Anda di halaman 1dari 12

0

JURNAL KESEHATAN TENTANG


ABORTUS
Posted by Nia Anggara on 16.06

ABSTRACT

Abortus are circumstances that indicate the products of conception before the fetus expenditure
can live outside the womb or termination of pregnancy before the fetus weighed 500 grams or
gestational ages less than 20 weeks. This situation may improve morbilitas and maternal and
fetal mortality.
The high incidence of incomplete abortion can not be separated from the state of the mother
during pregnancy is also influenced by various factors including: maternal age, parity and
occupation.
This research uses a survey method with a descriptive approach with a population of 77 cases
and samples are all pregnant women who experienced incomplete abortion di Rumah Sakit Ibu
dan Anak Pertiwi Makassar Tahun 2009 were 54 cases.
From the results of this study, the incidence of incomplete abortion by the age of 20-35 years
(62,96%) higher than women with age < 20 years and > 35 years (37,04%), the incidence of
abortion with parity 2-3 (53,71%), higher than the mothers with parity 1 and > 3 (46,29%),
mothers who work > 8 hours (IRT, self-employed) (72,22%) higher than in women who worked
< 8 hours (PNS) (27,78%).
Suggested the need for further research about other factors associated with incomplete
abortions or research on the factors that have been analyzed using other methods.
Key Words : Incomplete Abortion


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kebidanan dalam arti menolong persalinan dapat dikatakan sebagai praktik kesehatan tertua
di dunia, sama tuanya dengan umat manusia. Pada mulanya semua persalinan ditolong oleh
dukun atau mereka yang mengkhususkan diri dalam pertolongan persalinan, tanpa membolehkan
tenaga medis lainnya untuk ikut membantu melakukan hal tersebut.
Dengan pengetahuan yang serba terbatas serta jumlah tenaga ahli kebidanan dan penyakit
kandungan di Indonesia yang masih sangat kurang yaitu pada tahun 1995 terdapat 700 orang
tenaga berbanding dengan 197 juta penduduk (Manuaba, 1999) bila dibandingkan dengan negara
di Asia Tenggara lain, contoh di Filipina terdapat 2.000 orang tenaga ahli kebidanan dalam
jumlah penduduk 40 juta jiwa. Maka sudah dapat dibayangkan bahwa jumlah kematian ibu dan
bayi di Indonesia menjadi paling tinggi di Asia Tenggara.
Sebagai ukuran kemmapuan pelayanan kesehatan satu negara ditetapkan berdasarkan angka
kematian ibu dan angka kematian karena melahirkan. Sementara persalinan di Indonesia
sebagian besar yaitu sekitar 70 80 % masih ditolong oleh dukun terutama di pedesaan dengan
kemampuan dan peralatan yang serba terbatas. Penyebab kematian terjadi terutama karena
perdarahan, infeksi, dan keracunan hamil serta terlambatnya sistem rujukan (Manuaba, 1999).
1
Pemerintah sendiri telah mengupayakan berbagai cara untuk mengendalikan angka
kematian ibu dan bayi yang sangat tinggi tersebut guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat
pada umumnya serta kesehatan ibu pada khususnya. Dengan berkembangnya pengetahuan dan
teknologi dewasa ini, membuat model pengawasan terhadap masa kehamilan seperti yang
dikembangkan di Paris pada tahun 1901 dengan nama plea of promaternity hspital yang
bertujuan memberikan pelayanan kepada ibu selama masa kehamilan sehingga ibu dapat
menyelesaikan masa kehamilannya dengan baik dan bayi dapat dilahirkan dengan sehat dan
selamat. Di Indonesia sendiri model pengawasan tersebut semakin membuka pandangan
masyarakat bahwa pengawasan yang ketat pada masa kehamilan menjadi hal yang sangat penting
guna mengantarkan ibu dan bayi kepada keadaan yang sehat dan sejahtera. Oleh karenanya di
Indonesia dikembangkan model pengawasan yang sama dengan nama BKIA yaitu Balai
Kesehatan Ibu dan Anak. Dimana BKIA menjadi bagian terpenting dari program Puskesmas dan
telah tersebar dis eluruh Indonesia yang dipimpin oleh beberapa orang dokter sehingga
kemampuan pelayanannya dapat lebih ditingkatkan. Bahkan menjelang pencapaian Indonesia
Sehat 2010, dikembangkan program Bidan di Desa guna mengupayakan masyarakat di pelosok
dapat menjangkau pelayanan kesehatan yang mereka butuhkan dengan lebih mudah.
Pemerintah memberikan perhatian khusus kepada masalah kebidanan ini mengingat
permasalahan yang muncul selama masa kehamilan adalah sangat kompleks yang meliputi
masalah fisik, psikologis dan sosial (Sarwono, 1991). Bahkan dengan kecenderunagn angka
kematian pada ibu yang sangat tinggi yang diakibatkan karena perdarahan, infeksi dan keracunan
pada masa kehamilan, menjadikan program pengawasan pada ibu hamil lebih diperketat dan
ditingkatkan melalui upaya ANC (Ante Natal Care).
Salah satu permasalahan yang sering terjadi pada ibu hamil adalah keguguran atau abortus.
Mengingat semkain berkembnagnya pendidikan dan pengethauan masyarakat khususnya wanita
dengan emansipasinya dalam turut serta menghidupi ekonomi keluarga, membuat kejadian
abortus menjadi cukup tinggi dalam dekade terakhir. Didukung pula oleh pengaruh budaya barat
dengan pergaulan bebasnya menjadinya banyak kejadian kehamilan tidak diinginkan menjadi
meningkat sehingga kecenderungan kejadian abortus provocatus juga meningkat. Bahkan
semakin merebaknya klinik klinik aborsi di tanah air, semakin membuka peluang wanita untuk
melakukan aborsi tanpa memikirkan akibatnya.
Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, maka kami mengangkat permasalahan abortus
sebagai makalah, mengingat permasalahan abortus sendiri merupakan suatu permasalahan yang
kompleks bagi ibu, suami/pasangan maupun keluarga.





1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Menerapkan asuhan keperawatan pada ibu dengan kejadian abortus sesuai dengan konsep
teori asuhan keperawatan.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi data fokus keperawatan melalui pengkajian pada ibu hamil denagn kejadian
abortus.
2. Mengidentifikasi diagnosa keperawatan yang timbul pada ibu hamil dengan kejadian abortus.
3. Mengidentifikasi rencana intervensi keperawatan pada ibu hamil dengan kejadian abortus.
4. Menerapkan implementasi keperawatan pada ibu hamil dengan kejadian abortus.
5. Mengidentifikasi evaluasi keperawatan pada ibu hamil dengan kejadian abortus.

1.3 Manfaat Penulisan
1.3.1 Bagi mahasiswa
Memberikan kesempatan kepada mahasiswa guna menerapkan asuhan keperawatan pada ibu
hamil dengan kejadian abortus sehingga dapat menambah pengalaman dan pemahaman
mahasiswa terhadap penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan abortus.
1.3.2 Bagi Institusi pendidikan
Meningkatkan pengetahuan mengenai penatalaksanaan asuhan keperawatan pada ibu hamil
dengan kejadian abortus di rumah sakit sehingga dapat menetapkan prosedur tetap mengenai
model asuhan keperawatan yang tepat digunakan pada ibu dengan permasalahan abortus.


BAB II
KONSEP TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Abortus
2.1.1 Berakhirnya masa kehamilan sebelum anak dapat hidup di dunia luar (Bagian Obgyn Unpad,
1999). Anak baru mungkin hidup di dunia luar kalau beratnya telah mencapai 1000 gram atau
umur kehamilan 28 minggu.
2.1.2 Pengeluaran atau ekstraksi janin atau embrio yang berbobot 500 gram atau kurang dari ibunya
yang kira kira berumur 20 sampai 22 minggu kehamilan (Hacker and Moore, 2001).
2.2 Jenis Abortus, Macam Abortus, Definisi, Tanda dan Gejala
2.2.1 Spontan (terjadi dengan sendiri, keguguran) merupakan 20% dari semua abortus.
Abortus spontan terdiri dari 7 macam, diantaranya :
a. Abortus imminens (keguguran mengancam) adalah Abortus ini baru mengancam dan ada
harapan untuk mempertahankan.
Tanda dan Gejala
Perdarahan per-vaginam sebelum minggu ke 20.
Kadang nyeri, terasa nyeri tumpul pada perut bagian bawah menyertai perdarahan.
Nyeri terasa memilin karena kontraksi tidak ada atau sedikit sekali.
Tidak ditemukan kelainan pada serviks.
Serviks tertutup.
b. Abortus incipiens (keguguran berlangsung) adalah Abortus sudah berlangsung dan tidak dapat
dicegah lagi.
Tanda dan Gejala
Perdarahan per vaginam masif, kadang kadang keluar gumpalan darah.
Nyeri perut bagian bawah seperti kejang karena kontraksi rahim kuat.
Serviks sering melebar sebagian akibat kontraksi.
c.
4
Abortus incomplete (keguguran tidak lengkap) adalah Sebagian dari buah kehamilan telah
dilahirkan tetapi sebagian (biasanya jaringan plasenta) masih tertinggal di rahim.

Tanda dan Gejala
Perdarahan per vaginam berlangsung terus walaupun jaringan telah keluar.
Nyeri perut bawah mirip kejang.
Dilatasi serviks akibat masih adanya hasil konsepsi di dalam uterus yang dianggap sebagai
corpus allienum.
Keluarnya hasil konsepsi (seperti potongan kulit dan hati).
d. Abortus completus (keguguran lengkap) adalah Seluruh buah kehamilan telah dilahirkan
lengkap. Kontraksi rahim dan perdarahan mereda setelah hasil konsepsi keluar.
Tanda dan Gejala
Serviks menutup.
Rahim lebih kecil dari periode yang ditunjukkan amenorea.
Gejala kehamilan tidak ada.
Uji kehamilan negatif.
e. Missed abortion (keguguran tertunda) adalah Missed abortion ialah keadaan dimana janin telah
mati sebelum minggu ke 22 tetapi tertahan di dalam rahim selama 2 bulan atau lebih setelah
janin mati.
Tanda dan Gejala
Rahim tidak membesar, malahan mengecil karena absorpsi air ketuban dan macerasi janin.
Buah dada mengecil kembali.
Gejala kehamilan tidak ada, hanya amenorea terus berlangsung.
f. Abortus habitualis (keguguran berulang ulang) adalah abortus yang telah berulang dan
berturut turut terjadi sekurang kurangnya 3 kali berturut turut.
g. Abortus febrilis adalah Abortus incompletus atau abortus incipiens yang disertai infeksi.
Tanda dan Gejala
Demam kadang kadang menggigil.
Lochea berbau busuk.



2.2.2 Abortus provocatus (disengaja, digugurkan) merupakan 80% dari semua abortus.
Abortus provocatus terdiri dari 2 macam, diantaranya :
a. Abortus provocatus artificialis atau abortus therapeutics adalah Pengguguran kehamilan
dengan alat alat dengan alasan bahwa kehamilan membahayakan membawa maut bagi ibu,
misal ibu berpenyakit berat. Indikasi pada ibu dengan penyakit jantung (rheuma), hypertensi
essensialis, carcinoma cerviks.
b. Abortus provocatus criminalis Adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang syah
dan dilarang oleh hukum.
2.3 Etiologi Abortus
2.3.1 Kelainan telur
Kelainan telur menyebabkan kelainan pertumbuhan yang sedinikian rupa hingga janin tidak
mungkin hidup terus, misalnya karena faktor endogen seperti kelainan chromosom (trisomi dan
polyploidi).
2.3.2 Penyakit ibu
Berbagai penyakit ibu dapat menimbulkan abortus, yaitu:
a. Infeksi akut yang berat: pneumonia, thypus dapat mneyebabkan abortus dan partus prematurus.
b. Kelainan endokrin, misalnya kekurangan progesteron atau disfungsi kelenjar gondok.
c. Trauma, misalnya laparatomi atau kecelakaan langsung pada ibu.
d. Gizi ibu yang kurang baik.
e. Kelainan alat kandungan:
Hypoplasia uteri.
- Tumor uterus
- Cerviks yang pendek
- Retroflexio uteri incarcerata
- Kelainan endometrium
f. Faktor psikologis ibu.
2.3.3 Faktor suami
Terdapat kelainan bentuk anomali kromosom pada kedua orang tua serta faktor imunologik
yang dapat memungkinkan hospes (ibu) mempertahankan produk asing secara antigenetik (janin)
tanpa terjadi penolakan.

2.3.4 Faktor lingkungan
Paparan dari lingkungan seperti kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol serta
paparan faktor eksogen seperti virus, radiasi, zat kimia, memperbesar peluang terjadinya abortus.

2.4 Web Of Caution (WOC)


























2.5 Penatalaksanaan Abortus
2.5.1 Abortus imminens
Karena ada harapan bahwa kehamilan dapat dipertahankan, maka pasien:
a. Istirahat rebah (tidak usah melebihi 48 jam).
b. Diberi sedativa misal luminal, codein, morphin.
c. Progesteron 10 mg sehari untuk terapi substitusi dan mengurangi kerentanan otot-otot rahim
(misal gestanon).
d. Dilarang coitus sampai 2 minggu.
2.5.2 Abortus incipiens
Kemungkinan terjadi abortus sangat besar sehingga pasien:
a. Mempercepat pengosongan rahim dengan oxytocin 2 satuan tiap jam sebnayak 6 kali.
b. Mengurangi nyeri dengan sedativa.
c. Jika ptocin tidak berhasil dilakukan curetage asal pembukaan cukup besar.
2.5.3 Abortus incompletus
Harus segera curetage atau secara digital untuk mengehntikan perdarahan.
2.5.4 Abortus febrilis
a. Pelaksanaan curetage ditunda untuk mencegah sepsis, keculai perdarahan banyak sekali.
b. Diberi atobiotika.
c. Curetage dilakukan setelah suhu tubuh turun selama 3 hari.
2.5.5 Missed abortion
a. Diutamakan penyelesaian missed abortion secara lebih aktif untuk mencegah perdarahan dan
sepsis dengan oxytocin dan antibiotika. Segera setelah kematian janin dipastikan, segera beri
pitocin 10 satuan dalam 500 cc glucose.
b. Untuk merangsang dilatasis erviks diberi laminaria stift.

2.6 Penyulit Abortus
a. Perdarahan hebat.
b. Infeksi kadang-kadang sampai terjadi sepsis, infeksi dari tuba dapat menimbulkan kemandulan.
c. Renal failure disebabkan karena infeksi dan shock.
d. Shock bakteri karen atoxin.
e. Perforasi saat curetage





BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Ada beberapa kesimpulan yang penulis temukan dalam melaksanakan asuhan
keperawatan pada ibu hamil dengan kasus abortus yaitu:
1. Pemantauan secara teratur pada ibu hamil pertama (primigravidarum) terutama pada trimester I
kehamilan sangatlah penting. Mengingat ibu primigravida cenderung mengalami gangguan
dalam proses kehamilannya seperti misalnya abortus dalam kehamilan yang akan sangat
berpengaruh terhadap psikologis ibu yang tentunya sangat berharap keselamatan bayinya dapat
dipertahankan.
2. Asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan abortus hendaknya dilakukan secara komprehensif
meliputi seluruh aspek bio psiko sosial dan spiritual karena kenyamanan psikologis ibu
sangat berpengaruh terhadap kondisi janin yang dikandungnya.

3.2 Saran
Ada beberapa saran yang dapat penulis sampaikan dalam upaya meningkatkan asuhan
keperawatan pada ibu hamil dengan abortus yaitu: Kepada mahasiswa FKp yang sedang
melaksanakan tahap profesi agar lebih aktif dalam menerapkan asuhan keperawatan sesuai
dengan konsep teori dan lebih memperhatikan kondisi pasien sehingga pelaksanaan praktek
keperawatan dapat berjalan sesuai dengan target yang ingin dicapai.



DAFTAR PUSTAKA

Barbara C. Long (1996), Perawatan Medikal Bedah: Suatu Pendekatan Proses Keperawatan,
The C.V Mosby Company St. Louis, USA.

Barbara Engram (1998), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Jilid II Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.

Donna D. Ignatavicius (1991), Medical Surgical Nursing: A Nursing Process Approach, WB.
Sauders Company, Philadelphia.

Guyton & Hall (1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedoketran EGC,
Jakarta

Marylin E. Doenges (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta.

Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad (1994), Obstetri Patologi, Bagian Obstetri dan
Ginekologi FK Unpad, Bandung.

Hacker Moore (1999), Esensial Obstetri dan Ginekologi Edisi 2, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.

Hanifa Wikyasastro (1997), Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo,
Jakarta.

Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2000), Rencana Asuhan
Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Hanifa Wikyasast