Anda di halaman 1dari 5

Surat Kabar Harian SUARA MERDEKA, terbit di

Semarang, Edisi 17 November 1988





KETEKNIKAN DESA UNTUK TEKAN
PENGANGGURAN
Oleh : Ki Supriyoko




Isyu ketenagakerjaan di Indonesia yang senantiasa aktual dalam beberapa tahun
terakhir ini adalah masalah pengangguran. Relatif tingginya angkatan kerja di satu
pihak, dan terbatasnya lapangan kerja yang telah dibuka pada pihak yang lain telah
menyebabkan munculnya kaum tuna kerja dalam jumlah yang relatif tinggi pula.

Dari tahun ke tahun jumlah kaum tuna kerja alias penganggur cenderung
meningkat, dan akhirnya berubah men jadi kompleksitas ketenagakerjaan yang
menghambat berputarnya roda-roda pembangunan nasional yang tengah kita
jalankan.

Presiden Soeharto baru-baru ini kembali mengamanatkan agar supaya
dilaksanakan usaha-usaha yang maksimal untuk menghindari meningkatnya angka
pengangguran di negeri yang tercinta ini; dengan ungkapan lain perlu dilakukan
usaha-usaha yang maksimal untuk menekan angka pengangguran tenaga potensial di
negara kita sampai pada bilangan yang sekecil mungkin.

Pengangguran dan setengah pengangguran merupakan salah satu bentuk
pemborosan sumber daya yang paling potensial, serta akan menurunkan daya beli
masyarakat yang kemudian dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab
itu menghindari pengangguran berarti secara langsung dapat mempercepat
pertumbuhan ekonomi.


Pengangguran Tinggi

Berbicara tentang pengangguran di negara kita memang sangat menarik, karena
dewasa ini negara kita masih termasuk salah satu "anggota" dari negara-negara
dengan tingkat pengangguran yang tinggi.

Berdasarkan Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) pada thn 1985 yang lalu
di Indonesia terdapat 62.457.138 angkatan kerja produktif. Akan tetapi dari
keseluruhan jumlah tersebut yang benar-benar bekerja secara penuh, yaitu dengan
2
kriteria bekerja 35 s/d 60 jam per minggu, hanya sebanyak 35.804.329 orang saja.
Jadi, kalau dipersentasekan maka jumlah tenaga kerja yang bekerja secara penuh
hanya 57,3% dari keseluruhan angkatan kerja.

Angka tersebut sekaligus mengisyaratkan bahwa di negara kita masih terdapat
kaum tuna kerja yang relatif tinggi; yaitu sebanyak 26.652.809 orang, terdiri dari
para 'tuna kerja tidak kentara' bagi yang bekerja kurang dari 35 jam pada tiap
minggu-nya, serta para 'tuna kerja kentara' bagi yang tidak atau belum mempunyai
pekerjaan sama sekali.

Jumlah tersebut tentunya sangat tinggi mengingat bahwa pada awal tahun 80-an
angkanya masih berkisar pada bilangan 19.000.000 orang.

Tingginya angka pengangguran di negara kita juga dapat diamati pada "sirkulasi
kerja" yang terjadi dalam departemen tenaga kerja, Depnaker; dalam artian jalannya
arus pendaftaran tenaga kerja, permintaan tenaga kerja, serta penempatan tenaga
kerja.

Di dalam pidato pertanggungjawaban presiden RI di depan sidang umum MPR
tanggal 1 Maret 1988 yang lalu dilaporkan bahwa pada tahun 1987/88 (data dihitung
sampai Desember 1987) yang lalu, jumlah pendaftar kerja secara nasional pada
Depnaker mencapai 566.324 orang; sedangkan permintaan tenaga kerja hanya
sebanyak 88.468 orang. Setelah melalui prosedur dan tata cara seleksi akhirnya
hanya sebanyak 60.026 orang yang berhasil ditempatkan pada pos-pos kerja di
lapangan.

Hal tersebut berarti bahwa Depnaker baru berhasil menempatkan 10,6% dari
seluruh pencari kerja yang secara resmi mendaftarkan diri melalui Depnaker. Angka
yang kecil, tetapi tidak mungil. Angka ini akan menjadi lebih kecil lagi apabila
pencari kerja yang "enggan" mendaftar pada Depnaker ikut diperhitungkan di
dalamnya.

Ilustrasi-ilustrasi tersebut di atas menunjukkan betapa masih tingginya angka
pengangguran di negara kita saat ini.


Lembaga Keteknikan

Masalah pengangguran memang bukan monopoli negara kita; banyak negara-
negara lain yang "dipusingkan" oleh masalah yang sangat kompleks ini, tidak
terkecuali bagi beberapa negara yang sudah termasuk dalam barisan negara industri
sekalipun.

Di negara-negara maju masalah pengangguran bahkan bukan saja semata-mata
merupakan isyu ketenagakerjaan lagi, akan tetapi telah berubah menjadi isyu politik
yang sering diangkat ke permukaan untuk meraih kepentingan politis tertentu;
misalnya untuk kampanye pemilihan presiden, perdana menteri, dan sebagainya.

3
Lepas dari itu semua berbagai negara telah melakukan eksperimentasi untuk
mencari jalan keluar masalah pengangguran.

Negeri Belanda telah bereksperimentasi dengan lem baga keteknikan guna
menekan angka pengangguran. Lembaga yang diberi nama Centrum Voor
Vakopleiding van Volwassenen (CVVV) merupakan pusat pendidikan kejuruan bagi
para orang dewasa, secara rapi dikoordinasi oleh Kementerian Sosial (Ministerie van
Sociale Zaken). Pada negara yang "sekecil" ini telah dibangun sebanyak 30-an
CVVV yang tersebar di berbagai kota.

Para penganggur diberi prioritas untuk dididik di lembaga tersebut, meskipun
tidak tertutup bagi para "non penganggur" yang ingin memperoleh keterampilan di
bidang tertentu. Mereka diberi keterampilan keteknikan praktis, misalnya instalasi
listrik, pembubutan, otomotif, perumahan, dan sebagainya. Dengan bekal
keterampilan itulah mereka akan bekerja di masyarakat dengan pendapatan atau
penghasilan yang layak.

Dengan berdirinya lembaga tersebut ternyata angka pe-ngangguran di negeri
"Bunga Tulip" itu dapat ditekan lebih rendah.

Upaya menekan angka pengangguran dengan mendirikan lembaga-lembaga
keteknikan seperti tersebut di atas juga diaplikasikan di negara kita. Dalam beberapa
tahun terakhir ini telah didirikan Balai Latihan Kerja (BLK), dengan berbagai
keterampilan di dalamnya: industri, pertanian, manajemen, dan sebagainya. Lembaga
ini langsung dikoordinasi oleh Depnaker.

Di samping BLK maka negara kita sejak akhir tahun 70-an juga telah
bereksperimentasi dengan lembaga keteknikan lain ialah lembaga politeknik.
Berbagai politeknik telah didirikan di berbagai kota dengan berafiliasi pada
perguruan tinggi negeri di kota yang bersangkutan. Lembaga ini memang
dikoordinasi oleh Depdikbud, bukan oleh Depnaker sebagaimana dengan BLK
tersebut.


Ekspansi ke Desa

Peran BLK dan lembaga politeknik di negara kita memang tidak dapat
dikesampingkan, tetapi harus diakui bahwa peran lembaga tersebut masih perlu
untuk dibenahi dan disempurnakan lagi. Kedua jenis lembaga keteknikan ini
memang telah terbukti mampu memberikan bekal keteram pilan pada para pemuda di
negara kita, dan dengan bekal tersebut sebagian dapat memanfaatkannya untuk
berkompetisi dalam pasar kerja, sekaligus memenangkan peluang yang tersedia.

Dengan demikian secara tidak langsung kehadiran BLK dan lembaga politeknik
dapat menekan angka pengangguran di negara kita.

Lembaga BLK dan politeknik memang perlu dikembang kan lagi, akan tetapi
arah pengembangannya harus sudah diekspansi ke daerah pedesaan. Dengan
4
ungkapan lain pembangunan BLK dan politeknik justru harus diprioritaskan di
daerah pedesaan.

Setidak-tidaknya ada dua alasan utama yang pantas dijadikan pertimbangan
diprioritaskannya daerah pedesaan untuk pembangunan lembaga keteknikan:
pertama, mayoritas tenaga potensial di daerah pedesaan belum termanfaatkan secara
optimal, dan kedua para pemuda di pedesaan memang cocok diberi keterampilan
menengah melalui lembaga ketek nikan tersebut.

Banyak negara yang telah memanfaatkan potensi desa melalui pengembangan
lembaga keteknikan di pedesaan. Kenya dan Kuba merupakan contoh dari banyak
negara yang gencar mengembangkan lembaga keteknikan di pedesaan, melalui
programnya yang disebut 'politeknisasi desa'.

Dengan dicanangkannya program politeknisasi desa tersebut maka pemerintah
Kenya dan Kuba secara intensif menggalakkan pembangunan lembaga keteknikan di
daerah pedesaan. Bengkel-bengkel sekolah dan laboratorium hidup mulai dibangun,
demikian pula dengan program-program terapannya.

Para siswa kalau pagi hari diberi latihan terapan di sawah-sawah atau di bengkel-
bengkel kerja, sedangkan kalau sore hari diberi pelajaran teoretis di kelas. Pagi
pegang cangkul atau kunci, sore pegang pena. Demikianlah kira-kira ungkapan yang
tepat untuk pelaksanaan program politeknisasi desa tersebut. Dan program ini
ternyata benar-benar membawa kemajuan yang sangat berarti karena para tenaga
potensial di pedesaan memperoleh peningkatan keterampilan yang terapan untuk
bekerja.

Dengan ungkapan lain dengan dibangunnya lembaga-lembaga keteknikan di
pedesaan tersebut maka para pemuda pengangguran di pedesaan diberi bekal
keterampilan untuk mencari kerja, bahkan ada yang "membuat" kerja sendiri.
Ahirnya terbukti pula bahwa program politeknisasi desa tersebut dapat menekan
angka pengangguran.

Implikasinya: apabila pembangunan BLK, politeknik dan lembaga keteknikan
lainnya di negara kita dapat diekspansi ke daerah pedesaan maka kehadirannya tentu
akan dimanfaatkan oleh masyarakat desa. Mereka akan lebih bergairah dalam
berkompetisi di pasar kerja dengan bekal keterampilan yang diperoleh dari lembaga
keteknikan.

Upaya tersebut di atas baik secara langsung maupun tidak langsung akan lebih
melicinkan penurunan angka pengangguran di negara kita.

Semoga .....!!!*****


________________________________________________________

BIODATA SINGKAT;
5
nama: Drs. Ki Supriyoko, M.Pd.
pek.: Ketua Litbang Pendidikan Majelis Luhur Tamansiswa
dan Ketua Lembaga Penelitian Sarjanawiyata Taman-
siswa Yogyakarta
prof: Pengamat masalah pendidikan dan ketenagakerjaan