Anda di halaman 1dari 9

HUBUNGAN ANTARA STRES, KEBIASAAN POLA MAKAN DENGAN

FREKUENSI KEKAMBUHAN GASTRITIS DI PUSKESMAS PANDANWANGI


KOTA MALANG
Djoko Santoso*, Ahsan**, Andi Surya***
Stres adalah gejala yang ditandai rasa tegang dan cemas berpengaruh
terhadap kondisi mental dan fisik. Gastritis merupakan radang pada jaringan
dinding lambung, yang disebabkan oleh ketidakteraturan pola dan jenis makan
dan juga dapat dipengaruhi oleh faktor stres. Penyebab lain bisa disebabkan
oleh alkohol, empedu atau terapi radiasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui
hubungan antara stres, pola makan dengan frekuensi kekambuhan gastritis pada
penderita gastrtitis yang berkunjung di Puskesmas Pandanwangi. Jenis
penelitian ini korelasional dengan teknik accidental sampling dan jumlah sampel
36 orang. Variabel yang dikaji stres, pola makan dan frekuensi kekambuhan
gastritis, diukur dengan skala ordinal dan uji analisis Spearman Rho. Hasil uji
stastistik menunjukkan ada hubungan antara stres dengan gastritis didapatkan
nilai 0,008, dan pola makan dengan gastritis didapatkan nilai 0,002. Hal ini
menunjukan bahwa antara stres dan pola makan mempunyai hubungan dengan
frekuensi kekambuhan gastritis, berdasarkan hasil penelitian diharapkan petugas
kesehatan dapat memberikan informasi tentang manajemen stres dan
penyuluhan tentang pola makan yang baik bagi penderita gastritis, dan
disarankan penelitian serupa dengan sampel sesuai yang ditentukan.
Kata kunci : Stres, pola makan, frekuensi kekambuhan, gastritis
Mental stress is a symptom indicated by tautness and nervousness which
can affect mental and physical conditions. Gastritis is an inflammation on the wall
of the interior cavity tissue caused by the irregular diet pattern, and the diet
menu, which also can be affected by mental stress factor. The other gastritis
causes include alcohol or radiation therapy. This researchs aim is to find the
relationship between mental stress and diet pattern toward the reoccurrence
frequency of gastritis on gastritis patients who visit the Pandawangi Public
Clinical Health. The research type is a co-relational research using accidental
sampling method, with 36 people as the respondents. The observed variables are
mental stress, diet pattern, and reoccurrence frequency of gastritis measured by
using ordinal scale and Spearman Rank test. The statistical test result shows that
there is indeed a relationship between mental stress and gastritis amounts 0.008,
then, between diet pattern and gastritis has 0.002 value. It indicates that stress
and feeding pattern have a relationship with gastritis relapse. Based on results of
research, it can be suggested that health service should provide information
about stress management and counseling on better feeding pattern for gastritis
patient. Similar research with suitable sample may be considered.
Keyword: mental stress, diet pattern, reoccurrence frequency, gastritis.
*Laboratorium Histologi FKUB
**PSIK FKUB
***Mahasiswa Jurusan Keperawatan Program B

Dalam

PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari,

sebuah

jurnal

kedokteran, mengungkapkan stres

sering kita dengar banyak orang

dapat

mengeluh rasa tidak nyaman pada

makan seseorang. Saat stres, orang

perut bagian atas, misalnya rasa

cenderung makan lebih sedikit, stres

perut selalu penuh, mual, perasaan

juga

panas, rasa pedih sebelum dan

hormonal

sesudah makan. Salah satu peneliti

merangsang produksi asam lambung

yang

kemungkinan

dalam jumlah berlebihan. Akibatnya,

kelainan dalam jalan makan yang

lambung terasa sakit, nyeri, mual,

dihubungkan dengan keluhan seperti

mulas, bahkan bisa luka, (Kamal,

tersebut

2007)

mempelajari

di

menyelidiki

atas.

Broussais,

mempengaruhi

menyebabkan
dalam

Pada

perubahan-perubahan

kebiasaan

perubahan

tubuh

bulan

Agustus

penyakit

halus pada otopsi dan ditemukan

Pandangwangi merupakan penyakit

gastritis yang lanjut sebagai dasar

tertinggi diantara 15 puskesmas di

kelainan patogenik (Hadi, 2000).

kota

Malang.

Pandanwangi

di

2007

anatomis dari lambung dan usus

Gastritis biasanya diawali oleh

gastritis

dan

Puskesmas

Di

puskesmas

sendiri

penyakit

teratur

gastritis menempati rangking ke-4

sehingga lambung menjadi sensitif

dari 10 penyakit terbanyak yang

bila asam lambung meningkat. Pola

terdapat di puskesmas Pandanwangi

pola

makan

yang

tidak

makan terdiri dari frekuensi makan,

Oleh

karena

frekuensi

jenis makanan. Pola makan yang

kekambuhan gastritis banyak terjadi

baik dan teratur merupakan salah

pada pasien yang pola makan tidak

satu dari penatalaksanaan gastritis

teratur, maka petugas kesehatan

dan

kesehatan

juga

merupakan

tindakan

dapat

memberikan

mencegah

informasi tentang manajemen stres

kekambuhan gastritis. Penyembuhan

dan penyuluhan tentang pola makan

gastritis membutuhkan pengaturan

yang baik bagi penderita gastritis.

preventf

makanan

dalam

sebagai

memperbaiki

kondisi

upaya

untuk

pencernaan

Penelitian ini bertujuan untuk


mengetahui

(Uripi, 2002), disamping itu gastritis

dengan

juga dapat disebabkab oleh stres.

gastritis

stres,

frekuensi

pola

makan

kekambuhan

METODE PENELITIAN
Desain
digunakan

frekuensi

penelitian
dalam

yang

penelitian

ini

berupa

dikonfirmasikan

tabel

kedalam

yang
bentuk

prosentase dan narasi.

adalah adalah metode korelasional


mencari hubungan antara stres, pola

HASIL PENELITIAN

makan

Gambar 1. Subyek berdasarkan

dengan

kekambuhan

gastritis

pendekatan

Cross

menggunakan
sampling,

teknik

frekuensi
dengan
Sectional

Berdasarkan gambar 1 yang

accidental

berusia usia > 40 tahun sebanyak 12

sampel

orang (33,3%), usia 31-40 tahun

penetapan

berdasarkan kriteria inklusi.


Penelitian
puskesmas

Usia

sebanyak 11 orang (30,6%), usia 21-

dilaksanakan
Pandanwangi

di

30 tahun sebanyak 8 orang (22,2 %),

kota

dan < 20 tahun sebanyak 5 orang

Malang, yang dilaksanakan pada

(13,9%).

tanggal 2-24 Januari 2008

Gambar 2. Subyek berdasarkan

Untuk

mengumpulkan

data

peneliti menggunakan angket berisi

jenis kelamin
Berdasarkan gambar 2 yang

pertanyaan tertutup (Closed Ended

berjenis

kelamin

perempuan

Question) yang dibuat oleh peneliti

sebanyak 23 orang (63,9%), dan

dengan mengacu pada kepustakaan

jenis kelamin laki-laki sebanyak 13

terdiri dari 20 pertanyaan untuk stres

orang (36,1%)

di skor 0-8 stres ringan, 9-16 stres


sedang,

17-24

stres

berat,

24

pertanyaan untuk pola makan dan di


skor 17-24 pola makan baik,

9-16

Gambar 3. Subyek berdasarkan


pekerjaan
Berdasarkan gambar 3 yang

pola makan kurang baik, 0-8 pola

terbanyak

ditempati

pekerjaan

makan buruk. dan 6 pertanyaan

swasta sebanyak 13 orang (36,1%),

untuk frekuensi kekambuhan di skor

peringkat 2 adalah bekerja sebagai

0-2 frekuensi kekambuhan ringan, 3-

buruh sebanyak 10 orang (27,8%),

4 frekuensi kekambuhan sedang, 5-6

sedangkan responden yang sebagai

frekuensi kekambuhan berat.

pelajar/mahasiswa sebanyak 7 orang

Dari hasil penyajian kuesioner

(19,5%), PNS sebanyak 3 orang

dijelaskan secara deskriptif dengan

(8,3%), dan responden yang tidak

menggunakan

bekerja sebanyak 3 orang (8,3%).

tabel

distribusi

Gambar

4.

Penyebab

gastritis

ditinjau dari faktor stres

hasil frekuensi kekambuhan ringan 8


responden

(22

%),

frekuensi

Berdasarkan gambar 4 yang

kekambuhan sedang 13 responden

mengalami stres sedang sebanyak

(36,1 %) dan frekuensi kekambuhan

21

berat 15 responden (41,1 %).

orang

(58,4%),

sebanyak

stres

orang

ringan
(22,2%),

Menurut

Barbara

C.

Long

sedangkan yang mengalami stres

(1996), gastritis (peradangan pada

berat sebanyak 7 orang (19,4%).

lambung) merupakan gangguan yang


sering terjadi dengan karakteristik

Gambar

5.

Penyebab

gastritis

ditinjau dari faktor Pola makan

adanya anoreksia, rasa penuh dan


tidak enak pada epigastrum, mual

Berdasarkan gambar 5 di atas

dan muntah yang akibatnya sering

yang mempunyai pola makan kurang

kali tidak dapat dipastikan, namun

baik 30 orang (83,3%), sedangkan

sering kali akibat dari stres, alkohol

pola makan baik adalah sebanyak 2

atau

orang (5,5%), dan pola makan yang

sering disertai infeksi bakteri atau

buruk didapatkan 4 orang (11,1%)

virus,

Gambar

pankreas/empedu

6.

Data

Frekuensi

Kekambuhan Gastritis
Berdasarkan

obat-obatan.
dari

Gangguan

iritasi

oleh
yang

ini

sekresi
mengalir

kembali ke lambung dengan radiasi

gambar

15

atau

karena

substansi-substansi

orang (41,7%) mempunyai frekuensi

yang bersifat korosif. Dan menurut

kekambuhan

berat.

Brunner

kekambuhan

sedang

Frekuensi
13

orang

dan

Suddarth

(2000),

gastritis inflamasi mukosa lambung

(36,1%). Dan frekuensi kekambuhan

paling

sering

diakibatkan

oleh

ringan 8 orang (22,2%).

ketidakteraturan diet, alkohol, aspirin,


refluks empedu atau terapi radiasi.
Gastritis

dapat

menjadi

tanda

pertama infeksi sistemik akut. Bentuk


gastritis

akut

yang

lebih

parah

PEMBAHASAN

disebabkan oleh asam kuat/alkali

Frekuensi Kekambuhan Gastritis

yang dapat menyebabkan mukosa

Berdasarkan gambar 6 pada


frekuensi

kekambuhan

menjadi gangren dan perforasi.

gastritis

dalam satu bulan terakhir, didapatkan

Berdasarkan teori diatas wajar


jika

dijumpai

sebagian

besar

responden gastritisnya kambuh saat

Dari

uraian

diatas

dapat

tidak sarapan dan makan makanan

disimpulkan kebanyakan penderita

yang merangsang, banyak bumbu

gastritis hanya mematuhi aturan diet

dan rempah. Hal ini ditunjukkan

saat gastritisnya kambuh tapi setelah

sebagaian

responden

gejala hilang mereka kembali ke pola

mempunyai frekuensi kekambuhan

makan yang tidak sehat. Menurut

gastritis

besar

yang

responden

berat

sebesar

15

Persagi (1999) sebaiknya penderita

(41,1%),

dimana

11

gastritis menghindari makanan yang

responden (73,3%) mempunyai pola

bersifat

makan kurang baik dan 4 responden

makanan berserat dan penghasil gas

(26,7%)

maupun mengandung banyak bumbu

mempunyai

pola

makan

merangsang,

diantara

buruk

dan rempah. Selain itu, penderita

Pola Makan

gastritis

juga

harus

menghindari

Berdasarkan gambar 5 hasil

alkohol, kopi dan minuman ringan

tabulasi data yang peneliti lakukan

(soft drink/coke). Teknik memasak

terhadap 36 responden didapatkan 2

juga

responden (5,5 %) dengan pola

direbus, dikukus, dipanggang adalah

makan

tehnik masak yang dianjurkan.

baik

(makan

3x

sehari,

dengan jenis makanan yang tidak


merangsang

terjadinya

harus

Pola

perlu

makan

diperhatikan

atau

hidangan

gastritis),

yang dianjurkan adalah makanan

sedangkan yang mempunyai pola

seimbang yang terdiri atas : sumber

makan

zat tenaga, misalnya : roti, mie bihun,

kurang

baik

didapatkan

sebanyak 30 responden (83,3 %)

jagung,

dengan

16

tepungan, gula dan minyak. Sumber

responden (53,3%) 2x sehari dan

zat pembangun, misalnya : ikan,

makan makanan yang merangsang

telur, ayam, daging, susu, kacang-

dan tidak merangsang. Untuk 14

kacangan, tahu, tempe dan oncom.

responden (46,7%) kebalikan dari 16

Sumber zat pengatur, misalnya :

responden yaitu makan 3x sehari tapi

sayur-sayuran,

banyak

terutama sayuran berwarna hijau dan

frekuensi

makan

makan

makanan

yang

ubi,

singkong,

buah-buahan

merangsang. Sedangkan untuk pola

kuning, (Hartono, 2000).

makan

Kejadian Stres

buruk

responden (11,1 %).

didapatkan

tepung-

Dari hasil tabulasi data yang


peneliti

lakukan

didapatkan

stres

ringan 8 responden (22,2 %), stres

keeratan hubungan yang cukup kuat

sedang 21 responden (58,4 %) dan

dan signifikan (bermakna), dengan

stress berat 7 responden (19,4 %).

arah korelasi yang positif. Artinya,

Menurut Bruce Mc Ewen (1993)


dalam

penelitiannya

stres

hubungan

dengan

mempunyai

semakin tinggi tingkat stres maka


frekuensi kekambuhan gastritis akan
cenderung

semakin

berat.

penyakit, seperti pada gastritis yang

Sebaliknya semakin rendah tingkat

menyebabkan luka pada salurang

stres maka frekuensi kekambuhan

pencernaan (sakit maag), memicu

gastritis akan cenderung semakin

gejala-gejala luka usus besar dan

ringan.

penyakit radang usus.


Disamping

Hal

itu

kebanyakan

ini

dibuktikan

dari

responden yang mengalami stres

respoden yang mengalami stres juga

berat

mempunyai pola makan yang kurang

mengalami

baik yaitu ketidakteraturan pola diet

berat dan 2 responden mengalami

dan

sehingga

frekuensi kekambuhan sedang. Hal

menyebabkan

ini menunjukan bahwa tingkat stres

terjadinya gastritis hal ini ditunjukkan

dapat menimbulkan gejala seperti

pada 21 responden yang mengalami

perut melilit, nyeri kepala, sehingga

stres sedang, ada 19 responden

menyebabkan pola makan menjadi

(90,5%)

makan

tidak teratur karena itu pola makan

kurang baik dan 2 responden (9,5%)

yang baik dan manajemen stres

mempunyai pola makan baik

merupakan

Hubungan antara stres dengan

pencegahan dan penatalaksanaan

frekuensi kekambuhan gastritis

gastritis

waktu

makan

menyebabkan

mempunyai

Dari

pola

hasil

uji

Rho

terlihat

bahwa

dengan

hubungan

antara

stres

dengan

gastritis

frekuensi

kekambuhan

Spearmens

sebesar

0.436

signifikansi

(p)

Corelations

didapat,

dengan
sebesar

Hubungan

responden

frekuensi

kekambuhan

hal

penting

antara

frekuensi

pola

dalam

makan

kekambuhan

gastritis

Berdasarkan hasil analisis data

nilai

menunjukkan nilai koefisien korelasi

0.008

rho

spearman

untuk

hubungan

(p<0.05). Dengan kata lain antara

antara pola makan dengan frekuensi

tingkat

frekuensi

kekambuhan gastritis sebesar -0.495

mempunyai

dengan nilai signifikansi (p) sebesar

stres

kekambuhan

dengan
gastritis

0.002 (p<0.05). Dengan kata lain

berkunjung

antara pola makan dengan frekuensi

Pandanwangi Kota Malang sehingga

kekambuhan

jumlah sampel penelitian tidak sesuai

gastritis

mempunyai

ke

Puskesmas

keeratan hubungan yang cukup kuat

yang

dan signifikan (bermakna), dengan

Keterbatasan dalam waktu penelitian

arah korelasi yang negatif. Artinya,

sehingga penetapan jumlah sampel

semakin baik pola makan maka

penelitian

frekuensi kekambuhan gastritis akan

instrumen

cenderung

harapan

semakin

ringan.

diharapkan,

yang

dan

kedua

penggunaan

tidak

sesuai

sehingga

dengan

hasil

yang

Sebaliknya semakin kurang baik pola

penelitian jauh dari kesempurnaan

makan maka frekuensi kekambuhan

dan kurang maksimal.

gastritis akan cenderung semakin

KESIMPULAN

berat

1. Dari hasil analisa data antara


Hal

ini

dibuktikan

dari

30

stres

dengan

frekuensi

responden yang mempunyai pola

kekambuhan

makan kurang baik, 11 responden

hasil sebesar 0.436 dengan nilai

mengalami

kekambuhan

signifikansi (p) sebesar 0.008

responden

(p<0.05). ). Dengan kata lain

gastritis

frekuensi
berat,

mengalami

13

frekuensi

kekambuhan

antara

gastritis

tingkat

didapat

stres

dengan

gastritis sedang, dan 6 responden

frekuensi kekambuhan gastritis

mengalami

kekambuhan

mempunyai keeratan hubungan

gastritis ringan. Hal ini menunjukkan

yang cukup kuat dan signifikan

sebagian

(bermakna) Hal ini menunjukan

frekuensi
besar

responden

mengalami

kekambuhan

gastritis

bahwa

saat

makan

setelah

hubunganya

telat

mengkonsumsi
merangsang

atau

makanan
misalnya

yang
makan

tingkat

stres

dengan

ada

frekuensi

kekambuhan gastritis

2. Dari hasil analisa antara pola

makanan yang asam, pedas ataupun

makan

makanan yang dapat meningkatkan

kekambuhan

produksi asam lambung lainnya

hasil sebesar -0.495 dengan nilai

Penelitian

ini

dengan
gastritis

frekuensi
didapat

mempunyai

signifikansi (p) sebesar 0.002

beberapa keterbatasan antara lain:

(p<0.05). Dengan kata lain antara

pertama peneliti bersifat pasif yaitu

pola makan dengan frekuensi

menunggu datangnya penderita yang

kekambuhan gastritis mempunyai

keeratan hubungan yang cukup

8. Junaidi, Iskandar, 2006, The

kuat dan signifikan (bermakna).

Power of Soul for greah Health,


Jakarta, PT. Buana Ilmu Popular
9. Kamal, Lula, 2007, Gastritis,
http://medicastore.com, diakses
pada tanggal 26 Agustus 2007
10. Kusnadi, 2003, Teori dan
Manajemen
Stres,
Malang,
Taroda
11. Lanywati,
Endang,
2001,
Penyakit Maag dan Gangguan
Pencernaan,
Yogyakarta
:
Kanisius
12. Long,
Barbara.
C,
1996,
Perawatan Medikal Bedah Jilid II,
Bandung : IAPK
13. Mansyur, Arief, 2000, Kapita
Selekta Kedokteran, Jilid I,
Jakarta : Media Aeusculapius
14. Notoatmodjo,
S,
2002,
Metodologi Penelitian Kesehatan,
Jakarta, PT. Rineka Cipta
15. Nursalam, 2003, Konsep dan
Penerapan Metodologi Penelitian
Ilmu Keperawatan, Jakarta :
Salemba Medika
16. Persagi, 1999, Penuntun Diit,
Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama
17. Price,
Sylvia.
A,
1995,
Patofisiologi Jilid I, Jakarta : EGC
18. Robbins dan kumar, 1995,
Patologi Jilid II, Jakarta : EGC
19. Sugiyono, 2006, Statistika untuk
Penelitian, Bandung, CV Alfabeta
20. Sulaiman, Wahid, 2003, Statistik
Non Parametrik Contoh Kasus
dan
Pemecahannya
dengan
SPSS, Yogyakarta, Penerbit Andi
21. Suyono, Slamet, 2001, Ilmu
Penyakit Dalam Jilid II, Jakarta :
FKUI
22. Tha, 2003, Maag? Stop Pedas
dan Masam, Jawa Pos, 19
Februari 2003
23. Uripi, Vera, 2002, Menu untuk
Penderita
Hepatitis
dan
Gangguan Saluran Pencernaan,
Jakarta : Puspa Swara

Hal ini menunjukan bahwa pola


makan ada hubunganya dengan
frekuensi kekambuhan gastritis
SARAN

1. Perlu adanya penelitian lanjutan


untuk memperjelas hasil dengan
melibatkan peneliti secara aktif
dengan melakukan penelitian dari
rumah ke rumah.

2. Perlu adanya penelitian untuk


mengetahui

faktor-faktor

lain

yang mempengaruhi terjadinya


kekambuhan

gastritis,

seperti

faktor pendidikan, usia dan jenis


kelamin
DAFTAR PUSTAKA

1. Arikunto,
2.

3.
4.
5.
6.
7.

Suharsni,
2002,
Prosedur Penelitian, Jakarta : PT.
Rineka Cipta
Aziz,
Alimul,
2003,
Riset
Keperawatan
dan
Teknik
Penulisan Ilmiah, Jakarta :
Salemba Medica
Brunner dan Suddarth, 2000,
Keperawatan Medikal Bedah,
Jakarta : EGC
Coleman, Vernon, 1995, Stress
dan Lambung Anda, Jakarta :
Arcon
Guyton, A.C dan Hall, John, E,
1997 : Fisiologi Kedokteran,
Jakarta : EGC
Hadi,
Sujono,
2000,
Gastroenterologi,
Bandung
:
Penerbit Alumni
Hartono, Andry, 2000, Asuhan
Nutrisi Rumah Sakit, Jakarta,
EGC

24. Wijaya Kusuma, Hembing, 2004,


Ramuan

Pengusir

Maag,

www//http.google.com.
diakses
pada tanggal 26 Agustus 2007