Anda di halaman 1dari 2

Laporan Observasi: Pemulung Gerobak

Hari Minggu, 23 November 2014 pukul 12.15, saya dan seorang teman saya berangkat
dari stasiun Bogor menuju stasiun Gondangdia untuk melakukan observasi. Subyek observasi
yang saya dapat adalah pemulung gerobak. Sungguh hal yang sangat asing bagi saya untuk
menuju suatu tempat dengan tujuan khusus seperti saat itu. Setibanya di stasiun Gondangdia,
kami segera mencari warung nasi untuk untuk membeli 2 bungkus makanan. Strategi awal yang
saya rencanakan adalah mengajak sebuah keluarga atau seseorang yang berprofesi sebagai
pemulung gerobak, yang maksudnya adalah tidak memiliki tempat tinggal selain gerobak.
Akhirnya saya membeli 2 bungkus nasi berisi ikan tongkol balado dan semur tahu. Saya pun
berdoa semoga makanan ini dapat menjadi berkat bagi saya dan mereka yang akan saya temui.
Setelah itu kamipun melanjutkan perjalanan. Kami bertanya kepada seorang tukang ojek, mas,
daerah sini yang banyak pemulung gerobaknya dimana, ya?. Tukang ojek yang saya tanyapun
menunjukkan suatu rute sepanjang jalan dari stasiun Gondangdia ke stasiun CIkini. Kamipun
langsung bergegas menuju kesana karena cuaca saat itu sudah mulai gerimis.
Sepanjang perjalanan kami melihat keadaan yang masih biasa, namun semakin
menjauhi stasiun Gondangdia kami melihat semakin banyak kesenjangan. Jalur yang kami
lewati adalah kolong rel kereta. Untuk pertama kalinya kami menemui sebuah gerobak. Dengan
wajah senang saya berkata kepada Ardi, itu pasti pemulung gerobak!. Perawakannya nampak
kurang terurus, sedikit kotor, dan berpakaian kurang baik. Saya merasa itu bukanlah subyek
yang dapat saya dekati untuk observasi ini. Akhirnya saya menyimpan kembali makanan yang
awalnya sudah saya keluarkan.
Setelah kami melanjutkan perjalanan, dari kejauhan kami melihat sekumpulan orang
yang terdiri dari 3 orang anak, 3 orang perempuan, dan sekitar 5 meter di sebelahnya terdapat
seoang nenek yang sedang memilah gelas plastik bekas. Awalnya saya merasa ini sebuah titik
terang, saya berniat untuk mendekati mereka. Namun, ada sebuah hal yang sedikit mengganjal.
Ketika saya mau mendekati mereka, saya melihat seorang perempuan dari mereka pergi dan
mengendarai sebuah sepeda motor yang sebelumnya sudah terlihat terparkir disana. Saya pun
merasa mereka bukanlah subyek yang tepat. Kamipun langsung melanjutkan perjalanan
menyusuri jalan menuju stasiun Cikini. Di perjalanan kami sempat mengabadikan sebuah potret
kehidupan di bawah lintasan rel kereta api. Kami melihat sederetan gerobak, kamar tidur,
dapur, dan tempat lainnya yang seharusnya merupakan bagian dari sebuah bangunan rumah
pada umumnya. Kamipun menyadari bahwa itu adalah tempat tinggal mereka para pemulung
gerobak.
Sepanjang perjalanan hanya saya dan Ardi yang terlihat sebagai orang biasa. Baju yang
kami gunakan juga tidak terlalu buruk, hanya kaos dan celanan jeans. Mereka melihat kami
seperti orang asing yang lewat, dengan tatapan yang mengandung banyak arti. Bahkan di
perjalanan kami melihat seorang Bapak yang wajahnya kelam, badan keling, kurus namun
berotot, wajah sedikit seram, dan sedang berjalan membawa golok. Sungguh saya merasa itu
adalah tempat yang sangat tidak aman untuk dilewati. Namun, saya hanya bisa memberi
senyuman dan ucapan permisi ketika saya melewati mereka. Akhirnya tiba di sebuah titik
dimana kami merasa harus kembali memutar balik karena stasiun Cikini sudah terlihat. Ya, saya
harus kembali. Hingga singkat cerita, kami menemukan subyek yang tepat, yaitu Bapak yang
memegang golok tadi.

Sang Bapak sedang duduk bersama seorang Ibu. Saya mendatangi ibu tersebut dan
berkata, Permisi, Bu. Ini ada makanan, kebetulan saya abis dari acara sekolah. Karena yang
saya temui adalah dua orang, maka strategi awal saya yang mau makan bersama akhirnya
gagal. Tanpa ditanya, sang ibu langsung bercerita, Ibu Mbak terima kasih banyak, anak saya
juga sekolah. Sekarang SMP kelas 3, kejar paket. Cuma 200rb setahun, sekolah seminggu 2 hari.
Daripada gak sekolah, kasihan. Soalnya kalo tidak kejar paket pasti mahal. Pembicaraan ini
menjadi pembukaan yang sangat baik bagi kami. Akhirnya sayapun bertanya kepada ibu
tersebut, memangnya ibu punya anak berapa, Bu? Apa semuanya sekolah? akhirnya ibu
tersebut menceritakan semua hal tentang dirinya, keluarganya, dan segala hal yang menimpa
mereka dan keluarga.
Ibu dan Bapak tersebut tinggal di bawah kolong jembatan yang merupakan jalur rel
kereta. Mereka mempunyai 5 orang anak, 4 orang anak sudah menikah dengan sesama
pemulung dan pengamen. 1 orang masih sekolah dan tinggal mengontrak terpisah dari
orangtuanya. Mereka juga menceritakan bahwa mereka sering didatangi kantib. Kantib-kantib
itu disuruh oleh ketua RT setempat yang iseng. Ibu merasa bahwa para pemulung tidak
memiliki kewenangan untuk menuntut haknya karena di undang-undang tidak ada peraturan
tertulis yang melindungi pemulung. Pemandangan yang saya lihat adalah banyaknya puingpuing rumah hasil penggusuran PJKA. Mereka menerima dengan lapang dada para PJKA yang
menggusur tempat tinggal mereka di bawah rel kereta tersebut. Bapak itu berkata, mereka
berpakaian sangat sopan, rapi, bersih. Mengusir kamipun dengan sopan. Kami jadi segan untuk
melawan. Ya sudah, terpaksa namanya juga rakyat kecil. Saya menanyakan apakah mereka
tidak pernah disediakan tempat untuk tinggal lebih layak. Sang bapak menjawab bahwa mereka
sebenarnya sudah ditawarkan untuk tinggal di sebuah rumah susun, namun kabar tersebut
sampai sekarang tidak ada kelanjutannya.
Ibu tersebut kemudian menunjukkan kondisi kakinya yang menurut saya sangat buruk.
Ketika saya menanyakan apa yang terjadi, beliau menceritakan semuanya. Sang ibu menderita
kencing manis yang menyebabkan kakinya hampir diamputasi karena ujung jari-jarinya sudah
membusuk. Ibu itu dengan lirih berkata, tenang saja Mbak, engga nular kok ini. Beliau juga
menunjukkan telapak kakinya yang sudah mulai bolong dan membusuk. saya menutupinya
dengan kaos kaki supaya orang-orang tidak jijik dengan saya.
Pembicaraan kamipun selesai setelah kami berpamitan untuk kembali ke tempat kami
masing-masing. Satu hal yang masih saya pertanyakan, apakah tidak ada perlindungan atau
kebijakan yang lebih memihak kepada mereka? Sangatlah sedih melihat kesenjangan ini yang
menunjukkan rendahnya kualitas hidup suatu kelompok orang di tengah kota besar ini.

Caecilia Jessica Unarso