Anda di halaman 1dari 4

1.

Identitas Pasien
Nama : Bp. M
Usia : 54 tahun
Alamat : Ngaglik, Sleman
Status : Menikah
Pekerjaan : Manajer Pemasaran

Pembahasan:
Pada kasus ini pasien adalah seorang laki-laki. Pada laki-laki kandungan hormon estrogen
lebih sedikit dibanding perempuan. Sebagaimana yang kita ketahui hormon estrogen
berfungsi untuk memperlancar ekskresi urin dan secara tidak langsung dapat mengurangi
tekanan darah yang sedang meningkat. Dilihat dari usia pasien kemungkinan besar telah
mengalami degradasi elastisitas pembuluh darah dan dari segi pekerjaannya kemungkinan
besar mengalami stress yg dapat memacu adrenalin untuk kontraksi pembuluh darah dan
mempercepat detak jantung.


2. Riwayat Penyakit Sekarang
Bp. M, 54 tahun sewaktu masih berada di kantor tiba-tiba mengeluhkan rasa sakit dada sejak
45 menit yang lalu. Nyeri dada dirasakan merambat ke rahang bawah dan lengan kiri,
terasa seperti diremas-remas sampai susah bernapas. Sebelumnya pernah sakit yang seperti
ini 1 bulan yang lalu, tetapi tidak selama dan sesakit yang sekarang. Bp. M belum pernah
minum obat ataupun memeriksakan keluhannya ini.

Pembahasan:
Dalam kasus ini pasien merasakan sakit pada saat bekerja di kantor dan kemungkinan
mengalami kondisi stress yang dapat memacu adrenalin untuk kontraksi pembuluh darah
dan merangsang saraf simpatis untuk mempercepat detak jantung sehingga dapat
meningkatkan tekanan darah yang cukup berpengaruh terhadap kondisi si pasien. Nyeri dada
diakibatkan oleh impuls yang menyebar ketika disampaikan saat terjadi hipoksia pada
jantung yang kemudian diekspresikan melalui nyeri dada yang merambat ke rahang dan
lengan kiri. Nyeri yang dirasakan pasien sekarang merupakan progresifitas dari panyakit
jantung koroner yang dialami pasien.


3. Anamnesis Sistem
Sistem cerebrovaskuler : Pusing (-), Pingsan (-), Demam (-)
Sistem kardiovaskuler : Nyeri dada (+), Berdebar-debar (+)
Sistem respirasi : Batuk (-), Sesak napas (-)
Sistem gastrointestinal : Mual (+), Muntah (+) berupa cairan berwarna bening
kekuningan. BAB (+) N
Sistem urogenital : BAK (+) N
Sistem musculoskeletal : Bengkak (-) pada kedua tungkai



Pembahasan:
Nyeri dada yang dirasakan pasien merupakan penyebaran impuls ketika jantung mengalami
hipoksia. Pada saat jantung mengalami hipoksia, jantung berusaha untuk memompa darah
lebih banyak sehingga terjadi rasa berdebar-debar. Impuls yang disebabkan juga
mempengaruhi saraf yang ada di sistem gastrointestinal sehingga menyebabkan rasa mual
dan muntah.


4. Riwayat Penyakit Dahulu
Pernah merasakan nyeri dada 1 bulan yang lalu. Riwayat hipertensi dan penyakit gula
disangkal. Riwayat mondok di RS disangkal.

Pembahasan:
Nyeri dada yang dirasakan 1 bulan yan lalu merupakan onset pnyakit yang merupakan
penyumbatan arteri koronaria.


5. Riwayat Penyakit Keluarga
Ayah menderita hipertensi. Kakak laki-laki meninggal mendadak saat sedang bermain tenis
lapangan.

Pembahasan:
Ayah pasien menderita hipertensi, oleh karena itu pasien juga memiliki kecenderungan
untuk mengalami hipertensi yang akan meningkatkan kontraktilitas pembuluh darah dan
mengurangi ukuran lumen yang kemudian akan menghambat aliran darah dalam pembuluh
darah. Kakak pasien yang meninggal mendadak saat melakukan olah raga kemungkinan
karena gagal jantung yang menyebabkan jantung tidak dapat memompa darah secara
normal.


6. Kebiasaan dan Lingkungan
Bp. M adalah manajer yang sibuk, sejak 1 bulan ini sedang mempersiapkan laporan tahunan.
Makan tidak teratur, lebih sering makan makanan fast food. Merokok sejak 20 tahun yang
lalu. Jarang berolahraga.

Pembahasan:
Pekerjaan pasien merupakan pekerjaan yang memiliki kecenderungan menimbulkan stress
dan dari kebiasaan pasien, terlihat bahwa makanan yang sering dikonsumsi pasien
merupakan makanan yang mengandung banyak kolesterol dan lemak yang dapat
berpengaruh terhadap penuruna elastisitas pembuluh darah dan menimbulkan thrombus yang
kemudian akan beresikomenimbulkan sumbatan arteri koroner. Kebiasaan pasien merokok
sejak 20 tahun lalu menyebabkan terjadinya arterosklerosis karena menimbulkan radikal
bebas dan nikotin akan mempercepat detak jantung melalui rangsangan saraf simpatis.



7. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Tampak gelisah dan kesakitan
Vital sign
- Tekanan darah : 150/95 mmHg,
- Nadi : 100 x/menit,
- Napas : 32 x/menit
TB : 160 cm dan BB: 95 kg
Kepala : Conjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik
Leher : Tidak ada pembesaran limfonodi, JVP 5+2 cm thorax
Inspeksi : Ictus cordis tampak di SIC 5 medial linea midklavikularis
Sinistra.
Palpasi : Ictus cordis teraba kuat angkat, tidak teraba thrill di area
Trikuspidalis, septal, pulmonal maupun aorta.
Perkusi
- batas kanan : Batas relative di SIC 4 linea sternalis dextra, batas absolute di SIC
4 linea midsternalis.
- batas kiri : Batas relative di SIC 5, 2 cm medial dari linea midklavikularis
sinistra.
- batas atas : Di SIC 2 linea sternalis sinistra
Auskultasi : Ronkhi basah di kedua apeks paru (-), BJ I dan BJ II regular
Abdomen : Hepar tak teraba, tes redup berpindah (-)
Ekstremitas : Oedem (-) pada ekstremitas bawah, clubbing finger (-)

Pembahasan:
Tekanan darah tergolong hipertensi, terjadi takipneu karena jantung berusaha untuk
mendapatkan lebih banyak oksigen. Pasien tergolong obeitas. Selain itu,tanda-tanda vital
dan batas jantung pasien normal. Pemeriksaan yang dilakukan memiliki beberapa tujuan,
yaitu:
Keadaan umum: untuk mengetahui kondisi pasien secara umum, apakah sadar atau dalam
kondisi yang lain untuk mennetukan tata laksana yang akan dilaksanakan dengan segera.
Tekanan darah: untuk mengetahui apakah pasien memiliki tekanan darah dalam kondisi
normal atau tidak
Nadi: untuk mengetahui apakah detak jantung pasien dalam 1 menit normal atau tidak.
Napas: untuk mengetahui apakah pasien mengalami kesulitan atau kelainan pada sistem
pernapasannya.
Tinggi dan berat badan: untuk mengetahui body mass index pasien yang kemudian dapat
menggolongkan apakah berat badan pasien normal atau tidak.
Kepala: untuk mengetahui apakah pasien mengalami anemia ataupun gangguan lain.
Leher: untuk mengetahui apakah terdapa pembesaran limfonodi yang merupakan
pertanda infeksi dan mengetahui tekanan vena jugular pasien yang dapat mengarah ke
gagal jantung.
Inspeksi: memiliki apakah Antung pasien terlihat normal.
Palpasi: untuk mengetahui apakah terdapat kelainan pada detak jantung.
Perkusi: untuk mengetahui apakah batas-batas jantung pasien normal atau tidak.
Auskultasi: untuk mengetahu apakah terdapat bising dan kelainan pada bunyi jantung dan
paru-paru pasien
Abdomen: untuk mengetahui apakah ada hepatomegali yang dapat disebabkan oleh
penyakit jantung seperti gagal jantung.
Ekstremitas: untukmengeahui apakah terdapat oedem atau clubbing finger yang dapat
terjadi akibat penyakit jantung.


8. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan EKG : Hasil Pembacaan
- ST elevation in the anterior leads V1 6, I and aVL
- ST depression in the inferior leads

Pembahasan:













9. Pemeriksaan Lab. Darah
AE : 4,4 jt/L
Hb : 12 g/dL
AL : 8000/L
AT : 225.000/L
Hct : 37%

Pembahasan: