Anda di halaman 1dari 9

1

BAB I
1.1 Latar Belakang
Sejak diberlakukannya UU No. 5 tahun 1974, pembangunan Indonesia dituntut untuk
memperhatikan istilah desentralisasi, yang dimaksudkan untuk memberi kewenangan kepada pemerintah
daerah dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat di daerah menurut prakarsa sendiri,
berdasarkan aspirasi sesuai dengan undang-undang.
Namun masih ditemukan banyak kelemahan yang terjadi di dalam umdang-undang ini yaitu tidak
secara tegas mengatur sampai seberapa jauh tingkat otonomi yang dimiliki daerah atau yang diberikan
pusat ke daerah. Undang-undang ini hanya mencantumkan prinsip saja "pelaksanaan otonomi yang
bersifat nyata dan bertanggung jawab."
Sampai seberapa jauh nyata-nya dan batas-batas tanggung jawab seperti apa tidak ditegaskan. Hal
ini mengakibatkan pembangunan tetap berjalan secara sentralistis yang tetap ditandai dengan peraturan
dan kebijakan yang diterapkan oleh pusat, dan pemerintah di tingkat daerah praktis sekedar perpanjangan
tangan dari pusat.
Sejalan dengan pembangunan dalam mencapai peningkatan kesejahteraan masyarakat yang adil
dan merata dengan kondisi yang ada pembangunan Indonesia mengalami kesenjangan kesejahteraan itu,
ditengah arus globalisasi yang membuat batas-batas Negara semakin tipis, mobilitas faktor produksi
semakin tinggi, arus informasi yang tidak terbendung, menurut sistem pemerintahan yang sentralistik
harus diganti mengingat daerah di Indonesia memiliki keunikan sendiri, baik dari demografi maupun
potensi ekonominya. Melihat inilah maka pemerintah menetapkan UU No. 22 tahun 1999 dalam memberi
acuan dasar yang cukup tegas bagi pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten untuk mengatur
dan mengurus daerah sendiri.
Dalam acuan dasar tersebut setiap daerah harus membentuk suatu paket otonomi yang konsisten
dengan kapasitas dan kebutuhannya.
Dalam Negara majemuk seperti Indonesia, satu ukuran belum tentu cocok untuk semua daerah.
Dalam proses ini komunitas-komunitas lokal perlu dilibatkan oleh masing-masing pemerintah
kabupaten/kota, termasuk DPR untuk menjamin proses desentralisasi secara lebih baik dan bertanggung
jawab dimana mereka sebagai salah satu stakeholder yang memiliki kepentingan mendalam untuk
mensukseskan otonomi daerah (Widjaja, 2004 : 2).
Perjalanan desentralisasi inipun terus mengalami perkembangan diberbagai daerah dan dalam
pelaksanaannya banyak ditemukan kelemahan terkhusus dari segi undang-undang yang mengaturnya
sehingga dimunculkan beberapa undang-undang seperti dengan berlakunya UU No. 32 tahun 2004
tentang pemerintah daerah dan UU No 33 tahun 2004 tentang hubungan keuangan pusat-daerah. Kedua
2

undang-undang ini semakin memberikan kemudahan dalam melihat pencapaian pengelolaan daerah
dimana pemerintah daerah. Hal ini yang berekaitan erat dengan kemandirian pelaksanaan pemerintah
daerah adalah kebijakan fiscal daerah, termasuk pengelolaan keuangan daerah dan pertanggungjawaban
pengelolaan keuangan daerah.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004, ada tiga kriteria harus dipenuhi dalam
rencana dan usul pemekaran daerah yakni syarat administratif, teknis dan kewilayahan. Secara
administratif pemekaran antara lain ialah persetujuan dari DPRD, Bupati/Walikota dan Gubernur serta
rekomendasi Menteri Dalam Negeri, sementara syarat teknis antara lain ialah kemampuan ekonomi,
sosial, budaya, sosial politik, kependudukan, luas daerah, pertahanan dan keamanan. Sedangkan
persyaratan kewilayahan antara lain adalah 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kabupaten/kota, dan
minimal 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi, serta didukung oleh ketersediaan sarana
dan prasarana pemerintahaan.
Berdasarkan ketentuan tersebut nyatalah bahwa tujuan pemekaran daerah adalah untuk
melancarkan pembangunan yang tersebar diseluruh wilayah dan membina kestabilan politik dan kesatuan
bangsa. Dengan kata lain, bertujuan untuk menjamin perkembangan dan pembangunan daerah yang
dilaksanakan dengan azas dekonsentrasi.
Lebih terperinci tujuan tersebut seperti dijelaskan dalam Undang-Undang No 32 tahun 2004
adalah :
1. Mempercepat laju pertumbuhan pembangunan
2. Upaya pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya.
3. Upaya untuk lebih mendekatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat.
4. Mempertinggi daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintah di daerah.
5. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan dan pembangunan.
6. Terbinanya stabilitas politik dan kesatuan bangsa.
Namun seperti diketahui bahwa meskipun sudah ada otonomi daerah, pembangunan di daerah
tidak hanya berasal dari program regional, tetapi berasal dari program pembangunan sektoral yang
dilaksanakan oleh Departemen teknis. Artinya program pembangunan daerah tersebut merupakan
kombinasi dari asas desentralisasi dan asas dekonsentrasi. Dengan cara demikian diharapkan disparitas
kemajuan akibat pembangunan antar daerah dapat dikurangi. Keadaan seperti ini merupakan suatu ciri
negara sedang berkembang, yaitu masih tingginya peranan pemerintah pusat dalam memperoleh dan
menyalurkan dana kepada daerah (Majidi, 1991 : 4).
Dalam kenyataan pelaksanaan pembangunan sektoral di daerah sering menimbulkan masalah. Hal
ini disebabkan proyek pembangunan sektoral tersebut tidak sesuai dengan keinginan(aspirasi) daerah
seiring perencanaan pembanugnan sektoral lebih bersifat top-down.
3

Pemekaran wilayah berakibat langsung terhadap terjadinya pembatasan wilayah dengan luasan
yang lebih kecil, persebaran penduduk lebih konsentrasi, keuangan (PAD), dan perencanaan
pembangunan yang lebih terarah dan berkelanjutan. Hal ini merupakan konsekuensi, karena walaupun
diadakan pemekaran wilayah namun potensi wilayah yang bersifat alamiah dan sarana prasarana wilayah
yang sudah terbangun tidak akan dapat dibagi. Demikian juga distribusi penduduk dan aktivitasnya yang
sudah tersebar dengan keadaan saat ini juga sangat sulit diubah.
Tolak ukur keberhasilan pembangunan dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan ekonomi, struktur
ekonomi, dan semakin kecilnya ketimpangan pendapatan antar daerah dan antar sektor. pertumbuhan
ekonomi merupakan ukuran utama keberhasilan pembangunan dan hasil pertumbuhan ekonomi dapat
dinikmati semua lapisan masyarakat.
Menurut pandangan ekonomi klasik (Adam Smith) pada dasarnya ada 4 faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yaitu jumlah pendudukjumlah stok barang modal, luas tanah dan
kekayaan alam serta tingkat teknologi yang digunakan.
Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan atau berkembang apabila tingkat kegiatan
ekonominya lebih tinggi dari pada apa yang dicapai pada masa sebelumnya.
Menurut Boediono (2001) pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output perkapita dalam
jangka panjang. Proses pertumbuhan ekonomi bersifat dinamis yang berarti berkembang terus-
menerus.Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) salah satu indikator untuk melihat pertumbuhan
ekonomi di suatu daerah dan sangat dibutuhkan dalam pengambilan keputusan. PDRB merupakan
keseluruhan nilai tambah yang dasar pengukurannya timbul akibat adanya aktivitas ekonomi dalam suatu
daerah atau wilayah.
Data PDRB menngambarkan kemampuan suatu daerah dalam mengelola sumber daya alam yang
dimilikinya. PDRB perkapita merupakan hasil dari pembagian PDRB dengan jumlah penduduk, dengan
kata lain pembentukan PDRB perkapita dapat dilihat dari meningkatnya nilai tambah sektor-sektor
ekonomi yang ada dalam wilayah tersebut. Penelitian ini terfokus pada pemekaran wilayah
kabupaten/kota.
Berdasarkan uraian di atas, penulis mencoba menganalisis sejauh mana pelaksanaan pemekaran
wilayah terhadap peningkatan pertumbuhan PDRB perkapita serta perkembangan mengenai pemekaran
wilayah Kalimantan Utara sebagai provinsi ke-34 dan hal-hal yang menyangkut Pemerintah Kalimantan
Utara .

4

1.2 Tujuan Pemekaran Wilayah
Secara lebih rinci, pada umumnya pemekaran (tentu juga penghapusan dan penggabungan) daerah
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan melalui :
1. peningkatan pelayanan kepada masyarakat;
2. percepatan pertumbuhan kehidupan masyarakat;
3. percepatan pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah;
4. percepatan pengelolan potensi daerah;
5. peningkatan keamanan dan keterlibatan;
6. peningkatan hubungan yang serasi antara pusat dan darah.













5

BAB II
2.1 Faktor-faktor Penyebab Pemekaran Wilayah
a. Faktor Ekonomi
Pemekaran harus memberikan dampak pada peningkatan perkapita dan PDRB. Peningkatan itu
bisa dilakukan secara bertahap dengan parameter yang bisa dibuat secara cermat dengan
memperhitungkan potensi ekonomi daerah. Prioritas pembangunan harus disusun secara cermat mulai
dari pembangunan infraskruktur dasar dan seterusnya.
b. Faktor Sosial Politik
Pemekaran daerah harus mendorong semakin kuatnya kohesi sosial dan politik masyarakat.
Pemekaran tidak boleh menyebabkan perpecahan apalagi sampai berujung konflik horizontal. Dibeberapa
daerah pemekaran seringkali menimbulkan konflik sosial politik. Pemekaran juga harus dapat
meningkatkan partisipasi politik masyarakat dalam pemerintahan dan pembangunan. Aspirasi pemekaran
harus muncul sebagai kesadaran sosial politik seluruh warga dalam rangka membangun dan
mensejahterakan daerah, bukan sekadar kepentingan politik kekuasaan.
c. Faktor Kemandirian Daerah
Tujuan utama pemekaran dan otonomi pada umumnya adalah mewujudkan kemandirian daerah.
Makna kemandirian itu sendiri adalah semakin kuatnya daerah dalam melepaskan diri dari
ketergantungan terhadap pemerintah pusat. Jika kemandirian daerah yang dimekarkan semakin rendah,
maka pemekaran dapat dikatakan gagal mencapai tujuannya.
d. Faktor Organisasi dan Manajemen
Pemekaran daerah harus berdampak pada peningkatan dan pertumbuhan organisasi dan
manajemen daerah yang berdampak langsung pada kualitas pembangunan. Hal ini meliputi perbaikan
dalam Sumber Daya Aparatur, Sumber Daya Masyarakat, Sumber Daya Organisasi Perangkat, Sarana dan
Prasarana Dasar. Dibeberapa daerah pemekaran, keterbatasan SDM Aparatur, Finansial, Organisasi
Perangkat, dan sarana-prasarana dasar seringkali menjadi masalah besar dan tidak menunjukkan adanya
perbaikan dari waktu ke waktu.

6

e. Jangkauan Pelayanan
Dengan pemekaran seharusnya jangkauan pelayanan kepada masyarakat harus semakin efisien
dan efektif karena masyarakat dapat langsung mendapatkan layanan oleh aparat setempat (di daerahnya).
Inilah makna desentralisasi dalam perpektif pelayanan publik, dimana ada otonomi daerah untuk
mengadakan dan memenuhi kebutuhan warganya.
f. Faktor Kualitas Pelayanan Publik
Setelah jangkauan pelayanan semakin dekat, maka kualitas pelayanan harus meningkat sejalan
dengan penguatan hak otonomi yang dimiliki daerah otonomi baru.ketersediaan pelayanan dasar seperti
sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, peningkatan daya beli masyarakat, transportasi dan
komunikasi, kependudukan dan lainnya harus secara kualitatif dan kuantitatif mengalami peningkatan.
Pemekaran yang tidak memberikan peningkatan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat harus
menjadi tanda tanya besar bagi indikator keberhasilan pemekaran.
g. Faktor tata pemerinrahan ycng baik (good gevernance)
Pemekaran harus membawa efek pada perwujudan tata pemerintahan yang bersih dan baik, bukan
sebaliknya justru menyebabkan semakin suburnya korupsi. Good local govermance terbentuk jika
akuntabilitas pemerintahan daerah semakin baik, transparansi semakin tinggi, prinsip rule of law semakin
dapat ditegakkan, partisipasi masyarakat semakin meningkat, pemerintahan yang semakin efisien dan
efektif, konflik kepentingan dalam birokrasi dapat dikurangi. Pengisian jabatan-jabatan karir tidak
dipenuhi dengan praktek KKN.
h. Faktor Responsiveness
Pemekaran daerah harus mendorong pemerintahan daerah yang memiliki daya tanggap dalam
merumuskan kebutuhan dan potensi daerah. Hal ini dapat terlihat dari rencana strategis, program dan
implementasi program-program pembangunan. Jika tidak terdapat rencana strategis, program dan
implementasi program yang inovatif, maka pemekaran daerah tidak menumbuhkan daya tanggap daerah
terhadap potensi dan kebutuhan daerah.


7

2.1 Fakta Tentang Kalimantan Utara
1. Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) resmi menjadi provinsi ke-34 NKRI setelah UU tentang
provinsi ini disahkan oleh DPR RI pada 25 Oktober 2012.
2. Provinsi ini menggunakan akronim (penyingkatan) dengan pola yang tidak biasa, bila
dibandingkan dengan provinsi lainnya di NKRI.
3. Provinsi ini adalah provinsi baru pertama paska dicabutnya moratorium (penghentian sementara)
terhadap pemekaran wilayah di NKRI. Empat wilayah lainnya, yang punya tingkatan lebih
rendah, adalah Kabupaten Pandandaran di Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Pesisir di Provinsi
Lampung, Kabupaten Manokwari Selatan di Provinsi Papua Barat, dan Kabupaten Pegununan
Arfak di Provinsi Papua Barat.
4. Provinsi ini berada di bagian utara dari provinsi induk Kalimantan Timur (Kaltim).
5. Provinsi ini memiliki luas wilayah 71.176 km persegi. Luas wilayah ini tergolong kecil dibanding
luas wilayah Kaltim yang sebelumnya berada di angka 245.238 km persegi (hanya 29% dari luas
wilayah provinsi induk). Luas Kaltim tersebut tercatat sebagai provinsi terluas ke-2 di NKRI
(setelah Provinsi Papua).
6. Provinsi ini berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia.
7. Kehidupan masyarakat di wilayah ini tergolong memprihatinkan karena kurangnya infrastruktur
penunjang perekonomian. Masyarakat mengaku berdarah Indonesia, tetapi perut milik Malaysia.
Hal ini dikarenakan bahan kebutuhan pokok lebih mudah diakses dari negeri seberang, Malaysia.
8. Pengisian kursi anggota DPRD provinsi ini baru akan dilaksanakan pada 2014, mengikuti Pemilu
serentak se-Indonesia.
9. Pemilihan gubernur provinsi Kaltara paling cepat baru akan dilaksanakan pada 2015.
10. Provinsi Kaltara baru akan dimasukkan dalam daerah pemilihan (dapil) pada pemilihan umum
(Pemilu) 2019. Sementara untuk Pemilu 2014, provinsi yang baru disepakati ini masih akan
mengikuti daerah induknya, Kaltim.
11. Provinsi Kalimantan Utara sudah memperoleh persetujuan pemerintah lewat penerbitan Undang
Undang No 20 Tahun 2012. Ada empat wilayah perbatasan jadi wilayah Provinsi Kaltara yaitu
Tarakan, Nunukan, Bulungan, Malinau dan Tana Tidung.



8

Kesimpulan :
Semenjak diberlakukannya UU No. 5 tahun 1974, pembangunan Indonesia dituntut untuk
memperhatikan istilah desentralisasi, yang dimaksudkan untuk memberi kewenangan kepada pemerintah
daerah dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat di daerah menurut prakarsa sendiri,
berdasarkan aspirasi sesuai dengan undang-undang dan menurut Undang Undang No 20 Tahun 2012
Tentang Pemekaran memerintahkan daerah induk selama sembilan bulan mempersiapkan terbentuknya
provinsi baru. Melihat inilah maka pemerintah menetapkan UU No. 22 tahun 1999 dalam memberi acuan
dasar yang cukup tegas bagi pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten untuk mengatur dan
mengurus daerah sendiri. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004, ada tiga kriteria harus
dipenuhi dalam rencana dan usul pemekaran daerah yakni syarat administratif, teknis dan kewilayahan.
Secara administratif pemekaran antara lain ialah persetujuan dari DPRD, Bupati/Walikota dan Gubernur
serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri, sementara syarat teknis antara lain ialah kemampuan ekonomi,
sosial, budaya, sosial politik, kependudukan, luas daerah, pertahanan dan keamanan. Sedangkan
persyaratan kewilayahan antara lain adalah 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kabupaten/kota, dan
minimal 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi, serta didukung oleh ketersediaan sarana
dan prasarana pemerintahaan.

Pendapat kelompok :
Pemekaran wilayah merupakan salah satu bentuk desentralisasi, yang dimaksudkan sebagai
kewenangan dari pemerintan pusat kepada pemerintah daerah sebagai bentuk tanggung jawab daerah
dalam mengatur dan mengurus daerah sendiri. Pemekaran wilayah juga harus mendapatkan persetujuan
dari pemerintah pusat dengan memenuhi syarat sebagai daerah otonom, yakni memiliki kemampuan
ekonomi, social, budaya, social politik, kependudukan, luas daerah, pertahanan dan keamanan. Sedangkan
persyaratan kewilayahan pembentukan kabupaten/kota adalah memiliki 4(empat) kecamatan dan untuk
provinsi memiliki minimal 5(lima) kabupaten/kota serta didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana.





9

Daftar Pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Pemekaran_daerah_di_Indonesia diakses pada tanggal 29 September 2013
http://id.wikipedia.org/wiki/Wacana_pembentukan_provinsi_baru_di_Indonesia diakses pada tanggal
29 september 2013