Anda di halaman 1dari 27

Hubungan Depresi dan Diabetes Melitus

Penelitian empiris pada saat ini menunjukkan adanya prevalensi depresi yang tinggi pada populasi diabetes
melitus. Alasan mengapa prevalensinya tinggi belum dapat dijelaskan sepenuhnya. Terdapat dua hipotesis yang
menerangkan terjadinya dan berulangnya depresi pada pasien diabetes melitus, yaitu:

Depresi terjadi sebagai hasil perubahan biokimia akibat langsung dari diabetes atau terapinya.

Hipotesis ini didasari beberapa penemuan sebagai berikut: a). Pada DM type I depresi mengikuti terjadinya DM
type I, sedangkan pada DM type II depresi mendahului diagnosis DM type II (menjadi risiko terjadinya DM type
II) walaupun pada perjalanan DM yang lanjut dapat menimbulkan depresi; b). Depresi terjadi lebih tinggi pada
tahun pertama diketahuinya diabetes. Rata-rata onset depresi pada DM type I terjadi pada umur 22-23 tahun,
sedangkan onset DM-nya terjadi pada usia lebih muda; c). Pada sebagian besar pasien DM, ditemukan adanya
gangguan perasaan yang atipik (79% pasien diabetes mengalami gangguan perasaan); d). Adanya bahan biologi
yang sama-sama didapat pada pasien diabetes maupun depresi yaitu peningkatan produksi kortisol, gangguan
metabolisme neurotransmiter norepinefrin dan serotonin, berkurangnya pemakaian glukosa dan meningkatnya
resistensi insulin; e). Beberapa penelitian menunjukkan meningkatnya depresi pada pasien diabetes dengan
komplikasi.
Depresi terjadi akibat faktor psikologis dan psikososial yang berhubungan dengan penyakit atau
terapinya. Depresi pada diabetes terjadi akibat meningkatnya tekanan pasienan yang dialami dari penyakitnya
yang kronik. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya kesulitan beradaptasi terhadap komplikasi diabetes.
Tekanan psikologis meningkat pada dua tahun pertama sejak diketahui adanya retinopati diabetik. Hubungan
ketidakmampuan adaptasi dengan gejala depresi ditentukan oleh beberapa faktor yaitu: a). Pandangan
terhadap penyakit yang diderita. Sering ketidakmampuan dan perasaan negatif terjadi akibat pandangan yang
keliru mengenai penyakit yang dideritanya; b). Dukungan sosial. Dukungan sosial yang kurang baik
memperberat depresi, sementara kondisi penyakit yang buruk membatasi pasien untuk berhubungan sosial
secara baik; c). Coping strategy. Dengan "copingstrategy" yang baik, pikiran untuk lari dari kenyataan dapat
dihindari dan adaptasi psikologis menjadi lebih baik, sehingga mengurangi kemungkinan gejala depresi.

Fisher dkk, membuat rangkuman faktor psikososial yang mempengaruhi prevalensi depresi pada pasien
diabetes. Depresi lebih banyak dijumpai pada: perempuan, ras minoritas, tidak menikah, umur pertengahan,
status sosial ekonomi rendah dan tidak bekerja. Melihat karakteristik penyakitnya, depresi dijumpai lebih
tinggi bila terdapat komorbiditas atau komplikasi, adanya riwayat depresi sebelumnya, derajat hendaya yang
tinggi dan rasa nyeri yang menetap.

Home Kesehatan Tips Kesehatan: Dapatkah Diabetes Menyebabkan Depresi?

Tips Kesehatan: Dapatkah Diabetes Menyebabkan


Depresi?
admin | 0 Komentar

Penderita diabetes

memiliki risiko lebih besar untuk mengalami depresi.


Sebaliknya, jika seseorang mengalami depresi, maka risiko terkena diabetes tipe-2 juga semakin
besar.
Meskipun demikian, hubungan antara diabetes dan depresi belum sepenuhnya dipahami.
Poin-poin di bawah ini dapat menjelaskan setidaknya sebagian diantaranya:
Manajemen atau mengelola diabetes merupakan upaya yang penuh disiplin sehingga kadang bisa
menyebabkan depresi.
Diabetes dapat menimbulkan komplikasi dan masalah kesehatan yang dapat memicu gejala
depresi, misalnya neuropati atau retinopati diabetes.
Depresi dapat menuntun pada gaya hidup tidak sehat, seperti makan yang tidak sehat, kurang
berolahraga, merokok yang semuanya merupakan faktor risiko untuk diabetes.
Depresi memengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan tugas sehari-hari, berkomunikasi,
dan berpikir jernih. Hal ini dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk mengelola diabetes.
Kabar baiknya, diabetes dan depresi dapat diobati bersama-sama. Obat dan perubahan gaya hidup,
termasuk olahraga teratur, dapat meringankan diabetes dan depresi.

Home > Tips dan Trik > Depresi Tingkatkan Risiko Diabetes

Depresi Tingkatkan Risiko Diabetes


Posted on Kamis, 25 November 2010

Diabetes dan depresi bak lingkaran setan. Berdasar studi di Harvard University, depresi meningkatkan
risiko diabetes. Demikian pula sebaliknya, diabetes meningkatkan risiko depresi.
"Studi itu memperlihatkan bahwa dua gangguan kesehatan itu saling memengaruhi satu sama lain," kata
pemimpin studi, Dr Frank Hu, profesor bidang nutrisi dan epidemiologi HarvardSchool of Public
Health, Boston, seperti dikutip dari laman MSN.

Studi itu memuat data yang menunjukkan, sekitar 10 persen dari populasi penduduk di Amerika Serikat
mengidap diabetes. Sebanyak 95 persen terdiagnosis diabetes tipe 2, yang dipicu obesitas. Sementara
sebanyak 6,7 persen dari penduduk usia 18 tahun ke atas mengalami depresi klinis setiap tahunnya.
Gejala diabetes diperlihatkan dengan kadar gula darah tinggi dan ketidakmampuan untuk memproduksi
insulin. Umumnya ditandai dengan sering buang air kecil, mudah haus, penglihatan kabur, serta mati rasa
di tangan atau kaki. Sedangkan gejala depresi antara lain cemas, putus asa atau bersalah, kurang tidur,
nafsu makan hilang atau berlebih, hingga hilangnya minat hidup.
Studi dilakukan dengan mengamati data kesehatan 55 ribu perawat wanita selama 10 tahun. Sebanyak
7.400 partisipan yang depresi, mengalami peningkatan risiko diabetes sebesar 17 persen. Mereka yang
terbiasa mengonsumsi obat antidepresan bahkan mengalami peningkatan risiko diabetes hingga 25
persen.
Di sisi lain, lebih 2.800 partisipan pengidap diabetes memiliki risiko 29 persen mengalami depresi. Mereka
yang mengonsumsi obat-obatan dan perawatan diabetes memiliki risiko depresi lebih besar.
Tony Z Tang, profesor dari Department Psikologi Northwestern University, mengatakan, pengaruh
hubungan antara diabetes dan depresi berkurang ketika partisipan melakukan kontrol berat badan dan
melakukan olahraga teratur.
"Ini menunjukkan bahwa hubungan antara depresi dan diabetes dipengaruhi variabel pengganggu," kata
Tang. "Dalam istilah awam, obesitas dan gaya hidup tak sehat membuatorang mudah tertekan, dan
potensial mengidap diabetes."
Dr Frank Hu menambahkan, tingkat depresi tinggi akan memengaruhi kadar gula darah dan metabolisme
insulin, melalui pelepasan hormon stres atau kortisol. Sementara diabetes dapat memicu stres kronis. "Jadi
hubungan diabetes dan depresi tak hanya persoalan gaya hidup tak sehat, tapi juga memiliki keterkaitan
secara biologis." (pet)

48

DAFTAR PUSTAKA
Amir, N. 2005. Depresi: Aspek Neurobiologi Diagnosis dan Tatalaksana. Jakarta: BP FK UI.
Andra. 2007. Kenali Depresi, Tuntaskan Terapi. Artikel. http://www.farmacia.com. Gerai Vol. 6
No. 6. (25 Februari 2011).
Beck, A.T., Steer, R.A., Ranieri, W. 1996. Comparison of Beck Depression Inventories-IA and
II in Psychiatrics Outpatients, Journal of Personality Asessment 67 (3); 588-97 (22 Februari
2011).
Budiarto, E. 2004. Metodologi Penelitian Kedokteran : Sebuah Pengantar. Jakarta: EGC.
Davison, G.C., Neale, J.M., et al. 2004. Abnormal Psichology, Ninth Edition. USA. John
Wiley&Sons, Inc.
Dharma, S. 2008. Pengembangan Mata Pelajaran dalam KTSP. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional. Direktorat Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan
Tenaga Kependidikan.
Dimyati, M. 1989. Pengajaran Ilmu-ilmu Sosial di Sekolah: Bagian Integral Sistem Ilmu
Pengetahuan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Jenderal
Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan.
Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Ditjen, Dikdasmen, Depdiknas. 2004. Pedoman
Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian, Jilid 2 Program Studi IPA. Jakarta: BP. Dharma
Bhakti.

Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Ditjen, Dikdasmen, Depdiknas. 2004. Pedoman


Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian, Jilid 1 Program Studi IPS. Jakarta: BP. Dharma
Bhakti.
Durand, V.M. and Barlow, D.H. 2006. Intisari Psikologi Abnormal. Penerjemah (Soetjipto, H.P.
dan Soetjipto, S.M). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hadi, P. 2004. Depresi & Solusinya. Yogyakarta: Tugu Publisher.
Hawari, D. 2008. Manajemen stres, cemas, dan depresi. Jakarta: BP FK UI.
Kamala, I. 2008. Pengertian Pendidikan IPA dan Perkembanganya.
http://izzatinkamala.files.wordpress.com/2008/06/pengertian-dan- perkembangan-ipa.doc (25
Februari 2011).
Kaplan, H.I., Sadock, B.J. 1998. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Penerjemah (W.M. Roan).
Jakarta: Widya Medika. 49

Lawira, S. 2009. Kurikulum SMA. http://www.docstoc.com/docs/36726419/ Kurikulum-SMA.


(25 Februari 2011).
Lasan, B.B. 2009. Studi Tentang Pelaksanaan Penjurusan IPA pada beberapa SMA di Jawa
Timur. http://karya-ilmiah.um.ac.id/ index.php/disertasi/article/view/1466. (22 Februari 2011).
Maramis, W.F. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.
Mardayanti, F. 2009. Struktur Kurikulum. http://sman1rao.sch.id/KBM.pdf (22 Februari 2011).
Murti, B. 2003. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Ed. 2. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Murti, B. 2006. Desain dan Ukuran Sampel Untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di
Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Muslich, M. 2008. Seri Standar Nasional Pendidikan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan) Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara.
Nevid, J.S., Rathus, S.A., et al. 2005. Psikologi Abnormal, Fifth Edition. Penerjemah (Tim
Fakultas Psikologi UI: Murad, J. dkk). Jakarta: Penerbit Erlangga.
Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Rusman. 2009. Manajemen Kurikulum. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Sadock, B.J., Sadock, V. A. 2007. Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry: Behavioral
Sciences / Clinical Psychiatry. Ed. 10. Lippincott Williams & Wilkins.
Sadock, B.J., Sadock, V. A. 2009. Kaplan & Sadocks Comprehensive Textbook of Psychiatry.
Lippincott Williams & Wilkins..
Salan, R. 1981. Konsep dan Diagnosa Depresi. Jakarta: Yayasan Darma Graha.
Saragih, M.R. 2010. IPS bukan ilmu sosial serta kekurangannya.
http://rizals.wordpress.com/2010/10/20/ips-bukan-ilmu-sosial-serta-kekurangannya/ (22 Februari
2011).
Sarwono, S.W. 2002. Psikologi Sosial, Individu, dan Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: Balai
Pustaka.
Schwenk, T.L. 2010. Medical Student Experience High Rate of Depression Than General
Population Study. http://www.news-medical.net/news/20100915/50

Medical-students-experience-high-rate-of-depression-than-general-population- Study.aspx (25 Mei


2011).
Setiawan, A.N. 2009. Adaptasi sistem pembelajaran bagi mahasiswa baru .
http://agusenes.blogspot.com/2009/10/adaptasi-sistem-pembelajaran- bagi.html
(21 Juli 2011).
Sudrajat, A. 2008. Strategi Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan
Sosial. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Tenaga Kependidikan, Direktorat
Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Sugiyono. 2005. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta.
Sumaji., Soehakso., dkk. 1998. Pendidikan Sains yang Humanistis.Yogyakarta: Kanisus.
Suryosubroto, B. 2004. Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Susilo, M.J. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Manajemen Pelaksanaan dan
Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suyoso., Suharto., dkk. 1998. Ilmu Alamiah Dasar. Yogyakarta: IKIP.
Szklo, M.M., and Nieto. F. J. 2002. Epidemiology: beyond the basics, Aspen Publishers, Inc.
Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2007. Buku Pedoman Fakultas Ilmu Kedokteran.
Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2009. Buku Pedoman Fakultas Kedokteran.
Wahab, A.A. 2008. Metode dan Model-Model Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Bandung. IKAPI.
Warkitri., dan Chasiyah., dkk. 2002. Perkembangan Peserta Didik. Surakarta: Sebelas Maret
University Press.
Wilkinson, G. 1995. Depresi. Penerjemah (Tjandrasa, M). Jakarta: Arcan.

DAFTAR PUSTAKA
Alimul, A. (2008). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Cetakan ke-3.
Jakarta: Salemba Medika
Arikunto, S. (2002), Proses Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Edisi Revisi
III. Jakarta: Rineke Cipta
Asdi. (2005.Hubungan antara Tingkat Kecemasan dengan Depresi pada Diabetes
Mellitus:Skripsi Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Basuki, E. Komunikasi Dan Motivasi. Dalam : Diabetes Melitus.Penatalaksanaan
Terpadu : Balai Penerbit FK UI :Jakarta : 1995

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.(2009). Profil Kesehatan Provinsi Jawa


Tengah. Semarang: Dinkes.Prop. Jateng.
Febriyanti (2007). Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Sikap
Kepatuhan pasien dalam menjalani terapi diet diabetes mellitus:
Skripsi Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Surakarta
Hawari, D. (2001). Manajemen Stress Cemas dan Depresi. Jakarta : Gaya Baru
Hidayat, A.A.A. (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis
Data. Jakarta: Salemba Medika.
Isniati. (2003). Hubungan Tingkat Pengetahuan Penderita Diabetes Mellitus
dengan Keterkendalian Gula darah di Poliklinik RS Perjan Dr. M.
Djamil Padang Tahun 2003: Jurnal Penelitian : UNPAD
Nasrudin, E.(2010).Psikologi Manajemen . Jakarta : CV Pustaka Setia
Notoatmojo. S. (2003). Metodologi Penelitian Kesehatan. Cetakan ke dua Edisi
Revisi. Jakarta: Rineke Cipta
Nursalam. (2003). Konsep Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
(Edisi Pertama). Jakarta: Salemba Medica
Potter, Patricia. A, Perry, Anne. G. (1993). Fundamental Of Nursing: Concepts
Proces and Practice. Third Edition. Morby Year Book Inc
Puspitasari. (2009). Hubungan antara Konsep diri dengan Depresi pada Pasien
Hemodialisa di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo.Skripsi Fakultas
Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pratiknya, A.W. (2007). Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan
Kesehatan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Pratomo, (2001). Metode Penelitian dan pengukuran dalam Penelitian.Jakarta :
Salemba Medica
Rebecca & Allan.(2005). Solusi Mengenali, Mengatasi dan Mengantisipasi
Depresi.Jakarta: PT Gramedia
Smelzer, C & Bare, G. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner&Suddarth. Edisi 8. (Terjemahan). Jakarta : EGC
Stuart, G. W. (1998). Buku saku keperawatan jiwa edisi 3. Alih bahasa Achir
Yani S. hamid. Jakarta : EGC
Sudarmoko,A (2010).Tetap Tersenyum Melawan Diabetes.Yogyakarta: Atma
Media Press
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatfi, Kualitatif dan R&D. Edisi 4.
Bandung: CV Alvabeta
Suyono. (2009). Kecenderungan Peningkatan Pasien DiabetesMelitus.Sidartawan
Soegondo.Penatalaksanaan Diabetes Terpadu.Jakarta: FKUI.
Setyadrian. (2010). Prevalensi Penderita Diabetes Mellitus dalam Seminar
Diabetes Mellitus:Yogyakarta; Harian Kompas
Tjahjadi,V.(2010).Mengenal, Mencegah, Mengatasi Silent Killer
Diabetes.Semarang: Pustakan Widyamara
Wangsa ,T(2010).Menghadapi Stress Dan Depresi, Seni Menikmati Hidup Agar
Selalu Bahagia.Jakarta: ORYZA
Winasis Budi E.(2009).Hubungan antara Konsep diri dengan Depresi pada
Pasien Diabetes Mellitus Di Rumah sakit Parancimantoro
Wonogiri.Skripsi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Surakarta
Witasari Ucik.(2009).Hubungan antara tingkat pengetahuan, Asupan
Karbohidrat dan Serat Dengan Pengendalian Kadar Glukosa Darah
Pada Penderdita Diabetes Mellitus Tipe 2. : Jakarta: Jurnal penelitian

DAFTAR PUSTAKA
Amir, N. 2005. Depresi Aspek Neurobiologi Diagnosis dan Tatalaksana. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Andri, 2008, Hubungan antara Tingkat Depresi dengan Kejadian Insomnia pada
Lansia di Panti Wredha Bhudi Dharma Yogyakarta, Diakses tanggal 9
January 2010. http:// stikes_smart@ymail.com
Arikunto, S. 2003. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi
III. Jakarta : Rineka Cipta
Biro Pusat Statistik. 2000. Penduduk Jateng Menurut Kabupaten/Kota Dan
Kelompok Umur Tahun 2000 . http://jateng.bps.go.id. Avaiable at 22
Oktober 2010.
Boedhi Darmojo, R., dan Martono, Hadi. 2006. Buku Ajar Geriatrik (Ilmu
Kesehatan Usia Lanjut ). Jarta : Balai penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia ( FKUI )
Bondan. 2006. Pengaruh Umur, Depresi Dan Dimensia Terhadap Disabilitas
Fungsional Lansia Di PSTW Di Abiyoso & PSTW Budhi Dharma
Provinsi D. I. Yogyakarta (Adaptasi Model Sistem Neuman). Diakses 9
Mei 2009. Website URL http://inna-ppni.or.id/html.
Depkes RI, 2001. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2001
Tentang Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia
Hadi W, Pranowo. 2004. Depresi & Solusinya.: Jakarta.Tugu Publiser
Hawari, Dadang. 2007. Sejahtera di Usia Senja: Dimensi Psikoreligi Pada Lansia.
Jakarta: FKUI.
Kaplan, H.I dan Sadock, B.J. 1997. Sinopsis Psikiatri. Edisi Ketujuh Jilid 1.
Jakarta : Alih Bahasa Widjaja Kusuma. Binarupa Aksara
Maramis, W, F. 2004. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlanggga
University Press
Mubarak, Wahid Iqbal. Adi Bambang, S. Khoirul Rozikin. Siti Fatonah., 2006.
Buku Ajar Keperawatan Komunitas 2 Teori Aplikasi Dalam Praktek.
Jakarta : Sagung Sego
Notoatmodjo. S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Nugroho, W. 2000. Keperawatan Geriatrik. Edisi 2. Jakarta : EGC
Nugroho, W .2008. Keperawatan gerontik dan geriatrik. Jakarta: EGC
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan pedoman tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawata.
Jakarta : Salemba Medika
Patterson. 2007. Sehat Di Usia Tua. Think Fresh. Yogyakarta.
Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Konsep, Proses, dan
Praktis. Edisi 4. Vol I. Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Samsudin, 2009.Depresi pada Lansia. Http: syamsudin saido.com. tanggal
sunting, 22-6-2010.
Sastroasmoro, S. 2008. Dasar-Dasar Metodelogi penelitian klinis.Jakarta.
Sanggung Seto
Soejono CH, et al. 2000. Pedoman Pengelolaan Pasien Geriatri Untuk Dokter
Dan Perawat. Jakarta.: Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
Sugiyono. 2007. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV Alfa Beta
Supas (Survey Penduduk Antar Sensus). 2005. Statistika Indonesia .
www.datastatistikindonesia.com.
Suryo, 2008. Waspadai Depresi Pada Lansia.

http:www.Pranaindonesia.wordpres.com Akses 12 November 2010, 22;41.


Upik. 2007. .Yogyakarta Nyaman Untuk Hidup Lansia. www.upik.jogya.go.id
(15.05.2008)
Zainudin, K. 2002. Gangguan Psikologis dan Perilaku pada Demensia. www.epsikologi.
com/epsi/lanjutusia_detail.asp?id=185 diakses 13 Januari 2009

DAFTAR PUSTAKA
Basuki, E. 2005. Penyuluhan Diabetes Mellitus. Dalam Penatalaksanaan
Diabetes Mellitus Terpadu. FKUI. Jakarta : 131 - 151
Boedisantoso, A. dan Imam, S. 2005. Komplikasi Akut Diabetes Mellitus Dalam
Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta : 161 164
Hans. 2008. Jumlah Penderita DM di Indonesia Meningkat. Diakses pada 3 Mei
2010 dari http//www.nttonlinenews.com/ntt/index.php?view
Hardinsyah, Briawan, D., Retnaningsih., Herawati. 2004. Analisis Kebutuhan
Konsumsi Pangan. Pusat Studi Kebijakan Pangan dan Gizi Lembaga
Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Institut Pertanian Bogor.
Bogor : 92 93
Hartono, A. 2006. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit Edisi 2. Buku Kedokteran
EGC. Jakarta : 140 - 147
Karyadi, E. 2002. Kiat Mengatasi Diabetes, Hiperkolesterolemia, Stroke. Intisari
Mediatama. Jakarta : 2 - 51
Kariadi, S. 2009. Diabetes? Siapa Takut!! Panduan Lengkap untuk Diabetesi,
Keluarganya dan Professional Medis. Qanita. Bandung : 29 - 34
Khomsan, A. dkk. 2006. Pengantar Pangan dan Gizi. Penebar Swadaya. Jakarta
: 117 118
Moehyi, Sjahmien. 1999. Pengaturan Makan dan Diet Untuk Penyembuhan
Penyakit. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta : 3 9
Mubarak, Wahit Iqbal, dkk. 2006. Ilmu Keperawatan Komunitas 2. Sagung Seto.
Jakarta : 137 - 145
Muchid, A. dkk. 2005. Pharmautical Care untuk Penyakit Diabetes Mellitus.
Departemen Kesehatan RI. Jakarta : 12 - 26
Notoatmojo, S. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Rieneka Cipta.
Jakarta : 143 - 146
Prabowo, S. 2004. Hubungan Antara Pengetahuan tentang Serat dengan
Konsumsi Serat pada Penderita DM di Poli Penyakit Dalam RSUD Dr.
Moewardi Surakarta. Karya Tulis Ilmiah D3 Gizi. Surakarta.
Pranadji, D. 2001. Perencanaan Menu untuk DM. Penebar Swadaya. Jakarta :

16 - 26
Price, S. 2002. Patofiologi Kedokteran. EGC. Jakarta : 1109 - 1119
Prihatin, U. 2008. Hubungan Tingkat Pengetahuan, Asupan Karbohidrat dan
Serat dengan Pengendalian Kadar Glukosa Darah pada Penderita
Diabetes Mellitus Tipe II Rawat Jalan di RSUD DR. Moewardi Surakarta.
Skripsi S1 Gizi. Surakarta.
Priyatno, D. 2008. Mandiri Belajar SPSS. Mediakom. Yogyakarta : 26
Rahmadiliyani, Nina. 2006. Hubungan Antara Pengetahuan tentang Penyakit dan
Komplikasi pada Penderita DM dengan Tindakan Mengontrol Kadar
Gula Darah di Wilayah Gatak Sukoharjo. Skripsi S1 Keperawatan.
Surakarta
Rahmawaty, S., Hadi, H., Rizka H. 2006. Efektifitas Liflet Diabetes Mellitus
Modifikasi Terhadap Pengendalian Kadar Glukosa Darah Penderita
Diabetes Mellitus Tipe II. Tesis. Program Pascasarjana Universitas
Gajah Mada. Yogyakarta.
Ratnasari, A. 2004. Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Pengelolaan DM
Dengan Kadar Glukosa Darah pada Pasien DM Rawat Jalan di Poli
Penyakit Dalam RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Karya Tulis Ilmiah D3
Gizi. Surakarta.
Sam, Pratiwi. 2007. Epidemiologi, Program Penanggulangan dan Isu Mutakhir
Diabetes Mellitus. Jurusan Epidemiologi, Fakultas Kesehatan
Masyarakat, UnHas. Makasar.
Schulze, M. B., Liu, S., Rimm, E.B., Manson, J.E., Willet, W.C., Hu, F.B. 2004.
Glycemic Index, Glycemic Load, and Dietary Fiber Intake and Incidence
of type 2 Diabetes in Younger and Middle-aged Women.
http://www.ajcn.org.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor Faktor Yang Mempengaruhinya. Rineka
Cipta. Jakarta : 57 - 72
Soegondo, S. 2005. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Jakarta : FKUI.
Sudrisman. 2008. Hubungan Tingkat Pengetahuan Diet dengan Kadar Gula
Darah pasien Diabetes Mellitus di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah
Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang. Skripsi. Semarang : Program
Studi Ilmu Keperawatan Universitas Diponegoro.
Sukardji, K. 2005. Bagaimanakah Perencanaan Makan pada Penyandang
Diabetes. Dalam Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. FKUI.
Jakarta : 257 - 266
Sukardji, K. 2007. Daftar Bahan Makanan Penukar dan Perencanaan Makan
pada Diabetes Mellitus. Dalam Pedoman Diet Diabetes Mellitus. FKUI.
Jakarta : 25 - 29
Suparni. 2005. Hubungan Pengetahuan dan Sikap tentang Pengelolaan Diabetes
Mellitus dengan Asupan Zat Gizi pada Penderita DM tipe II Rawat Jalan
di Puskesmas Gajahan. Karya Tulis Ilmiah D3 Gizi. Surakarta.
Sustrani, L. Alam S, Hadibroto,I. 2004. Diabetes. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta : 14 - 51
Suyono S. 2005. Kecenderungan Peningkatan Jumlah Penyandang Diabetes.
Dalam Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. FKUI. Jakarta :
1-4
Tjokroprawiro, A. 2006. Hidup Sehat dan Bahagia bersama Diabetes Mellitus.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta : 7 25
Waspadji, S., Suyono,S., Sukardji, K., Moenarko, R. 2003. Indeks Glikemik
Berbagai Makanan Indonesia. Balai Penerbitan FKUI. Jakarta.
Waspadji, S. 2005. Diabetes Mellitus : Mekanisme Dasar dan Pengelolaannya
yang Rasional. Dalam Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu.
FKUI. Jakarta : 29 36

DAFTAR PUSTAKA
1.
Soegondo S. Diagnosis dan Kalsifikasi Diabetes Mellitus Terkini. Dalam Soegondo S dkk
(eds), Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Penerbit FKUI. Jakarta. 2005.
Suyono S. Patofisiologi Diabetes Mellitus. Dalam Soegondo S dkk (eds),
Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Penerbit FKUI. Jakarta. 2005.
Koenig W, Khuseyinova N, Baumert J, et al. Serum Concentrations of Adiponectin and
Risk of Type 2 Diabetes Mellitus and Coronary Heart Disease in Apparently Healthy
Middle-Aged Men : Results From the 18 year follow up of a Large Cohort From Southern
Germany. Journal of American College of Cardiology 2006; 48:1369-77.
Haffner SM, Lehto S, Ronneemaa T, Pyorala K, Laakso M. Mortality from coronary heart
disease in subjects with Type 2 diabetes and in nondiabetic subjects with and without
prior myocardial infarction. N Engl J Med. 1998 ; 339; 229-34.
Shahab A. Komplikasi Kronik DM Penyakit Jantung Koroner. Dalam Sudoyo AW, dkk
(eds), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III, edisi IV. Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Jakarta, 2009.

Universitas Sumatera Utara

1.
Sharpless JL. Polycystic Ovary Syndrome and the Metabolic Syndrome. Clinical
Diabetes 2003;21:154-7.
Fard A, Tuck CH, Donis JA, et al. Acute Elevations of Plasma Asymmetric
Dimethylarginine and Impaired Diabetes Endothelial Function in Response to a High-Fat
Meal in Patients with Type 2. Arterioscler Thromb Vasc Biol.2000; 20; 2039-44.
Williams SB, Goldfine AB, Timimi FK, et al. Acute hyperglycemia attenuates
endothelium-dependent vasodilation in humans in vivo. Circulation.1998; 97:1695-1701.
Soewondo P. Pemantauan Pengendalian Diabetes Mellitus. Dalam Soegondo S dkk
(eds), Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Penerbit FKUI. Jakarta. 2005.
Aqil S, Jaleel A, Jaleel F, Basir F. Comparison of Adiponectin in Ischemic Heart Disease
Versus Ischemic Stroke in Diabetic Patients. World Applied Science journal 2008; 3:
759-62.
Stejskal D, Ruzieka V, Adamovska S, et al. Adiponectin Concentration as a Criterion of
Metabolic Control in Persons with type 2 Diabetes Mellitus?. Biomed Papers
2003;147(2):167-72.
Duncan BB, Schmidt MI, Pankow JS, et al. Adiponectin and the Development of Type 2
Diabetes, The Atherosclerosis Risk in Communities Study.Diabetes 2004; 53: 2473-78.
Scherer PE. Adipose Tissue, From Lipid Storage Compartment to Endocrine Organ.
Diabetes 2005; 55: 1537-45.

Universitas Sumatera Utara

1.
Lau DCW, Dhillon B, Yan H, Szmitko PE, Verma S. Adipokines : Molecular Links
between Obesity and Atherosclerosis. Am J Physiol Heart Circ Physiol 2005; 288 :
H2031-H2041.
Ouchi NS, Kihara Y, Arita K, Maeda H, Kuriyama Y, Okamoto K, et al. Novel Modulator
for Endothelial Adhesion Molecules : Adipocyte-derived plasma protein, adiponectin.
Circulation. 1999; 100; 2473-2476.
Daimon M, Oizumi T, Saitoh T, et al. Decreased Serum Levels of Adiponectin are a Risk
Factor for the Progression to Type 2 Diabetes in the Japanese Population. Diabetes
Care 2003;26:2015-20
Nakashima R, Kamei N, Yamane K, et al. Decrease Total and High Molecular Weight
Adiponectin are Independent Risk Factors for the Development o0f Type 2 Diabetes in
Japanese Americans. J Clin Endocrinol Metab 2006;91:3873-7
Hotta K, Funahashi T, Arita Y, et al. Plasma Concentrations of a Novel, Adipose-Specific
Protein, Adiponectin, in Type 2 Diabetic Patients. Arterioscler Thromb Vasc Biol
2000;20:1595-9.
Sungkar MA. Hubungan Antara Pengendalian Metabolik dan Komplikasi Kronik Diabetes
Tipe 2 pada Penyakit Kardiovaskular. Dalam Darmono, dkk (eds), Naskah Lengkap
Diabetes Mellitus Ditinjau dari Berbagai Aspek Penyakit Dalam. Badan Penerbit
Universitas Diponegoro. Semarang. 2007. 257-65.
Gallagher EJ, Roith D, Bloomgarden Z. Review of hemoglobin A1C in the management
of diabetes. Journal of diabetes 2009 ; 1 : 9-17.

Universitas Sumatera Utara

1.
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2006.
PB PERKENI. Jakarta. 2006.
Report of the expert committee on the diagnosis and classification of diabetes mellitus.
Diabetes Care. 2003; 26 Suppl 1: S5-20.
Pischon T, Rimm EB. Adiponectin : A Promising Marker for Cardiovascular Disease. Clin
Chem 2006 ; 52 : 797-799.
Meier U, Gressner M. Endocrine Regulation of Energi Metabolism : Review of
Pathobiochemical and Clinical Chemical Aspects of Leptin, Ghrelin, Adipnectin, and
Resistin. Clin Chem 2004; 50: 1511-1525.
Xu Dan-yan, Zhao Shui-Ping, Huang Qiu-xia, Du wei, Liu Yu-hua, Liu Ling, Xie Xiao-mei.
Effects of Glimepiride on metabolic parameters and cardiovascular risk factors in
patients with newly diagnosed type 2 diabetes mellitus. Diabetes Research and Clinical
Practice. 2010; 88 : 71-75.
Pscherer S, Heemann U, Frank H. Effect of Renin-Angiotensin System Blockade on
Insulin Resistance and Inflammatory Parameters in Patients with Impaired Glucose
Tolerance. Diabetes Care. 2010; 33 : 914-919.
Matsubara M. Plasma Adiponectin Decrease in Women with Nonalcoholic Fatty Liver.
Endocrine Journal 2004;51:587-93
Goldstein BJ, Scalia R. Adiponectin: A Novel Adipokine Linking Adipocytes and Vaskuler
Funtion. J Clin Endocrinol Metab 2004; 89(6):2563-8

Universitas Sumatera Utara

1.
Matsuzawa Y, Funahashi T, Kihara S, Shimomura I. Adiponectin and Metabolic
Syndrome. Arterioscler Thromb Vasc Biol 2004;24:29-33.
Arita Y, Kihara S, Ouchi N, et al. Adipocyte-Derived Plasma Protein Adiponectin Acts as
a Platelet-Derived Growth Factor-BB-Binding Protein and Regulates Growth FactorInduced Common Post Receptor Signal in Vaskuler Smooth Muscle Cell. Circulation
2002;105:2893-8.
Ouchi N, Kihara S, Anita Y. Adiponectin, an Adipocyte-Derived Plasma Protein, Inhibits
Endothelial NF-kB Signaling a cAMP-Dependent Pathway. Circulation 2000;102:1296301
Ouchi N, Kihara S, Anita Y, et al. Novel Modulator for Endothelial Adhesion Molecules.
Circulation 1999;100:2473-6
Kadowaki T, Yamauchi T. Adiponectin and Adiponectin Receptors. Endocrine Reviews
2005;26:439-51
Motoshima H, Wu X, Mahadev K, Goldstein BJ. Adiponectin suppresses proliferation
and super oxide generation and enhances eNOS activity in endothelial cells treated with
oxidized LDL. Biochem Biophys Res Commun 2004;315:264-271.
Bennet CM, Guo M, Dharmage SC. HbA1C as a screening tool for detection of type 2
diabetes : a systematic review. Diabetic Medicine 2007; 24 : 333-343.
Buell C, Kermah D, Davidson. Utility of A1C for diabetes screening in the 1999-2004
NHANES Population. Diabetes Care 2007; 30 : 2233-2235

Universitas Sumatera Utara

1.
Selvin E, Steffes MW, Matshushita K, Wagenknecht L, Pankow J, Coresh J, Brancati FL.
Glycated Hemoglobin, Diabetes, and Cardiovascular risk in nondiabetic adults. N Engl J
Med 2010; 362 : 800-811.
Little RR, Sacks DB. HbA1C : how do we measure it and what does it mean? Curr Opin
Endocrinol Diabetes Obes 2009; 16 : 113-118.
Kramer CK, Araneta MR, Barret-Connor E. A1C and diabetes diagnosis : the rancho
bernardo study. Diabetes Care 2010; 33 : 101-103.
Bruns DE, Boyd JC. Few point of care hemoglobin A1C assay methods meet clinical
needs. Clinical Chemistry 2010; 56 (1) : 4-6.
Yunir E, Soebardi S. Terapi non farmakologis pada diabetes mellitus. Dalam Sudoyo AW,
dkk (eds), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III, edisi IV. Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Jakarta, 2009.
Waspadji S. Diabetes Mellitus : Mekanisme dasar dan pengelolaannya yang rasional.
Dalam Soegondo S dkk (eds), Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Penerbit
FKUI. Jakarta. 2005.
Wagner JA, Wright EC, Ennis MM, Prince M, Kochan J, Nunez DJR, et al. Utility of
Adiponectine as a Biomarker Predictive of Glycemic Efficacy is Demonstrated by
Collaborative Pooling of Data From Clinical Trials Conducted by Multiple Sponsors.
Clinical Pharmacology and Theraupetics. 2009.

Universitas Sumatera Utara

1.
Fahranak Z, Djalil M, Hosseinzadeh MJ, Eshragheian MR. Comparing Serum Leptin and
Adiponectin Levels in Controlled and Non-controlled type 2 Diabetes. ARYA
Atherosclerosis Journal 2007; 3; 135-138.
Krakoff J, Funahashi T, Stehouwer CDA, Schalwijk CG, Tanaka S, Matsuzawa Y.
Inflammatory markers, adiponectin, and risk of type 2 diabetes in the Pima Indian.
Diabetes Care; 26; 6 : 1745-1751.
Pischon T, Girman CJ, Hotamisligil GS, Rifai N, Hu FB, Rimm EB. Plasma adiponectin
levels and risk of myocardial infarction in men. JAMA, 2004; 291, 14; 1730-1737.
Schulze MB, Rimm EB, Shai I, Rifai N, Hu FB. Relationship between adiponectin and
glycemic control, blood lipids, and inflammatory markers in men with type 2 diabetes.
Diabetes Care 2004; 27; 1680-1687.
Nishizawa H, Shimomura I, Kishida K, Maeda N, Kuriyama H, Nagaretani H, et al.
Androgens decrease plasma adiponectin, an insulin-sensitizing adipocyte-derived
protein. Diabetes, 2002; 51 : 2734-2741.
Kim M-J, Yoo K-H, Park H-S, Chung S-M, Jin C-J, Lee Y. Plasma adiponectin and insulin
resistance in Korean type 2 diabetes mellitus.Yonsei Med J, 2005; 46 : 42-50.
Zurawska-Klis M, Kasznicki J, Kosmalski M, Smigielski J, Drzewoski J. Adiponectin
plasma concentration, type 2 diabetes mellitus, cardiovascular diseases and features of
metabolic syndrome. Diabetologia Doswiadczalna I Kliniczna 2009; 9; 2; 81-87.

Universitas Sumatera Utara

1.
Fernandez-Real JM, Botas-Cervero P, Lopez-Bermano A, Casamitjana R, Funahashi T,
Delgado E, et al. Adiponectin is independently associated with glycosilated haemoglobin.
European journal of endocrinology, 2004; 150; 201-205.
Tabak AG, Brunner EJ, Miller MA, Karanam S, McTernan PG, Capuccio FP, et al. Low
serum adiponectin predicts 10-year risk of type 2 diabetes and HbA1C independently of
obesity, lipids and inflammation-Whitehall II study. Horm Metab Res, 2009; 41 (8); 626629.
Manucci E, Ognibene A, Crenasco F, et al. Plasma adiponectin and hyperglycaemia in
diabetic patients. Clin Chem Lab Med 2003; 41 : 1131-1135.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR PUSTAKA
1. Roberts CM, Kane R, Bishop B, Cross D, Fenton J, Hart B. The prevention of anxiety
and depression in children from disadvantaged schools. Behavior research and
therapy. 2010; 48:68-73

2. Hatton SC, Mcnicol K, Doubleday E. Anxiety in a neglected population: Prevalence of


anxiety disorder in pre-adolescent children. Clin Psychol Rev. 2006; 26:817-33
3. Luni FK, Ansari B, Jawad A, Dawson A, Baig SM. Prevalence of depression and
anxiety in a village in sindh. J Ayub Med Coll Abbottabad. 2009; 21(2):68-72
4. Hishinuma ES , Miyamoto RH, Nishimura ST, Goebert GA, Yuen NC, Makini GK,
dkk. Prediction of anxiety disorders using the statetrait anxiety inventory for
multiethnic adolescents. J Anxiety Disord. 2001; 15(6):511-33
5. Schapiro M. Anxiety Disorders. Dalam: Nevid JS, Rathus SA, Greene B, penyunting.
Abnormal psychology in a changing world. Edisi ke-5. Prentice Hall: Pearson
Education, 2003.h. 162-253
6. Khan MS, Mahmood S, Badshah A, Ali SU, Jamal Y. Prevalence of depression,
anxiety and their associated factors among medical students in Karachi, Pakistan. J
Pak Med Assoc. 2006; 56(12):583-6
7. Hodges K, Kline JJ, Barbero G, Woodruff C. Anxiety in children with recurrent
abdominal pain and their parents. Psychosomatics. 1985; 26(11):859-66
8. Thiessen PN. Recurrent abdominal pain. Pediatr Rev. 2002; 23(2):39-45
9. Weydert JA, Ball TM, Davis MF. Systematic review of treatment for recurrent
abdominal pain. Pediatrics. 2003; 111(1):e1-e11
10. Campo JV, Bridge J, Ehmann M, Altman S, Lucas A, Birmaher B, dkk. Recurrent
abdominal pain, anxiety, and depression in primary care. Pediatrics. 2004; 113:81724
11. Bremner AR, Sandhu BK. Recurrent abdominal pain in childhood: the functional
element. Indian Pediatr. 2009; 46:375-79
12. Kaminsky L, Robertson M, Deborah D. Psychological correlated of depression in
children with recurrent abdominal pain. J Pediatr Psychol. 2006; 31(9):956-66
13. Walker LS, Green JW. Children with recurrent abdominal pain and their parents:
More somatic complaints, anxiety, and depression than other patient families?. J
Pediatr Psychol. 1989; 14(2):231-43
14. Dufton LM. Anxiety and somatic complaints in children with recurrent abdominal pain
and anxiety disorder. J Pediatr Psychol. 2009; 34(2):176-86

1. Setyonegoro K. Pendekatan terapi psikofarmaka untuk ansietas. Dalam Setyonegoro


RK, Iskandar Y, penyunting. Ansietas pendekatan klinik, biokimia dan farmakologi.
Edisi ke-1. Jakarta: Yayasan Dharma Husada, 1980.h. 7-24
2. Chitkara DK, Rawat DJ, Talley NJ. The epidemiology of childhood recurrent
abdominal pain in western countries: A systematic review. Am J Gastroenterol. 2005;
100:1868-75
3. White KS, Farrell AD. Anxiety and psychosocial stress as predictors of headache and
abdominal pain in urban early adolescents. J Pediatr Psychol. 2005; 31(6):582-96
4. Kaplan HI, Saddock BJ, Crebb JA: Gangguan mood. Dalam: Saddock BJ, Crebb JA .
penyunting. Kaplan & Sadocks sinopsis psikiatri. Edisi ke-7. Jakarta: Bina Aksara,
1977.h. 787-9
5. World Health Organization. Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di
Indonesia. Edisi ke-3. Jakarta: Depkes RI, 1993.h. 150-62
6. Stavrakaki C, Vargo B. The relationship of anxiety and depression: A review of the
literature. British. J Psychiatry. 1986; 149:7-16
7. Papp LA, Gorman J. Generalized anxiety disorder. Dalam: Sadock BJ, Sadock VA,
penyunting. Kaplan & Sadocks comprehensive textbook of psychiatry. Edisi ke-30,
New York: Williams & Wilkins, 1995.h. 1247-8
8. Sadock BJ, Sadock VA. Major Depression and bipolar disorder. Dalam: Sadock BJ,
Sadock VA, penyunting. Kaplan & Sadocks synopsis of Psychiatry. Edisi ke-9.
Philadelphia: Williams & Wilkins, 2000.h. 534-72
9. Ulshen M. Recurrent abdominal pain of childhood. Dalam: Behrman RE, Kliegman
RM, Jenson HB, penyunting. Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke-17. Philadelpia:
WB Saunders Corporation, 2004.h. 1176-8
10. Malaty HM, Abudayyeh S, OMalley KJ, Wilsey MJ, Fraley K, Gilger MA, dkk.
Development of a multidimensional measure for recurrent abdominal pain in children:
population-based studies in three settings. Pediatrics. 2005; 115:210-15
11. Sondheimer JM. Gastrointestinal tract. Dalam: Hay WW, Levin MJ, Sondheimer JM,
Deterding RR, penyunting. Current pediatric diagnosis & treatment. Edisi-18. New
York: Mc Graw Hill, 2003.h. 631-7
12. Isigkeit AR, Thyen U, Stoven H, Schwarzenberger J, Schmucker P. Pain among
children and adolescent; restrictions in daily living and triggering factors. Pediatrics.
2005; 115:152-62
13. Hicks CL, Baeyer CL, McGrath PJ. Online psychological treatment for pediatrics
recurrent pain: A randomized evaluation. J Pediatr Psychol. 2005; 31(7):724-36
14. Merritt KA. Abdominal Pain. Dalam: Rudolph AM, Hoffman JI, Rudolph CD,
penyunting. Rudolphs pediatrics. Edisi ke-20. New Jersey: A Simon & Schuster
Company, 1996.h. 108-12

1. Kairis ML, Alifieraka T, Protagora D, Korpa T, Kondyli K, Dimosthenous E, dkk.


Recurrent abdominal pain and headache psychopathology, life event and family
functioning. Eur Child & Adolescent Psychiatry. 2002; 11(3):115-22
2. Janicke DM, Finney JW. Emperically supported treatments in pediatric psychology:
Recurrent abdominal pain. J Pediatr Psychol. 1999; 24(2):115-27
3. Hyams JS, Treem WR, Justinich CJ, dkk. Characterization of symptoms in children
with recurrent abdominal pain: resemblance to irritable bowel syndrome. J Pediatr
Gastroenterol Nutr. 1995; 20(2):209-14
4. Boediarso AD. Sakit perut berulang. Diunduh dari: http//www. pdpersi.co.id. Diakses
Juli 2009
5. Achenbach TM. Manual for child behavior checklist/ 4-18 and 1991 profile. Burlington
VT: University of Vermont Department of Psychiatry; 1991. h.10-227.
6. Achenbach TM, Ruffle TM. The child behavior checklist and related forms for
assessing behavioral/emotional problems and competencies. Pediatr Rev. 2000;
21:265-71
7. Houghton F, Cowley H, Houghton S, Kelleher K. Gender and the childrens
depression inventorys (CDI) crying question. J Psych Med. 2005; 22(2):52-5
8. Kovacs M. Childrens Depression Inventory (CDI). Dalam: Rush AJ, Pincus HA, First
MB, Blacker D, Endicott J, Keith SJ, dkk, penyunting. Handbook of psychiatric
measures. Edisi ke-1. Washington DC: American Psychiatric Association, 2000.h.
344-6
9. Madiyono B, Moeslichan M, Sastroasmoro S, Budiman I, Purwanto SH. Perkiraan
besar sampel. Dalam:Sastroasmoro S, Ismael S, penyunting. Dasar-dasar
metodologi penelitian klinis. Edisi ke-3. Jakarta: Sagung seto, 2008.h. 302-30
10. Wiguna IMS, Ibrahim AS. Perbandingan gangguan ansietas dengan beberapa
karakteristik demografi pada wanita usia 15-55 tahun. J Kedokter Trisakti. 2003;
22(3):87-91
11. Dufton LM. Recurrent abdominal pain, anxiety, and responses to stress in children
and adolescent.(disertasi). Nashville Tennessee: Vanderbilt University, 2009. h.1-14
12. Hofflich AS, Huhges AA, Kendall PC. Somatic complaints and childhood anxiety
disorders. Int J Clin Health Psychol. 2006; 6(2):230-42
13. Roza SJ, Hofstra MB, Van der Ende J, Verhulst FC. Stable prediction of mood and
anxiety disorder based on behavior and emotional problem in childhood: a 14-year
follow up during childhood; adolescence, and young adulthood. Am J Psychiatry.
2003; 160(2):2116-21

1. Shahraki T, Farahmand F, Khatami GR, Najafi M, Shahraki M. Recurrent abdominal


pain: an etiological study among in a referreal childrens medical center in iran. Iran J
ped. 2007; 17(3):236-9
2. Greco LA, Freeman KE, Dufton L. Overt and relational victimization among children
with frequent abdominal pain: links to social skill, academic functioning, and health
service use. J Pediatr Psychol. 2007; 32(3):320-29
3. Chan EC, Piira T, Betts G. The school functioning of children with chronic and
recurrent pain. Diunduh dari: www.pediatric-pain.ca/ppl. Diakses Agustus 2010
4. Galli F, DAntuono G, Tarantino S, Viviano F, Borelli O, Chirumbolo A, dkk. Headache
and recurrent abdominal pain: a controlled study by the means of the child behaviour
checklist (CBCL). Cephalalgia. 2007; 27: 211-9
5. Master KS. Recurrent abdominal pain, medical intervention, and biofeedback: what
happened to the biopsychosocial model? Psychophysiology Biofeedback. 2006;
31(2):155-65
6. Levy RL, Langer SL, Walker LS, Feld LD, Whitehead WE. Relationship between the
decision to take a child to the clinic for abdominal pain and maternal psychological
distress. Arch Pediatr Adolesc Med. 2009; 160:961-5
7. Pine DS, Cohen P, Gurley D, Brook J, Ma Y. The risk for early-adulthood anxiety and
depressive disorder in adolescents with anxiety and depressive disorder. Arch Gen
Psychiatry. 1998; 55:56-64

39
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu & Umar., 1992. Psikologi Umum. Surabaya: Bina Ilmu. Hal: 68.
Al-Quran, Surat Al-Kahfi Ayat 103-104.
American Cancer Society. 2005. Prevention and Early Detection.
http://www.cancer.org/docroot/ped/content/ped_10_2x_questions_about_smoking_tobacco_and_
health.asp (19 Juni 2010).
Ardjana, I Gusti AE. 2004. Depresi pada Remaja dalam Tumbuh Kembang Remaja dan
Permasalahannya. Jakarta: Sagung Seto.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineke
Cipta.
Beck, A. T, Steer, R. A., Ranieri, W. 1996. Comparison of Beck Depression Inventories-IA and
II in Psychiatrics Outpatients, Journal of Personality Asessment 67 (3); 588-97.

Depkes. 2007. Pharmaceutical Care Untuk Penderita Gangguan Depresif.


http://tunggulpharmacist.files.wordpress.com/2010/03/pharmaceutical-care-untuk-pasiendepresi.pdf. (29 Mei 2010).
Djenkgot. 2010. Bikin Hidup Lebih Hidup. http://isi.stiki.ac.id/index.php?option=
com_content&task=view&id=302&Itemid=61 (08 Juli 2010).
Ekawati, dkk. 2009. Peningkatan Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Terhadap Rokok.
http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/ekawati080102009.pdf (24 April 2010).
Ellizabet, L. 2010. Stop Merokok. Yogyakarta: Garailmu.
Hawari,D. 2005. Dimensi Realigi Dalam Praktek Psikiatri dan Psikologi. Jakarta: FK UI. Hal:
122.
. 2008. Manajemen Stres, Cemas dan Depresi. Jakarta: FKUI
Iskandar, Yul. 1984. Stres, Anxietas dan Penampilan. Ed 1. Jakarta: Yayasan Dharma Graha.
Istiqomah, Umi. 2003. Upaya Menuju Generasi Tanpa Merokok. Yogyakarta: Seti-Aji. Hal: 4246.
Lumbantobing, SM. 2004, Neurogeriatri. Jakarta: FKUI. Hal: 167. 40

Maramis, F.W. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa (Cetakan 9). Surabaya: Airlangga University
Press.
Maslim, Rusdi. 2001. Diagnosa Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III. Jakarta: FK Uika
Atma Jaya. Hal: 60-63.
Murni, Suzana. 2009. Depresi. http://spiritia.or.id/li/pdf/LI558.pdf . Hal: 558 (16 Juni 2010).
Murti, Bhisma. 1996. Penerapan Metode Statistik Non-Parametrik dalam Ilmu-ilmu Kesehatan.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mutadin. 2002. Rokok dan Remaja. http://www.e-psikologi.com/remaja.050602. htm (08 Juli
2010).
Narendra, M.B, dkk. 2002. Tumbuh Kembang Anak Dan Remaja. Jakarta: Sagung Seto. Hal: 138.
Nasution, IK. 2007. Perilaku Merokok pada Remaja. http://library.usu.ac.
id/download/fk/132316815.pdf (16 Juni 2010).
Notoatmodjo, S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam, 2003. Konsep dan Penerapan Metode Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika. Hal: 78
Prasetya, HA. 1999. Korelasi Antara Derajat Beratnya Merokok Di Antara Ko Asisten Fakultas
Kedokteran UNS Surakarta. Skripsi (Tidak diterbitkan). Fakultas Kedokteran: Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
Rebecca & Young, A. 2010. Mengenali, Mengatasi dan mengantisipasi Depresi. Jakarta:
PT.Gramedia Pustaka Utama. Hal: 21-22.
Rifai, M., 2008. Risalah tuntunan shalat lengkap. Semarang: Karya Toha Putra. Hal: 9-10.
Saifuddin, Bari Abdul. 2002, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: JNPKKRPOGI, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Hal: 330.
Soetjiningsih., 2007. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: Sagung Seto.
Susilowati, Pudji. 2008. Waspadai Depresi pada Remaja. http://www.e-psikologi. com/epsi/asp?
id=481 (08 Juli 2010). 41

Sugiyono, DR. 2007. Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.


Surveymonkey. 2010. Smoking Behavior Questionnaire. https://www. surveymonkey.com/s.aspx?
sm=PQfzLfBvcf7nIO3pl9gh%2fg%3d%3d (20 November 2010).
Target, G. 1995. Cara Berhenti Merokok. Jakarta: Arcan.
Wibisono, Sasanto. 2006, Dexa Media Jurnal Kedokteran dan Farmasi. http://www.dexamedica.com/images/publication_upload07041697739 50011 76746090DM_Juli-Sept2006.pdf
(16 juni 2010).
Widianti, Efri. 2007. Remaja dan Permasalahannya: Bahaya Merokok, Penyimpangan Seks pada
Remaja dan bahaya penyalahgunaan Minuman Keras atau Narkoba.
http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads publikasi dosen/1A
%20makalah.remaja&masalahnya.pdf (24 April 2010).
Wilkinson, Greg. 1995. Depression. Jakarta: Arcan.
Yosep, Iyus. 2010. Keperawatan Jiwa. Bandung: Rafika Aditama.

DAFTAR PUSTAKA
Azwar, S. (2003). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Bobak, I.M., Lowdermilk D.L., dan Jensen, S.E.P. (2005) Buku ajar keperawatan
maternitas. Edisi 4. Alih bahasa:Maria A. Wijayarini. Jakarta :EGC.
Budiono. (1999). Umur. Diakses tanggal 21 Desember 2010. .
http://id.wikipedia.org/wiki/Umur
Cahyo, K. dan Syamsul Huda (2003). Kajian adaptasi sosial pesikologis pada ibu
setelah melahirkan (Post partum) di ruang rawat inap Rumah Sakit
Kogya Semarang. Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro.
Depresi pasca melahirkan. http://www.WordPress.com
Erika, (2009). Post partum blues. http://bana2.dagdigdug.com/2008/11/10/postpartumblues/
Ghozali, Imam (2005). Aplikasi analisis multivariat dengan program SPSS.
Semarang : Badan Penerbit universitas Diponegoro.
Gynob, (2008). Post-Partum (Setelah Pengiriman) AKA, Puerperum.
http://www.gynob.com/postpar2.htm
Hasan, I. (2004). Analisis data penelitian dengan statistik. Jakarta : Bumi aksara
Henderson & Jones. (2005). Buku ajar konsep kebidanan. Jakarta: EGC
Herman (2009). Baby blue syndrome - what it is, what it is not.
Http://www.Skinpress.com/baby-blue-syndrome.htm
Hurlock, E. B., 2000. Psikologi Perkembangn : Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan. Alih Bahasa : Isti Widayanti Jakarta : Erlangga
Iskandar, S.S. (2009). Post partum blues.
http://www.mitrakeluarga.net/kemayoran/kesehatan005.html.
Lestari, Dewi (2009). Pengalaman ibu hamil dalam menghadapi stres persalinan
Di Desa Bangun Rejo Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli
Serdang Tahun 2008 2009. Universitas Sumatera Utara.
Manuaba, Ida B. G. (1998). Memahami kesehatan reproduksi wanita. Jakarta :
Arcan
May, K.A. dan Laura R. Mahlmeister. (1994). Maternal and neonatal nursing
family-center care. Philadelphia : JB. Lippicott.
Notoadmojo, S. ( 2002 ). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
_____________(2003). Ilmu kesehatan masyarakat: Prinsip-prinsip Dasar.

Cetakan ke-2. Jakarta. Rineka Cipta.


Nursalam. (2003). Manajemen keperawatan aplikasi dalam praktek keperawatan
profesional. Jakarta : Salemba Medika.
Panji Irawan (2009). Ancaman setelah melahirkan, baby blues dan depresi.
http://panji1102.wordpress.com/2010/06/04/page/3/
Prawirohardjo, Sarwono (2003). Menopause dan andropause. Jakarta : YBPSP.
Reeder, S.J., Leonidel M., Deborah K.G. (1995). Maternity nursing : Family
newborn, and womens healt care. Eighteenth edition. Philadelphia :
Lippincott.
Rufaidha, I (2009). Hubungan dukungan suami dengan kejadian postpartum blues
pada ibu primipara di Rumah Bersalin Bhakti Ibu Semarang. Skripsi.
Universitas Muhammadiyah Semarang
Sugiyono, 2007. Statistika untuk penelitian. Bandung : Alfabeta.
Varney, H., Jan M.Kriebs, Carolyn L. Gegor (2008). Buku ajar asuhan
kebidanan. Jakarta : EGC.