Anda di halaman 1dari 39

PENELITIAN

JUNI 2014

KARAKTERISTIK DAN TANGGAPAN INDIVIDU YANG PERNAH MELAKUKAN


ABORTUS PROVOKATUS DI SEKITAR IBUKOTA SARAWAK, MALAYSIA

Oleh :
Nurhafizah bt Hatta
( C111 09 865 )
Pembimbing :
DR. Dr. H.A Armyn Nurdin, M.Sc

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
DAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Angka kematian ibu (AKI) masih diperkirakan tinggi di Malaysia. Pada tahun
2005, kadar kematian ibu setelah melahirkan anak ialah 62 orang setiap 100,000
kelahiran hidup di Malaysia. Di Thailand pula adalah sekitar

110 orang setiap

100,000 dan di Singapura sangat rendah iaitu 14 setiap 100,000 kelahiran.1


Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 15-50% kematian ibu disebabkan
oleh abortus. Komplikasi abortus berupa perdarahan atau infeksi dapat menyebabkan
kematian. Hal ini mengakibatkan kematian ibu yang disebabkan oleh abortus sering tidak
dilaporkan dalam laporan kematian, tetapi dilaporkan sebagai perdarahan atau sepsis.2
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan di seluruh dunia, setiap tahun
dilakukan 20 juta unsafe abortion, 70.000 wanita meninggal akibat unsafe abortion, dan
1 diantara 8 kematian ibu disebabkan unsaf abortion.2
Abortus merupakan masalah dunia yang mempengaruhi kesehatan, kesakitan, dan
kematian serta kelangsungan reproduksi wanita. Diperkirakan abortus yang tidak aman
telah membunuh 100.000 wanita setiap tahunnya, 99% diantaranya terjadi di negaranegara berkembang.3 Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) diperkirakan 4,2 juta
abortus dilakukan setiap tahun di Asia Tenggara, dengan jumlah kasus sekitar 1,3 juta
dilakukan di Vietnam dan Singapura, antara 750.000 sampai 1,5 juta di Indonesia, antara
155.000 sampai 750.000 di Filipina, antara 300.000 sampai 900.000 di Thailand.2
Antara penyebab angka kematian ibu (AKI) di Malaysia diantaranya yakni,
pendarahan dan infeksi, sementara dibaliknya terdapat aborsi. Statistik Jabatan
Pendaftaran Negara (JPN) merekodkan kelahiran anak luar nikah dalam kalangan orang
Melayu amat membimbangkan. Bagi tahun 2007, sebanyak 16,100 kelahiran anak luar
nikah; tahun 2008 (16,541) dan 2009 (17,303). Secara tidak langsung hal ini
menunjukkan bahawa generasi muda di Malaysia berada dalam kemelut masalah sosial
yang semakin menakutkan. Melihat kepada jumlah kehamilan luar nikah ini dapat kita
membayangkan jumlah kasus aborsi yang mungkin dilakukan oleh golongan ibu muda
tersebut. 4 Namun, tidak ada angka yang jelas mengenai kasus aborsi tersebut.
Menurut Pertubuhan Kesihatan Sedunia (WHO), 40-50 juta wanita di seluruh
dunia menggugurkan kandungannya setiap tahun atau dalam ertikata yang lain 125,000
kandungan digugurkan setiap hari. Di USA, 20% dari wanita yang hamil akan

menggugurkan kandungannya dengan statistik lebih dari 3000 pengguguran setiap hari.5
Penyebab aborsi diantaranya adalah akibat dari abortus spontan yang biasanya tidak
terlapor, dan sebagiannya adalah yang tidak menggunakan alat kontrasepsi seharusnya
atau kehamilan yang tidak diinginkan, dan juga karena kegagalan KB yang seharusnya
menjadi tanggung jawab negara. 15% aborsi dilakukan remaja di bawah usia 20 tahun
yang ditandai dengan adanya kasus kehamilan yang tidak diinginkan dan ketiadaan akses
terhadap alat kontrasepsi.6
Jumlah kematian ibu maternal yang dilaporkan pada tahun 2007 di Malaysia
sebesar kira-kira 0,1 per 1.000 kelahiran hidup, sedangkan pada tahun 2008 dan
seterusnya, hampir mencapai angka 0 per 1.000 kelahiran hidup.5
Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian abortus seperti umur, tingkat
pendidikan, status pekerjaan, paritas, ekonomi, interval kehamilan, penyakit dan kelainan
uterus (komplikasi kehamilan). Faktor yang paling berpengaruh terdapat pada si ibu
sendiri sebagai tempat terjadinya atau berlangsungnya kehamilan. 6 Dengan melihat data
di atas, menggambarkan jumlah kasus abortus yang masih tinggi dan dampaknya pada
angka morbiditas dan mortilitas ibu, maka hal ini mendorong peneliti untuk melakukan
penelitian mengenai karakteristik dan tanggapan

individu yang pernah melakukan

tindakan abortus provokatus di sekitar ibu kota Malaysia. Hal ini penting dalam upaya
mengurangi tingkat aborsi.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka dapat ditentukan rumusan
masalah sebagai berikut : Apakah tanggapan dan karakteristik individu yang pernah
melakukan tindakan abortus provokatus?

C. Tujuan penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui tanggapan dan karakteristik individu yang pernah melakukan
tindakan abortus provokatus.

2. Tujuan khusus
a. Mengetahui karakteristik penderita abortus berdasarkan klasifikasi abortus.
b. Mengetahui karakteristik penderita abortus berdasarkan usia ibu.
c. Mengetahui karakteristik penderita abortus berdasarkan paritas.

d. Mengetahui karakteristik penderita abortus berdasarkan usia kehamilan.


e. Mengetahui karakteristik penderita abortus berdasarkan riwayat abortus.
f. Mengetahui pengalaman penderita abortus berdasarkan riwayat abortus.
g. Mengetahui tingkat pengetahuan dan informasi

penderita abortus tentang

abortus.

D. Manfaat penelitian
1. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi bagi
para praktisi mengenai karakteristik penderita abortus sehingga dapat membantu
dalam melakukan upaya penanggulangan tingkat kejadian abortus dan penentuan
kebijakan dalam mengurangi kasus abortus.

2. Manfaat keilmuan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah
dalam memperkaya khazanah ilmu pengetahuan bagi dunia pendidikan dan dapat
menjadi acuan bagi peneliti selanjutnya.

3. Manfaat bagi peneliti


Penelitian ini bermanfaat sebagai pengalaman yang sangat berharga dan
menambah khazanah ilmu pengetahuan peneliti dalam mengaplikasikan ilmu dan
wawasan ilmiahnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian abortus
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi kehamilan sebelum
janin dapat hidup di dunia luar, dengan batasan kehamilan kurang dari 20 minggu dan
berat janin kurang dari 500 gram.7, 8 Sampai saat ini janin yang terkecil, yang dilaporkan
dapat hidup di luar kandungan, mempunyai berat badan 297 gram waktu lahir. Akan
tetapi, karena jarangnya janin yang dilahirkan dengan berat badan di bawah 500 gram
dapat hidup terus, maka abortus ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin
mencapai berat 500 gram atau kurang dari 20 minggu.7,9
Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu abortus spontan dan abortus
provokatus. Abortus spontan adalah abortus yang terjadi tanpa tindakan mekanis atau
tanpa didahului tindakan apapun dan disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.10,11,12,13
Abortus provokatus adalah abortus yang terjadi akibat tindakan atau disengaja, baik
dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat.9

B. Klasifikasi Abortus
Adapun klasifikasi abortus adalah seperti berikut :
1. Abortus spontan adalah keluarnya hasil konsepsi tanpa intervensi medis maupun
mekanis.
2. Abortus buatan, Abortus provocatus (disengaja, digugurkan), yaitu:
a. Abortus buatan menurut kaidah ilmu (Abortus provocatus medicinalis, atau
abortus therapeuticus). Indikasi abortus untuk kepentingan ibu, misalnya :
penyakit jantung, hipertensi esential, dan karsinoma serviks. Keputusan ini
ditentukan oleh tim ahli yang terdiri dari dokter ahli kebidanan, penyakit dalam
dan psikiatri, atau psikolog.
b. Abortus buatan kriminal (Abortus provocatus criminalis) adalah pengguguran
kehamilan tanpa alasan medis yang sah atau oleh orang yang tidak berwenang dan
dilarang oleh hukum.14

C. Etiologi Abortus
Secara umum, terdapat tiga faktor yang boleh menyebabkan abortus spontan
yaitu faktor fetus, faktor ibu sebagai penyebab abortus dan faktor paternal. Lebih dari 80

persen abortus terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan, dan kira-kira setengah dari
kasus abortus ini diakibatkan oleh anomali kromosom. Setelah melewati trimester
pertama, tingkat aborsi dan peluang terjadinya anomali kromosom berkurang.15
Abortus yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan umumnya
disebabkan oleh faktor ovofetal, pada minggu-minggu berikutnya (11 12 minggu),
abortus yang terjadi disebabkan oleh faktor maternal.16

Faktor ovofetal :
Pemeriksaan USG janin dan histopatologis selanjutnya menunjukkan bahwa pada 70%
kasus, ovum yang telah dibuahi gagal untuk berkembang atau terjadi malformasi pada
tubuh janin. Pada 40% kasus, diketahui bahwa latar belakang kejadian abortus adalah
kelainan chromosomal. Pada 20% kasus, terbukti adanya kegagalan trofoblast untuk
melakukan implantasi dengan adekuat.17

Faktor maternal :
Sebanyak 2% peristiwa abortus disebabkan oleh adanya penyakit sistemik maternal
(systemic lupus erythematosis) dan infeksi sistemik maternal tertentu lainnya. 8%
peristiwa abortus berkaitan dengan abnormalitas uterus (kelainan uterus kongenital,
mioma uteri submukosa, inkompetensia servik). Terdapat dugaan bahwa masalah
psikologis memiliki peranan pula dengan kejadian abortus meskipun sulit untuk
dibuktikan atau dilakukan penilaian lanjutan.17
Penyebab abortus dapat dibagi menjadi 3 faktor yaitu:17
1. Faktor janin
Faktor janin penyebab keguguran adalah kelainan genetik, dan ini terjadi pada 50% 60% kasus keguguran.

2. Faktor ibu:
a. Kelainan endokrin (hormonal) misalnya kekurangan tiroid, kencing manis.
b. Faktor kekebalan (imunologi), misalnya pada penyakit lupus, Anti phospholipid
sindrom.
c. Infeksi, diduga akibat beberapa virus seperti cacar air, campak jerman, toksoplasma
herpes, klamidia.
d. Kelemahan otot leher rahim

e. Kelainan bentuk rahim


3. Faktor Ayah: kelainan kromosom dan infeksi sperma diduga dapat menyebabkan
abortus.
Selain 3 faktor di atas, faktor penyebab lain dari kehamilan abortus adalah:17
1. Faktor genetik
Sekitar 5 % abortus terjadi karena faktor genetik. Paling sering ditemukannya
kromosom trisomi dengan trisomi 16. Penyebab yang paling sering menimbulkan
abortus spontan adalah abnormalitas kromosom pada janin. Lebih dari 60% abortus
spontan yang terjadi pada trimester pertama menunjukkan beberapa tipe abnormalitas
genetik. Abnormalitas genetik yang paling sering terjadi adalah aneuploidi
(abnormalitas komposisi kromosom) contohnya trisomi autosom yang menyebabkan
lebih dari 50% abortus spontan. Poliploidi menyebabkan sekitar 22% dari abortus
spontan yang terjadi akibat kelainan kromosom.
Sekitar 3-5% pasangan yang memiliki riwayat abortus spontan yang berulang
salah satu dari pasangan tersebut membawa sifat kromosom yang abnormal.
Identifikasi dapat dilakukan dengan pemeriksaan kariotipe dimana bahan pemeriksaan
diambil dari darah tepi pasangan tersebut. Tetapi tentunya pemeriksaan ini belum
berkembang di Indonesia dan biayanya cukup tinggi.

2. Faktor anatomi
Faktor anatomi kongenital dan didapat pernah dilaporkan timbul pada 10-15 %
wanita dengan abortus spontan yang rekuren.
a. Lesi anatomi kongenital yaitu kelainan duktus Mullerian (uterus bersepta). Duktus
mullerian biasanya ditemukan pada keguguran trimester kedua.
b. Kelainan kongenital arteri uterina yang membahayakan aliran darah endometrium.
c.

Kelainan yang didapat misalnya adhesi intrauterin (sinekia), leimioma, dan


endometriosis. Abnormalitas anatomi maternal yang dihubungkan dengan kejadian
abortus spontan yang berulang termasuk inkompetensi serviks, kongenital dan
defek uterus yang didapatkan (acquired). Malformasi kongenital termasuk fusi
duktus Mulleri yang inkomplit yang dapat menyebabkan uterus unikornus, bikornus
atau uterus ganda. Defek pada uterus yang acquired yang sering dihubungkan
dengan kejadian abortus spontan berulang termasuk perlengketan uterus atau
sinekia dan leiomioma. Adanya kelainan anatomis ini dapat diketahui dari

pemeriksaan ultrasonografi (USG), histerosalfingografi (HSG), histeroskopi dan


laparoskopi (prosedur diagnostik). Pemeriksaan yang dapat dianjurkan kepada
pasien ini adalah pemeriksaan USG dan HSG. Dari pemeriksaan USG sekaligus
juga dapat mengetahui adanya suatu mioma terutama jenis submukosa. Mioma
submukosa merupakan salah satu faktor mekanik yang dapat mengganggu
implantasi hasil konsepsi. Jika terbukti adanya mioma pada pasien ini maka perlu
dieksplorasi lebih jauh mengenai keluhan dan harus dipastikan apakah mioma ini
berhubungan langsung dengan adanya ROB pada pasien ini. Hal ini penting karena
mioma yang mengganggu mutlak dilakukan operasi.

3. Faktor endokrin:
a. Faktor endokrin berpotensial menyebabkan aborsi pada sekitar 10-20 % kasus.
b. Insufisiensi fase luteal (fungsi corpus luteum yang abnormal dengan tidak cukupnya
produksi progesteron).
c. Hipotiroidisme, hipoprolaktinemia, diabetes dan sindrom polikistik ovarium
merupakan faktor kontribusi pada keguguran.
Kenaikan insiden abortus bisa disebabkan oleh hipertiroidismus, diabetes
melitus dan defisisensi progesteron. Hipotiroidismus tampaknya tidak berkaitan
dengan kenaikan insiden abortus. Pengendalian glukosa yang tidak adekuat dapat
menaikkan insiden abortus. Defisiensi progesteron karena kurangnya sekresi hormon
tersebut dari korpus luteum atau plasenta, mempunyai kaitan dengan kenaikan insiden
abortus. Karena progesteron berfungsi mempertahankan desidua, defisiensi hormone
tersebut secara teoritis akan mengganggu nutrisi pada hasil konsepsi dan dengan
demikian turut berperan dalam peristiwa kematiannya.

4. Faktor infeksi
Infeksi termasuk infeksi yang diakibatkan oleh TORC (Toksoplasma, Rubella,
Cytomegalovirus) dan malaria. Infeksi intrauterin sering dihubungkan dengan abortus
spontan berulang. Organisme-organisme yang sering diduga sebagai penyebab antara
lain Chlamydia, Ureaplasma, Mycoplasma, Cytomegalovirus, Listeria monocytogenes
dan Toxoplasma gondii. Infeksi aktif yang menyebabkan abortus spontan berulang
masih belum dapat dibuktikan. Namun untuk lebih memastikan penyebab, dapat
dilakukan pemeriksaan kultur yang bahannya diambil dari cairan pada servikal dan
endometrial.

5. Faktor imunologi
Terdapat

antibodikardiolipid

yang

mengakibatkan

pembekuan

darah

dibelakang ari-ari sehingga mengakibatkan kematian janin karena kurangnya aliran


darah dari ari-ari tersebut. Faktor imunologis yang telah terbukti signifikan dapat
menyebabkan abortus spontan yang berulang antara lain: antibodi antinuklear,
antikoagulan lupus dan antibodi cardiolipin. Adanya penanda ini meskipun gejala
klinis

tidak

tampak

dapat

menyebabkan

abortus

spontan

yang

berulang.

Inkompatibilitas golongan darah A, B, O, dengan reaksi antigen antibodi dapat


menyebabkan

abortus

berulang,

karena

pelepasan

histamin

mengakibatkan

vasodilatasi dan peningkatan fragilitas kapiler.

6. Penyakit-penyakit kronis yang melemahkan


Pada awal kehamilan, penyakit-penyakit kronis yang melemahkan keadaan ibu,
misalnya penyakit tuberkulosis atau karsinomatosis jarang menyebabkan abortus;
sebaliknya pasien penyakit tersebut sering meninggal dunia tanpa melahirkan. Adanya
penyakit kronis (diabetes melitus, hipertensi kronis, penyakit liver/ ginjal kronis) dapat
diketahui lebih mendalam melalui anamnesa yang baik. Penting juga diketahui
bagaimana perjalanan penyakitnya jika memang pernah menderita infeksi berat,
seperti apakah telah diterapi dengan tepat dan adekuat. Untuk eksplorasi kausa, dapat
dikerjakan beberapa pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan gula darah, tes
fungsi hati dan tes fungsi ginjal untuk menilai apakah ada gangguan fungsi hepar dan
ginjal atau diabetes melitus yang kemudian dapat menimbulkan gangguan pada
kehamilan seperti persalinan prematur.

7. Faktor Nutrisi
Malnutrisi umum yang sangat berat memiliki kemungkinan paling besar
menjadi predisposisi abortus. Meskipun demikian, belum ditemukan bukti yang
menyatakan bahwa defisisensi salah satu/semua nutrien dalam makanan merupakan
suatu penyebab abortus yang penting.

8. Obat-obat rekreasional dan toksin lingkungan.


Peranan penggunaan obat-obatan rekreasional tertentu yang dianggap
teratogenik harus dicari dari anamnesa seperti tembakau dan alkohol, yang berperan
karena jika ada mungkin hal ini merupakan salah satu yang berperan.

9. Faktor psikologis
Dibuktikan bahwa ada hubungan antara abortus yang berulang dengan
keadaan mental akan tetapi belum dapat dijelaskan sebabnya. Yang peka terhadap
terjadinya abortus ialah wanita yang belum matang secara emosional dan sangat
penting dalam menyelamatkan kehamilan. Usaha-usaha dokter untuk mendapat
kepercayaan pasien, dan menerangkan segala sesuatu kepadanya, sangat membantu.
Pada penderita ini, penyebab yang menetap pada terjadinya abortus spontan yang
berulang masih belum dapat dipastikan. Akan lebih baik bagi penderita untuk
melakukan pemeriksaan lengkap dalam usaha mencari kelainan yang mungkin
menyebabkan abortus yang berulang tersebut, sebelum penderita hamil guna
mempersiapkan kehamilan yang berikutnya.

D.

Patogenesis Abortus
Mekanisme awal terjadinya abortus adalah lepasnya sebagian atau seluruh
bagian embrio akibat adanya perdarahan minimal pada desidua. Kegagalan fungsi
plasenta yang terjadi akibat perdarahan subdesidua tersebut menyebabkan terjadinya
kontraksi uterus dan mengawali proses abortus. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu,
embrio rusak atau cacat yang masih terbungkus dengan sebagian desidua dan villi
chorialis cenderung dikeluarkan secara in toto , meskipun sebagian dari hasil konsepsi
masih tertahan dalam cavum uteri atau di canalis servicalis. Perdarahan pervaginam
terjadi saat proses pengeluaran hasil konsepsi. Pada kehamilan 8 14 minggu,
mekanisme diatas juga terjadi atau diawali dengan pecahnya selaput ketuban lebih dulu
dan diikuti dengan pengeluaran janin yang cacat namun plasenta masih tertinggal dalam
cavum uteri. Plasenta mungkin sudah berada dalam kanalis servikalis atau masih melekat
pada dinding cavum uteri. Jenis ini sering menyebabkan perdarahan pervaginam yang
banyak. Pada kehamilan minggu ke 14 22, Janin biasanya sudah dikeluarkan dan
diikuti dengan keluarnya plasenta beberapa saat kemudian. Kadang-kadang plasenta
masih tertinggal dalam uterus sehingga menyebabkan gangguan kontraksi uterus dan
terjadi perdarahan pervaginam yang banyak. Perdarahan umumnya tidak terlalu banyak

namun rasa nyeri lebih menonjol. Dari penjelasan di atas jelas bahwa abortus ditandai
dengan adanya perdarahan uterus dan nyeri dengan intensitas beragam.9 Pengeluaran
hasil konsepsi didasarkan 5 cara:
1. Keluarnya kantong korion pada kehamilan yang sangat dini, meninggalkan sisa
desidua.
2. Kantong amnion dan isinya (fetus) didorong keluar, meninggalkan korion dan desidua.
3. Pecahnya amnion terjadi dengan putusnya tali pusat dan pendorongan janin ke luar,
tetapi mempertahankan sisa amnion dan korion (hanya janin yang dikeluarkan).
4. Seluruh janin dan desidua yang melekat didorong keluar secara utuh.
5. Kuretasi diperlukan untuk membersihkan uterus dan mencegah perdarahan atau
infeksi lebih lanjut.14

E. Gambaran Klinis Abortus


Aspek klinis abortus spontan dibagi menjadi abortus iminens (threatened
abortion), abortus insipiens (inevitable abortion), abortus inkompletus (incomplete
abortion) atau abortus kompletus (complete abortion), abortus tertunda (missed
abortion), abortus habitualis (recurrent abortion), dan abortus septik (septic abortion).
13,15

1. Abortus Iminens (Threatened abortion)


Bercak pada vagina atau perdarahan yang lebih berat umumnya terjadi selama
kehamilan awal dan dapat berlangsung selama beberapa hari atau minggu serta dapat
mempengaruhi satu dari empat atau lima wanita hamil. Secara keseluruhan, sekitar
setengah dari kehamilan ini akan berakhir dengan abortus.15
Abortus iminens didiagnosa bila seseorang wanita hamil kurang daripada 20
minggu mengeluarkan darah sedikit pada vagina. Perdarahan dapat berlanjut beberapa
hari atau dapat berulang, dapat pula disertai sedikit nyeri perut bawah atau nyeri
punggung bawah seperti saat menstruasi. Polip serviks, ulserasi vagina, karsinoma
serviks, kehamilan ektopik, dan kelainan trofoblast harus dibedakan dari abortus iminens
karena dapat memberikan perdarahan pada vagina. Pemeriksaan spekulum dapat
membedakan polip, ulserasi vagina atau karsinoma serviks, sedangkan kelainan lain
membutuhkan pemeriksaan ultrasonografi.7

2. Abortus Insipiens (Inevitable abortion)


Abortus insipiens didiagnosis apabila pada wanita hamil ditemukan perdarahan
banyak, kadang-kadang keluar gumpalan darah yang disertai nyeri karena kontraksi
rahim kuat dan ditemukan adanya dilatasi serviks sehingga jari pemeriksa dapat masuk
dan ketuban dapat teraba. Kadang-kadang perdarahan dapat menyebabkan kematian bagi
ibu dan jaringan yang tertinggal dapat menyebabkan infeksi sehingga evakuasi harus
segera dilakukan. Janin biasanya sudah mati dan mempertahankan kehamilan pada
keadaan ini merupakan kontraindikasi. 7

3. Abortus Inkompletus dan Abortus Kompletus


Abortus inkompletus didiagnosis apabila sebagian dari hasil konsepsi telah lahir
atau teraba pada vagina, tetapi sebagian tertinggal (biasanya jaringan plasenta).
Perdarahan biasanya terus berlangsung, banyak, dan membahayakan ibu. Sering serviks
tetap terbuka karena masih ada benda di dalam rahim yang dianggap sebagai benda asing
(corpus alienum). Oleh karena itu, uterus akan berusaha mengeluarkannya dengan
mengadakan kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri, namun tidak sehebat pada abortus
insipiens. Jika hasil konsepsi lahir dengan lengkap, maka disebut abortus komplit. Pada
keadaan ini, kuretasi tidak perlu dilakukan. Pada abortus kompletus, perdarahan segera
berkurang setelah isi rahim dikeluarkan dan selambat-lambatnya dalam 10 hari
perdarahan berhenti sama sekali karena dalam masa ini luka rahim telah sembuh dan
epitelisasi telah selesai. Serviks juga dengan segera menutup kembali. Kalau 10 hari
setelah abortus masih ada perdarahan juga, abortus inkompletus atau endometritis pasca
abortus harus dipikirkan.7

4. Abortus Tertunda (Missed abortion)


Abortus tertunda adalah keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada
dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. Pada abortus tertunda akan
dijumpai amenorea, yaitu perdarahan sedikit-sedikit yang berulang pada permulaannya,
serta selama observasi fundus tidak bertambah tinggi, malahan tambah rendah. Pada
pemeriksaan dalam, serviks tertutup dan ada darah sedikit.10

5. Abortus Habitualis (Recurrent abortion)


Anomali kromosom parental, gangguan trombofilik pada ibu hamil, dan kelainan
struktural uterus merupakan penyebab langsung pada abortus habitualis.18 Abortus

habitualis merupakan abortus yang terjadi tiga kali berturut-turut atau lebih.10 Etiologi
abortus ini adalah kelainan dari ovum atau spermatozoa, dimana sekiranya terjadi
pembuahan, hasilnya adalah patologis. Selain itu, disfungsi tiroid, kesalahan korpus
luteum dan kesalahan plasenta yaitu tidak sanggupnya plasenta menghasilkan
progesterone sesudah korpus luteum atrofis juga merupakan etiologi dari abortus
habitualis.

6. Abortus Septik (Septic abortion)


Abortus septik adalah keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman
atau toksinnya ke dalam peredaran darah atau peritoneum. Hal ini sering ditemukan pada
abortus inkompletus atau abortus buatan, terutama yang kriminalis tanpa memperhatikan
syarat-syarat asepsis dan antisepsis. Antara bakteri yang dapat menyebabkan abortus
septik adalah seperti Escherichia coli, Enterobacter aerogenes, Proteus vulgaris,
Hemolytic streptococci dan Staphylococci.10, 19

F. Diagnosa Abortus
1. Anamnesis
a. Adanya amenore pada masa reproduksi.
b. Perdarahan pervaginam disertai jaringan hasil konsepsi.
c. Rasa sakit atau keram perut di daerah atas simpisis atau nyeri perut bagian
bawah.14,17

2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan panggul. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat apakah leher rahim
sudah mulai membesar.

3. Pemeriksaan penunjang:
a. Pemeriksaan USG (Ultrasonografi). Hal ini membantu dokter untuk memeriksa
detak jantung janin dan menentukan apakah embrio berkembang normal.
b. Pemeriksaan darah. Jika mengalami keguguran, pengukuran hormon kehamilan,
HCG beta, kadang-kadang bisa berguna dalam menentukan apakah Anda telah
benar-benar melewati semua jaringan plasenta.

c.

Pemeriksaan jaringan. Jika telah melewati jaringan, dapat dikirim ke


laboratorium untuk mengkonfirmasi bahwa keguguran telah terjadi - dan bahwa
gejala tidak berhubungan dengan penyebab lain dari perdarahan kehamilan.17

4. Diagnosa abortus menurut gambaran klinis adalah seperti berikut: 7,10


a. Abortus Iminens (Threatened abortion)
1) Anamnesis perdarahan sedikit dari jalan lahir dan nyeri perut tidak ada atau
ringan.
2) Pemeriksaan dalam fluksus ada (sedikit), ostium uteri tertutup, dan besar
uterus sesuai dengan umur kehamilan.
3) Pemeriksaan penunjang hasil USG.

b. Abortus Insipiens (Inevitable abortion)


1) Anamnesis perdarahan dari jalan lahir disertai nyeri / kontraksi rahim.
2) Pemeriksaan dalam ostium terbuka, buah kehamilan masih dalam rahim, dan
ketuban utuh (mungkin menonjol).

c. Abortus Inkompletus atau abortus kompletus


1) Anamnesis perdarahan dari jalan lahir (biasanya banyak), nyeri / kontraksi
rahim ada, dan bila perdarahan banyak dapat terjadi syok.
2) Pemeriksaan dalam ostium uteri terbuka, teraba sisa jaringan buah kehamilan.

d. Abortus Tertunda (Missed abortion)


1) Anamnesis - perdarahan bisa ada atau tidak.
2) Pemeriksaan obstetri fundus uteri lebih kecil dari umur kehamilan dan bunyi
jantung janin tidak ada.
3) Pemeriksaan penunjang USG, laboratorium (Hb, trombosit, fibrinogen, waktu
perdarahan, waktu pembekuan dan waktu protrombin).

e. Abortus Habitualis (Recurrent abortion)


1) Histerosalfingografi untuk mengetahui ada tidaknya mioma uterus submukosa
dan anomali kongenital.
2) BMR dan kadar yodium darah diukur untuk mengetahui apakah ada atau tidak
gangguan glandula thyroidea.

f. Abortus Septik (Septic abortion)


1) Adanya abortus : amenore, perdarahan, keluar jaringan yang telah ditolong di
luar rumah sakit.
2) Pemeriksaan : kanalis servikalis terbuka, teraba jaringan, perdarahan dan
sebagainya.
3) Tanda-tanda infeksi alat genital : demam, nadi cepat, perdarahan, nyeri tekan
dan leukositosis.
4) Pada abortus septik : kelihatan sakit berat, panas tinggi, menggigil, nadi kecil
dan cepat, tekanan darah turun sampai syok.

G. Penatalaksanaan Abortus
Pada abortus insipiens dan abortus inkompletus, bila ada tanda-tanda syok maka
diatasi dulu dengan pemberian cairan dan transfusi darah. Kemudian, jaringan
dikeluarkan secepat mungkin dengan metode digital dan kuretase. Setelah itu, beri obatobat uterotonika dan antibiotika. Pada keadaan abortus kompletus dimana seluruh hasil
konsepsi dikeluarkan (desidua dan fetus), sehingga rongga rahim kosong, terapi yang
diberikan hanya uterotonika. Untuk abortus tertunda, obat diberi dengan maksud agar
terjadi his sehingga fetus dan desidua dapat dikeluarkan, kalau tidak berhasil, dilatasi dan
kuretase dilakukan. Histerotomi anterior juga dapat dilakukan dan pada penderita,
diberikan tonika dan antibiotika. Pengobatan pada kelainan endometrium pada abortus
habitualis lebih besar hasilnya jika dilakukan sebelum ada konsepsi daripada sesudahnya.
Merokok dan minum alkohol sebaiknya dikurangi atau dihentikan. Pada serviks
inkompeten, terapinya adalah operatif yaitu operasi Shirodkar atau McDonald.10

H. Abortus Provokatus
Abortus provokatus yang dikenal di Indonesia dengan istilah aborsi berasal dari
bahasa latin yang berarti pengguguran kandungan karena kesengajaan. Abortus
provokatus merupakan salah satu dari berbagai macam jenis abortus.20 Pengertian aborsi
atau abortus provokatus adalah penghentian atau pengeluaran hasil kehamilan dari rahim
sebelum waktunya. Dengan kata lain pengeluaran itu dimaksudkan bahwa keluarnya
janin disengaja dengan campur tangan manusia, baik melalui cara mekanik atau obat.20
Abortus elektif atau sukarela adalah pengakhiran kehamilan sebelum janin mampu hidup
atas dasar permintaan wanita, dan tidak karena kesehatan ibu yang terganggu atau
penyakit pada janin.

Abortus medisinalis atau abortus terapeutik adalah pengakhiran kehamilan


sebelum saatnya janin mampu hidup dengan maksud melindungi kesehatan ibu. Antara
indikasi untuk melakukan abortus ini adalah apabila kelangsungan kehamilan dapat
membahayakan nyawa wanita tersebut seperti pada penyakit vaskular hipertensif tahap
lanjut dan karsinoma invasif pada serviks. Selain itu, abortus ini juga boleh dilakukan
pada kehamilan akibat perkosaan atau akibat hubungan saudara (incest) dan sebagai
pencegahan untuk kelahiran fetus dengan deformitas fisik yang berat atau retardasi
mental.15
Kontraindikasi untuk melakukan abortus medisinalis adalah seperti kehamilan
ektopik, insufiensi adrenal, anemia, gangguan pembekuan darah dan penyakit
kardiovaskular.21
Abortus terapeutik dapat dilakukan dengan cara:
1. Kimiawi pemberian secara ekstrauterin atau intrauterin obat abortus, seperti:
prostaglandin, antiprogesteron, atau oksitosin.
2. Mekanis:
a. Pemasangan batang laminaria atau dilapan akan membuka serviks secara perlahan
dan tidak traumatis sebelum kemudian dilakukan evakuasi dengan kuret tajam
atau vakum.
b. Dilatasi serviks dilanjutkan dengan evakuasi, dipakai dilator Hegar dilanjutkan
dengan kuretasi.
c. Histerotomi / histerektomi

BAB III
DASAR PEMIKIRAN VARIABEL YANG DITELITI, KERANGKA KONSEP, DAN
DEFINISI OPERASIONAL

A. Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti


Abortus menjadi masalah yang perlu untuk mendapat perhatian khusus. Hal ini
dikarenakan angka kejadian abortus yang cukup tinggi dan menjadi penyebab yang
bermakna pada peningkatan angka kematian ibu akibat komplikasi abortus berupa
perdarahan dan sepsis. Oleh karena itu, melakukan identifikasi faktor-faktor yang
berhubungan dengan peningkatan kasus abortus menjadi hal yang penting dalam upaya
untuk mengurangi kasus abortus. Abortus dipengaruhi oleh usia ibu dan sejumlah faktor
yang terkait dengan kehamilan, termasuk riwayat jumlah persalinan sebelumnya, jumlah
abortus yang terjadi sebelumnya, apakah pernah terjadi lahir mati (stillbirth). Selain itu,
risiko ini dipengaruhi juga oleh ada atau tidaknya fasilitas kesehatan yang mampu
memberikan pelayanan maternal yang memadai, kemiskinan, keterbelakangan dan sikap
kurang peduli, sehingga dapat menambah angka kejadian abortus (abortus tidak aman).
Komplikasi medis dari ibu juga dapat mempengaruhi angka abortus spontan.
Menurut WHO diperoleh angka abortus spontan (15-20 per 100 kehamilan),
dan menyimpulkan bahwa kira-kira separuh dari abortus tersebut adalah provokatus.
Pada sebuah penelitian diperoleh bahwa abortus buatan terjadi kira-kira 40% dari seluruh
abortus, meskipun angka tersebut sebenarnya bervariasi.
Berdasarkan uraian diatas dan adanya keterbatasan waktu penelitian, serta
mengingat sumber data yang digunakan adalah data rekam medik, maka variabel yang
diteliti dibatasi pada klasifikasi abortus, faktor yang berhubungan dengan abortus berupa
usia ibu, paritas, usia kehamilan, dan riwayat abortus ibu.

B. Kerangka Konsep

Bagan 1. Kerangka Konsep Tanggapan Individu yang Pernah Melakukan Tindakan Abortus
Provokatus Di Sekitar Ibukota Negeri Sarawak, Malaysia.

Nn. SN, yang merupakan seorang mahasiswa S1- Bachelor


of Quantity Surveying di salah sebuah universitas di
German. Nn. SN lahir di Sibu, Sarawak pada tanggal 24
Februari 1986. Beliau Beliau pernah melakukan tindakan
abortus provocatus di sebuah klinik di ibukota Negeri
Sarawak.

Usia Ibu

Usia Kehamilan
Karaketristik
Individu
bersangkutan
Riwayat Abortus

Pengalaman
Tanggapan
Individu
yang Pernah
Melakukan
Tindakan
Abortus
Provokatus

Tingkat
Pengetahuan
dan Informasi

Status
Perkahwinan

Pekerjaan

Penyakit penyerta

Harapan dan
Saran

C. Definisi Operasional
Berdasarkan kerangka konsep yang telah dikemukakan, dapat disusun definisi
operasional. Definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Klasifikasi abortus
a. Definisi

: Klasifikasi abortus yang merupakan diagnosa akhir yang dibuat

oleh dokter yang tercatat dalam rekam medik pasien


b. Alat ukur

: Rekam medik

c. Cara ukur

: Mencatat klasifikasi abortus dari rekam medik

d. Hasil ukur

1) Abortus spontan
a) Abortus imminens
b) Abortus komplit
c) Abortus inkomplit
d) Abortus insipiens
e) Abortus septik
f) Abortus habitualis
g) Missed abortion
2) Abortus provokatus
a) Abortus provokatus medisinalis
b) Abortus provokatus kriminalis

2. Usia ibu
a. Definisi

: Lama hidup ibu / pasien sejak lahir hingga masuk rumah sakit

dan dinyatakan dalam satuan tahun


b. Alat ukur

: Rekam medik

c. Cara ukur

: Mencatat usia ibu dari rekam medik ibu

d. Hasil ukur

:Berupa data numerik yaitu usia ibu yang tertera di rekam medik

3. Paritas
a. Definisi

: Jumlah hasil konsepsi tanpa memperhatikan hasil konsepsi tersebut

hidup atau mati yang pernah dialami ibu sesuai diagnosa dokter yang tercatat
dalam rekam medik ibu hamil.
b. Alat ukur

: Rekam medik

c. Cara ukur

: Mencatat paritas dari rekam medik pasien

d. Hasil ukur

: Berupa data numerik yaitu paritas yang tertera di rekam medik

4. Usia kehamilan
a. Definisi

: Usia yang dihitung sejak hari pertama haid terakhir sampai

terjadinya abortus dan dinyatakan dalam satuan minggu.


b. Alat ukur

: Rekam medik

c. Cara ukur

: Mencatat usia kehamilan dari rekam medik pasien

d. Hasil ukur

: Berupa data numerik yaitu usia kehamilan yang tertera di rekam

medik

5. Riwayat abortus
a. Definisi

: Jumlah abortus atau keguguran yang dialami oleh ibu sebelum

kehamilan sekarang yang terdapat dalam rekam medik ibu.


b. Alat ukur

: Rekam medik

c. Cara ukur

: Mencatat riwayat abortus dari rekam medik pasien

d. Hasil ukur

: Berupa data numerik yaitu riwayat abortus yang tertera di

rekam medic

6. Status Perkahwinan
a. Definisi

: Status individu yang melakukan abortus apakah telah menikah

atau belum, janda atau balu.


b. Alat ukur

: Rekam medik

c. Cara ukur

: Mencatat status perkahwinan dari rekam medik pasien

d. Hasil ukur

: Berupa data bertulis yaitu status perkahwinan yang tertera di

rekam medik

7. Pekerjaan
a. Definisi

: Kegiatan sehari-hari individu yang melakukan abortus

provokatus ini
b. Alat ukur

: Rekam medik

c. Cara ukur

: Mencatat riwayat pekerjaan dari rekam medik pasien

d. Hasil ukur

: Berupa data bertulis yaitu riwayat pekerjaan yang tertera di

rekam medik

8. Riwayat penyakit penyerta


a. Definisi

: Apakah individu ini ada menderita penyakit lain atau tidak

b. Alat ukur

: Rekam medik

c. Cara ukur

: Mencatat riwayat penyakit penyerta dari rekam medik pasien

d. Hasil ukur

: Berupa data bertulis yaitu riwayat penyakit penyerta yang

tertera di rekam medik

BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah mencoba menelusuri dan mengetahui lebih jauh mengenai
tanggapan individu

mengenai tindakan abortus provocatus di sekitar

ibu kota

Malaysia. Agar fokus penelitian tercapai, maka penelitian ini dilakukan dengan
pendekatan deskriptif kualitatif. Menurut Damadi, pendekatan kualitatif adalah satu
proses penelitian yang bergerak dari isu, tidak menguji teori, tetapi menemukan teori,
adanya key informan, dimana penelitian sebagai instrumen utama. Sumarto (2012)
juga mengemukakan bahwa penelitian kualitatif mengkaji perspektif partisipan
dengan multi strategi, yaitu strategi interaktif seperti observasi langsung, observasi
partisipatif, wawancara mendalam, dokumen, teknik pelengkapan seperti foto,
rekaman dll.

B. LANGKAH DAN PROSES PENELITIAN


1. Persiapan
Persiapan meliputi menyusun penelitian, mengurus perizinan, menjajangi dan menilai
keaadan, memilih informan, menyiapkan instrumen penelitian. Kemudian melakukan
wawancara awal dengan satu subjek penelitian.
Menentukan fokus penelitian. Peneliti merumuskan fokus penelitian setelah melakukan
wawancara awal. Dengan adanya fokus penelitian, peneliti akan lebih terarah dan mudah
membuat laporan hasil penelitian. Merumuskan asumsi atau anggapan sementara yang
pada akhir penelitian akan dinilai kesesuaiannya dengan hasil penelitian.

2. Pelaksanaan
Mengumpulkan data dengan cara melakukan wawancara mendalam ( indepth interview )
dengan beberapa responden, sesuai dengan metode penelitian. Terlebih dahulu subjek
dijelaskan tentang tujuan penelitian dimana diminta kesediaannya untuk diwawancarai,
kemudian mencari waktu dan tempat yang tepat untuk melakukan wawancara. Setelah
melakukan pengumpulan data, peneliti kemudian menganalisis data tersebut untuk
dijadikan laporan pada akhir penelitian dan disusun secara sistematis untuk
memudahkan tahap penulisan laporan penelitian.
3. Penyusunan laporan
Penulisan laporan menyajikan informasi sari semua rangkaian kegiatan pengumpulan
data yang diperoleh di lapangan, seperti catatan hasil wawancara dan rekaman yang
kemudian digambarkan atau dideskripsikan ke dalam tulisan. Setelah itu dilakukan
konsultasi dengan hasil penelitian.

C. METODE PENGUMPULAN DATA


Sesuai dengan bentuk pendekatan penelitian kualitatif dan sumber data yang akan
digunakan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara. Wawancara
adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab,
sambil bertatap muka antara penanya dan penjawab. Penggunaan metode wawancara dalam
penelitian ini karena topik penelitian ini bersifat subjektif dan individual. Selain itu,
diharapkan terdapat kebebasan masyarakat dalam memberi pendapat atau persepsi pada
subjek penelitian yang akan direkam dengan alat perekam, serta dicatat dengan alat tulis dan
kertas.

Wawancara dilakukan dalam dua bentuk, yaitu wawancara terstruktur yang dilakukan
melalui pertanyaan yang telah disiapkan sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti.
Sedang wawancara tak terstruktur dilakukan pabila adanya jawaban berkembang diluar
pertanyaan terstruktur namun tidak terlepas dari permasalahan penelitian.Damadi (2011).
Wawancara ini dilakukan pada individu yang diketahui pernah melakukan tindakan
abortus. Jumlah dan lama wawancara disesuaikan kondisi dan subjek penelitian. Pada teknik
wawancara ini, peneliti menggunakan wawancara dengan pertanyaan terbuka dan tertutup.
Untuk menjamin jawaban responden mendekati nilai validitas dan rehabilitas dilakukan upaya
berupa:
1. kerahasiaan identitas dengan tidak menggunakan nama lengkap dan
alamat subjek penelitian
2. memberikan waktu yang cukup untuk menjawab dengan jelas setiap
pertanyaan
3. Menciptakan suasana yang aman agar dapat kerjasama yang baik

D. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN


Tempat penelitian ini dilakukan di beberapa lokasi yang terletak di sekitar ibu kota
Malaysia. Waktu penelitian yaitu pada tanggal 06-16 Juni 2014.
E. PEMILIHAN INFORMAN
Informan yang dipilih dalam penilitian ini terdiri dari:
Individu yang diketahui pernah melakukan tindakan abortus provokatus di sekitar ibu
kota Negeri Sarawak, Malaysia.

F. CARA PENGOLAHAN DATA


Pengolahan data dilakukan secara manual dengan mengelompokkan hasil wawancara
sesuai tujuan penelitian dan selanjutnya dilakukan analisis isi (content analysis) untuk
selanjutnya diinterpretasikan kemudian disajikan dalam bentuk naskah.

G. ETIKA PENELITIAN
1. Menyertakan surat pengantar yang ditujukan kepada Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin sebagai permohonan izin untuk melakukan penelitian.
2. Subyek penelitian memberikan persetujuan secara lisan untuk dijadikan subyek dalam
penelitian.
3. Berusaha untuk menjaga kerahasiaan identitas subyek penelitian yang terdapat pada
hasil wawancara yang diperoleh, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan atas
penelitian yang dilakukan.
4. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak yang
terkait.

BAB V
HASIL WAWANCARA

Narasumber yang saya wawancarai adalah Nn. SN, yang merupakan seorang mahasiswa S1Bachelor of Quantity Surveying di salah sebuah universitas di German. Nn. SN lahir di Sibu, Sarawak
pada tanggal 24 Februari 1986. Beliau Beliau pernah melakukan tindakan abortus provocatus di
sebuah klinik di ibukota Negari Sarawak, Malaysia. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah petikan
wawancara kami.
Peneliti : Assalamualaikum, kamek hafizah. Kawan yang kitak tanyak dolok?
Nn. SN : Waalaikumussalam. Oh aok, kawan Lynn nak?
Peneliti :Boleh sik kamek tanyak sikit pasal kitak hari ya?
Nn. SN : Erm.. mun kamek dapat jawab, mek jawablah..
Peneliti : Iboh bingung.. kamek mok tanyak untuk mek mpun penelitian jak.. kamek sikkan engkah
nama mena kitak, dan kamek sikkan cerita ngan urang lain. Kamek rahsiakan, in shaa allah. Tapi
mun kitak sikmok jawab dolok, padah jak k.
Nn. Sn : Ok, kamek coba. Kitak mok tanyak apa?
Peneliti : ok, kamek mula ah. Mula-mula, boleh kamek tauk, apa yang kitak faham dan rasa apa yang
kamek mok tanyak?
Nn. SN : Kitak nak tanyak pasal mek gugurkan anak nak?
Peneliti : Ok, kamek mintak maaf sebab ungkit benda tok balit. Emm, boleh mek tauk apa rasa kitak
waktu kitak decide nak gugurkan baby ya?
Nn. SN : Hmm.. sapa sik sayang anak. Kamek mun ekot hati sikda mek mok buangnya. Tapi, kitak
pun tauk condition kamek nak. Kamek sikda laki, kamek gik masih blajar. Mak bapak kamek sik tauk
pasal tok. Gerek kamek waktu ya sekda rah Malaysia. Parents mek rah German. Camnelah. Tok kali
pertama kamek molah keja macam tok.
Peneliti : Oh.. boleh kitak cerita sikit camne doctor ya setuju nak gugurkan?
Nn. SN : Yes, mula-mula doctor ya tanyak lah kamek, dah kawen atau belum, bila period mek
terakhir, nya terangkan ngan kamek bagus ngan sik bagus menggugurkan anak tok..then kamek was-

was juak. Tapi kamek sikda choice. Pasya doctor ya padah kamek kenak polah USG dolok. Kamek
setuju, sebab kamek mok cepat-cepat get rid the baby.
Peneliti : So, doctor ya USG dolok la? Apa resultnya?
Nn. SN : im having a one and a half month pregnancy.
Peneliti : Sebelum ya, kitak pernah check kat sine-sine kah?
Nn. SN : pergi klinik siklah, tapi mek pake pregnancy kit ya jaklah. Lagikpun, kamek pun period
regular tiap bulan, jadi bila terlambat im expecting something.
Peneliti : Kitak sik takut?
Nn. SN : Sapa madah sik takut. Cuak kamek. Tapi salah kamek juak, hidup ekot cara urang sitok.
Hmm. Mun lah kamek dapat ulang waktu tok.. sik mek mok. Aok, kamek tauk bahaya molah nak
macam ya. Tapi kamek sikda pilihan. Kamek terpaksa molah ya. Kamek tauk mun gugurkan anak,
kamek berdosa dengan Allah. Kamek tauk juak, lepas molah tok ada kebarangkalian kamek xpat
mengandung gik. Doktor pun ada juak padah ngan kamek, ada risiko kamek untuk kenak jangkitan
kuman.Kamek pun dah nangga rah internet and buku-buku juak apa yang mek boleh kenak lepas
gugurkan baby tok.Kamek ada juak tanyak-tanyak urang yang tauk pasal benda-benda tok.
Peneliti : emm.. by the way, camne kitak tauk klinik ya boleh and maok gugurkan?
Nn. SN : Kamek just try, and Alhamdulillah doctor ya maok. Tapi kamek padah reason kamek, sebab
kamek lom ready nak ada baby tok and family suma jauh.
Peneliti : Doktor ya terus setuju pasya?
Nn. SN : Nya just padahlah ngan kamek pros n cons, then suruh mek balit dolok and pikey menamena. Isoknya kamek datang lagik, and tandatangan surat persetujuan. Kamek xpikey pun sebab
kamek nang maok.
Peneliti : Pasya camne doctor ya?
Nn. SN : Nya berik mek ubat, soh mek makan. Then isok cmya, mek datang lagik, baruk nya cuci.
Peneliti : Cuci? Cuci cmne?
Nn. SN : Cuci lah, tapi kamek xtauk cmne.. nya berik mek ubat tahan sakit, n mek rasa nya masok
sesuatu rah dalam mek pun ya, dalam setengah jam, nya padah dah siap. Then mek balit rah bilitnya,
then nya padah nya berik ubat tahan sakit and antibiotik. Takut ada infection.
Peneliti : Kitak ingat apa nama ubat ya?

Nn. SN : Sik mek ingat. Nya da sebut macam lol jak kat belakang.
Peneliti : ohh, Mistoprolol kah? Apa gik dipadah doctor ya?
Nn. SN : haa, kali juak. Nya padah mungkin kelak akan rasa sakit sikit, or waktu kemih mungkin ada
darah, tapi ya normal jak.
Peneliti : Balit dari sia, apa rasa kitak?
Nn. SN : Mek nangis sik berenti. Bayangkan kitak, sekda urang pun tauk pasal benda tok. Lynn jak
tauk, tapi ney lah nya nak pegi sitok. Kamek sekpat gi sine-sine. Sebab mek sedih gilak-gilak. Pernah
malam mek mimpi baby, mek nangis. Gerek mek pun sekpat datang sitok. Nasib juak time ya cuti, so
sekda class. Kamek just stay in my room. Doing nothing. Makan minum sukati jak. Kejap tido kejap
bangun, dah kedak zombie.
Peneliti : Kitak tauk sik apa bad-effect molah benda tok sebenarnya?
Nn. SN : Tauk mek, ada doctor madah. Mek boleh sakit, mek boleh kenak jangkitan dan yang paling
terok, kamek boleh sikpat beranak gik. Huhu
Peneliti : So kinek tok apa yang kitak rasa? Maksud kamek apa yang kitak dapat dari benda tok?
Nn. SN : kamek nyesal senyesal-nyesalnya, mun waktu dapat diputar balit, mok kamek elak benda tok
jadi. Mek mok jaga dirik kamek mena-mena.
Peneliti : Alhamdulilllah lah mun giya. So, apa harapan kitak kat generasi baru tok? Berdasarkan
pengalaman sendiri?
Nn. SN : Mek berdoa semoga sikda urang akan ulang kesilapan kamek. Bukan nyaman, rasa takut
sentiasa, rasa bersalah sentiasa, rasa berat sebab tapok benda yang kita tauk nang urang akan blame
kita. Kadang bila ingat balit, nangis sik berenti, hati sakit jak-jak. Sekpat dibayang. Hmm . ingat
urang yang kita sayang, mun nak polah nak pelik-pelik, ingat mak bapak. Bayangkan muka sidak,
kompom pasya sik jadi nak molah.
Peneliti : Okay, terimak kasih ah. Jangan bingung, rahsia kitak mek akan jaga. Terimak kasih banyak.
Nn. SN : Okay, terimak kasih juak sebab cuba untuk paham kamek.

BAB VI
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini memberikan gambaran mengenai hasil penelitian yang ditemukan dalam penelitian
yang telah dilakukan. Pemaparan akan dimulai mengenai deskripsi hasil penelitian, analisis hasil
penelitian, pembahasan teoritis mengenai tindakan abortus provokatus yang dilakukan, serta
keterbatasan penelitian.

A. Deskripsi hasil penelitian


A.1. Identitas Subjek Penelitian
Identitas subjek penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Nama

Jenis Kelamin

Umur

Status

Pendidikan

Pekerjaan

Belum

S1

Mahasiswa

(Thn)

SN

Perempuan

28

Menikah

A.2. Deskripsi Hasil Penelitian


Pada bagian ini, akan dideskripsikan data hasil penelitian yang berhubungan dengan
tanggapan dan karakteristik individu yang pernah melakukan abortus provokatus di sekitar ibukota
Sarawak, Malaysia. Proses pendeskripsian data dilakukan dengan cara memilih atau menentukan data
hasil wawancara yang memiliki relevansi dengan aspek tanggapan dan karakteristik individu yang
pernah melakukan abortus provokatus itu sendiri. Di mana aspek dari tanggapan dan karakteristik
individu ini yang dimaksud adalah pengalaman individu, pengetahuan dan informasi, harapan dan
saran. Selain memberikan deskripsi mengenai tanggapan pasien terhadap tindakan abortus provokatus,
pada bagian ini juga akan dideskripsikan mengenai karakteristik individu yang melakukan tindakan
tersebut.
a. Karakteristik subjek
Narasumber yang saya wawancarai adalah Nn. SN, yang merupakan seorang mahasiswa S1Bachelor of Quantity Surveying di salah sebuah universitas di German. Nn. SN lahir di Sibu,

Sarawak pada tanggal 24 Februari 1986. Beliau pernah melakukan tindakan abortus
provocatus di sebuah klinik di sekitar ibukota Negeri Sarawak, Malaysia..

b. Pengalaman individu
Pada bagian ini akan dideskripsikan data-data yang berhubungan dengan pengalaman
individu yang melakukan tindakan abortus tersebut. Narasumber yang diwawancara (Nn. SN)
memberitahu bahawa tindakan ini merupakan yang pertama kali seumur hidupnya.
Nn. SN berbagi pengalamannya sewaktu melakukan tindakan tersebut, dimulai dengan
perjumpaan dengan dokter yang bertanggungjawab. Awalnya, dokter tersebut meminta Nn.
SN untuk mengikuti sesi kaunseling supaya Nn. SN lebih rasional untuk membuat keputusan,
apakah mau meneruskan tindakan tersebut. Tiga hari setelah sesi kaunseling tersebut, Nn. SN
datang lagi ke klinik tersebut, dan menyatakan kesanggupannya untuk melakukan tindakan
aborsi tersebut. Nn. SN diminta untuk menandatangani satu formulir persetujuan tindakan
tersebut.
Dokter tersebut kemudiannya memberi obat untuk menggugurkan janin Nn. SN.
Dokter memberitahu efek samping dan resiko memakan pil tersebut. Setelah 2-3 hari makan
obat tersebut, Nn. SN diminta untuk datang ke klinik sekali lagi untuk melakukan proses
kuretasi, untuk memastikan tiada sisa janin di uterus Nn. SN. Melalui proses itu sekitar hampir
30 menit, dengan anestesi lokal, Nn. SN kemudian kembali ke ruang konsultasi. Dokter
tersebut meresepkan antibiotik dan obat tahan sakit kepada Nn. SN. Dokter juga memberitahu
bahwa setelah ini pendarahan yang banyak akan berkurang, dan segalanya akan kembali
normal setelah dua minggu.

c. Pengetahuan dan informasi


Pada bagian ini akan dideskripsikan data-data yang berhubungan dengan informasi
dan pengetahuan pasien tentang tindakan abortus provokatus. Dari metode memperoleh
informasi merujuk kepada pasien mendapatkan maklumat dari media massa, pencerahan dari
pusat kesehatan atau dari rukun tetangga.
Disini SN menyatakan bahwa dia mengetahui dan faham tentang tindakan abortus
provokatus dan kesan samping serta bahayanya melakukan tindakan tersebut.
Aok, kamek tauk bahaya molah nak macam ya. Tapi kamek sikda pilihan. Kamek
terpaksa molah ya. Kamek tauk mun gugurkan anak, kamek berdosa dengan Allah. Kamek
tauk juak, lepas molah tok ada kebarangkalian kamek xpat mengandung gik. Doktor pun ada
juak padah ngan kamek, ada risiko kamek untuk kenak jangkitan kuman.Kamek pun dah
nangga rah internet and buku-buku juak apa yang mek boleh kenak lepas gugurkan baby
tok.Kamek ada juak tanyak-tanyak urang yang tauk pasal benda-benda tok.

Nn. SN mengerti bahwa ada resiko besar yang bakal dihadapi oleh beliau, seperti
terpapar dengan jangkitan kuman atau resiko untuk tidak bisa hamil lagi. Nn SN juga
menunjukkan bahwa dia mendapatkan informasi tentang tindakan abortus itu melalui
sosialisasi dengan orang-orang yang arif tentang perkara tersebut, dari media massa dan dari
buku-buku yang berkenaan dengan tindakan abortus ini.

d. Harapan dan Saran


Dalam aspek ini akan mendeskripsikan harapan dan saran yang dinyatakan oleh Nn.
SN pada generasi akan datang.
Mek berdoa semoga sikda urang akan ulang kesilapan kamek. Bukan nyaman, rasa
takut sentiasa, rasa bersalah sentiasa, rasa berat sebab tapok benda yang kita tauk nang
urang akan blame kita. Kadang bila ingat balit, nangis sik berenti, hati sakit jak-jak. Sekpat
dibayang. Hmm . ingat urang yang kita sayang, mun nak polah nak pelik-pelik, ingat mak
bapak. Bayangkan muka sidak, kompom pasya sik jadi nak molah.

Nn. SN menyatakan harapannya agar generasi yang akan datang tidak mengulangi
kesilapan yang telah beliau lakukan, kerna tidak mudah untuk melalui detik ini, dimana
perasaan takut, rasa bersalah, berahsia sentiasa bermain di minda orang yang melakukan
tindakan ini. Individu ini juga mungkin akan mengalami gangguan perasaan yang sangat
hebat, seperti depresi yang berterusan atau dihantui dengan perasaan bersalah terhadap janin
yang digugurkan atau orang sekeliling.

B. Analisis Data Hasil Penelitian


Data yang telah dideskripsikan kemudian dianalisis untuk memperlihatkan secara
sistematis tanggapan dan karakteristik individu yang telah melakukan tindakan abortus
provokatus ini. Analisis yang dilakukan juga adalah untuk menemukan apakah individu ini
merasa semua aspek yang dipersoalkan sesuai dengan apa yang telah disosialisasikan oleh
pemerintah. Analisis data dilakukan dengan cara mencermati dan menelaah data yang telah
disusun sebelumnya. Semua hasil analisis data yang telah disebutkan akan dipaparkan secara
menyeluruh pada bagian ini.
Menurut

Nn. SN,

pengalaman melakukan tindakan ini merupakan salah satu

pengalaman terburuk dalam sejarah hidupnya. Ini adalah kerana pada beliau, kesempitan
waktu dan ruang lingkup yang beliau jalani sendiri sangat mempengaruhi hidup beliau
terutama pada aspek perasaan. Proses sebelum tindakan tersebut dilakukan juga memaksa

subjek untuk berfikir secara dewasa dan pada waktu ini terbit perasaan sesal terhadap apa
yang dilakukan sebelumnya. Walaubagaimanapun, subjek tetap memuji tindakan kedokteran
yang telah diaplikasikan oleh dokter tersebut, dimana beliau tetap menjalankan tatatertib
seorang dokter yang benar. Dokter tersebut tetap memikirkan berkenaan dengan resiko yang
bakal dihadapi oleh Nn. SN walaupun beliau bisa saja langsung melakukan tindakan
tersebut, tanpa mengira keadaan Nn. SN. Dokter tersebut tetap memberi ruang waktu untuk
Nn. SN berpikir secara rasional mengenai tindakan yang bakal dilakukan olehnya.
Daalam aspek tingkat pengetahuan dan informasi pula, Nn. SN sudah mempersiapkan
dirinya untuk lebih tahu secara mendalam mengenai tindakan abortus ini. Nn SN menggali
maklumat sedalamnya lewat media massa, buku atau bertanya pada golongan yang arif
mengenai tindakan ini. Nn. SN mencari maklumat mengenai resiko dan efek samping pada
tindakan ini, cara tindakan yang bakal dilakukan dan cara penerimaan yang harus beliau
sendiri aplikasikan sebelum dan sesudah tindakan ini dilakukan.
Pada aspek harapan dan saran pula, menurut Nn SN, sekiranya bisa, dia mengharapkan
agar generasi yang akan datang terutama mahasiswa yang mengikuti kuliah jauh dari orang
tua, supaya lebih berhati-hati untuk melakukan sebarang tindakan yang bertentangan dengan
moral. Nn. SN juga mengingatkan di mana dugaan yang sangat besar bakal dihadapi oleh
seseorang individu itu sekiranya mereka memilih untuk melakukan tindakan abortus
provokatus ini. Individu ini haruslah bersedia dari segi mental dan fizikal.
Demikian nn. SN menggambarkan tanggapan beliau mengenai tindakan abortus
provokatus yang mana beliau sendiri sudah pernah melakukannya, namun berharap bahwa
generasi seterusnya secara umumnya, agar sentiasa berpikir secara rasional tentang setiap
tindakan yang bakal dilakukan dan jauhilah perkara-perkara yang bisa merosakkan moral
sebagai seorang mahasiswa, khususnya.

Bagan 2. Kerangka Konsep Tanggapan Individu yang Pernah Melakukan Tindakan Abortus
Provokatus Di Sekitar Ibukota Negeri Sarawak, Malaysia.

Nn. SN, yang merupakan seorang mahasiswa S1Bachelor of Quantity Surveying di salah sebuah
universitas di German. Nn. SN lahir di Sibu, Sarawak
pada tanggal 24 Februari 1986. Beliau Beliau pernah
melakukan tindakan abortus provocatus di sebuah
klinik di sekitar ibukota Negeri Sarawak.
Usia Ibu
(28 tahun)
Usia Kehamilan

Karaketristik
Individu
bersangkutan

(I.5 bulan)
Riwayat Abortus
(Pertama kali)
Status Perkahwinan
(Belum menikah)
Pekerjaan
(Mahasiswa)
Riwayat Penyakit
Penyerta
(Tidak ada)

Tanggapan
Individu yang
Pernah
Melakukan
Tindakan
Abortus
Provokatus

Pengalaman

Menurut Nn. SN, pengalaman melakukan tindakan ini


merupakan salah satu pengalaman terburuk dalam sejarah
hidupnya. Ini adalah kerana pada beliau, kesempitan waktu
dan ruang lingkup yang beliau jalani sendiri sangat
mempengaruhi hidup beliau terutama pada aspek
perasaan. Proses sebelum tindakan tersebut dilakukan juga
memaksa subjek untuk berfikir secara dewasa dan pada
waktu ini terbit perasaan sesal terhadap apa yang
dilakukan sebelumnya.

Tingkat
Pengetahuan
dan Informasi

Aok, kamek tauk bahaya molah nak macam ya. Tapi kamek
sikda pilihan. Kamek terpaksa molah ya. Kamek tauk mun
gugurkan anak, kamek berdosa dengan Allah. Kamek tauk
juak, lepas molah tok ada kebarangkalian kamek xpat
mengandung gik. Doktor pun ada juak padah ngan kamek,
ada risiko kamek untuk kenak jangkitan kuman.Kamek pun
dah nangga rah internet and buku-buku juak apa yang mek
boleh kenak lepas gugurkan baby tok.Kamek ada juak
tanyak-tanyak urang yang tauk pasal benda-benda tok..

Harapan dan
Saran

Mek berdoa semoga sikda urang akan ulang kesilapan


kamek. Bukan nyaman, rasa takut sentiasa, rasa bersalah
sentiasa, rasa berat sebab tapok benda yang kita tauk nang
urang akan blame kita. Kadang bila ingat balit, nangis sik
berenti, hati sakit jak-jak. Sekpat dibayang. Hmm . ingat
urang yang kita sayang, mun nak polah nak pelik-pelik, ingat
mak bapak. Bayangkan muka sidak, kompom pasya sik jadi
nak molah.

C. Pembahasan
Pada bagian ini, temuan penelitian akan dibahas menggunakan teori-teori dan fakta-fakta di
luar penelitian ini yang relevan. Meski demikian pendapat peneliti juga tidak dapat dilepaskan ketika
melakukan hal tersebut. Kombinasi antara teori-teori, fakta-fakta di luar penelitian ini, dan pendapatpendapat peneliti akan memperkaya kedimensian pembahasan penelitian itu sendiri.
Pembahasan seputar mengenai tanggapan individu yang pernah melakukan tindakan abortus
provokatus tentang tindakan ini menurut beberapa aspek pokok dari sistem pelaksanaannya dari
penelitian ini, yaitu : 1) Karakteristik individu yang bersangkutan, 2) Aspek pengalaman individu ini
melakukan tindakan abortus provokatus, 3)Aspek tingkat pengetahuan dan informasi, 4) Harapan dan
Saran. Keempat aspek ini akan mengungkapkan bagaimana karakteristik dan tanggapan individu yang
pernah melakukan tindakan abortus provokatus terhadap tindakan ini. Tentunya setiap apa yang
dijelaskan oleh subjek merupakan suatu yang benar kerna merupakan pengalaman yang beliau sendiri
telah lewati.
Hasil penelitian ini menunjukkan deskripsi aspek tanggapan individu yang pernah melakukan
tindakan abortus provokatus tentang tindakan ini secara keseluruhan.
Menurut perspektif hukum pemerintah di Malaysia, Kanun Keseksaan Malaysia tidak
menerangkan secara jelas akan definisi aborsi. Seksyen 312 dan 313 Kanun Keseksaan hanya
menggunakan istilah keguguran bagi maksud aborsi yang dilarang. Namun begitu, dalam
kebanyakan keputusan kes mahkamah menunjukkan bahwa jenis kesalahan di bawah seksyen 312 dan
313, adalah perbuatan menggugurkan bayi secara rangsangan seperti mana yang dirujuk sebagai
perbuatan pengguguran menurut istilah bahasa.
Dari aspek tingkat pengetahuan dan informasi, juga dinilai sebagai hal penting karena dapat
mempengaruhi proses penerimaan yang baik jika sosialisasi yang disalurkan adalah jelas dan sampai
kepada pengetahuan masyarakat dengan benar. Dalam aspek ini, Nn. SN sudah mempersiapkan
dirinya untuk lebih tahu secara mendalam mengenai tindakan abortus ini. Nn SN menggali maklumat
sedalamnya lewat media massa, buku atau bertanya pada golongan yang arif mengenai tindakan ini.
Nn. SN mencari maklumat mengenai resiko dan efek samping pada tindakan ini, cara tindakan yang
bakal dilakukan dan cara penerimaan yang harus beliau sendiri aplikasikan sebelum dan sesudah
tindakan ini dilakukan.
Pada aspek harapan dan saran pula, menurut Nn SN, sekiranya bisa, dia mengharapkan agar
generasi yang akan datang terutama mahasiswa yang mengikuti kuliah jauh dari orang tua, supaya
lebih berhati-hati untuk melakukan sebarang tindakan yang bertentangan dengan moral. Nn. SN juga
mengingatkan di mana dugaan yang sangat besar bakal dihadapi oleh seseorang individu itu sekiranya

mereka memilih untuk melakukan tindakan abortus provokatus ini. Individu ini haruslah bersedia dari
segi mental dan fizikal.
Maka dari pembahasan yang didapatkan dari hasil data analisis deskriptif, wujudlah harapan
dan saran yang mempengaruhi atau memberi kesan kepada orang sekeliling tentang tindakan abortus
provokatus ini.

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Aspek karakteristik, subjek merupakan seorang mahasiswa perempuan, berkelulusan
S1, berusia 28 tahun dan belum menikah. Dari sudut latar belakang, subjek merupakan
individu yang mempunyai kesenangan dan keperluan hidup yang cukup. Tetapi oleh
kerna subjek dibesarkan di negara barat, subjek terpapar dengan perilaku yang
bertentangan dengan cara hidup dan budaya timur.
2. Aspek Pengalaman Individu, subjek memberitahu bahwa beliau sangat menyesal
melakukan sesuatu yang menyebabkan beliau terpaksa melakukan aborsi. Ini
merupakan pengalaman terburuk yang beliau harus lalui sepanjang 28 tahun hidup di
muka bumi.
3. Aspek Tingkat Pengetahuan dan Informasi, menunjukkan data deskripsi berhubung
tanggapan dan pemahaman individu ini terhadap tindakan aborsi adalah sangat luas.
Subjek menggambarkan bahwa beliau mengerti akan kesalahan yang beliau lakukan,
dan resiko yang bakal beliau hadapi sebelum melakukan tindakan ini. Beliau telah
mula mencari dan menggali informasi yang bersangkutan dengan tindakan abortus
untuk mempersiapkan diri beliau untuk menghadapi hari mendatang.
4. Harapan dan Saran (Persepsi pasien secara keseluruhan),

subjek mengharapkan

generasi akan datang tidak akan melakukan sesuatu tindakan yang akan memalukan
diri dan keluarga, seterusnya melakukan aborsi karena dugaan yang dihadapi sebelum
dan sesudah melakukan aborsi bukanlah merupakan suatu yang kecil, malah sangat
sulit walau untuk diluahkan dengan kalimah.

B. Saran
1. Kepada subjek penelitian agar dapat meneruskan kehidupan seperti sebelumnya,
malah berhijrah ke arah kebaikan. Sehingga akhirnya dapat membantu dalam proses
peningkatan dan penambahbaikan kualitas hidup beliau dan keluarga beliau. Karena
seperti yang kita ketahui, proses ini sangat membutuhkan waktu yang sangat panjang
dan dukungan moral dari ahli keluarga serta teman-teman.
2. Kepada peneliti, hendaknya belajar untuk menggali lebih jauh lagi mendalami ilmu
ketika menggunakan teknik indepth interview pada penelitian kualitatif.
3. Kepada pemerintah ataupun institusi kesehatan, agar mampu mengambil informasi
dari penelitian ini sebagai bahan pertimbangan untuk turut memperbaiki dan
meningkatkan kualitas aspek pencegahan aktiviti tidak bermoral dan khususnya
tindakan aborsi, di puskesmas ataupun di mana-mana pusat kesehatan untuk
kesejateraan dan keamanan rakyat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Azwan, A. Kematian Selepas Kelahiran. Update Oktober 2013. Available from:


http://drazwan.blogspot.com/2007/12/kematian-selepas-melahirkan-anak.html
(diakses pada tanggal 28 Mei 2013)
2. Azhari. 2002. Masalah Abortus dan Kesehatan Reprodusi Perempuan. Palembang :
Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNSRI.
3.

Weber J. David, Dolan S. Mary. 2004. Diagnosis and Management, Obtetric &
Ginekology Emergencies. Edition 1.

4. Norhapizah M.B, Norzie D.B., Musramaini M., Hilmi A.R., Mei 2011. Seks Bebas :
Persepsi Dl Kalangan Mahasiswa Ipta/Ipts Dl Pahang. Malaysia: Institut Pengurusan
Penyelidikan, Universiti Teknologi Mara, Shah Alam, Selangor, Malaysia
5. Fakhrullah M., Pengguguran Dan Pembuangan Bayi Menurut Perspektif Islam Dan
Perundangan
Islam.
Update
Mei
2013.
Available
from:
http://langitpenulis21.blogspot.com/2013/05/pengguguran-dan-pembuangan-bayimenurut_3.html (diakses pada tanggal 28 Mei 2013)
6. Tjiong, R. 2010. Penyebab Utama AKI di Indonesia adalah Pendarahan dan Infeksi serta
Aborsi. Jakarta : Women Research Institute
7. Sastrawinata, S., Martaadisoebrata, D., and Wirakusumah, F.F., 2005. Obstetri Patologi
Ilmu Kesehatan Reproduksi. 2nd ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
8. Pritchard, M. 2005. Obstetri Williams Edisi 17. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC
9. Prawirohardjo, S. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Penerbit Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
10. Mochtar, R., 1998. Abortus dan Kelainan dalam Tua Kehamilan. Dalam : Lutan, D., ed.
Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi. 2nd ed. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
11. Winkjosasto, H. 1997. Ilmu Kebidanan Edisi III. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
12. Chalik, TM. 1998. Hemoragik Utama Obstetri dan Ginekologi. Widya Kencana
13. Griebel, C.P., Halvorsen, J., Golemon, T.B., and Day, A.A., 2005. Management of
Spontaneous Abortion. American Family Physician.

14. Wong, SH. 2012. Prevalensi Abortus di RSUP. Haji Adam Malik Medan pada Tahun
2010. Medan : Universitas Sumatera Utara.
15. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Gilstrap LC, Wenstorm KD. 2005.
Obstetri Williams, 21st ed, Eds, Profitasari, Huriawati Hartanto, Y Joko Suyono, Daulika
Yusna, Ayleen Alicia Kosasih, John Prawira, Rini Cendikia. Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.
16. Sayidun, R, 2001. http://medic.webs88.com. Berita Kedokteran Indikasi tindakan abortus
di Indonesia.
17. Girsang, DK. 2011. Penyebab-Penyebab Abortus Spontan di RSUP. H. Adam Malik
Medan pada Tahun 2007-2009. Medan : Universitas Sumatera Utara
18. Jauniaux, E., Farquharson, R.G., Christiansen, O.B., and Exalto, N., 2006. Evidence-based
Guidelines for the Investigation and Medical Treatment of Recurrent Miscarriage. Human
Reproduction 21
19. Dulay, A.T., 2010. Spontaneous Abortion (Miscarriage), The Merck Manuals Online
MedicalLibrary.
Available
from:
http://www.merckmanuals.com/professional/sec18/ch263/ch263m.html. [diakses 28 Juni
2013].
20. Nainggolan, L.H., 2006. Aspek Hukum Terhadap Abortus Provocatus Dalam Perundangundangan Di Indonesia. Jurnal Equality 11
21. Trupin, S.R., and Moreno, C., 2002. Medical Abortion: Overview and Management,
Medscape
General
Medicine.
Available
from:
http://www.medscape.com/viewarticle/429755_5. [Diakses Juni 2013].
22. Dwilaksana, AP. 2010. http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-publichealth/2071310-faktor-ibu-yg-berhubungan-dgn/#ixzz1i5koRujB
22. Hardjito dkk. 2011. Perbedaan Kejadian Abortus Berdasarkan Paritas Di RSIA Aura
Syifa
Kabupaten
Kediri.
http://suaraforikes.webs.com/
volume2%20nomor2.pdf#page=28 (Diakses : Agustus 2013)
23. Kusniati. 2007. Hubungan Beberapa Faktor Ibu dengan Kejadian Abortus Spontan di
Rumah Sakit Ibu dan Anak An Nimah Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas pada
tahun 2007. Universitas Diponegoro. Available from : http://eprints.undip.ac.id/4260/.
(Diakses : Agustus 2013)