ia belum bisa mengenal situasi lingkungan; belum bisa membedakan mana permukaan curam atau landai, tangga atau lantai, benda berbahaya atau aman. Inilah beberapa kecelakaan yang sering terjadi akibat penggunaan baby walker:

Menggelinding di tangga kecelakaan ini kemungkinan besar mengakibatkan patah tulang dan luka serius pada kepala. Terkena benda panas ketika duduk dalam baby walker anak jadi bisa meraih benda-benda yang dapat membahayakan dirinya. Contohnya secangkir kopi panas di atas meja.

Tenggelam tanpa disadari anak meluncur (dengan menggunakan baby walker-nya) ke dalam kolam renang, bath tub, atau toilet lalu tercemplung.

Meraih obyek berbahaya dengan baby walker, anak lebih mudah meraih obyek berbahaya seperti gunting, pisau, atau garpu yang tergeletak di atas meja misalnya. Terjepit ketika melewati permukaan yang bercelah, kaki bayi bisa terjepit dan

terkilir. Tangannya juga bisa saja terjepit saat meraih celah daun pintu. Yang mengejutkan, penelitian menyatakan bahwa mayoritas kecelakaan baby walker terjadi ketika orang tua atau pengasuh sedang mengawasi anaknya. Mengapa demikian? Karena kita seringkali kalah cepat dengan kecepatan bayi dalam baby walker yang dapat meluncur lebih dari 1 meter dalam 1 detik. Untuk itulah baby walker sama sekali tidak aman untuk digunakan, meskipun di bawah pengawasan orang dewasa. MENYEBABKAN KELAINAN KAKI Karel masih menambahkan soal penggunaan baby walker yang dari sisi medis pun tidak cukup bermanfaat, malah cenderung merugikan. Soalnya, aktivitas motorik yang terjadi pada saat anak menggunakan baby walker hanya melibatkan sebagian serabut motorik otot saja, yaitu otot-otot betis. Padahal untuk bisa berjalan dengan lancar dan benar, fungsi otot paha dan otot pinggul juga perlu dilatih. Kemampuan berjalan, lanjut Karel, merupakan salah satu keterampilan motorik kasar (gerakan yang dihasilkan oleh koordinasi otot-otot besar), yang umumnya harus sudah bisa dilakukan anak 1 tahun dengan toleransi waktu 3 bulan. Bila proses pelatihannya tidak benar maka akan membuat anak justru jadi lambat berjalan. Sebaliknya, semakin intensif dan tepat stimulasi fisiknya maka perkembangannya pun semakin pesat. Bila dibarengi dengan asupan gizi yang seimbang, mungkin saja di usia 9-10 bulan bayi sudah bisa berjalan. Jadi manfaat pemakaian baby walker tidak cukup membantu anak latihan berjalan. Di tempat berbeda Dra. Jacinta F. Rini, M.Si., dari e-psikologi. com, menambahkan, secara psikologis penggunaan baby walker memang tidak menguntungkan, Secara psikologis baby walker akan membuat anak malas untuk belajar berjalan sendiri karena anak sudah keburu merasa enak bisa bergerak ke mana pun tanpa harus susah payah menjejakkan kakinya. Penggunaan baby walker bahkan dicurigai bisa mengakibatkan kelainan kaki pada anak. Memang belum ada penelitian yang menunjang. Namun, kenyataan bahwa bayi duduk sambil mengangkang dalam baby walkernya diduga bisa menyebabkan kelainan tulang paha. Nah, berdasarkan pemahaman inilah, banyak ahli menduga penggunaan baby walker dapat menyebabkan anak berjalan seperti bebek alias agak mengangkang. Terbiasa berjalan dengan baby walker juga bisa menimbulkan kelemahan otot-otot tungkai. Ketika diajarkan berjalan anak cenderung jatuh yang akhirnya sering

membuatnya trauma dan tidak mau mencoba melakukannya lagi sehingga kemampuan berjalannya pun menjadi lebih lambat. ALAMI LEBIH BAIK Jadi menurut Karel, tinggalkan baby walker. Juga, ketimbang mencari-cari alternatif alat bantu jalan lainnya, ia lebih menyarankan agar si kecil diajak berenang, karena dengan begitu semua otot tubuhnya bergerak, dari otot kaki, lengan, dan leher. Kalaupun tidak, cara melatih anak berjalan yang terbaik adalah yang alami. Sangat baik anak belajar berjalan secara alami karena dapat melatih 100 persen serabut motorik otot. Mulai otot betis, paha, maupun pinggul. Bila keseluruhan serabut otot dilatih maka anak bisa berjalan dengan lebih baik. Jadi secara medis lebih menguntungkan kalau kita pakai cara alami daripada cara penunjang. Meskipun si kecil harus jatuh bangun, anggaplah hal ini sebagai pelajaran dari pengalamannya sendiri. Yang patut dicermati, sebaiknya latihan berjalan dilakukan dengan bertelanjang kaki. Cara ini akan melatih jari-jari kakinya agar lebih terkoordinasi. Tentu, lantainya pun harus bersih dari partikel atau benda yang dapat melukainya. Juga hindari lantai yang terlalu licin karena bisa membuatnya terpeleset yang mungkin saja membuat anak trauma dan takut dilatih berjalan. TAHAP PERKEMBANGAN KEMAMPUAN FISIK ANAK S udah seharusnya, orang tua mengetahui tahap demi tahap proses perkembangan kemampuan fisik anak sehingga bila terjadi keterlambatan pertumbuhan kita bisa segera mendeteksinya. Berikut, perkembangan motorik kasar anak secara garis besar: 0 - 1,5 bulan: Sudah bisa mengangkat kepala sekitar 45 derajat. 1,5 - 3,5 bulan: Kemampuan mengangkat kepalanya meningkat sampai 90 derajat. Kemudian bila bayi didudukkan dengan disandarkan ke tubuh kita maka kepalanya harus sudah bisa tegak. 3,5 - 4,5 bulan: Sudah bisa mengangkat dadanya bila diposisikan tengkurap. Bayi pun sudah bisa melakukan tengkurap sendiri dan membolak-balik tubuhnya. 5 bulan: Bayi sudah dapat duduk dengan hanya ditopang punggungnya. 6 - 8 bulan: Sudah dapat duduk sendiri tanpa bantuan. Di usia ini pun kebanyakan bayi sudah mulai belajar merangkak. Namun, merangkak bukan merupakan tonggak perkembangan utama. Bila bayi tidak merangkak maka bukan suatu kelainan karena beberapa bayi yang tidak melaluinya terbukti mengalami perkembangan motorik yang normal.

7,5 - 10 bulan: Bayi sudah mulai berusaha belajar berdiri dengan berpegangan pada tepi meja atau kursi. Beberapa anak ada yang sudah mulai belajar berjalan dengan cara merambat maupun berjalan beberapa langkah. 12 - 15 bulan: Anak sudah bisa berjalan tanpa harus berpegangan

SUMBER 8

Dulu, saat adik saya masih bayi dan mulai senang bergerak cepat, ibu saya membelikannya baby walker untuk belajar berjalan. Kata ibu, sangat lelah mengawasi geraknya yang luar biasa itu. Apalagi, ada anak lain yang lebih tua yang juga butuh diawasi setiap saat. Adik bayi saya pun tampak senang dapat melesat cepat dan menyambar ini itu. Kala itu, saya berpikir, kelak jika saya menjadi seorang ibu, saya juga akan membelikan anak saya baby walker, itu pasti akan mempermudah kerja saya untuk membantunya cepat berjalan. Tetapi, sepertinya saya harus mengubah niatan saya itu. Baby walker memang sudah menjadi tradisi para ibu untuk membantu bayinya berjalan. Namun, penemuan baru-baru ini menyatakan bahwa penggunaan baby walker ternyata lebih banyak bahayanya daripada manfaatnya. Memang, memberikan baby walker pada bayi dapat membuatnya lebih senang, serta memberikan mobilitas kepadanya. Akan tetapi, apakah keamanan bagi bayi terjamin? Dan apakah penggunaanbaby walker ini benar-benar dapat membuat bayi berjalan lebih cepat? Ternyata tidak. Berikut adalah beberapa resiko yang menjadi fakta mengapa baby walker berbahaya bagi bayi Anda: 1. Jatuh. Sebuah penelitian mengemukakan bahwa di negara maju, hampir 90% dari kecelakaan saat bayi menggunakan baby walker adalah jatuh, baik itu jatuh terjungkal di lantai datar maupun jatuh terjungkal di tangga. Ini tentunya sangat berbahaya bagi bayi Anda, karena dapat menyebabkan patah tulang dan cedera kepala berat, atau bahkan parahnya, kematian.

2. Tersandung dan terjepit. Usia bayi tentu belum dapat mengontrol kecepatan geraknya. Ketika ia merasa senang karena ia dapat bergerak dengan sangat cepat, maka biasanya mereka akan mencoba unjuk gigi tanpa mempertimbangkan bahwa daerah tempatnya bergerak banyak terdapat benda-benda berserakan yang dapat membuatnya tersandung. Atau, ketika ia bergerak sangat cepat, ia bisa terjepit oleh baby walkernya sendiri. 3. Terluka atau terbakar. Ketika berada di baby walker-nya, bayi tentu dapat menjadi lebih tinggi. Dengan demikian, ia dapat meraih benda-benda yang sebelumnya tidak dapat ia raih. Ia dapat menarik taplak meja dan memecahkan vas bunga, dapat menarik cangkir kopi panas yang Anda letakkan di meja, dsb. 4. Tenggelam. Ini berlaku bagi Anda yang memiliki kolam atau kolam renang di rumah. Ketika Anda lalai, bisa saja bayi Anda meluncur dengan cepat tanpa mampu mengerem lajunya sehingga jatuh ke dalam kolam dan tenggelam. 5. Lebih lambat berjalan. Kebanyakan dari kita percaya bahwa menggunakan baby walker akan membuat bayi lebih cepat berjalan. Tapi, ternyata hal tersebut dibantah oleh beberapa peneliti di Amerika. Mereka mengemukakan bahwa penggunaan baby walker justru dapat memperlambat bayi berjalan selama beberapa minggu dibandingkan bayi yang belajar berjalan secara alami. Mereka juga mengemukakan bahwa perkembangan motorik dan mental anak-anak dengan baby walker ternyata lebih lambat daripada anakanak yang berjalan dengan cara alami. Selain itu, baby walker ternyata dapat membuat para bayi menjadi malas belajar berjalan! Penggunaan baby walker ini memang masih kontroversial. Sebagai seorang ibu yang sangat sibuk dengan urusan rumah tangga, apalagi ditambah jika Anda bekerja, tentu tidak mudah mengurus dan mengawasi bayi Anda setiap saat. Kita selalu ingin yang praktis, selalu ingin yang mudah, dan ingin dapat menghemat energi. Beberapa dari kita mungkin akan berkilah, saya selalu mengawasinya atau saya tidak membiarkannya bergerak sendiri atau saya sudah memastikan tempatnya aman untuk bergerak, dsb. Tetapi, apakah Anda dapat menjamin keselamatannya? Bahkan meski orangtua mengawasi, walker sangat meningkatkan kemungkinan anak jatuh, terutama di sekitar , kata Dr Joan Shook, kepala Layanan Pengobatan Darurat di Texas Childrens Hospital. Hampir setengah dari anak-anak yang menggunakan baby walker terluka. tandasnya.

Tidak ada salahnya jika kita sejenak mempertimbangkan fakta yang diberikan oleh American Academy of Pediatrics (AAP) :

Lebih dari 20.000 anak (bayi usia 5-15 bulan) dikirim setiap tahunnya ke Rumah Sakit karena kecelakaan akibat memakai baby walker.

lebih dari 34 anak meninggal setiap tahunnya sejak tahun 1973 karena menggunakan baby walker

Karena fakta inilah maka AAP mengeluarkan larangan untuk pembuatan dan penjualan baby walker dengan roda. Dan meski kini berkembang baby walker dengan model tanpa roda, atau bahkan membuat ukurannya lebih besar dari ukuran pintu normal, atau bahkan membuatnya otomatis berhenti saat salah satu roda tidak menginjak tanah, tetap saja ini belum dapat mengurangi resiko cedera pada bayi Anda. Kita memang membutuhkan waktu serta tenaga yang lebih ekstra dalam membimbing anak belajar berjalan secara alami. Menatihnya selangkah demi selangkah, mengawasinya setiap saat ia bergerak, dsb. Melelahkan, memang. Tapi, itulah tugas kita sebagai orangtua. Rasa lelah itu akan terbayar dengan rasa aman dan resiko bahaya yang jauh lebih kecil. Selain itu, rasa lelah kita tentu berpahala dengan keikhlasan dan kesabaran kita