Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

STATUS PSIKIATRI

I. Identitas Pasien
Nama

: Tn. Sy

Jenis Kelamin

: Laki- laki

Tempat Tanggal Lahir

: Bekasi, 04 November 1988

Usia

: 25 tahun

Agama

: Islam

Alamat

: Rawa bacang, Bekasi

Suku Bangsa

: Jawa

Pendidikan terakhir

: SMK

Status pernikahan

: Belum menikah

Pekerjaan

: Pengangguran

Tanggal masuk RSIJ

: 18 Agustus 2014

Tempat wawancara

: Ruang perawatan bangsal RSIJ Klender

Rawat jalan

: -

Rawat Inap

: 2014 di Rung perawatan bangsal RSIJ Klender

II. Riwayat Psikiatrik


Berdasarkan :
Autoanamnesis :
Diambil pada tanggal

: 20 Agustus 2014 (Pukul 11.30 WIB)


: 21 Agustus 2014 (Pukul 10.00 WIB)

Alloanamnesis

Diambil pada tanggal

: 22 Agustus 2014 (Pukul 11.00 WIB)

Diperoleh data dari

: Ayah Kandung pasien

Nama (inisial)

: Tn. B

Pendidikan terakhir

: SMP

1|laporan

kasus psikotik akut

Pekerjaan

: Wiraswasta

Diambil pada tanggal

: 22 Agustus 2014 (pukul 11.00 WIB)

Diperoleh data dari

: Adik Kandung pasien

Nama (inisial)

: Nn. Z

Pendidikan terakhir

: SMA

Pekerjaan

: Wiraswasta

A. Keluhan Utama
Pasien sering berteriak, marah-marah tidak jelas, dan gelisah

B. Keluhan Tambahan

Sering mendengar bisikan

Mengaku dirinya titisan Benyamin

Mendapatkan hidayah berupa cahaya

C. Riwayat Gangguan Sekarang


Pasien datang ke RSJIK (Rumah Sakit Jiwa Islam Klender) diantar
oleh Ayah dan Paman kandungnya, beserta Pak Haji tetangganya pada tanggal
18 Agustus 2014, dikarenakan keluarga sangat resah dengan sikap pasien
yang sering kali mengamuk dan marah-marah tidak jelas.
1 minggu SMRS keluarga merasakan ada hal yang berubah dengan
sikap pasien dan keluargapun tidak mengetahui permasalahan yang dihadapi
oleh pasien. Pasien yang biasanya pendiam tidak pernah marah-marah tibatiba sering berteriak marah-marah , terlihat gelisah, dan bicara sendiri dengan
nada keras.
Pasien mengaku sering mendengar suara-suara bisikan yang
membicarakan tentang dirinya, bahwa dirinya tidak berguna untuk keluarga
dan hal itu membuat pasien sangat marah. Untuk menghilangkan kekesalnnya
pasien sering solat, dan saat pasien sedang solat wajib dan solat sunah rosul
pasien merasa mendapatkan hidayah dan ketenangan dimana pasien melihat

2|laporan

kasus psikotik akut

cahaya putih dari atas yang menghampiri dirinya yang memberikan


kedamaian dari orang-orang yang mendzaliminya. Pasien juga mengatakan
bahwa dirinya adalah titisan benyamin, dan pusatnya agama islam di
Indonesia berada di Rawa Bacang.
Menurut keluarga, pasien sering mondar-mandir di dalam rumah tanpa
tujuan yang jelas, kemudian mengamuk. Keluarga menjelaskan bahwa
perbuatan pasien seperti itu tidak dalam pengaruh minum alkohol.
3 hari SMRS pasien membuat keributan di daerah Jati sari, perumahan
TNI. Saat itu pasien diminta untuk menjaga rumah saudaranya yang kosong,
kemudian pasien jalan-jalan di sekitar komplek perumahan. Ketika sedang
berjalan-jalan pasien mengaku terkejut oleh gong-gongan anjing salah satu
pemilik rumah TNI, kemudian pasien marah dan mengamuk di tempat
kejadian sambil merusak dengan menendang pagar rumah tersebut. Oleh
warga komplek pasien dikira maling kemudian di keroyok dan mendapat
perlukaan pada daerah bibir dan pelipis mata kanan, pasien sempat di tahan
satu hari di kantor polisi Bekasi.
Saat di kantor polisi dirinya dikira dalam pengaruh alkohol, namun
pasien menyangkal. Kemudian pasien dikatai orang gila, pasien mengatakan
bahwa dirinya tidak gila, yang tau gilanya sesorang adalah Allah swt yang
maha tau bukannya manusia.
Setelah urusan di kantor polisi selesai, kemudian keluarga membawa
pasien ke UGD RSUD Bekasi untuk mendapatkan perawatan luka. Saat di
RSUD pasien terlihat gaduh gelisah, dan memukul-mukul tempat tidur.
Kemudian oleh pihak RSUD diberi surat rujukan ke RS Jiwa.

D. Riwayat Gangguan Sebelumnya


a. Psikiatrik
Pasien baru pertama kali dirawat di RSIJ Klender dengan keluhan
marah-marah tanpa sebab dan gaduh gelisah, atas rujukan dari RSUD
Bekasi.

3|laporan

kasus psikotik akut

b. Medik
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit bawaan pada saat lahir, kejang,
trauma kepala atau penyakit berat lainnya dari kecil.
c. Penggunaan Zat

Pasien pernah mengkonsumsi alkohol sejak usia 15 tahun namun


frekuensinya jarang, itu dilakukan jika pasien memiliki uang saja.

Pasien merokok sejak usia 15 tahun, merokok sehari 2 batang


namun jarang, rokok yang dikonsumsi Djarum super.

Pasien tidak pernah menggunakan obat-obatan terlarang.

E. Riwayat Hidup
a. Masa prenatal dan perinatal
Menurut Ayah pasien, selama kehamilan Ibu pasien dalam keadaan
sehat, tidak pernah mengalami gangguan kesehatan baik fisik maupun psikis.
Pasien dilahirkan dalam keadaan cukup bulan dan di lahirkan secara normal
dibantu oleh bidan. Pada saat lahir bayi langsung menangis. Pasien
merupakan anak yang dikehendaki orangtuanya. Pasien merupakan anak ke 3
dari 4 bersaudara. Pasien tidak pernah ada sakit kejang atau penyakit lainnya
yang bermakna. Tidak ada kecelakaan yang bermakna, riwayat operasi tidak
ada.
b. Masa kanak - kanak ( 0 3 tahun)
Pasien diasuh oleh ibu kandungnya dan diberikan ASI hingga usia 6
bulan. Tidak ada cacat bawaan yang ditemukan dan menurut Ayah pasien
perkembangan fisik pasien cukup baik, pola perkembangan motorik tidak ada
hambatan, seperti kebanyakan anak yang normal. Tidak ada kebiasaan buruk
pasien, seperti membenturkan kepala atau menghisap jari. Pasien dapat
tumbuh normal, tidak ada riwayat kejadian trauma kepala dan kecelakaan saat
itu, tidak ada riwayat kejang yang muncul tiba tiba ataupun kejang yang
diawali oleh demam. Pada usia ini pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit.

4|laporan

kasus psikotik akut

c. Masa kanak-kanak pertengahan ( 3 11 tahun)


Menurut penuturan Ayah pasien, perkembangan fisik pasien umumnya
baik. Secara keseluruhan pasien adalah anak yang pendiam dan memiliki
cukup banyak teman. Pasien mulai masuk Sekolah Dasar ketika berusia 7
tahun. Prestasi pasien di sekolah biasa-biasa saja, tidak pernah mendapatkan
juara kelas dan tidak pernah tinggal kelas.

d. Masa remaja
Saat pasien berusia 15 tahun, pasien kehilangan Ibunya karena sakit,
penuturan ayahnya pasien sangat sedih namun kesedihannya tidak
berlangsung lama, pasien bisa kemabli bermain dengan teman-teman
sebayanya. Sikap pasien terhadap kakak dan saudara lainnya dinilai cukup
baik. Menurut pasien semasa remaja dulu tidak pernah ada pikiran atau ide
bunuh diri, menurutnya ia bertingkah laku wajar-wajar saja, pasien
bercita-cita bisa membiayai Ayah dan Ibunya pergi Haji.
Saat SMA, pasien tidak memiliki kesulitan dalam menerima pelajaran
yang

diberikan

oleh

gurunya,

pasien

tidak

memiliki

kegiatan

ekstrakulikuler di sekolah. Hubungan antara pasien dengan temantemannya juga cukup baik.

e. Masa dewasa
i.

Riwayat pekerjaan
Pasien dalam kesehariannya pengangguran, jika bekerjapun
pekerjaannya serabutan. Pasien pernah bekerja menjadi tukang
parkir di daerah Gading namun berhenti, dan bekerja di bengkel
milik pamannya selama 3 bulan kemudian berhenti karena bosan,
dan sekrang pasien pengangguran.

5|laporan

kasus psikotik akut

ii.

Riwayat perkawinan/berpasangan
Pasien belum menikah. Pasien pernah berpacaran dengan
beberapa wanita, namun saat ini pasien tidak memiliki hubungan
dekat dengan wanita.

iii.

Riwayat beragama
Pasien adalah seorang yang beragama islam. Setiap harinya
pasien selalu mengerjakan shalat 5 waktu dan solat sunah.

iv.

Aktivitas sosial
Hubungan dengan tetangga dan teman-temannya baik. Pasien
tidak pernah terlibat masalah ataupun perkelahian dengan
temannya.

v.

Riwayat pelanggaran hukum


Pasien baru pertama kali terlibat kasus hukum dikarenakan
dituduh maling. Ditahan satu hari di kantor polisi Bekasi.

F. Riwayat Keluarga (Family Tree)

6|laporan

kasus psikotik akut

III. Status Mental


Dilakukan pemeriksaan pada tanggal : 20 Agustus 2014 (Pukul 11.30 WIB)
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Laki-laki berkulit sawo matang, dengan tinggi sekitar 170 cm berbadan kurus,
Saat ini pasien berusia 25 tahun penampilan sesuai usianya. Ketika
diwawancara pasien mengenakan baju kaos lengan pendek berwarna merah
dengan celana pendek abu-abu selutut. Perawatan tubuh pasien cukup baik,
pasien tidak bau, rambut sedikit ikal rapih, pasien selalu mengenakan alas
kaki.
2. Perilaku dan aktivitas psikomotor
Sebelum wawancara, pasien tampak sedang mondar-mandir kemudian duduk
dengan tenang. Selama wawancara pasien menjawab pertanyaan pemeriksa
Setelah wawancara, pasien tampak duduk tenang sendiri, dan sesekali tampak
bengong.
3. Pembicaraan (speech)
Cara berbicara

: Spontan.

Volume berbicara

: Sedang

Irama

: Teratur

Kelancaran berbicara

: Lancar

Kecepatan berbicara

: Sedang

4. Sikap terhadap pemeriksa


Pasien bersikap kooperatif saat wawancara.
B. Aspek dan Ekspresi Afektif

Mood

: Hipotimik

Afek

: Terbatas

Kesesuaian

: Sesuai

7|laporan

kasus psikotik akut

C. Gangguan Persepsi (persepsi panca indera)

Halusinasi
o Auditorik

: Ada (mendengar bisikan yang membicarakan

tentang dirinya, bahwa dirinya tidak berguna untuk keluarga ).


o Visual

: Ada (melihat cahaya putih setelah shalat).

o Taktil

: Tidak ada.

o Olfaktorik

: Tidak ada.

o Gustatorik

: Tidak ada.

Ilusi

: Tidak ada.

Depersonalisasi

: Tidak ada.

Derealisasi

: Tidak ada.

D. Gangguan Pikir
i.

Proses pikir

Blocking

: Tidak Ada

Asosiasi Longgar

: Tidak Ada

Inkoherensi

: Tidak Ada

Flight of idea

: Tidak Ada

Word Salad

: Tidak Ada

Neologisme

: Tidak Ada

Sirkumstansialitas

: Tidak Ada

Tangensialitas

: Tidak Ada

Hendaya berbahasa

: Tidak ada

ii.

Isi pikir
Preokupasi : Ada, pasien selalu ingin minta pulang, dan ingin
bersilahturami dengan saudara-saudaranya.

Gangguan isi pikiran :

Waham kebesaran

: Ada (pasien mengatakan bahwa

dirinya adalah seorang titisan benyamin)

Waham kejar

: Tidak ada

8|laporan

kasus psikotik akut

Waham referensi

: Tidak ada

Thought echo

: Tidak ada

Thought broadcasting

: Tidak ada

Thought withdrawal

: Tidak ada

Thought insertion

: Tidak ada

Thought control

: Tidak ada

Delusional perception

Ada

(pasien

merasa

mendapatkan kedamaian dan ketenangan dimana pasien


melihat cahaya putih dari atas yang menghampri dirinya
yang memberikan kedamaian).

Delusion of passivity

Gagasan bunuh diri dan membunuh : Tidak ada.

Obsesi

: Tidak ada

: Tidak ada

E. Fungsi Kognitif dan Kesadaran


1. Kesadaran

: Compos mentis

2. Orientasi

: Baik

a. Waktu baik (pasien benar menyebutkan hari, tanggal, bulan, tahun,


di wawancara).
b. Tempat baik (pasien dapat menyebutkan bahwa saat ini sedang
berada di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Jakarta, Negara Indonesia,
kota jakarta, dan ruangan perawatannya).
c. Orang baik (pasien tahu bahwa ia sedang diwawancarai oleh dokter
muda dan mengenali wajah beberapa pasien lainnya, namun tidak
mengetahui namanya karena pasien jarang mengobrol dengan pasien
lain).
3. Konsentrasi : Cukup baik (pasien mampu menulis, membaca kata dibalik,
namun pasien lemah dalam pengurangan angka 7)

9|laporan

kasus psikotik akut

a. Daya ingat.
i.

Daya ingat segera baik (pasien dapat mengingat nama dokter yang
merawatnya saat ini dan juga dapat menyebutkan 3 benda yang
pewawancara ajukan).

ii.

Daya ingat yang baru-baru ini terjadi baik (pasien dapat mengingat
menu sarapan tadi pagi, pukul berapa bangun tadi pagi).

iii.

Daya ingat jangka pendek baik (pasien dapat mengingat tanggal


pasien masuk rumah sakit).

iv.

Daya ingat jangka panjang baik (pasien dapat mengingat namanama sekolah yang dilaluinya).

b. Intelegensia dan Pengetahuan umum : Luas.


1. Pasien tahu nama presiden 2014 yang terpilih .
(Presiden yang terpilih Jokowi dan JK)
c. Pikiran abstrak : Baik (dapat mengartikan peribahasa Panjang tangan)

F. Daya Nilai
1. Daya nilai sosial: Baik.

Menurut pasien jika pasien bertamu kerumah seseorang pasien harus


mengetuk pintu dan mengucapkan salam sebelum masuk kerumah.

2. Uji daya nilai : Baik.

Pasien tahu apa yang akan dilakukan bila ia menemukan benda milik
orang lain tergeletak dijalanan.

G. Reality Test Ability (RTA)


Terganggu
H. Tilikan : Derajat
Tilikan 1 Pasien menyangkal sepenuhnya bahwa dirinya sakit.

10 | l a p o r a n

kasus psikotik akut

I. Taraf dapat Dipercaya.

Dapat dipercaya.
Pada waktu yang berbeda, pasien memberikan kesimpulan jawaban
yang sesuai dengan keterangan yang diberikan ayah dan adiknya.

IV. Pemeriksaan Fisik


1. Status generalis

Keadaan umum

: Tampak sehat

Kesadaran

: Composmentis

Tanda vital
-

Tekanan darah

: 100/70 mmhg

Suhu

: 36,50c

Nadi

: 80 x/menit

Pernafasan

: 16 x/menit

Kepala

: Normocephal, rambut hitam tidak mudah dicabut

Thorax

:
Paru

: Vesikuler +/+ , Rh-/-, Wh -/-

Jantung

: S1S2 reguler, Murmur -, gallop -

Abdomen

: Tidak ada kelainan

Ekstermitas

: Tidak ada kelainan

2. Status Neurologis

Tanda rangsang meningeal

Mata :

: Tidak ada

gerakan baik

: Kelumpuhan tidak ada, nistagmus(-)

Persepsi

: Baik

Bentuk Pupil

: Bentuk bulat (+/+), isokor

Rangsang Cahaya

: Reaksi cahaya (+/+)

11 | l a p o r a n

kasus psikotik akut

V.

Motorik

Tonus

: Baik

Turgor

: Baik

Kekuatan

: Baik

Koordinator

: Baik

Refleksi

: Baik

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


1.

RTA

: Terganggu

2.

Kesadaran

: Kompos Mentis

3.

Mood

: Hipotimik

4.

Afek

: Terbatas

5.

Kesesuaian

: Serasi

6.

Gangguan persepsi

: Halusinasi auditorik, halusinasi visual

7.

Gangguan isi pikir

: Waham kebesaran, delusional perception

8.

Tilikan

: Derajat 1

9.

Reabilitas

: Dapat dipercaya

10. Nilai MMSE

VI.

: -

FORMULASI DIAGNOSTIK

Aksis I

Berdasarkan alloananmnesa, autoanamnesa dan pemeriksaan status mental


didapatkan gejala klinik bermakna yaitu Pasien sering berteriak, marah-marah
tidak jelas, dan gelisah.
Pada pemeriksaan status mental ditemukan adanya RTA yang terganggu berupa
halusinasi auditori dimana pasien mendengar suara-suara yang membicarakan
tentang dirinya, bahwa dirinya tidak berguna untuk keluarga, hal ini sangat
mengganggu pasien sehingga membuat pasien marah dan sering mengamuk.
Pasien juga mengaku dan yakin bahwa dirinya adalah seorang titisan Benyamin
(waham kebesaran). Pasien mengatakan ketika dirinya sedang solat, ia
12 | l a p o r a n

kasus psikotik akut

mendapatkan hidayah berupa cahaya putih yang memberikan ketenangan dan


kedamaian (delusional perception). Onsetnya yang akut 1 minggu sehingga
didiagnosa sebagai Gangguan Jiwa Psikotik Akut. Pada riwayat penyakit
sebelumnya dan pemeriksaan status interna dan neurologis tidak ditemukan
adanya kelainan

yang mengindikasikan gangguan medis umum

yang

menimbulkan gangguan fungsi otak serta dapat mengakibatkan gangguan jiwa


yang diderita pasien saat ini, sehingga diagnosa Gangguan mental organik
dapat disingkirkan.
Maka berdasarkan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III
(PPDGJ III) di diagnosa dengan Gangguan Psikotik Akut dan Sementara
(F23).
Aksis II

: Ciri kepribadian skizoid

Aksis III

: Tidak ditemukan kelainan organobiologik

Aksis IV

: Stressor tidak jelas

Aksis V

: GAF SCALE 1 tahun 80-71 & GAF SCALE Pemeriksaan 50-41

VII.

EVALUASI MULTIAKSIAL
AKSIS I

F.23. Gangguan Psikotik Akut dan Sementara

AKSIS II

Ciri kepribadian skizoid

AKSIS III

Tidak ditemukan kelainan organobiologik

AKSIS IV

Stressor tidak jelas

AKSIS V

GAF SCALE 1 tahun 80-71 & GAF SCALE Pemeriksaan 50-41

13 | l a p o r a n

kasus psikotik akut

VIII.

RENCANA TERAPI

Farmakoterapi
Anti-psikosis

: Risperidone 2x2 mg

Psikoterapi

Psikoterapi suportif

Ventilasi : Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menungkapkan


isi hati dan keinginannya sehingga pasien merasa lega.

Konseling : Membeikan penjelasan dan pengertian kepada pasien tentang


kondisi penyakitnya agar pasien dapat memahami kondisi dirinya,
memahami cara menghadapinya, serta memberikan motivasi agar pasien
mengkonsumsi obat secara teratur.

Terapi Keluarga
Memberikan penyuluhan kepada keluarga untuk selalu mendukung dan
membantu kesembuhan pasien, perawatan terhadap diri pasien, dan
mengarahkan kepada keluarga pasien untuk mengingatkan pasien meminum
obatnya agar tidak terjadi kekambuhan.
Religi
Memberikan bimbingan ibadah keagamaan kepada pasien untuk menambah
keimanannya kepada Allah SWT. Pasien diarahkan untuk menjalankan ibadah
sesuai dengan ajaran agama Islam, seperti menjalankan shalat lima waktu,
berpuasa, berdzikir, dan selalu berdoa.

IX.

PROGNOSIS
Dubia Ad bonam

Faktor pendukung

: Gejala positif menonjol, dukungan keluarga untuk

sembuh sangat baik, mendapatkan kasih sayang yang cukup dari keluarga.
Onset perjalanan penyakit akut ( < 1 bulan ).

14 | l a p o r a n

kasus psikotik akut

Faktor penghambat : Pasien menyangkal dirinya sakit. Faktor stessor tidak


jelas, pasien memiliki pribadi yang pendiam.

15 | l a p o r a n

kasus psikotik akut

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Psikosis adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidakmampuan
individu menilai kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat halusinasi, waham
atau perilaku kacau atau aneh. Psikotis akut adalah sekelompok gangguan
jiwa yang berlangsung kurang dari satu bulan dan tidak disertai gangguan
mood, gangguan berhubungan dengan zat, atau suatu suatu gangguan psikotik
karena kondisi medis umum. Gangguan psikosis akut dan sementara adalah
sekelompok gangguan jiwa yang :
1. Onsetnya akut ( 2 minggu)
2. Sindrom polimorfik
3. Ada stresor yang jelas
4. Tidak memenuhi kriteria episode manik atau depresif
5. Tidak ada penyebab organik

B. Epidemiologi
1. Frekuensi Internasional
Berdasarkan studi epidemiologi internasional, bila dibandingkan dengan
skizofrenia, insidensi nonaffective acute remitting psychoses sepuluh kali
lebih tinggi terjadi di negara-negara berkembang daripada negara-negara
industri. Beberapa klinisi meyakini bahwa gangguan ini lebih sering terjadi
pada pasien dengan kelas sosioekonomi yang rendah, pasien dengan gangguan
kepribadian, dan imigran. Pada negara-negara non industri, beberapa istilah
lain sering digunakan untuk menjelaskan bentuk psikosis yang dipicu oleh
stress yang tinggi.

16 | l a p o r a n

kasus psikotik akut

2. Mortality/Morbidity
Sebagaimana episode psikosis lainnya, risiko pasien menyakiti diri
sendiri dan/atau orang lain dapat meningkat

3. Jenis kelamin
Menurut studi epidemiologi internasional, insidensi dari gangguan ini
dua kali lebih tinggi terjadi pada wanita dibandingkan pria. Di Amerika
Serikat, sebuah penelitian mengindikasikan adanya insidensi yang lebih tinggi
pada wanita.

4. Usia
Gangguan ini lebih sering terjadi pada pasien dengan usia antara
dekade ke tiga hingga awal dekade ke empat. Beberapa klinisi meyakini
bahwa pasien dengan gangguan kepribadian (seperti narcissistic, paranoid,
borderline, schizotypal) lebih rentan berkembang menjadi gangguan psikosis
pada situasi yang penuh tekanan.

C. Etiologi
Di dalam DSM III-R faktor psikososial bermakna dianggap
menyebabkan psikosis reaktif singkat, tetapi kriteria tersebuat telah
dihilangkan dari DSM IV. Perubahan DSM IV menempatkan diagnosis
gangguan psikotik akut di dalam kategori yang sama dengan diagnosis
psikiatrik lainnya yang penyebabnya tidak diketahui dan diagnosis
kemungkinan termasuk kelompok gangguan yang heterogen.
Pasien dengan gangguan psikotik akut yang pernah memiliki
gangguan kepribadian mungkin memiliki kerentanan biologis atau psikologis
ke arah perkembangan gejala psikotik. Teori psikodinamika menyatakan
bahwa gejala psikotik adalah suatu pertahanan terhadap fantasi yang dilarang,
penurunan harapan yang tidak tercapai atau suatu pelepasan dari situasi
psikososial tertentu.

17 | l a p o r a n

kasus psikotik akut

D. Gambaran klinis
Gejala gangguan psikotik singkat selalu termasuk sekurangnya satu
gejala psikotik, biasanya dengan onset yang tiba-tiba, tetapi tidak selalu
memasukkan keseluruhan pola

gejala yan gditemukan pada skizofrenia.

Beberapa klinisi telah mengamati bahwa gejala afektif, konfusi, dan gangguan
pemusatan perhatian mungkin lebih sering ditemukan pada gangguan psikotik
singkat daripada gangguan psikotik kronis. Gejala karakteristik untuk
gangguan psikotik singkat adalah perubahan emosional, pakaian, atau perilaku
yang aneh, berteriak-teriakatau diam membisu, dan gangguan daya ingat
untuk peristiwa yang belum lama terjadi. Beberapa gejala tersebut ditemukan
pada gangguan yang mengarahkan diagnosis delirium dan jelas memerlukan
pemeriksaan organik yang lengkap, walaupun hasilnya mungkin negatif.
E. Diagnosis
1. Pedoman Diagnostik berdasarkan PPDGJ-III
Menggunakan urutan diagnosis yang mencerminka urutan prioritas yang
diberikan untuk ciri-ciri utama terpilih dari gangguan ini. Urutan prioritas
yang dipakai ialah:
a. Onset yang akut (dalam masa 2 minggu atau kurang = jangka waktu
gejala-gejala psikotik menjadi nyata dan mengganggu sedikitnya
beberapa aspek kehidupan dan pekerjaan sehari-hari, tidak termasuk
periode prodromal yang gejalanya sering tidak jelas) sebagai cirri khas
yang menentukan seluruh kelompok
b. Adanya sindrom yang khas (berupa polimormif = beraneka ragam dan
berubah cepat, atau schizophrenia-like = gejala yang khas)
c. Adanya stress akut yang berkaitan (tidak selalu ada, sehingga dispesifikan
dengan karakter ke 5;0 .x0=Tanpa penyerta stress akut; .xi=Dengan
penyerta stress akut). Kesulitan atau problem yang berkepanjangan tidak
boleh dimasukkan sebagai sumber stress dalam konteks ini
d. Tanpa diketahui berapa lama gangguan akan berlangsung;

18 | l a p o r a n

kasus psikotik akut

Tidak ada gangguan dalam kelompok ini yang memenuhi criteria episode
manic (F.30) atau episode depresif (F32), walaupun perubahan emosional dan
gejala-gejala afektif individual dapat menonjol dari waktu ke waktu.

Tidak ada penyebab organik, seperti trauma kapitis, delirium, atau dimensia.
Tidak merupakan intoksikasi akibat penggunaan alcohol atau obat-obatan.

Gejala psikotik berlangsung sekurangnya satu hari tetapi kurang dari satu
bulan. Diagnosis dapat dibuat sebelum periode waktu satu bulan, tetapi harus
diterima sebagai diagnosis sementara. Jika gejala menetap lebih dari satu bulan,
diagnosis berubah menjadi gangguan psikotik lainnya, seperti gangguan
skizofreniform.

2. Bentuk-bantuk psikosis akut (PPDGJ III)


1.) F 23.0 Gangguan psikotik polimorfik akut tanpa gejala skizofrenia
a. Onset harus akut (dari suatu keadaan nonpsikotik sampai keadaan
psikotik yang jelas dalam kurun waktu 2 minggu atau kurang);
b. Harus ada beberapa jenis halusinasi atau waham yang berubah dalam
jenis dan intensitasnya dari hari ke hari atau dalam hari yang sama.
c. Harus ada keadaan emosional yang sama beranekaragamnya;
d. Walaupun gejala-gejalanya beraneka ragam, tidak satupun dari gejala itu
ada secara cukup konsisten dapat memenuhi kriteria skizofrenia atau
episode manik atau episode depresif.

2.) F 23.1 Gangguan psikotik polimorfik akut dengan gejala skizofrenia


a. Memenuhi kriteria (a), (b), dan (c) yang khas untuk gangguan psikotik
polimorfik akut;
b. Disertai gejala-gejala yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia
yang harus sudah ada untuk sebagian besar waktu sejak munculnya
gambaran klinis psikotik itu secara jelas;

19 | l a p o r a n

kasus psikotik akut

c. Apabila gejala-gejala skizofrenia menetap untuk lebih dari 1 bulan maka


diagnosis harus diubah menjadi skizofrenia.

3.) F 23.2 Gangguan psikotik lir-skizofrenia (schizophrenia-like akut)


a. Onset gejala psikotik harus akut (2 minggu atau kurang, dari nonpsikosis
psikosis);
b. Memenuhi kriteria skizofrenia, tetapi lamanya kurang dari 1 bulan;
c. Tidak memenuhi kriteria psikosis polimorfik akut.

4.) F 23.3 Gangguan psikotik akut lainnya dengan predominan waham


a. Onset gejala psikotik harus akut (2 minggu atau kurang, dari nonpsikosis
psikosis);
b. Waham dan halusinasi;
c. Baik kriteria skizofrenia maupun gangguan psikotik polimorfik akut tidak
terpenuhi.
5.) F 23.8 Gangguan psikotik akut dan sementara lainnya
Gangguan psikotik akut lain yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam
kategori manapun.
6.) F 23.9 Gangguan psikotik akut dan sementara YTT

3. DSM IV
DSM IV memiliki rangkaian diagnosis untuk gangguan psikotik,
didasarkan terutama atas lama gejala. Gangguan psikosis akut dan sementara
adalah sekelompok gangguan jiwa yang berlangsung kurang dari satu hari
tetapi kurang dari satu bulan dan tidak disertai gangguan mood, gangguan
berhubungan dengan zat, atau suatu gangguan psikotik karena kondisi medis
umum.
Untuk gejala psikotik yang berlangsung lebih dari satu hari, diagnosis
sesuai yang harus dipertimbangkan adalah gangguan delusional (jika waham
merupakan gejala psikotik utama), gangguan skizofreniform (jika gejala

20 | l a p o r a n

kasus psikotik akut

berlangsung kurang dari enam bulan) dan skizofrenia jika gejala telah
berlangsung lebih dari enam bulan.
Gangguan psikotik singkat diklasifikasikan di dalam DSM IV sebagai
suatu gangguan pasikotik dengan durasi singkat. Kriteria diagnostic
ditentukan dengan sekurangnya ada satu gejala psikotik yang jelas yang
berlansung selama satu hari sampai satu bulan.

Kriteria diagnostik untuk gangguan psikotik akut:


a. Adanya satu (atau lebih) gejala berikut:
1. Waham
2. Halusinasi
3. Bicara disorganisasi ( menyimpang atau inkoheren)
4. Perilaku terdisorganisasi jelas atau katatonik
b. Lama suatu episode gangguan adalah sekurangnya satu hari sampai
kurang dari satu bulan.
c. Gangguan yang muncul bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu
zat (misalnya obat yang disalahgunakan, suatu medikasi) atau kondisi
medis umum. Sebutkan jika:
Dengan stressor nyata (psikosis reaktif singkat): jika gejala terjadi
segera setelah dan tampak sebagai respons dari suatu kejadian yang
sendirian atau bersama-sama akan menimbulkan stress yang cukup besar
bagi hampir setiap orang dalam keadaan yang sama dalam kultur orang
tersebut.
Tanpa stressor nyata: jika gejala psikotik tidak terjadi segera setelah
atau tampaknya bukan sebagai respons terhadap kejadian yang, sendirian
atau bersama-sama, akan menimbulkan stress yang cukup besar bagi
hampir setiap orang dalam keadaan yang sama dalam kultur orang
tersebut.
Dengan onset pascapersalinan: jika onset dalam waktu 4 minggu setelah
persalianan.

21 | l a p o r a n

kasus psikotik akut

(Sumber: DSM IV, Diagnostic and Statistical Manual of Mental


Disorders, ed. 4. Hak cipta American Psychiatric Association,
Washington, 1994. Digunakan dengan izin.)

F. Jenis Stresor
Stressor pencetus yang paling jelas adalah peristiwa kehidupan yang
besar yang dapat menyebabkan kemarahan emosional yang bermakna pada
tiap orang. Contoh peristiwa adalah kematian anggota keluarga dekat dan
kecelakaan kendaraan yang berat. Klinisi lain berpendapat bahwa stressor
mungkin merupakan urutan peristiwa yang menimbulkan stress sedang,
bukannya peristiwa tunggal yang menimbulkan stress dengan jelas.

G. Diagnosis banding
Diagnosis lain yang dipertimbangkan di dalam diagnosis banding
adalah gangguan buatan (factitious psikotik) karena kondisi medis umum dan
gangguan psikotik akibat zat. Seorang pasien mungkin tidak mau mengakui
penggunaan zat , dengan demikian membuat pemeriksaan intoksikasi zat sulit
tanpa menggunakan tes laboratorium. Pasien dengan epilepsi atau delirium
dapat juga datang dengan gejala psikotik seperti yang ditemukan pada
gaangguan psikotik akut.disorder dengan tanda dan gejala psikologis yang
menonjol, berpura-pura (malingering), gangguan

H. Penatalaksanaan
1. Perawatan di rumah sakit
Perawatan di rumah sakit mungkin diperlukan untuk pemeriksaan dan
perlindungan pasien. Pemeriksaan pasien membutuhkan monitoring ketat
terhadap gejala dan pemeriksaan tingkat bahaya pasien terhadap dirinya
sendiri dan orang lain. Lingkungan rumah sakit yang tenang dan terstruktur
juga dapat membantu pasien untuk memperoleh kembali rasa realitasnya.

22 | l a p o r a n

kasus psikotik akut

2. Farmakoterapi
Dua kelas utama yang harus dipertimbangkan dalam pengobatan
gangguan psikotik akut adalah obat antipsikotik antagonis reseptor dopamine
dan benzodiazepine. Khususnya pada pasien yang berada dalam risiko tinggi
untuk mengalami efek samping ekstrapiramidal, suatu antikolinergik
kemungkinan harus diberikan bersama-sama dengan antipsikotik. Pemakaian
jangka panjang medikasi harus dihindari dalam pengobatan gangguan ini, jika
medikasi pemeliharaan diperlukan, klinisi harus mempertimbangkan ulang
diagnosis.

3. Psiokoterapi
Walaupun perawatan di rumah sakit dan farmakoterapi merupakan
kemungkinan untuk mengendalikan situasi jangka pendek, bagian yang sulit
dari terapi adalah integrasi psikologis ke dalam kehidupan pasien dan
keluarganya. Psikoterapi individual, keluarga dan keompok mungkin
diperlukan. Diskusi tentang stressor, episode psikotik, dan perkembangan
strategi untuk mengatasinya adalah topik utama bagi terapi tersebut.

I. Prognosis
Pada umumnya pasien dengan gangguan psikotik singkat memiliki
prognosis yang baik dan penelitian di Eropa telah menyatakan bahwa 50
sampai 80 persen dari semua pasien tidak memiliki masalah psikiatrik berat
lebih lanjut. Lamanya gejala akut dan residual seringkali hanya beberapa hari.
Kadang-kadang gejala depresif mengikuti resolusi gejala psikotik. Bunuh diri
adalah suatu keprihatinan pada fase psikotik maupun fase depresif
pascapsikotik.

23 | l a p o r a n

kasus psikotik akut

Ciri prognosis yang baik untuk gangguan psikotik akut:


-

Riwayat premorbid yang baik

Stressor pencetus yang berat

Onset gejala mendadak

Gejala afektif

Sedikit penumpulan afektif

Tidak ada saudara yang skizofrenik.

24 | l a p o r a n

kasus psikotik akut

DAFTAR PUSTAKA
[1] Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen RI. Pedoman Penggolongan
dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia cetakan ke III. Cetakan
pertama.1993
[2] Kaplan and Saddock.2007 Synopsis of Psychiatry : behavioral sciences/clinical
psyciatry 10 th Ed. New York : Department of Psychiatry of New York
[3] Buku Ajar Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

25 | l a p o r a n

kasus psikotik akut