Anda di halaman 1dari 11

PEMBUKA 1. A.

LATAR BELAKANG Menurut Tarigan (1989:270), munculnya pendekatan komunikatif dalam pembelajaran Bahasa bermula dari adanya perubahan dalam tradisi pembelajaran bahasa di Inggris pada tahun 1960-an, yang saat itu menggunakan pendekatan situasional, Bahasa diajarkan dengan cara mempraktikkan/ melatihkan struktur dasar dalam berbagai kegitan berdasarkan situasi linguistik. Kemudian pendekatan itu ditolak oleh Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1960-an dan para pakar linguistik mulai mempermasalahkan asumsi yang mendasari pengajaran bahasa situasional. Sehingga mereka menekankan pada dimensi fundamental bahasa yang tidak mendapatkan perhatian yaitu adanya aspek fungsional dan komunikatif dalam berbahasa. Adapun latar belakang munculnya pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa, diantaranya sebagai berikut : 1) Ketidakpuasan akan beberapa teori bahasa ; tradisional, struktural, dan mentalistik yang menekankan pada pembelajaran bahasa pada teori bahasa. 2) Adanya penekanan kurikulum dan kepentingan humaniora. Akibat dari kondisi ini,

peserta didik secara teori mampu mengusai ilmu bahasa tetapi penggunaan bahasa dalam komunikasi masih kurang. 3) Muncul pendekatan komunikatif tahun 1980. Kemunculan pendekatan ini membawa angin segar dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas Pendekatan pembelajaran terpadu merupakan salah satu implementasi kurikulum yang dianjurkan untuk diaplikasikan pada jenjang pendidikan dasar. Pembelajaran ini pada hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan otentik (Puskur, 2006:1). Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata

pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu siswa akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. 1. B. 1) 2) 3) RUMUSAN MASALAH

Apakah yang dimaksud dengan pendekatan komunikatif ? Apakah yang dimaksud dengan pendekatan terpadu ? Bagaimanakah cara penerapan pendekatan terpadu ? 1. C. TUJUAN PENULISAN

1) 2) 3)

Memahami pendekatan komunikatif Memahami pendekatan terpadu Memahami cara penerapan pendekatan terpadu

PEMBAHASAN 1. A. Pendekatan komunikatif Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam komunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa.Pendekatan komunikatif ada sebagai reaksi terhadap pembelajaran yang terlalu menekankan pada struktur sehingga mengabaikan fungsi bahasa sebagai fungsi komunikatif.Pendekatan komunikatif adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk membuat kompetensi komunikatif sebagai tujuan pembelajaran bahasa, juga mengembangkan prosedur-prosedur bagi pembelajaran empat keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, berbicara, dan menulis), mengakui dan menghargai saling ketergantungan bahasa.Penerapan pendekatan komunikatif sepenuhnya dilakukan oleh siswa (student centre) sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. Dengan demikian siswa akan mampu bercerita, menanggapi masalah, dan mengungkapkan pendapatnya secara lisan dengan bahasa yang runtut dan mudah dipahami.Jadi pembelajaran yang

komunikatif adalah pembelajaran bahasa yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan yang memadai untuk mengembangkan kebahasaan dan menunjukkan dalam kegiatan berbahasa baik kegiatan produktif maupun reseptif sesuai dengan situasi nyata, bukan situasi buatan yang terlepas dari konteks. Menurut Littlewood (1991) pemikiran pendekatan komunikatif didasarkan pada pemikiran bahwa: 1. Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang lebih luas tentang bahasa. Hal ini menyebabkan orang melihat bahwa bahasa tidak terbatas pada tata bahasa dan kosakata, tetapi juga pada fungsi komunikatif bahasa. 2. Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang luas dalam pembelajaran bahasa. Hal ini menimbulkan kesadaran bahwa mengajar bahasa tidak cukup dengan memberikan kepada siswa bentuk-bentuk bahasa asing,tetapi siswa harus mampu mengembangkan caracara menerapkan bbentuk-bentuk itu sesuai dengan fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi dalam situasi dan waktu yang tepat. Sehubungan dengan pendapat tersebut, dikemukakan beberapa alternative teknik pembelajaran bahas. Dalam kegiatan belajar mengajar siswa diberikan latihan antara lain sebagai berikut: 1. Memberi informasi secara terbatas Contoh 1. Mengidentifikasi gambar Dua orang siswa ditugasi mengadakan percakapan (Tanya jawab) tentang benda-benda yang terdapat di dalam gambar yang disediakan oleh guru. Pertanyaan dapat berupa mengenai warna,jumlah,bentuk, dan sebagainya. 1. Menemukan/ mencari pasangan yang cocok Guru memberikan gambar kepada sekelompok siswa yang masing-masing mendapat sebuah gambar yang berbeda. Seorang siswa yang lain (di luar kelompok ) diberi duplikat salah satu gambar yang telah dibagikan. Siswa ini hahrus mengajukan pertanyaan pertanyaan kepada teman-teman yang membawa gambar dengan tujuan untuk mengetahui identifikasi atau ciri-cirigambar yang mereka bawa. Dari hasil Tanya jawab itu siswa(

pembuka duplikat) harus menemukan sisap diantara teman-teman yang membawa gambar yang cocok dengan duplikat yang dibawanya. 1. Menemukan informasi yang ditiadakan Guru memberi informasi, ada bagian-bagian yang sengaja ditiadakan. Siswa ditugasi mencari atau menemukan bagian yang tidak ada itu. Kemudian siswa A mengajukan pertanyaan kepada siswa B, sehingga siswa A dapat mengetahui gambar yang tidak ada pada gambar milik B. 1. Memberi informasi tanpa dibatasi ( tak tebatas) Contoh 1. Mengkomunikasikan contoh dan gambar Siswa A membawa sebuak model bentuk-bentuk yang diatur atau disusun menjadi sebuah contoh. Siswa B juga membawa bentuk- bentk yang sama. siswa A dan B harus saling memberikan informasi. 1. Menemukan perbedaan Siswa A dan B masing-masing mempunyai sebuah gambar yang sama, kecuai beberapa bagian. Para siswa harus mendiskusikan gambar tersebut sehingga menemukan perbendaan. 1. Menyusun kembali bagian-bagian cerita Sebuah gambar cerita ( tanpa dialog) dipotong-potong. Setiap anggota kelompok memegang satu bagian tanpa mengetahui bagian gambar yang dipegang oleh siswa yang lain. Kelompok itu harus menentukan urutan aslinya dan menyusun kembali cerita. 1. Mengumpulkan informasi untuk memecahkan masalah Contoh Siswa A mempunyai rencana akan mengunjungi sebuah kota yang menarik. Siswa B mempunyai daftar atau jadwal bus. Mereka harus merencanakan perjalanan yang akan dilakukan yang memungkinkan mereka mengunjungi beberapa tempat ( misalnya 5

tempat) dalam satu hari dan menggunakan waktu sekurang-kurangnya setengah jam untuk setuap tempat. Siswa harus memilih tempat yang paling menarik. 1. Menyusun informasi Contoh Siswa diminta membayangkan bahwa mereka akan mengadakan camping( berkemah) di gunung selam 3 hari. Tiap kelompok hanya bisa membawa barang-barang kira-kira 11 kg. Kelompok-kelompok itu harus menentukan apa saja yang akan mereka bawa dengan melihat barang yang patut dibawa yang diberikan oleh guru dan mempersiapkan pembelaan apabila mereka ditendang oleh kelompok lain. Latihan latihan tersebut merupakan latihan penggunaan bahasa dalam aktivitas komunikasi yang bersifat fungsional di dalam kelas. Disamping itu terdapat tipe aktivitas komunikasi yang lain, yakni aktivitas interaksi social, interaksi di dalam masyarakat atau dalam pergaulan. Dalam hal ini latihan yang diberikan kepada siswa antara lain dapat berupa: 1. Kelas sebagai konteks social Contoh : percakapan atau diskusi 1. Simulasi dan bermain peran Contoh 1. Siswa diminta membayangkan dirinya ada di dalam situasi yang ada di luar kelas. Ini dapat berupa kejadian yang sederhana, misalnya bertemu dengan seorang teman di jalan. Dapat juga kejadian yang bersifat kompleks seperti negosiasi di dalam bisnis. 2. Siswa diminta memilih peran tertentu di dalam suatu situasi. Dalam beberapa kasus mungkin mereka berlaku sebagai dirinya sendiri, tetapi dalam kasus-kasus lain mereka harus memperagakan sesuatu di dalam simulasi. 3. Siswa diminta berbuat seperti dalam situasi yang benar-benar terjadi sesuai dengan peran mereka masing-masing.

Bermain peran ini tidak selalu dalam bentuk akting tetapi dapat juga dalam bentuk debat atau improviasasi. Ciri-ciri pendekatan Komunikatif 1. Adanya kegiatan komunikasi fungsional dan interaksi sosial yang saling berkaitan erat 2. Pembelajaran berorientasi pada pemerolehan kompetensi komunikatif, bukan ketepatan gramatikal 3. Pembelajaran diarahkan pada modifikasi dan peningkatan murid dalam menemukan kaidah bahasa lewat kegiatan berbahasa 4. Materi pembelajaran berangkat dari analisis kebutuhan berbahasa pembelajar Di dalam kompetensi komunikatif terdapat beberapa unsur yang perlu di-miliki pemakai bahasa. Unsur-unsur tersebut menurut Swain (dalam Syafiie, 1994) sebagai berikut: 1. Pengetahuan dan sistem kaidah gramatikal yang meliputi ejaan, fonologi, morfologi, sintaksis, dan penguasaan kosa kata. 2. Penguasaan segi-segi sosiolinguistik berupa memahami kesesuaian penggunaan berbagai kosa kata dan kaidah gramatikal untuk digunakan dalam berbagai fungsi komuni-kasi seperti persuasi, narasi, eksposisi, argumentasi, deskripsi, memberi perintah dan sebagainya. Penguasaan segi sosiolingusitik juga berupa kemampuan memilih ragam bahasa yang tepat dalam berkomunikasi dengan memperhatikan topik, hu-bungan antar peran komunikasi, suasana, serta lancar komunikasi 3. Penguasaan kewacanaan berupa kemampuan menyusun gagasan-gagasan dalam bentuk turunan yang kohesif dan koheren, dan 4. Penguasaan strategi komunikasi, berupa ke-mampuan menggunakan strategi nonverbal untuk mengatasi berbagai kesenjangan yang terjadi di antara pembicara atau penulis dengan pendengar atau pembaca. Kesenjangan itu memungkinkan disebabkan oleh penguasaan bahasa yang kurang, kurangnya penguasaan konsep-konsep materi yang disampaikan, hubungan yang kurang antara pembicara atau penulis dengan pendengar atau pembaca.

Dengan pembelajaran komunikatif, siswa diharapkan mangusai kompetensi komunikatif. Karakteristik kompetensi Komunikatif 1. Bersifat dinamis. Kompetensi bahasa selalu berubah-ubah menuju ke arah kemajuan sesuai dengan kemajuan dan berkembangan bahasa. 2. Meliputi bahasa lisan dan tulis. Siswa dianggap memiliki kompetensi bahasa apabila mereka menguasai bahasa secara lisan dan tulisan baik dalam tataran reseptif maupun produktif. 3. 4. Bersifat kontekstual sesuai dengan kondisi yang ada. Meliputi kompetensi bahasa dan performansi bahasa Pendekatan Terpadu A. Pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa Pendekatan terpadu merupakan pendekatan yang dilandaskan oleh pemikiran bahwa dalam penggunaanya bahasa tidak pernah dipisahkan oleh aspek-aspeknya.Aspek aspek itu dalam penggunaan praktik berbahasa selalu digunakan secara bersam-sama dan terpadu baik aspek kebahasaan maupun aspek keterampilan bahasa. Filsafat bahasa terpadu dalam pembelajaran menjanjikan tidak hanya hal cara guru mengajar membaca dan menulis,tetapi cara mereka memandang diri mereka sendiri. Pembelajaran bahasa secara terpadu menaruh penghargaan terhadap bahasa dan dengan seksama meningkatkan penguasaaan bahasa siswa. Selanjutnya, Yeager mengemukakan beberapa hal yang penting,yang terjadi di dalam kelas dengan bahasa terpadu antara lain: 1. Siswa banyak bergaul dengan literatur ( bacaan) 2. Siswa merasakan peningkatan dalam belajarnya dan memperlihatkan kesanggupan belajar yang tinggi. 3. Guru-guru berinteraksi dnegan siswa, baik sebagai pembaca maupun penulis. 4. Guru memperlihatkan perhatiannya terhadap bacaan dan penulisan pada umumnya. Penerapan pembelajaran bahasa terpadu sebenarnya memang memerlukan perlengkapan yang memadai,setidak-tidaknyaada perpustakaan yang menyediakan buku-buku yang cukup untuk memenuhi kebutuhan siswa dan guru dan lebih utama lagi jika sekolah memiliki laboratorium atau kelas-kelass khusus. Namun dengan kondisi sekolah yang

5. Bersifat relative 1. B.

sederhana guru harus mampu melaksanakan pembelajaran secara terpadu asalkan guru tersebut selalu berusaha mempersiapkan diri dan siswanya dengan baik. 1. Pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia Materi dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang perlu diberikan kepada siswa SD mencakup: 1) Lafal dan intonasi,berkaitan dengan keteranpilan membaca dan keterampilan

berbicara serta menyimak. 2) 3) 4) Ejaan dan tanda baca, berkaitan dengan keterampilan membaca dan menulis. Struktur, berkaitan dengan keempat jenis keterampilan berbahasa Kosakata, berkaitan dengan semua aspek lain,baik aspek keterampilan bahasa

maupun struktur. 1. Penerapan pendekatan terpadu Dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas-kelas rendah ( 1 dan2), keterampilan itu dapat diwujudkan sebagai berikut: 1) Ketika guru mengajarkan membaca kata atau kata-kata sekaligus, guru mengajarkan

bagaimana melafalkannya dengan tepat. Dalam hal ini guru harus mengaitkan kegiatan membaca dan pemahaman tentang lafal atau ucapan yang tercakup dalam tata bunyi. 2) Ketika guru mengajarkan menulis kalimat atau kata-kata sekaligus, guru juga

mengajarkan bagaimana membacanya,melafalkannya dan bagaimana pula ejaannya. 3) Pada waktu guru mengajarkan membaca kalimat sekaligus ia mengajarkan pula

bagaimana intonasinya, pelafalannya,tanda baca yang ada dalam bacaan dan bagaimana membaca kalimat itu dengan memperhatikan tanda-tanda baca yang ada dalam bacaan. selain itu guru berkesempatanmenambahkan kosakata siswa,dan pada waktu guru memberikan contoh maka siswa harus menyimak.

4)

Pada saat guru mengajarkan menulis kalimat,sekaligus ia mengajarkan

ejaan,bagaimana cara menggunakan tanda baca dalam kalimat seperti titik,koma,dan tanda Tanya. Selain itu siswa juga diminta membaca kalimat-kalimat yang telah mereka buat, sedangkan siswa tidak membaca mendengarkan dengan baik. Jika demikian maka telah ada pemaduan antara menulis,membaca dan menyimak. Akan tetapi dalam hal ini ditekankan pada keterampilan menulis. 5) Pada waktu guru mengajarkan keterampilan berbicara sekaligus ia mengajarkan

intonasi, lafal dan menyimak.mungkin juga setelah seorang siswa bercerita dan siswa yang lain mengemukakan isi cerita itu secara singkat. Dengan demikian pada waktu salah seorang siswa bercerita, teman-teman yang lain benar-benar menyimak. 6) Keterampilan meyimak dapat dipadukan dengan keterampilan berbicara maupun

keterampilan menulis. Pada pembelajaran menyimak,guru juga dapat menyelipkan katakata yang bagi siswa merupakan kata-kata baru, sehingga menambah perbendaharaan kata mereka. Jika denmikian, berarti guru telah memadukan menyimak,berbicara,menulis,dan menambah kosakata siswa. 7) Pada waktu mengajarkan kata-kata baru,guru harus selalu ingat bahwa kata-kata

tersebut harus masuk dalam konteks kalimat atau bacaan. Jadi,guru mengajarkan kata baru sekaligus mengajarkan bagaimana penggunaannya dalam kalimat. Dalam hal ini pemaduan antara kosakata keterampilan berbahasa terstruktur. 8) Pemaduan dengan bidang-bidang studi yang lain seperti IPS,IPS dan matematika

dilakukan melalui penyajian tema dan materi berkaitan dengan bidang studi tersebut. Di kelas kelas tinggi pembelajaran aspek-aspek keterampilan berbahasa diberikan secara terpadu, misalnya: 1. Menyimak dan berbicara 2. Membaca dan menulis 3. Membaca dan menyimak 4. Membaca dan menulis. Prinsip-prinsip Pembelajaran Bahasa Indonesia secara Terpadu

Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa secara terpadu di sekolah dasar, terutama pada saat penggalian tema-tema, pelaksanaan pembelajaran, dan pelaksanaan penilaian. Dalam proses penggalian tematema perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut 1. Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan untuk memadukan mata pelajaran. 2. Tema harus bermakna, maksudnya tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya. 3. Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. 4. Tema yang dikembangkan harus mampu menunjukkan sebagian besar minat siswa. 5. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar. 6. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat. 7. Tema yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar. Dalam proses pelaksanaan pembelajaran bahasa secara terpadu perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut 1. Guru hendaknya tidak bersikap otoriter atau menjadi single actor yang mendominasi aktivitas dalam proses pembelajaran. 2. Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerjasama kelompok. 3. Guru perlu bersikap akomodatif terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam perencanaan pembelajaran. Dalam proses penilaian pembelajaran bahasa secara terpadu perlu diperhatikan prinsipprinsip sebagai berikut. 1. Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri (self-evaluation) di samping bentuk penilaian lainnya. 2. Guru perlu mengajak para siswa untuk menilai perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan atau kompetensi yang telah disepakati. 1. D. PENUTUP A. Simpulan

Pendekatan komunikatif adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk membuat kompetensi komunikatif sebagai tujuan pembelajaran bahasa, juga mengembangkan prosedur-prosedur bagi pembelajaran empat keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, berbicara, dan menulis), mengakui dan menghargai saling ketergantungan bahasa.Jadi, pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali dan mengemukakan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan otentik. 1. Saran Masalah pembelajaran yang dihadapi para pendidik saat ini semakin kompleks. Untuk itu para pendidik khususnya para guru di SD diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam menciptakan dan mengembangkan model-model pembelajaran, agar dapat menunjang terciptanya proses belajar mengajar di kelas yang lebih bermakna dan menyenangkan bagi peserta didik. DAFTAR PUSTAKA http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/25/aneka-pendekatan-dalam-pembelajaran-bahasa449111.html http://www.serbiserbi.com/sifat-benda-padat.html Zuchdi Darmiyati,dkk.2001. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.Jogjakarta. Pas
http://mardiatiaceh.wordpress.com/2013/05/09/makalah-bahasa-indonesia-2/