Anda di halaman 1dari 10

Menjadi Indonesia dengan Tidak Menjadi Indonesia

29-DEC-2011 OLEH WEBMASTER2 TIDAK ADA KOMENTAR POSTING DIDALAM : NASKAH, TAHUN 2011

Oleh: Jeffrey Ariesta Putra, Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Jurusan Pendidikan Dokter, Universitas Udayana. Sesungguhnya amat membingungkan menjawab pertanyaan menjadi Indonesia seperti apa yang ideal, terlebih merealisasikannya. Apabila sebagai generasi muda saya diminta untuk menjadi seperti Indonesia tentu saya langsung menolak karena sebagai negara, Indonesia bukanlah contoh yang membanggakan. Mari kesampingkan ego yang dibalut nasionalisme palsu yang mengatakan bahwa Saya bangga menjadi bangsa Indonesia. Demikian mereka yang masih belum jengah akan keadaan bangsanya saat ini dan tidak bisa diharapkan dalam waktu dekat. Saya benci dengan kondisi Indonesia sekarang, saya tidak betah! Oleh karena itu saya ingin mengubah wajah Indonesia dan mengajak siapapun turut berjuang terutama generasi muda, yang sudah waktunya berkontribusi seperti kalimat terkenal Abraham Lincoln Jangan tanya apa yang dibuat oleh negara untukmu, tapi tanyalah apa yang boleh kamu buat untuk negaramu. Jikalau dibahas seluruh kekurangan daripada negara kita, akan setumpuk banyaknya oleh karena memang kusut benang masalah yang membelit bangsa ini. Tetapi saya ingin berfokus pada satu pokok yaitu kesejahteraan rakyat Indonesia karena banyak diantara mereka yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Sebuah ironi apabila melihat pada masa lampau Indonesia terkenal kaya, buktinya sekian banyak bangsa berusaha menjajah untuk mengeksploitasi seluruh potensi yang negara kita miliki. Sampai hari ini pun demikian, tidak ada tetangga yang berani mengembargo Indonesia karena justru kitalah sang sumber, sayangnya bagi kemakmuran pihak lain. Sudah sekian lama wacana tentang kemiskinan dan kesejahteraan rakyat terus muncul tanpa perkembangan, jadi apa masalahnya? Pemerintah kita juga bukan tanpa upaya, namun mereka berusaha meringankan beban rakyat dengan cara yang boleh dikata klise. Tampaknya membantu namun sebenarnya hanya menebang batang tanpa mencabut akarnya, akhirnya permasalahan sama muncul kembali dan berbuah efek negatif. Sebagai contoh, saat ini masyarakat terbantu oleh subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang berjumlah triliunan rupiah. Tujuannya untuk meningkatkan daya beli masyarakat di sektor lain sehingga turut meningkatkan taraf ekonomi secara garis besar. Namun yang terjadi tujuan tersebut tidak juga tercapai dan makin lama jumlah bantuan yang diberikan malah bertambah. Memang masyarakat dimudahkan dengan murahnya harga bbm. Tetapi yang meningkat bukan kesejahteraan masyarakat melainkan jumlah kendaraan yang berimbas pada peningkatan konsumsi dan tentu saja jumlah subsidi. Jangan dilupakan hal itu juga berkontribusi pada peningkatan beban pemerintah dan semakin menipisnya cadangan BBM. Belum lagi ternyata pemerintah baru sadar bahwa subsidi ini tidak tepat sasaran. Yang menikmati justru kaum elit dengan banyak kendaran yang bergantian mengisi bahan bakar, sedangkan kaum miskin yang mulanya adalah sasaran subsidi tetap saja tidak mampu membeli BBM tersebut. Masalah yang sama juga terjadi dengan program lain yaitu raskin atau beras miskin. Mempertimbangkan aspek pangan sebagai kebutuhan vital membawa pemerintah pada solusi pemberian beras gratis yang dijatah. Namun akhirnya, terjadi masalah di sana-sini terutama distribusinya yang tidak merata. Apabila kita menilik lebih dalam, solusi jenis ini memberikan kenyamanan pada kelompok masyarakat terbantu. Tetapi kemudian menimbulkan kesan malas dan terus meningkatnya harapan. Layak diumpamakan pemerintah memberikan ikan bukan kail, jadi setelah ikan habis masyarakat kembali untuk meminta lebih banyak daripada mengusahakannya sendiri.

Buat saya boleh dikata miskin asal masih punya harga diri. Yang menampar muka ibu pertiwi adalah tindakan curang yang justru diperbuat oleh para penguasa. Tiada hentinya mengais keuntungan dengan menipu dan mencuri dari rakyat. Walaupun telah dikecam, dihukum, namun tidak berhenti kasus korupsi menghiasi halaman depan media massa. Tampaknya ini telah menjadi budaya bagi si elit yang duduk sebagai perwakilan kita. Entah kita yang salah pilih atau mereka yang tidak kuasa menahan godaan kursi panas sebagai penguasa. Secara pribadi saya tidak ingin kita berfokus hanya pada masalah-masalah di atas. Kita juga harus memiliki strategi untuk dapat maju selain hanya berkutat dengan pemecahan problematika yang sedang terjadi. Oleh karena itu saya memiliki sebuah visi untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang makmur dengan tetap berpegang teguh pada Pancasila, memimpin rakyat pada kesadaran penuh untuk mengabdi dan turut membangun Indonesia. Tentu ini diawali dengan misi mengentaskan masalah sosial melalui pemanfaatan efektif potensi yang dimiliki rakyat dengan mengedepankan prinsip gotong royong sebagai identitas Indonesia. Melihat problematika yang dialami Indonesia kita memerlukan solusi yang berdampak luas dan sistemik. Juga mampu diaplikasikan secara berkelanjutan sehingga perlahan namun pasti negara kita lepas dari belitan berbagai masalah yang mengikat selama bertahun-tahun. Menindaklanjuti misi yang telah diungkapkan saya berani mengusulkan sebuah ide yang aplikatif dan masih dapat berkembang luas yaitu pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) melalui sistem kredit online tanggung renteng. Sebelum melangkah lebih lanjut dalam pembahasan sistem tersebut, saya ingin mengajak saudara untuk melihat potensi yang dimiliki bangsa Indonesia. Menilik topografi perekonomian Indonesia, Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah mencatat bahwa jumlah usaha kecil sebanyak 52 juta unit atau 99% lebih dari total jumlah unit usaha. Dengan angka ini, tenaga kerja yang diserap hampir 90% dari total tenaga kerja. Namun, Produk Domestik Bruto (PDB) yang dapat disumbangkan oleh usaha kecil dan menengah (UKM) masih hanya sekitar 50% dari total PDB. Menganalisis statistik ini, kita dapat menyimpulkan peran UKM sangat vital dan efektifitas kinerja serta potensi mereka akan menjadi solusi dengan dampak yang signifikan bagi perekonomian Indonesia secara umum. Jikalau kita cermati ketidaksetaraan unit bisnis dengan kontribusi PDB, kemungkinan disebabkan oleh kelemahan UKM yang masih bermasalah antara lain: kekurangan modal, strategi pemasaran yang buruk dan jaringan yang sempit sehingga mudah mati. Saat ini pemecahan yang tersedia adalah peningkatan modal melalui pinjaman berupa kredit kecil lewat satu individu tertentu atau badan usaha dengan bunga yang tidak terkontrol dan banyak timbul kesan pemerasan. Akhirnya UKM tersebut gulung tikar dan malah menanggung hutang yang memberatkan. Di antara para pelaku usaha tersebut, sedikit yang berminat untuk mengambil kredit melalui bank. Birokrasi yang rumit dan bunga yang tinggi menimbulkan keengganan masyarakat kecil dan menengah. Akhirnya terpaksa masuk dalam dunia bisnis dengan modal seadanya dan minim ketrampilan pengelolaan, yang kita tahu ujungnya mengarah ke mana. Sebagai solusi permasalahan di atas dan untuk meningkatkan mutu UKM yang menjadi tulang punggung perekonomian bangsa, maka diusulkan sistem kredit online tanggung renteng seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Usulan ini merupakan pengembangan daripada sistem yang telah berjalan lancar di Bangladesh, melibatkan para petani negara tersebut. Awalnya terjadi masalah serupa yaitu kesulitan modal untuk mengelola lahan dan minimnya pilihan pengambilan kredit, yang secara umum rumit birokrasi dan berbunga tinggi. Oleh karena itu muncul ide untuk merintis sistem kredit tanggung renteng. Sebenarnya istilah tanggung renteng bukan hal baru di Indonesia karena beberapa koperasi telah mengadopsinya. Tetapi saat ini rata-rata masih memiliki keterbatasan dan menganut sistem yang kuno. Jadi hanya sekedar menjadi perkreditan berskala kecil yang minim kemajuan dan berjangkauan sempit.

Sebagai pengingat kembali, mekanisme ini menganut proses perkreditan secara umum, meliputi proses peminjaman uang dan kemudian dikembalikan secara berkala sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya oleh kedua belah pihak. Bedanya hutang dibayarkan secara tanggung renteng yaitu menjadi tanggung jawab kelompok yang dibentuk sebelumnya. Tujuan dari sistem ini adalah untuk mengurangi beban debitur atau setidaknya memberi lebih banyak waktu baginya untuk membayar hutang. Berikutnya, itu akan menjadi bentuk jaminan bagi kreditur agar merasa aman untuk meminjamkan lebih banyak modal karena kemungkinan kredit macet berkurang. Pengajuan kredit oleh usaha kecil yang sebelumnya tidak memenuhi persyaratan, lebih mungkin diberikan sehingga memberi kesempatan industri kecil dapat memperluas usaha mereka. Hanya saja dalam hal ini media transaksi yang diajukan adalah melalui internet atau dikenal dengan sistem online. Alasannya terkaitkan dengan fakta bahwa teknologi ini telah menjamur di Indonesia. Seiring dengan harga murah gadget canggih yang menyediakan akses internet, tampaknya siapa pun dapat memanfaatkannya. Kita tahu bahwa internet tidak memiliki batasan, sehingga amat bervariasi pemanfaataannya, termasuk yang saat ini marak sebagai sarana transaksi formal lembaga keuangan ataupun perdagangan individual. Dengan peran pemerintah sebagai fasilitator dan server, maka mekanisme ini dapat diperluas dan dimatangkan dari segi teknis. Membahas lebih lanjut peran pemeritah dalam sistem ini adalah sebagai pusat setiap kegiatan yang dimulai dari pendaftaran, transaksi, hingga pelaporan. Sebabnya karena hanya pemerintah yang memiliki akses paling luas dalam penerapan model yang mampu dinikmati seluruh elemen masyarakat. Pun demikian pemerintah memiliki kontrol terhadap tata perekonomian dan fakta lapangan terkait dengan daya UKM seperti yang telah disebutkan. Dengan bekerja sama dengan pemerintah daerah, kita dapat memastikan berlangsungnya program ini berjalan terarah dan tepat sasaran. Melihat sisi pelaku usaha, keterlibatan pemerintah memberi jaminan tersendiri sekaligus harapan, karena aturan yang diberlakukan tentu berbeda dengan pihak swasta yang lebih mementingkan laba dibandingkan kesejahteraan masyarakat. Secara garis besar prosedurnya adalah sebagai berikut: pengambilan prosedur kredit dilakukan melalui media online dengan mendaftar pada server terlebih dahulu. Kemudian tim survei melakukan uji kelayakan terhadapnya yang terkait dengan data diri pendaftar, usaha yang dimiliki dan kemungkinan jaringan kerja. Pendaftar yang sebelumnya telah dianggap layak akan dikelompokkan dengan beberapa pendaftar lain, dengan mempertimbangkan lokasi, jenis pekerjaan dan jumlah pinjaman. Awalnya kredit dibayarkan secara perseorangan secara berkala sesuai waktu yang ditentukan. Apabila kredit yang diambil mengalami kemacetan, maka kredit tersebut menjadi tanggung jawab kelompok yang telah dibentuk sebelumnya. Setelah itu pengambil kredit berpindah tanggung jawab untuk membayarkan hutangnya pada kelompok sesuai kesepakatan masing-masing kelompok. Adapun semua transaksi dilakukan secara online dan selama periode pengambilan kredit dipilih koordinator kelompok oleh anggota, yang bertanggung jawab secara struktural terhadap debitor. Tanggung jawab yang dimaksud adalah pelaporan hasil usaha sehingga terjadi kesinambungan dan pengawasan yang jelas antara penerima dan pemberi hutang. Selain itu, koordinator kelompok juga diberikan kewenangan untuk melakukan pertemuan kelompok dalam rangka memantau kelancaran usaha dan pembayaran kredit mereka. Usulan ini terkesan mentah dan memiliki banyak celah, namun mari kita lihat terlebih dahulu hal positif yang mampu diberikan melalui program ini. Melalui mekanisme kredit tersebut, kita dapat mengharapkan keuntungan dari aplikasi internet. Dalam era globalisasi kita merasakan bagaimana teknologi dan informasi berkembang dengan pesatnya, tetapi sebagian masyarakat kita masih tertinggal. Penggunaannya sebagai media transaksi memberi peluang edukasi terhadap masyarakat yang selama ini belum mengenal teknologi tersebut. Dengan demikian masyarakat memiliki kesempatan lebih untuk

selanjutnya memanfaatkan media ini sebagai keran pembuka peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia. Yang utama penggunaan internet yang luas dapat berfungsi untuk menggali informasi baru terkait tren usaha masa kini, juga memperluas jaringan kerja dan menjadikannya sebagai media promosi yang tidak terbatas. Melalui sistem online, pemerintah juga dapat memantau transaksi yang terjadi sementara membuat rekaman statistik yang lebih akurat dan transparan. Pemerintah dapat membuat pemetaan kondisi ekonomi masyarakat dan menentukan langkah-langkah strategis untuk mengatasinya. Secara khusus juga dengan mudah dapat menjangkau area kerja UKM yang sebelumnya bahkan tidak terdeteksi. Di sisi lain, tidak hanya masyarakat yang mendapatkan keuntungan. Pemerintah mendapatkan pemasukan tambahan dengan menerapkan kebijakan bunga kredit. Dan semakin luas cakupan sistem ini, demikian juga semakin banyak keringanan yang didapatkan pemerintah dalam rangka membayarkan hutanghutangnya. Ditambah lagi melalui pemetaan usaha yang lebih efektif, demikian juga wajib pajak lebih terpantau dalam menjalankan kewajibannya. Alhasil, hanya dengan bermodalkan pembangunan fasilitas internet, pemerintah sekaligus mendapatkan sumber pemasukan dan memiliki kontrol lebih terhadap kondisi usaha nasional. Kita seharusnya tidak perlu meresahkan penggunaan internet sebagai sarana transaksi, mempertimbangkan fakta bahwa teknologi ini tidak asing dalam masyarakat secara umum. Tidaklah sulit mengiimplementasikan ini dalam UKM yang telah dan akan berjalan, hanya diperlukan sosialisasi bagi mereka yang memang sampai saat ini belum terjangkau dan paham bagaimana memanfaatkannya. Di samping itu kita dapat mengadopsi sedikit banyak dari sistem yang telah berjalan oleh lembaga keuangan seperti bank, terutama sistem keamanannya sehingga tidak rawan kebocoran. Memahami makna yang lebih dalam, prosedur tanggung renteng sesuai dengan identitas bangsa yang berazas gotong royong. Yang seharusnya makin kuat di tengah persaingan dan ketamakan ala era modern, bukan malah sebaliknya. Keadaan ini memiliki peran besar dalam menimbulkan kesejahteraan yang lebih adil dan merata. Aliran keuntungan tidak lagi semakin besar kepada yang berkuasa, kuat finansial atau luas jaringan kerja. Namun juga bagi mereka yang bahkan berada pada posisi sedang terjepit. Untuk itu sistem kredit tanggung renteng juga memiliki maksud untuk mengembalikan bangsa Indonesia kembali pada azas gotong royong dan mengedepankan prinsip keadilan dan rasa persatuan. Yang dapat dikembangkan adalah pematangan sistem sehingga tidak terjadi kebocoran. Lebih lanjut sistem ini kurang-lebih bergantung pada nilai-nilai abstrak dan keyakinan yang masih riskan. Untuk selanjutnya, diharapkan terdapat bentuk dukungan hukum dalam perencanaan dan aplikasinya. Dukungan infrastruktur yang lebih berkualitas dan merata, termasuk media informasi dan layanan publik akan menghasilkan manfaat maksimal. Terakhir, sejak dini diperlukan sosialisasi berkelanjutan dan pendidikan terkait media yang digunakan. Saya tidak naif menganggap bahwa usulan ini tanpa cacat dan saya bukan ekonom yang ahli menganalis untung dan rugi. Tetapi saya melihat ini sebagai peluang yang mampu membawa Indonesia ke arah yang baru. Adalah lebih baik kita mengusahakan sesuatu daripada hanya duduk berpikir dan mengkritik, karena yang rakyat perlu adalah aksi nyata yang dapat menolong kondisi mereka. Kami sudah lelah dengan dagelan politik karena kami sesungguhnya tidak peduli siapa yang menang dan kalah dalam tubuh pemerintah, tetapi yang kami mau adalah perubahan yang membawa rakyat pada kesejahteraan. Akhirnya, buang jauh-jauh wajah terkenal Indonesia sebagai sumber kemiskinan, korupsi, kebodohan dan lainnya, untuk selanjutnya berganti menjadi Indonesia yang sejahtera.

Di Bawah di Atas Semua Korupsi

28-JAN-2012 OLEH WEBMASTER2

TIDAK ADA KOMENTAR

POSTING DIDALAM : NASKAH, TAHUN 2011

Oleh: Ahmad Afandi, Mahasiswa Fakultas Dakwah, Jurusan KPI (Komunikasi &Penyiaran Islam), Institut Agama Islam Negeri Walisongo (IAIN WS). Dalam kurun waktu yang tidak lama ini negara kita sudah menjadi negara terkorup ke- 4 setelah India, pada hal negeri kita sangatlah banyak mengandung kekayaan alam yang melimpah ruah yang di peruntukkan bagi rakyat Indonesia. Sudah banyak kasus-kasus korupsi yang belum terselesaikan hingga timbul kasus baru yang kasus lama tersebut tertumpuk dan tidak di usut lagi, sampai di media-media terdapat berita-berita korupsi seperti halnya kasus Gayus yang belum terselesaikan sampai sekarang, sudah muncul kasus baru yaitu Wisma Atlet. Pada setiap kasus korupsi yang terjadi di negeri kita ini mungkin sudah tersrtukturkan hingga pejabat penegak hukum seperti KPK yang bertugas memberantas para koruptor ikut tersangkut juga dalam kasus suap. Sehingga sulit untuk menemukan atau menyelidiki siapa saja yang tersangkut korupsi, seperti halnya yang sudah kami sebutkan diatas yang dari pejabat kelas bawah sudah mempunyai harta yang melebihi pejabat kelas atas. Dia itu adalah Gayus Tambunan yang hanya bertugas di perpajakan yang masih dikelas bawah sudah memiliki harta yang melebihi pejabat tinggi. Sampai di penjara dia masih bisa keluar dari LP dengan memberikan sebagian uang korupsi kepada petugas LP tersebut dan masih bisa berlibur di Bali. Selanjutnya timbul kasus Nasaruddin yang terlibat dalam suap Wisma Atliet yang melibatkan pejabat-pejabat pemerintahan, kita sudah lihat sendiri ketika Nasaruddin di panggil untuk menjalani pemeriksaan, dia tidak bisa datang karena sakit hingga muncul isu Nasaruddin pergi ke luar negeri dan para penegak hukum bingung dalam menangkap Nasaruddin yang berada di luar negeri karena informasi yang di dapat oleh para penegak hukum tidaklah valid. Tak lama muncul isu tertangkapnya Nasaruddin di Columbia, inilah sedikit gambaran dari wakil-wakil rakyat yang sudah tergiur oleh harta sehingga tidak mementingkan rakyat yang telah mengangkat mereka hingga bisa duduk di kursi pemerintahan. Sedikit kilas dari berbagai kasus yang terjadi di negeri kita ini yang baru terlihat pada media-media, mungkin masih banyak pejabat dari kalangan bawah yang terlibat KKN. Apakah ini bentuk negara yang kita impikan bersama banyak kasus KKN, hingga kemiskinan dinegeri ini belum bisa di selesaikan. Kita sebagai pemuda masa depan hendaknya kita tanamkan pelajaran tentang KKN supaya mereka faham akan akibat yang di timbulkan dengan hal itu, baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain dan kita harus memberikan sanksi yang membuat para KKN (Korupsi, Kolusi & Nipotisme) tersebut jera serta proses pengadilah harus secara transparan tidak tertutup. Dengan memberikan pelajaran bagi remaja tentang akibatnya KKN dan menambahkan mata pelajaran yang terkait dengan hal tersebut seperti memberikan bibingan akhlak bagi setiap pelajar baik tingkat SD, SMP/MTS, SMA/MA/SMK supaya mereka faham tentang kerugian yang di akibatkan oleh KKN terutama bagi diri koruptor dan keluarga mereka. Terutama pemberian pemahaman/bimbingan akhlak dalam keluarga yaitu orang tua yang sangat berperan dalam hal ini dalam pemberian pemahaman. Selanjutnya ialah sistem peradilan yang transparan tidak ada yang di tutupi dalam proses persidangan mulai pertama penyelidikan sampai selesai penyelidikan agar semua masyarakat mengetahui siapa yang bersalah dan seberapa besar kesalahan serta kesalahan apa yang telah dilakukan. Setelah semua itu barulah sanksi yang sepadan dengan apa yang mereka lakukan agar mereka jera seperti halnya hukuman yang ada di arab saudi yang mencuri dihukum potong tangan, bukannya di turunkan dari jabatannya dan hartanya di sita oleh pemerintah mungkin hal ini sangatlah ringan bagi para koruptor mereka bia saja menyimpan uangnya di suatu tempat yang belum di data oleh pemerintah. Dan masyarakat juga harus ikut berperan dalam pemberantasan KKN baik dalam pejabat kelas bawah sampai kelas atas.

Insyallah bila hal tersebut bisa di jalankan akan berkurang para pejabat yang melakukan KKN (Korupsi, Kolusi & Nipotisme) bahkan tidak ada, karena proses yang transfaran dan sanksi yang berat akan membuat mereka jera dan takut untuk melakukan hal tersebut.

Pendidikan Karakter sebagai Langkah Penyiapan Generasi Mendatang


28-JAN-2012 OLEH WEBMASTER2 TIDAK ADA KOMENTAR POSTING DIDALAM : NASKAH, TAHUN 2011

Oleh: Rifatul Mahmudah, Mahasiswa Fakultas FISIP, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Sebuah desa dekat puncak Bogor, masyarakatnya hidup sangat sederhana (kalau tidak dibilang miskin). Rumah mereka sederhana, sementara di sekeliling rumah mereka berdiri villa-villa megah yang ditinggal pemiliknya di Jakarta. Pekerjaan penduduk di desa tersebut, rata-rata penjaga villa atau tukang ojek. Penghasilan alakadarnya, tetapi untuk uang rokok dan pulsa menjadi kebutuhan utama. Anak laki-laki setamat SMP, bingung hendak kemana, biaya sekolah mahal. Setelah lulus paling mengikuti jejak ayah mereka, menjadi penjaga villa atau tukang ojek. Sementara remaja perempuan, hobi berdandan dan ketika cukup umur dinikahkan. Adik-adik kecil karena penghasilan orang tuanya pas-pasan, bersekolah dengan peralatan seadanya, buku seadanya, hasilnya prestasi pun seadanya. *** Salah satu pilar penting dalam membangun bangsa adalah dengan pendidikannya. Bangsa yang pernah mengalami keterpurukan beberapa dekade lalu dan kemudian mampu menjadi bangsa maju kini, adalah karena telah dilakukan akselerasi besar-besaran terhadap pendidikannya. Contoh Negara tetangga, Malaysia. Tahun 1950-an, kondisinya lebih terpuruk dari Indonesia, tetapi upaya keras pemerintahnya untuk menggesa pendidikan di Negara tersebut, salah satunya dengan memanggil guru-guru dari Indonesia berhasil membuat Malaysia lebih baik dari Indonesia dalam beberapa hal. Hingga saat ini pun, Negara tersebut masih concern dengan upaya peningkatan kehidupan mereka di masa depan dengan mengirimkan banyak generasi mudanya untuk belajar di Negara-negara yang lebih baik dalam bidang tertentu. Gambaran di atas menunjukkan bahwa Negara mempunyai peran penting dalam pendidikan bangsa. Demikian pula yang terdapat dalam konstitusi Negara kita bahwa Negara menjamin pendidikan warga negaranya. Lantas, bagaimana kondisi di Indonesia, sudahkah? Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2009 berada di urutan 109 dari 180 negara.[1] Hal ini merupakan salah satu cerminan dari output pendidikan di Indonesia. Ternyata masih banyak masyarakat tidak memperoleh pendidikan yang layak. Hal tersebut diantaranya disebabkan oleh alokasi APBN untuk pendidikan yang tidak mencukupi. Untuk tahun 2011 anggaran pendidikan sebesar 239 triliun atau 3,41 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sebagai perbandingan, berdasarkan data UNDP tahun 2002 anggaran pendidikan Malaysia sudah mencapai 7,9 persen dari PDB dan Thailand mencapai 5,0 persen dari PDB. Idealnya, anggaran pendidikan sebaiknya tidak kurang dari 6 persen PDB atau sekitar 420 triliun untuk tahun 2011, dengan perkiraan PDB Indonesia tahun 2011 sebesar 7,007 triliun. Rendahnya anggaran pendidikan ini disebabkan karena masih rendahnya APBN dari rasio PDB yaitu 17,55 persen untuk APBN 2011.[2] Persoalan lain yang cukup mendasar dan menyebabkan keterpurukan pedidikan adalah terjadinya komersialisasi pendidikan. Hal ini erat kaitannya dengan peran Negara dalam penyelenggaraan pendidikan yang belum sepenuhnya dapat dilaksanakan dengan baik.

Negara tidak dapat memenuhi kebutuhan atas pendidikan bagi warganya dan secara simultan terjadi pula komersialisasi pendidikan yang kemudian menjadikan kesempatan duduk di bangku sekolah hanyalah mimpi bagi masyarakat bawah. Parahnya, pendidikan kemudian menjadi kebutuhan tersier bagi mereka. Kendala ekonomi masih sering menyisakan peristiwa putusnya sekolah bagi mereka yang hidup menengah ke bawah. Beberapa tahun terakhir, angka putus sekolah mencapai satu juta jiwa per tahun.[3] Hal ini tentu merupakan fakta yang menyedihkan. Minimnya pendidikan, sulitnya peningkatan kesejahteraan Kisah mengenai kondisi masyarakat desa di daerah puncak di awal tulisan ini adalah kisah nyata yang pernah penulis temui. Kisah tersebut hanyalah potret kecil kondisi pendidikan di Indonesia. Masyarakat di daerah pesisir misalnya, juga tidak jauh berbeda kondisinya. Kemiskinan yang menghimpit mereka, ditambah biaya pendidikan yang tinggi bisa jadi menjadikan impian mereka terhadap kondisi yang lebih baik hancur seketika. Akibatnya, kehidupan mereka tetap begitu saja, tidak mengalami peningkatan, jauh dari kesejahteraan. Dengan pendidikan minim yang mereka miliki, mereka susah melakukan mobilitas vertikal, setidaknya dalam hal peningkatan kesejahteraan. Pendidikan yang minim membuat mereka bekerja pada sektor tertentu yang tidak seberapa hasilnya dalam hal financial. Mereka juga cenderung menjadi pekerja, bukan sebagai pemilik usaha dan pencipta lapangan kerja mengingat mereka sendiri tidak mempunyai modal yang cukup. Dengan kondisi demikian tanpa sebuah langkah revolusioner yang dilakukan, kondisi mereka secara ekonomi maupun secara social sangat susah untuk berubah. Pada akhirnya, kemiskinan menjadi lingkaran setan yang membelenggu mereka. Langkah kecil untuk mereka Belenggu tersebut perlu untuk segera dilepaskan dari diri mereka. Namun, mereka tidak dapat melakukannya sendiri. Dibutuhkan kekuatan di luar mereka untuk melepaskannya. Berharap dan berusaha untuk memperbaiki pendidikan melalui perjuangan di tingkat elit bukanlah suatu kesalahan. Tetapi, dibutuhkan pula upaya-upaya yang dilakukan dari bawah. Persoalan yang menghimpit pendidikan kita terlalu rumit dan kompleks. Upaya mencerdaskan masyarakat melalui program-program pengabdian masyarakat merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan. Peran ini dapat dilakukan oleh siapa pun, terutama kalangan pemuda, mahasiswa. Upaya yang dapat dilakukan melalui pengabdian masyarakat diantaranya adalah melalui beberapa bentuk kegiatan yang mempunyai inti pendidikan. Titik tekan dalam pendidikan tersebut adalah pada pembentukan karakter. Karakter merupakan hal terpenting yang menjadi modal manusia dalam menjalani hidupnya. Berbagai pemberitaan, isu, dan peristiwa negatif di negeri ini hendaknya tidak ditanggapi dengan sesuatu yang negatif pula, tetapi perlu dikikis dengan sesuatu yang bernilai positif. Hal tersebut dapat dimulai dari pembentukan nilai-nilai pada generasi muda, dalam hal ini anak-anak. Mereka ke depan akan memiliki peran-peran penting dalam membangun bangsa sehingga upaya tersebut merupakan upaya strategis untuk dilakukan. Sayangnya, pembentukan nilai-nilai positif seringkali tidak didapatkan di sekolah. Pembelajaran di sekolah yang lebih menekankan aspek kognitif tidak cukup membekali mereka untuk menghadapi berbagai persoalan yang ada ke depan, terlebih tantangan akan semakin berat. Aspek kognitif tidak cukup untuk menentukan kesuksesan seseorang dalam menghadapi tantangan di luar sana. Dibutuhkan

karakter yang kuat pada diri seseorang untuk menghadapi berbagai tantangan. Penelitian telah membuktikan bahwa aspek kecerdasan intelektual bukan lah hal yang utama. Pilar-pilar karakter yang akan dibangun dalam proses pendidikan ini tentu merupakan karakter yang baik dan bersifat universal integral. Pembentukan karakter ini merupakan hal yang sering kali tidak didapatkan di sekolah sehingga sasaran dalam pembentukan karakter ini adalah anak-anak. Anak-anak merupakan generasi yang di masa datang akan menjadi pengisi berbagai peran sehingga perlu memperoleh bekal sejak dini. Adapun program-program yang dapat dilakukan adalah melalui pendidikan informal sehingga lebih mudah mengingat belum perlu dilakukan pengurusan yang menyangkut birokrasi. Program tersebut dapat berupa pendidikan bagi anak yang putus sekolah atau melalui kegiatan semacam pendidikan AlQuran. Melalui pendidikan tersebut nilai-nilai kedisiplinan, kejujuran, toleransi, tolong menolong dan sebagainya diajarkan. Diajarkan bukan dengan materi seperti pelajaran di sekolah, tetapi dengan nilainilai keteladanan dari para pengajarnya. Sifat-sifat tersebut jika terus dibiasakan akan menjadi karakter yang terbentuk dalam diri anak-anak tersebut sehingga ketika dewasa nanti, mereka akan menjadi pribadi yang kuat dan tangguh. Hasilnya memang tidak akan langsung dapat dirasakan, tetapi dalam beberapa tahun ke depan, bukan tidak mungkin hasil tersebut akan terlihat. Bagaimana dengan orang tua? Pembentukan karakter seperti yang telah disinggung di atas, memang berfokus pada anak-anak. Namun, hal tersebut bukan berarti tidak dapat melibatkan orang tua. Orang tua juga dapat berperan dalam hal ini. Pelibatan orang tua dalam pendidikan anaknya menjadikan orang tua merasa mempunyai peran penting yang tidak dapat pisahkan. Dalam hal ini, orang tua dapat dilibatkan dalam pendampingan dan pengawasan terhadap anak-anaknya. Dalam program untuk anak-anak mereka, orang tua perlu diberi pengertian mengenai urgensi pendidikan karakter tersebut dan perlu pula diyakinkan bahwa mereka mempunyai andil yang besar dan tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan anak-anaknya. Di samping pelibatan terhadap pendidikan mereka, orang tua anak-anak tersebut yang berasal dari keluarga menengah ke bawah dapat pula diberdayakan dalam hal ekonomi. Bantuan-bantuan kepada mereka untuk lebih bersemangat dalam menhidupi keluarga secara ekonomi dapat dilakukan melalui program-programentrepreneurship melalui pelatihan-pelatihan untuk memanfaatkan potensi mereka sehingga lebih bisa berniliai secara ekonomi. Dengan program tersebut di atas, sasaran kemudian adalah generasi muda dan generasi di atasnya sehingga diharapkan akan ada sinergisitas yang diwujudkan dengan peran orang tua dalam persiapan generasi mendatang ini.

Indonesia Tidak Butuh Utang


28-JAN-2012 OLEH WEBMASTER2 TIDAK ADA KOMENTAR POSTING DIDALAM : NASKAH, TAHUN 2011

Oleh: Mushawwir Arsyad, Mahasiswa Fakultas Ilmu Hukum, Universitas Hasanuddin.

Sebagian masyarakat Indonesia merasakan kebahagiaan, ketika sebuah lembaga dunia International Monetary Fund (IMF) baru-baru ini memberikan bantuan dana kepada negeri ini. Bahkan, pejabat-pejabat dengan bangga menyampaikan di depan umum, bahwa Indonesia mendapatkan bantuan dari dunia. Padahal, kita tidak sadar bahwa bantuan yang diberikan tersebut sebenarnya adalah utang, yang setiap warga negara Indonesia harus menanggung itu semua. Utang tentu sangat berbeda dengan bantuan. Jika utang harus dikembalikan, maka bantuan itu sifatnya cuma-cuma. Akan tetapi, pertanyaannya adalah Mengapa Indonesia masih berani dan mau berutang, padahal utang yang sejak puluhan tahun lalu saja belum dapat terlunasi? Bahkan jika dihitung-hitung APBN Indonesia belum cukup untuk melunasi utang tersebut, karena utang Indonesia mencapai US$ 201, 07 miliar atau setara dengan Rp 1716 Triliun[1]. Angka yang sangat besar. Sebenarnya, jika Indonesia ingin bangkit dan ingin perekonomiannya lebih baik, tidak perlu berutang kepada negara lain, bahkan bantuan pun dapat ditolak oleh Indonesia, karena pada realitanya Indonesia adalah negara yang kaya. Sejak kecil ketika belajar di bangku sekolah dasar, siswa telah diberitahu dan diajar oleh gurunya bahwa Indonesia adalah negara yang kaya, kaya di bidang pertanian, perikanan, pertambangan, minyak bumi. Intinya adalah segala sesuatu ada di Indonesia. Saya masih teringat, ketika dahulu orang-orang sering mengandaikan bahwa apapun yang ditanam di tanah Indonesia pasti akan tumbuh, walau batu sekalipun. Ini semakin menggambarkan bahwa negeri ini memang memiliki tanah yang sangat subur, sehingga tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak menjadi ikon negara pertanian di dunia mengalahkan Thailand. Indonesia dapat menjadi negara pengekspor beras dan hasil pertanian lainnya yang terbesar di dunia. Saat ini, dengan kondisi yang sebenarnya mengharuskan Indonesia sebagai ikon negara pertanian, tetapi Indonesia tidak malu mengimpor beras dari negara lain. Padahal wilayah Indonesia sangat luas untuk area pertanian, dimana sawah dan perkebunan di daerah-daerah berpotensi dapat mewujudkan cita-cita tersebut. Di sisi lain, Indonesia juga adalah negara maritim yang memiliki wilayah perairan terbesar di dunia yang memiliki garis pantai terpanjang kelima di dunia. Sebagian besar keanekaragaman hayati laut ada di perairan Indonesia. Tetapi sekali lagi, hal ini belum mampu di maksimalkan. Seandainya, kondisi ini dimaksimalkan, maka Indonesia selain mampu menjadi ikon negara pertanian, juga mampu menjadi ikon negara perikanan. Sungguh ironi saat ini, penduduk pesisir saja yang sebagian besar adalah nelayan masih berada di bawah garis angka kemiskinan. Hal ini mengindikasikan ada sesuatu yang salah dalam kondisi ini. Suatu hal yang tidak mungkin adalah jika tangkapan nelayan tidak laku diproses penjualan, sebab ikan adalah konsumsi utama penduduk Indonesia. Dengan demikian, yang salah adalah, pemerintah kurang memperhatikan aspek perikanan sebagai komoditas yang strategis. Seandainya pemerintah memberikan perhatian yang lebih, dengan memaksimalkan kinerja nelayan dalam menangkap ikan, kondisi ini memungkinkan Indonesia menjadi negara pengekspor ikan terbesar di dunia. Dan dampaknya pada negeri ini, perekonomian dapat berkembang dengan baik melalui pendapatan negara. Mungkin memang negeri ini kurang perhatian pada kekayaan alamnya sendiri. Buktinya adalah selain kurang perhatiannya pada kekayaan pertanian dan perikanan, juga kurang perhatian pada kekayaan pertambangan, sehingga pihak asinglah yang lebih memberikan perhatian pada kekayaan alam ini. Faktanya banyak kekayaan alam Indonesia di bidang pertambangan yang dikuasai oleh perusahaan asing yang dikenal dengan Perusahaan Transnasional atau Multinational Corporation. Contohnya adalah kekayaan emas di Papua yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia. Meskipun perusahaan ini menggandeng Indonesia pada nama perusahaannya, akan tetapi sebenarnya Freeport bukanlah milik Indonesia. Karena pada faktanya hanya sebagian kecil hak Indonesa yang didapatkan

oleh Indonesia sebagai akibat kontrak karya. Emas yang menjadi komoditas dunia, yang sebenarnya diprediksikan mampu membangun perekonomian bangsa ini, namun pada akhirnya hanya membangun perekonomian negara lain. Bahkan kondisi masyarakat setempat disekitar wilayah penambangan yang pada hakikatnya merupakan wilayahnya belum memperoleh dampak ekonomi yang maksimal. Hal ini dapat terlihat dari kodisi kehidupan masyarakat sekitar yang tergolong miskin. Selain emas, masih banyak kekayaan pertambangan lainnya yang berpotensi misalnya nikel, batubara, timah, bijih besi, dan sebagainya. Akan tetapi, pengelolaannya serupa dengan pengelolaam emas oleh PT Freeport Indonesia. Hingga saat ini sangat banyak perusahaan asing yang mengeskplorasi kekayaan alam. Meskipun bekerjasama dengan pemerintah Indonesia, akan tetapi hasilnya tetap akan merugikan Indonesia secara financial pada pembagian keuntungan. Kondisi yang paling memprihatinkan adalah kekayaan minyak bumi di perairan blok ambalat. Sebelum Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan menjadi bagian dari negara Malaysia melalui putusan Mahkamah Internasional pada tahun 2002, sebenarnya sebagian wilayah Ambalat telah dieksplorasi oleh negara tetangga. Hal ini membuktikan bahwa pemerintah memang kurang perhatian terhadap segala yang ada di negeri ini. Dan hal ini, semakin memperkuat status negara tetangga untuk terus mengeksplorasi minyak bumi di wilayah tersebut, karena Pulau Sipadan dan Ligitan bukan lagi milik Indonesia, sehingga wilayah Indonesia bergeser ke dalam karena tolok ukurnya adalah garis pangkal kepulauan. Oleh karena itu, melihat kekayaan Indonesia yang sangat melimpah, yang jika dimaksimalkan dengan baik, maka Indonesia tidak perlu berutang kepada negara lain. Yang dibutuhkan saat ini adalah perhatian pemerintah terhadap segala sesuatu yang ada dan merupakan kekayaan nyata Indonesia. Kekayaan alam seyogyanya diekspolari secara maksimal, dan khususnya kekayaan alam pertambangan sudah selayaknya dikelola dan dieksplorasi oleh negeri ini sendiri. Indonesia tidak butuh siapapun untuk menjadi negara yang besar. Indonesia tidak butuh utang untuk membangun negeri ini. Indonesia hanya butuh tekad dan keberanian. Indonesia memiliki sumber daya manusia yang kompeten di masing-masing bidang. Oleh karena itu, bukan alasam kekayaan alam tidak dapat dikelola secara maksimal sebab keterbatasan sumber daya manusia. Begitu banyak sarjana yang telah dicetak melalui perguruan-perguruan tinggi, yang telah mempelajari bertahun-tahun masing-masing bidang ilmu pengetahuam. Bahkan, tidak sedikit diantara mereka yang merupakan lulusan perguruan tinggi ternama di luar negeri. Oleh karena itu, sarjana pertanian dapat diberdayakan untuk mengembangkan pertanian di Indonesia, sarjana perikanan dan kelautan untuk mengembangkan aspek perikanan di Indonesia, dan sarjana pertambangan diberdayakan untuk mengelola dan mengeksplorasi tambang di Indonesia. Hal ini yang sebenarnya juga belum terlihat di Indonesia. Muara pengetahuan yang dimiliki oleh sarjanasarjana, belum memberikan hasil yang maksimal. Pengetahun yang dimiliki oleh sarjana perlu diberdayakan, sebagai contoh yaitu implementasi pengetahuannya masih terbatas pada tataran kerja teknis, padahal sebenarnya kita telah mampu pada tataran manajemen untuk mengurus segala hal di negeri ini.