Anda di halaman 1dari 26

1.

Sikap Mental Bangsa dalam Pembangunan


Indonesia adalah negara yang istimewa, tatanan, sejarah pembentukan,
ditambah dengan variable jumlah penduduk, luas wilayah, kekayaan sumber daya
alam, kebinekaan agama, etnis dan kultur. Komponen-komponen ini dapat
menjadikan Indonesia sebagai negara yang besar. Geografi Indonesia sebagai
negara kepulauan yang besar memiliki keunikan budaya tersendiri, terlebih lagi
jika dikaitkan dengan letaknya di peta dunia. Indonesia merupakan teks alami
yang tidak ada habis-habisnya untuk dikaji, dipelajari, dan dimanfaatkan sumber
dayanya. Proses vulkanisnya menyuburkan tanah, lereng-lerengnya memeperluas
lahan pertaniana. Pendek kata, Indonesia merupakan laboratorium alami, baik
bagi ilmu-ilmu kebumian, kelautan, atmosfer, dan ilmu-ilmu kehidupan.
Indonesia telah sejak lama mengusahakan pembangunan di berbagai sektor.
Mulai dari pembangunan masyarakat di pedesaan atau kaum petani sampai
kalangan penduduk kota atau kaum pegawai. Pembangunan itu sudah sejak masa
kolonial direncannakan, sampai akhirnya terealisasi pada masa orde baru, masa
revolusi, dan pascar revolusi saat ini. Pembangunan negeri ini turut menyisakan
dampak mental yang saat ini masih dirasakan oleh banyak diantara warga
negaranya.
Orientasi dan sikap mental bangsa Indonesia yang belum sejatinya
mencerminkan harapan dari pendiri negeri ini. Indonesia masih sangat tergantung
kepada negara lain, baik dari segi perekonomian, ketahanan, maupun segi lainnya.
Padahal, negeri ini kaya akan sumber daya manusia dan sumber daya alamnya.
Kita masih berbangga dengan mengimpor produk dari negara tetangga, padahal
kita sebenarnya mampu untuk membuatnya sendiri. Kita masih malu untuk
percaya dan menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia bisa setara dengan negara
super power maupun negara dengan keunggulan teknologinya. Namun, pekerjaan
rumah kita adalah sudah siapkah mental Indonesia untuk bangkit dari
keterpurukan dan berjuang melawan krisis mental ini ?
Secara logis terlebih dahulu memerlukan suatu bayangan ke depan
mengenai bentuk masyarakat seperti apa yang ingin kita capai dengan

pembangunan kita. Hal ini masih belum di konsepsikan oleh bangsa kita. Berbagai
suku bangsa, berbagai aliran, dan berbagai golongan dalam negara kita yang
demikian banyaknya itu mungkin sudah mempunyai konsepsinya masing-masing
yang belainan satu sama lain, tetapi suatu konsepsi konkrit untuk dituju bersama
belum ada. Jelaslah bahwa model dari masyarakat-masyarakat yang sekarang
sudah maju tidak mungkin dapat dicontoh begitu saja karena memang sukar untuk
mengajar suatu hal yang sudah terlampau jauh di depan. Bahkan, model
masyarakar Jepang pun tidak dapat kita tiru karena lingkungan alam, komposisi
penduduk negara, struktur masyarakat, aneka warna kebudayaan, sisten nilaibudaya, dan agama-agama di negara kita memang berbeda dengan di Jepang.
Menurut Koentjaraningrat (1992) dalam bukunya Kebudayaan, Mentalitas
dan Pembangunan, untuk dapat mencapai suatu keadaan yang agak lebih
makmur dari sekarang, sudah tentu perlu suatu intensitas usaha di segala lapangan
yang jauh lebih besar daripada apa yang biasa kita gerakkan sampai kini. Sebagai
contoh, coba kita perhatikan keterangan para ahli ekonomi sebagai berikut :
penduduk Indonesia bertambah 2,8% tiap tahun. Agar kita dapat merasakan akibat
dari kenaikan produksi, maka laju pertumbuhan ekonomi harus lebih besar dari
2,8%. Katakanlah 4% dari GNP tiap tahun, tetapi kita juga harus
memperhitungkan faktor kebutuhan yang terus meningkat. Hal itu berarti laju
pertumbuhan ekonomi harus beberapa kali lipat di atas laju pertambahan
penduduk.
Dengan memperhatikan contoh di atas, untuk menjadi sedikit lebih
makmur kita harus dapat berusaha bekerja, menghemat, dan sebagainya. Untuk
itu, kita harus mengubah beberapa sifat dari mentalitas kita untuk meningkatkan
tekanan intensitas usaha. Salah satu mentalitas yang sangat penting yaitu nilai
budaya yang berorientasi ke masa depan. Selain itu, nilai budaya lain yang
dibutuhkan yaitu nilai budaya yang berhasrat untuk mengeksplorasi lingkungan
alam dan kekuatan-kekuatan alam. Nilai semacam itu akan menambah
kemunkinan inovasi, terutama inovasi dalam teknologi. Pembangunan yang
memerlukan usaha mengintensifkan produksi tentu tak bisa tidak harus
memanfaatkan teknologi yang makin lama makin disempurnakan. Mungkin ada

yang beranggapan bahwa kita tidak perlu mengembangkan suatu mentalitas yang
menilai tinggi inovasi, karena kita tak perlu lagi mengembangkan teknologi.
Di samping itu, kita juga harus menumbuhkan sikap yang dapat
mengapresiasi tinggi usaha seseorang yang dengan jerih payah sendiri dapat
mencapai tujuan dan hasil. Suatu nilai itu jika diekstrimkan tentu akan berpotensi
menuju arah individualisme, dan parahnya dapat menjadi isolisme. Nah, kita harus
mencegah perkembangan pola pikir secara ekstrim tersebut karena nilai itu akan
menghilangkan dasar dari rasa keamanan hidup kita.
Di Indonesia sendiri nilai budaya kita sangat kontras dengan
individualisme, yaitu nilai yang terlampau berorientasi vertikal ke arah atasan.
Nilai yang terlalu berorientasi vertikal ke arah atasan akan mematikan jiwa yanng
ingin berdiri sendiri dan menyebabkan timbulnya krisis kepercayaan pada diri
sendiri. Nilai itu juga akan menghambat tumbuhnya rasa disiplin pribadi karena
dia hanya taat ketika dibawah pengawasan dari yang berwenang. Akhirnya, hal itu
akan akan mematikan rasa tanggungjawab terhadap diri sendiri. Dengan singkat,
suatu bangsa yang hendak mengintensifkan usaha untuk pembangunan harus
berusaha untuk lebih menilai tinggi orientasi ke masa depan dan bersifat hemat
untuk lebih teliti memperhitungkan hidupnya di masa depan, lebih menilai tinggi
hasrat eksplorasi, dapat menghargai karya dari orang lain dan akhirnya menilai
tinggi mentalitas berusaha dengan kemampuan sendiri, percaya pada diri sendiri,
berdisiplin murni dan berani bertanggungjawab atas semua yang dikerjakan.

2. Ciri Ciri Kepribadian bangsa Indonesia


Membicarakan manusia Indonesia berarti membicarakan masyarakat
Indonesia. Gambaran umum masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk
atau pluralistis. Kemajemukan masyarakat dapat dilihat dari segi horizontal
seperti perbedaan etnis, bahasa daerah, agama, dan geografis maupun dari segi
vertikal, seperti perbedaan tingkat pendidikan, ekonomi dan tingkat sosial budaya
(Usman Pelly & Asih Menanti, 1994: 13).

Faktor manusia menjadi ujung tombak mencegah keterpurukan


bangsanegara. Sumber daya manusia adalah kunci sehingga perlu dipersiapkan
secara terstruktur dan terencana. Repotnya pengembangan kompetensi dan
karakter manusia Indonesia kurang mendapat perhatian serius, tidak hanya
tecermin dalam penganggaran, tetapi juga dalam pengembangan praksis
pendidikan.
Banyak dari kalangan ilmuwan dan budayawan Indonesia yang mengenali
sisi-sisi negatif manusia Indonesia, diantaranya uraian manusia Indonesia-nya
Mochtar Lubis dan mental menerabas-nya Koentjaraningrat. Melihat fenomena
kehidupan masyarakat Indonesia yang jauh dari cita - cita pembangunan
Indonesia, Muchtar Lubis secara lisan pada tahun 1977, menyebut enam ciri
manusia Indonesia meliputi :
1. hipokrit alias munafik
2. Enggan bertanggung jawab atas perbuatan dan keputusannya
3. berjiwa feudal
4. Percaya takhayul
5. Artistik, dan
6. Berwatak lemah
Ketika tahun 1982 Mochtar Lubis diminta merefleksikan kembali
manusia Indonesia, dengan tegas ia mengatakan tidak ada perubahan, semakin
parah.
Koentjaraningrat menyatakan, manusia Indonesia mengidap mentalitas
yang lemah, yaitu konsepsi atau pandangan dan sikap mental terhadap lingkungan
yang sudah lama mengendap dalam alam pikiran masyarakat, karena terpengaruh
atau bersumber kepada sistem nilai budaya (culture value system) sejak beberapa
generasi yang lalu, dan yang baru timbul sejak zaman revolusi yang tidak
bersumber dari sistem nilai budaya pribumi. Artinya, kelemahan mentalitas
manusia Indonesia diakibatkan oleh dua hal yaitu karena sistem nilai budaya
negatif yang berasal dari bangsa sendiri dan dari luar akibat dari penjajahan
bangsa lain.

Koentjaraningrat memperinci kelemahan mentalitas manusia Indonesia,


diantaranya:
(1) sifat mentalitas yang meremehkan mutu
(2) sifat mentalitas yang suka menerabas
(3) sifat tak percaya kepada diri sendiri
(4) sifat tak berdisiplin murni
(5) sifat mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh.
Ryan Sugiarto (2009) memperinci watak negatif manusia Indonesia
dengan mengemukakan 55 kebiasaan kecil yang menghancurkan bangsa.
Walaupun demikian kita yakin bahwa masih banyak diantara manusia Indonesia
yang memiliki kebiasaan positif atau memiliki karakter yang baik. Namun,
menurut Myrdal kondisi yang demikian sesungguhnya tidak bisa dikembalikan
kepada ciri-ciri jelek yang alamiah yang ada pada bangsabangsa itu, melainkan
pada struktur tempat mereka berada. Kelemahan itu bukan disebabkan oleh
inherent evil character straits of their peoples, melainkan merupakan hasil dari
sejarah yang cukup panjang (Satjipto Rahardjo, 1986: 67).
3. Nilai Nilai Fundamental Masyrakat Indonesia
A. Pengertian Nilai, Moral Dan Norma
Nilai, moral dan Norma merupakan konsep yang saling berkaitan. Ketiga
konsep ini saling terkait dalam memahami pancasila.
a. Nilai
Kehidupan manusia dalam masyarakat, baik sebagai pribadi maupun
sebagai kolektivitas, senantiasa berhubungan dengan nilai-nilai, norma dan moral.
Kehidupan masyarakat dimanapun tumbuh dan berkembang dalam ruang lingkup
interaksi nilai, norma dan moral akan memberi motivasi dan arah seluruh anggota
masyarakat untuk berbuat, bertingkah dan bersikap. Dengan demikian, nilai
adalah sesuatu yang berharga, berguna, indah, memperkaya batin, dan
menyadarkan manusia akan harkat dan martabatnya. Nilai bersumber pada budi
yang berfungsi mendorong dan mengarahkan sikap dan perilaku manusia. Nilai

sebagai suatu sistem (sistem nilai) merupakan salah satu wujud kebudayaan,
disamping sistem sosial dan karya.
Cita-cita, gagasan, konsep, ide tentang sesuatu adalah wujud kebudayaan
sebagia sistem nilai. Oleh karena itu nilai dapat dihayati ada di persepsikan dalam
konteks kebudayaan, atau sebagai wujud kebudayaan yang abstrak. Dalam
menghadapi alam sekitarnya, manusia didorong untuk membuat hubungan yang
bermakna melalui budinya. Budi manusia menilai benda-benda itu, serta kejadian
yang beraneka ragam di sekitarnya dan dipilihnya menjadi kelakuan
kebudayaannya. Proses pemilihan itu dilakukan secara terus-menerus. Alport
mengidentifikasikan nilai-nilai yang terdapat dalam kehidupan masyarakat pada
enam macam, yaitu nilai teori, nilai ekonomi, nilai estetika, nilai sosial, nilai
politik dan nilai religi. Dalam memilih nilai-nilai, manusia menempuh berbagai
cara yang dapat dibedakan menurut tujuannya, pertimbangannya, penalarannya,
dan kenyataannya.
Tujuan penilaian itu untuk mengetahui identitas benda serta kejadian yang
terdapat di sekitarnya, maka terlihat proses penilaian teori yang menghasilkan
pengetahuan yang disebut nilai teori. Jika tujuannnya untuk menggunakan bendabenda atau kejadian, manusia dihadapkan pada proses penilaian ekonomi, yang
mengikuti nalar efisiensi untuk memenuhi kebutuhan hidup, disebut nilai
ekonomi. Perpaduan antara nilai teori dan nilai ekonomi itu merupakan aspek
progresif dari kebudayaan manusia.
Manusia menilai alam sekitar sebagai wujud rahasia kehidupan dan alam
semesta, disitulah tampak nilai religi, yang dipersepsikan sebagai sesuatu yang
suci. Jika manusia mencoba memahami yang indah, kita berhadapan dengan
proses penilaian estetik. Perpaduan antara nilai religi dan nilai estetik yang lebih
menekan pada intuisi, rasa, dan imajinasi, merupakan aspek ekspresif dari
kebudayaan. Nilai estetik mempunyai kedudukan yang khusus karena nilai itu
bukan hanya menyangkut keindahan yang dapat memperkaya batin, tetapi juga
berfungsi sebagai media yang memperhalus budi pekerti.
Nilai sosial berorientasi kepada hubungan antar manusia dan menekankan
pada segi-segi kemanusiaan yang luhur. Sedangkan nilai politik berpusat kepada

kekuasaan serta pengaruh yang terdapat dalam kehidupan masyarakat maupun


politik. Disamping teori nilai terurai di atas, Prof. Notonegoro membagi nilai
dalam tiga kategori, yaitu sebagai berikut.
a.
b.

Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur manusia.
Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk melakukan
aktivitas.

c.

Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia.

Nilai kerohanian dapat di rinci menjadi empat macam, yaitu sebagai berikut.
1) Nilai kebenaran, yaitu bersumber kepada unsur rasio manusia, budi, dan cipta.
2) Nilai keindahan, yaitu bersumber pada unsur rasa dan intuisi.
3) Nilai moral, yaitu bersumber pada unsur kehendak manusia atau kemauan
(karsa, estetika).
4) Nilai religi, yaitu bersumber pada nilai ketuhana, merupakan nilai kerohanian
yang tertinggi dan mutlak. Nilai ini bersumber kepada keyakinan dan
keimanan manusia terhadap tuhan. Nilai religi itu berhubungan dengan nilai
penghayatan yang bersifat transedental, dalam usaha manusia untuk
memahami arti dan makna kehadirannya di dunia. Nilai ini berfungsi sebagai
sumber moral yang dipercayai sebagai rahmat dan ridha Tuhan.
Dalam pelaksanaannya, nilai-nilai dijabarkan dalam wujud norma, ukuran dan
kriteria sehingga merupakan suatu keharusan anjuran atau larangan, tidak
dikehendaki, atau tercela. Oleh karena itu, nilai berperan sebagai dasar pedoman
yang menentukan kehidupan setiap manusia. Nilai berada dalam hati nurani, kata
hati, dan fikiran sebagai suatu keyakinan, dan kepercayaan yang bersumber dari
berbagai sumber nilai.
b.

Moral
Moral berasal dari kata mos (mores)= kesusilaan, tabiat, kelakuan. Moral

adalah ajaran tentang hal yang baik dan buruk, yang menyangkut tingkah laku dan
perbuatan manusia. Seorang pribadi yang taat pada aturan-aturan, kaidah-kaidah
dan norma yang berlaku dalam masyarakatnya, dianggap sesuai dan bertindak

benar secara moral. Jika sebaliknya yang terjadi, maka pribadi itu dianggap tidak
bermoral. Moral dalam perwujudannya dapat berupa peraturan, prinsip-prinsip
yang benar, baik, terpuji, dan mulia. Moral dapat berupa kesetiaan, kepatuhan
terhadap nilai dan norma yang mengikat kehidupan masyarakat, negara, dan
bangsa. Sebagaimana nilai dan norma, moral pun dapat dibedakan seperti moral
ketuhanan atau agama, moral filsafat, moral etika, moral hukum, moral ilmu, dan
sebaginya. Nilai, norma, dan moral secara bersama mengatur kehidupan
kehidupan masyarakat dalam berbagai aspeknya.
c.

Norma
Manusia

cenderung

untuk

memelihara

hubungan

dengan

tuhan,

masyarakat, dan alam sekitarnya dengan selaras. Hubungan manusia terjalin


secara vertical (Tuhan), horizontal (masyarakat), dan hubungan vertical-horizontal
(alam, lingkungan alam) secara seimbang, serasi, dan selaras. Oleh karena itu,
manusia juga memrlukan pengendalian diri, baik terhadap manusia sesamanya,
lingkungan alam dan tuhan. Kesadaran akan hubungan yang ideal akan
menumbuhkan kepatuhan terhadap peraturan atau norma. Norma adalah petunjuk
tingkah laku yang harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hhari berdasarkan
motivasi tertentu.
Norma sesungguhnya merupakan perwujudan martabat manusia sebagi
makhluk budaya, social, moral, dan religi. Norma merupakansuatu kesadaran dan
sikap luhur yang dikehendaki oleh tata nilai untuk dipatuhi. Oleh karena itu,
norma dalam perwujudannya dapat berupa norma agama, norma filsafat, norma
kesusilaan, norma hukum, dan norma social. Norma memiliki kekuatan untuk
dapat dipatuhi, yang dikenal dengan sanksi, misalnya :

a. Norma agama, dengan sanksinya dari Tuhan,


b. Norma kesusilaan, dengan sanksinya rasa malu dan menyesal terhadap diri
sendiri.
c. Norma kesopanan, dengan sanksinya berupa mengucilkan dalam
pergaulan masyarakat.

d.

Norma hukum, dengan sanksinya berupa penjara atau kurungan atau


denda yang dipaksakan oleh alat Negara.

B. Nilai Dasar, Nilai Instrumental, dan Nilai Praksis


Dalam kaitannya dengan penjabarannya, nilai dapat dikelompokan
kepada tiga macam, yaitu nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praksis.
1.

Nilai dasar
Sekalipun nilai bersifat abstrak, yaitu tidakdapat diamati melalui

panca indera manusia, tetapi dalam kenyataannya nilai berhubungan dengan


tingkah laku atau berbagia aspek kehidupan manusia. Setiap nilai memiliki
nilai dasar, yaitu berupa hakikat, esensi, intisari atau makna yang dalam dari
nilai-nilai

tersebut.

Nilai

dasar

itu

bersifat

universal,

karena

menyangkutkenyataan objektif dari segala sesuatu. Contohnya, hakikat


Tuhan, manusia atau makhluk lainnya.
Apabila nilai dasar itu berkaitan dengan hakikat Tuhan, maka nilai
dasar itu bersifat mutlak,karena Tuhan adalah kausa prima (penyebab
pertama), dan segala sesuatu yang diciptakan berasal dari kehendak tuhan.
Nilai dasar itu juga berkaitan dengan hakikat manusia, maka nilai-nilai
tersebut harus bersumber kepada hakikat manusia itu sendiri. Nilai dasar
yang bersumber pada hakikat kemanusiaan itu dijabarkan dalam norma
hukum yang dapat di istilahkan dengan hak dasar (hak asasi manusia).
Apabila nilai dasar itu berdasarkan kepada hakikat kepada suatu
benda, kuantitas, aksi, ruang, dan waktu, maka nilai dasar itu juga dapat
disebut sebagai norma yang direalisasikan dalam kehidupan yang praksis.
Namun nilai yang bersumber dari kebendaan itu tidak boleh bertentangan
dengan nilai dasar yang merupakan sumber penjabaran norma terebut. Nilai
dasar yang menjadi sumber etika bagi bangsa Indonesia adalah nilai-nilai
yang terkandung dalam Pancasila.
2.

Nilai instrumental
Nilai instrumental ialah nilai yang menjadi pedoman pelaksanaan dari

nilai dasar. Nilai dasar belum dapt bermakna sepenuhnya apabila nilai dasar

tersebut belum memiliki formulasi serta parameter atau ukuran yang jelas
dan konkret. Apabila nilai instrumental itu berkaitan dengan tingkah laku
manusia dalam kehidupan sehari-hari, maka nilai tersebut akan menjadi
norma moral. Akan tetapi, jika nilai instrumental itu berkaitan dengan suatu
organisasi atau Negara, maka nilai-nilai instrumental itu merupakan suatu
arahan kebijakan atau strategi yang bersumber pada nilai dasar, sehingga
dapat juga dikatakan bahwa nilai instrumental itu merupakan suatu
eksplitasidari nilai dasar.
Dalam kehidupan ketatanegaraan kita, nilai instrumental itu dapat kita
temukan dalam pasal-pasal Undang-Undang Dasar 1945, yang merupakan
penjabaran dari nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila. Tanpa
ketentuan dalam pasal-pasal UUd 1945, maka nilai-nilai dasar yang termuat
dlam Pancasilabelum memberikan makna yang konkret dalam praktik
ketatanegaraan kita.
3.

Nilai praksis
Nilai praksis merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai instrumental

dalam kehidupan yang lebih nyata. Nilai praksis merupakan pelaksanaan


secara nyata dari nilai-nilai dasar dan nilai instrumental. Berhubung
fungsinya sebagai penjabaran dari nilai dasar dan nilai instrumental, maka
nilai praksis dijiwai oleh nilai-nilai dasar dan instrumental dan sekaligus
tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar dan instrumental tersebut.
Nilai praksis dalam kehidupan ketatanegaraan dapat ditemukan dalam
undang-undang organic, yaitu semua perundang-undangan yang berada
dibawah UUd 1945 sampai kepada peraturan pelaksana yang dibuat oleh
pemerintah. Apabila kita melihat Ketetapan MPR No. III/MPR/2000 tentang
Sumber Hukum dan Tata Urutan Perundang-Undangan,dinyatakan bahwa
tata urutan peraturan perundang-undangan merupakan pedoman dalam
pembuatan aturan hukum dibawahnya, yaitu sebagai berikut.
a.

Undang-Undang Dasar 1945

b.

Ketetapan MPR-RI

c.

Undang-Undang

d.

Peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu)

e.

Peraturan pemerintah

f.

Keputusan presiden

g.

Peraturan daerah
Berdasarkan ketetapan MPR-RI No. 1/MPR/2003 tentang peninjauan

terhadap materi dan status hhkum ketetapan MPR tahun 1960-2002.


Dikeluarkan UU No. 10/2004 yang mengatur tata urutan perundangundangan sebagai berikut.
1.

Undang-Undang Dasar 1945

2.

Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti UU

3.

Peraturan Pemerintah (PP)

4.

Peraturan Presiden (perpres)

5.

Peraturan Daerah (Perda)


Apabila kita kaitkan dengan nilai-nilai yang dibahas di atas, maka

nilai dasar tersebut terdapat dalam UUd 1945, yaitu dalam pembukaannya.
Sedangkan nilai instrumental dapat ditemukan dalam peraturan perundangundangan berikutnya, yaitu dalam undang-undang sampai kepada peraturan
dibawahnya.

C. Pancasila Sebagai Nilai Dasar Fundamental Bagi Bangsa dan Negara RI


Nilai-nilai pancasila yang memperlihatkan napas humanisme bersifat
universal, karenanya Pancasila dapat dengan mudah diterima oleh siapa saja.
Sekalipun Pancasila memiliki Perbedaannya terletak pada fakta sejarah bahwa
nilai-nilai secara sadar dirangkai dan disahkan menjadi satu kesatuan yang
berfungsi sebagai basis perilaku politik dan sikap moral bangsa. Dalam arti
bahwa pancasila adalah milik khas bangsa Indonesia dan sekaligus menjadi
identitas bangsa berkat legitimasi moral dan budaya bangsa Indonesia sendiri.
Nilai-nilai khusus yang termuat dalam Pancasila dapat ditemukan dalam silasilanya (Andre Ata Ujan,1998), yaitu sebagai berikut.

Sila pertama: Ketuahanan Yang Maha Esa, pada dasarnya memuat


pengakuan eksplisit akan eksistensi Tuhan sebagai sumber dan pencipta
universum. Pengakuan ini sekaligus memperlihatkan relasi esensial antara
yang mencipta dan yang diciptakan serta menunjukan ketergantungan yang
diciptakan terhadap yang mencipta.
Sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab, sesungguhnya
merupakan refleksi lebih lanjut dari sila pertama. Sila ini memperlihatkan
secara mendasar dari Negara atas martabat manusia dan sekaligus komitmen
untuk melidunginya. Asumsi dasar di balik prinsip kedua ini ialah bahwa
manusia, karena kedudukannya yang khusus di antara ciptaan-ciptaan lainnya
di dalam universum, mempunyai hak dan kewajiban untuk mengembangkan
kesempatan untuk meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai manusia.
Dengan demikian, manusia secara natural dengan akal dan budinya
mempunyai kewajiban untuk mengembangkan dirinya menjadi person yang
bernilai.
Sila ketiga: Persatuan Indonesia, secara khusus meminta perhatian setiap
warga negara akan hak dan kewajibnan dan tanggung jawabnya pada Negara,
khususnya dalam Negara menjaga eksistensi Negara dan bangsa.
Sila keempat: Demokrasi yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan
permusyawaratan dan perwakilan , memperlihatkan pengakuan Negara serta
perlindungannya terhadap kedaulatan rakyat dan yang dilaksanakan dalam
iklim musyawarah dan mufakat. Dalam iklim keterbukaan untuk saling
mendengarkan, mempertimbangkan satu sama lain, dan juga sikap belajar
serta saling menerima dan memberi. Hal ini berarti bahwa setiap orang diakui
dan dilindungi haknya untuk berpatisipasi dalam kehidupan politik.
Sila kelima: Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia, secara
istimewa menekankan keseimbangan antara hak dan kewajiban. Setiap warga
Negara harus bisa menikmati keadilan secara nyata, tetapi iklim keadilan
yang merata hanya bias dicapai apabila struktur sosial masyarakat sendiri
secara adil. Keadilan sosial terutama menuntut informasi struktur-struktur

sosial, yaitu struktur ekonomi, politik, budaya,dan ideology ke arah yang


lebih akomodatif terhadap kepentingan masyarakat.
Pancasila sebagai nilai dasar yang fundamental adalah seperangakat nilai
yang terpadu berkenaan dengan hidup masyarakat,berbangsa, dan bernegara.
Apakah kita memahami pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam
Pembukaan UUD 1945, maka pada hakikatnya nilai-nilai Pancasila tersebut
adalah sebagai berikut.
1. Pokok pikiran pertama, Negara Indonesia adalah Negara persatuan, yaitu
Negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia. Negara mengatasi segala paham golongan dan
perseorangan. Hal ini merupakan penjabaran dari sila ketiga.
2. Pokok pikiran kedua, menyatakan bahwa Negara hendak mewujudkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam hal ini Negara
berkewajiban mewujudkan kesejahteraan umum bagi seluruh rakyat
Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pokok
pikiran ini penjabaran dari sila kelima.
3. Pokok pikiran ketiga, menyatakan Negara berkedaulatan rakyat,
berdasarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan / perwakilan. Pokok
pikiran ini menunjukan Negara Indonesia demokrasi, yaitu kedaulatan di
tangan rakyat, sesuai dengan sila keempat.
4. Pokok pikiran keempat, menyatakan bahwa Negara berdasarkan atas
Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab. Pokok pikiran ini sebagai penjabaran dari sila kedua.
Uraian diatas menunjukan, bahwa Pancasila dan Pembukaan UUD 1945
dapat dinyatakan sebagai pkok-pokok kaidah Negara yang fundamental,
karena di dalamnya terkandung pula konsep-konsep sebagai berikut.

1. Dasar-dasar pembentukan negara,

yaitu tujuan Negara, asas politik

Negara (Negara Republik Indonesia dan berkedaulatan rakyat), dan asas


kerohanian Negara (Pancasila).
2. Ketentuan diadakannya undabg-undang dasar, yaitu maka disusunlah
kemerdekaan kebangsaan Indonesia dalam suatu undang-undang dasar
Negara Indonesia... Hal ini menunjukan adanya sumber hukum.
Nilai dasar fundamental suatu Negara dalam hukum mempunyai hakikat
dan kedudukan yang tetap kuat dan tidak berubah, dalam arti dengan jalan
hukum apapun tidak mungkin lagi untuk di ubah. Berhubung Pembukaan
UUD 1945 itu memuat nilai-nilai dasar yang fundamental, maka Pembukaan
UUD 1945yang di dalamnya terdapat Pancasila tidak dapat diubah secara
hukum. Apabila terjadi perubahan berarti pembubaran Negara Proklamasi 17
Agustus 1945.
D. Makna Nilai-Nilai Setiap Sila Pancasia
Pancasila sebagai dasar filsafah bangsa dan Negara, merupakan satu
kesatuan nilai yang tidak dapat dipisah-pisahkan dengan masing-masing silasilanya, karena apabila dilihat satu persatu dari masing-masing sila itu dapat
saja ditemukan dalam kehidupan bangsa lain. Makna Pancasila terletak pada
nilai-nilai dari masing-masing sila, sebagai satu kesatuan yang tidak dapat
ditukarbalikan letak dan susunannya. Namun demikian, untuk lebih
memahami nilai-nilai yang terkandung dalam masing-masing sila Pancasila,
maka berikut ini diuraikan.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa


Ketuhana berasal dari kata Tuhan pencipta seluruh alam. Yang Maha Esa,
berarti Yang Maha Tunggal, tiada sekutu dalam zat-Nya, sifat-Nya dan
perbuatannya. Zat Tuhan tidak terdiri atas zat zatyang banyak lalu menjadi
satu. Sifat-Nya adalah sempurna dan perbuatan-Nya tidak dapat disamai oleh
siapapun / apapun. Tiada yang menyamai Tuhan, Dia Esa. Jadi, Ketuhanan
Yang Maha Esa, pencipta alam semesta. Keyakinan adanyan Tuhan Yang

Maha Esa itu bukanlah suatu dogma atau kepercayaan yang tidak dapat
dibuktikan kebenarannya melalui akal pikiran, melainkan suatu kepercayaan
yang berakar pada pengetahuan yang benar dan dapat diuji atau dibuktikan
melalui kaidah-kaidah logika. Atas keyakinan yang demikianlah, maka Negara
Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, dan Negara memberi
jaminan sesuai dengan keyakinannya dan untuk beribadat menurut agama
memberi jaminan sesuai denagn keyakinannya dan untuk beribadat menurut
agam adan kepercayaan itu.
Bagi kita dan di dalam Negara Indonesia, tidak boleh ada pertentangan
dalam hal Ketuhana Yang Maha Esa. Tidak boleh ada sikap dan perbuatan
yang anti-Ketuhanan Yang Maha Esa antikeagamaan. Dengan perkataan lain,
di dalam Negara Indonesia tidak boleh ada paham yang meniadakan atau
mengingkari adanya Tuhan (atheisme), tetapi apa yang seharusnya ada ialah
Ketuhanan Yang Maha Esa (monotheisme) dengan toleransi beribadat
menurut agama dan kepercayaannya masing-masing.
Sebagai sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sumber pokok
nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia, menjiwai dan mencari serta
membimbing perwujudan kemanusiaan yang adil dan beradab, penggalangan
persatuan Indonesia yang telah membentuk Negara kesatuan Indonesia yang
telah berdaulat penuh, yang bersifat kerakyatan dan dipimpin oleh hikmah
kebijaksaan dalam permusyawaratan / perwakilan guna mewujudkan keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Hakikat pengertian di atas sesuai dengan:
a) Pembukaan UUD 1945 yan berbunyi, Atas berkat rahmat allah Yang
Maha Kuasa. . .,
b) Pasal 29 UUD 1945.

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab


Kemanusiaan berasal dari kata manusia, yaitu mahkluk yang berbudaya
dengan memiliki potensi pikir,rasa,karsa,dan cipta. Karena potensi yang
dimilikinya itu manusia tinggi martabatnya. Dengan budi nuraninya, manusia

menyadari nilai-nilai dan norma-norma. Kemanusiaan terutama berarti hakikat


dan sifat-sifat khas manusia sesuai dengan martabatnya. Adil berarti wajar,
yaitu sepadan dan sesuai dengan hak dan kewajiban sesorang. Keputusan dan
tindakan didasarkan pada sesuatu objektivitas, tidak ada subjektivitas.
Disinilah yang dimaksud dengan wajar / sepadan. Beradab kata pokoknya
adab, sinonim dengan sopan, berbudi luhur, dan susila. Beradab artinya
berbudi luhur, berkesopanan, dan bersusila. Maksudnya, sikap hidup,
keputusan, dan tindakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai keluhuran budi,
kesopanan, dan kesusilaan. Adab terutama mengandunf pengertian tata
kesopanan, kesusilaan, atau moral. Dengan demikian, beradab berarti
berdasarkan nilai-nilai kesusilaan, bagian dari kebudayaan.
Kemanusiaan yang adil dan beradab ialah kesadaran sikap dan perbuatan
yang didasarkan kepada potensi budi nurani manusia dalam hubungan dengan
norma-norma dan kesusilaan umumnya, baik terhadap diri sendiri, sesame
manusia maupuun terhadap alam dan hewan. Kemanusiaan yang adil dan
beradab adalahsikap dan perbuatan manusia yang sesuai dengan kodrat
hakikat manusia yang sopan dan susila nilai. Potensi kemanusiaan tersebut
dimiliki oleh semua manusia tanpa kecuali. Mereka harus diperlakukan sesuai
dengan nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan fitrahnya, sebagai makhlik
Tuhan Yang Maha Esa.
Di dalam sila kedua telah disimpulkan cita-cita kemanusiaan yang
lengkap, adil dan beradab, memenuhi seluruh hakikat makhluk manusia.
Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah suatu rumusan sifat keluhuran
budi manusia (Indonesia). Setiap warga Negara mempunyai kedudukan yang
sama terhadap undang-undang Negara, mempunyai kewajiban dan hak-hak
yang sama. Setiap warga Negara dijamin haknya serta kebebasannya yang
menyangkut hubungan dengan Tuhan, orang-seorang,Negara,masyarakat, dan
menyangkut pula kemerdekaan menyatakan pendapat dan mencapai
kehidupan yang layak, sesuai dengan hak-hak dasar manusia.
Kemanusiaan yang adil dan beradabbagi bangsa Indonesia bersumberdari
ajaran Tuhan Yang Maha Esa. Manusia adalah makhluk pribadi anggota

masyarakat dan seklaigus hamba Tuhan. Hakikat pengertian di atas sesuai


dengan Pembukaan UUD 1945 alinea pertama: Bahwa sesungguhnya
kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa Oleh karena itu, penjajahan di atas
dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan
perikeadilan. . .. Selanjutnya dapat dilihat penjabarannya secara pokok-pokok
dalam Btang Tubuh UUD 1945.

3. Persatuan Indonesia
Persatuan berasal dari kata satu, artinya utuh tidak terpecah-pecah.
Persatuan mengandung pengertian bersatunya bermacam-macam corak yang
beraneka ragam menjadi satu kebulatan. Persatuan Indonesia dalam sila ketiga
ini, mencakup persatuan dalam arti ideologis, politik, ekonomi, sosial budaya,
dan keamanan. Persatuan Indonseia ialah persatuan bangsa yang mendiami
wilayah Indonesia yang bersatu karena di dorong untuk mencapai kehidupan
kebangsaan yang bebas, dalam wadah Negara yang merdeka dan berdaulat.
Persatuan Indonesia merupakan factor yang dinamis dalam kehidupan bangsa
Indonesia, bertujuan untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah
darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan bangsa, serta mewujudkan perdamaian dunia yang abadi.
Persatuan Indonesia adalah perwujudan dari paham kebangsaanInbdonesia
yang dijiwai oleh Ketuhanan Yang Maha Esa, serta kemanusiaan yang adil
dan beradab. Karena itu, paham kebangsaan Indonesia tidak sempit
(chauvinistis), tetapi menghargai bangsa lain. Nasionalisme Indonesia
mengatasi paham golongan, suku bangsa, serta keturunan. Hal ini sesuai
dengan alinea keempat Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi, Kemudian
dari pada itu untuk membentuk suatu suatu pemerintahan negara Indonesia
yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia. . .. Selanjutnya dapat dilihat penjabarannya dalam Batang Tubuh
UUD 1945.

4.

Kerakyatan

yang

Dipimpin

oleh

Hikmat

Kebijaksanaan

dalam

Permusyawaratan / Perwakilan
Kerakyatan berasal dari kata rakyat, yaitu sekelompok manusia yang
berdiam dalam satu wilayah Negara tertentu. Rakyat meliputi seluruh
Indonesia itu tudak dibedakan fungsi dan profesinya. Kerakyatan adalah
rakyat yang hidup dalam ikatan Negara. Dengan adanya sila keempat, berarti
bangsa Indonesia menganut demokrasibaik secara langsung maupun secara
tidak langsung. Demokrasi tidak langsung (Perwakilan) sangat penting dalam
wilayah Negara yang luas serta penduduk yang banyak. Pelaksanaan
demokrasi langsung sekalipun sulit diwujudkan dalam alam modern, namun
dalam beberapa hal tertentu dapat dilaksanakan, seperti dalam memilih kepala
Negara atau system referendum.
Kerakyatan

yang

dipimpin

oleh

hikmat

kebijaksanaan

dalam

permusyawaratan / perwakilan, berarti kekuasaan yang tertinggi berada di


tangan rakyat. Kerakyatan disebut pula kedaulatan rakyat. Hikmat
kebijaksanaan berarti penggunaan pikiran atau rasio yang sehat dengan selalu
mempertimbangkan persatuan dan kesatuan bangsa, kepentingan rakyat dan
dilaksanakan dengan sadar,jujur,dan bertanggung jawab serta disorong dengan
itikad baik sesuai dengan hati nurani. Permusyawaratan adalah suatu tata cara
khas kepribadian Indonesia untuk merumuskan dan atau memutuskan suatu
hal berdasarkan kebulatan pendapat atau mufakat. Perwakilan adalah suatu
sistem dalam arti tata cara (prosedur) mengusahakan turut sertanya rakyat
mengambil bagian dalam kehidupan bernegara melalui lembaga perwakilan.
Kerakyatan

yang

dipimpin

oleh

hikmat

kebijaksanaan

dalam

permusyawaratan / perwakilan berarti bahwa rakyatdalam melaksanakan tugas


kekuasaannya ikut dalam pengambilan keputusan-keputusan. Sila keempat ini
merupakan sendi asas kekeluargaan masyarakat, sekaligus sebagai asas atau
prinsip tata pemerintahan Indonesiasebagaimana dinyatakan dalam alinea
keempat Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi, maka disusunlah
kemerdekaan Indonesia, yang berkedaulatan rakyat. Selanjutnya dapat
dilihat penjabarannya secara pokok-pokok dalam pasal-pasal UUD 1945.

5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia


Keadilan sosial berarti keadilan yang berlaku dalam masyarakat di segala
bidang kehidupan, baik materiil maupun spiritual. Bagi seluruh rakyat
Indonesia, berarti untuk setiap orang yang menjadi rakyat Indonesia, baik
yang berdiam sdalam negeri maupun warga Negara Indonesia yang berada
diluar negeri. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia berarti, bahwa
setiap warga Indonesia mendapat perlakuan yang adil dalam bidang hukum,
politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Sesuia dengan UUD 1945 maka
keadilan sosial itu mencakup pula pengertian adil dan makmur.
Keadilan sosial yang dimaksud tidak sama dengan pengertian sosialistis
atau komunalistis, karena yang dimaksud denagn keadilan sosial dalam sila
kelima ini bertolak dari pengertian bahwa antara pribadi dan masyarakat satu
sama lain tidak dapat dipisahkan. Masyarakat tempat hidup dan berkembang
pribadi, sedangkan pribadi adalah komponennya masyarakat. Tidak boleh
terjadi praktik dalam masyarakat sosialistis / komunalistis yang hanya
mementingkan masyarakat, dan juga sebaliknya yang berklaku dalam Negara
liberal yang segala sesuatu dipandang titik beratnya dari pribadi / individu.
Keadilan sosial mengandumg arti tercapainya keseimbangan antara
kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakat. Kehidupan manusia itu meliputi
kehidupan jasmani dan rohani, maka keadilan itupun meliputi keadilan dalam
memenuhi tuntutam kehidupan jasmani serta keadilan memenuhi tuntutan
kehidupan rohani secara seimbang (keadilan material dan spiritual), hakikat
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dinyatakan dalam alinea kedua
Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi, Dan perjuangan kemerdekaan
kebangsaan

Indonesia

merdeka,bersatu,berdaulat,adil,dan

Negara

makmur.

penjabarannya dalam pasal-pasal UUD 1945.

Indonesia

Selanjutnya

dapat

yang
dilihat

Kelima Sila Pancasila Nerupakan Satu Kesatuan


Pancasila susunanya adalah majemuk tunggal ( merupakan satu kesatuan yang
bersifat organis ), yaitu sebagai berikut.
a. Terdiri atas bagian-bagian yang tidak terpisahkan.
b.

Masing-masing bagian mempunyai fungsi dan kedudukan tersendiri.

c. Meskipun berbeda tidak saling bertentangan, tetapi saling melengkapi.


d.

Bersatu untuk mewujudkannya secara keseluruhan.

e. Keseluruhan membina bagian-bagian.


f.

Tidak boleh satu sila pun ditiadakan, melainkan merupakan satu kesatuan.
Bentuk susunanya adalah hierarkis pyramidal (kesatuan bertingkat di mana

tiap sila di muka merupakan basis sila lainnya).


Sila pertama : meliputi dan menjiwai sila kedua, sila ketiga, sila keempat,dan
sila kelima.
Sila kedua

: diliputi dan dijiwai sila pertama, meliputi dan menjiwai sila


ketiga,sila keempat dan sila kelima.

Sila ketiga

: didliputi dan dijiwai sila pertama dan sila kedua, meliputi dan
menjiwai sila keempat dan sila kelima.

Sila keempat : diliputi dan dijiwai sila pertama, sila kedua, dan sila ketiga,
meliputi dan menjiwai sila kelima.
Sila kelima

: diliputi dan dijiwai oleh seluruh sila-sila.

Konsep Negara Pancasia


Menurut Pembukaan UUD 1945, konsep negar Pancasila adalah paham
Negara persatuan yang meliputi kehidupan masyarakat.
a.

Sifat sosialitis religious

b.

Semangat kekeluargaan dan kebersamaan

c.

Semangat persatuan

d.

Musyawarah

e.

Menghendaki keadilan sosial.

Ide pokok Bangsa dan Kebangsaan Indonesia

Ide pokok bangsa dan kebangsaan Indonesia dapat dilihat dari sifat
keseimbangan Pancasila, yaitu sebagai berikut.
a. Keseimbangan antara antara golongan agama (Islam) dan golongan
nasionalis (Negara theis demokrasi)
b. Keseimbangan antara sifat individu dan sifat sosial ( aliran monodualisme)
c. Keseimbangan antara ide-ide asli Indonesia (paham dialektis).

Paham Integralistik
Paham integralistik (paham Negara persatuan) tercermin dalam nilai-nilai
dasar paham kekeluargaan, yaitu sebagai berikut.
a. Persatuan dan kesatuan serta saling ketergantungan satu sama laindalam
masyarakat.
b. Bertejad dan berkehendak sama untuk kehidupan kebangsaan yang
bebas,merdeka,dan bersatu.
c. Cinta tanah air dan bangsa serta kebersamaan.
d. Kedaulatan rakyat dengan sikap demokratis dan tolern.
e. Kesetiakawanan sosial, nondiskriminatif.
f. Berkeadilan sosial dan kemakmuran masyarakat
g. Menyadari bahwa bangsa Indonesia berada dalm tata pergaulan dunia dan
universal.
h. Menghargai harkat dan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan
Yang Maha Esa.

4. CIRI KEBUDAYAAN INDONESIA BERDASARKAN PANCASILA


A. Pengertian Budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah,
yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai

hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris,
kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu
mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau
bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai kultur dalam bahasa
Indonesia.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama
oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya
terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik,
adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa,
sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia
sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.
Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda
budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa
budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks,
abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku
komunikatif. Unsur - unsur social - budaya ini tersebar dan meliputi banyak
kegiatan sosial manusia.
Beberapa

alasan

mengapa

orang

mengalami

kesulitan

ketika

berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya:
Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai - nilai yang dipolarisasikan oleh
suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri. Citra
yang memaksa itu mengambil bentuk - bentuk berbeda dalam berbagai budaya
seperti individualisme kasar di Amerika, keselarasan individu dengan alam
di Jepang dan kepatuhan kolektif di Cina.Dengan demikian, budayalah yang
menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas
seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

B.Pengertian Budaya Indonesia

Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan


daerah, maupun kebudayaan asal asing yang telah ada di Indonesia sebelum
Indonesia merdeka pada tahun 1945.
1.

Kebudayaan Nasional
Kebudayaan nasional adalah kebudayaan yang diakui sebagai identitas

nasional. Definisi kebudayaan nasional menurut TAP MPR No.II tahun 1998,
yakni:Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan
cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya
upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai
bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada
pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan
demikian

Pembangunan

Nasional

merupakan

pembangunan

yang

berbudaya.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan PuncakPuncak Kebudayaan Lama dan Asli bagi Masyarakat Pendukungnya,
Semarang: P&K, 199
Kebudayaan nasional dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah
puncak - puncak dari kebudayaan daerah. Kutipan pernyataan ini merujuk
pada paham kesatuan makin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan makin
lebih dirasakan daripada kebhinekaan. Wujudnya berupa negara kesatuan,
ekonomi nasional, hukum nasional, serta bahasa nasional. Definisi yang
diberikan oleh Koentjaraningrat dapat dilihat dari peryataannya: yang khas
dan

bermutu

dari

suku

bangsa

mana

pun

asalnya,

asal

bisa

mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan


nasional. Pernyataan ini merujuk pada puncak-puncak kebudayaan daerah
dan kebudayaan suku bangsa yang bisa menimbulkan rasa bangga bagi orang
Indonesia jika ditampilkan untuk mewakili identitas bersama. Nunus Supriadi,
Kebudayaan Daerah dan Kebudayaan Nasional
Pernyataan yang tertera pada GBHN tersebut merupakan penjabaran dari
UUD 1945 Pasal 32. Dewasa ini tokoh - tokoh kebudayaan Indonesia sedang
mempersoalkan eksistensi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional terkait
dihapuskannya tiga kalimat penjelasan pada pasal 32 dan munculnya ayat

yang baru. Mereka mempersoalkan adanya kemungkinan perpecahan oleh


kebudayaan daerah jika batasan mengenai kebudayaan nasional tidak
dijelaskan secara gamblang.
2. Kebudayaan Daerah
Sebelum di amandemen, UUD 1945 menggunakan dua istilah untuk
mengidentifikasi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional. Kebudayaan
daerah, ialah kebudayaan - kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagi
puncak-puncak di daerah - daerah di seluruh Indonesia, sedangkan
kebudayaan nasional sendiri dipahami sebagai kebudayaan bangsa yang sudah
berada pada posisi yang memiliki makna bagi seluruh bangsa Indonesia.
Dalam kebudayaan nasional terdapat unsur pemersatu dari Banga Indonesia
yang sudah sadar dan mengalami persebaran secara nasional. Di dalamnya
terdapat unsur kebudayaan bangsa dan unsur kebudayaan asing, serta unsur
kreasi baru atau hasil invensi nasional.

C. Ciri-Ciri Kebudayaan Di Indonesia


Keanekaragaman adat istiadat, agama, seni, budaya, dan bahasa yang
berkembang di Indonesia melahirkan adanya kebudayaan nasional dan
kebudayaan daerah. Kebudayaan daerah memiliki ciri khas tersendiri.
Namun, secara keseluruhan ciri khas tersebut mengandung banyak unsur
kesamaan yang melahirkan kebudayaan nasional.
1. Ciri - ciri kebudayaan nasional
Kebudayaan nasional adalah kebudayaan seluruh rakyat Indonesia.
Merupakan puncak kebudayaan daerah. Ciri - ciri kebudayaan nasional
adalah sebagai berikut:
Mengandung unsur budaya daerah yang sifatnya diakui secara nasional
Mencerminkan nilai luhur dan kepribadian bangsa.
Merupakan kebanggaan seluruh rakyat Indonesia.
Mengandung unsur-unsur yang mempersatukan bangsa.
Contoh kebudayaan nasional antara lain sifat gotong royong, pakaian
nasional yaitu kebaya dan batik, serta bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia.

Semuanya itu menjadi identitas khas bangsa Indonesia. Suatu kebanggaan


sebagai bangsa Indonesia.

2. Ciri-ciri kebudayaan daerah


Kebudayaan daerah adalah kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di
suatu daerah tertentu yang memiliki ciri-ciri khas kedaerahan. Ciri-ciri
kebudayaan daerah Indonesia antara lain:
Memiliki sifat kedaerahan tertentu.
Mempunyai adat istiadat yang khas.
Memiliki unsur kebudayaan asli dan tradisional.
Dianut oleh penduduk daerah tersebut.
Adanya bahasa dan seni daerah.
Adanya unsur kepercayaan.
Adanya peninggalan sejarah.
Perwujudan kebudayaan adalah benda - benda yang diciptakan oleh
manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda benda yang bersifat nyata, misalnya pola - pola perilaku, bahasa, peralatan
hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain - lain, yang kesemuanya
ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan
bermasyarakat.

D. Kebudayaan Indonesia Berdasarkan Pancasila


Pancasila menjadi dasar Negara yang memberi kekuatan bangsa untuk
mempertahankan dan memperkokoh tiang Negara.Pancasila merupakan
cerminan dari kebudayaan yang kita miliki. Kebudayaan-kebudayaan kita
selalu beralaskan pada butir-butir Pancasila. Sehingga kebudayaan dapat juga
sebagai jati diri bangsa yang dapat mewakili kepribadian Bangsa Indonesia.
Wujud kebudayaan dapat menjadi daya pembeda antara kepribadian
bangsa satu dengan bangsa lainnya. Banyak kebudayaan - kebudayaan bangsa
lain yang masuk ke masyarakat Indonesia. Tetapi menerima begitu saja tanpa

memilah - milah atau menyaring mana yang positif dan negatif, mana yang
sesuai dan mana yang tidak sesuai dengan karakter dan nilai - nilai budaya
Bangsa Indonesia yang beralaskan Pancasila. Masyarakat perlu diberikan
pemahaman, agar dapat menghayati dan mengamalkan dengan tepat
mengenai nilai luhur Pancasila dalam kebudayaan Bangsa.

Indikator

Pancasila dijadikan sebagai dasar kebudayaan Bangsa Indonesia adalah :


a. Setiap kebudayaan yang dimiliki Bangsa Indonesia selalu beralaskan
Pancasila.
b. Pancasila sebagai penyaring kebudayaan-kebudayaan asing yang masuk
ke Indonesia.
c. Pola perilaku yang nampak dalam kebudayaan-kebudayaan Indonesia
dapat mewakili kepribadian bangsa.

SUMBER :
(Makalah Geografi Sosial 2012) Koentjaraningrat.1992. Kebudayaan, Mentalitas
dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
http://ekanj92.blogspot.com/2012/06/makalah-ciri-ciri-budaya-indonesia.html
http://anitafeldas.blogspot.com/2012/11/pancasila-sebagai-roh
kebudayaan-bangsa.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya
http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Indonesia