Anda di halaman 1dari 2

PEMBAHASAN

Pada praktikum ini dibuat sediaan suspensi Hidrocortisone Acetat 2,5 %. Sediaan
harus dibuat dalam bentuk steril karena digunakan dengan diinjeksikan. Hidrocortisone acetat
yang dibuat diindikasikan untuk mengurangi inflamasi dan mengobati persendiaan,
rehumatoid,osteoatritis, dan ankylosing sponditas.
Bahan aktif yang digunakan adalah hidrocortisone acetat. Diketahui hidrocortesone
acetat tidak larut dalam air, kelarutannya dalam air sebesar 1 : lebih dari 10.000 bagian,
sehingga dibuatlah sediaan suspensi dengan pembawa air (PAI). Dipilih pembawa air (API)
karena kompatibilitas air dengan jaringan tubuh, selain itu air juga mempunyai konstanta
dielektrik tinggi sehingga lebih mudah melarutkan elektrolit yang terionisasi dan larutan
hidrogen. Selain pembawa aqua pro injeksi, digunakan bahan tambahan lain seperti CMC
Na, polisorbat 80, NaCl dan benzyl alkohol. CMC Na dan polisorbat dalam formula berfungsi
sebagai surfactant. Surfactant adalah zat zat yang molekul dan ionnya diadsorbsi pada antar
muka yang akan mengurangi tegangan permukaan atau tegangan antar muka. Surfactant bila
dilarutkan dalam air, akan menurunkan sudut kontak dan membantu memindahkan fase udara
pada permukaan dan menggantikan dengan suatu fase air. CMC Na adalah bahan tambahan
yang berfungsi mendispersikan partikel tidak larut dalam pembawa dan meningkatkan
viskositas sehingga kecepatan sedimentasi diperlambat. Sdangkan polisorb 80 berfungsi
untuk menurunkan sudut kontak antar permukaan zat padat dan cairan pembasah. Sudut
kontak adalah sudut antara tetes cairan dan permukaan ke atas dimana ia menyebar sehingga
dapat menurunkan tegangan permukaan. Benzyl alkohol digunakan sebagai pengawet dan
NaCl sebagai agent tonisitas untuk membuat sediaan isotonis karena sediaan ini dimasukan
dalam tubuh. Sehingga harus sesuai dengan tonisitas tubuh. Untuk mengetahui sifat tonisitas
sediaan maka harus diketahui terlebih dahulu kelarutan masing masing bahan dalam pelarut
air kemudiaan jumlah bahan yan terlarut dikalikan ekuivalensi masing masing bahan
terhadap NaCl.
Sediaan suspensi parenteral diharapkan dalam keadaan isotonis, maka dari hasil
perhitungan tonisitas dengan metode eukivalensi NaCl didapatkan sediaan yang hipertonis.
Sediaan suspensi parenteral yang hipertonis akan lebih ditoleransi karena tidak akan terjadi
kerusakan sel darah, namun terjadi pengerutan sel dan ketika keadaan normal maka sel darah
akan kembali normal, sedangkan jika sediaan hipotonis akan mengakibatkan sel
mengembang dan akhirnya pecah atau lisis.
Sediaan disterilkan dengan teknik aterilisasi aseptik, dimana semua bahan atau
campuran bahan disterilkan terlebih dahulu sebelum dicampurkan di bawah LAF( Laminar
Air Flow). Pembuatan dilakukan dengan tetap menjaga setiap proses agar minimal timbul
kontaminasi. Dipilih sterilisasi secara aseptik karena sediaan adalah suspensi yang rawan
rusak pada suhu tinggi. Suspensi pada suhu tinggu akan terjadi kehilangan air atau
(pembawa), karena air menguap pada suhu lebih dari 1000 C dan partikel zat aktif yang tidak
larut saat dilakukan pengocokan untuk melarutkan sediaan tidak akan terlarut dengan baik.
Dan karena adannya perbedaan kstabilan dan sifat masing masing bahan sehingga sterilisasi
lebih baik dilakukan dengan teknik aseptis.

Bahan bahan dalam formula disterilkan terlebih dahulu sesuai dengan sifat fisika
kimianya. Sterilisasi bahan dilakukan dengan dua metode, yaitu panas kering menggunakan
oven suhu 1600 C selama 1 jam dan metode panas basah menggunakan autoclav 1150 C
selama 30 menit. Digunakan dua metode karena beberapa bahan yang akan rusak dengan
pemanasan kering. Hidrocortisone asetat dicampur dengan polisorbat lalu disterilkan dengan
panas basah karena hidrocortisone sensitif terhadap panas sehingga tidak boleh disterilkan
dengan oven. Selain itu polisorbat bersifat higroskopis sehingga tidak cocok disterilkan
dengan panas tinggi. CMC Na yang telah dikembangkan dalam API juga disterilkan dengan
panas basah karena sterilisasi oven suhu 1600 C selama 1 jam menyebabkan penurunan
viskositas, sedangkan jika menggunakan autoclav menyebabkan penurunan viskositas 2,5 %
lebih kecil daripada sterilisasi menggunakan oven sedangkan NaCl disterilkan dengan oven
karena bahan ini stabil dengan pemanasan tinggi dan karena NaCl mudah larut dalam air
maka dihindari sterilisasi dengan autoclav yang menggunakan uap air karena menyebabkan
serbuk menjadi basah. Setelah semua bahan atau campuran disterilakan kemudian dilakukan
pencampuran dibawah LAF. Dengan teknik aseptis ini perlu berhati hati dalam setiap
proses untuk meminimalkan kontaminasi, alat alat yang digunakan seefektif mungkin, tidak
banyak gerakan, tidak menghalangi arah udara, tidak banyak bicara dan sedikit mungkin
kontak dengan sediaan.