Anda di halaman 1dari 18

JURNAL PRAKTIKUM FITOFARMASI

FORMULASI KAPSUL ANDROENERGIK


EKSTRAK BUAH CABE JAWA ( Piperis retrofracti Fructus )

NAMA KELOMPOK C- 2 :

NIKMATUR ROHMAH

112210101044

RATNANING S.

112210101048

PUTRI EKA M.

112210101050

IMELDA ROSA I.

112210101056

NURUL FARIDAH

112210101064

BINAR INDAH M.

112210101068

KRISTINE DWI P.

112210101070

PUTRI AYU A.

112210101072

NIDYA ANGGARSASI

112210101074

YORA UTAMI

112210101076

BAGIAN BIOLOGI FARMASI


FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS JEMBER
2014

BAB I. PENDAHULUAN

Cabe Jawa atau cabe jamu (Piper retrofractum Vahl.) merupakan salah satu tanaman
obat yang sudah dimanfaatkan sejak zaman dahulu. Sejalan dengan perkembangan industri obat
tradisional, maka kebutuhan akan buah cabe jamu semakin meningkat terutama untuk pabrik
obat dan jamu tradisional di dalam negeri (Djauhariya and Rosman 2007).
Cabe Jawa sebagai obat yang dapat menurunkan demam mengandung senyawa kimia
piperin yang mempunyai daya antipiretik dan analgetik. Efek tersebut disebabkan karena daya
hambat piperin terhadap prostaglandin. Sedangkan rasa nyeri ditimbulkan karena senstisasi
reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi yang disebabkan oeleh prostaglandin.
Penelitian terhadap efek farmakologi cabe jawa yaitu efek analgetik dan antipiretik pada hewan
percobaan telah dilakukan Saroni dkk tahun 1992 (Padmadisastra 2009).
Istilah androgen digunakan secara kolektif untuk senyawa-senyawa yang kerja bilogiknya
sama dengan testosteron. Fungsi utama kelompok hormon ini adalah merangsang perkembangan
dan aktivitas organ-organ reproduksi dan sifat-sifat seks sekunder, sedangkan kerja
kombinasinya disebut kerja androgenik. Androgen juga diperkirakan bertanggungjawab terhadap
keagresifan dan tingkah laku seksuel pria. Berbagai sumber androgen di alam antara lain terdapat
dalam tanaman obat dan salah satu tanaman obat yang diduga mempunyai kandungan androgen
adalah buah Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.). Secara empirik buah cabe jawa digunakan
sebagai obat lemah syahwat, lambung lemah dan peluruh keringat (Wahjoedi, Nuratmi, and
Astuti 2004).
Senyawa yang berperan terhadap bioaktivitaspadaCabe Jawa atau cabe jamu (Piper
retrofractum Vahl.) antara lain adalah :
1. Buah Cabe Jawa mengandung senyawa asam amino bebas, piperin, piperatin, b-sitosterol dan
lain-lain. Banyak digunakan sebagai obat demam, mulas perut, dan lain-lain. (Ani Isnawati
dkk., 2002).
2. Cabe jawa juga mengandung minyak atsiri, piperina, piperidina, asampalmitat, asam
tetrahidropiperat, undecylenyl 3-4 methylenedioxy benzene, Nisobutyldeca-trans-2-trans-4dienamide, dan sesamin.9,10 Minyak atsiri cabe jawadiduga dapat menurunkan kolesterol
dengan memberikan umpan balik negativeyang juga dapat menghambat kerja enzim HMGKoA reduktase. Cabe jawa jugamampu melindungi lemak dalam darah dari kerusakan akibat

radikal bebas. Daripenelitian sebelumnya dinyatakan bahwa kecepatan oksidasi kolesterol


dantrigliserida akibat radikal bebas pada kelompok yang diberi diet mengandung cabejawa
lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang diberi diet tanpamengandung cabe
jawa.(Indrapraja 2009)
3. Cabe Jawa merupakan salah satu tanaman yang diketahui memiliki efek stimulan terhadap
sel saraf sehingga mampu meningkatkan stamina tubuh. Efek hormonal dari tanaman ini
dikenal sebagai afrodisiaka. Berdasarkan penelitian secara ilmiah, cabe jawa digunakan
sebagai afrodisiaka karena mempunyai efek androgenik, untuk anabolik, dan sebagai
antivirus. Dari suatu tinjauan pustaka dikatakan bahwa secara umum kandungan kimia atau
senyawa kimia yang berperan sebagai afrodisiaka adalah turunan steroid, saponin, alkaloid,
tannin dan senyawa lain yang dapat melancarkan peredaran darah. (Nukman Moeloek dkk.,
2010).
4. Cabe Jawa memiliki kandungan flavonoid, triferpenoid, dan glikosida pada organ daun,
batang, buah, dan akar. (Amin Zuchri, 2008). Senyawa lainnya yang dikandung oleh
tanaman ini adalah piperine (sekitar 4-6%), piperlonguminine, sylvatine, tiltiline,
sitosterol, sitral, dan linalool. Efekantipiretik dan analgetik yang ditimbulkan diperoleh
dari piperin hal tersebut disebabkan karena daya hambat piperin terhadap prostaglandin.
Sedangkan rasa nyeri ditimbulkan karena senstisasi reseptor nyeri terhadap stimulasi
mekanik dan kimiawi yang disebabkan oeleh rostaglandin. Peningkatan suhu badan
(demam) disebabkan karena pelepasan zat pirogen endogen atau sitokin s eperti
interleukin-1 (IL-1) yang memacu pelepasan prostaglandin yang berlebihan di daerah
preoptik hipotalamus .(Padmadisastra 2009). Senyawa piperin berasa pedas. ( Menurut
Diratpahgar, 2008 dalam Amin Zuchri, 2008).

Padapraktikum kali ini akan memformulasi buahCabe Jawa menjadi bentuk sediaan
kapsul bahan alam yang standard. Beberapa alasan pemilihan bentuk sediaan kapsul
adalahbentuknya menarik dan praktis, cangkang kapsul tidak berasa sehingga dapat menutupi
obat yang berasa dan berbau tidak enak, mudah ditelan dan cepat hancur atau larut dalam
lambung sehingga obat cepat diabsorpsi, dapat mengkombinasikan beberapa macam obat dan
dosis yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan pasien, dan kapsul dapat diisi dengan cepat

karena tidak memerlukan bahan zat tambahan atau penolong seperti pada pembuatan pil maupun
tablet.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Kapsul
Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang
dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin, tetapi dapat juga terbuat dari pati atau
bahan lain yang sesuai (Dirtjen POM,1995) .
Kapsul keras biasanya terbuat dari gelatin yang terdiri dari cangkang kapsul bagian
badan dan bagian tutup kapsul. Kedua bagian tutup kapsul ini akan

saling menutupi bila

dipertemukan dan bagian tutupnya akan menyelubungi bagian badan kapsul.Gelatin mempunyai
beberapa kekurangan, seperti mudah mengalami peruraian oleh mikroba bila dalam keadaan
lembab atau bila disimpan dalam larutan berair (Ansel, 2005).
Keuntungan pemberian bentuk sediaan kapsul:
1. Bentuknya menarik dan praktis.
2. Cangkang kapsul tidak berasa sehingga dapat menutupi obat yang berasa dan

berbau tidak

enak.
3. Mudah ditelan dan cepat hancur atau larut dalam lambung sehingga obat cepat diabsorpsi.
4. Dapat mengkombinasikan beberapa macam obat dan dosis yang berbeda-beda sesuai dengan
kebutuhan pasien.
5. Kapsul dapat diisi dengan cepat karena tidak memerlukan bahan zat tambahan atau penolong
seperti pada pembuatan pil maupun tablet.
Kerugian pemberian bentuk sediaan kapsul:
1. Tidak dapat untuk zat-zat yang mudah menguap karena pori-pori kapsul tidak dapat menahan
penguapan.
2. Tidak dapat untuk zat-zat yang higroskopis (menyerap lembab).
3. Tidak dapat untuk zat-zat yang dapat bereaksi dengan cangkang kapsul.
4. Tidak dapat diberikan untuk balita.
5. Tidak dapat dibagi-bagi.
Pembuatan sediaan kapsul terdiri atas beberapa tahapan :
1. Pembuatan formulasi serta pemilihan ukuran kapsul
2. Pengisian cangkang kapsul
3. Pembersihan dan pemolesan kapsul yang telah terisi.
4. Pengemasan

Ukuran kapsul
Ukuran cangkang kapsul bervariasi dari nomor paling kecil 5 sampai nomor paling besar
000. Berurutan dari kecil ke besar 5-4-3-2-1-0-00-000. Semakin kecil nilai cangkang kapsul
maka semakin besar ukurannya sehingga cangkang kapsul 000 menduduki ukuran paling besar.
Biasannya ukuran paling besar digunakan sebagai kapsul binatang.

B. Cabe Jawa (Piper retrofractum. Vahl)


Berdasarkan ilmu taksonomi, klasifikasi tanaman sirih adalah sebagai berikut :
Kerajaan

: Plantae

Devisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Piperales

Famili

: Piperaceae

Genus

: Piper

Spesies

: P.retrofractum (Depkes RI, 1980).


Pemerian buah Cabe Jawa adalah bau khas, aromatis, rasa pedas.Secara makroskopik

yaitubuah majemuk berupa bulir; warna kelabu sampai coklat kelabu atau berwarna hitam kelabu
sampai hitam, bentuk bulat panjang sampai silindris, bagian ujung agak mengecil, panjang 2 cm
sampai 7 cm, garis tengah 4 mm sampai 8 mm, bergagang panjang atau tanpa gagang.
Permukaan luarnya tidak rata, bertonjolan teratur. Pada irisan melintang bulir, tampak buah-buah
batu, masing-masing dengan daun pelindung yang tersusun dalam spiral pada poros bulir,
kadang-kadang bagian tengah bulir berongga. Kulit buahnya berwarna coklat tua sampai hitam,
kadang-kadang berwarna lebih muda. Warna kulit bijinya coklat. Hampir seluruh inti biji terdiri
dari perisperm berwarna putih. Buah batu berbentuk bulat telur, berukuran lebih kurang 2 mm.
daun pelindungnya berbentuk perisai. (Depkes RI, 1977).

Gambar 1. Buah Cabe Jawa

Secara mikroskopik, perikarp yaitu epikarp dan hypodermis yang terdapat pada bagian
ujung atau pada bagian luar dari buah. Epikarpnya terdiri dari sel-sel pipih, bentuk polygonal,
berisi zat berwarna coklat tua. Hipodermis terdiri dari jaringan parenkim dan sel batu, tunggal
atau berkelompok. Sel batu berbentuk hampir isodiametris sampai persegi panjang, kadangkadang dengan bagian ujung agak meruncing, dinding sel tebal, berwarna kuning, saluran
noktahnya jelas, lumen cukup lebar, berlignin. Mesokarp terdiri dari sel-sel parenkimatik, berisi
butir pati kecil, tersebar di antara parenkim terdapat sel sekresi berisi minyak atau damar minyak
berwarna kuning sampai kuning jingga, lapisan terakhir terdiri dari lapisan sel minyak yang
besar berbentuk persegi, berdinding tipis, berisi butir-butir minyak berwarna kuning. Endokarp
terdiri dari sel-sel pipih dengan dinding radial tebal dan noktah lebar. Endokarp melekat erat
dengan kulit biji. Kulit bijinya berwarna coklat dan terdiri dari 3 lapisan yang pada irisan
melintang atau membujur batas-batas sel kurang jelas. Daun pelindungnya berupa epidermis
berdinding tipis dan mempunyai stomata dan endosperm. (Depkes RI, 1977).
Habitat Cabe jawa merupakan tumbuhan asli Indonesia, ditanam di pekarangan, ladang,
atau tumbuh liar di tempat-tempat yang tanahnya tidak lembab dan berpasir seperti di dekat
pantai atau di hutan sampai ketinggian 600 m dpl. Tempat tumbuh tanaman merambat pada
tembok, pagar, pohon lain, atau rambatan yang dibuat khusus. Cocok ditanam di tanah yang
tidak lembab dan porus (banyak mengandung pasir). Perbanyakan tanaman dilakukan dengan
stek batang yang sudah cukup tua atau melalui biji.
Kandungan kimia dari cabe jawa (Piper retrofractum. Vahl) berupa Alkaloid piperin,
kavisin, piperidin, isobutildeka-trans-2-trans-4-m dienamida; saponin, polifenol, minyak atsiri,
asam palmitat, asam tetrahidropiperat, 1-undesilenil-3,4-metilendioksibenzena, dansesamin. Efek
farnakologi berupa adroenergik, antipiretik dan analgesik. Kontraindikasi tidak boleh diberikan
pada wanita hamil dan menyusui. Peringatandapat menimbulkan reaksi anafilaksis bagi yang
alergi.Efek yang tidak diinginkan dapat menyebabkan respiratory distress syndrome bila
terinhalasi.

KLT Densitometri.
Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah salah satu metode pemisahan komponen
menggunakan fasa diam berupa plat dengan lapisan bahan adsorben inert. KLT merupakan salah
satu jenis kromatografi analitik. KLT sering digunakan untuk identifikasi awal, karena banyak

keuntungan menggunakan KLT, di antaranya adalah sederhana dan murah. KLT termasuk dalam
kategori kromatografi planar, selain kromatografi kertas. Prinsip densitometri yaituDensitometri
adalah metode analisi instrumental yang berdasarkan interaksi radiasi elektromagnetik dengan
analit yang merupakan bercak atau noda pada lempeng KLT.Interaksi radiasi elektromagnetik
dengan noda pada lempeng KLT yang ditentukan adalah adsorpsi, transmisi, pantulan (refleksi)
pendar fluor atau pemadaman pendar fluor dari radiasi semula.(Paramita 2012). Kromatografi
lapis tipis menggunakan plat tipis yang dilapisi dengan adsorben seperti silika gel, aluminium
oksida (alumina) maupun selulosa. Adsorben tersebut berperan sebagai fasa diam.Fasa gerak
yang digunakan dalam KLT sering disebut dengan eluen. Pemilihan eluen didasarkan pada
polaritas senyawa dan biasanya merupakan campuran beberapa cairan yang berbeda polaritas,
sehingga didapatkan perbandingan tertentu. Eluen KLT dipilih dengan cara trial and
error.Kepolaran eluen sangat berpengaruh terhadap R\f (faktor retensi) yang diperoleh. Faktor
retensi (Rf) adalah jarak yang ditempuh oleh komponen dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh
eluen. Rumus faktor retensi adalah:

Nilai Rf sangat karakterisitik untuk senyawa tertentu pada eluen tertentu. Hal tersebut dapat
digunakan untuk mengidentifikasi adanya perbedaan senyawa dalam sampel. Senyawa yang
mempunyai Rf lebih besar berarti mempunyai kepolaran yang rendah, begitu juga sebaliknya.
Hal tersebut dikarenakan fasa diam bersifat polar. Senyawa yang lebih polar akan tertahan kuat
pada fasa diam, sehingga menghasilkan nilai Rf yang rendah. Rf KLT yang bagus berkisar antara
0,2 - 0,8. Jika Rf terlalu tinggi, yang harus dilakukan adalah mengurangi kepolaran eluen, dan
sebaliknya. (anonim)
Penetapan kadar senyawa ekstrak dilakukan dengan cara kromatografi lapisan tipis
(KLT) densitometri menggunakan fase diam silika gel 60 F254 dengan fase gerak diklorometana :
etil asetat (30:10).
Evaluasi Sediaan
Pemeriksaan ekstrak yang dapat dilakukan adalah organoleptis (bentuk, warna, bau dan
rasa). Hasil uji organoleptis ekstrakbuah Cabe Jawa adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil Uji OrganoleptisPiper retrofractum. Vahl

Uji Organoleptis

Hasil pengamatan

Bentuk
Warna
Bau
Rasa
campuran ekstrak kering diuji sifat alirnya menggunakan alat corong dengan mengisi
tabel berikut :
Variabel

Data

Berat granul (gram)


Waktu alir (detik)
Kecepatan alir (g/detik)
Tinggi kerucut (cm)
Jari jari kerucut (cm)
Tangen sudut diam
Sudut diam
Uji keseragaman bobot kapsul menggunakan alat timbangan analitik dengan memenuhi
persyaratan uji keseragaman bobot kapsul :
Bobot rata rata isi

Perbedaan bobot isi kapsul dalam %

kapsul

< 120 mg

10

20

Lebih dari 120 mg

7,5

15

Refrance Product Kapsul Cabe Jawa (Padmadisastra 2009)

Formulasi kapsul cabe jawa

R/ CABE JAWA 5 MG
AMIYLUM ORYZAE qs
AVICEL 100 MG
MF DA IN CAPS No. 100
S TDD
Karakteristik bahan
-

Cabe jawa
Buah majemuk berupa bulir, bentuk bulat panjang sampai silindris, bagian ujung agak
mengecil, permukaan tidak rata, bertonjolan teratur, panjang 2-7 cm, garis tengah 4-8
mm, bertangkai panjang, berwarna hijau coklat kehitaman atau hitam, keras. Biji bulat
pipih, keras, coklat kehitaman. Bau khas, aromatis, rasa pedas. (Acuan Sediaan Herbal
2010)

Avicel
Sinonim

: Avicel PH; Cellets; Celex; cellulose gel; hellulosum microcristallinum;

Celphere; Ceolus KG; crystalline cellulose; E460; Emcocel; Ethispheres; Fibrocel; MCC
Sanaq; Pharmacel; Tabulose; Vivapur.Rumus empiris: (C6H10O5)220( BM 36.000 ) . Struktur
formula :

Gambar 1. Struktur kimia avicel (Rowe et al, 2009).


Fungsi : Adsorbent; suspending agent; tablet dan capsule diluent; tablet disintegrant.
Microcrystalline cellulose digunakan secara luas dalam farmasi, umumnya sebagai
binder/diluent pada tablet oral dan formula kapsul dimana ini digunakan baik dalam
granulasi

basah

dan

proses

kempa

langsung.

Pada

penambahannya

sebagai

binder/diluent, microcrystalline cellulose juga memiliki fungsi sebagai lubrikan dan


disintegran yang berguna dalam tabletasi.
Sifat kimia fisika Avicel:

pH

: 5,0-7,5

Kerapatan

: 1,512-1,668 g/cm3

Titik lebur

: 260-270oC

Distribusi partikel
Kelarutan

: 20-200 m

: mudah larut dalam 5% w/v larutan NaOH, praktis tidak larut dalam air,

asam terlarut, dan sebagian besar pelarut organik.


Inkompatibilitas
-

: avicel inkompatibel dengan agen oksidator kuat.

Amylum oryzae (Depkes RI 1979 ; hal 93)


Nama resmi

AMYLUM ORYZAE

Nama lain

Pati beras

Pemerian

Serbuk sangat halus, putih, tidak berbau, tidak berasa.

Kelarutan

Keasam-basahan, batas jasad renik.

Penyimpanan
Fungsi

Dalam wadah tertutup baik, ditempat sejuk dan kering

: sebagai glidan (tablet), diluen (kapsul), disintegran (tablet dan


kapsul), binder (tablet).

BAB III. METODE


a. Bahan
Buah Cabe Jawa (Piperis Retrofracti Fructus)
b. Pembuatan Ekstrak
1. Ekstraksi
Serbuk simplisia

Masukan ke maserator, tambah pelarut etanol 96%, tutup


rapat.Rendam selama 6 jam sambil diaduk, diamkan
18jam.
Maserat

Saring dengan corong Buchner.


Filtrat

Dipekatkan dengan rotavapor

Ekstrak kental

Hitung persentase bobot(b/b) dengan serbuk simplisia


% rendemen

2. Pengeringan Ekstrak
Ekstrak kental

Aduk selama 3-5 menit, timbang, tambah sorban Aerosi


sebanyak 1-2%dari bobot ekstrak sambil digerus dalam
mortar hingga kering.
Ekstrak kering

c. Penetapan Kadar Senyawa Aktif Ekstrak


1. Pembuatan Larutan Pembanding Piperin
Piperin

Timbang sebanyak 25mg, larutkan dalam 15ml etanol


di tabung reaksi.
Larutan

Saring ke dalam labu tentukur 25ml, tambah etanol ad


tanda.
Larutan induk

Encerkan
Larutan pembanding 100, 200, 400,
800 ppm.

2. Pembuatan Larutan Uji


Ekstrak

Timbang 25mg, aduk dalam 15 ml etanol di tabung


reaksi, divorteks.
Larutan

Saring dalam labu tentukur 25ml, bilas dengan etanol ad


tanda.
Filtrat

3. Penetapan Kadar Piperin menggunakan metode KLT Densitometri

Penotolan
Larutan pembanding 2l dan larutan uji 10l

Totolkan di tepi lempeng dengan posisi pembanding di


tengah. Eluasi pada chamber yang sudah jenuh.
Lempeng dengan noda

Hitung kadar piperin dalam ekstrak, ulangi 3 kali.


Hitung nilai koefisien variasi (KV).
Kadar piperin dan koefisien variasi.

Fase gerak : diklorometana : etil asetat (30:10)


Fase diam : silica gel 60 F 254
Deteksi

: amati pada UV 254nm.

Warna noda: gelap (meredam sinar UV). Rf piperin 0,7

Perhitungan :kadar piperin dalam ekstrak kering dihitung dari kurva baku larutan
pembanding dan dinyatakan dalam mg piperin/g ekstrak.

d. Formulasi Kapsul
Piperin 500mg, avicel 10g, amilum 145mg

Timbang masing-masing, campur rata.


Campuran ekstrak kering

Bagi rata ke dalam 100 cangkang kapsul, tutup


rapat cangkang kapsul.
Kapsul ekstrak piperin.

e. Uji sifat alir


Campuran ekstrak kering 100g

Timbang. Atur jarak corong dengan alas 10 cm, tutup dasar corong, masukkan ekstrak. Buka
penutup dasar corong, catat waktu.
Ekstrak kering membentuk kerucut

Ukur tinggi kerucut dan jari-jari, hitung tangen dari


sudut diam(h/r)
Nilai sudut diam

f. Pengisian Kapsul
Cangkang kapsul

Letakan pada lubang-lubang, atur ketinggian alat


hingga lubang kapsul rata dengan alat pengisi
kapsul. Masukkan ekstrak, ratakan. Tutup badan
kapsul.
Kapsul ekstrak piperin.

g. Uji Keseragaman Bobot Kapsul


20 buah kapsul

Timbang 20 buah lalu timbang satu per satu.


Keluarkan isi kapsul.
Isi kapsul dan cangkang kosong

Hitung bobot rata-rata.


Bobot rata-rata kapsul

h. Penetapan Kadar Senyawa Aktif Kapsul


1.

pembuatan larutan uji


Sebuah kapsul

keluarkan, timbang isinya.


Isi kapsul

Aduk dalam 15ml etanol di tabung reaksi,


divorteks.
Larutan

Saring ke dalam labu tentukur 25ml, bilas etanol


sampai tanda.
Filtrat (ulangi 2kali)

2.

Penetapan kadar piperin dalam kapsul


Larutan pembanding piperin

Lakukan penetapan kadar, tentukan nilai koefisien


variasi kadar piperin 3 kapsul.
Kadar piperin dan koefisien variasi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.http://www.ilmukimia.org/2013/05/kromatografi-lapis-tipis-klt.html. (diaksestanggal 29
Maret 2014)

Depkes RI. 1977. Materia Medika Indonesia Jilid I. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik
Indonesia
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Djauhariya, Endjo, and Rosihan Rosman. 2007. Status Teknologi Tanaman Cabe Jamu (Piper
Retrofractum Vahl.). Perkembangan Teknologi Tanaman Rempah Dan Obat 13: 75
90.

Indrapraja, Oktoria. 2009. Efek Minyak Atsiri Bawang Putih (Allium Sativum) Dan Cabe Jawa
(Piper Retrofractum Vahl.) Terhadap Jumlah Eritrosit Pada Tikus Yang Diberi Diet
Kuning Telur. Medical faculty. http://eprints.undip.ac.id/7754/.
Padmadisastra, Yudi. 2009. Formulasi Tablet Ekstrak Buah Cabe Jawa (piper Retrofractum
Vahl.) Dengan Metode Kempa Langsung. http://pustaka.unpad.ac.id/archives/16627/.
Paramita, Uzumaki. 2012. Teknik Pemisahan-Kromatografi: Kromatografi Lapis TipisDensitometri.

Teknik

Pemisahan-Kromatografi.

http://paramita-

kromatografi.blogspot.com/2012/10/kromatografi-lapis-tipis-densitometri.html.
Wahjoedi, Bambang, Budi Nuratmi, and Yun Astuti. 2004. Efek Androgenik Ekstrak Etanol
Cabe Jawa (Piper Retrofractum Vahl.) Pada Anak Ayam. Jurnal Bahan Alam
Indonesia 3 (2). http://jbai.iregway.com/index.php/jurnal/article/view/51.