Anda di halaman 1dari 15

FAKULTI SAINS SOSIAL GUNAAN

ABSM3103 FIQH MUAMALAT

SEMESTER : SEPTEMBER 2013

NO. MATRIKULASI : 910126126737 001 NO. KAD PENGNELAN : 910126126737 NO. TELEFON : 0198093070 E-MEL : hesham.side@yahoo.com PUSAT PEMBELAJARAN : KOTA KINABALU SABAH

ISI KANDUNGAN

MUKA SURAT

Penghargaan

Pengenalan

Pengertian al rahn

3-4

Empat syarat keharusan barang gadaian menurut mazhab Syafii

4-11

Satu produk al-rahn dan Tiga ciri-cirinya

11-13

Empat bentuk keselarasan produk tersebut dengan prinsip gadaian dalam Islam.

13-14

Kesimpulan

14

Rujukan

15

Penghargaan

Setinggi-tinggi syukur kehadrat Ilahi kerana dengan rahmat dan inayah-Nya dapatlah saya melaksanakan tugasan yang diberikan mengikut tarikh yang telah ditetapkan. Berbanyak-banyak terima kasih saya tujukan kepada ibubapa saya yang banyak berkorban untuk saya selama ini. Pensyarah kursus Prinsip Muamalat yang telah banyak memberi tunjuk ajar untuk saya melaksanakan tugasan ini. Tidak lupa juga kepada rakan -rakan yang banyak berkongsi idea dan terlibat secara langsung mahupun tidak langsung di dalam kajian ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada individu-individu yang telah terlibat secara langsung mahupun tidak langsung di dalam menyediakan tugasan ini. Sekian terima kasih.

Pendahuluan

Tugasan prinsip muamalat pada kali ini berkaitan tentang al rahn yang ditawarkan dalam institusi kewangan di Negara ini beserta ciri cirinya.Selain itu saya juga akan menerangkan berkaitan penyelarasan modal al rahn yang diguna pakai di institusi kewangan di Malaysia.Syarat syarat gadaian juga akan saya sertakan dalam tugasan ini dimana terdapat beberapa pandangan dari mazhab mazhab yang berkaitan dengan konsep barang gadaian.Terdapat pelbagai kelebihan system al rahn ini yang mana banyak memberi manfaat kepada kita.

Maksud al-rahn dalam Islam R D bermakna nikmat yang tidak f

-tiap diri bertanggung jawab (

(Q

Al-Muddatstsir: 38) 3

dengan yang pertama, karena yang tertahan itu tetap ditempatnya. Ibnu Faris menyatakan H f ` ` D j

Adapun definisi rahn dalam istilah syariat, dijelaskan para ulama dengan ungkapan, M j j j j ( ) j j

nilai barang jaminan tersebut, apabila si peminjam tidak mampu membayar kembali

harta atau nilai harta tersebut, bila pihak berhutang tidak mampu membayarnya

Sedangkan Syekh al-Basaam mendefinisikan ar-rahn sebagai jaminan hutang dengan barang yang memungkinkan pembayaran hutang dengan barang tersebut atau dari nilai barang tersebut, apabila orang yang berhutang tidak mampu membayarnya.

Empat syarat keharusan barang gadaian menurut mazhab Syafii

Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ar-rahn, dalam hal apakah menjadi keharusan untuk diserahkan terus ketika transaksi atau setelah serah terima barang gadainya. Terdapat dua pendapat dalam hal ini:

Pendapat pertama, serah terima adalah syarat keharusan terjadinya ar-rahn. Ini pendapat M z H f S f w M z H M z

Zahiriyah.

D f

f ( )

t ini, Allah

-rahn adalah transaksi penyerta

yang perlu kepada penerimaan, sehingga memerlukan serah-terima (al-qabdh) seperti hutang. Ini juga kerana hal itu adalah rahn (gadai) yang belum diserah terima, sehingga tidak diharuskan untuk menyerahkannya, sebagaimana bila yang menggadaikannya meninggal dunia.

Pendapat kedua, ar-rahn boleh terjadi setelah selesai transaksi yang dilakukan. Dengan cara itu, bila pihak yang menggadaikan menolak untuk menyerahkan barang gadainya, maka dia dipaksa untuk menyerahkannya. Ini pendapat Mazhab Malikiyah dan riwayat dalam Mazhab Hambaliyah. D f D

menetapkannya sebagai ar-rahn sebelum dipegang (serahterimakan). Selain itu, ar-rahn juga merupakan akad transaksi yang mengharuskan adanya serah-terima sehingga juga menjadi wajib sebelumnya seperti jual beli. Demikian juga menurut Imam Malik, serah terima hanyalah menjadi penyempurna ar-rahn dan bukan syarat sahnya. S H f

sifat keumumannya, namun kebutuhan menuntut (keharusannya) tidak dengan serah-terima (al-qabdh).

Prof. Dr. Abdullah ath-Thayyar menyatakan bahwa yang rajih adalah ar-rahn menjadi harus diserahterimakan melalui akad transaksi, karena hal itu dapat merealisasikan faidah ar-rahn, berupa pembayaran hutang dengan barang gadai tersebut atau dengan nilainya ketika si peminjam tidak mampu membayar hutangnya. Ayat al-Quran pun hanya menjelaskan sifat keperluan dalam transaksi yang menuntut adanya jaminan walaupun belum sempurna serah terimanya kerana ada kemungkinan mendapatkannya.

Kapan Serah Terima ar-Rahn Dianggap Sah?

Adakalanya barang gadai itu berupa barang yang tidak dapat dipindahkan, seperti rumah dan tanah, sehingga serah terimanya disepakati dengan cara mengosongkannya untuk murtahin tanpa ada penghalangnya. 5

Ada kalanya pula, barang gadai itu berupa barang yang dapat dipindahkan. Bila berupa barang yang ditakar maka disepakati bahwa serah terimanya adalah dengan ditakar pada takaran. Adapun bila barang timbangan maka disepakati bahwa serah terimanya adalah dengan ditimbang, dihitung bila barangnya dapat dihitung, serta diukur bila barangnya berupa barang yang diukur.

Namun bila berupa tumpukan bahan makanan yang dijual secara tumpukan, maka terjadi perselisihan pendapat tantang cara serah terimanya: ada yang berpendapat bahwa serahterimanya adalah dengan cara memindahkannya dari tempat semula, dan ada yang menyatakan cukup dengan ditinggalkan pihak oleh yang menggadaikannya dan murtahin dapat mengambilnya.

Hukum-hukum Setelah Serah Terima

Ada beberapa ketentuan dalam gadai setelah terjadinya serah-terima yang berhubungan dengan pembiayaan (pemeliharaan), pertumbuhan barang gadai, pemanfaatan, serta jaminan pertanggungjawaban bila barang gadai rusak atau hilang, di antaranya:

Pertama, pemegang barang gadai.

Barang gadai tersebut berada ditangan murtahin selama masa perjanjian gadai tersebut, sebagaimana firman Allah,

J ( J R ) (Q

ah tidak secara tunai) sedangkan kamu

tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang -Baqarah: 283) w

sedang digadaikan, dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. Orang yang menunggangi dan meminum susu w j (H TI z; )

Kedua, pembiayaan pemeliharaan dan pemanfaatan barang gadai.

Pada asalnya barang, biaya pemeliharaan dan manfaat barang yang digadaikan adalah milik orang yang menggadaikan (rahin), dan murtahin tidak boleh mengambil manfaat barang gadaian tersebut kecuali bila barang tersebut berupa kendaraan atau hewan yang diambil air susunya, maka murtahin boleh menggunakan dan mengambil air susunya apabila ia memberikan nafkah (dalam pemeliharaan barang tersebut). Tentunya, pemanfaatannya sesuai dengan besarnya nafkah yang dikeluarkan dan memperhatikan keadilan. Hal ini di dasarkan pada sabda Rasu w

nnya) bila

sedang digadaikan, dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. Orang yang menunggangi dan meminum susu w j M (H TI z; )

Syekh al-Basam

Demikian juga, pertumbuhan dan keuntungan barang tersebut juga miliknya, kecuali dua pengecualian ini (iaitu kendaraan dan haiwan yang memiliki air susu yang diperas). Penulis kitab al-Fiqh al-M M f

adalah hak pihak penggadai, karena itu adalah miliknya. Orang lain tidak boleh mengambilnya tanpa keizinannya. Bila ia mengizinkan murtahin (pemberi hutang) untuk mengambil manfaat barang gadainya tanpa imbalan dan hutang gadainya dihasilkan dari peminjaman, maka yang demikian itu tidak boleh dilakukan, kerana itu adalah peminjaman hutang yang menghasilkan manfaat. 7

Adapun bila barang gadainya berupa kendaraan atau haiwan yang memiliki susu perah, maka murtahin diperbolehkan untuk mengendarainya dan memeras susunya sesuai besarnya nafkah yang dia berikan kepada barang gadai tersebut, tanpa izin dari penggadai, karena Rasulullah w bersabda,

nnya) bila

sedang digadaikan, dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. Orang yang menunggangi dan meminum susu w j (H -Bukhari, no. 2512).

Ini adalah pendapat Mazhab Hanabilah. Adapun mayoritas ulama fikih dari Mazhab H f M S f w

mengambil manfaat barang gadai, dan pemanfaatan hanyalah hak penggadai, dengan dalil sabda Rasulullahshallallah

D (H

w j -Daruquthni dan al-Hakim)

Tidak ada ulama yang mengamalkan hadits pemanfaatan kendaraan dan haiwan perah sesuai nafkahnya kecuali Ahmad, dan inilah pendapat yang rajih -insya Allah- karena dalil hadits shahih tersebut. [26]

Ibnul Qayyim memberikan komen atas hadits pemanfaatan kendaraan gadai dengan H njukkan bahwa hewan gadai

dihormati karena hak Allah. Pemiliknya memiliki hak kepemilikan dan murtahin (yang memberikan hutang) memiliki hak jaminan padanya.

Bila barang gadai tersebut berada di tangan murtahin lalu dia tidak ditunggangi dan tidak diperas susunya, maka tentu akan hilanglah kemanfaatannya secara sia-sia. Sehingga, 8

berdasarkan tuntutan keadilan, analogi (qiyas), serta untuk kemaslahatan penggadai, pemegang barang gadai (murtahin), dan haiwan tersebut, maka murtahin mengambil manfaat, memeras susunya, serta dan menggantikan semua manfaat itu dengan cara menafkahi (haiwan tersebut).

Bila murtahin menyempurnakan pemanfaatannya dan menggantinya dengan nafkah, maka dalam hal ini ada kompromi dua

Ketiga, pertumbuhan barang gadai.

Pertumbuhan atau pertambahan barang gadai setelah dia digadaikan, adakalanya bergabung dan adakalanya terpisah. Bila tergabung, seperti (bertambah) gemuk, maka ia termasuk dalam barang gadai, dengan kesepakatan ulama. Adapun bila dia terpisah, maka terjadi perbedaan pendapat ulama dalam hal ini.

Abu hanifah dan Imam Ahmad, serta yang menyepakatinya, berpandangan bahawa pertambahan atau pertumbuhan barang gadai yang terjadi setelah barang gadai berada di tangan murtahin akan diikut sertakan kepada barang gadai tersebut. S I S f I H z w

hal pertambahan atau pertumbuhan barang gadai tidak ikut serta bersama barang gadai, namun menjadi milik orang yang menggadaikannya. Hanya saja, Ibnu hazm berbeda S f w I H z

berpendapat bahwa dalam kendaraan dan hewan yang menyusui, (pertambahan dan pertumbuhannya) menjadi milik orang yang menafkahinya.

Keempat, perpindahan kepemilikan dan pelunasan utang dengan barang gadai.

Barang gadai tidak berpindah kepemilikannya kepada murtahin apabila telah selesai masa perjanjiannya, kecuali dengan izin orang yang menggadaikannya (rahin) dan dia tidak mampu melunasi utangnya.

Pada zaman jahiliyah dahulu, apabila pembayaran hutang telah sampai tempoh, sedangkan orang yang menggadaikan belum membayar hutangnya, maka pihak yang memberi pinjaman 9

wang akan menyita barang gadai tersebut secara langsung tanpa izin orang yang menggadaikannya (si peminjam wang).

Kemudian, Islam membatalkan cara yang zalim ini dan menjelaskan bahwa barang gadai tersebut adalah amanat pemiliknya yang berada di tangan pihak yang memberi pinjaman. Oleh sebab itu, pihak pemberi pinjaman tidak boleh memaksa orang yang menggadaikan barang tersebut untuk menjualnya, kecuali si peminjam tidak mampu membayar hutang tersebut.

Bila dia tidak mampu membayar hutangnya sampai tiba masanya, maka barang gadai tersebut dijual untuk membayar pembayaran hutang tersebut. Apabila ternyata hasil penjualan tersebut masih ada sisanya, maka sisa penjualan tersebut menjadi milik pemilik barang gadai (orang yang menggadaikan barang tersebut). Bila hasil penjualan barang gadai tersebut belum dapat melunasi utangnya, maka orang yang menggadaikannya tersebut masih menanggung sisa utangnya.

Demikianlah, barang gadai adalah milik orang yang menggadaikannya. Namun bila pembayaran hutang telah tamat, maka penggadai meminta kepada murtahin (pemilik piutang) untuk menyelesaikan masalah hutangnya, kerana hutang yang sudah sampai tempoh masa harus dibayar seperti hutang tanpa gadai.

Bila ia dapat membayar keseluruhan tanpa (menjual atau memindahkan kepemilikian) barang gadainya, maka murtahin melepas barang tersebut. Bila ia tidak mampu membayar seluruhnya atau sebagiannya, maka wajib bagi orang yang menggadaikan (rahin) untuk menjual sendiri barang gadainya atau melalui wakilnya dengan izin dari murtahin, dan murtahin didahulukan atas pemilik piutang lainnya dalam pembayaran hutang tersebut.

Apabila penggadai tersebut enggan membayar hutangnya dan menjual barang gadainya, maka pemerintah boleh menghukumnya dengan penjara agar ia menjual barang gadainya tersebut.

Apabila dia tidak juga menjualnya, maka pemerintah menjual barang gadai tersebut dan membayar h Hambaliyah. 10 j I M z S f

Malikiyah berpandangan bahwa pemerintah boleh menjual barang gadainya tanpa memenjarakannya, serta boleh membayar hutang tersebut dengan hasil penjualannya. Sedangkan Hanafiyah berpandangan bahawa murtahin boleh menagih pembayar hutang kepada penggadai, serta meminta pemerintah untuk memenjarakannya bila dia tampak tidak mahu membayarnya. Pemerintah (pengadilan) tidak boleh menjual barang gadainya. Pemerintah hanya boleh memenjarakannya saja, sampai ia menjual barang gadainya, dalam rangka meniadakan kezaliman.

Yang rajih, pemerintah menjual barang gadainya dan melunasi hutangnya dengan hasil penjualan tersebut tanpa memenjarakan si penggadai, kerana tujuannya adalah membayar hutang dan itu telah terealisasikan dengan penjualan barang gadai. Selain itu, juga akan timbul dampak sosial yang negatif di masyarakat jika si penggadai (yang merupakan pihak peminjam wang) dipenjarakan.

Apabila barang gadai tersebut dapat menutupi seluruh hutangnya maka selesailah uhtang tersebut, dan bila tidak dapat menutupinya maka penggadai tersebut tetap memiliki hutang, yang merupakan selisih antara nilai barang gadainya yang telah dijual dan nilai hutangnya. Dia wajib membayar lebihan hutang tersebut.

Demikianlah keindahan Islam dalam permasalahan gadai, tidak seperti realiti yang banyak berlaku, iaitu pemilik piutang menyita barang gadai yang ada padanya, walaupun nilainya lebih besar dari hutang si pemilik barang gadai, bahkan mungkin lebih. Ini jelas merupakan perbuatan jahiliyah dan sebuah bentuk kezaliman yang harus dihilangkan.

Satu produk al-rahn dan tiga ciri-cirinya

Skim itu ditawarkan 6 tahun lalu, menerusi lima cawangan Bank Rakyat di seluruh negara. Perkembangan drastik Ar-Rahnu adalah selari dengan transformasi dalam sistem penyampaian produk mikro kredit ini sejak ia dilancarkan sehingga kini. Pelbagai inovasi terhadap sistem penyampaian produk itu dilaksanakan selaras dengan tuntutan untuk memenuhi keperluan dan keputusan bilangan pelanggan yang semakin meningkat.

11

Produk Ar-Rahnu itu membuktikan betapa seriusnya Bank Rakyat dalam usahanya untuk meminggirkan pelanggannya. B R

Penambahbaikan sistem komputer meningkatkan lagi kecekapan di dalam proses penyampaian perkhidmatan kepada pelanggan. Kepantasan urusan selain jaminan keselamatan ke atas barang gadaian menyumbang kepada peningkatan tahap keyakinan pelanggan.

Peningkatan jumlah pinjaman maksimum daripada RM50,000 kepada RM100,000 adalah bagi memenuhi keperluan pelanggan terutama dikalangan usahawan Industri Kecil dan Sederhana (IKS) yang melihat skim Ar-Rahnu sebagai sumber dalam perolehan modal pusingan perniagaan mereka.

Selain itu, lanjutan tempoh pinjaman yang lebih fleksibel selama enam bulan tanpa had, memberikan keselesaan pelanggan di dalam merancang kewangan peribadi mereka.

Langkah memfrancaiskan produk Ar-Rahnu, dilihat satu usaha mendekatkan saluran perkhidmatannya kepada orang ramai. Sehingga kini ada 14 rangkaian jenama Ar-Rahnu X Change di seluruh negara yang menjalankan operasi skim itu secara profesional berlandaskan kepakaran dan pengalaman Ar-Rahnu Bank Rakyat sejak 1993.

Sistem operasi perniagaan dan ciri-ciri produk Ar-Rahnu X Change adalah seperti yang ditawarkan 120 cawangan Bank Rakyat sedia ada.

Bank Rakyat sentiasa memfokus bagi meningkatkan kesedaran masyarakat mengena kepelbagaian fungsi Ar-Rahnu sebagai salah satu instrumen kewangan. Pelancaran produk Ar-Rahnu Genius sekali gus menawarkan alternatif kepada pelanggan untuk menggadai barang kemas yang dimiliki kepada bentuk simpanan secara tunai.

Ia secara langsung mempelbagaikan cabang fungsi Ar-Rahnu kepada produk tabungan dan pelaburan.

12

Beberapa inovasi yang berlaku ke atas sistem dan ciri-ciri produk mikro kredit ini adalah seiring dengan perkembangan perniagaan Ar-Rahnu Bank Rakyat selaku pendahulu pasaran. Kepelbagaian tujuan gadaian dan pertambahan segmen kumpulan pelanggan adalah transformasi di dalam industri pajak gadai Islam kepada satu dimensi yang baru.

Ar-Rahnu bukan lagi dilihat sebagai produk kelas kedua yang hanya disasarkan kepada pelanggan Melayu, berpendapatan rendah dan luar bandar. Kehadiran pelanggan bukan Bumiputera dan ahli perniagaan yang semakin bertambah saban hari menuntut Bank Rakyat dan Ar-Rahnu X Change meningkatkan tahap perkhidmatan yang benar-benar profesional.

Sehingga 30 Jun 2009, jumlah pengeluaran pinjaman Ar-Rahnu Bank Rakyat melebihi RM625 juta. Ia secara tidak langsung memperlihatkan penerimaan Ar-Rahnu Bank Rakyat setanding dengan produk mikro kredit yang lain seperti Pembiayaan Peribadi, Kad Kredit dan seumpamanya.

Program pengiklanan dan produk secara bersepadu menerusi pelbagai saluran media bertujuan menyampaikan mesej yang jelas bahawa Bank Rakyat mempunyai satu produk yang cukup sempurna dalam memenuhi keperluan tunai segera.

Apa yang penting adalah sejauh mana masyarakat menilai dan menghargai usaha Bank Rakyat serta rangkaian Ar-Rahn XC f f

Empat bentuk keselarasan produk tersebut dengan prinsip gadaian dalam Islam.

Secara ringkasnya sejarah sistem gadaian Islam di Malaysia bermula dengan penubuhan Muassasah Gadaian Islam Terengganu (MGIT) pada 23 Januari 1992. Seterusnya sistem ini mula berkembang apabila Perbadanan Kemajuan Iktisad Negeri Kelantan (PKINK) menerusi Permodalan Kelantan Berhad (PKB) telah membuka sebuah Kedai Ar-Rahnu pada Mac 1992. Seterusnya sistem gadaian Islam ini terus bertapak kukuh apabila pihak Yayasan Pembangunan Ekonomi Islam Malaysia (YPEIM) pada 27 Oktober 1993 telah memperkenalkannya melalui Bank Kerjasama Rakyat Malaysia (Bank Rakyat) dan kemudiannya dengan Bank Islam Malaysia 13

Berhad (BIMB) pada November 1997. Sekali lagi YPEIM pada 15 September 2002, telah mengambil inisiatif apabila menawarkan skim ini melalui kaunter Koperasi YPEIM Berhad. Dan seterusnya, sistem gadaian ini terus mendapat tempat di kalangan institusi kewangan apabila Agro Bank (ketika itu Bank Pertanian) mula menawarkan skim berkenaan pada tahun 2002, EON Bank Group dan seterusnya oleh koperasi-koperasi.

Gadaian atau disebut Ar-Rahnu (dalam Bahasa Arab) telah diaplikasikan sejak zaman Rasulullah SAW lagi. Ar-Rahnu bermaksud meletakkan sesuatu barang yang berharga sebagai jaminan atau cagaran oleh pemiliknya untuk mendapatkan pinjaman. Sekiranya pemilik tersebut tidak dapat menyelesaikan hutangnya, si pemberi hutang berhak untuk mendapatkan kembali wang dipinjamkannya daripada barang gadaian tersebut Kesimpulan Dari huraian di atas dapat diambil suatu intisari bahawa gadai (rahn) adalah salah satu bentuk muamalah sebagai kaedah saling membantu (taawun) agar tercipta kemaslahatan umat yang merupakan salah satu prinsip dari hukum Islam.

Gadai (rahn) adalah sesuatu benda yang dapat dijadikan kepercayaan/ jaminan dari suatu hutang untuk dipenuhi harganya, rahn sebagai jaminan bukan produk dan untuk kepentingan sosial maka tidak boleh dijadikan modal investasi kerana pada dasarnya gadai ini bukan untuk kepentingan bisnes atau lain lain.

Pendapat ulama ( Empat Mahzab ) pada dasarnya memanfaatkan barang gadai tidak diperbolehkan karena tindakan memanfaatkan barang gadai tak ubahnya qiradh dan setiap qiradh yang mengalir manfaat adalah riba. Akan tetapi jika barang yang digadaikan itu berupa hewan ternak yang bisa diambil susunya atau ditunggangi dan pemilik barang gadai memberi izin untuk memanfaatkan barang tersebut maka penerima gadai boleh memanfaatkannya sebagai imbalan atas beban biaya pemeliharaan hewan yang dijadikan marhun tersebut.

14

Rujukan

1.Rasyid,Sulaiman,Haji, 1994, FIQH ISLAM, ( Bandung; sinar Baru Algesindo,) 2.Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshary al-Qurtuby, Al-Jami Li Ahkam alQ j 3(D I -Tratsi al-Araby, 1985) h.412.

4.http://www.usahawan.com/umum/sistem-pajak-gadai-islam-ar-rahnu.html 5. http://maidam.terengganu.gov.my/maxc2020/agensi/faq_display.php?cid=2&catfaq=139 6. http://goldpossessor.blogspot.com/p/ar-rahnu.html 7. http://www.takaful-ikhlas.com.my/malay/gui/pdf/aplikasi_gadaian_dalam_islam.pdf 8. Ath-T P 9. B M J IV M 4M z ( j M ) 997 T -Khidmaat at-T 2004 E M B Fq M -Hanif, Yogyakarta. -l-al-Alkam min Bulughu-l-

10. http://loanstreet.com.my/ms/pusat-pembelajaran/ar-rahnu-pajak-gadai-islam-di-malaysia 11.Absm3103 Fiqh Muamalat, Open University Malaysia

Jumlah patah perkataan:2987 patah perkataan

15