Anda di halaman 1dari 24

HPP HPP

: Primer & sekunder

dini bila perdarahan terjadi dlm 24 jam pertama

Late

HPP bila perdarahan terjadi setelah 24 jam pertama

Definisi
Perdarahan persalinan lambat/sekunder merupakan perdarahan dari vagina setelah 24 jam pertama persalinan hingga 6 minggu PP

ETIOLOGI
Atonia uteri

HPP dini

Laserasi jalan lahir Hematoma Penyebab lain : sisa plasenta, ruptur uteri, inversio uteri, gangguan pembekuan darah

ETIOLOGI
Tertinggalnya sebagian

Late HPP

plasenta Subinvolusio didaerah insersi plasenta luka bekas SC Infeksi Terbukanya jahitan episiotomi

Gambaran Klinis

Biasanya terjadi dalam 7-9 hari pertama PP. Dapat terjadi tanpa gejala pendahuluan, tetapi lebih sering disertai dengan demam atau kram rahim

Penentuan etiologi diperlukan : anamnesis pemeriksaan umum pemeriksaan abdomen pemeriksaan dalam

Perdarahan yang berlangsung terusmenerus melampaui batas lokhea normal dan dapat disertai rasa sakit di daerah uterus Pada palpasi didapatkan fundus uteri masih teraba yang lebih besar dari yang diperkirakan Pada pemeriksaan dalam didapatkan uterus yang membesar, lunak, dan dari ostium uteri keluar darah

LPH

paling sering berhubungan dengan subinvolusio rahim yang biasanya disebabkan oleh INFEKSI, bagian konsepsi yang TERTINGGAL, atau penyembuhan sinus vaskular yang abnormal pada tempat implantasi plasenta

Antenatal care : Pengawasan ANC memberikan manfaat dengan ditemukannya berbagai kelainan scr dini, sehingga dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langka-langkah dan petolongan persalinannya

Adequate management of labor : >>penatalaksanaan kala IV optimal >>pastikan plasenta lahir utuh
Postpartum monitoring : >>evaluasi perdarahan

Perawatan
Perdarahan sedikit : Tirah baring, pemberian uterotonika per oral, jika ada infeksi diberikan antibiotik Perdarahan sedang Oksitosin IV, jika ada infeksi antibiotik parenteral Perdarahan banyak Pasang infus, beri transfusi, jika ada sisa plasenta lakukan kuretase, jika tdk berhenti histerektomi

Kuretase

dilakukan untuk pasien yang terbukti terdapat produk konsepsi yang tertinggal yang TIDAK BERESPON terhadap pengobatan KONSERVATIF, atau yang perdarahannya sangat cepat sehingga keterlambatan dapat menjadi berbahaya

Sewaktu

suatu bagian dari plasenta satu atau lebih lobus tertinggal, maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif. Eksplorasi manual uterus menggunakan teknik yang serupa dengan teknik yang digunakan untuk mengeluarkan plasenta yang tidak keluar yaitu plasenta manual
perdarahan masih berlanjut dilakukan uji bekuan darah

Jika

1. 2. 3. 4. 5.

PROM Anemia Hemorrhage Episiotomy and CS Placenta retain

Immediate complications: Anaemia. HypovolemicShock. Acute renal failure. Acute Liver failure (hepato-renal syndrome) Acute pulmonary oedema, consumption coagulopathy, transfusion reactions, (iatrogenic).

Long term complications: Infections: puerperal infections Sheehans syndrome (necrosis of anterior pituitary). Chronic anaemia. Chronic renal failure.

Bidan

mampu mengenali secara tepat dan dini tanda serta gejala perdarahan postpartum sekunder, penyelamatan jiwa ibu dan melakukan pertolongan pertama untuk merujuknya.

1.

2. 3. 4.

Bidan terlatih dalam memberikan perawatan nifas,termasuk pengenalan dan penanganan bila terjadi postpartum sekunder. Tersedia alat/bahan saperti sabun,air bersih,handuk bersih,dll. Obat oksitosik dan tempat penyimpanan yang memadai Adanya pencatatan pelayanan nifas ibu

1.

Periksa gejala dan tanda perdarahan postpartum sekunder.perdarahan dari vagina atau lokhia berlebihan pada 24 jam-42 hari sesudah persalinan dianggap sebagai perdarahan postpartum sekunder,dan memerlukaan pemerikssan dan pengobatan segera.

2.

pantau dengan hati-hati ibu yang beresiko mengalami perdarahan postpartum sekunder paling sedikit selama 10 hari,Pertama terhadap tanda-tanda awalnya.ibu yang beresiko adalah ibu yang mengalami: - Pengeluaran plasenta dan selaputnya tidak lengkap - Persalinan lama - Persalinan dengan komplikasi atau dengan menggunakan alat - Terbukanya luka setelah bedah besar - Terbukanya luka setelah episiotomi

3.

4. 5.

6.

Berikan antibiotika,misalnya ampisilin 1 gr peroral dan metronidazol 500 mg peroral setiap 6 jam. Bila kondisi ibu memburuk pasang infus dan rujuk . Jelaskan dengan hati-hati kepada ibu dan keluarganya tentang apa yang terjadi Rujuk ibu bersama bayinya dan anggota keluarganya yg dapat menjadi donor darah ,jika di perlukan ,ke rumah sakit.

Observasi dan cek tanda-tanda vital secara teratur,catat dengan teliti dan akurat perdarahan:kapan mulainya dan berapa banyak darah yang sudah keluar. 8. Berikan suplemen zat besi selama 90 hari kepada ibu yg mengalami perdarahan postpartum sekunder ini 9. Buat catatan yang akurat 10. Beri nasihat kepada ibu tentang pentingnya kebersihan diri, penggunaan pembalut steril dan membuangnya dengan hati-hati (sebaiknya dibakar). Jika tidak ada pembalut steril maka dapat digunakan kain yang tela dijemur sampai kering.
7.

11.

12.

13. 14.

tekankan pada anggota keluarga tentang pentingnya istirahat, gizi baik dan banyak minum bagi ibu. memotivasi ibu untuk tetap memberikan ASI. (namun demikian bayi mungkin memerlukan pemberian ASI lebih sering agar kebutuhan gizinya terpenuhi). lakukan semua pencatatan dengan seksama. amati ibu dengan seksama dan jika kondisinya tidak membaik dalam 24 jam segera rujuk ke RS.