Anda di halaman 1dari 40

Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Denata prabhasiwi
030.09.062
PENDAHULUAN
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit paru kronik yang
ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progresif
non-reversibel atau reversibel parsial.
Penyebab kematian keempat tertinggi di dunia.
Di Indonesia PPOK menempati urutan pertama penyumbang angka kesakitan
(35%) pada tahun 2004.

LATAR BELAKANG
Manifestasi sistemik PPOK : Inflamasi sistemik,
penurunan berat badan, peningkatan risiko penyakit
kardiovaskular, osteoporosis
Pada PPOK terdapat gangguan mekanis dan pertukaran gas di
sistem pernapasan Obstruksi saluran napas kronis
volume udara keluar& masuk tidak seimbang air trapping
sesak napas
Paru
paru
dextra
Lobus superior
Lobus media
Lobus inferior
Paru
paru
sinistra
Lobus superior
Lobus inferior
PULMO
fisiologi

Ventilasi :
Pertukaran udara antara udara
luar dengan udara dlm alveol.

Difusi :
Pertukaran O2 dan CO2 antara
udara alveol dg darah di dlm
pembuluh kapiler paru.

Perfusi :
Proses pengangkutan O2 dan
CO2 oleh sistem peredaran
darah, dari paru ke jaringan dan
sebaliknya.




DEFINISI
Penyakit paru obstruksi kronis yang ditandai oleh aliran
udara paru paru yang mengganggu pernafasan
normal, irreversibel
Menurut WHO
Penyakit kronis yang ditandai dengan keterbatasan
aliran udara akibat bronkitis kronis dan emphysema
American
Thoracic Society
Gangguan aliran udara yang kronis dengan beberapa
perubahan patologis dan bisa disertai efek
ekstrapulmonal dan berbagai komorbiditas yang
berpengaruh terhadap derajat penyakit
Global Initiative
for Chronic Lung
Disease
Epidemiologi
Penyebab kematian keempat tertinggi di dunia.
Di Indonesia PPOK menempati urutan pertama
penyumbang angka kesakitan (35%) pada
tahun 2004.

Faktor Risiko PPOK
Asap rokok
Polusi tempat kerja (bahan kimia, zat iritan, gas beracun)
Indoor Air Pollution atau polusi di dalam ruangan
Polusi di luar ruangan, seperti gas buang kendaraan bermotor dan debu
jalanan.
Infeksi saluran nafas berulang
Jenis kelamin
Status sosioekonomi dan status nutrisi
Rendahnya intake dari antioksidan seperti vitamin A, C, E
Asma
Usia
Onset usia dari PPOK ini adalah pertengahan
Faktor Genetik
Faktor kompleks genetik dengan lingkungan
Etiologi PPOK
Etiologi Peradangan merupakan elemen kunci terhadap
patogenesis PPOK
Inflamasi kronis mengakibatkan metaplasia pada dinding epitel
bronchial, hipersekresi mukosa, peningkatan massa otot halus, dan
fibrosis.

ASAP
ROKOK
STRESS OKSIDATIF
MUTASI
SOMATIK
INFLAMASI
Patogenesis
Gejala
klinis
Batuk
kronis
Sesak
nafas
Produksi
sputum
Sesak yang
bertambah
saat aktifitas
Batuk hilang timbul
selama 3 bulan yang
tidak hilang dengan
pengobatan
Pemeriksaan Fisik
Pursed lips
breathing
Barrel chest
Penggunaan alat
bantu nafas
Hipertrofi otot
bantu nafas
Pink puffer
Blue bloater


inspeksi
Sela iga
melebar
Vocal
fremitus
melemah
palpasi
Hipersonor
Letak diafragma
rendah
Hepar terdorong
kebawah
Perkusi
Suara vesikuler
normal/
melemah
Terdapat ronki
dan wheezing
Ekspirasi
memanjang
Bunyi jantung
terdengar jauh
Auskultasi
Pemeriksaan
penunjang
Pemeriksaan rutin
Faal paru -> spirometri
Uji bronkodilator
Darah rutin
radiologi
Pemeriksaan khusus/
tidak rutin
Uji provokasi bronkus,
uji coba kortikosteroid,
analisa gas darah, ekg,
eko, bakteriologi
Spirometri
VC/ KV : kapasitas vital
VEP : volume ekspirasi paksa
KVP : kapasitas vital paksa


.


Volume udara ekspirasi maksimal yang dapat
dileluarkan setelah inspirasi maksimal.
Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP1 prediksi ( % ) dan atau VEP1/KVP
(%).
VEP1 merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai
beratnya PPOK dan memantau perjalanan penyakit
Spirometri

Obstruksi :
VEP1% (VEP1/KVP) < 75 %
VEP1%pred < 80%

Radiologi
1. Pada emfisema terlihat gambaran
- Hiperinflasi
- Hiperlusen
- Ruang retrosternal melebar
- Diafragma mendatar
2. Pada bronkitis kronik :
- Normal
- Corakan bronkovaskuler
bertambah pada 21 % kasus
diagnosis
Faktor resiko
anamnesis
Pemeriksaan
fisik
radiologi
Diagnosis
banding
asma
tuberculosis bronkiektasis
TATA LAKSANA
edukasi
Obat -
obatan
Terapi
oksigen
Ventilasi
mekanik
Nutrisi rehabilitasi
Edukasi
Obat - obatan

Bronkodilator
.
1. Antikolinergik
2. Agonis b2
3. Kombinasi
antikolinergik
dan agonis beta
2
4.xantin


Anti
inflamasi
Antibiotika:
jika terdapat
infeksi
- Lini 1 :
amoksisilin,
makrolid
Lini 2 :
amoksisilin,
asam klavulanat,
sefalosporin
mukolitik

Ventilasi Mekanik
Ventilasi
mekanik
Tanpa
intubasi
NIPPV
NPV
Dengan
intubasi
INDIKASI :

1. Eksaserbasi
dengan gagal
nafas akut
2. Gagal nafas
akut pada
gagal nafas
kronik
3. Pasien PPOK
berat dengan
nafas kronik
Indikasi :
-Sesak nafas berat dengan
penggunaan otot bantu tambahan
-Frekuensi nafas > 35 permenit
-Hipokesemia (PaO2 < 40 mmHg)
-Asidosis berat
-Gangguan kesadaran
-Henti nafas
-Gangguan kesadaran
KRITERIA PPOK STABIL

1. Pasien tidak dalam kondisi gagal nafas akut pada
gagal nafas kronik
2. Dahak jernih tidak berwarna
3. Tidak ada penggunaan bronkodilator tambahan
4. Hasil analisa gas darah PCO2 < 45mmHg, PO2>
60 mmHg
TANDA EKSASERBASI

1. Batuk seakin berat
2. Produksi sputum
bertambah banyak
3. Sputum berubah
warna
4. Sesak nafas
bertambah
5. Keterbatasan
aktivitas bertambah
6. Gagal nafas akut pada
gagal nafas kronik
7. Kesadaran menurun
sebab
primer
sekunder
Pneumoni, gagal jantung, aritmia,
emboli paru, nutrisi buruk,polusi, DM,
penggunaan obat yg tidak tepat, aspirasi
berulang, kelelahan otot respirasi
Infeksi
trakeobronkial
KOMPLIKASI
Gagal nafas
Polisitemia
sekunder
Cor pulmonale pneumothorax
PROGNOSIS
Semakin cepat diagnosis ditegakan maka
prognosis akan semakin baik dengan catatan
etiologi dapat disingkirkan. Apabila etiologi
tidak dapat disingkirkan penderita bukan saja
mndapat kekambuhan dalam waktu dekat
tetapi penyakitnya akan melaju dengan sangat
cepat. Hal ini terutama disebabkan oleh sudah
semakin berkurangnya elastisitas paru,
luasnya kerusakan yang irreversible.

kesimpulan
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), merupakan
penyakit kronik yang ditandai dengan keterbatasan aliran
udara didalam saluran napas yang tidak sepenuhnya
reversible akibat bronkitis kronis dan emphysema.
Penatalaksaan yang tepat pada PPOK meliputi edukasi,
obat obatan, terapi oksigen, ventilasi mekanik, nutrisi
dam rehabilitasi.Manajemen utama untuk PPOK derajat I
dan II antara lain dengan menghindari faktor resiko,
mencegah progresivitas PPOK, dan penggunaan obat-
obatan untuk mengontrol gejala dari PPOK, sedangkan
untuk PPOK derajat III dan IV memerlukan manajemen
terapi yang lebih terpadu dengan berbagai pendekatan
untuk membantu pasien dalam melewati perjalanan
penyakitnya
kesimpulan